ROMAN EPIK
BATAS PENANTIAN DI UJUNG SENJA
“Tentang Perjalanan Panjang Seorang Perempuan Desa yang Menantang Takdir, Mengejar Cita-Cita, dan Menemukan Cinta Sejati di Ujung Senja.”
DISCLAIMER
Novel ini adalah karya fiksi. Seluruh nama tokoh, tempat, peristiwa, dan dialog dalam cerita ini sebagian merupakan hasil imajinasi penulis dan sebagian terinspirasi dari dinamika kehidupan masyarakat desa, dunia pendidikan, persahabatan, percintaan, perjuangan hidup, serta kenyataan sosial yang berkembang di tengah masyarakat.
Apabila terdapat kesamaan nama, tempat, maupun kejadian dengan kehidupan nyata, hal tersebut semata-mata merupakan kebetulan dan tidak ada unsur kesengajaan.
Novel ini mengandung unsur drama kehidupan, percintaan, pengkhianatan, humor, konflik sosial, perjuangan pendidikan, serta nilai-nilai persahabatan dan kemanusiaan yang disampaikan secara naratif dan emosional.
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG
GERHANA DI LANGIT TEGOREJO
Langit Desa Tegorejo malam itu tampak berbeda.
Angin bertiup lebih dingin dari biasanya.
Pepohonan bambu di belakang rumah-rumah warga bergesekan pelan menimbulkan suara gemerisik panjang seperti bisikan makhluk malam.
Di langit, bulan perlahan berubah warna.
Merah gelap.
Pekat.
Menyeramkan.
Gerhana bulan total menyelimuti Desa Tegorejo, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal.
Malam itu, hampir seluruh warga desa memilih menutup pintu rumah lebih awal.
Sebagian orang tua melarang anak-anak keluar rumah karena percaya gerhana membawa pertanda buruk.
Namun di sebuah rumah kayu sederhana di ujung desa…
suara jeritan seorang perempuan justru memecah kesunyian malam.
“Aduh… Ya Allah… sakit…!” teriak Sulastri sambil menggenggam erat kain sarungnya.
“Kuat, Lastri… kuat…” suara seorang perempuan tua mencoba menenangkan.
Perempuan tua itu adalah Bu Paijem.
Dukun bayi paling terkenal di Tegorejo.
Keriput di wajahnya tampak jelas diterpa cahaya lampu minyak yang bergoyang tertiup angin malam.
Di luar rumah…
lolongan anjing terdengar bersahut-sahutan.
Auuuuuuuu…
Auuuuuuuu…
Beberapa warga mulai saling berbisik dari balik jendela rumah mereka.
“Gerhana kok bareng suara anjing melolong terus ya…”
“Jangan-jangan bakal ada kejadian besar…”
“Katanya kalau bayi lahir pas gerhana itu tandanya nggak biasa…”
Di dalam rumah, suasana semakin tegang.
Sulastri menjerit keras.
“Kyaaaaahhh…!”
“Sedikit lagi, Lastri! Sedikit lagi!” seru Bu Paijem.
Petir tiba-tiba menggelegar keras.
DUARRR!!!
Padahal…
tidak ada hujan sama sekali.
Lampu minyak di ruangan bergoyang hebat.
Angin mendadak masuk dari celah-celah dinding papan rumah.
Lalu…
bayi itu lahir.
Tangisnya langsung memecah ruangan.
“Uwaaa… uwaaa… uwaaa…”
Namun sesuatu yang aneh terjadi.
Cahaya bulan merah dari luar rumah tiba-tiba menyorot tepat ke wajah bayi perempuan itu.
Bu Paijem membeku.
Matanya membelalak.
Tangannya gemetar.
“Ya Gusti…”
Sulastri yang kelelahan mencoba membuka mata.
“Bu… anak saya… kenapa, Bu…?”
Bu Paijem tidak langsung menjawab.
Ia menatap wajah bayi itu lama sekali.
Tatapan yang sulit dijelaskan.
Seolah melihat sesuatu yang tidak mampu dipahami manusia biasa.
Lalu perlahan ia berbisik pelan…
“Anak ini… jalan hidupnya bakal panjang…”
Petir kembali menggelegar.
DUARRR!!!
Suasana rumah semakin mencekam.
“Apa maksudnya, Bu…?” tanya ayah bayi itu, Pak Wiryo, dengan wajah pucat.
Bu Paijem menarik napas panjang.
“Dia bakal jadi perempuan kuat…”
“Tapi hidupnya tidak akan mudah…”
“Cintanya penuh luka…”
“Hatine bakal kerep disakiti…”
“Banyak lelaki datang dan pergi…”
“Tapi dia akan tetap berdiri…”
Ruangan mendadak sunyi.
Hanya suara bayi kecil itu yang terdengar menangis pelan.
“Namanya siapa, Pak?” tanya Bu Paijem.
Pak Wiryo menatap istrinya.
Sulastri tersenyum lemah sambil menahan air mata.
“Yanti…”
“Namanya Yanti…”
Bu Paijem mengangguk pelan.
Namun sorot matanya masih menyimpan kecemasan.
Karena jauh di dalam hatinya…
ia merasa bayi itu kelak akan menjalani kehidupan yang tidak biasa.
Kehidupan yang penuh cinta…
namun juga penuh kehilangan.
Tahun-tahun pun berlalu.
Yanti tumbuh menjadi gadis desa yang cantik, cerdas, dan penuh mimpi.
Tak ada yang menyangka…
bayi kecil yang lahir di malam gerhana itu kelak akan menjadi perempuan yang dicintai banyak lelaki.
Namun…
tak satu pun cinta itu datang dengan mudah.
Ada Ahmad…
cinta pertama yang tak pernah benar-benar hilang.
Ada Raihan…
lelaki tenang yang datang membawa harapan.
Ada Ratno…
mahasiswa ambisius yang penuh strategi.
Dan ada Bang Toyib…
lelaki humoris yang akhirnya membuat Yanti percaya kembali pada cinta.
Namun takdir…
kadang terlalu kejam untuk ditebak manusia.
Karena hidup Yanti bukan hanya tentang cinta.
Melainkan tentang perjuangan panjang seorang anak desa…
yang berusaha melawan kemiskinan…
mengejar cita-cita menjadi guru…
menghadapi pengkhianatan…
menelan kehilangan…
hingga akhirnya menemukan arti sejati dari penantian di ujung senja.
Dan semua itu…
berawal dari malam gerhana di langit Tegorejo.
BAB I
GERHANA DI MALAM KELAHIRAN
Malam itu Desa Tegorejo seperti sedang memendam rahasia besar.
Langit gelap menggantung rendah di atas hamparan sawah yang membentang luas di pinggiran desa. Angin berhembus pelan melewati rumpun bambu dan pepohonan jati tua, menciptakan suara berdesir panjang yang terdengar menyeramkan di telinga warga.
Gerhana bulan total sedang berlangsung.
Bulan yang biasanya bercahaya terang kini berubah menjadi merah gelap seperti bara api yang menggantung di langit malam.
Sebagian warga desa memilih menutup pintu rumah rapat-rapat.
Beberapa orang tua bahkan melarang anak-anak mereka keluar rumah.
Konon katanya…
anak yang lahir saat gerhana akan memiliki nasib yang tidak biasa.
Di sebuah rumah kayu sederhana di ujung Desa Tegorejo, suasana tampak jauh lebih tegang dibanding rumah-rumah lain.
Lampu minyak kecil menggantung di ruang tengah, cahayanya redup bergoyang tertiup angin dari sela-sela dinding papan yang sudah mulai lapuk dimakan usia.
Di atas dipan kayu sederhana…
Sulastri menggigit bibir menahan rasa sakit luar biasa.
“Kyaaaahhh…!”
Keringat membasahi dahinya.
Rambutnya yang panjang tampak berantakan menempel di pipi.
“Pak… Pak Wiryo…” lirihnya sambil meremas kain sarung.
Pak Wiryo yang berdiri di samping pintu tampak panik. Lelaki sederhana berusia tiga puluhan itu mondar-mandir sambil menggigit kuku.
“Gimana ini, Bu Paijem…?” tanyanya gugup.
Bu Paijem yang duduk di dekat Sulastri tetap terlihat tenang.
Perempuan tua itu sudah puluhan tahun menjadi dukun bayi di Desa Tegorejo. Hampir semua anak di desa lahir lewat tangannya.
Namun malam itu…
entah kenapa hatinya terasa tidak tenang.
“Tenang, Pak Wiryo… iki proses biasa…” ucapnya sambil mengusap perut Sulastri perlahan.
Namun sebelum kalimatnya selesai…
DUARRR!!!
Suara petir menggelegar sangat keras.
Padahal…
langit sama sekali tidak hujan.
Pak Wiryo refleks menoleh keluar rumah.
“Lho… petir?”
Angin mendadak bertiup lebih kencang.
Daun-daun pisang di samping rumah bergoyang liar.
Lalu…
suara lolongan anjing terdengar bersahut-sahutan dari arah ujung desa.
Auuuuuuuu…
Auuuuuuuu…
Auuuuuuuu…
Sulastri merinding.
“Pak… aku takut…” lirihnya.
Bu Paijem mencoba tetap fokus membantu persalinan.
“Tahan, Lastri… sedikit lagi…”
Namun sorot mata perempuan tua itu mulai berubah.
Ada kegelisahan yang sulit ia jelaskan.
Sementara di luar rumah…
beberapa tetangga mulai berkumpul di bawah teras sambil berbisik pelan.
“Petir tanpa hujan…”
“Gerhana pula…”
“Anjing melolong terus…”
“Jangan-jangan pertanda aneh…”
Seorang nenek tua berbisik pelan.
“Biasanya kalau ada bayi lahir pas malam kayak gini… hidupnya nggak biasa…”
Di dalam rumah…
Sulastri kembali menjerit keras.
“Aaaakkkhhh…!”
“Tahan! Sedikit lagi!” seru Bu Paijem.
Lampu minyak mendadak berkedip.
Angin masuk semakin kuat dari sela-sela dinding rumah.
Lalu…
tangisan bayi pecah memenuhi ruangan.
“Uwaaa… uwaaa… uwaaa…”
Semua mendadak diam.
Pak Wiryo membelalak lega.
“Alhamdulillah…”
Namun…
sesuatu yang aneh terjadi.
Cahaya merah dari gerhana bulan tiba-tiba masuk melalui jendela bambu yang sedikit terbuka.
Cahaya itu tepat mengenai wajah bayi perempuan kecil tersebut.
Kulit bayi itu terlihat bercahaya lembut.
Bu Paijem membeku.
Tangannya berhenti bergerak.
Matanya menatap bayi itu lama sekali.
“Ya Allah…” bisiknya lirih.
“Kenapa, Bu?” tanya Pak Wiryo panik.
Bu Paijem tidak langsung menjawab.
Ia justru memandangi langit dari celah jendela.
Petir kembali menggelegar.
DUARRR!!!
Lalu…
seekor burung gagak tiba-tiba melintas di atas rumah sambil mengeluarkan suara parau.
Kraaakkk…
Kraaakkk…
Bulu kuduk Pak Wiryo mulai berdiri.
“Bu… jangan bikin saya takut…”
Bu Paijem menarik napas panjang.
Perlahan ia menggendong bayi kecil itu.
Bayi itu berhenti menangis.
Aneh sekali.
Matanya justru terbuka lebar menatap wajah Bu Paijem seolah mengerti sesuatu.
Padahal bayi baru lahir biasanya masih sulit membuka mata.
“Anak ini…” gumam Bu Paijem.
“Kenapa, Bu?” tanya Sulastri lemah.
Bu Paijem duduk perlahan.
Wajahnya serius.
“Dia bakal jadi perempuan kuat…”
“Tapi hidupnya penuh cobaan…”
Pak Wiryo langsung menelan ludah.
“Maksudnya apa?”
Bu Paijem menatap bayi itu lagi.
“Banyak lelaki bakal datang dalam hidupnya…”
“Tapi hatinya bakal sering terluka…”
“Dia akan kehilangan orang-orang yang dicintainya…”
Sulastri mulai menangis pelan.
“Jangan ngomong gitu, Bu…”
“Tapi anak ini juga bakal membawa kebanggaan…”
“Dia akan sekolah tinggi…”
“Jadi orang terhormat…”
“Dan jadi cahaya bagi banyak orang…”
Ruangan mendadak sunyi.
Hanya suara angin malam terdengar dari luar rumah.
Pak Wiryo duduk perlahan di kursi bambu.
Wajahnya campur aduk antara bahagia dan takut.
“Namanya siapa?” tanya Bu Paijem.
Sulastri tersenyum tipis.
“Yanti…”
Bu Paijem mengangguk pelan.
“Nama yang bagus…”
“Semoga hidupnya benar-benar kuat…”
Malam semakin larut.
Gerhana mulai menghilang perlahan.
Namun kabar tentang kelahiran bayi aneh di rumah Pak Wiryo sudah menyebar ke seluruh Desa Tegorejo.
Warga mulai ramai membicarakannya.
“Katanya waktu lahir ada cahaya merah…”
“Katanya Bu Paijem sampai gemetar…”
“Pasti anak itu punya garis hidup aneh…”
Tak ada yang tahu…
bahwa bayi kecil bernama Yanti itu kelak akan menjalani kehidupan yang begitu panjang.
Penuh cinta.
Penuh air mata.
Penuh pengkhianatan.
Dan penuh penantian.
Sementara di luar rumah…
angin malam masih berhembus pelan.
Seolah langit Tegorejo sedang menyimpan rahasia besar tentang masa depan seorang bayi perempuan…
yang suatu hari nanti akan dipertemukan dengan cinta sejatinya…
tepat di ujung senja.
BAB II
RAMALAN BU PAIJEM
Pagi pertama setelah kelahiran Yanti terasa berbeda di Desa Tegorejo.
Kabut tipis masih menggantung di atas hamparan sawah ketika ayam-ayam mulai berkokok bersahutan dari belakang rumah warga. Udara desa terasa dingin, lembap, dan tenang.
Namun ketenangan itu tidak benar-benar hadir di rumah Pak Wiryo.
Sejak subuh tadi…
beberapa tetangga mulai berdatangan.
Ada yang membawa gula merah.
Ada yang membawa beras satu baskom kecil.
Ada pula yang hanya datang karena penasaran.
Kabar tentang bayi yang lahir saat gerhana semalam menyebar begitu cepat.
“Assalamualaikum…”
“Waalaikumsalam… monggo masuk…”
Suara sandal warga terdengar silih berganti di teras rumah kayu sederhana itu.
Di ruang tengah, Sulastri masih berbaring lemah sambil menggendong bayi kecilnya.
Yanti tampak tertidur pulas dibalut kain batik lusuh pemberian Bu Paijem.
Sementara itu…
Bu Paijem masih duduk di kursi bambu dekat jendela.
Wajahnya terlihat lebih diam dari biasanya.
Tatapannya sesekali mengarah ke bayi kecil itu.
Seolah ada sesuatu yang terus dipikirkannya sejak tadi malam.
“Bu Paijem…” panggil Pak Wiryo pelan.
“Eh?”
“Sampeyan kok dari tadi melamun terus…”
Bu Paijem tersenyum tipis.
“Ndak apa-apa…”
“Tapi sampeyan semalam ngomong aneh…”
Bu Paijem terdiam.
Pak Wiryo duduk perlahan di sebelahnya.
“Jujur saya jadi kepikiran…”
“Anak saya sebenarnya kenapa, Bu?”
Suasana mendadak sunyi.
Dari luar terdengar suara ibu-ibu sedang bercakap pelan.
“Bayine ayu banget katanya…”
“Iya… tapi lahire kok pas gerhana…”
“Katanya ada cahaya merah masuk rumah…”
“Merinding aku…”
Bu Paijem menghela napas panjang.
“Pak Wiryo…”
“Iya, Bu?”
“Saya sudah puluhan tahun nolong persalinan…”
“Baru kali ini saya lihat kejadian seperti semalam…”
Pak Wiryo mulai tegang.
“Maksudnya?”
Bu Paijem menatap ke arah Yanti.
“Biasanya bayi lahir ya biasa saja…”
“Tapi anakmu lahir bareng tanda-tanda alam yang aneh…”
“Petir tanpa hujan…”
“Anjing melolong…”
“Gerhana bulan…”
“Dan cahaya itu…”
Pak Wiryo menelan ludah.
“Memangnya itu pertanda buruk?”
Bu Paijem tidak langsung menjawab.
Ia justru mengambil segelas teh hangat di meja kayu kecil lalu menyeruputnya perlahan.
“Tidak selalu buruk…”
“Tapi biasanya…”
“Anak yang lahir dengan tanda begitu hidupnya tidak biasa…”
Pak Wiryo makin serius mendengarkan.
“Tolong ngomong terus terang saja, Bu…”
Bu Paijem menghela napas.
“Anakmu bakal jadi perempuan yang kuat…”
“Dia bakal sekolah tinggi…”
“Bisa jadi guru…”
“Bisa jadi orang penting…”
Mata Pak Wiryo langsung berbinar.
“Alhamdulillah…”
“Tapi…”
Kalimat Bu Paijem menggantung.
“Tapi apa, Bu?”
“Hatine bakal sering disakiti…”
Ruangan mendadak terasa dingin.
Pak Wiryo terdiam.
“Maksudnya urusan cinta?”
Bu Paijem perlahan mengangguk.
“Dia bakal dicintai banyak lelaki…”
“Tapi jalannya nggak akan mudah…”
“Ada pengkhianatan…”
“Ada kehilangan…”
“Ada air mata…”
Di atas tempat tidur, Sulastri yang sedari tadi diam mulai menggenggam bayi kecilnya lebih erat.
“Jangan ngomong begitu, Bu…”
“Saya takut…”
Bu Paijem mendekat perlahan.
“Lastri… hidup manusia itu Gusti Allah yang atur…”
“Saya cuma membaca tanda…”
“Tapi anakmu ini kuat…”
“Dia tidak akan gampang jatuh…”
Yanti kecil tiba-tiba terbangun.
Anehnya…
bayi itu tidak menangis.
Ia justru membuka mata perlahan sambil menatap Bu Paijem.
Perempuan tua itu langsung merinding.
“Ya Allah…”
“Kenapa lagi, Bu?” tanya Sulastri panik.
Bu Paijem mengusap lengannya sendiri.
“Matanya…”
“Kenapa matanya?”
“Tatapannya aneh…”
Pak Wiryo mulai gelisah.
“Bu… jangan bikin kami takut…”
Namun sebelum Bu Paijem menjawab…
dari luar rumah tiba-tiba terdengar suara gaduh.
“Heh! Serius toh semalam ada cahaya?”
“Katanya Bu Paijem sampai pucat…”
“Jangan-jangan bayine keturunan orang sakti…”
Pak Wiryo langsung berdiri.
“Waduh… warga mulai ngomong macam-macam…”
Ia keluar rumah.
Di teras sudah ada beberapa lelaki desa sedang duduk sambil merokok.
Pak RT ikut datang.
“Piye, Wiryo? Anakmu sehat?”
“Alhamdulillah sehat, Pak…”
“Tapi kampung kok ramai ngomongin kelahiran semalam…”
Pak Wiryo memaksakan senyum.
“Namanya juga orang desa…”
Salah satu warga nyeletuk pelan.
“Tapi aku juga heran…”
“Petirnya keras banget padahal nggak hujan…”
“Iya…”
“Anjing sampai melolong terus…”
“Jangan-jangan anakmu nanti punya kemampuan aneh…”
Pak Wiryo langsung tersinggung.
“Jangan ngomong sembarangan!”
Suasana mendadak canggung.
Pak RT segera menengahi.
“Sudah… jangan bikin orang tua bayi kepikiran…”
Namun bisik-bisik warga tetap berlanjut.
Karena sejak dulu…
masyarakat Tegorejo masih percaya pada pertanda-pertanda mistis.
Menjelang siang…
rumah Pak Wiryo mulai sepi.
Tinggal Bu Paijem yang masih duduk dekat bayi kecil itu.
Ia memandangi wajah Yanti lama sekali.
Kulit bayi itu putih bersih.
Bibirnya merah kecil.
Dan matanya…
terlihat tajam untuk ukuran bayi yang baru lahir.
Bu Paijem perlahan berbisik sendiri.
“Hidupmu bakal panjang, Nduk…”
“Tapi juga berat…”
Tiba-tiba Sulastri bertanya pelan.
“Bu…”
“Iya?”
“Kalau memang hidup anak saya nanti susah…”
“Apakah dia bisa bahagia?”
Bu Paijem diam cukup lama.
Lalu tersenyum tipis.
“Bahagia…”
“Itu bukan soal hidupnya mudah atau tidak…”
“Tapi soal siapa yang tetap bertahan di samping kita…”
Sulastri menatap bayi kecilnya.
Air matanya jatuh perlahan.
“Semoga anak saya kuat…”
Bu Paijem mengangguk.
“Dia akan sangat kuat…”
“Bahkan lebih kuat dari yang kalian bayangkan…”
Angin siang berhembus pelan melewati jendela rumah.
Di luar…
langit Tegorejo mulai cerah.
Namun tak seorang pun di rumah itu tahu…
bahwa ramalan Bu Paijem suatu hari nanti benar-benar akan menjadi kenyataan.
Tentang cinta.
Tentang kehilangan.
Tentang pengkhianatan.
Dan tentang seorang perempuan bernama Yanti…
yang harus menunggu puluhan tahun…
untuk menemukan kebahagiaan sejatinya di ujung senja.
BAB III
ANAK PEREMPUAN DARI TEGOREJO
Waktu berjalan pelan di Desa Tegorejo.
Musim demi musim berganti melewati hamparan sawah yang mengelilingi desa kecil itu. Pohon-pohon kelapa tumbuh semakin tinggi. Jalanan tanah merah yang dulu becek saat hujan perlahan mulai mengeras oleh pijakan kaki warga dan roda sepeda ontel.
Dan bayi kecil yang lahir saat malam gerhana itu…
kini mulai tumbuh menjadi anak perempuan yang lincah.
Namanya Yanti.
Usianya baru menginjak lima tahun, tetapi hampir seluruh warga desa mengenalnya.
“Yantiii… jangan lari-lari terus!” teriak Sulastri dari dapur.
“Iyaaaa, Bukkk!” jawab Yanti sambil tertawa kecil.
Anak itu berlari tanpa alas kaki melewati halaman rumah. Rambut hitamnya yang sedikit ikal bergoyang tertiup angin sore.
Tangannya membawa bunga liar yang dipetik dari pinggir sawah.
“Pak! Pak! Lihat bunga!”
Pak Wiryo yang sedang memperbaiki cangkul tersenyum kecil.
“Wah… cantik sekali bunganya…”
“Cantik aku apa bunganya?” tanya Yanti polos.
Pak Wiryo tertawa keras.
“Hahaha… ya jelas anak bapak lebih cantik!”
Yanti langsung terkikik senang.
“Berarti nanti aku jadi putri kerajaan ya?”
“Lho kok putri kerajaan?”
“Iya… nanti aku tinggal di istana…”
“Terus bapak jadi apa?”
“Jadi pengawal kerajaan!”
Pak Wiryo tertawa semakin keras.
Sementara Sulastri yang mendengar dari dapur hanya menggeleng sambil tersenyum.
“Dasar anak nggak ada capeknya…”
Masa kecil Yanti berjalan sederhana.
Rumah mereka tidak besar.
Dindingnya masih papan kayu.
Atapnya seng tua yang bocor saat hujan deras datang.
Namun rumah kecil itu selalu terasa hangat.
Setiap pagi…
Sulastri memasak nasi jagung di dapur kayu sederhana.
Sementara Pak Wiryo berangkat ke sawah membawa cangkul di pundaknya.
Dan Yanti…
selalu mengikuti ayahnya sampai pinggir jalan desa.
“Pak… nanti pulangnya jangan malam ya…”
“Iya…”
“Janji?”
“Iya janji…”
“Kalau bohong gimana?”
Pak Wiryo berpikir sebentar lalu tertawa.
“Kalau bohong nanti bapak dicubit ayam.”
Yanti langsung tertawa ngakak.
“Hahaha! Ayam kok nyubit!”
“Ya habis anak bapak sukanya ngomong aneh…”
Hubungan Yanti dengan ayahnya memang sangat dekat.
Pak Wiryo selalu menuruti hampir semua ocehan anak semata wayangnya itu.
Bahkan kadang…
ia rela pulang lebih cepat dari sawah hanya karena Yanti menangis ingin ditemani bermain.
Namun di balik keceriaan itu…
kehidupan keluarga mereka sebenarnya tidak mudah.
Penghasilan Pak Wiryo sebagai buruh tani sering kali tidak cukup.
Kadang mereka harus berutang beras ke warung Bu Minah.
Kadang Sulastri harus menahan lapar agar Yanti tetap bisa makan.
Suatu malam…
hujan turun deras sekali.
Air menetes dari atap rumah yang bocor.
Yanti kecil duduk di dekat ibunya sambil memegang piring kosong.
“Buk…”
“Iya, Nduk?”
“Kok ibu nggak makan?”
“Ibu sudah makan tadi…”
“Bohong…”
Sulastri tersenyum kecil.
“Kok tahu?”
“Kalau ibu habis makan pasti senyum…”
Kalimat polos itu membuat Sulastri terdiam.
Dadanya terasa sesak.
Ia lalu mengusap kepala Yanti perlahan.
“Makan dulu ya…”
“Ibu dulu…”
“Ibu nanti…”
“Enggak mau. Harus bareng.”
Pak Wiryo yang baru masuk rumah membawa kayu bakar langsung berhenti mendengar percakapan itu.
Lelaki itu diam beberapa detik.
Lalu perlahan duduk di lantai.
Matanya tampak berkaca-kaca.
“Mbah…” kata Yanti tiba-tiba.
“Kenapa?”
“Nanti kalau aku besar…”
“Iya?”
“Aku mau jadi orang pintar…”
Pak Wiryo tersenyum tipis.
“Supaya apa?”
“Supaya ibu nggak lapar lagi…”
Suasana mendadak hening.
Hanya suara hujan yang terdengar jatuh di atap seng tua.
Sulastri langsung memeluk anaknya erat.
Air matanya jatuh diam-diam.
Sejak kecil…
Yanti memang berbeda dibanding anak-anak lain.
Ia sangat suka belajar.
Meski belum masuk sekolah, ia sering memperhatikan tulisan-tulisan di kalender tua yang tergantung di dinding rumah.
“Pak… ini huruf apa?”
“Itu huruf A…”
“Kalau ini?”
“Itu B…”
“Kalau ini?”
“Lho kok banyak banget pertanyaannya…”
Yanti malah tertawa.
“Biar pinter!”
Pak Wiryo mengacak rambut anaknya pelan.
“Anak bapak memang harus pintar…”
Malam hari…
ketika anak-anak lain sudah tidur…
Yanti masih duduk dekat lampu minyak kecil.
Ia meniru tulisan dari koran bekas pembungkus tempe.
Tangannya kecil.
Tulisan tangannya masih miring-miring.
Namun matanya selalu penuh semangat.
Suatu malam Sulastri berkata pelan kepada suaminya.
“Pak…”
“Iya?”
“Kayaknya anak kita benar-benar suka belajar…”
Pak Wiryo mengangguk.
“Dia beda…”
“Kalau lagi pegang buku matanya berbinar…”
Sulastri tersenyum haru.
“Tapi sekolah itu mahal…”
Pak Wiryo diam.
Tatapannya kosong menembus gelap malam.
“Aku rela kerja apa saja…”
“Asal Yanti sekolah tinggi…”
Keesokan harinya…
Yanti bermain di halaman bersama anak-anak lain.
Ada Bambang si anak tengil.
Ada Dandang yang paling suka melawak.
Ada Anita yang pendiam.
Dan Yuli yang paling cerewet.
“Heh Yanti!” teriak Bambang.
“Apa?”
“Aku punya belalang!”
“Mana?”
Bambang membuka tangan perlahan.
Namun ternyata belalang itu langsung loncat ke wajah Yanti.
“Aaaaaaa!!”
Semua anak langsung tertawa ngakak.
“Hahahaha!”
“Bambang nakal!”
Yanti mengejar Bambang sambil membawa sandal.
“Siniaaa kamu!”
Bambang lari terbirit-birit.
“Ampun Yantiiii!”
Dandang sampai berguling-guling tertawa di tanah.
“Bambang mati nanti!”
Sementara Anita hanya tertawa kecil sambil menutup mulut.
Di tengah canda anak-anak desa itu…
tak ada yang menyangka…
bahwa persahabatan mereka kelak akan berubah menjadi kisah panjang penuh cinta, pengkhianatan, air mata, dan penyesalan.
Sore hari…
Yanti duduk sendirian di pematang sawah.
Langit mulai berwarna jingga.
Ia memandangi burung-burung kecil yang terbang pulang ke sarang.
“Yanti…”
Suara Pak Wiryo terdengar dari belakang.
“Lho bapak…”
“Kok sendirian?”
Yanti tersenyum kecil.
“Aku suka lihat langit sore…”
Pak Wiryo duduk di samping anaknya.
“Kenapa?”
“Cantik…”
“Memang cantik…”
Yanti lalu menoleh pelan.
“Pak…”
“Iya?”
“Kalau aku besar…”
“Aku boleh jadi guru?”
Pak Wiryo menatap wajah anaknya lama sekali.
Lalu tersenyum hangat.
“Bukan boleh lagi…”
“Kamu harus jadi guru…”
Mata Yanti langsung berbinar.
“Benarkah?”
“Iya…”
“Karena bapak percaya…”
“Kamu akan jadi perempuan hebat.”
Angin sore berhembus lembut melewati sawah Tegorejo.
Dan matahari perlahan tenggelam di ufuk barat.
Tak ada yang tahu…
bahwa anak kecil yang sedang duduk di pematang sawah itu…
kelak akan menjalani perjalanan hidup yang sangat panjang.
Penuh cinta.
Penuh kehilangan.
Dan penuh penantian…
BAB IV
LANGIT PAGI SEKOLAH DASAR
Pagi itu Desa Tegorejo tampak lebih hidup dari biasanya.
Matahari baru saja muncul dari balik hamparan sawah ketika suara ayam jantan bersahut-sahutan memecah udara pagi. Kabut tipis masih menggantung rendah di pematang sawah, sementara embun menempel di daun-daun pisang dan rerumputan liar di pinggir jalan desa.
Namun di rumah kecil Pak Wiryo…
suasana terasa jauh lebih sibuk.
“Yanti! Cepat mandi! Nanti kesiangan!” teriak Sulastri dari dapur.
“Iyaaaa, Bukkk!” jawab Yanti dari belakang rumah.
Hari itu adalah hari pertama Yanti masuk Sekolah Dasar.
Sejak subuh ia sudah bangun lebih dulu.
Padahal biasanya…
anak itu paling susah dibangunkan.
Pak Wiryo yang sedang menyetrika seragam SD menggunakan setrika arang tampak berkeringat.
“Asline kok susah lurus ya…” gumamnya sambil meniup bara arang.
Sulastri tertawa kecil dari dapur.
“Namanya juga baru pertama punya anak sekolah…”
“Biarin! Anakku harus rapi!”
Tak lama kemudian…
Yanti muncul dari belakang rumah dengan rambut masih basah.
“Ibuuuu! Bajuku mana?!”
“Lho itu di dekat bapakmu!”
Yanti langsung berlari kecil mendekati ayahnya.
Matanya berbinar melihat seragam putih merah yang tergantung di kursi bambu.
“Pak…”
“Iya?”
“Aku beneran sekolah hari ini?”
Pak Wiryo tersenyum.
“Lho iya…”
Yanti memegang seragam itu pelan.
Seolah sedang memegang sesuatu yang sangat berharga.
“Aku jadi anak sekolah…”
Suaranya lirih penuh takjub.
Sulastri yang melihat itu sampai tersenyum haru.
“Iya… anak ibu sudah besar…”
Yanti tiba-tiba memeluk ibunya erat.
“Aku janji rajin sekolah!”
“Harus!”
“Nggak boleh malas!”
“Siap, Bu Guru!” jawab Yanti sambil hormat.
Mereka langsung tertawa bersama.
Tak lama kemudian…
Yanti sudah memakai seragam SD lengkap.
Meski rok merahnya sedikit kebesaran karena jahitan tetangga desa, wajah Yanti tetap tampak sangat bahagia.
Ia berdiri di depan cermin kecil yang kacanya mulai kusam.
“Buk…”
“Iya?”
“Aku cantik nggak?”
Sulastri tertawa.
“Cantik sekali…”
“Kayak putri kerajaan?”
“Iya…”
“Kalau bapak?”
Pak Wiryo langsung menjawab cepat.
“Paling cantik sedunia!”
Yanti tertawa ngakak.
“Hahaha! Bapak lebay!”
Pak Wiryo pura-pura bingung.
“Itu apa lagi lebay?”
“Katanya Dandang kalau ngomong berlebihan itu lebay!”
“Wah… baru masuk sekolah saja bahasanya aneh-aneh…”
Perjalanan menuju SD Tegorejo dilakukan dengan berjalan kaki.
Yanti menggandeng tangan ayah dan ibunya sepanjang jalan desa.
Tas kain kecil warna biru tergantung di pundaknya.
Di jalan…
banyak anak-anak lain juga berjalan menuju sekolah.
Ada yang memakai sandal jepit.
Ada yang bahkan tidak memakai alas kaki.
“Yantiiii!”
Suara keras tiba-tiba terdengar dari belakang.
Ternyata Bambang.
Anak tengil itu berlari sambil membawa tas lusuh.
“Hahaha! Yanti pakai pita merah!”
Yanti langsung manyun.
“Kenapa?”
“Kayak antena TV!”
“Bambanggg!”
Yanti mengejar Bambang sambil membawa botol minumnya.
Pak Wiryo hanya tertawa melihat tingkah mereka.
“Dasar anak-anak…”
Dari belakang muncul Dandang sambil membawa bekal pisang goreng.
“Heh Bambang! Jangan ganggu calon bu guru!”
“Siapa calon bu guru?”
“Yanti lah!”
Bambang langsung melirik Yanti.
“Ah masa…”
“Lho memang iya!” jawab Dandang.
Yanti tersipu malu.
“Apaan sih…”
Dandang tertawa.
“Soalnya Yanti kalau ngomong suka kayak guru!”
Mereka terus berjalan sambil bercanda.
Di sepanjang jalan desa…
suasana pagi terasa hangat.
Suara burung-burung kecil terdengar dari pepohonan.
Dan sinar matahari mulai menyinari sawah yang hijau membentang luas.
Bangunan SD Tegorejo tampak sederhana.
Dindingnya masih papan kayu.
Beberapa bagian cat sudah mengelupas.
Halamannya berupa tanah merah yang sedikit berdebu.
Namun bagi Yanti…
tempat itu terlihat sangat megah.
Ia berdiri mematung di depan gerbang sekolah.
Matanya berbinar.
“Pak…”
“Iya?”
“Sekolahku besar ya…”
Pak Wiryo tersenyum.
“Iya…”
“Kalau aku pintar nanti…”
“Aku bisa sekolah lebih tinggi lagi?”
“Tentu bisa…”
“Setinggi apa?”
“Setinggi langit kalau kamu mau…”
Mata Yanti makin berbinar.
Di halaman sekolah…
anak-anak mulai berbaris.
Suasana sangat ramai.
Ada yang menangis mencari ibunya.
Ada yang tertawa-tawa.
Ada pula yang saling dorong.
Tiba-tiba seorang guru perempuan keluar dari ruang kantor.
Beliau memakai kebaya coklat sederhana dengan rambut disanggul rapi.
“Anak-anak… ayo baris yang rapi…”
Suaranya lembut namun tegas.
Yanti langsung memperhatikan guru itu serius sekali.
“Pak…”
“Hm?”
“Guru itu cantik…”
Pak Wiryo tertawa kecil.
“Makanya nanti kamu juga harus jadi guru cantik.”
Yanti langsung tersenyum lebar.
Guru perempuan itu kemudian mendekat.
“Namanya siapa?” tanyanya lembut pada Yanti.
“Yanti, Bu…”
“Oh… namanya bagus…”
Yanti tersenyum malu.
“Ini ayah ibunya?”
“Iya Bu…” jawab Pak Wiryo sopan.
Guru itu mengangguk ramah.
“Anaknya kelihatan pintar…”
Pak Wiryo langsung tersenyum bangga.
“Semoga saja begitu, Bu Guru…”
“Namanya siapa, Pak?”
“Wiryo…”
“Pak Wiryo tidak usah khawatir. Kami akan mendidik anak bapak dengan baik.”
Kalimat itu membuat mata Pak Wiryo sedikit berkaca-kaca.
Ia menunduk pelan.
“Terima kasih, Bu…”
Saat bel masuk berbunyi…
anak-anak mulai masuk kelas.
Yanti sempat memegang tangan ibunya erat.
“Ibu pulang?”
“Iya…”
“Nanti jemput aku?”
“Iya…”
“Jangan lama-lama ya…”
Sulastri tersenyum sambil mengusap kepala anaknya.
“Iya…”
Namun saat Yanti mulai masuk kelas…
ia tiba-tiba kembali berlari memeluk ayahnya.
“Pak…”
“Iya?”
“Aku takut…”
Pak Wiryo jongkok perlahan.
“Takut kenapa?”
“Kalau aku nggak punya teman…”
Pak Wiryo tersenyum hangat.
“Kamu pasti punya banyak teman…”
“Kalau ada yang jahil?”
“Ya tinggal jahilin balik…”
Yanti langsung tertawa kecil.
“Bapak ini…”
Pak Wiryo lalu menatap mata anaknya serius.
“Dengar ya…”
“Iya…”
“Kamu harus sekolah yang rajin…”
“Kenapa?”
“Supaya hidupmu lebih baik dari bapak…”
Kalimat itu membuat Yanti diam.
Meski masih kecil…
ia bisa merasakan kesungguhan dalam suara ayahnya.
“Aku janji…”
“Janji apa?”
“Aku bakal jadi orang pintar…”
“Terus?”
“Biar ibu sama bapak bahagia…”
Pak Wiryo langsung memeluk anaknya erat.
Sementara Sulastri diam-diam menyeka air mata.
Di dalam kelas…
Yanti duduk di bangku kayu dekat jendela.
Ia melihat keluar.
Ayah dan ibunya masih berdiri di halaman sekolah sambil memandang ke arahnya.
Yanti melambaikan tangan kuat-kuat.
Pak Wiryo membalas dengan senyum lebar.
Dan pagi itu…
di ruang kelas sederhana SD Tegorejo…
langkah pertama perjalanan panjang hidup Yanti akhirnya dimulai.
Perjalanan tentang mimpi.
Tentang persahabatan.
Tentang cinta.
Tentang pengkhianatan.
Dan tentang seorang perempuan desa…
yang kelak harus menunggu sangat lama…
untuk menemukan kebahagiaan sejatinya di ujung senja.
BAB V
BAMBANG SI ANAK TENGIL
Hari-hari pertama di SD Tegorejo menjadi masa yang sangat menyenangkan bagi Yanti.
Setiap pagi ia selalu bangun lebih awal dibanding ayam jantan milik Pak Lurah. Bahkan sebelum ibunya selesai memasak nasi jagung, Yanti sudah mandi dan memakai seragam sekolahnya sendiri.
“Buk! Cepat sisirin rambutku!”
“Lho sabar…”
“Nanti aku telat!”
Sulastri sampai geleng-geleng kepala.
“Baru juga sekolah seminggu…”
“Ya biarin! Aku suka sekolah!”
Pak Wiryo yang sedang minum kopi langsung tertawa.
“Dulu waktu kecil bapaknya malah sembunyi kalau disuruh sekolah…”
“Serius, Pak?”
“Iya…”
“Kenapa?”
“Takut disuruh nulis…”
Yanti langsung tertawa keras.
“Hahaha! Bapak bodoh!”
“Eh enak aja!”
Rumah kecil itu selalu dipenuhi suara tawa setiap pagi.
Namun…
semangat Yanti pergi sekolah ternyata bukan hanya karena suka belajar.
Ada satu hal lain yang diam-diam membuatnya selalu bersemangat.
Teman-temannya.
Di SD Tegorejo…
Yanti mulai akrab dengan banyak anak.
Ada Anita yang pemalu dan lembut.
Ada Dandang yang mulutnya tidak pernah berhenti bercanda.
Ada Yuli yang paling cerewet sedunia.
Dan tentu saja…
Bambang.
Anak laki-laki paling usil satu sekolah.
Tubuh Bambang kecil kurus.
Kulitnya hitam terbakar matahari.
Rambutnya selalu berdiri seperti sapu ijuk karena jarang disisir.
Namun matanya sangat jahil.
Hari itu…
suasana kelas sedang tenang.
Bu Guru Siti sedang menulis huruf di papan tulis.
“Anak-anak, sekarang kita belajar membaca…”
“Iyaaaaa Buuuu…”
Yanti duduk manis di bangku depan.
Sementara Bambang duduk di belakang sambil melirik-lirik rambut Yanti.
Ia menyenggol Dandang pelan.
“Heh…”
“Apa?”
“Lihat…”
Bambang mengambil kertas kecil.
Lalu diam-diam ia membuat gambar monyet.
Setelah selesai…
kertas itu dilempar tepat ke kepala Yanti.
Tok!
Yanti menoleh cepat.
“Apa itu?!”
Dandang langsung menunduk menahan ketawa.
Sementara Bambang pura-pura serius melihat papan tulis.
Yanti membuka kertas itu perlahan.
Gambar monyet dengan tulisan besar:
“YANTI SI RAMBUT ANTENA.”
Yanti langsung melotot.
“Bambanggg!”
Satu kelas langsung menoleh.
Bu Guru Siti ikut berhenti menulis.
“Ada apa ini?”
Yanti berdiri sambil memegang kertas.
“Bambang ngejek saya!”
Bambang langsung pura-pura polos.
“Saya nggak ngapa-ngapain, Bu…”
“Bohong!”
“Buktinya mana?”
Yanti langsung menunjukkan kertas.
Bu Guru Siti membaca tulisan itu.
Lalu menatap Bambang tajam.
“Bambang…”
“Iya Bu…”
“Kamu yang bikin?”
Bambang masih mencoba mengelak.
“Bukan saya…”
Dandang langsung nyeletuk.
“Bohong Bu! Tadi dia gambar monyet mirip dirinya sendiri!”
Satu kelas langsung pecah tertawa.
“Hahahahaha!”
Bambang langsung berdiri.
“Heh Dandang!”
“Apaaa?”
“Kamu jangan ikut campur!”
“Ya habis monyetnya memang mirip kamu!”
Bahkan Bu Guru Siti sampai menahan senyum.
“Sudah… sudah…”
“Tapi Bambang nggak boleh mengejek teman.”
Bambang manyun.
“Iya Bu…”
“Tolong minta maaf.”
Bambang menoleh malas ke arah Yanti.
“Maaf…”
“Nggak ikhlas itu!” kata Yanti kesal.
Satu kelas kembali tertawa.
Namun meski sering jahil…
Bambang sebenarnya diam-diam suka memperhatikan Yanti.
Ia selalu mencari cara agar Yanti memperhatikannya.
Walaupun caranya sering keterlaluan.
Saat jam istirahat…
anak-anak bermain di halaman sekolah.
Ada yang bermain lompat tali.
Ada yang bermain gobak sodor.
Ada pula yang bermain kejar-kejaran.
Yanti duduk bersama Anita di bawah pohon mangga sambil makan bekal.
“Aku bawa tempe goreng…” kata Anita pelan.
“Aku telur dadar!” jawab Yanti bangga.
Tiba-tiba Bambang muncul entah dari mana.
“Heh…”
“Apa lagi?” tanya Yanti curiga.
Bambang duduk sembarangan di depan mereka.
“Kalian makan apa?”
“Rahasia.”
“Peliiiit…”
Yanti langsung menutup kotak makannya.
“Daripada nanti kamu isengin lagi.”
Bambang cengar-cengir.
“Aku nggak jahat kok…”
“Bohong!”
“Serius!”
“Terus kemarin siapa yang masukin belalang ke tasku?”
Bambang langsung tertawa ngakak.
“Hahaha! Lucu banget waktu kamu teriak!”
Yanti langsung mencubit lengan Bambang.
“Awww!”
“Rasakan!”
Anita sampai tertawa kecil melihat mereka.
Namun dari kejauhan…
ada sepasang mata lain yang memperhatikan.
Namanya Lila.
Anak perempuan berambut pendek yang duduk di bangku paling belakang.
Lila sebenarnya tidak terlalu dekat dengan siapa-siapa.
Namun sejak awal…
ia kurang suka melihat Yanti.
Menurutnya…
Yanti terlalu disukai guru.
Terlalu disukai teman-teman.
Dan terlalu sering jadi pusat perhatian.
“Huh…” gumam Lila pelan.
Yuli yang berdiri di dekatnya langsung bertanya.
“Kamu kenapa?”
“Enggak…”
“Tapi kamu lihat nggak…”
“Apa?”
“Semua orang perhatian sama Yanti terus.”
Yuli mengangkat bahu.
“Ya karena Yanti baik…”
Lila mendecih pelan.
“Atau cari perhatian…”
Hari-hari berlalu.
Yanti semakin dikenal sebagai anak pintar di kelas.
Nilai membacanya paling bagus.
Tulisan tangannya paling rapi.
Bahkan Bu Guru Siti sering memujinya di depan kelas.
“Anak-anak, coba lihat tulisan Yanti…”
“Bagus dan rapi…”
“Harus dicontoh…”
Bambang langsung berbisik ke Dandang.
“Kalau tulisan Yanti bagus…”
“Kenapa?”
“Berarti mukanya nggak usah bagus lagi…”
Dandang langsung tertawa terbahak.
“Hahahaha!”
Yanti mendengar itu.
Ia langsung mengambil penghapus lalu melempar Bambang.
Plak!
“Kenaaa!” teriak Dandang.
Satu kelas pecah tertawa lagi.
Bu Guru Siti sampai geleng-geleng kepala.
“Kalian ini…”
Namun suatu hari…
kenakalan Bambang mulai sedikit keterlaluan.
Saat pelajaran olahraga…
anak-anak diminta berlari mengelilingi lapangan kecil sekolah.
Yanti berlari bersama Anita.
Sementara Bambang dan Dandang berlari di belakang.
“Heh lihat…” bisik Bambang.
“Apa?”
“Aku punya ide…”
“Jangan aneh-aneh…”
Namun Bambang diam-diam mengikat tali sepatu Yanti saat mereka berhenti sebentar.
Ketika Yanti mulai berlari lagi…
BRUK!
Yanti jatuh tersungkur di tanah.
“Aduuuhhh!”
Anak-anak langsung kaget.
Bu Guru olahraga berlari mendekat.
“Yanti!”
Lutut Yanti lecet berdarah.
Anita panik.
“Ya Allah…”
Sementara Bambang yang awalnya tertawa…
langsung pucat melihat Yanti menangis.
“Aku… aku cuma bercanda…”
Bu Guru langsung marah besar.
“BAMBANG!”
Bambang menunduk ketakutan.
“Kamu tahu ini berbahaya?!”
“Saya nggak sengaja Bu…”
Yanti masih menangis sambil memegang lututnya.
Bu Guru segera membersihkan lukanya.
Sementara Bambang berdiri diam dengan wajah bersalah.
Untuk pertama kalinya…
ia merasa benar-benar bersalah pada Yanti.
Sepulang sekolah…
Bambang diam-diam mengikuti Yanti dari belakang.
Yanti berjalan pincang kecil sambil membawa tasnya.
“Heh…”
Yanti menoleh malas.
“Apa?”
Bambang menunduk.
“Maaf…”
Yanti diam.
“Aku nggak niat bikin kamu luka…”
“Bohong…”
“Serius…”
“Aku cuma bercanda…”
Yanti masih kesal.
“Bercandamu kebangetan.”
Bambang menggaruk kepala.
“Aku takut kamu nggak mau temenan lagi…”
Yanti melirik Bambang.
Untuk pertama kalinya…
anak tengil itu terlihat benar-benar sedih.
“Huh…”
“Maafin nggak?”
Yanti pura-pura berpikir.
“Kalau aku maafin…”
“Iya?”
“Besok traktir es lilin.”
Bambang langsung semangat.
“Siap!”
“Tapi dua!”
“Lho mahal!”
“Katanya mau minta maaf!”
Bambang langsung pasrah.
“Iya deh…”
Yanti akhirnya tertawa kecil.
Dan sore itu…
di jalan kecil Desa Tegorejo…
persahabatan masa kecil mereka kembali hangat.
Meski tak ada yang tahu…
bahwa kelak…
hubungan mereka akan berubah jauh lebih rumit daripada sekadar jahilan anak-anak sekolah dasar.
BAB VI
SAHABAT MASA KECIL
Musim penghujan mulai datang di Desa Tegorejo.
Langit hampir setiap sore dipenuhi awan gelap. Jalanan tanah merah berubah becek, sementara sawah-sawah tampak semakin hijau oleh guyuran air hujan yang turun hampir setiap hari.
Namun bagi anak-anak SD Tegorejo…
musim hujan justru menjadi musim paling menyenangkan.
Karena itu berarti…
banyak permainan baru.
Dan sore itu…
halaman belakang sekolah berubah menjadi arena perang lumpur.
“Heh! Lempar dia!”
“Jangaaaan!”
Plakkk!
Lumpur basah mengenai wajah Dandang.
Anak itu langsung melotot.
“Bambanggg!”
Satu kelompok anak langsung tertawa terbahak-bahak.
“Hahahahaha!”
Yanti sampai jongkok sambil memegang perut karena terlalu keras tertawa.
Dandang mengusap wajahnya penuh lumpur.
“Tunggu ya kalian…”
Ia mengambil segenggam lumpur besar.
Bambang langsung kabur.
“WOI JANGAN!”
Namun…
BRASSS!
Lumpur itu malah mengenai Anita yang berdiri diam di dekat pohon.
Suasana langsung hening.
Anita membeku.
Rambutnya penuh lumpur.
Pipinya belepotan.
Semua anak langsung menahan napas.
Dandang pucat.
“A… Anita…”
Anita perlahan menoleh.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Kamu jahat…”
Dandang langsung panik.
“Eh eh eh jangan nangis!”
Namun Anita benar-benar menangis.
“Hiks…”
Yanti langsung mendekat.
“Dandang! Kamu keterlaluan!”
“Aku nggak sengaja!”
“Anita nggak pernah ganggu siapa-siapa!”
Bambang ikut mendekat sambil menahan ketawa.
“Tapi lucu sih…”
“BAMBANG!” bentak Yanti.
“Oke oke salah…”
Anita masih menangis kecil.
“Aku jadi jelek…”
Yuli yang sejak tadi berdiri sambil membawa payung langsung nyeletuk.
“Tenang aja…”
Semua menoleh.
“Kenapa?”
“Anita dari tadi juga udah jelek.”
Satu detik sunyi.
Lalu…
“HHAHAHAHAHAHA!”
Semua anak langsung tertawa keras.
Bahkan Anita ikut tertawa di sela tangisnya.
“Heh Yuliii!”
Yuli tertawa sambil kabur.
“Bercanda!”
Hari-hari mereka selalu ramai.
Persahabatan kecil itu mulai terbentuk sangat kuat.
Meski sering bertengkar…
mereka selalu kembali bermain bersama.
Yanti perlahan menjadi pusat dari lingkaran persahabatan itu.
Bukan karena paling cantik.
Bukan juga karena paling pintar.
Tetapi karena Yanti selalu bisa membuat semua orang merasa nyaman.
Kalau Anita sedih…
Yanti yang menenangkan.
Kalau Bambang bertengkar…
Yanti yang melerai.
Kalau Dandang dihukum guru…
Yanti pula yang membantu mengerjakan tugasnya.
Dan entah kenapa…
semua anak mulai bergantung pada Yanti.
Suatu pagi…
kelas SD Tegorejo sangat ribut.
Bu Guru Siti belum datang.
Anak-anak bebas bermain di dalam kelas.
Dandang berdiri di atas bangku sambil membawa penggaris kayu seperti mikrofon.
“Selamat pagi pemirsa!”
Satu kelas langsung tertawa.
“Hari ini kita akan menyaksikan…”
Dandang menunjuk Bambang.
“Kontes muka paling jelek se-Tegorejo!”
“Hahaha!”
Bambang langsung melempar kapur.
“Heh!”
Namun Dandang menghindar cepat.
“Peserta pertama…”
Ia menunjuk Bambang lagi.
“Bambang si muka sandal jepit!”
Satu kelas langsung meledak tertawa.
“Hahahahaha!”
Bambang berdiri marah.
“Muka sandal jepit apaan?!”
“Soalnya gepeng!”
Tawa makin pecah.
Bahkan Yanti sampai menepuk meja.
“Dandang jahat banget!”
“Lanjut!” teriak anak-anak.
Dandang menunjuk Yuli.
“Peserta kedua…”
“Yuli si radio rusak!”
Yuli langsung melotot.
“Aku bukan radio rusak!”
“Iya…”
“Terus?”
“Radio keliling!”
Satu kelas kembali tertawa keras.
Karena memang…
Yuli terkenal paling cerewet sedunia.
Apa pun berita di sekolah…
pasti Yuli tahu lebih dulu.
“Aku laporin Bu Guru ya!”
“Lapor aja!”
Dandang malah makin semangat.
“Nanti aku bilang Bu Guru kalau kamu suka nguping orang!”
Yuli langsung diam.
“Eh jangan…”
“Hahaha kena!”
Namun di tengah keributan itu…
Lila duduk sendiri di bangku belakang.
Matanya terus memperhatikan Yanti.
Saat Yanti tertawa…
semua ikut tertawa.
Saat Yanti bicara…
semua mendengarkan.
Lila menggigit bibir pelan.
Ia sebenarnya ingin ikut dekat.
Namun gengsi.
Dan dalam hatinya…
mulai tumbuh rasa iri kecil yang perlahan semakin besar.
“Kenapa sih semua suka Yanti…” gumamnya pelan.
Redi yang duduk dekatnya mendengar.
“Karena dia baik…”
Lila mendecih.
“Atau pura-pura baik.”
Redi mengernyit.
“Kamu aneh…”
Lila tidak menjawab.
Matanya masih tertuju pada Yanti yang sedang tertawa bersama teman-temannya.
Tak lama kemudian…
Bu Guru Siti masuk kelas.
“Wah… ramai sekali…”
Anak-anak langsung kembali duduk.
Kecuali Dandang yang masih berdiri di atas meja.
“Dandang…”
“Iya Bu?”
“Kamu mau jadi murid apa jemuran?”
Satu kelas langsung tertawa.
Dandang turun cepat sambil nyengir.
“Siap Bu…”
Bu Guru mulai membagikan hasil ulangan membaca.
“Yang nilainya bagus ibu kasih hadiah.”
Anak-anak langsung semangat.
“Apa hadiahnya Bu?!”
“Nanti lihat saja…”
Satu per satu nama dipanggil.
Namun nilai tertinggi kembali diraih Yanti.
“Selamat ya, Yanti.”
Yanti berdiri malu-malu.
Anak-anak langsung tepuk tangan.
Bambang malah bersiul.
“Wiuuu!”
Bu Guru menyerahkan sebuah buku tulis baru bergambar bunga.
Mata Yanti langsung berbinar.
“Terima kasih Bu…”
“Rajin terus ya…”
“Iya Bu…”
Saat kembali duduk…
Bambang berbisik pelan.
“Heh…”
“Apa?”
“Pinjam bukunya nanti.”
“Buat apa?”
“Biar aku pintar juga.”
Yanti tertawa kecil.
“Kamu mah maunya nyontek.”
“Kalau nyontek sama orang pintar kan ikut pintar…”
“Logika dari mana itu?”
“Logika Bambang.”
Yanti langsung geleng-geleng kepala sambil tertawa.
Jam pulang sekolah tiba.
Hujan turun cukup deras.
Anak-anak terjebak di teras sekolah.
Dandang mulai bosan.
“Heh…”
“Apa lagi?” tanya Yuli.
“Kita cerita horor yuk.”
“Jangan!” Anita langsung takut.
“Kenapa?”
“Nanti aku nggak bisa tidur…”
Bambang langsung mendekat sambil menurunkan suara.
“Katanya…”
“Apa?”
“Di belakang sekolah ada kuntilanak…”
Anita langsung pucat.
“Bohong…”
“Serius…”
“Dia suka muncul kalau hujan…”
“Hiiiii…”
Yanti langsung memukul kepala Bambang pelan.
“Jangan nakut-nakutin!”
“Tapi serius!”
“Tadi malam aku lihat…”
“Lihat apa?”
“Bayangan putih…”
Dandang langsung nyeletuk.
“Itu sarung bapakmu dijemur!”
“Hahaha!”
Semua langsung tertawa lagi.
Suasana teras sekolah terasa hangat meski hujan deras turun di luar.
Mereka duduk berdempetan sambil tertawa, bercanda, dan saling mengejek.
Tak ada yang sadar…
bahwa persahabatan kecil itu suatu hari nanti akan diuji oleh cinta.
Oleh pengkhianatan.
Oleh rasa iri.
Dan oleh waktu yang perlahan mengubah semuanya.
Namun sore itu…
mereka masih hanya sekumpulan anak kecil dari Desa Tegorejo.
Yang belum tahu…
betapa rumitnya dunia orang dewasa nanti.
BAB VII
MIMPI DI BAWAH LAMPU MINYAK
Malam di Desa Tegorejo selalu datang dengan kesunyian yang khas.
Tidak ada suara kendaraan ramai.
Tidak ada lampu jalan terang seperti di kota.
Yang terdengar hanya suara jangkrik dari balik semak, gesekan dedaunan bambu yang tertiup angin malam, dan sesekali gonggongan anjing dari kejauhan.
Di rumah kecil Pak Wiryo…
lampu minyak mulai dinyalakan.
Cahayanya redup kekuningan.
Bayangan dinding papan tampak bergoyang pelan terkena pantulan api kecil dari sumbu lampu.
Sulastri sedang menanak nasi di dapur kayu.
Sementara Pak Wiryo baru saja pulang dari sawah dengan tubuh penuh lumpur.
“Huhhh… capek juga hari ini…”
Yanti yang sedang duduk di lantai langsung berlari menyambut ayahnya.
“Pakkk!”
“Iyaaa…”
“Kamu bau sawah!”
Pak Wiryo tertawa.
“Lho ya memang habis dari sawah.”
Yanti memeluk ayahnya sebentar lalu langsung mundur sambil menutup hidung.
“Ihh… kayak kerbau!”
“Eh anak ini!”
Sulastri sampai tertawa dari dapur.
“Hahaha! Makanya mandi dulu!”
Pak Wiryo pura-pura kesal.
“Nanti kalau bapak kaya…”
“Iya?”
“Bapak mandi pakai minyak wangi!”
Yanti langsung tertawa ngakak.
“Bapak mah cocoknya pakai minyak kayu putih!”
“Hahaha!”
Rumah kecil itu kembali dipenuhi suara tawa hangat.
Namun malam itu…
setelah makan malam sederhana dengan lauk tempe goreng dan sambal terasi…
Yanti tidak langsung tidur seperti biasanya.
Ia justru mengambil buku tulis lusuh dan pensil pendeknya.
Lalu duduk dekat lampu minyak.
Pak Wiryo yang sedang memperbaiki caping menoleh heran.
“Lho…”
“Kenapa Pak?”
“Kamu belum tidur?”
“Belum.”
“Mau ngapain?”
“Belajar.”
Pak Wiryo dan Sulastri saling pandang.
“Belajar malam-malam?”
“Iya…”
“Besok ada PR?”
“Nggak…”
“Terus?”
Yanti tersenyum kecil.
“Aku pengen pintar.”
Suasana mendadak sedikit hening.
Pak Wiryo memperhatikan anaknya serius.
Di bawah cahaya lampu minyak…
wajah kecil Yanti tampak sangat sungguh-sungguh.
Ia mulai menulis huruf demi huruf dengan lidah sedikit menjulur tanda fokus.
“A…”
“B…”
“C…”
Tulisan tangannya masih belum rapi.
Kadang miring.
Kadang terlalu besar.
Namun matanya…
penuh semangat.
Beberapa menit kemudian…
Bambang tiba-tiba muncul di depan rumah.
“Yantiiii!”
“Apaaa?”
“Ayo main petak umpet!”
“Enggak!”
“Lho kenapa?”
“Aku belajar!”
Bambang langsung masuk sambil melongo.
“Hah?!”
“Aku mau pintar.”
Bambang tertawa keras.
“Hahaha! Belajar malam-malam?!”
“Iya!”
“Kamu aneh…”
Yanti langsung manyun.
“Kamu yang aneh.”
Bambang duduk di lantai sambil memperhatikan buku Yanti.
“Kamu serius suka belajar?”
“Iya.”
“Memangnya enak?”
“Enak.”
“Bagian mana yang enak?”
“Kalau aku pintar…”
“Terus?”
“Aku bisa jadi guru.”
Bambang langsung tertawa lagi.
“Hahaha! Yanti jadi guru!”
“Kenapa ketawa?!”
“Karena nanti murid-muridmu pasti disuruh nulis seribu halaman!”
“Biar pintar!”
“Kalau aku jadi muridmu aku kabur.”
Pak Wiryo sampai ikut tertawa mendengar percakapan mereka.
Tak lama kemudian…
Dandang dan Yuli ikut datang.
“Heh Bambang ternyata di sini…”
“Yanti lagi belajar!” jawab Bambang.
Dandang langsung melotot lebay.
“Hah?!”
“Kenapa memang?”
“Kamu sakit?”
“Hah?”
“Orang normal malam-malam ya tidur!”
Yanti langsung melempar penghapus kecil ke arah Dandang.
Plak!
“Aduhh!”
Satu rumah langsung tertawa.
Anita yang datang paling belakang hanya tersenyum kecil sambil membawa singkong rebus.
“Ibu nyuruh nganter ini…”
“Waaah singkong!” teriak Bambang.
Belum sempat diizinkan…
Bambang sudah mengambil satu.
“Heh rakus!” kata Yuli.
“Daripada basi!”
Mereka lalu duduk melingkar di lantai rumah sederhana itu.
Lampu minyak kecil di tengah mereka membuat suasana terasa hangat.
Dandang mulai memperhatikan buku Yanti.
“Kamu kalau besar beneran mau jadi guru?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Yanti diam sebentar.
Lalu menjawab pelan.
“Karena guru itu hebat…”
“Hebat gimana?”
“Bisa bikin orang pintar…”
Suasana mendadak lebih tenang.
Bahkan Dandang yang biasanya banyak bercanda ikut diam mendengarkan.
Yanti melanjutkan.
“Kalau aku jadi guru…”
“Aku mau ngajarin anak-anak desa…”
“Supaya mereka nggak susah…”
Pak Wiryo yang mendengar dari sudut ruangan perlahan menunduk.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Namun di tengah suasana hangat itu…
Lila muncul di depan rumah.
Ia berdiri sambil melipat tangan.
“Kalian rame banget…”
“Oh Lila! Sini!” kata Yuli.
Lila masuk pelan.
Matanya langsung melihat buku Yanti.
“Kamu belajar lagi?”
“Iya.”
“Rajin banget…”
Nada bicara Lila terdengar aneh.
Yanti tidak menyadari.
Namun Yuli melirik sebentar.
Lila duduk perlahan.
Lalu berkata sambil tersenyum tipis.
“Kalau terlalu pintar nanti nggak punya teman lho…”
Bambang langsung nyeletuk.
“Lho Yanti temannya banyak!”
Lila tersenyum kecil.
“Iya sih…”
“Tapi biasanya anak paling pintar suka sombong…”
Suasana mendadak sedikit canggung.
Yanti langsung menggeleng cepat.
“Aku nggak sombong kok…”
“Iya sekarang…”
“Lho maksudmu apa?”
“Ya siapa tahu nanti…”
Dandang mulai merasa suasana tidak enak.
Ia langsung memotong.
“Heh daripada ngomongin pintar…”
“Apa?”
“Kita ngomongin Bambang aja.”
“Kenapa aku?!”
“Soalnya mukamu lebih menarik dibahas.”
“Hahaha!”
Suasana kembali cair.
Namun diam-diam…
kalimat Lila tadi membekas di hati Yanti.
Malam semakin larut.
Satu per satu temannya pulang.
Tinggal Yanti yang masih duduk di bawah lampu minyak.
Matanya mulai mengantuk.
Namun ia tetap menulis.
Pak Wiryo mendekat perlahan.
“Nduk…”
“Iya Pak…”
“Capek nggak?”
“Sedikit…”
“Tidur dulu…”
“Sebentar lagi…”
Pak Wiryo duduk di samping anaknya.
“Kenapa sih pengen banget jadi guru?”
Yanti berpikir sebentar.
Lalu menjawab lirih.
“Karena aku nggak mau ibu sama bapak susah terus…”
Kalimat itu membuat dada Pak Wiryo terasa sesak.
Ia mengusap kepala anaknya perlahan.
“Nggak usah mikir berat-berat…”
“Tapi aku pengen bikin bapak ibu bangga…”
Pak Wiryo tersenyum hangat.
“Kamu sudah bikin bangga…”
Yanti menatap ayahnya.
“Benarkah?”
“Iya…”
“Bahkan sebelum kamu jadi apa-apa…”
Air mata tipis mulai muncul di mata Yanti kecil.
Namun ia tersenyum.
Dan malam itu…
di bawah cahaya lampu minyak sederhana…
mimpi besar seorang anak desa mulai tumbuh perlahan.
Mimpi yang kelak membawanya pada perjalanan hidup panjang…
penuh cinta…
penuh luka…
dan penuh penantian hingga ujung senja.
BAB VIII
HUJAN DAN SURAT KECIL
Musim hujan semakin akrab dengan Desa Tegorejo.
Hampir setiap siang langit berubah gelap. Angin berembus lebih dingin melewati sawah dan kebun tebu di pinggir desa. Jalanan tanah berubah licin, sementara anak-anak justru semakin senang bermain air hujan.
Namun siang itu…
suasana SD Tegorejo terasa sedikit berbeda bagi Yanti.
Entah kenapa…
sejak pagi Bambang terlihat gelisah.
Biasanya anak itu paling ribut di kelas.
Paling sering bikin guru marah.
Paling banyak bicara.
Tapi hari itu…
ia malah diam.
“Heh…”
Dandang menyenggol lengannya.
“Apa?”
“Kamu sakit?”
“Enggak.”
“Terus kok kayak ayam kehilangan induk?”
Bambang mendecih.
“Ganggu aja…”
Yuli yang duduk di depan langsung menoleh.
“Eh serius…”
“Apa?”
“Dari tadi Bambang nggak jahilin Yanti.”
Satu kelas langsung menoleh ke arah Bambang.
Bambang langsung panik.
“Heh! Jangan keras-keras!”
Dandang langsung menyipitkan mata curiga.
“Wahhh…”
“Apaan?”
“Kamu habis ngelakuin dosa ya?”
“Hah?!”
“Biasanya mulutmu kayak radio rusak…”
“Hahaha!”
Anak-anak mulai tertawa.
Bambang makin salah tingkah.
Sementara Yanti hanya bingung melihat tingkah temannya itu.
Jam pelajaran berlangsung seperti biasa.
Namun diam-diam…
Bambang terus melirik ke arah Yanti.
Di bawah meja kayunya…
tangannya menggenggam selembar kertas kecil yang sudah kusut karena diremas berkali-kali.
Ia tampak gugup luar biasa.
“Heh…” bisik Dandang.
“Apa lagi?”
“Itu apa di tanganmu?”
“Bukan apa-apa!”
“Surat ya?”
Bambang langsung menutup mulut Dandang cepat-cepat.
“Sssttt!”
Dandang langsung membelalak.
“WOOOOY!”
Yuli yang mendengar langsung mendekat.
“Surat apa?!”
“Bukan surat!”
“Bohong!”
“Serius!”
Namun wajah Bambang sudah merah sendiri.
Yuli langsung menyeringai jahil.
“Heh jangan-jangan…”
“Apa?”
“Kamu suka sama Yanti?”
BRUK!
Bambang langsung jatuh dari kursi karena kaget.
Satu kelas langsung tertawa keras.
“HHAHAHAHA!”
Bahkan Bu Guru Siti yang sedang menulis di papan sampai menoleh.
“Bambang!”
“Iya Bu!”
“Kamu kenapa jatuh?”
“Lantainya licin Bu…”
Padahal lantainya kering.
Satu kelas makin susah menahan tawa.
Jam istirahat tiba.
Anak-anak langsung berhamburan keluar kelas.
Namun Bambang masih duduk diam.
Tangannya berkeringat.
Dandang duduk di sampingnya sambil menahan senyum.
“Kamu serius mau kasih?”
Bambang mengangguk pelan.
“Takut…”
“Takut apa?”
“Nanti diketawain…”
Dandang tertawa kecil.
“Ya memang lucu sih…”
“Heh!”
“Tapi yaudah kasih aja…”
Bambang menarik napas panjang.
Lalu melihat ke arah halaman sekolah.
Yanti sedang duduk bersama Anita di bawah pohon mangga sambil makan bekal.
Rambutnya dikepang dua.
Pita merahnya sedikit miring.
Namun senyumnya…
membuat Bambang makin gugup.
“Heh…” kata Dandang pelan.
“Apa?”
“Kamu beneran suka ya?”
Bambang diam cukup lama.
Lalu menjawab lirih.
“Sedikit…”
Dandang langsung tertawa ngakak.
“Hahaha! Bambang jatuh cinta!”
“Diam!”
Hujan mulai turun pelan.
Anak-anak berlari berteduh di teras kelas.
Yanti masih duduk sambil memandangi air hujan jatuh di halaman sekolah.
“Aku suka hujan…” katanya pelan.
Anita tersenyum kecil.
“Kenapa?”
“Dingin…”
“Kalau aku takut petir…”
Tiba-tiba…
Bambang muncul dari belakang mereka.
Wajahnya tegang.
“Heh…”
Yanti menoleh.
“Apa?”
Bambang langsung menyodorkan kertas kecil.
“Ini…”
“Apa?”
“Pokoknya baca nanti…”
“Hah?”
Belum sempat Yanti bertanya lagi…
Bambang langsung kabur.
“Heh Bambang!” teriak Yanti bingung.
Dari kejauhan…
Dandang tertawa sambil memukul tiang teras.
“Hahaha! Pucat banget mukanya!”
Yuli langsung penasaran.
“Itu apa?!”
“Entahlah…”
“Coba buka!”
Yanti membuka lipatan kertas kecil itu perlahan.
Tulisan di dalamnya miring-miring dan berantakan.
Namun masih bisa dibaca.
“Yanti jangan marah ya.
Aku suka lihat kamu ketawa.
Jangan bilang siapa-siapa.
Dari orang rahasia.”
Suasana langsung hening.
Yanti membelalak.
Anita menutup mulut menahan tawa.
Yuli langsung teriak.
“WOOOOOO!”
Satu teras langsung menoleh.
“Apa?!”
“Surat cintaaaa!”
“HAAAAAAAA?!”
Anak-anak langsung heboh.
Bambang yang masih berdiri jauh langsung pucat.
“Heh jangan keras-keras!”
Dandang sampai jongkok karena terlalu keras tertawa.
“Hahaha! Orang rahasia katanya!”
Yuli langsung teriak lagi.
“Padahal tulisannya kayak cakar ayam Bambang!”
Satu sekolah langsung pecah tertawa.
Bambang langsung menutupi wajahnya sendiri.
“Maluuuu…”
Yanti sendiri masih memegang surat kecil itu.
Pipinya mulai merah.
“Aku nggak ngerti…”
Yuli langsung menggoda.
“Cieee…”
“Apaan sih!”
“Yanti disukai Bambang!”
Anita tertawa kecil.
“Sebenarnya lucu juga…”
Yanti langsung manyun.
“Lucu dari mana…”
Namun diam-diam…
ia tersenyum sendiri.
Untuk pertama kalinya…
ada anak laki-laki yang memberinya surat.
Meski tulisannya jelek.
Meski bahasanya aneh.
Tetapi entah kenapa…
surat kecil itu membuat jantung Yanti berdebar aneh.
Namun dari sudut teras sekolah…
Lila memperhatikan semuanya dengan wajah datar.
Matanya menatap surat di tangan Yanti.
Lalu menatap Bambang yang masih malu-malu.
“Huh…”
gumamnya pelan.
Yuli melihat ekspresi itu.
“Kamu kenapa?”
“Enggak…”
“Tapi mukamu jutek banget.”
Lila tersenyum tipis.
“Menurutku itu kekanak-kanakan.”
“Ya memang kita masih anak-anak…” jawab Dandang spontan.
Satu kelompok langsung tertawa.
Lila langsung kesal sendiri.
Hujan semakin deras.
Anak-anak duduk bergerombol di teras sekolah sambil mendengar suara hujan menghantam atap seng.
Bambang akhirnya memberanikan diri mendekat lagi.
“Heh…”
Yanti menoleh.
“Apa?”
“Suratnya…”
“Kenapa?”
“Jangan dibuang ya…”
Yanti menatap Bambang beberapa detik.
Lalu tersenyum kecil.
“Iya…”
Bambang langsung nyengir lebar.
Dandang langsung berbisik ke Yuli.
“Wah bahaya…”
“Kenapa?”
“Bambang resmi jadi penyair kampung.”
“Hahaha!”
Suasana kembali dipenuhi tawa kecil anak-anak desa yang masih polos.
Namun tak ada yang sadar…
bahwa surat kecil sederhana di hari hujan itu…
adalah awal dari kisah panjang tentang cinta…
yang kelak akan tumbuh semakin rumit seiring bertambahnya usia mereka.
BAB IX
AHMAD DAN PANDANGAN PERTAMA
Waktu berjalan begitu cepat di Desa Tegorejo.
Musim demi musim berlalu.
Anak-anak kecil yang dulu bermain lumpur di halaman sekolah kini mulai beranjak remaja. Seragam putih merah berganti menjadi putih biru.
Dan pagi itu…
langit Tegorejo tampak cerah menyambut hari pertama masuk SMP.
Yanti berdiri di depan cermin kecil di rumahnya sambil merapikan jilbab putih barunya.
Rambutnya kini mulai panjang.
Wajahnya semakin manis.
Ada sesuatu dalam dirinya yang mulai berubah perlahan.
Bukan lagi anak kecil yang suka mengejar Bambang sambil membawa sandal.
Kini…
ia mulai tumbuh menjadi gadis remaja.
“Buk…” panggilnya pelan.
“Iya?”
“Jilbabku miring nggak?”
Sulastri mendekat lalu membetulkan sedikit bagian peniti.
“Nah… sekarang cantik.”
“Beneran?”
“Iya.”
Pak Wiryo yang sedang memakai sandal langsung nyeletuk.
“Anak bapak mah dari dulu cantik.”
Yanti langsung tertawa malu.
“Bapak mulai lagi…”
“Lho memang iya…”
“Kalau terlalu cantik nanti bahaya…” goda Sulastri.
“Bahaya kenapa?”
“Nanti banyak yang suka.”
Yanti langsung memutar mata.
“Ihh ibu…”
Namun diam-diam…
pipinya memerah sendiri.
Hari pertama SMP terasa jauh berbeda dibanding SD.
Bangunan sekolah lebih besar.
Muridnya lebih banyak.
Dan suasananya terasa lebih asing.
Yanti berjalan pelan bersama Anita dan Yuli memasuki gerbang sekolah.
“Ya ampun rame banget…” kata Anita gugup.
“Aku jadi takut…” tambah Yuli.
“Takut kenapa?”
“Katanya anak SMP suka galak.”
Dari belakang tiba-tiba terdengar suara.
“Heh minggir!”
BRUK!
Dandang menabrak mereka sambil berlari.
“Aduhhh!”
“Dandanggg!” teriak Yuli.
Dandang malah tertawa.
“Hahaha! Biar semangat!”
Tak lama kemudian…
Bambang muncul sambil membawa tas di pundak.
Rambutnya masih sama berantakan seperti dulu.
Namun tubuhnya mulai lebih tinggi.
“Heh Yanti…”
“Apa?”
“Kamu gugup nggak?”
“Enggak.”
“Bohong…”
“Serius.”
“Tanganmu gemetar tuh.”
Yanti langsung menyembunyikan tangannya.
“Heh jangan lihat-lihat!”
Bambang tertawa kecil.
Untuk sesaat…
suasana terasa sama seperti masa SD dulu.
Namun…
semuanya mulai berubah ketika seorang laki-laki berjalan melewati mereka.
Langkahnya tenang.
Seragamnya rapi.
Kulitnya sawo matang bersih.
Matanya teduh.
Anak laki-laki itu berjalan sambil membawa buku di dada.
Dan entah kenapa…
langkahnya membuat beberapa siswi langsung memperhatikannya.
“Eh…” bisik Yuli.
“Apa?”
“Itu siapa?”
“Siapa?”
“Yang lewat tadi…”
Anita ikut melirik.
“Oh…”
“Lumayan ganteng…”
Dandang langsung nyeletuk.
“Ah biasa aja.”
Bambang ikut melirik sekilas.
Namun entah kenapa…
dadanya langsung terasa tidak nyaman.
Sementara Yanti…
diam.
Matanya mengikuti langkah anak laki-laki itu tanpa sadar.
Untuk pertama kalinya…
jantungnya berdegup aneh.
Di dalam kelas…
murid-murid baru mulai duduk mencari tempat.
Yanti duduk dekat jendela bersama Anita.
Sementara Yuli duduk di belakang mereka.
Dandang dan Bambang duduk di pojok sambil bercanda.
Namun beberapa menit kemudian…
anak laki-laki tadi masuk kelas.
Dan ternyata…
ia sekelas dengan mereka.
“Heh…” bisik Yuli cepat.
“Itu lagi…”
Yanti pura-pura tidak peduli.
“Oh…”
Padahal diam-diam ia langsung salah tingkah.
Guru wali kelas masuk sambil membawa daftar nama.
“Selamat pagi anak-anak.”
“Pagiii Buuu…”
“Sebelum belajar, kita perkenalan dulu.”
Satu per satu murid mulai memperkenalkan diri.
Hingga akhirnya giliran anak laki-laki tadi.
Ia berdiri tenang.
“Nama saya Ahmad.”
Suaranya lembut.
“Rumah saya di Dusun Karanganyar.”
“Senang berkenalan dengan semuanya.”
Beberapa siswi langsung saling pandang.
“Wah suaranya enak…”
“Kalem banget…”
Bambang langsung mendecih pelan.
“Halah…”
Dandang menyenggolnya.
“Kamu kenapa?”
“Biasa aja.”
“Cemburu ya?”
“Apaan!”
Namun matanya tetap melirik ke arah Ahmad.
Giliran Yanti memperkenalkan diri.
Ia berdiri perlahan.
“Nama saya Yanti…”
Belum selesai bicara…
tiba-tiba Bambang nyeletuk keras.
“Anak paling rajin sedunia!”
Satu kelas langsung tertawa.
Yanti langsung melotot.
“Bambang!”
Guru sampai tersenyum.
“Wah berarti pintar ya?”
Yanti malu-malu.
“Biasa aja Bu…”
Namun saat duduk kembali…
tanpa sengaja matanya bertemu dengan Ahmad.
Dan anak laki-laki itu…
tersenyum kecil padanya.
DEG.
Entah kenapa…
jantung Yanti langsung berdebar keras.
Ia cepat-cepat membuang muka.
Yuli yang melihat langsung menyeringai.
“Heh…”
“Apa?”
“Kamu salting ya?”
“Apaan sih!”
“Hahaha!”
Jam istirahat tiba.
Kantin sekolah penuh sesak.
Yanti duduk bersama Anita dan Yuli sambil makan bakso.
Tiba-tiba…
sebuah bola plastik menggelinding ke kaki Yanti.
“Heh ambilin!” teriak Dandang dari lapangan.
Yanti mengambil bola itu.
Namun sebelum ia melempar…
Ahmad datang lebih dulu.
“Biar saya aja.”
“Oh…”
Ahmad tersenyum kecil lalu mengambil bola dari tangan Yanti.
“Terima kasih.”
“Iya…”
Suasana mendadak canggung.
Yanti jadi salah tingkah sendiri.
Ahmad lalu menoleh sebentar.
“Kamu dulu SD Tegorejo ya?”
Yanti kaget.
“Kok tahu?”
“Saya pernah lihat waktu lomba cerdas cermat kecamatan.”
“Oh…”
“Kamu juara waktu itu kan?”
Yanti tersenyum malu.
“Iya…”
“Hebat.”
Pipi Yanti langsung memerah.
Sementara dari kejauhan…
Bambang memperhatikan semuanya dengan wajah datar.
Dandang meliriknya.
“Heh…”
“Apa?”
“Mukamu kayak ketelan biji salak.”
“Diamlah…”
“Kamu nggak suka ya?”
“Nggak suka apaan?”
“Ahmad ngobrol sama Yanti.”
Bambang langsung berdiri.
“Aku mau main bola.”
Padahal pertandingan sudah selesai.
Sore hari…
sepulang sekolah…
Yanti berjalan pelan di jalan desa bersama Anita dan Yuli.
Namun pikirannya masih kacau.
Bayangan senyum Ahmad terus muncul di kepalanya.
“Yantiii…” goda Yuli.
“Apa…”
“Kamu senyum-senyum sendiri.”
“Enggak.”
“Bohong.”
Anita ikut tertawa kecil.
“Kayaknya ada yang mulai suka seseorang…”
Yanti langsung panik.
“Eh nggak!”
“Tadi waktu Ahmad ngomong mukamu merah.”
“Itu panas!”
“Padahal mendung…”
“Hahaha!”
Yanti langsung malu sendiri.
Dan tanpa ia sadari…
hari itu menjadi awal dari sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Perasaan aneh.
Hangat.
Membingungkan.
Dan diam-diam membuatnya mulai menunggu hari esok datang lebih cepat.
Karena sejak hari itu…
nama Ahmad perlahan mulai tinggal di dalam hatinya.
BAB X
CINTA PERTAMA DI BANGKU SMP
Hari-hari di SMP mulai berjalan lebih cepat bagi Yanti.
Entah kenapa…
ia jadi lebih semangat berangkat sekolah.
Kalau dulu alasannya karena ingin belajar…
sekarang ada alasan lain yang diam-diam mulai tumbuh di dalam hatinya.
Ahmad.
Nama itu mulai sering muncul dalam pikirannya.
Saat belajar.
Saat makan.
Bahkan saat hendak tidur malam.
Dan itu membuat Yanti sendiri bingung.
Pagi itu…
langit Desa Tegorejo cerah setelah hujan semalaman.
Jalanan desa masih sedikit basah ketika Yanti berjalan menuju sekolah bersama Anita dan Yuli.
Namun sejak tadi…
Yuli terus memperhatikan wajah Yanti dengan senyum aneh.
“Heh…”
“Apa?”
“Kamu berubah ya…”
“Berubah apa?”
“Sekarang kalau ke sekolah lebih lama dandan.”
Yanti langsung melotot.
“Apaan sih!”
“Dulu rambutmu kayak sapu ijuk.”
“Heh!”
“Sekarang jilbabmu disetrika rapi.”
Anita ikut tertawa kecil.
“Dan sekarang pakai bedak.”
Pipi Yanti langsung merah.
“Ini bukan bedak!”
“Terus?”
“Bedak bayi…”
“Hahahaha!”
Yuli langsung ngakak sambil memegang perut.
“Ya tetap aja bedak!”
Yanti langsung mengejar mereka sambil malu sendiri.
Sesampainya di sekolah…
suasana kelas masih ramai.
Beberapa anak laki-laki bermain lempar kertas.
Sebagian sibuk mengerjakan PR yang baru diingat pagi itu.
Dandang berdiri di atas kursi sambil pura-pura jadi penyiar radio lagi.
“Selamat pagi warga kelas delapan!”
“Hahaha!”
“Hari ini cuaca diperkirakan cerah…”
“Namun hati Bambang mendung…”
Satu kelas langsung menoleh ke arah Bambang.
“Heh!” bentak Bambang.
Dandang tertawa makin keras.
“Karena seseorang sekarang lebih sering ngobrol sama Ahmad!”
“HOOOOOO!”
Satu kelas langsung heboh.
Bambang langsung mengejar Dandang keliling kelas.
“MATI KAMU!”
Yanti yang baru masuk kelas langsung salah tingkah.
“Apaan sih kalian…”
Namun belum sempat suasana reda…
Ahmad masuk kelas.
Dan seperti biasa…
beberapa siswi langsung mendadak rapi duduknya.
“Eh Ahmad datang…”
“Rapi banget ya dia…”
“Kalem lagi…”
Yanti pura-pura membuka buku.
Padahal matanya diam-diam melirik.
Dan seperti kebiasaan beberapa hari terakhir…
Ahmad tersenyum kecil padanya.
DEG.
Yanti langsung salah fokus.
Pensilnya jatuh.
Tak sengaja mengenai kaki Bambang.
“Aduhh!”
“Eh maaf!”
Bambang menatap Yanti lama.
Lalu mendecih pelan.
“Kalau lihat orang jangan sambil mabuk…”
“Hahaha!”
Satu kelas langsung tertawa lagi.
Jam pelajaran berlangsung biasa.
Namun di tengah pelajaran Matematika…
Bu Guru memberi tugas kelompok.
“Nanti kelompoknya campur laki-laki dan perempuan.”
Satu kelas langsung ribut.
“Yeee!”
“Bu jangan…”
“Diam!”
Bu Guru mulai membagi kelompok.
Dan entah kebetulan atau tidak…
Yanti satu kelompok dengan Ahmad.
Yuli langsung menyenggol Anita keras.
“WOOOO…”
Yanti langsung menunduk malu.
Sementara Bambang tampak makin manyun.
“Kenapa sih muka kamu?” bisik Dandang.
“Kesel.”
“Karena?”
“Entahlah.”
Padahal ia sendiri sebenarnya tahu alasannya.
Sepulang sekolah…
kelompok mereka berkumpul di perpustakaan kecil sekolah.
Tempat itu sederhana.
Rak bukunya sudah tua.
Kipas anginnya berbunyi berdecit.
Namun suasananya cukup tenang.
Ahmad duduk di depan Yanti sambil membuka buku Matematika.
“Kamu ngerti nomor tiga?”
Yanti mendekat sedikit.
“Yang ini?”
“Iya.”
“Oh itu gampang…”
Yanti mulai menjelaskan.
Dan Ahmad memperhatikan serius.
Namun beberapa detik kemudian…
Ahmad malah tersenyum kecil.
“Kenapa?” tanya Yanti bingung.
“Kamu kalau jelasin serius banget.”
“Ya biar ngerti.”
“Cocok jadi guru.”
Yanti langsung diam.
Kalimat itu terasa aneh di hatinya.
Karena sejak kecil…
itu memang cita-citanya.
“Kamu mau jadi guru?” tanya Ahmad.
Yanti mengangguk pelan.
“Iya.”
“Kenapa?”
Yanti berpikir sebentar.
“Karena aku pengen ngajarin anak-anak desa…”
“Supaya mereka bisa sekolah tinggi…”
Ahmad menatap Yanti cukup lama.
Lalu tersenyum hangat.
“Itu cita-cita yang bagus.”
Jantung Yanti kembali berdegup aneh.
Namun dari luar perpustakaan…
Bambang berdiri diam memperhatikan.
Dandang mendekat sambil membawa gorengan.
“Heh…”
“Apa?”
“Kamu ngapain di sini?”
“Lihat-lihat.”
“Lihat siapa?”
“Lihat tembok.”
Dandang langsung tertawa.
“Temboknya namanya Ahmad?”
Bambang langsung kesal.
“Berisik.”
Dandang duduk di sampingnya.
“Kamu suka Yanti ya?”
Bambang diam.
“Kalau suka bilang.”
“Buat apa?”
“Daripada direbut Ahmad.”
Bambang langsung menatap perpustakaan lagi.
Wajahnya berubah serius.
Untuk pertama kalinya…
ia merasa takut kehilangan perhatian Yanti.
Sore hari…
hujan turun deras saat Yanti pulang sekolah.
Anita dan Yuli sudah dijemput keluarganya.
Tinggal Yanti berdiri sendirian di teras sekolah sambil memeluk tas.
“Yanti…”
Ia menoleh.
Ternyata Ahmad.
“Kamu belum pulang?”
“Belum…”
“Hujan deras…”
Ahmad lalu membuka tasnya.
Ia mengeluarkan payung biru tua.
“Ayo bareng.”
Yanti langsung gugup.
“Hah?”
“Rumahmu arah Tegorejo kan?”
“Iya…”
“Kebetulan searah sebagian.”
Yanti diam beberapa detik.
Lalu mengangguk pelan.
“Yaudah…”
Mereka berjalan berdampingan di bawah payung kecil.
Suara hujan terdengar lembut di sekitar mereka.
Jalanan desa mulai sepi.
Dan entah kenapa…
suasana terasa sangat berbeda.
Canggung.
Namun hangat.
“Yanti…”
“Iya?”
“Kamu suka hujan?”
Yanti tersenyum kecil.
“Suka.”
“Kenapa?”
“Karena hujan bikin dunia terasa tenang.”
Ahmad memandang jalan di depan sambil tersenyum.
“Kamu unik ya.”
“Unik gimana?”
“Cara mikirmu beda.”
Yanti menunduk malu.
Untuk beberapa saat…
mereka berjalan dalam diam.
Hanya suara hujan yang menemani.
Lalu tiba-tiba…
Ahmad berkata pelan.
“Aku senang kenal kamu.”
Langkah Yanti langsung melambat sedikit.
Jantungnya berdebar keras.
Pipinya terasa panas.
Dan saat itu…
Yanti sadar.
Ia benar-benar mulai jatuh cinta.
Cinta pertama.
Yang datang sederhana.
Di bangku SMP.
Di bawah hujan kecil Desa Tegorejo.
BAB XI
CEMBURU DI BALIK TAWA
Sejak pulang bersama di bawah payung hari itu…
hubungan Yanti dan Ahmad mulai semakin dekat.
Mereka memang belum pernah mengatakan apa pun tentang cinta.
Belum ada kata “pacaran”.
Belum ada pengakuan resmi.
Namun semua orang di kelas mulai bisa merasakan perubahan kecil di antara mereka.
Cara Ahmad memperhatikan Yanti.
Cara Yanti diam-diam mencari Ahmad saat masuk kelas.
Dan tentu saja…
itu tidak luput dari perhatian teman-teman mereka.
Pagi itu kelas delapan kembali ribut seperti biasa.
Dandang sedang menggambar wajah Bambang di papan tulis dengan tambahan kumis dan telinga monyet.
“Heh itu siapa?!” bentak Bambang.
Dandang pura-pura berpikir.
“Hm… mirip ketua RT.”
Satu kelas langsung tertawa pecah.
“Hahahaha!”
“Kurang ajar!”
Bambang langsung mengejar Dandang keliling kelas.
Sementara Yuli sibuk bergosip dengan Anita.
“Eh serius…”
“Apa?”
“Semalam Ahmad lewat depan rumah Yanti.”
Anita membelalak.
“Hah?!”
“Iya!”
“Kamu lihat?”
“Ya iya lah…”
“Ngapain?”
“Nggak tahu…”
Yuli menurunkan suara.
“Tapi Yanti senyum-senyum terus pagi ini.”
Anita langsung melirik Yanti yang sedang membuka buku sambil tersenyum sendiri.
“Hahaha iya juga…”
Yanti langsung sadar diperhatikan.
“Heh kenapa lihat-lihat?”
“Cieeeee…”
“Apaan sih!”
“Orang lagi jatuh cinta memang beda.”
Pipi Yanti langsung merah.
Namun sebelum ia sempat membalas…
Ahmad masuk kelas.
Dan seperti biasa…
matanya langsung mencari Yanti.
Bambang yang melihat itu langsung mendecih pelan.
“Halah…”
Dandang menyenggolnya.
“Mendung lagi?”
“Diamlah…”
Jam olahraga hari itu berlangsung di lapangan belakang sekolah.
Matahari cukup terik.
Anak laki-laki bermain sepak bola.
Sementara anak perempuan bermain voli sederhana menggunakan net seadanya.
Yanti tertawa lepas bersama Anita dan Yuli.
Rambut-rambut kecil di dekat dahinya basah oleh keringat.
Dan entah kenapa…
Ahmad beberapa kali diam-diam memperhatikannya dari lapangan bola.
“Heh Ahmad!” teriak Eko.
“Hah?”
“Konsentrasi woi!”
Bola langsung mengenai kepala Ahmad.
BUGH!
“Hahaha!”
Satu lapangan tertawa.
Ahmad memegang kepalanya sambil nyengir malu.
Dari lapangan voli…
Yanti ikut tertawa kecil.
Dan Ahmad malah makin salah tingkah.
Namun siang itu…
sesuatu mulai berubah.
Saat istirahat…
seorang siswi baru datang ke kelas mereka.
Namanya Rina.
Anak pindahan dari kota kecamatan.
Kulitnya putih bersih.
Rambutnya lurus.
Dan cara bicaranya lebih modern dibanding anak-anak desa lain.
“Selamat siang…”
Beberapa anak laki-laki langsung memperhatikan.
“Cantik juga…”
“Anak kota kayaknya…”
Yuli langsung mendekati Yanti.
“Heh saingan baru.”
“Hah?”
“Itu tuh…”
Yanti melirik sekilas.
“Oh…”
Namun saat Ahmad membantu membawakan buku Rina ke bangkunya…
entah kenapa dada Yanti terasa aneh.
“Heh…” goda Anita pelan.
“Kamu kenapa?”
“Enggak kenapa-kenapa.”
“Tapi mukamu berubah.”
“Biasa aja…”
Padahal jelas tidak biasa.
Untuk pertama kalinya…
Yanti merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Cemburu.
Sepulang sekolah…
Yanti berjalan lebih cepat dari biasanya.
Anita sampai bingung mengejarnya.
“Heh tunggu!”
Yanti diam saja.
“Kamu kenapa sih?”
“Enggak.”
“Bohong…”
Anita menarik tangan Yanti.
“Kamu cemburu ya?”
Yanti langsung berhenti.
“Hah?!”
“Soal Ahmad sama anak baru itu.”
Yanti langsung mengelak cepat.
“Siapa juga yang cemburu!”
“Tapi dari tadi kamu manyun.”
“Itu karena panas!”
“Padahal mendung…”
Yanti langsung kesal sendiri.
“Ah kamu sama Yuli sama aja!”
Namun diam-diam…
ia memang memikirkan itu terus.
Kenapa Ahmad terlihat ramah sekali pada Rina?
Kenapa tadi mereka sempat tertawa bersama?
Dan kenapa hal kecil seperti itu membuat hatinya tidak nyaman?
Malam harinya…
Yanti duduk di teras rumah sambil memandangi langit.
Angin malam berembus pelan.
Namun pikirannya kacau.
Tiba-tiba suara langkah terdengar dari depan rumah.
“Yanti…”
Ia menoleh cepat.
Ternyata Ahmad.
Jantungnya langsung berdebar.
“Kamu?”
Ahmad tersenyum kecil.
“Iya…”
“Kok malam-malam ke sini?”
“Mau balikin buku…”
Ahmad menyerahkan buku catatan yang dipinjamnya.
Namun Yanti menerimanya dengan wajah datar.
“Terima kasih.”
Ahmad langsung sadar ada yang berbeda.
“Kamu marah?”
“Enggak.”
“Bohong…”
“Serius.”
“Kalau serius kenapa mukamu kayak mau mukul orang?”
Yanti langsung menahan senyum.
Namun ia tetap pura-pura kesal.
“Ya memang nggak kenapa-kenapa.”
Ahmad duduk perlahan di kursi bambu teras.
“Hm…”
“Apa?”
“Kamu cemburu ya?”
DEG.
Yanti langsung panik.
“Hah?!”
Ahmad malah tertawa kecil.
“Jadi benar?”
“Enggak!”
“Terus kenapa jutek?”
Yanti menggigit bibir.
Untuk beberapa detik…
ia diam.
Lalu akhirnya berkata pelan.
“Aku nggak suka lihat kamu dekat sama Rina.”
Suasana langsung hening.
Ahmad memandang Yanti cukup lama.
Lalu tersenyum pelan.
“Kenapa?”
“Ya… nggak suka aja.”
“Karena?”
Yanti makin salah tingkah.
“Aku nggak tahu…”
Ahmad tertawa kecil.
Dan senyum itu…
membuat jantung Yanti kembali kacau.
“Yanti…”
“Iya?”
“Aku cuma bantu dia cari kelas.”
“Cuma itu?”
“Iya.”
“Serius?”
“Serius.”
Yanti perlahan menatap Ahmad.
Dan untuk pertama kalinya…
Ahmad berkata sangat pelan.
“Aku lebih senang ngobrol sama kamu.”
Kalimat sederhana itu…
langsung membuat wajah Yanti panas.
Ia menunduk cepat sambil tersenyum malu.
Sementara Ahmad diam-diam ikut tersenyum melihatnya.
Dari balik jendela rumah…
Sulastri memperhatikan semuanya sambil tersenyum kecil.
“Ah… anak gadis…”
gumamnya pelan.
Namun tanpa mereka sadari…
di ujung jalan desa…
ada seseorang yang sejak tadi berdiri diam memperhatikan.
Bambang.
Tangannya mengepal pelan.
Matanya menatap Ahmad dan Yanti yang tertawa bersama di teras rumah.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya…
rasa cemburu mulai tumbuh lebih dalam di hati Bambang.
Perasaan yang k
elak…
akan perlahan mengubah persahabatan mereka menjadi jauh lebih rumit.
BAB XII
AIR MATA, BAKSO, DAN SALAH PAHAM
Pagi itu suasana SMP terasa jauh lebih ramai dibanding biasanya.
Ada kabar bahwa minggu depan sekolah akan mengadakan pentas seni antar kelas.
Dan seperti biasa…
anak-anak langsung heboh bukan main.
“Aku mau nyanyi!”
“Aku mau baca puisi!”
“Aku mau sulap!”
Dandang langsung berdiri di atas kursi.
“Aku mau jadi artis terkenal!”
Bambang langsung nyeletuk.
“Muka kamu cocoknya jadi penunggu WC sekolah.”
Satu kelas langsung meledak tertawa.
“Hahahaha!”
Dandang pura-pura sakit hati.
“Heh! Jangan menghina calon bintang!”
“Bintang ketoprak.”
“Hahaha!”
Bahkan Yanti sampai memegang meja karena terlalu keras tertawa.
Namun di balik semua keramaian itu…
ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya.
Rina.
Entah kenapa…
anak baru itu semakin dekat dengan Ahmad.
Mereka sering bicara saat jam kosong.
Kadang tertawa bersama.
Dan setiap melihat itu…
hati Yanti selalu terasa tidak nyaman.
Hari itu…
saat jam istirahat…
Yanti duduk di kantin bersama Anita dan Yuli.
Namun sejak tadi ia hanya mengaduk bakso tanpa dimakan.
“Heh…” kata Yuli.
“Apa?”
“Baksonya salah apa?”
“Hah?”
“Dari tadi diaduk terus.”
Anita ikut memperhatikan.
“Kamu masih mikirin Rina ya?”
Yanti langsung mengelak cepat.
“Enggak!”
“Bohong…”
“Aku serius!”
Namun pipinya sudah cemberut sendiri.
Tiba-tiba…
Dandang datang sambil membawa es teh.
“Heh kalian tahu nggak…”
“Apa?”
“Bambang tadi latihan nyanyi.”
Yuli langsung melotot.
“Hah?!”
“Serius.”
“Terus?”
“Suara kambing kalah.”
Satu meja langsung tertawa keras.
“Hahahaha!”
Tak lama kemudian…
Bambang muncul dari belakang.
“Heh! Aku dengar ya!”
Dandang langsung kabur sambil tertawa.
Bambang duduk di samping Yanti.
Namun ia langsung sadar wajah Yanti sedang murung.
“Kamu kenapa?”
“Enggak.”
“Bohong.”
“Kok semua orang bilang aku bohong sih…”
“Karena mukamu gampang dibaca.”
Yanti mendesah pelan.
Bambang lalu melirik ke arah lapangan sekolah.
Di sana…
Ahmad sedang berbicara dengan Rina sambil tertawa kecil.
“Ohhh…” gumam Bambang.
“Apa?”
“Pantes…”
Yanti langsung melotot.
“Pantes apa?”
“Kamu cemburu.”
“AKU NGGAK CEMBURU!”
Teriakannya terlalu keras.
Satu kantin langsung menoleh.
Suasana langsung hening beberapa detik.
Lalu…
“HOOOOOOO!”
Anak-anak langsung menggoda ramai-ramai.
Yanti spontan menutupi wajahnya sendiri.
“Maluuu…”
Bambang malah tertawa puas.
“Hahaha! Ketahuan!”
Namun beberapa menit kemudian…
kejadian yang tidak disangka terjadi.
Saat Ahmad masuk ke kantin…
Rina tiba-tiba terpeleset karena lantai basah.
“Aaaah!”
BRUK!
Hampir saja jatuh…
namun Ahmad refleks menangkap tangannya.
Suasana kantin langsung heboh.
“Woooo…”
“Cieeee…”
Rina tertawa kecil malu-malu.
“Terima kasih…”
“Sama-sama…”
Dan entah kenapa…
pemandangan itu langsung menusuk hati Yanti.
Wajahnya berubah.
Ia langsung berdiri.
“Aku mau ke kelas.”
Anita panik.
“Heh tunggu!”
Namun Yanti sudah pergi cepat.
Di kelas…
Yanti duduk sendiri dekat jendela.
Matanya berkaca-kaca.
Ia sendiri bingung kenapa perasaannya jadi sesedih ini.
Padahal Ahmad belum tentu punya hubungan apa-apa dengan Rina.
Tapi tetap saja…
hatinya sakit.
Tak lama kemudian…
Ahmad masuk kelas.
Ia langsung sadar ada yang aneh.
“Yanti…”
Tidak dijawab.
“Yanti…”
Masih diam.
Ahmad duduk di sampingnya.
“Kamu marah?”
“Enggak.”
“Nggak mungkin.”
“Aku capek.”
“Bohong lagi…”
Yanti langsung menoleh cepat.
“Kamu kenapa sih selalu bilang aku bohong?!”
Ahmad sedikit kaget.
Sementara anak-anak lain mulai memperhatikan.
“Eh eh…”
“Berantem nih…”
Dandang langsung duduk paling depan seperti nonton bioskop.
“Heh jangan ribut dulu, aku belum beli kacang.”
“Hahaha!”
Namun suasana di dekat Yanti tetap tegang.
Ahmad bicara pelan.
“Aku salah apa?”
Yanti menahan air matanya.
“Kamu nggak salah.”
“Terus?”
“Ya nggak apa-apa.”
“Kalau nggak apa-apa kenapa mau nangis?”
Kalimat itu langsung membuat mata Yanti basah.
Dan tanpa sadar…
air matanya jatuh juga.
Satu kelas langsung hening.
“Heh…”
“Yanti nangis…”
Bambang yang baru masuk kelas langsung membeku.
“Astaga…”
Ahmad panik luar biasa.
“Eh eh jangan nangis…”
“Aku nggak ngerti salahku apa…”
Yanti mengusap matanya kasar.
“Udah sana sama Rina aja…”
DEG.
Satu kelas langsung melongo.
Dandang sampai berdiri.
“WADUH.”
Yuli menepuk jidat.
“Ketahuan juga akhirnya…”
Ahmad justru tampak bingung.
“Hah?”
“Kamu kan lebih suka sama dia…”
“Siapa?”
“Rina!”
Suasana kelas makin tegang.
Namun beberapa detik kemudian…
Ahmad malah tertawa kecil.
Yanti langsung kesal.
“Kamu malah ketawa?!”
“Aku nggak suka sama Rina.”
“Bohong.”
“Serius.”
“Terus kenapa sering ngobrol?”
“Karena dia sering nanya pelajaran.”
“Terus tadi di kantin?”
“Ya refleks nolong orang jatuh…”
Dandang langsung nyeletuk.
“Kalau aku yang jatuh nggak bakal ditolong.”
Bambang spontan menjawab.
“Karena kamu terlalu berat.”
“HHAHAHAHA!”
Satu kelas langsung pecah tertawa lagi.
Bahkan Yanti yang masih nangis ikut ketawa kecil.
Ahmad lalu menatap Yanti lembut.
“Denger ya…”
“Apa…”
“Aku lebih senang sama kamu.”
Kalimat itu membuat suasana kelas langsung heboh.
“WOOOOOOOO!”
Dandang sampai berdiri di meja.
“CIE CIEEE!”
Yuli menjerit histeris.
Anita menutup mulut sambil tertawa malu.
Sementara Bambang…
diam.
Ia tersenyum kecil.
Namun matanya tampak sedih.
Yanti sendiri sudah benar-benar malu setengah mati.
Wajahnya merah total.
“Kalian diem nggak sih!”
Malah makin ramai.
“Yanti salting!”
“Ahmad romantis!”
“Bakal jadian nih!”
Bu Guru yang baru masuk kelas sampai bingung.
“Lho ini kenapa ribut?”
Dandang langsung menjawab cepat.
“Pelajaran cinta Bu!”
PLAK!
Penghapus langsung melayang ke kepala Dandang.
“Hahahaha!”
Suasana kelas kembali penuh tawa.
Namun di balik semua itu…
diam-diam hati Yanti mulai merasa tenang kembali.
Karena untuk pertama kalinya…
ia mendengar langsung dari Ahmad…
bahwa dirinya memang istimewa di hati laki-laki itu.
BAB XIII
MALAM PASAR DAN PEGANGAN TANGAN PERTAMA
Desa Tegorejo malam itu tampak jauh lebih hidup dari biasanya.
Lampu-lampu bohlam menggantung di sepanjang lapangan desa. Musik dangdut terdengar dari pengeras suara tua yang sesekali suaranya sember. Aroma sate ayam, jagung bakar, dan gorengan bercampur memenuhi udara malam.
Pasar malam akhirnya datang.
Dan bagi anak-anak SMP seperti Yanti dan teman-temannya…
pasar malam adalah surga kecil tahunan yang selalu ditunggu-tunggu.
Sejak sore…
Yanti sudah sibuk memilih baju.
“Ibuuu…”
“Iya?”
“Baju yang biru apa merah?”
Sulastri sampai bingung.
“Lho memang mau ketemu presiden?”
“Ihh ibu…”
“Ya pilih aja yang nyaman.”
“Tapi yang mana bagus?”
Pak Wiryo yang sedang minum teh langsung nyeletuk.
“Yang penting jangan kayak badut.”
Yanti langsung manyun.
“Bapak mah…”
Namun akhirnya…
ia memilih baju biru muda sederhana dengan jilbab putih.
Saat berdiri di depan cermin…
ia tersenyum kecil sendiri.
Entah kenapa…
malam itu ia ingin terlihat lebih cantik.
Di depan rumah Anita…
anak-anak sudah berkumpul.
Ada Dandang yang dari tadi sibuk menyisir rambut pakai ludah.
Ada Bambang dengan jaket jeans lusuh andalannya.
Ada Yuli yang paling heboh sendiri.
Dan Anita yang tampak manis dengan senyum malunya.
“Heh lama banget!” teriak Bambang.
“Cewek emang gitu!” balas Dandang.
“Kalau aku jadi cewek…”
“Kamu tetep jelek,” potong Yuli cepat.
“HHAHAHAHA!”
Semua langsung tertawa.
Tak lama kemudian…
Yanti datang.
Dan suasana mendadak sedikit berubah.
Bambang sampai berhenti bicara.
Dandang melongo lebay.
“Waduh…”
“Apa?” tanya Yanti bingung.
“Kamu habis mandi parfum?”
“Hah?”
“Harum banget…”
Yanti langsung memukul lengan Dandang.
“Apaan sih!”
Namun sebelum suasana makin ramai…
Ahmad datang dari ujung jalan.
Memakai kemeja kotak sederhana dan celana hitam.
Dan ketika matanya melihat Yanti…
ia diam beberapa detik.
Yanti langsung salah tingkah.
Sementara Yuli langsung menyenggol Anita cepat.
“WOOOO…”
Anita tertawa kecil.
Ahmad mendekat sambil tersenyum tipis.
“Kamu… cantik malam ini.”
DEG.
Yanti langsung menunduk malu.
“Apaan sih…”
Dandang langsung pura-pura muntah.
“Uwekkk…”
Bambang langsung menendang kaki Dandang pelan.
“Diamlah.”
“Hahaha!”
Pasar malam benar-benar ramai.
Lampu warna-warni berputar di wahana komidi putar. Anak-anak kecil berlari membawa balon. Pedagang mainan berteriak menawarkan dagangannya.
“Balon! Balon!”
“Jagung bakar panas!”
“Es puter!”
Yuli langsung heboh.
“Aku mau semuanya!”
Dandang melotot.
“Dompetmu siap nggak?”
“Kan ada kalian.”
“Heh enak aja!”
Mereka berjalan bergerombol sambil tertawa.
Sesekali Dandang membuat lelucon receh yang tetap saja berhasil membuat semua tertawa.
Sementara Bambang sibuk menang lomba lempar bola demi hadiah boneka kecil.
“AYO BAM!”
“Masuk woi!”
PLAK!
Lemparannya malah kena kepala penjaga stand.
“HHAHAHAHA!”
Satu kelompok langsung ngakak.
“Maaf Pak!” teriak Bambang panik.
Di tengah keramaian itu…
Ahmad berjalan perlahan di samping Yanti.
Dan entah kenapa…
suasana terasa berbeda dibanding biasanya.
Lebih dekat.
Lebih hangat.
“Kamu sering ke pasar malam?” tanya Ahmad.
“Sering waktu kecil…”
“Takut nggak naik bianglala?”
“Sedikit…”
“Kalau bareng aku?”
Yanti melirik cepat.
“Kamu suka bikin orang salting ya…”
Ahmad tertawa kecil.
Dan senyum itu lagi-lagi membuat jantung Yanti kacau.
Tak lama kemudian…
rombongan mereka memutuskan naik rumah hantu.
Anita langsung pucat.
“Aku nggak mau…”
“Takut?” goda Yuli.
“Iya…”
Dandang langsung menyombongkan diri.
“Tenang! Ada aku!”
Lima menit kemudian…
yang paling keras teriak justru Dandang.
“AAAAAAAAAA!”
“Hahaha!”
Satu wahana penuh suara tawa.
Bahkan pocong jadi bingung sendiri.
“Heh itu hantunya takut sama Dandang kayaknya!” teriak Bambang.
“Hahaha!”
Saat wahana selesai…
Dandang keluar paling pucat.
“Aku hampir meninggal…”
Bambang langsung ngakak.
“Padahal hantunya cuma pakai bedak!”
Namun kejadian paling tak terlupakan malam itu terjadi saat mereka berdesakan di tengah kerumunan pasar.
Suasana sangat ramai.
Orang-orang saling dorong.
Yanti sempat kehilangan keseimbangan.
“Awas…”
Refleks…
Ahmad menarik tangan Yanti.
Dan untuk pertama kalinya…
tangan mereka saling bertaut.
DEG.
Dunia Yanti seolah berhenti beberapa detik.
Suara pasar malam terasa menjauh.
Yang ia rasakan hanya hangat tangan Ahmad.
Jantungnya berdetak sangat keras.
Sementara Ahmad menatapnya pelan.
“Kamu nggak apa-apa?”
Yanti bahkan sulit menjawab.
“I… iya…”
Namun Ahmad belum melepaskan tangannya.
Dan entah kenapa…
Yanti juga tidak ingin tangan itu dilepas.
Dari belakang…
Yuli langsung menutup mulut.
“ASTAGAAA…”
Anita ikut salah tingkah.
Dandang malah berbisik keras.
“Pegangan tangan coy!”
Bambang yang melihat itu…
langsung diam.
Senyumnya perlahan hilang.
Meski ia mencoba tertawa bersama yang lain…
namun malam itu…
hatinya terasa aneh.
Malam semakin larut.
Lampu-lampu pasar mulai tampak redup.
Namun suasana hati Yanti justru terasa semakin terang.
Di perjalanan pulang…
ia terus teringat momen tangan mereka bertaut tadi.
Bahkan saat Ahmad berjalan di sampingnya dalam diam…
dadanya masih berdebar.
Sampai akhirnya Ahmad berkata pelan.
“Yanti…”
“Iya?”
“Aku senang malam ini.”
Yanti tersenyum kecil.
“Aku juga…”
Lalu mereka sama-sama diam.
Malu.
Namun bahagia.
Dan malam pasar di Desa Tegorejo itu…
menjadi malam yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatan Yanti.
Karena malam itu…
untuk pertama kalinya…
ia merasa dicintai dengan sangat sederhana.
Di tengah lampu pasar malam.
Di antara suara tawa sahabat-sahabatnya.
Dan di balik genggaman tangan pertama yang membuat hatinya bergetar begitu lama.
BAB XIV
SURAT CINTA YANG TERBONGKAR
Sejak malam pasar itu…
hubungan Yanti dan Ahmad semakin dekat.
Mereka memang belum resmi berpacaran.
Namun hampir seluruh sekolah mulai menganggap mereka sudah saling suka.
Dan tentu saja…
itu menjadi bahan gosip paling panas di SMP mereka.
Terutama bagi satu orang.
Yuli.
Pagi itu…
baru saja Yanti masuk kelas…
Yuli langsung menyeretnya ke pojok.
“Heh sini!”
“Apa sih?!”
“Cepet!”
Yanti langsung panik.
“Kamu kenapa?”
Yuli menurunkan suara dramatis.
“Kamu jangan kaget…”
“Hah?”
“Tapi semalam…”
“Kenapa?!”
“Aku lihat Ahmad.”
DEG.
Jantung Yanti langsung berdegup cepat.
“Di mana?”
“Lewat depan rumahmu.”
“Hah?!”
“Terus dia berhenti.”
“Terus?!”
“Terus… dia cuma bengong.”
Yanti langsung melotot.
“YULI!”
“Hahaha!”
Anita yang datang belakangan langsung tertawa kecil.
“Kamu jangan suka bikin orang kaget…”
“Tapi serius…” kata Yuli sambil nyengir.
“Kayaknya Ahmad beneran suka berat sama Yanti.”
Pipi Yanti mulai merah lagi.
Dan itu membuat Yuli makin senang menggoda.
Namun pagi itu…
Ahmad belum datang ke kelas.
Dan entah kenapa…
Yanti jadi sering melihat pintu kelas.
“Heh…” goda Anita pelan.
“Apa…”
“Nungguin ya?”
“Enggak!”
“Bohong…”
“Kenapa semua orang bilang aku bohong terus sih…”
Yuli langsung tertawa.
“Karena mukamu gampang dibaca!”
Belum sempat Yanti membalas…
tiba-tiba Bambang masuk kelas sambil membawa sesuatu di tangannya.
Wajahnya penuh senyum jahil.
“Heh heh heh…”
Dandang langsung curiga.
“Mukamu kenapa kayak maling ayam?”
“Aku nemu harta karun.”
“Hah?”
Bambang mengangkat selembar kertas warna pink.
Satu kelas langsung penasaran.
“Itu apa?!”
“Surat cinta kayaknya…”
DEG.
Entah kenapa…
jantung Yanti langsung tidak enak.
Dan benar saja.
Saat Bambang membuka lipatan surat itu…
matanya langsung membesar.
“WADUH.”
“Apa?!”
Dandang langsung mendekat.
Bambang membaca keras-keras.
“Untuk seseorang yang membuatku selalu senang datang ke sekolah…”
Satu kelas langsung heboh.
“WOOOOOO!”
“Surat cinta!”
“Lanjut! Lanjut!”
Yanti mulai pucat.
Karena ia mengenali tulisan itu.
Tulisan Ahmad.
“Diam dulu!” teriak Bambang sok penting.
Lalu ia lanjut membaca.
“Aku nggak tahu sejak kapan mulai suka melihat senyummu…”
Yuli langsung menjerit.
“ASTAGAAAA!”
Anita menutup mulut sambil tertawa malu.
Sementara Yanti…
sudah ingin menghilang dari muka bumi.
“Itu buat siapa?!” teriak anak-anak.
Bambang membalik halaman belakang.
Dan di pojok bawah tertulis kecil:
Untuk Yanti.
“WOOOOOOOOOOOO!”
Satu kelas langsung pecah total.
Ada yang berdiri di meja.
Ada yang bersiul.
Ada yang tepuk tangan.
Yanti spontan menutupi wajahnya dengan buku.
“MATI AKU…”
Dandang sampai jatuh dari kursi karena terlalu keras tertawa.
“Hahaha! Ahmad romantis!”
Bambang ikut tertawa meski ada rasa aneh di dadanya.
“Heh Yanti!”
“DIEM!”
“Mukamu merah kayak tomat!”
“Hahaha!”
Dan di saat paling kacau itu…
Ahmad masuk kelas.
Begitu melihat seluruh kelas ribut…
ia langsung bingung.
“Ini kenapa?”
Semua mata langsung menoleh padanya.
Lalu serempak berteriak:
“CIEEEEEEE!”
Ahmad langsung berhenti melangkah.
“Apa-apaan…”
Bambang mengangkat surat itu tinggi-tinggi.
“Ini punyamu ya?!”
Wajah Ahmad langsung berubah.
“HEH!”
Ia cepat-cepat mendekat.
Namun Dandang keburu merebut surat itu.
“Waduh tulisan puitis!”
“Balikin!”
“Sebentar!”
Dandang membaca dramatis seperti pembaca puisi.
“Senyummu bikin hari-hariku jadi lebih indah…”
“HUWOOOOOO!”
Satu kelas makin heboh.
Ahmad langsung malu setengah mati.
Sementara Yanti sudah benar-benar tidak berani mengangkat wajah.
“BALIKIN!” bentak Ahmad sambil mengejar Dandang.
Namun Dandang malah lari keliling kelas.
“Hahaha!”
“Penyair kampung jatuh cinta!”
“Heh jangan baca keras-keras!”
Bahkan Bu Guru yang baru masuk kelas sampai terkejut.
“Lho ini kenapa?!”
Suasana langsung hening.
Dandang masih memegang surat.
Bu Guru menyipitkan mata.
“Itu apa?”
Dandang panik.
“Eh…”
Bambang langsung menunjuk Ahmad.
“Surat cinta Bu!”
Satu kelas kembali pecah.
Ahmad menutup wajahnya sendiri.
Sementara Bu Guru sampai geleng-geleng kepala sambil menahan tawa.
“Kalian ini…”
Namun beberapa menit kemudian…
setelah suasana agak tenang…
Bu Guru justru berkata santai.
“Sudah sudah…”
“Namanya juga remaja.”
Satu kelas langsung saling pandang.
“Eh Bu Guru ngerti juga…”
“Tapi ingat…”
“Jangan sampai pacaran bikin nilai turun.”
“Iyaaaa Buuuu…”
Yanti masih belum berani melihat Ahmad.
Namun diam-diam…
hatinya terasa hangat.
Karena isi surat itu benar-benar tulus.
Jam pelajaran berlangsung.
Namun suasana di kelas tetap penuh godaan.
“Heh Yanti…” bisik Yuli.
“Apa…”
“Kamu simpan suratnya nggak?”
“Masih sama Bambang…”
“Wah bahaya…”
Benar saja.
Bambang diam-diam masih membaca surat itu sambil nyengir sendiri.
“Heh balikin!” bentak Ahmad.
“Bayar dulu.”
“Apaan sih!”
“Dua bakso sama es teh.”
Dandang langsung ikut nimbrung.
“Aku saksi!”
“Hahaha!”
Akhirnya Ahmad menyerah.
“Yaudah nanti aku traktir.”
Bambang langsung mengembalikan surat itu dengan gaya menang lelang.
“Nah gitu.”
Sepulang sekolah…
Yanti berjalan lebih pelan dari biasanya.
Ahmad mengejarnya dari belakang.
“Yanti…”
“Iya?”
“Maaf…”
Yanti menoleh bingung.
“Kenapa minta maaf?”
“Suratnya ketahuan…”
Yanti langsung malu lagi.
“Itu salah siapa coba…”
“Aku nyimpennya di buku…”
“Terus?”
“Mungkin jatuh…”
Yanti tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya hari itu…
mereka sama-sama tertawa tanpa rasa malu lagi.
Ahmad lalu berkata pelan.
“Tapi isi suratnya serius.”
DEG.
Yanti kembali salah tingkah.
“Ahmad…”
“Iya?”
“Aku juga senang…”
“Sama kamu.”
Kalimat itu membuat Ahmad diam beberapa detik.
Lalu perlahan tersenyum sangat lebar.
Dan sore itu…
di jalan kecil Desa Tegorejo yang mulai disinari cahaya senja…
dua hati remaja mulai saling mengakui perasaan mereka.
Sederhana.
Polos.
Namun begitu tulus.
BAB XV
RETAKNYA PERSAHABATAN
Hari-hari setelah surat cinta Ahmad terbongkar menjadi masa paling ramai di kelas mereka.
Semua orang masih terus menggoda Yanti dan Ahmad tanpa ampun.
Kalau mereka duduk berdekatan…
langsung terdengar:
“Cieeeee…”
Kalau Ahmad meminjam pulpen Yanti…
langsung satu kelas ribut.
“Wah romantis!”
Bahkan saat keduanya hanya saling melihat sekilas…
Dandang bisa langsung teriak paling keras.
“WOOO ADA TATAPAN CINTA!”
“Hahaha!”
Yanti sering kali malu setengah mati.
Namun diam-diam…
ia bahagia.
Karena kini perasaannya dan Ahmad sudah tidak lagi sekadar tebakan.
Mereka memang belum resmi menyebut diri pacaran.
Tetapi hati mereka sudah saling tahu.
Namun…
tidak semua orang ikut bahagia.
Dan orang itu adalah Bambang.
Sejak kejadian surat cinta terbongkar…
anak tengil itu mulai berubah.
Ia masih bercanda.
Masih tertawa.
Masih jahil seperti biasa.
Namun ada sesuatu dalam dirinya yang perlahan mengeras.
Kadang ia diam terlalu lama.
Kadang ia memandang Ahmad dengan tatapan aneh.
Dan yang paling terasa…
ia mulai menjauh dari Yanti.
Siang itu…
anak-anak sedang latihan pentas seni di aula sekolah.
Dandang latihan drama komedi.
Yuli latihan menyanyi meski suaranya sering fals.
Anita sibuk membantu dekorasi.
Sementara Ahmad dan Yanti latihan membaca puisi berpasangan.
Dan sejak tadi…
Bambang hanya duduk di pojok aula sambil memainkan tutup botol.
“Heh…” kata Dandang mendekat.
“Apa?”
“Kamu kenapa?”
“Kenapa apanya?”
“Murung terus.”
“Biasa aja.”
Dandang duduk di sampingnya.
“Kamu masih suka sama Yanti ya?”
Bambang langsung diam.
Lama sekali.
Lalu akhirnya menjawab pelan.
“Aku juga nggak tahu…”
Dandang menatap sahabatnya cukup lama.
Untuk pertama kalinya…
ia melihat Bambang benar-benar sedih.
Di tengah latihan…
Bu Guru meminta Ahmad dan Yanti tampil mencoba puisi mereka.
Ahmad berdiri di depan.
Suaranya tenang dan lembut.
“Jika senja adalah akhir dari hari…
Maka biarlah aku menjadi langit yang tetap menunggumu…”
Suasana aula langsung hening.
Beberapa siswi sampai terdiam kagum.
“Romantis banget…”
Sementara Yanti melanjutkan dengan suara pelan namun penuh perasaan.
“Dan jika cinta adalah penantian…
Maka biarlah hatiku tinggal di langkahmu…”
Dandang langsung memegang dada lebay.
“ASTAGA…”
Yuli pura-pura pingsan.
“Hahaha!”
Namun Bambang justru berdiri tiba-tiba.
“Heh aku ke belakang.”
Dandang menoleh bingung.
“Lho…”
Namun Bambang sudah pergi keluar aula.
Di belakang sekolah…
Bambang duduk sendirian dekat pohon mangga tua.
Tangannya melempar batu kecil ke tanah berkali-kali.
Wajahnya kusut.
Tak lama kemudian…
Redi datang menghampiri.
“Heh…”
“Apa?”
“Kamu kabur?”
“Enggak.”
Redi duduk di sampingnya.
“Kamu cemburu ya?”
Bambang tertawa hambar.
“Kelihatan banget ya?”
“Lumayan.”
Bambang menghela napas panjang.
“Aku tuh…”
“Kenapa?”
“Aku suka Yanti dari kecil…”
Suasana mendadak lebih tenang.
“Dulu aku kira…”
“Kira apa?”
“Kalau aku selalu ada buat dia…”
“Dia bakal suka sama aku.”
Redi diam mendengarkan.
“Tapi ternyata…”
“Dia sukanya Ahmad.”
Kalimat terakhir itu terdengar sangat lirih.
Dan untuk pertama kalinya…
Bambang benar-benar merasakan patah hati.
Sore harinya…
masalah mulai muncul.
Saat latihan drama selesai…
anak-anak berkumpul di kelas sambil bercanda.
Dandang kembali jadi pusat keributan.
“Heh kalau nanti aku jadi artis…”
“Apa?”
“Aku nggak bakal lupa kalian.”
Yuli langsung menjawab cepat.
“Tenang…”
“Kenapa?”
“Kamu nggak mungkin jadi artis.”
“HHAHAHAHA!”
Semua tertawa.
Namun di tengah suasana itu…
Rina tiba-tiba masuk kelas.
“Heh Ahmad…”
“Iya?”
“Bisa bantu aku latihan Matematika nanti?”
Belum sempat Ahmad menjawab…
Bambang langsung nyeletuk keras.
“Wah cocok tuh!”
Satu kelas langsung menoleh.
“Cocok apaan?”
“Ahmad sama Rina.”
Suasana langsung berubah sedikit canggung.
Yanti perlahan diam.
Ahmad mengernyit.
“Heh ngomong apa sih…”
“Ya kalian sering bareng.”
Rina malah tertawa kecil.
“Boleh juga tuh.”
Darah Yanti langsung naik.
Namun ia mencoba tetap tenang.
Dandang langsung sadar suasana mulai tidak enak.
“Heh Bambang jangan aneh-aneh…”
Namun Bambang malah melanjutkan.
“Daripada sama Yanti…”
DEG.
Semua langsung diam.
Yanti menatap Bambang tidak percaya.
“Aku kenapa?”
Bambang langsung berdiri.
“Enggak kenapa-kenapa.”
“Tapi ngomonganmu tadi apa maksudnya?”
“Ya biasa aja.”
“Biasa aja dari mana?!”
Untuk pertama kalinya…
suara Yanti mulai meninggi pada Bambang.
Suasana kelas benar-benar tegang.
Ahmad mencoba menenangkan.
“Udah…”
Namun Yanti sudah kecewa.
“Kalau kamu punya masalah sama aku bilang!”
Bambang tertawa kecil hambar.
“Masalah?”
“Iya!”
“Aku nggak punya masalah.”
“Tapi kamu berubah!”
Bambang diam beberapa detik.
Lalu berkata pelan namun tajam.
“Mungkin aku capek lihat kalian.”
Suasana langsung hening total.
Bahkan Dandang tidak berani bercanda lagi.
Yanti membeku.
“Capek?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena dari dulu…”
“Aku juga suka sama kamu.”
DEG.
Kelas terasa mendadak sunyi.
Yanti benar-benar tidak menyangka Bambang akan mengatakan itu.
Bahkan Ahmad ikut diam.
Bambang tertawa kecil pahit.
“Lucu ya…”
“Dari kecil aku selalu jahilin kamu…”
“Padahal aku cuma pengen diperhatikan.”
Mata Yanti mulai berkaca-kaca.
Sementara Bambang menatap Ahmad.
“Tapi ya sudahlah…”
“Yang menang memang bukan aku.”
Kalimat itu membuat suasana makin sesak.
Dan tanpa menunggu jawaban siapa pun…
Bambang langsung keluar kelas.
Brak!
Pintu tertutup keras.
Meninggalkan suasana hening panjang.
Yanti perlahan duduk kembali.
Dadanya terasa berat.
Sementara Ahmad hanya diam memandang pintu kelas.
Untuk pertama kalinya…
persahabatan masa kecil mereka benar-benar mulai retak.
Dan mereka belum tahu…
retakan kecil itu kelak akan berubah menjadi konflik panjang…
yang ikut membentuk perjalanan cinta mereka di masa depan.
BAB XVI
HUJAN, PUKULAN, DAN PERASAAN YANG TERLUKA
Sejak pengakuan Bambang di kelas hari itu…
suasana pertemanan mereka berubah drastis.
Tidak ada lagi tawa lepas seperti biasanya.
Tidak ada lagi kejar-kejaran konyol di kelas.
Bahkan Dandang yang biasanya paling ramai…
mulai sering bingung harus bercanda seperti apa.
Karena sekarang…
setiap candaan terasa bisa melukai seseorang.
Pagi itu suasana kelas terasa canggung.
Anak-anak mulai masuk satu per satu.
Namun Bambang belum datang.
Yanti duduk diam sambil membuka buku pelajaran.
Tetapi matanya kosong.
Anita memperhatikannya pelan.
“Kamu belum tidur ya?”
Yanti mengangguk kecil.
“Semalaman kepikiran…”
“Soal Bambang?”
Yanti menunduk.
“Aku nggak nyangka…”
“Dia suka sama aku selama itu.”
Yuli yang biasanya cerewet pun ikut diam.
“Kasihan juga sih…”
Namun sebelum suasana makin sedih…
Dandang datang sambil membawa pisang goreng.
“Heh!”
“Apa?”
“Kalian jangan kayak orang habis kehilangan kambing.”
Yuli melotot.
“Dandang…”
“Aku serius!”
Ia duduk lalu berkata lebih pelan.
“Persahabatan kalian jangan rusak gara-gara beginian.”
Namun bahkan Dandang sendiri sebenarnya cemas.
Karena ia tahu…
Bambang bukan tipe orang yang gampang menunjukkan perasaannya.
Kalau sampai meledak seperti kemarin…
berarti luka di hatinya sudah terlalu lama dipendam.
Tak lama kemudian…
Ahmad datang.
Wajahnya juga terlihat murung.
Ia duduk tanpa banyak bicara.
Yanti melirik sekilas.
Namun mereka sama-sama diam.
Karena keduanya tahu…
situasi sekarang jauh lebih rumit.
Jam pertama dimulai.
Namun Bambang masih belum datang.
Hingga akhirnya…
saat pelajaran hampir selesai…
pintu kelas terbuka perlahan.
Dan Bambang masuk.
Seragamnya sedikit basah terkena hujan.
Rambutnya acak-acakan.
Namun wajahnya datar.
Tak ada senyum.
Tak ada candaan.
Ia langsung duduk tanpa melihat siapa pun.
Suasana kelas terasa semakin berat.
Bahkan Bu Guru sampai sadar ada yang aneh.
“Kalian habis berantem?”
Satu kelas diam.
Dandang cepat-cepat menjawab.
“Enggak Bu…”
Padahal semua orang tahu itu bohong.
Saat istirahat…
Ahmad akhirnya mendekati Bambang.
“Heh…”
Bambang diam.
“Kita ngobrol bentar.”
“Ngobrol apa?”
“Di luar.”
Bambang akhirnya berdiri.
Dan seluruh kelas langsung tegang melihat mereka keluar bersama.
“Heh…” bisik Yuli.
“Jangan-jangan berantem…”
Dandang langsung berdiri.
“Aku ikut ngawasin.”
“Hah?”
“Kalau ada baku hantam aku jadi wasit.”
“Hahaha!”
Namun di balik candaan itu…
semua sebenarnya khawatir.
Di belakang sekolah…
langit mulai mendung lagi.
Angin bertiup pelan melewati pohon-pohon mangga.
Ahmad berdiri menatap Bambang.
“Aku nggak mau kita musuhan.”
Bambang tertawa hambar.
“Siapa yang musuhan?”
“Kamu jelas marah.”
“Ya mungkin.”
“Karena Yanti?”
Bambang menatap Ahmad cukup lama.
Lalu berkata pelan.
“Kalau kamu di posisiku…”
“Gimana rasanya lihat orang yang kamu suka…”
“Dekat sama sahabatmu sendiri?”
Suasana langsung hening.
Ahmad tidak langsung menjawab.
Karena ia tahu…
kalau berada di posisi Bambang…
mungkin ia juga akan sakit hati.
“Aku nggak pernah niat nyakitin kamu,” kata Ahmad pelan.
Bambang tersenyum tipis.
“Tapi tetap sakit.”
Kalimat itu terasa berat.
Angin mulai bertiup lebih dingin.
Langit makin gelap.
Dan untuk beberapa detik…
keduanya hanya diam.
Sampai akhirnya Bambang berkata lagi.
“Tahu nggak…”
“Dari kecil aku selalu mikir…”
“Suatu hari Yanti bakal sadar kalau aku paling peduli sama dia.”
Ahmad menunduk pelan.
“Tapi ternyata…”
“Dia milih kamu.”
Ahmad menarik napas panjang.
“Aku nggak bisa bohong…”
“Aku juga sayang sama Yanti.”
Kalimat itu membuat Bambang tersenyum pahit.
“Makanya aku kalah.”
Namun tiba-tiba…
suara langkah cepat terdengar.
“HEH!”
Ternyata Yanti datang menyusul.
Di belakangnya ada Dandang, Yuli, Anita, dan beberapa anak lain.
“Kalian ngapain di sini?!” tanya Yanti panik.
Dandang langsung menjawab cepat.
“Takut ada tinju bebas.”
“Hahaha!”
Namun tak ada yang benar-benar tertawa.
Karena suasana masih tegang.
Yanti menatap Bambang pelan.
“Aku nggak mau kita jadi begini…”
Bambang menoleh.
“Terus harus gimana?”
“Aku tetap anggap kamu sahabat.”
Bambang tertawa kecil.
“Sahabat…”
“Aku pengen lebih dari itu, Yanti.”
Kalimat itu membuat mata Yanti mulai basah.
Dan saat itulah…
hujan turun deras tiba-tiba.
BRAK!
Suara petir menggema.
Anak-anak langsung panik mencari tempat berteduh.
“WOY HUJAN!”
“LARI!”
Dandang langsung terpeleset di tanah becek.
BRUK!
“HHAHAHAHA!”
Bahkan di tengah suasana emosional…
anak-anak tetap tertawa melihatnya.
“Kaki gueeee!”
Yuli sampai memegang perut karena terlalu keras tertawa.
“Makanya jangan sok jadi pengawal!”
Namun di tengah hujan deras itu…
Bambang tetap berdiri diam.
Air hujan membasahi wajahnya.
Yanti mendekat pelan.
“Heh…”
Bambang menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya…
Yanti melihat mata sahabat kecilnya benar-benar terluka.
“Aku minta maaf…”
Bambang menggeleng kecil.
“Kamu nggak salah.”
“Tapi…”
“Cinta itu nggak bisa dipaksa kan?”
Kalimat itu membuat Yanti makin sedih.
Ahmad lalu melangkah mendekat.
Suasana kembali menegang.
Namun tak disangka…
Bambang justru mengulurkan tangan pelan.
“Aku masih kesel sama kamu.”
Ahmad menatap tangannya beberapa detik.
Lalu menjabatnya.
“Tapi…”
“Jangan sakiti Yanti.”
Ahmad mengangguk pelan.
“Aku janji.”
Hujan masih turun deras.
Namun untuk sesaat…
ketegangan di antara mereka mulai sedikit mencair.
Meski luka di hati Bambang belum benar-benar sembuh…
setidaknya persahabatan mereka belum sepenuhnya hancur.
Dan di bawah hujan sore Desa Tegorejo itu…
mereka mulai belajar satu hal penting:
bahwa cinta pertama…
tidak selalu membuat semua orang bahagia.
BAB XVII
FITNAH DAN AIR MATA DI KELAS DELAPAN
Hari-hari setelah hujan dan perdamaian kecil itu…
keadaan memang terlihat lebih tenang.
Bambang mulai kembali bercanda meski tidak sebebas dulu.
Ahmad tetap dekat dengan Yanti.
Dan teman-teman mereka mencoba bersikap seperti biasa.
Namun…
di balik ketenangan itu…
perlahan mulai muncul bara kecil yang siap membakar semuanya.
Dan bara itu…
berasal dari seseorang yang sejak lama diam-diam menyimpan iri.
Lila.
Lila sebenarnya sudah lama tidak suka melihat Yanti selalu jadi pusat perhatian.
Di SD dulu…
Yanti selalu dipuji guru karena pintar.
Masuk SMP…
Yanti tetap disukai banyak teman.
Bahkan sekarang…
anak laki-laki paling kalem dan disukai banyak siswi, Ahmad, justru dekat dengannya.
Hal itu membuat hati Lila panas.
Apalagi…
beberapa kali ia melihat Budi—cowok kelas sebelah yang terkenal suka menggoda cewek—diam-diam juga memperhatikan Yanti.
Dan sejak saat itu…
Lila mulai berpikir sesuatu.
Pagi itu suasana sekolah cukup ramai karena latihan pentas seni makin dekat.
Anak-anak sibuk membawa properti.
Ada yang latihan tari.
Ada yang latihan musik.
Ada pula yang hanya numpang ribut.
Dandang sedang sibuk latihan lawakan di aula.
“Aku nanti jadi orang kaya.”
“Modalnya apa?” tanya Bambang.
“Ketampanan.”
Satu ruangan langsung hening.
Lalu…
“HHAHAHAHA!”
Bahkan penjaga sekolah ikut tertawa.
Dandang langsung tersinggung.
“Heh! Kalian nggak ngerti seni!”
Yuli langsung nyeletuk.
“Kalau muka kamu seni modern mungkin iya.”
“Hahaha!”
Suasana aula kembali ramai oleh tawa.
Namun di sudut ruangan…
Lila sedang berbicara pelan dengan Rina.
“Kamu tahu nggak…”
“Apa?”
“Katanya Ahmad sama Yanti sering jalan bareng sampai malam.”
Rina mengangkat alis.
“Terus?”
“Ya nggak baik aja dilihatnya.”
Padahal itu jelas dilebih-lebihkan.
Rina mulai tertarik mendengar gosip itu.
Dan Lila tersenyum tipis.
Siang harinya…
fitnah kecil mulai menyebar.
Awalnya hanya bisik-bisik.
Lalu berubah jadi gosip.
“Katanya Yanti sama Ahmad suka pergi diam-diam…”
“Serius?”
“Katanya pernah pegangan tangan di pasar malam…”
“Heh itu mah semua orang lihat.”
“Tapi katanya mereka sering ketemu malam-malam…”
Sedikit demi sedikit…
cerita itu mulai berubah makin liar.
Dan tanpa sadar…
nama Yanti mulai jadi bahan omongan.
Saat jam istirahat…
Yanti mulai merasa ada yang aneh.
Beberapa siswi melihatnya sambil berbisik.
Bahkan ada yang tersenyum sinis.
“Heh…” kata Anita pelan.
“Apa?”
“Kayaknya ada gosip tentang kamu.”
“Hah?”
“Entahlah…”
Yuli datang tergesa-gesa.
“Gawat.”
“Ada apa lagi?”
“Anak kelas sebelah ngomongin kamu sama Ahmad.”
Yanti langsung bingung.
“Ngomongin apa?”
Yuli ragu sebentar.
“Katanya kalian suka jalan malam berdua…”
Wajah Yanti langsung berubah.
“Hah?!”
“Dan katanya…”
Yuli makin pelan.
“Kalian udah pacaran kelewatan.”
DEG.
Darah Yanti langsung naik.
“Apa-apaan itu?!”
Anita langsung ikut kesal.
“Kurang ajar banget…”
Namun sebelum mereka sempat mencari tahu…
beberapa anak laki-laki lewat sambil tertawa.
“Eh Yantiii…”
“Kalau malam jangan pulang terlalu larut ya…”
“Hahaha!”
Wajah Yanti langsung pucat karena malu dan marah sekaligus.
Di kelas…
suasana mulai tidak nyaman.
Ahmad yang baru tahu gosip itu langsung emosi.
“Siapa yang nyebarin?”
Bambang ikut berdiri.
“Kalau ketemu orangnya gue tabok.”
Dandang mengangguk cepat.
“Setuju.”
Yanti sendiri mulai menahan air mata.
“Aku nggak pernah ngelakuin itu…”
Ahmad menatapnya lembut.
“Aku tahu.”
“Tapi semua orang ngomongin…”
Suara Yanti mulai bergetar.
Untuk pertama kalinya…
ia merasa harga dirinya benar-benar terluka.
Tak lama kemudian…
keadaan makin buruk.
Saat pelajaran berlangsung…
selembar kertas tiba-tiba dilempar ke meja Yanti.
Yuli cepat mengambilnya.
Dan begitu dibuka…
wajahnya langsung marah.
“Astaga…”
“Apa?” tanya Anita.
Di kertas itu tertulis:
“Anak alim ternyata suka jalan sama cowok malam-malam.”
Yanti langsung membeku.
Tangannya gemetar.
Sementara beberapa anak di belakang malah cekikikan.
Ahmad berdiri cepat.
“Siapa yang lempar?!”
Tak ada yang menjawab.
Namun matanya langsung tertuju pada kelompok Budi dan beberapa anak kelas sebelah yang sedang tertawa.
Budi malah menyeringai santai.
“Lho salah sendiri kalau jadi bahan gosip.”
BRAK!
Ahmad langsung memukul meja keras.
“Jangan sembarangan ngomong!”
Satu kelas langsung kaget.
Karena Ahmad yang biasanya paling tenang…
kini benar-benar marah.
Dan di situlah…
konflik besar mulai pecah.
Budi berdiri sambil tersenyum menantang.
“Kenapa?”
“Takut rahasianya ketahuan?”
“Heh!” bentak Bambang.
“Mulutmu dijaga!”
Namun Budi malah tertawa.
“Wah sekarang pahlawan semua ya?”
Dandang sampai berdiri sambil menggulung lengan baju.
“Gue kecil-kecil gini bisa nendang limpa lo.”
“Hahaha!”
Beberapa anak tertawa.
Namun suasana tetap panas.
Yanti akhirnya tidak tahan lagi.
“CUKUP!”
Satu kelas langsung diam.
Air matanya jatuh.
“Aku nggak pernah ngelakuin apa yang kalian omongin…”
Suasana mendadak hening.
“Aku capek…”
“Kenapa kalian jahat banget…”
Kalimat itu membuat beberapa anak mulai merasa bersalah.
Namun Lila yang duduk di belakang hanya diam sambil memandang sinis.
Ahmad mendekati Yanti perlahan.
“Yanti…”
Namun Yanti langsung pergi keluar kelas sambil menangis.
Anita dan Yuli cepat mengejarnya.
Sementara Ahmad berdiri dengan wajah penuh emosi.
Bambang menatap Budi tajam.
Dan untuk pertama kalinya…
persaingan remaja yang awalnya penuh canda…
mulai berubah menjadi konflik yang lebih serius.
Konflik tentang harga diri.
Tentang cinta.
Tentang iri hati.
Dan tentang fitnah yang perlahan mulai menghancurkan ketenangan hidup Yanti.
BAB XVIII
TAMPARAN, RAHASIA, DAN AWAL PENGKHIANATAN
Hujan turun sejak pagi di Desa Tegorejo.
Langit tampak gelap.
Udara dingin menyelimuti sekolah.
Namun suasana di kelas delapan jauh lebih dingin dibanding cuaca di luar.
Setelah kejadian fitnah kemarin…
semua terasa berubah.
Bisik-bisik masih terdengar di mana-mana.
Tatapan aneh masih mengikuti Yanti.
Dan yang paling menyakitkan…
beberapa teman perempuan mulai menjaga jarak darinya.
Pagi itu…
Yanti masuk kelas dengan langkah pelan.
Matanya sedikit bengkak karena menangis semalaman.
Anita langsung berdiri menyambutnya.
“Kamu nggak apa-apa?”
Yanti tersenyum tipis.
“Enggak apa-apa…”
Padahal jelas tidak baik-baik saja.
Yuli memeluk bahunya pelan.
“Biarin aja mereka.”
Namun sebelum Yanti sempat menjawab…
suara bisik-bisik kembali terdengar dari belakang kelas.
“Itu dia…”
“Yang suka keluar malam…”
“Katanya alim…”
Yanti langsung menunduk.
Dadanya terasa sesak.
Ahmad yang baru masuk kelas langsung mendengar semua itu.
Dan hari itu…
kesabarannya benar-benar habis.
BRAK!
Ia membanting bukunya ke meja.
Satu kelas langsung kaget.
“Kalau nggak tahu kebenaran…”
“Jangan asal ngomong!”
Suasana langsung hening.
Tak ada yang pernah melihat Ahmad semarah itu sebelumnya.
Bahkan Dandang sampai berbisik pada Bambang.
“Waduh…”
“Kalau orang kalem marah lebih serem ternyata…”
Bambang mengangguk pelan.
Namun matanya tetap memperhatikan Yanti yang tampak semakin sedih.
Tak lama kemudian…
Budi masuk kelas sambil tersenyum santai.
Seolah semua keributan itu hiburan baginya.
“Heh Ahmad…”
“Apa?”
“Ngapain marah-marah?”
Ahmad langsung berdiri.
“Karena mulutmu kebanyakan sampah.”
Satu kelas langsung tegang.
Dandang cepat-cepat berdiri di tengah.
“Heh heh heh…”
“Kita ini pelajar…”
“Bukan gladiator.”
“Hahaha…”
Tak ada yang tertawa kali ini.
Budi malah makin santai.
“Kalau nggak mau digosipin…”
“Ya jangan mesra-mesraan.”
PLAK!
Suara tamparan keras menggema di kelas.
Semua langsung membeku.
Ternyata…
Yanti menampar Budi.
Tangannya gemetar.
Matanya penuh air mata.
“Jangan hina aku…”
Suasana benar-benar sunyi.
Bahkan angin di luar jendela terasa ikut berhenti.
Budi memegang pipinya perlahan.
Ia tampak kaget.
Tak menyangka Yanti yang dikenal lembut berani menamparnya.
“Aku nggak pernah bikin malu siapa pun…”
suara Yanti bergetar.
“Tapi kenapa kalian terus nyakitin aku…”
Air matanya jatuh lagi.
Anita langsung memeluknya.
Sementara Ahmad mengepalkan tangan kuat-kuat menahan emosi.
Dan untuk pertama kalinya…
beberapa anak mulai sadar bahwa gosip itu sudah keterlaluan.
Namun masalah belum selesai.
Karena di balik semua kekacauan itu…
ada satu rahasia yang belum diketahui siapa pun.
Dan rahasia itu…
dimiliki Lila.
Sepulang sekolah…
Lila bertemu diam-diam dengan Budi di belakang kantin.
“Ngapain kamu bikin Yanti nangis?” tanya Budi.
Lila menyandarkan tubuhnya ke dinding.
“Biar dia nggak sok sempurna.”
Budi mengernyit.
“Jadi gosip itu dari kamu?”
Lila tersenyum kecil.
“Sebagian.”
“Kurang kerjaan banget…”
“Biar Ahmad nggak terlalu dekat sama dia.”
Budi menatap Lila cukup lama.
Lalu tertawa kecil.
“Jangan-jangan…”
“Kamu suka Ahmad?”
Wajah Lila langsung berubah.
“Apaan sih…”
Namun reaksinya sudah cukup menjawab semuanya.
Dan sejak saat itu…
Budi mulai memahami sesuatu.
Bahwa konflik ini bukan sekadar gosip biasa.
Ada rasa iri.
Ada kecemburuan.
Dan ada pengkhianatan diam-diam di dalamnya.
Sementara itu…
di pinggir jalan desa…
Ahmad berjalan bersama Yanti yang masih murung.
Mereka sama-sama diam cukup lama.
Hanya suara sandal dan angin sore yang terdengar.
Sampai akhirnya Ahmad berkata pelan.
“Maaf…”
Yanti menoleh.
“Kenapa kamu yang minta maaf?”
“Karena sejak dekat sama aku…”
“Kamu jadi banyak disakitin.”
Kalimat itu membuat hati Yanti kembali sesak.
Ia menggeleng pelan.
“Aku nggak nyesel kenal kamu.”
“Walaupun begini?”
“Iya.”
Ahmad menatap Yanti cukup lama.
Lalu berkata lirih.
“Aku pengen jagain kamu terus.”
DEG.
Air mata Yanti kembali jatuh.
Namun kali ini…
bukan karena sedih.
Melainkan karena merasa ada seseorang yang benar-benar peduli padanya.
Di kejauhan…
tanpa mereka sadari…
Bambang melihat semuanya dari bawah pohon bambu dekat jalan.
Wajahnya sulit dibaca.
Antara sedih.
Iri.
Dan kehilangan.
Redi yang berdiri di sampingnya ikut diam.
“Heh…”
“Apa?”
“Kamu masih belum bisa lupain Yanti ya?”
Bambang tertawa hambar.
“Kalau gampang lupa…”
“Mungkin dari dulu aku nggak bakal sesakit ini.”
Angin sore berembus pelan.
Dan di bawah langit mendung Desa Tegorejo…
hubungan mereka semua mulai memasuki fase baru.
Fase ketika cinta tak lagi sederhana.
Ketika persahabatan mulai diuji.
Dan ketika pengkhianatan perlahan tumbuh di antara orang-orang terdekat mereka sendiri.
BAB XIX
MALAM PENTAS SENI DAN HATI YANG MULAI TERPECAH
Hari pentas seni akhirnya tiba.
Sejak pagi SMP mereka sudah ramai luar biasa.
Bendera warna-warni dipasang di halaman sekolah. Panggung sederhana berdiri di lapangan dengan kain biru yang sedikit miring karena dipasang terburu-buru. Suara mikrofon sember berkali-kali terdengar:
“Tes… tes… satu… dua…”
Anak-anak sibuk mondar-mandir memakai kostum.
Ada yang berdandan terlalu tebal.
Ada yang salah kostum.
Ada pula yang hanya numpang ribut tanpa tampil apa-apa.
Dan seperti biasa…
Dandang menjadi manusia paling tidak bisa diam sedunia.
“Heh lihat aku!”
“Apa lagi?”
Dandang muncul memakai jas kebesaran pinjaman dari pamannya.
Lengannya kepanjangan.
Celananya kekecilan.
Dan rambutnya dikasih minyak terlalu banyak sampai mengilap seperti wajan habis dipakai goreng ikan.
“HHAHAHAHA!”
Satu kelas langsung tertawa sampai sakit perut.
Yuli sampai duduk di lantai sambil memegang perut.
“Ya ampun Dang…”
“Kamu kayak penyanyi dangdut gagal.”
Dandang langsung tersinggung.
“Heh! Ini gaya artis ibu kota!”
Bambang spontan nyeletuk.
“Iya… ibu kota kecamatan.”
“HHAHAHAHA!”
Suasana backstage kembali penuh tawa.
Namun di tengah keramaian itu…
Yanti justru terlihat gelisah.
Sejak kejadian fitnah kemarin…
ia memang mulai kembali tersenyum.
Namun luka di hatinya belum benar-benar hilang.
Apalagi…
bisik-bisik kecil masih sesekali terdengar di sekolah.
Dan malam itu…
entah kenapa perasaannya sangat tidak tenang.
Anita mendekat sambil membetulkan jilbab Yanti.
“Kamu cantik malam ini.”
“Ah masa…”
“Serius.”
Yuli ikut nimbrung.
“Hati-hati nanti Ahmad makin klepek-klepek.”
Pipi Yanti langsung merah.
“Yuliii…”
Namun tiba-tiba…
mata Yanti menangkap sesuatu.
Di sudut halaman sekolah…
Ahmad sedang berbicara dengan Rina.
Dan mereka terlihat tertawa bersama.
Senyum Yanti perlahan memudar.
“Heh…” kata Anita pelan.
“Apa?”
“Kamu jangan mikir aneh-aneh lagi.”
“Aku nggak mikir apa-apa.”
Padahal jelas wajahnya berubah.
Yuli langsung melirik ke arah Ahmad.
“Oh itu…”
“Mungkin cuma ngobrol biasa.”
Namun hati Yanti mulai tidak nyaman lagi.
Terlebih setelah semua gosip kemarin…
rasa takut kehilangan Ahmad perlahan mulai tumbuh di dalam dirinya.
Acara pentas seni dimulai meriah.
Penampilan pertama adalah tari tradisional.
Lalu ada drama komedi.
Dan tentu saja…
yang paling bikin heboh adalah penampilan Dandang.
Ia naik ke panggung dengan percaya diri berlebihan.
“Malam semuanya!”
“WOOO!”
“Aku akan membawakan puisi cinta.”
Bambang langsung teriak dari bawah.
“Turun aja sebelum hujan!”
“HHAHAHAHA!”
Dandang pura-pura tidak dengar.
Lalu mulai membaca puisi dengan gaya dramatis berlebihan.
“Cintaku padamu seperti bakso…
Hangat… bulat… dan bikin ketagihan…”
Satu lapangan langsung pecah tertawa.
Bahkan kepala sekolah sampai menunduk menahan ngakak.
Yuli hampir jatuh dari kursi.
“Bakso apaan itu!”
Namun Dandang tetap percaya diri.
“Kalau kamu jadi cabai…
Aku rela kepedasan demi cinta…”
“HHAHAHAHA!”
Seluruh sekolah benar-benar kacau oleh tawa.
Namun setelah suasana humor selesai…
tibalah giliran penampilan puisi romantis Ahmad dan Yanti.
Dan mendadak…
suasana berubah jauh lebih tenang.
Lampu panggung sederhana menyorot mereka berdua.
Yanti tampak cantik dalam balutan putih biru.
Sementara Ahmad berdiri tenang di sampingnya.
Dan ketika puisi mulai dibacakan…
semua orang langsung diam mendengarkan.
Ahmad:
“Jika waktu adalah sungai…
Maka aku ingin menjadi arus yang berjalan bersamamu…”
Yanti:
“Jika hidup adalah perjalanan panjang…
Maka biarkan aku tinggal di setiap langkahmu…”
Suasana lapangan benar-benar hening.
Angin malam berembus pelan.
Dan entah kenapa…
semua kata-kata itu terasa sangat nyata.
Bukan sekadar puisi.
Tetapi seperti isi hati mereka sendiri.
Namun di tengah penampilan itu…
sesuatu terjadi.
Saat Yanti melangkah sedikit mundur…
kakinya tersangkut kabel mikrofon.
“Aaaah!”
Tubuhnya hampir jatuh dari panggung.
Dan refleks…
Ahmad langsung memeluknya agar tidak terjatuh.
DEG.
Suasana mendadak heboh.
“WOOOOOOOO!”
Anak-anak langsung berteriak heboh.
Beberapa sampai berdiri dari kursi.
Yuli menjerit sambil memegang Anita.
“ASTAGAAAA!”
Dandang sampai meniup peluit entah dari mana.
“HUITTTT!”
Bambang yang melihat itu…
langsung diam.
Matanya menatap Ahmad yang masih memegang Yanti.
Dan entah kenapa…
dadanya kembali terasa sakit.
Yanti sendiri langsung malu luar biasa.
Wajahnya merah total.
Sementara Ahmad ikut salah tingkah.
“Eh maaf…”
“Nggak apa-apa…”
Namun suasana sudah telanjur heboh.
Bahkan guru-guru ikut tersenyum geli.
“Namanya juga anak muda…”
bisik salah satu guru.
Setelah penampilan selesai…
Yanti langsung turun panggung dengan jantung masih berdebar.
Namun saat berada di belakang panggung…
ia tiba-tiba mendengar suara pelan.
“Romantis banget ya…”
Ternyata Lila.
Wajahnya tersenyum.
Namun nadanya terasa sinis.
Yanti mencoba tersenyum biasa.
“Cuma refleks tadi.”
“Iya…”
“Tapi semua orang sekarang makin yakin kalian pacaran.”
Kalimat itu membuat Yanti kembali tidak nyaman.
Dan tanpa ia sadari…
Lila terus memperhatikannya dengan tatapan aneh.
Tatapan seseorang yang belum selesai dengan rasa iri di dalam hatinya.
Malam semakin larut.
Acara mulai selesai.
Namun sebelum pulang…
kejadian lain kembali membuat hati Yanti retak perlahan.
Saat ia sedang membereskan properti…
ia melihat Ahmad membantu Rina membawa kotak dekorasi.
Dan Rina tampak tertawa manja sambil menyentuh lengan Ahmad.
Entah kenapa…
hati Yanti langsung panas lagi.
Ahmad memang terlihat biasa saja.
Namun bayangan fitnah dan rasa takut kehilangan mulai memenuhi pikirannya.
Di sisi lain…
Bambang memperhatikan semuanya dalam diam.
Redi mendekat sambil berbisik pelan.
“Heh…”
“Apa?”
“Kayaknya hubungan mereka mulai nggak tenang.”
Bambang menatap jauh ke arah Yanti.
Lalu berkata lirih.
“Kadang…”
“Cinta nggak perlu dihancurin.”
“Karena rasa curiga bisa menghancurkannya sendiri.”
Angin malam berembus dingin melewati halaman sekolah.
Dan malam pentas seni yang awalnya penuh tawa itu…
perlahan menjadi awal dari pecahnya kepercayaan di antara hati-hati muda mereka.
BAB XX
FOTO, CEMBURU, DAN MALAM YANG MENGUBAH SEGALANYA
Hari-hari setelah pentas seni menjadi semakin rumit bagi Yanti.
Di satu sisi…
ia bahagia karena semakin dekat dengan Ahmad.
Namun di sisi lain…
rasa cemburu dan takut kehilangan perlahan mulai menguasai pikirannya.
Terlebih setelah kejadian Rina menyentuh lengan Ahmad malam itu.
Bayangan itu terus teringat di kepalanya.
Dan semakin ia mencoba melupakan…
semakin pikirannya kacau sendiri.
Pagi itu…
kelas delapan kembali ramai seperti biasa.
Namun Yanti tampak jauh lebih diam.
Ia hanya menulis di buku tanpa banyak bicara.
“Heh…” bisik Yuli.
“Apa…”
“Kamu masih mikirin Rina?”
“Enggak.”
“Bohong lagi.”
Anita ikut menatap Yanti prihatin.
“Kamu jangan terlalu dipendam sendiri.”
Yanti menghela napas panjang.
“Aku cuma takut…”
“Takut apa?”
“Takut Ahmad berubah.”
Kalimat itu membuat Anita dan Yuli saling pandang.
Karena untuk pertama kalinya…
mereka melihat Yanti benar-benar jatuh cinta sangat dalam.
Di sisi lain kelas…
Dandang sedang sibuk menggambar wajah Bambang lagi.
Kali ini lebih parah.
Ia menggambar Bambang dengan rambut botak dan gigi tonggos.
“Heh itu apaan?!” bentak Bambang.
“Foto masa depanmu.”
“HHAHAHAHA!”
Satu kelas langsung tertawa.
Namun tawa itu perlahan berhenti…
ketika Rina masuk kelas sambil membawa sesuatu.
Sebuah foto.
Dan tanpa rasa bersalah…
ia langsung menunjukkannya ke beberapa anak.
“Heh lihat…”
Anak-anak langsung mendekat penasaran.
“Apa tuh?”
“Foto waktu pentas seni.”
Namun beberapa detik kemudian…
suasana mulai berubah heboh.
“WOOOOO!”
“Cieeee!”
Yanti yang mendengar keributan langsung menoleh.
Dan saat melihat foto itu…
dadanya langsung terasa jatuh.
Foto itu memperlihatkan Ahmad memeluk Rina.
Padahal sebenarnya…
itu hanya sudut pengambilan gambar yang menipu.
Kejadiannya saat Ahmad membantu Rina yang hampir jatuh ketika membawa properti setelah acara selesai.
Namun di foto itu…
mereka terlihat sangat dekat.
Dan lebih parahnya lagi…
Rina sengaja tersenyum malu-malu saat memperlihatkannya.
“Heh kalian cocok juga…”
godanya ke Ahmad.
Beberapa anak langsung ikut menggoda.
“Wah Ahmad nggak cuma sama Yanti nih.”
“Hahaha!”
Wajah Yanti langsung berubah pucat.
Tangannya dingin.
Dan entah kenapa…
air matanya hampir jatuh lagi.
Ahmad yang sadar situasi mulai buruk langsung berdiri.
“Heh jangan sembarangan!”
“Lho ini cuma foto…” jawab Rina santai.
“Tapi jangan bikin salah paham.”
Namun semuanya sudah telanjur kacau.
Karena Yanti langsung berdiri dan keluar kelas.
“Heh Yanti!” teriak Ahmad panik.
Namun Yanti sudah pergi cepat.
Di koridor sekolah…
Yanti berjalan sambil menahan tangis.
Dadanya sesak.
Pikirannya kacau.
Dan yang paling menyakitkan…
ia mulai merasa tidak cukup baik.
“Kenapa sih aku begini…” gumamnya pelan.
Tak lama kemudian…
Ahmad menyusul.
“Yanti tunggu!”
Yanti berhenti.
Namun ia tidak menoleh.
“Itu cuma salah sudut foto…”
Yanti tertawa kecil pahit.
“Aku capek Ahmad…”
“Apa?”
“Capek terus cemburu…”
Ahmad langsung terdiam.
“Aku takut kehilangan kamu…”
Suara Yanti mulai bergetar.
“Aku takut suatu hari…”
“Kamu sadar kalau aku nggak istimewa.”
Kalimat itu membuat Ahmad benar-benar terpukul.
Ia mendekat perlahan.
“Heh…”
“Aku nggak pernah mikir begitu.”
“Tapi semua cewek suka sama kamu…”
“Terus?”
“Aku takut kalah.”
Ahmad memandang Yanti lama sekali.
Lalu berkata pelan.
“Di mataku…”
“Kamu beda.”
DEG.
Namun kali ini…
kata-kata itu belum cukup menenangkan hati Yanti.
Karena rasa takut sudah terlanjur tumbuh terlalu besar.
Sementara itu…
di dalam kelas…
suasana juga mulai panas.
Bambang langsung merebut foto dari tangan Rina.
“Heh ngapain sih kamu?!”
Rina melotot.
“Balikin!”
“Kamu sengaja ya?”
“Sengaja apaan?”
“Bikin Yanti salah paham!”
Rina mulai kesal.
“Aku cuma nunjukin foto!”
Namun Dandang ikut berdiri.
“Tapi mukamu tadi kayak penjual minyak gosok.”
“HHAHAHAHA!”
Beberapa anak tertawa.
Namun suasana tetap panas.
Dan saat itulah…
Lila masuk perlahan sambil tersenyum tipis.
“Heh…”
“Apa lagi?” tanya Bambang kesal.
“Menurutku…”
“Yanti memang terlalu posesif.”
BRAK!
Bambang langsung membanting meja.
“Jangan ngomong aneh-aneh!”
Satu kelas kaget.
Karena bahkan Bambang kini mulai terang-terangan membela Yanti.
Sepulang sekolah…
langit kembali mendung.
Yanti berjalan sendirian menuju rumah.
Pikirannya benar-benar kacau.
Dan saat melewati jalan kecil dekat kebun bambu…
tiba-tiba seseorang memanggilnya.
“Heh…”
Ternyata Bambang.
“Kamu kenapa pulang sendiri?”
“Pengin sendiri aja.”
Bambang berjalan pelan di sampingnya.
Beberapa saat mereka diam.
Lalu Bambang berkata pelan.
“Kalau Ahmad bikin kamu nangis terus…”
“Aku bisa bikin dia masuk sungai.”
Yanti spontan tertawa kecil di tengah tangisnya.
“Apaan sih…”
“Nggak lucu ya?”
“Sedikit.”
Bambang tersenyum tipis.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama…
Yanti merasa sedikit tenang saat bersama sahabat kecilnya itu.
Namun tanpa mereka sadari…
dari kejauhan Ahmad melihat semuanya.
Melihat Yanti berjalan bersama Bambang sambil tertawa kecil.
Dan entah kenapa…
kali ini justru hati Ahmad yang mulai dipenuhi rasa cemburu.
Angin sore bertiup dingin.
Langit semakin gelap.
Dan perlahan…
cinta pertama mereka mulai memasuki fase paling berbahaya:
saling curiga.
Saling takut kehilangan.
Dan mulai terluka oleh perasaan mereka sendiri.
BAB XXI
CEMBURU YANG MULAI MEMBAKAR
Sejak kejadian foto itu…
hubungan Yanti dan Ahmad mulai berubah.
Mereka masih saling bicara.
Masih duduk berdekatan di kelas.
Masih pulang lewat jalan yang sama.
Namun ada sesuatu yang hilang.
Kepercayaan yang dulu terasa hangat…
kini mulai retak sedikit demi sedikit.
Dan retakan itu…
diam-diam mulai membakar hati mereka sendiri.
Pagi itu suasana sekolah tampak cerah.
Namun tidak dengan suasana hati Ahmad.
Sejak semalam…
bayangan Yanti tertawa bersama Bambang terus muncul di kepalanya.
Padahal dulu…
ia selalu percaya pada Yanti.
Tetapi sekarang…
rasa takut kehilangan mulai membuat pikirannya kacau.
Dan untuk pertama kalinya…
Ahmad mulai merasakan cemburu yang menyakitkan.
“Heh…”
Dandang menyenggol Ahmad saat di kelas.
“Apa?”
“Mukamu kayak habis ditinggal ayam.”
“Apaan sih…”
“Kamu cemburu ya?”
Ahmad langsung diam.
Dandang langsung menunjuk wajahnya.
“Nah itu…”
“Apa?”
“Muka orang cemburu.”
Bambang yang duduk tak jauh dari sana mendengar itu.
Namun ia hanya tersenyum tipis tanpa komentar.
Tak lama kemudian…
Yanti masuk kelas.
Hari itu ia memakai jilbab biru muda.
Wajahnya masih terlihat sedikit murung.
Namun saat melihat Ahmad…
ia mencoba tersenyum kecil.
Dan biasanya…
Ahmad selalu membalas senyumnya.
Tapi kali ini…
Ahmad hanya diam.
DEG.
Hati Yanti langsung tidak enak.
Saat jam pelajaran berlangsung…
suasana di antara mereka terasa sangat canggung.
Ahmad lebih banyak diam.
Yanti juga bingung harus bicara apa.
Bahkan Yuli sampai gelisah melihatnya.
“Heh…”
“Apa?”
“Kalian habis berantem?”
“Enggak…”
“Bohong lagi.”
Yanti hanya menunduk.
Jam istirahat tiba.
Biasanya Ahmad selalu duduk bersama Yanti di kantin.
Namun hari itu…
ia malah duduk bersama Eko dan beberapa anak laki-laki lain.
Dan lebih parah lagi…
Rina ikut duduk di sana sambil tertawa-tawa.
Yanti yang melihat dari jauh langsung kehilangan selera makan.
Anita menghela napas.
“Waduh…”
Yuli langsung kesal.
“Cowok tuh kalau cemburu nyebelin ya.”
Namun sebelum mereka sempat bicara lebih jauh…
Bambang datang membawa dua es teh.
“Nih.”
“Hah?”
“Minum.”
Yanti menatap Bambang bingung.
“Buat apa?”
“Biar nggak nangis lagi.”
Dandang yang ikut datang langsung nyeletuk.
“Wah Bambang mode pahlawan.”
“Hahaha!”
Yanti akhirnya tersenyum kecil.
Dan tanpa sadar…
senyum itu kembali dilihat Ahmad dari kejauhan.
Dadanya langsung panas lagi.
Sepulang sekolah…
keadaan makin memburuk.
Saat Yanti sedang membereskan buku…
ia mendengar Ahmad bicara dingin.
“Kamu pulang sama Bambang aja sana.”
DEG.
Yanti langsung menoleh cepat.
“Apa?”
“Kan kalian sekarang dekat.”
Suara Ahmad terdengar datar.
Namun jelas penuh emosi tertahan.
Yanti langsung sakit hati.
“Kamu ngomong apa sih…”
“Aku cuma ngomong kenyataan.”
“Ahmad…”
“Kalau sama aku kamu gampang cemburu…”
“Tapi kamu sendiri ketawa-ketawa sama Bambang.”
Kalimat itu langsung menusuk hati Yanti.
Untuk pertama kalinya…
Ahmad benar-benar terdengar posesif.
“Aku sama Bambang itu sahabat!” bentak Yanti.
“Dulu aku juga nganggep biasa…”
“Tapi sekarang aku nggak tahu.”
Suasana kelas langsung hening.
Beberapa anak yang masih ada di dalam kelas mulai memperhatikan.
Dandang sampai berbisik pelan.
“Waduh mulai perang dunia…”
Bambang yang baru masuk kelas langsung berhenti melangkah.
“Ada apa?”
Tak ada yang menjawab.
Karena suasana sudah terlalu panas.
Yanti mulai menahan air mata.
“Kamu nggak percaya sama aku?”
Ahmad diam beberapa detik.
Dan diamnya itu…
lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.
Air mata Yanti akhirnya jatuh.
“Kalau kamu nggak percaya…”
“Ngapain kita dekat dari awal…”
Kalimat itu membuat Ahmad langsung merasa bersalah.
Namun emosinya masih terlalu penuh.
Dan saat itulah…
Bambang melangkah maju.
“Heh Ahmad.”
“Apa?”
“Kalau marah jangan nyakitin Yanti.”
Ahmad langsung menatap Bambang tajam.
“Kamu nggak usah ikut campur.”
Bambang tertawa kecil.
“Kalau dia nangis karena kamu…”
“Gue pasti ikut campur.”
Suasana langsung makin panas.
Eko sampai berdiri karena takut mereka berkelahi.
“Heh santai woi…”
Namun Ahmad dan Bambang kini saling menatap tajam.
Untuk pertama kalinya…
persaingan mereka terasa benar-benar nyata.
Yanti langsung berdiri di tengah.
“CUKUP!”
Semua langsung diam.
“Aku capek…”
Air matanya terus jatuh.
“Kalian jangan bikin aku makin sakit…”
Suasana mendadak sunyi.
Bahkan Dandang tidak berani bercanda lagi.
Yanti lalu mengambil tasnya.
Dan sebelum pergi…
ia berkata lirih.
“Aku pengen sendiri dulu.”
Lalu ia keluar kelas sambil menangis.
Meninggalkan Ahmad dan Bambang dalam diam panjang.
Langit sore kembali mendung.
Angin bertiup dingin melewati halaman sekolah.
Ahmad perlahan duduk di kursi sambil memegang kepalanya.
Ia mulai sadar…
cemburu sudah membuatnya melukai orang yang paling ia sayangi.
Sementara Bambang berdiri diam di dekat pintu.
Tatapannya masih tajam.
Namun di dalam hatinya…
ia justru semakin berharap.
Berharap suatu hari…
Yanti benar-benar berpaling dari Ahmad.
Dan tanpa mereka sadari…
konflik kecil yang awalnya hanya soal cinta remaja…
perlahan mulai berubah menjadi luka yang jauh lebih dalam.
BAB XXII
AIR MATA DI BAWAH POHON TREMBESI
Setelah pertengkaran di kelas itu…
hubungan Yanti dan Ahmad benar-benar memburuk.
Mereka masih saling melihat.
Masih berada di ruang kelas yang sama.
Namun kini…
ada jarak dingin yang perlahan tumbuh di antara mereka.
Dan yang paling menyakitkan…
mereka sama-sama gengsi untuk meminta maaf lebih dulu.
Pagi itu…
langit Desa Tegorejo tampak mendung sejak subuh.
Udara terasa lembap.
Dan suasana hati Yanti bahkan lebih suram dari langit pagi.
Semalaman ia menangis diam-diam di kamar.
Sulastri sampai heran melihat anaknya lebih banyak diam.
“Nduk…”
“Iya Bu…”
“Kamu sakit?”
“Enggak…”
“Tapi kok murung terus?”
Yanti hanya tersenyum tipis.
Sulit menjelaskan pada ibunya…
bahwa hatinya sedang kacau karena cinta pertama.
Di sekolah…
suasana kelas terasa aneh.
Ahmad datang lebih awal.
Namun kali ini…
ia tidak duduk dekat Yanti.
Ia memilih bangku belakang bersama Eko dan beberapa anak laki-laki lain.
Yanti yang masuk beberapa menit kemudian langsung menyadari itu.
Dadanya kembali terasa nyeri.
Namun ia pura-pura biasa saja.
Yuli langsung mendekat.
“Heh…”
“Apa?”
“Kalian masih perang dingin?”
Yanti malas menjawab.
“Biasa aja.”
“Kalau biasa aja mukamu nggak kayak orang habis ditinggal nikah.”
“Hahaha…” kata Anita pelan sambil mencoba mencairkan suasana.
Namun Yanti tetap tidak benar-benar tersenyum.
Sementara itu…
di bangku belakang…
Eko mulai memanas-manasi Ahmad.
“Heh…”
“Apa?”
“Kamu yakin Yanti sama Bambang cuma teman?”
Ahmad langsung diam.
Eko lanjut bicara.
“Gue sering lihat Bambang perhatian banget sama dia.”
Darah Ahmad mulai naik lagi.
Padahal sebenarnya…
ia sudah mulai menyesal bertengkar dengan Yanti.
Namun omongan Eko membuat pikirannya kembali kacau.
Di sisi lain…
Lila diam-diam memperhatikan semuanya.
Dan untuk pertama kalinya…
ia merasa rencananya mulai berhasil.
Hubungan Ahmad dan Yanti mulai retak.
Kepercayaan mulai hancur.
Dan itu membuatnya diam-diam puas.
Jam olahraga menjadi awal masalah baru.
Hari itu mereka bermain voli di lapangan sekolah.
Anak laki-laki dan perempuan dicampur.
Dan tentu saja…
suasana jadi ramai penuh teriakan.
Dandang yang tidak bisa main voli malah sibuk menghindari bola.
“Heh nangkep wooi!” teriak Bambang.
“Gue cinta damai!”
PLAK!
Bola malah kena mukanya mentah-mentah.
“HHAHAHAHA!”
Satu lapangan langsung pecah tertawa.
Dandang sampai muter-muter sambil memegang hidung.
“Dunia gelap…”
Yuli sampai jongkok karena terlalu keras ngakak.
Namun di tengah permainan itu…
situasi kembali panas.
Saat Yanti gagal menerima bola…
ia hampir terjatuh.
Dan refleks…
Bambang langsung menangkap tangannya.
“Ati-ati.”
DEG.
Beberapa anak langsung bersorak.
“WOOOO!”
“Cie Bambang!”
Yanti langsung buru-buru melepas tangannya karena malu.
Namun dari seberang lapangan…
Ahmad melihat semuanya.
Dan emosinya kembali terbakar.
Permainan selesai.
Namun Ahmad langsung pergi begitu saja tanpa bicara pada siapa pun.
Yanti yang sadar Ahmad salah paham mulai panik.
“Aduh…”
Anita menghela napas panjang.
“Kalian ini…”
Saat jam pulang…
hujan turun cukup deras.
Anak-anak tertahan di teras sekolah.
Suasana ramai.
Ada yang bercanda.
Ada yang rebutan jas hujan.
Ada yang sengaja belum pulang karena ingin dekat dengan gebetannya.
Dan di tengah keramaian itu…
Yanti akhirnya memberanikan diri mendekati Ahmad.
“Heh…”
Ahmad diam.
“Aku mau ngomong.”
“Nggak usah.”
Yanti langsung sakit hati.
“Kenapa sih kamu berubah begini?”
Ahmad menatap hujan deras di depan sekolah.
“Karena aku capek cemburu.”
Kalimat itu membuat Yanti membeku.
“Aku nggak pernah milih Bambang,” kata Yanti lirih.
“Tapi kamu selalu dekat sama dia.”
“Karena dia sahabatku!”
“Dan aku?”
Yanti langsung terdiam.
Ahmad akhirnya menoleh.
Matanya tampak lelah.
“Aku takut kehilangan kamu…”
Suara Ahmad mulai bergetar.
“Dan setiap lihat kalian dekat…”
“Rasanya aku marah sama diri sendiri.”
Yanti mulai menangis lagi.
“Aku juga takut kehilangan kamu…”
Namun di saat suasana mulai mencair…
tiba-tiba suara tepuk tangan terdengar dari belakang.
“Wah romantis banget.”
Ternyata Budi.
Di belakangnya ada beberapa anak laki-laki yang tertawa-tawa.
Ahmad langsung kesal.
“Apaan sih!”
Budi malah tertawa santai.
“Tenang aja…”
“Sekolah ini udah tahu kalian drama tiap hari.”
Yanti langsung malu sekaligus marah.
Namun sebelum mereka sempat pergi…
Lila tiba-tiba ikut muncul.
Dan kali ini…
ia membawa sesuatu.
Sebuah surat.
“Aku nemu ini di bawah meja kelas.”
Ahmad mengernyit.
“Surat apa?”
Lila tersenyum tipis.
“Kayaknya surat cinta.”
Suasana langsung hening.
Dan saat surat itu dibuka…
wajah Ahmad perlahan berubah.
Karena di dalamnya tertulis:
“Aku lebih nyaman sama kamu daripada sama Ahmad…”
Dan di bawahnya…
tertulis nama Yanti.
DEG.
Yanti langsung pucat total.
“Itu bukan tulisanku!”
Namun Ahmad sudah telanjur terluka.
Matanya penuh kecewa.
“Yanti…”
“Aku sumpah bukan aku!”
Namun suasana sudah kacau.
Anak-anak mulai berbisik lagi.
Dan Lila diam-diam tersenyum kecil di balik keramaian itu.
Ahmad perlahan meremas surat itu.
Wajahnya benar-benar terluka.
Sementara Yanti mulai panik dan menangis.
“Aku nggak pernah nulis itu…”
Namun Ahmad hanya berkata lirih.
“Aku pengen sendiri dulu.”
Lalu ia pergi menembus hujan deras.
“AHMAD!”
Yanti mencoba mengejar.
Namun Bambang menahan tangannya.
“Biarin dulu…”
Air mata Yanti jatuh semakin deras.
Dan di bawah pohon trembesi depan sekolah…
ia menangis tanpa tahu…
bahwa surat itu sebenarnya adalah awal dari pengkhianatan besar yang sengaja dirancang untuk memisahkan mereka.
BAB XXIII
SURAT PALSU DAN MALAM YANG MEMECAHKAN HATI
Hujan sore itu masih membekas di hati Yanti.
Bukan hanya karena Ahmad pergi tanpa menoleh lagi…
tetapi karena untuk pertama kalinya…
ia merasa orang yang paling ia percaya mulai meragukannya.
Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada semua gosip yang pernah menyerangnya.
Malam harinya…
Yanti duduk sendirian di kamar.
Lampu minyak kecil di meja belajarnya menyala redup.
Di luar…
suara jangkrik terdengar bersahutan.
Namun pikirannya jauh lebih berisik.
Ia terus teringat tatapan Ahmad sore tadi.
Tatapan kecewa.
Tatapan terluka.
Dan yang paling membuat dadanya sesak…
Ahmad tidak percaya padanya.
Sulastri masuk pelan sambil membawa teh hangat.
“Nduk…”
Yanti cepat-cepat menghapus air matanya.
“Iya Bu…”
“Kamu nangis?”
“Enggak…”
Ibunya duduk di samping ranjang.
“Nggak usah bohong sama ibu.”
Kalimat sederhana itu langsung membuat pertahanan Yanti runtuh.
Air matanya jatuh lagi.
Sulastri langsung memeluk anaknya perlahan.
“Cerita sama ibu…”
Namun Yanti hanya menggeleng.
Karena ia sendiri bingung bagaimana menjelaskan rumitnya cinta remaja yang sedang menghancurkan hatinya.
Sementara itu…
di rumah Ahmad…
suasana juga tidak tenang.
Ahmad duduk di teras sambil memandangi hujan gerimis yang belum berhenti.
Surat itu masih ada di sakunya.
Dan semakin ia mencoba berpikir logis…
semakin hatinya kacau.
“Kenapa aku jadi begini…” gumamnya pelan.
Ia ingin percaya pada Yanti.
Sangat ingin.
Namun rasa cemburu dan takut kehilangan sudah membuat pikirannya dipenuhi keraguan.
Tiba-tiba…
suara langkah kaki terdengar.
Ternyata Bambang datang bersama Redi.
“Heh…”
Ahmad menoleh pelan.
“Ada apa?”
Bambang duduk di sebelahnya.
Beberapa detik suasana hening.
Lalu Bambang berkata pelan.
“Lo percaya surat itu?”
Ahmad diam cukup lama.
“Aku nggak tahu.”
“Kalau menurut gue…”
“Itu bukan tulisan Yanti.”
Ahmad langsung menoleh cepat.
“Kenapa kamu yakin?”
Bambang tertawa kecil hambar.
“Karena gue udah kenal dia dari kecil.”
Kalimat itu membuat Ahmad kembali terdiam.
Di sisi lain…
Lila justru sedang merasa puas.
Ia duduk di kamar sambil tersenyum sendiri mengingat wajah Yanti yang menangis tadi sore.
Rina yang sedang mengobrol dengannya mulai merasa aneh.
“Heh…”
“Apa?”
“Kamu seneng banget lihat Yanti sama Ahmad ribut ya?”
Lila langsung pura-pura santai.
“Biasa aja.”
Namun Rina mulai curiga.
“Kamu jangan macam-macam deh…”
Lila tersenyum tipis.
“Kadang…”
“Orang terlalu sempurna memang harus jatuh sedikit.”
Kalimat itu membuat Rina mulai tidak nyaman.
Karena untuk pertama kalinya…
ia melihat sisi lain dari Lila.
Sisi yang penuh iri dan dendam diam-diam.
Keesokan harinya…
suasana sekolah benar-benar berbeda.
Yanti datang dengan mata sembab.
Ahmad juga tampak murung.
Dan yang paling menyiksa…
mereka saling menghindar.
Biasanya mereka duduk berdekatan.
Kini ada jarak dua bangku di antara mereka.
Biasanya mereka saling senyum saat bertemu.
Kini bahkan saling melihat pun terasa sulit.
Dandang yang melihat suasana itu sampai stres sendiri.
“Astaga…”
“Aku kangen kalian ribut biasa.”
Yuli menghela napas.
“Ini udah kayak sinetron jam tujuh malam.”
Anita menatap Yanti prihatin.
Sementara Bambang hanya diam memperhatikan semuanya.
Dan entah kenapa…
meski hatinya masih menyukai Yanti…
ia mulai merasa bersalah melihat keadaan mereka makin hancur.
Jam istirahat menjadi semakin kacau.
Karena entah siapa yang mulai menyebarkan…
isi surat palsu itu kini sudah diketahui hampir satu sekolah.
“Heh katanya Yanti lebih suka Bambang…”
“Serius?”
“Kasihan Ahmad…”
Bisik-bisik kembali menyebar.
Dan Yanti mulai merasa benar-benar dipermalukan.
Di kantin…
beberapa anak bahkan sengaja menggoda.
“Heh Bambang…”
“Kapan jadian?”
“Hahaha!”
Bambang langsung emosi.
“Mulut lo dijaga!”
Namun suasana sudah terlalu liar.
Budi malah ikut tertawa.
“Wah segitiga cinta makin seru.”
BRAK!
Ahmad langsung berdiri dari kursinya.
“Cukup!”
Suasana kantin langsung hening.
Karena kali ini…
kemarahan Ahmad benar-benar terlihat.
“Aku capek kalian bikin Yanti nangis terus!”
Kalimat itu membuat semua orang diam.
Termasuk Yanti yang sedang berdiri di dekat pintu kantin.
Matanya langsung berkaca-kaca lagi.
Ahmad menatap semua anak satu per satu.
“Kalau ada yang punya masalah…”
“Ngomong langsung.”
“Jangan sembunyi di balik gosip.”
Suasana benar-benar sunyi.
Namun di tengah keheningan itu…
Lila justru tersenyum kecil.
Karena semakin besar keributan…
semakin jauh hubungan Ahmad dan Yanti retak.
Sepulang sekolah…
Yanti akhirnya tidak kuat lagi.
Ia duduk sendirian di bawah pohon trembesi dekat lapangan.
Menangis diam-diam.
Dan beberapa menit kemudian…
Ahmad datang.
Mereka sama-sama diam cukup lama.
Hanya suara angin sore yang terdengar.
Lalu Ahmad duduk perlahan di sampingnya.
“Aku pengen percaya sama kamu…”
Suara Ahmad lirih.
Yanti menangis lebih keras.
“Itu bukan suratku…”
“Aku tahu…”
DEG.
Yanti langsung menoleh.
“Hah?”
Ahmad menatap tanah.
“Tapi aku marah…”
“Karena aku takut kehilangan kamu.”
Air mata Yanti terus jatuh.
Dan untuk pertama kalinya…
Ahmad ikut menangis pelan.
“Aku nggak pernah sesakit ini…”
Kalimat itu membuat hati Yanti hancur sekaligus hangat.
Karena di balik semua pertengkaran…
mereka ternyata sama-sama terluka oleh cinta yang terlalu dalam di usia yang masih sangat muda.
Namun tanpa mereka sadari…
bahaya sesungguhnya belum benar-benar dimulai.
Karena seseorang masih terus bermain di balik semua kekacauan itu.
Dan orang itu…
belum berniat berhenti.
BAB XXIV
WAJAH PENGKHIANATAN
Setelah percakapan di bawah pohon trembesi itu…
hubungan Yanti dan Ahmad memang sedikit membaik.
Namun luka yang sudah terlanjur tercipta belum benar-benar hilang.
Mereka masih canggung.
Masih hati-hati saat bicara.
Dan yang paling berbahaya…
rasa curiga diam-diam masih tersisa di hati keduanya.
Sementara itu…
gosip di sekolah belum juga reda.
Bahkan semakin liar.
Dan kali ini…
bukan hanya nama Yanti yang jadi bahan omongan.
Nama Bambang ikut terseret.
Pagi itu…
baru saja Bambang masuk kelas…
beberapa anak langsung bersiul.
“WOOO calon pacar baru Yanti datang!”
“Hahaha!”
Bambang langsung kesal.
“Mulut kalian…”
Namun Budi malah makin menjadi-jadi.
“Heh Bambang…”
“Jangan rebut pacar sahabat sendiri dong.”
BRAK!
Bambang langsung membanting tas ke meja.
Suasana kelas mendadak hening.
Karena wajahnya benar-benar marah.
“Gue bilang jangan asal ngomong.”
Budi berdiri sambil tersenyum miring.
“Kalau nggak salah…”
“Kenapa marah?”
Darah Bambang langsung naik.
Namun sebelum keributan pecah…
Ahmad tiba-tiba masuk kelas.
Dan untuk pertama kalinya…
ia berdiri di samping Bambang.
“Udah cukup.”
Budi mengangkat alis.
“Wah sekarang kompak lagi?”
Ahmad menatapnya dingin.
“Kalau ada masalah sama gue…”
“Jangan bawa-bawa Yanti.”
Suasana langsung tegang.
Dandang yang sejak tadi mengamati langsung berbisik ke Yuli.
“Waduh…”
“Kenapa?”
“Ini udah masuk season baru.”
“Hahaha…”
Namun bahkan candaan Dandang kali ini tidak terlalu mencairkan suasana.
Karena konflik mereka benar-benar sudah serius.
Di sisi lain…
Yanti mulai merasa sangat lelah.
Ia capek menangis.
Capek jadi bahan gosip.
Capek terus hidup dalam salah paham.
Dan untuk pertama kalinya…
ia mulai marah.
Bukan sedih lagi.
Tetapi marah.
Saat jam istirahat…
Yanti berjalan cepat menuju kelas kosong belakang perpustakaan.
Karena sejak tadi…
ia melihat sesuatu yang mencurigakan.
Lila dan Rina sedang berbicara diam-diam.
Dan saat Yanti mendekat…
keduanya tampak kaget.
“Kalian ngomongin apa?”
Lila cepat-cepat menjawab.
“Nggak ngomong apa-apa.”
Namun Yanti kali ini tidak mundur.
Matanya tajam.
“Surat itu…”
“Surat apa?”
“Jangan pura-pura nggak tahu.”
Suasana langsung tegang.
Rina mulai gelisah.
Sementara Lila tetap mencoba tenang.
“Aku nggak ngerti maksudmu.”
Namun Yanti kini mulai berani.
“Kenapa sejak awal kamu selalu nyebarin gosip tentang aku?”
Lila tertawa kecil.
“Geer banget.”
PLAK!
Yanti menepuk meja keras.
“Aku capek!”
Suara Yanti bergetar penuh emosi.
“Aku nggak pernah ganggu hidup kalian!”
“Kenapa kalian terus nyakitin aku?!”
Untuk pertama kalinya…
Rina benar-benar merasa bersalah.
Karena ia mulai sadar…
Lila memang sengaja memperkeruh semuanya.
Dan di saat itulah…
sesuatu yang tak terduga terjadi.
Rina tiba-tiba berkata pelan.
“Lila…”
Lila menoleh cepat.
“Apaan?”
“Udahlah…”
“Apaan udahlah?”
Rina menggigit bibirnya pelan.
“Kasih tahu aja semuanya.”
DEG.
Wajah Lila langsung berubah.
Yanti membeku.
“Apa maksudnya?”
Rina mulai gugup.
“Surat itu…”
“Itu memang bukan tulisanmu.”
Jantung Yanti langsung berdegup keras.
“Terus?”
Rina menatap Lila dengan takut.
“Yang bikin…”
“Lila.”
SUNYI.
Dunia Yanti seolah berhenti beberapa detik.
Ia menatap Lila tidak percaya.
“Kamu…?”
Lila langsung panik.
“Rina diam!”
“Tapi ini udah keterlaluan!”
“Aku cuma—”
“Kamu bikin hidup Yanti hancur!”
Suasana langsung kacau.
Dan di saat bersamaan…
Ahmad, Bambang, Dandang, Anita, dan Yuli yang baru datang ikut mendengar semuanya.
Mereka membeku di depan pintu.
Ahmad menatap Lila dengan wajah penuh kecewa.
“Jadi selama ini…”
“Semua fitnah itu…”
Lila mulai menangis.
“Aku cuma…”
“Cuma apa?!”
Untuk pertama kalinya…
Ahmad membentak seseorang sekeras itu.
Lila gemetar.
“Aku cuma iri…”
Air matanya jatuh.
“Semua orang selalu suka sama Yanti…”
“Guru-guru suka dia…”
“Teman-teman dekat sama dia…”
“Dan kamu…”
Lila menatap Ahmad sambil menangis.
“Kamu bahkan nggak pernah lihat aku.”
SUNYI.
Tak ada yang bicara.
Karena akhirnya…
semua kebusukan itu terbongkar.
Yanti perlahan mundur.
Dadanya sesak.
Ia tidak menyangka…
orang yang selama ini sering tersenyum di depannya…
ternyata diam-diam menghancurkan hidupnya.
“Kenapa…”
suara Yanti lirih.
“Aku nggak pernah jahat sama kamu…”
Lila menangis semakin keras.
“Makanya aku makin benci…”
Kalimat itu membuat suasana makin pilu.
Namun yang paling mengejutkan…
Ahmad perlahan berjalan ke arah Yanti.
Lalu di depan semua orang…
ia berkata pelan:
“Maaf.”
Yanti menatapnya dengan mata basah.
“Aku sempat ragu sama kamu.”
Air mata Ahmad ikut jatuh.
Dan itu pertama kalinya teman-teman mereka melihat Ahmad menangis.
“Aku harusnya percaya dari awal.”
Yanti langsung menangis lebih keras.
Semua emosi yang selama ini tertahan akhirnya runtuh begitu saja.
Bambang menghela napas panjang.
Dandang sampai ikut berkaca-kaca.
Namun seperti biasa…
mulutnya tetap tidak bisa diam.
“Ini sedih banget…”
“Hidung gue ikut banjir.”
“Hahaha…” kata Yuli sambil menangis kecil.
Bahkan di tengah suasana emosional…
mereka tetaplah sekelompok remaja yang tumbuh bersama dalam tawa dan luka.
Hari itu…
semua akhirnya terbongkar.
Fitnah selesai.
Persahabatan mulai diperbaiki.
Dan Ahmad akhirnya kembali menggenggam tangan Yanti dengan penuh keyakinan.
Namun di balik semua penyelesaian itu…
mereka belum sadar satu hal:
bahwa cinta remaja tidak pernah benar-benar tenang.
Karena setelah satu konflik selesai…
kehidupan selalu menyiapkan badai berikutnya.
BAB XXV
PENGAKUAN CINTA DI TEPI SUNGAI
Setelah rahasia surat palsu terbongkar…
kehidupan Yanti perlahan mulai kembali tenang.
Bisik-bisik di sekolah mulai berkurang.
Tatapan sinis mulai menghilang.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Yanti bisa tersenyum tanpa merasa takut dihakimi.
Namun…
meski konflik besar sudah selesai…
hubungan Yanti dan Ahmad justru memasuki fase baru.
Fase ketika perasaan mereka tidak lagi bisa disembunyikan.
Pagi itu…
udara Desa Tegorejo terasa sangat cerah.
Langit biru bersih.
Angin berembus pelan membawa aroma sawah yang mulai menguning.
Di sekolah…
suasana kembali ramai seperti biasa.
Dandang sudah mulai membuat keributan sejak pagi.
“Heh lihat!”
“Apa lagi?”
Dandang mengeluarkan sisir kecil dari sakunya.
“Aku sekarang mulai merawat ketampanan.”
Bambang langsung menatapnya datar.
“Kalau sawah disisir juga nggak berubah jadi hutan.”
“HHAHAHAHA!”
Satu kelas langsung pecah tertawa.
Yuli bahkan hampir tersedak minum.
Namun di tengah semua tawa itu…
Yanti diam-diam memperhatikan Ahmad.
Dan kali ini…
Ahmad membalas tatapannya sambil tersenyum hangat.
DEG.
Jantung Yanti kembali berdebar seperti dulu.
Sejak kejadian di kelas kosong kemarin…
Ahmad berubah jauh lebih perhatian.
Ia sering membantu membawakan buku Yanti.
Sering menunggu Yanti pulang.
Dan tidak lagi gengsi menunjukkan rasa sayangnya.
Bahkan Anita sampai berbisik pada Yuli.
“Sekarang mereka makin jelas ya…”
Yuli langsung nyengir.
“Kurang nikah aja.”
“Hahaha!”
Yanti langsung memukul lengan mereka malu-malu.
Namun di balik kebahagiaan itu…
Bambang justru semakin sering diam.
Ia memang ikut lega karena fitnah sudah selesai.
Tetapi melihat Ahmad dan Yanti kembali dekat…
tetap membuat hatinya sakit.
Dan meski ia berusaha tersenyum…
luka itu belum benar-benar hilang.
Sore itu…
setelah sekolah selesai…
Ahmad mengajak Yanti pergi ke tepi sungai kecil dekat persawahan Desa Tegorejo.
Tempat itu memang sering jadi tempat anak-anak desa bermain saat sore.
Air sungainya jernih.
Angin terasa sejuk.
Dan cahaya senja mulai memantul indah di permukaan air.
Yanti duduk di atas batu kecil sambil memainkan ujung jilbabnya.
“Kamu ngajak aku ke sini kenapa?”
Ahmad terlihat gugup.
Dan itu membuat Yanti heran.
Cowok setenang Ahmad…
ternyata bisa gugup juga.
Beberapa detik Ahmad hanya diam.
Lalu menarik napas panjang.
“Yanti…”
“Iya?”
“Aku capek.”
“Hah?”
“Capek nyembunyiin perasaan.”
DEG.
Jantung Yanti langsung berdetak sangat keras.
Angin sore berembus pelan.
Dan suasana mendadak terasa jauh lebih sunyi.
“Aku suka sama kamu.”
Kalimat itu akhirnya keluar.
Sederhana.
Pelan.
Namun begitu dalam.
Yanti langsung membeku.
Meskipun sebenarnya ia sudah tahu…
mendengar pengakuan itu langsung dari Ahmad membuat seluruh tubuhnya gemetar.
“Aku suka dari dulu…”
lanjut Ahmad lirih.
“Dari pertama kita sering pulang bareng…”
“Dari pertama kamu ketawa gara-gara candaan nggak lucuku…”
“Dan dari pertama aku takut kehilangan kamu.”
Air mata Yanti perlahan mulai jatuh.
Bukan karena sedih.
Tetapi karena bahagia.
“Aku nggak sempurna…”
kata Ahmad pelan.
“Aku sempat cemburu…”
“Sempat nggak percaya…”
“Tapi aku serius sama perasaanku.”
Yanti menangis kecil sambil tertawa malu.
“Kamu bikin aku nangis terus…”
Ahmad ikut tersenyum kecil.
“Maaf…”
Lalu perlahan…
Ahmad mengulurkan tangan.
“Kalau kamu mau…”
“Maukah kamu jadi orang yang aku jaga?”
DEG.
Dunia Yanti seperti berhenti.
Langit senja terasa begitu indah.
Suara air sungai terdengar lembut.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
ia merasa benar-benar dicintai.
Dengan tulus.
Dengan jujur.
Dengan seluruh hati remaja yang masih polos.
Yanti akhirnya mengangguk pelan sambil menangis.
“Iya…”
Senyum Ahmad langsung berubah sangat lebar.
Dan saat itulah…
dua hati muda akhirnya benar-benar saling memiliki.
Bukan lagi sekadar teka-teki.
Bukan lagi sekadar tatapan malu-malu.
Tetapi cinta pertama yang kini resmi tumbuh di antara mereka.
Namun…
di balik kebahagiaan senja itu…
seseorang diam-diam melihat mereka dari kejauhan.
Bambang.
Ia berdiri di balik pohon bambu dekat jalan setapak.
Tatapannya kosong.
Sementara Redi berdiri di sampingnya.
“Heh…”
Bambang tersenyum kecil pahit.
“Akhirnya resmi juga.”
Redi menatap sahabatnya prihatin.
“Kamu nggak apa-apa?”
Bambang tertawa kecil.
“Kalau patah hati bisa bikin mati…”
“Mungkin gue udah dikubur dari kemarin.”
Kalimat itu terdengar seperti bercanda.
Namun matanya tidak sedang bercanda.
Di tepi sungai…
Ahmad dan Yanti masih duduk bersama menikmati senja.
Tangan mereka saling menggenggam malu-malu.
Sementara langit perlahan berubah jingga keemasan.
Dan tanpa mereka sadari…
itulah salah satu senja terindah dalam masa remaja mereka.
Sebelum kehidupan nanti membawa mereka pada cinta yang lebih rumit…
pengkhianatan yang lebih menyakitkan…
dan penantian panjang yang akan menguji hati mereka hingga usia senja.
BAB XXVI
CINTA PERTAMA YANG MULAI MEKAR
Sejak sore di tepi sungai itu…
hubungan Ahmad dan Yanti berubah sepenuhnya.
Kini mereka bukan lagi dua remaja yang saling memendam rasa.
Mereka resmi saling memiliki.
Dan seperti kebanyakan cinta pertama anak SMP…
hubungan mereka dipenuhi rasa malu, deg-degan, cemburu kecil, dan kebahagiaan sederhana yang membuat dunia terasa lebih indah.
Pagi-pagi sekali…
Yanti sudah berdiri di depan cermin lebih lama dari biasanya.
Ia mencoba merapikan jilbab berkali-kali.
Lalu membuka lagi.
Merapikan lagi.
Dan mengulanginya hampir sepuluh kali.
Sulastri yang melihat sampai geleng-geleng kepala.
“Nduk…”
“Iya Bu…”
“Kamu mau sekolah apa mau kondangan?”
Yanti langsung salah tingkah.
“Biasa aja kok Bu…”
Pak Wiryo yang sedang menyeruput kopi ikut nyeletuk.
“Pasti ada yang lagi bikin semangat sekolah.”
“Bapak ih…”
Sulastri langsung tertawa kecil.
“Biarkan saja…”
“Namanya juga anak remaja.”
Yanti langsung kabur sambil malu setengah mati.
Di sekolah…
Ahmad sudah duduk di kelas lebih dulu.
Dan sejak tadi…
ia terus melihat ke pintu kelas.
Dandang yang sadar langsung menyenggolnya.
“Heh…”
“Apa?”
“Matamu dari tadi kayak satpam.”
“Apaan sih…”
“Nungguin Yanti ya?”
Ahmad mencoba tenang.
“Enggak.”
Namun beberapa detik kemudian…
saat Yanti masuk kelas…
senyum Ahmad langsung muncul otomatis.
Dandang langsung menunjuk.
“NAH KETAHUAN!”
“HHAHAHAHA!”
Satu kelas langsung ikut menggoda.
Yanti langsung menunduk malu sambil tersenyum kecil.
Kini…
hal-hal sederhana saja terasa berbeda bagi mereka.
Saat Ahmad meminjam pulpen…
jantung Yanti bisa berdebar.
Saat Yanti tersenyum…
Ahmad bisa diam-diam salah tingkah sendiri.
Bahkan saat tangan mereka tidak sengaja bersentuhan saat membuka buku…
keduanya langsung saling diam karena gugup.
Dan tentu saja…
itu menjadi hiburan paling menarik bagi teman-teman mereka.
“Heh lihat tuh…”
bisik Yuli pada Anita.
“Apa?”
“Kalau saling lihat…”
“Kayak dunia tinggal berdua.”
“Hahaha…”
Dandang ikut nimbrung.
“Kalau begini terus…”
“Sebentar lagi Ahmad makan kapur juga rasanya manis.”
“HHAHAHAHA!”
Ahmad langsung melempar penghapus ke arah Dandang.
Namun meleset jauh.
Malah kena Bambang.
PLAK!
“Hahaha!”
Bambang langsung melotot.
“Kenapa gue terus yang jadi korban?!”
Namun di balik kebahagiaan itu…
perlahan muncul masalah baru.
Karena sejak resmi dekat dengan Ahmad…
Yanti mulai jadi perhatian banyak orang.
Beberapa siswi mulai iri.
Beberapa anak laki-laki mulai menjadikan Ahmad bahan ejekan.
Dan yang paling terasa…
Budi mulai makin sering mengganggu mereka.
Siang itu di kantin…
Ahmad sedang membeli es teh untuk Yanti.
Dan tentu saja…
itu langsung jadi bahan ledekan.
“WOOOO…”
“Cowok bucin datang!”
“Hahaha!”
Budi bahkan sengaja lewat sambil berkata keras:
“Hati-hati Ahmad…”
“Cewek cantik gampang direbut orang.”
Suasana langsung sedikit tegang.
Namun Ahmad memilih diam.
Ia tak ingin bertengkar lagi.
Saat kembali ke meja…
Ahmad memberikan es teh itu ke Yanti.
“Nih.”
Yanti tersenyum kecil.
“Makasih.”
Dandang langsung pura-pura muntah.
“UWEKKK…”
“Apaan sih!”
“Romantis banget…”
“Hahaha!”
Namun di tengah candaan itu…
Budi kembali datang bersama beberapa temannya.
Dan kali ini…
ia duduk tepat di depan Yanti.
“Heh Yanti…”
“Apa?”
“Kalau suatu hari Ahmad bikin kamu nangis…”
“Kamu cari aku aja.”
Suasana langsung mendadak sunyi.
Ahmad menatap Budi tajam.
Sementara Yanti mulai tidak nyaman.
“Mulutmu dijaga,” kata Ahmad dingin.
Budi malah tertawa santai.
“Bercanda kali…”
“Tapi serius…”
“Cewek secantik Yanti sayang kalau sama cowok terlalu kalem.”
BRAK!
Bambang yang sejak tadi diam tiba-tiba berdiri.
“Budi…”
“Apa?”
“Kalau mau cari ribut…”
“Cari gue.”
Suasana kantin langsung panas lagi.
Dandang langsung panik.
“Heh jangan berantem!”
“Kalau ada yang tonjok-tonjokan…”
“Gue duluan yang lari.”
“HHAHAHAHA!”
Beberapa anak tertawa.
Namun ketegangan tetap terasa.
Budi akhirnya pergi sambil menyeringai.
“Tunggu aja…”
“Drama kalian belum selesai.”
Kalimat itu terdengar seperti ancaman kecil.
Dan entah kenapa…
membuat hati Yanti kembali tidak tenang.
Sore harinya…
Ahmad mengantar Yanti pulang seperti biasa.
Mereka berjalan melewati pematang sawah yang mulai menguning.
Langit sore tampak indah.
Namun Yanti terlihat murung.
“Kamu kenapa?” tanya Ahmad pelan.
“Aku takut…”
“Takut apa?”
“Takut hubungan kita bikin banyak masalah.”
Ahmad terdiam sebentar.
Lalu berkata pelan:
“Kalau capek…”
“Aku nggak akan maksa kamu bertahan.”
DEG.
Yanti langsung menoleh cepat.
“Jangan ngomong gitu.”
“Kenapa?”
“Aku nggak mau kehilangan kamu.”
Kalimat itu membuat Ahmad tersenyum kecil.
Lalu perlahan…
ia menggenggam tangan Yanti.
“Berarti kita hadapi sama-sama.”
Angin sore berembus lembut.
Dan untuk sesaat…
semua masalah terasa jauh.
Namun dari kejauhan…
Budi ternyata melihat mereka lagi.
Ia berdiri bersama Eko di dekat warung kecil pinggir jalan.
Dan kali ini…
senyumnya terlihat berbeda.
Bukan sekadar jahil.
Tetapi penuh rencana.
“Heh…” kata Eko pelan.
“Apa?”
“Kamu serius mau ganggu mereka terus?”
Budi tertawa kecil.
“Cinta anak SMP paling gampang dihancurin.”
Langit senja perlahan berubah gelap.
Dan tanpa disadari Ahmad dan Yanti…
seseorang mulai menyiapkan permainan baru yang akan membuat hubungan mereka kembali diuji lebih keras dari sebelumnya.
BAB XXVII
PESTA ULANG TAHUN DAN AWAL KEHANCURAN BARU
Hari-hari berlalu cukup tenang setelah Ahmad dan Yanti resmi berpacaran.
Mereka mulai terbiasa berjalan bersama.
Belajar bersama.
Bahkan saling bertukar surat kecil saat pelajaran membosankan berlangsung.
Dan tentu saja…
teman-teman mereka tidak pernah berhenti menggoda.
Pagi itu suasana kelas jauh lebih ramai dari biasanya.
Karena Anita berulang tahun.
Dan seperti kebiasaan anak SMP desa mereka…
ulang tahun berarti:
traktiran mie ayam…
teriakan absurd…
dan kemungkinan besar ada yang diceplokin telur.
“Heh Anita!”
teriak Dandang sejak pagi.
“Apa?”
“Selamat ulang tahun!”
“Makasih…”
“Semoga panjang umur…”
“Aamiin…”
“Dan semoga cepat sadar kalau aku cowok paling ganteng di sekolah.”
“HHAHAHAHA!”
Satu kelas langsung pecah.
Anita sampai memukul meja sambil tertawa.
“Kamu tuh nggak ada obat!”
Bambang langsung nyeletuk.
“Kalau ada obatnya juga udah kadaluarsa.”
“Hahaha!”
Anita akhirnya mengundang teman-temannya makan kecil-kecilan di rumahnya sore nanti.
Dan tentu saja…
Ahmad dan Yanti ikut datang.
Namun tanpa mereka sadari…
Budi dan Eko juga mendapat undangan.
Dan di situlah…
masalah baru mulai tumbuh.
Sore hari…
rumah Anita ramai oleh suara tawa remaja.
Ada balon sederhana di ruang tamu.
Ada kue ulang tahun kecil.
Dan ada Dandang yang sibuk makan duluan sebelum acara dimulai.
“Heh belum dipotong wooi!” teriak Yuli.
“Aku cuma cek kualitas.”
“HHAHAHAHA!”
Suasana benar-benar hangat.
Anita tampak bahagia.
Bahkan Yanti mulai merasa hidupnya kembali normal.
Acara berlangsung meriah.
Mereka bermain tebak-tebakan.
Bernyanyi.
Dan saling mengejek seperti biasa.
Sampai akhirnya…
Dandang mendapat hukuman karena kalah permainan.
“Hukumannya apa?!”
“Nyanyi dangdut!”
“NOOOOO!”
“HHAHAHAHA!”
Akhirnya Dandang menyanyi dengan suara fals luar biasa.
Dan semua orang sampai sakit perut tertawa.
Namun di tengah suasana bahagia itu…
Budi mulai menjalankan rencananya.
Diam-diam…
ia mendekati Ahmad.
“Heh…”
“Apa?”
“Lo serius sama Yanti?”
Ahmad mengernyit.
“Maksudnya?”
“Ya biasa aja.”
Budi pura-pura santai sambil minum teh.
“Tapi tadi…”
“Aku lihat Yanti ngobrol mesra sama Bambang di belakang rumah.”
DEG.
Ahmad langsung diam.
Padahal kenyataannya…
Yanti memang sempat bicara dengan Bambang.
Tetapi hanya membahas hadiah ulang tahun Anita.
Namun Budi sengaja memelintir semuanya.
Dan seperti api kecil yang disiram bensin…
rasa cemburu Ahmad kembali menyala.
Sementara itu…
di belakang rumah Anita…
Yanti dan Bambang memang sedang berbicara.
“Heh…”
“Apa?”
“Makasih ya.”
“Buat apa?”
“Udah mulai nggak canggung lagi.”
Bambang tertawa kecil.
“Ya masa kita musuhan terus.”
Yanti tersenyum lega.
Karena sebenarnya…
ia sangat takut kehilangan sahabat kecilnya itu.
Namun beberapa detik kemudian…
Ahmad datang.
Dan wajahnya langsung berubah saat melihat mereka tertawa bersama.
Suasana mendadak canggung.
“Ahmad…” kata Yanti pelan.
“Kalian lagi apa?”
“Nggak ngapa-ngapain…”
Bambang langsung sadar ada yang tidak beres.
“Aku tadi cari kamu,” kata Ahmad dingin pada Yanti.
“Maaf tadi aku—”
“Terlalu asyik ngobrol?”
Kalimat itu langsung menusuk.
Wajah Yanti berubah.
“Kenapa ngomongnya begitu?”
“Karena aku capek pura-pura nggak lihat.”
Bambang langsung berdiri.
“Heh…”
Namun Ahmad memotong.
“Lo diem dulu.”
Suasana mulai panas.
Yanti mulai kesal.
“Kamu tuh kenapa sih?!”
“Aku yang harusnya nanya!”
“Nanya apa?!”
“Kenapa kamu selalu dekat sama Bambang!”
Kalimat itu langsung membuat suasana hening.
Bahkan suara tawa dari dalam rumah terasa jauh mendadak.
“Aku udah bilang dia sahabatku!” bentak Yanti.
“Dan aku capek harus jelasin terus!”
Ahmad menatapnya penuh emosi.
“Kalau cuma sahabat…”
“Kenapa lo selalu nyaman sama dia?”
DEG.
Yanti benar-benar terluka.
Untuk pertama kalinya…
ia merasa Ahmad mulai berubah jadi seseorang yang mengekangnya.
Bambang akhirnya tidak tahan.
“Udah cukup Ahmad.”
“Kamu nggak usah ikut campur!”
“Kalau lo terus bikin Yanti nangis…”
“Gue pasti ikut campur.”
Ketegangan langsung memuncak.
Dan di saat itulah…
Budi diam-diam tersenyum puas dari balik jendela rumah Anita.
Rencananya berhasil lagi.
Suara gaduh mereka akhirnya terdengar sampai dalam rumah.
Anita, Yuli, Dandang, dan yang lain langsung keluar panik.
“Heh ada apa?!”
Namun suasana sudah terlalu panas.
Yanti menangis.
Ahmad emosi.
Bambang ikut marah.
Dan semua orang langsung bingung.
“Aku capek dicurigain terus!” teriak Yanti sambil menangis.
“Aku juga capek takut kehilangan kamu!” balas Ahmad.
SUNYI.
Kalimat itu membuat semua orang diam.
Karena untuk pertama kalinya…
Ahmad mengakui ketakutannya di depan semua orang.
Air mata Yanti jatuh semakin deras.
“Cinta itu bukan penjara Ahmad…”
Kalimat itu langsung menghantam dada Ahmad.
Dan untuk beberapa detik…
ia benar-benar tidak bisa bicara.
Bambang perlahan menarik napas panjang.
Lalu berkata pelan:
“Mungkin…”
“Kalian sama-sama terlalu takut kehilangan.”
Suasana berubah sunyi.
Tak ada lagi teriakan.
Hanya suara angin malam dan musik ulang tahun dari dalam rumah yang masih terdengar samar.
Malam ulang tahun Anita yang awalnya penuh tawa…
akhirnya berubah menjadi malam penuh air mata.
Dan sejak malam itu…
hubungan Ahmad dan Yanti mulai memasuki fase paling rapuh.
Fase ketika cinta tidak lagi hanya tentang rasa suka…
tetapi juga tentang ego.
Tentang rasa takut.
Dan tentang luka yang perlahan mulai menghancurkan kebahagiaan mereka sendiri.
BAB XXVIII
JARAK YANG MULAI TERCIPTA
Setelah pertengkaran di rumah Anita malam itu…
hubungan Ahmad dan Yanti tidak lagi sama.
Mereka masih bersama.
Masih saling menyayangi.
Namun kini…
setiap percakapan terasa hati-hati.
Setiap senyum terasa dipaksa.
Dan setiap tatapan…
mulai dipenuhi rasa takut kehilangan yang justru perlahan menjauhkan mereka.
Pagi itu…
langit Desa Tegorejo tampak mendung.
Udara terasa dingin.
Dan suasana kelas delapan juga terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.
Yanti duduk diam sambil menatap buku.
Sementara Ahmad duduk di bangku belakang tanpa banyak bicara.
Mereka tidak saling menyapa.
Padahal biasanya…
baru bertemu saja sudah saling tersenyum malu-malu.
Dandang yang melihat suasana itu sampai bingung sendiri.
“Heh…”
bisiknya ke Yuli.
“Apa?”
“Mereka kenapa lagi?”
“Masuk episode galau.”
“Hahaha…”
Namun kali ini…
bahkan candaan mereka tidak berhasil mencairkan suasana.
Anita mencoba mendekati Yanti.
“Kamu belum baikan?”
Yanti menghela napas panjang.
“Aku capek…”
“Karena Ahmad?”
“Aku sayang sama dia…”
“Tapi aku juga capek dicurigai terus.”
Kalimat itu keluar lirih.
Dan terdengar begitu lelah.
Di sisi lain…
Ahmad juga sedang kacau.
Eko yang duduk di sampingnya mulai memancing lagi.
“Heh…”
“Apa?”
“Menurutku…”
“Yanti memang terlalu dekat sama Bambang.”
Ahmad langsung kesal.
“Udah lah.”
“Lo marah karena omonganku benar?”
“Enggak.”
Namun sebenarnya…
pikiran Ahmad memang belum tenang.
Jam istirahat tiba.
Biasanya Ahmad dan Yanti makan bersama di kantin.
Namun kini…
mereka duduk berjauhan.
Yanti bersama Anita dan Yuli.
Sementara Ahmad bersama Dandang, Bambang, dan beberapa anak laki-laki lain.
Dan suasana canggung itu mulai diperhatikan banyak orang.
“Heh mereka lagi ribut ya?”
“Kayaknya iya.”
“Kasihan…”
Bisik-bisik kembali muncul.
Dandang yang tidak tahan suasana awkward akhirnya mencoba bercanda.
“Heh Ahmad.”
“Apa?”
“Kalau galau jangan makan banyak.”
“Kenapa?”
“Nanti mie ayamnya ikut sedih.”
“HHAHAHAHA!”
Beberapa anak tertawa kecil.
Namun Ahmad hanya tersenyum hambar.
Di meja seberang…
Yanti diam-diam memperhatikan Ahmad.
Dan hatinya kembali sakit.
Ia rindu Ahmad yang dulu.
Yang selalu menunggunya.
Yang selalu percaya padanya.
Bukan Ahmad yang sekarang…
yang mudah curiga dan gampang marah karena cemburu.
Namun konflik ternyata belum selesai.
Karena siang itu…
Budi kembali membuat masalah.
Saat pelajaran olahraga selesai…
anak-anak sedang berganti sepatu di teras belakang kelas.
Dan tiba-tiba…
Budi sengaja berkata keras:
“Heh Bambang…”
“Apa?”
“Kalau Yanti putus sama Ahmad…”
“Lo langsung nembak ya?”
Suasana langsung mendadak hening.
Semua mata tertuju pada Bambang.
Bambang langsung berdiri.
“Jangan ngomong sembarangan.”
“Lho salah apa?”
“Kamu sengaja bikin ribut terus.”
Budi tertawa santai.
“Tapi gue penasaran aja…”
“Lo masih suka Yanti kan?”
DEG.
Ahmad yang berdiri tak jauh dari sana langsung membeku.
Sementara Yanti yang baru keluar dari ruang ganti langsung mendengar semuanya.
Bambang mengepalkan tangan.
Namun kali ini…
ia tidak bisa langsung menjawab.
Karena pertanyaan itu…
memang menyentuh kenyataan yang selama ini ia sembunyikan.
Dan diamnya Bambang…
justru membuat situasi semakin buruk.
“Jawab dong,” desak Budi sambil tersenyum licik.
Bambang akhirnya berkata pelan:
“Iya.”
SUNYI.
Jantung Yanti langsung berdegup keras.
Dan wajah Ahmad perlahan berubah.
“Tapi gue nggak pernah ganggu hubungan mereka,” lanjut Bambang tegas.
“Gue cuma pengen Yanti bahagia.”
Namun kata-kata itu tidak lagi terdengar menenangkan bagi Ahmad.
Karena kini…
ketakutannya seperti terbukti nyata.
Tanpa berkata apa-apa…
Ahmad langsung pergi meninggalkan mereka.
“Heh Ahmad!” teriak Yanti panik.
Namun Ahmad tidak berhenti.
Yanti langsung menoleh marah ke arah Bambang.
“Kamu kenapa ngomong begitu?!”
Bambang terlihat terluka.
“Karena aku capek bohong.”
“Kamu tahu itu bikin semuanya makin hancur?!”
“Aku nggak pernah berniat rebut kamu!”
“Tapi sekarang Ahmad pasti salah paham lagi!”
Air mata Yanti mulai jatuh.
Dan untuk pertama kalinya…
ia marah besar pada Bambang.
Bambang langsung terdiam.
Dadanya terasa sesak.
Karena sebenarnya…
selama ini ia memang terus menahan perasaannya sendiri.
Namun kini…
semuanya justru memperburuk keadaan.
Sore harinya…
Yanti akhirnya menemukan Ahmad duduk sendirian di bawah pohon mangga dekat sawah.
Langit sore tampak kelabu.
Dan angin berembus dingin.
Yanti mendekat perlahan.
“Ahmad…”
Ahmad tidak menoleh.
“Aku nggak ada apa-apa sama Bambang.”
“Aku tahu.”
“Tapi kenapa kamu pergi?”
Ahmad tertawa kecil pahit.
“Karena aku takut suatu hari…”
“Kamu sadar kalau dia lebih baik dari aku.”
DEG.
Kalimat itu langsung membuat hati Yanti hancur.
“Jangan ngomong begitu…”
“Aku cuma orang biasa Yanti.”
“Dia lebih berani…”
“Lebih lucu…”
“Lebih selalu ada buat kamu.”
Air mata Ahmad perlahan jatuh.
Dan untuk pertama kalinya…
Yanti melihat sisi rapuh dari laki-laki yang selama ini selalu terlihat tenang.
Yanti langsung memeluk Ahmad.
“Aku nggak pernah milih dia…”
“Aku milih kamu.”
Suasana sore mendadak terasa sangat sunyi.
Hanya suara angin sawah yang terdengar lembut.
Dan di tengah pelukan itu…
mereka sama-sama sadar:
bahwa cinta pertama mereka mulai diuji oleh rasa tidak percaya…
dan oleh hadirnya orang ketiga yang sebenarnya juga sama-sama terluka.
BAB XXIX
CINTA, LUKA, DAN RAHASIA YANG TERPENDAM
Setelah kejadian di bawah pohon mangga itu…
hubungan Ahmad dan Yanti memang kembali membaik.
Namun tidak sepenuhnya pulih.
Karena kini…
di antara mereka ada sesuatu yang terus mengganggu:
bayang-bayang Bambang.
Dan yang paling menyakitkan…
mereka semua sadar bahwa Bambang memang benar-benar mencintai Yanti.
Hari-hari di sekolah mulai terasa lebih rumit.
Yanti berusaha tetap biasa pada Bambang.
Namun rasa canggung sudah tidak bisa dihindari lagi.
Bambang sendiri mulai menjaga jarak.
Tak lagi terlalu sering bercanda dengan Yanti.
Tak lagi menungguinya pulang.
Dan itu justru membuat hati Yanti terasa tidak nyaman.
Karena bagaimanapun…
Bambang tetap sahabat kecil yang sangat berarti baginya.
Pagi itu…
suasana kelas terasa lebih sepi.
Bambang datang terlambat.
Dan seperti biasa…
Dandang langsung beraksi.
“WOOO!”
“Kenapa?”
“Pahlawan cinta datang.”
“Hahaha…”
Namun kali ini…
Bambang hanya tersenyum tipis.
Tak banyak bicara.
Dan itu membuat semua orang mulai sadar…
bahwa ia benar-benar sedang terluka.
Yanti diam-diam memperhatikannya.
Lalu berbisik pada Anita.
“Bambang beda ya…”
“Iya.”
“Aku jadi nggak enak.”
Anita menghela napas kecil.
“Kalian semua lagi sama-sama sakit.”
Sementara itu…
Budi kembali memanfaatkan keadaan.
Ia sengaja mendekati Bambang saat jam istirahat.
“Heh…”
“Apa?”
“Lo masih punya kesempatan.”
Bambang langsung kesal.
“Gue nggak mau rebut pacar orang.”
Budi tertawa kecil.
“Kalau mereka hancur sendiri gimana?”
Kalimat itu membuat Bambang langsung berdiri.
“Jangan macam-macam sama mereka.”
Untuk pertama kalinya…
Bambang benar-benar membela hubungan Ahmad dan Yanti.
Karena meski hatinya sakit…
ia tetap tidak ingin melihat Yanti terluka.
Namun masalah kembali muncul siang itu.
Saat pelajaran kosong…
anak-anak ramai bermain lempar kertas di kelas.
Dandang jadi korban utama.
“Heh jangan ke muka woi!”
PLAK!
Kertas malah masuk ke mulutnya.
“HHAHAHAHA!”
Satu kelas langsung pecah tertawa.
Namun di tengah kekacauan itu…
Eko tiba-tiba menemukan sebuah buku kecil jatuh dari tas Bambang.
“Heh ini apa?”
“Balikin!” bentak Bambang panik.
Namun terlambat.
Eko sudah membuka salah satu halaman.
Dan wajahnya langsung berubah heboh.
“WOOOOO!”
Semua langsung mendekat penasaran.
“Apa apaaa?!”
Bambang langsung berusaha merebut bukunya.
Namun Dandang lebih cepat membaca keras-keras.
“Aku tahu Yanti tidak akan pernah memilihku…
Tapi melihat dia tersenyum saja sudah cukup membuatku bahagia…”
SUNYI.
Jantung Yanti langsung terasa berhenti.
Ternyata itu…
buku harian Bambang.
Suasana kelas langsung berubah canggung.
Beberapa anak mulai saling pandang.
Dan Bambang…
untuk pertama kalinya terlihat benar-benar malu sekaligus hancur.
“Itu bukan urusan kalian!” bentaknya sambil merebut buku itu.
Namun semuanya sudah telanjur tahu.
Bahwa perasaan Bambang ternyata jauh lebih dalam dari yang mereka kira.
Yanti menatap Bambang dengan mata berkaca-kaca.
Ia tidak tahu harus merasa apa.
Sedih.
Bersalah.
Atau bingung.
Sementara Ahmad…
hanya diam.
Namun diamnya kali ini jauh lebih berat.
Bambang akhirnya keluar kelas begitu saja.
BRAK!
Pintu ditutup keras.
Dan suasana langsung hening total.
“Heh…” bisik Dandang pelan.
“Kita keterlaluan nggak sih…”
Tak ada yang menjawab.
Karena semua mulai merasa bersalah.
Sepulang sekolah…
langit tampak mendung lagi.
Yanti akhirnya memutuskan mencari Bambang.
Ia menemukannya duduk sendirian di dekat jembatan bambu kecil pinggir sawah.
Angin sore bertiup pelan.
Dan wajah Bambang terlihat sangat murung.
“Bambang…”
Bambang tidak menoleh.
“Maaf…”
“Bukan salahmu.”
“Aku nggak enak…”
Bambang tertawa kecil pahit.
“Sekarang semua orang tahu ya…”
Yanti perlahan duduk di sampingnya.
Dan suasana menjadi sangat sunyi.
“Aku memang suka sama kamu.”
Kalimat itu akhirnya keluar langsung dari mulut Bambang.
Jujur.
Tanpa bercanda.
Tanpa pura-pura.
“Aku suka dari kecil…”
“Dari waktu kita masih lari-larian di sawah…”
“Dari waktu kamu nangis gara-gara jatuh dari sepeda…”
Air mata Yanti mulai jatuh perlahan.
“Tapi aku tahu…”
“Kamu nggak pernah lihat aku seperti itu.”
Suara Bambang mulai bergetar.
“Dan itu nggak salah.”
Yanti menangis semakin pelan.
Karena mendengar seseorang mencintainya sedalam itu…
justru terasa menyakitkan.
“Ahmad cowok baik,” lanjut Bambang lirih.
“Dia cuma terlalu takut kehilangan kamu.”
Yanti langsung menutup wajahnya sambil menangis.
“Aku nggak mau kehilangan kalian berdua…”
Kalimat itu membuat Bambang tersenyum kecil pahit.
“Kadang…”
“Hidup memang nggak bisa bikin semua orang bahagia sekaligus.”
Angin sore kembali berembus dingin.
Dan senja di Desa Tegorejo terasa jauh lebih muram hari itu.
Namun tanpa mereka sadari…
dari kejauhan Ahmad melihat semuanya lagi.
Melihat Yanti duduk berdua dengan Bambang di jembatan bambu.
Dan meski kali ini ia berusaha tenang…
hatinya tetap terasa perih.
Karena cinta pertama…
selalu indah sekaligus menyakitkan.
Dan perlahan…
mereka semua mulai tenggelam dalam perasaan yang semakin rumit untuk dipahami.
BAB XXX
PERPISAHAN KECIL YANG MENINGGALKAN LUKA
Waktu berjalan cepat.
Tanpa terasa…
mereka kini sudah berada di penghujung kelas delapan.
Dan semakin dekat menuju kelas sembilan…
semakin banyak perubahan terjadi dalam hidup mereka.
Namun yang paling terasa…
hubungan di antara mereka tidak lagi sesederhana dulu.
Cinta.
Persahabatan.
Cemburu.
Dan rasa kehilangan…
semuanya mulai tumbuh bersamaan.
Setelah kejadian buku harian Bambang…
suasana pertemanan mereka berubah pelan-pelan.
Bambang jadi lebih pendiam.
Yanti semakin sering murung.
Dan Ahmad…
berusaha keras menenangkan dirinya sendiri meski hatinya terus dipenuhi rasa takut.
Pagi itu…
kelas terasa cukup ramai karena guru belum datang.
Dandang sedang sibuk mengajari Eko sulap murahan.
“Heh lihat!”
“Apa?”
Dandang pura-pura menghilangkan uang seribu rupiah.
Lalu beberapa detik kemudian…
uang itu benar-benar hilang.
Eko melongo.
“Woi beneran hilang?!”
Dandang langsung panik sendiri.
“EH DOMPET GUE JUGA HILANG!”
“HHAHAHAHA!”
Satu kelas langsung pecah tertawa.
Bahkan Ahmad ikut tersenyum kecil.
Namun Yanti tetap tampak melamun.
Anita mendekatinya pelan.
“Kamu mikirin apa?”
“Banyak…”
“Ahmad?”
“Bambang juga.”
Anita menghela napas.
“Kamu nggak bisa terus nyalahin diri sendiri.”
“Tapi semuanya jadi begini karena aku.”
Kalimat itu terdengar begitu lirih.
Begitu lelah.
Sementara itu…
Bambang ternyata diam-diam sudah mengambil keputusan besar.
Ia mulai menjaga jarak dari Yanti dan Ahmad.
Bukan karena membenci mereka.
Tetapi karena ia sadar…
semakin dekat ia dengan Yanti…
semakin sulit ia melupakan perasaannya sendiri.
Jam pulang sekolah…
anak-anak berjalan keluar kelas sambil bercanda seperti biasa.
Namun kali ini…
Bambang tidak ikut bersama mereka.
Ia memilih pulang lebih dulu.
Sendirian.
Dan itu langsung membuat Yanti merasa tidak enak lagi.
“Heh…” kata Yuli pelan.
“Bambang makin berubah ya…”
Yanti hanya diam.
Sore harinya…
hujan turun cukup deras di Desa Tegorejo.
Jalanan mulai becek.
Langit tampak gelap.
Dan Yanti yang sedang duduk di teras rumah tiba-tiba melihat seseorang datang memakai jas hujan lusuh.
Ternyata Bambang.
“Bambang?”
Bambang melepas penutup kepalanya pelan.
“Aku cuma sebentar.”
“Masuk dulu…”
“Nggak usah.”
Suasana mendadak canggung.
Hanya suara hujan yang terdengar deras di sekitar mereka.
“Aku mau bilang sesuatu.”
Yanti mulai merasa tidak enak.
“Apa?”
Bambang tersenyum kecil.
Namun senyum itu terasa sangat sedih.
“Mungkin mulai sekarang…”
“Aku nggak akan terlalu dekat lagi sama kamu.”
DEG.
Hati Yanti langsung terasa jatuh.
“Kenapa?”
“Karena aku capek pura-pura biasa.”
Air mata Yanti mulai menggenang lagi.
“Aku nggak mau jadi alasan hubungan kalian rusak.”
“Tapi kamu sahabatku…”
“Iya.”
“Dan mungkin…”
“Kadang sahabat memang harus mundur.”
Kalimat itu terasa begitu menusuk.
Yanti langsung menangis.
“Aku nggak mau kehilangan kamu juga…”
Bambang tertawa kecil pahit.
“Kamu nggak kehilangan aku.”
“Aku cuma…”
“Belajar jauh sedikit.”
Hujan semakin deras.
Dan suasana sore itu terasa sangat pilu.
Di saat bersamaan…
Ahmad ternyata datang ke rumah Yanti untuk mengembalikan buku.
Dan tanpa sengaja…
ia melihat semuanya dari kejauhan.
Melihat Bambang berdiri di depan Yanti yang menangis.
Namun kali ini…
Ahmad tidak marah.
Tidak cemburu.
Karena akhirnya…
ia mulai mengerti sesuatu.
Bahwa Bambang benar-benar mencintai Yanti dengan tulus.
Dan justru karena itu…
ia memilih mengalah.
Ahmad perlahan mundur tanpa menyapa.
Dadanya terasa sesak.
Namun bukan karena marah.
Melainkan karena iba.
Malam harinya…
Ahmad duduk sendirian di kamarnya sambil menatap hujan di luar jendela.
Pikirannya kacau.
Dan untuk pertama kalinya…
ia mulai merasa bersalah pada Bambang.
“Heh…”
gumamnya pelan.
“Mungkin selama ini…”
“Aku terlalu egois.”
Keesokan harinya di sekolah…
suasana terasa aneh.
Bambang benar-benar menjaga jarak.
Ia lebih sering duduk bersama anak-anak lain.
Lebih banyak diam.
Dan tidak lagi menggoda Yanti seperti dulu.
Hal kecil itu justru membuat hati Yanti terasa kosong.
Dandang yang sadar suasana berubah mulai mencoba menghibur.
“Heh…”
“Apa?”
“Kalian ini kayak grup band mau bubar.”
“Hahaha…”
Namun tak ada yang benar-benar tertawa lepas kali ini.
Karena semua mulai sadar…
masa remaja mereka perlahan berubah.
Tak lagi sekadar permainan anak-anak.
Tetapi mulai dipenuhi luka-luka kecil yang membentuk hati mereka menjadi dewasa.
Dan di tengah semua perubahan itu…
senja kembali turun di Desa Tegorejo.
Membawa warna jingga yang indah.
Namun juga menyimpan kesedihan kecil…
tentang persahabatan yang mulai menjauh demi menjaga cinta yang tak bisa dimiliki.
BAB XXXI
KENAIKAN KELAS DAN JANJI DI BAWAH LANGIT MALAM
Hari-hari terus berjalan.
Dan tanpa terasa…
tahun ajaran mulai berakhir.
Suasana sekolah berubah lebih sibuk dari biasanya.
Anak-anak mulai membicarakan nilai.
Membahas ranking.
Dan tentu saja…
sibuk menebak siapa yang bakal dimarahi orang tua karena nilainya jeblok.
Pagi itu…
kelas delapan benar-benar ribut.
Dandang bahkan datang membawa kertas penuh coretan.
“Apa itu?”
“Strategi hidup.”
Bambang melirik malas.
“Itu contekan ya?”
“Bukan…”
“Ini doa cadangan.”
“HHAHAHAHA!”
Satu kelas langsung pecah tertawa.
Namun di tengah suasana itu…
Yanti terlihat jauh lebih tenang dibanding beberapa minggu lalu.
Hubungannya dengan Ahmad mulai membaik perlahan.
Mereka mulai belajar saling percaya lagi.
Sementara Bambang…
tetap menjaga jarak dengan elegan.
Tidak lagi terlalu dekat.
Namun juga tidak menjauh sepenuhnya.
Dan justru sikap dewasa Bambang itulah yang diam-diam membuat Yanti semakin merasa bersalah.
Pengumuman kenaikan kelas akhirnya tiba.
Semua anak berkumpul di aula kecil sekolah.
Wajah-wajah tegang terlihat di mana-mana.
Ada yang berdoa serius.
Ada yang pucat.
Ada pula yang sok tenang padahal lututnya gemetar.
Dandang bahkan sampai memegang tangan Ahmad.
“Heh…”
“Apa?”
“Kalau aku nggak naik…”
“Titip salam buat dunia pendidikan.”
“HHAHAHAHA!”
Ahmad sampai tertawa kecil.
Guru mulai membacakan nama siswa satu per satu.
Dan suasana semakin menegangkan.
Namun akhirnya…
semua sahabat mereka dinyatakan naik kelas.
“ALHAMDULILLAH!”
teriak Dandang paling keras.
Bahkan ia sampai sujud syukur lebay di lantai aula.
“Hahaha!”
Semua anak tertawa melihat tingkahnya.
Namun kebahagiaan itu terasa berbeda bagi Yanti.
Karena ia sadar…
mereka kini akan memasuki kelas sembilan.
Tahun terakhir SMP.
Tahun yang menentukan masa depan.
Dan mungkin…
tahun yang juga akan mengubah hubungan mereka semua.
Sore harinya…
anak-anak sepakat berkumpul di lapangan dekat sawah untuk merayakan kenaikan kelas sederhana.
Mereka membawa jagung bakar.
Singkong rebus.
Dan radio kecil yang suaranya kadang hilang kadang muncul.
Namun justru kesederhanaan itu membuat suasana terasa hangat.
Dandang kembali jadi pusat keributan.
Ia mencoba membakar jagung sendiri.
Namun malah membakar sandal jepitnya.
“WOI API! API!”
“HHAHAHAHA!”
Bambang sampai tertawa keras untuk pertama kalinya setelah lama murung.
Yanti yang melihat itu akhirnya ikut tersenyum lega.
Karena ia rindu melihat Bambang tertawa seperti dulu.
Malam semakin larut.
Langit Desa Tegorejo dipenuhi bintang.
Udara terasa dingin.
Dan satu per satu anak mulai duduk melingkar sambil bercerita tentang cita-cita mereka.
“Aku mau jadi polisi!” kata Eko semangat.
“Aku mau jadi artis,” ujar Dandang percaya diri.
Bambang langsung nyeletuk.
“Kalau muka kayak kamu…”
“Paling jadi figuran ayam lewat.”
“HHAHAHAHA!”
Suasana kembali pecah oleh tawa.
Lalu Anita menatap Yanti.
“Kalau kamu?”
Yanti tersenyum kecil.
“Aku pengen jadi guru.”
“Kenapa?”
“Karena guru bisa bikin hidup orang berubah.”
Suasana mendadak sedikit hening.
Karena jawaban Yanti terdengar tulus sekali.
Ahmad diam-diam memperhatikan Yanti.
Dan di dalam hatinya…
ia semakin kagum pada gadis itu.
Sementara Bambang hanya tersenyum kecil sambil menunduk.
Karena semakin lama…
ia semakin sadar bahwa alasannya mencintai Yanti bukan sekadar karena cantik.
Tetapi karena hati Yanti memang berbeda.
Tak lama kemudian…
Yuli iseng bertanya pada Ahmad.
“Kalau kamu cita-citanya apa?”
Ahmad terlihat berpikir sebentar.
“Aku belum tahu.”
Dandang langsung nyeletuk.
“Yang penting cita-citanya jangan jadi beban keluarga.”
“HHAHAHAHA!”
Ahmad melempar kulit jagung ke arah Dandang.
Namun beberapa saat kemudian…
Ahmad berkata pelan.
“Tapi…”
“Aku pengen tetap dekat sama orang-orang yang penting buat aku.”
Kalimat itu membuat Yanti tersenyum malu.
Dan Bambang diam-diam mengalihkan pandangan ke langit malam.
Malam semakin sepi.
Radio kecil memutar lagu lama yang terdengar samar.
Dan di tengah suasana hangat itu…
Ahmad dan Yanti akhirnya berjalan sebentar menjauh dari keramaian.
Mereka berdiri di pinggir sawah sambil memandangi langit penuh bintang.
“Capek nggak sih…”
tanya Ahmad pelan.
“Kenapa?”
“Lewatin semua drama kita.”
Yanti tertawa kecil.
“Capek.”
“Nyyesel?”
Yanti langsung menggeleng.
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Karena semua sedihnya…”
“Masih kalah sama bahagianya waktu sama kamu.”
DEG.
Jantung Ahmad langsung berdebar keras.
Lalu perlahan…
Ahmad menggenggam tangan Yanti.
“Janji ya…”
“Janji apa?”
“Mau sampai kapan pun…”
“Kita tetap begini.”
Yanti menatap langit malam cukup lama.
Lalu tersenyum kecil.
“Iya.”
Mereka tidak tahu…
bahwa hidup nanti akan membawa begitu banyak perubahan.
Begitu banyak luka.
Dan begitu banyak perpisahan.
Namun malam itu…
di bawah langit Desa Tegorejo yang penuh bintang…
dua remaja itu percaya bahwa cinta pertama mereka akan bertahan selamanya.
BAB XXXII
KELAS SEMBILAN DAN BADAI YANG DATANG PERLAHAN
Libur kenaikan kelas akhirnya selesai.
Dan pagi itu…
suasana SMP mereka kembali ramai.
Seragam baru kelas sembilan mulai dipakai dengan penuh kebanggaan.
Anak-anak berjalan lebih percaya diri.
Merasa lebih dewasa.
Padahal tingkahnya masih sama saja.
Masih ribut.
Masih suka saling ejek.
Dan masih suka panik kalau guru matematika mulai masuk kelas.
Dandang bahkan datang paling heboh pagi itu.
Ia memakai sepatu baru yang terlalu mengilap.
“Lihat nih!”
“Apa?”
“Sepatu masa depan.”
Bambang langsung menatap datar.
“Kenapa?”
“Karena silau lihatnya.”
“HHAHAHAHA!”
Satu kelas langsung pecah tertawa.
Namun di balik suasana ceria itu…
kelas sembilan ternyata membawa tekanan baru.
Guru-guru mulai serius membahas ujian akhir.
Les tambahan mulai diadakan.
Dan orang tua mulai sering berkata:
“Jangan main terus.”
“Belajar yang rajin.”
“Masa depan ditentukan sekarang.”
Kalimat-kalimat itu mulai memenuhi kehidupan mereka.
Yanti sendiri mulai berubah lebih fokus.
Ia benar-benar ingin mengejar cita-citanya menjadi guru.
Setiap malam ia belajar lebih lama.
Setiap pagi ia datang lebih awal.
Bahkan Anita sampai geleng-geleng kepala.
“Heh…”
“Apa?”
“Kamu serius banget.”
“Aku takut gagal.”
Yuli langsung nyeletuk.
“Kalau Yanti takut gagal…”
“Kita harus takut hidup.”
“HHAHAHAHA!”
Ahmad sebenarnya bangga melihat Yanti semakin rajin.
Namun perlahan…
ia mulai merasa tertinggal.
Nilainya tidak sebaik Yanti.
Dan ia mulai merasa minder.
Perasaan itu kecil.
Namun semakin lama semakin tumbuh.
Suatu siang…
saat hasil ulangan dibagikan…
Yanti mendapat nilai tertinggi lagi.
Satu kelas langsung heboh.
“WOOOO!”
“Pinter banget…”
Dandang bahkan pura-pura menangis.
“Ya Tuhan…”
“Kenapa aku cuma berbakat lapar…”
“HHAHAHAHA!”
Namun di tengah tawa itu…
Ahmad hanya diam sambil melihat nilai miliknya yang biasa saja.
Dan untuk pertama kalinya…
ia mulai merasa tidak pantas berdiri di samping Yanti.
Yanti yang sadar langsung mendekat.
“Kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Kamu bohong.”
Ahmad tersenyum kecil hambar.
“Kadang aku mikir…”
“Mikir apa?”
“Kamu terlalu hebat buat aku.”
DEG.
Hati Yanti langsung terasa nyeri.
“Jangan ngomong begitu.”
“Tapi itu kenyataannya.”
Yanti langsung memegang tangan Ahmad pelan.
“Aku nggak pernah lihat nilai kamu.”
“Terus?”
“Aku lihat hati kamu.”
Kalimat itu membuat Ahmad terdiam cukup lama.
Namun entah kenapa…
rasa minder itu belum benar-benar hilang.
Di sisi lain…
Bambang justru mulai bangkit perlahan.
Ia kini lebih fokus belajar.
Lebih serius.
Dan mulai aktif ikut organisasi sekolah.
Bahkan guru-guru mulai sering memujinya.
“Bambang sekarang berubah ya.”
“Iya.”
“Lebih dewasa.”
Yanti yang mendengar itu ikut senang.
Namun Ahmad diam-diam mulai merasa tersaingi lagi.
Masalah kecil kembali muncul saat latihan kelompok untuk lomba kelas.
Mereka semua ditugaskan membuat drama sekolah.
Dan tentu saja…
drama itu langsung berubah jadi medan perang kecil.
“Heh aku jadi apa?” tanya Dandang.
“Pohon aja.”
“Kenapa pohon?!”
“Karena dialogmu nggak penting.”
“HHAHAHAHA!”
Suasana latihan penuh tawa.
Namun tiba-tiba…
guru pembina menunjuk Bambang dan Yanti jadi pemeran utama.
“Karena kalian paling cocok.”
DEG.
Suasana langsung canggung.
Ahmad yang mendengar langsung diam.
Sementara Bambang spontan menolak.
“Pak… saya—”
“Sudah.”
“Ini demi lomba.”
Yanti mulai merasa tidak enak.
Karena ia tahu…
Ahmad pasti terganggu.
Dan benar saja.
Sejak latihan drama dimulai…
Ahmad mulai berubah dingin lagi.
Suatu sore…
saat latihan selesai…
Ahmad akhirnya bicara.
“Kamu senang ya latihan sama Bambang terus.”
Yanti langsung lelah mendengarnya.
“Ahmad…”
“Aku cuma capek.”
“Capek apa?”
“Capek harus jelasin terus.”
Suasana mendadak sunyi.
“Aku nggak pernah milih Bambang.”
“Tapi dia selalu ada di dekat kamu.”
“Karena kita satu kelompok!”
“Dan aku harus pura-pura tenang?”
Kalimat itu mulai terdengar menyakitkan lagi.
Dan Yanti perlahan mulai kehilangan kesabaran.
“Aku juga manusia Ahmad.”
Suara Yanti mulai bergetar.
“Aku capek terus dicurigai.”
Ahmad langsung terdiam.
Namun emosinya belum turun.
“Aku cuma takut kehilangan kamu.”
“Kalau cinta terus bikin sesak…”
“Mungkin kita yang salah jalan.”
DEG.
Kalimat itu langsung membuat Ahmad membeku.
Dan Yanti sendiri tampak kaget setelah mengucapkannya.
Karena untuk pertama kalinya…
kata-kata tentang perpisahan keluar dari mulutnya.
Angin sore berembus dingin melewati lapangan sekolah.
Mereka sama-sama diam.
Sama-sama terluka.
Dan tanpa sadar…
kelas sembilan yang seharusnya jadi tahun terakhir penuh kenangan indah…
perlahan berubah menjadi awal badai yang jauh lebih besar dalam hubungan mereka.
BAB XXXIII
PANGGUNG DRAMA DAN HATI YANG MULAI RETAK
Sejak pertengkaran kecil setelah latihan drama itu…
hubungan Ahmad dan Yanti kembali memburuk.
Mereka belum putus.
Namun suasananya terasa semakin rapuh.
Percakapan mulai pendek-pendek.
Senyum mulai jarang muncul.
Dan yang paling menyakitkan…
mereka mulai saling menyimpan lelah di dalam hati masing-masing.
Sementara itu…
latihan drama sekolah justru semakin intens.
Lomba antarsekolah tinggal dua minggu lagi.
Guru pembina semakin galak.
Dan seluruh anggota kelompok mulai stres sendiri.
Terutama Dandang.
“Heh aku capek!”
“Baru latihan setengah jam.”
“Jiwaku sudah menyerah.”
“HHAHAHAHA!”
Satu ruangan langsung tertawa.
Namun guru pembina malah menunjuk Dandang.
“Kamu tambah latihan ekspresi.”
“Lho saya kan pohon Pak!”
“Hahaha!”
Di tengah semua kekacauan itu…
Yanti dan Bambang mau tidak mau semakin sering bersama karena peran utama mereka.
Mereka harus latihan dialog romantis.
Harus latihan adegan sedih.
Dan kadang harus terlihat dekat di atas panggung.
Padahal keduanya sama-sama merasa canggung.
Terutama Bambang.
Karena ia masih menyimpan rasa yang belum benar-benar hilang.
Suatu sore…
mereka latihan di aula sekolah yang mulai sepi.
Lampu aula redup.
Hanya suara kipas angin tua yang terdengar berdecit pelan.
Guru pembina sedang keluar sebentar.
Dan suasana mendadak terasa hening.
Yanti membaca naskah perlahan.
“Kita ulang dari adegan ketiga ya.”
Bambang mengangguk.
Namun matanya tampak kosong.
“Kamu kenapa?” tanya Yanti pelan.
“Nggak apa-apa.”
“Bohong.”
Bambang tertawa kecil hambar.
“Kamu selalu tahu ya.”
Yanti perlahan menurunkan naskah.
“Aku nggak mau kita jadi jauh begini.”
Bambang diam beberapa detik.
Lalu berkata lirih:
“Kadang…”
“Jarak itu satu-satunya cara biar hati nggak makin sakit.”
Kalimat itu langsung membuat suasana semakin sunyi.
Namun tanpa mereka sadari…
Ahmad berdiri di depan pintu aula sejak tadi.
Dan ia mendengar semuanya.
Wajahnya perlahan berubah.
Bukan marah.
Tetapi kecewa.
Lelah.
Dan penuh ketakutan.
Ahmad akhirnya masuk perlahan.
“Kalian latihan?”
Yanti langsung kaget.
“Ahmad…”
Bambang langsung berdiri.
Suasana mendadak canggung.
“Aku cuma mau kasih buku,” kata Ahmad datar.
Namun jelas sekali ada luka dalam suaranya.
Yanti mencoba mendekat.
“Kamu jangan salah paham lagi…”
“Aku nggak salah paham.”
“Tapi?”
Ahmad tersenyum kecil pahit.
“Aku capek pura-pura kuat.”
DEG.
Bambang langsung merasa bersalah.
“Heh Ahmad…”
“Aku nggak pernah niat ganggu hubungan kalian.”
“Aku tahu.”
“Tapi perasaan nggak bisa diatur.”
Suasana kembali hening.
Dan untuk pertama kalinya…
ketiganya sama-sama terlihat terluka dalam waktu bersamaan.
Malam harinya…
Yanti menangis lagi di kamar.
Ia benar-benar lelah.
Lelah menjadi pusat konflik.
Lelah melihat dua orang yang ia sayangi sama-sama terluka karena dirinya.
Dan untuk pertama kalinya…
ia mulai bertanya pada dirinya sendiri:
“Apa cinta memang harus sesulit ini?”
Di sisi lain…
Ahmad duduk sendirian di tepi sawah.
Langit malam tampak gelap tanpa bintang.
Angin dingin bertiup pelan.
Dan pikirannya penuh sesak.
Ia mencintai Yanti.
Sangat mencintai.
Namun semakin lama…
ia merasa cintanya justru berubah menjadi ketakutan yang menyiksa.
Sementara itu…
Bambang juga tidak kalah hancur.
Ia memandangi buku harian kecilnya sambil tersenyum pahit.
Lalu perlahan menulis:
“Mungkin mencintai tidak selalu tentang memiliki.
Kadang…
mencintai berarti belajar mundur agar orang yang kita sayang tetap bahagia.”
Air matanya jatuh perlahan di atas tulisan itu.
Hari perlombaan drama akhirnya tiba.
Seluruh sekolah ramai mendukung.
Anak-anak sibuk memakai kostum.
Guru-guru mondar-mandir panik.
Dan tentu saja…
Dandang menjadi manusia paling ribut sedunia.
“Heh bedakku mana?!”
“Kamu jadi pohon nggak perlu bedak!”
“HHAHAHAHA!”
Namun di balik keramaian itu…
suasana hati Ahmad benar-benar kacau.
Karena hari itu…
ia harus melihat Yanti dan Bambang tampil sebagai pasangan di atas panggung.
Dan saat drama dimulai…
semuanya terasa terlalu nyata.
Tatapan mata mereka.
Dialog penuh emosi.
Adegan saling menggenggam tangan.
Semua terlihat begitu alami.
Bahkan penonton ikut terbawa suasana.
“Bagus banget…”
“Cocok ya mereka…”
Bisik-bisik kecil mulai terdengar.
Dan setiap kalimat itu…
menusuk hati Ahmad sedikit demi sedikit.
Sampai akhirnya…
adegan terakhir tiba.
Adegan ketika Bambang harus memeluk Yanti sesuai naskah.
DEG.
Seluruh tubuh Ahmad langsung menegang.
Dan saat pelukan itu terjadi di atas panggung…
sesuatu di dalam dirinya akhirnya pecah.
Tanpa menunggu drama selesai…
Ahmad langsung pergi meninggalkan aula.
Yanti yang melihatnya dari atas panggung langsung panik.
Namun pertunjukan harus tetap berjalan.
Dan untuk pertama kalinya…
air mata Yanti jatuh bukan karena akting.
Melainkan karena hatinya benar-benar terluka.
Tepuk tangan meriah menggema saat drama selesai.
Namun bagi Yanti…
hari itu justru terasa seperti awal kehancuran besar.
Karena ia tahu…
kali ini Ahmad benar-benar tersakiti.
Dan ia mulai takut…
bahwa cinta pertama mereka mungkin tidak akan sanggup bertahan lagi.
BAB XXXIV
MALAM AIR MATA DAN KATA “PUTUS”
Malam setelah pementasan drama itu…
Desa Tegorejo diguyur hujan cukup deras.
Jalanan tanah mulai becek.
Suara jangkrik tenggelam oleh bunyi rintik air.
Dan di tengah malam yang dingin itu…
hati Yanti terasa jauh lebih dingin.
Sejak selesai tampil di aula…
Ahmad menghilang.
Tidak kembali ke sekolah.
Tidak menunggu Yanti.
Dan tidak memberi kabar apa pun.
Padahal biasanya…
sekesal apa pun Ahmad…
ia tetap akan menunggu Yanti pulang.
Namun kali ini berbeda.
Benar-benar berbeda.
Yanti duduk di kamar sambil memeluk lututnya.
Matanya sembab.
Sedangkan di luar…
Sulastri mulai heran melihat anaknya murung terus.
“Nduk…”
“Iya Bu…”
“Kamu sakit?”
Yanti cepat-cepat menghapus air mata.
“Enggak kok.”
Namun suara seraknya membuat ibunya tahu…
anaknya sedang tidak baik-baik saja.
Di sisi lain…
Ahmad duduk sendirian di gardu kecil dekat sawah.
Bajunya masih sedikit basah karena hujan.
Dan pikirannya benar-benar kacau.
Ia tahu drama itu hanya tugas sekolah.
Ia tahu Bambang tidak salah.
Namun melihat pelukan itu…
mendengar penonton berkata mereka cocok…
semuanya terasa terlalu menyakitkan.
“Heh…”
suara seseorang tiba-tiba muncul.
Ternyata Dandang datang membawa dua bungkus gorengan.
“Lo nyari gue?”
“Iya.”
“Ngapain?”
“Takut lo berubah jadi ikan karena kehujanan.”
“HHAHA…”
Namun Ahmad tidak benar-benar tertawa.
Dandang akhirnya duduk di sampingnya.
“Lo cinta banget ya sama Yanti?”
Ahmad diam lama.
Lalu menjawab pelan:
“Banget.”
“Terus kenapa malah nyiksa diri sendiri?”
Pertanyaan itu membuat Ahmad terdiam lagi.
“Aku takut kehilangan dia.”
“Semua orang takut kehilangan.”
“Tapi kalau lo terus curiga…”
“Yang ada malah beneran hilang.”
Kalimat Dandang yang biasanya konyol…
malam itu terdengar sangat dewasa.
Sementara itu…
Yanti akhirnya memutuskan menemui Ahmad.
Meski hujan belum reda…
ia tetap berjalan memakai payung kecil menuju gardu dekat sawah.
Dan benar saja…
Ahmad ada di sana.
Dandang yang melihat Yanti datang langsung berdiri.
“Eh aku pulang dulu.”
“Heh jangan tinggalin gue!”
“Ini wilayah percintaan.”
“HHAHAHA!”
Dandang kabur sambil membawa gorengan.
Meninggalkan Ahmad dan Yanti sendirian di tengah hujan malam.
Beberapa detik…
tak ada yang bicara.
Hanya suara hujan dan angin dingin yang terdengar.
Yanti akhirnya duduk perlahan di samping Ahmad.
“Kamu marah?”
Ahmad tertawa kecil hambar.
“Aku nggak tahu harus ngerasa apa.”
“Itu cuma drama.”
“Aku tahu.”
“Tapi kenapa kamu pergi?”
Ahmad menatap jalanan basah di depan mereka.
“Karena aku sakit lihatnya.”
DEG.
Air mata Yanti langsung jatuh lagi.
“Aku capek Ahmad…”
Suara Yanti mulai bergetar.
“Aku juga capek takut kehilangan kamu.”
“Kita terus muter di masalah yang sama.”
Ahmad akhirnya menoleh.
Dan untuk pertama kalinya…
ia melihat Yanti benar-benar sangat lelah.
Bukan marah.
Bukan kesal.
Tetapi lelah sampai hampir menyerah.
“Aku nggak pernah selingkuh.”
“Aku tahu.”
“Aku nggak pernah pilih Bambang.”
“Aku tahu…”
“Terus kenapa kamu terus nyakitin aku?”
Kalimat itu menghantam dada Ahmad begitu keras.
Namun ia tidak punya jawaban.
Karena sebenarnya…
ia sendiri tidak tahu kenapa rasa takut itu selalu menguasainya.
Hujan turun semakin deras.
Dan suasana malam terasa makin pilu.
“Aku sayang banget sama kamu,” kata Ahmad lirih.
“Aku juga…”
“Terus kenapa rasanya makin sakit?”
Air mata Yanti jatuh tanpa henti.
Karena pertanyaan itu…
adalah pertanyaan yang juga terus menghantui hatinya.
Beberapa detik kemudian…
Yanti berkata sangat pelan:
“Mungkin…”
“Kita butuh berhenti dulu.”
DEG.
Dunia Ahmad seperti runtuh saat itu juga.
“Apa?”
“Aku capek nangis terus…”
“Kamu mau putus?”
Suara Ahmad mulai bergetar.
Dan itu pertama kalinya…
ia terdengar benar-benar hancur.
Yanti menutup wajahnya sambil menangis.
“Aku nggak mau…”
“Tapi aku juga nggak kuat terus begini.”
SUNYI.
Hanya suara hujan yang terdengar.
Namun malam itu…
rasanya lebih menyakitkan dari teriakan apa pun.
Ahmad perlahan tertawa kecil.
Namun matanya penuh air mata.
“Jadi…”
“Ini akhirnya ya?”
“Jangan bikin aku makin susah…”
Yanti menangis semakin keras.
Karena sebenarnya…
ia juga tidak ingin berpisah.
Lalu dengan tangan gemetar…
Ahmad perlahan melepaskan genggaman tangan Yanti.
Dan di situlah…
untuk pertama kalinya…
cinta pertama mereka benar-benar retak.
“Aku nggak pernah nyesel kenal kamu.”
Kalimat Ahmad terdengar sangat lirih.
Dan justru karena itu…
hati Yanti terasa semakin hancur.
Malam itu…
di bawah hujan Desa Tegorejo…
dua remaja yang pernah saling mencintai dengan begitu tulus…
akhirnya memilih saling menjauh.
Bukan karena sudah tidak cinta.
Tetapi karena cinta mereka terlalu muda untuk menghadapi luka dan ketakutan sebesar itu.
Yanti akhirnya berjalan pulang sambil menangis.
Sementara Ahmad tetap duduk sendirian di gardu kecil.
Memandangi hujan.
Memandangi jalan kosong.
Dan membiarkan hatinya perlahan patah bersama malam yang semakin larut.
BAB XXXV
SETELAH PERPISAHAN
Setelah malam hujan itu…
semuanya berubah.
Benar-benar berubah.
Tidak ada lagi Ahmad yang menunggu Yanti di depan kelas.
Tidak ada lagi surat kecil yang diselipkan di buku pelajaran.
Tidak ada lagi jalan pulang bersama melewati pematang sawah.
Dan yang paling terasa…
tidak ada lagi tawa malu-malu di antara mereka.
Hari pertama masuk sekolah setelah putus…
suasana kelas terasa sangat aneh.
Bahkan Dandang yang biasanya paling ribut…
ikut bingung harus bercanda bagaimana.
Karena semua orang tahu:
Ahmad dan Yanti sudah berpisah.
Dan kabar itu menyebar cepat ke seluruh sekolah.
“Heh serius putus?”
“Iya katanya…”
“Kasihan…”
Bisik-bisik mulai terdengar lagi.
Namun kali ini…
tidak ada yang benar-benar menikmati gosip itu.
Karena semua tahu…
mereka saling mencintai sungguhan.
Yanti datang lebih pagi dari biasanya.
Ia duduk diam sambil membuka buku.
Padahal matanya jelas tidak membaca apa-apa.
Sementara Ahmad masuk beberapa menit kemudian.
Dan untuk pertama kalinya…
mereka tidak saling menyapa.
DEG.
Suasana kelas langsung terasa dingin.
Dandang mencoba mencairkan suasana.
“Heh…”
Tak ada jawaban.
“Kalau kalian diem terus…”
“Nyamuk aja ikut sedih.”
“Hahaha…”
Namun tawanya terdengar hambar.
Karena tidak ada yang benar-benar tertawa.
Anita mendekati Yanti pelan.
“Kamu nggak apa-apa?”
Yanti tersenyum kecil.
Namun matanya sembab.
“Aku baik.”
“Kamu bohong.”
Air mata Yanti langsung hampir jatuh lagi.
Di sisi lain…
Ahmad juga tidak kalah hancur.
Ia mencoba terlihat biasa.
Namun beberapa kali…
ia diam-diam tetap melihat ke arah Yanti.
Dan setiap melihat Yanti menunduk murung…
dadanya terasa sesak.
Bambang yang melihat semua itu justru semakin merasa bersalah.
Karena tanpa ia sadari…
kehadirannya memang ikut menjadi salah satu penyebab retaknya hubungan mereka.
Meskipun sebenarnya…
ia tidak pernah bermaksud begitu.
Jam istirahat tiba.
Biasanya mereka semua makan bersama.
Namun kini…
Ahmad duduk jauh di pojok kantin.
Sedangkan Yanti bersama Anita dan Yuli di meja lain.
Dan suasana itu terasa sangat menyedihkan bagi teman-teman mereka.
“Heh…”
kata Yuli lirih.
“Apa?”
“Aku kangen kalian yang dulu.”
Yanti langsung menunduk.
Karena ia juga merasakan hal yang sama.
Sementara itu…
Dandang nekat menghampiri Ahmad.
“Heh bro.”
“Apa?”
“Putus tuh boleh.”
“…”
“Tapi jangan bikin muka kayak habis kehilangan kambing.”
“HHAHA…”
Ahmad akhirnya tertawa kecil meski sangat tipis.
Dan Dandang langsung lega.
“Nah gitu.”
“Kalau lo murung terus…”
“Nanti aura kelas kayak kuburan.”
“Hahaha…”
Namun malam harinya…
kesedihan itu kembali datang.
Yanti menangis diam-diam di kamar sambil memandangi foto kecil mereka saat acara sekolah dulu.
Sedangkan Ahmad duduk di tepi sungai tempat ia pernah menyatakan cinta.
Dan tempat itu kini terasa jauh lebih sepi.
Hari-hari setelah putus mulai terasa berat.
Mereka berusaha saling menghindar.
Namun semakin mencoba menjauh…
semakin terasa betapa besar rasa yang masih tersisa.
Suatu siang…
hujan turun deras saat jam pulang sekolah.
Anak-anak menunggu reda di teras kelas.
Dan tanpa sengaja…
Yanti dan Ahmad berdiri berdekatan.
Canggung sekali.
Tak ada yang bicara.
Beberapa detik kemudian…
Ahmad akhirnya membuka suara pelan.
“Kamu udah makan?”
DEG.
Kalimat sederhana itu…
justru membuat hati Yanti langsung bergetar lagi.
Karena meski mereka sudah putus…
Ahmad masih mengkhawatirkannya.
“Udah,” jawab Yanti lirih.
“Hm.”
Lalu kembali diam.
Namun justru diam itu terasa sangat menyakitkan.
Karena mereka sama-sama ingin bicara lebih banyak…
tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.
Tiba-tiba…
angin kencang meniup hujan sampai membasahi Yanti.
Dan refleks…
Ahmad langsung menarik Yanti sedikit mendekat agar tidak terkena air.
DEG.
Mereka saling menatap sangat dekat.
Jantung keduanya langsung berdebar keras.
Dan untuk beberapa detik…
dunia terasa berhenti lagi.
Namun kemudian…
Ahmad perlahan melepaskan tangannya.
“Maaf…”
Yanti langsung menunduk.
Karena matanya mulai panas lagi.
Bambang yang melihat kejadian itu dari jauh…
hanya bisa menghela napas panjang.
Karena semakin jelas baginya:
mereka belum benar-benar selesai satu sama lain.
Malam itu…
Bambang akhirnya menulis lagi di buku hariannya:
“Mereka masih saling cinta.
Dan mungkin…
aku memang hanya bagian kecil yang lewat di antara cerita mereka.”
Air matanya jatuh perlahan.
Namun kali ini…
ia mulai belajar menerima kenyataan.
Sementara di rumahnya…
Yanti memandangi langit malam dari jendela kamar.
Dan untuk pertama kalinya sejak putus…
ia berbisik pelan sambil menangis:
“Aku masih sayang kamu, Ahmad…”
Namun sayangnya…
angin malam hanya membawa kalimat itu pergi ke langit gelap Desa Tegorejo.
BAB XXXVI
SURAT TERAKHIR DI MASA SMP
Waktu terus berjalan.
Hari demi hari berlalu dengan suasana yang semakin berat.
Ahmad dan Yanti memang sudah tidak bertengkar lagi.
Namun mereka juga tidak benar-benar kembali dekat.
Hubungan mereka menggantung.
Seperti dua hati yang masih saling mencintai…
tetapi terlalu takut untuk kembali terluka.
Sementara itu…
ujian akhir SMP semakin dekat.
Guru-guru mulai makin serius.
Jam tambahan belajar diperbanyak.
Dan seluruh siswa mulai sibuk mempersiapkan masa depan masing-masing.
Namun di balik kesibukan itu…
perasaan di antara mereka belum juga selesai.
Pagi itu…
kelas terasa lebih sunyi.
Anak-anak sibuk mengerjakan latihan soal.
Bahkan Dandang yang biasanya paling ribut pun terlihat serius.
Atau setidaknya…
berusaha terlihat serius.
“Heh…”
bisik Bambang.
“Apa?”
“Itu buku kebalik.”
Dandang langsung panik.
“HHAHAHAHA!”
Satu kelas langsung tertawa.
Bahkan Yanti dan Ahmad ikut tersenyum kecil tanpa sadar.
Dan untuk sesaat…
suasana terasa seperti dulu lagi.
Namun kebahagiaan kecil itu tidak bertahan lama.
Karena setelah pelajaran selesai…
kepala sekolah mengumumkan sesuatu yang mengejutkan.
Sekolah mereka akan mengadakan perpisahan besar setelah ujian nanti.
Dan seluruh siswa diminta menulis surat untuk seseorang yang paling berkesan selama masa SMP.
Suasana kelas langsung ramai.
“Heh aku mau nulis buat tukang bakso depan sekolah.”
“HHAHAHA!”
Dandang langsung menunjuk dirinya sendiri.
“Aku nulis buat masa depanku.”
“Kenapa?”
“Karena dia paling misterius.”
“HHAHAHAHA!”
Namun berbeda dengan yang lain…
Yanti justru langsung terdiam.
Karena ia tahu persis…
siapa orang yang ingin ia tulis.
Ahmad.
Di sisi lain…
Ahmad juga memikirkan hal yang sama.
Dan ironisnya…
mereka sama-sama tidak tahu bahwa hati mereka masih saling terikat begitu kuat.
Malam harinya…
Yanti duduk di meja belajar sambil memegang kertas kosong.
Ia mencoba menulis berkali-kali.
Lalu merobeknya lagi.
Menulis lagi.
Dan menangis lagi.
Karena terlalu banyak hal yang ingin ia katakan.
Akhirnya…
ia mulai menulis perlahan:
“Untuk Ahmad…
Terima kasih sudah pernah menjadi bagian paling indah di masa SMP-ku.
Aku tahu kita sama-sama salah.
Aku juga tahu kita sama-sama terluka.
Tapi kalau waktu bisa diulang…
aku tetap akan memilih mengenalmu lagi.”
Air mata Yanti jatuh membasahi kertas itu.
Sementara di rumahnya…
Ahmad juga sedang menulis surat.
Tangannya gemetar pelan.
Karena setiap kalimat terasa seperti membuka luka lama.
“Untuk Yanti…
Maaf karena aku terlalu takut kehilanganmu sampai lupa caranya mempercayaimu.
Aku cuma cowok bodoh yang terlalu cinta.
Dan sampai sekarang…
aku masih belum bisa berhenti sayang sama kamu.”
Ahmad berhenti menulis.
Lalu menunduk sambil menahan air mata.
Hari pengumpulan surat akhirnya tiba.
Semua siswa memasukkan surat mereka ke dalam kotak besar di aula sekolah.
Dan suasana terasa campur aduk.
Ada yang bercanda.
Ada yang malu-malu.
Ada pula yang benar-benar emosional.
Dandang bahkan sempat ribut sendiri.
“Heh suratku jangan dibaca guru ya!”
“Emang isinya apa?”
“Rahasia negara.”
“HHAHAHAHA!”
Namun di tengah keramaian itu…
sesuatu tak terduga terjadi.
Saat kotak surat dipindahkan…
beberapa surat jatuh berantakan ke lantai.
Dan salah satunya…
surat milik Ahmad.
Budi yang berdiri dekat situ spontan mengambilnya.
Lalu membaca sekilas.
Dan senyumnya langsung berubah licik.
“Heh…”
gumamnya pelan.
“Jadi masih cinta ya…”
Sore harinya…
Budi diam-diam menemui Yanti di belakang perpustakaan.
“Aku mau kasih sesuatu.”
“Apa?”
Tanpa banyak bicara…
Budi menyerahkan surat Ahmad.
DEG.
Wajah Yanti langsung berubah.
“Ini…”
“Punya Ahmad.”
“Tapi kenapa ada di kamu?”
“Jatuh tadi.”
Yanti langsung membuka surat itu dengan tangan gemetar.
Dan semakin ia membaca…
air matanya semakin jatuh deras.
Sementara itu…
Ahmad belum sadar suratnya hilang.
Sampai akhirnya Dandang panik menghampirinya.
“Heh!”
“Apa?”
“Suratmu tadi jatuh!”
DEG.
Wajah Ahmad langsung pucat.
Ahmad langsung berlari mencari surat itu ke aula.
Namun sudah tidak ada.
Dan jantungnya mulai berdebar kacau.
Karena isi surat itu…
adalah seluruh isi hatinya yang paling jujur.
Di belakang perpustakaan…
Yanti masih menangis sambil membaca bagian terakhir surat itu.
“Kalau suatu hari nanti kita benar-benar berpisah jalan…
aku harap kamu tetap bahagia.
Karena mencintaimu adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku.”
Yanti menutup mulutnya sambil menangis keras.
Karena ternyata…
Ahmad masih mencintainya sedalam itu.
Beberapa detik kemudian…
langkah kaki terdengar mendekat.
Dan Ahmad muncul dengan napas terengah.
Mereka saling menatap.
Sunyi.
Sangat sunyi.
Ahmad langsung sadar surat itu sudah dibaca.
Wajahnya merah karena malu sekaligus gugup.
“Aku…”
Namun Yanti tiba-tiba memeluk Ahmad erat sambil menangis.
DEG.
Seluruh tubuh Ahmad langsung membeku.
“Aku juga masih sayang kamu…”
Kalimat itu terdengar lirih di tengah tangis Yanti.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
hati Ahmad terasa hidup kembali.
Angin sore berembus lembut di belakang perpustakaan sekolah.
Dan di tempat sederhana itu…
dua hati yang sempat saling menjauh…
akhirnya kembali menemukan jalan pulang mereka.
Meski mereka belum sadar…
bahwa setelah SMP nanti…
kehidupan akan membawa ujian yang jauh lebih besar daripada sekadar cemburu remaja.
BAB XXXVII
CINTA YANG KEMBALI PULANG
Setelah kejadian surat di belakang perpustakaan itu…
hubungan Ahmad dan Yanti perlahan kembali membaik.
Bukan seperti dulu yang penuh rasa posesif dan cemburu berlebihan.
Kali ini…
mereka mulai belajar memahami satu sama lain.
Mulai belajar dewasa.
Meski sebenarnya…
mereka masih sama-sama remaja yang mudah rapuh oleh perasaan.
Pagi itu…
suasana kelas terasa jauh lebih hidup.
Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Ahmad dan Yanti kembali duduk berdekatan.
Dan tentu saja…
itu langsung menjadi bahan keributan nasional versi anak SMP.
“WOOOO BALIKAN!”
teriak Dandang paling keras.
“HHAHAHAHA!”
Satu kelas langsung heboh.
Yanti langsung menutup wajah karena malu.
Sedangkan Ahmad hanya tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala.
Bambang yang melihat itu tersenyum tipis.
Ada rasa perih di dalam dadanya.
Namun kali ini…
ia benar-benar mencoba menerima semuanya.
Karena melihat Yanti tersenyum lagi…
anehnya juga membuat hatinya ikut lega.
“Heh Bambang…”
bisik Dandang.
“Apa?”
“Kamu kuat?”
“Apanya?”
“Lihat mereka romantis tiap hari.”
Bambang langsung melempar kertas ke wajah Dandang.
“Hahaha!”
Hari-hari terakhir masa SMP mereka mulai terasa lebih hangat.
Mereka belajar bersama lagi.
Pulang bersama lagi.
Dan perlahan…
luka-luka lama mulai sembuh sedikit demi sedikit.
Namun justru karena itulah…
Yanti mulai takut.
Karena semakin bahagia seseorang…
semakin besar rasa takut kehilangan yang muncul.
Suatu sore…
Ahmad dan Yanti duduk di tepi sungai tempat mereka dulu saling mengungkapkan perasaan.
Langit sore berwarna jingga keemasan.
Air sungai mengalir tenang.
Dan angin desa terasa sangat damai.
“Aneh ya…”
kata Yanti pelan.
“Apa?”
“Kita sempat sejauh itu.”
Ahmad tersenyum kecil.
“Mungkin karena kita sama-sama keras kepala.”
Yanti tertawa kecil sambil mengusap air matanya.
“Terutama kamu.”
“Lho aku?”
“Iya.”
“Kamu juga.”
“Hahaha…”
Untuk pertama kalinya setelah lama…
mereka bisa tertawa lepas lagi bersama.
Namun beberapa detik kemudian…
Ahmad mendadak serius.
“Yanti…”
“Iya?”
“Kalau nanti kita SMA…”
“Kamu jangan berubah ya.”
DEG.
Kalimat sederhana itu langsung membuat hati Yanti bergetar.
“Kenapa ngomong begitu?”
“Aku takut nanti banyak yang suka sama kamu.”
Yanti langsung tertawa kecil.
“Kamu masih cemburuan ternyata.”
“Aku serius.”
Yanti memandang wajah Ahmad cukup lama.
Lalu berkata pelan:
“Selama kamu masih mau percaya sama aku…”
“Aku nggak akan pergi.”
Kalimat itu membuat Ahmad tersenyum lega.
Dan perlahan…
ia menggenggam tangan Yanti erat.
Di sisi lain…
Budi ternyata masih belum berhenti membuat masalah.
Ia melihat Ahmad dan Yanti kembali dekat.
Dan entah kenapa…
hal itu membuatnya kesal.
“Heh…”
kata Eko.
“Apa?”
“Udahlah Bud.”
“Maksudnya?”
“Mereka udah baikan.”
Budi tertawa kecil sinis.
“Cinta anak SMP itu rapuh.”
“Dan gue yakin…”
“Sebentar lagi retak lagi.”
Namun kali ini…
Bambang mendengar ucapan itu.
Dan untuk pertama kalinya…
ia langsung berdiri membela Ahmad dan Yanti.
“Kalau lo nggak bisa lihat orang bahagia…”
“Minimal jangan ganggu.”
Suasana langsung hening.
Budi menatap Bambang sinis.
“Wah…”
“Yang patah hati mulai galak.”
Namun Bambang tidak mundur.
“Gue serius.”
“Kalau lo nyakitin Yanti lagi…”
“Gue yang lawan.”
DEG.
Budi akhirnya diam.
Karena untuk pertama kalinya…
ia melihat Bambang benar-benar marah.
Malam harinya…
anak-anak desa mengadakan nonton bareng layar tancap di lapangan.
Suasana ramai sekali.
Ada penjual jagung bakar.
Ada anak kecil berlarian.
Dan tentu saja…
ada Dandang yang sibuk salah tingkah karena duduk dekat Anita.
“Heh geser dikit.”
“Kenapa?”
“Jantungku nggak kuat.”
“HHAHAHAHA!”
Anita sampai tertawa terbahak-bahak.
Sementara itu…
Ahmad dan Yanti duduk berdampingan di tikar sederhana.
Mereka tidak banyak bicara.
Namun suasana hangat itu terasa sangat membahagiakan.
Tiba-tiba…
lampu layar mati mendadak.
“WOIIIII!”
Semua langsung ribut.
Dan dalam gelap itu…
tanpa sengaja tangan Ahmad menyentuh tangan Yanti.
DEG.
Meski sudah balikan…
sentuhan sederhana itu tetap membuat mereka gugup.
“Eh maaf…”
kata Ahmad pelan.
Yanti malah tertawa kecil.
“Pegang aja sekalian.”
DEG.
Wajah Ahmad langsung merah.
“HHAHAHAHA!”
Yanti malah makin tertawa melihat Ahmad salah tingkah.
Dan malam itu…
di tengah suara warga desa yang ramai…
di bawah langit penuh bintang…
dua remaja itu kembali menikmati cinta pertama mereka.
Cinta yang sederhana.
Polos.
Namun terasa begitu besar di usia mereka.
Tanpa mereka sadari…
masa-masa itu kelak akan menjadi kenangan paling mahal yang terus hidup hingga usia senja.
BAB XXXVIII
PERPISAHAN SMP DAN AIR MATA YANG TERSEMBUNYI
Tak terasa…
hari kelulusan SMP akhirnya tiba.
Hari yang dulu terasa sangat jauh…
kini benar-benar datang di depan mata.
Dan anehnya…
semua orang justru mendadak sedih.
Karena mereka sadar…
masa-masa paling sederhana dalam hidup mereka perlahan akan berakhir.
Pagi itu…
sekolah tampak jauh lebih ramai dari biasanya.
Spanduk kelulusan dipasang di depan gerbang.
Guru-guru sibuk mondar-mandir.
Dan seluruh siswa memakai seragam paling rapi dengan wajah campur aduk antara bahagia dan haru.
Dandang bahkan datang dengan gaya paling berlebihan.
Rambutnya disisir licin penuh minyak.
Dan bajunya terlalu wangi sampai satu kelas hampir pusing.
“Heh…”
kata Bambang sambil menutup hidung.
“Apa?”
“Kamu mandi parfum?”
“Ini aura kesuksesan.”
“HHAHAHAHA!”
Satu kelas langsung tertawa keras.
Namun di balik semua tawa itu…
ada kesedihan kecil yang diam-diam mulai tumbuh di hati mereka.
Karena setelah hari ini…
hidup tidak akan sama lagi.
Pengumuman kelulusan akhirnya dibacakan.
Dan syukur…
seluruh sahabat mereka lulus semua.
“ALHAMDULILLAH!”
teriak Dandang sampai lompat-lompat.
Bahkan ia memeluk siapa saja di dekatnya.
Termasuk satpam sekolah.
“HHAHAHAHA!”
Suasana langsung pecah penuh tawa dan tangis haru.
Yanti memeluk Anita sambil menangis kecil.
“Akhirnya…”
“Iya…”
“Kita lulus…”
Sementara Ahmad berdiri tak jauh sambil memandang Yanti dengan senyum hangat.
Dan dalam hati…
ia diam-diam bangga pada gadis itu.
Namun kebahagiaan itu juga membawa kenyataan pahit.
Karena setelah SMP…
mereka belum tentu berada di sekolah yang sama lagi.
Dan pikiran itu mulai menghantui semuanya.
Siang harinya…
setelah acara selesai…
anak-anak mulai saling menulisi seragam.
Tradisi yang selalu penuh kekacauan.
Dan tentu saja…
Dandang jadi korban utama.
“Heh jangan tulis di muka woi!”
“HHAHAHAHA!”
Tak lama kemudian…
seragamnya penuh coretan absurd:
“Jangan lupa mandi.”
“Calon artis gagal.”
“Pohon paling tampan.”
Dandang sampai hampir nangis lihat bajunya.
Di tengah keramaian itu…
Ahmad diam-diam mendekati Yanti.
“Kita jalan bentar yuk.”
Yanti mengangguk pelan.
Mereka berjalan menuju belakang sekolah.
Tempat yang dulu sering jadi saksi pertengkaran dan perdamaian mereka.
Kini tempat itu terasa jauh lebih sunyi.
“Kamu jadi masuk SMA mana?” tanya Ahmad pelan.
“Aku mau coba SMA negeri di kota.”
DEG.
Jantung Ahmad langsung terasa berat.
Karena sekolah itu cukup jauh dari Desa Tegorejo.
“Kalau kamu?”
“Aku masih belum tahu.”
Suasana mendadak hening.
Yanti perlahan menunduk.
“Aku takut…”
“Takut apa?”
“Takut nanti kita berubah.”
Ahmad tersenyum kecil.
“Kita kan udah janji.”
“Tapi hidup kadang nggak sesuai janji.”
Kalimat itu terdengar sangat dewasa untuk anak seusia mereka.
Dan justru karena itu…
terasa semakin menyakitkan.
Ahmad perlahan memegang tangan Yanti.
“Aku nggak tahu masa depan bakal gimana.”
“Tapi…”
“Aku nggak mau kehilangan kamu lagi.”
Air mata Yanti mulai menggenang.
Di sisi lain…
Bambang berdiri cukup jauh sambil memperhatikan mereka diam-diam.
Namun kali ini…
ia tidak merasa marah.
Hanya sedih.
Sedih karena masa SMP mereka benar-benar akan berakhir.
Dan mungkin…
begitu juga dengan perasaannya yang selama ini ia simpan diam-diam.
Sore harinya…
seluruh sahabat mereka berkumpul terakhir kali di tepi sawah.
Mereka membawa makanan seadanya.
Duduk melingkar.
Dan bercerita tentang masa depan.
Namun suasana kali ini jauh lebih emosional.
“Aku bakal kangen kalian,” kata Anita sambil mulai menangis.
“Heh jangan nangis…”
kata Dandang.
“Nanti aku ikut.”
Namun beberapa detik kemudian…
Dandang sendiri malah mulai berkaca-kaca.
“HHAHAHAHA!”
Satu per satu mereka mulai mengenang masa SMP.
Tentang hukuman guru.
Tentang contekan gagal.
Tentang cinta monyet.
Tentang pertengkaran.
Dan tentang semua kebodohan kecil yang dulu terasa biasa saja.
“Eh inget nggak waktu Dandang jatuh ke got?”
“HHAHAHAHA!”
“WOI jangan diungkit!”
“Terus nangis gara-gara sandalnya hanyut!”
“HHAHAHAHA!”
Bahkan Bambang sampai tertawa keras sambil memegang perut.
Dan untuk sesaat…
semuanya terasa hangat lagi.
Namun ketika malam mulai turun…
suasana perlahan berubah sendu.
Karena mereka sadar…
setelah ini jalan hidup mereka akan mulai berbeda.
Ahmad akhirnya berkata pelan:
“Kalau suatu hari nanti…”
“Kita udah sibuk sendiri-sendiri…”
“Jangan saling lupa ya.”
Suasana langsung hening.
Yanti menggigit bibirnya menahan tangis.
Sementara Bambang menatap langit malam.
Dan Dandang yang biasanya paling cerewet…
kali ini hanya diam sambil tersenyum kecil.
Malam itu…
di bawah langit Desa Tegorejo…
mereka duduk bersama untuk terakhir kalinya sebagai anak SMP.
Belum tahu apa yang akan terjadi di masa depan.
Belum tahu siapa yang akan bertahan.
Dan belum tahu bahwa kehidupan SMA nanti…
akan membawa cinta mereka ke arah yang jauh lebih rumit dan menyakitkan.
BAB XXXIX
LANGKAH PERTAMA MENUJU SMA
Liburan setelah kelulusan SMP terasa aneh bagi Yanti.
Untuk pertama kalinya…
ia tidak lagi memakai seragam putih biru.
Tidak lagi bangun pagi untuk bertemu teman-temannya.
Dan tidak lagi mendengar suara Dandang yang ribut sejak pagi di kelas.
Hari-hari terasa lebih sunyi.
Lebih dewasa.
Dan entah kenapa…
lebih menakutkan.
Namun di balik rasa takut itu…
ada semangat baru yang tumbuh dalam diri Yanti.
Ia ingin mengejar cita-citanya.
Ia ingin menjadi guru.
Dan untuk itu…
ia harus masuk SMA terbaik di kota.
Pagi itu…
Pak Wiryo mengantar Yanti mendaftar ke SMA Negeri di Kendal.
Perjalanan dari Desa Tegorejo terasa cukup jauh.
Jalanan ramai.
Gedung sekolah terlihat besar.
Dan suasananya jauh berbeda dari SMP mereka dulu.
Yanti sampai gugup sendiri.
“Heh…”
kata Pak Wiryo sambil tersenyum.
“Apa Pak?”
“Jangan takut.”
“Aku minder…”
“Minder kenapa?”
“Anak-anak sini kelihatannya pintar semua.”
Pak Wiryo tertawa kecil.
“Kamu juga pintar.”
Kalimat sederhana itu membuat hati Yanti sedikit tenang.
Di sisi lain…
Ahmad ternyata juga mendaftar di sekolah yang sama.
Namun mereka belum bertemu sejak hari perpisahan.
Dan diam-diam…
keduanya sama-sama merindukan satu sama lain.
Saat Yanti selesai mengurus berkas…
ia berjalan keluar aula sambil membawa map.
Namun tiba-tiba…
BRAK!
Seseorang menabraknya dari depan.
Map Yanti jatuh berantakan.
“Aduh maaf!”
Yanti spontan jongkok membereskan kertas.
Dan beberapa detik kemudian…
ia mendengar suara yang sangat familiar.
“Yanti?”
DEG.
Yanti langsung menoleh cepat.
Ternyata Ahmad.
Mereka langsung saling diam beberapa detik.
Lalu sama-sama tertawa kecil karena gugup.
“Kamu daftar di sini juga?”
“Iya…”
“Aku juga.”
Dan entah kenapa…
pertemuan sederhana itu terasa sangat membahagiakan.
Namun beberapa detik kemudian…
suara lain tiba-tiba muncul.
“Heh Ahmad!”
Seorang gadis berambut pendek datang menghampiri sambil tersenyum ceria.
Namanya Lila.
Siswi baru dari sekolah lain.
Dan wajahnya cukup cantik.
“Oh…”
kata Ahmad sedikit gugup.
“Kenalin…”
“Ini temanku, Lila.”
Yanti langsung tersenyum sopan.
“Hai…”
“Hai juga.”
Namun entah kenapa…
hati Yanti langsung terasa sedikit tidak nyaman.
Lila ternyata cukup aktif dan mudah akrab.
Ia terus mengobrol dengan Ahmad selama proses pendaftaran.
Dan Yanti yang berdiri di samping mereka mulai merasa seperti orang asing.
Perasaan yang dulu sempat hilang…
perlahan kembali muncul.
Cemburu.
Sementara Ahmad sendiri tidak sadar.
Ia hanya menganggap Lila teman biasa.
Namun semakin lama mereka mengobrol…
Yanti makin diam.
“Heh kamu kenapa?” tanya Ahmad pelan.
“Nggak apa-apa.”
“Kamu bohong.”
Yanti tersenyum tipis.
“Enggak kok.”
Namun Ahmad mulai mengenali wajah itu.
Wajah ketika Yanti sedang menahan sesuatu.
Tak lama kemudian…
mereka pulang bersama naik angkot.
Dan sepanjang perjalanan…
suasana terasa agak canggung.
Biasanya mereka banyak bicara.
Namun kali ini…
Yanti lebih banyak diam sambil melihat jalan.
“Kamu marah?” tanya Ahmad hati-hati.
“Enggak.”
“Karena Lila?”
Yanti langsung menoleh cepat.
“Apaan sih…”
Ahmad tertawa kecil.
“Kamu cemburu ya?”
Wajah Yanti langsung merah.
“Enggak!”
“Bohong.”
Yanti akhirnya memukul kecil lengan Ahmad.
Dan Ahmad malah tertawa makin puas.
Namun di balik candaan kecil itu…
mereka belum sadar:
masa SMA akan membawa jauh lebih banyak orang baru ke dalam hidup mereka.
Orang-orang yang akan mengubah hubungan mereka sedikit demi sedikit.
Hari pertama masuk SMA akhirnya tiba.
Suasana sekolah jauh lebih besar dan ramai.
Anak-anak baru terlihat gugup.
Kakak kelas sibuk ospek ringan.
Dan Dandang…
tetap menjadi manusia paling memalukan sedunia.
“Heh…”
kata Bambang.
“Apa?”
“Kenapa topimu dipakai terbalik?”
Dandang langsung panik.
“HAH?!”
“HHAHAHAHA!”
Ternyata ia dikerjai sejak pagi.
Untungnya…
mereka semua masih satu sekolah.
Yanti.
Ahmad.
Bambang.
Anita.
Yuli.
Dandang.
Dan bahkan Budi.
Hanya saja…
mereka kini berada di kelas berbeda.
Dan tanpa sadar…
jarak kecil mulai mulai tercipta di antara mereka.
Di kelas baru…
Yanti mulai mengenal banyak teman baru.
Salah satunya seorang cowok tinggi, rapi, dan cukup populer bernama Raihan.
Ia dikenal pintar.
Aktif organisasi.
Dan sangat percaya diri.
Saat guru meminta siswa memperkenalkan diri…
Raihan berbicara dengan tenang:
“Nama saya Raihan Prasetyo.”
“Saya suka musik dan olahraga.”
“Dan saya bercita-cita jadi pengusaha.”
Beberapa siswi langsung berbisik kagum.
“Ganteng ya…”
“Iya…”
Yanti sendiri tidak terlalu memperhatikan.
Namun saat duduk kembali…
Raihan sempat melirik ke arah Yanti.
Dan senyumnya terlihat penuh rasa penasaran.
Sementara itu…
di luar kelas…
Ahmad yang sedang lewat tanpa sengaja melihat Raihan membantu membawakan buku Yanti yang jatuh.
DEG.
Entah kenapa…
hati Ahmad langsung terasa tidak nyaman lagi.
Dan tanpa ia sadari…
babak baru kisah cinta mereka perlahan mulai dimulai.
Babak yang jauh lebih rumit…
lebih dewasa…
dan jauh lebih menyakitkan daripada masa SMP dulu.
BAB XL
RAIHAN DAN GELOMBANG BARU DI HATI YANTI
Hari-hari pertama di SMA terasa sangat berbeda bagi Yanti.
Gedung sekolah lebih besar.
Pelajarannya lebih sulit.
Dan lingkungan pertemanan jauh lebih luas.
Tak ada lagi suasana sederhana seperti SMP dulu.
Kini…
semuanya terasa lebih dewasa.
Lebih bebas.
Dan lebih rumit.
Yanti mulai sibuk menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya.
Ia aktif di kelas.
Rajin belajar.
Dan perlahan mulai dikenal guru-guru karena kepintarannya.
Namun tanpa ia sadari…
ada seseorang yang diam-diam mulai sering memperhatikannya.
Raihan.
Raihan bukan tipe cowok yang ribut seperti Dandang.
Ia tenang.
Percaya diri.
Pandai berbicara.
Dan punya cara tersendiri membuat orang nyaman.
Tak heran…
banyak siswi mulai menyukainya.
Suatu pagi…
guru Bahasa Indonesia memberi tugas kelompok.
Dan seperti takdir yang mulai bermain…
Yanti dan Raihan berada di kelompok yang sama.
DEG.
“Kelompok tiga…”
“Yanti, Raihan, Siska, dan Doni.”
Suasana kelas langsung ramai.
Beberapa siswi langsung berbisik kecil.
“Cocok tuh…”
“Hush…”
Yanti hanya tersenyum kecil sambil duduk kembali.
Namun Raihan terlihat santai sekali.
Ia malah langsung memutar kursinya menghadap Yanti.
“Hai partner.”
Yanti sedikit gugup.
“Hai…”
Sementara itu…
di kelas lain…
Ahmad mulai merasa perubahan kecil dalam hubungan mereka.
Yanti jadi lebih sibuk.
Mereka tidak lagi bisa sering bertemu.
Jam istirahat kadang berbeda.
Kegiatan sekolah bertambah.
Dan tanpa sadar…
jarak kecil mulai tumbuh pelan-pelan.
Namun Ahmad masih mencoba tenang.
Sampai suatu siang…
Dandang datang membawa berita besar.
“Heh Ahmad!”
“Apa?”
“Yanti sekelompok sama cowok ganteng!”
DEG.
Ahmad langsung menatap tajam.
“Siapa?”
“Namanya Raihan.”
“Anaknya terkenal.”
“Pinter…”
“Ganteng…”
“Dan rambutnya nggak kayak sarang burung.”
“HHAHAHAHA!”
Bambang langsung menepuk kepala Dandang.
“Mulutmu itu…”
Meski mencoba santai…
hati Ahmad mulai terusik lagi.
Apalagi setelah beberapa hari kemudian…
ia melihat sendiri Yanti dan Raihan sedang tertawa bersama di perpustakaan.
Dan entah kenapa…
pemandangan itu terasa menusuk.
Padahal sebenarnya…
Raihan memang hanya sedang membantu Yanti mengerjakan tugas.
Namun karena Raihan sangat mudah membuat suasana nyaman…
Yanti perlahan mulai menikmati obrolan mereka.
“Heh…”
kata Raihan sambil tersenyum.
“Apa?”
“Kamu kalau serius belajar…”
“Mukanya galak.”
Yanti langsung tertawa kecil.
“Masa sih?”
“Iya.”
“Tapi pas ketawa…”
“Lumayan manis.”
DEG.
Yanti langsung salah tingkah.
Ia tidak terbiasa dipuji seblak-blakan seperti itu.
Karena Ahmad biasanya lebih pendiam dan malu-malu.
Sedangkan Raihan…
sangat percaya diri.
Sore harinya…
Ahmad menunggu Yanti di depan gerbang sekolah.
Namun Yanti terlambat keluar karena rapat tugas kelompok.
Dan saat akhirnya muncul…
Raihan berjalan di sampingnya sambil membawa beberapa buku.
DEG.
Wajah Ahmad langsung berubah sedikit kaku.
“Oh Ahmad…”
kata Yanti pelan.
Ahmad mencoba tersenyum.
“Hm.”
Raihan langsung mengulurkan tangan ramah.
“Hai bro.”
“Aku Raihan.”
Ahmad menjabat singkat.
“Ahmad.”
Suasana mendadak agak canggung.
“Heh tugas kelompok kita jangan lupa ya,” kata Raihan pada Yanti.
“Iya.”
“Nanti malam aku chat.”
DEG.
Ahmad langsung diam.
Dan Yanti mulai sadar…
situasi ini tidak nyaman.
Sepanjang perjalanan pulang…
Ahmad lebih banyak diam.
Yanti beberapa kali mencoba bicara.
Namun Ahmad hanya menjawab singkat.
Sampai akhirnya…
Yanti mulai kesal sendiri.
“Kamu kenapa sih?”
“Nggak kenapa-kenapa.”
“Kamu cemburu lagi?”
“Aku cuma capek.”
“Capek apa?”
“Capek harus pura-pura biasa.”
Kalimat itu langsung membuat suasana kembali tegang.
“Raihan cuma teman kelompok.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa sikapmu begini?”
Ahmad menghela napas panjang.
“Karena aku takut kejadian dulu terulang lagi.”
DEG.
Yanti langsung terdiam.
Karena ia tahu…
Ahmad masih membawa luka dari masa SMP.
Namun kali ini…
Yanti juga mulai lelah.
“Kamu nggak bisa terus hidup dalam ketakutan.”
“Aku cuma nggak mau kehilangan kamu.”
“Tapi kalau kamu terus kayak gini…”
“Kamu malah bikin aku menjauh.”
SUNYI.
Kalimat itu langsung menghantam Ahmad.
Sementara di sisi lain…
Raihan ternyata mulai benar-benar tertarik pada Yanti.
Bukan hanya karena wajahnya.
Tetapi karena sikapnya yang sederhana dan berbeda dari siswi lain.
Dan malam itu…
saat mengetik pesan tugas kelompok…
Raihan diam-diam tersenyum sendiri melihat nama Yanti muncul di layar ponselnya.
Tanpa disadari siapa pun…
gelombang baru mulai datang dalam kehidupan cinta Yanti.
Dan kali ini…
bukan lagi sekadar cinta polos anak SMP.
Melainkan cinta masa SMA…
yang jauh lebih berani, rumit, dan penuh persaingan hati.
BAB XLI
CEMBURU, GENGSI, DAN MALAM PENTAS SENI
Hari-hari di SMA mulai berjalan semakin cepat.
Tugas menumpuk.
Organisasi mulai aktif.
Dan kehidupan remaja mereka perlahan berubah semakin sibuk.
Namun di balik semua itu…
hubungan Ahmad dan Yanti kembali mulai diuji.
Bukan karena kurang cinta.
Tetapi karena terlalu banyak rasa takut yang belum sembuh sepenuhnya.
Raihan kini semakin sering dekat dengan Yanti karena tugas kelompok dan kegiatan sekolah.
Mereka beberapa kali belajar bersama di perpustakaan.
Kadang berdiskusi setelah jam pelajaran.
Dan kadang bercanda ringan yang sebenarnya sangat biasa.
Namun bagi Ahmad…
semua itu terasa tidak biasa.
Suatu siang…
Ahmad melihat Raihan memberikan minuman dingin pada Yanti di kantin.
“Heh…”
kata Raihan sambil menyerahkan teh botol.
“Kamu kelihatan capek.”
Yanti tersenyum kecil.
“Makasih.”
Dan tepat saat itu…
Ahmad datang.
DEG.
Suasana langsung berubah canggung.
“Oh Ahmad…”
kata Yanti pelan.
Ahmad hanya mengangguk singkat.
Namun wajahnya jelas menahan sesuatu.
Raihan yang cukup peka langsung tersenyum santai.
“Bro, tugas kelompok bikin otak panas ya.”
Ahmad memaksa tersenyum tipis.
“Iya.”
Namun setelah Raihan pergi…
suasana langsung berubah dingin.
“Kamu sekarang sering banget sama dia.”
“Karena tugas.”
“Terus nanti malam chat juga?”
“Itu soal tugas!”
Suara Yanti mulai meninggi.
Karena ia mulai merasa Ahmad kembali seperti dulu.
“Aku cuma nggak nyaman.”
“Aku juga nggak nyaman terus dicurigai!”
Beberapa siswa mulai melirik ke arah mereka.
Dan Yanti langsung menurunkan suara sambil menahan emosi.
“Aku capek Ahmad…”
“Kenapa setiap ada cowok dekat aku…”
“Selalu jadi masalah?”
Ahmad langsung diam.
Karena jauh di dalam hatinya…
ia tahu Yanti benar.
Namun sebelum mereka sempat bicara lebih jauh…
bel sekolah berbunyi.
Dan percakapan itu menggantung lagi.
Sementara itu…
sekolah mulai sibuk mempersiapkan pentas seni tahunan.
Seluruh siswa antusias.
Ada lomba musik.
Drama.
Puisi.
Dan stand makanan.
Tentu saja…
Dandang langsung merasa dirinya calon artis nasional.
“Aku cocok jadi vokalis.”
“Kenapa?”
“Karena wajahku menjual.”
Bambang langsung nyeletuk.
“Jualan gorengan?”
“HHAHAHAHA!”
Satu kelas langsung pecah tertawa.
Tanpa diduga…
Raihan terpilih menjadi ketua panitia pentas seni.
Sedangkan Yanti ditunjuk sebagai sekretaris acara.
Dan itu berarti…
mereka akan semakin sering bersama.
DEG.
Ahmad yang mendengar langsung makin tidak tenang.
Namun berbeda dari Ahmad…
Bambang justru mulai berubah jauh lebih dewasa.
Ia kini lebih fokus organisasi sekolah dan akademik.
Meski sesekali…
ia masih diam-diam memperhatikan Yanti dari jauh.
Dan rasa itu ternyata belum benar-benar hilang.
Suatu sore…
panitia pentas seni rapat sampai malam.
Hujan turun deras di luar sekolah.
Dan sebagian besar siswa mulai pulang satu per satu.
Tinggal beberapa panitia inti.
Termasuk Yanti dan Raihan.
“Heh…”
kata Raihan sambil menyerahkan mie instan cup.
“Makan dulu.”
Yanti tertawa kecil.
“Kamu kayak bapak-bapak.”
“Gapapa.”
“Asal bukan kayak Dandang.”
“HHAHAHAHA!”
Yanti tertawa cukup keras malam itu.
Dan tanpa sadar…
Raihan mulai menyukai suara tawa itu.
Namun di luar gerbang sekolah…
Ahmad ternyata sedang menunggu sejak tadi.
Ia kehujanan.
Wajahnya terlihat lelah.
Dan saat melihat Yanti tertawa bersama Raihan di ruang panitia…
dadanya langsung terasa panas.
Ahmad akhirnya masuk ke ruangan.
Suasana langsung berubah.
“Oh Ahmad…” kata Yanti kaget.
“Kamu belum pulang?”
“Aku nungguin kamu.”
DEG.
Raihan langsung menyadari suasana tidak nyaman.
“Oh yaudah…”
kata Raihan sambil berdiri.
“Aku keluar dulu.”
Namun Ahmad tiba-tiba berkata:
“Nggak usah.”
Suasana langsung hening.
Yanti mulai panik.
Karena ia tahu nada suara Ahmad berubah.
“Kamu kenapa sih?”
“Aku harus tanya itu ke kamu.”
“Maksudnya?”
“Sekarang kamu lebih nyaman sama dia ya?”
DEG.
Wajah Yanti langsung berubah.
“Jangan mulai lagi Ahmad.”
“Aku cuma ngomong kenyataan.”
“Ini rapat panitia!”
“Tapi kenapa harus berdua terus?”
Raihan akhirnya angkat bicara.
“Bro…”
“Kita emang lagi kerja.”
“Aku nggak pernah ada niat aneh.”
Namun Ahmad yang emosinya sudah penuh…
mulai kehilangan kendali.
“Aku nggak suka cara lo dekatin Yanti.”
SUNYI.
Kalimat itu membuat suasana membeku.
Raihan menatap Ahmad cukup lama.
Lalu tertawa kecil.
“Jadi ini soal cemburu?”
DEG.
Yanti langsung berdiri.
“CUKUP!”
Suara Yanti menggema di ruangan.
Dan untuk pertama kalinya…
ia terlihat benar-benar marah besar.
“Aku bukan barang rebutan!”
“Hentikan semua ini!”
Air mata mulai menggenang di matanya.
“Aku capek…”
“Aku capek harus ada di tengah-tengah kayak gini terus…”
Suasana langsung sunyi total.
Ahmad mulai sadar ia kelewatan.
Namun semuanya sudah terlanjur terjadi.
Sedangkan Raihan hanya diam sambil menatap Yanti penuh rasa bersalah.
Hujan malam semakin deras di luar sekolah.
Dan di tengah suara petir yang menggelegar…
hubungan mereka kembali retak perlahan.
Bukan karena tidak saling cinta.
Tetapi karena ego, cemburu, dan rasa takut…
sekali lagi mulai mengambil alih hati mereka.
BAB XLII
AIR HUJAN, AIR MATA, DAN HATI YANG MULAI BERUBAH
Setelah keributan malam rapat panitia itu…
hubungan Ahmad dan Yanti kembali terasa renggang.
Tidak separah saat mereka putus di SMP dulu.
Namun kali ini…
ada sesuatu yang berbeda.
Mereka sama-sama mulai lelah.
Dan kelelahan dalam cinta…
sering kali lebih berbahaya daripada pertengkaran itu sendiri.
Pagi itu…
langit mendung sejak subuh.
Udara sekolah terasa dingin.
Dan suasana kelas XI mulai ramai oleh obrolan pentas seni yang tinggal beberapa hari lagi.
Namun Yanti terlihat jauh lebih pendiam.
Ia hanya membuka buku tanpa benar-benar membaca.
Anita yang duduk di sebelahnya langsung sadar.
“Kamu belum baikan?”
Yanti menghela napas panjang.
“Aku capek, Nit…”
“Ahmad lagi?”
Yanti hanya mengangguk pelan.
Sementara di kelas lain…
Ahmad juga tidak kalah kacau.
Ia mulai sadar dirinya kembali mengulang kesalahan lama.
Namun di sisi lain…
ia benar-benar takut kehilangan Yanti.
Apalagi sekarang…
Raihan semakin dekat dengan Yanti hampir setiap hari.
Dandang yang melihat Ahmad murung langsung duduk di sampingnya.
“Heh.”
“Apa?”
“Lo kalau cemburu tuh mukanya kayak ayam habis kehujanan.”
“HHAHA…”
Ahmad akhirnya tertawa kecil meski hambar.
“Serius bro,” lanjut Dandang.
“Kalau lo terus begini…”
“Yang capek bukan cuma Yanti.”
“Tapi lo juga.”
Ahmad langsung diam.
Karena untuk pertama kalinya…
ia mulai merasa dirinya memang terlalu jauh terbawa rasa takut.
Di sisi lain…
Raihan ternyata juga mulai menjaga jarak dari Yanti.
Bukan karena perasaannya hilang.
Tetapi karena ia tidak ingin menjadi penyebab pertengkaran mereka.
Namun justru sikap itu membuat Yanti makin bingung.
Saat rapat panitia siang itu…
Raihan jadi lebih formal.
Lebih dingin.
Dan tidak lagi banyak bercanda.
“Heh…”
kata Yanti pelan setelah rapat selesai.
“Apa?”
“Kamu marah?”
Raihan tersenyum kecil.
“Enggak.”
“Terus kenapa beda?”
Raihan terdiam beberapa detik.
Lalu berkata lirih:
“Aku nggak mau bikin hidup kamu makin ribet.”
DEG.
Kalimat itu membuat hati Yanti mendadak terasa aneh.
“Raihan…”
“Aku tahu Ahmad nggak suka aku dekat kamu.”
“Tapi aku nggak mau jadi alasan kalian bertengkar terus.”
Suasana mendadak hening.
Dan untuk pertama kalinya…
Yanti mulai melihat sisi dewasa dari Raihan.
Malam harinya…
hujan kembali turun deras di Desa Tegorejo.
Dan seperti biasa…
hujan selalu membuat hati Yanti jadi lebih sensitif.
Ia duduk di dekat jendela sambil memandangi titik-titik air yang jatuh di halaman rumah.
Pikirannya penuh.
Tentang Ahmad.
Tentang Raihan.
Dan tentang dirinya sendiri yang mulai merasa lelah dengan semua drama ini.
Tiba-tiba…
ponselnya berbunyi.
Pesan dari Ahmad.
“Besok bisa ketemu?”
Yanti menatap layar cukup lama.
Lalu membalas singkat:
“Iya.”
Keesokan sorenya…
mereka bertemu di tepi sungai.
Tempat yang selalu menjadi saksi perjalanan cinta mereka sejak SMP.
Namun kini…
tempat itu terasa jauh lebih sunyi.
Ahmad datang lebih dulu.
Wajahnya terlihat lelah.
Dan saat melihat Yanti datang…
dadanya langsung terasa sesak oleh rindu.
“Yanti…”
“Iya.”
“Aku minta maaf.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Tanpa gengsi.
Tanpa amarah.
Hanya penuh kelelahan dan penyesalan.
“Aku tahu aku salah.”
“Aku terlalu takut kehilangan kamu.”
Yanti menunduk pelan.
“Aku ngerti.”
“Tapi aku juga capek terus dicurigai.”
Ahmad langsung mengangguk.
“Aku tahu…”
“Aku lagi berusaha berubah.”
Angin sore berembus pelan.
Air sungai mengalir tenang.
Dan suasana terasa sangat emosional.
“Aku cuma takut…”
kata Ahmad lirih.
“Suatu hari nanti…”
“Kamu nemuin orang yang lebih baik dari aku.”
DEG.
Hati Yanti langsung bergetar.
Karena untuk pertama kalinya…
Ahmad mengungkapkan ketakutan terdalamnya dengan begitu jujur.
Yanti perlahan menggenggam tangan Ahmad.
“Aku nggak pernah nyari yang lebih baik.”
“Terus?”
“Aku cuma pengen dicintai dengan tenang.”
Kalimat itu langsung membuat Ahmad terdiam lama.
Karena ia sadar…
selama ini cintanya terlalu penuh ketakutan sampai lupa memberi ketenangan.
Air mata Ahmad akhirnya jatuh pelan.
Dan Yanti langsung kaget.
Karena selama ini…
Ahmad selalu berusaha terlihat kuat.
“Aku takut kehilangan kamu…”
suara Ahmad bergetar.
Dan untuk pertama kalinya…
Yanti melihat sisi paling rapuh dari laki-laki itu.
Tanpa sadar…
Yanti ikut menangis.
Lalu perlahan memeluk Ahmad.
Mereka sama-sama diam.
Sama-sama menangis kecil.
Dan sama-sama berharap cinta mereka masih bisa diselamatkan.
Namun jauh di dalam hati Yanti…
ada sesuatu yang mulai berubah perlahan.
Karena untuk pertama kalinya…
ia mulai merasa:
cinta saja ternyata tidak selalu cukup untuk membuat dua orang bahagia.
BAB XLIII
PENTAS SENI, LUKA LAMA, DAN PERASAAN YANG MULAI BERCABANG
Hari pentas seni akhirnya tiba.
Seluruh sekolah berubah ramai sejak pagi.
Balon warna-warni dipasang di halaman.
Panggung besar berdiri megah di lapangan sekolah.
Suara musik terdengar dari berbagai sudut.
Dan seluruh siswa sibuk seperti panitia konser nasional.
Dandang tentu menjadi manusia paling heboh hari itu.
Ia memakai jaket kulit pinjaman yang kebesaran.
Rambutnya dibuat klimis.
Dan ia berjalan ke sana kemari seperti artis ibu kota.
“Heh minggir dulu…”
“Aku publik figur.”
“HHAHAHAHA!”
Bambang langsung nyeletuk:
“Publik malu.”
“HHAHAHAHA!”
Satu geng langsung pecah tertawa.
Namun di balik semua keramaian itu…
hati Yanti justru sedang tidak tenang.
Meski hubungannya dengan Ahmad mulai membaik setelah pertemuan di tepi sungai…
ada sesuatu yang masih mengganjal.
Perasaan lelah itu belum benar-benar hilang.
Dan yang paling membuatnya bingung…
ia mulai merasa nyaman berbicara dengan Raihan.
Bukan cinta.
Belum.
Tetapi ada ketenangan yang berbeda.
Raihan tidak posesif.
Tidak mudah cemburu.
Dan selalu berbicara dengan tenang.
Hal-hal kecil itu perlahan mulai mengusik hati Yanti.
Sementara itu…
Raihan justru memilih menjaga jarak beberapa hari terakhir.
Ia lebih fokus mengurus acara.
Tidak lagi terlalu banyak bercanda dengan Yanti.
Dan anehnya…
sikap itu malah membuat Yanti diam-diam mencari keberadaannya.
“Heh…”
bisik Anita saat mereka duduk di ruang panitia.
“Apa?”
“Kamu nyariin Raihan ya?”
DEG.
Yanti langsung panik.
“Apaan sih!”
“Wajahmu ketahuan.”
Yanti langsung melempar tisu ke Anita.
“Hahaha!”
Namun candaan kecil itu justru membuat Yanti semakin gelisah.
Karena untuk pertama kalinya…
ia mulai mempertanyakan isi hatinya sendiri.
Malam pentas seni akhirnya dimulai.
Lampu panggung menyala terang.
Suara penonton riuh memenuhi lapangan sekolah.
Dan acara berjalan sangat meriah.
Dandang tampil membawakan lagu.
Dan hasilnya…
benar-benar di luar dugaan.
Fals.
Sangat fals.
“HHAHAHAHA!”
Bahkan guru-guru sampai tertawa sambil menutup muka.
Namun Dandang tetap percaya diri.
“Ini seni nada bebas!”
“HHAHAHAHA!”
Suasana semakin pecah saat Dandang lupa lirik lalu malah menyanyikan lagu dangdut di tengah lagu pop.
Dan sejak malam itu…
namanya resmi jadi legenda sekolah.
Di balik semua tawa itu…
Ahmad sebenarnya sedang memperhatikan Yanti terus-menerus.
Dan semakin malam…
ia semakin sadar satu hal.
Tatapan Yanti pada Raihan mulai berbeda.
Mungkin sangat kecil.
Namun Ahmad mengenal Yanti terlalu lama untuk tidak menyadarinya.
Saat acara sedikit sepi…
Ahmad akhirnya menghampiri Yanti di belakang panggung.
“Kamu capek?”
“Lumayan.”
Ahmad tersenyum kecil sambil memberikan air minum.
Namun sebelum mereka sempat bicara lebih jauh…
Raihan datang tergesa.
“Yanti, list penampilan terakhir mana?”
“Oh bentar…”
Yanti langsung membuka map panitia.
Dan tanpa sadar…
ia dan Raihan mulai berdiskusi serius sambil tertawa kecil beberapa kali.
Sementara Ahmad berdiri di samping mereka seperti orang asing.
Perasaan itu kembali datang.
Perasaan tertinggal.
Perasaan takut kehilangan.
Dan yang lebih menyakitkan…
kali ini Ahmad mulai merasa ketakutannya mungkin benar.
Tak lama kemudian…
listrik panggung tiba-tiba mati.
“WOIIII!”
Suasana langsung ricuh.
Panitia berlarian panik.
Dan hujan kecil mulai turun dari langit malam.
Raihan langsung mengambil alih situasi.
“Heh kabel belakang dicek!”
“Sound system jangan kena air!”
Suaranya tegas.
Tenang.
Dan penuh tanggung jawab.
Yanti yang melihat itu mendadak kagum.
Karena untuk pertama kalinya…
ia melihat sisi Raihan yang sangat dewasa.
Sementara Ahmad justru makin merasa kecil.
Ia tidak pandai bicara seperti Raihan.
Tidak setenang Raihan.
Dan tidak sepandai Raihan menghadapi situasi.
Perasaan minder itu kembali tumbuh.
Setelah listrik kembali normal…
acara akhirnya selesai dengan sukses.
Semua panitia bersorak lega.
Dan Yanti spontan memeluk Raihan karena terlalu senang.
DEG.
Namun beberapa detik kemudian…
Yanti langsung sadar Ahmad berdiri tak jauh dari sana.
Wajah Ahmad langsung berubah pucat.
Sedangkan Yanti perlahan melepaskan pelukannya dengan panik.
“Ahmad…”
Namun Ahmad hanya tersenyum kecil.
Senyum yang justru terasa sangat menyakitkan.
“Acara kalian sukses.”
Lalu ia pergi begitu saja.
DEG.
Jantung Yanti langsung terasa jatuh.
Ia ingin mengejar Ahmad.
Namun langkahnya terasa berat.
Sementara Raihan mulai sadar…
perasaannya pada Yanti kini bukan lagi sekadar kagum biasa.
Malam itu…
setelah semua orang pulang…
tiga hati sedang sama-sama kacau.
Ahmad yang mulai merasa kehilangan.
Yanti yang mulai bingung pada perasaannya sendiri.
Dan Raihan…
yang perlahan mulai jatuh cinta sungguhan.
BAB XLIV
DI ANTARA DUA HATI
Sejak malam pentas seni itu…
hubungan Ahmad dan Yanti kembali berubah.
Bukan pertengkaran besar.
Bukan juga perpisahan.
Namun ada jarak dingin yang perlahan tumbuh di antara mereka.
Dan yang paling menyakitkan…
keduanya sama-sama sadar akan hal itu.
Yanti mulai sering melamun di kelas.
Pikirannya bercampur aduk.
Tentang Ahmad.
Tentang Raihan.
Dan tentang dirinya sendiri yang mulai merasa bersalah.
Ia tidak pernah berniat menyukai orang lain.
Tidak pernah ingin mendua.
Namun hati manusia…
kadang berubah perlahan tanpa izin.
Sementara itu…
Ahmad mulai lebih banyak diam.
Ia masih sayang.
Sangat sayang.
Namun kali ini…
ia mulai takut menghadapi kenyataan.
Karena ia bisa merasakan sendiri:
Yanti perlahan mulai menjauh.
Pagi itu…
suasana sekolah ramai seperti biasa.
Namun Ahmad hanya duduk diam sambil memutar bolpoin.
Dandang yang melihat langsung duduk di sampingnya.
“Heh.”
“Apa?”
“Lo sekarang kayak tokoh utama sinetron gagal.”
“HHAHA…”
Ahmad tertawa kecil hambar.
“Serius bro…”
kata Dandang pelan.
“Kalau ada masalah…”
“Jangan dipendem terus.”
Ahmad menunduk cukup lama.
Lalu berkata lirih:
“Aku takut kehilangan dia, Dang…”
Dan untuk pertama kalinya…
Dandang tidak bercanda.
Ia hanya menepuk bahu Ahmad pelan.
Di sisi lain…
Raihan mulai menjaga sikap pada Yanti.
Ia sadar Yanti masih bersama Ahmad.
Dan ia tidak ingin terlihat merebut.
Namun justru sikap dewasa itu membuat Yanti semakin nyaman berada di dekatnya.
Saat jam kosong…
Raihan dan Yanti duduk di taman belakang sekolah sambil mengerjakan tugas.
Angin siang bertiup pelan.
Daun-daun berguguran.
Dan suasana terasa tenang.
“Kamu kenapa akhir-akhir ini murung terus?” tanya Raihan pelan.
“Nggak apa-apa.”
“Kamu bohong.”
Yanti tertawa kecil.
“Semua orang bilang gitu.”
“Karena kelihatan.”
Yanti akhirnya terdiam.
Beberapa detik kemudian…
Raihan berkata pelan:
“Kalau capek…”
“Jangan dipaksa terus.”
DEG.
Kalimat sederhana itu justru membuat hati Yanti terasa hangat.
Karena selama ini…
jarang ada yang memahami kelelahan hatinya tanpa ia harus menjelaskan panjang lebar.
Namun tiba-tiba…
dari kejauhan Ahmad melihat mereka berdua.
Dan dadanya kembali terasa sesak.
Bambang yang berdiri di dekat Ahmad langsung sadar.
“Heh…”
“Apa?”
“Jangan lihat terus.”
“Aku cuma…”
“Kamu bakal nyakitin diri sendiri.”
Ahmad langsung diam.
Karena Bambang benar.
Namun tetap saja…
ia tidak bisa berhenti melihat Yanti.
Hari demi hari berjalan semakin rumit.
Yanti mulai sering membandingkan Ahmad dan Raihan tanpa sadar.
Ahmad penuh cinta…
tetapi sering dipenuhi ketakutan.
Sedangkan Raihan memberi rasa nyaman…
tanpa banyak menuntut.
Dan hal itu mulai membuat hati Yanti bercabang.
Malam harinya…
Yanti menangis sendirian di kamar.
Ia merasa dirinya jahat.
Karena masih mencintai Ahmad…
namun mulai nyaman dengan kehadiran Raihan.
“Aku harus gimana…”
bisiknya pelan sambil menangis.
Sementara itu…
Ahmad duduk sendirian di gardu dekat sawah.
Tempat yang dulu sering mereka datangi bersama.
Kini tempat itu terasa jauh lebih sunyi.
Tiba-tiba…
langkah kaki terdengar mendekat.
Ternyata Bambang.
“Heh.”
“Apa?”
“Lo masih cinta banget ya.”
Ahmad tertawa kecil pahit.
“Banget.”
“Terus kenapa nggak percaya sama dia?”
DEG.
Pertanyaan itu langsung menusuk hati Ahmad.
“Aku takut…”
“Takut apa?”
“Takut kalah sama orang yang lebih baik.”
Bambang terdiam cukup lama.
Lalu tersenyum kecil.
“Cinta itu bukan lomba.”
Ahmad menunduk pelan.
“Kalau dia memang cinta sama lo…”
“Dia bakal tetap pilih lo.”
“Tapi kalau nggak…”
Bambang menghela napas panjang.
“Seberapa keras pun lo nahan…”
“Dia tetap bakal pergi.”
Kalimat itu membuat Ahmad benar-benar terdiam malam itu.
Sementara di rumahnya…
Yanti membuka buku tugas.
Namun pikirannya terus melayang.
Dan tanpa sadar…
ia tersenyum kecil saat membaca pesan singkat dari Raihan:
“Jangan tidur terlalu malam.
Besok kita masih harus perang sama tugas sekolah.”
Pesan sederhana itu terasa begitu hangat.
Namun beberapa detik kemudian…
pesan dari Ahmad masuk:
“Aku kangen kamu.”
DEG.
Air mata Yanti langsung jatuh lagi.
Karena untuk pertama kalinya…
ia benar-benar merasa berdiri di antara dua hati.
Dan ia mulai takut…
siapa pun yang nanti ia pilih…
akan ada hati yang hancur.
BAB XLV
MALAM YANG MEMECAH SEMUANYA
Hari-hari setelah itu…
hidup Yanti terasa semakin berat.
Ia mencoba bersikap biasa.
Tetap tersenyum.
Tetap belajar.
Tetap menjalani sekolah seperti tidak terjadi apa-apa.
Namun di dalam hatinya…
semuanya sedang kacau.
Sangat kacau.
Ahmad semakin sensitif.
Raihan semakin perhatian.
Dan Yanti…
semakin sulit memahami isi hatinya sendiri.
Pagi itu…
kelas terasa ribut seperti biasa.
Dandang kembali membuat kekacauan kecil karena salah memakai sepatu.
Sepatu kanan dan kiri berbeda warna.
“Heh…”
teriak Anita sambil tertawa.
“Itu sepatu siapa?!”
Dandang langsung melihat ke bawah.
“ASTAGA…”
“HHAHAHAHA!”
Satu kelas langsung pecah.
Bahkan Yanti ikut tertawa cukup keras.
Dan untuk sesaat…
beban di hatinya terasa sedikit ringan.
Namun kebahagiaan kecil itu tidak bertahan lama.
Karena saat jam istirahat…
Ahmad datang menghampiri kelas Yanti.
Wajahnya terlihat serius.
“Yanti…”
“Iya?”
“Nanti sore aku mau ngomong.”
DEG.
Nada suara Ahmad membuat jantung Yanti langsung tidak tenang.
“Ngomong apa?”
“Nanti aja.”
Dan Ahmad langsung pergi.
Meninggalkan Yanti yang mulai gelisah sendiri.
Sementara itu…
Raihan ternyata sedang menyiapkan sesuatu.
Hari itu ulang tahun Yanti.
Dan hampir semua teman dekatnya tahu.
Kecuali Ahmad.
Karena akhir-akhir ini komunikasi mereka memang semakin renggang.
Sore harinya…
setelah jam sekolah selesai…
Raihan mengajak beberapa teman berkumpul kecil di taman belakang sekolah.
Ada Anita.
Yuli.
Dandang.
Bambang.
Dan beberapa teman lain.
Mereka menyiapkan kejutan sederhana.
“Heh kuenya jangan dimakan dulu!” teriak Anita.
“Aku cuma nyicip.”
“Itu udah setengah!”
“HHAHAHAHA!”
Dandang langsung pura-pura tidak bersalah sambil mulutnya penuh krim.
Yanti sama sekali tidak tahu.
Ia hanya diminta datang ke taman belakang sekolah.
Dan saat ia datang…
“SELAMAT ULANG TAHUNNN!”
DEG.
Yanti langsung kaget setengah mati.
Lampu kecil menyala.
Teman-temannya tertawa.
Dan Raihan berdiri sambil membawa kue sederhana.
Yanti langsung menutup mulutnya haru.
“Kalian…”
Anita langsung memeluknya.
“Jangan nangis!”
“Make up-mu murah!”
“HHAHAHAHA!”
Suasana langsung hangat penuh tawa.
Raihan kemudian maju perlahan.
“Selamat ulang tahun ya.”
“Makasih…”
“Aku cuma berharap…”
“Kamu tetap jadi Yanti yang sekarang.”
DEG.
Tatapan mata Raihan terasa begitu tulus malam itu.
Dan tanpa sadar…
jantung Yanti berdebar sedikit lebih cepat.
Namun tepat saat suasana sedang hangat…
langkah kaki terdengar mendekat.
Ahmad datang.
Dan saat melihat semua itu…
wajahnya langsung berubah.
Ia melihat Raihan berdiri dekat Yanti.
Melihat Yanti tersenyum bahagia.
Dan melihat suasana yang terasa begitu hangat tanpa dirinya.
Dadanya langsung terasa sesak.
“Ahmad…” kata Yanti pelan.
Namun Ahmad tidak langsung menjawab.
Matanya justru tertuju pada Raihan.
“Oh…”
katanya lirih.
“Lagi pesta ternyata.”
Suasana langsung berubah canggung.
Dandang yang biasanya cerewet bahkan sampai diam.
“Aku nggak tahu kalau hari ini ulang tahunmu,” lanjut Ahmad pelan.
Dan kalimat itu…
entah kenapa terasa sangat menyakitkan bagi Yanti.
Karena dulu…
Ahmad selalu jadi orang pertama yang mengingat hal-hal kecil tentang dirinya.
Namun kini…
mereka bahkan mulai kehilangan kedekatan sederhana itu.
“Mad…”
kata Yanti pelan.
“Aku tadi mau bilang—”
“Tapi aku kalah cepat ya.”
DEG.
Suasana langsung makin tegang.
Raihan akhirnya maju pelan.
“Bro…”
“Aku cuma bikin acara kecil.”
“Aku nggak ada niat aneh.”
Ahmad tertawa kecil hambar.
“Niat orang emang nggak selalu kelihatan.”
DEG.
Wajah Raihan langsung berubah sedikit tegang.
“Ahmad cukup.”
Suara Yanti mulai terdengar lelah.
Namun Ahmad seolah sudah menahan semuanya terlalu lama.
“Aku tuh capek, Yan…”
“Capek lihat kamu makin jauh.”
“Capek pura-pura semuanya baik-baik aja.”
Yanti langsung terdiam.
Karena semua yang dikatakan Ahmad…
memang benar.
“Aku masih sayang sama kamu…”
suara Ahmad mulai bergetar.
“Tapi sekarang…”
“Aku bahkan nggak tahu masih punya tempat atau nggak di hati kamu.”
SUNYI.
Angin malam bertiup pelan.
Dan suasana terasa begitu berat.
Yanti mulai menangis.
“Jangan ngomong gitu…”
“Terus aku harus ngomong apa?!”
Suara Ahmad akhirnya meninggi.
Dan untuk pertama kalinya…
emosinya benar-benar meledak di depan semua orang.
“Aku lihat cara kamu lihat dia!”
“Aku lihat cara kamu nyaman sama dia!”
“Aku nggak bodoh, Yan!”
Air mata Yanti jatuh makin deras.
Karena jauh di dalam hatinya…
ia tahu Ahmad tidak sepenuhnya salah.
Raihan akhirnya bicara tegas.
“Cukup Ahmad.”
“Aku nggak pernah paksa Yanti buat suka sama aku.”
DEG.
Kalimat itu langsung membuat suasana membeku.
Termasuk Yanti.
Ahmad langsung menatap tajam.
“Jadi lo ngaku sekarang?”
Raihan menarik napas panjang.
“Iya.”
“Aku suka sama Yanti.”
DEG.
Dunia seperti berhenti sesaat.
Anita langsung menutup mulut panik.
Yuli membeku.
Dandang bahkan sampai menjatuhkan gelas plastiknya.
Sementara Bambang hanya memejamkan mata pelan…
karena ia tahu momen ini akhirnya datang juga.
Ahmad tertawa kecil.
Namun matanya penuh luka.
“Bagus…”
“Jujur akhirnya.”
Lalu perlahan ia menoleh ke Yanti.
“Sekarang aku cuma mau tahu satu hal.”
DEG.
Jantung Yanti langsung terasa hampir berhenti.
“Kamu…”
Suara Ahmad bergetar hebat.
“Masih cinta sama aku nggak?”
SUNYI.
Sangat sunyi.
Hanya suara angin malam yang terdengar.
Yanti menangis semakin keras.
Karena untuk pertama kalinya…
ia tidak bisa langsung menjawab pertanyaan itu.
BAB XLVI
JAWABAN YANG TAK SANGGUP TERUCAP
Malam itu…
setelah pertanyaan Ahmad menggantung di udara…
tak ada satu pun yang berani bicara.
Semua diam.
Semua membeku.
Bahkan angin malam terasa seperti ikut menahan napas.
“Kamu masih cinta sama aku nggak?”
Kalimat itu terus terngiang di kepala Yanti.
Dan yang paling menyakitkan…
ia tidak bisa langsung menjawabnya.
Bukan karena sudah tidak cinta.
Tetapi karena hatinya terlalu penuh kebingungan.
Air mata Yanti jatuh semakin deras.
Tangannya gemetar.
Dan seluruh tubuhnya terasa lemas.
“Yan…”
suara Ahmad kembali lirih.
Namun kali ini…
suara itu terdengar jauh lebih rapuh.
Lebih takut.
Dan lebih hancur.
“Aku…”
Bibir Yanti bergetar.
Namun tak ada kata yang keluar.
SUNYI.
Dan justru diam itulah yang menghancurkan Ahmad perlahan.
Ahmad tertawa kecil.
Tawa yang terdengar pahit sekali.
“Jawaban diam…”
“Kadang udah cukup ya.”
DEG.
Yanti langsung menggeleng cepat.
“Bukan gitu…”
“Terus gimana?!”
Suara Ahmad meninggi lagi.
Matanya mulai merah penuh air mata.
“Aku perjuangin kamu dari SMP…”
“Aku sayang sama kamu setengah mati…”
“Aku bertahan…”
“Walaupun aku terus takut kehilangan kamu…”
Suasana mulai terasa makin emosional.
Anita bahkan ikut menangis kecil melihat mereka.
“Tapi sekarang…”
Ahmad menunduk sambil tertawa getir.
“Aku bahkan kalah sama cowok yang baru datang.”
“AHMAD CUKUP!”
Yanti akhirnya berteriak sambil menangis.
Dan semua langsung terdiam lagi.
“Aku nggak pernah nganggep kamu kalah…”
“Terus kenapa kamu nggak bisa jawab?!”
DEG.
Yanti langsung menutup wajahnya.
Karena itulah pertanyaan yang juga menyiksa dirinya sendiri.
Sementara itu…
Raihan berdiri diam dengan wajah tegang.
Ia sebenarnya ingin pergi sejak tadi.
Namun keadaan sudah terlanjur terlalu jauh.
“Aku nggak mau jadi penyebab kalian hancur,” kata Raihan pelan.
Ahmad langsung menatap tajam.
“Tapi lo udah jadi penyebabnya.”
DEG.
Suasana makin panas.
Raihan mulai menahan emosi.
“Aku nggak pernah rebut Yanti.”
“Perasaan nggak datang karena dipaksa.”
“Jangan ngajarin gue soal perasaan!”
Suara Ahmad kini benar-benar pecah oleh emosi.
Bambang akhirnya maju.
“Heh cukup!”
Namun Ahmad sudah terlalu penuh luka malam itu.
“Aku capek…”
Suara Ahmad tiba-tiba melemah.
Dan justru karena itu…
semua terasa jauh lebih menyakitkan.
“Aku capek takut…”
“Aku capek cemburu…”
“Aku capek ngerasa nggak cukup…”
Air matanya jatuh satu per satu.
Dan untuk pertama kalinya…
Ahmad menangis di depan semua orang.
Yanti langsung semakin hancur melihatnya.
Karena di balik semua kesalahan Ahmad…
ia tahu laki-laki itu benar-benar mencintainya.
Sangat tulus.
Namun justru ketulusan itulah…
yang perlahan berubah menjadi beban di hati mereka berdua.
“Mad…”
kata Yanti lirih sambil mendekat.
Namun Ahmad mundur perlahan.
Dan gerakan kecil itu…
langsung membuat hati Yanti terasa runtuh.
“Jangan…”
kata Ahmad pelan.
“Aku takut makin susah lepas.”
DEG.
Air mata Yanti kembali pecah.
Sementara itu…
Dandang yang sejak tadi diam akhirnya ikut menangis.
“Heh…”
kata Bambang pelan.
“Lo nangis?”
“Iya…”
“Kenapa?”
“Karena cinta ternyata serem ya…”
“HHAHA…”
Namun tawanya langsung berubah jadi tangisan lagi.
Bahkan di tengah situasi sesedih itu…
mereka tetap anak-anak SMA yang sedang belajar memahami hidup.
Ahmad akhirnya menarik napas panjang.
Lalu menatap Yanti untuk terakhir kalinya malam itu.
“Aku nggak mau maksa kamu.”
“Kalau hati kamu udah berubah…”
“Aku nggak punya hak nahan.”
“ENGGAK!”
Yanti langsung menangis keras.
Karena sebenarnya…
ia sendiri belum siap kehilangan Ahmad.
Namun Ahmad perlahan menggeleng.
“Aku sayang banget sama kamu…”
“Makanya…”
“Aku nggak mau bikin kamu makin bingung.”
Kalimat itu terasa seperti pisau di hati Yanti.
Karena untuk pertama kalinya…
Ahmad memilih menyerah demi dirinya.
Lalu perlahan…
Ahmad melepas gelang kecil di tangannya.
Gelang persahabatan yang dulu dibuat Yanti saat SMP.
Dan ia menggenggamnya beberapa detik sebelum menyerahkannya pada Yanti.
“Simpen aja…”
Suara Ahmad hampir tak terdengar.
“Aku takut kalau aku bawa…”
“Aku nggak bakal bisa pergi.”
DEG.
Yanti langsung menangis tersedu-sedu.
Malam itu…
di taman belakang sekolah yang mulai sepi…
cinta pertama mereka kembali retak.
Namun kali ini…
bukan karena marah.
Bukan karena cemburu semata.
Melainkan karena dua hati yang sama-sama lelah bertahan di tengah perubahan perasaan.
Ahmad akhirnya pergi perlahan meninggalkan mereka.
Langkahnya berat.
Namun ia tidak menoleh lagi.
Karena ia tahu…
kalau sekali saja ia melihat Yanti menangis…
ia pasti tidak akan sanggup pergi.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengenal…
Yanti merasa benar-benar kehilangan Ahmad.
BAB XLVII
SUNYI SETELAH BADAI
Sejak malam di taman belakang sekolah itu…
semuanya berubah lagi.
Namun kali ini bukan perubahan yang ramai oleh pertengkaran.
Melainkan perubahan yang sunyi.
Terlalu sunyi.
Ahmad tidak lagi menunggu Yanti di gerbang seperti dulu.
Tidak lagi mengirim pesan setiap malam.
Dan tidak lagi mencari-cari alasan untuk sekadar berbicara.
Ia benar-benar menjaga jarak.
Seperti seseorang yang sedang melatih dirinya untuk tidak kembali pada sesuatu yang ia cintai.
Yanti pun sama.
Ia tidak lagi berani memulai percakapan.
Setiap kali melihat Ahmad di sekolah…
dadanya langsung sesak.
Setiap kali ingin menyapa…
tangannya justru gemetar.
Dan akhirnya…
ia memilih diam.
Di kelas…
Dandang mulai merasa suasana semakin tidak manusiawi.
“Heh…”
bisiknya pada Bambang.
“Apa?”
“Ini kelas apa kuburan ya?”
“HHAHA…”
Namun Bambang tidak tertawa.
Ia hanya menatap Ahmad dan Yanti bergantian.
Dan untuk pertama kalinya…
bahkan Dandang pun tidak menemukan bahan candaan yang tepat.
Raihan juga tidak lagi terlalu aktif mendekati Yanti.
Bukan karena sudah tidak peduli.
Tetapi karena ia mulai memahami satu hal:
ada luka yang tidak bisa diselesaikan dengan kehadiran orang baru.
Suatu siang…
Yanti duduk sendirian di perpustakaan.
Ia membuka buku pelajaran…
tapi matanya kosong.
Pikirannya jauh.
Sampai akhirnya…
Raihan datang dan duduk di seberangnya.
“Kamu nggak makan?”
Yanti tersentak kecil.
“Eh… belum.”
Raihan meletakkan roti di meja.
“Makan dulu.”
Yanti hanya menatapnya.
“Kenapa kamu masih baik sama aku?”
Raihan tersenyum kecil.
“Karena kamu nggak salah apa-apa.”
DEG.
Kalimat itu justru membuat hati Yanti semakin sakit.
“Aku yang bikin semuanya ribet…”
kata Yanti pelan.
Raihan menggeleng.
“Bukan kamu.”
“Terus siapa?”
“Keadaan.”
Yanti tertawa kecil pahit.
“Keadaan itu nggak punya hati…”
“Tapi bisa bikin hati orang hancur.”
Sunyi.
Sementara itu…
Ahmad duduk di atap sekolah sendirian.
Ia memandang lapangan di bawah.
Tempat Yanti biasanya lewat.
Tempat mereka dulu sering tertawa.
Dan tempat di mana semuanya perlahan berubah.
Dandang naik ke atas atap sambil membawa minuman.
“Heh.”
“Apa?”
“Lo kalau terus begini…”
“Bisa jadi patung kenangan.”
Ahmad tersenyum kecil.
“Biar aja.”
“Hahaha… jangan gitu.”
“Tapi jujur ya…”
Dandang duduk di sampingnya.
“Lo masih sayang kan?”
Ahmad diam cukup lama.
Lalu mengangguk pelan.
“Masih.”
“Hampir gila malah.”
Dandang menghela napas.
“Tapi lo tahu nggak?”
“Apa?”
“Kadang orang yang paling kita sayang…”
“Bukan berarti harus kita miliki terus.”
DEG.
Ahmad menatap Dandang.
Dan untuk pertama kalinya…
kalimat itu terdengar sangat masuk akal.
Hari berikutnya…
sekolah mengumumkan pembagian kelas baru untuk semester berikutnya.
Dan seperti takdir yang tidak bisa dihindari…
Ahmad dan Yanti dipisahkan kelas.
DEG.
Saat nama itu diumumkan…
Yanti langsung terdiam.
Ahmad juga terdiam.
Dan seluruh kelas seperti merasakan sesuatu yang berat sedang terjadi.
Dandang langsung protes.
“Heh Pak! Ini nggak adil!”
“Tolong dipertimbangkan ulang!”
“HHAHA…”
Namun keputusan tetap keputusan.
Dan tidak bisa diubah.
Di lorong sekolah…
Yanti bertemu Ahmad secara tidak sengaja.
Mereka berhenti.
Berhadapan.
Namun tidak ada yang bicara duluan.
Akhirnya…
Yanti yang membuka suara.
“Kita satu kelas lagi nggak ya…”
Ahmad tersenyum kecil.
“Nggak.”
DEG.
Jawaban itu terlalu jujur.
Terlalu cepat.
Dan terlalu menyakitkan.
Yanti mengangguk pelan.
“Oh…”
Hanya itu yang bisa ia katakan.
Karena kata lain sudah tertahan di tenggorokan.
Ahmad menatap Yanti lama.
Sangat lama.
Seperti ingin mengingat semua detail wajah itu.
Lalu akhirnya berkata pelan:
“Jaga diri ya.”
Yanti langsung menunduk.
“Aku juga…”
Dan itu menjadi percakapan terakhir mereka hari itu.
Saat Ahmad mulai melangkah pergi…
Yanti tiba-tiba memanggil pelan.
“Mad…”
Ahmad berhenti.
Namun tidak menoleh.
“Aku…”
suara Yanti bergetar.
“Aku masih nggak tahu harus gimana.”
Sunyi.
Ahmad menarik napas panjang.
Lalu menjawab tanpa menoleh:
“Nggak apa-apa.”
“Aku juga nggak tahu.”
Dan setelah itu…
ia benar-benar pergi.
Yanti berdiri di lorong sekolah yang ramai…
tapi terasa kosong.
Dan untuk pertama kalinya…
ia sadar bahwa kehilangan tidak selalu terjadi karena perpisahan.
Kadang…
kehilangan terjadi saat dua orang masih saling mencintai…
tapi tidak lagi bisa berjalan di arah yang sama.
Sementara di kejauhan…
Ahmad berjalan sendiri.
Dengan hati yang masih mencintai.
Namun mulai belajar melepaskan perlahan.
BAB XLVIII
JARAK YANG TIDAK LAGI BISA DISEMBUHKAN
Hari-hari setelah pembagian kelas itu…
rasanya seperti dunia berjalan normal untuk semua orang…
kecuali untuk dua orang yang sama-sama pura-pura baik-baik saja.
Ahmad dan Yanti.
Mereka masih satu sekolah.
Masih bisa saling melihat dari kejauhan.
Masih bisa berpapasan di lorong.
Tapi semua itu kini terasa seperti dua orang asing yang pernah saling mengenal terlalu dalam.
Di kelas baru Yanti…
suasana terasa berbeda.
Teman-teman baru lebih ramai.
Guru baru lebih tegas.
Namun Yanti justru semakin sering diam.
Ia sering menatap jendela lama-lama.
Seolah menunggu sesuatu yang tidak akan kembali.
“Yanti…”
Anita menepuk pelan meja.
“Apa?”
“Kamu itu lagi di kelas, bukan di masa lalu.”
Yanti tersenyum kecil pahit.
“Aku tahu…”
“Tapi rasanya… aku masih belum keluar dari sana.”
SUNYI.
Sementara itu…
Ahmad di kelasnya juga tidak lebih baik.
Ia masih ikut bercanda dengan Dandang dan Bambang…
tapi tawanya tidak pernah benar-benar sampai ke mata.
“Heh Ahmad…”
kata Dandang suatu hari.
“Apa?”
“Lo itu kalau senyum sekarang kayak orang habis kehilangan paket COD.”
“HHAHA…”
Ahmad tersenyum tipis.
“Ya mungkin emang hilang.”
Bambang langsung menatapnya.
“Masih dia?”
Ahmad tidak menjawab.
Tapi diamnya sudah cukup.
Di sisi lain…
Raihan mulai menjaga jarak lebih jelas.
Ia tidak lagi sering menghubungi Yanti.
Tidak lagi terlalu sering membantu tugas.
Dan sikap itu membuat Yanti justru merasa semakin kosong.
Suatu siang…
Yanti akhirnya mendatangi Raihan di perpustakaan.
“Heh…”
Raihan menoleh.
“Kenapa?”
“Kamu sekarang kenapa jauhin aku?”
Raihan terdiam sejenak.
Lalu tersenyum kecil.
“Aku nggak menjauh.”
“Terus?”
“Aku lagi mundur.”
DEG.
“Mundur dari apa?”
“Mundur dari sesuatu yang bukan tempatku.”
Yanti langsung menunduk.
“Aku nggak pernah minta kamu…”
“Aku tahu.”
Raihan memotong pelan.
“Tapi aku juga tahu satu hal.”
“Apa?”
“Kalau aku tetap dekat…”
“Aku cuma akan jadi alasan kamu nggak pernah selesai sama masa lalu kamu.”
SUNYI.
Yanti menggigit bibirnya.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Kamu bener-bener mau pergi?”
Raihan menggeleng pelan.
“Aku nggak pergi.”
“Aku cuma berhenti berharap.”
Kalimat itu terasa sangat dewasa.
Terlalu dewasa untuk suasana hati Yanti saat itu.
“Aku salah ya?”
tanya Yanti lirih.
Raihan langsung menggeleng cepat.
“Enggak.”
“Kamu nggak salah.”
“Tapi kamu juga nggak bisa maksa hati kamu buat cepat selesai.”
Sementara itu…
Ahmad duduk di tangga belakang sekolah.
Sendirian.
Seperti biasa.
Dandang datang sambil membawa dua minuman.
“Heh…”
“Apa?”
“Lo makin kurus.”
“Bukan kurus…”
“Cuma kosong.”
Dandang duduk di sebelahnya.
“Masih mikirin dia?”
Ahmad menghela napas panjang.
“Setiap hari.”
Dandang terdiam sebentar.
Lalu bertanya lebih pelan:
“Lo nggak capek?”
Ahmad tersenyum pahit.
“Capek.”
“Terus kenapa masih bertahan di perasaan itu?”
Ahmad menatap langit.
“Karena aku nggak tahu cara berhenti.”
SUNYI.
Sore itu…
secara tidak sengaja…
Ahmad dan Yanti bertemu di koridor sekolah.
Hanya berdua.
Tidak ada teman.
Tidak ada keramaian.
Hanya jarak beberapa langkah yang terasa seperti dunia berbeda.
Mereka berhenti.
Saling menatap.
Namun tidak ada yang bergerak duluan.
Akhirnya…
Ahmad membuka suara lebih dulu.
“Kamu kelihatan capek.”
Yanti tersenyum kecil.
“Kamu juga.”
Ahmad mengangguk pelan.
“Iya.”
Sunyi kembali jatuh.
Namun kali ini…
tidak ada emosi meledak.
Tidak ada cemburu.
Tidak ada kemarahan.
Hanya kelelahan yang sama di dua sisi hati.
“Aku nggak nyangka kita bakal kayak gini,” kata Yanti pelan.
“Aku juga.”
Ahmad menghela napas panjang.
“Yan…”
“Iya?”
“Kalau aku mundur…”
“Kamu bakal lebih tenang nggak?”
DEG.
Yanti langsung menatap Ahmad cepat.
“Jangan ngomong gitu.”
“Aku serius.”
Yanti menggeleng cepat.
“Aku nggak butuh kamu mundur.”
“Tapi kamu juga nggak bisa terus di sini.”
SUNYI.
Ahmad menunduk.
Lalu berkata pelan:
“Aku cuma nggak mau jadi beban.”
Yanti langsung menjawab cepat.
“Kamu bukan beban.”
“Tapi kamu juga bukan satu-satunya jalan.”
DEG.
Kalimat itu menghantam Ahmad.
“Terus aku harus gimana?”
tanya Ahmad lirih.
Yanti menahan air matanya.
“Aku nggak tahu.”
“Dan itu yang paling jujur dari semuanya.”
Mereka terdiam lagi.
Lama.
Sampai suara bel sekolah berbunyi di kejauhan.
Ahmad akhirnya tersenyum kecil.
“Kayaknya kita memang harus jalan masing-masing dulu ya.”
Yanti langsung menggeleng.
“Tapi aku nggak mau kehilangan kamu.”
Ahmad menatapnya lama.
“Aku juga nggak mau.”
“Tapi kadang…”
suara Ahmad bergetar pelan.
“Cinta itu bukan soal nggak mau kehilangan.”
“Tapi soal belajar menerima kalau kita nggak selalu bisa bersama.”
Air mata Yanti jatuh tanpa bisa ditahan lagi.
Dan untuk pertama kalinya…
Ahmad tidak mencoba menghapusnya.
Ia hanya berdiri diam…
seolah mengizinkan semuanya terjadi.
Sore itu…
dua orang yang pernah saling menggenggam masa kecil…
akhirnya belajar satu hal paling berat dalam hidup mereka:
bahwa tidak semua cinta ditakdirkan untuk tetap berjalan bersama…
BAB XLIX
SURAT YANG TIDAK PERNAH TERKIRIM
Langit sore di Desa Tegorejo tampak berbeda hari itu.
Awan menggantung rendah, berwarna abu-abu lembut seperti kain tua yang mulai lapuk dimakan waktu.
Angin berhembus pelan melewati pepohonan di pinggir jalan desa, membawa aroma tanah basah yang baru saja tersentuh hujan ringan.
Dan di tengah suasana itu…
hati Yanti terasa semakin berat.
Sudah beberapa hari setelah pertemuan di koridor sekolah itu.
Namun percakapan mereka masih terus terulang di kepala masing-masing.
Terutama satu kalimat yang tidak pernah benar-benar selesai:
“Aku nggak tahu.”
Dan justru ketidaktahuan itulah yang paling menyakitkan.
Sore itu…
Yanti duduk di meja belajarnya.
Buku terbuka di depannya.
Tapi bukan pelajaran yang ia baca.
Tangannya justru memegang kertas kosong.
Dan perlahan…
pena itu mulai bergerak sendiri.
Ia menulis.
Bukan untuk dikirim.
Bukan untuk dibaca orang lain.
Tapi untuk dirinya sendiri.
Dan mungkin…
untuk seseorang yang tidak lagi bisa ia miliki dengan cara yang sama.
Sementara itu…
Ahmad duduk di tepi sawah yang dulu sering mereka lewati bersama.
Rumput liar bergoyang pelan diterpa angin.
Suara jangkrik mulai terdengar meski hari belum terlalu gelap.
Ia menatap langit.
Kosong.
Dan sunyi.
“Yan…”
bisiknya pelan.
Namun tidak ada jawaban.
Hanya angin yang lewat.
Di rumah Yanti…
pena itu masih bergerak.
Dan air mata mulai jatuh satu per satu di atas kertas.
SURAT UNTUK AHMAAD
“Aku nggak tahu kapan kita mulai salah langkah.
Atau mungkin kita memang nggak salah…
cuma terlalu lama bertahan di tempat yang sama.”
Yanti berhenti menulis.
Menarik napas dalam-dalam.
Lalu melanjutkan lagi.
“Aku masih ingat semuanya.
Tawa kita waktu SMP.
Cara kamu cemburu tanpa alasan.
Cara kamu marah tapi tetap peduli.
Dan cara kamu selalu ada…”
Tangannya gemetar.
Tapi ia tetap menulis.
“Tapi sekarang…
aku juga mulai belajar sesuatu.
Bahwa cinta itu nggak selalu harus memiliki.
Dan kadang…
menjaga jarak justru bentuk paling jujur dari sayang.”
Di luar rumah…
hujan mulai turun pelan.
Titik-titik air jatuh di atap seng, menghasilkan suara ritmis yang menenangkan sekaligus menyakitkan.
Di sawah…
Ahmad masih duduk diam.
Sampai akhirnya…
Dandang datang dari belakang sambil membawa payung.
“Heh…”
“Apa?”
“Lo kalau jadi patung beneran, aku jual ke museum ya.”
Ahmad tersenyum kecil.
“Harga berapa?”
“Gratis. Tapi ongkir mahal.”
“HHAHA…”
Tawa itu tidak lama.
Karena beberapa detik kemudian…
keduanya kembali diam.
“Masih mikirin dia?”
tanya Dandang pelan.
Ahmad tidak langsung menjawab.
Lalu mengangguk.
“Iya.”
“Lo pengen balik?”
Ahmad menatap sawah.
“Bukan balik.”
“Terus?”
“Aku cuma pengen… dia nggak sakit karena aku.”
Dandang menghela napas.
“Kadang cinta itu aneh ya…”
“Yang kita sayang…”
“Justru yang paling kita lepas pelan-pelan.”
Sementara itu…
Yanti sudah selesai menulis suratnya.
Ia menatap kertas itu lama.
Tangan gemetar.
Dan air mata tidak berhenti.
Ia berdiri.
Membawa surat itu.
Keluar rumah.
Langkahnya pelan menyusuri jalan desa yang basah.
Lampu-lampu rumah mulai menyala satu per satu.
Dan suara hujan semakin lembut.
Di bawah pohon besar dekat jalan sekolah…
Yanti berhenti.
Di tempat itu…
banyak kenangan mereka tertinggal.
Dari tawa kecil.
Pertengkaran.
Sampai janji-janji yang tidak pernah benar-benar selesai.
“Kalau aku kirim ini…”
bisiknya pada dirinya sendiri.
“Apakah semuanya akan lebih baik?”
Tidak ada jawaban.
Di sisi lain…
Ahmad berjalan pulang perlahan.
Tanpa sadar…
kakinya membawa dia ke arah yang sama.
Arah yang dulu sering mereka lalui bersama.
Dan malam itu…
di jalan desa yang basah oleh hujan ringan…
dua orang yang sedang sama-sama terluka…
akhirnya berjalan menuju titik yang sama tanpa mereka sadari.
Angin bertiup lebih kencang.
Daun-daun bergoyang.
Dan langit semakin gelap.
Surat di tangan Yanti bergetar.
Langkah Ahmad semakin dekat.
Dan jarak antara dua hati yang sedang belajar melepaskan…
perlahan menyempit lagi…
tanpa mereka tahu…
apa yang akan terjadi di pertemuan terakhir itu.
BAB L (XLX)
PERJUMPAAN TERAKHIR DI HUJAN SENJA
Langit sore itu benar-benar tidak bersahabat.
Hujan turun tanpa peringatan, seperti perasaan yang tiba-tiba pecah tanpa bisa ditahan.
Butir-butir air jatuh deras di jalan desa Tegorejo, membuat tanah berubah menjadi cermin keruh yang memantulkan lampu-lampu rumah yang mulai menyala satu per satu.
Angin membawa dingin yang menusuk sampai ke tulang.
Dan di tengah semua itu…
dua langkah yang berbeda arah akhirnya bertemu di satu titik yang sama.
Yanti berdiri di bawah pohon besar.
Surat di tangannya sudah sedikit basah di ujungnya.
Matanya sembab.
Tangannya gemetar.
Dan napasnya tidak teratur.
Ia tidak menyangka…
bahwa di detik paling rapuh dalam hidupnya…
ia akan benar-benar melihat Ahmad datang dari ujung jalan.
Ahmad berhenti.
Beberapa meter di depannya.
Basah kuyup.
Rambutnya menempel di dahi.
Matanya langsung menangkap Yanti yang berdiri diam di bawah hujan.
Dan dunia seolah berhenti sesaat.
“Yanti…”
suara Ahmad pelan.
Hampir tenggelam oleh suara hujan.
Yanti tidak langsung menjawab.
Ia hanya menggenggam surat itu lebih erat.
“Kamu… lagi di sini?”
Ahmad melangkah pelan mendekat.
Setiap langkah terasa berat.
Seperti membawa seluruh kenangan mereka sekaligus.
“Aku…”
Yanti mencoba bicara.
Tapi suaranya patah.
Ia menunduk.
“Aku nggak tahu kamu bakal lewat sini.”
Ahmad tersenyum kecil pahit.
“Aku juga nggak tahu.”
SUNYI.
Hanya suara hujan yang terus jatuh tanpa henti.
Mereka berdiri berhadapan.
Di bawah pohon yang sama.
Tempat yang dulu menjadi saksi tawa mereka.
Dan kini…
menjadi saksi perpisahan yang belum benar-benar selesai.
Ahmad menatap surat di tangan Yanti.
“Itu apa?”
Yanti langsung menutupnya sedikit panik.
“Nggak apa-apa.”
Ahmad mengangguk pelan.
“Tulisanku juga banyak yang nggak pernah jadi apa-apa.”
DEG.
Kalimat itu membuat Yanti menatapnya cepat.
“Aku… tadi mau cari kamu.”
kata Yanti akhirnya.
Ahmad terdiam.
“Buat apa?”
Yanti menggigit bibirnya.
“Aku mau kasih ini…”
Tangannya perlahan maju.
Surat itu masih tertutup rapat.
Namun belum sempat diberikan…
tangan Yanti justru berhenti di udara.
“Aku takut.”
bisiknya.
Ahmad menatapnya dalam.
“Takut apa?”
“Takut setelah ini… semuanya benar-benar selesai.”
SUNYI.
Hujan semakin deras.
Ahmad menghela napas panjang.
Lalu tersenyum kecil.
“Yan…”
“Apa?”
“Aku pikir… kita udah di tahap itu.”
DEG.
Yanti langsung menunduk.
Air matanya jatuh bercampur hujan.
“Tapi aku belum siap…”
kata Yanti pelan.
“Aku belum siap kehilangan kamu.”
Ahmad menatapnya lama.
Sangat lama.
Seolah sedang mencari jawaban yang bahkan ia sendiri tidak punya.
“Aku juga belum siap.”
akhirnya Ahmad berkata.
Namun suaranya berbeda.
Lebih tenang.
Lebih pasrah.
“Tapi kalau kita terus di sini…”
“kita cuma akan saling melukai lebih lama.”
Yanti langsung menggeleng.
“Nggak…”
“Kalau kita masih sayang, kita pasti bisa.”
Ahmad tersenyum kecil.
“Sayang aja nggak cukup, Yan.”
DEG.
Yanti menangis lebih keras.
“Aku benci ini…”
“Aku benci kenapa semuanya jadi kayak gini…”
Ahmad melangkah lebih dekat.
Namun tidak menyentuh.
Hanya berdiri di hadapannya.
“Aku juga benci.”
kata Ahmad lirih.
“Tapi kita nggak bisa maksa hati buat tetap di tempat yang sama terus.”
SUNYI.
Hanya hujan yang menjawab.
Yanti akhirnya mengangkat surat itu.
“Tapi ini…”
“Aku nulis ini buat kamu.”
Ahmad menatapnya.
Lalu menggeleng pelan.
“Baca itu… kalau aku udah jauh, Yan.”
DEG.
Kalimat itu seperti palu yang menghantam hati Yanti.
“Aku nggak mau kamu pergi…”
“Kalau aku nggak pergi sekarang…”
suara Ahmad bergetar pelan.
“Aku nggak akan pernah benar-benar bisa lepas.”
Yanti mencoba meraih tangan Ahmad.
Namun Ahmad mundur satu langkah.
Cukup untuk menghancurkan seluruh keberanian Yanti.
“Jangan…”
kata Ahmad pelan.
“Kalau kamu masih sayang aku…”
“tolong jangan bikin aku makin susah pergi.”
SUNYI.
Yanti terisak.
Tangannya jatuh lemas.
Surat itu hampir jatuh ke tanah.
Ahmad menatapnya sekali lagi.
Lama.
Dalam.
Dan penuh luka.
“Yan…”
“Iya…”
“Terima kasih.”
DEG.
Yanti langsung menatapnya.
“Terima kasih untuk semuanya.”
lanjut Ahmad.
“Untuk SMP kita…”
“Untuk semua tawa…”
“Untuk semua luka juga…”
Air mata Yanti jatuh semakin deras.
“Aku nggak mau cuma jadi kenangan…”
Ahmad tersenyum kecil.
“Justru itu…”
“Kamu terlalu penting buat jadi sesuatu yang harus terus dipaksa bertahan.”
Lalu Ahmad perlahan berbalik.
Langkahnya pelan.
Berat.
Namun pasti.
Yanti ingin berteriak.
Namun suaranya tidak keluar.
Ia hanya berdiri di bawah hujan…
memperhatikan punggung yang semakin menjauh.
“AHMAD!”
akhirnya ia berteriak.
Ahmad berhenti.
Tidak menoleh.
“Aku masih sayang kamu…”
SUNYI.
Beberapa detik.
Tidak ada jawaban.
Hanya hujan.
Lalu pelan…
Ahmad melanjutkan langkahnya lagi.
Dan kali ini…
tidak berhenti lagi.
Yanti jatuh terduduk di tanah basah.
Surat itu akhirnya jatuh juga dari tangannya.
Dan untuk pertama kalinya…
ia benar-benar merasakan sesuatu yang tidak bisa diperbaiki oleh kata-kata:
kehilangan yang masih hidup… tapi tidak lagi bisa digenggam.
Di kejauhan…
Ahmad berjalan sendirian.
Dengan dada yang hancur.
Namun langkah yang tetap ia paksa untuk terus maju.
Karena ia tahu…
beberapa cinta…
hanya bisa disimpan.
bukan dimiliki selamanya.
EPILOG
UJUNG SENJA YANG TAK PERNAH BENAR-BENAR USAI
Tahun-tahun berlalu seperti air sungai yang tidak pernah kembali ke hulu.
Desa Tegorejo berubah.
Jalanan diperbaiki.
Sekolah diperluas.
Dan anak-anak baru datang membawa kisah mereka sendiri.
Namun ada satu cerita lama…
yang tetap tinggal diam di sudut-sudut kenangan.
Yanti akhirnya benar-benar melanjutkan hidupnya.
Ia kuliah di jurusan Pendidikan.
Menjadi guru seperti yang dulu ia impikan sejak kecil.
Dan bertahun-tahun kemudian…
ia kembali ke desa sebagai seorang guru SD.
Anak-anak memanggilnya:
“Bu Guru Yanti.”
Dan setiap kali nama itu disebut…
ia selalu tersenyum kecil.
Namun ada senyum yang tidak pernah benar-benar hilang dari matanya:
senyum yang menyimpan sesuatu yang tidak pernah selesai.
Ahmad…
melanjutkan hidupnya di jalur yang berbeda.
Ia bekerja di kota.
Menjadi bagian dari dunia yang sibuk dan cepat.
Kadang ia kembali ke desa…
tapi tidak pernah terlalu lama.
Seolah setiap sudut desa itu masih menyimpan sesuatu yang ia hindari untuk terlalu lama ditatap.
Bambang menjadi guru olahraga.
Dandang entah bagaimana tetap menjadi Dandang…
hanya saja kini lebih sering jadi bahan nostalgia reuni.
Raihan…
menjadi sosok sukses di bidang usaha kecil yang ia bangun sendiri.
Dan nama-nama itu…
perlahan berubah dari “masa kini” menjadi “kenangan”.
Tahun ke-15 setelah kelulusan SMA…
sebuah reuni kecil diadakan di desa.
Di aula sederhana sekolah lama mereka.
Kursi-kursi plastik tersusun rapi.
Tawa lama kembali muncul.
Dan wajah-wajah yang dulu remaja…
kini sudah dewasa.
Yanti datang lebih awal.
Ia duduk diam.
Tangannya menggenggam tas kecilnya.
Matanya sesekali menatap pintu masuk.
Seperti menunggu sesuatu yang ia sendiri tidak yakin masih ingin ia temui atau tidak.
Dan ketika pintu itu terbuka…
Ahmad masuk.
Langkahnya pelan.
Wajahnya lebih dewasa.
Namun matanya…
masih sama.
SUNYI.
Bukan karena tidak ada suara.
Tapi karena waktu seolah berhenti di antara mereka berdua.
Ahmad menatap Yanti.
Yanti menatap Ahmad.
Dan dalam satu detik panjang…
semua yang pernah terjadi seperti kembali hidup di antara mereka.
SMP.
SMA.
Hujan.
Perpisahan.
Surat yang tidak pernah dikirim.
Dan malam terakhir itu.
Ahmad tersenyum kecil.
Yanti juga.
Namun tidak ada langkah yang mendekat.
Tidak ada kata yang keluar duluan.
Karena mereka berdua sudah terlalu dewasa untuk mengulang luka yang sama.
Akhirnya…
Ahmad hanya mengangguk kecil.
“Bu Guru…”
kata Ahmad pelan.
Yanti tersenyum.
“Pak Ahmad…”
SUNYI.
Lalu keduanya tertawa kecil.
Bukan tawa bahagia.
Bukan tawa sedih.
Tapi tawa seseorang yang akhirnya menerima kenyataan.
“Masih suka hujan?” tanya Ahmad pelan.
Yanti tersenyum.
“Masih.”
Ahmad mengangguk.
“Aku juga.”
SUNYI lagi.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada penyesalan yang diucapkan.
Tidak ada cinta yang kembali.
Hanya dua orang yang pernah saling memiliki rasa paling jujur dalam hidup mereka…
dan kini memilih untuk tidak merusaknya lagi dengan memaksa waktu berputar kembali.
Sebelum pulang…
Ahmad menatap Yanti sekali lagi.
Lama.
Lalu berkata pelan:
“Kalau dulu kita lebih sabar…”
Yanti memotong lembut.
“Mungkin kita tetap sama-sama sakit.”
Ahmad terdiam.
Lalu tersenyum.
“Iya…”
Dan untuk pertama kalinya…
tidak ada air mata.
Hanya kelegaan kecil yang diam-diam lahir dari hati yang sudah belajar menerima.
Sore itu…
langit Desa Tegorejo kembali berwarna senja.
Oranye.
Hangat.
Dan tenang.
Seperti dulu…
saat mereka masih percaya bahwa cinta pertama akan selalu abadi.
Namun kini mereka tahu…
tidak semua yang abadi harus dimiliki.
Sebagian hanya dititipkan dalam kenangan.
Untuk dikenang…
bukan untuk diulang.
Dan di ujung senja itu…
Yanti melangkah pergi sebagai Bu Guru.
Ahmad melangkah pergi sebagai seorang pria yang pernah mencintai dengan sangat dalam.
Dan cinta mereka…
tetap hidup.
Bukan sebagai milik.
Tapi sebagai bagian paling jujur dari perjalanan hidup yang tidak akan pernah benar-benar hilang.
TAMAT
Slamet Riyadi
29 Juli 2025 03:27:50
Semoga kita bisa kerjasama bu. ...