ROMAN EPIK
PENGEMBARA DUA LANGIT
Seorang anak yang lahir dengan dua langit di matanya, seorang gadis yang menjadi takdirnya, dan perjalanan panjang untuk pulang ke rumah yang tak pernah benar-benar ditinggalkan.
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG
Kidung Kelahiran
Lir alon angin esuk nyawang bumi,
Lair bocah nggawa lintang ing ati,
Tangise dadi tandha wiwitan dalan,
Urip lan pati wus tinulis ing jaman.
Malam itu, Desa Wringinrejo tenggelam dalam kesunyian yang tidak biasa.
Angin berembus pelan dari arah persawahan. Daun-daun padi yang mulai menguning bergesekan satu sama lain, menimbulkan suara lirih seperti bisikan panjang yang mengalun di antara gelap malam. Langit menggantung rendah di atas desa, hitam kebiruan, seolah menahan sesuatu yang belum ingin dijatuhkan ke bumi.
Di rumah kayu sederhana di pinggir desa, seorang perempuan muda tengah menggenggam erat kain sarung yang melilit pinggangnya. Napasnya terengah. Peluh membasahi dahinya. Sesekali ia menahan jerit dengan menggigit bibirnya sendiri.
Namanya Sukmawati.
Sudah berjam-jam ia menahan sakit yang datang bergelombang. Di sampingnya, seorang dukun bayi tua bernama Mbok Wiryani sibuk menyiapkan air hangat dan dedaunan yang telah direbus sejak petang.
“Tarik napas, Nduk… pelan…” ucap Mbok Wiryani lembut.
Sukmawati mengangguk, meski tubuhnya gemetar.
Di luar rumah, seorang lelaki mondar-mandir dengan wajah tegang. Kedua tangannya saling menggenggam kuat. Sesekali ia menatap langit yang semakin gelap.
Lelaki itu bernama Sastro.
Suami Sukmawati.
Calon ayah dari anak yang sebentar lagi lahir.
Namun malam itu terasa berbeda.
Tidak ada hujan.
Tidak ada angin besar.
Tetapi tiba-tiba,
kilat membelah langit.
Bukan sekali.
Melainkan tiga kali berturut-turut.
Tanpa suara petir.
Tanpa gemuruh.
Hanya cahaya putih panjang yang seolah menyayat langit menjadi dua bagian.
Sastro terpaku.
Jantungnya berdegup lebih keras.
“Ya Gusti...” bisiknya pelan.
Dari kejauhan, anjing-anjing desa mendadak melolong serempak.
Lampu-lampu minyak di rumah penduduk bergetar.
Daun-daun pisang bergemerisik tanpa disentuh angin.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Sastro merasakan bulu kuduknya berdiri.
Pintu rumah terbuka sedikit.
Mbok Wiryani muncul di ambang pintu.
Wajah perempuan tua itu pucat.
“Le... masuklah,” katanya pelan.
Sastro mendekat.
“Ada apa, Mbok?”
Mbok Wiryani tidak langsung menjawab. Ia justru menatap langit sekali lagi sebelum berbisik:
“Anakmu tidak datang sendirian malam ini.”
Sastro terdiam.
“Maksud Mbok?”
Mbok Wiryani menggeleng pelan.
“Nanti kau akan mengerti sendiri.”
Belum sempat Sastro bertanya lagi, dari dalam rumah terdengar jerit panjang Sukmawati.
Lalu,
tangis bayi memecah malam.
Tangisan yang nyaring.
Panjang.
Seolah bukan sekadar suara kelahiran,
melainkan suara yang menandai awal sebuah perjalanan yang jauh.
Sastro masuk dengan langkah gemetar.
Di dalam kamar kecil itu, Sukmawati terbaring lemah. Rambutnya basah oleh keringat. Wajahnya pucat, tetapi matanya penuh air mata bahagia.
Di pelukannya, seorang bayi laki-laki kecil bergerak pelan.
Tubuhnya hangat.
Matanya masih terpejam.
Tetapi anehnya,
di saat bayi itu menangis, lampu minyak yang tergantung di dinding tiba-tiba menyala lebih terang.
Mbok Wiryani menatap bayi itu lama sekali.
Lalu berbisik hampir tak terdengar:
“Matanya kelak akan melihat dua langit...”
Sastro mendengar kalimat itu.
“Mbok, apa maksudnya?”
Perempuan tua itu menoleh.
Sorot matanya dalam.
“Beberapa anak lahir hanya untuk menjalani hidup.”
Ia berhenti sejenak.
“Tapi ada anak yang lahir untuk menanggung takdir.”
Ruangan mendadak sunyi.
Sukmawati memeluk bayinya lebih erat.
“Jangan bicara sembarangan, Mbok...”
Mbok Wiryani tersenyum tipis.
“Aku hanya mengatakan apa yang kulihat.”
Bayi itu perlahan berhenti menangis.
Kemudian membuka matanya.
Sepasang mata kecil itu menatap lurus ke arah langit-langit rumah.
Tenang.
Dalam.
Seolah ia sudah mengenal dunia ini bahkan sebelum dilahirkan.
Sastro menelan ludah.
“Apa dia baik-baik saja?”
Mbok Wiryani mengangguk.
“Dia sehat.”
“Tapi hidupnya tidak akan biasa.”
Malam semakin larut.
Di luar rumah, suara jangkrik kembali terdengar.
Desa Wringinrejo perlahan kembali tenang.
Namun tidak ada seorang pun yang tahu bahwa malam itu,
bersamaan dengan lahirnya seorang bayi kecil,
takdir panjang telah mulai menuliskan namanya sendiri.
Sastro duduk di samping istrinya.
Menatap wajah kecil anaknya.
“Namanya...” katanya pelan.
Sukmawati menoleh.
“Kau sudah punya nama?”
Sastro mengangguk.
Ia menatap bayi itu lama, lalu berbisik:
“Arga.”
Sukmawati tersenyum lemah.
“Arga?”
“Karena matanya seperti langit.”
Sukmawati memandang bayinya lagi.
Dan untuk pertama kalinya,
ia merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan oleh kata-kata seorang ibu.
Perasaan bahwa anak yang baru dilahirkannya itu...
suatu hari nanti,
akan berjalan jauh melebihi jalan yang pernah mereka kenal.
BAGIAN PERTAMA: BENIH DI BAWAH PAJAR
BAB 1
MALAM YANG MEMBELAH LANGIT
Fajar belum sepenuhnya datang ketika kabut turun tipis di atas sawah-sawah Desa Wringinrejo.
Ayam jantan mulai berkokok dari kejauhan, bersahut-sahutan, seolah sedang bercerita tentang mimpi-mimpi yang mereka alami semalam. Embun menempel di daun singkong, berat, sesekali jatuh ke tanah dengan suara yang hampir tidak terdengar. Udara pagi terasa dingin menusuk kulit, dingin yang biasa dirasakan oleh mereka yang terbangun sebelum matahari sempat menyapa bumi.
Di dalam rumah kecil itu, Arga masih terlelap dalam balutan kain batik lusuh pemberian ibunya. Kain itu sudah kusam, motifnya sudah tidak jelas karena terlalu sering dicuci dan dijemur di bawah terik matahari. Tapi bagi Sukmawati, kain itu adalah yang terbaik yang bisa ia berikan untuk anak pertamanya, yang tersisa setelah anak pertamanya yang lain pergi untuk selama-lamanya.
Sukmawati menatap wajah bayinya lama sekali.
Bayi itu tidur dengan tenang. Sangat tenang. Terlalu tenang. Dadanya naik turun dengan ritme yang teratur, terlalu teratur. Bibir kecilnya kadang bergerak seperti sedang menghisap sesuatu dalam mimpi. Matanya, yang sesekali bergerak di balik kelopak tipis, seperti sedang melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang dewasa di ruangan ini.
Sampai-sampai Sukmawati harus beberapa kali meletakkan tangannya di dada kecil itu untuk memastikan putranya masih bernapas. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Setiap kali, ia menghela napas lega ketika merasakan denyut jantung kecil yang berdetak di bawah telapak tangannya yang kasar.
"Mas..." panggilnya pelan, suaranya sedikit bergetar.
Sastro yang sedang menjerang air di dapur menoleh. Wajahnya tampak lelah, bukan karena kurang tidur, tapi karena pikirannya masih penuh dengan kejadian semalam. "Kenapa?" jawabnya sambil berjalan mendekat.
Sukmawati ragu sesaat. Ia memainkan ujung kain batik yang membungkus bayinya. Jari-jarinya, yang kasar karena bertahun-tahun mencuci di sungai dan mengulek bumbu di dapur, begitu lembut saat menyentuh pipi Arga. Lembut seperti tidak pernah melakukan pekerjaan berat seumur hidupnya.
"Kau merasa tidak... aneh?" tanyanya akhirnya.
Sastro mengerutkan kening. "Aneh bagaimana?"
"Aneh... entahlah. Aku tidak tahu cara menjelaskannya." Sukmawati memandang Arga lagi. Wajah bayi itu tenang. Terlalu tenang. "Sejak semalam aku merasa seperti ada seseorang berdiri di dekat pintu."
Sastro diam. Ia berusaha tersenyum, meskipun senyum itu terasa kaku di wajahnya yang kasar. "Kau terlalu lelah. Melahirkan itu tidak mudah. Tubuhmu butuh istirahat. Pikiranmu juga."
"Tapi aku sungguh merasakannya, Mas." Sukmawati menggeleng pelan. "Bukan hanya semalam. Sejak bayi ini lahir, sejak tangis pertamanya pecah, aku merasa... aku merasa ada yang berbeda. Ada yang mengawasi. Ada yang hadir. Bukan hanya kita berdua di ruangan ini."
Sastro mendekat dan duduk di sisi istrinya. Dipan bambu itu berderit pelan menahan beban tubuhnya yang besar dan kasar karena kerja keras di sawah. Ia menggenggam tangan Sukmawati, tangan yang dingin, tangan yang gemetar.
"Sudahlah," katanya, berusaha terdengar meyakinkan. "Jangan pikirkan yang bukan-bukan. Kamu baru saja melahirkan. Hormonmu masih tidak stabil. Semua ibu mengalami hal yang sama setelah melahirkan. Perasaan was-was, perasaan takut, perasaan ada yang mengintai. Itu normal."
"Apakah ibu-ibu lain juga merasakan kilat tanpa suara di malam kelahiran anak mereka?" Sukmawati menatap suaminya tajam. "Apakah ibu-ibu lain juga mendengar anjing-anjing desa melolong serempak saat bayi mereka lahir? Apakah lampu minyak di rumah mereka juga menyala sendiri tanpa ada yang menyalakan?"
Sastro terdiam.
Ia tidak bisa menjawab.
Karena jauh di dalam hatinya, ia sendiri belum bisa melupakan langit malam tadi. Kilat yang membelah langit menjadi dua bagian. Bukan sekali, tapi tiga kali berturut-turut. Tanpa suara. Tanpa gemuruh. Hanya cahaya putih panjang yang seolah menyayat langit. Anjing-anjing yang melolong bersamaan, seperti sedang memberi tahu sesuatu, melolong dengan suara yang ia belum pernah dengar seumur hidupnya. Lampu minyak yang menyala sendiri, tepat saat Arga lahir, tepat saat tangis pertama pecah di tengah malam yang dingin.
Semua terlalu ganjil untuk dilupakan begitu saja.
Semua terlalu aneh untuk dianggap sekadar kebetulan.
"Mas," Sukmawati memanggil lagi, "kau tidak menjawab."
Sastro menghela napas panjang. Napas yang keluar dari paru-paru yang terlalu lama menyimpan kelelahan dan kekhawatiran. "Aku tidak tahu. Aku juga merasakan hal-hal aneh tadi malam. Aku juga tidak bisa tidur memikirkannya. Tapi apa yang bisa kita lakukan? Menangisi? Berlari? Menyalahkan takdir?"
"Kita bisa bicara."
"Bicara tentang apa?"
"Tentang anak kita. Tentang apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Tentang apa yang kau lihat dengan matamu sendiri."
Sastro menatap istrinya. "Kau ingin aku berkata jujur?"
"Ya."
"Aku takut."
Sukmawati terkejut. Suaminya, laki-laki yang tidak pernah mengaku takut pada apa pun, laki-laki yang setiap hari pergi ke sawah meskipun hujan atau panas terik, laki-laki yang pernah melawan ular berbisa hanya dengan parang dan keberanian, kini mengatakan bahwa ia takut.
"Takut apa, Mas?"
"Aku takut anak kita berbeda." Suara Sastro pelan, nyaris seperti bisikan. "Aku takut dia akan mengalami kesulitan yang tidak pernah kita alami. Aku takut dunia tidak akan menerimanya. Aku takut kita tidak akan bisa melindunginya."
"Kenapa kau berpikir begitu?"
"Karena semua tanda itu. Kilat. Anjing. Lampu minyak. Pertanda-pertanda itu tidak datang kepada anak biasa. Pertanda-pertanda itu datang kepada anak yang... yang memiliki takdir besar. Takdir yang mungkin berat. Takdir yang mungkin menyakitkan. Takdir yang mungkin akan membawanya pergi dari kita."
Sukmawati memeluk bayinya lebih erat. "Aku tidak akan membiarkan dia pergi, Mas."
"Kita tidak punya pilihan. Takdir tidak pernah meminta izin."
Dan tanpa mereka sadari, di luar jendela rumah, seorang lelaki tua sedang berdiri.
Ia adalah Mbah Jayarasa.
Tetua desa yang jarang keluar rumah.
Lelaki yang lebih sering mengurung diri di rumah tuanya yang gelap sejak istrinya meninggal puluhan tahun lalu. Lelaki yang tidak pernah ikut ronda malam. Lelaki yang tidak pernah datang ke hajatan pernikahan atau khitanan. Lelaki yang bahkan jarang berbicara dengan siapa pun, kecuali jika benar-benar diperlukan.
Tapi pagi itu, ia berdiri di depan rumah Sastro.
Bukan karena kebetulan.
Bukan karena ingin jalan-jalan pagi.
Tapi karena ia merasakan sesuatu. Sesuatu yang tidak bisa ia abaikan. Sesuatu yang telah lama ia tunggu.
Matanya, yang sudah keruh karena usia, tapi tetap tajam seperti pisau, menatap tajam ke dalam kamar. Melalui celah jendela kayu yang tidak tertutup rapat, ia bisa melihat Sukmawati yang sedang menggendong bayinya. Ia bisa melihat Sastro yang duduk di samping istrinya dengan wajah tegang.
Ia bisa melihat bayi itu.
Bayi mungil dengan kain batik lusuh.
Bayi yang tidur dengan tenang. Terlalu tenang.
Bayi yang, tanpa ia sadari, telah membuat langit terbelah, anjing melolong, dan lampu minyak menyala sendiri.
Bayi yang, tanpa ia sadari, telah membawa serta sesuatu yang lama hilang dari desa ini.
"Anak itu akhirnya datang juga," bisik Mbah Jayarasa. Suaranya lirih, hampir tidak terdengar, seperti orang yang sedang berbicara pada dirinya sendiri. Atau pada angin. Atau pada sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa.
Ia menarik napas panjang.
Napas yang terasa berat di dadanya yang renta.
"Setelah sekian lama... setelah sekian tahun... akhirnya kau kembali."
Air mata mengalir di pipinya yang keriput.
Bukan air mata kesedihan.
Tapi air mata... kelegaan.
Mungkin.
Atau mungkin air mata ketakutan.
Karena ia tahu, kehadiran anak ini akan mengubah segalanya. Desa ini. Penduduknya. Masa depan. Masa lalu. Semua.
"Tuhan," bisiknya sambil menatap langit yang mulai memucat, "berilah kekuatan pada anak itu. Dan berilah kekuatan pada kami yang akan menjaganya. Karena perjalanannya tidak akan mudah. Karena dunia tidak akan ramah padanya. Karena ia akan diuji berkali-kali. Berkali-kali. Sampai ia hampir putus asa."
Angin pagi berembus.
Membawa aroma tanah basah dan embun.
Mbah Jayarasa memejamkan mata sebentar.
Lalu membukanya lagi.
Ia menatap rumah kecil itu sekali lagi.
"Jaga anak itu, Sastro. Jaga anak itu, Sukmawati," bisiknya, meskipun ia tahu tidak ada yang bisa mendengarnya. "Karena ia bukan hanya anak kalian. Ia adalah anak desa ini. Ia adalah anak takdir. Ia adalah anak yang akan membawa perubahan, entah itu baik atau buruk, kita tidak tahu. Tapi yang pasti, ia tidak akan menjalani hidup yang biasa."
Ia berbalik.
Berjalan pelan meninggalkan rumah itu.
Tongkat kayunya mengetuk tanah setiap kali ia melangkah. Tok... tok... tok... Suara yang teratur. Suara yang sunyi. Suara yang seperti detak jantung seseorang yang sudah tua dan lelah.
Di dalam rumah, Sastro dan Sukmawati tidak menyadari kehadirannya.
Tapi Arga, bayi kecil yang masih terlelap dalam balutan kain batik lusuh, perlahan membuka matanya.
Ia menatap ke arah jendela.
Ke arah di mana Mbah Jayarasa baru saja berdiri.
Ia tersenyum kecil.
Senyum yang tidak wajar bagi bayi seusianya.
Senyum yang mengatakan, "Aku tahu kau di sana. Aku tahu kau melihatku. Aku tahu kau menungguku."
Lalu ia memejamkan mata lagi.
Kembali tidur.
Seperti tidak terjadi apa-apa.
"Mas," Sukmawati memanggil lagi.
"Iya."
"Aku merasa lega."
"Lega kenapa?"
"Karena kita sudah bicara. Karena kita sudah mengakui bahwa ada yang aneh dengan kelahiran anak kita. Karena kita tidak lagi menyembunyikan ketakutan kita satu sama lain."
Sastro menggenggam tangan istrinya. "Aku akan selalu di sini. Apa pun yang terjadi. Kita hadapi bersama."
"Janji?"
"Janji."
"Jangan tinggalkan aku, Mas. Jangan tinggalkan anak kita."
"Aku tidak akan pergi. Aku akan menjaga kalian berdua sampai akhir hayatku."
Sukmawati menangis. Bukan tangis sedih. Tapi tangis haru. Tangis bahagia. Tangis yang keluar dari hati yang penuh dengan rasa syukur, meskipun masa depan masih gelap, meskipun tantangan masih besar, meskipun mereka tidak tahu apa yang akan terjadi.
Sastro memeluk istrinya.
Memeluk bayinya.
Memeluk keluarganya yang kecil, tapi begitu berarti.
Di luar, matahari mulai terbit.
Cahayanya masuk melalui celah jendela.
Menyinari wajah Arga.
Menyinari senyum kecil yang masih tersisa di bibirnya.
Menyinari pagi pertama dari perjalanan panjang yang akan ia tempuh.
Perjalanan yang akan membawanya ke tempat-tempat yang tidak pernah ia bayangkan. Perjalanan yang akan mempertemukannya dengan orang-orang yang tidak pernah ia duga. Perjalanan yang akan mengajarkannya tentang cinta, tentang kehilangan, tentang pengorbanan, dan tentang arti pulang.
Tapi itu semua masih panjang.
Masih jauh.
Masih menunggu di depan sana.
Sekarang, yang ada hanyalah fajar yang baru lahir, bayi yang baru lahir, dan dua orang tua yang berusaha sekuat tenaga untuk menjadi cukup, cukup baik, cukup kuat, cukup sabar, untuk anak yang Tuhan titipkan kepada mereka.
Jatmika, di alam sana, tersenyum.
Ia melihat adiknya.
Ia melihat kedua orang tuanya.
Ia melihat desa yang dulu menjadi tempatnya bermain.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tenang.
"Kamu akan baik-baik saja, Arga," bisiknya. "Kamu akan lebih dari baik-baik saja. Kamu akan hebat. Kamu akan luar biasa. Karena kau memiliki mereka. Dan karena mereka memiliki kau."
Ia menutup mata.
Bukan mati.
Tapi menunggu.
Menunggu waktu yang tepat.
Menunggu saat yang tepat.
Untuk muncul.
Untuk bicara.
Untuk menyelesaikan apa yang belum selesai
BAB 2
Tangis Pertama
Pagi itu matahari belum sepenuhnya naik ketika kabut tipis masih menggantung di antara pematang sawah Desa Wringinrejo. Udara dingin menyelinap melalui celah-celah dinding papan rumah Sastro, membawa aroma tanah basah yang semalam menyimpan sisa embun.
Di dalam rumah kecil itu, suasana masih sunyi.
Sukmawati duduk bersandar di dipan bambu sambil memeluk Arga di dadanya. Bayi kecil itu masih terlelap, seolah dunia luar belum cukup penting untuk membangunkannya. Nafasnya kecil dan teratur. Tangannya yang mungil sesekali bergerak pelan seperti sedang meraih sesuatu di dalam mimpinya.
Sastro menambahkan kayu bakar ke tungku dapur. Api kecil menyala merah, memantulkan cahaya ke wajahnya yang belum sepenuhnya tenang.
Pikirannya masih terjebak pada lelaki tua yang berdiri di luar jendela tadi pagi.
Mbah Jayarasa.
Tetua desa yang selama ini lebih sering mengurung diri sejak istrinya meninggal bertahun-tahun lalu. Tidak pernah ikut ronda. Tidak pernah datang ke hajatan. Bahkan jarang berbicara dengan siapa pun.
Tapi tadi,
lelaki tua itu berdiri diam menatap rumah mereka.
Seolah menunggu sesuatu.
Sastro menelan ludah.
“Mas.”
Suara Sukmawati membuyarkan lamunannya.
“Ada apa?”
“Air hangatnya sudah?”
Sastro mengangguk cepat.
“Sudah. Sebentar.”
Ia menuangkan air dari panci tanah liat ke baskom kecil, lalu membawanya perlahan ke kamar.
Sukmawati menatap wajah suaminya.
“Kau dari tadi seperti memikirkan sesuatu.”
Sastro diam sejenak.
Ia ingin bercerita tentang Mbah Jayarasa.
Tentang tatapan lelaki tua itu.
Tentang perasaan tidak nyaman yang sejak tadi mengendap di dadanya.
Tapi melihat istrinya yang masih lemah setelah melahirkan, ia mengurungkan niatnya.
“Tidak apa-apa.”
Ia tersenyum tipis.
“Mungkin aku cuma kurang tidur.”
Sukmawati tidak langsung percaya, tapi ia terlalu lelah untuk bertanya lebih jauh.
Arga bergerak kecil dalam pelukannya.
Kelopak matanya bergetar.
Lalu perlahan terbuka.
Untuk pertama kalinya pagi itu, mata kecil itu menatap lurus ke arah ibunya.
Sukmawati menahan napas.
Setiap kali melihat mata putranya, ada sesuatu yang sulit ia jelaskan.
Mata itu terlalu tenang untuk seorang bayi yang baru lahir semalam.
Bukan tenang seperti anak kecil yang belum mengenal dunia.
Tapi seperti seseorang yang sudah terlalu lama mengenal kesunyian.
“Mas...”
Sastro mendekat.
“Kenapa?”
“Lihat matanya.”
Sastro memandang putranya.
Arga diam.
Tidak menangis.
Tidak merengek.
Hanya menatap.
Lama.
Seolah sedang mengenali wajah kedua orang tuanya satu per satu.
Sastro tersenyum kecil meski hatinya tetap bergetar.
“Mungkin dia cuma mirip ibunya.”
Sukmawati tertawa pelan.
“Kalau keras kepala nanti mirip ayahnya.”
Sastro hendak menjawab, ketika tiba-tiba,
Arga mulai menangis.
Tangis itu keras.
Bukan tangis kecil seperti bayi lapar.
Bukan tangis biasa.
Tangisan itu pecah begitu saja memenuhi seluruh ruangan.
Nyaring.
Panjang.
Menggetarkan.
Sukmawati langsung panik.
“Mas... kenapa ini?”
Sastro ikut gugup.
“Mungkin lapar?”
Sukmawati mencoba menenangkan, menggendong, mengayun perlahan.
Namun tangisan Arga justru semakin keras.
Suara itu terdengar berbeda.
Bukan sekadar suara bayi.
Tangis itu seperti membawa sesuatu yang tidak kasatmata ikut terbangun.
Lampu minyak di sudut ruangan bergoyang.
Api tungku dapur mendadak meredup.
Daun pintu kayu bergetar pelan.
Sastro menoleh cepat.
“Anginnya dari mana?”
Jendela tertutup.
Pintu tertutup.
Tidak ada angin.
Namun suara tangisan Arga seolah memenuhi setiap sudut rumah.
Dari luar terdengar langkah tergesa.
“Le! Sastro!”
Suara Mbok Wiryani.
Sastro cepat membuka pintu.
Perempuan tua itu berdiri dengan napas memburu.
“Anakmu menangis?”
Sastro mengangguk bingung.
“Iya, dari tadi tidak berhenti.”
Mbok Wiryani masuk tanpa menunggu dipersilakan.
Begitu melihat Arga menangis dalam pelukan ibunya, wajahnya berubah.
Ia mendekat perlahan.
Lalu mengeluarkan sebuah kain kecil dari balik kebayanya.
Kain itu berisi bunga melati kering.
Mbok Wiryani meletakkannya di dekat kepala Arga sambil komat-kamit membaca doa lirih dalam bahasa Jawa halus.
“Sing adem...
sing tentrem...
sing bali marang cahyaning urip...”
Sukmawati memandang dengan cemas.
“Mbok... kenapa dia?”
Mbok Wiryani tidak langsung menjawab.
Ia menatap bayi itu lama.
Kemudian mengusap kening Arga perlahan.
Aneh.
Tangisan itu mulai mereda.
Sedikit demi sedikit.
Sampai akhirnya benar-benar berhenti.
Ruangan mendadak sunyi.
Hanya suara kayu terbakar dari dapur yang terdengar kecil.
Sastro menatap Mbok Wiryani.
“Apa yang terjadi?”
Mbok Wiryani menghela napas panjang.
“Kadang ada bayi yang menangis karena lapar.”
Ia berhenti sejenak.
“Kadang ada bayi yang menangis karena ia melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain.”
Sukmawati langsung memeluk Arga lebih erat.
“Jangan bilang begitu.”
Mbok Wiryani menatap lembut.
“Aku tidak ingin menakutimu.”
“Lalu?”
Perempuan tua itu memandang bayi kecil itu.
“Anak ini lahir membawa pintu yang belum sepenuhnya tertutup.”
Sastro mengerutkan kening.
“Pintu apa?”
Mbok Wiryani menatap ke arah jendela.
“Antara dunia yang satu dengan yang lain.”
Ruangan kembali hening.
Sukmawati menunduk.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Mbok... dia anakku.”
Mbok Wiryani tersenyum pelan.
“Dan justru karena itu kau harus menjaganya.”
Sastro mengusap wajahnya.
“Aku tidak mengerti semua ini.”
Mbok Wiryani menatapnya lama.
“Suatu hari kau akan mengerti.”
“Tapi tidak hari ini.”
Ia lalu berdiri pelan.
Merapikan selendangnya.
Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi.
“Kalau nanti dia menangis saat tengah malam...”
jangan pernah biarkan dia sendirian.”
Sastro tercekat.
“Maksudmu?”
Namun Mbok Wiryani sudah melangkah keluar.
Pintu tertutup perlahan.
Suasana rumah kembali sunyi.
Sukmawati menatap suaminya.
“Aku takut.”
Sastro duduk di samping istrinya.
Menggenggam bahunya perlahan.
“Tidak akan terjadi apa-apa.”
Meskipun dalam hatinya,
ia sendiri tidak yakin pada kalimat yang baru saja ia ucapkan.
Arga kini diam.
Mata kecilnya terbuka.
Ia tidak lagi menangis.
Ia hanya menatap langit-langit rumah dengan tatapan yang terlalu dalam untuk seorang bayi yang baru satu hari melihat dunia.
Seolah di tempat yang tak bisa dilihat siapa pun,
ia sedang mendengarkan sesuatu.
Dan di luar rumah,
di bawah pohon asem tua dekat halaman,
Mbah Jayarasa masih berdiri.
Diam.
Menatap ke arah jendela kamar.
Lalu berbisik lirih pada dirinya sendiri.
“Tangis pertama itu...
akhirnya terdengar juga.”
BAB 3
Nama dari Sebuah Doa
Pagi di Desa Wringinrejo datang perlahan seperti napas panjang yang dilepaskan bumi setelah semalam menahan rahasia.
Kabut yang sejak subuh menggantung di pematang sawah mulai terangkat sedikit demi sedikit. Matahari muncul malu-malu dari balik perbukitan sebelah timur, menyinari atap-atap rumah kayu yang masih basah oleh embun. Suara ayam jantan bersahut-sahutan, bercampur dengan derit roda gerobak yang mulai terdengar dari jalan tanah desa.
Di dalam rumah kecil milik Sastro, suasana belum benar-benar tenang.
Tangis Arga memang sudah berhenti sejak Mbok Wiryani pergi, tetapi kata-kata perempuan tua itu masih menggantung di udara seperti asap tipis yang tak mau hilang.
“Anak ini lahir membawa pintu yang belum sepenuhnya tertutup.”
Kalimat itu terus terngiang di kepala Sastro.
Ia duduk di bangku kayu dekat jendela sambil memandangi halaman rumah yang masih sepi. Secangkir kopi hitam di tangannya sudah dingin sejak tadi, namun belum sekali pun disentuh.
Pikirannya melayang jauh.
Pada kilat semalam.
Pada lolongan anjing.
Pada lampu minyak yang menyala lebih terang saat Arga lahir.
Pada tangisan pertama yang membuat rumah seperti ikut bergetar.
Dan kini,
pada nama.
Nama yang sejak semalam sudah muncul di kepalanya, tetapi belum sempat benar-benar ia ucapkan sebagai nama seorang anak.
Di dipan bambu, Sukmawati memeluk Arga sambil menatap suaminya.
“Mas.”
Sastro menoleh pelan.
“Hm?”
“Kau dari tadi diam saja.”
Sastro tersenyum kecil, meski lelah jelas tergambar di wajahnya.
“Aku sedang berpikir.”
“Masih soal semalam?”
Sastro tidak langsung menjawab.
Sukmawati menatapnya lebih dalam.
“Kau juga merasa ada yang aneh, ya?”
Sastro menghela napas.
“Entahlah.”
“Kalau memang ada yang kau rasakan, jangan kau simpan sendiri.”
Sastro memandang istrinya lama.
Lalu pelan-pelan ia berdiri dan mendekat ke dipan.
Ia duduk di tepi ranjang bambu, menatap bayi kecil yang sedang tertidur dalam pelukan ibunya.
Arga terlihat damai.
Pipinya merah.
Bibir kecilnya bergerak pelan seperti sedang mengisap udara.
Begitu kecil.
Begitu rapuh.
Namun entah mengapa, kehadirannya terasa jauh lebih besar daripada tubuh mungilnya.
Sastro mengusap kepala anak itu perlahan.
“Aku takut,” katanya akhirnya.
Sukmawati menatap suaminya.
“Takut kenapa?”
Sastro tersenyum pahit.
“Takut tidak bisa menjadi ayah yang cukup baik untuk anak seperti dia.”
Mata Sukmawati melembut.
“Mas...”
“Aku ini cuma orang desa.”
Sastro menunduk.
“Tak punya apa-apa selain sawah kecil dan rumah reyot ini.”
“Mas jangan bicara begitu.”
“Tapi itu kenyataan.”
Sukmawati menggenggam tangan suaminya.
“Seorang anak tidak butuh ayah yang punya segalanya.”
Sastro menatapnya.
“Dia hanya butuh ayah yang tidak pergi.”
Kalimat itu membuat Sastro terdiam.
Untuk sesaat, hanya suara angin pagi yang terdengar dari sela-sela jendela.
Sastro menunduk menatap Arga lagi.
Lalu tersenyum tipis.
“Aku sudah memikirkan namanya.”
Sukmawati ikut tersenyum.
“Akhirnya.”
“Kau mau dengar?”
Sukmawati mengangguk.
Sastro menarik napas pelan.
“Arga.”
Sukmawati mengulang perlahan.
“Arga...”
Nama itu terdengar sederhana.
Pendek.
Namun terasa dalam.
“Kenapa Arga?” tanya Sukmawati.
Sastro menatap ke luar jendela.
Ke arah langit pagi yang mulai berubah biru.
“Karena semalam saat dia lahir...”
Sastro berhenti sejenak.
“...aku merasa seperti langit sedang melihat rumah kita.”
Sukmawati diam.
Sastro melanjutkan pelan.
“Dan matanya...”
ia menoleh pada bayi itu.
“matanya seperti menyimpan langit sendiri.”
Sukmawati menunduk memandangi anaknya.
Arga.
Dalam bahasa Jawa lama, nama itu mengandung makna:
gunung.
Tinggi.
Diam.
Kokoh.
Menyimpan banyak hal di dalam dirinya.
Sukmawati mengusap pipi bayi itu.
“Arga.”
Ia tersenyum.
“Indah.”
Sastro mengangguk.
“Tapi aku ingin menambahkan satu nama lagi.”
Sukmawati menoleh.
“Apa?”
“Arga Pranata.”
Sukmawati mengulang pelan.
“Arga Pranata...”
“Arga,” kata Sastro,
“adalah langit dan gunung.”
“Pranata,” lanjutnya,
“adalah tatanan hidup.”
Sastro menatap anaknya dengan mata yang perlahan memerah.
“Aku tidak tahu hidup akan membawanya ke mana.”
“Tapi aku ingin dia tumbuh menjadi seseorang yang bisa menata hidupnya sendiri.”
Sukmawati menahan air mata.
“Mas...”
suara perempuan itu bergetar.
“Nama itu seperti doa.”
Sastro tersenyum tipis.
“Memang begitu seharusnya.”
Di desa mereka, nama bukan sekadar panggilan.
Nama adalah harapan.
Nama adalah doa yang diulang setiap hari.
Nama adalah cara orang tua menitipkan masa depan ke dalam satu kata.
Dan pagi itu,
di rumah kecil di pinggir sawah,
sebuah doa akhirnya diucapkan untuk pertama kalinya.
Sukmawati mendekat ke telinga bayi itu.
Lalu berbisik lembut:
“Arga Pranata...”
Bayi itu bergerak kecil.
Kelopak matanya terbuka perlahan.
Seolah ia mendengar namanya.
Dan anehnya,
begitu nama itu diucapkan,
angin pagi yang semula pelan tiba-tiba masuk melalui celah jendela.
Lampu minyak di sudut ruangan bergoyang.
Tirai tipis bergerak perlahan.
Sastro dan Sukmawati saling pandang.
Jantung keduanya berdegup lebih cepat.
Di luar rumah,
burung-burung kecil yang bertengger di pohon mangga mendadak terbang serempak ke langit.
Sukmawati memeluk bayinya lebih erat.
“Mas...”
Sastro menggenggam tangan istrinya.
“Tidak apa-apa.”
Namun ia tahu.
Ada sesuatu pada anak ini.
Sesuatu yang bahkan nama pun seperti ikut mengenalinya.
Tak lama kemudian terdengar langkah sandal di depan rumah.
“Assalamualaikum...”
Suara tua yang sangat dikenal.
Sastro menoleh.
“Waalaikumsalam.”
Di depan pintu berdiri Mbah Jayarasa.
Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun,
tetua tua itu datang sendiri ke rumah orang lain.
Wajah keriputnya tenang.
Sorot matanya tajam.
Tongkat kayunya menempel di tanah.
Sastro berdiri.
“Mbah... silakan masuk.”
Mbah Jayarasa melangkah perlahan.
Tatapannya langsung tertuju pada Arga.
Lama.
Sangat lama.
Lalu ia bertanya dengan suara pelan.
“Sudah diberi nama?”
Sastro mengangguk.
“Sudah.”
“Apa namanya?”
Sastro menelan ludah.
“Arga Pranata.”
Mbah Jayarasa memejamkan mata sesaat.
Seolah merasakan nama itu di dalam hatinya.
Kemudian ia membuka matanya perlahan.
“Nama yang berat.”
Sukmawati menggenggam bayinya.
“Berat bagaimana, Mbah?”
Mbah Jayarasa menatap Arga.
Lalu berkata pelan:
“Karena kadang...”
“doa yang paling tulus justru mengundang takdir yang paling panjang.”
Ruangan kembali sunyi.
Sastro menatap lelaki tua itu.
“Apa maksud Mbah?”
Mbah Jayarasa tersenyum tipis.
“Belum waktunya kau tahu.”
Ia mendekat satu langkah.
Lalu mengulurkan tangan tuanya ke arah kepala Arga.
Jari-jari renta itu menyentuh kening bayi kecil itu dengan sangat lembut.
Arga yang sejak tadi diam,
tiba-tiba tersenyum kecil dalam tidurnya.
Mbah Jayarasa menarik tangannya cepat.
Wajahnya berubah.
Untuk pertama kalinya,
mata lelaki tua itu tampak terkejut.
“Kenapa, Mbah?” tanya Sastro.
Mbah Jayarasa mundur pelan.
Suaranya hampir berbisik.
“Dia mengingat.”
Sastro mengernyit.
“Mengingat apa?”
Tetapi Mbah Jayarasa tidak menjawab.
Ia hanya menatap Arga sekali lagi.
Lalu berbalik menuju pintu.
Sebelum keluar,
ia berkata tanpa menoleh:
“Jaga baik-baik anak itu.”
“Karena tidak semua manusia dilahirkan hanya untuk hidup.”
Pintu kayu menutup perlahan.
Sastro dan Sukmawati terdiam.
Tak satu pun dari mereka benar-benar mengerti.
Namun sejak pagi itu,
nama Arga Pranata
bukan lagi sekadar nama seorang bayi.
Ia telah menjadi awal dari doa panjang
yang suatu hari akan mengubah hidup banyak orang.
BAB 4
Rumah di Pinggir Sawah
Pagi-pagi sekali, ketika embun masih menggantung di ujung daun padi dan kabut tipis belum sepenuhnya terangkat dari tanah, rumah kecil di pinggir sawah itu selalu menjadi rumah pertama yang disapa matahari.
Rumah itu berdiri sendiri di ujung Desa Wringinrejo.
Dindingnya terbuat dari papan kayu tua yang mulai memudar warnanya. Beberapa bagian sudah melengkung dimakan musim. Atapnya dari genteng tanah yang sebagian ditumbuhi lumut tipis. Di halaman depan tumbuh pohon mangga tua yang akarnya mencuat dari tanah, seperti tangan-tangan renta yang memeluk bumi.
Di sebelah kiri rumah ada sumur kecil yang dindingnya disusun dari batu kali. Di belakang rumah terbentang sawah yang luas, hijau pada musim tanam, keemasan saat panen, lalu berubah menjadi hamparan lumpur gelap ketika hujan panjang datang.
Bagi sebagian orang, rumah itu terlalu sederhana untuk disebut tempat tinggal.
Tetapi bagi Sastro, rumah itu adalah satu-satunya warisan yang tersisa dari orang tuanya.
Dan kini,
rumah itu menjadi tempat pertama Arga mengenal dunia.
Sejak kelahiran Arga, Sukmawati mulai memandang rumah itu dengan cara berbeda.
Dulu rumah itu hanyalah tempat berteduh.
Tempat melewati hari-hari sederhana bersama suami.
Tempat menunggu musim panen.
Tempat menerima kenyataan hidup yang tidak selalu ramah.
Namun setelah ada tangis kecil yang mengisi udara di dalamnya, rumah itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Menjadi tempat pulang.
Menjadi tempat doa.
Menjadi tempat sebuah kehidupan kecil tumbuh.
Pagi itu Sukmawati membuka jendela kamar perlahan agar udara segar masuk. Cahaya matahari yang lembut jatuh di wajah Arga yang masih tertidur.
Bayi itu tampak tenang.
Wajahnya kecil.
Kulitnya halus.
Napasnya pelan.
Sukmawati tersenyum sendiri.
Tangannya mengusap pipi anak itu dengan sangat hati-hati, seolah takut membangunkan mimpi yang sedang didatangi putranya.
“Le...”
bisiknya pelan.
“Kau nanti akan jadi seperti apa ya?”
Arga tidak menjawab.
Tentu saja tidak.
Namun entah kenapa, setiap kali Sukmawati memandangi wajah itu, hatinya seperti mendengar sesuatu yang tidak terdengar oleh telinga.
Seolah hidup anak itu sudah berjalan jauh,
bahkan sebelum benar-benar dimulai.
Di dapur, Sastro sedang memperbaiki kaki meja kayu yang goyah.
Suara ketukan palu kecil terdengar pelan.
Tak biasanya Sastro mengerjakan sesuatu sepagi itu. Sejak Arga lahir, ia mulai memperhatikan rumah mereka lebih sungguh-sungguh.
Retakan di dinding diperbaiki.
Pintu yang berderit diberi minyak.
Atap bocor mulai ditambal.
Pagar bambu yang miring dipasang ulang.
Sukmawati memperhatikannya dari pintu dapur sambil menggendong Arga.
“Mas.”
Sastro menoleh.
“Ya?”
“Kau dari tadi tidak berhenti bekerja.”
Sastro tersenyum kecil.
“Rumah ini harus lebih kuat.”
Sukmawati mengerutkan kening.
“Untuk apa?”
Sastro menatap Arga di pelukan istrinya.
“Untuk dia.”
Sukmawati diam.
Sastro meletakkan palunya.
“Aku tidak ingin anakku tumbuh di rumah yang terasa rapuh.”
“Rumah ini sudah cukup.”
“Belum.”
Sastro menunduk.
“Kalau suatu hari hujan besar datang...”
“aku ingin rumah ini tetap bisa melindunginya.”
Sukmawati menatap suaminya lama.
Ia tahu.
Yang sedang dibangun Sastro pagi itu bukan sekadar rumah kayu.
Tetapi rasa aman yang selama ini tidak pernah sempat ia miliki sendiri.
Menjelang siang, suara langkah sandal terdengar dari halaman.
“Assalamualaikum!”
Suara nyaring itu membuat Sukmawati tersenyum.
“Itu Bu Parti.”
Tetangga terdekat mereka.
Sastro membuka pintu.
Di depan berdiri seorang perempuan paruh baya bertubuh gemuk dengan kain jarik bermotif bunga dan senyum lebar yang selalu datang lebih dulu daripada kata-katanya.
“Waalaikumsalam. Wah, akhirnya aku boleh lihat bayi sakti itu.”
Sastro hampir tersedak.
“Bayi sakti?”
Bu Parti tertawa kecil.
“Lha, semalaman satu desa dengar cerita aneh dari rumahmu.”
Sastro menghela napas.
“Orang desa memang suka menambah cerita.”
Bu Parti masuk tanpa menunggu dipersilakan, seperti biasa.
Begitu melihat Arga di pelukan Sukmawati, wajahnya langsung melembut.
“Aduh... ganteng sekali.”
Sukmawati tersenyum.
“Masih merah begini.”
“Justru lucu.”
Bu Parti mendekat.
“Namanya siapa?”
Sukmawati memandang Sastro sebentar lalu menjawab,
“Arga Pranata.”
Bu Parti mengangguk pelan.
“Bagus.”
Lalu ia menatap bayi itu lebih dekat.
Namun sesaat kemudian senyumnya memudar.
“Lho...”
Sukmawati langsung tegang.
“Kenapa?”
Bu Parti mengedip beberapa kali.
“Tidak... mungkin aku salah lihat.”
“Apa?”
Bu Parti memaksakan tersenyum.
“Tidak apa-apa.”
Tapi sesungguhnya tadi, selama sesaat,
ia merasa mata bayi itu menatapnya terlalu dalam.
Bukan seperti mata bayi.
Melainkan seperti seseorang yang sedang memperhatikan.
Sukmawati menangkap perubahan wajah tetangganya.
“Ada apa sebenarnya?”
Bu Parti cepat-cepat menggeleng.
“Tidak ada. Aku cuma kurang tidur.”
Sastro yang sejak tadi diam mulai merasa tidak nyaman.
Ini sudah kedua kalinya seseorang menunjukkan reaksi aneh setelah melihat Arga.
Dan firasat buruk yang semula kecil,
mulai tumbuh sedikit demi sedikit.
Sore harinya, angin bertiup lembut dari arah sawah.
Sukmawati duduk di beranda sambil menggendong Arga.
Langit mulai berubah jingga.
Burung-burung kecil pulang ke sarang.
Suara anak-anak desa terdengar bermain dari kejauhan.
Untuk pertama kalinya sejak melahirkan, Sukmawati merasa sedikit tenang.
Rumah kecil itu terasa hangat.
Sawah di belakang berkilau terkena cahaya senja.
Bau lumpur bercampur rumput basah memenuhi udara.
Arga membuka matanya perlahan.
Tatapannya lurus ke hamparan sawah.
Sukmawati tersenyum.
“Kau suka melihat sawah?”
Bayi itu diam.
Namun matanya tidak berkedip.
Ia menatap jauh.
Jauh sekali.
Seolah di balik hamparan padi itu ada sesuatu yang hanya bisa ia lihat sendiri.
Sukmawati mengusap kepalanya.
“Nanti kalau besar...”
“kau mau jadi apa, Nak?”
Sastro yang baru keluar dari belakang rumah mendengar pertanyaan itu.
Ia duduk di samping istrinya.
“Biarkan dia jadi dirinya sendiri.”
Sukmawati menoleh.
“Memangnya kau tidak punya harapan?”
Sastro tersenyum kecil.
“Aku hanya ingin dia pulang.”
“Pulang?”
Sastro menatap sawah yang perlahan gelap.
“Sejauh apa pun hidup membawanya nanti...”
“aku hanya ingin dia tahu rumahnya di mana.”
Sukmawati terdiam.
Kadang cinta seorang ayah memang sesederhana itu.
Bukan mimpi besar.
Bukan keinginan muluk.
Hanya ingin anaknya tidak kehilangan jalan pulang.
Malam datang perlahan.
Lampu minyak kembali dinyalakan.
Suara jangkrik mulai memenuhi pekarangan.
Rumah kecil di pinggir sawah itu kembali tenggelam dalam kesunyian yang lembut.
Namun tak jauh dari batas pematang,
di bawah pohon asem tua,
seseorang kembali berdiri memandang rumah itu dari kejauhan.
Mbah Jayarasa.
Matanya tak lepas dari jendela kamar tempat Arga tertidur.
Ia menggenggam tongkat kayunya erat.
Lalu berbisik pelan pada angin malam.
“Rumah kecil itu...”
“tak akan cukup lama menyimpan anak seperti dia.”
Angin malam bergerak pelan.
Daun-daun bergesekan.
Dan di dalam rumah kecil itu,
Arga yang sedang tertidur,
perlahan tersenyum dalam mimpinya.
Seolah mendengar seseorang memanggil namanya
dari tempat yang sangat jauh.
BAB 5
Pelukan Ibu
Malam di Desa Wringinrejo selalu datang dengan cara yang sama.
Pelan.
Lembut.
Seolah langit tidak pernah ingin mengejutkan siapa pun.
Suara jangkrik mulai memenuhi halaman.
Daun pisang di belakang rumah bergesekan perlahan.
Lampu minyak di dalam rumah kecil itu menebarkan cahaya kuning redup yang menempel di dinding papan seperti bayangan masa lalu yang enggan pergi.
Di dalam kamar sempit, Sukmawati duduk bersandar di dipan bambu sambil memeluk Arga di dadanya.
Bayi kecil itu baru saja terbangun.
Matanya yang bening terbuka perlahan, memandang wajah ibunya dari jarak yang begitu dekat hingga Sukmawati merasa seolah anak itu sedang mencoba menghafalnya.
Ia tersenyum.
“Apa?”
bisiknya lirih.
“Kau sedang mengenali Ibumu?”
Arga tidak menangis.
Tidak bergerak banyak.
Ia hanya menatap.
Tatapan yang tenang.
Terlalu tenang.
Sejak lahir, Arga memang jarang menangis tanpa sebab. Berbeda dengan bayi lain di desa yang sering rewel sepanjang malam, Arga justru lebih sering diam. Kadang terlalu diam hingga membuat Sukmawati berkali-kali mengecek napas kecil di dadanya.
Tetapi setiap kali berada di dalam pelukannya,
Arga selalu tenang.
Seolah tubuh ibunya adalah satu-satunya tempat di dunia yang benar-benar ia kenal.
Sukmawati mengusap lembut rambut tipis di kepala putranya.
“Kalau dunia nanti terlalu keras...”
katanya pelan,
“kau boleh pulang ke sini.”
Ia menempelkan bibirnya ke dahi Arga.
“Ke pelukan Ibu.”
Sukmawati tidak pernah membayangkan bahwa menjadi seorang ibu bisa mengubah seseorang sedemikian rupa.
Sebelum Arga lahir, ia adalah perempuan yang sederhana.
Hidupnya berputar antara sumur, dapur, sawah, dan senja.
Mencuci.
Memasak.
Menunggu.
Berdoa.
Lalu tidur.
Begitu terus setiap hari.
Namun sejak Arga lahir,
ia merasa hidupnya tidak lagi berjalan untuk dirinya sendiri.
Kini setiap napasnya seperti terikat pada napas kecil anak itu.
Setiap tangisnya terasa sampai ke dada.
Setiap geraknya membuat jantungnya ikut bergerak.
Bahkan setiap diam Arga pun kadang bisa membuat hatinya gelisah.
Malam itu, ketika ia sedang mengayun perlahan tubuh kecil putranya, Sastro masuk ke kamar membawa secangkir air jahe hangat.
“Minumlah dulu.”
Sukmawati menerima cangkir itu.
“Terima kasih.”
Sastro duduk di tepi dipan.
Matanya memandang Arga yang terbaring di pelukan ibunya.
“Kau belum tidur?”
Sukmawati tersenyum tipis.
“Belum bisa.”
“Kenapa?”
Sukmawati menatap bayi itu.
“Aku takut kalau aku tidur, dia bangun dan menangis sendirian.”
Sastro menatap istrinya lama.
“Kau harus istirahat.”
Sukmawati menggeleng pelan.
“Rasanya aku tidak ingin melewatkan satu detik pun.”
Sastro tersenyum kecil.
“Kau benar-benar berubah.”
Sukmawati menoleh.
“Berubah bagaimana?”
“Dulu kau paling cerewet kalau malam.”
Sukmawati tertawa pelan.
“Lalu sekarang?”
“Sekarang kau lebih banyak diam.”
Sastro memandang Arga.
“Karena hatimu sibuk menjaga seseorang.”
Sukmawati menunduk.
Senyumnya samar.
“Begitulah rasanya jadi ibu, ya?”
Sastro tidak menjawab.
Karena sesungguhnya, bahkan sebagai ayah pun, ia belum benar-benar mengerti arti ikatan yang sedang tumbuh antara ibu dan anak itu.
Ada sesuatu yang begitu sunyi namun begitu kuat.
Sesuatu yang bahkan tidak perlu dijelaskan oleh kata-kata.
Di luar rumah, angin malam berembus sedikit lebih dingin.
Pohon mangga di depan rumah bergerak perlahan.
Bayangan rantingnya jatuh di dinding kamar seperti tangan-tangan hitam yang merayap pelan.
Sukmawati menatap jendela sebentar.
Lalu memeluk Arga lebih erat.
Entah mengapa sejak siang tadi, ada rasa tidak tenang yang tidak bisa ia usir.
Ia merasa seperti ada seseorang yang terus memperhatikan rumah mereka.
Bukan dari dalam.
Tetapi dari luar.
Dari gelap.
“Mas...”
panggilnya pelan.
Sastro yang sedang melipat kain menoleh.
“Ya?”
“Kau merasa tidak...”
ia ragu sesaat.
“...rumah kita terlalu sunyi malam ini?”
Sastro mendengarkan sejenak.
Suara jangkrik.
Daun.
Angin.
Tak ada yang aneh.
“Tidak.”
Sukmawati menunduk.
“Mungkin aku terlalu lelah.”
Namun belum sempat Sastro menjawab,
Arga tiba-tiba bergerak dalam pelukan ibunya.
Bayi itu membuka mata.
Lalu menatap lurus ke sudut kamar.
Ke tempat yang gelap.
Sukmawati ikut menoleh.
Di sana tidak ada apa-apa.
Hanya bayangan lemari kayu tua.
Tetapi Arga terus menatap ke sana.
Lama.
Sangat lama.
Sukmawati mulai merasa dingin menjalar di punggungnya.
“Mas...”
Sastro mendekat.
“Kenapa?”
“Dia melihat sesuatu.”
Sastro memandang bayi itu.
Arga memang sedang menatap sudut ruangan tanpa berkedip.
Lalu,
perlahan bayi itu tersenyum.
Bukan senyum biasa.
Bukan senyum refleks bayi.
Tapi senyum kecil seolah ia mengenali sesuatu.
Sukmawati spontan memeluk Arga erat.
“Jangan begitu...”
bisiknya gemetar.
Sastro cepat menyalakan lampu minyak lebih terang.
Cahaya memenuhi sudut kamar.
Tak ada siapa-siapa.
Tak ada apa-apa.
Namun rasa dingin itu tetap tinggal.
Sastro berusaha terdengar tenang.
“Mungkin dia cuma melihat cahaya.”
Sukmawati menatap suaminya.
“Benarkah?”
Sastro diam sesaat.
Lalu mengangguk.
Tapi di dalam hatinya,
ia sendiri tidak percaya sepenuhnya pada kalimat itu.
Beberapa saat kemudian Arga tertidur lagi.
Tangannya yang kecil mencengkeram kain kebaya ibunya.
Seolah takut terlepas.
Sukmawati menatap jemari kecil itu dengan mata basah.
“Mas...”
“Hm?”
“Kalau suatu hari nanti dia pergi jauh...”
suara Sukmawati lirih,
“aku takut tidak bisa melepaskannya.”
Sastro memandang istrinya.
“Dia masih bayi.”
“Aku tahu.”
“Tapi entah kenapa...”
Sukmawati menunduk.
“aku merasa seperti suatu hari nanti hidup akan membawanya jauh dari rumah ini.”
Sastro terdiam.
Kalimat itu terlalu dekat dengan ketakutan yang diam-diam juga ia rasakan sendiri.
Ia menatap wajah Arga yang damai dalam pelukan ibunya.
Lalu berkata pelan:
“Kalau nanti dia pergi...”
“pelukanmu akan selalu menjadi tempat pertama yang ingin dia ingat.”
Sukmawati menahan air mata.
“Bagaimana kalau dia lupa?”
Sastro tersenyum kecil.
“Anak mungkin bisa lupa jalan.”
“Tapi tidak pernah lupa rasa pulang.”
Malam semakin larut.
Lampu minyak mulai mengecil.
Sukmawati akhirnya berbaring dengan Arga tetap di dadanya.
Bayi itu tertidur tenang mendengar detak jantung ibunya.
Denyut yang sama
yang selama berbulan-bulan menjadi suara pertama yang ia kenal sebelum lahir.
Di dalam pelukan itu,
Arga tampak benar-benar damai.
Seolah dunia luar belum punya kuasa untuk menyentuhnya.
Namun jauh di luar rumah,
di bawah pohon asem tua,
Mbah Jayarasa masih berdiri.
Tatapannya tertuju pada jendela kamar.
Ia memejamkan mata sebentar.
Lalu berbisik lirih:
“Anak itu masih mengenali cahaya ibunya...”
Ia membuka matanya perlahan.
“Tapi suatu hari...”
“bahkan pelukan seorang ibu pun tak akan cukup menahannya.”
Angin malam berembus lebih dingin.
Dan di dalam rumah kecil di pinggir sawah itu,
Sukmawati tanpa sadar memeluk Arga sedikit lebih erat,
seolah naluri seorang ibu sudah mendengar ancaman yang belum sempat diucapkan dunia.
BAB 6
Diam Seorang Ayah
Pagi di Desa Wringinrejo selalu dimulai sebelum matahari benar-benar lahir.
Ketika sebagian besar orang masih terlelap dalam sisa mimpi, Sastro sudah berdiri di halaman rumah dengan cangkul di bahunya. Kabut tipis masih menggantung di atas sawah. Udara dingin menyentuh kulit seperti embun yang belum rela jatuh.
Rumah kecil di pinggir sawah itu masih sunyi.
Lampu minyak di dalam kamar baru saja dipadamkan.
Sukmawati masih tertidur setengah sadar dengan Arga di pelukannya.
Dan di luar, dunia perlahan membuka matanya.
Sastro menatap rumah itu beberapa saat.
Dulu ia tak pernah melakukan itu.
Dulu rumah hanyalah tempat singgah.
Tempat pulang setelah seharian menanam atau memanen.
Tempat menaruh lelah.
Tempat tidur.
Lalu esok mengulang hidup yang sama.
Namun sejak Arga lahir, rumah itu terasa berbeda.
Kini ada alasan baru yang membuatnya menoleh sebelum pergi.
Ada sesuatu yang diam-diam tertinggal setiap kali ia melangkah meninggalkan pintu.
Ia berdiri memandangi jendela kamar.
Mendengarkan.
Mencari suara kecil dari dalam.
Dan ketika tak terdengar tangis,
ia baru berani berjalan menuju sawah.
Sastro bukan lelaki yang pandai mengungkapkan perasaan.
Sejak kecil ia dibesarkan oleh ayah yang percaya bahwa laki-laki tidak perlu banyak bicara. Bahwa cinta seorang ayah tidak ditunjukkan lewat kata-kata, melainkan lewat kerja keras yang membuat dapur tetap berasap.
Ayahnya jarang memeluk.
Jarang tersenyum.
Jarang bertanya.
Namun setiap pagi ia pergi ke sawah.
Setiap malam pulang membawa beras.
Setiap musim hujan memastikan atap tidak bocor.
Dan bagi lelaki generasi mereka,
itulah cinta.
Diam.
Keras.
Tapi nyata.
Sastro tumbuh dengan cara yang sama.
Maka ketika Arga lahir, ia mendapati dirinya bingung menghadapi perasaan yang belum pernah ia kenal sebelumnya.
Ia ingin memeluk anak itu.
Tapi tangannya terasa canggung.
Ia ingin menggendong.
Tapi takut salah.
Ia ingin bicara.
Tapi tidak tahu harus mulai dari mana.
Yang bisa ia lakukan hanyalah diam.
Dan bekerja lebih keras dari biasanya.
Pagi itu di sawah, tangan Sastro bergerak lambat mencabuti rumput liar di sela tanaman muda. Lumpur menempel sampai lutut. Matahari mulai naik sedikit demi sedikit, tapi pikirannya tidak ada di sana.
Ia terus teringat wajah kecil Arga.
Jari mungil.
Napas pelan.
Tatapan aneh yang terlalu tenang.
“Wah, sekarang kau melamun di sawah.”
Suara itu membuat Sastro menoleh.
Di sebelah pematang berdiri Pak Wiryo, tetangga sekaligus kawan lamanya, sambil memanggul sabit.
Sastro menghela napas.
“Tidak melamun.”
Pak Wiryo tertawa kecil.
“Kalau begitu sawahmu yang sedang melamun.”
Sastro menoleh.
Baru ia sadar beberapa rumpun padi yang seharusnya dibersihkan malah ikut terinjak kakinya sendiri.
Pak Wiryo turun ke pematang.
“Begitulah kalau baru jadi bapak.”
Sastro tersenyum tipis.
“Mungkin.”
Pak Wiryo duduk jongkok.
“Anakmu sehat?”
Sastro mengangguk.
“Sehat.”
“Laki-laki?”
“Iya.”
Pak Wiryo tersenyum.
“Bagus.”
Ia diam sebentar.
Lalu berkata pelan,
“Tapi aku dengar semalam rumahmu ramai cerita.”
Sastro berhenti bekerja.
Ia sudah menduga kabar aneh itu menyebar cepat.
“Orang kampung memang suka menambah cerita.”
Pak Wiryo menatapnya.
“Jadi tidak benar?”
Sastro diam.
Lelaki itu menunggu.
Akhirnya Sastro berkata lirih,
“Aku sendiri tidak tahu.”
Pak Wiryo menepuk bahunya.
“Kadang yang paling menakutkan bukan hal gaib.”
Sastro menoleh.
“Lalu?”
Pak Wiryo tersenyum kecil.
“Menjadi ayah.”
Kalimat itu membuat Sastro terdiam.
Pak Wiryo berdiri lagi.
“Karena sejak anak lahir...”
“hidupmu bukan milikmu sendiri lagi.”
Lalu ia berjalan pergi sambil membawa sabitnya.
Sastro memandang punggung temannya itu.
Dan untuk pertama kalinya,
ia sadar ketakutan terbesar dalam dirinya bukan tentang ramalan,
bukan tentang tanda aneh,
bukan tentang langit yang terbelah.
Tetapi tentang kemungkinan gagal menjaga seseorang yang kini menjadi seluruh dunianya.
Menjelang siang Sastro pulang lebih cepat.
Kakinya penuh lumpur.
Bajunya basah oleh keringat.
Namun langkahnya lebih cepat dari biasanya.
Begitu membuka pintu, ia mendengar suara lirih Sukmawati dari dalam.
“Pelan-pelan... jangan bangun...”
Sastro masuk.
Sukmawati sedang duduk di dipan sambil mengganti kain Arga.
Bayi itu terbangun dan menatap langit-langit dengan tenang.
“Sudah pulang?”
Sastro mengangguk.
“Bagaimana dia?”
Sukmawati tersenyum.
“Sejak tadi diam saja.”
Sastro mendekat.
Memandangi Arga.
Untuk beberapa saat ia hanya berdiri.
Sukmawati menatap suaminya.
“Gendong saja.”
Sastro langsung menggeleng.
“Nanti salah.”
“Tidak akan.”
“Aku takut.”
Sukmawati tertawa kecil.
“Mas takut menggendong bayi?”
Sastro tidak menjawab.
Sukmawati menggeser tubuh sedikit.
“Mari sini.”
Dengan canggung, Sastro mengulurkan tangan.
Tangannya besar.
Kasar.
Penuh bekas kerja.
Jauh berbeda dengan tubuh kecil Arga yang tampak begitu rapuh.
Pelan-pelan Sukmawati meletakkan bayi itu ke lengan suaminya.
Sastro menahan napas.
Tubuh kecil itu kini ada di tangannya.
Hangat.
Sangat ringan.
Dan anehnya,
detik itu juga jantung Sastro seperti berhenti sesaat.
Ia menatap wajah anaknya.
Arga membuka mata.
Memandang ayahnya.
Untuk pertama kalinya,
mereka saling menatap dari jarak yang sangat dekat.
Sastro tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Ia hanya diam.
Namun tangannya yang besar tanpa sadar bergerak melindungi tubuh kecil itu dengan sangat hati-hati.
Sukmawati memperhatikan dengan senyum tipis.
“Lihat?”
katanya pelan.
“Kau bisa.”
Sastro tidak menjawab.
Matanya justru mulai basah.
Ia cepat menoleh agar istrinya tidak melihat.
Namun Sukmawati sudah tahu.
Di balik diam lelaki itu,
ada cinta yang terlalu besar untuk mudah diucapkan.
“Mas.”
Sastro berdeham.
“Hm?”
“Dia mirip siapa?”
Sastro menatap Arga.
Lalu tersenyum tipis.
“Kalau keras kepala...”
“mungkin mirip ibunya.”
Sukmawati tertawa pelan.
“Kalau pendiam?”
Sastro menunduk.
“Mungkin mirip ayahnya.”
Arga bergerak kecil di pelukannya.
Jari mungil itu menggenggam salah satu jari Sastro.
Sastro membeku.
Begitu kecil.
Namun genggaman itu terasa seperti sesuatu yang langsung mengikat sampai ke dalam hati.
Sukmawati melihat perubahan wajah suaminya.
“Kenapa?”
Sastro menggeleng.
“Tidak apa-apa.”
Tapi sesungguhnya, dalam detik itu,
ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Bukan takut.
Bukan cemas.
Melainkan janji yang lahir tanpa kata-kata:
bahwa selama ia masih hidup,
ia akan melindungi anak itu.
Dengan apa pun.
Sore menjelang.
Matahari mulai turun di balik sawah.
Sastro kembali duduk di beranda rumah sambil menggendong Arga yang sudah tertidur di lengannya.
Sukmawati memandang dari pintu.
Ia tersenyum melihat suaminya yang biasanya keras kini duduk nyaris tidak bergerak karena takut membangunkan anak mereka.
“Mas.”
Sastro menoleh pelan.
“Ya?”
“Kau tahu?”
“Apa?”
Sukmawati tersenyum lembut.
“Kadang cinta seorang ayah memang tidak terdengar.”
Sastro diam.
“Tapi selalu terasa.”
Sastro menatap Arga.
Lalu memandang langit senja yang mulai berubah warna.
Ia tidak pandai merangkai kata.
Tidak pandai menunjukkan rasa.
Tidak pandai menghibur.
Namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya,
diamnya bukan lagi sekadar kebiasaan.
Melainkan bentuk cinta yang paling jujur.
Di kejauhan,
dari bawah pohon asem tua,
Mbah Jayarasa kembali melihat rumah itu.
Tatapannya jatuh pada Sastro yang sedang menggendong Arga.
Lelaki tua itu menghela napas panjang.
Lalu berbisik pada angin senja.
“Kadang...”
“yang paling sulit bukan membesarkan anak yang berbeda.”
Ia menatap Sastro lebih lama.
“Melainkan menjadi ayah yang harus rela kehilangannya.”
Angin sore berembus pelan.
Dan tanpa tahu apa yang sedang menanti,
Sastro memeluk Arga sedikit lebih erat.
BAB 7
Bayangan di Jendela
Malam turun perlahan di Desa Wringinrejo seperti kain hitam yang dibentangkan pelan-pelan di atas langit.
Suara burung petang menghilang satu per satu.
Sawah di belakang rumah berubah menjadi hamparan gelap yang nyaris tak berbentuk.
Angin malam berembus tipis melewati rumpun bambu di tepi pematang, menimbulkan suara gesekan panjang yang terdengar seperti bisikan orang-orang yang berbicara terlalu pelan untuk dipahami.
Rumah kecil di pinggir sawah itu kembali tenggelam dalam cahaya lampu minyak.
Api kecil di dalam kaca lampu menari pelan, membuat bayangan di dinding bergerak seperti makhluk hidup yang sedang bernapas.
Sukmawati sedang duduk di lantai dekat dipan sambil melipat kain-kain kecil milik Arga.
Sastro duduk di beranda memperbaiki anyaman keranjang bambu yang mulai rusak.
Dan Arga tertidur di dalam ayunan kain yang digantung di sudut kamar.
Untuk sesaat,
malam itu tampak biasa.
Terlalu biasa.
Dan justru karena itulah,
ketika sesuatu berubah,
perubahannya terasa begitu jelas.
Arga mulai gelisah lebih dulu.
Tubuh kecilnya bergerak pelan dalam ayunan.
Jari-jari mungilnya menggenggam udara.
Kelopak matanya berkedut.
Sukmawati menoleh.
Ia tersenyum kecil.
“Mau bangun ya?”
Ia berdiri, lalu mengayun perlahan kain ayunan itu.
Namun Arga tidak langsung tenang.
Malah sebaliknya.
Mata kecil itu terbuka perlahan.
Dan seperti beberapa malam sebelumnya,
Arga tidak menangis.
Ia hanya menatap.
Ke arah jendela.
Sukmawati mengikuti arah tatapan anaknya.
Jendela kayu itu setengah tertutup.
Di baliknya hanya ada gelap halaman.
Pohon mangga.
Dan langit malam yang samar.
Tidak ada siapa-siapa.
Sukmawati kembali mengayun.
“Tidur lagi, Nak...”
Namun Arga tetap menatap ke sana.
Tak berkedip.
Wajah kecilnya serius.
Seolah ada sesuatu di balik jendela yang sedang memanggil perhatiannya.
Sukmawati mulai merasa dingin merambat pelan di tengkuknya.
“Mas...”
Sastro masuk dari beranda.
“Ada apa?”
Sukmawati menoleh ke arah jendela.
“Dia lagi.”
Sastro mendekat.
Melihat Arga yang terus menatap keluar.
Sastro berusaha tersenyum.
“Mungkin dia melihat bayangan daun.”
“Tidak.”
Sukmawati menggeleng.
“Bukan seperti itu.”
Sastro hendak menjawab,
ketika tiba-tiba,
Arga tersenyum.
Pelan.
Ke arah jendela.
Sukmawati langsung mundur satu langkah.
“Mas...”
Sastro ikut membeku.
Senyum itu bukan senyum biasa.
Bukan senyum bayi dalam tidur.
Bukan gerakan refleks.
Senyum itu seperti senyum seseorang
yang mengenali wajah lama.
Dan selama beberapa detik,
tak satu pun dari mereka berani bergerak.
Angin tiba-tiba berembus dari luar.
Jendela yang semula diam bergoyang kecil.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara kayu mengetuk pelan.
Sukmawati menggenggam lengan suaminya.
“Mas... tolong tutup.”
Sastro menelan ludah.
Ia mendekati jendela dengan langkah hati-hati.
Di luar hanya gelap.
Pohon mangga bergerak pelan.
Bayangan daunnya bergoyang di tanah.
Tidak ada siapa-siapa.
Sastro menarik napas.
Lalu menutup jendela rapat.
“Tidak ada apa-apa.”
Namun ketika ia menoleh,
Arga kini menangis.
Tangis itu tidak keras.
Justru pelan.
Lirih.
Seperti suara kehilangan.
Sukmawati segera menggendong anaknya.
“Sudah... sudah... Ibu di sini...”
Arga terus menangis kecil sambil menatap jendela yang kini tertutup.
Seolah sesuatu baru saja pergi.
Sukmawati memeluknya erat.
Wajahnya pucat.
“Mas... dia seperti sedang melihat seseorang.”
Sastro diam.
Untuk pertama kalinya,
ia tidak lagi punya jawaban untuk menenangkan istrinya.
Karena di dalam dirinya sendiri,
rasa takut itu mulai tumbuh.
Perlahan.
Diam-diam.
Tapi nyata.
Malam semakin larut.
Setelah lama digendong, Arga akhirnya tertidur di pelukan ibunya.
Tangisnya berhenti.
Napasnya kembali tenang.
Namun Sukmawati tidak bisa tidur.
Ia duduk bersandar di dipan sambil memeluk anaknya.
Matanya terus memandang jendela.
Sastro duduk di dekat pintu.
Tidak tidur.
Tidak bicara.
Hanya diam.
Api lampu minyak bergerak pelan.
Membuat bayangan panjang di dinding.
Waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya.
Sampai kemudian,
tok.
Suara kecil terdengar lagi.
Sukmawati menahan napas.
Tok.
Lebih jelas kali ini.
Dari arah jendela.
Sastro langsung berdiri.
Tok.
Tok.
Seperti ada ujung jari mengetuk pelan dari luar.
Sukmawati menggigil.
“Mas...”
Sastro mengambil lampu minyak.
Lalu berjalan perlahan ke jendela.
Tangannya gemetar ketika membuka sedikit daun kayu itu.
Gelap.
Hanya halaman kosong.
Namun di kaca jendela,
sesaat sebelum ia menutupnya lagi,
Sastro melihat sesuatu.
Sebuah bayangan.
Samar.
Seperti sosok seseorang berdiri di belakang pantulan dirinya sendiri.
Sastro tersentak mundur.
Lampu minyak hampir jatuh dari tangannya.
“Mas!”
Sukmawati berdiri.
“Ada apa?”
Sastro memandang jendela dengan napas memburu.
Wajahnya pucat.
“Mas?”
Sastro menelan ludah.
Lalu berbisik pelan:
“Aku...”
“Aku seperti melihat orang.”
Sukmawati langsung memeluk Arga erat.
“Siapa?”
Sastro menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
Ruangan mendadak terasa lebih sempit.
Udara seperti menebal.
Arga membuka mata perlahan.
Dan lagi-lagi,
bukan menangis.
Ia justru menatap ke arah jendela,
lalu tersenyum kecil.
Senyum yang membuat darah Sastro terasa dingin.
Pagi harinya,
tanpa menunggu matahari tinggi,
Sastro pergi ke rumah Mbah Jayarasa.
Rumah tetua tua itu berada di ujung desa,
tertutup semak dan pohon bambu.
Orang-orang jarang datang ke sana.
Pintu rumah terbuka sedikit.
Seolah lelaki tua itu sudah tahu siapa yang datang.
“Mbah...”
panggil Sastro.
Dari dalam terdengar suara berat.
“Masuklah.”
Sastro masuk perlahan.
Mbah Jayarasa duduk di tikar pandan.
Seolah sudah menunggu.
Tanpa menoleh,
ia berkata pelan:
“Bayangan itu datang lagi?”
Sastro membeku.
“Mbah sudah tahu?”
Mbah Jayarasa menutup matanya.
“Beberapa pintu...”
“tidak pernah benar-benar tertutup.”
Sastro melangkah mendekat.
“Siapa yang datang ke rumah saya?”
Mbah Jayarasa membuka mata.
Tatapannya tenang.
Terlalu tenang.
“Bukan siapa.”
Sastro mengernyit.
“Lalu?”
Mbah Jayarasa menatap lurus ke matanya.
“Tapi sesuatu.”
Sastro menelan ludah.
“Kenapa datang ke anak saya?”
Mbah Jayarasa menghela napas panjang.
Karena...”
ia memandang ke luar jendela,
“anakmu bisa melihat apa yang orang lain lupakan.”
Ruangan mendadak sunyi.
Sastro merasa tenggorokannya kering.
“Mbah...”
“Apa sebenarnya anak saya?”
Mbah Jayarasa menatapnya lama sekali.
Lalu berkata pelan:
“Seorang anak yang lahir dengan dua langit di matanya.”
Di rumah kecil pinggir sawah itu,
Sukmawati masih memeluk Arga.
Dan tanpa tahu apa yang baru saja didengar suaminya,
ia hanya bisa menatap wajah kecil anaknya dengan hati yang semakin gelisah.
Karena kini ia mulai sadar,
bayi itu bukan hanya membawa kehidupan baru ke rumah mereka.
Ia juga membawa sesuatu
yang sejak lama tertidur di desa itu.
Dan malam sebelumnya,
sesuatu itu
telah mulai mengetuk jendela.
BAB 8
Cerita Para Sesepuh
Pagi setelah malam yang penuh bayangan itu datang dengan langit yang tampak terlalu cerah.
Matahari naik perlahan di atas hamparan sawah.
Burung-burung kecil melintas rendah.
Kabut yang biasanya menempel di pematang menghilang lebih cepat dari biasanya.
Namun di dalam hati Sastro,
malam masih belum selesai.
Langkahnya pulang dari rumah Mbah Jayarasa terasa lebih berat daripada ketika ia datang.
Kalimat lelaki tua itu terus berputar di kepalanya.
“Anakmu lahir dengan dua langit di matanya.”
Sastro tidak sepenuhnya mengerti.
Tetapi entah mengapa,
hatinya percaya bahwa itu bukan sekadar kalimat untuk menakut-nakuti.
Ia berjalan melewati jalan tanah desa dengan pikiran kacau.
Suara orang-orang yang sedang menyapu halaman terdengar samar.
Anak-anak kecil berlari tanpa alas kaki.
Ibu-ibu menimba air di sumur umum.
Dunia berjalan seperti biasa.
Hanya hidupnya yang mulai terasa berubah.
Ketika sampai di rumah, Sukmawati sedang duduk di beranda sambil menggendong Arga yang baru selesai disusui.
Melihat wajah suaminya, ia langsung tahu ada sesuatu.
“Kau dari mana?”
Sastro tidak langsung menjawab.
Ia duduk di anak tangga kayu.
Menatap sawah.
“Ke rumah Mbah Jayarasa.”
Sukmawati terdiam.
“Untuk apa?”
Sastro mengusap wajahnya.
“Aku ingin tahu tentang semalam.”
Sukmawati memeluk Arga lebih erat.
“Lalu?”
Sastro menoleh.
Matanya lelah.
“Dia bilang Arga bisa melihat sesuatu yang orang lain tidak bisa lihat.”
Sukmawati menunduk.
Seolah sebenarnya sebagian dari dirinya sudah menduga.
“Mas...”
“Dan dia bilang...”
Sastro berhenti sejenak.
“Arga lahir dengan dua langit di matanya.”
Angin pagi lewat pelan di antara mereka.
Tak ada yang bicara selama beberapa saat.
Arga membuka matanya.
Menatap wajah kedua orang tuanya bergantian.
Diam.
Sukmawati mengusap kepala anaknya perlahan.
“Kalau memang benar...”
suaranya nyaris berbisik,
“apakah itu buruk?”
Sastro menggeleng pelan.
“Aku tidak tahu.”
“Lalu?”
Sastro menatap anaknya.
“Yang aku tahu...”
“dia tetap anak kita.”
Mata Sukmawati mulai berkaca-kaca.
Ia mengangguk pelan.
Namun jauh di dalam hatinya,
ketakutan kecil mulai tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar.
Menjelang siang, kabar tentang kejadian di rumah Sastro rupanya mulai menyebar ke seluruh desa.
Di desa kecil seperti Wringinrejo,
rahasia jarang bertahan lama.
Apalagi jika melibatkan:
bayi,
pertanda langit,
dan cerita yang tidak biasa.
Menjelang dhuhur, satu per satu orang tua desa mulai datang.
Bukan karena ingin ikut campur.
Tetapi karena rasa ingin tahu yang dibungkus kepedulian.
Yang pertama datang adalah Mbah Kromo, lelaki tua berusia hampir delapan puluh tahun yang dikenal sebagai penjaga langgar tua di ujung desa.
Kemudian menyusul Mbah Wiranti, perempuan sepuh yang hampir tak pernah keluar rumah kecuali untuk hal penting.
Dan tak lama kemudian,
Mbah Jayarasa sendiri datang,
berjalan pelan dengan tongkat kayunya.
Sastro mempersilakan mereka duduk di ruang depan.
Suasana rumah kecil itu mendadak terasa penuh.
Penuh usia.
Penuh diam.
Penuh sesuatu yang tak terucapkan.
Sukmawati duduk di pojok sambil menggendong Arga.
Wajahnya cemas.
Tak ada yang langsung bicara.
Para sesepuh hanya menatap Arga bergantian.
Seolah sedang membaca sesuatu yang tertulis di wajah kecil itu.
Akhirnya Mbah Kromo yang membuka suara.
“Sudah lama sekali desa ini tidak melihat tanda seperti itu.”
Sastro menatapnya.
“Tanda apa, Mbah?”
Mbah Kromo menoleh ke arah jendela.
“Langit terbelah tanpa suara.”
Mbah Wiranti menimpali pelan.
“Dulu pernah terjadi.”
Sukmawati menelan ludah.
“Kapan?”
Mbah Wiranti memejamkan mata sebentar.
“Puluhan tahun lalu.”
“Waktu itu,” lanjutnya,
“seorang anak juga lahir saat malam seperti itu.”
Sastro duduk tegak.
“Siapa?”
Ruangan mendadak hening.
Tak satu pun langsung menjawab.
Lalu Mbah Jayarasa berkata pelan:
“Ayahku.”
Sastro tertegun.
Sukmawati ikut menatap lelaki tua itu.
Mbah Jayarasa melanjutkan dengan suara rendah.
“Orang-orang bilang ayahku bisa melihat apa yang tidak terlihat.”
“Bisa mendengar yang tidak terdengar.”
“Dan kadang...”
ia menatap saja,
“bisa mengetahui sesuatu sebelum terjadi.”
Sukmawati memeluk bayinya lebih erat.
“Lalu bagaimana hidupnya?”
Mbah Jayarasa tersenyum tipis.
“Tidak mudah.”
Mbah Kromo mengangguk.
“Orang yang melihat terlalu banyak...”
“jarang hidup tenang.”
Sastro mengerutkan kening.
“Mbah, jangan bicara seperti itu.”
Mbah Kromo menatapnya lembut.
“Kami bukan mau menakutimu.”
“Kami hanya ingin kau mengerti.”
Sastro diam.
Mbah Wiranti lalu berkata lirih:
“Tidak semua anak lahir hanya untuk menjalani hidupnya sendiri.”
“Sebagian lahir untuk menyelesaikan sesuatu yang sudah lama tertunda.”
Sukmawati menggigil.
“Maksudnya?”
Mbah Wiranti memandang Arga.
“Ada darah yang membawa ingatan.”
“Ada jiwa yang lahir membawa beban.”
Sastro menggeleng.
“Saya tidak percaya anak kecil membawa beban apa pun.”
Mbah Jayarasa menatapnya.
“Setiap anak membawa sesuatu.”
“Sebagian membawa harapan.”
“Sebagian membawa luka.”
“Sebagian...”
ia menatap Arga lama,
“membawa keduanya.”
Arga yang sejak tadi diam,
tiba-tiba membuka mata.
Lalu menatap Mbah Jayarasa.
Untuk beberapa detik,
lelaki tua itu membeku.
Karena sekali lagi,
tatapan bayi itu tidak terasa seperti tatapan bayi.
Melainkan seperti seseorang
yang sedang mengenali.
Mbah Jayarasa menarik napas pelan.
“Dia tahu.”
Sastro langsung menoleh.
“Tahu apa?”
Namun Mbah Jayarasa tidak menjawab.
Ia hanya mengulurkan jari tuanya ke arah Arga.
Ajaibnya,
Arga mengangkat tangan kecilnya.
Lalu menggenggam jari tua itu.
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Mbah Wiranti memejamkan mata.
Mbah Kromo beristigfar pelan.
Sukmawati hampir menitikkan air mata.
Mbah Jayarasa menatap bayi itu lama sekali.
Kemudian bibirnya bergetar pelan.
“Wajah yang sama...”
Sastro langsung berdiri.
“Wajah siapa?”
Mbah Jayarasa tersadar.
Ia melepaskan genggaman kecil itu.
“Tidak apa.”
“Tapi Mbah tadi bilang, ”
“Tidak semua cerita harus dibuka terlalu cepat.”
Kalimat itu membuat Sastro frustrasi.
“Kenapa semua orang bicara setengah-setengah?”
Mbah Kromo menatapnya lembut.
“Karena beberapa kebenaran...”
“lebih berat daripada ketidaktahuan.”
Siang bergeser menuju sore.
Sebelum pulang, Mbah Wiranti meletakkan seuntai benang hitam kecil di dekat bantal Arga.
“Untuk apa ini?” tanya Sukmawati.
“Bukan jimat.”
jawab perempuan tua itu.
“Hanya pengingat.”
“Pengingat apa?”
Mbah Wiranti tersenyum tipis.
“Bahwa tidak semua yang tak terlihat harus ditakuti.”
Mbah Kromo berdiri pelan.
“Jaga anakmu.”
katanya pada Sastro.
“Dan jaga rumah ini.”
Sastro mengangguk.
“Dari apa?”
Mbah Kromo menatap langit sore.
“Dari kenangan yang mungkin akan pulang.”
Satu per satu para sesepuh pergi.
Rumah kecil itu kembali sepi.
Namun suasananya tidak lagi sama.
Karena kini,
bukan hanya Sastro dan Sukmawati yang tahu bahwa Arga berbeda.
Orang-orang tua di desa itu pun mulai mengingat sesuatu
yang selama bertahun-tahun mereka pilih untuk dilupakan.
Sore turun pelan.
Sukmawati duduk di dekat jendela sambil memeluk Arga.
Memandangi sawah yang perlahan berubah keemasan.
“Mas...”
Sastro menoleh.
“Kalau semua yang mereka katakan benar...”
suara Sukmawati gemetar,
“apakah hidupnya akan berat?”
Sastro menatap anaknya.
Lalu berkata pelan,
“Kalau memang hidupnya berat...”
“biar aku yang memikul sebagian.”
Sukmawati menatap suaminya dengan mata basah.
Di luar,
angin sore menggerakkan padi-padi muda seperti lautan hijau.
Dan di dalam rumah kecil pinggir sawah itu,
tanpa benar-benar menyadarinya,
sebuah kisah lama mulai bangkit kembali
melalui mata seorang bayi
yang baru beberapa hari mengenal dunia.
BAB 9
Jejak Kecil di Tanah Basah
Hujan turun sejak dini hari.
Bukan hujan deras yang datang dengan amarah petir, melainkan gerimis panjang yang seolah sengaja diturunkan langit untuk membasahi desa perlahan-lahan. Atap genteng rumah Sastro meneteskan suara yang teratur. Tanah di halaman berubah lembek. Pematang sawah menjadi licin. Dan aroma lumpur basah memenuhi udara seperti kenangan lama yang baru saja dibuka kembali.
Desa Wringinrejo selalu tampak berbeda setelah hujan.
Warna daun menjadi lebih hidup.
Batang bambu tampak lebih gelap.
Kabut turun lebih rendah.
Dan suara dunia seolah lebih pelan.
Pagi itu, Sukmawati membuka pintu rumah sedikit untuk membiarkan udara dingin masuk. Ia menggendong Arga di dadanya dengan kain jarik yang diikat rapi, sementara tangan satunya memegang sapu lidi untuk membersihkan genangan kecil di beranda.
Arga terbangun sejak subuh.
Seperti biasanya,
ia tidak rewel.
Ia hanya diam dalam gendongan ibunya,
memandangi dunia di sekelilingnya dengan mata tenang yang membuat Sukmawati kadang lupa bahwa anak itu masih terlalu kecil untuk memahami apa pun.
“Lihat...”
bisik Sukmawati sambil menunjuk halaman.
“Itu hujan semalam.”
Arga memandang ke luar.
Ke tanah basah.
Ke rumput yang menunduk.
Ke tetesan air yang masih bergantung di ujung daun pisang.
Mata kecilnya berkedip perlahan.
Seolah setiap hal yang sederhana bagi orang dewasa,
terlihat berbeda di matanya.
Sastro pulang lebih cepat dari sawah pagi itu karena hujan membuat tanah terlalu becek untuk dikerjakan.
Ia masuk sambil membawa cangkul di bahu dan celana yang penuh lumpur.
Sukmawati menoleh.
“Cepat sekali pulangnya.”
“Hari ini sawah tak bisa disentuh.”
Sastro meletakkan cangkul di sudut.
“Kalau dipaksa malah rusak.”
Lalu matanya tertuju pada Arga.
Bayi itu sedang memandang keluar pintu.
Diam.
Seperti selalu.
Sastro tersenyum tipis.
“Dia suka melihat hujan?”
Sukmawati mengangguk.
“Dari tadi begitu.”
Sastro mendekat.
Untuk beberapa saat ia ikut berdiri di samping istrinya,
memandangi halaman kecil mereka yang basah.
Tidak ada suara selain tetes air dari atap.
Sastro menatap Arga.
“Anak ini aneh ya.”
Sukmawati menoleh.
“Kenapa bilang begitu?”
“Bayi lain menangis.”
“Dia malah seperti sedang berpikir.”
Sukmawati tertawa kecil.
“Mungkin dia memang sedang berpikir.”
Sastro ikut tersenyum.
Namun di balik senyum itu,
ada sesuatu yang masih tersimpan:
kegelisahan yang belum pergi sejak para sesepuh datang kemarin.
Menjelang siang hujan berhenti.
Awan mulai menipis.
Cahaya matahari perlahan jatuh di tanah basah hingga halaman rumah tampak berkilau.
Sukmawati menjemur kain bayi di samping rumah.
Sastro memperbaiki pagar bambu yang sempat roboh tertiup angin malam.
Arga diletakkan di atas tikar kecil di dekat pintu agar tetap bisa diawasi.
Sesekali bayi itu menggerakkan tangan kecilnya,
menyentuh udara.
Lalu untuk pertama kalinya sejak lahir,
Arga mencoba membalikkan tubuhnya sendiri.
Sukmawati menoleh cepat.
“Mas!”
Sastro menghentikan pekerjaannya.
“Ada apa?”
“Lihat!”
Arga bergerak pelan,
miring,
lalu tubuh kecil itu berhasil bergeser sedikit.
Sukmawati tersenyum lebar.
“Dia mulai bergerak.”
Sastro mendekat.
Memandangi putranya dengan wajah tak percaya.
“Cepat sekali?”
Sukmawati tertawa bahagia.
“Memang waktunya.”
Arga menatap ayahnya.
Lalu,
dengan gerakan kecil yang kikuk,
ia mengulurkan tangan ke arah tanah di dekat tikar.
Jari mungil itu menyentuh lumpur tipis yang terbawa angin ke teras.
Menyentuh.
Meremas.
Lalu tertawa kecil.
Sukmawati langsung panik.
“Eh, jangan!”
Ia hendak membersihkan tangan anaknya,
tetapi Sastro menahan.
“Biarkan.”
Sukmawati menoleh.
“Mas?”
Sastro menatap Arga.
“Biarkan dia mengenal tanah.”
Sukmawati diam.
Arga kembali menyentuh tanah basah itu.
Pelan.
Seolah sedang merasakan sesuatu.
Mungkin bagi bayi lain itu hanya lumpur.
Tetapi bagi Arga,
seolah tanah itu menyimpan sesuatu yang bisa ia kenali.
Sore harinya, Sukmawati menggendong Arga ke halaman belakang.
Tanah masih lembek oleh hujan.
Rumput basah.
Udara dingin.
Sawah di belakang memantulkan langit kelabu.
Sukmawati ingin menjemur anaknya sebentar di bawah sinar matahari sore.
Ia duduk di bangku kayu kecil.
Lalu menurunkan kaki Arga perlahan agar menyentuh tanah.
“Hanya sebentar.”
bisiknya.
“Biar kakimu kenal bumi.”
Arga tentu belum bisa berdiri.
Namun kaki kecil itu menyentuh tanah basah dengan lembut.
Dan ketika Sukmawati mengangkatnya kembali,
sesuatu membuatnya terdiam.
Di tanah lembek itu,
tertinggal bekas kecil.
Jejak kaki Arga.
Sangat kecil.
Sangat halus.
Namun bentuknya jelas.
Sukmawati tersenyum sendiri.
Ia hendak memanggil Sastro.
Tapi langkahnya terhenti.
Karena di samping jejak kecil itu,
ada satu bekas lain.
Bekas telapak kaki.
Lebih besar.
Samar.
Seperti seseorang berdiri sangat dekat di sebelah anaknya.
Sukmawati membeku.
Napasnya tercekat.
Ia menunduk cepat.
Memandang sekeliling.
Tak ada siapa-siapa.
Hanya sawah.
Angin.
Dan suara burung sore dari kejauhan.
Namun bekas itu nyata.
Jelas di tanah basah.
Sukmawati mundur cepat sambil memeluk Arga erat.
“Mas!”
Suaranya bergetar.
Sastro berlari dari depan rumah.
“Ada apa?”
Sukmawati menunjuk tanah.
“Lihat!”
Sastro mendekat.
Memandang tanah basah itu.
Jejak kecil milik Arga masih terlihat.
Dan di sampingnya,
bekas samar itu.
Wajah Sastro langsung berubah.
Ia berlutut.
Menyentuh tanah.
Masih lembek.
Bekas itu baru.
Sangat baru.
Sukmawati memeluk Arga erat.
“Siapa itu?”
Sastro menoleh pelan.
Matanya gelap.
“Aku tidak tahu.”
“Tapi tadi tidak ada siapa-siapa.”
Sastro berdiri cepat.
Memandangi sekitar rumah.
Tak ada orang.
Tak ada langkah.
Tak ada suara.
Namun rasa dingin perlahan menjalar ke seluruh tubuhnya.
Arga justru diam.
Ia menatap jejak di tanah itu.
Lalu tersenyum kecil.
Senyum yang membuat Sukmawati semakin menggigil.
Malamnya, Sastro kembali mendatangi Mbah Jayarasa.
Begitu melihat wajah Sastro,
lelaki tua itu tidak tampak terkejut.
“Kali ini apa?”
Sastro berkata pelan:
“Jejak.”
Mbah Jayarasa mengangkat mata.
“Jejak kecil anakku...”
“dan satu jejak lain di sampingnya.”
Mbah Jayarasa menutup mata.
Lama.
Sangat lama.
Lalu ia berkata pelan:
“Kadang...”
“anak yang lahir berbeda tidak pernah benar-benar berjalan sendirian.”
Sastro menggenggam tangannya.
“Mbah, siapa yang mengikuti anak saya?”
Mbah Jayarasa membuka mata.
Tatapannya tajam.
“Mungkin bukan mengikuti.”
Sastro terdiam.
“Lalu?”
Mbah Jayarasa menjawab pelan:
“Mungkin sedang menunggu.”
Malam itu,
Sastro pulang dengan hati yang jauh lebih berat.
Di rumah kecil pinggir sawah,
Sukmawati sudah tertidur sambil memeluk Arga.
Lampu minyak menyala redup.
Sastro berdiri di dekat dipan,
memandangi anaknya lama sekali.
Wajah kecil itu tampak damai.
Tak terlihat berbeda dari bayi lain.
Namun kini Sastro mulai mengerti,
bahwa kehidupan Arga tidak akan pernah benar-benar biasa.
Karena bahkan sebelum ia bisa berjalan,
sesuatu
telah meninggalkan jejak
di samping langkah pertamanya.
BAB 10
Hujan Pertama
Musim hujan datang lebih awal tahun itu.
Di Desa Wringinrejo, orang-orang tua sering mengatakan bahwa hujan tidak pernah benar-benar turun tanpa membawa pesan. Kadang ia datang sebagai berkah untuk sawah. Kadang sebagai penghapus jejak. Dan kadang, bagi mereka yang peka, hujan adalah cara langit menyampaikan sesuatu yang tak sanggup diucapkan bumi.
Sastro tidak pernah terlalu percaya pada hal-hal semacam itu.
Namun sejak Arga lahir, ia mulai percaya.
Pagi itu langit sudah mendung sejak fajar. Awan kelabu menggantung rendah di atas sawah. Angin bertiup pelan membawa aroma tanah yang belum sempat basah namun seolah sudah tahu hujan akan datang.
Di beranda rumah kecil pinggir sawah itu, Sukmawati sedang menjemur kain-kain kecil milik Arga meskipun tahu matahari mungkin tak akan muncul lama. Ia hanya ingin kain itu sempat terkena udara pagi.
Di dalam rumah, Arga terbaring di tikar pandan.
Matanya terbuka.
Ia memandang langit melalui celah jendela.
Diam.
Seperti sedang menunggu sesuatu.
Sukmawati memperhatikannya sambil tersenyum tipis.
“Sejak tadi kau melihat langit terus.”
Ia masuk, duduk di dekat anaknya, lalu mengusap lembut dahinya.
“Mau hujan ya?”
Arga berkedip pelan.
Lalu, seolah menjawab pertanyaan ibunya, tetes pertama jatuh di atap rumah.
Tok.
Disusul satu lagi.
Tok.
Lalu tiba-tiba seluruh langit seperti pecah.
Hujan turun deras.
Suara air memenuhi rumah.
Atap tanah liat berbunyi bertalu-talu.
Halaman berubah basah dalam sekejap.
Sawah di belakang tertutup tirai hujan tipis yang membuat dunia tampak samar.
Arga tidak menangis.
Ia justru tersenyum.
Sukmawati terdiam.
“Mas...”
Sastro yang sedang merapikan karung padi di dapur menoleh.
“Ada apa?”
“Lihat dia.”
Sastro mendekat.
Arga benar-benar sedang tersenyum.
Bukan sekadar gerakan bibir bayi.
Tetapi senyum kecil yang tenang.
Seolah suara hujan itu bukan sesuatu yang asing baginya.
Sastro memandangi anaknya.
Lalu jendela.
Lalu kembali pada anaknya.
“Dia suka hujan.”
Sukmawati menatap wajah kecil itu dengan heran.
“Seperti mengenal.”
Kalimat itu membuat Sastro diam.
Karena entah mengapa,
ia pun merasakan hal yang sama.
Hujan terus turun sepanjang pagi.
Tak ada orang lewat.
Tak ada suara dari jalan desa.
Hanya bunyi air,
angin,
dan sesekali gemuruh jauh dari langit yang tertahan.
Rumah kecil itu seperti terpisah dari dunia.
Sukmawati menggendong Arga dekat jendela.
“Dengar...”
bisiknya.
“Itu suara hujan.”
Arga memandang keluar.
Mata kecilnya mengikuti aliran air yang jatuh dari ujung atap.
Tangannya bergerak pelan,
seolah ingin menyentuh.
Sukmawati tertawa kecil.
“Belum bisa.”
Namun Arga tetap mengulurkan jemarinya.
Menyentuh udara.
Menyentuh suara.
Menyentuh sesuatu yang hanya ia rasakan sendiri.
Sastro memperhatikan dari kejauhan.
Untuk pertama kalinya ia melihat sesuatu yang membuat dadanya sesak:
Arga tampak tenang hanya saat hujan turun.
Seolah di antara semua suara di dunia,
hanya hujan yang bisa berbicara dalam bahasa yang dipahami anak itu.
Menjelang siang, hujan belum juga reda.
Kabut tipis mulai naik dari sawah.
Udara di dalam rumah menjadi dingin.
Lampu minyak terpaksa dinyalakan lebih awal.
Sukmawati mulai merasa khawatir.
“Kalau terus begini, dia bisa masuk angin.”
Ia hendak menutup jendela.
Namun tiba-tiba Arga menangis.
Tangisnya tidak keras.
Tapi cukup membuat Sukmawati terkejut.
“Lho...”
Ia berhenti.
Tangis itu berhenti juga.
Begitu jendela dibuka kembali.
Sukmawati menatap anaknya.
Arga kembali diam.
Matanya tertuju pada hujan.
Sukmawati menelan ludah.
“Mas...”
Sastro mendekat.
“Kenapa?”
“Dia menangis waktu jendelanya kututup.”
Sastro memandang Arga.
Lalu perlahan ia mencoba menutup jendela sendiri.
Begitu kayu jendela menutupi suara hujan,
Arga menangis lagi.
Kali ini lebih jelas.
Sastro langsung membukanya.
Tangis berhenti.
Seketika.
Suasana rumah mendadak sunyi kecuali suara hujan di luar.
Sukmawati memandang suaminya.
Wajahnya pucat.
“Mas...”
Sastro tak langsung menjawab.
Karena untuk pertama kalinya,
ia melihat dengan matanya sendiri
bahwa anak mereka memang berbeda.
Sore harinya hujan mulai mereda.
Bukan berhenti.
Hanya berubah menjadi gerimis halus.
Sastro duduk di beranda sambil memangku Arga.
Sukmawati di sampingnya.
Mereka bertiga memandangi sawah yang berkilau basah diterpa sisa cahaya sore.
Arga tidak bergerak.
Ia mendengarkan.
Mendengarkan tetes-tetes kecil dari ujung daun.
Mendengarkan air yang jatuh ke tanah.
Mendengarkan suara yang tak dianggap penting oleh siapa pun.
“Mas...”
bisik Sukmawati.
“Menurutmu kenapa?”
Sastro menatap hujan.
“Aku tidak tahu.”
“Apakah dia...”
Sukmawati tak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
Sastro menatap anaknya.
Lalu berkata pelan:
“Mungkin setiap orang lahir dengan sesuatu.”
“Dan mungkin...”
“hujan adalah sesuatu miliknya.”
Sukmawati memandang Arga dengan mata basah.
“Kalau begitu...”
“apa dunia akan menerimanya?”
Sastro diam lama.
Lalu menjawab pelan:
“Kalau dunia tidak mau...”
“biar rumah ini yang menerimanya.”
Sukmawati menunduk.
Tangannya menggenggam tangan suaminya.
Sementara Arga menatap hujan,
seolah di balik gerimis yang turun perlahan,
ada dunia lain
yang sedang menyapanya.
Malam datang bersama sisa rintik.
Setelah Arga tertidur,
Sastro keluar sebentar ke halaman.
Tanah masih basah.
Udara dingin.
Bulan tertutup awan.
Ia berdiri di dekat pohon mangga,
memandangi rumahnya sendiri.
Rumah kecil.
Sederhana.
Rapuh.
Tapi kini di dalamnya ada seorang anak
yang bahkan hujan pun seolah mengenalnya.
“Masih belum percaya?”
Suara itu datang dari gelap.
Sastro menoleh.
Mbah Jayarasa berdiri di batas halaman,
setengah tertutup bayangan malam.
Sastro menghela napas.
“Mbah.”
Mbah Jayarasa melangkah pelan.
“Anakmu mendengar hujan, bukan?”
Sastro terdiam.
“Bagaimana Mbah tahu?”
Mbah Jayarasa tersenyum tipis.
“Karena dulu...”
“aku pernah melihat anak seperti itu.”
“Siapa?”
Mbah Jayarasa memandang langit.
“Orang yang hidupnya tidak pernah benar-benar selesai.”
Sastro merinding.
“Mbah selalu bicara seperti teka-teki.”
Mbah Jayarasa menatapnya.
“Karena hidup anakmu sendiri adalah teka-teki.”
Sastro menggenggam tangannya.
“Apakah dia dalam bahaya?”
Mbah Jayarasa memandang jendela kamar tempat Arga tidur.
Lalu menjawab pelan:
“Belum.”
Sastro tercekat.
“Belum?”
Mbah Jayarasa mengangguk.
“Hujan pertama hanya tanda.”
Sastro menahan napas.
“Tanda apa?”
Mbah Jayarasa menatap langsung ke matanya.
“Tanda bahwa sesuatu di langit...”
“sudah mulai mengingatnya.”
Malam itu Sastro tak bisa tidur.
Di dalam rumah kecil pinggir sawah,
ia duduk di samping Arga yang tertidur tenang.
Di luar,
rintik hujan masih jatuh perlahan.
Dan setiap tetes yang menyentuh atap,
entah mengapa terdengar seperti sebuah panggilan
yang belum sepenuhnya dipahami siapa pun.
Sementara di wajah kecil Arga,
tersungging senyum samar.
Seolah dalam tidurnya,
ia sedang mendengar hujan
menceritakan sesuatu
yang pernah ia kenal
sebelum dilahirkan ke dunia.
BAB 11
Sahabat Pertama
Waktu berjalan seperti air di sungai kecil belakang desa.
Pelan.
Nyaris tak terasa.
Namun diam-diam membawa banyak hal pergi.
Musim hujan berganti kemarau.
Kemarau berganti hujan lagi.
Padi di sawah tumbuh, menguning, dipanen, lalu ditanam kembali.
Pohon mangga di depan rumah kecil itu beberapa kali berbunga dan menjatuhkan daun.
Dan tanpa benar-benar disadari Sastro maupun Sukmawati,
Arga tidak lagi hanya seorang bayi yang tidur di pelukan ibunya.
Ia mulai belajar duduk.
Mulai merangkak.
Mulai berdiri sambil berpegangan pada dinding kayu.
Dan kemudian,
pada suatu pagi yang sederhana,
ia mulai berjalan.
Langkah pertamanya tidak terjadi di depan banyak orang.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada perayaan.
Tidak ada saksi selain kedua orang tuanya dan cahaya pagi yang masuk dari jendela.
Namun bagi Sastro dan Sukmawati,
langkah kecil itu terasa seperti dunia baru yang sedang dibuka.
Arga melangkah dari dipan menuju pelukan ibunya.
Satu langkah.
Lalu satu lagi.
Tubuh kecil itu sempoyongan.
Tangannya terangkat menjaga keseimbangan.
Kakinya gemetar.
Sukmawati berjongkok dengan kedua tangan terbuka.
“Pelan-pelan...”
bisiknya dengan mata berkaca.
“Pelan saja, Nak.”
Arga menatap ibunya.
Lalu melangkah lagi.
Dan ketika tubuh kecil itu akhirnya jatuh ke pelukan Sukmawati,
perempuan itu langsung menangis sambil tertawa.
“Mas... dia bisa...”
Sastro yang berdiri di dekat pintu hanya tersenyum kecil.
Ia tidak banyak bicara.
Namun di dalam dadanya,
sesuatu terasa penuh.
Arga menoleh pada ayahnya.
Lalu tertawa kecil.
Sastro mengusap wajahnya cepat,
seolah takut terlihat terlalu haru.
“Ya sudah.”
katanya singkat.
“Besok pasti lari.”
Sukmawati menoleh sambil tersenyum.
“Kadang aku heran.”
“Heran apa?”
“Cara laki-laki bahagia.”
Sukmawati tertawa kecil.
“Padahal matamu hampir menangis.”
Sastro berdeham.
“Debu.”
Sukmawati tertawa makin pelan.
“Di dalam rumah?”
Sastro tidak menjawab.
Kadang memang begitu cara seorang ayah mencintai:
diam,
namun dalam.
Sejak bisa berjalan, dunia Arga perlahan meluas.
Tidak lagi hanya kamar.
Tidak lagi hanya pelukan ibu.
Tidak lagi hanya suara hujan.
Kini ada halaman.
Ada rumput.
Ada ayam yang berkeliaran.
Ada daun kering yang bergerak tertiup angin.
Ada kupu-kupu kuning yang sesekali singgah di bunga liar.
Arga menyukai semuanya.
Ia bisa duduk lama hanya untuk melihat semut berjalan beriringan.
Ia bisa tertawa sendiri saat angin menggoyangkan daun.
Ia bisa menatap langit begitu lama sampai Sukmawati berkali-kali memanggil.
“Arga...”
Anak kecil itu menoleh pelan.
“Hmm?”
Sukmawati tersenyum.
“Kau melihat apa?”
Arga mengangkat jarinya ke langit.
“Awan jalan.”
Sukmawati tertawa kecil.
“Iya, awan memang berjalan.”
Tapi di dalam hatinya,
ia masih sering merasa anak itu melihat lebih banyak daripada yang terlihat.
Anak-anak lain di desa mulai mengenal Arga.
Namun Arga tidak seperti anak seusianya.
Ia tidak langsung berlari mendekat.
Tidak cepat akrab.
Tidak suka berebut mainan.
Tidak suka berteriak.
Ia lebih sering diam.
Mengamati.
Mendengarkan.
Kadang terlalu tenang untuk anak kecil.
Beberapa anak menganggap Arga aneh.
Sebagian hanya malu mendekat.
Sebagian lagi merasa ia terlalu berbeda.
Dan karena itulah,
Sukmawati sempat khawatir.
Suatu sore ketika Arga duduk sendirian di bawah pohon mangga sambil memainkan daun kering, Sukmawati berkata pelan pada Sastro:
“Mas.”
“Hm?”
“Menurutmu dia kesepian?”
Sastro menoleh.
Melihat anaknya duduk sendiri.
“Kenapa?”
“Dia jarang bermain dengan anak lain.”
Sastro memperhatikan Arga lama.
Arga tampak tenang.
Tidak sedih.
Tidak murung.
Hanya sendiri.
“Tidak semua anak nyaman dengan ramai.”
Sukmawati menatap suaminya.
“Seperti ayahnya?”
Sastro tersenyum tipis.
“Mungkin.”
Namun jauh di dalam hati,
ia pun bertanya-tanya:
apakah Arga memang memilih sendiri,
atau memang belum menemukan orang yang bisa memahaminya.
Jawabannya datang beberapa hari kemudian.
Pagi itu langit cerah.
Sawah di belakang rumah berkilau diterpa matahari.
Burung pipit beterbangan rendah mencari bulir padi yang tertinggal.
Arga sedang bermain di tepi halaman dengan potongan kayu kecil yang ia susun seperti rumah-rumahan.
Sukmawati sedang mencuci di sumur.
Sastro pergi ke sawah.
Suasana tenang.
Lalu terdengar suara kecil dari balik pagar bambu.
“Boleh aku ikut?”
Arga mengangkat kepala.
Di sana berdiri seorang anak perempuan kecil kira-kira sebaya dengannya.
Rambutnya dikepang dua.
Kulitnya sawo matang.
Matanya bulat jernih.
Di tangannya ada bunga liar putih yang baru dipetik.
Ia berdiri sambil menggigit bibir,
seolah takut ditolak.
Arga menatapnya beberapa saat.
Anak perempuan itu tersenyum malu.
“Namaku Ratri.”
Arga diam sebentar.
Lalu menjawab pendek:
“Arga.”
Ratri melangkah mendekat.
“Boleh main?”
Arga melihat susunan kayunya.
Lalu menggeser sedikit tempat di sampingnya.
Isyarat sederhana:
boleh.
Ratri langsung duduk.
Sukmawati yang melihat dari sumur menghentikan tangannya.
Ia memperhatikan diam-diam.
Anak itu putri Pak Lurah, rumahnya di ujung desa.
Namanya Ratri.
Pendiam juga.
Jarang bermain dengan banyak anak.
Mungkin karena itulah,
ia tidak takut pada Arga.
Mereka duduk berdampingan tanpa banyak bicara.
Ratri mengambil satu batang kecil.
“Ini rumah.”
Arga menunjuk daun.
“Ini pohon.”
Ratri tertawa kecil.
“Kalau ini?”
Ia menunjukkan batu kecil.
Arga berpikir sejenak.
“Jalan pulang.”
Ratri menatapnya.
“Jalan pulang?”
Arga mengangguk.
“Supaya rumahnya tahu.”
Ratri tertawa kecil.
“Rumah bisa tahu?”
Arga menatap rumah kecilnya.
Lalu menjawab dengan tenang:
“Kalau ditinggal terlalu lama, rumah bisa sedih.”
Sukmawati yang mendengar dari kejauhan terdiam.
Kadang Arga mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya dipikirkan anak kecil.
Namun Ratri tidak menertawakan.
Ia justru mengangguk serius.
“Kalau begitu rumahku juga sering sedih.”
Arga menoleh.
“Kenapa?”
Ratri menunduk.
“Bapak sering pergi.”
Arga diam.
Lalu menyerahkan bunga kuning kecil yang jatuh di dekatnya.
Ratri tersenyum.
Untuk pertama kalinya,
Arga tersenyum kembali.
Sukmawati yang melihat dari jauh,
tanpa sadar ikut tersenyum.
Mungkin akhirnya,
anaknya menemukan seseorang.
Sejak hari itu,
Ratri sering datang.
Kadang pagi.
Kadang sore.
Kadang hanya duduk.
Kadang bermain.
Mereka tidak seperti anak-anak lain yang berlari sambil berteriak.
Mereka lebih sering:
duduk di bawah pohon mangga,
melihat semut,
mendengar angin,
atau membuat rumah-rumahan dari ranting.
Kadang mereka hanya diam.
Namun diam mereka tidak pernah terasa canggung.
Seolah keduanya memang saling mengerti
tanpa perlu banyak kata.
Sukmawati beberapa kali berkata heran,
“Anak itu seperti mengerti Arga.”
Sastro yang melihat dari beranda hanya menjawab,
“Mungkin karena dia juga sendiri.”
Namun di dalam hati,
ia tahu:
yang lahir antara dua anak itu bukan sekadar teman bermain.
Melainkan sesuatu yang akan tumbuh lebih lama dari yang mereka kira.
Sore itu,
ketika matahari mulai turun,
Ratri hendak pulang.
Ia berdiri di dekat pagar.
Lalu menoleh.
“Besok aku datang lagi.”
Arga mengangguk.
“Iya.”
Ratri tersenyum.
“Kamu tunggu?”
Arga menatapnya beberapa saat.
Lalu menjawab pelan:
“Iya.”
Satu kata sederhana.
Namun bagi anak sekecil itu,
itu sudah seperti janji.
Ratri pulang sambil tersenyum kecil.
Arga berdiri di halaman,
memandangi sampai bayangan kecil itu hilang di tikungan jalan.
Sukmawati keluar.
“Mengapa tidak masuk?”
Arga masih menatap jalan.
“Karena besok dia datang lagi.”
Sukmawati tersenyum.
“Jadi harus menunggu dari sekarang?”
Arga menoleh pada ibunya.
Lalu menjawab dengan polos:
“Kalau orang penting pulang...”
“harus ditunggu.”
Sukmawati terdiam.
Entah kenapa,
kalimat sederhana itu terasa seperti pertanda kecil
tentang sesuatu yang suatu hari nanti
akan jauh lebih besar dari sekadar persahabatan masa kecil.
Di kejauhan,
dari bawah pohon asem tua,
Mbah Jayarasa memperhatikan dua jejak kecil di tanah:
jejak Arga,
dan jejak Ratri.
Ia menghela napas pelan.
Lalu berbisik pada angin sore:
“Jadi akhirnya...”
“ia tidak akan berjalan sendiri.”
Dan untuk pertama kalinya sejak Arga lahir,
lelaki tua itu tampak bukan hanya cemas.
Tetapi juga sedih.
BAB 12
Pohon Tua di Bukit
Sejak Ratri mulai datang ke rumah kecil di pinggir sawah itu, hari-hari Arga perlahan berubah.
Jika sebelumnya halaman rumah terasa cukup luas untuk menjadi seluruh dunianya, kini dunia itu mulai melebar sedikit demi sedikit. Tidak hanya sebatas pohon mangga, pagar bambu, dan hamparan padi yang bergoyang ditiup angin.
Kini ada langkah kecil lain yang berjalan di sampingnya.
Ada suara lain yang memanggil namanya.
Ada tawa pelan yang membuat rumah itu terasa lebih hidup.
Ratri bukan anak yang banyak bicara. Ia tidak seperti anak-anak lain di desa yang berlari sambil berteriak dari satu halaman ke halaman lain. Ia justru sering diam seperti Arga. Kadang mereka duduk berdampingan lama sekali tanpa saling bicara, hanya memperhatikan kupu-kupu atau semut yang melintas di tanah.
Namun anehnya,
diam di antara mereka tak pernah terasa kosong.
Seolah sejak pertama bertemu,
keduanya sudah saling mengenal dengan cara yang tak bisa dijelaskan.
Sukmawati beberapa kali memperhatikan mereka dari kejauhan.
“Mas,” katanya suatu sore.
Sastro yang sedang mengikat kayu bakar menoleh.
“Ya?”
“Mereka seperti bukan baru bertemu.”
Sastro memandang Arga dan Ratri yang sedang duduk di bawah pohon mangga.
“Mungkin anak kecil memang cepat akrab.”
Sukmawati menggeleng pelan.
“Bukan itu.”
“Lalu?”
Sukmawati menatap dua anak itu lebih lama.
“Rasanya seperti mereka sedang melanjutkan sesuatu.”
Sastro diam.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun cukup untuk membuat dadanya kembali dipenuhi rasa yang tak pernah benar-benar hilang:
perasaan bahwa kehidupan Arga tidak akan pernah biasa.
Suatu pagi di awal musim kemarau, udara desa terasa sangat jernih.
Langit biru tanpa awan.
Sawah mulai menguning.
Angin membawa aroma jerami yang baru dijemur.
Dan matahari masih lembut ketika Arga datang ke halaman sambil menggenggam tangan kecil Ratri.
“Aku mau mengajak Arga ke bukit.”
kata Ratri polos.
Sukmawati yang sedang menjemur kain menoleh cepat.
“Bukit mana?”
Ratri menunjuk ke arah utara desa.
Di sana, tak terlalu jauh dari sawah terakhir warga, ada sebuah bukit kecil yang ditumbuhi pohon-pohon liar. Tempat itu tidak terlalu tinggi, namun cukup sepi karena jarang didatangi anak-anak.
Orang-orang desa menyebutnya:
Bukit Watu Senja.
Sukmawati mengernyit.
“Untuk apa ke sana?”
Ratri menjawab dengan mata berbinar.
“Ada pohon besar.”
Arga mengangguk kecil.
“Pohon tua.”
Sukmawati menatap suaminya.
Sastro yang mendengar dari beranda mengangkat bahu.
“Masih dekat.”
“Tapi, ”
Sastro tersenyum tipis.
“Biarkan.”
Sukmawati ragu.
“Kalau mereka jatuh?”
Sastro menatap Arga.
“Kadang anak harus belajar menemukan tempatnya sendiri.”
Sukmawati menghela napas.
“Jangan jauh-jauh.”
Arga mengangguk.
“Iya, Bu.”
Ratri tersenyum.
“Kami pulang sebelum sore.”
Sukmawati masih ingin melarang.
Namun entah mengapa,
melihat dua anak kecil itu berdiri berdampingan,
hatinya justru terasa sulit menolak.
Akhirnya ia mengangguk pelan.
“Jangan lama.”
Mereka berjalan menyusuri pematang sempit.
Arga di depan.
Ratri di belakang sambil sesekali melompat menghindari genangan kecil.
Langit cerah.
Burung-burung beterbangan rendah.
Suara jangkrik siang mulai terdengar dari rerumputan.
“Arga.”
“Hm?”
“Kenapa kamu suka diam?”
Arga berpikir cukup lama sebelum menjawab.
“Karena angin suka bicara.”
Ratri menoleh heran.
“Angin bisa bicara?”
Arga mengangguk.
“Kalau terlalu ramai, suaranya hilang.”
Ratri memandangnya beberapa detik.
Lalu tersenyum.
“Aku juga suka dengar angin.”
Arga menoleh.
“Kamu dengar apa?”
Ratri mengangkat bahu.
“Kadang seperti orang memanggil.”
Arga berhenti berjalan.
Menatapnya.
“Siapa?”
Ratri menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
Mereka saling diam.
Lalu berjalan lagi.
Tanpa mereka sadari,
percakapan sederhana itu seperti membuka sesuatu yang selama ini hanya diam di antara mereka.
Bukit Watu Senja tidak terlalu tinggi.
Namun bagi dua anak kecil,
jalan menanjak itu terasa seperti petualangan besar.
Semak liar tumbuh di sisi jalan.
Batu-batu kecil berserakan.
Akar pohon menjulur dari tanah seperti ular tua yang tidur.
Di puncak bukit itu,
berdiri satu pohon besar.
Sangat besar.
Batangnya berwarna gelap.
Akarnya menjalar keluar tanah.
Cabangnya melebar seperti tangan raksasa yang melindungi langit.
Pohon itu jauh lebih tua daripada rumah-rumah di desa.
Mungkin lebih tua daripada ingatan banyak orang.
Ratri tersenyum.
“Ini.”
Arga memandang pohon itu.
Diam.
Lama sekali.
Ratri mendekat.
“Kamu kenapa?”
Arga mengulurkan tangan kecilnya,
menyentuh batang pohon tua itu.
Begitu telapak tangannya menempel pada kulit kayu,
angin mendadak bertiup lebih kencang.
Daun-daun bergemerisik.
Rumput bergoyang.
Burung yang bertengger di cabang tiba-tiba terbang serentak.
Ratri mundur sedikit.
“Arga...”
Namun Arga tetap diam.
Matanya menatap batang pohon seolah sedang mendengarkan sesuatu dari dalam.
“Arga?”
Ratri menyentuh lengannya.
Arga tersentak pelan.
Menoleh.
“Pohon ini sedih.”
Ratri memandangnya.
“Sedih?”
Arga mengangguk.
“Sudah lama menunggu.”
“Menunggu siapa?”
Arga menatap cabang-cabang tinggi itu.
Lalu berkata pelan:
“Orang yang pernah janji akan pulang.”
Ratri terdiam.
Meskipun belum sepenuhnya mengerti,
entah kenapa bulu kuduknya berdiri.
Di bawah pohon itu ada batu datar besar.
Mereka duduk di sana.
Dari atas bukit,
desa terlihat kecil.
Sawah tampak seperti kain hijau keemasan.
Rumah-rumah terlihat seperti titik-titik kayu.
Ratri tersenyum.
“Di sini bagus.”
Arga mengangguk.
Ratri menoleh.
“Kamu pernah ke sini?”
Arga diam sejenak.
Lalu menjawab pelan:
“Belum.”
“Tapi?”
Arga menatap pohon tua itu.
“Rasanya seperti pernah.”
Ratri memandangnya lama.
Lalu tanpa bertanya lagi,
ia menggenggam tangan Arga.
Dan untuk pertama kalinya,
Arga tidak menarik tangannya.
Tak jauh dari sana,
di balik semak,
sepasang mata tua memperhatikan.
Mbah Jayarasa berdiri diam dengan tongkatnya.
Wajahnya tidak terkejut.
Seolah ia sudah tahu
suatu hari Arga akan datang ke tempat itu.
Lelaki tua itu menatap pohon besar di puncak bukit.
Lalu menunduk pelan.
“Jadi memang benar...”
bisiknya.
“Dia kembali ke tempat pertama.”
Angin bergerak pelan melewati daun-daun tua.
Dan pohon besar itu,
yang selama puluhan tahun hanya diam,
kembali bergemerisik seperti sedang mengingat sesuatu.
Menjelang sore,
Arga dan Ratri turun dari bukit.
Namun sebelum pergi,
Arga menoleh sekali lagi ke arah pohon tua itu.
Tatapannya begitu lama,
hingga Ratri ikut berhenti.
“Kamu kenapa?”
Arga menjawab tanpa menoleh:
“Pohon itu kenal aku.”
Ratri menggenggam tangannya lebih erat.
“Memang pohon bisa kenal orang?”
Arga akhirnya menoleh.
Lalu menjawab dengan tenang:
“Kadang yang diam justru paling lama mengingat.”
Ratri tidak menjawab.
Karena untuk pertama kalinya,
ia merasa bahwa sahabat kecilnya itu
menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar
daripada yang bisa dipahami anak seusia mereka.
Sementara di rumah,
Sukmawati yang sejak tadi menunggu di beranda tiba-tiba merasa dadanya sesak.
Ia memegang dada.
Menatap ke arah bukit di kejauhan.
“Mas...”
Sastro keluar.
“Ada apa?”
Sukmawati memandang jauh.
“Entah kenapa...”
“Aku merasa seperti sesuatu baru saja bangun.”
Sastro mengikuti arah pandangnya.
Ke bukit kecil.
Ke pohon tua.
Ke tempat dua anak kecil itu sedang pulang dari sana.
Dan tanpa mereka tahu,
hari itu bukan sekadar hari bermain biasa.
Karena di bawah pohon tua di atas bukit,
masa lalu yang lama terkubur
telah mulai mengenali langkah kecil Arga.
BAB 13
Bisikan Angin
Sejak hari mereka datang ke Bukit Watu Senja, ada sesuatu yang berubah pada Arga.
Perubahannya tidak langsung terlihat oleh orang lain.
Tidak ada demam.
Tidak ada tangis.
Tidak ada kejadian besar yang membuat orang desa segera sadar.
Namun bagi Sukmawati, seorang ibu yang setiap hari memandangi wajah anaknya, perubahan sekecil apa pun tak pernah bisa benar-benar tersembunyi.
Arga menjadi lebih sering diam.
Bukan diam seperti biasanya.
Bukan diam seorang anak kecil yang sedang melamun.
Bukan pula diam karena lelah bermain.
Diamnya kini seperti seseorang yang sedang mendengarkan.
Sering kali ia tiba-tiba berhenti di tengah langkah.
Menoleh ke arah sawah.
Memandang pohon bambu.
Atau menatap jendela kosong.
Seolah ada suara yang memanggilnya dari tempat yang tak terlihat.
Dan yang paling membuat Sukmawati gelisah,
Arga mulai menjawab sesuatu yang tidak terdengar oleh siapa pun.
Pagi itu matahari baru naik setinggi pohon kelapa ketika Sukmawati sedang menumbuk padi di dapur belakang.
Suara alu menghantam lesung terdengar teratur.
Ayam-ayam mencari makan di halaman.
Angin pagi membawa aroma rumput basah.
Arga sedang duduk di dekat pintu sambil memainkan daun kering.
Awalnya semuanya biasa.
Sampai tiba-tiba Sukmawati mendengar suara Arga.
“Iya...”
Sukmawati menoleh.
Arga sedang menatap halaman kosong.
“Iya...”
ulangnya lagi pelan.
Sukmawati berhenti menumbuk.
“Arga?”
Anak kecil itu tidak menoleh.
Ia seperti sedang mendengarkan seseorang.
Lalu berkata lagi:
“Nanti.”
Jantung Sukmawati berdegup lebih cepat.
Ia meletakkan alu.
Mendekat perlahan.
“Arga... kamu bicara sama siapa?”
Arga menoleh pelan.
Wajahnya tenang.
“Sama angin.”
Sukmawati membeku.
“Sama apa?”
Arga menunjuk halaman.
“Angin.”
Tidak ada siapa-siapa di sana.
Hanya jemuran kain yang bergerak pelan.
Daun pisang yang bergetar.
Dan udara pagi yang melintas lembut.
Sukmawati berlutut di depan anaknya.
“Angin bilang apa?”
Arga menatap ibunya.
Lalu menjawab polos:
“Dia bilang jangan ke bukit sore ini.”
Darah Sukmawati langsung terasa dingin.
“Kenapa?”
Arga menggeleng.
“Dia belum mau bilang.”
Sore harinya Ratri datang seperti biasa.
Ia membawa bunga liar kecil yang diselipkan di belakang telinganya.
Begitu melihat Arga, ia tersenyum.
“Ayo ke bukit.”
Namun Arga menggeleng.
Ratri mengerutkan kening.
“Kenapa?”
Arga menatap angin yang menggoyangkan daun mangga.
“Angin bilang jangan.”
Ratri tertawa kecil.
“Kamu lucu.”
“Aku serius.”
Ratri menatap wajah Arga.
Dan karena ia mengenal sahabatnya itu,
ia tahu Arga memang tidak sedang bercanda.
“Kenapa jangan?”
Arga menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
Ratri memandang langit yang masih cerah.
“Tidak hujan.”
“Tidak gelap.”
“Tidak ada apa-apa.”
Arga menunduk.
“Pokoknya jangan.”
Ratri terdiam.
Biasanya Arga tidak pernah melarang apa pun.
Maka ketika anak itu berkata demikian,
entah mengapa Ratri ikut merasa ragu.
Akhirnya ia duduk di bawah pohon mangga.
“Ya sudah.”
“Hari ini di sini saja.”
Arga tersenyum kecil.
Dan Sukmawati yang memperhatikan dari dapur,
tanpa sadar menghembuskan napas lega.
Menjelang magrib, langit tiba-tiba berubah.
Awan hitam datang dari arah utara.
Angin yang sejak siang tenang mendadak kencang.
Daun-daun beterbangan.
Ayam berlarian masuk kandang.
Sastro yang baru pulang dari sawah menatap langit.
“Cepat sekali berubah.”
Belum sempat kalimat itu selesai,
suara keras terdengar dari kejauhan.
BRAAAKKK.
Seperti sesuatu patah.
Orang-orang desa keluar rumah.
Menoleh ke arah bukit.
Dari kejauhan terlihat debu dan ranting beterbangan.
Salah satu cabang besar dari pohon tua di Bukit Watu Senja
patah karena angin.
Cabang itu jatuh tepat di batu datar tempat Arga dan Ratri biasa duduk.
Sukmawati langsung menoleh ke Arga.
Arga hanya diam.
Matanya memandang ke arah bukit.
Tidak terkejut.
Tidak takut.
Seolah ia sudah tahu.
Ratri menggenggam tangan Arga erat.
Wajah kecilnya pucat.
“Kalau tadi kita ke sana...”
Arga menatapnya.
Lalu menjawab pelan:
“Aku tahu.”
Ratri menelan ludah.
“Dari mana?”
Arga menatap daun yang masih bergerak ditiup angin.
“Dia bilang.”
Ratri mengikuti arah pandangnya.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya angin.
Dan untuk pertama kalinya,
Ratri benar-benar percaya
bahwa Arga memang bisa mendengar sesuatu
yang tak didengar orang lain.
Malam itu rumah Sastro kembali dipenuhi kegelisahan.
Sukmawati duduk di samping Arga yang sedang makan.
Tatapannya tak lepas dari wajah anaknya.
Sastro duduk di beranda,
diam seperti biasanya.
Namun wajahnya keras.
Akhirnya Sukmawati berkata pelan:
“Mas...”
Sastro menoleh.
“Dia benar.”
Sastro diam.
“Kalau tadi mereka ke bukit...”
Sastro menutup mata sebentar.
“Aku tahu.”
Sukmawati menggigit bibir.
“Mas... aku takut.”
Sastro menatap anaknya yang sedang menatap lampu minyak.
“Aku juga.”
Kalimat itu keluar begitu pelan
hingga hampir seperti bisikan.
Karena selama ini,
Sastro selalu berusaha menjadi orang paling tenang di rumah itu.
Namun malam itu,
untuk pertama kalinya,
ia mengakui ketakutannya sendiri.
Setelah Arga tertidur,
Sastro pergi lagi menemui Mbah Jayarasa.
Rumah tua itu gelap seperti biasa.
Hanya ada lampu kecil di sudut ruangan.
Sastro duduk di depan lelaki tua itu.
“Dia mendengar angin.”
Mbah Jayarasa tidak tampak terkejut.
“Mulai terdengar ya.”
Sastro mengerutkan kening.
“Jadi Mbah sudah tahu ini akan terjadi?”
Mbah Jayarasa menghela napas.
“Beberapa anak melihat.”
“Beberapa anak merasakan.”
“Dan sebagian kecil...”
ia menatap Sastro,
“mendengar.”
“Mendengar apa?”
Mbah Jayarasa memejamkan mata.
“Yang tersisa.”
Sastro menatapnya bingung.
“Apa maksudnya?”
“Kadang suatu tempat menyimpan suara.”
“Kadang angin membawanya.”
“Kadang hanya orang tertentu yang bisa menangkap.”
Sastro menggenggam lututnya erat.
“Apakah itu berbahaya?”
Mbah Jayarasa menatap lampu minyak.
Api kecil itu bergoyang pelan.
“Tidak selalu.”
“Lalu kapan berbahaya?”
Mbah Jayarasa menoleh.
Tatapannya dalam.
“Ketika yang berbisik mulai meminta jawaban.”
Ruangan tiba-tiba terasa jauh lebih dingin.
Sastro menelan ludah.
“Apa yang harus saya lakukan?”
Mbah Jayarasa terdiam lama.
Lalu berkata pelan:
“Jangan biarkan dia sendirian terlalu lama.”
Malam semakin larut.
Angin berembus melalui celah dinding rumah.
Sukmawati tertidur di samping Arga.
Lampu minyak menyala redup.
Bayangan bergerak pelan di dinding.
Arga terbangun.
Matanya terbuka dalam gelap.
Ia tidak menangis.
Ia hanya mendengar.
Suara lembut bergerak di luar jendela.
Bukan suara daun.
Bukan suara bambu.
Bukan suara hujan.
Sebuah bisikan.
Sangat pelan.
Seperti suara seseorang yang memanggil dari tempat jauh.
“Arga...”
Anak kecil itu menatap jendela.
Angin masuk melalui celah kayu.
Menyentuh wajahnya lembut.
Lalu bisikan itu datang lagi.
“Arga...”
Kali ini lebih jelas.
Arga duduk perlahan di tempat tidurnya.
Menatap kegelapan di luar.
Lalu,
dengan suara polos seorang anak kecil,
ia bertanya:
“Siapa?”
Angin berhenti.
Seluruh rumah mendadak sunyi.
Dan di luar jendela,
sesuatu bergerak pelan di antara bayangan pohon.
BAB 14
Mata yang Tak Sama
Setelah malam ketika bisikan itu pertama kali terdengar di jendela, hidup di rumah kecil pinggir sawah itu tidak lagi benar-benar tenang.
Tidak ada kejadian besar keesokan harinya.
Tidak ada suara aneh.
Tidak ada bayangan yang terlihat jelas.
Tidak ada pintu yang terbuka sendiri seperti dalam cerita-cerita seram yang biasa dibisikkan orang desa saat malam.
Namun justru karena semuanya tampak biasa,
rasa takut itu tumbuh lebih pelan.
Lebih halus.
Lebih sulit dijelaskan.
Karena kadang yang paling menakutkan bukan sesuatu yang terlihat,
melainkan sesuatu yang terasa hadir
meski tak pernah menunjukkan wajahnya.
Dan yang pertama kali menyadari perubahan itu adalah Sukmawati.
Bukan pada langkah Arga.
Bukan pada suaranya.
Bukan pada kebiasaannya.
Melainkan pada matanya.
Pagi itu matahari baru saja naik ketika Sukmawati memandikan Arga di belakang rumah.
Air sumur masih dingin.
Kabut tipis belum sepenuhnya hilang dari sawah.
Burung-burung kecil berloncatan di pagar bambu.
Arga duduk di bak mandi kecil dari tanah liat.
Kakinya bermain air.
Tangannya memercikkan tetesan kecil.
Sesekali ia tertawa pelan.
Sukmawati tersenyum melihatnya.
Untuk sesaat,
ia hampir merasa semua kegelisahannya selama ini hanya bayangan dirinya sendiri.
“Kalau begini terus, Ibu bisa tenang...”
gumamnya sambil menyiram air perlahan ke bahu kecil anaknya.
Arga mendongak.
Memandang ibunya.
Dan di saat itulah,
Sukmawati terdiam.
Mata anak itu tampak berbeda.
Bukan warnanya.
Bukan bentuknya.
Tetapi cara ia menatap.
Terlalu dalam.
Terlalu tenang.
Terlalu sadar.
Seperti bukan mata anak kecil yang baru mengenal dunia.
Melainkan mata seseorang
yang sudah lama mengenal kehilangan.
Sukmawati menahan napas.
“Arga...”
Arga masih menatapnya.
Diam.
Tanpa berkedip.
Lalu berkata pelan:
“Ibu kenapa sedih?”
Sukmawati tercekat.
Tangannya membeku memegang gayung.
“Apa?”
Arga mengulang dengan polos.
“Ibu sedih.”
Sukmawati menatap wajah kecil itu.
“Mengapa kamu bilang begitu?”
Arga mengangkat tangan kecilnya,
menyentuh pipi ibunya.
“Karena mata Ibu hujan.”
Seketika mata Sukmawati benar-benar berkaca.
Ia langsung memeluk anaknya.
Air di bak kecil bergoyang pelan.
Karena ia sadar,
anak itu bukan hanya melihat.
Ia juga membaca sesuatu
yang tak pernah diucapkan.
Sejak hari itu,
Sukmawati mulai memperhatikan mata Arga lebih sering.
Kadang saat anak itu tertawa,
tatapannya tetap menyimpan kesunyian.
Kadang saat bermain dengan Ratri,
matanya mendadak kosong seperti melihat tempat lain.
Kadang ketika memandang sawah,
sorot matanya seperti seseorang yang sedang mengingat sesuatu yang seharusnya belum pernah terjadi.
Dan semakin ia melihat,
semakin sulit ia menyangkal:
tatapan anak itu tidak sama dengan anak lain.
Beberapa hari kemudian,
hal yang sama mulai disadari orang lain.
Siang itu beberapa tetangga datang ke rumah membawa pisang rebus.
Di desa kecil seperti Wringinrejo,
bertamu tanpa alasan jelas adalah hal biasa.
Kadang sekadar berbagi hasil kebun.
Kadang hanya ingin bercakap.
Kadang hanya karena rasa ingin tahu.
Bu Partini, tetangga depan rumah, duduk sambil tersenyum melihat Arga yang bermain di lantai.
“Anaknya makin besar.”
Sukmawati tersenyum kecil.
“Iya.”
“Pendiam ya.”
Sukmawati mengangguk.
“Sejak kecil.”
Bu Partini mengulurkan tangan.
“Sini sama Bude.”
Arga menoleh.
Lalu menatap wajah perempuan itu.
Dan Bu Partini langsung terdiam.
Tangannya menggantung di udara.
Senyumnya perlahan memudar.
Sukmawati melihat perubahan itu.
“Kenapa?”
Bu Partini berkedip cepat.
“Tidak...”
“Kenapa?”
Bu Partini menelan ludah.
Matanya masih pada Arga.
“Matanya...”
Sukmawati menegang.
“Kenapa dengan matanya?”
Bu Partini menggeleng pelan.
“Tidak seperti anak kecil.”
Ruangan mendadak sunyi.
Arga masih menatap perempuan itu.
Tenang.
Diam.
Bu Partini menarik tangannya perlahan.
Lalu tertawa kecil memaksa.
“Mungkin aku saja yang terlalu perasa.”
Namun sejak itu,
ia tidak lagi berani menatap Arga terlalu lama.
Kabar di desa mulai bergerak pelan.
Seperti asap tipis dari dapur yang terbawa angin.
Tidak langsung besar.
Namun tak bisa dicegah.
Orang-orang mulai berbisik:
“Mata anak Sastro beda.”
“Kalau ditatap lama, merinding.”
“Seperti orang tua di dalam tubuh kecil.”
“Seperti tahu isi hati orang.”
Sukmawati mulai mendengar bisikan-bisikan itu di sumur.
Di jalan.
Di warung kecil.
Di sawah.
Ia mencoba mengabaikan.
Tetapi hati seorang ibu
tak pernah benar-benar kebal terhadap omongan orang.
Malam itu,
setelah Arga tidur,
Sukmawati duduk di beranda bersama Sastro.
Lampu minyak menyala kecil.
Suara jangkrik memenuhi malam.
Angin membawa aroma padi muda.
“Mas...”
Sastro menoleh.
“Ya?”
“Orang-orang mulai bicara.”
Sastro diam.
“Mereka bilang matanya aneh.”
Sastro menatap gelap sawah.
“Mereka selalu bicara.”
“Tapi kali ini berbeda.”
Sastro memandang istrinya.
“Maksudmu?”
Sukmawati menggigit bibir.
“Aku juga melihatnya.”
Kalimat itu membuat Sastro menoleh penuh.
“Apa?”
“Mata Arga...”
suaranya bergetar,
“kadang seperti bukan mata anak kecil.”
Sastro terdiam lama.
Sangat lama.
Lalu akhirnya ia berkata pelan:
“Aku juga melihatnya.”
Sukmawati memejamkan mata.
Air matanya jatuh.
“Mas... sebenarnya anak kita ini siapa?”
Sastro tidak langsung menjawab.
Ia menatap pintu kamar tempat Arga tidur.
Lalu berbisik pelan:
“Anak kita.”
“Mas, ”
“Siapa pun dia nanti.”
Sastro menatap istrinya.
“Dia tetap anak kita.”
Sukmawati menunduk menangis pelan.
Dan untuk pertama kalinya,
Sastro menggenggam tangan istrinya erat.
Karena kadang,
yang paling dibutuhkan bukan jawaban.
Tetapi seseorang yang mau tetap tinggal
meski tak mengerti apa yang sedang dihadapi.
Keesokan sorenya,
Ratri datang seperti biasa.
Ia duduk di bawah pohon mangga bersama Arga.
Mereka menyusun batu kecil membentuk lingkaran.
Ratri memperhatikan Arga lama.
Lalu bertanya pelan:
“Boleh aku tanya?”
Arga mengangguk.
“Kenapa matamu kadang seperti orang sedih?”
Arga berhenti menyusun batu.
Menatap Ratri.
“Memangnya beda?”
Ratri mengangguk kecil.
“Iya.”
“Menakutkan?”
Ratri menggeleng.
“Tidak.”
Arga terdiam.
“Lalu?”
Ratri tersenyum kecil.
“Seperti mata orang yang tidak pernah benar-benar sendirian.”
Angin berhenti sesaat.
Arga memandang sahabat kecilnya itu.
Untuk pertama kalinya,
ia merasa ada seseorang
yang mungkin bisa melihat dirinya
tanpa takut.
Arga bertanya pelan:
“Kamu takut padaku?”
Ratri menggeleng tanpa ragu.
“Tidak.”
“Kenapa?”
Ratri menjawab sederhana:
“Karena matamu tidak jahat.”
Kalimat itu sederhana.
Namun bagi seorang anak kecil yang mulai disadari berbeda oleh dunia,
kata-kata itu terasa seperti tempat pertama untuk pulang.
Malam itu,
Arga berdiri di dekat jendela.
Sendirian.
Langit di luar gelap.
Angin bergerak pelan di antara daun.
Pantulan wajah kecilnya terlihat samar di kaca.
Lalu perlahan,
di samping pantulan wajahnya sendiri,
muncul bayangan lain.
Sangat samar.
Hampir seperti kabut.
Namun yang membuat Arga diam bukan bayangan itu.
Melainkan matanya.
Karena di kaca jendela,
bayangan itu memiliki tatapan yang sama.
Tatapan yang tidak seperti anak kecil.
Tatapan yang seolah
telah menunggu sangat lama.
Arga mengangkat tangan kecilnya ke kaca.
Dan dari luar,
bayangan itu juga mengangkat tangan.
Menyentuh dari sisi yang berbeda.
BAB 15
Mimpi Berulang
Sejak malam ketika bayangan itu muncul di kaca jendela, tidur tidak lagi menjadi tempat istirahat bagi Arga.
Bagi anak-anak lain seusianya, malam adalah saat tubuh kecil menyerah pada lelah, lalu tenggelam ke dalam dunia polos yang hanya berisi permainan, warna, dan suara-suara lembut dari rumah. Tetapi bagi Arga, malam perlahan berubah menjadi pintu.
Pintu yang tak pernah benar-benar tertutup.
Pintu menuju sesuatu yang tak mampu ia ceritakan sepenuhnya.
Dan semuanya dimulai dari mimpi.
Malam pertama datang tanpa tanda.
Sukmawati tertidur di samping Arga seperti biasa.
Sastro tidur di dekat pintu kamar.
Lampu minyak sudah dipadamkan.
Hanya cahaya bulan samar yang masuk melalui celah jendela.
Di luar, angin bergerak pelan melewati rumpun bambu.
Arga tertidur dengan napas tenang.
Lalu perlahan,
ia bermimpi.
Dalam mimpinya,
ia berdiri sendirian di tengah sawah.
Bukan sawah yang biasa ia lihat dari rumah.
Sawah ini jauh lebih luas.
Lebih sunyi.
Lebih tua.
Langit di atasnya berwarna kelabu pucat seperti sore yang tak pernah selesai.
Tidak ada matahari.
Tidak ada bulan.
Tidak ada burung.
Tidak ada suara manusia.
Hanya angin.
Dan suara air yang sangat jauh.
Arga menoleh ke sekeliling.
Kaki kecilnya berdiri di tanah basah.
Rumput menyentuh lututnya.
Kabut tipis bergerak di atas pematang.
Di kejauhan,
ada seseorang berdiri.
Sosok tinggi.
Membelakangi dirinya.
Diam.
Arga memandang lama.
Entah mengapa,
meski wajahnya tak terlihat,
Arga merasa ia mengenal orang itu.
“Siapa?”
Suaranya kecil,
hampir hilang ditelan angin.
Sosok itu tidak menoleh.
Namun suara pelan terdengar:
“Pulang.”
Arga mengernyit.
“Aku di rumah.”
Sosok itu tetap membelakangi.
Lalu berkata lagi:
“Belum.”
Angin tiba-tiba berembus lebih kencang.
Kabut bergerak.
Sawah berdesir.
Sosok itu mulai berjalan menjauh.
Arga berlari kecil.
“Tunggu!”
Namun seberapa cepat ia berjalan,
jarak itu tak pernah mengecil.
Dan tepat sebelum Arga menangis,
ia terbangun.
Arga duduk mendadak di tempat tidurnya.
Napasnya cepat.
Dahinya basah.
Mata kecilnya terbuka lebar dalam gelap.
Sukmawati langsung terbangun.
“Arga?”
Ia memeluk anaknya.
“Kenapa?”
Arga tidak menangis.
Ia hanya menatap jendela.
Sukmawati mengusap rambutnya.
“Mimpi?”
Arga mengangguk pelan.
“Mimpi apa?”
Arga menoleh pada ibunya.
Lalu menjawab dengan suara lirih:
“Ada orang lupa pulang.”
Kalimat itu membuat Sukmawati diam.
“Apa?”
Arga memejamkan mata.
Seolah mencoba mengingat.
“Dia jalan sendiri.”
“Jauh.”
“Sendiri sekali.”
Sukmawati memeluknya lebih erat.
“Sudah... cuma mimpi.”
Namun di dalam hatinya,
ia tahu:
mimpi itu bukan mimpi biasa.
Mimpi itu datang lagi malam berikutnya.
Dan malam setelahnya.
Dan malam setelahnya lagi.
Selalu sama.
Sawah luas.
Langit pucat.
Kabut tipis.
Sosok membelakangi.
Dan suara yang sama.
“Pulang.”
Kadang sosok itu berdiri di dekat pohon.
Kadang di tepi sungai.
Kadang di antara hujan.
Namun selalu dengan satu pesan yang sama.
Pulang.
Dan setiap kali Arga terbangun,
wajahnya terlihat semakin murung.
Ia mulai lebih sering diam.
Lebih sering memandang jauh.
Lebih sering seperti membawa beban yang tak seharusnya dimiliki anak kecil.
Sukmawati mulai kehilangan tidur.
Sastro mulai kehilangan tenang.
Suatu malam setelah Arga tertidur kembali,
Sukmawati berkata pelan:
“Mas...”
Sastro yang duduk di beranda menoleh.
“Ya?”
“Ini sudah empat malam.”
Sastro memandang ke kamar.
Arga akhirnya tertidur lagi di pelukan ibunya.
“Mimpi yang sama?”
Sukmawati mengangguk.
“Selalu sama.”
Sastro menunduk.
“Apa yang dia bilang?”
Sukmawati menggigit bibir.
“Orang itu terus menyuruh pulang.”
Sastro menatap gelap sawah.
Wajahnya keras.
Namun matanya penuh gelisah.
“Aku akan temui Mbah lagi.”
Keesokan paginya,
Sastro datang ke rumah Mbah Jayarasa sebelum matahari tinggi.
Rumah tua itu sunyi seperti biasa.
Seolah waktu berjalan lebih lambat di sana.
Mbah Jayarasa sedang duduk di depan tungku kecil.
Seperti sudah tahu siapa yang datang.
“Dia mulai bermimpi?”
Sastro berhenti di ambang pintu.
“Mbah tahu?”
Mbah Jayarasa menatap api kecil.
“Sudah waktunya.”
Sastro duduk cepat.
“Waktunya apa?”
“Mengingat.”
Sastro menatap tajam.
“Dia masih anak-anak.”
Mbah Jayarasa mengangguk.
“Tubuhnya.”
“Lalu?”
Lelaki tua itu menoleh perlahan.
“Tapi jiwa kadang lebih tua daripada umur.”
Ruangan mendadak terasa lebih sempit.
Sastro mengepalkan tangan.
“Mimpi itu apa?”
Mbah Jayarasa diam cukup lama.
Lalu bertanya:
“Dalam mimpinya... ada sawah?”
Sastro menegang.
“Ya.”
“Langit pucat?”
Sastro menelan ludah.
“Ya.”
“Orang membelakangi?”
Sastro berdiri.
“Mbah tahu itu?”
Mbah Jayarasa menutup mata.
Suaranya sangat pelan ketika berkata:
“Karena dulu... aku juga pernah melihat tempat itu.”
Sastro membeku.
“Siapa orang itu?”
Mbah Jayarasa membuka mata.
Tatapannya berat.
“Orang yang belum selesai.”
Sastro frustasi.
“Semua jawaban Mbah selalu seperti teka-teki!”
Mbah Jayarasa menatapnya lama.
Lalu berkata pelan:
“Karena hidup anakmu sendiri adalah pertanyaan yang belum selesai dijawab langit.”
Sore itu Arga duduk di bawah pohon mangga bersama Ratri.
Ratri memperhatikan wajah sahabatnya.
“Kamu capek?”
Arga mengangguk pelan.
“Kenapa?”
“Aku jalan terus.”
Ratri mengerutkan kening.
“Ke mana?”
Arga memandang tanah.
“Ke tempat yang sama.”
“Dalam mimpi?”
Arga menoleh.
“Kamu tahu?”
Ratri mengangguk.
“Matamu kelihatan sedih.”
Arga diam.
Ratri memetik rumput kecil.
“Di mimpimu ada siapa?”
Arga lama tak menjawab.
Lalu berkata:
“Aku tidak tahu.”
“Tapi dia seperti kenal aku.”
Ratri menatapnya hati-hati.
“Takut?”
Arga menggeleng.
“Tidak.”
“Lalu?”
Arga menatap langit senja.
Suaranya nyaris seperti bisikan:
“Aku kasihan.”
Ratri terdiam.
“Kenapa?”
Arga menunduk.
“Karena dia sendirian.”
Untuk beberapa saat,
tak ada suara selain angin.
Lalu Ratri menggenggam tangan Arga pelan.
“Kalau begitu...”
katanya lembut,
“bilang padanya kamu tidak akan meninggalkannya sendirian.”
Arga menatap Ratri.
Anak kecil itu mungkin tidak benar-benar mengerti apa yang baru saja dikatakannya.
Namun entah kenapa,
kata-kata itu terasa penting.
Sangat penting.
Malam itu mimpi datang lagi.
Sawah yang sama.
Kabut yang sama.
Langit yang sama.
Dan sosok itu kembali berdiri membelakanginya.
Arga melangkah mendekat.
Kali ini ia tidak memanggil.
Tidak menangis.
Tidak berlari.
Ia hanya berkata pelan:
“Aku di sini.”
Angin berhenti.
Sosok itu perlahan menoleh.
Namun tepat sebelum wajahnya terlihat,
Arga terbangun.
Dengan jantung berdebar kencang.
Bukan karena takut.
Tetapi karena untuk pertama kalinya,
ia merasa bahwa malam berikutnya
wajah itu akhirnya akan memperlihatkan dirinya.
Dan di sudut kamar,
jendela kayu yang tertutup rapat
bergerak sedikit oleh angin.
Tok.
Sekali.
Pelan.
Seolah sesuatu di luar sana
sedang menunggu mimpi berikutnya.
BAB 16
Sungai Kenangan
Setelah mimpi itu datang berulang-ulang, Arga mulai berubah dengan cara yang semakin sulit dijelaskan oleh orang tuanya.
Ia masih anak kecil yang sama.
Masih tertawa saat Ratri datang.
Masih diam saat mendengar hujan.
Masih suka memandangi semut berjalan di tanah.
Masih suka duduk lama di bawah pohon mangga sambil memeluk lutut kecilnya.
Namun di balik semua itu,
ada sesuatu yang perlahan tumbuh.
Sesuatu yang tak terlihat.
Sesuatu yang seperti sedang menariknya ke arah tertentu.
Dan arah itu selalu sama.
Ke belakang desa.
Ke tempat yang selama ini jarang ia datangi.
Ke sungai tua yang melintas di balik sawah.
Sungai itu tidak besar.
Airnya jernih pada musim kemarau,
keruh pada musim hujan,
dan selalu mengalir pelan seperti menyimpan waktu yang enggan pergi.
Orang-orang desa menyebutnya:
Kali Wening.
Dulu sungai itu menjadi tempat perempuan mencuci,
anak-anak mandi,
dan petani mengambil air.
Namun sejak beberapa tahun terakhir,
orang-orang mulai jarang datang.
Bukan karena airnya kotor.
Tetapi karena terlalu banyak cerita.
Konon ada yang pernah mendengar suara tangis di tepi air.
Ada yang melihat bayangan berjalan di atas permukaan sungai saat magrib.
Ada yang merasa dipanggil namanya oleh suara yang bukan manusia.
Sebagian menganggap itu hanya cerita lama.
Sebagian lain memilih tidak mendekat.
Dan justru karena itulah,
Arga tertarik.
Pagi itu matahari baru naik ketika Sukmawati sedang menumbuk bumbu di dapur.
Ratri belum datang.
Sastro sudah ke sawah.
Rumah sedang sunyi.
Sukmawati mengira Arga sedang bermain di halaman seperti biasa.
Sampai ia menoleh,
dan anak itu tidak ada.
“Arga?”
Tak ada jawaban.
Sukmawati berdiri cepat.
Keluar ke beranda.
Melihat ke bawah pohon mangga.
Kosong.
“Arga!”
Jantungnya langsung berdebar.
Ia berjalan cepat ke belakang rumah.
Lalu membeku.
Di pematang kecil menuju arah sungai,
terlihat jejak kaki kecil di tanah.
Jejak Arga.
Masih baru.
Masih basah.
Sukmawati langsung berlari.
“Arga!”
Suara napasnya bercampur panik.
Kain jariknya hampir tersangkut rumput.
Lumpur menempel di kakinya.
Dan ketika sampai di tepi Kali Wening,
ia melihat anak itu.
Arga duduk di batu besar di pinggir sungai.
Sendirian.
Memandangi air.
Tenang sekali.
Seolah ia memang seharusnya berada di sana.
“Arga!”
Sukmawati berlari memeluknya.
“Kamu bikin Ibu takut!”
Arga menoleh.
Wajahnya tenang.
Tidak merasa salah.
Tidak merasa takut.
“Aku cuma dengar.”
Sukmawati memegang bahunya.
“Mendengar apa?”
Arga menunjuk sungai.
“Air.”
Sukmawati memandang aliran itu.
Tidak ada apa-apa.
Hanya air yang bergerak di antara batu.
“Air bilang apa?”
Arga menatap permukaan sungai.
Lalu berkata pelan:
“Dia kenal aku.”
Angin berhenti sesaat.
Sukmawati memeluk anaknya erat.
Terlalu erat.
Karena semakin hari,
jawaban anak itu semakin membuat hatinya gentar.
Siang harinya,
Sastro pulang lebih cepat setelah mendengar cerita itu.
Ia duduk di beranda bersama Sukmawati.
“Dia pergi sendiri?”
Sukmawati mengangguk.
“Tanpa suara.”
Sastro memijat pelipis.
“Kenapa ke sungai?”
Sukmawati menunduk.
“Katanya air mengenalnya.”
Sastro diam lama.
Lalu menatap Arga yang sedang duduk bersama Ratri di halaman.
“Arga.”
Anak itu menoleh.
“Kenapa pergi ke sungai?”
Arga berpikir sebentar.
Lalu menjawab:
“Karena dia memanggil.”
Sastro menahan napas.
“Siapa?”
Arga menunjuk arah belakang rumah.
“Air.”
Sukmawati menggenggam kainnya erat.
Sastro berusaha tetap tenang.
“Air tidak bisa memanggil.”
Arga menatap ayahnya.
Lalu berkata dengan polos:
“Kalau Ayah mau diam... Ayah juga bisa dengar.”
Kalimat itu membuat Sastro tak mampu langsung menjawab.
Karena entah kenapa,
bagian paling dalam dari dirinya
ingin percaya.
Sore itu Ratri datang seperti biasa.
Namun kali ini ia menemukan Arga duduk sendirian,
memandangi sungai dari kejauhan.
“Aku dengar kamu ke Kali Wening.”
Arga mengangguk.
“Kenapa?”
Arga menatap sawah.
“Karena di sana ada suara.”
Ratri duduk di sampingnya.
“Suara apa?”
Arga menjawab pelan:
“Seperti orang menangis tapi tidak sedih.”
Ratri mengernyit.
“Itu bagaimana?”
Arga menunduk.
“Seperti rindu.”
Ratri terdiam.
Anak kecil seusia mereka tentu belum mengerti arti rindu sepenuhnya.
Namun cara Arga mengucapkannya
membuat kata itu terasa lebih tua dari usia mereka.
“Apa sungainya menakutkan?”
Arga menggeleng.
“Tidak.”
“Lalu?”
Arga memandang jauh.
“Sungainya seperti sedang menunggu.”
Ratri menoleh.
“Menunggu siapa?”
Arga tidak langsung menjawab.
Lalu perlahan,
seperti menjawab dirinya sendiri,
ia berkata:
“Mungkin aku.”
Keesokan paginya,
Mbah Jayarasa datang ke rumah.
Tanpa dipanggil.
Seperti biasa.
Sukmawati langsung mempersilahkannya masuk.
Wajahnya cemas.
“Mbah...”
Lelaki tua itu hanya mengangguk.
“Aku tahu.”
Sastro menatapnya.
“Mbah selalu tahu.”
Mbah Jayarasa duduk pelan.
Tongkat kayunya diletakkan di samping.
“Dia ke sungai ya?”
Sastro menahan kesal.
“Mbah, sebenarnya apa yang terjadi pada anak saya?”
Mbah Jayarasa menatap Arga yang sedang bermain daun.
“Sungai sering menyimpan lebih banyak daripada air.”
Sastro mengerutkan kening.
“Maksudnya?”
“Air tidak pernah lupa.”
jawab lelaki tua itu.
“Yang pernah jatuh ke dalamnya...”
“kadang tetap tinggal di sana.”
Sukmawati menggigil.
“Mbah jangan bicara seperti itu...”
Mbah Jayarasa menatap lembut.
“Aku tidak menakut-nakuti.”
“Lalu?”
Ia menoleh pada Arga.
“Anakmu tidak hanya mendengar.”
“Dia mulai diingat.”
Ruangan menjadi sunyi.
Sastro menatap tajam.
“Diingat oleh siapa?”
Mbah Jayarasa menjawab pelan:
“Oleh tempat-tempat yang pernah mengenalnya.”
Sukmawati langsung memeluk dadanya.
“Bagaimana mungkin? Dia baru lahir.”
Mbah Jayarasa menatapnya lama.
Lalu berkata:
“Tidak semua yang lahir... benar-benar baru.”
Malam datang lebih cepat.
Langit mendung.
Angin dingin.
Daun-daun bergerak pelan di luar rumah.
Arga tidur lebih awal malam itu.
Namun tidurnya tidak tenang.
Kelopak matanya bergerak.
Jarinya menggenggam kain.
Napasnya berubah cepat.
Dan dalam tidurnya,
mimpi itu datang lagi.
Kali ini bukan sawah.
Ia berdiri di tepi sungai.
Air hitam mengalir pelan.
Kabut tipis melayang di atas permukaan.
Langit pucat tanpa warna.
Di seberang sungai,
sosok itu berdiri lagi.
Masih membelakangi.
Masih diam.
Namun kali ini,
suara air berbisik lebih jelas.
Bukan angin.
Bukan bayangan.
Air itu sendiri yang berkata:
“Ingat.”
Arga melangkah ke tepi sungai.
“Apa?”
Air beriak kecil.
Dan suara itu datang lagi:
“Ingat siapa yang kau tinggalkan.”
Arga membeku.
Dadanya kecilnya terasa sesak.
“Siapa?”
Sosok di seberang perlahan mengangkat kepala.
Dan untuk pertama kalinya,
Arga melihat sesuatu di permukaan air.
Bayangan wajah.
Wajah seorang anak kecil.
Namun bukan wajahnya sendiri.
Arga terbangun dengan napas terputus.
Matanya langsung menatap jendela.
Di luar,
dari arah belakang rumah,
terdengar suara air sungai.
Padahal Kali Wening terlalu jauh
untuk terdengar sampai kamar.
Dan dari sela angin malam,
suara itu seperti berbisik:
“Kembali...”
BAB 17
Cahaya di Tengah Malam
Malam setelah mimpi tentang sungai itu terasa berbeda bahkan sebelum langit benar-benar gelap.
Sejak senja turun, udara di sekitar rumah kecil pinggir sawah itu menjadi lebih dingin daripada biasanya. Bukan dingin karena hujan. Bukan pula dingin karena angin kemarau. Melainkan dingin yang datang pelan-pelan seperti sesuatu yang merayap dari tanah, naik melalui dinding kayu, lalu berhenti tepat di dada.
Sukmawati merasakannya pertama kali saat sedang menutup jendela.
Tangannya yang memegang daun kayu mendadak berhenti.
Ia menoleh ke halaman belakang.
Gelap.
Hanya bayangan pohon pisang yang bergoyang pelan.
Namun entah mengapa,
ia merasa seperti ada seseorang
yang berdiri di sana,
memandangi rumah mereka dari kejauhan.
“Mas...”
Sastro yang sedang menyalakan lampu minyak menoleh.
“Ada apa?”
Sukmawati menatap keluar beberapa saat.
Lalu menggeleng pelan.
“Tidak apa.”
Namun wajahnya tidak benar-benar tenang.
Sastro memperhatikan.
“Ada yang kau lihat?”
Sukmawati menutup jendela rapat.
“Tidak.”
“Tapi rasanya seperti ada yang menunggu.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Dan tak satu pun dari mereka mau melanjutkannya.
Arga malam itu tidur lebih cepat dari biasanya.
Ia tidak banyak bicara.
Tidak bermain lama.
Tidak meminta Ratri menemaninya sampai sore.
Ia hanya makan sedikit,
lalu berbaring sambil memeluk kain kecil kesayangannya.
Namun sebelum matanya benar-benar terpejam,
ia berkata pelan:
“Jangan matikan lampu.”
Sukmawati menoleh.
“Kenapa?”
Arga menatap langit-langit.
“Kalau gelap... dia datang.”
Sukmawati membeku.
“Siapa?”
Arga memejamkan mata.
Seolah sudah terlalu lelah untuk menjawab.
“Yang dari air.”
Sastro yang berdiri di dekat pintu perlahan menegang.
Namun ia berusaha tetap tenang.
“Cuma mimpi.”
Arga tidak menjawab.
Karena beberapa detik kemudian,
ia sudah tertidur.
Tapi kata-kata itu tidak ikut tidur.
Kata-kata itu tinggal di ruangan.
Di antara dinding.
Di antara napas.
Di antara pikiran dua orang tua yang mulai kehilangan cara untuk merasa biasa.
Malam berjalan lambat.
Jangkrik berbunyi di luar.
Daun bambu bergesekan.
Lampu minyak menyala redup di sudut kamar.
Bayangan kecil menari di dinding.
Sukmawati tertidur lebih dulu.
Sastro masih terjaga.
Ia duduk bersandar di dekat pintu kamar,
memandangi anak dan istrinya.
Wajah Arga terlihat damai.
Terlalu damai.
Kadang justru ketenangan seperti itu yang paling menakutkan.
Sastro menatap lampu minyak.
Api kecilnya bergoyang pelan.
Lalu tiba-tiba,
api itu mengecil sendiri.
Sastro mengerutkan kening.
Ia mendekat.
Memeriksa sumbunya.
Belum sempat menyentuh,
api itu membesar lagi.
Lalu mengecil.
Lalu membesar.
Seperti bernapas.
Sastro menahan napas.
“Angin?”
Namun semua jendela tertutup.
Tak ada celah besar untuk udara masuk.
Lampu itu terus bergerak.
Mengecil.
Membesar.
Mengecil.
Sampai akhirnya,
padam.
Gelap memenuhi kamar.
“Mas?”
Sukmawati terbangun.
Suaranya gemetar.
“Diam.”
bisik Sastro.
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Terlalu sunyi.
Bahkan jangkrik di luar mendadak berhenti.
Tak ada suara apa pun.
Dan justru karena itulah,
mereka mendengarnya.
Suara langkah kecil.
Pelan.
Di luar rumah.
Tap.
Tap.
Tap.
Sukmawati langsung memeluk Arga.
“Mas...”
Sastro berdiri perlahan.
Mata menatap pintu.
Langkah itu berhenti tepat di depan jendela.
Lalu terdengar suara sangat lembut.
Seperti kuku kecil menyentuh kayu.
Krek...
krek...
krek...
Sukmawati menutup mulutnya sendiri agar tidak menjerit.
“Jangan buka...”
bisiknya.
Sastro tidak bergerak.
Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
Krek...
krek...
Suara itu berpindah ke dinding.
Pelan.
Mengelilingi rumah.
Seolah sesuatu sedang berjalan
mengitari rumah mereka
sambil meraba-raba kayu.
Tap.
Tap.
Tap.
Lalu berhenti.
Tepat di belakang tempat Arga tidur.
Dan kemudian,
sesuatu yang jauh lebih aneh terjadi.
Dari celah kecil di dinding bambu,
muncul cahaya.
Sangat kecil.
Seperti kunang-kunang.
Satu titik.
Lalu dua.
Lalu tiga.
Lalu puluhan.
Cahaya-cahaya kecil berwarna putih kebiruan
muncul dari luar rumah,
mengambang perlahan di udara.
Sukmawati terdiam.
Matanya membesar.
“Astaghfirullah...”
Cahaya itu melayang masuk melalui sela dinding.
Tidak cepat.
Tidak liar.
Sangat tenang.
Melayang mengitari ruangan.
Seperti bintang kecil yang kehilangan langit.
Sastro berdiri membeku.
Ia ingin percaya itu hanya serangga.
Namun tidak ada serangga
yang bergerak seperti itu.
Tidak ada cahaya
yang terasa sedingin itu.
Puluhan cahaya kecil itu berputar perlahan.
Dan semuanya,
tanpa kecuali,
bergerak menuju Arga.
Sukmawati memeluk anaknya semakin erat.
“Mas!”
Namun sebelum mereka sempat melakukan apa pun,
Arga membuka mata.
Matanya langsung terbuka.
Tidak terkejut.
Tidak takut.
Seolah ia memang sudah menunggu.
Ia memandang cahaya-cahaya kecil itu.
Lalu tersenyum.
“Datang lagi.”
Sukmawati menatap anaknya.
“Arga...?”
Arga mengangkat tangan kecilnya.
Satu cahaya kecil mendekat.
Lalu hinggap di ujung jarinya.
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Cahaya itu berdenyut lembut.
Dan dalam cahaya itu,
Sastro seperti melihat sesuatu.
Bukan bentuk.
Bukan wajah.
Tetapi perasaan.
Rindu.
Kesepian.
Dan penantian yang sangat lama.
Sastro mundur satu langkah.
Tubuhnya gemetar.
“Ya Allah...”
Tiba-tiba angin kencang masuk dari luar.
Lampu minyak menyala sendiri.
Api kembali hidup.
Dan seluruh cahaya kecil itu lenyap.
Sekejap.
Seolah tidak pernah ada.
Ruangan kembali seperti biasa.
Hanya napas panik.
Wajah pucat.
Dan suara Arga yang pelan.
“Mereka pulang.”
Sukmawati menangis.
Memeluk anaknya.
“Jangan bilang begitu... jangan...”
Arga menatap ibunya bingung.
“Kenapa?”
Sukmawati tidak bisa menjawab.
Karena tidak ada kata-kata
yang cukup untuk menjelaskan ketakutan seorang ibu
yang baru melihat dunia
tidak lagi berjalan menurut akal.
Sebelum subuh,
Sastro kembali menemui Mbah Jayarasa.
Lelaki tua itu sudah duduk di beranda seolah tahu ia akan datang.
“Ada cahaya.”
Mbah Jayarasa mengangguk kecil.
“Akhirnya muncul juga.”
Sastro tertegun.
“Mbah tahu?”
“Dulu pernah ada.”
Sastro duduk cepat.
“Itu apa?”
Mbah Jayarasa menatap gelap menjelang subuh.
“Kadang...”
“jiwa yang terlalu lama menunggu...”
“tidak datang dalam bentuk bayangan.”
“Lalu?”
Mbah Jayarasa menatapnya dalam-dalam.
“Kadang mereka datang sebagai cahaya.”
“Karena hanya itu bentuk paling lembut
agar anak kecil tidak takut.”
Sastro menelan ludah.
“Mereka mau apa dari Arga?”
Mbah Jayarasa diam lama.
Lalu menjawab:
“Mereka ingin diingat.”
Sastro merasakan tenggorokannya kering.
“Siapa mereka?”
Mbah Jayarasa memandang langit yang mulai memucat.
Dan untuk pertama kalinya,
suaranya terdengar benar-benar berat.
“Yang pernah ditinggalkan.”
Ketika Sastro pulang,
matahari belum terbit.
Rumah masih sepi.
Sukmawati tertidur sambil memeluk Arga.
Namun sebelum masuk,
Sastro berhenti di halaman.
Di tanah basah depan jendela,
ada jejak-jejak kecil.
Sangat kecil.
Seperti jejak kaki anak-anak.
Banyak.
Mengelilingi rumah.
Dan semuanya berhenti
tepat di bawah jendela kamar Arga.
BAB 18
Rahasia Ibunya
Sejak malam cahaya-cahaya kecil itu memenuhi kamar Arga, Sukmawati tidak lagi bisa menipu dirinya sendiri.
Selama ini ia selalu berusaha bertahan pada keyakinan paling sederhana:
bahwa semua akan baik-baik saja,
bahwa Arga hanya anak yang sedikit berbeda,
bahwa apa pun yang terjadi masih bisa dijelaskan,
bahwa rasa takut seorang ibu sering kali lebih besar daripada kenyataan.
Namun setelah melihat sendiri cahaya-cahaya itu melayang di sekitar tubuh anaknya,
setelah mendengar langkah-langkah kecil di luar rumah,
setelah melihat mata Arga menatap sesuatu yang tak bisa dilihat orang lain—
sesuatu di dalam dirinya mulai retak.
Dan retakan itu perlahan membuka satu rahasia lama
yang selama ini ia kubur rapat-rapat.
Rahasia yang bahkan belum pernah sepenuhnya ia ceritakan pada Sastro.
Pagi itu rumah terasa sangat sunyi.
Sastro duduk di beranda sejak subuh.
Tidak banyak bicara.
Tatapannya kosong mengarah ke sawah.
Arga masih tidur lebih lama dari biasanya.
Ratri belum datang.
Dan Sukmawati duduk sendirian di dapur,
menatap api kecil di tungku yang perlahan memakan kayu.
Tangannya memeluk lutut.
Pikirannya jauh.
Sangat jauh.
Kembali pada malam bertahun-tahun lalu,
malam ketika Arga pertama kali lahir.
Malam yang selama ini selalu ia simpan sendiri.
Saat itu hujan turun sangat pelan.
Bukan hujan deras.
Bukan badai.
Melainkan gerimis tipis yang membuat udara dingin dan tanah mengeluarkan aroma basah.
Sukmawati masih ingat betul rasa sakit yang datang menjelang subuh.
Napasnya terputus-putus.
Tubuhnya gemetar.
Keringat bercampur air mata.
Dukun beranak desa, Mbok Wirni, datang tergesa.
Lampu minyak dinyalakan.
Kain putih disiapkan.
Air hangat direbus.
Sastro mondar-mandir di luar kamar.
Dan ketika tangis bayi itu akhirnya pecah,
seluruh rumah mendadak sunyi.
Bukan karena tidak bahagia.
Tetapi karena sesuatu yang aneh terjadi.
Arga tidak langsung menangis lama seperti bayi lain.
Ia hanya menangis sekali.
Lalu diam.
Membuka mata.
Dan menatap lurus ke atas.
Mbok Wirni yang menggendongnya waktu itu langsung membeku.
Sukmawati yang masih lemah sempat melihat wajah perempuan tua itu berubah pucat.
“Kenapa?”
bisik Sukmawati.
Mbok Wirni tidak menjawab.
Ia hanya menatap bayi kecil itu.
Lalu berbisik lirih:
“Ya Gusti...”
Sukmawati memaksa bangkit.
“Kenapa anak saya?”
Mbok Wirni menoleh.
Wajahnya tegang.
“Tidak apa.”
“Tapi kenapa?”
Perempuan tua itu ragu.
Lalu berkata sangat pelan:
“Waktu lahir...”
“dia tidak langsung melihat ibunya.”
Sukmawati bingung.
“Lalu?”
Mbok Wirni menelan ludah.
“Dia melihat ke sudut kamar.”
Sukmawati menatap sudut kamar.
Kosong.
Namun Mbok Wirni terus bicara:
“Seperti ada seseorang di sana.”
Sukmawati langsung menggigil.
Ia ingin bertanya lebih jauh.
Namun saat itu tubuhnya terlalu lemah.
Dan tak lama kemudian,
semua perhatian kembali pada bayi kecil yang diletakkan di sisinya.
Namun sebelum pulang,
Mbok Wirni sempat memegang tangan Sukmawati.
Dan berkata pelan:
“Tidak semua anak datang sendirian.”
Selama bertahun-tahun,
Sukmawati tidak pernah menceritakan kalimat itu pada siapa pun.
Tidak pada tetangga.
Tidak pada Mbah Jayarasa.
Bahkan tidak pada Sastro.
Karena ia takut.
Bukan takut pada sesuatu di luar.
Tetapi takut jika kata-kata itu diucapkan keras-keras,
maka semuanya akan menjadi nyata.
Dan sekarang,
setelah semua yang terjadi,
rahasia itu tak lagi bisa disimpan.
Menjelang siang,
Sastro masih duduk di beranda ketika Sukmawati datang menghampiri.
Wajah perempuan itu pucat.
Matanya sembab.
Seolah semalaman tidak tidur.
“Mas...”
Sastro menoleh.
“Ada apa?”
Sukmawati duduk di sampingnya.
Tangannya dingin.
“Aku belum pernah cerita sesuatu.”
Sastro menatap istrinya.
“Cerita apa?”
Sukmawati menunduk.
Tentang malam kelahiran Arga.
Dan perlahan,
dengan suara yang beberapa kali bergetar,
ia menceritakan semuanya.
Tentang tatapan pertama Arga.
Tentang sudut kamar.
Tentang wajah Mbok Wirni.
Tentang kalimat yang tak pernah bisa ia lupakan.
“Tidak semua anak datang sendirian.”
Setelah selesai,
beranda menjadi sunyi.
Hanya suara angin di sawah.
Sastro tidak langsung bicara.
Ia hanya menatap lurus ke depan.
Lalu akhirnya bertanya:
“Kenapa baru sekarang?”
Air mata Sukmawati jatuh.
“Aku takut.”
Sastro menoleh.
“Takut apa?”
Sukmawati menggigit bibir.
“Takut kalau aku mengakuinya...
berarti sejak awal aku tahu
anak kita berbeda.”
Kalimat itu membuat Sastro tak sanggup marah.
Karena ia sendiri,
jauh di dalam hati,
juga sudah lama tahu.
Ia hanya belum berani mengatakannya.
Sastro menggenggam tangan istrinya.
“Kenapa kau tanggung sendiri?”
Sukmawati menangis.
“Karena aku ibunya.”
Kalimat itu sederhana.
Namun di dalamnya ada seluruh rasa bersalah seorang ibu
yang merasa seharusnya bisa melindungi anaknya,
bahkan dari sesuatu yang tak bisa dilihat.
Sore harinya,
Sastro kembali menemui Mbah Jayarasa.
Kali ini ia datang bukan dengan kebingungan.
Melainkan dengan sesuatu yang lebih berat:
kebenaran.
“Mbah...”
“waktu lahir Arga... dia melihat seseorang.”
Mbah Jayarasa menatapnya lama.
Tidak terkejut.
“Di sudut kamar?”
Sastro membeku.
“Mbah tahu?”
Mbah Jayarasa menghela napas.
“Aku menduga.”
“Siapa itu?”
Mbah Jayarasa menatap halaman kosong.
Tongkatnya dipegang erat.
“Kadang...”
“ada jiwa yang terlalu mencintai seseorang.”
“hingga tak sanggup pergi saat orang itu lahir.”
Sastro mengerutkan kening.
“Maksud Mbah?”
“Kadang anak lahir.”
“Kadang kenangan ikut lahir bersamanya.”
Sastro frustrasi.
“Kenapa semua selalu seperti teka-teki?”
Mbah Jayarasa menoleh.
Karena beberapa jawaban terlalu tajam
untuk diberikan sekaligus.
Ia berkata pelan:
“Karena kalau kau tahu semuanya sekarang...”
“kau belum tentu siap menerimanya.”
Malam itu,
Sukmawati masuk ke kamar Arga.
Anak itu sedang duduk di dekat jendela,
memandangi bulan.
“Belum tidur?”
Arga menoleh.
“Ibu.”
Sukmawati duduk di sampingnya.
Mengusap rambutnya perlahan.
“Arga...”
“Ibu mau tanya.”
“Apa?”
“Waktu kamu lahir...”
“apa kamu ingat sesuatu?”
Arga terdiam.
Pertanyaan itu terlalu besar untuk anak kecil.
Namun anehnya,
ia tidak tampak bingung.
Ia justru menatap bulan lama.
Lalu berkata pelan:
“Ada perempuan.”
Sukmawati membeku.
“Perempuan?”
Arga mengangguk.
“Dia menangis.”
Dada Sukmawati langsung sesak.
“Di mana?”
Arga menunjuk sudut kamar.
“Tadi di sana.”
Sukmawati memandang sudut gelap itu.
Tidak ada siapa-siapa.
Tangannya gemetar.
“Dia bilang apa?”
Arga menoleh.
Matanya sangat tenang.
“Dia bilang...”
“jaga Ibu.”
Air mata Sukmawati langsung jatuh.
Ia memeluk Arga erat.
Sangat erat.
Karena untuk pertama kalinya,
ia sadar:
yang datang di sekitar anaknya
mungkin bukan semuanya ingin menyakiti.
Mungkin ada yang datang
karena tak sanggup benar-benar pergi.
Di luar rumah,
angin malam bergerak pelan melewati sawah.
Daun-daun berbisik.
Air sungai mengalir jauh.
Langit dipenuhi bintang.
Dan di jendela kamar Arga,
sesaat sebelum lampu dipadamkan,
Sukmawati melihat sesuatu.
Pantulan samar seorang perempuan.
Berdiri di belakangnya.
Memeluk Arga bersama dirinya.
Ketika ia menoleh,
tak ada siapa-siapa.
Hanya udara malam yang dingin.
Namun di dalam kamar,
aroma melati mendadak memenuhi ruangan.
Aroma yang tidak pernah ditanam
di halaman rumah mereka.
BAB 19
Pertanyaan Pertama
Setelah malam ketika Arga menyebut perempuan yang menangis di sudut kamar, rumah kecil di pinggir sawah itu berubah menjadi tempat yang dipenuhi kesunyian yang berbeda.
Bukan sunyi biasa.
Bukan sunyi karena malam.
Bukan sunyi karena tak ada percakapan.
Melainkan sunyi yang terasa seperti setiap orang di dalam rumah sedang menyimpan sesuatu yang terlalu berat untuk diucapkan.
Sastro semakin sering duduk lama di beranda.
Sukmawati semakin sering menatap Arga saat anak itu tidak melihat.
Dan Arga sendiri,
meski masih menjalani hari seperti biasa,
perlahan mulai merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Rasa ingin tahu.
Bukan tentang dunia.
Bukan tentang sawah.
Bukan tentang hujan.
Bukan tentang suara angin.
Melainkan tentang dirinya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya,
pertanyaan itu tumbuh.
Pagi itu langit cerah.
Matahari menyentuh ujung padi dengan cahaya keemasan.
Burung kecil beterbangan di antara batang bambu.
Suara alu dari rumah tetangga terdengar dari kejauhan.
Arga duduk di beranda sambil memperhatikan embun di daun talas.
Sukmawati sedang menyapu halaman.
Sastro memperbaiki pagar bambu yang mulai longgar.
Semua terlihat biasa.
Namun tiba-tiba Arga berkata:
“Ibu.”
Sukmawati menoleh.
“Ya?”
Arga menatap lurus ke depan.
Tidak menoleh.
Tidak bergerak.
“Kenapa aku beda?”
Sapu di tangan Sukmawati berhenti.
Sastro yang sedang membetulkan bambu ikut diam.
Angin pagi seolah ikut menahan napas.
Sukmawati mencoba tersenyum.
“Beda bagaimana?”
Arga menoleh perlahan.
Matanya tenang.
Terlalu tenang.
“Aku dengar yang orang lain tidak dengar.”
“Aku lihat yang orang lain tidak lihat.”
“Kenapa?”
Tak ada yang langsung menjawab.
Sukmawati membuka mulut.
Lalu menutupnya lagi.
Sastro menunduk.
Tangannya tetap memegang bambu,
namun tak lagi bergerak.
Arga memandang mereka bergantian.
“Kenapa kalian selalu diam kalau aku tanya?”
Kalimat itu sederhana.
Namun seperti pisau kecil
yang pelan-pelan membuka luka yang selama ini mereka tutup.
Sukmawati berjalan mendekat.
Duduk di samping anaknya.
Mengusap rambutnya pelan.
“Arga...”
“Iya?”
“Kamu tidak salah.”
Arga mengerutkan kening.
“Aku tidak bilang salah.”
Sukmawati menahan napas.
“Lalu?”
Arga memandang sawah.
“Aku cuma ingin tahu.”
Kalimat itu membuat Sukmawati nyaris menangis.
Karena kadang,
yang paling sulit dijawab bukan pertanyaan besar.
Tetapi pertanyaan polos dari anak kecil
yang datang dari hati paling jujur.
Sukmawati memeluk bahunya.
“Kadang...”
“ada orang yang diberi rasa lebih.”
“Rasa?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Sukmawati menatap wajah anaknya.
Lalu berbisik:
“Mungkin karena Tuhan percaya.”
Arga terdiam.
Ia menerima jawaban itu.
Namun matanya menunjukkan sesuatu:
ia tahu itu bukan seluruhnya.
Dan anak kecil sering kali tahu
kapan orang dewasa sedang menyembunyikan sesuatu.
Siang harinya,
Ratri datang membawa bunga kenikir kuning.
Ia langsung duduk di bawah pohon mangga bersama Arga.
Namun hari itu Arga tidak seperti biasanya.
Ia lebih banyak diam.
Ratri memperhatikannya.
“Kamu sakit?”
Arga menggeleng.
“Lalu kenapa?”
Arga menunduk.
Lalu bertanya:
“Menurutmu aku aneh?”
Ratri mengerutkan kening.
“Kenapa tanya begitu?”
Arga mencabut rumput kecil.
“Karena aku beda.”
Ratri diam sejenak.
Lalu berkata:
“Semua orang beda.”
“Bukan begitu.”
“Lalu?”
Arga menatap tanah.
“Aku bisa dengar angin.”
“Aku bisa dengar air.”
“Aku lihat cahaya.”
“Aku lihat orang yang tidak ada.”
Ratri mendengarkan tanpa memotong.
“Apa itu aneh?”
Ratri berpikir cukup lama.
Lalu menjawab:
“Mungkin.”
Arga menatapnya.
Wajahnya muram.
Namun Ratri melanjutkan:
“Tapi tidak semua yang aneh itu buruk.”
Arga diam.
Ratri tersenyum kecil.
“Bunga liar juga aneh.”
“Tumbuh sendiri.”
“Tidak ditanam.”
“Tapi tetap indah.”
Arga menatap bunga kecil di tangan Ratri.
Lalu bertanya pelan:
“Kalau aku?”
Ratri menaruh bunga itu di telapak tangan Arga.
“Kamu juga.”
Untuk pertama kalinya sejak pagi,
Arga tersenyum kecil.
Namun pertanyaan itu tidak berhenti di situ.
Karena semakin hari,
rasa ingin tahu dalam diri Arga justru semakin besar.
Malam harinya,
ketika lampu minyak menyala redup,
Arga duduk di dekat Sastro.
Ayahnya sedang memperbaiki anyaman bambu.
Tangannya bekerja pelan.
Wajahnya diam seperti biasa.
Arga memandangnya cukup lama.
Lalu bertanya:
“Ayah.”
Sastro menoleh.
“Ya?”
“Waktu kecil Ayah juga dengar angin?”
Sastro terdiam.
“Tidak.”
“Lihat cahaya?”
“Tidak.”
“Lihat orang yang tidak ada?”
Tangan Sastro berhenti.
Lama sekali.
“Tidak.”
Arga memandang wajah ayahnya.
“Lalu kenapa aku bisa?”
Sastro menelan napas panjang.
Untuk pertama kalinya,
ia benar-benar tidak tahu bagaimana menjadi ayah bagi pertanyaan seperti itu.
Ia menatap anaknya.
Wajah kecil yang begitu mirip dirinya,
namun menyimpan sesuatu yang tak pernah ia pahami.
Sastro akhirnya berkata pelan:
“Karena mungkin...”
“kamu bukan datang hanya untuk hidup biasa.”
Arga mengerutkan dahi.
“Maksudnya?”
Sastro menghela napas.
“Kadang ada orang yang lahir membawa jalan sendiri.”
“Jalan ke mana?”
Sastro memandang mata anaknya.
Dan dengan suara sangat pelan,
ia menjawab:
“Ke jawaban yang belum kami mengerti.”
Arga terdiam.
Bagi anak kecil,
jawaban itu mungkin belum cukup.
Namun malam itu,
untuk pertama kalinya,
Sastro berhenti berpura-pura bahwa semuanya normal.
Beberapa hari setelah itu,
Arga mulai lebih sering bertanya.
Tentang kenapa sungai memanggil.
Tentang kenapa angin mengenalnya.
Tentang kenapa pohon tua terasa sedih.
Tentang siapa perempuan yang menangis di sudut kamar.
Tentang siapa sosok dalam mimpinya.
Tentang mengapa semua itu datang padanya.
Dan setiap pertanyaan,
sedikit demi sedikit,
membuat Sukmawati dan Sastro sadar:
anak mereka tidak hanya mulai melihat dunia.
Ia mulai mencari dirinya sendiri.
Dan pencarian itu,
suatu hari nanti,
akan membawa mereka semua
ke sesuatu yang jauh lebih besar.
Malam itu,
Arga tertidur lebih cepat.
Namun sebelum benar-benar tidur,
ia berkata pada ibunya:
“Ibu.”
“Iya?”
“Kalau aku bertemu dia lagi...”
“Siapa?”
“Orang di mimpi.”
Sukmawati menggenggam tangannya.
“Lalu?”
Arga menatap langit-langit.
Suaranya kecil sekali.
“Aku mau tanya satu hal.”
“Apa?”
Arga memejamkan mata.
Lalu berbisik:
“Apakah dia tahu siapa aku?”
Kalimat itu membuat dada Sukmawati sesak.
Karena sesungguhnya,
pertanyaan itu bukan ditujukan kepada sosok dalam mimpi.
Tetapi kepada dunia.
Dan mungkin,
kepada dirinya sendiri.
Malam semakin larut.
Angin bergerak pelan di luar jendela.
Arga tertidur.
Dan di dalam tidurnya,
ia kembali berdiri di tempat yang sama.
Sawah pucat.
Kabut tipis.
Langit tak berwarna.
Sosok itu berdiri di kejauhan.
Namun kali ini,
sebelum Arga mendekat,
sosok itu lebih dulu berbicara.
Dengan suara lembut,
suara yang seperti sudah sangat lama menunggu.
“Sudah waktunya kau bertanya.”
Arga menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya,
dengan suara kecil penuh keberanian,
ia bertanya:
“Siapa aku?”
Angin berhenti.
Kabut diam.
Dan sosok itu perlahan mulai menoleh.
BAB 20
Nama yang Dipanggil Angin
Mimpi itu tidak berakhir ketika Arga mengucapkan pertanyaan itu.
“Siapa aku?”
Kalimat kecil yang keluar dari bibir seorang anak itu seperti menjalar ke seluruh ruang sunyi di dalam mimpinya. Sawah yang sebelumnya diam tiba-tiba berdesir lebih keras. Kabut yang menggantung di atas tanah mulai bergerak perlahan seperti ditarik sesuatu yang tak terlihat. Langit pucat di atas kepalanya tampak semakin jauh.
Sosok di kejauhan itu berhenti.
Untuk pertama kalinya,
ia tidak berjalan menjauh.
Ia berdiri diam,
seolah memang telah menunggu pertanyaan itu sejak lama.
Arga menahan napas.
Kaki kecilnya terasa berat.
Dadanya berdebar.
Namun bukan karena takut.
Melainkan karena sesuatu di dalam dirinya merasa:
jawaban itu akan mengubah segalanya.
Sosok itu mulai menoleh perlahan.
Sedikit demi sedikit.
Hampir.
Namun sebelum wajahnya terlihat jelas,
angin datang.
Bukan angin biasa.
Angin itu berputar dari seluruh penjuru sawah,
mengangkat rumput,
mengguncang kabut,
membuat suara seperti ribuan bisikan menyatu menjadi satu.
Arga memejamkan mata.
Dan dari dalam angin itu,
ia mendengar sebuah suara.
Suara yang sangat dekat.
Sangat pelan.
Namun begitu jelas.
Bukan memanggil “Arga.”
Bukan nama yang selama ini ia kenal.
Melainkan nama lain.
Satu nama yang asing,
namun terasa sangat akrab di dalam dadanya.
“Jatmika...”
Arga membuka mata.
Sosok itu hilang.
Sawah kosong.
Kabut lenyap.
Dan hanya suara angin yang masih berbisik:
“Jatmika...”
Arga terbangun.
Ia duduk mendadak di tempat tidurnya.
Napasnya cepat.
Dahi basah.
Jantungnya berdegup keras.
Lampu minyak masih menyala redup.
Sukmawati tertidur di sampingnya.
Di luar, malam masih pekat.
Namun Arga masih bisa mendengar suara itu.
Bukan di telinga.
Melainkan di dalam dirinya.
Jatmika.
Nama itu berputar seperti gema
yang tidak mau hilang.
Arga menoleh ke jendela.
Kain tipis yang menutupnya bergerak pelan.
Padahal semua tertutup rapat.
Lalu sekali lagi,
lebih lembut daripada napas:
“Jatmika...”
Arga menggigil.
Bukan karena takut.
Tetapi karena untuk pertama kalinya,
ia merasa bahwa nama itu
mungkin adalah miliknya.
Pagi datang dengan cahaya lembut.
Sukmawati sedang menyiapkan sarapan ketika Arga duduk diam di ambang pintu.
Tidak bermain.
Tidak memanggil ayam.
Tidak menunggu Ratri.
Ia hanya memandang halaman.
Sukmawati memperhatikannya.
“Kenapa diam?”
Arga menoleh pelan.
“Ibu.”
“Iya?”
“Jatmika itu siapa?”
Sendok kayu di tangan Sukmawati jatuh ke lantai.
Suara kecil itu terdengar keras di dapur.
“Apa?”
Arga mengulang dengan tenang.
“Jatmika.”
Wajah Sukmawati berubah pucat.
“ Siapa yang bilang itu?”
Arga menatap ibunya.
“Angin.”
Dunia Sukmawati seperti berhenti sesaat.
“Angin?”
Arga mengangguk.
“Tadi malam.”
“Dia panggil nama itu.”
Sukmawati duduk perlahan.
Lututnya terasa lemah.
Karena nama itu
bukan nama asing baginya.
Nama itu pernah hidup di rumah itu.
Pernah menjadi bagian dari hidupnya.
Dan selama bertahun-tahun,
tak pernah lagi disebut.
Arga menatap ibunya.
“Ibu kenal?”
Sukmawati tidak langsung menjawab.
Karena bibirnya mendadak sulit digerakkan.
Siang harinya,
Sastro pulang lebih cepat.
Begitu melihat wajah istrinya,
ia tahu sesuatu terjadi.
“Ada apa?”
Sukmawati menatapnya.
Matanya penuh cemas.
“Dia menyebut satu nama.”
Sastro mengerutkan kening.
“Nama siapa?”
Sukmawati menelan ludah.
Lalu berbisik:
“Jatmika.”
Sastro langsung membeku.
Angin yang melewati beranda terasa mendadak dingin.
Beberapa detik tak ada yang bicara.
Lalu Sastro bertanya pelan:
“Dia dengar dari siapa?”
Sukmawati menutup mata.
“Dari angin.”
Sastro menatap Arga yang sedang duduk di bawah pohon mangga.
Wajah kecil itu tampak tenang.
Seolah tak tahu bahwa satu nama
baru saja mengguncang rumah mereka.
“Tidak mungkin...”
bisik Sastro.
Sukmawati memandang suaminya.
“Mas...”
“Nama itu tidak pernah kita sebut.”
Sastro tidak menjawab.
Karena ia tahu.
Sukmawati benar.
Tak pernah.
Tidak satu kali pun.
Sore itu,
Ratri datang membawa mangga muda.
Ia menemukan Arga duduk sendiri.
Wajahnya murung.
“Ada apa?”
Arga menoleh.
“Boleh tanya?”
Ratri mengangguk.
“Kalau seseorang memanggil nama kita,
tapi itu bukan nama kita,
artinya apa?”
Ratri berpikir.
“Siapa yang manggil?”
“Angin.”
Ratri diam.
Ia sudah tidak lagi mudah menertawakan hal seperti itu.
“Nama apa?”
Arga menatap tanah.
“Jatmika.”
Ratri mengulang pelan.
“Jatmika.”
Arga menoleh.
“Kamu pernah dengar?”
Ratri menggeleng.
“Tidak.”
Arga memeluk lututnya.
“Kenapa rasanya aku kenal nama itu?”
Ratri duduk lebih dekat.
“Karena mungkin nama itu mencari kamu.”
Arga mengerutkan kening.
“Nama bisa mencari orang?”
Ratri mengangkat bahu kecil.
“Kalau angin saja bisa bicara,
mungkin nama juga bisa.”
Arga terdiam.
Dan untuk pertama kalinya,
nama itu terasa seperti pintu.
Pintu menuju sesuatu
yang selama ini berdiri tepat di depannya,
namun belum pernah terbuka.
Menjelang magrib,
Sastro pergi ke rumah Mbah Jayarasa.
Kali ini langkahnya jauh lebih berat.
Begitu melihatnya,
lelaki tua itu seperti sudah tahu.
“Dia mendengar nama ya.”
Sastro menatap tajam.
“Mbah tahu?”
Mbah Jayarasa menghela napas.
“Aku hanya menunggu.”
“Nama itu siapa?”
Mbah Jayarasa menatap sawah yang mulai gelap.
“Nama lama.”
“Nama siapa?”
Lelaki tua itu menoleh.
“Nama yang pernah hilang sebelum waktunya.”
Sastro mengepalkan tangan.
“Jangan bicara berputar-putar!”
Mbah Jayarasa memandangnya lama.
Lalu akhirnya berkata pelan:
“Jatmika adalah nama anak.”
Sastro menegang.
“Anak siapa?”
Mbah Jayarasa menunduk.
“Anak yang seharusnya tumbuh.”
“Namun tak pernah sempat dewasa.”
Jantung Sastro berdegup keras.
“Apa hubungannya dengan Arga?”
Mbah Jayarasa menatapnya tajam.
“Pertanyaan itu yang sejak awal kau takut dengar.”
Ruangan mendadak terasa sempit.
Sastro berbisik:
“Apakah anak saya...”
Mbah Jayarasa memotong pelan.
“Belum.”
“Jangan menyimpulkan sebelum waktunya.”
“Tapi kenapa namanya dipanggil?”
Mbah Jayarasa menatap langit sore.
“Karena kadang...”
“yang belum selesai
selalu mencari jalan pulang.”
Malam turun pelan.
Rumah kembali sunyi.
Arga berbaring.
Namun matanya belum terpejam.
Ia memandang langit-langit.
Mendengarkan angin yang masuk melalui celah dinding.
Sukmawati duduk di sampingnya.
Tangannya mengusap rambut anaknya.
“Bu.”
“Iya?”
“Jatmika itu siapa?”
Sukmawati terdiam.
Matanya basah.
Namun kali ini,
ia tidak bisa lagi menghindar.
Ia menatap anaknya lama.
Lalu berkata sangat pelan:
“Itu...”
“nama kakakmu.”
Arga berkedip.
“Kakakku?”
Sukmawati mengangguk.
Air matanya jatuh.
“Dia meninggal... sebelum kamu lahir.”
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Arga menatap ibunya.
Lalu bertanya dengan suara hampir tak terdengar:
“Kalau begitu...”
“kenapa dia memanggilku?”
Sukmawati tidak sanggup menjawab.
Karena sesungguhnya,
pertanyaan itu
juga sedang menghancurkan hatinya sendiri.
Malam semakin larut.
Arga akhirnya tertidur.
Dan dalam tidurnya,
ia kembali berdiri di sawah yang sama.
Kabut tipis.
Langit pucat.
Angin berembus pelan.
Namun kali ini,
sebelum sosok itu muncul,
suara angin lebih dulu berbisik di telinganya.
Sangat dekat.
Sangat jelas.
“Bukan hanya nama...”
Arga menoleh.
Angin berputar di sekelilingnya.
Lalu berbisik sekali lagi:
“Itu ingatan.”
Dan dari kejauhan,
sosok itu perlahan menoleh,
menampakkan wajah seorang anak kecil
yang sangat mirip dengannya sendiri.
BAB 21
Senja yang Berubah
Waktu berjalan tanpa pernah meminta izin kepada siapa pun.
Ia tidak menunggu seseorang siap.
Ia tidak peduli seseorang masih ingin tinggal di masa yang sama.
Ia terus bergerak,
pelan namun pasti,
membawa anak-anak menuju usia yang tak bisa dihindari.
Begitu pula Arga.
Tanpa terasa,
tahun-tahun kecil yang penuh suara angin, mimpi, dan cahaya malam itu mulai bergeser menjadi sesuatu yang lain.
Tubuhnya bertambah tinggi.
Wajahnya mulai kehilangan bulat masa kanak-kanak.
Suaranya perlahan berubah.
Tatapannya semakin dalam.
Dan cara ia memandang dunia tidak lagi seperti seorang anak yang hanya bertanya,
melainkan seperti seseorang yang diam-diam mulai memahami bahwa hidup tidak selalu memberi jawaban.
Arga kini memasuki usia remaja.
Usia ketika seseorang mulai mengenal dirinya.
Dan justru karena itulah,
rahasia tentang Jatmika mulai mengubah semuanya.
Desa Wringinrejo tetap sama seperti dulu.
Sawah masih terbentang hijau saat musim tanam.
Kabut pagi masih turun di pematang.
Pohon tua di Bukit Watu Senja masih berdiri seperti penjaga yang tak pernah tidur.
Kali Wening masih mengalir tenang di belakang desa.
Dan angin masih berbisik di antara rumpun bambu.
Namun bagi Arga,
desa itu tak lagi terasa sama.
Karena setelah mengetahui bahwa Jatmika adalah nama kakaknya yang meninggal sebelum ia lahir,
setiap tempat seperti menyimpan pertanyaan baru.
Mengapa namanya dipanggil?
Mengapa wajah dalam mimpi itu menyerupainya?
Mengapa sungai mengenalnya?
Dan yang paling menyesakkan:
mengapa ia merasa kehilangan seseorang yang tak pernah ia kenal?
Pertanyaan-pertanyaan itu tumbuh bersamanya.
Diam.
Namun hidup.
Sore itu,
matahari mulai turun di ujung sawah.
Langit berwarna jingga pucat.
Burung-burung pulang ke sarang.
Suara anak-anak kecil mulai menghilang dari jalan desa.
Arga duduk sendirian di pematang,
memandangi pantulan cahaya senja di air sawah.
Ratri datang dari belakang.
Langkahnya kini tak lagi seperti anak kecil.
Ia juga berubah.
Rambutnya lebih panjang.
Tatapannya lebih lembut.
Dan suaranya mulai memiliki ketenangan yang berbeda.
“Kamu di sini lagi.”
Arga menoleh.
Lalu tersenyum tipis.
“Iya.”
Ratri duduk di sampingnya.
“Kamu akhir-akhir ini sering sendiri.”
Arga memandang langit.
“Kadang lebih mudah mendengar kalau sendiri.”
Ratri tersenyum kecil.
“Masih bicara dengan angin?”
Arga diam sebentar.
Lalu menjawab:
“Sekarang bukan cuma angin.”
Ratri menoleh.
“Lalu?”
Arga menatap senja.
“Kadang kenangan.”
Kalimat itu membuat Ratri diam.
Karena ia tahu,
Arga bukan sedang bicara tentang hal biasa.
Beberapa minggu setelah itu,
Arga mulai sering bermimpi lebih jelas.
Bukan hanya sawah.
Bukan hanya sosok membelakangi.
Bukan hanya suara yang memanggil.
Kini mimpi itu mulai memperlihatkan potongan-potongan yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
Sebuah rumah tua.
Tangisan perempuan.
Kain putih.
Dan seorang anak kecil berdiri di dekat pintu.
Anak itu menoleh.
Wajahnya sama seperti Arga.
Namun matanya berbeda.
Mata itu penuh kesedihan yang terlalu tua untuk seorang anak.
Setiap kali Arga terbangun,
dadanya terasa berat.
Seolah mimpi itu bukan sekadar mimpi.
Melainkan ingatan.
Dan itu yang paling menakutkan.
Karena bagaimana mungkin seseorang bisa mengingat sesuatu
yang terjadi sebelum ia lahir?
Suatu malam,
Arga akhirnya memberanikan diri bertanya lagi kepada ibunya.
Sukmawati sedang melipat kain di ruang tengah ketika Arga duduk di dekatnya.
“Ibu.”
Sukmawati menoleh.
“Ya?”
“Jatmika meninggal bagaimana?”
Tangan Sukmawati berhenti.
Kain di pangkuannya jatuh perlahan.
Ia sudah tahu,
cepat atau lambat,
pertanyaan itu akan datang.
Namun mengetahui sesuatu akan datang
tidak berarti seseorang siap menghadapinya.
Sukmawati menunduk.
“Kenapa tanya itu?”
Arga menatapnya.
“Karena dia terus datang.”
Sukmawati memejamkan mata.
“Masih?”
Arga mengangguk.
“Sekarang lebih sering.”
“Dia bicara?”
“Tidak.”
Arga menunduk.
“Tapi rasanya dia ingin aku tahu sesuatu.”
Air mata tipis mulai muncul di mata Sukmawati.
“Bu...”
Arga bertanya pelan,
“dia mati kenapa?”
Lama sekali Sukmawati tidak menjawab.
Lalu dengan suara nyaris patah,
ia berkata:
“Demam.”
Arga menatapnya.
“Demam?”
Sukmawati mengangguk.
“Waktu usianya belum genap dua tahun.”
“Tubuhnya panas.”
“Tidak turun.”
“Dan pagi hari...”
suaranya pecah,
“dia pergi.”
Arga diam.
Ia memandang wajah ibunya.
Wajah yang menyimpan luka lama.
“Apakah Ibu masih sedih?”
Sukmawati tersenyum pahit.
“Seorang ibu tidak pernah benar-benar selesai kehilangan.”
Arga menunduk.
Untuk pertama kalinya,
ia tidak hanya merasa penasaran pada Jatmika.
Ia merasa ikut berduka
untuk seseorang yang tak pernah ia temui.
Malam berikutnya,
mimpi itu datang lagi.
Namun kali ini berbeda.
Arga berdiri di tepi Kali Wening.
Langit merah seperti senja.
Air sungai memantulkan cahaya seperti darah.
Di seberang,
anak kecil itu berdiri.
Wajahnya sama.
Namun kali ini,
ia tidak membelakangi.
Ia menatap langsung pada Arga.
Dan untuk pertama kalinya,
ia berbicara.
Dengan suara lembut.
“Sudah waktunya.”
Arga melangkah maju.
“Waktunya apa?”
Anak itu tersenyum sedih.
“Untuk tahu kenapa kau di sini.”
Arga menahan napas.
“Siapa kamu?”
Anak itu menatapnya lama.
Lalu menjawab:
“Aku yang tidak sempat tumbuh.”
Arga membeku.
Air sungai mendadak beriak.
Angin berputar.
Dan anak itu mengucapkan satu kalimat yang membuat seluruh mimpi terasa dingin.
“Dan kau...”
“adalah hidup yang dipinjamkan.”
Arga terbangun dengan napas terputus.
Tubuhnya basah oleh keringat.
Jantungnya seperti mau pecah.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai,
Arga benar-benar merasa takut.
Keesokan paginya,
ia pergi sendiri ke Bukit Watu Senja.
Tanpa memberitahu siapa pun.
Ia duduk di bawah pohon tua.
Memandangi desa dari kejauhan.
Angin bergerak lembut di antara daun.
Arga menunduk.
“Siapa aku sebenarnya?”
Tak ada jawaban.
Hanya suara daun.
Namun sesaat kemudian,
angin berembus lebih dingin.
Lalu sebuah suara sangat pelan terdengar di belakangnya.
“Kadang...”
“seseorang lahir bukan untuk memulai.”
“Melainkan untuk melanjutkan.”
Arga menoleh cepat.
Di belakangnya berdiri Mbah Jayarasa.
Tongkat kayu di tangan.
Wajah tua penuh bayangan.
Arga menatapnya.
“Mbah tahu?”
Mbah Jayarasa mendekat perlahan.
Lalu duduk di sampingnya.
“Sebagian.”
“Lalu kenapa semua orang diam?”
Mbah Jayarasa menatap langit senja.
“Karena beberapa jawaban bisa mengubah hidup seseorang.”
Arga memandang lelaki tua itu.
“Hidupku memang sudah berubah.”
Mbah Jayarasa menoleh.
Dan untuk pertama kalinya,
ia melihat bahwa anak kecil yang dulu mendengar angin
kini mulai menjadi seseorang
yang siap mencari kebenaran.
Sebuah kebenaran
yang mungkin akan membawa luka.
Namun tak lagi bisa dihindari.
Senja perlahan turun.
Cahaya jingga menyelimuti sawah.
Desa berubah keemasan.
Langit tampak seperti luka yang indah.
Arga memandang matahari tenggelam.
Dan di dalam dirinya,
sesuatu ikut berubah.
Bukan karena ia akhirnya mendapat jawaban.
Tetapi karena ia sadar:
mulai hari itu,
ia tidak lagi sekadar menunggu jawaban datang.
Ia akan mencarinya sendiri.
Dan sejak senja itulah,
masa kecil Arga benar-benar berakhir.
BAB 22
Gadis di Tepi Sungai
Sejak senja di Bukit Watu berubah menjadi penanda berakhirnya masa kecilnya, Arga mulai melihat dunia dengan cara yang berbeda.
Jika dulu ia hanya merasa dunia di sekelilingnya penuh bisikan,
kini ia mulai menyadari bahwa setiap bisikan
selalu membawa seseorang menuju pertemuan.
Dan kadang,
pertemuan paling penting dalam hidup seseorang
datang saat ia tidak sedang mencarinya.
Arga tidak tahu,
bahwa hari itu,
di tepi Kali Wening yang selama ini menyimpan begitu banyak rahasia,
ia akan bertemu seseorang
yang kelak bukan hanya mengubah jalan hidupnya,
tetapi juga mengubah cara ia memahami cinta.
Musim kemarau baru saja datang.
Air sungai surut lebih jernih daripada biasanya.
Batu-batu hitam di dasar sungai tampak jelas.
Daun bambu kering jatuh satu-satu ke permukaan air.
Angin bergerak pelan membawa aroma tanah yang hangat.
Pagi itu Arga berjalan sendiri ke belakang desa.
Ia tidak sedang mencari apa pun.
Atau mungkin,
ia sedang mencari sesuatu
yang belum bisa ia beri nama.
Langkahnya pelan melewati pematang.
Menyusuri jalan setapak.
Turun ke tepian Kali Wening.
Sudah beberapa minggu ia tidak datang ke sana.
Sejak mimpi-mimpi tentang Jatmika semakin sering datang,
ia menghindari tempat itu.
Namun entah mengapa pagi itu,
hatinya justru membawanya kembali.
Sungai mengalir tenang.
Matahari pagi memantul di permukaan air seperti serpihan kaca kecil.
Suara air menyentuh batu terdengar lembut,
hampir seperti nyanyian.
Arga berdiri di tepi sungai,
menatap arus yang bergerak lambat.
Lalu ia mendengar suara.
Bukan suara angin.
Bukan bisikan gaib.
Suara manusia.
Suara perempuan.
Sangat pelan.
Seperti seseorang sedang bersenandung.
Arga menoleh.
Dan di sanalah ia melihatnya.
Di bawah pohon waru tua yang tumbuh miring ke arah sungai,
seorang gadis duduk di atas batu besar.
Kakinya menyentuh air.
Jari-jarinya memainkan riak kecil.
Rambut panjangnya jatuh sampai punggung.
Gaun sederhana warna biru muda bergerak pelan tertiup angin.
Ia sedang menyanyikan sesuatu.
Lagu lama.
Sangat pelan.
Nyaris seperti bisikan.
Namun yang membuat Arga terpaku bukan lagu itu.
Melainkan caranya duduk di sana.
Tenang.
Seolah sungai mengenalnya.
Seolah ia bukan orang asing bagi tempat itu.
Arga berdiri tanpa suara.
Tak ingin mengganggu.
Namun mungkin karena angin,
atau mungkin karena memang sudah menyadari sejak awal,
gadis itu menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Dan untuk beberapa detik,
dunia seperti diam.
Suara air menghilang.
Suara daun berhenti.
Bahkan angin seolah menahan dirinya sendiri.
Gadis itu memandang Arga.
Arga memandang gadis itu.
Dan entah mengapa,
Arga merasa seperti pernah melihat mata itu.
Bukan di desa.
Bukan di pasar.
Bukan di mimpi.
Tetapi di tempat yang jauh lebih dalam:
di bagian dirinya yang tidak pernah bisa dijelaskan.
Gadis itu tersenyum tipis.
“Kalau mau mengintip, jangan terlalu jelas.”
Arga tersentak.
Wajahnya langsung kikuk.
“Aku tidak mengintip.”
Gadis itu mengangkat alis.
“Lalu?”
Arga menatap sungai.
“Aku cuma lewat.”
Gadis itu tertawa kecil.
“Kalau begitu sungai ini memang suka mempertemukan orang yang ‘cuma lewat’.”
Suara tawanya ringan.
Namun anehnya,
bunyi itu seperti membuat sesuatu di dada Arga bergetar pelan.
Perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Arga mendekat beberapa langkah.
“Namamu siapa?”
Gadis itu menatapnya beberapa saat.
Seolah mempertimbangkan sesuatu.
Lalu menjawab:
“Sekar.”
Arga mengulang pelan.
“Sekar.”
Nama itu terasa lembut saat diucapkan.
Seperti bunga yang jatuh ke air.
“Kalau kamu?”
tanya gadis itu.
“Arga.”
Sekar mengangguk kecil.
“Nama yang berat.”
Arga tersenyum tipis.
“Kenapa?”
“Karena matamu seperti orang yang terlalu banyak menyimpan langit.”
Arga terdiam.
Tak banyak orang yang bicara seperti itu.
Bahkan Ratri pun tak pernah.
“Kamu sering bicara aneh ya?”
Sekar tersenyum.
“Kamu juga.”
Arga hampir tertawa.
Untuk pertama kalinya setelah lama,
ia merasa bisa bernapas lebih ringan.
Mereka duduk di tepi sungai tanpa sadar terlalu lama.
Awalnya hanya beberapa kalimat.
Lalu menjadi percakapan.
Lalu tanpa terasa,
waktu berjalan begitu saja.
Sekar ternyata bukan berasal dari bagian utama desa.
Ia tinggal bersama neneknya di rumah tua dekat ujung kebun tebu.
“Aku jarang lihat kamu.”
kata Arga.
Sekar mengangkat bahu.
“Aku memang jarang keluar.”
“Kenapa?”
Sekar memandang air.
“Karena tidak semua orang suka hal-hal yang berbeda.”
Arga menoleh.
Kalimat itu terasa terlalu dekat dengan dirinya.
“Kamu juga?”
tanya Arga pelan.
Sekar menoleh balik.
“Apa?”
“Berbeda.”
Sekar tersenyum kecil.
Namun kali ini ada kesedihan di matanya.
“Semua orang punya sesuatu yang disembunyikan.”
Arga memandangi wajah gadis itu.
Dan untuk pertama kalinya,
ia merasa sedang bertemu seseorang
yang mungkin mengerti kesepian
dengan cara yang sama.
Angin siang bergerak pelan.
Sekar mengambil satu daun kecil yang hanyut.
Membiarkannya mengambang di air.
“Kamu percaya sungai bisa menyimpan cerita?”
Arga terdiam.
Lalu menjawab:
“Aku percaya.”
Sekar menoleh.
“Kamu tidak menertawakanku?”
Arga menggeleng.
“Karena aku juga pernah mendengar sungai bicara.”
Sekar menatapnya lama.
Lalu untuk pertama kalinya,
wajah gadis itu berubah.
Bukan kaget.
Bukan takut.
Melainkan seperti seseorang
yang akhirnya menemukan jawaban
atas pertanyaan yang tak pernah ia ucapkan.
“Kamu juga bisa mendengar?”
Arga perlahan mengangguk.
Sekar menatap air.
Suaranya hampir berbisik.
“Berarti aku tidak sendiri.”
Kalimat itu sederhana.
Namun entah kenapa,
kalimat itu terasa lebih dalam daripada percakapan panjang.
Karena kadang,
kedekatan lahir bukan saat dua orang saling mengenal lama.
Tetapi saat dua orang
sama-sama merasa:
akhirnya ada yang mengerti.
Dari kejauhan,
Ratri melihat mereka.
Ia sedang membawa daun singkong dari kebun ketika langkahnya berhenti di atas pematang.
Di tepi sungai,
Arga duduk bersama seorang gadis.
Mereka tertawa kecil.
Dan untuk pertama kalinya,
Ratri melihat sesuatu di wajah Arga
yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Ketenangan.
Bukan ketenangan karena diam.
Melainkan ketenangan karena hati yang tiba-tiba menemukan tempat baru untuk berlabuh.
Ratri berdiri lama.
Lalu menunduk.
Tanpa memanggil.
Tanpa mendekat.
Ia berbalik pulang dengan langkah pelan.
Karena terkadang,
bahkan hati yang belum sempat mengerti perasaannya sendiri
sudah lebih dulu tahu
ketika seseorang mulai menjauh.
Sore menjelang.
Cahaya matahari mulai keemasan.
Sekar berdiri lebih dulu.
“Aku harus pulang.”
Arga ikut berdiri.
“Besok ke sini lagi?”
Sekar menatapnya.
Tidak langsung menjawab.
Lalu tersenyum kecil.
“Kalau sungainya mengizinkan.”
Arga mengerutkan kening.
“Sungai?”
Sekar mundur satu langkah.
“Kamu nanti akan mengerti.”
Sebelum Arga sempat bertanya,
Sekar sudah berjalan naik ke jalan kecil di antara semak.
Arga memandanginya sampai sosok itu hilang.
Dan untuk beberapa saat,
ia hanya berdiri diam.
Merasakan sesuatu yang baru.
Sesuatu yang lembut.
Membingungkan.
Namun indah.
Perasaan yang bahkan angin pun tak bisa ia jelaskan.
Ketika Arga menunduk ke permukaan air,
ia melihat pantulannya sendiri.
Namun sesaat,
di samping pantulannya,
muncul bayangan wajah lain.
Wajah anak kecil.
Jatmika.
Dan suara itu kembali datang dari arus sungai.
Pelan.
Sangat pelan.
“Hati-hati...”
Arga langsung menoleh.
Tak ada siapa-siapa.
Hanya air yang terus mengalir
membawa senja.
Dan untuk pertama kalinya,
pertemuan yang terasa indah
juga membawa firasat
yang tak sepenuhnya tenang.
BAB 23
Tatapan Pertama
Sejak pertemuan di tepi Kali Wening itu, sesuatu di dalam diri Arga berubah dengan cara yang tidak bisa ia jelaskan kepada siapa pun.
Ia masih berjalan di jalan desa yang sama.
Masih melewati pematang yang sama.
Masih mendengar suara angin yang sama.
Masih melihat senja turun di antara sawah.
Namun semuanya terasa berbeda.
Seolah dunia yang selama ini hanya berwarna tanah, hujan, dan kabut,
tiba-tiba memiliki cahaya baru
yang tidak berasal dari langit.
Dan cahaya itu bernama:
Sekar.
Hari-hari setelahnya,
Arga mulai lebih sering pergi ke sungai.
Awalnya ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri
bahwa ia datang karena ingin memahami suara air.
Karena ingin mencari jawaban tentang Jatmika.
Karena sungai memang selalu memanggilnya.
Namun jauh di dalam hati,
ia tahu alasannya jauh lebih sederhana.
Ia berharap bertemu Sekar lagi.
Dan setiap kali ia datang,
jantungnya selalu berdegup sedikit lebih cepat.
Kadang Sekar sudah duduk di batu yang sama.
Kadang ia datang belakangan.
Kadang mereka hanya bicara sebentar.
Kadang mereka diam lama sambil mendengar air.
Namun justru dalam diam itulah,
perasaan mulai tumbuh.
Pelan.
Hampir tak terasa.
Seperti embun yang mengendap
sebelum seseorang sadar pagi telah datang.
Pagi itu matahari belum terlalu tinggi saat Arga tiba di sungai.
Sekar sudah ada di sana.
Ia sedang berdiri di tengah air dangkal,
gaunnya sedikit terangkat agar tidak basah.
Tangannya memegang ranting kecil,
menggambar lingkaran-lingkaran di permukaan air.
Arga berhenti beberapa langkah.
Memperhatikannya.
Sekar menoleh.
Dan saat mata mereka bertemu,
waktu seperti melambat.
Bukan karena sesuatu yang besar terjadi.
Tidak ada petir.
Tidak ada angin.
Tidak ada suara gaib.
Hanya satu tatapan.
Namun kadang,
satu tatapan yang tepat
lebih menggetarkan daripada seribu kata.
Sekar tersenyum kecil.
“Kamu lagi.”
Arga berusaha terdengar biasa.
“Kamu juga.”
Sekar tertawa pelan.
“Kamu selalu jawab seperti itu?”
Arga mengangkat bahu.
“Aku belum punya jawaban yang lebih baik.”
Sekar menatapnya beberapa detik.
Lalu berkata:
“Mungkin memang tidak semua pertemuan butuh jawaban.”
Kalimat itu sederhana.
Namun entah kenapa,
Arga merasa seperti baru saja mendengar sesuatu
yang akan tinggal lama di dalam dirinya.
Mereka duduk di batu besar yang sama.
Air mengalir pelan di kaki mereka.
Angin menggoyang daun bambu.
Cahaya matahari jatuh di permukaan sungai seperti serpihan emas kecil.
Arga memandang arus.
Sekar memandang Arga.
“Kamu sering melamun.”
Arga menoleh.
“Aku tidak melamun.”
Sekar tersenyum.
“Kalau begitu kamu sedang pergi.”
“Pergi ke mana?”
Sekar menunjuk dada Arga.
“Ke tempat yang tidak bisa aku lihat.”
Arga terdiam.
Tidak banyak orang yang bisa membaca diamnya.
Bahkan ibunya sering hanya mengkhawatirkan.
Ayahnya memilih menghindari.
Ratri memahami sebagian.
Namun Sekar,
gadis yang baru beberapa kali ia temui,
seolah bisa melihat sesuatu
yang orang lain tak pernah benar-benar perhatikan.
Arga menunduk.
“Kadang aku memang merasa begitu.”
“Seperti apa?”
Arga berpikir lama.
Lalu menjawab:
“Seperti hidup di dua tempat sekaligus.”
Sekar tidak tertawa.
Tidak menganggapnya aneh.
Ia hanya berkata pelan:
“Aku tahu rasanya.”
Arga menoleh cepat.
“Kamu juga?”
Sekar tidak langsung menjawab.
Ia menatap air.
“Kadang tubuh ada di sini.”
“tapi hati terasa seperti sedang dipanggil ke tempat lain.”
Arga memandang wajah gadis itu.
Dan untuk pertama kalinya,
ia merasa:
mungkin Sekar bukan hadir secara kebetulan.
Mungkin memang ada sesuatu
yang mempertemukan mereka.
Di kejauhan,
Ratri kembali melihat mereka.
Ia berdiri di pematang dengan keranjang kecil di tangan.
Awalnya hanya ingin memanggil Arga.
Namun langkahnya berhenti.
Karena cara Arga menatap Sekar
tidak sama seperti biasanya.
Tatapan itu lembut.
Tenang.
Dan penuh perhatian
yang tak pernah Ratri lihat sebelumnya.
Ratri menunduk.
Untuk pertama kalinya,
ia merasakan sesuatu yang asing di dalam dada.
Bukan marah.
Bukan sedih.
Melainkan rasa kehilangan
atas sesuatu yang belum pernah ia miliki.
Ia tidak mendekat.
Ia hanya berdiri cukup lama,
lalu berbalik perlahan.
Sementara di sungai,
Arga tidak menyadari
bahwa sejak hari itu,
bukan hanya hatinya yang mulai berubah.
Tetapi hati orang lain juga.
Menjelang siang,
Sekar mencelupkan tangannya ke air.
Membiarkan arus mengalir di sela jarinya.
“Kamu pernah merasa takut?”
Arga menoleh.
“Takut apa?”
“Takut pada sesuatu yang indah.”
Arga mengerutkan kening.
“Kenapa harus takut?”
Sekar tersenyum samar.
“Karena kadang yang indah tidak tinggal lama.”
Arga memandangnya.
Mata gadis itu memantulkan cahaya sungai.
Namun di balik itu,
ada kesedihan yang sulit dijelaskan.
“Kamu bicara seperti orang tua.”
Sekar tertawa kecil.
“Dan kamu mendengar seperti orang yang terlalu cepat dewasa.”
Mereka saling diam.
Lalu perlahan,
Sekar menoleh.
Tatapan mereka bertemu sekali lagi.
Namun kali ini berbeda.
Lebih lama.
Lebih tenang.
Lebih dalam.
Arga tidak tahu sejak kapan ia berhenti mendengar sungai.
Berhenti mendengar angin.
Berhenti mendengar dunia.
Karena dalam beberapa detik itu,
yang ia dengar hanya detak jantungnya sendiri.
Dan mungkin,
detak jantung Sekar juga.
Sekar menunduk lebih dulu.
Pipi gadis itu sedikit merah.
Arga memandang air,
berusaha menyembunyikan senyum kecilnya sendiri.
Tanpa mereka sadari,
di antara dua remaja yang sama-sama belum paham cinta,
sesuatu mulai tumbuh.
Diam-diam.
Lembut.
Namun nyata.
Sore harinya,
Arga pulang dengan langkah yang terasa ringan.
Sukmawati yang sedang menyapu beranda menatap anaknya.
“Kamu kenapa?”
Arga mengerutkan kening.
“Kenapa apa?”
“Kamu senyum sendiri.”
Arga langsung menunduk.
“Tidak.”
Sukmawati tersenyum kecil.
“Arga.”
“Iya?”
“Kamu sedang jatuh hati?”
Arga hampir tersedak napasnya sendiri.
“Apa?”
Sukmawati tertawa pelan.
“Wajahmu beda.”
Arga berusaha menyangkal.
Namun wajahnya justru makin jelas.
Sukmawati menatap anaknya lama.
Lalu tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama,
ia melihat sesuatu selain bayangan dan ketakutan
di mata putranya.
Ia melihat cahaya.
Dan sebagai seorang ibu,
ia tahu:
cahaya seperti itu
hanya datang ketika seseorang mulai menyukai orang lain.
Malam datang.
Arga berbaring,
namun tidak langsung tidur.
Ia menatap langit-langit sambil mengingat kembali tatapan Sekar.
Cara gadis itu menoleh.
Cara ia tersenyum.
Cara matanya seolah memahami sesuatu
yang tak bisa diucapkan.
Arga menutup mata.
Dan untuk pertama kalinya,
mimpi yang datang bukan tentang sungai gelap.
Bukan tentang kabut.
Bukan tentang Jatmika.
Melainkan tentang cahaya sore di tepi air
dan sepasang mata yang diam-diam tinggal di hatinya.
Namun di tengah kehangatan itu,
suara lain datang.
Pelan.
Jauh.
Nyaris seperti berasal dari dasar sungai.
“Jangan terlalu dalam...”
Arga membuka mata.
Kamar gelap.
Sunyi.
Tak ada siapa-siapa.
Namun di luar jendela,
angin bergerak pelan
membawa aroma air sungai.
Dan untuk pertama kalinya,
cinta yang baru tumbuh itu
mulai dibayangi sesuatu
yang belum ia mengerti.
BAB 24
Hati yang Bergetar
Setelah tatapan itu, Arga tidak lagi bisa membohongi dirinya sendiri.
Ada banyak hal dalam hidup yang bisa disembunyikan seseorang dari orang lain.
Kesedihan bisa disimpan di balik senyum.
Rasa takut bisa disembunyikan dalam diam.
Luka bisa ditutup oleh waktu.
Namun ada satu hal yang paling sulit disembunyikan,
bahkan dari diri sendiri:
perasaan yang mulai tumbuh di dalam hati.
Arga belum pernah mengenal cinta.
Ia belum tahu bagaimana bentuknya.
Ia tidak pernah diajari bagaimana rasanya.
Tak pernah ada yang menjelaskan seperti apa seseorang mulai jatuh pada orang lain.
Namun setiap kali mengingat Sekar,
sesuatu di dadanya bergetar pelan.
Dan semakin hari,
getaran itu semakin jelas.
Pagi-pagi sekali,
sebelum matahari benar-benar naik,
Arga sudah duduk di beranda.
Biasanya ia sulit bangun sepagi itu.
Namun hari itu,
ia terbangun bahkan sebelum ayam jantan berkokok.
Sukmawati yang keluar membawa sapu menatap anaknya heran.
“Kamu sakit?”
Arga menoleh.
“Tidak.”
“Lalu kenapa bangun pagi?”
Arga mengangkat bahu.
“Tidak bisa tidur.”
Sukmawati memperhatikan wajah anaknya.
Lalu tersenyum tipis.
“Karena mimpi?”
Arga diam.
Sukmawati menyapu pelan.
“Atau karena seseorang?”
Arga langsung menunduk.
“Ibu ini.”
Sukmawati tertawa kecil.
“Wajah orang jatuh hati susah disembunyikan.”
Arga mengerutkan kening.
“Aku tidak jatuh hati.”
“Belum?”
tanya Sukmawati lembut.
Arga tidak menjawab.
Karena diam-diam,
ia sendiri belum berani mengakui
apa yang sebenarnya mulai tumbuh.
Siang itu,
seperti beberapa hari sebelumnya,
langkah Arga kembali membawanya ke Kali Wening.
Namun kali ini,
ia datang dengan perasaan yang berbeda.
Bukan hanya menunggu.
Bukan hanya berharap.
Melainkan dengan kegelisahan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Tangannya dingin.
Napasnya tidak tenang.
Jantungnya berdebar sedikit lebih cepat.
Dan ketika ia melihat Sekar sudah duduk di batu besar itu,
semua kegelisahan itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih aneh.
Tenang.
Sekaligus kacau.
Sekar menoleh.
Tersenyum saat melihatnya.
“Kamu lagi.”
Arga tersenyum kecil.
“Kamu juga.”
Sekar tertawa.
“Kalau begini terus, sungainya bosan.”
Arga mendekat.
“Memang sungai bisa bosan?”
Sekar menatap air.
“Bisa.”
“Kalau dua orang datang cuma untuk saling diam.”
Arga duduk di sampingnya.
“Kalau begitu hari ini kita bicara.”
Sekar menoleh.
“Bicara apa?”
Arga terdiam.
Karena mendadak,
ia sadar:
kadang seseorang datang bukan karena ingin bicara apa-apa.
Kadang seseorang datang
hanya karena ingin berada dekat.
Dan justru itu yang paling membingungkan.
Mereka akhirnya tetap duduk seperti biasa.
Sekar memainkan ujung kainnya.
Arga melempar batu kecil ke air.
Riak-riak meluas lalu hilang.
“Kamu kenapa?”
tanya Sekar.
“Apa?”
“Kamu kelihatan gelisah.”
Arga menoleh.
“Kelihatan?”
Sekar mengangguk.
“Dari tadi kamu lempar batu terus.”
Arga melihat tangannya.
Benar.
Tanpa sadar ia terus melakukannya.
Arga tertawa kecil.
“Entah.”
Sekar memandangnya.
“Karena aku?”
Arga membeku.
Jantungnya mendadak berdetak lebih keras.
Sekar tersenyum tipis.
Namun matanya serius.
“Kalau iya juga tidak apa-apa.”
Arga memandang gadis itu.
Dan untuk beberapa detik,
ia lupa cara bernapas.
Karena terkadang,
yang membuat hati seseorang bergetar
bukan sentuhan,
bukan pelukan,
bukan kata-kata indah,
melainkan keberanian seseorang
menyentuh perasaan yang belum sempat diucapkan.
Angin berembus lembut.
Membawa aroma air dan daun kering.
Sekar menunduk.
“Arga.”
“Iya?”
“Kamu pernah merasa dekat dengan seseorang...”
“padahal baru mengenalnya?”
Arga menjawab pelan.
“Sekarang.”
Sekar perlahan menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Tidak ada yang tersenyum.
Tidak ada yang bercanda.
Tidak ada yang berpaling.
Hanya dua orang muda
yang untuk pertama kalinya
mendengar suara hati mereka sendiri.
Arga merasakan sesuatu di dadanya.
Bukan sakit.
Bukan takut.
Tetapi getaran lembut
yang terasa sampai ke ujung jarinya.
Hatinya benar-benar bergetar.
Dan di saat itulah,
ia akhirnya sadar:
ia bukan hanya ingin bertemu Sekar.
Ia mulai merindukannya
bahkan ketika mereka belum berpisah.
Namun seperti biasa,
setiap keindahan dalam hidup Arga
tidak pernah datang sendirian.
Saat Arga tanpa sadar mengulurkan tangan
untuk mengambil daun kecil yang tersangkut di rambut Sekar,
angin tiba-tiba berubah.
Dingin.
Sangat dingin.
Air sungai yang tadinya tenang
mendadak beriak sendiri.
Sekar menoleh cepat.
Arga langsung menarik tangannya.
“Ada apa?”
tanya Arga.
Sekar memandang sungai.
Wajahnya berubah.
“Dia datang.”
Arga menegang.
“Siapa?”
Sekar menatap air.
Di permukaan sungai,
di antara pantulan langit,
muncul bayangan kecil.
Seorang anak.
Berdiri diam.
Wajahnya samar,
namun Arga mengenalinya.
Jatmika.
Arga langsung berdiri.
Napasnya memburu.
Sekar ikut bangkit.
Wajahnya pucat.
“Kamu lihat juga?”
bisik Arga.
Sekar menoleh.
Matanya penuh takut.
“Selama ini...”
“aku kira cuma aku.”
Arga menatap Sekar.
“Kamu bisa melihatnya?”
Sekar mengangguk perlahan.
Dan untuk pertama kalinya,
Arga sadar:
Sekar bukan hanya berbeda.
Sekar mungkin terhubung
dengan rahasia yang sama.
Bayangan itu hanya muncul sesaat.
Kemudian lenyap bersama riak air.
Namun udara tetap dingin.
Terlalu dingin untuk siang hari.
Sekar mundur satu langkah.
“Aku harus pulang.”
Arga menahan.
“Sekar, ”
Namun gadis itu menggeleng.
Wajahnya masih pucat.
“Besok.”
Sebelum Arga sempat bertanya,
Sekar sudah berjalan cepat meninggalkan sungai.
Arga berdiri sendiri.
Menatap air.
Dadanya masih bergetar.
Namun kini bukan hanya karena cinta.
Melainkan karena ketakutan.
Karena perasaan yang baru saja tumbuh itu
ternyata mungkin terikat
pada sesuatu yang jauh lebih besar
daripada sekadar pertemuan dua hati.
Malam itu,
Arga tidak bisa tidur.
Ia duduk di dekat jendela.
Mendengarkan angin.
Mengingat wajah Sekar.
Mengingat bayangan di sungai.
Mengingat getaran di dadanya.
Lalu suara itu datang lagi.
Sangat pelan.
Sangat dekat.
Seperti seseorang berdiri di belakangnya.
“Jangan mencintainya...”
Arga menoleh cepat.
Tak ada siapa-siapa.
Namun jendela terbuka sendiri.
Angin malam masuk perlahan.
Dan di luar,
di antara gelap sawah,
terlihat satu cahaya kecil
mengambang diam.
Seperti sedang mengawasi.
Arga menahan napas.
Karena untuk pertama kalinya,
ia mulai merasa bahwa perasaannya pada Sekar
bukan hanya akan mengubah hidupnya,
tetapi juga bisa membangunkan sesuatu
yang selama ini tidur.
BAB 25
Rahasia dalam Senyum
Sejak bayangan Jatmika muncul di permukaan Kali Wening di hadapan mereka berdua, sesuatu di antara Arga dan Sekar berubah.
Bukan menjadi jauh.
Justru sebaliknya.
Kadang dua orang bisa menjadi dekat karena tawa.
Kadang karena kebiasaan.
Kadang karena kesamaan.
Namun ada kedekatan yang lahir dari sesuatu yang lebih sunyi:
ketika dua orang menyadari bahwa mereka sedang memikul rahasia yang sama.
Dan sejak hari itu,
Arga tahu satu hal.
Sekar bukan sekadar gadis yang hadir di tepi sungai.
Sekar juga menyimpan sesuatu.
Sesuatu yang tersembunyi di balik senyumnya.
Keesokan harinya,
Arga kembali ke sungai lebih awal dari biasanya.
Langit masih pucat.
Kabut tipis menggantung di atas air.
Daun-daun basah oleh embun.
Ia datang dengan dada penuh pertanyaan.
Tentang Jatmika.
Tentang sungai.
Tentang Sekar.
Tentang tatapan takut yang sempat muncul di mata gadis itu kemarin.
Dan mungkin,
tentang sesuatu yang jauh lebih dalam:
mengapa hatinya tetap membawanya ke tempat itu
meski sebagian dirinya mulai takut.
Sekar sudah ada di sana.
Duduk di batu yang sama.
Memandang air seperti biasanya.
Namun hari itu,
senyumnya datang lebih lambat.
“Kamu datang.”
Arga berdiri beberapa langkah.
“Iya.”
Sekar menepuk batu di sampingnya.
“Duduk.”
Arga duduk.
Namun tidak seperti biasanya.
Ia tidak langsung bicara.
Tidak tersenyum.
Tidak memandang air.
Ia hanya menatap Sekar.
Sekar akhirnya menoleh.
“Apa?”
Arga bertanya pelan:
“Kamu melihat dia juga?”
Senyum kecil di wajah Sekar perlahan memudar.
Angin di sekitar mereka bergerak pelan.
Air sungai mengalir seperti pura-pura tidak mendengar.
Sekar menunduk.
“Sejak kapan?”
tanya Arga.
Lama sekali gadis itu tidak menjawab.
Lalu dengan suara nyaris berbisik,
ia berkata:
“Sejak aku kecil.”
Arga menatapnya.
“Kenapa tidak bilang?”
Sekar tertawa kecil.
Tapi tawa itu pahit.
“Kamu juga tidak bilang.”
Arga terdiam.
Karena Sekar benar.
Mereka sama-sama membawa sesuatu sendirian
sebelum akhirnya tak sengaja menemukan satu sama lain.
Sekar menarik napas panjang.
Matanya menatap arus sungai.
“Waktu aku kecil...”
“aku sering bicara sendiri.”
Arga diam mendengarkan.
“Nenekku bilang aku punya teman khayalan.”
“Orang desa bilang aku terlalu sering demam.”
“Beberapa bilang aku aneh.”
Sekar tersenyum kecil.
Namun senyum itu tidak sampai ke matanya.
“Tapi aku tahu.”
“Aku tidak sendiri.”
Arga bertanya pelan.
“Yang kamu lihat... anak kecil itu?”
Sekar mengangguk.
“Kadang.”
“Kadang cuma suara.”
“Kadang cuma bayangan.”
“Kadang hanya rasa sedih yang datang tiba-tiba.”
Arga menatap sungai.
“Itu sama.”
Sekar menoleh.
“Kamu juga merasakan sedih itu?”
Arga mengangguk.
“Seperti kehilangan sesuatu yang bukan milikku.”
Sekar memandangnya lama.
Dan untuk pertama kalinya,
tatapan itu bukan hanya lembut.
Tatapan itu penuh pengertian.
Karena mungkin,
untuk pertama kalinya dalam hidupnya,
Sekar bertemu seseorang
yang benar-benar memahami.
Arga menatap wajah gadis itu.
“Kenapa setiap kali kamu tersenyum...”
“rasanya seperti kamu sedang menyembunyikan sesuatu?”
Sekar tertawa kecil.
“Kamu selalu bicara langsung ya.”
Arga tidak tersenyum.
“Aku serius.”
Sekar memandang air.
Lalu berkata pelan:
“Karena memang begitu.”
Arga diam.
Sekar memainkan ujung gaunnya.
“Ada orang yang belajar tersenyum
supaya orang lain tidak bertanya terlalu jauh.”
“Dan kamu seperti itu?”
Sekar mengangguk kecil.
“Kalau aku tidak tersenyum,
orang akan melihat aku sebenarnya takut.”
Arga menatapnya.
“Takut apa?”
Sekar menjawab tanpa menoleh:
“Takut kalau semua ini bukan kebetulan.”
Angin melewati mereka.
Membawa sunyi.
Arga mengerti.
Karena itulah yang juga ia rasakan.
Siang bergerak perlahan.
Matahari menyusup di sela daun.
Cahaya jatuh di wajah Sekar.
Membuat matanya terlihat lebih dalam.
Arga memandangnya diam-diam.
Dan baru saat itulah ia menyadari:
bahkan kesedihan pun bisa terlihat indah
ketika tinggal di wajah orang yang tepat.
Sekar menangkap tatapannya.
“Kamu lihat apa?”
Arga tersadar.
“Tidak apa.”
Sekar tersenyum.
“Bohong.”
Arga menunduk.
“Aku cuma...”
“Cuma?”
Arga menghela napas.
“Cuma merasa senyummu sedih.”
Sekar tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap Arga.
Lama.
Sampai akhirnya ia bertanya:
“Kalau kamu tahu senyum seseorang sedih...”
“kenapa masih ingin melihatnya?”
Pertanyaan itu membuat Arga terdiam.
Karena ia belum pernah memikirkan jawabannya.
Namun anehnya,
jawaban itu muncul begitu saja.
“Karena...”
“aku ingin tahu alasan di baliknya.”
Sekar menatapnya.
Dan untuk sesaat,
matanya tampak berkilat.
Bukan karena cahaya.
Karena sesuatu di hatinya tersentuh.
Ia tersenyum lagi.
Namun kali ini berbeda.
Lebih lembut.
Lebih jujur.
Dan justru itu membuat Arga sadar:
di balik senyum itu,
memang ada rahasia yang belum selesai.
Dari kejauhan,
di balik rumpun bambu,
Mbah Jayarasa berdiri memandang mereka.
Wajah tuanya tenang,
namun matanya berat.
Ia tidak memanggil.
Tidak mendekat.
Hanya melihat.
Lalu berbisik sendiri:
“Takdir mulai saling mengenali.”
Angin lewat di sampingnya.
Dan lelaki tua itu tahu,
beberapa pertemuan tidak pernah benar-benar terjadi secara kebetulan.
Menjelang sore,
Sekar berdiri hendak pulang.
Namun sebelum pergi,
ia menoleh pada Arga.
“Arga.”
“Iya?”
Sekar ragu sejenak.
Lalu bertanya:
“Kalau suatu hari kamu tahu sesuatu tentang aku...”
“sesuatu yang mungkin tidak mudah diterima...”
“kamu masih mau datang ke sungai ini?”
Arga menatapnya.
Tidak tahu mengapa pertanyaan itu terdengar seperti lebih dari sekadar kata-kata biasa.
Seperti peringatan.
Seperti permintaan.
Seperti ketakutan.
Arga menjawab pelan:
“Selama kamu masih ada di sini.”
Sekar terdiam.
Lalu tersenyum.
Namun lagi-lagi,
di balik senyum itu,
Arga melihat sesuatu.
Bukan hanya sedih.
Melainkan rasa bersalah.
Dan itu membuat dadanya tiba-tiba sesak.
Malam itu,
Arga duduk sendiri di dekat jendela.
Angin malam masuk pelan.
Membawa aroma sungai.
Membawa bayangan wajah Sekar.
Namun kali ini,
yang terus teringat bukan hanya tatapannya.
Melainkan senyumnya.
Senyum yang indah.
Lembut.
Namun seperti menyimpan luka.
Arga menutup mata.
Dan dalam gelap,
ia mendengar suara sangat pelan.
Suara anak kecil.
Suara yang kini terlalu familiar.
“Dia juga terluka...”
Arga membuka mata cepat.
“Sekar?”
Tak ada jawaban.
Namun suara itu kembali:
“Dan lukanya... berkaitan denganmu.”
Jantung Arga langsung berdegup keras.
Di luar jendela,
daun bambu bergerak pelan.
Dan untuk pertama kalinya,
Arga mulai merasa
bahwa pertemuannya dengan Sekar
bukan hanya tentang cinta yang sedang tumbuh.
Tetapi tentang rahasia lama
yang perlahan mulai hidup kembali.
BAB 26
Surat yang Tersimpan
Ada rahasia yang disimpan lewat diam.
Ada rahasia yang disimpan lewat tatapan.
Dan ada rahasia yang selama bertahun-tahun tetap hidup
karena seseorang memilih menyelipkannya
di tempat yang tidak pernah disentuh lagi.
Arga tidak pernah menyangka,
bahwa jawaban pertama tentang Sekar dan Jatmika
tidak datang dari sungai,
bukan dari mimpi,
bukan dari angin,
melainkan dari sebuah surat lama
yang nyaris dilupakan waktu.
Beberapa hari setelah percakapan di tepi sungai itu,
rumah kecil di pinggir sawah kembali dipenuhi suasana yang aneh.
Sukmawati terlihat lebih sering melamun.
Sastro semakin banyak diam.
Dan Arga sendiri berjalan seperti seseorang
yang tubuhnya berada di rumah,
namun pikirannya tertinggal di tempat lain.
Ia masih datang ke Kali Wening.
Masih bertemu Sekar.
Masih berbincang tentang hal-hal kecil.
Namun kini,
di balik setiap tawa kecil mereka,
selalu ada pertanyaan yang diam-diam tumbuh.
Tentang siapa sebenarnya Sekar.
Tentang kenapa Jatmika muncul di antara mereka.
Dan tentang kalimat yang terus terngiang di kepala Arga:
“Lukanya berkaitan denganmu.”
Kalimat itu seperti duri kecil.
Tidak terlihat.
Namun tak pernah benar-benar hilang.
Siang itu,
Sukmawati meminta Arga mengambilkan kain lama di loteng kecil rumah mereka.
Loteng itu jarang dibuka.
Hanya ruang sempit di bawah atap kayu.
Tempat menyimpan barang-barang lama
yang tak lagi dipakai
namun tak pernah benar-benar dibuang.
Arga menaiki tangga bambu pelan-pelan.
Debu beterbangan.
Udara di atas terasa hangat.
Bau kayu tua bercampur kapur barus memenuhi ruang sempit itu.
Ia membuka peti kayu tua.
Mencari tumpukan kain yang diminta ibunya.
Namun di bawah lipatan kain batik lusuh,
ia melihat sesuatu.
Sebuah kotak kecil dari kayu jati.
Sudutnya sudah kusam.
Permukaannya penuh goresan halus.
Seolah sudah sangat lama tidak disentuh.
Arga mengangkatnya.
Kotak itu ringan.
Tidak terkunci.
Entah kenapa,
dadanya tiba-tiba berdebar.
Bukan karena rasa takut.
Melainkan karena perasaan yang familiar:
perasaan ketika sesuatu yang lama
akhirnya memilih ditemukan.
Perlahan,
Arga membuka tutup kotak itu.
Di dalamnya hanya ada beberapa benda:
sehelai kain bayi kecil,
gelang kayu usang,
dan beberapa lembar surat yang diikat pita tipis berwarna pudar.
Arga menatap surat-surat itu.
Tulisan di bagian luar tampak tua.
Huruf-huruf rapi.
Sedikit miring.
Seperti tulisan seseorang yang menulis dengan hati-hati.
Pada lembar paling atas tertulis:
Untuk Sukmawati
Arga terdiam.
Ia tahu seharusnya tidak membuka.
Ia tahu itu milik ibunya.
Ia tahu beberapa rahasia seharusnya dihormati.
Namun ada sesuatu yang mendorongnya.
Sesuatu yang lebih kuat dari rasa sungkan.
Tangan Arga gemetar saat membuka lipatan surat pertama.
Kertas itu sudah menguning.
Tinta hitamnya mulai pudar.
Namun tulisannya masih bisa dibaca.
Arga membaca perlahan.
Sukma,
Jika suatu hari anak itu kembali,
jangan takut.
Karena tidak semua yang kembali datang untuk mencelakai.
Ada jiwa yang hanya ingin menyelesaikan
apa yang tidak sempat diselesaikan.
Bila ia lahir kembali dalam darah yang sama,
maka ia akan dipanggil oleh tempat-tempat lama,
oleh air,
oleh angin,
dan oleh orang-orang
yang pernah terhubung dengannya.
Jangan menolak tanda-tanda itu.
Karena menolak takdir
hanya akan membuat luka hidup lebih lama.
— Jayarasa
Arga membeku.
Tangannya dingin.
Napasnya berhenti sesaat.
Ia membaca ulang kalimat itu.
“Jika suatu hari anak itu kembali...”
“Bila ia lahir kembali dalam darah yang sama...”
“Dipanggil oleh air...”
“oleh angin...”
Semua kalimat itu seperti menampar ingatannya sendiri.
Sungai.
Angin.
Jatmika.
Dan Sekar.
Arga membuka surat kedua.
Tulisan kali ini berbeda.
Lebih halus.
Lebih lembut.
Bukan tulisan Mbah Jayarasa.
Di bagian atas tertulis tanggal
bertahun-tahun sebelum Arga lahir.
Ia membaca dengan jantung berdebar.
Sukmawati,
Anak perempuan saya juga sering melihat anakmu.
Ia bilang anak itu berdiri di dekat sungai.
Kadang memanggil.
Kadang hanya diam.
Awalnya saya pikir itu hanya khayalan.
Tapi setiap kali ia menangis,
ia selalu menyebut satu nama yang sama.
Jatmika.
Saya tidak tahu mengapa anak saya bisa melihatnya.
Tapi mungkin,
kelak hubungan mereka belum akan selesai.
Kalau takdir mempertemukan mereka lagi,
semoga mereka tidak saling melukai.
— Raras
Arga menahan napas.
Matanya terpaku pada satu kalimat.
“Anak perempuan saya...”
Arga tahu nama itu.
Raras.
Nenek Sekar.
Tangannya mulai gemetar lebih keras.
Sekar.
Berarti sejak kecil,
bahkan sebelum mereka saling mengenal,
Sekar sudah melihat Jatmika.
Dan ibu mereka sudah tahu.
“Arga!”
Suara Sukmawati dari bawah membuat Arga tersentak.
Ia cepat melipat surat itu kembali.
Namun terlambat.
Sukmawati sudah berdiri di bawah tangga,
menatapnya.
Dan ketika matanya melihat kotak kayu di tangan Arga,
wajahnya langsung berubah.
Pucat.
“Turun.”
Suaranya pelan.
Namun kali ini tidak lembut.
Arga turun perlahan.
Kotak itu masih di tangannya.
Begitu sampai di bawah,
Sukmawati mengambilnya dengan cepat.
Memeluk kotak itu ke dada
seolah sedang melindungi sesuatu yang rapuh.
“Kamu baca?”
Arga menatap ibunya.
“Ibu tahu?”
Sukmawati menutup mata.
“Ibu tahu Sekar?”
Tak ada jawaban.
“Ibu tahu tentang Jatmika dan Sekar?”
Sukmawati duduk pelan.
Tubuhnya lemah.
Arga menatapnya.
Matanya tidak marah.
Hanya penuh luka karena merasa selama ini disisihkan dari kebenaran.
“Kenapa semua orang selalu menyembunyikan?”
Air mata mulai memenuhi mata Sukmawati.
“Karena Ibu ingin kamu hidup biasa.”
Arga menggeleng.
“Sejak awal hidupku tidak pernah biasa.”
Kalimat itu membuat Sukmawati tak sanggup menahan air mata lagi.
Sastro masuk dari luar
dan langsung merasakan ketegangan di ruangan.
“Ada apa?”
Arga menoleh.
“Ayah juga tahu?”
Sastro melihat kotak di tangan istrinya.
Dan dari situ,
ia mengerti semuanya.
Ia menghela napas panjang.
Sudah terlalu lama.
Rahasia itu memang tak mungkin terus disimpan.
Arga menatap mereka bergantian.
“Sekar siapa?”
Sukmawati memandang suaminya.
Sastro menunduk.
Lalu berkata pelan:
“Sekar...”
“mungkin bukan kebetulan.”
Arga mengepalkan tangan.
“Aku butuh jawaban, bukan diam.”
Sastro menatap anaknya.
Lama sekali.
Lalu dengan suara berat,
ia berkata:
“Karena sebelum kamu lahir...”
“Jatmika pernah memilih dia.”
Arga membeku.
“Apa maksud Ayah?”
Ruangan mendadak terasa sempit.
Dan untuk pertama kalinya,
Arga sadar:
yang selama ini tumbuh di hatinya
mungkin berakar jauh lebih lama
daripada hidupnya sendiri.
Malam itu,
Arga duduk sendirian di luar rumah.
Surat-surat itu terus berputar di kepalanya.
Sekar.
Jatmika.
Takdir.
Kelahiran kembali.
Dan satu pertanyaan yang semakin berat:
Apakah perasaannya pada Sekar
benar-benar miliknya sendiri?
Atau hanya sisa cinta
dari seseorang yang pernah hidup sebelum dirinya?
Angin malam berembus pelan.
Membawa suara dari sawah.
Sangat lembut.
Nyaris seperti bisikan.
“Bukan semua warisan adalah luka...”
Arga menutup mata.
Dan untuk pertama kalinya,
cinta yang sedang tumbuh di hatinya
mulai bercampur
dengan ketakutan yang tak bisa lagi diabaikan.
BAB 27
Hujan Bulan Juni
Ada hujan yang datang membawa dingin.
Ada hujan yang datang membawa kenangan.
Dan ada hujan yang turun tepat pada waktunya,
saat dua hati yang sedang kebingungan
dipaksa berhenti berlari
lalu saling mendengar lebih dekat.
Bulan Juni biasanya datang dengan langit kering di Desa Wringinrejo.
Matahari panjang.
Tanah retak.
Angin hangat.
Daun-daun bambu menggantung lelah di pinggir sawah.
Namun pagi itu,
langit justru berubah muram.
Awan kelabu menggantung rendah.
Udara terasa lebih berat.
Dan sejak subuh,
Arga sudah merasakan sesuatu yang tidak tenang.
Bukan karena suara angin.
Bukan karena mimpi.
Bukan karena bayangan Jatmika.
Melainkan karena surat-surat lama itu
masih berputar di dalam kepalanya.
Tentang Sekar.
Tentang Jatmika.
Tentang kalimat yang belum selesai ia pahami.
“Jatmika pernah memilih dia.”
Kalimat itu seperti duri.
Tidak terlihat.
Namun terus menusuk.
Dan hari itu,
meski sebagian dirinya ingin menjauh,
langkahnya justru kembali menuju sungai.
Karena kadang,
semakin seseorang ingin menghindari perasaan,
semakin kuat hati membawanya ke sumbernya.
Sekar sudah ada di tepi Kali Wening.
Ia berdiri di bawah pohon waru,
memandang air yang bergerak pelan.
Gaun birunya tertiup angin lembut.
Rambut panjangnya jatuh di bahu.
Saat melihat Arga,
ia tersenyum.
Namun Arga tidak bisa langsung membalas.
Karena untuk pertama kalinya,
ia menatap gadis itu
dengan pertanyaan yang berbeda.
Bukan hanya:
siapa kamu?
Tetapi:
siapa kita sebenarnya?
Sekar mengerutkan kening kecil.
“Kamu kenapa?”
Arga mendekat.
“Tidak apa.”
Sekar menatapnya lebih lama.
“Kamu bohong.”
Arga menunduk.
Ia tidak pandai menyembunyikan hati.
Dan Sekar,
entah mengapa,
selalu bisa melihat lebih jauh dari kata-kata.
“Kamu tahu sesuatu ya?”
tanya Sekar pelan.
Arga terdiam.
Angin berembus.
Air sungai berdesir.
Awan semakin gelap.
Sekar memandang wajahnya.
Lalu berbisik:
“Dari ibumu?”
Arga menoleh cepat.
“Kamu tahu?”
Sekar tidak langsung menjawab.
Ia hanya memandang sungai.
Seolah jawaban itu sudah lama hidup di antara mereka.
“Dulu...”
suara Sekar pelan,
“nenekku pernah melarang aku datang ke sungai.”
Arga diam mendengarkan.
“Katanya di sini ada sesuatu yang selalu mencariku.”
“Jatmika?”
tanya Arga.
Sekar mengangguk kecil.
Arga menatapnya.
“Kamu tahu nama itu sejak dulu?”
Sekar tersenyum tipis.
“Lebih lama dari kamu.”
Arga menarik napas.
Dadanya terasa penuh.
“Kenapa kamu tidak bilang?”
Sekar menatapnya.
“Karena aku takut.”
“Takut apa?”
Sekar memandang lurus ke matanya.
“Takut kalau setelah kamu tahu...
kamu akan melihatku dengan cara berbeda.”
Arga terdiam.
Karena Sekar benar.
Ia memang sedang melihat gadis itu dengan cara berbeda.
Namun bukan karena ingin menjauh.
Justru karena ia semakin ingin mengerti.
Langit tiba-tiba bergemuruh pelan.
Mereka menoleh ke atas.
Awan hitam berkumpul cepat.
Angin berubah dingin.
Daun-daun bergetar.
“Hujan.”
bisik Sekar.
“Di bulan Juni?”
Arga mengangkat alis.
Sekar tersenyum kecil.
“Mungkin langit juga bingung.”
Belum sempat Arga menjawab,
titik-titik air pertama jatuh.
Pelan.
Satu.
Dua.
Lalu semakin banyak.
Hujan turun tiba-tiba.
Bukan deras,
melainkan lembut.
Tipis.
Seperti langit sedang menahan tangis.
Arga dan Sekar berlari kecil
menuju gubuk tua di tepi sawah
yang biasa dipakai petani berteduh.
Mereka masuk bersamaan.
Dan untuk pertama kalinya,
mereka berdiri begitu dekat
di ruang kecil yang hanya cukup untuk dua orang.
Hujan turun di luar.
Bunyi air di atap jerami memenuhi keheningan.
Aroma tanah basah naik perlahan.
Angin membawa udara dingin masuk lewat sela bambu.
Sekar berdiri di sisi kanan.
Arga di sisi kiri.
Jarak mereka hanya beberapa langkah.
Namun terasa jauh lebih dekat
daripada semua pertemuan sebelumnya.
Arga bisa mendengar napas Sekar.
Bisa melihat tetes air di ujung rambutnya.
Bisa melihat tangan gadis itu sedikit gemetar karena dingin.
“Dingin?”
tanya Arga.
Sekar mengangguk kecil.
Tanpa berpikir panjang,
Arga melepas kain tipis dari bahunya
lalu menyerahkannya.
Sekar menatapnya.
“Kamu nanti kedinginan.”
Arga tersenyum.
“Aku sudah biasa.”
Sekar menerima kain itu perlahan.
Tangannya tanpa sengaja menyentuh tangan Arga.
Dan hanya sentuhan singkat itu,
sesingkat embusan napas,
sudah cukup membuat dada Arga bergetar lagi.
Sekar juga menarik tangannya pelan.
Wajahnya sedikit memerah.
Di luar,
hujan terus turun.
Di dalam,
dua hati muda mulai saling mendengar
lebih jelas dari sebelumnya.
Sekar menatap hujan.
“Kadang aku berharap...”
ucapnya pelan.
“Apa?”
Sekar tersenyum samar.
“Kalau semua ini cuma kebetulan.”
Arga memandangnya.
“Kamu benar-benar percaya takdir?”
Sekar menoleh.
“Kalau tidak percaya,
kenapa kita bertemu di sungai yang sama?”
Arga tidak menjawab.
Karena pertanyaan itu
terlalu dekat dengan pikirannya sendiri.
Sekar melanjutkan,
suara lembut:
“Aku takut, Arga.”
Arga menatapnya.
“Takut padaku?”
Sekar menggeleng.
“Bukan.”
“Aku takut pada sesuatu yang terasa terlalu indah.”
“Karena biasanya...”
ia menelan napas,
“yang indah sering tidak tinggal lama.”
Kalimat itu membuat ruangan kecil itu terasa semakin sunyi.
Arga memandang gadis di depannya.
Gadis yang sejak awal datang dengan senyum lembut,
namun ternyata membawa luka yang sama sunyinya.
Dan untuk pertama kalinya,
Arga ingin mengatakan sesuatu
yang bahkan ia sendiri belum pernah ucapkan.
“Aku tidak ingin pergi.”
Sekar menatapnya.
Hujan turun lebih rapat.
“Arga...”
“Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi.”
“Aku tidak tahu kenapa semuanya terasa aneh.”
“Aku tidak tahu kenapa namaku selalu dipanggil angin.”
“Aku tidak tahu kenapa Jatmika selalu ada.”
“Tapi satu hal yang aku tahu...”
Arga berhenti.
Napasnya berat.
Sekar menatapnya tanpa berkedip.
“Apa?”
Arga berkata pelan:
“Setiap kali aku di dekat kamu...
semua yang rumit itu terasa lebih tenang.”
Sekar diam.
Matanya perlahan berkaca.
Dan untuk pertama kalinya,
senyum gadis itu tidak menyembunyikan apa pun.
Karena kali ini,
yang muncul di wajahnya adalah sesuatu yang jauh lebih jujur:
perasaan yang sama.
Hujan masih turun.
Sekar menatap Arga lama sekali.
Lalu berkata sangat pelan:
“Aku juga.”
Dua kata sederhana.
Namun bagi Arga,
dua kata itu terasa seperti dunia yang berubah arah.
Jantungnya berdetak keras.
Tangannya dingin.
Dadanya penuh.
Karena kadang,
seseorang tidak membutuhkan kalimat panjang
untuk tahu bahwa hatinya tidak sendirian.
Namun saat kehangatan itu mulai memenuhi ruang kecil itu,
angin tiba-tiba masuk lebih kencang.
Lampu kecil di sudut gubuk padam sendiri.
Suhu mendadak turun.
Sekar menoleh cepat.
Arga merasakan bulu kuduknya berdiri.
Di luar hujan,
di antara tirai air,
sesosok anak kecil berdiri di tepi sawah.
Diam.
Memandang ke arah mereka.
Wajahnya samar.
Namun Arga tahu.
Jatmika.
Sekar menggenggam lengan Arga tanpa sadar.
Arga menatap sosok itu.
Dan melalui suara hujan,
ia mendengar bisikan yang sangat pelan:
“Jangan ulangi lagi...”
Arga membeku.
Sekar menggenggam tangannya lebih erat.
Dan di tengah hujan bulan Juni yang seharusnya indah,
Arga mulai mengerti satu hal:
cinta yang tumbuh di antara mereka
mungkin bukan hanya sedang dimulai,
tetapi sedang mengulang sesuatu
yang pernah berakhir dengan luka.
BAB 28
Janji di Pohon Randu
Setelah hujan bulan Juni itu, tidak ada lagi yang benar-benar sama di antara Arga dan Sekar.
Mereka tidak pernah mengucapkan kata cinta.
Tidak ada pengakuan panjang.
Tidak ada sentuhan berlebihan.
Tidak ada kalimat manis seperti dalam cerita-cerita yang sering dibisikkan anak gadis desa saat malam.
Namun kadang,
hati justru lebih jujur ketika tidak banyak bicara.
Dan sejak hari itu,
Arga tahu:
Sekar bukan lagi sekadar seseorang yang ia temui di tepi sungai.
Sekar telah menjadi seseorang
yang diam-diam tinggal
di ruang paling sunyi dalam dirinya.
Sementara bagi Sekar,
Arga bukan lagi hanya pemuda aneh yang mendengar angin.
Arga adalah satu-satunya orang
yang tidak pernah menertawakan ketakutannya.
Dan mungkin,
untuk pertama kalinya,
mereka berdua mulai percaya
bahwa takdir tidak selalu datang untuk melukai.
Kadang takdir juga datang
untuk mempertemukan.
Tiga hari setelah hujan itu,
langit kembali cerah.
Musim kemarau seolah lupa
bahwa ia sempat menangis.
Arga berdiri di belakang rumah
saat seorang anak kecil datang membawa pesan.
“Mas Arga.”
Arga menoleh.
“Ada apa?”
Anak itu menyerahkan sehelai daun jati
yang dilipat kecil.
“Titipan Mbak Sekar.”
Jantung Arga berdetak sedikit lebih cepat.
Ia membuka daun itu perlahan.
Di dalamnya hanya ada tulisan pendek.
Datang ke pohon randu sebelum senja.
Tidak ada nama.
Tidak ada penjelasan.
Namun Arga tahu,
tulisan itu milik Sekar.
Dan sejak detik itu,
hari terasa berjalan lebih lambat dari biasanya.
Pohon randu tua itu berdiri di ujung sawah sebelah barat desa.
Pohon besar yang dulu sering dipakai anak-anak bermain.
Tempat Arga kecil dulu pernah bersembunyi.
Tempat angin selalu terasa lebih kuat.
Tempat senja terlihat paling indah.
Banyak orang desa percaya
pohon itu menyimpan cerita.
Karena batangnya tua.
Akarnya menembus tanah dalam.
Dan cabangnya seperti tangan
yang terus mencoba memeluk langit.
Arga tiba lebih dulu.
Ia berdiri di bawah pohon besar itu,
mendengar suara daun kering bergesekan.
Matahari mulai turun.
Langit perlahan berubah jingga.
Angin sore menyentuh wajahnya lembut.
Namun bukan angin yang membuat dadanya berdebar.
Melainkan langkah kecil yang terdengar dari belakang.
Arga menoleh.
Sekar datang.
Mengenakan kain sederhana warna gading.
Rambutnya tergerai.
Cahaya senja jatuh di wajahnya.
Membuatnya tampak seperti bagian dari sore itu sendiri.
Untuk sesaat,
Arga hanya diam.
Sekar tersenyum kecil.
“Kamu datang.”
Arga ikut tersenyum.
“Kamu pikir tidak?”
Sekar berjalan mendekat.
“Entahlah.”
“Mungkin kamu takut.”
Arga menatapnya.
“Takut apa?”
Sekar menoleh ke langit.
“Pada apa pun yang mulai terasa terlalu dekat.”
Arga tidak langsung menjawab.
Karena diam-diam,
ia memang takut.
Namun bukan takut pada Sekar.
Ia takut pada kenyataan
bahwa perasaan ini mulai terasa lebih besar
daripada yang bisa ia kendalikan.
Mereka duduk di akar randu yang besar.
Di depan mereka,
sawah terbentang panjang.
Langit sore mulai berwarna emas.
Burung-burung melintas pulang.
Untuk beberapa lama,
tak ada yang bicara.
Namun kali ini diam mereka tidak canggung.
Diam itu justru terasa seperti rumah.
Sekar memainkan ujung kainnya.
Lalu bertanya pelan:
“Kamu pernah ingin lari?”
Arga menoleh.
“Dari?”
“Semua ini.”
Arga berpikir.
Lalu mengangguk.
“Pernah.”
Sekar tersenyum kecil.
“Aku juga.”
“Lalu kenapa tidak?”
Sekar memandang lurus ke depan.
“Karena semakin aku lari,
semakin semuanya datang mencariku.”
Arga menghela napas.
“Itu juga yang kurasakan.”
Sekar menoleh.
Mata mereka bertemu.
Dan untuk pertama kalinya,
Arga menyadari:
yang membuat ia merasa dekat dengan Sekar
bukan hanya karena ia menyukainya.
Tetapi karena mereka sama-sama hidup
dengan sesuatu yang tak bisa dijelaskan.
Angin sore bertiup lebih lembut.
Daun randu jatuh perlahan di antara mereka.
Sekar mengambil satu daun yang jatuh di pangkuannya.
Memainkannya pelan.
“Arga.”
“Iya?”
“Kalau suatu hari semuanya menjadi lebih sulit...”
Arga menatapnya.
“Lebih sulit bagaimana?”
Sekar terdiam sebentar.
Seolah sedang memilih kata.
“Kalau suatu hari...”
“kamu tahu sesuatu tentang masa lalu
yang membuat kamu ingin menjauh dariku...”
Arga langsung memotong.
“Aku tidak akan.”
Sekar menatapnya.
“Kamu belum tahu.”
“Aku tahu satu hal.”
“Apa?”
Arga memandang matanya.
“Setiap kali aku bersama kamu,
aku merasa tidak sendirian.”
Sekar membeku.
Kalimat itu sederhana.
Namun bagi seseorang yang terlalu lama hidup dalam kesunyian,
mendengar bahwa kehadirannya membuat orang lain merasa utuh,
adalah sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kata cinta.
Mata Sekar perlahan basah.
Ia tersenyum.
Namun kali ini senyum itu rapuh.
“Jangan bicara seperti itu.”
“Kenapa?”
Sekar menunduk.
“Karena nanti aku percaya.”
Arga menatapnya lama.
Lalu berkata pelan:
“Kalau begitu percayalah.”
Angin berhenti sejenak.
Senja terasa lebih sunyi.
Dan di bawah pohon randu tua,
dua hati muda yang belum sepenuhnya mengerti hidup
mulai saling membuka diri
dengan cara paling sederhana.
Sekar mengangkat wajahnya.
“Kalau begitu...”
“janji satu hal.”
Arga menatapnya.
“Janji apa?”
Sekar menggenggam daun randu kecil di tangannya.
Lalu berkata:
“Kalau suatu hari semuanya berubah...”
“jangan menghilang tanpa bicara.”
Arga terdiam.
Permintaan itu terdengar sederhana.
Namun ada luka lama di balik suara itu.
Seolah Sekar pernah ditinggalkan,
atau takut akan kehilangan,
jauh sebelum hari itu.
Arga mengangguk pelan.
“Baik.”
Sekar menatapnya.
“Benar?”
Arga mengulurkan tangan kecilnya.
Seperti anak-anak membuat sumpah.
“Janji.”
Sekar menatap tangan itu beberapa detik.
Lalu perlahan menaruh tangannya di atas tangan Arga.
Sentuhan itu lembut.
Hangat.
Namun cukup untuk membuat dada Arga bergetar lagi.
Mereka saling menatap.
Dan di bawah langit senja,
di bawah pohon randu yang sudah menyimpan banyak rahasia,
mereka membuat janji pertama.
Bukan janji besar.
Bukan janji cinta abadi.
Hanya janji sederhana:
untuk tidak saling pergi dalam diam.
Namun kadang,
justru janji kecil seperti itulah
yang paling sulit dipenuhi oleh waktu.
Saat tangan mereka masih saling menyentuh,
angin mendadak berembus kuat.
Daun-daun randu berguguran serempak.
Sekar menoleh cepat.
Arga juga merasakannya.
Suhu tiba-tiba turun.
Di balik batang pohon,
sesosok anak kecil berdiri diam.
Wajahnya samar.
Namun kali ini,
Arga melihat lebih jelas.
Jatmika.
Ia tidak marah.
Tidak sedih.
Tidak tersenyum.
Ia hanya memandang tangan mereka yang saling menggenggam.
Lalu berbisik pelan,
hampir seperti hembusan daun:
“Janji pernah dibuat di sini...”
Sekar menegang.
Tangannya dingin.
Arga menoleh pada sosok itu.
Namun sekejap kemudian,
ia menghilang bersama angin sore.
Yang tersisa hanya daun-daun randu
yang jatuh mengelilingi mereka.
Sekar menatap Arga.
Wajahnya pucat.
“Kamu dengar?”
Arga mengangguk.
Sekar menggigit bibirnya.
“Berarti benar...”
“Benar apa?”
Sekar menunduk.
Suaranya sangat kecil.
“Ini pernah terjadi sebelumnya.”
Dan kalimat itu,
lebih menakutkan daripada semua bisikan malam.
Matahari akhirnya tenggelam.
Langit berubah ungu.
Sawah menjadi gelap.
Burung-burung menghilang.
Namun Arga tetap duduk di bawah pohon randu,
merasakan tangan Sekar yang perlahan terlepas dari genggamannya.
Perasaan di hatinya tetap hangat.
Namun kini,
di dalam kehangatan itu,
muncul bayangan baru:
bahwa cinta yang sedang tumbuh di antara mereka
mungkin bukan awal.
Mungkin hanya kelanjutan
dari sesuatu yang belum pernah benar-benar selesai.
BAB 29
Dunia yang Indah
Setelah janji di bawah pohon randu itu, dunia Arga perlahan berubah menjadi tempat yang berbeda.
Bukan karena desa berubah.
Bukan karena sawah menjadi lebih hijau.
Bukan karena angin berhenti berbisik.
Bukan karena bayangan Jatmika benar-benar pergi.
Semua masih sama.
Pagi tetap datang dengan embun.
Siang tetap panas.
Senja tetap turun pelan di atas pematang.
Malam tetap menyimpan suara-suara yang tak semua orang bisa dengar.
Namun bagi Arga,
untuk pertama kalinya,
hidup terasa lebih ringan.
Karena di tengah semua misteri yang belum selesai,
ia menemukan satu hal sederhana
yang membuat semuanya terasa layak dijalani:
Sekar.
Dan karena itulah,
hari-hari yang datang sesudahnya
menjadi hari-hari yang bagi Arga
terasa seperti dunia yang indah.
Mereka tidak pernah secara resmi mengatakan
bahwa mereka saling memiliki.
Tidak ada pengakuan.
Tidak ada nama untuk hubungan itu.
Tidak ada janji besar selain satu janji kecil
untuk tidak saling pergi diam-diam.
Namun justru karena itulah,
kedekatan mereka terasa jujur.
Mereka bertemu di tempat yang sama,
di jam-jam yang hampir selalu sama,
seolah sungai dan angin
diam-diam sudah mengatur semuanya.
Kadang di tepi Kali Wening.
Kadang di bawah pohon randu.
Kadang di jalan kecil menuju bukit.
Kadang hanya duduk diam di pematang
menunggu matahari tenggelam.
Dan dalam kebersamaan sederhana itu,
Arga menemukan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya:
ketenangan.
Suatu pagi,
Sekar datang membawa bunga kenanga.
Ia meletakkannya di atas batu
lalu duduk di samping Arga.
“Kamu bawa bunga?”
tanya Arga.
Sekar mengangguk.
“Aku suka aromanya.”
Arga mengambil satu.
Mendekatkannya ke hidung.
Harumnya lembut.
“Kenapa kenanga?”
Sekar menatap sungai.
“Nenek bilang bunga tertentu bisa menyimpan ingatan.”
Arga tersenyum kecil.
“Kalau begitu kamu percaya semua benda punya kenangan.”
Sekar menoleh.
“Bukankah kamu juga?”
Arga terdiam.
Lalu mengangguk.
Karena di dekat Sekar,
hal-hal yang selama ini terasa aneh
mendadak menjadi sesuatu yang wajar.
Dan bagi Arga,
itu sendiri sudah terasa seperti keajaiban.
Hari demi hari,
mereka mulai saling mengenal lebih dalam.
Arga tahu Sekar suka duduk diam saat hujan.
Sekar tahu Arga selalu menatap langit lebih lama dari orang lain.
Arga tahu Sekar takut suara petir.
Sekar tahu Arga diam saat sedang memikirkan sesuatu yang berat.
Arga tahu Sekar menyukai aroma daun basah.
Sekar tahu Arga menyukai suara air saat senja.
Hal-hal kecil.
Hal-hal yang mungkin tak berarti bagi orang lain.
Namun justru dari hal-hal kecil itulah,
seseorang perlahan masuk ke dalam hidup orang lain
tanpa disadari.
Suatu sore,
mereka berjalan menyusuri pematang sempit.
Sekar berjalan di depan.
Arga di belakang.
Angin meniup ujung kain Sekar.
Langit berwarna keemasan.
Burung-burung rendah melintas di atas padi.
Sekar menoleh sambil berjalan mundur.
“Kamu kenapa diam terus?”
Arga tersenyum.
“Aku sedang melihat.”
“Melihat apa?”
Arga memandangnya.
“Kamu.”
Sekar berhenti berjalan.
Wajahnya langsung berubah merah.
“Kamu sekarang suka bicara begitu ya?”
Arga tertawa kecil.
“Aku cuma jujur.”
Sekar menunduk.
“Jangan terlalu jujur.”
“Kenapa?”
Sekar menatap sawah.
“Karena nanti aku semakin sulit menjaga hati.”
Arga terdiam.
Kalimat itu lembut.
Nyaris seperti bercanda.
Namun cukup membuat dadanya terasa penuh.
Dan saat itulah,
untuk pertama kalinya,
Arga sadar:
perasaan ini sudah tumbuh jauh lebih dalam
daripada yang ia kira.
Malam-malam Arga juga berubah.
Dulu,
setiap malam diisi suara angin.
Mimpi aneh.
Bayangan kabut.
Jejak Jatmika.
Kini,
meski semuanya belum benar-benar hilang,
di antara semua itu
selalu ada wajah Sekar.
Kadang ia hadir di tepi sungai.
Kadang di bawah hujan.
Kadang berdiri di tengah sawah.
Kadang hanya menoleh lalu tersenyum.
Dan anehnya,
mimpi-mimpi itu tak lagi menakutkan.
Karena untuk pertama kalinya,
di tengah dunia yang selama ini terasa asing,
Arga punya seseorang
yang membuatnya ingin tetap tinggal.
Namun kebahagiaan sering datang
tanpa memberitahu berapa lama ia akan menetap.
Dan mungkin karena itu,
kadang kebahagiaan terasa lebih rapuh.
Suatu siang,
Arga dan Sekar duduk di bawah randu tua.
Sekar menggambar sesuatu di tanah dengan ranting.
“Apa yang kamu gambar?”
tanya Arga.
Sekar tersenyum kecil.
“Rumah.”
Arga melihat bentuk sederhana itu.
“Rumah siapa?”
Sekar menatapnya.
“Rumah yang belum ada.”
Arga mengerutkan kening.
“Maksudnya?”
Sekar mengangkat bahu.
“Kadang aku suka membayangkan...”
“kalau suatu hari ada tempat
di mana tidak ada yang perlu disembunyikan.”
Arga menatap wajahnya.
“Tempat seperti itu ada?”
Sekar memandang langit.
“Mungkin tidak.”
“Tapi indah kalau dibayangkan.”
Arga memandang gambar itu lama.
Lalu berkata pelan:
“Kalau begitu nanti aku bantu membangunnya.”
Sekar menoleh cepat.
“Kamu serius?”
Arga tersenyum.
“Kalau rumahnya untuk kamu.”
Sekar terdiam.
Lalu tertawa kecil,
meski matanya tampak basah.
“Arga.”
“Iya?”
“Kamu tahu tidak?”
“Apa?”
“Kamu kadang membuat dunia terasa terlalu indah.”
Arga tersenyum.
“Bukankah itu bagus?”
Sekar menunduk.
Suaranya pelan.
“Kadang justru itu yang menakutkan.”
Arga belum memahami kalimat itu sepenuhnya.
Karena orang yang sedang bahagia
sering tidak melihat bayangan
yang mulai tumbuh di belakang cahaya.
Bagi Arga,
hari-hari itu terasa sempurna.
Pagi terasa lebih cerah.
Angin terdengar lebih lembut.
Sungai lebih tenang.
Senja lebih hangat.
Bahkan suara-suara gaib
yang dulu selalu membuatnya gelisah
seakan menjauh.
Dan Arga mulai percaya
bahwa mungkin,
untuk pertama kalinya,
takdir sedang berpihak padanya.
Namun sore itu,
saat Sekar pulang lebih dulu,
Arga duduk sendirian di tepi sungai.
Air mengalir tenang.
Ia memandang pantulannya sendiri.
Lalu tersenyum kecil,
mengingat semua percakapan mereka.
Tetapi senyum itu perlahan hilang.
Karena di samping pantulannya,
muncul bayangan lain.
Anak kecil itu.
Jatmika.
Kali ini wajahnya lebih jelas.
Matanya penuh sesuatu
yang tidak bisa disebut marah.
Lebih seperti sedih.
Arga menatap air.
“Apa?”
Bayangan itu memandangnya lama.
Lalu suara kecil itu muncul
dari dalam arus sungai:
“Jangan terlalu mencintai dunia yang indah...”
Arga menahan napas.
Bayangan itu melanjutkan:
“Karena yang paling indah
sering yang paling cepat hilang.”
Riak kecil menyentuh batu.
Bayangan itu lenyap.
Arga masih duduk diam,
dengan jantung yang tiba-tiba terasa berat.
Untuk pertama kalinya,
di tengah kebahagiaan yang sedang tumbuh,
ia merasakan satu hal yang dingin
masuk perlahan ke dalam dadanya:
firasat.
Dan sejak saat itu,
keindahan yang selama ini ia rasakan
tidak lagi terasa sepenuhnya tenang.
BAB 30
Cinta yang Diam-Diam
Tidak semua cinta tumbuh dengan suara.
Ada cinta yang datang dengan pengakuan.
Ada cinta yang lahir lewat keberanian.
Ada cinta yang diumumkan seperti pesta.
Namun ada juga cinta
yang justru tumbuh dalam diam.
Ia tidak diucapkan.
Tidak ditanyakan.
Tidak diumbar.
Ia hanya hidup
di cara seseorang menunggu.
Di cara seseorang memandang.
Di cara seseorang mengingat.
Dan di cara seseorang selalu kembali
ke tempat yang sama.
Itulah yang terjadi pada Arga dan Sekar.
Mereka tidak pernah menyebut apa yang ada di antara mereka.
Namun seluruh desa perlahan mulai melihatnya.
Hari-hari terus berjalan.
Arga tetap membantu ayahnya di sawah.
Sekar tetap membantu neneknya di rumah tua dekat kebun tebu.
Desa tetap hidup seperti biasanya.
Namun di sela rutinitas sederhana itu,
selalu ada satu kebiasaan baru
yang tidak bisa lagi disembunyikan:
Arga selalu mencari Sekar.
Dan Sekar selalu menunggu Arga.
Kadang hanya beberapa menit.
Kadang berjam-jam.
Kadang hanya saling diam.
Kadang hanya berjalan tanpa tujuan.
Tetapi semakin lama,
kedekatan itu mulai terlihat oleh mata orang lain.
Dan cinta,
meski disimpan rapat,
sering kali tetap punya cara
untuk terlihat.
Pagi itu,
Arga sedang membantu menjemur padi di halaman.
Sukmawati memperhatikannya dari dapur.
Anaknya itu bekerja seperti biasa,
namun sesekali ia menoleh ke jalan kecil di samping rumah.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Sukmawati tersenyum kecil.
“Kalau mau menunggu seseorang,
jangan terlalu jelas.”
Arga langsung menoleh.
“Apa?”
Sukmawati menahan tawa.
“Dari tadi matamu bukan ke padi.”
Arga mengerutkan kening.
“Aku cuma lihat jalan.”
“Iya.”
kata Sukmawati ringan.
“Karena biasanya Sekar lewat sana.”
Arga langsung terdiam.
Sukmawati melipat kain di tangannya.
“Kamu pikir ibu tidak tahu?”
Arga menunduk.
Wajahnya sedikit memanas.
“Memangnya kelihatan sekali?”
Sukmawati menatapnya lembut.
“Kalau hati mulai memilih seseorang,
wajah selalu lebih dulu membocorkannya.”
Arga tak menjawab.
Karena untuk pertama kalinya,
ia sadar:
mungkin cintanya memang tidak lagi serahasia yang ia kira.
Tidak lama kemudian,
Sekar benar-benar lewat di jalan kecil itu.
Membawa bakul kecil berisi daun pandan.
Saat melihat Arga,
ia hanya tersenyum kecil.
Namun hanya dari senyum singkat itu,
seluruh wajah Arga berubah.
Dan Sukmawati melihat semuanya.
Ia tidak berkata apa-apa lagi.
Hanya menatap putranya dengan campuran bahagia dan khawatir.
Karena seorang ibu tahu:
hal paling indah dalam hidup anaknya
kadang juga bisa menjadi hal
yang paling menyakitkan nanti.
Di sisi lain desa,
Ratri juga mulai melihat perubahan itu.
Suatu sore,
ia datang ke sungai dengan alasan mencari daun kelor.
Namun yang ia lihat justru Arga dan Sekar
sedang duduk di bawah pohon waru.
Mereka tidak melakukan apa-apa.
Tidak berpegangan tangan.
Tidak saling bersandar.
Tidak saling bicara banyak.
Mereka hanya duduk.
Memandang sungai.
Sesekali tersenyum kecil.
Namun justru dari kesunyian itu,
Ratri melihat sesuatu yang tidak bisa disalahartikan.
Kedekatan.
Bukan kedekatan biasa.
Bukan persahabatan masa kecil.
Tetapi sesuatu yang lebih dalam.
Ratri berdiri lama.
Tangannya menggenggam keranjang lebih erat.
Ia tidak marah.
Ia tidak menangis.
Ia tidak memanggil.
Namun untuk pertama kalinya,
ia sadar:
kadang seseorang bisa kehilangan
tanpa pernah benar-benar memiliki.
Dan rasa seperti itu
sering kali paling sunyi.
Sore itu,
Arga dan Sekar berjalan pulang menyusuri pematang.
Langit berwarna jingga.
Padi bergerak pelan diterpa angin.
Langkah mereka hampir sejajar.
Sekar memandang lurus ke depan.
Lalu bertanya:
“Kamu sadar tidak?”
“Sadar apa?”
Sekar tersenyum tipis.
“Orang-orang mulai melihat.”
Arga menoleh.
“Melihat apa?”
Sekar berhenti.
Lalu memandangnya.
“Kita.”
Arga ikut berhenti.
Untuk sesaat,
ia tidak tahu harus menjawab apa.
Karena sebenarnya,
ia juga mulai merasakannya.
Tatapan orang.
Bisik kecil.
Senyum samar para tetangga.
Cara ibunya memandang.
Cara Ratri menghindar.
Semua seolah berkata hal yang sama:
sesuatu sedang tumbuh di antara mereka.
Namun Arga justru bertanya:
“Kalau mereka melihat,
kamu takut?”
Sekar diam.
Ia menunduk.
Memandang ujung kakinya.
Lalu menjawab pelan:
“Bukan itu yang aku takutkan.”
Arga mengerutkan kening.
“Lalu?”
Sekar mengangkat wajah.
Matanya tenang.
Tapi ada kesedihan di dalamnya.
“Aku takut kalau yang tumbuh ini
ternyata bukan milik kita.”
Angin lewat di antara mereka.
Kalimat itu terasa jauh lebih berat
daripada yang terdengar.
Arga memandang gadis di depannya.
Dan untuk pertama kalinya,
cinta yang selama ini terasa hangat
mulai bercampur dengan sesuatu yang dingin.
Ketakutan.
Arga melangkah mendekat sedikit.
“Kalau bukan milik kita,
kenapa rasanya nyata?”
Sekar menatapnya lama.
Lalu tersenyum kecil.
Senyum yang lembut,
namun selalu menyimpan luka.
“Karena kadang...”
“hal yang paling nyata
justru yang paling sulit dipertahankan.”
Arga menggeleng pelan.
“Aku tidak suka cara kamu bicara begitu.”
“Kenapa?”
“Karena seolah kamu sudah siap kehilangan.”
Sekar tidak menjawab.
Karena diam-diam,
itulah yang selalu ia takutkan sejak awal.
Malamnya,
Arga tidak bisa tidur.
Ia duduk di dekat jendela.
Mendengarkan suara jangkrik.
Memandang sawah gelap.
Sekar terus hadir di pikirannya.
Tatapan.
Senyum.
Kalimat-kalimatnya.
Dan satu pertanyaan yang tak mau pergi:
Apakah cinta ini benar-benar milik mereka?
Atau hanya bayangan dari masa lalu
yang sedang mencoba hidup kembali?
Arga memejamkan mata.
Lalu suara itu datang lagi.
Pelan.
Sangat dekat.
Seperti berdiri tepat di belakang bahunya.
“Cinta yang diam
kadang paling sulit diselamatkan...”
Arga membuka mata cepat.
Tak ada siapa-siapa.
Namun di kaca jendela,
sesaat ia melihat pantulan seorang anak kecil berdiri di belakangnya.
Jatmika.
Wajahnya sedih.
Tatapannya jauh.
Lalu satu kalimat terakhir terdengar:
“Karena tak semua cinta diberi kesempatan kedua.”
Pantulan itu menghilang.
Arga tetap diam.
Dan malam itu,
untuk pertama kalinya,
ia mulai mengerti:
cinta yang selama ini tumbuh diam-diam
mungkin sedang berjalan
menuju sesuatu yang tidak sederhana.
Di luar,
angin malam bergerak lembut melewati sawah.
Di rumah lain,
Sekar juga belum tidur.
Ia duduk di dekat jendela.
Memandang bulan pucat.
Memegang bunga kenanga kering di tangannya.
Lalu berbisik sangat pelan,
seolah bicara kepada dirinya sendiri:
“Kenapa harus dia?”
Tak ada jawaban.
Hanya angin yang masuk perlahan,
membawa aroma sungai.
Dan dari kejauhan,
seolah ada suara kecil menjawab:
“Karena sejak awal...
hatimu memang selalu menemukannya.”
Sekar memejamkan mata.
Air mata jatuh tanpa suara.
Karena kini,
bukan hanya Arga yang tahu.
Sekar pun mulai sadar:
cinta yang mereka simpan diam-diam itu
sudah tumbuh terlalu jauh
untuk dianggap sekadar kebetulan.
BAB 31
Bayangan Masa Lalu
Ada masa lalu yang tinggal sebagai kenangan.
Ada masa lalu yang perlahan memudar bersama waktu.
Namun ada masa lalu tertentu
yang tidak pernah benar-benar pergi.
Ia hanya bersembunyi.
Menunggu.
Diam-diam hidup
di sela-sela hari yang tampak tenang.
Dan ketika seseorang mulai merasa bahagia,
masa lalu itu sering datang kembali,
bukan untuk dikenang,
melainkan untuk ditagih.
Itulah yang mulai terjadi
pada Arga dan Sekar.
Karena setelah cinta tumbuh di antara mereka,
bayangan yang selama ini hanya mengintai dari kejauhan
akhirnya mulai mendekat.
Pagi itu,
desa Wringinrejo terasa lebih sunyi dari biasanya.
Kabut turun lebih rendah.
Udara dingin meski matahari sudah terbit.
Burung-burung yang biasanya ramai di pohon randu
tak terdengar sejak subuh.
Sukmawati berdiri di dapur
sambil memandang keluar jendela.
Wajahnya muram.
Sastro yang sedang mengikat sabit bertanya,
“Kenapa?”
Sukmawati menjawab pelan.
“Anginnya kembali seperti dulu.”
Sastro berhenti.
Ia tahu maksud istrinya.
Karena beberapa pertanda
memang hanya dimengerti
oleh orang-orang yang pernah mengalaminya.
Dan angin pagi itu
membawa aroma lama
yang seharusnya sudah terkubur.
Arga sendiri terbangun dengan napas memburu.
Baju tidurnya basah oleh keringat.
Ia baru saja bermimpi.
Bukan mimpi biasa.
Melainkan potongan-potongan gambaran
yang terasa seperti ingatan orang lain.
Ia melihat sungai.
Ia melihat pohon randu.
Ia melihat seorang anak lelaki
berlari di pematang.
Dan di kejauhan,
seorang gadis kecil berdiri sambil menangis.
Arga tidak bisa melihat wajah anak lelaki itu dengan jelas.
Namun entah bagaimana,
ia tahu siapa itu.
Jatmika.
Dan gadis kecil itu,
meski hanya terlihat sekilas,
membuat dadanya menegang.
Karena Arga tahu siapa dia.
Sekar.
Arga duduk lama di tepi ranjang.
Tangannya gemetar.
Karena untuk pertama kalinya,
yang datang bukan suara.
Bukan bayangan.
Bukan bisikan.
Melainkan potongan masa lalu
yang terasa seperti miliknya sendiri.
Padahal seharusnya bukan.
Di siang hari,
Arga tetap pergi ke Kali Wening.
Sekar sudah menunggu di sana,
namun wajah gadis itu juga tampak pucat.
Saat melihat Arga,
ia langsung berkata pelan:
“Kamu juga?”
Arga menatapnya.
“Kamu mimpi?”
Sekar mengangguk perlahan.
Mereka saling diam beberapa detik.
Karena mereka berdua tahu:
tak mungkin itu kebetulan.
Sekar duduk di batu.
Tangannya saling menggenggam.
“Aku melihat seorang anak laki-laki.”
“Dia berdiri di tepi sungai.”
“Dia memanggil namaku.”
Arga menelan napas.
“Aku juga melihatnya.”
Sekar menatapnya.
“Kamu lihat siapa?”
Arga menjawab sangat pelan.
“Jatmika.”
Sekar menutup mata.
Wajahnya kehilangan warna.
Karena nama itu
yang selama ini hanya mereka bisikkan pelan
kini mulai masuk ke dalam mimpi mereka berdua.
Dan itu berarti
sesuatu memang sedang berubah.
Arga duduk di samping Sekar.
“Sekar...”
“siapa sebenarnya Jatmika bagimu?”
Sekar tidak langsung menjawab.
Ia menatap sungai lama sekali.
Seolah jawaban itu terlalu berat
untuk dikeluarkan.
Lalu dengan suara nyaris berbisik,
ia berkata:
“Waktu kecil...”
“aku sering melihat anak kecil berdiri di halaman rumah.”
Arga diam mendengar.
“Awalnya aku kira dia hanya bayangan.”
“Tapi setiap kali dia datang,
aku selalu merasa sedih tanpa alasan.”
Arga menatapnya.
Sekar melanjutkan.
“Suatu malam aku bertanya pada nenek.”
“Dan nenek bilang...”
ia menelan napas,
“dia adalah seseorang yang tidak pernah benar-benar pergi.”
Arga bertanya pelan.
“Karena dia mati?”
Sekar menggeleng.
“Karena dia menunggu.”
Kalimat itu membuat udara di sekitar mereka mendadak terasa dingin.
“Menunggu siapa?”
tanya Arga.
Sekar menoleh.
Matanya berkaca.
“Katanya...”
“dia menungguku.”
Arga membeku.
Sungai tetap mengalir.
Daun tetap bergerak.
Namun bagi Arga,
dunia seperti berhenti sesaat.
“Apa maksudnya menunggumu?”
Sekar menggeleng pelan.
“Aku tidak tahu.”
“Nenek tidak pernah mau cerita lebih jauh.”
“Tapi setiap kali aku bertanya,
dia selalu bilang satu hal.”
“Apa?”
Sekar menatap air.
‘Jangan terlalu dekat dengan anak dari rumah pinggir sawah.’
Arga menahan napas.
Rumah pinggir sawah.
Rumahnya.
Sekar melanjutkan dengan suara gemetar.
“Aku baru sadar...
mungkin sejak dulu
mereka semua sudah tahu.”
Arga menunduk.
Ia teringat surat.
Ia teringat wajah ibunya.
Ia teringat diam ayahnya.
Mungkin memang benar:
orang-orang tua di sekitar mereka
telah lama menyimpan sesuatu
yang sengaja tidak diberikan pada mereka.
Matahari mulai condong ketika mereka masih duduk diam.
Tidak ada lagi kata-kata.
Karena terkadang,
beberapa kenyataan terlalu besar
untuk langsung dipahami.
Arga memandang Sekar.
Gadis yang selama ini membuat dunianya indah itu
tiba-tiba terasa seperti bagian dari teka-teki
yang jauh lebih tua dari hidup mereka sendiri.
Dan justru itu
membuat perasaannya semakin rumit.
Karena ia tidak hanya takut kehilangan Sekar.
Ia mulai takut
bahwa sejak awal
Sekar memang tidak pernah sepenuhnya datang untuk dirinya.
Menjelang sore,
Mbah Jayarasa muncul di tepi jalan kecil.
Tongkat kayunya mengetuk tanah pelan.
Sekar langsung menegang.
Arga berdiri.
Orang tua itu memandang mereka bergantian.
Matanya dalam.
Lelah.
Seolah ia sudah tahu
hari ini pasti akan datang.
“Mbah...”
kata Arga,
“siapa Jatmika sebenarnya?”
Mbah Jayarasa tidak langsung menjawab.
Ia justru memandang sungai.
Lalu berkata:
“Yang mati kadang tidak hilang.”
“Yang hidup kadang tidak benar-benar baru.”
Arga mengerutkan kening.
“Aku tidak mengerti.”
Mbah Jayarasa menatapnya.
“Karena kamu belum siap.”
Sekar berkata lirih,
“Kalau kami tidak siap,
kenapa semua ini datang sekarang?”
Orang tua itu memejamkan mata sejenak.
Lalu berkata pelan:
“Karena cinta kalian
membangunkan ingatan yang seharusnya tetap tidur.”
Arga dan Sekar saling menatap.
Jantung Arga berdetak keras.
“Maksud Mbah...”
“perasaan ini, ”
Mbah Jayarasa memotong.
“Bukan sekadar milik kalian.”
Angin mendadak bertiup lebih kencang.
Daun-daun randu di kejauhan bergetar.
Dan kalimat itu jatuh di antara mereka
seperti batu yang dilempar ke air tenang.
Menciptakan riak
yang tidak mungkin kembali seperti semula.
Malam itu,
Arga duduk sendiri di halaman rumah.
Langit tanpa bintang.
Udara dingin.
Sawah sunyi.
Ia memikirkan semuanya.
Tentang Sekar.
Tentang surat.
Tentang mimpi.
Tentang Jatmika.
Tentang kalimat Mbah Jayarasa.
“Bukan sekadar milik kalian.”
Arga memejamkan mata.
Dan saat itulah,
ia melihat kilasan singkat.
Seorang anak lelaki.
Berlari di tengah hujan.
Memegang tangan seorang gadis kecil.
Lalu suara tangis.
Lalu sungai.
Lalu gelap.
Arga membuka mata cepat.
Napasnya tercekat.
Karena kali ini,
yang datang bukan sekadar bayangan.
Melainkan kenangan.
Dan untuk pertama kalinya,
Arga mulai takut bahwa
masa lalu bukan hanya sedang mengintai.
Masa lalu
sedang berusaha kembali hidup
melalui dirinya.
BAB 32
Larangan yang Tak Dimengerti
Ada larangan yang mudah dipahami.
Jangan bermain terlalu jauh.
Jangan pulang terlalu malam.
Jangan menyentuh api.
Jangan berjalan saat badai.
Semua larangan itu punya alasan
yang bisa diterima akal.
Namun yang paling menyakitkan
adalah larangan
yang datang dari orang-orang terdekat,
tanpa penjelasan,
tanpa jawaban,
hanya dengan tatapan cemas
yang justru membuat hati semakin gelisah.
Dan itulah yang mulai dialami Arga
setelah bayangan masa lalu
semakin sering muncul di antara dirinya dan Sekar.
Pagi itu,
rumah di pinggir sawah terasa lebih sunyi dari biasanya.
Sukmawati memasak tanpa banyak bicara.
Sastro duduk di beranda,
mengasah arit lebih lama dari biasanya,
meski bilahnya sudah tajam sejak tadi.
Arga keluar dari kamar
dengan wajah lelah.
Malam sebelumnya
ia hampir tidak tidur.
Bayangan dalam mimpinya masih melekat.
Suara Mbah Jayarasa masih terngiang.
Dan nama Sekar
tetap memenuhi pikirannya.
Ia hendak mengambil kendi air
saat suara ayahnya terdengar.
“Arga.”
Arga berhenti.
“Iya, Yah?”
Sastro tidak langsung menoleh.
Masih memandang tajam bilah arit di tangannya.
“Mulai hari ini…”
“jangan ke sungai dulu.”
Arga menatap ayahnya.
“Apa?”
Sastro akhirnya mengangkat wajah.
“Ayah bilang,
jangan ke Kali Wening.”
Arga mengerutkan kening.
“Kenapa?”
Sastro diam.
Dan seperti biasanya,
diam itulah yang paling membuat Arga marah.
“Kenapa?”
ulang Arga.
Sastro menarik napas berat.
“Karena ayah minta.”
“Bukan jawaban.”
“Kadang orang tua tidak selalu harus menjelaskan semuanya.”
Arga menatap ayahnya lama.
“Kadang anak juga capek
disuruh patuh tanpa tahu alasan.”
Sukmawati yang sejak tadi diam
akhirnya menoleh.
“Arga.”
Nada suaranya lembut.
Tapi ada ketegangan di sana.
“Ikuti saja dulu.”
Arga memandang ibunya.
“Ibu juga?”
Sukmawati menunduk.
Dan dari cara ibunya menghindari matanya,
Arga tahu:
mereka memang sedang menyembunyikan sesuatu lagi.
“Ini tentang Sekar?”
tanya Arga.
Ruangan langsung sunyi.
Sastro mengepalkan rahang.
Sukmawati menutup mata sesaat.
Dan justru dari reaksi itu,
Arga mendapatkan jawabannya.
“Jadi benar.”
Sastro berdiri pelan.
“Jangan temui dia dulu.”
“Kenapa?”
“Karena tidak semua yang terasa baik
akan berakhir baik.”
Arga tertawa kecil,
namun pahit.
“Kalimat itu lagi.”
“Semua orang bicara seperti teka-teki.”
Sastro melangkah mendekat.
Tatapannya keras.
“Ayah serius.”
“Aku juga serius.”
kata Arga.
“Kalau memang ada sesuatu,
katakan.”
Sastro menatap putranya lama.
Seolah ingin bicara.
Seolah ingin membuka semuanya.
Namun pada akhirnya,
yang keluar hanya satu kalimat:
“Sekar bukan untukmu.”
Arga merasa dadanya seperti dipukul sesuatu.
“Siapa yang menentukan itu?”
“Ayah.”
“Karena takut?”
tanya Arga.
“Atau karena masa lalu yang kalian sembunyikan?”
Sastro membeku.
Dan Arga tahu,
ia telah menyentuh sesuatu
yang tidak seharusnya.
Arga pergi dari rumah
tanpa menyelesaikan sarapan.
Langkahnya cepat.
Napasnya berat.
Pikirannya kacau.
Ia marah.
Bukan hanya karena dilarang.
Tetapi karena untuk pertama kalinya,
orang tuanya tidak hanya menyembunyikan rahasia,
mereka mulai mencoba mengatur perasaannya.
Dan bagi seseorang yang baru pertama kali menemukan cinta,
larangan seperti itu
terasa seperti menutup napas.
Di sisi lain desa,
Sekar juga mengalami hal yang sama.
Neneknya, Mbok Raras,
yang biasanya lembut,
hari itu menahan tangannya
saat Sekar hendak keluar rumah.
“Mau ke mana?”
Sekar terdiam.
“Ke sungai.”
“Jangan.”
Sekar menatap neneknya.
“Kenapa?”
Mbok Raras memalingkan wajah.
“Sudah terlalu dekat.”
Sekar langsung mengerti.
“Dengan Arga?”
Mbok Raras tidak menjawab.
Namun genggaman tangannya semakin erat.
“Nduk...”
suara tua itu bergetar,
“kadang hati bisa membawa orang
ke luka yang sama dua kali.”
Sekar menahan napas.
“Nenek tahu sesuatu.”
Mbok Raras menutup mata.
“Yang tahu tidak selalu sanggup menceritakan.”
Sekar menarik tangannya pelan.
“Tapi aku yang menjalaninya.”
Mata tua Mbok Raras basah.
“Justru itu yang membuat nenek takut.”
Sore harinya,
meski dilarang,
Arga tetap pergi.
Karena ada satu hal
yang lebih kuat dari larangan:
kerinduan.
Dan semakin seseorang dilarang bertemu,
sering kali justru langkahnya
semakin pasti menuju orang yang dirindukan.
Saat tiba di Kali Wening,
Sekar sudah berdiri di sana.
Sendirian.
Mereka saling menatap.
Tidak ada yang bertanya
kenapa masing-masing datang.
Karena mereka sudah tahu jawabannya.
Sekar tersenyum tipis.
“Kamu juga dilarang?”
Arga mengangguk.
“Kamu?”
Sekar ikut mengangguk.
Arga menghela napas.
“Berarti mereka semua memang tahu sesuatu.”
Sekar menatap air.
“Dan mereka takut.”
Arga memandang wajahnya.
“Kamu takut juga?”
Sekar terdiam lama.
Lalu menjawab pelan:
“Iya.”
Arga menatapnya.
“Lalu kenapa tetap datang?”
Sekar menoleh.
Matanya lembut.
Sedih.
Jujur.
“Karena lebih takut
kalau aku tidak datang.”
Kalimat itu membuat seluruh amarah Arga
mendadak hilang.
Yang tersisa hanya satu:
perasaan yang semakin dalam.
Mereka duduk di tepi sungai seperti biasa.
Namun hari itu,
keheningan terasa berbeda.
Bukan tenang.
Bukan nyaman.
Melainkan rapuh.
Seolah mereka berdua tahu
bahwa sesuatu mulai bergerak
melawan mereka.
Arga memecah sunyi.
“Kalau semua orang melarang…”
Sekar menatapnya.
“Lalu?”
Arga memandang lurus ke sungai.
“Apakah kita harus berhenti?”
Sekar tidak langsung menjawab.
Ia menunduk.
Memainkan ujung kainnya.
Menarik napas pelan.
Lalu berkata:
“Aku tidak tahu.”
Arga menatapnya.
Dan jawaban itu,
yang jujur dan tanpa kepastian,
justru terasa lebih menyakitkan
daripada penolakan.
Tiba-tiba angin berembus keras.
Air sungai beriak.
Daun-daun di sekitar mereka bergerak serempak.
Sekar menegang.
Arga langsung menoleh.
Di seberang sungai,
di bawah pohon bambu,
sesosok anak kecil berdiri.
Jatmika.
Namun kali ini,
ia tidak hanya diam.
Ia mengangkat tangan kecilnya,
seolah memberi isyarat.
Kemudian suara lirih itu terdengar jelas.
“Dulu... mereka juga melarang.”
Sekar menggenggam lengan Arga.
Wajahnya pucat.
Arga menatap sosok itu.
“Apa maksudmu?”
Anak kecil itu menatap mereka berdua.
Matanya penuh kesedihan.
Lalu berbisik:
“Dan dulu...
tidak ada yang mendengarkan.”
Sesaat kemudian,
sosok itu menghilang.
Hanya angin dingin yang tertinggal.
Dan dua hati muda
yang kini mulai sadar,
bahwa larangan orang-orang tua
mungkin bukan lahir dari kebencian,
melainkan dari luka lama
yang belum pernah sembuh.
Senja turun perlahan.
Arga dan Sekar tetap duduk di sana.
Lebih dekat dari sebelumnya,
namun terasa lebih jauh dari ketenangan.
Karena kini,
cinta mereka bukan lagi hanya milik mereka.
Masa lalu mulai ikut campur.
Orang-orang tua mulai takut.
Dan bayangan lama
mulai berbicara lebih jelas.
Arga menatap Sekar.
“Kalau semua orang melarang,
aku tetap ingin mengerti.”
Sekar memandangnya.
Matanya basah.
“Kadang mengerti
justru membuat seseorang terluka.”
Arga tersenyum tipis.
“Kalau begitu biar aku yang terluka.”
Sekar menunduk.
Air matanya jatuh diam-diam.
Karena untuk pertama kalinya,
ia mulai sadar:
yang paling berbahaya dari cinta
bukan ketika dua orang saling menemukan.
Tetapi ketika mereka tetap memilih bertahan
meski dunia mulai meminta mereka berpisah.
BAB 33
Air Mata Pertama
Tidak semua kesedihan datang dengan suara.
Ada yang pecah dalam tangis keras.
Ada yang meledak dalam amarah.
Ada yang jatuh seperti hujan.
Namun ada kesedihan tertentu
yang datang perlahan,
diam,
lalu tiba-tiba menetes
tanpa bisa ditahan.
Dan justru air mata yang pertama itu—
yang jatuh tanpa rencana—
sering menjadi tanda
bahwa seseorang sudah terlalu jauh
menahan sesuatu di dalam hatinya.
Itulah yang terjadi pada Sekar.
Sore itu,
langit di atas Kali Wening tampak pucat.
Tidak jingga.
Tidak keemasan.
Seperti kehilangan warna.
Angin bertiup lebih dingin dari biasanya,
meski matahari belum benar-benar tenggelam.
Arga dan Sekar masih duduk di tepi sungai,
di tempat yang sama,
dengan perasaan yang tidak lagi sama.
Larangan dari orang tua,
bisikan Jatmika,
dan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab
menggantung di antara mereka.
Sekar lebih banyak diam hari itu.
Tidak seperti biasanya.
Tidak ada senyum ringan.
Tidak ada candaan kecil.
Tidak ada tatapan hangat yang lama.
Yang ada hanya diam
yang terasa semakin berat.
Arga menatapnya pelan.
“Kamu kenapa?”
Sekar tidak menjawab.
Ia hanya memandang air
yang terus mengalir,
seolah berharap sungai itu
bisa membawa semua pikirannya pergi.
Arga mencoba lagi.
“Sekar…”
Sekar menarik napas panjang.
Dan saat itulah,
sesuatu di dalam dirinya
akhirnya tidak bisa ditahan lagi.
“Aku capek, Arga…”
Suara itu pelan.
Sangat pelan.
Namun cukup untuk membuat Arga membeku.
Sekar menunduk.
Tangannya menggenggam kain di pangkuannya.
“Aku capek tidak mengerti…”
“Aku capek takut…”
“Aku capek merasa semua ini
seolah bukan milikku…”
Arga menatapnya.
“Sekar, ”
Sekar menggeleng cepat.
“Jangan.”
“Jangan bilang semuanya akan baik-baik saja.”
Arga terdiam.
Karena ia memang tidak yakin
apakah semuanya akan baik-baik saja.
Sekar menggigit bibirnya.
Matanya mulai berkaca.
“Aku mencoba kuat…”
“aku mencoba berpikir ini hanya perasaan biasa…”
“aku mencoba menganggap semua ini kebetulan…”
Suaranya mulai bergetar.
“Tapi semakin aku mencoba,
semakin semuanya terasa nyata…”
Dan pada kalimat itu,
air mata pertama jatuh.
Pelan.
Tanpa suara.
Namun terasa seperti sesuatu yang runtuh
di dalam dirinya.
Arga tidak pernah melihat Sekar seperti itu sebelumnya.
Gadis yang selalu tersenyum lembut,
yang selalu menyimpan sesuatu di balik tatapannya,
yang selalu tampak tenang,
kini terlihat rapuh.
Sangat rapuh.
Dan itu membuat dada Arga terasa sesak.
“Sekar…”
Arga mendekat sedikit.
Namun ia ragu.
Ragu apakah harus menyentuhnya.
Ragu apakah kehadirannya justru akan membuat semuanya lebih berat.
Namun sebelum ia memutuskan,
Sekar berkata pelan:
“Aku takut, Arga…”
Arga menahan napas.
“Takut apa?”
Sekar mengangkat wajahnya.
Air mata masih mengalir di pipinya.
“Aku takut kalau aku mencintaimu…”
“bukan karena aku memilihmu…”
Kalimat itu membuat dunia Arga terasa berhenti.
Sekar melanjutkan,
dengan suara yang hampir hilang:
“tapi karena sesuatu dari masa lalu
memaksaku untuk tetap kembali padamu…”
Arga tidak bergerak.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Karena itu juga pertanyaan yang selama ini
diam-diam ia sembunyikan dari dirinya sendiri.
Sekar menunduk lagi.
Air matanya jatuh semakin banyak.
“Aku tidak ingin seperti itu…”
“Aku ingin perasaan ini murni…”
“Aku ingin memilihmu karena aku benar-benar ingin…”
Suaranya pecah.
“Bukan karena aku tidak punya pilihan…”
Arga akhirnya tidak tahan.
Ia mengulurkan tangan.
Pelan.
Hati-hati.
Lalu menyentuh tangan Sekar yang gemetar.
Sekar tidak menarik tangannya.
Justru genggamannya perlahan menguat.
Dan untuk pertama kalinya,
mereka tidak hanya berbagi diam,
tidak hanya berbagi rahasia,
mereka berbagi luka.
“Aku juga takut.”
Suara Arga pelan,
namun jelas.
Sekar menoleh perlahan.
Arga menatapnya.
“Aku takut kalau perasaan ini
bukan milikku sepenuhnya…”
“Aku takut kalau aku hanya
mengulang sesuatu yang pernah terjadi…”
“Aku takut kalau aku hanya
mengisi tempat seseorang yang sudah pergi…”
Sekar memandangnya dengan mata basah.
Arga menggenggam tangannya lebih erat.
“Tapi satu hal yang aku tahu…”
Sekar menunggu.
Arga menarik napas.
“Setiap kali aku melihat kamu,
yang aku rasakan bukan kenangan.”
Sekar terdiam.
Arga melanjutkan:
“Yang aku rasakan… kamu.”
Sunyi.
Hanya suara air sungai yang terdengar.
Dan untuk beberapa detik,
dunia seperti berhenti memberi mereka waktu.
Sekar menatap Arga lama.
Air matanya masih ada.
Namun kini tidak lagi jatuh deras.
“Apa itu cukup?”
bisiknya.
Arga tidak langsung menjawab.
Karena ia tahu,
jawaban untuk pertanyaan itu
tidak sesederhana kata “cukup”.
Namun ia berkata:
“Aku tidak tahu.”
Sekar tersenyum kecil,
meski masih basah oleh air mata.
“Setidaknya kamu jujur.”
Arga membalas senyum tipis.
“Kalau aku bilang cukup,
aku takut berbohong.”
Sekar menunduk.
“Dan kalau tidak cukup…”
Arga melanjutkan pelan:
“…kita tetap di sini sekarang.”
Sekar menatapnya lagi.
Dan untuk pertama kalinya,
di tengah air mata,
ia menemukan sesuatu yang berbeda.
Bukan kepastian.
Namun keberanian.
Angin sore berembus lembut.
Langit mulai gelap.
Sekar menghapus air matanya dengan punggung tangan.
“Ini pertama kalinya aku menangis di depanmu.”
Arga tersenyum kecil.
“Aku merasa terhormat.”
Sekar tertawa pelan.
Meski masih tersisa getar.
“Jangan bangga dulu.”
“Kenapa?”
Sekar menatapnya.
“Karena mungkin ini bukan yang terakhir.”
Arga tidak menjawab.
Karena dalam hatinya,
ia tahu:
air mata pertama
jarang menjadi yang terakhir.
Namun saat mereka mulai merasa sedikit lebih tenang,
angin kembali berubah.
Dingin.
Lebih dingin dari sebelumnya.
Sekar langsung menegang.
Arga menoleh cepat.
Di permukaan sungai,
riak kecil terbentuk sendiri.
Dan di antara pantulan langit yang mulai gelap,
muncul bayangan kecil itu lagi.
Jatmika.
Namun kali ini,
wajahnya tidak hanya sedih.
Ia terlihat… terluka.
Matanya menatap Sekar.
Lalu pada Arga.
Dan suara kecil itu terdengar,
lebih jelas dari sebelumnya:
“Air mata itu… pernah jatuh di sini…”
Sekar menggenggam tangan Arga erat.
Arga menatap sosok itu.
“Apa yang terjadi dulu?”
Jatmika tidak menjawab.
Ia hanya memandang mereka.
Lalu berbisik:
“Dan tidak ada yang menghentikannya…”
Bayangan itu perlahan memudar.
Air kembali tenang.
Namun yang tertinggal
bukan hanya dingin—
melainkan perasaan yang jauh lebih berat.
Sekar menatap Arga.
Wajahnya masih basah.
“Berarti benar…”
Arga menelan napas.
“Ini pernah terjadi.”
Sekar mengangguk perlahan.
Dan kali ini,
tidak ada yang mencoba menyangkal.
Karena air mata pertama
telah membuka sesuatu
yang selama ini tersembunyi:
bahwa cinta mereka
bukan hanya tentang sekarang—
melainkan tentang sesuatu
yang pernah berakhir
dengan luka.
Senja akhirnya hilang.
Malam mulai turun.
Namun Arga dan Sekar belum beranjak.
Karena di tempat itu,
di tepi sungai yang sama,
mereka baru saja melewati satu hal penting:
batas antara menahan
dan akhirnya merasakan.
Dan sejak saat itu,
cinta mereka tidak lagi sama.
Ia menjadi lebih jujur.
Lebih dalam.
Namun juga lebih rapuh.
BAB 34
Rahasia yang Terbuka
Ada rahasia yang disimpan karena malu.
Ada rahasia yang disimpan karena takut.
Dan ada rahasia
yang disimpan terlalu lama
hingga akhirnya berubah menjadi luka
yang diwariskan diam-diam
kepada orang-orang yang bahkan tidak pernah memintanya.
Rahasia seperti itulah
yang selama bertahun-tahun hidup
di antara rumah Arga,
rumah Sekar,
dan Kali Wening.
Dan setelah air mata pertama itu,
takdir seolah memutuskan:
tidak ada lagi yang bisa terus disembunyikan.
Malam setelah pertemuan di sungai,
Arga pulang dengan dada yang berat.
Langit tanpa bulan.
Sawah gelap.
Angin bergerak pelan seperti seseorang
yang sedang membawa kabar buruk.
Ia masuk rumah tanpa bicara.
Sukmawati yang sedang melipat kain
langsung menatap wajah anaknya.
Dan dari mata Arga,
seorang ibu bisa tahu:
anaknya telah sampai
pada pertanyaan yang tak bisa lagi dihindari.
“Kamu bertemu dia lagi.”
bukan bertanya.
melainkan memastikan.
Arga berhenti.
Lalu menatap ibunya.
“Bu…”
“siapa sebenarnya Jatmika?”
Ruangan langsung sunyi.
Sastro yang sedang duduk di beranda
perlahan menoleh.
Wajah Sukmawati berubah pucat.
Untuk sesaat,
tak ada satu pun dari mereka menjawab.
Dan justru karena itulah,
Arga tahu:
malam ini
mereka tidak bisa lagi lari.
Arga melangkah masuk lebih jauh.
“Aku capek menebak.”
“Aku capek dengar setengah cerita.”
“Aku capek mencintai seseorang
tanpa tahu kenapa semua orang
terlihat ketakutan.”
Sukmawati memejamkan mata.
Tangannya gemetar.
Sastro berdiri pelan.
Wajahnya keras.
Namun matanya justru terlihat lelah.
“Arga…”
“Aku bukan anak kecil lagi.”
potong Arga.
“Kalau semua ini tentang aku,
aku berhak tahu.”
Kalimat itu menggantung lama di udara.
Sukmawati akhirnya duduk.
Seolah kakinya tidak lagi sanggup menopang tubuhnya.
Sastro menatap istrinya.
Lalu menatap putranya.
Dan dengan suara yang sangat berat,
ia berkata:
“Jatmika…
adalah anak pertama kami.”
Dunia Arga seperti berhenti.
Ia menatap ayahnya,
seolah tidak yakin ia mendengar dengan benar.
“Apa?”
Sukmawati mulai menangis pelan.
Sastro menunduk.
“Dia kakakmu.”
Arga mundur satu langkah.
Napasnya tercekat.
“Tidak…”
Sukmawati mengangguk sambil menangis.
“Dia lahir dua tahun sebelum kamu.”
Arga menatap ibunya.
Matanya membesar.
“Tapi…”
“kenapa aku tidak pernah tahu?”
Karena beberapa luka,
jawabannya terlalu berat untuk diucapkan.
Sukmawati memeluk dirinya sendiri.
Seolah mencoba menahan kenangan lama.
“Karena dia meninggal.”
Suara itu hampir tidak terdengar.
Namun cukup untuk menghantam Arga.
“Meninggal… bagaimana?”
Sastro memalingkan wajah.
Rahangnya mengeras.
Dan justru dari diam ayahnya,
Arga tahu:
jawabannya tidak sederhana.
Sukmawati menangis semakin pelan.
“Waktu itu musim hujan.”
“Dia masih kecil.”
“Usianya belum genap delapan tahun.”
Arga berdiri kaku.
Sukmawati melanjutkan,
terputus-putus:
“Dia sering bermain di sungai.”
“Padahal sudah berkali-kali dilarang.”
“Tapi dia selalu bilang ada teman yang menunggunya di sana.”
Arga menelan napas.
“Teman?”
Sukmawati mengangguk.
“Anak perempuan kecil.”
Arga langsung teringat Sekar.
Tubuhnya dingin.
Sastro akhirnya berkata,
suara berat seperti menahan sesuatu bertahun-tahun.
“Anak itu adalah Sekar.”
Ruangan mendadak terasa sempit.
Arga tidak bisa bergerak.
Tidak bisa berpikir.
Tidak bisa menata napasnya.
Sekar.
Jatmika.
Sejak kecil.
Sudah saling mengenal.
Sukmawati menangis.
“Waktu itu mereka sering bermain bersama.”
“Tak ada yang tahu kenapa mereka begitu dekat.”
“Padahal usia mereka masih sangat kecil.”
Arga menatap ibunya.
“Lalu?”
Sukmawati menutup wajah.
Sastro menjawab menggantikannya.
“Suatu sore mereka pergi ke sungai.”
“Hujan turun.”
“Air naik lebih cepat dari biasanya.”
Arga merasakan dadanya mulai sesak.
Sastro melanjutkan,
pelan namun tajam:
“Sekar selamat.”
“Jatmika tidak pulang.”
Tak ada suara beberapa saat.
Hanya isak Sukmawati
dan suara angin dari luar rumah.
Arga menatap kosong ke lantai.
Semua potongan mulai menyatu.
Bisikan.
Sungai.
Tangisan.
Larangan.
Mimpi.
Semua mengarah pada satu luka lama
yang belum pernah benar-benar ditutup.
“Jatmika… tenggelam?”
tanya Arga pelan.
Sastro mengangguk.
“Tubuhnya ditemukan dua hari kemudian.”
Arga memejamkan mata.
Dan entah kenapa,
dadanya terasa sakit
seolah ia sendiri
yang kehilangan napas di air itu.
“Tapi itu bukan semuanya.”
kata Sukmawati.
Arga menoleh cepat.
Ibunya menatapnya
dengan mata yang penuh rasa bersalah.
“Sejak hari itu…”
“Sekar terus memanggil namanya.”
“Dalam tidur.”
“Dalam demam.”
“Dalam tangis.”
Arga diam.
Sukmawati berkata lirih:
“Dan beberapa bulan kemudian…”
“dia mulai bilang…”
“Jatmika masih datang menemuinya.”
Arga menatap ibunya.
“Aku juga melihatnya.”
Sukmawati menangis lebih keras.
“Karena Mbah Jayarasa bilang…”
“jiwa yang pergi dengan cinta yang belum selesai
kadang tidak langsung meninggalkan dunia.”
Arga merasakan bulu kuduknya berdiri.
“Lalu aku?”
Sastro menatap putranya.
“Ketika kamu lahir…”
“Mbah Jayarasa melihat tanda yang sama.”
Arga tidak bergerak.
“Ayah bilang…”
“aku adalah dia?”
Sastro tidak menjawab.
Karena beberapa jawaban
terlalu menakutkan untuk diucapkan langsung.
Namun dari tatapan ayahnya,
Arga mengerti.
Mereka semua
sudah lama takut
bahwa Arga bukan hanya Arga.
Malam terasa semakin berat.
Arga keluar rumah.
Duduk di tangga kayu.
Memandang gelap sawah.
Sekarang semuanya mulai masuk akal.
Mengapa sungai selalu memanggilnya.
Mengapa Sekar terasa begitu dekat.
Mengapa Jatmika selalu muncul.
Mengapa semua orang takut.
Namun satu hal
justru semakin menghancurkan:
Bagaimana jika cintanya pada Sekar
bukan benar-benar miliknya?
Bagaimana jika yang ia rasakan
hanyalah sisa cinta
dari kakak yang tak pernah ia kenal?
Langkah kecil terdengar di belakangnya.
Sukmawati duduk di sampingnya.
Untuk beberapa lama,
ibu dan anak itu hanya diam.
Lalu Sukmawati berkata pelan:
“Ibu tidak pernah takut pada kamu.”
Arga menatap lurus ke depan.
“Lalu apa yang ibu takutkan?”
Air mata jatuh dari mata ibunya.
“Ibu takut kamu harus merasakan luka
yang sama dua kali.”
Arga menunduk.
Dan kalimat itu
lebih menyakitkan
daripada seluruh rahasia malam itu.
Keesokan harinya,
Arga menemui Sekar di sungai.
Sekar sudah berdiri di sana,
seolah tahu Arga pasti datang.
Saat melihat wajah Arga,
Sekar langsung tahu.
“Kamu sudah tahu.”
Arga mengangguk.
Sekar memejamkan mata.
Air matanya langsung jatuh.
“Jadi benar…”
bisik Arga.
“Dulu kalian…”
Sekar mengangguk perlahan.
“Waktu kecil…
aku selalu menunggunya di sungai.”
Arga bertanya pelan.
“Dan sekarang?”
Sekar menatap Arga
dengan mata penuh luka.
“Sekarang…”
“Aku tidak tahu
apakah aku menunggu dia…”
Ia terdiam.
Lalu suaranya pecah.
“atau menunggumu.”
Kalimat itu membuat seluruh tubuh Arga terasa kosong.
Karena akhirnya,
rahasia yang paling menakutkan
bukan bahwa masa lalu masih hidup.
Melainkan bahwa cinta mereka
mungkin tidak pernah benar-benar baru.
Angin tiba-tiba berembus keras.
Air sungai beriak.
Di permukaan air,
bayangan kecil muncul sekali lagi.
Jatmika.
Namun kali ini,
ia tidak terlihat marah.
Tidak sedih.
Ia hanya memandang mereka berdua
seolah akhirnya
mereka telah mengetahui semuanya.
Lalu suara kecil itu terdengar:
“Sekarang kalian tahu...”
Arga menatap air.
“Lalu apa yang harus kami lakukan?”
Bayangan itu menatap Sekar.
Kemudian Arga.
Dan berbisik sangat pelan:
“Pilih…”
“mengulang…”
“atau mengakhiri.”
Riak air pecah.
Bayangan itu hilang.
Dan yang tertinggal hanyalah
dua hati
yang kini tahu seluruh kebenaran,
namun justru semakin tidak tahu
harus melangkah ke mana.
BAB 35
Jalan yang Berbeda
Setelah sebuah rahasia terbuka, hidup jarang kembali seperti semula.
Ada orang yang menjadi semakin dekat karena akhirnya saling mengerti.
Namun ada juga yang justru perlahan menjauh,
bukan karena perasaannya hilang,
melainkan karena kenyataan terasa terlalu berat
untuk dipeluk dengan tangan yang sama.
Kadang yang memisahkan dua orang
bukan kebencian.
Bukan luka.
Bukan orang lain.
Melainkan rasa takut
bahwa cinta yang mereka pegang
sebenarnya bukan milik mereka sendiri.
Dan sejak rahasia tentang Jatmika terungkap,
itulah yang diam-diam tumbuh
di antara Arga dan Sekar.
Hari-hari berikutnya,
Kali Wening masih mengalir seperti biasa.
Pohon randu masih berdiri.
Sawah masih bergoyang ditiup angin.
Burung-burung masih melintas saat senja.
Semua terlihat sama.
Namun tidak dengan mereka.
Arga tetap datang ke sungai,
tetapi tidak sesering dulu.
Sekar juga masih datang,
namun tidak lagi menunggu lama.
Kadang mereka bertemu.
Kadang hanya saling melihat dari kejauhan.
Kadang salah satu datang
saat yang lain sudah pergi.
Bukan karena sengaja menghindar.
Namun karena keduanya mulai sadar:
kadang jarak tercipta
meski tak seorang pun berniat meninggalkan.
Suatu sore,
Arga berdiri di bawah pohon randu
ketika Sekar datang dari jalan kecil.
Langkah gadis itu pelan.
Mata mereka bertemu.
Dulu,
tatapan seperti itu selalu membuat dunia terasa hangat.
Kini,
yang datang justru rasa asing
yang menyelip di antara kerinduan.
Sekar berhenti beberapa langkah darinya.
“Kamu sudah lama?”
Arga menggeleng.
“Baru.”
Padahal ia sudah menunggu hampir satu jam.
Sekar mengangguk kecil.
Lalu sunyi.
Bukan sunyi yang nyaman.
Bukan sunyi yang manis.
Melainkan sunyi yang dipenuhi pertanyaan
yang tak seorang pun berani mulai.
Akhirnya Arga berkata,
“Sekar…”
Sekar menatapnya.
“Sejak malam itu…”
“kamu berubah.”
Sekar tersenyum kecil.
Senyum yang tak sampai ke mata.
“Kamu juga.”
Arga menunduk.
Karena ia tidak bisa menyangkalnya.
Ia memang berubah.
Setiap kali menatap Sekar sekarang,
yang ia lihat bukan hanya gadis yang ia cintai.
Ia juga melihat bayangan seseorang
yang hidup sebelum dirinya.
Dan itu membuat hatinya
tak lagi sesederhana dulu.
“Aku mencoba.”
kata Arga pelan.
Sekar bertanya,
“Mencoba apa?”
“Meyakinkan diriku
bahwa semua ini tetap tentang kita.”
Sekar menahan napas.
“Lalu?”
Arga memandang sungai.
“Semakin aku mencoba,
semakin aku takut.”
Sekar tertawa kecil,
namun terdengar seperti luka.
“Aku juga.”
Mereka kembali diam.
Kadang,
dua orang bisa saling mencintai
namun tetap berdiri
di sisi kesedihan yang berbeda.
Angin sore bergerak pelan.
Sekar duduk di batu besar
yang biasa mereka tempati bersama.
Namun kali ini,
Arga tidak langsung duduk di sampingnya.
Ia berdiri beberapa langkah jauhnya.
Sekar menyadarinya.
Dan jarak kecil itu
terasa lebih menyakitkan
daripada kata-kata.
“Kamu sekarang menjauh.”
ujar Sekar lirih.
Arga menatapnya.
“Aku tidak bermaksud begitu.”
“Tapi kamu melakukannya.”
Arga terdiam.
Karena terkadang,
yang paling jujur
bukan yang kita ucapkan,
melainkan yang tubuh kita lakukan tanpa sadar.
“Aku hanya…”
Arga berhenti sejenak.
“Mencoba mengerti.”
Sekar menunduk.
“Aku juga.”
Arga menghela napas.
“Kalau semua ini memang sisa masa lalu…”
“bagaimana kalau yang kita rasakan sekarang
bukan benar-benar milik kita?”
Sekar menutup mata.
Pertanyaan itu
adalah hal yang selama ini
ia hindari dalam pikirannya sendiri.
Namun mendengarnya dari Arga
terasa jauh lebih menyakitkan.
“Jadi menurutmu…”
suara Sekar hampir tak terdengar,
“mungkin kamu tidak benar-benar mencintaiku?”
Arga langsung menoleh.
“Aku tidak bilang begitu.”
“Tapi kamu memikirkannya.”
Arga tak bisa menjawab.
Karena itu benar.
Dan kadang,
kejujuran yang terlambat
lebih tajam daripada kebohongan.
Sekar berdiri perlahan.
Matanya mulai basah,
namun kali ini
ia menahannya.
“Arga…”
“yang paling menyakitkan bukan rahasia itu.”
Arga menatapnya.
Sekar melanjutkan dengan suara gemetar.
“Yang paling menyakitkan
adalah saat aku mulai takut
bahwa kamu melihatku
bukan sebagai aku.”
Arga merasa dadanya seperti ditarik.
“Sekar, ”
“Tapi sebagai seseorang
yang pernah dicintai orang lain sebelum kamu.”
Kalimat itu jatuh
lebih keras daripada yang terdengar.
Karena itulah ketakutan terbesar Sekar:
bukan kehilangan Arga,
melainkan menjadi bayangan
dari masa lalu orang lain.
Arga melangkah mendekat.
“Itu tidak benar.”
Sekar menatapnya.
“Lalu kenapa kamu menjauh?”
Arga membuka mulut,
namun tak ada jawaban yang keluar.
Karena ia sendiri
belum mengerti dirinya.
Ia mencintai Sekar.
Itu jelas.
Namun kini cinta itu
bercampur dengan rasa takut,
bingung,
dan bayangan yang bukan miliknya.
Dan campuran itulah
yang membuat ia tanpa sadar
mulai melangkah mundur.
Sekar tersenyum kecil.
Pahit.
“Kadang diam
sudah cukup jadi jawaban.”
Langit mulai berubah gelap.
Burung-burung pulang ke sarang.
Sekar melangkah mundur satu langkah.
Kemudian satu lagi.
“Sekar…”
Gadis itu menatap Arga lama sekali.
Lalu berkata pelan:
“Mungkin kita butuh waktu.”
Arga menahan napas.
“Untuk apa?”
Sekar memandang sungai.
“Untuk tahu
apakah ini benar-benar kita…”
Ia menatap Arga.
“...atau hanya luka lama
yang sedang mencari bentuk baru.”
Arga merasa tenggorokannya kering.
Karena untuk pertama kalinya,
yang menjauh bukan jarak,
melainkan kemungkinan.
Sekar berbalik.
Dan untuk pertama kalinya
sejak mereka saling menemukan,
ia pergi lebih dulu.
Tanpa menoleh.
Tanpa menunggu.
Tanpa senyum.
Arga hanya berdiri diam,
memandang langkah Sekar
yang perlahan menjauh di pematang.
Matahari tenggelam di belakang sawah.
Bayangan memanjang.
Dan sesuatu di dalam dadanya
ikut meredup bersama cahaya sore.
Saat Sekar sudah hampir hilang dari pandangan,
angin mendadak berubah dingin.
Arga menoleh ke sungai.
Di permukaan air,
bayangan kecil itu muncul lagi.
Jatmika.
Kali ini,
ia tidak sedih.
Ia hanya memandang Arga
dengan mata yang sangat tenang.
Lalu berkata:
“Dulu…”
“aku juga melepaskannya.”
Arga menatap air.
“Kenapa?”
Bayangan itu menjawab:
“Karena aku takut.”
Arga menahan napas.
“Lalu?”
Jatmika menunduk.
Dan suara kecilnya berubah seperti bisikan yang hampir hilang:
“Dan ketakutan itu…
mengubah segalanya.”
Riak kecil memecah bayangan itu.
Air kembali tenang.
Namun kalimat itu
tertinggal di dalam dada Arga
seperti luka baru.
Malam itu,
Arga duduk sendiri di beranda rumah.
Tidak ada suara selain jangkrik.
Tidak ada cahaya selain lampu minyak kecil.
Tidak ada siapa-siapa selain pikirannya sendiri.
Ia terus mengingat
cara Sekar berjalan pergi.
Cara suaranya bergetar.
Cara matanya menahan air mata.
Cara jarak kecil di antara mereka
terasa lebih besar dari seluruh desa.
Dan untuk pertama kalinya,
Arga mulai mengerti:
cinta tidak selalu hancur
karena seseorang berhenti mencintai.
Kadang cinta mulai retak
karena dua orang yang saling mencintai
takut menghadapi hal yang sama.
Di rumahnya,
Sekar juga duduk di dekat jendela.
Menatap gelap.
Mendengar angin.
Merasakan sepi.
Tangannya menyentuh dadanya sendiri,
seolah mencoba menahan sesuatu
agar tidak runtuh.
Lalu berbisik sangat pelan:
“Kalau memang harus memilih…
kenapa rasanya sesakit ini?”
Tak ada jawaban.
Hanya angin malam
yang lewat di sela bambu.
Dan dari kejauhan,
seperti ada suara kecil
yang berkata lirih:
“Karena cinta…”
“tidak pernah benar-benar tahu
cara pergi dengan mudah.”
Sejak hari itu,
Arga dan Sekar masih saling mencintai.
Namun untuk pertama kalinya,
mereka berjalan
di jalan yang berbeda.
Bukan karena hati mereka berubah.
Melainkan karena masa lalu
mulai berdiri di tengah-tengah mereka.
Dan kadang,
yang paling sulit bukan mencintai seseorang.
Melainkan tetap tinggal
saat cinta itu mulai meminta jawaban
yang tak seorang pun siap memberi.
BAB 36
Hujan di Ujung Jalan
Tidak semua pertemuan terjadi di tempat yang direncanakan.
Ada pertemuan yang datang karena janji.
Ada yang lahir karena rindu.
Ada yang terjadi karena kebetulan.
Namun ada juga pertemuan
yang seolah sengaja dikirim oleh langit,
tepat saat dua hati sedang mencoba menjauh,
seolah semesta sendiri belum rela
membiarkan mereka benar-benar berpisah.
Dan kadang,
hujan adalah cara langit
menghentikan seseorang
yang terlalu keras berpura-pura ingin pergi.
Tiga hari setelah perpisahan di tepi sungai,
Arga tidak melihat Sekar.
Tidak di pematang.
Tidak di jalan kecil dekat kebun.
Tidak di tepi Kali Wening.
Tidak di bawah pohon randu.
Desa terasa tetap sama,
namun bagi Arga,
setiap sudut yang biasa menyimpan Sekar
mendadak terasa kosong.
Ia masih membantu ayahnya di sawah.
Masih mengangkat padi.
Masih menimba air.
Masih menebas rumput liar.
Namun semua ia lakukan
seperti tubuh tanpa suara.
Sastro memperhatikannya dari jauh.
Sukmawati juga.
Mereka tidak bertanya.
Karena beberapa luka
terlihat jelas
meski tak sepatah kata pun diucapkan.
Menjelang sore hari keempat,
langit berubah lebih cepat dari biasanya.
Awan hitam datang dari arah barat.
Angin dari sawah bergerak dingin.
Burung-burung rendah terbang pulang.
Dan aroma tanah basah
sudah terasa bahkan sebelum hujan turun.
Sastro memandang langit.
“Hujan besar.”
Arga mengangguk singkat.
Namun hatinya justru terasa gelisah.
Entah kenapa,
setiap hujan datang,
seolah ada sesuatu
yang selalu memanggilnya keluar.
Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Dan sore itu,
panggilan itu terasa lebih kuat.
“Aku ke jalan depan sebentar.”
kata Arga.
Sukmawati menoleh cepat.
“Mau ke mana?”
“Sebentar saja.”
Sastro menatapnya tajam,
namun kali ini tidak melarang.
Karena mungkin,
ia tahu:
ada perjalanan tertentu
yang tidak bisa dicegah
oleh seorang ayah.
Arga mengambil caping tua
dan melangkah keluar rumah.
Langit mulai menetes.
Satu.
Dua.
Tiga.
Lalu hujan turun perlahan.
Jalan tanah di ujung desa
mulai basah ketika Arga sampai di persimpangan kecil
yang memisahkan jalan menuju sungai
dan jalan menuju kebun bambu.
Ia sebenarnya tidak tahu
kenapa kakinya membawanya ke sana.
Namun kadang,
hati mengenal arah
lebih dulu daripada pikiran.
Dan tepat saat ia berhenti di tengah persimpangan,
ia melihat seseorang berdiri di seberang jalan.
Sekar.
Sendirian.
Memegang selendang tipis di atas kepala.
Berdiri di bawah hujan yang mulai rapat.
Mereka saling menatap.
Seperti dua orang
yang sama-sama tidak berniat datang,
namun diam-diam berharap
yang lain muncul.
Untuk beberapa detik,
tak ada yang bergerak.
Hujan turun di antara mereka.
Membentuk tirai tipis
yang justru membuat segalanya terasa lebih dekat.
Sekar akhirnya tersenyum kecil.
“Kamu juga tersesat?”
Arga menggeleng.
“Sepertinya tidak.”
Sekar menatapnya.
“Lalu?”
Arga menatap hujan yang jatuh di antara mereka.
“Mungkin aku memang menuju ke sini.”
Sekar terdiam.
Kalimat sederhana itu
jatuh jauh lebih dalam
daripada yang terdengar.
Hujan semakin deras.
Sekar melangkah ke bawah pohon asem besar
di tepi jalan.
Arga ikut berteduh di sisi lain batang.
Mereka berdiri dekat,
namun tetap menyisakan jarak kecil
yang beberapa hari terakhir terasa begitu besar.
Air hujan menetes dari daun.
Tanah mengeluarkan aroma basah.
Angin membawa dingin
yang membuat dunia seperti berhenti sesaat.
Arga memandang lurus ke depan.
“Aku mencarimu.”
Sekar menunduk.
“Aku tahu.”
Arga menoleh.
“Kamu tahu?”
Sekar tersenyum tipis.
“Karena aku juga mencarimu.”
Arga menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya
setelah beberapa hari yang terasa panjang,
sesuatu di dalam dadanya
mulai bernapas lagi.
“Kenapa kamu tidak datang?”
tanya Arga.
Sekar tidak langsung menjawab.
Ia menatap hujan di ujung jalan.
“Aku mencoba menjauh.”
Arga menghela napas.
“Berhasil?”
Sekar menatapnya.
Matanya lembut.
Sedih.
“Kalau berhasil,
aku tidak akan ada di sini.”
Jawaban itu sederhana.
Namun cukup membuat semua jarak
yang beberapa hari ini tumbuh
perlahan retak.
Arga memejamkan mata sesaat.
“Sekar…
aku tidak ingin kehilangan kamu
karena sesuatu yang bahkan belum kita pahami.”
Sekar menelan napas.
“Tapi aku juga tidak mau
kita saling menyakiti
karena sesuatu yang belum selesai.”
Hujan turun lebih deras.
Suara air di tanah
mengisi jeda di antara mereka.
Dan untuk pertama kalinya,
mereka tidak lagi bicara tentang takut.
Tidak lagi bicara tentang masa lalu.
Tidak lagi bicara tentang orang lain.
Mereka bicara tentang kehilangan.
Dan itu jauh lebih jujur.
Arga menatap Sekar.
“Kalau aku bertanya satu hal,
jawab jujur.”
Sekar mengangguk pelan.
Arga menarik napas.
“Kalau tidak ada Jatmika…”
“kalau tidak ada semua ini…”
Ia menatap mata Sekar.
“Apakah kamu tetap memilihku?”
Hujan seperti mendadak melambat.
Sekar memandang Arga lama sekali.
Seolah mencari jawaban
yang sudah ada di hatinya
namun sulit diucapkan.
Lalu dengan suara hampir berbisik,
ia berkata:
“Aku sudah memilihmu
bahkan sebelum aku tahu kenapa.”
Arga terdiam.
Dunia seolah sunyi.
Hanya hujan.
Hanya mereka.
Dan satu jawaban
yang selama ini tak berani mereka ucapkan.
Sekar menatapnya balik.
“Sekarang giliranku.”
Arga mengangguk.
Sekar bertanya pelan:
“Kalau ternyata semua ini memang
sisa dari masa lalu…”
Ia menggigit bibir.
Lalu melanjutkan:
“Apakah kamu tetap akan tinggal?”
Pertanyaan itu lebih berat.
Jauh lebih berat.
Karena jawaban atas pertanyaan itu
bukan hanya soal cinta—
tetapi keberanian.
Arga memandang hujan.
Lalu menatap Sekar.
“Kalau aku pergi sekarang…”
Ia tersenyum pahit.
“Aku akan menghabiskan hidupku
bertanya-tanya.”
Sekar menahan napas.
Arga melanjutkan:
“Dan aku lebih takut pada penyesalan
daripada pada masa lalu.”
Mata Sekar langsung basah.
Namun kali ini,
bukan karena luka.
Melainkan karena untuk pertama kalinya,
Arga memilih tinggal
meski tahu semuanya tidak mudah.
Hujan turun semakin deras.
Sekar tertawa kecil di tengah air matanya.
“Kita ini aneh.”
Arga mengerutkan kening.
“Kenapa?”
Sekar menatapnya.
“Dua orang yang sama-sama takut,
tapi tetap saling kembali.”
Arga tersenyum tipis.
“Mungkin memang begitu cinta.”
Sekar menggeleng kecil.
“Atau mungkin kita sama-sama keras kepala.”
Arga tertawa pelan.
“Mungkin itu juga.”
Untuk pertama kalinya
setelah hari-hari yang berat,
mereka kembali tersenyum bersama.
Dan meski hanya sebentar,
dunia terasa sedikit lebih ringan.
Namun di ujung jalan,
di balik hujan,
sebuah bayangan kecil berdiri diam.
Jatmika.
Tidak jauh.
Tidak dekat.
Hanya memandang mereka
dari balik tirai air.
Kali ini wajahnya tidak sedih.
Namun matanya
menyimpan sesuatu yang sulit dibaca.
Sekar langsung menegang.
Arga menoleh cepat.
Sosok kecil itu mengangkat tangan,
seolah ingin mengatakan sesuatu.
Lalu suara lirih terdengar bersama hujan:
“Hujan dulu juga turun seperti ini…”
Arga melangkah maju.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
Bayangan itu memandang mereka berdua.
Dan untuk pertama kalinya,
ada luka nyata di matanya.
“Aku tidak sempat memilih…”
Hujan mengguyur lebih keras.
Suara kecil itu kembali terdengar:
“Jangan ulangi aku.”
Lalu bayangan itu lenyap
bersama derasnya air.
Sekar menggenggam lengan Arga.
Tangannya dingin.
“Kamu dengar?”
Arga mengangguk.
Mereka berdiri diam di bawah pohon,
mendengarkan hujan,
dengan jantung yang berdetak tak tenang.
Karena kini,
masa lalu tidak lagi hanya mengintai.
Ia mulai memberi peringatan.
Dan itu berarti,
jalan yang sedang mereka pilih
mungkin akan membawa mereka
ke tempat yang jauh lebih berbahaya.
Saat hujan mulai mereda,
Arga menatap Sekar.
“Sekarang?”
Sekar menatap jalan basah di depan mereka.
Lalu menatap Arga.
“Sekarang…”
ia menarik napas pelan,
“kita berhenti lari.”
Arga mengangguk.
Untuk pertama kalinya,
mereka tidak lagi berdiri di dua arah berbeda.
Mereka belum tahu
ke mana jalan ini akan membawa.
Namun setidaknya,
di bawah hujan sore itu,
di ujung jalan kecil desa,
mereka memilih satu hal yang sama:
untuk tidak saling meninggalkan
lebih dulu.
BAB 37
Luka yang Tersembunyi
Tidak semua luka terlihat seperti darah.
Ada luka yang tidak meninggalkan bekas di kulit.
Tidak terlihat di mata.
Tidak terdengar dalam suara.
Ia hidup diam-diam
di dalam cara seseorang menatap.
Di dalam cara seseorang menghindar.
Di dalam cara seseorang terlalu cepat diam
saat sebuah nama disebutkan.
Dan luka yang disembunyikan terlalu lama
sering kali tidak benar-benar sembuh.
Ia hanya berpindah.
Dari satu hati ke hati lain.
Dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Setelah hujan di ujung jalan itu,
Arga mulai menyadari:
yang menghantui dirinya dan Sekar
bukan hanya bayangan Jatmika—
melainkan luka yang selama ini
dipendam oleh orang-orang yang mereka cintai.
Sejak pertemuan di bawah pohon asem,
Arga dan Sekar memang tidak lagi saling menghindar.
Namun sesuatu telah berubah.
Mereka masih bertemu.
Masih berbicara.
Masih berjalan di jalan kecil yang sama.
Tetapi kini,
setiap kebersamaan mereka
selalu disertai kesadaran baru:
masa lalu ikut berjalan bersama mereka.
Dan semakin Arga mencoba memahami Jatmika,
semakin ia melihat
bahwa luka itu bukan hanya milik seorang anak kecil
yang tenggelam di sungai.
Luka itu hidup
di rumahnya sendiri.
Pagi itu,
Arga terbangun lebih awal dari biasanya.
Udara masih dingin.
Ayam belum sepenuhnya berkokok.
Kabut tipis masih menggantung di sawah.
Dari dalam kamar,
ia mendengar suara pelan dari dapur.
Suara ibunya.
Bukan berbicara.
Bukan memanggil.
Menangis.
Arga terdiam.
Ia belum pernah mendengar ibunya menangis
di pagi buta seperti itu.
Pelan-pelan,
ia mendekat ke pintu dapur.
Sukmawati duduk sendirian di bangku kayu.
Di depannya,
sebuah kotak kain tua terbuka.
Tangannya memegang baju kecil berwarna pudar.
Baju anak-anak.
Arga menahan napas.
Sukmawati menyentuh kain itu
seolah menyentuh sesuatu yang hidup.
Lalu berbisik dengan suara patah:
“Ibu masih ingat…”
“setiap lipatannya…”
Arga berdiri diam di ambang pintu.
Dan saat itu,
ia mengerti:
ibunya tidak pernah benar-benar melepas Jatmika.
Ia hanya belajar
cara menangis diam-diam.
“Bu…”
Sukmawati tersentak.
Cepat menghapus air matanya.
“Arga?”
“Kamu sudah bangun?”
Arga masuk perlahan.
Matanya tertuju pada baju kecil itu.
“Itu milik Jatmika?”
Sukmawati menunduk.
Lalu mengangguk.
“Seharusnya ibu sudah membuangnya.”
katanya lirih.
“Tapi tangan ibu tidak pernah sanggup.”
Arga duduk di depannya.
Untuk pertama kalinya,
ia melihat ibunya
bukan hanya sebagai ibu,
tetapi sebagai seseorang
yang kehilangan anak
dan tidak pernah benar-benar pulih.
“Kenapa Ibu tidak pernah cerita?”
Sukmawati tersenyum kecil.
Pahit.
“Karena ibu pikir,
kalau ibu diam,
rasa sakitnya ikut diam.”
Ia mengusap baju kecil itu.
“Ternyata tidak.”
Arga menatap wajah ibunya.
“Ayah juga begitu?”
Sukmawati menoleh ke pintu dapur,
memastikan Sastro tidak ada.
Lalu menjawab pelan:
“Ayahmu paling terluka.”
Arga terdiam.
“Padahal Ayah tidak pernah menunjukkan.”
Sukmawati mengangguk.
“Karena laki-laki sering diajari
bahwa diam adalah cara bertahan.”
Kalimat itu sederhana.
Namun menampar Arga pelan.
Karena tiba-tiba
ia mulai mengerti ayahnya.
Siang hari,
Arga pergi ke lumbung belakang rumah.
Sastro sedang memperbaiki gagang cangkul.
Seperti biasa,
wajahnya keras.
Gerakannya tenang.
Tidak ada tanda-tanda luka.
Namun sekarang Arga tahu:
kadang luka terbesar
justru bersembunyi
di orang yang paling tenang.
“Ayah.”
Sastro mengangkat kepala.
“Iya?”
Arga berdiri beberapa langkah di depannya.
“Ayah masih menyalahkan diri sendiri?”
Tangan Sastro berhenti.
Lama sekali.
Lalu perlahan,
ia meletakkan cangkulnya.
“Kenapa kamu tanya begitu?”
Arga menjawab jujur.
“Karena aku lihat ibu masih menangis.”
“Dan aku rasa…”
“ayah juga belum pernah berhenti.”
Sastro menatap putranya.
Dan untuk pertama kalinya,
tatapan itu tidak keras.
Hanya lelah.
Sangat lelah.
“Aku yang mengizinkan dia pergi hari itu.”
Suara Sastro berat.
Serak.
Arga diam.
“Hujan belum turun.”
“Dia bilang cuma sebentar.”
“Dia bilang Sekar sudah menunggu di sungai.”
Sastro menunduk.
Rahangnya menegang.
“Kalau saja aku menahannya…”
Kalimat itu berhenti.
Namun Arga tahu
sisa kalimat itu
telah hidup bertahun-tahun
di dalam hati ayahnya.
Kalau saja aku menahannya,
mungkin semuanya berbeda.
“Ayah tidak salah.”
kata Arga pelan.
Sastro tertawa kecil.
Hambar.
“Setiap orang bilang begitu.”
Ia menatap sawah.
“Tapi setiap malam,
aku tetap mendengar
suara langkah kecil itu
lari keluar rumah.”
Arga membeku.
“Ayah juga mendengarnya?”
Sastro tidak langsung menjawab.
Lalu berkata pelan:
“Kadang.”
“Di malam tertentu.”
“Di musim tertentu.”
“Setelah hujan.”
Arga merasakan dingin merambat.
Karena itu berarti:
bukan hanya dirinya yang melihat.
Masa lalu memang belum pergi.
Sastro menatap Arga.
Tatapannya dalam.
“Itu sebabnya aku melarangmu.”
“Karena takut aku seperti dia?”
Sastro menggeleng.
“Karena takut kamu lebih dari itu.”
Arga terdiam.
Sastro melanjutkan:
“Kadang aku melihat caramu menatap sungai…”
“dan aku merasa seperti melihat dia kembali.”
Arga tidak bisa menjawab.
Karena itulah ketakutan yang selama ini
ia hindari dalam dirinya sendiri.
Sore harinya,
Arga menemui Sekar.
Mereka duduk di bawah pohon randu,
namun kali ini tanpa banyak bicara.
Arga akhirnya berkata:
“Luka ini bukan cuma tentang Jatmika.”
Sekar menatapnya.
“Aku tahu.”
Arga mengerutkan kening.
“Kamu tahu?”
Sekar mengangguk.
“Nenekku juga masih menyimpan lukanya.”
Arga diam.
Sekar memandang sungai.
“Setelah Jatmika meninggal,
orang-orang bilang aku demam tujuh hari.”
“Terus menyebut namanya.”
“Terus bilang aku ingin ikut.”
Arga menahan napas.
Sekar menunduk.
“Dan sejak hari itu,
nenek tidak pernah benar-benar memaafkan dirinya.”
“Kenapa?”
Sekar menatapnya dengan mata sendu.
“Karena yang mengizinkan aku pergi hari itu…
adalah nenek.”
Arga membeku.
Dan untuk pertama kalinya,
ia sadar:
luka itu tidak memilih rumah.
Ia tinggal di semua orang.
Mereka duduk lama tanpa bicara.
Karena kadang,
setelah mengetahui seseorang terluka,
cara kita memandang mereka ikut berubah.
Arga kini melihat ayahnya berbeda.
Sekar melihat neneknya berbeda.
Dan mereka saling memandang
dengan kesadaran baru:
mereka bukan hanya sedang menghadapi masa lalu.
Mereka sedang berjalan
di atas luka yang diwariskan.
Angin sore bergerak pelan.
Sekar berkata lirih:
“Kadang aku berpikir…”
“mungkin bukan kita yang terikat.”
Arga menatapnya.
“Lalu siapa?”
Sekar memandang rumah-rumah jauh di ujung sawah.
“Orang-orang yang kita cintai.”
Kalimat itu sederhana.
Namun terasa benar.
Karena sering kali,
yang paling sulit melepaskan
bukan yang meninggal.
Melainkan yang ditinggalkan.
Tiba-tiba angin berubah dingin.
Daun randu bergetar.
Arga dan Sekar menoleh ke arah sungai.
Di antara pantulan air,
bayangan Jatmika muncul lagi.
Namun kali ini,
ia tidak melihat mereka.
Ia justru menatap ke arah rumah-rumah desa.
Ke arah rumah Arga.
Ke arah rumah Sekar.
Wajah kecilnya penuh kesedihan.
Lalu ia berbisik:
“Aku bukan yang paling terluka…”
Arga menahan napas.
“Apa maksudmu?”
Bayangan itu perlahan menoleh.
Matanya menatap mereka berdua.
Dan suara kecil itu terdengar seperti angin yang patah:
“Yang hidup…
selalu lebih lama membawa luka.”
Riak air pecah.
Bayangan itu menghilang.
Dan kalimat itu
jatuh jauh lebih berat
daripada semua yang pernah mereka dengar sebelumnya.
Sekar menggenggam tangan Arga perlahan.
Bukan karena takut.
Tetapi karena kini mereka sama-sama tahu:
yang sedang mereka hadapi
bukan sekadar kisah cinta yang rumit.
Melainkan luka lama
yang diam-diam
telah membentuk hidup banyak orang.
Dan jika mereka tidak berhati-hati,
mereka bisa menjadi
orang berikutnya
yang mewarisi kesedihan itu.
BAB 38
KATA YANG TAK TERUCAP
Malam itu, setelah pulang dari pertemuan dengan Sekar di tepi Kali Wening, Arga tidak bisa tidur.
Bukan karena ia tidak lelah. Tubuhnya, yang sejak pagi membantu ayahnya membajak sawah, terasa berat seperti digantungi batu. Setiap sendi di tubuhnya terasa pegal. Telapak tangannya masih terasa perih karena bergesekan dengan gagang bajak kayu yang kasar. Bahkan punggungnya, yang membungkuk berjam-jam di bawah terik matahari, masih terasa panas meski malam telah datang sejak lama.
Tapi semua rasa sakit fisik itu bukan apa-apa dibandingkan dengan sesuatu yang menggelayut di dadanya.
Sesuatu yang berat.
Sesuatu yang dingin.
Samu yang terus merayap naik dari ulu hati ke tenggorokan, lalu berhenti di sana. Tidak keluar, tidak masuk. Hanya menggantung. Seperti kata-kata yang tak pernah berani diucapkan.
Arga terbaring di dipan bambu, memandang langit-langit rumah yang gelap. Lampu minyak di sudut ruangan sudah padam sejak dua jam lalu. Sukmawati sengaja memadamkannya lebih awal karena ingin menghemat minyak yang mulai menipis. Tapi Arga tahu, ibunya juga tidak bisa tidur. Dari dapur, terdengar suara gesekan kursi kayu yang dipindahkan. Sesekali, suara langkah kaki yang berjalan ke sana kemari.
Sastro juga belum tidur.
Arga bisa mendengar ayahnya mondar-mandir di beranda. Sesekali berhenti. Lalu mondar-mandir lagi. Seperti ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Seperti ada beban yang tidak bisa ia letakkan.
Malam itu, Arga memutuskan untuk berbicara.
Bukan dengan ayahnya. Bukan dengan ibunya. Tapi dengan dirinya sendiri. Dengan pikirannya yang kacau. Dengan hatinya yang penuh.
Ia memejamkan mata. Membayangkan wajah Sekar. Membayangkan senyumnya. Membayangkan matanya yang sayu. Membayangkan tangannya yang dingin saat ia genggam.
"Kita butuh waktu," kata Sekar dalam ingatannya.
"Untuk apa?" Arga bertanya dalam hati.
"Untuk tahu apakah ini benar-benar kita, atau hanya luka lama yang sedang mencari bentuk baru."
Arga menghela napas. Panjang. Berat. Seperti membuang seluruh udara dari paru-parunya.
Tiga hari sudah sejak perpisahan di tepi sungai itu. Tiga hari sejak Sekar berjalan pergi tanpa menoleh. Tiga hari sejak jarak kecil di antara mereka terasa lebih besar dari seluruh desa.
Arga belum menemui Sekar sejak saat itu.
Bukan karena ia tidak mau. Bukan karena ia marah. Bukan karena ia sudah tidak peduli. Tapi karena ia tidak tahu harus berkata apa. Setelah semua rahasia terbuka, setelah Jatmika pergi, setelah Mbok Raras memberikan restunya di atas ranjang kematian yang masih menunggu, apa yang tersisa?
Hanya mereka.
Hanya Arga dan Sekar.
Dan pertanyaan yang belum terjawab: apakah cinta mereka cukup kuat untuk melampaui masa lalu yang telah membentuk mereka?
Di luar, angin malam berembus lembut.
Pohon mangga di depan rumah bergoyang perlahan. Daun-daunnya bergesekan, menimbulkan suara gemerisik yang nyaris seperti bisikan.
Arga teringat pada suara angin.
Dulu, ketika ia masih kecil, angin adalah teman pertamanya. Angin yang membisikkan nama Jatmika. Angin yang membawanya ke sungai. Angin yang memperkenalkannya pada Sekar.
Tapi sekarang, angin diam.
Mungkin karena ia sudah tidak perlu berbicara lagi.
Mungkin karena semua yang perlu dikatakan sudah diucapkan.
Mungkin karena giliran Arga yang harus berbicara.
"Arga," panggil Sastro dari balik pintu.
Arga membuka mata. Ayahnya berdiri di ambang pintu, hanya mengenakan sarung lusuh, rambutnya masih acak-acakan.
"Ayah pikir kau sudah tidur," kata Sastro.
"Belum bisa, Yah."
"Pikiranmu ke mana?"
Arga tidak menjawab.
"Ke Sekar lagi?"
Arga mengangguk pelan.
Sastro berjalan mendekat, lalu duduk di ujung dipan. Bobot tubuhnya membuat bambu berderit. "Ayah juga tidak bisa tidur."
"Kenapa, Yah?"
Sastro menatap gelap di luar jendela. "Ayah memikirkanmu. Dan Sekar. Dan semua yang terjadi."
"Kami baik-baik saja, Yah."
"Kamu bohong."
Arga terdiam.
"Ayah tahu," lanjut Sastro. "Setelah semua rahasia terbuka, setelah Jatmika pergi, setelah kalian tahu masa lalu... tidak mudah untuk kembali seperti biasa. Bahkan ayah dan ibumu butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa saling memandang tanpa rasa bersalah."
"Tapi ayah dan ibu tetap bersama."
"Ya. Kami tetap bersama. Bukan karena kami kuat. Tapi karena kami memilih untuk tidak pergi."
Arga menatap ayahnya. "Apa bedanya?"
"Orang kuat bisa bertahan sendirian, Le. Tapi orang yang memilih untuk tetap tinggal, dia punya alasan. Alasan yang lebih kuat dari ketakutan."
"Alasan apa, Yah?"
Sastro tersenyum tipis. "Kamu. Ibu. Jatmika. Keluarga. Masa depan. Banyak hal."
Arga diam. Ia memikirkan kata-kata ayahnya.
Mungkin benar.
Mungkin selama ini ia terlalu sibuk merasa takut. Takut tidak cukup. Takut kehilangan. Takut disakiti. Takut mengulang kesalahan yang sama.
Tapi ia lupa bahwa Sekar juga takut.
Ia lupa bahwa mereka berdua sama-sama takut.
Dan kadang, ketakutan yang sama bisa menjadi jembatan. Bukan tembok.
"Yah," panggil Arga.
"Iya."
"Besok aku akan menemui Sekar."
Sastro menatapnya lama. Lalu mengangguk. "Bagus. Jangan lupa bawa sesuatu. Pisang goreng. Supaya suasana tidak terlalu tegang."
Arga tersenyum. "Ayah selalu bilang begitu."
"Karena itu penting, Le. Orang yang sedang bingung dan takut, kalau diberi makanan enak, hatinya sedikit lebih lapang."
"Ayah belajar dari siapa?"
"Dari hidup, Le. Dari hidup."
Keesokan paginya, Arga bangun lebih awal dari biasanya.
Matahari belum terbit. Kabut masih tebal. Udara dingin menusuk tulang.
Ia mandi, memakai baju terbaiknya, baju batik lengan panjang yang biasa ia pakai hanya untuk acara-acara penting.
Sukmawati yang melihat dari dapur tersenyum. "Dandan lagi. Mau ke mana?"
"Ke rumah Sekar."
"Mau ngapain?"
"Mau... bicara."
"Bicara tentang apa?"
Arga menghela napas. "Tentang kita, Bu. Tentang masa depan. Tentang semua yang belum selesai."
Sukmawati berjalan mendekat. Tangannya mengusap rambut Arga pelan. "Hati-hati, Le. Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Jangan terlalu keras pada Sekar."
"Aku tidak akan, Bu."
"Dan jangan lupa," Sukmawati menyerahkan bungkusan daun pisang, "bawa pisang goreng."
Arga tertawa. "Ibu juga sama seperti Ayah."
"Kami suami istri, Le. Sudah pasti sama."
Arga menerima bungkusan itu. Tangannya hangat dari uap pisang goreng yang baru saja diangkat dari wajan. Ia mencium bau pisang dan gula jawa. Aroma yang mengingatkannya pada pagi-pagi ketika ia pertama kali datang ke rumah Sekar dengan perasaan canggung.
"Ibu, apakah semua akan baik-baik saja?" tanya Arga.
Sukmawati menatap anaknya. Matanya lembut. Penuh dengan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
"Ibu tidak tahu, Le. Tapi Ibu percaya pada kamu. Dan Ibu percaya pada Sekar."
"Apa itu cukup?"
"Kadang, kepercayaan adalah satu-satunya yang kita butuhkan untuk melangkah. Sisanya, biar waktu yang menjawab."
Arga berjalan menuju rumah Sekar dengan pisang goreng di tangan.
Langit pagi mulai terang. Matahari muncul dari balik bukit, menyinari sawah yang menguning keemasan. Burung-burung mulai bernyanyi dari kejauhan.
Setiap langkah terasa berat.
Setiap pohon yang ia lewati seperti mengamat-amatinya.
Setiap suara angin seperti berbisik, "Kamu siap? Kamu yakin?"
Arga tidak tahu.
Ia tidak siap.
Ia tidak yakin.
Tapi ia tetap melangkah.
Karena tidak ada kata siap dalam urusan hati. Yang ada hanya keberanian untuk mencoba.
Rumah Sekar terlihat dari kejauhan. Rumah tua itu berdiri sendiri di ujung desa, dikelilingi pohon jati dan semak belukar. Tirai bambu di depan pintu tertutup rapat. Tidak ada asap dari dapur. Tidak ada suara apa pun.
Tapi Arga tahu Sekar ada di dalam.
Ia bisa merasakannya.
Seperti dulu, ketika ia pertama kali datang ke rumah ini dengan perasaan gelisah. Ketika ia tidak tahu apakah Sekar akan membukakan pintu atau memintanya pergi.
Arga berdiri di depan pagar.
Ia menarik napas dalam-dalam.
Lalu membuka pagar, berjalan melewati halaman yang ditumbuhi rumput liar, lalu mengetuk pintu.
Tok. Tok. Tok.
Sunyi.
Ia mengetuk lagi. Sedikit lebih keras.
"Sekar! Ini Arga!"
Dari dalam terdengar langkah kaki. Pelan. Seperti orang yang berjalan dengan berat hati.
Pintu terbuka sedikit.
Sekar mengintip dari celah kecil.
Wajahnya pucat. Rambutnya kusut. Matanya sembab.
Dia baru saja menangis. Atau mungkin sudah berhari-hari menangis tanpa henti.
"Arga?" suaranya serak. "Kamu ke sini?"
"Aku mau bicara."
"Tentang apa?"
"Tentang kita."
Sekar terdiam. Ia tampak berpikir, antara menutup pintu atau membiarkan Arga masuk.
Arga tidak menunggu. "Aku bawa pisang goreng."
Sekar melihat bungkusan di tangan Arga. "Kamu pikir pisang goreng bisa menyelesaikan segalanya?"
"Tidak. Tapi setidaknya kita bisa bicara sambil makan."
Sekar menghela napas. Ia membuka pintu sedikit lebih lebar.
"Jangan lama-lama."
"Iya."
Di dalam, rumah Sekar terasa dingin.
Tidak seperti biasanya.
Dulu, rumah ini selalu hangat karena aroma dupa dan bunga kenanga. Sekarang, yang tersisa hanya aroma kapur barus dan debu.
Sekar duduk di kursi bambu. Ia tidak mempersilakan Arga duduk, tapi Arga mengambil inisiatif untuk duduk di seberangnya.
Ia meletakkan pisang goreng di meja kayu yang sudah lapuk.
"Sekar," panggil Arga.
"Apa?"
"Aku minta maaf."
Sekar menatapnya. "Minta maaf buat apa?"
"Karena aku menjauh. Karena aku takut. Karena aku membiarkan jarak tumbuh di antara kita."
Sekar tidak menjawab. Ia hanya menunduk, memainkan ujung kainnya.
"Aku juga minta maaf," bisiknya akhirnya.
"Kamu minta maaf buat apa?"
"Karena aku juga takut. Karena aku juga menjauh. Karena aku berpikir bahwa lebih baik pergi lebih dulu daripada ditinggalkan."
Arga menghela napas. "Kita berdua sama-sama takut."
"Iya. Kita berdua sama-sama bodoh."
"Mungkin."
Sekar tertawa kecil. Tawa pahit yang tidak sampai ke mata.
"Jatmika sudah pergi," kata Sekar. "Dia sudah menyelesaikan semua yang harus diselesaikan. Tapi kenapa kita masih begini? Kenapa kita masih takut?"
"Karena kita manusia, Sekar. Manusia butuh waktu untuk memproses semuanya."
"Sudah berapa lama? Hari? Minggu? Bulan? Kapan kita akan berhenti takut?"
Arga menggenggam tangan Sekar. Dingin. Gemetar.
"Aku tidak tahu. Tapi yang aku tahu, aku tidak ingin kehilangan kamu karena ketakutan."
"Kamu bisa yakin?"
"Aku bisa berusaha."
"Apakah usaha itu cukup?"
Arga terdiam. Ia memikirkan kata-kata Sekar.
Apakah usaha itu cukup?
Mungkin tidak.
Tapi lebih baik usaha daripada diam.
Lebih baik mencoba daripada menyesal.
"Kita sudah tahu semuanya, Sekar," kata Arga. "Kita tahu tentang Jatmika. Kita tahu tentang masa lalu. Kita tahu tentang luka yang diwariskan. Sekarang, satu-satunya yang tersisa adalah pilihan."
"Pilihan apa?"
"Apakah kita membiarkan masa lalu menghancurkan kita, atau kita menggunakan masa lalu untuk membangun sesuatu yang baru."
Sekar menatap Arga. Matanya basah.
"Kamu bicara seperti orang yang sudah sangat dewasa."
"Aku belajar cepat."
"Karena kamu sering mendengar angin?"
Arga tersenyum. "Mungkin."
Sekar juga tersenyum. Senyum kecil yang membuat Arga merasa sedikit lega.
Mereka berdua makan pisang goreng dalam diam.
Tidak ada yang bicara.
Tapi diam kali ini tidak canggung. Tidak dingin. Hanya tenang.
Seperti sungai di musim kemarau.
Seperti angin di pagi hari.
"Arga," panggil Sekar.
"Iya."
"Aku masih takut."
"Aku juga."
"Tapi aku tidak ingin berhenti."
"Aku juga tidak ingin."
"Jadi?"
Arga menggenggam tangan Sekar lebih erat. "Jadi kita lanjutkan."
"Lanjutkan apa?"
"Lanjutkan hidup. Lanjutkan hubungan ini. Lanjutkan mencoba. Sampai kita benar-benar yakin bahwa ini bukan hanya sisa masa lalu, tapi benar-benar milik kita."
Sekar menatap Arga.
Lama.
Sangat lama.
Lalu ia berkata:
"Baik. Aku setuju."
Matahari mulai naik ketika Arga pamit pulang.
Sekar mengantarnya sampai pintu.
"Besok kapan kamu datang?" tanya Sekar.
"Pagi. Seperti biasa."
"Bawa pisang goreng lagi?"
"Tentu. Itu sudah kewajiban."
Sekar tertawa. Tawa kecil yang membuat dada Arga terasa hangat.
"Arga."
"Iya."
"Terima kasih. Karena tidak menyerah padaku."
Arga tersenyum. "Aku tidak akan pernah menyerah padamu. Itu janji."
Sekar tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Senyum yang membuat Arga merasa bahwa semua akan baik-baik saja.
Arga berjalan pulang dengan langkah lebih ringan.
Langit cerah.
Burung-burung bernyanyi.
Angin berembus lembut.
Untuk pertama kalinya setelah tiga hari, ia merasa lega.
Bukan karena semua masalah selesai.
Bukan karena semua ketakutan hilang.
Tapi karena ia tidak lagi berjalan sendirian.
Di rumah, Sukmawati sudah menyiapkan makan siang.
"Bagaimana?" tanyanya.
"Baik, Bu. Kami bicara."
"Lalu?"
"Kami memilih untuk melanjutkan."
Sukmawati tersenyum. "Bagus. Ibu bangga sama kamu."
"Belum waktunya bangga, Bu. Masih panjang jalannya."
"Tidak apa. Ibu akan selalu bangga, selama kamu tidak menyerah."
Arga memeluk ibunya.
Untuk pertama kalinya setelah lama, ia merasa rumahnya benar-benar hangat.
Bukan karena matahari.
Tapi karena orang-orang di dalamnya.
Malam itu, Arga menulis surat untuk Sekar.
Bukan surat panjang.
Hanya beberapa kalimat.
"Untuk Sekar," tulisnya.
"Hari ini, kita bicara. Hari ini, kita memilih untuk tidak menyerah. Aku tidak tahu apakah ini keputusan yang benar. Tapi aku tahu, aku tidak ingin kehilangan kamu."
"Besok, aku akan datang lagi. Lusa. Dan seterusnya. Sampai kita benar-benar yakin bahwa ini milik kita."
"Dari Arga, yang tidak akan pergi."
Ia melipat surat itu, memasukkannya ke dalam amplop, lalu menyimpannya di dalam lemari, di samping bantal kecil dari kebaya Sekar.
BAB 39
SENJA YANG PUCAT
Pagi itu, langit di atas Desa Wringinrejo terlihat berbeda.
Bukan berbeda dalam arti yang buruk. Tidak ada awan hitam yang menggulung seperti amukan yang tertahan. Tidak ada angin kencang yang merobek-robek daun-daun pisang di belakang rumah. Tidak ada petir yang menyambar tanpa suara seperti malam ketika Arga dilahirkan.
Namun berbeda dalam sesuatu yang lebih halus.
Sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang peka.
Warna langit pagi itu pucat.
Bukan biru cerah seperti biasanya saat musim kemarau.
Bukan kelabu basah seperti saat hujan akan turun.
Tapi pucat.
Seperti kanvas yang sudah terlalu lama terpapar matahari hingga warnanya memudar.
Seperti wajah seseorang yang kehilangan harapan.
Seperti senja sebelum malam, tapi ini pagi.
Arga berdiri di ambang pintu, menatap ke atas, merasakan sesuatu yang tidak bisa ia beri nama.
Dadanya terasa aneh.
Tidak sakit.
Tidak sesak.
Hanya seperti ada yang kurang.
Seperti ada ruang kosong di dalam dirinya yang tadinya terisi, lalu tiba-tiba saja menguap tanpa pemberitahuan.
Ia menghela napas. Uap tipis keluar dari mulutnya.
"Bangun pagi sekali."
Suara Sukmawati dari dapur memecah keheningan.
"Tidak bisa tidur," jawab Arga.
"Karena memikirkan Sekar?"
Arga tidak menjawab.
Sukmawati tidak bertanya lebih lanjut. Ia sudah terbiasa dengan diam Arga. Seperti Sastro. Seperti semua laki-laki di desa ini.
Sejak pertemuan di rumah Sekar dua hari lalu, Arga merasa ada yang berbeda.
Bukan hubungan mereka.
Tapi sesuatu di luar.
Sesuatu yang tidak bisa ia lihat, tapi bisa ia rasakan.
Seperti ada bayangan yang mengikuti langkahnya.
Seperti ada bisikan yang tidak bisa ia dengar.
Seperti ada firasat yang tidak bisa ia abaikan.
"Bu," panggil Arga.
"Iya."
"Aku mau ke rumah Mbah Jayarasa."
"Ada perlu apa?"
"Aku mau bertanya sesuatu."
"Tentang apa?"
Arga menghela napas. "Tentang firasat."
Sukmawati menatap anaknya. Matanya penuh kecemasan. Tapi ia tidak melarang.
"Ini sudah lama tidak terjadi," kata Sukmawati. "Firasatmu. Dulu, waktu kamu masih kecil, kamu sering merasakan hal-hal yang tidak dirasakan orang lain."
"Aku tahu, Bu."
"Setelah kamu dewasa, setelah Jatmika pergi, firasat itu hilang. Atau setidaknya tidak sekuat dulu."
"Tapi sekarang?"
Sukmawati menghela napas. "Sekarang, sepertinya firasat itu kembali. Dan itu membuat Ibu takut."
"Takut apa, Bu?"
"Takut bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Takut bahwa semua kebahagiaan yang baru saja kamu dan Sekar bangun akan hancur."
Arga menggenggam tangan ibunya. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, Bu."
"Kamu tidak bisa mengendalikan semuanya, Le. Kadang, takdir punya caranya sendiri."
Arga berjalan ke rumah Mbah Jayarasa.
Langkahnya cepat.
Pikirannya kacau.
Rumah tua itu masih berdiri di balik rumpun bambu. Dari kejauhan, sudah terlihat asap tipis mengepul dari cerobongnya. Tanda bahwa Mbah Jayarasa sudah bangun sejak subuh.
Arga mengetuk pintu.
"Masuk, Le. Pintu tidak dikunci."
Ia masuk.
Mbah Jayarasa duduk di kursi bambu, menghadap ke dapur yang gelap. Di depannya ada secangkir teh jahe yang masih mengepul.
"Mbah sehat?" tanya Arga.
"Masih diberi umur panjang sama Tuhan. Kamu ada perlu?"
Arga duduk di kursi seberangnya. "Mbah, aku mau bertanya."
"Tentang apa?"
"Tentang firasat."
Mbah Jayarasa mengangkat alis. "Firasatmu datang lagi?"
Arga mengangguk. "Sejak dua hari lalu. Setelah aku dan Sekar bicara. Aku merasa ada yang tidak beres. Aku tidak tahu apa. Tapi rasanya... berat."
Mbah Jayarasa diam sejenak. Ia menyesap teh jahenya. Matanya menyipit, seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kamu tahu, Le," kata Mbah Jayarasa, "firasat itu kadang adalah cara tubuhmu mengatakan bahwa ada yang perlu diperhatikan. Bukan karena kamu bisa melihat masa depan. Tapi karena kamu peka terhadap hal-hal yang tidak terlihat."
"Apa yang harus aku perhatikan, Mbah?"
"Aku tidak tahu. Tapi biasanya, firasat seperti ini muncul ketika sesuatu yang penting akan terjadi. Bisa baik. Bisa buruk."
"Lalu aku harus bagaimana?"
Mbah Jayarasa menatap Arga. Matanya tajam.
"Kamu harus waspada. Tapi jangan takut. Karena takut hanya akan membuatmu buta."
"Buta?"
"Iya. Ketakutan membuat seseorang tidak bisa melihat peluang. Tidak bisa melihat jalan keluar. Tidak bisa melihat hal-hal baik yang mungkin terjadi."
Arga menghela napas.
"Terima kasih, Mbah."
"Sama-sama, Le. Jaga dirimu. Jaga Sekar. Dan jangan biarkan firasat mengendalikan hidupmu."
Dari rumah Mbah Jayarasa, Arga berjalan ke Kali Wening.
Ia butuh ketenangan.
Ia butuh suara air yang mengalir.
Ia butuh angin yang berbisik.
Sungai itu sejak dulu menjadi tempatnya mencari jawaban.
Sekar sudah ada di sana.
Duduk di batu besar, memandang air yang mengalir.
Gaun birunya tertiup angin lembut.
Rambut panjangnya jatuh di bahu.
Saat melihat Arga, ia tersenyum.
"Kamu datang."
"Iya."
"Ada apa? Wajahmu tegang."
Arga duduk di sampingnya. "Aku baru saja dari rumah Mbah Jayarasa."
"Ada apa?"
"Aku cerita tentang firasatku."
Sekar mengerutkan kening. "Firasat?"
"Iya. Sejak dua hari lalu, aku merasa ada yang tidak beres."
Sekar terdiam. Ia memandang sungai. Tangannya memainkan ujung gaunnya.
"Aku juga merasakannya," bisiknya.
Arga menoleh cepat. "Kamu juga?"
Sekar mengangguk. "Sejak kemarin. Aku tidak tahu kenapa. Tapi dadaku terasa aneh. Seperti ada yang akan terjadi. Seperti ada yang mendekat."
"Apakah kamu takut?"
Sekar menatap Arga. Matanya lembut. Tapi ada kecemasan di sana.
"Aku takut, Arga. Tapi aku tidak mau ketakutan mengendalikanku."
"Itu juga yang dikatakan Mbah Jayarasa."
"Lalu?"
Arga menggenggam tangan Sekar. "Jadi kita hadapi bersama. Apa pun itu."
Mereka duduk di tepi sungai hingga matahari mulai condong ke barat.
Tidak banyak bicara.
Tidak banyak tawa.
Hanya kehadiran.
Hanya ketenangan.
Tapi di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang mengganjal.
Seperti ada rahasia yang belum terungkap.
Seperti ada kebenaran yang belum mereka ketahui.
"Arga," panggil Sekar.
"Iya."
"Aku ingin cerita tentang nenekku."
"Cerita apa?"
Sekar menatap sungai. "Waktu aku masih kecil, nenek sering sakit-sakitan. Tapi dia tidak pernah mau berobat ke dokter. Katanya, lebih baik uangnya ditabung untuk sekolahku."
Arga diam mendengarkan.
"Tapi beberapa bulan terakhir, sakitnya semakin parah. Dia batuk terus. Kadang batuknya keluar darah. Tapi dia tetap tidak mau berobat."
"Kenapa?"
"Karena katanya, dia sudah tua. Tidak perlu repot-repot. Lebih baik aku yang sehat."
Arga merasakan dadanya sesak. "Sekarang? Apakah dia masih batuk?"
Sekar mengangguk. "Semalam, dia batuk sangat keras. Aku terbangun. Aku masuk ke kamarnya. Dia terbaring lemah, wajahnya pucat. Aku tanya, 'Nek, kamu kenapa?' Dia bilang, 'Tidak apa-apa, Nduk. Cuma masuk angin.'"
"Tapi kamu tidak percaya?"
"Tidak. Aku melihat darah di ujung kain yang dia pakai untuk menutup mulutnya."
Arga menggenggam tangan Sekar lebih erat. "Kita harus bawa dia ke dokter."
"Dia tidak mau."
"Kita paksa."
"Kamu tahu nenekku. Kalau sudah bilang tidak mau, tidak ada yang bisa memaksanya."
Arga menghela napas. "Lalu kita harus bagaimana?"
Sekar menunduk. "Aku tidak tahu, Arga. Aku tidak tahu."
Mereka duduk dalam diam.
Sungai terus mengalir.
Daun-daun terus berguguran.
Langit mulai berubah warna, dari biru ke jingga, dari jingga ke merah muda.
Sekar, aku takut," bisik Arga.
"Takut apa?"
"Takut kehilangan nenekmu. Takut kamu sendiri lagi."
Sekar menatapnya. Matanya berkaca-kaca.
"Aku juga takut, Arga. Tapi aku tidak bisa memaksa nenek untuk berobat kalau dia tidak mau."
"Kita coba bicara lagi. Mungkin kali ini dia mau."
"Kamu yakin?"
"Tidak. Tapi kita harus mencoba."
Mereka berjalan menuju rumah Sekar.
Langit sore berwarna jingga pucat.
Burung-burung pulang ke sarang.
Suara anak-anak bermain mulai menghilang.
Rumah Sekar terlihat dari kejauhan.
Sekar membuka pintu pelan.
"Nek," panggilnya. "Aku pulang. Aku bawa Arga."
Dari dalam, terdengar suara parau. "Masuklah."
Mereka masuk ke kamar Mbok Raras.
Perempuan tua itu terbaring di dipan bambu.
Wajahnya pucat. Bibirnya kering. Dadanya naik turun pelan.
"Nek, ini Arga," kata Sekar.
Mbok Raras memandang Arga. Matanya keruh, tapi masih bisa mengenali.
"Arga," bisiknya. "Anaknya Sastro."
"Iya, Mbok."
Mbok Raras tersenyum. "Kamu ganteng. Mirip kakakmu."
Arga tidak terkejut. Ia sudah sering mendengar kalimat itu.
"Nek," kata Sekar, "Arga mau bicara."
"Bicara apa?"
Arga duduk di samping dipan. "Mbok, Sekar cerita bahwa Mbok sedang sakit. Batuk. Kadang keluar darah."
Mbok Raras menghela napas. "Nenek sudah tua, Le. Wajar kalau sakit."
"Tapi Mbok harus berobat."
"Untuk apa? Biaya mahal. Lebih baik uangnya buat Sekar."
"Mbok, kesehatan Mbok lebih penting."
Mbok Raras menatap Arga. Matanya lembut.
"Kamu baik, Le. Tapi nenek sudah capek."
"Capek, Mbok?"
"Iya. Capek hidup. Capek sakit. Capek lihat dunia."
Sekar menangis. "Nek, jangan bilang begitu."
Mbok Raras mengusap rambut Sekar. "Nduk, nenek sudah tua. Tidak lama lagi, nenek akan pergi."
"Tidak, Nek. Aku belum siap."
"Kita tidak pernah siap, Nduk. Tapi pergi adalah bagian dari hidup."
Arga menggenggam tangan Mbok Raras. "Mbok, tolong. Setidaknya Mbok mau periksa ke mantri. Biar kami tidak khawatir."
Mbok Raras terdiam. Ia memandang Arga lama. Lalu Sekar.
"Baik," katanya akhirnya. "Besok. Nenek mau periksa."
Sekar tersenyum di sela air matanya. "Terima kasih, Nek."
"Jangan berterima kasih dulu. Nenek belum berjanji akan sembuh."
"Tidak apa. Yang penting Mbok mau berusaha."
Malam itu, Arga pulang dengan hati yang lega.
Tapi lega hanya sebentar.
Karena ia tahu, perjalanan masih panjang.
Mbok Raras mungkin tidak lama lagi.
Dan ketika itu terjadi, Sekar akan sendirian.
Tapi tidak.
Sekar tidak akan sendirian.
Karena Arga akan ada di sampingnya.
Malam semakin larut.
Arga duduk di beranda rumahnya, memandang langit yang dipenuhi bintang.
Ia teringat pada kata-kata Mbah Jayarasa.
"Firasat itu kadang adalah cara tubuhmu mengatakan bahwa ada yang perlu diperhatikan."
Mungkin firasatnya tentang Mbok Raras.
Mungkin bukan.
Tapi yang pasti, ia harus waspada.
Ia harus siap untuk apa pun.
"Sekar," bisiknya, "aku tidak akan meninggalkanmu. Janji."
Di kejauhan, angin malam berembus lembut.
Membawa aroma sungai.
Membawa harapan.
Membawa doa.
BAB 40
PERPISAHAN PERTAMA
Pagi itu, desa Wringinrejo terbangun dalam kesunyian yang tidak biasa.
Bukan kesunyian karena belum ada yang bangun. Matahari sudah naik setinggi pohon kelapa. Ayam-ayam jantan sudah bersahut-sahutan sejak subuh. Asap dari dapur-dapur sudah mulai mengepul dari cerobong rumah penduduk. Bukan juga kesunyian karena ada yang mati. Karena di desa ini, kematian sering kali justru dirayakan dengan doa bersama, dengan tahlilan yang ramai, dengan tangis yang keras dan ratapan yang panjang.
Namun kesunyian pagi itu berbeda. Ia adalah kesunyian yang lahir dari kesadaran bahwa sesuatu telah berubah. Bahwa dunia tidak lagi sama seperti kemarin. Bahwa sebuah babak dalam kehidupan seseorang telah benar-benar berakhir dan tidak akan pernah kembali.
Tiga hari sudah sejak Arga dan Sekar memutuskan untuk melanjutkan hubungan mereka. Tiga hari sejak mereka berjanji untuk tidak saling meninggalkan. Tiga hari sejak firasat Arga tentang sesuatu yang akan datang, sesuatu yang janggal, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan, sesuatu yang membuat dadanya terasa berat setiap kali memikirkan masa depan.
Tiga hari juga sejak Mbok Raras setuju untuk berobat ke mantri desa.
Arga yang mengantar dia dan Sekar saat itu. Perjalanan ke rumah mantri tidak jauh, hanya sekitar dua puluh menit berjalan kaki. Namun bagi Mbok Raras yang sudah tua dan lemah, dua puluh menit terasa seperti dua jam. Ia berjalan pelan, sesekali berhenti untuk mengatur napas. Tangannya menggenggam erat lengan Sekar. Sesekali ia memandang Arga dengan mata yang keruh namun penuh arti—seolah ia ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak tahu harus mulai dari mana.
Mantri desa, Pak Harun, sudah berusia enam puluh tahun. Ia memeriksa Mbok Raras dengan teliti. Mendengarkan napasnya dengan stetoskop. Memeriksa tekanan darahnya. Memeriksa dahaknya yang bercampur darah.
Setelah selesai, Pak Harun memanggil Sekar ke luar kamar periksa. Wajahnya serius. Tidak seperti biasanya yang ramah dan penuh senyum.
“Nduk,” katanya pelan, “nenekmu sakit parah. Paru-parunya bermasalah. Sudah lama, mungkin bertahun-tahun.”
Sekar terdiam. Tangannya gemetar. “Apa bisa disembuhkan, Pak?”
Pak Harun menghela napas. “Bisa diobati. Tapi tidak bisa disembuhkan sepenuhnya. Usianya sudah tua. Kondisinya sudah lemah. Yang bisa kita lakukan hanyalah membuatnya nyaman. Mengurangi rasa sakitnya. Memperpanjang waktunya.”
“Berapa lama lagi, Pak?”
“Aku tidak tahu, Nduk. Bisa bulan. Bisa minggu. Bisa hari. Tergantung kondisi tubuhnya. Tergantung usahanya.” Pak Harun meletakkan tangan di bahu Sekar. “Yang terpenting, jaga dia. Buat dia bahagia. Karena kebahagiaan adalah obat terbaik untuk orang yang sakit parah.”
Sekar menangis dalam pelukan Arga di teras rumah mantri.
Arga tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya memeluk Sekar. Merasakan tubuh gadis itu bergetar hebat. Merasakan air matanya membasahi bajunya.
“Aku takut, Arga,” bisik Sekar. “Aku takut kehilangan nenekku.”
“Aku di sini,” jawab Arga pelan. “Aku tidak akan pergi. Apa pun yang terjadi, aku tidak akan pergi.”
Pagi itu, Arga terbangun dengan perasaan yang tidak tenang.
Ia memimpikan sesuatu. Bukan mimpi buruk. Bukan mimpi aneh. Hanya mimpi tentang rumah Sekar yang kosong. Tentang pintu yang terbuka lebar. Tentang tirai bambu yang bergerak tanpa angin. Tentang kesunyian yang begitu keras di telinga.
Ia duduk di dipan bambu, mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Keringat dingin membasahi dahinya.
“Le, kamu sudah bangun?” suara Sukmawati dari dapur.
“Iya, Bu.”
“Kamu makan dulu. Ibu buat bubur.”
Arga berjalan ke dapur dengan langkah berat. Sukmawati langsung menatap wajah anaknya.
“Kamu mimpi buruk?”
“Tidak, Bu. Tapi aku merasa tidak enak.”
“Firasat lagi?”
Arga mengangguk.
Sukmawati menghela napas. “Kamu habis dari rumah Sekar kemarin?”
“Iya. Kami antar Mbok Raras ke mantri.”
“Bagaimana hasilnya?”
“Parah, Bu. Paru-parunya bermasalah. Sudah bertahun-tahun mungkin. Pak Harun bilang, tidak bisa disembuhkan. Hanya bisa diobati.”
Sukmawati diam. Ia meletakkan sendok di atas meja.
“Ibu dulu juga curiga,” katanya pelan. “Mbok Raras sudah lama batuk-batuk. Tapi dia tidak pernah mau berobat. Katanya, lebih baik uangnya buat Sekar.”
“Sekar sedih sekali, Bu. Dia takut kehilangan neneknya.”
“Wajar, Le. Siapa pun pasti takut kehilangan orang yang dicintai.”
“Tapi, Bu, dia baru saja kehilangan Jatmika. Masa lalu. Kenangan. Sekarang, dia akan kehilangan neneknya. Aku takut dia tidak kuat.”
Sukmawati menggenggam tangan Arga. “Kamu harus kuat untuk dia, Le. Kamu harus menjadi sandarannya. Kamu harus menjadi tempatnya pulang.”
“Aku bisa, Bu?”
“Kamu bisa. Ibu percaya.”
Setelah sarapan, Arga pamit untuk pergi ke rumah Sekar.
“Bawa ini,” kata Sukmawati sambil menyerahkan bungkusan daun pisang. “Pisang goreng. Biar Mbok Raras bisa makan. Orang sakit kadang susah makan, tapi kalau makanannya enak, bisa sedikit lapang.”
Arga menerima bungkusan itu. “Ibu selalu bilang begitu.”
“Karena itu benar, Le. Makanan enak bisa membuat hati sedikit lebih ringan. Apalagi untuk orang yang sedang sakit. Atau sedang berduka.”
Arga tersenyum. “Ibu bijak.”
“Ibu bukan bijak. Ibu hanya sudah tua.”
Arga tertawa kecil. Lalu melangkah keluar rumah.
Perjalanan menuju rumah Sekar terasa lebih berat dari biasanya.
Setiap langkah terasa seperti menginjak lumpur. Setiap pohon yang ia lewati terasa lebih sunyi. Setiap suara burung terdengar seperti isak tangis yang tertahan.
Arga melewati jalan setapak di belakang kali. Melewati semak ilalang yang mulai mengering karena musim kemarau yang panjang. Melewati kebun singkong milik Pakde Karto yang daunnya sudah dimakan ulat.
Rumah Sekar terlihat dari kejauhan. Rumah tua itu berdiri sendiri di ujung desa, dikelilingi pohon jati dan semak belukar. Tirai bambu di depan pintu masih tertutup rapat. Tidak ada asap dari dapur. Hanya kesunyian.
Tapi Arga melihat sesuatu yang berbeda pagi ini.
Di halaman depan, ada jejak kaki.
Bukan jejak Sekar.
Bukan jejak Mbok Raras.
Jejak kaki laki-laki. Besar. Dalam. Seperti orang yang berjalan dengan terburu-buru.
Arga mengerutkan kening.
Dia mempercepat langkahnya.
Mendekati pagar.
Mendekati pintu.
Ia mengetuk.
Tok. Tok. Tok.
Sunyi.
Ia mengetuk lagi. Sedikit lebih keras.
“Sekar! Ini Arga!”
Dari dalam terdengar langkah kaki. Cepat. Seperti orang yang berlari.
Pintu terbuka lebar.
Sekar berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat. Matanya merah. Rambutnya kusut.
Tapi bukan itu yang membuat Arga terkejut.
Di belakang Sekar, di ruang tengah, berdiri seorang laki-laki.
Usia sekitar empat puluh tahun. Tinggi. Berkulit putih. Memakai kemeja batik lengan panjang dan celana bahan hitam. Wajahnya tegas. Matanya tajam.
Ia tidak mengenalnya.
Tapi Arga bisa menebak.
Laki-laki itu adalah utusan dari orang tuanya.
Atau mungkin, ayah Sekar sendiri?
“Arga,” kata Sekar, suaranya bergetar. “Ini, ”
“Aku tahu,” potong Arga. “Dia dari orang tuamu.”
Laki-laki itu mengangkat alis. “Kamu Arga?”
“Iya.”
“Pacar Sekar?”
“Iya.”
Laki-laki itu tersenyum. Bukan senyum ramah. Senyum sinis. Senyum yang membuat Arga ingin meninju wajahnya.
“Orang tua sekar mengutusmu?” tanya Arga kepada laki-laki itu.
“Iya. Mereka mengutusku untuk menjemput Sekar.”
Sekar menggenggam tangan Arga. Erat. Dingin. Gemetar.
“Aku tidak mau ikut,” katanya. Suaranya tegas. Tapi Arga bisa merasakan ketakutannya.
“Itu bukan pilihanmu, Nak,” kata laki-laki itu. “Kamu masih di bawah umur. Orang tuamu punya hak penuh atas dirimu.”
“Tapi, “
“Tidak ada tapi.”
Arga melangkah maju. “Pak, saya mau bicara.”
“Bicara apa?”
“Tentang Sekar. Tentang haknya. Tentang keinginannya.”
“Hak? Keinginan?” Laki-laki itu tertawa kecil. “Kamu masih muda, Nak. Dunia tidak berjalan seperti yang kamu bayangkan. Orang tua punya hak. Anak punya kewajiban. Itu hukumnya.”
“Hukum tidak selalu adil.”
“Tapi hukum tetap hukum. Dan aku hanya menjalankan tugas.”
Arga menarik Sekar ke samping. Ke dapur. Jauh dari pendengaran laki-laki itu.
“Sekar,” bisik Arga. “Kamu harus bicara dengan nenekmu.”
“Nenekku sedang tidur. Dia lemah sekali. Aku tidak tega membangunkannya.”
“Tapi ini penting. Nenekmu harus tahu.”
Sekar menggigit bibirnya. “Aku takut, Arga. Aku takut nenekku akan marah. Aku takut nenekku akan semakin sakit.”
“Nenekmu lebih takut kehilangan kamu, Sekar. Daripada marah. Daripada sakit. Kehilangan kamu adalah hal terburuk yang bisa terjadi padanya saat ini.”
Sekar menangis.
“Sudah,” kata Arga sambil mengusap air mata Sekar. “Kita hadapi bersama.”
Mereka berjalan ke kamar Mbok Raras.
Perempuan tua itu terbaring di dipan bambu. Matanya terpejam. Dadanya naik turun pelan.
“Nek,” panggil Sekar pelan. “Nek, bangun.”
Mbok Raras membuka mata perlahan. Keruh. Lelah.
“Ada apa, Nduk?” suaranya serak. Hampir tidak terdengar.
“Nek, ada utusan dari orang tuaku. Dia mau menjemput aku. Membawaku ke kota.”
Mata Mbok Raras membesar. Tiba-tiba terlihat lebih jelas. Lebih tajam.
“Apa?” Ia mencoba bangun. Tubuhnya gemetar. “Suruh dia pergi. Kamu tidak ikut.”
“Tapi, Nek—“
“Tidak ada tapi.” Mbok Raras menatap Arga. “Le, tolong suruh laki-laki itu masuk.”
Arga mengangguk. Ia berjalan ke ruang tengah.
“Pak, Mbok Raras minta Bapak masuk.”
Laki-laki itu mengangkat alis. “Mbok Raras?”
“Nenek Sekar.”
Laki-laki itu menghela napas. Lalu berjalan ke kamar.
Mbok Raras duduk di dipan bambu. Tubuhnya lemah. Tapi matanya, matanya penuh dengan api.
“Kamu suruhan siapa?” tanyanya tegas.
“Utusan dari orang tua Sekar, Bu.”
“Orang tua Sekar? Mereka sudah bertahun-tahun tidak pulang. Tidak pernah mengirim kabar. Tidak pernah mengirim uang yang cukup. Sekarang mereka mau mengambil Sekar? Untuk apa?”
“Mereka sudah membeli rumah baru di kota. Mereka mau Sekar tinggal bersama mereka.”
Mbok Raras tertawa. Tawa pahit yang membuat dadanya terasa sakit.
“Mereka tidak pernah peduli pada Sekar. Mereka tidak pernah hadir dalam hidupnya. Sekarang, ketika Sekar sudah besar, mereka mau mengambilnya? Untuk apa? Untuk pamer? Untuk mengakui bahwa mereka punya anak?”
“Bu, saya hanya, “
“Kamu bilang pada mereka,” potong Mbok Raras, “Sekar tidak akan ikut. Selama saya masih hidup, Sekar tidak akan ke mana-mana.”
“Tapi, Bu, “
“Tidak ada tapi. Sekar tinggal di sini. Bersamaku. Sampai aku mati.”
Sekar menangis. “Nek, jangan bilang begitu.”
Mbok Raras mengusap rambut Sekar. “Nenek tidak akan mati, Nduk. Setidaknya, tidak sebelum memastikan bahwa kamu aman.”
Laki-laki itu menghela napas. “Bu, saya hanya utusan. Saya tidak punya wewenang untuk memutuskan apa pun. Tapi saya harus melaporkan apa yang saya lihat dan dengar.”
“Laporkan saja. Tidak masalah.”
Laki-laki itu menggeleng. Lalu berbalik. Ia berjalan ke pintu.
Sebelum keluar, ia menatap Arga. “Kamu anak yang baik. Tapi dunia tidak selalu berpihak pada orang baik.”
Arga tidak menjawab.
Laki-laki itu pergi.
Meninggalkan keheningan.
Meninggalkan ketegangan.
Meninggalkan Sekar yang menangis dalam pelukan neneknya.
Berjam-jam kemudian, Sekar masih belum tenang.
Arga duduk di sampingnya di teras rumah. Memandang langit yang mulai berubah warna—dari biru ke jingga, dari jingga ke merah muda.
“Arga,” panggil Sekar pelan.
“Iya.”
“Apa yang akan terjadi kalau nenekku benar-benar pergi?”
“Kamu tidak akan sendirian.”
“Tapi orang tuaku akan menjemputku.”
“Kita akan cari jalan. Kita akan bicara dengan Pak Lurah. Kita akan cari bantuan. Siapa pun yang bisa membantumu.”
“Apakah itu cukup?”
Arga menggenggam tangan Sekar. “Sekar, dengar. Aku tidak tahu apakah itu cukup. Aku tidak tahu apakah kita bisa melawan mereka. Tapi yang aku tahu, aku tidak akan menyerah. Aku tidak akan membiarkan mereka mengambilmu paksa.”
“Kamu rela berperang dengan mereka?”
“Kalau perlu.”
“Kamu bisa dipenjara, Arga.”
“Aku tidak peduli.”
Sekar menatap Arga. Matanya basah. “Kamu ini... kenapa sih kamu selalu membuatku susah?”
“Maksudnya?”
“Aku susah marah sama kamu. Aku susah nolak kamu. Aku susah bilang 'jangan ikut campur' karena kamu selalu punya alasan kenapa kamu harus ikut campur.”
“Itu namanya cinta, Sekar. Cinta itu ikut campur. Cinta itu tidak bisa diam. Cinta itu peduli.”
“Kamu tahu dari mana? Kamu juga baru pertama kali pacaran.”
“Iya. Tapi aku belajar cepat.”
Sekar tersenyum. Senyum kecil di sela air matanya.
Matahari mulai tenggelam ketika Arga pamit pulang.
Sekar mengantarnya sampai pagar.
“Besok kamu datang?” tanya Sekar.
“Tentu.”
“Bawa pisang goreng lagi?”
“Tentu. Itu sudah kewajiban.”
Sekar tersenyum. “Kamu baik banget, Arga.”
“Aku tidak baik. Aku hanya peduli.”
“Itu sama saja.”
“Tidak. Orang baik membantu semua orang. Aku hanya membantu kamu.”
Sekar tertawa. Tawa kecil yang membuat Arga merasa sedikit lega.
Malam itu, Arga tidak bisa tidur.
Ia duduk di beranda, memandang langit yang gelap tanpa bintang.
Malam tanpa bintang.
Seperti dulu.
Seperti ketika firasat pertamanya muncul.
“Apa sekarang?” bisiknya pada angin. “Apa yang akan terjadi?”
Angin tidak menjawab.
Hanya suara jangkrik.
Hanya suara daun.
Hanya kesunyian.
Di rumah Sekar, malam juga terasa berbeda.
Sekar duduk di samping neneknya, memegang tangannya yang keriput.
“Nek,” bisiknya.
“Iya, Nduk.”
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Aku takut kehilangan Nek.”
Mbok Raras mengusap rambut Sekar. “Nenek tidak akan pergi, Nduk. Setidaknya, tidak sekarang.”
“Tapi—“
“Nenek janji. Nenek akan berusaha. Untuk kamu. Untuk Arga. Untuk melihat kamu bahagia.”
Sekar menangis. Bukan tangis sedih. Tapi tangis haru. Tangis bahagia. Tangis yang keluar dari hati yang penuh dengan rasa syukur, meskipun masa depan masih gelap, meskipun tantangan masih besar, meskipun mereka tidak tahu apa yang akan terjadi.
Tengah malam, Sekar terbangun oleh suara batuk.
Batuk keras.
Batuk yang membuat dadanya sesak.
Ia bergegas ke kamar neneknya.
Mbok Raras terbaring lemah. Wajahnya pucat. Bibirnya biru. Dadanya naik turun dengan cepat.
“Nek!” teriak Sekar. “Nek, kamu kenapa?”
Mbok Raras tidak menjawab.
Ia hanya memandang Sekar.
Matanya lembut.
Penuh cinta.
Penuh dengan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
“Nduk,” bisiknya. “Nenek... nenek sayang kamu.”
“Nek, jangan bilang begitu. Kamu akan baik-baik saja.”
Mbok Raras tersenyum. “Nenek... nenek sudah tidak kuat, Nduk.”
“Tidak, Nek. Kamu kuat. Kamu selalu kuat.”
“Tidak, Nduk. Nenek sudah capek. Nenek sudah lelah.”
Sekar menangis. Ia memeluk neneknya. “Nek, jangan pergi. Aku belum siap.”
“Kita tidak pernah siap, Nduk. Tapi pergi adalah bagian dari hidup.”
“Tapi, Nek—“
“Dengar,” potong Mbok Raras. “Jagalah Arga. Jagalah hatimu. Jangan biarkan masa lalu menghancurkan masa depanmu.”
Sekar mengangguk sambil terisak.
“Dan kamu,” Mbok Raras menatap kosong ke langit-langit, seolah sedang berbicara pada seseorang yang tidak terlihat. “Jaga dia. Jaga mereka berdua.”
Sekar tidak mengerti siapa yang diajak bicara oleh neneknya.
Tapi dari kejauhan, seolah ada angin yang berputar di sekitar rumah. Seolah ada kehangatan yang masuk melalui jendela. Seolah ada suara yang berkata, “Aku akan menjaganya, Mak. Aku janji.”
Mbok Raras menghela napas terakhirnya saat fajar mulai menyingsing.
Sekar masih memeluknya.
Tidak bergerak.
Tidak berbicara.
Hanya diam.
Air matanya jatuh deras, membasahi kain yang menutupi neneknya.
Dari kejauhan, Arga yang baru saja bangun tidur merasakan sesuatu.
Firasat.
Firasat yang selama ini ia takutkan.
Ia berlari ke rumah Sekar.
Tanpa sepatu.
Tanpa baju rapi.
Tanpa pisang goreng.
Ia berlari secepat mungkin.
Dan ketika ia sampai di depan rumah Sekar, ia mendengar tangis.
Tangis yang pecah.
Tangis yang tak terbendung.
Tangis yang mengatakan bahwa sesuatu yang mengerikan telah terjadi.
Arga masuk.
Ia melihat Sekar yang masih memeluk neneknya.
Ia melihat Mbok Raras yang terbaring diam.
Ia melihat keheningan yang begitu keras di telinga.
“Sekar,” bisiknya.
Sekar menoleh. Matanya merah. Wajahnya basah.
“Nenekku... nenekku pergi, Arga.”
Arga memeluk Sekar.
Diam.
Tanpa kata.
Hanya keberadaan.
Hanya kehangatan.
Hanya kesadaran bahwa mereka tidak sendirian.
Matahari terbit di ufuk timur. Cahayanya masuk melalui jendela, menyinari wajah Mbok Raras yang tenang. Seolah ia sedang tidur. Seolah ia hanya beristirahat. Seolah ia akan bangun kapan saja dan berkata, “Nduk, masak air untuk teh.”
Tapi ia tidak akan bangun.
Tidak akan pernah.
Dan Sekar harus menerima itu.
Perlahan.
Sakit.
Tapi pasti.
“Sekar,” kata Arga.
“Iya.”
“Nenekmu sudah tenang. Dia tidak sakit lagi. Dia tidak batuk lagi. Dia sudah pergi ke tempat yang lebih baik.”
“Aku tahu. Tapi aku tetap kehilangan dia.”
“Iya. Kamu kehilangan dia. Tapi kamu tidak sendirian.”
Sekar menatap Arga. “Kamu tidak akan pergi, kan?”
“Aku tidak akan pergi. Janji.”
“Selamanya?”
“Selamanya.”
Sekar memeluk Arga.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia menangis dengan tenang.
Bukan tangis histeris.
Bukan tangis putus asa.
Tapi tangis penerimaan.
Bahwa neneknya telah pergi.
Bahwa ia harus kuat.
Bahwa ia masih punya Arga.
Bahwa hidup harus terus berjalan.
Di luar, angin pagi berembus lembut.
Membawa aroma bunga kenanga.
Membawa kehangatan.
Membawa doa.
Mbok Raras telah pergi.
Tapi kenangannya akan tetap hidup.
Dalam hati Sekar.
Dalam hati Arga.
Dalam setiap senyum, setiap tawa, setiap air mata yang akan mereka bagikan di masa depan.
BAB 41
MALAM TANPA BINTANG
Tiga malam setelah pemakaman Mbok Raras, langit di atas Desa Wringinrejo menutup dirinya rapat-rapat.
Bukan mendung yang mengancam hujan. Bukan awan tebal yang biasa datang sebelum petir menyambar. Hanya kegelapan yang sempurna, kegelapan yang begitu pekat hingga bulan pun tidak berani menunjukkan wajahnya, hingga bintang-bintang memilih untuk bersembunyi di balik tabir tak terlihat, hingga seseorang yang berdiri di halaman rumahnya sendiri bisa merasa seperti sedang melayang di ruang kosong tanpa batas.
Arga berdiri di beranda, menatap ke atas. Ia mencari satu titik cahaya, satu celah kecil di mana bintang bisa menembus gelap. Tidak ada. Yang ada hanya hitam yang tak berujung, hitam yang terasa berat dan dingin, hitam yang seolah jatuh perlahan menimpa pundaknya.
"Malam tanpa bintang," gumamnya pelan. "Mbah Jayarasa bilang itu pertanda."
"Pertanda apa?"
Suara itu membuat Arga menoleh. Sastro berdiri di pintu, masih dengan sarung lusuh yang sama, masih dengan wajah datar yang sulit dibaca, masih dengan kebiasaan muncul tanpa suara di malam-malam ketika Arga sedang sendirian dengan pikirannya.
"Pertanda ada yang akan pergi," jawab Arga.
Sastro berjalan mendekat, lalu duduk di bangku kayu di samping pintu. "Mbah Jayarasa suka bicara hal-hal yang nggak jelas."
"Tapi sering terbukti."
Sastro tidak membantah. Ia hanya menghela napas, napas panjang yang sudah menjadi ciri khasnya setiap kali ia tidak tahu harus berkata apa.
"Kamu mikirin Sekar?" tanya Sastro akhirnya.
"Setiap waktu," jawab Arga jujur.
"Kamu sudah ke rumahnya?
"Belum. Sejak pemakaman, dia minta sendiri."
"Dan kamu nurut?"
Arga menoleh ke arah ayahnya. "Ayah pikir aku harus maksa?"
Sastro mengangkat bahu. "Bukan maksa. Tapi kadang orang bilang mau sendiri padahal sebenarnya butuh ditemani."
Arga terdiam. Ia memikirkan kata-kata ayahnya. Mungkin benar. Mungkin Sekar hanya berpura-pura kuat. Mungkin di balik pintu rumah tua yang tertutup rapat itu, Sekar sedang menangis sendirian, memeluk bantal neneknya, berbisik pada kegelapan bahwa ia takut, bahwa ia lemah, bahwa ia butuh seseorang untuk memegang tangannya.
"Besok aku ke sana," kata Arga.
Sastro mengangguk. "Jangan lupa bawa sesuatu. Pisang goreng atau kue pasar. Orang yang lagi berduka biasanya susah makan. Tapi mereka butuh makanan."
"Ayah nggak pernah berubah," Arga tersenyum tipis. "Selalu mikirin perut."
"Hidup itu soal perut, Le. Perut kenyang, hati tenang. Perut lapar, semua masalah jadi lebih besar."
Arga tidak bisa menahan tawa kecilnya. "Ayah bicara seperti filsuf."
"Ayah cuma petani," Sastro berdiri. "Dan petani tahu satu hal: tanah yang subur butuh pupuk. Hati yang subur juga butuh sesuatu."
"Buthuh apa?"
Sastro menatap putranya. "Kehadiran."
Lalu ia masuk ke dalam, meninggalkan Arga sendirian di beranda dengan langit yang masih gelap tanpa bintang.
Keesokan harinya, Arga bangun lebih pagi dari biasanya.
Ia mandi, memakai baju terbaiknya, baju batik lengan panjang pemberian ibunya saat ulang tahun tahun lalu yang hanya ia pakai dua kali, itu pun untuk acara pernikahan tetangga dan khitanan anak Pak Lurah.
"Dandan banget," ledek Sukmawati dari dapur. "Mau ke mana?"
"Ke rumah Sekar."
Sukmawati tersenyum. "Baru kali ini aku lihat kamu sisir rambut pakai minyak."
"Apa salahnya?" Arga sedikit tersinggung.
"Nggak salah. Malah bagus. Sekar pasti senang."
"Bu, dia lagi berduka. Bukan lagi senang-senang."
"Orang berduka juga butuh sesuatu yang indah, Le," kata Sukmawati sambil membungkus pisang goreng dengan daun pisang. "Ini bawa buat dia. Pisang goreng buatan Ibu, bukan yang dari pasar."
Arga menerima bungkusan itu. Tangannya hangat dari uap pisang goreng yang baru saja diangkat dari wajan.
"Ibu nggak ikut?" tanya Arga.
"Nggak. Dua orang yang lagi muda, lagi jatuh cinta, lagi berduka. Nggak perlu ibu-ibu ikut campur."
"Ibu tahu kami jatuh cinta?"
Sukmawati tertawa. "Le, Ibu punya mata. Dan Ibu juga pernah muda."
Arga tidak bisa membantah. Ia hanya mengangguk, lalu melangkah keluar rumah sebelum wajahnya yang mulai memerah terlihat oleh ibunya.
Perjalanan menuju rumah Sekar terasa berbeda.
Setiap langkah terasa lebih berat.
Setiap pohon yang ia lewati terlihat lebih sunyi.
Setiap suara burung terdengar seperti isak tangis yang tertahan.
Ia melewati jalan setapak di belakang kali, melewati semak ilalang yang mulai mengering, melewati kebun singkong milik Pakde Karto yang daunnya sudah dimakan ulat.
Rumah Sekar terlihat dari kejauhan. Rumah tua itu berdiri sendiri di ujung desa, dikelilingi pohon jati dan semak belukar. Tirai bambu di depan pintu tertutup rapat. Tidak ada asap dari dapur. Tidak ada suara apa pun.
Arga berhenti di depan pagar bambu yang sudah reot. Ia menggenggam bungkusan pisang goreng di tangan kirinya. Tangan kanannya gemetar.
"Kenapa sih gugup?" dia bertanya pada dirinya sendiri. "Ini cuma Sekar. Bukan monster."
Tapi hatinya tidak mendengarkan.
Hatinya terus berdebar seperti akan melompat keluar dari dadanya.
Ia menarik napas dalam-dalam tiga kali, teknik yang diajarkan ibunya untuk menenangkan diri—lalu membuka pagar, berjalan melewati halaman yang ditumbuhi rumput liar, lalu mengetuk pintu.
Tok. Tok. Tok.
Sunyi.
Ia mengetuk lagi. Sedikit lebih keras.
Tok. Tok. Tok.
"Slmt pagi," katanya pelan, takut suaranya terlalu keras untuk pagi yang begitu sepi.
Tak ada jawaban.
Arga mengetuk ketiga kalinya. Kali ini lebih keras karena ia mulai khawatir.
"Sekar! Ini Arga!"
Dia mendengar langkah kaki dari dalam. Pelan. Seperti orang yang berjalan dengan malas, seperti orang yang baru bangun tidur, seperti orang yang tidak ingin ditemui tapi terpaksa karena yang mengetuk tidak berhenti-henti.
Pintu terbuka sedikit.
Sekar mengintip dari celah kecil.
Wajahnya pucat. Rambutnya kusut masai. Matanya sembab, tanda bahwa ia baru saja menangis, atau mungkin sudah berhari-hari menangis tanpa henti.
"Arga?" suaranya serak. "Kamu ke sini? Aku bilang aku mau sendiri."
"Iya, aku tahu," kata Arga cepat, takut pintu itu akan tertutup kembali. "Tapi Ibuku nyuruh aku nganterin ini."
Dia mengangkat bungkusan pisang goreng.
Sekar menatap bungkusan itu beberapa saat. "Apa itu?"
"Pisang goreng buatan Ibuku. Masih hangat."
"Nggak laper."
"Ya simpan dulu. Buat nanti."
Sekar terdiam. Ia tampak berpikir, antara menutup pintu dan membiarkan Arga masuk.
Arga tidak menunggu. "Aku boleh masuk? Nggak lama. Cuma sebentar. Antar pisang, terus aku pulang."
Sekar menghela napas. Ia membuka pintu sedikit lebih lebar, cukup untuk Arga masuk menyamping.
"Jangan lama-lama."
"Iya, iya."
Di dalam, rumah Sekar terasa berbeda dari terakhir kali Arga menginjakkan kaki di sana.
Dulu, rumah ini selalu wangi dengan aroma dupa dan bunga kenanga yang diletakkan Mbok Raras di setiap sudut ruangan. Dulu, rumah ini selalu terasa hangat meskipun dindingnya hanya dari papan kayu tipis. Dulu, rumah ini terasa seperti pelukan seorang nenek pada cucu satu-satunya.
Sekarang, rumah itu dingin.
Sekarang, rumah itu sepi.
Sekarang, rumah itu hanya sekadar rumah, dinding, atap, lantai, tanpa nyawa yang menghidupkannya.
Sekar duduk di dipan bambu, bersandar pada dinding. Ia tidak menyilakan Arga duduk, tapi Arga mengambil inisiatif untuk duduk di kursi kayu di depannya.
"Kamu makan belum?" tanya Arga.
Sekar menggeleng.
"Udah tiga hari, Sekar."
"Tiga hari apa?"
"Nggak makan. Aku hitung. Dari pemakaman, aku nggak pernah lihat kamu beli makanan. Aku nggak pernah lihat kamu makan."
"Kamu nguntit aku?" Sekar sedikit mengerutkan kening.
"Bukan nguntit. Tapi rumahmu di ujung desa. Kalau dari sawah ke rumah, lewat sini. Jadi ya aku perhatiin."
"Keperhatian banget," Sekar berkata dengan nada dingin.
Arga tidak tersinggung. "Ini bukan soal keperhatian. Ini soal kamu yang mungkin mati kelaparan sebelum sempat pulih dari kematian nenekmu."
"Kalau aku mati kelaparan, kan ketemu nenek."
"Jangan bicara gitu."
"Kenapa? Kamu takut?"
"Ya. Aku takut."
Sekar terdiam. Mungkin ia tidak menduga Arga akan menjawab sejujur itu.
"Kenapa kamu takut?" tanyanya pelan.
"Karena," Arga menggenggam tangannya sendiri, "aku nggak mau kehilangan orang lain."
"Aku nggak akan mati, Arga. Aku cuma nggak laper."
"Tiga hari nggak laper?"
"Tubuh manusia bisa bertahan tiga minggu tanpa makanan."
"Kamu baca buku apa itu?"
"Nggak baca buku. Nenekku yang bilang."
Arga tersenyum tipis. "Nenekmu orang bijak."
"Ya. Dia bijak. Tapi dia tetap mati."
Keheningan jatuh di antara mereka.
Arga membuka bungkusan pisang goreng itu. Aroma pisang dan gula jawa langsung menyebar di ruangan kecil itu. Wangi hangat yang mengingatkan pada dapur ibunya. Wangi yang membuat perut keroncongan meskipun baru saja sarapan.
"Sekar," kata Arga, "aku nggak bilang kamu harus makan banyak. Tapi setidaknya coba. Satu gigit. Buat aku."
Sekar menatap pisang goreng berwarna keemasan itu. "Kamu ini aneh."
"Aneh kenapa?"
"Nggak biasanya orang desa serepot ini. Biasanya orang cuma ngomong 'ikhlasin' terus pergi. Tapi kamu malah bawa pisang goreng dan maksa aku makan."
"Aku nggak ikhlasin. Aku nggak tahu cara ikhlasin. Aku cuma tahu bahwa nenekmu pasti nggak mau kamu mati kelaparan."
Sekar tidak menjawab.
"Bayangin," lanjut Arga, "nenekmu di surga, lihat kamu kurus kering, mati karena nggak mau makan. Dia pasti sedih."
"Nenekku udah mati. Dia nggak bisa sedih lagi."
"Tapi perasaan kita tentang dia, itu masih ada. Jatmika aja masih bisa sedih setelah mati."
Sekar terdiam. Namanya Jatmika disebut lagi. Nama yang masih terlalu berat untuk didengar, meskipun rohnya sudah pergi.
"Kamu ingat kata-kata Jatmika? Dia bilang dia masih mencintai kita. Dia bilang dia nggak bisa pergi karena cinta itu masih ada. Sekarang dia udah pergi, mungkin karena dia udah ikhlas. Tapi kamu? Kamu masih di sini. Kamu masih hidup. Jangan biarkan cinta nenekmu yang udah dia kasih seumur hidup jadi sia-sia."
Sekar menggigit bibirnya. Matanya berkaca-kaca.
"Kamu nggak adil," bisiknya.
"Memang. Tapi aku nggak bisa diam lihat kamu begini."
Sekar akhirnya mengambil satu potong pisang goreng.
Ia memandangnya lama, seperti sedang berbicara pada pisang itu, seperti sedang meminta izin pada neneknya untuk makan, seperti sedang mengakui bahwa ia lemah, bahwa ia butuh bantuan, bahwa ia tidak bisa sendiri.
Ia menggigit kecil.
Satu gigitan kecil di ujung pisang.
Lalu satu lagi.
Lalu satu lagi.
Air matanya jatuh. Jatuh ke pisang goreng yang masih hangat itu. Jatuh ke tangannya yang gemetar. Jatuh ke kain yang melapisi pangkuannya.
"Kenapa susah banget?" isaknya. "Makan aja rasanya kayak ngunyah batu."
"Karena kamu sedih," kata Arga pelan. "Tapi nggak apa-apa. Makan sambil nangis itu boleh."
Sekar tertawa kecil di sela isaknya. "Kamu punya sumber buat omongan kayak gitu?"
"Nggak punya. Aku cuma ngomong apa yang aku rasa."
"Sok bijak."
"Nggak sok bijak. Sok peduli."
"Bedanya apa?"
"Kalau sok bijak, orang cuma ngomong. Kalau sok peduli, orang bawa pisang goreng."
Sekar tertawa lagi. Kali ini lebih keras. Air matanya masih mengalir, tapi di antara air mata itu ada senyum. Senyum kecil yang membuat hati Arga terasa lega, setidaknya untuk beberapa detik.
"Terima kasih, Arga," kata Sekar setelah cukup tenang. "Kamu baik banget."
"Nggak. Aku cuma..." Arga mencari kata-kata, "...nggak tega lihat kamu sendiri."
"Tapi aku memang sendiri."
"Ya. Tapi itu nggak berarti kamu harus terus-terusan sendiri."
Mereka duduk berdampingan dalam diam.
Sekar menghabiskan dua potong pisang goreng. Banyak untuk ukuran perutnya yang sudah tiga hari tidak diisi makanan layak.
Arga tidak bicara. Ia hanya duduk, menunggu, menjadi kehadiran yang tidak memaksa.
"Aku mau cerita tentang nenekku," kata Sekar tiba-tiba.
"Silakan."
"Soalnya, kalau nggak ada yang dengerin, cerita itu cuma akan muter di kepalaku terus dan nggak pernah selesai. Aku butuh... aku butuh seseorang."
"Aku di sini."
"Jangan potong."
"Maaf."
Sekar menarik napas panjang. "Nenekku dulu... dia perempuan yang paling cantik se-desa. Kata orang-orang. Waktu masih muda, rambutnya panjang, kulitnya putih, matanya besar. Tapi dia nggak pernah nikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya."
"Kenapa?"
"Karena dia jatuh cinta dengan laki-laki dari luar desa. Laki-laki yang cuma lewat, cuma mampir sebentar, lalu pergi dan nggak pernah kembali."
Arga diam. Ia sudah mendengar cerita ini dari bisik-bisik tetangga, tapi tentu berbeda mendengarnya langsung dari mulut Sekar.
"Tapi dia hamil. Dengan anakku itu. Anaknya laki-laki. Tapi laki-laki itu nggak pernah kembali. Nenekku ditinggal sendiri."
"Itu ayahmu?"
Sekar menggeleng. "Itu paman. Kakaknya ibuku. Ceritanya panjang. Tapi intinya, nenekku nggak pernah benar-benar bahagia. Dia selalu menunggu. Menunggu seseorang yang nggak akan pernah kembali."
"Mirip kayak Jatmika," kata Arga pelan.
"Ya. Mirip. Mungkin itu sebabnya nenekku begitu mengerti ketika aku cerita tentang Jatmika. Dia tahu rasanya menunggu seseorang yang udah pergi."
Sekar berhenti. Ia memandang keluar jendela, ke arah langit yang mulai beranjak terang, meskipun malam tanpa bintang kemarin tidak memberikan janji akan hari yang cerah.
"Dia selalu bilang padaku, 'Nduk, jangan ulangi kesalahanku. Jangan menunggu seseorang yang udah pergi. Jangan berharap pada sesuatu yang nggak akan pernah datang.' Tapi aku nggak pernah bisa dengar. Aku selalu menunggu Jatmika meskipun dia udah mati."
"Dan sekarang?"
Sekar menatap Arga. Matanya masih basah, tapi ada ketegaran di sana. Ketegaran yang perlahan mulai tumbuh, seperti tunas kecil di tanah yang retak.
"Sekarang... dia udah pergi. Beneran pergi. Dan aku harus berhenti menunggu."
"Kamu bisa?"
"Aku nggak tahu. Tapi aku harus belajar. Karena nenekku nggak akan tenang kalau aku terus-terusan begini."
Arga meraih tangan Sekar.
Gadis itu tidak menarik tangannya.
Mereka hanya duduk, tangan bertautan, tanpa kata-kata yang berarti.
"Arga," panggil Sekar pelan.
"Iya?"
"Apa kamu... apa kamu juga cuma lewat?"
"Lewat gimana?"
"Seperti laki-laki nenekku dulu. Datang, bikin hati berbunga-bunga, lalu pergi, nggak pernah kembali."
Arga menggenggam tangan Sekar lebih erat. "Aku bukan laki-laki itu."
"Kamu bisa bilang apa pun."
"Ya. Tapi aku juga bisa buktiin."
"Buktiin gimana?"
"Datang lagi besok. Dan lusa. Dan seterusnya. Sampai kamu muak lihat mukaku."
Sekar tersenyum. Senyum yang, meskipun masih diliputi duka, terasa lebih hangat dari senyum-senyum sebelumnya.
"Nanti kamu yang bosan duluan."
"Coba lihat saja."
"Baik. Aku tunggu."
Matahari mulai meninggi ketika Arga pamit pulang.
Sekar mengantarnya sampai pagar. Mereka berdiri berhadapan dengan jarak satu langkah. Cukup dekat untuk saling mendengar napas. Cukup jauh untuk saling bertatapan tanpa merasa canggung.
"Besok jangan lupa bawa pisang goreng lagi," kata Sekar. "Yang hari ini udah habis."
"Ibu senang kalau tahu kamu suka."
"Titip salam buat Ibu."
"Iya."
"Dan... makasih, Arga."
"Makasih juga."
"Makasih buat apa?"
"Makasih karena... nggak nutup pintu di depan mukaku."
Sekar tertawa. Tawa kecil yang membuat Arga merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Besok aku buka pintu lebar-lebar," kata Sekar.
"Janji?"
"Janji."
Arga berjalan pulang dengan langkah yang lebih ringan dari ketika ia datang. Langit masih cerah. Burung-burung masih bernyanyi. Angin masih berembus lembut. Hidup, meskipun berat, tetap indah.
Malam harinya, Arga kembali duduk di beranda, menatap langit.
Bulan sudah mulai muncul. Bintang-bintang mulai berkerlap-kerlip. Malam tanpa bintang kemarin ternyata hanya berlangsung semalam.
"Akhirnya ada bintang juga," gumamnya.
"Kelihatan senang," kata Sastro yang keluar dengan segelas kopi hitam.
"Sedikit."
"Kamu habis dari rumah Sekar?"
"Iya."
"Bagaimana?"
"Lumayan. Dia mulai makan."
"Syukurlah. Itu pertanda baik."
Arga menatap ayahnya. "Ayah, boleh tanya sesuatu?"
"Tanya aja."
"Waktu Ayah pertama kali jatuh cinta sama Ibu, apa Ayah takut?"
Sastro terdiam. Ia menyesap kopinya. Pahitnya membuat wajahnya sedikit berkerut.
"Takut itu pasti, Le. Apalagi buat laki-laki desa kayak Ayah. Nggak punya apa-apa. Cuma sawah kecil, rumah reyot, dan mimpi yang mungkin nggak akan pernah kesampean."
"Lalu Ayah gimana?"
"Ayah..." Sastro tersenyum. "Ayah cuma ingat kata-kata bapak Ayah: 'Sing penting kowe usaha. Sisa, pasrah.' Yang penting kamu usaha. Sisanya, pasrah."
Arga mengangguk.
"Ayah percaya, Le," lanjut Sastro. "Kamu dan Sekar bisa melewati ini. Semua ini. Sungai. Jatmika. Kematian. Segalanya."
"Kenapa Ayah percaya?"
"Karena kalian sama-sama keras kepala. Sama-sama nggak mau kalah. Sama-sama nggak mau nyerah."
Arga tersenyum. Senyum yang menghangatkan malam yang dingin.
"Mungkin itu cukup," ujarnya pelan.
"Iya," Sastro menepuk bahu putranya. "Mungkin itu cukup."
Di lain sisi desa, di rumah tua yang mulai terasa tidak terlalu sunyi karena besok akan ada yang datang dengan pisang goreng dan senyuman canggungnya, Sekar duduk di kamar neneknya.
Ia tidak menangis.
Ia hanya memandang foto neneknya yang terbungkus pigura kayu sederhana.
"Nek," bisiknya, "aku nggak tahu kapan aku bisa berhenti sedih. Tapi... ada orang yang mau menemani. Dan dia bawa pisang goreng yang enak."
Ia tersenyum.
"Semoga Nek nggak cemburu."
Foto itu tidak menjawab. Tapi di hati Sekar, ada kehangatan kecil yang perlahan mulai tumbuh. Kehangatan yang mengingatkannya bahwa meskipun malam tanpa bintang pernah datang, bintang-bintang pada akhirnya akan kembali bersinar.
BAB 42
RUMAH YANG TERASA ASING
Seminggu setelah pemakaman Mbok Raras, Sekar masih belum bisa menyebut rumahnya sebagai "rumah".
Bukan karena rumah itu berubah. Dinding kayunya masih sama. Atap gentengnya masih sama. Pintu yang berderit itu masih berderit dengan cara yang sama setiap kali dibuka. Jendela kamar yang menghadap ke timur masih tetap membiarkan cahaya matahari pagi masuk tanpa permisi. Bahkan bau kapur barus dan bunga kenanga yang dulu identik dengan neneknya, masih tersisa di sela-sela lipatan kain dan di sudut-sudut lemari tua yang sudah berjamur.
Tapi rumah itu terasa asing.
Seperti memakai baju orang lain. Seperti tidur di tempat tidur hotel. Seperti menyentuh tangan seseorang yang sudah lama tidak berjumpa.
Semuanya familiar, tapi tidak ada yang benar-benar terasa miliknya.
Sekar duduk di kursi bambu di ruang tengah. Di depannya ada secangkir teh jahe yang sudah dingin sejak satu jam lalu. Ia tidak menyentuhnya. Tangannya hanya memegang cangkir itu, merasakan dinginnya merambat dari ujung jari ke telapak tangan, dari telapak tangan ke pergelangan, lalu berhenti di suatu tempat di antara siku dan bahu, tidak mau naik lebih jauh karena hati sudah terlalu dingin untuk merasakan dingin lagi.
"Nek," panggilnya pelan, seperti biasa.
Tidak ada jawaban. Seperti biasa.
Tapi hari ini, untuk pertama kalinya, Sekar tidak menangis ketika tidak ada yang menjawab. Ia hanya duduk. Diam. Menatap dinding di depannya yang mulai mengelupas catnya. Menatap foto neneknya yang masih tersenyum dari balik pigura kayu. Menatap kehampaan yang seolah-olah telah menjadi teman tetapnya sejak seminggu lalu.
"Seharusnya aku sudah terbiasa," gumamnya. "Sendirian. Diam. Nggak ada yang ngajak ngobrol."
Tapi kenyataannya, ia tidak terbiasa.
Dulu, ketika neneknya masih sehat, rumah ini selalu ramai dengan suara. Suara nenek yang komat-kamit membaca doa setelah salat. Suara nenek yang batuk-batuk kecil di pagi hari. Suara nenek yang berteriak memanggilnya saat sudah terlalu lama di sungai. Suara nenek yang tertawa mendengar cerita-cerita lucu dari tetangga.
Sekarang, yang ada hanya diam.
Diam yang begitu keras di telinga.
Diam yang membuatnya ingin berteriak hanya untuk memastikan bahwa pita suaranya masih berfungsi.
Tok. Tok. Tok.
Sekar menoleh ke pintu.
"Masuk aja, nggak dikunci."
Pintu terbuka. Arga masuk dengan bungkusan daun pisang di tangan kanan dan sebotol air kelapa muda di tangan kiri.
"Hari ini bawa apa?" tanya Sekar.
"Pisang goreng lagi. Ibu bilang kamu suka."
"Iya, aku suka. Tapi kalau setiap hari pisang goreng, nanti aku jadi pisang goreng."
"Nggak apa. Jadi pisang goreng yang cantik."
Sekar tersenyum tipis. "Ajarannya dari mana sih gombal-gombal gitu?"
"Nggak gombal. Jujur."
"Ya, jujur banget."
Arga duduk di kursi seberang Sekar. Ia meletakkan bungkusan dan botol itu di meja kayu yang sudah lapuk. "Minum dulu. Air kelapa. Baru dipetik pagi tadi."
"Kamu yang petik?"
"Aku. Lumayan jatuh dari pohon. Tapi nggak pecah."
"Kesannya jago banget."
"Nggak jago. Cuma beruntung."
Sekar mengambil botol itu, membuka tutupnya, lalu minum beberapa teguk. Segar. Dingin. Manis alami yang tidak perlu ditambah gula. Rasanya seperti sedang minum dari sumber air di kaki gunung, tempat yang dulu sering ia datangi bersama neneknya waktu masih kecil.
"Kamu kenapa?" tanya Arga.
"Kenapa apa?"
"Matamu sayu gitu."
"Mataku biasa aja."
"Nggak biasa. Kayak lagi mikirin sesuatu."
Sekar menaruh botol itu di meja. "Aku lagi mikirin... rasanya aneh."
"Aneh gimana?"
"Aneh tinggal di rumah sendiri. Padahal rumah ini udah aku diemin dari lahir. Tapi sekarang rasanya kayak rumah orang. Rasanya kayak aku cuma numpang. Kayak... aku nggak punya hak untuk di sini."
Arga menghela napas. "Itu wajar, Sekar."
"Wajar?"
"Iya. Soalnya rumah itu bukan cuma tembok dan genteng. Rumah itu juga suara dan kehadiran. Nenekmu udah nggak ada. Jadi wajar kalau rumah ini terasa asing."
"Lalu gimana caranya supaya nggak asing lagi?"
"Kamu harus bikin suara baru."
Sekar mengerutkan kening. "Suara baru?"
"Iya. Suara kamu sendiri. Kamu yang harus mengisi rumah ini. Bukan nenekmu."
"Nggak bisa."
"Bisa. Coba sekarang. Ajak aku ngobrol. Banyak. Biar rumah ini dengar suara kita."
Sekar terdiam. Ia memandang Arga dengan tatapan setengah bingung, setengah heran.
"Kamu ini aneh banget hari ini."
"Aku memang aneh."
"Nggak, nggak. Lebih aneh dari biasanya."
"Terima kasih."
"Itu bukan pujian."
"Aku terima sebagai pujian."
Sekar menekan pelipisnya. "Aku jadi pusing sendiri ngadepin kamu."
"Bagus. Berarti kamu lupa sama kesedihanmu."
Sekar membeku. Ia menatap Arga. "Kamu... sengaja ya?"
"Ya," Arga tersenyum. "Ibu bilang, kalau orang lagi sedih, jangan disuruh ikhlas. Suruh aja marah, bingung, atau kesel. Itu lebih bagus daripada cuma diam dan menangis."
"Jadi kamu sengaja bikin aku kesel?"
"Iya."
"Dan itu ide Ibumu?"
"Iya."
"Arga, Ibumu orang yang... unik."
"Itu istilah halus untuk bilang aneh."
"Ya. Ibu mu aneh. Dan kamu aneh. Keluarga aneh."
"Tapi kamu senang?"
Sekar tidak bisa menahan senyum. Ia menunduk, memainkan ujung kain yang melapisi pangkuannya. "Ya. Aku senang."
Sekar mengambil satu potong pisang goreng. Ia menggigitnya perlahan. Renyah di luar, lembut di dalam, manis di lidah.
"Arga."
"Iya?"
"Menurutmu, aku harus tinggal di sini atau pindah?"
"Pindah ke mana?"
"Nggak tahu. Ke mana gitu. Jauh dari desa ini."
"Kenapa mau pindah?"
"Karena di sini banyak kenangan. Nenek. Jatmika. Kamu. Sungai. Semuanya. Rasanya kayak... setiap sudut desa ini punya cerita. Cerita yang bikin aku sakit."
"Memang sakit. Tapi lari dari kenangan itu nggak akan menyembuhkan luka."
"Terus aku harus gimana?"
"Kamu harus hadapin. Sakit-sakit dikit. Pelan-pelan."
"Pelan-pelan sampai kapan?"
"Sampai nggak sakit lagi."
"Nggak akan ada rasa sakit yang berhenti, Arga. Aku udah belajar itu. Rasa sakit itu cuma... berubah bentuk. Kadang kecil, kadang besar. Tapi nggak pernah bener-bener hilang."
Arga terdiam. Ia memikirkan kata-kata Sekar. Mungkin benar. Mungkin rasa sakit tidak pernah hilang. Mungkin yang hilang hanya intensitasnya. Mungkin yang berubah hanyalah cara kita membawanya—sebagai beban yang dipanggul, atau sebagai pelajaran yang disimpan, atau sebagai sesuatu yang didiamkan begitu saja sampai ia berbaur dengan napas dan darah dan tulang.
"Kalau begitu," kata Arga akhirnya, "kamu harus belajar membawanya."
"Membawa rasa sakit?"
"Iya. Seperti... seperti bawa barang bawaan. Kadang berat. Kadang ringan. Tapi nggak bisa dibuang."
"Siapa yang ngajarin kamu omongan kayak gitu?"
"Nggak ada. Aku sendiri yang mikir."
"Jago mikir."
"Terima kasih."
"Bukan pujian."
"Sudah, Sekar. Makan tuh pisang gorengnya. Jangan ditahan-tahan. Nanti aku yang habisin."
Sekar tertawa. Tawa kecil yang membuat dadanya terasa sedikit lebih ringan. Ia menghabiskan dua potong pisang goreng. Lalu mengambil air kelapa lagi. Lalu menatap Arga yang duduk santai di kursi seberang, dengan kaki disilangkan, dengan tangan dilipat di dada, dengan wajah yang tidak canggung berada di rumah orang yang sedang berduka.
"Arga," panggil Sekar.
"Iya?"
"Kamu nggak takut?"
"Takut apa?"
"Takut sama duka. Takut sama kematian. Takut sama rumah yang dingin kayak gini."
"Takut," Arga mengangguk. "Tapi aku datang."
"Kenapa?"
"Karena kamu lebih penting daripada rasa takut."
Sekar menunduk. Pipinya terasa panas. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ia berusaha menyembunyikan senyumnya, tapi gagal.
"Kamu jangan ngomong kayak gitu terus," katanya pelan.
"Kenapa?"
"Nanti aku... nanti aku jadi salah tingkah."
"Nggak apa. Aku suka liat kamu salah tingkah."
"Arga!"
"Sekar."
Mereka saling tatap. Sekian lama. Lalu keduanya tertawa. Tawa yang lepas. Tawa yang tulus. Tawa yang membuat rumah tua yang dingin itu terasa sedikit lebih hangat.
Setelah tawa mereka reda, Sekar duduk lebih dekat.
"Arga, aku mau tanya sesuatu."
"Iya."
"Apa kamu nggak pernah berpikir untuk pergi dari desa ini?"
"Pernah. Tapi nggak jadi."
"Kenapa nggak jadi?"
"Karena takut."
"Takut apa?"
"Takut kalau aku pergi, kamu akan sendirian."
Sekar menelan ludah. "Kamu... kamu memikirkan aku?"
"Setiap hari."
"Kenapa?"
"Karena aku sayang sama kamu, Sekar."
Jujur. Lurus. Tanpa hiasan. Tanpa retorika. Tanpa persiapan. Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Arga, seperti air yang mengalir dari mata air, seperti angin yang berembus dari arah utara, seperti sesuatu yang alami dan tidak bisa dipaksakan.
Sekar diam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Kamu nggak perlu jawab," kata Arga cepat. "Aku cuma... aku cuma mau kamu tahu. Itu aja."
"Tapi kalau aku diam, kamu nggak salah paham?"
"Nggak. Aku bisa terima."
"Mau apa pun?"
"Mau apa pun."
Sekar menggigit bibirnya. "Kamu ini... kamu ini keterlaluan, Arga."
"Kenapa?"
"Karena kamu buat aku susah. Harusnya aku sibuk mikirin nenek yang meninggal. Tapi aku malah sibuk mikirin kamu."
Air mata Sekar jatuh lagi. Tapi kali ini bukan air mata kesedihan. Bukan air mata kehilangan. Tapi air mata karena hatinya terlalu penuh. Penuh dengan rasa yang tidak bisa ia beri nama.
Arga tidak bicara. Ia hanya mengulurkan tangan. Sekar menggenggamnya. Keras. Tidak mau melepaskan.
"Arga, aku takut."
"Takut apa?"
"Aku takut kalau aku mulai sayang sama kamu, aku bakal kehilangan kamu."
"Kamu nggak akan kehilangan aku."
"Kamu nggak tahu masa depan."
"Memang. Tapi aku tahu hari ini. Dan hari ini, aku ada di sini."
Mereka duduk berdua dalam diam.
Tangan masih saling menggenggam.
Pisang goreng sudah habis.
Air kelapa sudah diminum sampai tetes terakhir.
Matahari mulai condong ke barat.
Cahaya sore masuk melalui jendela, membuat bayangan panjang di lantai kayu, membuat debu-debu kecil yang beterbangan terlihat seperti bintang-bintang mini di ruang sempit.
"Arga," panggil Sekar.
"Iya."
"Aku nggak tahu cara mencintai orang dengan benar."
"Nggak ada cara yang benar."
"Tapi aku nggak mau nyakitin kamu."
"Kamu nggak akan nyakitin aku."
"Kamu bisa yakin?"
"Aku yakin."
"Bohong."
"Iya. Aku bohong. Tapi aku lebih takut kehilangan kamu daripada takut disakiti."
Sekar menatap Arga. Matanya basah. Senyumnya tipis.
"Kamu aneh."
"Iya, aku aneh."
"Tapi aku suka."
"Dengan keanehannya?"
"Dengan semuanya."
Sekar melepaskan genggaman tangannya. Ia berdiri, berjalan ke jendela, membukanya sedikit lebih lebar. Angin sore masuk, membawa aroma tanah dan rumput kering.
"Arga, kamu tahu nggak? Dulu, nenekku sering bilang, 'Rumah itu bukan tempat. Rumah itu perasaan'."
"Maksudnya?"
"Maksudnya, kamu bisa tinggal di istana sekalipun, kalau hatimu nggak tenang, ya nggak akan pernah merasa seperti di rumah."
"Lalu sekarang?"
"Sekarang... aku nggak tahu apa rumahku masih di sini. Atau rumahku sekarang ada di tempat yang berbeda."
"Di mana?"
Sekar menoleh. Tersenyum. "Mungkin rumahku ada di mana pun kamu berada."
Arga terpaku. Kata-kata itu, sederhana, tulus, tanpa hiasan, jatuh di hatinya seperti batu yang dilempar ke kolam. Riaknya menyebar ke seluruh tubuhnya. Ke ujung jari. Ke ubun-ubun. Ke telapak kaki.
"Sekar..."
"Jangan bilang apa-apa. Aku belum siap dengar jawabanmu."
"Tapi aku, "
"Belum siap, Arga. Tolong. Hormati."
Arga menutup mulutnya. Ia mengangguk.
"Baik. Aku tunggu."
"Kamu mau menunggu?"
"Kelihatannya begitu."
"Meskipun lama?"
"Meskipun selamanya."
Sore beranjak petang ketika Arga pamit pulang.
Sekar mengantarnya sampai pintu.
"Makan malam nanti kamu masak?" tanya Arga.
"Nggak ada yang dimasak."
"Aku bawakan lauk. Ibu masak ayam goreng."
"Nggak usah repot-repot."
"Nggak repot. Dari pada kamu cuma makan pisang goreng terus."
"Pisang goreng itu enak."
"Ya. Tapi nggak bisa jadi lauk seumur hidup."
Sekar tertawa. "Baik. Bawain. Tapi jangan banyak-banyak."
"Janji."
Arga melangkah turun dari teras. Ia berjalan beberapa langkah, lalu berbalik.
"Sekar."
"Iya?"
"Rumah ini memang asing sekarang. Tapi suatu hari nanti, kamu akan terbiasa. Dan kalau kamu belum bisa terbiasa... kamu bisa tinggal di rumahku."
Sekar tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Senyum yang membuat Arga tidak perlu mendengar kata-kata untuk mengerti.
Malam itu, Sekar duduk sendirian di kursi bambu.
Ia membayangkan Arga mengucapkan kata-kata itu sekali lagi. "Kamu bisa tinggal di rumahku."
Bukan lamaran. Bukan janji. Bukan komitmen. Hanya tawaran sederhana. Tawaran yang tidak memaksa. Tawaran yang memberi ruang.
"Nek," bisiknya pada foto neneknya, "aku pikir aku mulai menemukan rumah yang baru. Bukan tempat. Tapi seseorang."
Foto itu tidak menjawab.
Tapi di hati Sekar, ada suara kecil yang berkata bahwa neneknya tersenyum. Merestui. Memberkati.
"Makasih, Nek," bisiknya. "Makasih udah nunggu selama ini. Sekarang istirahatlah. Aku akan baik-baik saja. Aku punya dia."
Air matanya jatuh lagi. Tapi kali ini, ia tersenyum.
Ia tersenyum untuk pertama kalinya dengan sepenuh hati setelah seminggu penuh duka.
Di rumahnya, Arga duduk di meja makan bersama Sukmawati dan Sastro.
"Ibu, besok bawain ayam goreng buat Sekar," kata Arga.
"Lho, tadi kan Ibu udah kasih pisang goreng?"
"Sekar bilang dia suka pisang goreng. Tapi nggak bisa jadi lauk seumur hidup."
Sukmawati tertawa. "Anak itu lucu juga."
"Iya. Dia lucu."
"Dan kamu sayang sama dia?"
Arga menatap ibunya. "Iya, Bu. Aku sayang sama dia."
Sastro yang dari tadi diam tiba-tiba bersuara. "Kalau sayang, jaga baik-baik. Jangan sampai dia nangis."
"Aku nggak akan bikin dia nangis, Yah."
"Semua laki-laki bilang gitu. Tapi pada akhirnya, yang bikin perempuan nangis ya laki-laki juga."
"Tapi aku—"
"Sudah, Mak, jangan didikte anakmu terus," potong Sukmawati. "Dia sudah besar. Dia tahu mana yang baik dan mana yang tidak."
Sastro menghela napas. "Iya. Tapi ingat, Le. Perempuan yang baru kehilangan orang yang dicintai itu rapuh. Dia butuh teman, bukan kekasih. Jangan terburu-buru."
"Aku nggak terburu-buru, Yah. Aku cuma... aku cuma mau ada untuk dia."
"Itu sudah cukup," kata Sukmawati. "Menjadi 'ada' itu sudah lebih dari cukup."
Arga mengangguk. Ia menyuap nasi, mengunyah perlahan, merasakan kehangatan dari makanan buatan ibunya.
"Hidup kadang berat, Le," lanjut Sukmawati. "Tapi nggak akan pernah terlalu berat kalau ada yang menemani."
"Ibu tahu itu dari mana?"
"Dari hidup, Le. Ibu juga pernah ngerasain yang namanya hampir putus asa. Tapi kemudian Ibu ketemu ayahmu."
"Ayahmu emang nggak romantis," Sastro menyela. "Tapi ayahmu setia."
Sukmawati tertawa. "Iya, kamu setia. Setia banget sampai kadang bikin kesel."
"Tapi Ibu tetap sayang."
"Iya. Aku tetap sayang."
Arga melihat orang tuanya. Mereka tidak sempurna. Mereka miskin. Mereka sederhana. Mereka tidak pernah mengucapkan kata "cinta" secara langsung satu sama lain. Tapi mereka bertahan. Mereka tetap bersama. Mereka saling menguatkan di saat susah dan senang.
Mungkin itu cinta.
Bukan tentang kata-kata indah atau janji-janji manis.
Tapi tentang kehadiran.
Tentang bertahan.
Tentang tidak pergi meskipun banyak alasan untuk pergi.
"Makasih, Yah, Mak," kata Arga tiba-tiba.
"Makasih buat apa?" tanya Sastro.
"Makasih udah ngajarin aku apa artinya setia."
Sastro dan Sukmawati saling pandang. Lalu tersenyum. Lalu melanjutkan makan malam mereka dalam diam yang hangat.
Malam tanpa bintang seminggu lalu kini tergantikan oleh langit yang dipenuhi cahaya. Ribuan bintang berkelap-kelip di atas desa Wringinrejo, seolah-olah ikut menyaksikan kisah yang sedang berlangsung di rumah-rumah kecil di bawahnya.
Di rumah tuanya, Sekar berbaring di dipan bambu. Ia memeluk bantal neneknya. Wangi nenek masih tersisa, meskipun semakin lama semakin memudar.
Ia memejamkan mata. Dalam gelap, ia melihat wajah Arga. Bukan wajah Jatmika. Bukan wajah neneknya. Tapi wajah Arga. Dengan senyum canggungnya. Dengan tatapan polosnya. Dengan kata-kata yang kadang tidak masuk akal tapi selalu membuatnya merasa tidak sendirian.
"Arga," bisiknya. "Aku juga sayang kamu."
Kata-kata itu tidak terdengar oleh siapa pun. Hanya angin malam yang mendengarnya. Hanya bintang-bintang yang menjadi saksinya. Hanya hatinya sendiri yang tahu bahwa itu benar.
BAB 43
DOA SANG IBU
Pagi itu, Sukmawati bangun lebih awal dari biasanya.
Bukan karena ada yang istimewa. Bukan karena ada kenduri atau selamatan. Bukan karena ada tetangga yang melahirkan atau meninggal. Ia bangun lebih awal karena sejak semalam, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Sesuatu yang terus berputar di kepalanya seperti air dalam kendi yang tidak pernah berhenti bergerak meskipun sudah didiamkan berjam-jam.
Arga.
Anak laki-lakinya yang kini remaja.
Anak laki-lakinya yang mulai jatuh cinta.
Anak laki-lakinya yang mulai berbicara tentang masa depan.
Anak laki-lakinya yang, tanpa ia sadari, telah tumbuh menjadi seseorang yang tidak lagi hanya butuh pelukan ibu, tetapi butuh sesuatu yang lebih: restu, doa, dan kepercayaan bahwa ia bisa menjalani hidupnya sendiri.
Sukmawati duduk di dapur. Api di tungku belum dinyalakan. Ia hanya duduk, memandang kayu-kayu bakar yang masih tersusun rapi di pojok, memandang periuk tanah liat yang sudah menghitam karena puluhan tahun terkena jelaga, memandang cangkir-cangkir pecah yang masih ia simpan meskipun sudah tidak bisa dipakai.
"Ada apa, Bu? Masih pagi belum masak?"
Suara itu membuat Sukmawati menoleh. Arga berdiri di pintu dapur, rambut masih acak-acakan, mata masih setengah merem.
"Kamu bangun ngapain?" tanya Sukmawati.
"Mau pipis. Eh, lihat Ibu sudah bangun."
"Ya sudah, cepat pipis. Nanti masuk angin."
Arga mengangguk. Ia berbalik, berjalan ke belakang rumah. Beberapa menit kemudian ia kembali. Kali ini ia duduk di bangku kayu di samping ibunya.
"Bu, tadi malam Ibu mimpi buruk?"
"Kenapa tanya begitu?"
"Tadi aku lewat kamar Ibu, dengar Ibu bergumam."
"Tidak. Ibu tidak mimpi buruk. Ibu cuma mikirin sesuatu."
"Mikir apa?"
Sukmawati menatap anaknya. Wajah Arga, yang masih mengantuk, yang masih polos, yang masih bersih dari beban-beban dunia, mengingatkannya pada dua puluh tahun lalu, ketika ia masih muda, ketika Jatmika masih kecil, ketika hidup masih terasa sederhana meskipun sebenarnya tidak pernah sederhana.
"Ibu mikirin kamu," jawab Sukmawati jujur.
"Aku kenapa?"
"Kamu sudah besar. Kamu mulai dekat dengan Sekar. Kamu mulai berbicara tentang perasaan. Kamu mulai..."
Ia berhenti. Mencari kata-kata.
"Aku mulai apa, Bu?"
"Kamu mulai melepaskan masa lalu."
Arga terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya duduk, memandang ibunya, menunggu kelanjutan kalimat yang mungkin akan mengubah cara pandangnya terhadap banyak hal.
"Kamu tahu, Le," Sukmawati mulai lagi, "dulu, setelah Jatmika meninggal, Ibu tidak pernah berpikir Ibu bisa bahagia lagi. Rasanya... rasanya dunia ini terlalu gelap. Rasanya matahari sudah berhenti bersinar untuk Ibu. Rasanya hidup cuma soal bertahan dari satu hari ke hari berikutnya, tanpa tujuan, tanpa harapan, tanpa apa pun."
"Lalu Ibu gimana?"
"Ayahmu. Ayahmulah yang membuat Ibu perlahan-lahan mulai melihat cahaya lagi."
"Kenapa Ayah?"
"Dia tidak pernah memaksa Ibu untuk bahagia. Dia tidak pernah bilang 'sudahlah ikhlasin' atau 'sudahlah lupakan' atau 'kamu harus kuat'. Dia cuma... dia cuma ada. Dia duduk di samping Ibu setiap malam. Dia memegang tangan Ibu tanpa bicara. Dia masak untuk Ibu meskipun masakannya tidak enak. Dia menjadi kuat untuk Ibu ketika Ibu tidak punya kekuatan sama sekali."
"Mungkin itu kenapa Ibu bertahan."
"Sekarang giliran kamu, Le. Sekarang giliran kamu yang harus bertahan untuk seseorang."
Arga menatap ibunya. "Maksud Ibu, buat Sekar?"
"Iya. Buat Sekar. Gadis itu baru kehilangan neneknya. Dia sendirian di rumah besar yang sunyi. Dia mungkin pura-pura kuat di depan kamu, tapi di dalam hatinya, dia hancur. Kamu harus menjadi ayahmu untuk dia. Menjadi kehadiran yang tidak memaksa. Menjadi tempat pulang yang tidak bertanya-tanya."
"Aku nggak tahu caranya, Bu."
"Nggak ada yang tahu, Le. Kamu belajar sambil berjalan. Kamu belajar sambil jatuh. Kamu belajar sambil sakit."
Arga menghela napas panjang. "Kadang aku takut, Bu."
"Takut apa?"
"Aku takut... aku takut aku tidak cukup. Buat dia. Buat Jatmika. Buat semua yang mengharapkan sesuatu dariku."
Sukmawati mengusap rambut Arga. "Kamu itu sudah lebih dari cukup, Le. Kamu tidak perlu menjadi sempurna. Kamu tidak perlu menjadi Jatmika. Kamu tidak perlu menjadi apa pun selain dirimu sendiri."
"Tapi Sekar—"
"Sekar jatuh cinta padamu, bukan pada Jatmika. Dia sendiri yang bilang begitu, kan? Di tepi sungai? Waktu Jatmika masih ada?"
Arga mengangguk pelan.
"Percaya padanya, Le. Percaya pada perasaannya. Percaya bahwa dia memilih kamu karena kamu, bukan karena siapa pun."
Arga tidak menjawab. Ia hanya menunduk, memandang lantai dapur yang tanahnya sudah mengeras karena bertahun-tahun dipijak.
"Le," panggil Sukmawati.
"Iya, Bu."
"Ibu mau titip pesan."
"Pesan apa?"
"Kalau suatu hari nanti kamu dan Sekar berpisah—bukan karena kamu tidak saling mencintai, tapi karena hidup membawa kalian ke arah yang berbeda—jangan pernah menyesal. Jangan pernah menyalahkan diri sendiri. Jangan pernah menyalahkan dia. Karena cinta pertama memang tidak selalu abadi. Tapi cinta pertama selalu mengajarkan sesuatu."
"Ibu bicara seperti sudah merasakan."
Sukmawati tersenyum. Senyum yang misterius. Senyum yang menyimpan ribuan cerita yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun.
"Semua orang pernah merasakan, Le. Ibu juga."
Sastro masuk ke dapur dengan langkah berat. Wajahnya masih mengantuk, rambutnya masih acak-acakan, sarungnya masih melilit longgar di pinggang.
"Masak apa pagi-pagi begini? Kok belum nyalain api?" tanyanya.
"Masih ngobrol sama Arga," jawab Sukmawati.
"Ngobrol apa? Kok serius banget?"
"Tentang cinta."
Sastro mengerutkan kening. "Cinta? Jam segini?"
"Emang cinta kenapa kalau jam segini?"
"Ya nggak kenapa-kenapa. Cuma... aneh aja. Biasanya orang ngobrolin cinta malam-malam. Sambil lihat bulan."
"Kami lihat langit-langit dapur, cukup."
Sastro menggeleng. "Istriku aneh."
"Suamiku juga aneh."
Arga tersenyum melihat orang tuanya. Mereka tidak pernah mengucapkan kata cinta secara langsung. Tapi dari cara mereka bertengkar tentang hal-hal kecil, dari cara mereka saling menggoda di pagi hari, dari cara mereka duduk berdampingan tanpa bicara namun tetap terasa hangat, itulah cinta. Cinta yang sudah berumur puluhan tahun. Cinta yang sudah melewati badai dan kemarau dan banjir dan segalanya.
"Yah," panggil Arga.
"Apa?"
"Ayah sayang Ibu nggak?"
Sastro menatap istrinya. Sukmawati menatap balik. Mereka berdua tersenyum.
"Tanya yang nggak penting," jawab Sastro.
"Iya, nggak penting," timpal Sukmawati.
"Tapi Ayah jawab nggak?"
Sastro menghela napas. "Dasar anak SD."
"Sekarang sudah SMA, Yah."
"Ya sudah. SMA. Tapi pikiran masih kayak anak SD."
"Jawab dulu, Yah."
Sastro diam beberapa saat. Lalu dengan suara pelan, hampir seperti bisikan, ia berkata, "Iya. Ayah sayang Ibu. Sayang banget."
Sukmawati tersenyum. "Kamu kalau lagi ngomong jujur jangan diam-diam. Nanti anakmu kira kamu lagi marah."
"Biar. Biar dia tahu bagaimana rasanya jadi suami yang baik."
"Lalu kamu mengajari Arga jadi suami yang baik?"
"Siapa? Aku? Aku nggak bisa ngajar. Arga harus belajar sendiri."
"Tapi bisa dicontoh."
"Ya. Dia bisa lihat aku. Dan dia bisa lihat bagaimana aku memperlakukan istriku."
Arga melihat ayahnya. Laki-laki yang tidak pernah banyak bicara. Laki-laki yang keras di luar tapi lembut di dalam. Laki-laki yang memilih menunjukkan cinta melalui tindakan, bukan kata-kata.
"Makasih, Yah," kata Arga.
"Makasih buat apa?"
"Makasih udah jadi contoh. Untuk aku."
Sastro tidak menjawab. Ia hanya menepuk bahu Arga. Keras. Sekali. Lalu ia pergi ke belakang rumah untuk mengambil air.
Setelah sarapan, Arga membantu ibunya mencuci piring di sumur belakang.
Airnya dingin. Sabun kelapanya berbusa tipis. Piring-piring tanah liat itu terasa berat di tangannya.
"Bu," panggil Arga sambil menggosok piring.
"Iya."
"Ibu tadi bilang, Ibu juga pernah merasakan cinta pertama. Cerita, dong."
Sukmawati tertawa. "Kepo banget, sih."
"Aku penasaran."
"Nggak ada yang menarik."
"Aku tetap mau dengar."
Sukmawati menghela napas. Ia mengambil piring yang sudah dicuci Arga, membilasnya dengan air bersih, lalu menaruhnya di rak bambu.
"Dulu, sebelum kenal ayahmu," Sukmawati mulai, "Ibu dekat dengan seorang laki-laki dari kota. Dia kesini waktu itu ikut pamannya yang berdagang. Ganteng. Pintar. Ramah. Banyak yang suka sama dia."
"Lalu?"
"Dia juga suka sama Ibu. Kita jalan beberapa bulan. Semua orang di desa ini tahu. Semua orang bilang kita cocok."
"Kenapa putus?"
"Karena dia harus kembali ke kota. Dan Ibu... Ibu nggak bisa ikut."
"Kenapa nggak bisa ikut?"
"Karena Ibu punya orang tua yang sudah tua. Karena Ibu punya tanggung jawab di sini. Karena Ibu pikir, cinta saja tidak cukup."
Arga berhenti menggosok piring. "Ibu menyesal?"
"Tidak. Awalnya iya. Ibu nangis berhari-hari. Rasanya dunia runtuh. Rasanya hidup ini nggak adil. Kenapa orang yang kita cintai harus pergi? Kenapa kita nggak bisa memilih untuk tetap bersama?"
"Tapi sekarang?"
"Sekarang Ibu bersyukur. Karena kalau Ibu ikut dia ke kota, Ibu nggak akan pernah ketemu ayahmu. Ibu nggak akan punya Jatmika. Ibu nggak akan punya kamu. Ibu nggak akan punya kehidupan yang sekarang."
Arga terdiam. Ia memikirkan kata-kata ibunya. Mungkin memang benar. Mungkin kehilangan adalah cara hidup untuk mempertemukan kita dengan sesuatu yang lebih baik.
"Ibu," kata Arga lagi.
"Iya."
"Aku sayang sama Sekar, Bu. Tapi aku takut. Takut kalau aku nggak cukup. Takut kalau suatu hari dia pergi. Takut kalau hati aku hancur berkeping-keping kayak Ibu dulu."
"Maka biarkan hancur, Le. Karena dari kehancuran itulah kita belajar bahwa kita bisa bangkit lagi."
Siang itu, Arga pergi ke rumah Sekar.
Ia tidak membawa pisang goreng. Tidak membawa air kelapa. Tidak membawa apa pun selain dirinya sendiri.
Sekar membuka pintu. Matanya masih sembab, tapi senyumnya sudah sedikit lebih lebar dari kemarin.
"Hari ini bawa apa?" tanya Sekar.
"Nggak bawa apa-apa."
"Pisang gorengnya habis?"
"Bukan. Aku cuma... aku cuma mau ngobrol."
"Seriusan?"
"Serius."
Sekar mempersilakan Arga masuk. Mereka duduk di kursi bambu yang sama. Di meja yang sama. Di ruang yang sama.
"Kamu mau ngobrol tentang apa?" tanya Sekar.
"Tentang kita."
Sekar menegang. "Kita?"
"Iya. Tentang perasaan kita. Tentang masa depan. Tentang semua."
"Berat banget. Nggak ada pisang goreng sebagai pelumas?"
Arga tersenyum. "Maaf. Lupa."
"Pisang goreng itu penting, Arga. Urgensinya tinggi."
"Urgensi?"
"Iya. Pisang goreng itu simbol. Kamu bawa pisang goreng, artinya kamu peduli. Kamu nggak bawa pisang goreng, artinya kamu cuma datang buat ngomongin hal-hal berat yang bikin aku stress."
"Jadi kamu mau aku pulang ambil pisang goreng dulu?"
Sekar tertawa. "Nggak usah. Aku bercanda."
"Kamu bisa bercanda sekarang?"
"Ya. Aku belajar. Nenekku nggak suka kalau aku terlalu serius terus. Nenek bilang, 'Nduk, hidup itu butuh tawa, meskipun sedang susah'."
"Jadi kamu tertawa untuk nenekmu?"
"Sekarang? Iya. Untuk nenekku. Untuk Jatmika. Untuk diriku sendiri."
Arga menggenggam tangan Sekar. Sekar tidak menariknya.
"Sekar, aku mau bilang sesuatu."
"Jangan bilang kamu mau putus. Kita bahkan belum mulai pacaran."
"Bukan."
"Jangan bilang kamu mau pindah ke kota."
"Bukan."
"Jangan bilang kamu nggak sayang sama aku."
"Itu juga bukan."
"Lalu?"
Arga menarik napas panjang. "Aku sayang kamu, Sekar. Aku sayang banget. Dan aku nggak tahu harus ngapain dengan perasaan ini karena rasanya terlalu besar. Rasanya... rasanya seperti sungai yang meluap. Rasanya seperti hujan yang nggak berhenti-henti. Rasanya seperti angin yang nggak bisa aku lihat tapi aku rasakan di setiap bagian tubuhku."
Sekar diam. Matanya berkaca-kaca.
"Aku juga sayang kamu, Arga," bisiknya. "Tapi aku takut."
"Takut apa?"
"Aku takut perasaan ini berlebihan. Aku takut aku terlalu bergantung sama kamu. Aku takut suatu hari kamu lelah dan pergi, dan aku ditinggal sendiri lagi."
"Kamu nggak akan ditinggal sendiri."
"Kamu tidak tahu masa depan."
"Tapi aku tahu hari ini. Dan hari ini, aku memilih untuk bersama kamu."
Sekar menangis. Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik tangannya yang gemetar. "Kamu ini... kenapa sih kamu selalu membuatku nangis?"
"Karena aku cinta, mungkin. Kata orang, cinta itu bikin nangis."
"Siapa yang bilang?"
"Aku. Baru saja."
"Kamu sok bijak lagi."
"Bukan sok bijak. Sok romantis."
Sekar tertawa di sela isaknya. Ia mengangkat wajah. Pipinya basah. Matanya merah. Tapi senyumnya—senyumnya membuat Arga merasa bahwa dunia ini tidak seburuk yang ia bayangkan.
"Arga," panggil Sekar.
"Iya."
"Kamu mau nggak jadi pacarku?"
Arga terkesiap. "A—apa?"
"Kamu dengar. Aku nggak mau ulang."
"Kamu..."
"Aku nggak tahu cara yang benar untuk memulai sebuah hubungan. Tapi aku tahu, setelah nenekku meninggal, setelah Jatmika pergi, setelah semua kesedihan ini, kamu adalah satu-satunya orang yang membuat aku merasa tidak sendirian."
"Jadi?"
"Jadi, kamu mau nggak jadi pacarku? Formal. Resmi. Dengan status. Bukan cuma teman ngobrol di pinggir sungai atau teman anter pisang goreng."
Arga diam.
Ia tidak menyangka Sekar akan menjadi yang pertama mengucapkan kata-kata itu.
Ia pikir ia yang akan memulai.
Ia pikir ia yang harus berani.
Tapi ternyata Sekar—gadis yang baru kehilangan neneknya, gadis yang hatinya masih hancur berkeping-keping, gadis yang seharusnya masih dalam masa berkabung—justru lebih berani darinya.
"Kamu nggak jawab," kata Sekar. Wajahnya sedikit cemas. "Kalau kamu nggak mau, nggak apa-apa. Aku nggak maksa."
"Bukan," Arga cepat-cepat menjawab. "Bukan aku nggak mau. Tapi... kamu yakin? Kamu baru kehilangan nenekmu. Kamu masih berduka. Kamu nggak perlu terburu-buru."
"Aku tidak terburu-buru, Arga. Aku sudah memikirkan ini sejak lama. Sejak pertama kali kita bertemu di sungai. Sejak pertama kali kamu bilang bahwa angin bisa bicara."
"Itu cuma—"
"Aku tahu itu cuma guyonan. Tapi di matamu, saat itu, aku melihat sesuatu. Aku melihat bahwa kamu berbeda. Kamu tidak seperti laki-laki lain di desa ini. Kamu tidak hanya melihat fisik atau harta. Kamu melihat hatiku. Dan itu... itu membuatku jatuh cinta."
Arga tidak bisa berkata-kata.
"Jadi," Sekar tersenyum, "kamu mau jawab pertanyaanku, atau aku harus ulang?"
Arga menggenggam tangan Sekar lebih erat. "Iya. Aku mau."
"Mau apa?"
"Mau jadi pacarmu."
"Serius? Nggak batal? Nggak berubah pikiran besok?"
"Nggak. Serius. Janji."
"Janji di mana? Di atas pisang goreng?"
Arga tertawa. "Di atas semua pisang goreng yang pernah aku bawa."
Mereka berdua tertawa. Tawa yang lepas. Tawa yang tulus. Tawa yang membuat rumah tua yang dingin itu terasa seperti rumah lagi—bukan karena ajaib, tapi karena dua orang di dalamnya sedang berbagi kebahagiaan.
"Kita sekarang pacaran," kata Sekar seolah tidak percaya.
"Iya. Kita pacaran."
"Kelihatannya tidak nyata."
"Memang tidak nyata. Tapi ini benar-benar terjadi."
"Aku takut ini mimpi."
"Cubit aku, nanti kamu tahu."
Sekar mencubit lengan Arga. Kencang.
"Aduh!"
"Nyeri?"
"Nyeri banget. Berarti ini bukan mimpi."
"Bagus."
Arga mengusap lengannya yang memerah. "Kamu sadis, Sekar."
"Kamu yang nyuruh."
"Tapi nggak sekencang itu."
"Lain kali lebih pelan."
"Nggak usah ada lain kali. Cukup sekali."
"Kamu nggak pengalaman pacaran?"
"Belum pernah."
"Aku juga belum."
"Jadi kita belajar bareng?"
"Belajar bareng. Setuju."
Mereka berdua terdiam. Bukan diam yang canggung. Bukan diam yang dingin. Tapi diam yang hangat. Diam yang penuh dengan janji-janji yang tidak diucapkan.
"Arga," panggil Sekar.
"Iya?"
"Aku nggak tahu bagaimana cara menjadi pacar yang baik."
"Aku juga tidak tahu."
"Tapi kita bisa belajar, kan?"
"Iya. Kita bisa belajar."
"Kita akan sering marah?"
"Mungkin."
"Kita akan sering bertengkar?"
"Bisa jadi."
"Kita akan sering cemburu?"
"Pasti."
"Lalu kenapa kita tetap mau?"
Arga menatap Sekar. Dalam. Lama. Penuh arti.
"Karena aku memilih kamu, Sekar. Bukan karena kamu sempurna. Bukan karena kamu tidak punya kekurangan. Tapi karena aku mencintai semua bagian dirimu. Yang bahagia. Yang sedih. Yang lucu. Yang menyebalkan. Semuanya."
Sekar tersenyum. Senyum yang paling tulus yang pernah ia berikan pada siapa pun.
"Kamu tahu, Arga, aku juga memilih kamu. Dengan cara yang sama."
Sore itu, Arga pulang dengan hati yang penuh.
Ia tidak sabar ingin memberi tahu ibunya bahwa ia sekarang punya pacar.
Tapi ketika ia sampai di rumah, ia melihat Sukmawati duduk di beranda sendirian. Wajahnya tenang. Damai. Seperti orang yang baru saja selesai berdoa.
"Bu," panggil Arga.
Sukmawati menoleh. "Kamu baru pulang?"
"Iya, Bu."
"Dari rumah Sekar?"
"Iya."
"Bagaimana?"
"Kami... kami pacaran, Bu."
Sukmawati tidak terkejut. Ia tersenyum. "Ibu tahu."
"Tahu? Dari mana?"
"Ibu tahu dari matamu. Waktu kamu pergi tadi pagi, matamu gelisah. Sekarang matamu bersinar. Pasti ada yang baik terjadi."
"Ibu hebat."
"Ibu doain kamu setiap hari, Le. Setiap malam. Bahkan sebelum kamu lahir, Ibu sudah berdoa untukmu."
Arga duduk di samping ibunya. "Ibu doa apa?"
"Ibu berdoa, semoga kamu tumbuh menjadi anak yang baik. Semoga kamu sehat. Semoga kamu bahagia. Semoga kamu menemukan seseorang yang mencintaimu dengan tulus."
"Sekarang Ibu lihat, doa Ibu terkabul?"
"Belum sepenuhnya. Masih ada satu doa lagi yang Ibu panjatkan setiap malam."
"Doa apa?"
Sukmawati menatap Arga. "Semoga kamu kuat."
"Kuat?"
"Iya. Kuat menghadapi apa pun yang akan terjadi. Kuat saat bahagia, kuat saat sedih. Kuat saat semuanya berjalan lancar, kuat saat semuanya terasa runtuh."
Arga menggenggam tangan ibunya. "Aku akan berusaha kuat, Bu."
"Ibu tahu. Ibu percaya."
Malam itu, di kamarnya, Arga berbaring sambil memandang langit-langit.
Ia teringat kata-kata ibunya. Doa. Kekuatan. Keberanian.
Ia teringat wajah Sekar. Senyumnya. Tangisnya. Tatapannya.
Ia teringat Jatmika. Kakak yang tidak pernah ia kenal tapi selalu ia rasakan kehadirannya.
Ia teringat semua yang terjadi, kelahiran yang aneh, masa kecil yang sunyi, pertemuan dengan Sekar, pengakuan Jatmika, kematian Mbok Raras, dan sekarang... cinta.
Cinta yang membuatnya merasa hidup.
Cinta yang membuatnya ingin bertahan.
Cinta yang membuatnya percaya bahwa segala sesuatu terjadi karena alasan.
"Semoga doa Ibu terkabul," bisiknya. "Semoga aku kuat."
Di luar, angin malam berembus lembut. Bintang-bintang bersinar terang. Dan di rumah tua di ujung desa, Sekar juga sedang berdoa—untuk dirinya sendiri, untuk Arga, untuk masa depan yang belum pasti tapi tetap ingin ia jalani bersama.
BAB 44
SURAT YANG HILANG
Tiga bulan setelah kematian Mbok Raras, rumah tua di ujung desa itu akhirnya mulai terasa seperti rumah lagi bagi Sekar.
Bukan karena dindingnya berubah. Bukan karena atapnya diperbaiki. Bukan karena halamannya ditumbuhi bunga-bunga baru. Tapi karena Sekar perlahan-lahan belajar untuk mengisi kekosongan itu dengan kehadirannya sendiri, dengan langkah kakinya yang berderit di lantai kayu setiap pagi, dengan suaranya yang sesekali bersenandung saat memasak di dapur, dengan tawanya yang mulai terdengar lagi ketika Arga datang membawa pisang goreng.
Tiga bulan.
Tiga bulan yang terasa seperti tiga tahun.
Tiga bulan yang penuh dengan air mata, tawa, kehilangan, dan harapan.
Arga datang hampir setiap hari. Kadang pagi. Kadang sore. Kadang hanya sebentar. Kadang berjam-jam. Ia membantu Sekar membersihkan rumah, memperbaiki pagar yang reot, menanam bunga di halaman depan, bunga kenanga, karena itu adalah bunga kesukaan Mbok Raras.
“Kamu nggak capek?” tanya Sekar suatu sore ketika mereka duduk di teras, memandang matahari yang mulai tenggelam.
“Capek apa?” jawab Arga sambil mengusap keringat di dahinya.
“Setiap hari ke sini. Bantu ini. Bantu itu. Pulang-pulang badanmu pasti pegal.”
Arga tersenyum. “Aku nggak pegal. Aku terbiasa.”
“Kamu memang aneh.”
“Kamu juga.”
Mereka berdua tertawa. Tawa kecil yang hangat, yang membuat rumah tua itu terasa tidak terlalu sepi.
“Arga,” panggil Sekar setelah tawa mereka reda.
“Iya.”
“Aku mau cerita sesuatu.”
“Cerita apa?”
Sekar menarik napas panjang. “Dua minggu yang lalu, aku menerima surat dari orang tuaku.”
Arga menegang. “Surat? Isinya apa?”
“Biasa. Mereka bilang mereka baik-baik saja. Mereka bertanya kabarku. Mereka bilang mereka mengirim uang untuk biaya hidup bulan ini.”
“Pertama kali mereka bertanya kabarmu,” kata Arga pelan.
“Iya. Aku juga kaget. Biasanya mereka hanya bilang, 'Kami kirim uang. Jangan pelit-pelit sama diri sendiri. Jaga kesehatan.' Itu saja. Nggak pernah lebih.”
“Tapi surat yang ini berbeda?”
Sekar mengangguk. “Mereka bertanya apakah aku baik-baik saja. Mereka bilang mereka dengar kabar tentang meninggalnya nenek. Mereka minta maaf tidak bisa pulang karena pekerjaan sedang banyak.”
“Lalu?”
“Lalu mereka bilang... mereka bilang mereka merindukanku.”
Kalimat itu sederhana. Tapi bagi Sekar, yang sudah bertahun-tahun tidak mendengar kata "rindu" dari orang tuanya, kalimat itu terasa seperti tamparan sekaligus pelukan.
Arga menggenggam tangan Sekar. “Kamu senang?”
Sekar menghela napas. “Aku tidak tahu, Arga. Aku bingung. Aku marah. Aku sedih. Aku senang. Semuanya campur aduk.”
“Kamu punya hak untuk merasa semua itu.”
“Tapi aku nggak tahu harus balas apa.”
“Kamu tidak perlu terburu-buru. Pikirkan dulu. Tulis ketika kamu sudah siap.”
Sekar menatap Arga. “Kamu selalu bilang begitu.”
“Karena itu benar. Jangan pernah memaksakan diri untuk sesuatu yang belum siap.”
Malam itu, Sekar duduk di kamar neneknya.
Ia membuka lemari tua tempat neneknya menyimpan barang-barang berharga. Di dalamnya, ada foto-foto lama, perhiasan sederhana dari perak, dan sebuah kotak kayu kecil berisi surat-surat dari orang tuanya, surat-surat yang ia terima selama bertahun-tahun, sejak mereka pergi ke kota.
Ia mengambil tumpukan surat itu.
Surat pertama, dari sepuluh tahun lalu.
“Untuk anakku, Sekar,” begitu bunyi surat itu. “Kami sudah sampai di kota. Pekerjaan masih belum jelas. Tapi kami akan berusaha. Jaga nenekmu. Jangan nakal. Kami akan pulang ketika sudah punya uang banyak.”
Surat kedua, dari sembilan tahun lalu.
“Untuk Sekar. Kami masih belum bisa pulang. Tapi kami kirim uang. Belikan baju baru untukmu. Jangan lupa sekolah yang rajin.”
Surat ketiga, keempat, kelima, semua hampir sama. Berita tentang pekerjaan, tentang uang, tentang harapan untuk pulang yang tidak pernah terwujud.
Sekar membaca satu per satu.
Air matanya mulai jatuh.
Bukan karena sedih.
Tapi karena ia baru menyadari sesuatu.
Selama bertahun-tahun, ia membenci orang tuanya. Ia merasa mereka tidak peduli. Ia merasa mereka lebih memilih uang daripada dirinya. Ia merasa mereka melupakannya.
Tapi surat-surat ini berkata lain.
Di setiap surat, selalu ada kalimat yang sama di bagian akhir:
“Kami sayang kamu, Sekar. Jaga diri baik-baik.”
Mungkin mereka benar-benar sayang.
Mungkin mereka benar-benar berusaha.
Mungkin mereka benar-benar ingin pulang, tapi tidak bisa.
Mungkin mereka benar-benar rindu.
Tapi itu tidak cukup.
Rindu tidak cukup kalau tidak dibuktikan dengan kehadiran.
Sayang tidak cukup kalau tidak dibuktikan dengan tindakan.
“Nek,” bisik Sekar pada foto neneknya yang tersenyum dari balik pigura kayu. “Aku harus balas surat ini. Tapi aku nggak tahu harus bilang apa. Aku nggak bisa bilang aku rindu, karena aku masih marah. Aku nggak bisa bilang aku sayang, karena aku masih kecewa. Aku nggak bisa bilang aku maafkan mereka, karena aku belum bisa memaafkan.”
Foto itu tidak menjawab.
Tapi Sekar merasakan sesuatu.
Kehangatan.
Seperti ada tangan tak terlihat yang mengusap kepalanya.
Seperti ada suara lembut yang berkata, “Tulis saja apa yang kamu rasa, Nduk. Jujur. Tidak perlu pura-pura baik. Tidak perlu pura-pura kuat. Menulis adalah cara untuk menyembuhkan luka.”
Sekar mengambil kertas dan pulpen.
Ia mulai menulis.
“Kepada Bapak dan Ibu,” tulisnya.
“Surat kalian saya terima. Saya turut berduka atas meninggalnya nenek, sama seperti kalian, meskipun kalian tidak ada di sini untuk merasakannya bersama saya.”
“Saya baik-baik saja. Saya masih tinggal di rumah ini. Saya masih dikelilingi oleh kenangan tentang nenek, tentang masa kecil, tentang semua yang telah saya lalui tanpa kalian.”
“Saya tidak marah kepada kalian. Tapi saya juga tidak bisa berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Kalian tidak ada ketika saya membutuhkan kalian. Dan sekarang, saya sudah terbiasa hidup tanpa kalian.”
“Saya punya Arga. Saya punya teman-teman. Saya punya kehidupan yang saya bangun sendiri tanpa bantuan kalian.”
“Saya tidak akan memutus hubungan. Tapi jangan harap saya akan pulang ke kota hanya karena kalian bilang ‘tidak ada masa depan di desa’. Masa depan saya ada di sini. Di desa ini. Di rumah ini. Di samping orang-orang yang benar-benar peduli pada saya.”
“Sekar.”
Sekar meletakkan pulpen.
Tangannya gemetar.
Matanya basah.
Tapi dadanya terasa lega, lega seperti setelah menangis lama, lepas dari beban yang selama ini dipanggul sendirian.
Keesokan paginya, Sekar mengirim surat itu melalui Pak Pos.
Ia tidak mengatakan pada Arga.
Ia tidak mengatakan pada siapa pun.
Ia ingin menyimpannya sendiri dulu. Sebagai rahasia kecil. Sebagai langkah kecil menuju penyembuhan yang tidak perlu diketahui orang lain.
Tapi sebulan kemudian, surat balasan datang.
Sekar menerimanya dengan tangan gemetar.
Ia membuka amplop itu perlahan.
Kertas di dalamnya berwarna putih, dilipat rapi, dengan tulisan tangan ibunya yang rapi, tulisan yang sudah tidak pernah ia lihat sejak bertahun-tahun lalu, karena surat-surat sebelumnya selalu diketik, bukan ditulis tangan.
“Untuk Sekar, anakku,” begitu bunyi surat itu.
“Kami menerima suratmu. Kami menangis membacanya. Bukan karena sedih. Tapi karena kami baru menyadari bahwa selama ini kami terlalu sibuk mencari uang, terlalu sibuk memikirkan masa depan, terlalu sibuk bekerja, sehingga kami lupa bahwa masa depan itu adalah kamu.”
“Kami tidak akan memaksamu pindah ke kota. Kami tidak akan menjual rumah nenekmu. Itu adalah hakmu. Itu adalah warisanmu. Kami tidak berhak mengambilnya.”
“Tapi kami ingin kamu tahu, Sekar. Kami sayang kamu. Kami rindu kamu. Kami ingin pulang. Tapi kami belum tahu caranya. Bantu kami, Nak. Bantu kami untuk kembali menjadi orang tuamu yang sesungguhnya.”
Sekar menangis.
Ia tidak bisa menahan air matanya.
Air mata yang keluar dari hati yang penuh dengan rasa, marah, sedih, kecewa, rindu, sayang—semua bercampur menjadi satu.
Siang itu, Arga datang dengan pisang goreng.
Ia langsung melihat wajah Sekar yang merah dan basah.
“Kamu nangis?” tanyanya.
Sekar mengangguk.
“Kenapa?”
Sekar menyerahkan surat itu.
Arga membacanya perlahan. Matanya bergerak dari baris pertama hingga terakhir.
Setelah selesai, ia memandang Sekar.
“Kamu senang?”
“Aku nggak tahu, Arga. Aku bingung. Aku nggak pernah menyangka mereka akan menulis seperti ini.”
“Mereka berubah.”
“Atau mungkin mereka memang begitu dari awal. Aku yang terlalu sibuk marah untuk melihatnya.”
Arga duduk di samping Sekar. “Tidak, Sekar. Kamu berhak marah. Kamu berhak kecewa. Kamu berhak merasa apa pun yang kamu rasa. Jangan salahkan diri sendiri.”
“Tapi—“
“Tidak ada tapi. Perasaanmu valid. Dan mereka juga berhak berusaha memperbaiki kesalahan. Yang terpenting, sekarang kamu tahu. Kamu tahu bahwa mereka sayang kamu. Kamu tahu bahwa mereka ingin berubah. Sekarang, tinggal keputusanmu. Apakah kamu akan memberi mereka kesempatan, atau tidak.”
Sekar menatap Arga. “Kamu selalu bijak.”
“Aku tidak bijak. Aku hanya peduli padamu.”
“Itu sama saja.”
“Tidak. Orang bijak bisa memberi nasihat untuk siapa saja. Aku hanya bisa memberi nasihat untukmu.”
Sekar tersenyum. Senyum kecil yang membuat Arga merasa lega.
Tiga minggu setelah surat itu, Sekar belum membalas.
Ia masih berpikir.
Masih merenung.
Masih berusaha memaafkan.
Tapi setiap kali ia ingin menulis, tangannya terasa berat.
Setiap kali ia ingin mengucapkan kata "maaf", mulutnya terasa kaku.
Setiap kali ia ingin mengatakan "aku sayang", hatinya terasa sesak.
“Mungkin aku belum siap,” bisiknya pada Arga suatu sore.
“Tidak apa. Jangan paksa diri.”
“Tapi mereka menunggu.”
“Biarkan mereka menunggu. Seperti dulu kamu menunggu mereka.”
Sekar terdiam.
Kata-kata Arga menusuk.
Tapi benar.
Dulu, ia menunggu bertahun-tahun.
Sekarang, giliran orang tuanya yang menunggu.
Bukan karena balas dendam.
Bukan karena sakit hati.
Tapi karena ia butuh waktu.
Ia butuh waktu untuk menyembuhkan lukanya sebelum bisa membuka pintu lagi.
Malam itu, Sekar bermimpi tentang neneknya.
Mbok Raras duduk di kursi bambu di teras rumah, tersenyum padanya.
“Nek,” panggil Sekar dalam mimpi. “Aku masih marah sama mereka. Aku belum bisa memaafkan.”
“Tidak apa, Nduk,” jawab Mbok Raras. “Memaafkan butuh waktu. Kamu tidak harus terburu-buru.”
“Tapi aku takut kalau aku terlalu lama, mereka akan pergi lagi.”
“Kalau mereka benar-benar ingin berubah, mereka akan menunggu. Kalau mereka tidak menunggu, berarti mereka tidak benar-benar berubah.”
Sekar menangis dalam mimpi. “Aku rindu kamu, Nek.”
“Nenek juga rindu kamu. Tapi nenek sudah tenang di sini. Nenek melihat kamu. Nenek melihat Arga. Nenek melihat kalian berdua bersama. Itu sudah cukup.”
Mbok Raras tersenyum.
Lalu menghilang.
Sekar terbangun dengan pipi basah.
Keesokan harinya, Sekar memutuskan untuk menulis surat balasan.
Ia mengambil kertas dan pulpen.
Ia menarik napas panjang.
Lalu mulai menulis.
“Kepada Bapak dan Ibu,” tulisnya.
“Surat kalian saya terima. Saya menangis membacanya. Bukan karena sedih. Tapi karena saya baru menyadari bahwa selama ini, saya juga terlalu sibuk marah. Terlalu sibuk kecewa. Terlalu sibuk merasa dikhianati, sehingga saya lupa bahwa kalian juga manusia. Kalian juga bisa salah. Kalian juga bisa berubah.”
“Saya belum bisa memaafkan kalian sepenuhnya. Saya masih butuh waktu. Tapi saya tidak akan menutup pintu. Saya tidak akan mengatakan bahwa saya tidak butuh kalian. Karena saya butuh. Saya butuh orang tua. Saya butuh keluarga. Saya butuh kalian, meskipun saya marah.”
“Saya tidak akan pindah ke kota. Saya akan tetap tinggal di desa ini. Di rumah ini. Di samping Arga. Di samping kenangan tentang nenek. Tapi kalian bisa datang kapan saja. Kalian bisa pulang kapan saja. Pintu ini tidak akan pernah terkunci untuk kalian.”
“Sekar.”
Sekar melipat surat itu.
Ia memasukkannya ke dalam amplop.
Ia menulis alamat orang tuanya di kota.
“Besok aku akan kirim,” bisiknya pada foto neneknya. “Doakan aku, Nek. Doakan agar aku kuat. Doakan agar aku bisa memaafkan. Doakan agar kami bisa menjadi keluarga yang utuh lagi.”
Foto itu tidak menjawab.
Tapi Sekar merasakan sesuatu.
Kehangatan.
Kehangatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Kehangatan yang hanya bisa dirasakan oleh hati yang terbuka.
Malam itu, di rumahnya, Arga juga menulis surat.
Bukan untuk Sekar.
Tapi untuk Jatmika.
Ia tidak tahu apakah surat itu akan sampai.
Ia tidak tahu apakah Jatmika bisa membacanya.
Tapi ia harus menulis.
Ia harus mengatakan sesuatu.
“Untuk Jatmika, kakak yang tidak sempat aku kenal.”
“Hari ini, Sekar mendapat surat dari orang tuanya. Mereka bilang mereka sayang dia. Mereka bilang mereka rindu dia. Mereka bilang mereka ingin pulang.”
“Aku senang untuk Sekar. Tapi aku juga sedih. Karena aku tidak akan pernah mendapat surat seperti itu dari kamu. Kamu sudah pergi. Kamu tidak akan pernah kembali. Dan aku hanya bisa mengingatmu dari cerita orang lain, dari bayangan yang muncul di sungai, dari suara angin yang kadang memanggil namamu.”
“Tapi aku tidak marah. Aku tidak kecewa. Aku hanya merindukanmu, meskipun aku tidak pernah mengenalmu.”
“Jatmika, aku akan menjaga Sekar. Aku akan menjaga ibu dan ayah. Aku akan menjaga semua yang kamu tinggalkan. Janji.”
“Dari Arga, adikmu.”
Ia melipat surat itu.
Ia menyimpannya di dalam lemari, di samping bantal kecil dari kebaya Sekar.
Di luar, angin malam berembus lembut.
Membawa aroma sungai.
Membawa harapan.
Membawa doa.
Dan di kejauhan, seolah ada suara kecil yang berkata, “Aku tahu, Le. Aku percaya padamu.”
Arga tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa bahwa Jatmika benar-benar telah pergi.
Bukan karena ia tidak ingin diingat.
Tapi karena ia sudah tenang.
Ia sudah ikhlas.
Ia sudah siap untuk melanjutkan perjalanannya di alam sana.
Malam semakin larut.
Arga berbaring di dipan bambu, memandang langit-langit rumah yang gelap.
Ia teringat pada semua yang terjadi.
Kelahirannya yang aneh.
Masa kecilnya yang sunyi.
Pertemuan dengan Sekar.
Rahasia tentang Jatmika.
Kematian Mbok Raras.
Surat-surat dari orang tua Sekar.
Semua terasa seperti mimpi.
Mimpi yang panjang.
Mimpi yang kadang indah, kadang menyakitkan.
Tapi mimpi yang tidak ingin ia bangun.
“Tuhan,” bisiknya, “aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Aku tidak tahu apakah Sekar akan benar-benar berdamai dengan orang tuanya. Aku tidak tahu apakah kami akan bersama selamanya. Tapi aku bersyukur. Aku bersyukur atas semua yang telah terjadi. Atas semua yang telah kualami. Atas semua yang telah kulewati.”
Ia memejamkan mata.
“Dan aku berdoa,” lanjutnya, “beri aku kekuatan. Beri Sekar kekuatan. Beri kami keberanian untuk menghadapi apa pun yang akan datang. Karena aku tidak ingin kehilangan dia. Aku tidak ingin kehilangan siapa pun lagi.”
Hening.
Hanya suara jangkrik.
Hanya suara angin.
Tapi Arga merasakan sesuatu.
Damai.
Damai yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Damai yang hanya bisa dirasakan oleh hati yang sudah berdamai dengan masa lalunya.
BAB 45
LANGKAH PERTAMA
Seminggu setelah surat itu dikirim, Sekar belum mendapat balasan dari orang tuanya.
Tidak ada kabar. Tidak ada telepon. Tidak ada pesan melalui siapa pun. Hanya keheningan yang mencekam, seperti saat-saat setelah ia memberi tahu neneknya bahwa ia melihat Jatmika di pinggir sungai, seperti saat-saat setelah Jatmika meninggal dan semua orang di desa ini tiba-tiba lupa cara tersenyum.
Tapi Sekar berusaha tidak terlalu memikirkannya.
Ia sibuk. Sibuk membersihkan rumah. Sibuk merapikan kebun kecil di belakang yang dulu ditanami neneknya dengan cabai dan tomat dan terong. Sibuk belajar masak dari Sukmawati yang dengan sabar mengajarinya resep-resep sederhana. Sibuk menemani Arga ke sawah, duduk di pematang sambil membaca buku atau sekadar menatap langit.
Rutinitas.
Kesibukan.
Hal-hal kecil yang mengisi waktu.
Hal-hal kecil yang membuatnya tidak terlalu tenggelam dalam kecemasan.
Pagi itu, langit cerah. Matahari bersinar terik. Sawah di belakang rumah Arga menguning keemasan—tanda bahwa panen akan segera tiba.
Arga berdiri di beranda rumahnya, memandang ke arah timur, ke arah rumah Sekar yang terletak di ujung desa. Ia sudah janji akan menjemput Sekar untuk pergi ke pasar membeli bibit sayur. Tapi entah mengapa, dadanya terasa tidak enak sejak bangun tidur.
"Kamu kenapa, Le?" tanya Sukmawati yang keluar membawa sapu lidi.
"Enggak tahu, Bu. Dadaku sesak."
"Jangan-jangan kamu sakit."
"Bukan sakit. Lebih kayak... firasat."
Sukmawati menghentikan sapuannya. "Firasat apa?"
"Enggak tahu, Bu. Tapi rasanya tidak enak."
"Kamu doa, Le. Sebelum berangkat. Mohon perlindungan sama Tuhan."
Arga mengangguk. Ia masuk ke dalam rumah, mengambil air wudhu, lalu melaksanakan salat dua rakaat. Bukan karena ia orang yang rajin salat. Tapi karena ibunya pernah bilang, ketika hati gelisah, tidak ada yang lebih menenangkan selain bicara dengan Tuhan.
Setelah selesai, ia merasa sedikit lebih tenang.
Ia pamit pada ibunya, lalu berjalan menuju rumah Sekar.
Sekar sudah berdiri di depan pagar ketika Arga tiba. Wajahnya pucat. Matanya merah. Tangannya memegang selembar kertas yang tampak kusut—seperti sudah dibaca berulang kali, seperti sudah diremas dan dibuka lagi, seperti sudah ditangisi dan dikeringkan dan ditangisi lagi.
"Apa itu?" tanya Arga, meskipun sebenarnya ia sudah bisa menebak.
"Surat balasan dari orang tuaku," jawab Sekar datar.
"Boleh aku baca?"
Sekar menyerahkan surat itu tanpa bicara.
Arga membacanya.
"Kepada anak kami, Sekar," begitu bunyi surat itu. "Kami menerima suratmu. Kami kecewa. Kami sudah bekerja keras bertahun-tahun untukmu. Kami mengirim uang setiap bulan. Kami memikirkan masa depanmu. Tapi kamu lebih memilih tinggal di desa itu bersama laki-laki yang tidak jelas statusnya."
"Kami tetap akan menjual tanah itu. Dengan atau tanpa persetujuanmu. Karena kami orang tuamu. Kami punya hak. Kalau kamu tidak mau pindah ke kota, setidaknya kamu harus menerima kenyataan bahwa rumah itu bukan lagi milikmu."
"Kami tidak akan datang ke pemakaman nenekmu. Kami sudah mengirim uang untuk biayanya. Itu sudah cukup. Jangan pernah menghubungi kami lagi kalau kamu tidak mau menurut."
Arga merasakan tangannya gemetar.
Surat itu dingin.
Surat itu kejam.
Surat itu seperti tamparan di wajah Sekar yang baru saja kehilangan neneknya, yang baru saja mulai menemukan kebahagiaan, yang baru saja belajar untuk tersenyum lagi.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Arga.
Sekar tertawa pahit. "Apa kamu lihat aku baik-baik saja?"
"Maaf. Aku salah nanya."
"Sudah, Arga. Aku nggak mau bahas surat itu. Aku nggak mau bahas orang tuaku. Aku mau ke pasar. Aku mau beli bibit sayur. Aku mau tanam. Aku mau sibuk."
"Tapi—"
"Sudah, Arga. Tolong. Aku nggak mau nangis lagi hari ini."
Mereka berjalan ke pasar dalam diam.
Sekar berjalan cepat, seperti ingin meninggalkan sesuatu—mungkin surat itu, mungkin masa lalu, mungkin semua kenangan pahit yang terus menghantuinya. Arga berjalan di sampingnya, tidak berani bicara, tidak berani menyentuh, hanya berusaha hadir.
Pasar desa Wringinrejo tidak besar. Hanya puluhan lapak yang terbuat dari bambu dan terpal, berjejer di sepanjang jalan tanah yang becek di musim hujan dan berdebu di musim kemarau.
Sekar berhenti di lapak nenek Somad yang menjual bibit sayur. Ia memilih bibit cabai, tomat, terong, dan bayam. Ia tawar-menawar dengan suara datar. Ia membayar dengan uang yang diambil dari saku celananya. Ia memasukkan bibit-bibit itu ke dalam keranjang bambu yang dibawanya.
Arga hanya memperhatikan dari belakang.
Ia melihat Sekar yang berusaha keras terlihat normal. Ia melihat bahu Sekar yang sesekali bergetar kecil. Ia melihat tangan Sekar yang gemetar saat memegang uang.
"Kamu nggak usah belanja banyak-banyak," kata Arga akhirnya.
"Kenapa?"
"Nanti kamu kelelahan."
"Aku sudah biasa. Nenek dulu sering mengajakku ke pasar."
"Tapi nenekmu sudah, "
"Aku tahu, Arga! Aku tahu nenekku sudah meninggal! Aku tahu aku sekarang sendirian! Aku tahu orang tuaku tidak peduli! Aku tahu semuanya! Kamu nggak perlu mengingatkanku!"
Sekar membentak.
Beberapa orang di pasar menoleh. Ada yang mengerutkan kening. Ada yang berbisik-bisik. Ada yang hanya menggeleng.
Arga tidak marah. Ia hanya diam, menatap Sekar yang kini menunduk, bahunya naik turun, dadanya naik turun, seperti sedang berusaha mengatur napas yang kacau.
"Maaf," bisik Sekar. "Maaf, Arga. Aku nggak bermaksud, "
"Nggak apa-apa," potong Arga pelan. "Kamu boleh marah. Kamu boleh bentak aku. Aku nggak akan pergi."
"Tapi, "
"Kamu bilang aku aneh, kan? Iya, aku aneh. Aku aneh karena aku bisa menerima kamu dalam keadaan marah sekalipun."
Sekar menangis.
Di tengah pasar.
Di depan banyak orang.
Ia menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya. Ia menangis seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan semuanya sendirian.
Arga memeluknya.
Diam-diam.
Tanpa kata-kata.
Beberapa orang di pasar mendekat, ingin membantu, ingin bertanya. Tapi Arga hanya menggeleng. Ia tidak butuh bantuan. Ia hanya butuh hadir untuk Sekar. Dan Sekar hanya butuh seseorang yang tidak pergi ketika segalanya terasa hancur.
"Sudah," bisik Arga. "Sudah, Sekar. Aku di sini. Aku tidak akan pergi."
Sekar memeluk Arga erat. Wajahnya basah. Hidungnya mampet. Suaranya parau. "Aku takut, Arga. Aku takut rumah itu benar-benar dijual. Aku takut kehilangan satu-satunya tempat yang masih terasa seperti rumah."
"Kamu tidak akan kehilangan, Sekar. Karena rumah bukan hanya tembok dan genteng. Rumah juga orang-orang yang kamu cintai."
"Tapi, "
"Aku. Ibuku. Ayahku. Mereka akan menjadi rumahmu kalau rumah ini benar-benar hilang."
"Kamu serius?"
"Aku tidak pernah main-main, Sekar. Apalagi soal kamu."
Setelah Sekar cukup tenang, mereka pulang dari pasar.
Perjalanan pulang terasa lebih lambat. Mungkin karena kaki mereka lelah. Mungkin karena hati mereka berat. Mungkin karena mereka tidak ingin segera berpisah, karena di rumah Sekar ada surat-surat dingin yang menunggu, sementara di rumah Arga ada kehangatan yang belum tentu bisa ia tawarkan pada Sekar untuk selamanya.
"Sekar," panggil Arga.
"Iya."
"Aku sudah bicara dengan Ayah dan Ibu tentang rumah ini."
"Bicara apa?"
"Mereka bilang, kalau rumah ini benar-benar dijual, kamu bisa tinggal dengan kami."
Sekar berhenti berjalan. "Apa?"
"Kamu dengar. Kamu bisa tinggal dengan kami. Kamu bisa tidur di kamar tamu. Kamu bisa makan bersama kami. Kamu bisa belajar masak dari Ibuku. Kamu bisa membantu Ayahku di sawah. Kamu bisa,"
"Arga, berhenti."
Arga berhenti bicara.
"Kamu nggak bisa seenaknya ngajak perempuan tinggal serumah. Nanti orang desa ngomong."
"Biarkan mereka ngomong."
"Kamu nggak takut?
"Takut apa? Malu? Desas-desus? Aku sudah hidup dengan desas-desus sejak lahir, Sekar. Kata orang, aku anak aneh. Kata orang, aku anak yang lahir dengan pertanda aneh. Kata orang, aku anak yang bisa melihat hal-hal yang tidak seharusnya dilihat."
"Dan?"
"Dan sekarang mereka tambah satu: Arga anak yang nekat ngajak pacarnya tinggal serumah. Biar saja. Selama kamu tidak kehilangan tempat tinggal, aku rela."
Sekar terdiam. Ia menatap Arga. Laki-laki di depannya ini, yang dulu ia kenal sebagai pemuda pendiam yang suka duduk di tepi sungai, yang dulu ia kenal sebagai seseorang yang aneh dan misterius—kini berbicara dengan penuh keyakinan. Seperti orang yang sudah tidak peduli dengan apa kata dunia.
"Sekar," kata Arga lagi.
"Iya."
"Aku nggak mau kamu menganggur. Aku nggak mau kamu cuma diam di rumah sambil memikirkan surat-surat itu. Ayo, kita tanam bibit-bibit yang kamu beli tadi."
"Di mana?"
"Di belakang rumahku. Ibu sudah menyiapkan lahan kecil. Katanya, kamu bisa gunakan untuk berkebun."
"Kenapa Ibu mau?"
"Karena Ibu sayang sama kamu."
"Masa sih?"
"Iya. Ibu bilang, 'Sekar itu gadis baik. Dia cuma butuh kesempatan.'"
Sekar tersenyum. Senyum pertama setelah membaca surat dingin dari orang tuanya. Senyum yang membuat Arga merasa bahwa usahanya tidak sia-sia.
Mereka berdua menanam bibit-bibit sayur di belakang rumah Arga.
Tanah di sana gembur, subur, karena setiap pagi Sukmawati menyiramnya dengan air bekas cucian beras. Matahari sore tidak terlalu terik. Angin bertiup sepoi-sepoi, membawa aroma rumput dan tanah basah.
Sekar membungkuk, membuat lubang kecil dengan jarinya, lalu memasukkan bibit tomat ke dalamnya. Arga duduk di sampingnya, kadang membantu, kadang hanya memperhatikan.
"Arga," panggil Sekar.
"Iya."
"Aku nggak tahu harus balas surat itu atau tidak."
"Jangan dibalas."
"Kenapa?"
"Karena surat itu tidak pantas mendapat jawaban. Mereka tidak bertanya kabarmu. Mereka tidak peduli perasaanmu. Mereka hanya memberi perintah. Dan perintah tidak perlu dijawab."
"Tapi mereka orang tuaku."
"Ya. Tapi mereka juga sudah memilih untuk tidak menjadi orang tua yang bertanggung jawab. Kamu tidak punya kewajiban untuk selalu patuh pada orang yang tidak pernah hadir untukmu."
Sekar berhenti menanam. Ia menatap Arga.
"Kamu bicara seperti orang yang sudah sangat dewasa."
"Aku cuma bicara jujur."
"Jujur itu kadang menyakitkan."
"Memang. Tapi lebih baik sakit karena jujur daripada sakit karena terus-terusan dibohongi."
Sekar menghela napas. "Kadang aku iri sama kamu."
"Iri kenapa?"
"Kamu punya orang tua yang selalu ada. Yang selalu peduli. Yang selalu mendukung apa pun pilihanmu."
"Iya. Aku bersyukur."
"Apa kamu bisa bayangkan kalau suatu hari mereka tiba-tiba berubah? Tiba-tiba dingin? Tiba-tiba pergi tanpa kabar?"
Arga terdiam. Ia belum pernah memikirkan itu.
"Aku nggak tahu, Sekar. Mungkin aku akan hancur."
"Tuh, kan."
"Tapi aku tidak akan berhenti mencintai mereka."
"Itu yang membuatmu berbeda. Kamu bisa mencintai seseorang meskipun mereka menyakitimu."
Mereka kembali menanam dalam diam.
Hingga akhirnya, Semua bibit sudah tertanam rapi, dari cabai hingga bayam, dari tomat hingga terong.
Sekar berdiri, menepuk-nepuk tanah dari tangan dan lututnya. "Sudah selesai."
"Iya," Arga ikut berdiri. "Sekarang kita tinggal menunggu."
"Menunggu apa?"
"Menunggu mereka tumbuh."
"Seperti kita?"
Arga tersenyum. "Iya. Seperti kita. Perlahan, tapi pasti. Tidak terlihat, tapi suatu hari nanti, kita akan lihat hasilnya."
Sekar menatap Arga. "Kamu tahu, kadang aku bertanya-tanya, apa yang membuatmu begitu yakin dengan kita?"
"Aku nggak yakin, Sekar. Aku cuma punya harapan."
"Harapan?"
"Iya. Harapan bahwa kita akan baik-baik saja. Harapan bahwa kita bisa melewati semua ini. Harapan bahwa suatu hari nanti, kita akan tertawa tentang semua kesusahan ini."
"Kamu optimis banget."
"Nggak. Aku cuma nggak mau menyerah."
Sore itu, setelah makan siang bersama keluarga Arga, Sekar pulang ke rumahnya.
Sastro dan Sukmawati tidak banyak bicara, tapi dari cara mereka memandang Sekar, dari cara Sukmawati menambahkan lauk ke piring Sekar, dari cara Sastro mengangguk kecil saat Sekar pamit pulang—itu sudah cukup. Itu sudah lebih dari cukup. Itu adalah kehangatan yang selama ini tidak pernah ia rasakan dari orang tuanya sendiri.
Di rumahnya, Sekar duduk di kursi bambu.
Ia memandang foto neneknya.
Ia memandang surat dari orang tuanya yang masih tergeletak di meja.
"Nek," bisiknya, "aku sudah memutuskan. Aku tidak akan menjual rumah ini. Aku tidak akan pergi ke kota. Aku akan tinggal di sini. Di desa ini. Di rumah ini. Dengan Arga."
Foto itu tidak menjawab.
Tapi Sekar merasakan sesuatu. Kehangatan. Seperti ada senyuman.
"Aku akan baik-baik saja, Nek. Aku janji."
Malam itu, di rumah Arga, Sukmawati memanggil anaknya ke ruang tengah.
"Le," kata Sukmawati, "Ibu mau bicara."
"Tentang apa, Bu?"
"Tentang Sekar."
Ayahmu juga ikut mendengarkan. Sastro mengangguk.
"Apa yang akan kamu lakukan kalau rumah Sekar benar-benar dijual?" tanya Sukmawati.
"Aku sudah bilang, Bu. Sekar bisa tinggal dengan kita."
"Kamu sadar dengan konsekuensinya?"
"Apa konsekuensinya?"
"Orang desa akan bicara. Mereka akan bilang kamu dan Sekar sudah hidup serumah tanpa ikatan pernikahan. Itu aib, Le. Di desa ini, itu aib besar."
Arga terdiam.
"Tapi," lanjut Sukmawati, "Ibu dan ayahmu sudah berdiskusi."
"Diskusi tentang apa?"
"Tentang kemungkinan terburuk."
Sastro yang dari tadi diam akhirnya bersuara. "Ayah dan Ibu sudah sepakat. Kalau benar-benar terjadi, kita akan terima sekar tinggal di sini. Biar orang desa mau bicara apa. Yang penting kamu bahagia. Yang penting sekar tidak kehilangan tempat tinggal."
Arga menatap orang tuanya. Matanya basah. "Ayah... Ibu..."
"Jangan nangis, Le," kata Sastro. "Laki-laki jangan cengeng."
"Iya, Yah. Tapi ini... ini terlalu baik."
"Orang tua memang harus baik pada anaknya," kata Sukmawati. "Itu sudah kewajiban."
Arga memeluk ibunya. Lalu memeluk ayahnya.
Di ruang tengah yang sempit, dengan lampu minyak yang menyala redup, dengan suara jangkrik dari luar, dengan angin malam yang berembus lembut, Arga merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Rumah.
Bukan sekadar tembok dan genteng.
Tapi kehangatan.
Tapi penerimaan.
Tapi cinta tanpa syarat.
"Makasih, Yah, Mak," bisik Arga.
"Iya, sama-sama," jawab Sastro. "Sekarang tidur. Besok kamu harus ke sawah pagi-pagi."
"Iya, Yah."
Di kamarnya, Arga membuka jendela.
Langit malam dipenuhi bintang.
Ia teringat pada malam tanpa bintang beberapa minggu lalu. Malam ketika ia merasa kehilangan arah. Malam ketika ia tidak tahu harus melangkah ke mana.
Tapi sekarang, langkah pertama sudah ia ambil.
Langkah untuk tidak menyerah pada Sekar.
Langkah untuk tidak menyerah pada cinta.
Langkah untuk percaya bahwa semua akan baik-baik saja.
"Jatmika," bisik Arga, "aku akan menjaga dia. Aku janji."
Hening.
Tapi Arga merasakan sesuatu.
Seperti ada angin yang berputar di sekitarnya.
Seperti ada tangan yang menepuk pundaknya.
Seperti ada suara yang berkata, "Aku percaya padamu."
Di lain sisi desa, di rumah tuanya, Sekar juga membuka jendela.
Ia memandang langit yang sama.
Ia memandang bintang-bintang yang sama.
Ia tersenyum.
Langkah pertama sudah ia ambil.
Langkah untuk tidak takut lagi pada masa depan.
Langkah untuk percaya bahwa ia bisa bertahan.
Langkah untuk membuka hati pada cinta yang baru.
"Nek," bisiknya, "aku akan baik-baik saja."
Dan di kejauhan, seolah-olah ada jawaban.
Angin malam berembus lebih lembut.
Seperti belaian.
Seperti restu.
Seperti doa.
BAB 46
GERBANG DESA
Tiga bulan setelah surat terakhir dari orang tuanya, Sekar belum juga menerima kabar baru.
Tidak ada surat. Tidak ada telepon. Tidak ada pesan melalui siapa pun. Hanya keheningan yang terus berlarut-larut, seperti luka yang tidak kunjung sembuh karena terus diusik, seperti bayangan yang tidak mau pergi meskipun matahari sudah terbit.
Tapi Sekar tidak lagi menangis setiap malam.
Ia sudah berdamai dengan kenyataan bahwa orang tuanya mungkin tidak akan pernah kembali. Ia sudah berdamai dengan kenyataan bahwa rumah ini—rumah peninggalan neneknya—mungkin akan diambil paksa suatu hari nanti. Ia sudah berdamai dengan kenyataan bahwa masa depannya tidak pasti, bahwa hidupnya tidak akan semudah yang ia bayangkan.
Ia berdamai, bukan karena ia sudah ikhlas. Tapi karena ia lelah. Lelah menangis. Lelah berharap. Lelah menunggu sesuatu yang mungkin tidak akan pernah datang.
Dan di tengah semua itu, Arga tetap ada.
Setiap hari. Setiap pagi. Setiap sore. Setiap malam.
Ia datang dengan pisang goreng, dengan ubi rebus, dengan teh jahe hangat, dengan senyum canggungnya, dengan tatapan polosnya, dengan kata-kata yang kadang tidak masuk akal tapi selalu membuat Sekar merasa tidak sendirian.
“Kamu tahu, Sekar,” kata Arga suatu sore ketika mereka duduk di bawah pohon randu, “kadang aku berpikir, mungkin ini yang namanya dewasa.”
“Maksudmu?”
“Dewasa itu bukan tentang umur. Bukan tentang bisa kerja atau punya uang sendiri. Dewasa itu tentang... menerima bahwa hidup tidak selalu adil. Tapi tetap memilih untuk hidup.”
“Kata siapa?”
“Aku sendiri. Baru saja.”
“Sok bijak lagi.”
“Bukan sok bijak. Sok tua.”
Sekar tertawa. “Iya, kamu memang tua. Tua bangka. Tua sebelum waktunya.”
“Setidaknya aku membuatmu tertawa.”
“Iya. Itu yang membuatmu berharga.”
Pagi itu, langit cerah. Matahari baru saja naik. Embun masih menempel di daun-daun padi. Burung-burung mulai bernyanyi dari kejauhan.
Arga terbangun lebih awal dari biasanya.
Ia tidak tahu kenapa. Tidak ada mimpi buruk. Tidak ada firasat aneh. Tidak ada suara-suara yang memanggilnya seperti dulu. Hanya saja, ada sesuatu di dadanya yang terasa... berbeda.
Seperti ada yang akan terjadi.
Seperti ada yang akan berubah.
Ia duduk di beranda, memandang ke arah timur, ke arah gerbang desa yang terletak dua kilometer dari rumahnya. Gerbang kayu sederhana dengan tulisan “Desa Wringinrejo” yang sudah mulai pudar catnya. Gerbang yang selama ini hanya ia lewati ketika pergi ke pasar di kecamatan atau sesekali ke kota. Gerbang yang tidak pernah ia anggap istimewa.
Tapi pagi ini, gerbang itu terasa... berarti.
“Kamu bangun pagi sekali,” kata Sukmawati yang keluar dengan segelas kopi.
“Tidak bisa tidur, Bu.”
“Apa lagi yang kamu pikirkan?”
“Entahlah, Bu. Rasanya... hari ini akan ada sesuatu.”
“Sesuatu yang baik atau buruk?”
“Aku tidak tahu, Bu.”
Sukmawati duduk di samping Arga. “Kamu tahu, Le, hidup itu penuh kejutan. Kadang baik, kadang buruk. Tapi yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya.”
“Aku tahu, Bu. Tapi...”
“Tapi?”
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Takut bahwa apa yang selama ini aku bangun akan runtuh. Takut bahwa aku akan kehilangan seseorang yang aku cintai.”
Sukmawati menghela napas. “Kamu terlalu banyak mikir, Le. Coba nikmati saja hari ini. Jangan pikirkan besok. Nanti kamu sakit.”
“Iya, Bu.”
Setelah sarapan, Arga pergi ke rumah Sekar seperti biasa.
Tapi di tengah jalan, ia berhenti.
Ia melihat sesuatu di kejauhan. Di arah gerbang desa.
Debu.
Debu yang beterbangan di jalan tanah.
Tanda bahwa ada kendaraan yang melintas.
Tapi kendaraan apa yang melintas secepat itu di pagi buta? Di jam segini, biasanya hanya petani yang berjalan kaki ke sawah. Tidak ada kendaraan kecuali gerobak sapi yang melaju pelan.
Arga mengerutkan kening.
Ia meneruskan langkahnya, tapi matanya tetap tertuju pada debu itu. Debu yang semakin besar. Debu yang semakin dekat. Debu yang seolah membawa sesuatu, atau seseorang, yang tidak sabar untuk tiba.
Sekar membuka pintu ketika Arga tiba.
Ia masih mengenakan baju tidur. Rambutnya masih kusut. Matanya masih mengantuk.
“Kamu datang pagi sekali,” katanya sambil menguap.
“Maaf, aku...”
“Ada apa? Kamu kelihatan gelisah.”
“Aku... aku melihat debu di arah gerbang desa.”
“Debu? Memangnya ada apa dengan debu?”
“Ada kendaraan melintas. Cepat. Bukan gerobak sapi. Mungkin mobil.”
“Mobil? Di desa kita? Jarang ada mobil lewat sini.”
“Itulah. Aku penasaran.”
“Kamu mau ke gerbang desa?”
“Aku... aku tidak tahu.”
Sekar menatap Arga. “Aku ikut.”
“Kamu belum ganti baju.”
“Tunggu sebentar.”
Sekar berganti baju dengan cepat. Kemeja putih lengan panjang, kain jarik batik, sandal jepit karet. Tidak mewah. Tapi rapi.
Mereka berjalan berdua menuju gerbang desa.
Sekar di sebelah kanan. Arga di sebelah kiri.
Tangan mereka saling menggenggam, bukan karena mesra, tapi karena sama-sama merasa ada yang tidak beres.
“Arga,” panggil Sekar.
“Iya.”
“Kamu nggak mungkin menarik firasat seperti ini.”
“Memang. Tapi aku nggak bisa mengabaikannya.”
“Kenapa?”
“Karena dulu, setiap kali aku punya firasat seperti ini, sesuatu selalu terjadi.”
“Sesuatu yang buruk?”
“Tidak selalu. Tapi sesuatu yang mengubah hidupku.”
Mereka tiba di gerbang desa setelah berjalan sekitar dua puluh menit.
Di sana, di depan gerbang kayu sederhana itu, terparkir sebuah mobil.
Bukan mobil biasa. Mobil bagus. Hitam. Berkilat. Dengan kaca film gelap yang membuat siapa pun tidak bisa melihat ke dalam.
Beberapa orang desa sudah mulai berkerumun. Ada yang memandang dengan rasa ingin tahu. Ada yang berbisik-bisik. Ada yang hanya menggeleng, tanda bahwa mereka tidak peduli dengan urusan orang kaya yang tiba-tiba muncul di desa kecil mereka.
Arga dan Sekar berhenti di pinggir jalan.
Mereka tidak mendekat. Tapi mereka juga tidak pergi.
Pintu mobil terbuka.
Seorang laki-laki keluar. Usia sekitar empat puluh tahun. Tinggi. Berkulit putih. Memakai kemeja batik lengan panjang dan celana bahan hitam. Wajahnya tegas. Matanya tajam.
Ia memandang sekeliling. Mencari seseorang.
Lalu matanya tertuju pada Sekar.
“Kamu Sekar?” tanyanya.
Sekar mengangguk ragu. “Iya. Siapa Bapak?”
“Aku utusan dari orang tuamu.”
Dunia Sekar seperti berhenti berputar. “A—apa?”
“Orang tuamu mengutusku untuk mengambilmu. Mereka sudah menjual tanah ini. Mereka sudah membeli rumah baru di kota. Kamu akan tinggal bersama mereka.”
Sekar menggenggam tangan Arga lebih erat. “Aku tidak mau.”
“Itu bukan pilihanmu, Nak. Kamu masih di bawah umur. Orang tuamu punya hak penuh atas dirimu.”
“Tapi, “
“Tidak ada tapi. Kamu harus ikut. Sekarang.”
Arga melangkah maju. “Pak, maaf, saya mau bicara.”
Laki-laki itu menatap Arga. “Kamu siapa?”
“Arga. Teman Sekar.”
“Teman? Atau pacar?”
“Pacar.”
“Baiklah, Arga. Aku tidak peduli kamu teman atau pacar. Tugasku hanya membawa Sekar. Bukan mendengarkan cerita cinta anak muda.”
“Tapi Sekar bilang dia tidak mau.”
“Dan aku bilang itu bukan pilihan.”
“Itu tidak adil.”
“Hidup memang tidak adil, Nak. Kamu akan belajar itu cepat atau lambat.”
Arga mengepalkan tangannya. Wajahnya memerah. Dadanya naik turun. Ia ingin berteriak. Ia ingin memukul. Ia ingin melakukan sesuatu, apa pun, untuk menghentikan laki-laki ini.
Tapi ia tidak bergerak.
Karena ia tahu, kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah.
“Pak,” kata Arga lagi, “boleh saya minta waktu sebentar? Sekar butuh bicara dengan saya.”
“Berapa lama?”
“Lima belas menit.”
“Lima menit.”
“Sepuluh menit.”
“Lima menit. Kalau lebih, saya akan bawa dia paksa.”
Arga menarik Sekar ke samping, di bawah pohon beringin tua yang tumbuh tidak jauh dari gerbang desa.
Mereka berdua duduk di akar pohon yang besar.
Sekar menangis.
“Sekar,” kata Arga pelan.
“Aku tidak mau pergi, Arga. Aku tidak mau.”
“Aku tahu.”
“Mereka tidak punya hak.”
“Mereka punya hak. Sayangnya.”
“Tapi—“
“Tapi kita bisa melawan. Tidak dengan kekerasan. Tapi dengan cara lain.”
“Cara apa?”
“Kita cari bantuan. Mbah Jayarasa. Pak Lurah. Siapa pun yang bisa membantumu.”
“Apakah itu akan cukup?”
“Aku tidak tahu. Tapi setidaknya kita mencoba.”
Sekar memeluk Arga. Erat. Seperti tidak ingin melepaskan. Seperti takut bahwa detik berikutnya, ia akan ditarik paksa ke dalam mobil itu dan dibawa ke tempat yang tidak ia kenal, dengan orang-orang yang tidak ia cintai.
“Arga,” bisiknya.
“Iya.”
“Aku takut.”
“Aku juga.”
“Tapi kamu di sini.”
“Iya. Aku di sini. Aku tidak akan pergi.”
Laki-laki itu mulai berjalan mendekat.
“Waktunya habis,” katanya. “Sekar, ikut.”
Sekar belum melepaskan pelukannya.
“Sekar,” panggil laki-laki itu lebih keras.
“Dia belum siap,” kata Arga.
“Dia harus siap, Nak. Karena dunia tidak pernah menunggu kesiapan siapa pun.”
“Tapi, “
“Cukup. Aku sudah terlalu banyak buang waktu.”
Laki-laki itu meraih tangan Sekar.
Arga menghalangi. “Jangan sentuh dia.”
“Kamu mau apa? Melawan?”
“Kalau perlu.”
“Kamu bisa dipenjara, Nak.”
“Saya tidak peduli.”
Sekar melepaskan pelukannya. Ia menatap Arga. Matanya basah. Tapi ada sesuatu di sana, sesuatu yang tidak Arga lihat sebelumnya.
Ketegaran.
“Arga,” kata Sekar pelan.
“Iya.”
“Lepaskan.”
“Apa?”
“Lepaskan aku.”
“Tapi, “
“Aku tidak mau kamu dipenjara. Aku tidak mau kamu terluka. Aku tidak mau masalah ini semakin besar.”
“Tapi kamu, “
“Aku akan baik-baik saja. Aku janji.”
“Tapi, “
“Arga, tolong. Lepaskan.”
Arga melepaskan tangannya.
Perlahan.
Sakit.
Seperti melepaskan bagian dari dirinya sendiri.
Sekar berdiri. Ia berjalan menuju laki-laki itu. Ia tidak menangis lagi. Wajahnya datar. Matanya kosong. Seperti orang yang sudah pasrah. Seperti orang yang sudah tidak punya harapan.
“Ayo,” katanya pelan.
Laki-laki itu membukakan pintu mobil.
Sekar masuk.
Sebelum pintu tertutup, ia menoleh ke arah Arga.
“Arga,” katanya.
“Iya.”
“Tunggu aku.”
“Aku akan menunggu.”
“Selamanya?”
“Selamanya.”
Pintu mobil tertutup.
Mesin menyala.
Mobil bergerak perlahan meninggalkan gerbang desa.
Arga berlari mengejar.
“Sekar! Sekar!”
Tapi mobil itu semakin cepat. Semakin jauh. Semakin kecil.
Hingga akhirnya lenyap di balik tikungan.
Arga berhenti berlari.
Ia jatuh berlutut di pinggir jalan.
Debu-debu beterbangan di sekitarnya.
Ia tidak menangis.
Tapi dadanya terasa kosong.
Kosong seperti rumah Sekar yang kini benar-benar sepi.
Kosong seperti gerbang desa yang kini tidak lagi memiliki arti.
Kosong seperti masa depan yang tiba-tiba terasa begitu sunyi.
Mbah Jayarasa datang dari arah desa.
Ia berjalan pelan dengan tongkat kayunya.
Ia berdiri di samping Arga, memandang ke arah mobil yang sudah tidak terlihat.
“Dia pergi, ya,” kata Mbah Jayarasa. Bukan bertanya. Memastikan.
“Iya, Mbah.”
“Kamu nggak usah sedih.”
“Kenapa?”
“Karena dia akan kembali.”
“Kapan?”
“Aku tidak tahu. Tapi dia akan kembali. Percaya pada takdir.”
“Aku tidak percaya takdir, Mbah. Aku hanya percaya pada usahaku.”
“Itu sudah cukup, Le. Kadang, usaha adalah satu-satunya yang bisa kita lakukan. Sisanya, serahkan pada yang di atas.”
Arga tidak menjawab.
Ia hanya memandang ke arah timur.
Ke arah mobil itu pergi.
Ke arah Sekar yang kini berada di tempat yang tidak ia kenal, dengan orang-orang yang tidak ia cintai.
“Sekar,” bisiknya, “aku akan menunggumu. Aku janji.”
Di dalam mobil, Sekar duduk diam.
Ia memandang ke luar jendela.
Memandang pepohonan yang berlalu cepat.
Memandang sawah yang berganti hutan.
Memandang desa yang semakin kecil—dan akhirnya hilang sama sekali.
Air matanya jatuh.
Tapi ia tidak menyentuhnya.
Ia membiarkannya mengalir.
Karena air mata adalah satu-satunya yang ia miliki sekarang.
“Nek,” bisiknya, “doakan aku. Doakan aku agar kuat. Doakan aku agar bisa kembali. Doakan aku agar tidak melupakan Arga.”
Tidak ada jawaban.
Tapi Sekar merasakan sesuatu.
Kehangatan di dadanya.
Seolah ada tangan tak terlihat yang mengusap rambutnya.
Seolah ada suara yang berkata, “Aku akan selalu menjagamu, Nduk. Di mana pun kamu berada.”
BAB 47
JALAN PANJANG
Tiga hari setelah Sekar pergi, rumah tua di ujung desa itu benar-benar sepi.
Pintu dan jendelanya tertutup rapat. Tidak ada asap dari dapur. Tidak ada suara langkah kaki di teras. Tidak ada tirai bambu yang bergerak karena seseorang membukanya dari dalam. Hanya angin yang sesekali masuk melalui celah-celah dinding, membawa debu dan daun kering, lalu pergi lagi tanpa pernah membawa kabar.
Sekar tidak membawa banyak barang.
Hanya sekantong pakaian seadanya, foto neneknya yang terbungkus kain batik lusuh, dan kenangan-kenangan yang tidak bisa ia bawa dalam kardus atau koper.
Rumah itu kini hanya tinggal kenangan.
Tembok yang dulu hangat karena tawa neneknya, kini dingin.
Halaman yang dulu hijau karena tanaman neneknya, kini ditumbuhi rumput liar.
Sumur yang dulu airnya jernih, kini mulai keruh karena tidak pernah dipakai.
Arga berdiri di depan pagar rumah itu.
Ia sudah tiga hari tidak masuk ke dalam.
Bukan karena ia tidak berani. Bukan karena ia takut melihat foto-foto nenek Sekar yang masih terpajang di dinding. Bukan karena ia takut mencium bau nenek Sekar yang mungkin masih tersisa di lipatan kain dan di sudut-sudut kamar.
Tapi karena ia tahu, begitu ia masuk, ia akan sadar bahwa Sekar benar-benar pergi. Bahwa rumah ini benar-benar kosong. Bahwa tidak ada lagi gadis yang akan membukakan pintu untuknya dengan senyum canggung dan mata sembab.
“Kamu mau masuk, Le?” tanya Sukmawati dari belakang.
“Aku tidak tahu, Bu.”
“Rumah ini akan segera dijual, kata orang-orang. Mungkin minggu depan. Mungkin bulan depan. Tapi cepat atau lambat, akan ada yang punya baru.”
“Aku tahu, Bu.”
“Kalau kamu mau mengambil sesuatu sebagai kenang-kenangan, lakukan sekarang. Jangan sampai sudah berpindah tangan, baru kamu menyesal.”
Arga menghela napas. “Aku takut, Bu.”
“Takut apa?”
“Takut kalau aku masuk, aku tidak bisa keluar. Takut kalau aku melihat barang-barangnya, aku akan semakin sedih. Takut kalau aku menangis, aku tidak bisa berhenti.”
Sukmawati mengusap punggung anaknya. “Menangis tidak apa-apa, Le. Laki-laki juga boleh menangis. Tuhan memberi air mata bukan hanya untuk perempuan.”
“Tapi Ayah bilang, “
“Ayahmu kadang salah. Ayahmu tumbuh di zaman yang berbeda. Sekarang sudah zaman yang baru. Kamu boleh menangis. Kamu boleh sedih. Kamu boleh hancur. Asalkan setelah itu, kamu bangkit lagi.”
Arga membuka pagar.
Kayunya berderit—sama seperti dulu, ketika ia pertama kali datang ke rumah ini dengan bungkusan pisang goreng di tangan.
Ia berjalan melewati halaman. Rumput-rumput liar sudah setinggi betisnya. Ada belalang yang melompat-lompat di sela-sela rumput. Ada kupu-kupu kuning yang terbang tak tentu arah.
Ia naik ke teras.
Pintu rumah tidak dikunci.
Ia membukanya pelan.
Kreek...
Suara yang sama. Suara yang dulu selalu ia dengar ketika Sekar membukakan pintu untuknya. Tapi kali ini, tidak ada Sekar. Hanya angin yang masuk bersama debu. Hanya cahaya matahari yang jatuh di lantai kayu. Hanya keheningan yang begitu keras di telinga.
Arga masuk ke ruang tengah.
Kursi bambu tempat mereka biasa duduk masih di tempat yang sama. Meja kayu tempat Sekar biasa meletakkan teh jahenya masih di tempat yang sama. Foto nenek Sekar masih tersenyum dari balik pigura di dinding.
Tapi semuanya terasa... mati.
Seperti museum.
Seperti panggung yang sudah selesai pertunjukannya.
Seperti hati yang sudah tidak berdetak.
Arga duduk di kursi bambu itu.
Ia memejamkan mata.
Ia membayangkan Sekar duduk di seberangnya, dengan senyum tipis, dengan mata sayu, dengan tangan yang memegang cangkir teh jahe yang masih mengepul.
“Kamu datang lagi,” kata Sekar dalam bayangannya.
“Iya, aku datang lagi,” jawab Arga dalam hati.
“Kapan kamu berhenti datang?”
“Tidak akan. Selamanya.”
“Kamu yakin?”
“Aku yakin.”
Arga membuka mata.
Sekar tidak ada.
Hanya kursi kosong. Hanya meja kosong. Hanya hati kosong.
Ia berdiri. Berjalan ke kamar Sekar.
Kamar itu kecil. Hanya muat satu dipan bambu, satu lemari kayu jati, satu meja kecil tempat Sekar biasa menulis surat.
Bau Sekar masih terasa. Wangi sabun mandi murah, wangi bedak, wangi keringat setelah seharian berkebun, semuanya bercampur menjadi satu aroma yang tidak akan pernah ia temukan di tempat lain.
Arga membuka lemari kayu itu.
Beberapa baju masih tergantung. Kebaya putih, kain jarik batik, beberapa kemeja lengan panjang yang sudah pudar warnanya.
Ia mengambil satu kebaya.
Kain tipis berwarna krem dengan bordir bunga kecil di ujung lengan.
Ia menciumnya.
Masih ada wangi Sekar. Samar. Tapi nyata.
Air mata Arga jatuh.
Untuk pertama kalinya setelah tiga hari, ia menangis.
Bukan isak tangis yang keras. Bukan ratapan panjang. Tapi air mata yang jatuh diam-diam, seperti hujan gerimis di musim kemarau, seperti embun di pagi hari, seperti sesuatu yang tidak bisa ditahan lagi karena sudah terlalu lama dipendam.
“Sekar,” bisiknya. “Aku rindu kamu. Aku sudah rindu sejak kamu pergi. Bahkan sebelum mobil itu meninggalkan gerbang desa, aku sudah merindukanmu.”
Tidak ada jawaban.
Hanya angin yang masuk melalui jendela.
Hanya daun-daun kering yang bergesekan di halaman.
Hanya kesunyian yang menjadi satu-satunya temannya sekarang.
Arga keluar dari rumah itu dengan kebaya Sekar di tangannya.
Sukmawati masih berdiri di depan pagar, menunggu.
“Kamu ambil itu?” tanya Sukmawati.
“Iya, Bu. Untuk kenang-kenangan.”
“Ibu bisa menjahitkannya jadi bantal kecil. Supaya kamu bisa tidur sambil memeluknya.”
“Terima kasih, Bu.”
“Sudah, pulang. Di rumah sudah ada makan siang. Ayahmu pasti sudah menunggu.”
Di rumah, Sastro duduk di kursi bambu di beranda. Ia memandang Arga yang masuk dengan mata sayu, dengan langkah gontai, dengan kebaya putih di tangan.
“Kamu makan dulu,” kata Sastro.
“Tidak laper, Yah.”
“Kamu harus makan. Badanmu butuh tenaga.”
“Buat apa? Sekar sudah pergi.”
“Buat menunggunya.”
Arga menatap ayahnya. “Ayah benar-benar percaya dia akan kembali?”
Sastro menghela napas. “Ayah tidak tahu. Tapi ayah tahu satu hal: orang yang tidak makan, tidak akan punya tenaga untuk menunggu siapa pun.”
Arga terdiam. Ia masuk ke dapur. Sukmawati sudah menyiapkan nasi dengan lauk ayam goreng dan sayur asem.
Ia makan perlahan.
Setiap suapan terasa seperti menelan batu.
Tapi ia tetap makan.
Karena ayahnya benar.
Ia harus punya tenaga.
Untuk menunggu.
Sekian lama.
Sesakit apa pun.
Minggu pertama setelah Sekar pergi, Arga masih berharap ada surat.
Setiap kali anak kecil lewat di depan rumahnya dengan amplop di tangan, jantungnya berdegup kencang. Tapi amplop itu selalu untuk orang lain. Untuk tetangga, untuk kerabat, untuk siapa pun—tidak pernah untuknya.
Minggu kedua, ia mulai gelisah.
“Bu, kenapa dia tidak mengirim kabar?” tanyanya pada Sukmawati.
“Mungkin dia belum bisa. Mungkin orang tuanya melarang. Mungkin suratnya dicegat. Banyak kemungkinan, Le.”
“Tapi setidaknya dia bisa menelepon. Di kantor desa ada telepon umum. Dia bisa meneleponku.”
“Kamu tidak punya telepon, Le.”
“Tapi dia bisa menelepon kantor desa. Pak Lurah pasti akan memberitahuku.”
“Kamu yakin? Pak Lurah sibuk, Le. Bukan cuma mengurusi telepon untukmu.”
Arga tidak menjawab. Ia hanya duduk di beranda, memandang ke arah timur, ke arah gerbang desa, ke arah mobil hitam itu pergi.
Minggu ketiga, Arga mulai menulis surat.
Ia tidak tahu alamat Sekar. Tapi ia yakin, jika ia menulis surat dan menitipkannya pada Pak Pos, surat itu akan sampai. Mungkin tidak sekarang. Mungkin tidak besok. Tapi suatu hari nanti.
“Untuk Sekar,” tulisnya.
“Aku di sini. Di desa ini. Di rumah ini. Di pinggir sungai ini. Di bawah pohon randu ini. Aku masih di tempat yang sama, menunggumu.”
“Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu di sana. Aku tidak tahu apakah kamu baik-baik saja. Aku tidak tahu apakah kamu masih ingat padaku. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak pergi. Aku masih di sini. Aku akan selalu di sini.”
“Kadang aku duduk di tepi Kali Wening, sendirian. Aku mendengar suara air, membayangkan bahwa suara itu adalah suaramu. Aku menutup mata, membayangkan bahwa kamu duduk di sampingku, memegang tanganku, berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.”
“Aku rindu, Sekar. Aku rindu banget. Aku rindu senyummu. Aku rindu tawamu. Aku rindu cara kamu menggoda aku. Aku rindu cara kamu memandangku dengan mata sayu itu. Aku rindu semuanya.”
“Tolong kabari aku. Tolong beri tahu aku bahwa kamu baik-baik saja. Tolong jangan biarkan aku terus menunggu tanpa kepastian.”
“Aku tidak akan berhenti menulis. Surat demi surat. Sampai suatu hari kamu membalasnya.”
“Dari Arga, yang selalu menunggumu.”
Arga melipat surat itu, memasukkannya ke dalam amplop, lalu menulis: “Untuk Sekar, di rumah barunya di kota.”
Ia tidak tahu apakah surat itu akan sampai. Tapi ia harus mencoba. Karena mencoba adalah satu-satunya yang bisa ia lakukan sekarang.
Minggu keempat, Arga mulai kehilangan harapan.
Ia sudah mengirim tujuh surat. Tidak ada satu pun balasan.
Ia sudah menanyakan pada Pak Lurah apakah ada telepon untuknya. Tidak ada.
Ia sudah bertanya pada tetangga-tetangga yang sering ke kota apakah mereka melihat Sekar. Tidak ada yang tahu.
Sekar seperti lenyap. Seperti ditelan bumi. Seperti tidak pernah ada.
“Bu,” kata Arga suatu malam, “apa mungkin dia lupa padaku?”
“Tidak mungkin, Le.”
“Tapi kenapa dia tidak menghubungiku?”
“Mungkin karena orang tuanya melarang. Mungkin karena dia tidak punya akses. Mungkin karena dia sedang berusaha melindungimu.”
“Melindungi aku dari apa?”
“Dari rasa sakit. Mungkin dia pikir, jika dia menghubungimu, kamu akan semakin sulit move on.”
“Aku tidak ingin move on, Bu. Aku ingin dia kembali.”
Sukmawati memeluk anaknya. “Ibu tahu, Le. Ibu tahu.”
Malam itu, Arga tidak bisa tidur.
Ia duduk di beranda, memandang langit yang dipenuhi bintang.
Ia teringat pada malam-malam ketika ia dan Sekar saling mengirim pesan melalui anak-anak kecil desa.
Ia teringat pada malam-malam ketika ia memandang bintang yang sama, membayangkan bahwa Sekar juga sedang memandang bintang yang sama di tempatnya yang jauh.
“Jatmika,” bisiknya. “Kalau kamu masih di sini, tolong jaga dia. Tolong lindungi dia. Tolong sampaikan pesan ini: aku rindu dia. Aku sayang dia. Aku tidak akan pernah berhenti mencintainya.”
Hening.
Tapi Arga merasakan sesuatu.
Seperti ada angin yang berputar di sekelilingnya.
Seperti ada tangan yang menepuk pundaknya.
Seperti ada suara yang berkata, “Dia baik-baik saja. Dia hanya butuh waktu.”
“Apakah dia akan kembali?” tanya Arga pada angin.
Tidak ada jawaban.
Tapi Arga merasakan sesuatu yang lain.
Harapan.
Harapan kecil yang tidak mau padam.
Harapan yang terus menyala meskipun tidak ada alasan untuk tetap menyala.
Harapan yang membuatnya tetap menulis surat, tetap menunggu, tetap percaya bahwa suatu hari nanti, Sekar akan kembali.
BAB 48
MENOLEH SEKALI LAGI
Empat bulan sudah Sekar pergi.
Empat bulan. Seratus dua puluh hari. Dua ribu delapan ratus delapan puluh jam. Tidak ada surat. Tidak ada telepon. Tidak ada kabar. Hanya keheningan yang terus berlarut-larut, seperti malam tanpa bintang yang tidak pernah berakhir.
Arga masih menulis surat. Setiap minggu. Tidak pernah absen.
Surat pertama, kedua, ketiga, hingga surat yang ketujuh belas. Semua ia tulis dengan tangan gemetar, dengan hati yang semakin lama semakin berat, dengan harapan yang semakin tipis seperti kertas yang terkena air hujan.
Ia tidak tahu apakah surat-surat itu sampai. Tidak tahu apakah Sekar membacanya. Tidak tahu apakah Sekar masih ingat padanya.
Tapi ia tetap menulis. Karena menulis adalah satu-satunya cara untuk tetap terhubung dengan seseorang yang telah pergi. Karena kata-kata adalah satu-satunya jembatan antara desa kecil ini dan kota besar yang telah menelannya. Karena jika ia berhenti menulis, ia takut ia akan lupa bahwa ia pernah mencintai seseorang sejauh ini.
"Kamu masih terus menulis surat?" tanya Sukmawati suatu pagi ketika melihat Arga duduk di meja makan dengan secarik kertas dan pulpen.
"Iya, Bu."
"Untuk Sekar?"
"Iya, Bu."
"Sudah berapa surat yang kamu kirim?"
"Tujuh belas, Bu."
"Dan belum ada balasan?"
"Belum."
"Kamu tidak lelah?"
Arga menghentikan tulisannya. Ia menatap ibunya. "Apa boleh lelah, Bu?"
Sukmawati menghela napas. "Boleh, Le. Sangat boleh. Tapi jangan berhenti."
"Aku tidak akan berhenti, Bu."
"Bagus. Karena kadang, apa yang kita tunggu datang tepat saat kita hampir menyerah."
Surat ketujuh belas itu berisi cerita tentang hujan.
"Untuk Sekar," tulis Arga.
"Hari ini hujan. Bukan hujan deras seperti dulu. Hujan gerimis yang dingin dan lama. Aku ingat, dulu kamu selalu bilang bahwa kau suka hujan. Katanya, hujan membuat segalanya terasa lebih tenang. Katanya, suara air yang jatuh ke tanah adalah musik terindah yang pernah kau dengar."
"Aku duduk di beranda, memandang hujan. Aku membayangkan kamu duduk di sampingku, memegang tanganku, menempelkan kepalamu di bahuku. Aku membayangkan kamu bercerita tentang nenekmu, tentang masa kecilmu, tentang semua hal yang membuatmu menjadi dirimu yang sekarang."
"Tapi kamu tidak ada. Aku hanya sendiri, dengan secangkir teh jahe yang sudah dingin, dengan sebatang rokok yang tidak pernah aku nyalakan, dengan hati yang terasa seperti hujan—dingin dan terus jatuh tanpa pernah berhenti."
"Aku rindu kamu, Sekar. Aku rindu. Maaf jika surat ini terlalu berulang. Maaf jika aku tidak bisa berkata-kata selain aku rindu. Tapi itu yang aku rasa. Setiap hari. Setiap malam. Setiap detik."
"Tolong pulang. Atau setidaknya kabari aku. Aku tidak bisa terus menunggu tanpa tahu kabarmu. Ini terlalu berat untukku."
"Dari Arga, yang masih di sini."
Ia melipat surat itu, memasukkannya ke dalam amplop, lalu berjalan ke kantor pos di kecamatan. Hujan masih turun. Ia tidak membawa payung. Rambutnya basah. Bajunya basah. Tapi ia tidak peduli.
Di kantor pos, Pak Darmo, pegawai pos yang sudah tua, menatapnya dengan mata iba.
"Surat untuk Sekar lagi, Le?" tanyanya.
"Iya, Pak."
"Kapan terakhir kamu dapat kabar darinya?"
"Tidak pernah, Pak."
Pak Darmo menghela napas. "Kamu yakin alamatnya benar?"
"Aku tidak tahu, Pak. Aku hanya menulis 'rumah barunya di kota'. Semoga suratnya sampai."
"Kamu ini, Le. Mengejar angin."
"Mungkin, Pak. Tapi ini yang bisa aku lakukan."
Pak Darmo menerima surat itu, memberi cap, lalu memasukkannya ke dalam tumpukan surat lain yang akan dikirim ke kota.
"Le," panggilnya.
"Iya, Pak."
"Aku punya kabar."
Arga menegang. "Kabar apa?"
"Dua minggu lalu, ada surat balik untukmu. Tapi tidak sampai. Entah kenapa, surat itu hilang di perjalanan. Aku baru tahu hari ini dari kurir."
Hati Arga terasa seperti dihantam palu. "A—apa?"
"Maaf, Le. Aku sudah berusaha mencari, tapi tidak ketemu. Mungkin surat itu tercecer. Mungkin jatuh dari mobil. Mungkin diambil orang."
Arga terdiam. Ia tidak tahu harus marah, sedih, atau kecewa. Yang ia tahu, ada surat dari Sekar. Surat yang mungkin berisi kabar, berisi cerita, berisi harapan. Dan surat itu hilang. Hilang seperti Sekar. Hilang seperti segala sesuatu yang pernah ia cintai.
"Pak," kata Arga dengan suara bergetar, "apa isi surat itu?"
"Aku tidak tahu, Le. Aku hanya lihat amplopnya. Tulisan tangan perempuan. Alamat pengirim dari kota."
"Apakah ada nama pengirimnya?"
"Sekar. Itu yang aku baca."
Dunia Arga terasa berhenti berputar. Sekar mengirim surat. Sekar membalas. Tapi surat itu hilang. Hilang. Tidak akan pernah ia baca. Tidak akan pernah ia tahu isinya. Tidak akan pernah ia rasakan hangatnya kata-kata Sekar di atas kertas.
"Le," Pak Darmo meletakkan tangan di bahu Arga, "maaf. Ini luar biasa. Aku akan berusaha mencari. Mungkin masih ada. Mungkin jatuh di suatu tempat."
Arga tidak menjawab. Ia hanya berjalan keluar dari kantor pos, meninggalkan Pak Darmo yang terus memanggil-manggil namanya.
Hujan masih turun.
Ia tidak merasakannya.
Ia hanya berjalan.
Lurus.
Tanpa tujuan.
Seperti orang yang kehilangan arah.
Seperti kapal tanpa kompas.
Seperti surat yang hilang di tengah jalan.
Ia sampai di Kali Wening tanpa sadar.
Air sungai sedang naik karena hujan yang terus turun sejak pagi. Airnya keruh kecoklatan, membawa lumpur dan daun-daun kering dari hulu.
Arga duduk di batu besar tempat ia dan Sekar biasa duduk.
Batu itu basah. Dingin. Tapi ia tidak peduli.
Ia memandang sungai.
Mengingat saat-saat ketika Sekar masih di sini.
Mengingat tawanya.
Mengingat senyumnya.
Mengingat mata sayunya.
Mengingat tangan yang selalu ia genggam.
Mengingat semua yang telah hilang.
"Kenapa?" bisiknya. "Kenapa surat itu harus hilang? Kenapa takdir begitu kejam padaku? Apa yang salah denganku? Apa yang salah dengan cintaku? Kenapa aku tidak pantas bahagia?"
Hujan menjawab dengan derasnya.
Air sungai menjawab dengan gemuruhnya.
Angin menjawab dengan lolongannya.
Tapi tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan Arga.
Karena pertanyaan itu terlalu sulit. Bahkan untuk dewa sekalipun.
Dari kejauhan, Mbah Jayarasa berdiri di bawah pohon randu, memandang Arga yang duduk sendirian di pinggir sungai.
Ia berjalan pelan mendekat. Tongkat kayunya menusuk tanah basah, meninggalkan jejak bulat di lumpur.
"Le," panggilnya.
Arga menoleh. Matanya merah. Basah. Bukan karena hujan.
"Mbah Jayarasa."
"Aku dengar kabar tentang surat itu."
Arga menunduk. "Iya, Mbah. Surat dari Sekar. Hilang."
"Kamu sedih."
"Iya, Mbah. Aku sedih. Aku marah. Aku kecewa."
"Itu wajar, Le. Kamu manusia."
"Apa gunanya jadi manusia kalau hanya merasakan sakit?"
Mbah Jayarasa duduk di samping Arga. Batu besar itu cukup untuk dua orang, asalkan mereka berdua saling berdekatan.
"Kamu tahu, Le," kata Mbah Jayarasa, "dulu, ketika aku masih muda, aku juga pernah kehilangan seseorang."
"Siapa, Mbah?"
"Istriku."
Arga menatap lelaki tua itu. "Ibu Mbah?"
"Iya. Dia meninggal ketika melahirkan anakku. Anak itu juga tidak selamat. Aku ditinggal sendiri. Sendirian. Tanpa siapa-siapa."
"Mbah... aku tidak tahu."
"Tidak banyak yang tahu. Aku tidak pernah cerita. Tapi hari ini, aku ingin cerita padamu."
Arga diam. Ia mendengarkan.
"Waktu itu, aku juga marah. Aku marah pada Tuhan. Aku marah pada takdir. Aku marah pada dunia yang begitu kejam. Aku bertanya, kenapa? Kenapa aku? Kenapa harus istriku? Kenapa harus anakku? Apa salahku?"
"Dan apa jawabannya, Mbah?"
"Tidak ada jawaban, Le. Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu. Hanya waktu. Hanya penerimaan. Hanya kesadaran bahwa hidup tidak selalu adil, tapi kita harus tetap hidup."
Arga terdiam. Ia memikirkan kata-kata Mbah Jayarasa.
Mungkin benar. Mungkin tidak ada jawaban untuk rasa sakit. Mungkin yang bisa kita lakukan hanyalah menerima. Menerima bahwa kita sakit. Menerima bahwa kita kehilangan. Menerima bahwa kita tidak bisa mengendalikan segalanya.
"Tapi Mbah," kata Arga, "aku tidak bisa menerima. Aku masih ingin berjuang. Aku masih ingin berusaha. Aku masih ingin percaya bahwa Sekar akan kembali."
"Itu juga tidak salah, Le. Berjuang itu baik. Berusaha itu mulia. Percaya itu indah. Tapi jangan sampai kamu lupa hidup. Jangan sampai kamu lupa bahwa masih ada hal-hal lain di dunia ini selain Sekar."
"Apa yang harus aku lakukan, Mbah?"
"Kamu harus melanjutkan hidup. Kamu harus tetap makan, tetap tidur, tetap tersenyum. Bukan karena kamu tidak setia. Tapi karena itulah yang diinginkan Sekar. Dia tidak ingin kamu hancur karena dia."
"Apa Mbah yakin?"
"Aku yakin. Karena aku dulu juga seperti kamu. Aku hancur. Tapi kemudian aku sadar bahwa istriku tidak akan bahagia melihat aku seperti itu. Jadi aku bangkit. Untuk dia. Untuk kenangannya. Untuk cinta yang tidak pernah mati."
Hujan mulai reda.
Matahari muncul dari balik awan.
Cahayanya jatuh di permukaan sungai, membuat air yang keruh itu terlihat berkilau seperti emas.
Arga memandang langit. Pelangi terbentang dari timur ke barat, melintasi desa, melintasi sawah, melintasi bukit tempat Makam Mbok Raras berada.
"Mbah," panggil Arga.
"Iya, Le."
"Aku tidak tahu apakah aku bisa sekuat Mbah."
"Kamu bisa, Le. Kamu lebih kuat dari yang kamu kira."
"Tapi rasanya... rasanya aku tidak kuat."
"Itu wajar. Perasaan tidak kuat tidak berarti kamu benar-benar tidak kuat. Perasaan hanya perasaan. Mereka datang dan pergi."
"Lalu apa yang menetap?"
"Tindakanmu, Le. Apa yang kamu lakukan meskipun kamu merasa tidak kuat. Itu yang menetap."
Arga mengangguk. Ia tidak tahu apakah ia mengerti sepenuhnya. Tapi setidaknya, ia merasa sedikit lebih tenang. Sedikit lebih ringan. Sedikit lebih berani untuk melanjutkan hidup.
Malam itu, Arga pulang dengan hati yang masih sakit, tapi tidak sehancur sebelumnya.
Sukmawati sudah menyiapkan makan malam. Ayam goreng, sayur lodeh, sambal terasi, dan nasi hangat yang mengepulkan uap.
"Kamu habis dari mana?" tanya Sukmawati.
"Dari Kali Wening, Bu."
"Sama Mbah Jayarasa?"
"Iya, Bu. Mbah banyak cerita."
"Cerita apa?"
"Tentang istrinya yang meninggal."
Sukmawati menghela napas. "Mbah Jayarasa memang jarang cerita tentang itu. Kamu harus merasa terhormat karena dia memilihmu untuk mendengarkan."
"Aku merasa terhormat, Bu. Tapi aku juga sedih. Ternyata Mbah Jayarasa juga pernah mengalami apa yang aku alami sekarang."
"Setiap orang punya lukanya masing-masing, Le. Yang membedakan adalah bagaimana mereka menyikapinya."
Arga makan malam bersama orang tuanya.
Tidak banyak bicara. Tidak banyak tawa. Tapi ada kehangatan. Kehangatan yang tidak akan pernah ia temukan di tempat lain.
Setelah makan, ia duduk di beranda bersama Sastro.
Ayahnya sedang mengisap rokok kretek. Asapnya mengepul tipis, lalu lenyap diterpa angin malam.
"Yah," panggil Arga.
"Iya."
"Ayah dulu pernah putus cinta?"
Sastro menghentikan isapannya. "Pernah."
"Cerita, dong."
"Apa yang mau diceritakan? Aku ditinggal. Dia memilih laki-laki lain. Aku sedih. Aku marah. Aku kecewa."
"Lalu? Bagaimana Ayah bisa move on?"
"Ayah tidak move on, Le. Ayah hanya belajar bahwa ada yang lebih penting dari cinta."
"Apa itu?"
"Keluarga. Tanggung jawab. Ibu. Kamu. Jatmika. Itu semua. Cinta itu penting, tapi bukan segalanya."
Arga terdiam. Ia memikirkan kata-kata ayahnya.
Mungkin benar. Mungkin cinta bukan segalanya. Mungkin ada hal-hal lain yang juga perlu diperjuangkan. Mungkin hidup tidak hanya tentang Sekar. Mungkin hidup juga tentang orang-orang yang masih ada di sekitarnya. Tentang ibu yang selalu memasakkan makanan hangat. Tentang ayah yang selalu mengajarinya sabar. Tentang Mbah Jayarasa yang selalu memberinya nasihat bijak. Tentang Ratri yang selalu setia menjadi teman.
"Makasih, Yah," kata Arga.
"Makasih buat apa?"
"Makasih udah mengingatkan bahwa aku tidak sendirian."
Sastro menepuk bahu putranya. "Kamu tidak sendirian, Le. Jangan pernah merasa sendirian. Karena selama masih ada yang peduli padamu, kamu tidak sendirian."
Malam semakin larut.
Arga masuk ke kamarnya.
Ia membuka lemari. Mengambil kebaya putih pemberian Sekar—kebaya yang sudah dijahit Sukmawati menjadi bantal kecil.
Ia memeluk bantal itu.
Wanginya sudah hampir hilang.
Tersisa sedikit. Samar. Seperti kenangan yang semakin lama semakin kabur.
"Kamu di mana, Sekar?" bisiknya. "Kamu baik-baik saja? Kamu masih ingat aku? Kamu masih sayang aku?"
Hening.
Tidak ada jawaban.
Tapi Arga merasakan sesuatu.
Kehangatan di dadanya.
Seperti ada seseorang yang memeluknya dari jauh.
Seperti ada tangan yang mengusap rambutnya.
Seperti ada suara yang berkata, "Aku di sini. Aku baik-baik saja. Aku masih ingat kamu. Aku masih sayang kamu. Dan aku akan pulang. Suatu hari nanti. Janji."
Air mata Arga jatuh.
Tapi kali ini, bukan air mata kesedihan.
Bukan air mata kehilangan.
Bukan air mata keputusasaan.
Tapi air mata harapan.
Harapan bahwa semua akan baik-baik saja.
Harapan bahwa ia akan melihat Sekar lagi.
Harapan bahwa cinta mereka tidak akan terkalahkan oleh jarak dan waktu dan takdir yang kejam.
"Sekar," bisiknya, "aku akan menunggumu. Aku tidak akan berhenti menulis. Aku tidak akan berhenti berharap. Aku tidak akan berhenti mencintaimu."
Dan di kejauhan, di kota yang jauh, di rumah yang asing, seorang gadis menangis sambil memeluk foto seorang pemuda desa yang tidak pernah ia lupakan.
BAB 49
FAJAR BARU
Enam bulan sudah Sekar pergi.
Enam bulan. Seratus delapan puluh hari. Empat ribu tiga ratus dua puluh jam. Tidak ada surat. Tidak ada telepon. Tidak ada kabar. Hanya keheningan yang seperti biasa, seperti angin yang terus berembus tanpa pernah membawa pesan.
Tapi Arga berubah.
Bukan perubahan yang drastis. Bukan perubahan yang terlihat dari luar. Tapi perubahan di dalam. Di ruang paling dalam hatinya yang dulu gelap dan dingin, kini mulai ada cahaya. Cahaya kecil. Samar. Tapi terus menyala. Seperti bintang timur yang muncul sebelum fajar.
Ia masih menulis surat. Setiap minggu. Tidak pernah absen. Sekarang sudah dua puluh tiga surat yang ia kirim. Dua puluh tiga surat yang tidak pernah dibalas. Tapi ia tidak berhenti. Mungkin karena ia sudah terlalu keras kepala. Mungkin karena ia tidak tahu cara berhenti. Mungkin karena ia percaya bahwa suatu hari nanti, surat-surat itu akan sampai ke tangan Sekar.
"Kamu masih menulis surat?" tanya Ratri suatu sore ketika mereka duduk di bawah pohon randu.
Arga menoleh. Ratri datang tanpa ia sadari. Wajahnya cerah, senyumnya lebar, tangannya membawa sekantong jambu air dari kebun belakang rumahnya.
"Iya, masih," jawab Arga.
"Sudah berapa?"
"Dua puluh tiga."
"Dan belum ada balasan?"
"Belum."
"Kamu tidak capek?"
Arga tersenyum. Senyum yang aneh. Senyum yang membuat Ratri mengerutkan kening. "Capek? Capek itu untuk orang yang menyerah, Rat. Aku tidak menyerah. Jadi aku tidak capek."
Ratri tertawa. "Kamu ini aneh."
"Aku tahu."
"Tapi aku suka keanehanmu."
"Itu karena kamu sudah terbiasa."
"Mungkin. Atau mungkin karena aku juga aneh."
Arga menatap Ratri. Teman masa kecilnya itu kini sudah tumbuh menjadi perempuan yang cantik. Rambutnya panjang, kulitnya putih, matanya bulat dan jernih. Banyak pemuda desa yang mengincarnya. Tapi ia tetap setia menjadi teman Arga. Tidak pernah tergoda. Tidak pernah berubah.
"Ratri," panggil Arga.
"Iya."
"Kamu tidak pernah berpikir untuk punya pacar?"
"Pernah. Tapi belum ketemu yang cocok."
"Kamu nggak mau coba sama siapa gitu?"
"Siapa misalnya?"
"Entahlah. Banyak yang suka sama kamu."
"Tapi aku tidak suka sama mereka."
"Kamu terlalu pilih-pilih."
"Ya, memang. Soalnya pacar itu bukan baju, Arga. Baju bisa ganti-ganti. Pacar nggak bisa. Kalau salah pilih, bisa sengsara seumur hidup."
Arga tertawa. "Kamu ini bijak banget."
"Nggak bijak. Realistis."
Matahari mulai condong ke barat. Langit berubah warna dari biru ke jingga, dari jingga ke merah muda, dari merah muda ke ungu.
"Ratri," panggil Arga.
"Iya."
"Aku mau cerita sesuatu."
"Apa?"
"Beberapa hari yang lalu, aku bermimpi tentang Sekar."
Ratri menegang. "Mimpi apa?"
"Aku mimpi dia berdiri di depan gerbang desa. Dia tersenyum padaku. Dia melambai. Dia bilang, 'Aku pulang, Arga. Aku pulang.'"
"Lalu?"
"Lalu aku bangun. Itu saja."
"Itu hanya mimpi, Arga."
"Aku tahu. Tapi mimpi itu terasa nyata. Sangat nyata. Sampai-sampai ketika aku bangun, aku benar-benar mencari dia di setiap sudut rumah."
Ratri tidak menjawab. Ia hanya memandang Arga. Laki-laki di depannya ini, yang dulu ia kenal sebagai anak pendiam yang suka duduk di tepi sungai, yang dulu ia kenal sebagai seseorang yang aneh dan misterius, yang dulu ia kenal sebagai anak laki-laki yang tidak pernah menangis, kini duduk di sampingnya dengan mata sayu, dengan hati yang masih terluka, dengan harapan yang masih terus menyala meskipun tidak ada alasan untuk tetap menyala.
"Arga," kata Ratri akhirnya.
"Iya."
"Kamu masih sayang sama Sekar?"
"Masih. Akan selalu."
"Kamu tidak berpikir untuk mencari yang baru?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena hatiku sudah terisi. Tidak ada ruang untuk yang baru."
Ratri menghela napas. "Kamu ini romantis banget."
"Nggak romantis. Setia."
"Itu sama saja."
"Tidak. Romantis itu lebay. Setia itu sederhana. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaanku sendiri dengan berpura-pura bahwa aku bisa mencintai orang lain."
Malam itu, Arga makan malam bersama keluarganya.
Sastro dan Sukmawati duduk di kursi yang sama. Di meja yang sama. Dengan menu yang sama—nasi, sayur asem, ayam goreng, sambal terasi.
Tapi ada sesuatu yang berbeda.
"Le," panggil Sukmawati.
"Iya, Bu."
"Tadi siang, Pak Lurah datang ke rumah."
"Ada apa, Bu?"
"Dia bilang, ada surat untukmu dari kota."
Sendok di tangan Arga jatuh. Berbunyi keras di lantai.
"A—apa, Bu?"
"Surat, Le. Dari kota. Pengirimnya atas nama Sekar."
Dunia Arga seperti berhenti berputar. Jantungnya berdegup kencang. Tangannya gemetar. Dadanya naik turun. Ia tidak percaya. Apakah ini mimpi? Apakah ini nyata? Apakah ini benar-benar terjadi?
"Bu," suara Arga bergetar, "di mana suratnya?"
"Pak Lurah bilang, besok kamu bisa ambil di kantornya. Dia menyimpannya di brankas. Supaya tidak hilang seperti yang dulu."
"Besok? Kenapa tidak sekarang?"
"Karena kantornya sudah tutup, Le. Sudah malam. Besok pagi kita ke sana."
Arga tidak bisa tidur malam itu.
Ia gelisah. Ia bolak-balik dari kamar ke beranda, dari beranda ke kamar lagi. Ia tidak sabar menunggu pagi. Ia ingin segera ke kantor Pak Lurah. Ia ingin segera membaca surat itu. Ia ingin segera tahu kabar Sekar. Apa ia baik-baik saja? Apa ia masih ingat padanya? Apa ia masih sayang padanya?
"Kamu tenang, Le," kata Sastro yang ikut gelisah melihat anaknya mondar-mandir.
"Aku tidak bisa tenang, Yah."
"Tapi kamu harus tidur. Besok kamu harus segar."
"Aku tidak butuh segar, Yah. Aku butuh surat itu."
Sastro menghela napas. Ia tidak bisa marah. Ia juga pernah muda. Ia juga pernah mengalami apa yang dialami anaknya sekarang, degup jantung yang tidak teratur, tangan yang gemetar, pikiran yang kacau, hati yang tidak tenang. Karena surat. Karena kabar. Karena seseorang yang sangat dicintai.
"Baiklah," kata Sastro. "Kita ke kantor Pak Lurah sekarang."
"Sekarang?"
"Sekarang. Ayah akan bangunkan Ibu."
Mereka bertiga berjalan di bawah cahaya bulan.
Sastro di depan, membawa senter lampu minyak. Sukmawati di tengah. Arga di belakang.
Langkah mereka cepat. Sesekali Arga tersandung batu atau akar pohon, tapi ia tidak peduli. Ia terus berjalan. Mengejar surat. Mengejar kabar. Mengejar harapan.
Pak Lurah tinggal tidak jauh dari balai desa. Rumahnya besar, berdinding batu bata, beratap genteng keramik. Halamannya luas, ditumbuhi pohon mangga dan rambutan.
Sastro mengetuk pintu.
Tok. Tok. Tok.
Dari dalam terdengar suara Pak Lurah yang masih terjaga. "Siapa?"
"Sa stro, Pak. Sastro. Sama keluarga."
Pintu terbuka. Pak Lurah berdiri dengan kemeja lengan pendek dan sarung. Wajahnya sedikit kaget melihat Sastro dan keluarganya datang di tengah malam.
"Ada apa ini? Tengah malam begini?"
"Maaf, Pak," kata Sastro. "Anak saya tidak bisa tidur. Dia minta suratnya sekarang."
Pak Lurah memandang Arga. Matanya yang sembab, tangannya yang gemetar, bibirnya yang bergetar. "Kamu Arga?"
"Iya, Pak."
"Kamu yang dulu menunggu Sekar di gerbang desa?"
"Iya, Pak."
"Kamu yang dulu mengejar mobil sampai jatuh di pinggir jalan?"
Arga menunduk. "Iya, Pak."
Pak Lurah menghela napas. "Masuk. Aku ambilkan suratnya."
Arga duduk di kursi tamu.
Tangannya masih gemetar. Dadanya masih berdebar. Pikirannya masih kacau.
Pak Lurah masuk ke dalam, ke ruang kerjanya. Beberapa menit kemudian ia keluar dengan sebuah amplop putih di tangannya.
"Ini," kata Pak Lurah sambil menyerahkan amplop itu pada Arga. "Jangan hilang. Ini satu-satunya."
Arga menerima amplop itu. Tangannya gemetar hebat. Ia memandang amplop itu sekian lama. Tulisan di atasnya: "Untuk Arga, dari Sekar."
Belum dibuka. Belum dibaca. Tapi air matanya sudah jatuh.
"Kamu tidak mau membukanya?" tanya Sukmawati pelan.
"Aku takut, Bu," bisik Arga.
"Takut apa?"
"Takut isinya... bukan yang aku harapkan."
"Tapi kamu tidak akan tahu kalau tidak membukanya."
Arga menarik napas panjang.
Ia membuka amplop itu perlahan. Tangannya masih gemetar. Kertas di dalamnya berwarna putih, dilipat rapi, dengan tulisan tangan Sekar yang rapi.
Ia membaca.
"Untuk Arga, laki-laki yang masih kutunggu di desa."
"Maaf aku tidak bisa membalas surat-suratmu sebelumnya. Orang tuaku menyembunyikan semua surat yang kau kirim. Aku baru menemukannya kemarin, di lemari kamar mereka, di dalam amplop coklat yang terkunci."
"Aku menangis membacanya. Satu per satu. Dari surat pertama hingga surat kedua puluh dua. Aku tidak tahu bahwa kau masih menungguku. Aku tidak tahu bahwa kau masih mencintaiku. Aku pikir kau sudah move on. Aku pikir kau sudah lupa padaku. Aku pikir kau sudah menemukan yang baru."
"Tapi ternyata tidak. Kau masih di sana. Di desa itu. Di rumah itu. Di pinggir sungai itu. Di bawah pohon randu itu."
"Aku juga masih di sini. Di kota ini. Di rumah orang tuaku. Di kamar yang sempit. Di hati yang masih menyimpan namamu."
"Aku ingin pulang, Arga. Tapi aku belum bisa. Orang tuaku masih mengawasiku. Mereka masih berusaha menjodohkanku dengan anak teman kantor Bapak."
"Tapi aku tidak mau. Aku hanya mau kau. Hanya kau. Selamanya."
"Doakan aku, Arga. Doakan aku agar kuat. Doakan aku agar bisa melawan. Doakan aku agar bisa pulang."
"Sekar."
Arga tidak bisa menahan tangisnya.
Ia terisak di kursi tamu Pak Lurah.
Di depan orang tuanya.
Di depan Pak Lurah yang hanya diam memandang.
Ia tidak peduli.
Ia tidak malu.
Ia hanya merasa lega. Sangat lega. Lega seperti orang yang baru saja selesai menempuh perjalanan panjang melewati badai dan hujan dan angin dan akhirnya sampai di tempat yang aman.
"Bu," isaknya, "dia masih sayang aku. Dia masih ingat aku. Dia masih mau pulang."
Sukmawati memeluk anaknya. "Ibu tahu, Le. Ibu tahu."
"Dia tidak lupa. Dia tidak lupa. Dia hanya tidak bisa."
"Iya, Le. Iya."
Sastro menepuk pundak Arga. "Sudah, Le. Jangan nangis. Ini kabar baik. Harusnya kamu senang."
"Aku senang, Yah. Tapi aku juga sedih. Aku sedih karena dia harus berjuang sendirian di sana. Aku sedih karena aku tidak bisa membantunya."
"Kamu bisa membantu, Le."
"Bagaimana, Yah?"
"Dengan terus menulis. Dengan terus mengirim surat. Dengan terus meyakinkan dia bahwa kau tidak akan pergi."
Arga mengangguk. Ia menghapus air matanya dengan lengan baju.
"Pak Lurah," katanya, "boleh saya pinjam kertas dan pulpen?"
Pak Lurah tersenyum. "Boleh, Nak. Silakan."
Arga menulis surat balasan di meja tamu Pak Lurah.
Dengan tangan yang masih gemetar. Dengan mata yang masih basah. Dengan hati yang masih penuh.
"Untuk Sekar, perempuan yang masih kutunggu di kota."
"Suratmu aku terima. Aku membacanya berulang-ulang. Setiap kata, setiap huruf, setiap tanda baca. Aku hafal semuanya sekarang."
"Aku tidak akan berhenti menunggu. Aku tidak akan berhenti mencintai. Aku tidak akan berhenti berharap."
"Kamu kuat, Sekar. Kamu lebih kuat dari yang kau kira. Kamu bisa melawan mereka. Kamu bisa memilih jalanmu sendiri."
"Karena jika tidak, aku yang akan datang menjemputmu. Akan kulewati gunung dan sungai dan lautan dan apapun untuk membawamu pulang."
"Tunggu aku. Atau biarkan aku menunggumu. Yang penting, kita tidak berhenti percaya bahwa kita akan bertemu lagi."
"Aku sayang kamu, Sekar. Lebih dari yang bisa diungkapkan kata-kata."
"Dari Arga, yang selalu di sini."
Arga melipat surat itu, memasukkannya ke dalam amplop, lalu menulis alamat Sekar di kota.
"Saya akan mengirimkannya besok pagi pertama," kata Pak Lurah. "Saya sendiri yang akan mengantarnya ke kantor pos."
"Terima kasih, Pak," kata Arga.
"Sama-sama, Nak. Semoga cinta kalian diberkahi Tuhan."
Mereka bertiga berjalan pulang di bawah cahaya bulan.
Langit cerah. Bintang-bintang bersinar terang. Bulan sabit tipis menggantung rendah di langit barat.
"Bu," panggil Arga.
"Iya, Le."
"Aku merasa... ringan. Setelah sekian lama, aku merasa ringan."
"Karena bebanmu sudah berkurang, Le. Kamu tidak lagi menunggu tanpa kepastian. Kamu sekarang tahu bahwa dia masih sayang padamu."
"Iya, Bu. Dan itu cukup. Itu sudah cukup."
Sastro berjalan di samping istrinya, tidak bicara. Tapi dari cara ia menggenggam tangan Sukmawati, dari cara ia sesekali memandang Arga dengan tatapan lembut, Arga tahu bahwa ayahnya juga merasa lega.
Mereka sampai di rumah.
Arga masuk ke kamarnya.
Ia membuka jendela.
Angin malam berembus lembut.
Ia memandang langit yang dipenuhi bintang.
Ia tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Senyum yang tulus.
Senyum yang tidak dipaksakan.
Senyum yang lahir dari kebahagiaan.
"Sekar," bisiknya, "aku akan terus menulis. Aku akan terus mengirim surat. Aku tidak akan berhenti. Sampai kau pulang. Atau sampai aku menjemputmu."
Dan di kejauhan, di kota yang jauh, di rumah yang asing, Sekar juga tersenyum. Ia memandang langit yang sama. Ia memandang bintang yang sama. Ia memandang bulan yang sama.
Ia merasakan sesuatu.
Kehangatan.
Kehangatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Kehangatan yang hanya bisa dirasakan oleh dua hati yang saling terhubung meskipun terpisah jarak.
"Arga," bisiknya, "aku akan kuat. Aku janji. Dan suatu hari, aku akan pulang."
Fajar mulai menyingsing di ufuk timur.
Cahayanya perlahan-lahan mengusir gelap malam.
Burung-burung mulai bernyanyi.
Ayam-ayam jantan mulai berkokok.
Dan Arga berdiri di beranda rumahnya, memandang ke arah timur, ke arah mana matahari akan segera terbit.
Ia memegang bantal kecil dari kebaya Sekar di tangannya.
Ia menciumnya.
Ia tersenyum.
"Fajar baru," bisiknya. "Fajar baru untuk hari yang baru. Untuk harapan yang baru. Untuk cinta yang tidak pernah mati."
BAB 50
PENGEMBARA PERTAMA
Setahun sudah Sekar pergi.
Setahun. Tiga ratus enam puluh lima hari. Delapan ribu tujuh ratus enam puluh jam. Tidak terasa. Seperti mimpi yang terlalu panjang. Seperti hujan yang tidak pernah berhenti. Seperti sungai yang terus mengalir tanpa pernah tahu ke mana muaranya.
Tapi Arga tidak lagi menangis setiap malam.
Ia masih menulis surat. Setiap minggu. Sekarang sudah lebih dari lima puluh surat yang ia kirim. Dan setiap bulan, selalu ada surat balasan dari Sekar. Tidak pernah terlewat. Sekali sebulan. Tepat. Seperti janji. Seperti komitmen. Seperti cinta yang tidak mau mati.
Isi surat-surat itu bermacam-macam.
Kadang Sekar bercerita tentang harinya. Tentang makanan yang ia makan. Tentang buku yang ia baca. Tentang lagu yang ia dengar. Tentang bunga yang ia lihat di taman. Tentang hujan yang mengguyur kotanya. Tentang matahari yang terik membakar kulitnya.
Kadang Sekar bercerita tentang perjuangannya. Tentang pertengkaran dengan orang tuanya. Tentang tekanan untuk menikah dengan anak teman kantor Bapaknya. Tentang usahanya untuk tetap kuat. Tentang malam-malam ketika ia ingin menyerah. Tentang pagi-pagi ketika ia memilih untuk bangkit lagi.
Kadang Sekar bercerita tentang rindunya. Tentang betapa ia merindukan desa. Tentang betapa ia merindukan sungai. Tentang betapa ia merindukan pohon randu. Tentang betapa ia merindukan angin yang berembus di antara padi-padi. Tentang betapa ia merindukan Arga. Tentang betapa ia ingin segera pulang.
Dan Arga membalas semua surat itu.
Satu per satu.
Dengan tangan yang kadang gemetar.
Dengan mata yang kadang basah.
Dengan hati yang kadang sesak.
Tapi ia tetap menulis.
Karena menulis adalah satu-satunya cara untuk tetap terhubung.
Karena kata-kata adalah satu-satunya jembatan antara desa kecil ini dan kota besar yang telah menelannya.
Karena jika ia berhenti menulis, ia takut ia akan kehilangan Sekar untuk selamanya.
Pagi itu, langit cerah. Matahari baru saja terbit. Embun masih menempel di daun-daun padi. Burung-burung mulai bernyanyi dari kejauhan.
Arga duduk di beranda rumahnya, menyesap kopi hitam buatan ibunya. Pahit. Panas. Membakar tenggorokan. Tapi ia terbiasa. Setahun yang lalu, ia tidak bisa minum kopi tanpa meringis. Kini, kepahitan itu sudah menjadi teman. Seperti kepahitan hidup yang perlahan-lahan ia telan setiap hari.
"Le," panggil Sukmawati dari dapur.
"Iya, Bu."
"Kamu sudah sarapan?"
"Belum, Bu. Nanti saja."
"Jangan nanti. Nanti perutmu sakit."
"Iya, Bu. Sebentar."
Sukmawati keluar dari dapur dengan sepiring nasi dan lauk sederhana. Ia duduk di samping Arga. "Le, Ibu mau bicara."
"Tentang apa, Bu?"
"Tentang masa depanmu."
Arga menoleh. "Masa depan aku?"
"Iya. Kamu sudah tidak sekolah. Kamu hanya membantu ayahmu di sawah. Itu tidak cukup, Le. Kamu butuh sesuatu yang lebih."
"Seperti apa, Bu?"
"Seperti bekerja. Di kota. Di pabrik. Di toko. Di mana pun. Asal kamu punya penghasilan."
"Tapi, Bu, aku tidak bisa meninggalkan desa. Aku harus menunggu Sekar."
"Kamu bisa menunggu sambil bekerja, Le. Kamu tidak harus diam di sini. Sekar juga tidak akan bahagia kalau kamu hanya diam dan tidak melakukan apa-apa."
Arga terdiam. Ia memikirkan kata-kata ibunya. Mungkin benar. Mungkin ia tidak harus diam. Mungkin ia bisa bekerja. Mungkin ia bisa menghasilkan uang. Mungkin ia bisa membangun masa depan. Untuk dirinya. Untuk keluarganya. Untuk Sekar.
"Tapi, Bu, aku takut," kata Arga.
"Takut apa?"
"Aku takut kalau aku pergi, Sekar pulang, dan aku tidak ada di sini."
"Kamu bisa titip pesan pada kami. Pada Ratri. Pada Mbah Jayarasa. Pada siapa pun. Sekar akan tahu bahwa kamu bekerja. Dia akan mengerti."
"Apakah dia akan mengerti?"
"Iya, Le. Dia perempuan yang baik. Dia tidak akan marah. Dia justru akan bangga."
Siang itu, Arga pergi ke rumah Mbah Jayarasa.
Rumah tua itu masih berdiri kokoh di ujung desa, di balik rumpun bambu yang lebat. Halamannya ditumbuhi rumput liar dan semak-semak. Tapi ada sesuatu yang damai di sana. Sesuatu yang tidak ia temukan di tempat lain.
"Mbah," panggil Arga sambil mengetuk pintu.
Dari dalam terdengar suara Mbah Jayarasa yang parau. "Masuk, Le. Pintu tidak dikunci."
Arga masuk.
Mbah Jayarasa duduk di kursi bambu, menghadap ke dapur yang gelap. Di depannya ada secangkir teh jahe yang masih mengepul.
"Mbah sehat?" tanya Arga.
"Masih diberi umur panjang sama Tuhan," jawab Mbah Jayarasa. "Kamu ada perlu?"
Arga duduk di kursi seberang Mbah Jayarasa. "Mbah, aku mau minta nasihat."
"Nasihat tentang apa?"
"Tentang masa depan. Ibuku bilang, aku harus bekerja. Di kota. Tapi aku takut meninggalkan desa."
Mbah Jayarasa menghela napas. Ia menyesap teh jahenya. "Kamu tahu, Le, dulu ketika aku masih muda, aku juga pernah pergi."
"Pergi ke mana, Mbah?"
"Ke kota. bekerja. selama lima tahun."
"Lalu?"
"Aku pulang. Karena istriku sakit. Tapi dia sudah meninggal ketika aku sampai di sini."
Arga terdiam. "Maaf, Mbah. Aku tidak tahu."
"Tidak apa. Itu sudah lama sekali. Tapi satu hal yang aku pelajari dari perjalanan itu, Le. Bahwa kadang, kita harus pergi untuk bisa kembali."
"Maksud Mbah?"
"Maksudku, jangan takut pergi. Karena pergi bukan berarti meninggalkan. Pergi adalah bagian dari perjalanan pulang."
Arga memikirkan kata-kata Mbah Jayarasa.
Pergi adalah bagian dari perjalanan pulang.
Mungkin benar.
Mungkin ia harus pergi.
Bukan untuk melupakan.
Bukan untuk mencari yang baru.
Tapi untuk mempersiapkan masa depan.
Untuk Sekar.
Untuk mereka berdua.
"Mbah," kata Arga lagi.
"Iya, Le."
"Apa Mbah punya kenalan di kota? Yang bisa memberikan aku pekerjaan?"
Mbah Jayarasa tersenyum. "Ada. Keponakanku. Dia punya toko bangunan di kota. Dia selalu butuh orang jujur dan pekerja keras."
"Bolehkah aku dikenalkan?"
"Boleh. Tapi kamu harus siap, Le. Bekerja di kota tidak mudah. Hidup di kota tidak sederhana seperti di desa."
"Aku siap, Mbah."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin."
"Baik. Aku akan tulis surat untuknya. Kamu bawa surat itu. Kasihkan padanya. Dia akan memberimu pekerjaan."
Arga pulang dengan hati yang campur aduk.
Senang. Sedih. Takut. Berani. Semuanya bercampur menjadi satu. Seperti sayur asem yang terlalu banyak bumbu.
"Bu," panggil Arga ketika sampai di rumah.
"Iya, Le."
"Aku akan bekerja di kota."
Sukmawati menghentikan sapuannya. "Serius?"
"Serius. Mbah Jayarasa punya kenalan di sana. Dia akan membantu."
"Kapan kamu berangkat?"
"Minggu depan."
Sukmawati berjalan mendekat. Ia memeluk anaknya. "Ibu tidak siap."
"Aku juga tidak siap, Bu. Tapi aku harus berani."
"Ibu bangga sama kamu, Le."
"Makasih, Bu."
Minggu depan tiba lebih cepat dari yang Arga kira.
Hari-hari terasa seperti air yang mengalir deras, tidak bisa ditahan, tidak bisa diperlambat.
Pagi itu, Arga sudah bersiap sejak subuh.
Ia membawa satu koper kecil berisi pakaian, surat-surat dari Sekar, bantal kecil dari kebaya Sekar, bekal makanan dari ibunya, dan doa dari ayahnya.
"Kamu ingat pesan Ayah?" tanya Sastro.
"Ingat, Yah. Jaga diri. Jangan mudah percaya sama orang asing. Jangan lupa salat. Jangan lupa makan. Jangan lupa pulang."
"Yang paling penting, jangan lupa pulang, Le."
"Iya, Yah. Aku tidak akan lupa."
Sukmawati menangis. Ia memeluk Arga sekian lama. "Le, Ibu titip kamu sama Tuhan. Jaga kesehatan. Jangan pelit-pelit sama diri sendiri. Kalau butuh uang, telepon Ibu. Ibu akan kirim."
"Jangan nangis, Bu. Aku cuma bekerja. Bukan perang."
"Air mata ibu itu tidak kenal waktu, Le. Bisa kapan saja."
Arga tersenyum. Ia mencium tangan ayah dan ibunya. Lalu berjalan menuju gerbang desa.
Ratri sudah menunggu di depan pagar rumahnya.
Matanya merah. Tangannya memegang sekantong jambu air.
"Untuk bekal di jalan," kata Ratri sambil menyerahkan kantong itu.
"Makasih, Rat."
"Hati-hati di sana."
"Iya."
"Jangan lupa kabari aku."
"Iya."
"Jangan lupa makan."
"Iya."
"Jangan lupa tidur."
"Iya."
"Jangan lupa... jangan lupa sama aku."
Arga menatap Ratri. Teman masa kecilnya. Sahabatnya. Perempuan yang selalu setia di sampingnya, bahkan ketika ia jatuh cinta pada orang lain.
"Aku tidak akan lupa, Rat. Kamu sahabat terbaikku."
Ratri tersenyum. Senyum yang dipaksakan. Senyum yang menyembunyikan sesuatu. Senyum yang membuat Arga bertanya-tanya, tapi memilih untuk tidak bertanya.
"Pergilah," kata Ratri. "Sebelum aku berubah pikiran dan melarangmu pergi."
Arga tertawa. "Kamu bukan tipe orang yang melarang."
"Kamu benar. Aku bukan. Jadi pergilah."
Arga sampai di gerbang desa.
Ia menoleh ke belakang. Memandang desa Wringinrejo untuk terakhir kalinya—setidaknya untuk sementara waktu.
Desa kecil dengan sawah yang membentang luas. Dengan sungai yang mengalir tenang. Dengan pohon randu yang menjulang tinggi. Dengan rumah-rumah kayu yang sederhana. Dengan orang-orang yang ramah dan hangat.
Desa tempat ia dilahirkan. Desa tempat ia dibesarkan. Desa tempat ia jatuh cinta. Desa tempat ia patah hati. Desa tempat ia belajar tentang kehidupan.
"Desa," bisik Arga, "aku akan kembali. Suatu hari nanti. Dengan Sekar. Atau tanpa Sekar. Tapi aku akan kembali."
Ia menoleh ke depan.
Jalan panjang terbentang di hadapannya.
Jalan yang akan membawanya ke kota.
Jalan yang akan membawanya ke pekerjaan.
Jalan yang akan membawanya ke masa depan.
Jalan yang tidak akan pernah ia lalui jika Sekar tidak pergi.
"Mungkin," pikir Arga, "ini yang namanya takdir. Sekar pergi, aku menyusul. Bukan karena aku ingin. Tapi karena aku harus."
Ia melangkah.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Tidak menoleh lagi.
Tidak menangis lagi.
Hanya berjalan.
Menuju fajar baru.
Menuju harapan baru.
Menuju cinta yang tidak akan pernah mati.
Di kejauhan, di kota yang jauh, Sekar berdiri di balkon rumahnya.
Ia memandang ke arah selatan.
Ke arah desa.
Ke arah Arga.
Ia tidak tahu bahwa Arga sedang dalam perjalanan menuju kota yang sama. Ia tidak tahu bahwa takdir sedang mempertemukan mereka lagi. Ia tidak tahu bahwa hari-hari penantiannya akan segera berakhir.
Tapi ia merasakan sesuatu.
Kehangatan di dadanya.
Seperti ada seseorang yang sedang mendekat.
Seperti ada seseorang yang sedang berusaha menjangkaunya.
Seperti ada seseorang yang sedang berjuang untuknya.
"Arga," bisiknya, "aku merindukanmu. Aku tidak sabar untuk bertemu denganmu lagi. Aku tidak sabar untuk memelukmu. Aku tidak sabar untuk mengatakan bahwa aku masih mencintaimu. Aku tidak sabar untuk memulai hidup baru bersamamu."
Dan di kejauhan, di jalan panjang menuju kota, Arga tersenyum.
Ia merasakan sesuatu.
Kehangatan di dadanya.
Seperti ada seseorang yang sedang memikirkannya.
Seperti ada seseorang yang sedang merindukannya.
Seperti ada seseorang yang sedang menunggunya.
"Sekar," bisiknya, "aku datang. Aku akan menjemputmu. Tunggu aku."
Lima jam kemudian, Arga tiba di kota.
Hiruk-pikuk. Mobil. Orang. Gedung-gedung tinggi. Debu. Polusi. Panas. Semuanya berbeda dengan desa.
Ia merasa asing.
Ia merasa kecil.
Ia merasa tersesat.
Tapi ia tidak menyerah.
Ia mencari alamat toko bangunan kepunyaan keponakan Mbah Jayarasa. Ia menanyakan pada orang-orang yang lewat. Ia tersesat beberapa kali. Ia hampir putus asa. Tapi akhirnya ia sampai.
Tokonya besar. Dindingnya dari batu bata merah. Atapnya dari seng. Halamannya penuh dengan pasir, batu bata, semen, dan kayu-kayu panjang.
"Ada yang bisa dibantu?" tanya seorang laki-laki paruh baya dengan kumis tebal dan perut buncit.
"Saya cari Pak Bondan," jawab Arga.
"Saya Bondan. Kamu siapa?"
"Saya Arga. Dikirim oleh Mbah Jayarasa."
Pak Bondan mengerutkan kening. "Mbah Jayarasa? Paman saya?"
"Iya, Pak. Mbah Jayarasa minta saya menyampaikan surat ini."
Arga menyerahkan surat itu.
Pak Bondan membacanya. Matanya bergerak dari baris pertama hingga terakhir. Lalu ia memandang Arga. "Kamu keponakan Mbah Jayarasa?"
"Bukan. Saya warga desa. Anak dari Sastro dan Sukmawati."
"Kamu mau bekerja di sini?"
"Iya, Pak."
"Kamu bisa apa?"
"Saya bisa angkat barang. Saya bisa bantu jualan. Saya bisa apa pun yang Bapak perintahkan."
Pak Bondan tersenyum. "Kamu jujur. Aku suka. Besok kamu mulai kerja. Sekarang, kamu cari kontrakan dulu. Ada kos-kosan di belakang toko. Murah. Kamu bisa tinggal di sana."
"Terima kasih, Pak."
Arga menemukan kos-kosan di belakang toko.
Ruangan kecil. Hanya muat satu dipan, satu lemari, satu meja. Lantainya dari semen. Dindingnya dari bata tanpa plester. Lampu bohlam 5 watt yang redup. Kamar mandi di luar, bersama dengan penghuni kos lainnya.
Tapi itu cukup.
Ia tidak butuh mewah.
Ia butuh tempat untuk tidur. Tempat untuk istirahat. Tempat untuk menulis surat untuk Sekar.
Arga membuka kopernya.
Ia mengeluarkan bantal kecil dari kebaya Sekar. Ia letakkan di atas dipan. Ia menciumnya.
"Aku di sini, Sekar," bisiknya. "Di kota yang sama denganmu. Di tempat yang mungkin tidak terlalu jauh dari tempatmu. Tapi aku belum tahu di mana kamu tinggal. Aku belum tahu bagaimana cara menemuimu."
Ia menghela napas.
"Tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan mencari. Aku akan bertanya. Aku akan berusaha. Sampai aku menemukanmu."
Malam itu, di kamar kos yang sempit dan pengap, Arga menulis surat untuk Sekar.
Bukan untuk dikirim lewat kantor pos.
Tapi untuk dibaca sendiri.
Sebagai pengingat.
Sebagai harapan.
Sebagai doa.
"Untuk Sekar, perempuan yang masih kucintai."
"Hari ini, aku memulai hidup baru di kota."
"Aku takut. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Aku tidak tahu apakah aku bisa bertahan. Aku tidak tahu apakah aku bisa menemukanmu."
"Tapi satu hal yang aku tahu. Aku tidak akan menyerah. Karena kamu ada di kota ini. Kamu ada di suatu tempat. Di balik gedung-gedung tinggi ini. Di balik jalan-jalan ramai ini. Di balik jutaan orang yang lalu lalang tanpa saling mengenal."
"Dan suatu hari—mungkin tidak sekarang, mungkin tidak besok, mungkin tidak lusa—kita akan bertemu. Bukan di desa. Tapi di kota ini. Di tempat yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya."
"Doakan aku, Sekar. Seperti aku selalu mendoakanmu."
"Dari Arga, yang sekarang juga di kota."
Ia melipat surat itu.
Ia menyimpannya di dalam lemari, di sebelah bantal kecil dari kebaya Sekar.
Ia memejamkan mata.
Ia tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah setahun, ia tidur dengan tenang.
Tanpa mimpi buruk.
Tanpa air mata.
Tanpa rasa takut.
Hanya tidur.
Seperti anak kecil yang lelah bermain seharian.
Seperti petani yang selesai panen.
Seperti pengembara yang akhirnya menemukan tempat untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.
BAGIAN II: PETA DI BAWAH BINTANG
Kidung Pembuka
Mlaku ing dalan ora ngerti wektu,
Langit gemerlap nanging ati peteng,
Nggawa peta sing durung ana garisan,
Nggoleki wong sing ilang ing tengah kalangan.
Malam sebelum Arga berangkat ke kota, desa Wringinrejo tenggelam dalam keheningan yang aneh.
Bukan keheningan seperti biasanya. Bukan keheningan yang nyaman, yang membuat orang bisa tidur nyenyak setelah seharian bekerja di sawah. Bukan keheningan yang diisi suara jangkrik dan kodok dan angin yang berbisik di antara daun, daun pisang.
Ini keheningan yang lain.
Keheningan yang tegang.
Keheningan yang seperti menahan napas terlalu lama.
Arga duduk di beranda rumahnya. Lampu minyak di sampingnya menyala redup, membuat bayangannya memanjang dan bergetar di dinding papan yang sudah usang. Di pangkuannya, ia memegang bantal kecil dari kebaya Sekar, kebaya yang dulu ia ambil dari rumah kosong itu, kebaya yang masih menyimpan wangi sekar meskipun semakin lama semakin memudar.
Jari, jarinya yang kasar karena bekerja di sawah menyentuh kain tipis itu dengan lembut. Sangat lembut. Seperti menyentuh sesuatu yang sangat berharga dan takut rusak.
"Masih belum tidur?"
Suara itu membuat Arga menoleh. Sukmawati berdiri di pintu, masih mengenakan kain jarik lusuh dan kebaya lengan panjang yang sudah kusam. Wajahnya tidak muda lagi. Garis, garis lelah terukir di dahi dan sudut matanya. Tapi matanya, matanya masih sama seperti dua puluh tahun lalu ketika ia menggendong Arga kecil dan berbisik bahwa anaknya istimewa.
"Belum, Bu," jawab Arga.
Sukmawati berjalan mendekat. Ia duduk di samping anaknya, di bangku kayu yang sama, di tempat yang sama, di mana bertahun, tahun lalu ia biasa mengajarkan Arga membaca huruf Jawa dengan telunjuk yang digoreskan di tanah.
"Kegatelan mau berangkat?" tanya Sukmawati.
Arga menghela napas. "Kegatelan, Bu. Tapi juga takut."
"Takut apa?"
Arga menunduk. Ia memandang bantal kecil di pangkuannya. "Takut tidak ketemu. Takut dia sudah berubah. Takut aku hanya buang, buang waktu."
Sukmawati tidak langsung menjawab. Ia justru memandang langit malam yang gelap tanpa bintang. Kemarin malam ada badai kecil yang melanda desa. Angin merobohkan pohon pisang di belakang rumah. Hujan mengguyur sampai subuh. Dan sekarang, langitnya masih menyisakan sisa, sisa mendung yang enggan pergi.
"Kamu tahu, Le," kata Sukmawati akhirnya, "Ibu dulu juga pernah mengalami yang namanya menunggu."
Arga menatap ibunya. "Ayah?"
Sukmawati tersenyum tipis. "Bukan. Sebelum ayahmu."
"Ini cerita yang dulu Ibu bilang tidak menarik?"
"Ya. Ini cerita yang tidak menarik." Sukmawati berhenti sejenak. "Tapi mungkin kamu butuh mendengarnya."
Arga diam. Ia memberi isyarat pada ibunya untuk melanjutkan.
"Waktu Ibu masih muda, sekitar umurmu sekarang, Ibu dekat dengan seorang laki, laki dari kota. Namanya Bagas. Dia anak seorang saudagar yang sering berdagang ke desa ini." Sukmawati memandang ke kejauhan, ke arah sawah yang gelap. "Dia tampan. Pintar. Ramah. Semua perempuan di desa ini iri pada Ibu."
"Lalu kenapa Ibu tidak menikah dengan dia?"
"Karena dia harus kembali ke kota. Dan Ibu harus tinggal di desa. Orang tua Ibu sudah tua. Tidak ada yang menjaga mereka selain Ibu."
"Bagas tidak mau menunggu?"
"Dia bilang dia akan menunggu. Tapi surat, suratnya semakin jarang. Kemudian berhenti sama sekali. Beberapa tahun kemudian, Ibu dengar dia menikah dengan anak seorang saudagar kaya di kotanya."
Sukmawati berbicara dengan datar. Seolah sedang menceritakan kisah orang lain, bukan kisahnya sendiri.
"Ibu sedih?"
"Sangat. Ibu tidak makan tiga hari. Ibu tidak keluar rumah seminggu. Ibu menangis setiap malam sampai mata Ibu bengkak dan hidung Ibu mampet."
"Lalu bagaimana Ibu bisa bertahan?"
Sukmawati menatap anaknya. Matanya yang keruh karena usia tiba, tiba terlihat jernih. "Karena Ibu sadar bahwa yang pergi memang bukan jodoh Ibu. Jodoh Ibu adalah ayahmu. Laki- laki desa yang tidak pernah bikin surat cinta, tidak pernah bikin puisi, tidak pernah bikin janji-janji manis, tapi setiap hari pergi ke sawah dan membawa pulang beras untuk keluarga."
Arga terdiam. Ia memikirkan kata, kata ibunya.
"Kamu mau Ibu teruskan ceritanya?" tanya Sukmawati.
"Tidak perlu, Bu. Akirnya sudah bisa menebak."
"Bagus. Karena Ibu juga tidak suka mengingat, ngingat masa lalu."
Sukmawati berdiri. Ia hendak masuk ke dalam rumah, tetapi tiba, tiba berhenti.
"Le."
"Iya, Bu."
"Satu pesan Ibu sebelum kamu berangkat."
Arga menatap ibunya.
"Jangan pernah lupa pulang."
"Pulang ke mana, Bu?"
Sukmawati tersenyum. "Ke desa ini. Ke rumah ini. Ke Ibu. Ke Ayah. Ke semua yang mencintaimu."
Arga mengangguk. "Aku tidak akan lupa, Bu."
"Bagus. Sekarang tidur. Besok kamu harus bangun pagi."
Pukul tiga pagi, Arga sudah bangun.
Ia tidak tidur nyenyak semalaman. Pikirannya melayang ke mana, mana. Kadang ke Sekar. Kadang ke Jatmika. Kadang ke sungai. Kadang ke pohon randu. Kadang ke senja, senja ketika ia dan Sekar duduk bersama tanpa banyak bicara.
Ia mandi dengan air dingin dari sumur. Kesegarannya membuat tubuhnya bergidik.
Ia memakai pakaian terbaiknya. Kemeja putih lengan panjang pemberian ibunya. Celana bahan hitam yang sedikit kebesaran. Sandal jepit karet yang masih baru.
Ia mengecek kopernya sekali lagi.
Bantal kecil dari kebaya Sekar? Ada.
Tumpukan surat yang tidak pernah dibalas? Ada.
Minyak wangi kenanga dari makam Mbah Raras? Ada.
Uang bekal dari ibunya? Ada.
Peta usang dari Mbah Jayarasa? Ada.
Ia mendesah lega. Semua sudah siap.
Dari dapur, terdengar suara ibunya memasak. Aroma nasi goreng dan telur dadar mulai menyebar ke seluruh rumah.
Arga berjalan ke dapur. Sukmawati sedang membalik telur dadar di wajan tanah liat. Sastro duduk di kursi bambu, mengasah aritnya meskipun sudah tajam.
"Ibu masak apa?" tanya Arga.
"Nasi goreng. Telur dadar. Kamu harus makan banyak. Perjalanan ke kota lama."
"Tidak usah banyak, banyak, Bu. Nanti saya mabuk di bis."
"Kamu tidak akan mabuk. Kamu anak desa. Anak desa tidak mabuk di bis. Kamu hanya akan mabuk kalau naik perahu."
Arga tertawa. "Ibu ini."
Mereka makan berdua. Sastro ikut menyantap nasi goreng meskipun biasanya ia hanya minum kopi hitam di pagi hari.
"Le," kata Sastro sambil mengunyah.
"Iya, Yah."
"Kamu ingat pesan Ayah?"
Arga menghela napas. "Ayah punya banyak pesan, Yah. Yang mana?"
"Yang paling penting."
"Jangan percaya orang asing?"
"Itu juga penting. Tapi bukan itu."
"Jangan lupa salat?"
"Itu sudah pasti. Tapi bukan itu."
"Jangan boros?"
"Bukan."
Arga mengerutkan kening. "Apa, Yah?"
Sastro meletakkan sendoknya. Ia menatap Arga dengan mata yang tajam—tajam seperti pisau arit yang baru diasah.
"Jangan lupa siapa kamu."
Arga terdiam. "Maksud Ayah?"
"Maksud Ayah, jangan sampai kamu berubah. Jangan sampai kota mengubahmu menjadi orang yang tidak Ayah kenal. Jangan sampai uang mengubahmu menjadi tamak. Jangan sampai kekuasaan mengubahmu menjadi sombong."
Arga mengangguk pelan. "Ayah, saya cari kerja di toko bangunan. Angkat semen. Angkat pasir. Mana ada kekuasaan di sana?"
"Kekuasaan tidak selalu tentang jabatan, Le." Sastro kembali mengambil sendoknya. "Kekuasaan juga tentang uang. Tentang pengaruh. Tentang bagaimana orang melihatmu. Dan kadang, orang desa yang sukses di kota justru paling lupa diri."
"Tidak akan, Yah."
"Saya tidak bisa percaya begitu saja. Saya butuh bukti."
"Buktinya bagaimana, Yah?"
Sastro mulai makan lagi. "Kamu buktikan nanti. Ketika kamu sudah kembali."
Arga tidak menjawab. Ia hanya menunduk, menatap nasi goreng di piringnya yang mulai dingin.
Pukul empat pagi, Arga pamit.
Sastro dan Sukmawati mengantarnya sampai gerbang desa. Perjalanan ke terminal bis naik becak. Becak langganan keluarga mereka, becak milik Pak Karto, tetangga sebelah.
"Le," panggil Sukmawati di perbatasan antara halaman rumah dan jalan tanah.
"Iya, Bu."
Sukmawati memeluk anaknya. Erat. Lama. Arga bisa merasakan dadanya bergetar—bukan karena dingin, tapi karena isak tangis yang tertahan.
"Ibu tidak akan bilang hati, hati," bisik Sukmawati. "Karena orang yang berhati- hati tidak akan pernah sampai ke mana pun. Ibu akan bilang: jadilah berani."
"Baik, Bu."
"Jadilah pintar."
"Baik, Bu."
"Jadilah baik."
"Baik, Bu."
"Dan jadilah..." Sukmawati berhenti. Ia melepaskan pelukannya. Matanya basah.
"Jadilah apa, Bu?"
"Jadilah dirimu sendiri."
Arga tersenyum. Ia mencium tangan ibunya. Lalu mencium tangan ayahnya.
"Ayah jaga Ibu."
"Iya."
"Ayah jangan marah, marah terus."
"Iya."
"Ayah jangan lupa makan."
"Iya, Le. Ayah juga tidak butuh dinasihati."
Arga tertawa. Ia melambaikan tangan. Lalu naik ke becak.
"Pak Karto, jalan."
Becak itu bergerak perlahan. Arga menoleh ke belakang. Sastro dan Sukmawati masih berdiri di perbatasan itu, di bawah pohon mangga tua, di bawah langit yang mulai terang di ufuk timur.
Ia melambaikan tangan sekali lagi.
Mereka juga melambaikan tangan.
Dan kemudian, becak itu berbelok di tikungan. Rumahnya hilang. Pohon mangganya hilang. Sawahnya hilang.
Yang tersisa hanya jalan setapak yang berlumpur, dan langit yang mulai merah, dan hati yang penuh dengan campur aduk perasaan.
Di terminal, Pak Karto menurunkan Arga.
"Ini, Le," katanya sambil menunjuk ke arah bus besar berwarna biru tua yang terparkir di pojok terminal. "Itu bus jurusan kota. Berangkat jam setengah lima. Masih ada waktu dua puluh menit. Kamu bisa beli jajan dulu."
"Terima kasih, Pak Karto."
"Sama, sama. Salam buat Sekar kalau ketemu."
Arga tersenyum. "Saya sampaikan, Pak."
Pak Karto pergi dengan becaknya. Arga berdiri sendirian di tengah terminal yang mulai ramai. Pedagang asongan berteriak, teriak menawarkan rokok, permen, dan minuman dingin. Anak, anak kecil berlarian di antara koper dan karung. Beberapa orang tidur di bangku kayu dengan kardus menutupi wajah mereka.
Arga membeli segelas kopi hitam dari pedagang kaki lima. Panas. Pahit. Membakar tenggorokan. Tapi ia terbiasa. Kopi di desanya juga pahit.
Ia duduk di bangku kayu yang agak jauh dari keramaian. Memandang bus biru tua itu. Di kaca depannya tertulis: "PO SUMBER REJEKI. KOTA , DESA , KOTA."
Kota , desa , kota, pikir Arga. Seperti hidup saya. Dari desa ke kota. Dan nanti, saya akan kembali.
Tepat pukul setengah lima, Arga naik ke bus.
Ia memilih kursi dekat jendela. Di sebelahnya belum ada siapa, siapa. Ia meletakkan kopernya di pangkuan. Ia memandang ke luar jendela.
Terminal masih ramai. Pedagang asongan masih berteriak, teriak. Anak, anak masih berlarian. Tapi Arga tidak mendengar suara mereka. Yang ia dengar hanyalah degup jantungnya sendiri.
Duar... duar... duar...
Seperti genderang perang sebelum bertempur.
Seperti alu di lesung saat menumbuk padi.
Seperti langkah kaki yang mengejar sesuatu yang tak pernah cukup dekat untuk diraih.
Bus mulai bergerak.
Perlahan.
Melewati gerbang terminal.
Melewati pasar pagi.
Melewati pertigaan.
Melewati persawahan.
Melewati sungai.
Melewati bukit.
Melewati desa demi desa yang semakin kecil.
Arga memandang semuanya dari balik kaca jendela yang agak buram.
Ia teringat pada rumahnya yang semakin jauh.
Pada ibunya yang masih berdiri di perbatasan halaman.
Pada ayahnya yang melambang dengan tangan kasar.
Pada Mbah Jayarasa yang memberinya peta usang.
Pada Ratri yang menyelipkan jambu air di kopernya.
Pada semua yang ia tinggalkan.
Air matanya jatuh.
Ia tidak menghapusnya.
Ia membiarkannya mengalir.
Karena kadang, menangis adalah cara tubuh mengatakan bahwa kita sedang berduka. Dan berduka adalah bagian dari perjalanan.
Di kursi sebelahnya, seseorang duduk.
Arga tidak memperhatikan. Matanya masih tertuju pada jendela.
"Pertama kali ke kota?" suara itu bertanya.
Arga menoleh.
Di sebelahnya duduk seorang laki-laki setengah baya dengan kumis tebal dan perut buncit. Ia tersenyum ramah. Di dadanya ada lencana kecil bertuliskan: "PO SUMBER REJEKI , SUPIR".
"Iya, Pak," jawab Arga.
"Nanti turun di terminal kota. Saya antar sampai sana."
"Terima kasih, Pak."
Laki, laki itu mengulurkan tangan. "Saya Hardiman. Orang biasa panggil Pak Man."
"Arga, Pak."
"Arga," Pak Man mengulangi. "Nama yang bagus. Berat."
"Orang tua saya yang memberi."
"Mereka pasti punya harapan besar padamu."
Arga tersenyum tipis. "Mungkin."
Pak Man mengeluarkan sebungkus rokok dari saku bajunya. Ia menawarkan pada Arga. Arga menolak dengan sopan. Pak Man mengangkat bahu, lalu menyalakan sebatang untuk dirinya sendiri.
"Jadi, Arga dari desa mana?"
"Wringinrejo, Pak. Kecil. Jauh dari sini."
"Ada keluarga di kota?"
"Tidak ada."
"Teman?"
"Belum ada."
"Kerja sudah dapat?"
"Belum. Tapi saya akan cari."
Pak Man mengisap rokoknya. Asapnya mengepul ke luar jendela yang dibuka sedikit.
"Berani sekali kamu, Nak. Pergi ke kota tanpa kenal siapa, siapa."
"Bukan berani, Pak. Terpaksa."
"Terpaksa?"
Arga diam sejenak. Ia memandang ke luar jendela lagi. Sawah sudah berganti kebun. Kebun sudah berganti perkebunan. Perkebunan sudah berganti hutan jati.
"Seseorang yang saya cari, Pak," katanya pelan, "dia dibawa paksa ke kota. Dijodohkan dengan laki, laki lain. Saya tidak bisa diam di desa sementara dia mungkin menangis setiap malam."
Pak Man berhenti mengisap rokoknya. Ia menatap Arga.
"Kamu mencintainya?"
"Ya."
"Dan dia?"
"Katanya juga."
"Katanya?"
Arga tersenyum pahit. "Kami belum sempat bicara banyak. Kami hanya saling mengirim surat. Tapi surat, surat saya tidak pernah dibalas karena orang tuanya menyembunyikan. Surat, surat dia nyaris hilang."
Pak Man menghela napas panjang. Ia membuang puntung rokoknya ke luar jendela.
"Dengar, Nak," katanya. "Saya sudah puluhan tahun jadi supir bis. Saya lihat banyak anak muda seperti kamu. Datang ke kota dengan harapan setinggi gunung. Tapi kebanyakan pulang dengan luka di hati dan kantong kosong."
"Jadi menurut Pak Man, saya harus pulang sekarang?"
"Tidak. Saya tidak bilang begitu. Saya hanya bilang, kota ini tidak seperti desamu. Di desa, orang saling kenal. Di kota, orang bisa tinggal bertahun, tahun di lorong yang sama tapi tidak tahu nama tetangganya."
"Saya tidak butuh mereka kenal. Saya hanya butuh satu orang."
"Kamu yakin bisa menemukannya?"
"Tidak. Tapi saya harus mencoba."
Pak Man terdiam. Lalu ia tertawa kecil.
"Kamu keras kepala, Nak. Saya suka itu."
Ia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Selembar kartu nama yang sudah lusuh. Tulisannya mulai pudar, tapi masih bisa dibaca.
"Ini," katanya sambil menyerahkan kartu itu. "Toko bangunan punya teman saya. Namanya Pak Bondan. Orangnya baik. Suka membantu anak desa yang baru datang. Bilang saja saya yang kirim."
Arga menerima kartu itu. Dibaliknya. Dibacanya perlahan.
Toko Bangunan Tujuh Sembilan. Jalan Mawar Hitam Nomor 7.
"Terima kasih, Pak Man, saya juga ada dikasih alamat dari mbah Jayarasa."
"Oh, ya, Jangan berterima kasih dulu. Kerja di toko bangunan itu berat. Angkat pasir, angkat semen, angkat batu bata. Gajinya tidak besar. Tapi cukup untuk makan dan sewa kontrakan."
"Saya terbiasa kerja berat, Pak."
"Bagus. Itu modal utama anak desa di kota: tahan banting."
Bus terus melaju.
Hutan jati berganti perkebunan sawit.
Perkebunan sawit berganti pemukiman penduduk.
Pemukiman penduduk berganti perumahan.
Perumahan berganti gedung, gedung bertingkat.
Gedung, gedung bertingkat berganti gedung, gedung pencakar langit.
Arga tidak pernah melihat gedung setinggi itu. Di desanya, rumah tertinggi hanya dua lantai. Itu pun milik Pak Lurah yang kaya raya. Tapi di sini, gedung, gedung itu menjulang seperti raksasa beton yang sombong. Mereka menertawakan Arga. Menertawakan Arga yang hanya membawa koper kecil dan peta usang.
"Kita sudah hampir sampai," kata Pak Man. "Dua jam lagi."
Arga mengangguk. Ia tidak tahu harus merasakan apa. Senang? Takut? Bingung? Semua bercampur menjadi satu.
Ia mengeluarkan peta usang dari saku celananya.
Dibukanya.
Garis, garis kusam. Lingkaran merah di tengah. Tulisan kecil di pinggir: "Di sini, dia pernah menangis."
Mbah Jayarasa bilang peta ini akan membawanya ke tempat yang seharusnya.
Tapi Arga tidak mengerti.
Peta itu terlalu abstrak.
Terlalu misterius.
Terlalu... seperti Mbah Jayarasa.
"Peta apa itu, Nak?" tanya Pak Man.
"Peta dari tetua desa saya," jawab Arga.
"Untuk apa?"
"Katanya, ini akan membawa saya ke Sekar."
Pak Man mengambil peta itu. Diamatinya. Lalu ia tertawa keras.
"Apa ini? Garis, garis tidak jelas. Lingkaran merah tanpa nama. Tulisan 'di sini, dia pernah menangis'? Ini bercanda, Le?"
"Tidak, Pak. Mbah Jayarasa tidak pernah bercanda."
"Kamu percaya?"
"Lebih percaya dari pada omongan anak muda."
Pak Man menggeleng, geleng. "Kamu aneh, Le."
"Saya tahu."
"Tapi saya suka keanehanmu. Orang aneh biasanya punya cerita menarik."
Ia mengembalikan peta itu pada Arga. "Simpan baik, baik. Siapa tahu memang benar ada tuahnya."
Terminal kota terlihat dari kejauhan.
Lampu, lampu neon menyala terang meskipun hari masih sore. Orang, orang berlalu lalang dengan wajah lelah. Becak, taksi, dan angkutan kota berebut penumpang.
Bis berhenti dengan bunyi desisan udara.
"Kita sudah sampai, Nak," kata Pak Man. "Turun di sini."
Arga berdiri. Ia mengambil kopernya dari rak bagasi. Sebelum turun, ia menoleh pada Pak Man.
"Pak."
"Iya."
"Terima kasih. Saya tidak akan lupa kebaikan Bapak."
Pak Man tersenyum. "Jangan lupa diri sendiri juga, Nak. Itu lebih penting."
Arga turun dari bis.
Kakinya menginjak aspal panas.
Udara kota menyambutnya: panas, lembab, bau asap kendaraan, bau debu, bau makanan dari pedagang kaki lima.
Ia berdiri di tengah terminal.
Memutar tubuhnya perlahan.
Mencoba menyerap semuanya.
Gedung, gedung tinggi.
Lampu, lampu neon.
Orang, orang yang berlalu lalang tanpa saling menatap.
Arga kecil dalam pusaran ini.
Hanya titik hitam di antara jutaan titik hitam lainnya.
Tidak ada yang peduli.
Tidak ada yang melihat.
Tidak ada yang tahu siapa dia.
Arga menarik napas panjang.
Lalu ia berkata pada dirinya sendiri:
"Aku sudah sampai, Sekar. Di kota yang sama denganmu. Di suatu tempat. Mungkin dekat. Mungkin jauh. Tapi aku di sini."
Ia memegang peta usang di saku celananya.
"Dan aku tidak akan berhenti sampai menemukanmu."
BAB 1
KOTA YANG TAK PERNAH TIDUR
Terminal bis kota terasa seperti dunia yang berbeda dari semua yang pernah Arga kenal.
Dunia yang ia tinggalkan dua belas jam yang lalu adalah dunia di mana ayam jantan berkokok sebelum matahari terbit. Dunia di mana kabut tipis menggantung di atas pematang sawah. Dunia di mana udara dingin menusuk hidung setiap pagi. Dunia di mana orang saling menyapa meskipun tidak kenal.
Tapi dunia di sini, dunia yang baru saja menelannya bulat, bulat, adalah dunia di mana klakson berbunyi lebih keras dari suara manusia. Dunia di mana asap kendaraan memenuhi paru, paru. Dunia di mana orang berjalan cepat dengan wajah datar, seolah sedang dikejar sesuatu yang tidak pernah terlihat.
Arga berdiri di tengah terminal, memutar tubuhnya perlahan. Kopernya yang kecil terasa berat di tangan kirinya. Di tangan kanannya, ia masih memegang peta usang pemberian Mbah Jayarasa, meskipun ia sadar peta itu sama sekali tidak berguna di tempat asing ini.
Di mana saya harus pergi?
Pertanyaan itu berputar di kepalanya seperti air dalam kendi yang tidak pernah berhenti bergerak.
Ia mencoba mengingat, ingat pesan terakhir Mbah Jayarasa sebelum berangkat.
"Di kota, kau akan belajar satu hal: tidak semua orang yang tersenyum padamu adalah teman. Dan tidak semua orang yang membanting pintu di depanmu adalah musuh."
Arga menghela napas.
Nasihat yang sangat membantu, Mbah. Terima kasih.
Ia melipat peta itu dan memasukkannya kembali ke saku celana. Lalu ia berjalan perlahan menuju pintu keluar terminal, berusaha terlihat percaya diri meskipun hatinya berdebar seperti genderang perang.
"Mas! Mas!" suara seorang perempuan memanggil dari arah kiri.
Arga menoleh.
Seorang perempuan muda berdiri di dekat kios koran. Wajahnya bulat, matanya besar, rambutnya diikat kuda poni. Ia tersenyum ramah. Di tangannya ada setumpuk koran bekas yang diikat tali rafia.
"Mas dari desa, ya?" tanya perempuan itu.
Arga mengerutkan kening. "Kelihatan?"
"Kelihatan banget," perempuan itu tertawa. "Bawaan orang desa itu beda. Caranya jalan, caranya lihat gedung, gedung tinggi, caranya pegang koper. Semua beda."
"Kok Bisa Mbak tahu? Mbak juga dari desa?"
Perempuan itu mengangguk. "Dulu. Sekarang sudah lima tahun di kota. Nama saya Dewi. Kerja di toko roti dekat sini."
"Arga."
"Arga," Dewi mengulangi. "Nama yang bagus. Berat."
"Sudah tiga orang bilang begitu hari ini. Supir bis, Mas, mas di terminal, sekarang Mbak."
"Berarti itu pertanda bagus. Orang yang punya nama berat biasanya ditakdirkan untuk hal, hal besar."
Arga tersenyum tipis. "Atau ditakdirkan untuk kerja keras dan tidak pernah istirahat."
Dewi tertawa lagi. Tawanya nyaring, tidak malu, malu. Beberapa orang di sekitar mereka menoleh, tapi Dewi tidak peduli.
"Mas Arga cari tempat tinggal?" tanyanya.
"Iya. Tapi belum tahu harus cari di mana."
"Budget berapa?"
"Maaf?"
"Budget. Uang. Modal. Berapa duit yang Mas siapkan untuk sewa kos?"
Arga merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan uang sisa dari bekal ibunya. Dihitungnya perlahan.
"Ada tiga ratus ribu, Mbak."
Dewi bersiul kecil. "Kecil, Mas. Tapi masih cukup untuk kos murah. Asal Mas tidak pilih, pilih."
"Saya tidak pilih, pilih. Yang penting ada atap."
"Bagus. Saya tahu tempat kos murah di belakang pasar. Jauhnya sekitar dua kilometer dari sini. Mau saya antar?"
Arga ragu sejenak. Ia ingat pesan ayahnya: jangan percaya orang asing.
Tapi Dewi, ada sesuatu di matanya yang membuat Arga merasa tidak perlu curiga. Mungkin karena matanya mirip dengan mata ibunya. Atau mungkin karena ia terlalu lelah untuk berpikir jernih.
"Baik, Mbak. Tolong antar. Saya traktir makan nanti."
"Janji, ya?" Dewi mengangkat jari kelingkingnya.
"Janji." Arga menyambut kelingking Dewi dengan kelingkingnya sendiri.
Mereka berjalan keluar dari terminal.
Dewi berjalan di depan, sesekali menoleh untuk memastikan Arga masih mengikuti. Ia berbicara tanpa henti, tentang kota, tentang pekerjaannya, tentang pemilik toko roti yang galak, tentang pelanggan yang pelit, tentang segala hal yang tidak Arga pahami.
"Ini," kata Dewi ketika mereka sampai di sebuah gang sempit di antara dua gedung. "Gang ini pintasannya. Kalau lewat jalan raya, bisa makan waktu satu jam. Lewat sini, cuma lima belas menit."
Gang itu gelap. Sangat gelap. Matahari sudah hampir tenggelam, dan gang ini tidak punya lampu penerangan.
"Kok gelap, Mbak?" tanya Arga.
"Ya iyalah. Ini gang. Mana ada lampu di gang? Nanti kalau sudah lewat, ada pasar. Terang di sana."
"Banyak orang jahat di sini?"
Dewi tertawa. "Banyak. Tapi kalau Mas tidak bawa barang berharga, mereka tidak akan ganggu."
"HP saya cuma sepuluh ribu. Itu juga bekas."
"Ya sudah aman. Ayo."
Mereka berdua masuk ke gang gelap itu.
Arga merasakan dingin merambat di tengkuknya. Bukan dingin karena suhu, tapi dingin karena insting yang mengatakan bahwa tempat ini tidak aman. Ia mempercepat langkahnya, berusaha tetap di belakang Dewi meskipun hampir tidak bisa melihat apa, apa.
"Mas Arga," suara Dewi dari depan.
"Iya."
"Kamu cari siapa di kota? Atau cuma cari kerja?"
Arga terdiam sejenak. "Saya cari seseorang."
"Siapa?"
"Sekar."
"Pacar?"
"Saya harap begitu."
Dewi tidak bertanya lebih lanjut. Mungkin ia merasakan bahwa topik ini terlalu berat untuk dibahas di gang gelap yang penuh dengan bayangan, bayangan mencurigakan.
Mereka keluar dari gang.
Di depan mereka, pasar malam mulai beraktivitas. Lampu, lampu neon berwarna, warni menyala terang. Pedagang, pedagang berteriak menawarkan dagangan. Bau sate, bakso, dan nasi goreng memenuhi udara.
"Ini, Mas," kata Dewi sambil menunjuk sebuah gang lain yang lebih kecil di samping pasar. "Di sana ada kos, kosan. Dua kos, tepatnya. Yang pertama punya Bu Lastri, khusus perempuan. Yang kedua punya Mbok Darmi, campur. Saya sarankan Mas coba ke Mbok Darmi."
"Mbok Darmi orangnya baik?"
Dewi mengangkat bahu. "Baik kalau dibayar. Galak kalau telat bayar. Tapi kosnya murah."
Mereka berjalan menuju gang itu.
Rumah kos milik Mbok Darmi adalah sebuah bangunan tua dengan dinding batu bata setengah jadi. Atapnya dari seng gelombang yang sudah berkarat di beberapa tempat. Halamannya sempit, hanya cukup untuk dua orang berjalan bersisian.
Dewi mengetuk pintu kayu yang sudah lapuk.
"Mbok Darmi!" teriaknya.
Dari dalam terdengar suara perempuan tua yang parau. "Siapa?"
"Dewi, Mbok! Saya bawa orang baru!"
Pintu terbuka dengan bunyi derit panjang.
Di ambang pintu berdiri seorang perempuan gemuk dengan rambut keriting acak, acakan. Wajahnya lebar, kulitnya sawo matang, dan matanya sipit seperti orang yang baru bangun tidur. Ia memakai daster lusuh dan sandal jepit karet.
"Ini siapa?" tanyanya sambil memandang Arga dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Dia Arga, Mbok. Dari desa. Cari kos."
Mbok Darmi mengerutkan kening. "Dari desa mana?"
"Wringinrejo, Mbok. Kecil. Di selatan."
"Jauh sekali. Ada keluarga di sini?"
"Tidak ada, Mbok."
"Kerja?"
"Besok saya cari, Mbok."
Mbok Darmi terdiam. Ia menatap Dewi, lalu kembali pada Arga.
"Saya punya satu kamar kosong di belakang. Kecil. Cuma muat kasur. Tidak ada lemari. Tidak ada meja. Kamar mandi di luar, bareng sama tiga orang lain. Listrik pakai meteran. Bayar per bulan seratus lima puluh."
Arga mengangguk cepat. "Saya ambil, Mbok."
"Saya tidak terima utang. Bayar di muka."
Arga mengeluarkan uang dari saku celananya. Dihitungnya seratus lima puluh ribu. Pas.
"Ini, Mbok."
Mbok Darmi menerima uang itu. Dihitungnya satu per satu. Lalu dimasukkannya ke saku daster.
"Kamar paling ujung belok kiri. Pakai seperlunya. Jangan bawa perempuan. Jangan ribut. Jangan mabuk, mabukan. Jangan bawa teman banyak-banyak. Jangan masak pakai kompor minyak tanah, nanti kebakaran. Jangan pakai setrika listrik kalau tidak mau mati listrik. Jangan, "
"Mbok," potong Dewi. "Nanti Mas Arga lupa. Bilang saja yang penting."
Mbok Darmi mendengus. "Yang penting: bayar tepat waktu. Kalau telat seminggu, saya usir. Sudah, sana ke kamar. Saya mau tidur lagi."
Ia masuk ke dalam tanpa mengucapkan selamat malam.
Dewi tersenyum pada Arga. "Mbok Darmi memang begitu. Kasar, tapi baik. Asal Mas taat aturan, aman."
"Terima kasih, Mbak Dewi. Saya tidak tahu harus bagaimana kalau tidak ada Mbak."
"Jangan berterima kasih dulu. Nanti setelah Mas dapat kerja dan kaya, Mas boleh traktir saya makan."
"Saya belum kaya, Mbak."
"Dulu, saya punya prinsip: tidak usah menunggu kaya untuk berbagi. Berbagilah dengan apa yang ada. Nanti rezeki akan mengikuti."
Arga tersenyum. "Baik, Mbak. Besok siang, saya traktir Mbak makan di warung sate depan pasar."
"Janji?"
"Janji."
Dewi melambai dan berjalan pergi meninggalkan gang sempit itu.
Arga memandangnya sampai bayangannya hilang di tikungan.
Kamar kos itu lebih kecil dari yang ia bayangkan.
Dua meter kali dua meter. Di dalamnya hanya ada satu dipan bambu tipis tanpa seprai, satu kaca jendela kecil di dinding belakang, dan satu lampu bohlam lima watt yang menyala redup.
Dindingnya dari batu bata yang tidak diplester. Debu beterbangan setiap kali angin bertiup dari celah, celah dinding.
Lantainya dari tanah yang dipadatkan. Di beberapa tempat, tanah itu retak dan mengeluarkan bau lembab.
Tapi Arga bersyukur.
Ia meletakkan kopernya di pojok kamar. Lalu duduk di dipan bambu itu.
Dipannya keras. Sangat keras. Bantalnya hanya segumpal kain yang dilipat. Tidak ada guling. Tidak ada selimut.
Tapi ia bersyukur.
Ia membuka koper.
Mengeluarkan bantal kecil dari kebaya Sekar.
Wanginya masih tersisa. Samar. Tapi cukup untuk membuat Arga merasa sedikit lebih tenang.
Ia memeluk bantal itu.
"Aku sudah sampai, Sekar," bisiknya. "Di kota yang sama denganmu. Di suatu tempat. Mungkin dekat. Mungkin jauh. Tapi aku di sini."
Ia memejamkan mata.
Membayangkan Sekar.
Wajahnya yang bulat. Matanya yang sayu. Senyumnya yang tipis. Cara ia memainkan ujung kainnya saat gugup. Cara ia memanggil nama Arga dengan suara pelan.
"Aku akan menemukanmu," bisiknya lagi. "Janji."
Pukul delapan malam, Arga keluar dari kos untuk mencari makan.
Ia berjalan ke pasar malam yang masih ramai. Pedagang, pedagang berteriak, teriak menawarkan dagangan. Lampu, lampu neon berwarna, warni menyala terang. Bau sate, bakso, nasi goreng, dan ikan bakar bercampur menjadi satu aroma yang membuat perutnya keroncongan.
Ia memilih warung nasi goreng di pojok pasar.
"Mbak, nasi goreng satu, telur dadar satu," pesannya.
"Minumnya apa, Mas?" tanya pelayan warung, seorang perempuan muda dengan wajah lelah.
"Es teh."
"Tunggu lima menit."
Arga duduk di kursi plastik yang sedikit goyah. Ia memandangi lalu lalang orang yang lewat. Ada yang masih memakai seragam kantor, ada yang memakai kaos oblong dan sandal jepit, ada yang memakai pakaian tidur, ada yang memakai jas dan dasi.
Betapa beragamnya manusia di kota, pikir Arga. Tapi semua terlihat lelah. Semua terlihat kehabisan waktu.
"Mas, nasi gorengnya."
Arga menoleh. Pelayan itu meletakkan piring berisi nasi goreng dan telur dadar di depannya. Es teh di gelas plastik.
"Terima kasih, Mbak."
"Sama, sama."
Arga makan perlahan.
Nasi gorengnya tidak seenak buatan ibunya. Telur dadarnya terlalu matang. Es tehnya terlalu manis.
Tapi ia makan.
Karena ia butuh tenaga.
Untuk besok.
Untuk mencari kerja.
Untuk mencari Sekar.
Pukul setengah sepuluh, Arga kembali ke kos.
Gang menuju kos masih gelap. Tapi kali ini ia tidak takut. Ia sudah lewat dua kali. Ia hapal jalannya. Belok kiri setelah tiang listrik. Lurus sampai ujung. Belok kanan. Sampai.
Di depan kos, seorang laki-laki muda sedang duduk di kursi plastik sambil merokok. Wajahnya teduh, rambutnya ikal, matanya cekung seperti kurang tidur.
"Baru pindah?" tanya laki, laki itu.
Arga mengangguk. "Baru sampai hari ini."
"Kamar nomor berapa?"
"Belakang. Paling pojok."
"Ooh. Kamarnya Joko. Dia minggu lalu pindah ke kos yang lebih bagus. Katanya dapat kerja di pabrik rokok."
"Siapa nama Mas?"
"Dimas," laki-laki itu mengulurkan tangan. "Penghuni kamar nomor tiga."
Arga menyambut tangannya. "Arga."
"Arga," Dimas mengulangi. "Nama yang bagus. Berat."
"Kamu orang keempat yang bilang begitu hari ini."
"Berarti itu pertanda baik."
Dimas menawarkan rokok. Arga menolak.
"Kamu tidak merokok?"
"Tidak."
"Kamu tidak minum?"
"Saya Muslim, Mas. Haram."
Dimas tertawa. "Alim sekali. Nanti saya ajak minum-minum, kamu Cuma minum es teh?"
"Es teh manis itu halal, Mas."
"Ya sudah, es teh manis."
Mereka berdua tertawa.
"Dimas kerja apa?" tanya Arga.
"Kurir. Jalan-jalan keliling kota. Antar paket. Kadang enak, kadang enggak."
"Enaknya apa?"
"Bisa lihat banyak tempat. Ketemu banyak orang. Tahu jalan-jalan tikus yang nggak diketahui orang."
"Tidak enaknya?"
"Gajinya kecil. Macet. Hujan panas nggak nentu. Dan kadang pelanggannya rese."
"Rese gimana?"
Dimas mengisap rokoknya. Asapnya mengepul ke udara malam.
"Pernah saya antar paket ke rumah seseorang. Pintu dibuka sama bapak-bapak setengah baya. Saya bilang, 'Pak, ini paket dari Tangerang.' Dia lihat paketnya, lalu lihat saya, lalu bilang, 'Ini isinya apa?' Saya bilang, 'Saya tidak tahu, Pak. Saya cuma kurir.' Dia marah. 'Kamu harus tahu! Kamu bawa barang saya, masa kamu tidak tahu isinya?'"
Arga tertawa. "Lucu juga."
"Lucu? Saya hampir dihabisi, Mas."
"Lalu bagaimana akhirnya?"
"Ya saya pergi. Saya tidak mau urusan dengan orang gila."
Mereka berdua tertawa lagi.
"Arga," panggil Dimas setelah tawanya reda.
"Iya."
"Kamu dari desa, kan?"
"Kelihatan?"
"Kelihatan banget. Cara jalanmu, cara bicaramu, cara pegang koper. Semua kelihatan."
"Tadi Mbak Dewi juga bilang begitu."
"Mbak Dewi yang mana? Yang jualan koran di terminal?"
"Iya. Dia yang ngantar saya ke sini."
Dimas mengangguk. "Dewi orang baik. Dia suka bantu anak desa yang baru datang. Dulu waktu saya pertama kali ke kota, dia juga yang bantu."
"Kamu dari desa juga?"
"Desa di timur. Timur jauh. Sampai perbatasan."
"Jauh sekali."
"Iya. Makanya saya nggak mau pulang. Ongkosnya mahal."
Mereka berdua terdiam. Suara jangkrik dari selokan mengisi keheningan. Di kejauhan, terdengar suara klakson dan suara orang berteriak.
"Dimas," panggil Arga.
"Iya."
"Kamu kenal seseorang bernama Sekar?"
Dimas mengerutkan kening. "Sekar? Siapa itu?"
"Gadis yang saya cari. Usianya sekitar delapan belas tahun. Rambut panjang. Matanya sayu. Dulu tinggal di desa bersama neneknya."
"Desamu?"
"Iya."
Dimas menghela napas. "Mas, saya antar paket keliling kota setiap hari. Saya tahu banyak orang. Tapi saya tidak pernah dengar nama Sekar. Maaf."
Arga tidak kecewa. Ia sudah menduga jawaban itu. Kota ini terlalu besar. Sekar mungkin terlalu tersembunyi.
"Tidak apa, apa," katanya. "Saya coba cari sendiri."
"Kamu kerja di mana?"
"Belum dapat. Besok saya coba ke toko bangunan. Ada teman supir bis yang kasih rekomendasi."
"Toko bangunan yang mana?"
Arga mengeluarkan kartu nama dari saku celananya. Diberikannya pada Dimas.
Dimas membaca kartu itu. "Toko Bangunan Tujuh Sembilan. Jalan Mawar Hitam. Punya Pak Bondan?"
"Kamu kenal?"
"Kenal dong. Saya sering antar paket ke sana. Pak Bondan orangnya baik. Agak pelit, tapi baik."
"Pelit gimana?"
"Bayar utang telat seminggu. Gaji karyawan pas, pasan. Tapi dia suka bantu orang desa. Banyak karyawannya dari desa."
"Setidaknya ada harapan."
"Iya. Kamu kerja di sana, nanti kita sering ketemu. Saya lewat sana hampir setiap hari."
"Bagus. Kita bisa temenan."
Dimas tersenyum. "Kita sudah temenan, Arga. Sejak kamu bilang kamu tidak merokok."
Arga tertawa.
Pukul sebelas malam, Arga masuk ke kamarnya.
Ia membuka jendela kecil itu. Udara malam masuk, membawa bau asap kendaraan dan debu.
Di luar, kota masih hidup.
Lampu, lampu masih menyala.
Mobil, mobil masih lalu lalang.
Orang, orang masih berjalan.
Tidak ada yang tidur.
Tidak ada yang istirahat.
Kota ini benar, benar tidak pernah tidur.
Arga berbaring di dipan bambu.
Ia memeluk bantal kecil dari kebaya Sekar.
"Aku di sini," bisiknya. "Di kamar kecil yang pengap. Di gang sempit yang gelap. Di kota yang tidak pernah tidur. Tapi aku di sini. Dan aku tidak akan pergi."
Ia memejamkan mata.
Bayangan Sekar muncul.
Sekar berdiri di depan gerbang sebuah universitas. Memakai gaun biru muda. Rambutnya tergerai. Ia tersenyum.
"Aku tahu kamu akan datang," katanya.
"Aku janji, Sekar."
"Aku menunggumu."
Arga tersenyum dalam tidurnya.
Pukul lima pagi, Arga sudah bangun.
Ia tidak tidur nyenyak. Sepanjang malam ia terbangun beberapa kali, kaget oleh suara, suara asing: suara klakson, suara orang berteriak, suara motor balap, suara anjing menggonggong.
Tapi ia tidak mengeluh.
Ia keluar kamar. Kamar mandi luar masih kosong. Airnya dingin. Gayungnya hanya separuh. Sabunnya hanya sepotong kecil.
Tapi itu cukup.
Ia mandi dengan cepat. Menggosok tubuhnya dengan sabun murah yang beraroma melati. Bilas dengan air dingin.
Kesegarannya membuat tubuhnya bergidik.
Ia kembali ke kamar. Memakai baju terbaiknya. Kemeja putih lengan panjang pemberian ibunya. Celana bahan hitam yang sedikit kebesaran. Sandal jepit karet yang masih baru.
Ia mengecek kopernya.
Bantal kecil dari kebaya Sekar? Ada.
Tumpukan surat yang tidak pernah dibalas? Ada.
Minyak wangi kenanga dari makam Mbah Raras? Ada.
Uang sisa dari ibunya? Dua ratus ribu.
Peta usang dari Mbah Jayarasa? Ada.
Ia mendesah lega.
Semua masih utuh.
Ia keluar kamar.
Di halaman, Dimas sudah duduk di kursi plastik sambil minum kopi.
"Pagi, Arga," sapanya.
"Pagi, Dimas. Kamu belum antar paket?"
"Baru pulang. Antar paket ke luar kota. Macet di jalan. Sampai sekarang."
"Kamu tidak istirahat?"
"Nanti. Habis kopi ini. Kamu mau ke mana pagi-pagi begini?"
"Ke toko bangunan. Jalan Mawar Hitam. Tahu arahnya?"
Dimas mengangguk. "Dari sini lurus terus sampai perempatan. Belok kiri. Lurus lagi sampai ketemu lampu merah. Belok kanan. Lurus terus. Nanti ada gang di sebelah kiri. Masuk gang itu. Toko bangunannya di ujung gang."
Arga mengerutkan kening. "Rumit sekali."
Dimas tertawa. "Kota memang rumit, Arga. Kamu harus terbiasa."
"Bisakah kamu antar?"
"Saya tidak bisa. Saya harus istirahat. Nanti jam dua belas saya baru berangkat."
"Baiklah. Saya coba sendiri."
"Semoga tidak tersesat."
Arga tersenyum. "Amin."
Ia berjalan.
Jalanan di pagi hari sudah ramai.
Motor, motor saling mendahului dengan suara bising.
Mobil, mobil antre panjang di lampu merah.
Pedagang kaki lima berjajar di trotoar dengan gerobak, gerobak sederhana.
Arga berjalan menyusuri trotoar yang sempit. Sesekali ia harus minggir karena pejalan kaki lain yang berjalan lebih cepat. Sesekali ia harus berhenti karena ada gerobak pedagang yang menghalangi jalan.
Dari kos sampai toko bangunan, jaraknya sekitar tiga kilometer.
Tapi karena Arga tidak tahu persis arahnya, ia bolak, balik beberapa kali.
Ia bertanya pada orang, orang yang lewat. Ada yang ramah, ada yang acuh. Ada yang menunjuk dengan malas, ada yang menggeleng dan pergi.
Jam delapan pagi, ia tiba di Jalan Mawar Hitam.
Toko bangunan itu besar.
Dindingnya dari batu bata merah yang terawat. Atapnya dari seng gelombang yang tidak bocor. Di halaman depan, pasir, batu bata, semen, dan kayu, kayu panjang ditata rapi.
Seorang laki, laki paruh baya dengan kumis tebal dan perut buncit sedang duduk di kursi plastik di depan toko. Ia membaca koran sambil sesekali mengisap rokok.
"Pak Bondan?" tanya Arga.
Laki, laki itu mengangkat kepala. Matanya menyipit.
"Siapa kamu?"
"Saya Arga, Pak. Dikirim oleh Pak Man. Supir bis."
Pak Bondan meletakkan korannya. Ia memandang Arga dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Kamu dari desa?"
"Iya, Pak."
"Dari mana?"
"Wringinrejo, Pak. Kecil. Di selatan."
“ di desa itu ada paman saya. Le”, kata pak bondan
“ Siapa Namanya , pak”. tanya Arga
“ Mbah Jayarasa, le”,
“ Oo, itu tetua desa saya, imi ada kasih alamat juga , sama dengan pak man”, kata arga
“ Kebetulan sekali, le”, kata Pak Bondan
“ Trus pak Man bilang apa, le” lanjut pak Bondan
"Dia bilang Bapak orang baik. Suka bantu anak desa."
Pak Bondan mendengus. "Bantuin? Saya cari karyawan, bukan anak yatim piatu."
Arga tersenyum tipis. "Saya bisa kerja, Pak. Saya biasa bantu ayah di sawah. Angkat padi. Angkat pupuk. Angkat apa saja."
"Kamu sudah sarapan?"
"Belum, Pak."
"Kenapa belum?"
"Karena saya pikir lebih baik mencari kerja dulu."
Pak Bondan terdiam. Ia menatap Arga dengan mata yang sulit dibaca.
"Kamu jujur," katanya akhirnya. "Saya suka yang jujur."
Ia berdiri dan menepuk bahu Arga.
"Mulai hari ini. Kerja dari jam tujuh sampai jam lima. Istirahat satu jam untuk makan siang. Gaji lima puluh ribu per hari. Lembur dibayar. Kamu setuju?"
"Saya setuju, Pak."
"Tapi kamu harus buktikan dulu. Jangan cuma jujur di mulut, tapi malas di tangan."
"Saya tidak malas, Pak."
"Kita lihat."
Pak Bondan menunjuk ke tumpukan sak semen di pojok halaman.
"Itu empat puluh sak semen. Angkat ke gudang belakang. Selesai sebelum jam makan siang."
Arga memandang tumpukan sak semen itu.
Sak semen beratnya lima puluh kilogram. Masing, masing.
Empat puluh sak berarti dua ton.
Tiga jam.
"Baik, Pak," kata Arga tanpa ragu.
Ia melepas kemeja putihnya, melipatnya rapi, lalu meletakkannya di kursi kosong.
Keringat sudah mulai mengucur di keningnya meskipun ia belum memulai.
Tapi ia tidak mundur.
Ia mengangkat sak semen pertama.
Berat.
Sangat berat.
Lengannya bergetar menahan beban.
Tapi ia berjalan.
Langkah pertama.
Langkah kedua.
Langkah ketiga.
Ia masuk ke gudang belakang.
Menumpuk sak semen itu di pojok.
Kembali ke halaman.
Mengangkat sak kedua.
Berat lagi.
Tapi ia berjalan lagi.
Langkah pertama.
Langkah kedua.
Langkah ketiga.
Ditumpuk di pojok.
Kembali.
Mengangkat.
Berjalan.
Menumpuk.
Kembali.
Mengangkat.
Berjalan.
Menumpuk.
Ia tidak berhenti.
Ia tidak minta istirahat.
Ia tidak minum.
Ia hanya terus bergerak.
Seperti mesin.
Seperti robot.
Seperti orang yang tidak mengenal lelah.
Jam sepuluh pagi, Arga sudah mengangkat dua puluh sak semen.
Separuh.
Ia duduk di atas tumpukan batako, mengatur napas.
Keringat mengucur di sekujur tubuhnya. Kemeja yang ia lipat rapi sudah basah. Celana bahannya sudah basah. Wajahnya merah seperti kepiting rebus.
"Minum, Le."
Arga menoleh.
Pak Bondan berdiri di depannya dengan segelas air mineral.
"Terima kasih, Pak."
Arga meminumnya seteguk. Lalu dua teguk. Lalu seteguk lagi.
"Biar dingin," kata Pak Bondan. "Jangan minum terlalu cepat. Nanti sakit perut."
"Baik, Pak."
Pak Bondan duduk di samping Arga. Ia mengeluarkan sebatang rokok, menyalakannya, lalu mengisap dalam, dalam.
"Kamu kuat, Le," katanya. "Saya kira kamu cuma bisa angkat sepuluh sak, lalu pingsan."
"Saya terbiasa, Pak."
"Terbiasa di sawah?"
"Iya, Pak. Panen padi itu berat. Tapi bukan hanya fisik. Juga mental."
"Mental?"
"Iya, Pak. Di sawah, kadang hujan datang sebelum panen. Kadang gagal panen karena hama. Kadang harga padi anjlok. Petani harus kuat mental."
Pak Bondan mengangguk. "Kamu petani?"
"Anak petani, Pak. Bapak saya petani."
"Punya sawah?"
"Sawah kecil. Tiga bau. Cukup untuk makan sekeluarga."
"Kenapa kamu tidak ikut bapakmu di sawah?"
Arga terdiam.
"Kamu tidak perlu jawab kalau tidak mau," kata Pak Bondan cepat. "Saya hanya penasaran."
"Saya cari seseorang, Pak. Di kota ini."
"Siapa?"
"Sekar. Pacar saya. Gadis dari desa saya. Dia dibawa paksa ke kota, dijodohkan dengan laki, laki lain."
Pak Bondan tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya mengisap rokoknya. Asapnya mengepul ke udara siang.
"Kamu mencintainya?" tanyanya.
"Iya, Pak."
"Dan dia?"
"Katanya juga."
"Katanya?"
Arga tersenyum pahit. "Kami belum sempat bicara banyak. Kami hanya saling mengirim surat. Tapi surat, surat saya tidak pernah dibalas karena orang tuanya menyembunyikan. Surat, surat dia nyaris hilang."
"Tapi kamu tetap percaya?"
"Saya harus percaya, Pak. Karena itu satu, satunya yang saya punya."
Pak Bondan membuang puntung rokoknya. Ia berdiri.
"Istirahatmu sudah habis. Masih dua puluh sak."
"Siap, Pak."
Arga berdiri.
Ia kembali mengangkat semen.
Satu per satu.
Dua puluh sak terakhir.
Jam dua belas siang, Arga selesai.
Rasanya seperti perang.
Seperti perang dengan dirinya sendiri.
Tapi ia menang.
Pak Bondan mendekat dengan sebungkus nasi dan lauk.
"Ini makan siangmu," katanya. "Makan dulu. Jangan lupa minum. Sore nanti kamu angkat pasir ke lantai dua."
"Baik, Pak."
Arga duduk di bawah pohon rindang di depan toko. Ia membuka bungkusan nasi itu. Isinya nasi putih, telur dadar tipis, tempe goreng, dan sambal terasi.
Ia makan perlahan.
Memandang jalan raya di depannya.
Mobil, mobil lalu lalang.
Motor, motor saling mendahului.
Orang, orang berjalan tergesa, gesa dengan wajah lelah.
Di mana kau, Sekar?
Apakah kau juga makan siang sekarang?
Apakah kau juga memikirkan aku?
Tiba, tiba, ponselnya bergetar.
Ponsel murah pemberian Guntur sebelum ia berangkat. Hanya ada satu kontak: rumah.
"Le," suara ibunya dari ujung sana. "Kamu sudah sampai?"
"Sudah, Bu."
"Sudah makan?"
"Sedang makan, Bu."
"Kerja sudah dapat?"
"Sudah, Bu. Di toko bangunan."
"Kamu tidak usah banyak bicara," suara ibunya bergetar. "Ibu cuma mau dengar suaramu. Biar ibu tahu bahwa kamu masih hidup."
Arga tersenyum. "Aku masih hidup, Bu. Sehat. Kuat."
"Awas kalau kamu sakit, sakitan. Ibu naik bis ke kota."
"Siap, Bu."
"Kamu cari Sekar?"
"Sedang berusaha, Bu."
"Jangan patah semangat."
"Iya, Bu."
"Ibu doakan kamu setiap hari."
"Makasih, Bu."
"Ibu sayang kamu, Le."
"Saya juga, Bu."
Telepon ditutup. Arga memandang ponselnya sebentar. Lalu menyimpannya di saku.
Ia menghabiskan makan siangnya.
Lalu kembali bekerja.
Mengangkat pasir ke lantai dua.
Jam lima sore, Arga pulang ke kos.
Badannya terasa remuk.
Setiap langkah terasa seperti menginjak kapas.
Setiap otot terasa seperti ditarik, tarik.
Setiap sendi terasa seperti berkarat.
Tapi ia tetap berjalan.
Melewati gang sempit yang mulai gelap.
Melewati pasar yang mulai sepi.
Melewati terminal yang kembali ramai.
Di depan kos, Dimas sedang duduk di kursi plastik sambil minum kopi.
"Wah, Mas Arga, mukamu kayak habis dipukul," guraunya.
"Hampir," jawab Arga. "Empat puluh sak semen dan pasir ke lantai dua."
"Selamat. Kamu sekarang resmi jadi kuli bangunan."
"Terima kasih."
"Makan malam? Saya traktir."
"Kamu tidak antar paket?"
"Sudah. Saya istirahat."
Mereka berjalan ke pasar malam.
Memesan sate kambing dan es teh manis.
Makan bersama.
Tertawa bersama.
Bercerita tentang masa lalu.
Tentang desa.
Tentang impian.
Tentang Sekar.
Pukul sembilan malam, Arga kembali ke kamarnya.
Ia membuka jendela kecil itu.
Udara malam masuk. Membawa bau asap kendaraan dan debu.
Di luar, kota masih hidup.
Lampu, lampu masih menyala.
Mobil, mobil masih lalu lalang.
Orang, orang masih berjalan.
Tidak ada yang tidur.
Tidak ada yang istirahat.
Kota ini benar, benar tidak pernah tidur.
Arga berbaring di dipan bambu.
Ia memeluk bantal kecil dari kebaya Sekar.
"Sekar," bisiknya.
"Aku sudah mulai. Bukan mulai menemukanmu. Tapi mulai beradaptasi."
Ia memejamkan mata.
Bayangan Sekar muncul lagi.
Sekar berdiri di depan sebuah kampus. Gaun biru muda. Rambut tergerai. Tersenyum.
"Kau bisa, Arga. Aku percaya padamu."
"Terima kasih, Sekar."
"Jangan menyerah."
"Aku tidak akan."
Arga tersenyum dalam tidurnya.
BAB 2
KOS-KOSAN MAWAR MERAH
Tiga minggu sudah Arga tinggal di kos-kosan Mbok Darmi.
Tiga minggu. Dua puluh satu hari. Lima ratus empat jam. Tiga puluh ribu empat puluh menit. Waktu yang cukup lama untuk mulai terbiasa dengan suara klakson setiap pagi, dengan bau asap kendaraan yang menyengat hidung, dengan dinginnya air sumur di kamar mandi luar, dengan kerasnya dipan bambu yang setiap malam membuat punggungnya terasa seperti digerogoti semut.
Tapi ada satu hal yang tidak pernah bisa ia biasakan: keheningan di kamarnya setiap malam, ketika ia memeluk bantal kecil dari kebaya Sekar dan berbisik, bisik pada tembok yang tidak pernah menjawab.
"Arga! Bangun, Le!" suara Mbok Darmi dari luar pintu disertai ketukan keras. "Sudah jam setengah enam! Nanti kamu telat kerja!"
Arga membuka mata dengan berat. Badannya masih terasa remuk dari kerja kemarin. Empat puluh sak semen lagi. Dua puluh gerobak pasir ke lantai dua. Ditambah bongkar muat batu bata sore harinya. Pak Bondan memang tidak main, main. Ia membayar lima puluh ribu per hari, tapi ia juga mengambil seluruh tenaga Arga sampai habis.
"Iya, Mbok!" teriak Arga balik.
Ia duduk di dipan. Lehernya terasa kaku. Punggungnya terasa seperti habis dipukul kayu. Tangannya, ia melihat telapak tangannya, kini dipenuhi lepuhan dan kapalan. Kulitnya kasar seperti amplas.
Tapi ia tersenyum.
Ini harga yang harus dibayar, pikirnya. Demi bisa bertahan di kota. Demi bisa mencari Sekar.
Ia keluar kamar. Kamar mandi luar masih kosong. Airnya dingin, lebih dingin dari biasanya karena musim hujan sudah mulai datang. Ia mengguyur tubuhnya dengan cepat, menggigil kedinginan, tetapi tidak mengeluh.
Setelah mandi, ia memakai kemeja kerja, kemeja lengan pendek warna abu, abu pemberian Pak Bondan minggu lalu. "Ini seragam," kata Pak Bondan waktu itu. "Jangan bawa baju bagus dari desa ke sini. Nanti rusak kena semen."
Arga mengecek dompetnya. Uang sisa tinggal seratus ribu. Gaji tiga minggu ia kumpulkan, tetapi sebagian sudah ia kirim untuk ibunya di desa, sebagian lagi ia tabung untuk nanti, untuk biaya mencari Sekar nanti.
Ia keluar kamar.
Di halaman, Dimas sudah duduk di kursi plastik sambil mengisap rokok dan minum kopi hitam pahit.
"Wah, Mas Arga, hari ini wajahmu lebih merah dari biasanya," sapa Dimas sambil tersenyum. "Habis mimpi apa?"
"Mimpi angkat semen lima puluh sak," jawab Arga sambil duduk di sampingnya.
"Berarti mimpi kerja. Itu pertanda kamu sudah terlalu kerasan jadi kuli."
"Lebih baik kuli dari pada pengangguran."
"Setuju. Saya dulu juga nganggur tiga bulan. Rasanya menderita banget. Lebih enak capek fisik dari pada capek pikiran."
Dimas menawarkan rokok. Arga menolak seperti biasa.
"Kamu ini sungguh," kata Dimas sambil menggeleng. "Sudah tiga minggu saya tawari rokok, belum pernah sekali pun kamu terima."
"Saya sudah bilang, saya tidak merokok."
"Bukan tidak bisa. Tidak mau."
"Apa bedanya?"
"Orang yang tidak bisa merokok, saya hormati. Orang yang tidak mau merokok, saya curigai."
"Curiga apa?"
"Curiga kamu itu malaikat yang menyamar jadi manusia."
Arga tertawa. "Malaikat kerja jadi kuli bangunan?"
"Malaikat juga butuh uang, Le. Malaikat juga punya cicilan."
Mereka berdua tertawa. Beberapa penghuni kos lain yang sedang bersiap, siap berangkat kerja ikut menoleh dan tersenyum.
Selesai sarapan sederhana, nasi putih, telur dadar, dan sambal terasi buatan Mbok Darmi yang super pedas, Arga pamit pada Dimas dan berangkat ke toko bangunan.
Perjalanan dari kos ke toko bangunan memakan waktu sekitar empat puluh menit dengan berjalan kaki. Dulu ia butuh satu jam karena sering tersesat. Sekarang ia sudah hapal jalannya: keluar gang, belok kiri di pertigaan, lurus sampai lampu merah, belok kanan, masuk gang di sebelah minimarket, keluar lagi, lurus sampai perempatan, belok kiri, sampai.
Ia berjalan cepat.
Kaki kanannya sedikit terasa nyeri karena kemarin tertimpa batu bata yang jatuh dari tumpukan. Tapi ia paksakan. Tidak mau telat.
Pak Bondan bilang, kalau telat tiga kali, potong gaji. Arga tidak mau gajinya dipotong. Ia butuh setiap rupiah untuk ditabung.
Jam tujuh kurang sepuluh menit, Arga tiba di toko.
Pak Bondan sudah duduk di kursi plastik seperti biasa, membaca koran sambil mengisap rokok. Di sampingnya ada segelas kopi hitam yang masih mengepul.
"Nyaris telat, Le," sapa Pak Bondan tanpa menoleh dari korannya.
"Masih sepuluh menit, Pak."
"Sepuluh menit itu waktu yang pendek. Kalau kamu tersendat di jalan, bisa terlambat."
"Saya tidak akan tersendat, Pak. Saya jalan kaki."
"Kalau kamu jatuh di jalan?"
"Saya tidak akan jatuh, Pak."
"Kalau kamu dipukul orang?"
"Saya tidak punya musuh, Pak."
Pak Bondan meletakkan korannya. Ia memandang Arga dengan mata setengah menyipit.
"Kamu keras kepala, Le. Saya suka itu. Tapi keras kepala juga bisa bikin celaka."
"Tidak akan, Pak. Saya hati-hati."
"Hati-hati itu baik. Tapi jangan terlalu hati, hati. Nanti kamu tidak berani mengambil risiko."
"Risiko apa yang harus saya ambil, Pak?"
Pak Bondan menghela napas. "Risiko percaya pada orang. Risiko jatuh cinta. Risiko gagal. Risiko sakit. Semua itu risiko. Dan kamu tidak bisa hidup tanpa mengambil risiko."
Arga terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Sudah, sana kerja," kata Pak Bondan sambil kembali ke korannya. "Hari ini kamu angkat pasir ke lantai dua. Dua puluh gerobak. Selesai sebelum jam makan siang."
Arga mengangguk. "Baik, Pak."
Ia melepas kemeja abu, abunya, melipatnya rapi, lalu meletakkannya di kursi kosong.
Ia mengambil sekop dan mulai bekerja.
Jam dua belas siang, Arga menyelesaikan tugasnya.
Dua puluh gerobak pasir. Tepat sasaran. Tidak kurang.
Ia duduk di bawah pohon rindang sambil mengatur napas. Keringat mengucur di sekujur tubuhnya. Kemeja abu-abunya, yang baru dicuci semalam, kini basah lagi.
"Minum, Le."
Arga menoleh. Pak Bondan berdiri di depannya dengan segelas air mineral dan sebungkus nasi.
"Terima kasih, Pak."
Arga meminum air itu seteguk. Lalu dua teguk. Lalu seteguk lagi. Dinginnya menyegarkan tenggorokannya yang terasa kering seperti gurun pasir.
"Kamu lapar?" tanya Pak Bondan.
"Lapar, Pak."
"Makan."
Arga membuka bungkusan nasi itu. Isinya sama seperti kemarin: nasi putih, telur dadar tipis, tempe goreng, dan sambal terasi. Tapi kali ini ada tambahan: sepotong ayam goreng.
"Pak Bondan, ini ayam?" tanya Arga.
"Kelihatannya begitu."
"Biasanya saya hanya dapat telur dan tempe."
"Hari ini istimewa. Hari ini kamu kerja bagus."
"Terima kasih, Pak."
"Jangan berterima kasih. Makan saja. Nanti dingin."
Arga makan. Perlahan. Menikmati setiap suapan. Ayam goreng itu terasa sangat lezat, mungkin karena ia sudah terlalu lama tidak makan ayam. Sejak di kota, ia hanya makan nasi, telur, tempe, dan tahu. Ayam adalah kemewahan.
"Pak Bondan," panggil Arga sambil mengunyah.
"Iya."
"Saya boleh tanya sesuatu?"
"Tanya saja."
"Pak Bondan sudah berapa lama punya toko ini?"
Pak Bondan mengisap rokoknya. Asapnya mengepul ke udara siang.
"Dua puluh tahun," jawabnya. "Toko ini warisan dari bapak saya. Dulu kecil, cuma kios. Sekarang lumayan besar."
"Pak Bondan menikah?"
"Pernah."
"Sekarang?"
"Cerai."
Arga berhenti makan. "Maaf, Pak. Saya tidak tahu."
"Tidak apa. Cerai sudah sepuluh tahun lalu. Saya sudah tidak sakit lagi."
"Kenapa cerai, Pak?"
Pak Bondan tertawa kecil. "Kamu memang suka tanya, ya."
"Maaf kalau kepo, Pak."
"Tidak apa. Sesekali kepo itu baik. Tanda kamu peduli." Pak Bondan membuang puntung rokoknya. "Cerai karena istri saya tidak tahan hidup dengan laki, laki yang gila kerja."
"Bapak gila kerja?"
"Kelihatannya begitu. Saya kerja dari jam enam pagi sampai jam sepuluh malam. Saya lupa waktu. Saya lupa keluarga. Saya lupa istri. Saya lupa anak."
"Bapak punya anak?"
"Punya. Satu. Perempuan. Usianya sekarang lima belas tahun. Tinggal sama ibunya di kota lain."
"Bapak rindu?"
Pak Bondan terdiam. Matanya kosong memandang ke kejauhan.
"Rindu," katanya akhirnya. "Tapi apa daya. Jarak dan waktu tidak bisa dibohongi."
Arga tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya menghabiskan makan siangnya dalam diam.
Jam satu siang, Arga kembali bekerja.
Sore itu ia disuruh merapikan gudang belakang. Semen, pasir, batu bata, dan kayu, kayu panjang harus ditata ulang agar rapi.
Ia bekerja sendirian.
Sesekali Pak Bondan lewat untuk memeriksa.
"Bagus," kata Pak Bondan. "Kamu punya naluri kerapian. Di desa juga begitu?"
"Iya, Pak. Bapak saya orang yang sangat rapi. Sawahnya selalu bersih dari rumput liar. Peralatannya selalu disusun rapi di gudang."
"Bapakmu petani yang baik."
"Iya, Pak. Saya bangga padanya."
"Kamu juga anak yang baik. Bangga pada orang tua itu penting. Tanda kamu punya hati."
Arga tersenyum. "Terima kasih, Pak."
Jam lima sore, Arga selesai bekerja.
Pak Bondan memberinya uang lembur sepuluh ribu karena ia menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dari target.
"Pak, ini uang lembur?" tanya Arga.
"Iya. Kamu bekerja cepat. Itu hadiahnya."
"Terima kasih, Pak."
"Jangan berterima kasih. Kamu yang bekerja, kamu yang berhak."
Arga memasukkan uang itu ke dompetnya. Dua puluh ribu? Ia hitung lagi. Dua puluh ribu. Itu cukup untuk membeli nasi bungkus dua malam.
Ia pamit pada Pak Bondan dan berjalan pulang.
Di perjalanan, ia melewati sebuah toko bunga.
Bunga, bunga segar tertata rapi di etalase kaca. Mawar merah, mawar putih, mawar kuning, melati, kenanga, dan beberapa jenis bunga yang tidak ia kenal.
Arga berhenti.
Ia teringat pada wangi kenanga dari makam Mbah Raras.
Wangi yang dulu selalu ia hirup setiap kali ke rumah Sekar.
Wangi yang kini sudah hampir hilang dari bantal kebaya yang ia peluk setiap malam.
Ia masuk ke toko bunga itu.
"Selamat sore, Mas. Ada yang bisa dibantu?" sapa seorang perempuan muda dengan rambut pendek dan kacamata tebal.
"Selamat sore, Mbak. Saya mau beli bunga kenanga."
Perempuan itu mengerutkan kening. "Kenanga? Maaf, Mas. Di sini tidak ada. Kami hanya jual mawar, melati, dan anggrek."
"Tidak apa, apa. Saya cari di toko lain."
"Kalau Mas mau, mawar merah juga wangi. Tidak kalah harum dengan kenanga."
Arga tersenyum tipis. "Terima kasih, Mbak. Tapi saya tetap cari kenanga. Itu bunga kesukaan seseorang."
"Seseorang yang spesial?"
"Ya. Spesial."
Perempuan itu tersenyum. "Semoga cepat ketemu, Mas."
"Terima kasih."
Arga keluar dari toko bunga. Ia melanjutkan perjalanan pulang.
Di kos, Dimas sudah menunggu dengan dua bungkus nasi goreng dan es teh manis.
"Wah, Mas Arga, hari ini beneran pulang tepat waktu," sapa Dimas.
"Iya. Lembur cuma sebentar."
"Makan dulu. Saya belikan nasi goreng. Yang pedas."
"Terima kasih, Dimas. Nanti saya ganti."
"Sudah, jangan ganti-ganti. Anggap saja traktiran. Kam kan kemarin traktir saya sate kambing."
"Itu mah kecil."
"Tidak ada kecil atau besar dalam urusan traktir, menraktir. Yang penting niatnya."
Mereka berdua makan di halaman kos. Lampu taman yang redup menerangi wajah mereka.
"Dimas," panggil Arga sambil mengunyah.
"Iya."
"Kamu kenal toko bunga di sekitar Jalan Mawar Hitam?"
"Kenal. Banyak. Empat atau lima toko bunga di sana. Kenapa?"
"Saya mencari bunga kenanga."
Dimas mengangkat alis. "Kenanga? Langka sekarang. Dulu banyak, tapi sekarang susah cari. Orang lebih suka mawar atau melati."
"Apakah ada toko yang menjual?"
"Mungkin. Saya kurang tahu. Tapi besok kalau saya lewat, saya tanyakan."
"Terima kasih, Dimas."
"Untuk apa? Mau bikin wewangian?"
"Bukan. Untuk kenang-kenangan."
Dimas tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya mengangguk.
Pukul delapan malam, Dimas pergi. Ia harus mengantar paket ke luar kota.
Arga masuk ke kamarnya.
Ia membuka jendela kecil itu. Udara malam masuk. Membawa bau asap kendaraan dan debu.
Di luar, kota masih hidup.
Lampu, lampu masih menyala.
Mobil, mobil masih lalu lalang.
Orang, orang masih berjalan.
Tidak ada yang tidur.
Tidak ada yang istirahat.
Kota ini benar, benar tidak pernah tidur.
Arga berbaring di dipan bambu.
Ia memeluk bantal kecil dari kebaya Sekar.
"Sekar," bisiknya.
"Aku mencari bunga kenanga hari ini. Bunga kesukaan nenekmu. Bunga yang wanginya selalu mengingatkanku pada rumahmu."
Ia memejamkan mata.
"Mbak Dewi bilang, di kota ini ada gedung pencakar langit. Ada pusat perbelanjaan besar. Ada bioskop. Ada taman hiburan. Tapi aku tidak tertarik pada semua itu. Aku hanya tertarik pada satu hal: menemukanmu."
"Jatmika, kakakku. Jika kau masih di sini, tolong tunjukkan aku jalan. Aku lelah berjalan tanpa arah."
Tidak ada jawaban.
Hanya suara jangkrik dari selokan.
Hanya suara klakson dari kejauhan.
Arga memeluk bantal itu lebih erat.
"Besok aku akan mencari lagi. Ke toko bunga lain. Ke alamat-alamat yang Mbak Dewi berikan. Ke mana pun. Aku tidak akan menyerah."
Ia menutup mata.
Bayangan Sekar muncul.
Sekar berdiri di sebuah taman kota. Memakai gaun biru muda. Rambutnya tergerai. Di tangannya ada sekuntum bunga kenanga.
"Kamu di sini, Arga," katanya. "Aku tahu kamu akan datang."
"Aku berjanji, Sekar."
"Aku menunggumu."
Arga tersenyum dalam tidurnya.
Keesokan harinya, Arga bangun lebih pagi dari biasanya.
Ia tidak mandi. Ia tidak sarapan. Ia langsung keluar kos dan berjalan ke arah timur, ke arah di mana matahari terbit.
Mbak Dewi bilang ada taman kota di timur. Taman yang besar. Taman yang sering dikunjungi mahasiswa untuk belajar atau sekadar bersantai.
"Mungkin Sekar ada di sana," kata Mbak Dewi kemarin. "Dia kan mahasiswa, kata Mas Arga. Mungkin dia suka ke taman."
Arga tidak tahu pasti. Tapi ia harus mencoba.
Setiap hari libur, yang hanya satu kali dalam seminggu, ia berkeliling kota. Naik angkutan kota, turun di tempat, tempat yang menurutnya mungkin dikunjungi Sekar.
Kampus.
Perpustakaan.
Kafe.
Taman.
Mal.
Gedung bioskop.
Semua ia datangi.
Tapi belum ada hasil.
Hanya nama samar.
Hanya bayangan.
Hanya harapan.
Taman kota itu luas.
Pohon, pohon rindang tumbuh di mana, mana. Bangku, bangku taman terbuat dari kayu jati. Air mancur di tengah taman menyemburkan air setinggi lima meter. Beberapa anak kecil bermain kejar, kejaran di rerumputan. Beberapa mahasiswa duduk sambil membaca buku.
Arga berjalan perlahan.
Matanya bergerak ke kiri dan ke kanan, memindai setiap wajah, setiap sosok, setiap perempuan berambut panjang dan bermata sayu.
Tidak ada.
Semua perempuan yang ia lihat tidak mirip Sekar.
Ada yang mirip, tapi setelah ia dekati, ternyata bukan.
Arga duduk di bangku taman.
Ia menghela napas lelah.
"Sekar," bisiknya, "di mana kau?"
"Aku sudah keliling kota. Dari utara ke selatan. Dari timur ke barat. Tapi kau tidak pernah muncul."
Ia memandang air mancur di depannya.
Airnya jernih.
Bening.
Memantulkan sinar matahari seperti berlian, berlian kecil.
"Apakah kau sudah berubah? Apakah kau sudah tidak mirip dengan yang dulu? Apakah aku tidak akan mengenalimu jika kita bertemu?"
Ia menunduk.
"Atau mungkin kau tidak ingin ditemukan? Mungkin kau sudah bahagia dengan hidup barumu? Mungkin kau sudah lupa padaku?"
"Maaf, Mas. Bangku ini untuk dua orang. Boleh saya duduk?"
Arga menoleh.
Seorang perempuan muda berdiri di sampingnya. Kacamata tebal. Rambut pendek. Berbadan kurus. Memakai jaket jeans dan sepatu kets putih.
Arga menggeser sedikit. "Silakan."
Perempuan itu duduk. Ia membuka buku tebal di pangkuannya. Mulai membaca.
Arga kembali memandang air mancur.
"Mas lagi cari seseorang?" tiba, tiba perempuan itu bertanya.
Arga menoleh. "Kelihatan?"
"Kelihatan banget. Dari tadi Mas melotot ke mana, mana. Seperti sedang mencari pencuri."
Arga tersenyum tipis. "Bukan pencuri. Seseorang yang hilang."
"Pacar?"
Arga mengangguk.
"Ceritanya panjang, ya?"
"Panjang. Sangat panjang."
"Mas tidak mau cerita?"
Arga menatap perempuan itu. Ada sesuatu di matanya yang membuat ia merasa tidak perlu curiga. Mungkin karena ia juga terlihat seperti orang baik. Atau mungkin karena Arga terlalu lelah untuk berpikir jernih.
"Namaku Arga," katanya.
"Namaku Nisa," jawab perempuan itu.
"Nisa."
"Iya. Arga. Nama yang bagus. Berat."
"Kamu orang kelima yang bilang begitu."
"Berarti itu pertanda baik."
Arga tersenyum. "Apa pertanda baiknya?"
"Bahwa kamu ditakdirkan untuk hal, hal besar."
"Seperti apa?"
"Seperti menemukan pacarmu yang hilang."
Arga tertawa kecil. "Amin."
"Jadi, Mas Arga, cerita," kata Nisa sambil menutup bukunya.
"Cerita apa?"
"Cerita tentang pacar Mas yang hilang."
Arga menghela napas. "Namanya Sekar. Kami dari desa yang sama. Wringinrejo namanya."
"Di mana itu?"
"Jauh. Di selatan. Sehari perjalanan."
"Kok bisa hilang?"
"Dibawa paksa orang tuanya ke kota. Dijodohkan dengan laki, laki kaya."
"Aduh, mirip sinetron."
"Memang sinetron kehidupan nyata."
"Lalu Mas ke kota untuk mencari dia?"
"Iya."
"Sendirian?"
"Sendirian."
"Tanpa kenal siapa-siapa?"
"Tanpa kenal siapa-siapa."
Nisa bersiul kecil. "Berani sekali, Mas."
"Bukan berani. Terpaksa."
"Maksudnya?"
Arga memandang air mancur. "Karena saya tidak bisa diam di desa sementara dia mungkin menangis setiap malam di sini."
Nisa terdiam. Ia memandang Arga lama.
"Mas, saya salut," katanya akhirnya. "Sungguh."
"Salut?"
"Iya. Saya tidak tahu banyak orang yang seberani Mas. Sebagian besar orang akan menyerah. Bilang, 'Ah, sudah, lupakan saja. Cari yang lain.' Tapi Mas tidak. Mas malah datang ke kota, kerja jadi kuli bangunan, demi mencari dia."
"Kenapa harus salut? Ini kewajiban saya. Saya yang memulai hubungan. Saya yang harus bertanggung jawab."
"Mas, hubungan itu urusan dua orang. Bukan hanya tanggung jawab Mas."
"Tapi Sekar tidak bisa berbuat apa, apa. Dia dikurung. Dijaga. Dilarang komunikasi dengan dunia luar. Satu-satunya yang bisa berbuat sesuatu adalah saya."
Nisa menghela napas. "Mas, saya tidak tahu harus bilang apa selain semoga cepat ketemu."
"Amin. Terima kasih, Nisa."
Mereka berbincang hingga matahari condong ke barat.
Arga bercerita tentang desanya. Tentang sawah yang menguning saat panen. Tentang Kali Wening yang airnya jernih. Tentang pohon randu tempat ia dan Sekar biasa duduk. Tentang Mbah Jayarasa yang memberinya peta usang.
Nisa mendengarkan dengan saksama. Sesekali ia tertawa. Sesekali ia mengerutkan kening. Sesekali ia mengangguk.
"Mas," kata Nisa setelah cerita Arga selesai.
"Iya."
"Saya ingin bantu."
"Bantu bagaimana?"
"Saya juga mahasiswa. Saya punya banyak teman. Mungkin saya bisa tanyakan ke teman-teman saya, apakah mereka kenal Sekar."
Arga menatap Nisa. "Kamu mau?"
"Mau. Saya suka membantu orang. Apalagi kisah Mas menyentuh hati."
"Terima kasih, Nisa."
"Jangan berterima kasih dulu. Belum tahu hasilnya."
"Tidak apa. Setidaknya Mas ada yang mau membantu."
Nisa tersenyum. Ia mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya.
"Mas punya HP?"
"Punya. Tapi murah. Cuma bisa telepon dan SMS."
"Nggak apa. Tulis nomor Mas di sini."
Arga menulis nomor ponselnya di buku catatan Nisa.
"Besok saya kabari," kata Nisa. "Kalau ada info."
"Siap. Terima kasih."
Arga pulang ke kos dengan perasaan sedikit lebih ringan.
Matahari sudah mulai terbenam. Langit berwarna jingga kemerahan. Beberapa burung terbang rendah di atas gedung, gedung tinggi.
Mungkin ada harapan, pikir Arga. Mungkin Nisa bisa membantu. Mungkin seseorang di kampusnya tahu tentang Sekar.
Ia tiba di kos saat lampu, lampu jalan mulai menyala.
Dimas belum pulang. Mungkin masih mengantar paket.
Mbok Darmi sedang duduk di teras sambil mengupas bawang.
"Mas Arga, habis dari mana?" tanyanya.
"Dari taman kota, Mbok."
"Nongkrong sama siapa?"
"Sendirian."
"Mana ada anak muda ke taman sendirian. Pasti sama perempuan."
"Tadi sempat ketemu perempuan. Tapi cuma kenalan."
Mbok Darmi mendengus. "Hati-hati sama perempuan kota. Banyak yang manipulatif."
"Saya hati-hati, Mbok."
"Makan dulu. Saya masak sayur asem."
"Terima kasih, Mbok."
Malam itu, Arga berbaring di dipan bambu sambil memeluk bantal kebaya Sekar.
Ia tersenyum.
Hari ini ia bertemu Nisa. Perempuan baik yang mau membantunya mencari Sekar.
Mungkin ini awal dari segalanya.
Mungkin pertemuan ini tidak kebetulan.
Mungkin Jatmika yang mengirim Nisa padanya.
"Sekar," bisiknya, "aku tidak sendiri lagi. Ada Nisa. Ada Dimas. Ada Mbak Dewi. Ada Pak Bondan. Ada banyak orang yang membantuku."
Ia memejamkan mata.
"Dan suatu hari, mungkin tidak sekarang, mungkin tidak besok, mungkin tidak lusa, kita akan bertemu. Di taman ini. Di kampus itu. Di suatu tempat."
"Tunggu aku."
BAB 3
TIGA SAHABAT BARU
Sejak bertemu Nisa di taman kota, kehidupan Arga berubah.
Bukan perubahan besar yang terlihat dari luar. Ia masih tinggal di kos, kosan Mbok Darmi yang sempit dan pengap. Ia masih bekerja sebagai kuli bangunan di toko Pak Bondan. Ia masih berjalan kaki empat puluh menit setiap pagi dan sore. Ia masih memeluk bantal kebaya Sekar setiap malam sebelum tidur.
Tapi ada sesuatu yang berbeda di dalam hatinya.
Sesuatu yang hangat.
Sesuatu yang membuat ia merasa tidak sendirian di kota sebesar ini.
Dan perasaan itu semakin kuat ketika ia bertemu dengan dua orang lain, dua laki-laki yang kelak menjadi sahabatnya dalam suka dan duka, dalam tawa dan air mata, dalam keberhasilan dan kegagalan.
Mereka adalah Guntur dan Faruq.
Tiga sahabat baru.
Tiga karakter berbeda.
Tiga warna yang melengkapi kehidupan Arga di kota.
GUNTUR: SANG IDEALIS
Pertemuan Arga dengan Guntur terjadi seminggu setelah ia bertemu Nisa.
Hari itu Arga sedang duduk di bangku taman kota, tempat yang sama, waktu yang sama, harapan yang sama. Ia sedang memandang air mancur dan membayangkan Sekar berdiri di depannya, ketika seseorang duduk di sampingnya tanpa permisi.
"Kamu Arga?" tanya laki, laki itu.
Arga menoleh. Laki, laki di sampingnya berusia sekitar dua puluh tahun. Wajahnya tegas, garis rahangnya kuat, alisnya tebal, dan matanya, matanya menyala seperti api. Ia memakai kemeja putih lengan panjang yang sedikit kusut, celana bahan hitam yang sudah pudar warnanya, dan sepatu pantofel yang solnya sudah mulai terkelupas.
"Iya. Siapa kamu?"
"Guntur. Temannya Nisa."
"Oh."
"Nisa cerita tentang kamu. Tentang pencarianmu. Saya tertarik."
"Tertarik?"
Guntur mengangguk. "Kisah cintamu epik. Seperti cerita wayang. Atau roman picisan."
Arga tersenyum tipis. "Picisan?"
"Iya. Tapi picisan yang bagus. Picisan yang bikin orang terharu."
"Terima kasih. Saya anggap itu pujian."
"Memang pujian."
Guntur mengeluarkan sebatang rokok dari saku kemejanya. Ia menawarkan pada Arga. Arga menolak.
"Kamu tidak merokok?"
"Saya tidak."
"Kenapa?"
"Karena tidak baik untuk kesehatan."
Guntur tertawa. "Kamu terlalu sehat. Kita butuh kematian, Arga. Kematian adalah bagian dari hidup."
"Kok filosofis?"
"Saya mahasiswa filsafat. Memang saya tugasnya filosofis."
"Ooh. Jadi kamu kuliah?"
"Universitas Gajah Mada. Jurusan Filsafat. Tahun ketiga."
"Kok bisa tahu nama saya?"
"Nisa yang kasih tahu. Dia juga mahasiswa. Fakultas Sastra. Angkatan saya juga."
Arga mengangguk. "Nisa orang baik."
"Dia memang baik. Terlalu baik."
"Kenapa terlalu baik?"
Guntur mengisap rokoknya dalam, dalam. Asapnya mengepul ke udara sore.
"Karena dia suka membantu orang tanpa memikirkan dirinya sendiri. Dia habiskan waktu, tenaga, dan uang untuk orang lain. Sementara hidupnya sendiri berantakan."
"Berantakan bagaimana?"
"Orang tuanya cerai. Dia tinggal dengan ibu yang sakit, sakitan. Uang kuliahnya dari beasiswa. Tapi dia tetap semangat membantu siapa pun."
Arga terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa.
"Tapi," lanjut Guntur, "itulah kelebihan Nisa. Dia tulus. Tidak banyak orang tulus di kota ini."
"Kamu juga tulus?"
Guntur tertawa. "Saya? Saya tidak tahu. Saya hanya tahu bahwa hidup ini absurd. Tidak ada makna. Kita semua akan mati. Dan tidak ada yang peduli."
"Kok depresif?"
"Bukan depresif. Realistis. Filsafat mengajarkan saya untuk menerima absurditas kehidupan."
"Lalu kenapa kamu masih kuliah? Kenapa kamu masih hidup?"
Guntur memandang Arga. Matanya yang tadinya menyala kini terlihat redup.
"Pertanyaan bagus," katanya. "Saya tidak tahu jawabannya. Mungkin karena saya masih punya harapan. Meskipun harapan itu irasional."
Arga tidak menjawab. Ia hanya memandang air mancur di depannya.
"Arga," panggil Guntur setelah beberapa saat.
"Iya."
"Saya mau bantu kamu mencari Sekar."
"Kamu?"
"Iya. Saya punya koneksi di kampus. Banyak teman. Banyak relasi. Mungkin saya bisa tanyakan ke sana kemari."
"Kenapa kamu mau bantu?"
Guntur tersenyum. Senyum yang aneh. Senyum yang sebagian sinis, sebagian tulus.
"Karena saya ingin percaya bahwa cinta sejati itu ada. Meskipun filsafat mengatakan sebaliknya."
Arga mengulurkan tangan. "Terima kasih, Guntur."
Guntur menyambut tangannya. Jabatannya kuat. Keras. Penuh keyakinan.
"Sama, sama, Arga. Sekarang, ceritakan semuanya. Jangan ada yang disembunyikan. Saya butuh detail."
Mereka berbincang hingga matahari tenggelam.
Arga bercerita tentang desanya. Tentang kelahirannya yang aneh, kilat tanpa suara, anjing melolong, lampu minyak menyala sendiri. Tentang masa kecilnya yang sunyi, diisi suara angin dan bisikan, bisikan gaib. Tentang pertemuannya dengan Sekar di tepi Kali Wening. Tentang cinta yang tumbuh di antara mereka. Tentang Jatmika, kakak yang meninggal sebelum ia lahir, yang rohnya masih menghantui mereka. Tentang kematian Mbah Raras, nenek Sekar. Tentang penculikan Sekar oleh utusan orang tuanya. Tentang surat, surat yang hampir hilang. Tentang semua.
Guntur mendengarkan dengan saksama. Sesekali ia mengangguk. Sesekali ia mengernyit. Sesekali ia bersiul kecil.
"Epik," katanya setelah Arga selesai. "Benar, benar epik. Seperti Mahabarata versi desa."
"Mahabarata desa?"
"Iya. Ada peperangan. Ada pengkhianatan. Ada cinta. Ada kematian. Ada roh halus. Ada takdir. Lengkap."
"Saya tidak bermaksud epik. Saya hanya menjalani hidup."
"Itulah yang dinamakan epik, Arga. Hidup yang dijalani dengan sungguh, sungguh."
Arga tersenyum. "Saya tidak tahu itu."
"Kamu tahu sekarang."
FARUQ: SANG HUMORIS
Pertemuan Arga dengan Faruq terjadi seminggu setelah pertemuan dengan Guntur.
Faruq adalah teman sekamar Guntur di kos. Guntur mengajak Arga makan malam di angkringan dekat kampus, dan di sanalah ia bertemu dengan Faruq untuk pertama kalinya.
Faruq bertubuh tambun, berkulit sawo matang, berwajah bulat dengan senyum yang tidak pernah pudar. Ia memakai kaos oblong bergambar tokoh kartun Doraemon, celana pendek di atas lutut, dan sandal jepit karet warna hijau neon.
"MAs Arga!" teriak Faruq begitu melihat Arga datang bersama Guntur. "AKHIRNYA! Saya sudah dengar cerita tentang Mas dari Guntur! EPIK! Suka saya!"
Arga terkejut dengan sambutan yang begitu meriah. "Halo."
"Duduk! Duduk! Saya sudah pesan sate kambing sepuluh tusuk. Nasi goreng dua porsi. Es teh manis tiga gelas. Jangan khawatir, saya yang bayar!"
"Wah, jangan, nanti saya, "
"SUDAH! Tidak usah protes! Ini rejeki! Saya baru dapat kiriman uang dari orang tua! Mereka kirim banyak karena saya lulus ujian tengah semester!"
Guntur menggeleng, geleng. "Dia memang begitu. Cerewet. Berisik. Tapi baik hati."
"Saya dengar dari Guntur, Mas Arga cari-cari bunga kenanga?" tanya Faruq sambil mengunyah sate.
Arga mengangguk. "Iya. Untuk kenang-kenangan."
"SUDAH KETEMU? Saya tahu toko bunga di Pasar Gede yang jual kenanga! Besok saya antar!"
"Kamu tahu?"
"Tahu dong! Saya anak keliling! Setiap sudut kota ini saya hapal!"
Faruq berbicara dengan sangat cepat, seperti orang yang takut kehabisan napas. Ia juga sering tertawa—tertawa keras, terbahak, bahak, tidak peduli orang di sekitarnya menatap aneh.
"Faruq, jangan terlalu berisik," tegur Guntur pelan.
"BIARIN! Ini angkringan! Tempatnya orang bersenang, senang! Bukan perpustakaan!"
Guntur menghela napas. "Dia tidak bisa diatur."
"Jangan diatur, jangan diatur," kata Faruq. "Hidup ini terlalu singkat untuk diatur-atur. Nikmati saja!"
Arga tersenyum. Ia belum pernah bertemu orang seceria Faruq. Di desanya, semua orang cenderung pendiam dan serius. Tawa jarang terdengar. Kalau pun ada, biasanya pelan dan terkontrol.
"Faruq," panggil Arga.
"Iya, Mas."
"Kamu kuliah di mana?"
"Universitas Gajah Mada! Fakultas Kedokteran! Tahun ketiga!"
"Kedokteran? Berarti kamu calon dokter?"
"Calon! Tapi jangan harap saya bisa mengobati penyakit serius. Saya masih sering salah diagnosis."
Guntur menambahkan, "Dia pernah salah membaca hasil rontgen. Kata pasien, bayinya kembar tiga. Ternyata yang bengkak itu bukan bayi, tapi tumor."
Faruq tertawa keras. "ITU KESALAHAN YANG LUMRAH! Siapa juga yang tidak salah?"
Arga ikut tertawa. "Kedokteran memang sulit."
"Sulit? Sangat sulit! Tapi saya tidak menyerah! Saya akan jadi dokter! Dokter yang suka bercanda! Biar pasien ketawa, bukan nangis!"
"Bagus itu," kata Arga.
"IYA! Saya suka orang yang mendukung!" Faruq mengangkat gelas es teh manisnya. "TOAST! Untuk persahabatan baru!"
Guntur mengangkat gelasnya dengan malas. Arga mengikuti.
"TOAST!" teriak Faruq.
Mereka bertiga minum the manis.
Setelah makan malam, mereka bertiga berjalan, jalan di sekitar kampus. Faruq berjalan di depan, melompat, lompat kecil, sesekali berhenti untuk membeli gorengan dari pedagang kaki lima.
"Mas Arga," panggil Faruq sambil mengunyah tempe goreng.
"Iya."
"Saya dengar Mas kerja di toko bangunan. Angkat semen. Angkat pasir. Berat, ya?"
"Berat. Tapi saya terbiasa."
"Jangan terlalu memaksakan diri. Nanti sakit. Kalau sakit, datang ke say, Saya obati."
"Dengan apa? Tumor?"
Faruq tertawa keras. "HAHAHA! Mas Arga lucu! Saya suka!"
Guntur berjalan di samping Arga sambil mengisap rokok. "Faruq memang begitu. Orangnya ceria. Tapi di balik keceriaannya, dia juga punya masalah."
"Masalah apa?"
"Orang tuanya sudah meninggal. Dia tinggal sendiri. Biaya kuliah dari beasiswa dan kerja paruh waktu."
Arga menatap Faruq yang masih melompat, lompat di depan.
"Dia tidak kelihatan sedih," kata Arga.
"Itu strateginya. Dia memilih untuk tertawa daripada menangis."
"Mengagumkan."
"Iya. Dia mengagumkan. Kadang saya iri padanya."
"Kenapa iri?"
"Karena dia bisa tetap bahagia meskipun kehilangan. Saya justru sebaliknya. Saya kehilangan, lalu menjadi sinis."
Arga tidak menjawab. Ia hanya memandang Faruq yang kini sedang membeli pisang goreng.
"Mas Arga!" teriak Faruq dari kejauhan. "Mau pisang goreng? ENAK! Ini pisangnya manis! Renyah! GURIH!"
"Ya. Satu."
"Makan pisang goreng sambil cari jodoh," kata Faruq sambil menyerahkan pisang goreng pada Arga. "Itu moto saya."
"Kamu mencari jodoh?"
"ENGAAAAK! Belum! Masih kuliah! Nanti setelah jadi dokter, baru cari jodoh!"
"Kalau jodohnya lari duluan?"
"Ya nggak apa. Berarti bukan jodoh."
Faruq tertawa lagi. Arga ikut tertawa. Guntur hanya tersenyum tipis.
Malam itu, Arga pulang ke kos dengan perasaan yang berbeda.
Biasanya ia pulang dengan perasaan berat, lelah setelah seharian bekerja, ditambah kecewa karena belum menemukan Sekar.
Tapi malam ini, ia pulang dengan perasaan ringan.
Seperti ada beban yang berkurang.
Seperti ada udara segar yang masuk ke paru, parunya.
Seperti ada harapan baru yang tumbuh.
"Mas Arga, kok senyum, senyum sendiri?" sapa Dimas yang sedang duduk di kursi plastik di halaman kos.
"Ada teman baru," jawab Arga.
"Teman baru? Siapa?"
"Guntur dan Faruq. Mahasiswa UGM. Baik-baik."
"Sebaik apa?"
"Sebaik Dimas."
Dimas tertawa. "Wah, pujian itu berat. Saya tidak pernah menganggap diri saya baik."
"Tapi kamu baik, Mas. Saya lihat dari caramu membantu saya."
Dimas menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ah, itu mah biasa."
"Tidak biasa bagi saya. Di kota sebesar ini, orang baik susah dicari."
Dimas tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.
PERTEMUAN DI KOST
Tiga hari setelah pertemuan di angkringan, Guntur dan Faruq datang ke kos Arga.
Mbok Darmi sempat curiga. Dua laki-laki asing masuk ke kosnya. "Siapa ini?" tanyanya dengan mata menyipit.
"Teman saya, Mbok," kata Arga. "Mahasiswa UGM."
"Mahasiswa kok bajunya kusut begitu?" Mbok Darmi menunjuk ke arah Guntur.
"Itu mah baju saya memang kusut, Bu," jawab Guntur datar. "Saya tidak suka setrika."
"Kalau yang satu ini?" Mbok Darmi menunjuk Faruq. "Bajunya Doraemon?"
"Hore! Mbok tahu Doraemon! Keren!" Faruq bersorak.
Mbok Darmi mendengus. "Kampungan."
Tapi ia tetap mempersilakan mereka masuk.
Di halaman kos, mereka bertiga duduk di kursi plastik. Dimas bergabung setelah pulang dari kerja. Nisa juga datang setelah dihubungi Arga.
"Ini baru namanya persahabatan," kata Faruq sambil memandang sekeliling. "Multikultural. Multietnis. Multiagama."
"Di sini tidak ada yang lihat agama," kata Dimas. "Yang penting sama-sama nggak punya duit."
Faruq tertawa keras. "BENAR! Saya setuju!"
"Jadi," kata Guntur sambil membuka buku catatannya, "kita berkumpul di sini untuk satu tujuan: membantu Arga mencari Sekar. Siapa yang punya ide?"
Silence.
"Mulai dari Nisa," kata Guntur.
Nisa menghela napas. "Saya sudah tanya teman, teman di fakultas. Belum ada yang tahu nama Sekar. Tapi saya masih terus berusaha."
"Bagus. Faruq?"
"Saya sudah tanya pemilik toko bunga di Pasar Gede!" lapor Faruq dengan semangat. "Katanya, ada seorang perempuan yang sering membeli bunga kenanga di tokonya! Rambut panjang! Mata sayu! Usia sekitar delapan belas tahun! Apakah itu Sekar?"
Arga tersentak. "Bisa jadi. Siapa namanya?"
"Pemilik toko tidak tahu namanya. Tapi dia bilang, perempuan itu datang setiap hari Kamis sore. Besok Kamis. Kita bisa coba intip."
"Bagus. Guntur?"
Guntur memandang catatannya. "Saya sudah tanya senior di fakultas filsafat. Mereka bilang ada mahasiswa baru dari fakultas hukum yang mirip dengan deskripsi Sekar. Namanya... saya lupa. Tapi saya bisa cek lagi."
"Baik. Dimas?"
Dimas mengangkat bahu. "Saya sudah tanya pelanggan langganan saya di sekitar Jalan Mawar Hitam. Tidak ada yang tahu. Tapi saya akan tanya lagi."
"Bagus. Arga?"
Arga memandang teman, temannya. Matanya basah.
"Saya... terima kasih. Saya tidak tahu harus berkata apa."
"Katakan terima kasih," kata Faruq.
"Terima kasih."
"YA! Itu sudah cukup! Sekarang kita lanjutkan perjuangan! Jangan menyerah! Sekar pasti ketemu!"
Mereka berlima tertawa.
Malam itu, Guntur, Faruq, Nisa, dan Dimas pulang. Arga mengantar mereka sampai gang depan.
Sebelum berpisah, Guntur menepuk bahu Arga.
"Arga," katanya.
"Iya."
"Kamu tidak sendirian. Ingat itu."
"Iya. Terima kasih."
"Saya juga tidak sendirian," kata Faruq sambil tersenyum. "Kita semua tidak sendirian. Kita punya satu sama lain."
Arga mengangguk.
"Selamat malam, Mas Arga," kata Nisa. "Besok kita ke toko bunga."
"Selamat malam."
Mereka berlima berpisah.
Arga berjalan kembali ke kos. Langkahnya terasa lebih ringan. Hatinya terasa lebih hangat.
Ia masuk ke kamar.
Membuka jendela.
Memandang langit malam yang gelap.
Ia memeluk bantal kecil dari kebaya Sekar.
"Sekar," bisiknya. "Aku punya teman, teman baru. Mereka baik. Mereka membantuku mencarimu."
Ia memejamkan mata.
"Mungkin ini takdir. Mungkin Tuhan mengirim mereka untukku. Untuk kita."
Air matanya jatuh.
Tapi kali ini bukan air mata kesedihan.
Air mata harapan.
BAB 4
TOKO BANGUNAN TUJUH SEMBILAN
Toko Bangunan Tujuh Sembilan bukan toko biasa. Setidaknya itulah yang Arga pelajari setelah lima minggu bekerja di sana.
Toko itu bukan sekadar tempat jual, beli pasir, semen, batu bata, dan kayu. Bukan sekadar tempat Pak Bondan duduk di kursi plastik sambil membaca koran dan mengisap rokok. Bukan sekadar tempat Arga mengangkat barang berat sampai keringatnya bercucuran seperti air hujan di musim penghujan.
Toko itu adalah dunia kecil.
Dunia dengan aturan sendiri.
Dunia dengan karakter, karakter unik yang tidak akan pernah Arga temukan di desanya.
Dan minggu kelima ini, Arga mulai mengenal mereka satu per satu.
PAK BONDAN: SANG PEMILIK
Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar terbit, Pak Bondan sudah duduk di kursi plastiknya. Koran. Rokok. Kopi hitam pahit tanpa gula. Tiga hal yang tidak pernah abses dalam dua puluh tahun terakhir.
"Arga," panggil Pak Bondan suatu pagi ketika Arga baru saja tiba.
"Iya, Pak."
"Kamu sudah lima minggu di sini."
"Iya, Pak."
"Kamu tahu berapa sak semen yang sudah kamu angkat?"
Arga mengerutkan kening. "Tidak tahu, Pak. Banyak."
"Empat ratus dua puluh sak," kata Pak Bondan tanpa melihat catatan. "Pasir tiga ratus gerobak. Batu bata sepuluh ribu biji. Kayu dua ratus batang."
Arga terkesima. "Bapak menghitung?"
"Saya menghitung semuanya. Saya tahu setiap barang yang masuk dan keluar. Itu kunci sukses bisnis."
"Bapak luar biasa."
"Bukan luar biasa. Teliti. Dua hal berbeda."
Pak Bondan mengisap rokoknya. Asapnya mengepul ke udara pagi yang masih dingin.
"Arga," katanya lagi.
"Iya, Pak."
"Kamu tidak sekadar kuli. Kamu pekerja keras. Saya suka itu."
"Terima kasih, Pak."
"Tapi kerja keras saja tidak cukup. Di kota ini, kerja keras tanpa koneksi hanya akan membuatmu menjadi kuli seumur hidup. Kamu mengerti?"
Arga mengangguk pelan. "Saya mengerti, Pak."
"Lalu apa rencanamu?"
"Rencana?"
"Iya. Rencana hidup. Rencana lima tahun ke depan. Rencana sepuluh tahun ke depan."
Arga terdiam. Ia belum pernah memikirkan itu. Hidupnya selalu tentang hari ini. Tentang besok. Tentang mencari Sekar. Tidak lebih.
"Kamu tidak punya rencana," kata Pak Bondan. Bukan pertanyaan. Pernyataan.
"Belum, Pak."
"Kamu harus punya rencana, Le. Kota ini tidak ramah pada orang tanpa rencana. Dia akan mengunyahmu, menelannya, lalu memuntahkanmu. Tanpa sisa."
Arga menunduk. "Saya akan buat rencana, Pak."
"Kapan?"
"Segera."
Pak Bondan berdiri. Ia menepuk bahu Arga.
"Bagus. Jangan lupa. Rencana itu penting. Sama pentingnya dengan kerja keras."
MAS WAHYU: SANG PESIMIS
Jam delapan pagi, seorang laki, laki datang ke toko. Ia berbadan kurus, berkulit hitam legam, berambut keriting, dan bermata sayu. Ia memakai kaos oblong lusuh dan celana bahan yang sudah pudar warnanya.
"Wahyu," sapa Pak Bondan. "Baru datang?"
"Iya, Pak. Macet di jalan."
"Kenapa tidak naik motor?"
"Motor mogok, Pak. Sudah seminggu."
"Kenapa tidak diperbaiki?"
"Tidak punya uang, Pak."
Pak Bondan menghela napas. "Kamu ini. Kerja sebagai mandor proyek, gajinya cukup besar. Kok tidak punya uang?"
"Gaji saya habis untuk biaya pengobatan ibu, Pak."
"Lalu kapan motor diperbaiki?"
"Entahlah, Pak. Mungkin bulan depan."
Wahyu adalah mandor proyek yang bekerja sama dengan toko bangunan. Setiap hari ia datang untuk mengambil material bangunan untuk proyek perumahan di selatan kota.
Tapi Wahyu bukan mandor biasa.
Wahyu adalah orang paling pesimis yang pernah Arga temui.
Setiap kali ia membuka mulut, yang keluar adalah keluhan. Tentang harga material yang naik, tentang upah buruh yang tidak pernah cukup, tentang proyek yang molor, tentang klien yang pelit, tentang macet, tentang hujan, tentang panas, tentang semuanya.
"Mas Arga," panggil Wahyu suatu siang ketika Arga sedang mengangkat pasir ke gerobak.
"Iya, Mas Wahyu."
"Kamu baru lima minggu di sini, ya?"
"Iya, Mas."
"Jangan betah-betah. Cari kerja lain yang lebih enak."
"Kerja di sini enak, Mas."
Wahyu tertawa pahit. "Enak? Angkat semen, angkat pasir, keringatan, pegal, pegal. Enak apa?"
"Saya terbiasa, Mas."
"Ya, sekarang kamu bilang terbiasa. Tunggu lima tahun lagi. Sepuluh tahun lagi. Badanmu akan rusak. Tulangmu akan keropos. Sendimu akan sakit. Dan apa yang kamu dapat? Uang pas, pasan untuk hidup sebatang kara."
"Dari pada menganggur, Mas."
"Ya, itu benar. Tapi jangan puas di sini. Cari yang lebih baik. Jangan seperti saya."
"Kenapa jangan seperti Mas Wahyu?"
Wahyu memandang Arga. Matanya sayu. Lelah.
"Karena saya sudah dua puluh tahun di proyek, proyek ini. Dan hidup saya tidak berubah. Masih begini, begini saja. Tidak maju, maju."
Arga tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.
"Sudah, kamu kerja. Saya ambil kayu. Nanti sore proyek butuh."
Wahyu berjalan pergi dengan langkah gontai.
Arga memandang punggungnya.
Dua puluh tahun, pikir Arga. Dua puluh tahun kerja keras, tapi hidup tidak berubah. Apa yang salah?
Ia tidak tahu.
Tapi ia bertekad untuk tidak menjadi seperti Wahyu.
PAKDE KARTO: SANG FILOSOF
Jam dua siang, seorang laki, laki tua datang ke toko. Umurnya sekitar enam puluh tahun. Rambutnya putih semua. Jenggotnya panjang dan lebat. Ia memakai baju koko lengan panjang dan sarung batik.
"Pakde Karto," sapa Pak Bondan. "Ada perlu apa?"
"Beli semen. Untuk renovasi musala."
"Berapa banyak?"
"Lima sak."
Pak Bondan menunjuk Arga. "Arga, angkat lima sak semen ke gerobak Pakde."
"Siap, Pak."
Arga mengangkat lima sak semen ke gerobak tua milik Pakde Karto. Setelah selesai, ia membantu Pakde Karto mendorong gerobak ke pinggir toko.
"Terima kasih, Le," kata Pakde Karto. "Kamu namanya Arga?"
"Iya, Pakde."
"Berapa lama di kota?"
"Lima minggu, Pakde."
"Sudah betah?"
"Lumayan, Pakde."
"Jangan lupa pulang. Sesekali pulang ke desa. Orang tua di rumah pasti kangen."
"Saya tidak punya waktu, Pakde. Setiap Minggu libur, saya keliling kota."
"Mencari sesuatu?"
Mencari seseorang," Arga ragu sejenak, lalu memutuskan untuk jujur. "Pacar saya."
"Laki-laki setia," Pakde Karto tersenyum. "Langka. Saya suka."
"Terima kasih, Pakde."
"Dengar, Le," Pakde Karto memandang Arga dengan mata yang dalam. "Hidup ini seperti semen."
"Semen, Pakde?"
"Iya. Semen. Kalau kena air, dia mengeras. Kalau tidak kena air, dia tetap bubuk. Tidak berguna."
"Maksudnya?"
"Kamu harus kena sesuatu. Sesuatu yang membuatmu mengeras. Menjadi kuat. Kokoh. Tidak mudah hancur. Untukmu, mungkin itu cinta. Untuk orang lain, mungkin itu penderitaan. Untuk saya, itu agama."
Arga terdiam. Ia memikirkan kata, kata Pakde Karto.
"Jangan terlalu lama memikirkannya," kata Pakde Karto sambil tertawa. "Nanti pusing."
"Siap, Pakde."
"Terima kasih semennya. Saya pamit."
"Selamat jalan, Pakde."
BU SRI: SANG JURU KOMENTAR
Jam empat sore, seorang perempuan gemuk datang ke toko. Ia memakai daster lusuh dan sandal jepit karet. Rambutnya diikat asal, asalan.
"Bu Sri," sapa Pak Bondan. "Ada perlu apa?"
"Arisan, Pak Bondan. Bulan ini giliran saya yang dapat. Saya mau belanja perlengkapan."
"Belanja? Ini toko bangunan, Bu. Bukan toko kelontong."
"Ya, saya tahu. Saya mau beli cat. Untuk ngecat pagar."
"Cat warna apa?"
"Pink."
"Pink?"
"Iya, pink. Pagar saya kan putih, sudah kusam. Saya ingin warna yang ceria. Biar tetangga iri."
Pak Bondan menghela napas. "Arga, ambilkan cat warna pink dua kaleng."
"Siap, Pak."
Arga mengambil dua kaleng cat pink dari rak belakang. Diserahkannya pada Bu Sri.
"Ini, Bu."
"Mas Arga, ya?" Bu Sri memandang Arga dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Iya, Bu."
"Kamu yang baru lima minggu di sini?"
"Iya, Bu."
"Kamu datang dari desa?"
"Wringinrejo, Bu. Di selatan."
"Kampungku juga di selatan. Tapi dekat laut. Kamu suka ikan?"
"Suka, Bu."
"Bagus. Nanti kalau ada waktu, mampir ke rumah saya. Saya masak ikan bakar." Bu Sri berbisik, "Jangan bilang siapa-siapa, nanti pada dateng semua."
Arga tersenyum. "Siap, Bu."
"Bu Sri," potong Pak Bondan. "Catnya dua kaleng. Harga seratus dua puluh ribu."
"Aduh, mahal sekali, Pak. Kemarin di toko sebelah cuma seratus ribu."
"Itu toko sebelah, Bu. Beda kualitas. Cat ini anti luntur. Anti jamur. Tahan lima tahun."
"Tapi seratus dua puluh itu terlalu mahal. Bagaimana kalau seratus sepuluh?"
"Tidak bisa, Bu."
"Seratus lima belas?"
"Bu Sri," Pak Bondan menghela napas. "Saya sudah punya pelanggan dua puluh tahun. Semua tahu harga saya pas."
"Ya sudah, seratus dua puluh. Tapi jangan lupa bonus kuas."
"Kuas tidak termasuk."
"Pak Bondan, pelit sekali."
"Bukan pelit. Bisnis."
Bu Sri membayar. Sebelum pergi, ia menepuk bahu Arga.
"Baik-baik, Mas Arga. Jaga kesehatan. Jangan kerja terlalu keras. Nanti penyakit."
"Siap, Bu."
Bu Sri pergi dengan gerobaknya.
KERJA LEMBUR
Jam setengah enam sore, Pak Bondan mendekati Arga yang sedang membereskan gudang.
"Arga," panggilnya.
"Iya, Pak."
"Kamu mau lembur?"
"Lembur apa, Pak?"
"Toko buka sampai jam delapan malam. Kamu jaga toko. Saya ada urusan keluarga."
"Baik, Pak."
"Ada uang lembur. Dua puluh ribu."
"Siap, Pak."
"Kalau ada yang belanja, layani. Kalau ditanya harga, lihat daftar harga di meja. Kalau tawar, menawar, jangan turun lebih dari sepuluh persen."
"Baik, Pak."
Pak Bondan pergi. Arga duduk di kursi plastik. Memandang jalanan yang mulai sepi.
Jam setengah enam sore, pikirnya. Di desa, sekarang saatnya makan malam. Ibu memasak sayur asem. Ayah mengambil air wudhu untuk salat maghrib. Aroma dupa dari rumah Mbah Jayarasa mulai menyebar.
Ia merindukan desa.
Tapi ia tidak bisa pulang.
Belum.
Jam tujuh malam, seseorang datang.
Perempuan. Usia sekitar empat puluh tahun. Memakai baju batik dan kerudung coklat. Wajahnya lelah.
"Mas, toko masih buka?" tanyanya.
"Masih, Bu. Ada yang bisa dibantu?"
"Saya mau beli semen. Dua sak."
"Untuk apa, Bu?"
"Untuk nambal tembok rumah. Tembok kamar mandi retak. Takut roboh."
"Siap, Bu. Saya antar ke rumah."
"Sanggup?"
"Sanggup."
Arga mengangkat dua sak semen ke gerobak dorong. Ia mendorong gerobak di belakang perempuan itu. Rumahnya tidak jauh. Hanya lima ratus meter dari toko.
"Mas Arga, kan?" tanya perempuan itu di tengah jalan.
"Iya, Bu. Kok tahu?"
"Dengar dari Bu Sri. Katanya ada pemuda desa baru kerja di toko bangunan. Rajin. Jujur. Suka bantu."
"Saya hanya melakukan tugas, Bu."
"Tugas, ya. Tapi tidak semua orang melakukan tugas dengan baik. Kebanyakan asal, asalan."
"Terima kasih, Bu."
"Sama, sama."
Mereka sampai di rumah. Arga menurunkan semen di halaman depan.
"Mas, mau minum dulu?" tawar perempuan itu.
"Terima kasih, Bu. Saya harus kembali ke toko."
"Baik. Hati-hati di jalan."
Arga kembali ke toko. Perjalanan terasa lebih ringan. Bukan karena beban yang berkurang, tapi karena hatinya merasa berguna.
RAHASIA PAK BONDAN
Jam setengah delapan malam, Pak Bondan kembali.
"Ada apa, Le?" tanyanya.
"Ada Bu Surti beli semen dua sak, Pak. Saya antar."
"Bagus. Kamu jujur."
"Terima kasih, Pak."
Pak Bondan duduk di kursi plastik. Ia mengeluarkan sebatang rokok, menyalakannya, lalu mengisap dalam, dalam.
"Arga," panggilnya.
"Iya, Pak."
"Duduk."
Arga duduk di samping Pak Bondan.
"Kamu tahu kenapa saya mempertahankan toko ini selama dua puluh tahun?" tanya Pak Bondan.
"Karena Bapak pintar berbisnis?"
"Bukan. Banyak yang lebih pintar dari saya. Tapi gulung tikar."
"Lalu kenapa, Pak?"
"Karena saya tidak hanya jual barang. Saya juga jual kepercayaan. Pelanggan saya tahu bahwa saya tidak akan menipu mereka. Bahwa material saya bagus. Bahwa harga saya pas."
Arga mengangguk.
"Di kota ini," lanjut Pak Bondan, "kepercayaan adalah mata uang paling berharga. Lebih berharga dari emas. Lebih berharga dari uang. Karena uang bisa dicari, tapi kepercayaan harus dibangun bertahun, tahun."
"Saya mengerti, Pak."
"Kamu masih muda. Kamu punya banyak waktu untuk membangun kepercayaan. Jangan sia-siakan."
"Tidak akan, Pak."
Pak Bondan membuang puntung rokoknya.
"Sekarang, pulang. Besok masih ada kerja."
"Siap, Pak. Selamat malam."
"Selamat malam, Le."
SURAT DARI DESA
Sesampainya di kos, Arga menemukan surat di atas dipannya.
Surat dari desa.
Ia membuka amplop itu dengan hati, hati. Tangannya gemetar. Jantungnya berdegup kencang.
Mungkin dari Sekar, pikirnya. Mungkin akhirnya dia mengirim surat lagi.
Tapi bukan.
Surat itu dari ibunya.
"Le," tulis Sukmawati dengan tulisan tangan yang agak gemetar. "Kamu sehat? Ibu doakan setiap hari. Ayah juga. Jatmika juga, meskipun dia tidak bisa menulis."
"Seminggu yang lalu, Mbah Jayarasa sakit. Batuk, batuk. Badannya panas. Ibu dan Ayah jenguk. Mbah Jayarasa bilang, jangan bilang Arga. Nanti dia khawatir. Tapi Ibu tidak tega. Ibu harus bilang."
"Mbah Jayarasa sekarang sudah sehat. Tapi badannya semakin lemah. Katanya, umurnya tidak lama lagi. Dia ingin bertemu kamu sebelum mati."
"Le, pulanglah. Setidaknya sekali. Untuk lihat Mbah Jayarasa. Untuk lihat Ibu dan Ayah. Untuk lihat desa yang merindukanmu."
"Kamu tidak usah bawa oleh, oleh. Kamu tidak usah bawa uang. Cukup bawa dirimu."
"Ibu sayang Kamu, Le. Jaga kesehatan. Jangan lupa salat. Jangan lupa makan."
"Dari Ibu, yang selalu menunggumu pulang."
Air mata Arga jatuh.
Ia membaca surat itu berulang, ulang.
Mbah Jayarasa sakit.
Mbah Jayarasa ingin bertemu.
Mbah Jayarasa mungkin tidak lama lagi.
Arga menutup matanya.
Ia membayangkan Mbah Jayarasa duduk di kursi bambu. Menyesap teh jahe. Tersenyum padanya.
"Le, kowe ora usah bali kanggo aku. Bali kanggo awakmu dhewe."
"Kamu tidak usah pulang untukku. Pulanglah untuk dirimu sendiri."
Arga menggenggam surat itu erat, erat.
"Besok," bisiknya. "Besok saya minta izin Pak Bondan. Saya pulang. Saya lihat Mbah Jayarasa. Saya lihat Ibu dan Ayah. Saya lihat desa."
Ia memeluk bantal kecil dari kebaya Sekar.
"Sekar, doakan aku. Doakan agar Mbah Jayarasa sehat. Doakan agar aku kuat."
BAB 5
BAYANGAN DI HALTE BUS
Surat dari ibunya tentang penyakit Mbah Jayarasa masih tersimpan rapi di saku celana Arga saat ia berangkat kerja keesokan paginya. Kertas itu terasa berat, meskipun hanya selembar. Setiap langkah yang ia ambil, ia merasakan kertas itu menekan pahanya, mengingatkannya pada kakek tua yang duduk di kursi bambu dengan teh jahe dan peta usang di tangannya.
"Le, kowe ora usah bali kanggo aku. Bali kanggo awakmu dhewe."
Kata, kata itu terus berputar di kepalanya seperti air dalam kendi yang tidak pernah berhenti bergerak.
Tapi ia tidak bisa pulang sekarang.
Belum.
Belum menemukan Sekar.
Belum menemukan titik terang.
Tapi firasatnya hari ini berbeda. Ada sesuatu di udara pagi yang tidak biasa. Sesuatu yang dingin. Sesuatu yang menusuk pori, pori. Sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri meskipun matahari sudah terbit dengan terangnya.
"Hati-hati hari ini," pesan Mbah Jayarasa terakhir kali sebelum ia berangkat. "Kadang, yang kita cari justru muncul saat kita tidak mencarinya."
Arga berjalan lebih cepat dari biasanya. Kaki kanannya masih sedikit tertatih karena cedera lama, tapi ia paksakan. Ia tidak mau telat. Pak Bondan sudah bilang, keterlambatan akan dipotong gaji. Dan ia tidak mau gajinya dipotong. Ia butuh setiap rupiah untuk ditabung.
Jam tujuh kurang lima menit, Arga tiba di toko.
Pak Bondan sudah duduk di kursi plastik seperti biasa. Koran. Rokok. Kopi hitam. Tapi hari ini ada yang berbeda. Pak Bondan tidak menyapanya seperti biasa. Ia hanya menatap Arga dengan mata yang dalam—seperti sedang membaca sesuatu di wajah Arga.
"Kamu kurang tidur, Le?" tanya Pak Bondan.
"Tidak, Pak. Saya tidur cukup."
"Matamu merah."
"Capek, Pak."
"Kerja kemarin?"
"Iya, Pak. Lembur sampai jam delapan."
"Jangan terlalu memaksakan diri. Nanti sakit."
"Saya tidak apa, apa, Pak."
Pak Bondan tidak menjawab. Ia kembali ke korannya. Arga melepas kemeja abu, abunya, melipatnya rapi, lalu meletakkannya di kursi kosong.
Ia mengambil sekop.
Hari ini ia disuruh memindahkan pasir dari halaman depan ke gudang belakang. Pekerjaan rutin. Membosankan. Tapi ia lakukan dengan sungguh, sungguh.
Sekop pertama. Pasir diangkat. Dimasukkan ke gerobak.
Sekop kedua. Pasir diangkat lagi. Dimasukkan ke gerobak lagi.
Sekop ketiga, keempat, kelima, tangannya bergerak otomatis. Pikirannya melayang ke mana, mana. Ke desa. Ke Mbah Jayarasa. Ke Sekar. Ke surat, surat yang tidak pernah dibalas. Ke peta usang yang masih tersimpan di saku celana, peta yang tidak pernah ia pahami, peta dengan lingkaran merah dan tulisan "di sini, dia pernah menangis."
Di mana lingkaran merah itu?
Di mana Sekar pernah menangis?
Di kota sebesar ini, di mana?
Jam sepuluh pagi, Arga istirahat.
Ia duduk di bawah pohon rindang di depan toko. Di tangannya ada segelas air mineral dingin. Ia meminumnya seteguk. Lalu dua teguk. Lalu seteguk lagi.
"Mas Arga."
Arga menoleh. Pak Bondan berdiri di sampingnya dengan sebungkus nasi.
"Makasih, Pak. Saya belum laper."
"Makan dulu. Nanti kalau laper, jam istirahatmu habis."
Arga menerima bungkusan itu. Dibukanya. Nasi putih, telur dadar, tempe goreng. Tidak ada sambal hari ini. Pak Bondan lupa.
"Pak," panggil Arga.
"Iya."
"Boleh saya minta izin pulang kampung?"
Pak Bondan mengerutkan kening. "Kapan?"
"Akhir pekan ini. Sabtu, Minggu. Saya mau lihat tetua desa. Katanya sakit."
"Parah?"
"Saya tidak tahu. Surat dari ibu saya tidak bilang detail."
"Pulanglah. Tapi kerja Sabtu biasanya lembur. Dua puluh ribu. Kamu rela kehilangan?"
"Keluarga lebih penting daripada uang, Pak."
Pak Bondan mengangguk. "Kamu benar. Pulanglah. Jangan lupa bawa oleh, oleh."
"Oleh, oleh apa, Pak?"
"Oleh, oleh dari kota. Makanan ringan. Biskuit. Permen. Biar orang, orang di desamu senang."
"Siap, Pak."
Jam dua belas siang, Arga makan siang.
Ia duduk sendirian di bawah pohon rindang itu, memandang jalan raya, memandang mobil, mobil yang lalu lalang, memandang orang, orang yang berjalan tergesa, gesa.
Di seberang jalan, ada sebuah halte bus.
Halte kecil dengan atap seng dan bangku kayu yang sudah lapuk.
Setiap hari Arga melihat halte itu. Setiap hari ia melihat orang, orang berdiri di bawah atap seng itu, menunggu bus, menunggu angkutan kota, menunggu sesuatu yang tidak pernah datang tepat waktu.
Tapi hari ini, ada yang berbeda.
Di bangku kayu halte itu, duduk seorang perempuan.
Rambut panjang. Gaun biru muda. Wajah tidak terlalu jelas karena jarak dan cahaya matahari yang menyilaukan.
Tapi Arga mengenali gaun itu.
Gaun biru muda.
Gaun yang biasa dipakai Sekar ketika mereka duduk di tepi Kali Wening. Gaun yang biasa dipakai Sekar ketika mereka berbincang tentang masa depan. Gaun yang biasa dipakai Sekar ketika ia tersenyum dengan mata sayu itu.
Arga berhenti mengunyah.
Ia menelan makanan di mulutnya dengan susah payah.
Matanya tidak berkedip.
"Pak Bondan," panggilnya pelan.
"Iya."
"Pak Bondan, lihat itu."
Pak Bondan menoleh ke seberang jalan. "Lihat apa?"
"Perempuan di halte. Gaun biru muda."
"Ada. Perempuan. Rambut panjang. Gaun biru. Lalu?"
"Itu Sekar, Pak."
Pak Bondan mengerutkan kening. "Sekar? Pacarmu?"
"Iya, Pak."
"Kamu yakin? Jaraknya lumayan jauh."
"Saya yakin, Pak. Saya tidak akan salah mengenali gaun itu."
Pak Bondan memandang Arga. Lalu memandang perempuan di halte. Lalu kembali pada Arga.
"Sudah lima minggu kamu cari dia, Le. Jangan sampai salah orang. Nanti kecewa."
"Saya tidak salah, Pak. Gaun itu, "
"Gaun itu bisa dipakai siapa saja."
"Tapi, "
"Kamu lihat wajahnya? Jelas?"
Arga terdiam. Jarak dari toko ke halte sekitar lima puluh meter. Ditambah sinar matahari yang menyilaukan, ditambah kaca mata Arga yang tidak terlalu bagus karena hanya beli di pasar malam, ia tidak bisa melihat wajah perempuan itu dengan jelas.
"Kurang jelas, Pak."
"Maka dekati. Pastikan. Jangan sampai kamu menyesal nanti."
Arga berdiri.
Tangannya gemetar.
Jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang.
Ia berjalan menyeberang jalan. Perlahan. Setiap langkah terasa berat, seperti kakinya terbenam di lumpur. Setiap napas terasa sesak, seperti ada yang menekan dadanya dari dalam.
Sekar.
Apakah itu kau?
Apakah aku tidak bermimpi?
Apakah setelah lima minggu, akhirnya aku menemukanmu?
Ia sampai di trotoar seberang.
Perempuan itu masih duduk di bangku kayu, membelakangi Arga.
Arga berjalan mendekat.
Lima langkah lagi.
Empat langkah.
Tiga langkah.
Dua langkah.
"Maaf, Mbak," kata Arga.
Perempuan itu menoleh.
Bukan Sekar.
Wajahnya berbeda. Hidungnya lebih mancung. Matanya lebih besar. Bibirnya lebih tipis. Ia tersenyum ramah pada Arga.
"Iya, Mas. Ada yang bisa dibantu?"
Arga terdiam. Dadanya terasa kosong. Hatinya terasa seperti jatuh ke jurang yang dalam.
"Maaf, Mbak. Saya kira Mbak orang lain."
"Ooh. Siapa?"
"Pacar saya."
Perempuan itu tersenyum lagi. "Cantik?"
"Menurut saya, iya."
"Mirip saya?"
"Jauh, Mbak. Saya yang salah lihat. Maaf."
"Tidak apa, apa. Semoga cepat ketemu."
"Terima kasih. Maaf mengganggu."
Arga berjalan kembali ke toko.
Langkahnya berat.
Lebih berat dari ketika ia menyeberang tadi.
Pak Bondan masih duduk di kursi plastik, memandang Arga dengan mata yang dalam.
"Bukan?" tanyanya.
"Bukan, Pak."
"Kamu kecewa."
"Iya, Pak. Sangat."
"Kamu menangis?"
"Tidak, Pak. Saya hanya..."
"Apa?"
"Kosong."
Pak Bondan menghela napas. "Duduk. Makan dulu. Nasi gorengmu tinggal sedikit."
"Saya tidak laper, Pak."
"Makan. Perut kosong tidak baik untuk pikiran."
Arga duduk. Ia mengambil sendok. Memasukkan nasi ke mulut. Mengunyah. Tidak terasa apa, apa. Hanya nasi. Hanya karbohidrat. Hanya pengganjal perut.
"Le," panggil Pak Bondan.
"Iya, Pak."
"Kamu tahu kenapa kamu bisa salah lihat?"
"Karena jaraknya jauh, Pak. Dan mata saya tidak bagus."
"Bukan itu."
"Lalu kenapa, Pak?"
"Karena kamu terlalu berharap. Harapanmu terlalu tinggi. Sehingga setiap perempuan berambut panjang dan berbaju biru, kamu anggap Sekar."
Arga tidak menjawab.
"Kamu harus sabar, Le. Mencari seseorang di kota besar itu tidak mudah. Butuh waktu. Butuh proses. Butuh kesabaran."
"Saya sudah sabar, Pak. Lima minggu."
"Lima minggu itu sebentar, Le. Saya mencari istri saya yang sudah cerai butuh tiga tahun. Itu pun saya tidak ketemu. Saya hanya tahu dia pindah ke kota lain."
"Tiga tahun?"
"Iya. Tiga tahun."
"Sabar sekali, Pak."
"Karena saya tidak punya pilihan. Selain sabar, apa yang bisa saya lakukan? Menangis? Meratapi nasib? Mengutuk takdir? Semua itu tidak akan mengembalikan istri saya."
Arga terdiam. Ia memandang nasi gorengnya yang sudah hampir habis.
"Kamu kerja lagi, Le," kata Pak Bondan. "Lupakan sebentar. Nanti sore, setelah pulang kerja, kamu bisa cari lagi. Tapi sekarang, fokus kerja. Jangan sampai kecelakaan karena pikiran melayang."
"Siap, Pak."
Jam lima sore, Arga pulang.
Perjalanan pulang terasa lebih berat dari biasanya. Setiap langkah terasa seperti menginjak kapas. Setiap bayangan perempuan berambut panjang membuat jantungnya berdegup kencang, lalu kecewa lagi ketika ternyata bukan.
Ia melewati halte bus itu lagi.
Perempuan berbaju biru sudah tidak ada.
Yang ada hanya bangku kayu kosong.
Dan selembar kertas kecil di atas bangku itu.
Arga mendekat.
Ia mengambil kertas itu.
Kertas buram, lipatan sembarangan. Ia membukanya perlahan.
Ada tulisan di dalamnya.
Tulisan tangan.
Hurufnya kecil. Rapi. Miring ke kanan.
"Kamu tidak salah lihat. Aku memang di sini. Tapi belum waktunya kita bertemu. S"
Darah Arga berhenti mengalir.
Ia membaca ulang.
"Kamu tidak salah lihat. Aku memang di sini. Tapi belum waktunya kita bertemu. —S"
S.
Sekar?
Sekar yang menulis ini?
Tapi bagaimana?
Dari mana ia tahu Arga akan lewat?
Dari mana ia tahu Arga akan melihat perempuan berbaju biru itu?
Apakah perempuan berbaju biru itu dia?
Atau hanya perantara?
Atau ini jebakan?
Arga memandang sekeliling. Mencari, cari. Siapa yang meninggalkan kertas ini? Siapa yang menulis ini?
Jalanan ramai. Mobil. Motor. Orang. Tidak ada yang mencurigakan.
"Mas Arga?"
Arga menoleh. Seorang perempuan berdiri di sampingnya. Perempuan muda dengan kacamata tebal dan rambut pendek. Jaket jeans. Sepatu kets putih.
Nisa.
"Nisa? Kamu ngapain di sini?" tanya Arga.
"Pulang kuliah. Lewat sini. Kamu lihat, Mas. Wajahmu pucat sekali."
"Ini, Nisa. Lihat ini."
Arga menyerahkan kertas itu pada Nisa. Nisa membacanya.
Matanya membesar. "Dari Sekar?"
"Saya tidak tahu."
"Ada tanda tangan S."
"Iya. Saya baca."
"Kamu yakin ini dari Sekar?"
"Siapa lagi, Nisa? Siapa lagi yang tahu saya mencari dia?"
Nisa terdiam. Ia memandang kertas itu lagi. Membolak, balik. Mencari petunjuk.
"Kertas ini," katanya, "kertas buram. Murah. Banyak dijual di toko alat tulis. Tidak bisa dilacak."
"Tulisan tangannya?"
"Rapi. Terlatih. Seperti orang yang biasa menulis."
"Sekar memang biasa menulis surat untuk saya."
"Tapi siapa yang meninggalkan ini? Orang itu pasti tahu kamu akan lewat sini. Pasti tahu kamu akan melihat perempuan berbaju biru. Pasti tahu kamu akan mendekati halte."
"Saya tidak tahu, Nisa. Pikiran saya kacau."
Nisa memegang bahu Arga. "Tenang, Mas. Ini petunjuk pertama. Ini berarti Sekar ada di kota ini. Dia tahu kamu mencari. Dia ingin kamu tahu bahwa dia di sini, tapi belum mau bertemu."
"Kenapa belum mau?"
"Mungkin ada alasan. Mungkin dia dalam bahaya. Mungkin orang tuanya masih mengawasi. Mungkin surat, suratnya masih dicegat."
"Tapi kenapa meninggalkan pesan yang samar, samar? Kenapa tidak langsung menulis alamat?"
"Karena itu risiko, Mas. Kalau ketemu orang yang salah, bisa celaka."
Arga menghela napas. "Saya bingung, Nisa. Senang sekaligus kecewa."
"Wajar. Kamu manusia."
Mereka berdua berdiri di tepi jalan. Orang, orang lalu lalang. Tidak ada yang memperhatikan.
"Mas, saya boleh simpan kertas ini?" tanya Nisa.
"Untuk apa?"
"Saya tunjukkan ke Guntur dan Faruq. Mungkin mereka bisa menganalisis."
"Analisis apa?"
"Tulisan tangan. Kertas. Tanda tangan. Mungkin ada petunjuk yang tidak kelihatan."
"Baik. Simpan."
Nisa memasukkan kertas itu ke saku jaketnya.
"Sekarang, Mas pulang. Istirahat. Jangan dipikirkan terus. Nanti stres."
"Saya sudah stres, Nisa."
"Ya, sudah. Jadi jangan tambah stres. Makan. Tidur. Besok cari lagi."
Arga sampai di kos pukul setengah enam sore.
Dimas belum pulang.
Mbok Darmi sedang duduk di teras sambil mengupas bawang.
"Mas Arga, mukamu pucat. Sakit?" tanyanya.
"Tidak, Mbok. Cuma capek."
"Lembur?"
"Bukan. Ada... sesuatu."
"Cerita."
Arga duduk di samping Mbok Darmi. "Mbok, kalau seseorang meninggalkan pesan misterius, itu pertanda apa?"
Mbok Darmi menghentikan kupasannya. "Pesan misterius? Seperti apa?"
Arga menceritakan semuanya. Tentang halte. Tentang perempuan berbaju biru. Tentang kertas. Tentang tanda tangan S.
Mbok Darmi mendengarkan dengan saksama. Matanya yang sipit tiba, tiba terbuka lebar.
"Kamu yakin itu dari Sekar?"
"Saya tidak yakin, Mbok."
"Kalau tidak yakin, jangan percaya dulu. Bisa jadi itu jebakan."
"Jebakan dari siapa?"
"Siapa pun yang tidak suka kamu dekat dengan Sekar. Orang tuanya. Calon suaminya. Siapa pun."
"Mereka tahu saya ada di kota?"
"Mungkin. Kamu tidak sembunyi, sembunyi, Mas. Kamu kerja di toko bangunan. Kamu punya teman, teman baru. Kamu keliling kota setiap hari libur. Mudah dilacak."
Arga terdiam. Mbok Darmi benar. Ia tidak sembunyi. Ia tidak menyamar. Ia hanya jadi dirinya sendiri.
"Kalau jebakan, tujuannya apa, Mbok?"
"Menjerumuskanmu. Membuatmu kecewa. Membuatmu putus asa. Membuatmu berhenti mencari."
"Saya tidak akan berhenti."
"Ya, sekarang kamu bilang begitu. Tapi kalau terus, terusan dapat umpan palsu, lama, lama capek."
Mbok Darmi kembali mengupas bawang. Jari, jarinya yang gemuk bergerak lincah.
"Mbok," panggil Arga.
"Iya."
"Mbok pernah dengar nama Ferry?"
Mbok Darmi berhenti. Ia menatap Arga. "Ferry? Ferry Kencana? Pengusaha muda?"
"Saya tidak tahu nama belakangnya. Tapi dia orang kaya. Calon suami yang dijodohkan dengan Sekar."
Mbok Darmi bersiul kecil. "Ferry Kencana memang tajir. Punya usaha properti. Punya mobil mewah. Punya rumah di kompleks elit. Sering muncul di koran."
"Kenapa Mbok tahu?"
"Karena Mbok baca koran. Mbok tidak buta informasi."
"Apakah Mbok tahu di mana rumahnya?"
"Tahu. Di perumahan Mutiara Indah. Blok A nomor tujuh. Tapi tidak usah coba, coba datang ke sana. Penjagaannya ketat. Kamu bisa dihadiahi pentungan."
"Terima kasih informasinya, Mbok."
"Jangan terima kasih. Mbok hanya kasihan lihat kamu. Anak desa, jauh-jauh ke kota, cari pacar yang mungkin sudah dilamar orang lain."
Arga tidak menjawab. Ia hanya menunduk.
Pukul delapan malam, Dimas pulang.
Ia langsung mencari Arga di kamar.
"Mas Arga! Mas Arga!" teriaknya dari luar pintu.
"Iya, Mas. Masuk."
Dimas masuk dengan wajah kusut dan baju basah keringat.
"Saya dapat informasi, Mas," katanya sambil mengatur napas.
"Informasi apa?"
"Tadi saya antar paket ke perumahan Mutiara Indah. Saya lihat seorang perempuan di balkon. Rambut panjang. Bermata sayu. Dia melambai ke arah saya."
"Kamu yakin itu Sekar?"
"Saya tidak yakin. Tapi ciri, cirinya mirip dengan cerita Mas."
"Rumahnya nomor berapa?"
"Blok A nomor tujuh."
Arga tersentak. Sama dengan informasi dari Mbok Darmi.
"Itu rumah Ferry, Mas," kata Dimas. "Calon suami Sekar."
"Saya tahu. Mbok Darmi sudah bilang."
"Jangan coba, coba datang ke sana. Penjagaannya banyak. Satpamnya galak."
"Saya tidak akan datang. Saya cuma..."
"Apa?"
"Kaget."
Dimas duduk di dipan Arga. "Mas, saya tahu ini berat. Tapi jangan putus asa. Mas masih punya kita. Guntur. Faruq. Nisa. Saya. Mbok Darmi. Pak Bondan. Banyak yang mendukung Mas."
"Terima kasih, Dimas."
"Sama, sama. Sekarang makan malam. Saya beli nasi goreng."
Malam itu, Arga tidak bisa tidur.
Ia memeluk bantal kecil dari kebaya Sekar.
Ia memandang langit, langit kamar yang gelap.
Ia memikirkan kertas misterius di halte.
"Kamu tidak salah lihat. Aku memang di sini. Tapi belum waktunya kita bertemu. —S"
S.
Sekar.
Atau Seseorang?
Atau Siapa pun?
Ia memejamkan mata.
Bayangan Sekar muncul.
Tapi kali ini tidak tersenyum.
Sekar menangis.
Tangan kecil. Wajah pucat. Mata merah.
"Jangan menyerah padaku," bisiknya.
"Aku tidak akan," jawab Arga dalam hati.
"Mereka mengawasiku. Setiap waktu. Setiap saat. Aku tidak bisa menulis surat. Aku tidak bisa telepon. Aku hanya bisa meninggalkan pesan, pesan kecil. Di tempat, tempat yang kamu mungkin lewati."
"Seperti di halte?"
"Iya. Aku tahu kamu lewat sana setiap hari. Aku minta teman yang bisa dipercaya meninggalkan pesan itu."
"Apa namanya?"
"Aku tidak bisa bilang. Nanti dia celaka."
"Sekar, aku rindu kamu."
"Aku juga. Tapi kita sabar. Waktunya belum tepat."
"Kapan?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku percaya suatu hari kita akan bertemu."
"Aku juga percaya."
Bayangan itu menghilang.
Arga membuka mata.
Kamar gelap. Sunyi. Hanya suara jangkrik dari selokan.
Ia memeluk bantal kebaya itu lebih erat.
"Sekar," bisiknya, "aku akan terus mencari. Sampai kita bertemu. Sampai kau bilang 'aku di sini' bukan lewat kertas, tapi lewat suaramu sendiri."
BAB 6
MALAM CURHAT DI ATAP KOS
Malam itu, langit kota terlihat berbeda.
Biasanya, langit di atas kos, kosan Mbok Darmi selalu kelabu, tertutup polusi, tertutup asap pabrik, tertutup debu yang beterbangan dari jalan raya. Bintang, bintang jarang sekali muncul. Bulan pun seringkali hanya samar, samar, seperti lilin yang hendak padam.
Tapi malam ini, langit bersih.
Entah karena hujan semalam yang membasuh segala debu, entah karena angin dari utara yang membawa awan, awan pergi, entah karena takdir sedang ingin memberikan pemandangan yang indah untuk sekelompok anak muda yang hatinya sedang dilanda badai.
"Malam ini bagus," kata Guntur sambil menatap ke atas. Ia duduk di atas genting kos, kaki menjuntai, rokok di tangan kiri, segelas kopi hitam di tangan kanan. "Bulan purnama. Bintang-bintang terang. Langit seperti lukisan."
"Kamu tahu, Guntur," kata Faruq dari sampingnya, "kalau jadi pelukis, kamu pasti miskin. Soalnya kamu terlalu filosofis. Orang beli lukisan untuk hiasan, bukan untuk direnungkan."
"Seni tidak selalu untuk dijual, Faruq. Seni juga untuk ekspresi. Untuk menyampaikan apa yang tidak bisa diucapkan kata, kata."
"Omong kosong. Kalau tidak laku, ya percuma. Kamu tidak bisa makan ekspresi. Kamu tidak bisa bayar kos dengan filosofi."
Guntur dan Faruq sudah setengah jam duduk di atap kos. Mereka sengaja memanjat lewat jendela belakang yang bersebelahan dengan pohon jambu. Dari atas sana, mereka bisa melihat seluruh gang, seluruh pasar malam, seluruh kota yang berkelap, kelip bagaikan lautan lampu.
Arga bergabung lima belas menit kemudian. Ia naik dengan susah payah karena tangannya masih pegal setelah seharian mengangkat semen. Faruq harus menariknya dari atas.
"Mas Arga, kamu olahraga dikit," ledek Faruq. "Masa naik atap kos aja susah."
"Saya angkat semen empat puluh sak hari ini, Faruq. Otot saya sudah cukup olahraga."
"Nah, itu masalahnya. Otot lengan kamu kuat, tapi otot kaki kamu lemah. Nanti suatu hari kamu jatuh cinta, kamu bisa memeluk erat-erat, tapi tidak bisa mengejar."
"Wah, filosofis juga kamu hari ini."
"Bukan filosofis. Biologi. Otot kaki penting untuk lari."
Mereka bertiga tertawa.
PERTEMUAN DI ATAP
Nisa datang sepuluh menit kemudian. Ia tidak naik lewat pohon jambu seperti mereka bertiga. Ia naik lewat tangga darurat di belakang kos, jalan yang lebih aman, tapi lebih panjang.
"Kalian sudah pada di sini," katanya sambil mengatur napas.
"Kita baru setengah jam, Nis," kata Guntur. "Arga baru lima belas menit."
"Di mana Dimas?"
"Masih di jalan. Katanya ada kiriman dadakan."
Nisa duduk di sebelah Faruq. Ia membawa sekantong gorengan dan dua botol air mineral.
"Ini buat kalian," katanya. "Makan dulu. Nanti perut keroncongan terus suaranya kedengeran sampe bawah."
Faruq mengambil gorengan itu dengan lahap. "Nisa, kamu calon istri idaman. Rajin. Baik. Bawa gorengan."
"Jangan lamar saya, Faruq. Saya belum lulus kuliah."
"Ya nanti. Setelah lulus. Janji."
"Janji kacang."
Mereka tertawa lagi.
Dimas datang paling akhir. Wajahnya lelah, bajunya basah keringat, rambutnya acak, acakan.
"Maaf telat," katanya sambil memanjat lewat pohon jambu. "Ada kiriman ke perumahan Mutiara Indah. Macet parah."
"Mutiara Indah?" Guntur mengangkat alis. "Itu rumahnya Ferry, kan?"
"Iya. Saya lihat lagi perempuan di balkon. Rambut panjang. Mata sayu. Sekali lagi dia melambai ke arah saya."
"Kamu sudah dekat?" tanya Nisa.
"Tidak bisa. Satpamnya galak. Saya cuma antar paket ke pos satpam, tidak boleh masuk ke dalam."
Faruq bersiul kecil. "Misteri. Perempuan misterius. Seperti cerita detektif."
"Jangan bercanda, Faruq," kata Guntur tegas. "Ini serius. Nyawa Arga mungkin taruhannya."
"Saya tahu, Guntur. Saya hanya mencairkan suasana. Semua orang di sini tegang."
Faruq benar. Semua orang tegang. Arga paling tegang. Wajahnya pucat, matanya cekung, bibirnya kering. Sejak kejadian di halte, sejak menemukan kertas misterius itu, ia tidak bisa tidur nyenyak. Setiap malam ia terbangun beberapa kali, berkeringat dingin, jantung berdebar kencang.
"Nisa," panggil Arga.
"Iya, Mas."
"Kertas itu sudah kamu tunjukkan ke Guntur dan Faruq?"
"Sudah. Mereka sudah lihat."
"Bagaimana pendapat mereka?"
Guntur mengambil alih pembicaraan. "Menurut saya, kertas itu asli. Bukan palsu."
"Kenapa kamu yakin?" tanya Arga.
"Lima alasan. Pertama, kertas itu kertas buram, murah, mudah sobek. Itu kertas yang biasa dijual di toko alat tulis kecil, bukan di supermarket besar. Artinya, yang menulis bukan orang kaya. Orang kaya biasanya pakai kertas mahal."
"Kedua?"
"Kedua, tulisannya rapi tapi terburu-buru. Lihat saja huruf 'S' di tanda tangan. Ada getaran, getaran kecil. Seperti tangan yang gemetar. Bisa jadi karena takut. Atau karena dikejar waktu."
"Ketiga?"
"Ketiga, tinta hitam, pulpen murah. Bukan tinta mahal. Pulpen yang bisa dibeli di warung pinggir jalan."
"Keempat?"
"Keempat, lipatannya. Tidak rapi. Seperti dilipat dalam gelap. Atau dilipat sambil bersembunyi."
"Kelima?"
"Kelima, pesannya singkat. Tidak bertele, tele. Tidak ada basa, basi. Hanya inti. 'Aku di sini. Tapi belum waktunya bertemu.' Itu ciri, ciri pesan yang ditulis dalam tekanan, baik tekanan waktu, tekanan fisik, atau tekanan psikologis."
Arga terdiam. Guntur berbicara seperti detektif. Seperti orang yang terbiasa menganalisis.
"Guntur," panggil Faruq.
"Iya."
"Kamu yakin tidak salah jurusan? Filsafat itu buang-buang waktu. Kamu cocok jadi polisi."
"Saya tidak suka polisi."
"Ya sudah, detektif swasta."
"Belum ada izin."
"Bikin izin. Nanti saya jadi pasien pertama."
"Kamu tidak bisa jadi pasien detektif swasta. Kamu bisa jadi tersangka."
"Wah, saya ditangkap? Kejahatan apa?"
"Kejahatan terlalu banyak bercanda."
Mereka tertawa lagi. Tawa yang sedikit memecah ketegangan.
ARGA BERCERITA
Setelah tawa reda, Guntur menatap Arga. Matanya serius.
"Arga," katanya.
"Iya."
"Sekarang giliran kamu. Ceritakan semuanya. Dari awal. Jangan ada yang disembunyikan. Saya perlu detail."
"Sudah saya ceritakan."
"Ceritakan lagi. Lebih detail. Jangan sampai ada yang terlewat. Setiap kejadian, setiap tanggal, setiap tempat, setiap nama. Saya akan mencatat."
Arga menghela napas.
Ia memejamkan mata.
Lalu mulai bercerita.
KELAHIRAN
"Saya lahir di desa Wringinrejo, tiga puluh tahun yang lalu."
"Tiga puluh tahun?" Faruq memotong. "Mas Arga umur tiga puluh? Kelihatan lebih muda."
"Bukan tiga puluh. Dua puluh. Maksud saya, dua puluh tahun yang lalu."
"Dua puluh tahun," Faruq mengangguk. "Saya kira Mas Arga seumuran saya. Dua puluh. Saya juga dua puluh."
"Jadi cerita, Guntur tidak perlu dipotong," kata Nisa ketus.
Faruq menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Waktu saya lahir," lanjut Arga, "Mbah Jayarasa bilang ada keanehan. Kilat menyambar tiga kali. Tanpa suara. Anjing desa melolong serempak. Lampu minyak di rumah menyala sendiri. Kata Mbah Jayarasa, itu pertanda bahwa saya tidak seperti anak lain."
"Pertanda apa?" tanya Guntur.
"Bahwa saya bisa melihat dan mendengar hal-hal yang tidak bisa dilihat dan didengar orang lain."
"Klenik?" Faruq membuka mulutnya lagi.
"Entahlah. Saya tidak tahu. Tapi sepanjang masa kecil, saya sering mendengar suara-suara. Suara angin. Suara air. Suara bisikan dari arah sungai. Suara itu memanggil nama saya. Memanggil nama 'Jatmika'."
"Jatmika? Nama siapa itu?"
"Kakak saya. Anak pertama orang tua saya. Dia meninggal sebelum saya lahir."
Ruangan sunyi.
JATMIKA
"Waktu saya masih kecil, saya tidak tahu itu nama kakak saya. Saya pikir itu nama teman khayalan. Saya pikir itu nama hantu yang suka mengganggu. Tapi lama, lama saya sadar, suara itu tidak pernah berniat jahat. Suara itu hanya ingin ditemani."
"Kenapa?" tanya Nisa lembut.
"Karena dia mati sendirian. Tenggelam di sungai. Belum sempat mengucapkan selamat tinggal pada siapa pun. Belum sempat menyelesaikan urusan dengan orang yang dicintainya."
"Siapa orang yang dicintainya?"
Arga menelan ludah.
"Sekar."
Ruangan semakin sunyi.
SEKAR
"Waktu kecil, Sekar sering melihat Jatmika. Di sungai. Di halaman rumahnya. Di jalan setapak menuju bukit. Mereka berteman. Mereka bermain bersama. Mereka saling menyukai."
"Tapi Jatmika meninggal?"
"Iya. Tenggelam. Saat bermain di sungai bersama Sekar. Sekar selamat. Jatmika tidak."
"Trauma," bisik Guntur.
"Iya. Sekar trauma. Bertahun, tahun. Dia tidak bisa tidur nyenyak. Dia sering demam. Dia sering bicara sendiri. Orang bilang dia gila."
"Tapi dia tidak gila," kata Nisa.
"Dia tidak gila. Dia hanya bisa melihat Jatmika. Sama seperti saya."
"Karena itu kalian cocok?" tanya Faruq. "Sama, sama bisa lihat hantu?"
"Bukan hantu. Arwah. Mbah Jayarasa bilang, Jatmika belum pergi karena cintanya belum selesai. Dia ingin menyelesaikan sesuatu sebelum benar-benar meninggalkan dunia."
"Apa yang ingin diselesaikan?"
Arga memandang Guntur.
"Memastikan Sekar bahagia. Dengan saya."
CINTA
"Saya dan Sekar bertemu di Kali Wening. Sungai di belakang desa. Tempat Jatmika dulu meninggal. Awalnya hanya sekedar berteman. Tapi lama, lama... tumbuh perasaan."
"Karena apa?" tanya Nisa.
"Karena kami sama. Sama-sama kesepian. Sama-sama tidak dimengerti orang lain. Sama-sama dianggap aneh. Sama-sama bisa mendengar suara-suara yang tidak bisa didengar orang lain."
"Itu yang dinamakan soulmate," kata Faruq. "Dua jiwa yang terhubung."
"Mungkin."
"Lalu kenapa kalian berpisah?"
"Tidak berpisah. Dipisahkan."
"Oleh siapa?"
"Orang tua Sekar. Mereka datang dari kota. Membawa surat. Membawa preman. Membawa mobil mewah. Mereka menjemput Sekar paksa."
"Kenapa?"
"Karena mereka sudah menjodohkan Sekar dengan laki-laki kaya. Ferry. Pengusaha properti. Calon suami yang tidak pernah Sekar kenal sebelumnya."
"Bajingan," geram Guntur.
"Bajingan," ulang Faruq.
"Sialan," tambah Nisa.
"Dimas juga bilang begitu," kata Arga.
"Kami setuju dengan Dimas," kata Guntur.
EMOSI MELUAP
Setelah cerita itu, suasana di atap kos berubah.
Tidak ada lagi tawa.
Tidak ada lagi candaan.
Yang ada hanya angin malam yang dingin, hanya bintang, bintang yang berkerlap, kerlip, hanya jantung yang berdetak tidak beraturan.
Faruq yang biasanya paling ceria-tiba, tiba diam.
Bukan diam biasa.
Diam yang penuh amarah.
Diam yang seperti gunung berapi yang siap meletus.
"Mas Arga," panggil Faruq dengan suara yang tidak biasa. Suaranya berat. Dalam. Penuh emosi.
"Iya."
"Saya orang yang paling jarang marah. Saya lebih suka bercanda daripada berantem. Saya lebih suka tertawa daripada menangis. Tapi malam ini... saya marah."
"Kenapa?"
"Saya marah karena ketidakadilan. Saya marah karena orang tua yang seharusnya melindungi anaknya malah menjual anaknya demi uang. Saya marah karena laki-laki kaya bisa memaksa perempuan miskin untuk menikah tanpa cinta. Saya marah karena hukum diam. Saya marah karena masyarakat tutup mata."
"Faruq," Nisa memegang tangan Faruq.
"Jangan pegang saya, Nisa. Saya tidak sedang histeris. Saya sedang marah. Itu berbeda."
"Tapi, "
"Orang tua saya meninggal ketika saya masih kecil. Saya tahu rasanya tidak punya siapa-siapa. Saya tahu rasanya berjuang sendiri. Tapi saya tidak pernah sekalipun merasa dijual. Karena saya tidak punya siapa pun yang bisa menjual saya."
Faruq berdiri.
Ia memandang langit.
Ia memandang bintang, bintang.
"Mas Arga," katanya lagi.
"Iya, Faruq."
"Saya akan bantu. Bukan karena saya kasihan. Bukan karena saya baik. Bukan karena saya ingin pahala. Tapi karena saya marah. Dan amarah ini harus saya salurkan. Kalau tidak, saya gila."
"Terima kasih, Faruq."
"Jangan berterima kasih. Belum ada hasil."
GUNTUR BICARA
Setelah Faruq duduk kembali, Guntur berbicara.
Suaranya tenang.
Terlalu tenang.
"Arga," katanya.
"Iya."
"Saya orang yang paling sinis di antara kita semua. Saya percaya bahwa hidup tidak punya makna. Saya percaya bahwa semua yang kita lakukan sia-sia. Saya percaya bahwa cinta adalah ilusi kimiawi di otak."
"Tapi?"
"Tapi malam ini, saya mulai meragukan keyakinan saya."
"Kenapa?"
"Karena cerita kamu. Bukan cerita tentang cinta. Bukan cerita tentang perjuangan. Bukan cerita tentang kesetiaan. Tapi cerita tentang Jatmika."
"Jatmika?"
"Iya. Jatmika yang mati tenggelam. Jatmika yang rohnya masih gentayangan. Jatmika yang tidak bisa pergi karena cintanya belum selesai."
"Lalu?"
"Itu membuktikan bahwa ada sesuatu setelah kematian. Itu membuktikan bahwa cinta bisa melampaui kematian. Itu membuktikan bahwa hidup ini tidak sesia-sia yang saya kira."
Guntur mengisap rokoknya. Asapnya mengepul ke udara malam.
"Saya akan bantu, Arga," lanjutnya. "Bukan karena marah seperti Faruq. Bukan karena baik seperti Nisa. Bukan karena setia seperti Dimas. Tapi karena saya ingin tahu."
"Tahu apa?"
"Apakah cinta sejati itu benar-benar ada. Atau hanya cerita untuk menenangkan orang-orang yang ketakutan akan kesendirian."
Arga tidak menjawab.
Ia hanya menatap Guntur.
Dan untuk pertama kalinya, ia melihat keraguan di mata laki-laki sinis itu.
Keraguan yang indah.
Keraguan yang manusiawi.
NISA BERBICARA
Nisa belum berbicara sejak tadi.
Ia hanya duduk.
Mendengarkan.
Sesekali mengangguk.
Tapi ketika Arga mulai bercerita tentang Sekar yang dikurung di rumah Ferry, Nisa berdiri.
"Aku tidak suka ini," katanya.
"Apa yang tidak suka?" tanya Guntur.
"Semua ini. Cerita ini. Kejadian ini. Cara orang tua Sekar memperlakukan anaknya sendiri seperti barang dagangan."
"Hidup memang tidak adil, Nis."
"Aku tahu. Tapi bukan berarti kita diam."
Nisa memandang Arga.
Matanya berapi, api.
"Mas Arga," katanya.
"Iya, Nisa."
"Aku orang yang paling tidak bisa diam melihat ketidakadilan. Aku aktivis kampus. Aku sering demo. Aku sering turun ke jalan. Aku sering berhadapan dengan polisi. Aku sering diancam. Aku sering ditangkap."
"Berani sekali."
"Bukan keberanian. Keputusasaan. Karena kalau orang baik diam, kejahatan akan menang."
"Nisa, "
"Kita akan buat gerakan, Mas. Kita akan kumpulkan dukungan. Kita akan sebarkan cerita ini. Biar publik tahu bahwa ada seorang gadis desa yang dijual oleh orang tuanya sendiri demi melunasi utang."
"Tapi, "
"Jangan takut. Aku sudah berpengalaman. Aku punya jaringan. Aku punya koneksi. Aku punya media. Aku punya teman-teman yang mau bantu."
Arga terdiam.
"Kamu tidak sendirian, Mas," lanjut Nisa. "Kita semua di sini. Kita akan berjuang bersama."
DIMAS BERBICARA
Dimas yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara.
"Gue juga mau bicara."
Semua menoleh.
"Gue bukan aktivis seperti Nisa. Gue bukan filsuf seperti Guntur. Gue bukan mahasiswa kedokteran seperti Faruq. Gue cuma kurir. Kerja kirim-kirim paket. Gaji pas, pasan. Hidup pas, pasan."
"Tapi?"
"Tapi gue punya prinsip. Gue nggak suka orang kaya semena, mena. Gue nggak suka preman. Gue nggak suka pengusaha korup. Gue nggak suka calo. Gue nggak suka semua yang bikin hidup rakyat kecil susah."
"Setuju," kata Faruq.
"Setuju," kata Guntur.
"Setuju," kata Nisa.
"Jadi," lanjut Dimas, "gue bakal bantu Mas Arga dengan cara gue. Yaitu jadi mata-mata. Setiap hari gue antar paket ke seluruh kota. Termasuk ke perumahan Mutiara Indah. Termasuk ke rumah Ferry."
"Kamu tahu risiko?" tanya Guntur.
"Tahu. Tapi gue nggak takut."
"Kenapa?"
"Karena gue nggak punya apa, apa. Rumah kontrakan. Motor butut. HP jadul. Baju seadanya. Mereka nggak bisa ambil apa-apa dari gue. Karena gue nggak punya apa-apa."
"Biasa," kata Faruq. "Orang miskin paling ditakuti orang kaya."
"Kenapa?"
"Karena orang miskin tidak punya apa-apa untuk hilang. Mereka berani mati. Sedangkan orang kaya, segalanya bisa hilang. Harta. Tahta. Wanita. Mereka takut."
Faruq mengangkat gelas es teh manisnya.
"TOAST!" teriaknya.
Semua mengangkat gelas.
"TOAST!"
MOMEN MELANKOLIS
Setelah toast, suasana kembali tenang.
Angin malam berembus lebih dingin.
Bulan purnama bergerak ke barat.
Bintang, bintang masih berkerlap, kerlip.
Arga memandang langit.
Ia teringat pada desa.
Pada ibunya yang sedang menangis di dapur, merindukannya.
Pada ayahnya yang diam, diam menyeka air mata di beranda.
Pada Mbah Jayarasa yang sakit dan mungkin tidak lama lagi.
"Saya pulang akhir pekan ini," kata Arga tiba, tiba.
"Pulang ke desa?" tanya Nisa.
"Iya. Mbah Jayarasa sakit. Katanya ingin bertemu saya sebelum mati."
"Kapan kamu berangkat?"
"Sabtu pagi. Naik bis."
"Kamu tidak cari Sekar dulu?"
"Waktunya tidak banyak, Nisa. Saya harus pilih. Dan saya pilih pulang."
Suasana berubah.
Melankolis.
Sendu.
Semua orang terdiam.
"Kamu benar," kata Guntur akhirnya. "Keluarga lebih penting daripada segalanya. Karier. Uang. Bahkan cinta."
"Cinta juga penting," bantah Faruq.
"Tapi cinta bisa dicari lagi. Keluarga tidak."
"Keluarga bisa dicari lagi. Keluarga bukan hanya orang tua kandung. Keluarga juga teman. Sahabat. Bahkan musuh yang sudah berdamai."
"Faruq, kamu terlalu idealis."
"Kamu terlalu sinis, Guntur."
Mereka bertengkar kecil. Nisa dan Dimas hanya tersenyum.
"Sudah," kata Nisa. "Jangan bertengkar. Ini malam curhat. Bukan malam debat."
"Kamu jadi istriku aja, Nis," kata Faruq tiba, tiba.
"Apa?"
"Kamu jadi istriku. Supaya bisa ngatur aku setiap hari."
"Gila."
"Memang."
Mereka tertawa lagi.
PAMIT
Pukul sebelas malam, mereka turun dari atap.
Satu per satu.
Faruq duluan, melompat ke dahan pohon jambu, lalu ke tanah.
Guntur kedua, lebih hati, hati, dibantu Faruq.
Dimas ketiga, paling gesit, langsung mendarat seperti kucing.
Nisa lewat tangga darurat.
Arga terakhir.
Sebelum turun, ia memandang langit sekali lagi.
Bulan purnama.
Bintang, bintang.
Langit biru gelap.
Sekar, bisiknya, aku akan pulang sebentar. Menengok Mbah Jayarasa. Menengok Ibu dan Ayah. Menengok desa yang merindukanku.
Jangan pergi. Jangan hilang. Jangan menyerah.
Aku akan kembali.
Janji.
DI KAMAR
Sesampainya di kamar, Arga tidak langsung tidur.
Ia duduk di dipan bambu.
Memeluk bantal kecil dari kebaya Sekar.
Ia menciumnya.
"Aku rindu, Sekar," bisiknya. "Rindu sekali."
Ia mengeluarkan kertas misterius itu dari saku celana. Kertas yang diberikan Nisa setelah difoto dan dianalisis.
Ia membaca sekali lagi.
"Kamu tidak salah lihat. Aku memang di sini. Tapi belum waktunya kita bertemu. —S"
"Sekar, kapan waktunya? Kapan kita bisa bertemu? Kapan kita bisa tertawa bersama lagi? Kapan kita bisa duduk di tepi sungai? Kapan kita bisa berbisik tentang masa depan?"
Ia melipat kertas itu.
Menyimpannya di bawah bantal.
"Mungkin waktunya belum sekarang. Tapi suatu hari. Aku percaya."
Arga berbaring.
Ia memejamkan mata.
Bayangan Sekar muncul.
Sekar tersenyum.
"Kamu pulang dulu. Jaga Mbah Jayarasa. Jaga Ibu dan Ayah. Jaga desa. Aku akan di sini. Menunggumu."
"Kamu janji?"
"Janji."
"Janji di atas apa?"
"Janji di atas cinta kita."
Arga tersenyum dalam tidurnya.
BAB 7
SURAT YANG TERTUNDA
Subuh hari, sebelum adzan berkumandang, Arga sudah bangun.
Ia tidak tidur nyenyak semalaman. Bukan karena dipan bambu yang keras. Bukan karena dingin yang merembes dari lantai tanah. Bukan karena suara jangkrik yang terlalu nyaring. Tapi karena ada sesuatu di dadanya, sesuatu yang berat, sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
Firasat.
Firasat bahwa hari ini akan ada sesuatu yang penting terjadi.
Tapi ia tidak tahu penting dengan cara yang baik atau buruk.
Pukul setengah lima, Arga keluar kamar. Kamar mandi luar masih kosong. Air sumur dingin menusuk tulang. Ia mengguyur tubuhnya cepat, cepat, menggigil, tapi tidak mengeluh.
Selesai mandi, ia memakai kemeja abu-abu lengan pendek, seragam kerja yang sudah mulai pudar warnanya karena sering dicuci dengan sabun colek. Celana bahan hitam yang sama, karena ia hanya punya dua celana, dan yang satu sedang dijemur. Sandal jepit karet yang solnya sudah mulai tipis di bagian tumit.
Di halaman kos, Mbok Darmi sudah duduk di kursi plastik sambil minum teh jahe.
"Bangun pagi sekali, Mas Arga," sapanya.
"Tidak bisa tidur, Mbok."
"Mikirin apa?"
"Banyak."
"Ya sudah. Nanti kamu sakit. Orang yang terlalu banyak mikir umurnya pendek."
"Makasih, Mbok."
"Jangan makasih. Mbok tidak doain kamu mati muda. Mbok doain kamu panjang umur."
Arga tersenyum. "Siap, Mbok."
Ia berjalan ke warung depan pasar. Membeli nasi bungkus dan es teh manis. Makan perlahan sambil memandangi orang, orang yang mulai beraktivitas. Pedagang sayur membuka lapak. Anak, anak berlari ke sekolah. Ibu, ibu berbelanja sambil bergosip.
Hidup di desa dan di kota tidak jauh berbeda, pikir Arga. Sama, sama orang mencari nafkah. Sama, sama orang menyayangi keluarganya. Sama, sama orang bermimpi tentang masa depan.
Tapi ada satu perbedaan besar: di desa, orang saling mengenal. Di kota, orang hanya saling melihat.
GUNTUR DATANG
Jam setengah tujuh, saat Arga bersiap berangkat kerja, Guntur datang.
Wajahnya kusut. Matanya cekung. Baju kemeja putihnya kusut, seperti tidak pernah disetrika. Sepatu pantofelnya kotor terkena lumpur.
"Guntur, kamu dari mana?" tanya Arga heran. Rumah kos Guntur jauh dari sini. Naik angkutan kota butuh tiga puluh menit.
"Dari kos ke sini, Jalan kaki," jawab Guntur sambil mengatur napas.
"Jalan kaki? Dari kampus ke sini? Lima kilometer?"
"Lima setengah."
"Gila."
"Mungkin."
"Ada apa?"
Guntur mengeluarkan sebuah amplop coklat dari saku jaketnya. Amplop itu tebal. Berisi sesuatu. Mungkin kertas. Mungkin foto. Mungkin dokumen.
"Ini," katanya sambil menyerahkan amplop itu pada Arga.
"Apa ini?"
"Buka."
Arga membuka amplop itu. Tangannya gemetar. Jantungnya berdegup kencang.
Isinya: sepuluh lembar fotokopi surat.
Surat-surat dari Sekar.
Surat-surat yang dulu ia kirim ke rumah Sekar di kota.
Surat-surat yang tidak pernah ia terima balasannya.
Lima belas surat.
Semua.
"Dari mana kamu dapat ini?" tanya Arga.
"Dari kakak senior di fakultas. Adiknya bekerja di kantor pos dekat perumahan Mutiara Indah. Dia menemukan tumpukan surat di gudang. Tidak pernah dikirim. Tidak pernah diterima. Hanya disimpan."
"Disimpan oleh siapa?"
"Tidak tahu. Namanya tidak ada. Yang jelas, surat-surat ini sengaja tidak diteruskan. Mungkin dicegat. Mungkin disita. Mungkin dianggap surat berbahaya."
Arga membaca surat-surat itu.
Satu per satu.
Dari surat pertama, yang ia tulis tiga hari setelah tiba di kota.
"Untuk Sekar, yang masih ku tunggu di kota ini..."
Sampai surat kelima belas, yang ia tulis seminggu yang lalu.
"Sekar, aku sudah punya teman baru. Namanya Guntur, Faruq, Nisa, Dimas. Mereka baik. Mereka membantu mencari kamu..."
Air mata Arga jatuh.
Ia tidak bisa menahannya.
Air mata yang keluar dari hati yang paling dalam, hati yang selama ini dipenuhi harapan, kecewa, cinta, rindu, marah, bahagia, sedih, semua bercampur menjadi satu.
"Guntur," isaknya, "ini surat-suratku."
"Aku tahu."
"Surat-surat yang tidak pernah sampai."
"Aku tahu."
"Kenapa bisa ada di gudang kantor pos?"
"Aku tidak tahu. Tapi ini petunjuk. Ini bukti bahwa seseorang tidak ingin surat-suratmu sampai ke Sekar."
"Siapa?"
"Kamu sudah tahu jawabannya. Tapi kamu tidak mau mengucapkannya."
Arga mengusap air matanya dengan lengan baju.
"Ferry," katanya pelan.
"Ferry," ulang Guntur.
"Atau orang tuanya."
"Atau keduanya."
Arga memandang amplop coklat itu. Surat, suratnya, yang ditulis dengan tangan gemetar, dengan hati yang penuh harap, kini kembali padanya. Tidak dibaca Sekar. Tidak dibalas. Hanya disimpan di gudang, tertutup debu, dilupakan waktu.
Guntur duduk di samping Arga. Ia mengeluarkan sebatang rokok, menyalakannya, lalu mengisap dalam, dalam.
"Kamu tahu, Arga," katanya, "saya tidak pernah percaya pada surat."
"Kenapa?"
"Karena surat bisa dicegat. Surat bisa hilang. Surat bisa dibaca orang lain. Surat bisa dipalsukan. Surat tidak bisa diandalkan."
"Tapi, "
"Tapi kamu terus menulis. Lima belas surat. Dalam lima minggu. Itu luar biasa."
"Luar biasa karena apa?"
"Karena kamu masih punya harapan. Padahal tidak ada satu pun balasan."
Arga tidak menjawab.
"Saya kagum," lanjut Guntur. "Saya tidak akan pernah bisa seperti kamu. Saya menulis satu surat, lalu tidak dibalas. Saya sudah berhenti. Saya sudah move on. Saya sudah bilang, 'Ah, sudahlah. Tidak usah dipaksakan.'"
"Tapi saya tidak bisa move on, Guntur. Sekar tidak bisa digantikan."
"Karena apa?"
"Karena dia bukan hanya pacar. Dia bagian dari masa laluku. Dia bagian dari masa kini. Dia bagian dari masa depan."
Guntur mengisap rokoknya sekali lagi. Asapnya mengepul ke udara pagi.
"Filosofis juga kamu, Arga."
"Saya tidak filosofis. Saya jujur."
PAK BONDAN TAHU
Jam tujuh kurang lima menit, Arga sampai di toko.
Wajahnya masih merah bekas air mata. Matanya masih sembab.
Pak Bondan langsung melihat perubahan itu.
"Kamu nangis, Le?" tanyanya.
"Sedikit, Pak."
"Kenapa?"
"Surat-surat saya yang tidak pernah sampai ke Sekar ditemukan. Di gudang kantor pos."
"Ada yang menyembunyikan?"
"Kelihatannya begitu."
"Kamu tahu siapa?"
"Ferry."
Pak Bondan menghela napas. Ia mematikan rokoknya di asbak kaleng bekas susu.
"Dengar, Le," katanya. "Saya sudah dengar nama Ferry dari pelanggan, pelanggan saya. Dia orang berpengaruh. Koneksinya luas. Uangnya banyak. Kalau dia tidak suka sama kamu, kamu bisa kena batunya."
"Saya tidak takut, Pak."
"Kamu harus takut. Takut itu wajar. Takut itu manusiawi. Takut membuatmu waspada. Takut membuatmu tidak ceroboh."
"Tapi, "
"Tapi jangan sampai takut menghentikanmu. Itu bedanya."
Pak Bondan berdiri. Ia menepuk bahu Arga.
"Kamu kerja dulu. Nanti sore, kalau sudah pulang, urus surat-suratmu."
"Siap, Pak."
SIANG YANG MELELAHKAN
Jam dua belas siang, Arga istirahat.
Tidak seperti biasanya, ia tidak duduk di bawah pohon rindang. Ia memilih menyendiri di gudang belakang. Di sana sunyi. Tidak ada yang ganggu. Hanya tumpukan semen, pasir, batu bata, dan kayu.
Ia membuka amplop coklat itu lagi.
Membaca surat, suratnya.
Satu per satu.
Dari surat pertama sampai surat kelima belas.
Ia membaca tulisannya sendiri.
Membaca kata, kata yang ia tulis dalam keadaan lelah, dalam keadaan rindu, dalam keadaan putus asa, dalam keadaan penuh harap.
Surat pertama: "Sekar, aku sudah sampai di kota. Aku tinggal di kos, kosan kecil di belakang pasar. Kamar sempit, dinding tembok belum diplester, tapi aku bersyukur..."
Surat kedua: "Sekar, aku dapat kerja di toko bangunan. Gajinya kecil, tapi cukup untuk makan dan bayar kos..."
Surat ketiga: "Sekar, aku bertemu Mbak Dewi. Dia baik. Dia bantu aku cari kos..."
Surat keempat: "Sekar, aku bertemu Dimas. Dia kurir. Dia baik. Dia bantu aku cari informasi tentang kamu..."
Surat kelima: "Sekar, hari ini aku salah lihat. Ada perempuan di halte pakai gaun biru, mirip kamu. Ternyata bukan. Kecewa..."
Surat keenam: "Sekar, aku bertemu Guntur. Dia mahasiswa filsafat. Aneh. Sinis. Tapi baik hati..."
Surat ketujuh: "Sekar, aku bertemu Faruq. Dia mahasiswa kedokteran. Cerewet. Berisik. Tapi lucu..."
Surat kedelapan: "Sekar, aku bertemu Nisa. Dia aktivis. Berani. Dia bilang mau bantu cari kamu..."
Surat kesembilan: "Sekar, aku pulang ke kos, ada surat dari Ibu. Mbah Jayarasa sakit. Katanya mau ketemu aku sebelum mati. Aku sedih..."
Surat kesepuluh: "Sekar, aku dapat kertas misterius. Tulisan tangan. 'Aku di sini. Tapi belum waktunya kita bertemu. —S.' Itu dari kamu?"
Surat kesebelas: "Sekar, tadi malam kita curhat di atap kos. Guntur, Faruq, Nisa, Dimas. Mereka berjanji bantu aku. Aku tidak sendiri lagi..."
Surat keduabelas: "Sekar, akhir pekan ini aku pulang ke desa. Mbah Jayarasa sakit. Aku takut dia..."
Surat ketigabelas: "Sekar, aku tidak bisa tidur. Memikirkan kamu. Memikirkan Mbah Jayarasa. Memikirkan Ibu dan Ayah..."
Surat keempatbelas: "Sekar, kalau kamu baca surat ini, tolong balas. Aku ingin tahu kabarmu. Aku ingin tahu kamu baik, baik saja..."
Surat kelimabelas: "Sekar, aku sayang kamu. Aku tidak akan berhenti mencari. Sampai kita bertemu..."
Arga menutup surat, surat itu.
Ia menangis lagi.
Kali ini lebih keras.
Ia tidak bisa menahan.
Isaknya menggema di gudang belakang yang sunyi.
"Mas Arga?"
Arga menoleh.
Pak Bondan berdiri di pintu gudang.
"Maaf, Pak. Saya cuma..."
"Menangis. Iya, saya lihat."
"Saya lemas, Pak."
"Lemas karena apa?"
"Karena... surat-surat ini. Karena semua yang saya tulis tidak pernah sampai. Karena semua yang saya rasakan tidak pernah diketahui Sekar. Karena saya tidak tahu apakah dia masih ingat saya. Atau sudah lupa. Atau sudah menyerah."
Pak Bondan berjalan mendekat.
Ia duduk di samping Arga, di atas tumpukan semen.
"Le," katanya, "saya ingin cerita sesuatu."
"Apa, Pak?"
CERITA PAK BONDAN
"Dulu," Pak Bondan mulai, "waktu saya masih muda, sekitar umurmu, saya juga pernah jatuh cinta."
"Pada siapa, Pak?"
"Pada istri saya. Yang sekarang sudah cerai."
"Ceritanya bagaimana?"
"Kami bertemu di toko ini. Waktu itu toko masih kecil. Hanya kios. Saya jualan semen eceran. Dia datang beli semen untuk bangun rumah."
"Lalu?"
"Saya suka padanya. Dia suka pada saya. Tapi kami tidak bisa menikah."
"Kenapa?"
"Karena orang tuanya tidak setuju. Saya dianggap miskin. Tidak pantas untuk anaknya."
"Mirip dengan cerita saya."
"Iya. Hampir sama. Bedanya, istri saya dulu tidak dijodohkan. Orang tuanya hanya melarang."
"Lalu bagaimana Bapak bisa menikah?"
Pak Bondan tersenyum. Senyum pahit.
"Kami kawin lari."
"Kawin lari?"
"Iya. Kami pergi ke kota lain. Menikah di sana. Tanpa restu orang tua. Tanpa pesta. Tanpa apa, apa."
"Lalu?"
"Lalu kami hidup susah. Saya buka toko kecil. Dia jualan kue. Pendapatan pas, pasan. Tapi kami bahagia. Atau setidaknya, saya mengira kami bahagia."
"Kenapa cerai?"
Pak Bondan menghela napas panjang.
"Karena setelah anak kami lahir, istri saya berubah. Dia tidak tahan hidup susah. Dia ingin hidup mewah. Dia ingin rumah besar. Mobil bagus. Liburan ke luar negeri. Semua yang tidak bisa saya berikan."
"Lalu dia pergi?"
"Dia minta cerai. Saya tidak bisa menolak."
"Bapak sedih?"
"Sedih? Sangat. Saya depresi setahun. Toko hampir bangkrut. Saya hampir bunuh diri."
"Tapi Bapak selamat."
"Iya. Saya selamat. Karena suatu hari, seorang pelanggan tua bilang pada saya..."
Pak Bondan berhenti.
Ia mengeluarkan rokok. Menyalakannya. Mengisap dalam, dalam.
"Bilang apa, Pak?"
"Bilang, 'Le, hidup ini bukan tentang siapa yang kamu cintai. Tapi tentang siapa yang bertahan ketika cinta itu pergi.'"
Arga terdiam.
Pak Bondan melanjutkan, "Sejak itu, saya fokus pada toko. Saya tidak mencari istri baru. Saya tidak mencari cinta baru. Saya hanya bekerja. Dan bekerja. Dan bekerja."
"Sampai sekarang?"
"Sampai sekarang. Kesepian. Tapi tidak menderita. Kerja keras. Tapi tidak kelaparan. Punya anak. Tapi tidak bisa ketemu setiap hari."
"Bapak rindu?"
"Rindu. Tapi sudah tidak sakit."
"Bapak hebat."
"Tidak hebat. Hanya bertahan."
Pak Bondan membuang puntung rokoknya, lalu berdiri.
"Sekarang, kamu kerja lagi. Jangan larut dalam kesedihan. Nanti kamu tidak bisa apa, apa."
"Siap, Pak."
Pak Bondan berjalan ke pintu gudang. Sebelum keluar, ia menoleh.
"Arga."
"Iya, Pak."
"Jangan kawin lari."
"Kenapa, Pak?"
"Karena kawin lari hanya solusi sementara. Masalah sebenarnya bukan pada restu orang tua. Tapi pada kesiapan mental."
"Maksud Bapak?"
"Kamu harus siap. Siap untuk hidup susah. Siap untuk dihina. Siap untuk dijauhi. Siap untuk kehilangan. Kalau tidak siap, jangan paksa. Nanti kamu sakit."
Pak Bondan pergi.
Arga duduk sendiri di gudang.
Ia memandang amplop coklat itu. Memandang surat, suratnya. Memandang kata, kata yang ia tulis dengan penuh harap.
"Sekar, aku sayang kamu. Aku tidak akan berhenti mencari. Sampai kita bertemu..."
"Apakah aku siap?" bisiknya pada diri sendiri.
Ia tidak tahu.
Tapi ia harus siap.
FARUQ DAN NASIHATNYA
Jam empat sore, Faruq datang ke toko.
Bukan untuk belanja. Bukan untuk antar sesuatu. Tapi untuk menjenguk Arga.
Faruq tahu Arga sedang sedih. Guntur sudah mengabari lewat pesan singkat.
"Mas Arga!" teriak Faruq dari depan toko. "MAS ARGA!"
Arga keluar dari gudang. Wajahnya masih lesu.
"Faruq, kamu ngapain ke sini?"
"Nengok kamu. Saya dengar kamu nangis di gudang."
"Siapa yang bilang?"
"Pak Bondan. Dia SMS Guntur. Guntur SMS saya."
"Pak Bondan punya HP?"
"Semua orang punya HP, Mas. Mas Arga saja yang tidak punya."
"Punya. Tapi jarang dipakai."
"Ya sudah. Sekarang, kita makan dulu. Saya beli sate kambing."
"Saya belum laper."
"Lapar atau tidak, kita makan. Makan itu kewajiban. Seperti salat. Seperti zakat. Seperti puasa."
Faruq menarik Arga ke warung sate di pinggir pasar.
Mereka duduk di kursi plastik. Memesan dua puluh tusuk sate kambing dan dua es teh manis.
"Mas Arga," kata Faruq sambil mengunyah.
"Iya."
"Saya dengar surat, surat Mas Arga dicegat."
"Iya."
"Oleh Ferry?"
"Diduga kuat."
"Bajingan itu."
"Iya."
"Tapi Mas Arga jangan sedih."
"Kenapa?"
"Karena surat itu bisa dikirim lagi. Sekarang bukan zaman pos. Sekarang zaman digital. Kita bisa pakai email. Pakai WhatsApp. Pakai media sosial."
"Tapi Sekar tidak punya HP. Orang tuanya melarang."
"Lalu bagaimana?"
"Kita harus cari cara lain. Mungkin lewat teman. Mungkin lewat tetangga. Mungkin lewat siapa pun yang bisa dipercaya."
"Fiver?"
"Apa?"
"Fiver. Slogan. Saya lupa."
Faruq tertawa.
"Mas Arga," katanya lagi.
"Iya."
"Saya mau pesan."
"Pesan apa?"
"Jangan menyerah. Saya tahu ini klise. Saya tahu ini sudah sering Mas Arga dengar. Tapi saya ulangi: jangan menyerah."
Arga tersenyum. "Saya tidak akan menyerah, Faruq."
"Bagus. Karena kalau Mas Arga menyerah, saya yang akan cari Sekar."
"Kamu?"
"Iya. Saya akan cari. Saya akan temui Ferry. Saya akan adu mulut. Saya akan adu fisik kalau perlu."
"Kamu bisa berkelahi?"
"Tidak bisa. Tapi saya bisa lari."
"Lari?"
"Iya. Lari adalah keahlian saya. Sejak kecil. Dikejar anjing. Dikejar ayam. Dikejar ibu-ibu yang marah karena saya ambil jambunya."
Arga tertawa. "Lucu."
"Bukan lucu. Tragis."
Mereka berdua tertawa. Tawa yang sedikit mengobati luka.
NISA DAN RENCANANYA
Jam lima sore, Nisa datang ke toko.
Bersamaan dengan waktu Arga pulang.
"Mas Arga," sapanya.
"Nisa, kamu ngapain ke sini?"
"Nemuin kamu. Saya mau tunjukkan sesuatu."
Nisa mengeluarkan ponselnya. Sebuah foto. Perempuan berdiri di balkon. Rambut panjang. Gaun putih. Wajahnya tidak terlalu jelas karena jarak.
"Ini siapa?" tanya Arga.
"Sekar."
Arga terkesiap. "Fotonya dari mana?"
"Dari Dimas. Dia memotret dari pos satpam. Jaraknya jauh. Tapi wajahnya masih kelihatan."
Arga memandang foto itu lama.
Membesar-besarkan.
Menganalisis.
"Hidungnya," bisiknya. "Matanya. Bibirnya. Rambutnya."
"Itu Sekar?"
"Ya. Itu Sekar."
Air mata Arga jatuh lagi.
"Sekar," isaknya. "Sekar masih di sana. Masih di rumah Ferry. Masih dikurung. Masih dijaga."
"Tapi dia masih hidup, Mas. Itu yang penting."
"Iya. Masih hidup. Masih di kota ini. Masih di dunia yang sama."
Nisa menyimpan ponselnya. Ia memegang tangan Arga.
"Mas, kita akan selamatkan dia. Saya punya rencana."
"Rencana apa?"
"Kita kumpulkan bukti. Penyekapan. Perjodohan paksa. Kekerasan dalam rumah tangga kalau sudah menikah."
"Tapi mereka belum menikah."
"Belum. Tapi Ferry terus memaksa. Katanya, minggu depan ada pesta pertunangan."
"Pertunangan?"
"Iya. Keluarga Sekar dan keluarga Ferry akan mengumumkan pertunangan. Itu yang Dimas dengar dari pembantunya."
Arga terdiam.
Pikirannya kacau.
Pertunangan.
Minggu depan.
Dengan Ferry.
"Mas," Nisa mengguncang bahu Arga. "Mas, dengar saya. Kita masih punya waktu. Satu minggu. Cukup untuk bergerak."
"Bergerak bagaimana?"
"Aksi. Demo. Penggalangan dana. Tekanan publik. Saya sudah bicara dengan teman, teman aktivis. Mereka siap bantu."
"Bukannya itu berbahaya?"
"Berbahaya. Tapi kalau tidak pernah berani, tidak akan pernah berubah."
DIMAS DAN PENGINTIPAN
Jam setengah enam, Dimas datang.
Wajahnya tegang, berkeringat.
"Mas Arga," katanya. "Saya dapat informasi baru."
"Apa?"
"Ferry akan bepergian ke luar kota besok. Tiga hari. Rumahnya akan dijaga sedikit. Hanya dua satpam."
"Itu peluang?"
"Iya. Kita bisa menyusup. Atau setidaknya, mengintip dari dekat."
"Risikonya?"
"Besar. Kalau ketahuan, bisa dihabisi."
"Kita harus hati-hati."
"Tentu."
Mereka berlima, Arga, Guntur, Faruq, Nisa, Dimas, berkumpul di halaman kos.
Mbok Darmi menyuguhkan teh jahe dan pisang goreng.
"Kalian ini," katanya. "Kayak mau perang saja."
"Memang mau perang, Mbok," kata Faruq. "Perang melawan ketidakadilan."
"Jangan kematian. Nanti Mbok yang repot ngurus jenazah."
"Aamiin. Jangan mati."
Mereka merencanakan strategi.
Guntur sebagai koordinator. Nisa sebagai humas dan dokumentasi. Dimas sebagai mata, mata. Faruq sebagai logistik. Arga sebagai eksekutor.
"Eksekutor apanya?" tanya Faruq.
"Eksekutor pertemuan dengan Sekar," jawab Guntur. "Kalau kita berhasil masuk, Arga yang akan bicara dengan Sekar. Orang lain tidak boleh."
"Kenapa?"
"Karena Arga yang paling tahu situasi. Arga yang paling dekat dengan Sekar. Arga yang paling bisa meyakinkan Sekar untuk lari."
"Setuju," kata Nisa.
"Setuju," kata Faruq.
"Setuju," kata Dimas.
"Setuju," kata Arga.
MALAM SEBELUM PULANG
Pukul sembilan malam, teman, teman Arga pulang.
Satu per satu.
Guntur duluan. Faruq kedua. Nisa ketiga. Dimas keempat, karena ia paling dekat, kamarnya hanya di sebelah Arga.
Arga masuk ke kamar.
Ia membuka jendela.
Udara malam masuk. Membawa bau asap kendaraan dan debu.
Di luar, kota masih hidup.
Lampu, lampu masih menyala.
Mobil, mobil masih lalu lalang.
Orang, orang masih berjalan.
Tidak ada yang tidur.
Tidak ada yang istirahat.
Kota ini benar, benar tidak pernah tidur.
Arga membuka bantal kecil dari kebaya Sekar. Ia menciumnya.
"Sekar," bisiknya. "Besok aku pulang. Pulang ke desa. Melihat Mbah Jayarasa. Melihat Ibu dan Ayah. Melihat adikku Jatmika di kuburan."
Ia memeluk bantal itu.
"Aku akan kembali. Minggu malam. Atau Senin pagi. Jangan kemana, mana. Jangan menyerah. Jangan lupa aku."
Ia memejamkan mata.
Bayangan Sekar muncul.
Sekar menangis.
"Aku di sini, Arga. Di rumah besar ini. Sendirian. Hanya ditemani pembantu yang bisu. Aku rindu kamu. Aku rindu desa. Aku rindu nenek."
"Aku akan menjemputmu," jawab Arga dalam hati.
"Kapan?"
"Entah. Tapi aku akan."
"Aku percaya."
Bayangan itu menghilang.
Arga membuka mata.
Kamar gelap.
Sunyi.
Ia memandang langit, langit.
"Jatmika," bisiknya, "tolong jaga Sekar. Tolong lindungi dia. Tolong beri dia kekuatan. Sampai aku datang."
BAB 8
PERTEMUAN TAK TERDUGA
Hari Sabtu pagi, langit kota masih gelap ketika Arga sudah berdiri di terminal bis.
Ia tidak tidur semalaman. Bukan karena degup jantung atau pusing atau mimpi buruk. Ia hanya tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali mencoba, bayangan Mbah Jayarasa muncul—wajah keriput dengan senyum misterius, tangan renta yang memegang peta usang, suara parau yang berkata, "Le, kowe ora usah bali kanggo aku. Bali kanggo awakmu dhewe."
Dan juga bayangan Sekar.
Sekar yang berdiri di balkon rumah Ferry, melambai ke arah Dimas, berharap lambaian itu sampai ke Arga. Sekar yang menulis pesan misterius di kertas buram, lalu menitipkan pada seseorang yang bisa dipercaya. Sekar yang menangis di kamar mewah yang terasa seperti penjara.
Arga menggenggam tiket bis di tangan kirinya. Tangan kanannya memegang bantal kecil dari kebaya Sekar, bantal yang selalu ia bawa ke mana pun sejak meninggalkan desa.
"Mas Arga!"
Ia menoleh. Dimas berlari kecil dari arah parkiran motor. Wajahnya masih ngantuk, rambutnya acak, acakan, jaket kurirnya terbalik.
"Dimas, kamu ngapain ke sini? Jam segini?"
"Nganter Mas Arga. Saya tahu Mas Arga berangkat pagi. Saya nggak tega kalau Mas Arga sendirian."
"Terima kasih, Dimas."
"Jangan makasih. Nanti saya minta traktir sate kambing lagi."
"Besok. Janji."
Dimas tertawa. Tapi tawanya cepat, cepat dipadamkan ketika melihat wajah Arga yang pucat dan mata yang sembab.
"Mas Arga, kenapa? Kok mukanya kayak habis dipukul?"
"Tidak kenapa, kenapa. Cuma kurang tidur."
"Kurang tidur atau kurang makan?"
"Keduanya."
"Ya ampun, Mas. Nanti sakit. Ini, bawa bekal."
Dimas menyerahkan sebuah kantong plastik. Isinya: dua bungkus nasi goreng, empat tusuk sate kambing, dua botol air mineral, dan sebatang coklat.
"Ini semua dari mana?" tanya Arga.
"Dari Guntur, Faruq, Nisa, dan saya. Mereka nitip. Katanya, Mas Arga harus makan di jalan. Jangan sampai kelaparan."
Arga tersenyum. Matanya berkaca, kaca.
"Kalian ini..."
"Ya, kami baik. Sudah, naik bis. Nanti telat."
DALAM BIS
Arga memilih kursi dekat jendela. Di sebelahnya belum ada siapa, siapa. Ia meletakkan bantal kebaya di pangkuan, menaruh kantong plastik di samping kiri, dan menaruh ransel kecil di bawah kursi.
Bis mulai bergerak perlahan.
Melewati terminal.
Melewati pasar.
Melewati pertigaan.
Melewati perumahan.
Melewati pabrik.
Melewati sawah.
Perlahan, gedung, gedung tinggi bergantian dengan pepohonan. Lampu, lampu neon bergantian dengan kegelapan. Suara klakson bergantian dengan suara jangkrik.
Arga memandang ke luar jendela.
Hari mulai terang.
Matahari terbit di ufuk timur, merah keemasan, seperti api yang membakar langit.
Di desa, saat ini Mbah Jayarasa sudah bangun, pikir Arga. Duduk di kursi bambu, minum teh jahe, memandang sawah yang menguning. Kadang ia tersenyum sendiri, kadang ia menangis sendiri. Tidak ada yang tahu apa yang ia pikirkan.
Ibu juga sudah bangun. Memasak bubur untuk sarapan. Menyiapkan lauk sederhana. Sesekali ia menangis, merindukan anak sulungnya yang pergi ke kota.
Ayah juga sudah bangun. Mengasah arit di halaman belakang. Wajahnya keras seperti biasa, tapi matanya sayu. Ia tidak banyak bicara sejak Arga pergi. Hanya diam. Bekerja. Tidur. Ulang.
Air mata Arga jatuh.
Ia tidak menghapusnya.
Ia membiarkannya mengalir.
BIS BERHENTI
Dua jam perjalanan, bis berhenti di sebuah terminal kecil di pertengahan jalan.
"Istirahat lima belas menit!" teriak kondektur. "Bisa beli makan, buang air, atau sekadar regangkan kaki!"
Arga turun.
Halaman terminal kecil itu dipenuhi pedagang kaki lima. Sate, bakso, nasi goreng, mie ayam, gorengan, kopi, teh, es jeruk. Suara pedagang berteriak, teriak saling menawarkan dagangan. Bau makanan bercampur asap kendaraan dan debu.
Arga membeli segelas kopi hitam.
Ia duduk di bangku kayu di pinggir terminal.
Memandang orang, orang yang lalu lalang.
Ada ibu-ibu dengan anak kecil. Ada bapak, bapak dengan koper besar. Ada mahasiswa dengan ransel tebal. Ada pedagang dengan gerobak. Ada pengamen dengan gitar.
Semua punya cerita, pikir Arga. Semua punya tujuan. Semua punya orang yang dinanti di ujung perjalanan.
Seorang pengamen menghampirinya. Laki, laki muda buta dengan pakaian lusuh.
"Mas, mau dengar lagu?" tanyanya.
"Lagu apa?"
"Lagu apa saja. Saya hapal banyak."
"Sekar. Ada lagu tentang sekar?"
"Mawar? Melati? Kenanga?"
"Kenanga."
Pengamen itu mulai bernyanyi.
Suaranya parau, tidak merdu, tapi menyentuh.
Kenanga, kenanga,
Kembang desa kang wangi neng ati,
Nanging saiki ilang,
Digowo angin menyang kutha sepi.
Kenanga, kenanga,
Aja lali marang desa,
Mbalia, mbalia,
Wektu isih ono roso.
Arga terenyuh. Ia mengeluarkan uang lima ribu, memberikannya pada pengamen itu.
"Terima kasih, Mas. Semoga cepat ketemu yang dicari."
Pengamen itu pergi.
Arga memandang punggungnya.
Dia tahu aku mencari seseorang, pikir Arga. Dari mana dia tahu?
TIBA DI DESA
Jam satu siang, bis tiba di terminal desa.
Arga turun.
Udara desa menyambutnya: dingin, segar, bau rumput dan tanah basah. Sangat berbeda dengan udara kota yang panas, lembab, dan bau asap.
Ia berjalan kaki menuju rumah.
Melewati jalan setapak yang berlumpur.
Melewati sawah yang menguning.
Melewati sungai kecil yang airnya jernih.
Melewati pohon randu di Bukit Watu Senja.
Setiap langkah membawa kenangan.
Setiap sudut mengingatkannya pada masa lalu.
Sekar di tepi sungai. Sekar di bawah pohon randu. Sekar di pematang sawah. Sekar di halaman rumah. Sekar di mana, mana. Sekar tidak pernah benar, benar pergi dari ingatannya.
Rumahnya terlihat dari kejauhan.
Masih sama seperti dulu. Dinding papan kayu tua yang mulai melengkung. Atap genteng yang ditumbuhi lumut. Halaman depan dengan pohon mangga yang akarnya menjulur ke tanah.
Dan di beranda, seorang perempuan tua duduk di kursi bambu.
Laki-laki tua di sampingnya.
Sukmawati dan Sastro.
Arga mempercepat langkahnya.
"Bu! Yah!" teriaknya.
Sukmawati menoleh. Ia berdiri. Tangannya gemetar. Matanya basah.
"Le!" teriaknya balik. "LE!"
Mereka berpelukan.
Sastro hanya berdiri, memandang, tidak banyak bicara. Tapi matanya, matanya yang keras itu, tiba-tiba lunak. Basah.
"Ayah," panggil Arga sambil memeluk ayahnya.
"Kamu kurus, Le," kata Sastro.
"Kerja keras, Yah."
"Makannya kurang?"
"Lumayan."
"Nanti Ibu masak banyak, banyak."
"Iya, Yah."
MBAH JAYARASA
Setelah makan siang, nasi putih, ayam goreng, sayur asem, sambal terasi, dan kerupuk, Arga berjalan ke rumah Mbah Jayarasa.
Rumah tua itu masih berdiri di balik rumpun bambu. Halamannya ditumbuhi rumput liar. Pagarnya dari bambu yang sudah mulai lapuk.
Arga mengetuk pintu.
"Mbah, Arga."
Dari dalam terdengar suara parau. Parau, lemah, nyaris tak terdengar.
"Masuk, Le. Pintu tidak dikunci."
Arga masuk.
Mbah Jayarasa terbaring di dipan bambu. Badannya kurus, sangat kurus. Tulang, tulangnya tampak menonjol di balik kulit yang keriput. Matanya cekung. Bibirnya kering.
Tapi matanya, matanya masih sama seperti dulu. Tajam. Dalam. Penuh teka, teki.
"Le," bisiknya, "kowe teka."
"Iya, Mbah. Arga teka."
"Kowe ora usah teka. Mbah ora usah ditekani."
"Mbah mau ketemu Arga. Surat Ibu bilang begitu."
"Surat Ibumu lebay. Mbah cuma masuk angin."
Mbah Jayarasa batuk. Batuknya keras. Kering. Seperti ada sesuatu di dadanya yang tidak mau keluar.
Arga memegang tangan Mbah Jayarasa. Tangan itu dingin. Sangat dingin.
"Mbah, jangan bicara banyak. Istirahat."
"Mbah tidak bisa istirahat. Mbah masih punya pesan."
"Pesan apa?"
Mbah Jayarasa memejamkan mata sejenak. Lalu membukanya. Kali ini matanya berkaca, kaca.
"Le, Mbah tahu semua yang terjadi di kota."
"Mbah tahu?"
"Mbah tahu. Mbah punya orang. Mbah punya mata, mata. Mbah tahu tentang Ferry. Tentang perjodohan. Tentang penyekapan. Tentang surat-surat yang dicegat."
Arga terkesiap. "Mbah tahu semua itu?"
"Mbah tahu. Mbah sudah tahu sejak lama. Tapi Mbah tidak bisa membantu karena Mbah sudah tua. Karena Mbah tidak punya kuasa."
"Mbah sudah cukup membantu. Peta usang itu sangat berguna."
Mbah Jayarasa tersenyum. Senyum yang lemah tapi penuh makna.
"Peta itu, Le... peta itu bukan peta biasa."
"Apa maksud Mbah?"
"Peta itu adalah peta dari Mbah Jayarasa. Mbah Jayarasa muda. Mbah Jayarasa yang dulu juga pengembara."
"Mbah juga pernah jadi pengembara?"
"Pernah. Mbah meninggalkan desa ini ketika umur Mbah dua puluh tahun. Pergi ke kota. Mencari kehidupan. Mencari cinta."
"Apakah Mbah menemukan?"
"Tidak. Mbah pulang dengan tangan hampa. Dan hati yang hancur."
Mbah Jayarasa batuk lagi. Lebih keras.
"Mbah, istirahat dulu."
"Tidak. Mbah belum selesai."
Mbah Jayarasa mengatur napas. Dua kali. Tiga kali. Lalu melanjutkan.
"Peta itu, Le... peta itu adalah peta yang sama yang Mbah gunakan dulu. Peta yang tidak pernah membawa Mbah ke mana-mana. Tapi peta itu Mbah berikan padamu sebagai simbol."
"Simbol apa?"
"Simbol bahwa perjalanan lebih penting daripada tujuan. Bahwa tersesat lebih penting daripada tiba. Bahwa jatuh lebih penting daripada berdiri."
Arga menunduk. Air matanya jatuh ke tangan Mbah Jayarasa yang dingin.
"Mbah, Arga tidak mengerti."
"Kamu akan mengerti. Suatu hari nanti. Ketika semua ini selesai."
Mbah Jayarasa memejamkan mata.
Napasnya teratur.
Lambat.
Dalam.
Arga duduk di sampingnya.
Diam.
Menunggu.
MALAM DI DESA
Malam hari, Arga duduk di beranda rumahnya.
Langit desa dipenuhi bintang.
Bulan sabit tipis menggantung rendah.
Suara jangkrik mengisi keheningan.
Suara kodok dari sawah.
Suara angin dari bukit.
Arga memeluk bantal kecil dari kebaya Sekar.
Ia menciumnya.
"Sekar," bisiknya, "aku di desa sekarang. Aku di rumahku. Aku di tempat kita dulu sering bertemu. Aku di Kali Wening. Aku di pohon randu. Aku di mana, mana, tapi kamu tidak ada. Kamu jauh. Kamu di kota besar yang sunyi. Kamu di rumah mewah yang terasa seperti penjara."
"Sekar, jangan menyerah. Aku akan kembali. Aku akan menjemputmu. Aku akan membawamu pulang."
"Ke desa ini."
"Ke Kali Wening."
"Ke pohon randu."
"Ke kita."
PULANG KE KOTA
Minggu sore, Arga kembali ke kota.
Ia naik bis malam.
Kursi dekat jendela.
Bantal kebaya di pangkuan.
Ransel kecil di bawah kursi.
Bis melaju perlahan.
Melewati sawah.
Melewati sungai.
Melewati bukit.
Melewati perumahan.
Melewati pabrik.
Melewati pasar.
Melewati terminal.
Dan akhirnya, sampai di kota.
Jam sembilan malam.
Arga turun.
Ia berjalan ke kos.
Setiap langkah berat.
Setiap bayangan perempuan berambut panjang membuat jantungnya berdegup kencang.
Tapi bukan Sekar.
Bukan.
Belum.
PERTEMUAN TAK TERDUGA
Hari Senin pagi, Arga kembali bekerja.
Seperti biasa. Pagi, pagi. Jalan kaki empat puluh menit. Keringat bercucuran. Sesekali berhenti untuk minum.
Jam tujuh kurang lima menit, ia tiba di toko.
Pak Bondan sudah duduk di kursi plastik.
Koran. Rokok. Kopi hitam.
"Le, kamu sudah kembali," sapa Pak Bondan.
"Iya, Pak. Mbah Jayarasa sehat."
"Syukurlah."
"Pak, hari ini tugas saya apa?"
"Angkat pasir ke lantai dua. Dua puluh gerobak. Selesai sebelum jam makan siang."
"Siap, Pak."
Arga melepas kemeja abu, abunya. Melipatnya rapi. Meletakkannya di kursi kosong.
Ia mengambil sekop.
Mulai bekerja.
Sekop pertama.
Sekop kedua.
Sekop ketiga.
Keringat mengucur.
Punggung terasa panas.
Tapi ia terus bekerja.
Tidak berhenti.
Tidak istirahat.
Jam dua belas siang, Arga duduk di bawah pohon rindang.
Makan siang. Nasi putih. Telur dadar. Tempe goreng. Sambal terasi.
Ia makan perlahan.
Memandang jalan raya.
Memandang halte bus.
Memandang perempuan, perempuan berambut panjang.
Tapi tidak ada yang mirip Sekar.
Tidak ada.
"Mas Arga."
Arga menoleh.
Seorang anak laki, laki berdiri di sampingnya. Umur sekitar sepuluh tahun. Rambut acak, acakan. Pakaian lusuh. Kaki telanjang.
"Ada apa, Le?" tanya Arga.
"Ada titipan untuk Mas."
Anak itu menyerahkan sebuah amplop.
Amplop putih. Tidak bertuliskan nama. Tidak bertuliskan alamat. Hanya amplop putih kosong.
Arga menerimanya.
Anak itu pergi.
Arga membuka amplop itu.
Di dalamnya: selembar kertas buram.
Dan tulisan tangan.
Tulisan yang sangat ia kenali.
Tulisan Sekar.
"Arga, aku tahu kamu ada di kota ini. Aku tahu kamu bekerja di toko bangunan. Aku tahu kamu tinggal di kos, kosan belakang pasar. Aku tahu kamu punya teman, teman baru. Aku tahu semua yang kamu lakukan. Karena aku juga punya orang yang bisa dipercaya."
"Aku ingin bertemu denganmu. Bukan sebentar. Tapi lama. Bukan untuk mengucapkan selamat tinggal. Tapi untuk merencanakan masa depan."
"Tapi aku tidak bisa keluar. Ferry menjagaku ketat. Satpam di mana, mana. Pembantu yang mengawasi.Setiap saat.Setiap waktu."
"Namun ada celah. Besok, Selasa, Ferry akan pergi ke luar kota. Hanya dua satpam yang berjaga. Aku bisa kabur jika ada yang menjemput."
"Jam dua belas malam. Aku akan turun dari balkon. Aku akan memanjat pohon jambu di belakang rumah."
"Jemput aku. Bawa aku pergi. Jauh. Ke desa. Ke tempat yang aman."
"Aku tidak tahan di sini lagi, Arga. Setiap hari aku menangis. Setiap malam aku tidak bisa tidur. Aku rindu kamu. Aku rindu desa. Aku rindu nenek. Aku rindu semuanya."
"Jangan biarkan aku sendiri lagi."
"—Sekar"
Arga membaca surat itu berulang, ulang.
Tangannya gemetar.
Jantungnya berdegup kencang.
Dadanya sesak.
Matanya basah.
Ini bukan mimpi.
Ini nyata.
Surat dari Sekar.
Sekar ingin bertemu.
Sekar ingin kabur.
Sekar ingin pulang.
"Pak Bondan!" teriak Arga.
Pak Bondan yang sedang membaca koran menoleh. "Ada apa, Le?"
"Sekar... Sekar minta tolong. Besok malam... dia mau kabur."
Pak Bondan berdiri. Ia berjalan mendekat. Membaca surat itu.
Matanya menyipit.
"Ini asli?" tanyanya.
"Asli, Pak. Tulisan tangan Sekar. Saya hafal."
"Kamu yakin?"
"Saya yakin, Pak."
"Risikonya besar, Le. Kalau ketahuan, kamu bisa ditangkap. Ferry bisa kirim preman."
"Saya tidak takut, Pak."
"Kamu harus takut. Tapi jangan sampai takut menghentikanmu."
"Saya sudah siap, Pak. Saya sudah lama siap."
Pak Bondan menghela napas. "Baik. Besok malam, toko tutup lebih awal. Kamu pulang jam lima. Istirahat. Siapkan tenaga."
"Siap, Pak."
"Dan jangan cerita ke siapa pun dulu. Hanya teman-teman terdekat yang boleh tahu."
"Siap, Pak."
RENCANA
Jam lima sore, Arga pulang.
Ia kumpulkan teman, temannya di kos.
Guntur. Faruq. Nisa. Dimas.
Mereka duduk di halaman kos.
Mbok Darmi menyuguhkan teh jahe dan pisang goreng.
"Kalian ini seperti kongsi gelap," gerutu Mbok Darmi.
"Memang kongsi gelap, Mbok," kata Faruq. "Kongsi penyelamat gadis desa."
"Jangan kematian."
"Aamiin."
Arga membacakan surat dari Sekar.
Satu per satu.
Semua diam.
Ketegangan.
"Besok malam," kata Arga, "kita harus jemput Sekar."
"Rencananya bagaimana?" tanya Guntur.
Rencananya: Dimas menjadi kurir sekaligus mata, mata. Ia akan memantau situasi di perumahan Mutiara Indah. Guntur akan menjemput Arga dan Faruq dengan mobil sewaan. Nisa akan menyiapkan tempat persembunyian sementara di rumah temannya. Arga yang akan memanjat pohon jambu dan mengevakuasi Sekar.
"Risiko?" tanya Faruq.
"Besar. Bisa ditangkap. Bisa dihabisi. Bisa dipenjara."
"Apakah kita siap?"
"Kita harus siap."
"Setuju," kata Guntur.
"Setuju," kata Faruq.
"Setuju," kata Nisa.
"Setuju," kata Dimas.
"Setuju," kata Arga.
MALAM SEBELUM
Malam itu, Arga tidak bisa tidur.
Ia duduk di dipan bambu.
Memeluk bantal kebaya.
Memandang langit, langit.
Memikirkan Sekar.
Sekar di balkon rumah Ferry. Sekar yang menangis. Sekar yang sendirian. Sekar yang menunggu.
"Besok," bisiknya. "Besok malam, aku akan jemput kamu."
"Kita akan bersama lagi."
"Di desa."
"Di Kali Wening."
"Di pohon randu."
"Selamanya."
Ia memejamkan mata.
Bayangan Sekar muncul.
Sekar tersenyum.
"Aku menunggumu."
"Aku datang."
BAB 9
KAMPUS IMPIAN
Malam setelah rencara penyelamatan disusun, Arga tidak bisa tidur.
Bukan karena takut. Bukan karena gugup. Bukan karena degup jantung yang tidak karuan. Tapi karena pikirannya melayang ke suatu tempat yang belum pernah ia kunjungi, ke suatu dunia yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan, ke suatu gerbang yang selama ini ia lewati tanpa pernah berani masuk.
Kampus.
Universitas Gajah Mada.
Tempat Guntur kuliah filsafat. Tempat Faruq kuliah kedokteran. Tempat Nisa kuliah sastra. Tempat ribuan mahasiswa dari seluruh Indonesia berkumpul, belajar, berdebat, jatuh cinta, patah hati, dan bermimpi tentang masa depan.
Arga tidak pernah kuliah.
Setelah lulus SMA, ia langsung membantu ayahnya di sawah. Uang tidak cukup untuk membayar SPP. Orang tuanya tidak bisa memaksakan. Mereka sudah cukup berjuang untuk menghidupi keluarga, untuk membiayai adik, adiknya yang masih sekolah.
Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, Arga bertanya pada dirinya sendiri: "Apa yang akan terjadi jika aku kuliah? Apa yang akan terjadi jika aku punya ijazah? Apa yang akan terjadi jika aku punya pekerjaan yang lebih baik dari kuli bangunan?"
Ia tidak tahu jawabannya.
Tapi ia ingin tahu.
PAGI YANG BERBEDA
Pagi itu, Arga bangun lebih awal dari biasanya.
Bukan karena ingin buru, buru ke toko. Tapi karena Guntur mengajaknya jalan, jalan ke kampus.
"Kamu harus lihat dunia, Arga," kata Guntur semalam lewat pesan singkat. "Dunia di luar toko bangunan. Dunia di luar kos-kosan. Dunia di luar pencarian Sekar."
"Untuk apa?" tanya Arga.
"Untuk membuka wawasan. Untuk melihat bahwa hidup ini tidak hanya tentang cinta. Tapi juga tentang ilmu. Tentang ide. Tentang perdebatan. Tentang masa depan."
"Apa hubungannya dengan Sekar?"
"Semua berhubungan. Kamu tidak bisa menyelamatkan seseorang jika kamu sendiri butuh diselamatkan."
Arga tidak mengerti sepenuhnya. Tapi ia percaya pada Guntur. Laki, laki sinis itu mungkin keras kepala, mungkin suka merokok, mungkin suka berkata, kata pahit. Tapi ia teman yang baik. Ia tidak akan menyesatkan.
Jam setengah tujuh, Arga sudah mandi.
Ia memakai pakaian terbaiknya. Kemeja putih lengan panjang pemberian ibunya. Celana bahan hitam yang sedikit kebesaran. Sepatu pantofel pinjaman dari Dimas yang ukurannya terlalu besar.
"Mas Arga, kok pakaiannya rapi sekali?" tanya Dimas yang sedang sarapan nasi goreng di halaman kos.
"Diajak Guntur ke kampus," jawab Arga.
"Wah, jadi anak kampus dong."
"Cuma numpang lihat."
"Jangan rendah diri, Mas. Anak kampus juga manusia. Sama seperti kita. Cuma bedanya, mereka baca buku tebal, kita baca peta usang."
Arga tersenyum. "Kamu bijak, Dimas."
"Saya tidak bijak. Saya hanya pernah putus cinta sama mahasiswi."
"Ceritanya?"
"Panjang. Nanti. Sekarang pergi. Guntur pasti sudah nunggu."
PERJALANAN KE KAMPUS
Guntur menjemput Arga dengan sepeda motor bututnya, motor Honda 90 cc tahun 90, an yang suaranya seperti orang batuk.
"Naik," kata Guntur sambil menepuk jok belakang.
"Motor ini kuat?"
"Sudah sepuluh tahun saya pakai. Masih kuat. Yang penting jangan boncengan tiga."
"Saya sendiri. Tidak ada yang lain."
"Bagus. Helmnya pakai ini. Meskipun sudah retak, masih melindungi."
Arga memakai helm itu. Retak di bagian kiri. Busa di dalamnya sudah mulai lepas. Tapi ia tidak protes.
Mereka berangkat.
Perjalanan dari kos ke kampus memakan waktu sekitar setengah jam. Melewati jalan raya yang macet. Melewati pasar tradisional. Melewati gedung, gedung tua. Melewati jembatan. Melewati sungai yang airnya keruh.
Guntur mengemudi dengan hati, hati. Sesekali ia menoleh ke belakang untuk memastikan Arga masih di boncengannya.
"Kamu pernah ke kampus sebelumnya?" tanya Guntur sambil membelok ke kiri.
"Belum pernah. Saya cuma lihat dari kejauhan. Gedungnya besar. Mahasiswanya banyak. Sepeda motor di parkiran ribuan."
"Kampus itu dunia lain, Arga. Dunia yang berbeda dengan desamu. Berbeda dengan kos, kosanmu. Berbeda dengan toko bangunan."
"Berbeda bagaimana?"
"Di desa, orang berpikir tentang hari ini. Apa yang dimakan? Apa yang ditanam? Kapan panen? Di toko bangunan, orang berpikir tentang material. Pasir, semen, batu bata, kayu. Di kos, orang berpikir tentang uang. Bayar listrik, bayar air, bayar sewa."
"Lalu di kampus?"
"Di kampus, orang berpikir tentang ide. Tentang kebebasan. Tentang keadilan. Tentang masa depan. Tentang hal, hal yang tidak kelihatan tapi terasa."
"Mereka tidak berpikir tentang uang?"
"Juga. Tapi bukan prioritas. Prioritas mereka adalah ilmu. Ilmu yang akan membawa mereka ke mana, mana."
Arga terdiam. Ia memikirkan kata, kata Guntur.
Ilmu yang akan membawa mereka ke mana, mana.
Apakah aku punya ilmu?
Ilmu apa yang aku punya?
Ilmu menanam padi? Ilmu mengangkat semen? Ilmu berjalan kaki empat puluh menit setiap pagi?
Ia tidak tahu.
Tapi ia ingin tahu.
GERBANG KAMPUS
Sampailah mereka di gerbang kampus.
Gerbang besar dengan tulisan "UNIVERSITAS GAJAH MADA" di atasnya.. Suasananya ramai. Mahasiswa lalu lalang dengan buku di tangan, dengan laptop di ransel, dengan pakaian modis yang tidak pernah Arga lihat di desanya.
"Masuk dulu," kata Guntur. "Saya parkir motor di belakang fakultas."
Mereka melewati gerbang.
Arga memandang sekeliling dengan mata terbelalak.
Gedung, gedung megah. Halaman luas dengan pohon, pohon rindang. Taman dengan air mancur. Plaza dengan patung tokoh, tokoh besar. Mahasiswa duduk, duduk di bangku taman, baca buku, ngobrol, tertawa, berdebat.
Arga merasa kecil.
Sangat kecil.
Seperti semut di tengah lapangan.
Ia tidak paham bahasa mereka.
Ia tidak paham mode pakaian mereka.
Ia tidak paham topik pembicaraan mereka.
Ia hanya bisa diam.
Dan memandang.
Dan merasa asing.
"Kamu kenapa, Arga?" tanya Guntur setelah memarkir motor.
" Saya... merasa tidak pantas di sini."
"Kenapa tidak pantas?"
"Pakaian saya jelek. Sepatu saya kebesaran. Helm saya retak. Saya tidak bawa buku. Saya tidak tahu apa, apa tentang kuliah."
Guntur tersenyum. Senyum langka yang jarang ia tunjukkan.
"Kamu tidak perlu pantas, Arga. Kamu tidak perlu pakaian bagus. Kamu tidak perlu sepatu mahal. Kamu tidak perlu tahu tentang kuliah. Kamu hanya perlu satu hal."
"Apa?"
"Rasa ingin tahu."
Arga menatap Guntur.
"Rasa ingin tahu itu modal utama belajar, Arga. Tanpa rasa ingin tahu, kamu tidak akan pernah kemana-mana. Dengan rasa ingin tahu, kamu bisa belajar apa saja. Di mana saja. Kapan saja."
"Jadi saya boleh ada di sini?"
"Kamu boleh. Tidak ada yang melarang. Kampus ini milik rakyat. Milik semua orang. Termasuk kamu."
PERPUSTAKAAN PUSAT
Guntur mengajak Arga ke perpustakaan pusat.
Gedungnya besar. Kacanya lebar, lebar. Pintunya dari alumunium. Di dalamnya ribuan rak buku. ribuan koleksi. Mahasiswa duduk di kursi, kursi nyaman, membaca, menulis, mengetik di laptop.
Arga berjalan di antara rak, rak buku.
Matanya tidak bisa berhenti memandang judul, judul di punggung buku.
Filsafat Ilmu. Pengantar Sosiologi. Dasar, dasar Hukum. Teori Ekonomi. Sejarah Peradaban Manusia. Puisi, puisi Rendra. Novel, novel Pramoedya. Kumpulan cerpen Korrie Layun Rampan.
Ia mengambil satu buku.
"Pengembara: Sebuah Antologi Cerita Pendek."
Ia membuka halaman pertama.
Membaca kalimat pembuka:
"Pengembara sejati tidak pernah tahu kapan ia akan tiba. Yang ia tahu hanyalah bahwa perjalanan adalah rumahnya yang sesungguhnya."
Arga terenyuh.
Ia membaca lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
"Kamu suka membaca?" tanya Guntur yang tiba-tiba muncul di sampingnya.
"Saya dulu suka. Tapi setelah kerja di toko, tidak pernah lagi. Badan terlalu capek. Mata terlalu ngantuk."
"Di kampus, membaca adalah kewajiban. Setiap hari. Setiap malam. Bahkan di akhir pekan."
"Saya tidak kuat."
"Kamu akan kuat jika kamu terbiasa."
Guntur mengambil buku itu dari tangan Arga.
"Buku ini bagus," katanya. "Penulisnya juga anak desa. Dulu kuliah di sini. Sekarang jadi dosen."
"Saya bisa pinjam?"
"Bisa. Dengan kartu anggota. Tapi kamu belum punya kartu."
"Lalu bagaimana?"
"Baca di sini saja. Nanti kalau sudah punya KTP, bisa daftar jadi anggota."
Arga mengangguk.
Ia duduk di kursi dekat jendela.
Membaca buku itu.
Halaman demi halaman.
Cerita demi cerita.
Setiap cerita tentang pengembara. Tentang orang, orang yang meninggalkan kampung halaman untuk mencari sesuatu. Ada yang mencari uang. Ada yang mencari ilmu. Ada yang mencari cinta. Ada yang mencari jati diri.
Mirip dengan saya, pikir Arga. Saya juga pengembara. Meninggalkan desa. Mencari Sekar. Mencari jawaban. Mencari mana yang lebih penting: cinta atau bertahan hidup.
KELAS FILSAFAT
Jam sepuluh pagi, Guntur mengajak Arga ke kelas.
"Kamu mau lihat bagaimana cara mahasiswa berdebat?"
"Boleh?"
"Ikut saja. Duduk di belakang. Jangan bicara. Jangan bertanya. Cukup dengar."
Mereka masuk ke ruang kuliah. Gedung tua. Lantai marmer. Kursi, kursi kayu berjajar rapi. Papan tulis hitam besar. Dosen sudah berdiri di depan.
Dosen itu laki, laki setengah baya. Berjenggot tipis. Berkacamata tebal. Berjas hitam. Berdasi merah.
"Selamat pagi, mahasiswa, mahasiswi," sapanya.
"Selamat pagi, Pak Dosen," jawab mahasiswa serempak.
"Hari ini kita akan membahas tentang eksistensi manusia. Tentang makna hidup. Tentang mengapa kita ada di dunia ini."
Arga duduk di kursi paling belakang.
Ia mendengarkan.
Dosen itu berbicara tentang filsuf, filsuf besar: Socrates, Plato, Aristoteles, Descartes, Nietzsche, Sartre, Heidegger.
Kata, katanya sulit. Istilah, istilahnya asing. Tapi Arga berusaha mengerti.
"Eksistensi mendahului esensi," kata dosen itu. "Kita dilahirkan tanpa tujuan. Kita bebas menentukan tujuan kita sendiri. Kita bebas menciptakan makna hidup kita sendiri."
Bebas menentukan tujuan, pikir Arga. Tujuan saya adalah Sekar. Tapi apakah itu pilihan bebas? Atau karena takdir? Atau karena cinta?
"Kebebasan adalah kutukan," lanjut dosen itu. "Karena dengan kebebasan datang tanggung jawab. Kita bertanggung jawab atas pilihan, pilihan kita. Kita bertanggung jawab atas hidup kita. Kita bertanggung jawab atas orang, orang yang kita cintai."
Tanggung jawab, pikir Arga. Saya bertanggung jawab atas Sekar. Saya yang memulai hubungan. Saya yang harus menyelamatkannya. Bukan orang lain.
Setelah kelas selesai, Guntur menemui Arga di belakang.
"Bagaimana?" tanya Guntur.
"Saya tidak mengerti setengahnya."
"Tidak apa. Yang penting kamu dengar. Yang penting kamu tahu bahwa ada orang, orang yang memikirkan hal, hal besar. Bukan hanya tentang perut, uang, atau cinta."
"Apakah itu penting?"
"Sangat penting. Karena dengan berpikir, kita tidak hanya hidup. Kita juga mengerti mengapa kita hidup."
Arga mengangguk.
"Mungkin saya perlu belajar filsafat."
"Kamu bisa. Kamu punya bakat."
"Bakat apa?"
"Bakat merenung. Bakat bertanya. Bakat tidak puas dengan jawaban instan."
KANTIN MAHASISWA
Jam dua belas siang, Guntur mengajak Arga makan di kantin mahasiswa.
Kantinnya besar. Puluhan stan makanan. Nasi goreng, mie ayam, bakso, soto, sate, es buah, jus alpukat. Mahasiswa antri di depan stan. Suasana ramai. Tawa dan canda di mana, mana.
Mereka memesan nasi goreng dan es teh manis.
Duduk di kursi plastik.
Makan sambil memandang orang, orang.
"Arga," panggil Guntur.
"Iya."
"Kamu tahu kenapa saya hidup?"
"Karena orang tua melahirkan?"
"Saya tidak tahu. Tapi saya masih hidup sampai sekarang karena satu hal."
"Apa?"
"Penasaran."
"Penasaran tentang apa?"
"Tentang besok. Tentang masa depan. Tentang apa yang akan terjadi pada dunia ini. Pada bangsa ini. Pada orang, orang yang saya cintai."
"Termasuk saya?"
"Termasuk kamu. Termasuk Faruq. Termasuk Nisa. Termasuk Dimas."
Arga tersenyum.
"Kamu tidak seburuk yang saya kira, Guntur."
"Saya tahu. Saya hanya suka berpura-pura buruk."
"Kenapa?"
"Agar orang tidak berharap terlalu banyak pada saya."
PERPUSTAKAAN FAKULTAS EKONOMI
Sore harinya, Nisa bergabung dengan mereka.
Ia sedang ada tugas di fakultas ekonomi. Wawancara dengan mahasiswa tentang perilaku konsumen.
"Mas Arga!" sapanya dari kejauhan.
"Nisa, kamu ngapain di sini?"
"Tugas. Wawancara. Sekalian jenguk kalian. Guntur bilang kamu ke kampus."
"Iya. Guntur ngajak."
"Bagaimana? Suka?"
"Suka. Tapi saya merasa asing."
"Wajar. Pertama kali biasanya begitu. Nanti kalau sering, kamu akan terbiasa."
"Apakah saya pantas di sini?"
Nisa memandang Arga.
Matanya serius.
"Mas, pantas itu bukan tentang pakaian. Bukan tentang sepatu. Bukan tentang status. Pantas itu tentang mental. Tentang keberanian. Tentang rasa ingin tahu."
"Saya tidak punya semua itu."
"Kamu punya, Mas. Kamu berani meninggalkan desa. Kamu berani mencari Sekar. Kamu berani kerja jadi kuli bangunan. Itu semua bukti."
"Tapi, "
"Tidak ada tapi. Kamu pantas. Kamu lebih pantas dari saya sebagai mahasiswa di sini."
"Kenapa?"
"Karena saya kuliah dengan uang orang tua. Kamu belajar dengan keringat sendiri."
PERTEMUAN DENGAN DEWI
Jam empat sore, Arga dan Guntur berjalan keluar dari kampus.
Di gerbang, mereka bertemu dengan Dewi, perempuan yang dulu membantu Arga mencari kos.
"Dewi?" sapa Arga.
"Mas Arga!" Dewi tersenyum lebar. "Lama tidak bertemu. Bagaimana kabar?"
"Baik. Kerja di toko bangunan. Tinggal di kos Mbok Darmi."
"Syukurlah. Kamu masih cari Sekar?"
"Masih."
"Belum ketemu?"
"Belum. Tapi ada petunjuk."
"Petunjuk apa?"
Arga ragu sejenak. Tapi ia memutuskan untuk jujur.
"Sekar akan cabut besok malam. Saya jemput."
Dewi terkesiap. "Serius?"
"Serius."
"Risikonya besar."
"Saya tahu."
"Tapi kamu tetap mau?"
"Saya tidak punya pilihan."
Dewi menghela napas. "Mas Arga, saya salut. Saya tidak tahu banyak orang yang seberani Mas."
"Saya tidak berani. Saya terpaksa."
"Terpaksa atau berani, sama saja. Yang penting niatnya lurus."
Dewi mengeluarkan ponselnya.
"Ini nomor saya," katanya sambil mengetik. "Kalau Mas butuh bantuan, hubungi saya. Saya punya kenalan di kepolisian."
"Terima kasih, Dewi."
"Jangan berterima kasih. Belum tentu saya bisa membantu."
MALAM DI KOS
Jam delapan malam, Arga pulang ke kos.
Ia duduk di dipan bambu.
Memeluk bantal kebaya.
Memikirkan semua yang ia lihat hari ini.
Gedung-gedung megah.
Mahasiswa-mahasiswa cerdas.
Diskusi-diskusi filosofis.
Buku-buku tebal.
Ide-ide besar.
Apakah aku bisa seperti mereka?
Apakah aku bisa kuliah?
Apakah aku bisa menjadi seseorang yang lebih dari kuli bangunan?
Ia tidak tahu.
Tapi ia ingin tahu.
"Mas Arga," panggil Dimas dari luar pintu.
"Iya."
"Makan malam. Saya beli nasi goreng."
"Terima kasih."
Mereka makan bersama di halaman kos.
Mbok Darmi ikut bergabung.
"Mbok, aku mau cerita tentang kampus," kata Arga.
"Kampus mana?"
"UGM. Saya tadi ke sana."
"Wah, Mas Arga jadi anak kampus."
"Bukan. Cuma numpang lihat."
"Tapi suatu hari, Mas Arga bisa kuliah."
"Apakah bisa? Saya sudah dua puluh tahun. Tidak muda lagi."
"Usia dua puluh itu masih muda, Mas. Saya jamin. Saya dulu kuliah umur dua puluh lima."
"Serius, Mbok?"
"Serius. Saya kuliah di Universitas Terbuka. Jurusan Manajemen. Lulus umur tiga puluh."
"Lalu Mbok jadi apa?"
"Jadi pemilik kos-kosan. Tidak mulia-mulia amat. Tapi saya bangga."
Mbok Darmi tersenyum.
"Sekarang giliran Mas Arga. Jangan menyerah. Jangan putus asa. Terus belajar."
RENCANA BESOK
Jam sepuluh malam, Guntur, Faruq, Nisa, dan Dimas berkumpul di kos.
Mereka membahas rencana untuk besok malam.
"Dimas, kamu sudah pantau situasi?" tanya Guntur.
"Sudah. Ferry akan berangkat jam sepuluh pagi. Hanya dua satpam yang berjaga. Di depan dan di belakang."
"Rumahnya bagaimana?"
"Pagar tinggi. Tapi ada pohon jambu di belakang. Itu satu-satunya celah."
"Faruq, mobil sewaan?"
"Siap. Saya sudah pesan. Avanza hitam. Tidak mencolok."
"Nisa, tempat persembunyian?"
"Siap. Rumah teman saya di daerah Gejayan. Sepi. Aman. Dekat dengan kampus."
"Arga, kamu siap?"
Arga mengangguk. "Siap."
"Pisau?"
"Tidak perlu."
"Tapi kalau ada bahaya?"
"Saya tidak akan membawa senjata. Saya tidak mau menyakiti siapa pun."
Guntur menghela napas. "Kamu terlalu baik, Arga."
"Bukan baik. Saya hanya tidak ingin dosa."
"Setuju," kata Faruq. "Tuhan tidak suka kekerasan."
"Tuhan juga tidak suka ketidakadilan," timpal Nisa.
"Kita tidak akan menggunakan kekerasan. Kita hanya akan menjemput Sekar. Kalau ada yang menghalangi, kita lari. Jangan melawan. Jangan membahayakan diri."
"Setuju," kata semua.
MALAM YANG MENENTUKAN
Jam dua belas malam, teman, teman Arga pulang.
Satu per satu.
Guntur duluan. Faruq kedua. Nisa ketiga. Dimas keempat.
Arga masuk ke kamar.
Ia membuka jendela.
Udara malam masuk.
Dingin.
Ia memeluk bantal kebaya.
"Sekar," bisiknya, "besok malam kita bertemu."
"Besok malam kita bersama lagi."
"Besok malam kita mulai hidup baru."
Ia memejamkan mata.
Bayangan Sekar muncul.
Sekar tersenyum.
"Aku menunggumu, Arga."
"Aku datang."
"Janji?"
"Janji."
BAB 10
PETA PERTAMA
Malam itu, setelah teman-temannya pulang, Arga tidak langsung tidur.
Ia duduk di dipan bambu, memandang peta usang pemberian Mbah Jayarasa. Kertas kuning itu terlipat rapi di saku celananya, selalu ia bawa ke mana pun sejak meninggalkan desa. Kadang ia lupa bahwa peta itu ada. Kadang ia sengaja tidak mau membukanya karena takut kecewa. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, ia membuka peta itu dengan sengaja, dengan sadar, dengan tekad.
Lampu bohlam lima watt di kamarnya menyala redup. Cahayanya hampir tidak cukup untuk menerangi garis, garis kusam di atas kertas kuning itu. Tapi Arga tidak butuh cahaya terang. Ia sudah hafal setiap goresan, setiap lekukan, setiap lingkaran merah di tengah peta, setiap tulisan kecil yang hampir pudar: "Di sini, dia pernah menangis."
Tapi malam ini, ada yang berbeda.
Malam ini, untuk pertama kalinya, Arga melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Mungkin karena cahaya lampu yang jatuh dari sudut tertentu. Mungkin karena matanya yang sudah lebih tajam setelah berbulan, bulan di kota. Mungkin karena Mbah Jayarasa sengaja menyembunyikan tinta itu dengan tinta lain yang hanya muncul setelah sekian lama.
Atau mungkin, peta itu memang hidup.
Peta itu bernapas.
Peta itu berbicara.
Di sudut kanan bawah, di bagian yang selama ini selalu gelap karena lipatan kertas, muncul garis, garis baru. Bukan garis yang digambar tangan. Garis yang tumbuh dengan sendirinya. Seperti akar. Seperti sungai. Seperti jalan setapak yang terbentuk karena sering dilalui.
Garis-garis itu membentuk sebuah pola.
Pola yang tidak asing bagi Arga.
Itu adalah peta kota.
Peta tempat ia sekarang tinggal.
Jalan Mawar Hitam. Pasar Lama. Terminal Bis. Perumahan Mutiara Indah. Kampus UGM. Semua tergambar di sana, tidak sempurna, tidak detail, tetapi cukup jelas untuk dikenali.
Dan di tengah, tengah peta itu, tepat di perumahan Mutiara Blok A nomor tujuh, ada lingkaran merah.
Bukan lingkaran merah baru.
Lingkaran merah yang sama.
Lingkaran merah yang dulu ada di peta Mbah Jayarasa ketika ia memberikannya pada Arga.
"Di sini, dia pernah menangis," tulis Mbah Jayarasa.
Arga menatap lingkaran itu. Tangannya gemetar. Jantungnya berdebar kencang. Dadanya sesak, bukan sesak karena sakit, tapi sesak karena perasaan yang terlalu penuh.
Mbah Jayarasa tahu.
Mbah Jayarasa sudah tahu sejak awal bahwa Sekar ada di rumah Ferry.
Mbah Jayarasa sudah tahu sejak awal bahwa Arga akan menemukan jalan ke sana.
Mbah Jayarasa tidak perlu memberi petunjuk yang jelas. Karena peta itu, peta usang itu, akan berbicara dengan sendirinya ketika waktunya tepat.
"Jatmika," bisik Arga pada udara malam yang dingin, "apa ini yang kau maksud? Apa ini yang Mbah Jayarasa maksud? Bahwa peta tidak pernah menunjukkan jalan, tapi hanya menunjukkan tempat di mana kita pernah berdiri?"
Ia tidak mendapat jawaban.
Hanya suara jangkrik dari selokan.
Hanya suara klakson dari kejauhan.
Hanya suara angin yang berbisik di sela, sela dinding kamar yang tidak diplester.
SUBUH YANG GELISAH
Pukul tiga pagi, Arga sudah bangun.
Tidak mandi. Tidak sarapan. Tidak menyalakan lampu. Ia hanya duduk di dipan bambu, memeluk bantal kebaya Sekar, dan memandang peta usang yang kini terbuka lebar di pangkuannya.
Garis-garis baru itu semakin jelas di bawah cahaya bulan yang masuk melalui jendela kecil di belakang kamar. Mungkin memang sengaja dirancang seperti itu, tinta khusus yang hanya terlihat di bawah sinar bulan atau setelah kertas terkena udara lembab selama berbulan, bulan. Mbah Jayarasa memang orang yang penuh rahasia. Ia tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan.
"Le, kamu sudah bangun?" suara Mbok Darmi dari luar pintu.
"Sudah, Mbok."
"Kok belum mandi? Biasanya kamu sudah berisik dari jam setengah empat."
"Saya tidak bisa tidur, Mbok. Pikiran saya kacau."
"Pikiran kacau karena apa?"
"Karena banyak hal."
Mbok Darmi membuka pintu tanpa permisi. Ia masuk dengan daster lusuh dan rambut keriting acak, acakan. Matanya masih mengantuk, tapi ia memaksakan diri untuk terjaga.
"Ngomong-ngomong, Mbok lihat kamu dari tadi megang, megang kertas kuning. Itu apa?" tanyanya.
"Peta, Mbok. Peta dari Mbah Jayarasa."
"Peta apa?"
"Peta yang katanya akan membawa saya ke Sekar."
Mbok Darmi mengambil peta itu. Diamatinya lama. Matanya yang sipit tiba-tiba terbuka lebar.
"Arga," panggilnya.
"Iya, Mbok."
"Kamu tahu ini peta apa?"
"Peta kota?"
"Bukan. Ini peta hati. Peta yang digambar oleh seseorang yang sangat mengenalmu. Seseorang yang tahu apa yang kamu butuhkan sebelum kamu mengetahuinya."
"Iya, Mbok. Saya mulai mengerti."
Mbok Darmi mengembalikan peta itu. Ia duduk di samping Arga, di dipan bambu yang sempit.
"Le, Mbok ingin cerita sesuatu. Tapi kamu jangan bilang siapa-siapa."
"Siap, Mbok."
"Dulu, sebelum Mbok janda, Mbok punya suami. Namanya Karto. Dia sopir truk. Sering pergi ke luar kota berminggu-minggu. Mbok ditinggal sendiri di rumah ini. Sendiri. Sepi. Lama-lama Mbok ketemu laki-laki lain."
Arga terdiam. Ia tidak menyangka Mbok Darmi akan bercerita tentang masa lalunya yang gelap.
"Mbok selingkuh," lanjut Mbok Darmi dengan suara datar. "Bukan karena Mbok tidak sayang Karto. Tapi karena Mbok butuh kehangatan. Butuh teman. Butuh seseorang yang ada setiap malam, bukan setiap bulan."
"Lalu, Mbok?"
"Karto tahu. Dia marah. Dia pukul Mbok. Dia pukul laki-laki itu. Lalu dia pergi. Tidak pernah kembali."
"Cerai?"
"Cerai. Mbok jadi janda. Laki-laki itu juga pergi. Tidak bertanggung jawab. Mbok ditinggal sendiri. Lagi."
"Maaf, Mbok. Saya tidak tahu."
"Tidak apa. Itu sudah lama. Mbok sudah tidak sakit. Tapi Mbok belajar satu hal."
"Apa, Mbok?"
"Bahwa cinta tidak cukup. Cinta harus dibarengi komitmen. Komitmen harus dibarengi integritas. Integritas harus dibarengi keberanian."
Arga mengangguk. "Saya mengerti, Mbok."
"Jadi, Le. Kamu cinta Sekar. Kamu komitmen mencarinya. Kamu punya integritas. Sekarang saatnya punya keberanian. Bukan keberanian untuk mati. Tapi keberanian untuk hidup."
Mbok Darmi berdiri. Ia keluar kamar tanpa menoleh.
Arga duduk sendiri.
Memandang peta di pangkuannya.
Keberanian untuk hidup.
Apa artinya?
Apakah hidup hanya tentang bertahan di kota, bekerja sebagai kuli bangunan, dan mencari Sekar? Atau ada sesuatu yang lebih, sesuatu yang lebih besar, lebih bermakna, lebih abadi?
PAGI YANG CERAH
Jam setengah enam, Arga keluar kamar.
Ia mandi dengan air dingin. Air sumur terasa lebih dingin dari biasanya, mungkin karena musim hujan sudah dekat, mungkin karena ia terlalu lama berdiri di bawah pancuran sambil melamun.
Selesai mandi, ia memakai kemeja abu, abu lengan pendek. Celana bahan hitam yang sama. Sandal jepit karet yang solnya mulai tipis.
Di halaman kos, Dimas sudah duduk di kursi plastik sambil minum kopi hitam pahit. Wajahnya masih ngantuk, rambutnya acak, acakan, jaket kurirnya dipakai terbalik.
"Mas Arga, kok pagi, pagi sudah dandan? Mau ke mana?" tanyanya sambil menguap.
"Ke toko, biasa. Terus nanti malam... kau tahu."
"Oh, iya. Malam ini. Saya sudah siap. Motor sudah full tank. Ban belakang baru ganti. Helm sudah saya periksa."
"Kamu yakin tidak takut?"
Dimas mengisap kopinya hingga habis. Ia meletakkan gelas di atas meja plastik yang goyang.
"Saya takut, Mas. Tapi kalau tidak berani, kita tidak akan pernah tahu hasilnya. Saya lebih takut penasaran daripada takut mati."
"Kamu bijak, Dimas."
"Saya tidak bijak. Saya hanya tidak punya apa-apa untuk hilang."
Arga menepuk bahu Dimas.
"Terima kasih."
"Jangan makasih. Nanti saya minta traktir sate kambing lagi."
"Besok. Janji."
DI TOKO BANGUNAN
Jam tujuh kurang lima menit, Arga tiba di toko.
Pak Bondan sudah duduk di kursi plastik seperti biasa. Koran. Rokok. Kopi hitam. Tapi hari ini ada yang berbeda. Di sampingnya ada seorang laki, laki muda, usia sekitar dua puluh lima tahun, berkulit putih, berambut rapi, berkemeja batik lengan panjang. Ia sedang berbicara dengan Pak Bondan dengan nada serius.
"Arga, kemari," panggil Pak Bondan.
Arga mendekat. "Ada apa, Pak?"
"Ini Mas Rudi. Pengusaha properti. Dia butuh kuli harian untuk proyeknya di selatan kota."
Laki, laki itu menatap Arga dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Kamu Arga?"
"Iya, Mas."
"Bisa angkat barang?"
"Bisa."
"Bisa kerja lembur?"
"Bisa."
"Bisa dipercaya?"
Bisa."
Mas Rudi mengangguk. "Bagus. Saya butuh lima orang. Harian. Bayaran seratus ribu per hari. Mulai besok."
Arga menoleh pada Pak Bondan. Pak Bondan mengangguk.
"Besok saya bisa, Mas," kata Arga.
"Bagus. Ini kartu nama saya. Datang ke alamat ini jam tujuh pagi. Jangan telat."
"Baik, Mas."
Mas Rudi pergi. Arga memandang kartu nama di tangannya.
Rudi Property. Perumahan Mutiara Indah Blok B nomor 12.
Perumahan Mutiara Indah.
Tempat yang sama dengan rumah Ferry.
Tempat Sekar dikurung.
"Ini petunjuk, Le," kata Pak Bondan. "Kamu harus memanfaatkannya."
"Saya mengerti, Pak."
"Tapi hati-hati. Jangan sampai ketahuan. Jangan sampai dicurigai."
"Siap, Pak."
PASIR, SEMEN DAN PETA
Hari itu, Arga bekerja lebih giat dari biasanya.
Ia mengangkat pasir. Mengangkat semen. Mengangkat batu bata. Tidak berhenti. Tidak istirahat. Keringat mengucur di sekujur tubuhnya. Wajahnya merah padam.
Pak Bondan beberapa kali menegurnya.
"Le, istirahat dulu. Nanti kamu pingsan."
"Saya tidak apa, apa, Pak."
"Kamu mau bunuh diri?"
"Tidak, Pak. Saya hanya... ingin cepat selesai."
"Kenapa?"
"Karena malam ini ada yang lebih penting."
Pak Bondan menghela napas. Ia tidak melarang. Ia hanya memandang Arga dengan mata yang dalam, penuh kekhawatiran, tapi juga penuh kebanggaan.
"Bawakan saya kopi, Le," kata Pak Bondan.
"Siap, Pak."
Arga berjalan ke warung di depan toko. Memesan kopi hitam tanpa gula. Sambil menunggu, ia memandang peta usang di saku celananya.
Peta pertama, pikirnya. Peta pertama yang benar-benar berguna.
"Mas, kopinya."
"Terima kasih, Mbak."
Arga membayar. Ia kembali ke toko. Menyerahkan kopi pada Pak Bondan.
"Pak," katanya.
"Iya."
"Terima kasih sudah menerima saya kerja di sini."
Pak Bondan menyesap kopinya. Pahitnya membuat wajahnya sedikit berkerut.
"Kamu pekerja keras, Le. Saya tidak akan menyesal menerima kamu."
"Terima kasih, Pak."
"Jangan berterima kasih. Sekarang kerja. Masih banyak."
"Siap, Pak."
JAM ISTIRAHAT
Jam dua belas siang, Arga makan siang.
Ia duduk di bawah pohon rindang di depan toko. Nasi putih. Telur dadar. Tempe goreng. Sambal terasi. Es teh manis.
Ia makan perlahan.
Memandang jalan raya.
Memandang halte bus.
Memandang orang, orang yang lalu lalang.
Tiba, tiba, ponselnya bergetar.
Pesan singkat dari Guntur.
"Siapkan diri. Malam ini kita bergerak."
Arga membalas: "Siap."
Ia menyimpan ponsel.
Ia menghabiskan makan siangnya.
Ia kembali bekerja.
SORE YANG MENEGANGKAN
Jam empat sore, Arga sudah menyelesaikan semua tugasnya.
Ia lebih cepat dari biasanya. Mungkin karena adrenalin. Mungkin karena semangat. Mungkin karena takut, takut tidak sempat, takut tertunda, takut sesuatu terjadi pada Sekar sebelum ia sempat menjemputnya.
"Kamu boleh pulang lebih awal, Le," kata Pak Bondan.
"Terima kasih, Pak."
"Jaga diri."
"Siap, Pak."
Arga berjalan pulang.
Langkahnya cepat.
Setiap bayangan perempuan berambut panjang membuat jantungnya berdegup kencang. Tapi ia tidak berhenti. Ia terus berjalan.
Sampai di kos, ia langsung masuk kamar.
Ia membuka peta usang.
Ia memandang lingkaran merah.
"Di sini, dia pernah menangis."
"Tidak akan lagi," bisik Arga. "Mulai malam ini, dia tidak akan pernah menangis lagi."
PERSIAPAN TERAKHIR
Jam enam sore, teman, temannya datang.
Guntur, Faruq, Nisa, Dimas.
Mereka berkumpul di halaman kos.
Mbok Darmi menyuguhkan teh jahe dan pisang goreng. Ia tidak banyak bicara. Ia hanya memandang mereka bergantian, mata yang penuh doa.
"Kita revisi rencana," kata Guntur.
"Revisi bagaimana?" tanya Faruq.
"Dari pemantauan Dimas, ternyata Ferry tidak pergi sendirian. Dia bawa dua preman. Jadi total yang jaga di rumah malam ini ada empat orang. Dua satpam di depan. Dua preman di belakang."
"Bahaya," kata Nisa.
"Bahaya. Tapi masih bisa diatasi."
"Bagaimana?"
"Kita bagi tugas. Dimas akan memantau dari luar. Faruq akan jaga mobil di belakang rumah, mesin menyala, siap kabur setiap saat. Nisa akan jaga di tempat persembunyian. Saya akan bantu Arga memanjat pagar."
"Lalu Arga?" tanya Faruq.
"Arga yang akan memanjat pohon jambu, mengambil Sekar, dan membawanya ke mobil."
"Risiko?"
"Besar. Tapi kita tidak punya pilihan lain."
Arga mengangguk. "Saya setuju."
"Setuju," kata yang lain.
PETA KEDUA
Sebelum berangkat, Arga membuka peta usangnya sekali lagi.
Ia memandang garis, garis baru yang muncul semalam.
Garis, garis itu membentuk sebuah pola.
Pola yang tidak hanya menunjukkan perumahan Mutiara Indah.
Tapi juga menunjukkan jalan alternatif.
Jalan kecil di belakang perumahan.
Jalan yang tidak terlihat di peta biasa.
Jalan yang hanya diketahui oleh warga lokal.
Jalan yang mungkin bisa digunakan untuk kabur jika pintu belakang dijaga.
"Ini," kata Arga sambil menunjuk peta.
"Apa itu?" tanya Guntur.
"Jalan alternatif. Di belakang perumahan. Lewat sungai kecil. Terus ke jalan raya."
"Kamu tahu jalan itu?"
"Saya belum pernah lewat. Tapi peta ini menunjukkan."
"Kamu percaya peta ini?"
Arga memandang Guntur.
"Saya percaya. Peta ini tidak pernah salah."
"Baik. Kita ikuti peta itu."
BERANGKAT
Jam sembilan malam, mereka berangkat.
Dimas duluan dengan motornya. Ia akan memantau situasi dari luar perumahan.
Faruq kedua dengan mobil sewaan Avanza hitam. Ia parkir di belakang perumahan, dekat sungai, siap menjemput kapan saja.
Guntur dan Nisa naik motor Guntur. Mereka akan menemani Arga sampai ke lokasi.
Arga naik di boncengan Guntur.
Perjalanan memakan waktu setengah jam.
Jalanan macet. Lampu merah di mana, mana. Orang, orang masih lalu lalang.
Arga memandang langit.
Bulan purnama bersinar terang.
Bintang, bintang berkerlap, kerlip.
Malam yang indah, pikirnya. Malam yang sempurna untuk memulai hidup baru.
DI DEPAN PAGAR
Jam setengah sepuluh, mereka tiba di depan perumahan Mutiara Indah.
Pagar tinggi. Tembok bata. Kawat berduri di atasnya.
Satpam di pos depan sedang tidur, atau pura, pura tidur. Lampu penerangan menyala terang. Kamera CCTV di setiap sudut.
"Kita tidak bisa masuk lewat sini," bisik Guntur.
"Harus lewat belakang," jawab Arga.
Mereka memutar ke arah belakang perumahan.
Jalanan semakin gelap. Lampu jalan mulai jarang. Pepohonan rimbun di kiri kanan.
"Di sini," kata Arga sambil menunjuk sebuah gang kecil di antara dua rumah.
Mereka masuk.
Gang itu sempit. Hanya cukup untuk satu orang. Di ujung gang, tembok pembatas perumahan.
"Pohon jambu," bisik Arga.
Di balik tembok, tampak pohon jambu yang menjulur ke atas. Daunnya rimbun. Cabangnya kuat. Batangnya tidak terlalu tinggi.
"Saya panjat," kata Arga.
"Hati, hati."
Arga memanjat tembok dengan bantuan Guntur. Ia berdiri di atas tembok. Meraih cabang pohon jambu. Memanjat perlahan.
Daun-daun bergesekan. Suaranya cukup keras di malam yang sunyi.
Arga berhenti.
Ia mendengar.
Tidak ada suara langkah.
Tidak ada suara anjing.
Tidak ada suara satpam.
Ia melanjutkan memanjat.
Sampai di cabang tertinggi, ia bisa melihat ke dalam rumah.
Rumah besar. Dua lantai. Lampu di lantai satu menyala terang. Lantai dua gelap.
Di balkon lantai dua, seorang perempuan berdiri.
Rambut panjang. Gaun biru muda.
Sekar.
Arga hampir berteriak.
Ia menahan napas.
Ia melambai.
Sekar melihat.
Sekar tersenyum.
Sekar menangis.
BAB 11
ANGKRINGAN JOGJA
Malam itu, setelah berjam, jam menunggu di belakang perumahan Mutiara Indah, rencana penyelamatan harus ditunda.
Bukan karena gagal. Bukan karena ketahuan. Bukan karena pengecut. Tapi karena Sekar sendiri yang membatalkannya.
Dari balkon lantai dua, Sekar melambaikan tangan pada Arga, bukan lambaian "kemarilah", tapi lambaian "tunggu dulu, jangan sekarang". Ia menunjuk ke arah pintu kamar, lalu ke telinganya, lalu ke bawah, lalu menggelengkan kepala.
Arga mengerti.
Ada seseorang di dalam kamar. Mungkin pembantu. Mungkin satpam. Mungkin preman bayaran Ferry. Sekar tidak bisa keluar malam ini.
Arga memanjat turun dari pohon jambu dengan hati yang hancur. Wajahnya pucat. Matanya basah. Tangannya gemetar.
"Gagal?" tanya Guntur.
"Ditunda," jawab Arga. "Ada orang di kamarnya."
"Sekar bilang begitu?"
"Dia memberi isyarat."
"Berarti dia masih aman. Masih hidup. Masih bisa kita selamatkan lain waktu."
"Tapi kapan? Ferry akan kembali besok atau lusa. Setelah itu, penjagaan akan semakin ketat."
"Kita cari cara lain. Sekarang, kita pulang. Istirahat. Jangan patah semangat."
Arga mengangguk pelan.
Mereka berjalan kembali ke mobil. Faruq masih duduk di kursi kemudi, mesin menyala, siap melaju kapan saja. Wajahnya tegang.
"Gagal?" tanyanya.
"Ditunda," jawab Guntur.
"Kecewa."
"Semua kecewa. Tapi tidak apa. Kita masih punya kesempatan."
MALAM YANG SUNYI
Perjalanan pulang terasa lebih berat daripada ketika berangkat.
Arga duduk di jok belakang mobil, di samping Nisa. Ia tidak bicara. Ia hanya memandang ke luar jendela, memandang lampu, lampu jalan yang berlalu cepat, memandang pepohonan yang bergerak lambat, memandang langit yang gelap tanpa bintang.
"Mas Arga," panggil Nisa pelan.
"Iya."
"Mas jangan sedih."
"Saya tidak sedih. Saya kecewa."
"Itu wajar. Tapi jangan biarkan kekecewaan menguasai Mas."
"Saya tidak akan, Nisa. Saya hanya... butuh waktu."
"Waktu untuk apa?"
"Untuk memproses. Untuk menerima. Untuk bangkit lagi."
Nisa menggenggam tangan Arga.
"Kita akan bersama, Mas. Suka dan duka. Berhasil dan gagal."
Arga menatap Nisa.
"Terima kasih, Nisa."
"Jangan berterima kasih. Nanti saya minta traktir."
Faruq dari depan ikut bersuara. "Nisa, jangan minta traktir terus. Nanti Mas Arga bangkrut."
"Nggak apa. Mas Arga kan pekerja keras. Pasti punya tabungan."
"Tabungannya buat biaya nikah sama Sekar."
"Ya sudah, nanti saya minta traktir setelah Mas Arga nikah."
"Setuju."
Mereka tertawa. Tawa yang sedikit mengobati luka.
KOS, KOSAN MBOK DARMI
Jam sebelas malam, mereka tiba di kos.
Mbok Darmi masih duduk di teras, menunggu. Wajahnya tegang. Matanya sembab, mungkin menangis, mungkin kurang tidur.
"Gagal?" tanyanya.
"Ditunda, Mbok," jawab Arga.
"Syukurlah. Setidaknya tidak ada yang terluka."
"Ferry belum kembali. Masih ada waktu."
"Kamu istirahat, Le. Besok masih ada hari. Lusa masih ada. Minggu depan masih ada. Jangan menyerah."
"Saya tidak akan menyerah, Mbok."
Mbok Darmi mengangguk. Ia masuk ke dalam rumah. Meninggalkan anak, anak muda yang masih duduk di halaman.
"Arga," panggil Guntur.
"Iya."
"Besok libur, kan?"
"Iya. Minggu."
"Aku ajak kamu keluar. Jalan, jalan. Melepas penat."
"Ke mana?"
"Ke Malioboro. Ke Kraton. Ke angkringan. Kamu belum pernah ke sana, kan?"
"Belum."
"Waktunya kamu kenal Jogja. Kota ini bukan hanya tempat kamu bekerja dan mencari Sekar. Kota ini juga tempat kamu hidup."
PAGI DI KOTA PELAJAR
Minggu pagi, langit Jogja cerah. Biru. Tanpa polusi. Setidaknya itulah yang Arga lihat dari jendela kamarnya yang kecil.
Ia bangun lebih lambat dari biasanya. Tidak ada target. Tidak ada tugas. Hanya istirahat. Hanya melepas lelah.
Jam delapan, Guntur sudah datang dengan motor bututnya.
"Ayo, Le. Tidak usah mandi. Pakai baju yang rapi sedikit."
Arga mandi. Memakai kemeja putih lengan panjang, yang terakhir, yang paling bagus, yang hanya ia pakai untuk acara, acara penting. Celana bahan hitam yang sedikit kebesaran. Sepatu pantofel pinjaman dari Dimas.
"Ganteng, Mas," panggil Nisa dari halaman. Ia sudah datang bersama Faruq.
"Kok rame?" tanya Arga.
"Ya iyalah. Wisata kan bareng, bareng."
Mereka berlima, Arga, Guntur, Faruq, Nisa, dan Dimas, berangkat dengan tiga motor.
Guntur bonceng Arga.
Faruq bonceng Nisa.
Dimas sendiri.
Perjalanan ke Malioboro memakan waktu sekitar dua puluh menit. Melewati jalanan yang mulai ramai. Melewati pasar tradisional. Melewati gedung, gedung tua peninggalan Belanda. Melewati pertigaan yang macet.
"Kota ini beda dengan kotamu," kata Guntur dari depan.
"Beda bagaimana?"
"Di kotamu, orang bangun pagi untuk ke sawah. Di sini, orang bangun pagi untuk ke kampus, ke pasar, ke Malioboro."
"Di desaku juga ada pasar."
"Pasar di desamu kecil. Pasar di sini besar. Pusat oleh-oleh. Pusat kuliner. Pusat budaya."
"Kamu suka Malioboro?"
"Aku suka. Bukan karena belanja. Tapi karena suasana. Campuran antara modern dan tradisional. Antara lokal dan turis. Antara yang serius dan yang santai."
MALIOBORO
Malioboro.
Nama yang sudah sering Arga dengar dari teman-temannya. Tapi ia belum pernah membayangkan seperti apa sebenarnya.
Sekarang ia tahu.
Gedung-gedung tua dengan arsitektur kolonial. Trotoar lebar yang dipenuhi pedagang kaki lima. Kios, kios yang menjual batik, kaos, tas, kerajinan perak, wayang kulit, patung kayu. Turis asing berjalan, jalan dengan tas ransel besar. Mahasiswa nongkrong di bangku, bangku taman. Pengamen bernyanyi dengan suara serak. Kuda delman berjalan pelan di tengah kemacetan.
"Ini dia Malioboro," kata Guntur sambil memarkir motor di pinggir jalan.
"Ramai sekali," komentar Arga.
"Iya. Setiap hari Minggu begini. Bahkan malam juga ramai. Namanya juga kota wisata."
"Apa yang bisa kita lakukan di sini?"
"Jalan-jalan. Lihat-lihat. Beli oleh-oleh. Makan. Ngopi. Ngobrol. Nongkrong. Apa saja."
Faruq yang sudah tidak sabar langsung menarik tangan Nisa. "Ayo ke toko batik! Saya mau beli kain buat ibu!"
"Ibu kamu sudah meninggal, Faruq," kata Nisa.
"Ini buat ibu tiri!"
"Kamu punya ibu tiri?"
"Enggak. Tapi siapa tahu nanti punya."
Mereka tertawa.
Dimas berjalan sendiri, memotret segala sesuatu dengan ponselnya. "Untuk dokumentasi," katanya. "Nanti saya jual ke koran."
"Koran apa?" tanya Guntur.
"Koran desa. Mereka butuh foto, foto Malioboro untuk rubrik wisata."
"Honornya?"
"Kacang. Tapi nggak apa. Yang penting eksis."
Arga berjalan di samping Guntur. Matanya tidak bisa berhenti memandang.
Pedagang bakso. Pedagang sate. Pedagang gudeg. Pedagang es campur. Pedagang jajanan tradisional, getuk, tiwul, gathot, jadah, gemblong, cenil, klepon.
"Lapar?" tanya Guntur.
"Lapar."
"Ayo makan. Ada warung gudeg terkenal di ujung jalan."
Mereka berjalan ke warung gudeg.
Warungnya kecil. Meja kursi dari kayu jati. Dindingnya dari bambu. Atapnya dari rumbia. Tapi antriannya panjang. Mahasiswa, turis, keluarga, semuanya rela mengantri untuk seporsi gudeg.
"Nikmat, kok," kata Guntur. "Nanti kamu buktikan sendiri."
GUDEG DAN CERITA
Setelah setengah jam mengantre, mereka akhirnya mendapat meja.
Lima porsi gudeg. Nasi, areh, ayam suwir, telur pindang, sambal goreng krecek, dan rempah, rempah yang membuat lidah bergoyang.
Arga menyendok nasi ke mulutnya.
Gurih. Manis. Pedas. Nikmat.
Ia belum pernah merasakan seperti ini.
"Ini enak banget," katanya.
"Iya. Itulah gudeg Jogja. Makanan para raja."
"Raja?"
"Dulu, gudeg disajikan di Kraton. Untuk keluarga kerajaan. Sekarang, semua orang bisa makan."
Arga memandang sekeliling.
Mahasiswa. Turis. Pedagang. Keluarga. Semua duduk berdampingan. Makan dengan lahap. Tertawa dengan riang.
Tidak ada perbedaan, pikir Arga. Di sini, semua sama. Semua manusia. Semua butuh makan. Semua butuh bahagia.
"Mas Arga," panggil Faruq yang sudah menghabiskan porsinya.
"Iya."
"Kenapa Mas diam terus? Makan dulu. Nanti kedinginan."
"Saya makan, kok. Cuma agak lambat."
"Nanti saya habisin."
"Jangan. Ini milik saya."
Mereka tertawa.
MALIOBORO MALAM
Setelah puas berkeliling dan membeli oleh, oleh—Arga membeli selendang batik untuk ibunya, topi caping untuk ayahnya, dan gantungan kunci berbentuk burung garuda untuk Mbah Jayarasa—mereka berjalan ke sebuah angkringan di pinggir Malioboro.
Angkringan.
Warung kaki lima yang menjual berbagai makanan dan minuman. Sejarahnya sudah ada sejak zaman penjajahan. Dulu, angkringan adalah tempat para kuli, buruh, dan rakyat jelata makan. Sekarang, semua kalangan datang. Mahasiswa, dosen, seniman, pejabat, wisatawan.
"Ini angkringan favorit saya," kata Guntur sambil duduk di bangku kayu.
"Kenapa?" tanya Arga.
"Karena di sini, semua orang sederajat. Tidak ada yang lebih tinggi. Tidak ada yang lebih rendah. Kita duduk di bangku yang sama. Kita minum kopi dari cangkir yang sama. Kita berbagi cerita yang sama."
Mereka memesan nasi kucing, nasi kecil seukuran kepalan tangan, dengan berbagai lauk: sate usus, sate telur puyuh, sate kerang, tempe bacem, tahu bacem, dan pecel.
Minumannya: kopi hitam pahit untuk Guntur, es teh manis untuk Arga, jahe hangat untuk Nisa, jeruk panas untuk Faruq, dan susu jahe untuk Dimas.
"Mari kita toast," kata Faruq.
"Toast untuk apa?" tanya Nisa.
"Toast untuk persahabatan. Untuk Jogja. Untuk angkringan. Untuk nasi kucing."
"Toast!" teriak Dimas.
"Toast!" teriak yang lain.
Mereka minum. Tertawa. Bercerita.
MALAM DI ANGKRINGAN
Suasana angkringan mulai ramai.
Mahasiswa datang bergerombol. Ada yang bawa gitar. Ada yang bawa buku. Ada yang bawa laptop. Ada yang bawa pacar.
Seorang mahasiswa membuka gitar. Memetik senar. Menyanyikan lagu Iwan Fals.
"Bongkar pintu... buka jendela... biar kulihat kulihat... dengan mata... dengan kepala..."
Mahasiswa lain ikut bernyanyi.
Arga terhanyut.
Ia belum pernah merasakan seperti ini.
Kebersamaan.
Kebahagiaan.
Kesederhanaan.
"Mbak, angkringannya rame," kata Arga pada penjual, seorang perempuan paruh baya dengan kerudung coklat.
"Iya, Mas. Setiap Minggu begini. Banyak mahasiswa."
"Mahasiswa sukanya apa di sini?"
"Ngopi. Nongkrong. Berdebat. Lalu tidur."
"Tidur?"
"Iya. Kadang sampai pagi. Nggak pulang-pulang."
"Lalu belajarnya kapan?"
"Belajar di sini. Sambil ngopi. Sambil merokok. Katanya, lebih mudah berkonsentrasi."
Arga tersenyum.
Dunia yang berbeda, pikirnya. Dunia yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.
PERCAKAPAN DENGAN GUNTUR
Setelah Faruq, Nisa, dan Dimas asyik dengan gorengan dan es campur, Guntur mengajak Arga duduk sedikit jauh.
"Arga," panggil Guntur sambil mengisap rokok.
"Iya."
"Aku mau tanya."
"Tanya apa?"
"Apa kamu tidak iri dengan mereka?"
"Siapa?"
"Mahasiswa. Mereka bisa kuliah. Bebas bermimpi. Bebas menentukan masa depan."
Arga terdiam.
Ia memandang mahasiswa, mahasiswa itu.
Ada yang sedang berdebat tentang politik. Ada yang sedang berdiskusi tentang filsafat. Ada yang sedang bercerita tentang pengalaman organisasi. Ada yang sedang bercanda tentang dosen killer.
"Mungkin dulu aku iri," kata Arga akhirnya.
"Sekarang?"
"Sekarang, aku tidak. Karena aku sadar, setiap orang punya jalannya masing, masing. Aku jalanku. Mereka jalannya. Tidak ada yang lebih baik. Tidak ada yang lebih buruk."
"Kamu dewasa, Arga."
"Saya tidak dewasa. Saya hanya menerima."
Guntur membuang puntung rokoknya.
"Kamu tahu, Arga, saya juga dulu iri pada orang yang lebih pintar, lebih kaya, lebih sukses. Tapi lama, lama saya sadar, iri itu hanya menyiksa diri sendiri. Lebih baik saya fokus pada diri saya. Pada apa yang bisa saya capai."
"Itu yang saya lakukan, Guntur. Saya fokus pada Sekar. Pada pekerjaan. Pada teman, teman."
"Bagus. Itu sudah cukup."
PENGAMEN JALANAN
Tiba, tiba, suara gitar terdengar dari kejauhan.
Seorang pengamen jalanan mendekati angkringan. Laki, laki setengah baya dengan rambut gondrong dan pakaian lusuh. Ia bernyanyi dengan suara parau, tapi penuh penghayatan.
"Ibu... aku rindu... rindu pada senyummu... rindu pada hangat pelukmu..."
Arga terenyuh.
Ia teringat pada ibunya di desa.
Pada Sukmawati yang sedang menangis di dapur karena merindukannya.
Pada Sastro yang diam, diam mengusap air mata di beranda.
Pada Mbah Jayarasa yang terbaring sakit, memanggil namanya dalam mimpi.
"Mas Arga, kenapa?" tanya Nisa yang melihat Arga termenung.
"Saya rindu rumah."
"Kamu sudah sering pulang?"
"Sudah. Tapi tetap rindu."
"Itu wajar. Rumah adalah tempat pertama kita belajar tentang cinta."
"Nisa, kamu bijak."
"Saya tidak bijak. Saya hanya pernah merasakan kehilangan."
KEJAWEN DAN KERATON
Setelah dari Malioboro, mereka melanjutkan perjalanan ke Kraton.
Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Istana resmi Kesultanan Yogyakarta.
Bangunannya megah. Campuran arsitektur Jawa, Hindu, Buddha, dan Eropa. Halamannya luas. Pohon, pohon beringin tua tumbuh di tengah alon-alun. Pasukan berpakaian serba hitam dengan blangkon dan keris berjaga di pintu gerbang.
"Masuk yuk," ajak Nisa.
"Bayar?" tanya Arga.
"Bayar. Lima belas ribu untuk turis lokal. Untuk mahasiswa, sepuluh ribu."
"Saya bukan mahasiswa."
"Kamu teman saya. Jadi ikut tarif mahasiswa."
Mereka masuk.
Di dalam, mereka melihat berbagai koleksi kerajaan. Kereta kencana. Wayang kulit. Batik kuno. Senjata tradisional. Foto, foto raja dan ratu.
Seorang pemandu wisata menjelaskan tentang sejarah Kraton, tentang filosofi bangunan, tentang makna simbol, simbol yang terukir di dinding dan langit, langit.
"Saya baru tahu kalau Kraton seluas ini," komentar Arga.
"Iya. Dulu, kerajaan memang besar. Wilayah kekuasaannya sampai ke luar Jawa."
"Apakah raja masih tinggal di sini?"
"Iya. Sri Sultan Hamengkubuwono X masih tinggal di Kraton. Beliau juga gubernur DIY."
"Jadi raja merangkap gubernur?"
"Iya. Itu keistimewaan Yogyakarta."
Arga mengangguk.
Belajar sejarah sambil jalan, jalan, pikirnya. Tidak terasa seperti belajar. Terasa seperti bermain.
TAMAN SARI
Dari Kraton, mereka berjalan ke Taman Sari.
Taman Sari adalah bekas taman istana yang dulu digunakan untuk bersantai, berenang, dan bermeditasi. Bangunannya unik. Campuran arsitektur Jawa dan Portugis. Terdapat kolam pemandian, lorong bawah tanah, dan ruang, ruang sempit yang misterius.
"Ini tempat favorit saya," kata Faruq.
"Kenapa?" tanya Nisa.
"Karena dulu selir, selir Sultan mandi di sini."
"Kamu tahu dari mana?"
"Dari omongan teman."
"Teman omong kosong."
"Nggak tahu. Yang jelas, tempat ini angker."
"Angker?"
"Iya. Katanya banyak yang melihat perempuan cantik berjalan di lorong bawah tanah."
"Memanggil siapa?"
"Memanggil laki-laki hidung belang."
"Itu kamu, Faruq."
"Bukan. Saya tidak hidung belang. Hidung saya biasa saja."
Mereka tertawa.
LORONG BAWAH TANAH
Arga, Guntur, dan Dimas masuk ke lorong bawah tanah.
Suasana gelap. Dingin. Sunyi. Hanya suara tetesan air dari langit, langit.
"Menyeramkan," bisik Dimas.
"Biasa saja," kata Guntur. "Ini cuma lorong."
"Tapi kok dingin."
"Ya iyalah. Bawah tanah memang dingin."
"Maksud saya dingin yang tidak wajar."
"Perasaanmu saja."
"Nggak. Ini serius."
Tiba, tiba, mereka mendengar suara langkah kaki dari belakang.
Tap... tap... tap...
Mereka menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Gelap.
"Faruq?" panggil Dimas.
Tidak ada jawaban.
"Nisa?"
Tidak ada jawaban.
Arga memegang dinding lorong. Batunya dingin, lembab, berlumut.
"Arga," panggil Guntur pelan.
"Iya."
"Apa kamu dengar?"
"Dengar apa?"
"Suara... perempuan."
Arga mendengarkan.
Ada suara. Sangat pelan. Seperti bisikan.
"Arga... Arga... aku di sini..."
Darah Arga berhenti mengalir.
Itu suara Sekar.
"Sekar?" bisiknya.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara angin yang berembus dari ujung lorong.
"Arga, kamu dengar apa?" tanya Guntur.
"Suara Sekar."
"Serius?"
"Serius. Dia memanggil namaku."
"Ini lorong bawah tanah Taman Sari, Arga. Bukan rumah Ferry. Bukan perumahan Mutiara. Jangan khayalan."
"Saya tidak khayal. Saya dengar dengan jelas."
Faruq dan Nisa muncul dari balik tikungan.
"Kalian ngapain di sini? Kok lama?" tanya Faruq.
"Mendengar suara," jawab Dimas.
"Suara apa?"
"Suara perempuan. Memanggil nama Arga."
Faruq merinding. "Angker. Saya bilang angker."
"Bukan angker," kata Nisa. "Mungkin saja sekar mengirim pesan lewat energi. Kita tidak tahu."
Mereka keluar dari lorong.
Matahari sudah condong ke barat.
SENJA DI TAMAN SARI
Mereka duduk di halaman Taman Sari, di bangku kayu di bawah pohon beringin tua.
Langit jingga. Angin sepoi, sepoi. Burung, burung pulang ke sarang.
"Indah," kata Nisa.
"Iya," kata Arga. "Saya belum pernah lihat senja seindah ini. Bahkan di desa."
"Jogja memang istimewa. Budayanya. Makanannya. Alamnya. Orangnya."
"Termasuk mahasiswanya yang rese?" celetuk Faruq.
"Itu kamu, Faruq."
"Bukan. Saya bukan mahasiswa rese. Saya mahasiswa baik."
"Kamu baik hatinya. Tapi mulutmu nakal."
"Makasih. Itu pujian."
Mereka tertawa.
KEMBALI KE KOS
Jam enam sore, mereka pulang.
Perjalanan pulang terasa lebih ringan. Mungkin karena sudah lelah. Mungkin karena sudah bahagia. Mungkin karena sudah menerima bahwa malam ini tidak ada rencana penyelamatan.
"Mas Arga," panggil Nisa dari boncengan Faruq.
"Iya."
"Terima kasih sudah mau ikut."
"Terima kasih kembali. Saya senang."
"Senang karena apa?"
"Karena saya tahu jogja bukan hanya tempat saya mencari Sekar. Jogja juga tempat saya hidup."
"Itu baru namanya dewasa."
Mereka sampai di kos.
Mbok Darmi sudah menunggu di teras dengan segelas teh jahe hangat.
"Wisata, Le?" tanyanya.
"Iya, Mbok. Ke Malioboro. Ke Kraton. Ke Taman Sari."
"Senang?"
"Senang."
"Bagus. Sekarang istirahat. Besok masih ada kerja."
"Siap, Mbok."
MALAM DI KAMAR
Jam sembilan malam, Arga masuk ke kamar.
Ia membuka jendela.
Udara malam masuk. Dingin. Segar.
Ia memeluk bantal kecil dari kebaya Sekar.
"Sekar," bisiknya. "Hari ini aku pergi ke Malioboro. Ke Kraton. Ke Taman Sari. Aku melihat keindahan kota ini. Aku belajar sejarah. Aku makan gudeg dan nasi kucing. Aku tertawa dengan teman, teman."
Ia memejamkan mata.
"Tapi aku tetap merindukanmu. Di mana pun aku berada. Kapan pun. Setiap saat."
"Aku tidak akan menyerah. Aku akan terus mencari. Sampai kita bertemu."
Ia memeluk bantal itu.
"Sampai kita bertemu."
BAB 12
LARAS YANG MISTERIUS
Tiga hari setelah kegagalan penyelamatan di perumahan Mutiara Indah, hidup Arga kembali ke rutinitas yang membosankan. Pagi, pagi bangun, mandi air dingin, jalan kaki ke toko bangunan, angkat semen, angkat pasir, angkat batu bata, makan siang, kerja lagi, pulang, tidur. Ulang. Tanpa henti. Tanpa variasi.
Tapi pikirannya tidak pernah berhenti.
Setiap malam, ia memandang peta usang pemberian Mbah Jayarasa. Setiap malam, ia membaca surat, surat Sekar yang tertunda. Setiap malam, ia memeluk bantal kebaya dan berbisik, bisik pada tembok kamar yang tidak pernah menjawab.
"Di mana kau, Sekar?"
"Apakah kau baik, baik saja?"
"Apakah kau masih ingat janji kita?"
"Apakah kau masih mau menungguku?"
Ia tidak tahu jawabannya.
Tapi ia terus berharap.
Dan di tengah keputusasaan itu, muncul seseorang yang tidak pernah ia duga. Seseorang yang misterius. Seseorang yang penuh teka-teki. Seseorang yang seolah datang dari kegelapan untuk membawa cahaya, atau mungkin, untuk membawa malapetaka yang lebih besar.
Namanya Laras.
PAGI YANG HUJAN
Hari Kamis, langit mendung sejak subuh.
Hujan turun gerimis, lalu deras, lalu gerimis lagi, lalu deras lagi. Tidak menentu. Seperti perasaan Arga yang kacau.
Ia tetap berangkat kerja meskipun hujan. Tidak ada payung. Tidak ada jas hujan. Hanya kemeja abu, abu lengan pendek yang basah kuyup dalam hitungan menit.
"Le, kamu gila!" teriak Mbok Darmi dari teras. "Hujan, hujan pergi! Nanti sakit!"
"Saya tidak apa, apa, Mbok!"
"Pake payung dulu! Mbok punya!"
"Tidak usah, Mbok. Saya sudah basah."
"Ya sudah. Jangan nanti sakit. Mbok tidak mau repot."
Arga berjalan cepat di tengah hujan.
Jalanan licin. Genangan air di mana, mana. Mobil dan motor melintas dengan kecepatan tinggi, menyemburkan air kotor ke tubuhnya. Ia tidak peduli.
Biarlah basah, pikirnya. Biarlah sakit. Biarlah demam. Yang penting saya sampai di toko tepat waktu.
DI TOKO BANGUNAN
Jam tujuh kurang lima menit, Arga tiba di toko.
Basah. Kuyup. Giginya menggigil. Bibirnya membiru.
Pak Bondan menatapnya dengan mata setengah melotot.
"Kamu gila, Le? Hujan, hujan jalan kaki?"
"Saya tidak punya payung, Pak."
"Beli! Murah! Sepuluh ribu!"
"Nanti, Pak. Nanti kalau sudah gajian."
"Kamu sakit nanti, biaya berobat lebih mahal dari payung!"
"Saya tidak akan sakit, Pak."
"Sekarang kamu sudah sakit. Gigimu menggigil."
"Saya hanya kedinginan."
"Nongkrong dulu di belakang. Saya buatkan jahe hangat."
"Saya tidak usah, Pak."
"Jangan protes. Saya bosan lihat muka kedinginanmu."
Arga duduk di gudang belakang. Pak Bondan memasukkan jahe, gula merah, dan sedikit serai ke dalam panci. Direbusnya di atas kompor minyak tanah.
"Ini," katanya sambil menyerahkan gelas berisi jahe hangat. "Minum sampai habis. Jangan tumpah."
"Terima kasih, Pak."
"Jangan makasih. Kerja. Nanti potong gaji."
Arga tersenyum. Ia meminum jahe hangat itu seteguk. Dua teguk. Tiga teguk. Hangatnya menyebar dari perut ke dada, dari dada ke kepala, dari kepala ke ujung jari.
Pak Bondan baik, pikirnya. Kasar. Pelit. Suka marah, marah. Tapi baik.
SIANG YANG PANAS
Hujan berhenti tepat jam dua belas siang.
Matahari keluar dari balik awan. Panasnya menyengat. Tanah yang basah menguap, membuat udara terasa lembab dan lengket.
Arga duduk di bawah pohon rindang. Makan siang. Nasi putih, telur dadar, tempe goreng, sambal terasi. Menu yang sama setiap hari. Membosankan. Tapi ia tidak protes.
"Mas Arga."
Arga menoleh. Seorang perempuan berdiri di sampingnya.
Perempuan itu usianya sekitar dua puluh tahun. Wajahnya bulat, kulitnya sawo matang, matanya sipit dan tajam. Rambutnya panjang, diikat kuda poni. Ia memakai kemeja putih lengan panjang, rok panjang batik, dan sepatu pantofel hitam. Di tangannya ada map coklat tebal.
"Saya kenal Mbak?" tanya Arga.
"Belum. Saya Laras."
"Laras?"
"Iya. Temannya Nisa."
Arga mengerutkan kening. Nisa tidak pernah bercerita tentang Laras. Tidak pernah menyebut nama itu dalam percakapan mereka.
"Nisa tidak pernah cerita tentang Mbak."
"Karena saya tidak suka diceritakan. Saya lebih suka datang sendiri."
"Maksud Mbak?"
Laras duduk di samping Arga, tanpa permisi. Ia meletakkan map coklat di pangkuannya. Matanya menatap Arga dengan tajam.
"Saya tahu semua tentang kamu, Arga."
"Semua tentang saya?"
"Iya. Tentang desamu. Tentang kelahiranmu. Tentang Jatmika. Tentang Sekar. Tentang pencarianmu. Tentang Ferry. Tentang surat-surat yang tertunda. Tentang peta usang dari kakek tua di desamu."
Arga terkesiap. "Dari mana Mbak tahu?"
Laras tersenyum. Senyum yang misterius. Senyum yang tidak sampai ke mata.
"Saya punya mata-mata. Sama seperti Mbah Jayarasa punya mata-mata di kota ini."
"Mbah Jayarasa punya mata, mata?"
"Iya. Saya salah satunya."
Arga terdiam.
Ia tidak tahu harus berkata apa.
Pikirannya kacau.
Laras, perempuan asing yang tidak pernah ia kenal, tiba, tiba datang dan mengaku sebagai mata, mata Mbah Jayarasa. Apa tujuannya? Membantu? Atau menjebak?
"Jangan takut, Arga," kata Laras seolah membaca pikirannya. "Saya bukan musuh. Saya teman. Mbah Jayarasa yang memerintahkan saya untuk membantu kamu."
"Bukti?"
Laras membuka map coklat itu. Ia mengeluarkan sepucuk surat.
Surat dari Mbah Jayarasa.
Tulisan tangan tua yang sangat Arga kenali.
"Laras, tolong jaga anak ini. Dia cucu saya secara rohani, meskipun tidak secara darah. Dia penerus perjuangan saya. Jangan biarkan dia celaka. Jayarasa"
Arga membaca surat itu berulang, ulang.
Matanya basah.
"Mbah Jayarasa..."
"Dia sayang padamu, Arga. Dia tidak pernah bilang langsung. Dia laki-laki tua yang keras kepala. Tapi dia sayang. Seperti sayang pada anak kandungnya sendiri."
"Saya tidak pantas."
"Semua orang pantas dicintai. Termasuk kamu."
LARAS BERCERITA
Setelah Arga tenang, Laras mulai bercerita.
Ia bukan orang Jogja asli. Ia dari desa di timur laut, dekat Gunung Merapi. Ayahnya petani. Ibunya pedagang. Ia anak pertama dari tiga bersaudara.
"Dulu, sebelum kuliah di sini, saya sering ikut ayah ke sawah," katanya. "Saya bisa mencangkul, menanam padi, membajak dengan kerbau. Tidak kalah dengan laki, laki."
"Lalu kenapa pindah ke kota?"
"Karena orang tua saya ingin saya sekolah setinggi-tingginya. Mereka tidak mau saya jadi petani seperti mereka. Hidup petani susah. Tidak pasti. Kadang panen, kadang gagal."
"Dan sekarang?"
"Sekarang saya mahasiswa UGM jurusan Antropologi. Semester lima. Nilai saya bagus. Saya juga aktif di organisasi. Punya banyak teman. Punya banyak relasi."
"Termasuk mata-mata Mbah Jayarasa?"
Laras tersenyum. "Termasuk itu. Tapi jangan bilang siapa-siapa. Ini rahasia."
"Saya tidak akan bilang."
"Sumpah?"
"Sumpah."
TUJUAN LARAS
"Jadi, kenapa Mbak mencariku?" tanya Arga setelah Laras selesai bercerita.
Laras menghela napas. Ia memandang kejauhan, ke arah halte bus, ke arah orang, orang yang lalu, lalang, ke arah langit yang mulai beranjak mendung lagi.
"Saya ingin membantu kamu menyelamatkan Sekar."
"Kenapa Mbak mau membantu?"
"Karena Mbah Jayarasa memintaku. Karena saya tidak suka ketidakadilan. Dan karena saya juga pernah menjadi Sekar."
"Maksudnya?"
Laras menunduk. Tangannya yang tadi tegap sekarang gemetar.
"Dulu, ketika saya masih di desa, saya juga dijodohkan. Dengan laki-laki kaya raya. Ayahnya pemilik perkebunan. Ibunya keturunan ningrat. Mereka sudah merencanakan pernikahan sejak saya masih di bangku SMP."
"Lalu?"
"Saya lari. Saat malam. Saya sembunyi di rumah teman. Lalu pindah ke kota. Kuliah di sini dengan beasiswa. Orang tua saya marah. Mereka tidak mengakui saya sebagai anak lagi."
"Tapi Mbak tetap kuliah?"
"Saya tetap kuliah. Karena saya tidak mau hidup diatur. Karena saya ingin bebas. Karena saya ingin menentukan masa depan sendiri."
"Sekar juga ingin begitu."
"Iya. Itulah sebabnya saya membantunya. Saya tidak ingin dia mengalami apa yang saya alami. Saya tidak ingin dia kehilangan masa mudanya karena perjodohan paksa."
Laras mengeluarkan sesuatu dari map coklatnya.
Sebuah foto.
Foto Sekar.
Foto terbaru, bukan foto lama dari desa.
Sekar berdiri di balkon rumah Ferry. Memakai gaun putih. Wajahnya pucat. Matanya sayu. Ia tidak tersenyum.
"Foto ini saya ambil minggu lalu," kata Laras. "Saya menyamar sebagai petugas kebersihan kompleks. Masuk ke perumahan Mutiara. Memotret dari kejauhan."
"Sekar sakit?" tanya Arga cemas.
"Tidak sakit. Tapi kurus. Tidak makan. Tidak tidur. Setiap malam dia menangis."
Air mata Arga jatuh.
"Ferry," geramnya. "Bajingan."
"Ferry memang bajingan. Tapi dia tidak sendiri. Orang tua Sekar juga bajingan. Mereka lebih memilih uang daripada kebahagiaan anaknya sendiri."
"Apa yang bisa kita lakukan?"
Laras memandang Arga.
Matanya tajam.
Berapi, api.
"Kita butuh bukti. Bukti bahwa Sekar dikurung. Bahwa Sekar tidak bebas. Bahwa Ferry dan orang tuanya melakukan kekerasan psikologis."
"Bukti seperti apa?"
"Rekaman suara. Foto. Video. Saksi. Surat-surat. Semua yang bisa digunakan di pengadilan."
"Kita akan bawa Ferry ke pengadilan?"
"Iya. Atau setidaknya, tekan dia secara hukum. Agar dia takut. Agar dia melepaskan Sekar."
"Apakah itu mungkin?"
"Bisa. Saya punya teman di LBH. Lembaga Bantuan Hukum. Mereka sering menangani kasus seperti ini."
Arga mengangguk.
"Baik. Saya setuju."
RENCANA BARU
Sore itu, setelah kerja, Arga mengumpulkan teman, temannya di kos.
Guntur. Faruq. Nisa. Dimas.
Dan Laras.
Mereka duduk di halaman kos. Mbok Darmi menyuguhkan teh jahe dan pisang goreng. Seperti biasa.
"Ini Laras," kata Arga. "Teman baru. Mata-mata Mbah Jayarasa."
"Mata-mata?" Faruq mengerutkan kening. "Mas Arga punya mata-mata?"
"Bukan saya. Mbah Jayarasa."
"Mbah Jayarasa siapa?"
"Tetua desa saya. Orang bijak. Pemberi peta usang itu."
"Oh, peta usang. Saya dengar cerita."
"Laras, ini Guntur, Faruq, Nisa, Dimas. Sahabat-sahabat saya."
Laras tersenyum. "Salam kenal."
Mereka berjabat tangan.
"Laras punya rencana," kata Arga. "Rencana untuk menyelamatkan Sekar secara hukum."
"Hukum?" Guntur mengangkat alis. "Ferry punya pengacara terkenal. Kantornya di Jakarta. Harganya selangit."
"Tapi Ferry juga punya kelemahan. Dia korup. Dia suap sana, sini. Itu bisa dijadikan alat untuk menekan."
"Kita butuh bukti."
"Itu yang akan kita cari."
PEMBAGIAN TUGAS
Malam itu, mereka menyusun strategi.
Laras sebagai koordinator. Ia yang paling berpengalaman dalam hal investigasi.
Guntur sebagai analis. Ia yang akan mempelajari pola perilaku Ferry dari berbagai sumber.
Faruq sebagai logistik. Ia yang akan mengatur transportasi, konsumsi, dan kebutuhan teknis lainnya.
Nisa sebagai humas. Ia yang akan berhubungan dengan media, LSM, dan lembaga bantuan hukum.
Dimas sebagai mata, mata lapangan. Ia yang akan masuk ke perumahan Mutiara dengan menyamar sebagai kurir dan mengumpulkan informasi.
Arga sebagai eksekutor. Ia yang akan berkomunikasi langsung dengan Sekar jika ada kesempatan.
"Setuju?" tanya Laras.
"Setuju!" teriak Faruq.
"Jangan teriak. Nanti Mbok Darmi marah."
"Nggak apa. Mbok Darmi baik."
Mbok Darmi dari dalam rumah berseru, "Faruq, jangan teriak, teriak! Mbok lagi baca Alquran!"
"Iya, Mbok. Maaf."
Mereka tertawa.
LARAS DAN GUNTUR
Setelah yang lain pulang, Laras dan Guntur masih duduk di halaman.
Mereka berdua memandang langit, bintang, bintang mulai muncul satu per satu.
"Guntur," panggil Laras.
"Iya."
"Kamu kenapa diam terus tadi? Tidak protes? Tidak memberikan saran? Tidak mengkritik rencanaku?"
"Karena rencanamu bagus. Tidak perlu dikritik."
"Kamu percaya padaku?"
"Arga percaya padamu. Mbah Jayarasa juga percaya padamu. Itu cukup."
Laras tersenyum. "Kamu kelihatan sinis. Tapi hati kamu baik."
"Saya tidak baik. Saya hanya tidak mau ribet."
"Itu sudah termasuk baik."
"Terserah."
Mereka diam.
Angin malam berembus.
Bau sate dari warung pinggir jalan.
"Ok, Guntur."
"Iya."
"Kamu punya pacar?"
Guntur mengangkat alis. "Kenapa tanya?"
"Penasaran."
"Tidak. Saya tidak punya pacar. Saya tidak butuh pacar."
"Karena apa?"
"Karena saya lebih suka sendiri."
"Kesepian?"
"Biasa."
Laras tidak bertanya lagi.
Ia hanya memandang Guntur.
Laki-laki sinis dengan rambut ikal dan mata cekung.
Ada yang menarik, pikir Laras. Ada yang misterius. Sama sepertiku.
RAHASIA LARAS
Jam sepuluh malam, Laras pamit.
Sebelum pulang, ia memanggil Arga ke sudut halaman.
"Arga," bisiknya.
"Iya."
"Saya mau cerita sesuatu. Tapi jangan bilang siapa-siapa."
"Saya tidak akan bilang."
Laras menarik napas panjang.
"Ayah saya... ayah saya bekerja pada Ferry."
Arga terkesiap. "Apa?"
"Dulu, sebelum saya lari ke kota, ayah saya adalah mandor perkebunan milik keluarga Ferry. Dia diperlakukan dengan tidak manusiawi. Gaji kecil. Jam kerja panjang. Tidak ada jaminan kesehatan."
"Lalu?"
"Suatu hari, ayah saya jatuh dari pohon kelapa. Kakinya patah. Ferry tidak mau tanggung jawab. Ayah saya dipecat."
"Bajingan."
"Iya. Sejak itu, saya benci Ferry. Saya benci keluarganya. Saya benci semua yang berhubungan dengan dia."
"Jadi Mbak membantu saya bukan hanya karena Mbah Jayarasa?"
"Bukan. Juga karena dendam."
Arga memandang Laras.
Matanya berkilat, bukan kilat kebahagiaan, tapi kilat amarah yang tertahan.
"Mbak dendam?"
"Saya dendam. Tapi bukan dendam buta. Saya ingin keadilan. Untuk ayah saya. Untuk Sekar. Untuk semua korban Ferry."
"Mbak kuat."
"Saya terpaksa kuat."
MALAM DI KAMAR
Jam sebelas malam, Arga masuk ke kamar.
Ia membuka jendela.
Udara malam masuk dingin.
Ia memeluk bantal kecil dari kebaya Sekar.
"Sekar," bisiknya.
"Hari ini aku bertemu Laras. Dia perempuan misterius. Dia mata-mata Mbah Jayarasa. Dia juga korban keluarga Ferry."
Ia memejamkan mata.
"Aku tidak tahu apakah dia bisa dipercaya sepenuhnya. Tapi aku tidak punya pilihan. Kita butuh bantuan."
Ia memeluk bantal itu.
"Jaga dirimu. Aku akan menjemputmu. Tidak lama lagi."
BAB 13
TOKOH ANTAGONIS: FERRY
Malam itu, di sebuah restoran mewah di pusat kota Yogyakarta, seorang laki-laki sedang duduk sendirian di meja VIP lantai dua. Dari jendela kaca besarnya, ia bisa melihat seluruh pemandangan Malioboro yang gemerlap, lampu, lampu warna, warni, kereta kencana yang ditarik kuda berjalan pelan di tengah kemacetan, turis asing yang berfoto dengan blangkon dan batik, pengamen jalanan yang bernyanyi dengan suara serak.
Laki, laki itu bernama Ferry.
Ferry Kencana.
Usia dua puluh delapan tahun. Tinggi, sekitar seratus delapan puluh sentimeter. Berbadan tegap, berkulit putih bersih, berambut hitam legam yang selalu disisir rapi ke belakang. Wajahnya tampan—tajam seperti pahatan, dengan hidung mancung, bibir tipis yang jarang tersenyum, dan mata hitam pekat yang sulit ditebak isi hatinya.
Ia mengenakan jas bespoke warna navy, kemeja putih dengan kancing manset dari emas putih, dasi sutra merah marun, dan sepatu oxford hitam mengkilap buatan Italia. Di pergelangan tangan kirinya, melingkar arloji Rolex Daytona yang harganya cukup untuk membeli satu rumah sederhana di pinggiran kota. Di jari manis kanannya, cincin signet dari platinum dengan inisial "FK" berhiaskan berlian kecil.
Ferry bukan orang biasa.
Ia adalah putra sulung dari Hendro Kencana, pengusaha properti dan tambang yang namanya masuk dalam daftar 100 orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes. Keluarganya memiliki puluhan ribu hektar tanah di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Mereka memiliki hotel, mal, perumahan, dan perkebunan sawit. Mereka memiliki hubungan bisnis dengan para pejabat, politisi, bahkan beberapa menteri.
Tapi Ferry tidak hanya mengandalkan kekayaan keluarganya.
Ia lulusan hukum dari universitas terbaik di Inggris. Ia juga mengambil kursus bisnis di Harvard. Ia sudah menerbitkan dua buku tentang strategi investasi property, buku yang menjadi bacaan wajib bagi para pengusaha muda di Indonesia.
Di usia dua puluh delapan tahun, ia sudah memimpin tiga perusahaan di bawah naungan Kencana Group. Ia sudah mengantongi kontrak, kontrak miliaran rupiah. Namanya sudah sering muncul di media, sebagai pengusaha muda berbakat, sebagai dermawan yang suka memberi beasiswa, sebagai bujangan paling diinginkan di kalangan selebriti dan sosialita.
Tapi di balik semua kemewahan dan ketenaran itu, ada sisi gelap yang tidak pernah diketahui publik.
Ferry bukan hanya pengusaha.
Ia juga seorang manipulator.
Ia juga seorang psikopat.
Dan arwah-arwah yang ia kubur di masa lalu, arwah-arwah yang ia lupakan, mulai bangkit.
PESAN SINGKAT
Ferry mengeluarkan ponselnya dari saku jas.
Sebuah pesan singkat masuk dari seorang kontak yang disimpan dengan nama "BG" , singkatan dari "Bajingan", karena Ferry suka memberi nama sampah pada orang-orang yang tidak ia sukai.
"Tuan, ada yang memanjat pohon jambu belakang rumah tadi malam. Dua orang. Tidak berhasil masuk. Kabur setelah satpam menghampiri."
Ferry membaca pesan itu dua kali.
Wajahnya tidak berubah.
Tangannya tidak gemetar.
Ia hanya tersenyum.
Senyum tipis yang tidak sampai ke mata.
Senyum yang lebih menakutkan daripada teriakan marah.
Ia membalas pesan itu dengan satu kata: "Lacak."
Lalu ia menyimpan ponselnya.
Ia memanggil pelayan.
"Scotch. Double. Jangan pakai es."
"Baik, Tuan."
KENANGAN BURUK
Ferry memandang ke luar jendela.
Malioboro gemerlap.
Turis asing berfoto.
Mahasiswa nongkrong.
Pengamen bernyanyi.
Desa kecil di selatan, pikir Ferry. Wringinrejo namanya. Desa terpencil dengan sawah dan sungai dan orang-orang miskin yang sombong.
Ia teringat pada surat-surat yang dicegat anak buahnya. Surat-surat dari Arga, laki-laki desa yang tidak punya apa-apa, untuk Sekar.
"Aku sayang kamu, Sekar."
"Aku akan menjemputmu."
"Kita akan bersama selamanya."
Ferry mengepalkan tangannya.
Laki, laki desa, pikirnya. Laki, laki miskin. Laki, laki tidak penting. Laki, laki yang seharusnya tidak pernah lahir di dunia ini.
"Scotch, nya, Tuan."
"Taruh di sini."
Ferry meminum scotch itu seteguk. Pahit. Panas. Membakar tenggorokan.
Sekar, pikirnya. Gadis desa yang cantik. Gadis desa yang lugu. Gadis desa yang tidak tahu diri. Berani menolak lamaranku. Berani membandel. Berani pilih-pilih.
Ia ingat ketika pertama kali melihat Sekar di acara pernikahan sepupunya dua tahun lalu.
Sekar memakai kebaya putih. Rambutnya tergerai. Matanya sayu, sayu seperti rusa yang ketakutan.
Ferry langsung jatuh hati.
Bukan cinta.
Keinginan memiliki.
Seperti seorang kolektor yang melihat barang antik langka.
"Itu dia," katanya pada orang tuanya ketika itu. "Itu calon istri saya."
Orang tua Sekar awalnya ragu. Mereka orang miskin. Tidak pantas besan dengan keluarga Kencana.
Tapi Ferry tahu cara meluluhkan hati orang miskin: uang.
Utang orang tua Sekar dilunasi.
Sekolah adik-adik Sekar dibiayai.
Rumah desa mereka direnovasi.
Dan orang tua Sekar pun luluh.
Mereka menjual anak kandungnya sendiri demi uang.
Bajingan, pikir Ferry. Tapi bajingan yang berguna.
TELEPON DARI ANAK BUAH
Ponsel Ferry bergetar lagi.
Kali ini telepon.
"Ya."
"Tuan, kami sudah lacak. Yang memanjat pohon jambu adalah Arga. Pria desa yang dulu pacar Sekar. Dia dibantu oleh anak buahnya. Dua orang. Satu laki-laki, satu perempuan. Kami masih mencari identitas mereka."
Ferry mengisap scotch, nya.
"Apa yang mereka lakukan sekarang?"
"Mereka pulang ke kos-kosan di belakang pasar. Kami sudah pasang kamera di sekitar lokasi. Kami juga sudah menyusupkan orang ke dalam lingkungan mereka."
"Siapa?"
"Seseorang yang akan Tuan kenali."
"Baik. Laporkan setiap hari."
"Siap, Tuan."
Ferry menutup telepon.
Ia tersenyum lagi.
Misterius.
Jadi, Arga, pikirnya. Kamu berani mengganggu propertiku. Kamu berani mencuri apa yang sudah menjadi hakku. Kamu berani mengatur rencana untuk melarikan Sekar dari rumahku.
Ferry menghabiskan scotch, nya.
Ia menaruh gelas di meja.
Ia memanggil pelayan.
"Tagihan."
"Baik, Tuan."
RUMAH DI PERUMAHAN MUTIARA INDAH
Jam sepuluh malam, Ferry tiba di rumahnya di Perumahan Mutiara Indah Blok A nomor tujuh.
Rumah itu besar, tiga lantai, delapan kamar tidur, enam kamar mandi, kolam renang berpemanas, dan taman belakang yang ditumbuhi pohon, pohon tropis. Harganya mencapai puluhan miliar. Tapi bagi Ferry, itu bukan apa, apa.
Ia masuk melalui pintu utama.
Dua satpam menyambutnya.
"Selamat malam, Tuan."
"Selamat malam. Di mana Sekar?"
"Di kamar, Tuan. Sejak tadi tidak keluar."
"Sudah makan?"
"Belum, Tuan. Katanya tidak laper."
"Paksa."
"Kami sudah coba, Tuan. Tapi dia, "
"Gampang. Kalau tidak mau makan, suntik vitamin. Saya tidak mau tunangan saya kurus."
"Siap, Tuan."
Ferry naik ke lantai dua.
Ia berjalan menyusuri lorong yang panjang, melewati pintu, pintu kamar, sampai di ujung lorong, pintu paling besar, dengan kunci elektronik dan kamera CCTV.
Ia mengetuk pintu.
"Buka."
Dari dalam, tidak ada suara.
"Buka, Sekar. Saya tidak akan mengetuk dua kali."
Pintu terbuka perlahan.
Sekar berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat. Matanya sembab, tanda baru saja menangis. Rambutnya kusut. Gaun putihnya kusut. Ia terlihat kurus, jauh lebih kurus dari ketika pertama kali tiba di rumah ini.
"Ferry," katanya dengan suara lirih. "Apa yang kau inginkan?"
"Memastikan engkau baik, baik saja."
"Kau tidak peduli padaku. Kau hanya peduli pada propertimu."
"Salah. Aku peduli padamu. Sebagai calon istriku."
"Aku tidak akan menjadi istrimu."
"Itu bukan pilihanmu."
Sekar mengepalkan tangannya. "Kau bajingan."
"Bajingan kaya. Bajingan berkuasa. Bajingan punya masa depan cerah." Ferry tersenyum. "Lebih baik daripada kekasih desamu yang hanya bisa mengangkat semen."
"Jangan bicara tentang Arga!"
"Kenapa? Kau takut aku akan menyakitinya?"
"Kau tidak akan berani."
Ferry tertawa.
Tawa kecil. Dingin. Membekukan.
"Coba lihat saja, Sekar. Arga sudah kuberi pelajaran. Beberapa kali. Kecil-kecilan. Nanti kalau masih bandel, besaran."
"Apa maksudmu?"
"Tanyakan pada Arga. Dia pasti sudah merasakannya."
Ferry berbalik.
Ia berjalan ke arah tangga.
Sebelum turun, ia menoleh.
"Ah, satu lagi, Sekar."
"Apa?"
"Minggu depan, orang tuamu akan datang. Untuk membahas persiapan pernikahan. Mereka akan membawa adik-adikmu juga. Jadi, bersiaplah. Jangan buat malu."
Ferry pergi.
Sekar menutup pintu.
Ia bersandar di pintu.
Ia menangis.
JEJAK DI PAGI HARI
Keesokan paginya, Ferry memerintahkan anak buahnya untuk mencari tahu lebih banyak tentang Arga dan teman, temannya.
"Data. Biodata. Alamat. Pekerjaan. Aktivitas sehari, hari. Siapa saja yang sering dia temui. Siapa saja yang ikut dalam rencana penyelamatan. Jangan ada yang terlewat."
"Siap, Tuan."
Ferry duduk di ruang kerjanya, ruangan besar dengan view taman belakang. Dindingnya dipenuhi lukisan, lukisan mahal. Rak bukunya penuh dengan literatur hukum, bisnis, dan filsafat.
Ia membuka laptop.
Mengetik nama "Arga" di mesin pencari.
Tidak banyak hasil.
Hanya beberapa artikel tentang prestasi Arga di SMA, juara cerdas cermat, juara pidato, anggota OSIS. Tidak ada media sosial. Tidak ada jejak digital yang berarti.
Anak desa polos, pikir Ferry. Tapi berani.
Ia menutup laptop.
Ia memanggil asisten pribadinya.
"Rika."
"Iya, Tuan."
"Kirimkan seseorang ke desa Wringinrejo. Cari tahu tentang keluarga Arga. Tentang orang tuanya. Tentang tetua desa yang bernama Mbah Jayarasa. Tentang Jatmika, kakak Arga yang mati tenggelam."
"Baik, Tuan."
"Dan cari tahu juga tentang Sekar. Masa lalunya. Teman-temannya. Siapa saja yang pernah dekat dengannya."
"Siap, Tuan."
Rika pergi.
Ferry duduk sendirian.
Ia memandang taman belakang.
Pohon jambu.
Pohon jambu yang semalam dipanjat Arga.
Bodoh, pikir Ferry. Sekar bego. Arga bego. Semuanya bego.
MISTERI MBAH JAYARASA
Dua hari kemudian, anak buah Ferry kembali dari desa Wringinrejo.
Mereka membawa laporan tebal.
"Tuan, Mbah Jayarasa adalah tetua desa yang sangat dihormati. Dia dulu juga pengusaha. Tapi bangkrut. Sekarang hidup sebatang kara di rumah tua."
"Apakah dia memiliki hubungan dengan keluarga Arga?"
"Dekat. Dia seperti kakek bagi Arga. Dialah yang memberi Arga peta using, peta yang menurut masyarakat desa memiliki kekuatan gaib."
"Kekuatan gaib?"
"Katanya, peta itu bisa menunjukkan jalan menuju seseorang yang dicintai."
Ferry tertawa. "Omong kosong."
"Tapi Mbah Jayarasa juga punya mata-mata di kota ini. Salah satunya bernama Laras. Mahasiswi UGM. Aktif di organisasi. Dekat dengan Nisa, teman Arga."
Ferry berhenti tertawa.
Matanya menyipit.
"Laras?"
"Iya, Tuan. Laras bin Marto. Ayahnya dulu mandor perkebunan keluarga. Dipecat karena korupsi."
Ferry mengerutkan kening. Ia tidak ingat.
"Korupsi? Siapa yang bilang?"
"Tuan sendiri yang memerintahkan pemecatan. Tapi catatan menunjukkan bahwa dia tidak terbukti bersalah."
Ferry diam.
Ia tidak ingat detail. Terlalu banyak orang yang ia pecat. Terlalu banyak keluarga yang ia hancurkan.
"Lanjut."
"Laras sekarang aktif membantu Arga. Dia yang memotret Taman Sari." Sekar dari kejauhan. Dia yang menyusun rencana hukum untuk melawan Tuan."
"Rencana hukum?"
"Mereka akan mengumpulkan bukti kekerasan psikologis. Mereka akan melapor ke LBH. Mereka akan membawa kasus ini ke pengadilan."
Ferry tertawa lagi.
Tapi kali ini tidak dingin.
Tapi gugup.
"Rencana konyol. LBH tidak akan berani melawan saya."
"Tapi mereka punya koneksi dengan media, Tuan. Nisa, teman Arga, adalah aktivis yang sering muncul di TV dan koran. Dia juga punya relasi dengan komnas perempuan."
Ferry berdiri.
Ia berjalan ke jendela.
Memandang taman belakang.
Pohon jambu.
"Rencana kita," katanya.
"Tuan?"
"Rencana untuk menghancurkan mereka. Saya tidak akan membiarkan mereka merepotkan hidup saya."
FERRY DAN LARAS
Malam itu, Ferry mengirim pesan singkat ke Laras.
Nomornya ia dapat dari anak buahnya yang menyusup ke lingkungan kos-kosan Arga.
"Laras, saya tahu semua tentangmu. Tentang ayahmu. Tentang dendammu. Tentang rencanamu bersama Arga. Jika kau tidak ingin celaka, hentikan semua ini. Hentikan sekarang. Atau kau dan orang-orang yang kau cintai akan menyesal."
Laras membalas beberapa menit kemudian.
"Saya tidak takut pada sampah seperti kau, Ferry. Ayah saya tidak bersalah. Kau yang korup. Kau yang zalim. Kau akan diadili. Tidak di dunia, pasti di akhirat."
Ferry membalas.
"Kau berani. Saya suka. Tapi keberanianmu akan kubayar mahal. Saya akan hancurkan Arga. Saya akan hancurkan Guntur. Saya akan hancurkan Faruq. Saya akan hancurkan Nisa. Saya akan hancurkan Dimas. Dan kau akan melihat semuanya dari kejauhan. Tidak bisa berbuat apa, apa."
Laras tidak membalas.
Ferry menyimpan ponsel.
Ia tersenyum.
Senyum yang menakutkan.
Permainan dimulai, pikirnya.
FERRY DAN SEKAR
Seminggu kemudian, Ferry datang ke kamar Sekar.
Sekar sedang duduk di kursi dekat jendela. Memandang taman belakang. Memandang pohon jambu. Memandang langit yang kelabu.
"Masih betah di kamar?" tanya Ferry.
"Apa maumu?"
"Orang tuamu datang besok. Aku ingin memastikan bahwa kau akan bersikap baik di depan mereka."
"Aku tidak akan bersikap baik."
"Kau harus. Jika kau tidak, aku akan potong biaya sekolah adik-adikmu. Mereka akan dikeluarkan dari sekolah. Mereka akan jadi pengangguran. Mereka akan jadi pemulung."
Sekar mengepalkan tangannya.
"Kau iblis."
"Bukan. Aku hanya pengusaha. Pengusaha yang tahu cara memanfaatkan situasi."
"Aku tidak akan menikah denganmu."
"Kau akan. Cepat atau lambat."
Ferry mendekat.
Ia meraih dagu Sekar.
Memaksanya menatap mata.
"Kau lihat mata ini, Sekar? Mata ini penuh tekad. Aku tidak akan pernah menyerah padamu. Kau akan menjadi milikku. Suatu hari. Entah kau suka atau tidak."
Sekar meludahi wajah Ferry.
Ferry tidak marah.
Ia hanya tersenyum.
Ia menyeka ludah Sekar dengan saputangan.
"Kau hebat, Sekar. Aku makin tertarik."
Ia keluar kamar.
Sekar menangis.
FERRY DAN MASA LALU
Malam itu, Ferry tidak bisa tidur.
Ia berbaring di kasurnya yang empuk, memandang langit, langit kamar yang tinggi, mengingat, ingat masa lalu.
Masa lalu yang kelam.
Masa lalu yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun.
Dulu, ketika ia masih kecil, ia sering melihat ayahnya memukul ibunya. Ibunya berteriak, teriak, meminta tolong, tapi tidak ada yang peduli. Tetangga hanya diam. Polisi tidak mau ikut campur urusan rumah tangga orang kaya.
Suatu malam, ayahnya memukul ibunya terlalu keras. Ibunya jatuh. Kepalanya membentur ujung meja marmer. Ia tidak bangun lagi.
Ayahnya tidak menyesal.
Ayahnya malah menikah lagi setahun kemudian.
Dengan perempuan yang lebih muda.
Perempuan yang diam, diam sudah menjadi selirnya bertahun-tahun.
Sejak itu, Ferry bertekad untuk tidak menjadi seperti ayahnya.
Tapi ia gagal.
Ia justru menjadi lebih jahat.
Ia menggunakan kekayaan untuk menindas.
Ia menggunakan kuasa untuk memanipulasi.
Ia menggunakan ketampanan untuk merusak hati perempuan.
Ia adalah monster.
Monster yang diciptakan oleh monster lain.
"Arga," bisik Ferry dalam gelap. "Kau tidak tahu siapa yang kau hadapi. Aku bukan hanya pengusaya biasa. Aku iblis. Dan iblis tidak pernah kalah."
BAB 14
ARENA KONFLIK PERTAMA
Tiga hari setelah Laras bergabung dalam tim, konflik pertama dengan Ferry akhirnya terjadi.
Bukan di pengadilan. Bukan di perumahan Mutiara Indah. Bukan di tempat yang Arga bayangkan.
Tapi di sebuah tempat yang lebih personal. Lebih kejam. Lebih menghancurkan.
Di tempat kerja Arga sendiri.
Toko Bangunan Tujuh Sembilan.
PAGI YANG CERAH
Hari Senin, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung, burung berkicau di pohon rindang depan toko. Pak Bondan duduk di kursi plastik seperti biasa, koran, rokok, kopi hitam. Arga sedang mengangkat pasir ke lantai dua. Keringat mengucur di sekujur tubuhnya. Wajahnya merah padam.
Tapi hatinya tenang.
Semalam, Laras memberinya kabar baik: LBH setuju menangani kasus Sekar. Mereka sudah mulai mengumpulkan bukti. Mereka sudah menyusun strategi hukum. Mereka optimis Ferry bisa ditekan.
"Mas Arga, semangat!" teriak Dimas dari kejauhan. Ia sedang antar paket, mampir sebentar untuk minum.
"Semangat!" balas Arga.
"Besok kita traktiran! Sate kambing!"
"Setuju!"
Tawa mereka pecah.
Pak Bondan menggeleng, geleng. "Anak muda. Kerja sedikit, traktiran mulu."
"Biar, Pak. Kita kan butuh hiburan."
"Hiburan mah gratis. Lihat langit. Lihat burung. Lihat orang jatuh."
"Orang jatuh mah bukan hiburan. Itu musibah."
"Ya itu hiburan bagi saya."
Mereka tertawa lagi.
TAMU TAK TERUNDANG
Jam sepuluh pagi, sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan toko.
Mercedes, Benz S, Class. Hitam legam. Kacanya gelap, tidak tembus pandang. Plat nomor B 1 FKY , kependekan dari "Ferry Kencana Yogyakarta".
Arga berhenti bekerja.
Ia menatap mobil itu dari kejauhan.
Dadanya berdebar.
Jantungnya seperti mau melompat keluar.
Ferry, pikirnya. Itu mobil Ferry.
Pintu mobil terbuka.
Seorang laki-laki keluar.
Tinggi. Tegap. Jas navy. Kemeja putih. Dasi merah. Sepatu oxford mengkilap.
Tidak ada yang salah dengan penampilannya.
Tapi matanya, matanya hitam pekat, dingin, seperti ular kobra yang siap menerkam kapan saja.
Ferry Kencana.
Ia tersenyum.
Senyum yang tidak sampai ke mata.
Senyum yang membuat bulu kuduk Arga berdiri.
"Selamat pagi," sapa Ferry.
Pak Bondan meletakkan korannya. Wajahnya tegang. Ia sudah mendengar cerita tentang Ferry dari Arga.
"Selamat pagi. Ada perlu apa, Mas?"
"Saya Ferry. Pemilik Perumahan Mutiara Indah. Saya dengar toko ini supplier material untuk proyek saya di selatan kota."
"Itu proyek Mas Rudi. Bukan proyek Mas Ferry."
"Tapi saya pemilik tanahnya. Dan pemilik proyeknya. Jadi, dengan kata lain, saya adalah bos dari Mas Rudi. Dan Mas Rudi adalah bos dari toko ini."
Pak Bondan menghela napas. "Jadi, Mas Ferry ke sini mau apa?"
Ferry berjalan masuk ke area toko.
Ia memandang sekeliling.
Memandang tumpukan pasir, semen, batu bata, dan kayu.
Memandang Arga yang masih berdiri kaku di atas tumpukan pasir.
"Ini toko yang bagus," katanya. "Terawat. Bersih. Materialnya berkualitas. Saya suka."
"Terima kasih."
"Tapi ada satu hal yang tidak saya suka."
"Apa itu?"
Ferry menunjuk Arga.
"Dia."
KONFRONTASI
Pak Bondan berdiri. "Dia karyawan saya. Arga namanya. Orang baik. Rajin. Jujur."
"Orang baik?" Ferry tertawa kecil. "Orang baik yang memanjat pagar rumah orang tengah malam? Orang baik yang mau mencuri calon istri orang? Orang baik yang bersekongkol untuk menghancurkan nama baik keluarga?"
"Apa?"
Tanya Pak Bondan pada Arga.
Arga turun dari tumpukan pasir.
Ia berdiri di depan Ferry.
Jarak mereka hanya satu meter.
Mata mereka bertemu.
Arga tidak gentar.
"Saya tidak mencuri apa pun, Mas Ferry. Sekar bukan milik Mas Ferry. Sekar manusia. Sekar punya hak memilih."
"Sekar sudah dijodohkan dengan saya. Orang tuanya sudah setuju. Semuanya sudah diatur."
"Perjodohan paksa adalah kejahatan."
Ferry tertawa lagi. "Kejahatan? Hukum mana yang melarang? Di Indonesia, kawin paksa masih terjadi setiap hari. Tidak ada yang peduli. Tidak ada yang berani melapor."
"Kami akan melapor. Kami sudah punya bukti."
"Bukti?" Ferry mendekat. Ia berdiri tepat di depan Arga. Hanya setengah meter. "Kamu pikir LBH akan berani melawan saya? Kamu pikir media akan berani memberitakan saya? Kamu pikir polisi akan berani menahan saya?"
"Kami akan mencoba."
"Mencoba?" Ferry menepuk, nepuk bahu Arga. Pelan. Nyaris seperti sayang. Tapi nada bicaranya penuh ancaman. "Kamu anak desa. Kamu miskin. Kamu tidak punya pengaruh. Kamu tidak punya uang. Kamu tidak punya apa-apa. Lawan saya? Siapa kamu?"
"Saya Arga. Anak Sastro dan Sukmawati. Dari desa Wringinrejo. Saya tidak punya uang. Tidak punya pengaruh. Tidak punya apa, apa. Tapi saya punya nyali."
"Nyali?" Ferry mundur selangkah. Ia mengeluarkan saputangan dari saku jas. Menyeka keringat di dahinya, meskipun tidak berkeringat. "Kamu tahu, Arga, nyali tanpa strategi hanya akan membuatmu mati konyol."
"Saya tidak takut mati."
"Sebaiknya kamu takut. Karena kematian tidak selalu datang dalam bentuk ajal. Kematian juga bisa datang dalam bentuk kehilangan. Kehilangan pekerjaan. Kehilangan teman. Kehilangan keluarga. Kehilangan orang yang kamu cintai."
Arga mengepalkan tangannya.
"Jangan ancam saya."
"Bukan ancaman. Fakta."
PAK BONDAN BICARA
Pak Bondan yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara.
"Mas Ferry," katanya.
Ferry menoleh. "Ya."
"Saya tidak tahu urusan Mas Ferry dengan Arga. Saya tidak tahu urusan Mas Ferry dengan Sekar. Tapi satu hal yang saya tahu: Arga adalah karyawan saya. Di toko ini, saya yang berkuasa. Bukan Mas Ferry."
"Apakah Bapak berani melindungi anak ini? Padahal Bapak tahu, saya bisa menarik semua proyek saya dari toko Bapak. Saya bisa buat toko Bapak bangkrut dalam sebulan."
Pak Bondan tersenyum.
Senyum yang tidak kalah dingin dari senyum Ferry.
"Mas Ferry, toko ini sudah berdiri tiga puluh tahun. Sejak zaman bapak saya. Kami sudah melewati masa sulit. Krisis moneter. Gempa. Banjir. Kerusuhan. Pandemi. Dan kami masih berdiri."
"Tapi, "
"Tidak ada tapi. Silakan tarik proyek Mas Ferry. Saya tidak butuh proyek Mas Ferry. Saya punya pelanggan lain. Pelanggan setia. Pelanggan yang tidak main-main dengan hidup orang."
Ferry terdiam.
Ia memandang Pak Bondan.
Laki-laki tua itu tidak gentar.
Luar biasa, pikir Ferry. Orang kampung ini punya nyali lebih besar dari para eksekutif di perusahaanku.
"Baik," kata Ferry. "Saya hormati keberanian Bapak. Tapi ingat, saya tidak akan lupa dengan toko ini. Dan saya tidak akan lupa dengan Arga."
Ferry berbalik.
Ia berjalan ke mobilnya.
Sebelum masuk, ia menoleh.
"Arga."
Arga menatapnya.
"Kamu pikir kamu bisa melindungi Sekar? Kamu pikir kamu bisa melindungi teman, temanmu? Kamu pikir kamu bisa melindungi dirimu sendiri?"
"Saya akan berusaha."
"Usaha tidak cukup. Kamu butuh keajaiban."
Ferry masuk ke mobil.
Mesin menyala.
Mobil hitam itu melaju perlahan, meninggalkan toko, meninggalkan debu, meninggalkan ketegangan.
SETELAH KEPERGIAN FERRY
Pak Bondan duduk kembali di kursi plastik.
Wajahnya pucat.
Tangannya gemetar.
Ia mengeluarkan sebatang rokok, menyalakannya, mengisap dalam, dalam.
"Le," panggilnya.
"Iya, Pak."
"Kamu tahu risiko yang kamu hadapi?"
"Saya tahu, Pak."
"Kamu tahu Ferry bisa menghancurkan hidupmu?"
"Saya tahu, Pak."
"Kamu tetap mau?"
Arga memandang Pak Bondan.
Matanya basah.
Tapi suaranya tegas.
"Saya tetap mau, Pak. Karena Sekar lebih penting dari hidup saya."
Pak Bondan menghela napas.
Ia membuang puntung rokoknya.
"Kamu anak gila."
"Iya, Pak. Saya anak gila."
"Tapi saya suka keberanianmu."
"Terima kasih, Pak."
"Sekarang kerja. Jangan banyak melamun. Nanti gajimu saya potong."
Arga tersenyum.
Ia kembali mengangkat pasir.
KABAR KE TEMAN, TEMAN
Jam dua belas siang, Arga mengirim pesan singkat ke grup.
"Ferry datang ke toko. Ancaman gue. Ancaman toko. Kalian hati, hati."
Balasan berdatangan.
Guntur: "Dia mulai bergerak. Kita juga harus bergerak."
Faruq: "Tenang, Mas. Kita sudah siap."
Nisa: "LBH sudah setuju. Kita kumpulkan bukti besok."
Dimas: "Gue pantau terus rumahnya. Ada yang aneh."
Laras: "Arga, kita harus bertemu. Ada info penting."
Arga membalas: "Jam enam di kos."
PERTEMUAN MENDADAK
Jam enam sore, mereka berkumpul di kos.
Mbok Darmi menyuguhkan teh jahe dan pisang goreng.
Laras membuka map coklatnya.
"Ferry sudah tahu semua," katanya. "Dia punya mata-mata di antara kita."
"Mata-mata?" Faruq mengerutkan kening. "Siapa?"
"Kita belum tahu. Tapi yang jelas, dia tahu tentang rencana LBH. Dia tahu tentang fotoku di Taman Sari. Dia tahu tentang rencana penyelamatan di pohon jambu."
"Bagaimana mungkin?" tanya Nisa.
"Dia punya akses. Dia punya uang. Uang bisa membeli siapa saja. Termasuk orang-orang terdekat kita."
Suasana tegang.
Semua saling memandang.
"Kita tidak boleh saling curiga," kata Guntur. "Kita harus tetap solid."
"Setuju," kata Faruq. "Tapi kita juga harus waspada."
"Waspada tanpa curiga itu sulit," kata Dimas.
"Maka kita lakukan ini: setiap informasi penting, sampaikan secara lisan. Jangan lewat pesan singkat. Jangan lewat grup. Hanya bertatap muka."
"Setuju," kata Laras. "Saya akan atur jadwal pertemuan rahasia. Tempatnya berpindah-pindah. Waktunya tidak tetap."
LARAS BICARA
Setelah yang lain pulang, Laras memanggil Arga ke sudut.
"Arga," bisiknya.
"Iya."
"Saya punya informasi tentang keluarga Ferry."
"Informasi apa?"
"Ayah Ferry, Hendro Kencana, punya catatan kriminal. Penganiayaan istri. Korupsi lahan. Penyuapan pejabat. Semua ditutup-tutupi."
"Siapa yang bisa membuka?"
"Saya punya teman di lembaga anti korupsi. Mereka sudah mengumpulkan bukti sejak lama. Tapi belum berani mempublikasikan karena tekanan politik."
"Sekarang?"
"Sekarang mungkin sudah saatnya. Dengan kasus Sekar, kita bisa mengaitkan dengan praktik korupsi keluarga Ferry."
"Risiko?"
"Besar. Bisa dipenjara. Bisa dihabisi."
"Apakah kamu takut?"
Laras memandang Arga.
Matanya tajam.
"Ayah saya tidak takut. Kenapa saya harus takut?"
"Baik. Kita lanjutkan."
MALAM YANG MENENTUKAN
Jam sepuluh malam, Arga masuk ke kamar.
Ia membuka jendela.
Udara malam masuk dingin.
Ia memeluk bantal kecil dari kebaya Sekar.
"Sekar," bisiknya.
"Hari ini Ferry datang ke toko. Dia mengancamku. Mengancam Pak Bondan. Mengancam teman, teman."
Ia memejamkan mata.
"Aku tidak takut. Tapi aku khawatir. Khawatir mereka celaka karenaku."
Ia memeluk bantal itu.
"Tapi aku tidak akan menyerah. Karena kau lebih penting dari ketakutanku."
DI SISI LAIN
Di rumah mewah di Perumahan Mutiara Indah, Sekar duduk di kursi dekat jendela.
Ia memandang taman belakang.
Memandang pohon jambu.
Memandang langit yang gelap tanpa bintang.
"Arga," bisiknya.
"Aku tahu kau datang semalam. Aku lihat bayanganmu di balik pohon jambu. Aku ingin berteriak. Aku ingin melambai. Tapi ada orang di kamarku. Aku tidak bisa."
Air matanya jatuh.
"Arga, jangan menyerah. Aku akan menunggu. Sampai kau datang menjemputku."
BAB 15
SISI GELAP LARAS
Tiga minggu sudah Laras bergabung dalam tim pencarian Sekar. Tiga minggu penuh strategi, kecurigaan, pertemuan rahasia, dan pengintaian. Tiga minggu di mana Arga mulai menganggap Laras sebagai teman, bahkan sahabat, yang bisa diandalkan dalam suka dan duka.
Tapi malam ini, segalanya berubah.
Bukan karena Laras mengkhianati mereka. Bukan karena Laras ketahuan menjadi mata-mata Ferry. Bukan karena Laras menculik Sekar atau membocorkan rencana penyelamatan.
Tapi karena Arga menemukan sisi gelap Laras yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Sisi gelap yang membuatnya merinding.
Sisi gelap yang membuatnya bertanya, tanya: siapa sebenarnya perempuan ini?
Sisi gelap yang membuatnya sadar bahwa Laras bukan hanya aktivis, bukan hanya mahasiswa, bukan hanya mata-mata Mbah Jayarasa. Tapi juga sesuatu yang lebih, sesuatu yang berbahaya, sesuatu yang tidak dapat dikendalikan, sesuatu yang bisa menghancurkan mereka semua jika tidak dikelola dengan hati, hati.
PERTEMUAN DI KAMPUS
Hari Jumat malam, Laras mengajak Arga bertemu di kampus UGM. Bukan di perpustakaan, bukan di kantin, bukan di tempat umum yang biasa mereka gunakan untuk rapat. Tapi di sebuah ruangan bawah tanah fakultas Antropologi, ruangan yang tidak terdaftar dalam peta kampus, ruangan yang hanya diketahui oleh segelintir orang, ruangan yang digunakan untuk pertemuan rahasia organisasi mahasiswa bawah tanah.
"Apa tempat ini aman?" tanya Arga ketika Laras membukakan pintu.
"Lebih aman dari kos-kosanmu. Di sini tidak ada kamera CCTV. Tidak ada mata-mata. Tidak ada penyadap. Hanya kita."
Ruangan itu kecil. Empat meter kali empat meter. Dindingnya dari batu bata tanpa plester. Lantainya dari semen. Langit, langitnya rendah, hanya sekitar dua meter, dengan lampu bohlam sepuluh watt yang menyala redup. Di sudut ruangan, ada meja kayu panjang dengan dua kursi. Di atas meja, tumpukan dokumen, map, dan buku, buku tebal tentang antropologi hukum.
Arga duduk di salah satu kursi. Laras duduk di seberangnya. Jarak mereka hanya satu meter. Cukup dekat untuk saling melihat raut wajah, cukup jauh untuk tetap menjaga batas.
"Laras," panggil Arga.
"Iya."
"Kenapa kita harus bertemu di tempat ini? Ada apa?"
Laras menghela napas. Tangannya yang biasanya tegap dan penuh percaya diri, kini gemetar. Matanya yang biasanya tajam dan berapi, api, kini sayu, bahkan hampir menangis.
"Arga," katanya pelan, "saya mau cerita sesuatu. Sesuatu yang tidak pernah saya ceritakan pada siapa pun. Bukan pada Guntur. Bukan pada Faruq. Bukan pada Nisa. Bukan pada Dimas. Bahkan pada Mbah Jayarasa, saya hanya bercerita setengah-setengah."
"Sekarang Mbak mau cerita semuanya?"
"Sekarang saya mau cerita semuanya. Karena saya percaya pada kamu. Dan karena saya tidak bisa menyembunyikan ini lebih lama lagi, tidak setelah apa yang terjadi kemarin malam."
Arga menegang. "Apa yang terjadi kemarin malam?"
Laras tidak menjawab langsung. Ia berdiri, berjalan ke sudut ruangan, membuka sebuah lemari besi kecil yang tersembunyi di balik tumpukan kardus. Ia memasukkan kode, membuka pintu lemari, mengeluarkan sebuah kotak kayu hitam.
Kotak itu tidak besar, sekitar tiga puluh sentimeter kali dua puluh sentimeter. Permukaannya halus, dipoles dengan lilin, berukirkan simbol, simbol yang tidak Arga kenali. Ada gembok kecil di bagian depan, dengan kunci berbentuk unik, seperti salib, tapi tidak persis.
Laras membuka kotak itu dengan kunci yang tergantung di lehernya, tersembunyi di balik kalung perak yang tidak pernah ia lepaskan.
Di dalam kotak: sebuah pisau.
Bukan pisau biasa.
Pisau belati dengan gagang dari tulang-tulang manusia, kata Laras dan bilah dari besi hitam yang berkilat aneh di bawah cahaya lampu redup. Pada bilahnya terukir aksara Jawa kuno, aksara yang bahkan Arga yang bisa membaca huruf Jawa tidak sepenuhnya memahaminya.
"Ini pusaka keluarga," kata Laras. "Dari buyut saya. Dia dulu seorang panglima perang di Keraton. Tugasnya: membunuh musuh-musuh kerajaan secara diam, diam."
"Membunuh?" Arga merinding.
"Iya. Membunuh. Tanpa pengadilan. Tanpa vonis. Tanpa ampun."
"Lalu?"
"Pisau ini digunakan untuk membunuh lebih dari seratus orang. Musuh kerajaan. Pengkhianat. Mata-mata. Semua tewas oleh pisau ini."
Arga menelan ludah. "Kenapa Mbak menyimpan ini?"
Laras menatap Arga. Matanya yang tadi sayu kini berubah, menjadi gelap, kosong, seperti tidak ada jiwa di baliknya.
"Karena, Arga... saya sudah menggunakannya."
KEJADIAN KEMARIN MALAM
Malam sebelumnya, sekitar pukul dua dini hari, Laras sedang berjalan sendirian di sekitar perumahan Mutiara Indah. Tugasnya malam itu adalah memantau aktivitas satpam dan preman bayaran Ferry, mmencari celah untuk rencana penyelamatan kedua yang akan dilakukan akhir pekan ini.
Tapi tiba, tiba, dua orang laki, laki mendekatinya dari arah belakang.
Mereka besar. Tinggi. Berotot. Wajah mereka tertutup masker kain hitam. Di tangan mereka, pentungan dan pisau lipat.
"Hei, cewek," kata salah satu dari mereka. "Kamu Laras?"
"Siapa yang bertanya?" jawab Laras tenang.
"Kami utusan Bos Ferry. Bos ingin kamu berhenti ikut campur urusan dia. Kalau tidak, kamu dan teman, temanmu akan celaka."
"Apakah itu ancaman?"
"Bukan ancaman. Fakta."
Laras tersenyum. Senyum yang tidak wajar. Senyum yang membuat kedua preman itu merinding.
"Kalian tahu," katanya, "saya sudah lama tidak merasakan sensasi ini."
"Sensasi apa?"
"Sensasi... membunuh."
Sebelum kedua preman itu sempat bereaksi, Laras sudah bergerak.
Cepat.
Lebih cepat dari yang mereka kira.
Ia menusukkan pisau belati hitam itu ke perut preman pertama. Sekali tusuk. Dua tusuk. Tiga tusuk. Preman itu jatuh, tidak bergerak.
Preman kedua berusaha melarikan diri, tapi Laras lebih cepat. Ia mengejar, menjatuhkan, lalu menusuk bagian dada.
Empat tusuk.
Lima tusuk.
Enam tusuk.
Preman kedua tewas di tempat.
Laras berdiri di antara dua mayat.
Ia tidak gemetar.
Ia tidak menyesal.
Ia hanya memandang langit malam yang gelap, dan berbisik: "Satu untuk ayah. Satu lagi untuk semua korban Ferry."
SETELAH KEJADIAN
"Selesai," kata Laras datar pada Arga.
Arga terdiam. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar. Ia tidak tahu harus berkata apa.
Dua orang tewas.
Dibunuh.
Oleh Laras.
Perempuan yang selama ini ia kenal sebagai aktivis kampus, mahasiswa berprestasi, teman baik Nisa, dan mata-mata Mbah Jayarasa.
"Kenapa?" bisik Arga akhirnya.
"Karena mereka mengancamku. Mengancam ayahku. Mengancam kalian."
"Tidak ada cara lain? Melaporkan ke polisi? Meminta perlindungan?"
Laras tertawa. Tawa pahit yang tidak sampai ke mata.
"Polisi? enggak. Ferry punya kenalan jaksa. Ferry punya kenalan hakim. Lapor polisi sama saja bunuh diri."
"Tapi membunuh juga bukan solusi."
"Bukan solusi. Tapi itu satu, satunya cara yang saya tahu untuk melindungi orang, orang yang saya cintai."
Laras menutup kotak kayu hitam itu.
Ia memasukkannya kembali ke lemari besi.
Ia mengunci lemari.
Ia duduk kembali di kursi seberang Arga.
"Sekarang kamu tahu sisi gelap saya, Arga. Kamu tahu bahwa saya bukan hanya aktivis. Bukan hanya mahasiswa. Bukan hanya mata-mata. Saya juga algojo. Algojo yang tidak segan, segan membunuh jika diperlukan."
"Apakah Mbah Jayarasa tahu?"
"Tidak. Mbah Jayarasa hanya tahu bahwa saya bisa diandalkan. Dia tidak tahu detail."
"Kenapa Mbak tidak cerita padanya?"
"Karena Mbah Jayarasa orang baik. Orang baik tidak akan merestui pembunuhan. Tapi saya bukan orang baik. Saya orang yang terluka. Dan orang yang terluka, kadang, melakukan hal-hal yang tidak bisa dimengerti oleh orang baik."
LARAS BERCERITA TENTANG MASA LALU
Setelah keheningan yang lama, Laras mulai bercerita.
Bukan tentang pisau. Bukan tentang pembunuhan. Tapi tentang masa lalunya, masa lalu yang kelam, yang membentuknya menjadi seperti sekarang.
"Ayah saya, Marto, adalah mandor perkebunan kelapa sawit milik keluarga Ferry. Dia bekerja di sana selama dua puluh tahun. Dua puluh tahun tanpa kenaikan gaji. Dua puluh tahun tanpa jaminan kesehatan. Dua puluh tahun tanpa hari libur."
"Suatu hari, ayah saya jatuh dari pohon kelapa. Kakinya patah. Tulangnya remuk. Dia tidak bisa bekerja lagi. Ferry memecatnya. Tanpa pesangon. Tanpa kompensasi. Tanpa apa, apa."
"Kami miskin. Keluarga saya miskin. Tidak punya tabungan. Tidak punya sawah. Tidak punya apa, apa. Ibu saya menjual kue keliling kampung. Saya putus sekolah karena tidak punya uang untuk bayar SPP."
"Ayah saya depresi. Setiap malam dia menangis. Setiap malam dia bilang, 'Laras, maafkan ayah. Ayah tidak bisa memberi apa-apa untukmu. Ayah gagal.'"
"Suatu malam, ketika saya berusia lima belas tahun, ayah saya gantung diri. Di belakang rumah. Di pohon jambu yang sama tempat kami biasa bermain ketika saya masih kecil."
Air mata Laras jatuh.
Untuk pertama kalinya, Arga melihat Laras menangis.
"Sejak itu, saya bersumpah. Saya akan balas dendam pada keluarga Ferry. Saya akan hancurkan mereka. Dengan cara apa pun. Dengan pisau ini. Dengan tangan saya sendiri."
ARGA BICARA
Arga memandang Laras.
Perempuan di depannya itu bukan lagi aktivis kampus yang ceria, bukan lagi mahasiswa berprestasi yang percaya diri, bukan lagi teman baik Nisa yang suka tertawa.
Tapi anak kecil yang kehilangan ayah.
Tapi anak perempuan yang tumbuh dalam kemiskinan dan keputusasaan.
Tapi korban kekejaman sistem yang membiarkan orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin menderita.
"Laras," panggil Arga pelan.
Laras mengangkat wajahnya. Pipinya basah. Matanya merah.
"Saya tidak bisa menyalahkan Mbak. Saya tidak bisa menghakimi Mbak. Saya tidak bisa mengatakan bahwa apa yang Mbak lakukan benar atau salah."
"Lalu?"
"Tapi saya bisa mengatakan satu hal."
"Apa?
"Mbak tidak sendirian. Saya di sini. Guntur di sini. Faruq di sini. Nisa di sini. Dimas di sini. Kita akan hancurkan Ferry bersama. Tanpa pisau. Tanpa darah. Dengan hukum. Dengan keadilan."
Laras tersenyum.
Senyum yang aneh, campuran antara lega, sedih, dan skeptis.
"Kamu orang baik, Arga. Saya iri."
"Saya tidak baik. Saya hanya tidak ingin ada yang mati."
PERTEMUAN DENGAN GUNTUR
Setelah dari ruangan bawah tanah, Arga dan Laras berjalan ke kantin fakultas filsafat. Guntur sudah menunggu di sana.
"Akhirnya kalian datang," sapa Guntur. "Kopi pesanan saya sudah dingin."
"Maaf, ada urusan," kata Arga.
Laras duduk di samping Guntur.
Guntur langsung menatap wajah Laras yang masih sembab.
"Kamu nangis?"
"Sedikit."
"Kenapa?"
"Masalah keluarga."
"Cerita."
"Tidak usah."
Guntur tidak memaksa. Ia hanya memegang tangan Laras. Pelan. Lembut.
"Laras," katanya.
"Iya."
"Kamu tidak sendirian. Aku di sini."
Laras menatap Guntur. Laki-laki sinis yang jarang menunjukkan perasaan. Tapi kali ini, matanya jujur.
"Terima kasih, Guntur."
"Jangan makasih. Nanti saya minta traktir."
Laras tersenyum. "Iya. Kapan saja."
MALAM DI KOS
Jam sebelas malam, Arga pulang ke kos.
Ia tidak langsung tidur. Ia duduk di dipan bambu, memeluk bantal kebaya Sekar, memandang langit, langit kamar yang gelap.
Pikirannya kacau.
Laras membunuh.
Laras punya pisau pusaka.
Laras punya masa lalu kelam.
Laras berbahaya, pikir Arga. Tapi Laras juga korban.
Ia membuka peta usang pemberian Mbah Jayarasa.
Ia memandang lingkaran merah.
"Di sini, dia pernah menangis."
"Mbah," bisik Arga, "apa yang harus saya lakukan? Laras pembunuh. Tapi Laras juga teman. Saya tidak bisa melaporkannya ke polisi. Tapi saya juga tidak bisa membiarkannya terus membunuh."
Peta itu tidak menjawab.
Hanya suara jangkrik dari selokan.
Hanya suara klakson dari kejauhan.
Arga memejamkan mata.
Bayangan Mbah Jayarasa muncul.
"Le," bisik bayangan itu. "Jangan menghakimi. Jangan membenarkan. Jangan memaafkan. Cukup pahami. Karena pemahaman adalah awal dari penyembuhan."
Arga membuka mata.
Ia tidak tahu apakah itu suara Mbah Jayarasa atau suara hatinya sendiri.
Tapi ia memilih untuk percaya.
KEPUTUSAN ARGA
Keesokan paginya, Arga mengumpulkan semua teman-temannya di kos.
Guntur. Faruq. Nisa. Dimas.
Dan Laras.
Mereka duduk di halaman kos. Mbok Darmi menyuguhkan teh jahe dan pisang goreng, seperti biasa.
"Semua sudah saya ceritakan pada Guntur tadi malam," kata Arga. "Tentang Laras. Tentang masa lalunya. Tentang... apa yang terjadi kemarin."
Guntur mengangguk. Wajahnya serius.
"Aku sudah tahu. Aku tidak kaget. Aku sudah curiga sejak lama kalau Laras punya sisi gelap."
"Kenapa tidak bilang padaku?" tanya Faruq.
"Karena bukan urusanku. Karena Laras tidak menggangguku. Karena Laras temanku."
Nisa memegang tangan Laras. "Kamu tidak sendiri, Laras."
Dimas mengangguk. "Gue juga dukung."
Laras menunduk. Air matanya jatuh lagi.
"Terima kasih, teman, teman," bisiknya. "Saya tidak pantas."
"Kamu pantas," kata Guntur. "Semua orang pantas mendapat kesempatan kedua."
RENCANA KE DEPAN
Setelah suasana sedikit reda, mereka berdiskusi tentang rencana ke depan.
"Laras," kata Guntur, "aku tidak akan melaporkanmu ke polisi. Tapi kamu harus berjanji. Tidak akan ada lagi pembunuhan."
Laras mengangguk. "Aku berjanji."
"Kita akan selesaikan masalah Ferry dengan hukum. Bukan dengan darah."
"Setuju."
"Kita akan kumpulkan bukti. Kita akan bawa ke LBH. Kita akan bawa ke media. Kita akan bawa ke komnas perempuan. Kita akan buat tekanan publik."
"Setuju," kata semua.
"Tapi kita juga harus waspada. Ferry punya mata-mata. Ferry punya preman. Ferry punya polisi. Kita harus bergerak cepat dan hati, hati."
"Setuju."
BAB 16
RAHASIA MASA LALU GUNTUR
Tiga hari setelah Laras mengakui sisi gelapnya tentang pisau pusaka dan dua preman tewas di tangannya, suasana di antara anggota tim berubah. Bukan menjadi dingin atau canggung, tapi menjadi lebih hati, hati, lebih waspada, lebih sadar bahwa setiap orang membawa rahasia yang mungkin suatu saat meledak.
Tapi dari semua orang, Guntur justru yang paling tenang.
Ia tetap sinis. Tetap suka merokok. Tetap minum kopi hitam pahit tanpa gula. Tetap berbicara dengan nada datar yang kadang membuat orang salah paham.
Tapi Arga melihat ada sesuatu yang berbeda di matanya akhir, akhir ini.
Mata Guntur yang biasanya dingin dan penuh teka, teki, kini kadang sayu. Kadang kosong. Kadang seperti sedang menatap sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain, sesuatu di masa lalu yang tidak pernah benar-benar pergi.
Dan malam ini, saat Arga tidak sengaja menemukan Guntur sendirian di atap kos pada pukul dua dini hari, semua keanehan itu akhirnya terungkap.
MALAM DI ATAP KOS
Arga tidak bisa tidur. Pikirannya masih kacau oleh pengakuan Laras tentang pisau dan pembunuhan. Ia keluar kamar, berjalan ke halaman, lalu tanpa sadar memanjat pohon jambu menuju atap kos.
Di sana, Guntur sudah duduk.
Sendirian.
Tanpa rokok.
Tanpa kopi.
Tanpa buku.
Hanya duduk, memandang langit malam yang dipenuhi bintang, pemandangan langka di kota sebesar Jogja.
"Guntur?" sapa Arga pelan.
Guntur menoleh. Ia tidak terkejut. Seolah sudah tahu Arga akan datang.
"Arga. Tidak bisa tidur?"
"Iya. Kamu juga?"
"Sudah tiga malam."
"Kenapa?"
Guntur tidak menjawab. Ia menepuk genting di sampingnya. Arga duduk.
Mereka berdua memandang langit. Bintang, bintang berkerlap, kerlip. Bulan sabit tipis menggantung rendah di ufuk barat.
"Guntur," panggil Arga lagi.
"Iya."
"Aku mau tanya sesuatu."
"Tanya."
"Kenapa kamu membantu kami? Mencari Sekar. Melawan Ferry. Kenapa?"
Guntur tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata.
"Karena aku punya hutang budi pada seseorang."
"Siapa?"
"Bukan siapa-siapa."
Arga mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
Guntur menghela napas panjang.
Ia mengeluarkan sebatang rokok dari saku kemejanya, menyalakannya, mengisap dalam-dalam. Asapnya mengepul ke udara malam.
"Arga, aku tidak pernah cerita tentang masa laluku, kan?"
"Tidak pernah."
"Karena tidak ada yang menarik. Hanya seorang anak desa dari timur Jawa yang merantau ke Jogja untuk kuliah, lalu menjadi sinis karena kecewa dengan dunia."
"Tapi itu tidak menjelaskan kenapa kamu membantu kami."
Guntur membuang puntung rokoknya. Ia memandang Arga.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Arga melihat Guntur menangis.
GUNTUR BERCERITA
"Dulu, ketika aku masih duduk di bangku SMA," Guntur mulai, "aku punya sahabat. Namanya Rini. Perempuan. Usia sama. Sebaya. Sekelas."
"Dia cantik? pintar?"
"Dia biasa saja. Tidak cantik-cantik amat. Tidak pintar-pintar amat. Tapi dia baik. Sangat baik. Baik sampai-sampai dia rela mengorbankan apa pun demi kebahagiaan orang yang dia cintai."
"Kamu mencintainya?"
Guntur tidak menjawab langsung. Ia mengeluarkan sebatang rokok lagi, menyalakannya, mengisap.
"Aku tidak tahu. Waktu itu, aku masih bingung dengan perasaanku. Tapi yang aku tahu, aku tidak ingin dia menikah dengan laki-laki lain."
"Lalu?"
"Rini dijodohkan. Dengan laki, laki kaya raya. Anak saudagar batik terkenal di kotaku. Orang tuanya berhutang banyak pada saudagar itu. Perjodohan adalah cara mereka melunasi hutang."
Arga terkesiap. "Sama seperti Sekar?"
"Sama persis."
"Lalu apa yang terjadi?"
Guntur mengisap rokoknya lebih dalam. Asapnya mengepul deras. Tangannya gemetar.
"Aku mencoba melawan. Aku coba bicara pada orang tua Rini. Mereka tidak peduli. Aku coba bicara pada saudagar itu. Dia malah mengancamku. Aku coba membawa Rini kabur. Dia tidak mau."
"Kenapa?"
"Karena dia takut. Takut orang tuanya celaka. Takut saudagar itu menyakiti keluarganya."
"Lalu?"
Guntur membuang puntung rokoknya. Ia memejamkan mata. Air matanya jatuh.
"Rini menikah. Aku tidak diundang. Tapi aku datang. Aku berdiri di depan gedung, di tengah hujan, menonton mobil pengantin lewat di depanku."
"Rini melambai padaku dari balik kaca. Tapi aku tidak bisa melihat wajahnya karena kacanya gelap. Yang aku lihat hanyalah bayangan."
"Aku berteriak. Aku memanggil namanya. Tapi mobil itu tetap melaju. Semakin jauh. Semakin kecil. Sampai akhirnya lenyap di tikungan."
"Seperti Sekar yang pergi dari gerbang desa?"
Guntur mengangguk. "Seperti itu."
TIGA BULAN SETELAH PERNIKAHAN
"Tiga bulan setelah pernikahan," Guntur melanjutkan, "Rini bunuh diri."
Arga terkesiap. "Apa?"
"Bunuh diri. Dia loncat dari lantai tiga rumah suaminya. Tidak ada yang tahu persis kenapa. Katanya depresi. Katanya dianiaya. Katanya tidak tahan hidup dalam tekanan."
"Tapi tidak ada yang mau menyelidiki. Keluarga suaminya kaya. Polisi tutup mata. Media diam. Semua orang takut.
"Kamu kecewa?"
"Aku marah. Aku marah pada sistem. Pada hukum. Pada polisi. Pada pengadilan. Pada semua yang membiarkan ketidakadilan terjadi."
"Tapi kamu tidak bisa berbuat apa, apa?"
"Aku tidak bisa. Aku hanya anak SMA. Tidak punya uang. Tidak punya kuasa. Tidak punya koneksi. Tidak punya apa, apa."
"Lalu kamu ke Jogja?"
"Aku ke Jogja. Kuliah filsafat. Karena filsafat mengajarkanku bahwa hidup tidak selalu adil. Bahwa penderitaan adalah bagian dari eksistensi. Bahwa kita harus menerima absurditas, bukan melawannya."
"Tapi itu tidak menyembuhkan lukamu?"
Guntur tersenyum pahit. "Luka tidak pernah sembuh. Luka hanya berubah bentuk. Dari sakit fisik menjadi sakit batin. Dari air mata menjadi sinisme."
GUNTUR DAN SEKAR
"Ketika Nisa bercerita tentang Sekar," Guntur melanjutkan, "aku langsung teringat pada Rini. Gadis desa. Dijodohkan paksa. Tidak punya suara. Tidak punya pilihan."
"Apakah itu sebabnya kamu membantu?"
"Iya. Aku tidak ingin Rini kedua terjadi. Aku tidak ingin Sekar mengalami nasib yang sama. Aku tidak ingin melihat Arga menjadi seperti aku dulu, hancur, pahit, dan kehilangan harapan."
"Apakah aku berhasil?"
Guntur menatap Arga. Matanya basah.
"Kamu berhasil membuatku percaya bahwa cinta sejati itu ada. Bahwa perjuangan itu berarti. Bahwa harapan tidak selalu sia, sia."
"Terima kasih, Guntur."
"Jangan berterima kasih. Saya tidak melakukan ini untukmu. Saya melakukan ini untuk Rini."
FOTO RINI
Guntur mengeluarkan ponselnya. Ia membuka galeri foto, scrolling ke bawah, lalu menunjukkan satu foto pada Arga.
Foto seorang perempuan. Usia sekitar tujuh belas tahun. Wajahnya bulat. Kulitnya putih. Rambutnya panjang, diikat kuda poni. Matanya sipit, tapi jernih. Ia tersenyum,senyum yang tulus, senyum yang membuat orang yang melihatnya ikut bahagia.
"Ini Rini," kata Guntur.
"Cantik," kata Arga.
"Dia cantik. Tapi bukan hanya itu. Dia baik. Dia pintar. Dia rajin. Dia suka membantu orang. Dia ingin jadi dokter. Dia ingin mengabdi pada masyarakat."
"Lalu?"
"Lalu semua itu sirna. Karena uang. Karena utang. Karena orang tuanya yang bego."
"Jangan salahkan orang tuanya. Mungkin mereka juga korban."
"Mereka bego," ulang Guntur. "Mereka lebih memilih uang daripada kebahagiaan anaknya. Mereka lebih memilih status daripada nyawa anaknya."
Arga tidak bisa membantah.
Ia hanya memandang foto Rini.
Gadis yang mati muda.
Gadis yang bunuh diri.
Gadis yang menjadi hantu dalam hati Guntur setiap malam.
RAHASIA YANG TERSIMPAN
"Selama ini, aku menyimpan rahasia ini sendirian," kata Guntur. "Tidak ada yang tahu. Bukan Faruq. Bukan Nisa. Bukan Dimas. Bukan siapa pun."
"Kenapa baru sekarang?"
"Karena Laras mengaku punya pisau dan dua mayat. Karena aku sadar bahwa setiap orang punya sisi gelap. Dan sisi gelap tidak akan pernah hilang jika tidak diakui."
"Maka sekarang kamu mengaku?"
"Sekarang aku mengaku. Bukan untuk menghakimi Laras. Tapi untuk menunjukkan bahwa aku juga punya luka. Aku juga punya dendam. Aku juga pernah ingin membunuh."
"Kamu ingin membunuh siapa?"
"Suami Rini. Orang tua Rini. Saudagar itu. Semua yang terlibat."
"Kenapa tidak?"
"Karena Rini bukan tipe orang yang menginginkan balas dendam. Rini baik. Rini penyayang. Rini pasti tersiksa jika melihatku menjadi pembunuh."
"Maka kamu memilih kuliah filsafat?"
"Aku memilih kuliah filsafat. Bukan untuk melupakan Rini. Tapi untuk memahami kenapa dunia ini begini kejam. Untuk mencari makna di tengah penderitaan. Untuk belajar menerima bahwa hidup tidak selalu adil."
"Apakah kau menemukan jawabannya?"
Guntur menatap langit.
Bintang, bintang berkerlap, kerlip.
"Aku belum menemukan jawaban. Tapi aku tidak berhenti mencari."
PAGI DI KOS
Keesokan paginya, Arga terbangun lebih lambat dari biasanya.
Matahari sudah tinggi. Burung, burung berkicau riang di pohon mangga depan kos.
Ia keluar kamar. Di halaman, semua temannya sudah berkumpul. Guntur, Faruq, Nisa, Dimas, dan Laras.
"Mas Arga bangun kesiangan!" seru Faruq.
"Maaf. Tidak bisa tidur semalaman."
"Karena apa?"
"Mikir."
"Mikir apa?"
"Banyak."
Guntur tersenyum. Ia mengangguk pada Arga, isyarat bahwa rahasia mereka berdua tetap aman.
"Kita sarapan dulu," kata Nisa. "Saya beli nasi goreng."
"Pesenin yang pedas!" teriak Dimas.
"Setuju!" teriak Faruq.
Mereka makan bersama. Tertawa bersama. Bercerita bersama.
Tapi di antara tawa dan canda, ada kesedihan yang mendalam.
Kesedihan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata, kata.
Kesedihan yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang pernah kehilangan.
MALAM DI KAMAR
Jam sepuluh malam, Arga masuk ke kamar.
Ia membuka jendela.
Udara malam masuk dingin.
Ia memeluk bantal kecil dari kebaya Sekar.
"Sekar," bisiknya.
"Malam ini, Guntur bercerita tentang Rini. Tentang sahabatnya yang dijodohkan paksa. Tentang Rini yang bunuh diri setelah menikah."
Ia memejamkan mata.
"Aku tidak ingin itu terjadi padamu. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
Ia memeluk bantal itu.
"Karena kau bukan hanya cinta pertamaku. Kau adalah harapanku. Satu, satunya harapan yang tersisa."
BAB 17
MENCARI TITIK TERANG
Sejak malam Guntur membuka rahasia masa lalunya tentang Rini, sahabat yang dijodohkan paksa dan bunuh diri tiga bulan setelah menikah, suasana di antara tim berubah menjadi lebih serius. Bukan hanya karena mereka sekarang tahu bahwa Guntur membawa luka lama yang belum sembuh, tapi karena mereka sadar bahwa waktu semakin sempit.
Setiap hari yang berlalu tanpa tindakan adalah hari di mana Sekar semakin terperangkap dalam penderitaan.
Setiap hari yang berlalu tanpa kemajuan adalah hari di mana Ferry semakin berkuasa.
Setiap hari yang berlalu tanpa titik terang adalah hari di mana harapan perlahan memudar.
Tapi malam ini, setelah berminggu, minggu berada dalam kegelapan, akhirnya sebuah titik terang muncul.
Bukan dari arah yang mereka duga.
Bukan dari LBH yang dihubungi Nisa.
Bukan dari media yang dijanjikan Laras.
Bukan dari polisi yang katanya pro, rakyat.
Tapi dari sumber yang paling tidak terduga: seorang pembantu rumah tangga yang bekerja di rumah Ferry selama tiga tahun terakhir.
Namanya Mariyem.
TELEPON TENGAH MALAM
Jam satu dini hari, ponsel Arga bergetar keras di samping bantalnya.
Ia terbangun dengan kaget. Jantungnya berdebar kencang. Biasanya tidak ada yang menelepon tengah malam kecuali ada kabar buruk, kabar tentang Mbah Jayarasa, tentang ibunya, tentang Sekar.
"Ya?" jawabnya dengan suara serak.
"Mas Arga? Ini Laras. Maaf mengganggu jam segini. Tapi ini penting."
"Ada apa?"
"Saya baru dapat telepon dari seorang sumber. Namanya Mariyem. Pembantu rumah tangga di rumah Ferry. Dia mau bertemu dengan kita. Dia punya informasi penting tentang Sekar."
Arga duduk di dipan. Pikiran yang tadinya masih setengah tidur kini langsung segar.
"Informasi apa?"
"Dia tidak mau bilang lewat telepon. Katanya takut disadap. Dia minta kita datang ke rumahnya besok siang."
"Di mana?"
"Di kampungnya. Di utara kota. Jauh dari perumahan Mutiara."
"Apa ini aman?"
"Tidak tahu. Tapi kita tidak punya pilihan lain."
"Baik. Besok siang kita ke sana. Aku kabari yang lain."
"Jangan kabari semua. Cukup kamu, aku, dan Guntur. Semakin sedikit yang tahu, semakin aman."
"Siap."
PAGI YANG GELISAH
Arga tidak bisa tidur lagi setelah telepon itu.
Ia berbaring di dipan, memandang langit, langit kamar yang gelap, memikirkan Mariyem, pembantu rumah tangga yang bekerja di rumah Ferry.
Siapa dia?
Kenapa dia mau membantu?
Apa motifnya?
Apakah ini jebakan?
Ia tidak tahu.
Tapi ia harus mengambil risiko.
Jam enam pagi, ia sudah mandi.
Jam setengah tujuh, ia sudah sarapan nasi goreng buatan Mbok Darmi.
Jam tujuh, Guntur datang dengan motor bututnya.
"Ayo, arga," katanya. "Laras sudah menunggu di perempatan."
Mereka berangkat.
Perjalanan ke utara memakan waktu sekitar satu jam. Melewati jalanan macet, pasar tradisional, perumahan padat, hingga akhirnya sampai di sebuah kampung di pinggiran kota, kampung dengan rumah, rumah sederhana, jalan tanah becek, dan sungai kecil yang airnya keruh.
Laras sudah menunggu di depan sebuah warung kopi.
"Ikuti saya," katanya.
Mereka berjalan kaki menyusuri gang sempit, melewati rumah, rumah penduduk, sampai di sebuah rumah kecil berdinding bambu dan atap seng.
"Ini rumah Mariyem," kata Laras.
Ia mengetuk pintu.
Tiga kali.
Pelan.
"Bu Mariyem! Ini Laras!"
Pintu terbuka.
Seorang perempuan paruh baya berdiri di ambang pintu. Usianya sekitar empat puluh tahun. Wajahnya lelah, keriput lebih cepat dari usianya. Kulitnya gelap karena sering terpapar matahari. Ia memakai daster lusuh dan sandal jepit karet.
"Masuk," katanya pelan. "Jangan lama, lama. Takut ketahuan."
DI RUANG TAMU SEMPIT
Ruang tamu rumah Mariyem hanya berukuran dua meter kali dua meter. Hanya ada satu kursi kayu, satu dipan bambu, dan satu meja kecil dari triplek.
Mariyem duduk di dipan bambu. Arga, Guntur, dan Laras duduk di lantai beralas tikar pandan.
"Bu Mariyem," kata Laras, "ini Arga. Pacar Sekar. Ini Guntur. Teman kami."
Mariyem memandang Arga lama. Matanya berkaca, kaca.
"Kamu Arga?"
"Iya, Bu."
"Kamu yang dulu sering kirim surat untuk Sekar?"
"Iya, Bu."
"Surat-surat itu saya yang sembunyikan."
Arga terkesiap. "Apa?"
"Ferry menyuruh saya menyembunyikan surat-surat itu. Katanya, jangan sampai Sekar baca. Nanti dia kabur."
"Dari mana Bu Mariyem tahu surat-surat itu?"
"Saya yang mengambilnya dari kantor pos setiap minggu. Ferry punya perjanjian rahasia dengan kepala kantor pos. Semua surat untuk Sekar disita. Tidak pernah diteruskan."
Guntur mengepalkan tangannya. "Bajingan."
"Saya tahu," kata Mariyem. "Saya tahu Ferry bajingan. Tapi saya tidak bisa berbuat apa, apa. Saya cuma pembantu. Suami saya sudah meninggal. Anak saya tiga. Saya butuh pekerjaan."
"Tapi kenapa sekarang Bu Mariyem mau membantu?" tanya Laras.
Mariyem menunduk. Tangannya gemetar.
"Karena saya kasihan pada Sekar. Dia masih muda. Masih punya mimpi. Masih punya masa depan. Tidak pantas dia diperlakukan seperti itu."
Air mata Mariyem jatuh.
"Setiap malam, dia menangis. Setiap malam, dia memanggil nama Arga. Setiap malam, dia bilang, 'Bu Mariyem, tolong saya. Saya tidak tahan di sini.'"
"Tapi Bu Mariyem tidak bisa berbuat apa, apa?"
"Awalnya tidak. Tapi sekarang... sekarang saya punya bukti."
BUKTI DARI MARIYEM
Mariyem mengeluarkan sebuah amplop coklat dari bawah dipan.
Ia membukanya.
Isinya: puluhan lembar foto, rekaman suara dalam beberapa kaset kecil, dan sebuah buku catatan.
"Ini," katanya sambil menyerahkan foto, foto itu pada Arga.
Arga memandang foto, foto itu.
Foto Sekar duduk di sudut kamar, wajahnya pucat, matanya kosong.
Foto Sekar memeluk bantal, menangis.
Foto Sekar berdiri di balkon, memandang ke arah pohon jambu.
Foto Sekar tidur di lantai karena tidak kerasan di kasur.
Foto Sekar lebam di lengannya, bekas cubitan.
Foto Sekar pingsan di kamar mandi.
Darah Arga berhenti mengalir.
"Ferry," geramnya. "Apa yang dia lakukan pada Sekar?"
"Menyiksa," kata Mariyem datar. "Tidak secara fisik setiap hari. Tapi psikis. Setiap saat. Katanya, Sekar harus patuh. Katanya, Sekar harus mencintainya. Katanya, Sekar harus melupakan Mas Arga."
Guntur mengambil foto, foto itu. Diamatinya satu per satu.
"Ini bukti kuat," katanya. "Kekerasan dalam rumah tangga. Perjodohan paksa. Penyekapan. Bisa dibawa ke pengadilan."
"Tapi sampai di pengadilan, Ferry punya pengacara hebat," kata Laras.
"Kita tidak perlu sampai pengadilan. Kita cukup tekan dia. Dengan bukti, bukti ini, dia takut. Reputasinya hancur. Keluarganya malu. Bisnisnya terganggu."
REKAMAN SUARA
Mariyem mengeluarkan kaset, kaset kecil itu.
"Ini rekaman percakapan Ferry dengan orang tuanya. Dengan pengacaranya. Dengan preman-preman bayarannya."
"Rekaman ini bagaimana bisa Bu Mariyem dapatkan?" tanya Laras curiga.
"Saya pasang alat perekam di ruang kerja Ferry. Saya sembunyikan di bawah meja. Ferry tidak tahu."
"Risiko besar."
"Saya tahu. Tapi ini satu, satunya cara untuk mengungkap kejahatannya."
Salah satu kaset diputar menggunakan tape recorder kecil milik Mariyem.
Suara Ferry terdengar jelas.
"Pokoknya, Sekar harus menikah dengan saya. Saya tidak peduli dia cinta atau tidak. Yang penting status. Yang penting di mata publik, saya punya istri dari desa. Istri yang lugu. Istri yang tidak banyak tingkah."
"Tapi Mas Ferry, bagaimana kalau dia melawan?" suara orang tua Sekar.
"Beri dia obat. Supaya tenang. Saya sudah punya dokter langganan."
"Obat apa?"
"Obat penenang. Dosis tinggi. Setiap malam. Biar dia tidur. Biar tidak ribut."
Guntur mematikan tape recorder.
Wajahnya pucat.
"Ferry memberi Sekar obat penenang dosis tinggi?"
"Iya," kata Mariyem. "Setiap malam. Saya yang menyuruh minum. Saya tidak tega. Tapi Ferry mengancam akan memecat saya jika tidak patuh."
"Sejak kapan?" tanya Arga.
"Sejak tiga bulan lalu. Sekar semakin kurus. Kadang pingsan. Kadang bicara tidak jelas."
"Dokternya siapa?"
"Dokter langganan keluarga Ferry. Praktek di perumahan Mutiara. Namanya Dokter Raka."
BUKU CATATAN
Mariyem mengeluarkan buku catatan terakhir.
"Ini catatan harian saya. Setiap hari, saya menulis apa yang terjadi di rumah itu. Ferry marah-marah. Ferry memukul pembantu. Ferry menyiksa Sekar. Ferry bertemu dengan preman. Ferry bertemu dengan pejabat. Semua saya catat. Lengkap dengan tanggal dan jam."
Arga membolak, balik buku itu.
Tangannya gemetar.
Matanya basah.
15 Januari: Sekar tidak mau makan. Ferry marah. Dia pukul meja sampai pecah. Sekar menangis seharian.
3 Februari: Ferry bawa dokter Raka. Dokter beri suntikan pada Sekar. Sekar lemas. Tidak bisa bangun selama dua hari.
22 Maret: Sekar lolos ke balkon. Dia mau loncat. Saya tarik paksa. Ferry marah pada saya. Saya dilempari gelas.
*10 April: Sekar minta saya membelikan HP diam-diam. Saya belikan. Dia pakai untuk menghubungi seseorang. Saya tidak tahu siapa. Saya hanya disuruh mengambilkan di pos satpam.*
Arga berhenti di halaman itu.
Sekar minta membelikan HP.
Sekar menghubungi seseorang.
Siapa?
Apakah dia menghubungi aku?
Tapi nomor HP, ku tidak berubah sejak dari desa.
Kenapa aku tidak pernah mendapat telepon?
"Mariyem," panggil Arga.
"Iya, Mas."
"HP itu, sekarang di mana?"
"Masih pada Sekar. Dia simpan di balik bantal. Tapi tidak pernah bisa dipakai karena tidak ada sinyal. Rumah Ferry dijaga dengan alat peredam sinyal."
"Alat peredam sinyal?"
"Iya. Supaya Sekar tidak bisa menghubungi siapa pun. Supaya tidak ada yang bisa mendeteksi keberadaannya."
BUKTI YANG CUKUP
Setelah dua jam berbincang dengan Mariyem, Arga, Guntur, dan Laras pamit pulang.
Mereka membawa amplop coklat berisi foto, rekaman, dan buku catatan.
"Bu Mariyem," kata Arga sebelum pergi.
"Iya, Mas."
"Terima kasih. Saya tidak tahu harus membalas kebaikan Ibu."
"Tidak usah dibalas. Saya hanya ingin sekar bisa bebas. Saya hanya ingin dia bahagia."
"Ibu tidak takut pada Ferry?"
Mariyem tersenyum pahit.
"Saya sudah tidak punya apa-apa, Mas. Rumah ini. Anak, anak ini. Itu saja. Jika Ferry mau mengambilnya, ambillah. Yang penting dosa saya berkurang."
"Bu Mariyem..."
"Sudah, Mas. Pergi. Jangan lama, lama. Takut ketahuan."
Mereka keluar rumah.
Perjalanan pulang terasa lebih ringan.
Bukan karena masalah selesai. Tapi karena mereka akhirnya punya senjata untuk melawan.
PERTEMUAN DENGAN LBH
Sore harinya, mereka bertemu dengan pengacara LBH.
Namanya Bu Rina. Perempuan tangguh. Usia sekitar empat puluh tahun. Berpengalaman menangani kasus kekerasan dalam rumah tangga, perjodohan paksa, dan trafficking.
"Ini bukti yang kuat," kata Bu Rina setelah memeriksa foto, rekaman, dan catatan Mariyem.
"Apakah cukup untuk membawa Ferry ke pengadilan?" tanya Nisa.
"Bisa. Tapi prosesnya lama. Bisa berbulan, bulan. Bahkan bertahun, tahun."
"Kita tidak punya waktu lama. Ferry akan menikah dengan Sekar dalam waktu dekat."
"Maka kita gunakan tekanan publik. Kita sebarkan bukti-bukti ini ke media. Ke LSM. Ke Komnas Perempuan. Ke DPR. Biar publik tahu. Biar Ferry malu. Biar dia terpaksa melepaskan Sekar."
"Apakah itu bisa?"
"Bisa. Asalkan kita punya saksi yang berani bersaksi di depan umum."
"Mariyem?"
"Iya. Mariyem adalah kunci. Tanpa dia, bukti-bukti ini hanya barang mati."
MARIYEM DI ANTARA DUA PILIHAN
Malam itu, Arga menelepon Mariyem.
"Bu Mariyem, saya Arga."
"Iya, Mas."
"Bu Rina dari LBH membutuhkan Ibu sebagai saksi. Bersedia?"
Mariyem diam lama.
"Bu Mariyem?"
"Saya... takut, Mas. Ferry tahu di mana rumah saya. Dia tahu di mana anak-anak saya sekolah."
"Kita akan lindungi Ibu. Kita akan tempatkan Ibu dan anak, anak di rumah aman."
"Apakah itu cukup?"
"Kita akan berusaha sekuat tenaga."
Mariyem menangis.
"Mas Arga... saya tidak tahu harus memilih mana. Antara keselamatan anak-anak saya dan kebebasan Sekar."
"Bu Mariyem, saya tidak akan memaksa. Ibu yang memutuskan."
"Beri saya waktu, Mas. Sehari. Saya akan jawab besok."
"Baik, Bu."
KEPUTUSAN MARIYEM
Keesokan harinya, Mariyem menelepon Arga.
"Mas Arga, saya sudah memutuskan."
"Baik, Bu."
"Saya akan bersaksi."
Arga lega. "Terima kasih, Bu. Saya tidak tahu harus membalas..."
"Jangan balas apa, apa, Mas. Lakukan yang terbaik untuk Sekar. Itu balasan yang cukup."
Mariyem menutup telepon.
Arga memandang ponselnya.
Ia tersenyum.
Titik terang semakin dekat.
MALAM DI KAMAR
Jam sepuluh malam, Arga masuk ke kamar.
Ia membuka jendela.
Udara malam masuk dingin.
Ia memeluk bantal kecil dari kebaya Sekar.
"Sekar," bisiknya.
"Hari ini kita dapat titik terang. Mariyem, pembantumu, bersedia menjadi saksi. Dia punya bukti. Rekaman. Foto. Catatan harian."
Ia memejamkan mata.
"Kita akan selamatkan kamu, Sekar. Tidak lama lagi. Janji."
BAB 18
PENGKHIANATAN KECIL
Titik terang yang muncul dari Mariyem ternyata hanya berumur pendek.
Seperti lilin yang dinyalakan di tengah badai. Seperti bintang timur yang tertutup awan tepat sebelum fajar. Seperti harapan yang digenggam erat tapi tiba, tiba direbut oleh tangan tak terlihat.
Dua hari setelah pertemuan dengan Mariyem, penghianatan datang.
Bukan dari musuh.
Bukan dari luar.
Tapi dari dalam lingkaran terdekat mereka.
Dari seseorang yang selama ini mereka anggap teman.
Dari seseorang yang selama ini mereka percaya.
Dari seseorang yang selama ini ikut merencanakan penyelamatan Sekar.
Pengkhianat itu kecil.
Bukan tokoh besar.
Bukan dalang di balik layar.
Bukan musuh bebuyutan.
Tapi seorang perempuan muda dengan wajah polos dan senyum manis.
Seorang yang tidak pernah dicurigai siapa pun.
Seorang yang bahkan Arga anggap sebagai saudara.
Namanya Dewi.
DEWI YANG HILANG
Dewi, perempuan yang dulu membantu Arga mencari kos di hari pertamanya tiba di kota, sudah seminggu tidak muncul.
Tidak di terminal tempatnya biasa berjualan koran.
Tidak di kos-kosan tempatnya tinggal.
Tidak di toko roti tempatnya bekerja paruh waktu.
Tidak di kampus tempatnya kuliah.
Tidak di mana pun.
Ponselnya tidak aktif.
Media sosialnya tidak diperbarui.
Teman-temannya tidak tahu.
Arga mulai khawatir sejak tiga hari lalu. Tapi ia sibuk dengan bukti, bukti dari Mariyem dan persiapan pelaporan ke LBH. Ia tidak punya waktu untuk mencari Dewi.
"Laras," panggil Arga setelah rapat dengan Bu Rina.
"Iya."
"Apa kabar Dewi?"
Laras mengerutkan kening. "Dewi? Siapa itu?"
"Perempuan yang dulu membantu saya cari kos. Teman di terminal. Mbak kenal?"
"Oh, Dewi. Iya, saya kenal. Tapi sudah lama tidak bertemu. Kenapa?"
"Dia hilang. Seminggu tidak muncul."
Laras terdiam. Wajahnya berubah.
"Hilang?"
"Iya. Saya sudah tanya teman-temannya. Tidak ada yang tahu."
"Ini tidak baik, Arga. Bisa jadi Ferry yang, "
"Belum tentu. Jangan buru, buru menyimpulkan."
Tapi firasat Laras ternyata benar.
Dewi tidak hilang.
Dewi dijemput.
Bukan oleh Ferry.
Tapi oleh preman bayaran Ferry.
Dan Dewi tidak diculik.
Dewi pergi dengan sukarela.
TELEPON DARI DEWI
Malam itu, pukul sebelas, ponsel Arga berdering.
Nomor tidak dikenal.
Arga mengangkat.
"Halo?"
"Mas Arga." Suara perempuan. Lirih. Bergetar. Takut.
"Dewi?"
"Iya, Mas. Saya Dewi."
"Dewi! Kamu di mana? Seminggu kamu hilang! Kami khawatir!"
"Maaf, Mas. Saya... saya di rumah Ferry."
Darah Arga berhenti mengalir. "Apa? Di rumah Ferry?"
"Iya, Mas. Saya... saya dibayar untuk jadi mata-mata. Ferry menyuruh saya mengawasi Mas Arga dan teman, teman. Setiap hari. Setiap malam. Saya lapor semua."
Arga terdiam.
Pikirannya kosong.
Dadanya sesak.
Tangannya gemetar.
"Dewi," bisiknya. "Kamu... kamu mata-mata Ferry?"
"Maaf, Mas. Maaf. Saya terpaksa. Ferry mengancam akan mengusir saya dari kos. Mengancam akan memecat saya dari kerja. Mengancam akan melaporkan saya ke polisi karena hutang."
"Kenapa kamu tidak cerita pada kami?"
"Karena Ferry bilang, jika saya cerita, dia akan bunuh saya. Bunuh adik saya. Bunuh ibu saya."
"Kamu percaya?"
"Ferry orang berkuasa, Mas. Dia bisa melakukan apa saja."
Arga menutup mata.
Ia menghela napas panjang.
Dewi, perempuan yang membantunya hari pertama di kota, adalah mata-mata Ferry sejak awal.
Semua yang mereka rencanakan. Semua yang mereka diskusikan. Semua yang mereka rahasiakan.
Dewi tahu.
Dewi dengar.
Dewi lapor.
"Mas Arga," suara Dewi dari ujung sana.
"Iya."
"Ferry tahu semua. Tentang Mariyem. Tentang bukti, bukti. Tentang rencana ke LBH. Tentang rencana pers. Tentang semuanya."
"Kapan Ferry tahu?"
"Sejak awal. Saya lapor setiap hari."
"Termasuk tentang pertemuan kita dengan Mariyem?"
Termasuk. Saya yang memberi tahu Ferry jadwal dan lokasi pertemuan."
Arga membanting ponselnya ke dinding.
Ponsel itu hancur.
Pecah.
Berserakan di lantai.
SETELAH TELEPON
Guntur yang sedang duduk di halaman kos mendengar suara benturan dari kamar Arga.
Ia berlari.
"Arga! Ada apa?"
Arga duduk di dipan. Wajahnya pucat. Matanya kosong. Tangannya berdarah—terkena pecahan ponsel.
"Apa yang terjadi?" tanya Guntur.
Arga tidak menjawab.
Ia hanya memandang dinding.
Guntur mengambil handuk kecil, membalut tangan Arga.
"Kamu bicara, Arga. Jangan diam."
"Guntur... Dewi mata, mata Ferry."
"Apa?"
"Dewi. Perempuan yang dulu bantu saya cari kos. Dia mata-mata Ferry. Sejak awal. Dia lapor semua. Rencana kita. Bukti, bukti. Mariyem. Semua."
Guntur terdiam.
Ia melepaskan balutan di tangan Arga.
Ia berdiri.
Ia berjalan ke dinding.
Ia membanting kepalan tangannya ke tembok.
DUAR!
"BAJINGAN!" teriaknya.
Mbok Darmi yang sedang tidur terbangun. Ia keluar kamar, menghampiri anak, anak muda itu.
"Ada apa, Le? Berisik sekali."
"Maaf, Mbok," kata Guntur sambil mengatur napas. "Ada masalah."
"Masalah apa?"
"Teman kami mata-mata musuh."
Mbok Darmi menghela napas. Ia duduk di kursi plastik.
"Cerita."
Guntur bercerita.
Mbok Darmi mendengarkan.
Tak banyak komentar.
"Hidup itu persilangan," katanya setelah Guntur selesai. "Ada orang datang sebagai teman, lalu pergi sebagai musuh. Ada orang datang sebagai musuh, lalu pergi sebagai teman."
"Sekarang?" tanya Guntur.
"Sekarang, kumpulkan teman-temanmu. Diskusikan. Jangan bertindak sendiri."
PERTEMUAN DARURAT
Jam dua belas malam, semua dikumpulkan.
Guntur. Faruq. Nisa. Dimas. Laras.
Mereka duduk di halaman kos.
Lampu penerangan redup.
Suasana tegang.
Arga cerita tentang telepon dari Dewi. Tentang pengakuan Dewi sebagai mata-mata Ferry. Tentang semua rahasia yang sudah bocor.
Faruq membanting gelas ke tanah. Pecah.
"NISA! SIAPA LAGI YANG MATA-MATA?" teriaknya.
"Aku tidak tahu, Faruq," jawab Nisa tenang. "Tapi kita tidak boleh panik."
"PANIK? RAHASIA KITA BOCOR SEMUA! BUKTI KITA DIAMBIL FERRY! MARIYEM DALAM BAHAYA!"
"Iya, Faruq. Aku tahu. Tapi panik tidak akan menyelesaikan masalah."
Dimas yang biasanya ceria, kini diam. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar.
"Dimas, kenapa?" tanya Guntur curiga.
"Saya... saya takut."
"Takut apa?"
"Takut saya juga mata-mata."
Semua menoleh.
"Apa maksudmu?" tanya Laras.
Dimas menunduk. Air matanya jatuh.
"Dewi... Dewi itu... pacar saya."
Ruangan hening.
"Dewi pacarmu?" tanya Guntur.
"Iya. Tapi kami sudah putus sebulan lalu. Saya tahu dia mata-mata Ferry. Saya tahu sejak awal. Tapi saya tidak tega melaporkannya."
"KAMU TAHU TAPI DIAM?" teriak Faruq.
"Maaf, Faruq. Maaf."
Guntur berdiri. Ia berjalan ke arah Dimas.
Dimas mendekat.
"Kamu kenapa, Guntur?"
Guntur mengepalkan tangan.
Dimas memejamkan mata.
Tapi pukulan itu tidak datang.
Guntur hanya menepuk bahu Dimas.
"Kamu bodoh, Dimas."
"Iya. Saya bodoh."
"Tapi kamu temanku. Kita seleseikan ini bersama."
MARIYEM DALAM BAHAYA
Laras yang sejak tadi diam, angkat bicara.
"Kita harus evakuasi Mariyem."
"Sekarang?" tanya Nisa.
"Besok pagi. Paling lambat. Ferry pasti sudah tahu. Dia mungkin sudah mengirim preman ke rumah Mariyem malam ini juga."
"Apa kita bisa?" tanya Dimas.
"Bisa. Saya punya teman di LSM yang punya rumah aman."
"Ayo kita bergerak," kata Arga.
Mereka berlima, Arga, Guntur, Faruq, Nisa, Laras, berangkat dengan dua motor.
Dimas disuruh tinggal. "Kamu jaga kos," kata Guntur. "Lapor kalau ada yang mencurigakan."
Dimas mengangguk.
RUMAH MARIYEM
Jam satu dini hari, mereka tiba di kampung Mariyem.
Rumah kecil berdinding bambu dan atap seng itu gelap.
Tidak ada lampu.
Tidak ada suara.
Arga mengetuk pintu.
"Bu Mariyem! Ini Arga!"
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi. Lebih keras.
"Bu Mariyem!"
Masih tidak ada jawaban.
Guntur mendobrak pintu dengan bahunya.
Pintu terbuka.
Di dalam, kursi dan meja berserakan.
Kasur kosong.
Tidak ada Mariyem.
Tidak ada anak, anaknya.
"Ferry," geram Laras. "Dia sudah mengambil mereka."
Arga memandang sekeliling.
Di lantai, ada secarik kertas.
Ia mengambilnya.
Tulisan cetak komputer.
"Arga, kamu pikir kamu pintar? Kamu pikir bisa mengalahkan saya? Mariyem dan anak, anaknya sekarang dalam perlindungan saya. Mereka akan aman jika kamu berhenti mencari Sekar. Jika tidak, mereka akan hilang. Selamanya."
—F
Arga meremas kertas itu.
Ia berteriak.
"FERRY!!!"
Suaranya menggema di kampung yang sunyi.
Beberapa tetangga keluar rumah, mengintip, lalu masuk lagi.
Tidak ada yang berani membantu.
KEMBALI KE KOS
Perjalanan pulang terasa seperti perjalanan di neraka.
Motor melaju lambat.
Hujan mulai turun.
Gerimis.
Lalu deras.
Mereka basah kuyup.
Tidak ada yang bicara.
Tidak ada yang menangis.
Hanya diam.
Dan amarah.
Sampai di kos, jam tiga pagi.
Dimas masih terjaga. Wajahnya tegang.
"Bagaimana?" tanyanya.
"Gagal. Mariyem sudah diambil Ferry."
Dimas menunduk. "Ini salah saya."
"Bukan salahmu," kata Guntur. "Salah Dewi. Salah Ferry. Bukan salahmu."
"Tapi saya tahu Dewi mata-mata. Saya diam."
"Itu kesalahan. Tapi bukan yang terbesar."
"Apa yang terbesar?"
"Jika kamu menyerah sekarang."
PAGI YANG HUJAN
Matahari tidak muncul pagi itu.
Langit kelabu.
Hujan tidak berhenti.
Arga duduk di beranda kos, memandang air hujan yang jatuh dari atap seng.
Ia memegang peta usang pemberian Mbah Jayarasa.
Kertas itu basah oleh air hujan yang menerpa dari samping.
Tapi garis-garisnya tidak luntur.
Lingkaran merahnya tetap jelas.
"Di sini, dia pernah menangis," tulis Mbah Jayarasa.
"Apakah masih relevan, Mbah?" bisik Arga. "Apakah peta ini masih berguna?"
Ia tidak mendapat jawaban.
Tapi ia merasa ada tangan yang menepuk pundaknya.
Tangan tak terlihat.
Tangan Mbah Jayarasa.
"Le, peta itu tidak pernah salah. Hanya kita yang salah membaca."
Arga tersenyum.
Ia melipat peta itu.
Memasukkannya ke saku celana.
RAPAT DENGAN BU RINA
Siang itu, hujan reda.
Mereka mengadakan rapat darurat di kantor LBH.
Bu Rina sudah mendengar kabar tentang Mariyem.
"Ini pukulan telak," katanya. "Tanpa Mariyem, bukti kita lemah."
"Tidak ada saksi lain?" tanya Nisa.
"Mungkin ada. Tapi kita tidak punya waktu untuk mencari."
"Apa yang bisa kita lakukan?"
"Kita ubah strategi. Dari hukum ke media."
"Media?"
"Iya. Kita sebarkan cerita ini ke publik. Tanpa menyebut nama Mariyem. Tanpa bukti, bukti kuat. Cukup cerita."
"Apakah cukup?"
"Untuk membuat Ferry malu? Mungkin. Untuk membuat dia melepaskan Sekar? Tidak."
"Lalu?"
"Kita perlu bukti lain. Bukti yang tidak bisa dipalsukan. Bukti yang tidak tergantung pada satu saksi."
"Seperti apa?"
Bu Rina memandang Arga.
"Kamu. Kamu adalah bukti hidup. Kamu adalah korban. Kamu adalah saksi."
"Saya?"
"Iya. Kamu. Ferry mengancammu. Ferry menyiksamu secara psikis. Itu juga kejahatan."
"Apa bisa?"
"Bisa. Tapi risikonya besar. Kamu harus bersedia menjadi publik figur. Kamu harus bersedia tampil di media. Kamu harus bersedia diwawancarai, difoto, diekspos."
"Saya siap, Bu."
"Kamu tidak takut?"
"Saya lebih takut kehilangan Sekar."
PENGKHIANATAN KECIL BERGANDA
Malam itu, Dimas menerima pesan singkat dari Dewi.
"Maaf. Saya tidak bisa memilih. Ferry mengancam keluarga saya. Saya lari ke luar kota. Jangan cari saya. Jaga diri. —D"
Dimas menunjukkan pesan itu pada Arga.
"Kita kehilangan dua orang dalam satu hari," kata Guntur.
"Mariyem dan Dewi."
"Bukan kehilangan. Mereka diambil."
"Apakah beda?"
Guntur menghela napas. "Beda. Kehilangan berarti mereka pergi sendiri. Diambil berarti mereka bisa kembali."
"Bisakah?"
"Entahlah."
MALAM YANG BERAT
Jam sebelas malam, semua pulang.
Arga masuk ke kamar.
Ia membuka jendela.
Udara malam masih dingin.
Bau tanah basah karena hujan.
Ia memeluk bantal kecil dari kebaya Sekar.
"Sekar," bisiknya.
"Hari ini kita kehilangan Mariyem. Juga Dewi. Dewi ternyata mata-mata Ferry. Aku tidak tahu harus marah atau sedih."
Ia memejamkan mata.
"Tapi aku tidak akan menyerah. Aku tidak akan membiarkan Ferry menang."
Ia memeluk bantal itu.
"Karena kau menungguku. Aku harus kuat. Untukmu."
BAB 19
JEJAK DIGITAL
Setelah kehilangan Mariyem dan pengkhianatan Dewi, tim Arga berada di titik terendah. Bukti, bukti fisik yang mereka kumpulkan dengan susah payah, foto, rekaman, catatan harian, kini tidak lagi berguna tanpa saksi yang berani bersaksi. Ferry telah mengambil Mariyem dan anak, anaknya ke tempat yang tidak diketahui. Dewi telah melarikan diri ke luar kota. Dua orang yang bisa menjadi kunci pembebasan Sekar kini lenyap seperti ditelan bumi.
Tapi di tengah keputusasaan itu, ada satu harapan yang tersisa: jejak digital.
Dunia maya tidak pernah lupa.
Setiap pesan, setiap panggilan, setiap transaksi, setiap lokasi yang pernah dikunjungi, semua terekam di suatu tempat, di server, di cloud, di hard disk, di kartu SIM yang dibuang, di ponsel yang sudah tidak dipakai.
Dan Dimas, kurir yang kelihatannya biasa-biasa saja, yang hanya lulusan SMA, yang kerjanya keliling kota mengantar paket, ternyata memiliki keahlian yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun.
Dunia digital adalah medan perangnya.
Dan malam ini, untuk pertama kalinya, ia membuka senjata rahasianya.
DIMAS YANG BERBEDA
Malam itu, sekitar pukul sembilan, Dimas mengirim pesan singkat ke grup.
"Kumpul di kos. Ada yang mau kutunjukkan."
Arga, Guntur, Faruq, Nisa, dan Laras datang. Mereka duduk di halaman kos seperti biasa. Mbok Darmi menyuguhkan teh jahe dan pisang goring, ritual yang sudah tidak pernah terlewat.
Tapi kali ini, Dimas tidak duduk di kursi plastik seperti biasanya. Ia berdiri di depan mereka, di bawah lampu penerangan yang redup. Wajahnya serius, lebih serius dari yang pernah mereka lihat. Matanya berapi, api. Tangannya memegang sebuah laptop tua berstiker Doraemon yang sudah mengelupas di beberapa bagian.
"Dimas," panggil Arga. "Kamu kenapa? Kok serius banget?"
Dimas tidak menjawab. Ia membuka laptopnya, menyalakannya, menunggu beberapa saat hingga layar menampilkan desktop dengan wallpaper foto motor bututnya.
"Mas Arga," katanya akhirnya.
"Iya."
"Selama ini, Mas Arga tahu saya kerja jadi kurir. Antar paket keliling kota. Kerja dari pagi sampai malam. Gaji pas-pasan. Hidup pas-pasan."
"Iya. Saya tahu."
"Tapi Mas Arga tidak tahu satu hal."
"Apa?"
Dimas menarik napas panjang. Jari, jarinya menari, nari di atas keyboard laptop dengan kecepatan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Tap, tap, tap, tap, tap.
Layar berganti.
Sebuah program muncul. Tampilannya gelap, hanya teks, teks hijau di latar hitam, seperti film, film hacker di Hollywood.
"Saya juga seorang...," Dimas mencari kata yang tepat. "...penggemar teknologi. Sebut saja begitu. Saya suka otak-atik sistem. Saya suka cari celah keamanan. Saya suka... membobol data."
"HACKER?" Faruq hampir berteriak.
Dimas mengangguk pelan. "Bukan hacker profesional. Saya belajar otodidak. Dari YouTube. Dari forum, forum bawah tanah. Dari teman-teman di dunia maya."
"Selama ini kamu diam?" tanya Guntur.
"Saya tidak pernah punya alasan untuk menggunakannya. Sampai sekarang."
"Dan sekarang?"
Dimas memandang Arga.
"Ferry pikir dia aman. Dia pikir dia bisa menghapus semua jejak. Dia pikir dia bisa menyembunyikan Sekar selamanya. Tapi dia lupa satu hal: di era digital, tidak ada yang benar, benar tersembunyi."
PONSEL KORBAN
"Mas Arga," kata Dimas sambil terus mengetik.
"Iya."
"Kamu ingat ponsel yang kamu banting ke dinding tiga hari lalu?"
"Iya. Banting. Hancur."
"Kamu buang?"
"Iya. Ke tempat sampah di belakang kos."
"Sisa, sisanya masih ada?"
"Entahlah. Sudah tiga hari. Mungkin sudah diambil pemulung."
Dimas berhenti mengetik. Ia memandang Arga dengan mata kecewa.
"Mas Arga, di era digital, ponsel yang hancur sekalipun bisa diambil datanya. Selama chip memorinya masih utuh, selama kartu SIM, nya masih ada, selama baterainya tidak meledak data bisa dipulihkan."
"Tapi sudah tiga hari —"
"Masih mungkin. Aku bisa coba."
Dimas berdiri. "Tunjukkan tempat sampahnya."
Faruq dan Nisa ikut. Mereka berempat berjalan ke belakang kos, ke tempat sampah plastik besar yang biasanya diangkut petugas kebersihan setiap hari Senin dan Kamis. Hari ini Jumat. Sampah sudah menumpuk empat hari.
Bau busuk menyengat.
Belatung merayap di mana, mana.
Lalat beterbangan.
"Astaga," gumam Faruq sambil menutup hidung.
Dimas tidak peduli. Ia mulai mengais sampah satu per satu. Kantong bekas. Bungkus makanan. Botol plastik. Kaleng minuman. Kertas. Daun kering.
"DIMAS, NANTI KAMU SAKIT!" teriak Nisa dari kejauhan.
"Saya sudah pernah menggali sampah yang lebih busuk dari ini," jawab Dimas tanpa menoleh.
"Kapan?" tanya Faruq.
"Waktu saya kecil. Keluarga saya miskin. Saya mencari botol bekas untuk dijual ke pengepul."
Faruq terdiam. Nisa menunduk. Mereka tidak pernah tahu masa lalu Dimas.
Lima belas menit kemudian, Dimas menemukan sesuatu.
Sebuah ponsel dalam kondisi hancur. Layar pecah. Bodi terlepas. Baterai copot. Tapi chip memori, chip memori masih utuh.
"Ini dia," kata Dimas tersenyum. "Chip memorinya masih bagus."
"Bisa dipulihkan?" tanya Arga.
"Bisa. Tapi butuh waktu. Mungkin semalaman."
"Apa yang akan kamu cari?"
Dimas berdiri. Ia membersihkan tangannya yang kotor dengan kain lap yang ia bawa dari kos.
"Data panggilan terakhir. SMS terakhir. Lokasi terakhir saat ponsel masih hidup. Dan satu hal lagi."
"Apa?"
"Rekaman percakapan."
Arga mengerutkan kening. "Perekam percakapan?"
"Iya. Semua ponsel modern punya fitur itu. Tersembunyi. Tidak semua orang tahu. Tapi datanya tetap tersimpan."
"Termasuk ponsel murahanku?"
Dimas tersenyum. "Termasuk. Saya yang memasang aplikasinya waktu itu. Tanpa sepengetahuan Mas Arga."
"KAMU MEMASANG APLIKASI MATA-MATA DI PONSELKU?"
"Untuk berjaga, jaga. Maaf. Saya tidak bermaksud jahat. Tapi saya tahu konflik dengan Ferry akan semakin panas. Saya butuh alat untuk merekam jika sesuatu terjadi."
Arga menghela napas.
"Sudahlah. Tidak usah dimarahi. Yang penting sekarang bisa membantu."
DI KAMAR DIMAS
Jam sepuluh malam, mereka pindah ke kamar Dimas.
Kamar itu kecil, lebih kecil dari kamar Arga. Hanya muat satu dipan, satu meja komputer, dan satu lemari pakaian. Dindingnya dipenuhi poster tokoh, tokoh fiksi ilmiah. Di meja komputer, dua monitor berukuran dua puluh empat inci berdiri berjajar.
"Ini ruang komandoku," kata Dimas sambil duduk di kursi gaming yang joknya sudah robek.
"Ruang komando?" Faruq tertawa. "Kayak di film aja."
"Ya. Ini ruang komando perang melawan Ferry."
Dimas menyalakan kedua monitor.
Layar menyala.
Tampilan desktop yang rapi, ikon, ikon berjejer di sisi kiri, taskbar di bagian bawah, wallpaper foto pemandangan gunung.
Ia memasukkan chip memori ke dalam card reader.
Laptop kedua ia sambungkan ke monitor utama.
Beberapa aplikasi ia buka.
"Apa itu?" tanya Nisa sambil menunjuk sebuah aplikasi dengan logo mata satu.
"Software recovery data. Ini bisa memulihkan file yang sudah terhapus. Termasuk dari HP yang sudah hancur."
"Kamu belajar dari mana?"
"Internet. YouTube. Forum. Juga dari teman saya di Eropa."
"Kamu punya teman di Eropa?"
"Kadang. Bukan teman dekat. Cuma kenal di forum."
PROSES PEMULIHAN DATA
Dimas mulai bekerja.
Jari, jarinya menari di atas keyboard.
Tap, tap, tap, tap, tap.
Layar berganti dengan cepat.
Arga, Guntur, Faruq, Nisa, dan Laras hanya bisa memandang kagum.
Tap, tap, tap, tap, tap.
Sebuah jendela baru muncul. Teks, teks hijau di latar hitam. Seperti matriks.
"Mulai," bisik Dimas.
Proses pemulihan data berjalan.
Loading bar muncul di layar.
0%... 15%... 30%...
"Lama?" tanya Arga.
"Mungkin setengah jam. Tergantung seberapa parah kerusakan chip."
Mereka menunggu.
Tidak ada yang bicara.
Hanya suara kipas laptop yang berputar pelan.
Dan suara detak jantung mereka sendiri.
45%... 60%... 75%...
"Semoga berhasil," bisik Nisa.
"Semoga," jawab Laras.
90%... 95%... 99%...
100%
"YES!" teriak Dimas.
Semua mendekat.
Monitor menampilkan ribuan file.
"Yang mana yang harus kita lihat?" tanya Faruq.
"Data panggilan. SMS. Lokasi. Rekaman. Semua yang berhubungan dengan Ferry."
Dimas membuka folder data panggilan.
Daftar nomor telepon muncul.
Nomor Arga.
Nomor ibu Arga di desa.
Nomor Guntur, Faruq, Nisa, Laras.
Nomor Dimas sendiri.
Nomor Dewi.
"Semua nomor ada di sini," kata Dimas.
"Termasuk nomor Ferry?" tanya Guntur.
"Nggak tahu. Kita cari."
Dimas mengetik kata kunci "Ferry" di kolom pencarian.
Tidak ada hasil.
"Kencana."
Tidak ada hasil.
"FK."
Tidak ada hasil.
"Bajingan."
Tidak ada hasil.
"Mungkin nomornya tidak tersimpan dengan nama. Kita harus cari manual."
CARI NOMOR FERRY
Dimas membuka folder SMS.
Ribuan pesan.
"Dari siapa?" tanya Nisa.
"Kebanyakan dari Mas Arga. Juga dari Guntur, Faruq, saya, Nisa, Laras. Semua tersimpan di sini."
"Termasuk pesan dari nomor tidak dikenal?"
"Termasuk."
Dimas memfilter pesan dari nomor tidak dikenal.
Hasilnya: dua belas pesan.
"Yang mana?" tanya Guntur.
"Saya baca satu per satu."
Pesan pertama: "Mas Arga, kamu sudah sampai di kota? Saya Dewi. Ini nomor saya. Simpan."
Pesan kedua: "Arga, ini Guntur. Kamu bisa hubungi saya di nomor ini untuk diskusi lebih lanjut."
Pesan ketiga: "Mas Arga, ini Laras. Saya dapat nomor ini dari Nisa. Besok kita ketemuan ya."
Pesan keempat: "Arga, ini Faruq. GW DAPET NOMOR LO DARI GUNTUR. BESOK GW AJAK MAKAN SATE. LO TRAKTIR."
Pesan kelima: "Selamat malam. Saya Ferry. Saya tahu kamu mencari Sekar. Saya tahu kamu ada di kota ini. Hentikan. Sebelum sesuatu terjadi pada orang, orang yang kamu cintai."
Semua menegang.
"Itu dari Ferry," kata Guntur.
"Iya," kata Dimas. "Tapi sayang, tidak ada balasan dari Mas Arga. Karena Mas Arga tidak pernah membalas nomor tidak dikenal."
"Lokasinya?" tanya Laras.
Dimas membuka folder lokasi.
Setiap kali ponsel menyala, lokasi GPS terekam.
Lokasi terakhir saat ponsel masih hidup: Jalan Mawar Hitam nomor 7, toko bangunan tempat Arga bekerja.
"Saat Mas Arga mematikan ponsel?" tanya Dimas.
"Setelah telepon dari Dewi, malam tiga hari lalu."
"Di mana?"
"Di kamarku. Kos. Belakang pasar."
"Itu tidak membantu. Ferry tidak akan mengirim preman ke kos. Terlalu ramai. Banyak saksi."
"Lalu?"
Dimas membuka folder rekaman.
Sebuah file audio muncul.
Tanggal: hari ini, jam setengah satu dini hari.
"Rekaman dari malam ketika Mas Arga telepon dengan Dewi."
Dimas mengklik file itu.
Suara Arga terdengar. Jelas. Tidak putus, putus.
Dewi? Kamu di mana? Seminggu kamu hilang! Kami khawatir.
Maaf, Mas. Saya... saya di rumah Ferry.
Ferry? Di rumah Ferry?
Iya, Mas. Saya... saya mata-mata Ferry.
Rekaman terus berjalan.
Suara Arga yang marah, kecewa, putus asa.
Suara Dewi yang menangis, meminta maaf, ketakutan.
Lalu suara lain.
Suara laki-laki.
Suara yang tidak asing bagi mereka.
Suara Ferry.
"Dewi, kamu sudah selesai? Jangan lama, lama. Saya tidak suka pegawai saya bicara lama dengan musuh."
Rekaman berhenti.
"TERSIP!" teriak Faruq.
"Jelas sekali," kata Guntur. "Suara Ferry ada di rekaman itu. Itu bukti kuat."
"Tapi apakah cukup?" tanya Nisa.
"Di pengadilan, bukti rekaman bisa diterima asalkan tidak dipalsukan."
"Kita tidak akan ke pengadilan. Kita akan ke media," kata Laras.
REKAMAN LAIN
"Ada rekaman lain?" tanya Arga.
Dimas membuka folder rekaman lagi.
Beberapa file audio dengan tanggal berbeda.
"Mas Arga sering menelepon siapa?"
"Ibu saya. Di desa."
"Ada rekamannya?"
"Setiap telepon saya rekam. Otomatis. Karena saya aktifkan fitur itu untuk berjaga, jaga."
"Kamu hebat, Dimas."
"Saya tidak hebat. Saya hanya paranoid."
Mereka mendengarkan rekaman demi rekaman.
Percakapan Arga dengan ibunya.
Percakapan Arga dengan Guntur.
Percakapan Arga dengan Faruq.
Percakapan Arga dengan Nisa.
Percakapan Arga dengan Laras.
Percakapan Arga dengan Dimas.
Semua tersimpan rapi.
"Tidak ada yang berguna," kata Nisa kecewa. "Semua tentang rencana biasa. Tidak ada yang mengarah pada kejahatan Ferry."
"Satu lagi," kata Dimas.
File terakhir.
Tanggal: seminggu yang lalu.
Jam: dua belas malam.
"Siapa yang menelepon Mas Arga jam segitu?" tanya Guntur.
"Tidak tahu. Mari kita dengar."
Dimas mengklik file itu.
Awalnya hanya suara desisan, seperti angin. Lalu suara seorang perempuan. Lirih. Terputus, putus. Takut.
"Arga... tolong aku..."
Arga terkesiap. "Itu Sekar!"
"Arga... aku di sini... di rumah Ferry... mereka mengurungku... mereka menyiksaku... tolong... tolong...."
Suara pria dari kejauhan.
"Hei! Siapa yang menelepon? Matikan! Matikan!"
Suara benturan.
Kretekan.
Lalu nada sibuk.
Rekaman berakhir.
Ruangan sunyi.
Faruq menangis.
Nisa memeluk Laras.
Guntur mengepalkan tangan.
Arga diam.
Matanya kosong.
Tapi air matanya, air matanya jatuh.
"Sekar," bisiknya. "Sekar meneleponku. Minta tolong. Dan aku tidak tahu. Ponselku tidak berdering karena fitur silent."
"Ferry pasti sudah mengambil ponsel Sekar setelah kejadian itu," kata Guntur. "Itu sebab dia tidak pernah menelepon lagi."
RENCANA BARU
Jam tiga pagi, mereka masih duduk di kamar Dimas.
Mata sudah mengantuk. Tapi pikiran masih segar.
"Kita punya bukti," kata Guntur. "Rekaman Sekar minta tolong. Rekaman Ferry mengancam. Data lokasi. Jejak digital yang tidak bisa dihapus."
"Tapi apakah cukup untuk membebaskan Sekar?" tanya Nisa.
"Tidak. Kita butuh tekanan publik."
"Media?"
"Iya. Media. Tapi jangan koran. Jangan TV. Mereka bisa dibeli Ferry."
"Lalu?"
"Media sosial."
Nisa mengangguk. "Aku punya banyak teman. Aktivis. Bloger. YouTuber. Mereka bisa membantu menyebarkan cerita ini."
"Secepatnya. Besok pagi."
"Baik."
SUBUH MENYINGSING
Jam setengah lima pagi, mereka selesai.
Arga berdiri.
Ia berjalan ke jendela kamar Dimas.
Membukanya.
Udara subuh dingin menusuk.
Langit timur mulai terang.
Bintang timur bersinar terang , lebih terang dari biasanya.
"Jatmika," bisik Arga. "Apa kau di sana? Apa kau melihat kami? Apa kau membantu kami?"
Ia tidak mendapat jawaban.
Tapi ia merasakan sesuatu.
Kehangatan di dadanya.
Kehangatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata, kata.
Ia tersenyum.
"Terima kasih, Dimas."
"Sama, sama, Mas."
"Terima kasih, teman-teman."
"Sama-sama," kata mereka serempak.
PAGI YANG CERAH
Matahari terbit di ufuk timur.
Cahayanya masuk melalui jendela kamar Dimas yang sempit.
Arga memandang peta usang di tangannya.
Garis, garis baru muncul lagi.
Mungkin karena cahaya matahari.
Mungkin karena keajaiban.
Garis, garis itu mengarah ke satu titik.
Titik yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Di luar perumahan Mutiara.
Di sebuah rumah kecil di pinggiran kota.
Arga mengerutkan kening.
"Apa ini?" bisiknya.
Peta itu tidak menjawab.
Tapi Arga tahu.
Ini adalah titik terang baru.
Dan kali ini, tidak akan ada yang bisa menghalanginya.
BAB 20
SANDIWARA DI PERPUSTAKAAN
Jejak digital dari Dimas dan peta usang dari Mbah Jayarasa membawa tim Arga ke sebuah tempat yang tidak pernah mereka duga sebelumnya: Perpustakaan Pusat Universitas Gajah Mada.
Bukan karena di sana ada buku tentang Ferry. Bukan karena di sana ada dokumen rahasia tentang keluarga Kencana. Bukan karena di sana ada saksi yang bersembunyi di antara rak, rak buku.
Tapi karena peta usang itu, yang tiba-tiba menampilkan garis-garis baru di bawah sinar matahari pagi, menunjukkan sebuah titik merah di lantai dua perpustakaan, di bagian koleksi langka dan naskah kuno.
Dan di titik merah itu, tertulis: "Di sini, dia meninggalkan sesuatu untukmu."
Arga tidak tahu apa artinya. Tapi ia tidak bisa mengabaikan petunjuk dari Mbah Jayarasa. Peta itu tidak pernah salah. Peta itu selalu berbicara pada waktu yang tepat.
Maka malam itu, mereka menyusun sebuah rencana.
Bukan rencana penyelamatan.
Bukan rencana evakuasi.
Tapi sebuah sandiwara.
Sandiwara yang akan membawa mereka ke perpustakaan tanpa dicurigai mata-mata Ferry. Sandiwara yang akan memungkinkan Arga mencari petunjuk di koleksi langka tanpa diketahui siapa pun. Sandiwara yang akan menjadi titik balik dalam perjuangan mereka melawan pengusaha kaya yang licik itu.
PAGI SEBELUM SANDIWARA
Hari Sabtu, langit cerah. Matahari bersinar hangat. Burung, burung pipit beterbangan di halaman kos.
Arga duduk di beranda, memandang peta usang di tangannya. Garis, garis baru itu masih jelas, tidak luntur meskipun sudah ia lipat dan buka berkali, kali. Titik merah di perpustakaan masih setia menunjuk ke arah yang sama.
"Mas Arga, masih lihat peta itu?" tanya Dimas sambil membawa dua cangkir kopi hitam.
"Masih. Aku tidak bisa berhenti."
"Itu peta ajaib. Seperti di film Harry Potter."
"Apa itu Harry Potter?"
Dimas tertawa. "Mas Arga, kamu ketinggalan zaman. Harry Potter itu penyihir cilik. Dia punya peta ajaib yang menunjukkan posisi semua orang di sekolah sihirnya."
"Peta ini juga ajaib. Tapi tidak menunjukkan orang. Hanya tempat."
"Tempat apa?"
Arga menunjuk titik merah di lantai dua perpustakaan UGM. "Di sini. Mbah Jayarasa bilang, seseorang meninggalkan sesuatu untukku."
"Siapa?"
"Tidak tahu."
"Kapan?"
"Tidak tahu."
"Apakah itu jebakan?"
Arga menghela napas. "Itu yang ingin kita ketahui malam ini."
PERTEMUAN DI KAMPUS
Jam sepuluh pagi, mereka berkumpul di kantin fakultas filsafat , tempat yang sudah menjadi markas tidak resmi tim Arga. Meja panjang di pojok, dekat jendela yang menghadap ke taman, dengan pemandangan mahasiswa yang lalu lalang membawa buku tebal.
Guntur membuka laptopnya. Faruq mengunyah pisang goreng. Nisa mencatat sesuatu di buku kecil. Laras memandang ke luar jendela dengan mata waspada. Dimas mengecek ponselnya setiap lima menit. Arga duduk di ujung meja, dekat dengan Guntur.
"Semua sudah tahu rencananya?" tanya Guntur.
Belum, jawab Faruq sambil mengunyah. "Coba ulangi. Saya tadi kurang dengar karena sibuk makan."
"Faruq, ini serius."
"Saya juga serius. Perut keroncongan tidak bisa diajak serius."
Nisa menepuk bahu Faruq. "Dengar, kau. Jangan banyak tingkah."
"Baik, Mbok."
Guntur menghela napas. Ia membuka file di laptopnya, sebuah peta digital perpustakaan UGM.
"Ini perpustakaan pusat. Empat lantai. Lantai satu: sirkulasi, referensi umum, ruang baca. Lantai dua: koleksi langka, naskah kuno, dan ruang digital. Lantai tiga: jurnal internasional dan skripsi. Lantai empat: ruang rapat dan kantor pengelola."
"Kita masuk lewat mana?" tanya Laras.
"Kita tidak semua masuk. Hanya Arga yang akan masuk. Dia yang punya peta. Dia yang harus mencari petunjuk."
"Lalu kami?"
"Kami akan jadi pengalih perhatian."
"Pengalih perhatian?" Faruq mengangkat alis.
"Iya. Sandiwara. Kita akan berpura, pura ribut di lantai satu. Keributan kecil. Cukup untuk menarik perhatian penjaga dan pengunjung."
"Selama itu, Arga naik ke lantai dua?"
"Tepat."
"Siapa yang akan ribut?"
"Faruq dan Nisa. Kalian yang paling bisa akting."
Faruq tersenyum lebar. "Akhirnya saya dipanggil! Saya lahir untuk jadi aktor!"
"Jangan kebanyakan gaya," kata Nisa. "Nanti ketahuan."
PERAN MASING, MASING
Guntur melanjutkan.
"Dimas, kamu jaga di luar perpustakaan. Pantau siapa saja yang masuk dan keluar. Laporkan jika ada yang mencurigakan."
"Siap, Komandan," kata Dimas setengah bercanda.
"Laras, kamu di lantai dua. Bukan sebagai pengawal Arga. Tapi sebagai mahasiswa biasa yang sedang membaca naskah kuno. Posisikan diri di dekat tangga darurat. Kalau ada bahaya, kamu bisa evakuasi Arga lewat situ."
"Baik," kata Laras pendek.
"Guntur, kamu di mana?" tanya Arga.
Guntur tersenyum tipis. "Aku di ruang keamanan. Aku punya teman yang bekerja di sana. Dia bisa mematikan CCTV selama lima belas menit."
"Lima belas menit cukup?"
"Cukup. Asalkan Faruq dan Nisa bisa membuat keributan selama itu."
Faruq mengacungkan jempol. "Jamanku! Saya dulu juara drama tingkat provinsi!"
"Drama apa?" tanya Nisa.
"Drama cinta. Saya main jadi pacar yang selingkuh. Penonton pada nangis."
"Mungkin mereka nangis karena aktingmu jelek."
"Itu tetap nangis. Namanya juga seni."
Mereka tertawa kecil.
PERSIAPAN
Jam dua siang, mereka berpisah sementara.
Faruq dan Nisa berlatih adegan di taman dekanat. Faruq berteriak, teriak histeris, Nisa menangis histeris. Beberapa mahasiswa menonton, ada yang tertawa, ada yang bingung.
"Astaga, Faruq, jangan terlalu keras," bisik Nisa sambil menahan tawa.
"Harus keras, biar dramatis."
"Nanti penjaga mengira kita benar-benar bertengkar."
"Itu tujuannya."
Dimas memeriksa rute perpustakaan. Dari mana harus mengintai tanpa ketahuan satpam. Di mana tempat parkir yang aman. Ke mana harus lari jika terjadi sesuatu.
Laras pergi ke perpustakaan lebih dulu. Ia meminjam buku naskah kuno berjudul Serat Centhini , buku tebal beraksara Jawa yang tidak pernah ia baca. Ia duduk di sudut lantai dua, dekat tangga darurat, memandang pintu masuk dari balik bukunya.
Guntur menemui temannya, Budi, petugas keamanan perpustakaan.
"Guntur, kamu yakin mau melakukan ini?" tanya Budi. "Risikonya besar. Kamu bisa dikeluarkan dari kampus."
"Perpustakaan ini milik rakyat, Budi. Bukan milik rektor. Bukan milik Ferry."
"Tapi , "
"Budi, tolong. Ini menyangkut nyawa seseorang."
Budi menghela napas. "Baik. Lima belas menit. Tidak lebih."
"Terima kasih, Budi. Saya tidak akan lupa."
"Jangan berterima kasih. Bantu saya nanti kalau saya butuh."
MENJELANG EKSEKUSI
Jam enam sore, perpustakaan mulai sepi.
Mahasiswa pulang ke kos. Dosen pulang ke rumah. Karyawan membersihkan ruangan.
Arga berdiri di pintu masuk perpustakaan. Ia memakai jaket tebal , padahal cuaca tidak dingin, untuk menyembunyikan peta usang yang ia selipkan di saku dalam jaketnya.
"Mas Arga," bisik Guntur dari samping.
"Iya."
"Kita mulai dalam lima menit. Kamu siap?"
"Gugup."
"Wajar. Tapi ingat, ini demi Sekar."
Arga mengangguk. "Demi Sekar."
BABAK SATU: KERIBUTAN
Jam 18.15.
Faruq dan Nisa masuk ke perpustakaan.
Mereka berjalan ke meja sirkulasi. Faruq memegang buku tebal. Nisa memegang buku tipis.
"Mbak, buku ini salah!" teriak Faruq keras-keras.
Nisa pura, pura kaget. "Apa?"
"Ini buku sastra. Saya pesan buku sosologi! Saya orang sosolog! Saya tidak mau baca buku sastra!"
Suasana perpustakaan yang tadinya tenang mendadak gaduh.
Mahasiswa menoleh. Petugas sirkulasi bingung.
"Nak, ini perpustakaan umum. Semua buku tersedia. Kamu tidak boleh —"
"TIDAK BOLEH APA? SAYA PELANGGAN! SAYA MEMBAYAR SPP! SAYA BERHAK MEMILIH BUKU SESUAI SELERA SAYA!"
Nisa mulai menangis histeris. "Faruq, jangan begini! Malu!"
"MALU? KAMU YANG MEMALUKAN! KAMU YANG MEMILIHKAN BUKU INI!"
"Aku tidak sengaja, Faruq!"
"TIDAK SENGAJA? KAMU SIAPA? MAHASISWA BODOH!"
Orang, orang mulai mengerumuni.
Petugas sirkulasi menelepon keamanan.
Budi, yang sudah bekerja sama dengan Guntur, berlari ke lokasi.
"Ada apa? Ada apa?"
"Orang ini ribut soal buku," kata petugas.
"Saudara, tenang —"
"SAYA TIDAK BISA TENANG! BUKU INI BUKAN YANG SAYA CARI!"
Budi pura, pura panik. "Saudara, ikut saya ke ruang keamanan. Kita selesaikan baik, baik."
"TIDAK MAU! SAYA MAU DI SINI! BIAR SEMUA TAHU!"
Faruq berteriak semakin keras.
Nisa menangis semakin histeris.
Mahasiswa mulai merekam dengan ponsel.
Petugas lain mulai berdatangan.
Suasana makin kacau.
BABAK DUA: PENYUSUPAN
Jam 18.20.
Arga masuk ke perpustakaan.
Ia tidak lari. Ia berjalan biasa.
Seperti tidak ada yang terjadi.
Seperti tidak mendengar keributan di meja sirkulasi.
Ia naik tangga ke lantai dua.
Laras sudah menunggu di tangga darurat.
"Cepat," bisiknya. "Kita punya lima belas menit lagi."
Mereka berjalan menyusuri rak, rak koleksi langka.
Buku, buku tua berdebu. Kulitnya dari kertas tebal. Sampulnya dari kayu atau kulit binatang. Tulisannya aksara Jawa, aksara Bali, aksara Arab pegon, dan huruf Latin kuno.
"Di mana?" bisik Laras.
Arga membuka peta.
Garis, garis baru itu mengarah ke sebuah rak di pojok, rak nomor 27, baris ketiga, kolom kelima.
"Di sini," kata Arga sambil menunjuk.
Rak itu penuh dengan buku, buku bertema spiritualitas Jawa. Primbon. Wedhatama. Serat Wulangreh. Suluk Saloka Jiwa.
Laras mengambil buku demi buku, memeriksanya satu per satu.
Arga melakukan hal yang sama.
Tangannya gemetar.
Waktu terus berjalan.
14 menit.
13 menit.
12 menit.
"Ada apa ini?" bisik Arga frustrasi.
"Sabarlah."
"Tidak ada waktu."
"Sabar."
Laras mengambil buku keempat dari rak, buku tipis berwarna coklat tua, tidak ada judul di sampulnya. Ia membuka halaman pertama.
Kosong.
Halaman kedua.
Kosong.
Halaman ketiga.
Ada tulisan.
Bukan aksara Jawa. Bukan aksara Bali. Bukan aksara Arab pegon. Tapi aksara Latin. Tulisan tangan. Rapi. Terbaca.
"Untuk Arga, dari Mbah Jayarasa."
Laras menyerahkan buku itu pada Arga.
Arga menerimanya.
Tangannya gemetar hebat.
Ia membuka halaman demi halaman.
ISI BUKU
Buku itu bukan buku biasa.
Buku itu adalah catatan harian Mbah Jayarasa.
Catatan tentang masa lalunya di kota.
Catatan tentang perjuangannya melawan keluarga Kencana, kakek Ferry, puluhan tahun lalu.
Catatan tentang pengkhianatan, penderitaan, dan kehilangan.
Catatan tentang peta usang yang ia buat untuk dirinya sendiri.
Catatan tentang seorang perempuan bernama Sri , perempuan yang ia cintai, yang dijodohkan dengan kakek Ferry, yang bunuh diri setelah menikah.
Sama seperti Rini.
Sama seperti Sekar.
Siklus yang berulang.
Keluarga Kencana tidak pernah berubah.
Mereka selalu mengambil perempuan desa untuk dijadikan istri.
Mereka selalu menggunakan uang untuk membeli segalanya.
Mereka selalu menghancurkan kehidupan orang miskin.
Dan Mbah Jayarasa , sejak puluhan tahun lalu , sudah berusaha melawan.
Tapi gagal.
Karena ia sendirian.
Tanpa teman.
Tanpa teknologi.
Tanpa bukti digital.
Sekarang, ia menitipkan perjuangannya pada Arga.
Pada generasi berikutnya.
Pada anak desa yang berani melawan.
BABAK TIGA: KABUR
5 menit.
4 menit.
3 menit.
"Arga, kita harus pergi," bisik Laras.
"Sebentar. Saya baca ini."
"Tidak bisa. Kamu baca nanti. Di kos. Sekarang kita kabur."
Laras menarik tangan Arga.
Mereka berlari menuju tangga darurat.
Tepat saat pintu tangga darurat terbuka, mereka mendengar suara dari lantai bawah.
"POLISI! JANGAN ADA YANG BERGERAK!"
Ferry sudah melapor.
Polisi datang.
Budi tidak bisa menahan lebih lama.
Faruq dan Nisa ditangkap.
Dimas yang memantau dari luar segera mengirim pesan ke Guntur.
"POLISI DATANG! KABUR!"
Laras dan Arga berhasil keluar lewat pintu belakang perpustakaan, pintu yang tidak dijaga, pintu yang hanya digunakan untuk membuang sampah.
Mereka berlari menyusuri gang sempit.
Menembus halaman belakang fakultas.
Keluar ke jalan raya.
Guntur sudah menunggu dengan motor bututnya.
"Naik!" teriaknya.
Laras naik di boncengan Guntur.
Arga naik di boncengan Dimas yang datang tepat waktu.
Mereka berpencar.
Tiga motor melaju ke arah berbeda.
Untuk mengelabui polisi yang mungkin mengejar.
PERTEMUAN DI TEMPAT AMAN
Jam delapan malam, mereka berkumpul di kos.
Faruq dan Nisa belum datang. Mereka masih di kantor polisi.
Dimas mendapat kabar dari kontaknya: Faruq dan Nisa akan dibebaskan setelah memberi keterangan. Tuduhan mereka hanya "keributan kecil di perpustakaan" , tidak cukup untuk ditahan.
"Sekarang, baca itu," kata Guntur sambil menunjuk buku tua di tangan Arga.
Arga membuka halaman demi halaman.
Diam.
Matanya basah.
Tidak ada yang berani bicara.
Mereka hanya mendengar suara lembaran kertas yang dibalik.
Halaman terakhir.
Tulisan Mbah Jayarasa.
"Le, jika kau membaca ini, berarti kau sudah sampai di titik di mana aku dulu gagal."
"Jangan ulangi kesalahanku. Jangan percaya pada siapa pun sebelum kau benar, benar yakin. Jangan menyerah meskipun semua orang meninggalkanmu. Jangan biarkan kemarahan membunuh kemanusiaanmu."
"Kau punya teman. Aku dulu tidak punya. Manfaatkan mereka. Jaga mereka. Mereka adalah kekuatanmu."
"Sekar masih menunggumu. Jangan biarkan dia menunggu terlalu lama."
"—Mbah Jayarasa"
Arga menutup buku itu.
Ia memeluknya.
Seperti memeluk Mbah Jayarasa.
Seperti memeluk masa lalu.
Seperti memeluk harapan.
MALAM YANG PANJANG
Jam sebelas malam, Faruq dan Nisa tiba di kos.
Wajah mereka lelah, pakaian kusut, tapi senyum tetap mengembang.
"Kami selamat!" teriak Faruq.
"Aktingmu hebat," kata Guntur.
"Bukan akting. Itu tadi asli. Saya kesal beneran."
"Kesal kenapa?"
"Buku Sastra yang saya pegang ternyata benar-benar buku bagus. Saya jadi tertarik baca."
"Lalu?"
"Lalu polisi menyitanya. Saya tidak bisa baca sampai selesai."
Mereka tertawa.
Tawa yang melepas penat.
Tawa yang mengusir lelah.
Tawa yang mengingatkan bahwa mereka masih punya satu sama lain.
BAB 21
LARAS TERNYATA MATA-MATA
Tiga hari setelah sandiwara di perpustakaan, tim Arga masih dalam masa pemulihan. Faruq dan Nisa sudah kembali beraktivitas meskipun masih sering digoda teman, teman kampus tentang "adegan histeris di perpustakaan". Dimas terus memantau pergerakan Ferry dari kejauhan. Guntur merangkum catatan harian Mbah Jayarasa menjadi dokumen rahasia yang hanya dibaca oleh tim inti.
Dan Laras, Laras tetap menjadi anggota tim yang paling misterius. Ia selalu datang tepat waktu. Selalu memberikan saran tajam. Selalu waspada terhadap bahaya. Tapi tidak pernah benar, benar terbuka. Tidak pernah benar, benar menceritakan perasaannya. Tidak pernah benar, benar menjadi salah satu dari mereka.
Arga menyadari keanehan itu sejak awal. Tapi ia menganggapnya wajar. Laras adalah mata-mata Mbah Jayarasa. Laras terbiasa menyembunyikan identitas. Laras terbiasa tidak percaya pada siapa pun.
Tapi malam ini, segalanya berubah.
Bukan karena Laras mengaku.
Bukan karena Laras ketahuan.
Tapi karena Arga menemukan sesuatu yang tidak seharusnya ia temukan.
Sesuatu yang menghancurkan kepercayaannya.
Sesuatu yang membuat ia sadar bahwa Laras, perempuan yang selama ini ia anggap sebagai teman, sekutu, bahkan saudara, ternyata memiliki misi ganda.
Misi yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun.
Misi yang mungkin membawa mereka pada kehancuran.
Misi yang menghubungkan Laras dengan Ferry jauh sebelum tim ini terbentuk.
MALAM YANG SUNYI
Jam sebelas malam. Kos, kosan sepi. Faruq pulang ke kosnya. Guntur dan Nisa juga. Dimas sedang bertugas malam mengantar paket ke luar kota. Hanya Arga, Laras, dan Mbok Darmi yang masih terjaga.
Laras duduk di halaman kos, memandang langit malam yang cerah. Bulan purnama bersinar terang. Bintang, bintang berkerlap, kerlip. Ia tidak bicara. Ia hanya duduk. Sesekali menghela napas panjang.
Arga keluar dari kamar. Ia membawa dua gelas teh jahe hangat , satu untuknya, satu untuk Laras.
"Laras, minum," katanya sambil menyerahkan gelas.
Laras menerima tanpa berkata apa, apa. Ia meminumnya seteguk. Lalu dua teguk. Lalu seteguk lagi.
"Kamu tidak bisa tidur?" tanya Arga.
"Kamu juga."
"Aku memikirkan banyak hal."
"Apa?"
"Tentang Mbah Jayarasa. Tentang catatan hariannya. Tentang Sri , perempuan yang ia cintai, yang dijodohkan dengan kakek Ferry, yang bunuh diri setelah menikah."
"Siklus yang berulang."
"Iya. Rini. Sekar. Sri. Semua korban keluarga Kencana."
Laras meneguk teh jahenya sampai habis. Ia meletakkan gelas di atas meja plastik.
"Arga," panggilnya.
"Iya."
"Apa kamu percaya pada takdir?"
"Entahlah. Kadang iya. Kadang tidak."
"Kadang takdir membawa kita ke jalan yang tidak kita inginkan. Kadang takdir memaksa kita menjadi sesuatu yang tidak kita inginkan. Kadang takdir mengkhianati kita."
"Kamu bicara seperti orang yang pernah dikhianati takdir."
Laras tersenyum pahit. "Mungkin."
Mereka diam.
Angin malam berembus.
Daun, daun pohon mangga bergemerisik.
"Aku ingin cerita sesuatu," kata Laras tiba, tiba.
"Cerita apa?"
"Tapi kamu tidak boleh marah."
Tergantung ceritanya.
"Kamu janji?"
"Baik. Janji."
Laras menarik napas panjang.
Ia memandang Arga.
Matanya basah.
"Arga, saya... mata-mata Ferry."
PENGARUH KEJUTAN
Waktu seolah berhenti.
Arga tidak bergerak.
Tidak berkedip.
Tidak bernapas.
Ia hanya menatap Laras.
Menunggu Laras mengatakan bahwa itu adalah lelucon.
Tapi Laras tidak tertawa.
Laras hanya menunduk.
"Laras," bisik Arga. "Apa katamu?"
"Saya mata-mata Ferry. Sejak awal. Sejak Mbah Jayarasa meminta saya membantu kamu. Saya sudah dihubungi Ferry. Dia menawari saya uang. Banyak."
"Kamu... menerima?"
"Iya. Saya menerima."
Arga berdiri.
Wajahnya pucat.
Tangannya gemetar.
Dadanya sesak.
"KELUAR!" teriaknya. "KELUAR DARI SINI!"
"Arga —"
"KELUAR! JANGAN DEKAT, DEKAT AKU!"
Laras berdiri.
Ia tidak lari.
Ia hanya berdiri.
Menatap Arga.
Air matanya jatuh.
"Arga, saya terpaksa. Ferry mengancam akan membunuh ayah saya. Ayah saya yang sudah lumpuh. Ayah saya yang tidak bisa berbuat apa, apa."
"KAMU BOONG!" Arga hampir meninju Laras. Tapi ia menahan. "KAMU BOONG! AYAHMU SUDAH MENINGGAL! KAMU SENDIRI YANG BILANG!"
Laras menggeleng. "Ayah saya tidak meninggal. Saya bohong. Saya bilang ayah saya meninggal agar kalian tidak curiga. Agar kalian menganggap saya korban Ferry. Agar kalian percaya pada saya."
"Jadi selama ini , "
"Semua yang saya ceritakan tentang ayah saya dipecat, tentang ayah saya gantung diri, tentang dendam saya pada Ferry, semua bohong. Saya tidak punya dendam. Saya tidak punya pisau pusaka. Saya tidak pernah membunuh dua preman."
"Tapi pisau itu —"
"Pisau itu hanya properti. Saya beli di pasar malam. Cerita tentang buyut saya panglima perang, tentang seratus korban tewas, semua karangan saya."
"REKAMAN SUARA FERRY DI PONSELKU?"
"Saya yang menyuruh Dewi menanam aplikasi perekam. Dewi bukan mata-mata Ferry. Dewi mata-mata saya."
Arga jatuh duduk di kursi.
Wajahnya pucat pasi.
Ia tidak bisa berkata, kata.
Dunia yang ia bangun selama berbulan, bulan, dunia di mana Laras adalah sekutu tepercaya , runtuh dalam sekejap.
"Kenapa?" bisiknya. "Kenapa kamu melakukan ini?"
Laras duduk di seberang Arga.
Ia menggenggam tangannya sendiri yang gemetar.
"Karena Ferry menjanjikan sesuatu yang tidak bisa saya tolak."
"Apa?"
"Pengobatan untuk ibu saya."
KISAH LARAS YANG SESUNGGUHNYA
Laras mulai bercerita.
Kali ini jujur.
Tanpa topeng.
Tanpa rekayasa.
Tanpa kebohongan.
"Ibu saya sakit, Arga. Sakit parah. Kanker stadium empat. Dokter bilang, umurnya tinggal tiga bulan. Tapi ada pengobatan di luar negeri. Mahal. Sangat mahal. Saya tidak punya uang."
"Lalu?"
"Ferry datang pada saya. Dua bulan sebelum Mbah Jayarasa meminta saya membantu kamu. Dia tahu siapa saya. Dia tahu latar belakang saya. Dia tahu kelemahan saya. Dia menawari saya uang. Banyak. Untuk biaya pengobatan ibu saya."
"Kamu setuju?"
"Saya setuju. Ferry memberi saya uang muka dua ratus juta. Ibu saya sudah berangkat ke Singapura. Dirawat di rumah sakit terbaik. Kemoterapi. Operasi. Semua ditanggung Ferry."
"Tapi , "
"Tapi Ferry minta imbalan. Saya harus menjadi mata-matanya di dalam tim kamu. Saya harus melaporkan setiap rencana. Setiap gerakan. Setiap kelemahan."
"Termasuk tentang Mariyem?"
Termasuk tentang Mariyem. Saya yang memberi tahu Ferry jadwal pertemuan kalian dengan Mariyem. Saya yang memberi tahu Ferry bahwa Mariyem punya bukti-bukti kuat."
"JADI MARIYEM DIAMBIL FERRY KARENA ULAHMU?"
Laras menangis.
"Saya menyesal, Arga. Saya sangat menyesal. Tapi saya tidak punya pilihan. Ibu saya lebih penting dari apapun."
"Termasuk dari kebebasan Sekar?"
Laras tidak menjawab.
Ia hanya menunduk.
Menangis.
KEJUTAN DARI MARIYEM
Saat ketegangan memuncak, ponsel Arga berdering.
Nomor tidak dikenal.
Ia mengangkat.
"Halo?"
"Mas Arga? Ini Mariyem."
Arga terkesiap. "Bu Mariyem? Ibu baik-baik saja? Saya dengar Ibu diambil Ferry —"
"Saya baik, baik saja, Mas. Ferry tidak menyakiti saya. Dia hanya memindahkan saya dan anak-anak ke rumah aman."
"Rumah aman?"
"Iya. Saya tidak diculik. Saya diam-diam setuju dengan Ferry untuk pindah. Karena saya tahu, jika saya tetap di kampung, saya dan anak, anak akan dalam bahaya."
"Tapi bukti-bukti , "
"Bukti, bukti sudah saya simpan di tempat aman. Fotokopiannya. Rekamannya. Buku catatannya. Ferry tidak tahu. Saya kasih semua pada Laras sebelum saya pindah."
Arga menatap Laras.
Laras mengangguk.
"Ibu Mariyem memberikan bukti-bukti itu pada saya kemarin," kata Laras pelan. "Saya belum sempat memberikannya pada kalian."
"Kenapa?"
"Karena saya masih bingung. Antara membantu Ferry dan membantu kalian. Antara keselamatan ibu saya dan kebebasan Sekar."
Ibumu bilang apa?"
Laras terisak.
"Ibu saya bilang... 'Le, jualah ibumu. Jualah demi uang. Jualah demi apapun. Tapi jangan jualah kebenaran. Kebenaran tidak bisa dibeli dengan uang.'"
"Lalu?"
"Saya sadar. Saya tidak bisa terus begini. Saya tidak bisa terus berbohong. Saya tidak bisa terus mengkhianati orang-orang yang sudah percaya pada saya."
PERTEMUAN DENGAN GUNTUR, FARUQ, NISA, DAN DIMAS
Jam satu dini hari, Arga memanggil semua temannya.
Guntur, Faruq, Nisa, Dimas datang dengan motor masing, masing. Wajah mereka masih mengantuk, tapi langsung segar ketika melihat Laras duduk di kursi dengan mata sembab dan Arga berdiri di sampingnya dengan wajah tegang.
"Ada apa?" tanya Guntur.
"Laras mau cerita sesuatu," kata Arga. "Duduk."
Mereka duduk di kursi plastik.
Laras berdiri di depan mereka.
Ia menunduk.
Tidak berani menatap mata siapa pun.
"Teman, teman," katanya pelan. "Saya... mata-mata Ferry."
Guntur tidak terkejut. "Aku sudah tahu."
Laras terkesiap. "Apa?"
"Aku sudah tahu sejak dua minggu lalu. Ada keanehan. Informasi kita selalu bocor. Tapi tidak semuanya. Hanya informasi penting yang bocor. Itu tanda bahwa mata-mata ada di lingkaran terdekat. Bukan di luar."
"Kenapa kamu tidak bilang?" tanya Nisa.
"Karena aku ingin tahu motif Laras. Aku ingin tahu kenapa dia melakukan ini. Dan aku ingin dia mengaku sendiri, bukan karena dipaksa."
Faruq mengepalkan tangan. "Laras, kamu...."
"Maaf, Faruq," potong Laras. "Maaf, semuanya. Saya bersalah. Saya mengkhianati kalian."
"Kenapa?" tanya Dimas.
Laras menceritakan semuanya.
Tentang ibunya. Tentang kanker. Tentang biaya pengobatan. Tentang tawaran Ferry. Tentang uang muka dua ratus juta. Tentang ibunya di Singapura. Tentang tekanan antara membantu Ferry dan membantu tim.
Faruq yang tadinya marah, kini diam.
Nisa menangis.
Dimas memandang lantai.
Guntur menghela napas.
"Laras," kata Guntur akhirnya.
"Iya."
"Kamu salah. Tapi kamu juga korban."
"Saya mengkhianati kalian."
"Ya. Tapi kamu juga korban sistem. Sistem yang membiarkan orang miskin susah berobat. Sistem yang membiarkan orang kaya membeli siapa saja. Termasuk hati nurani."
"Apakah kalian bisa memaafkan saya?"
Guntur memandang Arga. Faruq memandang Nisa. Nisa memandang Dimas. Dimas memandang Laras.
"Kita putuskan bersama," kata Arga.
MUSYAWARAH
Mereka berdiskusi selama satu jam.
Faruq awalnya menolak memaafkan. "Dia mengkhianati kita! Dia mengkhianati Sekar! Dia mengkhianati perjuangan kita!"
Tapi Nisa membela Laras. "Faruq, coba bayangkan jika ibumu sakit. Jika kamu tidak punya uang. Jika satu-satunya harapan adalah menerima uang dari setan sekalipun. Apa yang akan kamu lakukan?"
Faruq diam.
"Laras memang salah," lanjut Nisa. "Tapi dia juga manusia. Dia punya batas. Dan dia sudah melewati batas itu. Sekarang dia sadar. Dia mau bertobat. Bukankah itu yang penting?"
Guntur mengangguk. "Setuju. Kesalahan bisa dimaafkan. Tapi konsekuensi harus diterima."
"Konsekuensi apa?" tanya Laras.
"Kamu harus membantu kami membebaskan Sekar. Dengan risiko apapun. Termasuk risiko kehilangan ibumu jika Ferry tahu."
Laras menunduk. "Saya siap."
"Apa kamu yakin? Ini tidak main-main. Ferry bisa membunuhmu. Atau membunuh ibumu."
"Saya yakin. Karena kebenaran lebih penting daripada nyawa."
Faruq menghela napas. "Baik. Saya maafkan kamu. Tapi jangan ulangi."
"Tidak akan, Faruq. Saya sumpah."
LARAS KEMBALI
Jam tiga pagi, mereka semua masih duduk di halaman kos.
Kelelahan. Tapi lega.
Laras tidak lagi dipandang curiga. Ia kembali menjadi bagian dari tim. Sebagai sekutu. Bukan sebagai mata-mata.
"Mariyem di mana sekarang?" tanya Guntur.
"Di rumah aman. Saya yang menyembunyikannya. Ferry tidak tahu."
"Buktinya?"
"Dipegang Mariyem. Fotokopiannya. Rekamannya. Buku catatannya. Semua aman."
"Kita butuh bukti asli. Bukan fotokopian."
"Kita bisa ambil besok."
"Ferry akan tahu jika kita bergerak."
"Maka kita bergerak cepat. Hari ini juga. Sebelum Ferry sadar."
"Setuju," kata semua.
Arga memandang Laras.
Laras memandang Arga.
"Terima kasih, Laras," kata Arga.
"Jangan berterima kasih. Saya yang berterima kasih karena kalian masih mau menerima saya."
FERRY TAHU
Jam empat pagi, ponsel Laras berdering.
Nomor Ferry.
Laras mengangkat dengan tangan gemetar.
"Ya?"
"Laras, saya dengar ada keributan di kos. Ada yang terjadi?"
"Tidak, Tuan. Semua aman. Saya hanya sedang begadang dengan teman, teman."
"Kamu yakin?"
"Yakin, Tuan."
"Jangan coba-coba berkhianat, Laras. Saya tahu siapa kamu. Saya tahu di mana ibumu."
Laras mengepalkan tangan.
"Tuan, saya tidak akan berkhianat."
"Bagus. Lapor besok pagi. Saya mau tahu perkembangan tim Arga."
"Baik, Tuan."
Telepon ditutup.
Laras memandang Arga.
"Dia tahu."
"Tidak mungkin. Kita belum bergerak."
"Dia selalu tahu. Mungkin ada mata-mata lain di antara kita."
Mereka saling memandang.
Kecurigaan kembali muncul.
MATA, MATA KEDUA
Guntur berdiri. "Kita harus mencari tahu siapa mata-mata kedua. Sebelum dia melaporkan rencana kita ke Ferry."
"Bagaimana caranya?" tanya Dimas.
"Perangkap. Kita buat rencana palsu. Rencana yang hanya diketahui oleh orang dalam. Lalu kita lihat siapa yang membocorkannya."
"Setuju," kata Laras.
"Setuju," kata yang lain.
Mereka menyusun rencana palsu.
Rencana untuk "menyerbu rumah Ferry" malam ini juga.
Rencana yang mustahil dilakukan karena kurang persiapan.
Rencana yang pasti akan gagal jika bocor.
"Kita sebarkan rencana ini hanya pada kita berenam. Tidak pada siapa pun."
"Bagaimana jika mata-matanya salah satu dari kita?" tanya Faruq curiga.
"Kita akan tahu nanti."
SUBUH MENYINGSING
Jam setengah lima pagi, fajar mulai menyingsing.
Mereka semua kelelahan.
Tapi belum ada yang tidur.
Laras duduk di sudut halaman, memeluk lututnya.
Arga mendekat.
"Laras."
"Iya."
"Aku tidak akan menghakimimu."
"Terima kasih."
"Tapi aku juga tidak akan sepenuhnya percaya padamu. Sampai semua ini selesai. Sampai Sekar bebas."
"Itu wajar. Aku tidak berharap lebih."
"Sekarang, kita istirahat. Sebentar. Satu jam. Nanti pagi kita bergerak."
"Baik."
Arga masuk ke kamar.
Ia membuka peta usang.
Ia memandang titik merah di perpustakaan.
"Di sini, dia meninggalkan sesuatu untukmu."
Sesuatu itu ternyata catatan harian Mbah Jayarasa.
Catatan tentang perjuangan puluhan tahun lalu.
Catatan yang mengajarkan Arga satu hal:
"Jangan pernah percaya sepenuhnya pada siapa pun. Tapi jangan juga menutup hati. Karena musuh bisa jadi teman. Dan teman bisa jadi musuh."
Arga menutup peta.
Ia memeluk bantal kebaya Sekar.
"Sekar," bisiknya. "Hari ini aku kehilangan kepercayaan pada Laras. Tapi aku juga mendapat kepercayaan baru. Kepercayaan bahwa tidak ada yang benar-benar jahat. Hanya orang, orang yang tersesat."
Ia memejamkan mata.
"Dan orang, orang yang tersesat, jika diberi kesempatan, bisa kembali ke jalan yang benar. Seperti Laras. Seperti aku. Seperti kita semua."
BAB 22
TAUBATNYA LARAS
Subuh itu, setelah pengakuannya sebagai mata-mata Ferry, Laras tidak bisa tidur.
Ia berbaring di kamar kosnya yang sempit, memandang langit, langit yang gelap, mendengar suara jangkrik dari selokan dan suara adzan subuh dari masjid kampung. Matanya terbuka lebar, tidak berkedip. Air matanya mengalir tanpa suara, bukan air mata kesedihan, tapi air mata penyesalan. Penyesalan yang begitu dalam, begitu berat, begitu membakar hingga ia merasa dadanya seperti terbakar api.
"Apa yang telah kulakukan?"
Pertanyaan itu berputar di kepalanya seperti air dalam kendi yang tidak pernah berhenti bergerak. Ia membayangkan wajah Arga ketika tahu bahwa Laras, perempuan yang ia percaya sebagai sekutu, sebagai saudara, sebagai orang yang paling bisa diandalkan, adalah mata-mata Ferry.
Wajah Arga pucat. Tangannya gemetar. Matanya kosong. Dan suaranya, suara Arga yang selama ini lembut dan penuh harapan, tiba, tiba berubah menjadi teriakan keras yang memecah keheningan malam.
"KELUAR! JAUH, JAUH DARI SINI!"
Laras menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia menangis. Bukan isak tangis pelan. Tapi tangis yang tertahan, tangis yang ingin pecah tapi ia tahan karena takut mengganggu penghuni kos lain.
"Aku monster," bisiknya pada dirinya sendiri. "Aku monster yang rela mengkhianati teman demi uang. Aku monster yang rela mengorbankan kebebasan Sekar demi keselamatan ibuku. Aku monster yang tidak pantas hidup di antara manusia baik."
Ia teringat pada ibunya, ibu yang sedang dirawat di rumah sakit Singapura, ibu yang tidak tahu bahwa biaya pengobatannya berasal dari uang haram, ibu yang menghabiskan hari, hari terakhirnya dengan tenang karena mengira anaknya baik, baik saja.
"Maafkan aku, Bu," bisik Laras. "Aku tidak bisa terus begini. Aku tidak bisa terus berbohong pada teman, temanku. Aku tidak bisa terus menjadi mata, mata Ferry. Maafkan aku, Bu... aku rela kau mati daripada aku hidup dalam dosa selamanya."
PUKUL ENAM PAGI
Laras keluar kamar.
Wajahnya pucat. Matanya sembab, bengkak karena semalaman menangis. Rambutnya kusut. Bajunya kusut. Ia tidak mandi. Tidak menyisir rambut. Tidak memakai sandal. Ia hanya berjalan tanpa tujuan ke halaman kos.
Mbok Darmi sudah duduk di kursi plastik, minum teh jahe, membaca Al, Qur'an dengan kacamata tebal di ujung hidung.
Melihat Laras, Mbok Darmi mengerutkan kening.
"Nduk, kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali. Sakit?"
Laras menggeleng. "Tidak sakit, Mbok."
"Kamu nangis semalaman?"
"Iya, Mbok."
"Kenapa?"
Laras duduk di samping Mbok Darmi. Ia memandang perempuan tua itu—perempuan yang tidak pernah bertanya banyak, tidak pernah ikut campur urusan anak muda, tapi selalu menyediakan teh jahe dan pisang goreng setiap kali mereka berkumpul.
"Mbok, saya... saya sudah khianati teman, teman saya."
Mbok Darmi menutup Al, Qur'annya. Ia meletakkan kacamata di atas meja.
"Nduk, setiap orang pernah khianat. Entah sengaja, entah tidak. Entah besar, entah kecil. Yang penting, setelah khianat, apa yang kamu lakukan?"
Laras menunduk. "Saya... saya tidak tahu, Mbok."
"Kamu minta maaf?"
"Sudah. Tadi malam."
"Kamu diterima?"
"Belum sepenuhnya. Arga masih marah. Guntur masih curiga. Faruq masih kesal. Nisa masih sedih. Dimas masih kecewa."
"Itu wajar, Nduk. Luka karena pengkhianatan tidak sembuh dalam semalam. Butuh waktu. Butuh kesabaran. Butuh bukti."
"Bukti apa, Mbok?"
"Bukti bahwa kamu benar-benar berubah. Bukan hanya omongan. Bukan hanya air mata. Tapi tindakan."
Laras memandang Mbok Darmi.
Matanya berkaca, kaca.
"Apa yang harus saya lakukan, Mbok?"
Mbok Darmi menghela napas. "Kamu tahu sendiri. Kamu sudah dewasa. Kamu kuliah di universitas ternama. Kamu punya otak encer. Kamu tidak butuh Mbok memberi tahu."
Laras terdiam.
Ia memikirkan kata, kata Mbok Darmi.
Bukti bahwa kamu benar-benar berubah. Bukan hanya omongan. Bukan hanya air mata. Tapi tindakan.
Tindakan.
Tindakan apa yang bisa membuktikan taubatnya?
Tindakan apa yang bisa mengembalikan kepercayaan teman, temannya?
Tindakan apa yang bisa menebus kesalahannya?
Laras berdiri.
Ia berjalan ke kamar Arga.
Mengetuk pintu.
"Mas Arga."
Tidak ada jawaban.
"Mas Arga, saya mau bicara."
"Pintu tidak dikunci."
Laras masuk.
Arga duduk di dipan bambu. Wajahnya tegang. Matanya merah, tanda juga tidak tidur semalaman. Di tangannya, peta usang pemberian Mbah Jayarasa. Di pangkuannya, bantal kecil dari kebaya Sekar.
"Ada apa, Laras?" tanyanya dingin.
Laras duduk di lantai. Di depan Arga. Ia tidak berani duduk di dipan. Tidak berani sejajar.
"Mas Arga, saya mau minta maaf. Lagi. Dan lagi. Sampai Mas Arga mau memaafkan saya."
"Maaf tidak cukup, Laras."
"Saya tahu."
"Kamu sudah mengkhianati kami. Kamu sudah mengkhianati Sekar. Kamu sudah mengkhianati perjuangan kami."
"Saya tahu."
"Apa yang bisa kamu lakukan untuk memperbaiki?"
Laras menggigit bibirnya.
Tangannya gemetar.
"Mas Arga... saya akan mengambil bukti, bukti dari Mariyem. Sendirian. Tanpa bantuan siapa pun. Saya akan menghadapi risiko apapun. Saya akan buktikan bahwa saya tidak lagi mata-mata Ferry."
"Sendirian?"
"Sendirian. Saya tidak mau membahayakan kalian lagi."
Arga memandang Laras.
Lama.
"Kamu yakin?"
"Yakin."
"Ferry bisa membunuhmu."
"Saya tidak takut mati, Mas. Saya lebih takut hidup dalam dosa."
Arga menghela napas.
Ia memejamkan mata.
"Baik. Pergi. Tapi bawa Dimas. Untuk jaga, jaga."
"Tidak usah, Mas , "
"Bawa Dimas. Itu perintah."
Laras mengangguk.
PERJALANAN KE RUMAH AMAN
Jam delapan pagi, Laras dan Dimas berangkat.
Mereka naik motor Dimas, motor butut yang hanya bisa melaju empat puluh kilometer per jam. Perjalanan ke rumah aman Mariyem memakan waktu satu setengah jam. Melewati jalan raya macet. Melewati persawahan. Melewati perumahan padat. Melewati hutan kecil.
"Laras," panggil Dimas dari depan.
"Iya."
"Kamu kenapa mau melakukan ini?"
"Karena aku harus menebus kesalahan."
"Kamu takut?"
"Takut mati? Tidak. Takut gagal? Iya."
"Kamu tidak akan gagal. Aku di sini."
Laras tersenyum. "Terima kasih, Dimas."
"Jangan makasih. Nanti traktir."
Mereka tiba di rumah aman, sebuah rumah sederhana di tengah perkebunan salak. Dindingnya dari bambu. Atapnya dari seng. Halamannya ditumbuhi rumput liar.
Laras mengetuk pintu.
"Bu Mariyem! Ini Laras!"
Pintu terbuka.
Mariyem berdiri di ambang pintu. Wajahnya kaget.
"Laras? Kamu sendiri?"
"Sama Dimas. Di luar."
"Masuk. Cepat."
DI DALAM RUMAH AMAN
Rumah itu kecil. Hanya dua ruangan. Ruang tamu sekaligus ruang tidur. Dan dapur di belakang.
Mariyem duduk di dipan bambu. Wajahnya tegang.
"Laras, ada apa? Kok menelepon tadi malam bilang mau ambil bukti?"
"Iya, Bu. Saya mau ambil bukti asli. Fotokopian. Rekaman. Buku catatan. Semua."
"Untuk apa?"
"Untuk dibawa ke LBH. Untuk dibawa ke media. Untuk melawan Ferry."
Mariyem terdiam.
Ia memandang Laras.
"Kamu yakin, Nduk? Risikonya besar."
"Saya yakin, Bu."
"Ferry bisa membunuhmu."
"Saya sudah siap mati, Bu."
Mariyem menghela napas.
Ia berdiri. Berjalan ke dapur. Membuka sebuah kotak kayu di bawah tumpukan kayu bakar. Mengeluarkan sebuah tas plastik hitam.
"Ini," katanya sambil menyerahkan tas itu pada Laras. "Semua ada di sini. Fotokopian surat, surat Ferry. Rekaman percakapan. Buku catatan harian saya. Foto, foto Sekar. Semua."
Laras menerima tas itu.
Tangannya gemetar.
"Terima kasih, Bu."
"Jangan berterima kasih. Yang penting Sekar bebas."
"Ibu tidak takut pada Ferry?"
"Aku sudah tidak takut mati, Laras. Hidupku sudah cukup berat. Mati mungkin lebih ringan."
PERJALANAN PULANG
Jam sepuluh pagi, Laras dan Dimas pulang.
Tas plastik hitam berisi bukti, bukti diletakkan di jok belakang motor, di antara Laras dan Dimas. Laras memeluknya erat. Seperti memeluk nyawanya sendiri.
"Laras," panggil Dimas.
"Iya."
"Kamu dengar suara motor di belakang?"
Laras menoleh.
Dua motor. Hitam. Tanpa plat nomor. Pengendara helm hitam, jaket hitam.
"Dimas, cepat!"
Dimas memutar gas. Motor bututnya bergetar, melaju lebih cepat dari biasanya, mungkin karena adrenalin, mungkin karena takut.
Tapi motor hitam itu lebih cepat.
Mereka mendekat.
Satu di kiri. Satu di kanan.
"LARAS, LEPASKAN TAS ITU!" teriak salah satu pengendara.
"TIDAK MAU!"
"LEPASKAN ATAU KAMU CELAKA!"
"LEPASKAN SENDIRI!"
Pengendara di kiri mengeluarkan pentungan. Diayunkan ke arah Dimas.
Dimas menghindar. Motor oleng. Hampir jatuh.
"DIMAS!" teriak Laras.
"Aku baik, baik saja!"
Pengendara di kanan mengeluarkan pisau. Ditujukan ke tas plastik hitam.
Laras memeluk tas itu erat, erat.
Pisau itu mengenai lengan Laras.
Darat.
Laras berteriak.
Tapi ia tidak melepaskan tas itu.
"LARAS, DARAHMU!" teriak Dimas.
"BIARKAN! YANG PENTING BUKTI!"
Motor hitam itu semakin gencar menyerang.
Dimas kelabakan.
Tas diambil paksa.
Laras jatuh dari motor.
Berguling di aspal.
Tapi ia masih memegang tas itu.
"BUAT APA KAMU MEMPERTAHANKAN BARANG ITU? KAMU AKAN MATI!" teriak pengendara.
"BIARKAN AKU MATI! AKU SUDAH MATI SECARA BATIN!"
PERTOLONGAN DARI TAK TERDUGA
Tiba-tiba, sebuah truk besar muncul dari belokan.
Mengklakson keras.
Pengendara motor hitam itu terkejut, oleng, jatuh.
Satu. Dua.
Truk berhenti.
Sopirnya turun.
Laki, laki setengah baya dengan kumis tebal dan perut buncit.
"PAK MAN!" teriak Dimas.
Pak Man, supir bis yang dulu membantu Arga hari pertama di kota, berlari ke arah Laras.
"Nduk, kamu baik, baik saja?"
Laras menggeleng. "Saya... luka... tapi bukti... bukti masih aman."
"Mana buktinya?"
"Ini," Laras mengangkat tas plastik hitam.
"Diam di sini. Saya panggil polisi."
"Jangan, Pak. Polisi bisa membeli Ferry."
"Lalu?"
"Antar kami ke LBH. Sekarang. Sebelum Ferry mengirim anak buah lagi."
Pak Man mengangguk.
Ia mengangkat Laras ke truk.
Dimas mengikuti.
Motor bututnya ditinggal di pinggir jalan.
DI TRUK
Truk Pak Man melaju cepat.
Laras terbaring di lantai truk yang berdebu. Tangannya luka. Pakaiannya robek. Wajahnya pucat karena kehilangan darah.
"Nduk, kamu kuat?" tanya Pak Man.
"Saya kuat, Pak. Yang penting bukti."
"Nanti di LBH, kamu harus berobat dulu."
"Tidak usah, Pak. Saya mau serahkan bukti dulu."
"Kamu bisa pingsan."
"Biarkan."
Dimas memegang tangan Laras. "Laras, kamu berani."
"Bukan berani. Nekat."
"Itu sama saja."
"Tidak. Berani itu punya perhitungan. Nekat itu tanpa perhitungan."
"Sekarang kamu punya perhitungan?"
Laras tersenyum tipis. "Sekarang? Tidak. Aku hanya ingin mati dengan tenang."
"Jangan mati. Mas Arga belum memaafkanmu."
"Maka biarkan dia tidak memaafkanku. Yang penting dia bisa membebaskan Sekar."
DI LBH
Jam dua belas siang, mereka tiba di LBH.
Bu Rina sudah menunggu di depan kantor. Wajahnya tegang.
"Laras! Kamu kenapa?"
"Dihajar preman Ferry, Bu."
"Bu Mariyem?"
"Selamat. Bukti di tangan saya."
Laras menyerahkan tas plastik hitam itu pada Bu Rina.
Bu Rina menerimanya.
Dibukanya.
Fotokopian surat. Rekaman suara. Buku catatan. Foto, foto.
"Ini bukti yang kita butuhkan," kata Bu Rina. "Dengan ini, Ferry tidak bisa berkutik."
"Apakah cukup untuk membebaskan Sekar?"
"Cukup. Tapi kita butuh waktu."
"Berapa lama?"
"Mungkin satu minggu. Dua minggu. Tergantung proses hukum."
"Kita tidak punya waktu banyak. Ferry akan menikah dengan Sekar akhir bulan ini."
"Maka kita percepat. Saya akan hubungi media hari ini juga."
LARAS DI RUMAH SAKIT
Jam dua siang, Laras dibawa ke rumah sakit.
Lukanya cukup parah. Pisau menembus otot lengan. Butuh sepuluh jahitan. Dokter bilang, beruntung tidak mengenai urat nadi. Kalau tidak, Laras bisa mati kehabisan darah.
"Nduk, kamu harus istirahat seminggu," kata dokter.
"Saya tidak bisa, Dok. Saya harus membantu teman, teman."
"Tidak bisa. Ini perintah medis."
"Saya , "
"Laras," potong Arga yang baru datang bersama Guntur, Faruq, Nisa. "Dokter bilang istirahat. Kamu istirahat."
"Tapi , "
"Tidak ada tapi. Kamu sudah cukup berjuang. Sekarang giliran kami."
Laras memandang Arga.
Matanya basah.
"Kamu... sudah memaafkanku?"
Arga tidak menjawab.
Ia hanya memegang tangan Laras.
"Kamu selamat. Itu yang penting."
"Jawaban saya belum, Laras. Tapi kamu di jalur yang benar."
ISI BUKTI
Malam itu, di ruang rapat LBH, Bu Rina memeriksa semua bukti.
Fotokopian surat, surat Ferry: ancaman pada Mariyem, perintah untuk menyekap Sekar, perintah untuk memberi obat penenang dosis tinggi.
Rekaman suara: percakapan Ferry dengan pengacaranya tentang cara "mengamankan" Sekar, percakapan Ferry dengan orang tua Sekar tentang perjodohan, percakapan Ferry dengan preman bayaran.
Buku catatan Mariyem: catatan harian tentang penyiksaan psikis dan fisik pada Sekar, catatan tentang tamu, tamu mencurigakan yang datang ke rumah Ferry, catatan tentang aliran uang haram.
Foto, foto: Sekar lebam, Sekar pingsan, Sekar menangis di sudut kamar, Sekar berdiri di balkon dengan mata kosong.
"Ini bom waktu," kata Bu Rina. "Jika ini kita sebarkan ke media, Ferry akan hancur."
"Kapan kita sebarkan?" tanya Nisa.
"Besok pagi. Tapi kita harus hati, hati. Jangan sampai Ferry kabur ke luar negeri."
"Kita cegah. Dimas, kamu bisa pantau bandara?"
"Bisa," kata Dimas.
"Bagus. Guntur, kamu siapkan pernyataan pers."
"Siap."
"Faruq, kamu koordinasi dengan teman, teman aktivis. Besok kita demo di depan rumah Ferry."
"Siap."
"Arga, kamu... kamu yang paling berat."
"Apa, Bu?"
"Kamu harus siap tampil di depan media. Ceritakan semua. Tentang Sekar. Tentang perjuanganmu. Tentang cintamu."
Arga menghela napas.
"Apa itu perlu, Bu?"
"Perlu. Publik perlu tahu bahwa perjuangan ini bukan hanya tentang hukum. Tapi tentang cinta. Cinta yang tidak bisa dibeli uang."
MALAM DI KOS
Jam sebelas malam, Arga pulang ke kos.
Ia tidak langsung tidur.
Ia duduk di beranda.
Memandang langit malam.
Bulan purnama.
Bintang, bintang terang.
"Le, belum tidur?" sapa Mbok Darmi dari pintu.
"Belum, Mbok."
"Mikirkan Laras?"
"Iya. Juga besok. Demo. Media. Semua."
"Kamu takut?"
"Takut. Tapi tidak bisa mundur."
Mbok Darmi duduk di samping Arga.
"Nduk, Mbok mau cerita."
"Cerita apa, Mbok?"
"Dulu, ketika Mbok masih muda, Mbok juga pernah mengkhianati teman. Mbok iri. Mbok dengki. Mbok fitnah. Teman itu hampir bunuh diri karena ulah Mbok."
"Lalu?"
"Mbok menyesal. Mbok minta maaf. Tapi teman Mbok tidak bisa memaafkan. Sampai sekarang."
"Kenapa Mbok cerita ini?"
"Karena Mbok ingin kamu tahu bahwa memaafkan itu sulit. Tapi tidak memaafkan juga sulit. Pilih yang paling ringan untuk hatimu."
Arga tidak menjawab.
Ia hanya memandang langit.
BAB 23
DEMO DI DEPAN RUMAH FERRY
Bukti, bukti dari Mariyam telah diverifikasi oleh LBH. Rekaman suara, foto, foto, catatan harian, dan fotokopian surat, surat ancaman, semuanya otentik, semuanya kuat, semuanya cukup untuk menghancurkan reputasi Ferry dalam semalam. Tapi Bu Rina mengingatkan mereka bahwa hukum di negeri ini tidak selalu berpihak pada kebenaran. Hukum seringkali berpihak pada uang. Dan Ferry punya banyak uang.
"Maka kita gunakan senjata lain," kata Bu Rina dalam rapat terakhir sebelum aksi demo. "Publik. Tekanan publik lebih kuat dari seribu pengacara. Jika rakyat marah, tidak ada uang yang bisa membungkam mereka."
Nisa sudah menyebarkan undangan demo melalui jaringan aktivisnya. Dalam waktu dua hari, lebih dari lima ratus orang dari berbagai organisasi mahasiswa, LSM, serikat buruh, dan komunitas peduli perempuan menyatakan akan hadir. Media lokal dan nasional juga sudah dihubungi. Beberapa jurnalis investigasi tertarik dengan kasus ini, bukan hanya karena perjodohan paksa, tapi juga karena keterlibatan nama besar keluarga Kencana.
"Besok pagi, jam delapan, kita kumpul di Taman Pintar. Dari sana kita longmarch ke perumahan Mutiara Indah," kata Nisa. "Rute sudah kita urus izinnya. Polisi akan mengawal. Tapi jangan harap mereka akan melindungi kita jika terjadi kericuhan."
"Kenapa?" tanya Faruq.
"Karena polisi juga bisa dibeli Ferry."
"Lalu siapa yang akan melindungi kita?"
"Kita sendiri."
MALAM SEBELUM DEMO
Jam sepuluh malam, Arga tidak bisa tidur.
Ia duduk di beranda kos, memandang langit malam yang gelap tanpa bintang. Peta usang Mbah Jayarasa terbuka di pangkuannya. Bantal kecil dari kebaya Sekar ia genggam erat. Pikirannya melayang ke mana, mana, ke Sekar yang terkurung di rumah mewah itu, ke Laras yang masih dirawat di rumah sakit dengan lengan berbalut perban, ke Mariyem yang bersembunyi di rumah aman bersama anak, anaknya, ke teman, teman yang siap mempertaruhkan segalanya untuk kebebasan seorang gadis desa yang tidak pernah mereka kenal sebelumnya.
"Mas Arga," panggil Dimas dari halaman.
"Iya."
"Guntur minta kita kumpul di posko. Ada perubahan rencana."
Arga berdiri. Ia melipat peta, memasukkan ke saku celana. Bantal kebaya ia letakkan di dipan, tidak mau dibawa, takut rusak jika terjadi kericuhan.
Mereka berlima, Arga, Guntur, Faruq, Nisa, dan Dimas, berkumpul di ruang tamu kos yang telah disulap menjadi posko. Dindingnya dipenuhi peta, foto, foto, dan catatan, catatan. Meja kayu panjang dipenuhi dokumen, laptop, dan ponsel.
Guntur membuka laptopnya. "Ada kabar buruk. Ferry tahu soal demo besok."
"Dari mana?" tanya Nisa.
"Dari mata-matanya. Dia sudah menyiapkan preman. Ratusan. Mereka akan berpura-pura jadi pendemo dan membuat kericuhan."
"Tujuannya?"
"Agar polisi membubarkan demo. Agar citra kita rusak. Agar media memberitakan bahwa demo anarkis."
"Bajingan," geram Faruq.
"Kita harus antisipasi," kata Guntur. "Nisa, kamu koordinasi dengan koordinator lapangan. Setiap kelompok harus punya orang yang bertugas mendokumentasi. Rekam semua kejadian. Jangan sampai ada fitnah."
"Baik."
"Dimas, kamu di posisi tinggi. Atap toko dekat perumahan. Pantau pergerakan preman."
"Siap."
"Faruq, kamu di barisan depan. Kamu wajahnya paling tidak kenal di mata-mata Ferry. Bisa menyusup."
"Saya siap berkorban, Komandan."
"Jangan mati. Nanti repot."
Mereka tertawa kecil. Tapi tawa itu hambar.
PAGI DEMO
Jam setengah enam pagi, Arga sudah bangun.
Ia tidak tidur semalaman. Pikirannya terlalu kacau. Ia membayangkan Sekar di balik jendela rumah Ferry, mendengar suara demo, mungkin ketakutan, mungkin berharap, mungkin menangis.
Ia mandi dengan air dingin. Memakai kemeja putih lengan panjang, kemeja terbaik yang ia miliki, kemeja pemberian ibunya, kemeja yang hanya ia pakai untuk acara, acara penting. Celana bahan hitam yang sedikit kebesaran. Sepatu pantofel pinjaman dari Dimas.
Ia memandang cermin pecah di kamar mandi.
Wajahnya pucat. Matanya cekung. Bibirnya kering.
"Ini untuk Sekar," bisiknya pada bayangannya sendiri. "Ini untuk semua yang kau derita. Ini untuk kebebasanmu."
Ia keluar kamar.
Di halaman, teman, temannya sudah berkumpul.
Guntur dengan kemeja hitam lengan panjang, warna yang tidak pernah ia pakai sebelumnya. Faruq dengan kaos oblong bertuliskan "FREE SEKAR" di dadanya, cetakan sendiri semalam dengan cat tembok. Nisa dengan jaket jurnalistik lengkap dengan kantong, kantongnya. Dimas dengan rompi kurir yang dimodifikasi menjadi rompi taktis.
"Kita siap?" tanya Guntur.
"Siap," jawab mereka serempak.
TAMAN PINTAR
Jam tujuh pagi, mereka tiba di Taman Pintar.
Lapangan itu sudah mulai dipenuhi orang. Mahasiswa membawa poster. Ibu, ibu membawa bendera. Buruh membawa spanduk. Aktivis membawa pengeras suara. Wajah-wajah asing, tapi semuanya datang untuk satu tujuan: membebaskan Sekar.
Nisa naik ke atas panggung darurat, sebuah truk yang diparkir di pinggir taman. Ia memegang pengeras suara.
"SAUDARA, SAUDARA! TERIMA KASIH TELAH DATANG!"
Sorak sorai.
"HARI INI KITA BUKAN HANYA DEMO UNTUK SEKAR! HARI INI KITA DEMO UNTUK SEMUA PEREMPUAN YANG DIJODOHKAN PAKSA! UNTUK SEMUA PEREMPUAN YANG DIKURUNG! UNTUK SEMUA PEREMPUAN YANG HILANG SUARANYA!"
Sorak sorai makin keras.
"TAPI INGAT! KITA DATANG DENGAN DAMAI! KITA TIDAK AKAN MEMBANTING SATU PUN KACA TOKO! KITA TIDAK AKAN MEMBAKAR BAN! KITA TIDAK AKAN MELAWAN POLISI! KITA HANYA AKAN BERSERU! KARENA SUARA KITA ADALAH SENJATA PALING TAJAM!"
"SETUJU!" teriak massa.
Nisa turun dari truk.
Guntur mendekatinya. "Bagus. Tapi hati-hati. Mata, mata Ferry sudah mulai masuk."
"Dari mana?"
"Sana. Kelompok sebelah timur. Yang bawa bendera kuning. Itu bukan bendera organisasi mana pun."
"Lalu apa?"
"Bendera palsu. Mereka preman."
"Laporkan pada koordinator lapangan. Saya akan ke barat."
LONGMARCH
Jam setengah delapan, aksi longmarch dimulai.
Massa berjalan kaki dari Taman Pintar menuju perumahan Mutiara Indah. Jaraknya sekitar tiga kilometer. Polisi berjalan di samping kiri dan kanan, mengamankan, tapi tidak ikut serta.
Arga berjalan di barisan depan, di samping Guntur dan Faruq. Ia memegang poster besar bertuliskan "SEKAR, KAMI DATANG UNTUKMU!"
Wajahnya tegang.
Pikirannya kacau.
Ia terus memandang ke arah perumahan Mutiara, belum terlihat, masih tertutup gedung, gedung dan pepohonan.
"Mas Arga, tenang," bisik Faruq.
"Saya tenang."
"Tangan Mas gemetar."
"Itu karena dingin."
"Panas begini dingin?"
"Keringat dingin."
Mereka terus berjalan.
DI DEPAN GERBANG PERUMAHAN
Jam sembilan pagi, massa tiba di depan gerbang perumahan Mutiara Indah.
Gerbang besi setinggi tiga meter itu tertutup rapat. Di belakangnya, berjejer preman, mungkin seratus orang dengan pentungan, bambu runcing, dan sajam lainnya. Wajah, wajah garang. Tubuh, tubuh kekar.
Ferry tidak terlihat.
Tapi Arga tahu, dia ada di suatu tempat. Mengawasi. Tersenyum.
Nisa naik ke atas mobil komando, sebuah truk kontainer yang diparkir di pinggir jalan.
"SAUDARA, SAUDARA! KITA BERHENTI DI SINI! KITA TIDAK AKAN MASUK KE DALAM PERUMAHAN! KITA TIDAK AKAN MELAWAN PREMAN! KITA HANYA AKAN BERSERU!"
"SETUJU!"
"SEKAR, KAMI DI SINI!" teriak Nisa lewat pengeras suara.
"SEKAR, KAMI DI SINI!" ulang massa.
Suara gemuruh.
Arga ikut berteriak. Sekeras, kerasnya. Sampai suaranya serak.
"SEKAR! KAMU DENGAR? KAMI DI SINI! KAMI TIDAK AKAN PERGI! KAMI TIDAK AKAN MENYERAH!"
PREMAN MENYERANG
Jam setengah sepuluh, ketegangan memuncak.
Preman-preman mulai keluar dari gerbang. Bukan menyerang. Tapi mendekat. Mengintimidasi.
"KALIAN BUBAR! INI KAWASAN PRIBADI!" teriak salah satu preman.
"INI RUANG PUBLIK! INI JALAN RAYA!" bantah Nisa.
"URUSAN KAMI DENGAN YANG PUNYA RUMAH! KALIAN TIDAK BERHAK MELARANG!" teriak massa.
Preman itu meludah. "KALIAN TIDAK TAHU DIRI! KALIAN MELAWAN SIAPA?"
"KAMI MELAWAN KEJAHATAN! KAMI MELAWAN KETIDAKADILAN! KAMI MELAWAN FERRY!"
Preman itu mengangkat pentungan.
Massa mundur selangkah.
Tapi tidak lari.
Faruq maju ke depan. "AYO! PAKAI PENTUNGANMU! LEHERKU DI SINI! PUKUL!" teriaknya.
Preman itu terkejut. Tidak menyangka ada yang seberani itu.
"KAMU GILA?"
"MUNGKIN! TAPI SETIDAKNYA AKU TIDAK TAKUT PADA SESEORANG YANG HIDUPNYA BERGANJALAN PADA KEBENARAN!"
Preman itu mundur.
Massa bersorak.
Arga maju di samping Faruq.
"Dengar, saya tidak kenal kamu. Saya tidak tahu kenapa kamu mau bekerja pada Ferry. Mungkin karena uang. Mungkin karena terpaksa. Saya tidak menghakimi."
"TAPI HARI INI, SAYA MINTA KAMU BERHENTI! BERHENTI MENGHALANGI KEADILAN! BERHENTI MENJADI BONEKA ORANG KAYA!"
Preman itu memandang Arga.
Matanya berubah.
Dari garang menjadi ragu.
Dari ragu menjadi malu.
Ia menurunkan pentungannya.
Tanpa berkata apa, apa, ia berbalik dan masuk ke gerbang.
Preman lain mengikutinya.
Satu per satu.
Massa bersorak lebih keras.
FERRY MUNCUL
Tepat saat preman-preman masuk, sebuah mobil hitam Mercedes, Benz melaju dari dalam perumahan.
Plat B 1 FKY.
Ferry.
Mobil berhenti tepat di depan gerbang.
Ferry turun.
Tinggi. Tegap. Jas navy. Dasi merah. Sepatu oxford mengkilap. Wajahnya tampan, tapi dingin. Matanya tajam, tapi kosong.
Ia tersenyum.
Senyum yang tidak sampai ke mata.
"Demo yang bagus," katanya. "Terima kasih sudah meramaikan kawasan saya. Properiti saya jadi naik daun."
Massa mendesis.
"Ferry! Lepaskan Sekar!" teriak seseorang.
Ferry tertawa. "Sekar tidak di sini. Sekar sudah pindah. Ke tempat yang tidak akan kalian temukan. Bahkan dengan peta ajaib sekalipun."
Arga maju. "Ferry, di mana Sekar?"
"Kenapa kamu harus tahu? Kamu siapa? Pacar? Pacar desa yang tidak punya apa, apa?"
"Saya Arga. Anak Sastro dan Sukmawati. Dari desa Wringinrejo. Saya tidak punya uang. Tidak punya mobil. Tidak punya rumah mewah. Tapi saya punya hati. Hati yang mencintai Sekar. Dan hati itu tidak bisa kau beli dengan uang."
Ferry bertepuk tangan. Pelan. "Sastra banget. Kamu cocok jadi penulis roman picisan."
"Di mana Sekar?"
"Di tempat yang aman. Tempat di mana dia tidak akan diganggu preman desa seperti kamu."
"Ferry!" Nisa maju dengan pengeras suara. "KAMI PUNYA BUKTI! BUKTI PENYEKAPAN! BUKTI KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA! BUKTI PERJODOHAN PAKSA! BUKTI SUAP PADA POLISI! BUKTI SEGALA, GALANYA!"
"Bukti palsu," kata Ferry tenang. "Kalian bisa memalsukan apa saja."
"BUKTI ASLI! ADA REKAMAN SUARA! ADA FOTO! ADA SAKSI! KAMI SIAP BAWA KE PENGADILAN!"
Ferry mendekati Nisa. Berdiri tepat di depannya. Hanya setengah meter.
"Apa kamu tidak takut dipenjara karena memfitnah?"
"Saya tidak takut, karena saya tidak memfitnah. Saya hanya menyampaikan kebenaran. Dan kebenaran akan selalu menang, meskipun kau sembunyikan di balik uang dan kuasa."
Ferry tersenyum lagi. Tapi kali ini senyumnya berbeda. Ada gugup di balik bibir tipisnya.
"Kamu... berani."
"Bukan berani. Terpaksa. Karena jika orang baik diam, kejahatan akan menang."
Massa bersorak.
Ferry berbalik.
Ia berjalan ke mobilnya.
Sebelum masuk, ia menoleh.
"Arga."
Arga menatapnya.
"Kamu hebat. Tapi ingat, saya tidak akan kalah. Saya tidak pernah kalah. Dari dulu sampai sekarang. Dan kamu? Kamu hanya anak desa. Kamu tidak akan pernah menjadi apa, apa."
"Menjadi apa, apa tidak penting. Yang penting menjadi benar."
Ferry masuk ke mobil.
Mobil itu melaju.
Meninggalkan gerbang.
Meninggalkan massa.
Meninggalkan Arga yang berdiri tegap di tengah terik matahari.
SETELAH DEMO
Jam dua belas siang, massa mulai bubar.
Polisi mengamankan jalan. Petugas kebersihan membersihkan sampah. Beberapa demonstran masih bertahan, menunggu Ferry keluar lagi, tapi Ferry tidak akan keluar.
Arga duduk di pinggir jalan. Wajahnya lelah. Tenggorokannya kering. Kakinya pegal.
"Minum, Mas," kata Dimas sambil menyerahkan botol air mineral.
Arga meminumnya seteguk. Dua teguk. Tiga teguk.
"Ferry bilang Sekar sudah pindah," kata Arga.
"Bohong dia. Cuma taktik."
"Tapi bagaimana jika benar?"
"Kita cari. Dengan peta. Dengan bukti. Dengan teman, teman."
"Sekar..."
"Mas Arga, jangan patah semangat. Ini baru awal."
KEMBALI KE KOS
Jam dua siang, mereka tiba di kos.
Mbok Darmi sudah menyiapkan makan siang. Nasi, sayur asem, ayam goreng, sambal terasi.
"Makan, Le. Jangan banyak pikiran."
"Terima kasih, Mbok."
Mereka makan bersama. Tidak banyak bicara. Hanya suara sendok dan piring.
"Guntur," panggil Arga setelah makan.
"Iya."
"Kita harus cari Sekar. Cepat. Sebelum Ferry benar, benar memindahkannya ke tempat yang tidak bisa kita jangkau."
"Dimas, kamu punya ide?"
Dimas menggaruk kepalanya. "Rumah Ferry masih kita pantau. Tapi jika dia sudah pindah, kita butuh informasi dari dalam."
"Apa maksudmu?"
"Kita butuh mata-mata di dalam lingkaran Ferry. Bukan seperti Laras yang disusupkan. Tapi orang yang memang sudah ada di sana sejak lama."
"Contoh?"
"Mariyem. Tapi dia sudah ketahuan."
"Yang lain?"
"Pembantu lain. Satpam. Sopir. Koki. Tukang kebun. Pedagang keliling. Siapa pun yang punya akses."
"Itu ide bagus. Tapi berisiko."
"Semua berisiko, Mas."
MALAM DI RUMAH SAKIT
Jam tujuh malam, Arga menjenguk Laras di rumah sakit.
Laras terbaring di tempat tidur. Wajahnya masih pucat. Lengannya masih dibalut perban tebal. Tapi matanya, matanya sudah tidak sayu lagi. Ada cahaya di sana. Cahaya yang tidak pernah Arga lihat sebelumnya.
"Mas Arga, demo berhasil?"
"Berhasil. Massa ribuan. Ferry kewalahan."
"Apa dia mengaku?"
"Tidak. Tapi dia ketakutan. Aku lihat sendiri."
Laras tersenyum. "Bagus. Itu awal."
"Awal dari apa?"
"Awal dari kehancurannya."
Arga duduk di kursi samping tempat tidur.
"Laras, aku mau tanya."
"Iya."
"Apa motifmu sebenarnya membantu Ferry?"
Laras menunduk.
"Aku sudah cerita. Ibuku."
"Tapi itu tidak cukup. Ada yang lain."
Laras diam lama.
"Ada."
"Apa?"
"Aku... dulu pernah dekat dengan Ferry."
Arga terkesiap.
"Apa?"
"Dulu, sebelum Ferry kenal Sekar, kami dekat. Bukan pacaran. Tapi... dekat. Dia sering ajak aku makan. Belikan aku barang. Tawarkan beasiswa. Tapi aku tahu, semua itu ada harganya."
"Apa harganya?"
"Tubuhku."
Ruangan hening.
Laras melanjutkan.
"Aku tidak mau, Mas. Aku tolak. Sejak itu, dia benci aku. Tapi dia juga tahu kelemahanku: ibuku yang sakit. Jadi dia gunakan itu. Tawarkan uang. Bantuan. Semua untuk ibuku. Tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Aku jadi mata-matanya. Mengawasi tim penyelamat Sekar."
"Dan kamu terima?"
"Aku terima. Karena ibuku. Karena tidak ada pilihan lain. Karena aku pikir, mungkin setelah ibuku sembuh, aku bisa lari. Bisa mulai hidup baru. Bisa melupakan semua ini."
"Tapi?"
"Tapi dosa tidak bisa dilupakan. Dosa tidak bisa disembunyikan. Dosa tidak bisa dibayar dengan uang."
PELUKAN PERDAMAIAN
Arga memandang Laras.
Perempuan di depannya bukan lagi mata, mata Ferry. Bukan lagi aktivis kampus yang misterius. Bukan lagi mahasiswa berprestasi yang selalu percaya diri. Tapi anak perempuan yang takut kehilangan ibunya. Tapi anak perempuan yang terpaksa melakukan hal, hal kejam demi orang yang dicintainya. Tapi anak perempuan yang sedang menangis di ranjang rumah sakit karena penyesalan.
"Laras," panggil Arga.
"Iya."
"Aku memaafkanmu."
Laras terisak.
"Aku sudah memaafkanmu sejak kamu jatuh dari motor, memeluk tas plastik berisi bukti, dan siap mati demi kebenaran."
"Mas Arga , "
"Kita teman. Kita saudara. Kita satu tim. Dan tim tidak saling mengkhianati. Tapi jika salah satu tersesat, tim akan membawanya kembali."
Laras menangis.
Arga memeluknya.
Pelukan yang hangat.
Pelukan yang tulus.
Pelukan yang mengubur masa lalu yang kelam.
BAB 24
FERRY MENYERANG BALIK
Demo besar di depan perumahan Mutiara Indah menjadi peristiwa yang mengguncang publik. Media massa memberitakannya di halaman depan. Televisi menayangkan rekaman massa yang berteriak "Lepaskan Sekar!" dan "Ferry Penjahat!" di setiap jam tayang utama. Media sosial dibanjiri tagar #FreeSekar dan #FerryTahanan. Publik mulai mempertanyakan siapa sebenarnya Ferry Kencana, pengusaha muda berbakat yang selama ini dipuja, puja, atau monster berjas yang menyekap dan menyiksa gadis desa?
Tapi Ferry tidak tinggal diam.
Dia bukan tipe orang yang mundur ketika terpojok. Dia bukan tipe orang yang menyerah ketika reputasinya hancur. Dia bukan tipe orang yang takut pada demo, media, atau publik. Dia adalah penguasa. Dan penguasa tidak pernah kalah. Penguasa selalu punya rencana cadangan. Penguasa selalu punya kartu as di balik lengan bajunya.
Dan malam itu, tepat ketika tim Arga merayakan kemenangan kecil mereka di kos, kosan, Ferry melancarkan serangan balik.
Bukan serangan fisik. Bukan serangan hukum. Tapi serangan psikologis. Serangan yang lebih kejam, lebih menghancurkan, lebih membuat Arga nyaris kehilangan akal.
Ferry menyerang dari dalam.
Dari orang-orang terdekat Arga.
Dari orang-orang yang tidak pernah ia duga.
TELEPON TENGAH MALAM
Jam satu dini hari, ponsel Arga berdering.
Tidak seperti biasanya. Nomor tidak dikenal. Tapi Arga mengangkat mungkin karena firasat, mungkin karena tidak bisa tidur, mungkin karena ada sesuatu di dadanya yang bergetar aneh.
"Halo?"
"Selamat malam, Arga." Suara itu dingin. Familiar. Menyebalkan.
"Ferry."
"Cerdas. Aku suka."
"Apa yang kau inginkan jam segini?"
Ferry tertawa kecil. Tawa kecil yang membuat bulu kuduk Arga merinding.
"Aku hanya ingin memberi kabar. Sekar baik, baik saja. Dia sudah pindah ke tempat yang lebih aman. Tempat yang tidak akan kau temukan. Bahkan dengan peta ajaib dari kakek tuamu."
"Kau tidak akan bisa bersembunyi selamanya, Ferry. Publik sudah tahu. Media sudah meliput. LBH sudah memproses. Hukum akan berjalan."
"Hukum?" Ferry tertawa lebih keras. "Kamu anak desa. Kamu tidak tahu apa, apa tentang hukum. Hukum adalah alat. Alat yang bisa dibeli dengan uang. Dan aku punya banyak uang."
"Uang tidak bisa membeli segalanya."
"Bisa. Kebanyakan hal. Termasuk nyawa."
Arga mengepalkan tangan. "Kau mengancamku?"
"Bukan ancaman. Fakta. Aku tahu semua tentang kamu. Tentang keluargamu. Tentang teman, temanmu. Bahkan tentang adikmu yang mati tenggelam Jatmika, bukan?"
Darah Arga berhenti mengalir. "Jangan bawa Jatmika ke dalam ini."
"Kenapa? Kau takut? Kau takut masa lalumu terbongkar? Kau takut orang, orang tahu bahwa kamu bukan anak normal? Bahwa kamu bisa melihat hantu? Bahwa kamu lahir di bawah kilat tanpa suara?"
"Ferry —"
"Aku punya orang di desamu, Arga. Orang yang merekam semua. Orang yang tahu semua. Aku punya bukti bahwa kamu anak aneh. Anak setan. Anak yang seharusnya tidak pernah lahir di dunia ini."
Arga terdiam.
Pikirannya kosong.
Dadanya sesak.
"Jika kamu tidak berhenti mencari Sekar," lanjut Ferry, "aku akan sebarkan bukti itu ke publik. Kamu akan diusir dari kos. Dipecat dari kerja. Dijauhi teman, teman. Dikucilkan. Kamu akan jadi orang buangan di kotamu sendiri."
"Kau iblis."
"Saya pengusaha. Saya realistis. Saya tidak percaya pada kebaikan, keadilan, atau cinta. Saya hanya percaya pada uang dan kuasa."
"Aku tidak takut."
"Kamu harus takut. Karena aku belum selesai. Aku juga akan menyerang teman-temanmu. Satu per satu. Guntur. Faruq. Nisa. Dimas. Laras. Semua yang membantumu akan hancur."
"Jangan sentuh mereka!"
Maka berhentilah. Hentikan pencarianmu. Lupakan Sekar. Biarkan dia menjadi istriku. Biarkan dia hidup dalam kemewahan. Itu lebih baik daripada hidup di desa miskin bersamamu."
Arga tidak menjawab.
"Kau punya waktu tiga hari, Arga. Tiga hari untuk memutuskan. Berhenti. Atau hancur."
Telepon ditutup.
Arga memandang ponselnya.
Tangannya gemetar.
Wajahnya pucat.
Ia jatuh duduk di dipan.
PAGI YANG KELAM
Jam enam pagi, Guntur datang ke kos.
Wajahnya tegang. Matanya merah. Bajunya kusut , sepertinya tidak tidur semalaman.
"Arga, kita kena serangan."
"Serangan apa?"
"Laptopku diretas. Semua data tentang kasus ini bukti, foto, rekaman, catatan hilang."
"Hilang?"
"Iya. Terhapus. Tidak bisa direcovery. Pelaku profesional."
"Ferry?"
"Pasti."
Belum selesai Guntur bicara, ponsel Faruq berdering. Ia angkat. Wajahnya berubah pucat.
"Apa?"
Diam.
"Apa katamu?"
Diam lagi.
"Baik. Saya datang."
Faruq menutup ponsel. Wajahnya pucat pasi.
"Faruq, kenapa?" tanya Nisa.
"Kos, kusanku digeledah. Polisi. Surat perintah dari pengadilan. Mereka bilang ada laporan bahwa aku menyimpan narkoba."
"Kamu menyimpan?"
"Tidak! Aku tidak pernah!"
"Pasti Ferry yang mengatur."
"Sialan."
Belum lagi mereka memproses berita itu, ponsel Nisa berdering.
Ia angkat.
Wajahnya berubah.
"Bu Rina? Ada apa?"
Diam.
"Kantor LBH digeledah? Bukti, bukti disita?"
Diam.
"Polisi? Atas perintah siapa?"
Diam.
"Baik. Saya ke sana."
Nisa menutup ponsel. Matanya berkaca, kaca.
"Bu Rina bilang, semua bukti yang kita serahkan ke LBH disita polisi. Alasan: dugaan pemalsuan dokumen."
"Pemalsuan dokumen?" Guntur tertawa pahit. "Itu kentara sekali rekayasa."
"Tapi itu yang tertulis di surat perintah."
"Sialan."
Dimas yang sejak tadi diam, angkat bicara.
"Kalau begitu, kita tidak punya apa, apa lagi. Bukti hilang. Laptop diretas. Kos digeledah. LBH disita."
"Kita masih punya Mariyem," kata Arga.
"Mariyem? Ferry sudah tahu di mana dia."
"Tapi dia saksi hidup. Saksi yang tidak bisa disita polisi."
"Ferry bisa membunuhnya sebelum dia bersaksi."
"Maka kita lindungi dia."
"Dengan apa? Dengan siapa? Polisi ada di pihak Ferry. Preman semakin banyak. Uang habis. Tenaga habis. Semua habis."
KEDATANGAN TAK TERDUGA
Saat suasana paling kelam, seseorang datang ke kos.
Ibu, ibu setengah baya dengan keranjang anyaman di tangan. Wajahnya lelah, keringat membasahi dahi.
"Selamat pagi. Arga?"
Arga menoleh. "Iya. Siapa Ibu?"
"Saya Utami. Tetangganya Mbah Jayarasa di desa."
Arga terkesiap. "Mbah Jayarasa? Bagaimana kabarnya?"
Utami menunduk. Tangannya gemetar.
"Maaf, Mas Arga. Mbah Jayarasa meninggal tiga hari lalu."
Dunia Arga berhenti berputar.
"Apa?"
"Meninggal. Dalam tidur. Kata dokter, usianya sudah cukup."
"Mengapa saya tidak diberi tahu?"
"Karena Mbah Jayarasa yang meminta. Dia bilang, jangan ganggu Arga. Dia sedang berjuang untuk sesuatu yang penting. Biarkan dia fokus. Jangan beri kabar duka."
Air mata Arga jatuh.
Ia jatuh duduk di kursi.
Guntur memegang bahunya.
"Mbah Jayarasa..." bisik Arga. "Mbah Jayarasa... aku tidak sempat pamit... aku tidak sempat melihatmu terakhir kali..."
Utami mengeluarkan sesuatu dari keranjangnya.
Sebuah kotak kayu kecil. Ukiran. Polos. Tapi elegan.
"Ini titipan Mbah Jayarasa untukmu. Dia bilang, buka ketika kamu merasa paling putus asa."
Arga menerima kotak itu.
Tangannya gemetar.
Ia membuka tutupnya.
Di dalamnya: peta lain.
Peta yang berbeda.
Peta yang lebih detail.
Peta yang menunjukkan lokasi persembunyian Sekar yang baru.
Dan sepucuk surat.
ISI SURAT MBAH JAYARASA
Arga membaca surat itu dengan suara parau, terbata-bata, di antara isak tangisnya.
"Le, jika kau membaca surat ini, berarti aku sudah tiada. Jangan sedih. Aku hidup cukup lama. Aku melihatmu lahir, tumbuh, jatuh cinta, berjuang. Itu sudah lebih dari cukup."
"Le, aku tahu semua yang terjadi. Aku tahu tentang Ferry. Tentang Sekar. Tentang perjuanganmu. Aku tahu tentang Laras. Tentang pengkhianatannya. Aku tahu tentang demo. Tentang serangan balik Ferry."
"Aku juga tahu bahwa saat kau membaca surat ini, kamu sedang berada di titik terendah. Kamu merasa kalah. Kamu merasa tidak punya harapan. Kamu merasa semua sia, sia."
"Tapi Le, ingatlah: puncak gunung tidak akan pernah tercapai jika kamu berhenti di tengah jalan. Lembah terdalam tidak akan pernah kau lewati jika kamu menyerah sebelum mencoba."
"Aku meninggalkan peta kedua untukmu. Peta ini lebih detail dari yang pertama. Peta ini menunjukkan lokasi sebenarnya Sekar tempat persembunyian baru yang Ferry bangun khusus untuk mengamankan calon istrinya."
"Jangan tanya dari mana aku tahu. Aku punya mata-mata yang tidak pernah ketahuan. Mata-mata yang bahkan Laras tidak tahu."
"Sekarang, bangkitlah. Kumpulkan teman, temanmu. Bergeraklah. Jangan biarkan kematianku menghentikan kalian. Biarkan kematianku menjadi bahan bakar semangatmu."
"Arga, aku bangga padamu. Kamu bukan anak desa biasa. Kamu adalah pengembara yang mencari rumahnya sendiri. Dan rumah itu bukan tembok dan genteng. Rumah itu adalah hati Sekar."
"Salam untuk teman, temanmu. Dan untuk Jatmika — kakakmu yang setia menjaga dari alam sana."
"—Mbah Jayarasa"
Arga menutup surat itu.
Ia memeluk kotak kayu.
Ia menangis.
Bukan isak tangis kecil.
Tapi tangis keras yang keluar dari hati paling dalam.
Tangis untuk Mbah Jayarasa.
Tangis untuk semua pengorbanan.
Tangis untuk perjuangan yang belum selesai.
KEDATANGAN RATRI
Saat Arga masih terisak, seseorang masuk ke halaman kos.
Perempuan muda. Rambut panjang. Wajah bulat. Matanya sayu.
"Ratri?" Arga tidak percaya.
Ratri, teman masa kecilnya, sahabat setia yang selalu ada di desa, kini berdiri di depannya. Di kota. Di tempat yang tidak pernah ia bayangkan akan ia kunjungi.
"Mas Arga," Ratri tersenyum tipis.
"Kamu ngapain di sini?"
"Nggak tenang. Dengar-dengar Mas Arga dalam bahaya. Ibu dan Ayah juga nggak tenang. Mereka suruh aku ke sini."
"Sendirian?"
"Sendirian. Naik bis dua belas jam."
"Berani sekali kamu."
Ratri mendekat. Ia memeluk Arga. "Aku bukan cuma teman masa kecilmu, Mas. Aku juga saudaramu. Saudara tidak akan membiarkan saudaranya berjuang sendiri."
Guntur, Faruq, Nisa, dan Dimas hanya diam memandang.
Mereka tidak mengenal Ratri. Tapi dari cara Ratri memeluk Arga, dari cara Arga tidak menolak mereka tahu bahwa perempuan ini istimewa.
"Saudara?" bisik Faruq pada Guntur.
"Teman masa kecil," bisik Guntur balik.
"Lebih dari teman?"
"Entahlah."
RATRI BERGABUNG
Ratri duduk di antara mereka. Mbok Darmi menyuguhkan teh jahe dan pisang goreng.
"Mas Arga," kata Ratri setelah mendengar cerita singkat dari Arga.
"Iya."
"Aku nggak bisa bantu banyak. Aku cuma gadis desa. Tapi aku bisa jaga Mariyem. Aku bisa jaga bukti-bukti cadangan."
"Bukti cadangan?"
"Iya. Ibu Mariyem titipkan satu set bukti padaku sebelum dia pindah ke rumah aman. Katanya, untuk jaga, jaga."
Semua terkesiap.
"Kamu memiliki bukti asli?" tanya Nisa.
"Iya. Fotokopian. Rekaman. Buku catatan. Foto. Semua."
"Dari mana kamu tahu?"
"Mbah Jayarasa yang menyuruhku. Dia bilang, 'Ratri, kamu harus ke kota. Bawa ini. Serahkan pada Arga saat dia paling putus asa.'"
Arga memeluk Ratri.
"Kamu penyelamat, Rat."
"Aku bukan penyelamat. Aku hanya menjalankan pesan Mbah Jayarasa."
RENCANA BARU
Malam itu, mereka menyusun rencana baru.
Dengan peta kedua dari Mbah Jayarasa. Dengan bukti cadangan dari Ratri. Dengan semangat yang membara.
"Lokasi persembunyian baru Sekar," kata Guntur sambil menunjuk peta. "Di sini. Sebuah vila di lereng Gunung Merapi. Jauh dari keramaian. Sulit dijangkau."
"Penjagaan?" tanya Dimas.
"Ketat. Tapi celahnya: setiap hari Rabu, Ferry ke sana. Sendirian. Tanpa preman."
"Kenapa?"
"Karena dia ingin privasi. Ingin bertemu Sekar tanpa gangguan."
"Itu kesempatan kita."
"Tapi risikonya besar. Gunung Merapi. Medan berat. Jauh dari bantuan."
"Kita siap."
"Kita?"
"Semua."
PEMBERANGKATAN
Jam delapan malam, mereka berangkat.
Dua mobil sewaan.
Guntur, Arga, Ratri di mobil pertama. Faruq, Nisa, Dimas di mobil kedua.
Perjalanan ke lereng Merapi memakan waktu tiga jam. Melewati jalanan berkelok, desa, desa terpencil, kebun sayur, dan hutan pinus.
Arga duduk di kursi depan, memandang gelap di luar jendela.
Ia memegang peta kedua peta terakhir dari Mbah Jayarasa.
"Peta ini tidak akan gagal," bisiknya pada dirinya sendiri. "Peta ini tidak akan gagal. Sekar, tunggu aku."
BAB 25
EKSEKUSI DI LERENG MERAPI
Perjalanan menuju lereng Gunung Merapi memakan waktu lebih lama dari perkiraan. Jalanan berkelok, gelap, dan sesekali diterjang kabut tebal yang turun dari puncak. Mobil sewaan Guntur dan Dimas melaju pelan, hanya mengandalkan lampu utama yang tembusannya terbatas. Di kiri kanan jalan, pohon pinus menjulang tinggi seperti raksasa yang sedang tidur, diam, diam mengawasi rombongan kecil yang nekat memasuki wilayah mereka.
Arga duduk di kursi depan, di samping Guntur yang menyetir. Jari, jarinya menggenggam peta kedua pemberian Mbah Jayarasa peta yang basah oleh keringatnya sendiri. Ratri di kursi belakang tidak bicara. Ia hanya memandang ke luar jendela, sesekali menarik napas panjang, sesekali menggenggam tangannya sendiri.
"Guntur, masih jauh?" tanya Arga.
"Setengah jam lagi. Menurut peta, vila itu berada di ketinggian seribu dua ratus meter. Lewat desa ini, belok kiri, masuk jalan setapak."
"Jalan setapak? Mobil bisa lewat?"
"Tidak. Kita harus jalan kaki. Sekitar dua kilometer."
Ratri menghela napas. "Dua kilometer di lereng Merapi, malam, malam, tanpa penerangan?"
"Ada senter."
"Bukan itu masalahnya. Medannya berat. Bisa longsor. Bisa ada binatang buas."
Guntur tersenyum tipis. "Kita sudah terlalu jauh untuk mundur."
DI POS KETIGA
Jam sebelas malam, mereka tiba di sebuah pos perbatasan gardu kecil milik warga setempat yang biasa digunakan untuk memantau aktivitas gunung. Dari sana, jalan aspal berubah menjadi jalan tanah berbatu. Mobil tidak bisa melaju lebih jauh.
Mereka berhenti.
Dimas mematikan mesin mobil keduanya. Faruq dan Nisa turun, meregangkan kaki, memandang ke arah gelap di depan.
"Ini dia," kata Guntur sambil membuka peta. "Dari sini kita jalan kaki. Melewati kebun warga, menembus hutan pinus, sampai ke tebing kecil. Vila Ferry ada di atas tebing itu."
"Siapa punya senter?" tanya Dimas.
Mereka mengeluarkan senter masing, masing kecuali Ratri yang lupa membawa.
"Ratri, kamu di belakangku," kata Arga. "Pegang bahuku. Jangan lepas."
Ratri mengangguk. Tangannya yang dingin menyentuh bahu Arga.
Mereka berjalan.
Sunyi.
Hanya suara langkah kaki di tanah berbatu.
Suara detak jantung sendiri.
Suara nafas yang tertahan.
HUTAN PINUS
Hutan pinus di lereng Merapi memiliki suasana yang berbeda dari hutan biasa. Pepohonannya tinggi, jarang, dengan jarak tanam yang teratur peninggalan zaman Belanda yang ditanam untuk mencegah erosi. Di bawahnya, tanah kering ditumbuhi semak belukar dan rumput liar.
Angin malam berembus di antara batang pinus, menimbulkan suara siulan panjang yang menyeramkan. Beberapa kali mereka mendengar suara ranting patah di kejauhan mungkin binatang, mungkin penjaga vila, mungkin imajinasi sendiri.
"Guntur," bisik Arga.
"Iya."
"Apa kamu yakin Ferry tidak punya penjaga di sini?"
"Menurut informasi, hari Rabu Ferry datang sendiri. Tidak bawa preman. Tapi bisa saja dia punya satpam tetap di vila."
"Berapa?"
"Informasi tidak jelas. Bisa dua, bisa empat."
"Kita hanya berenam."
"Berlima. Ratri tidak ikut masuk. Dia jaga di luar."
Ratri yang mendengar itu langsung protes. "Aku tidak akan tinggal di luar!"
"Ratri, ini berbahaya."
"Aku sudah jalan berjam- jam dari desa. Aku tidak akan diam di luar saat kalian bertaruh nyawa."
"Tapi , "
"Sudah, Mas. Aku ikut. Aku tidak mau ketinggalan saat Sekar akhirnya bebas."
Arga menghela napas. Ia tidak bisa membantah.
TEBING DAN VILA
Setelah satu jam berjalan, mereka tiba di kaki tebing.
Tebing itu tidak terlalu tinggi sekitar lima belas meter. Di atasnya, berdiri sebuah vila bergaya Eropa, dengan dinding batu bata merah dan atap genteng tanah liat. Lampu, lampu taman menyala redup, menerangi halaman yang ditumbuhi bunga, bunga alpine.
"Ini dia," bisik Guntur. "Vila Ferry."
"Cantik," kata Ratri setengah bergumam.
"Itu penjara, Rat. Bukan rumah indah. Itu tempat Sekar dikurung, disuntik obat penenang, dan disiksa psikis."
Ratri menunduk. "Maaf. Aku tidak bermaksud , "
"Tidak apa. Ayo, kita cari jalan masuk."
Mereka memutari tebing. Di sisi barat, ada tangga batu sempit yang terpotong di alam ,mungkin bekas jalur pendakian warga sebelum vila itu dibangun.
"Lewat sini," kata Dimas. "Aku lihat bekas jejak sepatu. Baru. Mungkin Ferry lewat sini tadi."
Mereka naik.
Pelan. Satu per satu.
Arga di depan. Guntur di belakangnya. Ratri di belakang Guntur. Dimas, Faruq, Nisa menyusul.
Tangga itu licin. Lumut di mana-mana. Sesekali bebatuan lepas, jatuh ke bawah, menimbulkan suara berdebam.
Arga berhenti. "Pelan, pelan. Jangan tergesa. Satu orang jatuh, kita semua bisa jatuh."
Mereka terus naik.
HALAMAN VILA
Jam dua belas malam, mereka tiba di halaman vila.
Halamannya luas. Rumput taman dipotong rapi. Kolam ikan koi berwarna oranye dan putih berenang pelan di bawah cahaya lampu taman. Di teras depan, dua kursi rotan dengan meja kaca. Di atas meja, segelas anggur merah yang sudah setengah diminum.
"Ferry baru saja ke sini," bisik Guntur. "Anggurnya masih dingin."
"Mungkin dia di dalam," kata Dimas.
"Bersama Sekar?"
"Atau bersama penjaga."
"Kita harus masuk."
"Caranya?"
Guntur mengamati vila. Dua lantai. Jendela, jendela besar dengan tirai tebal. Lampu di lantai satu menyala terang. Lantai dua gelap hanya satu lampu temaram di kamar pojok.
"Itu kamar Sekar," kata Guntur yakin.
"Kenapa yakin?"
"Karena hanya satu lampu yang menyala. Seperti lampu tidur. Lampu yang biasa dinyalakan untuk orang yang sedang sendirian. Atau untuk orang yang sedang dikurung."
Arga mengepalkan tangannya. "Kita masuk lewat pintu belakang. Jendela dapur. Biasanya tidak terkunci."
"Berani?"
"Untuk Sekar, apa pun aku berani."
PINTU BELAKANG
Pintu belakang vila adalah pintu kayu sederhana dengan gagang besi berkarat. Tidak ada kamera CCTV mungkin Ferry terlalu percaya diri dengan lokasi terpencilnya.
Arga memutar gagangnya pelan.
Terkunci.
Dia mengeluarkan sebilah pisau lipat dari saku celana pisau pemberian Dimas untuk "keadaan darurat". Diselipkannya di sela pintu dan kusen. Digerakannya pelan.
Klik.
Pintu terbuka.
Mereka masuk.
Dapur vila itu besar. Modern. Peralatan masak dari stainless steel. Kulkas dua pintu. Kompor gas enam tungku. Di meja dapur, piring berisi sisa makanan roti, keju, buah anggur.
"Ferry makan malam di sini," bisik Nisa. "Dua piring."
"Satu untuk Ferry, satu untuk Sekar?"
"Atau untuk penjaga."
"Kita tidak tahu. Hati, hati."
KORIDOR MENUJU KAMAR
Mereka berjalan menyusuri koridor.
Dinding kiri kanan dipenuhi lukisan mahal pemandangan gunung, laut, dan potret seorang perempuan cantik yang tidak Arga kenal. Lantai marmer mengkilap, licin, memantulkan bayangan mereka.
"Mati lampu," bisik Guntur.
"Mati?"
"Ferry matikan lampu koridor. Tidak mau ada bayangan."
"Atau dia sudah tahu kita datang."
Mereka berhenti.
Jantung berdebar.
Tidak ada suara.
Hanya angin malam yang masuk melalui celah, celah jendela.
"Lanjut," perintah Arga.
Mereka terus berjalan.
TANGGA MENUJU LANTAI DUA
Tangga menuju lantai dua terbuat dari kayu jati dengan ukiran halus di setiap anak tangganya.
Mereka naik perlahan.
Setiap langkah menimbulkan bunyi derit kecil tidak terlalu keras, tapi cukup untuk mengingatkan mereka bahwa mereka tidak seharusnya berada di sini.
Arga sampai di ujung tangga.
Ia memandang koridor lantai dua.
Koridor panjang. Hanya satu lampu di ujung sana dekat kamar yang diduga kamar Sekar.
Dinding kiri kanan tertutup pintu, pintu kayu.
"Ke kamar nomor tiga," bisik Guntur.
"Kenapa nomor tiga?"
"Kamar pojok. Paling sunyi. Paling aman. Tempat yang tepat untuk menyekap seseorang."
Arga berjalan.
Langkahnya pelan.
Hampir tidak bersuara.
Faruq dan Dimas mengikuti di belakang.
Ratri dan Nisa di belakang lagi.
Guntur di paling belakang, memantau.
PINTU KAMAR SEKAR
Mereka sampai di depan pintu kamar nomor tiga.
Pintu kayu solid dengan gagang kuningan. Tidak ada gembok dari luar berarti tidak dikunci, atau dikunci dari dalam.
Arga menempelkan telinganya di pintu.
Ia mendengar suara isak tangis.
Suara yang sangat ia kenali.
Suara Sekar.
"Mas Arga," bisik Ratri di belakang.
Arga mengetuk pintu.
Tiga kali.
Pelan.
"KREK..."
Pintu terbuka sedikit.
Sekar mengintip dari balik celah.
Wajahnya pucat. Matanya sembab. Rambutnya kusut. Gaun tidur putihnya kusut.
"Arga?" bisiknya tidak percaya.
"Sekar, ini aku."
"Kamu... di sini?"
"Aku di sini. Aku datang menjemputmu."
Sekar membuka pintu lebar-lebar.
Ia memeluk Arga.
Menangis.
Terisak.
Tubuhnya kurus sangat kurus. Arga bisa merasakan tulang iga Sekar di balik gaun tipis itu.
"Arga... Arga... aku kira kamu tidak akan datang... aku kira kamu lupa padaku..."
"Aku tidak akan lupa, Sekar. Aku tidak akan pernah lupa."
FERRY MUNCUL
Saat mereka berpelukan, lampu koridor menyala terang.
Suara tepuk tangan dari belakang.
Ferry berdiri di ujung koridor.
Jas navy. Dasi merah. Sepatu oxford mengkilap. Wajahnya tersenyum senyum yang tidak sampai ke mata.
"Romantis," katanya. "Saya hampir menangis."
Arga melepaskan pelukannya.
Ia berdiri di depan Sekar. Melindunginya.
"Ferry, biarkan Sekar pergi."
"Biarkan? Dia calon istriku. Aku sudah bayar mahar. Aku sudah lunasi hutang orang tuanya."
"Perjodohan tidak halal."
"Halal atau tidak, itu urusan nanti. Sekarang, urusannya adalah kamu menyusup ke propertiku. Itu tindak kriminal."
"Aku tidak peduli."
"Polisi akan peduli."
Ferry mengeluarkan ponsel. Jarinya menari di layar.
"Selamat malam, Komandan. Saya Ferry Kencana. Ada penyusup di vila saya. Tolong kirim tim."
Ia menutup telepon.
"Polisi akan datang dalam lima belas menit. Kalian tidak akan sempat kabur."
Guntur maju selangkah. "Kami tidak akan kabur. Kami akan bertahan. Dan kami akan buktikan bahwa kamulah penjahatnya, bukan kami."
Ferry tertawa. "Dengan bukti apa? Bukti kalian sudah disita polisi. Laptop Guntur sudah diretas. Kos Faruq sudah digeledah. LBH sudah dibekukan. Bukti cadangan dari Mariyem sudah saya ambil malam ini."
Arga tersenyum.
"Ferry, kamu lupa satu hal."
"Apa?"
Arga melihat ke arah Ratri.
Ratri mengangguk. Ia mengeluarkan sebuah flashdisk dari saku celananya.
"Flashdisk ini berisi fotokopian semua bukti. Plus rekaman percakapanmu dengan Mariyem malam ini saat kamu bilang bahwa kamu akan mengambil bukti dari rumah aman. Rekaman itu sudah kami simpan di tiga tempat berbeda. Jika kami tidak kembali ke kos dalam dua jam, rekaman itu akan otomatis terkirim ke media, ke LBH pusat di Jakarta, dan ke Komnas Perempuan."
Wajah Ferry berubah.
Pucat.
"Kamu... kamu menyadap ponselku?"
"Bukan saya. Mantan pacarmu, Laras. Dia yang pasang alat perekam di ponselmu minggu lalu. Tanpa sepengetahuanmu."
"Laras ,"
"Dia sudah taubat, Ferry. Dia memilih kebenaran daripada uangmu."
KEJUTAN DARI MARIYEM
Belum selesai Ferry memproses keterkejutannya, seseorang masuk dari pintu belakang.
Mariyem.
Ibu-ibu paruh baya dengan keranjang anyaman di tangan.
"Ferry," katanya tenang. "Aku di sini. Aku bukan di rumah amanmu. Aku sudah pindah ke tempat yang tidak akan kau temukan. Dan aku sudah membuat surat pernyataan di depan notaris. Jika aku mati karena alasan apapun surat itu akan terbuka. Isinya: semua kejahatanmu."
Ferry mundur selangkah. "Kamu... kamu tidak mungkin..."
"Saya mungkin. Karena saya tidak takut mati. Saya sudah cukup menderita hidup di dunia yang dikuasai setan seperti kamu."
Mariyem mendekati Sekar.
Ia memeluk gadis itu.
"Nduk, maafkan saya. Saya tidak bisa melindungimu selama ini. Saya hanya pembantu. Tapi mulai hari ini, saya akan bersaksi. Saya akan lawan Ferry. Sampai mati."
Sekar menangis dalam pelukan Mariyem.
POLISI DATANG
Sirene polisi terdengar dari kejauhan.
Ferry tersenyum. "Polisi datang. Sekarang giliran kalian yang ketakutan."
Arga tidak bergerak.
Ia hanya memandang Ferry.
"Ferry, kamu pikir polisi akan menangkap kami?"
"Tentu. Aku yang melapor."
"Tapi kami yang punya bukti."
"Bukti kalian sudah "
"Sudah kami gandakan di tiga tempat. Seperti yang kau dengar."
"Tapi , "
"Dan aku sudah berbicara dengan jurnalis investigasi dari Tempo dan Kompas. Mereka sedang dalam perjalanan ke sini. Mungkin sudah dekat."
Wajah Ferry semakin pucat.
"Kamu... kamu tidak mungkin secerdas itu."
"Aku tidak cerdas. Aku hanya punya teman yang cerdas."
Arga menunjuk Guntur.
Guntur mengangkat laptopnya laptop yang sebelumnya dikabarkan diretas. Ternyata tidak. Itu hanya kamuflase.
"Laptopku tidak diretas, Ferry. Aku hanya pura, pura. Agar kamu lengah."
"Kamu "
"Kami sudah mempersiapkan ini sejak Laras mengaku. Semua bagian dari rencana. Termasuk peta kedua dari Mbah Jayarasa. Termasuk kedatangan Ratri dari desa. Termasuk keberanian Mariyem untuk keluar dari persembunyian."
"Kalian... kalian semua..."
"Kami bukan anak desa bodoh yang bisa kau beli dengan uang. Kami manusia. Manusia yang percaya pada keadilan. Manusia yang percaya pada cinta. Manusia yang percaya bahwa kebenaran akan selalu menang."
Ferry jatuh duduk di lantai.
Wajahnya lemas.
Tangannya gemetar.
Ia tidak bicara.
Ia hanya diam.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ferry Kencana pengusaha kaya raya, anak keluarga terpandang, calon menantu idaman tidak punya kata, kata.
POLISI MASUK
Polisi masuk ke vila.
Bukan satu atau dua.
Tapi lima mobil.
Lengkap dengan senjata dan rompi antipeluru.
"Semua jangan bergerak!" teriak komandan.
Arga mengangkat tangan.
Sekar mengangkat tangan.
Guntur, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Mariyem semuanya mengangkat tangan.
Ferry juga mengangkat tangan.
"Kami dari kepolisian daerah. Ada laporan penculikan dan penyekapan. Siapa yang melapor?"
"Saya," kata Guntur.
"Saudara, laporan Saudara sudah kami terima. Dan setelah penyelidikan awal, kami menemukan bukti, bukti yang cukup untuk menahan terduga pelaku."
"Terduga pelaku siapa?"
Komandan polisi memandang Ferry.
"Ferry Kencana, kami menahan Saudara atas dugaan penculikan, penyekapan, kekerasan dalam rumah tangga, dan perjodohan paksa."
Ferry tidak melawan. Ia hanya tersenyum pahit.
"Ini belum selesai," katanya pada Arga. "Aku punya pengacara. Aku akan bebas."
"Kita lihat saja, Ferry. Kita lihat saja."
SEKAR BEBAS
Polisi membawa Ferry ke mobil.
Ferry tidak menoleh.
Ia hanya berjalan.
Lurus.
Tanpa melihat ke belakang.
Setelah mobil polisi pergi, Arga memeluk Sekar.
Erat.
Lama.
Sekar menangis di bahunya.
"Arga... aku bebas? Benar, benar bebas?"
"Kamu bebas, Sekar. Kamu tidak perlu takut lagi."
"Apa Ferry tidak akan kembali?"
"Dia akan ditahan. Pengacaranya mungkin hebat. Tapi bukti kita lebih kuat."
"Aku... aku tidak tahu harus bilang apa."
"Bilang terima kasih pada teman, teman. Mereka semua berjuang untukmu."
Sekar melepaskan pelukan.
Ia memandang Guntur, Faruq, Nisa, Dimas, Laras, yang baru datang dari rumah sakit, Ratri, Mariyem.
"Terima kasih," katanya pelan. "Terima kasih untuk semuanya."
"Sama, sama," kata mereka serempak.
PAGI DI LERENG MERAPI
Matahari terbit di ufuk timur.
Cahayanya keemasan, hangat, menyapu kabut yang menggantung di lereng Gunung Merapi.
Arga dan Sekar duduk di batu besar di halaman vila.
Mereka tidak bicara.
Hanya duduk.
Memandang matahari.
Memandang awan.
Memandang masa depan.
"Sekar," panggil Arga.
"Iya."
"Aku rindu."
"Aku juga."
"Setelah ini, apa yang akan kita lakukan?"
Sekar memandang Arga. Matanya sayu. Tapi kali ini bukan sayu karena ketakutan. Sayu karena kebahagiaan.
"Pulang, Arga. Pulang ke desa. Pulang ke Kali Wening. Pulang ke pohon randu. Pulang ke rumah."
"Selamanya?"
"Selamanya."
BAB 26
BABAK BELUR DI PARKIRAN
Kebebasan Sekar dari vila di lereng Merapi bukanlah akhir dari perjuangan. Itu hanyalah awal dari babak baru yang tidak kalah berat. Ferry mungkin sudah ditahan, tapi pengaruhnya masih tersisa seperti racun yang meracuni tanah. Preman, preman bayarannya masih berkeliaran. Mata, matanya masih tersebar di berbagai tempat. Dan orang, orang yang selama ini diam, diam bekerja untuk Ferry karena uang, karena takut, karena terpaksa mulai panik. Mereka takut identitasnya terbongkar. Mereka takut diadili. Mereka takut kehilangan segalanya.
Salah satu dari mereka adalah Samsul.
Rekan kerja Arga di toko bangunan.
Laki-laki kurus berkulit hitam legam dengan mata sipit penuh iri.
Samsul tidak pernah menyukai Arga sejak hari pertama. Bukan karena Arga melakukan kesalahan. Bukan karena Arga merugikannya. Tapi karena Arga datang dari desa, miskin, tidak punya apa, apa, tapi langsung mendapatkan simpati dari Pak Bondan. Samsul sudah bekerja di toko itu selama lima tahun. Lima tahun! Tapi perhatian Pak Bondan pada Arga dalam lima minggu melebihi perhatian pada Samsul dalam lima tahun.
Iri.
Dengki.
Benci.
Itulah yang tumbuh di hati Samsul setiap hari, setiap jam, setiap menit.
Dan ketika Ferry menawarkan uang banyak uang untuk informasi tentang pergerakan Arga, Samsul tidak berpikir dua kali.
PAGI YANG TAK MENYENANGKAN
Tiga hari setelah penyelamatan Sekar, Arga kembali bekerja di toko bangunan.
Sekar sementara waktu tinggal di kos Laras kamar Laras yang kosong karena Laras masih dirawat di rumah sakit. Ratri menemani Sekar, memasakkan makanan, menemaninya bicara, memastikan dia tidak merasa sendirian.
Arga lega. Tapi lega itu tidak bertahan lama.
Begitu masuk ke toko, ia sudah disambut oleh tatapan sinis Samsul. Laki, laki itu sedang memindahkan tumpukan kayu, pura, pura sibuk, tapi matanya tidak lepas dari Arga.
"Mas Arga sudah kembali," sapa Samsul dengan nada yang tidak ramah.
"Iya, Mas Samsul. Maaf tiga hari tidak masuk kerja. Ada keperluan mendadak."
"Keperluan mendadak? Mendadak apa? Menculik calon istri orang?"
Arga menghentikan langkahnya. Ia menatap Samsul. "Apa maksud Mas Samsul?"
"Aku dengar, dengar, Mas Arga main serobot. Merebut perempuan dari pengusaha kaya. Berani amat, ya?"
"Perempuan itu bukan milik Ferry. Perempuan itu punya hak memilih."
"Di desamu mungkin begitu. Di kota, uang yang bicara."
Arga tidak ingin berdebat. Ia berjalan ke gudang belakang, mengambil sekop, dan mulai bekerja.
Tapi Samsul tidak berhenti.
Ia mengikuti Arga ke gudang.
"Mas Arga, aku tahu semua tentang rencanamu. Aku tahu kau ke vila di Merapi. Aku tahu kau membawa polisi. Aku tahu kau membuat Ferry ditahan."
Arga berhenti menyekop. Ia menatap Samsul. "Dari mana kau tahu?"
"Aku punya sumber."
"Siapa?"
"Itu rahasia."
"Kau... mata-mata Ferry?"
Samsul tersenyum. Senyum yang membuat Arga merinding. "Bukan mata, mata. Mitra. Ferry membayarku. Mahal. Setiap kali aku memberi informasi, dia transfer uang ke rekeningku."
"Maka selama ini —"
"Setiap langkahmu, aku laporkan. Setiap rencana, aku bocorkan. Setiap teman baru, aku kenalkan."
"Dewi?"
"Dewi memang mata-mata. Tapi dia bukan satu-satunya."
"Laras?"
"Laras bukan bawahanku. Dia terlalu tinggi. Aku hanya preman kecil."
Arga meletakkan sekop. Tangannya gemetar. Bukan takut. Marah.
"Kau menghianati kami, Samsul. Kau menghianati Pak Bondan. Kau menghianati toko ini."
"Pak Bondan? Pak Bondan tidak pernah menghargaiku. Lima tahun aku bekerja di sini, gajiku tidak pernah naik. Tidak pernah dapat bonus. Tidak pernah dapat ucapan terima kasih."
"Bukan berarti kau , "
"Bukan berarti aku bisa berkhianat? Justru itu! Aku bisa! Karena tidak ada yang peduli padaku! Tidak ada yang melihat aku! Aku hanya bayangan! Bayangan yang bergerak sendiri!"
Samsul berbicara dengan suara meninggi. Wajahnya merah. Matanya melotot.
Arga mundur selangkah. "Mas Samsul, tenang , "
"JANGAN SURUH AKU TENANG! AKU SUDAH LIMA TAHUN DIAM! LIMA TAHUN! DAN KAU? LIMA MINGGU! LIMA MINGGU KAU DATANG, LANGSUNG MENJADI FAVORIT! LANGSUNG DIPERCAYA! LANGSUNG DIAJAK BICARA MASALAH PRIBADI!"
"Bukan salahku —"
"BUKAN SALAHMU? IYA, BUKAN SALAHMU! TAPI AKU TETAP BENCI!" Samsul mengangkat kayu panjang dari tumpukan. Diayunkannya ke arah Arga.
KONFRONTASI FISIK
Arga menghindar. Kayu itu menghantam tumpukan semen, menimbulkan debu putih beterbangan.
"Mas Samsul, jangan!"
"DIAM!" Samsul mengayun lagi.
Arga menghindar lagi.
"Samsul!" suara Pak Bondan dari pintu gudang. "BERHENTI!"
Samsul tidak berhenti. Ia malah berlari ke arah Arga, kayu terangkat tinggi.
Arga tidak bisa menghindar lagi. Ia berada di sudut gudang, terhalang tumpukan pasir.
DUAR!
Kayu itu mengenai lengan Arga.
Arga meringis kesakitan. Tangannya terasa kebas.
"Apa kau sudah gila, Samsul!" teriak Pak Bondan.
"Saya tidak gila, Pak! Saya hanya marah! Marah pada ketidakadilan!"
DUAR!
Kayu itu mengenai bahu Arga.
Arga jatuh berlutut.
"Arga!" Pak Bondan berlari ke arah mereka.
Samsul mengayun sekali lagi. Kali ini ke arah kepala Arga.
Tapi pak Bondan lebih cepat. Ia menangkap kayu itu di udara. Merebutnya dari tangan Samsul.
"KELUAR! KELUAR DARI TOKOKU!" teriak Pak Bondan.
Samsul tidak bergerak.
"KELUAR! ATAU AKU PANGGIL POLISI!"
Samsul tertawa. "Polisi? Polisi temanku, Pak. Ferry yang perkenalkan."
"TETAP KELUAR!"
Samsul berjalan ke pintu. Sebelum keluar, ia menoleh.
"Arga, ini belum selesai. Kau membuatku kehilangan pekerjaan. Kau membuatku kehilangan sumber penghasilan. Aku akan membuatmu membayarnya. Dengan bunga."
Ia pergi.
Arga jatuh duduk di lantai gudang.
Lengannya sakit. Bahunya sakit. Dadanya sakit bukan karena pukulan, tapi karena pengkhianatan.
DI RUANG BELAKANG
Pak Bondan membawa Arga ke ruang belakang toko. Ia mengambil kotak P3K, membersihkan luka di lengan Arga dengan alkohol.
"Awas, perih."
Arga tidak merasakan apa, apa. Pikirannya jauh. Pada Samsul. Pada pengkhianatan. Pada kehancuran yang semakin dekat.
"Pak Bondan," panggil Arga.
"Iya."
"Samsul tahu semua rencana kita. Dia mata-mata Ferry."
"Aku tahu."
"Bapak tahu?"
"Aku curiga sejak dua minggu lalu. Samsul beberapa kali bertanya tentangmu. Tentang teman, temanmu. Tentarng kegiatanmu di luar toko. Tidak wajar."
"Kenapa Bapak tidak bilang?"
"Karena aku tidak punya bukti. Aku tidak bisa menuduh tanpa bukti."
"Sekarang buktinya sudah ada."
"Ya. Sekarang buktinya sudah ada. Tapi Samsul sudah pergi. Kita tidak bisa berbuat apa, apa."
"Bapak tidak takut dia balas dendam?"
Pak Bondan menghela napas. "Aku sudah tua, Le. Aku sudah sering diancam. Tidak takut lagi."
"Tapi saya —"
"Kamu yang harus takut. Samsul dendam padamu. Bukan padaku."
PESAN SINGKAT DARI SAMSUL
Jam dua belas siang, ponsel Arga berdering.
Pesan singkat dari nomor tidak dikenal.
"Arga, kau pikir kau menang? Belum. Ferry memang di tahanan. Tapi pengacaranya sudah bekerja. Dia akan bebas minggu depan. Dan setelah dia bebas, dia akan menghancurkanmu. Satu per satu. Temanmu. Keluargamu. Sekar. Semua."
"Kau tidak bisa lari. Kau tidak bisa sembunyi. Kami tahu di mana keluargamu di desa. Kami tahu di mana Sekar sekarang. Kami tahu di mana teman, temanmu tinggal."
"Bersiaplah untuk yang terburuk."
"Samsul"
Arga memandang ponselnya.
Tangannya gemetar.
Bukan takut.
Marah.
Ia membalas: "Aku tidak takut padamu. Aku tidak takut pada Ferry. Aku tidak takut pada siapa pun. Karena kebenaran ada di pihakku. Dan kebenaran akan selalu menang."
Balasan datang cepat: "Kita lihat saja, Arga. Kita lihat siapa yang tertawa terakhir."
TEMAN, TEMAN BERKUMPUL
Jam enam sore, Arga pulang ke kos.
Ia kumpulkan teman, temannya.
Guntur. Faruq. Nisa. Dimas. Laras (sudah keluar dari rumah sakit). Ratri. Sekar.
Semua di halaman kos. Mbok Darmi menyuguhkan teh jahe dan pisang goreng seperti biasa.
"Apa yang terjadi, Mas?" tanya Sekar cemas.
Arga menceritakan semuanya. Tentang Samsul. Tentang pengkhianatan. Tentang ancaman. Tentang pesan singkat.
Guntur mendengarkan dengan saksama. "Ini serius."
"Aku tahu."
"Ferry akan bebas minggu depan."
"Kata Samsul."
"Pengacaranya memang hebat. Kemungkinan besar dia bisa keluar dengan jaminan."
"Lalu?"
"Lalu dia akan balas dendam."
"Apa yang bisa kita lakukan?"
Guntur memandang teman, temannya.
"Kita lindungi semua. Sekar. Keluarga Arga di desa. Mariyem. Kita lindungi dengan cara apa pun."
"Polisi?" tanya Dimas.
"Polisi bisa dibeli."
"Preman bayaran?"
"Kita bisa menyewa. Tapi uang terbatas."
"Lalu?"
"Kita andalkan diri kita sendiri. Kekompakan. Kecepatan. Informasi."
"Siapa yang akan melindungi siapa?"
Guntur membuka peta di laptopnya.
"Desa Wringinrejo. Saya akan kirim Faruq dan Nisa ke sana. Untuk melindungi orang tua Arga dan Mbah Jayarasa, maaf, makam Mbah Jayarasa."
"Siap," kata Faruq dan Nisa.
"Kos-kosan ini. Saya dan Dimas akan menjaga. Juga Laras dan Ratri."
"Baik."
"Arga dan Sekar, kalian harus pindah. Ke tempat yang tidak diketahui Samsul. Ke tempat yang tidak diketahui Ferry."
"Ke mana?" tanya Arga.
Guntur memandang peta. Jarinya berhenti di sebuah titik di selatan kota.
"Ke rumah Mariyem. Rumah aman yang dulu. Ferry sudah tahu, tapi dia tidak akan menyangka kita kembali ke sana."
"Bukannya itu berbahaya?"
"Justru aman. Karena tidak ada yang menyangka."
PENGAMANAN KELUARGA
Jam delapan malam, Faruq dan Nisa berangkat menuju desa Wringinrejo. Naik bus malam. Mereka membawa ponsel cadangan, baterai cadangan, dan uang secukupnya.
"Jaga diri," pesan Guntur.
"Jaga orang tua Arga," pesan Arga.
"Kami akan menjaga," kata Faruq. "Janji."
Setelah Faruq dan Nisa pergi, Arga, Sekar, dan Ratri bersiap pindah ke rumah Mariyem.
Mereka hanya membawa barang seperlunya. Pakaian. Bantal kebaya. Peta usang Mbah Jayarasa. Dan bukti, bukti cadangan yang masih tersisa.
"Rumah Mariyem sepi," kata Laras. "Tapi aman. Tidak ada tetangga. Tidak ada yang mengganggu."
"Apa kita bisa bertahan di sana?" tanya Ratri.
"Bisa. Sementara waktu."
"Lalu setelah itu?"
"Kita lihat perkembangan. Jika Ferry benar, benar bebas, kita cari tempat lain. Jika tidak, kita kembali."
DI RUMAH MARIYEM
Jam sebelas malam, mereka tiba di rumah Mariyem.
Rumah kecil di tengah perkebunan salak itu gelap. Sunyi. Hanya suara jangkrik dan sesekali suara anjing menggonggong dari kejauhan.
Arga membuka pintu dengan kunci cadangan yang diberikan Mariyem.
Di dalam, meja dan kursi berdebu. Dapur kosong. Kasur ditata rapi.
"Kita bersihkan dulu," kata Ratri.
Mereka membersihkan rumah sampai subuh. Menyapu. Mengepel. Menata kasur. Memasang kelambu.
Arga kelelahan. Ia duduk di kursi kayu di teras depan. Sekar duduk di sampingnya.
"Arga," panggil Sekar.
"Iya."
"Aku takut."
"Kamu tidak perlu takut. Aku di sini."
"Bukan takut pada Ferry. Aku takut pada... masa depan."
"Masa depan kita?"
"Iya. Apa yang akan terjadi setelah semua ini selesai? Apakah kita bisa hidup normal? Apakah kita bisa bahagia? Apakah kita tidak akan terus diburu oleh masa lalu?"
Arga menggenggam tangan Sekar.
"Sekar, masa lalu tidak bisa diubah. Tapi masa depan bisa kita bentuk. Bersama."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena kita sudah melewati banyak hal bersama. Dan kita masih bertahan."
"Karena kita saling percaya?"
"Karena kita saling mencintai."
Sekar menunduk. Air matanya jatuh.
"Arga, aku sayang kamu."
"Aku juga sayang kamu, Sekar. Lebih dari apapun."
SUBUH DI RUMAH MARIYEM
Jam setengah lima pagi, fajar mulai menyingsing.
Arga masih terjaga. Ia duduk di teras, memandang ke arah timur.
Di tangannya, peta usang Mbah Jayarasa.
Ia membuka peta itu.
Garis, garis baru muncul lagi.
Mungkin karena cahaya subuh.
Mungkin karena keajaiban.
Garis, garis itu menunjukkan sebuah titik di selatan kota.
Titik yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Apa ini? pikir Arga. Petunjuk baru? Atau hanya debu yang menempel?
Ia tidak tahu.
Tapi ia menyimpan peta itu.
Untuk jaga, jaga.
BAB 27
SAMSUL MENGHILANG DAN MISTERI BARU
Setelah konfrontasi fisik di gudang toko bangunan dan ancaman maut melalui pesan singkat, Samsul tidak pernah kembali ke toko. Tidak muncul di kos, kosan tempatnya tinggal. Tidak terlihat di warung, warung langganannya. Tidak menjenguk keluarganya di kampung. Tidak ada kabar. Tidak ada jejak. Tidak ada siapa pun yang tahu ke mana ia pergi.
Seperti ditelan bumi.
Seperti diambil setan.
Seperti tidak pernah ada.
Tapi Arga tahu, Samsul tidak mungkin menghilang begitu saja. Samsul adalah mata-mata Ferry. Samsul punya utang budi pada pengusaha kaya itu. Samsul pasti bersembunyi atau disembunyikan, untuk melindungi diri dari pembalasan tim Arga, atau untuk mempersiapkan serangan balik yang lebih kejam.
Dan kekhawatiran Arga terbukti ketika kabar buruk mulai berdatangan.
Bukan tentang Samsul.
Tapi tentang keluarganya.
Istri Samsul, Bu Suliah mulai menerima teror. Telepon anonim di tengah malam. Pesan singkat bergambar ancaman. Orang tidak dikenal yang mondar-mandir di depan rumahnya.
"Apa hubungannya keluargaku dengan urusanmu dengan Samsul?" teriak Bu Suliah pada Arga lewat telepon suatu malam. "Saya tidak tahu apa, apa! Saya hanya istri! Saya tidak pernah ikut campur kerja suamiku!"
Arga tidak bisa menjawab.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Ia hanya bisa diam.
Dan merasa bersalah.
TELEFON DARI BU SULIAH
Hari Kamis malam, pukul sepuluh. Arga sedang duduk di teras rumah Mariyem, ditemani Sekar yang sudah mulai pulih, meskipun masih sering terbangun di tengah malam karena mimpi buruk tentang Ferry. Ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal.
"Mas Arga?" suara perempuan paruh baya, panik, terputus, putus.
"Iya. Siapa ini?"
"Saya Suliah. Istri Samsul."
Arga terdiam. Jantungnya berdegup lebih cepat.
"Ada apa, Bu?"
"Samsul... Samsul hilang, Mas. Sudah seminggu. Tidak pulang. Tidak telepon. Tidak kabar. Anak-anak saya nangis terus. Saya tidak tahu harus bagaimana."
"Bu, saya, "
"Tapi bukan itu yang mau saya sampaikan. Malam ini, ada orang datang ke rumah saya. Dua orang. Besar. Preman. Mereka tanya di mana Samsul. Saya bilang tidak tahu. Mereka marah. Mereka ancam akan bunuh saya dan anak-anak jika Samsul tidak segera muncul."
"Nanti, Bu. Saya akan, "
"Mereka juga tanya di mana Mas Arga. Siapa teman, teman Mas Arga. Di mana Sekar. Mereka tahu semuanya, Mas. Mereka tahu alamat kos. Tahu nama teman, teman. Tahu tempat kerja. Tahu semuanya."
Darah Arga berhenti mengalir.
"Bu, apakah Samsul yang kasih tahu?"
"Saya tidak tahu, Mas. Saya hanya ingin Mas Arga tahu bahwa keluarga saya dalam bahaya. Bukan karena Samsul, tapi karena Mas Arga. Karena perjuangan Mas Arga. Karena semua ini."
Telepon ditutup.
Arga memandang ponselnya.
Tangannya gemetar.
Sekar memegang bahunya. "Arga, ada apa?"
"Keluarga Samsul diancam. Oleh preman. Mungkin preman Ferry."
"Kenapa?"
"Karena Ferry ingin Samsul muncul. Atau karena Ferry ingin menghancurkan semua orang yang terlibat, termasuk keluarga mata-matanya sendiri."
"Kejam."
"Ferry memang kejam."
PERTEMUAN DARURAT DI KOS
Jam sebelas malam, Arga memanggil semua temannya ke kos. Guntur, Laras, Dimas, Ratri dan Sekar yang ikut serta meskipun Arga melarang.
Mbok Darmi menyuguhkan teh jahe dan pisang goreng, matanya penuh kekhawatiran.
"Kalau begini terus, kalian tidak akan selamat," kata Mbok Darmi. "Mbok tidak mau lihat anak-anak muda mati sia-sia."
"Kami tidak akan mati sia-sia, Mbok," kata Guntur. "Kami akan bertahan."
"Bertahan bagaimana? Lawan uang? Lawan preman? Lawan pengacara? Lawan polisi? Ferry punya semua."
"Tapi Ferry tidak punya satu hal, Mbok."
"Apa?"
"Kebenaran."
Mbok Darmi menghela napas. Ia masuk ke dalam rumah. Meninggalkan anak-anak muda yang masih sibuk berdiskusi.
Guntur membuka laptopnya. "Dimas, apa yang bisa kamu lacak tentang Samsul?"
Dimas mengeluarkan laptopnya sendiri, laptop tua berstiker Doraemon yang sudah mengelupas. Jari, jarinya menari di atas keyboard.
"Samsul tidak punya jejak digital yang kuat. Tidak punya medsos. Tidak punya email aktif. Tapi aku bisa lacak ponselnya."
"Lacak."
Dimas mengetik. Tap, tap, tap, tap, tap.
Layar berganti. Sebuah peta digital muncul. Sebuah titik merah berkedip di selatan kota dekat perbatasan dengan desa.
"Ini ponsel Samsul," kata Dimas. "Masih hidup. Masih aktif."
"Di mana tepatnya?"
"Di sebuah kampung. Di dalam hutan. Jauh dari jalan raya."
"Apa yang dia lakukan di sana?"
"Tidak tahu. Mungkin bersembunyi. Mungkin bertemu dengan preman Ferry. Mungkin sudah mati."
"Kita harus ke sana."
"Berbahaya."
"Aku tahu. Tapi kita tidak punya pilihan. Samsul adalah kunci. Dia tahu banyak tentang rencana Ferry. Dia bisa menjadi saksi."
"Saksi atau musuh?"
"Tergantung. Kita bujuk dia. Kita yakinkan bahwa kami tidak akan menyakitinya. Kami hanya butuh informasi."
Laras angkat bicara. "Guntur, aku ikut."
"Kamu baru sembuh."
"Lenganku sudah baikan. Dan aku punya pengalaman. Aku bisa menghadapi preman."
"Baik. Aku, Arga, Dimas, Laras. Nisa dan Faruq di desa, jaga orang tua Arga. Ratri dan Sekar di rumah Mariyem. Jangan kemana, mana."
"Setuju," kata semua.
PERJALANAN KE SELATAN
Jam satu dini hari, mereka berangkat.
Motor Guntur, motor Dimas, dan motor Laras yang dipinjam dari tetangga. Tiga motor. Empat orang. Dimas bonceng Laras. Guntur bonceng Arga.
Perjalanan ke selatan memakan waktu dua jam. Melewati jalan raya yang sepi. Melewati perkebunan tebu. Melewati hutan jati. Melewati sungai kecil yang airnya keruh.
Arga memandang langit. Bulan purnama bersinar terang. Bintang, bintang berkerlap, kerlip.
Jatmika, bisiknya dalam hati. Jaga kami. Jangan biarkan ada yang celaka.
Mereka sampai di pinggir kampung. Jalan aspal berubah menjadi jalan tanah becek.
"Motor tidak bisa lewat," kata Guntur. "Kita jalan kaki."
Mereka memarkir motor di pinggir jalan, menyembunyikan di balik semak belukar.
Berjalan.
Hutan semakin lebat.
Suara jangkrik dan kodok menggema.
Sesekali suara cabang patah di kejauhan, mungkin binatang, mungkin preman, mungkin imajinasi sendiri.
"Awas," bisik Laras. "Jalan setapak licin. Banyak akar."
"Ada cahaya di depan," kata Dimas. "Lampu. Mungkin rumah."
"Atau markas."
RUMAH TUA DI TENGAH HUTAN
Mereka mendekati sumber cahaya.
Sebuah rumah tua berdiri di tengah hutan. Dinding kayu. Atap seng. Halaman sempit. Di halaman, dua motor trail terparkir.
"Motor preman," bisik Dimas.
"Berapa orang?" tanya Guntur.
"Tidak tahu. Bisa dua, bisa empat. Motor dua, tapi bisa boncengan."
"Kita intip."
Mereka merunduk. Mendekati jendela belakang rumah, jendela kayu dengan tirai kain tipis.
Di dalam, mereka melihat Samsul.
Samsul duduk di kursi kayu. Wajahnya pucat. Tangannya diikat ke belakang. Mulutnya ditutup lakban. Matanya merah, baru saja menangis, atau tidak tidur berhari, hari.
Di depannya, dua preman duduk di kursi lain, makan mi instan, tertawa, tawa.
"Ferry tidak akan terima Samsul begini," kata preman satu. "Dia harus bayar. Dia lari. Dia sembunyi. Dia penyebab semua masalah."
"Tapi Samsul sudah kasih informasi," kata preman dua. "Semua informasi. Tentang Arga. Tentang teman, teman. Tentang Sekar."
"Informasi tidak berguna jika hasilnya Ferry dipenjara. Ferry marah. Ferry mau Samsul dihukum."
"Hukum bagaimana?"
"Patahkan tangan kirinya. Nanti kirim video ke Arga. Biar Arga takut."
Samsul meronta. Matanya melotot. Suaranya tertahan di balik lakban.
Preman itu berdiri. Mengambil pentungan dari meja.
Arga tidak bisa diam lagi.
Ia berdiri. Berlari ke pintu depan. Mendobraknya.
DUAR!
KONFRONTASI DI RUMAH TUA
Preman itu terkejut. Pentungannya jatuh.
"Siapa kamu?" teriaknya.
"Aku Arga. Yang kalian cari."
Preman itu tertawa. "Kau datang sendiri? Mau mati?"
"Aku tidak datang sendiri."
Guntur, Dimas, dan Laras masuk dari pintu belakang. Mereka mengelilingi kedua preman.
"Kami empat. Kalian dua. Kalian kalah jumlah."
"Tapi kita punya pentungan. Kalian tidak punya apa, apa."
"Salah. Kita punya nyali."
Preman itu mengangkat pentungan. Diayunkannya ke arah Arga.
Arga menghindar.
Dimas menendang preman itu dari samping. Ia jatuh.
Preman kedua berusaha kabur lewat pintu belakang, tapi Laras sudah menunggu. Ia menyapu kaki preman itu. Jatuh.
Guntur mengikat tangan mereka dengan tali rapia yang ditemukan di sudut ruangan.
"Kalian siapa?" tanya preman itu.
"Kami bukan siapa-siapa. Hanya orang, orang yang kamu cari-cari."
"Ferry akan, "
"Ferry sudah di tahanan. Pengacaranya hebat, tapi bukti kami lebih hebat."
SAMSUL BEBAS
Arga melepas lakban dari mulut Samsul. Memotong tali pengikat tangannya.
Samsul langsung menangis.
"Mas Arga... maaf... maafkan saya..."
"Kenapa kau lari? Kenapa kau tidak minta bantuan kami?"
"Saya takut. Saya kira Ferry akan menang. Saya kira kalian akan hancur. Saya kira tidak ada yang bisa melindungi saya."
"Kamu salah, Samsul. Kami tetap berdiri. Ferry mungkin bebas, tapi dia tidak akan bisa berbuat banyak. Bukti sudah tersebar. Publik sudah tahu. Media sudah meliput."
"Tapi keluargaku—"
"Aman. Kami akan lindungi mereka. Asal kau mau bekerja sama."
"Saya mau. Saya mau jadi saksi. Saya mau lawan Ferry."
Arga menghela napas. "Bagus. Sekarang, ikut kami. Keluargamu akan kami tempatkan di rumah aman. Kamu juga. Sementara waktu."
"Terima kasih, Mas Arga. Saya tidak tahu harus, "
"Jangan berterima kasih dulu. Masih panjang."
KEMBALI KE KOS
Jam empat pagi, mereka tiba di kos.
Mbok Darmi masih terjaga. Matanya sembab, mungkin menangis, mungkin tidak tidur.
"Kalian selamat," katanya lega.
"Selamat, Mbok. Bawa oleh, oleh dua preman dan satu saksi."
Mbok Darmi memandang Samsul. "Ini yang menghianati kalian?"
"Ini, Mbok. Tapi sekarang dia mau jadi saksi."
"Kamu yakin dia tidak akan berkhianat lagi?"
Laras memandang Samsul. "Samsul, jika kau berkhianat lagi, aku yang akan menghabisimu."
Samsul mengangguk takut. "Saya tidak akan, Mbak. Saya bersumpah."
MISTERI BARU
Saat semua orang bersiap istirahat, ponsel Arga berdering.
Nomor tidak dikenal.
Ia angkat.
"Mas Arga?" suara perempuan. Lirih. Terputus, putus.
"Iya."
"Saya... saya anaknya Samsul. Maya namanya."
"Ada apa, Maya?"
"Ayah saya... ayah saya tidak pernah jadi mata-mata. Dia dipaksa Ferry. Ferry punya video... video ayah saya... melakukan sesuatu... saya tidak tahu detail... tapi Ferry gunakan itu untuk memeras."
Arga menatap Samsul.
Samsul menunduk. Menangis.
"Ferry punya video ibunya mandi, Mas," bisik Samsul. "Ferry ancam akan menyebarkan jika saya tidak patuh. Saya terpaksa. Saya malu. Saya tidak tega istri saya jadi bahan gunjingan."
Ruangan hening.
Guntur memejamkan mata.
Laras mengepalkan tangan.
Dimas membuang muka.
"Ferry benar, benar monster," kata Guntur.
"Sekarang video itu ada di mana?" tanya Arga.
"Di laptop Ferry. Di ruang kerja. Di perumahan Mutiara."
"Apakah masih ada?"
"Mungkin. Ferry tidak pernah menghapus apa pun. Dia kolektor. Dia simpan semua untuk jaga-jaga."
"Itu bukti lain," kata Laras. "Selain perjodohan paksa, penyekapan, kekerasan, Ferry juga melakukan pemerasan dan pelanggaran privasi."
"Bisa kita gunakan di pengadilan?"
"Bisa. Tapi harus hati-hati. Jangan sampai video itu tersebar."
"Aku bisa ambil," kata Dimas. "Aku kenal satpam perumahan Mutiara. Dia bisa membantu."
"Risiko?"
"Besar. Tapi tidak ada pilihan lain."
KEPUTUSAN SAMSUL
Samsul berdiri.
Ia memandang Arga.
"Mas Arga, izinkan saya ikut."
"Kamu? Ikut ke mana?"
"Ke perumahan Mutiara. Saya kenal rumah Ferry. Saya kenal ruang kerjanya. Saya tahu kode kunci brankas tempat Ferry menyimpan laptop pribadinya."
"Berbahaya."
"Saya sudah terlanjur berbahaya, Mas. Istri saya mungkin sudah tidak mau lagi menerima saya. Anak, anak saya mungkin sudah malu pada saya. Tapi setidaknya, saya bisa membersihkan nama saya. Sedikit."
Arga memandang Guntur. Guntur mengangguk.
"Baik. Kamu ikut. Tapi jangan macam, macam."
"Saya tidak akan, Mas. Saya sumpah."
PAGI YANG CERAH
Jam enam pagi, matahari terbit di ufuk timur.
Cahayanya keemasan, hangat, menyapu kabut yang menggantung di atas kota.
Arga duduk di beranda kos. Samsul di sampingnya.
"Samsul," panggil Arga.
"Iya, Mas."
"Kenapa kau memusuhiku sejak awal? Sebelum Ferry terlibat?"
Samsul menunduk.
"Karena saya iri, Mas. Iri pada perhatian Pak Bondan. Iri pada keberanian Mas. Iri pada teman, teman Mas. Saya tidak punya siapa, siapa."
"Sekarang?"
"Sekarang saya sadar. Iri hanya menyiksa diri sendiri."
Arga menepuk bahu Samsul.
"Kita lawan Ferry bersama. Selesai semua, kita mulai lagi dari awal. Tanpa iri. Tanpa dengki."
"Mas Arga mau memaafkan saya?"
"Aku sudah memaafkanmu sejak kau mau menjadi saksi."
Samsul menangis.
Arga memandang langit. Bintang timur sudah menghilang. Fajar sudah sempurna.
Mbah Jayarasa, bisiknya, aku terus berjalan. Seperti pesanmu. Jangan menyerah. Sampai keadilan tercapai.
BAB 28
FERRY KEMBALI MENYERANG , SERANGAN BERTUBI, TUBI
Tiga hari setelah penyelamatan Samsul dari rumah tua di tengah hutan, kabar buruk datang bertubi, tubi. Seperti badai yang datang dari segala penjuru, tanpa peringatan, tanpa ampun. Ferry, meskipun masih dalam tahanan, telah menggerakkan semua pasukannya. Preman, pengacara, polisi bayaran, jurnalis bayaran, semua dikerahkan untuk satu tujuan: menghancurkan Arga dan timnya sebelum sidang dimulai.
Serangan pertama datang dari arah yang paling tidak terduga. Bukan fisik. Bukan hukum. Tapi psikologis. Dan yang menjadi sasaran bukan Arga, bukan Guntur, bukan Sekar. Tapi orang yang paling tidak berdaya di antara mereka: orang tua Arga di desa Wringinrejo.
TELEPON DARI DESA
Kamis pagi, pukul setengah tujuh. Langit masih kelabu. Hujan gerimis turun tipis, membasahi tanah, membuat udara dingin menusuk tulang. Arga sedang duduk di beranda rumah Mariyem, ditemani Sekar yang masih setengah tidur, ketika ponselnya berdering. Nama yang muncul di layar: "Ibu".
"Bu?" jawab Arga dengan suara masih serak.
"Le..." Suara Sukmawati terputus, putus. Bukan karena sinyal buruk. Tapi karena tangis.
"Bu, kenapa? Ada apa?"
"Ibumu... Ibumu... diancam orang, Le. Orang tidak dikenal. Datang ke rumah tadi malam. Bawa pentungan. Bawa pisau. Mereka cari kamu. Mereka cari Sekar."
Darah Arga berhenti mengalir. "Apa? Mereka ngapain? Ibu baik, baik saja?"
"Ayam... Ayahmu... Ayahmu dipukul, Le. Tangannya... tangannya patah."
Dunia Arga runtuh.
"Ayah... Ayah dipukul? Di mana sekarang? Di rumah sakit?"
"Di rumah, Le. Tidak mau ke rumah sakit. Katanya, tidak punya uang."
"BU, BAWA AYAH KE RUMAH SAKIT! SAYA KIRIM UANG!"
"Tapi, Le —"
"BU! AYAH BISA CACAT! Bisa cacat seumur hidup! Bawa sekarang! Saya telepon Faruq! Faruq dan Nisa di desa!"
Arga menutup telepon. Jari, jarinya gemetar hebat. Ia salah tekan tiga kali sebelum akhirnya berhasil menghubungi Faruq.
"Faruq! Ada apa di desa? Kenapa Ayah saya dipukul? Kenapa Ibu saya diancam?"
Faruq terdiam beberapa saat. Suaranya berat. "Maaf, Mas Arga. Saya... saya gagal."
"Gagal bagaimana?"
"Tadi malam, saat saya dan Nisa sedang jaga di depan rumah, ada serangan dari belakang. Mereka masuk lewat dapur. Kami tidak siap. Kami kewalahan."
"Berapa orang?"
"Lima. Besar, besar. Bawa sajam."
"Kamu dan Nisa tidak terluka?"
"Nisa kena pukul di bahu. Saya... saya masih utuh. Tapi gagal melindungi keluarga Mas Arga. Saya minta maaf."
Arga menutup telepon.
Ia duduk di lantai. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar. Matanya kosong.
Sekar berlutut di sampingnya. "Arga? Arga! Ada apa?"
"Ayahku... dipukul. Tangannya patah. Ibuku diancam. Faruq dan Nisa kewalahan."
"Ferry?"
"Pasti Ferry. Meskipun di tahanan, dia masih bisa gerakkan preman."
"Kita harus ke desa."
"Tidak. Kita tidak bisa. Kalau kita ke sana, mereka akan menangkap kita. Atau membunuh kita. Atau menggunakan kita untuk menekan orang tua."
"Lalu?"
"Aku akan kirim lebih banyak orang. Dimas. Guntur. Laras. Mereka yang akan ke desa."
PERTEMUAN DARURAT
Jam delapan pagi, semua dikumpulkan di kos.
Guntur, Dimas, Laras, Ratri, Samsul, dan Sekar. Mbok Darmi menyuguhkan teh jahe, tapi kali ini tidak ada pisang goreng. Wajahnya tegang.
"Aku dengar kabar dari desa," kata Guntur. "Ini serangan serius. Ferry tidak main, main."
"Kita harus kirim bantuan ke desa," kata Arga. "Faruq dan Nisa kewalahan. Mereka butuh orang lagi."
"Aku yang akan ke desa," kata Dimas. "Aku lincah. Aku bisa selip. Aku tahu medan."
"Aku ikut," kata Laras. "Aku punya pengalaman menghadapi preman."
"Jangan," kata Guntur. "Kamu masih dalam masa pemulihan. Lengannya masih luka."
"Lenganku sudah baikan. Aku bisa."
"Tidak."
Laras mengepalkan tangan. "Guntur, aku tidak bisa diam di sini sementara teman, teman kita dalam bahaya."
"Kita semua tidak bisa diam. Tapi kita harus pintar. Jangan emosi."
"Apa rencanamu?"
Guntur membuka laptopnya. Sebuah peta muncul di layar. Peta desa Wringinrejo dan sekitarnya.
"Kita kirim Dimas dan Ratri ke desa. Ratri kenal desa. Ratri kenal orang, orang di sana. Ratri bisa bantu Faruq dan Nisa bersembunyi."
"Aku setuju," kata Ratri.
"Lalu Laras, aku, dan Samsul akan fokus ke kota. Kita pantau pergerakan preman Ferry. Kita cari tahu siapa dalang di balik serangan ini."
"Siapa dalangnya?" tanya Samsul.
"Pasti orang dalam. Orang yang tahu persis lokasi kita. Orang yang tahu kelemahan kita."
"Bukan aku," kata Samsul cepat.
"Aku tidak menuduhmu. Tapi kita harus selidiki."
KEJUTAN DARI SAMSUL
Samsul mengangkat tangan. "Guntur, aku mau usul."
"Apa?"
"Aku bisa jadi umpan."
"Umpan?"
"Iya. Ferry ingin menangkapku. Dia marah karena aku lari. Dia ingin menghukumku. Jika aku muncul di tempat umum, dia pasti akan mengirim preman untuk menangkapku. Saat itu, kalian bisa memotret mereka. Bisa jadi bukti."
"Berbahaya," kata Guntur.
"Saya sudah terlanjur berbahaya, Mas. Istri saya sudah tidak mau menerima saya lagi. Anak, anak saya malu. Lebih baik saya mati terhormat daripada hidup dalam ketakutan."
Arga memandang Samsul. Laki, laki yang dulu ia benci, kini berdiri di depannya, menawarkan nyawanya untuk membantu.
"Samsul," kata Arga.
"Iya, Mas."
"Aku tidak akan biarkan kau mati."
"Tidak usah khawatir, Mas. Saya sudah lama mati secara batin. Sekarang giliran fisik."
JEBAKAN DI PASAR LAMA
Jam dua siang, Samsul muncul di Pasar Lama pasar tradisional paling ramai di kota. Ia tidak menyamar. Tidak memakai topi atau kacamata. Ia berjalan santai di antara lapak, lapak sayur, buah, dan bumbu dapur, sesekali berhenti untuk membeli gorengan, sesekali menyapa pedagang yang ia kenal.
Dari kejauhan, Dimas dan Laras memantau dari atap toko kelontong. Guntur duduk di sebuah warung kopi, pura, pura membaca koran, tapi matanya tidak lepas dari Samsul.
"Dimas, ada yang bergerak?" bisik Guntur lewat ponsel.
"Ada. Dua orang. Dari arah timur. Mereka mengikuti Samsul sejak tadi."
"Preman?"
"Kelihatannya. Bawa pentungan di balik jaket."
"Hitung mundur. Jika mereka mendekat, kita bergerak."
"Siap."
Preman itu semakin dekat. Samsul pura, pura tidak sadar. Ia terus berjalan.
"Samsul!" teriak salah satu preman.
Samsul berbalik. "Apa?"
"Kami utusan Ferry. Kau harus ikut."
"Saya tidak mau ikut."
"Bukan pilihan."
Preman itu mengeluarkan pentungan. Yang satu lagi mengeluarkan pisau.
Samsul mundur selangkah. "Jangan dekati saya!"
"Terlambat."
PENYERGAPAN
Tepat saat preman itu mengayunkan pentungan, Dimas melompat dari atap toko. Ia mendarat tepat di punggung preman pertama. DUAR! Preman itu jatuh. Pentungannya terlepas.
Preman kedua terkejut. Pisau di tangannya bergetar.
"Siapa kamu?" teriaknya.
"Orang yang akan mengirimmu ke penjara."
Guntur muncul dari warung kopi. Laras dari balik lapak sayur. Mereka mengelilingi preman kedua.
"Jangan coba, coba lari. Atau melawan. Kami lebih banyak."
Preman itu tertawa. "Kalian pikir kalian bisa menang melawan kami? Kami hanya dua dari dua puluh. Ferry punya banyak anak buah. Di mana-mana. Siap menyerang kapan saja."
"Kami tidak takut."
"Kamu harus takut. Karena besok, giliran rumah kos kalian yang diserang. Giliran keluarga kalian. Giliran pacar kalian. Giliran semua yang kalian cintai."
Laras memukul preman itu dengan gagang senter. DUAR! Preman itu jatuh pingsan.
"Banyak bicara," kata Laras dingin.
INTEROGASI
Mereka membawa kedua preman itu ke gudang kosong di belakang pasar. Samsul ikut. Wajahnya pucat, tapi ia berusaha tegar.
Dimas mengikat tangan preman itu ke kursi kayu. Guntur berdiri di depan mereka.
"Siapa yang mengirim kalian?"
Preman pertama tertawa. "Ferry. Siapa lagi?"
"Ferry di tahanan. Bagaimana dia bisa mengirim kalian?"
"Dia punya orang kepercayaan. Namanya Toni. Mantan polisi. Dia yang koordinasi."
"Di mana Toni sekarang?"
"Tidak tahu. Dia selalu ganti tempat."
"Bagaimana cara hubungi dia?"
"Kami tidak pernah hubungi. Dia yang hubungi kami."
"Siapa saja yang terlibat dalam serangan ke desa tadi malam?"
Wajah preman itu berubah. "Kami tidak tahu."
"Aku tanya sekali lagi. Siapa yang terlibat?"
Preman itu diam.
Laras maju. Ia mengeluarkan pisau lipat, yang dulu ia klaim sebagai pisau pusaka, ternyata hanya pisau biasa. Tapi preman itu tidak tahu.
"Kami tidak punya waktu untuk basa, basi," kata Laras. "Jika kalian tidak bicara, aku akan potong telinga kalian satu per satu."
Preman itu ketakutan. "Tunggu... tunggu... aku bicara. Aku bicara."
"Silakan."
"Yang ke desa... kelompok Bambang. Anak buah Ferry yang paling brutal. Tugas mereka menculik orang tua Arga dan memaksa Arga menyerah."
"Apakah mereka berhasil?"
"Belum. Tadi malam gagal. Tapi mereka akan coba lagi. Malam ini. Dengan pasukan lebih banyak."
KEPUTUSAN BERGESA
Guntur segera menghubungi Faruq.
"Faruq, malam ini desa akan diserang lagi. Pasukan lebih banyak. Kalian harus evakuasi orang tua Arga."
"Ke mana?"
"Ke rumah Mbah Jayarasa. Rumah tua itu punya ruang bawah tanah. Sembunyikan di sana. Jangan keluar sebelum kami datang."
"Baik. Aku akan bilang Nisa."
"Jaga diri."
"Kamu juga."
Guntur menutup telepon. Ia memandang Arga.
"Arga, kamu harus ke desa. Sekarang. Bawa Dimas dan Laras."
"Kenapa aku?"
"Karena orang tuamu butuh kamu. Karena Ferry ingin menangkapmu. Jika kamu ada di desa, perhatian preman akan terbagi. Mereka tidak akan fokus menyerang sembarangan."
"Tapi Sekar —"
"Sekar akan kami jaga. Samsul, Ratri, dan aku akan di sini. Rumah Mariyem aman. Tidak mudah ditemukan."
Arga ragu.
"Pergi, Le," kata Samsul. "Saya jaga Sekar. Saya tidak akan berkhianat lagi. Saya sumpah."
Arga memandang Sekar. Sekar mengangguk.
"Pergi, Arga. Aku akan baik, baik saja. Aku percaya pada Samsul. Aku percaya pada Guntur."
Arga memeluk Sekar. Lama. Erat.
"Aku akan kembali," bisiknya.
"Aku tunggu."
PERJALANAN KE DESA
Jam empat sore, Arga, Dimas, dan Laras berangkat menuju desa Wringinrejo. Naik mobil sewaan, mobil yang sama saat penyelamatan Sekar di vila Merapi.
Perjalanan yang biasanya dua belas jam, mereka tempuh dalam sembilan jam. Ngebut. Berhenti hanya untuk buang air kecil dan ganti bensin. Dimas yang menyetir, matanya merah karena kantuk, tapi ia paksakan.
"Dimas, kamu istirahat. Aku gantian," kata Arga.
"Tidak usah, Mas. Aku kuat. Ini bukan pertama kali saya begadang."
"Tapi , "
"Mas Arga, fokuslah pada orang tua Mas. Jangan pikirkan saya."
Laras duduk di kursi belakang. Ia memandang ke luar jendela. Hutan jati berganti perkebunan sawit. Perkebunan sawit berganti persawahan.
"Arga," panggil Laras.
"Iya."
"Apa kamu takut?"
"Takut kehilangan orang tua. Takut tidak bisa melindungi mereka."
"Itu wajar. Tapi ingat, kita tidak sendirian."
"Aku tahu."
TIBA DI DESA
Jam satu dini hari, mereka tiba di desa Wringinrejo.
Desa itu gelap. Sunyi. Tidak ada lampu penerangan jalan. Hanya suara jangkrik dan sesekali suara anjing menggonggong.
Mobil berhenti di depan rumah Sastro dan Sukmawati.
Rumah itu gelap. Seperti tidak berpenghuni.
Arga turun. Ia lari ke pintu.
"Ibu! Ayah!"
Tidak ada jawaban.
Ia mendobrak pintu.
Di dalam, rumah kosong. Kasur berserakan. Meja jatuh. Piring pecah di lantai.
"Bu! Yah!" teriak Arga panik.
Dari belakang rumah, suara Faruq. "Mas Arga, di sini! Di rumah Mbah Jayarasa!"
Mereka berlari ke rumah Mbah Jayarasa.
Di halaman, Faruq dan Nisa berdiri dengan wajah tegang, lengkap dengan luka di bahu Nisa.
"Orang tua Mas di dalam," kata Faruq. "Selamat. Tapi ayah Mas... lukanya parah. Kami sudah panggil mantri desa. Dia sedang dirawat."
DI RUMAH MBAH JAYARASA
Rumah tua Mbah Jayarasa berbeda dari biasanya.
Dulu, rumah ini dingin, sepi, hanya dihuni kakek tua yang hampir buta. Sekarang, terasa hangat, mungkin karena banyak orang, mungkin karena doa, mungkin karena kehadiran Sukmawati yang sedang memeluk suaminya yang terbaring lemas.
"Bu!" Arga berlutut di samping ibunya.
"Le... akhirnya kau datang."
"Ayah... bagaimana ayah?"
Sastro terbaring di dipan bambu. Tangannya dibalut perban tebal. Wajahnya pucat. Bibirnya kering. Matanya sayu.
"Le," bisik Sastro. "Kau datang."
"Ayah, maafkan aku. Aku tidak bisa, "
"Jangan maaf. Tidak ada salahmu. Yang salah mereka. Yang salah Ferry."
"Ayah, aku akan, "
"Jangan balas dendam, Le. Balas dendam tidak menyelesaikan masalah. Fokus pada Sekar. Fokus pada masa depan."
"Tapi tangan ayah , "
"Tangan bisa sembuh. Hati yang luka lebih susah disembuhkan."
Sastro memejamkan mata. Ia kelelahan.
Arga menangis.
SERANGAN KEDUA
Jam dua dini hari, suara motor terdengar dari kejauhan. Banyak. Puluhan.
"Kepung!" teriak seseorang.
"Mereka datang!" teriak Faruq.
Semua panik.
Nisa membawa Sukmawati ke ruang bawah tanah, ruang yang dulu digunakan Mbah Jayarasa untuk menyimpan hasil bumi, sekarang menjadi tempat persembunyian.
Dimas dan Laras mengambil posisi di jendela.
Arga memegang parang, parang peninggalan Mbah Jayarasa yang sejak dulu tergantung di dinding, tidak pernah dipakai, tapi tajamnya masih mengerikan.
"Jangan bunuh, Arga," bisik Laras. "Lumpuhkan saja."
"Aku tidak akan bunuh. Aku hanya ingin mereka takut."
Preman mulai masuk halaman.
Satu, dua, tiga, empat, lima, diikuti puluhan.
"Mana penghuni rumah ini? Keluar!" teriak pemimpin preman, laki, laki tambun dengan wajah babi dan suara serak.
"Kami tidak akan keluar," teriak Arga dari balik jendela.
"Kau Arga?"
"Aku."
"Ferry kirim salam. Kata dia, kau harus mati."
"Ferry di tahanan. Dia tidak bisa apa, apa."
"Tapi anak buahnya bisa."
Preman itu memberi isyarat. Semua preman menyerang.
PERTEMPURAN
Dimas membanting kursi ke arah preman pertama. Preman itu jatuh.
Laras memukul preman kedua dengan gagang sapu, sapu tua yang kebetulan ada di sudut ruangan.
Faruq menendang preman ketiga. Preman itu terhuyung.
Nisa, meskipun bahunya luka, masih bisa melempar piring ke arah preman keempat.
Arga keluar rumah. Parang di tangan.
"Jangan dekati rumah ini!" teriaknya.
Preman itu tidak takut. Mereka terus maju.
Arga mengayunkan parang. Tidak ke arah tubuh. Ke arah pentungan mereka.
BRUK! Pentungan pertama putus.
BRUK! Pentungan kedua patah.
Preman itu mundur.
"Kurang ajar!" pemimpin preman maju dengan celurit.
Arga mengelak. Celurit itu mengenai tiang kayu. Bruk!
Arga membacok celurit itu dengan parang. Percikan api. Celuritnya patah.
Preman itu terkejut.
"Kau... kau tidak mungkin..."
"Aku anak desa. Aku tumbuh dengan parang. Jangan main, main."
Preman itu mundur. "Semua mundur!" teriaknya.
Mereka kabur.
Meninggalkan halaman yang berantakan.
Meninggalkan pentungan dan celurit patah.
Meninggalkan ketakutan.
PAGI DI DESA
Matahari terbit di ufuk timur.
Cahayanya keemasan, hangat, menyapu kabut yang menggantung di atas sawah.
Arga duduk di halaman rumah Mbah Jayarasa. Parang di pangkuan. Tangannya gemetar, bukan takut, tapi adrenalin.
"Mas Arga," panggil Dimas dari pintu.
"Iya."
"Kita bertahan."
"Kita bertahan."
"Ferry belum menyerah."
"Kita juga."
Mereka memandang langit.
Bintang timur masih terlihat, meskipun fajar sudah sempurna.
Jatmika, bisik Arga. Kau tadi membantu kami, bukan?
Tidak ada jawaban.
Tapi Arga merasakan sesuatu. Kehangatan di dadanya.
"Aku selalu di sini, Le. Menjagamu. Menjaga keluarga. Menjaga Sekar."
Arga tersenyum.
BAB 29
KONSPIRASI TERBONGKAR
Setelah pertempuran sengit di halaman rumah Mbah Jayarasa, tim Arga berhasil memukul mundur preman bayaran Ferry. Tapi kemenangan itu terasa hampa. Ada yang aneh. Ada yang tidak beres. Preman-preman itu sepertinya tahu persis di mana Arga bersembunyi. Mereka tahu persis tata letak rumah. Mereka tahu persis pintu masuk dan pintu keluar. Mereka tahu persis kelemahan tim Arga.
Itu bukan kebetulan.
Itu adalah hasil dari pengkhianatan.
Pengkhianatan dari dalam lingkaran terdekat mereka sendiri.
PAGI YANG GELISAH
Matahari belum sepenuhnya terbit ketika Arga terbangun dari tidurnya yang singkat. Ia bermimpi buruk, mimpi tentang Jatmika berdiri di tepi Kali Wening, menangis, memanggil namanya, lalu menghilang ditelan air hitam.
Ia duduk di dipan. Keringat dingin membasahi keningnya.
Di sampingnya, Sastro masih terbaring lemah, tangan kiri dibalut perban tebal, mata terpejam tapi tidak tidur. Sukmawati duduk di kursi kayu, memegang tangan suaminya, sesekali mengusap air mata yang jatuh tanpa suara.
"Bu," panggil Arga pelan.
Sukmawati menoleh. Matanya merah. Wajahnya sembab.
"Iya, Le."
"Aku akan cari teh jahe untuk Ayah."
"Jangan repot, repot. Ibu yang buatkan."
"Ibu istirahat. Aku yang buat."
Arga berjalan ke dapur rumah Mbah Jayarasa. Dapur itu kecil, hanya cukup untuk satu orang memasak. Tungku tanah liat masih menyala kecil, menghangatkan air di panci.
Arga mengambil jahe dari keranjang bambu. Diparutnya kasar. Direbusnya dengan air. Ditambah gula merah. Menunggu hingga mendidih dan wangi.
"Mas Arga."
Suara itu membuat Arga menoleh. Faruq berdiri di pintu dapur, wajahnya tegang, matanya cekung, seperti tidak tidur semalaman.
"Faruq, kenapa? Kamu tidak istirahat?"
"Tidak bisa tidur, Mas. Pikiran saya kacau."
"Pikiran kacau karena apa?"
Faruq masuk ke dapur. Ia duduk di bangku kayu di sudut—bangku yang biasa digunakan Mbah Jayarasa untuk mengupas bawang atau memotong sayur.
"Mas Arga, saya mau cerita sesuatu. Tapi Mas Arga jangan marah."
Arga menghentikan adukan jahenya. Ia menatap Faruq.
"Cerita apa?"
Faruq menunduk. Tangannya gemetar. Air matanya jatuh.
"Saya... saya yang kasih tahu preman Ferry tentang lokasi persembunyian Mas Arga di rumah Mbah Jayarasa."
Sendok kayu di tangan Arga jatuh.
BRUK!
"Faruq, apa katamu?" suara Arga dingin. Sangat dingin.
"Saya yang kasih tahu. Saya yang kasih tahu mereka tentang tata letak rumah. Tentang pintu belakang. Tentang jendela. Tentang ruang bawah tanah."
"Kenapa?" Arga masih tidak percaya. "Kenapa kau lakukan itu, Faruq? Kau temanku. Kau sahabatku. Kau orang yang paling saya percaya setelah Guntur."
Faruq terisak. "Karena mereka mengancam keluarga saya, Mas. Mereka punya video. Video adik perempuan saya... mandi. Mereka bilang jika saya tidak membantu, mereka akan menyebarkan video itu ke media sosial. Ke sekolah. Ke tetangga. Ke semua orang."
"Ferry lagi?"
"Ferry. Melalui anak buahnya. Toni namanya. Mantan polisi. Dia yang mengkoordinasi semua."
"Kenapa kau tidak cerita pada kami?"
"Karena saya takut, Mas. Saya takut kalau saya cerita, mereka akan sebar videonya lebih cepat. Saya takut adik saya malu. Saya takut keluarga saya hancur."
Arga duduk di lantai dapur. Wajahnya pucat. Matanya kosong.
Faruq, Faruq yang selama ini menjadi penghibur tim, Faruq yang selalu membuat mereka tertawa di saat paling sulit, Faruq yang rela mempertaruhkan nyawanya di demo, Faruq yang ikut menyusup ke vila Ferry, ternyata mata-mata.
"Mas Arga," Faruq berlutut di depan Arga. "Saya mohon, jangan usir saya. Saya mau bertobat. Saya mau lawan Ferry. Saya mau bantu Mas Arga sampai akhir."
"Bagaimana saya bisa percaya kata-katamu, Faruq? Kau sudah berbohong. Kau sudah mengkhianati kami. Bagaimana saya tahu ini bukan bagian dari rencana Ferry untuk menghancurkan kami dari dalam?"
Faruq mengeluarkan ponselnya. Ia membuka rekaman suara.
"Mas Arga, dengar ini."
REKAMAN SUARA TONI
Suara laki, laki berat, tegas, seperti orang yang terbiasa memberi perintah.
"Faruq, kau dengar. Ini Toni. Ferry marah padamu. Target pertama gagal. Keluarga Arga tidak jadi ditangkap. Kau harus perbaiki."
"Saya sudah lakukan sesuai perintah," suara Faruq dalam rekaman. "Saya kasih tahu lokasi. Saya kasih tahu tata letak rumah. Saya kasih tahu kelemahan mereka. Tapi preman yang Mas Toni kirim terlalu lemah. Mereka kalah."
"Jangan salahkan anak buahku. Mereka profesional. Mereka sudah bertahun, tahun bekerja untuk Ferry. Tidak mungkin kalah oleh anak desa."
"Tapi faktanya mereka kalah, Mas Toni. Arga dan teman, temannya lebih kuat dari yang Mas kira."
"Maka kau harus buat mereka lemah. Racuni makanan mereka. Potong kabel motor mereka. Tusuk ban mobil mereka. Lakukan apa pun untuk mempermudah anak buahku besok malam."
"Saya tidak bisa, Mas Toni. Saya tidak tega."
"Kau tidak punya pilihan, Faruq. Ferry sudah mentransfer lima puluh juta ke rekeningmu. Itu tanda jadi. Setelah target tercapai, sisanya akan masuk. Tapi jika kau gagal, bukan hanya uang yang hilang. Video adikmu akan tersebar. Kau mengerti?"
Rekaman berakhir.
Arga memandang Faruq. "Kau menerima uang?"
Faruq mengangguk pelan. "Lima puluh juta. Tapi belum saya pakai. Masih utuh di rekening. Saya akan kembalikan."
"Kembalikan? Pada siapa? Ferry? Preman?"
"Pada Mas Arga. Saya akan transfer semua ke rekening Mas Arga. Saya tidak mau uang haram itu."
Arga menghela napas. "Faruq, kau bodoh."
"Saya tahu, Mas."
"Bodoh karena menerima uang dari setan."
"Saya tahu, Mas."
"Bodoh karena tidak cerita pada kami."
"Saya tahu, Mas."
"Tapi kau juga berani. Berani mengaku. Berani bertobat."
Faruq mengangkat wajahnya. Matanya basah, tapi ada cahaya di sana, cahaya harapan.
"Mas Arga, saya ingin membantu Mas Arga menjebak Toni. Saya akan berpura, pura masih setia pada Ferry. Saya akan beri informasi palsu. Saya akan buat mereka lengah."
"Berbahaya."
"Saya tidak takut mati, Mas. Saya lebih takut hidup dalam dosa."
PERTEMUAN DENGAN TIM
Jam delapan pagi, Arga mengumpulkan semua tim di ruang tamu rumah Mbah Jayarasa.
Guntur, Dimas, Laras, Nisa, dan Samsul, kecuali Ratri yang sedang menjaga Sukmawati dan Sastro di ruang bawah tanah.
Arga berdiri di depan mereka. Wajahnya tegang.
"Teman, teman, saya punya kabar buruk."
"Apa?" tanya Guntur.
Arga menatap Faruq. Faruq menunduk.
"Faruq adalah mata-mata Ferry."
Ruangan hening.
Guntur tidak terkejut. "Aku sudah tahu."
Semua menatap Guntur.
"Kamu tahu?" tanya Nisa.
"Sejak dua hari lalu. Ada keanehan. Informasi kita selalu bocor. Tapi tidak semuanya. Hanya informasi yang dimiliki orang, orang tertentu. Saya curiga pada Faruq karena dia yang paling sering komunikasi dengan Toni, tanpa sepengetahuan kita."
"Kenapa tidak bilang?" tanya Dimas.
"Karena aku ingin Faruq mengaku sendiri. Dan dia sudah mengaku. Pada Arga. Pagi ini."
Laras mengepalkan tangan. "Faruq, kau, "
"Saya tahu, Laras. Saya salah. Saya minta maaf."
"Maaf tidak cukup, Faruq. Kau membahayakan kita semua. Keluarga Arga nyaris tewas."
"Saya tahu. Saya akan perbaiki."
"Bagaimana?"
Faruq memandang Laras. "Saya akan jadi umpan. Saya akan pura, pura masih setia pada Ferry. Saya akan beri informasi palsu pada Toni. Saya akan buat mereka lengah."
Laras terdiam.
"Laras, aku butuh bantuanmu. Kamu mantan mata-mata Ferry. Kamu tahu cara kerja mereka. Kamu tahu trik-trik mereka."
Laras menghela napas. "Baik. Aku bantu."
RENCANA JEBATAN
Mereka menyusun rencana di ruang tamu yang sempit. Guntur membuka laptop. Dimas menyiapkan alat perekam. Nisa mencatat poin, poin penting.
"Faruq, kau akan hubungi Toni. Bilang bahwa besok malam Arga dan Sekar akan pindah ke tempat persembunyian baru di Gunung Kidul. Rute yang akan dilewati: lewat jalur selatan, melewati hutan jati, sepi, tidak ada polisi."
"Apakah itu benar?" tanya Faruq.
"Tidak. Itu jebakan. Kami akan menyiapkan penyergapan di hutan jati. Polisi sudah kami hubungi, polisi yang bisa dipercaya, bukan polisi bayaran Ferry."
"Tapi bagaimana jika Toni mengirim preman dalam jumlah besar?"
"Kami sudah siap. Laras akan memantau dari kejauhan. Dimas akan merekam semua. Guntur akan koordinasi dengan polisi."
"Siapa yang akan memancing?"
"Samsul."
Samsul mengangkat alis. "Saya?"
"Iya. Kau yang paling dikenal preman. Kau yang paling dicari Ferry. Jika kau terlihat di hutan jati, mereka pasti akan datang."
"Risiko?"
"Besar. Tapi tidak ada pilihan lain."
Samsul menghela napas. "Baik. Saya lakukan. Untuk istri saya. Untuk anak, anak saya. Untuk membersihkan nama saya."
FARUQ MENGHUBUNGI TONI
Jam sepuluh pagi, Faruq menelepon Toni.
Tangan Faruq gemetar. Wajahnya pucat. Tapi suaranya tegas.
"Mas Toni, ini Faruq."
"Ada apa, Le?"
"Saya punya informasi penting. Arga dan Sekar akan pindah besok malam. Ke Gunung Kidul. Lewat jalur selatan. Sepi. Tidak ada polisi."
"Kamu yakin?"
"Yakin. Saya dengar sendiri dari Arga."
"Rutenya?"
"Lewat hutan jati. Keluar di perbatasan. Desa terakhir sebelum Gunung Kidul."
"Bagus. Besok malam kita gerakan semua pasukan. Ferry akan senang."
"Tapi Mas Toni, satu lagi."
"Apa?"
"Aku tidak bisa ikut. Ada tugas lain dari Guntur."
"Tidak apa. Tugasmu sudah selesai. Besok malam, kau tinggal di rumah. Jangan kemana-mana. Biar anak buahku yang bekerja."
"Baik, Mas Toni."
Telepon ditutup.
Faruq memandang Arga. "Dia percaya."
"Kita tunggu besok malam."
MALAM SEBELUM EKSEKUSI
Jam delapan malam, semua berkumpul di ruang tamu.
Suasana tegang. Tidak ada tawa. Tidak ada canda. Hanya fokus.
"Guntur, apakah polisi sudah siap?" tanya Arga.
"Sudah. Dua mobil. Delapan orang. Polisi dari Polda, bukan Polres. Tidak bisa disuap Ferry."
"Dimas, alat rekam?"
"Siap. Dua kamera tersembunyi di hutan. Juga drone untuk pantau dari udara."
"Laras, posisi?"
"Aku di bukit kecil dekat hutan. Bisa lihat semua."
"Nisa, kau di mana?"
"Aku di rumah Mariyem. Jaga Sekar dan Ratri. Juga Sastro dan Sukmawati."
"Baik. Samsul, kau siap?"
Samsul mengangguk. "Badanku gemetar. Tapi hatiku siap."
"Faruq, kau di rumah kos. Jangan kemana, mana. Biar Toni tidak curiga."
"Baik."
Arga memandang semua temannya.
"Teman, teman, ini puncak. Jika berhasil, Ferry akan hancur. Jika gagal, kita semua bisa mati. Tapi saya percaya pada kita. Saya percaya pada kebenaran."
"Setuju!" kata mereka serempak.
BAB 30
FERRY TERPOJOK
Malam itu adalah malam yang ditunggu, tunggu. Bukan hanya oleh Arga dan timnya, tapi juga oleh semua pihak yang selama ini diam, diam menyimpan bukti kejahatan Ferry Kencana. Jurnalis investigasi dari Tempo, Kompas, dan BBC Indonesia sudah bersiap di lokasi yang telah ditentukan. Aktivis dari Komnas Perempuan dan LBH sudah siaga dengan pernyataan resmi. Polisi dari Polda yang tidak bisa disuap sudah menyiapkan tim penangkapannya.
Dan Ferry, pengusaha muda yang selama ini merasa kebal hukum, yang merasa uang bisa membeli segalanya, yang merasa tidak ada yang berani melawannya, akan terjebak dalam perangkapnya sendiri.
Rencana jebakan di hutan jati berjalan sempurna. Toni dan dua puluh preman bayarannya datang tepat waktu. Mereka mengira akan menangkap Arga dan Sekar sendirian, tanpa pengawalan. Mereka tidak tahu bahwa polisi sudah mengepung dari semua sisi. Mereka tidak tahu bahwa setiap gerakan mereka direkam oleh kamera tersembunyi dan drone Dimas. Mereka tidak tahu bahwa ini adalah akhir dari kekuasaan Ferry di kota ini.
JEBATAN DI HUTAN JATI
Hutan jati di selatan kota itu gelap. Pepohonan tinggi menjulang, menutupi cahaya bulan dan bintang. Hanya sesekali cahaya senter preman yang menerobos kegelapan, menciptakan bayangan panjang yang menari, nari di tanah kering.
Arga berdiri di tengah hutan, di samping mobil sewaan yang sengaja diparkir di pinggir jalan setapak. Sekar tidak ada di sana, itu bagian dari rencana. Arga sendirian. Tapi ia tidak takut. Di balik semak, semak, Guntur, Dimas, dan Laras bersiap dengan kamera dan alat perekam. Di atas bukit kecil, polisi bersenjata lengkap menunggu komando.
"Ini dia," bisik Dimas lewat komunikasi radio. "Mereka datang. Dua puluh orang. Toni di depan. Bawa celurit."
"Biar mereka mendekat," bisik Guntur balik. "Jangan bergerak sampai aku kasih kode."
Arga berdiri tegap. Ia memegang peta usang Mbah Jayarasa di saku celananya, bukan untuk dibaca, tapi untuk keberanian.
"Arga!" teriak Toni dari kejauhan. "Kau sendirian?"
"Sendirian!" teriak Arga balik. "Apa kalian takut pada orang sendirian?"
Tomi tertawa. "Kami tidak takut pada siapapun. Apalagi anak desa sepertimu."
"Kalau begitu, kemari. Aku tidak akan lari."
Toni memberi isyarat. Semua preman maju. Perlahan. Merangkak. Pentungan, celurit, dan pisau terangkat.
Mereka semakin dekat.
Lima puluh meter.
Tiga puluh meter.
Sepuluh meter.
"Sekarang!" teriak Guntur.
Lampu sorot menyala dari segala arah. Polisi keluar dari persembunyian. "POLISI! JANGAN BERGERAK! ANGKAT TANGAN!"
Preman itu panik. Ada yang mencoba lari, tapi langsung dikejar. Ada yang melawan, tapi langsung dilumpuhkan. Ada yang menangis, memohon ampun.
Toni tidak lari. Ia hanya berdiri. Memandang Arga.
"Kau... kau menjebakku?"
"Bukan aku. Kau sendiri yang menjebak dirimu."
"Ferry akan, "
"Ferry sudah selesai. Malam ini, dia akan ditangkap. Di hadapan publik. Di hadapan media. Di hadapan semua orang yang selama ini membelanya."
"Kau tidak mungkin, "
"Aku punya bukti, Toni. Rekaman percakapanmu dengan Faruq. Rekaman perintahmu pada preman. Video penyergapan ini. Semua akan jadi barang bukti di pengadilan."
Tomi tertawa pahit. "Kau pikir pengadilan akan memenangkan orang miskin seperti kamu?"
"Bukan saya yang akan menang. Kebenaran yang akan menang."
PENYERBUAN RUMAH FERRY
Jam sembilan malam, saat penyergapan di hutan jati masih berlangsung, tim lain bergerak menuju rumah Ferry di perumahan Mutiara Indah. Ferry sudah keluar dari tahanan dijamin pengacaranya yang hebat dan sedang bersantai di ruang kerjanya, meminum anggur merah, mendengarkan musik klasik.
Ia tidak tahu bahwa dunianya akan runtuh dalam hitungan menit.
"Kepung semua pintu!" perintah komandan polisi dari Polda. "Jangan biarkan satu pun keluar!"
Ferry mendengar keributan dari luar. Ia berjalan ke jendela. Melihat mobil polisi berjejer di depan gerbang.
"Astaga," bisiknya. "Mereka berani."
Ia mengambil ponsel. Menelepon pengacaranya.
"Pak Gerry, saya dikepung polisi. Apa yang harus saya lakukan?"
"Tenang, Pak Ferry. Saya akan ke sana. Jangan lawan. Jangan lari. Biarkan mereka menangkap Bapak. Saya akan urus sisanya."
"Tapi, "
DUAR! DUAR! DUAR!
Pintu depan didobrak.
"POLISI! JANGAN BERGERAK!"
Ferry meletakkan ponselnya. Ia mengangkat tangan.
"Saya tidak melawan."
"Ferry Kencana, kami menahan Saudara atas dugaan penyekapan, kekerasan dalam rumah tangga, perjodohan paksa, pemerasan, dan pengiriman preman untuk melakukan kekerasan."
"Saya ingin telepon pengacara saya."
"Boleh. Nanti. Setelah kami geledah rumah ini."
Polisi mulai menggeledah.
Mereka menemukan laptop di brankas, laptop yang berisi video pemerasan terhadap keluarga Samsul dan Faruq.
Mereka menemukan buku catatan, catatan aliran uang haram, suap pada polisi dan pejabat.
Mereka menemukan foto, foto Sekar, foto saat disuntik obat penenang, foto saat pingsan, foto saat lebam.
Mereka menemukan semuanya.
Ferry tidak bisa berkutik.
FERRY DI HADAPAN PUBLIK
Jam sepuluh malam, Ferry digiring ke mobil polisi. Di depan gerbang perumahan, puluhan jurnalis sudah menunggu dengan kamera dan alat perekam.
"Pak Ferry, benarkah Bapak menyekap Sekar selama berbulan, bulan?"
"Pak Ferry, apa tanggapan Bapak tentang video pemerasan yang disita polisi?"
"Pak Ferry, apakah Bapak mengakui semua kejahatan ini?"
Ferry tidak menjawab. Ia hanya berjalan. Wajahnya pucat. Matanya kosong. Tidak ada lagi senyum sinis. Tidak ada lagi tatapan angkuh.
Tapi tiba, tiba, ia berhenti.
Ia melihat seseorang di antara kerumunan.
Arga.
Arga berdiri di pinggir jalan, ditemani Guntur, Dimas, Laras, dan Samsul. Wajahnya tenang. Matanya tajam.
Ferry berjalan mendekat. Polisi mengawal, tapi tidak melarang.
"Arga," panggil Ferry.
"Ferry."
"Kau menang."
"Bukan saya. Kebenaran."
"Kebenaran?" Ferry tertawa pahit. "Kebenaran tidak pernah ada. Yang ada hanya kekuatan. Dan hari ini, kekuatan ada di pihakmu."
"Bukan kekuatan. Keberanian. Keberanian untuk melawan ketidakadilan."
Ferry memandang Arga lama.
"Kau anak desa yang luar biasa."
"Saya anak desa biasa. Tapi saya punya teman, teman luar biasa."
"Semoga kau bahagia dengan Sekar."
"Terima kasih."
Ferry berbalik. Ia masuk ke mobil polisi. Mobil itu melaju perlahan, meninggalkan perumahan, meninggalkan kekayaannya, meninggalkan masa lalunya yang kelam.
PENGAKUAN FERRY
Tiga hari kemudian, sidang perdana Ferry digelar di pengadilan negeri. Ruangan penuh. Jurnalis dari berbagai media memadati kursi pengunjung. Aktivis dan mahasiswa berdemo di depan gedung menuntut hukuman maksimal.
Ferry duduk di kursi pesakitan. Wajahnya masih tampan, tapi matanya, matanya yang dulu tajam dan angkuh, kini sayu dan kosong.
Jaksa membacakan dakwaan.
Pertama: penyekapan terhadap Sekar, gadis desa yang dijodohkan paksa, selama lebih dari enam bulan.
Kedua: kekerasan psikis dan fisik terhadap Sekar, termasuk pemberian obat penenang dosis tinggi tanpa resep dokter.
Ketiga: perjodohan paksa yang melanggar hak asasi manusia.
Keempat: pemerasan terhadap Samsul dan Faruq menggunakan video pribadi keluarga mereka.
Kelima: penyuapan terhadap oknum polisi dan pejabat untuk menutupi kejahatannya.
Keenam: pengerahan preman untuk melakukan kekerasan terhadap Arga dan timnya.
Ferry mengaku tidak bersalah untuk semua dakwaan. Pengacaranya, Pak Gerry, akan membantah satu per satu.
Tapi saksi demi saksi dipanggil.
Sekar menjadi saksi pertama. Ia menceritakan semua dengan suara lirih, tapi tegas. Tentang penculikan. Tentang suntikan. Tentang cacian. Tentang segala yang ia derita selama berbulan, bulan di rumah Ferry.
Samsul menjadi saksi kedua. Ia menceritakan tentang tekanan, tentang ancaman, tentang video yang digunakan Ferry untuk memerasnya.
Faruq menjadi saksi ketiga. Ia menceritakan hal yang sama, tentang adik perempuannya, tentang video, tentang ancaman, tentang alasannya terpaksa menjadi mata, mata.
Mariyem menjadi saksi keempat. Ia menunjukkan buku catatan hariannya, rekaman percakapan, dan foto, foto bukti penyekapan.
Toni ditangkap dan menjadi saksi kelima. Ia membongkar semua perintah Ferry dari penyekapan hingga pengerahan preman.
Ferry tidak bisa berkutik.
Pengacaranya hanya bisa diam.
Hakim menundukkan palu.
"Sidang ditunda minggu depan untuk mendengarkan vonis."
VONIS
Minggu berikutnya, ruang pengadilan kembali penuh. Ferry duduk di kursi pesakitan dengan wajah lemas. Ia sudah tidak peduli lagi. Tidak peduli dengan bisik, bisik pengunjung. Tidak peduli dengan sorot kamera. Tidak peduli dengan demo di luar gedung.
Hakim membacakan vonis.
"Terdakwa Ferry Kencana terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana penculikan, penganiayaan, perjodohan paksa, pemerasan, dan pengerahan preman untuk melakukan kekerasan."
"Menjatuhkan pidana penjara selama lima belas tahun."
"Denda satu miliar rupiah."
"Kewajiban membayar restitusi kepada korban Sekar sebesar lima ratus juta rupiah."
Ferry tidak bereaksi. Ia hanya diam.
Pengacaranya akan mengajukan banding, tapi semua orang tahu banding tidak akan mengubah apa pun. Bukti terlalu kuat. Publik terlalu marah.
KEBEBASAN SEKAR
Setelah vonis dibacakan, Sekar keluar dari ruang pengadilan. Ia tidak sendiri. Arga di samping kanannya. Guntur, Faruq, Nisa, Dimas, Laras, Ratri, dan Samsul di belakang.
Jurnalis menyerbu.
"Mbak Sekar, bagaimana perasaan Mbak setelah Ferry divonis?"
Sekar tersenyum. "Senang. Lega. Tapi juga sedih."
"Sedih kenapa?"
"Sedih karena ada orang yang rela menghancurkan hidup orang lain demi uang dan kekuasaan."
"Apa pesan Mbak untuk perempuan lain yang mengalami nasib serupa?"
"Jangan takut. Jangan diam. Laporkan. Cari bantuan. Karena kalian tidak sendirian."
Mereka berjalan ke mobil. Mobil sewaan yang sama yang membawa Arga ke vila Ferry, ke hutan jati, ke berbagai medan perang.
"Pulang, Mas," kata Sekar pada Arga.
"Pulang ke mana?"
"Pulang ke desa. Kali Wening. Pohon randu. Semua yang sudah lama tidak kita lihat."
Arga memeluk Sekar.
"Iya. Kita pulang."
BAB 31
PENCULIKAN ARGA
Tiga hari setelah vonis Ferry dijatuhkan, suasana di kos, kosan Mbok Darmi terasa berbeda. Bukan hanya karena kemenangan yang mereka raih, tapi karena kelelahan yang mengendap di tulang, tulang setiap orang. Delapan bulan berada dalam ketegangan, delapan bulan hidup dalam ancaman, delapan bulan mempertaruhkan nyawa, semua itu meninggalkan luka yang tidak terlihat, tapi terasa setiap malam ketika lampu dipadamkan.
Arga duduk di beranda kos, ditemani oleh bantal kecil dari kebaya Sekar dan peta usang pemberian Mbah Jayarasa. Peta itu kini terlihat berbeda. Garis, garis baru yang dulu muncul secara misterius, kini perlahan memudar seolah peta itu sadar bahwa perjuangan telah usai, bahwa pengembara telah menemukan jalannya, bahwa tidak ada lagi yang perlu ditunjukkan.
"Mas Arga, belum tidur?" sapa Dimas yang keluar dari kamarnya.
"Belum. Pikiranku kacau."
"Kacau kenapa? Ferry sudah di penjara."
"Ferry di penjara, tapi anak buahnya masih berkeliaran. Toni dan preman, preman yang kemarin lolos dari penyergapan, mereka belum tertangkap."
Dimas duduk di samping Arga. "Mas Arga khawatir mereka akan balas dendam?"
"Iya. Aku tidak takut pada mereka. Tapi aku takut pada Sekar. Pada keluargaku. Pada kalian."
Dimas menghela napas. "Mas Arga, kita sudah melewati banyak hal bersama. Apa lagi yang bisa mereka lakukan? Kita sudah buktikan bahwa kita tidak mudah dikalahkan."
"Orang yang terpojok seringkali melakukan hal, hal nekat, Dimas. Toni kehilangan bosnya. Kehilangan sumber uang. Kehilangan kekuasaan. Dia pasti marah. Dan orang marah tidak berpikir rasional."
Mereka terdiam.
Angin malam berembus membawa aroma daun mangga yang basah oleh embun.
"Mas Arga," panggil Dimas lagi.
"Iya."
"Aku akan jaga malam ini. Mas tidur saja. Besok masih banyak yang harus dilakukan."
"Terima kasih, Dimas."
"Jangan berterima kasih. Nanti malam Minggu traktir saya sate kambing."
"Janji."
Arga masuk ke kamarnya. Ia memeluk bantal kebaya, memejamkan mata, dan berusaha tidur. Tapi tidur tidak kunjung datang.
MALAM YANG SUNYI
Jam satu dini hari, Arga terbangun oleh suara lolongan anjing dari kejauhan. Bukan satu atau dua, tapi puluhan. Anjing, anjing kampung di sekitar kos seolah sedang memberi peringatan tentang sesuatu.
Arga duduk di dipan. Ia merasakan firasat tidak enak. Bulu kuduknya berdiri.
Ia berjalan ke jendela.
Di luar, gelap. Lampu penerangan gang hanya menyala samar. Bayangan pohon mangga bergoyang pelan diterpa angin.
Tapi di antara bayangan itu, ada yang bergerak.
Bukan bayangan.
Manusia.
Banyak.
"Dimas!" teriak Arga.
Belum sempat Dimas menjawab, pintu kamar Arga didobrak.
DUAR!
Tiga orang preman masuk. Wajah mereka ditutup kain hitam. Di tangan mereka, pentungan dan pisau.
"Arga? Jangan melawan. Ikut kami."
"Siapa kalian?"
"Utusan Toni. Ferry mungkin dipenjara, tapi Toni belum menyerah."
"Saya tidak akan ikut."
"Bukan pilihan."
Preman itu mengayunkan pentungan ke arah kepala Arga. Arga menghindar. Tangan kirinya terangkat untuk memblokir. Bruk! Pentungan mengenai lengannya. Arga meringis kesakitan.
Preman kedua dan ketiga ikut menyerang.
Arga melawan.
Ia menendang preman pertama. Preman itu jatuh. Ia membacok lengan preman kedua dengan sisi tangan. Preman itu menjerit.
Tapi jumlah mereka terlalu banyak.
Dari luar, masuk dua preman lagi. Dan dua lagi. Dan dua lagi.
Arga kewalahan.
Pukulan demi pukulan menghantam tubuhnya. Perutnya. Dadanya. Kepalanya.
Dunia terasa gelap.
Ia jatuh.
Dan tidak ingat apa, apa lagi.
SETELAH PENCULIKAN
Arga membuka mata dengan susah payah.
Kepalanya pusing. Badannya terasa remuk. Ada rasa sakit di sekujur tubuh, di lengan, di bahu, di dadanya, di tulang rusuk. Mulutnya terasa pahit, mungkin karena darah.
Ia berada di sebuah ruangan gelap. Dindingnya dari batu bata tanpa plester. Lantainya dari semen. Udara lembab dan bau apek. Lampu bohlam lima watt menyala redup di sudut ruangan, hanya cukup untuk melihat garis besar ruangan.
Tangan Arga diikat ke belakang. Kaki juga diikat.
"Sial," geramnya.
Ia berusaha mengingat kejadian tadi malam. Preman. Toni. Pukulan. Kegelapan.
"Mas Arga?"
Suara itu membuat Arga menoleh.
Di sudut ruangan, Samsul duduk bersandar di dinding. Wajahnya lebam. Bibirnya pecah. Tangannya juga diikat.
"Samsul? Kamu juga diculik?"
"Iya, Mas. Saya diculik jam dua malam. Dari kos saya yang baru. Mereka masuk lewat jendela. Saya tidak sempat melawan."
"Ada yang lain?"
"Dimas mungkin juga. Saya dengar suara ribut dari kos Mbok Darmi sebelum saya di bawa."
Arga mengepalkan tangannya. "Mereka akan membayar."
"Kita harus kabur, Mas."
"Dengan tangan dan kaki diikat? Kamu tahu di mana kita?"
"Tidak tahu. Tapi pasti di suatu gudang kosong. Mungkin di pinggiran kota."
Mereka berdua terdiam.
Suara langkah kaki dari luar.
Pintu terbuka.
Toni masuk.
Laki, laki tambun dengan wajah babi itu tersenyum. Senyum yang membuat Arga ingin memuntahkan isi perutnya.
"Selamat pagi, Arga. Selamat pagi, Samsul. Selamat datang di hotel bintang satu versi saya."
"Apa maumu, Toni?" tanya Arga dingin.
"Ferry ingin kalian mati. Tapi saya tidak mau membunuh kalian dengan mudah. Saya mau menyiksa kalian. Perlahan. Biar Ferry senang."
"Ferry di penjara. Dia tidak bisa lihat."
"Saya akan rekam. Kirim ke penjara. Ferry akan menonton sambil tertawa."
Toni mendekat. Ia menendang perut Arga.
DUAR!
Arga jatuh. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh.
"Jangan!" teriak Samsul.
"Siapa yang suruh bicara?"
Toni menendang Samsul juga. Samsul jatuh di samping Arga.
"Kalian berdua sudah merepotkan saya. Berminggu, minggu. Berbulan, bulan. Sekarang giliran saya yang merepotkan kalian."
Toni mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya. Ia memainkannya di depan mata Arga.
"Tangan kananmu dulu, Arga. Atau jari, jarimu? Ferry minta potong jari, jarimu. Satu per satu. Sebagai kenang, kenangan."
Arga tidak bergeming. "Potong saja. Nanti akan tumbuh lagi."
"Hebat. Berani. Saya suka."
Toni mendekatkan pisau ke jari kelingking Arga.
KRIIING...
Pintu gudang didobrak.
DUAR! DUAR! DUAR!
"POLISI! JANGAN BERGERAK!"
Toni terkejut. Pisau jatuh dari tangannya.
"Sudah!" teriak seseorang.
Itu suara Guntur.
Arga menoleh.
Guntur berdiri di pintu, ditemani oleh komandan polisi dari Polda. Di belakang mereka, Dimas dan Laras ikut masuk.
"Toni, kau ditahan!" kata komandan polisi.
Toni tidak melawan. Ia hanya tertawa pahit.
"Kalian... kalian pintar. Saya kira kalian anak desa bodoh, ternyata kalian lebih pintar dari yang saya kira."
"Bukan pintar," kata Guntur. "Kami kompak. Dan tim tidak akan membiarkan anggotanya diculik."
PEMBEBASAN
Polisi membawa Toni ke mobil. Preman-preman lain yang berjaga di luar gudang juga ditangkap.
Arga dan Samsul dibebaskan.
Guntur memeluk Arga. "Kamu baik, baik saja?"
"Selamat. Berkat kalian."
"Dimas yang melapor. Dia melihat preman masuk ke kos. Dia ikuti mobil yang membawa kalian ke sini."
Arga memandang Dimas. "Terima kasih, Dimas."
"Sama, sama, Mas. Sekarang traktirannya dua kali."
Mereka tertawa.
KEMBALI KE KOS
Jam enam pagi, mereka tiba di kos. Matahari baru saja terbit. Cahayanya keemasan, hangat, menyapu kabut yang menggantung di atas kota.
Sekar berlari keluar. Ia memeluk Arga. Menangis.
"Arga... Arga... aku pikir kamu..."
"Aku baik, baik saja, Sekar. Aku selamat."
"Jangan pergi lagi. Jangan tinggalkan aku."
"Aku tidak akan pergi. Aku janji."
Mbok Darmi keluar dari dapur dengan membawa segelas jahe hangat.
"Ini, diminum. Badanmu kedinginan."
"Terima kasih, Mbok."
Mbok Darmi mengusap air matanya. "Mbok sudah tidak tega lihat kalian begini. Kapan perjuangan ini selesai?"
"Sudah, Mbok," kata Guntur. "Toni sudah ditangkap. Preman Ferry hampir semuanya tertangkap. Ferry di penjara. Bandingnya ditolak. Perjuangan kita sudah selesai."
"Benarkah?"
"Benar, Mbok. Tinggal proses hukum. Tapi secara fisik, tidak ada lagi yang mengancam kita."
Mbok Darmi menghela napas lega. "Syukurlah. Syukurlah."
MALAM PERAYAAN KECIL
Malam itu, mereka mengadakan perayaan kecil di halaman kos.
Mbok Darmi memasak nasi tumpeng. Rendang. Ayam goreng. Sayur lodeh. Sambal terasi. Krupuk. Semua dibuat dengan penuh cinta.
Guntur, Faruq, Nisa, Dimas, Laras, Ratri, Samsul, Arga, dan Sekar duduk melingkar di tikar pandan. Mereka tertawa. Bercerita. Mengenang masa, masa sulit yang telah mereka lalui bersama.
"Guntur, kamu hebat," kata Faruq. "Kamu yang menyusun strategi. Kamu yang jaga tim tetap kompak. Kamu pantas jadi komandan."
"Aku hanya melakukan bagianku," kata Guntur. "Kalian juga hebat. Faruq, kamu berani mengaku. Nisa, kamu rela dipukul di pundak. Dimas, kamu jenius teknologi. Laras, kamu berani mati demi kebenaran. Ratri, kamu setia menemani Arga dari desa. Samsul, kamu berani menjadi saksi. Sekar, kamu kuat melewati semua ini. Dan Arga... Arga adalah jantung dari perjuangan ini."
Arga tersenyum. "Bukan aku. Kita."
"TOAST!" teriak Faruq.
"TOAST!"
Mereka bersulang dengan es teh manis.
BAB 32
GUNTUR YANG BERANI
Seminggu setelah penculikan Arga dan penangkapan Toni, suasana di kos, kosan Mbok Darmi mulai kembali normal. Normal yang sesungguhnya, bukan normal yang dipaksakan. Tawa mulai terdengar lagi di halaman kos setiap pagi dan sore. Sendiran Faruq yang konyol, ledekan Nisa yang tajam, candaan Dimas yang kadang absurd, dan senyum tipis Laras yang dulu langka kini lebih sering muncul.
Tapi Guntur, Guntur justru semakin pendiam.
Ia lebih banyak duduk di beranda sambil merokok dan minum kopi hitam, memandang jalanan yang ramai, sesekali menghela napas panjang. Matanya sayu, terlihat lelah, bukan lelah fisik karena begadang, tapi lelah batin yang sudah mengendap bertahun, tahun dan kini mulai muncul ke permukaan setelah perjuangan panjang ini usai.
Arga memperhatikan sahabatnya itu dari kejauhan. Ada sesuatu yang berbeda dari Guntur akhir-akhir ini. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan, tapi ia rasakan.
"Guntur," panggil Arga sambil duduk di sampingnya.
Guntur menoleh pelan. "Arga."
"Kamu kenapa? Akhir-akhir ini diem aja. Pendiam banget. Bahkan lebih pendiam dari biasanya."
"Aku hanya berpikir."
"Pikir apa?"
Guntur mengisap rokoknya. Asapnya mengepul ke udara sore yang mulai dingin.
"Tentang Rini."
Arga terdiam. Rini, sahabat Guntur yang dijodohkan paksa, yang bunuh diri setelah tiga bulan menikah dengan laki-laki kaya raya. Luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh.
"Kamu masih ingat dia?" tanya Arga pelan.
"Setiap hari. Setiap malam. Setiap kali aku memejamkan mata."
"Guntur, "
"Kau tahu, Arga. Aku iri padamu."
"Iri kenapa?"
"Kamu berhasil menyelamatkan Sekar. Aku dulu gagal menyelamatkan Rini. Tiga tahun aku hidup dengan rasa bersalah. Tiga tahun aku bertanya-tanya, apa yang bisa aku lakukan? Apa yang seharusnya aku lakukan? Kenapa aku tidak cukup berani saat itu?"
Arga memegang bahu Guntur.
"Kamu sudah melakukan yang terbaik, Guntur. Kamu tidak bisa menyalahkan diri sendiri selamanya."
"Tapi aku tidak melakukan apa pun. Aku hanya diam. Aku hanya menonton. Aku hanya menjadi penonton dalam tragedi hidup orang yang aku cintai."
"Dan sekarang? Kamu sudah membuktikan bahwa kamu berani. Kamu memimpin tim ini. Kamu menyusun strategi. Kamu menghadapi Ferry. Kamu menyelamatkan Sekar. Itu semua karena kamu. Tanpamu, kami tidak akan sampai sejauh ini."
Guntur tidak menjawab. Ia hanya membuang puntung rokoknya ke asbak kaleng bekas susu.
"Arga, aku harus pergi sebentar."
"Pergi ke mana?"
"Ada urusan yang belum selesai."
KABAR DARI BALI
Jam delapan malam, Guntur menerima telepon dari seorang sumber yang tidak pernah ia sebutkan pada siapa pun. Sumber itu adalah mantan pegawai keluarga suami Rini, laki-laki yang dulu menikahi Rini paksa, laki-laki yang menjadi penyebab utama kematian sahabatnya.
"Mas Guntur, saya punya kabar," kata sumber itu.
"Kabar apa?"
"Suami Rini, Gus Aldo, akan berkunjung ke Bali minggu depan. Untuk urusan bisnis. Dia akan menginap di Hotel Royal Ambarukmo."
"Terima kasih informasinya."
"Mas Guntur, jangan macam-macam ya. Saya cuma kasih info. Saya tidak mau terlibat."
"Tidak usah khawatir. Saya hanya ingin bicara."
Telepon ditutup.
Guntur memandang ponselnya.
Ia teringat pada Rini.
Pada senyumnya.
Pada tawanya.
Pada air matanya.
Pada surat terakhir yang Rini tulis sebelum bunuh diri, surat yang hanya dikirimkan pada Guntur, surat yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.
"Guntur, maafkan aku. Aku tidak kuat. Aku tidak sekuat yang kau kira. Aku lelah. Aku sakit. Aku ingin pergi. Jaga dirimu. Jangan seperti aku. Jangan menyerah. —Rini"
Guntur mengepalkan tangannya.
Aldo.
Laki, laki yang merenggut Rini dari orang, orang yang mencintainya.
Laki, laki yang mengurung Rini dalam pernikahan tanpa cinta.
Laki, laki yang menjadi penyebab utama Rini mengambil nyawanya sendiri.
Dan sekarang, laki, laki itu akan datang ke Jogja.
"Ini kesempatanku," bisik Guntur. "Ini saatnya aku bertanya. Bukan untuk balas dendam. Tapi untuk memahami. Untuk melepaskan. Agar Rini bisa tenang di alam sana."
GUNTUR BERPAMIT
Keesokan paginya, Guntur mengumpulkan semua teman, temannya di halaman kos.
Faruq, Nisa, Dimas, Laras, dan Arga. Samsul, Ratri, dan Sekar ikut serta mendengarkan meskipun belum sepenuhnya tahu apa yang akan disampaikan.
"Teman, teman," kata Guntur. "Aku mau pamit. Beberapa hari. Mungkin seminggu."
"Pergi ke mana?" tanya Faruq.
"Ke Bali."
"Kenapa ke Bali? Tiba, tiba sekali."
"Ada urusan lama yang belum saya selesaikan. Urusan yang seharusnya saya selesaikan bertahun, tahun lalu, tapi saya tunda karena takut."
"Cerita, Guntur," kata Nisa. "Kami berhak tahu."
Guntur menghela napas panjang. Ia duduk di kursi plastik, mengeluarkan sebatang rokok, lalu menyalakannya. Asapnya mengepul ke udara pagi yang masih dingin.
"Kalian tahu tentang Rini?" tanyanya.
Semua mengangguk. Arga pernah menceritakan.
"Aku akan menemui suaminya. Aldo namanya. Laki, laki yang menikahi Rini paksa. Laki, laki yang menjadi penyebab Rini bunuh diri."
Ruangan hening.
"Guntur, kamu mau apa?" tanya Laras hati-hati.
"Aku mau bertanya. Mengapa dia melakukan itu? Apakah dia tahu Rini menderita? Apakah dia menyesal? Atau dia tidak peduli?"
"Apa gunanya?" tanya Dimas.
"Entahlah. Tapi aku harus melakukannya. Untuk Rini. Untukku. Agar aku bisa melepaskan masa lalu dan mulai hidup dengan damai."
"Aku ikut," kata Arga.
"Tidak. Ini urusanku sendiri."
"Kami tidak akan membiarkanmu pergi sendirian, Guntur. Aldo orang berpengaruh. Dia punya preman. Dia punya polisi. Kamu bisa celaka."
"Aku tidak takut."
"Kami tahu kamu tidak takut. Tapi kami tidak mau kehilanganmu."
Guntur memandang teman, temannya. Matanya berkaca, kaca.
"Kalian... sungguh mau ikut?"
"Tentu," kata Faruq. "Kita tim. Tim tidak membiarkan anggotanya berjuang sendirian."
PERJALANAN KE BALI
Dua hari kemudian, mereka berangkat ke Bali.
Guntur, Arga, Faruq, Nisa, Dimas, Laras, dan Samsul. Tujuh orang. Tiket pesawat dibeli sendiri, sendiri—kecuali Samsul yang dibayari Guntur karena masih dalam masa sulit.
Sekar, Ratri, dan Mariyem tetap di Jogja. Rumah Mariyem sudah aman. Preman Ferry sudah hampir semuanya tertangkap.
Perjalanan pesawat memakan waktu satu setengah jam. Guntur duduk di kursi dekat jendela, memandang awan, awan putih di bawah sana. Pikirannya melayang ke masa lalu, ke hari, hari ketika Rini masih tersenyum padanya, ketika mereka masih duduk di bangku SMA yang sama, ketika cinta masih terasa sederhana.
"Guntur," panggil Arga dari kursi sebelah.
"Iya."
"Apa kamu yakin dengan keputusanmu?"
"Tidak. Tapi aku harus melakukannya."
"Kami di belakangmu."
"Terima kasih."
HOTEL ROYAL AMBARUKMO
Hotel Royal Ambarukmo adalah hotel bintang lima di jantung kota Denpasar. Megah. Mewah. Harga semalam bisa mencapai belasan juta. Aldo menginap di suite presidential di lantai paling atas.
Guntur berdiri di lobi hotel, ditemani Arga. Yang lain menunggu di parkiran, siap, siap membantu jika terjadi sesuatu.
"Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa dibantu?" sapa resepsionis.
"Saya ingin bertemu dengan Gus Aldo. Kamar suite presidential."
"Maaf, Tuan. Tamu kami tidak boleh diganggu tanpa janji."
"Ini urusan pribadi. Tolong sampaikan pada Gus Aldo bahwa Guntur dari Jogja ingin menemuinya. Dia pasti tahu siapa saya."
Resepsionis itu ragu. Tapi setelah melihat wajah Guntur yang tegas, ia memutuskan untuk menelepon ke kamar.
Setelah beberapa saat, ia mengangguk. "Gus Aldo bersedia menerima Tuan. Silakan naik ke lantai tujuh."
PERTEMUAN DENGAN ALDO
Guntur dan Arga naik lift. Suasana hening. Hanya suara musik klasik yang pelan dari speaker.
Pintu lift terbuka di lantai tujuh.
Seorang pria berdiri di depan pintu suite. Tinggi. Berbadan tegap. Berjas hitam. Wajahnya tegas, tapi matanya sayu, seperti orang yang tidak pernah tidur nyenyak.
"Guntur?" sapa pria itu.
"Aldo."
"Masuklah. Aku sudah dengar banyak tentangmu dari Rini. Dulu."
Mereka masuk ke dalam suite.
Ruangan itu besar. Mewah. Lantai marmer. Lampu kristal. Sofa kulit asli. Pemandangan kota Denpasar dari jendela kaca besar.
Aldo duduk di sofa. Guntur dan Arga duduk di seberang.
"Aku ingin bicara tentang Rini," kata Guntur.
"Aku tahu."
"Kau tahu Rini bunuh diri?"
"Iya."
"Kau tahu penyebabnya?"
Aldo menunduk. Tangannya gemetar. "Aku tahu."
"Lalu kenapa kau diam? Kenapa kau tidak menghubungi keluarga Rini? Kenapa kau tidak datang ke pemakamannya? Kenapa kau bersikap seolah Rini tidak pernah ada?"
Aldo mengangkat wajahnya. Matanya merah. "Karena aku malu, Guntur. Aku malu pada Rini. Aku malu pada keluarganya. Aku malu pada diriku sendiri."
"Kau malu?" Guntur hampir berteriak. "Rini mati, Aldo! Mati! Dan kau hanya bilang malu?"
"Aku mencintai Rini, Guntur. Aku serius. Tapi aku tidak bisa menunjukkan cinta itu dengan cara yang benar. Keluargaku mendesakku untuk menikahi Rini demi bisnis. Aku tidak punya pilihan saat itu. Aku masih muda. Aku takut pada ayahku."
"Takut pada ayahmu lebih penting dari nyawa Rini?"
Aldo menangis. "Aku menyesal, Guntur. Setiap hari. Setiap malam. Setiap detik. Aku menyesal."
"Penyesalan tidak akan mengembalikan Rini."
"Aku tahu. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Rini sudah mati. Aku tidak bisa menghidupkannya kembali."
Guntur berdiri. Ia berjalan ke jendela. Memandang kota Denpasar dari ketinggian.
"Aldo, aku tidak datang ke sini untuk membencimu. Aku datang untuk memaafkanmu."
Aldo terkejut. "Apa?"
"Aku memaafkanmu. Karena Rini pasti tidak ingin aku menyimpan dendam. Rini baik. Rini penyayang. Rini pasti tersiksa jika melihatku seperti ini."
Aldo berdiri. Ia berjalan mendekati Guntur.
"Maaf, Guntur. Aku minta maaf. Setulus, tulusnya."
"Maafmu aku terima. Tapi itu tidak cukup."
"Apa lagi yang kau inginkan?"
Guntur menatap Aldo. "Bangun yayasan atas nama Rini. Yayasan untuk perempuan korban perjodohan paksa. Bantu mereka mendapatkan keadilan. Bantu mereka mendapatkan kehidupan yang layak."
Aldo mengangguk. "Aku akan lakukan."
"Janji?"
"Janji. Demi Rini."
PULANG DENGAN HATI DAMAI
Perjalanan pulang ke Jogja terasa lebih ringan. Guntur tersenyum-senyum yang jarang muncul, senyum yang tulus, senyum yang tidak dipaksakan.
"Akhirnya," bisiknya.
"Akhirnya apa?" tanya Arga.
"Akhirnya aku bisa melepaskan."
"Rini?"
"Iya. Rini. Dia sudah tenang sekarang."
Mereka tiba di Jogja malam hari.
Di kos, Sekar dan Ratri sudah menunggu dengan makan malam hangat.
"Guntur, makan dulu," kata Sekar.
"Terima kasih."
Untuk pertama kalinya setelah bertahun, tahun, Guntur makan dengan lahap. Tidur dengan nyenyak. Bangun dengan damai.
PAGI YANG BARU
Keesokan paginya, Guntur keluar kamar dengan wajah cerah.
"Mas Guntur, kamu kelihatan beda," kata Faruq.
"Beda bagaimana?"
"Kayak... lebih enteng."
"Karena bebanku sudah berkurang."
Mereka sarapan bersama di halaman kos. Mbok Darmi menyuguhkan nasi uduk, ayam goreng, sambal, dan kerupuk.
"Guntur," panggil Laras.
"Iya."
"Aku bangga padamu."
"Kenapa?"
"Karena kamu berani menghadapi masa lalumu. Bukan lari."
"Aku belajar dari Arga. Arga tidak pernah lari dari masalah. Dia hadapi semua. Sampai akhir."
Arga tersenyum. "Kita semua belajar dari satu sama lain."
Mereka melanjutkan sarapan dengan tawa dan canda.
BAB 33
LARAS MENGORBANKAN DIRI
Dua minggu setelah kunjungan Guntur ke Bali dan pertemuannya dengan Aldo, kehidupan tim Arga di Jogja mulai memasuki babak baru. Sebuah babak yang lebih tenang, lebih damai, tanpa teror tengah malam, tanpa ancaman, tanpa rasa takut yang menyelimuti setiap langkah.
Ferry sudah menjalani hukuman. Toni dan preman, preman bayarannya juga sudah diproses hukum. Samsul menjadi saksi kunci dan kini tinggal di rumah aman bersama keluarganya. Faruq dan Nisa kembali ke rutinitas kuliah. Dimas kembali menjadi kurir keliling. Guntur menyelesaikan skripsinya tentang filsafat keadilan.
Laras juga kembali ke kampus.
Tapi ada yang berbeda dari Laras akhir, akhir ini. Ia lebih sering diam. Lebih sering menyendiri. Lebih sering memandang kosong ke arah langit, seolah sedang mencari sesuatu di antara awan, awan putih.
Ia juga mulai menjauh.
Bukan dari tim. Tapi dari orang, orang yang paling dekat dengannya.
Dari Guntur terutama.
PERUBAHAN LARAS
Suatu sore, Arga dan Sekar sedang duduk di beranda kos, menikmati angin sore yang sejuk, ketika mereka melihat Laras berjalan keluar dari kamarnya dengan sebuah ransel besar di punggung.
"Laras, mau ke mana?" tanya Arga.
"Jalan, jalan. Melepas penat."
"Kok bawa ransel besar?"
"Biasa. Saya suka jalan jauh."
"Sendirian?"
Laras tersenyum tipis. "Sendirian."
Arga dan Sekar saling pandang. Ada sesuatu yang ganjil, tapi mereka tidak ingin bertanya terlalu jauh.
"Jaga diri," kata Sekar.
"Kamu juga."
Laras berjalan ke gerbang kos. Langkahnya tegap, tidak terburu, buru. Sesekali ia menoleh, memandang kos, kosan yang sudah menjadi rumahnya selama berbulan, bulan, memandang Arga dan Sekar yang masih duduk di beranda, memandang Mbok Darmi yang sedang menyapu halaman.
Matanya berkaca, kaca.
Tapi ia tidak menangis.
Ia hanya tersenyum.
Lalu berbalik.
Dan pergi.
TELEPON DARI GUNTUR
Jam delapan malam, ponsel Arga berdering.
"Arga, Laras hilang," suara Guntur panic, sesuatu yang jarang terjadi.
"Hilang? Maksudmu?"
"Dia tidak di kos. Tidak di kampus. Tidak di rumah sakit tempat ibunya dulu dirawat. Tidak di rumah Mariyem. Tidak di tempat mana pun yang biasa dia kunjungi."
"Tadi sore aku lihat dia pergi. Bawa ransel besar. Katanya mau jalan, jalan."
"Sendirian?"
"Sendirian."
"Astaga. Dia pasti, "
"Apa?"
"Dia pasti pergi ke rumah ibunya. Bukan ke rumah sakit. Ke rumah ibunya yang dulu. Di kampung."
"Kampung mana?"
"Di lereng Merapi. Selatan. Dekat vila Ferry dulu."
"Kenapa dia ke sana?"
Guntur diam sejenak. "Karena ibu Laras... ibu Laras sudah meninggal dua minggu lalu. Di Singapura. Laras tidak memberi tahu siapa pun. Dia mengurus sendiri. Sendirian."
Arga terdiam. Dadanya terasa sesak.
"Kenapa dia tidak cerita?"
"Karena Laras tipe orang yang tidak mau merepotkan orang lain. Dia merasa sudah cukup merepotkan kita dengan pengkhianatannya dulu. Dia ingin menyelesaikan urusan keluarganya sendiri."
"Kita harus cari dia."
"Aku sudah di jalan. Aku antar jemput. Kamu di kos jaga Sekar."
"Tidak. Aku ikut."
"Arga,
"Dia temanku. Aku tidak akan diam."
PERJALANAN KE LERENG MERAPI
Guntur menjemput Arga lima belas menit kemudian. Mereka berdua naik motor butut Guntur, melaju kencang menuju selatan, melewati jalanan yang semakin gelap dan sepi.
Langit malam tidak bersahabat. Awan hitam menggulung dari arah barat. Angin bertiup kencang, membawa aroma tanah basah, tanda hujan akan segera turun.
"Kita harus cepat," kata Guntur. "Sebentar lagi hujan."
"Laras pasti di sana."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Di tempat yang paling menyakitkan, orang sering kembali untuk terakhir kalinya."
Mereka melaju lebih kencang.
Hujan mulai turun.
Gerimis.
Lalu deras.
Guntur tidak berhenti. Arga tidak protes.
Mereka basah kuyup. Gigi mereka menggigil. Tapi mereka terus melaju.
RUMAH TUA DI LERENG MERAPI
Rumah tua Laras berdiri di lereng bukit, dikelilingi pohon pinus dan semak belukar. Dindingnya dari batu bata setengah jadi. Atapnya dari seng yang sudah berkarat. Halamannya ditumbuhi rumput liar setinggi lutut.
Di dalam, lampu minyak menyala redup.
Guntur memarkir motor di pinggir jalan setapak. Mereka berdua berlari ke rumah itu.
"Laras!" teriak Guntur sambil mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban.
"Laras! Buka pintu!"
Masih tidak ada jawaban.
Guntur mendobrak pintu.
Di dalam, Laras duduk di lantai, memeluk foto ibunya. Wajahnya basah, bukan karena hujan, tapi karena air mata.
"Laras," bisik Guntur.
Laras tidak menoleh. Ia hanya memandang foto ibunya.
Guntur mendekat. Ia berlutut di samping Laras.
"Kenapa kau tidak bilang padaku? Kenapa kau mengurus semuanya sendiri?"
"Karena aku terbiasa sendiri, Guntur. Sejak kecil. Sejak ayahku dipecat Ferry. Sejak ibuku sakit. Aku terbiasa sendiri."
"Kamu tidak sendiri."
"Iya. Sekarang aku tahu. Tapi kebiasaan sudah mendarah daging."
PELUKAN DI TENGAH HUJAN
Arga masuk ke rumah itu. Ia berdiri di pintu, tidak ingin mengganggu.
Guntur memeluk Laras.
Laras terisak.
"Maaf, Guntur. Maaf aku tidak cerita. Aku tidak ingin merepotkan kalian. Kalian sudah banyak membantu."
"Kamu tidak pernah merepotkan, Laras. Kamu keluarga. Keluarga tidak merepotkan."
"Aku dulu mengkhianati kalian."
"Itu sudah lewat. Kita sudah memaafkanmu."
"Tapi aku belum memaafkan diriku sendiri."
Maka maafkan dirimu. Sekarang. Di sini. Bersama kami."
Laras melepaskan pelukan. Ia memandang Guntur, lalu memandang Arga.
"Terima kasih," bisiknya. "Terima kasih sudah datang."
"Kami tidak akan pernah membiarkanmu sendirian, Laras," kata Arga. "Itu janji."
PAGI DI RUMAH TUA
Mereka bertiga menghabiskan malam di rumah tua itu. Tidak banyak bicara. Hanya duduk. Mendengar suara hujan di atap seng. Sesekali Guntur membuat kopi. Sesekali Arga menambah kayu di tungku.
Pagi harinya, hujan reda. Matahari terbit dari balik Gunung Merapi. Cahayanya keemasan, hangat, menyapu kabut yang menggantung di lembah.
Laras berdiri di halaman. Ia memandang ibunya.
"Bu," bisiknya. "Aku pamit. Aku akan kembali ke Jogja. Aku akan kuliah lagi. Aku akan jadi antropolog. Aku akan buat Ibu bangga."
Ia mencium foto ibunya.
Lalu berbalik.
"Guntur, Arga, ayo pulang."
KEMBALI KE JOGJA
Perjalanan pulang terasa lebih ringan. Meskipun hujan semalam membuat jalan licin dan becek, mereka tetap bisa melaju dengan selamat.
"Laras," panggil Guntur dari depan motor.
"Iya."
"Aku mau ngomong sesuatu."
"Apa?"
"Aku... aku suka sama kamu."
Laras terdiam. "Apa?"
"Aku suka sama kamu. Bukan karena kasihan. Bukan karena ibumu meninggal. Bukan karena kamu sendirian. Aku suka karena kamu kuat. Karena kamu berani. Karena kamu tetap tegar meskipun hidup tidak adil padamu."
Laras tidak menjawab. Ia hanya memeluk punggung Guntur. Erat.
"Jangan bilang di sini," bisiknya. "Nanti Arga dengar."
"Arga sudah dengar," kata Arga dari boncengan belakang. "Dari tadi."
"Kupingmu peka sekali."
"Sudah terbiasa mendengar bisikan angin."
MENERIMA PERASAAN
Malam harinya, di kos, mereka mengadakan pertemuan kecil. Hanya Guntur, Laras, Arga, dan Sekar.
"Akhirnya Guntur ngaku," kata Sekar sambil tersenyum.
"Ngaku apa?" tanya Guntur pura-pura bodoh.
"Ngaku suka sama Laras."
"Aku tidak ngaku."
"Tadi di motor, aku dengar jelas."
"Itu kan angin."
"Angin apa yang bisa bicara?"
Guntur menghela napas. "Baik. Aku suka Laras. Senang?"
"Senang," kata Sekar. "Laras, kamu bagaimana?"
Laras menunduk. Pipinya merona.
"Aku juga."
"Juga apa?"
"Juga suka."
Mereka berdua tersenyum malu-malu.
Arga dan Sekar tertawa.
"Selamat," kata Arga. "Kalian cocok."
"Kenapa cocok?" tanya Guntur.
"Sama, sama keras kepala. Sama, sama suka menyembunyikan perasaan. Sama, sama suka diam kalau ada masalah."
"Kamu juga sama, Arga."
"Saya tidak. Saya terus terang."
"Sekar, apa Arga terus terang?" tanya Guntur.
Sekar tertawa. "Dulu tidak. Sekarang iya."
LARAS BICARA
Setelah Guntur dan Laras resmi pacaran, meskipun mereka tidak mau mengakuinya secara terang, terangan, suasana di kos semakin hangat. Laras mulai lebih sering tersenyum. Guntur mulai lebih sering bercanda.
Suatu malam, Laras memanggil Arga ke halaman kos.
"Mas Arga," panggilnya.
"Iya."
"Aku mau cerita sesuatu."
"Cerita apa?"
"Aku tahu tentang Jatmika. Lebih dari yang aku ceritakan dulu."
Arga menegang. "Jatmika?"
"Iya. Mbah Jayarasa cerita padaku sebelum dia meninggal. Tentang Jatmika. Tentang mengapa dia masih gentayangan. Tentang mengapa dia memilihmu."
"Cerita."
Laras menghela napas. "Jatmika tidak meninggal karena kecelakaan. Dia sengaja."
"Apa?"
"Dia sengaja tenggelam. Karena dia tahu, jika dia terus hidup, Sekar akan terikat padanya. Dia tahu keluarganya akan memisahkan dia dan Sekar. Dia tahu perjodohan akan terjadi cepat atau lambat. Jadi dia memilih mati. Agar Sekar bebas."
Arga terdiam.
"Tapi Jatmika tidak tahu bahwa Sekar akan tetap terikat. Pada kenangan. Pada trauma. Pada rasa bersalah."
"Lalu?"
"Jatmika gentayangan karena dia ingin memastikan Sekar bahagia. Dengan siapa pun. Dia tidak memaksakan Sekar untuk memilihmu. Dia hanya ingin Sekar bebas memilih."
"Dan sekarang?"
"Sekarang, Jatmika sudah pergi. Setelah melihatmu berhasil menyelamatkan Sekar, setelah melihat Sekar tersenyum lagi, setelah melihat Sekar bebas, Jatmika merasa tugasnya selesai."
Arga memandang langit.
Bintang, bintang berkerlap, kerlip.
"Jatmika," bisiknya. "Terima kasih."
PAGI YANG DAMAI
Keesokan paginya, Arga membuka peta usang Mbah Jayarasa.
Garis-garis baru yang dulu muncul kini sudah hilang sama sekali. Peta itu kembali kosong, seperti saat pertama kali ia menerimanya.
Tapi Arga tidak sedih.
Ia tersenyum.
Peta itu tidak pernah menunjukkan jalan, pikirnya. Peta itu menunjukkan bahwa perjalanan lebih penting daripada tujuan. Bahwa jatuh lebih penting daripada berdiri. Bahwa tersesat lebih penting daripada tiba.
Ia melipat peta itu.
Memasukkannya ke dalam kotak kayu pemberian Mbah Jayarasa.
Lalu ia keluar kamar.
Di halaman, teman-temannya sudah berkumpul. Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Samsul, Ratri, Sekar, dan Mbok Darmi.
"Kita sarapan dulu," kata Mbok Darmi. "Mbok masak nasi uduk."
"Terima kasih, Mbok."
Mereka makan bersama.
Tertawa bersama.
Menikmati kebersamaan.
Karena mereka tahu, kebersamaan adalah hal paling berharga yang tidak bisa dibeli dengan uang.
BAB 34
CINTA YANG DIUJI
Kebahagiaan setelah kemenangan melawan Ferry ternyata tidak berlangsung lama tanpa ujian baru. Bukan ujian dari luar, bukan dari preman, bukan dari pengacara, bukan dari keluarga Ferry yang masih dendam. Tapi ujian dari dalam. Ujian yang lebih rumit, lebih membingungkan, lebih menyakitkan karena tidak ada musuh yang bisa dilawan, tidak ada kejahatan yang bisa dibongkar, tidak ada pengadilan yang bisa dimintai keadilan.
Ujian itu bernama Dewi.
Perempuan yang dulu membantu Arga mencari kos di hari pertamanya tiba di kota. Perempuan yang dulu menjadi teman pertama Arga di Jogja. Perempuan yang dulu direkrut Ferry menjadi mata-mata. Perempuan yang kemudian menghilang setelah pengkhianatannya terbongkar.
Dan sekarang, setelah semua konflik usai, Dewi kembali.
Bukan dengan dendam. Bukan dengan niat jahat. Tapi dengan sebuah pengakuan yang membuat Arga terjebak di antara dua pilihan: kenyamanan masa lalu bersama Sekar, atau sesuatu yang baru yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
DEWI DATANG
Hari Minggu pagi, langit cerah. Matahari bersinar hangat. Burung, burung pipit beterbangan di halaman kos. Arga sedang duduk di beranda, ditemani Sekar yang masih setengah tidur, ketika seseorang masuk ke halaman.
Perempuan. Rambut pendek. Kacamata tebal. Jaket jeans. Sepatu kets putih.
Dewi.
Sekar langsung tegang. Ia memegang erat lengan Arga.
"Dewi?" Arga berdiri.
Dewi tersenyum tipis. Senyum yang tidak percaya diri. Senyum yang penuh ketakutan.
"Mas Arga. Lama tidak bertemu."
"Kamu... kamu kenapa ke sini? Bukannya kamu lari ke luar kota?"
"Iya. Saya lari. Tapi sekarang saya kembali."
"Kenapa?"
Dewi memandang Sekar. Matanya sayu.
"Karena saya tidak bisa lari selamanya. Karena saya ingin minta maaf. Kepada Mas Arga. Kepada Sekar. Kepada semua yang saya khianati."
Sekar berdiri. Wajahnya tegang.
"Kamu tahu apa yang kamu lakukan, Dewi? Kamu hampir menghancurkan hidup kami. Kamu hampir membuat Arga mati. Kamu hampir membuatku tetap terkurung di rumah Ferry selamanya."
Dewi menunduk. "Saya tahu. Saya menyesal. Saya minta maaf."
"Maaf tidak cukup."
"Iya. Saya tahu. Tapi saya tidak punya apa-apa selain maaf."
Sekar mengepalkan tangan. Arga memegang bahunya.
"Tunggu, Sekar. Dengarkan dulu."
"Apa yang mau didengar? Dia mata-mata Ferry. Dia menghianati kita."
"Iya. Tapi dia juga korban. Ferry memerasnya. Sama seperti Samsul. Sama seperti Faruq."
Sekar menghela napas. Ia duduk kembali. Wajahnya masih tegang, tapi ia memberi kesempatan.
"Duduk, Dewi," kata Arga.
Dewi duduk di kursi plastik di depan mereka.
"Ceritakan semuanya. Dari awal."
PENGKUAN DEWI
Dewi menarik napas panjang. Tangannya gemetar. Matanya berkaca, kaca.
"Waktu itu, setelah Mas Arga pindah ke kos Mbok Darmi, saya masih sering ketemu Mas Arga. Kadang di terminal. Kadang di pasar. Kadang di toko bangunan."
"Aku ingat."
"Suatu hari, seorang laki, laki datang ke terminal. Jas rapi. Mobil mewah. Dia tanya tentang Mas Arga. Tanya tentang aktivitas Mas. Tanya tentang teman-teman Mas."
"Ferry?"
"Iya. Aku tidak kenal dia waktu itu. Tapi dia megakesan. Berwibawa. Aku pikir dia pejabat atau pengusaha."
"Lalu?"
"Dia menawari saya uang. Banyak. Untuk mengawasi Mas Arga. Melaporkan setiap gerakan Mas Arga. Setiap teman baru. Setiap rencana."
"Kamu terima?"
"Saya terima. Tapi bukan karena uang. Karena Ferry mengancam akan memecat saya dari kerja. Mengusir dari kos. Melaporkan ke polisi karena hutang."
"Kenapa kamu tidak cerita pada kami?"
"Karena saya takut. Saya takut Mas Arga marah. Takut teman, teman menjauhi saya. Takut kehilangan satu-satunya orang yang peduli pada saya."
Sekar menyela. "Tapi kamu tetap melakukannya. Kamu tetap mengkhianati kami."
"Saya terpaksa, Mbak. Saya tidak punya pilihan."
"Semua orang punya pilihan, Dewi. Kamu bisa memilih untuk cerita. Tapi kamu memilih diam."
Dewi menunduk. Air matanya jatuh.
"Saya minta maaf. Saya mohon maaf."
ARGA BICARA
Arga memandang Dewi. Perempuan di depannya bukan lagi mata, mata yang culas. Ia hanya anak desa yang takut, yang terpaksa, yang tersesat.
"Dewi," panggil Arga.
"Iya, Mas."
"Aku memaafkanmu."
Sekar menatap Arga. "Mas?"
"Tapi Sekar, dengarkan aku dulu."
Sekar diam.
"Aku memaafkan Dewi, bukan karena aku baik. Tapi karena aku juga pernah salah. Aku juga pernah bodoh. Aku juga pernah tersesat. Dan orang-orang di sekitarku memaafkanku."
"Tapi, "
"Tanpa mereka, aku tidak akan selamat. Tanpa mereka, mungkin aku sudah mati di tangan preman Ferry. Tanpa mereka, mungkin aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi."
Sekar terdiam.
"Dewi salah. Tapi dia sudah minta maaf. Dia sudah menyesal. Bukankah itu yang penting?"
Sekar menghela napas. Ia memandang Dewi.
"Dewi, aku memaafkanmu. Tapi jangan harap aku akan melupakan. Luka ini akan tetap ada. Tapi setidaknya, aku tidak akan membencimu."
Dewi menangis. "Terima kasih, Mbak. Terima kasih, Mas Arga."
PENGKHIANATAN YANG TAK TERDUGA
Setelah Dewi pergi, Sekar masuk ke kamar. Ia tidak bicara pada Arga. Hanya diam. Menutup pintu. Tidak keluar-keluar.
Arga bingung. "Sekar, buka pintu."
"Tidak."
"Kenapa?"
"Aku capek."
"Capek apa?"
"Capek berpura-pura baik. Capek menerima orang yang menyakiti aku."
"Tapi kamu sudah memaafkan Dewi?"
"Itu di depan Dewi. Untuk membuat dia tidak merasa bersalah. Tapi di dalam hati, aku masih marah. Aku masih sakit."
"Kamu marah padaku?"
"Bukan. Aku marah pada diriku sendiri."
"Kenapa?"
"Karena aku lemah. Karena aku tidak bisa membenci orang yang pantas dibenci. Karena aku terlalu cepat memaafkan."
Arga berdiri di depan pintu. Ia tidak mengetuk. Ia hanya bersandar.
"Sekar, memaafkan bukan kelemahan. Itu kekuatan."
"Kata siapa?"
"Mbah Jayarasa."
"Omongan orang tua."
"Tapi benar."
Sekar tidak menjawab.
Arga melanjutkan. "Aku akan menunggumu di sini. Sampai kamu buka pintu. Sampai kamu mau bicara."
"Bisa lama."
"Biar. Aku sudah biasa menunggu."
PINTU TERBUKA
Jam dua belas malam, pintu terbuka.
Sekar berdiri di ambang pintu. Wajahnya masih sembab, bekas menangis.
"Arga."
"Iya."
"Aku laper."
Arga tersenyum. "Aku buatkan mie instan."
"Pake telur."
"Pake telur."
Mereka berdua berjalan ke dapur. Arga merebus air. Sekar mengambil mie dan telur dari kardus.
Diam, diam, Mbok Darmi mengintip dari balik pintu kamarnya. Ia tersenyum.
"Anak muda," bisiknya. "Bertengkar sebentar, baikan lagi. Seperti Mbok dulu."
Mie instan matang. Arga menuangkan ke dua mangkuk. Sekar menambahkan telur setengah matang di atasnya.
Mereka makan di dapur. Tidak banyak bicara. Hanya suara slurp mie dan sesekali tawa kecil saat Sekar menumpahkan kuah di bajunya.
"Arga," panggil Sekar setelah makan.
"Iya."
"Aku sayang kamu."
"Aku juga."
"Jangan biarkan aku marah terlalu lama."
"Aku tidak akan."
Mereka berpelukan.
KEJUTAN DARI GUNTUR
Keesokan paginya, Guntur datang ke kos dengan wajah ceria.
"Ada apa, Guntur? Kamu kelihatan bahagia banget," tanya Arga.
"Aku dapat beasiswa. Ke Belanda. Buat S3."
"Serius?"
"Serius. Aku berangkat bulan depan."
"Lama?"
"Tiga tahun. Mungkin lebih."
Ruangan hening.
Selamat, Guntur," kata Laras pelan. Tapi matanya, matanya tidak bahagia.
"Laras, kamu bisa ikut. Itu beasiswa untuk mahasiswa berpasangan."
"Berpasangan?"
"Iya. Aku bisa ajak pasangan. Istri. Atau calon istri."
Laras tersenyum. "Kita belum menikah, Guntur."
"Bisa menikah dulu."
"Lamaran dulu."
Guntur berlutut. Ia mengeluarkan cincin dari saku celananya, cincin perak sederhana, bukan berlian, tapi elegan.
"Laras, maukah kau menjadi istriku?"
Ruangan hening.
Faruq bersiul.
Nisa menutup mulut.
Dimas memotret dengan ponsel.
Arga dan Sekar tersenyum.
Mbok Darmi menangis.
"Laras, jawab," bisik Ratri.
Laras memandang Guntur lama.
"Ya. Aku mau."
Mereka berpelukan.
Semua bertepuk tangan.
DEWI PERGI LAGI
Dewi datang ke kos untuk berpamitan.
"Mas Arga, saya mau pulang kampung. Buka usaha kecil, kecilan. Bantu orang tua."
"Kamu yakin?"
"Yakin. Saya sudah tidak betah di kota. Terlalu banyak kenangan buruk."
"Semoga sukses, Dewi."
"Terima kasih semuanya. Maaf untuk semua kesalahan saya."
Dewi pergi.
Arga memandang punggungnya.
Semoga bahagia, Dewi," bisiknya. "Semoga kau menemukan kedamaian di kampungmu."
BAB 35
KONSPIRASI TERBONGKAR
Kebahagiaan setelah pertunangan Guntur dan Laras serta keberangkatan Dewi ke kampung halamannya ternyata hanya bertahan seminggu. Seperti biasa, setiap kali tim Arga merasa aman, setiap kali mereka mulai tertawa lepas, setiap kali mereka mulai melupakan ketegangan, badai baru datang. Bukan badai yang diprediksi. Bukan badai yang datang dari musuh yang sudah dikenal. Tapi badai yang muncul dari dalam, dari orang yang selama ini mereka anggap paling tidak mungkin berkhianat.
Samsul.
Laki, laki yang dulu menjadi mata-mata Ferry, yang kemudian bertobat, yang menjadi saksi kunci di persidangan, yang ikut dalam misi penyelamatan Sekar, yang kini tinggal di rumah aman bersama keluarganya, ternyata menyimpan rahasia terakhir. Rahasia yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun. Rahasia yang bahkan tidak diketahui oleh istrinya sendiri. Rahasia yang jika terbongkar, bisa menghancurkan semua yang telah mereka bangun.
Rahasia itu terungkap bukan karena Samsul mengaku. Tapi karena seorang kurir mengantarkan sebuah amplop tebal ke alamat kos, kosan Mbok Darmi. Amplop coklat tanpa nama pengirim, tanpa perangko, tanpa cap pos. Amplop yang diantar langsung oleh seorang laki, laki bertopi dan berjaket, yang setelah menyerahkan amplop itu langsung pergi tanpa meninggalkan jejak.
AMPLOP COKLAT
Hari Kamis sore, langit mendung. Hujan gerimis turun tipis, membuat halaman kos becek dan licin. Suasana di dalam kos hangat karena Mbok Darmi baru saja selesai memasak nasi goreng untuk makan malam.
Tok... tok... tok...
"Ada yang ketok pintu," kata Dimas yang sedang membaca komik di kursi plastik.
"Buka, Le," kata Mbok Darmi dari dapur.
Dimas berjalan ke pintu. Di luar, tidak ada siapa, siapa. Tapi di teras, sebuah amplop coklat tergeletak di lantai.
Ini apa?" gumam Dimas sambil mengambil amplop itu.
Ia masuk ke dalam. Membalik amplop itu. Tidak ada tulisan. Hanya amplop coklat polos, tebal karena berisi banyak kertas.
"Guntur, lihat ini," panggil Dimas.
Guntur yang sedang membaca skripsi di pojok ruangan mendekat. Ia mengambil amplop itu, merasakan ketebalannya, lalu membukanya dengan hati, hati.
Isinya: puluhan lembar foto.
Guntur mengamati foto, foto itu satu per satu. Wajahnya berubah dari penasaran menjadi tegang, dari tegang menjadi pucat, dari pucat menjadi marah.
"Ini foto Samsul," katanya.
"Samsul?" Dimas mendekat.
"Iya. Samsul sedang bertemu dengan seseorang. Laki-laki. Tidak jelas wajahnya. Tapi dari gaya bicara dan cara duduk, itu anak buah Ferry."
"Toni?"
"Bukan. Orang lain. Mungkin pengganti Toni."
"Samsul masih berkhianat?"
Tampaknya begitu."
FOTO, FOTO BUKTI
Arga, Sekar, Faruq, Nisa, Laras, dan Ratri berkumpul di ruang tamu. Mereka bergantian memeriksa foto, foto itu.
Foto pertama: Samsul duduk di sebuah warung kopi, berbicara dengan seorang laki, laki berjas hitam. Wajah laki, laki itu tidak terlihat karena topi dan kacamata hitam.
Foto kedua: Samsul menerima sebuah amplop putih, amplop berisi uang, dari cara ia menyelipkannya ke saku jaket.
Foto ketiga: Samsul sedang menelepon seseorang. Ekspresi wajahnya tegang, keringat membasahi dahinya.
Foto keempat: Samsul dan laki, laki berjas hitam itu bertemu lagi, kali ini di parkiran basement sebuah mal.
Foto kelima: Samsul menandatangani sebuah dokumen, mungkin surat perjanjian, mungkin kontrak, mungkin sesuatu yang lebih gelap.
"Itu Samsul," kata Faruq. "Aku kenal cara jalannya. Cara duduknya. Cara pegang rokoknya."
"Tapi apa isi dokumen itu?" tanya Nisa.
"Tidak jelas. Fotonya kurang tajam."
"Kita harus tanyakan langsung pada Samsul."
"Tunggu," kata Guntur. "Jangan terburu, buru. Jika Samsul masih berkhianat, dia akan menghapus bukti jika kita tanya langsung."
"Lalu?"
"Kita pantau. Kita buktikan dulu. Jangan sampai kita salah."
PENGAMATAN DI RUMAH AMAN
Malam itu, Guntur, Dimas, dan Laras pergi ke rumah aman tempat Samsul dan keluarganya tinggal. Rumah itu berada di kompleks perumahan sederhana di pinggiran kota tempat yang dulu dianggap aman karena jauh dari jangkauan Ferry. Tapi sekarang, tempat itu justru menjadi pusat kecurigaan.
Mereka bersembunyi di balik semak, semak di seberang jalan. Hujan gerimis masih turun, membuat pakaian mereka basah dan dingin.
"Dimas, apa kamu melihat sesuatu?" bisik Guntur.
"Lampu ruang tamu menyala. Tirai tidak tertutup rapat. Ada dua orang di dalam. Samsul dan seorang laki, laki."
"Laki-laki yang sama?"
"Tidak tahu. Jarak terlalu jauh. Kita butuh alat pembesar."
"Aku akan mendekat," kata Laras.
"Jangan. Berbahaya."
"Aku sudah biasa. Aku mantan mata mata."
Laras merunduk. Ia berjalan menyusuri pagar rumah, memanfaatkan bayangan pohon dan tiang listrik untuk bersembunyi.
Ia sampai di jendela ruang tamu. Ia mengintip.
Samsul duduk di kursi. Di depannya, seorang laki, laki berpakaian rapi, wajahnya tidak terlalu jelas karena cahaya lampu dari belakang.
"Tuan Ferry mengirim salam," kata laki, laki itu.
Samsul terdiam.
"Ferry di penjara," katanya akhirnya.
"Tapi pengaruhnya masih ada. Dan Tuan Ferry tidak senang dengan pengkhianatanmu."
"Aku tidak berkhianat. Aku hanya..."
"Hanya apa? Hanya berpura, pura bertobat agar tim Arga percaya padamu? Hanya menjadi saksi kunci di persidangan agar hukuman berkurang? Itu pengkhianatan, Samsul."
"Aku tidak punya pilihan."
"Kau punya pilihan. Kau bisa memilih tetap setia pada Ferry. Tapi kau memilih menjadi saksi."
"Karena Ferry tidak membayarku. Ferry hanya mengancam."
"Tapi kau tetap menerima uang."
Samsul diam.
Laki-laki itu berdiri. "Tuan Ferry ingin kau mengoreksi kesalahanmu."
"Bagaimana caranya?"
"Ada yang harus kau lakukan. Dan jika kau berhasil, Tuan Ferry akan mengirimkan uang, sepuluh kali lipat dari yang kau terima sebelumnya."
"Apa yang harus aku lakukan?"
Laki, laki itu mengeluarkan sebuah botol kecil dari saku jasnya. Botol kaca gelap dengan tutup putih. Tidak ada label.
"Ini racun. Tidak mematikan. Hanya membuat seseorang pingsan selama beberapa jam. Cukup untuk kami menculiknya."
"Siapa yang harus aku beri racun?"
Laki-laki itu tersenyum.
"Sekar."
LARAS MENDENGAR
Laras mundur dari jendela. Tangannya gemetar. Dadanya sesak. Ia berlari kecil kembali ke tempat Guntur dan Dimas bersembunyi.
"Kita harus pergi. Sekarang."
"Kenapa? Apa yang kau dengar?"
"Samsul akan meracuni Sekar."
Mereka bertiga bergegas meninggalkan lokasi. Perjalanan pulang terasa seperti mimpi buruk. Setiap bayangan, setiap suara, setiap lampu jalan, semua terasa seperti ancaman.
PERTEMUAN DARURAT
Jam sebelas malam, semua dikumpulkan di kos. Guntur, Arga, Sekar, Faruq, Nisa, Dimas, Laras, dan Ratri. Wajah masing, masing tegang.
Laras menceritakan semua yang ia dengar.
Sekar pucat. "Samsul? Samsul yang dulu kelihatan bertobat? Samsul yang menjadi saksi kunci?"
"Samsul. Dia masih setia pada Ferry."
"Tapi Ferry di penjara. Masa dia bisa, "
"Uang bisa membeli apa pun, Sekar. Termasuk kesetiaan orang yang sudah bertobat."
Arga mengepalkan tangan. Aku akan menghadapinya."
"Jangan. Dia berbahaya."
"Tapi, "
"Kita harus cerdik. Kita harus menjebaknya. Sama seperti dulu kita menjebak Ferry."
RENCANA JEBATAN
Guntur menyusun rencana.
"Kita biarkan Samsul datang ke kos. Kita biarkan dia memberikan racun pada Sekar. Tapi racun itu tidak akan diminum Sekar."
"Lalu siapa yang akan meminumnya?" tanya Faruq.
"Tidak ada. Kita ganti racun itu dengan air biasa. Lalu kita pura-pura Sekar pingsan. Kita lihat apa yang akan Samsul lakukan setelah itu."
"Dan jika dia mencoba menculik Sekar?"
"Kita tangkap. Kita bawa ke polisi. Dengan bukti rekaman dan saksi."
"Setuju," kata semua.
SAMSUL DATANG
Keesokan harinya, Samsul datang ke kos. Wajahnya pura, pura ramah. Tangannya membawa bingkisan kue, kedok untuk menyembunyikan botol racun.
"Mas Arga, saya bawakan kue. Buatan istri saya."
"Terima kasih, Samsul. Masuk."
Samsul duduk di kursi plastik. Matanya bergerak cepat, mencari Sekar.
"Sekar di mana?"
"Di kamar. Lagi istirahat."
"Saya titip kue ini untuk dia. Katakan dari saya."
"Baik."
Samsul tidak berlama-lama. Ia cepat-cepat pamit.
Setelah Samsul pergi, Arga membuka bingkisan itu. Di dalamnya, di bawah lapisan kue, botol kaca gelap dengan tutup putih, sama seperti yang dideskripsikan Laras.
"Racun," bisik Arga.
"Ganti dengan air," kata Guntur.
Dimas mengambil botol itu, membawanya ke dapur, menuangkan isinya ke wastafel, lalu mengisinya dengan air putih.
"Simpan di tempat yang sama," kata Guntur.
MALAM YANG MENENTUKAN
Jam delapan malam, Samsul datang lagi. Kali ini tidak membawa bingkisan. Ia hanya duduk, mengobrol, sesekali melirik ke arah Sekar.
"Sekar, sudah coba kue dari istri Samsul?" tanya Arga pura, pura.
"Belum. Nanti malam."
"Dimas, tolong ambilkan kue itu."
Dimas mengambil bingkisan dari lemari dapur. Ia meletakkannya di meja.
Samsul memperhatikan dengan saksama. Ia melihat bahwa botol itu masih di tempat yang sama. Ia menghela napas lega, tidak tahu bahwa isinya sudah diganti dengan air.
Sekar mengambil sepotong kue. Ia memakannya perlahan. Lalu ia mengambil botol itu, membuka tutupnya, dan meminum seteguk.
"Manis," katanya.
"Iya buatan istri saya memang manis," kata Samsul.
Tiga menit kemudian, Sekar menggeleng, gelengkan kepala, lalu pura, pura pingsan.
"Sekar!" Arga pura-pura panik.
Samsul berdiri. Matanya berubah. Dari ramah menjadi dingin.
"Mas Arga, biar saya bantu."
Ia mendekati Sekar. Tangannya meraih lengan Sekar.
"Jangan sentuh dia!" teriak Arga.
Samsul terkejut. Ia mundur. Tapi terlambat.
Guntur, Faruq, Dimas, dan Laras sudah mengepungnya dari belakang.
"Apa ini? Kenapa kalian, "
"Kami tahu, Samsul. Kami tahu tentang racun. Kami tahu tentang pertemuanmu dengan utusan Ferry. Kami mendengar semuanya."
Samsul pucat. "Aku tidak, "
"Kami punya rekaman. Laras merekam dari jendela rumah amanmu tadi malam."
Samsul jatuh duduk di kursi. Wajahnya lemas.
"Saya... saya terpaksa..."
"Lagi, lagi terpaksa, Samsul? Setiap kali berkhianat, kamu bilang terpaksa. Kapan berhenti?"
Samsul menangis. "Tuan Ferry..."
"Ferry di penjara. Dia tidak bisa menyakitimu lagi. Tapi kamu tetap memilih berkhianat. Itu bukan terpaksa. Itu pilihan."
PENGAKUAN SAMSUL
Setelah diam beberapa saat, Samsul mulai bicara. Suaranya lirih, putus asa.
"Ferry tidak di penjara lagi. Dia sudah keluar."
"Apa?" Guntur terkejut.
"Bandingnya dikabulkan. Dia bebas dengan jaminan. Pengacaranya hebat. Hakimnya bisa disuap."
"Kapan?"
"Tiga hari lalu."
Mengapa tidak ada di berita?"
"Karena Ferry bayar media untuk tutup mulut."
Ruangan hening.
Berita ini lebih buruk dari perkiraan mereka. Ferry bebas. Ferry kembali. Dan Ferry pasti akan balas dendam.
"Samsul," kata Guntur dingin.
"Iya."
"Kau akan menjadi saksi lagi. Di persidangan ulang. Kau akan mengaku semua. Termasuk percobaan meracuni Sekar."
"Tapi Ferry akan, "
"Kami lindungi kau. Dan keluargamu. Tapi kau tidak punya pilihan. Kalau kau tidak bersaksi, kau akan dipenjara karena percobaan pembunuhan."
Samsul mengangguk lesu. "Baik. Saya akan bersaksi."
FERRY BEBAS
Berita kebebasan Ferry menyebar cepat. Media yang tadinya tutup mulut, mulai memberitakan setelah Guntur dan Nisa menyebarkan siaran pers ke jurnalis independen.
"Ferry Kencana Bebas! Banding Dikabulkan!"
"Kontroversi Vonis Ringan untuk Pengusaha Kaya!"
"Publik Marah! Tuntutan Hukuman Mati untuk Ferry!"
Demo kembali terjadi di depan gedung pengadilan. Aktivis, mahasiswa, dan masyarakat umum menuntut keadilan untuk Sekar dan korban lain.
Tapi Ferry tidak terlihat.
Ia bersembunyi.
Menunggu waktu yang tepat.
Menunggu saat tim Arga lengah.
PERSIAPAN MENGHADAPI FERRY
Di kos, mereka mengadakan rapat darurat.
"Ferry bebas," kata Guntur. "Tapi dia tidak bisa berbuat banyak. Publik marah. Media mengawasi. Polisi juga mengawasi."
"Tapi dia pasti akan coba sesuatu," kata Arga.
"Pasti. Tapi kita sudah siap. Kita punya bukti lebih kuat. Kita punya saksi lebih banyak. Kita punya publik di pihak kita."
"Tapi, "
"Arga, kita sudah melewati masa, masa sulit. Kita bisa melewati ini juga."
Arga menghela napas. "Aku harap begitu."
BAB 36
BABAK BELUR DI PARKIRAN
Tiga hari setelah pengakuan Samsul tentang kebebasan Ferry, ketegangan di kos, kosan Mbok Darmi mencapai puncaknya. Setiap orang waspada. Setiap bayangan mencurigakan. Setiap suara langkah kaki di luar membuat jantung berdebar lebih cepat. Mereka tahu Ferry tidak akan tinggal diam. Mereka tahu dia sedang menyusun rencana. Mereka tahu serangan bisa datang kapan saja dari arah mana saja, dari orang yang tidak mereka duga, dengan cara yang tidak mereka bayangkan.
Tapi yang tidak mereka duga adalah, serangan itu tidak datang ke kos.
Serangan itu datang ke tempat kerja Arga.
Ke toko bangunan Tujuh Sembilan.
Ke tempat di mana Arga menghabiskan sebagian besar waktunya.
Ke tempat di mana Pak Bondan, laki, laki tua yang sudah seperti ayah kedua bagi Arga, setiap hari duduk di kursi plastik dengan koran, rokok, dan kopi hitam di tangannya.
PAGI YANG CERAH
Hari Senin, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung, burung pipit beterbangan di atas tumpukan pasir dan semen. Pak Bondan duduk di kursi plastik seperti biasa—koran, rokok, kopi hitam. Arga sedang mengangkat batu bata ke gerobak. Keringat mengucur di sekujur tubuhnya. Wajahnya merah padam.
"Le, istirahat dulu," kata Pak Bondan.
"Sebentar lagi selesai, Pak. Tinggal sepuluh bata lagi."
"Kamu ini keras kepala."
"Sudah kebiasaan, Pak."
Pak Bondan tersenyum. "Sama seperti saya dulu."
Arga mengangkat bata kesepuluh. Dilemparnya ke gerobak. Bruk! Debu beterbangan.
"Selesai, Pak."
"Bagus. Sekarang minum dulu. Nanti kesambet."
Arga duduk di samping Pak Bondan. Ia mengambil botol air mineral yang diberikan Pak Bondan. Diminumnya seteguk. Dua teguk. Tiga teguk.
"Pak," panggil Arga.
"Iya."
"Saya mau minta nasihat."
"Nasihat apa?"
"Tentang Ferry. Dia bebas. Tapi belum menunjukkan taringnya. Saya tidak tenang."
Pak Bondan menghela napas. "Dia pasti akan menyerang. Tapi kapan dan di mana, kita tidak tahu. Yang bisa kita lakukan hanya bersiap."
"Saya sudah siap. Tapi saya takut, "
"Takut apa?"
"Saya takut dia menyerang orang, orang yang tidak bersalah. Seperti Bapak. Seperti Mbok Darmi. Seperti teman-teman saya."
Pak Bondan menepuk bahu Arga. "Kami sudah dewasa, Le. Kami sudah sering menghadapi masalah. Jangan khawatirkan kami."
MOBIL HITAM
Jam sepuluh pagi, sebuah mobil hitam berhenti di depan toko.
Mercedes, Benz. Kaca gelap. Plat nomor B 1 FKY.
Arga langsung berdiri. "Ferry."
"Tenang, Le," kata Pak Bondan. "Lihat dulu siapa yang keluar."
Pintu mobil terbuka.
Bukan Ferry.
Tapi preman. Empat orang. Besar. Kekar. Wajah garang.
Yang paling depan, laki, laki botak dengan tato naga di lengan kiri, berjalan ke arah Arga.
"Kamu Arga?"
"Iya."
"Bos kami ingin bicara."
"Siapa bos kalian?"
"Ferry Kencana."
"Aku tidak ada urusan dengan Ferry."
"Ferry yang menentukan. Bukan kamu."
Preman botak itu mendekat. Di tangannya, pentungan besi.
"Kami hanya suruhan. Jangan bikin susah."
Arga tidak bergeming. "Saya tidak akan ikut."
"Maka kami bawa paksa."
Preman itu mengayunkan pentungan.
Arga menghindar. Pentungan itu mengenai tumpukan kayu. Bruk! Kayu berserakan.
Preman kedua dan ketiga ikut menyerang.
Arga melawan. Ia menendang preman kedua. Preman itu jatuh. Ia memukul preman ketiga dengan sisi tangan. Preman itu terhuyung.
Tapi jumlah mereka terlalu banyak.
Preman keempat menyerang dari belakang. Pentungannya mengenai punggung Arga.
DUAR!
Arga jatuh. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh.
"Arga!" teriak Pak Bondan.
Pak Bondan mengambil linggis dari balok meja. Ia mengayunkannya ke arah preman botak.
BRUK! Linggis mengenai lengan preman itu. Preman itu berteriak kesakitan.
"Bapak tua!" preman botak itu marah. "Kau mau mati?"
"Daripada saya diam melihat anak saya dipukuli."
Preman botak itu mengayunkan pentungan ke arah Pak Bondan.
Pak Bondan tidak sempat menghindar.
DUAR!
Pentungan mengenai pelipis Pak Bondan.
Darah.
Pak Bondan jatuh.
"PAK BONDAN!" teriak Arga.
Arga bangkit. Amarahnya memuncak.
Ia berlari ke arah preman botak. Meninju wajahnya. DOR! Preman itu jatuh.
Ia menendang preman kedua. DUAR! Preman itu terjatuh.
Ia memukul preman ketiga. BRUK! Preman itu pingsan.
Preman keempat berusaha lari. Arga mengejar. Menarik kerah bajunya. Membantingnya ke tanah.
"SIAPA YANG SURUH KALIAN?" teriak Arga.
"Ferry... Ferry yang suruh..."
"KALIAN BILANG PADA FERRY, JIKA DIA BERANI, HADAPI AKU LANGSUNG. JANGAN PAKAI ORANG LAIN. JANGAN PAKAI PREMAN. JANGAN PAKAI ANAK BUAH. HADAPI AKU. LANGSUNG. SATU LAWAN SATU."
Preman itu mengangguk ketakutan.
Mereka berempat bangkit. Lari ke mobil. Mobil hitam itu melaju kencang, meninggalkan debu, meninggalkan darah, meninggalkan Pak Bondan yang tergeletak di lantai.
RUMAH SAKIT
Ambulans datang sepuluh menit kemudian.
Pak Bondan dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Arga ikut di dalam ambulans. Tangannya menggenggam tangan Pak Bondan yang dingin.
"Pak Bondan, bertahan. Bapak harus bertahan."
Pak Bondan membuka mata. Bibirnya bergetar.
"Le... jangan khawatir... saya tidak akan mati... belum saatnya..."
"Tapi darah Bapak, "
"Hanya luka kecil. Kepala orang tua memang mudah berdarah."
"Pak Bondan, "
"Le, saya titip toko. Jaga toko. Jangan sampai ditutup. Itu warisan orang tua saya."
"Bapak, "
"Janji."
Arga menangis. "Saya janji, Pak. Saya janji."
DI RUMAH SAKIT
Guntur, Faruq, Nisa, Dimas, Laras, Ratri, dan Sekar datang bergantian. Mereka bergantian menjaga Pak Bondan. Bergantian membawakan makanan. Bergantian menghibur.
"Bagaimana keadaan Pak Bondan, Dok?" tanya Guntur pada dokter yang memeriksa.
"Luka di kepala cukup dalam. Tapi tidak mengenai saraf. Beliau akan pulih. Tapi butuh istirahat total setidaknya sebulan."
"Terima kasih, Dok."
Dokter pergi.
Guntur memandang Arga. "Kita harus jaga toko."
"Iya. Saya sudah janji."
"Kita bergantian. Aku, Faruq, Dimas, Laras. Kita semua akan bantu."
"Terima kasih, Guntur."
"Jangan berterima kasih. Itu tugas kita."
TOKO BANGUNAN TUJUH SEMBILAN
Keesokan paginya, Arga membuka toko lebih awal. Ia membersihkan bekas pertempuran kemarin. Darah kering di lantai. Kayu berserakan. Pasir bertebaran.
Ia menyapu, mengepel, merapikan.
Jam delapan, Guntur datang.
"Aku bantu."
Jam sembilan, Faruq datang.
"Aku bantu."
Jam sepuluh, Dimas datang.
"Aku bantu."
Jam sebelas, Laras datang.
"Aku bantu."
Jam dua belas, mereka istirahat. Makan siang bersama di bawah pohon rindang.
"Toko ini berat," kata Faruq. "Belum pernah saya angkat semen."
"Kamu mahasiswa kedokteran," kata Dimas. "Nanti pasienmu kamu angkat?"
"Pasien tidak diangkat. Pake tandu."
"Sama saja."
Mereka tertawa.
Tawa yang sedikit mengobati luka.
PELANGGAN LAMA
Jam dua siang, Bu Sri, pelanggan lama Pak Bondan datang. Perempuan gemuk dengan daster lusuh dan keranjang anyaman.
"Mas Arga, Pak Bondan bagaimana?"
"Masih di rumah sakit, Bu. Tapi sudah sadar."
"Aduh, kasihan. Saya bawakan pisang goreng. Ini untuk Pak Bondan."
"Terima kasih, Bu."
"Giliran siapa yang jaga toko?"
"Saya, Bu. Sama teman, teman."
"Bagus. Saya doakan semoga Pak Bondan lekas sembuh."
"Terima kasih, Bu."
Bu Sri pergi.
Arga memandang pisang goreng di tangannya.
Wanginya harum.
Mengingatkannya pada ibunya.
Pada desa.
Pada masa lalu yang sederhana.
"Arga, kenapa?" tanya Sekar yang datang siang itu.
"Kangen rumah."
"Kapan kita pulang?"
"Setelah Pak Bondan sembuh. Setelah Ferry tidak lagi mengancam."
"Aku akan menunggu."
MALAM DI KOS
Jam sembilan malam, Arga pulang ke kos.
Ia duduk di beranda, ditemani Sekar.
"Arga," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita bisa hidup normal setelah ini?"
"Normal bagaimana?"
"Normal seperti orang lain. Tidak perlu takut. Tidak perlu waspada. Tidak perlu memikirkan Ferry setiap detik."
Arga menggenggam tangan Sekar.
"Aku tidak tahu. Tapi aku akan berusaha. Untukmu. Untuk kita."
Mereka berdua terdiam.
Memandang langit malam.
Bintang, bintang berkerlap, kerlip.
Bulan sabit tipis menggantung rendah.
"Arga, lihat," kata Sekar sambil menunjuk ke arah timur.
"Apa?"
"Bintang timur. Sekarang terang. Dulu waktu kita di desa, kita sering lihat bintang itu."
"Iya. Waktu kita di pohon randu."
"Kita akan lihat lagi, kan?"
"Kita akan lihat lagi. Di pohon randu. Di Kali Wening. Di desa."
Mereka berpelukan.
BAB 37
FERRY MENGANCAM LEWAT MEDIA , TEKANAN PUBLIK MENINGKAT
Seminggu setelah penyerangan di toko bangunan yang mengakibatkan Pak Bondan dirawat di rumah sakit, Ferry berubah strategi. Ia sadar bahwa kekerasan fisik tidak akan efektif melawan Arga dan timnya. Setiap kali mengirim preman, preman itu yang kalah. Setiap kali menculik, korban yang berhasil diselamatkan. Setiap kali menyerang, serangan itu berhasil dipukul mundur.
Ferry butuh cara lain.
Cara yang lebih licik.
Cara yang tidak melibatkan kekerasan fisik, tapi tetap bisa menghancurkan.
Cara yang menggunakan senjata paling ampuh di era digital: media.
Ferry menyewa tim humas, tim pengacara, tim jurnalis bayaran, dan tim buzzer media sosial. Mereka disebar untuk satu tujuan: menghancurkan reputasi Arga dan timnya di mata publik. Membalikkan posisi. Menjadikan korban sebagai pelaku. Menjadikan penjahat sebagai pahlawan.
Dan dalam semalam, nama Arga berubah dari pahlawan penyelamat gadis desa menjadi penculik, perebut pacar orang, pembuat onar, dan perusak keluarga bahagia.
WAWANCARA EKSKLUSIF FERRY
Hari Rabu malam, stasiun televisi swasta menayangkan wawancara eksklusif dengan Ferry. Wawancara yang dibayar mahal, yang pertanyaannya sudah diatur, yang jawabannya sudah disiapkan tim humas.
"Selamat malam, pemirsa. Malam ini kami kedatangan tamu spesial. Pengusaha muda Ferry Kencana, yang namanya sempat tercemar oleh tuduhan penyekapan dan perjodohan paksa. Ferry, bagaimana tanggapan Bapak?"
Ferry tersenyum ke kamera. Senyum yang ramah, teduh, tidak bersalah, sangat berbeda dari senyum sinis yang Arga kenal.
"Terima kasih sudah mengundang saya. Saya ingin meluruskan beberapa hal. Pertama, tuduhan penyekapan tidak benar. Sekar adalah tunangan saya. Orang tuanya sudah merestui. Kami akan menikah. Itu sudah direncanakan sejak lama."
"Tapi Sekar mengaku bahwa dia dikurung dan tidak boleh keluar rumah?"
"Itu pengakuannya. Tapi perlu diingat, Sekar dalam tekanan psikologis. Dia dibohongi oleh Arga, seorang pemuda desa yang tidak bertanggung jawab. Arga memanfaatkan situasi untuk merebut Sekar dari saya."
"Arga? Siapa dia?"
"Dia anak desa miskin yang tidak punya apa, apa. Datang ke kota, kerja serabutan, lalu berusaha merebut tunangan orang. Untung saya punya bukti."
"Apa buktinya?"
Ferry mengeluarkan beberapa lembar foto. Foto Arga bersama Sekar di tepi sungai. Foto Arga bersama teman-temannya. Foto Arga bersama Laras, yang dipotret dari sudut membuat mereka terlihat mesra.
"Ini foto Arga dengan perempuan lain. Bukan Sekar. Artinya, Arga tidak setia. Dia hanya memanfaatkan Sekar."
"Wah, sungguh keterlaluan."
"Ya. Itulah kenapa saya memutuskan untuk melawan. Saya akan buktikan bahwa saya tidak bersalah. Dan Arga beserta teman, temannya akan dihukum."
REAKSI TIM ARGA
Di kos, semua orang terpaku di depan layar televisi milik Mbok Darmi, televisi tabung tua yang hanya bisa menangkap dua channel.
"Bajingan!" teriak Faruq. "Dia memutarbalikkan fakta!"
"Tenang, Faruq," kata Guntur.
"Tenang? Dia bilang Mas Arga selingkuh! Dia bilang Mas Arga perebut tunangan orang! Dia bilang Mas Arga yang salah!"
"Marah tidak akan menyelesaikan masalah."
"Lalu?"
"Kita balas. Lewat media juga."
KONFERENSI PERS TIM ARGA
Keesokan harinya, Guntur dan Nisa mengatur konferensi pers di kantin fakultas filsafat. Jurnalis dari beberapa media independen datang. Jurnalis dari media yang pro, Ferry juga datang, untuk mencari kelemahan.
Arga berdiri di depan mikrofon. Wajahnya tegang, tangannya gemetar, tapi suaranya tegas.
"Saudara, saudara, saya Arga. Saya dari desa Wringinrejo, di selatan. Saya bukan pahlawan. Saya juga bukan penjahat. Saya hanya anak desa yang mencintai seorang gadis desa. Gadis itu bernama Sekar."
Ferry bilang dia tunangannya. Tapi siapa yang menentukan tunangan? Orang tua? Uang? Kekuasaan? Atau hati?"
Arga menceritakan semuanya. Tentang perjodohan paksa. Tentang penyekapan. Tentang suntikan obat penenang. Tentang preman. Tentang pengkhianatan. Tentang perjuangan.
Ia tidak hanya bicara. Ia juga menunjukkan bukti.
Foto, foto Sekar lebam. Rekaman suara Ferry mengancam. Buku catatan Mariyem. Surat, surat perintah dari Ferry untuk preman, preman.
"Ini bukti, Saudara-saudara. Bukan rekayasa. Bukan fitnah. Ini fakta. Ferry Kencana adalah penjahat. Dan kami korban."
REAKSI PUBLIK
Konferensi pers itu tayang di media sosial. Tagar #ArgaBukanPenjahat dan #FerryPenjahat kembali trending.
Publik mulai terbelah.
Pro, Ferry menganggap Arga pembohong.
Pro, Arga menganggap Ferry iblis berkemeja rapi.
"Waspada ya, Arga," kata Guntur setelah konferensi pers. "Ini baru awal. Ferry tidak akan tinggal diam."
"Aku tahu."
"Kamu harus siap mental."
"Aku sudah siap. Karena kebenaran ada di pihakku."
ANCAMAN LANGSUNG
Seminggu setelah konferensi pers, Arga menerima amplop berisi surat ancaman. Dikirim ke toko bangunan. Dikirim ke kos. Dikirim ke alamat rumah Mariyem. Dikirim ke desa Wringinrejo.
Isinya sama: gambar tengkorak, tulisan merah, dan pesan singkat.
"Kau tidak akan selamat, Arga. Kau tidak akan bisa melindungi semua orang. Keluargamu. Teman, temanmu. Sekar. Semua akan hancur. Satu per satu."
Arga tidak takut. Tapi ia khawatir pada orang, orang di sekitarnya.
"Guntur, kita harus tingkatkan keamanan," katanya.
"Bagaimana caranya? Kita tidak punya uang untuk bayar satpam."
"Kita jaga bergantian. Malam. Siang. Tanpa henti."
"Delapan orang?"
"Delapan orang. Guntur, Faruq, Nisa, Dimas, Laras, Ratri, aku, Sekar."
"Setuju."
MALAM PENUH KETAKUTAN
Malam itu, mereka mulai berjaga.
Pukul delapan hingga dua belas: Arga dan Sekar.
Pukul dua belas hingga empat: Guntur dan Laras.
Pukul empat hingga subuh: Faruq dan Nisa.
Dimas dan Ratri jaga siang.
Hari pertama berjalan lancar. Tidak ada kejadian aneh.
Hari kedua juga.
Hari ketiga juga.
Hari keempat, Jumat malam, pukul satu dini hari. Guntur dan Laras sedang duduk di teras kos, ditemani kopi hitam dan pisang goreng sisa sore.
"Guntur," panggil Laras.
"Iya."
"Apa kita akan selamat?"
"Kita akan selamat. Kita sudah melewati yang terberat."
"Ini belum yang terberat?"
"Belum. Yang terberat adalah setelah Ferry benar, benar tidak berdaya. Setelah dia tidak punya uang, tidak punya kuasa, tidak punya preman. Saat itu, dia akan menyerah. Atau mati."
"Kamu kejam."
"Bukan kejam. Realistis."
Mereka terdiam.
Tiba, tiba, suara motor dari kejauhan. Banyak. Puluhan.
Guntur berdiri. "Laras, bangunkan yang lain."
Laras berlari ke dalam.
Guntur memandang ke arah jalan.
Lampu motor menyala terang. Puluhan. Mendekat.
"Ferry," bisik Guntur. "Akhirnya kau datang sendiri."
BAB 38
FERRY MENYERANG LANGSUNG KE KOS , PERTEMPURAN PUNCAK
Malam itu adalah malam paling mencekam yang pernah dialami oleh penghuni kos, kosan Mbok Darmi. Puluhan preman bayaran Ferry mengepung kos dari segala arah. Suara motor meraung, raung seperti kawanan serigala yang kelaparan. Lampu, lampu sorot menyilaukan mata, menembus tirai jendela yang tipis, menciptakan bayangan, bayangan panjang yang menari, nari di dinding.
Guntur berdiri di teras, memandang ke arah jalan. Di tangannya, sebatang besi panjang yang ia ambil dari belakang kos, besi bekas rangka tempat tidur yang sudah tidak terpakai. Laras di sampingnya, memegang gagang sapu yang ujungnya sudah diraut runcing.
"Berapa banyak?" bisik Laras.
"Puluhan. Mungkin empat puluh. Mungkin lima puluh."
"Kita hanya delapan."
"Tidak masalah. Yang penting kita bertahan sampai polisi datang."
"Polisi tidak akan datang. Ferry sudah bayar mereka."
"Maka kita serang mereka. Jangan menunggu."
KEPUNG
Arga keluar dari kamar dengan parang di tangan, parang pemberian Mbah Jayarasa yang dulu tergantung di dinding rumah tuanya, parang yang sudah ia bawa ke kota sebagai kenang, kenangan, parang yang sekarang akan ia gunakan untuk melindungi orang, orang yang ia cintai.
Sekar di belakangnya, memegang panah dan busur sederhana buatan Dimas, bukan untuk membunuh, hanya untuk menakuti.
Faruq dan Nisa keluar dari kamar mereka. Faruq memegang pentungan kayu. Nisa memegang ketapel dan batu, batu kecil.
Dimas dan Ratri memanjat atap kos. Dimas membawa ponsel untuk merekam. Ratri membawa teropong.
Mbok Darmi berdiri di pintu dapur. Wajahnya tegang, tangannya memegang wajan penggorengan.
"Kalian jangan mati," katanya.
"Kami tidak akan mati, Mbok," kata Faruq. "Kami masih punya utang traktiran."
FERRY MUNCUL
Dari tengah kerumunan preman, seorang laki, laki berjas hitam berjalan ke depan. Jas navy. Dasi merah. Sepatu oxford mengkilap. Rambut disisir rapi ke belakang.
Ferry Kencana.
Ia tersenyum, senyum yang tidak sampai ke mata.
"Selamat malam, Arga." Suaranya tenang. Terlalu tenang. "Akhirnya kita bertemu lagi."
"Ferry, apa maumu?"
"Aku ingin mengambil apa yang menjadi hakku. Sekar."
"Sekar bukan hakmu. Dia manusia. Dia punya hak memilih."
"Dia sudah memilih. Orang tuanya sudah memilih."
"Orang tuanya tidak berhak memilih untuknya."
Ferry menghela napas. "Debat tidak berguna, Arga. Malam ini, aku akan mengambil Sekar. Dengan atau tanpa izinmu."
"Kau harus melewatiku dulu."
"Dengan senang hati."
Ferry memberi isyarat.
Preman, preman maju.
PERTEMPURAN PUNCAK
Preman pertama menerjang Arga dengan pentungan. Arga mengelak. Parangnya berayun, bukan ke arah tubuh, tapi ke arah pentungan, membuatnya terpental.
Preman kedua menyerang dari samping. Guntur menghadang dengan besi panjangnya. Bruk! Preman itu jatuh.
Preman ketiga, keempat, kelima, silih berganti.
Faruq dan Nisa bertahan di pintu dapur. Faruq memukul dengan pentungan. Nisa memanah dengan ketapel, tepat sasaran, mengenai mata preman.
Dimas dan Ratri dari atap melemparkan batu, batu kecil. Preman, preman terjatuh.
Tapi jumlah mereka terlalu banyak.
Setiap satu jatuh, dua muncul.
Setiap dua jatuh, empat muncul.
Laras mulai kelelahan. Lengan kirinya, yang dulu luka, mulai berdarah lagi.
"Guntur, aku, "
"Bertahan, Laras! Jangan menyerah!"
"Tapi, "
"BERTAHAN!"
SEKAR MEMANAH
Sekar melihat Laras kesulitan. Ia mengarahkan busurnya ke preman yang akan memukul Laras.
DOR!
Panah melesat.
Mengenai lengan preman.
Preman itu berteriak, jatuh.
"Awas!" teriak Sekar pada Guntur. "Dari belakang!"
Guntur menoleh. Preman lain sudah mengayunkan pentungan ke kepalanya.
Ia tidak sempat menghindar.
DUAR!
Guntur jatuh.
Darah mengalir di pelipisnya.
"GUNTUR!" teriak Laras.
Laras berlari ke arah Guntur. Ia menendang preman itu. Preman itu terhuyung. Laras memukulnya dengan gagang sapu sampai pingsan.
"Guntur... Guntur... bangun..."
Guntur membuka mata. "Aku... baik, baik saja..."
"Kepalamu berdarah!"
"Hanya luka kecil. Tidak apa."
Laras memeluk Guntur.
Ia menangis.
FERRY MASUK
Ferry tidak ikut bertempur. Ia berdiri di pinggir, menyaksikan anak buahnya bertumbangan.
"Bodoh," gumamnya. "Semua bodoh."
Ia berjalan ke pintu kos.
Mbok Darmi menghadang dengan wajan.
"Jangan masuk, Tuan. Ini rumah saya."
"Kosongkan jalan, Bu."
"Saya tidak akan."
Ferry mendorong Mbok Darmi. Perempuan tua itu jatuh.
"SIALAN!" teriak Faruq. Ia berlari ke arah Ferry, pentungan terangkat.
Ferry tidak bergeming. "Kamu pikir pentunganmu akan menyentuhku?"
Ia mengeluarkan pistol dari saku jasnya.
Semua terdiam.
"Pistol?" bisik Nisa.
"Iya. Pistol. Ijazah saya di Inggris juga punya lisensi senjata." Ferry tersenyum. "Sekarang, siapa yang berani maju?"
Tidak ada yang bergerak.
"Bagus. Sekarang, Sekar, ikut aku. Atau aku tembak Arga."
Sekar tidak bergerak.
"Aku hitung tiga. Satu... dua..."
"Saya ikut."
Arga menoleh. "Sekar, jangan!"
"Kalau tidak, dia akan bunuh kamu, Mas."
"Tidak apa. Aku rela mati daripad kau kembali ke Ferry."
"Tapi aku tidak rela, Mas. Aku tidak rela melihatmu mati."
Sekar berjalan ke arah Ferry.
Ferry tersenyum. "Bagus. Akhirnya kau sadar."
"Sekar!" Arga mencoba menghalangi, tapi preman menahannya.
"Diam!" bentak Ferry.
KEJUTAN DI ATAP
Tepat saat Sekar mencapai Ferry, suara tembakan lain terdengar.
DOR!
Pistol Ferry jatuh.
"POLISI! JANGAN BERGERAK!"
Ferry menoleh ke atas.
Di atap kos, bukan hanya Dimas dan Ratri. Ada polisi. Berseragam lengkap. Bersenjata lengkap.
"Komandan Budi," bisik Ferry.
"Saya sudah memantau sejak awal, Ferry. Saya tidak bisa disuap. Saya tidak bisa dibeli. Saya polisi yang percaya pada keadilan."
"Kau, "
"Kau sudah saya laporkan ke polda. Pengacaramu juga. Hakim yang membebaskanmu juga. Semua akan diproses."
Ferry terdiam.
Ia tidak bisa berkutik.
Polisi turun dari atap. Puluhan preman ditangkap.
Ferry diborgol.
"Ferry Kencana, saya tahan Saudara atas dugaan percobaan pembunuhan, memiliki senjata api ilegal, dan pengerahan preman untuk melakukan kekerasan."
Ferry tidak melawan.
Ia hanya memandang Arga.
"Kau beruntung, Arga. Punya teman polisi."
"Bukan teman polisi. Teman sejati. Orang yang percaya pada kebenaran."
SETELAH PERTEMPURAN
Ferry digiring ke mobil polisi.
Preman, preman satu per satu dimasukkan ke mobil tahanan.
Mbok Darmi dibawa ke ruang tamu, luka di sikunya dibersihkan oleh Nisa.
Guntur dirawat oleh Laras dan Faruq, yang kebetulan mahasiswa kedokteran.
"Faruq, jahit kepalaku," kata Guntur.
"Saya belum pernah jahit luka."
"Sekarang belajar."
faruq menekan luka Guntur dengan kain bersih. Guntur meringis.
"Sakit, tapi jangan mati. Nanti Laras nangis."
"Saya tidak akan nangis," kata Laras sambil menyeka air matanya.
"Kamu sudah nangis."
"Itu keringat."
"Keringat dari mata?"
"Keringat dingin."
Mereka tertawa.
PAGI YANG SUNYI
Matahari terbit di ufuk timur.
Cahayanya keemasan, hangat, menyapu kabut yang menggantung di atas kos.
Arga duduk di beranda. Sekar di sampingnya.
"Sekar," panggil Arga.
"Iya."
"Kita selamat."
"Kita selamat."
"Ferry tidak akan pernah bebas lagi."
"Kita harap begitu."
"Setelah ini, apa yang akan kita lakukan?"
Sekar memandang Arga.
"Pulang, Mas. Pulang ke desa. Pulang ke Kali Wening. Pulang ke pohon randu. Pulang ke rumah."
"Iya. Kita pulang."
Mereka berpelukan.
BAB 39
TITIK BALIK
Tiga hari setelah penangkapan Ferry dan pembubaran preman-preman bayarannya, suasana di kos, kosan Mbok Darmi mulai kembali normal. Normal yang sesungguhnya, bukan normal yang dipaksakan. Tawa mulai terdengar di halaman setiap pagi. Sendiran Faruq yang konyol, ledekan Nisa yang tajam, candaan Dimas yang absurd, dan senyum tipis Laras yang dulu langka kini lebih sering muncul.
Tapi satu hal masih mengganjal di hati Sekar, Arga, dan semua yang peduli pada mereka. Satu hal yang belum selesai. Satu hal yang harus dibereskan sebelum mereka benar, benar bisa melanjutkan hidup dengan damai.
Restu.
Restu dari orang tua Sekar.
Ayah dan ibu yang dulu menjodohkannya dengan Ferry, yang dulu menerima uang untuk melunasi utang, yang dulu membiarkan anak kandungnya disiksa demi kepentingan bisnis.
Mereka belum minta maaf. Mereka belum mengakui kesalahan. Mereka belum membatalkan perjodohan secara resmi.
Dan tanpa itu, Sekar tidak akan pernah benar-benar bebas.
SURAT DARI AYAH SEKAR
Hari Kamis pagi, pukul sembilan. Langit cerah. Matahari bersinar hangat. Burung, burung pipit beterbangan di halaman kos.
Seorang anak kecil mengantarkan amplop ke kos. Amplop putih, tidak bertuliskan nama pengirim, tidak bertuliskan alamat tujuan. Hanya satu kata di bagian depan amplop: "SEKAR".
Sekar menerima amplop itu dengan tangan gemetar. Ia membukanya perlahan, takut dengan isinya, takut itu ancaman, takut itu umpatan, takut itu sesuatu yang akan melukai hatinya lagi.
Tapi isinya bukan ancaman.
Bukan umpatan.
Bukan kebencian.
Tapi undangan.
Undangan untuk bertemu di sebuah restoran sederhana di pinggiran kota.
"Untuk Sekar," tulis surat itu. "Ayah dan Ibu ingin bertemu denganmu. Bukan untuk memaksamu kembali. Bukan untuk menjodohkanmu lagi. Tapi untuk... meminta maaf. Kami sadar, kami telah salah. Kami telah gagal menjadi orang tua yang baik. Kami menyesal. Datanglah, Nak. Beri kami kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. —Ayah dan Ibu."
Sekar menangis.
Arga memegang bahunya. "Kamu mau datang?"
"Iya. Aku mau. Tapi aku takut."
"Takut apa?"
"Aku takut... ini jebakan. Aku takut mereka masih bekerja sama dengan Ferry."
"Kita akan datang bersama. Aku, Guntur, Laras. Kita akan jaga dari kejauhan."
"Kamu mau?"
"Tentu. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian."
PERSIAPAN
Mereka berdiskusi di ruang tamu kos.
"Mari kita analisis," kata Guntur sambil membuka laptop. "Restoran ini. Di pinggiran kota. Sepi. Tidak terlalu ramai. Tempat yang tepat untuk pertemuan pribadi, tapi juga tempat yang tepat untuk jebakan."
"Kamu pikir ini jebakan?" tanya Sekar.
"Bisa jadi. Tapi bisa juga bukan. Kita tidak bisa memastikan sebelum datang."
"Lalu bagaimana?" tanya Arga.
"Kita bagi tim. Sekar dan Arga masuk ke restoran. Guntur, Laras, Dimas di luar. Nisa, Faruq, Ratri di dalam mobil siaga. Jika ada yang aneh, kita langsung evakuasi."
"Setuju," kata semua.
DI RESTORAN
Jam enam sore, Sekar dan Arga tiba di restoran. Restoran itu sederhana, dinding kayu, atap genteng, lantai semen. Meja, meja kayu ditata rapi di dalam dan di teras. Hanya sedikit pengunjung, mungkin karena hari masih sore, mungkin karena lokasinya yang agak terpencil.
Di meja pojok, seorang laki-laki dan perempuan setengah baya duduk. Laki-laki itu berpakaian rapi, kemeja batik lengan panjang, celana bahan hitam. Wajahnya tegas, tapi matanya sayu. Perempuan itu memakai kebaya sederhana, rambutnya di sanggul rapi. Matanya merah, seperti baru saja menangis.
Itu ayah dan ibu Sekar.
Sekar berjalan mendekat. Langkahnya pelan, berat, seperti kakinya terbenam di lumpur.
Arga mengikuti di belakang, menjaga jarak.
"Ayah... Ibu..." bisik Sekar.
Ibu Sekar berdiri. Ia memeluk putrinya.
"Nduk... Nduk... maafkan Ibu... maafkan Ibu..."
Ayah Sekar juga berdiri. Ia menunduk, tidak berani menatap mata putrinya.
"Sekar," katanya pelan. "Ayah... Ayah minta maaf. Ayah salah. Ayah gagal melindungimu."
PENGAKUAN AYAH SEKAR
Mereka duduk di meja kayu itu. Suasana hening. Hanya suara angin yang berembus di sela, sela dinding kayu.
Ayah Sekar mulai bicara.
"Sekar, Ayah tahu Ayah tidak pantas disebut ayah. Ayah menjualmu. Ayah menerima uang dari Ferry. Ayah membiarkanmu disiksa. Ayah tidak pernah membelamu."
Sekar diam. Matanya basah.
"Ayah tidak tahu, Nak. Ayah tidak tahu bahwa Ferry sejahat itu. Ayah pikir dia orang baik. Ayah pikir dia bisa memberi kehidupan yang layak untukmu. Ayah pikir uang bisa membeli segalanya, termasuk kebahagiaan."
"Tapi Ayah salah," lanjut ayah Sekar. "Ayah salah besar. Kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang. Kebahagiaan adalah ketika anak Ayah tersenyum. Kebahagiaan adalah ketika anak Ayah tidak takut. Kebahayaan adalah ketika anak Ayah hidup dalam damai."
Ayah Sekar menangis.
Air matanya jatuh ke meja kayu.
"Sekar, Ayah batalkan perjodohan itu. Ayah sudah kirim surat resmi ke keluarga Ferry. Ayah sudah kembalikan semua uang. Ayah sudah siap menerima konsekuensi apa pun."
Ayah Sekar mengeluarkan sebuah amplop coklat dari saku jasnya.
"Ini surat pembatalan perjodohan. Sudah ditandatangani Ayah dan Ibu. Juga sudah dilegalisir notaris."
Sekar menerima amplop itu. Tangannya gemetar. Ia membukanya, membaca surat itu berulang, ulang.
"Terima kasih, Ayah."
"Jangan berterima kasih, Nak. Ayah yang berterima kasih karena kau masih mau datang. Karena kau masih mau memanggil Ayah."
ARGA BERBICARA
Ayah Sekar memandang Arga.
"Kamu Arga?"
"Iya, Pak."
"Kamu yang menyelamatkan anak saya?"
"Saya hanya melakukan yang benar, Pak."
"Kamu tidak takut pada Ferry?"
"Saya takut, Pak. Tapi saya lebih takut kehilangan Sekar."
Ayah Sekar menghela napas.
"Kamu anak desa yang berani. Saya salut."
"Terima kasih, Pak."
"Kamu mencintai Sekar?"
"Saya mencintainya, Pak. Sejak dulu. Sejak di desa. Sejak di Kali Wening. Sejak di pohon randu. Dan saya akan terus mencintainya sampai kapan pun."
Ayah Sekar tersenyum. "Saya restui."
Sekar terkejut. "Ayah?"
"Ayah restui kalian. Ayah tidak punya hak melarang. Ayah sudah cukup gagal sebagai orang tua. Sekarang, Ayah ingin memperbaiki kesalahan. Ayah ingin melihatmu bahagia. Dengan siapa pun. Selama dia baik dan mencintaimu."
Sekar memeluk ayahnya.
Ibu Sekar juga memeluk putrinya.
Mereka menangis bersama.
RESTORAN MENANGIS
Arga hanya bisa diam. Matanya juga basah. Ia teringat pada orang tuanya di desa, pada Sastro yang dipukul preman Ferry, pada Sukmawati yang menangis di dapur karena khawatir.
"Ayah, Ibu," bisiknya dalam hati. "Perjuangan kita hampir selesai. Sekar sudah bebas. Orang tuanya sudah merestui. Kita akan pulang. Kita akan bersama lagi."
Guntur, Laras, Dimas yang mengintai dari luar restoran melihat suasana haru itu. Mereka memutuskan untuk tidak mengganggu.
"Biarkan mereka," bisik Guntur. "Ini momen mereka."
PULANG DENGAN HATI DAMAI
Jam delapan malam, mereka keluar dari restoran.
Ayah dan ibu Sekar naik ke mobil mereka. Sebelum masuk, ayah Sekar menepuk bahu Arga.
"Jaga anak saya, Le. Jangan sampai dia menangis."
"Saya tidak akan membuatnya menangis, Pak. Saya janji."
"Bagus. Kalau kamu sakiti dia, saya cari kamu ke mana pun."
"Siap, Pak."
Ayah Sekar tersenyum. Ia masuk ke mobil. Mobil itu perlahan meninggalkan restoran, meninggalkan Sekar dan Arga di tepi jalan.
"Arga," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa ini mimpi?"
"Bukan. Ini nyata."
"Ayah dan Ibuku merestui kita?"
"Mereka merestui kita."
Sekar memeluk Arga. Erat. Lama.
"Aku bahagia, Arga."
"Aku juga."
KEMBALI KE KOS
Jam sembilan malam, mereka tiba di kos.
Semua sudah berkumpul. Mbok Darmi menyuguhkan nasi tumpeng, kecil, sederhana, tapi penuh makna.
"Selamat, Nduk," kata Mbok Darmi pada Sekar.
"Terima kasih, Mbok."
"Ini awal baru. Mulai sekarang, kalian bebas. Tidak perlu takut. Tidak perlu waspada. Tidak perlu sembunyi."
"Apa benar, Mbok?"
"Benar. Ferry sudah di penjara. Preman sudah ditangkap. Orang tua sudah merestui. Tidak ada lagi yang menghalangi."
Air mata Sekar jatuh lagi. Tapi kali ini bukan air mata sedih, bukan air mata takut. Tapi air mata bahagia.
"TOAST!" teriak Faruq.
"TOAST!"
Mereka minum es teh manis.
Tertawa.
Bercerita.
Bernostalgia tentang masa, masa sulit yang telah mereka lalui bersama.
BAB 40
SATU LANGKAH LAGI
Tiga bulan setelah pertemuan mengharukan di restoran pinggiran kota, setelah ayah Sekar secara resmi membatalkan perjodohan dengan Ferry dan merestui hubungan Sekar dengan Arga, kehidupan di kos, kosan Mbok Darmi berubah drastis. Bukan karena ada yang pergi atau datang. Tapi karena suasana yang tadinya tegang, penuh ancaman, dan diliputi rasa takut, kini berganti menjadi hangat, penuh tawa, dan dipenuhi harapan.
Ferry menjalani hukuman di penjara dengan keamanan maksimal, tidak ada lagi banding, tidak ada lagi suap, tidak ada lagi preman yang berani menyentuhnya karena semua jalurnya sudah diputus. Toni dan anak buahnya juga sudah divonis dengan hukuman yang setimpal. Samsul menjadi saksi kunci dan kini tinggal di rumah aman bersama keluarganya, memulai hidup baru dengan usaha kecil, kecilan.
Dan di kos-kosan kecil di belakang pasar itu, dua pasangan sedang bersiap untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Arga dan Sekar.
Guntur dan Laras.
Dua pasangan yang ditempa oleh badai yang sama. Dua pasangan yang bertahan di tengah ujian yang hampir menghancurkan. Dua pasangan yang kini bersiap untuk mengucapkan janji suci di hadapan Tuhan, keluarga, dan sahabat, sahabat yang setia menemani dalam suka maupun duka.
PAGI DI KOS
Minggu pagi, langit cerah. Matahari bersinar hangat. Burung, burung pipit beterbangan di halaman kos, mencari sisa, sisa nasi yang jatuh dari meja makan.
Arga duduk di beranda, ditemani oleh bantal kecil dari kebaya Sekar, bantal yang sudah usang, sudah pudar warnanya, sudah hampir tidak berbau lagi. Tapi ia tidak mau membuangnya. Bantal itu adalah saksi bisu perjuangannya selama ini.
"Mas Arga, masih pegang bantal itu?" tanya Sekar sambil keluar dari kamar dengan membawa segelas kopi.
"Iya. Ini kenang-kenangan."
"Kenang-kenangan apa? Saya masih hidup. Tidak usah bawa-bawa bantal."
"Buat jaga-jaga kalau kamu marah dan pergi."
"Aku tidak akan pergi."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berdua tersenyum.
Mbok Darmi dari dapur berseru, "Sarapan! Nasi uduk! Jangan nunggu dingin!"
Mereka berjalan ke dapur. Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, dan Ratri sudah duduk di meja kayu panjang.
"Ini pesta terakhir sebelum kalian menikah," kata Faruq. "Nikmati."
"Pesta?" Guntur mengangkat alis. "Ini sarapan biasa."
"Bagi saya, setiap sarapan adalah pesta. Karena saya masih diberi kesempatan hidup."
"Faruq, kamu terlalu filosofis."
"Bukan filosofis. Lapar."
Mereka tertawa.
PERSIAPAN PERNIKAHAN ARGA DAN SEKAR
Setelah sarapan, mereka berdiskusi tentang persiapan pernikahan.
"Tanggalnya sudah ditentukan?" tanya Nisa.
"Bulan depan. Tanggal Enam Juni 2026," jawab Sekar.
"Tempatnya?"
"Di desa. Di Wringinrejo. Di halaman rumah Arga."
"Kenapa tidak di masjid? Atau di gedung?"
"Karena Arga ingin pernikahan sederhana. Seperti orang tuanya dulu."
Arga mengangguk. "Aku ingin semua dimulai dari tempat yang sama. Dari desa. Dari rumah. Dari pohon randu. Dari Kali Wening."
"Rombongan?"
"Dari kos ini. Kita naik bis sewaan. Besok berangkat H, 3."
"Yang diundang siapa saja?"
"Keluarga. Teman-teman. Andaikata mbah Jayarasa masih hidup"
Suasana hening sejenak. Nama Mbah Jayarasa selalu membawa haru.
"Pak Bondan?" tanya Dimas.
"Pak Bondan sudah sembuh. Dia akan datang. Sama istri dan anaknya."
"Seru. Pak Bondan yang galak tapi baik."
"Dia tidak galak. Dia tegas."
"Sama saja."
PERSIAPAN PERNIKAHAN GUNTUR DAN LARAS
Guntur menyela. "Kami juga sudah menentukan tanggal."
"Kapan?" tanya Faruq.
"Sepekan setelah Arga dan Sekar. Di Jogja. Di masjid kampus."
"Kenapa tidak di kampungmu?"
"Kampungku jauh. Laras juga tidak punya kampung. Ibunya sudah meninggal. Jadi kami memutuskan di sini di tempat kami bertemu, di tempat kami jatuh cinta, di tempat kami berjuang bersama."
Laras tersenyum. "Guntur memang romantis kalau sedang tidak sinis."
"Aku tidak sinis. Aku realistis."
"Realistis itu sinis versi orang optimis."
"Itu baru filosofis."
Mereka tertawa lagi.
MAS KAWIN
"Mas kawin Arga?" tanya Nisa.
Arga mengeluarkan sebuah cincin dari saku celananya, cincin perak sederhana, tidak berkilau, tidak bermata berlian. Tapi ada ukiran kecil di bagian dalam.
"Apa itu?" tanya Sekar.
"Cincin. Dari Mbah Jayarasa. Dia titipkan pada ibuku sebelum meninggal."
"Untuk siapa?"
"Untukmu. Dia bilang, ini cincin pernikahannya dulu. Dengan istrinya yang sudah meninggal. Dia ingin aku memberikannya pada perempuan yang aku cintai."
Sekar menerima cincin itu. Matanya basah.
"Mas Arga... ini terlalu berharga..."
"Kamu lebih berharga, Sekar. Cincin ini hanya simbol."
Mereka berpelukan.
"Guntur, mas kawinmu apa?" tanya Dimas.
Guntur mengeluarkan sebuah buku dari tasnya. Buku tebal. Sampul hitam. Judul: "Filsafat Keadilan untuk Laras."
"Aku tulis ini untuk Laras. Selama tiga bulan. Tentang perjuangan kita. Tentang cinta. Tentang keadilan. Tentang harapan."
Laras mengambil buku itu. Ia membuka halaman pertama.
"Untuk Laras, perempuan yang mengajarkanku bahwa cinta tidak butuh alasan, dan keadilan tidak butuh kompromi."
Laras menangis. "Guntur... kamu..."
"Aku tidak bisa memberi cincin mahal. Tapi aku bisa memberi sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang."
"Itu lebih dari cukup."
Mereka juga berpelukan.
Faruq bersiul. "Aduh, jadi pengen nikah."
"Siapa yang mau nikah sama kamu?" ledek Nisa.
"Kamu."
"Gila."
"Memang."
Mereka semua tertawa.
PERJALANAN KE DESA
H, 3 pernikahan Arga dan Sekar, mereka berangkat ke desa Wringinrejo.
Satu bis sewaan. Lima belas orang. Arga, Sekar, Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Mbok Darmi, Samsul dan keluarganya, Pak Bondan bersama istri dan anaknya, serta beberapa teman lain.
Perjalanan dua belas jam terasa seperti setahun karena kebisingan Faruq yang terus bercerita, nyanyian Nisa yang sumbang, dan tawa Dimas di setiap lelucon.
"Faruq, diam!" teriak Guntur.
"Tidak bisa. Saya bahagia."
"Kebahagiaan tidak perlu diumumkan."
"Tidak perlu, tapi boleh."
Guntur menghela napas. Laras tertawa.
TIBA DI DESA
Jam sepuluh malam, bis tiba di desa Wringinrejo.
Desa itu gelap. Sunyi. Hanya lampu, lampu rumah penduduk yang menyala remang, remang.
Sastro dan Sukmawati sudah menunggu di depan rumah.
Arga turun dari bis. Ia berlari ke arah orang tuanya.
"Bu! Yah!"
"Le!" Sukmawati memeluk anaknya. "Kamu kurus."
"Kerja keras, Bu."
"Setelah ini, istirahat. Jangan pikirkan yang lain."
Sastro menepuk pundak Arga. "Kamu hebat, Le. Ayah bangga."
"Ayah, saya minta maaf karena membuat Ayah terluka."
"Luka kecil. Tidak masalah. Yang penting kau selamat. Dan Sekar selamat."
Sekar mendekat. "Pakdhe, Budhe."
Sastro tersenyum. "Kamu cantik, Nduk. Pantas Arga mati-matian cari kamu."
Sekar tersenyum malu.
Mereka masuk ke rumah. Rumah kecil yang sudah disulap menjadi tempat perayaan sederhana. Lampu, lampu minyak dinyalakan. Tikar pandan dihamparkan. Bau dupa dan bunga kenanga memenuhi ruangan.
MALAM SEBELUM PERNIKAHAN
Arga dan Sekar duduk di beranda, di bangku kayu yang sama, di tempat yang sama, di mana dulu mereka sering bercerita tentang masa depan.
"Kita sudah sampai, Sekar," kata Arga.
"Iya. Kita sudah sampai."
"Apa kamu bahagia?"
"Sangat."
"Aku juga."
Mereka berdua terdiam. Memandang langit malam. Bintang, bintang berkerlap, kerlip. Bulan sabit tipis menggantung rendah.
"Arga, ingatkah kau dulu kita sering lihat bintang di sini?"
"Ingat. Waktu kita masih kecil. Waktu kita belum tahu apa, apa tentang cinta."
"Sekarang kita tahu?"
"Sekarang kita tahu. Bahwa cinta tidak selalu indah. Kadang menyakitkan. Kadang mengkhianati. Kadang membuat kita kehilangan. Tapi cinta juga membuat kita kuat. Cinta juga membuat kita bertahan. Cinta juga membuat kita menemukan diri kita sendiri."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Arga, apa cinta kita akan bertahan selamanya?"
"Selamanya, Sekar. Sampai mati. Sampai setelah mati. Sampai kita bertemu lagi di alam yang berbeda."
"Janji?"
"Janji. Di atas bintang timur."
BAB 41
PERNIKAHAN ARGA DAN SEKAR
Hari yang dinanti akhirnya tiba.
Matahari terbit di ufuk timur dengan kemegahan yang jarang terjadi di desa Wringinrejo. Langit biru tanpa awan. Burung, burung kecil terbang rendah di atas hamparan sawah yang mulai menguning. Kabut tipis yang biasanya menggantung di pematang sudah lama menghilang, seolah, olah alam sendiri ikut merayakan kebahagiaan dua insan yang perjuangannya telah menginspirasi banyak orang.
Desa Wringinrejo tidak pernah seramai ini. Puluhan orang datang dari berbagai tempat, dari Jogja, dari Jakarta, dari Surabaya, bahkan dari luar negeri. Kerabat, sahabat, aktivis yang dulu mendukung gerakan #FreeSekar, jurnalis yang meliput perjuangan mereka, polisi yang membantu penyergapan, hingga para tetangga desa yang penasaran ingin melihat pesta pernikahan anak Sastro yang dulu dianggap aneh karena lahir di bawah kilat tanpa suara.
Tapi hari ini, tidak ada yang menganggap Arga aneh.
Hari ini, Arga adalah pahlawan.
Pahlawan bagi Sekar.
Pahlawan bagi keluarganya.
Pahlawan bagi semua yang percaya bahwa cinta sejati tidak akan pernah kalah oleh uang dan kekuasaan.
PAGI DI RUMAH ARGA
Jam enam pagi, rumah kecil Sastro sudah ramai.
Sukmawati sibuk di dapur, memasak nasi tumpeng, ayam ingkung, sayur lodeh, sambal goreng ati, dan berbagai hidangan tradisional lainnya. Aroma rempah memenuhi seluruh ruangan, membuat perut siapa pun yang menciumnya langsung keroncongan.
"Nanti jangan lupa taburi bawang goreng di atas sambal gorengnya!" teriak Sukmawati pada Nisa dan Ratri yang membantu di dapur.
"Siap, Budhe!" jawab Nisa.
Di ruang tengah, Arga duduk di kursi kayu, ditemani Guntur, Faruq, dan Dimas. Ia memakai beskap hitam dengan blangkon dan kain jarik batik, pakaian adat Jawa yang dipinjamkan dari keluarga Pak Lurah. Wajahnya tampan, lebih tampan dari biasanya. Matanya berbinar, senyumnya tidak henti, hentinya.
"Mas Arga, gugup?" tanya Faruq.
"Gugup? Tidak. Saya sudah biasa di depan banyak orang."
"Demo beda dengan pernikahan. Di demo, orang teriak, teriak minta keadilan. Di pernikahan, orang teriak, teriak minta ketupat."
Mereka tertawa.
"Sekar pasti cantik hari ini," kata Dimas.
"Cantik selalu. Tapi hari ini pasti lebih."
"Mas Arga, siapkan diri. Sebentar lagi akad."
DI RUMAH MBOK RARAS
Di rumah tua peninggalan nenek Sekar, yang dulu kosong, sepi, dan hampir dijual, kini ramai. Rumah itu dibersihkan, dicat ulang, dan dihiasi janur dan bunga melati. Di halaman depan, tenda putih dipasang untuk tamu undangan.
Sekar duduk di kamar neneknya, di depan cermin tua yang masih tergantung di dinding. Ia memakai kebaya putih dengan hiasan payet di bagian dada dan lengan. Rambutnya yang panjang disanggul rapi, disisipi tusuk konde berukir bunga melati. Wajahnya dipoles tipis dengan bedak dan lipstik merah muda, cukup untuk membuatnya terlihat segar, tanpa menghilangkan kesederhanaan yang menjadi ciri khasnya.
"Cantik, Mbak," kata Laras yang membantu merias.
"Kamu juga cantik, Lar."
"Aku tidak cantik. Aku biasa."
"Guntur bilang apa?"
"Dia bilang, kecantikan itu subjektif."
"Gombal dia."
"Memang. Tapi aku suka."
Mereka berdua tersenyum.
Dari luar, suara Ibu Sekar terdengar. "Nduk, sudah siap? Sebentar lagi akad."
"Siap, Bu."
Sekar memandang cermin sekali lagi.
Ia berbisik pada bayangannya sendiri.
"Nek, doakan aku. Doakan agar pernikahanku langgeng. Doakan agar aku bahagia. Doakan agar Arga menjadi suami yang baik. Doakan kami."
Ia mencium foto neneknya yang terletak di atas meja rias.
Lalu berdiri.
PEMBERANGKATAN ARGA
Jam sembilan pagi, Arga berangkat dari rumahnya menuju rumah Sekar. Diiringi oleh keluarga, sahabat, dan tetangga desa yang ikut serta dalam pawai pernikahan. Guntur dan Faruq berjalan di samping Arga. Dimas memotret dengan ponselnya. Nisa membawa payung untuk Arga, meskipun matahari tidak terlalu terik.
Sepanjang jalan setapak menuju rumah Sekar, orang, orang bersorak.
"Mas Arga! Mas Arga!"
"Selamat! Selamat!"
Arga tersenyum, melambaikan tangan, kadang berhenti untuk bersalaman dengan anak-anak kecil yang menghadang.
"Guntur, ini seperti mimpi," bisik Arga.
"Bukan mimpi. Ini nyata. Kau pantas mendapatkan ini."
"Aku tidak pantas. Aku hanya anak desa biasa."
"Anak desa biasa yang berani melawan pengusaha kaya. Itu luar biasa."
AKAD NIKAH
Jam sepuluh pagi, Arga tiba di rumah Sekar.
Halaman depan dipenuhi tamu. Kursi, kursi kayu berjajar rapi. Karpet merah dibentang dari pintu masuk hingga pelaminan. Penghulu sudah duduk di kursi kehormatan, siap memimpin jalannya akad nikah.
Arga berjalan masuk. Matanya langsung mencari Sekar.
Sekar duduk di pelaminan, di samping ibu dan ayahnya. Wajahnya tertutup kain kerudung tipis, sesuai tradisi. Tapi matanya, matanya yang sayu itu, terlihat jelas menatap Arga dari balik kerudung.
Arga duduk di kursi yang telah disediakan, di depan penghulu.
"Mas Arga, siap?" tanya penghulu.
"Siap, Pak."
"Sekar binti Marto, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Arga bin Sastro dengan mas kawin cincin perak dan uang tunai sebesar dua juta rupiah dibayar tunai."
Arga mengucapkan ijab kabul dengan suara lantang, tegas, tanpa ragu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Sekar binti Marto dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Ruangan hening.
“ SAH” Jawab kedua saksi
Lalu tepuk tangan bergemuruh.
Faruq bersorak paling keras. "YES! SELAMAT!"
Mbok Darmi menangis di kursi belakang.
Sukmawati memeluk Sastro.
Ibu Sekar menangis di bahu ayah Sekar.
Sekar membuka kerudungnya.
Ia tersenyum.
Arga tersenyum.
Mereka saling menatap.
Setelah sekian lama berpisah, setelah sekian lama berjuang, setelah sekian lama menunggu, akhirnya mereka bersama.
RESEPSI
Jam dua belas siang, acara resepsi dimulai.
Ribuan tamu datang. Bukan hanya dari desa, tapi juga dari kota. Aktivis yang dulu membantu gerakan #FreeSekar ikut hadir. Polisi yang membantu penyergapan Ferry dan preman, preman juga datang. Jurnalis yang meliput perjuangan mereka meminta izin untuk mengambil foto.
Makanan berlimpah. Nasi tumpeng, ayam ingkung, sate kambing, gudeg, sayur lodeh, sambal goreng, kerupuk, dan berbagai jajanan pasar.
"Pak Bondan, makan yang banyak!" kata Arga sambil mengantar piring ke mantan bosnya.
"Kamu jangan sibuk melayani tamu. Ini pestamu."
"Justru karena ini pestaku, aku harus memastikan semua tamu senang."
"Kamu baik, Le. Saya bangga."
"Terima kasih, Pak. Atas segalanya."
Pak Bondan menepuk bahu Arga.
GUNTUR DAN LARAS
Guntur dan Laras duduk di meja pojok, jauh dari keramaian.
"Mereka bahagia," kata Laras.
"Kita juga akan bahagia. Sepekan lagi."
"Aku takut, Guntur."
"Takut apa?"
"Aku takut pernikahan. Takut komitmen. Takut gagal."
Guntur menggenggam tangan Laras.
"Lihat Arga dan Sekar. Mereka sudah melewati yang terberat. Kita juga akan melewatinya."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena kita tidak sendirian."
TARIAN DAN NYANYIAN
Jam dua siang, acara hiburan dimulai.
Faruq naik ke panggung darurat. Ia memegang microphone dan mulai bernyanyi, suaranya sumbang, kata, katanya kacau, tapi semangatnya membara.
"Hari ini bahagia... hari ini meriah... Arga dan Sekar... akhirnya bersama..."
Penonton tertawa. Ada yang ikut bernyanyi, ada yang menutup telinga, ada yang merekam dengan ponsel.
"Nisa, tolong! Faruq merusak pestaku!" teriak Arga setengah bercanda.
"Biarkan, Mas. Nanti dia capek sendiri."
Setelah Faruq turun panggung karena kehabisan napas, giliran Dimas yang naik. Ia tidak bernyanyi. Ia hanya bercerita, tentang pertemuan pertamanya dengan Arga di kos, tentang malam, malam curhat di atap, tentang perjuangan mencari Sekar.
"Dan sekarang, mereka menikah," kata Dimas. "Kita semua bersaksi."
Penonton bertepuk tangan.
MAHAR CINCIN MBAH JAYARASA
Acara serah, serahan mahar.
Arga merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan cincin perak sederhana, cincin peninggalan Mbah Jayarasa yang dulu dipakainya untuk menikahi istrinya.
"Sekar, ini untukmu."
Sekar menerima cincin itu.
"Apa ini?"
"Cincin Mbah Jayarasa. Dia titipkan padaku sebelum meninggal. Katanya, berikan pada perempuan yang ku cintai."
Air mata Sekar jatuh.
"Mas Arga... aku tidak pantas..."
"Kamu pantas. Kamu yang paling pantas."
Arga memakaikan cincin itu di jari manis Sekar.
Tangan mereka bertautan.
Semua orang bertepuk tangan.
Sukmawati menangis di bahu Sastro.
Mbok Darmi mengusap air matanya dengan ujung kebaya.
Pak Bondan tersenyum.
Ibu Sekar memeluk ayah Sekar.
Anak, anak kecil berlarian riang di antara kursi, kursi.
Langit sore berwarna jingga keemasan.
Dan di kejauhan, di atas pohon randu tua, sepasang burung duduk berdampingan, menyaksikan keramaian, sesekali berkicau, seolah ikut mendoakan kebahagiaan dua insan yang baru saja mengucapkan janji suci.
MALAM PERTAMA
Setelah tamu pulang satu per satu, setelah kursi dan meja dirapikan, setelah lampu, lampu minyak mulai redup, Arga dan Sekar duduk di beranda rumah.
Desa sunyi. Hanya suara jangkrik dan suara angin yang berembus di antara daun-daun pisang.
"Arga," panggil Sekar.
"Iya."
"Ini mimpi?"
"Bukan. Ini nyata."
"Aku takut besok bangun, aku sadar bahwa ini hanya mimpi."
"Kamu tidak akan bangun dari mimpi, karena ini bukan mimpi. Ini kehidupan. Kehidupan kita. Mulai sekarang."
"Selamanya?"
"Selamanya."
Mereka berpelukan.
Bintang timur bersinar terang di ufuk timur, seperti jutaan bintang lain yang dulu mereka lihat bersama di tempat yang sama, di waktu yang sama, ketika cinta masih berupa misteri yang belum terpecahkan.
Kini misteri itu telah terjawab.
Cinta adalah perjuangan.
Cinta adalah pengorbanan.
Cinta adalah bertahan ketika semuanya terasa mustahil.
Dan cinta adalah pulang.
Pulang ke tempat di mana semua dimulai.
Pulang ke desa.
Pulang ke rumah.
Pulang ke hati yang sama.
BAB 42
PERNIKAHAN GUNTUR DAN LARAS
Seminggu setelah pernikahan Arga dan Sekar di desa Wringinrejo, suasana di kos, kosan Mbok Darmi berubah lagi. Bukan menjadi sepi, tapi menjadi sibuk dengan persiapan pernikahan kedua. Guntur dan Laras, pasangan yang lebih pendiam, lebih filosofis, lebih misterius, akhirnya akan mengucapkan janji suci di hadapan Tuhan, keluarga, dan sahabat, sahabat yang setia menemani mereka dalam suka maupun duka.
Berbeda dengan pernikahan Arga dan Sekar yang meriah, ramai, dan dihadiri ribuan orang, pernikahan Guntur dan Laras justru sebaliknya. Sederhana. Sepi. Hanya dihadiri oleh orang, orang terdekat. Tidak ada pawai. Tidak ada resepsi besar. Hanya akad nikah di masjid kampus UGM, dilanjutkan dengan syukuran kecil di halaman kos.
"Kami tidak butuh pesta," kata Guntur ketika ditanya alasannya. "Kami hanya butuh restu. Dari Tuhan. Dari keluarga. Dari sahabat."
"Dan dari satu sama lain," tambah Laras.
PERSIAPAN DI KOS
H, 1 pernikahan, kos, kosan Mbok Darmi berubah menjadi pusat persiapan. Nisa dan Ratri sibuk merangkai bunga untuk dekorasi. Faruq dan Dimas sibuk membersihkan halaman dan memasang tenda sederhana. Mbok Darmi sibuk di dapur, memasak untuk acara syukuran.
Arga dan Sekar, yang sudah resmi menjadi suami istri, turut membantu. Arga mengatur kursi, kursi kayu. Sekar membantu Laras merias diri di kamar.
"Laras, cantik banget," kata Sekar sambil menyisir rambut Laras.
"Kamu juga cantik waktu nikah."
"Tapi kamu lebih cantik hari ini."
"Karena aku bahagia."
Mereka berdua tersenyum.
Di ruang tengah, Guntur duduk di kursi kayu, ditemani Arga, Faruq, dan Dimas. Ia memakai kemeja putih lengan panjang dan celana bahan hitam, pakaian sederhana, tapi rapi. Tidak ada beskap, tidak ada blangkon, tidak ada kain jarik batik.
"Guntur, kamu yakin tidak mau pakaian adat?" tanya Faruq.
"Aku yakin. Aku tidak suka ribet."
"Tapi ini pernikahan."
"Ini pernikahanku. Aku yang menentukan."
"Baik. Terserah."
"Aku hanya ingin Laras bahagia. Itu yang penting."
MALAM SEBELUM PERNIKAHAN
Jam sembilan malam, semua orang sudah lelah. Tenda sudah berdiri. Kursi, kursi sudah tertata rapi. Dekorasi bunga sudah terpasang di pintu masuk. Lampu, lampu kecil bergantungan di dinding dan pagar.
Guntur dan Laras duduk di beranda, berdua saja. Yang lain sengaja memberi mereka waktu untuk berbincang berdua.
"Guntur," panggil Laras.
"Iya."
"Kita benar, benar akan menikah besok?"
"Iya. Besok. Setelah sekian lama."
"Apa kamu tidak takut?"
"Takut apa?"
"Aku. Masa laluku. Pengkhianatanku. Luka-lukaku."
Guntur menggenggam tangan Laras.
"Laras, aku sudah tahu semua itu sebelum aku memutuskan untuk mencintaimu. Dan aku tetap memilihmu."
"Kenapa?"
"Karena kamu kuat. Kamu berani. Kamu tidak sempurna, tapi kamu nyata. Aku tidak butuh perempuan sempurna. Aku butuh perempuan yang bisa menemani aku dalam suka dan duka. Dan kamu adalah itu."
Laras menangis.
"Jangan nangis. Besok kamu harus cantik."
"Aku sudah cantik."
"Iya. Kamu cantik. Sekarang tidur. Besok pagi kita akad."
PAGI PERNIKAHAN
Jam enam pagi, Masjid Kampus UGM mulai dipenuhi oleh keluarga dan sahabat. Guntur sudah berdiri di depan penghulu, menunggu Laras datang. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang akan menikah.
"Guntur, kamu kenapa tidak gugup?" bisik Faruq dari barisan belakang.
"Aku sudah melewati yang lebih berat dari pernikahan."
"Apa?"
"Menyelamatkan Sekar dari Ferry."
"Itu benar."
Laras datang bersama Arga dan Sekar. Ia memakai kebaya putih sederhana—bukan kebaya dengan payet atau bordir, hanya kebaya polos dengan renda tipis di ujung lengan. Rambutnya tidak disanggul, hanya diikat kuda poni. Wajahnya tidak dipoles tebal, hanya bedak tipis dan lipstik merah muda.
"Sederhana, tapi elegan," bisik Nisa pada Ratri.
"Sesuai dengan karakter mereka."
Laras duduk di kursi yang telah disediakan, di samping ayahnya, ayah Laras yang dulu dipecat Ferry, yang kakinya patah, yang tidak bisa bekerja.
"Nduk," bisik ayah Laras.
"Iya, Yah."
"Ayah minta maaf. Karena tidak bisa berdiri di sampingmu saat akad."
"Tidak apa, Yah. Yang penting Ayah ada di sini."
AKAD NIKAH
Penghulu membacakan doa.
Guntur mengucapkan ijab kabul.
"Saya terima nikah dan kawinnya Laras binti Saman dengan maskawin satu set peralatan salat dan lima ratus ribu rupiah dibayar tunai."
Ruangan hening.
“SAH”, jawab kedua saksi
Tepuk tangan menggema.
Faruq bersorak, tidak terlalu keras, karena di masjid.
"Selamat, Guntur! Selamat, Laras!"
Laras menangis.
Guntur tersenyum.
Mereka berdua saling menatap.
SYUKURAN DI KOS
Jam dua belas siang, acara syukuran dimulai di halaman kos. Tenda sederhana, kursi, kursi kayu, makanan sederhana, nasi kuning, ayam goreng, sayur lodeh, sambal goreng kentang, dan kerupuk.
Tidak ada hiburan. Tidak ada musik. Hanya obrolan hangat, tawa lepas, dan doa, doa yang dipanjatkan bersama.
"Guntur," panggil Arga.
"Iya."
"Aku bangga sama kamu."
"Kenapa?"
"Karena kamu tidak berubah. Setelah sekian lama, setelah sekian banyak ujian, setelah sekian banyak tekanan, kamu tetap menjadi dirimu sendiri."
"Aku tidak pantas dibanggakan."
"Kamu pantas. Lebih pantas dari aku."
Mereka berpelukan.
"Laras," panggil Sekar.
"Iya."
"Aku juga bangga sama kamu."
"Kenapa?"
"Karena kamu berani mengakui kesalahan. Karena kamu berani memulai hidup baru. Karena kamu berani menerima cinta."
"Terima kasih, Sekar."
"Kita saudara sekarang. Ipar."
"Ipar?"
"Iya. Suamiku dan suamimu sahabat. Artinya kita ipar."
Mereka tertawa.
DOA DARI MBAH JAYARASA (ARWAH)
Saat acara syukuran hampir selesai, Arga berdiri. Ia memegang peta usang pemberian Mbah Jayarasa.
"Teman, teman, aku mau membacakan sesuatu. Ini pesan terakhir Mbah Jayarasa untuk Guntur dan Laras."
Semua terdiam.
Arga membuka peta itu, peta yang dulu kosong, kini penuh garis. Garis yang menceritakan perjalanan mereka. Garis yang menceritakan perjuangan mereka. Garis yang menceritakan cinta mereka.
"Guntur, Laras," baca Arga. "Kalian tidak perlu pesta mewah. Kalian tidak perlu undangan berlapis emas. Kalian tidak perlu gaun pengantin dari Paris. Cinta tidak butuh semua itu."
"Cinta butuh keberanian. Keberanian untuk jujur. Keberanian untuk setia. Keberanian untuk bertahan."
"Kalian sudah membuktikan semua itu. Dalam perjuangan melawan Ferry. Dalam pengkhianatan dan pengampunan. Dalam luka dan penyembuhan."
"Sekarang, nikmati kebahagiaan. Nikmati kedamaian. Nikmati cinta yang telah kalian rebut dari tangan takdir."
"Salam untuk Arga, Sekar, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Mbok Darmi, Pak Bondan, Samsul, dan semua yang membantu."
"Aku akan selalu mengawasi dari alam sana."
"—Jayarasa"
Ruangan hening.
Ada yang menangis. Ada yang tersenyum. Ada yang memandang langit, langit, seolah, olah Mbah Jayarasa sedang tersenyum dari atas sana.
"Terima kasih, Mbah," bisik Guntur.
"Terima kasih, Mbah," bisik Laras.
MALAM PERTAMA GUNTUR DAN LARAS
Jam sembilan malam, semua tamu pulang. Guntur dan Laras masuk ke kamar kos Laras, kamar yang sudah disulap menjadi kamar pengantin sederhana. Dindingnya dihias bunga kertas, lampu tidur menyala temaram, seprai baru berwarna krem.
Mereka duduk di dipan.
"Laras," panggil Guntur.
"Iya."
"Aku tidak bisa memberi kamu istana."
"Aku tidak butuh istana."
"Aku tidak bisa memberi kamu mobil mewah."
"Aku tidak butuh mobil mewah."
"Aku tidak bisa memberi kamu perhiasan mahal."
"Aku tidak butuh perhiasan mahal."
"Aku hanya bisa memberi kamu diriku. Apa adanya. Dengan segala kekurangan."
Laras memeluk Guntur.
"Itu sudah lebih dari cukup."
Mereka berpelukan lama.
PAGI YANG CERAH
Keesokan paginya, Guntur dan Laras keluar kamar lebih lambat dari biasanya. Wajah mereka segar, seperti orang yang baru saja tidur nyenyak setelah sekian lama tidak bisa tidur.
"Selamat pagi, pengantin baru!" sapa Faruq yang sudah duduk di halaman.
"Pagi," jawab Guntur singkat.
"Kok kelihatan damai?"
"Karena kami tidak begadang."
"Ah, masa?"
"Faruq, jangan usil," kata Nisa.
"Aku hanya bertanya."
"Pertanyaanmu menggoda."
"Tidak. Aku serius."
Mbok Darmi keluar dari dapur dengan nampan berisi nasi uduk dan teh jahe.
"Makan dulu, Nduk. Jangan nunggu pada lapar."
"Terima kasih, Mbok."
Mereka makan bersama. Tanpa beban. Tanpa ancaman. Tanpa rasa takut.
Kos, kosan yang dulu menjadi markas perjuangan, kini menjadi rumah.
Rumah bagi mereka yang percaya pada cinta.
Rumah bagi mereka yang percaya pada persahabatan.
Rumah bagi mereka yang percaya pada kebenaran.
BAB 43
KEMBALI KE DESA , MENATA HIDUP BARU
Tiga bulan setelah pernikahan Arga dan Sekar, kehidupan di kos-kosan Mbok Darmi mulai sepi. Bukan karena ada yang meninggal atau pergi untuk selamanya. Tapi karena sebagian besar penghuni kos mulai menata hidup baru masing, masing. Faruq dan Nisa sibuk dengan skripsi dan penelitian. Dimas memutuskan untuk pindah ke kota lain untuk bekerja sebagai teknisi jaringan. Guntur dan Laras tinggal di kos sambil mempersiapkan diri untuk berangkat ke Belanda, beasiswa S3 Guntur akhirnya cair, dan Laras mendapat beasiswa pendamping dari lembaga yang sama.
Tapi ada satu pasangan yang memilih jalan yang berbeda.
Arga dan Sekar.
Mereka memutuskan untuk tidak kembali ke Jogja. Tidak melanjutkan hidup di kos. Tidak mengejar karir di kota. Mereka memilih pulang. Pulang ke desa. Pulang ke Wringinrejo. Pulang ke tempat di mana semuanya dimulai, di Kali Wening, di pohon randu, di rumah sederhana peninggalan orang tua.
"Aku tidak butuh gedung, gedung tinggi," kata Arga pada Guntur malam sebelum keberangkatannya. "Aku tidak butuh lampu, lampu neon yang menyala sepanjang malam. Aku tidak butuh hiruk, pikuk kota yang tidak pernah tidur. Aku butuh ketenangan. Aku butuh sawah. Aku butuh sungai. Aku butuh desa."
"Dan Sekar?" tanya Guntur.
"Dia setuju. Dia bilang, 'di mana kau di situ aku.'"
"Kalian beruntung."
"Bukan keberuntungan. Pilihan."
Mereka bersalaman, salaman terakhir sebagai teman seperjuangan, sebelum masing, masing menjalani kehidupan yang berbeda.
PERJALANAN TERAKHIR
Mobil sewaan yang sama yang dulu membawa mereka ke vila Merapi, ke hutan jati, ke berbagai medan perang, kini membawa mereka pulang untuk terakhir kalinya. Arga di kursi depan, Sekar di sampingnya. Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, dan Mbok Darmi ikut mengantar, hanya sampai terminal, karena mereka harus kembali ke rutinitas masing, masing.
"Mas Arga, jangan lupa kabari," kata Dimas sambil memeluk Arga.
"Iya. Kamu juga."
"Kalau ada apa, apa, telepon. Saya siap bantu."
"Terima kasih, Dimas. Jasa, jasamu tidak akan saya lupakan."
"Sama, sama, Mas."
Faruq memeluk Arga. "Mas Arga, saya titip Sekar. Jaga dia baik, baik."
"Saya akan jaga, Faruq. Saya janji."
"Kalau kamu sakiti dia, saya akan cari kamu ke desa."
"Siap."
Mereka semua tertawa.
Nisa memeluk Sekar. "Mbak Sekar, bahagia selalu."
"Kamu juga, Nisa. Semoga cepat menyusul."
"Aamiin."
Guntur memeluk Arga. "Kita sudah melalui banyak hal bersama. Kita sudah seperti saudara."
"Kita memang saudara, Guntur. Bukan karena darah. Tapi karena perjuangan."
"Jaga diri."
"Kamu juga. Di Belanda, jangan cari masalah."
"Aku tidak pernah mencari masalah. Masalah yang mencari aku."
Mereka tertawa lagi.
Laras memeluk Sekar. "Terima kasih untuk semuanya."
"Terima kasih kembali, Laras. Kamu telah berubah."
"Karena kalian."
"Karena kita."
Mbok Darmi memeluk Arga dan Sekar bergantian. "Nduk, Le, jangan lupa pulang ke Jogja. Sesekali. Untuk main. Untuk bernostalgia."
"Kami tidak akan lupa, Mbok."
Mbok Darmi menangis.
TIBA DI DESA
Jam delapan malam, bis tiba di terminal desa Wringinrejo. Hanya Arga dan Sekar yang turun. Yang lain sudah turun di perjalanan di kota, di kabupaten, di kecamatan.
Desa gelap. Sunyi. Hanya lampu, lampu rumah penduduk yang menyala remang, remang. Suara jangkrik mengisi malam. Suara kodok dari sawah. Suara angin dari bukit.
Arga menggandeng tangan Sekar. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang berlumpur. Membawa dua koper kecil, berisi pakaian, surat, surat, bantal kebaya, peta usang, dan kenangan, kenangan lain yang tidak bisa ditinggalkan.
"Arga, gelap," bisik Sekar.
"Pegang tanganku erat, erat."
"Aku takut jatuh."
"Aku akan menangkapmu."
Mereka berjalan perlahan. Setiap langkah mengingatkan mereka pada masa lalu. Pada saat mereka masih kecil, bermain di pematang sawah. Pada saat remaja, jatuh cinta di tepi Kali Wening. Pada saat berpisah karena perjodohan. Pada saat berjuang untuk bersatu kembali.
Dan kini, mereka kembali.
Bukan sebagai anak-anak desa yang lugu.
Bukan sebagai remaja yang sedang jatuh cinta.
Tapi sebagai suami istri yang siap menjalani hidup bersama.
RUMAH KECIL DI PINGGIR SAWAH
Rumah itu masih sama. Dinding papan kayu tua yang mulai melengkung. Atap genteng yang ditumbuhi lumut. Halaman depan dengan pohon mangga yang akarnya menjulur ke tanah. Tapi ada yang berbeda. Rumah itu sudah dicat ulang oleh Sukmawati dan Sastro. Halaman depan dibersihkan dari rumput liar. Pagar bambu diperbaiki. Lampu, lampu minyak dinyalakan di beranda.
"Bu! Yah! Kami pulang!" teriak Arga.
Sukmawati keluar dari rumah. Wajahnya berbinar.
"Le! Nduk! Masuk! Masuk!"
Sastro juga keluar. Ia tersenyum, senyum yang jarang muncul. "Kalian sudah sampai. Masuk. Istirahat. Besok kita bersih, bersih."
Mereka masuk ke rumah.
Rumah itu terasa hangat. Bukan karena lampu minyak. Tapi karena hati yang saling menerima.
MALAM PERTAMA DI DESA
Arga dan Sekar tidur di kamar yang dulu ditempati Arga. Dipan bambu yang sama. Dinding yang sama. Jendela yang sama.
"Arga," panggil Sekar dalam gelap.
"Iya."
"Apa kita akan bahagia di sini?"
"Kita akan bahagia. Di mana pun. Selama kita bersama."
"Tapi, "
"Tidak ada tapi. Kita sudah melewati yang terberat. Sisanya, kita nikmati."
Sekar memeluk Arga.
"Arga, aku sayang kamu."
"Aku juga sayang kamu, Sekar. Sampai mati. Sampai setelah mati."
PAGI DI DESA
Keesokan paginya, Arga terbangun lebih awal dari biasanya. Matahari baru saja terbit. Cahaya keemasan masuk melalui jendela, jatuh di wajah Sekar yang masih tertidur. Ia tersenyum.
Ia keluar rumah. Di halaman, Sukmawati sudah menyapu. Sastro sudah duduk di kursi bambu, minum kopi hitam.
"Bu, aku mau ke Kali Wening."
"Sendirian?"
"Ajak Sekar. Nanti kalau dia bangun."
"Jaga-jaga. Jangan lama. Nanti sarapan."
"Siap, Bu."
KALI WENING
Arga berjalan menyusuri pematang sawah menuju Kali Wening. Setiap langkah membawa kenangan. Di sinilah ia pertama kali melihat Sekar duduk di batu besar, di bawah pohon waru, dengan gaun biru muda dan rambut panjang tergerai.
Di sinilah mereka pertama kali berbicara.
Di sinilah mereka pertama kali tertawa.
Di sinilah mereka pertama kali berbagi rahasia.
Di sinilah mereka pertama kali jatuh cinta.
Arga duduk di batu besar itu. Ia memandang air sungai yang jernih. Ikan, ikan kecil berenang di sela, sela batu. Burung, burung beterbangan rendah.
"Sekar," bisiknya. "Kita sudah kembali."
Ia mengeluarkan peta usang dari saku celananya. Peta itu kini tidak berguna lagi. Garis, garisnya sudah hampir tidak terlihat. Tapi Arga tidak bisa membuangnya.
Peta itu adalah saksi bisu perjalanannya.
Peta itu adalah simbol harapan.
Peta itu adalah kenangan tentang Mbah Jayarasa.
Ia melipat peta itu. Memasukkannya ke saku.
Lalu tersenyum.
BAB 44
PETA YANG TERISI
Satu tahun telah berlalu sejak Arga dan Sekar memutuskan untuk kembali ke desa Wringinrejo. Waktu berlalu begitu cepat, seperti air Kali Wening yang terus mengalir tanpa pernah berhenti. Musim hujan berganti kemarau, kemarau berganti hujan, dan sawah, sawah di belakang rumah mereka telah dua kali dipanen.
Kehidupan di desa berjalan lambat, tenang, tanpa tekanan. Arga membantu ayahnya di sawah setiap pagi, mengajar anak, anak desa mengaji setiap sore, dan tidur nyenyak setiap malam tanpa mimpi buruk tentang Ferry atau preman atau penculikan. Sekar membantu ibunya memasak dan berjualan pecel di pasar desa setiap Kamis pagi. Ia juga membuka kursus membaca dan menulis untuk anak, anak yang putus sekolah.
Mereka tidak kaya. Tapi mereka bahagia.
Dan bagi mereka, itu sudah cukup.
PAGI DI BAWAH POHON RANDU
Hari Minggu pagi, langit cerah. Matahari belum terlalu tinggi. Kabut tipis masih menggantung di atas sawah. Arga dan Sekar berjalan berdua menuju Bukit Watu Senja, tempat di mana pohon randu tua berdiri kokoh sejak puluhan tahun lalu, menyaksikan lahirnya kisah cinta mereka.
"Arga, ingatkah kau dulu kita sering ke sini?" tanya Sekar sambil menggenggam erat tangan suaminya.
"Ingat. Waktu kita masih kecil. Waktu kita masih polos. Waktu kita belum tahu apa, apa tentang cinta."
"Sekarang kita tahu?"
Arga tersenyum. "Sekarang kita tahu. Bahwa cinta tidak semudah yang kita bayangkan. Cinta butuh perjuangan. Cinta butuh pengorbanan. Cinta butuh air mata. Tapi di akhir semua itu, cinta juga memberikan kebahagiaan. Kebahagiaan yang tidak bisa digantikan oleh apa pun."
Mereka sampai di bawah pohon randu.
Pohon itu masih sama seperti dulu. Batangnya besar, akarnya menjalar ke tanah, cabangnya melebar seperti tangan raksasa yang melindungi siapa pun yang berteduh di bawahnya. Daun, daunnya rimbun, menghalangi sinar matahari yang mulai meninggi.
Arga duduk di akar pohon yang besar. Sekar duduk di sampingnya, bersandar di bahu suaminya.
"Arga," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan selamanya di sini?"
"Di mana?"
"Di desa ini. Di rumah ini. Di bawah pohon ini."
Arga terdiam sejenak. Ia memandang hamparan sawah di bawah bukit, ke arah rumah, rumah desa yang tampak kecil dari kejauhan, ke arah Kali Wening yang berkelok, kelok seperti ular perak, ke arah langit biru tanpa awan.
"Aku tidak tahu, Sekar. Tidak ada yang tahu masa depan. Tapi yang aku tahu, selama kita bersama, di mana pun kita, itu sudah cukup."
Sekar memejamkan mata. "Aku ingin kita di sini. Selamanya."
"Selamanya, Sekar. Janji."
PESAN TERAKHIR DARI MBAH JAYARASA
Saat mereka sedang duduk, seorang anak kecil laki, laki mendekat. Wajahnya familiar, mirip dengan anak yang dulu biasa mengantarkan surat, surat misterius dari Sekar ketika Arga masih bekerja di toko bangunan.
"Mas Arga," panggil anak itu.
"Iya, Le."
"Ini titipan. Dari Mbah Jayarasa."
Arga terkesiap. "Mbah Jayarasa? Dia sudah meninggal setahun yang lalu."
"Titipan ini ditinggalkan sebelum beliau meninggal. Beliau bilang, berikan pada Mas Arga ketika Mas sudah tenang. Ketika Mas sudah tidak sibuk berperang. Ketika Mas sudah bahagia."
Anak itu menyerahkan sebuah amplop coklat tua, yang sudah menguning karena usia. Arga menerimanya dengan tangan gemetar.
Anak itu pergi.
Arga membuka amplop itu perlahan, takut merusak isinya, kertas yang sudah rapuh, tulisan yang sudah mulai pudar.
"Le, jika kau membaca surat ini, berarti kau sudah menemukan kebahagiaan. Kau sudah menyelesaikan perjuangan. Kau sudah pulang."
"Aku tidak ingin mengganggu kebahagiaanmu dengan nasihat, nasihat panjang. Aku hanya ingin mengatakan satu hal."
"Jagalah Kali Wening. Jagalah pohon randu. Jagalah desa ini. Karena suatu hari nanti, anak cucumu akan bertanya tentang masa lalu. Tentang perjuangan. Tentang cinta. Tentang arti pulang."
"Jangan biarkan mereka lupa."
"Salam untuk Sekar. Untuk teman-temanmu. Untuk semua yang membantu."
"Aku akan selalu mengawasi dari alam sana."
"—Mbah Jayarasa"
Air mata Arga jatuh.
Ia tidak bisa menahan tangisnya.
Sekar memeluknya. "Arga, jangan nangis. Mbah Jayarasa tidak suka lihat kamu nangis."
"Aku nangis karena bahagia, Sekar. Karena kita sudah sampai. Karena perjuangan kita sudah selesai. Karena Mbah Jayarasa masih mengawasi kita."
Mereka berpelukan di bawah pohon randu.
Angin sore berembus.
Daun, daun bergemerisik.
Dan dari kejauhan, seolah ada suara tertawa—tawa tua yang khas, tawa Mbah Jayarasa yang dulu sering menghiasi malam, malam di desa ini.
Sore menjelang, Arga dan Sekar berjalan pulang ke rumah. Di halaman depan, Sukmawati sedang menyapu. Sastro sedang memperbaiki pagar bambu.
"Bu, Yah, kami pulang," kata Arga.
"Makan dulu. Ibu masak sayur asem."
"Siap, Bu."
Mereka makan bersama di ruang tengah. Lampu minyak menyala redup. Tawa dan canda menghiasi ruangan.
"Le," panggil Sastro.
"Iya, Yah."
"Ayah bangga sama kamu."
"Terima kasih, Yah."
"Kamu sudah menjadi laki, laki sejati. Laki, laki yang berani berjuang. Laki, laki yang berani bertanggung jawab. Laki, laki yang tidak pernah menyerah."
"Semua karena didikan Ayah dan Ibu."
"Bukan. Karena kamu memilih menjadi baik."
Mereka semua tersenyum.
TIDUR LELAP
Malam itu, Arga dan Sekar berbaring di dipan bambu. Jendela kamar terbuka, membiarkan angin malam masuk. Suara jangkrik dan suara kodok dari sawah mengisi keheningan.
"Sekar," panggil Arga.
"Iya."
"Kita sudah berhasil."
"Iya. Kita sudah berhasil."
"Apa yang akan kita lakukan besok?"
Sekar tersenyum. "Besok? Kita bangun pagi. Makan bubur buatan Ibu. Bantu ayah di sawah. Jualan pecel di pasar. Tidur lagi. Lusa? Sama. Minggu depan? Sama. Bulan depan? Sama. Tahun depan? Mungkin berbeda. Tapi yang penting, kita bersama."
"Iya. Yang penting kita bersama."
Mereka berdua memejamkan mata.
Tidur lelap.
Tanpa mimpi buruk.
Tanpa beban.
Tanpa rasa takut.
BAGIAN III: PULANG DI BAWAH MENTARI
Kidung Pulang
Wis suwe nglambrang, wis suwe nggoleki,
Saiki bali menyang panggonan sepi,
Nanging ati isih kepingin weruh,
Pulang iku pancen tekan, utawa mung nglampahi?
Mentari sumunar ing nduwur bukit,
Angin nggowo pitakon sing ora jawab,
Jatmika isih nyisakke wewadi,
Sing mung kawentar nalika ati wis lega.
Ora kabeh wong sing mulih ngrasa tenang,
Ora kabeh wong sing teko ngrasa bahagia,
Amarga omah iku ati, dudu papan,
Lan ati iku isih kudu digoleki.
Malam pertama setelah pernikahan, Arga tidak bisa tidur.
Bukan karena dipan bambu yang keras. Bukan karena suara jangkrik yang terlalu nyaring di luar rumah. Bukan karena angin malam yang berembus dingin menembus celah-celah dinding kayu yang sudah mulai lapuk.
Arga tidak bisa tidur karena ia masih tidak percaya bahwa semua ini nyata.
Ia berbaring di dipan bambu, memandang langit-langit rumah yang gelap. Di samping kirinya, Sekar terbaring dengan mata terpejam, dadanya naik turun pelan, rambut panjangnya terurai di atas bantal kain yang sudah tipis. Di samping kanannya, peta usang pemberian Mbah Jayarasa masih tergulung rapi di dalam kotak kayu, sengaja ia letakkan di dekat bantal, sebagai pengingat bahwa perjalanan panjang yang telah ia tempuh bukanlah mimpi.
"Akhirnya," bisik Arga pada dirinya sendiri. "Akhirnya kita sampai."
Tapi mengapa dadanya masih terasa sesak?
Mengapa pikirannya masih melayang ke sana kemari seperti burung yang kehilangan arah?
Mengapa ia merasa seperti ada sesuatu yang tertinggal di jalan, sesuatu yang tidak ia bawa pulang?
Ia memejamkan mata.
Bayangan Mbah Jayarasa muncul.
Kakek tua itu duduk di kursi bambu, tersenyum dengan mata keriputnya, memegang secangkir teh jahe yang masih mengepul. Rambutnya putih semua, jenggotnya panjang dan lebat, kulitnya mengkerut seperti kertas tua yang disimpan terlalu lama.
"Le," bisik bayangan itu. "Kowe wis mulih. Tapi iki durung rampung."
"Kamu sudah pulang. Tapi ini belum selesai."
Arga membuka mata dengan cepat.
Kamar gelap. Sunyi. Tidak ada bayangan. Hanya suara jangkrik dan suara napas Sekar yang teratur.
Mungkin aku terlalu lelah, pikir Arga. Mungkin ini hanya mimpi.
Ia memejamkan mata lagi.
Tapi firasat itu tidak hilang.
Firasat bahwa perjalanannya belum benar-benar usai. Firasat bahwa ada satu misteri lagi yang harus ia pecahkan sebelum ia benar-benar bisa bernapas lega. Firasat yang datang dari arah yang tidak ia duga—dari dalam dirinya sendiri.
Matahari baru saja terbit ketika Arga terbangun oleh suara ayam jantan berkokok di kejauhan.
Cahaya keemasan masuk melalui jendela kecil di belakang rumah. Debu-debu beterbangan di udara, tampak seperti bintang-bintang mini yang menari di pagi hari.
Arga duduk di dipan.
Lengannya terasa pegal karena semalaman tidur dalam posisi yang sama. Punggungnya terasa kaku. Lehernya terasa seperti habis dipukul kayu.
Tapi ia tersenyum.
Ia menoleh ke samping.
Sekar masih tertidur. Wajahnya tenang, tenang seperti orang yang sudah lama tidak merasakan ketenangan. Bibirnya sedikit terbuka. Rambutnya kusut. Bantalnya hampir jatuh dari dipan karena ia bergerak terlalu banyak dalam tidurnya.
Arga tidak tega membangunkannya.
Ia turun dari dipan dengan hati-hati, berusaha tidak menimbulkan suara. Kaki telanjangnya menyentuh lantai tanah yang dingin. Ia merinding. Tapi ia tidak mengeluh.
Ia keluar kamar.
Di dapur, Sukmawati Ibunya sudah bangun sejak subuh. Ia sedang merebus air di tungku tanah liat. Aroma kopi hitam mulai menyebar ke seluruh ruangan.
"Le, kok sudah bangun? Baru jam setengah enam," sapa Sukmawati sambil membalik dadar di wajan.
"Tidak bisa tidur, Bu."
"Karena apa? Masih merinding? Atau masih tidak percaya sudah sah?"
Arga tersenyum tipis. "Sedikit, Bu."
Sukmawati berjalan mendekat. Ia mengusap rambut Arga yang acak-acakan. Matanya yang keruh karena usia tiba-tiba berbinar.
"Le, Ibu mau bilang sesuatu."
"Apa, Bu?"
"Ibu bangga sama kamu." Suara Sukmawati bergetar. "Ibu bangga karena kamu tidak menyerah. Ibu bangga karena kamu berani berjuang. Ibu bangga karena kamu berhasil membawa Sekar pulang."
Arga menunduk. Matanya basah.
"Tapi, Le," Sukmawati melanjutkan, "Ibu juga ingin kamu tahu bahwa hidup setelah pernikahan tidak selalu indah. Ada badai lain yang mungkin lebih berat dari yang sudah kamu lewati."
"Badai apa, Bu?"
Sukmawati menghela napas. "Badai rumah tangga. Badai ekonomi. Badai tekanan sosial. Badai yang tidak bisa kamu lawan dengan parang atau preman. Badai yang harus kamu hadapi dengan kesabaran, komunikasi, dan cinta."
Arga mengangguk.
"Aku siap, Bu."
"Kamu bilang siap. Tapi pernikahan itu perjalanan yang tidak pernah selesai. Setiap hari kamu harus siap lagi. Setiap pagi kamu harus memilih untuk bertahan."
Arga tidak menjawab. Ia hanya memeluk ibunya.
SEKAR MULAI BERADAPTASI
Jam tujuh pagi, Sekar bangun.
Ia keluar kamar dengan mata masih setengah merem, rambut kusut terurai, dan baju tidur yang sedikit basah di bagian kerah, mungkin karena mimpi, mungkin karena keringat.
"Selamat pagi, Bu," sapanya pada Sukmawati.
"Selamat pagi, Nduk. Kamu tidur nyenyak?"
"Iya, Bu. Baru pertama kali tidur seenak ini setelah hampir dua tahun."
"Bagus. Pokoknya di sini kamu bebas. Tidak perlu takut. Tidak perlu waspada. Tidak perlu sembunyi."
Sekar tersenyum. "Terima kasih, Bu."
Ia duduk di kursi kayu di ruang tengah. Di depannya, Sukmawati menaruh semangkuk bubur dan segelas teh jahe.
"Makan dulu. Nanti perutmu keroncongan."
"Terima kasih, Bu."
Sekar makan perlahan. Buburnya hangat. Jahenya menghangatkan tenggorokan.
Arga masuk dari halaman, membawa dua batang tebu yang baru dipotong dari kebun belakang. Keringat membasahi keningnya. Bajunya basah.
"Sekar, lihat ini," katanya sambil mengangkat tebu.
"Untuk apa?"
"Untuk kamu. Katanya, tebu bisa memperlancar ASI nanti kalau punya anak."
Sekar tersenyum malu. "Mas, kami baru semalam menikah. Jangan bicara soal anak dulu."
“ Oo…, Iya, Kita baru nikah kemaren”. Kata Arga menja
“ Mas Arga pengen cepat punya anak”, Tanya Sekar meledek Arga
“ Munkin “, Jawab Arga singkat sambil senyum , pipi Sekar merona merah di buatnya
“ Jangan terburu-buru, mas, masih pengantin baru”, balas menggoda Arga
"Boleh. Nanti."
Mereka berdua tersenyum.
Sukmawati yang melihat dari dapur ikut tersenyum.
PAGI YANG HANGAT
Pukul delapan pagi, Sastro pulang dari sawah.
Ia berjalan ke sumur belakang, menimba air, membasuh kaki dan tangannya yang berlumpur. Wajahnya lelah, tapi matanya, matanya bersinar.
" Arga," panggil Sastro.
"Iya, Yah."
"Besok kamu ikut ke sawah. Ajarin Sekar masak buat bekal."
"Bekal apa, Yah?"
"Nasi. Lauk. Sayur. Apa saja. Yang penting perut tidak keroncongan di tengah sawah."
Sekar yang mendengar dari ruang tengah langsung berdiri. "Saya bisa masak, Pak."
"Kamu bisa masak?"
"Bisa. Dulu waktu di desa, nenek saya yang ajari."
"Bagus. Besok kamu yang masak bekal untuk Arga." Jawab Pak Sastro
"Siap, Pak."
Pak Sastro tersenyum. Senyum yang jarang muncul. Senyum yang membuat kerutan di wajahnya terlihat seperti peta tua yang penuh cerita.
WARUNG PECEL MBOK SEKAR
Sepekan setelah pernikahan, Sekar memutuskan untuk membuka warung pecel kecil di depan rumah.
Ide itu muncul setelah melihat banyak warga desa yang setiap pagi berjalan kaki ke pasar kecamatan yang jaraknya lumayan jauh. Jika ada warung di desa, mereka bisa membeli lauk tanpa harus ke pasar.
"Mas, aku mau buka warung," kata Sekar suatu malam.
Arga mengerutkan kening. "Kamu yakin? Modal kita tidak banyak."
"Modal tidak perlu besar. Cukup beli sayur, bumbu, dan nasi. Aku sudah bisa masak pecel. Dulu nenekku ajari."
"Tapi, " Arga masih merasa ragu
"Mas, aku tidak bisa diam di rumah terus. Aku butuh kegiatan. Aku butuh sesuatu yang membuatku merasa berguna." Sekar menyakinkan Arga
Arga memandang Sekar.
Perempuan di depannya bukan lagi gadis desa yang lugu dan ketakutan. Ia sudah dewasa. Ia sudah mandiri. Ia sudah jatuh bangun dalam perjuangan.
"Baik," kata Arga akhirnya. "Aku dukung." Jawab Arga bersemangat
"Benarkah?"
"Benar. Tapi jangan terlalu memaksakan diri. Kalau capek, istirahat."
"Iya, Mas."
PERSIAPAN WARUNG
Mereka memulai persiapan warung keesokan harinya.
Arga membuat meja dan kursi sederhana dari kayu bekas yang ia kumpulkan dari tetangga. Sukmawati menyumbangkan periuk tanah liat dan piring-piring lama yang masih bisa dipakai. Sastro memberi seikat bambu untuk membuat tenda darurat.
Sekar sibuk di dapur, meracik bumbu pecel. Kacang tanah disangrai. Bawang putih dan kencur diulek. Gula merah dan garam ditambahkan. Asam jawa dan daun jeruk memberi aroma khas.
"Aroma masakanmu wangi, Nduk," puji Sukmawati.
"Dulu nenek saya yang ajari, Bu. Katanya, bumbu pecel yang enak adalah bumbu yang masaknya pakai hati."
"Hati?"
"Iya. Hati yang ikhlas. Hati yang tidak tergesa-gesa. Hati yang sabar."
Sukmawati tersenyum. "Nenekmu perempuan bijak."
"Ya. Saya rindu dia."
HARI PERTAMA BUKA
Sabtu pagi, warung pecel Mbok Sekar resmi dibuka.
Tenda bambu sederhana menaungi empat meja kayu. Kursi-kursi dari potongan pohon. Papan nama bertuliskan "PECEL MBOK SEKAR" dengan cat hitam di atas kayu bekas.
Sekar duduk di belakang lapak. Ia memakai kebaya lengan pendek dan kain jarik batik. Rambutnya disanggul sederhana. Wajahnya segar.
Beberapa warga mulai berdatangan.
Mbah Tarni, sesepuh desa, datang lebih dulu. Perempuan tua itu berjalan pelan dengan tongkat kayu, ditemani oleh cucunya yang masih kecil.
"Nduk, ini pecelmu? Wangi sekali."
"Siap, Mbah. Mbah mau pesan apa?"
"Seporsi pecel. Nasi biasa. Jangan pedas-pedas. Takut batuk."
"Siap, Mbah."
Sekar menyiapkan pecel. Sayuran direbus. Tahu dan tempe digoreng. Bumbu pecel dituang dengan takaran pas.
Mbah Tarni mencicipi. Matanya berbinar.
"Wah, enak, Nduk! Ini enak sekali. Mirip dengan pecel almarhumah Mbah Raras."
Sekar tersenyum. "Terima kasih, Mbah."
"Mbah Raras itu siapa, Mbah?" tanya cucu Mbah Tarni.
"Neneknya Mbak Sekar. Dulu dia juga jualan pecel. Laris manis."
"Ooh."
Mbah Tarni memandang Sekar lama.
"Nduk, Mbah Raras pasti tersenyum dari surga melihat kamu begini. Mandiri. Kuat. Tidak menyerah."
Air mata Sekar jatuh.
"Amin, Mbah."
PAGI YANG HANGAT DI WARUNG
Hari-hari pertama warung pecel berjalan lancar.
Warga desa mulai berbondong-bondong membeli. Ada yang sarapan di tempat. Ada yang membungkus untuk dibawa pulang. Ada yang hanya sekedar mampir minum teh sambil bergosip.
Tapi ada juga yang tidak datang.
Beberapa warga, yang dekat dengan keluarga Pak Kades, sengaja menghindari warung Sekar. Mereka menganggap Arga "tidak normal". Mereka menganggap Sekar "bekas calon mafia". Mereka menganggap pernikahan mereka "kurang restu".
"Nduk, kenapa sepi hari ini?" tanya Arga suatu sore setelah warung tutup.
Sekar menghela napas. "Ada yang bilang, warungku pake teluh. Ada yang bilang, masakanku bisa bikin orang kesurupan."
Arga mengepalkan tangan. "Siapa yang bilang?"
"Bu Sania. Istrinya Pak Kades."
"Sialan."
"Mas, jangan marah. Biarkan saja. Orang yang mau beli akan tetap beli. Yang tidak mau, tidak usah dipaksa."
"Tapi, "
"Mas, kita sudah melewati yang lebih berat dari ini. Masak fitnah warung pecel tidak bisa kita lewati?"
Arga menghela napas. "Kamu benar. Maaf."
"Jangan maaf. Yang penting kita tetap berusaha."
MALAM DI RUMAH
Jam sembilan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit penuh bintang. Bulan sabit tipis menggantung rendah. Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Sekar," panggil Arga.
"Iya."
"Apa kamu tidak menyesal?"
"Menyesal untuk apa?"
"Menyesal menikah denganku. Hidup di desa yang penuh fitnah. Jauh dari kemewahan. Tidak punya apa-apa."
Sekar memandang Arga. Matanya lembut.
"Arga, aku tidak butuh kemewahan. Aku tidak butuh rumah besar. Aku tidak butuh mobil mewah. Aku hanya butuh ketenangan. Dan ketenangan itu ada di sini. Di sampingmu."
"Tapi, "
"Tidak ada tapi. Aku sudah memilihmu. Aku tidak akan pernah menyesal."
Arga menggenggam tangan Sekar.
"Terima kasih, Sekar."
"Jangan berterima kasih. Kita suami istri. Kita satu. Suka dan duka kita tanggung bersama."
Mereka berpelukan.
BISIKAN DI PERSIMPANGAN
Saat Arga berjalan pulang dari sawah keesokan harinya, ia mendengar suara bisikan.
Suara itu tidak asing baginya.
Suara angin yang berbisik.
Tapi kali ini berbeda.
Bisikan itu tidak datang dari angin.
Bisikan itu datang dari dalam tanah.
Dari arah makam Mbah Raras.
"Arga... Arga... aku di sini..."
Arga berhenti.
Ia memandang ke arah timur.
Ke arah makam.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya pepohonan.
Hanya kabut tipis yang menggantung.
"Jatmika?" bisik Arga.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara jangkrik.
Hanya suara angin yang berembus.
"Jatmika, apa kamu?"
Suara itu datang lagi.
Lebih jelas.
"Bukan... aku bukan Jatmika..."
Arga menelan ludah.
"Siapa kamu?"
"Aku yang menjagamu sejak kecil. Aku yang menjagamu ketika kau lahir di bawah kilat tanpa suara. Aku yang menjagamu ketika kau mencari Sekar."
"Siapa?"
"Mbah Lestari. Nenek buyutmu."
Darah Arga berhenti mengalir.
DI RUMAH ARGA
Arga pulang dengan wajah pucat.
Sekar langsung melihat perubahan itu.
"Mas, kenapa? Sakit?"
"Tidak. Aku... aku mendengar suara."
"Suara apa?"
"Suara Mbah Lestari. Nenek buyutku."
Sekar terdiam. "Mbah Lestari? Yang dulu diceritakan Mbah Tarni?"
"Iya. Dia bilang, dia menjagaku sejak kecil."
"Lalu?"
"Dia bilang, ada rahasia yang belum terungkap."
"Rahasia apa?"
Arga menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi aku harus mencarinya."
BAB 1
MENTARI PAGI DI WRINGINREJO
Matahari belum sepenuhnya terbit ketika Arga sudah berdiri di halaman belakang rumahnya. Kabut tipis masih menggantung di atas hamparan sawah yang membentang luas dari ujung timur hingga ke barat. Burung-burung pipit mulai beterbangan rendah, mencari bulir-bulir padi yang tersisa dari musim panen kemarin. Udara pagi dingin menusuk kulit, menusuk pori-pori, membuat bulu kuduk berdiri meskipun ia sudah terbiasa dengan dinginnya desa sejak kecil.
Arga menarik napas panjang.
Udara segar desa memenuhi paru-parunya. Bau tanah basah bercampur rumput dan embun. Bau yang tidak pernah ia temukan di kota. Bau yang selama berbulan-bul ia rindukan ketika ia tidur di kamar kos yang sempit dan pengap, hanya ditemani bantal kecil dari kebaya Sekar dan peta usang pemberian Mbah Jayarasa.
Kita sudah pulang, pikirnya. Akhirnya.
Tapi mengapa hatinya masih gelisah?
Ia mengusap dadanya sendiri. Jantungnya berdetak normal. Tidak ada yang salah secara fisik. Tapi ada sesuatu yang mengganjal. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Sesuatu yang ia rasakan sejak malam pertama setelah pernikahan.
Mbah Lestari.
Nama itu terus berputar di kepalanya seperti air dalam kendi yang tidak pernah berhenti bergerak.
"Aku yang menjagamu sejak kecil. Aku yang menjagamu ketika kau lahir di bawah kilat tanpa suara."
Siapa sebenarnya Mbah Lestari?
Apa hubungannya dengan kelahirannya?
Dan kenapa ia baru muncul sekarang, setelah semua perjuangan selesai?
"Mas Arga, sudah bangun?" suara Sekar dari dalam rumah memecah lamunannya.
"Sudah," jawab Arga sambil berbalik.
Sekar berdiri di pintu dapur dengan memakai daster sederhana dan rambut yang masih kusut. Wajahnya masih mengantuk, tapi matanya sudah berbinar, bukan seperti binar di kota karena lampu-lampu neon, tapi binar karena ketenangan.
"Masak air untuk kopi, Mas," katanya. "Biar Ibu tidak repot."
"Iya. Kalau masih ngantuk kamu tidur lagi, aja?"
"Tidak. Aku mau bantu Ibu di dapur."
SARAPAN PAGI
Jam setengah tujuh, mereka semua duduk di ruang tengah.
Meja kayu panjang yang dulu hanya muat empat orang, kini harus memuat enam orang karena Arga dan Sekar bergabung dengan Sukmawati, Sastro, dan Ratri yang menginap semalam. Ratri memang sering menginap di rumah Arga sejak Sekar datang. Ia bilang, "Biar Mbak Sekar tidak kesepian."
Tapi Arga tahu, Ratri hanya ingin memastikan bahwa Sekar benar-benar baik-baik saja. Ratri adalah sahabat sejati. Ia tidak pernah cemburu meskipun Arga memilih Sekar. Ia tidak pernah iri meskipun Arga tidak pernah memandangnya lebih dari sekadar teman.
"Nasi uduk, Bu," kata Sukmawati sambil meletakkan nampan besar berisi nasi uduk, ayam goreng, tempe orek, sambal terasi, dan kerupuk. "Makan, jangan pada lapar."
"Makasih, Bu," kata Sekar.
"Mbak Ratri, makan dulu," kata Sukmawati.
"Iya, Budhe."
Mereka makan bersama.
Tidak banyak bicara.
Hanya suara sendok dan piring.
Suara kunyahan.
Suara sesekali tawa kecil ketika Faruq, yang kebetulan masih menginap karena belum pulang ke Jogja, bercerita tentang pengalamannya diseruduk ayam kampung.
"Lho, kok bisa diseruduk ayam?" tanya Sastro heran.
"Saya lagi berdiri di depan kandang ayam, Pakdhe. Tiba-tiba ayam jantan terbang. Kena kepala saya." Faruq memegang kepalanya yang benjol.
"Kamu ganggu ayam-ayam itu?" tanya Nisa curiga.
"Saya cuma mau lihat telurnya."
"Ya sudah. Itu ganjarannya."
“ Ayamnya yang rese, kali.” Sanggah Faruq
“ Lu. Yang rese . Faruk.” Ledek Nisa
Mereka tertawa.
KE SAWAH
Jam delapan pagi, Sastro dan Arga berangkat ke sawah.
Mereka berjalan kaki menyusuri pematang yang sempit. Sawah di kiri kanan mulai menguning, tanda panen akan segera tiba. Beberapa petani lain sudah mulai memotong padi dengan sabit, gerakannya lambat tapi teratur.
"Le," panggil Sastro.
"Iya, Yah."
"Ayah mau bilang sesuatu."
"Apa, Yah?"
Sastro berhenti berjalan. Ia memandang Arga dengan mata yang tajam, tajam seperti pisau arit yang baru diasah.
"Ayah tahu kau tidak hanya membantu ayah di sawah. Kau juga mencari sesuatu."
Arga terdiam.
"Jangan bohong pada ayah. Ayah kenal kau sejak kecil. Mata kau berbeda ketika kau memandang bukit timur. Ada rasa penasaran di sana."
Arga menghela napas.
"Iya, Yah. Aku mencari tahu tentang Mbah Lestari."
Sastro tidak terkejut. Ia hanya menghela napas panjang.
"Ayah sudah duga."
"Yah tahu tentang Mbah Lestari?"
"Ayah tahu sedikit. Dari Mbah Jayarasa. Dulu, sebelum Mbah Jayarasa meninggal, ia sempat cerita pada ayah."
"Cerita apa?"
Sastro berjalan lagi. Arga mengikuti.
Mereka melewati pematang yang lebih sempit, di antara dua petak sawah yang airnya mulai surut.
"Mbah Lestari adalah nenek buyutmu. Dari pihak ayah. Dia hidup sekitar seratus tahun yang lalu. Dia bukan orang biasa."
"Bukan orang biasa bagaimana?"
"Dia punya kesaktian. Bisa melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat orang lain. Bisa mendengar suara-suara yang tidak bisa didengar orang lain. Bisa berkomunikasi dengan alam."
"Seperti aku?"
Sastro berhenti lagi. Ia menatap Arga.
"Persis seperti kau."
Arga merinding.
"Kenapa ayah tidak pernah cerita?"
"Karena ayah pikir, itu hanya cerita dongeng. Tapi setelah kau lahir... setelah keanehan-keanehan itu terjadi... ayah mulai percaya."
"Apa yang terjadi pada Mbah Lestari?"
Sastro menghela napas. "Dia menghilang."
"Menghilang?"
"Iya. Tanpa kabar. Tanpa jejak. Tiba-tiba tidak ada. Warga desa mencarinya berhari-hari, tidak ketemu. Hingga akhirnya, mereka menganggap dia meninggal. Tapi tidak ada makam. Tidak ada batu nisan. Tidak ada tanda-tanda."
"Kemana dia pergi?"
"Tidak ada yang tahu."
Mereka melanjutkan perjalanan.
DI TENGAH SAWAH
Jam sembilan pagi, matahari mulai meninggi.
Sastro dan Arga bekerja membajak sawah dengan kerbau. Kerbau itu besar, hitam legam, dengan tanduk melengkung ke belakang. Matanya sayu seperti sudah bosan bekerja selama puluhan tahun.
Sastro memegang tali pengikat kerbau. Arga membajak di belakang.
"Le," panggil Sastro.
"Iya, Yah."
"Jangan terlalu banyak berpikir tentang Mbah Lestari. Nanti kau stress."
"Aku tidak stress, Yah. Aku hanya penasaran."
"Penasaran itu baik. Tapi jangan sampai mengganggu hidupmu. Kau sudah punya Sekar. Kau sudah punya keluarga. Itu lebih penting."
"Aku tahu, Yah."
"Bagus. Sekarang kerja. Jangan banyak melamun. Nanti bajaknya miring."
Arga tersenyum. "Siap, Yah."
BEKAL DARI SEKAR
Jam dua belas siang, Sekar datang ke sawah.
Ia membawa bakul bambu berisi nasi, sayur asem, ayam goreng, sambal terasi, dan kerupuk. Juga dua botol air mineral dingin yang ia bungkus dengan kain basah agar tetap segar.
"Mas, Pak, makan dulu," katanya.
Sastro menghentikan kerbau. Arga melepas bajak.
Mereka duduk di pematang, di bawah pohon rindang yang tumbuh di tepi sawah. Pohon itu bukan pohon randu seperti di Bukit Watu Senja. Pohon ini lebih kecil, dengan daun-daun tipis yang bergoyang pelan diterpa angin.
"Sekar, hari ini warung ramai?" tanya Arga.
"Ramai, Mas. Mbah Tarni datang lagi. Juga Bu Sri, tahu Bu Sri? Yang dulu suka belanja di toko Pak Bondan?"
"Iya. Dia dari kota?"
"Dia lagi mudik. Katanya kangen desa."
"Seru."
"Lumayan. Warung buka dari jam tujuh sampai jam setengah dua belas. Setelah itu sepi."
"Istirahat dulu. Jangan terlalu capai."
"Iya, Mas."
Mereka makan bersama.
Sastro tidak banyak bicara. Ia hanya makan. Sesekali melirik ke arah Arga dan Sekar, lalu tersenyum kecil.
KEMBALI KE RUMAH
Jam dua siang, Arga dan Sastro pulang ke rumah.
Mereka berjalan melewati pematang yang sama. Sawah yang sama. Burung pipit yang sama.
Tapi ada yang berbeda.
Di kejauhan, di tepi hutan kecil, Arga melihat sesosok bayangan.
Bayangan perempuan.
Berambut panjang.
Berpakaian putih.
Berdiri diam.
Arga berhenti.
"Le, kenapa?" tanya Sastro.
Arga menunjuk ke arah bayangan itu.
"Itu, Yah. Ada orang."
Sastro memandang ke arah yang ditunjuk Arga.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya pepohonan.
Hanya semak belukar.
"Tidak ada, Le. Mungkin kau kelelahan."
"Aku tidak kelelahan, Yah. Aku melihatnya jelas."
Sastro menghela napas. "Mungkin itu Mbah Lestari."
"Menurut Ayah?"
"Siapa lagi. Tidak ada perempuan di desa yang berani ke hutan sendirian. Apalagi jam segini."
Arga memandang ke arah hutan lagi.
Bayangan itu sudah hilang.
Hanya dedaunan.
Hanya ranting-ranting kering.
Dan angin yang berembus sepoi-sepoi.
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit dipenuhi bintang.
Bulan purnama bersinar terang.
Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Sekar," panggil Arga.
"Iya."
"Aku lihat bayangan perempuan di tepi hutan tadi siang. Bapak bilang mungkin itu Mbah Lestari."
Sekar mengerutkan kening. "Mbah Lestari? Nenek buyutmu?"
"Iya."
"Kamu takut?"
"Tidak. Tapi aku penasaran."
"Kenapa dia muncul?"
"Tidak tahu. Mungkin ada yang ingin disampaikan."
"Seperti Jatmika dulu?"
"Mungkin."
Mereka terdiam.
Angin malam berembus.
Daun-daun pohon mangga bergemerisik.
"Arga," panggil Sekar.
"Iya."
"Aku ikut."
"Ikut apa?"
"Ikut mencari tahu tentang Mbah Lestari. Kamu tidak sendirian."
Arga memegang tangan Sekar.
"Terima kasih."
"Jangan berterima kasih. Kita suami istri. Kita satu."
RENCANA BESOK
Jam sepuluh malam, mereka masuk ke kamar.
Arga membuka jendela.
Udara malam masuk dingin.
Ia memeluk bantal kecil dari kebaya Sekar, bantal yang sudah usang, sudah pudar warnanya, sudah hampir tidak berbau. Tapi ia tidak mau membuangnya. Bantal itu adalah saksi bisu perjuangannya.
"Sekar," panggil Arga.
"Iya."
"Besok kita ke rumah Mbah Tarni. Dia sesepuh desa. Dia pasti tahu banyak tentang Mbah Lestari."
"Baik."
"Kita minta Guntur juga ikut. Dia ada di desa sampai lusa."
"Baik."
"Kita minta Laras juga. Dia perempuan. Mungkin Mbah Tarni lebih terbuka dengan perempuan."
"Baik."
"Kita minta, "
"Mas, sudah. Aku setuju semua."
Arga tersenyum.
"Aku hanya ingin memastikan."
"Kamu khawatir."
"Iya. Sedikit. Tapi tidak apa."
Mereka berbaring.
Dipan bambu berderit pelan.
"Selamat malam, Mas."
"Selamat malam, Sekar."
TIDUR LELAP
Arga memejamkan mata.
Ia memikirkan Mbah Lestari.
Bayangan perempuan di tepi hutan.
Wajahnya tidak jelas karena jarak.
Tapi entah mengapa, Arga merasa ia pernah melihat wajah itu sebelumnya.
Bukan di desa.
Bukan di foto.
Tapi di mimpinya.
Di mimpinya sejak kecil.
Seorang perempuan tua tersenyum padanya.
Dengan penuh kasih.
Dengan penuh harap.
Dengan penuh... rahasia.
"Siapa kau?" bisik Arga dalam hati.
"Aku yang menunggumu," jawab bayangan itu.
"Menunggu apa?"
"Menunggu kau cukup dewasa. Menunggu kau cukup kuat. Menunggu kau siap menerima warisan."
"Warisan apa?"
"Warisan leluhur. Warisan yang akan mengubah hidupmu. Warisan yang akan membuatmu mengerti mengapa kau lahir di bawah kilat tanpa suara."
Arga membuka mata.
Kamar gelap.
Sunyi.
Hanya suara jangkrik.
Hanya suara Sekar yang tertidur di sampingnya.
"Mbah Lestari," bisiknya. "Aku akan mencari tahu. Aku akan mengungkap rahasiamu. Aku akan menemukanmu."
WARISAN TANAH
Pagi itu, langit desa Wringinrejo terlihat berbeda dari biasanya.
Bukan karena warna langitnya berubah. Bukan karena awan-awannya membentuk pola yang aneh. Bukan karena ada hujan yang turun tanpa suara seperti malam kelahiran Arga dulu. Tapi karena ada sesuatu di udara, sesuatu yang tidak bisa dilihat, tidak bisa didengar, tidak bisa diraba, tapi bisa dirasakan oleh orang-orang yang peka terhadap hal-hal gaib.
Dan Arga, seperti biasa, adalah orang yang paling peka.
Ia terbangun pukul setengah lima, lebih awal dari biasanya. Tidak ada mimpi buruk. Tidak ada suara aneh. Tidak ada firasat yang mengganggu. Hanya perasaan bahwa hari ini akan ada sesuatu yang penting terjadi. Sesuatu yang akan mengubah hidupnya. Sesuatu yang sudah lama tertunda.
Ia duduk di dipan bambu. Di sampingnya, Sekar masih tertidur lelap dengan posisi miring ke kanan, tangan kirinya menggenggam ujung bantal, bibirnya sedikit terbuka. Wajahnya tenang, tenang seperti orang yang sudah menemukan tempatnya di dunia.
Arga tersenyum.
Ia turun dari dipan dengan hati-hati. Kakinya yang telanjang menyentuh lantai tanah yang dingin. Ia merinding, tapi tidak mengeluh. Ia berjalan ke jendela, membukanya pelan-pelan, membiarkan udara pagi masuk.
Di luar, kabut tipis masih menggantung di atas sawah. Ayam jantan mulai berkokok dari kejauhan. Burung-burung pipit beterbangan rendah, mencari bulir-bulir padi yang jatuh di pematang.
Arga menarik napas panjang.
Hari ini, pikirnya. Hari ini aku akan tahu.
SARAPAN PAGI
Jam setengah tujuh, semua sudah berkumpul di ruang tengah.
Sukmawati menyajikan nasi goreng dengan telur dadar dan kerupuk. Sastro duduk di kursi bambu favoritnya, minum kopi hitam pahit tanpa gula. Sekar duduk di samping Arga, masih setengah mengantuk. Ratri ikut bergabung karena semalam ia menginap lagi. Faruq, dan Nisa juga masih di desa, mereka belum kembali ke Jogja karena ingin membantu Arga dan Sekar menata kehidupan baru.
"Kita makan dulu, Le," kata Sukmawati. "Nanti pagi-pagi ada yang mau ke sini."
"Siapa yang mau ke sini, Bu?" tanya Arga.
"Pak Lurah. Katanya ada surat penting untukmu."
"Surat penting? Dari mana?"
"Tidak tahu. Yang jelas, Pak Lurah minta kamu ada di rumah jam delapan."
Arga mengerutkan kening. "Aneh."
"Biarlah aneh. Yang penting makan dulu. Jangan sampai perut keroncongan saat menerima tamu."
Mereka makan bersama.
Tidak banyak bicara.
Hanya suara sendok dan piring.
Suara kunyahan.
Suara sesekali tawa kecil ketika Faruq, yang masih mengantuk, menumpahkan kopi ke pangkuannya.
"Faruq, hati-hati," kata Nisa.
"Ini panas!" teriak Faruq sambil melompat.
"Iya, panas. Makanya hati-hati."
"Kamu tidak bilang!"
"Kamu tidak tanya."
Guntur menggeleng-geleng. "Faruq, kamu ini."
"Aku hanya kurang tidur."
"Kemarin kamu tidur jam sembilan."
"Itu bukan tidur. Itu koma."
Mereka tertawa.
KEDATANGAN PAK LURAH
Jam delapan tepat, Pak Lurah datang.
Ia naik sepeda motor butut yang suaranya seperti orang batuk. Helmnya sudah penyok di beberapa tempat. Jaket kulitnya sudah mengelupas.
"Sastro! Arga!" sapanya dari halaman.
"Masuk, Pak Lurah," kata Sastro.
Pak Lurah masuk ke ruang tengah. Ia duduk di kursi kayu yang disediakan. Tangannya memegang sebuah amplop coklat tebal, amplop yang sudah menguning karena usia, dengan segel lilin merah di bagian belakang.
"Ini untuk Arga," katanya sambil menyerahkan amplop itu.
"Apa ini, Pak?" tanya Arga.
"Warisan. Dari Mbah Jayarasa."
Ruangan hening.
Semua mata tertuju pada amplop itu.
"Warisan?" Arga mendengar kata itu dengan perasaan campur aduk. Senang. Aneh. Bingung. Tidak percaya.
"Iya. Tanah. Mbah Jayarasa mewariskan sebidang tanah kepada kamu. Di lereng bukit timur. Dekat pohon randu."
"Tanah? Mbah Jayarasa punya tanah?"
"Iya. Dia menyembunyikannya selama puluhan tahun. Tidak ada yang tahu."
"Kenapa baru sekarang?"
Pak Lurah menghela napas. "Karena Mbah Jayarasa yang mengatur. Dia titipkan surat wasiat ini padaku sebelum dia meninggal. Dia bilang, 'Berikan pada Arga ketika dia sudah menikah. Ketika dia sudah tenang. Ketika dia sudah tidak sibuk berperang.'"
"Tapi, "
"Baca isinya. Di sana ada petunjuk."
SURAT WASIAT
Arga membuka amplop itu dengan tangan gemetar.
Jari-jarinya yang kasar karena bekerja di sawah dan toko bangunan berusaha lembut membuka segel lilin yang sudah rapuh. Segel itu pecah dengan bunyi kecil, krek, seperti ranting kering yang patah.
Ia mengeluarkan isinya.
Beberapa lembar kertas tua yang sudah menguning. Tinta hitamnya mulai pudar di beberapa tempat. Tapi tulisannya masih bisa dibaca, tulisan tangan Mbah Jayarasa yang khas, miring ke kanan, dengan huruf-huruf yang rapi meskipun sudah tua.
Arga membaca.
"Kepada Arga, anak Sastro dan Sukmawati. Cucu rohaniku."
"Jika kau membaca surat ini, berarti kau sudah menikah. Kau sudah tenang. Kau sudah tidak sibuk berperang. Itu yang kutunggu."
"Aku punya sebidang tanah di lereng bukit timur. Di belakang pohon randu. Tanah itu bukan tanah biasa. Tanah itu adalah tanah warisan dari Mbah Lestari, nenek buyutmu."
"Mbah Lestari meninggalkan tanah itu untuk keturunannya yang bisa 'melihat dua langit'. Dan dari semua keturunan yang ada, hanya kau yang memenuhi syarat."
"Aku tidak tahu apa yang ada di tanah itu. Mbah Lestari tidak pernah cerita. Yang aku tahu, tanah itu dijaga oleh sesuatu. Sesuatu yang tidak terlihat. Sesuatu yang hanya bisa dilihat oleh orang seperti kamu."
"Jagalah tanah itu, Le. Jangan dijual. Jangan digadaikan. Jangan diabaikan. Karena di sanalah rahasia terakhir Jatmika berada."
"—Jayarasa"
Air mata Arga jatuh.
Ia tidak bisa menahan tangisnya.
"Mbah Jayarasa..." bisiknya.
Sekar memegang tangannya.
"Mas, jangan nangis. Mbah Jayarasa pasti tidak suka lihat kamu nangis."
"Aku nangis karena bahagia, Sekar. Karena Mbah Jayarasa masih memikirkanku. Karena dia masih menjagaku. Bahkan setelah mati."
PETUNJUK DARI MBAH JAYARASA
Selain surat wasiat, di dalam amplop itu ada selembar peta kecil.
Peta yang digambar tangan.
Peta yang menunjukkan lokasi tanah warisan.
Tidak detail. Hanya garis-garis kasar. Tapi cukup untuk menunjukkan arah.
"Pak Lurah," kata Arga.
"Iya."
"Apa Bapak tahu lokasi tanah ini?"
Pak Lurah mengangguk. "Tahu. Itu tanah di lereng bukit timur. Sekitar dua hektar. Tidak terlalu luas. Tapi tanahnya subur. Dulu sempat ditanami singkong dan jagung. Tapi setelah Mbah Jayarasa tua, tanah itu dibiarkan begitu saja. Ditumbuhi semak belukar."
"Kenapa tidak ada yang menggarap?"
"Karena banyak yang takut."
"Takut apa?"
Pak Lurah menghela napas. "Konon, tanah itu dijaga oleh sesuatu. Ada yang bilang, tanah itu angker. Ada yang bilang, tanah itu tempat berkumpulnya makhluk halus. Ada yang bilang, siapa pun yang mencoba menggarap tanah itu akan celaka."
Arga tidak terkejut.
Ia sudah menduga.
Tanah yang dijaga oleh sesuatu.
Sesuatu yang hanya bisa dilihat oleh orang seperti aku.
"Mbah Lestari," bisik Arga.
"Apa?" tanya Pak Lurah.
"Tidak ada. Terima kasih, Pak Lurah. Saya akan lihat tanah itu nanti."
SETELAH PAK LURAH PERGI
Jam sembilan pagi, Pak Lurah pamit.
Sepeda motornya yang butut meraung-raung meninggalkan halaman rumah. Asapnya mengepul hitam, meninggalkan bau bensin yang menyengat.
Arga duduk di beranda.
Peta kecil dari Mbah Jayarasa terbuka di pangkuannya.
Sekar duduk di sampingnya.
Faruq, Nisa, Ratri, Sukmawati, dan Sastro berkumpul di ruang tengah. Semua ingin mendengar penjelasan.
"Arga, cerita dong," kata Faruq.
Arga menghela napas. Ia menceritakan semuanya.
Tentang Mbah Lestari.
Tentang tanah warisan.
Tentang petunjuk dari Mbah Jayarasa.
Tentang rahasia terakhir Jatmika.
"Jadi, kamu harus ke tanah itu," kata Ratri.
"Iya. Hari ini."
"Sendirian?"
"Tidak. Aku ajak Sekar."
"Kenapa Sekar?"
"Karena dia bagian dari perjalanan ini. Dia bagian dari hidupku. Dia harus tahu."
"Aku juga," kata Faruq.
"Aku juga," kata Nisa.
"Aku juga," kata Ratri.
"Aku juga," kata Dimas.
"Aku juga," kata Samsul.
Arga tersenyum. "Kalian ini."
"Kita tim," kata Nisa. "Tim tidak akan membiarkan anggotanya berjalan sendirian."
PERJALANAN MENUJU BUKIT TIMUR
Jam sepuluh pagi, mereka berangkat.
Berjalan kaki menyusuri pematang sawah, melewati kebun singkong, menembus hutan jati kecil, sampai ke lereng bukit timur.
Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam.
Matahari sudah mulai meninggi. Panasnya menyengat. Keringat mengucur di dahi.
Tapi tidak ada yang mengeluh.
Arga di depan, memegang peta.
Sekar di sampingnya.
Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, dan Samsul menyusul.
"Arga, sampai kapan?" tanya Faruq.
"Sebentar lagi. Lihat, itu pohon randu."
Di kejauhan, pohon randu tua berdiri kokoh di atas bukit. Daun-daunnya rimbun. Cabangnya melebar seperti tangan raksasa.
"Ini tanah Mbah Lestari," kata Arga sambil menunjuk ke arah lahan yang tidak terurus.
Lahan itu ditumbuhi semak belukar setinggi lutut. Rumput liar di mana-mana. Beberapa pohon pisang liar tumbuh tidak beraturan.
Tapi ada yang aneh.
Di tengah lahan itu, ada sebuah batu besar.
Batu hitam.
Berukir.
"Apa itu?" tanya Sekar.
"Tidak tahu. Mari kita lihat."
BATU HITAM BERUKIR
Mereka mendekati batu itu.
Batu hitam setinggi satu meter, lebar setengah meter. Permukaannya halus, seolah sudah dipoles. Tapi ada goresan-goresan di beberapa tempat, goresan yang membentuk aksara Jawa kuno.
Arga menyentuh batu itu.
Dingin.
Sangat dingin.
Seperti menyentuh es.
Tapi di balik dingin itu, ada kehangatan.
Kehangatan yang familiar.
Kehangatan yang ia rasakan setiap kali bersama Mbah Jayarasa.
"Mas, ada tulisan," kata Sekar.
"Tulisannya apa?"
"Aku tidak bisa baca. Aksara Jawa kuno. Bukan aksara yang biasa kita pelajari di sekolah."
Faruq mendekat. Ia memoto batu itu dengan ponselnya. Dikirim ke temannya di fakultas sastra, pakar aksara Jawa kuno.
"Tunggu sebentar," katanya. "Temanku akan membalas."
Mereka menunggu.
Sepuluh menit.
Dua puluh menit.
Ponsel Faruq berdering.
"Ini jawabannya," katanya.
"Bunyi apa?" tanya Arga.
Faruq membaca.
"Di sini, Mbah Lestari bersemayam. Di sini, pusaka desa tertimbun. Di sini, pengembara dua langit akan menemukan jawaban."
Ruangan hening.
"Pusaka desa?" bisik Dimas.
"Pengembara dua langit?" bisik Nisa.
"Itu Arga," kata Faruq. "Dia pengembara dua langit."
Arga tidak menjawab.
Ia hanya memandang batu hitam itu.
Matanya sayu.
Tangannya gemetar.
Mbah Lestari, bisiknya dalam hati. Apa yang harus aku lakukan?
Tidak ada jawaban.
Hanya angin yang berembus.
Hanya dedaunan yang bergemerisik.
KEMBALI KE RUMAH
Jam dua siang, mereka pulang.
Perjalanan pulang terasa lebih berat dari ketika berangkat. Mungkin karena lelah. Mungkin karena pikiran yang penuh dengan pertanyaan.
"Arga," panggil Faruq di tengah jalan.
"Iya."
"Saya akan hubungi teman di fakultas arkeologi. Mungkin mereka bisa turun ke desa untuk meneliti batu itu."
"Kamu bisa?"
"Bisa. Saya punya banyak hutang budi pada mereka."
"Terima kasih, Faruq."
"Jangan berterima kasih. Nanti saya minta traktir."
Mereka tersenyum.
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit dipenuhi bintang.
Bulan sabit tipis menggantung rendah.
Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Sekar," panggil Arga.
"Iya."
"Aku takut."
"Takut apa?"
"Aku takut dengan apa yang akan kita temukan. Bukan karena pusaka. Bukan karena misteri. Tapi karena rahasia terakhir Jatmika."
"Kenapa?"
"Karena selama ini, Jatmika selalu menjadi pelindungku. Jika rahasianya terungkap, mungkin dia akan pergi."
"Pergi kemana?"
"Pergi untuk selamanya."
"Bukankah itu yang kau inginkan? Agar dia tenang?"
Arga memandang Sekar.
"Aku ingin dia tenang. Tapi aku juga takut kehilangan dia."
"Dia kakakmu. Dia tidak akan pernah benar-benar pergi. Dia akan selalu ada di hatimu."
Arga menggenggam tangan Sekar.
"Terima kasih, Sekar."
"Jangan berterima kasih. Kita suami istri. Kita satu."
“ Ya. Kita satu hati satu jiwa”.sahut Arga
“ Selalu” sambung Sekar
BAB 2
PECEL MBOK SEKAR
Seminggu setelah penemuan batu hitam berukir di tanah warisan Mbah Jayarasa, kehidupan di desa Wringinrejo berjalan seperti biasa. Sawah masih hijau menguning menunggu panen. Burung-burung pipit masih beterbangan mencari bulir padi yang jatuh. Angin masih berembus sepoi-sepoi membawa aroma tanah basah dan dedaunan.
Tapi ada satu yang berbeda.
Di depan rumah Arga, sebuah warung kecil berdiri dengan sederhana. Tenda bambu, empat meja kayu, kursi-kursi dari potongan pohon, dan papan nama bertuliskan "PECEL MBOK SEKAR" dengan cat hitam di atas kayu bekas.
Warung itu bukan sekadar tempat jualan. Itu adalah mimpi Sekar yang tertunda selama bertahun-tahun. Itu adalah cara Sekar untuk bangkit dari keterpurukan. Itu adalah bukti bahwa ia tidak hanya bisa menjadi korban, tapi juga bisa menjadi pemenang.
Dan pagi ini, untuk pertama kalinya sejak warung buka, terjadi sesuatu yang tidak pernah Sekar duga.
Seorang tamu istimewa datang.
Bukan tamu biasa.
Tapi mantan musuh.
PAGI YANG CERAH
Matahari baru naik setinggi pohon kelapa ketika Sekar sudah sibuk di dapur. Ia merebus sayuran, kacang panjang, tauge, kangkung, dan daun pepaya muda. Ia menggoreng tempe dan tahu. Ia mengulek bumbu pecel, kacang tanah yang sudah disangrai, bawang putih, kencur, cabai, gula merah, garam, dan asam jawa.
Aroma bumbu pecel menyebar ke seluruh rumah. Wangi. Gurih. Sedap.
"Wah, wangi sekali, Nduk," puji Sukmawati yang ikut membantu.
"Terima kasih, Bu. Nenek saya yang ajari."
"Nenekmu pasti perempuan hebat."
"Ya, Bu. Dia hebat. Dia mengajarkan saya banyak hal. Termasuk cara bertahan hidup."
Sukmawati tersenyum. "Sekarang giliran kamu mengajarkan anak cucumu nanti."
Sekar tersenyum malu. "Masih lama, Bu."
"Tidak lama. Percaya sama Ibu."
“ Oh, ya , makasih do’anya bu”. Jawab Sekar
PELANGGAN PERTAMA
Jam setengah tujuh, pelanggan pertama datang.
Mbah Tarni, sesepuh desa yang sudah berusia hampir delapan puluh tahun, berjalan pelan dengan tongkat kayu di tangan kanan dan keranjang anyaman di tangan kiri. Cucunya yang masih kecil, bocah laki-laki berusia sekitar tujuh tahun dengan rambut kusut dan pakaian lusuh, berlari-larian di depannya.
"Selamat pagi, Mbah," sapa Sekar ramah.
"Selamat pagi, Nduk. Mbah pesan pecel. Seporsi. Jangan pedas-pedas. Takut batuk."
"Siap, Mbah."
Sekar menyiapkan pecel dengan cepat dan rapi. Sayuran direbus sebentar. Tahu dan tempe dipotong kecil-kecil. Bumbu pecel dituang dengan takaran pas, tidak terlalu encer, tidak terlalu kental.
"Ini, Mbah."
Mbah Tarni menerima piring itu. Ia mencicipi perlahan.
Matanya berbinar.
"Wah, Nduk, ini enak sekali. Mirip dengan pecel almarhumah Mbah Raras."
"Terima kasih, Mbah."
"Mbah Raras itu siapa, Mbah?" tanya cucu Mbah Tarni.
"Neneknya Mbak Sekar. Dulu dia juga jualan pecel. Laris manis."
"Ooh."
Mbah Tarni memandang Sekar lama. Matanya yang keruh karena usia tiba-tiba terlihat jernih.
"Nduk, Mbah Raras pasti tersenyum dari surga melihat kamu begini. Mandiri. Kuat. Tidak menyerah."
Air mata Sekar jatuh.
"Amin, Mbah."
KERAMAIAN PAGI
Jam delapan pagi, warung mulai ramai.
Ibu-ibu desa datang bergerombol. Ada yang sarapan di tempat, ada yang membungkus untuk dibawa pulang, ada yang hanya sekedar mampir minum teh sambil bergosip.
"Mbak Sekar, pecelnya enak," puji Bu Janah, seorang janda paruh baya dengan rambut disanggul rapi.
"Terima kasih, Bu."
"Ini resep turun temurun?"
"Iya, Bu. Dari nenek saya."
"Wah, hebat. Nanti saya titip resep ya?"
Sekar tersenyum. "Boleh, Bu. Tapi jangan dijual ya. Buat sendiri saja."
"Ah, Mbak Sekar pelit."
Mereka tertawa.
Di meja sebelah, Pak Karto, tetangga samping rumah, sedang menyantap pecel dengan lahap.
"Mbak Sekar, ini enak banget. Saya jadi kangen masakan istri saya."
"Lho, istri Bapak ke mana?"
"Meninggal. Sudah tiga tahun."
"Maaf, Pak Karto."
"Tidak apa. Yang penting saya masih bisa makan enak di sini."
Pak Karto tersenyum. Tapi matanya sayu.
TAMU TAK TERDUGA
Jam sembilan pagi, seorang perempuan datang.
Perempuan itu usianya sekitar empat puluh tahun. Wajahnya bulat, kulitnya putih, rambutnya pendek sebahu. Ia memakai baju batik lengan panjang dan kain jarik batik. Di tangannya, sebuah tas anyaman dari bambu.
Bu Sania, istri Pak Kades.
Sekar yang melihatnya hampir menjatuhkan sendok.
Istri Pak Kades? Yang dulu memfitnah Arga? Yang dulu menyebarkan gosip bahwa warungku memakai teluh?
Tapi Bu Sania tersenyum.
Senyum yang tidak dipaksakan.
Senyum yang... aneh.
"Selamat pagi, Mbak Sekar," sapa Bu Sania.
"Selamat pagi, Bu."
"Mbak jual pecel?"
"Iya, Bu."
"Seporsi. Bungkus. Bawa pulang."
Sekar ragu sejenak. Apakah ini jebakan? Apakah ini akting? Apakah Bu Sania akan meracuni makanannya sendiri?
Tapi ia memutuskan untuk melayani.
"Ini, Bu."
Bu Sania membayar. Uang pas. Tidak menawar. Tidak banyak komentar.
Sebelum pergi, ia menoleh.
"Mbak Sekar."
"Iya, Bu."
"Maaf. Untuk semua fitnah yang dulu saya sebarkan. Saya... saya hanya iri. Iri karena anak saya tidak seberani Mas Arga. Iri karena suami saya tidak sebaik Mas Arga. Iri karena saya tidak secantik dan sekuat Mbak."
Ruangan hening.
Sekar tidak tahu harus berkata apa.
"Maaf," ulang Bu Sania. "Saya tidak minta diterima. Saya hanya ingin minta maaf."
Ia pergi.
Meninggalkan warung yang sunyi.
Meninggalkan Sekar yang berdiri kaku.
Meninggalkan ibu-ibu desa yang saling berpandangan.
SETELAH KEPERGIAN BU SANIA
"Wah, Bu Sania, minta maaf," bisik Bu Sri, perempuan gemuk yang dulu sering belanja di toko Pak Bondan.
"Tulus atau tidak?" bisik Bu Parti, tetangga depan.
"Entahlah. Yang penting dia minta maaf."
"Itu sudah lebih baik daripada diam dan terus memfitnah."
Sekar tidak ikut bergosip. Ia hanya diam. Memandang ke arah Bu Sania yang sudah hilang di tikungan.
Apakah dia tulus?
Apakah ini awal dari perdamaian?
Apakah Pak Kades juga akan berubah?
Ia tidak tahu.
Tapi ia memilih untuk percaya.
ARGA DATANG
Jam sepuluh pagi, Arga datang dari sawah.
Keringat membasahi keningnya. Bajunya basah. Celananya berlumpur. Wajahnya merah padam.
"Mbak, pecel satu!" teriaknya dari kejauhan.
"Mas, kamu ini. Bisa saja minta tolong suruh dibuatkan."
"Lagi laper, Mbak. Perut keroncongan."
Sekar tersenyum. "Ya sudah. Tunggu."
Ia menyiapkan pecel untuk Arga.
Tidak lama.
Arga duduk di meja kayu depan warung. Ia makan dengan lahap. Sesekali mengusap keringat di dahinya dengan lengan baju.
"Mbak, enak," katanya sambil mengunyah, serta melirik sambil menggoda
"Iya. Kata orang juga enak." Jawab Sekar sambil melototin Arga Suaminya.
"Tadi ada tamu istimewa?" Tanya Arga
Sekar menghela napas. "Bu Sania."
Arga berhenti mengunyah. "Bu Sania? Istri Pak Kades?"
"Iya."
"Dia ngapain ke sini?"
"Minta maaf."
Arga mengerutkan kening. "Minta maaf?"
"Iya. Katanya, dia iri. Iri karena anaknya tidak seberani Mas. Iri karena suaminya tidak sebaik Mas. Iri karena dia tidak secantik dan sekuat aku."
Arga terdiam.
"Apakah itu tulus?" tanyanya.
"Aku tidak tahu. Tapi aku memilih untuk percaya."
"Kamu baik, Sekar."
"Aku tidak baik. Aku hanya capek bermusuhan."
“ Iya, capek bikin tambah pusing aja”. Sela Arga santai
Mereka berdua terdiam.
FARUQ DAN NISA BELUM PULANG
Jam sebelas pagi, Faruq dan Nisa masih di desa belum pulang ke jogya.
Mereka berdua berjalan kaki dari rumah Almarhum Mbah Jayarasa, tempat mereka menginap sementara karena kos-kosan Mbok Darmi sudah tidak ada.
"Wah, ramai, Mas," sapa Faruq.
"Iya. Sekarang warung Mbok Sekar sudah terkenal se-desa."
"Pantes. Soalnya enak."
Faruq memesan dua porsi pecel. Nisa memesan es teh manis.
Mereka duduk di meja kayu.
"Faruq, ada kabar dari temanmu?" tanya Arga.
"Ada. Tim arkeologi akan datang minggu depan. Mereka akan meneliti batu hitam di tanah warisanmu."
"Serius?"
"Serius. Mereka tertarik karena aksaranya langka. Hanya ada di beberapa tempat di Jawa."
"Kapan tepatnya?"
"Rabu. Jadi tiga hari lagi."
"Bagus. Aku akan siapkan semuanya." Kata Arga bersemangat
“ Yoi, kita tunggu aja “. Jawab Faruq santai
OBROLAN DI WARUNG
Jam dua belas siang, warung mulai sepi.
Sekar membersihkan meja dan kursi. Sukmawati membantu mencuci piring. Arga, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, dan Samsul duduk di bawah pohon mangga depan rumah.
"Minggu depan akan ramai," kata Faruq.
"Soalnya tim arkeologi datang."
"Juga jurnalis. Teman Nisa akan meliput."
"Wah, desa kami jadi terkenal." Sahutb Arga
"Ya. Tapi hati-hati. Tidak semua orang senang dengan ketenaran."
"Pak Kades?". Sela Sekar
"Iya. Dia pasti tidak senang. Karena selama ini dia yang paling berkuasa di desa. Dengan ketenaranmu, pengaruhnya akan berkurang." Balas Nisa pelan.
Arga menghela napas. "Aku tidak peduli dengan pengaruh. Aku hanya ingin mencari tahu tentang Mbah Lestari dan rahasia terakhir Jatmika."
"Itu yang membuat Pak Kades takut. Karena dia tidak tahu apa yang akan kamu temukan." Kata Faruq
"Kenapa dia takut?" sahut Arga
"Karena mungkin ada sesuatu di tanah itu yang selama ini dia sembunyikan. Atau yang ingin dia kuasai."
"Apa?"Arga terkejut sampai alis maatanya terangkat.
Faruq mengangkat bahu. "Kita cari tahu nanti."
“ Oke, sepakat”. Balas Arga singkat.
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit dipenuhi bintang.
Bulan sabit tipis menggantung rendah.
Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Sekar," panggil Arga.
"Iya."
"Aku bangga padamu."
"Bangga kenapa?" selidik Sekar
"Bangga karena kamu bisa memaafkan Bu Sania. Aku tidak akan bisa seperti itu."
Kamu bisa, Mas. Kamu sudah memaafkan Samsul. Kamu sudah memaafkan Laras. Kamu sudah memaafkan Dewi. Itu lebih berat dari memaafkan Bu Sania."
Arga tersenyum. "Kamu benar."
"Tentu saja. Aku istrimu."
Mereka tertawa.
"Mas."
"Iya."
"Aku ingin punya anak."
Arga menatap Sekar.
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Kita sudah menikah. Kita sudah punya rumah. Kita sudah punya warung. Tinggal anak yang kurang."
"Tapi,"
"Tapi apa? Takut tidak bisa jadi ayah yang baik? Mas, kau sudah terbukti menjadi suami yang baik. Pasti kau juga akan menjadi ayah yang baik."
Arga menggenggam tangan Sekar.
"Baik. Kita coba."
Sekar tersenyum malu.
"Jangan di sini. Nanti dilihat orang."
"Malam begini tidak ada yang lihat."
"Masih ada bintang."
"Bintang tidak punya mata."
Mereka tertawa lagi.
BISIKAN DI PEMATANG
Tiga hari setelah kunjungan Bu Sania ke warung pecel, suasana di desa Wringinrejo berubah. Bukan perubahan besar yang terlihat dari luar. Sawah masih hijau menguning. Burung-burung pipit masih beterbangan. Angin masih berembus sepoi-sepoi.
Tapi ada sesuatu di udara.
Sesuatu yang tidak bisa dilihat.
Sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang peka.
Dan Arga, seperti biasa, adalah orang yang paling peka.
Ia mulai mendengar bisikan lagi.
Bukan di malam hari.
Bukan di tempat sepi.
Tapi di siang bolong.
Di tengah sawah.
Saat ia bekerja bersama ayahnya.
Bisikan itu datang dari arah timur.
Dari arah tanah warisan Mbah Jayarasa.
Dari arah batu hitam berukir.
Dari arah ... Mbah Lestari.
PAGI YANG CERAH
Hari Senin, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Beberapa petani sudah mulai memotong padi dengan sabit, gerakannya lambat tapi teratur.
Arga dan Sastro bekerja di sawah seperti biasa. Sastro memegang tali pengikat kerbau. Arga membajak di belakang. Keringat mengucur di sekujur tubuh mereka. Wajah mereka merah padam.
"Le," panggil Sastro.
"Iya, Yah."
"Kamu dengar suara aneh sejak tadi?"
Arga berhenti membajak. Ia menatap ayahnya.
"Ayah juga mendengar?"
"Sesekali. Samar-samar. Seperti orang bicara dari kejauhan."
"Aku mendengar sejak tiga hari lalu. Dari arah timur. Dari tanah warisan Mbah Jayarasa."
Sastro menghela napas.
"Ayah khawatir, Le."
"Khawatir apa, Yah?"
"Khawatir kau akan kesurupan. Seperti dulu."
"Tidak, Yah. Aku tidak kesurupan. Aku hanya mendengar."
"Tapi, "
"Ayah, aku sudah biasa. Sejak kecil. Sejak lahir. Ini bukan pertama kalinya."
Sastro terdiam. Ia tidak bisa membantah.
Ia tahu anaknya berbeda.
Ia tahu anaknya bisa mendengar hal-hal yang tidak bisa didengar orang lain.
Ia tahu anaknya adalah pengembara dua langit.
"Baik," kata Sastro akhirnya. "Tapi hati-hati. Jangan sampai bisikan itu menguasaimu."
"Aku tidak akan, Yah. Janji."
“ Janji”.
“iya”.
BISIKAN KEDUA
Jam dua belas siang, mereka istirahat.
Sekar datang dengan bakul bambu berisi nasi, sayur asem, ayam goreng, sambal terasi, dan kerupuk. Juga dua botol air mineral dingin yang ia bungkus dengan kain basah agar tetap segar.
"Mas, Pak, makan dulu," katanya.
Mereka duduk di pematang, di bawah pohon rindang yang tumbuh di tepi sawah.
Arga makan perlahan. Matanya tidak fokus pada makanan. Matanya kosong memandang ke arah timur.
"Mas, kenapa?" tanya Sekar.
"Tidak apa-apa. Aku hanya berpikir."
"Pikir apa?"
"Tentang besok. Tim arkeologi datang."
"Kamu takut?" Tanya Sekar
"Tidak. Tapi aku khawatir."
"Khawatir apa?"
"Khawatir apa yang akan mereka temukan. Khawatir itu akan mengubah hidup kita. Khawatir itu akan membuat Jatmika pergi."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Mas, apa pun yang terjadi, aku di sini. Aku tidak akan pergi. Aku tidak akan meninggalkanmu."
Arga tersenyum. "Terima kasih, Sekar."
"Jangan berterima kasih. Kita suami istri. Kita satu."
“ Iya, saya tahu, satu hati, satu jiwa”.
BISIKAN KETIGA
Jam tiga sore, Arga bekerja sendirian di sawah. Sastro pulang lebih awal karena badannya terasa tidak enak, mungkin kelelahan, mungkin karena usia.
Arga membajak sendiri.
Kerbau itu berjalan pelan, sesekali menghentakkan kaki, sesekali mengibaskan ekor untuk mengusir lalat.
Tiba-tiba, Arga mendengar suara.
Bukan dari kerbau.
Bukan dari sawah.
Bukan dari angin.
Tapi dari dalam tanah.
Arga ... Arga ... aku di sini ...
Ia berhenti.
Kerbau itu juga berhenti.
Arga ... jangan takut ... aku bukan musuh ...
"Siapa kamu?" bisik Arga.
Mbah Lestari. Nenek buyutmu.
"Kenapa kau memanggilku?"
Karena sudah waktunya. Karena kau sudah siap. Karena kau sudah cukup dewasa untuk menerima warisan.
"Warisan apa?"
Pusaka desa. Keris pusaka yang bisa melihat dua langit.
Keris? pikir Arga. Keris yang diceritakan Mbah Tarni?
Iya. Keris itu ada di tanah warisanmu. Di dalam gua kecil dekat batu hitam.
"Kenapa kau tidak mengambilnya sendiri?"
Aku sudah mati, Le. Aku hanya arwah. Arwah tidak bisa mengambil barang fisik.
"Lalu kenapa kau baru bicara sekarang?"
Karena baru sekarang kau mendengarku. Selama ini, kau terlalu sibuk dengan urusanmu sendiri. Mencari Sekar. Melawan Ferry. Membangun hidup.
Arga terdiam.
Mbah Lestari benar.
Selama ini, ia terlalu sibuk.
Sibuk bertahan.
Sibuk berjuang.
Sibuk mencari.
Ia tidak pernah mendengar.
Ia hanya mendengar Jatmika.
Itu pun karena Jatmika memaksanya.
Sekarang, Le, kau harus mengambil keris itu. Sebelum orang lain menemukannya.
"Siapa orang lain?"
Pak Kades. Dia sudah tahu tentang keris sejak lama. Dia sudah lama menginginkannya. Tapi dia tidak bisa mengambilnya karena keris itu dijaga oleh sesuatu.
"Apa yang menjaganya?"
Siluman ular. Ular raksasa. Ular yang hanya bisa dikalahkan oleh keturunan Mbah Lestari.
Arga merinding.
Jangan takut, Le. Kau bisa. Karena kau memiliki darah yang sama denganku. Karena kau memiliki mata yang sama denganku. Karena kau memiliki hati yang sama denganku.
Bisikan itu menghilang.
Arga berdiri di tengah sawah.
Kerbau itu memandangnya dengan mata sayu.
Ular raksasa, pikir Arga. Apa aku sanggup?
Ia tidak tahu.
Tapi ia harus mencoba.
PULANG KE RUMAH
Jam empat sore, Arga pulang.
Wajahnya pucat. Matanya cekung. Tangannya gemetar.
Sekar yang melihat langsung khawatir.
"Mas, kenapa? Sakit?"
"Tidak. Aku hanya... mendengar suara lagi."
"Suara siapa?"
"Mbah Lestari."
Sekar menarik napas. "Dia bilang apa?"
Arga menceritakan semuanya.
Tentang keris pusaka.
Tentang gua kecil.
Tentang siluman ular.
Tentang Pak Kades yang sudah lama menginginkan keris itu.
Sekar terdiam.
"Mas, ini berbahaya."
"Aku tahu."
"Tapi kamu tetap mau?"
"Aku harus. Karena ini warisan leluhurku. Karena ini rahasia terakhir Jatmika. Karena ini mungkin kesempatan terakhir bagi Mbah Lestari untuk tenang."
"Aku ikut."
"Tidak."
"Mas, "
"Tidak, Sekar. Ini terlalu berbahaya. Aku tidak akan membahayakanmu."
"Tapi, "
"Tidak ada tapi. Kamu di rumah. Jaga warung. Jaga Ibu dan Ayah. Aku akan bawa Faruq, Dimas, dan Nisa."
Sekar menangis.
"Mas, aku takut kehilanganmu."
"Kamu tidak akan kehilangan aku. Aku janji."
“Janji, ya”. Sekar masih sesengukan
“ Iya”. Jawab arga pelan
PERTEMUAN DARURAT
Jam enam sore, semua dikumpulkan.
Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Sukmawati, dan Sastro.
Mereka duduk di ruang tengah. Lampu minyak menyala redup. Wajah masing-masing tegang.
"Ada apa, Arga?" tanya Faruq.
Arga menceritakan semuanya.
Tentang bisikan Mbah Lestari.
Tentang keris pusaka.
Tentang gua kecil.
Tentang siluman ular.
Tentang Pak Kades.
Ruangan hening.
"Ular raksasa?" Faruq hampir berteriak.
"Diam, Faruq," kata Nisa.
"Tapi ini gila! Melawan ular raksasa? Kita bukan tentara!"
"Kita tidak akan melawan. Arga yang akan melawan."
"Kenapa Arga?"
"Karena dia keturunan Mbah Lestari."
Faruq terdiam.
"Faruq, apa kamu ikut?" tanya Arga.
"Tentu. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian."
"Nisa?"
"Ikut."
"Dimas?"
"Ikut. Saya bisa bantu dengan teknologi."
"Teknologi apa? Di gua tidak ada sinyal."
"Tapi saya punya senter."
“ Ada-ada, saja kau Dimas”. Sahut Nisa ketus.
Mereka tertawa kecil.
PERSIAPAN
Jam delapan malam, mereka bersiap.
Arga memakai pakaian terbaiknya, kemeja lengan panjang, celana bahan hitam, sepatu boot pinjaman dari Dimas. Ia juga membawa parang, parang pemberian Mbah Jayarasa yang dulu tergantung di dinding rumah tuanya.
"Awas, Le," pesan Sastro. "Jangan sampai celaka."
"Aku tidak akan, Yah."
"Jaga diri."
"Siap, Yah."
Sukmawati memeluk Arga. "Ibu titip kamu sama Tuhan."
"Amin, Bu."
Sekar memeluk Arga paling lama. "Mas, janji ya, pulang."
"Janji." Sahut Arga sambil mengelus pipi Sekar lembut.
Mereka berangkat.
PERJALANAN MENUJU GUA
Jam sembilan malam, mereka tiba di tanah warisan.
Bulan purnama bersinar terang. Bintang-bintang berkerlap-kerlip. Udara dingin menusuk tulang.
Arga memandang batu hitam berukir.
Ia berjalan mendekat.
Faruq, Nisa, dan Dimas mengikuti di belakang.
"Di mana guanya?" tanya Dimas.
"Di belakang batu hitam. Mbah Lestari bilang, pintu masuknya tertutup semak belukar."
Mereka mencari.
Tidak lama kemudian, Dimas menemukan celah di antara semak-semak.
"Ini, Mas!"
Arga mendekat.
Celah itu sempit. Hanya cukup untuk satu orang dengan tubuh ramping.
"Aku masuk duluan," kata Arga.
"Hati-hati," kata Faruq.
Arga merunduk. Ia masuk ke dalam gua.
Gelap.
Sangat gelap.
Udara lembab dan dingin.
Bau tanah dan batu.
Bau ... sesuatu yang lain.
Bau ular.
DI DALAM GUA
Arga menyalakan senter.
Cahaya senter menerangi dinding gua yang berbatu. Lumut di mana-mana. Air menetes dari langit-langit.
Ia berjalan perlahan.
Setiap langkah terasa berat.
Setiap suara membuat jantungnya berdebar.
Jatmika, bisiknya dalam hati. Lindungi aku.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara tetesan air.
Suara langkah kakinya sendiri.
Suara detak jantungnya yang tidak karuan.
Ia sampai di ujung gua.
Di sana, di atas batu besar, sebuah keris tertancap.
Keris dengan gagang kayu ukir.
Bilahnya berkilat di bawah cahaya senter.
Dan di samping keris itu ...
Seekor ular besar melingkar.
Warna hitam.
Mata kuning.
Lidah bercabang menjulur-julur.
"Sssstttt..." suara ular itu. "Sssstttt... kau... keturunan... Mbah Lestari?"
Arga menelan ludah. "Iya."
"Sudah lama... aku menunggu... kau..."
"Kenapa kau menunggu?"
"Karena hanya keturunan Mbah Lestari... yang bisa mengambil keris ini... yang lain akan mati... terkena bisaku..."
"Aku tidak takut."
"Kau harus takut... karena... jika kau gagal... kau akan mati..."
Arga tidak bergeming.
"Biar."
Ia melangkah maju.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Ular itu mendesis lebih keras.
"Sssstttt... jangan mendekat!"
"Aku harus mengambil keris ini."
"Kenapa?"
"Karena ini warisan leluhurku. Karena ini rahasia terakhir Jatmika. Karena ini akan membawa kedamaian bagi keluargaku."
Ular itu terdiam.
Matanya berubah.
Dari kuning menjadi hijau.
Dari hijau menjadi biru.
"Kau... jujur..." bisik ular itu. "Kau... berani... kau... pantas..."
Ia bergerak perlahan.
Membuka lingkarannya.
Menyingkir.
"Ambil... keris itu... Le..."
Arga mendekati batu.
Ia meraih gagang keris.
Ditariknya.
Keris itu lepas dengan mudah, seperti tidak pernah tertancap kuat.
Begitu keris itu berada di tangannya, seluruh gua bergetar.
Batu-batu kecil berjatuhan dari langit-langit.
Air mulai merembes dari dinding.
"Gua ini akan ambruk!" teriak ular itu. "Cepat keluar!"
Arga berlari.
Ia keluar dari gua tepat saat pintu masuk tertutup batu.
BRUK!
"Arga!" teriak Faruq.
"Aku baik-baik saja!"
Ia memegang keris di tangannya.
Keris itu berkilat di bawah cahaya bulan.
KEMBALI KE RUMAH
Jam dua belas malam, mereka tiba di rumah.
Semua sudah menunggu.
Sukmawati menangis.
Sastro memeluk Arga.
Sekar memeluk Arga paling lama.
"Mas, aku takut," bisiknya.
"Aku selamat, Sekar. Aku pulang."
Mereka masuk ke rumah.
Arga meletakkan keris itu di atas meja kayu.
Semua memandang dengan takjub.
"Ini keris pusaka desa," kata Arga. "Ini titipan Mbah Lestari. Ini rahasia terakhir Jatmika."
BAB 3
KIRIMAN DARI JOGJA
Seminggu setelah Arga berhasil mengambil keris pusaka dari gua dekat batu hitam, kehidupan di desa Wringinrejo berubah lagi. Bukan perubahan besar yang terlihat dari luar. Sawah masih hijau menguning. Burung-burung pipit masih beterbangan. Angin masih berembus sepoi-sepoi. Warung pecel Mbok Sekar masih ramai setiap pagi.
Tapi ada yang berbeda di dalam rumah.
Keris itu kini tergantung di dinding ruang tengah, di samping foto Mbah Jayarasa dan peta usang yang sudah dibingkai. Setiap malam, Arga duduk di depan keris itu, memandangnya lama, seolah sedang berkomunikasi dengan sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.
Dan setiap malam, ia mendengar bisikan.
Bisikan yang sama.
Bisikan Mbah Lestari.
Bisikan yang memberinya petunjuk.
Bisikan yang membuatnya semakin penasaran.
Tapi pagi ini, ada yang berbeda.
Seorang kurir datang ke desa.
Mengantar kiriman dari Jogja.
Kiriman dari Pak Bondan.
Dan isinya di luar dugaan semua orang.
PAGI YANG CERAH
Hari Kamis, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Warung pecel Mbok Sekar sudah ramai sejak pukul setengah tujuh.
Sekar sibuk melayani pelanggan. Sukmawati membantu mencuci piring. Ratri ikut mengantar pesanan ke meja.
"Nduk, pecel satu, bungkus!" teriak Bu Sri dari meja depan.
"Siap, Bu!"
"Sama es teh manisnya satu."
"Siap, Bu!"
Sekar bekerja dengan cepat dan rapi. Tangannya lincah menyiangi sayuran, menggoreng tempe dan tahu, meracik bumbu pecel. Wajahnya segar, matanya berbinar, bukan karena kepalsuan, tapi karena kebahagiaan.
"Mbak Sekar, kok semangat banget pagi-pagi?" tanya Bu Parti.
"Alhamdulillah, Bu. Warung ramai, rezeki lancar."
"Bagus. Semoga terus begitu."
"Amin."
KURIR DARI JOGJA
Jam sembilan pagi, sebuah sepeda motor butut masuk ke halaman rumah.
Pengendaranya laki-laki setengah baya dengan kumis tebal dan perut buncit. Jaketnya lusuh. Helmnya penyok.
"Mas Arga!" teriaknya dari kejauhan.
Arga yang sedang membantu Sastro di sawah tidak mendengar. Tapi Sekar yang sedang di warung mendengar.
"Mas Arga tidak di sini, Pak. Ada perlu apa?"
"Saya kurir dari Jogja. Antar paket untuk Mas Arga. Dari Pak Bondan."
"Pak Bondan? Toko bangunan?"
"Iya."
Sekar menerima paket itu, sebuah kotak kayu kecil dengan ukiran sederhana, dan sebuah amplop coklat tebal.
"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama, Mbak."
Kurir itu pergi.
Sekar memandang kotak kayu itu.
Ringan.
Tapi terasa penting.
Ia masuk ke dalam rumah.
"Bu, ini titipan untuk Mas Arga. Dari Pak Bondan."
Sukmawati mengerutkan kening. "Pak Bondan? Yang dulu majikan Arga di toko bangunan?"
"Iya."
"Buka, Nduk. Biar Ibu lihat."
Sekar membuka kotak kayu itu.
Di dalamnya: sebuah buku catatan tebal, sampul kulit, halaman menguning, tulisan tangan dengan tinta yang sudah mulai pudar.
Dan sebuah surat.
ISI SURAT PAK BONDAN
Sekar membuka surat itu.
Tulisan tangan Pak Bondan yang khas, besar, tegas, sedikit miring ke kanan.
"Untuk Arga, anak Sastro dari Wringinrejo. Salam sehat, Le. Semoga kamu dan Sekar bahagia. Semoga hidup di desa tenang dan penuh berkah."
"Aku kirimkan buku catatan ini. Buku ini bukan milikku. Buku ini milik Mbah Jayarasa. Dia titipkan padaku bertahun-tahun lalu, sebelum kamu datang ke kota. Dia bilang, 'Simpan ini, Bondan. Berikan pada Arga ketika dia sudah pulang. Ketika dia sudah tenang. Ketika dia sudah siap.'"
"Aku tidak tahu isi buku ini. Aku tidak pernah membukanya. Tapi aku percaya, ini penting untukmu."
"Jaga diri, Le. Jangan lupa, toko bangunan masih menunggumu jika suatu hari kamu ingin kembali ke kota."
" Pak Bondan"
Sekar memandang buku catatan itu.
Buku catatan Mbah Jayarasa.
Apa isinya?
Ia tidak berani membuka.
"Ini untuk Mas Arga," katanya pada Sukmawati. "Tunggu Mas Arga pulang."
ARGA PULANG
Jam dua belas siang, Arga pulang dari sawah.
Wajahnya merah, bajunya basah keringat, celananya berlumpur. Tapi matanya berbinar, bukan karena kelelahan, tapi karena kebahagiaan. Ada kepuasan tersendiri menjadi petani. Ada kebanggaan tersendiri bisa menghidupi keluarga dari hasil keringat sendiri.
"Mas, ada kiriman dari Jogja," kata Sekar.
"Kiriman? Dari siapa?"
"Dari Pak Bondan."
Arga mengerutkan kening. Ia masuk ke ruang tengah.
Di atas meja kayu, sebuah kotak terbuka. Di sampingnya, buku catatan tebal dan sepucuk surat.
Arga membaca surat itu.
Matanya basah.
"Pak Bondan," bisiknya.
"Dia orang baik."
Ia mengambil buku catatan itu.
Membuka halaman pertama.
BUKU CATATAN MBAH JAYARASA
Halaman pertama.
"Catatan ini aku mulai pada tahun 1968, ketika aku masih muda. Ketika aku masih tinggal di desa ini. Ketika Mbah Lestari masih hidup."
"Mbah Lestari adalah nenek buyut Arga. Dia perempuan sakti. Dia bisa melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat orang lain. Dia bisa mendengar suara-suara yang tidak bisa didengar orang lain. Dia bisa berkomunikasi dengan alam."
"Dia juga yang menanam keris pusaka di gua dekat batu hitam. Keris yang hanya bisa diambil oleh keturunannya."
"Aku tidak tahu persis apa kekuatan keris itu. Tapi Mbah Lestari bilang, keris itu bisa membantu pemiliknya 'melihat dua langit', melihat dunia nyata dan dunia gaib secara bersamaan."
"Arga, jika kau membaca catatan ini, berarti kau sudah mengambil keris itu. Selamat. Kau sudah melewati ujian pertama."
"Tapi perjalananmu belum selesai. Masih ada ujian kedua. Ujian yang lebih berat. Ujian yang melibatkan orang-orang terdekatmu."
"Jaga mereka. Jangan sampai mereka celaka karenamu."
"Jayarasa"
Arga menutup buku itu.
Dadanya sesak.
Ujian kedua?
Ujian yang lebih berat?
Ujian yang melibatkan orang-orang terdekat?
Ia memandang Sekar.
Ia memandang Sukmawati.
Ia memandang Sastro yang baru masuk dari belakang.
Jaga mereka, bisiknya dalam hati. Jangan sampai mereka celaka karenamu.
FARUQ DATANG
Jam satu siang, Guntur datang.
Ia baru saja dari rumah Mbah Jayarasa, membersihkan makam dan sekitar rumah tua itu.
"Arga, ada kabar," katanya sambil duduk di kursi kayu.
"Kabar apa?"
"Tim arkeologi yang akan meneliti batu hitam, mereka batal datang."
"Batal? Kenapa?"
"Katanya, ada kendala teknis. Peralatan mereka rusak. Butuh waktu untuk memperbaiki."
"Kapan mereka bisa datang?"
"Tidak tahu. Mungkin minggu depan. Mungkin bulan depan. Mungkin tidak jadi."
Arga menghela napas.
"Ada apa dengan mereka?"
"Entahlah. Tapi aku curiga."
"Curiga sama siapa?"
"Pak Kades."
Arga menatap Faruq.
"Kamu pikir Pak Kades yang mengatur?"
"Mungkin. Dia tidak ingin batu hitam itu diteliti. Dia takut ada sesuatu yang terungkap."
"Apa yang bisa terungkap?"
"Entahlah. Tapi yang jelas, Pak Kades punya banyak rahasia. Dan dia tidak ingin rahasianya terbongkar."
OBROLAN DI WARUNG
Jam dua siang, warung mulai sepi.
Sekar membersihkan meja dan kursi. Sukmawati membantu mencuci piring. Arga, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, dan Samsul duduk di bawah pohon mangga depan rumah.
"Pak Kades semakin mencurigakan," kata Faruq.
"Setuju," kata Nisa. "Dia sering terlihat keluar malam. Naik motor. Sendirian. Pulang pagi."
"Kemana dia?"
"Tidak tahu. Tapi arahnya ke timur. Ke tanah warisan Arga."
"Ke batu hitam?"
"Iya."
"Dia mencari keris?"
"Mungkin. Tapi keris sudah di tangan Arga."
"Maka dia akan mencari cara lain untuk mengambilnya."
Arga mengepalkan tangan.
"Aku tidak akan membiarkan Pak Kades mengambil keris ini."
"Kita jaga bersama," kata Dimas. "Aku bisa pasang kamera pengawas di sekitar tanah."
"Modal?"
"Tidak usah. Aku punya stok."
"Kamu hebat, Dimas."
"Saya tidak hebat. Saya hanya paranoid."
Mereka tertawa.
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit dipenuhi bintang.
Bulan purnama bersinar terang.
Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Aku ikut."
"Ikut apa?"
"Ikut menjaga keris. Jaga malam. Bergantian dengan yang lain."
"Tidak. Kamu di rumah."
"Mas. "
"Tidak, Sekar. Ini terlalu berbahaya. Pak Kades tidak main-main. Dia bisa melakukan apa saja."
"Tapi. "
"Tidak ada tapi. Aku sudah kehilanganmu sekali. Aku tidak akan kehilanganmu lagi."
Sekar menangis.
"Mas, jangan pergi."
"Aku tidak akan pergi. Aku hanya menjaga."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berpelukan.
JAGA MALAM PERTAMA
Jam sepuluh malam, Arga, Faruq, dan Dimas berangkat ke tanah warisan.
Mereka membawa senter, parang, dan kamera pengawas.
Dimas memasang kamera di beberapa titik strategis, di pohon, di batu, di semak-semak.
"Ini terhubung ke ponselku," kata Dimas. "Kalau ada yang bergerak, aku akan tahu."
"Bagus," kata Faruq.
Mereka duduk di bawah pohon randu.
Angin malam berembus dingin.
Suara jangkrik dan kodok mengisi keheningan.
"Siapa yang jaga pertama?" tanya Dimas.
"Aku," kata Arga.
"Kalian tidur. Aku bangunkan jam dua."
"Baik."
Faruq dan Dimas berbaring di bawah pohon. Mereka memejamkan mata.
Arga duduk tegak.
Ia memegang keris di pangkuannya.
Keris itu dingin.
Sangat dingin.
Tapi di balik dingin itu, ada kehangatan.
Kehangatan yang familiar.
Kehangatan Mbah Lestari.
"Jaga keris ini, Le," bisik suara di telinganya.
"Aku akan," jawab Arga dalam hati.
"Jangan sampai jatuh ke tangan yang salah."
"Aku tidak akan."
"Bagus. Aku percaya padamu."
RAPAT KELUARGA
Dua minggu setelah Arga menerima kiriman buku catatan Mbah Jayarasa dari Pak Bondan, suasana di rumah kecil di pinggir sawah itu berubah. Bukan menjadi tegang seperti dulu ketika Arga masih berjuang melawan Ferry. Bukan menjadi panik seperti ketika preman datang menyerang. Tapi menjadi lebih serius, lebih terencana, lebih terorganisir.
Sebab, untuk pertama kalinya dalam sejarah keluarga Sastro, mereka mengadakan rapat keluarga formal.
Bukan rapat biasa yang hanya dihadiri oleh Sastro, Sukmawati, dan Arga. Tapi rapat besar yang melibatkan semua anggota keluarga besar, termasuk Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, dan bahkan Pak Bondan yang datang jauh-jauh dari Jogja.
Tujuan rapat: membahas masa depan.
Masa depan Arga dan Sekar.
Masa depan tanah warisan.
Masa depan keris pusaka.
Masa depan desa Wringinrejo.
Dan yang tidak kalah penting: masa depan melawan Pak Kades yang semakin menjadi-jadi.
PAGI YANG CERAH
Hari Sabtu, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Warung pecel Mbok Sekar tutup sementara, ada papan pemberitahuan di depan warung: "Tutup. Ada acara keluarga. Maaf."
Beberapa warga yang lewat mengerutkan kening, ada yang bertanya, ada yang hanya menggeleng.
"Mbok Sekar, kok tutup?" tanya Bu Sri.
"Ada acara keluarga, Bu. Besok buka lagi."
"Wah, sayang. Saya sudah kangen pecelnya."
"Besok, Bu. Janji."
Bu Sri tersenyum. "Baik. Saya tunggu."
Sekar masuk ke dalam rumah.
Di ruang tengah, semua sudah berkumpul.
Sastro duduk di kursi bambu favoritnya, memegang kopi hitam pahit tanpa gula. Sukmawati di sampingnya, memegang nampan berisi pisang goreng dan teh jahe.
Arga dan Sekar duduk di kursi kayu di depan.
Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, dan Pak Bondan duduk melingkar di lantai beralas tikar pandan.
"Kita mulai," kata Arga.
PAK BONDAN BICARA
Pak Bondan yang duduk di kursi kayu, di samping Sastro, angkat bicara lebih dulu.
"Le," panggilnya pada Arga.
"Iya, Pak."
"Aku datang ke sini bukan hanya untuk menghadiri rapat keluarga. Aku datang untuk menawarkan sesuatu."
"Apa, Pak?"
Aku ingin kamu menjadi mitra bisnisku. Toko bangunan di Jogja akan aku buka cabang di kecamatan. Aku butuh orang kepercayaan untuk mengelolanya. Dan orang itu adalah kamu.
Ruangan hening.
Arga tidak menyangka.
"Pak Bondan, saya tidak punya modal, "
"Modal tidak masalah. Aku yang akan menyediakan. Kamu hanya perlu waktu dan tenaga."
"Tapi saya tidak punya pengalaman, "
"Kamu punya pengalaman bekerja di tokoku selama berbulan-bulan. Kamu tahu bagaimana toko itu berjalan. Kamu tahu cara melayani pelanggan. Kamu tahu cara mengatur stok barang. Itu sudah cukup."
Arga masih ragu.
"Pak, saya juga punya tanggung jawab di sawah. Saya tidak bisa meninggalkan ayah."
Sastro yang mendengar itu langsung menimpali.
"Le, ayah tidak butuh kamu di sawah setiap hari. Ayah masih kuat. Ayah masih bisa bekerja sendiri. Kamu fokus pada tawaran Pak Bondan."
"Tapi, Yah, "
"Tidak ada tapi. Ayah sudah tua. Ayah tidak ingin kamu jadi petani seumur hidup. Kamu harus punya masa depan yang lebih baik. Untuk kamu. Untuk Sekar. Untuk anak cucumu nanti."
Arga terdiam.
Ia memandang Sekar.
Sekar mengangguk.
"Terima kasih, Pak Bondan," kata Arga akhirnya. "Saya terima."
Pak Bondan tersenyum. "Bagus. Kita mulai bulan depan. Aku akan bantu kamu cari lokasi toko di kecamatan."
MASALAH TANAH
Setelah Pak Bondan selesai, Faruq angkat bicara.
"Arga, ada hal lain yang harus kita bicarakan."
"Apa?"
"Tanah warisanmu. Pak Kades semakin sering berkeliaran di sekitar tanah itu. Malam-malam. Sendirian. Aku curiga dia mencari sesuatu."
"Keris?"
"Mungkin. Tapi bisa juga sesuatu yang lain. Mbah Lestari bilang, di tanah itu ada pusaka desa. Tapi pusaka tidak hanya keris."
"Apa lagi?"
"Entahlah. Kita harus mencari tahu sebelum Pak Kades menemukannya."
Dimas menambahkan, "Kamera pengawas yang saya pasang minggu lalu sudah merekam beberapa gerakan mencurigakan. Pak Kades datang dua kali. Membawa senter. Membawa cangkul. Dia menggali di beberapa tempat."
"Apakah dia menemukan sesuatu?"
"Belum. Tapi dia terus mencoba."
"Kita harus menghentikannya."
"Cara apa?"
"Minta kecamatan turun tangan?"
"Kecamatan tidak akan berani. Pak Kades sudah puluhan tahun menjabat. Punya banyak koneksi."
"Lapor polisi?"
"Polisi juga bisa dibeli."
Arga menghela napas. "Lalu?"
Faruq memandang Arga. "Kita jaga sendiri. Bergantian. Setiap malam. Sampai Pak Kades menyerah."
"Setuju," kata semua.
SAMSUL BICARA
Samsul yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara.
"Mas Arga, saya ingin minta izin."
"Izin apa, Samsul?"
"Saya ingin ikut jaga. Saya sudah berubah. Saya bukan mata-mata Ferry lagi. Saya ingin membantu."
Arga memandang Samsul.
Laki-laki yang dulu ia benci. Laki-laki yang dulu mengkhianatinya. Laki-laki yang dulu hampir membunuhnya. Kini berdiri di depannya, menawarkan bantuan.
"Kamu yakin?" tanya Arga.
"Saya yakin, Mas. Ini untuk keluarga saya. Untuk istri saya. Untuk anak-anak saya. Agar mereka bangga pada saya."
"Baik. Kamu ikut."
Samsul tersenyum.
RATRI BICARA
Ratri yang duduk di pojok ikut bersuara.
"Mas Arga, saya juga mau ikut jaga."
"Kamu? Kamu perempuan."
"Perempuan juga bisa jaga, Mas. Saya sudah dewasa. Saya sudah bekerja sebagai perangkat desa. Saya tahu medan. Saya tahu seluk-beluk desa."
"Tapi, "
"Mas, jangan meremehkan perempuan. Dulu waktu Mas mencari Sekar, perempuan-perempuan seperti Nisa dan Laras banyak membantu. Sekarang giliran saya."
Arga tersenyum. "Baik. Kamu ikut."
Ratri tersenyum lebar.
FARUQ DAN NISA
Faruq dan Nisa yang duduk di samping Dimas ikut angkat bicara.
"Mas Arga, kami juga mau ikut jaga," kata Faruq.
"Kalian? Kalian harus kembali ke Jogja. Kuliah kalian, "
"Kuliah bisa ditinggal sebentar. Ini lebih penting. Ini menyangkut nyawa."
"Tapi, "
"Mas, kami sudah dewasa. Kami tahu risiko. Kami siap."
Arga menghela napas. "Baik. Kalian ikut."
Faruq dan Nisa tersenyum.
DIMAS DAN TEKNOLOGI
Dimas mengeluarkan laptopnya.
"Mas Arga, saya sudah siapkan sistem keamanan digital untuk tanah warisan. Kamera tersembunyi. Sensor gerak. Alarm. Semua terhubung ke ponsel saya."
"Serius?"
"Serius. Saya sudah uji coba semalam. Alarmnya bunyi ketika ada tikus lewat."
"Tikus?"
"Iya. Sensitif sekali. Nanti kita atur ulang."
Mereka tertawa.
NISA DAN FARUQ
Nisa dan Faruq yang duduk berdua di pojok ikut bersuara.
"Arga," panggil Nisa.
"Iya."
"Saya dan Faruq akan fokus pada sisi spiritual. Keris ini tidak hanya benda mati. Ada energi di dalamnya. Kita harus belajar menggunakannya."
"Belajar dari siapa?"
"Mbah Tarni. Sesepuh desa. Dia tahu banyak tentang Mbah Lestari dan keris pusaka."
"Kapan?"
"Besok. Aku sudah janjian dengan Mbah Tarni."
"Baik."
SEKAR BICARA
Sekar yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara.
"Maaf, saya ikut bicara."
Semua menoleh.
"Aku setuju dengan semua rencana. Tapi aku tidak setuju dengan satu hal."
"Apa?" tanya Arga.
"Aku juga ikut jaga."
"Tidak, "
"Tidak ada tidak. Aku istrimu. Aku berhak ikut. Aku tidak bisa diam di rumah sementara kamu berisiko."
"Tapi, "
"Mas, ingatkah kau dulu. Waktu aku masih di rumah Ferry. Aku berteriak minta tolong. Aku menangis setiap malam. Aku berdoa agar seseorang datang menyelamatkanku. Dan orang itu adalah kamu."
Ruangan hening.
Sekar melanjutkan.
"Sekarang giliranku. Aku tidak akan tinggal diam. Aku akan ikut menjaga. Aku akan ikut berjuang. Aku akan ikut mempertaruhkan nyawa."
Arga memandang Sekar.
Ia tidak bisa menolak.
"Baik," katanya. "Kamu ikut."
Sekar tersenyum.
PENUTUP RAPAT
Jam dua belas siang, rapat selesai.
Makan siang bersama.
Sukmawati memasak nasi tumpeng kecil, ayam ingkung, sayur lodeh, sambal goreng, dan kerupuk.
"Makasih, Bu," kata Arga.
"Sama-sama, Le. Ibu hanya bisa masak. Doa Ibu menyertai kalian."
"Amin."
Mereka makan bersama.
Tertawa bersama.
Bercerita tentang masa lalu.
Tentang perjuangan.
Tentang cinta.
Tentang persahabatan.
MALAM PERTAMA JAGA BERSAMA
Jam delapan malam, semua berkumpul di tanah warisan.
Mereka membawa tikar, senter, makanan ringan, dan air minum.
Dimas memasang kamera dan sensor.
Faruq dan Nisa duduk di dekat batu hitam, membaca doa-doa yang diajarkan Mbah Tarni.
Pak Sastro jaga di sisi barat.
Dimas dan Ratri jaga di sisi utara.
Samsul dan Pak Bondan jaga di sisi selatan.
Arga dan Sekar jaga di sisi timur, dekat pohon randu.
"Mas, dingin," bisik Sekar.
"Pegang tanganku."
Sekar menggenggam tangan Arga.
Hangat.
Meskipun udara dingin.
Meskipun angin malam menusuk tulang.
"Mas."
"Iya."
"Aku bahagia."
"Bahagia kenapa?"
"Karena kita bersama. Karena kita berjuang bersama. Karena kita tidak sendiri."
Arga mencium kening Sekar.
"Selamanya, Sekar."
"Selamanya."
BAB 4
TETANGGA YANG KEJI
Tiga malam setelah rapat keluarga dan dimulainya jaga malam bergilir di tanah warisan, desa Wringinrejo dikejutkan oleh sebuah peristiwa yang tidak pernah mereka duga. Bukan pencurian. Bukan perampokan. Bukan kebakaran. Tapi pengrusakan.
Warung pecel Mbok Sekar, yang baru buka beberapa minggu, yang sudah menjadi kebanggaan warga desa, yang menjadi simbol kebangkitan Sekar dari keterpurukan dirusak orang tidak dikenal.
Malam itu, sekitar pukul dua dini hari, saat Arga dan Sekar sedang bertugas jaga di tanah warisan, seseorang masuk ke halaman rumah, merusak tenda bambu, membanting kursi-kursi kayu, memecahkan piring dan gelas, dan mencoret-coret papan nama "PECEL MBOK SEKAR" dengan cat hitam.
Tidak ada yang melihat.
Tidak ada yang mendengar.
Hingga pagi harinya, ketika Sukmawati keluar rumah untuk menyapu halaman, ia menemukan kekacauan itu.
"YA ALLAH!" teriaknya.
Suaranya memecah keheningan pagi.
Sastro yang masih di kamar langsung keluar. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar.
"Apa yang terjadi, Bu?"
"Warung... warung Sekar... dirusak orang!"
Sastro memandang sekeliling.
Tenda bambu roboh. Kursi-kursi kayu berserakan, ada yang patah kakinya. Piring dan gelas pecah di lantai. Papan nama "PECEL MBOK SEKAR" sudah tidak terbaca karena coretan cat hitam yang menyerupai kata-kata kasar.
"Sialan," geram Sastro. "Siapa yang berani?"
"Pasti Pak Kades," bisik Sukmawati. "Atau istrinya. Atau preman bayarannya."
"Kita laporkan ke polisi."
"Polisi? Pak Kades punya polisi."
"Maka kita laporkan ke kecamatan."
"Kecamatan juga takut pada Pak Kades."
"Lalu?"
Sukmawati menangis. "Aku tidak tahu, Mas. Aku tidak tahu."
ARGA DAN SEKAR PULANG
Jam setengah tujuh pagi, Arga dan Sekar pulang dari tanah warisan.
Mereka berjalan melewati pematang sawah, melewati kebun singkong, melewati hutan jati kecil. Wajah mereka lelah, tapi hati mereka tenang karena malam berjalan lancer, tidak ada gangguan, tidak ada Pak Kades, tidak ada preman.
Tapi begitu sampai di depan rumah, mereka melihat kerumunan warga.
"Ada apa?" tanya Arga pada Bu Sri yang berdiri di pinggir jalan.
"Warungmu, Mas. Dirusak orang."
Darah Arga berhenti mengalir.
Ia berlari ke halaman.
Ia melihat tenda roboh. Kursi patah. Piring pecah. Papan nama dicat hitam dengan tulisan "PECEL SETAN" dan "MUKA SAMPAH" dan kata-kata kasar lainnya.
"SIAPA YANG NGELAKUKAN INI?" teriak Arga.
Tidak ada yang menjawab.
Warga hanya diam.
Ada yang menggeleng.
Ada yang menunduk.
Ada yang pergi karena tidak ingin terlibat.
Sekar datang dari belakang.
Ia memandang warungnya yang hancur.
Ia tidak menangis.
Ia hanya diam.
Matanya kosong.
Tangannya gemetar.
"Pak Kades," bisiknya. "Pasti Pak Kades."
PAK BONDAN BICARA
Pak Bondan yang ikut jaga malam di tanah warisan, ikut melihat kerusakan.
"Le," panggilnya.
"Iya, Pak."
"Ini sudah keterlaluan. Kamu harus lawan."
"Lawan bagaimana, Pak? Saya hanya petani. Dia kepala desa."
"Kamu bukan hanya petani. Kamu pejuang. Kamu sudah membuktikan itu ketika melawan Ferry."
"Tapi, "
"Tidak ada tapi. Aku akan bantu. Aku punya teman di pers. Di LSM. Di kepolisian. Aku akan telepon mereka hari ini."
"Terima kasih, Pak."
"Jangan berterima kasih. Kita mitra."
FARUQ BICARA
Faruq yang ikut jaga malam juga ikut melihat.
"Arga," katanya.
"Iya."
"Aku sudah merekam malam ini dengan kamera tersembunyi yang aku pasang di pohon mangga."
"Kamera? Kapan?"
"Semalam. Sebelum kita berangkat. Aku curiga akan ada serangan."
"Kenapa tidak bilang?"
"Karena aku tidak ingin membuatmu panik. Dan aku ingin bukti. Biar Pak Kades tidak bisa mengelak."
"Hasilnya?"
Faruq mengeluarkan laptopnya.
Ia membuka file rekaman.
Tampak seseorang masuk ke halaman rumah sekitar pukul dua dini hari. Wajahnya tertutup kain hitam. Tapi postur tubuhnya, Faruq membesarkan gambar.
"Pak Kades," kata Faruq yakin.
"Iya. Aku kenal cara jalannya. Cara mengangkat tangannya. Cara memegang pentungan."
"Ini bukti kuat. Kita bisa bawa ke polisi."
"Tapi Pak Kades punya polisi."
"Kita bawa ke Polda. Bukan Polres. Aku punya kontak."
"Kamu hebat, Faruq."
"Aku tidak hebat. Aku hanya paranoid."
NISA BICARA
Nisa yang ikut jaga malam juga ikut melihat.
"Arga," katanya.
"Iya."
"Aku punya usul."
"Apa?"
"Kita lawan Pak Kades dengan cara halus. Jangan dengan kekerasan. Jangan dengan amarah."
"Lalu?"
"Kita kumpulkan bukti. Bukan hanya video ini. Tapi juga bukti-bukti lain. Tentang korupsinya. Tentang penyalahgunaan wewenangnya. Tentang preman-preman bayarannya."
"Lama."
"Tapi aman."
"Baik. Kita lakukan."
Pada kesempatan itu Faruq dan Nisa mau berpamita pulang ke jogja
"Mas Arga," kata Faruq.
"Iya."
"Saya dan Nisa akan kembali ke Jogja."
"Kapan?"
"Besok."
"Kenapa buru-buru?"
"Kami akan kumpulkan teman-teman aktivis. Kami akan buat petisi. Kami akan desak kecamatan untuk menindak Pak Kades."
"Apa itu bisa?"
"Bisa. Asalkan kita punya bukti kuat."
"Saya punya video."
"Itu cukup."
"Baik. Terima kasih, Faruq. Nisa."
"Sama-sama, Mas."
DIMAS DAN RATRI BICARA
Dimas dan Ratri yang ikut jaga malam juga ikut melihat.
"Mas Arga," kata Dimas.
"Iya."
"Aku akan pasang lebih banyak kamera. Di rumah. Di warung. Di tanah warisan. Di mana-mana."
"Kamu punya stok?"
"Stok habis. Tapi aku bisa beli di kecamatan."
"Uang?"
"Pak Bondan yang bayar."
Pak Bondan mengangguk.
"Bagus," kata Arga. "Lakukan."
"Ratri, kamu akan bantu Dimas?"
"Siap, Mas."
SAMSUL BICARA
Samsul yang ikut jaga malam juga ikut melihat.
"Mas Arga," katanya.
"Iya."
"Saya akan jaga malam di rumah ini. Saya akan lindungi Ibu dan Bapak."
"Sendirian?"
"Bersama keluarga saya. Istri dan anak-anak sudah saya ajak ke sini. Mereka akan tinggal sementara di rumah Mbah Jayarasa."
"Kamu yakin?"
"Saya yakin, Mas. Ini untuk menebus dosa saya."
Arga menepuk bahu Samsul.
"Terima kasih."
SEKAR BANGKIT
Setelah semua bicara, Sekar angkat bicara.
"Mas," panggilnya.
"Iya."
"Aku tidak akan menangis."
"Bagus."
"Aku tidak akan marah."
"Bagus."
"Aku tidak akan dendam."
"Bagus."
"Aku akan memperbaiki warung ini. Lebih bagus dari sebelumnya."
Arga tersenyum.
"Itu dia Sekar yang aku kenal."
Mereka berpelukan.
MEMPERBAIKI WARUNG
Jam sembilan pagi, semua mulai bekerja.
Sastro memperbaiki tenda bambu.
Sukmawati dan Sekar membersihkan piring pecah.
Arga mengecat ulang papan nama.
Dimas memasang kamera baru.
Ratri membantu Pak Bondan membeli material.
Faruq dan Nisa menyiapkan petisi.
Samsul menjaga rumah.
"Kita selesai hari ini?" tanya Sekar.
"Kita selesai hari ini," jawab Arga.
"Warung buka besok?"
"Warung buka besok."
Sekar tersenyum.
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, warung sudah selesai.
Lebih bagus dari sebelumnya.
Tenda bambu lebih kokoh.
Kursi kayu lebih kuat.
Piring dan gelas baru.
Papan nama baru dengan tulisan "PECEL MBOK SEKAR" yang lebih besar dan lebih tebal.
"Mas, besok kita buka," kata Sekar.
"Aku akan bantu."
"Kamu harus ke sawah."
"Sawah bisa ditinggal. Ini lebih penting."
"Terima kasih, Mas."
"Jangan berterima kasih. Kita suami istri."
Mereka berpelukan.
RATRI MENJADI SAKSI
Dua hari setelah pengrusakan warung pecel, desa Wringinrejo memasuki babak baru. Bukan babak ketakutan seperti ketika preman Ferry datang. Bukan babak keputusasaan seperti ketika Arga kehilangan jejak Sekar. Tapi babak keberanian. Babak di mana seorang perempuan muda, Ratri, sahabat Arga sejak kecil, perangkat desa yang baru menjabat beberapa bulan, memutuskan untuk tidak tinggal diam.
Ratri melihat sendiri pengrusakan itu. Ratri melihat sendiri rekaman video dari kamera Guntur yang membuktikan bahwa Pak Kades adalah pelakunya. Ratri juga melihat sendiri bagaimana Pak Kades selama ini menyalahgunakan wewenangnya, memeras warga desa, dan melindungi preman-preman bayaran.
Dan Ratri mengambil keputusan yang mengubah segalanya.
Ia akan menjadi saksi.
Ia akan melapor ke kecamatan.
Ia akan membawa bukti-bukti.
Ia akan melawan Pak Kades.
Meskipun itu berarti ia harus kehilangan pekerjaan. Meskipun itu berarti ia harus diasingkan oleh warga desa yang pro-Pak Kades. Meskipun itu berarti nyawanya terancam.
Karena Ratri percaya pada kebenaran. Dan kebenaran tidak bisa dikalahkan oleh uang dan kekuasaan.
PAGI YANG MENDUNG
Hari Selasa, langit mendung. Awan hitam menggulung dari arah barat. Angin bertiup kencang, membawa aroma tanah basah, tanda hujan akan segera turun. Daun-daun pisang di belakang rumah bergerak-gerak, bergesekan satu sama lain, menimbulkan suara seperti bisikan panjang.
Ratri duduk di beranda rumah Arga. Ia tidak banyak bicara sejak pagi. Ia hanya duduk, memandang ke arah timur, ke arah rumah Pak Kades yang terletak di ujung desa. Matanya tajam. Tangannya menggenggam erat secarik kertas, kertas berisi daftar bukti pelanggaran Pak Kades yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun.
"Ratri, kamu sudah sarapan?" tanya Sukmawati dari dapur.
"Belum, Budhe. Nanti saja."
"Jangan nanti. Nanti perutmu sakit."
"Iya, Budhe."
Tapi Ratri tidak bergerak.
Ia masih duduk.
Masih memandang jauh.
Masih memikirkan langkah selanjutnya.
Arga yang baru selesai mandi keluar kamar. Ia melihat Ratri yang termenung. Ia duduk di sampingnya.
"Rat, kamu kenapa? Dari tadi diam saja."
"Aku berpikir, Mas."
"Pikir apa?"
Ratri menoleh. Matanya berkaca-kaca.
"Aku akan melapor ke kecamatan."
Arga terkesiap. "Kamu yakin?"
"Aku yakin."
"Risikonya besar. Kamu bisa dipecat. Kamu bisa diusir dari desa. Kamu bisa, "
"Aku tahu, Mas. Aku sudah memikirkan semua itu."
"Tapi, "
"Mas, selama ini aku hanya diam. Aku hanya jadi perangkat desa yang menjalankan perintah. Aku hanya jadi penonton ketika Mas berjuang melawan Ferry. Aku hanya jadi pembantu ketika Mas menyusun strategi. Sekarang, giliranku."
Arga terdiam.
"Aku tidak akan diam lagi, Mas. Aku akan bicara. Aku akan lawan. Aku akan jadi saksi."
Arga memegang tangan Ratri.
"Baik. Aku dukung. Kita semua dukung."
Ratri tersenyum. Air matanya jatuh.
CAMAT DATANG
Jam sepuluh pagi, Kecamatan datang ke desa.
Ia dipanggil oleh Ratri melalui surat resmi, surat yang ditandatangani oleh Arga, Sekar, Faruq, Nisa, Dimas, Pak Bondan, Samsul, dan beberapa warga desa yang pro-Arga.
Camat itu laki-laki setengah baya, berbadan gemuk, berkumis tebal, berkacamata. Ia memakai kemeja batik lengan panjang dan celana bahan hitam. Di tangannya, map coklat tebal berisi dokumen.
"Selamat pagi, Pak Camat," sapa Arga.
"Selamat pagi, Mas Arga. Ada apa? Kok mendadak minta saya datang ke desa? Biasanya warga yang datang ke kantor."
"Ini darurat, Pak."
"Darurat apa?"
"Pengrusakan. Pemerasan. Penyalahgunaan wewenang. Oleh Pak Kades."
Wajah Pak Camat berubah.
"Kamu punya bukti?"
"Iya, Pak. Banyak."
RATRI BERSAKSI
Mereka duduk di ruang tengah.
Ratri berdiri di depan Camat. Ia tidak duduk. Ia ingin semuanya jelas. Ia ingin semua orang melihat bahwa ia serius.
"Pak Camat," kata Ratri dengan suara tegas, "saya Ratri. Perangkat desa Wringinrejo. Saya ingin melaporkan Pak Kades atas beberapa pelanggaran."
"Silakan," kata Camat.
Ratri mengeluarkan bukti satu per satu.
Bukti pertama: foto-foto pengrusakan warung pecel. Lengkap dengan rekaman video dari kamera Guntur yang memperlihatkan wajah Pak Kades.
"Pengrusakan terjadi tiga hari lalu. Warung milik Mbak Sekar dirusak. Tenda roboh. Kursi patah. Piring pecah. Papan nama dicat hitam dengan kata-kata kasar. Pelaku: Pak Kades. Buktinya ada di video ini."
Camat memandang video itu.
Wajahnya semakin tegang.
Bukti kedua: catatan pemerasan. Ratri mengeluarkan buku catatan kecil, buku yang ia sembunyikan selama bertahun-tahun.
"Ini catatan saya. Setiap warga yang ingin mengurus surat-surat administrasi, Pak Kades meminta uang 'administrasi' di luar ketentuan. Besarannya bervariasi. Ada yang lima puluh ribu. Ada yang seratus ribu. Ada yang lima ratus ribu tergantung jenis surat."
Camat membolak-balik catatan itu.
"Lanjut."
Bukti ketiga: daftar preman bayaran. Ratri mengeluarkan foto-foto beberapa preman yang sering berkeliaran di desa.
"Ini preman bayaran Pak Kades. Mereka bekerja untuk mengintimidasi warga yang tidak sependapat dengan Pak Kades. Mereka juga yang membantu Pak Kades mengatur pemerasan."
"Apakah ada bukti hubungan preman ini dengan Pak Kades?"
"Ada, Pak. Rekaman percakapan Pak Kades dengan salah satu preman. Nisa yang merekam."
Nisa maju. Ia memutar rekaman suara.
Suara Pak Kades terdengar jelas.
"Pokoknya, warung pecel itu harus ditutup. Saya tidak suka lihat Arga dan Sekar bahagia."
"Bagaimana caranya, Pak?" suara preman.
"Rusak saja. Malam-malam. Jangan sampai ketahuan."
"Risikonya?"
"Saya tanggung. Kalau ada yang melapor, saya yang urus."
Camat mematikan rekaman.
Wajahnya pucat.
"Ini bukti kuat," katanya. "Pak Kades tidak bisa mengelak."
"Apa yang akan Bapak lakukan?" tanya Ratri.
Camat menghela napas. "Saya akan panggil Pak Kades. Saya akan minta keterangannya. Jika terbukti, saya akan rekomendasikan pemberhentian sementara."
"Kapan?"
"Hari ini. Juga."
PAK KADES DIPANGGIL
Jam dua belas siang, Pak Kades datang.
Ia berjalan tegap, seperti tidak bersalah. Wajahnya tenang. Matanya tajam. Di belakangnya, dua orang preman ikut.
"Ada apa, Pak Camat? Kok dipanggil mendadak?" tanyanya.
"Duduk, Pak Kades. Ada laporan terhadap Bapak."
"Laporan? Siapa yang berani?"
"Saya," kata Ratri.
Pak Kades menatap Ratri. Matanya berubah. Dari tajam menjadi marah.
"Kamu, Ratri? Kamu bawahan saya. Kamu perangkat desa. Kamu tidak berhak melapor."
"Saya warga negara. Saya punya hak melapor."
"Kurang ajar!"
"Pak Kades, tenang," potong Camat. "Kita akan bahas dengan kepala dingin."
KONFRONTASI
Pak Kades duduk di kursi kayu.
Ia tidak mau dipanggil. Ia hanya duduk dengan santai, menyilangkan kaki, merokok.
"Pak Camat, apa bukti pelaporan ini?"
Camatan menunjukkan video, catatan pemerasan, dan rekaman suara.
Wajah Pak Kades berubah.
Pucat.
"Ini rekayasa," katanya. "Saya tidak pernah melakukan itu."
"Suara di rekaman ini suara Bapak," kata Camat.
"Suara bisa ditiru."
"Oleh siapa?"
"Oleh Arga. Atau Faruq. Atau siapa pun yang punya teknologi."
Guntur maju. "Pak Kades, teknologi tidak secanggih itu untuk meniru suara seseorang secara sempurna. Apalagi dengan intonasi dan dialek khas Bapak."
"Kamu, "
"Coba Bapak lihat video ini. Wajah Bapak jelas. Tidak tertutup. Tidak pakai topeng. Tidak pakai kain. Itu Bapak."
Pak Kades melihat video itu.
Ia tidak bisa berkata apa-apa.
"Pak Camat," kata Ratri, "saya siap bersaksi di depan siapa pun. Saya siap disumpah. Saya siap menerima konsekuensi."
Pak Kades berdiri.
"Saya tidak akan diam," katanya. "Saya punya pengacara. Saya akan lawan."
"Silakan," kata Camat. "Tapi sementara waktu, saya rekomendasikan Bapak untuk tidak menjalankan tugas sebagai kepala desa sampai kasus ini jelas."
"Saya tidak terima!"
"Itu wewenang saya, Pak Kades. Bapak bisa mengadu ke bupati. Tapi untuk sementara, perintah ini berlaku."
Pak Kades pergi.
Membanting pintu.
Wajahnya merah.
Matanya melotot.
SETELAH KEPERGIAN PAK KADES
Camat menghela napas.
"Mas Arga, Mbak Ratri. Saya akan teruskan laporan ini ke bupati. Tapi prosesnya lama. Mungkin berbulan-bulan."
"Tidak apa, Pak. Yang penting ada keadilan."
"Baik. Saya pamit."
Camat pergi.
Ratri duduk di kursi kayu.
Tangannya gemetar.
"Rat, kamu baik-baik saja?" tanya Arga.
"Aku takut, Mas. Tapi aku lega."
"Takut kenapa?"
"Takut Pak Kades balas dendam."
"Kamu tidak sendiri. Kami di sini."
"Terima kasih, Mas."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit gelap.
Bulan tertutup awan.
Bintang-bintang tidak terlihat.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Aku bangga pada Ratri."
"Aku juga."
"Dia berani."
"Dia memang berani. Sejak kecil."
"Apakah dia akan selamat?"
Arga menghela napas. "Aku tidak tahu. Tapi kita akan lindungi dia."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berpelukan.
BAB 5
KABAR DARI BELANDA
Seminggu setelah Ratri bersaksi di depan Camatan dan Pak Kades resmi dinonaktifkan sementara dari jabatannya, desa Wringinrejo memasuki masa transisi. Bukan transisi yang tenang. Bukan transisi yang damai. Tapi transisi yang penuh ketegangan, karena meskipun Pak Kades tidak lagi menjabat, pengaruhnya masih tersisa. Preman-preman bayarannya masih berkeliaran. Pendukung-pendukungnya masih menyebarkan fitnah. Dan keluarga Pak Kades, terutama istrinya, Bu Sania, masih berusaha menggalang simpati warga.
Tapi di tengah semua itu, sebuah kabar gembira datang.
Bukan dari desa. Bukan dari kecamatan. Bukan dari kota Jogja.
Tapi dari Belanda.
Dari Guntur dan Laras.
Sepucuk surat panjang yang dikirim melalui pos kilat, karena Guntur tidak percaya dengan pesan singkat atau media sosial yang bisa disadap.
Dan isi surat itu, di luar dugaan semua orang.
PAGI YANG CERAH
Hari Jumat, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Warung pecel Mbok Sekar sudah ramai sejak pukul setengah tujuh, kembali normal setelah sempat tutup karena pengrusakan.
Sekar sibuk melayani pelanggan. Sukmawati membantu mencuci piring. Ratri ikut mengantar pesanan ke meja, meskipun ia masih waspada terhadap kemungkinan serangan dari pihak Pak Kades.
"Nduk, pecel satu, bungkus!" teriak Bu Sri dari meja depan.
"Siap, Bu!"
"Sama es teh manisnya satu."
"Siap, Bu!"
Sekar bekerja dengan cepat dan rapi. Tangannya lincah menyiangi sayuran, menggoreng tempe dan tahu, meracik bumbu pecel. Wajahnya segar, matanya berbinar, bukan karena kepalsuan, tapi karena kebahagiaan dan ketenangan.
"Mbak Sekar, kok semangat banget pagi-pagi?" tanya Bu Parti.
"Alhamdulillah, Bu. Warung ramai, rezeki lancar. Lagi pula, ada kabar baik yang saya tunggu-tunggu."
"Kabar baik apa?"
"Surat dari Guntur dan Laras. Dari Belanda."
"Wah, saudara Mbak Sekar?"
"Bukan. Sahabat. Sahabat yang sudah seperti saudara."
"Bagus. Semoga isinya kabar bahagia."
"Amin."
SURAT DARI BELANDA
Jam sembilan pagi, warung mulai sepi.
Sekar membersihkan meja dan kursi. Sukmawati membantu mencuci piring. Ratri ikut membereskan peralatan.
Arga yang baru pulang dari sawah masuk ke rumah dengan langkah cepat. Wajahnya masih merah karena terik matahari, bajunya basah keringat. Tapi matanya berbinar—bukan karena kelelahan, tapi karena penasaran.
"Mas, ada surat dari Guntur dan Laras," kata Sekar sambil menyerahkan amplop putih tebal.
Arga menerima amplop itu.
Tangannya gemetar.
Ia membuka amplop itu perlahan, takut merusak isinya.
Di dalamnya: beberapa lembar kertas putih dengan tulisan tangan Guntur yang rapi, tulisan yang khas, tegak, sedikit miring ke kanan.
Arga membaca.
"Untuk Arga, Sekar, dan semua sahabat di Wringinrejo."
"Apa kabar? Semoga kalian semua sehat. Semoga perjuangan melawan Pak Kades berjalan lancar. Semoga warung pecel Mbok Sekar makin ramai."
"Laras dan aku sekarang sudah resmi tinggal di Belanda. Program S3-ku berjalan lancar. Laras juga sudah mulai kuliah lagi—ambil program master di universitas yang sama."
"Tapi ada kabar lain yang lebih penting."
"Laras hamil."
"Iya. Hamil. Kami akan punya bayi. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Tuhan memberi kepercayaan kepada kami untuk menjadi orang tua."
"Kami akan pulang ke Indonesia untuk melahirkan. Kami ingin anak kami lahir di tanah air. Di tempat yang sama di mana kami berjuang. Di tempat yang sama di mana kami jatuh cinta. Di tempat yang sama di mana kami menemukan arti persahabatan sejati."
"Kami akan datang bulan depan. Tepatnya tanggal 15. Kami akan tinggal di Jogja dulu, lalu ke desa untuk bertemu kalian."
"Jaga diri. Jangan sampai ada yang celaka. Kita sambut anak Laras dan aku dengan suka cita."
"—Guntur & Laras"
"P.S. Kami sudah tahu tentang perjuangan kalian melawan Pak Kades. Kami doakan semoga cepat selesai. Jika butuh bantuan, telepon saja. Aku masih punya kenalan di kepolisian dan kejaksaan."
REAKSI ARGA
Arga membaca surat itu berulang-ulang.
Tangannya gemetar.
Matanya basah.
"Mas, kenapa?" tanya Sekar cemas.
"Guntur... Guntur dan Laras... mereka akan punya bayi."
"APA?" Sekar hampir berteriak.
"Iya. Laras hamil. Mereka akan pulang bulan depan."
"Mas, ini kabar bahagia!"
"Iya. Ini kabar bahagia."
Arga memeluk Sekar.
Mereka berdua menangis.
Bukan tangis sedih.
Tapi tangis haru.
Tangis bahagia.
Tangis yang keluar dari hati yang penuh dengan rasa syukur.
REAKSI SUKMAWATI DAN SASTRO
Sukmawati yang mendengar dari dapur langsung keluar. Wajahnya berbinar.
"Laras hamil? Serius?"
"Serius, Bu. Guntur bilang."
"Wah, Ibu senang. Ibu senang sekali."
"Memangnya kenapa, Bu?" tanya Sekar.
"Ibu sudah lama ingin punya cucu. Sayangnya, Arga dan Sekar belum juga memberi kabar."
Sekar tersenyum malu. "Doakan saja, Bu."
"Ya, Ibu doakan setiap hari."
Sastro yang duduk di kursi bambu ikut tersenyum, meskipun biasanya ia tidak banyak menunjukkan ekspresi.
"Bagus," katanya singkat. "Anak baik. Pantas dapat rezeki."
"Ayah tidak bilang apa-apa lagi?" tanya Arga.
"Ayah hanya bilang bagus. Itu sudah cukup."
Mereka tertawa.
REAKSI RATRI, FARUQ, NISA, DIMAS, DAN SAMSUL
Ratri yang sedang membantu membereskan warung ikut bergabung.
"Mas, aku ikut senang."
"Kamu kenal Guntur dan Laras?"
"Kenal. Mereka baik. Mereka banyak membantu Mas Arga."
"Iya. Mereka memang baik."
Faruq dan Nisa yang kebetulan masih di desa, karena urusan petisi melawan Pak Kades belum selesai, ikut bergabung.
"Guntur bapak-bapak?" kata Faruq sambil tertawa.
"Iya. Dia akan jadi ayah."
"Wah, lucu. Guntur yang sinis itu akan gendong bayi."
"Pasti dia berubah."
"Atau malah semakin sinis. Bayinya dikasih nama 'Absurd'."
Mereka tertawa.
Dimas yang sedang memasang kamera di pohon mangga ikut bergabung.
"Guntur akan punya anak? Siapa yang akan ngajarin anak itu main game?"
"Kamu, Dimas."
"Siap. Saya siap jadi paman."
Samsul yang sedang menjaga halaman depan ikut bergabung.
"Guntur orang baik. Laras juga. Mereka pantas bahagia."
"Kamu juga pantas bahagia, Samsul."
"Insyaallah, Mas."
RENCANA MENYAMBUT KEPULANGAN
Jam sepuluh pagi, semua berkumpul di ruang tengah.
Mereka berdiskusi tentang rencana menyambut kepulangan Guntur dan Laras.
"Guntur dan Laras akan datang bulan depan. Tanggal 15," kata Arga.
"Kita harus siapkan tempat untuk mereka," kata Sekar.
"Mereka bisa tinggal di rumah Mbah Jayarasa. Sudah bersih. Sudah rapi."
"Tapi listrik?"
"Aku sudah pasang panel surya kecil. Cukup untuk lampu dan kulkas."
"Bagus. Kamu hebat, Dimas."
"Saya tidak hebat. Saya hanya suka otak-atik."
Mereka tertawa.
"Kita juga harus siapkan makanan," kata Sukmawati. "Laras hamil. Mungkin dia ingin masakan desa. Pecel. Sayur asem. Ayam ingkung."
"Iya, Bu. Itu ide bagus."
"Kita juga harus siap... untuk jadi paman dan bibi."
"Kenapa?" tanya Faruq.
"Karena akan ada bayi."
"Ooh."
Mereka tertawa lagi.
KABAR DARI JOGJA
Jam dua belas siang, setelah diskusi selesai, ponsel Arga berdering.
Nama yang muncul di layar: "Pak Bondan".
"Selamat siang, Pak Bondan."
"Selamat siang, Le. Ada kabar."
"Kabar apa, Pak?"
"Toko bangunan cabang di kecamatan sudah siap. Lokasi sudah saya beli. Bangunan sudah saya renovasi. Stok barang sudah saya kirim. Kamu tinggal datang."
"Kapan, Pak?"
"Minggu depan. Kamu harus ke kecamatan untuk memeriksa semuanya."
"Baik, Pak. Saya akan datang."
"Bawa Sekar. Biar dia lihat."
"Baik, Pak."
"Dan jangan lupa bawa kerismu."
"Keris, Pak? Untuk apa?"
"Untuk jaga-jaga. Siapa tahu ada yang tidak beres."
Arga mengerutkan kening. "Pak Bondan, apa Bapak tahu tentang keris?"
Pak Bondan terdiam sejenak.
"Aku tahu. Mbah Jayarasa cerita sebelum dia meninggal."
"Cerita apa?"
"Aku tidak bisa bilang lewat telepon. Nanti saja. Di kecamatan."
"Baik, Pak."
Telepon ditutup.
Arga memandang ponselnya.
Pak Bondan tahu tentang keris.
Pak Bondan tidak hanya sekadar pengusaha toko bangunan.
Pak Bondan menyembunyikan sesuatu.
"Apa?" tanya Sekar.
"Pak Bondan minta aku membawa keris ke kecamatan."
"Untuk apa?"
"Dia tidak bilang. Dia hanya bilang, dia tahu tentang keris dari Mbah Jayarasa."
"Kamu curiga?"
"Sedikit. Tapi Pak Bondan bukan musuh. Dia sudah membantu kita berkali-kali."
"Baik. Aku ikut."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit dipenuhi bintang.
Bulan sabit tipis menggantung rendah.
Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Aku ingin belajar menggunakan keris."
"Belajar? Dari siapa?"
"Dari Mbah Tarni. Dia bilang, keris itu bukan untuk dipajang. Keris itu untuk digunakan."
"Digunakan untuk apa?"
"Membela diri. Melindungi keluarga. Melawan kejahatan."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin, Mas. Aku tidak ingin selalu menjadi korban. Aku ingin bisa melindungi diriku sendiri. Dan melindungi kamu."
Arga menggenggam tangan Sekar.
"Baik. Besok kita ke rumah Mbah Tarni."
"Terima kasih, Mas."
"Jangan berterima kasih. Kita suami istri. Kita satu."
“Iya, satu hati, satu jiwa”.
TANDA DARI JATMIKA
Tiga hari setelah kabar bahagia dari Belanda tentang kehamilan Laras dan rencana kepulangan Guntur, desa Wringinrejo dikejutkan oleh sebuah peristiwa yang tidak biasa. Bukan pengrusakan seperti yang dilakukan Pak Kades. Bukan fitnah seperti yang disebarkan Bu Sania. Bukan intimidasi seperti yang dilakukan preman-preman bayaran.
Tapi sesuatu yang lebih aneh. Lebih misterius. Lebih gaib.
Sebuah tanda.
Tanda dari Jatmika.
Arga bermimpi. Bukan mimpi biasa yang muncul karena kelelahan atau karena terlalu banyak berpikir. Mimpi yang terasa nyata. Mimpi yang seolah-olah Jatmika sengaja masuk ke dalam tidurnya untuk menyampaikan sesuatu. Mimpi yang membuatnya terbangun dengan keringat dingin dan jantung berdebar kencang.
Dan di luar rumah, di halaman depan, di bawah pohon mangga tua, seekor burung hitam bertengger di dahan paling tinggi. Burung itu tidak bergerak. Tidak berkicau. Hanya diam. Memandang ke arah kamar Arga. Seolah sedang menunggu sesuatu. Seolah sedang mengawasi. Seolah sedang menjadi utusan dari alam lain.
SUBUH YANG DINGIN
Pukul setengah lima pagi, Arga terbangun.
Dadanya sesak. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Wajahnya pucat. Matanya sayu. Ia duduk di dipan bambu, mengatur napas, berusaha menenangkan diri.
"Mas, kenapa?" Sekar yang tidur di sampingnya ikut terbangun.
"Aku... mimpi."
"Mimpi apa?"
"Aku bertemu Jatmika."
Sekar duduk. "Jatmika?"
"Iya. Dia berdiri di tepi Kali Wening. Memakai baju putih. Wajahnya tenang. Tapi matanya, matanya sedih."
"Kamu bicara dengannya?"
"Iya. Aku tanya, 'Jatmika, kenapa kau datang? Ada apa?'"
"Dia jawab apa?"
"Dia tidak menjawab. Dia hanya menunjuk ke arah timur. Ke arah tanah warisan Mbah Jayarasa. Ke arah batu hitam. Ke arah gua tempat keris itu dulu tersimpan."
"Lalu?"
"Lalu dia menghilang. Dan aku terbangun."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Mas, mungkin ini pertanda. Mungkin Jatmika ingin menyampaikan sesuatu."
"Apa?"
"Aku tidak tahu. Tapi kita harus ke tanah warisan. Pagi ini. Cepat."
BURUNG HITAM DI POHON MANGGA
Arga dan Sekar keluar kamar.
Di halaman depan, Sukmawati sudah bangun dan sedang menyapu. Wajahnya tegang.
"Bu, kenapa?" tanya Arga.
"Ibu lihat burung hitam di pohon mangga. Dari tadi subuh. Tidak bergerak. Tidak berkicau."
Arga memandang ke arah pohon mangga.
Seekor burung hitam sedang bertengger di dahan paling tinggi. Matanya, matanya seperti mata manusia. Tajam. Dalam. Mengawasi.
"Jatmika," bisik Arga.
"Apa?" tanya Sukmawati.
"Itu Jatmika, Bu. Kiriman Jatmika."
"Jatmika? Kakakmu?"
"Iya. Dia ingin menyampaikan sesuatu."
Sukmawati menangis.
"Le, apa Jatmika tidak tenang? Apa dia masih gentayangan?"
"Tidak, Bu. Dia sudah tenang. Tapi dia ingin memastikan sesuatu."
"Apa?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku harus ke tanah warisan."
PERJALANAN KE TANAH WARISAN
Jam enam pagi, Arga, Sekar, Dimas, dan Ratri berangkat menuju tanah warisan.
Mereka berjalan kaki menyusuri pematang sawah, melewati kebun singkong, menembus hutan jati kecil. Matahari baru naik setinggi pohon kelapa. Kabut tipis masih menggantung di atas hamparan padi.
"Arga, kenapa kita ke sini pagi-pagi?" tanya Dimas.
"Aku mimpi Jatmika. Dia menunjuk ke arah timur. Pasti ada sesuatu di sini."
"Kamu yakin bukan hanya mimpi biasa?"
"Aku yakin, Dimas. Aku sudah terbiasa membedakan mimpi biasa dengan mimpi pertanda."
"Baik. Kita cari."
BATU HITAM DAN KERIS
Mereka sampai di tanah warisan.
Batu hitam berukir masih berdiri kokoh di tengah lahan. Batu itu tidak berubah. Masih sama seperti pertama kali Arga melihatnya. Tapi ada yang berbeda.
Di permukaan batu itu, muncul cahaya.
Cahaya samar.
Kebiruan.
Berdenyut.
Seperti detak jantung.
"Itu apa?" bisik Sekar.
"Cahaya," kata Dimas. "Cahaya dari dalam batu."
"Kenapa muncul sekarang?"
"Mungkin karena keris. Mungkin karena Jatmika. Mungkin karena keduanya."
Arga mendekati batu itu.
Ia mengeluarkan keris dari balik bajunya, keris yang selalu ia bawa ke mana-mana sejak mengambilnya dari gua.
Begitu keris itu mendekati batu, cahaya biru semakin terang.
"Arga, hati-hati!" teriak Dimas.
Tapi Arga tidak mendengar.
Ia terhipnotis.
Matanya terpaku pada cahaya itu.
Tangannya bergerak sendiri.
Ia menusukkan keris ke celah batu.
KRING!
Suara metal.
Cahaya biru meledak.
Menyilaukan.
Semua menutup mata.
SETELAH LEDAKAN
Ketika mereka membuka mata, batu itu berubah.
Permukaannya yang dulu keras dan kokoh, kini retak.
Retakan-retakan kecil membentuk sebuah pola.
Pola yang familiar.
Pola peta.
Peta desa Wringinrejo.
"Peta," bisik Dimas.
"Peta desa kita," kata Ratri.
"Tapi ada yang aneh," kata Dimas. "Ada titik merah di tengah peta."
Titik merah itu berada di lokasi makam Mbah Raras.
"Makam nenek Sekar," bisik Sekar.
"Kenapa di sana?" tanya Arga.
"Tidak tahu. Tapi pasti ada sesuatu."
KEMBALI KE RUMAH
Jam sepuluh pagi, mereka pulang.
Perjalanan pulang terasa lebih berat dari ketika berangkat. Mungkin karena lelah. Mungkin karena pikiran yang penuh dengan pertanyaan.
"Arga," panggil Dimas di tengah jalan.
"Iya."
"Kita harus ke makam Mbah Raras. Besok."
"Kenapa besok?"
"Karena hari sudah siang. Dan aku perlu persiapan."
"Persiapan apa?"
"Mbah Tarni. Dia harus ikut. Dia satu-satunya yang tahu tentang makam itu."
"Baik. Besok pagi."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit dipenuhi bintang.
Bulan sabit tipis menggantung rendah.
Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa yang akan kita temukan di makam Mbah Raras?"
"Aku tidak tahu. Tapi Jatmika pasti punya alasan."
"Kamu takut?"
"Tidak. Penasaran."
"Aku juga."
Mereka berdua terdiam.
Angin malam berembus.
Daun-daun pohon mangga bergemerisik.
"Mas."
"Iya."
"Aku ingin ikut besok."
"Kamu ikut."
"Terima kasih."
"Jangan berterima kasih. Kita suami istri. Kita satu."
“Iya, satu hati, satu jiwa” bisiknya lembut.
BAB 6
MAKAM MBAH RARAS
Hari Minggu pagi, langit cerah. Matahari baru naik setinggi pohon kelapa. Kabut tipis masih menggantung di atas hamparan sawah. Burung-burung pipit mulai beterbangan rendah mencari bulir-bulir padi yang jatuh di pematang.
Arga dan timnya bersiap untuk perjalanan yang paling penting, perjalanan ke makam Mbah Raras, nenek Sekar, yang telah meninggal sebelum Sekar dijodohkan dengan Ferry. Makam itu terletak di Bukit Watu Senja, tidak jauh dari pohon randu tua tempat Arga dan Sekar biasa duduk bercerita tentang masa depan.
Tapi ada yang berbeda pagi ini.
Mbah Tarni, sesepuh desa yang berusia hampir delapan puluh tahun, ikut serta. Perempuan tua itu berjalan pelan dengan tongkat kayu di tangan kanan dan keranjang anyaman di tangan kiri. Keranjang itu berisi sesajen: bunga melati, kemenyan, beras kuning, dan air dari tujuh mata air.
"Mbah, kenapa Mbah harus ikut?" tanya Arga.
Mbah Tarni memandang Arga dengan mata keruhnya. Matanya yang sudah hampir buta itu tiba-tiba terlihat jernih.
"Karena hanya Mbah yang tahu," jawabnya.
"Tahu apa?"
"Tahu tentang Mbah Raras. Tahu tentang Jatmika. Tahu tentang rahasia terakhir yang selama ini disembunyikan."
Arga merinding.
"Mbah, maksudnya?"
"Nanti. Di makam. Tidak baik bicara di sini. Banyak telinga. Banyak setan."
PERJALANAN KE BUKIT WATU SENJA
Mereka berangkat pukul setengah tujuh pagi.
Sepuluh orang berjalan kaki menyusuri pematang sawah, melewati kebun singkong, menembus hutan jati kecil. Matahari semakin tinggi. Panasnya mulai menyengat. Keringat mengucur di dahi.
Tapi tidak ada yang mengeluh.
Di depan: Arga, Sekar, dan Mbah Tarni.
Di belakang: Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, dan Pak Bondan.
"Arga, kenapa Pak Bondan ikut?" bisik Faruq.
"Dia minta ikut. Katanya, Mbah Jayarasa titip pesan."
"Pesan apa?"
"Tidak bilang. Nanti di makam."
"Baik. Kita tunggu."
TIBA DI BUKIT WATU SENJA
Jam setengah delapan, mereka tiba di Bukit Watu Senja.
Pohon randu tua masih berdiri kokoh di puncak bukit. Daun-daunnya rimbun, cabangnya melebar seperti tangan raksasa yang melindungi siapa pun yang berteduh di bawahnya. Di bawah pohon itu, batu-batu besar berserakan. Dan di antara batu-batu itu, sebuah makam sederhana dengan nisan kayu yang sudah lapuk.
"Makam Mbah Raras," bisik Sekar.
"Kita ziarahi dulu," kata Arga.
Mereka mendekati makam.
Mbah Tarni duduk di samping nisan. Ia mengeluarkan sesajen dari keranjangnya. Bunga melati ditabur di atas makam. Kemenyan dibakar. Asapnya mengepul tipis, membawa aroma wangi yang menenangkan.
"Nek Raras," bisik Mbah Tarni, "aku datang. Dengan anak cucumu. Dengan orang-orang yang mencintaimu. Buka pintu. Biarkan mereka tahu. Biarkan mereka melihat. Biarkan mereka mengerti."
Tiba-tiba, tanah di samping makam bergetar.
Pelan.
Lalu keras.
Lalu sangat keras.
"Ada apa?" teriak Faruq.
"Mbah Tarni!" teriak Nisa.
Mbah Tarni tidak bergeming. Ia terus duduk. Terus berdoa.
Tanah itu retak.
Retakan membentuk sebuah lubang.
Lubang kecil di samping makam.
Dari dalam lubang itu, terpancar cahaya keemasan.
"Cahaya," bisik Dimas.
"Cahaya dari dalam tanah," kata nisa.
Arga mendekat.
Ia mengambil keris dari balik bajunya.
Cahaya itu semakin terang.
ISI LUBANG
Arga merogoh lubang itu.
Tangannya masuk ke dalam tanah.
Ia meraba sesuatu.
Keras.
Kotak.
Kayu.
Sebuah kotak kayu kecil.
Ia mengeluarkannya.
Kotak kayu dengan ukiran rumit, ukiran yang sama dengan ukiran di batu hitam tanah warisan. Permukaannya halus, dipoles dengan lilin, tidak lapuk meskipun sudah puluhan tahun tertimbun tanah.
"Apa itu?" tanya Sekar.
"Kotak. Dari Mbah Raras."
"Buka."
Arga membuka kotak itu.
Patenya longgar.
Ia membuka tutupnya.
Di dalam kotak: beberapa lembar kertas tua yang sudah menguning, sebuah cincin perak sederhana, dan sehelai rambut panjang yang diikat pita merah.
ISI KERTAS PERTAMA
Arga mengambil kertas pertama.
Tulisan tangan.
Tinta hitam yang sudah mulai pudar.
Tapi masih bisa dibaca.
"Untuk Sekar, cucuku yang paling kucintai."
"Jika kau membaca surat ini, berarti aku sudah tiada. Berarti kau sudah dewasa. Berarti kau sudah siap menerima kenyataan."
"Aku bukan nenek kandungmu. Nenek kandungmu adalah Mbah Lestari. Ibu dari ibumu. Ibu dari ayah Arga. Saudara kembar."
Ruangan hening, meskipun mereka berada di luar ruangan.
"Mbah Lestari dan aku adalah saudara kembar. Kami lahir dari rahim yang sama. Tapi dipisahkan oleh takdir. Mbah Lestari menikah dengan kakek Arga. Aku menikah dengan kakekmu, Sekar."
"Mbah Lestari memiliki kemampuan melihat dua langit. Aku tidak. Tapi aku memiliki kemampuan lain: melihat masa depan."
"Aku tahu bahwa suatu hari, cucuku akan jatuh cinta dengan cucu Mbah Lestari. Aku tahu bahwa kalian akan berjuang bersama. Aku tahu bahwa kalian akan bersatu."
"Dan aku tahu bahwa rahasia ini akan terungkap. Suatu hari. Ketika kalian siap."
"Sekar, jaga Arga. Jaga cinta kalian. Jaga warisan leluhur."
"—Nenek yang selalu mencintaimu, Mbah Raras"
Sekar menangis.
Ia memeluk Arga.
"Mas... Mbah Raras... bukan nenek kandungku?"
"Mbah Raras tetap nenekmu. Dia membesarkanmu. Dia menyayangimu. Dia mengorbankan segalanya untukmu."
"Tapi,"
"Tidak ada tapi. Darah tidak menentukan siapa keluargamu. Cinta yang menentukan."
ISI KERTAS KEDUA
Arga mengambil kertas kedua.
Tulisan lain.
Tinta biru.
Lebih muda.
"Untuk Arga, anak Sastro."
"Aku Mbah Raras. Nenek dari Sekar. Saudara kembar Mbah Lestari."
"Kau mungkin bingung. Kenapa aku tidak pernah cerita tentang ini? Karena belum waktunya."
"Dan sekarang, waktunya telah tiba."
"Keris yang kau pegang itu bukan hanya pusaka. Itu adalah kunci. Kunci untuk membuka pintu terakhir. Pintu menuju kedamaian Jatmika."
"Jatmika tidak mati sia-sia. Dia memilih mati. Agar kau bisa lahir. Agar kau bisa menjadi pengembara dua langit. Agar kau bisa menyatukan dua keluarga yang terpisah."
"Temukan makam Mbah Lestari. Di sana, kau akan tahu segalanya."
"—Mbah Raras"
Arga memandang Sekar.
"Mbah Lestari memiliki makam?"
"Mbah Tarni pasti tahu."
Mereka menatap Mbah Tarni.
Mbah Tarni mengangguk.
"Iya. Mbah tahu."
CINCIN DAN RAMBUT
Arga mengeluarkan cincin perak sederhana dari kotak.
Cincin itu tidak berkilau. Tapi ada ukiran di bagian dalam.
"Mbah Lestari & Mbah Raras. Saudara selamanya."
"Ini milik nenekku," bisik Sekar.
"Dan ini," Arga mengeluarkan sehelai rambut panjang yang diikat pita merah.
"Rambut Mbah Lestari," kata Mbah Tarni. "Dia potong sebelum menghilang."
"Kenapa disimpan?"
"Sebagai pengingat. Bahwa dia pernah ada. Bahwa dia pernah hidup. Bahwa dia pernah berjuang."
KEMBALI KE RUMAH
Jam dua belas siang, mereka pulang.
Perjalanan pulang terasa lebih ringan. Bukan karena beban yang berkurang. Tapi karena hati yang mulai mengerti.
"Arga," panggil Dimas di tengah jalan.
"Iya."
"Aku tidak menyangka Mbah Raras adalah saudara kembar Mbah Lestari."
"Aku juga."
"Kenapa mereka dipisahkan?"
"Takdir, mungkin."
"Kejam."
"Tapi mereka tetap bersatu. Lewat kita. Lewat Sekar. Lewat perjuangan kita."
Dimas mengangguk. "Kamu benar."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit dipenuhi bintang.
Bulan sabit tipis menggantung rendah.
Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Sekar," panggil Arga.
"Iya."
"Apa kamu sedih?"
"Sedih? Kenapa?"
"Karena Mbah Raras bukan nenek kandungmu."
Sekar memandang Arga.
"Mas, Mbah Raras tetap nenekku. Dia yang membesarkanku. Dia yang mengajariku memasak. Dia yang mengajariku bertahan hidup. Dia yang mengajariku mencintai."
"Tapi, "
"Tidak ada tapi. Darah tidak penting. Yang penting cinta."
Arga menggenggam tangan Sekar.
"Kamu baik, Sekar."
"Aku tidak baik. Aku hanya tahu siapa yang benar-benar mencintaiku."
Mereka berpelukan.
GOSIP MENYEBAR
Tiga hari setelah penemuan kotak kayu di makam Mbah Raras dan pengungkapan bahwa Mbah Raras adalah saudara kembar Mbah Lestari, desa Wringinrejo berubah menjadi pasar malam yang ramai dengan gosip. Bukan gosip biasa yang hanya terdengar di warung kopi atau di pinggir jalan. Tapi gosip yang menyebar seperti api di musim kemarau, cepat, liar, dan membakar apa pun yang dilaluinya.
Gosip itu datang dari berbagai arah. Ada yang mengatakan bahwa Arga dan Sekar sebenarnya saudara sepupu, karena Mbah Raras dan Mbah Lestari adalah saudara kembar, maka anak cucu mereka juga masih terikat darah. Ada yang mengatakan bahwa pernikahan Arga dan Sekar tidak sah karena masih saudara. Ada yang mengatakan bahwa keris yang ditemukan Arga adalah keris keramat yang akan mendatangkan malapetaka jika tidak segera dikembalikan ke tempatnya. Ada yang mengatakan bahwa Jatmika, kakak Arga yang sudah meninggal, masih gentayangan karena Arga tidak pernah melakukan ritual yang benar.
Dan di tengah semua gosip itu, Bu Sania, istri Pak Kades yang kini sudah tidak menjabat, terlihat paling bersemangat menyebarkannya. Setiap pagi ia pergi ke warung kopi, setiap sore ia berganti ke warung pecel, setiap malam ia berkunjung ke rumah-rumah warga. Ia membawa cerita. Ia membawa fitnah. Ia membawa kebencian.
"Mbak Sekar itu sebenarnya masih saudara Mas Arga. Jadi haram hukumnya mereka menikah. Haram!"
"Keris itu keris setan, Le. Awas nanti kamu celaka."
"Jatmika gentayangan karena Arga tidak pernah mengadakan ritual untuk kakaknya."
Bu Sania berbicara dengan lantang, dengan penuh keyakinan, seolah-olah ia tahu segalanya. Padahal ia tidak tahu apa-apa.
Dan gosip itu menyebar.
Dari mulut ke mulut.
Dari telinga ke telinga.
Dari rumah ke rumah.
Hingga akhirnya, sampai ke telinga Arga dan Sekar.
PAGI YANG TIDAK BIASA
Hari Rabu, langit mendung. Awan hitam menggulung dari arah barat. Angin bertiup kencang, membawa aroma tanah basah, tanda hujan akan segera turun. Daun-daun pisang di belakang rumah bergerak-gerak, bergesekan satu sama lain, menimbulkan suara seperti bisikan panjang.
Warung pecel Mbok Sekar tidak seramai biasanya.
Hanya beberapa pelanggan yang datang.
Mbah Tarni, yang biasanya setia membeli pecel setiap pagi, tidak datang.
Bu Sri, yang biasanya membawa cucunya, tidak datang.
Pak Karto, yang biasanya sarapan di warung sambil bercanda, tidak datang.
Sekar duduk di belakang lapak.
Wajahnya pucat.
Matanya sayu.
"Bu, kenapa sepi?" tanyanya pada Sukmawati yang membantu mencuci piring.
Sukmawati menghela napas.
"Ada gosip, Nduk."
"Gosip apa?"
"Gosip tentang kamu dan Arga. Katanya kalian masih saudara. Katanya pernikahan kalian haram."
Darah Sekar berhenti mengalir.
"Apa?"
"Iya. Bu Sania yang nyebarin."
"Tapi itu tidak benar! Mbah Raras memang saudara kembar Mbah Lestari. Tapi itu sudah puluhan tahun lalu. Garis keturunannya sudah jauh. Kami tidak punya hubungan darah yang dekat."
"Coba jelaskan pada warga, Nduk."
"Apakah mereka mau dengar?"
Sukmawati menghela napas.
"Mungkin tidak. Mungkin iya. Tapi setidaknya kamu sudah berusaha."
ARGA TAHU
Jam delapan pagi, Arga pulang dari sawah.
Ia tidak bekerja lama karena firasatnya tidak enak. Sejak subuh, ia mendengar suara bisikan, bukan bisikan Mbah Lestari, bukan bisikan Jatmika. Tapi bisikan manusia. Bisikan kebencian. Bisikan fitnah.
"Mas, ada apa?" tanya Sekar ketika Arga masuk ke rumah.
"Aku dengar gosip."
"Dengar dari mana?"
"Dari Pak Karto. Dia mampir ke sawah. Bilang, maaf tidak bisa beli pecel karena dilarang istrinya."
"Kenapa dilarang?"
"Karena istrinya percaya gosip Bu Sania. Katanya, masakanmu bisa bikin orang kesurupan."
Sekar menangis.
"Mas, apa aku harus tutup warung?"
"Jangan."
"Tapi, "
"Jangan. Biarkan mereka yang percaya gosip. Biarkan mereka yang tidak mau membeli. Kita tetap buka. Kita tetap jualan. Lambat laun, mereka akan sadar."
"Kapan?"
"Aku tidak tahu. Tapi yang penting, kita tidak menyerah."
Sekar memeluk Arga.
"Terima kasih, Mas."
GUNTUR DAN LARAS BICARA
Jam sepuluh pagi, Guntur dan Laras datang.
Wajah mereka tegang. Kelihatannya mereka juga sudah mendengar gosip.
"Arga, ini sudah keterlaluan," kata Guntur.
"Aku tahu."
"Kita harus lawan."
"Lawan bagaimana?"
"Lawan dengan fakta. Kita buktikan bahwa Arga dan Sekar tidak punya hubungan darah dekat. Kita buktikan bahwa pernikahan mereka sah. Kita buktikan bahwa keris itu bukan keris setan."
"Bagaimana caranya?"
"Aku sudah hubungi teman di fakultas hukum. Dia bilang, secara agama dan negara, pernikahan kalian sah. Karena hubungan kalian sudah sangat jauh. Lebih dari lima tingkat."
"Apakah itu cukup?"
"Tidak. Tapi setidaknya ada pegangan."
Laras menambahkan, "Mas Arga, aku juga sudah bicara dengan Mbah Tarni. Dia bersedia menjadi saksi. Dia akan menjelaskan silsilah keluarga di depan warga."
"Mbah Tarni mau?"
"Dia mau. Dia bilang, dia sudah tua. Tidak takut mati. Yang penting kebenaran."
Arga menghela napas.
"Baik. Kita kumpulkan warga. Besok malam. Di balai desa."
MAKAN SIANG TANPA WARUNG
Jam dua belas siang, tidak ada pelanggan yang datang.
Sekar menutup warung lebih awal.
Ia duduk di beranda, memandang langit yang mulai beranjak mendung. Sesekali ia mengusap air mata yang jatuh tanpa suara.
"Mas," panggilnya.
"Iya."
"Apa aku salah? Apa aku tidak pantas? Apa aku seharusnya tidak usah membuka warung?"
Arga duduk di sampingnya.
"Kamu tidak salah. Kamu pantas. Kamu seharusnya membuka warung."
"Tapi kenapa mereka membenciku?"
"Karena mereka takut. Takut pada sesuatu yang tidak mereka mengerti. Takut pada perbedaan. Takut pada perubahan."
"Apakah mereka akan berubah?"
"Suatu hari. Mungkin tidak sekarang. Tapi suatu hari."
Sekar memeluk Arga.
"Mas, aku capek."
"Istirahatlah. Jangan pikirkan warung dulu. Besok kita hadapi warga. Besok kita buktikan bahwa kita tidak salah."
"Baik."
MALAM DI BALAI DESA
Jam tujuh malam, balai desa mulai dipenuhi warga.
Wajah-wajah tegang. Ada yang penasaran. Ada yang mendukung Arga. Ada yang pro-Pak Kades. Ada yang netral.
Arga, Sekar, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, dan Mbah Tarni duduk di kursi depan. Sukmawati dan Sastro ikut hadir.
Camat juga hadir, ia dipanggil khusus oleh Faruq untuk menjadi penengah.
"Selamat malam, warga Wringinrejo," kata Camat. "Kita berkumpul di sini untuk meluruskan gosip yang beredar. Saya minta semua pihak tenang. Tidak ada yang boleh berteriak. Tidak ada yang boleh memotong pembicaraan."
Ruangan hening.
"Silakan, Arga."
ARGA BICARA
Arga berdiri.
Wajahnya tegang. Tangannya gemetar. Tapi suaranya tegas.
"Saudara-saudara, saya Arga. Anak Sastro dan Sukmawati. Suami Sekar. Saya tidak pernah berbohong. Saya tidak pernah menipu."
"Saya dengar gosip bahwa saya dan Sekar masih saudara. Bahwa pernikahan kami haram. Bahwa keris yang saya temukan adalah keris setan. Bahwa Jatmika gentayangan karena saya tidak melakukan ritual."
"Saya ingin meluruskan. Satu per satu."
FARUQ BICARA
Faruq berdiri.
Ia membuka laptopnya. Sebuah silsilah keluarga muncul di layar proyektor.
"Ini silsilah keluarga Arga dan Sekar," katanya. "Saya dapatkan dari Mbah Tarni dan catatan desa. Silakan lihat."
"Ini Mbah Lestari dan Mbah Raras. Saudara kembar. Mereka lahir pada tahun 1900-an."
"Ini anak Mbah Lestari. Ini anak Mbah Raras."
"Ini cucu. Ini cicit. Ini anak dari cicit, yaitu Arga dan Sekar."
"Mereka terpisah lima tingkat. Dalam hukum agama dan negara, pernikahan mereka SAH. Karena hubungan darah sudah sangat jauh. Lebih dari batas yang diharamkan."
"Jadi, gosip bahwa pernikahan Arga dan Sekar haram adalah TIDAK BENAR."
MBAH TARNI BICARA
Mbah Tarni berdiri dengan susah payah. Ratri membantu memegang tangannya.
"Warga Wringinrejo," kata Mbah Tarni dengan suara lirih tapi tegas. "Mbah sudah hidup hampir delapan puluh tahun di desa ini. Mbah melihat lahirnya Arga. Mbah melihat lahirnya Sekar. Mbah melihat mereka tumbuh. Mbah tidak pernah melihat tanda-tanda bahwa mereka akan celaka karena pernikahan mereka."
"Gosip yang beredar adalah gosip keji. Gosip yang sengaja disebarkan oleh orang yang iri. Orang yang dengki. Orang yang tidak ingin melihat desa ini damai."
"Mbah tahu siapa yang menyebarkan gosip ini. Tapi Mbah tidak akan menyebut nama. Cukup Tuhan yang tahu. Dan Tuhan tidak tidur."
Bu Sania yang duduk di pojok menunduk.
Wajahnya pucat.
BICARA NISA DAN PAK BONDAN
Laras berdiri.
"Saudara-saudara, saya Nisa. Bukan orang desa ini. Tapi saya sudah merasakan ketulusan Arga dan Sekar. Mereka berjuang melawan ketidakadilan. Mereka berjuang untuk kebebasan. Mereka berjuang untuk cinta."
"Keris yang Arga temukan bukan keris setan. Itu keris pusaka. Keris peninggalan Mbah Lestari. Keris yang digunakan untuk melindungi desa dari kejahatan."
"Dan Jatmika, kakak Arga, sudah tenang. Dia tidak gentayangan. Dia sudah pergi. Dia sudah damai. Gosip bahwa Jatmika gentayangan adalah fitnah keji."
Pak Bondan berdiri.
"Saudara-saudara, saya Pak Bondan. Dari Jogja. Saya kenal Arga sejak dia bekerja di toko saya. Saya tahu dia baik, jujur, dan pekerja keras."
"Saya juga tahu tentang keris ini. Mbah Jayarasa yang cerita. Keris ini adalah pusaka desa Wringinrejo. Keris ini harus dijaga oleh keturunan Mbah Lestari. Dan keturunan itu adalah Arga."
"Jadi, jangan takut. Jangan percaya gosip. Datanglah ke warung pecel Mbok Sekar. Buktikan sendiri bahwa masakannya enak, tidak pakai teluh, tidak bikin kesurupan."
Mereka duduk.
CAMAT MENUTUP
Camat berdiri.
"Saudara-saudara, saya sudah mendengar semua. Saya sudah melihat bukti-bukti. Saya sudah mendengar kesaksian."
"Kesimpulan saya: gosip yang beredar tidak berdasar. Arga dan Sekar tidak punya hubungan darah dekat. Pernikahan mereka sah. Keris itu bukan keris setan. Jatmika sudah tenang."
"Saya minta semua warga berhenti menyebarkan gosip. Kalau tidak berhenti, saya akan tindak tegas. Sesuai hukum."
Camat memandang Bu Sania.
Bu Sania menunduk lebih dalam.
"Baik, rapat selesai. Selamat malam."
SETELAH RAPAT
Warga mulai pulang satu per satu.
Beberapa mendekati Arga dan Sekar, meminta maaf.
"Mas Arga, Mbak Sekar, maaf. Saya percaya gosip."
"Sama-sama. Jangan diulang."
"Tidak akan, Mas."
Bu Sania juga mendekat.
Wajahnya pucat. Matanya sayu.
"Mas Arga, Mbak Sekar, saya... saya minta maaf."
Sekar memandang Bu Sania.
"Kenapa Bu Sania menyebarkan gosip?"
Bu Sania menangis.
"Saya iri. Saya benci. Saya tidak terima suami saya dipecat. Saya tidak terima kalian bahagia sementara kami menderita."
"Tapi, "
"Saya tahu, saya salah. Saya minta maaf."
Sekar memegang tangan Bu Sania.
"Maaf diterima. Tapi jangan diulang."
"Tidak akan. Saya sumpah."
MALAM DI RUMAH
Jam sepuluh malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit cerah.
Bintang-bintang berkerlap-kerlip.
Bulan sabit tipis menggantung rendah.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Aku lega."
"Leganya?"
"Rapat tadi. Warga mulai percaya. Warung besok mungkin ramai lagi."
"Pasti ramai."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena kebenaran tidak pernah kalah."
Mereka berpelukan.
Mesra
SASTRO DIAM-DIAM MARAH
Rapat di balai desa yang meluruskan gosip tentang Arga dan Sekar serta keris pusaka memang membawa hasil positif. Warga mulai percaya. Warung pecel Mbok Sekar kembali ramai. Bahkan lebih ramai dari sebelumnya karena banyak warga yang penasaran ingin membuktikan sendiri bahwa masakan Sekar tidak pakai teluh.
Tapi ada satu orang yang tidak hadir dalam rapat itu. Bukan karena tidak diundang. Bukan karena tidak tahu. Tapi karena ia sengaja tidak mau datang.
Sastro.
Ayah Arga.
Laki-laki tua yang selama ini dikenal pendiam, keras, dan jarang menunjukkan emosi. Laki-laki yang lebih banyak diam daripada bicara. Laki-laki yang lebih banyak bekerja daripada mengeluh.
Sastro marah.
Diam-diam.
Marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi anak dan menantunya dari fitnah.
Marah pada istrinya, Sukmawati, karena dianggap terlalu lunak dalam menghadapi Bu Sania.
Marah pada warga desa yang dengan mudah percaya gosip tanpa mencari kebenaran.
Dan yang paling membuatnya marah: Pak Kades.
Laki-laki yang sudah merusak nama baik keluarganya. Laki-laki yang sudah menyuruh preman untuk mengancam. Laki-laki yang masih menyebarkan fitnah meskipun sudah dinonaktifkan.
Sastro diam-diam menyusun rencana.
Bukan rencana kekerasan. Bukan rencana balas dendam. Tapi rencana yang lebih cerdik. Lebih halus. Lebih menusuk.
Ia akan menemui Pak Kades. Sendirian. Tanpa senjata. Tanpa preman. Tanpa amarah.
Ia hanya akan bicara. Dan telinga Pak Kades akan terasa panas mendengar kata-kata Sastro.
PAGI YANG SUNYI
Hari Sabtu, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Warung pecel Mbok Sekar ramai sejak pukul setengah tujuh, kembali normal seperti sebelum gosip menyebar.
Tapi Sastro tidak pergi ke sawah.
Ia duduk di beranda, memandang ke arah timur, ke arah rumah Pak Kades yang terletak di ujung desa. Matanya tajam. Tangannya menggenggam erat gagang arit, arit yang biasa ia gunakan untuk memotong rumput. Bukan untuk melukai. Tapi untuk keberanian.
"Yah, kok belum ke sawah?" tanya Arga yang baru keluar kamar.
"Yah tidak pergi hari ini."
"Kenapa, Yah? Sakit?"
"Tidak. Ada urusan."
"Urusan apa?"
Sastro memandang Arga.
"Yah mau ke rumah Pak Kades."
Darah Arga berhenti mengalir.
"Sendirian, Yah?"
"Sendirian."
"Yah, jangan. Pak Kades berbahaya."
"Dia tidak berbahaya. Dia pengecut. Pengecut hanya berani lawan orang yang lemah. Sekarang, dia akan berhadapan dengan orang yang tidak takut padanya."
"Tapi, "
"Tidak ada tapi. Ayah sudah dewasa. Ayah tahu risiko. Ayah tidak akan membawa senjata. Ayah hanya akan bicara."
Arga memandang ayahnya. Sastro tidak berubah. Wajahnya sama. Tatapannya sama. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Ada tekad. Ada keberanian. Ada cinta.
"Baik, Yah. Aku antar."
"Tidak usah."
"Yah, "
"Tidak usah. Ayah bisa sendiri."
Sastro berdiri. Ia meletakkan arit di samping kursi. Ia berjalan ke sumur, membasuh muka, membasuh kaki, membasuh tangan. Ia memakai baju terbaiknya, kemeja putih lengan panjang pemberian Arga saat Lebaran kemarin. Celana bahan hitam yang sedikit kebesaran. Sandal jepit karet yang masih baru.
"Yah, ini," Arga menyerahkan sebuah amplop kecil.
"Apa ini?"
"Uang. Untuk bibi minta tolong jaga rumah."
Sastro menerima amplop itu. Ia memandang Arga lama. Matanya basah. Tapi ia tidak menangis.
"Jaga Ibu. Jaga Sekar. Jaga warung."
"Siap, Yah."
Sastro berjalan.
Langkahnya tegap.
Tidak terburu-buru.
Tidak ragu-ragu.
Ia meninggalkan halaman rumah, melewati warung pecel, melewati pematang sawah, melewati kebun singkong, melewati hutan jati kecil.
Menuju rumah Pak Kades.
DI RUMAH PAK KADES
Rumah Pak Kades terletak di ujung desa, di pinggir hutan, dekat sungai kecil yang airnya keruh. Rumahnya besar, dinding bata, atap genteng, halaman luas ditumbuhi pohon mangga dan rambutan. Pagarnya besi, tinggi, dengan kawat berduri di atasnya.
Sastro berhenti di depan pagar.
Ia tidak mengetuk.
Ia tidak memanggil.
Ia hanya berdiri.
Menunggu.
Tidak lama kemudian, seorang preman keluar dari dalam rumah. Badan besar, berotot, wajah garang, memakai kaos oblong hitam dan celana jeans.
"Ada apa, Pak? Cari siapa?"
"Saya cari Pak Kades."
"Pak Kades tidak terima tamu."
"Bilang Sastro yang datang."
Preman itu mengerutkan kening. "Sastro? Ayah Arga?"
"Iya."
Preman itu masuk ke dalam rumah.
Beberapa menit kemudian, Pak Kades keluar.
Wajahnya pucat. Matanya sayu. Rambutnya mulai beruban, meskipun usianya baru lima puluh tahun.
"Sastro? Ada apa?"
"Saya mau bicara."
"Bicara apa?"
"Bicara di dalam. Tidak sopan bicara di pagar."
Pak Kades ragu. "Sendirian?"
"Sendirian. Tidak bawa senjata."
Pak Kades membuka pagar.
Sastro masuk.
Mereka duduk di teras rumah.
SASTRO BICARA
Sastro tidak basa-basi.
"Pak Kades, saya tidak suka basa-basi. Saya orang desa. Saya petani. Saya tidak punya mobil mewah. Saya tidak punya rumah besar. Saya tidak punya preman. Tapi saya punya anak. Saya punya menantu. Saya punya keluarga."
Pak Kades diam.
"Saya dengar Bapak menyebarkan fitnah tentang anak dan menantu saya. Tentang pernikahan mereka. Tentang keris. Tentang Jatmika."
"Itu bukan fitnah. Itu fakta."
"Fakta menurut siapa?"
"Menurut saya. Menurut warga yang percaya pada saya."
"Warga yang Bapak bayar? Warga yang Bapak takut? Warga yang Bapak tipu?"
Pak Kades berubah muka.
"Sastro, bicara baik-baik."
"Ini sudah baik. Kalau tidak baik, saya bawa parang."
Pak Kades mundur selangkah.
"Jangan, "
"Saya tidak akan memukul Bapak. Saya hanya ingin Bapak tahu satu hal."
"Apa?"
"Keluarga saya bukan keluarga yang Bapak bisa main-main. Arga sudah membuktikan itu. Dia melawan preman Ferry. Dia melawan Ferry sendiri. Dia selamat. Ferry masuk penjara. Dan Bapak? Bapak hanya kepala desa kecil. Tidak punya uang sebanyak Ferry. Tidak punya kuasa sebesar Ferry. Bapak hanya punya mulut busuk."
Pak Kades mengepalkan tangan.
"Sastro, "
"Lepaskan. Bapak tidak bisa apa-apa. Bapak sudah dinonaktifkan. Bapak tidak punya kekuasaan. Bapak tidak punya preman yang setia, mereka hanya datang karena uang."
Pak Kades terdiam.
"Dan satu hal lagi, Pak Kades."
"Apa?"
Sastro berdiri.
Ia mendekati Pak Kades.
Berjarak satu meter.
"Jika Bapak berani menyakiti keluarga saya lagi, istri saya, anak saya, menantu saya, siapa pun, saya tidak akan segan-segan melaporkan Bapak ke polisi. Bukan polisi desa. Bukan polisi kecamatan. Tapi polisi propinsi. Saya punya kontak. Dari teman Arga."
"Kamu, "
"Saya serius. Saya sudah tua. Saya tidak takut mati. Saya hanya takut anak dan istri saya celaka karena ulah Bapak."
Pak Kades tidak bisa berkata apa-apa.
"Selamat pagi, Pak Kades."
Sastro berbalik.
Ia berjalan ke pagar.
Membukanya.
Keluar.
Tidak menoleh.
Langkahnya tegap.
Tidak terburu-buru.
Tidak ragu-ragu.
PULANG KE RUMAH
Jam dua belas siang, Sastro tiba di rumah.
Sukmawati sudah menunggu di halaman. Matanya basah.
"Mas, kamu baik-baik saja?"
"Saya baik-baik saja."
"Pak Kades?"
"Dia diam. Tidak berani."
"Kamu tidak memukulnya?"
"Saya tidak bawa senjata."
"Syukurlah."
Sastro masuk ke rumah.
Ia duduk di kursi bambu favoritnya.
Sukmawati menyuguhkan kopi hitam.
"Minum, Mas. Istirahat."
"Terima kasih, Bu."
Arga dan Sekar masuk.
"Yah, bagaimana?" tanya Arga.
"Baik. Pak Kades tidak berani macam-macam."
"Ayah hebat."
"Ayah tidak hebat. Ayah hanya ingin melindungi keluarga."
Arga memeluk ayahnya.
"Terima kasih, Yah."
"Jangan berterima kasih. Tugas ayah."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit dipenuhi bintang.
Bulan sabit tipis menggantung rendah.
Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Bapakmu hebat."
"Iya. Dia pendiam. Tapi dia berani."
"Aku ingin anak kita kelak seperti Bapakmu."
"Seperti apa?"
"Pendiam. Tapi berani. Tidak banyak bicara. Tapi bertindak."
Arga tersenyum.
"Amin."
Mereka berpelukan.
Mesra
RATRI MELAWAN
Seminggu setelah Sastro mengunjungi Pak Kades dan membuatnya tidak berkutik, desa Wringinrejo memasuki babak baru dalam konflik kekuasaan. Pak Kades memang sudah dinonaktifkan, tapi pengaruhnya masih terasa. Preman-preman bayarannya masih berkeliaran, meskipun tidak seaktif dulu. Pendukung-pendukungnya masih menyebarkan fitnah, meskipun tidak segencar dulu. Dan yang paling mengganggu: jabatan Kepala Desa masih belum diisi sementara, sehingga banyak urusan administrasi desa terbengkalai.
Camat sudah menginstruksikan agar dipilih Pejabat Sementara (Pjs) Kepala Desa dari kalangan perangkat desa yang ada. Dan nama yang paling menonjol, yang paling berani, paling bersih, paling tegas adalah Ratri.
Ratri, sahabat Arga sejak kecil. Ratri, perangkat desa yang baru menjabat beberapa bulan. Ratri, perempuan muda yang berani bersaksi di depan camat dan melawan Pak Kades.
Ratri, yang kini harus memilih antara keselamatan pribadi dan tanggung jawab kepada masyarakat.
Ratri tidak ragu. Ia akan menerima.
Ia akan melawan.
Bukan dengan kekerasan. Bukan dengan fitnah. Tapi dengan kerja keras. Dengan keteladanan. Dengan kebersihan hati.
PAGI YANG CERAH
Hari Senin, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Warung pecel Mbok Sekar ramai sejak pukul setengah tujuh, seperti biasa.
Ratri duduk di kursi kayu di depan warung. Ia tidak makan. Ia hanya minum teh jahe hangat. Matanya kosong memandang ke arah balai desa yang terletak di tengah desa.
"Rat, kamu kenapa? Kok tidak makan?" tanya Sekar.
"Aku tidak laper, Mbak."
"Kamu galau?"
"Sedikit."
"Galau kenapa?"
Ratri menghela napas.
"Camat bilang, aku diusulkan jadi Pjs Kepala Desa."
Sekar terkejut. "Apa?"
"Iya. Tadi pagi aku dapat telepon."
"Kamu mau?"
"Aku bingung, Mbak. Aku masih muda. Aku hanya perangkat desa. Aku tidak punya pengalaman. Aku takut gagal."
"Kamu tidak akan gagal."
"Kok Mbak yakin?"
"Karena kamu berani. Kamu sudah membuktikan itu. Kamu berani melawan Pak Kades. Kamu berani bersaksi. Kamu berani menjadi saksi. Itu modal yang lebih berharga dari pengalaman."
Ratri tersenyum.
"Terima kasih, Mbak."
"Jangan berterima kasih. Itu kenyataan."
ARGA BICARA
Jam delapan pagi, Arga pulang dari sawah.
Ia tidak bekerja lama karena ingin mendampingi Ratri. Sejak mendengar kabar bahwa Ratri diusulkan menjadi Pjs, ia tidak bisa berkonsentrasi.
"Rat," panggil Arga sambil duduk di samping Ratri.
"Mas Arga."
"Aku dengar kabarnya. Kamu mau?"
Ratri menghela napas.
"Aku tidak tahu, Mas. Aku takut."
"Takut apa?"
"Takut gagal. Takut tidak bisa. Takut warga kecewa."
"Ratri, dengar."
Ratri memandang Arga.
"Kamu sudah membuktikan bahwa kamu berani. Kamu sudah membuktikan bahwa kamu bersih. Kamu sudah membuktikan bahwa kamu peduli. Itu lebih dari cukup. Selebihnya, kamu belajar. Setiap hari. Setiap saat. Tidak ada pemimpin yang lahir langsung pintar."
"Tapi, "
"Tidak ada tapi. Terima. Kami semua dukung."
Ratri tersenyum. Matanya basah.
GUNTUR DAN LARAS BICARA
Jam sepuluh pagi, Guntur dan Laras datang.
Mereka sudah mendengar kabar dari Sekar.
"Ratri, selamat," kata Guntur.
"Belum resmi, Mas."
"Bakal resmi. Camat sudah menyetujui. Tinggal pelantikan."
"Kapan?"
"Minggu depan."
"Wah, cepat sekali."
"Karena desa butuh pemimpin. Desa butuh orang yang berani. Dan kamu orangnya."
Ratri tersenyum malu.
"Mas Guntur, pesan untuk saya?"
Guntur memandang Ratri.
"Jadilah pemimpin yang melayani, bukan dilayani. Jadilah pemimpin yang mendengar, bukan didengar. Jadilah pemimpin yang bekerja untuk rakyat, bukan untuk kekuasaan."
"Siap, Mas."
Laras menambahkan, "Ratri, jaga kesehatan. Jangan terlalu memaksakan diri. Pemimpin yang sakit tidak bisa bekerja."
"Siap, Mbak."
"Dan jangan lupa bahagia. Pemimpin yang stres akan membuat bawahannya stres."
Mereka tertawa.
RATRI MENERIMA
Jam dua belas siang, Ratri pergi ke balai desa.
Ia ditemani Arga, Sekar, Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Samsul, Pak Bondan, Sukmawati, dan Sastro.
Camat sudah menunggu di ruang rapat.
"Ratri, selamat," kata Camat.
"Terima kasih, Pak."
"Kamu siap?"
"Siap, Pak."
"Kamu tidak takut?"
"Takut, Pak. Tapi saya akan belajar."
"Bagus. Itu jawaban pemimpin sejati."
Camat membacakan surat keputusan.
Isinya: Ratri diangkat menjadi Pejabat Sementara Kepala Desa Wringinrejo, mulai hari ini, sampai ada pemilihan kepala desa baru.
"Selamat bekerja, Bu Lurah," kata Camat.
Ratri terkesiap.
"Bu Lurah?"
"Iya. Kamu sekarang Bu Lurah. Panggilan yang pantas untukmu."
Ratri menangis.
Arga memeluknya.
"Selamat, Rat."
"Terima kasih, Mas."
SAMBUTAN WARGA
Jam satu siang, Ratri keluar dari balai desa.
Warga sudah berkerumun di halaman.
Mbah Tarni berdiri di depan, memegang keranjang anyaman berisi bunga melati.
"Nduk," panggil Mbah Tarni.
"Ya, Mbah."
"Mbah bangga sama kamu. Kamu perempuan desa. Kamu berani. Kamu pantas."
"Terima kasih, Mbah."
Mbah Tarni menaburkan bunga melati ke atas kepala Ratri.
"Semoga desa ini tentram. Semoga desa ini makmur. Semoga desa ini bahagia di bawah kepemimpinanmu."
Warga bertepuk tangan.
Bu Sania, istri Pak Kades, datang dari belakang. Wajahnya masih pucat. Matanya sayu.
"Ratri," panggilnya.
Ratri menoleh.
"Saya... saya minta maaf. Untuk semua fitnah yang saya sebarkan. Untuk semua kebencian yang saya tebarkan."
Ratri memandang Bu Sania lama.
"Maaf diterima, Bu. Tapi jangan diulang."
"Tidak akan. Saya sumpah."
Bu Sania menangis.
Ratri memeluknya.
Warga terharu.
MALAM DI BALAI DESA
Jam tujuh malam, Ratri mengadakan rapat pertamanya sebagai Pjs.
Ia duduk di kursi yang dulu diduduki Pak Kades.
Wajahnya tegang.
Tangannya gemetar.
Tapi suaranya tegas.
"Saudara-saudara, saya Ratri. Mulai hari ini, saya akan menjabat sebagai Pejabat Sementara Kepala Desa."
"Tugas saya: memastikan administrasi desa berjalan dengan baik, memastikan keamanan desa terjaga, memastikan ketentraman warga terpenuhi."
"Saya tidak bisa bekerja sendiri. Saya butuh bantuan semua. Saya butuh kritik. Saya butuh saran. Saya butuh dukungan."
"Mari kita bangun desa ini bersama. Tanpa korupsi. Tanpa nepotisme. Tanpa fitnah."
"Bisa?"
"BISA!" teriak warga.
ARGA DAN SEKAR BICARA
Jam sembilan malam, setelah rapat selesai, Arga dan Sekar berjalan pulang.
Langit penuh bintang.
Bulan sabit tipis menggantung rendah.
Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Aku bangga pada Ratri."
"Aku juga."
"Dia masih muda. Tapi dia berani."
"Karena dia punya kita."
"Kita?"
"Iya. Dukungan kita. Doa kita. Kepercayaan kita."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Kita harus terus mendukungnya."
"Selamanya."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berpelukan.
Mesra
BAB 7
KEDATANGAN FARUQ DAN NISA
Tiga hari setelah Ratri resmi dilantik menjadi Pejabat Sementara Kepala Desa Wringinrejo, suasana di desa itu berubah. Bukan perubahan besar yang terlihat dari luar. Sawah masih hijau menguning. Burung-burung pipit masih beterbangan. Angin masih berembus sepoi-sepoi. Warung pecel Mbok Sekar masih ramai setiap pagi.
Tapi ada yang berbeda di dalam balai desa.
Ratri, kini dipanggil Bu Lurah oleh warga, bekerja tanpa kenal lelah. Setiap pagi ia datang lebih awal. Setiap siang ia melayani warga dengan sabar. Setiap malam ia memeriksa laporan-laporan yang masuk. Ia tidak tidur nyenyak karena pikirannya penuh dengan tanggung jawab.
Tapi ia tidak sendiri.
Arga, Sekar, Guntur, Laras, Dimas, Pak Bondan, Samsul, Sukmawati, dan Sastro, semua membantu. Ada yang membantu administrasi. Ada yang membantu keamanan. Ada yang membantu memberikan semangat.
Dan hari ini, dua orang yang paling dinantikan akhirnya datang.
Faruq dan Nisa.
Mereka datang dari Jogja, membawa kabar penting tentang petisi yang sudah mereka sebarkan ke berbagai media dan lembaga. Tapi bukan hanya kabar petisi yang mereka bawa. Mereka juga membawa rencana baru. Rencana yang akan mengubah hidup banyak orang. Rencana yang akan membuat Arga dan Sekar terkejut. Rencana yang akan membuat Guntur dan Laras bahagia.
Dan rencana yang akan membuat Pak Kades semakin panas.
PAGI YANG CERAH
Hari Kamis, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Warung pecel Mbok Sekar sudah ramai sejak pukul setengah tujuh, seperti biasa.
Sekar sibuk melayani pelanggan. Sukmawati membantu mencuci piring. Ratri—yang pagi itu tidak ke balai desa karena ingin menyambut kedatangan Faruq dan Nisa—ikut membantu mengantar pesanan.
"Mbak Sekar, pecel satu, bungkus!" teriak Bu Sri dari meja depan.
"Siap, Bu!"
"Sama es teh manisnya satu."
"Siap, Bu!"
Sekar bekerja dengan cepat dan rapi. Tangannya lincah menyiangi sayuran, menggoreng tempe dan tahu, meracik bumbu pecel. Wajahnya segar, matanya berbinar, bukan karena kepalsuan, tapi karena kebahagiaan.
"Mbak Ratri, aku dengar Faruq dan Nisa datang hari ini?" tanya Bu Parti.
"Iya, Bu. Mereka sudah di jalan."
"Wah, seru. Bawa kabar apa?"
"Entahlah, Bu. Yang jelas, mereka pasti membawa kejutan."
"Kejutan baik atau buruk?"
"Mudah-mudahan baik."
FARUQ DAN NISA TIBA
Jam setengah sembilan, sebuah mobil sewaan masuk ke halaman rumah.
Faruq turun lebih dulu. Rambutnya acak-acakan. Wajahnya lelah karena perjalanan. Bajunya kusut. Ia menguap.
"NISA, CEPET!" teriaknya.
"Nanti, Faruq. Saya ambil koper."
Faruq masuk ke halaman. Ia memeluk Arga.
"Mas Arga! Saya kangen!"
"Saya juga, Faruq."
"Desanya masih sama? Sawahnya? Sungainya?"
"Masih sama. Yang berubah mungkin warung pecel. Sekarang lebih besar."
"Wah, enak. Saya laper."
Sekar yang mendengar dari warung langsung menyiapkan pecel untuk Faruq.
"Ini, Faruq. Makan."
"Terima kasih, Mbak Sekar."
Faruq makan dengan lahap. Sesekali ia mengusap keringat di dahinya dengan lengan baju.
Nisa masuk dengan dua koper besar.
"Mas Arga, tolong angkat."
"Siap, Mbak."
Arga mengangkat koper itu ke dalam rumah.
KABAR DARI JOGJA
Setelah semua duduk di ruang tengah, Arga, Sekar, Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, Sukmawati, dan Sastro, Faruq mulai bicara.
"Jadi, gini, Mas. Kami sudah sebarkan petisi ke berbagai media. Ke Kompas. Ke Tempo. Ke Jawa Pos. Ke TV One. Ke Metro TV. Ke CNN Indonesia. Ke BBC Indonesia. Semua. Mereka tertarik."
"Tertarik?" tanya Arga.
"Iya. Mereka akan meliput kasus Pak Kades. Termasuk pengrusakan warung, pemerasan, dan penyewaan preman."
"Kapan?"
"Minggu depan."
"Wah, cepat sekali."
"Karena desakan publik. Banyak yang simpati pada Mas Arga dan Mbak Sekar."
Arga menghela napas. "Aku tidak menyangka."
"Kenapa?"
"Karena aku hanya orang desa. Tidak penting."
"Kamu penting, Mas. Perjuanganmu penting. Kebenaran yang kamu perjuangkan penting."
Arga tersenyum. "Terima kasih, Faruq."
"Jangan berterima kasih. Kami teman."
KEJUTAN DARI FARUQ DAN NISA
Setelah bicara tentang petisi, Faruq dan Nisa saling pandang.
"Mas Arga," kata Faruq.
"Iya."
"Kami juga punya kabar pribadi."
"Kabar apa?"
Faruq menggenggam tangan Nisa.
"Kami... akan menikah."
Ruangan hening.
Semua terkejut.
Faruq dan Nisa? Yang dulu sering bertengkar? Yang dulu sering berbeda pendapat? Yang dulu saling ledek?
"Serius?" tanya Guntur.
"Serius. Kami sudah lamaran. Orang tua sudah setuju. Tinggal akad."
"Kapan?"
"Bulan depan. Di Jogja. Kami ingin kalian semua datang."
"Pasti datang," kata Arga.
"Kami tidak akan datang," kata Dimas pura-pura.
"Lho?"
"Bercanda. Pasti datang."
Mereka tertawa.
REAKSI GUNTUR DAN LARAS
Guntur berdiri. Ia memeluk Faruq.
"Selamat, Le. Kamu pantas bahagia."
"Terima kasih, Mas."
"Aku tidak menyangka kamu bisa dapetin Nisa."
"Kenapa?"
"Karena kamu cerewet. Nisa itu kalem. Beda banget."
"Itu namanya melengkapi, Mas. Bukan beda."
"Maksudmu?"
"Orang yang beda justru saling melengkapi. Seperti Mas Guntur dan Mbak Laras. Mas sinis. Mbak Laras penuh perasaan. Tapi kalian cocok."
Guntur tersenyum. "Kamu benar, Faruq."
Laras memeluk Nisa.
"Selamat, Nisa. Aku ikut bahagia."
"Terima kasih, Mbak."
"Jangan sampai Faruq nakal."
"Nakal bagaimana?"
"Main mata sama perempuan lain."
"Kalau itu, saya jamin tidak. Dia sibuk ngurusin pasien. Tidak punya waktu untuk main mata."
Mereka tertawa.
REAKSI ARGA DAN SEKAR
Arga memeluk Faruq. Sekar memeluk Nisa.
"Faruq, kamu hebat," kata Arga.
"Aku tidak hebat, Mas. Aku hanya beruntung."
"Beruntung?"
"Iya. Beruntung Nisa mau sama saya."
Nisa yang mendengar dari samping langsung menyahut.
"Jangan sok merendah, Faruq. Kamu juga baik."
"Terima kasih, Sayang."
"Jangan panggil sayang di depan umum."
"Kenapa?"
"Malu."
Mereka tertawa.
Arga memandang Sekar. Sekar tersenyum.
"Mas," bisik Sekar.
"Iya."
"Aku ingin kita bisa seperti mereka."
"Seperti apa?"
"Bahagia. Sederhana. Tanpa beban."
"Kita sudah, Sekar. Kita sudah bahagia. Kita sudah sederhana. Kita sudah tanpa beban. Hanya saja, kadang kita lupa."
"Kamu benar."
Mereka berpelukan.
Mesra.
REAKSI SASTRO DAN SUKMAWATI
Sastro yang duduk di kursi bambu ikut bicara.
"Faruq, Nisa. Selamat. Semoga langgeng."
"Terima kasih, Pakdhe."
"Jangan lupa undang saya."
"Tentu, Pakdhe. Bapak jadi tamu kehormatan."
"Bagus."
Sukmawati menangis.
"Bu, kenapa nangis?" tanya Sekar.
"Ibu senang. Ibu senang melihat kalian semua bahagia. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya... akhirnya..."
"Ibu, jangan nangis. Nanti malu."
"Biar. Ibu sudah tua. Tidak perlu malu."
Mereka semua tersenyum.
PAK BONDAN BICARA
Pak Bondan yang ikut hadir angkat bicara.
"Faruq, Nisa. Saya juga ikut senang. Kalian berdua pantas bahagia."
"Terima kasih, Pak Bondan."
"Nanti kalau sudah menikah, jangan lupa beli perabot di toko saya."
"Wah, promosi."
"Iya. Namanya juga pedagang."
Mereka tertawa.
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, semua berkumpul di halaman.
Makan malam bersama.
Nasi tumpeng buatan Sukmawati. Ayam ingkung. Sayur lodeh. Sambal goreng. Kerupuk.
"Makan, jangan pada lapar," kata Sukmawati.
"Matur nuwun, Bu," kata Faruq.
"Sama-sama."
Mereka makan dengan lahap. Tertawa. Bercerita. Bernostalgia tentang masa-masa sulit yang telah mereka lalui bersama.
"Guntur, ingatkah kau waktu kita demo di depan rumah Ferry?" tanya Faruq.
"Ingat. Kau hampir dipukul preman."
"Tapi selamat."
"Karena Nisa yang tarik."
"Benar. Nisa berani."
"Aku juga berani," kata Faruq.
"Kamu berani kabur."
"Bukan kabur. Menghindar."
"Sama saja."
Mereka tertawa lagi.
MALAM DI KAMAR
Jam sepuluh malam, semua pulang.
Faruq dan Nisa menginap di rumah Mbah Jayarasa, yang sudah disulap menjadi penginapan sederhana untuk tamu.
Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit dipenuhi bintang.
Bulan sabit tipis menggantung rendah.
Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Aku senang."
"Senang kenapa?"
"Karena Faruq dan Nisa datang. Karena mereka akan menikah. Karena kita semua bisa berkumpul seperti ini."
"Seperti keluarga?"
"Iya. Seperti keluarga."
Arga menggenggam tangan Sekar.
"Kita memang keluarga, Sekar. Bukan karena darah. Tapi karena perjuangan."
Karena cinta?"
"Karena cinta."
Mereka berpelukan.
FARUQ KENA BATUNYA
Kedatangan Faruq dan Nisa ke desa Wringinrejo membawa angin segar bagi Arga dan timnya. Faruq yang humoris, cerewet, dan kadang kekanakan berhasil mencairkan suasana yang sempat tegang akibat konflik dengan Pak Kades. Nisa yang kalem, tegas, dan penuh ide memberikan kontribusi nyata dalam mengatur strategi menghadapi tekanan dari pihak musuh.
Tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Faruq, dengan mulutnya yang tidak pernah bisa diam, akhirnya kena batunya. Ia terlibat konflik dengan salah satu preman bayaran Pak Kades yang masih berkeliaran di desa. Bukan konflik fisik yang besar. Bukan perkelahian yang merusak. Tapi adu mulut yang berakhir dengan ancaman.
Faruq, yang tidak tahu diri, menantang preman itu, "Ayo, kalau berani, coba pukul saya! Saya tidak takut!"
Preman itu tidak terima. Ia memukul Faruq.
Sekali.
Tepat di pelipis.
Faruq jatuh.
Darah mengucur.
Nisa berteriak.
Arga yang mendengar suara teriakan berlari ke lokasi.
Preman itu sudah kabur.
Faruq terbaring di tanah dengan pelipis berdarah dan mata setengah terbuka.
"FARUQ!" teriak Arga.
Faruq mengerang.
"Mas Arga... sakit..."
"Tahan. Aku panggil dokter."
PAGI YANG CERAH
Hari Jumat, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Warung pecel Mbok Sekar ramai sejak pukul setengah tujuh, seperti biasa.
Tapi Faruq tidak ikut sarapan.
Ia masih di kamar, ditemani Nisa yang menempelkan es batu di pelipisnya yang bengkak.
"Faruq, kenapa kamu berantem?" tanya Nisa.
"Aku tidak berantem. Aku cuma bicara."
"Bicara apa?"
"Aku bilang, 'Preman kismin, muka sampah, kerjaannya cuma nyusahin orang.'"
Nisa menghela napas.
"Ya sudah. Itu tantangan."
"Bukan tantangan. Fakta."
"Tapi dia mukul kamu."
"Itu artinya dia tidak terima fakta."
Nisa tidak bisa menahan senyum.
"Kamu ini. Sudah dipukul masih bisa bercanda."
"Memangnya mau nangis? Nangis tidak menyelesaikan masalah."
Faruq benar.
Nangis tidak menyelesaikan masalah.
Tapi luka di pelipisnya harus segera diobati.
ARGA DATANG
Arga masuk ke kamar.
"Faruq, bagaimana?"
"Sakit, Mas. Tapi tidak parah. Hanya luka luar."
"Tapi banyak darah."
"Itu karena pelipis memang mudah berdarah. Bukan berarti lukanya parah."
"Kamu yakin?"
"Aku calon dokter, Mas. Aku tahu."
Arga menghela napas.
"Kita lapor polisi."
"Tidak usah, Mas. Nanti repot."
"Tapi, "
"Preman itu tidak akan kembali. Dia cuma takut. Begitu tahu lapor polisi, dia kabur."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin, Mas. Aku sudah sering mengalami."
Arga memandang Faruq.
Laki-laki di depannya ini, yang dulu membuatnya tertawa, yang dulu membantu mencari Sekar, yang dulu menjadi saksi di persidangan Ferry, kini terbaring dengan pelipis luka.
"Baik. Kalau kamu yakin."
"Terima kasih, Mas."
GUNTUR DATANG
Guntur masuk ke kamar.
Wajahnya tegang.
"Faruq, kenapa kamu ceroboh?"
"Aku tidak ceroboh. Aku hanya jujur."
"Jujur tidak harus dengan cara menghina."
"Tapi, "
"Faruq, di desa ini berbeda dengan di kota. Di kota, orang mungkin menganggap omonganmu bercanda. Di desa, orang mudah tersinggung. Apalagi preman. Mereka tidak punya pekerjaan yang baik. Mereka tidak punya pendidikan yang cukup. Mereka mudah marah."
Faruq terdiam.
"Maaf, Mas Guntur."
"Jangan maaf ke saya. Maaf ke Nisa. Dia yang paling khawatir."
Faruq memandang Nisa.
"Maaf, Nis."
"Maaf diterima. Tapi jangan diulang."
"Tidak akan."
MBAH TARNI DATANG
Mbah Tarni datang ke rumah Arga setelah mendengar kabar bahwa Faruq dipukul.
"Le, Faruq," panggilnya.
"Iya, Mbah."
"Coba Mbah lihat."
Mbah Tarni memeriksa pelipis Faruq dengan teliti.
"Tidak parah. Hanya luka luar. Tapi harus tetap diobati. Jangan sampai infeksi."
"Baik, Mbah."
Mbah Tarni mengeluarkan ramuan dari keranjangnya. Daun sirih, kunyit, kapur sirih, dan sedikit minyak kayu putih. Ditumbuknya. Ditempelkan di pelipis Faruq.
"Wah, dingin," kata Faruq.
"Biar. Dingin itu baik. Menghentikan pendarahan."
"Terima kasih, Mbah."
"Jangan berterima kasih. Jaga diri. Jangan cari masalah."
"Siap, Mbah."
PAK BONDAN BICARA
Pak Bondan yang ikut datang angkat bicara.
"Faruq, saya dengar kamu dipukul preman."
"Iya, Pak."
"Lapor polisi."
"Tidak usah, Pak."
"Kenapa?"
"Ribet. Nanti proses hukumnya lama. Saya cuma luka kecil."
"Tapi, "
"Dan preman itu cuma preman kecil. Tidak perlu dibesar-besarkan."
Pak Bondan menghela napas.
"Kamu memang beda, Faruq."
"Beda bagaimana?"
"Orang lain kalau dipukul, pasti lapor polisi. Kamu malah santai."
"Karena saya percaya pada karma. Suatu hari, preman itu akan dapat balasan. Tidak perlu saya yang membalas."
"Kamu bijak, Faruq."
"Aku tidak bijak. Aku hanya malas repot."
Mereka tertawa.
SAMSUL BICARA
Samsul yang ikut datang angkat bicara.
"Faruq, saya kenal preman itu."
"Serius?"
"Iya. Namanya Bakri. Anak buah Pak Kades. Suka mabuk. Suka berantem. Suka cari masalah."
"Di mana dia tinggal?"
"Di kampung sebelah. Dekat sungai."
"Kampung mana?"
"Sungai Opak. Daerah perbatasan."
"Jauh?"
"Lumayan. Satu jam jalan kaki."
"Jangan cari dia, Faruq," kata Arga.
"Aku tidak akan cari, Mas. Aku hanya penasaran."
"Penasaran boleh. Tapi jangan cari masalah."
"Siap, Mas."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit dipenuhi bintang.
Bulan sabit tipis menggantung rendah.
Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Faruq baik-baik saja?"
"Iya. Lukanya tidak parah."
"Untung."
"Kenapa?"
"Kalau parah, bisa repot."
"Repot bagaimana?"
"Rawat di rumah sakit. Biaya mahal."
Arga tersenyum.
"Kamu pelit."
"Aku tidak pelit. Aku realistis."
Mereka terdiam.
"Mas."
"Iya."
"Aku khawatir."
"Khawatir apa?"
"Khawatir preman itu datang lagi. Khawatir dia balas dendam."
"Tidak akan. Dia sudah kabur. Dia takut."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena dia pengecut. Pengecut hanya berani lawan orang yang lemah. Sekarang dia tahu kita tidak lemah."
Sekar memeluk Arga.
"Semoga."
BAB 8
MISTERI PEREMPUAN TUA
Seminggu setelah Faruq dipukul preman bayaran Pak Kades, suasana di desa Wringinrejo perlahan kembali tenang. Faruq sudah sembuh, luka di pelipisnya hanya meninggalkan bekas kecil yang tidak terlalu terlihat. Nisa sudah tidak terlalu khawatir. Tim mulai fokus kembali pada tugas utama mereka: mengungkap misteri Mbah Lestari, nenek buyut Arga, yang hilang puluhan tahun lalu.
Tapi misteri itu tidak mudah dipecahkan.
Setiap kali Arga mendekati kebenaran, ada saja halangan. Setiap kali ia bertanya pada warga desa tentang Mbah Lestari, mereka hanya bisa menggeleng. Setiap kali ia mencari petunjuk baru dari peta usang Mbah Jayarasa atau kotak kayu peninggalan Mbah Raras, ia hanya menemui jalan buntu.
Hingga suatu malam, ketika Arga sedang duduk sendirian di beranda, seorang perempuan tua muncul di halaman rumahnya.
Perempuan itu bukan Mbah Tarni. Bukan Sukmawati. Bukan warga desa yang ia kenal.
Perempuan itu adalah Mbah Lestari.
Arwahnya.
Datang untuk menyelesaikan misteri yang selama ini menggantung.
MALAM YANG SUNYI
Jam sembilan malam, Arga duduk sendirian di beranda. Sekar sudah tidur lebih awal karena kelelahan melayani pelanggan warung seharian. Sukmawati dan Sastro juga sudah tidur. Rumah sunyi. Hanya suara jangkrik dan suara angin yang berembus di antara daun-daun pisang.
Arga menyesap teh jahe hangat. Pikirannya melayang ke mana-mana. Ke tanah warisan. Ke batu hitam. Ke keris. Ke Jatmika. Ke Mbah Lestari.
"Masih belum tidur, Le?"
Arga menoleh.
Di halaman depan, seorang perempuan tua berdiri.
Rambutnya putih semua, panjang sebahu. Wajahnya keriput, penuh garis-garis usia. Matanya sayu, tapi tajam. Ia memakai kebaya putih lengan panjang dan kain jarik batik. Di tangannya, tongkat kayu dengan ukiran naga.
"Siapa?" tanya Arga, tidak takut.
Perempuan itu tersenyum.
"Aku Mbah Lestari. Nenek buyutmu."
Arga terkesiap. "Mbah Lestari? Tapi Mbah sudah—"
"Mati? Iya. Aku sudah mati puluhan tahun lalu. Tapi aku belum tenang. Karena tugas aku belum selesai."
"Apa tugas Mbah?"
Mbah Lestari berjalan mendekat. Langkahnya pelan, tidak bersuara, kakinya tidak menyentuh tanah.
"Aku harus memberitahumu tentang rahasia terakhir. Tentang mengapa kau lahir di bawah kilat tanpa suara. Tentang mengapa kau bisa melihat dan mendengar hal-hal yang tidak bisa dilihat dan didengar orang lain. Tentang mengapa kau harus mengambil keris itu."
"Lalu?"
Mbah Lestari duduk di kursi kayu di samping Arga.
"Dengar baik-baik, Le. Karena ini penting. Karena ini akan mengubah hidupmu."
KISAH MBAH LESTARI
"Dulu, ketika aku masih muda, desa ini sering diteror oleh makhluk halus. Bukan yang jahat. Tapi yang tersesat. Mereka tidak bisa pergi ke alam baka karena dendam, karena cinta, karena rindu. Mereka gentayangan. Mereka mengganggu warga. Mereka membuat desa tidak tenang."
"Aku punya kemampuan melihat dan mendengar mereka. Aku juga punya kemampuan mengusir mereka. Tapi tidak semua. Ada yang harus dipulangkan dengan cara yang lembut. Dengan cara yang penuh kasih."
"Aku menikah dengan kakek Arga. Kakekmu. Kami punya anak. Anak itu punya anak. Anak itu punya Arga. Keturunan yang mewarisi kemampuanku."
"Tapi suatu hari, aku sakit. Sakit yang tidak bisa disembuhkan oleh dukun atau dokter. Sakit karena terlalu banyak berurusan dengan makhluk halus. Energiku habis. Jiwaku terkuras. Aku tahu, umurku tidak lama lagi."
"Aku memilih menghilang. Bukan karena tidak sayang keluarga. Tapi karena tidak ingin keluarga melihatku mati perlahan. Aku pergi ke gua dekat batu hitam. Aku bersemedi. Aku berdoa. Aku memohon pada Tuhan agar kemampuanku tidak punah. Agar ada keturunan yang bisa melanjutkan tugasku."
"Tuhan mengabulkan. Arga lahir. Dengan tanda kilat tanpa suara. Dengan kemampuan yang sama denganku."
"Tapi ada syaratnya."
"Apa syaratnya?" tanya Arga.
"Kau harus menggunakan kemampuan itu untuk kebaikan. Bukan untuk kejahatan. Bukan untuk kekayaan. Bukan untuk kekuasaan. Tapi untuk menolong. Untuk melindungi. Untuk menciptakan kedamaian."
"Hingga kapan?"
"Hingga kau menemukan penggantimu. Hingga ada keturunan yang mewarisi kemampuanmu. Hingga tugasmu selesai."
MAKAM MBAH LESTARI
"Lalu di mana makam Mbah?" tanya Arga.
Mbah Lestari tersenyum.
"Aku tidak punya makam, Le. Aku menghilang. Aku tidak meninggal di desa. Aku meninggal di dalam gua. Di tempat yang sama di mana kau menemukan keris."
"Gua dekat batu hitam?"
"Iya. Di ujung gua, di balik batu besar, ada kerangkaku. Masih utuh. Tidak lapuk. Tidak dimakan tanah. Karena aku sengaja mengubah tubuhku menjadi batu."
"Batu?"
"Iya. Batu kecil. Hitam. Tidak mencolok. Letakkan di samping makam Mbah Raras. Itu sudah cukup."
"Kenapa di samping makam Mbah Raras?"
"Karena dia saudara kembarku. Aku ingin bersamanya. Biarpun dalam kematian."
Air mata Arga jatuh.
"Baik, Mbah. Aku akan lakukan."
"Terima kasih, Le. Aku tenang sekarang. Aku bisa pergi. Aku bisa menemui Raras di alam sana."
MBAH LESTARI PERGI
Mbah Lestari berdiri.
Ia memandang Arga lama.
"Le, pesan terakhir."
"Siap, Mbah."
"Jagalah keluarga. Jagalah desa. Jagalah keris. Jagalah kemampuanmu. Gunakan untuk kebaikan. Jangan sampai disalahgunakan."
"Iya, Mbah."
"Dan jangan lupa, Jatmika sudah pergi. Dia tenang. Dia tidak perlu dirisaukan lagi. Fokuslah pada hidupmu. Pada Sekar. Pada anakmu kelak."
Arga tersenyum.
"Akan saya lakukan, Mbah."
Mbah Lestari tersenyum.
Cahaya putih menyelimuti tubuhnya.
Perlahan, ia menghilang.
Meninggalkan harum melati.
Meninggalkan ketenangan.
Meninggalkan Arga yang termenung di beranda.
PAGI YANG CERAH
Keesokan paginya, Arga terbangun lebih awal dari biasanya.
Ia langsung ke kamar mandi, membasuh muka, membasuh kaki, membasuh tangan.
Ia keluar rumah.
Sekar sudah bangun dan sibuk di warung.
"Mas, mau ke mana? Belum sarapan."
"Nanti. Aku ke tanah warisan dulu."
"Sendirian?"
"Sendirian."
"Jangan lama."
"Iya."
Arga berjalan cepat menyusuri pematang sawah, melewati kebun singkong, menembus hutan jati kecil.
Matahari baru naik setinggi pohon kelapa.
Kabut tipis masih menggantung di atas hamparan padi.
DI GUA
Arga sampai di tanah warisan.
Ia masuk ke gua.
Gelap.
Sangat gelap.
Udara dingin, lembab.
Ia menyalakan senter.
Berkas cahaya menerangi dinding gua yang berbatu, penuh lumut, air menetes dari langit-langit.
Arga berjalan perlahan.
Setiap langkah terasa berat.
Setiap suara membuat jantungnya berdebar.
Ia sampai di ujung gua.
Di balik batu besar, ia melihat sebuah batu kecil hitam.
Batu itu tidak mencolok.
Tapi batu itu mengeluarkan cahaya samar.
Cahaya biru.
Cahaya yang sama dengan cahaya dari keris.
Arga mengambil batu itu.
Dingin.
Sangat dingin.
Tapi di balik dingin itu, ada kehangatan.
Kehangatan Mbah Lestari.
KEMBALI KE RUMAH
Jam sembilan pagi, Arga pulang.
Ia langsung ke makam Mbah Raras di Bukit Watu Senja.
Ditemani Sekar, Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, Sukmawati, dan Sastro.
Arga meletakkan batu hitam di samping nisan kayu Mbah Raras.
"Makam Mbah Lestari," bisiknya.
Semua berdoa.
Mbah Tarni memimpin doa.
Setelah selesai, Arga memandang makam itu.
"Sekarang Mbah Lestari dan Mbah Raras bersatu. Saudara kembar. Bersama lagi. Selamanya."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit dipenuhi bintang.
Bulan sabit tipis menggantung rendah.
Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa semua misteri sudah terpecahkan?"
"Belum."
"Masih ada?"
"Masih satu."
"Apa?"
"Aku belum tahu. Tapi Jatmika pasti akan memberi tahu."
"Kapan?"
"Entah. Malam ini. Besok. Lusa. Yang penting, kita selalu siap."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Aku akan selalu di sini. Menemanimu."
"Terima kasih, Sekar."
"Jangan berterima kasih. Kita suami istri. Satu untuk selamanya."
Mereka berpelukan.
TANAH MBAH JAYARASA
Tiga hari setelah Arga meletakkan batu hitam, kerangka Mbah Lestari, di samping makam Mbah Raras, desa Wringinrejo dikejutkan oleh sebuah peristiwa yang tidak pernah mereka duga. Bukan kedatangan preman. Bukan fitnah baru dari Pak Kades. Tapi sebuah surat resmi dari pengadilan negeri.
Surat itu ditujukan kepada Arga. Isinya: gugatan tanah. Tanah warisan Mbah Jayarasa, tanah yang selama ini diyakini sebagai milik Arga, diklaim oleh Pak Kades sebagai hak milik keluarganya. Pak Kades mengklaim bahwa tanah itu adalah tanah warisan dari nenek buyutnya, yang diberikan kepada Mbah Jayarasa hanya sebagai penggarap, bukan sebagai pemilik.
Arga terkejut. Ia tidak menyangka Pak Kades masih punya energi untuk melawan. Ia tidak menyangka Pak Kades masih punya keberanian untuk menggugat. Ia tidak menyangka Pak Kades masih punya preman, pengacara, dan uang untuk melawan.
Tapi Arga tidak gentar.
Ia akan melawan.
Bukan dengan kekerasan. Bukan dengan amarah. Tapi dengan hukum. Dengan bukti. Dengan saksi. Dengan kebenaran.
PAGI YANG MENDUNG
Hari Selasa, langit mendung. Awan hitam menggulung dari arah barat. Angin bertiup kencang, membawa aroma tanah basah, tanda hujan akan segera turun. Daun-daun pisang di belakang rumah bergerak-gerak, bergesekan satu sama lain, menimbulkan suara seperti bisikan panjang.
Arga duduk di ruang tengah. Surat gugatan terbuka di pangkuannya. Matanya kosong memandang dinding. Pikirannya kacau.
"Mas, kamu baik-baik saja?" tanya Sekar yang datang dengan segelas teh jahe.
"Aku baik-baik saja."
"Kamu tidak baik-baik saja. Wajahmu pucat."
Arga menghela napas.
"Surat gugatan ini. Pak Kades menggugat tanah Mbah Jayarasa."
"Apa?"
"Iya. Dia klaim bahwa tanah itu milik keluarganya, bukan milik Mbah Jayarasa."
"Tapi Mbah Jayarasa sudah mewariskan tanah itu padamu."
"Iya. Tapi Pak Kades punya bukti. Katanya. Entah bukti apa."
Sekar duduk di samping Arga.
"Mas, kita lawan."
"Kita lawan."
"Kita sudah pernah melawan yang lebih berat. Melawan Ferry. Melawan preman. Melawan fitnah."
"Iya."
"Kita bisa."
"Iya."
Arga memegang tangan Sekar.
"Terima kasih."
GUNTUR DATANG
Jam delapan pagi, Guntur datang. Wajahnya tegang. Matanya merah, seperti tidak tidur semalaman. Bajunya kusut.
"Arga, aku sudah dengar kabar."
"Iya. Surat gugatan."
"Kita harus segera bertindak. Jangan sampai Pak Kades memenangkan gugatan."
"Bagaimana caranya?"
"Kita kumpulkan bukti. Surat wasiat Mbah Jayarasa. Saksi-saksi yang tahu bahwa tanah itu milik Mbah Jayarasa. Dokumen-dokumen lama dari kantor desa."
"Apakah itu cukup?"
"Belum tahu. Tapi setidaknya kita punya pegangan."
"Baik. Aku akan ke kantor desa. Cari arsip lama."
DI KANTOR DESA
Jam sembilan pagi, Arga, Sekar, Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, yang kini menjabat sebagai Pjs Kepala Desa, Samsul, Pak Bondan, Sukmawati, dan Sastro pergi ke kantor desa.
Ratri membuka ruang arsip.
"Ini semua dokumen lama. Dari tahun 1950-an sampai sekarang. Semoga ada yang berkaitan dengan tanah Mbah Jayarasa."
Mereka mulai mencari.
Sukmawati memeriksa dokumen tahun 1960-an.
Sastro memeriksa dokumen tahun 1970-an.
Arga dan Sekar memeriksa dokumen tahun 1980-an.
Guntur dan Laras memeriksa dokumen tahun 1990-an.
Faruq, Nisa, Dimas, Samsul, dan Pak Bondan memeriksa dokumen tahun 2000-an.
"Mas, ini!" teriak Sekar.
Semua mendekat.
Sekar memegang selembar kertas tua yang sudah menguning. Tulisannya sudah mulai pudar. Tapi masih bisa dibaca.
"Apa itu?" tanya Arga.
"Surat jual beli tanah. Antara Mbah Jayarasa dan kakek Pak Kades. Tahun 1965."
"Bunyi apa?"
Sekar membaca.
"Saya yang bertanda tangan di bawah ini, Marto (kakek Pak Kades), menjual sebidang tanah seluas dua hektar kepada Jayarasa dengan harga lima ratus rupiah. Tanah tersebut terletak di lereng bukit timur, berbatasan dengan Kali Wening dan hutan jati."
"Tanah ini menjadi milik Jayarasa dan keturunannya selamanya. Tidak boleh diganggu gugat."
"Demikian surat jual beli ini dibuat dengan kesadaran penuh, tanpa paksaan dari pihak manapun."
"—Marto, Jayarasa"
"Saksi? Ada saksi?" tanya Guntur.
"Ada. Lurah desa waktu itu. Namanya Karto. Sudah meninggal."
"Anaknya? Cucunya?"
"Mungkin masih ada. Kita cari."
MENCARI SAKSI
Jam dua belas siang, mereka berhasil menemukan cucu Karto. Namanya Sutrisno. Sekarang tinggal di desa tetangga, bekerja sebagai petani.
"Pak Sutrisno," panggil Arga.
"Iya."
"Kakek Bapak dulu Lurah desa sini?"
"Iya. Kakek saya Lurah waktu itu. Tahun 1965-an."
"Apakah Bapak tahu tentang surat jual beli tanah antara Mbah Jayarasa dan kakek Pak Kades?"
Sutrisno mengerutkan kening.
"Tahu. Kakek saya cerita. Waktu itu, kakek Pak Kades yang sekarang memang sengaja menjual tanah itu karena butuh uang. Dia pikir tanah itu tidak berharga. Ternyata sekarang berharga."
"Apakah Bapak bersedia menjadi saksi di pengadilan?"
Sutrisno ragu.
"Pak, kami butuh bantuan Bapak. Tanah ini warisan Mbah Jayarasa. Tanah ini sudah diwariskan pada saya. Pak Kades tidak punya hak."
Sutrisno menghela napas.
"Baik. Saya bersedia."
PAK BONDAN BICARA
Jam dua siang, mereka kembali ke rumah Arga.
Pak Bondan angkat bicara.
"Arga, kita punya bukti kuat. Surat jual beli. Saksi. Sekarang kita butuh pengacara."
"Pengacara? Siapa?"
"Aku sudah hubungi Bu Rina. Dia bersedia membantu."
"Bu Rina? LBH?"
"Iya. Dia sudah menangani kasus Ferry dulu. Dia tahu seluk-beluk perkara ini."
"Kapan dia datang?"
"Besok. Dia akan ke desa. Kita akan rapat. Kita akan siapkan strategi."
"Terima kasih, Pak Bondan."
"Jangan berterima kasih. Kita mitra."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit gelap.
Bulan tertutup awan.
Bintang-bintang tidak terlihat.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan menang?"
"Aku tidak tahu."
"Kamu takut?"
"Takut. Tapi tidak akan menyerah."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Aku akan selalu di sini."
"Terima kasih."
CAMAT TURUN TANGAN
Dua hari setelah ditemukannya surat jual beli tanah tahun 1965 dan kesediaan Sutrisno, cucu mantan Lurah, untuk menjadi saksi, desa Wringinrejo memasuki babak baru dalam konflik tanah melawan Pak Kades. Bukan babak ketegangan seperti ketika Arga melawan Ferry. Bukan babak keputusasaan seperti ketika warung pecel dirusak. Tapi babak harapan. Babak di mana pihak ketiga, yang netral, yang berwenang, yang tidak bisa dibeli oleh Pak Kades, mulai turun tangan.
Camat, yang selama ini hanya bisa memantau dari kejauhan, akhirnya memutuskan untuk terlibat langsung. Ia tidak ingin konflik ini berkepanjangan. Ia tidak ingin desa Wringinrejo menjadi medan perang antara Arga dan Pak Kades. Ia tidak ingin rakyat kecil menjadi korban.
Camat memanggil kedua belah pihak ke kantor kecamatan.
Arga didampingi oleh Guntur, Laras, Pak Bondan, dan Bu Rina, pengacara LBH yang datang khusus dari Jogja.
Pak Kades didampingi oleh pengacaranya, Danu (keponakannya sendiri), serta dua orang preman yang duduk di bangku belakang dengan wajah garang.
Camat membuka pertemuan dengan nada tegas.
"Saudara-saudara, kita berkumpul di sini untuk menyelesaikan sengketa tanah antara Arga bin Sastro dan Pak Kades. Saya minta kedua belah pihak untuk tenang. Tidak boleh ada yang berteriak. Tidak boleh ada yang saling menyela. Tidak boleh ada yang membawa senjata."
Ruangan hening.
Camat memandang Arga. "Silakan, Mas Arga."
ARGA BICARA
Arga berdiri.
Wajahnya tegang. Tangannya gemetar. Tapi suaranya tegas.
"Pak Camat, saya Arga. Anak Sastro dan Sukmawati. Suami Sekar."
"Saya memiliki bukti bahwa tanah warisan Mbah Jayarasa adalah milik saya. Bukan milik Pak Kades."
"Bukti pertama: surat wasiat Mbah Jayarasa. Beliau mewariskan tanah itu kepada saya sebelum meninggal."
"Bukti kedua: surat jual beli tanah tahun 1965 antara kakek Pak Kades (Marto) dan Mbah Jayarasa. Surat ini ditandatangani oleh kedua belah pihak dan disaksikan oleh Lurah desa waktu itu, Karto."
"Bukti ketiga: saksi mata. Cucu Karto, Pak Sutrisno, bersedia menjadi saksi bahwa kakeknya memang menyaksikan transaksi jual beli tersebut."
"Bukti keempat: saya sudah menggarap tanah itu selama berbulan-bulan. Saya sudah membersihkan semak belukar. Saya sudah menanam jagung dan singkong. Saya sudah membangun pondok kecil. Itu bukti penguasaan fisik."
"Ini fotokopian surat-suratnya, Pak Camat."
Arga menyerahkan setebal dokumen.
Camat memeriksa satu per satu.
PAK KADES BICARA
Pak Kades berdiri. Wajahnya merah. Matanya melotot.
"Pak Camat, surat-surat itu palsu!"
"Palsu?" tanya Camat.
"Iya. Mbah Jayarasa tidak pernah memiliki tanah itu. Tanah itu milik kakek saya. Kakek saya hanya mengizinkan Mbah Jayarasa menggarapnya. Bukan menjualnya."
"Tapi ada surat jual beli."
"Surat palsu. Tanda tangan kakek saya bukan asli."
"Saksi?"
"Saksi juga palsu. Sutrisno tidak tahu apa-apa. Dia hanya disuruh Arga untuk berbohong."
"Apakah Bapak punya bukti bahwa tanah itu milik Bapak?"
Pak Kades mengeluarkan secarik kertas tua. "Ini. Surat keterangan tanah dari Lurah desa tahun 1960. Nama pemilik: Marto. Kakek saya."
Camat memeriksa surat itu.
"Surat ini tidak ada tanda tangan Lurah."
"Lurahnya sudah meninggal. Tidak sempat tanda tangan."
"Tidak sah."
"Apa?"
"Surat keterangan tanah harus ditandatangani oleh Lurah yang bersangkutan. Kalau tidak, tidak sah."
Pak Kades terdiam.
BU RINA BICARA
Bu Rina, pengacara LBH, berdiri.
"Pak Camat, saya Bu Rina. Pengacara dari LBH Jogja. Mendampingi Mas Arga."
"Berdasarkan bukti-bukti yang Mas Arga sampaikan, surat wasiat, surat jual beli, saksi mata, dan penguasaan fisik, saya yakin tanah itu milik Mas Arga."
"Surat dari Pak Kades tidak sah karena tidak ada tanda tangan Lurah. Selain itu, Pak Kades tidak pernah menggarap tanah itu. Tidak pernah memanfaatkannya. Tidak pernah menjaganya. Tanah itu terlantar selama puluhan tahun."
"Jadi, secara hukum, klaim Pak Kades lemah."
Pak Kades marah. "Kamu siapa? Ngapain ikut campur urusan desa?"
"Saya pengacara. Tugas saya membela klien saya. Sesuai hukum."
"Pak Camat, saya minta pengacara ini keluar!"
"Tenang, Pak Kades. Bu Rina punya hak bicara. Ini forum musyawarah, bukan pengadilan."
GUNTUR BICARA
Guntur berdiri.
"Pak Camat, saya Guntur. Teman Arga."
"Saya punya bukti tambahan. Rekaman percakapan Pak Kades dengan preman bayarannya tentang upaya mengambil alih tanah."
"Rekaman?" Pak Kades pucat.
"Iya. Rekaman. Silakan didengar."
Guntur memutar rekaman.
Suara Pak Kades terdengar jelas.
"Pokoknya, tanah itu harus jadi milik saya. Bagaimanapun caranya. Saya tidak peduli Arga punya surat wasiat atau tidak."
"Tapi, Pak, surat wasiat itu—" suara preman.
"Manapun surat wasiat bisa dipalsukan. Saya punya pengacara. Saya punya uang. Saya punya koneksi."
"Dan kalau Arga melawan?"
"Kau selesaikan. Pakai cara apapun. Asal tidak meninggalkan jejak."
Rekaman berhenti.
Ruangan hening.
Pak Camat menatap Pak Kades dengan tajam.
"Pak Kades, ini serius. Rekaman ini bisa dipakai sebagai bukti di pengadilan."
"Rekaman palsu!" bentak Pak Kades.
"Suara Bapak. Siapa yang bisa meniru?"
"Guntur bisa! Dia jenius teknologi!"
"Tapi intonasi dan dialek Bapak tidak mungkin ditiru."
Pak Kades terdiam.
CAMAT MEMUTUSKAN
Camatan menghela napas.
"Setelah mendengar semua keterangan dan melihat bukti-bukti, saya memutuskan: tanah warisan Mbah Jayarasa adalah milik Arga. Pak Kades tidak punya hak."
"Keputusan ini saya buat berdasarkan: surat wasiat, surat jual beli, saksi mata, penguasaan fisik, dan rekaman percakapan Pak Kades yang mengindikasikan upaya pengambilalihan tanah secara tidak sah."
"Pak Kades, saya minta Bapak menghentikan semua upaya untuk mengklaim tanah itu. Kalau tidak, saya akan melaporkan Bapak ke polisi."
Pak Kades tidak menjawab. Ia hanya diam. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar.
"Apakah Bapak menerima keputusan ini?"
"Tidak."
"Bapak bisa banding ke bupati. Tapi untuk sementara, tanah itu tetap milik Arga."
Pak Kades berdiri. Ia berjalan ke pintu. Sebelum keluar, ia menoleh.
"Ini belum selesai, Arga."
"Saya tahu. Tapi saya tidak takut."
Pak Kades pergi. Preman-preman mengikutinya.
SETELAH PERTEMUAN
Camat memandang Arga.
"Mas Arga, saya sudah melakukan yang terbaik. Tapi Pak Kades tidak terima. Dia pasti akan lanjut ke bupati."
"Bagaimana dengan surat jual beli dan saksi?"
"Itu bukti kuat. Tapi hukum itu panjang. Bisa berbulan-bulan. Bisa bertahun-tahun."
"Sabar, Mas Arga. Saya yakin kebenaran akan menang."
"Terima kasih, Pak Camat."
KEMBALI KE DESA
Jam dua siang, mereka kembali ke desa.
Sekar sudah menunggu di halaman dengan warung pecel yang ramai.
"Mas, bagaimana?" tanyanya.
"Kita menang di kecamatan. Tapi Pak Kades akan banding ke bupati."
"Lama?"
"Mungkin."
"Kita akan bertahan."
"Iya."
Mereka berpelukan.
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit mulai cerah. Bintang-bintang muncul satu per satu.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan selamat?"
"Kita akan selamat."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena kita tidak sendirian."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
BAB 9
RAHASIA DI BALIK UKIRAN
Kemenangan Arga di kantor kecamatan atas sengketa tanah Mbah Jayarasa memang membawa kelegaan, tetapi tidak serta-merta mengakhiri semua masalah. Pak Kades memang sudah diperingatkan, tetapi dendamnya masih membara. Preman-preman bayarannya masih berkeliaran, meskipun tidak seaktif dulu. Dan yang paling penting: misteri utama dari seluruh perjalanan Arga, misteri tentang Mbah Lestari, tentang keris pusaka, tentang ukiran di batu hitam, tentang kemampuan Arga melihat dua langit, belum sepenuhnya terpecahkan.
Arga merasa ada yang kurang.
Ia sudah mendapatkan keris. Ia sudah menemukan "makam" Mbah Lestari. Ia sudah meletakkan batu hitam di samping makam Mbah Raras. Ia sudah mendengar cerita dari arwah Mbah Lestari sendiri. Tapi ada satu hal yang masih mengganjal: ukiran di batu hitam.
Ukiran itu tidak hanya hiasan. Ukiran itu adalah pesan. Pesan yang belum sepenuhnya ia pahami. Pesan yang mungkin berisi petunjuk tentang masa depan. Pesan yang mungkin berisi peringatan tentang bahaya yang akan datang.
Dan malam itu, ketika Arga sedang sendirian di rumah, Sekar tidur lebih awal karena kelelahan melayani pelanggan warung seharian, ia memutuskan untuk pergi ke tanah warisan. Membawa keris. Membawa senter. Membawa peta usang Mbah Jayarasa.
Ia ingin memecahkan misteri terakhir.
Ia ingin tahu apa sebenarnya yang Mbah Lestari sembunyikan di balik ukiran batu hitam.
MALAM YANG SUNYI
Jam sebelas malam, Arga berjalan sendirian menyusuri pematang sawah, melewati kebun singkong, menembus hutan jati kecil. Bulan purnama bersinar terang. Bintang-bintang berkerlap-kerlip. Udara dingin menusuk tulang.
Ia tidak takut.
Ia sudah biasa berjalan sendirian di malam hari. Sejak kecil. Sejak ia pertama kali mendengar bisikan angin. Sejak ia pertama kali melihat bayangan Jatmika di tepi Kali Wening.
Ia sampai di tanah warisan.
Batu hitam berukir masih berdiri kokoh di tengah lahan. Batu itu tidak berubah. Masih sama seperti pertama kali Arga melihatnya. Masih sama ketika ia pertama kali mengambil keris dari gua di belakangnya.
Tapi kali ini, ada yang berbeda.
Cahaya biru dari dalam batu itu lebih terang dari biasanya. Berdenyut. Seperti detak jantung. Seperti ada sesuatu yang hidup di dalamnya.
Arga mendekat.
Ia mengeluarkan keris dari balik bajunya.
Begitu keris itu mendekati batu, cahaya biru semakin terang. Menyilaukan.
Arga menutup mata.
KILASAN MASA LALU
Ketika ia membuka mata, ia tidak lagi berada di tanah warisan.
Ia berada di sebuah desa yang berbeda. Desa yang lebih tua. Desain rumah-rumahnya berbeda. Pakaian orang-orangnya berbeda. Ini desa Wringinrejo puluhan tahun lalu. Mungkin seratus tahun lalu.
Arga melihat seorang perempuan muda berdiri di halaman rumahnya.
Perempuan itu cantik. Wajahnya bulat, kulitnya putih, rambutnya hitam legam diikat ke belakang. Matanya sayu, tapi tajam. Ia memakai kebaya putih lengan panjang dan kain jarik batik.
Di tangannya, sebuah keris.
Keris yang sama dengan keris yang sekarang dipegang Arga.
Perempuan itu adalah Mbah Lestari. Muda.
Arga melihat Mbah Lestari mengukir batu. Batu hitam yang sama. Ukiran yang sama. Dengan keris yang sama.
Ia mengukir dengan hati-hati. Setiap goresan penuh makna. Setiap goresan mengandung doa. Setiap goresan mengandung harapan.
Arga mendekat. Ia ingin melihat lebih jelas.
Tapi tiba-tiba, kilasan itu menghilang.
Ia kembali berada di tanah warisan. Batu hitam di depannya. Keris di tangannya. Cahaya biru perlahan meredup.
ARGA MEMAHAMI
Arga duduk di samping batu hitam.
Ia memandang ukiran itu dengan saksama.
Sekarang ia mengerti.
Ukiran itu bukan hanya hiasan. Ukiran itu adalah peta. Peta yang lebih detail dari peta usang Mbah Jayarasa. Peta yang menunjukkan lokasi-lokasi penting dalam perjalanan spiritual Arga. Peta yang menunjukkan tempat-tempat di mana ia harus pergi, apa yang harus ia lakukan, dan siapa yang harus ia temui.
Ukiran itu juga adalah catatan. Catatan tentang kehidupan Mbah Lestari. Catatan tentang perjuangannya melawan makhluk halus. Catatan tentang pengorbanannya untuk desa. Catatan tentang cintanya pada keluarga.
Dan di bagian paling bawah, ada tulisan.
Aksara Jawa kuno.
Arga membaca dengan susah payah—mengingat pelajaran dari Mbah Jayarasa dulu.
"Keturunanku, jika kau membaca ini, berarti kau sudah siap. Kau sudah cukup kuat. Kau sudah cukup dewasa. Kau sudah cukup bijak."
"Gunakan keris ini untuk kebaikan. Gunakan kemampuanmu untuk melindungi. Jangan pernah menyalahgunakannya untuk kekayaan atau kekuasaan."
"Dan ingatlah: kau tidak sendirian. Ada teman-teman di sekitarmu. Ada keluarga. Ada desa. Ada alam. Ada Tuhan."
"Pulanglah. Bukan ke rumah. Tapi ke hati."
"—Mbah Lestari"
Air mata Arga jatuh.
Ia memeluk batu hitam itu.
"Terima kasih, Mbah. Aku akan menjaga warisan ini. Aku akan menjaga kemampuan ini. Aku akan menjaga keluarga. Aku akan menjaga desa."
Batu hitam itu bergetar pelan. Cahaya biru muncul lagi. Tapi kali tidak menyilaukan. Hangat. Seperti pelukan.
"Aku percaya padamu, Le."
Suara Mbah Lestari. Lirih. Jelas.
Arga tersenyum.
PULANG KE RUMAH
Jam satu dini hari, Arga pulang.
Sekar sudah bangun dan duduk di beranda. Wajahnya cemas.
"Mas, kamu ke mana? Aku khawatir."
"Ke tanah warisan. Maaf tidak bilang."
"Ada apa?"
"Aku sudah mengerti. Ukiran batu itu. Rahasianya."
"Apa?"
Arga menceritakan semuanya. Tentang kilasan masa lalu. Tentang peta di balik ukiran. Tentang pesan Mbah Lestari.
Sekar memeluk Arga.
"Mas, aku bangga."
"Bangga kenapa?"
"Bangga karena kamu tidak menyerah. Bangga karena kamu terus berjuang. Bangga karena kamu akhirnya menemukan jawaban."
Arga tersenyum.
"Aku juga bangga pada diri sendiri."
Mereka berpelukan.
PAGI YANG CERAH
Keesokan paginya, Arga terbangun dengan perasaan berbeda. Lebih ringan. Lebih tenang. Lebih damai.
Ia keluar rumah. Di halaman, Sekar sudah sibuk di warung. Sukmawati membantu mencuci piring. Sastro duduk di kursi bambu minum kopi hitam.
"Yah, aku pamit ke sawah."
"Sendirian?"
"Sendirian."
"Hati-hati."
"Iya, Yah."
Arga berjalan menyusuri pematang sawah. Ia memandang hamparan padi yang mulai menguning. Ia memandang langit biru tanpa awan. Ia memandang burung-burung pipit yang beterbangan rendah.
Ini pulang, pikirnya. Pulang sejati. Bukan ke rumah. Tapi ke hati.
PUSAKA YANG HILANG
Dua minggu setelah Arga memecahkan misteri ukiran batu hitam dan memahami pesan terakhir Mbah Lestari, kehidupan di desa Wringinrejo berjalan normal. Sawah mulai menguning, tanda panen akan segera tiba. Warung pecel Mbok Sekar semakin ramai karena kabar baik bahwa pernikahan Arga dan Sekar sah menurut hukum dan agama. Ratri semakin percaya diri menjabat sebagai Pjs Kepala Desa. Pak Kades sudah tidak lagi terlihat di desa, kabarnya ia pindah ke kota bersama istri dan anak-anaknya, setelah kalah dalam sengketa tanah dan kehilangan pengaruh.
Tapi ada satu misteri yang belum terpecahkan.
Pusaka desa.
Mbah Lestari hanya menyebutkan keris. Tapi Mbah Tarni, sesepuh desa, pernah berkata bahwa pusaka desa tidak hanya satu. Ada beberapa benda pusaka yang tersebar di berbagai tempat. Keris hanyalah salah satunya. Yang lainnya hilang. Dicuri. Disembunyikan. Dilupakan.
Dan malam itu, Mbah Tarni memanggil Arga ke rumahnya.
"Nduk, ada yang harus Mbah sampaikan," katanya dengan suara lirih, hampir seperti bisikan.
"Apa, Mbah?"
"Pusaka desa yang hilang. Mbah tahu di mana beberapa di antaranya."
Arga terkesiap. "Mbah tahu?"
"Mbah tahu. Tapi Mbah tidak bisa mengambilnya sendiri. Mbah sudah tua. Mbah hampir buta. Mbah hampir lumpuh. Mbah butuh kamu."
"Siap, Mbah. Akan saya cari."
PAGI DI RUMAH MBAH TARNI
Hari Minggu, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Arga, Sekar, Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, Sukmawati, dan Sastro berkumpul di rumah Mbah Tarni.
Rumah itu kecil, dinding bambu, atap seng, lantai tanah. Tapi di dalamnya, tersimpan banyak cerita. Dinding dipenuhi foto-foto lama. Ada foto Mbah Lestari. Ada foto Mbah Raras. Ada foto Mbah Jayarasa. Ada foto warga desa dari puluhan tahun lalu.
Mbah Tarni duduk di kursi bambu. Di pangkuannya, sebuah kotak kayu kecil dengan ukiran rumit.
"Ini," katanya sambil membuka kotak.
Di dalam kotak: beberapa lembar kertas kuno, peta sederhana, dan sebuah cincin perak.
"Apa itu?" tanya Arga.
"Peta lokasi pusaka desa yang hilang. Cincin ini adalah kuncinya. Cincin pemberian Mbah Lestari untukku."
"Kenapa Mbah tidak mengambil pusaka itu sendiri?"
"Karena tidak semua pusaka bisa diambil oleh sembarang orang. Ada yang hanya bisa diambil oleh keturunan Mbah Lestari. Ada yang hanya bisa diambil oleh orang yang memiliki hati bersih. Ada yang hanya bisa diambil pada waktu tertentu."
"Kapan?"
"Nanti malam. Bulan purnama. Di tanah warisan. Di samping batu hitam."
PERSIAPAN
Jam enam sore, semua berkumpul di tanah warisan.
Mereka membawa tikar, senter, makanan ringan, air minum, dan perlengkapan lainnya.
Dimas memasang kamera dan sensor.
Guntur dan Laras duduk di dekat batu hitam, membaca doa-doa.
Faruq dan Nisa jaga di sisi barat.
Dimas dan Ratri jaga di sisi utara.
Samsul dan Pak Bondan jaga di sisi selatan.
Arga dan Sekar jaga di sisi timur, dekat pohon randu.
Mbah Tarni duduk di samping batu hitam, memegang cincin perak.
"Kita tunggu bulan purnama," katanya.
BULAN PURNAMA
Jam delapan malam, bulan mulai naik.
Besar. Bulat. Terang.
Cahaya keperakan menyinari tanah warisan, membuat batu hitam berkilat.
"Mulai," bisik Mbah Tarni.
Ia menekankan cincin perak ke permukaan batu.
KREK...
Batu hitam itu retak.
Retakan kecil membentuk lubang.
Dari dalam lubang, terpancar cahaya keemasan.
"Mbah, apa itu?" tanya Sekar.
"Pusaka. Pusaka yang hilang."
Arga mendekat. Ia merogoh lubang itu.
Tangannya masuk ke dalam batu.
Meraba sesuatu.
Keras.
Logam.
Sebuah kotak besi kecil.
Ia mengeluarkannya.
Kotak besi dengan ukiran rumit, ukiran yang sama dengan ukiran di batu hitam. Permukaannya dingin, tapi di balik dingin itu, ada kehangatan.
"Buka," kata Mbah Tarni.
Arga membuka kotak itu.
Di dalamnya: sebuah gelang perak, sebuah kalung batu akik hitam, dan sebuah buku catatan kecil.
GELANG PERAK
Arga mengambil gelang perak itu.
Gelang itu tidak berkilau. Tapi ada ukiran di bagian dalam.
"Untuk keturunan Mbah Lestari yang berhati bersih."
"Ini gelang pelindung," kata Mbah Tarni. "Konon, siapa pun yang memakainya tidak akan bisa disakiti oleh makhluk halus. Fisiknya akan terlindungi. Jiwanya akan tenang."
"Untuk siapa?" tanya Arga.
"Untuk Sekar."
Sekar terkejut. "Untuk saya?"
"Iya. Kamu istri Arga. Kamu akan selalu bersamanya. Kamu akan selalu berhadapan dengan bahaya. Kamu butuh perlindungan."
Sekar menerima gelang itu. Ia memakainya di pergelangan tangan kiri.
Dingin.
Tapi nyaman.
"Aku merasakan sesuatu," bisiknya.
"Apa?"
"Ketenangan. Rasa aman."
"Itu pertanda baik."
KALUNG BATU AKIK HITAM
Arga mengambil kalung itu.
Batu akik hitam sebesar kelereng, dibungkus perak. Ukiran halus di permukaannya.
"Ini kalung kebijaksanaan," kata Mbah Tarni. "Konon, siapa pun yang memakainya akan bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang teman dan mana yang musuh."
"Untuk siapa?" tanya Arga.
"Untuk Guntur."
Guntur terkejut. "Untuk saya?"
"Iya. Kamu pemimpin tim. Kamu yang sering membuat keputusan. Kamu butuh kebijaksanaan."
Guntur menerima kalung itu. Ia memakainya di leher.
Dingin.
Tapi menenangkan.
"Aku merasakan sesuatu," bisiknya.
"Apa?"
"Pikiran lebih jernih. Perasaan lebih stabil."
"Itu pertanda baik."
BUKU CATATAN KECIL
Arga mengambil buku catatan itu.
Sampul kulit, halaman menguning, tulisan tangan dengan tinta biru yang sudah mulai pudar.
"Ini buku catatan Mbah Lestari," kata Mbah Tarni. "Isinya tentang pengalamannya berkomunikasi dengan makhluk halus. Tentang cara-cara mengusir mereka. Tentang mantra-mantra pelindung."
"Untuk siapa?" tanya Arga.
"Untukmu. Kamu yang mewarisi kemampuannya. Kamu yang akan melanjutkan tugasnya."
Arga menerima buku itu. Ia membuka halaman pertama.
"Untuk keturunanku yang bernama Arga."
"Aku tahu kau akan membaca ini. Aku tahu kau akan mewarisi kemampuanku. Aku tahu kau akan melanjutkan tugasku."
"Jangan takut. Kamu tidak sendirian. Ada Tuhan. Ada keluarga. Ada teman. Ada desa."
"Gunakan kemampuanmu untuk kebaikan. Lindungi yang lemah. Tolong yang membutuhkan. Bimbing yang tersesat."
"Dan ingatlah: pulanglah. Bukan ke rumah. Tapi ke hati."
Air mata Arga jatuh.
Ia memeluk buku itu.
"Terima kasih, Mbah Lestari. Aku akan menjaga warisan ini."
KEMBALI KE RUMAH
Jam sebelas malam, mereka pulang.
Perjalanan pulang terasa lebih ringan.
Bukan karena beban yang berkurang. Tapi karena hati yang mulai mengerti.
"Arga," panggil Guntur di tengah jalan.
"Iya."
"Aku tidak menyangka dapat kalung ini."
"Aku juga tidak menyangka dapat buku ini."
"Apa artinya?"
"Artinya, kita dipercaya. Dipercaya untuk menjaga. Dipercaya untuk melindungi. Dipercaya untuk melanjutkan."
Guntur mengangguk. "Kamu benar."
MALAM DI RUMAH
Jam dua belas malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit dipenuhi bintang.
Bulan purnama bersinar terang.
Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan selamat?"
"Kita akan selamat."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena kita tidak sendirian."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
ARGA DIANGGAP CALON PEMILIK PUSAKA
Tiga hari setelah penemuan pusaka desa yang hilang, gelang perak untuk Sekar, kalung batu akik hitam untuk Guntur, dan buku catatan Mbah Lestari untuk Arga, desa Wringinrejo berubah drastis. Bukan perubahan fisik yang terlihat dari luar. Sawah masih hijau menguning. Burung-burung pipit masih beterbangan. Angin masih berembus sepoi-sepoi. Warung pecel Mbok Sekar masih ramai setiap pagi.
Tapi ada yang berubah di dalam hati warga.
Mereka mulai melihat Arga bukan lagi sebagai "anak aneh" yang lahir di bawah kilat tanpa suara. Bukan lagi sebagai "anak setan" yang dulu difitnah oleh Bu Sania. Bukan lagi sebagai "pengembara yang merebut Sekar dari Ferry".
Tapi sebagai calon pemilik pusaka.
Sebagai keturunan Mbah Lestari.
Sebagai orang yang dipilih oleh alam untuk melindungi desa.
Beberapa warga mulai datang ke rumah Arga, bukan untuk membeli pecel, tapi untuk meminta doa. Untuk meminta perlindungan. Untuk meminta nasihat tentang hal-hal gaib.
Arga bingung. Ia tidak pernah menganggap dirinya spesial. Ia hanya anak desa biasa yang kebetulan memiliki kemampuan melihat dan mendengar hal-hal yang tidak bisa dilihat dan didengar orang lain.
Tapi warga desa tidak berpikir seperti itu.
Mereka mulai memuja Arga.
Dan itu, bagi Arga, lebih menakutkan daripada fitnah.
PAGI YANG CERAH
Hari Rabu, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Warung pecel Mbok Sekar ramai sejak pukul setengah tujuh—seperti biasa.
Tapi hari ini, ada yang berbeda.
Beberapa warga yang biasanya hanya membeli pecel dan pulang, kini duduk lama di warung. Mereka tidak hanya makan. Mereka juga mengamati Arga yang sedang membantu Sekar melayani pelanggan.
"Itu Mas Arga," bisik Bu Sri pada Bu Parti.
"Iya. Tampan."
"Bukan itu. Kata orang, dia bisa lihat hantu."
"Benarkah?"
"Benar. Kata Mbah Tarni, dia keturunan Mbah Lestari."
"Wah, hebat."
"Kita minta doa, yuk."
Bu Sri dan Bu Parti mendekati Arga.
"Mas Arga," panggil Bu Sri.
"Iya, Bu."
"Bisa minta doa? Anak saya sering sakit. Sudah ke dokter, ke dukun, ke rumah sakit, tidak sembuh-sembuh."
Arga mengerutkan kening.
"Bu, saya bukan dukun."
"Tapi kata orang, Mas Arga bisa, "
"Bu, saya hanya anak desa biasa. Tidak ada kekuatan khusus. Kalau anak Bu sakit, bawa ke dokter. Atau ke rumah sakit. Jangan ke saya."
Bu Sri kecewa.
"Tapi, Mas, "
"Bu, percaya sama saya. Saya tidak bisa menyembuhkan. Hanya Tuhan yang bisa."
Bu Sri pergi dengan hati kecewa.
Bu Parti mengikutinya.
GUNTUR BICARA
Jam sembilan pagi, Guntur datang ke warung.
Wajahnya tegang.
"Arga, aku dengar warga mulai menganggapmu dukun."
"Aku juga dengar."
"Kamu harus hati-hati. Jangan sampai mereka memujamu. Nanti kamu celaka."
"Celaka bagaimana?"
"Terlalu banyak pujian bisa membuat seseorang sombong. Sombong bisa membuat seseorang jatuh."
"Aku tidak sombong."
"Aku tahu. Tapi suatu hari, jika kamu terus-terusan dipuji, bisa saja kamu berubah."
"Kamu benar. Aku harus tetap rendah hati."
"Bagus. Sekarang, kita harus klarifikasi ke warga. Bahwa kamu bukan dukun. Bahwa kamu tidak punya kekuatan khusus. Bahwa kamu hanya anak desa biasa."
"Baik. Besok malam. Di balai desa. Aku akan bicara."
RATRI BICARA
Jam sepuluh pagi, Ratri datang ke warung.
Ia sudah mendengar kabar bahwa Arga dianggap dukun.
"Mas Arga, aku dengar warga mulai memujamu."
"Iya, Rat."
"Kamu harus hati-hati. Aku sebagai Pjs Kepala Desa, tidak ingin ada konflik baru."
"Aku akan klarifikasi besok malam di balai desa."
"Bagus. Aku akan kumpulkan warga."
"Terima kasih, Rat."
"Jangan berterima kasih. Ini tugas saya."
MALAM DI BALAI DESA
Jam tujuh malam, balai desa dipenuhi warga.
Wajah-wajah penasaran. Ada yang mendukung Arga. Ada yang skeptis. Ada yang netral.
Arga berdiri di depan.
Wajahnya tegang. Tangannya gemetar. Tapi suaranya tegas.
"Saudara-saudara, saya Arga. Anak Sastro dan Sukmawati. Suami Sekar."
"Saya dengar warga mulai menganggap saya sebagai dukun. Sebagai orang yang bisa menyembuhkan penyakit. Sebagai orang yang bisa melihat hantu dan mengusirnya."
"Itu tidak benar."
"Saya hanya anak desa biasa. Saya tidak punya kekuatan khusus. Saya tidak bisa menyembuhkan penyakit. Saya tidak bisa mengusir hantu. Hanya Tuhan yang bisa."
"Benar bahwa saya adalah keturunan Mbah Lestari. Benar bahwa saya mewarisi kemampuannya untuk melihat dan mendengar hal-hal yang tidak bisa dilihat dan didengar orang lain."
"Tapi kemampuan itu bukan untuk dipamerkan. Bukan untuk mencari keuntungan. Bukan untuk menjadi dukun."
"Kemampuan itu untuk melindungi. Untuk menolong. Untuk membimbing. Sesuai dengan amanat Mbah Lestari."
"Jadi, saya mohon, jangan perlakukan saya sebagai dukun. Perlakukan saya sebagai manusia biasa. Sebagai tetangga. Sebagai sesama warga desa."
"Terima kasih."
REAKSI WARGA
Warga bertepuk tangan.
Mbah Tarni berdiri.
"Warga Wringinrejo, Mbah sudah bilang. Arga bukan dukun. Dia hanya anak desa biasa yang diberi amanat oleh leluhur. Jangan memujanya. Jangan menganggapnya keramat. Jangan memintanya melakukan hal-hal di luar kemampuannya."
"Hargai dia sebagai manusia. Sebagai tetangga. Sebagai sesama."
"Setuju?" teriak Mbah Tarni.
"SETUJU!" teriak warga.
PULANG KE RUMAH
Jam sembilan malam, Arga dan Sekar pulang.
Langit penuh bintang.
Bulan sabit tipis menggantung rendah.
Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kamu tidak takut?"
"Takut apa?"
"Takut warga marah. Karena kamu menolak jadi dukun."
"Aku tidak takut. Karena aku bilang yang benar. Aku tidak bohong. Aku tidak menjual mimpi."
"Kamu hebat, Mas."
"Aku tidak hebat. Aku hanya jujur."
Mereka berpelukan.
PAK KADES MENYUSUN RENCANA
Dua minggu setelah Arga dengan tegas menolak dianggap sebagai dukun dan meminta warga desa untuk tidak memujanya, suasana di Wringinrejo mulai tenang. Warung pecel Mbok Sekar tetap ramai. Sawah mulai menguning, tanda panen sudah di depan mata. Ratri semakin percaya diri menjalankan tugas sebagai Pjs Kepala Desa.
Tapi di balik ketenangan itu, ada badai yang sedang disusun.
Bukan badai alam. Bukan badai dari makhluk halus. Tapi badai dari Pak Kades, mantan kepala desa yang masih menyimpan dendam. Ia tidak terima kalah dalam sengketa tanah. Ia tidak terima istrinya, Bu Sania, harus minta maaf pada Sekar. Ia tidak terima dipecat dari jabatannya.
Pak Kades menyusun rencana.
Bukan rencana kekerasan seperti dulu, mengirim preman untuk mengancam atau merusak. Tapi rencana yang lebih licik. Rencana yang lebih cerdik. Rencana yang menggunakan uang dan pengaruh untuk menghancurkan Arga dari dalam.
Ia akan merekrut anggota keluarga Arga sendiri.
Ia akan memecah belah keluarga.
Ia akan membuat Arga sengsara dari dalam.
Dan target pertamanya: Sastro.
Ayah Arga.
Laki-laki tua yang pendiam. Laki-laki tua yang keras kepala. Laki-laki tua yang tidak pernah banyak bicara. Laki-laki tua yang cinta mati pada keluarganya.
Tapi juga laki-laki tua yang punya hutang. Hutang lama. Hutang yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun. Hutang kepada Pak Kades.
PAGI YANG MENDUNG
Hari Selasa, langit mendung. Awan hitam menggulung dari arah barat. Angin bertiup kencang, membawa aroma tanah basah, tanda hujan akan segera turun. Daun-daun pisang di belakang rumah bergerak-gerak, bergesekan satu sama lain, menimbulkan suara seperti bisikan panjang.
Sastro duduk di kursi bambu favoritnya. Wajahnya pucat. Matanya sayu. Tangannya gemetar memegang secarik kertas.
"Ayah, kenapa?" tanya Arga yang baru keluar kamar.
Sastro tidak menjawab.
"Ayah?"
Sastro masih diam.
Arga mendekat. Ia mengambil kertas itu.
Isinya: surat peringatan dari Pak Kades.
"Sastro, aku tahu kau punya hutang padaku. Hutang lama. Hutang yang belum kau lunasi. Jika kau tidak melunasi dalam waktu satu minggu, aku akan sita sawahmu. Aku akan sita rumahmu. Aku akan buat keluargamu menderita."
"Kau bisa memilih. Bantu aku melawan Arga. Atau kau kehilangan segalanya."
"—Pak Kades"
Darah Arga berhenti mengalir.
"Hutang apa, Yah?"
Sastro menunduk. Air matanya jatuh.
"Dulu, ketika kau masih kecil, ayah sakit. Sakit parah. Tidak bisa bekerja. Ibu kau tidak punya uang untuk berobat. Ayah pinjam uang pada Pak Kades."
"Berapa?"
"Lima juta."
"Itu saja?"
"Iya. Tapi bunganya besar. Sepuluh persen per bulan. Setelah bertahun-tahun, hutang ayah menjadi lima puluh juta."
"Kenapa ayah tidak bilang?"
"Karena ayah malu. Ayah tidak bisa melunasi. Ayah tidak punya uang. Ayah hanya petani."
Arga memeluk ayahnya.
"Yah, jangan sedih. Kita akan lunasi."
"Tapi uang dari mana?"
"Pak Bondan akan bantu."
"Tapi, "
"Yah, kita sudah melewati yang lebih berat dari ini. Masak hutang lima puluh juta tidak bisa?"
Sastro tersenyum. "Kamu hebat, Le."
"Aku tidak hebat. Aku anak Ayah."
PAK BONDAN BICARA
Jam delapan pagi, Arga menelepon Pak Bondan.
"Pak Bondan, saya Arga."
"Iya, Le. Ada apa?"
"Saya mau pinjam uang. Lima puluh juta."
"Untuk apa?"
"Untuk melunasi hutang ayah saya. Ke Pak Kades."
"Hutang? Ayahmu hutang pada Pak Kades?"
"Iya. Dulu. Waktu ayah sakit. Sekarang Pak Kades tagih. Dengan ancaman."
Pak Bondan menghela napas.
"Ini jebakan, Le."
"Jebakan?"
"Iya. Pak Kades sengaja tagih sekarang. Karena dia tahu kau sedang fokus pada tanah warisan dan pusaka desa. Dia ingin mengalihkan perhatianmu. Dia ingin membuatmu sibuk. Dia ingin membuatmu stres."
"Tapi hutang itu nyata."
"Nyata. Tapi bunganya tidak masuk akal. Sepuluh persen per bulan? Itu ilegal. Kamu bisa lapor polisi."
"Tapi, "
"Dengar, Le. Aku akan pinjamkan uang. Tapi jangan bayar dulu. Kita lawan secara hukum. Aku punya teman pengacara yang ahli masalah hutang-piutang. Dia bisa membantu."
"Terima kasih, Pak Bondan."
"Jangan berterima kasih. Kita mitra."
GUNTUR BICARA
Jam sepuluh pagi, Guntur datang.
"Arga, aku dengar tentang hutang ayahmu."
"Iya."
"Ini siasat Pak Kades. Jangan terjebak."
"Aku tidak akan terjebak. Pak Bondan akan bantu."
"Bagus. Tapi satu hal."
"Apa?"
"Sastro harus jujur. Apakah benar hanya lima juta? Apakah benar bunganya sepuluh persen per bulan? Apakah benar hutang itu belum lunas?"
Arga memandang Sastro.
Sastro menunduk.
"Ayah?"
Sastro menghela napas.
"Ayah bohong."
"Bohong?"
"Pinjaman awal bukan lima juta. Tapi dua puluh juta. Itu sudah termasuk bunganya. Setelah bertahun-tahun, hutang ayah menjadi seratus juta."
"Seratus juta?"
"Iya. Ayah malu. Ayah tidak tega membebani kamu."
Arga tidak marah. Ia hanya memeluk ayahnya.
"Yah, kita hadapi bersama."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit gelap. Bulan tertutup awan. Bintang-bintang tidak terlihat.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan selamat?"
"Kita akan selamat."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena kita tidak sendirian."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
PREMAN DATANG KE DESA
Tiga hari setelah Arga mengetahui hutang ayahnya yang sebenarnya, seratus juta rupiah kepada Pak Kades, desa Wringinrejo dikejutkan oleh kedatangan rombongan preman. Bukan satu atau dua orang. Tapi puluhan. Mereka datang dengan mobil pick-up, turun di halaman balai desa, lalu menyebar ke berbagai titik strategis. Ada yang ke rumah Arga. Ada yang ke rumah Sastro. Ada yang ke warung pecel. Ada yang ke tanah warisan. Ada yang ke rumah Mbah Tarni.
Tujuan mereka: mengintimidasi. Memaksa Arga dan keluarganya untuk segera melunasi hutang. Kalau tidak, mereka akan menyita sawah, menyita rumah, dan "memberi pelajaran" kepada siapa pun yang mencoba melawan.
Tapi Arga tidak takut.
Ia sudah terbiasa menghadapi preman. Sejak melawan Ferry, ia sudah tahu trik-trik mereka. Sejak berteman dengan Dimas, Guntur, Laras, Faruq, Nisa, dan Pak Bondan, ia sudah punya jaringan keamanan yang cukup kuat.
Dan malam itu, pertempuran kecil terjadi di halaman rumah Arga.
Bukan pertempuran besar seperti dulu melawan preman Ferry. Tapi pertempuran yang cukup untuk menunjukkan bahwa Arga dan timnya tidak akan mundur.
PAGI YANG TIDAK BIASA
Hari Jumat, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Warung pecel Mbok Sekar sudah mulai ramai, pelanggan datang silih berganti.
Tapi hari ini, ada yang berbeda.
Dua preman berdiri di depan warung. Badan besar, berotot, wajah garang. Mereka tidak membeli. Mereka hanya berdiri. Mengawasi. Mengintimidasi.
"Mbak, pecel satu, bungkus!" teriak Bu Sri.
"Siap, Bu," jawab Sekar sambil melirik ke arah preman.
"Bu, itu siapa?" tanya Bu Sri.
"Tidak tahu, Bu."
"Wajahnya serem."
"Biarkan. Yang penting kita tetap jualan."
Preman itu mendekat.
"Kamu Sekar?" tanya salah satu.
"Iya."
"Suamimu Arga?"
"Iya."
"Bilang pada Arga, hutang ayahnya harus dilunasi minggu depan. Kalau tidak, kami akan ambil sawahnya. Rumahnya. Dan mungkin... sesuatu yang lebih berharga."
Mata preman itu menatap Sekar dengan penuh arti.
Sekar tidak bergeming.
"Sampaikan sendiri pada Arga. Dia di sawah."
Preman itu mendengus. Mereka pergi.
ARGA TAHU
Jam delapan pagi, Arga pulang dari sawah.
Sekar sudah menunggu di halaman.
"Mas, tadi ada preman."
"Preman? Datang ke warung?"
"Iya. Dua orang. Mereka bilang, hutang ayahmu harus dilunasi minggu depan. Kalau tidak, mereka akan ambil sawah. Rumah. Dan sesuatu yang lebih berharga."
Darah Arga berhenti mengalir.
"Mereka mengancam kamu?"
"Tidak secara langsung. Tapi maksudnya jelas."
"Sialan."
Arga masuk ke rumah. Ia mengambil keris dari balik bantal.
"Mas, kamu mau apa?"
"Aku mau ke rumah Pak Kades."
"Jangan. Nanti kamu celaka."
"Aku tidak akan celaka. Aku hanya ingin bicara."
"Bawa Guntur. Bawa Laras. Bawa Dimas."
"Baik."
PERTEMUAN DENGAN PAK KADES
Jam sepuluh pagi, Arga, Guntur, Laras, dan Dimas pergi ke rumah Pak Kades.
Rumah itu masih sama. Besar. Pagar besi. Kawat berduri.
Preman berjaga di depan.
"Ada apa?" tanya preman itu.
"Saya mau ketemu Pak Kades."
"Pak Kades tidak terima tamu."
"Bilang Arga yang datang."
Preman itu masuk ke dalam.
Beberapa menit kemudian, Pak Kades keluar. Wajahnya pucat. Matanya sayu.
"Arga. Ada apa?"
"Saya mau bicara tentang hutang ayah saya."
"Sudah saya tagih. Lewat preman."
"Tapi bunganya tidak masuk akal. Sepuluh persen per bulan? Itu ilegal."
"Itu kesepakatan kami."
"Tidak ada kesepakatan tertulis."
"Tapi hutang itu nyata."
"Nyata. Tapi bunganya harus sesuai hukum."
Pak Kades marah. "Kamu mau main-main dengan saya?"
"Saya tidak main-main. Saya serius. Saya akan lapor polisi."
"Apa?"
"Iya. Saya akan lapor polisi. Ancaman. Intimidasi. Pengerahan preman. Bunga ilegal. Semua akan saya laporkan."
Pak Kades mundur selangkah.
"Kamu, "
"Saya serius, Pak Kades. Saya sudah pernah melawan orang yang lebih kuat dari Bapak. Ferry. Dan Ferry masuk penjara."
Pak Kades tidak bisa berkata apa-apa.
"Jadi, saya minta preman-preman Bapak menarik diri. Saya minta Bapak berhenti mengancam keluarga saya. Kalau tidak, saya akan tindak lanjuti secara hukum."
Pak Kades menghela napas.
"Baik. Saya tarik preman saya. Tapi hutang ayahmu harus dilunasi. Dengan bunga yang wajar."
"Setuju."
Mereka berjabat tangan.
KEMBALI KE RUMAH
Jam dua belas siang, mereka pulang.
Sekar sudah menunggu di halaman.
"Mas, bagaimana?"
"Baik. Pak Kades setuju tarik preman."
"Syukurlah."
"Tapi hutang ayah harus dilunasi. Dengan bunga wajar."
"Berapa?"
"Aku tidak tahu. Nanti kita hitung."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit cerah. Bintang-bintang berkerlap-kerlip.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan selamat?"
"Kita akan selamat."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena kita tidak sendirian."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
BAB 10
PERTEMPURAN DI HALAMAN
Seminggu setelah pertemuan Arga dengan Pak Kades, desa Wringinrejo kembali dikejutkan oleh kedatangan preman. Bukan satu atau dua orang. Bukan hanya untuk mengintimidasi. Tapi puluhan orang, lebih banyak dari sebelumnya, dengan senjata lengkap: pentungan, celurit, pisau, bahkan beberapa membawa senjata api.
Pak Kades mengingkari janjinya. Ia tidak menarik preman. Ia malah menambah jumlah mereka. Ia tidak berhenti mengancam. Ia malah semakin menjadi-jadi. Ia tidak mau kalah. Ia tidak mau malu. Ia tidak mau kehilangan kekuasaan.
Dan malam itu, mereka datang ke rumah Arga.
Bukan untuk bernegosiasi. Bukan untuk memperingatkan. Tapi untuk menyerang.
Membubarkan warung pecel.
Merusak rumah.
Melukai Arga dan keluarganya.
Mengambil alih tanah warisan dengan paksa.
Tapi Arga sudah siap.
Guntur sudah siap.
Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, Sukmawati, dan Sastro sudah siap.
Mbah Tarni sudah berdoa.
Seluruh desa sudah tahu.
Dan pertempuran di halaman depan rumah Arga pun tidak terhindarkan.
MALAM YANG TEGANG
Jam delapan malam, langit gelap. Bulan tertutup awan. Bintang-bintang tidak terlihat. Suara jangkrik yang biasanya mengisi malam, tiba-tiba berhenti. Sunyi. Mencekam.
Arga duduk di beranda, ditemani Sekar, Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, Sukmawati, dan Sastro.
Mbah Tarni duduk di kursi kayu, memegang tasbih, mulutnya komat-kamit membaca doa.
"Nanti malam, mereka akan datang," kata Mbah Tarni.
"Bagaimana Mbah tahu?" tanya Arga.
"Mbah dengar. Dari angin. Dari tanah. Dari alam."
"Berapa banyak?"
"Puluhan. Mungkin lima puluh. Mungkin lebih."
"Kita hanya..."
"Kamu tidak sendirian, Le. Desa ini bersamamu."
PREMAN DATANG
Jam sembilan malam, suara motor terdengar dari kejauhan.
Banyak.
Puluhan.
Mendekat.
Lampu sorot menyilaukan.
Arga berdiri.
Ia memegang keris di tangan kanan. Parang di tangan kiri.
"Sekar, masuk ke dalam. Jaga Ibu dan Ayah."
"Tidak. Aku ikut."
"Sekar, "
"Mas, aku sudah dewasa. Aku istrimu. Aku berhak ikut."
Arga menghela napas.
"Baik. Tapi jangan terlalu maju."
Motor-motor itu berhenti di halaman.
Lima puluh orang turun.
Wajah garang.
Senjata lengkap.
Pemimpinnya, Bakri, preman yang dulu memukul Faruq, berdiri di depan.
"Arga! Keluar!"
Arga maju selangkah.
"Aku di sini."
"Kami datang untuk mengambil hak Pak Kades. Tanah warisan. Dan hutang ayahmu. Kalau kamu tidak menyerah, kami akan ambil paksa."
"Coba ambil."
Bakri mengangkat pentungan.
"Serang!"
PERTEMPURAN
Preman pertama menerjang Arga dengan pentungan. Arga mengelak. Kerisnya berayun, bukan ke arah tubuh, tapi ke arah pentungan, membuatnya terpental.
Preman kedua menyerang dari samping. Guntur menghadang dengan kayu panjang.
Bruk!
Preman itu jatuh.
Preman ketiga, keempat, kelima, silih berganti.
Faruq dan Nisa bertahan di pintu dapur. Faruq memukul dengan pentungan kayu. Nisa memanah dengan ketapel, tepat sasaran, mengenai mata preman.
Dimas dan Ratri dari atap melemparkan batu-batu kecil. Preman-preman terjatuh.
Samsul dan Pak Bondan menjaga sisi belakang rumah. Samsul yang dulu mata-mata, kini berani.
Sastro dan Sukmawati di dalam rumah, menjaga Mbah Tarni.
Tapi jumlah preman terlalu banyak.
Setiap satu jatuh, dua muncul.
Setiap dua jatuh, empat muncul.
Arga mulai kelelahan.
Lengannya sakit karena menahan pukulan.
Punggungnya sakit karena kena pentungan.
"Sekar! Awas!"
Preman keenam menyerang Sekar dari belakang.
Arga tidak sempat menolong.
Tapi Sekar berputar. Ia menendang preman itu dengan kaki kanannya.
DUAR!
Preman itu jatoh.
"Mas, aku baik-baik saja!"
"Kamu hebat!"
"Aku istrimu!"
BAKRI TERPOJOK
Bakri yang sejak tadi hanya memerintah, akhirnya turun tangan.
Ia membawa celurit panjang.
"Arga, kau mati!"
Ia menyerang.
Arga mengelak.
Celurit itu mengenai tiang kayu.
Bruk!
Bakri mengayun lagi.
Arga mengelak lagi.
Guntur datang dari samping. Ia memukul lengan Bakri dengan kayu panjang.
Bruk!
Celurit itu jatuh.
Bakri memegang lengannya yang sakit.
"Kau, "
"Sekarang giliran kami yang menghakimi."
POLISI DATANG
Tiba-tiba, suara sirine polisi terdengar dari kejauhan.
Banyak mobil.
Lampu rotator merah biru.
"POLISI! JANGAN BERGERAK!"
Preman-preman itu panik.
Beberapa mencoba kabur, tapi polisi sudah mengepung.
Bakri tidak bisa lari.
"Kami terima laporan ada penyerangan," kata komandan polisi. "Kami amankan semua."
"Tapi, " Bakri mencoba protes.
"Diam. Kau akan kami bawa ke kantor. Dan di sana, kau bisa bicara dengan pengacaramu."
Bakri dan preman-preman digiring ke mobil polisi.
SETELAH PERTEMPURAN
Arga duduk di halaman. Tubuhnya penuh luka. Pakaiannya robek. Wajahnya merah.
Sekar memeluknya.
"Mas, kamu baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja. Hanya luka kecil."
"Banyak darah."
"Itu bukan darahku. Itu darah preman."
Sekar tersenyum.
"Mas, kamu hebat."
"Aku tidak hebat. Aku hanya ingin melindungi keluarga."
MALAM DI RUMAH
Jam dua belas malam, semua berkumpul di ruang tengah.
Mbah Tarni memimpin doa.
"Syukurlah. Tidak ada yang tewas. Tidak ada yang luka parah. Ini berkah."
"Berkah dari apa, Mbah?" tanya Faruq.
"Dari kebersamaan. Dari doa. Dari keberanian."
"Kami hanya melakukan yang benar, Mbah."
"Itu sudah lebih dari cukup."
PAGI YANG CERAH
Keesokan paginya, matahari terbit dengan cerah.
Burung-burung pipit beterbangan rendah.
Sekar sudah sibuk di warung.
Arga duduk di beranda, ditemani Guntur.
"Guntur," panggil Arga.
"Iya."
"Apa kita akan selamat?"
"Kita akan selamat."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena kita tidak sendirian."
Mereka berpelukan.
CAMAT MENGAMBIL TINDAKAN
Pertempuran di halaman depan rumah Arga yang terjadi seminggu lalu mengguncang seluruh desa Wringinrejo. Bukan hanya karena kekerasan yang terjadi, tapi karena keterlibatan Pak Kades, mantan kepala desa yang masih memiliki pengaruh dalam mengirim preman untuk menyerang warganya sendiri. Kabar itu menyebar cepat. Dari mulut ke mulut. Dari desa ke desa. Dari kecamatan ke kabupaten.
Media lokal mulai meliput. Jurnalis dari Jogja datang. Aktivis dari LBH turun tangan. Bahkan Komnas Perempuan dan LSM anti kekerasan ikut memantau.
Camat, yang sebelumnya hanya bisa memperingatkan Pak Kades, kali ini bertindak tegas. Ia tidak mau konflik ini berkepanjangan. Ia tidak mau desa Wringinrejo menjadi contoh buruk bagi desa-desa lain. Ia tidak mau rakyat kecil menjadi korban kekuasaan.
Camat memanggil kedua belah pihak, Arga dan Pak Kades, ke kantor kecamatan. Bukan untuk mediasi biasa. Tapi untuk pemeriksaan resmi. Dengan bukti-bukti. Dengan saksi-saksi. Dengan ancaman pidana jika salah satu pihak terbukti bersalah.
Dan untuk pertama kalinya, Pak Kades terlihat gugup.
PAGI DI KANTOR KECAMATAN
Hari Kamis, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Arga, Sekar, Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri (Pjs Kepala Desa), Samsul, Pak Bondan, Sukmawati, Sastro, dan Mbah Tarni berkumpul di kantor kecamatan.
Pak Kades datang bersama istrinya, Bu Sania, dan dua orang preman yang duduk di bangku belakang dengan wajah tegang.
Camat duduk di kursi kehormatan.
"Saudara-saudara," katanya. "Kita berkumpul di sini untuk menyelesaikan konflik antara Arga dan Pak Kades. Kali ini bukan mediasi. Tapi pemeriksaan resmi. Saya punya wewenang untuk memanggil polisi. Saya punya wewenang untuk melimpahkan kasus ini ke pengadilan."
Ruangan hening.
"Saya minta kedua belah pihak untuk bersikap jujur. Tidak boleh ada yang berbohong. Tidak boleh ada yang menyembunyikan bukti. Tidak boleh ada yang mengancam saksi."
Camat memandang Arga.
"Silakan, Mas Arga."
ARGA BICARA
Arga berdiri.
Wajahnya tegang. Tangannya gemetar. Tapi suaranya tegas.
"Pak Camat, saya Arga. Anak Sastro dan Sukmawati. Suami Sekar."
"Saya ingin melaporkan Pak Kades atas beberapa tindak pidana."
"Pertama: pengerahan preman untuk menyerang rumah saya pada tanggal 15 bulan lalu. Kami punya bukti video dari kamera pengawas yang dipasang Dimas. Juga saksi mata, seluruh warga yang melihat."
"Kedua: ancaman pembunuhan melalui preman. Kami punya rekaman suara."
"Ketiga: pemerasan dengan bunga tidak wajar terhadap hutang ayah saya. Hutang awal dua puluh juta, sekarang menjadi seratus juta. Bunganya ilegal."
"Keempat: upaya pengambilalihan tanah warisan Mbah Jayarasa secara paksa, meskipun sudah ada keputusan camat yang memenangkan saya."
"Ini bukti-bukti, Pak Camat."
Arga menyerahkan setebal dokumen.
Camat memeriksa satu per satu.
PAK KADES BICARA
Pak Kades berdiri. Wajahnya pucat. Matanya gelisah.
"Pak Camat, itu semua fitnah."
"Fitnah?" tanya Camatan.
"Iya. Saya tidak pernah mengirim preman. Saya tidak pernah mengancam. Saya tidak pernah memeras. Saya hanya menagih hutang yang sah."
"Bunganya?"
"Itu kesepakatan kami."
"Tidak ada kesepakatan tertulis."
"Tapi, "
"Dan saksi mata?"
"Mereka bohong."
"Rekaman suara? Video?"
"Itu palsu."
Guntur berdiri. "Pak Camat, suara di rekaman itu sudah diuji forensik oleh teman saya di fakultas hukum UGM. Hasilnya: asli. Tidak ada rekayasa."
Pak Kades terdiam.
SAKSI BICARA
Ratri berdiri.
"Pak Camat, saya Ratri. Pejabat Sementara Kepala Desa Wringinrejo."
"Saya melihat langsung ketika preman itu menyerang rumah Arga. Saya juga melihat Pak Kades bersama preman itu sebelum penyerangan."
"Apakah Ratri bersedia menjadi saksi di pengadilan?" tanya Camat.
"Bersedia."
Bu Sania, istri Pak Kades, berdiri.
"Pak Camat, saya... saya mau bicara."
"Silakan."
Bu Sania menangis.
"Suami saya bersalah. Saya tahu. Selama ini saya tutup mata. Tapi setelah melihat penderitaan Arga dan keluarganya, saya tidak tega."
"Suami saya yang suruh preman. Suami saya yang atur bunga tidak wajar. Suami saya yang mau ambil tanah paksa."
"Saya minta maaf pada Arga. Pada Sekar. Pada semua warga."
Pak Kades terkejut. "Kamu, "
"Maaf, Mas. Saya tidak bisa diam lagi."
CAMAT MEMUTUSKAN
Camatan menghela napas.
"Setelah mendengar semua keterangan dan melihat bukti-bukti, saya memutuskan untuk melimpahkan kasus ini ke polres."
"Pak Kades, saya perintahkan Bapak untuk tidak meninggalkan kota. Saya perintahkan Bapak untuk kooperatif. Kalau tidak, saya akan minta polisi menahan Bapak."
"Saya juga akan merekomendasikan pencabutan status Bapak sebagai mantan kepala desa. Bapak tidak berhak menyandang gelar itu setelah melakukan tindak pidana."
Pak Kades tidak menjawab. Ia hanya diam. Wajahnya pucat. Matanya kosong.
"Apakah Bapak menerima keputusan ini?"
"Tidak."
"Bapak bisa banding ke bupati. Tapi untuk sementara, proses hukum tetap berjalan."
Pak Kades berdiri. Ia berjalan ke pintu.
Bu Sania mengikutinya.
Sebelum keluar, Pak Kades menoleh.
"Ini belum selesai, Arga."
"Saya tahu. Tapi saya tidak takut."
SETELAH PERTEMUAN
Camat memandang Arga.
"Mas Arga, proses hukum akan berjalan. Tapi butuh waktu. Sabar."
"Sabar, Pak."
"Jaga diri. Jaga keluarga."
"Siap, Pak."
KEMBALI KE DESA
Jam dua siang, mereka pulang.
Sekar sudah menunggu di halaman.
"Mas, bagaimana?"
"Kita menang di kecamatan. Kasus akan dilimpahkan ke polres."
"Syukurlah."
"Ayah, hutang Bapak akan kita lunasi dengan bunga wajar."
"Terima kasih, Le."
"Jangan berterima kasih. Tugas anak."
Mereka berpelukan.
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit cerah. Bintang-bintang berkerlap-kerlip.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan selamat?"
"Kita akan selamat."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena kita tidak sendirian."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
PAK KADES BEBAS, DENDAM MEMBARA
Dua minggu setelah Camat melimpahkan kasus Pak Kades ke polres, desa Wringinrejo dilanda kabar yang tidak terduga. Pak Kades dibebaskan. Bukan karena tidak bersalah. Tapi karena kurang bukti. Saksi-saksi yang tadinya berani bersaksi, termasuk istrinya sendiri, Bu Sania, tiba-tiba menarik keterangan. Video dan rekaman suara yang menjadi bukti utama dinyatakan tidak sah oleh pengadilan karena alasan teknis. Pengacara Pak Kades, Danu, keponakannya sendiri, berhasil membalikkan keadaan dengan argumen bahwa semua bukti itu adalah rekayasa Arga dan timnya.
Arga terkejut. Guntur marah. Laras kecewa. Faruq frustrasi. Nisa menangis. Dimas ingin membanting laptopnya. Ratri tidak terima. Samsul gelisah. Pak Bondan menghela napas panjang. Sukmawati menangis. Sastro diam, tapi matanya menyala-nyala. Mbah Tarni hanya tersenyum. "Sudah Mbah bilang. Hukum itu bulat. Bisa ke kiri. Bisa ke kanan. Yang penting, Allah yang paling adil."
Tapi Pak Kades tidak hanya bebas. Ia juga dendam. Dendam karena Arga telah mempermalukannya di depan Camat. Dendam karena istrinya, Bu Sania, berbalik melawannya di persidangan, meskipun akhirnya menarik keterangan. Dendam karena ia harus kehilangan jabatan, kehormatan, dan pengaruh.
Ia menyusun rencana baru. Lebih licik. Lebih kejam. Lebih terencana.
Dan target utamanya bukan lagi Arga.
Tapi Sekar.
PAGI YANG MENDUNG
Hari Selasa, langit mendung. Awan hitam menggulung dari arah barat. Angin bertiup kencang, membawa aroma tanah basah, tanda hujan akan segera turun. Daun-daun pisang di belakang rumah bergerak-gerak, bergesekan satu sama lain, menimbulkan suara seperti bisikan panjang.
Arga duduk di beranda. Surat keputusan pengadilan terbuka di pangkuannya. Matanya kosong memandang dinding. Pikirannya kacau.
"Mas, kamu baik-baik saja?" tanya Sekar yang datang dengan segelas teh jahe.
"Aku baik-baik saja."
"Kamu tidak baik-baik saja. Wajahmu pucat."
Arga menghela napas.
"Pak Kades bebas."
"Aku tahu."
"Karena kurang bukti."
"Aku tahu."
"Padahal bukti sudah kuat. Video. Rekaman. Saksi."
"Tapi hukum tidak selalu adil, Mas."
Arga memandang Sekar.
"Kamu tidak marah?"
"Marah. Tapi marah tidak akan mengubah keputusan."
"Lalu?"
"Kita persiapkan diri. Pak Kades pasti akan balas dendam."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena dia tidak terima kalah."
GUNTUR DATANG
Jam delapan pagi, Guntur datang.
Wajahnya tegang. Matanya merah, seperti tidak tidur semalaman. Bajunya kusut.
"Arga, aku sudah dengar kabar."
"Iya. Pak Kades bebas."
"Ini keterlaluan."
"Aku tahu."
"Kita harus lapor ke Komnas HAM."
"Nanti. Sekarang kita fokus pada keamanan."
"Kamu benar. Pak Kades pasti akan balas dendam."
"Aku sudah siap. Kamu?"
"Aku juga."
Mereka berjabat tangan.
LARAS BICARA
Laras datang dengan langkah cepat. Wajahnya tegang.
"Arga, aku dengar kabar."
"Iya."
"Aku sudah bicara dengan teman di LBH. Mereka bilang, kasus ini bisa diajukan lagi jika ada bukti baru."
"Bukti baru apa?"
"Kita kumpulkan lagi. Lebih kuat. Lebih valid. Lebih tidak terbantahkan."
"Baik."
Tapi di dalam hati, Arga ragu.
FARUQ DAN NISA BICARA
Faruq dan Nisa datang bersama.
"Mas Arga, aku marah," kata Faruq.
"Marah tidak akan mengubah keputusan."
"Tapi, "
"Faruq, kita sudah dewasa. Kita tahu hukum tidak selalu adil."
"Lalu?"
"Kita bertahan. Kita jaga diri. Kita jaga keluarga."
Nisa memegang tangan Faruq.
"Tenang, Faruq. Mas Arga benar."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit gelap. Bulan tertutup awan. Bintang-bintang tidak terlihat.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan selamat?"
"Kita akan selamat."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena kita tidak sendirian."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
TOKOH ANTAGONIS BARU - DANU
Pak Kades bebas. Tapi bukan berarti ia sendirian. Ia punya senjata rahasia yang lebih berbahaya dari preman, lebih licik dari fitnah, lebih tajam dari pentungan. Senjata itu adalah keponakannya sendiri: Danu.
Danu, pengacara muda lulusan universitas ternama. Usia tiga puluh tahun. Wajah tampan, rambut rapi, kemeja putih, dasi merah, sepatu oxford mengkilap. Ia pernah magang di kantor pengacara terkenal di Jakarta. Ia pernah menangani beberapa kasus besar. Ia punya koneksi luas dengan polisi, jaksa, hakim, dan wartawan.
Danu tidak percaya pada kebenaran. Ia hanya percaya pada uang dan kekuasaan. Ia tidak peduli kliennya benar atau salah. Yang penting ia dibayar. Yang penting ia menang.
Dan kali ini, ia dibayar mahal oleh pamannya, Pak Kades, untuk menghancurkan Arga. Bukan dengan kekerasan fisik, itu terlalu kasar, terlalu mudah dilacak. Tapi dengan hukum. Dengan surat gugatan. Dengan intervensi ke pengadilan. Dengan tekanan pada saksi-saksi.
Danu adalah musuh yang lebih berbahaya dari Ferry.
Karena Ferry setidaknya jujur tentang kebusukannya. Danu justru menyembunyikan kebusukannya di balik jas rapi dan senyum manis.
PAGI DI KANTOR PENGACARA
Hari Jumat, langit cerah. Matahari bersinar terik. Di sebuah kantor pengacara di pusat kota Jogja, Danu duduk di kursi empuk, menghadap kliennya: Pak Kades.
"Paman, sudah saya bilang. Kasus ini tidak akan menang jika hanya mengandalkan preman."
"Lalu?"
"Kita gunakan hukum. Kita gugat Arga. Kita buat dia sibuk. Kita buat dia ketakutan. Kita buat dia kehabisan uang untuk bayar pengacara."
"Tapi buktinya, "
"Bukti bisa dipalsukan. Saksi bisa ditekan. Hakim bisa diintervensi. Itu keahlian saya."
Pak Kades tersenyum.
"Bagus. Berapa bayaranmu?"
"Lima ratus juta. Cash. Transfer. Jangan tunai."
"Mahal."
"Paman ingin menang atau kalah?"
Pak Kades menghela napas. "Transfer."
SAMSUL DATANG
Jam sepuluh pagi, Samsul datang ke rumah Arga. Wajahnya tegang, berkeringat.
"Mas Arga, saya dapat kabar dari teman di kota."
"Kabar apa?"
"Pak Kades sudah gandeng pengacara. Namanya Danu. Keponakannya sendiri."
"Danu? Yang dulu membantu Pak Kades di persidangan?"
"Iya. Tapi kali ini dia lebih serius. Dia akan menggugat Mas Arga secara hukum."
"Gugat apa?"
"Tanah warisan. Lagi. Dengan bukti baru."
"Bukti baru apa?"
"Konon, ada surat tanah asli dari zaman Belanda yang menunjukkan bahwa tanah itu milik keluarga Pak Kades, bukan Mbah Jayarasa."
"Surat palsu?"
"Bisa jadi. Tapi Danu pandai memalsukan."
Arga menghela napas.
"Kita hadapi."
GUNTUR BICARA
Guntur datang.
"Arga, aku dengar tentang Danu."
"Iya."
"Dia licik. Aku sudah cari tahu. Dia pernah dipenjara karena kasus suap. Tapi bebas karena uang."
"Kita harus hati-hati."
"Jangan hanya hati-hati. Kita harus serang balik."
"Serang balik bagaimana?"
"Kita kumpulkan bukti tentang Danu. Tentang praktik korupsinya. Tentang penyuapannya. Kita hancurkan reputasinya."
"Apa itu bisa?"
"Bisa. Aku punya teman di ICW."
"I CW?"
"Indonesia Corruption Watch. Mereka punya data Danu. Tinggal kita laporkan."
"Baik. Lakukan."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit cerah. Bintang-bintang berkerlap-kerlip.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan selamat?"
"Kita akan selamat."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena kita tidak sendirian."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
GUGATAN TANAH
Sepekan setelah Arga mengetahui bahwa Pak Kades menggandeng keponakannya, Danu, sebagai pengacara, desa Wringinrejo dikejutkan oleh kedatangan juru sita dari pengadilan negeri. Mereka datang dengan mobil dinas, membawa surat-surat resmi bersegel merah, dan langsung menuju rumah Arga.
Isinya: gugatan tanah. Lagi.
Tapi kali ini berbeda. Bukan klaim sepihak seperti dulu. Gugatan ini disusun secara profesional oleh Danu, dengan bukti-bukti yang dirancang untuk meyakinkan hakim. Danu mengklaim bahwa tanah warisan Mbah Jayarasa adalah milik keluarga Pak Kades berdasarkan surat tanah dari zaman Belanda, surat yang katanya asli, padahal dipalsukan.
Danu juga menyertakan saksi ahli. Saksi ahli yang dibayar. Saksi ahli yang akan bersumpah di depan pengadilan bahwa surat itu asli.
Arga pusing. Ia tidak mengerti hukum. Ia hanya anak desa. Tapi ia tidak akan menyerah. Ia akan melawan. Dengan bantuan Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, dan Bu Rina, pengacara LBH yang dulu membantu kasus Ferry.
Perang hukum pun dimulai.
PAGI YANG MENDUNG
Hari Selasa, langit mendung. Awan hitam menggulung dari arah barat. Angin bertiup kencang, membawa aroma tanah basah, tanda hujan akan segera turun. Daun-daun pisang di belakang rumah bergerak-gerak, bergesekan satu sama lain, menimbulkan suara seperti bisikan panjang.
Arga duduk di ruang tengah. Surat gugatan terbuka di pangkuannya. Matanya kosong memandang dinding. Pikirannya kacau.
"Mas, kamu baik-baik saja?" tanya Sekar yang datang dengan segelas teh jahe.
"Aku baik-baik saja."
"Kamu tidak baik-baik saja. Wajahmu pucat."
Arga menghela napas.
"Gugatan tanah. Dari Danu."
"Apa isinya?"
"Dia klaim bahwa tanah warisan Mbah Jayarasa adalah milik keluarga Pak Kades. Dia punya surat tanah dari zaman Belanda."
"Surat palsu?"
"Pasti. Tapi dia punya saksi ahli yang akan mengaku bahwa surat itu asli."
"Kita bisa lawan?"
"Bisa. Bu Rina akan bantu."
"Kapan sidang?"
"Minggu depan."
BAB 11
GUNTUR DAN LARAS DATANG
Jam delapan pagi, Guntur dan Laras datang. Wajah mereka tegang.
"Arga, aku dengar kabar," kata Guntur.
"Iya. Gugatan tanah."
"Kita harus siapkan strategi."
"Bu Rina sudah hubungi. Dia akan datang besok."
"Bagus."
Laras menambahkan, "Mas Arga, jangan khawatir. Kita sudah melewati yang lebih berat."
"Aku tidak khawatir. Aku hanya... kesal."
"Kesal kenapa?"
"Kesal karena Pak Kades tidak pernah berhenti. Kesal karena Danu licik. Kesal karena hukum mudah dimanipulasi."
"Tapi kita punya kebenaran. Dan kebenaran tidak akan pernah kalah."
BU RINA DATANG
Jam sepuluh pagi, Bu Rina datang. Wajahnya tegang, membawa setebal dokumen.
"Mas Arga, saya sudah pelajari gugatan Danu."
"Bagaimana?"
"Lemah."
"Lemah?"
"Iya. Surat tanah dari zaman Belanda itu tidak mungkin asli. Karena ciri-ciri kertas dan tinta tidak sesuai dengan zaman itu. Tinggal kita buktikan."
"Tapi Danu punya saksi ahli."
"Saksi ahli bisa dibeli. Kita cari saksi ahli yang jujur. Yang tidak bisa dibeli."
"Di mana?"
"Aku punya teman di Fakultas Hukum UGM. Dia ahli dokumen kuno."
SAKSI AHLI
Jam dua siang, Bu Rina, Arga, Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, Sukmawati, Sastro, dan Mbah Tarni pergi ke Fakultas Hukum UGM.
Mereka bertemu dengan Prof. Widodo, ahli dokumen kuno.
Prof. Widodo sudah tua, rambut putih, kacamata tebal, suara berat.
"Bu Rina, saya lihat fotokopi suratnya."
"Ini, Pak."
Prof. Widodo memeriksa dengan saksama.
"Ini palsu."
"Pasti, Pak?"
"Pasti. Kertas ini kertas buatan pabrik tahun 1980-an. Bukan zaman Belanda. Tinta ini tinta pulpen, bukan tinta kuno. Tanda tangannya juga aneh. Seperti ditiru."
"Apakah Bapak bersedia menjadi saksi ahli di pengadilan?"
"Bersedia. Saya tidak takut pada Danu."
SIDANG PERTAMA
Hari Senin, sidang perdana digelar di pengadilan negeri.
Ruangan penuh. Jurnalis dari berbagai media hadir. Aktivis dari LBH dan LSM anti korupsi juga hadir.
Danu duduk di kursi pengacara Pak Kades. Wajahnya tenang, percaya diri, sesekali tersenyum ke arah hakim.
Arga duduk di kursi terdakwa, karena dalam gugatan ini, ia yang digugat.
Bu Rina di sampingnya.
Prof. Widodo di belakang.
"Sidang dibuka," kata hakim ketua.
"Silakan, pengacara penggugat."
DANU BICARA
Danu berdiri.
"Yang Mulia, kami dari pihak penggugat memiliki bukti bahwa tanah seluas dua hektar di lereng bukit timur adalah milik keluarga Pak Kades. Bukti: surat tanah dari zaman Belanda, saksi ahli yang akan membuktikan keaslian surat tersebut, dan saksi mata yang akan menyatakan bahwa keluarga Pak Kades telah menggarap tanah itu selama puluhan tahun."
"Ini suratnya."
Danu menyerahkan surat itu.
Hakim memeriksa.
"Silakan, saksi ahli."
SAKSI AHLI DANU
Saksi ahli Danu bernama Dr. Rudi. Dosen dari universitas swasta. Wajahnya licin. Matanya menghindar.
"Saudara Dr. Rudi, apa kesimpulan Saudara tentang surat ini?"
"Menurut saya, surat ini asli. Kertasnya kuno. Tintanya kuno. Tanda tangannya sesuai dengan zaman itu."
"Terima kasih."
Hakim memandang Bu Rina.
"Silakan, pengacara tergugat."
BU RINA BICARA
Bu Rina berdiri.
"Yang Mulia, kami dari pihak tergugat memiliki bukti bahwa surat tersebut adalah PALSU. Kami akan menghadirkan saksi ahli yang lebih kompeten, yaitu Prof. Widodo dari Fakultas Hukum UGM."
"Silakan."
Prof. Widodo berdiri.
"Saudara Prof. Widodo, apa kesimpulan Saudara?"
"Surat ini palsu. Kertas ini buatan pabrik tahun 1980-an. Bukan zaman Belanda. Tinta ini tinta pulpen. Tanda tangannya ditiru. Dan capnya juga palsu."
"Bisa buktikan?"
"Bisa. Saya bawa alat uji."
Prof. Widodo mengeluarkan alat sederhana, lensa pembesar dan sinar UV.
"Lihat. Di sini ada serat kertas yang hanya ada di kertas buatan pabrik tahun 1980-an. Di sini ada bekas tinta dari pulpen, tidak meresap ke kertas. Coba bandingkan dengan dokumen asli zaman Belanda."
Prof. Widodo menunjukkan perbandingan.
Ruangan hening.
Hakim memeriksa.
"Ini bukti kuat."
DANU GUGUP
Danu berdiri. "Yang Mulia, Prof. Widodo bisa saja keliru!"
"Prof. Widodo ahli dokumen kuno dari UGM. Saudara Dr. Rudi?" Hakim menatap Dr. Rudi.
Dr. Rudi tidak bisa menjawab.
"Silakan, saksi mata."
SAKSI MATA
Danu memanggil saksi mata: seorang laki-laki tua bernama Pak Tarno.
"Pak Tarno, apa Bapak tahu bahwa keluarga Pak Kades telah menggarap tanah itu selama puluhan tahun?"
Pak Tarno diam.
"Pak Tarno?"
"Saya... saya tidak tahu."
"Apa? Bukannya Bapak yang dulu menjadi mandor di tanah itu?"
"Saya hanya disuruh berbohong. Saya tidak pernah menjadi mandor."
"SIAPA YANG SURUH?"
Danu panik.
"Danu... Danu yang suruh."
Ruangan gempar.
Hakim mengetuk palu.
"Persidangan ditunda. Kami akan memeriksa saksi lebih lanjut."
SETELAH SIDANG
Arga memeluk Sekar.
"Kita menang, Mas."
"Belum. Ini baru awal."
"Tapi, "
"Danu masih punya banyak akal."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit gelap. Bulan tertutup awan. Bintang-bintang tidak terlihat.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan selamat?"
"Kita akan selamat."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena kita tidak sendirian."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
BAB 12
SEKAR HAMIL
Di tengah gugatan tanah yang dilancarkan Danu dan tekanan psikologis dari Pak Kades yang semakin menjadi-jadi, sebuah kabar bahagia datang. Bukan kabar dari pengadilan. Bukan kabar dari polisi. Bukan kabar dari Camatan. Tapi kabar dari dalam kandungan Sekar.
Sejak beberapa minggu terakhir, Sekar sering merasa mual di pagi hari. Awalnya ia pikir karena kelelahan melayani pelanggan warung pecel. Tapi ketika mual itu tidak kunjung reda, ia memutuskan untuk memeriksakan diri ke mantri desa.
"Selamat, Mbak Sekar," kata mantri desa, Pak Harun. "Mbak hamil. Usia kandungan sekitar delapan minggu."
Sekar terkesiap. "Apa? Serius, Pak?"
"Serius. Tes urine menunjukkan positif. Dan detak jantung janinnya kuat."
Air mata Sekar jatuh.
Ia tidak bisa menahan tangisnya.
Ia memeluk Arga yang ikut mendampingi.
"Mas, kita akan punya anak."
Arga juga menangis.
"Iya, Sekar. Kita akan punya anak."
Mereka berpelukan lama.
Pak Harun tersenyum.
"Jaga kesehatan, Mbak. Jangan terlalu capek. Jangan terlalu stres. Makan yang bergizi. Istirahat yang cukup."
"Siap, Pak."
PULANG KE RUMAH
Jam sepuluh pagi, Arga dan Sekar pulang.
Sukmawati sudah menunggu di halaman. Wajahnya cemas.
"Bagaimana, Nduk? Ada apa?"
Sekar tersenyum.
"Bu... saya hamil."
Sukmawati terkejut.
"APA? SERIUS?"
"Serius, Bu."
Sukmawati memeluk Sekar.
"YA ALLAH, TERIMA KASIH! AKHIRNYA... AKHIRNYA... IBU AKAN PUNYA CUCU!"
Sastro yang duduk di kursi bambu ikut tersenyum.
"Selamat, Nduk."
"Terima kasih, Pak."
"Jangan terlalu capek jaga warung. Biar Arga dan Ibu yang bantu."
"Siap, Pak."
KABAR KE TEMAN-TEMAN
Jam dua belas siang, semua teman-teman Arga datang.
Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, Mbah Tarni—semua berkumpul di ruang tengah.
"Mas Arga, aku dengar Mbak Sekar hamil?" tanya Faruq.
"Iya."
"WAH! SELAMAT!"
"Terima kasih."
Faruq memeluk Arga.
Guntur menjabat tangan Arga.
"Selamat jadi calon ayah, Le."
"Terima kasih, Guntur."
Laras memeluk Sekar.
"Mbak Sekar, jaga kesehatan. Jangan terlalu capek."
"Iya, Mbak."
Nisa memeluk Sekar.
"Mbak, aku ikut senang."
"Terima kasih, Nisa."
Dimas hanya tersenyum dari kejauhan.
Ratri menangis.
"Mas, aku ikut bahagia."
"Terima kasih, Rat."
Mbah Tarni memegang perut Sekar.
"Nduk, janin ini laki-laki."
"Lho, kok Mbah tahu?"
"Mbah tahu. Tanda-tandanya jelas. Perutmu tidak terlalu besar. Mualmu hanya pagi. Dan detak jantungnya kuat."
"Apa Mbah yakin?"
"Mbah yakin. Tapi jangan terlalu percaya. Biar dokter yang menentukan."
Mereka tertawa.
PAK BONDAN BICARA
Pak Bondan angkat bicara.
"Arga, ini kabar baik di tengah tekanan. Tapi juga tanggung jawab baru."
"Aku tahu, Pak."
"Kamu harus lebih kuat. Untuk Sekar. Untuk anakmu. Untuk keluarga."
"Aku akan berusaha, Pak."
"Jangan berusaha. Lakukan."
"Siap, Pak."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit penuh bintang.
Bulan sabit tipis menggantung rendah.
Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Sekar," panggil Arga.
"Iya."
"Apa kamu takut?"
"Takut apa?"
"Takut melahirkan. Takut jadi ibu. Takut tidak bisa mendidik anak."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Takut. Tapi aku tidak sendiri. Aku punya kamu. Aku punya keluarga. Aku punya teman-teman."
"Kita hadapi bersama."
"Iya. Kita hadapi bersama."
Mereka berpelukan.
MENCARI PENGACARA
Kabar kehamilan Sekar memang membawa sukacita bagi Arga dan keluarganya. Namun kebahagiaan itu tidak serta merta menghapus tekanan dari gugatan tanah yang dilancarkan Danu, keponakan Pak Kades. Sidang pertama telah dimenangkan Arga berkat kesaksian Prof. Widodo dan pengakuan Pak Tarno bahwa ia disuruh berbohong oleh Danu. Tapi Danu tidak menyerah. Ia mengajukan banding. Ia juga menyusun gugatan baru. Ia juga mencoba menyewa saksi ahli lain yang lebih pintar memalsukan bukti.
Arga sadar, ia tidak bisa melawan sendirian. Ia butuh pengacara. Bukan pengacara biasa. Tapi pengacara yang berpengalaman, berani, dan tidak bisa disuap. Bu Rina dari LBH memang membantu. Tapi Bu Rina memiliki keterbatasan waktu dan tenaga karena harus menangani banyak kasus lain.
Arga membutuhkan pengacara pribadi. Pengacara yang akan fokus pada kasus tanahnya. Pengacara yang akan mendampinginya sampai akhir.
Tapi mencari pengacara tidak mudah. Apalagi di kota kecamatan yang kecil. Apalagi melawan Danu yang punya koneksi luas. Apalagi dengan biaya yang tidak sedikit.
Arga dan timnya pun mulai mencari.
PAGI YANG CERAH
Hari Kamis, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Warung pecel Mbok Sekar ramai sejak pukul setengah tujuh, seperti biasa. Tapi Sekar tidak terlalu banyak bergerak. Sukmawati dan Ratri yang membantu melayani pelanggan.
Arga duduk di beranda. Wajahnya tegang. Matanya sayu.
"Mas, kamu belum sarapan?" tanya Sekar yang datang dengan segelas teh jahe.
"Belum laper."
"Kamu harus makan. Nanti sakit."
"Aku tidak sakit. Aku hanya.. berpikir."
"Pikir apa?"
"Mencari pengacara."
"Bu Rina?"
"Bu Rina sibuk. Dia tidak bisa fokus pada kasus kita."
"Lalu?"
"Aku harus cari pengacara lain."
"Siapa?"
"Aku tidak tahu."
GUNTUR DATANG
Jam delapan pagi, Guntur datang. Wajahnya tegang.
"Arga, aku dengar kamu mencari pengacara."
"Iya."
"Aku punya kenalan. Namanya Mas Hendra. Pengacara di Jogja. Spesialis kasus pertanahan."
"Apakah dia bisa dipercaya?"
"Bisa. Dia pernah menangani kasus tanah melawan pengusaha besar. Dia menang."
"Biayanya?"
"Mahal. Tapi kita bisa nego."
"Baik. Tolong hubungi."
BAB 13
PERTEMUAN DENGAN MAS HENDRA
Jam dua siang, Arga, Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, dan Pak Bondan pergi ke Jogja. Mereka bertemu Mas Hendra di kantornya yang sederhana—tidak mewah, tidak besar, hanya satu ruangan dengan dua meja dan beberapa kursi.
Mas Hendra usianya sekitar empat puluh tahun. Wajahnya tegas, rambutnya pendek, kumisnya tipis. Ia memakai kemeja lengan panjang dan celana bahan hitam.
"Mas Arga, saya sudah dengar kasus Bapak," kata Mas Hendra.
"Bagaimana?"
"Ini menarik. Tanah warisan Mbah Jayarasa. Surat wasiat. Surat jual beli tahun 1965. Saksi mata. Dan sekarang Danu muncul dengan surat palsu."
"Apakah Bapak bisa membantu?"
"Bisa. Tapi biayanya tidak murah."
"Berapa?"
"Seratus juta. Untuk proses hingga kasasi."
Ruangan hening.
Arga tidak punya uang sebanyak itu.
"Mas Arga, jangan khawatir. Bisa dicicil."
"Berapa cicilannya?"
"Mulai dua puluh juta di muka. Sisanya per bulan sepuluh juta selama delapan bulan."
Arga masih ragu.
"Mas Arga," kata Pak Bondan. "Aku akan bantu. Aku pinjamkan uang."
"Tapi, Pak, "
"Jangan tapi. Ini investasi. Jika tanah itu jadi milikmu selamanya, nilainya jauh lebih dari seratus juta."
"Terima kasih, Pak Bondan."
"Jangan berterima kasih. Kita mitra."
KONTRAK DITANDATANGANI
Mas Hendra mengeluarkan kontrak.
"Silakan dibaca. Jika setuju, tanda tangan."
Arga membaca.
Ia tidak mengerti istilah-istilah hukum. Tapi Guntur dan Pak Bondan yang membacakan.
"Tidak ada yang janggal, Arga," kata Guntur.
"Baik. Saya tanda tangan."
Arga menandatangani kontrak.
Mas Hendra menandatangani.
"Mulai besok, saya akan pelajari berkas perkara. Saya akan hubungi Bu Rina untuk koordinasi. Dan saya akan siapkan strategi."
"Terima kasih, Mas Hendra."
KEMBALI KE DESA
Jam enam sore, mereka pulang.
Sekar sudah menunggu di halaman.
"Mas, bagaimana?"
"Dapat pengacara. Mas Hendra."
"Biayanya?"
"Seratus juta. Tapi dicicil."
"Kita bisa bayar?"
"Pak Bondan bantu."
Sekar memeluk Arga.
"Mas, jangan terlalu stres. Aku hamil. Jangan sampai anak kita stres juga."
Arga tersenyum.
"Iya. Maaf."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit penuh bintang. Bulan sabit tipis menggantung rendah. Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan selamat?"
"Kita akan selamat."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena kita tidak sendirian."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
BAB 14
KEDATANGAN SAMSUL
Dua minggu setelah Arga menandatangani kontrak dengan Mas Hendra, pengacara baru yang akan menangani kasus tanah melawan Danu, desa Wringinrejo didatangi oleh seseorang yang tidak terduga. Bukan tamu yang diundang. Bukan saudara yang datang berkunjung. Tapi mantan musuh yang kini menjadi teman. Mantan pengkhianat yang kini menjadi sekutu. Mantan mata-mata yang kini menjadi saksi kunci.
Samsul.
Laki-laki yang dulu bekerja sebagai rekan Arga di toko bangunan Pak Bondan. Laki-laki yang dulu menjadi mata-mata Ferry. Laki-laki yang dulu hampir membunuh Arga. Laki-laki yang dulu hampir meracuni Sekar.
Tapi Samsul sudah berubah. Sejak menjadi saksi di persidangan Ferry, ia sadar bahwa jalan yang benar adalah jalan yang sulit. Sejak istrinya hampir meninggal karena sakit dan ia tidak punya uang untuk berobat, ia sadar bahwa uang tidak bisa membeli segalanya. Sejak anak-anaknya mulai menjauhi dia karena malu, ia sadar bahwa kehormatan lebih berharga dari kekayaan.
Samsul datang ke desa Wringinrejo bukan untuk meminta bantuan. Bukan untuk mengungkapkan penyesalan. Tapi untuk menawarkan diri menjadi saksi kunci dalam gugatan tanah yang dilancarkan Danu. Ia tahu banyak tentang praktik kotor Pak Kades. Ia tahu banyak tentang pemalsuan dokumen. Ia tahu banyak tentang preman-preman bayaran.
Dan malam itu, di ruang tengah rumah Arga, Samsul menceritakan semuanya.
MALAM YANG SUNYI
Jam delapan malam, hujan turun deras. Air mengguyur atap seng dengan suara keras. Angin bertiup kencang, membuat dedaunan bergoyang liar. Lampu minyak di ruang tengah menyala redup, membuat bayangan menari-nari di dinding.
Arga, Sekar, Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Pak Bondan, Sukmawati, Sastro, dan Mbah Tarni duduk melingkar di tikar pandan. Semua mata tertuju pada Samsul yang duduk di kursi kayu dengan wajah tegang.
"Samsul," panggil Arga. "Kamu bilang mau jadi saksi?"
"Iya, Mas."
"Kamu tahu risiko? Danu bisa membalas dendam. Keluargamu bisa terancam."
"Saya tahu, Mas."
"Kamu tetap mau?"
"Saya tetap mau. Karena ini kesempatan saya untuk membersihkan nama. Karena ini kesempatan saya untuk memperbaiki kesalahan."
"Ceritakan semua yang kamu tahu."
SAMSUL BICARA
Samsul mulai bercerita. Suaranya lirih, terputus-putus, kadang bergetar. Tapi matanya tajam. Ia tidak berbohong.
"Dulu, ketika saya masih bekerja di toko Pak Bondan, saya sering bertemu Pak Kades. Dia datang ke toko untuk membeli material bangunan. Tapi dia tidak hanya belanja. Dia juga... menawari saya kerja sampingan."
"Kerja sampingan apa?" tanya Arga.
"Menjadi mata-mata. Mengawasi pergerakan Mas Arga. Melaporkan pada Pak Kades."
"Tapi saat itu saya belum punya masalah dengan Pak Kades."
"Memang. Pak Kades sudah memantau Mas Arga sejak lama. Sejak Mas Arga pulang ke desa. Sejak Mas Arga menerima warisan tanah. Sejak Mas Arga mengambil keris. Sejak Mas Arga menikah dengan Sekar. Pak Kades takut. Takut Mas Arga akan merebut kekuasaannya. Takut Mas Arga akan menjadi lebih populer. Takut Mas Arga akan mengungkap praktik kotornya."
"Praktik kotor apa?"
"Pemalsuan dokumen. Penguasaan tanah rakyat. Pengerahan preman. Suap pada polisi, camat, bahkan hakim."
Samsul mengeluarkan setumpuk dokumen dari tasnya. Foto-foto. Rekaman suara. Catatan harian. Surat-surat perintah.
"Ini buktinya, Mas. Saya kumpulkan selama bertahun-tahun. Saya simpan untuk berjaga-jaga. Untuk melindungi keluarga saya. Dan sekarang, saya serahkan pada Mas Arga."
Arga menerima dokumen-dokumen itu. Tangannya gemetar.
"Terima kasih, Samsul."
"Jangan berterima kasih. Ini tugas saya."
DOKUMEN-DOKUMEN BUKTI
Mereka memeriksa dokumen-dokumen itu satu per satu.
Guntur membuka foto-foto. Foto Pak Kades bersama preman. Foto Pak Kades bersama Danu. Foto Pak Kades bersama hakim. Foto Pak Kades bersama camat.
Laras memeriksa rekaman suara. Suara Pak Kades memerintahkan preman untuk mengintimidasi warga. Suara Pak Kades memerintahkan Danu untuk memalsukan dokumen. Suara Pak Kades menyuap camat.
Faruq membaca catatan harian Samsul. Setiap pertemuan. Setiap transaksi. Setiap ancaman. Semua dicatat dengan detail. Tanggal, waktu, tempat, orang yang terlibat.
"Wah, Samsul, kamu hebat," kata Faruq.
"Saya tidak hebat. Saya hanya paranoid."
"Ini bukti yang sangat kuat," kata Guntur. "Dengan ini, Danu tidak bisa berkutik."
BU RINA BICARA
Bu Rina angkat bicara.
"Samsul, apakah kamu bersedia menjadi saksi di pengadilan?"
"Bersedia, Bu."
"Apakah kamu siap diperiksa? Dihadapkan pada Danu? Dihardik hakim? Ditekan pengacara? Diancam preman?"
"Siap, Bu."
"Sumpah?"
"Sumpah."
Bu Rina tersenyum. "Bagus. Kamu sudah berubah."
"Saya tidak berubah. Saya hanya sadar."
MALAM DI RUMAH
Jam sebelas malam, Samsul pamit. Ia akan menginap di rumah Mbah Jayarasa yang sudah disulap menjadi penginapan sederhana untuk tamu.
Arga dan Sekar duduk di beranda.
Hujan sudah reda. Langit mulai cerah. Bintang-bintang muncul satu per satu.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Samsul berubah."
"Iya. Dia berubah."
"Apa kita bisa percaya padanya?"
"Kita sudah percaya padanya. Sejak dia menjadi saksi di persidangan Ferry. Sejak dia mau membantu melawan Pak Kades."
"Tapi—"
"Tapi dia pernah berkhianat. Iya. Tapi dia juga pernah bertobat. Dan tobatnya sungguh-sungguh."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Kamu baik, Mas."
"Aku tidak baik. Aku hanya mau memberi kesempatan."
BAB 15
GUNTUR DAN LARAS PULANG
Kabar bahwa Samsul bersedia menjadi saksi kunci dalam gugatan tanah yang dilancarkan Danu membuat semangat tim Arga meningkat. Namun, mereka sadar bahwa menghadapi Danu, pengacara licik dengan koneksi luas, tidak cukup hanya dengan satu saksi tambahan. Mereka butuh strategi yang lebih matang, lebih tajam, lebih tidak terbantahkan.
Dan kabar baik datang dari Belanda.
Guntur dan Laras memutuskan untuk pulang lebih awal dari jadwal. Bukan hanya karena Laras hamil dan ingin melahirkan di tanah air. Tapi karena mereka mendengar bahwa Arga sedang terdesak. Bahwa Arga butuh bantuan. Bahwa tim butuh koordinator yang lebih berpengalaman dalam hal hukum dan strategi.
Guntur, dengan gelar S3 filsafatnya, dengan pengetahuannya tentang etika dan keadilan, dengan jaringan akademik dan profesionalnya, akan menjadi otak di balik perlawanan hukum melawan Danu.
Laras, dengan pengalamannya sebagai mantan mata-mata, dengan kemampuannya membaca situasi, dengan keberaniannya mengambil risiko, akan menjadi tangan yang bergerak di lapangan.
Mereka datang dengan membawa harapan.
Mereka datang dengan membawa semangat.
Mereka datang dengan membawa cinta untuk sahabat-sahabatnya.
PAGI DI BANDARA
Hari Sabtu, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah. Arga, Sekar, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, Sukmawati, dan Sastro berdiri di ruang kedatangan Bandara Adisucipto, Jogja.
Mereka menunggu Guntur dan Laras yang akan tiba dengan pesawat dari Belanda.
"Mas Arga, gugup?" tanya Faruq.
"Sedikit."
"Kenapa?"
"Karena sudah lama tidak bertemu."
"Tapi kalau sudah bertemu, pasti senang."
"Iya."
Pesawat mendarat. Penumpang mulai keluar.
Arga mencari wajah Guntur dan Laras.
Di antara kerumunan, ia melihat mereka.
Guntur mengenakan jaket kulit hitam, membawa koper besar. Laras memakai jaket biru muda, perutnya sudah sedikit membesar, tanda kehamilan yang semakin jelas.
"GUNTUR! LARAS!" teriak Faruq.
Mereka berpelukan.
"Mas Guntur, kamu kelihatan lebih tua," ledek Faruq.
"Kamu juga," balas Guntur.
"Aku masih muda."
"Pikiranmu yang masih muda."
Mereka tertawa.
PERJALANAN KE DESA
Jam sepuluh pagi, mereka naik mobil sewaan menuju desa Wringinrejo.
Di dalam mobil, Guntur dan Arga duduk di kursi depan. Laras, Sekar, Faruq, Nisa di kursi belakang. Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, Sukmawati, Sastro di mobil lain.
"Arga, ceritakan semuanya," kata Guntur.
Arga menceritakan urutan kejadian.
Tentang gugatan tanah. Tentang surat palsu Danu. Tentang saksi ahli Danu yang licik. Tentang Prof. Widodo yang membuktikan keaslian dokumen. Tentang Pak Tarno yang mengaku disuruh berbohong. Tentang Samsul yang menawarkan diri menjadi saksi. Tentang Mas Hendra, pengacara baru yang akan membantu.
"Wah, kamu sudah banyak bergerak," kata Guntur.
"Tapi belum cukup."
"Sekarang aku di sini. Kita akan menang."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena kebenaran ada di pihak kita."
TIBA DI DESA
Jam satu siang, mereka tiba di desa Wringinrejo.
Mbah Tarni sudah menunggu di halaman rumah Arga. Matanya berbinar.
"Guntur, Laras, selamat datang," katanya.
"Terima kasih, Mbah."
"Laras, Mbah lihat perutmu. Laki-laki?"
"Entahlah, Mbah. Belum USG."
"Mbah yakin laki-laki. Tanda-tandanya jelas."
Mereka tertawa.
RAPAT DARURAT
Jam dua siang, semua berkumpul di ruang tengah.
Guntur membuka laptop.
"Saya sudah pelajari kasus ini dari jauh," katanya. "Danu memang licik. Tapi dia tidak cerdas."
"Kenapa?" tanya Faruq.
"Karena dia terlalu percaya diri. Dia pikir dia bisa memalsukan dokumen tanpa ketahuan. Dia pikir dia bisa menyewa saksi ahli tanpa pemeriksaan silang. Dia pikir dia bisa menekan saksi tanpa konsekuensi."
"Tapi dia lupa satu hal."
"Apa?"
"Hukum itu tidak hanya tentang bukti. Hukum juga tentang persepsi. Tentang bagaimana hakim melihat kasus ini. Tentang bagaimana publik menilai."
"Lalu?"
"Kita buat Danu terlihat sebagai penjahat. Bukan hanya pemalsu dokumen. Tapi juga pemeras. Juga pengerah preman. Juga penyuap."
"Caranya?"
"Kita sebarkan informasi ke media. Kita laporkan keICW. Kita desak polisi untuk memeriksa Danu. Kita buat dia sibuk. Kita buat dia ketakutan."
"Setuju," kata semua.
LARAS BICARA
Laras angkat bicara.
"Mas Arga, selain hukum, kita juga harus jaga fisik."
"Jaga fisik?"
"Iya. Danu bisa sewaktu-waktu mengirim preman. Samsul sudah memberi informasi bahwa preman-preman Pak Kades masih berkeliaran."
"Kita sudah siap."
"Jangan hanya siap. Tapi juga waspada. Jangan sampai lengah."
"Siap, Mbak."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit penuh bintang. Bulan sabit tipis menggantung rendah. Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan selamat?"
"Kita akan selamat."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena Guntur dan Laras sudah pulang. Kita tidak sendirian."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
BAB 16
SIDANG PERTAMA
Kedatangan Guntur dan Laras dari Belanda membawa energi baru bagi tim Arga. Guntur dengan gelar S3 filsafatnya dan pengalamannya berdebat di forum internasional menjadi otak di balik strategi hukum melawan Danu. Laras dengan pengalamannya sebagai mantan mata-mata dan kemampuannya membaca situasi menjadi koordinator lapangan yang tangguh. Mas Hendra, pengacara baru yang direkrut Arga, menyusun strategi hukum berdasarkan masukan dari Guntur dan bukti-bukti dari Samsul.
Dan hari ini, sidang pertama kasus tanah dengan pengacara baru dimulai.
Hari Senin pagi, ruang sidang pengadilan negeri dipenuhi oleh jurnalis, aktivis, dan warga desa yang ingin menyaksikan persidangan. Danu datang dengan percaya diri, ditemani Pak Kades dan dua orang preman yang duduk di bangku belakang dengan wajah garang. Arga datang dengan tim lengkap: Sekar, Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, Sukmawati, Sastro, dan Mbah Tarni.
Hakim memukul palu.
"Sidang dibuka."
PAGI YANG TEGANG
Hari Senin, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah. Tapi di ruang sidang, suasana justru dingin, dingin karena AC, dingin karena ketegangan.
Arga duduk di kursi tergugat. Pak Bondan di samping kanannya. Guntur di samping kirinya. Mas Hendra di depan, memegang setebal dokumen.
Danu duduk di kursi pengacara penggugat. Wajahnya tenang, senyumnya tipis, matanya licik. Di belakangnya, Pak Kades duduk dengan wajah tegang. Istri Pak Kades, Bu Sania, tidak ikut.
"Terdakwa dan pengacara hadir?" tanya hakim.
"Hadir, Yang Mulia," jawab Mas Hendra.
"Penggugat dan pengacara hadir?"
"Hadir, Yang Mulia," jawab Danu.
"Silakan, pengacara penggugat. Bacakan gugatan."
DANU BICARA
Danu berdiri.
"Yang Mulia, kami dari pihak penggugat mengajukan gugatan terhadap tergugat, Arga bin Sastro, atas sengketa tanah seluas dua hektar di lereng bukit timur, desa Wringinrejo."
"Tanah tersebut adalah milik keluarga Pak Kades berdasarkan surat tanah dari zaman Belanda yang sah. Tanah itu diklaim oleh tergugat sebagai warisan dari Mbah Jayarasa. Padahal Mbah Jayarasa hanyalah penggarap, bukan pemilik."
"Kami mohon hakim mengabulkan gugatan kami: menyatakan tanah itu milik Pak Kades, memerintahkan tergugat untuk menyerahkan tanah itu dalam keadaan kosong, dan membayar biaya perkara."
"Ini bukti-bukti kami."
Danu menyerahkan setebal dokumen.
MAS HENDRA BICARA
Mas Hendra berdiri.
"Yang Mulia, izinkan saya membacakan jawaban dari pihak tergugat."
"Silakan."
"Pihak tergugat menolak seluruh gugatan penggugat. Tanah tersebut adalah milik tergugat berdasarkan surat wasiat Mbah Jayarasa, surat jual beli tahun 1965 antara Marto (kakek penggugat) dan Mbah Jayarasa, serta saksi mata yang melihat transaksi tersebut."
"Selain itu, pihak tergugat memiliki bukti bahwa surat tanah dari zaman Belanda yang diajukan penggugat adalah PALSU. Kami akan hadirkan saksi ahli untuk membuktikan kepalsuan tersebut."
"Kami juga memiliki saksi mata yang akan membuktikan bahwa penggugat tidak pernah menggarap tanah tersebut selama puluhan tahun. Tanah itu terlantar. Tidak terawat. Tidak dimanfaatkan."
"Kami mohon hakim menolak gugatan penggugat atau setidak-tidaknya menyatakan gugatan tidak dapat diterima."
SAKSI AHLI DARI DANU
Hakim mengetuk palu.
"Silakan, pengacara penggugat hadirkan saksi ahli."
Danu memanggil Dr. Rudi, saksi ahli yang sama dari sidang sebelumnya. Wajahnya masih licin. Matanya masih menghindar.
"Saudara Dr. Rudi, apa kesimpulan Saudara tentang surat tanah dari zaman Belanda ini?"
"Menurut saya, surat ini asli. Kertasnya kuno. Tintanya kuno. Tanda tangannya sesuai dengan zaman itu."
Guntur berdiri.
"Yang Mulia, izinkan saya mengajukan pertanyaan pada saksi ahli."
"Silakan, Saudara Guntur."
GUNTUR MENGGUNCANG SAKSI AHLI
Guntur mendekati Dr. Rudi.
"Saudara Dr. Rudi, dari mana Saudara mendapatkan keahlian untuk menentukan keaslian dokumen kuno?"
"Dari pendidikan dan pengalaman."
"Pendidikan apa? Pengalaman apa?"
"Saya lulusan arkeologi. Saya pernah meneliti dokumen-dokumen kuno di Belanda."
"Di Belanda? Universitas mana? Tahun berapa? Di bawah bimbingan siapa? Ada publikasinya?"
Dr. Rudi gugup.
"Saya... lupa."
"Lupa? Saksi ahli lupa detail pendidikannya?"
"Saya... tidak bawa dokumen."
"Ini persidangan serius, Saudara. Seharusnya saksi ahli mempersiapkan diri dengan baik."
Hakim mengetuk palu.
"Saudara Dr. Rudi, kami minta Saudara membawa bukti pendidikan dan pengalaman Saudara pada sidang berikutnya. Jika tidak, kesaksian Saudara tidak akan kami terima."
Dr. Rudi pucat. Danu gelisah.
SAKSI AHLI DARI ARGA
Mas Hendra berdiri.
"Yang Mulia, kami hadirkan saksi ahli dari pihak tergugat. Prof. Widodo dari Fakultas Hukum UGM."
Prof. Widodo berjalan ke depan. Wajahnya tenang, langkahnya mantap.
"Saudara Prof. Widodo, apa kesimpulan Saudara tentang surat tanah dari zaman Belanda yang diajukan penggugat?"
"Surat itu PALSU, Yang Mulia."
"Bisa buktikan?"
"Bisa. Pertama, kertas ini buatan pabrik tahun 1980-an. Bukan zaman Belanda. Kedua, tinta ini tinta pulpen, bukan tinta kuno. Ketiga, tanda tangannya ditiru. Keempat, capnya juga palsu. Kelima, ada kejanggalan dalam tata bahasa dan ejaan yang tidak sesuai dengan zaman Belanda."
"Bisa Saudara perlihatkan buktinya?"
Prof. Widodo mengeluarkan alat uji. Lensa pembesar. Sinar UV. Perbandingan dengan dokumen asli zaman Belanda.
"Ini, Yang Mulia. Silakan hakim melihat sendiri."
Hakim memeriksa.
"Ini bukti kuat," kata hakim. "Kesaksian Prof. Widodo kami terima."
Danu tidak bisa berkata apa-apa.
SAKSI SAMSUL
Mas Hendra berdiri lagi.
"Yang Mulia, kami hadirkan saksi mata dari pihak tergugat. Samsul bin Marto."
Samsul berjalan ke depan. Wajahnya tegang, tangannya gemetar, tapi suaranya tegas.
"Saudara Samsul, apa yang Saudara ketahui tentang penggugat?"
"Saya tahu banyak, Yang Mulia. Pak Kades, penggugat dulu sering menyuruh preman untuk mengintimidasi warga. Saya pernah menjadi koordinator preman itu."
Ruangan gempar.
"Saudara Samsul, apa hubungan Saudara dengan penggugat?"
"Saya dulu bekerja pada Pak Kades. Sebagai mata-mata. Mengawasi Mas Arga. Melaporkan setiap gerakannya."
"Apa hubungannya dengan sengketa tanah?"
"Pak Kades sudah lama mengincar tanah itu. Karena tanah itu subur. Karena tanah itu dekat dengan kali. Karena tanah itu strategis untuk proyek perumahan."
"Siapa yang menyuruh Pak Kades?"
"Dia sendiri. Tapi didukung oleh keponakannya, Danu. Danu yang menyusun strategi hukum. Danu yang menyuruh memalsukan dokumen. Danu yang menyogok saksi ahli."
Ruangan semakin gempar.
Danu berdiri. "Itu fitnah, Yang Mulia!"
"Tenang!" hakim mengetuk palu. "Saudara Danu, duduk. Saksi akan diperiksa lebih lanjut."
GUNTUR MENGGUNCANG DANU
Hakim memandang Guntur.
"Saudara Guntur, apakah Saudara memiliki bukti untuk mendukung kesaksian Samsul?"
"Ada, Yang Mulia. Rekaman suara. Foto-foto. Catatan harian Samsul."
"Ini."
Guntur menyerahkan bukti-bukti.
Hakim memeriksa.
"Ini bukti kuat. Kami akan periksa lebih lanjut."
SIDANG DITUNDA
Hakim mengetuk palu.
"Sidang ditunda satu minggu. Kami akan memeriksa bukti-bukti dan mendengarkan keterangan saksi-saksi lainnya."
"Pengacara penggugat, kami minta Saudara mempersiapkan diri. Jangan sampai ada saksi palsu lagi."
Danu pucat. Pak Kades gelisah.
"Sidang selesai."
SETELAH SIDANG
Arga memeluk Sekar.
"Kita menang, Mas."
"Belum. Ini baru awal."
"Tapi, "
"Danu masih punya banyak akal."
Guntur mendekat.
"Arga, siap-siap. Danu akan melakukan serangan balik."
"Aku siap."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit penuh bintang. Bulan sabit tipis menggantung rendah. Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan selamat?"
"Kita akan selamat."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena kita tidak sendirian."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
BAB 17
DANU MENYOGOK HAKIM
Sidang pertama kasus tanah telah dimenangkan Arga secara moral. Kesaksian Prof. Widodo yang membuktikan kepalsuan surat tanah dari zaman Belanda, dan kesaksian Samsul yang mengungkap praktik kotor Pak Kades dan Danu, membuat ruang sidang gempar. Hakim memerintahkan Danu untuk mempersiapkan diri lebih baik pada sidang berikutnya.
Tapi Danu tidak habis akal. Ia sadar bahwa bukti-bukti dari pihak Arga sangat kuat. Ia sadar bahwa reputasinya sebagai pengacara licik mulai tercoreng. Ia sadar bahwa pamannya, Pak Kades, bisa dipenjara jika kasus ini dimenangkan Arga.
Danu mengambil jalan pintas.
Menemui hakim di luar persidangan.
Di sebuah restoran mewah di pusat kota Jogja.
Membawa amplop tebal berisi uang.
"Yang Mulia, saya tahu Bapak punya hutang. Saya tahu Bapak butuh uang untuk biaya pengobatan istri. Ini sedikit titipan. Lima ratus juta. Cukup untuk biaya operasi."
Hakim itu bernama Hakim Subagyo. Usia lima puluh tahun. Jujur. Tegas. Tidak pernah menerima suap seumur hidupnya. Ia dikenal sebagai hakim yang paling ditakuti oleh para pengacara nakal karena tidak bisa dibeli.
Ia memandang amplop itu. Ia memandang Danu.
"Anak muda, kau tahu risiko menyogok hakim?"
"Tidak akan ketahuan, Yang Mulia. Ini antara kita."
"Kau pikir aku tidak punya rekaman?"
"Apa?"
"Kamar ini sudah dipasangi kamera dan alat perekam oleh kepolisian. Sejak ada laporan bahwa banyak pengacara nakal yang mencoba menyogok hakim di restoran ini."
Danu pucat.
"Kau baru saja membuat kesalahan besar, Danu. Bukan hanya kalah dalam persidangan. Tapi juga akan dihukum karena menyogok aparat penegak hukum."
Danu berdiri. Ia ingin kabur.
"Polisi!" teriak Hakim Subagyo.
Dua orang polisi masuk.
"Tahan saudara Danu. Pasal menyogok hakim. Ancaman pidana enam tahun penjara."
Danu tidak bisa berkutik.
PAGI YANG MENDUNG
Hari Rabu, langit mendung. Awan hitam menggulung dari arah barat. Angin bertiup kencang, membawa aroma tanah basah, tanda hujan akan segera turun. Daun-daun pisang di belakang rumah bergerak-gerak, bergesekan satu sama lain, menimbulkan suara seperti bisikan panjang.
Arga duduk di beranda. Ponselnya berdering.
"Mas Arga, ini Guntur."
"Iya."
"Aku dengar kabar. Danu ditangkap."
"Apa?"
"Tadi malam. Di restoran. Dia mencoba menyogok Hakim Subagyo. Tapi hakimnya jujur. Sudah dipasangi kamera dan alat perekam oleh polisi."
"Danu bodoh."
"Bukan bodoh. Putus asa."
"Lalu kasus tanah?"
"Otomatis menang. Karena pengacara penggugat ditahan. Hakim akan memutuskan berdasarkan bukti yang ada."
"Kapan?"
"Minggu depan."
KABAR KE TEMAN-TEMAN
Jam delapan pagi, semua teman-teman Arga datang.
Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, Sukmawati, Sastro, Mbah Tarni—semua berkumpul di ruang tengah.
"Mas Arga, aku dengar Danu ditangkap," kata Faruq.
"Iya."
"Wah, selamat! Kasus tanah kita menang!"
"Belum. Tunggu putusan hakim."
"Tapi sudah jelas, kan? Bukti kita kuat. Danu ditangkap. Pak Kades tidak punya pengacara."
"Hukum tidak selalu seperti itu, Faruq. Tapi mudah-mudahan."
GUNTUR BICARA
Guntur berdiri.
"Teman-teman, jangan terlalu cepat gembira. Danu ditangkap, tapi Pak Kades masih bebas. Dia bisa cari pengacara lain. Dia bisa mengajukan banding."
"Tapi, " Faruq mencoba memotong.
"Tapi, kita sudah punya momentum. Kita sudah punya bukti kuat. Kita sudah punya saksi. Dan kita sudah punya hakim yang jujur. Itu keuntungan besar."
"Lalu?"
"Kita tunggu putusan hakim. Minggu depan. Sambil menjaga keamanan."
LARAS BICARA
Laras angkat bicara.
"Mas Arga, selain hukum, kita juga harus siapkan mental."
"Siapkan mental?"
"Iya. Kemenangan hukum belum tentu membawa kedamaian batin. Kadang, setelah menang, justru muncul tekanan baru."
"Tekanan apa?"
"Tekanan dari pihak yang kalah. Mereka bisa balas dendam. Bukan secara hukum. Tapi secara fisik."
"Kita sudah siap."
"Jangan hanya siap. Tapi juga waspada."
"Siap, Mbak."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit gelap. Bulan tertutup awan. Bintang-bintang tidak terlihat.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan selamat?"
"Kita akan selamat."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena keadilan berpihak pada kita."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
BAB 18
BU RINA DARI LBH DATANG
Penangkapan Danu karena mencoba menyogok Hakim Subagyo menjadi titik balik dalam kasus tanah yang menghadang Arga. Namun, meskipun pengacara licik itu sudah ditahan, Pak Kades masih bebas. Ia masih bisa mencari pengacara lain. Ia masih bisa mengajukan banding. Ia masih bisa menyusun strategi baru untuk merebut tanah warisan Mbah Jayarasa.
Arga dan timnya tidak boleh lengah.
Dan di saat yang tepat, Bu Rina, pengacara LBH yang dulu membantu menangani kasus Ferry, datang ke desa Wringinrejo. Bukan hanya untuk memberikan nasihat hukum. Tapi untuk membantu menyusun strategi final. Strategi yang akan memastikan bahwa kasus tanah ini selesai untuk selamanya. Strategi yang tidak hanya memenangkan Arga, tetapi juga menjatuhkan Pak Kades secara moral dan hukum.
Bu Rina membawa serta dua orang rekannya: Mas Budi, pengacara muda yang ahli dalam kasus pertanahan, dan Mbak Dewi, paralegal yang berpengalaman mengurus dokumen-dokumen hukum.
Mereka datang dengan mobil Kijang tua penuh dengan kertas dan map. Mereka datang dengan semangat membara. Mereka datang untuk membantu tanpa pamrih, karena LBH adalah lembaga bantuan hukum untuk rakyat kecil.
PAGI YANG CERAH
Hari Sabtu, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Warung pecel Mbok Sekar ramai sejak pukul setengah tujuh—seperti biasa.
Arga duduk di beranda, ditemani Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, Sukmawati, Sastro, dan Mbah Tarni. Wajah mereka tegang, menunggu kedatangan Bu Rina.
"Mas Arga, Bu Rina sudah di jalan," kata Guntur sambil memandang ponselnya.
"Kapan sampai?"
"Sebentar lagi. Setengah jam."
"Kita sambut?"
"Tentu."
KEDATANGAN BU RINA
Jam sembilan pagi, mobil Kijang tua berwarna putih masuk ke halaman rumah.
Bu Rina turun lebih dulu. Wajahnya lelah, mungkin karena perjalanan jauh, mungkin karena banyak pikiran. Rambutnya yang disanggul rapi mulai beruban di beberapa bagian. Ia memakai kemeja putih lengan panjang dan rok batik.
Mas Budi dan Mbak Dewi ikut turun. Mereka membawa map-map tebal.
"Bu Rina, selamat datang," sapa Arga.
"Mas Arga, maaf baru bisa datang. Banyak kasus yang harus ditangani."
"Tidak apa, Bu. Yang penting Ibu datang."
Mereka masuk ke ruang tengah.
RAPAT HUKUM
Semua duduk melingkar di tikar pandan. Meja kayu panjang dipenuhi dokumen, map, dan laptop.
Bu Rina membuka laptopnya.
"Mas Arga, saya sudah pelajari kasus ini dari awal. Termasuk gugatan Danu, surat palsu, dan upaya penyogokan."
"Bagaimana kesimpulan Ibu?"
"Kesimpulan saya: kasus ini sudah hampir menang. Tapi belum selesai."
"Kenapa?"
"Karena Pak Kades masih bebas. Karena Pak Kades masih bisa mencari pengacara lain. Karena Pak Kades masih bisa mengajukan banding. Karena Pak Kades masih punya uang."
"Lalu?"
"Kita harus selesaikan secara tuntas. Jangan sampai ada celah."
STRATEGI FINAL
Bu Rina memaparkan strategi final.
"Pertama, kita akan ajukan permohonan putusan sela. Minta hakim untuk memutuskan bahwa surat tanah dari zaman Belanda itu palsu, sehingga tidak bisa dijadikan bukti."
"Kedua, kita akan ajukan tuntutan ganti rugi terhadap Pak Kades atas pencemaran nama baik, pengancaman, dan pengerahan preman."
"Ketiga, kita akan laporkan Pak Kades ke polisi atas kepemilikan dokumen palsu dan percobaan penyuapan, meskipun yang menyogok Danu, Pak Kades yang menyuruh."
"Keempat, kita akan minta hakim untuk segera mengeluarkan putusan akhir, mengingat Danu sudah ditahan dan Pak Kades tidak memiliki pengacara lagi."
"Kelima, kita akan minta bantuan media untuk mengawal kasus ini. Agar publik tahu. Agar hakim tidak berani main-main."
Arga mengangguk.
"Baik, Bu. Saya setuju."
MAS BUDI BICARA
Mas Budi angkat bicara.
"Mas Arga, ada satu hal yang sering dilupakan dalam kasus pertanahan."
"Apa?"
"Dokumen asli. Bukan fotokopian."
"Kami punya surat wasiat asli dari Mbah Jayarasa. Juga surat jual beli asli tahun 1965."
"Bagus. Itu modal utama. Jangan sampai hilang. Simpan di tempat yang aman."
Arga memandang Sekar.
Sekar mengangguk. "Di lemari besi pemberian Pak Bondan."
"Bagus."
MBAH DEWI BICARA
Mbak Dewi angkat bicara.
"Mas Arga, saya akan bantu urus administrasi. Surat-menyurat. Fotokopi. Legalisir. Pengiriman dokumen ke pengadilan."
"Terima kasih, Mbak."
"Jangan berterima kasih. Ini tugas saya."
SIANG DI RUANG TENGAH
Jam dua belas siang, rapat selesai.
Makan siang bersama. Nasi tumpeng buatan Sukmawati. Ayam ingkung. Sayur lodeh. Sambal goreng. Kerupuk.
"Mari makan," kata Sukmawati.
"Terima kasih, Bu," kata Bu Rina.
Mereka makan dengan lahap. Tertawa. Bercerita.
"Bu Rina, kenapa Ibu mau membantu kami?" tanya Faruq.
"Karena LBH didirikan untuk membantu rakyat kecil. Karena Mas Arga adalah rakyat kecil yang berjuang melawan ketidakadilan."
"Apakah Ibu tidak takut pada Pak Kades?"
"Tidak. Saya sudah sering menghadapi yang lebih berbahaya."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Bu Rina, Mas Budi, dan Mbak Dewi menginap di rumah Mbah Jayarasa.
Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit penuh bintang. Bulan sabit tipis menggantung rendah. Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan selamat?"
"Kita akan selamat."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena orang-orang baik ada di pihak kita."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
BAB 19
JURNALIS INVESTIGASI
Kehadiran Bu Rina dari LBH beserta timnya membawa angin segar bagi tim Arga. Namun, mereka sadar bahwa kemenangan di pengadilan tidak cukup hanya mengandalkan bukti dan saksi. Mereka juga butuh tekanan publik. Mereka butuh media. Mereka butuh jurnalis investigasi yang berani mengungkap praktik kotor Pak Kades, Danu, dan preman-preman bayaran.
Dan kabar baik datang dari Nisa. Ia menghubungi teman-temannya di dunia jurnalistik. Beberapa jurnalis dari media nasional, Kompas, Tempo, BBC Indonesia, dan CNN Indonesia, tertarik untuk meliput kasus ini. Mereka datang ke desa Wringinrejo. Mereka mewawancarai Arga, Sekar, Guntur, Laras, Samsul, Pak Bondan, Ratri, Mbah Tarni, dan warga desa lainnya. Mereka memotret bukti-bukti. Mereka merekam kesaksian. Mereka menyusun laporan investigasi yang akan mengguncang publik.
Dan dalam semalam, nama Pak Kades berubah dari 'mantan kepala desa yang terhormat' menjadi 'tersangka korupsi, pemerasan, dan penyalahgunaan wewenang'. Tekanan publik meningkat. Pengadilan tidak bisa lagi main-main. Hakim tidak bisa lagi disuap. Polisi tidak bisa lagi tutup mata.
Kasus tanah Arga pun memasuki babak final.
PAGI YANG CERAH
Hari Senin, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Warung pecel Mbok Sekar ramai sejak pukul setengah tujuh—seperti biasa. Tapi hari ini ada yang berbeda. Beberapa orang asing duduk di meja kayu depan warung. Mereka membawa kamera, alat perekam, dan buku catatan. Mereka adalah jurnalis.
"Mas Arga, ini Mas Didi dari Kompas, Mbak Rini dari Tempo, Mas Joko dari BBC Indonesia, dan Mbak Sari dari CNN Indonesia," kata Nisa sambil memperkenalkan.
Arga terkejut. "Wah, banyak sekali."
"Ini baru sebagian. Masih ada yang lain."
"Untuk apa?"
"Mereka mau meliput kasus tanah Bapak," kata Mas Didi.
"Siapa yang kasih tahu?"
"Saya," kata Nisa.
Arga menghela napas. "Baik. Silakan."
WAWANCARA DENGAN ARGA
Mereka duduk di ruang tengah. Jurnalis mulai bertanya.
"Mas Arga, bagaimana perasaan Bapak setelah sekian lama berjuang melawan Pak Kades?"
"Lelah. Tapi tidak menyerah."
"Apa yang membuat Bapak tetap bertahan?"
"Kebenaran. Dan keluarga. Dan teman-teman."
"Apakah Bapak takut pada Pak Kades?"
"Takut. Tapi saya lebih takut jika kebenaran tidak terungkap."
"Apa pesan Bapak untuk pembaca kami?"
"Jangan pernah takut melawan ketidakadilan. Selama kebenaran di pihak kita, kita akan menang."
WAWANCARA DENGAN SEKAR
Mbak Rini mewawancarai Sekar.
"Mbak Sekar, bagaimana perasaan Mbak suami Mbak berjuang melawan Pak Kades?"
"Saya bangga. Tapi juga khawatir."
"Khawatir apa?"
"Khawatir keselamatan beliau. Khawatir beliau terlalu capek. Khawatir beliau putus asa."
"Tapi beliau tidak putus asa."
"Alhamdulillah."
"Apa pesan Mbak untuk pembaca kami?"
"Jangan pernah menyerah. Dukung suami atau istri kalian dalam berjuang. Karena kebersamaan adalah kekuatan."
WAWANCARA DENGAN GUNTUR
Mas Joko mewawancarai Guntur.
"Mas Guntur, apa peran Bapak dalam kasus ini?"
"Saya membantu menyusun strategi hukum. Juga membantu mengumpulkan bukti."
"Apa tantangan terbesar?"
"Menghadapi Danu. Pengacara yang licik. Tapi dia sudah ditahan karena menyogok hakim."
"Apa pesan Bapak untuk pembaca kami?"
"Hukum itu tajam ke bawah, tumpul ke atas. Tapi jika rakyat bersatu, hukum bisa ditegakkan."
WAWANCARA DENGAN SAMSUL
Mbak Sari mewawancarai Samsul.
"Mas Samsul, apa yang membuat Bapak berani menjadi saksi?"
"Karena saya ingin membersihkan nama. Karena saya ingin anak cucu saya bangga."
"Apa risiko?"
"Keluarga saya bisa terancam. Tapi saya sudah siap."
"Apa pesan Bapak untuk pembaca kami?"
"Jangan jadi pengecut. Jangan jadi mata-mata. Jadilah pahlawan untuk keluarga."
BERITA MENGGELEPAR
Seminggu kemudian, berita tentang kasus tanah Arga dan praktik kotor Pak Kades muncul di berbagai media. Kompas. Tempo. BBC Indonesia. CNN Indonesia. Juga media lokal. Juga media sosial.
Tagar #BebaskanArga dan #TangkapPakKades menjadi trending di Twitter.
Publik marah. Publik menuntut keadilan. Publik mendesak polisi untuk segera menahan Pak Kades.
PENGADILAN TERDESAK
Hakim Subagyo, yang dikenal jujur, tidak bisa lagi menunda. Ia memerintahkan polisi untuk segera memeriksa Pak Kades. Ia juga memerintahkan agar sidang kasus tanah dipercepat.
"Pak Kades, kami panggil Bapak untuk diperiksa sebagai tersangka," kata komandan polisi.
Pak Kades pucat. "Saya tidak bersalah!"
"Bukti-bukti sudah kuat. Bapak ikut kami."
Pak Kades digiring ke mobil polisi.
Bu Sania menangis.
Warga desa yang melihat bersorak.
AKHIRNYA KEADILAN
Jam dua siang, Arga menerima telepon dari Guntur.
"Arga, Pak Kades sudah ditahan."
"Syukurlah."
"Kasus tanah akan segera diputus. Kemungkinan besar Bapak menang."
"Aku tidak ingin menang. Aku ingin keadilan."
"Itu sudah keadilan."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit penuh bintang. Bulan sabit tipis menggantung rendah. Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan selamat?"
"Kita akan selamat."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena keadilan sudah di pihak kita."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
BAB 20
HAKIM BERUBAH SIKAP
Tekanan publik yang meledak setelah pemberitaan media nasional tentang kasus tanah Arga dan praktik kotor Pak Kades ternyata membawa dampak besar. Bukan hanya pada polisi yang akhirnya berani menahan Pak Kades. Bukan hanya pada kejaksaan yang mulai memproses berkas perkara. Tapi juga pada hakim, Hakim Subagyo, yang selama ini sudah dikenal jujur, kini semakin berani.
Hakim Subagyo sadar bahwa publik mengawalnya. Ia sadar bahwa jika ia memutuskan tidak adil, kariernya akan hancur. Ia sadar bahwa jika ia memenangkan Pak Kades, ia akan dianggap korup. Ia sadar bahwa jika ia tidak segera menyelesaikan kasus ini, desakan publik akan semakin keras.
Maka pada sidang berikutnya, Hakim Subagyo bertindak tegas. Ia menolak semua permohonan penundaan dari pengacara baru Pak Kades, pengacara dadakan yang dibayar mahal namun tidak kompeten. Ia memerintahkan Mas Hendra sebagai pengacara Arga untuk menyampaikan kesimpulan akhir. Ia juga memerintahkan kejaksaan untuk segera menyiapkan tuntutan terhadap Pak Kades atas kasus pemalsuan dokumen, pengerahan preman, dan percobaan penyogokan.
Danu, yang masih ditahan di rumah tahanan kota, hanya bisa pasrah. Pengacaranya tidak bisa berbuat banyak. Bukti-bukti dari pihak Arga sudah sangat kuat. Kesaksian Prof. Widodo dan Samsul sudah sangat meyakinkan. Dan pemberitaan media sudah sangat mengguncang publik.
Pak Kades, yang juga ditahan di ruang tahanan yang berbeda, hanya bisa diam. Wajahnya pucat. Matanya kosong. Ia sudah tidak punya energi untuk melawan. Ia sudah tidak punya uang untuk menyogok. Ia sudah tidak punya preman untuk mengintimidasi.
Kekuasaan dan uang yang dulu ia banggakan, kini tidak berarti apa-apa.
PAGI DI PENGADILAN
Hari Senin, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah. Ruang sidang pengadilan negeri dipenuhi oleh jurnalis, aktivis, dan warga desa yang ingin menyaksikan persidangan.
Arga duduk di kursi tergugat. Sekar di samping kanannya. Guntur di samping kirinya. Mas Hendra di depan, memegang setebal dokumen.
Pak Kades duduk di kursi terdakwa, karena kasusnya sudah naik ke pidana. Wajahnya pucat. Matanya sayu. Tangannya gemetar.
Danu duduk di kursi terdakwa lain, terpisah dari pamannya. Wajahnya juga pucat, matanya juga sayu.
"Terdakwa dan pengacara hadir?" tanya Hakim Subagyo.
"Hadir, Yang Mulia," jawab pengacara Pak Kades.
"Hadir, Yang Mulia," jawab pengacara Danu.
"Tergugat dan pengacara hadir?"
"Hadir, Yang Mulia," jawab Mas Hendra.
"Silakan, pengacara tergugat. Sampaikan kesimpulan akhir."
MAS HENDRA BICARA
Mas Hendra berdiri.
"Yang Mulia, kami dari pihak tergugat menyimpulkan bahwa tanah seluas dua hektar di lereng bukit timur, desa Wringinrejo, adalah milik Arga bin Sastro berdasarkan: surat wasiat Mbah Jayarasa, surat jual beli tahun 1965, serta saksi mata yang melihat transaksi tersebut."
"Kami juga menyimpulkan bahwa surat tanah dari zaman Belanda yang diajukan penggugat adalah PALSU. Hal ini telah dibuktikan oleh saksi ahli Prof. Widodo."
"Kami juga menyimpulkan bahwa Pak Kades, penggugat, telah melakukan tindak pidana: pemalsuan dokumen, pengerahan preman, dan percobaan penyogokan melalui keponakannya, Danu."
"Kami mohon Yang Mulia untuk memenangkan pihak tergugat, serta menghukum pihak penggugat sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku."
"Terima kasih."
HAKIM SUBAGYO BICARA
Hakim Subagyo mengetuk palu.
"Sebelum saya membacakan putusan, saya ingin menyampaikan beberapa hal."
"Pertama, saya mengapresiasi keberanian saudara Arga dan timnya dalam melawan ketidakadilan."
"Kedua, saya mengapresiasi keberanian saudara Samsul yang bersedia menjadi saksi."
"Ketiga, saya mengapresiasi keberanian saudara Prof. Widodo yang bersedia menjadi saksi ahli."
"Keempat, saya mengapresiasi media yang telah memberitakan kasus ini secara berimbang."
"Kelima, saya mengucapkan terima kasih kepada publik yang telah mengawal kasus ini. Tanpa tekanan publik, mungkin kasus ini tidak akan secepat ini selesai."
"Sekarang, saya bacakan putusan."
Ruangan hening.
PUTUSAN HAKIM
Hakim Subagyo membaca putusan dengan suara lantang.
"Mengadili: Pertama, menyatakan tanah seluas dua hektar di lereng bukit timur, desa Wringinrejo, adalah milik Arga bin Sastro."
"Kedua, menyatakan surat tanah dari zaman Belanda yang diajukan penggugat adalah PALSU."
"Ketiga, menyatakan Pak Kades terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pemalsuan dokumen, pengerahan preman, dan percobaan penyogokan."
"Keempat, menyatakan Danu terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana percobaan penyogokan."
"Kelima, menghukum Pak Kades dengan pidana penjara selama lima tahun."
"Keenam, menghukum Danu dengan pidana penjara selama enam tahun."
"Ketujuh, memerintahkan penyitaan aset-aset Pak Kades dan Danu yang didapat dari hasil korupsi dan pemerasan."
"Kedelapan, membebankan biaya perkara kepada negara."
"Demikian putusan ini. Terima kasih."
Hakim Subagyo mengetuk palu.
"Sidang selesai."
REAKSI ARGA
Arga memeluk Sekar.
"Kita menang, Mas!"
"Iya, Sekar. Kita menang."
"Setelah sekian lama..."
"Setelah sekian lama."
Mereka menangis.
Guntur memeluk Arga.
"Selamat, Le."
"Terima kasih, Guntur. Tanpa kamu, aku tidak akan bisa."
"Kamu bisa. Aku hanya membantu."
Laras memeluk Sekar.
"Mbak Sekar, selamat."
"Terima kasih, Mbak. Ibu juga ikut senang, kan?"
"Sangat."
REAKSI PARA SAHABAT
Faruq melompat-lompat.
"YES! KITA MENANG!"
"Faruq, jangan teriak-teriak," kata Nisa.
"Aku senang, Nis!"
"Tahan."
"Tidak bisa!"
Faruq memeluk Nisa.
Dimas memeluk Arga.
"Mas Arga, selamat."
"Terima kasih, Dimas. Kamu hebat dengan kameramu."
"Aku tidak hebat. Aku hanya hobi."
Ratri memeluk Sekar.
"Mbak, aku ikut senang."
"Terima kasih, Rat."
"Semoga desa ini damai."
"Amin."
Samsul memeluk Arga.
"Mas Arga, saya ikut senang."
"Terima kasih, Samsul. Tanpa kesaksianmu, mungkin kita tidak akan menang."
"Saya hanya melakukan yang benar."
Pak Bondan memeluk Arga.
"Le, selamat."
"Terima kasih, Pak. Tanpa bantuan Bapak, saya tidak akan bisa bayar pengacara."
"Uang bisa dicari. Keadilan tidak."
Sukmawati memeluk Arga dan Sekar.
"Le, Nduk, Ibu bangga."
"Terima kasih, Bu."
"Anak Ibu hebat-hebat."
Sastro memeluk Arga.
"Le, Ayah bangga."
"Terima kasih, Yah."
"Kamu sudah jadi laki-laki sejati."
Mbah Tarni memeluk Arga.
"Le, Mbah bangga."
"Terima kasih, Mbah."
"Doa Mbah selalu menyertaimu."
"Amin."
REAKSI PAK KADES DAN DANU
Pak Kades tidak bergerak. Ia hanya diam. Wajahnya pucat. Matanya kosong.
Danu menangis.
"Aku menyesal," bisiknya.
"Terlambat," kata polisi yang menggiringnya.
Mereka dibawa ke mobil tahanan.
REAKSI WARGA
Warga desa yang hadir bersorak.
"HIDUP ARGA! HIDUP KEADILAN!"
"MANTAN PAK KADES TETAP HARAM!"
"SEMOGA DESA KAMI DAMAI!"
Arga melambaikan tangan.
"Terima kasih, warga Wringinrejo. Mari kita bangun desa ini bersama. Tanpa korupsi. Tanpa nepotisme. Tanpa fitnah."
"SETUJU!" teriak warga.
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit penuh bintang. Bulan sabit tipis menggantung rendah. Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akhirnya selamat?"
"Iya, Sekar. Kita selamat."
"Setelah sekian lama berjuang..."
"Setelah sekian lama berjuang."
"Kita layak bahagia."
"Kita layak bahagia."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
Mereka berpelukan.
BAB 21
PAK KADES MENGAKU
Putusan hakim yang memenangkan Arga dalam sengketa tanah dan menghukum Pak Kades lima tahun penjara serta Danu enam tahun penjara seharusnya menjadi akhir dari perjuangan panjang tim Arga. Namun, hukum masih memberikan hak kepada terdakwa untuk mengajukan banding. Pak Kades, meskipun sudah terpojok, meskipun sudah ditahan, meskipun sudah kehilangan segalanya, masih memiliki satu kesempatan terakhir untuk membersihkan nama baiknya.
Banding.
Tapi Pak Kades tidak mengajukan banding. Ia justru meminta diadakan sidang ulang. Bukan untuk membela diri. Bukan untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah. Tapi untuk mengaku. Di hadapan publik. Di hadapan hakim. Di hadapan jurnalis. Di hadapan warga desa.
Ia ingin mengakui semua kejahatannya.
Ia ingin meminta maaf pada Arga.
Ia ingin meminta maaf pada Sekar.
Ia ingin meminta maaf pada seluruh warga desa Wringinrejo.
Keponakannya, Danu, semula menolak. "Paman, jangan! Kita bisa banding! Kita bisa menang!"
Tapi Pak Kades sudah bulat. "Sudah, Le. Paman capek. Paman sudah tidak punya energi. Paman sudah tidak punya uang. Paman sudah tidak punya preman. Paman hanya punya penyesalan."
Danu menangis. "Tapi, Paman, "
"Sudah. Biar Paman yang bertanggung jawab."
PAGI DI PENGADILAN
Hari Jumat, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah. Ruang sidang pengadilan negeri dipenuhi oleh jurnalis, aktivis, dan warga desa yang ingin menyaksikan pengakuan Pak Kades.
Arga duduk di kursi pengunjung. Sekar di samping kanannya. Guntur di samping kirinya. Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, Sukmawati, Sastro, dan Mbah Tarni duduk di belakang.
Pak Kades duduk di kursi pesakitan. Wajahnya pucat. Matanya sayu. Tangannya gemetar. Danu duduk di kursi pesakitan lain, terpisah dari pamannya.
"Terdakwa, apakah Bapak mengajukan banding?" tanya Hakim Subagyo.
"Tidak, Yang Mulia."
"Lalu?"
"Saya ingin mengaku. Di hadapan publik. Di hadapan Yang Mulia. Di hadapan semua yang hadir."
"Silakan."
PAK KADES BICARA
Pak Kades berdiri. Suaranya lirih, terputus-putus, kadang tenggelam oleh isak tangis.
"Yang Mulia, saya... saya bersalah."
Ruangan hening.
"Saya bersalah atas semua tuduhan. Saya yang menyuruh preman untuk mengintimidasi Arga. Saya yang menyuruh preman untuk merusak warung pecel Sekar. Saya yang menyuruh preman untuk menyerang rumah Arga."
"Saya juga yang menyuruh Danu, keponakan saya, untuk memalsukan surat tanah. Saya juga yang menyuruh Danu untuk menyewa saksi ahli palsu. Saya juga yang menyuruh Danu untuk menyogok hakim."
"Saya juga yang memeras warga desa. Saya juga yang menggunakan uang desa untuk kepentingan pribadi. Saya juga yang menyembunyikan aset desa."
"Saya... saya minta maaf."
Pak Kades menunduk. Air matanya jatuh ke lantai.
"Maafkan saya, Arga. Maafkan saya, Sekar. Maafkan saya, warga Wringinrejo. Maafkan saya, semua."
Ruangan hening.
Seorang jurnalis menangis.
Seorang aktivis menangis.
Seorang warga desa menangis.
ARGA BICARA
Arga berdiri.
"Yang Mulia, izinkan saya bicara."
"Silakan."
Arga memandang Pak Kades.
"Pak Kades, saya MENERIMA permintaan maaf Bapak."
"Saya tidak akan membenci Bapak. Saya tidak akan dendam."
"Tapi saya tidak bisa melupakan."
"Bapak sudah menyakiti keluarga saya. Bapak sudah menyakiti warga desa. Bapak sudah menyakiti banyak orang."
"Semoga Bapak mendapat hukuman yang setimpal. Bukan untuk balas dendam. Tapi untuk efek jera. Agar tidak ada lagi pejabat yang berani korupsi dan zalim."
"Saya memaafkan Bapak. Tapi hukum tetap berjalan."
Pak Kades menangis.
"Terima kasih, Arga."
HAKIM SUBAGYO BICARA
Hakim Subagyo mengetuk palu.
"Saya mengapresiasi keberanian Pak Kades untuk mengaku."
"Saya juga mengapresiasi kemaafan dari saudara Arga."
"Namun, hukum harus tetap ditegakkan."
"Pak Kades, saya vonis Bapak dengan pidana penjara selama tujuh tahun. Bertambah dua tahun dari vonis sebelumnya. Karena Bapak baru mengaku setelah ada bukti kuat, bukan karena kesadaran dari awal."
"Danu, saya vonis Bapak dengan pidana penjara selama delapan tahun. Bertambah dua tahun dari vonis sebelumnya. Karena Bapak tidak mengaku dan mencoba menyalahkan paman Bapak."
"Apakah Bapak menerima vonis ini?"
Pak Kades mengangguk. "Saya terima, Yang Mulia."
Danu menangis. "Saya terima."
"Sidang selesai."
SETELAH SIDANG
Arga memeluk Sekar.
"Ini benar-benar selesai, Mas."
"Iya, Sekar. Ini benar-benar selesai."
Mereka menangis.
Guntur memeluk Arga.
"Selamat, Le. Perjuanganmu selesai."
"Terima kasih, Guntur. Tanpa kalian, aku tidak akan bisa."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit penuh bintang. Bulan sabit tipis menggantung rendah. Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akhirnya benar-benar selamat?"
"Iya, Sekar. Kita benar-benar selamat."
"Setelah sekian lama berjuang..."
"Setelah sekian lama berjuang."
"Kita layak bahagia."
"Kita layak bahagia."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
Mereka berpelukan.
BAB 22
KEMENANGAN
Sehari setelah Pak Kades mengaku semua kejahatannya di hadapan publik, desa Wringinrejo dilanda euforia. Bukan euforia yang berlebihan Bukan pesta pora. Tapi kebahagiaan yang tenang. Kebahagiaan yang datang setelah bertahun-tahun tertindas. Kebahagiaan yang datang setelah berbulan-bulan berjuang melawan ketidakadilan.
Arga tidak hanya memenangkan sengketa tanah. Ia juga berhasil membongkar praktik korupsi, pemerasan, dan intimidasi yang dilakukan Pak Kades selama puluhan tahun. Ia juga berhasil membersihkan nama baik keluarganya. Ia juga berhasil mengembalikan kepercayaan warga desa pada keadilan.
Dan pagi ini, di balai desa Wringinrejo, Camat menyerahkan secara resmi sertifikat tanah atas nama Arga bin Sastro. Tanah warisan Mbah Jayarasa. Tanah yang dulu hampir direbut oleh Pak Kades. Tanah yang kini sah menjadi milik Arga dan keturunannya selamanya.
Ratri, Pejabat Sementara Kepala Desa, memimpin upacara serah terima. Wajahnya berbinar. Matanya berkaca-kaca.
"Mas Arga, tanah leluhur. Jaga baik-baik."
"Terima kasih, Rat. Aku akan menjaganya, Aku tidak akan menyia-nyiakan."
"Kamu pantas mendapat ini."
"Aku tidak pantas. Tuhan yang memberi."
PAGI DI BALAI DESA
Hari Sabtu, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung burung pipit beterbangan rendah. Halaman balai desa dipenuhi oleh warga yang ingin menyaksikan penyerahan sertifikat tanah.
Arga duduk di kursi kehormatan. Sekar di samping kanannya. Guntur di samping kirinya. Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, Sukmawati, Sastro, dan Mbah Tarni duduk di belakang.
Camat berdiri di mimbar.
"Saudara-saudara, hari ini adalah hari bersejarah bagi desa Wringinrejo."
"Setelah melalui proses hukum yang panjang, akhirnya tanah warisan Mbah Jayarasa resmi menjadi milik Arga bin Sastro."
"Ini adalah kemenangan keadilan. Kemenangan rakyat kecil. Kemenangan kebenaran."
"Mari kita sambut dengan tepuk tangan."
Warga bertepuk tangan riuh.
Camat menyerahkan sertifikat tanah pada Arga.
Arga menerima dengan tangan gemetar.
"Terima kasih, Pak Camat."
"Terima kasih kembali, Mas Arga. Jaga tanah ini baik baik."
"Siap, Pak."
CAMAT BICARA
Camat melanjutkan.
"Selain penyerahan sertifikat tanah, saya juga ingin menyampaikan bahwa Pak Kades telah resmi dicopot dari statusnya sebagai mantan kepala desa. Ia tidak berhak menyandang gelar itu lagi setelah terbukti melakukan tindak pidana."
"Danu, keponakannya, juga sudah dihukum delapan tahun penjara. Ia tidak akan bisa lagi berpraktik sebagai pengacara setelah selesai menjalani hukuman."
"Aset aset milik Pak Kades dan Danu yang diperoleh dari hasil korupsi dan pemerasan akan disita negara."
"Ini adalah pelajaran bagi kita semua: jangan sekali kali menyalahgunakan kekuasaan. Jangan sekali kali menindas rakyat kecil. Karena suatu hari, keadilan akan datang."
Warga bertepuk tangan lagi.
ARGA BICARA
Arga berdiri.
"Saudara-saudara, saya tidak ingin banyak bicara."
"Saya hanya ingin berterima kasih kepada semua yang telah membantu: keluarga, sahabat, camatan, polisi, hakim, jurnalis, LBH, dan seluruh warga desa Wringinrejo."
"Tanpa kalian, saya tidak akan bisa."
"Tanpa kalian, tanah ini mungkin sudah direbut Pak Kades."
"Tanpa kalian, saya mungkin sudah menyerah."
"Terima kasih."
"Dan untuk Pak Kades dan Danu, saya sudah memaafkan. Hukum sudah berjalan. Saya tidak akan dendam."
"Semoga mereka bertobat."
"Sekarang, mari kita bangun desa ini bersama. Tanpa korupsi. Tanpa nepotisme. Tanpa fitnah."
"Bisa?"
"BISA!" teriak warga.
PESTA KECIL
Jam dua belas siang, mereka mengadakan pesta kecil di halaman rumah Arga.
Pesta sederhana. Nasi tumpeng. Ayam ingkung. Sayur lodeh. Sambal goreng. Kerupuk. Hanya keluarga dan sahabat terdekat yang diundang.
"Mas Arga, selamat," kata Faruq.
"Terima kasih, Faruq."
"Kamu hebat."
"Aku tidak hebat. Aku hanya didukung orang-orang hebat."
Faruq memeluk Arga.
Guntur memeluk Arga.
"Kita sudah melalui banyak hal bersama, Arga."
"Iya, Guntur. Dari melawan Ferry. Sampai melawan Pak Kades."
"Sekarang kita bisa tenang."
"Sekarang kita bisa tenang."
Laras memeluk Sekar.
"Mbak Sekar, akhirnya selesai."
"Iya, Mbak. Akhirnya selesai."
"Kamu pasti lega."
"Sangat."
Dimas memeluk Arga.
"Mas Arga, aku pamit."
"Pamit kemana?"
"Aku akan kembali ke Jogja. Ada tawaran kerja sebagai teknisi jaringan."
"Selamat, Dimas."
"Terima kasih, Mas. Jangan lupa traktir."
"Besok. Janji."
Mereka tertawa.
Ratri memeluk Sekar.
"Mbak, aku ikut senang."
"Terima kasih, Rat."
"Desa ini akan lebih baik."
"Amin."
Samsul memeluk Arga.
"Mas Arga, saya juga pamit."
"Pamit kemana?"
"Saya akan kembali ke kampung. Buka usaha kecil kecilan. Bersama istri dan anak-anak."
"Selamat, Samsul."
"Terima kasih, Mas. Maaf untuk semua kesalahan saya."
"Sudah. Saya maafkan."
Mereka berpelukan.
PAK BONDAN BICARA
Pak Bondan angkat bicara.
"Arga, aku juga pamit."
"Pak Bondan mau ke Jogja?"
"Iya. Toko bangunan harus saya urus. Cabang di kecamatan sudah saya percayakan padamu."
"Terima kasih, Pak. Untuk semua bantuan."
"Jangan berterima kasih. Kau sudah seperti anakku."
Mereka berpelukan.
GUNTUR DAN LARAS BICARA
Guntur dan Laras berdiri.
"Arga, kami juga pamit," kata Guntur.
"Kembali ke Belanda?"
"Iya. Program S3 belum selesai. Laras juga masih kuliah."
"Kapan berangkat?"
"Minggu depan."
"Selamat jalan, Guntur. Selamat jalan, Laras."
"Terima kasih, Arga. Jaga Sekar. Jaga calon anakmu."
"Siap."
Mereka berpelukan.
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, semua tamu pulang.
Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit penuh bintang. Bulan sabit tipis menggantung rendah. Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa ini akhir perjuangan?"
"Iya, Sekar. Ini akhir perjuangan."
"Setelah sekian lama..."
"Setelah sekian lama."
"Kita layak istirahat."
"Kita layak istirahat."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
Mereka berpelukan.
BAB 23
KELAHIRAN
Kemenangan Arga dalam sengketa tanah dan vonis hukuman untuk Pak Kades serta Danu membawa kedamaian bagi desa Wringinrejo. Namun, di tengah kebahagiaan itu, ada satu peristiwa besar yang sedang dinanti-nantikan: kelahiran bayi Arga dan Sekar.
Sekar kini memasuki usia kandungan sembilan bulan. Perutnya semakin membesar. Gerakan janin semakin aktif. Kadang menendang, kadang memukul, kadang berguling, seperti sedang tidak sabar untuk segera keluar dan melihat dunia.
Arga mendampingi Sekar dengan penuh cemas. Ia tidak ingin meninggalkan istrinya sendirian, bahkan untuk sesaat. Ia takut terjadi sesuatu. Ia takut Sekar jatuh. Ia takut Sekar kesakitan. Ia takut persalinan tidak berjalan lancar.
Tapi Sekar justru tenang. Ia sudah mempersiapkan segalanya. Perlengkapan bayi. Pakaian kecil. Popok. Selimut. Bedong. Botol susu. Semuanya sudah siap di kamar.
Ia juga sudah berkoordinasi dengan mantri desa, Pak Harun, yang akan membantu persalinan. Dan jika terjadi komplikasi, ia sudah siap dirujuk ke rumah sakit kecamatan.
"Mas, jangan khawatir," kata Sekar sambil memegang perutnya. "Aku sudah pernah melewati yang lebih berat dari ini."
"Melahirkan itu berat, Sekar. Bisa menyebabkan kematian."
"Tapi aku tidak akan mati. Aku masih harus membesarkan anak kita."
Arga menggenggam tangan Sekar.
"Kamu kuat."
"Aku kuat karena kamu."
PAGI YANG CERAH
Hari Selasa, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Warung pecel Mbok Sekar tutup sementara, ada papan pemberitahuan di depan warung: "Tutup. Menjelang persalinan. Maaf."
Sekar duduk di beranda, ditemani Sukmawati dan Ratri. Wajahnya tenang, meskipun sesekali meringis karena kontraksi ringan.
"Nduk, kamu istirahat saja," kata Sukmawati.
"Iya, Bu."
"Mau makan?"
"Tidak laper, Bu."
"Minum?"
"Tidak haus, Bu."
"Nanti kalau sudah waktunya, kamu harus makan. Biar kuat."
"Siap, Bu."
Arga mondar-mandir di halaman. Wajahnya tegang. Tangannya gemetar.
"Mas Arga, duduk," kata Guntur yang ikut menemani.
"Aku tidak bisa duduk."
"Nanti kamu pusing."
"Biarlah."
"Apa kamu tidak percaya pada Sekar?"
"Aku percaya. Tapi aku tetap khawatir."
"Itu wajar. Tapi jangan berlebihan."
KONTRAKSI
Jam sepuluh pagi, Sekar merasakan kontraksi yang lebih kuat.
"Aduh..."
"Kenapa, Nduk?" tanya Sukmawati.
"Perutku... sakit."
"Sakit bagaimana?"
"Seperti ditekan-tekan dari dalam."
"Itu tanda-tanda mau melahirkan. Sebentar lagi."
Sukmawati memanggil Pak Harun.
Pak Harun memeriksa Sekar.
"Bukaan sudah empat, Mbak. Sebentar lagi."
"Berapa lama, Pak?"
"Mungkin beberapa jam. Sabar."
"Baik, Pak."
PERSIAPAN
Jam dua belas siang, semua persiapan sudah selesai.
Kamar Sekar sudah disulap menjadi ruang bersalin sederhana. Kasur dilapisi plastik. Peralatan medis sudah disiapkan. Air hangat sudah direbus. Kain bersih sudah ditata.
Arga duduk di samping Sekar, memegang tangannya.
"Mas, kamu jangan gugup," bisik Sekar.
"Aku tidak gugup."
"Kamu gugup. Tanganku sakit karena kamu pegang terlalu keras."
"Maaf."
Arga melemaskan genggamannya.
"Mas, apa kita akan kasih nama Jatmika?"
"Sesuai janji kita."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Jatmika sudah tenang. Dia sudah pergi. Sekarang, dia akan lahir kembali. Lewat anak kita."
"Amin."
PROSES PERSALINAN
Jam dua siang, Sekar mulai meneran.
"Aaahhh..."
"Tahan, Nduk. Jangan teriak-teriak. Nanti kehabisan tenaga," kata Pak Harun.
"Aaahhh..."
"Tarik napas. Lalu hembuskan pelan-pelan."
Sekar mengikuti instruksi.
Arga memegang tangannya erat-erat.
"Mas, sakit," bisik Sekar.
"Kamu kuat."
"Aaahhh..."
"Kepala bayi sudah keluar, Mbak. Sebentar lagi."
"Aaahhh..."
"Tarik napas. Lalu hembuskan."
"Aaahhh..."
Plang!
Bayi laki-laki keluar.
Menangis.
Keras.
Nyaring.
Seperti tangisan Jatmika dulu.
Tapi kali ini, tidak ada kilat. Tidak ada suara aneh. Tidak ada pertanda gaib.
Hanya tangisan bayi normal.
BAYI LAHIR
Pak Harun menggendong bayi itu.
"Selamat, Mas Arga. Mbak Sekar. Bayi laki-laki. Sehat. Berat tiga kilogram. Panjang empat puluh delapan sentimeter."
Arga menangis.
Sekar menangis.
Sukmawati menangis.
Sastro menangis.
Mbah Tarni menangis.
"Jatmika," bisik Arga.
"Jatmika," bisik Sekar.
Bayi itu tertawa.
Seperti mengenali namanya.
Seperti sudah lama menunggu.
BAYI DI BERI ASI
Pak Harun membersihkan bayi itu. Membungkusnya dengan kain putih. Menyerahkan pada Sekar.
"Ini, Mbak. Diberi ASI. Jangan lupa diimunisasi."
"Siap, Pak."
"Terima kasih, Pak Harun."
"Sama-sama."
Mereka berpelukan.
KABAR KE TEMAN-TEMAN
Jam empat sore, Arga mengabari teman-temannya.
"Bayi sudah lahir. Laki-laki. Jatmika."
Guntur membalas: "Selamat, Le. Semoga anakmu sholeh."
Laras: "Selamat, Mas Arga. Semoga Mbak Sekar cepat pulih."
Faruq: "WAH! SELAMAT! NANTI SAYA KIRIM MAINAN!"
Nisa: "Selamat, Mas Arga. Semoga menjadi anak yang berbakti."
Dimas: "Selamat, Mas. Saya akan datang minggu depan."
Ratri: "Mas, aku ikut senang."
Samsul: "Selamat, Mas Arga. Semoga keluarga kecil Bahagia."
Pak Bondan: "Selamat, Le. Nanti saya kirim bingkisan."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di dipan.
Bayi Jatmika tidur di samping mereka.
Langit penuh bintang. Bulan sabit tipis menggantung rendah. Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa ini akhir dari perjuangan?"
"Iya, Sekar. Ini akhir dari perjuangan."
"Setelah sekian lama..."
"Setelah sekian lama..."
"Kita akhirnya punya anak."
"Kita akhirnya punya anak."
"Jatmika."
"Jatmika."
Mereka berpelukan.
BAB 24
JATMIKA MUNCUL LAGI
Tiga hari setelah kelahiran bayi Jatmika, desa Wringinrejo diselimuti kebahagiaan. Sukmawati sibuk menyiapkan makanan untuk Sekar yang sedang dalam masa nifas. Sastro sibuk membersihkan halaman dan kandang ayam. Ratri sibuk membantu mengurus warung pecel yang akan segera dibuka kembali. Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, dan Pak Bondan sudah kembali ke kota masing-masing, kecuali Mbah Tarni yang masih setia menemani.
Namun di tengah kebahagiaan itu, Arga mulai merasakan keganjilan. Setiap malam, ketika ia memejamkan mata, ia melihat bayangan yang sama. Bayangan seorang anak laki-laki berdiri di tepi Kali Wening, memakai baju putih, wajahnya tersenyum. Bayangan Jatmika, kakaknya yang meninggal puluhan tahun lalu.
Awalnya Arga mengira itu hanya mimpi biasa. Tapi ketika mimpi itu datang lagi malam berikutnya, dan malam berikutnya lagi, dan malam berikutnya lagi, ia mulai sadar bahwa ini bukan sekadar mimpi. Ini adalah tanda. Jatmika ingin menyampaikan sesuatu. Mungkin pesan terakhir. Mungkin perpisahan. Mungkin... pengakuan.
Dan malam ini, dalam tidurnya yang lelap setelah sekian lama tidak bisa tidur nyenyak, Arga bertemu Jatmika.
Bukan di tepi Kali Wening.
Tapi di bawah pohon randu.
Di tempat yang sama di mana dulu Arga dan Sekar sering duduk bercerita tentang masa depan.
Di tempat yang sama di mana Arga pertama kali menyatakan cinta pada Sekar.
Di tempat yang sama di mana mereka berdua berjanji untuk tidak saling meninggalkan.
Jatmika sudah menunggu.
MALAM YANG SUNYI
Jam satu dini hari, Arga terbangun oleh suara tangisan bayi Jatmika. Ia menggendongnya, menenangkannya, memberikannya pada Sekar yang masih setengah tidur.
"Mas, kamu tidur lagi," bisik Sekar.
"Aku tidak bisa tidur."
"Kenapa?"
"Mikir."
"Mikir apa?"
"Jatmika. Kakakku. Dia muncul di mimpiku lagi."
"Sudah berapa kali?"
"Setiap malam. Sejak bayi kita lahir."
"Mungkin dia ingin mengucapkan selamat."
"Mungkin. Tapi aku merasa ada yang lebih."
"Lebih apa?"
"Entahlah."
Arga berbaring lagi. Ia memejamkan mata.
Dan dalam tidurnya, ia bermimpi.
DI BAWAH POHON RANDU
Arga berdiri di bawah pohon randu. Bulan purnama bersinar terang. Bintang-bintang berkerlap-kerlip. Angin malam berembus sepoi-sepoi, membawa aroma bunga melati.
Di depannya, seorang anak laki-laki berdiri. Usia sekitar sepuluh tahun. Wajahnya bulat, kulitnya putih, rambutnya hitam. Ia memakai baju putih lengan panjang dan celana pendek. Matanya sayu, tapi bersinar.
"Jatmika?" bisik Arga.
"Iya, Le. Ini aku."
"Kamu... sudah besar?"
"Dalam mimpimu, aku bisa memilih wujud. Aku pilih wujud waktu aku masih hidup. Biar kamu tidak terlalu kaget."
Arga mendekat. Ia ingin memeluk Jatmika. Tapi tangannya menembus tubuh Jatmika.
"Maaf, Le. Aku hanya arwah. Tidak bisa disentuh."
"Kenapa kamu muncul?"
"Untuk pamit."
"Pamit?"
"Iya. Aku akan pergi. Untuk selamanya."
"Kemana?"
"Ke alam baka. Ke tempat seharusnya aku berada sejak dulu."
"Kenapa baru sekarang?"
"Karena tugas aku sudah selesai. Menjagamu. Menjaga Sekar. Menjaga keluarga. Menjaga keturunan."
"Tapi, "
"Jatmika sudah lahir. Bayi itu. Aku titip padamu."
"Jatmika? Bayi kami?"
"Iya. Namanya Jatmika. Namaku. Aku titip nama itu padanya. Semoga dia menjadi anak yang sholeh. Semoga dia menjadi kebanggaan keluarga. Semoga dia tidak mengalami penderitaan seperti aku."
Arga menangis.
"Jatmika, aku rindu."
"Aku juga rindu, Le. Tapi aku harus pergi."
"Kapan?"
"Sekarang."
"Tidak bisa nanti?"
"Tidak. Ini kesempatan terakhir."
PELUKAN JATMIKA
Jatmika tersenyum.
"Le, aku pamit."
"Selamat jalan."
"Jangan sedih."
"Aku tidak sedih. Aku hanya... kehilangan."
"Kamu tidak kehilangan. Aku akan selalu di hatimu. Di hati Sekar. Di hati bayi Jatmika."
"Apa kamu akan kembali?"
"Tidak. Ini perpisahan selamanya."
Mereka berdua diam.
Angin malam berembus.
Daun-daun pohon randu bergemerisik.
"Aku sayang kamu, Le."
"Aku juga sayang kamu, Jatmika."
Jatmika mengulurkan tangan. Arga mengulurkan tangan.
Mereka tidak bisa bersentuhan.
Tapi mereka bisa merasakan.
"Selamat tinggal."
"Selamat tinggal."
Jatmika perlahan menghilang.
Cahaya putih menyelimuti tubuhnya.
Ia tersenyum.
Lalu lenyap.
ARGA BANGUN
Arga membuka mata.
Kamar gelap.
Sunyi.
Bayi Jatmika tidur di samping Sekar.
Sekar juga tidur.
Arga memandang langit-langit.
Ia merasakan kehangatan di dadanya.
Kehangatan yang familiar.
Kehangatan Jatmika.
"Jaga dia, Le. Jaga keluargamu. Jaga desamu. Jaga warisan leluhur."
Arga tersenyum.
"Aku akan, Jatmika. Janji."
PAGI YANG CERAH
Keesokan paginya, Arga terbangun lebih awal dari biasanya.
Ia keluar rumah.
Di halaman, Sukmawati sudah menyapu.
"Le, kok sudah bangun? Baru jam setengah enam."
"Tidak bisa tidur, Bu."
"Kenapa?"
"Jatmika... kakakku... muncul di mimpiku. Pamit."
"Pamit kemana?"
"Ke alam baka. Untuk selamanya."
Sukmawati menangis.
"Jatmika..."
"Ibu jangan sedih. Dia sudah tenang. Dia sudah pergi dengan damai."
"Apa dia bilang?"
"Dia bilang, titip bayi Jatmika. Semoga menjadi anak yang sholeh."
Sukmawati mengusap air matanya.
"Amin."
SEKAR BANGUN
Jam tujuh pagi, Sekar bangun.
Bayi Jatmika menyusu dengan lahap.
"Mas, kamu sudah mandi?"
"Belum. Aku tunggu kamu."
"Kenapa?"
"Aku mimpi Jatmika."
"Kakakmu?"
"Iya. Dia pamit."
"Pamit kemana?"
"Ke alam baka. Untuk selamanya."
Sekar terdiam.
"Apa dia bahagia?"
"Iya. Dia tersenyum."
"Syukurlah."
"Kita doakan dia."
"Iya."
DOA UNTUK JATMIKA
Jam delapan pagi, seluruh keluarga berkumpul di ruang tengah.
Sukmawati, Sastro, Arga, Sekar, dan bayi Jatmika.
Mbah Tarni memimpin doa.
"Ya Allah, terimalah arwah Jatmika bin Sastro. Ampunilah dosa-dosanya. Tempatkanlah dia di sisi-Mu yang paling mulia."
"Lapangkanlah kuburnya. Terangilah dengan cahaya-Mu."
"Jagalah bayi Jatmika yang baru lahir. Semoga menjadi anak yang sholeh. Semoga menjadi kebanggaan keluarga."
"Jagalah Arga dan Sekar. Semoga menjadi orang tua yang baik."
"Jagalah desa Wringinrejo. Semoga menjadi desa yang tentram, makmur, dan diberkahi."
"Amin."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit penuh bintang.
Bulan sabit tipis menggantung rendah.
Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa Jatmika sudah tenang?"
"Sudah."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena dia tersenyum."
"Terima kasih, Jatmika."
"Amin."
Mereka berpelukan.
BAB 25
PUSAKA DITEMUKAN
Cerita lengkap Mbah Tarni tentang Mbah Lestari dan pusaka desa membuka wawasan Arga dan timnya. Namun, ada satu hal yang masih mengganjal: pusaka terakhir yang hilang. Mbah Tarni menyebutkan bahwa selain keris, gelang perak, kalung batu akik hitam, dan buku catatan, masih ada satu pusaka lagi yang belum ditemukan. Pusaka itu berupa sebuah lontar kuno yang berisi mantra-mantra perlindungan desa, cara-cara berkomunikasi dengan makhluk halus secara aman, dan peta lengkap lokasi-lokasi keramat di desa Wringinrejo.
Lontar itu hilang sejak Mbah Lestari menghilang. Konon, dibawa oleh salah satu murid Mbah Lestari yang iri karena tidak mendapat warisan kemampuan. Murid itu bernama Kusno. Ia meninggalkan desa setelah Mbah Lestari pergi, membawa lontar itu, dan tidak pernah kembali.
Arga dan timnya harus mencari lontar itu. Bukan karena mereka ingin menggunakan mantranya. Tapi karena lontar itu adalah bagian dari sejarah desa. Lontar itu adalah warisan leluhur yang harus dijaga. Lontar itu adalah kunci terakhir untuk melengkapi pusaka desa.
Dan petunjuk tentang keberadaan lontar itu, menurut Mbah Tarni, ada di dalam buku catatan Mbah Lestari.
PAGI YANG CERAH
Hari Minggu, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Warung pecel Mbok Sekar sudah buka kembali, meskipun belum seramai dulu karena Sekar masih dalam masa pemulihan pasca melahirkan. Sukmawati dan Ratri yang membantu.
Arga duduk di beranda. Ia membuka buku catatan Mbah Lestari. Halaman demi halaman ia baca. Mencari petunjuk tentang lontar yang hilang.
"Mas, sudah ketemu?" tanya Sekar yang datang dengan segelas teh jahe.
"Belum. Masih di halaman awal."
"Baca saja perlahan. Jangan terburu-buru."
"Iya."
Arga terus membaca.
Halaman 10. Halaman 20. Halaman 30. Halaman 40. Halaman 50.
Tidak ada petunjuk.
Ia mulai frustrasi.
"Mas, istirahat dulu. Nanti pusing."
"Iya."
DI HALAMAN 73
Jam sepuluh pagi, Arga menemukan petunjuk.
Di halaman 73, ada gambar peta.
Peta desa Wringinrejo tempo dulu.
Dan di pojok kanan bawah, ada tulisan.
"Lontar pusaka kusimpan ing ngisor wit randu. Sing jaga ula gedhe. Sing njupuk kudu keturunan Mbah Lestari."
"Lontar pusaka kusimpan di bawah pohon randu. Penjaganya ular besar. Pengambilnya harus keturunan Mbah Lestari."
"Ratri, Sekar!" teriak Arga.
Mereka yang sedang di halaman segera masuk.
"Ada apa, Mas?" tanya Ratri.
"Aku nemu petunjuk. Lontar pusaka ada di bawah pohon randu."
"Pohon randu yang mana?"
"Yang di Bukit Watu Senja."
"Penjaganya?"
"Ular besar."
"Mirip dengan yang dulu?"
"Mungkin."
"Apa kamu berani?"
"Aku harus berani. Ini warisan leluhur. Ini pusaka terakhir."
"Baik. Kita siapkan."
PERSIAPAN
Jam dua belas siang, semua bersiap.
Arga memakai pakaian terbaiknya, kemeja lengan panjang, celana bahan hitam, sepatu boot pinjaman dari Dimas. Ia juga membawa keris dan senter.
Ratri membawa laptop dan kamera.
Sukmawati membawa pisau lipat dan obat-obatan.
Sastro membawa pentungan kayu.
Mereka berangkat jam satu siang.
DI BUKIT WATU SENJA
Jam dua siang, mereka tiba di Bukit Watu Senja.
Pohon randu tua masih berdiri kokoh. Daun-daunnya rimbun. Cabang-cabangnya melebar seperti tangan raksasa.
Arga mendekati pohon itu.
Ia memejamkan mata.
Ia mendengarkan.
"Gali, Le. Di bawah pohon. Sekitar tiga meter dari batang. Arah timur."
Suara Mbah Lestari.
"Di sini," kata Arga.
Mereka mulai menggali.
Tanahnya gembur. Tidak terlalu keras.
Setelah sekitar satu jam, sekop Arga mengenai benda keras.
"Ada apa, Mas?" tanya Sekar.
"Ada kotak."
Arga membersihkan tanah di sekitarnya.
Sebuah kotak kayu berukuran tiga puluh sentimeter kali dua puluh sentimeter. Permukaannya diukir dengan motif yang sama dengan ukiran di batu hitam dan kotak kayu sebelumnya.
"Buka, Mas," kata Sekar.
Arga membuka kotak itu.
Di dalamnya: sebuah lontar kuno.
Daun lontar yang sudah menguning.
Tulisan aksara Jawa.
Dan sebuah surat.
ISI SURAT
Arga membaca surat itu.
Surat dari Mbah Lestari.
"Untuk keturunanku yang bernama Arga."
"Jika kau membaca surat ini, berarti kau sudah menemukan lontar pusaka. Selamat. Kau sudah melewati ujian terakhir."
"Lontar ini berisi mantra-mantra perlindungan desa, cara-cara berkomunikasi dengan makhluk halus secara aman, dan peta lengkap lokasi-lokasi keramat di desa Wringinrejo."
"Jangan disalahgunakan. Jangan dibaca sembarangan. Jangan ditunjukkan pada orang yang tidak berhak."
"Simpan di tempat yang aman. Wariskan pada keturunanmu yang memiliki kemampuan sama sepertimu."
"Sekarang, tugasmu sudah selesai. Kau bisa istirahat. Kau bisa bahagia. Kau bisa menikmati hidup."
"Terima kasih, Le. Mbah bangga padamu."
"—Mbah Lestari"
Air mata Arga jatuh.
"Mbah Lestari..."
"Aku rindu."
KEMBALI KE RUMAH
Jam lima sore, mereka pulang.
Perjalanan pulang terasa lebih ringan.
Bukan karena beban yang berkurang. Tapi karena hati yang mulai mengerti.
"Arga," panggil Ratri di tengah jalan.
"Iya."
"Apa yang akan kamu lakukan dengan lontar itu?"
"Simpan. Jaga. Wariskan."
"Kepada siapa?"
"Anakku. Jatmika."
"Kamu yakin dia mewarisi kemampuanmu?"
"Entahlah. Tapi yang jelas, dia keturunanku. Dia berhak."
"Kamu benar."
MALAM DI RUMAH
Jam delapan malam, Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit penuh bintang. Bulan sabit tipis menggantung rendah. Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa ini akhir perjuangan?"
"Iya, Sekar. Ini akhir perjuangan."
"Setelah sekian lama..."
"Setelah sekian lama..."
"Kita akhirnya punya pusaka."
"Kita akhirnya punya pusaka."
"Kita akhirnya tahu segalanya."
"Kita akhirnya tahu segalanya."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
Mereka berpelukan.
BAB 26
ARGA MENYENTUH KERIS
Penemuan lontar pusaka di bawah pohon randu Bukit Watu Senja menjadi penanda bahwa perjuangan Arga hampir mencapai puncaknya. Namun, ada satu hal yang masih mengganjal di hatinya. Keris pusaka yang selama ini ia simpan, yang ia gunakan untuk membuka berbagai misteri, belum pernah ia rasakan energinya secara penuh. Ia hanya tahu bahwa keris itu dingin, bahwa keris itu terhubung dengan Mbah Lestari, bahwa keris itu adalah kunci dari segalanya.
Tapi malam ini, Arga memutuskan untuk menyentuh keris itu dengan cara yang berbeda.
Bukan sekadar memegangnya.
Bukan sekadar menusukkannya ke celah batu.
Tapi memejamkan mata, membiarkan pikirannya kosong, dan membiarkan keris itu berbicara.
Ditemani Ratri, Samsul, Sukmawati, Sastro, Mbah Tarni, dan tentu saja Sekar serta bayi Jatmika yang sedang tidur nyenyak di gendongan ibunya.
Arga duduk di ruang tengah. Lampu minyak dinyalakan hanya satu, agar suasana tidak terlalu terang. Di pangkuannya, keris pusaka terbungkus kain putih. Di sekelilingnya, teman-teman dan keluarga duduk melingkar, menjaga, mendoakan.
Arga membuka kain putih itu.
Keris pusaka terlihat berkilat di bawah cahaya lampu yang redup.
Ia mengambilnya.
Dingin.
Sangat dingin.
Tapi kali ini, dingin itu tidak membuatnya bergidik. Justru membuatnya... tenang.
Ia memejamkan mata.
Dan dunia di sekitarnya lenyap.
MALAM YANG SUNYI
Jam sembilan malam. Rumah sunyi. Hanya suara jangkrik dari luar dan sesekali suara tangis bayi Jatmika yang segera reda setelah Sekar menenangkannya.
Arga duduk bersila di lantai. Keris di pangkuan. Kedua telapak tangannya menempel di bilah keris, tidak takut terluka, tidak takut terkena getaran mistis.
"Mas Arga, hati-hati," bisik Sekar.
"Diam. Jangan ganggu," bisik Ratri.
Sekar terdiam.
Arga memejamkan mata lebih dalam.
Ia mengatur napas. Menghirup udara perlahan. Menghembuskannya pelan-pelan.
Ia membiarkan pikirannya kosong.
Tidak ada sawah. Tidak ada warung. Tidak ada sengketa tanah. Tidak ada Pak Kades. Tidak ada Danu. Tidak ada preman. Hanya keris. Hanya energi. Hanya Mbah Lestari.
Tiba-tiba, keris itu bergetar.
Pelan.
Lalu keras.
Lalu sangat keras.
Cahaya biru keperakan menyelimuti bilah keris.
ruangan terang benderang.
"Apa itu?" bisik Sastro.
"Tutup mulut, Faruq," bisik Sukmawati.
Sastro menutup mulutnya sendiri.
KILASAN MASA LALU
Arga tidak lagi berada di ruang tengah.
Ia berdiri di sebuah desa yang berbeda. Sawahnya lebih luas. Rumah-rumahnya lebih sederhana. Pakaian orang-orangnya lebih kuno.
Desa Wringinrejo tempo dulu. Mungkin tahun 1940-an.
Di depannya, seorang perempuan muda berdiri. Cantik. Wajah bulat. Kulit putih. Rambut hitam legam diikat ke belakang. Matanya sayu, tapi tajam. Senyumnya manis, tapi penuh teka-teki.
Mbah Lestari.
Di sampingnya, seorang laki-laki muda. Ganteng. Tampan. Berwibawa. Matanya teduh. Senyumnya hangat.
Mbah Jayarasa.
Mereka sedang duduk di bawah pohon randu, pohon randu yang sama di Bukit Watu Senja.
"Mbah Lestari," bisik Arga.
Perempuan itu menoleh. Tersenyum.
"Le, akhirnya kau datang."
"Aku... aku ada di sini?"
"Ini kilasan masa lalu. Aku sengaja memanggilmu. Lewat keris."
"Untuk apa?"
"Untuk menunjukkan sesuatu. Untuk mengajarkan sesuatu. Untuk mewariskan sesuatu."
PELAJARAN DARI MBAH LESTARI
Mbah Lestari berdiri. Ia memegang keris, keris yang sama dengan yang sekarang dipegang Arga.
"Le, keris ini bukan sekadar senjata. Bukan sekadar pusaka. Bukan sekadar benda mati."
"Ia adalah bagian dari jiwaku. Aku menanamkan seluruh pengetahuan, pengalaman, dan perjuanganku ke dalam keris ini."
"Kau yang memegangnya, kau yang merasakannya, kau yang akan mewarisinya."
"Sekarang, perhatikan."
Mbah Lestari menggerakkan keris. Pelan. Berirama. Seperti tarian.
Cahaya biru keperakan mengikuti gerakannya.
"Setiap goresan keris ini menyimpan doa. Setiap ayunannya menyimpan harapan. Setiap tebasan menyimpan perlindungan."
"Kau tidak perlu menjadi pendekar. Kau tidak perlu menjadi kesatria. Kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri. Karena keris ini akan menyesuaikan dengan pemiliknya."
"Kau baik, keris ini akan membantumu berbuat baik. Kau jahat, keris ini akan menghancurkanmu."
Arga memandang keris di tangannya.
"Aku tidak akan jahat, Mbah."
"Aku tahu. Karena itu aku memilihmu."
KILASAN KEDUA: MBAH JAYARASA
Kilasan berubah.
Sekarang Arga berdiri di halaman rumah Mbah Jayarasa, rumah yang dulu, sebelum menjadi tua dan reot.
Mbah Jayarasa duduk di kursi bambu. Wajahnya masih muda. Matanya masih segar. Rambutnya masih hitam.
"Le, duduk."
Arga duduk di depannya.
"Kau tahu, Le, Mbah dulu juga pengembara."
"Mbah cerita."
"Tapi Mbah tidak berhasil seperti kau. Mbah pulang dengan tangan hampa. Mbah gagal. Mbah kecewa. Mbah menyerah."
"Tapi kau? Kau berhasil. Kau menemukan Sekar. Kau melawan Ferry. Kau melawan Pak Kades. Kau mendapatkan tanah warisan. Kau menemukan pusaka. Kau berhasil."
"Karena kau tidak sendirian. Kau punya Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, Sukmawati, Sastro, Mbah Tarni. Dan terutama, Sekar."
"Jaga mereka. Jangan sampai mereka kecewa."
"Saya akan, Mbah. Janji."
KILASAN TERAKHIR: Mbah Lestari dan Mbah Jayarasa Bersama
Kilasan berubah lagi.
Mbah Lestari dan Mbah Jayarasa berdiri di bawah pohon randu.
Mbah Lestari memegang keris. Mbah Jayarasa memegang peta usang.
"Le," kata Mbah Lestari.
"Ini keris. Ini peta. Aku titipkan padamu."
"Jangan disalahgunakan."
"Jangan diabaikan."
"Jangan dijual."
"Jangan digadaikan."
"Jangan diwariskan pada orang yang tidak bertanggung jawab."
Arga menangis.
"Aku tidak akan, Mbah. Aku janji."
Mbah Lestari dan Mbah Jayarasa tersenyum.
Mereka melambai.
Lalu menghilang.
ARGA SADAR
Arga membuka mata.
Ia masih duduk di ruang tengah. Keris masih di pangkuannya. Cahaya biru keperakan sudah lenyap.
Semua orang memandangnya dengan cemas.
"Mas, kamu baik-baik saja?" tanya Sekar.
"Aku baik-baik saja."
"Kamu nangis."
"Aku nangis karena... aku bertemu Mbah Lestari dan Mbah Jayarasa."
"Di mana?"
"Dalam kilasan."
"Mereka bicara apa?"
"Mereka titip keris dan peta. Mereka pesan jangan disalahgunakan. Mereka minta jaga keluarga."
Sekar memeluk Arga.
"Mas, kamu hebat."
"Aku tidak hebat. Aku hanya dipilih."
MALAM DI RUMAH
Jam sebelas malam, semua pulang.
Arga dan Sekar duduk di beranda.
Langit penuh bintang. Bulan sabit tipis menggantung rendah. Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa ini akhir perjuangan?"
"Iya, Sekar. Ini akhir perjuangan."
"Setelah sekian lama..."
"Setelah sekian lama..."
"Kita akhirnya tahu segalanya."
"Kita akhirnya tahu segalanya."
"Kita akhirnya bisa tenang."
"Kita akhirnya bisa tenang."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
Mereka berpelukan.
BAB 27
PULANG YANG SESUNGGUHNYA
Kilasan masa lalu yang dialami Arga usai menyentuh keris pusaka membawa kedamaian baru bagi Arga. Namun, ada satu pertemuan yang masih ia nantikan, pertemuan dengan Jatmika secara kasat mata, bukan dalam mimpi, bukan dalam kilasan, tetapi nyata di hadapannya. Selama ini, Jatmika hanya muncul dalam mimpi atau sebagai bayangan samar di tepi Kali Wening. Arga belum pernah melihat wajah kakaknya secara jelas sejak ia dewasa.
Dan malam ini, pertemuan itu terjadi.
Bukan di tempat ramai. Bukan di ruang tengah yang dipenuhi keluarga. Tapi di tempat yang paling sunyi, paling personal, paling bermakna bagi mereka berdua: di tepi Kali Wening, di bawah pohon waru yang sudah tua, di batu besar tempat mereka dulu, masih kecil, bermain air dan menangkap ikan.
Sekar ikut. Ia ingin menemani Arga. Ia juga ingin berpamitan pada Jatmika, kakak yang dulu menjadi teman bermainnya, kakak yang dulu melindunginya, kakak yang dulu memilih mati agar ia bebas.
Bayi Jatmika dititipkan pada Sukmawati. Malam itu hanya Arga dan Sekar yang pergi ke Kali Wening.
Mereka berjalan berdua menyusuri pematang sawah. Bulan purnama bersinar terang. Bintang-bintang berkerlap-kerlip. Suara jangkrik mengisi keheningan.
Arga menggandeng tangan Sekar. Tangannya dingin. Gemetar.
"Mas, kamu takut?" bisik Sekar.
"Tidak. Aku hanya... tidak siap."
"Tidak siap apa?"
"Tidak siap berpisah untuk selamanya."
"Tapi ini yang terbaik untuk Jatmika. Dia sudah menderita terlalu lama. Dia sudah gentayangan terlalu lama. Dia sudah menunggu terlalu lama."
"Aku tahu. Tapi tetap saja... berat."
Mereka sampai di tepi Kali Wening.
Air sungai mengalir tenang. Memantulkan cahaya bulan. Ikan-ikan kecil berenang di sela-sela batu. Burung malam sesekali terbang rendah, mencari mangsa.
Di batu besar, seorang anak laki-laki duduk.
Wajahnya bulat. Kulitnya putih. Rambutnya hitam. Matanya sayu, tapi bersinar. Ia memakai baju putih lengan panjang dan celana pendek.
Jatmika.
Arga berhenti.
Sekar berhenti.
Mereka hanya bisa diam.
JATMIKA TERSENYUM
Jatmika berdiri. Ia tersenyum. Senyum yang sama seperti dulu—waktu mereka masih kecil.
"Le, Nduk. Akhirnya kalian datang."
Arga mendekat. Ia ingin memeluk Jatmika. Tapi tangannya menembus tubuh Jatmika.
"Maaf, Le. Aku masih arwah. Tidak bisa disentuh."
"Aku tahu. Tapi aku tetap ingin memelukmu."
"Kamu bisa memelukku secara roh. Pejamkan mata. Rasakan."
Arga memejamkan mata.
Ia merasakan kehangatan.
Kehangatan yang familiar.
Kehangatan Jatmika.
"Aku sayang kamu, Le."
"Aku juga sayang kamu."
Mereka berpelukan secara roh.
Tidak bersentuhan.
Tapi terasa.
JATMIKA BICARA
Jatmika duduk kembali di batu besar.
Arga dan Sekar duduk di depannya.
"Le, Nduk, aku akan pergi."
"Kami tahu."
"Untuk selamanya."
"Kami tahu."
"Jangan sedih."
Arga menunduk. Air matanya jatuh.
"Aku tidak sedih. Aku hanya... kehilangan."
"Kamu tidak kehilangan. Aku akan selalu di hatimu. Di hati Sekar. Di hati bayi Jatmika."
"Apa kamu akan kembali?"
"Tidak. Ini perpisahan selamanya."
Mereka bertiga diam.
Air sungai mengalir tenang.
Ikan-ikan kecil berenang riang.
Burung malam terbang rendah.
"Le."
"Iya."
"Jaga Sekar. Jaga bayi Jatmika. Jaga keluarga. Jaga desa."
"Aku akan."
"Nduk."
"Iya."
"Jaga Arga. Jaga baby Jatmika. Jaga kesehatan. Jaga kebahagiaan."
"Aku akan."
"Aku pamit."
"Selamat jalan."
Jatmika tersenyum.
Cahaya putih menyelimuti tubuhnya.
Ia melambai.
Perlahan menghilang.
Meninggalkan batu besar kosong.
Meninggalkan Kali Wening yang tenang.
Meninggalkan Arga dan Sekar yang menangis.
PULANG KE RUMAH
Jam sebelas malam, Arga dan Sekar pulang.
Bayi Jatmika sudah tidur nyenyak di kamar.
Sukmawati dan Sastro di ruang tengah, menunggu.
"Bagaimana, Le?" tanya Sukmawati.
"Jatmika pergi, Bu. Untuk selamanya."
Sukmawati menangis.
"Jatmika..."
"Ibu jangan sedih. Dia sudah tenang. Dia sudah bahagia. Dia sudah pergi dengan damai."
"Apa dia bilang?"
"Dia bilang, titip bayi Jatmika. Semoga menjadi anak yang sholeh. Semoga menjadi kebanggaan keluarga."
Sukmawati mengusap air matanya.
"Amin."
MALAM DI RUMAH
Jam dua belas malam, Arga dan Sekar masuk kamar.
Bayi Jatmika tidur di samping mereka.
Langit masih penuh bintang. Bulan purnama masih bersinar terang. Suara jangkrik masih mengisi keheningan.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan selamat?"
"Kita akan selamat."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena Jatmika sudah tenang. Dia tidak akan gentayangan lagi. Dia tidak akan mengganggu kita lagi. Dia hanya akan menjaga kita dari alam sana."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
Mereka berpelukan.
BAB 28
PESTA DESA
Kepergian Jatmika untuk selamanya ke alam baka membawa kedamaian bagi seluruh keluarga. Arga dan Sekar tidak lagi diselimuti rasa khawatir akan kemunculan arwah kakaknya. Mereka bisa fokus pada kehidupan baru sebagai orang tua. Tapi ada satu hal yang masih mengganjal di hati warga desa Wringinrejo: suasana desa yang sempat tegang akibat konflik dengan Pak Kades dan preman-preman bayarannya. Warga desa butuh hiburan. Warga desa butuh kebersamaan. Warga desa butuh pesta.
Ratri, yang kini sudah resmi menjadi Kepala Desa definitif setelah melalui pemilihan yang demokratis, mengusulkan diadakannya pesta desa. Bukan pesta mewah yang menguras kas desa. Tapi pesta sederhana yang diadakan di halaman balai desa. Makan bersama. Tumpengan. Doa bersama. Tarian tradisional. Pentas seni. Dan tentu saja, pecel buatan Mbok Sekar.
"Mas Arga, bagaimana?" tanya Ratri setelah menyampaikan usulannya.
"Setuju, Rat. Aku setuju. Tapi sekalian merayakan dua hal."
"Apa?"
"Pertama, kemenangan kita melawan Pak Kades. Kedua, kelahiran bayi Jatmika."
"Bagus. Aku setuju."
Ratri pun mengumumkan pesta desa kepada warga melalui pengeras suara di balai desa.
Warga bersorak.
"PESTA! PESTA! PESTA!"
PERSIAPAN PESTA
Hari Sabtu, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah. Halaman balai desa mulai dipenuhi oleh warga yang membantu persiapan.
Ibu-ibu sibuk memasak. Nasi tumpeng. Ayam ingkung. Sayur lodeh. Sambal goreng. Kerupuk. Jajanan pasar. Dan tentu saja, pecel buatan Mbok Sekar.
Bapak-bapak sibuk mendirikan tenda. Kursi kayu. Meja kayu. Panggung darurat untuk pentas seni.
Anak-anak berlarian riang. Ada yang membantu. Ada yang mengganggu. Ada yang hanya ingin jajan.
Ratri memimpin koordinasi.
"Bu Sri, tolong bagian nasi tumpeng."
"Siap, Bu Lurah."
"Pak Karto, tolong bagian pentas seni."
"Siap, Bu Lurah."
"Mbah Tarni, tolong bagian doa."
"Siap, Nduk."
Arga dan Sekar datang dengan bayi Jatmika.
"Mbak Sekar, titip bayi Jatmika pada siapa?" tanya Ratri.
"Pada Mbah Tarni. Dia yang minta."
"Bagus. Mbah Tarni pasti senang."
Bayi Jatmika digendong Mbah Tarni. Wajahnya tersenyum. Matanya berbinar.
"Nduk, Mbah dulu juga sering gendong Arga waktu kecil."
"Dia lucu, ya, Mbah?"
"Lucu. Matanya mirip Arga."
"Tapi hidungnya mirip saya."
"Ya, mirip kalian berdua."
Mereka tertawa.
DOA BERSAMA
Jam empat sore, pesta dimulai.
Mbah Tarni memimpin doa.
"Ya Allah, terima kasih atas kemenangan yang telah Engkau berikan kepada Arga dan timnya. Semoga keadilan selalu tegak di desa ini."
"Ya Allah, terima kasih atas kelahiran bayi Jatmika. Semoga menjadi anak yang sholeh. Semoga menjadi kebanggaan keluarga. Semoga menjadi penerus perjuangan."
"Ya Allah, terima kasih atas keselamatan desa ini. Semoga ke depan, desa Wringinrejo menjadi desa yang tentram, makmur, dan diberkahi."
"Ya Allah, terima kasih atas semua nikmat yang telah Engkau berikan. Kami bersyukur. Kami tidak akan lupa."
"Amin."
Semua mengamini.
TARI REMO
Setelah doa, acara dilanjutkan dengan tari Remo, tarian khas Jawa Timur yang dibawakan oleh ibu-ibu PKK.
Mereka menari dengan lincah meskipun usia sudah tidak muda. Wajah mereka berseri-seri. Senyum mereka mengembang.
Warga bertepuk tangan.
"Wah, Bu Sri lincah banget," kata Bu Parti.
"Dia dulu penari, katanya."
"Wah, hebat."
Selesai tari Remo, dilanjutkan tari Jaranan, tarian khas Jawa Tengah dengan kuda lumping.
Anak-anak kecil ikut menari di depan panggung. Lucu. Menggemaskan.
Bayi Jatmika yang digendong Mbah Tarni ikut tersenyum.
"Nduk, bayi Jatmika tersenyum," kata Mbah Tarni.
"Lihat tarian, mungkin."
"Atau lihat Arga."
"Bisa jadi."
PERTUNJUKAN WAYANG
Jam enam sore, acara dilanjutkan dengan pertunjukan wayang kulit.
Dalangnya terkenal dari kecamatan tetangga. Ceritanya: "Lahirnya Gatotkaca" kisah tentang kelahiran tokoh pewayangan yang kuat dan sakti.
Arga duduk di samping Sekar.
"Mas, dulu kamu lahir juga dengan pertanda aneh. Kayak Gatotkaca."
"Tapi aku tidak sakti."
"Kamu sakti. Kamu bisa lihat hal-hal yang tidak bisa dilihat orang lain. Kamu bisa dengar suara-suara yang tidak bisa didengar orang lain. Itu kesaktian."
"Kalau itu mah namanya aneh."
"Bukan aneh. Istimewa."
Mereka tersenyum.
MAKAN BERSAMA
Jam delapan malam, acara dilanjutkan dengan makan bersama.
Nasi tumpeng dipotong oleh Arga dan Sekar.
Potongan pertama untuk Sukmawati.
"Terima kasih, Bu."
"Potongan kedua untuk Sastro."
"Terima kasih, Yah."
"Potongan ketiga untuk Mbah Tarni."
"Terima kasih, Nduk."
Potongan keempat dan seterusnya untuk warga.
Mereka makan dengan lahap. Tertawa. Bercerita.
"Bu Lurah, kapan punya pacar? tanya Bu Sri.
"Entahlah, Bu. Masih fokus kerja."
"Jangan terlalu fokus. Nanti kesepian."
"Biar. Yang penting desa ini maju."
BAKARAN
Jam sepuluh malam, acara dilanjutkan dengan bakaran.
Kambing guling yang sudah dipesan dari kecamatan.
Warga antre.
"Bu Lurah, porsinya banyak," kata Pak Karto.
"Banyak. Biar semua kebagian."
"Bagus."
Arga dan Sekar mendapat porsi kaki kambing.
"Ini bagian terenak," kata Arga.
"Kaki?"
"Iya. Dikit tulang. Banyak daging."
"Kamu suka?"
"Iya."
Mereka makan bakaran dengan nasi hangat.
PESTA BERAKHIR
Jam dua belas malam, pesta selesai.
Warga pulang satu per satu.
Ada yang jalan kaki. Ada yang naik sepeda motor. Ada yang naik gerobak.
Arga, Sekar, Sukmawati, Sastro, dan Mbah Tarni pulang bersama.
Bayi Jatmika sudah tidur.
"Dia tidak rewel," kata Sekar.
"Anak baik."
"Mirip ayahnya."
"Mirip ibunya."
Mereka tersenyum.
MALAM DI RUMAH
Jam dua belas lebih, Arga dan Sekar masuk kamar.
Mereka berbaring di dipan.
Bayi Jatmika di samping mereka.
Langit masih penuh bintang. Bulan purnama masih bersinar terang.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa ini akhir perjuangan?"
"Iya, Sekar. Ini akhir perjuangan."
"Setelah sekian lama..."
"Setelah sekian lama..."
"Kita akhirnya bisa pesta."
"Kita akhirnya bisa pesta."
"Kita akhirnya bisa bersukacita."
"Kita akhirnya bisa bersukacita."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
Mereka berpelukan.
BAB 29
PULANGNYANG SESUNGGUHNYA
Pesta desa yang meriah telah usai. Warga kembali ke rumah masing-masing dengan perut kenyang dan hati senang. Kemenangan melawan Pak Kades, kelahiran bayi Jatmika, dan kebersamaan yang terjalin selama pesta membuat desa Wringinrejo terasa lebih hangat dari biasanya. Tapi bagi Arga, ada satu hal yang masih harus ia renungkan. Satu pertanyaan yang belum sepenuhnya ia jawab. Pertanyaan yang mungkin tidak bisa dijawab oleh orang lain, hanya oleh dirinya sendiri.
Apa arti pulang?
Selama ini, ia mengira pulang adalah kembali ke desa. Kembali ke rumah. Kembali ke keluarga. Kembali ke tempat di mana ia dilahirkan dan dibesarkan.
Tapi setelah melalui semua perjuangan, melawan Ferry, mencari Sekar, menghadapi Pak Kades, mengungkap misteri Mbah Lestari, menemukan pusaka desa, dan menyaksikan kepergian Jatmika untuk selamanya, Arga mulai sadar bahwa pulang bukan hanya tentang tempat. Pulang adalah tentang hati. Pulang adalah tentang kedamaian. Pulang adalah tentang menerima masa lalu, mensyukuri masa kini, dan menyambut masa depan dengan penuh harapan.
Dan malam ini, di bawah pohon randu Bukit Watu Senja, ditemani Sekar dan bayi Jatmika yang tertidur pulas di gendongan ibunya, Arga merenungkan arti pulang yang sesungguhnya.
MALAM YANG SUNYI
Jam delapan malam, langit cerah. Bulan purnama bersinar terang. Bintang-bintang berkerlap-kerlip. Angin malam berembus sepoi-sepoi, membawa aroma bunga melati dari halaman rumah warga.
Arga, Sekar, dan bayi Jatmika berjalan kaki menuju Bukit Watu Senja. Sukmawati dan Sastro tidak ikut, mereka sengaja memberi waktu untuk keluarga kecil itu.
"Mas, dingin," bisik Sekar.
"Pegang tanganku."
Sekar menggenggam tangan Arga. Hangat. Meskipun udara dingin.
"Sekar, gimana Jatmika?"
"Tidur. Pulas."
"Bagus. Jangan sampai kedinginan."
"Aku sudah selimuti."
DI BAWAH POHON RANDU
Jam setengah sembilan, mereka tiba di bawah pohon randu.
Pohon itu masih sama. Batangnya besar, akarnya menjalar ke tanah, cabangnya melebar seperti tangan raksasa. Daun-daunnya rimbun, menghalangi cahaya bulan, menciptakan bayangan-bayangan yang menari-nari di tanah.
Arga duduk di akar pohon yang besar. Sekar duduk di sampingnya, menyandarkan kepala di bahu Arga. Bayi Jatmika tidur di gendongan, sesekali bergerak kecil, sesekali tersenyum dalam tidurnya.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Kenapa kita ke sini?"
"Aku ingin merenung."
"Renenung apa?"
"Pulang."
"Pulang ke mana? Kita sudah di rumah."
"Bukan pulang ke rumah. Pulang ke hati."
Sekar tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya diam. Menikmati keheningan. Menikmati kebersamaan.
KENANGAN MASA LALU
Arga memejamkan mata.
Ia mengingat masa kecilnya.
Ketika ia masih kecil, ia sering mendengar suara aneh. Suara angin yang berbisik. Suara air sungai yang berbicara. Suara Jatmika yang memanggil namanya dari kejauhan.
Ia mengingat masa remajanya.
Ketika ia mulai berteman dengan Sekar. Ketika ia mulai jatuh cinta. Ketika ia mulai berani bermimpi tentang masa depan.
Ia mengingat masa sulitnya.
Ketika Sekar dijodohkan dengan Ferry. Ketika ia pergi ke kota sendirian. Ketika ia bertemu teman-teman baru. Ketika ia berjuang mati-matian menyelamatkan Sekar.
Ia mengingat masa perjuangannya.
Ketika ia melawan Pak Kades. Ketika ia membongkar korupsi. Ketika ia menemukan pusaka desa. Ketika ia menyaksikan Jatmika pergi untuk selamanya.
Ia mengingat masa kini.
Ketika ia menikah dengan Sekar. Ketika ia memiliki bayi Jatmika. Ketika ia hidup damai di desa. Ketika ia dikelilingi oleh keluarga dan teman-teman yang peduli.
"Apa arti pulang?" bisiknya dalam hati.
ARTI PULANG
Arga membuka mata.
Ia memandang Sekar.
Ia memandang bayi Jatmika.
Ia memandang pohon randu.
Ia memandang langit.
Ia memandang desa Wringinrejo dari ketinggian.
"Pulang," bisiknya. "Bukan tentang tempat. Tapi tentang hati."
"Pulang adalah ketika aku bisa tersenyum melihat masa lalu, tanpa harus menangis."
"Pulang adalah ketika aku bisa menikmati masa kini, tanpa harus khawatir."
"Pulang adalah ketika aku bisa menyambut masa depan, tanpa harus takut."
"Pulang adalah ketika aku bersama orang-orang yang kucintai."
"Pulang adalah ketika aku berada di samping Sekar."
"Pulang adalah ketika aku memangku bayi Jatmika."
"Pulang adalah ketika aku duduk di bawah pohon randu ini, ditemani angin malam dan cahaya bulan."
"Pulang adalah... sekarang."
Air mata Arga jatuh.
"Mas, kenapa nangis?" tanya Sekar.
"Aku... bahagia."
"Bahagia kenapa?"
"Karena aku akhirnya mengerti."
"Mengerti apa?"
"Arti pulang."
SEKAR BICARA
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Mas, aku juga mengerti."
"Kamu mengerti apa?"
"Arti pulang. Bagiku, pulang adalah ketika aku bersama kamu. Ketika aku bersama bayi Jatmika. Ketika aku bersama keluarga. Ketika aku dikelilingi oleh orang-orang yang mencintaiku."
"Bukan tentang desa?"
"Desa adalah tempat. Tapi hati adalah rumah. Dan rumahku ada di sampingmu."
Arga memeluk Sekar.
"Terima kasih, Sekar."
"Jangan berterima kasih. Kita suami istri. Kita satu."
Mereka berpelukan.
Bayi Jatmika ikut merangkul, dengan tangan mungilnya.
MALAM DI BAWAH POHON RANDU
Jam sepuluh malam, mereka masih duduk di bawah pohon randu.
Tidak ada yang bicara.
Hanya keheningan.
Hanya kebersamaan.
Hanya cinta.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa kita akan ke sini lagi?"
"Kapan?"
"Entah. Besok. Lusa. Bulan depan. Tahun depan. Yang penting, kita selalu bersama."
"Iya. Kita selalu bersama."
Mereka tersenyum.
PULANG KE RUMAH
Jam sebelas malam, mereka pulang.
Bayi Jatmika masih tidur nyenyak.
Sukmawati dan Sastro sudah menunggu di halaman.
"Le, Nduk, sudah? Kok lama?"
"Maaf, Bu. Lama merenung."
"Renenung apa?"
"Arti pulang."
"Lalu?"
"Sekarang aku mengerti."
"Apa artinya?"
"Pulang adalah ketika aku bersama orang yang kucintai. Di mana pun."
Sukmawati tersenyum.
"Bagus. Sekarang masuk. Nanti dingin."
MALAM DI KAMAR
Jam dua belas malam, Arga dan Sekar masuk kamar.
Bayi Jatmika tidur di samping mereka.
Arga membuka jendela.
Udara malam masuk. Dingin. Tapi tidak terlalu dingin.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa ini akhir perjuangan?"
"Iya, Sekar. Ini akhir perjuangan."
"Setelah sekian lama..."
"Setelah sekian lama..."
"Kita akhirnya bisa merenung."
"Kita akhirnya bisa merenung."
"Kita akhirnya bisa memahami."
"Kita akhirnya bisa memahami."
"Kita akhirnya bisa pulang."
"Kita akhirnya bisa pulang."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
Mereka berpelukan.
BAB 30
JALAN PULANG YANG PANJANG
Setelah merenungkan arti pulang yang sesungguhnya di bawah pohon randu Bukit Watu Senja, Arga, Sekar, dan bayi Jatmika akhirnya berjalan pulang ke rumah. Perjalanan yang biasanya hanya memakan waktu tiga puluh menit, kali ini terasa lebih lama. Bukan karena medan yang berat. Bukan karena kegelapan malam. Bukan karena kelelahan. Tapi karena setiap langkah terasa penuh makna. Setiap langkah adalah simbol bahwa perjalanan panjang mereka, yang dimulai dari desa ini, terus berliku ke kota, berhadapan dengan preman, pengacara, hakim, bahkan makhluk halus, kini telah usai.
Arga berjalan di depan, memegang senter. Sekar berjalan di sampingnya, memangku bayi Jatmika yang tertidur pulas. Sesekali mereka berhenti, memandang langit yang dipenuhi bintang, memandang sawah yang mulai menguning, memandang desa yangsunyi namun damai.
"Mas, kenapa jalan kita lama?" tanya Sekar.
"Karena aku ingin menikmati setiap langkah."
"Kenapa?"
"Karena ini mungkin terakhir kali kita berjalan di malam hari seperti ini. Tanpa beban. Tanpa ancaman. Tanpa rasa takut."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Pak Kades sudah di penjara. Danu sudah di penjara. Preman-preman sudah tidak berkeliaran. Ferry sudah di penjara. Jatmika sudah pergi. Mbah Lestari sudah tenang. Semua konflik sudah selesai."
"Lalu?"
"Sekarang, kita hanya perlu menikmati hidup. Menjadi orang tua. Membesarkan Jatmika. Mengelola sawah. Menjaga warung pecel. Dan sesekali, berkunjung ke Jogja untuk bertemu teman-teman."
Sekar tersenyum.
"Kamu sudah tidak sabar menjadi ayah yang baik."
"Aku sudah menjadi ayah. Sejak bayi Jatmika lahir."
"Tapi kamu masih belajar."
"Iya. Aku masih belajar. Setiap hari. Setiap saat."
DI PERSIMPANGAN
Mereka sampai di persimpangan jalan. Di sebelah kiri, jalan menuju rumah mereka. Di sebelah kanan, jalan menuju makam Mbah Raras dan batu hitam Mbah Lestari. Di depan, jalan menuju Kali Wening. Di belakang, jalan menuju Bukit Watu Senja dan pohon randu.
Arga berhenti.
"Mas, kenapa berhenti?" tanya Sekar.
"Aku ingin berdoa."
"Berdoa apa?"
"Berdoa untuk semua yang telah membantu kita. Untuk Mbah Lestari. Untuk Mbah Raras. Untuk Mbah Jayarasa. Untuk Jatmika. Untuk Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan. Untuk Sukmawati dan Sastro. Untuk Mbah Tarni. Untuk semua warga desa Wringinrejo yang telah mendukung."
"Juga untuk Pak Kades dan Danu?"
Arga terdiam sejenak.
"Juga untuk mereka. Semoga mereka bertobat. Semoga mereka mendapat hidayah. Semoga mereka tidak mengulangi kesalahan yang sama."
"Kamu baik, Mas."
"Aku tidak baik. Aku hanya ingin hidup damai."
Mereka berdoa bersama.
Bayi Jatmika terbangun. Ia menangis kecil.
"Ah, Jatmika bangun," kata Sekar.
"Mungkin dia ingin ikut berdoa."
"Bisa jadi."
Bayi Jatmika berhenti menangis. Ia tersenyum. Lalu tidur lagi.
"Lucu," kata Arga.
"Mirip kamu."
"Hidungnya mirip kamu."
"Matanya mirip kamu."
Mereka tertawa kecil.
DI DEPAN RUMAH PAK KADES
Mereka melewati rumah Pak Kades. Rumah itu kini gelap. Tidak ada lampu. Tidak ada suara. Halaman ditumbuhi rumput liar. Pagar besi sudah berkarat.
"Mas, dulu kita pernah bertengkar di sini," kata Sekar.
"Iya. Waktu aku marah-marah."
"Sekarang?"
"Sekarang, aku hanya bisa tersenyum. Mengingat betapa bodohnya kita dulu. Bertengkar untuk hal yang tidak penting."
"Tapi itu penting. Itu menunjukkan bahwa kita tidak takut. Itu menunjukkan bahwa kita berani. Itu menunjukkan bahwa kita peduli."
"Kamu benar. Tapi sekarang, lebih baik kita fokus pada hal-hal yang positif."
"Setuju."
DI DEPAN RUMAH MBAH TARNI
Mereka melewati rumah Mbah Tarni. Rumah itu masih terang, lampu minyak menyala di ruang tamu. Mbah Tarni mungkin belum tidur.
"Mas, kita mampir?"
"Tidak. Nanti besok pagi."
"Mbah Tarni pasti sudah menunggu."
"Besok. Janji."
Mereka melanjutkan perjalanan.
DI DEPAN RUMAH RATRI
Mereka melewati rumah Ratri. Rumah itu gelap. Ratri sudah tidur, ia pasti kelelahan setelah memimpin pesta desa.
"Mas, Ratri hebat," kata Sekar.
"Iya. Dia sudah berubah. Dari perangkat desa biasa, menjadi kepala desa."
"Karena kita."
"Bukan karena kita. Karena dia sendiri. Dia berani. Dia peduli. Dia tidak takut."
"Kita juga pernah berjasa."
"Sedikit. Tapi jangan besar kepala."
Mereka tersenyum.
DI DEPAN RUMAH SUKMAWATI DAN SASTRO
Mereka melewati rumah Sukmawati dan Sastro. Rumah itu masih terang, lampu minyak menyala di ruang tengah. Sukmawati dan Sastro mungkin belum tidur, menunggu mereka pulang.
"Bu, Yah, kami pulang," teriak Arga dari luar.
"Masuk, Le. Ibu buatkan teh jahe."
"Nanti, Bu. Sekar masih gendong bayi."
"Masuk saja. Nanti bayi Jatmika bisa tidur di kamar."
"Baik, Bu."
DI RUANG TENGAH
Mereka masuk ke ruang tengah.
Sukmawati menyuguhkan teh jahe dan pisang goreng.
Sastro duduk di kursi bambu.
"Le, Nduk, kok lama?" tanya Sukmawati.
"Tadi mampir di pohon randu, Bu. Renung-renung."
"Renenung apa?"
"Arti pulang."
"Lalu?"
"Aku sudah mengerti."
"Apa artinya?"
"Pulang adalah ketika aku bersama orang yang kucintai. Di mana pun."
Sukmawati tersenyum.
"Bagus. Sekarang minum teh jahe. Nanti dingin."
MALAM DI RUANG TENGAH
Mereka minum teh jahe bersama.
Sukmawati menceritakan masa lalunya.
Sastro hanya diam, sesekali tersenyum.
"Le, dulu waktu kamu lahir, Ibu sempat khawatir. Kamu lahir dengan pertanda aneh. Kilat tanpa suara. Anjing melolong. Lampu minyak menyala sendiri."
"Ibu takut. Ibu pikir kamu anak setan."
"Tapi sekarang, Ibu bangga. Kamu bukan anak setan. Kamu anak hebat. Kamu anak pemberani. Kamu anak yang berhasil menyelamatkan desa ini."
Arga memeluk ibunya.
"Terima kasih, Bu."
"Jangan berterima kasih. Tugas ibu."
MALAM DI KAMAR
Jam dua belas malam, Arga dan Sekar masuk kamar.
Bayi Jatmika tidur di samping mereka.
Arga membuka jendela.
Udara malam masuk. Dingin. Tapi tidak terlalu dingin.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa ini akhir perjuangan?"
"Iya, Sekar. Ini akhir perjuangan."
"Setelah sekian lama..."
"Setelah sekian lama..."
"Kita akhirnya bisa berjalan bersama."
"Kita akhirnya bisa berjalan bersama."
"Kita akhirnya bisa menikmati perjalanan."
"Kita akhirnya bisa menikmati perjalanan."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
Mereka berpelukan.
BAB 31
PETA YANG TERISI PENUH
Tiga tahun telah berlalu sejak malam ketika Arga merenungkan arti pulang di bawah pohon randu Bukit Watu Senja. Tiga tahun yang penuh dengan kebahagiaan sederhana, tangisan bayi, tawa lepas, dan kedamaian yang selama ini mereka perjuangkan. Sawah di belakang rumah telah beberapa kali dipanen. Warung pecel Mbok Sekar semakin ramai dan terkenal hingga ke kecamatan. Bayi Jatmika kini telah tumbuh menjadi balita yang lincah, cerdas, dan memiliki mata yang sama seperti Arga, mata yang bisa melihat lebih dari yang dilihat orang lain.
Tapi kemampuan itu tidak membuat Arga khawatir. Ia justru bersyukur. Karena ia tahu, Jatmika kecil akan mewarisi kemampuannya. Dan ia akan mendampingi, membimbing, dan melindungi, seperti Mbah Lestari dulu mendampingi, membimbing, dan melindungi dirinya.
Hari ini, mereka berkumpul kembali di ruang tengah rumah Arga. Bukan untuk rapat darurat. Bukan untuk menghadapi musuh. Tapi untuk merayakan sebuah pencapaian: peta usang pemberian Mbah Jayarasa telah terisi penuh.
Peta yang dulu kosong, hanya ada garis-garis samar dan lingkaran merah dengan tulisan "Di sini, dia pernah menangis", kini penuh dengan garis. Garis-garis yang menceritakan perjalanan Arga dari desa ke kota, dari kota kembali ke desa. Garis-garis yang menceritakan pertemuannya dengan Sekar, Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, Pak Bondan, dan Mbah Tarni. Garis-garis yang menceritakan perjuangannya melawan Ferry, melawan Pak Kades, melawan Danu, melawan preman. Garis-garis yang menceritakan kemenangannya. Garis-garis yang menceritakan kebahagiaannya.
Arga membingkai peta itu dan menggantungnya di dinding ruang tengah. Sebagai pengingat bahwa perjalanan panjang telah usai. Sebagai pengingat bahwa ia tidak sendirian. Sebagai pengingat bahwa kebenaran akan selalu menang.
PAGI YANG CERAH
Hari Minggu, langit cerah. Matahari bersinar terik. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas hamparan padi yang mulai menguning. Warung pecel Mbok Sekar ramai sejak pukul setengah tujuh—seperti biasa. Tapi hari ini, warung tutup lebih awal. Ada acara keluarga di rumah Arga.
"Bu, nasi tumpengnya sudah siap?" tanya Sekar.
"Sudah, Nduk. Ibu sudah siapkan sejak subuh."
"Ayam ingkung?"
"Sudah."
"Sayur lodeh?"
"Sudah."
"Sambal goreng?"
"Sudah."
"Kerupuk?"
"Sudah."
"Jajanan pasar?"
"Sudah. Lengkap."
"Terima kasih, Bu."
"Jangan berterima kasih. Ibu senang bisa masak untuk keluarga."
TAMU DATANG
Jam sepuluh pagi, tamu mulai berdatangan.
Guntur dan Laras datang dari Belanda, mereka pulang untuk liburan panjang sambil menunggu kelahiran anak kedua mereka. Laras kini hamil enam bulan. Perutnya sudah mulai membesar.
Faruq dan Nisa datang dari Jogja, mereka sudah menikah setahun lalu dan kini tinggal di rumah sederhana dekat kampus. Faruq bekerja sebagai dokter di rumah sakit swasta. Nisa bekerja sebagai jurnalis lepas.
Dimas datang dari Jakarta, ia kini menjadi teknisi jaringan di perusahaan telekomunikasi. Gajinya besar. Tapi ia tetap rendah hati. Ia membawa oleh-oleh untuk semua.
Ratri datang dari balai desa, ia masih menjabat sebagai Kepala Desa Wringinrejo. Wajahnya lelah tapi berseri. Desanya maju. Banyak program pembangunan.
Samsul datang dari kampungnya, ia kini memiliki usaha ternak ayam. Hidupnya berkecukupan. Anak-anaknya sekolah hingga SMA.
Pak Bondan datang dari Jogja, ia sudah pensiun dari toko bangunan. Toko itu kini dikelola oleh anak dan menantunya. Pak Bondan sering berkunjung ke desa untuk main ke rumah Arga.
Mbah Tarni datang dengan tongkatnya, ia sudah sangat tua, hampir sembilan puluh tahun. Matanya hampir buta. Kakinya hampir lumpuh. Tapi semangatnya masih membara.
Sukmawati, Sastro, Arga, Sekar, dan Jatmika kecil (kini berusia tiga tahun) menyambut mereka.
"SELAMAT DATANG!" teriak Arga.
"SELAMAT DATANG!" teriak Jatmika kecil.
MAKAN BERSAMA
Mereka makan bersama di ruang tengah.
Nasi tumpeng dipotong oleh Arga dan Sekar.
Potongan pertama untuk Mbah Tarni.
"Terima kasih, Nduk."
"Potongan kedua untuk Sukmawati dan Sastro."
"Terima kasih, Le."
"Potongan ketiga untuk Guntur, Laras, dan calon bayi."
"Terima kasih, Arga."
Potongan keempat dan seterusnya untuk semua.
Mereka makan dengan lahap. Tertawa. Bercerita.
"Guntur, kabar dari Belanda?" tanya Faruq.
"Baik. Program S3 sudah selesai. Sekarang mengajar di universitas."
"Laras?"
"Juga mengajar. Jurusan Antropologi."
"Anak pertama?"
"Sudah sekolah. Usia empat tahun."
"Anak kedua?"
"Sebentar lagi. Perempuan."
"Wah, selamat."
BERBAGI CERITA
Setelah makan, mereka duduk melingkar di ruang tengah. Sambil minum teh jahe dan makan pisang goreng.
"Mas Arga, cerita tentang peta," kata Nisa.
Arga berdiri. Ia mengambil peta usang yang telah dibingkai dari dinding.
"Ini. Peta dari Mbah Jayarasa. Dulu kosong. Hanya ada garis-garis samar. Dan lingkaran merah dengan tulisan 'Di sini, dia pernah menangis'."
"Sekarang?"
"Sekarang penuh. Garis dari desa ke kota. Garis dari kota kembali ke desa. Garis pertemuan dengan kalian. Garis perjuangan melawan Ferry. Garis perjuangan melawan Pak Kades. Garis kemenangan. Garis kebahagiaan."
"Wow," kata Dimas.
"Kalian semua ada di peta ini. Guntur. Laras. Faruq. Nisa. Dimas. Ratri. Samsul. Pak Bondan. Mbah Tarni. Sukmawati. Sastro. Sekar. Jatmika kecil. Jatmika kakak."
"Jatmika kakak?" tanya Faruq.
"Iya. Namanya tertulis di sini. 'Jatmika, kakak Arga. Yang telah pergi dengan damai.'"
Ruangan hening.
Mereka memandang peta itu dengan haru.
PESAN MBAH JAYARASA
Arga membuka amplop coklat tua, amplop yang dulu diberikan Mbah Jayarasa sebelum meninggal. Berisi surat wasiat dan peta awal.
"Le, jika kau membaca surat ini, berarti kau sudah sampai di titik di mana aku dulu gagal."
"Jangan ulangi kesalahanku. Jangan percaya pada siapa pun sebelum kau benar-benar yakin. Jangan menyerah meskipun semua orang meninggalkanmu. Jangan biarkan kemarahan membunuh kemanusiaanmu."
"Kau punya teman. Aku dulu tidak punya. Manfaatkan mereka. Jaga mereka. Mereka adalah kekuatanmu."
"Sekar masih menunggumu. Jangan biarkan dia menunggu terlalu lama."
"—Mbah Jayarasa"
Arga menutup surat itu.
"Terima kasih, Mbah Jayarasa. Aku tidak akan mengecewakanmu."
JATMIKA KECIL
Jatmika kecil berlari-larian di antara tamu.
"Om Guntur! Om Guntur!"
"Iya, Le."
"Aku mau naik pesawat."
"Ke mana?"
"Ke Belanda! Lihat salju!"
"Wah, keberanianmu seperti ayahmu."
Jatmika kecil tertawa.
Ia mendekati Mbah Tarni.
"Mbah, Mbah, aku bisa lihat hantu."
"Apa?"
"Iya. Tadi malam, ada kakek-kakek di kamarku. Senyum-senyum."
Mbah Tarni terkejut. "Kakek-kakek? Siapa?"
"Aku tidak tahu. Tapi dia bilang, dia bangga padaku."
Mbah Tarni memandang Arga.
Arga tersenyum. "Mbah Jayarasa, mungkin."
Atau Mbah Lestari."
Atau Jatmika."
"Atau semuanya."
Mbah Tarni mengusap rambut Jatmika kecil.
"Nduk, itu arwah baik. Jangan takut."
"Aku tidak takut, Mbah. Aku malah senang."
Tamu-tamu tersenyum.
FOTO BERSAMA
Jam dua siang, mereka berfoto bersama di halaman rumah.
Ratri yang memotret.
"Semua senyum!"
"Mari, tiga... dua... satu... CHEESE!"
Jepret.
Foto itu dicetak dan dibingkai.
Diletakkan di samping peta usang Mbah Jayarasa.
Sebagai pengingat bahwa kebersamaan adalah kekuatan.
PAMITAN
Jam empat sore, tamu mulai pulang.
Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Samsul, Pak Bondan, kembali ke kota masing-masing.
Ratri kembali ke balai desa.
Mbah Tarni pulang ke rumahnya.
Sukmawati dan Sastro masuk ke dalam rumah.
Arga, Sekar, dan Jatmika kecil duduk di beranda.
Langit sore berwarna jingga keemasan.
Burung-burung pulang ke sarang.
Suara anak-anak bermain mulai menghilang.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Apa ini akhir dari perjalanan?"
"Iya, Sekar. Ini akhir dari perjalanan."
"Setelah sekian lama..."
"Setelah sekian lama..."
"Kita akhirnya bisa tenang."
"Kita akhirnya bisa tenang."
"Kita akhirnya bisa bahagia."
"Kita akhirnya bisa bahagia."
Sekar menggenggam tangan Arga.
"Selamanya."
"Selamanya."
Mereka berpelukan.
Jatmika kecil ikut merangkul.
"Bapak, Ibu, aku juga sayang."
"Kami juga sayang, Nak."
EPILOG
Tilas Lakon | Jejak Perjalanan
Lima tahun setelah peta usang Mbah Jayarasa terisi penuh.
Mentari pagi di Wringinrejo tidak pernah berubah. Ia tetap terbit dari balik Bukit Watu Senja, merayap perlahan di atas hamparan sawah yang hijau menguning, membangunkan burung-burung pipit yang setia mencari bulir padi yang jatuh. Kabut tipis masih setia bergelayut di sela-sela pepohonan, seolah enggan meninggalkan desa yang kini dikenal sebagai Desa Wisata Pengembara.
Warung pecel Mbok Sekar tidak lagi berupa tenda bambu sederhana. Kini ia berdiri kokoh dengan bangunan kayu jati, beranda luas yang menghadap ke sawah, serta papan nama baru bertuliskan:
"PECEL MBAH SEKAR & KELUARGA"
"Rasane kangen, rasane bali."
Di dalam warung itu, dindingnya dipenuhi foto-foto hitam putih dan berwarna. Ada foto Mbah Lestari muda. Foto Mbah Raras tersenyum di depan dapur. Foto Mbah Jayarasa memegang peta usang. Juga foto pertempuran kecil di halaman rumah Arga—yang kini menjadi legenda desa.
Namun, yang paling menonjol adalah sebuah peta besar yang dibingkai kayu ukir. Peta itulah yang dulu kosong, hanya berisi garis samar dan lingkaran merah bertuliskan "Di sini, dia pernah menangis". Kini peta itu penuh dengan garis, titik, dan nama. Peta itu adalah Peta Perjalanan Pengembara Dua Langit. Peta itu adalah kisah Arga. Peta itu adalah kisah mereka semua.
- ARGA: SANG PENGEMBARA YANG TELAH PULANG
Arga kini berusia kepala tiga lebih. Wajahnya tidak lagi setampan dulu—terbakar matahari, garis-garis halus di dahi karena sering merenung, serta jenggot tipis yang ia biarkan tumbuh. Ia tidak lagi memakai kemeja kota seperti ketika bekerja di toko bangunan. Kini ia lebih nyaman dengan lurik dan blangkon, sesekali membawa keris pusaka di balik baju—bukan untuk pamer, tapi karena keris itu sudah seperti bagian dari tubuhnya.
Setiap pagi, Arga ke sawah. Bukan untuk bekerja keras seperti dulu, tapi untuk mengajar. Ia mengajar anak-anak muda desa tentang pertanian organik, tentang menghormati tanah, tentang mendengar bisikan angin dan air—bukan secara mistis, tapi secara rasa. Karena Arga percaya, petani sejati adalah orang yang rumangsa (merasakan) tanamannya.
Setiap sore, ia duduk di warung pecel, melayani pelanggan sambil sesekali bercerita tentang masa lalunya. Anak-anak desa duduk melingkar, mendengarkan dengan mata berbinar.
"Pak Arga, masa sih dulu Bapak pernah melawan preman?" tanya bocah laki-laki dengan topi petani.
"Bukan hanya melawan, Le," jawab Arga sambil tersenyum. "Tapi juga ngajak mereka makan pecel. Setelah kenyang, mereka kapok sendiri."
Anak-anak tertawa. Tapi Arga tidak sepenuhnya bercanda.
Suatu hari, seorang preman bayaran Pak Kades dulu datang ke warung. Wajahnya sudah tua, rambutnya memutih. Ia menangis di depan Arga, meminta maaf. Arga tidak marah. Ia hanya mempersilakan duduk, menyuruh Sekar menyiapkan pecel, dan berkata:
"Mangan dulu. Kowe wis ngelak lan luwe. Suwe ora mampir."
(Makan dulu. Kamu sudah haus dan lapar. Lama tidak mampir.)
Preman itu makan dengan lahap, lalu pergi dengan hati tenang. Sejak itu, ia menjadi pelanggan setia. Kadang membantu membetulkan atap warung yang bocor. Kadang hanya duduk diam, menikmati pecel buatan Sekar.
- SEKAR: DARI BURONAN MENJADI PELINDUNG DESA
Sekar tidak lagi hanya pemilik warung pecel. Ia kini menjadi Ketua PKK Desa Wringinrejo dan Penggerak Bank Sampah. Rumahnya sering dijadikan pusat pelatihan membuat keripik, kerajinan bambu, dan jamu tradisional. Pelatihan itu gratis. Biayanya dari hasil warung.
Sekar juga yang menginisiasi Perpustakaan Desa di bekas rumah Mbah Jayarasa. Ia ingin anak-anak desa memiliki akses buku. Ia ingin mereka tidak buta seperti dulu. Ia ingin mereka bermimpi—dan memiliki keberanian untuk mewujudkannya.
Setiap malam, Sekar masih meluangkan waktu untuk membaca nyaring cerita pengantar tidur untuk Jatmika—dan untuk anak kedua mereka, Larasati, yang kini berusia dua tahun. Nama Larasati diambil dari nama Laras—sahabat yang dulu menjadi mata-mata, yang kemudian menjadi saudara.
"Bu, aku besok mau ke perpustakaan," kata Jatmika yang kini berusia delapan tahun.
"Boleh. Buku apa yang mau kamu baca?"
"Peta lagi. Peta usang peninggalan Mbah Jayarasa."
"Kamu suka peta?"
"Iya. Soalnya di peta itu ada cerita Bapak dan Ibu."
Sekar tersenyum. Ia mengusap rambut Jatmika yang ikal—persis seperti rambut Arga dulu.
"Jangan jadi pengembara dulu, Nak. Nikmati masa kecilmu."
"Tapi aku ingin jadi pemberani kayak Bapak."
"Kamu sudah berani. Dengan membaca buku, kamu berani bermimpi."
- JATMIKA KECIL: MATA KETIGA YANG HIDUP KEMBALI
Jatmika kecil—anak pertama Arga dan Sekar—kini duduk di kelas 3 SD. Ia memiliki kemampuan yang sama seperti Arga. Ia bisa mendengar suara-suara yang tidak didengar orang lain. Ia bisa melihat bayangan yang tidak terlihat oleh teman-temannya. Kadang ia bercerita tentang "Kakek tua yang suka duduk di kursi bambu" (Mbah Jayarasa) atau "Mbah Putih yang menari-nari di kebun" (Mbah Lestari).
Awalnya warga desa gempar. Mereka takut akan terulang lagi "kutukan pengembara dua langit". Tapi Arga dan Sekar segera menenangkan.
"Jatmika tidak pakai keris. Ia tidak perlu. Ia hanya melihat. Dan apa yang ia lihat adalah arwah yang baik. Arwah yang sayang padanya."
Arga mengajari Jatmika cara menutup mata batinnya ketika sedang tidak ingin melihat. Ia mengajari cara berdoa sebelum tidur. Ia mengajari cara membedakan mana yang baik dan mana yang mengganggu.
Jatmika belajar dengan cepat. Ia cerdas, lebih cerdas daripada Arga di usianya. Ia juga berani.
Suatu kali, ketika seorang turis asing tersesat di hutan jati kecil, Jatmika-lah yang menuntunnya keluar. Katanya: "Ada suara yang bilang, 'Le, ajak bapak bule itu ke jalan setapak dekat kali.'"
Turis itu terkesima. Ia memberi hadiah uang, tapi Jatmika menolak. "Cukup beli pecel di warung Ibu. Biar Ibu senang."
- GUNTUR DAN LARAS: DARI BELANDA UNTUK WRINGINREJO
Guntur dan Laras kini menetap di Jogja. Mereka tidak kembali ke Belanda. Guntur menjadi dosen filsafat di UGM, mengajar mata kuliah Etika dan Kearifan Lokal. Laras menjadi peneliti independen, menulis buku tentang Perempuan dalam Pusaran Kekuasaan.
Mereka masih rutin berkunjung ke Wringinrejo setiap tiga bulan sekali. Ketika datang, mereka tidak menginap di hotel, tapi di rumah Mbah Jayarasa yang kini menjadi Homestay Pengembara. Laras sering membantu Sekar mengajar ibu-ibu PKK membuat kerajinan tangan untuk dijual ke luar negeri. Guntur sering menjadi pembicara dalam diskusi desa tentang Melawan Lupa.
"Mbah Guntur, kenapa Bapak tidak tinggal di desa saja?" tanya Jatmika.
"Karena tugas Bapak di kota belum selesai, Le. Bapak harus mendidik mahasiswa agar tidak jadi koruptor."
"Di desa juga bisa."
"Bisa. Tapi di sana ada yang belum bisa membaca. Ada yang belum bisa akses ilmu. Bapak harus berada di dua tempat."
"Jadi Bapak pengembara juga?"
Guntur tersenyum. "Kita semua pengembara, Le. Hanya saja, pulangnya beda-beda."
- FARUQ DAN NISA: DOKTER DESA DAN JURNALIS PEMBERANI
Faruq dan Nisa memilih tinggal di desa. Mereka membangun rumah di tanah bekas warisan Mbah Jayarasa (yang sudah dipisah sertifikatnya). Faruq membuka Praktik Dokter Keliling dengan sepeda motor tua. Setiap pagi ia berkeliling desa, memeriksa warga lansia dan balita. Setiap sore ia berada di Posyandu.
Nisa menjadi Jurnalis Warga. Ia menulis tentang kehidupan desa, tentang ketidakadilan kecil yang luput dari perhatian media nasional. Tulisannya tidak selalu viral, tapi selalu mengena. Kadang, tulisannya dibaca oleh aktivis dan diteruskan ke DPR.
"Mbak Nisa, kenapa tidak tinggal di kota? Bukannya di sana lebih banyak peluang?"
"Justru di sini, Mbak. Di desa ini, suara rakyat kecil bisa didengar. Dan aku bisa mengawasi langsung agar tidak ada lagi Pak Kades baru."
Nisa juga mendirikan Sekolah Jurnalisme Mini untuk anak-anak SD. Ia mengajari mereka menulis buku harian, merekam percakapan keluarga, dan melaporkan hal-hal aneh yang mereka lihat.
Faruq dan Nisa belum dikaruniai anak. Tapi mereka tidak risau. Mereka menganggap Jatmika dan Larasati sebagai keponakan sendiri.
- DIMAS: TEKNOLOGI UNTUK DESA
Dimas masih bekerja di Jakarta sebagai teknisi jaringan, tapi setiap akhir pekan ia pulang ke Wringinrejo. Ia memasang internet gratis di balai desa, di sekolah, dan di perpustakaan. Ia juga membuat Aplikasi Layanan Administrasi Desa (SINAR WRINGIN) yang memudahkan warga mengurus KTP, KK, dan surat keterangan tanpa harus bertemu calo.
"Mas Dimas, kalian pinter," kata Ratri yang masih menjabat sebagai Kepala Desa.
"Aku tidak pintar. Aku hanya ngotak-atik."
Ratri dan Dimas... kabarnya dekat. Tapi belum ada yang berani mengonfirmasi.
- RATRI: KEPALA DESA PEREMPUAN TERMUDA
Ratri terpilih kembali untuk periode kedua. Ia masih bujangan, katanya "belum nemu yang cocok". Tapi ia tidak sendirian. Kedua orang tuanya sudah tinggal bersamanya di rumah dinas. Ia sering memasak untuk warga yang sedang kesusahan. Ia juga yang mengusulkan Tugu Pengembara di perempatan desa—tugu berbentuk peta terbuka dengan tulisan:
"Jangan takut tersesat. Karena dari situlah perjalanan dimulai."
- SAMSUL: PENGUSAHA AYAM KAMPUNG
Samsul menjadi langganan tetap warung pecel Sekar. Setiap minggu ia menyuplai ayam kampung potong. Usahanya maju pesat. Ia sudah memiliki dua mobil pick-up dan lima karyawan.
Ia tidak pernah lupa bahwa Arga yang menyelamatkannya dari kehidupan preman.
"Mas Arga, kalau saya dulu tidak kapok, mungkin saya sekarang sudah di penjara atau mati dibunuh preman saingan."
"Tapi kamu selamat, Samsul."
"Karena Mas Arga sudi memaafkan."
Mereka berjabat tangan. Tidak ada lagi rasa benci.
- PAK BONDAN: MAJIKAN YANG MENJADI AYAH
Pak Bondan kini tinggal di desa. Ia membeli rumah kecil di dekat rumah Arga. Setiap pagi ia berjalan kaki ke warung pecel, memesan pecel tahu tempe dan teh jahe, lalu membaca koran. Sesekali ia membantu Arga mencatat keuangan warung.
"Pak Bondan, kenapa Bapak tidak menikmati pensiun di kota?"
"Kota panas, Le. Di sini adem. Udara seger. Warungmu enak. Keluargamu ramah. Aku sudah merasa punya rumah."
Arga tersenyum. Ia menganggap Pak Bondan sebagai ayah kedua.
- MBAH TARNI: PENJAGA CERITA
Mbah Tarni sudah tidak bisa berjalan. Ia hanya bisa terbaring di dipan. Tapi matanya masih bisa melihat, telinganya masih bisa mendengar, mulutnya masih bisa bercerita.
Setiap hari, anak-anak desa bergantian membacakan buku untuknya. Kadang mereka hanya duduk diam, mendengarkan suara angin dan suara jangkrik.
Suatu malam, Mbah Tarni memanggil Arga.
"Le, Mbah mau titip."
"Titip apa, Mbah?"
"Cerita. Tentang Mbah Lestari. Tentang Mbah Raras. Tentang perjuangan desa ini. Jangan sampai mati. Kalau kamu tidak bisa, titipkan pada anak-anakmu."
"Siap, Mbah."
Mbah Tarni tersenyum.
"Besok, Mbah mungkin sudah tidak ada."
"Mbah jangan bicara begitu."
"Mbah sudah tua, Le. Mbah capek. Mbah ingin istirahat."
"Aku akan jaga cerita ini, Mbah. Janji."
Mbah Tarni mengusap rambut Arga.
"Kowe wis dadi laki-laki sejati, Le. Mbah bangga."
Mereka berpelukan.
Keesokan paginya, Mbah Tarni meninggal dengan tenang, tersenyum, memegang tasbih dan foto Mbah Lestari.
Seluruh desa berkabung.
Arga yang memimpin pemakaman.
Ia menangis di depan pusara.
"Terima kasih, Mbah. Aku tidak akan mengecewakan."
PAGI DI MAKAM MBAH TARNI
Setahun setelah kepergian Mbah Tarni, Arga, Sekar, Jatmika (kini 9 tahun), Larasati (3 tahun), Sukmawati, Sastro, Guntur, Laras, Faruq, Nisa, Dimas, Ratri, Samsul, dan Pak Bondan berkumpul di makam Mbah Tarni. Mereka berziarah. Mereka menabur bunga. Mereka berdoa.
"Kakek, kenapa kita ke sini?" tanya Larasati polos.
"Untuk mengingat, Nak," jawab Arga.
"Mengingat apa?"
"Mengingat bahwa kita pernah dilahirkan, pernah berjuang, dan pernah dicintai. Dan suatu hari, kita akan mati dengan tenang, seperti Mbah Tarni."
Larasati tidak mengerti. Ia masih kecil.
Tapi Jatmika mengangguk. Ia paham.
DI SERAMBI RUMAH
Malam harinya, keluarga kecil itu duduk di serambi.
Langit penuh bintang. Bulan sabit tipis menggantung rendah. Suara jangkrik mengisi keheningan. Warung pecel sudah tutup. Hanya tersisa aroma bumbu pecel yang masih menggoda.
"Mas," panggil Sekar.
"Iya."
"Coba lihat itu. Di langit."
Arga menengadah.
Satu bintang jatuh. Lalu satu lagi. Lalu satu lagi.
"Hujan bintang," bisik Arga.
"Itu pertanda baik, kata Mbah Tarni dulu."
Jatmika berlari ke halaman. "Bapak, Ibu, aku minta permintaan!"
"Apa permintaanmu, Nak?" tanya Sekar.
"Aku minta kelak, kalau Bapak dan Ibu sudah tua dan tidak bisa ke mana-mana, kita masih bisa duduk di serambi ini, menikmati pecel, dan bercerita tentang masa lalu."
Arga memeluk Jatmika.
"Permintaanmu akan terkabul, Nak. Tapi ingat, suatu hari, Bapak dan Ibu akan pergi. Seperti Mbah Tarni. Seperti Mbah Lestari. Seperti Jatmika kakak."
"Aku tahu, Bapak. Tapi selama masih ada cerita, kita tidak akan pernah benar-benar berpisah."
Sekar menangis.
Arga juga.
Larasati yang tadinya tertidur di pangkuan Sekar terbangun. "Kok Ibu nangis? Bapak nangis? Jatmika nangis?"
"Kita nangis bahagia, Dik," kata Jatmika.
"Bahagia kenapa?"
"Karena kita punya keluarga."
PESAN TERAKHIR
Dinding ruang tengah rumah Arga kini dipenuhi lebih banyak foto. Ada foto pernikahan Faruq dan Nisa. Ada foto Dimas dan Ratri (akhirnya mereka jadian setelah melalui proses yang alot). Ada foto Guntur dan Laras dengan kedua anaknya. Ada foto Samsul di depan kandang ayam. Ada foto Pak Bondan membaca koran di warung. Ada foto Jatmika kecil merangkul keris.
Tapi yang paling istimewa adalah sebuah buku catatan baru yang diletakkan di samping peta usang. Sampulnya kulit, di atasnya tertulis:
"CATATAN PENGEMBARA DUA LANGIT"
Jilid II – Untuk Jatmika dan Larasati.
Arga sudah mulai menulis. Bukan untuk diterbitkan. Bukan untuk menjadi terkenal. Tapi untuk dikenang. Agar anak cucunya tahu dari mana mereka berasal, perjuangan apa yang telah dilalui, dan seberapa besar cinta yang menyatukan mereka semua.
Halaman pertama catatan itu berbunyi:
"Kami bukan pahlawan. Kami hanya orang-orang biasa yang tidak ingin hidup dalam ketakutan."
"Kami tersesat, jatuh, bangkit, lalu berjalan lagi."
"Kami menangis pada Tuhan, marah pada keadaan, kecewa pada orang yang kami cintai."
"Tapi kami tidak pernah berhenti memaafkan."
"Kami tidak pernah berhenti percaya bahwa di balik setiap kegelapan, selalu ada mentari yang akan terbit."
"Pulang bukan tentang berhenti berjalan. Pulang adalah tentang menemukan tempat di mana hati berbisik, 'Inilah aku. Inilah rumahku.'"
"Kami akhirnya pulang."
KIDUNG PENUTUP
Dawane dalan, ora dadi alangan,
Abote beban, ora dadi gendhalan,
Mergo ati sing wani lilo,
Bakal nemu tentrem ing tembe.
Pengembara loro langit wis marem,
Wis ora kepéngin dolan maneh,
Wis nemu semayaning ati,
Wis mapan ing panggonan sejati.
Mentari sumunar ing nduwur bukit,
Angin nyritakake lakon lawas,
Wringinrejo ora bakal lali,
Marang bocah kang lahir ing kilat tanpa swara.
Sekar wis mekar ing jaman anyar,
Arga wis lerem ing pundhak bojo,
Jatmika wis ora nunggu-nunggu,
Mbah Lestari wis mesem ing kayangan.
Pulang wis kelakon.
Pulang ing ati.
Pulang ing asmara.
Pulang ing mringin.
Pungkasaning lakon.
Pepesthening ati.
Pengembara wis tekan panggonan sing dikarepake.
Tanah kelairan kang dadi panglabuhan.
Selamat jalan, para pengembara.
Selamat tinggal, kisah-kisah lama.
Desa Wringinrejo akan terus bernapas.
Karena kalian pernah ada.
Karena kalian pernah berjuang.
Karena kalian pernah pulang.
TAMAT
"Pulang wis kelakon. Pulang ing ati. Pulang ing asmara. Pulang ing mringin."
Slamet Riyadi
29 Juli 2025 03:27:50
Semoga kita bisa kerjasama bu. ...