Desa Dabulon
Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan
Roman Epik Penjaga Jilid 2: Air Mata dan Telaga

ROMAN EPIK
PENJAGA
"Trilogi Cinta, Pusaka, dan Pengorbanan
JILID 2: AIR MATA DAN TELAGA
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Roman ini adalah karya fiksi. Seluruh nama, tokoh, tempat, dan peristiwa merupakan hasil imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif. Kesamaan dengan nama, peristiwa, atau tokoh yang masih hidup atau telah meninggal adalah kebetulan belaka dan tidak disengaja.
Tradisi "penjaga hati" yang digambarkan dalam roman ini bukanlah representasi dari satu suku, agama, atau kepercayaan tertentu di Nusantara maupun di belahan dunia mana pun. Ia adalah metafora sastra tentang bagaimana manusia memelihara ingatan, cinta, dan moral di tengah arus zaman yang terus berubah.
Beberapa bab dalam roman ini mengandung penggambaran konflik batin, kematian, kekerasan verbal dan fisik, serta pilihan moral yang berat. Pembaca bijak direkomendasikan untuk menyertainya dengan ketenangan hati dan kedewasaan berpikir.
Tidak ada tokoh yang sepenuhnya putih atau hitam. Sebagaimana hati manusia, semua tokoh dalam roman ini memiliki cahaya dan luka masing-masing.
Penulis tidak bertanggung jawab atas interpretasi sepihak yang keluar dari maksud sastra karya ini.
PERSEMBAHAN
Untuk Nenek yang mengajarkan syair pertama di dapur yang gelap.
Untuk air sungai yang tidak pernah berhenti mengalir, meski tidak ada yang mendengarnya.
Dan untuk hati yang masih mau dijaga, di zaman yang lebih suka membuangnya.
EPIGRAF
"Hati yang tidak dijaga akan diambil angin.
Hati yang dijaga terlalu keras akan retak oleh tangannya sendiri."
— Syair kuno dari gua pertapaan di hulu Sungai Cendana,
ditemukan kembali oleh seorang pengembara anonim pada 1873.
"Dan di antara mereka ada yang menjaga hati dengan diam,
sebab diam adalah bahasa yang tidak bisa dipalsukan."
— Penggalan bait Kitab Tujuh Penjaga, naskah lontar yang setengah terbakar.
PROLOG
"Hati yang dijaga terlalu keras akan retak oleh tangannya sendiri."
Tidak ada yang tahu persis kapan air mata pertama kali jatuh ke telaga itu.
Yang tersisa hanyalah cerita yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya, seperti api yang dipindahkan dari obor ke obor, kadang membesar, kadang hampir padam, tetapi tidak pernah benar-benar mati. Cerita itu mengatakan bahwa pada suatu malam, di sebuah pondok kecil di tepi telaga, seorang lelaki tua sedang sekarat. Bukan karena sakit. Bukan karena luka. Tapi karena hatinya hancur berkeping-keping setelah istrinya meninggal di pangkuannya.
Lelaki itu bernama Sultan Hasan. Ia adalah penjaga hati terakhir dari generasi lamanya.
Sebelum napasnya yang terakhir keluar dari dadanya yang keropos, ia berbisik pada cucunya yang masih kecil, "Zahra... jagalah telaga ini. Jagalah pusaka ini. Dan jagalah hatimu. Sebab hati yang tidak dijaga akan diambil angin. Tapi hati yang dijaga terlalu keras akan retak oleh tangannya sendiri."
Cucu itu tidak mengerti. Ia masih terlalu kecil. Tapi ia mengangguk. Karena ia tahu, kakeknya tidak akan berkata sia-sia.
Kemudian Sultan Hasan memejamkan mata. Dan untuk beberapa saat, pondok itu menjadi sunyi yang begitu dalam hingga seolah-oleh waktu sendiri berhenti berdetak. Lalu, tidak jauh dari pondok, di tepi telaga, seekor burung hantu berbunyi. Satu kali. Pendek. Seperti sebuah tanda.
Ini adalah kisah tentang Jilid Kedua dari Roman Epik Penjaga.
Kisah tentang apa yang terjadi setelah badai berlalu. Tentang bagaimana cinta yang begitu besar tidak selalu menjamin kebahagiaan. Tentang bagaimana anak yang kita besarkan dengan penuh kasih sayang bisa memilih jalan yang berbeda. Tentang bagaimana pusaka yang kita jaga seumur hidup bisa retak karena patah hati. Tentang bagaimana telaga yang kita yakini abadi bisa mulai keruh. Dan tentang bagaimana kematian datang tanpa permisi, mengambil yang paling kita cintai, meninggalkan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Jika Jilid Pertama, Akar Bawah Tanah, adalah tentang perjuangan untuk bertahan hidup, tentang belajar mencintai, tentang menjadi penjaga hati di tengah dunia yang membenci—
Maka Jilid Kedua, Air Mata dan Telaga, adalah tentang apa yang terjadi setelah semua perjuangan itu usai. Tentang mempertahankan cinta di tengah kerasnya kehidupan. Tentang menghadapi kenyataan bahwa anak tidak selalu mengikuti jejak orang tua. Tentang kesepian di usia senja. Tentang kehilangan yang paling berat: kehilangan pasangan hidup. Tentang air mata yang jatuh ke telaga, mengotori kejernihannya. Tentang pusaka yang retak karena patah hati. Dan tentang bagaimana, dari puing-puing kesedihan itu, seorang cucu perempuan lahir dengan tangisan yang persis seperti tangisan Sultan Hasan dulu—tangisan yang sudah tahu betapa berat tugasnya kelak.
Di jilid ini, kita akan menyaksikan Sultan Hasan di puncak kebahagiaannya—menikah dengan Pandan Wangi, memiliki anak, hidup sederhana di tepi telaga. Kemudian kita akan menyaksikan kebahagiaan itu perlahan-lahan terkikis. Pandu Hati, anak semata wayangnya, tumbuh menjadi pemuda keras kepala yang menolak tradisi. Ia pergi merantau, tidak mau pulang, bahkan mengirim surat palsu yang membuat hati Sultan Hasan hancur. Pusaka akik merah di dada Sultan Hasan retak—bukan karena perang, bukan karena sihir, tapi karena patah hati. Dan telaga yang selama ini dijaga Pandan Wangi mulai keruh, karena pusaka yang menjaganya mulai rusak.
Kemudian, pada saat yang paling tidak terduga, Pandan Wangi jatuh sakit. Bukan sakit biasa. Tapi sakit karena telaga yang ia jaga mulai mati. Sultan Hasan berusaha segalanya untuk menyelamatkan istrinya. Tapi pada akhirnya, cinta tidak selalu bisa mengalahkan kematian. Pandan Wangi meninggal di pangkuan suaminya, meninggalkan luka yang tidak pernah sembuh.
Sultan Hasan mengasingkan diri di gua tempatnya dulu belajar. Empat puluh hari. Tidak keluar. Hanya bermeditasi, berdoa, dan merenung. Dan ketika ia keluar, ia sudah tidak lagi muda. Rambutnya putih. Wajahnya keriput. Matanya sayu. Tapi hatinya tenang. Ia telah menerima kenyataan bahwa Pandan Wangi telah pergi. Dan bahwa ia harus melanjutkan hidup—untuk telaga, untuk pusaka, untuk anaknya, untuk dirinya sendiri.
Di jilid ini juga, kita akan menyaksikan Pandu Hati kembali ke pangkuan ayahnya, menyesali semua kesalahannya, dan berjanji untuk menjadi penjaga hati yang baik. Kita akan menyaksikan ia menikah dengan Rukmini, seorang perempuan baik-baik dari desa sebelah. Dan kita akan menyaksikan kelahiran seorang cucu perempuan, Hj. Fatimah Zahra, yang dipanggil Zahra. Seorang bayi yang lahir dengan tangisan yang persis seperti tangisan Sultan Hasan dulu—tangisan yang sudah tahu betapa berat tugasnya kelak. Tangisan yang menjadi pertanda bahwa ia adalah penjaga hati berikutnya.
Dan di akhir jilid ini, Sultan Hasan akan meninggal. Bukan dengan cara yang heroik. Bukan dalam peperangan. Bukan karena menyelamatkan dunia. Tapi dengan cara yang paling manusiawi: karena usianya sudah habis. Ia meninggal dengan tenang, di pangkuan cucunya, di tepi telaga yang ia jaga seumur hidup. Dan sebelum napasnya yang terakhir, ia berbisik, "Zahra... jagalah telaga ini. Jagalah pusaka ini. Dan jagalah hatimu..."
Ini adalah kisah tentang siklus kehidupan. Tentang bagaimana yang tua digantikan oleh yang muda. Tentang bagaimana tradisi diwariskan dari generasi ke generasi. Tentang bagaimana cinta tidak pernah benar-benar mati—ia hanya berubah bentuk. Seperti air yang menguap menjadi awan, lalu turun menjadi hujan, lalu mengalir kembali ke telaga. Abadi. Selamanya.
Jika Jilid Pertama adalah tentang perjuangan seorang anak yang dikutuk untuk menjadi penjaga hati—
Maka Jilid Kedua adalah tentang apa artinya menjadi penjaga hati setelah semua perjuangan itu usai.
Tentang mempertahankan cinta.
Tentang menghadapi kehilangan.
Tentang mewariskan tradisi.
Dan tentang air mata yang jatuh ke telaga, yang tidak pernah benar-benar mengotori kejernihannya—karena air mata, pada akhirnya, adalah bagian dari air. Dan air selalu mencari jalannya kembali ke sumbernya.
Seperti cinta.
Seperti hati.
Seperti penjaga.
Selamanya.
Di ujung prolog ini, sebelum kita benar-benar masuk ke dalam babak pertama dari jilid kedua ini, izinkan penulis menyampaikan satu hal.
Jilid ini tidak ditulis untuk mereka yang mencari hiburan ringan. Ia tidak memiliki pahlawan super yang menyelamatkan dunia. Ia tidak memiliki kejutan di setiap sepuluh halaman. Ia tidak berusaha menjadi sesuatu yang tidak pernah ia janjikan.
Jilid ini ditulis seperti orang merawat luka. Perlahan. Dengan kesabaran yang hampir menyakitkan. Kadang harus dibuka, dibersihkan, ditutup kembali. Kadang terasa perih. Kadang ingin berhenti. Tapi jika ia sembuh, ia akan meninggalkan bekas. Bekas yang mengingatkan bahwa pernah ada rasa sakit di sana. Dan bahwa rasa sakit itu—meskipun menyakitkan—adalah bagian dari kehidupan.
Demikian juga dengan cerita tentang Sultan Hasan, Pandan Wangi, Pandu Hati, dan Zahra.
Jika pembaca bersabar, jilid ini akan memberi sesuatu yang tidak bisa diberi oleh cerita-cerita yang terburu-buru. Ia akan memberi makna. Tentang apa artinya kehilangan. Tentang apa artinya melanjutkan hidup. Tentang apa artinya menjadi penjaga hati, bahkan ketika hati itu hancur berkeping-keping.
Sebab pada akhirnya, menjaga hati adalah soal menerima. Menerima bahwa cinta tidak selalu bahagia. Menerima bahwa orang yang kita cintai akan pergi. Menerima bahwa kita akan mati. Dan dari penerimaan itu, lahirlah ketenangan. Dan dari ketenangan itu, lahirlah kebijaksanaan. Dan dari kebijaksanaan itu, lahirlah penjaga hati sejati.
Mari kita mulai.
Dukuh Wangi, saat musim hujan baru saja berakhir.
Seekor burung hantu bertengger di dahan pohon asam tua.
Seorang kakek duduk di tepi telaga, menulis syair di atas daun lontar.
Dan di dalam rahim seorang menantu, seorang cucu mulai mengeja namanya sendiri sebelum bibirnya sempat terbentuk.
Fatimah Zahra.
Zahra.
Perempuan yang disapih dan bercahaya.
Penjaga hati berikutnya.
BAGIAN TIGA: BADAI YANG MEMISAHKAN
"Badai tidak pernah bertanya apakah kita siap atau tidak. Ia datang. Ia menghancurkan. Ia membawa pergi apa yang paling kita cintai. Dan yang tersisa hanyalah puing-puing kenangan dan pertanyaan yang tidak pernah terjawab. Namun di antara puing-puing itu, kadang kita menemukan sesuatu yang tidak pernah kita duga: kekuatan untuk bertahan. Dan keteguhan untuk tidak menyerah. Inilah kisah tentang perpisahan yang tidak diinginkan, tentang jarak yang tidak bisa dilampaui, dan tentang cinta yang tetap menyala meskipun dunia berusaha memadamkannya."
Di mana Sultan Hasan dibuang ke pulau penjara. Di mana Pandan Wangi dipaksa menikah dengan pangeran. Di mana cinta mereka diuji oleh waktu, jarak, dan takdir yang kejam. Dan di mana mereka belajar bahwa cinta sejati tidak pernah mati. Ia hanya berubah bentuk.
BAB XLI
Kabar dari Istana: Pandan Wangi Dijodohkan dengan Pangeran dari Kerajaan Tetangga
Perjalanan mencari Pandan Wangi membawa Sultan Hasan dan Jaya berkelana selama berbulan-bulan.
Mereka menyusuri sungai, menyeberangi gunung, melewati hutan, memasuki desa-desa terpencil, bertanya kepada siapa pun yang mereka temui. Pernahkah mereka melihat seorang perempuan cantik dengan rambut panjang dan wangi pandan? Pernahkah mereka mendengar kabar tentang putri bangsawan yang dikurung di istana?
Sebagian besar menggeleng. Tidak tahu. Tidak pernah mendengar.
Tapi ada juga yang memberi petunjuk samar. "Di timur, ada kerajaan besar. Namanya Kerajaan Kencana Wungu. Rajanya muda, tampan, kaya raya. Konon, ia sedang mencari permaisuri. Mungkin putri yang kau cari ada di sana."
Sultan Hasan tidak punya pilihan. Ia menuju timur.
Di jari manisnya — atau lebih tepat di dadanya, karena batu akik merah itu kini tergantung sebagai kalung — batu itu berdenyut semakin kencang setiap kali ia mendekati timur.
"Kau di jalan yang benar," bisik batu itu. "Ia di sana."
Sultan Hasan memacu kudanya lebih kencang.
Setelah tiga minggu perjalanan, mereka tiba di Kerajaan Kencana Wungu.
Kerajaan itu megah. Istana-istananya terbuat dari batu putih, dengan ukiran emas di setiap sudutnya. Taman-tamannya indah, penuh dengan bunga-bunga langka. Air mancur menyembur di mana-mana. Para bangsawan berjalan dengan pakaian mewah, seolah tidak pernah menyentuh tanah.
Tapi Sultan Hasan tidak peduli dengan kemegahan itu. Ia hanya peduli pada satu orang: Pandan Wangi.
Ia dan Jaya menyamar sebagai pedagang rempah. Mereka masuk ke dalam kerajaan, menyewa sebuah los di pasar, dan mulai berdagang. Tapi di sela-sela dagang, mereka mencari informasi tentang putri bangsawan yang mungkin dikurung di istana.
Informasi itu akhirnya mereka dapatkan dari seorang pelayan istana yang suka berbelanja di pasar.
"Kalian mencari putri Pandan Wangi?" tanya pelayan itu. "Ia memang ada di istana. Tapi tidak dikurung. Ia dijemput oleh ayahnya beberapa bulan lalu. Katanya, ia akan dijodohkan dengan pangeran kita."
Sultan Hasan terkejut. "Dijodohkan? Dengan siapa?"
"Dengan Pangeran Kertawijaya. Pemuda tampan, kaya raya, keturunan bangsawan tulen. Pernikahan akan dilaksanakan bulan depan. Seluruh kerajaan sudah diundang."
Sultan Hasan terdiam. Jantungnya berdebar kencang. Batu akik merah di dadanya berdenyut keras, hampir seperti mau meledak.
"Kau harus mencegahnya," bisik batu itu. "Kau tidak bisa membiarkan ia menikah dengan orang lain."
"Aku tahu," bisik Sultan Hasan balik. "Tapi bagaimana caranya? Aku hanya rakyat biasa. Tidak punya kekuasaan. Tidak punya pengaruh."
"Kau punya aku. Kau punya cinta. Kau punya keberanian. Itu sudah cukup."
Sultan Hasan menghela napas. Ia memandang Jaya.
"Kita harus masuk ke istana. Menemui Pandan Wangi. Membujuknya untuk membatalkan pernikahan."
"Kau gila?" kata Jaya. "Istana itu dijaga ketat. Ribuan pasukan. Puluhan pendekar. Kau tidak akan bisa masuk."
"Kita bisa. Dengan menyamar. Sebagai pelayan. Sebagai musisi. Sebagai apa pun."
Jaya menggeleng. "Kau sudah gila. Tapi sudahlah. Aku ikut. Mati bersama lebih baik daripada hidup sendiri."
Mereka berdua tersenyum pahit.
Penyamaran sebagai musisi ternyata berhasil.
Sultan Hasan pandai bermain seruling. Jaya pandai bermain gendang. Mereka bergabung dengan rombongan kesenian yang diundang untuk menghibur para tamu di pesta pertunangan Pangeran Kertawijaya dan Putri Pandan Wangi.
Pesta itu digelar di taman istana. Ribuan lampu minyak digantung di pohon-pohon, menciptakan suasana magis. Para tamu berpakaian indah, duduk di kursi-kursi yang dihias dengan kain sutra. Di panggung kehormatan, duduk Pangeran Kertawijaya dan Pandan Wangi.
Sultan Hasan melihat Pandan Wangi dari kejauhan.
Ia cantik. Sangat cantik. Lebih cantik dari yang ia ingat. Tapi wajahnya muram. Matanya sayu. Senyumnya dipaksakan. Ia tidak bahagia. Ia jelas tidak menginginkan pernikahan ini.
Sultan Hasan hampir berlari ke panggung. Hampir meneriakan nama Pandan Wangi. Hampir merusak pesta itu.
Tapi Jaya menahannya. "Belum saatnya. Tunggu. Kita cari kesempatan."
Sultan Hasan menggigit bibirnya. Ia menahan diri.
Kesempatan itu datang setelah pesta usai.
Para tamu pulang. Para pelayan membersihkan taman. Pangeran Kertawijaya pergi ke ruang peristirahatannya. Pandan Wangi berjalan sendirian ke taman belakang, tempat air mancur menyembur di bawah sinar bulan.
Sultan Hasan mengikutinya. Diam-diam. Menyelinap di balik semak-semak.
"Pandan," bisiknya.
Pandan Wangi menoleh. Ia terkejut. Hampir berteriak. Tapi Sultan Hasan menutup mulutnya dengan tangannya.
"Jangan berteriak. Ini aku. Sultan Hasan."
Pandan Wangi terdiam. Matanya membesar. Air matanya mengalir.
"Sultan... Sultan Hasan... kau... bagaimana kau bisa ada di sini?"
"Aku mencari. Aku tidak menyerah. Aku janji akan menemukanmu. Dan aku menemukanmu."
Mereka berdua berpelukan. Menangis. Tertawa. Bersyukur.
"Aku dijodohkan," kata Pandan Wangi. "Aku tidak mau. Aku sudah bilang pada ayahku. Tapi ia tidak mendengarkan. Ia bilang, pernikahan ini penting untuk kerajaan. Aku harus rela."
"Kau tidak harus rela. Kau bisa memilih. Kau bebas."
"Aku tidak bebas, Sultan Hasan. Aku terkurung. Aku diawasi. Aku tidak bisa ke mana-mana."
"Kita bisa lari. Malam ini. Sekarang."
"Ke mana?"
"Ke tempat yang jauh. Ke tempat di mana tidak ada yang bisa menemukan kita. Ke tempat di mana kita bisa hidup damai, bersama, selamanya."
Pandan Wangi terdiam. Ia memandang Sultan Hasan. Matanya berkaca-kaca.
"Kau yakin? Risikonya besar. Jika kita tertangkap, kau akan dihukum mati. Aku akan dikurung seumur hidup."
"Aku tidak takut mati, Pandan. Yang aku takut adalah hidup tanpa dirimu."
Pandan Wangi tersenyum. Ia mencium pipi Sultan Hasan.
"Baiklah. Aku ikut."
Mereka berdua bergandengan tangan. Berlari meninggalkan taman. Menembus kegelapan. Meninggalkan istana. Meninggalkan pangeran. Meninggalkan semua yang menghalangi cinta mereka.
Di kejauhan, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Seperti sambutan. Seperti doa restu. Seperti seruan untuk memulai hidup baru. Bersama. Selamanya.
BAB XLII
Sultan Hasan Menantang Pangeran Kertawijaya – Adu Pedang – Kalah Telak – Terluka dan Dibuang ke Pulau Terpencil
Pelarian Sultan Hasan dan Pandan Wangi tidak berlangsung lama.
Mereka baru saja mencapai gerbang istana ketika puluhan pasukan kerajaan mengepung mereka dari segala arah. Obor menyala terang, menerangi wajah-wajah garang para prajurit. Di tengah kerumunan itu, berdiri Pangeran Kertawijaya. Wajahnya dingin, matanya tajam, senyumnya sinis.
"Kau pikir bisa mencuri calon istriku semudah itu?" kata pangeran itu. "Dasar rakyat kampung. Kau tidak tahu siapa yang kau lawan."
Sultan Hasan berdiri di depan Pandan Wangi, melindunginya. Tangannya kosong. Ia tidak membawa senjata. Sementara pangeran itu memegang pedang panjang dengan gagang emas, mata pedangnya berkilat-kilat di bawah cahaya obor.
"Pandan Wangi bukan milikmu," kata Sultan Hasan. "Ia bukan barang yang bisa dimiliki. Ia manusia. Ia punya hak memilih. Dan ia memilihku."
"Diam!" bentak pangeran itu. "Kau tidak punya hak bicara di depanku! Aku pangeran! Kau rakyat jelata! Pandan Wangi sudah dijodohkan denganku oleh ayahnya dan rajaku. Itu sudah keputusan resmi. Tidak bisa diganggu gugat."
"Keputusan yang tidak adil. Pandan Wangi tidak pernah setuju."
"Kesetujuannya tidak penting. Yang penting adalah kemauan kerajaan."
Pangeran Kertawijaya melangkah maju. Sultan Hasan mundur selangkah, tetapi tetap menghalangi pangeran itu untuk mendekati Pandan Wangi.
"Kau berani melawanku?" kata pangeran itu. "Kau tahu aku pendekar pedang terhebat di kerajaan ini? Aku belum pernah kalah dalam duel. Jika kau berani menantangku, kau akan kutebas kepalamu."
"Aku tidak takut," kata Sultan Hasan. "Aku akan melawanmu. Bukan karena aku pendekar hebat. Tapi karena aku tidak bisa membiarkanmu mengambil paksa orang yang kucintai."
Pangeran Kertawijaya tertawa. Tawanya keras, menghina.
"Baiklah. Aku beri kesempatan. Adu pedang denganku. Jika kau menang, Pandan Wangi kau bawa pergi. Jika kau kalah... kau akan kuhukum mati."
"Setuju."
"SULTAN HASAN, JANGAN!" teriak Pandan Wangi dari belakang. "Kau tidak bisa mengalahkannya! Ia pendekar pedang! Kau hanya belajar silat beberapa tahun!"
"Aku tidak perlu mengalahkannya, Pandan. Aku hanya perlu berusaha. Selebihnya, biar takdir yang menentukan."
Pandan Wangi menangis. Ia memeluk Sultan Hasan dari belakang.
"Jangan pergi," bisiknya. "Jangan tinggalkan aku."
"Aku tidak akan pergi, Pandan. Aku akan kembali. Aku janji."
Sultan Hasan melepaskan pelukan Pandan Wangi. Ia melangkah maju. Menghadap Pangeran Kertawijaya.
Duel dimulai di halaman istana, di bawah sinar bulan purnama.
Ratusan prajurit dan abdi istana berkumpul menyaksikan. Mereka bersorak-sorai mendukung pangeran mereka. Tidak ada yang mendukung Sultan Hasan. Ia asing. Ia rakyat jelata. Ia tidak punya siapa-siapa.
Jaya berdiri di antara kerumunan, jantungnya berdebar kencang. Ia ingin membantu, tapi ia tidak bisa. Ini duel satu lawan satu. Tidak ada yang boleh ikut campur.
Pangeran Kertawijaya menghunus pedangnya. Pedang panjang dengan gagang emas, mata pedangnya berkilat. Ia memamerkan jurus-jurusnya di udara, membuat para penonton terkesima.
Sultan Hasan hanya memegang sebilah keris pendek yang dipinjam dari Jaya. Bukan senjata yang biasa ia gunakan. Tapi tidak ada pilihan.
"Kau yakin hanya memakai keris pendek?" ejek pangeran itu. "Aku akan kutebas dalam tiga gerakan."
"Kita lihat saja," kata Sultan Hasan tenang.
Pangeran itu menyerang pertama. Tebasan ke kiri, ke kanan, tusukan ke depan. Gerakannya cepat, lincah, mematikan. Sultan Hasan bertahan sebisanya. Ia menghindar, menangkis, kadang membalas. Tapi keris pendeknya tidak bisa menjangkau pedang panjang pangeran.
Setelah dua puluh jurus, Sultan Hasan mulai kewalahan. Tubuhnya penuh dengan luka-luka kecil. Pakaiannya robek di sana-sini. Darah mengalir dari lengannya.
"Menyerahlah," kata pangeran itu. "Kau tidak mungkin menang."
"Sultan Hasan, menyerahlah!" teriak Pandan Wangi dari kejauhan. "Aku rela menjadi calon istrinya! Asal kau selamat!"
"Tidak!" teriak Sultan Hasan balik. "Aku tidak akan menyerah! Aku tidak akan membiarkan kau menikah dengan orang yang tidak kau cintai!"
Ia menyerang lagi. Lebih nekat. Lebih berani. Tapi pangeran itu sudah mempelajari gayanya. Ia dengan mudah menghindar, lalu membalas dengan tusukan yang menusuk perut Sultan Hasan.
Sultan Hasan jatuh.
Darah mengucur dari lukanya. Banyak. Pekat. Membasahi pakaiannya.
"SULTAN HASAN!" teriak Pandan Wangi. Ia berusaha menerobos kerumunan. Tapi prajurit-prajurit menahannya.
Pangeran Kertawijaya mendekati Sultan Hasan yang tergeletak di tanah. Ia mengangkat pedangnya, hendak memenggal kepala lawannya.
"Berhenti!" suara seorang lelaki terdengar dari belakang.
Adipati — ayah Pandan Wangi — berjalan maju. Wajahnya pucat, matanya merah. Ia sudah menyaksikan duel dari awal.
"Jangan bunuh dia," kata adipati itu. "Ia sudah cukup menderita. Buang saja ia ke pulau terpencil. Biarkan ia hidup di sana, sendirian, merenungkan kesalahannya."
Pangeran Kertawijaya mendengus. "Baiklah, Paduka. Aku turuti permintaan Paduka. Tapi jika ia kembali lagi, aku akan bunuh dia."
Ia memberi isyarat pada prajurit-prajuritnya. Mereka mengangkat Sultan Hasan yang tak berdaya, membawanya ke dermaga, menaikkannya ke kapal kecil.
Pandan Wangi menjerat jerit. Ia berusaha melepaskan diri. Tapi puluhan tangan menahannya.
"Sultan Hasan! SULTAN HASAN!" teriaknya sampai suaranya parau.
Sultan Hasan tidak bisa menjawab. Ia sudah pingsan. Darah terus mengalir dari lukanya.
Kapal itu berlayar. Meninggalkan dermaga. Meninggalkan istana. Meninggalkan Pandan Wangi yang menangis di tepi pantai.
Pemandangan terakhir yang Sultan Hasan lihat sebelum pingsan adalah wajah Pandan Wangi. Cantik. Lembut. Basah oleh air mata.
"Aku akan kembali, Pandan," bisiknya dalam hati. "Aku janji."
Setelah itu, gelap. Tidak ada apa-apa. Hanya kegelapan yang panjang, dingin, dan sunyi.
Ia terbangun di atas kapal kecil yang terombang-ambing di tengah laut.
Tubuhnya sakit semua. Luka di perutnya telah dibalut dengan kain seadanya, tapi masih terasa perih. Tangannya diikat ke tiang kapal. Kakinya juga diikat. Ia tidak bisa bergerak.
Di sampingnya, seorang prajurit tua duduk sambil mengawasi.
"Kau sudah sadar," kata prajurit itu. "Bagus. Aku kira kau akan mati dalam perjalanan."
"Ini... ini kapal mau ke mana?" tanya Sultan Hasan dengan suara parau.
"Ke pulau terpencil. Namanya Pulau Penjara. Tidak ada orang di sana. Hanya hutan, batu, dan binatang buas. Kau akan dibuang di sana. Tidak boleh kembali. Jika kau kembali, kau akan dihukum mati."
"Apa aku sendirian di sana?"
"Sendirian. Tidak ada yang menemani. Tidak ada yang menolong. Kau akan hidup sebatang kara, makan buah-buahan dan ikan, tidur di gua, minum air hujan. Itu hukumannya karena menantang pangeran dan menculik calon istrinya."
Sultan Hasan terdiam.
Ia tidak takut hidup sendirian di pulau terpencil. Ia sudah terbiasa dengan kesepian. Ia sudah terbiasa dengan penderitaan.
Yang ia takutkan adalah: tidak bisa kembali. Tidak bisa bertemu Pandan Wangi. Tidak bisa menepati janjinya.
"Maafkan aku, Pandan," bisiknya. "Aku gagal. Aku kalah. Aku tidak bisa kembali."
Batu akik merah di dadanya berdenyut. Pelan. Lembut. Seperti bisikan: "Kau tidak gagal. Kau hanya ditunda. Kau akan kembali. Suatu hari. Aku akan menuntunmu."
Sultan Hasan tersenyum pahit.
Ia memejamkan mata. Ia berdoa. Semoga Pandan Wangi diberi kekuatan. Semoga Pandan Wangi tidak menyerah. Semoga Pandan Wangi tetap menunggunya.
Sampai mereka bertemu lagi.
Suatu hari nanti.
BAB XLIII
Pulau Penjara: Sultan Hasan Ditemani Narapidana Tua – Mantan Penjaga Hati Kerajaan
Pulau itu tidak bernama. Atau jika punya, tidak ada yang ingat. Para nelayan dan pelaut menyebutnya Pulau Penjara, karena hanya itu fungsinya: tempat membuang orang-orang yang dianggap terlalu berbahaya untuk dibiarkan bebas, tetapi tidak cukup bersalah untuk dihukum mati.
Sultan Hasan dilemparkan ke pulau itu seperti sampah. Kapal kecil yang mengantarnya berlabuh di pantai berpasir hitam, dua orang prajurit menurunkan tubuhnya yang masih lemah karena luka, lalu kapal itu pergi meninggalkannya. Tidak ada bekal. Tidak ada senjata. Tidak ada pakaian ganti. Hanya kain kafan kehidupan yang membungkus tubuhnya yang nyaris hancur.
Ia terbaring di pasir hitam itu untuk waktu yang tidak ia ketahui berapa lama. Matahari naik dan turun. Air pasang menyentuh kakinya, lalu surut kembali. Burung-burung laut terbang di atasnya, sesekali menukik ingin mematuk dagingnya yang terbuka. Tapi Sultan Hasan tidak punya tenaga untuk mengusir mereka. Ia hanya berbaring. Menunggu. Entah menunggu ajal atau menunggu keajaiban.
Keajaiban itu datang dalam wujud seorang lelaki tua.
"Apa kau sudah mati?" suara itu berat, parau, seperti gesekan batu karang. "Kalau sudah mati, cepat menguap. Jangan bikin pulau ini tambah sesak."
Sultan Hasan membuka mata. Samar-samar ia melihat seorang lelaki tua berdiri di depannya, membelakangi matahari. Wajahnya gelap karena cahaya di belakang, tapi Sultan Hasan bisa melihat rambutnya yang panjang dan kusut, janggutnya yang tidak pernah dicukur, tubuhnya yang kurus tapi tegap.
"Masih hidup," bisik Sultan Hasan. "Tapi mungkin sebentar lagi mati."
"Kalau masih hidup, jangan ngomong mati-mati. Bangun! Ikut aku!"
Lelaki tua itu tidak menunggu jawaban. Ia membungkuk, mengangkat tubuh Sultan Hasan dengan satu tangan, memapahnya berjalan menyusuri pantai, melewati batu-batu karang, lalu masuk ke dalam hutan. Sultan Hasan tidak bisa melawan. Ia hanya pasrah. Jika lelaki tua ini mau membunuhnya, biarlah. Ia sudah terlalu lelah untuk takut.
Mereka berjalan sekitar setengah jam. Akhirnya sampai di sebuah gua. Guanya tidak besar. Hanya lubang di tebing batu yang cukup untuk dua orang tidur meringkuk. Di depan gua, ada api unggun yang masih menyala. Di sampingnya, bertumpuk buah-buahan dan ikan asin.
Lelaki tua itu membaringkan Sultan Hasan di atas tumpukan daun kering. Ia mengambil air dari tempurung kelapa, membasuh luka Sultan Hasan, lalu membalutnya dengan kain yang sobek dari bajunya sendiri.
"Kau beruntung," katanya. "Lukamu tidak parah. Hanya kehilangan banyak darah. Istirahat beberapa hari, kau akan sembuh."
"Siapa... siapa kau?" tanya Sultan Hasan.
Lelaki tua itu tertawa. Tawanya keras, menggelegar, membuat dinding gua bergetar. "Aku? Aku tidak punya nama. Tapi dulu, orang-orang memanggilku Kiai Pati. Karena aku selalu membawa kematian ke mana pun aku pergi."
"Kiai Pati? Aku pernah mendengar nama itu. Dari Ki Ageng Jagaraga. Katanya, Kiai Pati adalah pendekar paling ditakuti di Nusantara. Tidak pernah kalah dalam duel. Tapi kemudian ia menghilang. Tidak ada yang tahu ke mana."
"Sekarang kau tahu ke mana," kata lelaki tua itu sambil menyeringai. "Aku dibuang ke pulai ini karena aku membunuh pangeran yang hendak memperkosa seorang gadis. Padahal aku hanya membela kebenaran. Tapi para bangsawan tidak suka kebenaran. Mereka lebih suka kedamaian palsu."
"Berapa lama kau di sini?"
"Tiga puluh tahun. Sendirian. Tidak ada yang menemani. Hanya burung, kadal, dan sesekali ikan hiu."
"Tiga puluh tahun?" Sultan Hasan takjub. "Bagaimana kau bisa bertahan?"
"Kau lihat sendiri. Aku makan buah-buahan. Aku makan ikan. Aku minum air hujan. Aku tidur di gua. Aku tidak butuh kemewahan. Aku tidak butuh keramaian. Yang aku butuhkan hanyalah... kebebasan. Dan di sini, aku bebas. Tidak ada yang mengatur. Tidak ada yang melarang. Tidak ada yang memerintah."
"Kau tidak kesepian?"
Lelaki tua itu terdiam. Wajahnya yang garang tiba-tiba berubah muram.
"Kesepian? Setiap hari. Setiap malam. Tapi sudah biasa. Aku sudah lupa bagaimana rasanya berbicara dengan manusia. Sampai kau datang."
Pagi harinya, Sultan Hasan bangun dengan tubuh masih terasa sakit, tapi tidak separah kemarin. Ia bisa duduk. Ia bisa berdiri dengan bantuan dinding gua. Ia bahkan bisa berjalan perlahan-lahan ke mulut gua, menghirup udara pagi yang segar, memandang laut yang biru kehijauan.
Kiai Pati sedang duduk di tepi pantai, memancing. Ikatannya sudah tua, tapi masih kuat.
"Kau sudah bisa bangun," katanya tanpa menoleh. "Bagus. Berarti kau tidak akan mati."
"Aku tidak akan mati, Kiai. Aku masih punya janji yang harus ditepati."
"Janji? Pada siapa?"
"Pada kekasihku. Pandan Wangi. Ia menungguku. Di telaga. Aku harus kembali."
Kiai Pati berbalik. Matanya menyipit. "Kau mencintai seorang perempuan?"
"Sangat."
"Dan perempuan itu mencintaimu?"
"Aku harap begitu."
"Kau tidak yakin?"
"Aku yakin. Tapi sekarang... sekarang ia mungkin sudah putus asa. Aku sudah lama tidak memberi kabar. Ia mungkin mengira aku mati."
Kiai Pati tertawa. "Kau masih muda, masih bodoh. Cinta tidak perlu kabar. Cinta tidak perlu bukti. Cinta cukup dengan perasaan. Jika ia benar-benar mencintaimu, ia akan menunggumu. Sampai kiamat sekalipun."
Sultan Hasan tersenyum. "Kau bijak, Kiai."
"Aku tidak bijak. Aku hanya sudah tua. Dan orang tua, apa pun yang terjadi, selalu punya cerita."
Hari-hari berlalu. Sultan Hasan memulihkan diri. Lukanya sembuh. Kekuatannya pulih. Ia mulai menjelajahi pulau itu bersama Kiai Pati. Belajar bertahan hidup. Belajar mencari makan di hutan. Belajar menangkap ikan dengan tangan kosong. Belajar membuat api tanpa korek api. Belajar membaca arah angin, membaca tanda-tanda alam, membaca bintang-bintang di langit.
"Kau cepat belajar," kata Kiai Pati. "Seperti dulu aku dulu."
"Aku punya guru yang baik," kata Sultan Hasan.
"Bukan aku yang baik. Tapi kau yang punya bakat. Aku bisa melihatnya dari matamu. Matamu tidak seperti mata orang kebanyakan. Ada api di sana. Api yang tidak pernah padam."
Suatu malam, saat mereka duduk di tepi pantai memandang bulan, Kiai Pati berkata, "Kau tahu, Sultan Hasan, dulu aku juga seperti kau. Aku juga mencintai seseorang. Tapi aku gagal menjaganya. Aku gagal menepati janji. Aku gagal menjadi penjaga hati yang baik."
"Apa yang terjadi, Kiai?"
Kiai Pati menghela napas panjang. "Perempuan itu mati. Karena kesalahanku. Aku terlalu sibuk dengan perang. Terlalu sibuk dengan kehormatan. Aku meninggalkannya sendirian, tanpa perlindungan. Dan ketika aku kembali, ia sudah tiada."
"Aku tidak akan mengulangi kesalahanmu, Kiai. Aku akan kembali. Aku akan menjemput Pandan Wangi. Aku akan melindunginya. Sampai mati."
"Bagus. Jangan sia-siakan hidupmu hanya untuk mengejar kekuasaan atau kekayaan. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Hanya cinta. Dan kematian. Dan cinta lebih kuat dari kematian."
Setahun berlalu. Sultan Hasan sudah pulih sepenuhnya. Tubuhnya bahkan lebih kuat dari sebelumnya. Otot-ototnya kekar. Gerakannya lincah. Pengetahuan tentang alamnya luas.
Ia juga belajar ilmu kanuragan dari Kiai Pati. Ilmu pernapasan. Ilmu tenaga dalam. Ilmu memanfaatkan energi alam. Kiai Pati adalah guru yang baik, meskipun keras. Sama kerasnya dengan Ki Ageng Jagaraga dan Kyai Buyut Cakar Mase.
"Kau sudah siap," kata Kiai Pati suatu pagi. "Siap untuk kembali ke dunia. Siap untuk menepati janjimu."
"Tapi bagaimana caranya? Pulau ini terpencil. Tidak ada kapal yang lewat. Aku tidak bisa berenang sejauh itu."
Kiai Pati tersenyum. "Kau lupa? Aku sudah tiga puluh tahun di sini. Aku punya perahu kecil. Buatanku sendiri. Dari kayu dan bambu. Tidak bagus. Tapi cukup untuk mengarungi laut."
"Aku tidak bisa mengambil perahu itu, Kiai. Itu satu-satunya yang kau punya."
"Aku sudah tua, Sultan Hasan. Aku tidak butuh perahu. Aku tidak butuh pergi ke mana pun. Aku akan mati di sini. Di pulau ini. Di gua ini. Sendirian. Itu sudah takdirku. Tapi kau... kau masih muda. Kau punya masa depan. Kau punya orang yang menunggumu. Kau harus pergi."
Sultan Hasan menangis. Ia memeluk Kiai Pati.
"Terima kasih, Kiai. Untuk semuanya. Untuk merawatku. Untuk mengajariku. Untuk membantuku."
"Jangan berterima kasih. Pergi. Jangan menoleh ke belakang. Dan ingatlah pesanku: jaga hatimu. Jaga cintamu. Jangan ulangi kesalahanku."
Sultan Hasan melepaskan pelukan. Ia mengusap air matanya. Ia berjalan ke pantai, di mana perahu kecil buatan Kiai Pati sudah menunggu.
Ia mendorong perahu itu ke air. Ia melompat ke dalamnya. Ia mengayuh dayung perlahan-lahan, meninggalkan pulau itu, meninggalkan Kiai Pati yang berdiri di tepi pantai, melambaikan tangan.
"Selamat jalan, Sultan Hasan!" teriak Kiai Pati.
"Selamat tinggal, Kiai!" teriak Sultan Hasan balik.
Perahu itu semakin jauh. Pulau itu semakin kecil. Kiai Pati semakin kecil. Hingga akhirnya lenyap ditelan cakrawala.
Sultan Hasan mendayung terus. Menuju ke barat. Menuju ke Dukuh Wangi. Menuju ke telaga. Menuju ke Pandan Wangi.
Di dadanya, batu akik merah berdenyut. Kencang. Hangat. Seperti bisikan: "Kau akan sampai. Aku di sini. Aku akan menuntunmu."
Sultan Hasan tersenyum. Ia mendayung lebih kencang.
BAB XLIV
Belajar Kesabaran: Sang Narapidana Tua Mengajarkan Bahwa Cinta yang Hebat Tidak Selalu Memiliki, Kadang Cukup Dijaga
Perjalanan pulang dari Pulau Penjara memakan waktu lebih lama dari yang Sultan Hasan kira.
Angin laut tidak selalu bersahabat. Kadang ia terpaksa berhenti di pulau-pulau kecil untuk berlindung dari badai. Kadang ia kehabisan bekal dan harus mencari makan di tengah laut. Kadang ia tersesat karena bintang-bintang tertutup awan, dan batu akik merah di dadanya tidak bisa memberikan petunjuk yang jelas.
Tapi ia tidak menyerah.
Setiap kali ia ingin putus asa, ia teringat pada wajah Pandan Wangi. Pada janji mereka. Pada cinta yang masih menyala di dadanya, meskipun jarak dan waktu membentang.
Dan ia teringat pada kata-kata Kiai Pati, narapidana tua yang merawatnya di Pulau Penjara. Kata-kata yang tidak pernah ia lupakan, yang terukir di hatinya seperti ukiran di batu.
"Cinta yang hebat tidak selalu memiliki, Sultan Hasan. Kadang, cukup dijaga."
Awalnya ia tidak mengerti. Bagaimana mungkin cukup? Bagaimana mungkin ia bisa bahagia hanya dengan menjaga cinta, tanpa memiliki? Bukankah cinta adalah tentang memiliki? Tentang bersatu? Tentang hidup bersama?
Tapi semakin lama ia merenung, semakin ia mengerti.
Mungkin Kiai Pati benar.
Mungkin cinta sejati tidak terletak pada memiliki atau tidak memiliki. Cinta sejati terletak pada ketulusan. Pada kesetiaan. Pada keberanian untuk terus mencintai, meskipun tidak ada jaminan bahwa cinta itu akan berbalas. Meskipun tidak ada jaminan bahwa ia akan bertemu lagi. Meskipun tidak ada jaminan bahwa mereka akan bersatu.
Mungkin ia tidak akan pernah bisa memiliki Pandan Wangi seutuhnya. Mungkin Pandan Wangi akan tetap menjadi penunggu telaga. Mungkin mereka tidak bisa menikah. Mungkin mereka tidak bisa hidup bersama. Mungkin mereka tidak bisa memiliki anak.
Tapi ia bisa menjaga cinta itu. Di dalam hatinya. Di dalam doanya. Di dalam setiap langkah kehidupannya.
Dan mungkin itu sudah cukup.
Sultan Hasan tiba di Dukuh Wangi pada suatu malam, ketika bulan sedang purnama.
Ia tidak langsung menuju telaga. Ia pergi ke rumah Jaya terlebih dahulu. Jaya terkejut melihatnya. Wajahnya pucat, matanya cekung, tubuhnya kurus. Ia sudah mengira Sultan Hasan mati di pulau itu.
"Kau... kau hidup!" teriak Jaya sambil memeluk sahabatnya.
"Aku hidup, Jaya. Aku selamat."
"Pandan Wangi! Ia... ia menunggumu! Setiap malam! Ia pergi ke telaga! Ia duduk di batu hitam itu! Ia memanggil-manggil namamu! Aku mendengarnya dari kejauhan! Aku kasihan padanya!"
Sultan Hasan terharu. Ia menangis. "Ia menungguku?"
"Setiap malam! Tidak pernah absen! Aku mengawasinya dari kejauhan. Ia duduk di batu itu berjam-jam, memandang ke timur, menunggu. Kadang ia membawa bunga. Kadang ia membawa buah. Kadang ia hanya membawa air mata."
Sultan Hasan tidak bisa menahan diri. Ia berlari menuju telaga. Jaya mengikutinya.
Sampai di telaga.
Bulan purnama bersinar terang. Air telaga jernih, memantulkan cahaya bulan, menciptakan ribuan titik berkilauan seperti berlian. Batu hitam tempat Pandan Wangi biasa duduk kosong. Tapi di atas batu itu, ada setangkai bunga melati putih. Masih segar. Masih basah oleh embun. Seperti baru diletakkan beberapa saat yang lalu.
"Pandan!" teriak Sultan Hasan. "PANDAN! AKU KEMBALI!"
Tidak ada jawaban.
Ia berjalan menyusuri tepi telaga. Memeriksa setiap sudut. Setiap semak. Setiap pohon.
Pandan Wangi tidak ada.
Ia berenang ke tengah telaga. Menyelam ke dasar. Mencari-cari di antara tanaman air.
Pandan Wangi tidak ada.
Ia keluar dari air. Tubuhnya menggigil. Bukan karena dingin. Tapi karena takut. Apakah ia terlambat? Apakah Pandan Wangi sudah menyerah? Apakah Pandan Wangi sudah pergi untuk selama-lamanya?
"PANDAN!" teriaknya sekali lagi. Suaranya pecah. Air matanya bercampur dengan air telaga.
Dan kemudian, dari tengah telaga, airnya beriak.
Iriak kecil pada awalnya. Kemudian semakin besar. Seperti ada sesuatu di bawah sana yang bangun dari tidur panjang.
Dan dari tengah telaga, seorang perempuan muncul.
Ia berjalan di atas air. Perlahan. Anggun. Seperti penari.
Pandan Wangi.
Ia masih cantik. Seperti dulu. Mungkin lebih cantik, karena rindu yang lama terpendam telah mengukir kedewasaan di wajahnya. Matanya sayu, tapi bersinar. Bibirnya sedikit pucat, tapi tersenyum.
"Sultan Hasan," bisiknya. "Kau kembali."
"Aku kembali, Pandan. Aku kembali."
Mereka berdua berlari. Berpelukan di tepi telaga, di bawah cahaya bulan purnama, di hadapan Jaya yang menangis haru di kejauhan.
"Kau tidak berubah," kata Pandan Wangi. "Masih tampan. Masih baik. Masih setia."
"Kau juga tidak berubah. Masih cantik. Masih lembut. Masih menunggu."
"Aku menunggumu. Setiap malam. Tidak pernah absen."
"Aku tahu. Jaya bilang."
Pandan Wangi tersenyum. "Kau tahu, selama kau pergi, aku belajar banyak hal. Tentang cinta. Tentang kesabaran. Tentang ketulusan."
"Apa yang kau pelajari?"
"Aku belajar bahwa cinta yang hebat tidak selalu memiliki. Kadang, cukup dijaga. Aku tidak perlu memiliki dirimu seutuhnya. Aku cukup tahu bahwa kau ada di suatu tempat, bahwa kau baik-baik saja, bahwa kau masih mencintaiku. Itu sudah cukup."
Sultan Hasan terkejut. Kata-kata Pandan Wangi persis sama dengan kata-kata Kiai Pati dulu.
"Aku juga belajar itu, Pandan. Dari seorang narapidana tua di pulau penjara. Ia mengajariku bahwa cinta sejati tidak terletak pada memiliki atau tidak memiliki. Tapi pada ketulusan. Pada kesetiaan. Pada keberanian untuk terus mencintai."
Mereka berdua terdiam. Saling memandang. Tidak ada yang perlu diucapkan lagi. Mereka sudah mengerti. Mereka sudah dewasa. Mereka sudah siap untuk menjalani cinta ini, apa pun bentuknya.
"Pandan," kata Sultan Hasan.
"Ya?"
"Aku tidak tahu apakah kita bisa menikah. Aku tidak tahu apakah kita bisa hidup bersama. Aku tidak tahu apakah kita bisa memiliki anak. Tapi aku tahu satu hal: aku akan selalu mencintaimu. Sampai mati. Sampai setelah mati. Selamanya."
"Selamanya itu lama, Sultan Hasan."
"Aku tidak peduli. Selamanya bersama cintamu, lebih baik daripada sesaat tanpa cinta."
Pandan Wangi menangis. Sultan Hasan memeluknya erat-erat.
Mereka tidak bicara lagi. Hanya diam. Menikmati kehadiran satu sama lain. Menikmati cinta yang sudah lama terpendam, kini akhirnya tersalurkan.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu diam.
Seolah setuju. Seolah merestui. Seolah bahagia bahwa penjaga hati akhirnya belajar bahwa cinta tidak selalu tentang memiliki.
Kadang, cukup dijaga.
Selamanya.
BAB XLV
Tahun Pertama di Pulau: Sultan Hasan Mulai Menulis Syair di Daun Lontar
Pertemuan kembali dengan Pandan Wangi di telaga bukanlah akhir dari perpisahan mereka. Sultan Hasan tidak bisa tinggal lama di Dukuh Wangi. Para pengawal kerajaan masih mencarinya. Pangeran Kertawijaya masih dendam. Adipati — ayah Pandan Wangi — meskipun telah merestui cinta mereka, tidak bisa melindungi Sultan Hasan dari amukan pangeran yang merasa dipermalukan.
"Kau harus pergi lagi," kata Pandan Wangi suatu malam, setelah mereka berpelukan lama di tepi telaga. "Mereka akan menemukanmu. Mereka akan membunuhmu."
"Aku tidak takut mati, Pandan."
"Aku takut. Aku takut kehilanganmu. Aku lebih baik kau hidup jauh dariku daripada kau mati di sampingku."
Sultan Hasan terdiam. Ia tahu Pandan Wangi benar. Selama ia masih dekat dengan kerajaan, selama ia masih berada dalam jangkauan Pangeran Kertawijaya, nyawanya tidak aman. Satu-satunya cara untuk selamat adalah pergi. Jauh. Dan tidak kembali.
"Kemana aku harus pergi?" tanyanya.
"Kembalilah ke pulau itu. Pulau Penjara. Tempat di mana kau bertemu dengan Kiai Pati. Tidak ada yang akan mencarimu di sana. Tidak ada yang akan mengganggumu. Kau bisa hidup dengan tenang. Kau bisa... menulis."
"Menulis?"
"Iya. Menulis. Tentang perjalananmu. Tentang cinta kita. Tentang semua yang kau alami. Suatu hari, tulisan-tulisan itu akan menjadi warisan. Untuk anak cucu. Untuk generasi mendatang. Agar mereka tahu bahwa cinta sejati itu ada. Bahwa kesetiaan itu ada. Bahwa penjaga hati itu ada."
Sultan Hasan tersenyum. "Kau ingin aku menjadi pujangga?"
"Aku ingin kau menjadi penjaga hati yang menulis. Karena kata-kata tidak akan mati. Kata-kata akan terus hidup, bahkan setelah kau tiada. Dan melalui kata-kata itu, cinta kita akan abadi."
Sultan Hasan pergi lagi ke Pulau Penjata.
Ia tidak sendirian. Jaya ikut, seperti biasa. Ke mana pun Sultan Hasan pergi, Jaya ikut. Sampai mati.
Perjalanan memakan waktu dua minggu. Kali ini mereka tidak menggunakan perahu kecil buatan Kiai Pati yang sudah lapuk. Mereka menyewa perahu nelayan dari desa pantai, membayar dengan uang tabungan Sultan Hasan selama bekerja di Bandar Cendana.
Kiai Pati masih hidup ketika mereka tiba. Lelaki tua itu terkejut melihat Sultan Hasan kembali.
"Kau kembali? Aku kira kau sudah menikah dengan kekasihmu dan hidup bahagia selamanya."
"Tidak, Kiai. Aku masih dikejar musuh. Aku harus bersembunyi di sini. Setidaknya untuk sementara waktu."
"Berapa lama?"
"Aku tidak tahu. Mungkin setahun. Mungkin dua tahun. Mungkin selamanya."
Kiai Pati menghela napas. "Terserah. Pulau ini milik siapa pun yang berani tinggal di sini. Tapi jangan harap aku akan melayani kalian. Aku sudah tua. Aku hanya bisa mengajari kalian bertahan hidup, seperti dulu."
"Itu sudah cukup, Kiai. Terima kasih."
Hari-hari berlalu. Bulan-bulan berganti.
Sultan Hasan, Jaya, dan Kiai Pati tinggal di pulau itu bersama-sama. Mereka membangun pondok-pondok kecil dari kayu dan bambu. Mereka berkebun sayur-sayuran. Mereka beternak ayam hutan yang mereka jinakkan. Mereka memancing di laut. Kehidupan sederhana, tapi cukup.
Namun, Sultan Hasan tidak hanya bertahan hidup. Ia juga menulis.
Setiap malam, setelah bekerja seharian, ia duduk di tepi pantai, memandang laut, memandang bintang, mengingat-ingat perjalanan hidupnya. Lalu ia menulis.
Ia menulis di daun lontar. Kering. Keras. Tidak mudah ditulisi. Tapi ia tidak punya kertas. Tidak punya pena. Hanya pisau kecil dan lontar yang ia keringkan sendiri.
Ia menulis tentang masa kecilnya di Dukuh Wangi. Tentang ibunya, Dewi Rengganis, yang meninggal saat ia masih kecil. Tentang ayahnya, Hasan, yang lenyap di hutan. Tentang Nini Mas Intan yang menolong kelahirannya. Tentang Mak Umi yang merawatnya. Tentang Jaya, sahabat setianya. Tentang Ki Ageng Jagaraga yang mengajarinya silat. Tentang Kyai Buyut Cakar Mase yang mengajarinya kitab tujuh penjaga. Tentang Kiai Pati yang mengajarinya kesabaran.
Dan tentu saja, tentang Pandan Wangi. Perempuan yang ia cintai sejak kecil. Perempuan yang selalu setia menunggu. Perempuan yang menjadi alasan ia tetap hidup, tetap berjuang, tetap menulis.
Pandan Wangi tidak pernah disebut secara langsung. Ia selalu disamarkan. "Dia yang namanya harum seperti bunga pandan." "Dia yang matanya jernih seperti air telaga." "Dia yang suaranya lembut seperti bisikan angin malam."
Tapi setiap orang yang membaca tulisan-tulisan itu akan tahu. Tidak ada yang lain yang bisa seperti itu. Hanya Pandan Wangi.
"Kau jatuh cinta," kata Kiai Pati suatu malam, saat melihat Sultan Hasan menulis.
"Sudah lama, Kiai."
"Dan kau menulis tentang dia?"
"Setiap hari. Setiap malam. Aku tidak bisa berhenti."
"Kau tahu, dulu aku juga seperti itu. Aku juga menulis tentang perempuan yang kucintai. Tapi tulisanku tidak pernah selesai. Aku selalu merobeknya sebelum selesai. Karena aku takut. Takut kata-kataku tidak cukup indah untuk menggambarkan kecantikannya. Takut kata-kataku tidak cukup kuat untuk mengungkapkan cintaku."
"Dan sekarang?"
"Sekarang ia sudah mati. Tulisanku tidak ada yang tersisa. Yang tersisa hanyalah kenangan. Kenangan yang semakin pudar setiap hari."
Kiai Pati memandang Sultan Hasan. Matanya berkaca-kaca.
"Jangan ulangi kesalahanku, Nak. Selesaikan tulisan-tulisan itu. Biarkan ia membaca. Biarkan ia tahu betapa kau mencintainya. Karena hidup ini singkat. Kau tidak tahu kapan kau akan mati. Kau tidak tahu kapan ia akan mati."
"Saya akan menyelesaikannya, Kiai. Saya janji."
Tahun pertama di pulau itu berlalu.
Sultan Hasan sudah mengumpulkan tumpukan daun lontar setinggi lutut. Ratusan helai. Ribuan baris. Syair. Cerita. Puisi. Nasihat. Semua tentang cinta. Tentang kehidupan. Tentang menjadi penjaga hati.
Ia belum memberinya judul. Ia hanya menulis. Menulis. Menulis. Seperti orang kesurupan. Seperti orang yang dikejar waktu.
Jaya kadang membantu. Ia mengumpulkan daun lontar. Ia mengeringkannya. Ia mengirisnya. Ia merapikannya. Ia juga belajar membaca dan menulis dari Sultan Hasan. Perlahan. Tapi pasti.
"Siapa yang akan membaca tulisan-tulisan ini?" tanya Jaya suatu hari.
"Aku tidak tahu. Mungkin tidak ada. Mungkin hanya Pandan Wangi. Mungkin hanya kita berdua. Tapi itu tidak masalah. Yang penting, kata-kata ini ada. Mereka tidak akan mati. Mereka akan terus hidup. Sampai ada yang menemukannya. Sampai ada yang membacanya. Sampai ada yang terinspirasi."
"Kau percaya pada kata-kata?"
"Aku percaya. Karena kata-kata adalah satu-satunya hal yang abadi di dunia ini. Batu bisa hancur. Logam bisa berkarat. Tubuh bisa mati. Tapi kata-kata... kata-kata akan terus hidup selama ada yang mengingatnya."
Malam itu, Sultan Hasan menulis satu syair yang kelak akan menjadi terkenal di seluruh Nusantara. Syair tentang telaga. Tentang rindu. Tentang cinta yang terpisah jarak dan waktu.
Rindu ini bukan tentang bertemu,
Bukan tentang berjumpa di ujung jalan.
Rindu ini tentang air di telaga,
Yang tak pernah habis meski terus kau timba.
Ia ada. Ia mengalir. Ia hidup.
Meski kau tak melihatnya.
Meski kau tak menyentuhnya.
Meski kau jauh di sana.
Ia tidak tahu bahwa kelak, syair itu akan dihafal oleh anak-anak sekolah. Ia tidak tahu bahwa kelak, syair itu akan diajarkan sebagai bagian dari sastra klasik Nusantara. Ia tidak tahu bahwa kelak, syair itu akan menjadi bukti bahwa cinta sejati itu ada. Bahwa kesetiaan itu ada. Bahwa penjaga hati itu ada.
Yang ia tahu hanyalah: ia harus menulis. Karena menulis adalah satu-satunya cara untuk tetap terhubung dengan Pandan Wangi. Satu-satunya cara untuk menepati janjinya. Satu-satunya cara untuk menjaga cinta yang sudah ia rawat sejak kecil.
"Terima kasih, Pandan," bisiknya selesai menulis, memandang bintang-bintang di langit. "Karena kau mengajariku menulis. Karena kau mengajariku mencintai. Karena kau mengajariku menjadi penjaga hati."
Di kejauhan, meski tidak mungkin, ia mendengar suara burung hantu. Samar. Tapi jelas.
Sekali. Pendek.
Seperti jawaban: "Sama-sama, penjaga hati. Aku akan selalu menunggumu."
BAB XLVI
Pandan Wangi Menikah dengan Pangeran – Sultan Hasan Hanya Bisa Menangis di Kejauhan Meski Tidak Melihat Langsung
Di istana Kerajaan Kencana Wungu, persiapan pernikahan besar-besaran sedang berlangsung.
Ribuan pelayan sibuk membersihkan setiap sudut istana. Puluhan tukang hias memasang janur dan bunga di sepanjang koridor. Para koki dari berbagai kerajaan diundang untuk menyiapkan hidangan terbaik. Para musisi berlatih lagu-lagu kebesaran siang dan malam. Para penari mempersiapkan gerakan-gerakan terindah untuk menyambut malam puncak.
Ini bukan pernikahan biasa. Ini pernikahan antara Pangeran Kertawijaya – pewaris takhta Kerajaan Kencana Wungu – dengan Putri Pandan Wangi – putri bangsawan dari kerajaan tetangga. Seluruh bangsawan Nusantara diundang. Raja-raja dari negeri seberang datang membawa hadiah. Para duta besar dari berbagai negara berkumpul untuk menyaksikan momen bersejarah ini.
Hanya satu orang yang tidak diundang: Sultan Hasan.
Dan hanya satu orang yang tidak bahagia: Pandan Wangi.
Pandan Wangi duduk di depan cermin besar di kamarnya. Beberapa dayang sedang merias wajahnya, menata rambutnya, memakaikan perhiasan emas dan berlian. Ia cantik. Sangat cantik. Seperti bidadari yang turun dari langit. Tapi matanya kosong. Tidak ada cahaya. Tidak ada semangat. Ia hanya boneka cantik yang dipaksa menari di atas panggung.
"Putri, jangan sedih," kata dayang kesayangannya. "Hari ini adalah hari bahagia Putri. Putri akan menikah dengan pangeran tampan dan kaya raya. Semua wanita di kerajaan iri pada Putri."
Pandan Wangi tersenyum pahit. "Kebahagiaan tidak diukur dari ketampanan dan kekayaan, sayang."
"Lalu dari apa?"
"Dari hati. Dari cinta. Dari kebebasan memilih."
Dayang itu terdiam. Ia tidak mengerti. Ia hanya dayang sederhana yang mengabdi pada putri. Tugasnya merias, bukan berpikir.
Pandan Wangi memandang kalung di lehernya. Batu akik merah itu berdenyut. Pelan. Lembut.
"Aku di sini," bisik batu itu. "Kau tidak sendirian."
Pandan Wangi tersenyum. "Terima kasih," bisiknya. "Setidaknya kau masih bersamaku. Dan Sultan Hasan... di mana pun ia berada... semoga ia baik-baik saja."
Di Pulau Penjara, Sultan Hasan terus menulis.
Ia sudah menulis ratusan syair tentang cinta dan kehilangan. Tentang rindu dan kesabaran. Tentang janji dan pengorbanan. Tapi hari ini, ia tidak bisa menulis. Tangannya gemetar. Hatinya gelisah. Batu akik merah di dadanya berdenyut kencang. Tidak seperti biasanya.
"Ada apa?" tanyanya pada batu itu.
Batu itu tidak menjawab. Hanya berdenyut. Kencang. Panas. Seperti memberi peringatan.
Sultan Hasan berdiri. Ia berjalan ke tepi pantai. Memandang ke timur. Ke arah kerajaan. Ke arah istana. Ke arah Pandan Wangi.
"Hari ini," bisiknya. "Hari ini ia menikah."
Ia tidak tahu dari mana pengetahuannya. Mungkin dari denyut batu. Mungkin dari firasat. Mungkin dari hati yang sudah terhubung dengan hati Pandan Wangi sejak lama.
Ia duduk di atas batu karang. Memandang laut. Memandang langit. Memandang awan-awan putih yang bergerak lambat.
Air matanya menetes.
Ia menangis.
Bukan karena marah. Bukan karena putus asa. Tapi karena ia tahu, Pandan Wangi juga menangis di tempat yang jauh. Pandan Wangi juga dipaksa. Pandan Wangi juga tidak bahagia.
"Sabar, Pandan," bisiknya. "Aku tidak bisa hadir di pernikahanmu. Aku tidak bisa membebaskanmu sekarang. Tapi aku akan selalu mencintaimu. Sampai mati. Sampai setelah mati. Selamanya."
Di istana, prosesi pernikahan berlangsung megah.
Pangeran Kertawijaya berjalan memasuki pelataran istana dengan diiringi seratus prajurit berkuda. Ia memakai pakaian kebesaran berwarna emas, bertaburkan berlian dan permata. Wajahnya tampan, senyumnya lebar. Ia merasa menjadi pria paling beruntung di dunia.
Pandan Wangi berjalan di belakangnya, dituntun oleh kedua orang tuanya. Ia memakai pakaian pengantin berwarna merah keemasan, bertaburkan bunga melati dan mawar. Wajahnya cantik, tapi tanpa senyum. Matanya sayu, seperti telaga yang kehilangan cahaya bulan.
Mereka berdua duduk di pelaminan. Para pemuka agama membacakan doa-doa. Sumpah pernikahan diucapkan. Cincin disematkan di jari.
"Kuterima nikahnya Putri Pandan Wangi binti Adipati Kertanegara dengan mas kawin seratus keping emas dibayar tunai," kata Pangeran Kertawijaya dengan suara lantang.
Pandan Wangi hanya diam. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Mulutnya terasa terkunci.
"Kau harus mengucapkan sumpahmu, Putri," bisik dayang di sampingnya.
Pandan Wangi membuka mulutnya. Suaranya keluar pelan, parau, seperti pecahan kaca yang digesekkan.
"Aku... terima..."
Hanya itu. Dua kata. Tapi cukup untuk mengikatnya dalam pernikahan yang tidak ia inginkan.
Para tamu bertepuk tangan. Para musisi memainkan lagu kebesaran. Para penari menari dengan lincah. Pesta dimulai. Semua orang bersorak. Semua orang bahagia.
Hanya Pandan Wangi yang tidak.
Air matanya jatuh. Jatuh ke pangkuannya. Jatuh ke batu akik merah di kalungnya. Batu itu berdenyut. Kencang. Seperti ikut menangis.
Di Pulau Penjara, Sultan Hasan masih duduk di atas batu karang.
Matahari sudah terbenam. Bulan mulai muncul. Bintang-bintang bertaburan.
Ia masih menangis. Lelah. Tapi tidak bisa berhenti.
"Kau masih di sini?" tanya Jaya yang datang menghampiri.
"Aku tidak bisa ke mana-mana, Jaya. Hari ini ia menikah. Dengan orang lain. Aku tidak bisa mencegah. Aku tidak bisa melawan. Aku hanya bisa diam di sini, menangis, meratapi nasib."
"Kau tidak menyesal?"
"Menyesal? Setiap hari. Setiap malam. Aku menyesal karena tidak cukup kuat. Karena tidak cukup berani. Karena tidak cukup kaya atau bangsawan untuk melamar ia secara resmi."
"Tapi kau sudah berusaha. Kau sudah melawan pangeran. Kau sudah hampir mati. Itu sudah lebih dari cukup."
"Tapi tidak cukup, Jaya. Tidak cukup untuk merebutnya dari pangeran. Tidak cukup untuk membawanya lari. Tidak cukup untuk membuatnya bahagia."
Jaya duduk di samping Sultan Hasan. Ia tidak bicara. Hanya menemani.
Mereka berdua diam. Memandang laut. Memandang bulan. Memandang bintang.
"Jaya," kata Sultan Hasan setelah lama terdiam.
"Ya?"
"Kau tahu, meskipun ia menikah dengan orang lain, cintaku padanya tidak akan berubah. Aku akan tetap mencintainya. Sampai mati. Sampai setelah mati. Selamanya."
"Kau gila, Hasan. Ia sudah menjadi milik orang lain."
"Cinta tidak mengenal milik siapa. Cinta hanya tentang perasaan. Dan perasaanku padanya tidak akan pernah pudar."
Jaya menghela napas. "Kau sungguh gila. Tapi itulah sebabnya aku berteman denganmu."
Mereka berdua tersenyum pahit.
Pesta pernikahan berlangsung sampai larut malam.
Pandan Wangi duduk di pelaminan seperti patung. Ia tidak bicara. Tidak makan. Tidak minum. Tidak tersenyum. Hanya diam. Menatap kosong.
Para tamu mulai pulang satu per satu. Pangeran Kertawijaya yang sudah mabuk karena minuman keras, digotong para pelayannya ke kamar pengantin.
"Putri, sudah waktunya Putri ke kamar pengantin," kata dayang.
Pandan Wangi tidak bergerak.
"Putri... pangeran sudah menunggu."
"Biarkan ia menunggu. Sampai mati."
Dayang itu bingung. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya dayang kecil. Tidak punya kuasa untuk memaksa putri.
Pandan Wangi berdiri sendiri. Ia berjalan meninggalkan pelaminan. Ia tidak menuju kamar pengantin. Ia menuju taman belakang. Menuju air mancur. Menuju tempat di mana dulu ia pertama kali bertemu Sultan Hasan.
Ia duduk di tepi air mancur. Memandang air yang memancar. Memandang bulan yang terpantul di permukaan air.
"Sultan Hasan," bisiknya. "Aku sudah menikah. Tapi aku tidak akan pernah menjadi istri pangeran itu. Hatiku tetap milikmu. Selamanya."
Ia memegang kalung batu akik merah di lehernya. Batu itu berdenyut. Hangat. Seperti menjawab: "Aku di sini. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
Pandan Wangi tersenyum.
Di kejauhan, di Pulau Penjara, Sultan Hasan merasakan denyut itu. Ia tersenyum juga.
Mereka berdua tersenyum. Meskipun terpisah jarak dan waktu. Meskipun terpisah oleh pernikahan yang tidak diinginkan. Meskipun terpisah oleh takdir yang kejam.
Cinta mereka tetap ada. Tidak akan pernah mati.
Selamanya.
BAB XLVII
Tahanan Tua Wafat – Sebelum Mati, Ia Menyerahkan Rahasia: "Kekuatan Penjaga Hati Adalah Ketika Tidak Ada yang Melihatmu Tetap Menjaga"
Tahun kedua di Pulau Penjara berjalan sunyi.
Sultan Hasan terus menulis. Jaya terus membantu. Kiai Pati terus mengajar. Kehidupan mereka sederhana, teratur, dan damai. Tidak ada kejutan. Tidak ada konflik. Hanya alam, kerja, dan kata-kata yang lahir di atas daun lontar.
Tapi Sultan Hasan memperhatikan sesuatu. Kiai Pati mulai melemah. Langkahnya tidak setegap dulu. Tangannya kadang gemetar saat memegang pancing. Matanya semakin buram. Suaranya semakin parau. Napasnya semakin pendek.
"Kiai, kau sakit?" tanya Sultan Hasan suatu hari.
"Sakit? Tidak. Aku hanya tua. Dan orang tua, meskipun sehat, suatu hari akan mati."
"Jangan bicara begitu, Kiai. Kiai masih kuat. Kiai masih bisa mengajariku banyak hal."
Kiai Pati tersenyum. "Aku sudah mengajarimu semua yang aku tahu. Yang tersisa hanyalah... rahasia. Satu rahasia yang tidak pernah kusampaikan kepada siapa pun."
"Rahasia apa, Kiai?"
"Sabarlah. Nanti, ketika aku sudah dekat dengan ajal, akan aku sampaikan."
Malam itu, Kiai Pati tidak bangun dari tidurnya.
Sultan Hasan dan Jaya menemukannya terbaring di atas tumpukan daun kering, matanya terpejam, dadanya naik turun perlahan. Tangannya dingin. Bibirnya biru.
"Kiai!" panggil Sultan Hasan.
Kiai Pati membuka mata. Samar-samar. Ia tersenyum.
"Sudah dekat," bisiknya. "Aku bisa melihat malaikat maut berdiri di sudut gua. Ia menungguku."
"Jangan pergi, Kiai. Kami masih butuh kau."
"Kalian tidak butuh aku lagi. Kalian sudah dewasa. Kalian sudah kuat. Kalian sudah bisa hidup sendiri di pulau ini. Atau kembali ke dunia. Terserah."
Kiai Pati menggenggam tangan Sultan Hasan. Tangannya dingin, tapi genggamannya kuat.
"Nak," katanya. "Aku akan memberikan rahasia itu sekarang. Dengarkan baik-baik. Karena ini adalah warisan terakhirku untukmu."
"Iya, Kiai. Aku mendengarkan."
"Kekuatan penjaga hati," kata Kiai Pati perlahan, "bukanlah ketika kau bisa melindungi orang yang kau cintai dari bahaya. Bukan ketika kau bisa mengalahkan musuh. Bukan ketika kau bisa memiliki apa yang kau inginkan."
"Lalu apa, Kiai?"
"Kekuatan penjaga hati adalah ketika tidak ada yang melihatmu, tidak ada yang tahu, tidak ada yang peduli... kau tetap menjaga. Kau tetap setia. Kau tetap mencintai. Tanpa imbalan. Tanpa pengakuan. Tanpa pamrih."
Sultan Hasan terdiam. Ia merenungkan kata-kata itu.
"Itulah yang membedakan penjaga hati sejati dengan orang biasa, Nak. Orang biasa akan berhenti menjaga jika tidak ada yang menghargai. Penjaga hati sejati akan terus menjaga meskipun seluruh dunia melupakannya. Karena ia tidak menjaga untuk dunia. Ia menjaga untuk hati. Hatinya sendiri. Hati orang yang dicintainya. Dan hati tidak butuh pengakuan. Hati butuh ketulusan."
Kiai Pati batuk. Batuknya keras. Darah keluar dari mulutnya.
"Kiai!" teriak Sultan Hasan.
"Jangan panik. Ini sudah waktunya. Aku sudah siap."
Kiai Pati memandang Sultan Hasan. Matanya yang buram tiba-tiba jernih untuk sesaat.
"Kau akan menjadi penjaga hati yang hebat, Sultan Hasan. Aku bisa melihatnya. Dari matamu. Dari hatimu. Dari setiap kata yang kau tulis."
"Terima kasih, Kiai."
"Tapi ingat. Jangan sia-siakan hidupmu hanya untuk mengejar cinta yang tidak bisa kau miliki. Cintailah Pandan Wangi. Tapi jangan biarkan cinta itu menghancurkanmu. Jadikan ia kekuatan. Bukan kelemahan."
"Aku akan, Kiai."
Kiai Pati tersenyum. Ia memandang ke langit-langit gua. Matanya menerawang. Seperti melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa.
"Kau tahu, Nak," bisiknya. "Aku dulu juga punya seseorang yang kucintai. Tapi aku tidak pernah cukup berani. Aku hanya bisa menjaga dari kejauhan. Dan ketika ia mati, aku menyesal. Tapi sekarang... sekarang aku tidak menyesal lagi. Karena aku tahu, ia ada di suatu tempat. Menungguku. Dan sebentar lagi, kita akan bertemu."
Kiai Pati memejamkan matanya. Dadanya naik sekali, turun, lalu tidak naik lagi.
Sultan Hasan menggenggam tangannya. Tangannya sudah dingin. Tidak berdenyut. Tidak bergerak.
Ia menangis. Jaya juga menangis.
Mereka berdua kehilangan guru lagi. Kehilangan sahabat lagi. Kehilangan keluarga lagi.
Tapi mereka tidak larut dalam kesedihan. Mereka ingat pesan Kiai Pati: "Kekuatan penjaga hati adalah ketika tidak ada yang melihatmu, kau tetap menjaga."
Sekarang, tidak ada yang melihat mereka. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang peduli. Tapi mereka tetap menjaga. Menjaga jasad Kiai Pati. Menjaga kehormatannya. Menjaga rahasianya.
Mereka menguburkan Kiai Pati di bawah pohon beringin tua di tepi pantai. Tempat yang indah. Dengan pemandangan laut lepas. Dengan bisikan ombak sebagai doa.
"Selamat jalan, Kiai," bisik Sultan Hasan. "Terima kasih untuk semuanya. Untuk rahasiamu. Untuk ajaramu. Untuk kesabaranmu."
Di dahan pohon beringin, seekor burung hantu menatapnya. Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah setuju. Seolah merestui. Seolah bahagia bahwa rahasia itu akhirnya tersampaikan. Dan bahwa Sultan Hasan akan menjaganya. Selamanya.
Setelah Kiai Pati wafat, Sultan Hasan dan Jaya tinggal berdua di pulau itu.
Mereka tidak langsung pergi. Mereka masih punya banyak daun lontar yang harus ditulis. Masih banyak cerita yang harus diabadikan.
Tapi suatu malam, Sultan Hasan bermimpi.
Dalam mimpinya, Kiai Pati datang. Tubuhnya masih tua, tapi wajahnya berseri.
"Apa kau sudah menemukan jawabannya, Nak?" tanya Kiai Pati.
"Jawaban untuk apa, Kiai?"
"Untuk pertanyaanmu: apakah kau akan terus menjaga Pandan Wangi meskipun ia sudah menjadi istri orang lain?"
Sultan Hasan terdiam. Ia tidak pernah bertanya itu. Tapi mungkin Kiai Pati bisa membaca pikirannya.
"Aku akan terus menjaganya, Kiai. Meskipun ia sudah menikah. Meskipun ia jauh. Meskipun tidak ada yang tahu. Aku akan setia. Selamanya."
Kiai Pati tersenyum. "Kau sudah menjadi penjaga hati sejati, Nak. Aku bangga padamu."
Kiai Pati menghilang. Sultan Hasan terbangun.
Ia duduk di tepi pantai. Memandang laut. Memandang bintang. Memandang bulan sabit yang tipis.
"Pandan," bisiknya. "Aku akan terus menjagamu. Meskipun kau tidak pernah tahu. Meskipun tidak ada yang pernah tahu. Karena itu adalah kekuatan penjaga hati."
Di kejauhan, meski tidak mungkin, ia mendengar suara burung hantu. Samar. Tapi jelas.
Sekali. Pendek.
Seperti jawaban: "Aku juga akan terus menjagamu, penjaga hati. Selamanya."
Sultan Hasan tersenyum.
Ia kembali ke pondoknya. Ia menulis. Menulis. Menulis.
Tentang cinta. Tentang kesetiaan. Tentang rahasia yang diwariskan Kiai Pati. Tentang kekuatan penjaga hati.
Daun lontar bertambah. Tumpukan semakin tinggi.
Ia tidak tahu untuk siapa tulisannya. Tapi ia terus menulis.
Karena menulis adalah caranya menjaga.
Menjaga ingatan. Menjaga cinta. Menjaga hati.
Selamanya.
BAB XLVIII
Usia 24 Tahun – Sultan Hasan Dibebaskan dari Pulau Penjara – Kembali ke Desa Asalnya dengan Jiwa yang Berbeda
Tahun-tahun di Pulau Penjara terasa berjalan lambat, tetapi tidak terasa ketika Sultan Hasan menghitung usianya, ia sudah genap dua puluh empat tahun.
Tujuh tahun sudah ia tinggal di pulau itu. Tujuh tahun bersama Kiai Pati (almarhum), bersama Jaya, bersama alam, dan bersama tumpukan daun lontar yang semakin meninggi. Tujuh tahun tanpa kabar dari dunia luar. Tujuh tahun tanpa berita tentang Pandan Wangi.
Pada suatu pagi, saat Sultan Hasan sedang memancing di tepi pantai, ia melihat sebuah kapal kecil mendekat. Bukan kapal nelayan biasa. Kapal itu membawa bendera kerajaan. Lambang Kerajaan Kencana Wungu berkibar di ujung tiangnya.
Jaya yang sedang mengumpulkan kayu bakar di dekat hutan, berlari menghampiri. "Itu kapal kerajaan! Ada apa? Apakah mereka menjemput kita? Atau... apakah mereka akan membunuh kita?"
"Kita lihat saja," kata Sultan Hasan tenang.
Kapal itu merapat ke pantai. Seorang lelaki paruh baya turun dari kapal, diikuti oleh dua orang prajurit. Lelaki itu berpakaian rapi, dengan songkok hitam di kepalanya dan keris di pinggang. Wajahnya familiar. Sultan Hasan pernah melihatnya di istana, dulu, saat ia diadili.
"Kau Sultan Hasan?" tanya lelaki itu.
"Saya."
"Aku diutus oleh Pangeran Kertawijaya. Ia sudah mendengar tentang kesetiaanmu. Tentang pengorbananmu. Tentang tulisantulisanmu yang tersebar di kalangan nelayan dan pedagang."
Sultan Hasan terkejut. "Tulisan-tulisan saya tersebar? Bagaimana mungkin? Saya tidak pernah mengirimkannya ke mana-mana."
Lelaki itu tersenyum. "Jaya, sahabatmu, diam-diam mengirimkan beberapa lembar lontar ke kapal-kapal yang lewat. Ia menyuruh para nelayan menyebarkannya ke berbagai kota. Karya-karyamu kini dikenal di seluruh Nusantara. Pangeran Kertawijaya membacanya. Ia terharu. Ia mengakui bahwa cintamu pada Pandan Wangi lebih tulus daripada cintanya."
Sultan Hasan memandang Jaya. Jaya menunduk malu.
"Maaf, Hasan. Aku tidak bilang padamu karena aku tahu kau akan melarang. Tapi aku ingin dunia tahu bahwa sahabatku adalah pujangga hebat. Dan aku berhasil."
Sultan Hasan tidak marah. Ia justru terharu. Ia memeluk Jaya.
"Terima kasih, saudaraku. Kau telah melakukan sesuatu yang tidak pernah aku pikirkan."
Utusan itu melanjutkan, "Pangeran Kertawijaya memutuskan untuk membebaskanmu dari pulau ini. Kau boleh kembali ke kampung halamanmu. Kau boleh hidup bebas. Tidak ada lagi yang akan mengejarmu. Tidak ada lagi yang akan menghukummu. Bahkan, jika kau mau, kau bisa bekerja di istana sebagai pujangga kerajaan."
Sultan Hasan menggeleng. "Aku tidak butuh bekerja di istana. Aku hanya ingin kembali ke Dukuh Wangi. Ke telaga. Ke rumah yang dulu."
"Itu hakmu. Kapal ini akan mengantarkanmu ke mana pun kau mau."
Sultan Hasan memandang Jaya. "Kita pulang."
"Kita pulang," kata Jaya.
Mereka berdua naik ke kapal. Sebelum kapal berlayar, Sultan Hasan berjalan sekali lagi ke bawah pohon beringin tua, tempat Kiai Pati dimakamkan. Ia berlutut di pusaranya.
"Kiai," bisiknya. "Aku pulang. Terima kasih untuk semuanya. Doakan aku. Doakan Pandan Wangi. Semoga kita semua bahagia."
Ia mengecup tanah pusara itu. Lalu berjalan kembali ke kapal.
Kapal itu berlayar. Meninggalkan Pulau Penjara. Meninggalkan kenangan pahit. Meninggalkan kesepian. Meninggalkan kesedihan.
Di dermaga, Sultan Hasan memandang ke belakang. Pulau itu semakin kecil. Kiai Pati sudah tiada. Tapi ajarannya tetap hidup. Dalam hati Sultan Hasan. Dalam setiap tulisannya.
"Selamat tinggal, Pulau Penjara," bisiknya. "Kau telah mengajariku arti kesabaran. Arti ketulusan. Arti menjadi penjaga hati."
Perjalanan pulang ke Dukuh Wangi memakan waktu dua minggu.
Sultan Hasan dan Jaya singgah di berbagai kota. Di setiap tempat, mereka disambut oleh orang-orang yang sudah membaca tulisan Sultan Hasan. Para nelayan, petani, pedagang, bahkan para bangsawan kecil, semua mengagumi syair-syair cinta yang ia tulis.
"Kau Sultan Hasan? Pujangga yang menulis syair tentang telaga dan rindu?"
"Saya."
"Ajar kami menulis! Ajar kami membuat syair! Ajar kami mencintai seperti kau mencintai!"
Sultan Hasan tersenyum. Ia tidak menyangka tulisannya akan sepopuler ini. Ia tidak menyangka cintanya pada Pandan Wangi akan menginspirasi begitu banyak orang.
Ia mengajari mereka. Tidak pelit. Tidak sombong. Dengan sabar, ia menjelaskan teknik menulis syair. Tentang irama. Tentang diksi. Tentang bagaimana mengungkapkan perasaan dengan kata-kata yang indah.
"Menulis," katanya, "bukan tentang pamer kepandaian. Menulis adalah tentang berbagi hati. Jika hatimu tulus, kata-katamu akan menyentuh siapa pun."
Akhirnya, mereka tiba di Dukuh Wangi.
Desa itu tidak banyak berubah. Masih sama seperti dulu. Sawah-sawah menghampar. Rumah-rumah kayu berjajar. Anak-anak bermain di halaman. Ibu-ibu memasak di dapur.
Tapi ada satu yang berubah: sikap warga terhadap Sultan Hasan.
Dulu, mereka membencinya. Mengucilkannya. Melempari kerikil. Memanggilnya anak setan. Kini, mereka justru menanti kedatangannya dengan haru. Kabar tentang kepujanggaan Sultan Hasan sudah sampai ke desa itu. Mereka bangga memiliki warga yang terkenal di seluruh Nusantara.
"Sultan Hasan! Sultan Hasan pulang!" teriak anak-anak.
Warga desa berkerumun di jalan. Mereka memeluk Sultan Hasan. Mereka menangis. Mereka meminta maaf atas perlakuan buruk mereka dulu.
"Maafkan kami, Nak," kata seorang perempuan tua yang dulu pernah ikut melempari kerikil. "Kami dulu buta. Kami dulu bodoh. Kami dulu tidak tahu bahwa kau anak baik."
Sultan Hasan tersenyum. "Sudah, Bu. Masa lalu biarlah berlalu. Sekarang kita fokus pada masa depan."
Ia tidak dendam. Ia tidak marah. Ia sudah memaafkan mereka sejak lama. Di pulau itu, saat merenung di tepi pantai, saat menulis syair di bawah bulan, saat mengingat pesan Kiai Pati.
"Kekuatan penjaga hati adalah ketika tidak ada yang melihatmu, kau tetap menjaga."
Ia telah menjaga hatinya. Tidak membiarkan kebencian masuk. Tidak membiarkan dendam bersarang. Ia menjaga cintanya pada Pandan Wangi. Juga menjaga cintanya pada sesama, meskipun mereka pernah menyakitinya.
Malam harinya, Sultan Hasan pergi ke telaga.
Ia berjalan sendirian. Menyusuri jalan setapak yang dulu sering ia lewati, saat masih kecil, saat masih bersama Pandan Wangi. P ohon-pohon masih sama. Batu-batu masih sama. Suara air sungai masih sama.
Dan telaga itu... masih sama.
Airnya jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang ditarik arus yang lembut. Bulan sabit tipis terpantul di permukaan air, menciptakan kilauan keperakan.
Tapi Pandan Wangi tidak ada.
Sultan Hasan duduk di batu hitam. Tempat ia biasa duduk bersama Pandan Wangi. Masih licin. Masih kokoh. Masih hangat meskipun malam dingin.
Ia memanggil-manggil nama Pandan Wangi. Pelan. Seperti bisikan.
"Pandan... aku pulang."
Tidak ada jawaban.
Ia menunggu. Satu jam. Dua jam.
Pandan Wangi tidak muncul.
Ia tidak kecewa. Ia sudah menduga. Pandan Wangi mungkin sedang di istana. Atau di tempat lain. Atau mungkin ia sengaja tidak mau muncul, karena ia sudah menikah, karena ia merasa tidak pantas lagi bertemu dengan kekasih lamanya.
Tapi Sultan Hasan tidak marah. Ia mengerti.
"Pandan," bisiknya. "Aku tidak akan memaksamu. Aku hanya ingin kau tahu: aku pulang. Aku selamat. Aku masih hidup. Aku masih mencintaimu. Selamanya."
Ia menaruh setangkai bunga melati putih di atas batu hitam itu. Lalu berdiri. Berjalan pulang.
Di dadanya, batu akik merah berdenyut. Pelan. Lembut.
"Dia mendengarmu," bisik batu itu. "Dia tahu. Dia juga mencintaimu. Tapi ia tidak bisa muncul. Ada yang menahannya."
"Tidak apa-apa. Yang penting ia tahu. Yang penting ia baik-baik saja. Yang penting cinta kita tetap hidup."
Sultan Hasan tersenyum. Ia melangkah pulang dengan hati yang ringan.
Meskipun tidak bertemu, meskipun tidak bersua, ia bahagia. Karena ia bisa kembali ke tempat ini. Karena ia bisa merasakan kehadiran Pandan Wangi dalam setiap hembusan angin yang membawa wangi pandan.
"Selamat malam, Pandan," bisiknya.
Di kejauhan, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Seperti jawaban: "Selamat malam, penjaga hati."
BAB XLIX
Desa Berubah: Banyak yang Sudah Mati, yang Tinggal Mengenalnya sebagai "Orang Buangan"
Kembali ke Dukuh Wangi setelah bertahun-tahun pergi terasa seperti memasuki dunia yang asing, meskipun desa itu adalah tempat kelahirannya.
Sultan Hasan berjalan menyusuri jalan setapak yang dulu ia lewati setiap hari. Rumah-rumah kayu yang dulu berjajar rapi, kini banyak yang roboh dan tidak terawat. Halaman-halaman yang dulu dipenuhi dengan tanaman sayur dan bunga, kini ditumbuhi alang-alang dan semak belukar. Wajah-wajah yang dulu ia kenal, kini banyak yang tidak ia temui lagi. Meninggal. Pindah. Atau pergi merantau seperti dirinya.
"Desa ini sudah tua," kata Jaya di sampingnya. "Seperti kita."
"Kita belum tua, Jaya. Usia kita baru dua puluh empat tahun."
"Tapi rasanya sudah tua. Sudah banyak yang kita alami. Sudah banyak yang kita lihat. Sudah banyak yang kita tangisi."
Sultan Hasan tidak menjawab. Ia terus berjalan. Matanya memindai setiap sudut desa, mencari wajah-wajah yang masih ia kenali.
Di depan rumah Mak Umi — yang kini hanya tinggal puing-puing — ia berhenti. Rumah itu sudah roboh total. Dinding-dinding bambunya ambruk. Atapnya lenyap entah ke mana. Hanya tiang-tiang kayu yang masih tersisa, menjulang sunyi, seperti tulang-belulang raksasa yang mati.
"Mak Umi," bisik Sultan Hasan. "Aku pulang. Maaf, aku tidak bisa menjaga rumahmu."
Ia berlutut di depan puing-puing itu. Ia memungut segenggam tanah. Ia mengecupnya. Lalu menaburkannya kembali.
Jaya ikut berlutut. Ia juga berdoa untuk Mak Umi. Perempuan tua yang baik hati itu telah merawat mereka sewaktu kecil, memberi mereka makan, memberi mereka tempat tinggal, memberi mereka kasih sayang. Tanpa Mak Umi, mungkin mereka sudah mati kelaparan atau mati dibunuh oleh warga desa yang membenci Sultan Hasan.
"Mak Umi, terima kasih," bisik Jaya. "Kami tidak akan melupakan kebaikan Mak."
Mereka melanjutkan perjalanan. Melewati rumah Mardjo — paman Sultan Hasan yang dulu galak tapi baik hati. Rumah itu juga sudah kosong. Lastri — istrinya — sudah meninggal dua tahun lalu. Anak-anak Mardjo pindah ke kota, tidak ada yang mau tinggal di desa.
Sultan Hasan memandang rumah itu lama. Ia teringat saat ia dan Jaya pertama kali datang ke Kota Prapatan, miskin, kelaparan, tidak punya tempat tinggal. Mardjo dan Lastri menampung mereka, meskipun dengan perlakuan kasar. Tapi mereka tetap bertahan. Dan akhirnya, Mardjo menganggap mereka seperti anak sendiri.
"Om Mardjo, Bulik Lastri," bisik Sultan Hasan. "Kalian sudah tenang di alam sana. Doakan kami."
Ia meninggalkan setangkai bunga melati di depan pintu rumah itu. Lalu berjalan pergi.
Mereka bertemu dengan beberapa orang tua yang masih tersisa di desa.
"Kau Sultan Hasan?" tanya seorang kakek buta yang duduk di beranda rumahnya. "Anak setan yang dulu kami usir?"
"Saya, Kek. Tapi saya bukan anak setan. Saya manusia biasa."
Kakek itu tertawa. "Sekarang kau terkenal, Nak. Seluruh Nusantara membaca syair-syairmu. Pangeran Kertawijaya sendiri yang membebaskanmu dari pulau penjara. Kau bukan anak setan lagi. Kau pahlawan."
"Saya tidak merasa pahlawan, Kek. Saya hanya orang yang berusaha bertahan hidup dan menjaga cinta."
"Kau rendah hati. Itu bagus. Tidak seperti kebanyakan orang yang sombong ketika mendapat kedudukan."
Kakek itu memanggil istrinya. "Keluarkan makanan terbaik kita! Kita harus menjamu tamu istimewa!"
Sultan Hasan menolak dengan hormat. "Terima kasih, Kek. Tapi saya tidak butuh makanan. Saya hanya ingin berkeliling desa, mengingat masa lalu, sebelum saya pergi lagi."
"Kau akan pergi lagi?"
"Iya. Desa ini sudah tidak seperti dulu. Banyak yang sudah mati. Yang tinggal mungkin tidak kenal saya lagi. Saya hanya orang buangan bagi mereka."
"Kau bukan orang buangan, Nak. Kau anak desa ini. Kau darah daging kami. Meskipun kami dulu salah memperlakukanmu, kau tetap kami akui sebagai warga Dukuh Wangi."
Sultan Hasan terharu. Ia memeluk kakek itu.
"Terima kasih, Kek. Itu berarti banyak bagi saya."
Malam harinya, Sultan Hasan pergi ke telaga sendirian.
Ia duduk di batu hitam. Memandang air telaga yang jernih. Bulan purnama bersinar terang, memantul di permukaan air, menciptakan ribuan titik berkilauan seperti berlian.
Ia memanggil Pandan Wangi. Pelan. Lembut.
"Pandan... aku di sini. Aku tidak akan pergi lagi. Aku akan tinggal di desa ini. Aku akan membangun rumah di tepi telaga. Aku akan bertani. Aku akan berkebun. Aku akan menulis. Aku akan menjagamu. Setiap hari. Setiap malam. Selamanya."
Tidak ada jawaban.
Tapi Sultan Hasan tidak kecewa. Ia sudah terbiasa. Ia sudah belajar bahwa cinta tidak selalu harus bertemu. Cinta bisa dengan mendoakan. Cinta bisa dengan menjaga. Cinta bisa dengan setia meskipun tidak ada yang melihat.
Ia mengeluarkan daun lontar dan pisau kecilnya. Ia mulai menulis.
Di desa yang sunyi, di telaga yang jernih,
Aku duduk sendiri, menunggumu datang.
Tapi kau tak kunjung muncul, seperti bulan yang enggan bersinar,
Mungkin kau sudah lupa, mungkin kau sudah bosan.
Tapi aku tak peduli. Aku akan tetap di sini,
Menjaga telaga ini, menjaga rindu ini,
Menjaga cinta yang tak pernah mati,
Meskipun kau tak pernah tahu, meskipun kau tak pernah melihat.
Ia menulis sampai fajar menyingsing. Sampai tangannya pegal. Sampai matanya perih. Tapi ia tidak berhenti. Ia terus menulis.
Karena menulis adalah caranya menjaga.
Menjaga ingatan. Menjaga cinta. Menjaga hati.
Pagi harinya, Sultan Hasan bangun dan memandang desa dari tepi telaga.
Kabut tipis menyelimuti sawah-sawah. Burung-burung berkicau riang. Ayam-ayam jantan berkokok bersahutan. Matahari terbit di ufuk timur, berwarna jingga keemasan.
Desa ini memang sudah berubah. Banyak yang sudah mati. Banyak yang sudah pergi. Wajah-wajah baru muncul, tidak mengenalnya. Yang tua-tua sudah uzur, tidak ingat lagi siapa dia.
Tapi Sultan Hasan tidak sedih.
Ia sudah memiliki tempatnya di sini. Di tepi telaga. Dekat dengan air. Dekat dengan alam. Dekat dengan kenangan. Dekat dengan Pandan Wangi, meskipun tidak bertemu.
"Aku akan membangun rumah di sini," katanya pada Jaya yang datang menghampiri.
"Aku akan membantu," kata Jaya.
"Kau tidak akan kembali ke kampung halamanmu?"
"Kampung halamanku adalah di mana kau berada, Hasan. Aku tidak punya keluarga lain selain kau."
Sultan Hasan tersenyum. Ia memeluk Jaya.
"Terima kasih, saudaraku. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan tanpa kau."
"Kau akan mati kelaparan di emperan toko," kata Jaya tertawa.
Mereka berdua tertawa. Tawa yang lepas. Tawa yang melupakan sejenak semua kesedihan dan kekecewaan.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu diam.
Seolah setuju. Seolah merestui. Seolah bahagia bahwa Sultan Hasan akhirnya menemukan tempatnya. Bahwa ia tidak lagi mengembara. Bahwa ia tidak lagi menjadi orang buangan.
Ia adalah penjaga hati. Dan penjaga hati selalu punya rumah. Di mana pun ia berada. Di dalam hatinya sendiri.
Selamanya.
BAB L
Rumah Kosong: Rumah Ibunya Sudah Roboh – Sultan Hasan Membangun Kembali dengan Tangannya Sendiri
Di antara semua perubahan yang terjadi di Dukuh Wangi, satu tempat yang paling menyayat hati Sultan Hasan adalah rumah ibunya.
Rumah itu terletak di ujung desa, dekat dengan hutan, tidak jauh dari telaga. Dulu, rumah itu hanyalah sebuah gubuk kecil dengan dinding dari anyaman bambu dan atap dari daun rumbia. Tiga tempat bolong di atapnya, seperti yang sering diceritakan Nini Mas Intan. Di rumah itulah Sultan Hasan dilahirkan, di malam gerhana, dengan pertolongan seorang perempuan tua misterius.
Sekarang, rumah itu sudah tidak ada.
Yang tersisa hanya puing-puing: tiang-tiang kayu yang rapuh, ambruk berserakan di tanah; anyaman bambu yang hancur, dimakan rayap dan waktu; pecahan-pecahan genteng tanah liat yang berserakan, ditumbuhi lumut. Rumput ilalang tumbuh subur di halaman, setinggi lutut. Sebuah pohon asam muda tumbuh tepat di tengah bekas ruangan, seolah alam ingin mengambil alih tempat yang ditinggalkan manusia.
Sultan Hasan berdiri di depan puing-puing itu. Jaya di sampingnya. Mereka berdua diam. Tidak bicara.
"Di sinilah kau dilahirkan," kata Jaya akhirnya.
"Iya. Di sini. Di malam gerhana. Ibu melahirkan sendirian, hampir mati, lalu Nini Mas Intan datang menolong."
"Apa kau ingat?"
"Aku tidak ingat. Aku masih bayi. Tapi Mak Umi sering bercerita. Nini Mas Intan juga. Pandan Wangi juga. Mereka semua bilang, aku menangis keras saat lahir. Bukan karena takut. Tapi karena sudah tahu betapa berat tugasku kelak."
"Dan sekarang? Apa tugasmu sudah selesai?"
Sultan Hasan menggeleng. "Tugas penjaga hati tidak pernah selesai. Selama masih ada hati yang perlu dijaga, selama masih ada cinta yang perlu dirawat, selama masih ada ingatan yang perlu dilestarikan... aku akan terus menjaga. Sampai mati."
Sultan Hasan memutuskan untuk membangun kembali rumah ibunya.
Bukan karena ia ingin tinggal di sana. Ia sudah memiliki rumah di tepi telaga yang dibangun bersama Jaya. Tapi karena ia ingin menghormati kenangan. Karena ia ingin ibunya tersenyum di surga, melihat bahwa anaknya tidak melupakan asal-usulnya.
"Kau yakin?" tanya Jaya. "Membangun rumah di sini? Sendirian? Tanpa tukang? Tanpa bantuan?"
"Aku yakin. Aku bisa. Aku sudah belajar banyak hal di Pulau Penjara. Membangun rumah dari kayu dan bambu bukan lagi hal yang sulit bagiku."
"Baiklah. Aku akan membantu."
Mereka mulai bekerja keesokan harinya.
Sultan Hasan menebang beberapa pohon bambu di hutan. Jaya mengumpulkan kayu-kayu bekas yang masih bagus dari puing-puing rumah tua. Mereka membersihkan tanah dari rumput ilalang dan akar-akar pohon. Mereka meratakan tanah, membuat pondasi sederhana dari batu kali yang diambil dari sungai.
Sultan Hasan bekerja dengan penuh semangat. Setiap pukulan palu, setiap ikatan tali bambu, setiap tiang yang didirikan, terasa seperti doa. Doa untuk ibunya. Doa untuk masa lalu. Doa untuk masa depan.
"Kau tahu," kata Sultan Hasan sambil menyambung bambu satu dengan lainnya, "dulu, saat aku masih kecil, aku sering membantu ibu memasak di dapur. Ibu hanya punya satu periuk tanah liat. Gagangnya sudah patah, tapi ibu tetap menggunakannya. Ia bilang, 'Tidak perlu barang bagus untuk memasak yang enak. Yang penting niatnya.'"
"Ibu mu orang yang kuat," kata Jaya.
"Iya. Ia kuat. Ia merawatku sendirian setelah ayahku pergi. Ia tidak pernah mengeluh. Ia tidak pernah menangis di depanku. Baru setelah ia meninggal, aku tahu betapa berat hidupnya."
Sultan Hasan berhenti bekerja. Air matanya menetes. Ia menghapusnya dengan lengan bajunya.
"Maaf. Aku terlalu emosional."
"Tidak apa-apa. Menangis tidak salah. Lelaki juga boleh menangis."
Mereka melanjutkan pekerjaan dalam diam.
Empat minggu kemudian, rumah itu selesai.
Bangunannya kecil. Hanya satu ruangan, dengan dapur di belakang dan beranda di depan. Tidak mewah. Tapi kokoh. Bambu-bambu yang dipilih Sultan Hasan berkualitas bagus, tidak mudah lapuk. Atapnya dari daun rumbia yang ia anyam sendiri, rapat dan tidak bocor. Lantainya dari tanah yang dipadatkan, ditutup dengan tikar anyaman pandan.
Sultan Hasan memasukkan beberapa perabot sederhana: satu meja kayu, dua kursi, satu tempat tidur dari bambu. Ia juga membuat sebuah rak kecil untuk menyimpan daun lontar dan alat tulisnya.
"Rumah ini," katanya pada Jaya, "akan kubuka untuk siapa pun yang ingin belajar menulis. Akan kuajari mereka membaca dan menulis. Akan kuajari mereka membuat syair. Akan kuajari mereka menjadi penjaga hati."
"Kau ingin menjadi guru?"
"Aku ingin berbagi. Apa pun yang aku punya. Ilmu. Pengalaman. Cinta. Kesedihan. Semua."
Jaya tersenyum. "Kau orang baik, Hasan. Pantas kau menjadi penjaga hati."
Malam itu, Sultan Hasan mengadakan selamatan kecil di rumah baru itu.
Ia mengundang beberapa tetangga yang masih tersisa di desa: kakek buta dan istrinya, beberapa orang tua lainnya, juga beberapa anak yatim yang tidak punya keluarga. Ia memasak nasi dan sayur sederhana. Ia membagikan daging ayam yang ia beli dari pasar. Tidak mewah. Tapi cukup.
Mereka berdoa bersama. Mereka makan bersama. Mereka bercerita tentang masa lalu, tentang orang-orang yang sudah tiada, tentang desa yang dulu ramai dan sekarang sunyi.
"Rumah ini," kata Sultan Hasan di akhir acara, "adalah untuk ibuku. Tapi juga untuk kalian semua. Siapa pun yang membutuhkan tempat berteduh, yang membutuhkan makanan, yang membutuhkan teman bicara, yang membutuhkan pelajaran... silakan datang. Pintunya selalu terbuka."
Para tetangga terharu. Mereka menangis. Mereka memeluk Sultan Hasan.
"Kau malaikat, Nak," kata seorang nenek tua. "Kau dikirim Tuhan untuk menjaga desa ini."
"Saya bukan malaikat, Nek. Saya hanya manusia biasa. Tapi saya punya kewajiban untuk berbagi."
Setelah semua tamu pulang, Sultan Hasan duduk sendirian di beranda rumah ibunya.
Bulan purnama bersinar terang. Angin malam berembus pelan, membawa wangi pandan dari arah telaga. Daun-daun rumbia bergemerisik, seperti bisikan.
"Ibu," bisik Sultan Hasan. "Aku sudah membangun kembali rumah Ibu. Aku sudah berusaha menjadi anak yang baik. Apakah Ibu bangga padaku?"
Ia tidak mendengar jawaban. Tapi di dadanya, batu akik merah berdenyut. Hangat. Pelan.
Ia tersenyum. Mungkin itu jawabannya.
"Terima kasih, Ibu. Untuk semuanya. Untuk melahirkanku. Untuk merawatku. Untuk mengajariku menjadi kuat. Tanpa Ibu, aku tidak akan seperti sekarang."
Ia memejamkan mata. Ia berdoa. Untuk ibunya. Untuk ayahnya. Untuk Nini Mas Intan. Untuk Mak Umi. Untuk Mardjo. Untuk Lastri. Untuk Kiai Pati. Untuk semua yang telah pergi.
Di kejauhan, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Seperti ikut berdoa. Seperti ikut merestui. Seperti ikut bahagia.
Sultan Hasan membuka mata. Ia berdiri. Ia masuk ke dalam rumah. Ia merebahkan diri di tempat tidur bambu.
Ia tertidur dengan damai. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun. Tanpa mimpi buruk. Tanpa kegelisahan. Tanpa rasa takut.
Ia di rumah. Akhirnya.
BAB LI
Jaya, Teman Lama: Jaya Kini Menjadi Kepala Desa yang Otoriter – Pertemanan Mereka Dingin
Kabir itu datang seperti angin puyuh: Jaya, sahabat Sultan Hasan sejak kecil, diangkat menjadi kepala desa Dukuh Wangi yang baru.
Pemilihan berlangsung cepat. Tidak ada yang mencalonkan diri selain Jaya. Para tetua desa yang masih hidup sudah terlalu tua untuk memimpin. Kaum muda banyak yang merantau, tidak tertarik mengurus desa. Hanya Jaya yang dianggap mampu. Ia sudah sering bepergian. Ia punya pengalaman berorganisasi di kota. Ia juga dikenal sebagai orang yang tegas, tidak mudah diatur, dan berani mengambil keputusan.
Awalnya Sultan Hasan senang. "Kau kepala desa, Jaya! Itu hebat! Kau bisa membangun desa ini menjadi lebih baik!"
"Ya," kata Jaya singkat. Wajahnya tidak menunjukkan antusiasme.
"Kita bisa bekerja sama. Aku bisa membantu. Apa pun yang kau butuhkan."
"Kau sudah cukup membantu, Hasan. Kau sudah membangun rumah ibumu. Kau sudah mengajari anak-anak menulis. Kau sudah menjadi pujangga terkenal. Tugasmu sudah selesai. Sekarang, tugas kepemimpinan serahkan padaku."
Sultan Hasan terdiam. Ada yang aneh dengan Jaya akhir-akhir ini. Ia menjadi pendiam. Mudah tersinggung. Suka marah tanpa sebab. Sultan Hasan mengira itu karena stres menghadapi tanggung jawab baru. Tapi lama-lama, ia sadar, ada yang lebih dalam.
Jaya berubah.
Perubahan itu mulai terlihat ketika Jaya mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru yang keras.
Warga desa yang tidak membayar pajak tepat waktu dihukum kerja paksa. Anak-anak yang tidak masuk sekolah agama dilaporkan ke polisi. Perempuan-perempuan yang berdagang di pasar tanpa izin dikenai denda. Pendatang yang tidak memiliki surat keterangan dari kepala desa diusir paksa.
"Jaya, ini terlalu keras," kata Sultan Hasan suatu hari, ketika mereka bertemu di balai desa. "Rakyat kita miskin. Mereka tidak bisa membayar pajak tepat waktu karena panen gagal. Jangan hukum mereka. Bantu mereka."
"Kau tidak mengerti urusan pemerintahan, Hasan. Kau pujangga. Tugasmu menulis syair, bukan mengatur desa."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi. Aku kepala desa. Aku yang tahu apa yang terbaik untuk desa ini."
Sultan Hasan terdiam. Ia tidak mau bertengkar dengan Jaya. Tapi di dalam hatinya, ia prihatin.
Beberapa bulan kemudian, Sultan Hasan mendengar kabar bahwa Jaya mulai berselingkuh.
Ia memiliki seorang wanita simpanan di kota. Seorang janda muda cantik yang dulu pernah menjadi penari di istana. Jaya sering meninggalkan desa berhari-hari, tanpa memberi tahu siapa pun, tanpa alasan yang jelas.
Sultan Hasan tidak percaya pada awalnya. Tapi suatu malam, saat Jaya sedang keluar, Sultan Hasan menyelinap ke rumahnya. Ia menemukan surat-surat cinta dari wanita itu. Juga beberapa perhiasan mahal yang jelas tidak mungkin dibeli dengan gaji kepala desa.
Sultan Hasan sakit hati. Bukan karena cemburu. Tapi karena kecewa. Jaya adalah sahabatnya. Sejak kecil. Mereka berdua sudah melalui banyak hal bersama. Kelaparan. Pengasingan. Pulau penjara. Dan sekarang, Jaya menjadi orang yang berbeda. Orang yang tidak ia kenal.
Ia tidak menegur Jaya. Ia hanya diam. Menjaga jarak. Berdoa semoga sahabatnya sadar sebelum terlambat.
Suatu hari, Jaya memanggil Sultan Hasan ke balai desa.
"Hasan, aku punya keputusan sulit. Aku harus mengusirmu."
Sultan Hasan terkejut. "Mengusirku? Kenapa?"
"Kau terlalu populer. Warga desa lebih mendengarkanmu daripada mendengarkanku. Setiap kali kau berbicara, mereka mengangguk. Setiap kali aku berbicara, mereka mengeluh. Aku tidak bisa memimpin desa dengan baik jika kau masih di sini."
"Aku tidak pernah bermaksud merebut kekuasaanmu, Jaya. Aku hanya ingin membantu."
"Bantuanmu tidak diperlukan. Pergilah."
Sultan Hasan terdiam. Ia memandang Jaya. Wajahnya keras. Matanya dingin. Tidak ada lagi kehangatan persahabatan yang dulu.
"Jaya," kata Sultan Hasan pelan. "Kau ingat saat kita masih kecil? Saat kita tidur di emperan toko, kelaparan, kedinginan? Saat kita hampir mati? Saat kita berjanji untuk saling menjaga?"
"Itu dulu. Sekarang kita dewasa. Sekarang kita punya tanggung jawab masing-masing. Aku harus memimpin desa ini. Kau harus... pergi."
"Kau berubah, Jaya. Bukan karena kekuasaan. Tapi karena kau membiarkan kekuasaan meracuni hatimu."
Jaya membanting tinjunya ke meja. "DIAM! KAU TIDAK BERHAK MENGAJARIKU!"
Sultan Hasan tidak bergeming. Ia hanya menatap Jaya. Matanya teduh.
"Baiklah. Aku akan pergi. Tapi ingatlah, sahabatku. Suatu hari, kau akan butuh aku. Dan aku akan ada untukmu. Seperti dulu."
"Pergi!" teriak Jaya.
Sultan Hasan berbalik. Ia berjalan keluar dari balai desa. Meninggalkan Jaya yang berdiri di balik meja, wajahnya merah padam, dadanya naik turun.
Malam harinya, Sultan Hasan mengemasi barang-barangnya.
Ia tidak akan pergi jauh. Ia akan tinggal di telaga. Di rumah kecil yang ia bangun di tepi telaga. Di tempat di mana ia dulu bersama Pandan Wangi.
Jaya tidak usah tahu. Tidak usah khawatir. Sultan Hasan tidak akan mengganggu kekuasaannya.
Ia hanya ingin dekat dengan telaga. Dengan Pandan Wangi. Dengan kenangan.
"Kau sedih?" tanya batu akik merah di dadanya.
"Sedih. Tapi tidak marah."
"Kenapa tidak marah? Ia sudah mengkhianati persahabatan kalian."
"Karena aku ingat pesan Kiai Pati. 'Kekuatan penjaga hati adalah ketika tidak ada yang melihatmu, kau tetap menjaga.' Jaya tidak melihatku sekarang. Tidak ada yang melihatku. Tapi aku tetap menjaga. Menjaga persahabatan ini. Menjaga Jaya dalam doaku."
Batu itu berdenyut. Hangat.
"Kau orang baik, Sultan Hasan. Terlalu baik untuk dunia ini."
"Tidak. Aku hanya manusia biasa yang berusaha menjadi penjaga hati yang baik."
Sultan Hasan pindah ke telaga keesokan harinya.
Rumah di tepi telaga itu sederhana. Hanya pondok kecil dari kayu dan bambu, cukup untuk satu orang tidur dan menulis. Tapi ia bahagia. Karena dari berandanya, ia bisa melihat air telaga yang jernih. Bisa mendengar suara air yang mengalir. Bisa mencium wangi pandan yang semerbak.
Ia tidak menyesal diusir. Ia justru bersyukur. Dengan pindah ke telaga, ia bisa lebih dekat dengan Pandan Wangi. Bisa lebih sering menulis. Bisa lebih tenang.
Ia hanya berdoa semoga Jaya sadar. Sebelum kekuasaan benar-benar menghancurkannya.
Di kejauhan, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Seperti berbisik: "Doamu didengar. Jaya akan sadar. Suatu hari."
Sultan Hasan tersenyum. Ia mengambil daun lontar. Ia menulis.
Tentang persahabatan yang retak,
Tentang kekuasaan yang meracun,
Tentang hati yang tetap menjaga,
Meskipun dijauhi, meskipun diusir.
Ia menulis sampai larut malam. Sampai tangannya pegal. Sampai matanya perih.
Karena menulis adalah caranya menjaga. Menjaga persahabatan. Menjaga ingatan. Menjaga cinta.
Selamanya.
BAB LII
Pandan Wangi Menjanda: Kabar bahwa Pangeran Suaminya Mati dalam Perang – Pandan Wangi Kembali ke Istana Ayahnya
Kabar itu datang seperti guntur di siang bolong.
Pangeran Kertawijaya, suami Pandan Wangi, tewas dalam pertempuran melawan pemberontak di perbatasan timur. Sebuah panah beracun menembus dadanya. Tidak ada yang bisa menyelamatkan. Dalam hitungan jam, pangeran yang gagah perkasa itu meninggal dunia, meninggalkan istana yang sunyi dan permaisuri yang tidak pernah benar-benar dicintainya.
Sultan Hasan mendengar kabar itu dari para pedagang yang singgah di Dukuh Wangi. Ia sedang duduk di beranda rumahnya di tepi telaga, menulis syair seperti biasa, ketika seorang pedagang rempah dari timur berkata, "Kau dengar? Pangeran Kertawijaya mati. Istana sedang berkabung. Permaisuri, konon, tidak menangis. Ia hanya diam. Seperti patung."
Sultan Hasan tidak bereaksi. Wajahnya tetap tenang. Tapi di dadanya, batu akik merah berdenyut kencang. Sangat kencang. Hampir seperti mau meledak.
"Dia bebas sekarang," bisik batu itu. "Dia tidak lagi terikat. Kau bisa menjemputnya."
"Aku tidak akan menjemputnya," bisik Sultan Hasan balik. "Ia baru saja kehilangan suami. Ia butuh waktu. Ia butuh kesendirian. Aku tidak akan mengganggunya."
"Kau sabar, Sultan Hasan. Terlalu sabar."
"Kesabaran adalah kekuatan penjaga hati. Kiai Pati mengajarkanku itu."
Di istana, Pandan Wangi duduk di kamar yang sunyi.
Jendela ditutup. Lampu minyak tidak dinyalakan. Hanya kegelapan yang menemani. Ia sudah berhari-hari tidak keluar kamar. Tidak mau bicara. Tidak mau makan. Tidak mau minum. Dayang-dayangnya ketakutan. Mereka panggil adipati — ayah Pandan Wangi.
"Anakku," kata adipati itu sambil duduk di samping Pandan Wangi. "Kau tidak bisa terus begini. Kau harus makan. Kau harus minum. Tubuhmu akan rusak."
"Aku tidak peduli, Ayah. Biarkan aku mati."
"Kau tidak boleh mati. Kau masih muda. Kau masih punya masa depan. Kau masih bisa menikah lagi."
Pandan Wangi tertawa pahit. "Menikah lagi? Dengan siapa? Dengan pangeran lain yang akan memenjarakanku di istana? Tidak, Ayah. Aku tidak akan menikah lagi. Aku sudah cukup menderita."
"Kau tidak menderita, Nak. Pangeran Kertawijaya baik padamu. Ia memberimu segalanya. Istana. Permata. Pakaian indah."
"Dia memberiku segalanya, kecuali cinta. Dan tanpa cinta, segalanya tidak berarti."
Adipati itu terdiam. Ia tidak bisa membantah. Ia tahu anaknya benar.
Setelah kepergian Sultan Hasan ke pulau penjara, Pandan Wangi tidak pernah bahagia. Ia menjalani pernikahannya seperti robot. Ia tersenyum di depan umum, tapi di dalam hatinya, ia menangis setiap malam. Ia rindu pada Sultan Hasan. Ia rindu pada telaga. Ia rindu pada kebebasan.
Dan sekarang, suaminya mati. Ia bebas. Tapi kebebasan terasa hampa tanpa orang yang dicintai.
"Ayah," kata Pandan Wangi. "Aku ingin pulang."
"Pulang? Ke mana?"
"Ke Dukuh Wangi. Ke telaga. Ke rumah Sultan Hasan."
"Tapi kau masih dalam masa berkabung. Belum pantas kau bepergian."
"Aku tidak peduli dengan pantas atau tidak. Aku hanya ingin pulang. Aku hanya ingin bertemu dia."
Adipati itu menghela napas. "Baiklah. Ayah izinkan. Tapi jangan lakukan hal-hal yang memalukan keluarga. Kau masih putri bangsawan."
Pandan Wangi tersenyum. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Senyum yang tulus. Senyum yang penuh harap.
"Terima kasih, Ayah."
Perjalanan dari istana ke Dukuh Wangi memakan waktu tiga hari.
Pandan Wangi tidak membawa banyak barang. Hanya pakaian seadanya, sedikit perhiasan, dan batu akik merah di lehernya. Ia berjalan kaki, ditemani dua orang dayang dan beberapa pengawal. Tidak ingin menggunakan kereta. Tidak ingin menggunakan kuda. Ia ingin merasakan tanah, merasakan alam, merasakan kebebasan yang selama ini direnggut darinya.
Setiap malam, ia bermimpi tentang Sultan Hasan.
Dalam mimpinya, Sultan Hasan duduk di batu hitam di tepi telaga, menulis syair di atas daun lontar. Wajahnya tenang. Matanya teduh. Sesekali ia memandang ke timur, ke arah istana, ke arah Pandan Wangi.
"Aku di sini," bisik Sultan Hasan dalam mimpi itu. "Aku menunggumu."
Pandan Wangi menangis dalam tidurnya. Dayang-dayangnya bingung. Mereka tidak tahu mimpi apa yang membuat putri mereka menangis.
Akhirnya, mereka tiba di Dukuh Wangi.
Desa itu berubah. Sunyi. Sepi. Banyak rumah kosong. Wajah-wajah baru tidak dikenali. Tapi telaga itu masih sama. Masih jernih. Masih tenang. Masih memantulkan cahaya bulan.
Pandan Wangi berjalan sendirian menuju telaga. Dayang-dayangnya dilarang ikut. "Aku ingin sendiri," katanya.
Ia sampai di tepi telaga.
Bulan purnama bersinar terang. Air telaga jernih, berkilauan. Batu hitam tempat ia biasa duduk bersama Sultan Hasan masih ada. Masih licin. Masih kokoh.
Dan di atas batu itu, duduk seorang pria.
Sultan Hasan.
Ia tidak berubah. Masih tampan. Masih teduh. Masih setia menulis syair di atas daun lontar.
"Pandan," katanya tanpa menoleh. "Aku tahu kau akan datang."
Pandan Wangi tidak bisa berkata apa-apa. Air matanya mengalir. Ia berjalan mendekat. Perlahan. Seperti takut mimpi itu buyar jika ia bergerak terlalu cepat.
Ia duduk di samping Sultan Hasan.
Mereka berdua diam. Tidak bicara. Hanya saling memandang.
"Kau tidak berubah," kata Pandan Wangi akhirnya.
"Kau juga," kata Sultan Hasan. "Masih cantik. Masih lembut. Masih wangi pandan."
"Aku sudah menjanda."
"Aku tahu."
"Kau tidak mau mengucapkan selamat?"
"Selamat? Tidak. Aku tidak pernah senang dengan kematian seseorang. Tapi aku lega. Karena kau bebas sekarang."
"Bebas? Apa artinya bebas jika orang yang kucintai tidak di sisiku?"
Sultan Hasan tersenyum. "Aku di sini, Pandan. Aku selalu di sini. Menunggumu. Setiap malam. Setiap kali bulan purnama. Aku tidak pernah pergi."
"Aku tahu. Aku merasakannya. Dari denyut batu ini."
Pandan Wangi memegang kalung batu akik merah di lehernya. Batu itu berdenyut. Sama dengan batu di dada Sultan Hasan.
"Kita masih terhubung," katanya.
"Selamanya."
Mereka berdua berpelukan. Menangis. Tertawa. Bersyukur.
Setelah bertahun-tahun terpisah, setelah bertahun-tahun menderita, setelah bertahun-tahun merindukan... akhirnya mereka bertemu lagi.
Di telaga ini. Di batu hitam ini. Di bawah cahaya bulan purnama.
"Pandan," kata Sultan Hasan.
"Ya?"
"Aku tidak akan melepaskanmu lagi. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambilmu lagi. Aku akan menjagamu. Sampai mati."
"Aku juga, Sultan Hasan. Aku juga."
Mereka berdua tersenyum.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang. Meninggalkan suara yang nyaring.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti seruan untuk memulai babak baru dalam kehidupan mereka.
Babak di mana cinta tidak lagi terpisah.
Babak di mana cinta tidak lagi terhalang.
Babak di mana cinta akhirnya bersatu.
Selamanya.
BAB LIII
Pertemuan Kembali Setelah 7 Tahun: Sultan Hasan dan Pandan Wangi Bertemu di Telaga Tua – Keduanya Menangis
Tujuh tahun.
Dua ribu lima ratus lima puluh lima hari. Enam puluh satu ribu tiga ratus dua puluh jam. Jutaan detik yang terisi oleh rindu, oleh doa, oleh air mata, oleh harap yang kadang nyaris padam. Tujuh tahun sejak terakhir kali mereka berdiri berdua di tepi telaga ini, sejak terakhir kali mereka berpelukan, sejak terakhir kali mereka berbisik janji di bawah cahaya bulan.
Tujuh tahun sejak Sultan Hasan diusir ke Pulau Penjara. Tujuh tahun sejak Pandan Wangi dipaksa menikah dengan Pangeran Kertawijaya. Tujuh tahun sejak dunia berusaha memisahkan mereka. Dan sekarang, setelah badai berlalu, setelah luka mengering, setelah semua rintangan runtuh satu per satu... mereka bertemu lagi.
Di telaga tua yang sama. Di batu hitam yang sama. Di bawah bulan purnama yang sama.
Sultan Hasan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya memandang Pandan Wangi. Matanya basah. Bibirnya gemetar. Dadanya sesak, seperti ada sesuatu yang ingin keluar tapi tertahan.
Pandan Wangi juga diam. Ia hanya duduk di samping Sultan Hasan. Jarak mereka hanya sejengkal. Tapi rasanya seperti telah menempuh perjalanan ribuan kilometer untuk sampai ke tempat ini.
"Pandan," bisik Sultan Hasan akhirnya. Suaranya parau. Seperti orang yang baru sadar dari mimpi panjang.
"Sultan Hasan," bisik Pandan Wangi balik. Suaranya lirih. Seperti angin yang mengembus lembut di malam hari.
Mereka berdua saling memandang. Tidak ada yang perlu diucapkan lagi. Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Cinta mereka sudah melewati segalanya. Ujian. Penderitaan. Perpisahan. Kematian. Dan cinta itu masih utuh. Masih kuat. Masih menyala.
Air mata Pandan Wangi jatuh. Menetes di pipinya yang putih bersih. Tidak ada lagi riasan wajah. Tidak ada lagi perhiasan. Tidak ada lagi pakaian indah. Ia hanya memakai kain sederhana, seperti dulu, ketika ia pertama kali muncul dari telaga sebagai seorang gadis kecil.
Sultan Hasan mengulurkan tangannya. Ia menyentuh pipi Pandan Wangi. Menghapus air matanya dengan ibu jari.
"Jangan menangis," katanya. "Aku tidak suka melihatmu menangis."
"Aku menangis karena bahagia," kata Pandan Wangi. "Karena akhirnya... setelah tujuh tahun... kita bisa bertemu lagi."
"Aku tidak pernah pergi, Pandan. Aku selalu di sini. Di hatimu. Di doamu. Di setiap denyut batu ini."
Pandan Wangi memegang kalung batu akik merah di lehernya. Batu itu berdenyut. Kencang. Hangat. Seperti jantung yang berdebar karena bahagia.
Sultan Hasan juga memegang batu di dadanya. Batu itu berdenyut bersamaan.
"Kita masih terhubung," kata Pandan Wangi.
"Selamanya," kata Sultan Hasan.
Mereka berpelukan.
Pelukan yang lama. Dalam. Hangat. Seperti ingin menyatukan kembali dua jiwa yang terpisah terlalu lama. Sultan Hasan merasakan wangi pandan dari rambut Pandan Wangi. Wangi yang selalu ia rindukan selama di pulau sunyi itu. Pandan Wangi merasakan detak jantung Sultan Hasan yang kuat dan teratur. Detak yang selama ini hanya ia dengar dalam mimpi.
"Mengapa kau tidak pernah menikah?" tanya Pandan Wangi, masih dalam pelukan.
"Karena aku tidak bisa mencintai orang lain. Hatiku sudah terisi penuh olehmu."
"Tapi aku sudah menikah. Aku sudah menjadi milik orang lain. Aku tidak pantas untukmu."
"Tidak ada yang tidak pantas dalam cinta, Pandan. Yang tidak pantas adalah jika kita berhenti mencintai. Dan aku tidak pernah berhenti."
Pandan Wangi terisak. Ia memeluk Sultan Hasan lebih erat.
"Maafkan aku," bisiknya. "Maafkan aku karena tidak bisa menunggu. Maafkan aku karena tidak bisa melawan. Maafkan aku karena menikah dengan orang lain."
"Kamu tidak perlu minta maaf, Pandan. Kamu tidak punya pilihan. Kamu dipaksa. Kamu dijodohkan. Itu bukan salahmu."
"Tapi aku merasa telah mengkhianatimu."
"Kamu tidak mengkhianati siapa pun. Kamu hanya bertahan hidup. Dan aku bangga padamu."
Pandan Wangi mengangkat wajahnya. Ia memandang Sultan Hasan. Matanya merah, bengkak karena menangis. Tapi di balik itu, ada cahaya. Cahaya yang sudah lama padam, kini menyala kembali.
"Kau tidak berubah," katanya. "Masih baik. Masih pengertian. Masih setia."
"Kamu juga tidak berubah. Masih cantik. Masih lembut. Masih wangi pandan."
Mereka tertawa. Tawa yang lepas. Tawa yang melupakan sejenak semua kesedihan dan penderitaan.
Malam itu, mereka berbicara berjam-jam.
Tentang masa lalu. Tentang masa kecil di telaga ini. Tentang syair-syair yang diajarkan Nini Mas Intan. Tentang rahasia telaga yang dijaga Pandan Wangi. Tentang perjalanan Sultan Hasan ke Bandar Cendana, ke Kota Rajapura, ke Pulau Penjara. Tentang Kiai Pati yang mengajarkan kesabaran. Tentang Kiai Maksum yang mengajarkan agama. Tentang Kyai Buyut Cakar Mase yang mengajarkan silat. Tentang Ki Ageng Jagaraga yang mengajarkan kitab tujuh penjaga.
Pandan Wangi mendengarkan dengan saksama. Matanya berbinar setiap kali Sultan Hasan bercerita tentang pengalamannya. Ia tersenyum. Ia tertawa. Ia kadang menangis, terutama ketika Sultan Hasan menceritakan tentang masa-masa sulit di pulau penjara, tentang kesepian, tentang kerinduan yang tak terobati.
"Kau hebat, Sultan Hasan," kata Pandan Wangi. "Kau bisa bertahan melewati semua itu."
"Aku bertahan karena kamu, Pandan. Karena aku tahu, di suatu tempat, ada yang menungguku. Ada yang mencintaiku. Ada yang percaya bahwa aku akan kembali."
"Dan sekarang kau kembali."
"Aku kembali. Untukmu. Selamanya."
Fajar mulai menyingsing ketika mereka berpisah.
"Aku harus kembali ke istana," kata Pandan Wangi. "Ayahku masih di sana. Aku harus memberitahunya bahwa aku baik-baik saja."
"Kapan kau akan kembali?"
"Besok. Lusa. Atau kapan pun kau memanggilku. Aku akan datang. Karena aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi."
Mereka berpelukan sekali lagi. Ciuman di kening. Di pipi. Di ujung hidung.
"Selamat pagi, Sultan Hasan."
"Selamat pagi, Pandan Wangi."
Pandan Wangi berjalan ke arah pepohonan, perlahan menyatu dengan kabut pagi. Sultan Hasan memandangnya sampai lenyap.
Ia tersenyum.
Di dadanya, batu akik merah berdenyut. Hangat. Pelan.
"Kau bahagia?" bisik batu itu.
"Sangat," bisik Sultan Hasan balik. "Aku tidak pernah sebahagia ini."
Ia berjalan pulang. Langkahnya ringan. Hatinya penuh syukur.
Setelah badai, setelah gelap, setelah perpisahan... akhirnya ia menemukan cahaya lagi. Pandan Wangi.
Dan ia tidak akan pernah melepaskannya lagi.
Selamanya.
BAB LIV
Restu yang Tak Kunjung Datang: Ayah Pandan Wangi Melarang Mereka Bersatu karena Status Sultan Hasan
Kebahagiaan pertemuan kembali setelah tujuh tahun terasa seperti mimpi yang terlalu indah untuk menjadi nyata. Sultan Hasan dan Pandan Wangi menghabiskan setiap malam di tepi telaga, berbicara, tertawa, kadang menangis, kadang hanya diam menikmati kehadiran satu sama lain. Rasanya seperti masa kecil dulu, ketika dunia belum sekejam sekarang, ketika cinta masih sesederhana duduk di batu hitam sambil bercerita tentang bintang.
Tapi mimpi indah itu pecah ketika adipati — ayah Pandan Wangi — datang ke Dukuh Wangi.
Ia datang dengan rombongan besar: puluhan pengawal bersenjata, para dayang, dan beberapa pejabat istana. Wajahnya muram, tidak seperti saat ia datang dulu untuk merestui pernikahan mereka. Kini, ada sesuatu yang berbeda di matanya. Bukan kebencian. Bukan kemarahan. Tapi... kecemasan.
"Pandan Wangi," katanya ketika anaknya berlutut di depannya. "Ayah dengar kau sering pergi ke telaga malam-malam. Bertemu dengan pemuda itu."
"Iya, Ayah. Sultan Hasan. Ayah sudah merestui kami dulu, sebelum aku dijodohkan dengan pangeran."
"Itu dulu. Sekarang berbeda. Sekarang kau adalah janda pangeran. Statusmu bukan lagi putri biasa. Kau adalah bangsawan tinggi. Ibu dari calon pangeran? Tidak, kau tidak punya anak. Tapi kau tetap memiliki martabat yang harus dijaga."
"Apa hubungannya dengan Sultan Hasan, Ayah?"
Adipati itu menghela napas. "Sultan Hasan rakyat biasa. Tidak punya gelar. Tidak punya kekayaan. Tidak punya pasukan. Jika kau menikah dengannya, martabat kerajaan akan jatuh. Para bangsawan lain akan menertawakan kita. Sekutu-sekutu kita akan menarik dukungan."
"Tapi Ayah, bukankah Ayah sudah merestui kami dulu? Bukankah Ayah sudah mengakui bahwa Sultan Hasan pantas menjadi menantu Ayah?"
"Itu dulu. Sebelum kau menikah dengan pangeran. Sekarang kau janda pangeran. Statusmu naik. Kau tidak bisa menikah dengan rakyat biasa."
Pandan Wangi menangis. "Ayah, aku tidak butuh status. Aku tidak butuh martabat. Aku tidak butuh kekayaan. Aku hanya butuh cinta. Aku hanya butuh Sultan Hasan."
"Maafkan Ayah, Nak. Ayah tidak bisa memberikan restu."
Sultan Hasan yang mendengar kabar itu dari Pandan Wangi, tidak marah. Ia hanya diam. Memandang telaga. Memandang air yang jernih.
"Aku tidak akan memaksa ayahmu," katanya akhirnya. "Ia punya alasan. Sebagai penguasa, ia harus memikirkan kerajaannya. Bukan hanya perasaannya sendiri."
"Tapi aku tidak peduli dengan kerajaan! Aku hanya peduli padamu!"
"Kau harus peduli, Pandan. Kau putri bangsawan. Kau punya tanggung jawab pada rakyat, pada keluarga, pada leluhur. Kau tidak bisa egois."
"Kau tidak egois? Setelah tujuh tahun menungguku? Setelah berkorban segalanya? Setelah hampir mati di pulau penjara? Kau tidak pantas diperlakukan seperti ini!"
"Aku tidak menuntut apa pun, Pandan. Aku mencintaimu tanpa syarat. Jika aku harus mencintaimu dari kejauhan, tanpa restu ayahmu, tanpa status, tanpa pernikahan... aku akan tetap mencintaimu. Selamanya."
Pandan Wangi menangis. Ia memeluk Sultan Hasan.
"Kau terlalu baik, Sultan Hasan. Aku tidak pantas untukmu."
"Kita berdua tidak pantas untuk satu sama lain. Tapi kita saling mencintai. Itu sudah cukup."
Adipati itu tidak tinggal diam.
Ia memanggil Sultan Hasan ke istana. Bukan dengan maksud baik. Tapi dengan maksud menekan. Ia menawari Sultan Hasan sejumlah uang untuk pergi jauh dan tidak kembali. Sebuah posisi sebagai pejabat rendahan di kerajaan seberang. Bahkan seorang putri bangsawan lain untuk dinikahi.
Sultan Hasan menolak semuanya.
"Saya tidak butuh uang Paduka. Saya tidak butuh posisi. Saya tidak butuh putri bangsawan lain. Saya hanya butuh Pandan Wangi. Dan jika Paduka tidak merestui, saya akan tetap mencintainya dari kejauhan. Tanpa menikah. Tanpa memiliki. Cukup dengan menjaga."
Adipati itu terkejut. Ia belum pernah bertemu dengan pemuda sekeras itu. Seegois itu. Seteguh itu.
"Kau tidak takut aku akan menghukummu? Memenjarakanmu? Membuangmu ke pulau lagi?"
"Saya sudah melalui semua itu, Paduka. Saya tidak takut. Karena hati saya sudah terlatih. Kekuatan penjaga hati adalah ketika tidak ada yang melihat, saya tetap menjaga. Dan tidak ada yang melihat saya sekarang. Tidak ada yang tahu. Tapi saya tetap menjaga. Menjaga cinta saya pada Pandan Wangi. Tidak peduli apa pun yang Paduka lakukan."
Adipati itu terdiam. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa menghela napas.
"Pergilah," katanya. "Aku tidak akan menghukummu. Tapi aku juga tidak akan merestuimu. Biarkan waktu yang menjawab."
Sultan Hasan kembali ke telaga.
Ia duduk di batu hitam. Sendirian. Bulan purnama bersinar terang. Air telaga jernih, berkilauan.
Ia memanggil Pandan Wangi dalam hatinya.
"Pandan... aku tidak bisa bersamamu. Tapi aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu."
Ia mendengar suara tangis dari kejauhan. Pandan Wangi juga menangis di istananya.
Mereka berdua menangis. Di tempat yang berbeda. Di waktu yang sama. Untuk cinta yang sama.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap Sultan Hasan. Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah setuju. Seolah merestui. Seolah tahu bahwa cinta sejati tidak membutuhkan restu siapa pun. Cukup dengan ketulusan. Cukup dengan kesetiaan. Cukup dengan keberanian untuk terus mencintai, meskipun dunia melarang.
Sultan Hasan mengambil daun lontar. Ia menulis.
Restu tidak pernah datang,
Seperti hujan di musim kemarau.
Tapi aku takkan berhenti menunggu,
Karena cinta tak butuh restu.
Cukup kau di hatiku,
Cukup aku di hatimu,
Itu sudah lebih dari cukup,
Untuk menjalani hidup yang sulit ini.
Ia menulis sampai fajar menyingsing. Sampai tangannya pegal. Sampai matanya perih.
Karena menulis adalah caranya menjaga.
Menjaga cinta. Menjaga harap. Menjaga hati.
Selamanya.
BAB LV
Perang Saudara Kecil: Desa Terpecah antara Pendukung Jaya dan Pendukung Sultan Hasan
Ketegangan di Dukuh Wangi sudah memuncak sejak berbulan-bulan.
Di satu sisi, ada pendukung Jaya, kepala desa yang otoriter. Mereka adalah para pejabat desa, para pengusaha kecil yang diuntungkan oleh kebijakan Jaya, serta beberapa preman yang disewa untuk menjaga kekuasaannya. Mereka menuntut agar Sultan Hasan diusir dari desa karena dianggap mengganggu stabilitas. Mereka menyebarkan fitnah bahwa Sultan Hasan adalah provokator, penghasut, dan pengkhianat.
Di sisi lain, ada pendukung Sultan Hasan. Mereka adalah para petani miskin, para nelayan, para wanita yang anak-anaknya diajar membaca dan menulis oleh Sultan Hasan, serta para orang tua yang ingat betapa baiknya Sultan Hasan semasa kecil. Mereka menuntut agar Jaya mundur dari jabatan kepala desa karena korupsi, nepotisme, dan pelanggaran HAM. Mereka menyebarkan selebaran berisi daftar kesalahan Jaya.
"Keluarkan Sultan Hasan dari desa ini!" teriak pendukung Jaya dalam sebuah rapat di balai desa.
"Turunkan Jaya dari kursi kepala desa!" teriak pendukung Sultan Hasan balik.
Rapat berlangsung panas. Hampir terjadi perkelahian. Para tetua desa yang masih hidup tidak bisa menenangkan. Kakek buta dan istrinya hanya bisa diam, berdoa, semoga tidak terjadi darah.
Sultan Hasan tidak hadir dalam rapat itu. Ia memilih tinggal di tepi telaga, menulis syair, menjauh dari keramaian. Ia tidak ingin terlibat dalam konflik. Ia tidak ingin melawan Jaya.
Tapi Jaya menganggap ketidakhadiran Sultan Hasan sebagai bentuk penghinaan. "Ia tidak mau datang karena ia merasa lebih tinggi dari kita semua!" katanya dalam rapat. "Ia pujangga terkenal! Ia merasa tidak pantas duduk bersama rakyat biasa!"
Para pendukung Jaya mengaum setuju.
Para pendukung Sultan Hasan hanya bisa geleng-geleng kepala.
Keesokan harinya, sekelompok preman bayaran Jaya mendatangi rumah Sultan Hasan di tepi telaga.
Mereka membawa pentung, golok, dan bambu runcing. Wajah-wajah mereka keras, penuh kebencian. Sultan Hasan sedang duduk di beranda, menulis seperti biasa. Ia tidak terkejut melihat mereka. Ia sudah menduga.
"Kau harus pergi dari desa ini, Sultan Hasan," kata pemimpin preman, seorang lelaki botak dengan tato naga di lengannya. "Kepala desa memberi kau waktu tiga hari. Jika kau tidak pergi, kami akan mengusirmu paksa."
Sultan Hasan tidak bergeming. "Saya tidak akan pergi. Desa ini adalah rumah saya. Telaga ini adalah tempat saya mencari ketenangan. Saya tidak mengganggu siapa pun. Saya hanya menulis."
"Kami tidak peduli. Yang penting kau pergi."
"Saya tidak akan pergi."
Pemimpin preman itu mengayunkan pentungnya ke arah Sultan Hasan. Sultan Hasan menangkis dengan tangan kosong. Ia sudah belajar silat dari Ki Ageng Jagaraga, Kyai Buyut Cakar Mase, dan Kiai Pati. Gerakannya cepat, lincah, mematikan.
Dalam hitungan detik, pemimpin preman itu sudah tergeletak di tanah, pentungnya melayang ke udara, jatuh di semak-semak. Preman-preman lainnya terkejut. Mereka mundur selangkah.
"Siapa lagi yang mau?" tanya Sultan Hasan tenang.
Tidak ada yang berani.
"Pergi. Jangan kembali. Atau kalian akan merasakan yang lebih parah."
Preman-preman itu lari tunggang langgang, meninggalkan pemimpin mereka yang masih tergeletak di tanah.
Pemimpin itu bangkit perlahan. Wajahnya pucat. "Kau... kau sakti?"
"Saya tidak sakti. Saya hanya tidak mau diganggu."
Pemimpin itu berlari menyusul anak buahnya. Sultan Hasan kembali duduk di beranda. Ia mengambil daun lontar. Ia melanjutkan menulis. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Perang saudara kecil itu pecah tiga hari kemudian.
Pendukung Jaya dan pendukung Sultan Hasan bertempur di halaman balai desa. Mereka saling pukul, saling tendang, saling lempar batu. Beberapa orang terluka. Seorang pemuda patah kakinya. Seorang perempuan tua terkena batu di kepalanya. Untungnya tidak ada yang tewas.
Sultan Hasan tidak hadir. Ia tetap di telaga. Menulis. Menjauh.
Tapi Jaya hadir. Ia berdiri di atas panggung, meneriaki pasukannya, memerintahkan mereka untuk terus menyerang.
"Jangan berhenti! Hancurkan mereka! Hancurkan semua pendukung Sultan Hasan!"
Ia sudah kehilangan akal sehatnya. Kekuasaan telah meracuni hatinya. Persahabatan lama tidak berarti apa-apa baginya. Ia hanya peduli pada kekuasaan, pada uang, pada perempuan simpanannya di kota.
Kakek buta yang duduk di beranda rumahnya, mendengar teriakan-teriakan itu. Ia menangis. "Dulu, desa ini damai," bisiknya. "Dulu, Jaya dan Sultan Hasan bersahabat. Mereka tidur bersama di emperan toko, kelaparan, kedinginan. Mereka berjanji untuk saling menjaga. Sekarang... sekarang mereka bermusuhan."
Istrinya mengusap-usap punggungnya. "Sudahlah, Kek. Biarkan mereka. Kita hanya orang tua. Tidak bisa berbuat apa-apa."
"Kita bisa berdoa," kata kakek buta itu. "Kita bisa berdoa semoga mereka sadar sebelum terlambat."
Akhirnya, konflik itu sampai juga ke telinga adipati.
Adipati marah. Ia mengirim pasukan kerajaan ke Dukuh Wangi untuk melerai. Puluhan prajurit bersenjata lengkap mengepung desa. Mereka menangkap para pemimpin kerusuhan, termasuk Jaya.
Jaya dibawa ke istana. Ia diadili. Terbukti korupsi, nepotisme, dan menghasut kekerasan. Ia dijatuhi hukuman penjara lima tahun. Jabatan kepala desanya dicabut.
Sultan Hasan dipanggil sebagai saksi. Ia memberikan kesaksian dengan jujur, tanpa dendam, tanpa kebencian. Ia bahkan memohon agar Jaya diampuni.
"Paduka," katanya pada adipati. "Jaya adalah sahabat saya sejak kecil. Ia sudah melalui banyak penderitaan bersama saya. Ia baik hati. Ia setia. Ia hanya tersesat karena kekuasaan. Saya mohon, jangan hukum ia terlalu berat."
Adipati itu terkejut. "Kau memohon pengampunan untuk orang yang ingin mengusirmu? Yang menyebarkan fitnah tentangmu? Yang mengirim preman untuk menyerangmu?"
"Saya tidak menyimpan dendam, Paduka. Saya hanya ingin persahabatan kami pulih."
Adipati itu menghela napas. "Kau sungguh luar biasa, Sultan Hasan. Aku belum pernah melihat orang sepertimu."
Ia meringankan hukuman Jaya. Dari lima tahun menjadi dua tahun. Jaya menangis mendengarnya. Ia tidak pantas diperlakukan sebaik itu. Tapi Sultan Hasan tersenyum. Ia memeluk Jaya.
"Kita masih saudara, Jaya. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
Jaya terisak. "Maafkan aku, Hasan. Maafkan aku."
"Sudah. Aku sudah memaafkanmu sejak lama. Di telaga. Saat aku menulis syair tentang persahabatan."
Dua tahun kemudian, Jaya bebas dari penjara.
Ia kembali ke Dukuh Wangi. Desa itu sudah berubah. Kepala desa yang baru lebih bijaksana. Konflik sudah mereda. Sultan Hasan masih tinggal di tepi telaga, menulis syair, mengajari anak-anak membaca.
Jaya datang ke rumah Sultan Hasan. Ia berlutut di depan sahabatnya.
"Maafkan aku, Hasan. Aku sudah menghianati persahabatan kita."
Sultan Hasan memeluknya. "Kita tidak perlu bicara tentang masa lalu. Yang penting kita bersama lagi. Seperti dulu."
Mereka menangis bersama.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu diam.
Seolah setuju. Seolah merestui. Seolah bahagia bahwa persahabatan sejati tidak pernah mati.
Ia hanya retak. Tapi bisa diperbaiki. Dengan ketulusan. Dengan maaf. Dengan cinta.
BAB LVI
Pandan Wangi Memilih: Pandan Wangi Memilih Hidup Menyendiri di Pondok Pertapaan daripada Hidup Mewah di Istana atau Bersama Sultan Hasan
Setelah perang saudara kecil di Dukuh Wangi mereda, setelah Jaya dihukum dan kemudian dibebaskan, setelah semua kekacauan berlalu, Pandan Wangi menghadapi pilihan terberat dalam hidupnya.
Di satu sisi, ia bisa kembali ke istana, hidup mewah sebagai putri bangsawan, dilayani puluhan dayang, dihormati oleh rakyat, dan dikelilingi oleh harta yang tak terhitung jumlahnya. Tapi ia harus rela melepaskan Sultan Hasan, karena ayahnya tidak akan pernah merestui pernikahan mereka.
Di sisi lain, ia bisa meninggalkan istana untuk selamanya, hidup bersama Sultan Hasan di tepi telaga, menjadi istri seorang pujangga miskin, tinggal di pondok bambu, makan seadanya, dan bekerja keras setiap hari. Tapi ia harus rela melepaskan status bangsawan, kekayaan, dan kenyamanan hidup.
Pilihan yang sulit. Namun Pandan Wangi tidak memilih keduanya.
Suatu malam, setelah berdiskusi panjang dengan Sultan Hasan di tepi telaga, Pandan Wangi mengambil keputusan yang mengejutkan semua orang.
"Aku tidak akan kembali ke istana," katanya. "Tapi aku juga tidak akan tinggal bersamamu, Sultan Hasan."
Sultan Hasan terkejut. "Lalu kau mau ke mana?"
"Aku akan hidup menyendiri. Di pondok pertapaan. Di lereng gunung. Di tempat yang sunyi, jauh dari keramaian, jauh dari hiruk-pikuk dunia. Aku akan berdoa. Aku akan bermeditasi. Aku akan merenungkan hidupku."
"Kenapa, Pandan? Kenapa tidak dengan aku?"
Pandan Wangi tersenyum lembut. Matanya berkaca-kaca.
"Karena aku mencintaimu, Sultan Hasan. Dan karena cintaku padamu, aku tidak ingin menjadi beban. Aku adalah janda pangeran. Statusku rumit. Keluargaku tidak merestui. Jika aku tinggal denganmu, ayahku akan marah. Ia akan mengirim pasukan untuk menangkapmu. Ia akan memenjarakanmu. Aku tidak mau itu terjadi."
"Tapi aku tidak takut pada ayahmu, Pandan. Aku sudah melalui banyak hal. Aku tidak takut mati."
"Tapi aku takut kehilanganmu, Sultan Hasan. Aku lebih baik hidup sendiri daripada hidup dengan perasaan takut setiap hari. Takut kau akan ditangkap. Takut kau akan dibunuh. Takut kau akan disiksa."
Sultan Hasan terdiam. Ia tidak bisa membantah. Pandan Wangi benar.
"Jadi, ini keputusanmu?" tanyanya.
"Ini keputusan terberat dalam hidupku, Sultan Hasan. Tapi aku harus melakukannya. Untuk ketenanganmu. Untuk ketenanganku."
Keputusan Pandan Wangi menyebar dengan cepat.
Adipati , ayahnya , marah. "Kau lebih memilih hidup di pondok pertapaan daripada di istana? Apa kau gila? Di istana kau punya segalanya! Makanan enak, pakaian indah, pelayan yang siap memenuhi semua keinginanmu!"
"Aku tidak butuh semua itu, Ayah. Aku butuh ketenangan."
"Ketenangan bisa kau dapatkan di istana! Kau bisa mengunci diri di kamar, tidak keluar, tidak bicara siapa pun!"
"Itu bukan ketenangan, Ayah. Itu kurungan. Aku tidak ingin dikurung. Aku ingin bebas. Bebas memilih hidupku."
Adipati itu menghela napas. Ia tidak bisa melawan. Pandan Wangi sudah dewasa. Pandan Wangi sudah menjadi janda. Ia berhak memilih jalannya sendiri.
"Baiklah," kata adipati itu. "Ayah izinkan. Tapi jangan menyesal."
"Tidak akan, Ayah."
Pangeran-pangeran lain yang pernah melamar Pandan Wangi, juga kecewa. Mereka berharap janda cantik itu akan memilih salah satu dari mereka. Tapi Pandan Wangi tidak memilih siapa pun. Ia memilih kesendirian.
"Gila," kata mereka. "Ia lebih memilih hidup di gubuk reot daripada di istana mewah."
"Atau mungkin ia masih mencintai Sultan Hasan," kata yang lain. "Tapi ia tidak bisa bersamanya karena restu ayahnya tidak kunjung datang."
"Menyedihkan."
"Menyedihkan sekali."
Sultan Hasan menemani Pandan Wangi memilih lokasi pondok pertapaannya.
Mereka berjalan berdua di lereng gunung, melewati hutan, melewati sungai, melewati padang rumput. Pandan Wangi mencari tempat yang tenang, dekat dengan alam, dekat dengan air, dekat dengan langit.
Akhirnya, mereka menemukan tempat yang cocok. Sebuah tanah datar di lereng gunung, dikelilingi oleh pohon-pohon pinus, dekat dengan mata air yang jernih, menghadap ke lembah yang hijau.
"Di sinilah," kata Pandan Wangi. "Aku akan membangun pondokku di sini."
"Aku akan membantu," kata Sultan Hasan.
Mereka berdua membangun pondok itu bersama-sama. Tidak butuh waktu lama. Hanya seminggu. Pondok kecil dari kayu dan bambu, dengan atap daun rumbia, beranda kecil di depan, dan dapur di belakang.
Pandan Wangi menangis saat pondok itu selesai. "Ini rumah pertamaku yang benar-benar milikku. Bukan istana ayahku. Bukan istana suamiku. Tapi rumahku sendiri."
"Aku akan sering datang," kata Sultan Hasan. "Untuk menemanimu. Untuk membawakan makanan. Untuk menulis syair."
"Jangan terlalu sering. Aku butuh kesendirian."
"Baiklah. Aku akan datang seminggu sekali."
"Sebulan sekali."
"Dua minggu sekali?"
"Sebulan sekali, Sultan Hasan. Aku harus terbiasa hidup sendiri. Aku tidak bisa terus bergantung padamu."
Sultan Hasan tersenyum pahit. "Baiklah. Sebulan sekali."
Sultan Hasan menuruni gunung. Ia berjalan perlahan, sesekali menoleh ke belakang, melihat pondok kecil Pandan Wangi yang semakin jauh.
Di dadanya, batu akik merah berdenyut. Pelan. Lembut.
"Kau sedih?" bisik batu itu.
"Sedih. Tapi tidak marah. Aku menghormati keputusannya."
"Kau rela melepaskannya?"
"Aku tidak melepaskannya. Aku hanya memberinya ruang. Cinta tidak harus memiliki. Cinta bisa dengan memberi kebebasan."
"Kau hebat, Sultan Hasan. Aku bangga menjadi pusakamu."
"Terima kasih."
Sultan Hasan terus berjalan. Meninggalkan gunung. Meninggalkan pondok. Meninggalkan Pandan Wangi.
Tapi tidak benar-benar meninggalkan.
Ia akan kembali. Sebulan sekali. Setia. Tidak pernah absen.
Karena janji. Karena cinta. Karena ia adalah penjaga hati. Dan penjaga hati tidak pernah ingkar janji.
Di pondok pertapaannya, Pandan Wangi duduk di beranda. Memandang lembah. Memandang langit. Memandang burung-burung yang terbang bebas.
Ia tersenyum.
"Ini pilihanku," bisiknya. "Dan aku tidak menyesal."
Ia memegang kalung batu akik merah di lehernya. Batu itu berdenyut. Hangat. Seperti jantung yang berdetak tenang.
"Aku di sini," bisik batu itu. "Kau tidak sendirian."
"Aku tahu. Terima kasih."
Pandan Wangi memejamkan mata. Ia berdoa. Untuk ketenangan. Untuk kebahagiaan. Untuk cinta yang tetap terjaga, meskipun tidak bersatu.
Di kejauhan, meski tidak mungkin, ia mendengar suara burung hantu. Samar. Tapi jelas.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti seruan untuk memulai hidup baru. Sendiri. Tapi tidak kesepian.
Karena cinta tetap ada. Di hati. Di doa. Di setiap denyut batu akik merah itu.
Selamanya.
BAB LVII
Sultan Hasan Melamar Lagi dengan Cara yang Tak Biasa: Ia Menghadiahi Syair 1000 Baris yang Ditulis Selama di Pulau Penjara
Sebulan setelah Pandan Wangi memutuskan hidup menyendiri di pondok pertapaannya, Sultan Hasan menepati janji. Ia datang ke lereng gunung, menaiki jalan setapak yang semakin lama semakin terjal, melewati hutan pinus yang rimbun, melewati mata air yang jernih, hingga akhirnya sampai di pondok kecil itu.
Pandan Wangi sedang duduk di beranda, menenun kain dari benang-benang yang ia warnai sendiri dengan ekstrak daun dan akar-akaran. Ia tersenyum melihat Sultan Hasan.
"Kau datang," katanya.
"Aku bilang aku akan datang."
"Aku kira kau lupa."
"Aku tidak pernah lupa janji, Pandan. Terutama janji padamu."
Sultan Hasan duduk di samping Pandan Wangi. Mereka berdua diam sejenak. Menikmati pemandangan lembah yang hijau, langit yang biru, angin yang sepoi-sepoi.
"Aku membawa sesuatu untukmu," kata Sultan Hasan sambil mengeluarkan sebuah bungkusan dari balik bajunya.
"Apa itu?"
"Buka saja."
Pandan Wangi membuka bungkusan itu. Di dalamnya, ada setumpuk daun lontar. Tebal. Ratusan helai. Disusun rapi, diikat dengan tali dari serat kayu. Daun-daun itu berwarna kecoklatan, kering, tapi masih kokoh. Ada tulisan di setiap helainya. Tulisan tangan. Kecil. Rapi. Indah.
"Apa ini?" tanya Pandan Wangi.
"Syair. Seribu baris. Yang kutulis selama di Pulau Penjara."
Pandan Wangi terkejut. "Seribu baris? Kau menulis seribu baris syair untukku?"
"Bukan hanya untukmu. Tentang kita. Tentang cinta kita. Tentang perjuangan kita. Tentang rindu yang tak pernah usai. Tentang harap yang tak pernah padam. Tentang janji yang selalu kutepati."
Air mata Pandan Wangi mengalir. Ia memeluk tumpukan daun lontar itu erat-erat.
"Kau... kau benar-benar melakukannya?"
"Aku melakukannya setiap malam. Selama tujuh tahun. Di tepi pantai, di bawah cahaya bulan, di tengah kesepian yang hampir membunuhku. Aku menulis. Menulis. Menulis. Karena itu satu-satunya cara untuk tetap terhubung denganmu."
Pandan Wangi mulai membaca.
Baris pertama: "Rindu ini bukan tentang bertemu, bukan tentang berjumpa di ujung jalan."
Ia tersenyum. Ia ingat syair itu. Sultan Hasan pernah membacakannya untuknya di telaga, saat mereka masih kecil. Ternyata ia menulisnya lagi, di pulau yang sunyi.
Baris kedua: "Rindu ini tentang air di telaga, yang tak pernah habis meski terus kau timba."
Pandan Wangi menangis. Ia ingat telaga itu. Ia ingat saat-saat indah di tepi telaga, saat mereka berdua duduk di batu hitam, berbicara tentang bintang, tentang mimpi, tentang masa depan.
Baris ketiga: "Ia ada. Ia mengalir. Ia hidup. Meski kau tak melihatnya. Meski kau tak menyentuhnya. Meski kau jauh di sana."
Ia tidak bisa melanjutkan membaca. Tangannya gemetar. Air matanya membasahi daun lontar.
"Jangan menangis," kata Sultan Hasan. "Aku tidak suka melihatmu menangis."
"Aku menangis karena bahagia," kata Pandan Wangi. "Karena tidak ada yang pernah melakukan hal ini untukku. Tidak ada yang pernah menulis seribu baris syair untukku. Hanya kau."
"Karena hanya kau yang kucintai. Sejak pertama kali aku melihatmu di telaga itu, saat kita masih kecil. Hanya kau."
Sultan Hasan berlutut.
Pandan Wangi terkejut. "Apa yang kau lakukan?"
"Saya melamar mu, Pandan Wangi. Bukan dengan mahar emas atau perak. Bukan dengan harta yang melimpah. Bukan dengan status bangsawan yang tinggi. Tapi dengan syair ini. Seribu baris yang menceritakan cinta saya pada Anda. Apakah Anda mau menerima lamaran saya?"
Pandan Wangi tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menangis.
"Pandan, saya tahu ayahmu tidak merestui. Saya tahu status kita berbeda. Saya tahu kita tidak bisa hidup bersama secara normal. Tapi saya tidak peduli. Saya hanya ingin kau tahu, bahwa saya akan selalu mencintaimu. Sampai mati. Sampai setelah mati. Selamanya."
Pandan Wangi berlutut di hadapan Sultan Hasan. Mereka berdua berhadapan. Mata mereka bertemu. Hati mereka berbicara.
"Ya," kata Pandan Wangi. "Aku mau. Aku mau menjadi istrimu. Bukan di depan hukum. Bukan di depan agama. Tapi di depan hati. Di depan cinta. Di depan telaga yang menyaksikan janji kita sejak kecil."
Mereka berdua berpelukan. Menangis. Tertawa. Bersyukur.
Di dahan pohon pinus di halaman pondok, seekor burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang. Meninggalkan suara yang nyaring.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti seruan untuk memulai babak baru dalam kehidupan mereka.
Babak di mana cinta tidak lagi hanya dalam syair.
Babak di mana cinta dihidupi. Setiap hari. Setiap malam. Dalam kesederhanaan. Dalam ketulusan. Dalam kebersamaan.
Malam itu, Sultan Hasan tidak pulang.
Ia menginap di pondok pertapaan Pandan Wangi. Mereka berdua duduk di beranda, membaca syair-syair itu bersama-sama. Bergantian. Kadang Sultan Hasan membacakan, kadang Pandan Wangi.
Baris ke-100: "Aku menulis di bawah bulan, di atas pasir pantai yang dingin, tentang hangatnya pelukanmu yang tak pernah aku lupakan."
Baris ke-250: "Aku menulis tentang wajahmu yang terbayang di setiap ombak, tentang senyummu yang menjadi pelita di malamku yang gelap."
Baris ke-500: "Aku menulis setengah mati, karena jika aku berhenti, aku akan mati. Bukan mati raga. Tapi mati hati."
Baris ke-750: "Aku bertahan karena kau. Karena aku tahu, di suatu tempat, kau juga bertahan. Kau juga berjuang. Kau juga menungguku."
Baris ke-1000: "Dan akhirnya, setelah seribu baris, setelah tujuh tahun, setelah segala badai yang menerjang... aku di sini. Bersamamu. Menepati janji. Selamanya."
Pandan Wangi terisak. Sultan Hasan memeluknya.
"Kita tidak akan berpisah lagi," bisik Sultan Hasan. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun memisahkan kita."
"Tapi ayahku..."
"Biarkan ayahmu marah. Biarkan ia tidak merestui. Yang penting kita bahagia. Yang penting kita bersama. Yang penting kita saling mencintai."
Pandan Wangi mengangguk. Ia mengecup kening Sultan Hasan.
"Terima kasih untuk syairnya," bisiknya. "Terima kasih untuk semuanya. Aku tidak akan pernah bisa membalas kebaikanmu."
"Kau tidak perlu membalas apa pun, Pandan. Cukup kau di sini. Bersamaku. Itu sudah lebih dari cukup."
Keesokan paginya, Sultan Hasan turun gunung.
Ia berjalan perlahan. Hatinya ringan. Dadanya terasa hangat.
Ia tidak membawa apa pun. Tapi ia meninggalkan sesuatu di pondok itu. Syair seribu baris. Dan hatinya. Selamanya.
Di dadanya, batu akik merah berdenyut. Pelan. Lembut.
"Kau bahagia?" bisik batu itu.
"Sangat. Aku tidak pernah sebahagia ini."
"Kau pantas bahagia, Sultan Hasan. Kau sudah berjuang terlalu keras. Kau sudah menderita terlalu lama. Sekarang waktunya kau menikmati cinta."
"Terima kasih. Karena selalu bersamaku. Karena selalu membantuku. Karena selalu mengingatkanku pada janji."
Batu itu berdenyut sekali lagi. Hangat. Seperti pelukan.
Di kejauhan, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Seperti ikut bahagia. Seperti ikut merestui. Seperti ikut mendoakan.
Sultan Hasan tersenyum. Ia melangkah pulang. Menuju telaga. Menuju rumahnya. Menuju kehidupan baru.
Bersama cinta. Bersama syair. Bersama kenangan indah yang tak akan pernah pudar.
Selamanya.
BAB LVIII
Akhirnya Restu Datang: Ayah Pandan Wangi Sakit Parah – Sultan Hasan Menyembuhkannya dengan Air Telaga dan Doa – Restu Diberikan
Kabar bahwa adipati , ayah Pandan Wangi , jatuh sakit menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru kerajaan. Bukan sakit biasa. Bukan demam atau batuk yang bisa disembuhkan dengan jamu. Tapi sakit yang aneh. Tubuhnya panas seperti terbakar di siang hari, tapi dingin seperti es di malam hari. Matanya kadang melihat jelas, kadang buta total. Tangannya gemetar tanpa henti. Mulutnya mengeluarkan busa putih setiap kali ia mencoba bicara.
Para tabib istana sudah berusaha segalanya. Ramuan demi ramuan. Mantra demi mantra. Bahkan dukun sakti dari kerajaan tetangga diundang untuk menyembuhkan adipati itu. Semua gagal.
"Penyakit ini tidak biasa," kata tabib istana. "Ini bukan penyakit fisik. Ini penyakit hati. Adipati terlalu banyak tekanan. Terlalu banyak beban. Terlalu banyak keputusasaan."
"Keputusasaan karena apa?" tanya permaisuri — istri adipati.
"Karena putrinya, Paduka. Pandan Wangi. Sejak ia memilih hidup di pondok pertapaan, adipati tidak pernah bahagia. Ia merasa gagal sebagai ayah. Ia merasa kehilangan anaknya. Ia merasa tidak berguna."
Permaisuri menangis. "Apa yang harus kami lakukan?"
"Panggil putri Paduka. Minta ia datang. Mungkin kehadirannya bisa menyembuhkan adipati."
Pandan Wangi datang ke istana dengan perasaan campur aduk.
Ia sudah berbulan-bulan tidak bertemu ayahnya. Sejak ia memutuskan hidup di pondok pertapaan, sejak ia menolak kembali ke istana, sejak ia memilih Sultan Hasan daripada kemewahan, hubungan mereka renggang. Adipati itu marah. Kecewa. Malu. Tapi ia tidak bisa melupakan anaknya.
Ketika Pandan Wangi masuk ke kamar ayahnya, ia terkejut. Adipati itu terbaring lemah di tempat tidur. Tubuhnya kurus kering. Wajahnya pucat. Matanya cekung. Rambutnya yang dulu hitam pekat, kini hampir seluruhnya beruban.
"Ayah..." bisik Pandan Wangi sambil berlutut di samping tempat tidur.
Adipati itu membuka mata. Samar-samar. Ia melihat bayangan anaknya.
"Pandan... kau datang..." bisiknya dengan suara parau.
"Ayah, maafkan aku. Maafkan aku karena sudah meninggalkan Ayah. Maafkan aku karena tidak pernah mendengarkan nasihat Ayah."
"Bukan... bukan salahmu... Ayah yang salah... Ayah terlalu keras... Ayah terlalu memaksakan kehendak... Ayah terlalu mementingkan status... padahal yang penting adalah kebahagiaanmu..."
Pandan Wangi menangis. Ia memegang tangan ayahnya. Tangannya dingin, seperti es.
"Ayah, jangan bicara banyak. Istirahatlah."
"Tidak... Ayah harus bicara... sebelum terlambat... panggil... panggil Sultan Hasan..."
"Panggil Sultan Hasan? Kenapa, Ayah?"
"Ayah ingin... minta maaf padanya... Ayah ingin... merestui kalian... Ayah ingin... kalian menikah... sebelum Ayah mati..."
Pandan Wangi terkejut. Ia tidak menyangka ayahnya akan berubah pikiran. Setelah sekian lama melarang, setelah sekian lama bersikeras, akhirnya ia luluh juga.
"Ayah yakin?" tanyanya.
"Ayah yakin... pergilah... cepat..."
Pandan Wangi bergegas ke Dukuh Wangi. Ia menaiki kuda tercepat di istana. Ditemani dua orang pengawal, ia melesat meninggalkan istana, meninggalkan kerajaan, menuju desa kecil di kaki gunung.
Sultan Hasan sedang duduk di tepi telaga, menulis syair seperti biasa, ketika Pandan Wangi tiba.
"Pandan? Ada apa? Kenapa kau datang tergesa-gesa?"
"Ayahku sakit parah. Ia minta kau datang. Ia ingin meminta maaf. Ia ingin merestui kita."
Sultan Hasan terkejut. "Benarkah?"
"Benar. Cepat, ikut aku. Waktu tidak banyak."
Sultan Hasan tidak perlu didorong dua kali. Ia segera berdiri. Ia membawa sebotol kecil air telaga. Ia juga membawa batu akik merah di dadanya.
"Mengapa kau membawa air telaga?" tanya Pandan Wangi.
"Air telaga ini istimewa. Ia mengandung energi penyembuh. Jika diminum dengan doa yang tulus, ia bisa menyembuhkan berbagai penyakit."
"Kau percaya?"
"Aku percaya. Karena telaga ini dijaga olehmu. Dan kau adalah penjaga hati yang tulus."
Mereka tiba di istana saat matahari hampir terbenam.
Adipati itu masih terbaring lemah. Napasnya sesak. Wajahnya pucat. Permaisuri duduk di sampingnya, menangis.
Sultan Hasan berlutut di samping tempat tidur adipati.
"Paduka," katanya. "Saya datang. Saya membawa air telaga. Saya akan berdoa. Semoga Paduka sembuh."
Adipati itu membuka mata. Ia memandang Sultan Hasan.
"Kau... mau... menyembuhkanku... setelah aku... memperlakukanmu... dengan buruk... setelah aku... melarangmu... menikahi... anakku... setelah aku... mengusirmu... dari... kerajaan..."
"Saya tidak menyimpan dendam, Paduka. Saya hanya ingin Paduka sehat. Saya hanya ingin Paduka bahagia. Saya hanya ingin restu Paduka."
Adipati itu menangis. "Maafkan... aku... Nak... maafkan..."
"Saya sudah memaafkan Paduka sejak lama. Sejak di pulau penjara. Saat saya merenung di tepi pantai. Saya menyadari bahwa kebencian hanya akan melahirkan kebencian. Maaf adalah satu-satunya jalan menuju kedamaian."
Sultan Hasan membuka botol kecil berisi air telaga. Ia mendekatkannya ke bibir adipati.
"Minumlah, Paduka. Semoga Allah menyembuhkan Paduka."
Adipati itu meminum air telaga itu. Perlahan. Seteguk demi seteguk.
Sultan Hasan memejamkan mata. Ia berdoa. Ia memohon pada Tuhan, pada alam, pada telaga, pada Nini Mas Intan yang sudah tiada, pada Ki Ageng Jagaraga, pada Kiai Pati, pada semua guru yang pernah mengajarinya, semoga adipati itu sembuh.
Batu akik merah di dadanya berdenyut. Kencang. Hangat. Cahaya merahnya menembus pakaian, menerangi ruangan.
Permaisuri terkejut. Para dayang terkejut. Para pengawal terkejut.
"Apa itu?" bisik mereka.
"Itu pusaka," kata Pandan Wangi. "Pusaka penjaga hati."
Cahaya merah itu semakin terang. Membungkus tubuh adipati. Menghangatkannya. Menyembuhkannya dari dalam.
Dan ketika cahaya itu meredup, adipati itu membuka mata.
Matanya jernih. Tidak buram. Wajahnya tidak pucat lagi. Tangannya tidak gemetar lagi. Napasnya lega.
Ia duduk. Ia tersenyum.
"Aku sembuh," katanya. "Aku benar-benar sembuh."
Permaisuri menangis haru. Pandan Wangi juga menangis. Sultan Hasan tersenyum.
"Terima kasih, Sultan Hasan," kata adipati itu. "Kau telah menyelamatkan hidupku."
"Saya hanya perantara, Paduka. Yang menyembuhkan adalah Tuhan. Air telaga. Dan doa yang tulus."
Adipati itu berdiri. Ia memeluk Sultan Hasan.
"Kau anak baik," katanya. "Aku malu pada diriku sendiri. Aku sudah berlaku buruk padamu. Aku sudah melarangmu menikahi anakku. Padahal kau adalah orang yang paling pantas untuknya."
"Tidak perlu malu, Paduka. Semua orang pernah salah. Yang penting kita mau memperbaiki kesalahan."
"Aku merestui kalian, Sultan Hasan. Aku merestui pernikahanmu dengan Pandan Wangi. Aku akan mengadakan pesta besar di istana. Aku akan mengundang seluruh kerabat. Aku akan memberikan mahar terbaik."
"Tidak usah, Paduka. Kami tidak butuh pesta. Kami tidak butuh kemewahan. Kami hanya butuh restu Paduka. Itu sudah cukup."
Adipati itu menangis. Ia memeluk Sultan Hasan lagi.
"Kau sungguh luar biasa, Nak. Aku belum pernah bertemu orang sepertimu."
Sultan Hasan tersenyum. Ia memandang Pandan Wangi. Pandan Wangi tersenyum balik.
Mereka berdua tahu, perjuangan mereka belum selesai. Tapi setidaknya, satu rintangan besar telah berlalu. Restu ayah Pandan Wangi. Akhirnya datang.
Di jendela istana, burung hantu bertengger di dahan pohon beringin. Ia menatap ke dalam ruangan. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang. Meninggalkan suara yang nyaring.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti seruan untuk memulai babak baru.
Babak di mana cinta tidak lagi terhalang restu.
Babak di mana cinta tidak lagi terhalang status.
Babak di mana cinta akhirnya bersatu.
Selamanya.
BAB LIX
Pernikahan Sederhana: Sultan Hasan dan Putri Pandan Wangi Menikah tanpa Pesta Besar, Hanya Disaksikan Telaga dan Pohon Tua
Restu dari adipati , ayah Pandan Wangi , datang bagai hujan setelah kemarau panjang. Seluruh istana bersukacita. Para dayang sibuk mempersiapkan pesta besar. Para koki dari berbagai kerajaan diundang untuk menyiapkan hidangan terbaik. Para musisi berlatih lagu-lagu kebesaran siang dan malam. Para penari mempersiapkan gerakan-gerakan terindah untuk menyambut malam puncak.
Tapi Sultan Hasan menolak semua itu.
"Kami tidak butuh pesta besar," katanya pada adipati. "Kami tidak butuh kemewahan. Kami hanya ingin menikah dengan sederhana. Di tepi telaga. Disaksikan oleh alam."
Adipati itu terkejut. "Kau tidak ingin diakui sebagai menantu bangsawan? Kau tidak ingin statusmu naik? Kau tidak ingin dihormati oleh rakyat?"
"Saya tidak butuh status, Paduka. Saya tidak butuh kekayaan. Saya tidak butuh kehormatan dari manusia. Saya hanya butuh Pandan Wangi. Itu sudah cukup."
Adipati itu menghela napas. "Kau sungguh luar biasa, Sultan Hasan. Aku belum pernah bertemu orang sepertimu."
"Paduka sudah sering mengatakan itu," kata Sultan Hasan tersenyum.
"Karena itu benar. Baiklah. Aku izinkan. Tapi jangan menyesal."
"Saya tidak akan menyesal, Paduka."
Pernikahan Sultan Hasan dan Pandan Wangi dilangsungkan di tepi telaga, pada malam purnama.
Tidak ada pelaminan. Tidak ada rias pengantin. Tidak ada pakaian mewah. Sultan Hasan memakai kain putih sederhana, seperti biasa. Pandan Wangi memakai kain batik sederhana, dengan motif pandan yang ia tenun sendiri di pondok pertapaannya.
Saksi pernikahan mereka bukan manusia. Telaga. Pohon-pohon tua di sekitarnya. Bulan di langit. Bintang-bintang yang bertaburan. Dan seekor burung hantu yang setia bertengger di dahan pohon asam, menatap mereka dengan mata bundar dan kuning.
"Kita tidak punya penghulu," kata Pandan Wangi.
"Kita tidak butuh penghulu," kata Sultan Hasan. "Cukup kita berdua. Cukup hati kita. Cukup janji kita di hadapan alam."
Mereka berdua bergandengan tangan. Berlutut di tepi telaga.
"Pandan Wangi," kata Sultan Hasan. "Aku mengambilmu sebagai istriku. Bukan di depan hukum manusia. Bukan di depan agama. Tapi di depan hati. Di depan cinta. Di depan telaga yang menyaksikan janji kita sejak kecil."
"Aku terima, Sultan Hasan," kata Pandan Wangi. "Aku menjadi istrimu. Bukan karena status. Bukan karena harta. Tapi karena cinta. Karena kesetiaan. Karena janji yang tak pernah pudar."
Mereka berdua berpelukan.
Di dasar telaga, air beriak. Ikan-ikan kecil berenang gembira. Tanaman air bergoyang-goyang, seolah ikut menari.
Di langit, bulan bersinar lebih terang dari biasanya. Bintang-bintang bertaburan lebih indah dari biasanya.
Di dahan pohon asam, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek. Tapi nyaring.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti lagu pernikahan yang paling indah.
Setelah akad nikah, mereka berdua duduk di batu hitam — batu yang sama tempat mereka biasa duduk saat masih kecil.
"Kau ingat saat kita pertama kali bertemu?" tanya Pandan Wangi.
"Aku ingat. Saat itu aku baru berusia lima tahun. Aku mengikuti burung hantu ke telaga ini. Dan kau duduk di batu ini, tersenyum padaku."
"Aku sudah menunggumu sejak lama, Sultan Hasan. Bahkan sebelum kau lahir. Nini Mas Intan sudah memberitahuku bahwa suatu hari nanti, seorang anak laki-laki akan datang. Dan aku harus menjaganya."
"Dan kau menjagaku. Selama bertahun-tahun. Sampai aku besar. Sampai aku dewasa. Sampai aku sanggup menjagamu."
"Dan sekarang, kita saling menjaga. Selamanya."
Mereka berdua tersenyum.
Di telaga, air beriak pelan. Seolah ikut bahagia.
Malam itu, mereka tidak pulang ke istana. Juga tidak pulang ke pondok pertapaan. Mereka tidur di tepi telaga, di atas hamparan daun kering, di bawah cahaya bulan.
Sultan Hasan memeluk Pandan Wangi. Pandan Wangi memeluk Sultan Hasan. Mereka berdua hangat. Bahagia. Tidak perlu apa-apa lagi.
"Pandan," bisik Sultan Hasan.
"Ya?"
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Aku akan menjagamu. Sampai mati."
"Aku juga, Sultan Hasan. Aku akan menjagamu. Sampah mati."
Mereka berdua tertidur. Dalam mimpi, mereka berdua berjalan di tepi telaga, bergandengan tangan, tertawa, bercerita, seperti saat kecil dulu.
Tapi tidak ada lagi kesedihan. Tidak ada lagi rasa takut. Tidak ada lagi perpisahan.
Hanya cinta. Hanya kebahagiaan. Hanya ketenangan.
Selamanya.
Keesokan paginya, adipati datang ke telaga. Ia ingin melihat anaknya yang baru menikah. Ia terkejut melihat Sultan Hasan dan Pandan Wangi tidur di tepi telaga, beralaskan daun kering, tanpa selimut, tanpa bantal.
"Kalian tidur di sini? Sepanjang malam? Tidak masuk angin?"
"Kami biasa, Ayah," kata Pandan Wangi sambil menguap. "Saat kecil, kami sering tidur di sini. Saat Sultan Hasan masih belajar silat, ia sering tidur di gua-gua di hutan. Saat di pulau penjara, ia tidur di atas pasir. Jadi tidur di tepi telaga sudah biasa."
Adipati itu menghela napas. "Kalian memang pasangan yang aneh. Tapi aku bangga."
Ia melepaskan kalung emas dari lehernya. Diberikannya pada Pandan Wangi.
"Ini hadiah pernikahan dari ayah. Tidak mahal. Tapi mudah-mudahan bermanfaat."
"Terima kasih, Ayah," kata Pandan Wangi.
Adipati itu memeluk Sultan Hasan.
"Jagalah anakku," bisiknya.
"Aku akan menjaganya, Paduka. Dengan nyawaku."
Adipati itu pergi. Meninggalkan mereka berdua di tepi telaga.
Sultan Hasan dan Pandan Wangi tersenyum. Mereka berdua bergandengan tangan. Memandang telaga yang jernih. Memandang langit yang biru. Memandang masa depan yang cerah.
Di dahan pohon asam, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah setuju. Seolah merestui. Seolah bahagia bahwa penjaga hati akhirnya menemukan kebahagiaannya.
Selamanya.
BAB LX
Malam Pertama: Mereka Berdua Tidak Berbicara, Hanya Saling Memandangi Wajah yang Sudah Lama Mereka Rindukan
Malam pertama setelah pernikahan sederhana di tepi telaga itu, Sultan Hasan dan Pandan Wangi tidak pergi ke mana-mana.
Mereka tetap di pondok kecil Sultan Hasan di tepi telaga. Pondok itu sederhana: dinding dari anyaman bambu, atap dari daun rumbia, lantai dari tanah yang dipadatkan, satu ruangan tanpa sekat. Di tengah ruangan, ada perapian kecil. Di sudut, ada tumpukan daun lontar dan alat tulis. Di sudut lain, ada tempat tidur dari bambu, ditutupi tikar anyaman pandan. Itu saja. Tidak ada kemewahan. Tidak ada perabot indah. Tidak ada lampu gantung atau hiasan dinding.
Tapi bagi Sultan Hasan dan Pandan Wangi, pondok itu adalah istana. Karena mereka bisa bersama. Karena mereka akhirnya bersatu. Karena tidak ada lagi yang memisahkan.
Malam itu, bulan purnama bersinar terang. Cahayanya masuk melalui celah-celah dinding bambu, menciptakan pola-pola indah di lantai tanah. Angin malam berembus pelan, membawa wangi pandan dari rambut Pandan Wangi. Burung-burung hantu berbunyi dari kejauhan, sekal i pendek, seperti lagu pengantar tidur.
Sultan Hasan dan Pandan Wangi duduk berhadapan di atas tikar anyaman pandan. Tidak ada yang bicara. Mereka hanya saling memandang.
Wajah Pandan Wangi di bawah cahaya bulan terlihat cantik. Sangat cantik. Lebih cantik dari yang Sultan Hasan ingat. Mungkin karena ini malam pertama mereka sebagai suami istri. Mungkin karena mereka sudah menunggu terlalu lama. Mungkin karena cinta yang terpendam bertahun-tahun kini akhirnya mekar.
Sultan Hasan memperhatikan setiap detail wajah Pandan Wangi. Alisnya yang lentik. Matanya yang hitam pekat, berkilau seperti telaga di malam purnama. Hidungnya yang mancung. Pipinya yang putih bersih, kemerahan karena malu. Bibirnya yang tipis, merah alami, sedikit bergetar. Rambutnya yang hitam panjang terurai sebahu, bergerak-gerak setiap kali angin menerpa.
Pandan Wangi juga memperhatikan wajah Sultan Hasan. Keningnya yang lebar, dengan tanda merah di antara dua alis — tanda penjaga yang semakin jelas di bawah cahaya bulan. Matanya yang teduh, penuh kasih, penuh ketenangan. Hidungnya yang tegas. Pipinya yang tirus, sedikit berjanggut. Bibirnya yang tipis, tersenyum kecil. Tubuhnya yang tegap, kekar, tapi lembut.
Mereka berdua tidak bicara. Tidak perlu. Kata-kata tidak diperlukan lagi. Cinta mereka sudah melampaui kata-kata. Sudah melampaui janji. Sudah melampaui segalanya.
Sultan Hasan mengulurkan tangannya. Ia menyentuh pipi Pandan Wangi. Lembut. Perlahan. Seperti menyentuh kelopak bunga yang baru mekar.
Pandan Wangi menutup matanya. Ia menikmati sentuhan itu. Hangat. Lembut. Penuh cinta.
"Kau cantik," bisik Sultan Hasan. Suaranya pelan, seperti bisikan angin malam.
"Kau juga tampan," bisik Pandan Wangi balik.
Mereka tersenyum.
Pandan Wangi membuka matanya. Ia memandang Sultan Hasan. Matanya berkaca-kaca. Bukan sedih. Tapi bahagia. Bahagia yang tak terkira.
"Kita sudah menunggu lama, Sultan Hasan," bisiknya.
"Sangat lama," kata Sultan Hasan.
"Apakah semua perjuangan ini sepadan?"
"Setiap tetes keringat. Setiap butir air mata. Setiap luka di tubuh. Setiap malam di pulau penjara. Setiap rindu yang tak terobati. Semua sepadan. Karena pada akhirnya, kita di sini. Bersama."
"Aku tidak akan menukar malam ini dengan apa pun. Bahkan dengan seluruh istana dan kekayaannya."
"Aku juga."
Mereka berdua diam lagi. Tidak bicara. Hanya saling memandang. Mata bertemu mata. Hati bertemu hati. Jiwa bertemu jiwa.
Sultan Hasan mendekat. Pandan Wangi juga mendekat.
Dahi mereka bersentuhan. Hangat.
"Pandan," bisik Sultan Hasan.
"Ya?"
"Aku mencintaimu. Sejak pertama kali aku melihatmu di telaga ini. Saat aku masih kecil. Saat aku tidak tahu apa itu cinta. Tapi hatiku sudah tahu. Hatiku sudah memilihmu."
"Aku juga mencintaimu, Sultan Hasan. Sejak pertama kali kau datang ke telaga ini. Mengikuti burung hantu. Dengan mata penuh rasa ingin tahu. Dengan hati penuh luka. Aku sudah tahu, kau adalah orangnya."
Mereka berdua berpelukan. Lama. Dalam. Hangat.
Malam itu, mereka tidak tidur.
Mereka hanya duduk berdua di atas tikar, saling berpelukan, kadang saling memandang, kadang berbicara pelan, kadang tertawa kecil, kadang diam menikmati keheningan.
Pandan Wangi menyandarkan kepalanya di dada Sultan Hasan. Ia mendengar detak jantung suaminya. Berdebar kuat, teratur, seperti genderang yang memanggil pasukan.
"Detak jantungmu kuat," katanya.
"Karena kau di sini."
"Apakah akan begini terus selamanya?"
"Selamanya. Aku akan menjagamu. Sampai mati."
"Jangan bicara mati. Malam ini kita bahagia. Jangan bicara hal-hal yang menyedihkan."
"Baiklah. Aku tidak akan bicara mati. Aku hanya akan bicara cinta."
Mereka berdua tersenyum.
Di luar pondok, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek. Seperti setuju. Seperti merestui. Seperti ikut bahagia.
Fajar mulai menyingsing ketika mereka akhirnya tertidur.
Sultan Hasan memeluk Pandan Wangi erat-erat. Pandan Wangi memeluk Sultan Hasan erat-erat. Mereka berdua berbaring di atas tikar, menikmati hangatnya pelukan, menikmati damainya kebersamaan.
Di luar, matahari terbit di ufuk timur. Cahayanya masuk melalui celah-celah dinding bambu, menerangi wajah mereka yang tenang.
Mereka tidur nyenyak. Tidak ada mimpi buruk. Tidak ada kegelisahan. Tidak ada rasa takut.
Hanya kedamaian. Hanya cinta. Hanya kebahagiaan.
Malam pertama mereka sebagai suami istri. Bukan malam yang megah dengan pesta dan kemewahan. Tapi malam yang sederhana, yang hangat, yang penuh cinta.
Malam yang tidak akan mereka lupakan seumur hidup.
Selamanya.
BAGIAN EMPAT: PERTEMUAN KEMBALI
"Pertemuan kembali setelah perpisahan yang panjang tidak pernah semanis yang dibayangkan. Ada luka yang belum sembuh. Ada kata-kata yang tidak terucap. Ada rasa bersalah yang tidak bisa dihapus. Tapi ada juga kerinduan yang selama bertahun-tahun dipendam, yang akhirnya meletus seperti air bah yang tidak bisa ditahan. Inilah kisah tentang dua hati yang akhirnya bersatu setelah badai berlalu. Tentang pernikahan sederhana di tepi telaga. Tentang kelahiran seorang anak yang akan menjadi pewaris. Dan tentang kematian yang datang tanpa permisi, meninggalkan duka yang mendalam."
Di mana Sultan Hasan dan Pandan Wangi akhirnya menikah. Di mana Pandu Hati lahir. Di mana pusaka dirawat. Dan di mana Pandan Wangi meninggal dalam pelukan suaminya, meninggalkan warisan cinta yang abadi.
BAB LXI
Bahagia yang Sederhana: Kehidupan sebagai Petani dan Pencatat Syair – Pandan Wangi Menenun
Pagi hari setelah malam pertama mereka, Sultan Hasan bangun lebih dulu.
Matahari baru saja terbit. Cahayanya masih merah keemasan, hangat, tidak menyengat. Burung-burung mulai berkicau di dahan-dahan pohon. Ayam-ayam jantan berkokok bersahutan dari kejauhan. Embun masih membasahi rumput-rumput di halaman pondok.
Sultan Hasan memandang Pandan Wangi yang masih tidur di sampingnya. Wajahnya tenang. Bibirnya tersenyum kecil. Rambutnya berantakan, menutupi sebagian pipinya. Sultan Hasan dengan lembut menyisir rambut itu dengan jarinya, membiarkannya jatuh ke belakang telinga.
Pandan Wangi bergerak. Matanya terbuka. Samar-samar. Ia tersenyum melihat Sultan Hasan sudah bangun.
"Pagi," bisiknya.
"Pagi, istriku," bisik Sultan Hasan balik.
Pandan Wangi tersenyum lebih lebar. "Istri. Aku suka mendengar kata itu."
"Aku juga suka mengucapkannya. Istri. Istriku. Pandan Wangi, istriku."
"Jangan berlebihan."
Mereka berdua tertawa.
Hari-hari pertama setelah pernikahan diisi dengan kegiatan sederhana.
Sultan Hasan bangun sebelum matahari terbit. Ia pergi ke ladang, mencangkul, menanam, menyiram, merawat sayur-sayuran dan padi yang ia tanam. Bukan ladang yang luas. Hanya sepetak tanah di belakang pondok, cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka berdua. Ia tidak ingin kaya. Ia hanya ingin cukup.
Pandan Wangi bangun setelah matahari agak tinggi. Ia memasak nasi dan sayur untuk sarapan. Ia mencuci pakaian di sungai kecil dekat telaga. Ia membersihkan pondok, menyapu halaman, merapikan daun lontar dan alat tulis Sultan Hasan.
Setelah makan siang, mereka berdua beristirahat. Kadang di beranda, kadang di tepi telaga. Sultan Hasan membaca syair-syair yang pernah ia tulis, memperbaikinya, menambahi, menguranginya. Pandan Wangi mendengarkan, kadang memberi saran, kadang hanya tersenyum.
Sore hari, Pandan Wangi menenun. Ia sudah belajar menenun sejak kecil, dari ibunya. Kini ia menenun kembali, di pondok sederhana ini, dengan alat tenun sederhana dari kayu dan bambu. Ia menenun kain batik dengan motif pandan. Motif yang ia ciptakan sendiri. Motif yang mengingatkannya pada telaga, pada Sultan Hasan, pada cinta mereka.
"Kain ini akan kujual di pasar," kata Pandan Wangi suatu hari. "Hasilnya bisa untuk menambah penghasilan kita."
"Kau tidak perlu bekerja, Pandan. Aku bisa menanggung kita berdua. Ladangku cukup."
"Tapi aku ingin bekerja. Aku tidak ingin hanya diam di rumah, menunggu kau pulang. Aku ingin berguna."
"Kau sudah berguna, Pandan. Dengan berada di sini, bersamaku, itu sudah lebih dari cukup."
Pandan Wangi tersenyum. "Kau memang pujangga. Kata-katamu selalu indah."
"Aku bukan pujangga. Aku hanya suamimu yang berusaha membuatmu bahagia."
Setiap malam, sebelum tidur, Sultan Hasan menulis.
Ia menulis tentang hari itu. Tentang ladangnya. Tentang sayur-sayuran yang tumbuh. Tentang padi yang mulai menguning. Tentang Pandan Wangi yang menenun. Tentang senyumnya. Tentang tawanya. Tentang wangi pandan yang selalu melekat di rambutnya.
Pandan Wangi kadang membaca tulisan itu, kadang hanya mendengarkan Sultan Hasan membacakannya.
"Kau menulis tentang aku lagi," kata Pandan Wangi suatu malam, setelah Sultan Hasan selesai membacakan syair barunya.
"Karena kau inspirasiku. Tanpamu, aku tidak akan bisa menulis."
"Kau bisa menulis sebelum mengenalku."
"Aku bisa menulis. Tapi tulisanku kosong. Tidak bermakna. Baru setelah aku mencintaimu, kata-kataku punya jiwa."
Pandan Wangi memeluk Sultan Hasan.
"Aku mencintaimu, pujangga ku."
"Aku juga mencintaimu, penenun ku."
Mereka berdua tertawa.
Kehidupan mereka sederhana. Bahkan terlalu sederhana untuk ukuran seorang putri bangsawan.
Tapi Pandan Wangi tidak pernah mengeluh. Ia tidak butuh istana. Ia tidak butuh pelayan. Ia tidak butuh pakaian indah dan perhiasan. Cukup Sultan Hasan di sampingnya. Cukup telaga di depan pondoknya. Cukup alam yang menghija u di sekitarnya.
"Apa kau tidak bosan hidup begini?" tanya Sultan Hasan suatu hari. "Dulu kau tinggal di istana. Dilayani puluhan dayang. Makan makanan enak setiap hari. Sekarang kau hanya makan sayur dan tahu tempe. Kadang ikan asin. Kadang tidak makan karena panen gagal."
"Aku tidak bosan. Aku justru lebih bahagia di sini. Karena aku bisa menjadi diriku sendiri. Tidak perlu berpura-pura. Tidak perlu memakai topeng. Tidak perlu tersenyum pada orang yang aku benci."
"Kau benci siapa?"
"Pangeran Kertawijaya. Mantan suamiku. Ia tidak pernah mencintaiku. Ia hanya menginginkan statusku."
"Tapi ia sudah mati. Masa lalu biarlah berlalu."
"Iya. Masa lalu biarlah berlalu. Sekarang aku hanya fokus pada masa depan. Bersamamu."
Mereka berdua tersenyum.
Suatu sore, adipati , ayah Pandan Wangi , datang ke pondok mereka.
Ia terkejut melihat kondisi pondok yang sederhana. Dinding bambu. Atap daun rumbia. Lantai tanah. Tidak ada kemewahan sama sekali.
"Kau tinggal di sini?" tanyanya pada Pandan Wangi.
"Iya, Ayah. Ini rumahku sekarang."
"Tidak pengap? Tidak panas? Tidak becek saat hujan?"
"Kami biasa, Ayah. Lagipula, kami sering tidur di tepi telaga. Di alam terbuka. Jadi pondok ini sudah mewah bagi kami."
Adipati itu menghela napas. "Kalian memang aneh. Tapi aku tidak bisa memaksa kalian. Yang penting kalian bahagia."
"Kami bahagia, Ayah. Sangat bahagia."
Adipati itu memandang Sultan Hasan. "Jagalah anakku."
"Saya akan menjaganya, Paduka. Dengan nyawa saya."
"Jangan panggil Paduka. Panggil Ayah."
Sultan Hasan terharu. "Baik, Ayah."
Mereka berdua berpelukan.
Pandan Wangi menangis melihat ayah dan suaminya berdamai. Akhirnya, setelah sekian lama, setelah sekian banyak konflik, setelah sekian banyak air mata... mereka bersatu.
Di pondok sederhana ini. Di tepi telaga. Di bawah langit yang luas.
Malam harinya, setelah adipati pulang, Sultan Hasan dan Pandan Wangi duduk di tepi telaga.
Bulan sabit tipis. Bintang-bintang bertaburan.
"Kau tahu," kata Pandan Wangi. "Aku tidak pernah membayangkan hidup akan seindah ini."
"Aku juga," kata Sultan Hasan.
"Dulu, saat aku terkurung di istana, aku sering bermimpi tentang kebebasan. Tentang bisa keluar, bisa berjalan-jalan, bisa memilih siapa yang aku cintai. Tapi aku tidak pernah membayangkan kebebasan akan seindah ini."
"Kebebasan tidak selalu tentang bisa melakukan apa pun yang kau mau. Kebebasan adalah tentang bisa menjadi dirimu sendiri. Tanpa topeng. Tanpa tekanan. Tanpa rasa takut."
"Kau bijak, Sultan Hasan."
"Aku bukan bijak. Aku hanya banyak merenung. Di pulau penjara, aku punya banyak waktu untuk merenung. Tentang hidup. Tentang cinta. Tentang kebahagiaan."
"Dan apa kesimpulanmu?"
"Kesimpulanku, kebahagiaan tidak terletak pada harta atau status. Kebahagiaan terletak pada rasa syukur. Pada penerimaan. Pada cinta. Pada orang-orang yang kita cintai dan yang mencintai kita."
Pandan Wangi menyandarkan kepalanya di bahu Sultan Hasan.
"Aku bersyukur memiliki mu," bisiknya.
"Aku juga bersyukur memilikimu," bisik Sultan Hasan balik.
Mereka berdua diam. Menikmati malam. Menikmati kebersamaan. Menikmati kebahagiaan sederhana yang selama ini mereka perjuangkan.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah setuju. Seolah merestui. Seolah bahagia bahwa penjaga hati akhirnya menemukan kebahagiaannya.
Bukan di istana. Bukan di kemewahan. Tapi di kesederhanaan. Di ketulusan. Di cinta.
Selamanya.
BAB LXII
Kehamilan Pertama: Pandan Wangi Mengandung – Sultan Hasan Makin Tekun Menjaga Pusaka
Tanda-tanda itu mulai muncul ketika musim hujan tiba.
Pandan Wangi yang biasanya bersemangat menyambut pagi dengan memasak dan menenun, tiba-tiba malas bangun. Ia mengeluh mual setiap kali mencium bau masakan. Ia sering muntah di pagi hari, kadang juga di sore hari. Sultan Hasan cemas. Ia mengira istrinya sakit.
"Pandan, apa kau tidak enak badan?" tanyanya suatu pagi, saat Pandan Wangi berlari ke belakang pondok untuk muntah.
"Aku tidak tahu. Mungkin karena terlalu banyak makan ikan asin kemarin."
"Tapi kau juga mual kemarin. Dan lusa. Dan seminggu yang lalu."
Pandan Wangi terdiam. Ia menghitung dalam hati. Sudah berapa lama ia tidak mendapat bulan? Dua bulan? Tiga bulan? Ia tidak ingat persis. Sejak hidup di pondok, ia tidak terlalu memperhatikan siklus tubuhnya.
"Sultan," katanya pelan. "Mungkin... mungkin aku hamil."
Sultan Hasan terkejut. "Hamil? Kau yakin?"
"Belum yakin. Tapi ini tanda-tandanya. Aku pernah melihat dayang-dayang di istana yang hamil. Mereka juga mual-mual di pagi hari."
Sultan Hasan duduk di samping Pandan Wangi. Ia menggenggam tangan istrinya.
"Kalau benar kau hamil, ini berkah. Anak pertama kita."
"Tapi aku takut, Sultan. Aku dulu pernah bilang, aku tidak bisa memberimu anak. Karena aku penunggu telaga."
"Itu dulu. Sekarang kau sudah menjadi istriku. Kau sudah melepaskan status penunggu telaga. Kau sudah menjadi manusia biasa. Mungkin itu sebabnya kau bisa hamil."
"Kau yakin?"
"Aku tidak yakin. Tapi aku berharap."
Sultan Hasan memanggil dukun beranak dari desa sebelah.
Dukun itu sudah sangat tua. Rambutnya putih semua. Kulitnya keriput. Tapi matanya masih tajam. Ia memeriksa perut Pandan Wangi, merasakan denyutnya, mendengarkan napasnya.
"Selamat, Nak," katanya pada Sultan Hasan. "Istrimu memang hamil. Usianya sekitar tiga bulan. Janinnya sehat. Denyutnya kuat."
Sultan Hasan menangis. Ia memeluk Pandan Wangi.
"Kita punya anak, Pandan. Kita punya anak."
Pandan Wangi juga menangis. "Aku tidak menyangka. Aku pikir aku mandul."
"Tidak ada yang mandul di dunia ini, Nak," kata dukun itu. "Yang ada hanya yang belum diberi kepercayaan oleh Tuhan. Sekarang kalian diberi kepercayaan. Jaga baik-baik janin ini. Jangan biarkan ia stres. Jangan biarkan ibunya jatuh. Jangan biarkan ibunya makan sembarangan."
"Kami akan menjaganya, Nek," kata Sultan Hasan.
"Bagus. Aku akan memberikan ramuan-ramuan untuk menjaga kehamilan. Minumlah setiap hari. Jangan putus."
"Baik, Nek."
Sejak tahu Pandan Wangi hamil, Sultan Hasan semakin tekun menjaga pusaka.
Setiap pagi, sebelum berangkat ke ladang, ia membersihkan batu akik merah di dadanya dengan air telaga. Ia mengusapnya dengan lembut, sambil berdoa.
Setiap malam, sebelum tidur, ia meletakkan batu itu di perut Pandan Wangi. Ia memejamkan mata. Ia memohon pada batu itu, pada telaga, pada alam, pada Tuhan, semoga janin dalam kandungan istrinya sehat, semoga persalinan lancar, semoga anaknya kelak menjadi penjaga hati seperti dirinya.
Batu akik merah itu berdenyut. Kencang. Hangat. Seperti setuju. Seperti membantu. Seperti memberkati.
"Kau percaya batu ini bisa membantu?" tanya Pandan Wangi suatu malam, saat Sultan Hasan meletakkan batu itu di perutnya.
"Aku percaya. Batu ini sudah bersamaku sejak aku lahir. Ia sudah membantuku melewati banyak ujian. Ia tidak akan meninggalkanku sekarang."
"Batu ini memang istimewa. Aku bisa merasakan hangatnya. Menenangkan."
"Karena batu ini adalah bagian dari telaga. Dan telaga adalah bagian dari dirimu. Karena kau penunggu telaga. Dulu."
"Dan sekarang?"
"Sekarang kau adalah istriku. Ibu dari anakku. Penjaga hatiku."
Pandan Wangi tersenyum. Ia mengecup kening Sultan Hasan.
"Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu."
Kehamilan Pandan Wangi berjalan lancar.
Bulan keempat, perutnya mulai membesar. Bulan kelima, ia sudah bisa merasakan gerakan janin di dalam rahimnya. Bulan keenam, janin itu sudah sangat aktif. Kadang menendang, kadang meninju, kadang berguling.
"Anak ini laki-laki," kata Sultan Hasan suatu hari, setelah merasakan tendangan yang kuat.
"Kau bisa meramal?"
"Aku tidak bisa meramal. Tapi tendangannya kuat. Hanya anak laki-laki yang bisa sekencang itu."
Pandan Wangi tertawa. "Kau sexist."
"Apa?"
"Tidak apa-apa. Lupakan."
Mereka berdua tertawa.
Sultan Hasan tetap tekun menjaga pusaka. Setiap hari. Tidak pernah absen. Ia juga semakin rajin berdoa. Tidak hanya di pondok, tapi juga di telaga. Ia duduk di batu hitam, memejamkan mata, memohon pada Nini Mas Intan yang sudah tiada, pada Ki Ageng Jagaraga, pada Kiai Pati, pada semua guru yang pernah membimbingnya, semoga anaknya lahir selamat.
"Kau terlalu khawatir," kata Pandan Wangi.
"Aku tidak bisa tidak khawatir. Ini anak pertama kita."
"Percayalah pada Tuhan. Percayalah pada alam. Percayalah pada batu ini."
"Aku percaya. Tapi aku tetap khawatir."
Pandan Wangi menghela napas. "Kau memang aneh, Sultan Hasan. Tapi itulah sebabnya aku mencintaimu."
Suatu malam, Sultan Hasan bermimpi.
Dalam mimpinya, ia berdiri di tepi telaga. Airnya jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang ditarik arus yang lembut.
Dari tengah telaga, seorang perempuan muncul. Bukan Pandan Wangi. Perempuan tua. Rambutnya putih. Kulitnya keriput. Matanya buram.
Nini Mas Intan.
"Nek!" teriak Sultan Hasan.
"Kau sudah dewasa, Nak," kata Nini Mas Intan. "Kau sudah menikah. Kau sudah menjadi penjaga hati. Dan kau akan segera menjadi ayah."
"Aku takut, Nek. Aku takut menjadi ayah yang buruk. Aku takut tidak bisa melindungi anakku. Aku takut anakku mengalami penderitaan seperti aku dulu."
"Kau tidak perlu takut, Nak. Kau sudah melalui banyak ujian. Kau sudah terbukti menjadi penjaga hati yang baik. Kau akan menjadi ayah yang baik. Percayalah."
"Tapi, Nek..."
"Tidak ada tapi. Dengarkan pesanku. Anak yang akan lahir nanti adalah anak istimewa. Ia akan melanjutkan perjuanganmu. Ia akan menjadi penjaga hati setelah kau tiada. Rawatlah ia dengan baik. Ajari ia syair-syair. Jaga pusaka untuknya."
"Apa anak ini laki-laki atau perempuan, Nek?"
Nini Mas Intan tersenyum. "Kau akan tahu nanti. Yang penting, jangan pernah berhenti menjaga. Jangan pernah berhenti mencintai. Jangan pernah berhenti menulis."
Nini Mas Intan mulai menghilang. Perlahan. Seperti kabut ditiup angin.
"Selamat jalan, Nak," bisiknya. "Aku bangga padamu."
Sultan Hasan terbangun.
Ia duduk di tempat tidur. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Pandan Wangi masih tidur nyenyak di sampingnya.
Ia memandang perut istrinya yang besar. Ia memegang batu akik merah di dadanya. Batu itu berdenyut. Hangat.
"Kau dengar pesan Nini Mas Intan?" bisik batu itu.
"Aku dengar."
"Kau akan menjadi ayah yang baik. Percayalah."
"Aku akan berusaha."
Sultan Hasan merebahkan diri. Ia memeluk Pandan Wangi dari belakang. Ia mengecup pundaknya.
"Selamat malam, istriku."
"Selamat malam, suamiku."
Mereka berdua tertidur.
Di luar pondok, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti sambutan untuk calon penjaga hati yang akan segera lahir.
Selamanya.
BAB LXIII
Lahirnya Anak Pertama: Seorang Anak Laki-Laki Diberi Nama Pandu Hati
Persalinan Pandan Wangi berlangsung pada malam purnama, tepat sembilan bulan setelah pernikahan mereka.
Sultan Hasan yang biasanya tenang, kini gelisah. Ia berjalan mondar-mandir di depan pondok, memandang ke arah telaga, memandang ke arah langit, memandang ke arah dukun beranak yang masuk ke dalam pondok untuk menolong Pandan Wangi. Ia tidak bisa masuk. Dukun itu melarangnya. "Kau laki-laki. Tidak boleh melihat istri melahirkan. Nanti kau bisa pingsan."
"Tapi aku kuat," protes Sultan Hasan.
"Tidak ada laki-laki yang kuat saat melihat istrinya melahirkan. Percayalah. Aku sudah puluhan tahun menjadi dukun beranak. Semua suami pingsan."
Sultan Hasan terdiam. Ia menurut. Ia duduk di batu hitam di tepi telaga, memegang batu akik merah di dadanya, berdoa.
"Ya Allah, lindungi istriku. Lindungi anakku. Berikan mereka keselamatan. Aku rela apa pun terjadi. Aku rela kehilangan apa pun. Asalkan mereka selamat."
Batu akik merah itu berdenyut. Kencang. Hangat. Seperti memberikan semangat.
Di dalam pondok, Pandan Wangi berteriak kesakitan.
Dukun beranak itu membimbingnya. "Tarik napas, Nak. Buang. Tarik napas. Buang. Jangan teriak-teriak. Kau buang-buang energi. Simpan untuk mengejan."
Pandan Wangi menggigit bibirnya. Ia mencurahkan seluruh konsentrasinya untuk mengikuti petunjuk dukun itu.
Ia ingat saat ia masih kecil, di telaga, saat Sultan Hasan pertama kali datang. Bocah kurus dengan mata penuh luka. Ia ingat saat mereka berdua duduk di batu hitam, berbicara tentang bintang. Ia ingat saat mereka berpisah, saat Sultan Hasan dibuang ke pulau penjara, saat ia dipaksa menikah dengan pangeran. Ia ingat saat mereka bertemu lagi, setelah tujuh tahun. Ia ingat saat mereka menikah di tepi telaga, hanya disaksikan oleh alam.
Dan sekarang, mereka akan memiliki anak. Anak pertama mereka. Buah cinta yang telah melalui begitu banyak ujian.
"Ea... Ea... Ea..." teriak Pandan Wangi sekali lagi.
"Sudah, Nak. Kepalanya sudah keluar. Sekali lagi. Sekali lagi."
Pandan Wangi mengejan sekuat tenaga.
Dan kemudian, suara tangis bayi memecah kesunyian malam.
"Selamat, Nak," kata dukun beranak itu. "Anak laki-laki. Sehat. Kuat. Tidak ada cacat."
Pandan Wangi menangis. Ia menggendong bayinya. Bayi itu merah, keriput, tapi menangis keras. Tangis yang familiar. Tangis yang pernah ia dengar puluhan tahun lalu, saat Sultan Hasan lahir di malam gerhana.
"Terima kasih, Tuhan," bisiknya. "Terima kasih."
Sultan Hasan berlari masuk ke pondok ketika mendengar tangis bayi.
Ia melihat Pandan Wangi terbaring lemas di atas tikar, wajahnya pucat, tapi tersenyum. Di pangkuannya, seorang bayi laki-laki menangis keras.
"Pandan! Kau selamat!" teriak Sultan Hasan sambil memeluk istrinya.
"Aku selamat. Kita selamat. Anak kita selamat."
Sultan Hasan memandang bayinya. Bayi itu berhenti menangis sejenak. Matanya terbuka. Hitam pekat. Menatap Sultan Hasan. Seperti mengenali.
"Anakku," bisik Sultan Hasan. "Anakku."
Bayi itu menangis lagi. Sultan Hasan tidak tahu harus bereaksi apa. Pandan Wangi tertawa.
"Dia lapar. Berikan padaku."
Sultan Hasan menyerahkan bayi itu pada Pandan Wangi. Pandan Wangi menyusuinya. Bayi itu diam. Tenang.
"Apa nama anak kita?" tanya Pandan Wangi.
Sultan Hasan terdiam. Ia sudah memikirkan nama ini sejak lama. Sejak Pandan Wangi hamil. Sejak ia bermimpi bertemu Nini Mas Intan di telaga.
"Pandu Hati," katanya. "Pandu berarti penuntun. Hati berarti hati. Pandu Hati. Penuntun hati."
Pandan Wangi tersenyum. "Nama yang indah. Pandu Hati. Kelak ia akan menjadi penuntun hati, seperti ayahnya."
"Seperti ibunya juga," kata Sultan Hasan.
Mereka berdua tersenyum.
Keesokan paginya, adipati — ayah Pandan Wangi — datang ke pondok.
Ia membawa hadiah: kain-kain indah, perhiasan emas, mainan anak-anak, dan makanan-makanan enak. Sultan Hasan menerimanya dengan hormat.
"Aku dengar kau punya anak laki-laki," kata adipati itu.
"Iya, Ayah. Namanya Pandu Hati."
"Pandu Hati. Nama yang bagus. Boleh aku melihatnya?"
"Silakan, Ayah."
Adipati itu masuk ke pondok. Ia melihat Pandan Wangi sedang menyusui bayinya. Ia terharu. Air matanya mengalir.
"Anakku," bisiknya. "Kau sudah menjadi ibu."
"Iya, Ayah. Aku sudah menjadi ibu."
"Boleh aku menggendongnya?"
Pandan Wangi menyerahkan bayinya. Adipati itu menggendong Pandu Hati dengan hati-hati. Bayi itu tidak menangis. Ia hanya memandang kakeknya dengan mata hitam pekat.
"Dia mirip kau, Sultan Hasan," kata adipati itu. "Matanya. Tatapannya. Sudah tua sejak kecil."
"Ya, Ayah. Banyak yang bilang begitu."
"Jagalah ia baik-baik. Ia akan menjadi penjaga hati berikutnya."
"Kami akan menjaganya, Ayah."
Tujuh hari setelah kelahiran Pandu Hati, Sultan Hasan mengadakan selamatan kecil.
Ia mengundang beberapa tetangga terdekat, Jaya, dukun beranak, dan kakek buta serta istrinya. Mereka makan bersama, doa bersama, bercerita bersama.
Mereka memotong seekor kambing yang diberikan adipati. Dagingnya dimasak gulai, sate, dan sup. Tidak mewah. Tapi cukup.
"Selamat ya, Sultan Hasan," kata Jaya sambil menepuk pundak sahabatnya. "Kau sekarang sudah menjadi ayah."
"Terima kasih, Jaya. Kapan kau menyusul?"
Jaya menggeleng. "Aku tidak akan menikah. Aku sudah memutuskan untuk hidup membujang. Menjadi petapa. Mengabdi pada alam."
"Kenapa?"
"Aku sudah terlalu banyak melakukan kesalahan. Aku sudah menjadi kepala desa yang buruk. Aku sudah korupsi. Aku sudah memiliki wanita simpanan. Aku tidak pantas menikah dan memiliki anak."
"Setiap orang pantas mendapat kesempatan kedua, Jaya. Aku sudah memaafkanmu. Tuhan juga pasti sudah memaafkanmu."
"Tapi aku belum memaafkan diriku sendiri."
Sultan Hasan tidak bisa membantah. Ia hanya memeluk Jaya.
Malam harinya, setelah semua tamu pulang, Sultan Hasan duduk di tepi telaga.
Ia menggendong Pandu Hati. Bayinya tidur nyenyak. Sesekali ia tersenyum dalam tidurnya.
"Pandu," bisik Sultan Hasan. "Kau anak istimewa. Kau lahir di malam purnama, tidak seperti ayahmu yang lahir di malam gerhana. Kau tidak akan dikucilkan seperti ayahmu. Kau akan tumbuh dalam cinta. Dalam kasih sayang. Dalam kedamaian."
Ia memandang batu akik merah di dadanya. Batu itu berdenyut. Hangat.
"Dia akan menjadi penjaga hati yang hebat," bisik batu itu. "Aku bisa merasakannya."
"Aku akan mengajarinya segalanya. Tentang telaga. Tentang pusaka. Tentang syair. Tentang cinta. Tentang menjadi penjaga hati."
"Kau akan menjadi ayah yang baik, Sultan Hasan."
"Aku akan berusaha."
Pandan Wangi keluar dari pondok. Ia duduk di samping Sultan Hasan.
"Kau bicara pada batu itu lagi?" tanyanya.
"Iya. Ia bilang Pandu akan menjadi penjaga hati yang hebat."
"Aku juga percaya itu."
Mereka berdua diam. Menikmati malam. Menikmati kebersamaan. Menikmati kehadiran anak pertama mereka.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah setuju. Seolah merestui. Seolah menyambut penjaga hati baru yang akan melanjutkan perjuangan mereka.
Selamanya.
BAB LXIV
Inisiasi Bayi: Sultan Hasan Membacakan Syair Penjaga Hati di Atas Kepala Bayinya
Tujuh belas hari telah berlalu sejak kelahiran Pandu Hati. Bayi itu tumbuh sehat. Berat badannya bertambah. Tangisnya keras. Senyumnya menggemaskan. Pandan Wangi sibuk menyusui dan merawatnya. Sultan Hasan sibuk di ladang dan menulis syair tentang anaknya.
Tapi ada satu ritual yang belum dilakukan. Ritual inisiasi. Ritual di mana Sultan Hasan akan membacakan syair penjaga hati di atas kepala bayinya. Syair yang dulu diajarkan Nini Mas Intan, yang kemudian diajarkan Pandan Wangi, yang kemudian diajarkan Ki Ageng Jagaraga, Kyai Buyut Cakar Mase, dan Kiai Pati. Syair yang menjadi fondasi bagi setiap penjaga hati.
"Kapan kau akan melakukannya?" tanya Pandan Wangi.
"Malam ini," kata Sultan Hasan. "Bulan purnama. Telaga jernih. Alam sedang baik. Ini saat yang tepat."
"Apakah Pandu sudah siap?"
"Dia baru berusia tujuh belas hari. Tapi tidak masalah. Nini Mas Intan membacakan syair itu untukku saat aku baru berusia beberapa jam. Pandu lebih dari siap."
Pandan Wangi tersenyum. "Baiklah. Aku akan menyiapkan segalanya."
Malam itu, bulan purnama bersinar terang. Telaga larangan tenang, airnya jernih, memantulkan cahaya bulan. Batu hitam tempat Sultan Hasan dan Pandan Wangi biasa duduk, kini telah dibersihkan dan dialasi kain putih.
Sultan Hasan duduk di batu hitam itu. Pandan Wangi duduk di sampingnya, menggendong Pandu Hati. Bayi itu terjaga. Matanya hitam pekat terbuka lebar, memandang bulan, memandang telaga, memandang orangtuanya.
"Apakah kau siap?" tanya Sultan Hasan pada istrinya.
"Aku siap."
"Apakah kau siap, Nak?" tanya Sultan Hasan pada bayinya.
Pandu Hati tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Senyum tanpa gigi. Tapi senyum yang membuat hati Sultan Hasan meleleh.
"Baiklah. Kita mulai."
Sultan Hasan mengambil batu akik merah dari dadanya. Batu itu berdenyut. Kencang. Hangat. Cahaya merahnya memancar, menerangi wajah Pandu Hati.
Pandan Wangi membuka baju bayinya. Ia mendekatkan Pandu Hati pada Sultan Hasan. Sultan Hasan meletakkan batu akik merah itu di dada anaknya, tepat di atas jantung.
Pandu Hati tidak menangis. Ia hanya memandang batu itu dengan mata penuh rasa ingin tahu. Tangannya yang mungil meraih batu itu, memegangnya, seolah ingin memiliki.
"Belum, Nak," kata Sultan Hasan sambil tersenyum. "Nanti, ketika kau sudah besar. Sekarang, ayah akan membacakan syair untukmu."
Ia memejamkan mata. Ia mengambil napas panjang.
Dan ia mulai membaca.
"Hati yang tidak dijaga akan diambil angin.
Hati yang dijaga terlalu keras akan retak oleh tangannya sendiri."
Suaranya lirih, lembut, tapi menggetarkan. Air telaga beriak. Tanaman air bergoyang. Ikan-ikan kecil berenang ke permukaan, seolah ikut mendengarkan.
Pandan Wangi menangis. Ia ingat saat Sultan Hasan membacakan syair yang sama untuknya, dulu, saat mereka masih kecil. Saat ia belum mengerti arti cinta. Saat ia hanya merasakan kehangatan di dadanya setiap kali mendengar suara Sultan Hasan.
Pandu Hati diam. Matanya tidak berkedip. Ia memandang ayahnya dengan serius. Seolah mengerti setiap kata yang diucapkan.
"Penjaga hati bukanlah orang yang tak pernah terluka,
Tapi orang yang lukanya tidak membuatnya lupa mencintai.
Penjaga hati bukanlah orang yang tak pernah menangis,
Tapi orang yang air matanya menyiram benih-benih yang layu."
Sultan Hasan melanjutkan. Syair itu panjang. Puluhan baris. Ratusan suku kata. Tapi ia hafal di luar kepala. Setiap kata. Setiap irama. Setiap makna.
Ia membaca tentang telaga. Tentang pusaka. Tentang cinta. Tentang kesetiaan. Tentang perjuangan. Tentang pengorbanan. Tentang harap.
Ia membaca untuk Pandu Hati. Untuk anaknya. Untuk penjaga hati berikutnya.
"Dan pada akhirnya, setelah badai berlalu,
Setelah gelap berganti terang,
Setelah perih menjadi tawa,
Kita akan sadar bahwa cinta sejati tidak pernah mati.
Ia hanya berubah bentuk.
Seperti air yang menguap menjadi awan,
Lalu turun menjadi hujan,
Lalu mengalir kembali ke telaga.
Abadi.
Selamanya."
Sultan Hasan selesai membaca.
Ia membuka mata. Air matanya mengalir.
Pandu Hati masih memandangnya. Tapi kini, di mata bayi itu, ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Sesuatu yang hanya bisa dirasakan.
Pandan Wangi menangis. Sultan Hasan memeluknya.
"Kita sudah melakukan tugas kita," bisik Sultan Hasan. "Sekarang, tugas Pandu Hati yang akan memulai."
"Tugas apa?" tanya Pandan Wangi.
"Menjaga hati. Hatinya sendiri. Hati orang yang dicintainya. Hati dari generasi yang akan datang setelah ia mati."
"Seperti kau dulu?"
"Seperti aku dulu. Seperti Nini Mas Intan dulu. Seperti semua penjaga hati sebelum kita."
Mereka berdua diam. Menikmati malam. Menikmati kebersamaan. Menikmati kehadiran anak pertama mereka.
Keesokan paginya, Sultan Hasan bangun lebih awal. Pandan Wangi masih tidur dengan Pandu Hati di sampingnya.
Ia pergi ke telaga. Airnya jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang.
Ia berlutut di tepi telaga. Ia berdoa.
"Ya Allah, terima kasih untuk istriku. Terima kasih untuk anakku. Terima kasih untuk telaga ini. Terima kasih untuk pusaka ini. Terima kasih untuk semua ujian yang telah Kau berikan. Tanpa ujian itu, aku tidak akan menjadi penjaga hati yang baik."
Ia membasuh muka dengan air telaga. Dingin. Menyegarkan.
Ia memandang bayangannya di air. Wajahnya tidak muda lagi. Garis-garis di keningnya semakin dalam. Rambutnya mulai beruban di pelipis.
Tapi ia tidak menyesal. Ia telah menjalani hidup dengan baik. Ia telah menjaga hati. Ia telah mencintai dengan tulus. Ia telah menjadi penjaga hati.
Dan sekarang, ia akan mewariskan semua itu pada Pandu Hati. Anaknya. Penerusnya.
"Pandu," bisiknya. "Kau akan menjadi penjaga hati yang hebat. Aku akan membimbingmu. Aku akan mengajarimu. Aku akan mencintaimu. Sampai mati. Sampai setelah mati. Selamanya."
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatapnya. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang. Meninggalkan suara yang nyaring.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti sambutan untuk penjaga hati baru.
Selamanya.
BAB LXV
Tanda di Telapak Tangan Pandu Hati: Ada Tanda Lahir Berbentuk Daun – Sama seperti Tanda di Pusaka
Pandu Hati berusia empat puluh hari ketika Sultan Hasan menemukan tanda di telapak tangannya.
Peristiwa itu terjadi secara tidak sengaja. Pandan Wangi sedang memandikan bayi itu di pancuran belakang pondok, menggunakan air dari telaga yang hangat oleh sinar matahari pagi. Sultan Hasan duduk di sampingnya, memperhatikan, kadang membantu mengusap-usap punggung bayi yang mungil itu dengan kain lembut.
"Pandan," kata Sultan Hasan tiba-tiba.
"Ya?"
"Lihat ini."
Ia meraih tangan kanan Pandu Hati. Bayi itu meronta sebentar, lalu diam. Sultan Hasan membuka telapak tangan anaknya. Di tengah telapak tangan yang mungil, merah muda, dan lembut itu, ada sebuah tanda. Kecil. Bulat. Berwarna merah tua. Bentuknya seperti daun. Mungkin daun beringin. Atau daun pandan. Sulit dipastikan.
"Sejak kapan ini ada?" tanya Pandan Wangi.
"Aku tidak tahu. Mungkin sejak lahir. Tapi baru sekarang kita lihat."
Pandan Wangi memegang tangan bayinya. Ia mengamati tanda itu dengan saksama.
"Ini aneh," katanya. "Tanda lahir biasanya berwarna coklat atau kehitaman. Tapi ini merah. Seperti merahnya batu akikmu."
Sultan Hasan memegang batu akik merah di dadanya. Batu itu berdenyut. Kencang. Hangat.
"Dia terpilih," bisik batu itu. "Seperti kau dulu."
"Terpilih untuk apa?" tanya Sultan Hasan.
"Untuk menjadi penjaga hati. Tanda di telapak tangannya adalah bukti. Sama seperti tanda di keningmu."
Sultan Hasan terdiam.
Ia ingat saat tanda di keningnya muncul. Ia baru berusia delapan tahun saat itu. Ki Ageng Jagaraga dan Kiai Jabal Nur mengatakan bahwa tanda itu adalah tanda penjaga. Tanda bahwa ia dipilih untuk menjalankan tugas yang berat. Tanda bahwa ia tidak boleh menyerah.
Sekarang, anaknya memiliki tanda yang mirip. Bukan di kening. Tapi di telapak tangan. Bentuknya daun, bukan bulat seperti tanda Sultan Hasan. Tapi warnanya sama. Merah. Seperti darah. Seperti batu akik.
"Apakah ini berarti Pandu Hati akan menjadi penjaga hati seperti kau?" tanya Pandan Wangi.
"Sepertinya begitu."
"Aku tidak rela. Aku tidak ingin anakku menderita seperti kau dulu."
"Dia tidak akan menderita, Pandan. Aku akan melindunginya. Aku akan mengajarinya. Aku akan membimbingnya. Aku tidak akan membiarkan siap pun menyakitinya."
"Kau tidak bisa melindunginya selamanya, Sultan Hasan. Suatu hari, kau akan tua. Suatu hari, kau akan mati. Pandu Hati harus berjuang sendiri."
"Tidak sendiri. Ia punya pusaka. Ia punya telaga. Ia punya kita. Dan ia punya generasi-generasi sebelumnya yang akan selalu menjaganya dari alam lain."
Pandan Wangi menangis. Sultan Hasan memeluknya.
"Jangan khawatir, istriku. Pandu Hati akan baik-baik saja. Aku yakin."
Kabar tentang tanda di telapak tangan Pandu Hati menyebar dengan cepat.
Jaya datang ke pondok. "Aku dengar anakmu punya tanda aneh," katanya. "Boleh aku lihat?"
Sultan Hasan menunjukkan telapak tangan Pandu Hati. Jaya mengamatinya dengan saksama.
"Ini persis seperti tanda di pusakamu, Hasan. Warna merahnya. Bentuknya daun. Aneh."
"Aku juga berpikir begitu."
"Apakah ini pertanda bahwa Pandu Hati akan menjadi penjaga hati seperti kau?"
"Sepertinya begitu. Tapi aku tidak bisa memaksanya. Biarkan ia memilih jalannya sendiri ketika ia dewasa."
Jaya mengangguk. "Kau bijak, Hasan. Tidak seperti kebanyakan orang tua yang memaksakan cita-citanya pada anak."
"Aku hanya tidak ingin anakku menderita seperti aku dulu. Jika ia memilih menjadi petani, aku akan mendukungnya. Jika ia memilih menjadi pedagang, aku akan mendukungnya. Jika ia memilih menjadi pujangga, aku akan mendukungnya. Tapi jika ia memilih menjadi penjaga hati... aku akan membimbingnya."
Adipati , ayah Pandan Wangi , juga datang. Ia membawa seorang tabib istana untuk memeriksa tanda di telapak tangan cucunya.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Paduka," kata tabib itu. "Tanda lahir seperti ini umum terjadi pada bayi. Tidak berbahaya. Tidak sakit. Tidak mengganggu pertumbuhan."
"Tapi warnanya merah seperti darah," kata adipati itu.
"Itu karena pembuluh darah kapiler di bawah kulit. Normal."
Adipati itu lega. "Jadi tidak ada hubungannya dengan pusaka atau penjaga hati?"
"Tidak ada hubungan medis, Paduka. Tapi untuk hubungan spiritual, saya tidak bisa berkomentar."
Adipati itu memandang Sultan Hasan. "Kau percaya ini tanda penjaga?"
"Aku percaya, Ayah. Tapi aku tidak akan memaksakan Pandu Hati menjadi apa pun. Biarkan ia memilih."
Adipati itu menghela napas. "Kau memang aneh, Sultan Hasan. Tapi aku percaya padamu."
Malam harinya, Sultan Hasan pergi ke telaga sendirian.
Pandu Hati tidur di pangkuan Pandan Wangi di dalam pondok. Sultan Hasan duduk di batu hitam, memandang air telaga yang jernih, memandang bulan sabit tipis di langit.
"Ibu," bisiknya. Nini Mas Intan. Mak Umi. Dewi Rengganis. Semua ibu yang pernah ia kenal.
"Aku sudah menjadi ayah. Anakku laki-laki. Namanya Pandu Hati. Ia punya tanda di telapak tangannya. Tanda yang mirip dengan tanda di pusaka."
Ia memegang batu akik merah di dadanya.
"Apakah ini pertanda bahwa ia akan menjadi penjaga hati? Apakah ia akan mengalami penderitaan seperti aku dulu? Apakah ia akan dikucilkan? Dibenci? Dianiaya? Hampir dibunuh?"
Batu itu berdenyut. Hangat. Pelan.
"Tidak," bisik batu itu. "Zaman sudah berubah. Orang-orang sudah lebih mengerti. Ia tidak akan mengalami penderitaan seperti kau. Tapi ia akan menghadapi tantangan yang berbeda. Tantangan zaman. Tantangan teknologi. Tantangan kesibukan. Tantangan melupakan hati."
"Apa yang harus aku ajarkan padanya?"
"Ajari ia mencintai. Ajari ia menyayangi. Ajari ia berempati. Ajari ia bahwa hidup tidak hanya tentang sukses dan kaya. Tapi tentang kebahagiaan. Tentang ketenangan. Tentang menjadi manusia yang baik."
Sultan Hasan menangis. "Aku akan mengajarinya semua itu."
Ia berdiri. Ia berjalan pulang.
Di pondok, Pandan Wangi sedang menyusui Pandu Hati. Bayi itu diam. Tenang. Matanya terpejam.
"Mimpi apa kau, Nak?" bisik Pandan Wangi. "Mimpi indah? Mimpi tentang telaga? Mimpi tentang ayahmu? Mimpi tentang masa depan?"
Pandu Hati tersenyum dalam tidurnya.
Pandan Wangi tersenyum. Sultan Hasan tersenyum.
Mereka berdua bahagia.
Di luar pondok, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti sambutan untuk penjaga hati baru.
Selamanya.
BAB LXVI
Masa Kecil Pandu Hati: Pandu Hati Tumbuh Cerdas tetapi Keras Kepala – Ia Tidak Suka Tradisi
Pandu Hati tumbuh menjadi anak yang cerdas. Sangat cerdas. Bahkan melebihi kecerdasan ayahnya di usia yang sama.
Pada usia satu tahun, ia sudah bisa berjalan. Pada usia dua tahun, ia sudah bisa berbicara dengan kalimat lengkap. Pada usia tiga tahun, ia sudah bisa membaca aksara Jawa dan Latin. Pada usia empat tahun, ia sudah hafal Al-Qur'an tiga juz. Pada usia lima tahun, ia sudah bisa menulis syair sederhana.
Sultan Hasan bangga. Pandan Wangi juga bangga. Seluruh desa Dukuh Wangi bangga.
"Anak ini jenius," kata para tetangga. "Pasti karena didikan Sultan Hasan."
"Atau karena keturunan bangsawan dari ibunya," kata yang lain.
"Atau karena berkah telaga," kata yang lain lagi.
Tapi Pandu Hati tidak peduli dengan pujian. Ia tidak peduli dengan popularitas. Ia hanya peduli pada buku. Pada tulisan. Pada ilmu pengetahuan.
Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di perpustakaan kecil milik ayahnya , kumpulan daun lontar dan kitab-kitab yang dikumpulkan Sultan Hasan selama bertahun-tahun. Ia membaca semua yang bisa ia baca. Sejarah. Filsafat. Agama. Sastra. Ilmu alam. Ia tidak pernah bosan.
"Kau harus bermain dengan teman-temanmu, Nak," kata Pandan Wangi suatu hari.
"Aku tidak punya teman, Ibu. Mereka semua bodoh. Mereka hanya suka bermain kejar-kejaran dan bergulat di lumpur. Aku lebih suka membaca."
"Kau tidak boleh sombong, Nak. Orang bodoh pun punya kelebihan. Orang bodoh pun bisa mengajarkan hal-hal yang tidak kau ketahui."
"Apa yang bisa mereka ajarkan padaku? Cara menangkap belalang? Cara memanjat pohon kelapa? Aku sudah bisa semua itu."
Pandan Wangi menghela napas. Ia tidak bisa melawan. Anak ini keras kepala. Sangat keras kepala. Seperti ayahnya dulu.
Ketika Pandu Hati berusia tujuh tahun, Sultan Hasan mulai mengajarinya tentang tradisi. Tentang telaga. Tentang pusaka. Tentang syair penjaga hati. Tentang Nini Mas Intan. Tentang Ki Ageng Jagaraga. Tentang Kiai Pati. Tentang Kyai Buyut Cakar Mase.
Pandu Hati mendengarkan. Tapi matanya kosong. Tidak antusias.
"Ayah," katanya setelah Sultan Hasan selesai bercerita. "Aku tidak percaya cerita-cerita itu."
"Cerita apa yang tidak kau percaya?"
"Cerita tentang telaga yang dijaga penunggu. Cerita tentang pusaka yang bisa bicara. Cerita tentang Nini Mas Intan yang bisa muncul dalam mimpi. Itu semua dongeng. Tidak ilmiah."
Sultan Hasan terkejut. "Kau tidak percaya pada hal-hal gaib?"
"Aku percaya pada hal yang bisa dibuktikan. Bukan pada mitos dan legenda."
"Tapi kau sendiri punya tanda di telapak tanganmu. Tanda yang sama dengan tanda di pusaka. Bukankah itu bukti?"
"Itu hanya kebetulan biologi. Tabib istana sudah menjelaskannya. Tanda lahir karena pembuluh darah kapiler di bawah kulit."
Sultan Hasan terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Anaknya terlalu rasional. Terlalu ilmiah. Terlalu modern. Tidak seperti dirinya dulu yang tumbuh dalam kesederhanaan dan kearifan lokal.
"Pandu," kata Sultan Hasan pelan. "Ayah tidak memaksamu percaya. Tapi ayah ingin kau membuka hati. Dunia tidak hanya berisi hal-hal yang bisa dijelaskan oleh sains. Ada misteri. Ada keajaiban. Ada hal-hal yang tidak bisa diukur dengan angka."
"Ayah, aku mencintai ayah. Tapi aku tidak bisa menerima sesuatu hanya karena ayah mengatakannya. Aku butuh bukti."
"Baiklah. Suatu hari, ayah akan menunjukkan buktinya."
Sultan Hasan membawa Pandu Hati ke telaga.
Telaga itu masih sama. Airnya jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang. Batu hitam tempat Sultan Hasan dan Pandan Wangi biasa duduk, masih ada.
"Apa yang istimewa dari telaga ini?" tanya Pandu Hati. "Airnya biasa. Batunya biasa. Ikan-ikannya biasa."
"Telaga ini tidak pernah kering, Nak. Bahkan di musim kemarau paling panjang sekalipun. Itu keajaiban."
"Itu karena ada mata air di bawahnya. Geologis. Bukan keajaiban."
Sultan Hasan menghela napas. "Kau sulit sekali diajak bicara."
"Aku hanya logis, Ayah."
Sultan Hasan mengambil batu akik merah dari dadanya. Batu itu berdenyut. Hangat.
"Anakmu keras kepala," bisik batu itu.
"Aku tahu," bisik Sultan Hasan balik.
"Tapi itu bukan hal yang buruk. Orang yang keras kepala lebih teguh pendirian. Lebih sulit diombang-ambingkan oleh arus."
"Aku tidak ingin ia keras kepala terhadap tradisi. Aku ingin ia menghormati leluhur."
"Beri ia waktu. Ia masih muda. Suatu hari, ia akan mengerti."
Pandu Hati berusia sepuluh tahun ketika konflik antara dirinya dan ayahnya mencapai puncak.
Ia menolak untuk belajar silat. "Aku tidak butuh silat, Ayah. Aku butuh pendidikan formal. Aku ingin sekolah di kota. Aku ingin belajar sains. Aku ingin menjadi ilmuwan."
"Silat penting, Nak. Untuk melindungi diri. Untuk melindungi orang lain."
"Ayah bisa melindungi diriku. Aku tidak perlu melindungi diriku sendiri."
"Ayah tidak akan selalu ada. Suatu hari, ayah akan tua. Suatu hari, ayah akan mati. Kau harus bisa melindungi dirimu sendiri."
"Kalau ayah mati, aku akan pindah ke kota. Aku akan tinggal di asrama. Aku akan fokus belajar. Aku tidak butuh silat."
Sultan Hasan marah. Untuk pertama kalinya, ia membentak anaknya.
"PANDA HATI! KAU ANAK KURANG AJAR!"
Pandu Hati tidak takut. Ia hanya diam. Memandang ayahnya dengan mata dingin.
"Ayah, aku menghormati ayah. Tapi aku tidak bisa menjadi seperti ayah. Aku punya jalanku sendiri."
Sultan Hasan terdiam.
Ia ingat kata-katanya sendiri dulu. Saat ia masih muda. Saat ia menolak mengikuti tradisi. Saat ia memilih merantau. Saat ia memilih menjadi pujangga, bukan penjaga hati.
Sekarang, anaknya melakukan hal yang sama.
Ia tersenyum pahit.
"Baiklah, Nak," katanya. "Ayah tidak akan memaksamu. Ayah akan mendukung apa pun yang kau pilih."
"Terima kasih, Ayah."
Mereka berdua berpelukan.
Malam harinya, Sultan Hasan duduk di tepi telaga sendirian.
Ia memandang air yang jernih. Ia memandang bulan yang bersinar.
"Pandan," bisiknya. "Aku gagal."
Pandan Wangi keluar dari pondok. Ia duduk di samping suaminya.
"Kau tidak gagal. Pandu Hati hanya berbeda. Seperti kau berbeda dulu."
"Tapi aku ingin ia menjadi penjaga hati."
"Dia tetap penjaga hati, meskipun tidak mengikuti tradisi. Penjaga hati tidak harus duduk di tepi telaga dan menulis syair. Penjaga hati bisa menjadi ilmuwan yang menjaga hati umat manusia dengan pengetahuannya."
"Kau yakin?"
"Aku yakin. Pandu Hati cerdas. Ia akan menemukan jalannya sendiri. Tugas kita hanya mendukung."
Sultan Hasan menangis. Pandan Wangi memeluknya.
"Sudahlah, suamiku. Jangan bersedih. Anak kita baik. Ia tidak berandalan. Ia tidak berbuat jahat. Ia hanya berbeda."
"Iya. Kau benar."
Mereka berdua diam. Menikmati malam. Menikmati kebersamaan.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah setuju. Seolah merestui. Seolah tahu bahwa Pandu Hati, meskipun keras kepala dan tidak suka tradisi, suatu hari akan menjadi penjaga hati yang hebat.
Dengan caranya sendiri.
Selamanya.
BAB LXVII
Konflik Ayah-Anak: Sultan Hasan dan Pandu Hati Sering Bertengkar – Pandan Wangi Menjadi Penengah
Tiga tahun berlalu sejak Pandu Hati menyatakan pendiriannya bahwa ia tidak percaya pada hal-hal gaib dan tidak ingin menjadi penjaga hati seperti ayahnya. Tiga tahun yang penuh dengan ketegangan di pondok kecil tepi telaga itu.
Sultan Hasan tidak pernah benar-benar menerima kenyataan bahwa anaknya menolak tradisi keluarga. Setiap hari, ia mencoba membujuk Pandu Hati untuk belajar silat. Setiap hari, ia mencoba mengajak Pandu Hati ke telaga untuk bermeditasi. Setiap hari, ia mencoba membacakan syair-syair lama, berharap anaknya terinspirasi.
Tapi Pandu Hati selalu menolak.
"Ayah, sudah kubilang berkali-kali. Aku tidak percaya pada hal-hal gaib. Aku tidak butuh silat. Aku butuh pendidikan modern."
"Silat adalah pendidikan modern, Nak. Tubuh yang sehat, pikiran yang kuat."
"Silat hanya cocok untuk orang yang hidup di hutan atau di desa terpencil. Aku ingin hidup di kota. Aku ingin menjadi ilmuwan. Aku tidak butuh silat."
Sultan Hasan menarik napas panjang. Ia berusaha sabar. Tapi kadang, kesabarannya habis.
"KAU ANAK KURANG AJAR!" bentaknya suatu hari. "APA KAU TIDAK MENGHORMATI AYAH?"
"Tentu aku menghormati Ayah. Tapi aku tidak harus setuju dengan semua yang Ayah katakan."
"SETUJU? INI BUKAN SOAL SETUJU ATAU TIDAK. INI SOAL TRADISI KELUARGA. INI SOAL WARISAN LELUHUR!"
"TRADISI KELUARGA?" Pandu Hati juga mulai meninggikan suara. "TRADISI KELUARGA YANG MANA? YANG MEMBUAT AYAH DIKUCILKAN? YANG MEMBUAT AYAH DILEMPARI KERIKIL? YANG MEMBUAT AYAH DIUSIR? YANG MEMBUAT AYAH HAMPIR DIJADIKAN SESAJI?"
Sultan Hasan terdiam.
Pandu Hati menangis. "Ayah, aku tidak ingin mengalami apa yang Ayah alami. Aku tidak ingin dikucilkan. Aku tidak ingin dibenci. Aku hanya ingin hidup normal."
Sultan Hasan memeluk anaknya. Ia juga menangis.
"Maafkan Ayah, Nak. Ayah terlalu memaksakan kehendak. Ayah lupa bahwa kau berbeda. Kau hidup di zaman yang berbeda. Kau tidak harus menjadi seperti Ayah."
"Aku sayang Ayah, Ayah. Tapi aku tidak bisa menjadi penjaga hati."
"Ayah mengerti."
Mereka berdua berpelukan lama.
Pandan Wangi yang mendengar pertengkaran itu dari dapur, hanya bisa menghela napas.
Ia sudah sering menjadi penengah antara suami dan anaknya. Ia sudah sering berusaha menenangkan keduanya. Tapi pertengkaran selalu saja muncul, seperti api yang tidak pernah benar-benar padam.
Ia berjalan mendekati suami dan anaknya.
"Sudah," katanya. "Jangan bertengkar lagi. Kalian berdua sayang satu sama lain. Itu yang penting."
"Aku sayang Ayah, Bu. Tapi Ayah tidak pernah mengerti keinginanku."
"Aku sayang Pandu, Bu. Tapi ia tidak pernah menghormati tradisi keluarga."
"Sudah," kata Pandan Wangi lagi. "Kita bicara baik-baik. Makan malam dulu. Aku sudah memasak sayur asem dan ikan bakar."
Sultan Hasan dan Pandu Hati saling memandang.
"Maafkan Ayah, Nak."
"Maafkan aku juga, Ayah."
Mereka berdua berpelukan lagi.
Makan malam berlangsung dalam suasana tegang, tapi tidak memanas.
Pandan Wangi duduk di antara suami dan anaknya. Seperti penengah profesional, ia mengalihkan topik pembicaraan ke hal-hal yang netral. Tentang cuaca. Tentang panen. Tentang tetangga. Tentang berita-berita ringan.
"Ayah," kata Pandu Hati tiba-tiba. "Aku ingin bicara serius."
"Tentang apa, Nak?"
"Tentang masa depanku. Aku ingin pindah ke kota. Aku ingin tinggal di asrama. Aku ingin sekolah di sekolah menengah atas di ibu kota."
Sultan Hasan terkejut. "Kau baru berusia tiga belas tahun, Nak. Masih terlalu muda untuk hidup sendiri."
"Tidak muda, Ayah. Ayah sendiri merantau pada usia dua belas tahun. Ayah tidur di emperan toko, kelaparan, kedinginan. Aku akan tidur di asrama yang nyaman, makan tiga kali sehari, dan belajar dengan tenang. Jauh lebih baik dari masa kecil Ayah."
"Ayah tidak ingin kau mengalami penderitaan seperti Ayah. Ayah ingin kau dekat dengan Ayah."
"Ayah, aku harus mandiri. Aku harus belajar menghadapi dunia. Jika aku terus bergantung pada Ayah, aku tidak akan pernah tumbuh."
Pandan Wangi memandang suaminya. "Biarkan ia pergi, Sultan. Ia sudah besar. Ia tahu apa yang ia lakukan."
"Tapi, Pandan..."
"Kita dulu juga merantau. Kita dulu juga memisahkan diri dari orang tua. Sekarang, giliran anak kita yang melakukannya."
Sultan Hasan terdiam. Ia tidak bisa membantah.
"Baiklah," katanya akhirnya. "Ayah izinkan. Tapi hati-hati, Nak. Dunia luar tidak seindah yang kau bayangkan. Banyak orang jahat di luar sana."
"Aku tahu, Ayah. Aku akan hati-hati."
Tiga hari kemudian, Pandu Hati berangkat ke ibu kota.
Ia naik kereta kuda yang disewa Sultan Hasan dari desa sebelah. Tidak banyak barang yang ia bawa. Hanya satu buntalan kecil berisi pakaian, beberapa kitab, dan bekal makanan dari Pandan Wangi.
Sultan Hasan memeluk anaknya erat-erat. "Jagalah dirimu, Nak. Jangan lupa menulis surat. Jangan lupa berdoa."
"Aku tidak percaya doa, Ayah."
"Lakukan untuk ayah. Ayah percaya doa."
Pandu Hati tersenyum. "Baiklah. Aku akan berdoa untuk ayah."
Pandan Wangi memeluk anaknya. "Ibu akan merindukanmu."
"Aku juga akan merindukan Ibu. Dan ayah. Dan telaga. Dan burung hantu."
"Burung hantu masih sering datang. Setiap malam. Ia bertengger di dahan pohon asam, menatap pondok kita. Seolah menunggumu kembali."
"Aku akan kembali, Ibu. Saat liburan sekolah."
"Janji?"
"Janji."
Kereta kuda itu berangkat. Pandu Hati melambaikan tangan. Sultan Hasan dan Pandan Wangi melambaikan tangan balik.
Air mata mereka mengalir.
Malam harinya, Sultan Hasan duduk di tepi telaga sendirian.
Ia memandang air yang jernih. Ia memandang bulan yang bersinar.
"Pandan Wangi," bisiknya.
"Ya?" Pandan Wangi muncul dari balik pondok.
"Duduklah di sini. Temani aku."
Pandan Wangi duduk di samping suaminya.
"Aku sedih, Pandan. Anak kita pergi. Rumah ini terasa kosong."
"Aku juga sedih. Tapi ini pilihannya. Kita harus menghormatinya."
"Aku tahu. Tapi rasanya seperti kehilangan bagian dari diriku."
"Kau tidak kehilangan apa pun, Sultan. Pandu Hati tetap anakmu. Ia akan kembali. Ia akan menulis surat. Ia akan menelepon jika ada telepon di desa."
"Tidak ada telepon di desa."
"Ya. Tapi ada surat."
Sultan Hasan tersenyum. "Kau selalu bisa menghiburku, Pandan."
"Itu tugasku sebagai istri."
Mereka berdua diam. Menikmati malam. Menikmati kebersamaan. Merindukan anak mereka yang pergi.
Di dahan pohon asam, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah setuju. Seolah merestui. Seolah tahu bahwa Pandu Hati, meskipun pergi, tetap akan kembali. Suatu hari. Sebagai anak yang dewasa. Sebagai penjaga hati, dengan caranya sendiri.
Selamanya.
BAB LXVIII
Pandu Hati Lari dari Rumah: Pada Usia 15 Tahun, Pandu Hati Pergi Merantau ke Kota Besar
Dua tahun telah berlalu sejak Pandu Hati pergi ke ibu kota untuk bersekolah di sekolah menengah atas. Dua tahun yang penuh dengan kabar baik. Nilainya bagus. Ia disukai guru-gurunya. Ia juga punya banyak teman. Tidak ada masalah. Pandan Wangi lega. Sultan Hasan lega.
Tapi pada suatu pagi, ketika surat dari Pandu Hati datang, isinya bukan kabar baik.
Ayah, Ibu.
Aku tidak tahan lagi tinggal di asrama. Peraturan terlalu ketat. Guru-guru terlalu otoriter. Teman-teman terlalu munafik. Aku ingin keluar. Aku ingin hidup bebas. Aku ingin merantau, seperti ayah dulu.
Aku tidak akan kembali ke Dukuh Wangi. Setidaknya untuk sementara waktu. Aku akan pergi ke kota besar. Ke Bandar Cendana. Atau ke Kota Rajapura. Aku akan mencari pekerjaan. Aku akan belajar dari pengalaman. Aku akan menjadi dewasa.
Jangan cari aku. Aku baik-baik saja. Aku akan menulis surat jika sudah menetap.
Pandu Hati.
Sultan Hasan membacakan surat itu untuk Pandan Wangi. Tangannya gemetar. Suaranya bergetar.
"Dia... dia lari dari sekolah?" bisik Pandan Wangi.
"Sepertinya begitu."
"Dia tidak akan kembali?"
"Dia bilang tidak akan kembali untuk sementara waktu."
Pandan Wangi menangis. "Ini salahmu, Sultan! Kau terlalu memaksanya menjadi penjaga hati! Kau terlalu memaksanya mengikuti tradisi! Itu sebabnya ia lari!"
"Ini bukan salahku, Pandan. Ini pilihannya. Ia sudah besar. Ia bisa memutuskan sendiri."
"Jika kau tidak pernah memaksanya, ia mungkin akan betah di sini! Ia mungkin tidak akan pergi!"
"Kita tidak pernah tahu, Pandan. Mungkin ia tetap akan pergi. Mungkin ia memang punya jalan sendiri."
Mereka berdua bertengkar. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menikah, mereka bertengkar hebat. Kata-kata pedas keluar dari mulut mereka. Air mata mengalir. Hati mereka terluka.
Tapi pada akhirnya, mereka berdua sadar bahwa bertengkar tidak akan mengubah apa pun. Pandu Hati sudah pergi. Mereka tidak bisa menghentikannya.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Pandan Wangi.
"Kita tunggu. Kita doakan. Kita percaya bahwa ia selamat."
"Kau masih percaya doa? Padahal Pandu Hati sendiri tidak percaya doa?"
"Aku percaya. Doa bukan untuk Pandu Hati. Doa untuk ketenangan hatiku."
Pandan Wangi memeluk suaminya. Mereka berdua menangis.
Hari-hari berlalu. Minggu-minggu berganti. Tidak ada kabar dari Pandu Hati.
Sultan Hasan gelisah. Setiap hari, ia pergi ke kantor pos di desa sebelah, bertanya apakah ada surat untuknya. Selama sebulan, tidak ada. Selama dua bulan, tidak ada. Selama tiga bulan, tidak ada.
"Apa dia lupa pada kita?" tanya Pandan Wangi.
"Mungkin ia sibuk. Mungkin ia belum menemukan tempat yang tetap. Mungkin ia malu karena sudah lari dari rumah."
"Atau mungkin... mungkin ia dalam bahaya."
Sultan Hasan tidak menjawab. Ia tidak mau berpikir negatif.
Suatu malam, Sultan Hasan bermimpi.
Dalam mimpinya, ia berdiri di tepi pantai. Ombak besar menghantam karang. Angin kencang bertiup. Langit gelap, dipenuhi awan hitam.
Di kejauhan, ia melihat seorang pemuda berdiri di atas tebing. Pemuda itu kurus. Rambutnya panjang, kusut. Pakaiannya compang-camping.
"PANDU HATI!" teriak Sultan Hasan.
Pemuda itu menoleh. Wajahnya muram. Matanya sayu.
"Ayah..." bisiknya. "Ayah... aku tersesat. Aku tidak tahu harus ke mana. Aku tidak punya uang. Aku tidak punya teman. Aku tidak punya siapa-siapa."
"Pulanglah, Nak! Ayah dan ibu menunggumu!"
"Aku tidak bisa pulang, Ayah. Aku malu. Aku sudah mengecewakan Ayah. Aku sudah mengecewakan Ibu. Aku tidak pantas kembali."
"Tidak ada yang tidak pantas, Nak. Ayah dan ibu selalu menerimamu. Apa pun yang terjadi."
Pemuda itu menangis. Sultan Hasan juga menangis.
Tapi sebelum Sultan Hasan bisa mendekat, tebing itu runtuh. Pemuda itu jatuh. Tenggelam dalam ombak.
"PANDU HATI!" teriak Sultan Hasan.
Ia terbangun.
Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Pandan Wangi terbangun karena teriakannya.
"Ada apa, Sultan? Kau mimpi buruk?"
"Aku mimpi tentang Pandu Hati. Ia jatuh dari tebing."
"Artinya?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku harus mencarinya."
"Kau akan pergi?"
"Iya. Aku akan pergi ke kota. Mencari Pandu Hati. Membawanya pulang."
"Aku ikut."
"Tidak. Kau tunggu di sini. Jaga telaga. Jaga pondok. Jaga pusaka."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi. Ini sudah keputusanku."
Keesokan paginya, Sultan Hasan berangkat.
Ia hanya membawa sedikit bekal: pakaian seadanya, bekal makanan, sebotol air, dan batu akik merah di dadanya. Tidak membawa uang banyak. Hanya secukupnya.
Pandan Wangi menangis di depan pondok. "Hati-hati, Sultan. Jangan lama-lama. Aku akan menunggumu."
"Aku akan kembali, Pandan. Dengan atau tanpa Pandu Hati. Aku janji."
Mereka berdua berpelukan. Sultan Hasan mencium kening Pandan Wangi.
"Jagalah diri mu."
"Jagalah dirimu juga."
Sultan Hasan berjalan. Meninggalkan Dukuh Wangi. Meninggalkan telaga. Meninggalkan Pandan Wangi.
Menuju kota besar. Mencari anaknya.
Di dahan pohon asam, burung hantu menatap kepergian Sultan Hasan.
Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah tahu bahwa perjalanan ini tidak akan mudah. Bahwa Sultan Hasan akan menghadapi banyak rintangan. Bahwa ia mungkin tidak akan menemukan Pandu Hati dengan cepat.
Tapi ia juga tahu bahwa Sultan Hasan tidak akan menyerah. Karena ia adalah penjaga hati. Dan penjaga hati tidak pernah menyerah. Terutama dalam mencari anaknya.
Selamanya.
BAB LXIX
Sultan Hasan Patah Hati Lagi: Untuk Kesekian Kalinya, Kehilangan Orang yang Dicintai – Kali Ini Anak Kandungnya
Perjalanan Sultan Hasan mencari Pandu Hati membawanya ke berbagai kota. Dari Bandar Cendana ke Kota Rajapura, dari Kota Rajapura ke Kota Prapatan, dari Kota Prapatan ke pelabuhan-pelabuhan kecil di sepanjang pantai utara. Ia bertanya kepada setiap orang yang ia temui. Pernahkah mereka melihat seorang pemuda kurus, berusia sekitar lima belas tahun, rambut panjang kusut, pakaian compang-camping? Pernahkah mereka melihat anak laki-laki dengan mata cerdas tapi penuh luka?
Sebagian besar menggeleng. Tidak tahu. Tidak pernah melihat.
Tapi ada juga yang memberi petunjuk samar. "Aku pernah melihat pemuda seperti itu di daerah kumuh dekat pelabuhan. Ia mengamen. Menyanyi. Kadang mengemis. Tapi sudah beberapa bulan aku tidak melihatnya. Mungkin ia pindah."
Sultan Hasan pergi ke daerah kumuh itu. Ia mencari. Berhari-hari. Berminggu-minggu. Tidak menemukan.
Ia pergi ke pelabuhan. Bertanya pada kuli-kuli angkut. Pada nelayan. Pada pedagang. Tidak ada yang tahu.
Ia hampir putus asa. Tapi ia terus mencari. Karena Pandu Hati adalah anaknya. Darah dagingnya. Buah hatinya. Ia tidak bisa pulang tanpa membawa anaknya.
Suatu malam, di sebuah kota kecil di pesisir timur, Sultan Hasan bermimpi lagi.
Dalam mimpinya, ia berdiri di tepi sungai. Airnya keruh. Arusnya deras. Di seberang sungai, Pandu Hati berdiri, menatapnya.
"Nak!" teriak Sultan Hasan. "Aku di sini! Ayah datang menjemputmu!"
Pandu Hati tidak menjawab. Ia hanya menatap. Matanya kosong.
"Pandu Hati! Ikut ayah pulang! Ibu menunggumu!"
"Ayah," bisik Pandu Hati. Suaranya parau. Seperti orang yang sudah lama tidak bicara. "Ayah terlambat."
"Apa maksudmu? Ayah tidak terlambat! Ayah di sini! Ikut ayah!"
"Aku sudah mati, Ayah."
Sultan Hasan terkejut. "APA?"
"Aku sudah mati tiga bulan yang lalu. Aku tertabrak gerobak di pelabuhan. Aku tidak punya uang untuk berobat. Aku mati di emperan toko, sendirian, tanpa siapa pun."
"TIDAK! KAU BOHONG!"
"Ayah, lihatlah tubuhku. Aku tidak punya bayangan. Aku tidak punya kaki. Aku hanya hantu."
Sultan Hasan melihat ke bawah. Pandu Hati berdiri di atas air. Tidak ada bayangan. Kakinya tidak terlihat.
"TIDAK!" teriak Sultan Hasan.
Ia terbangun.
Ia duduk di emperan toko tempat ia bermalam. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Batu akik merah di dadanya berdenyut kencang. Sangat kencang. Hampir seperti mau meledak.
"Dia benar," bisik batu itu. "Pandu Hati sudah mati."
"TIDAK! JANGAN KATAKAN BEGITU!"
"Aku bisa merasakannya. Denyutnya sudah tidak ada. Aku tidak bisa terhubung dengannya lagi. Seperti dulu, saat ia masih kecil, saat kau meletakkan aku di dadanya."
"TIDAK! KAU BOHONG!"
Sultan Hasan berlari ke pelabuhan. Ia bertanya pada kuli-kuli angkut. Pada nelayan. Pada pedagang. Apakah ada pemuda mati tertabrak gerobak tiga bulan lalu?
Seorang kuli angkut tua mengangguk. "Aku ingat. Pemuda kurus. Rambut panjang. Pakaian compang-camping. Ia sedang menyeberang jalan, tidak lihat ke kanan-kiri. Gerobak besi lewat, menabraknya. Ia meninggal di tempat. Tidak ada yang mengakui sebagai keluarganya. Ia dimakamkan di kuburan umum."
"Di mana kuburan umum itu?"
"Di belakang pasar. Ikuti jalan setapak ke timur. Nanti kau lihat bukit kecil. Itu kuburan."
Sultan Hasan berlari ke kuburan umum.
Ia menemukan makam Pandu Hati di pojok bukit.
Tidak ada nisan. Tidak ada nama. Hanya gundukan tanah yang sudah ditumbuhi rumput ilalang. Sebuah bilah bambu ditancapkan di kepala makam, sebagai penanda.
Sultan Hasan berlutut di depan makam itu. Ia memeluk gundukan tanah.
"Pandu Hati... anakku... maafkan Ayah... maafkan Ayah karena tidak bisa melindungimu... maafkan Ayah karena tidak bisa menjagamu... maafkan Ayah karena terlalu memaksakan kehendak..."
Ia menangis. Menangis tersedu-sedu. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia menangis sekeras-kerasnya. Tidak peduli dilihat orang. Tidak peduli dianggap lemah.
"PANDU HATI! ANAKKU! PULANGLAH! AYAH MENUNGGUMU! IBU MENUNGGUMU! TELAGA MENUNGGUMU! PUSAKA MENUNGGUMU!"
Tapi tidak ada jawaban.
Hanya angin malam yang berembus pelan. Membawa wangi pandan dari kejauhan.
Sultan Hasan tidak ingat bagaimana ia bisa kembali ke Dukuh Wangi.
Ia hanya ingat berjalan. Berhari-hari. Tidak makan. Tidak minum. Tidak tidur. Hanya berjalan. Membawa mayat Pandu Hati yang sudah dikuburkan kembali di pemakaman umum? Tidak, ia tidak membawa apa pun. Hanya kesedihan. Hanya penyesalan. Hanya luka.
Ia tiba di pondoknya saat matahari hampir terbenam. Pandan Wangi sedang duduk di beranda, menenun. Ia terkejut melihat suaminya.
"Sultan! Kau kembali! Di mana Pandu Hati?"
Sultan Hasan tidak menjawab. Ia hanya diam. Air matanya mengalir.
"SULTAN! DI MANA PANDU HATI?"
Sultan Hasan jatuh berlutut di depan istrinya. Ia memeluk kaki Pandan Wangi.
"Pandan... maafkan aku... Pandu Hati... Pandu Hati sudah tiada..."
Pandan Wangi terdiam. Wajahnya pucat. Ia jatuh pingsan.
Pandan Wangi terbangun keesokan paginya.
Sultan Hasan masih duduk di sampingnya, menangis.
"Apa yang terjadi?" bisik Pandan Wangi.
"Pandu Hati mati tiga bulan yang lalu. Tertabrak gerobak di pelabuhan. Aku terlambat."
"Tidak... tidak mungkin..."
"Aku sudah ke kuburannya. Aku sudah melihat makamnya. Aku sudah bertanya pada saksi mata. Semua benar."
Pandan Wangi menangis. Sultan Hasan memeluknya.
Mereka berdua menangis. Sepanjang hari. Sepanjang malam. Sepanjang minggu.
Tidak ada yang bisa menghibur mereka. Tidak ada yang bisa mengobati luka mereka.
Kehilangan anak adalah kehilangan yang paling berat. Lebih berat dari kehilangan orang tua. Lebih berat dari kehilangan sahabat. Lebih berat dari kehilangan apa pun.
Karena anak adalah masa depan. Anak adalah harapan. Anak adalah bagian dari diri yang tidak bisa digantikan.
Dan kini, Pandu Hati telah pergi. Tidak akan pernah kembali.
Di dahan pohon asam di halaman pondok, burung hantu menatap Sultan Hasan dan Pandan Wangi yang sedang berduka.
Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah ikut berduka. Seolah ikut kehilangan. Seolah ikut meratapi nasib penjaga hati yang harus kehilangan anaknya.
Tapi ia juga tahu bahwa kesedihan ini tidak akan bertahan selamanya. Bahwa suatu hari, Sultan Hasan dan Pandan Wangi akan bangkit. Bahwa mereka akan melanjutkan hidup. Bahwa mereka akan tetap menjaga telaga. Tetap menjaga pusaka. Tetap menjaga hati.
Meskipun hati mereka hancur.
Karena itulah tugas penjaga hati. Menjaga. Meskipun terluka. Meskipun patah. Meskipun hancur.
Selamanya.
BAB LXX
Kabar dari Pandu Hati: Pandu Hati Menjadi Anak Buah Saudagar Kaya dan Hidup Bermewah-mewahan
Tiga bulan setelah Sultan Hasan kembali dari pencariannya, tiga bulan setelah ia mengira anaknya sudah mati dan dimakamkan di kuburan umum, tiga bulan setelah ia dan Pandan Wangi berkabung, meratapi nasib, dan hampir kehilangan akal... sebuah surat datang.
Surat itu tidak dikirim melalui kantor pos. Tidak pula diantar oleh kurir. Surat itu tiba-tiba muncul di atas meja kayu di pondok mereka, tanpa ada yang tahu siapa yang meletakkannya. Pandan Wangi yang menemukannya pertama kali. Ia sedang menyapu halaman ketika ia masuk ke dalam pondok untuk mengambil air minum. Di atas meja, di samping tumpukan daun lontar milik Sultan Hasan, sebuah amplop putih bersih tergeletak. Tidak ada cap. Tidak ada perangko. Tidak ada alamat pengirim. Hanya nama penerima di bagian depan: Sultan Hasan & Pandan Wangi – Dukuh Wangi.
Pandan Wangi memegang amplop itu. Tangannya gemetar. Ia memanggil suaminya.
"Sultan... lihat ini."
Sultan Hasan yang sedang duduk di tepi telaga, bergegas masuk. Ia mengambil amplop itu, membukanya dengan hati-hati. Di dalamnya, selembar kertas berkualitas tinggi, berwarna krem, dengan bau parfum yang harum. Tulisan di atasnya rapi, indah, jelas ditulis oleh seseorang yang terdidik.
Ayah, Ibu.
Maafkan aku. Aku tidak bisa mengirim kabar selama ini. Aku tahu kalian pasti khawatir. Tapi aku baik-baik saja. Aku selamat.
Aku tidak jadi pergi ke Bandar Cendana atau Kota Rajapura. Aku pergi ke arah timur, ke kota pelabuhan. Aku bertemu dengan seorang saudagar kaya. Namanya Tuan Salim. Ia baik padaku. Ia memberiku pekerjaan. Aku menjadi kepercayaannya. Aku mengelola gudang, menghitung barang, berurusan dengan pedagang asing.
Sekarang aku hidup mewah. Aku punya rumah. Aku punya kuda. Aku punya pakaian indah. Aku punya uang banyak. Aku tidak akan kembali ke Dukuh Wangi. Tidak akan kembali ke pondok reot itu. Tidak akan kembali ke telaga yang tidak berguna itu.
Aku minta kalian tidak usah mencari aku. Aku bahagia di sini. Aku tidak butuh tradisi keluarga. Aku tidak butuh pusaka. Aku tidak butuh menjadi penjaga hati.
Pandu Hati.
Sultan Hasan membaca surat itu berulang-ulang. Tangannya gemetar. Air matanya mengalir. Bukan sedih. Tapi lega. Sangat lega. Anaknya tidak mati. Anaknya selamat. Anaknya hidup.
"Pandan!" teriaknya. "Pandu Hati hidup! Ia tidak mati! Ia mengirim surat!"
Pandan Wangi membaca surat itu. Ia juga menangis.
"Syukur, ya Allah. Syukur. Anak kami hidup."
Mereka berdua berpelukan. Menangis. Tertawa. Bersyukur.
Tapi kebahagiaan mereka tidak bertahan lama.
Setelah membaca surat itu berulang-ulang, Sultan Hasan mulai merasakan keanehan. Nada surat itu dingin. Jauh. Tidak seperti Pandu Hati yang dulu. Pandu Hati memang keras kepala, tapi ia tidak pernah sejahat itu. Ia tidak pernah menyebut pondok reot. Ia tidak pernah menyebut telaga tidak berguna. Ia tidak pernah menyuruh mereka tidak usah mencari.
"Ada yang tidak beres," kata Sultan Hasan.
"Apa maksudmu?" tanya Pandan Wangi.
"Surat ini. Nadanya tidak seperti Pandu Hati. Seperti ada yang memengaruhinya. Atau... mungkin surat ini palsu."
"Palsu? Siapa yang akan memalsukan surat atas nama Pandu Hati?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku harus mencari tahu."
"Kau akan pergi lagi?"
"Iya. Aku akan pergi ke kota pelabuhan. Menemui Tuan Salim. Mencari Pandu Hati."
"Tapi kau baru saja kembali. Tubuhmu masih lemah. Istirahatlah dulu."
"Aku tidak bisa istirahat, Pandan. Anak kita mungkin dalam bahaya."
Sultan Hasan mengemasi barang-barangnya. Tidak banyak. Hanya pakaian seadanya, bekal makanan, sebotol air, dan batu akik merah di dadanya.
Pandan Wangi menangis. "Aku takut kehilanganmu, Sultan. Aku takut kau tidak kembali."
"Aku akan kembali, Pandan. Aku janji."
"Kau selalu berjanji. Tapi kadang kau tidak bisa menepati."
"Kali ini aku akan menepati. Aku tidak akan meninggalkanmu selamanya."
Mereka berdua berpelukan. Sultan Hasan mencium kening Pandan Wangi.
"Jagalah dirimu."
"Jagalah dirimu juga."
Sultan Hasan berjalan. Meninggalkan Dukuh Wangi. Meninggalkan telaga. Meninggalkan Pandan Wangi.
Menuju kota pelabuhan. Mencari anaknya. Membawanya pulang.
Perjalanan ke kota pelabuhan memakan waktu lima hari.
Sultan Hasan tidak berjalan kaki seperti dulu. Ia menyewa kuda. Ia juga membawa surat dari Tuan Abdullah, kenalan lamanya di Bandar Cendana, untuk memudahkan bertemu dengan Tuan Salim.
Ia tiba di kota itu pada sore hari. Langit berwarna jingga keemasan. Burung-burung camar terbang di atas dermaga. Bau garam dan ikan menyengat di hidung.
Ia pergi ke gudang Tuan Salim. Ia menunjukkan surat dari Tuan Abdullah. Para penjaga mengizinkannya masuk.
Tuan Salim sedang duduk di kantornya, menghitung uang. Ia sudah tua. Rambutnya putih semua. Wajahnya keriput. Tapi matanya masih tajam.
"Kau Sultan Hasan?" tanyanya.
"Saya, Tuan."
"Tuan Abdullah sudah bercerita tentang kau. Katanya kau karyawan terbaik yang pernah ia miliki. Jujur. Cerdas. Rajin."
"Terima kasih, Tuan."
"Apa yang bisa aku bantu?"
"Saya mencari anak saya. Pandu Hati. Katanya ia bekerja di sini. Menjadi kepercayaan Tuan."
Tuan Salim mengerutkan kening. "Pandu Hati? Aku tidak kenal nama itu."
"Pemuda. Lima belas tahun. Rambut panjang. Kurus. Cerdas. Mungkin memakai nama samaran."
Tuan Salim menggeleng. "Aku punya banyak karyawan. Tapi tidak ada yang bernama Pandu Hati. Tidak ada pemuda lima belas tahun yang menjadi kepercayaanku."
Sultan Hasan terkejut. "Tapi anak saya mengirim surat. Ia bilang ia bekerja untuk Tuan. Ia bilang Tuan memberinya pekerjaan. Ia bilang ia hidup mewah."
"Tunjukkan suratnya."
Sultan Hasan menunjukkan surat itu. Tuan Salim membacanya. Wajahnya berubah.
"Ini tidak mungkin," katanya. "Aku tidak pernah menulis surat ini. Aku tidak pernah mempekerjakan anak muda bernama Pandu Hati. Aku tidak pernah memberi siapa pun rumah, kuda, pakaian indah, dan uang banyak. Ini palsu."
"Palsu? Siapa yang memalsukannya?"
"Aku tidak tahu. Tapi kau harus hati-hati, Sultan Hasan. Mungkin ada yang ingin menjebakmu. Atau mungkin... anakmu sedang dalam bahaya."
Sultan Hasan gemetar. "Tuan tahu di mana anak saya?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku bisa membantu mencarinya. Aku punya banyak relasi di kota ini. Aku akan bertanya."
"Terima kasih, Tuan."
Tiga hari kemudian, Tuan Salim mendapat kabar.
Seorang pemuda kurus, rambut panjang, berusia sekitar lima belas tahun, pernah terlihat di sekitar pelabuhan. Ia mengamen. Menyanyi. Kadang mengemis. Tapi beberapa bulan lalu, ia menghilang. Ada yang mengatakan ia diculik. Ada yang mengatakan ia direkrut oleh sindikat kejahatan. Ada yang mengatakan ia sudah mati.
Sultan Hasan pusing. Informasi simpang siur. Tidak ada yang jelas.
Ia memutuskan untuk mencari sendiri. Ia pergi ke daerah-daerah kumuh di sekitar pelabuhan. Ia bertanya pada gelandangan, pengemis, anak jalanan. Apakah mereka pernah melihat Pandu Hati?
Seorang anak jalanan perempuan, berusia sekitar dua belas tahun, mengangguk. "Aku kenal dia. Namanya Pandu. Ia baik. Sering berbagi makanan dengan kami. Tapi ia diculik. Sekelompok preman membawanya pergi. Katanya ia akan dipekerjakan di kapal. Tapi tidak ada kabar lagi setelah itu."
"Kau tahu di mana preman-preman itu?"
"Di gudang tua di timur pelabuhan. Tapi hati-hati, Pak. Mereka berbahaya. Mereka bersenjata. Mereka tidak segan membunuh."
"Aku tidak takut."
Sultan Hasan pergi ke gudang tua di timur pelabuhan.
Gudang itu besar. Kusam. Catnya mengelupas. Jendelanya pecah. Di depan pintu, dua preman berdiri, memegang golok.
"Kau siapa?" bentak salah satu preman.
"Ayah dari Pandu Hati. Anak yang kalian culik."
Preman itu tertawa. "Pandu Hati? Tidak ada. Pergi sana!"
Sultan Hasan tidak bergeming. "Bawa aku ke anakku, atau kau akan merasakan akibatnya."
"Kau mau lawan kami berdua? Kau pikir kau siapa?"
Sultan Hasan tidak menjawab. Ia bergerak cepat. Dalam hitungan detik, kedua preman itu sudah tergeletak di tanah, golok mereka melayang ke udara, jatuh di semak-semak.
Ia masuk ke dalam gudang. Gelap. Bau apek. Bau darah.
Di sudut gudang, ia melihat Pandu Hati. Anaknya terbaring di atas tumpukan karung. Tubuhnya kurus kering. Wajahnya pucat. Matanya cekung. Ada luka di pergelangan tangannya. Ada bekas cambuk di punggungnya.
"PANDU HATI!" teriak Sultan Hasan.
Ia berlari. Memeluk anaknya. Pandu Hati membuka mata. Samar-samar.
"Ayah..." bisiknya. "Ayah... maafkan aku... aku tidak mendengarkan nasihat Ayah..."
"Diam, Nak. Ayah akan membawamu pulang."
"Tapi... Ayah... aku sudah... aku sudah... tidak punya tenaga... untuk berjalan..."
"Ayah akan menggendongmu."
Sultan Hasan mengangkat Pandu Hati ke punggungnya. Anak itu ringan. Sangat ringan. Hampir tidak berbobot.
Ia berjalan keluar dari gudang. Preman-preman lain yang melihatnya, mundur takut. Mereka sudah mendengar bahwa Sultan Hasan adalah pendekar sakti.
"Jangan coba-coba mengikuti," kata Sultan Hasan. "Kalian akan merasakan pedangku."
Preman-preman itu lari tunggang langgang.
Sultan Hasan terus berjalan. Menuju dermaga. Menuju kapal. Menuju pulang.
Di perjalanan pulang, Pandu Hati bercerita.
Ia tidak jadi bekerja pada saudagar kaya. Surat itu palsu. Ia disuruh menulis surat itu oleh preman-preman yang menjebaknya. Mereka ingin Sultan Hasan datang ke kota pelabuhan, lalu mereka akan menculiknya, meminta tebusan dari adipati.
Tapi rencana mereka gagal. Sultan Hasan terlalu kuat. Terlalu cerdas. Terlalu berani.
"Ayah," bisik Pandu Hati. "Aku malu. Aku sudah meremehkan Ayah. Aku menganggap Ayah kolot. Ternyata Ayah hebat."
"Ayah tidak hebat, Nak. Ayah hanya berusaha menjadi ayah yang baik."
"Kau lebih dari ayah yang baik, Ayah. Kau pahlawanku."
Sultan Hasan tersenyum. Air matanya menetes.
"Pulanglah, Nak. Ibu menunggumu."
BAB LXXI
Sultan Hasan Menyusul ke Kota – Pandu Hati Menolak Pulang
Perjalanan pulang dari kota pelabuhan ke Dukuh Wangi memakan waktu tujuh hari. Sultan Hasan tidak bisa memacu kuda terlalu kencang karena Pandu Hati masih lemah. Tubuh anak itu kurus kering, penuh luka, dan masih dalam masa pemulihan. Mereka beristirahat di setiap desa yang mereka lewati, kadang di rumah penduduk, kadang di balai desa, kadang di tepi sungai jika tidak ada yang bersedia menampung.
Pandu Hati banyak diam selama perjalanan. Ia tidak bicara. Ia hanya memandang langit, memandang pepohonan, memandang sungai-sungai yang mereka lewati. Sultan Hasan tidak memaksa. Ia tahu anaknya butuh waktu. Butuh kesendirian. Butuh merenungkan semua yang telah terjadi.
Tapi ketika mereka tiba di Dukuh Wangi, ketika pondok kecil di tepi telaga sudah terlihat dari kejauhan, Pandu Hati berhenti.
"Ayah," katanya.
"Ya, Nak?"
"Aku tidak bisa pulang."
Sultan Hasan terkejut. "Kenapa? Ibu sudah menunggumu. Rumah sudah menunggumu. Telaga sudah menunggumu."
"Aku malu, Ayah. Aku sudah lari dari rumah. Aku sudah mengirim surat palsu. Aku sudah mengecewakan Ayah dan Ibu. Aku tidak pantas kembali."
"Tidak ada yang tidak pantas, Nak. Ayah dan ibu sudah memaafkanmu."
"Tapi aku belum memaafkan diriku sendiri."
Sultan Hasan terdiam. Ia tahu perasaan itu. Dulu, setelah ia gagal melindungi Pandan Wangi, setelah ia dikirim ke pulau penjara, setelah ia kehilangan segalanya, ia juga merasa tidak pantas kembali. Tapi Pandan Wangi tetap menerimanya. Pandan Wangi tetap mencintainya. Pandan Wangi tetap setia menunggu.
"Nak," kata Sultan Hasan pelan. "Kau tahu, dulu ayah juga pernah merasa tidak pantas. Ayah juga pernah gagal. Ayah juga pernah lari dari kenyataan. Tapi ibu tidak pernah menyerah pada ayah. Ia selalu menunggu. Ia selalu percaya bahwa ayah akan kembali. Dan ayah kembali. Bukan karena ayah pantas. Tapi karena ibu membutuhkan ayah. Sekarang, ibu membutuhkanmu. Jangan kecewakan ibu."
Pandu Hati menangis. Sultan Hasan memeluknya.
"Aku takut, Ayah."
"Takut apa?"
"Aku takut jika aku kembali, aku akan menjadi beban. Aku tidak bisa membantu Ayah di ladang. Aku tidak bisa membantu Ibu menenun. Aku hanya bisa merepotkan."
"Kau tidak akan menjadi beban, Nak. Kau adalah anak kami. Tanggung jawab kami merawatmu. Tidak ada istilah beban dalam keluarga."
Pandu Hati masih ragu.
"Bagaimana kalau aku hanya tinggal sebentar? Sampai lukaku sembuh. Lalu aku akan kembali ke kota. Aku ingin bekerja. Aku ingin mandiri. Aku tidak ingin bergantung pada Ayah dan Ibu selamanya."
"Terserah kau, Nak. Yang penting kau pulang dulu. Ibu sudah rindu."
Pandan Wangi menangis ketika melihat Pandu Hati masuk ke pondok.
Ia memeluk anaknya erat-erat, tidak mau melepaskan. "Kamu tidak boleh pergi lagi, Nak. Ibu tidak mau kehilanganmu lagi."
"Ibu, aku hanya tinggal sebentar. Sampai sembuh."
"Tidak. Kamu harus tinggal selamanya. Ibu tidak akan mengizinkanmu pergi."
"Ibu..."
"Tidak ada tapi. Ibu sudah kehilanganmu sekali. Ibu tidak mau kehilanganmu lagi."
Pandu Hati memandang ayahnya. Sultan Hasan mengangkat bahu. "Ibu mu keras kepala. Tidak bisa dibantah."
Pandan Wangi menatap suaminya tajam. "Kau juga keras kepala. Makanya anakmu keras kepala."
Mereka bertiga tertawa. Tawa yang melegakan. Tawa yang melupakan sejenak semua kesedihan dan penderitaan.
Pandu Hati tinggal di pondok selama dua bulan.
Lukanya sembuh. Tubuhnya berisi kembali. Wajahnya tidak pucat lagi. Matanya mulai bersinar lagi.
Ia membantu Sultan Hasan di ladang. Membantu Pandan Wangi menenun. Ia juga belajar menulis syair, meskipun tidak serius. Sultan Hasan mengajari, Pandu Hati mendengarkan.
"Kau punya bakat, Nak," kata Sultan Hasan suatu hari. "Syairmu bagus. Perasaannya dalam."
"Aku hanya menulis apa yang aku rasakan, Ayah. Tidak lebih."
"Itulah bakat. Tidak semua orang bisa menuangkan perasaan ke dalam kata-kata."
"Ayah bisa. Ayah hebat."
"Ayah tidak hebat. Ayah hanya tekun."
Mereka berdua tersenyum.
Tapi ketika Pandu Hati benar-benar pulih, ia mulai gelisah. Ia ingin kembali ke kota. Ia ingin bekerja. Ia ingin mandiri. Pandan Wangi menangis. Sultan Hasan menghela napas.
"Biarkan ia pergi, Pandan," kata Sultan Hasan. "Ia sudah dewasa. Ia harus belajar hidup mandiri."
"Tapi aku takut ia akan celaka lagi."
"Kali ini ia akan hati-hati. Ia sudah belajar dari pengalaman."
"Ibu," kata Pandu Hati. "Aku janji akan hati-hati. Aku janji akan mengirim surat setiap minggu. Aku janji akan kembali jika aku libur. Aku janji tidak akan membuat Ibu khawatir."
Pandan Wangi masih ragu. Tapi akhirnya ia mengangguk.
"Baiklah. Ibu izinkan. Tapi jangan lupa janjimu."
"Aku tidak akan lupa, Ibu."
Pandu Hati berangkat ke kota pada suatu pagi.
Ia naik kereta kuda yang disewa Sultan Hasan. Tidak banyak barang yang ia bawa. Hanya satu buntalan kecil berisi pakaian, beberapa kitab, dan bekal makanan dari Pandan Wangi. Sama seperti dulu.
Sultan Hasan memeluk anaknya. "Jagalah dirimu, Nak. Jangan mudah percaya pada orang asing. Jangan tergiur dengan kemewahan palsu."
"Aku akan, Ayah."
Pandan Wangi memeluk anaknya. "Jangan lupa menulis surat, Nak. Ibu akan selalu menunggu."
"Aku akan menulis, Ibu. Setiap minggu."
Kereta kuda itu berangkat. Pandu Hati melambaikan tangan. Sultan Hasan dan Pandan Wangi melambaikan tangan balik.
Air mata mereka mengalir.
Tapi kali ini bukan air mata kesedihan. Bukan juga air mata kekhawatiran. Tapi air mata keikhlasan. Melepaskan anaknya untuk belajar hidup mandiri. Untuk menemukan jati dirinya. Untuk menjadi penjaga hati, dengan caranya sendiri.
Malam harinya, Sultan Hasan duduk di tepi telaga sendirian.
Pandan Wangi sibuk di dapur. Ia memasak sayur asem dan ikan bakar, kesukaan Sultan Hasan. Mungkin sebagai hadiah karena telah berhasil membawa Pulang Pandu Hati. Atau mungkin hanya karena ia ingin membuat suaminya bahagia.
Sultan Hasan memandang air telaga yang jernih. Memandang bulan sabit tipis di langit.
"Pandan Wangi," bisiknya.
"Ya?" Pandan Wangi keluar dari pondok.
"Apakah kita sudah menjadi orang tua yang baik?"
"Menurutku, ya. Kita sudah melakukan yang terbaik untuk Pandu Hati."
"Tapi ia tetap pergi. Ia tetap memilih hidup di kota daripada di sini."
"Itu pilihannya. Kita tidak bisa memaksanya. Seperti dulu, ayahmu tidak bisa memaksamu menjadi bangsawan."
"Aku ingin ia menjadi penjaga hati. Tapi ia tidak mau."
"Dia tetap penjaga hati, meskipun tidak tinggal di sini. Penjaga hati tidak harus duduk di tepi telaga dan menulis syair. Penjaga hati bisa menjadi apa pun. Asalkan ia menjaga hati. Hatinya sendiri. Hati orang lain."
"Kau yakin?"
"Aku yakin. Percayalah pada Pandu Hati. Ia anak kita. Ia memiliki darah penjaga hati."
Sultan Hasan tersenyum. Ia memeluk Pandan Wangi.
"Terima kasih, istriku. Kau selalu bisa menenangkanku."
"Itu tugasku sebagai istri."
Mereka berdua diam. Menikmati malam. Menikmati kebersamaan. Merindukan anak mereka yang pergi, tapi tidak lagi bersedih.
Karena mereka tahu, Pandu Hati akan baik-baik saja. Pandu Hati akan menemukan jalannya. Pandu Hati akan menjadi penjaga hati, dengan caranya sendiri.
Suatu hari nanti.
Selamanya.
BAB LXXII
Pusaka Akik Merah Retak: Saat Pandu Hati Menolak Pulang, Batu Akik Merah Retak Sedikit – Sultan Hasan Menangis
Kepergian Pandu Hati untuk kedua kalinya meninggalkan luka yang tidak terlihat. Sultan Hasan tidak menangis di depan istrinya. Ia tidak mengeluh. Ia tidak menunjukkan kesedihan. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang pecah. Bukan sekali ini ia kehilangan orang yang dicintai. Ayahnya lenyap di hutan. Ibunya meninggal saat ia masih kecil. Nini Mas Intan meninggal saat ia mulai belajar menjadi penjaga hati. Mak Umi meninggal saat ia remaja. Mardjo meninggal karena racun. Kiai Pati meninggal di Pulau Penjara. Dan sekarang, anak kandungnya sendiri — darah dagingnya — lebih memilih hidup di kota daripada di sampingnya, di tepi telaga, di rumah yang telah ia bangun dengan susah payah.
Sultan Hasan tidak menyalahkan Pandu Hati. Ia mengerti. Anak itu masih muda. Anak itu ingin mandiri. Anak itu ingin mencari jati dirinya. Seperti dulu, Sultan Hasan juga pernah muda dan ingin mandiri. Tapi tetap saja, rasa sakit itu ada. Rasa sakit karena ditolak. Rasa sakit karena dianggap tidak cukup baik. Rasa sakit karena anak lebih memilih dunia luar daripada rumahnya sendiri.
Malam setelah Pandu Hati berangkat, Sultan Hasan duduk di tepi telaga lebih lama dari biasanya. Pandan Wangi sudah tidur di dalam pondok, kelelahan setelah berminggu-minggu cemas dan menangis. Sultan Hasan memandang air telaga yang jernih, memandang bulan yang mulai membesar menuju purnama, memandang bintang-bintang yang bertaburan seperti butiran beras.
Ia memegang batu akik merah di dadanya. Batu itu terasa hangat. Berdenyut pelan. Menemaninya seperti biasa.
"Pusaka," bisiknya. "Apakah kau juga merasakan apa yang aku rasakan? Kesepian? Kesedihan? Kehilangan?"
Batu itu berdenyut lebih kencang. Seperti menjawab: "Aku merasakannya. Aku selalu merasakan apa yang kau rasakan."
"Apa yang harus aku lakukan? Anakku pergi. Ia tidak mau kembali. Ia tidak mau menjadi penjaga hati. Ia tidak mau menghormati tradisi. Aku merasa gagal sebagai ayah."
"Kau tidak gagal, Sultan Hasan. Kau telah melakukan yang terbaik. Memberinya kasih sayang. Memberinya pendidikan. Memberinya kebebasan untuk memilih. Itu sudah lebih dari cukup."
"Tapi ia tetap pergi."
"Ia akan kembali. Suatu hari. Ketika ia sudah lelah dengan dunia. Ketika ia sudah muak dengan kepalsuan. Ketika ia sadar bahwa rumah adalah tempat yang paling aman. Kau dulu juga seperti itu. Kau pergi. Kau merantau. Kau mencari jati diri. Tapi pada akhirnya, kau kembali. Ke telaga ini. Ke Pandan Wangi. Ke rumahmu."
"Aku berharap ia juga akan kembali."
"Dia akan kembali. Percayalah."
Sultan Hasan tersenyum pahit. Ia mengelus batu itu dengan ibu jarinya.
Saat jarinya menyentuh permukaan batu akik merah itu, ia merasakan sesuatu yang aneh. Biasanya, permukaan batu itu halus, licin, seperti kaca. Tapi malam ini, ada bagian yang kasar. Seperti ada retakan kecil.
Sultan Hasan terkejut. Ia membawa batu itu mendekat ke cahaya bulan. Ia memeriksanya dengan saksama.
Di permukaan batu itu, tepat di tengah, ada sebuah retakan. Kecil. Tipis. Hampir tidak terlihat. Tapi jelas. Seperti garis rambut yang pecah.
"Pusaka... kau retak?"
Batu itu berdenyut. Pelan. Lembut. Seperti sedang sakit.
"Iya. Aku retak."
"Sejak kapan?"
"Sejak Pandu Hati menolak pulang. Sejak ia mengatakan bahwa ia tidak ingin kembali ke Dukuh Wangi. Sejak ia memilih hidup di kota daripada di sampingmu. Aku merasakan patah hatimu. Dan patah hati itu meretakkanku."
"Tapi... tapi kau bisa sembuh, kan?"
"Aku bisa. Jika kau bahagia. Jika kau ikhlas. Jika kau tidak lagi bersedih."
"Aku tidak bisa berhenti bersedih, pusaka. Anakku pergi."
"Kau bisa. Kau harus. Karena jika aku retak parah, aku bisa hancur. Dan jika aku hancur, telaga ini akan mati. Dan jika telaga ini mati, Pandan Wangi akan sakit. Apakah kau ingin itu terjadi?"
Sultan Hasan gemetar. "Tidak. Aku tidak ingin itu terjadi."
"Maka berhentilah bersedih. Ikhlaslah. Lepaskan Pandu Hati dengan cinta. Biarkan ia pergi. Biarkan ia mencari jalannya. Dan yakinlah bahwa suatu hari ia akan kembali."
Air mata Sultan Hasan mengalir. Ia tidak bisa berhenti bersedih. Tapi ia akan berusaha. Untuk pusaka. Untuk telaga. Untuk Pandan Wangi. Untuk dirinya sendiri.
"Baiklah," bisiknya. "Aku akan berusaha."
Batu itu berdenyut sekali lagi. Hangat. Seperti memberikan semangat.
"Kau kuat, Sultan Hasan. Aku bangga menjadi pusakamu."
Sultan Hasan tersenyum. Ia menyeka air matanya. Ia memandang batu itu sekali lagi. Retakannya masih ada. Tapi tidak melebar. Setidaknya untuk sekarang.
Ia berdiri. Ia berjalan pulang ke pondok. Pandan Wangi masih tidur. Ia merebahkan diri di samping istrinya. Ia memeluknya dari belakang.
"Selamat malam, Pandan."
"Selamat malam, Sultan."
Mereka berdua tertidur.
Keesokan paginya, Sultan Hasan bangun dengan tekad baru.
Ia akan ikhlas melepaskan Pandu Hati. Ia akan percaya bahwa anaknya akan baik-baik saja. Ia akan fokus pada hidupnya sendiri. Pada istrinya. Pada telaganya. Pada pusakanya. Pada syair-syairnya.
Ia pergi ke ladang. Mencangkul. Menanam. Menyiram. Bekerja seperti biasa. Pandan Wangi memasak di dapur. Menenun di beranda. Seperti biasa.
Kehidupan berjalan normal. Tapi ada yang berbeda. Pondok itu lebih sunyi. Tidak ada suara Pandu Hati yang membaca buku di sudut. Tidak ada suara Pandu Hati yang berdebat dengan ayahnya tentang tradisi dan modernitas. Tidak ada suara Pandu Hati yang tertawa mendengar lelucon ayahnya.
Tapi Sultan Hasan tidak lagi menangis. Ia sudah ikhlas. Setidaknya ia berusaha ikhlas.
"Pandan," katanya suatu sore, saat mereka berdua duduk di tepi telaga.
"Ya?"
"Aku sudah tidak sedih lagi."
"Kau bohong. Aku bisa melihat matamu. Masih ada luka di sana."
"Luka akan sembuh. Butuh waktu."
"Kita punya waktu. Banyak waktu."
Mereka berdua tersenyum.
Di dadanya, batu akik merah masih retak. Tapi retakannya tidak melebar. Sultan Hasan merawatnya setiap hari. Membersihkannya dengan air telaga. Mengusapnya dengan lembut. Berbicara padanya. Berdoa untuknya.
"Pusaka," bisiknya setiap malam sebelum tidur. "Aku akan menjagamu. Aku akan membuatmu sembuh. Aku berjanji."
Batu itu berdenyut. Pelan. Lembut. Hangat.
"Aku tahu. Aku percaya padamu."
Sultan Hasan tersenyum. Ia memejamkan mata. Ia tidur.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatapnya. Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah setuju. Seolah merestui. Seolah tahu bahwa Sultan Hasan akan sembuh. Bahwa pusaka akan sembuh. Bahwa Pandu Hati akan kembali. Suatu hari.
Selamanya.
BAB LXXIII
Pandan Wangi Wafat: Istri Tercinta Meninggal di Pangkuan Sultan Hasan – Hatinya Remuk Redam
Tidak ada yang tahu persis kapan penyakit itu mulai bersarang dalam diri Pandan Wangi. Mungkin sudah lama, tapi ia menyembunyikannya dengan baik. Mungkin sejak Pandu Hati pergi untuk kedua kalinya, sejak ia menahan tangis di depan suaminya, sejak ia berpura-pura kuat padahal hatinya hancur. Atau mungkin sejak ia menjadi penunggu telaga puluhan tahun lalu, sejak ia mengorbankan kemanusiaannya untuk menjaga air, sejak ia bersumpah untuk tidak pernah meninggalkan telaga itu.
Yang pasti, pada suatu pagi, ketika Sultan Hasan bangun dan mencium kening istrinya seperti biasa, ia merasakan sesuatu yang aneh. Kening Pandan Wangi panas. Sangat panas. Seperti terbakar.
"Pandan," bisiknya. "Kau demam?"
"Aku tidak demam," jawab Pandan Wangi lemah. "Aku hanya... sedikit pusing."
"Aku akan memanggil dukun."
"Tidak usah. Istirahat saja. Nanti sembuh sendiri."
Tapi tidak sembuh. Suhu tubuh Pandan Wangi terus naik. Wajahnya memerah. Bibirnya mengering. Matanya sayu. Ia tidak bisa bangun dari tempat tidur. Sultan Hasan cemas. Ia memanggil dukun dari desa sebelah. Dukun itu memeriksa Pandan Wangi dengan saksama. Wajahnya berubah muram.
"Ini bukan sakit biasa, Sultan Hasan. Ini... ini kepunahan."
"Kepunahan? Maksudnya?"
"Pandan Wangi adalah penunggu telaga. Ia hidup dari energi telaga itu. Selama telaga itu hidup, ia hidup. Selama telaga itu sehat, ia sehat. Tapi telaga itu... telaga itu sedang sakit."
"Sakit? Telaga itu airnya masih jernih. Dasarnya masih terlihat. Tanaman air masih tumbuh. Ikan-ikan masih berenang."
"Yang sakit bukan yang terlihat. Tapi yang tidak terlihat. Pusaka di dadamu retak. Kau tahu itu. Retakan itu mempengaruhi telaga. Dan telaga mempengaruhi Pandan Wangi."
Sultan Hasan gemetar. Ia memegang batu akik merah di dadanya. Retakan itu masih ada. Tidak melebar. Tapi juga tidak menutup.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya.
"Kau harus menyembuhkan pusakamu. Buat ia utuh kembali. Agar telaga sehat kembali. Agar Pandan Wangi selamat."
"Bagaimana caranya?"
"Aku tidak tahu. Itu urusanmu. Kau pemilik pusaka itu."
Dukun itu pergi. Meninggalkan Sultan Hasan yang terdiam di samping istrinya yang terbaring lemah.
Sultan Hasan berusaha segalanya.
Ia membersihkan pusaka dengan air telaga. Ia mengusapnya dengan lembut. Ia berbicara padanya. Ia berdoa. Ia memohon pada Tuhan, pada alam, pada Nini Mas Intan, pada Ki Ageng Jagaraga, pada Kiai Pati, pada semua guru yang pernah membimbingnya. Semoga pusaka itu sembuh. Semoga telaga itu sehat. Semoga Pandan Wangi selamat.
Tapi pusaka itu tetap retak. Tidak melebar. Tapi juga tidak menutup.
"Pusaka," bisik Sultan Hasan. "Apa yang harus aku lakukan? Katakan padaku."
Batu itu berdenyut. Pelan. Lembut. Tapi tidak menjawab. Seperti sedang sekarat. Seperti tidak punya energi untuk bicara.
Sultan Hasan menangis. Ia memeluk batu itu erat-erat.
"Jangan mati, pusaka. Aku tidak bisa hidup tanpamu."
Ia memandang istrinya. Pandan Wangi masih terbaring lemah. Matanya terpejam. Dadanya naik turun pelan.
"Pandan... jangan tinggalkan aku... aku tidak bisa hidup tanpamu..."
Hari-hari berlalu. Minggu-minggu berganti. Pandan Wangi tidak kunjung sembuh.
Ia semakin kurus. Wajahnya semakin pucat. Matanya semakin cekung. Rambutnya yang dulu hitam legam, kini mulai beruban. Ia tidak bisa makan. Hanya bisa minum sedikit air. Sultan Hasan menyuapinya bubur, tapi ia sering muntah.
"Pandan," bisik Sultan Hasan suatu malam, saat ia duduk di samping istrinya. "Kau harus kuat. Kita harus melewati ini bersama."
"Sultan," bisik Pandan Wangi balik. "Aku sudah tidak kuat. Aku sudah lelah. Aku ingin... istirahat."
"Kau tidak boleh menyerah, Pandan. Kau harus hidup. Untuk aku. Untuk Pandu Hati. Untuk telaga. Untuk pusaka."
"Aku sudah hidup cukup lama, Sultan. Aku sudah merasakan cinta. Aku sudah merasakan kebahagiaan. Aku sudah merasakan menjadi istri. Menjadi ibu. Itu sudah lebih dari cukup."
"Tapi aku belum siap kehilanganmu, Pandan."
"Tidak ada yang siap kehilangan, Sultan. Tapi kita harus siap. Karena kematian adalah bagian dari kehidupan."
Sultan Hasan menangis. Ia memeluk istrinya erat-erat.
"Jangan pergi, Pandan. Aku tidak bisa sendirian."
"Kau tidak sendirian, Sultan. Kau punya telaga. Kau punya pusaka. Kau punya Pandu Hati. Kau punya kenangan tentang aku. Aku akan selalu bersamamu. Di hatimu. Selamanya."
Pada malam purnama, Pandan Wangi menghembuskan napas terakhirnya.
Ia meninggal dengan tenang. Di pangkuan Sultan Hasan. Di pondok kecil tepi telaga. Di bawah cahaya bulan yang terang. Burung-burung hantu berbunyi dari kejauhan. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Seperti lagu duka.
Sultan Hasan tidak menangis. Ia hanya duduk diam. Memeluk tubuh istrinya yang sudah dingin. Memandang wajahnya yang cantik, yang tidak akan pernah tersenyum lagi. Memandang bibirnya yang tipis, yang tidak akan pernah berbisik cinta lagi. Memandang matanya yang terpejam, yang tidak akan pernah terbuka lagi.
Ia ingat saat pertama kali mereka bertemu di telaga. Ia masih kecil, baru berusia lima tahun. Pandan Wangi duduk di batu hitam, tersenyum padanya. Ia ingat syair-syair yang diajarkan Pandan Wangi. Tentang hati. Tentang cinta. Tentang menjaga. Ia ingat janji mereka di telaga, di bawah bulan purnama. Untuk saling menjaga. Sampai mati. Sampai setelah mati. Selamanya.
Dan sekarang, janji itu harus diputuskan. Bukan karena mereka berhenti saling menjaga. Tapi karena kematian memisahkan mereka.
"Pandan," bisik Sultan Hasan. "Kau sudah pergi. Tapi cintaku padamu tidak akan pernah mati. Aku akan terus mencintaimu. Sampai aku mati. Sampai setelah aku mati. Selamanya."
Ia mengecup kening Pandan Wangi. Dingin. Tapi terasa hangat di hatinya.
Pandu Hati datang tiga hari setelah ibunya meninggal.
Ia menerima kabar dari tetangga yang kebetulan lewat di depan pondok. Ia bergegas pulang, meninggalkan pekerjaannya, meninggalkan hidupnya di kota, meninggalkan semua yang selama ini ia perjuangkan.
Ia tiba di Dukuh Wangi saat matahari hampir terbenam. Pondok itu sunyi. Tidak ada asap dari dapur. Tidak ada suara nenun dari beranda. Tidak ada wangi masakan Pandan Wangi yang semerbak.
Ia masuk ke pondok. Ayahnya sedang duduk di samping jenazah ibunya yang sudah terbungkus kain putih.
"Ayah..." bisik Pandu Hati.
Sultan Hasan menoleh. Matanya sembab. Wajahnya pucat. Ia sudah tidak menangis. Air matanya sudah habis.
"Kau datang, Nak."
"Aku datang, Ayah. Maaf, aku terlambat."
"Tidak terlambat. Ibumu masih di sini. Pamitlah padanya."
Pandu Hati berlutut di samping jenazah ibunya. Ia memegang tangan ibunya yang dingin.
"Ibu... maafkan aku... aku tidak bisa menjadi anak yang baik... aku selalu membuat Ibu khawatir... aku selalu membuat Ibu sedih... aku tidak pernah mendengarkan nasihat Ibu... maafkan aku, Ibu..."
Ia menangis. Sultan Hasan memeluknya.
"Ibumu sudah memaafkanmu sejak lama, Nak. Ia tidak pernah menyimpan dendam. Ia hanya ingin kau bahagia."
"Aku tidak bahagia, Ayah. Aku tidak pernah bahagia sejak aku pergi dari sini. Aku hanya berpura-pura. Aku hanya lari dari kenyataan."
"Kau tidak perlu lari lagi, Nak. Rumah ini selalu terbuka untukmu. Telaga ini selalu menunggumu."
Pandan Wangi dimakamkan di tepi telaga, di bawah pohon beringin tua, tempat ia biasa duduk bersama Sultan Hasan saat masih muda.
Sultan Hasan dan Pandu Hati menggali liang lahat sendiri. Menurunkan jenazah ke dalam tanah. Menimbunnya dengan tanah. Membacakan doa-doa.
Tidak banyak orang yang datang. Hanya tetangga terdekat. Jaya. Kakek buta dan istrinya. Dukun beranak yang pernah menolong Pandan Wangi melahirkan. Beberapa orang tua yang masih ingat kebaikan Pandan Wangi.
Setelah pemakaman selesai, semua orang pulang. Sultan Hasan dan Pandu Hati duduk di tepi telaga. Diam. Memandang air yang jernih. Memandang bulan yang mulai muncul.
"Ayah," kata Pandu Hati.
"Ya, Nak?"
"Aku ingin tinggal di sini. Selamanya. Aku tidak akan kembali ke kota."
"Kau yakin?"
"Aku yakin. Aku sudah lelah dengan dunia luar. Aku sudah muak dengan kepalsuan. Aku ingin hidup sederhana. Seperti Ayah. Seperti Ibu. Menjaga telaga. Menjaga pusaka. Menjaga hati."
Sultan Hasan tersenyum. "Ibumu pasti bangga mendengar itu."
"Aku harap ia mendengarku dari surga."
"Dia mendengar, Nak. Ia selalu mendengar."
Mereka berdua diam. Menikmati malam. Menikmati kebersamaan. Merindukan Pandan Wangi yang telah tiada.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah setuju. Seolah merestui. Seolah bahagia bahwa Pandu Hati akhirnya pulang. Bahwa ia akhirnya mau menjadi penjaga hati. Bahwa ia akhirnya menghormati tradisi keluarga.
Selamanya.
BAB LXXIV
Sultan Hasan Mengasingkan Diri: Ia Masuk ke Gua Tempatnya Dulu Belajar – Tidak Keluar Selama 40 Hari
Pemakaman Pandan Wangi meninggalkan kekosongan yang tidak bisa diisi oleh apa pun.
Pondok di tepi telaga yang dulu hangat dan ramai, kini terasa dingin dan sunyi. Tidak ada lagi suara Pandan Wangi yang bernyanyi sambil menenun. Tidak ada lagi wangi masakannya yang semerbak di pagi hari. Tidak ada lagi senyumnya yang menyambut Sultan Hasan pulang dari ladang. Tidak ada lagi pelukannya yang menghangatkan di malam hari.
Sultan Hasan tidak bisa tidur. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat wajah Pandan Wangi. Cantik. Lembut. Tersenyum. Setiap kali ia terbangun, ia meraih ke samping, berharap istrinya masih ada di sana. Tapi hanya kehampaan yang ia temukan.
Pandu Hati mencoba menghibur ayahnya. "Ayah, makanlah. Ayah harus kuat."
"Aku tidak lapar, Nak."
"Ayah, tidurlah. Ayah harus istirahat."
"Aku tidak bisa tidur, Nak."
Pandu Hati tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa duduk di samping ayahnya, menemani, kadang menangis dalam diam.
Tujuh hari setelah Pandan Wangi meninggal, Sultan Hasan mengambil keputusan.
"Nak," katanya pada Pandu Hati. "Ayah akan pergi sebentar."
"Ke mana, Ayah?"
"Ke gua. Gua tempat ayah dulu belajar. Di hulu sungai. Di balik air terjun."
"Kenapa, Ayah? Ayah mau apa di sana?"
"Ayah mau... menyendiri. Merenung. Berdoa. Memohon petunjuk. Ayah tidak bisa terus begini. Ayah harus menemukan ketenangan."
"Berapa lama, Ayah?"
"Empat puluh hari. Atau sampai ayah merasa siap untuk keluar."
"Ayah, jangan pergi. Aku takut kehilangan Ayah juga."
"Kau tidak akan kehilangan ayah, Nak. Ayah akan kembali. Ayah janji."
Pandu Hati menangis. Sultan Hasan memeluknya.
"Jaga telaga ini, Nak. Jaga pusaka ini. Jaga dirimu. Ayah percaya padamu."
"Aku akan menjaga semuanya, Ayah. Tapi Ayah harus kembali. Aku tidak bisa sendirian."
"Kau tidak sendirian, Nak. Kau punya telaga. Kau punya pusaka. Kau punya kenangan tentang ibumu. Dan kau punya ayah yang akan kembali."
Mereka berdua berpelukan lama.
Sultan Hasan berjalan ke hulu sungai. Sendirian. Tanpa bekal. Tanpa senjata. Hanya batu akik merah di dadanya yang masih retak.
Ia ingat jalan ini. Dulu, ketika ia masih muda, ia sering melewati jalan ini untuk belajar pada Ki Ageng Jagaraga. Jalan setapak yang menanjak, berbatu-batu, licin jika hujan. Pohon-pohon besar menjulang di kiri kanan. Burung-burung berkicau di dahan. Sesekali ia melihat monyet bergelantungan, atau kadal terbang melintas.
Ia tiba di air terjun setelah berjalan setengah hari. Air terjun itu masih sama. Tinggi, gemuruh, memercikkan kabut ke mana-mana. Di belakangnya, gua tempat ia dulu menyembuhkan jantung telaga.
Ia menembus air terjun. Tubuhnya basah kuyup. Dingin. Tapi ia tidak peduli.
Ia masuk ke dalam gua. Gelap. Sangat gelap. Tidak ada cahaya matahari yang tembus. Hanya kegelapan pekat yang terasa menyentuh kulit, masuk ke pori-pori, meresap ke dalam tulang.
Tapi Sultan Hasan tidak takut. Ia sudah biasa dengan kegelapan. Ia sudah biasa dengan kesunyian. Ia sudah biasa dengan keheningan.
Ia duduk di lantai gua yang dingin dan lembab. Ia memejamkan mata. Ia mulai bermeditasi.
Hari-hari berlalu. Sultan Hasan tidak keluar dari gua.
Ia tidak makan. Hanya minum air tetesan dari stalaktit di langit-langit gua. Ia tidak tidur. Hanya sesekali memejamkan mata, merenung, berdoa.
Ia berbicara pada pusaka di dadanya. Pusaka itu berdenyut. Pelan. Lembut. Retakannya masih ada. Tidak melebar. Tapi juga tidak menutup.
"Pusaka," bisiknya. "Aku rindu Pandan Wangi. Aku tidak bisa hidup tanpanya."
Batu itu berdenyut. Seperti menjawab: "Aku tahu. Aku juga rindu. Tapi kau harus kuat. Kau harus hidup. Untuk telaga. Untuk Pandu Hati. Untuk dirimu sendiri."
"Bagaimana caranya? Hatiku hancur. Aku tidak punya semangat lagi."
"Carilah ketenangan di dalam dirimu. Bukan di luar. Pandan Wangi tidak akan pernah benar-benar pergi. Ia selalu bersamamu. Di hatimu. Selamanya."
"Aku ingin bertemu dengannya. Dalam mimpi. Seperti dulu."
"Dia akan datang. Ketika kau sudah siap. Ketika kau sudah tenang. Ketika kau sudah ikhlas."
Sultan Hasan menangis. Batu itu berdenyut hangat. Seperti menghibur.
Pada malam ke-40, Sultan Hasan bermimpi.
Dalam mimpinya, ia berdiri di tepi telaga. Airnya jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang. Bulan purnama bersinar terang, memantul di permukaan air, menciptakan ribuan titik berkilauan.
Dan di batu hitam, Pandan Wangi duduk. Tersenyum. Cantik. Seperti dulu, saat mereka masih muda.
"Pandan!" teriak Sultan Hasan.
Ia berlari. Memeluk istrinya. Hangat. Nyata. Seperti tidak pernah pergi.
"Kau datang," bisik Pandan Wangi.
"Aku selalu datang. Setiap malam. Aku merindukanmu."
"Aku juga merindukanmu. Tapi kau tidak bisa terus begini, Sultan. Kau harus hidup. Kau harus melanjutkan perjalanan."
"Aku tidak bisa tanpa dirimu."
"Kau bisa. Kau kuat. Kau sudah melalui banyak ujian. Ini hanya ujian lain. Kau bisa melewatinya."
"Aku takut, Pandan. Aku takut sendiri."
"Kau tidak sendiri. Aku selalu bersamamu. Di sini."
Pandan Wangi menunjuk dada Sultan Hasan. Tepat di tempat batu akik merah itu berada.
"Di dalam hatimu. Selamanya."
Pandan Wangi mengecup kening Sultan Hasan.
"Selamat jalan, suamiku. Aku mencintaimu. Sampai mati. Sampai setelah mati. Selamanya."
Kemudian ia menghilang. Perlahan. Seperti kabut yang ditiup angin.
Sultan Hasan terbangun.
Ia duduk di lantai gua. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Tapi hatinya tenang. Untuk pertama kalinya setelah 40 hari, ia merasa tenang.
Ia memegang batu akik merah di dadanya. Retakannya masih ada. Tapi tidak selebar dulu. Sedikit demi sedikit, mulai menutup.
"Pusaka," bisiknya. "Aku siap keluar."
Batu itu berdenyut. Kencang. Hangat.
"Bagus. Pandu Hati menunggumu. Telaga menunggumu. Dunia menunggumu."
Sultan Hasan berdiri. Tubuhnya terasa lemas setelah 40 hari tidak makan. Tapi ia kuat. Ia bisa berjalan.
Ia keluar dari gua. Menembus air terjun. Tubuhnya basah kuyup. Dingin. Tapi ia tidak peduli.
Matahari bersinar terang. Burung-burung berkicau. Angin berembus sejuk.
Ia tersenyum.
"Pandan," bisiknya. "Aku akan hidup. Aku akan melanjutkan perjalanan. Untukmu. Untuk telaga. Untuk Pandu Hati. Untuk pusaka. Untuk diriku sendiri."
Ia berjalan pulang.
Menuju Dukuh Wangi. Menuju pondok. Menuju anaknya.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatapnya. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu berbunyi.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti sambutan untuk Sultan Hasan yang baru. Yang lebih tenang. Yang lebih ikhlas. Yang lebih siap menghadapi hidup.
Selamanya.
BAB LXXV
Pandu Hati Kembali Karena Kematian Ibunya: Pandu Hati Menyesal – Ia Melihat Ayahnya yang Sudah Tua dan Lemah
Ketika Sultan Hasan kembali dari gua setelah empat puluh hari mengasingkan diri, Pandu Hati terkejut melihat kondisi ayahnya.
Sultan Hasan tidak lagi tegap seperti dulu. Tubuhnya kurus kering, tulang-tulangnya menonjol di bawah kulit yang keriput. Rambutnya yang hitam legam kini hampir seluruhnya beruban. Wajahnya dipenuhi kerutan-kerutan dalam, seperti peta yang menggambarkan perjalanan panjang penuh lika-liku. Matanya yang dulu teduh dan bersinar, kini sayu dan redup. Ia berjalan dengan tertatih-tatih, sesekali berhenti untuk mengatur napas.
"Ayah..." bisik Pandu Hati sambil menahan tangis.
"Ayah baik-baik saja, Nak. Hanya sedikit lelah."
"Ayah tidak baik-baik saja. Ayah kurus. Ayah pucat. Ayah... Ayah seperti... seperti orang yang sudah hampir mati."
Sultan Hasan tersenyum. "Ayah tidak akan mati sekarang, Nak. Ayah masih punya banyak yang harus dilakukan. Menjaga telaga. Menjaga pusaka. Menjagamu."
"Tapi Ayah..."
"Sudahlah, Nak. Bawakan ayah air. Ayah haus."
Pandu Hati berlari mengambil air dari telaga. Sultan Hasan meminumnya dengan lahap. Air telaga itu dingin, segar, menyegarkan. Ia merasa sedikit lebih baik.
"Ibu... Ibu tidak akan pernah melihat Ayah seperti ini," kata Pandu Hati sambil menunduk. "Ibu pasti sedih."
"Ibumu melihat dari surga, Nak. Ia pasti bangga karena ayah masih kuat."
"Ayah tidak kuat, Ayah. Ayah pura-pura kuat."
"Kadang, pura-pura kuat adalah satu-satunya cara untuk menjadi benar-benar kuat."
Pandu Hati merawat ayahnya dengan penuh kasih.
Ia memasak bubur untuk ayahnya. Ia membacakan syair-syair yang dulu ditulis Sultan Hasan untuk Pandan Wangi. Ia menemani ayahnya berjalan-jalan di tepi telaga setiap sore. Ia belajar menenun dari buku-buku yang ditinggalkan ibunya, berusaha menghidupkan kembali tradisi yang sempat putus.
Tapi ia juga tidak bisa menutupi rasa bersalahnya. Setiap kali memandang ayahnya yang tua dan lemah, ia teringat pada ibunya yang meninggal sendirian, tanpa sempat ia temani. Setiap kali memandang telaga yang mulai keruh, ia teringat pada pusaka di dada ayahnya yang masih retak. Setiap kali memandang pondok yang sunyi, ia teringat pada suara tawa ibunya yang kini tak pernah terdengar lagi.
"Ayah," katanya suatu malam, saat mereka berdua duduk di tepi telaga. "Aku menyesal."
"Menyesal untuk apa, Nak?"
"Aku menyesal karena dulu aku pergi. Aku menyesal karena tidak mendengarkan nasihat Ayah dan Ibu. Aku menyesal karena tidak menghormati tradisi keluarga. Aku menyesal karena tidak menjadi penjaga hati. Aku menyesal karena... karena aku tidak ada di sini saat Ibu sakit. Aku menyesal karena tidak bisa melihat Ibu untuk terakhir kalinya."
Sultan Hasan memandang anaknya. Matanya teduh, tidak ada kemarahan, tidak ada kekecewaan.
"Nak," katanya pelan. "Kesalahan adalah bagian dari hidup. Tidak ada manusia yang sempurna. Yang penting kita mau belajar dari kesalahan. Yang penting kita mau memperbaiki diri. Yang penting kita tidak mengulangi kesalahan yang sama."
"Tapi aku sudah terlalu banyak salah, Ayah. Aku tidak tahu harus mulai dari mana untuk memperbaiki semuanya."
"Mulai dari sekarang. Mulai dari hari ini. Mulai dari hal kecil. Membantu ayah di ladang. Membersihkan telaga. Merawat pusaka. Menulis syair. Menjaga hati. Itu sudah lebih dari cukup."
Pandu Hati menangis. Sultan Hasan memeluknya.
"Ayah mencintaimu, Nak. Ibu juga mencintaimu. Kami tidak pernah berhenti mencintaimu, meskipun kau pergi. Meskipun kau berbuat salah. Meskipun kau tidak menjadi penjaga hati."
"Aku akan menjadi penjaga hati, Ayah. Aku janji. Aku akan menjaga telaga. Aku akan menjaga pusaka. Aku akan menjaga Ayah. Aku akan menjaga hati. Seperti Ayah dulu. Seperti Ibu dulu. Seperti leluhur kita."
"Ay a h senang mendengarnya, Nak. Tapi jangan karena tekanan. Jangan karena rasa bersalah. Lakukan karena cinta. Karena kau mencintai telaga ini. Karena kau mencintai pusaka ini. Karena kau mencintai Ayah dan Ibu. Karena kau mencintai dirimu sendiri."
"Aku akan melakukannya karena cinta, Ayah. Aku janji."
Hari-hari berlalu. Sultan Hasan perlahan pulih.
Tubuhnya tidak sekurus dulu. Wajahnya tidak sepucat dulu. Matanya mulai bersinar lagi. Ia bisa berjalan tanpa tertatih-tatih. Ia bisa bekerja di ladang lagi. Ia bisa menulis syair lagi.
Pandu Hati setia menemani. Ia belajar semua yang diajarkan ayahnya. Tentang telaga. Tentang pusaka. Tentang syair penjaga hati. Tentang Nini Mas Intan. Tentang Ki Ageng Jagaraga. Tentang Kiai Pati. Tentang Kyai Buyut Cakar Mase. Tentang semua yang pernah membimbing Sultan Hasan menjadi penjaga hati.
"Ayah," kata Pandu Hati suatu hari. "Aku sudah bisa membersihkan pusaka sendiri."
"Bagus. Lakukan setiap hari. Jangan pernah putus."
"Aku juga sudah hafal syair penjaga hati. Seluruhnya. Seribu baris."
"Bagus. Tapi menghafal tidak cukup. Kau harus meresapi maknanya. Kau harus mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari."
"Aku akan, Ayah."
Suatu malam, saat bulan purnama bersinar terang, Sultan Hasan dan Pandu Hati duduk di batu hitam di tepi telaga.
Air telaga jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang. Ikan-ikan kecil berenang gembira.
Sultan Hasan memandang pusaka di dadanya. Retakannya hampir menutup. Tinggal garis tipis yang masih terlihat.
"Pusaka," bisiknya. "Kau hampir sembuh."
Batu itu berdenyut. Hangat.
"Karena kau sudah ikhlas. Karena kau sudah tidak bersedih lagi. Karena kau sudah menerima kenyataan bahwa Pandan Wangi telah pergi."
"Aku belum sepenuhnya ikhlas. Tapi aku berusaha."
"Usahamu sudah cukup. Sisanya, biarkan waktu yang menyembuhkan."
Sultan Hasan tersenyum. Ia memandang anaknya.
"Pandu Hati," katanya.
"Ya, Ayah?"
"Kau akan menjadi penjaga hati yang hebat. Ayah yakin."
"Terima kasih, Ayah. Aku akan berusaha menjadi yang terbaik."
"Tidak perlu menjadi yang terbaik. Cukup menjadi yang tulus. Karena penjaga hati sejati tidak dinilai dari seberapa hebat ia. Tapi dari seberapa tulus ia menjaga."
"Tulus dalam menjaga. Ayah, aku akan mengingatnya."
Mereka berdua diam. Menikmati malam. Menikmati kebersamaan. Menikmati kehadiran satu sama lain.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah setuju. Seolah merestui. Seolah bahagia bahwa Pandu Hati akhirnya kembali. Bahwa ia mau menjadi penjaga hati. Bahwa ayah dan anak itu bersatu dalam cinta dan tradisi.
Selamanya.
BAB LXXVI
Rekonsiliasi: Sultan Hasan Memaafkan Pandu Hati Tanpa Syarat – Ia Mengajarkan Satu Bait: "Penjaga Hati Tidak Pernah Memutus Tali, Ia Hanya Merentangkannya Lebih Panjang"
Pagi itu, setelah berminggu-minggu Pandu Hati tinggal di pondok dan merawat ayahnya, Sultan Hasan memanggil anaknya ke tepi telaga. Matahari baru saja terbit. Cahayanya masih merah keemasan, hangat, tidak menyengat. Embun masih membasahi rumput-rumput di halaman. Burung-burung mulai berkicau di dahan-dahan pohon. Ayam-ayam jantan berkokok bersahutan dari kejauhan.
"Duduklah, Nak," kata Sultan Hasan sambil menepuk batu hitam di sampingnya.
Pandu Hati duduk. Ia memandang ayahnya. Wajah Sultan Hasan sudah tidak setua dan sekurus dulu, tapi tetap ada kerutan-kerutan dalam yang tidak akan pernah hilang. Matanya teduh, tidak ada kemarahan, tidak ada kekecewaan. Hanya cinta. Hanya penerimaan. Hanya ketulusan.
"Ayah," kata Pandu Hati pelan. "Aku tahu aku sudah banyak salah. Aku sudah lari dari rumah. Aku sudah mengirim surat palsu. Aku sudah membuat Ayah dan Ibu khawatir. Aku sudah... aku sudah menjadi anak durhaka."
Sultan Hasan tidak menjawab. Ia hanya memandang telaga. Airnya jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang ditarik arus yang lembut.
"Ayah, aku minta maaf. Aku mohon Ayah memaafkan aku."
Sultan Hasan menoleh. Ia memandang anaknya. Matanya berkaca-kaca. Tapi ia tersenyum.
"Nak," katanya. "Ayah sudah memaafkanmu sejak lama. Sejak kau masih di kota. Sejak kau mengirim surat palsu itu. Sejak kau menolak pulang. Ayah tidak pernah menyimpan dendam padamu."
"Tapi Ayah... aku sudah membuat Ayah sedih. Aku sudah membuat Ayah sakit. Aku sudah membuat pusaka di dada Ayah retak."
"Kesedihan itu wajar. Sakit itu wajar. Pusaka retak itu wajar. Semua karena cinta. Karena ayah mencintaimu. Karena ayah khawatir padamu. Karena ayah ingin yang terbaik untukmu."
"Tapi aku tidak memberikan yang terbaik untuk Ayah. Aku hanya memberikan kekecewaan."
"Kau tidak memberikan kekecewaan, Nak. Kau memberikan pelajaran. Pelajaran bahwa cinta tidak bisa dipaksakan. Pelajaran bahwa setiap orang punya jalannya sendiri. Pelajaran bahwa anak bukanlah milik orang tua. Anak adalah titipan Tuhan. Anak adalah amanah. Dan ayah harus ikhlas melepaskan."
Pandu Hati menangis. Sultan Hasan memeluknya.
"Ayah mencintaimu, Nak. Ayah tidak akan pernah berhenti mencintaimu. Apa pun yang kau lakukan. Di mana pun kau berada. Ayah akan selalu mencintaimu."
Setelah tangis Pandu Hati reda, Sultan Hasan berkata, "Nak, ayah ingin mengajarkanmu satu bait. Bait terakhir dari syair penjaga hati. Bait yang tidak pernah ayah tulis di daun lontar. Bait yang hanya ayah simpan di dalam hati."
"Apa itu, Ayah?"
Sultan Hasan memejamkan mata. Ia mengambil napas panjang. Kemudian ia membuka mata. Ia memandang anaknya dengan tatapan yang dalam.
"Penjaga hati tidak pernah memutus tali,
Ia hanya merentangkannya lebih panjang.
Agar yang jauh bisa tetap tersambung,
Agar yang terpisah bisa tetap berjumpa.
Karena cinta sejati tidak pernah putus,
Ia hanya berubah bentuk.
Seperti air yang menguap menjadi awan,
Lalu turun menjadi hujan,
Lalu mengalir kembali ke telaga.
Abadi.
Selamanya."
Pandu Hati terpaku. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Kata-kata itu masuk ke dalam dadanya seperti anak panah. Menembus dinding-dinding kebencian yang selama ini ia bangun. Menembus tembok-tembok kesombongan yang selama ini ia jaga. Menembus benteng-benteng kekecewaan yang selama ini ia pertahankan.
"Ayah..." bisiknya. "Aku... aku tidak pantas mendengar syair itu."
"Setiap orang pantas, Nak. Karena syair itu bukan untuk orang baik saja. Syair itu untuk semua orang. Untuk yang tersesat. Untuk yang terluka. Untuk yang kecewa. Untuk yang putus asa. Karena mereka yang paling membutuhkan pengingat bahwa cinta sejati tidak pernah mati."
"Ayah, aku akan mengingat syair itu seumur hidupku. Aku akan menjadikannya pegangan. Aku akan mengajarkannya pada anak-anakku kelak. Aku akan mewariskannya pada generasi berikutnya."
"Bagus, Nak. Itulah yang ayah harapkan."
Malam harinya, Sultan Hasan dan Pandu Hati duduk di tepi telaga. Bulan purnama bersinar terang. Air telaga jernih, memantulkan cahaya bulan, menciptakan ribuan titik berkilauan seperti berlian.
"Ayah," kata Pandu Hati. "Aku ingin bertanya sesuatu."
"Apa, Nak?"
"Apakah Ibu bahagia di surga? Melihat kita berdua di sini, bersama, berdamai?"
Sultan Hasan tersenyum. "Ibumu pasti sangat bahagia. Ia selalu menginginkan kita rukun. Ia selalu menginginkan kita saling memaafkan. Ia selalu menginginkan kita menjadi penjaga hati yang baik."
"Aku kangen Ibu, Ayah. Aku ingin ia ada di sini. Duduk di samping kita. Menenun. Tersenyum. Mendengarkan kita bercerita."
"Ayah juga kangen, Nak. Tapi kita tidak bisa memaksakan kehendak. Ibumu sudah pergi. Sekarang tugas kita melanjutkan apa yang ia mulai. Menjaga telaga. Menjaga pusaka. Menjaga hati."
"Aku akan melakukan yang terbaik, Ayah. Aku janji."
"Ayah tahu. Ayah percaya padamu."
Mereka berdua diam. Menikmati malam. Menikmati kebersamaan. Menikmati kedamaian yang sudah lama tidak mereka rasakan.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka.
Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang. Meninggalkan suara yang nyaring.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti seruan untuk memulai babak baru dalam kehidupan mereka.
Babak di mana ayah dan anak tidak lagi bertengkar.
Babak di mana mereka saling memahami.
Babak di mana mereka saling mencintai tanpa syarat.
Selamanya.
BAB LXXVII
Pandu Hati Menikah: Pandu Hati Membawa Seorang Perempuan Baik-Baik Bernama Rukmini
Dua tahun telah berlalu sejak kematian Pandan Wangi. Dua tahun yang penuh dengan pemulihan, pembelajaran, dan pendekatan antara ayah dan anak. Sultan Hasan tidak lagi setua dan sekurus dulu. Ia sudah bisa makan dengan lahap, tidur dengan nyenyak, dan bekerja di ladang seperti biasa. Rambutnya yang dulu hampir seluruhnya beruban, kini kembali menghitam di beberapa bagian. Kerutan di wajahnya tidak sedalam dulu. Matanya kembali teduh dan bersinar.
Pandu Hati juga berubah. Ia tidak lagi keras kepala seperti dulu. Ia tidak lagi menolak tradisi. Ia tidak lagi meremehkan kearifan lokal. Ia belajar menghormati ayahnya, menghormati telaga, menghormati pusaka, menghormati leluhur. Ia juga belajar menulis syair, meskipun tidak sehebat ayahnya. Ia belajar menenun, meskipun tidak setrampil ibunya. Ia belajar menjadi penjaga hati, dengan caranya sendiri.
Pada suatu sore, saat Sultan Hasan sedang duduk di beranda pondok, menikmati angin sepoi-sepoi dari telaga, Pandu Hati datang dengan wajah berseri-seri.
"Ayah," katanya. "Aku ingin membawa seseorang menemui Ayah."
"Siapa, Nak?"
"Namanya Rukmini. Gadis dari desa sebelah. Aku bertemu dengannya saat membantu panen di ladang Pak Karta. Ia baik. Ia pintar. Ia rajin. Ia juga... ia juga mau belajar menenun dan menulis syair."
Sultan Hasan tersenyum. "Kau sudah dewasa, Nak. Usiamu sudah sembilan belas tahun. Waktunya kau berpikir tentang masa depan. Tentang berkeluarga."
"Aku ingin menikah dengan Rukmini, Ayah. Tapi aku tidak berani meminangnya sebelum Ayah merestui."
"Apakah kau mencintainya, Nak?"
"Aku mencintainya, Ayah. Sejak pertama kali aku melihatnya. Ia mengingatkanku pada Ibu. Baik. Lembut. Sabar. Selalu tersenyum."
"Apakah ia mencintaimu balik?"
"Aku harap begitu, Ayah. Tapi aku belum pernah bertanya. Aku malu."
Sultan Hasan tertawa. "Kau mirip ayah dulu. Juga malu saat akan melamar ibumu. Tapi ayah tidak menyesal. Ibumu adalah wanita terbaik yang pernah ayah kenal."
"Ayah, apakah Ayah mengizinkan aku meminang Rukmini?"
"Tentu, Nak. Ayah akan membantumu. Ayah akan meminangnya untukmu. Ayah akan memberikan mahar terbaik yang ayah punya."
"Apa itu, Ayah?"
"Sepasang batu akik merah. Satu untukmu. Satu untuk Rukmini. Batu ini adalah bagian dari pusaka keluarga. Batu ini akan menjaga kalian. Batu ini akan mengingatkan kalian pada cinta sejati. Seperti dulu, ayah dan ibu juga memiliki batu yang sama."
Pandu Hati menangis. Ia memeluk ayahnya.
"Terima kasih, Ayah. Aku tidak pantas mendapatkan Ayah yang sebaik ini."
"Kau pantas, Nak. Karena kau adalah anak ayah. Dan ayah akan selalu memberikan yang terbaik untukmu."
Tiga hari kemudian, Sultan Hasan dan Pandu Hati berangkat ke desa sebelah.
Mereka naik kereta kuda sewaan. Sultan Hasan membawa sepiring kue tradisional buatannya sendiri. Pandu Hati membawa setangkai bunga melati putih dari kebun belakang pondok. Mereka berdua berpakaian rapi, meskipun sederhana. Sultan Hasan memakai kain putih dan blangkon hitam. Pandu Hati memakai kain batik peninggalan ibunya dan peci hitam.
Mereka tiba di rumah Rukmini pada siang hari. Rumah itu sederhana, terbuat dari kayu dan bambu, dengan halaman yang ditanami sayur-sayuran dan bunga-bunga. Seorang perempuan muda sedang duduk di beranda, menenun. Ia cantik. Tidak secantik Pandan Wangi. Tapi ada kelembutan di wajahnya. Ada ketulusan di matanya.
"Ibu, Bapak," katanya pada orang tuanya yang ada di dalam rumah. "Ada tamu."
Orang tua Rukmini keluar. Mereka terkejut melihat Sultan Hasan dan Pandu Hati.
"Kami dari Dukuh Wangi," kata Sultan Hasan. "Saya Sultan Hasan. Ini anak saya, Pandu Hati. Kami datang untuk... meminang putri Bapak Ibu, Rukmini."
Orang tua Rukmini terkejut. Mereka saling berpandangan.
"Kami tidak menyangka," kata bapak Rukmini. "Rukmini belum pernah bercerita tentang anak Bapak."
"Kami baru kenal beberapa bulan, Pak," kata Pandu Hati. "Saya membantu panen di ladang Pak Karta. Rukmini juga membantu. Kami sering bertemu di sana."
"Dan kau sudah berani meminangnya?" tanya ibu Rukmini.
"Saya sudah jatuh cinta padanya, Bu. Saya tidak ingin menunda-nunda. Saya takut ada orang lain yang meminangnya lebih dulu."
Rukmini tersenyum malu. Orang tuanya juga tersenyum.
"Kami tidak keberatan, Nak," kata bapak Rukmini. "Tapi kami ingin tahu, apa pekerjaanmu? Apa kau bisa menghidupi anak kami?"
"Saya petani, Pak. Saya memiliki ladang di belakang pondok. Tidak luas. Tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan kami berdua. Saya juga bisa menulis syair. Kadang saya jual ke pasar. Hasilnya lumayan."
"Dan kau, Pak Sultan Hasan?" tanya ibu Rukmini. "Apa pekerjaan Bapak?"
"Saya sudah pensiun, Bu. Saya hanya menulis syair dan menjaga telaga. Tapi saya punya tabungan cukup untuk membiayai pernikahan anak saya."
Orang tua Rukmini mengangguk.
"Baiklah," kata bapak Rukmini. "Kami terima lamaran anak Bapak. Tapi ada satu syarat."
"Apa syaratnya, Pak?"
"Anak kami harus bahagia. Jika suatu hari ia tidak bahagia, ia boleh kembali ke rumah kami. Dan kalian tidak boleh menghalanginya."
"Kami tidak akan menghalanginya, Pak. Kebahagiaan Rukmini adalah kebahagiaan kami juga."
Pernikahan Pandu Hati dan Rukmini dilangsungkan sebulan kemudian.
Tidak besar. Tidak mewah. Hanya di pondok tepi telaga. Di bawah pohon beringin tua. Disaksikan oleh tetangga-tetangga terdekat: Jaya, kakek buta dan istrinya, dukun beranak yang dulu menolong Pandan Wangi melahirkan, beberapa orang tua yang masih ingat kebaikan Pandan Wangi.
Sultan Hasan memimpin jalannya pernikahan. Ia membacakan doa-doa. Ia memakaikan mahar kepada Rukmini: sepasang batu akik merah. Satu untuk Pandu Hati, satu untuk Rukmini.
"Batu ini," kata Sultan Hasan, "adalah bagian dari pusaka keluarga. Batu ini akan menjaga kalian. Batu ini akan mengingatkan kalian pada cinta sejati. Jagalah batu ini baik-baik. Karena jika batu ini rusak, cinta kalian juga akan rusak."
Kami akan menjaganya, Pak," kata Pandu Hati dan Rukmini bersama.
Mereka berdua tersenyum.
Malam harinya, setelah semua tamu pulang, Sultan Hasan duduk di tepi telaga sendirian.
Ia memandang air yang jernih. Ia memandang bulan yang bersinar. Ia memandang batu akik merah di dadanya yang kini sudah hampir pulih. Retakannya tinggal garis tipis. Hampir tidak terlihat.
"Pandan," bisiknya. "Anak kita sudah menikah. Ia membawa perempuan yang baik. Namanya Rukmini. Ia mirip denganmu. Baik. Lembut. Sabar. Selalu tersenyum."
Ia memandang ke langit. Bintang-bintang bertaburan. Seolah berkedip-kedip.
"Kau pasti bangga, ya? Melihat anak kita tumbuh dewasa. Menikah. Memiliki keluarga. Meneruskan tradisi keluarga. Menjadi penjaga hati."
Air matanya menetes. Bukan sedih. Tapi haru. Bangga. Bahagia.
"Aku merindukanmu, Pandan. Setiap hari. Setiap malam. Tapi aku ikhlas. Karena kau sudah pergi ke tempat yang lebih baik. Dan suatu hari, kita akan bertemu lagi. Di telaga ini. Di surga. Selamanya."
Ia memegang batu akik merah di dadanya. Batu itu berdenyut. Hangat.
"Dia mendengarmu," bisik batu itu. "Dia juga merindukanmu. Tapi ia bahagia. Melihatmu kuat. Melihatmu ikhlas. Melihatmu menjadi penjaga hati yang baik."
"Terima kasih, pusaka. Karena selalu bersamaku."
"Aku akan selalu bersamamu. Sampai mati. Sampai setelah mati. Selamanya."
Sultan Hasan tersenyum. Ia berdiri. Ia berjalan pulang ke pondok.
Pandu Hati dan Rukmini sedang duduk di beranda, berbincang pelan, tertawa kecil.
"Selamat malam, anak-anak," kata Sultan Hasan.
"Selamat malam, Ayah," kata mereka bersama.
Sultan Hasan masuk ke dalam pondok. Ia merebahkan diri di tempat tidur.
Ia memejamkan mata.
Ia tersenyum.
Ia bahagia.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap pondok itu. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu berbunyi.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti sambutan untuk keluarga baru penjaga hati.
Selamanya.
BAB LXXVIII
Sultan Hasan Menjadi Kakek: Rukmini Hamil – Sultan Hasan Menangis Bahagia untuk Pertama Kalinya Setelah Kematian Pandan Wangi
Tanda-tanda kehamilan Rukmini mulai terlihat ketika musim kemarau tiba.
Ia yang biasanya bersemangat membantu Pandu Hati di ladang dan menenun di beranda, tiba-tiba malas bangun pagi. Ia mengeluh mual setiap kali mencium bau masakan. Ia sering muntah di pagi hari, kadang juga di sore hari. Pandu Hati cemas. Ia mengira istrinya sakit.
"Rukmini, apa kau tidak enak badan?" tanyanya suatu pagi, saat Rukmini berlari ke belakang pondok untuk muntah.
"Aku tidak tahu, Mas. Mungkin karena terlalu banyak makan ikan asin kemarin."
"Tapi kau juga mual kemarin. Dan lusa. Dan seminggu yang lalu."
Rukmini terdiam. Ia menghitung dalam hati. Sudah berapa lama ia tidak mendapat bulan? Dua bulan? Tiga bulan? Ia tidak ingat persis. Sejak menikah, ia tidak terlalu memperhatikan siklus tubuhnya.
"Mas," katanya pelan. "Mungkin... mungkin aku hamil."
Pandu Hati terkejut. "Hamil? Kau yakin?"
"Belum yakin. Tapi ini tanda-tandanya. Aku pernah melihat ibu-ibu di desa yang hamil. Mereka juga mual-mual di pagi hari."
Pandu Hati memeluk istrinya. "Kalau benar kau hamil, ini berkah. Anak pertama kita."
"Tapi aku takut, Mas. Aku belum pernah hamil sebelumnya. Aku tidak tahu harus berbuat apa."
"Kita tanya Ayah. Ayah pasti tahu. Ayah sudah berpengalaman."
Mereka berdua pergi menemui Sultan Hasan yang sedang duduk di tepi telaga, menulis syair.
"Ayah," kata Pandu Hati. "Rukmini... mungkin hamil."
Sultan Hasan berhenti menulis. Ia memandang menantunya. Matanya berbinar.
"Benarkah, Nak?" tanyanya pada Rukmini.
"Aku belum yakin, Ayah. Tapi tanda-tandanya... aku mual setiap pagi. Aku sering muntah. Aku juga tidak haid dua bulan ini."
Sultan Hasan tersenyum. "Itu tanda-tanda kehamilan, Nak. Aku sudah sering melihatnya dulu, saat ibumu mengandung Pandu Hati."
"Ayah, apa yang harus kami lakukan?" tanya Pandu Hati.
"Panggil dukun beranak. Biarkan ia memeriksa Rukmini. Ia lebih tahu."
Pandu Hati segera pergi ke desa sebelah memanggil dukun beranak. Dukun itu sudah sangat tua. Rambutnya putih semua. Kulitnya keriput. Tapi matanya masih tajam. Ia pernah menolong Pandan Wangi melahirkan Pandu Hati dulu. Kini, ia akan menolong menantu Pandan Wangi.
Ia memeriksa Rukmini dengan saksama. Merasakan denyut di perutnya. Mendengarkan napasnya. Mengamati wajahnya.
"Selamat, Nak," katanya pada Pandu Hati. "Istrimu memang hamil. Usianya sekitar tiga bulan. Janinnya sehat. Denyutnya kuat."
Pandu Hati menangis. Ia memeluk Rukmini.
"Kita punya anak, Min. Kita punya anak."
Rukmini juga menangis. "Aku tidak menyangka. Aku pikir aku mandul."
"Tidak ada yang mandul di dunia ini, Nak," kata dukun itu. "Yang ada hanya yang belum diberi kepercayaan oleh Tuhan. Sekarang kalian diberi kepercayaan. Jaga baik-baik janin ini. Jangan biarkan ia stres. Jangan biarkan ibunya jatuh. Jangan biarkan ibunya makan sembarangan."
"Kami akan menjaganya, Nek," kata Pandu Hati.
Sultan Hasan yang dari tadi diam, tiba-tiba menangis. Bukan isak tangis biasa. Tangis haru. Tangis bahagia. Tangis yang sudah lama tidak ia keluarkan, sejak Pandan Wangi meninggal.
"Pandan," bisiknya. "Kau dengar? Kita akan punya cucu. Anak dari anak kita. Darah daging kita. Penerus tradisi keluarga. Penjaga hati berikutnya."
Ia memandang ke langit. Seolah Pandan Wangi ada di sana, tersenyum, menangis bahagia bersamanya.
Kehamilan Rukmini berjalan lancar.
Bulan keempat, perutnya mulai membesar. Bulan kelima, ia sudah bisa merasakan gerakan janin di dalam rahimnya. Bulan keenam, janin itu sudah sangat aktif. Kadang menendang, kadang meninju, kadang berguling.
Pandu Hati sibuk merawat istrinya. Ia memasak. Ia mencuci. Ia membersihkan rumah. Ia bekerja di ladang. Kadang ia kewalahan. Tapi ia tidak pernah mengeluh. Ia bahagia. Karena ia akan menjadi ayah.
Sultan Hasan juga sibuk. Ia menulis syair tentang calon cucunya. Ia membersihkan pusaka setiap hari. Ia berdoa di tepi telaga. Ia memohon pada Tuhan, pada alam, pada Pandan Wangi, pada Nini Mas Intan, pada semua leluhur, semoga cucunya lahir selamat.
Setiap malam, sebelum tidur, Sultan Hasan meletakkan batu akik merah di dadanya di atas perut Rukmini. Batu itu berdenyut. Hangat.
"Ayah, apa yang Ayah lakukan?" tanya Pandu Hati.
"Aku memberkati calon cucuku. Dengan pusaka ini. Dengan doa. Dengan cinta."
"Apakah kakek juga melakukan hal yang sama untukku dulu?"
"Iya. Kakek juga meletakkan pusaka di perut ibumu. Dan kau lahir selamat. Sehat. Kuat. Cerdas."
"Aku tidak pernah tahu itu."
"Banyak hal yang tidak kau tahu, Nak. Tentang orang tuamu. Tentang perjuangan mereka. Tentang doa-doa mereka untukmu."
Pandu Hati menunduk. Ia merasa bersalah. Selama ini, ia mengira orang tuanya tidak peduli. Selama ini, ia mengira mereka hanya memaksakan kehendak. Padahal, mereka hanya ingin yang terbaik untuknya.
"Maafkan aku, Ayah," bisiknya. "Aku sudah menjadi anak yang durhaka."
"Sudahlah, Nak. Masa lalu biarlah berlalu. Sekarang kita fokus pada masa depan. Pada cucuku. Penerus tradisi keluarga."
Pada bulan ketujuh kehamilan Rukmini, Sultan Hasan bermimpi.
Dalam mimpinya, ia berdiri di tepi telaga. Airnya jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang. Bulan purnama bersinar terang, memantul di permukaan air, menciptakan ribuan titik berkilauan.
Di batu hitam, Pandan Wangi duduk. Tersenyum. Cantik. Seperti dulu.
"Pandan!" teriak Sultan Hasan.
Ia berlari. Memeluk istrinya. Hangat. Nyata. Seperti tidak pernah pergi.
"Aku datang untuk memberitahumu kabar gembira," kata Pandan Wangi.
"Apa itu?"
"Calon cucumu akan lahir selamat. Ia perempuan. Cantik. Cerdas. Baik hati. Ia akan menjadi penjaga hati yang hebat. Lebih hebat dari kita semua."
"Kau yakin?"
"Aku yakin. Aku bisa melihatnya dari sini."
"Boleh aku tahu namanya?"
"Kau yang akan memberinya nama. Tapi ingat, beri nama yang baik. Nama yang penuh makna. Nama yang akan menginspirasinya seumur hidup."
"Aku akan memikirkannya."
"Jangan terlalu lama. Waktu tidak menunggu."
Pandan Wangi mengecup kening Sultan Hasan.
"Selamat menjadi kakek, suamiku. Aku bangga padamu."
Kemudian ia menghilang. Perlahan. Seperti kabut yang ditiup angin.
Sultan Hasan terbangun.
Ia duduk di tempat tidur. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Tapi hatinya hangat. Bahagia.
"Pandan," bisiknya. "Terima kasih untuk kabar gembiranya. Aku akan memberikan nama terbaik untuk cucu kita."
Pada bulan kesembilan, Rukmini melahirkan.
Persalinan berlangsung lancar. Dukun beranak yang sama menolongnya. Pandu Hati setia menemani di samping istrinya, menggenggam tangannya erat-erat, menyemangatinya, mengusap keringat di dahinya.
Sultan Hasan duduk di tepi telaga. Ia memegang batu akik merah di dadanya. Berdoa. Memohon keselamatan untuk menantunya dan calon cucunya.
"Ya Allah, lindungi mereka. Berikan mereka kesehatan. Berikan mereka kebahagiaan. Aku rela apa pun terjadi. Asalkan mereka selamat."
Batu akik merah itu berdenyut. Kencang. Hangat. Seperti memberikan semangat.
Dan kemudian, suara tangis bayi memecah kesunyian malam.
"Selamat, Nak," kata dukun beranak itu. "Perempuan. Sehat. Kuat. Tidak ada cacat."
Pandu Hati menangis. Rukmini menangis. Sultan Hasan yang mendengar dari kejauhan, juga menangis.
Ia berlari ke pondok. Ia melihat cucunya. Bayi perempuan. Merah. Keriput. Menangis keras. Tapi sehat. Kuat. Cantik.
"Cucuku," bisik Sultan Hasan. "Cucuku."
Ia menggendong bayi itu dengan hati-hati. Bayi itu berhenti menangis. Matanya terbuka. Hitam pekat. Menatap Sultan Hasan.
"Kau mirip nenekmu," bisik Sultan Hasan. "Cantik. Lembut. Matamu teduh."
"Sudah punya nama, Ayah?" tanya Pandu Hati.
"Sudah. Namanya Hj. Fatimah Zahra. Panggil saja Zahra."
"Hj. Fatimah Zahra. Nama yang indah."
"Ia akan menjadi penjaga hati yang hebat. Seperti neneknya. Seperti ayahnya. Seperti kakeknya."
Mereka semua tersenyum.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap pondok itu. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang. Meninggalkan suara yang nyaring.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti sambutan untuk penjaga hati baru.
Selamanya.
BAB LXXIX
Lahirnya Cucu Perempuan: Seorang Bayi Perempuan Lahir dengan Tangisan yang Persis seperti Tangisan Sultan Hasan Dulu
Tujuh hari telah berlalu sejak kelahiran Zahra. Bayi itu tumbuh sehat. Berat badannya bertambah. Tangisnya keras. Senyumnya menggemaskan. Rukmini sibuk menyusui dan merawatnya. Pandu Hati sibuk membantu istrinya. Sultan Hasan sibuk menulis syair tentang cucunya.
Tapi ada satu hal yang mengganggu pikiran Sultan Hasan. Tangisan Zahra. Ia sudah mendengar tangisan banyak bayi dalam hidupnya. Tangisan Pandu Hati dulu. Tangisan anak-anak tetangga. Tangisan bayi-bayi yang lahir di desanya. Tapi tangisan Zahra berbeda. Tangisannya persis seperti tangisannya dulu, saat ia lahir di malam gerhana. Keras. Nyaring. Dan seolah-olah... sudah tua.
"Pandu," kata Sultan Hasan suatu sore, saat mereka berdua duduk di beranda pondok. Rukmini sedang tertidur di dalam, bersama Zahra di sampingnya.
"Ya, Ayah?"
"Apakah kau tidak merasakan keanehan pada tangisan Zahra?"
"Keanehan apa, Ayah?"
"Tangisannya. Persis seperti tangisanku dulu. Saat aku lahir di malam gerhana. Nini Mas Intan bilang, aku menangis bukan karena takut. Tapi karena aku sudah tahu betapa berat tugasku kelak."
"Kau pikir Zahra juga begitu, Ayah?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku bisa merasakannya. Ada sesuatu yang istimewa pada dirinya."
Pandu Hati terdiam. Ia memandang ke dalam pondok, ke arah istrinya dan bayinya.
"Ayah, apa kau tidak takut? Jika Zahra memang terpilih menjadi penjaga hati, ia akan mengalami penderitaan seperti Ayah dulu. Dikucilkan. Dibenci. Dilempari kerikil. Hampir dijadikan sesaji."
"Tidak, Nak. Zaman sudah berubah. Orang-orang sudah lebih mengerti. Ia tidak akan mengalami penderitaan seperti aku dulu. Tapi ia akan menghadapi tantangan yang berbeda. Tantangan zaman. Tantangan teknologi. Tantangan kesibukan. Tantangan melupakan hati."
"Apa yang harus kita lakukan, Ayah?"
"Kita harus mendidiknya dengan baik. Mengajarinya tentang cinta. Tentang kasih sayang. Tentang empati. Tentang menjadi manusia yang baik. Selebihnya, biarkan ia memilih jalannya sendiri."
Pandu Hati mengangguk. "Aku akan berusaha menjadi ayah yang baik, Ayah. Seperti Ayah."
"Kau sudah menjadi ayah yang baik, Nak. Aku bangga padamu."
Malam harinya, Sultan Hasan tidak bisa tidur.
Ia berbaring di tempat tidurnya, memandang langit-langit pondok yang gelap. Di luar, burung hantu berbunyi. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Seperti memanggil.
Ia bangkit. Ia berjalan ke tepi telaga. Bulan purnama bersinar terang. Air telaga jernih, memantulkan cahaya bulan, menciptakan ribuan titik berkilauan.
Ia duduk di batu hitam. Batu yang sama tempat ia duduk bersama Pandan Wangi dulu. Batu yang sama tempat ia menunggu Pandan Wangi setiap malam. Batu yang sama tempat ia menangis ketika Pandan Wangi tidak datang.
Ia memegang batu akik merah di dadanya. Batu itu berdenyut. Hangat. Retakannya hampir tidak terlihat lagi. Hampir pulih.
"Pusaka," bisiknya. "Apakah kau juga merasakan keanehan pada tangisan Zahra?"
Batu itu berdenyut lebih kencang.
"Aku merasakannya. Tangisannya persis seperti tangisanmu dulu. Penuh dengan kesadaran. Penuh dengan pengertian. Penuh dengan beban."
"Apakah itu berarti ia terpilih menjadi penjaga hati?"
"Ia terpilih. Seperti kau. Seperti Pandan Wangi. Seperti Nini Mas Intan. Seperti Ki Ageng Jagaraga. Seperti Kiai Pati. Seperti semua penjaga hati sebelum kalian."
"Aku tidak tahu harus merasa bangga atau khawatir."
"Kau boleh merasa keduanya. Bangga karena keturunanmu akan melanjutkan tradisi. Khawatir karena ia akan menghadapi tantangan yang berat. Tapi ingat, ia tidak sendirian. Ia punya kau. Ia punya Pandu Hati. Ia punya Rukmini. Ia punya telaga. Ia punya pusaka. Ia punya leluhur yang akan selalu menjaganya dari alam lain."
"Terima kasih, pusaka. Kau selalu bisa menenangkanku."
"Itu tugasku sebagai pusaka. Mengingatkan. Menenangkan. Menjaga."
Sultan Hasan tersenyum.
Keesokan paginya, Sultan Hasan menggendong Zahra.
Ia membawa cucunya ke tepi telaga. Rukmini dan Pandu Hati mengikuti dari belakang, cemas.
"Ayah, apa yang Ayah lakukan?" tanya Pandu Hati.
"Aku akan mengenalkan Zahra pada telaga. Pada pusaka. Pada leluhurnya."
"Ayah, ia masih bayi. Ia belum mengerti apa-apa."
"Ia akan mengerti. Mungkin tidak sekarang. Tapi suatu hari nanti."
Sultan Hasan mendekatkan Zahra ke air telaga. Bayi itu membuka matanya. Hitam pekat. Menatap air yang jernih. Menatap dasarnya yang terlihat. Menatap tanaman air yang bergoyang-goyang.
Ia tersenyum. Tanpa gigi. Tapi senyum yang membuat hati Sultan Hasan meleleh.
"Zahra," bisik Sultan Hasan. "Ini telaga. Telaga tempat kakek dulu bermain. Tempat kakek dulu bertemu nenekmu. Tempat kakek dulu belajar menjadi penjaga hati. Kelak, jika kakek sudah tiada, kakek titipkan telaga ini padamu. Jagalah ia. Karena ia adalah sumber kehidupan. Sumber cinta. Sumber kebijaksanaan."
Zahra menangis. Tangis yang keras. Nyaring. Seperti tangisan Sultan Hasan dulu. Bukan tangisan biasa. Tangisan yang sudah tua. Tangisan yang tahu.
Rukmini menangis mendengarnya. Pandu Hati juga.
"Ayah," kata Pandu Hati. "Apa yang terjadi?"
"Sama seperti yang terjadi padaku dulu," kata Sultan Hasan. "Zahra menangis bukan karena takut. Tapi karena ia sudah tahu betapa berat tugasnya kelak. Tugas menjadi penjaga hati."
Setelah menenangkan Zahra dan memberikannya kembali pada Rukmini, Sultan Hasan duduk di batu hitam. Pandu Hati duduk di sampingnya.
"Ayah," kata Pandu Hati. "Aku takut."
"Takut apa, Nak?"
"Aku takut Zahra akan mengalami penderitaan seperti Ayah dulu. Aku takut ia akan dikucilkan. Dibenci. Dilempari kerikil. Hampir dibunuh."
"Kau tidak perlu takut, Nak. Zahra tidak akan mengalami penderitaan seperti itu. Zaman sudah berubah. Orang-orang sudah lebih mengerti. Tapi ia akan menghadapi tantangan yang berbeda. Tantangan zaman. Tantangan teknologi. Tantangan kesibukan. Tantangan melupakan hati."
"Bisakah kita melindunginya?"
"Kita bisa. Tapi tidak selamanya. Suatu hari, kita akan tua. Suatu hari, kita akan mati. Zahra harus bisa melindungi dirinya sendiri."
"Bagaimana caranya?"
"Kita didik ia dengan baik. Ajari ia tentang cinta. Tentang kasih sayang. Tentang empati. Tentang menjadi manusia yang baik. Ajari ia tentang telaga. Tentang pusaka. Tentang syair penjaga hati. Ajari ia tentang leluhur. Tentang tradisi. Tentang menjadi penjaga hati."
"Aku akan melakukan yang terbaik, Ayah."
"Ayah tahu. Ayah percaya padamu."
Mereka berdua diam. Menikmati pagi. Menikmati kebersamaan. Menikmati kehadiran Zahra yang kini tertidur damai di pangkuan Rukmini.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka.
Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu berbunyi.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti sambutan untuk penjaga hati baru.
Seorang bayi perempuan yang lahir dengan tangisan yang persis seperti tangisan Sultan Hasan dulu. Tangisan yang sudah tua. Tangisan yang tahu betapa berat tugasnya kelak.
Tapi ia tidak sendirian. Ia punya keluarga. Ia punya telaga. Ia punya pusaka. Ia punya leluhur yang akan selalu menjaganya.
Selamanya.
BAB LXXX
Nama untuk Cucu: Sultan Hasan Memberi Nama Hj. Fatimah Zahra – Panggilan Sehari-hari: Zahra
Tiga puluh lima hari telah berlalu sejak kelahiran Zahra. Bayi itu kini sudah tidak sekecil dulu. Pipinya yang tadinya keriput kini mulai berisi. Kulitnya yang tadinya kemerahan kini mulai memutih. Rambutnya yang tadinya hanya sedikit kini mulai tumbuh tebal dan hitam legam, seperti rambut Pandan Wangi dulu. Matanya yang hitam pekat semakin jernih, semakin teduh, semakin dalam.
Sultan Hasan sudah memikirkan nama untuk cucunya sejak lama. Sejak Rukmini masih hamil. Sejak ia bermimpi bertemu Pandan Wangi di telaga. Sejak ia merasakan bahwa cucunya akan menjadi penjaga hati yang hebat.
Tapi ia tidak terburu-buru. Nama adalah doa. Nama adalah harapan. Nama adalah identitas yang akan melekat seumur hidup. Ia tidak mau salah memberi nama.
Ia merenung. Ia berdoa. Ia memohon petunjuk pada Tuhan, pada alam, pada Pandan Wangi, pada Nini Mas Intan, pada semua leluhur.
Dan pada malam ke-35, saat bulan purnama bersinar terang, Sultan Hasan mendapat jawaban.
Ia sedang duduk di tepi telaga, sendirian. Pandu Hati dan Rukmini sudah tidur di dalam pondok, bersama Zahra di samping mereka. Sultan Hasan memandang air telaga yang jernih, memandang bulan yang bersinar, memandang bintang-bintang yang bertaburan.
Ia memegang batu akik merah di dadanya. Batu itu berdenyut. Hangat.
"Kau sudah menemukan namanya?" bisik batu itu.
"Belum. Aku masih bingung."
"Dengar. Ada bisikan dari alam. Dari telaga. Dari Pandan Wangi."
Sultan Hasan memejamkan mata. Ia mendengarkan.
Angin berembus pelan. Membawa wangi pandan. Juga bisikan. Samar. Tapi jelas.
"Fatimah Zahra..."
Sultan Hasan membuka mata. "Fatimah Zahra?"
"Fatimah Zahra. Nama yang indah. Fatimah berarti perempuan yang disapih. Zahra berarti bercahaya. Fatimah Zahra. Perempuan yang disapih dan bercahaya."
"Apakah itu nama yang baik untuk penjaga hati?"
"Nama yang sangat baik. Fatimah Zahra adalah putri kesayangan Nabi Muhammad. Ia dikenal sebagai pemimpin wanita di surga. Ia lembut. Ia penyayang. Ia sabar. Ia juga berani. Ia membela kebenaran. Ia tidak takut pada siapa pun kecuali Tuhan. Itulah teladan yang baik untuk cucumu."
"Terima kasih, pusaka. Aku akan memberinya nama itu."
Keesokan paginya, Sultan Hasan memanggil seluruh keluarga ke tepi telaga.
Pandu Hati dan Rukmini datang. Mereka duduk di tikar anyaman pandan. Zahra digendong Rukmini. Bayi itu terjaga. Matanya hitam pekat terbuka lebar, memandang telaga, memandang bulan yang masih tersisa di ufuk barat, memandang burung-burung yang mulai berkicau.
"Ayah," kata Pandu Hati. "Ada apa? Mengapa Ayah memanggil kami sepagi ini?"
"Aku sudah menemukan nama untuk cucuku," kata Sultan Hasan.
"Sudah, Ayah? Apa namanya?"
"Nama lengkapnya Hj. Fatimah Zahra. Panggilan sehari-hari: Zahra."
"Hj. Fatimah Zahra," ulang Rukmini. "Nama yang indah. Apa artinya, Ayah?"
"Fatimah berarti perempuan yang disapih. Zahra berarti bercahaya. Jadi Hj. Fatimah Zahra adalah perempuan yang disapih dan bercahaya. Semoga ia menjadi wanita yang mandiri, tidak bergantung pada siapa pun, dan selalu menjadi cahaya bagi orang-orang di sekitarnya."
"Amin," kata Pandu Hati dan Rukmini bersama.
"Ada lagi," kata Sultan Hasan. "Fatimah Zahra juga nama putri kesayangan Nabi Muhammad. Ia dikenal sebagai pemimpin wanita di surga. Ia lembut. Ia penyayang. Ia sabar. Ia juga berani. Ia membela kebenaran. Ia tidak takut pada siapa pun kecuali Tuhan. Semoga cucuku meneladani sifat-sifat mulia itu."
"Amin," ulang mereka.
Sultan Hasan menggendong Zahra. Bayi itu tersenyum. Sultan Hasan tersenyum balik.
"Zahra," bisiknya. "Kau akan menjadi penjaga hati yang hebat. Kakek yakin. Tapi ingat, kau tidak harus menjadi sempurna. Kau hanya harus menjadi tulus. Tulus dalam menjaga. Tulus dalam mencintai. Tulus dalam berbagi."
Zahra menangis. Tangis yang keras. Nyaring. Seperti tangisan Sultan Hasan dulu. Bukan tangisan biasa. Tangisan yang sudah tua. Tangisan yang tahu.
Rukmini menangis mendengarnya. Pandu Hati juga.
"Ayah," kata Pandu Hati. "Apa yang terjadi?"
"Sama seperti yang terjadi padaku dulu," kata Sultan Hasan. "Zahra menangis bukan karena takut. Tapi karena ia sudah tahu betapa berat tugasnya kelak. Tugas menjadi penjaga hati."
"Ayah, aku takut."
"Kau tidak perlu takut, Nak. Zahra tidak sendirian. Ia punya kau. Ia punya Rukmini. Ia punya kakek. Ia punya telaga. Ia punya pusaka. Ia punya leluhur yang akan selalu menjaganya dari alam lain."
Pandu Hati mengangguk. Ia memeluk Rukmini.
Mereka berdoa bersama. Memohon keselamatan untuk Zahra. Memohon bimbingan untuk Zahra. Memohon kekuatan untuk Zahra.
Setelah doa selesai, Sultan Hasan membawa Zahra ke tepi telaga.
Ia mendekatkan cucunya ke air. Air telaga jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang.
"Zahra," bisiknya. "Ini telaga. Telaga tempat kakek dulu bermain. Tempat kakek dulu bertemu nenekmu. Tempat kakek dulu belajar menjadi penjaga hati. Kelak, jika kakek sudah tiada, kakek titipkan telaga ini padamu. Jagalah ia. Karena ia adalah sumber kehidupan. Sumber cinta. Sumber kebijaksanaan."
Ia mencelupkan jari telunjuknya ke air telaga. Lalu ia menyentuhkan jari itu ke kening Zahra, ke pipinya, ke bibirnya, ke dadanya.
"Dengan air telaga ini, kusucikan hatimu. Dengan izin Tuhan, dengan izin alam, dengan izin leluhur. Semoga kau menjadi penjaga hati yang baik. Seperti kakek. Seperti nenekmu. Seperti Nini Mas Intan. Seperti semua penjaga hati sebelum kalian."
Zahra tidak menangis. Ia hanya tersenyum. Senyum tanpa gigi. Tapi senyum yang membuat hati Sultan Hasan meleleh.
"Terima kasih, Tuhan," bisik Sultan Hasan. "Terima kasih telah memberiku cucu yang cantik, yang cerdas, yang baik hati. Aku akan menjaganya. Aku akan membimbingnya. Aku akan mencintainya. Sampai mati. Sampai setelah mati. Selamanya."
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka.
Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang. Meninggalkan suara yang nyaring.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti sambutan untuk penjaga hati baru.
Seorang bayi perempuan bernama Hj. Fatimah Zahra.
Panggilan sehari-hari: Zahra.
Yang akan tumbuh menjadi wanita yang disapih dan bercahaya.
Yang akan menjadi penerus tradisi keluarga.
Yang akan menjaga telaga.
Yang akan menjaga pusaka.
Yang akan menjaga hati.
Selamanya.
Bersambung ke Jilid 3: Lingkaran Yang Tertutup



Slamet Riyadi
29 Juli 2025 03:27:50
Semoga kita bisa kerjasama bu. ...