Desa Dabulon
Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan
Roman Epik Penjaga Jilid 1: Akar Bawah Tanah

ROMAN EPIK
PENJAGA
"Trilogi Cinta, Pusaka, dan Pengorbanan
JILID 1: AKAR BAWAH TANAH
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Roman ini adalah karya fiksi. Seluruh nama, tokoh, tempat, dan peristiwa merupakan hasil imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif. Kesamaan dengan nama, peristiwa, atau tokoh yang masih hidup atau telah meninggal adalah kebetulan belaka dan tidak disengaja.
Tradisi "penjaga hati" yang digambarkan dalam roman ini bukanlah representasi dari satu suku, agama, atau kepercayaan tertentu di Nusantara maupun di belahan dunia mana pun. Ia adalah metafora sastra tentang bagaimana manusia memelihara ingatan, cinta, dan moral di tengah arus zaman yang terus berubah.
Beberapa bab dalam roman ini mengandung penggambaran konflik batin, kematian, kekerasan verbal dan fisik, serta pilihan moral yang berat. Pembaca bijak direkomendasikan untuk menyertainya dengan ketenangan hati dan kedewasaan berpikir.
Tidak ada tokoh yang sepenuhnya putih atau hitam. Sebagaimana hati manusia, semua tokoh dalam roman ini memiliki cahaya dan luka masing-masing.
Penulis tidak bertanggung jawab atas interpretasi sepihak yang keluar dari maksud sastra karya ini.
PERSEMBAHAN
Untuk Nenek yang mengajarkan syair pertama di dapur yang gelap.
Untuk air sungai yang tidak pernah berhenti mengalir, meski tidak ada yang mendengarnya.
Dan untuk hati yang masih mau dijaga, di zaman yang lebih suka membuangnya.
EPIGRAF
"Hati yang tidak dijaga akan diambil angin.
Hati yang dijaga terlalu keras akan retak oleh tangannya sendiri."
— Syair kuno dari gua pertapaan di hulu Sungai Cendana,
ditemukan kembali oleh seorang pengembara anonim pada 1873.
"Dan di antara mereka ada yang menjaga hati dengan diam,
sebab diam adalah bahasa yang tidak bisa dipalsukan."
— Penggalan bait Kitab Tujuh Penjaga, naskah lontar yang setengah terbakar.
PROLOG
Tidak ada yang tahu pasti kapan syair itu pertama kali diucapkan.
Yang tersisa hanyalah cerita lisan yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya, seperti api yang dipindahkan dari obor ke obor, kadang membesar, kadang hampir padam, tetapi tidak pernah benar-benar mati.
Cerita itu mengatakan bahwa pada suatu malam, di sebuah gua sempit di hulu Sungai Cendana, seorang pertapa tua sedang sekarat. Tubuhnya sudah tidak bisa digerakkan kecuali jari telunjuk tangan kanannya yang terus menulis di tanah. Tidak ada yang tahu aksara apa itu. Tidak ada yang bisa membacanya.
Tetapi sebelum napasnya yang terakhir keluar dari dadanya yang keropos, ia mengucapkan sepatah kalimat dengan suara yang begitu pelan hingga hanya dinding gua dan kelelawar yang menggantung di langit-langit yang mendengarnya.
"Hati yang tidak dijaga akan diambil angin."
Kemudian matanya terpejam. Dan untuk beberapa saat, gua itu menjadi sunyi yang begitu dalam hingga seolah-oleh waktu sendiri berhenti berdetak.
Lalu, tidak jauh dari mulut gua, seekor burung hantu berbunyi. Satu kali. Pendek. Seperti sebuah tanda.
Pertapa itu tidak pernah disebutkan namanya dalam cerita-cerita selanjutnya. Tetapi kalimat pertamanya terus hidup. Ia beranak-pinak. Ia bermetamorfosis.
Lambat laun, kalimat itu memiliki pasangan.
"Hati yang dijaga terlalu keras akan retak oleh tangannya sendiri."
Siapa yang menambahkan? Tidak ada yang tahu. Mungkin seorang nelayan yang kehilangan anaknya di laut. Mungkin seorang putri yang dikurung di menara. Mungkin seorang ibu yang melihat suaminya tewas dalam perang saudara.
Yang jelas, syair itu menjadi utuh. Dua baris. Seimbang. Seperti napas yang masuk dan keluar. Seperti cinta yang datang dan pergi.
Lalu syair itu mulai berkelana.
Dari gua ke desa. Dari desa ke dapur. Dari dapur ke pabrik gula. Dari pabrik gula ke sekolah-sekolah Belanda. Dari sekolah-sekolah itu ke toko-toko buku kecil di pinggir pasar. Dan dari toko-toko buku itu, suatu hari nanti, ke tangan seorang pemuda yang duduk di emperan toko sambil menunggu hujan reda.
Tetapi itu cerita lain. Cerita yang belum tiba waktunya.
Bagian Pertama: Akar di Bawah Tanah
Hati nyang tidak dijaga akan diambil angin
Pada suatu masa, di sebuah desa kecil di lereng gunung yang tidak pernah disebut dalam peta mana pun, hiduplah seorang perempuan tua yang biasa dipanggil Nini Mas Intan.
Ia bukan kepala desa. Ia bukan saudagar kaya. Ia bukan bangsawan. Tetapi setiap kali ada masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh kepala desa, orang-orang akan berbisik, "Coba tanyakan pada Nini Mas Intan."
Rambutnya sudah putih semua. Kulitnya keriput seperti daun yang digulung matahari. Matanya sudah buram karena usia. Tetapi orang-orang percaya bahwa ia bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa. Mereka menyebutnya mata hati.
Nini Mas Intan tidak pernah membantah. Ia juga tidak pernah membenarkan. Yang ia lakukan hanyalah duduk di kursi bambunya di bawah pohon asam tua, menghisap rokok daun nipah yang dilintingnya sendiri, dan mendengarkan. Sesekali ia mengangguk. Sesekali ia menggeleng. Sesekali ia tertawa kecil dengan suara yang serak seperti kerikil digesekkan ke tanah.
Dan setelah cukup mendengar, ia akan berkata satu atau dua kalimat. Bukan nasihat. Bukan juga ramalan. Hanya semacam pengingat yang anehnya selalu tepat.
Kepala desa yang hendak memulai perang kecil dengan desa tetangga, setelah mendengar kata-kata Nini Mas Intan, pulang dengan wajah muram dan membatalkan perangnya.
Seorang janda muda yang hendak bunuh diri karena ditinggal mati suaminya, setelah duduk di samping Nini Mas Intan selama sejam, pulang dengan senyum yang aneh di bibirnya. Ia tidak lebih bahagia, kata orang-orang. Tetapi ia tidak lagi ingin mati.
Seorang saudagar yang akan menghabiskan seluruh hartanya untuk judi, setelah bertemu Nini Mas Intan di jalan setapak dekat sungai, tiba-tiba berbalik arah dan membagikan berasnya kepada fakir miskin.
Tidak ada yang tahu bagaimana caranya. Dan Nini Mas Intan sendiri tidak pernah menjelaskan.
Tetapi pada suatu malam, menjelang tidur, salah seorang cucunya – yang masih kecil dan lugu – bertanya, "Nek, apa sih rahasianya?"
Nini Mas Intan terdiam lama. Lampu minyak di samping tempat tidurnya berkedip-kedip ditiup angin malam yang masuk melalui celah-celah dinding bambu.
"Rahasianya, Nak," kata Nini Mas Intan akhirnya dengan suara yang sangat lembut, "aku hanya mengingatkan mereka pada hati mereka sendiri. Sebab di dunia yang ramai ini, manusia paling sering lupa pada tempat tinggalnya yang paling pertama."
Dan cucu itu, yang belum mengerti arti dari kata-kata itu, hanya mengangguk-angguk lalu tertidur.
Nini Mas Intan membelai rambut cucunya. Matanya yang buram menatap kosong ke arah jendela. Di luar, burung hantu berbunyi. Satu kali. Pendek.
Perempuan tua itu tersenyum.
Ia tahu mautnya sudah dekat. Tetapi ia juga tahu sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak diceritakannya kepada siapa pun.
Bahwa tidak lama setelah ia mati, seorang anak laki-laki akan lahir di desa itu. Anak itu akan menangis terlalu keras. Dan semua orang akan mengira ia menangis karena takut.
Tetapi Nini Mas Intan tahu, di alam yang tidak lagi bisa dijangkau oleh tubuhnya, bahwa anak itu menangis karena ia sudah tahu betapa berat tugasnya kelak.
Menjaga hati tidak pernah mudah. Terutama hati yang sudah lama terluka.
Tetapi begitu ada satu orang yang bersedia menjaga, maka ia tidak benar-benar sendirian. Sebab di suatu tempat – mungkin di gua, mungkin di telaga, mungkin di dalam pusaka yang sudah berkarat – akan ada hati lain yang merespon.
Seperti gema. Seperti doa yang tidak putus-putus.
Itulah yang akan diceritakan roman ini.
Di ujung prolog ini, sebelum kita benar-benar masuk ke dalam babak pertama dari seratus bab yang panjang dan berliku, izinkan penulis menyampaikan satu hal.
Roman ini tidak ditulis untuk dibaca cepat.
Ia tidak memiliki kejutan di setiap sepuluh halaman. Ia tidak memiliki tikungan tajam yang membuat jantung berdebar setiap saat. Ia tidak berusaha menjadi sesuatu yang tidak pernah ia janjikan.
Roman ini ditulis seperti orang menanam padi. Perlahan. Dengan kesabaran yang hampir membosankan. Kadang tergenang air. Kadang kekeringan. Kadang diserang hama. Tetapi jika ia tumbuh, ia akan memberi makan banyak orang.
Demikian juga dengan cerita tentang Sultan Hasan, Putri Pandan Wangi, pusaka akik merah, dan cucu yang kelak bernama Zahra.
Jika pembaca bersabar, roman ini akan memberi sesuatu yang tidak bisa diberi oleh cerita-cerita yang terburu-buru. Ia akan memberi denyut.
Sebab pada akhirnya, menjaga hati adalah soal waktu. Dan waktu, seperti air sungai, tidak bisa dipaksa mengalir lebih cepat.
Mari kita mulai.
Dukuh Wangi, saat musim hujan belum tiba.
Seekor burung hantu terbang melintasi telaga larangan.
Dan di dalam rahim seorang perempuan, seorang anak mulai mengeja namanya sendiri sebelum bibirnya sempat terbentuk.
BAB I
Kelahiran di Malam Gerhana
Gerhana itu tidak datang dengan peringatan.
Tentu para ahli di kerajaan sudah menghitungnya berbulan-bulan sebelumnya. Tentu para petani yang mengamati langit setiap malam sudah mencium keanehan sejak matahari terbenam. Tetapi bagi Dukuh Wangi, desa kecil yang tidak memiliki ahli perbintangan dan yang petaninya terlalu sibuk menggemburkan tanah untuk sekadar menengadah ke langit, gerhana itu datang seperti tamu tak diundang yang tiba-tiba mengetuk pintu saat semua orang sedang lelap.
Awalnya hanya angin.
Bukan angin biasa yang biasa mendorong dedaunan kelapa itu dengan malas. Angin ini dingin. Bukan dingin yang biasa turun dari gunung saat malam mulai menjelang. Dingin ini menusuk hingga ke celah-celah tulang, hingga kakek-kakek yang biasa tidur di beranda membangunkan istri mereka dan bertanya, "Ada apa?"
Kemudian daun-daun mulai berbicara dengan bahasa yang tidak bisa dimengerti siapa pun. Mereka berbisik. Lalu berbisik lebih keras. Lalu berteriak. Dan ketika semua pohon di Dukuh Wangi berteriak bersamaan, suaranya seperti ombak yang akan menghancurkan dermaga.
Anjing-anjing desa mulai melolong. Satu per satu, kemudian serempak. Suara mereka aneh. Bukan lolongan biasa karena melihat bulan purnama atau karena mencium bau celeng hutan. Lolongan ini seperti ratapan. Seperti ada sesuatu yang akan mati dan mereka sudah menciumnya lebih dulu.
Kemudian cahaya mulai pudar.
Bulan yang sedetik tadi bersinar penuh dan sombong di langit seperti koin perak raksasa, mulai kehilangan pinggirannya. Sedikit demi sedikit. Perlahan. Seperti seseorang yang tenggelam dalam rawa dan hanya tangannya yang masih terlihat sebelum akhirnya lenyap sama sekali.
Seorang perempuan tua di ujung desa yang sedang menjemur garam berteriak, "Bulan dimakan!"
Belum genap teriakannya menggema, seluruh desa sudah bangun. Anak-anak menangis. Ibu-ibu menarik mereka ke dalam rumah dan menutup pintu dengan daun kelapa. Ayah-ayah berdiri di ambang pintu dengan parang di tangan, tidak tahu akan melawan apa karena musuh mereka adalah langit.
Dan di tengah kekacauan itu, di sebuah gubuk kecil yang atapnya sudah bolong di tiga tempat, seorang perempuan muda sedang berbaring di atas tikar anyaman pandan yang sudah usang. Perutnya besar. Sangat besar. Besar seperti perut yang berisi bukan satu, tetapi dua kehidupan sekaligus meski hanya satu yang akan lahir.
Namanya Dewi Rengganis.
Ia berusia dua puluh tiga tahun saat itu. Rambutnya hitam dan panjang hingga menyentuh pinggang, meski tidak pernah disisir dengan minyak kelapa seperti perempuan-perempuan lain di desa. Kulitnya sawo matang. Matanya teduh, bahkan saat sedang gelisah sekalipun. Dan di sudut bibir kirinya ada tahi lalat kecil yang oleh ibunya dulu dikatakan sebagai tanda bahwa ia akan menikah dengan lelaki yang datang dari jauh.
Itu benar. Suaminya, Hasan, seorang perantau yang tidak ada yang tahu asal-usulnya, datang ke Dukuh Wangi sepuluh tahun lalu dengan hanya membawa sebuah bungkusan kain dan sebilah keris pendek. Ia tidak banyak bicara. Ia tidak pernah bercerita tentang keluarganya. Yang ia lakukan hanyalah bekerja. Membuka ladang. Memancing di sungai. Kadang-kadang membantu tetangga memperbaiki rumah tanpa dibayar.
Orang-orang menerimanya karena ia baik. Dan ketika ia meminang Dewi Rengganis, tidak ada yang menolak meski tidak ada yang benar-benar mengenalnya.
Tetapi sekarang Hasan sedang tidak ada di rumah. Sejak dua minggu lalu, ia pergi ke hulu sungai untuk mencari kayu jati yang diminta kepala desa untuk perbaikan balai pertemuan. Seharusnya ia sudah pulang tiga hari yang lalu. Namun tidak ada kabar.
Dan malam ini, dengan perut yang mulai berkontraksi sejak sore, dengan gerhana yang tengah memangsa bulan, dan dengan seluruh desa yang histeris di luar, Dewi Rengganis berbaring sendirian di gubuknya yang gelap.
Tikarnya sudah basah.
Bukan oleh air.
"Ea... Ea... Ea..."
Suara itu terdengar dari luar. Bukan dari arah desa, tetapi dari arah hutan di belakang gubuk. Sebuah suara tua. Perempuan. Serak seperti gesekan daun kering.
Dewi Rengganis mencoba bangkit, tetapi rasa sakit yang menjalar dari perutnya ke tulang punggungnya membuatnya jatuh kembali ke tikar. Keringat dingin membasahi dahinya. Bibirnya gemetar.
"Ea... aku tahu kau sendirian."
Sosok itu muncul dari balik dinding bambu yang reyot. Seorang perempuan tua. Sangat tua. Lebih tua dari siapa pun yang pernah dilihat Dewi Rengganis. Rambutnya putih semua, tidak sehelai pun yang hitam. Kulitnya keriput seperti kerupuk yang digoreng terlalu lama. Matanya buram seperti air comberan. Tetapi ia berjalan tanpa tongkat. Tegap. Seperti kematian yang tidak takut pada siapa pun.
"Jangan takut," kata perempuan tua itu. "Aku Nini Mas Intan."
Dewi Rengganis belum pernah mendengar nama itu. Meski di seluruh desa, nama itu adalah nama yang membuat kakek-kakek menunduk dan kepala desa bicara dengan suara setengah berbisik.
"Aku... aku akan melahirkan," kata Dewi Rengganis dengan napas tersengal.
"Aku tahu," kata Nini Mas Intan. "Itu sebabnya aku datang."
Perempuan tua itu duduk di samping tikar dengan gerakan yang lambat tetapi pasti. Tangannya yang keriput menyentuh perut Dewi Rengganis. Telapak tangannya dingin. Lebih dingin dari angin gerhana tadi. Tetapi anehnya, sentuhan itu justru menenangkan.
"Kau sendirian," kata Nini Mas Intan. Bukan pertanyaan. Pernyataan.
"Suamiku..."
"Belum pulang. Aku tahu. Dan dia tidak akan pulang malam ini. Ada sesuatu di hulu yang menahannya. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata."
Dewi Rengganis ingin bertanya. Ingin tahu apa yang menahan suaminya. Ingin tahu apakah Hasan baik-baik saja. Tetapi kontraksi lain datang, lebih kuat dari sebelumnya, dan ia hanya bisa menjerit pelan sambil menggigit ujung kain sarungnya.
Nini Mas Intan tidak terburu-buru. Ia mengambil air dari kendi tanah di sudut ruangan. Ia membasuh tangannya. Ia membasuh dahi Dewi Rengganis. Ia mulai membisikkan sesuatu.
Sebuah syair. Tua. Sangat tua. Dengan irama yang tidak pernah didengar Dewi Rengganis seumur hidupnya. Kata-katanya aneh. Bukan bahasa Melayu, bukan bahasa Jawa, bukan bahasa Sunda. Mungkin bahasa dari masa sebelum semua bahasa itu lahir.
Dan saat syair itu mengalir dari bibir keriput Nini Mas Intan, sesuatu terjadi pada ruangan itu.
Cahaya lilin yang tadinya hampir padam karena angin, tiba-tiba menyala terang. Bukan terang seperti biasanya. Terang ini hangat. Terang ini seperti pangkuan seorang ibu yang sudah lama meninggal.
Di luar, lolongan anjing berhenti bersamaan. Angin mereda. Daun-daun berhenti berteriak.
Dan bulan, yang hampir seluruhnya ditelan gelap, mulai memperlihatkan pinggirannya lagi. Sedikit demi sedikit. Perlahan. Seperti seseorang yang muncul kembali ke permukaan setelah sekian lama menahan napas di dasar laut.
Gerhana mulai berakhir.
Bayi itu keluar tidak lama setelah itu.
Ia keluar dengan tenang. Tidak ada jeritan panjang dari Dewi Rengganis. Tidak ada kepanikan. Nini Mas Intan menangkapnya dengan kedua tangannya yang keriput tetapi kokoh, seperti seseorang yang telah melakukan hal ini ribuan kali sebelumnya.
Bayi itu tidak menangis.
Dewi Rengganis, yang kelelahan tetapi masih sadar, memandang bayi itu dengan cemas. "Kenapa... kenapa dia tidak menangis?"
Nini Mas Intan tidak menjawab. Ia menggendong bayi itu. Ia memandanginya. Matanya yang buram tiba-tiba jernih untuk sesaat, seperti danau yang biasanya tertutup kabut tetapi tiba-tiba bersih oleh hujan.
Bayi itu laki-laki. Kulitnya kemerahan seperti semua bayi yang baru lahir. Rambutnya hitam dan tebal. Matanya masih terpejam. Tangannya mengepal.
Dan kemudian, tepat saat sinar bulan pertama setelah gerhana menyusup melalui celah-celah dinding bambu dan jatuh ke wajah bayi itu, ia membuka matanya.
Matanya hitam. Hitam pekat. Hitam seperti telaga tanpa dasar.
Dan ia memandang Nini Mas Intan. Seorang bayi yang baru keluar dari rahim ibunya semenit yang lalu, memandang perempuan tua itu dengan tatapan yang tidak lazim. Tatapan yang sudah tua. Tatapan yang sudah lelah. Tatapan yang sudah mengerti.
Itulah saatnya.
Bayi itu menangis.
Bukan tangisan biasa. Tangisan ini keras. Sangat keras. Lebih keras dari suara anjing melolong tadi. Lebih keras dari suara daun-daun yang berteriak terkena angin gerhana. Tangisan ini keluar dari dadanya yang kecil dengan kekuatan yang membuat Dewi Rengganis ikut menangis terharu.
Nini Mas Intan tertawa. Tertawa kecil. Tertawa yang seperti orang yang baru saja dimenangkan taruhannya.
"Anak ini," katanya sambil mengusap air mata di sudut matanya yang keriput, "bukan anak biasa."
Dewi Rengganis terdiam. Ia terlalu lelah untuk bertanya. Tetapi matanya bertanya. Matanya yang teduh itu memandang Nini Mas Intan dengan campuran rasa takut, harap, dan kebingungan.
"Dia tidak menangis karena takut," kata Nini Mas Intan seolah membaca pikiran Dewi Rengganis. "Dia menangis karena dia sudah tahu. Dia sudah tahu betapa berat tugasnya kelak. Dia sudah tahu betapa lama jalannya nanti. Dia sudah tahu betapa banyak hati yang akan ia jaga, termasuk hatinya sendiri."
Perempuan tua itu mendekatkan bayi itu ke dada Dewi Rengganis.
"Berilah ia nama. Karena malam ini bukan malam biasa. Anak yang lahir di malam gerhana, yang ditolong oleh perempuan tua seperti aku, dan yang menangis seperti itu... ia membutuhkan nama yang kuat."
Dewi Rengganis memandang bayinya. Bayinya masih menangis, meski tangisnya mulai mengecil. Matanya yang hitam pekat kini terpejam lagi, seperti seorang lelaki tua yang sedang beristirahat setelah perjalanan panjang.
"Sultan Hasan," kata Dewi Rengganis pelan.
Nini Mas Intan mengerutkan dahi. "Sultan? Dia bukan anak bangsawan. Tidak ada darah biru di keluarganya."
"Aku tidak tahu kenapa," kata Dewi Rengganis. "Tapi sejak aku mengandungnya, namanya sudah ada di kepalaku. Seperti seseorang yang berbisik setiap malam. Sultan Hasan. Aku hanya mengucapkannya."
Nini Mas Intan terdiam lama.
Di luar, bulan bersinar penuh kembali. Seperti baru saja dimenangkan dari perkelahian dengan kegelapan. Burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek. Nini Mas Intan tersenyum.
"Sultan Hasan," ulangnya. "Baiklah. Aku tidak akan menentang nama yang dipilih oleh mimpi."
Ia menyerahkan bayi itu sepenuhnya ke pangkuan Dewi Rengganis. Kemudian ia berdiri. Gerakannya kaku tetapi tegap.
"Rawatlah anak ini dengan baik," katanya. "Ajari ia syair-syair. Jaga pusaka yang akan ditemukannya kelak. Dan bersiaplah... karena kau tidak akan bersamanya lama."
Dewi Rengganis terhenyak. "Maksud Nek?"
Tetapi Nini Mas Intan sudah berjalan menuju pintu. Sosoknya yang bungkuk perlahan menyatu dengan kegelapan malam. Sebelum benar-benar lenyap, ia menoleh sebentar.
"Dan ketika suatu hari nanti ia bertemu dengan seorang perempuan yang namanya berbau pandan... jangan larang ia mencintainya. Karena cinta itu sudah ditulis sebelum desa ini berdiri."
Kemudian ia pergi.
Dewi Rengganis hanya bisa terdiam, menggendong bayi yang mulai tenang di dadanya. Sultan Hasan. Anak lelakinya. Lahir di malam gerhana. Ditolong oleh perempuan tua misterius. Dan sudah diramalkan akan jatuh cinta pada seorang yang namanya berbau pandan.
Di luar, angin berembus pelan. Lembut. Seperti bisikan.
Dan seekor burung hantu, dari atas pohon asam di halaman, menatap ke dalam gubuk itu dengan matanya yang bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap. Menunggu.
Seolah ia tahu bahwa cerita ini baru saja dimulai.
Tiga puluh lima tahun kemudian, ketika Sultan Hasan sudah menjadi kakek, ia akan menceritakan malam kelahirannya kepada cucunya yang pertama.
"Kakek lahir di malam gerhana," katanya. "Bulan dimakan habis-habisan. Anjing-anjing desa melolong seperti mau kiamat. Dan seorang perempuan tua yang tidak dikenal tiba-tiba muncul di gubuk untuk menolong nenekmu."
Cucunya, yang bernama Zahra, akan mendengarkan dengan mata berbinar. "Apakah Nini Mas Intan itu seorang bidadari, Kek?"
Sultan Hasan akan tertawa. Tidak. Bukan bidadari. Dia manusia biasa. Tapi dia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki banyak orang. Mata hati. Kemampuan untuk melihat apa yang tidak terlihat oleh mata biasa.
"Dan apa yang dia lihat pada diri Kek, waktu Kek masih bayi?"
Sultan Hasan tidak akan menjawab langsung. Ia akan menggenggam batu akik merah di tangannya, batu yang selalu ia bawa ke mana pun selama puluhan tahun. Batu yang sudah retak tetapi tidak pernah hancur.
"Dia melihat beban," kata Sultan Hasan akhirnya. "Sebelum aku bisa berjalan, dia sudah melihat beban yang akan aku pikul. Sebelum aku bisa bicara, dia sudah tahu nama yang akan aku jaga. Dan sebelum aku bisa mencintai, dia sudah tahu siapa yang akan aku cintai."
Zahra akan mengangguk meski tidak sepenuhnya mengerti. Lalu ia akan bertanya lagi, "Dan apa beban itu, Kek?"
Sultan Hasan akan tersenyum. Senyum yang sama dengan senyum Nini Mas Intan saat itu, malam gerhana, di gubuk yang atapnya bolong tiga tempat.
"Menjaga hati, Nak. Menjaga hati yang orang lain tidak mau jaga. Termasuk hatiku sendiri. Dan itu... itu tidak pernah mudah."
Di luar jendela, pada sore itu, seekor burung hantu bertengger di dahan pohon asam. Ia diam. Hanya menatap.
Seolah ia mengingat. Seolah ia tahu bahwa cerita yang diceritakan kakek kepada cucunya itu adalah cerita yang sama yang dimulai tiga puluh lima tahun lalu, dan yang belum selesai.
Yang belum akan selesai bahkan setelah kakek itu mati.
Sebab hati yang pernah dijaga, tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya berpindah tangan. Dari satu generasi ke generasi berikutnya. Seperti api yang dipindahkan dari obor ke obor.
Seperti syair yang diwariskan dari bibir ke bibir.
Seperti rindu yang tidak pernah kehilangan alamatnya.
BAB II
Nenek Tua dan Nama yang Terkutuk
Kabar tentang kelahiran Sultan Hasan menyebar ke seluruh Dukuh Wangi sebelum matahari terbit keesokan harinya.
Bukan karena ada yang sengaja menyebarkan. Di desa sekecil itu, dengan jumlah penduduk tidak lebih dari seratus kepala keluarga, berita apapun akan menyebar dengan sendirinya. Seperti air yang mencari celah. Seperti api yang mencari kayu kering.
Seorang perempuan yang pergi ke sumur sebelum subuh melihat cahaya aneh dari gubuk Dewi Rengganis. Cahaya kemerahan. Bukan merah seperti api. Merah seperti batu akik yang terkena sinar matahari. Ia bertanya kepada tetangganya. Tetangganya bertanya kepada iparnya. Iparnya bertanya kepada saudaranya yang kerja di ladang dekat sungai. Dan dalam waktu dua jam, seluruh desa sudah tahu: Dewi Rengganis telah melahirkan. Sendirian. Di malam gerhana. Dan seorang anak laki-laki keluar dari rahimnya dengan mata terbuka.
Tapi ada kabar lain yang lebih cepat menyebar. Kabar tentang siapa yang menolong persalinan itu.
Nini Mas Intan.
Nama itu seperti guntur di musim kemarau. Semua orang mengenalnya. Tetapi hampir tidak ada yang pernah benar-benar melihatnya. Yang tahu persis di mana ia tinggal hanya beberapa orang tua yang sudah uzur. Yang pernah diajak bicara langsung bahkan lebih sedikit dari itu.
Dan sekarang, perempuan tua misterius itu muncul di gubuk Dewi Rengganis di tengah malam gerhana? Itu bukan sekadar kabar biasa. Itu adalah pertanda. Dan di desa sekecil Dukuh Wangi, pertanda tidak pernah datang tanpa makna.
Sayangnya, tidak semua orang menafsirkan pertanda itu sebagai sesuatu yang baik.
Kira-kira pukul delapan pagi, sehari setelah kelahiran itu, seorang lelaki bertubuh tegap dengan kumis tebal dan sorban putih mendatangi gubuk Dewi Rengganis. Ia datang tidak sendiri. Di belakangnya ada tiga lelaki lain, semuanya membawa parang di pinggang. Mereka bukan preman. Mereka adalah pengiring desa – semacam polisi adat yang ditugaskan kepala desa untuk menjaga keamanan dan ketertiban.
Lelaki berkumis tebal itu bernama Kyai Mandrawijaya. Ia adalah tetua adat tertinggi di Dukuh Wangi. Jabatannya tidak resmi dalam pemerintahan, tetapi kekuasaannya lebih besar dari kepala desa sendiri. Ia yang menentukan siapa yang boleh menikah dengan siapa. Ia yang memutuskan ritual-ritual apa yang harus dilakukan saat musim tanam tiba. Ia yang berhak mengutuk seseorang menjadi orang buangan jika dianggap melanggar adat.
Dan pagi itu, Kyai Mandrawijaya berdiri di depan gubuk Dewi Rengganis dengan wajah yang tidak bisa dibaca. Bukan marah. Bukan sedih. Ada sesuatu yang lebih rumit di matanya. Sesuatu antara ketakutan dan kekagetan. Seperti seorang yang tiba-tiba menyadari bahwa dunianya tidak seaman yang ia kira.
Dewi Rengganis yang sedang menyusui Sultan Hasan di dalam gubuk, mendengar suara langkah kaki di luar. Ia tidak keluar. Tubuhnya masih lelah. Jahitan di bawah perutnya masih perih. Yang ia lakukan hanyalah menutup bayinya dengan kain dan menunggu.
"Dewi Rengganis! " suara Kyai Mandrawijaya memecah kesunyian pagi. "Keluarlah. Kami ingin melihat anakmu."
Dewi Rengganis menggigit bibirnya. Ia tahu suara itu. Seluruh desa tahu suara itu. Kyai Mandrawijaya tidak pernah memanggil nama seseorang kecuali untuk urusan yang sangat serius.
Dengan susah payah, ia bangkit. Sultan Hasan yang sedang menyusu terlepas dari putingnya dan mulai merengek. Dewi Rengganis menggendongnya, menenangkannya dengan suara pelan, lalu berjalan keluar.
Pagi itu cerah. Matahari baru saja naik setinggi tombak. Embun masih membasahi rumput-rumput di halaman. Ayam-ayam jantan sudah selesai berkokok dan kini sibuk mengais-ngais tanah mencari cacing.
Dan di depan gubuknya, berdiri empat lelaki dengan wajah serius. Di belakang mereka, dari kejauhan, puluhan pasang mata mengintip dari balik pintu dan jendela. Seluruh desa ingin melihat apa yang akan terjadi.
Kyai Mandrawijaya memandang Dewi Rengganis. Kemudian pandangannya turun ke bayi yang digendongnya. Sultan Hasan, yang tadi merengek, tiba-tiba diam. Matanya yang hitam pekat terbuka lebar. Ia memandang Kyai Mandrawijaya.
Dan lelaki tua itu, yang sudah puluhan tahun menjadi tetua adat, yang tidak pernah gentar menghadapi badai atau banjir bandang atau kemarau panjang, tiba-tiba mundur selangkah. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar.
"Bawa anak itu ke balai pertemuan," katanya dengan suara yang sedikit bergetar. "Sekarang."
Balai pertemuan Dukuh Wangi adalah sebuah bangunan panggung besar di tengah desa, tepat di bawah pohon beringin yang usianya tidak ada yang tahu. Konon pohon itu sudah ada sebelum desa ini berdiri. Konon akarnya menjalar hingga ke telaga larangan di hutan. Dan konon, di bawah pohon itulah para tetua dulu bermusyawarah menentukan batas-batas tanah adat.
Dewi Rengganis dibawa ke sana bukan dengan paksaan, tetapi dengan "permintaan" yang tidak bisa ditolak. Kyai Mandrawijaya berjalan di depan. Tiga pengiring desa berjalan di samping dan di belakangnya. Mereka tidak menyentuh Dewi Rengganis. Mereka hanya memastikan ia tidak membelok ke jalan lain.
Ketika tiba di balai pertemuan, sudah puluhan orang berkumpul di sana. Bukan semua penduduk desa. Hanya mereka yang dianggap punya "hak untuk tahu" – para tetua, kepala dusun, dan beberapa orang tua yang dihormati.
Kyai Mandrawijaya naik ke panggung. Ia duduk di kursi kayu yang selalu menjadi tempat duduknya. Kemudian ia menunjuk sebuah tikar di depannya.
"Duduklah di sana," katanya kepada Dewi Rengganis.
Dewi Rengganis duduk. Gendongannya mengencang. Sultan Hasan terpejam lagi, seolah tidak peduli dengan hiruk-pikuk yang terjadi di sekitarnya.
"Anakmu lahir tadi malam," kata Kyai Mandrawijaya. "Di malam gerhana. Ditolong oleh Nini Mas Intan."
Dewi Rengganis mengangguk. Tidak ada gunanya berbohong. Seluruh desa sudah tahu.
"Dan kau beri nama... Sultan Hasan?"
Anggukan lagi.
Kyai Mandrawijaya menghela napas. Ia menatap para tetua yang duduk di kursi-kursi di sampingnya. Beberapa di antaranya menggeleng-gelengkan kepala. Seorang perempuan tua yang giginya tinggal tiga memandang Dewi Rengganis dengan tatapan penuh iba, tetapi juga ketakutan.
"Kau tahu," kata Kyai Mandrawijaya perlahan, seolah sedang menjelaskan kepada anak kecil, "bahwa nama 'Sultan' bukan nama biasa. Sultan adalah pemimpin. Raja. Orang yang berkuasa atas wilayah luas. Di desa kita, nama seperti itu... tidak pantas."
"Lalu kenapa pantas?" tanya seorang tetua dari pojok ruangan. "Karena siapa anak ini? Anak perantau yang tidak jelas asal-usulnya? Anak perempuan yang tidak memiliki garis keturunan bangsawan?"
Dewi Rengganis menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca. Tapi ia tidak menangis. Entah karena terlalu lelah atau karena ia sudah mempersiapkan hatinya untuk ini.
"Nama itu sudah di dalam kepalaku sejak aku mengandungnya," kata Dewi Rengganis pelan. "Aku tidak bisa memberi nama lain."
"Tidak bisa?" Kyai Mandrawijaya mengerutkan kening. "Atau tidak mau?"
Tidak ada jawaban.
Kyai Mandrawijaya diam sejenak. Ia memandang Sultan Hasan. Bayi itu masih terpejam. Dadanya naik turun pelan. Tidak ada yang istimewa dari penampilannya. Bayi biasa. Kulit kemerahan. Rambut hitam. Tangan mungil mengepal.
Tapi Kyai Mandrawijaya tidak bodoh. Ia tahu bahwa sesuatu yang aneh terjadi malam itu. Nini Mas Intan tidak muncul tanpa alasan. Dan anak yang lahir di malam gerhana, yang ditolong oleh seorang dukun misterius, yang matanya terbuka sejak pertama kali keluar dari rahim... anak seperti itu tidak bisa dianggap biasa.
"Aku tidak akan memaksamu mengganti nama anakmu," kata Kyai Mandrawijaya akhirnya. "Tapi kau harus tahu konsekuensinya."
Dewi Rengganis mendongak.
"Anakmu akan dijauhi," kata Kyai Mandrawijaya. "Anak-anak seusianya tidak akan bermain dengannya. Para tetua tidak akan mengajarinya ilmu adat. Dan ketika ia besar nanti... ia akan sulit mencari jodoh di desa ini. Nama 'Sultan Hasan' akan menjadi beban yang ia pikul seumur hidup."
"Ia lahir di malam gerhana," tambah seorang tetua lain dari belakang. "Bulan dimakan habis. Itu pertanda buruk. Dan kau beri ia nama yang terlalu besar untuk seorang anak kampung. Apakah kau tidak takut, Rengganis? Apakah kau tidak takut anakmu akan tumbuh menjadi sesuatu yang... tidak terkendali?"
Dewi Rengganis menggigit bibirnya. Darah hampir keluar.
"Anak saya," katanya dengan suara bergetar, "tidak akan jahat. Saya tahu. Seorang ibu tahu."
"Kau hanya merasa tahu," kata Kyai Mandrawijaya. "Perasaan seorang ibu sering keliru."
Seorang perempuan dari antara kerumunan tiba-tiba berjalan maju. Perempuan itu tidak muda lagi, mungkin empat puluh tahun, dengan pakaian serba hitam dan wajah yang selalu terlihat cemberut. Namanya Mak Buyut, perempuan yang paling disegani setelah Kyai Mandrawijaya. Ia dikenal karena konon bisa melihat nasib seseorang hanya dengan memandang garis tangan dan bentuk wajahnya.
"Biarkan aku melihat anak itu," kata Mak Buyut.
Dewi Rengganis ragu, tetapi tidak bisa menolak. Mak Buyut mendekat. Tangannya yang kasar menyentuh dahi Sultan Hasan. Bayi itu bergerak sedikit, tetapi tidak terbangun. Kemudian Mak Buyut membuka kelopak mata bayi itu dengan jari telunjuk dan ibu jarinya.
Sultan Hasan terbangun. Matanya yang hitam pekat menatap Mak Buyut.
Perempuan itu terkesiap. Mundur. Wajahnya berubah pucat seperti mayat.
"Mata itu..." bisiknya. "Mata itu sudah tua."
Kerumunan di belakangnya mulai berbisik. Suasana menjadi tegang.
"Mata seorang bayi tidak mungkin sudah tua," kata Kyai Mandrawijaya.
"Tapi ini tidak biasa," kata Mak Buyut. "Lihatlah matanya. Dia tidak melihatku seperti bayi melihat orang dewasa. Dia melihatku seperti... seperti seorang tua yang sudah lelah hidup melihat orang yang lebih muda. Seperti dia sudah tahu apa yang akan terjadi padaku nanti."
"Maksudmu?"
"Entahlah. Aku tidak bisa membaca nasibnya. Tapi satu hal yang aku tahu: anak ini akan membawa perubahan ke desa kita. Entah perubahan baik atau buruk... aku tidak tahu. Tapi perubahan itu akan besar."
Kyai Mandrawijaya diam. Seluruh ruangan diam.
Hanya angin yang berembus pelan di antara dedaunan beringin tua di atas balai pertemuan, seperti bisikan panjang yang tidak bisa diterjemahkan.
Dewi Rengganis pulang ke gubuknya dengan perasaan yang berat. Sultan Hasan masih terpejam di gendongannya, tidak peduli dengan dunia yang sudah mulai menolaknya sebelum ia bisa merangkak.
Ia teringat pada kata-kata Nini Mas Intan, malam tadi. "Rawatlah anak ini dengan baik. Ajari ia syair-syair. Jaga pusaka yang akan ditemukannya kelak. Dan bersiaplah... karena kau tidak akan bersamanya lama."
Saat itu ia tidak begitu mengerti. Sekarang ia mulai mengerti.
Anaknya sudah dianggap aneh sebelum ia bisa bicara. Ia akan tumbuh dalam kesendirian. Tidak ada teman sebaya yang mau bermain dengannya. Tidak ada tetua yang mau mengajarinya. Dan nama yang ia berikan dengan cinta, yang ia rasa seperti bisikan dari alam lain, akan menjadi kutukan yang melekat di punggungnya setiap saat.
Dewi Rengganis masuk ke gubuk. Ia merebahkan diri di tikar. Sultan Hasan diletakkan di sampingnya. Bayi itu menggeliat sebentar, lalu kembali tenang.
Dewi Rengganis menatap langit-langit. Atap gubuknya bolong di tiga tempat, seperti yang dikatakan Nini Mas Intan. Ia sudah berjanji pada suaminya untuk memperbaikinya, tapi Hasan belum juga pulang.
Di mana kau, Hasan? pikirnya. Apakah kau masih hidup? Apakah kau tahu bahwa kau sekarang punya anak laki-laki yang sudah dikutuk oleh seluruh desa sebelum usianya genap sehari?
Air mata akhirnya menetes.
Ia tidak menangis karena takut. Seperti anaknya yang tidak menangis karena takut malam tadi. Ia menangis karena ia sudah tahu. Ia sudah tahu betapa berat jalan yang harus ditempuh anaknya. Dan ia sudah tahu bahwa ia tidak akan bisa mendampingi anak itu lama.
Tapi di sela-sela tangisnya, ia berbisik pada Sultan Hasan yang masih terpejam. "Kau kuat, Nak. Lebih kuat dari ibumu. Lebih kuat dari siapa pun di desa ini. Dan suatu hari nanti, semua orang yang sekarang mengutuk namamu akan memanggil namamu dengan hormat."
Di luar, burung hantu berbunyi. Siang bolong. Aneh. Sekali. Pendek.
Seperti sebuah janji yang tidak bisa diingkari.
Tujuh malam setelah kelahiran itu, Dewi Rengganis mendapat mimpi.
Dalam mimpinya, ia berdiri di tepi telaga yang airnya sangat jernih. Ia bisa melihat dasar telaga, ditumbuhi tanaman air yang daunnya berbentuk seperti pedang. Di tengah telaga, seorang perempuan muda sedang menari. Perempuan itu mengenakan kain batik dengan motif pandan berwarna hijau segar. Rambutnya panjang, hitam legam, disanggul tinggi dengan tusuk konde dari perak.
Perempuan itu tidak menghiraukan Dewi Rengganis. Ia terus menari. Gerakannya lembut, seperti air yang mengalir. Kadang lambat, seperti daun yang jatuh dari pohon. Kadang cepat, seperti ikan yang melompat dari permukaan.
Tapi yang paling aneh, perempuan itu tidak memiliki wajah. Bukan karena wajahnya buram atau tertutup. Wajah itu benar-benar kosong. Halus. Seperti kanvas yang belum dilukis.
Dewi Rengganis ingin bertanya. Siapa kau? Tapi mulutnya tidak bisa bergerak. Lidahnya kaku seperti batu.
Dan kemudian perempuan tanpa wajah itu berhenti menari. Ia menoleh ke arah Dewi Rengganis. Wajah kosongnya tiba-tiba tersenyum. Senyum yang hangat. Senyum yang membuat Dewi Rengganis menangis tanpa sebab.
Lalu perempuan itu berkata. Suaranya seperti suara dari dasar sumur. Jauh. Bergema. Tapi anehnya jelas.
"Jagalah Sultan Hasan untukku. Aku akan menemuinya suatu hari nanti. Tidak sekarang. Tapi suatu hari. Dan ketika itu terjadi, aku akan memberinya nama yang tidak akan pernah ia lupakan."
Dewi Rengganis terbangun.
Ia duduk di tikar. Tubuhnya berkeringat. Sultan Hasan yang tidur di sampingnya, terbangun juga. Bayi itu tidak menangis. Hanya memandang ibunya dengan mata hitam pekatnya.
Di luar, masih malam. Bulan bersinar terang, penuh lagi, seolah tidak pernah disentuh oleh gerhana.
Dewi Rengganis menggendong anaknya. Ia mencium kening Sultan Hasan. Ia berbisik.
"Pandan Wangi," katanya. "Namanya Pandan Wangi."
Ia tidak tahu dari mana nama itu keluar dari mulutnya. Tapi ia yakin. Perempuan tanpa wajah dalam mimpinya, yang menari di atas telaga, yang tersenyum tanpa bibir, yang berkata akan menemui Sultan Hasan suatu hari nanti... namanya adalah Pandan Wangi.
Dan Dewi Rengganis tahu, meski belum mengerti sepenuhnya, bahwa nama itu akan menjadi pusaka lain bagi anaknya. Pusaka yang lebih kuat dari batu akik. Pusaka yang lebih tajam dari keris. Pusaka yang bisa menyelamatkan atau menghancurkan.
Tergantung pada bagaimana Sultan Hasan menjaganya.
Ia memeluk anaknya erat-erat.
"Kau masih terlalu kecil untuk mengerti semua ini, Nak," bisiknya. "Tapi kelak, ketika kau dewasa, kau akan mengerti mengapa ibumu menangis di malam-malam seperti ini. Bukan karena sedih. Tapi karena bahagia... dan takut... bersamaan."
Angin malam masuk melalui celah-celah dinding bambu. Dingin. Lembut. Seperti belaian.
Di kejauhan, untuk ketiga kalinya malam itu, burung hantu berbunyi.
Sekali. Pendek.
Lalu diam.
BAB III
Air Susu Pertama dan Mimpi Ibu
Tiga hari setelah Kyai Mandrawijaya memanggilnya ke balai pertemuan, air susu Dewi Rengganis mulai bermasalah.
Awalnya hanya sedikit. Sultan Hasan yang biasa menyusu dengan lahap tiba-tiba menangis setiap kali puting ibunya dimasukkan ke mulutnya. Bukan karena ia tidak lapar. Perutnya keroncongan. Tangannya yang mungil meremas-remas udara seperti mencari sesuatu. Tapi setiap kali ia mencoba menyusu, ia meringis lalu melepas puting itu lagi.
Dewi Rengganis memeriksa payudaranya. Tidak ada yang aneh. Tidak bengkak. Tidak merah. Tetapi ketika ia memerah sedikit dengan tangannya, yang keluar bukan air susu yang kental dan putih seperti biasa, melainkan cairan bening dan encer. Hanya sedikit. Tidak cukup untuk mengganjal perut bayi yang sedang tumbuh.
"Susumu pahit," kata Mak Umi, tetangga sebelah yang datang menjenguk. Perempuan gemuk dengan rambut keriting itu sudah membantu melahirkan lima belas bayi di desa. Ia tahu banyak tentang susu dan air ketuban dan segala macam cairan yang keluar dari tubuh perempuan. "Aku pernah melihat ini. Susu yang pahit. Bayi tidak mau minum. Mereka bisa mencium rasa pahit itu dari jauh. Lebih tajam dari hidung manusia."
"Kenapa bisa pahit?" tanya Dewi Rengganis cemas.
Mak Umi mengangkat bahu. "Banyak sebab. Makanan. Pikiran. Atau mungkin... karena kau terlalu sedih. Air susu adalah perasaan ibu yang cair. Kalau ibunya sedih, susunya jadi pahit. Kalau ibunya marah, susunya jadi panas. Kalau ibunya takut, susunya jadi encer."
Dewi Rengganis menunduk. Ia tahu apa yang membuatnya sedih. Seluruh desa tahu.
Tiga hari terakhir, tidak ada satu pun tetangga yang datang membawa nasi atau sayur seperti biasanya saat ada yang melahirkan. Yang datang hanya Mak Umi, itupun karena ia memang punya kebiasaan menjenguk semua ibu yang baru melahirkan, tidak peduli siapa mereka. Sisanya? Mereka menghindari gubuk Dewi Rengganis seperti menghindari kuburan di malam Jumat.
Anak-anak yang biasanya berlarian di depan rumah kini mengambil jalan memutar. Ibu-ibu yang biasa berbelanja ke warung di dekat gubuknya kini lebih memilih berjalan setengah kilometer lebih jauh ke warung lainnya. Bahkan Pak Karto, penjual tahu yang setiap pagi lewat depan rumahnya dengan memikul dua bakul besar di pundaknya, tiba-tiba menghilang. Tidak ada tahu yang lewat. Tidak ada sayur yang lewat. Tidak ada apa-apa.
Dewi Rengganis dan Sultan Hasan terasing di desa mereka sendiri.
"Kau harus mencari susu dari tempat lain," kata Mak Umi. "Pinjam dari ibu-ibu yang baru melahirkan. Atau beli susu kambing. Yang penting bayi ini makan. Kalau tidak, ia bisa sakit."
Dewi Rengganis mengangguk. Ia sudah memikirkan itu. Tapi ia juga tahu bahwa ibu-ibu yang baru melahirkan di desa ini saat ini semuanya adalah istri dari para pengikut Kyai Mandrawijaya. Akankah mereka mau meminjamkan air susu untuk anak yang sudah dikutuk?
Sultan Hasan menangis lagi. Tangisnya keras. Tangis yang sama saat ia lahir. Tangis yang sudah tua. Tangis yang tahu.
Dewi Rengganis memangku anaknya. Ia menangis bersama.
Malam harinya, Dewi Rengganis bermimpi.
Ia berada di sebuah tempat yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Bukan di desa. Bukan di hutan. Bukan di sungai. Tempat itu... aneh. Semuanya putih. Putih seperti kapas. Putih seperti awan. Putih seperti susu yang kental dan manis.
Ia tidak sendiri.
Di depannya, seorang lelaki tua duduk bersila di atas hamparan putih itu. Lelaki itu sangat tua. Lebih tua dari Nini Mas Intan sekalipun. Jenggotnya putih panjang hingga menyentuh dada. Matanya biru, bukan biru seperti langit, tetapi biru seperti telaga yang sangat dalam. Ia memakai jubah putih, juga dari bahan yang tidak dikenal Dewi Rengganis. Bukan katun. Bukan sutra. Bahan itu seperti cahaya yang membeku.
"Jangan takut," kata lelaki tua itu. Suaranya tidak keras, tetapi menggetarkan seluruh tubuh Dewi Rengganis seperti gong dipukul di dalam dada. "Aku tidak akan menyakitimu."
"Siapa... siapa Tuan?" tanya Dewi Rengganis dengan suara bergetar.
"Aku tidak punya nama yang bisa disebut oleh lidah manusia. Tapi kau bisa memanggilku Lelaki Tua dari Mimpi. Karena memang hanya dalam mimpi aku bisa menampakkan diri."
"Aku bermimpi?"
"Kau sedang bermimpi. Tapi mimpi ini tidak seperti mimpi biasanya. Mimpi ini adalah pertemuan. Antara kau... dan seseorang yang sudah lama menanti kelahiran anakmu."
Dewi Rengganis terdiam. Ia tidak mengerti. Semua ini terlalu aneh. Lelaki tua tanpa nama. Tempat putih tanpa batas. Dan kata-kata tentang seseorang yang menanti kelahiran anaknya.
"Anakku... Sultan Hasan?"
Lelaki tua itu mengangguk. Matanya yang biru memandang Dewi Rengganis dengan tatapan yang sangat tua. Tatapan yang sudah melihat lahir dan matinya ribuan generasi.
"Anakmu bukan anak biasa, Dewi Rengganis. Kau sudah mendengar itu dari Nini Mas Intan. Tapi kau belum mendengar yang sebenarnya. Yang sebenarnya adalah: anakmu adalah penjaga. Bukan penjaga biasa. Ia adalah Penjaga Hati. Tugasnya bukan menjaga harta atau pusaka atau tanah. Tugasnya menjaga hati. Hatinya sendiri. Hati orang yang dicintainya. Dan hati dari generasi yang akan datang setelah ia mati."
"Tapi ia masih bayi..."
"Tugas sudah menunggunya sejak sebelum ia lahir. Seperti seorang prajurit yang sudah ditunjuk menjadi jenderal sebelum ia bisa memegang pedang. Itulah kenapa ia menangis saat lahir. Ia tahu. Ia sudah tahu sejak di dalam rahimmu. Karena hati yang akan ia jaga adalah hati yang sudah lama terluka. Luka yang tidak sembuh oleh waktu. Luka yang hanya bisa sembuh oleh cinta yang dijaga."
Dewi Rengganis menangis. Dalam mimpi, ia bisa menangis. Air matanya jatuh ke hamparan putih di bawah kakinya. Dan anehnya, di tempat air matanya jatuh, tiba-tiba tumbuh setangkai bunga. Bunga kecil. Putih. Wanginya harum, seperti melati tetapi lebih lembut.
"Jangan menangis," kata Lelaki Tua dari Mimpi. "Kau tidak perlu menangis. Anakmu akan baik-baik saja. Jalannya berat. Tapi di ujung jalan itu, ia tidak akan sendirian."
"Lalu... kenapa susuku pahit?" tanya Dewi Rengganis. "Kenapa bayiku tidak mau minum?"
Lelaki tua itu tersenyum. Senyum pertama yang ia tunjukkan. Senyum yang membuat seluruh tempat putih itu terasa hangat.
"Karena kau terlalu sedih, Dewi Rengganis. Dan karena... sebentar lagi kau akan memberinya sesuatu yang lebih berharga dari air susu."
"Apa?"
"Kau akan memberinya pusaka. Bukan pusaka yang dibeli atau diwariskan. Pusaka yang kau temukan. Pusaka yang akan menjadi temannya seumur hidup. Batu. Cincin. Atau mungkin sesuatu yang lain. Aku tidak bisa memberitahumu bentuknya. Tapi kau akan tahu saat kau menemukannya."
Dan sebelum Dewi Rengganis sempat bertanya lagi, tempat putih itu mulai memudar. Lelaki tua itu mulai kabur. Seperti tinta yang luntur terkena air.
"Tunggu!" teriak Dewi Rengganis. "Aku masih punya banyak pertanyaan!"
Tapi Lelaki Tua dari Mimpi sudah menghilang. Hanya suaranya yang masih tersisa, bergema di ruang putih yang mulai runtuh.
"Jaga anakmu, Dewi Rengganis. Kau tidak akan bersamanya lama. Tapi apa yang kau berikan padanya dalam waktu yang singkat itu akan bertahan selamanya."
Dewi Rengganis terbangun.
Ia duduk di tikar. Sultan Hasan ada di sampingnya, masih tertidur. Dadanya naik turun pelan. Wajahnya tenang. Seolah tidak ada mimpi buruk yang mengganggunya.
Dewi Rengganis melihat ke sekeliling gubuk. Gelap. Hanya ada seberkas cahaya bulan yang masuk melalui celah-celah dinding bambu. Ia menatap tangannya. Basah. Ia menangis dalam mimpi tadi. Atau mungkin setelah terbangun. Tidak jelas lagi.
Ia tiba-t ingat kata-kata terakhir Lelaki Tua dari Mimpi. "Kau akan memberinya pusaka... Kau akan tahu saat kau menemukannya."
Pusaka? Di gubuk reot ini? Apa yang bisa dijadikan pusaka? Ia tidak punya apa-apa. Tidak ada emas. Tidak ada perak. Tidak ada keris pusaka yang diwariskan turun-temurun. Yang ia miliki hanyalah perabot dapur yang hampir semuanya sudah bolong, pakaian yang sudah tambal sana-sini, dan sebuah kotak kayu kecil di bawah tempat tidur.
Kotak kayu.
Dewi Rengganis belum pernah membuka kotak itu. Kotak itu sudah ada di rumah ini sejak ia menikah dengan Hasan. Suaminya yang membawanya dari perantauan. Tapi Hasan tidak pernah mengatakan apa isinya. Dan Dewi Rengganis tidak pernah bertanya. Ia mengira itu adalah barang pribadi suaminya. Mungkin surat-surat lama. Mungkin kenangan dari kampung halamannya yang tidak pernah ia ceritakan.
Tapi malam ini, setelah mimpi aneh itu, Dewi Rengganis merasa didorong oleh sesuatu untuk membuka kotak itu.
Ia bangkit. Pelan-pelan, agar tidak membangunkan Sultan Hasan. Ia merangkak ke sudut gubuk, di mana tikar tua digelar di atas papan kayu yang berfungsi sebagai tempat tidur. Ia menyingsingkan tikar itu. Di bawahnya, ada papan yang sedikit longgar. Ia mengangkat papan itu.
Di bawah papan itu, ada sebuah kotak.
Kotaknya kecil. Kira-kira sebesar dua telapak tangan dewasa yang disatukan. Warnanya coklat tua. Kayunya terasa halus meski sudah tua. Tidak ada ukiran. Tidak ada hiasan. Hanya kotak kayu polos dengan sebuah pengait kecil dari kuningan.
Dewi Rengganis mengangkat kotak itu. Tangannya gemetar. Ia membawa kotak itu ke tempat cahaya bulan masuk, duduk bersila di lantai, dan membuka pengaitnya.
Pelan-pelan.
Kotak itu terbuka.
Di dalamnya, beralaskan kain beludru merah yang sudah lusuh, ada dua benda.
Pertama: sebentuk cincin batu akik merah. Batunya bulat, sebesar biji asam jawa. Warnanya merah tua, seperti darah yang mengering. Tetapi saat kena cahaya bulan, merah itu berdenyut. Ya, berdenyut. Seperti ada sesuatu yang hidup di dalamnya.
Kedua: sesobek kain. Kainnya sudah tua, tepiannya sudah berjumbai. Warnanya putih kekuningan karena usia. Ada tulisan di kain itu. Tulisan tangan. Dengan tinta yang sudah pudar tetapi masih bisa dibaca. Dalam aksara Jawa kuno. Dewi Rengganis tidak terlalu fasih membaca aksara Jawa, tetapi ia bisa menerka-nerka.
Tulisan itu berbunyi:
"Untuk anakku. Bila suatu hari kau punya anak lelaki, berikan cincin ini padanya. Biarkan ia menjaganya. Biarkan cincin ini menjaganya. Karena hati yang dijaga tidak akan pernah tersesat, meski jalannya gelap."
Tidak ada nama. Tidak ada tanda tangan. Hanya kalimat itu.
Dewi Rengganis memegang cincin itu. Batu akik merah itu terasa hangat di telapak tangannya. Hangat seperti air susu yang baru keluar. Hangat seperti pelukan.
Ia tiba-tiba teringat pada mimpi tadi. Lelaki Tua dari Mimpi berkata: "Kau akan memberinya pusaka."
Ini dia. Cincin batu akik merah ini. Pusaka dari suaminya. Atau mungkin dari mertuanya yang tidak pernah ia kenal. Atau mungkin dari leluhur yang lebih tua lagi. Tidak penting. Yang penting, ini adalah pusaka pertama untuk Sultan Hasan.
Dewi Rengganis menutup kotak itu kembali. Ia menyimpannya di bawah papan. Lalu ia kembali ke tikar, merebahkan diri di samping Sultan Hasan.
Bayi itu bergerak. Matanya terbuka. Hitam pekat. Menatap ibunya.
Dewi Rengganis tersenyum. "Kau akan punya teman, Nak. Cincin ini. Batu akik merah ini. Ia akan menjagamu. Seperti ibu menjagamu. Seperti kakek-nenekmu yang tidak pernah kau temui menjagamu."
Sultan Hasan mengerjapkan matanya sekali. Dua kali. Lalu tersenyum.
Bayi seusianya seharusnya belum bisa tersenyum dengan sadar. Tapi Sultan Hasan tersenyum. Senyum yang tidak kekanak-kanakan. Senyum yang tahu.
Di luar, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Bulan bersinar terang, menusuk kegelapan malam.
Keesokan paginya, air susu Dewi Rengganis kembali normal.
Ia tidak tahu mengapa. Mungkin karena mimpinya semalam. Mungkin karena ia menemukan pusaka itu. Mungkin karena ia sudah tidak terlalu sedih. Atau mungkin karena Sultan Hasan, yang semalam sempat tersenyum, pagi ini menyusu dengan lahap seperti bayi normal lainnya.
Mak Umi yang datang menjenguk terkejut. "Coba kuperiksa," katanya sambil memegang payudara Dewi Rengganis. "Hmm... susunya sudah putih lagi. Kental. Manis baunya. Sehat. Ada apa semalam? Kau minum jamu?"
"Tidak," kata Dewi Rengganis. "Aku hanya... bermimpi."
"Bermimpi?"
"Bermimpi tentang lelaki tua berjubah putih. Ia bilang susuku pahit karena aku terlalu sedih. Dan setelah itu aku menemukan sesuatu."
Dewi Rengganis hampir saja menceritakan tentang kotak dan cincin dan kain bertuliskan aksara Jawa. Tapi ia urungkan. Ada firasat di hatinya bahwa pusaka itu harus dijaga kerahasiaannya. Tidak semua orang boleh tahu.
"Menemukan apa?" tanya Mak Umi penasaran.
"Tidak apa-apa," kata Dewi Rengganis. "Hanya... hanya perasaan. Bahwa anak saya akan baik-baik saja."
Mak Umi tidak memaksa. Ia tahu Dewi Rengganis perempuan yang tertutup. Tidak suka menceritakan urusan pribadinya. Ia hanya mengangguk, lalu pamit pulang dengan membawa segenggam beras yang diberikan Dewi Rengganis sebagai tanda terima kasih meski sebenarnya Dewi Rengganis sendiri hampir kehabisan beras.
Setelah Mak Umi pergi, Dewi Rengganis menggendong Sultan Hasan. Ia berjalan ke luar gubuk. Matahari pagi menyambutnya. Hangat. Cerah. Ayam-ayam berkotek di kejauhan. Burung-burung beterbangan dari pohon ke pohon.
Seperti tidak ada yang salah dengan dunia.
Tapi Dewi Rengganis tahu, di balik semua ini, ada sesuatu yang besar sedang mengintai. Sesuatu yang akan mengubah hidup anaknya selamanya.
Ia mencium kening Sultan Hasan.
"Kau kuat, Nak," bisiknya. "Jauh lebih kuat dari ibu. Ibu hanya bisa menemani beberapa tahun. Tapi cincin ini... cincin ini akan menemanimu selamanya. Jagalah ia. Dan ia akan menjagamu."
Sultan Hasan, yang sedang nyenyak dalam gendongan, tiba-tiba menggerakkan tangan kanannya. Tangannya yang mungil itu menggenggam jari telunjuk Dewi Rengganis. Genggaman yang kuat. Genggaman yang tidak mau dilepas.
Dewi Rengganis tersenyum.
Air matanya menetes lagi. Tapi kali ini bukan air mata sedih. Bukan juga air mata takut.
Ini air mata syukur.
Karena di tengah semua kutukan dan penolakan dan desas-desus tentang nama yang terlalu besar untuk anak kampung, di tengah semua itu, ia masih punya anak ini. Sehat. Kuat. Dan sudah memegang pusakanya sebelum bisa memegang apa pun.
Dunia boleh mengutuk. Tapi pusaka tidak akan mengkhianati.
Demikian pikir Dewi Rengganis pagi itu, di bawah sinar matahari yang hangat, sambil menggendong Sultan Hasan yang menggenggam jari telunjuknya erat-erat.
Dan di kejauhan, di atas pohon asam tua di halaman depan, seekor burung hantu menatap mereka berdua. Tidak berbunyi. Hanya menatap. Dengan matanya yang bundar dan kuning.
Seolah ia setuju.
BAB IV
Pusaka Tersembunyi
Usia Sultan Hasan genap empat puluh hari ketika Dewi Rengganis memutuskan untuk memberi tahu suaminya tentang pusaka itu.
Masalahnya, Hasan , msuami Dewi Rengganis , tidak kunjung pulang.
Tiga minggu sudah ia pergi ke hulu sungai untuk mencari kayu jati. Tiga minggu sudah tidak ada kabar. Tiga minggu sudah Dewi Rengganis tidur sendirian di gubuk yang atapnya masih bolong di tiga tempat, ditemani oleh bayi yang tangisnya kadang terdengar seperti tangisan orang dewasa.
Tiga minggu adalah waktu yang lama untuk seorang suami meninggalkan istri yang sedang hamil tua. Terlalu lama. Bahkan untuk ukuran perjalanan ke hulu sungai yang biasanya hanya memakan waktu seminggu pulang-pergi.
Orang-orang desa mulai berbisik.
"Mungkin dia mati dimakan buaya."
"Mungkin dia tersesat di hutan."
"Mungkin dia lari. Meninggalkan istri dan anaknya yang aneh itu."
Dewi Rengganis mendengar bisikan-bisikan itu. Ia mendengar semuanya. Tapi ia memilih untuk tidak percaya. Hatinya mengatakan bahwa Hasan masih hidup. Hatinya mengatakan bahwa suaminya akan kembali. Hatinya mengatakan bahwa ada sesuatu yang menahannya di hulu – sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, tetapi juga tidak bisa dilawan.
Lelaki Tua dari Mimpi pernah berkata: "Jagalah anakmu. Kau tidak akan bersamanya lama."
Tapi Lelaki Tua dari Mimpi tidak pernah berkata bahwa Hasan akan mati. Tidak. Ia hanya berkata bahwa Dewi Rengganis tidak akan lama bersama Sultan Hasan. Bukan Hasan. Dewi Rengganis. Dirinya sendiri.
Itu yang membuatnya takut. Bukan karena Hasan belum pulang. Tapi karena firasat bahwa dirinya sendiri yang akan pergi lebih dulu.
Suatu sore, saat hujan turun dengan derasnya, Dewi Rengganis duduk di ambang pintu gubuknya sambil menggendong Sultan Hasan. Hujan di Dukuh Wangi tidak seperti hujan di tempat lain. Airnya turun seperti direbus dari langit. Anginnya menyengat tulang. Dan petirnya menyambar-nyambar seperti amarah dewa yang tidak terkendali.
Tiba-tiba, di sela-sela deru hujan, Dewi Rengganis mendengar suara langkah kaki. Bukan langkah biasa. Langkah ini berat, terseret-seret, seperti orang yang sedang sakit parah atau kelelahan luar biasa.
Ia menengok ke arah suara itu.
Di tengah hujan, seorang lelaki berjalan menuju gubuknya. Tubuhnya basah kuyup. Pakaiannya compang-camping. Wajahnya pucat seperti mayat. Rambutnya panjang dan kusut, tidak terawat. Ia hampir tidak bisa berjalan. Setiap langkah terasa seperti perjuangan antara hidup dan mati.
Tapi Dewi Rengganis mengenalinya.
Meski wajahnya pucat. Meski tubuhnya kurus kering. Meski matanya cekung dan bibirnya pecah-pecah. Dewi Rengganis mengenali suaminya.
"Hasan!" teriaknya.
Ia bangkit. Sultan Hasan yang ada di gendongannya terbangun dan mulai menangis. Tapi Dewi Rengganis tidak peduli. Ia berlari ke tengah hujan, mendekati suaminya yang hampir roboh.
Hasan tersenyum. Senyum yang lemah. Senyum yang nyaris padam. Dan sebelum sempat mengatakan apa-apa, ia jatuh tersungkur di depan istrinya.
Dewi Rengganis berteriak meminta tolong. Tapi suaranya tenggelam oleh deru hujan dan gemuruh petir.
Butuh waktu tiga hari bagi Hasan untuk bisa bicara lagi.
Demamnya tinggi. Seluruh tubuhnya panas seperti bara. Badannya menggigil meski ditumpuki selimut tebal. Dewi Rengganis bergantian mengompres dahinya dengan air dingin dan menyuapi bubur panas ke mulutnya. Sultan Hasan, yang masih bayi, kadang ikut menangis saat melihat ibunya sibuk merawat ayahnya.
Pada malam ketiga, demam Hasan mulai turun. Matanya terbuka. Samar-samar. Seperti orang yang baru sadar dari tidur panjang.
"Rengganis..." bisiknya.
Dewi Rengganis yang sedang duduk di sampingnya langsung mendekat. "Ya, Has? Aku di sini."
"Aku... aku melihat sesuatu. Di hulu. Sesuatu yang... tidak pernah kulihat sebelumnya."
Dewi Rengganis menunggu. Ia tahu suaminya bukan tipe orang yang suka berlebihan. Jika Hasan mengatakan ia melihat sesuatu, maka ia benar-benar melihat sesuatu.
"Aku mencari kayu jati di hulu," kata Hasan pelan. "Sudah tiga hari aku berjalan. Tidak menemukan apa-apa. Hutan di hulu sekarang gundul. Banyak ditebang secara diam-diam oleh orang-orang dari luar desa. Aku hampir putus asa. Tapi kemudian..."
Ia berhenti. Matanya menerawang. Seperti sedang mengingat mimpi yang sangat aneh.
"Kemudian aku tersesat. Padahal aku tahu hutan itu seperti telapak tanganku sendiri. Tapi tiba-tiba semua pohon terlihat sama. Semua jalan terasa berputar. Aku berjalan berjam-jam, mungkin berhari-hari, aku tidak tahu. Dan akhirnya aku sampai di sebuah tempat yang belum pernah aku lihat sebelumnya."
"Tempat apa?"
"Sebuah goa. Goa di tebing batu di tepi sungai. Tapi bukan goa biasa. Dinding goa itu... bersinar. Ada tulisan-tulisan. Aksara kuno. Yang tidak bisa kubaca. Dan di tengah goa, ada sebuah... pusaka."
Dewi Rengganis terhenyak. Pusaka. Kata yang sama yang keluar dari mulut Lelaki Tua dari Mimpi.
"Pusaka apa?" tanyanya.
Hasan menggeleng. "Aku tidak tahu. Aku tidak bisa mendekat. Ada suara. Suara perempuan. Suara yang sangat tua. Ia berkata: 'Jangan sentuh. Ini bukan untukmu. Ini untuk anakmu.'"
Dewi Rengganis terdiam. Untuk anaknya. Sultan Hasan.
"Aku mencoba mendekat, tapi tubuhku terasa berat. Sangat berat. Seperti ada tangan tak terlihat yang menahanku. Lalu aku pingsan. Dan ketika aku bangun, aku sudah berada di tepi sungai, jauh dari goa itu. Tubuhku sakit semua. Aku hampir tidak bisa berjalan. Tapi aku harus pulang. Aku harus memberitahumu."
Hasan menghela napas panjang. Matanya berkaca-kaca.
"Maafkan aku, Rengganis. Aku tidak membawa kayu jati. Aku gagal."
Dewi Rengganis menggenggam tangan suaminya. "Kau tidak gagal, Has. Kau pulang. Itu yang penting."
Tapi di dalam hatinya, Dewi Rengganis bertanya-tanya. Goa bersinar. Tulisan kuno. Pusaka yang menunggu anaknya. Dan Nini Mas Intan yang muncul di malam kelahiran. Dan Lelaki Tua dari Mimpi. Dan cincin batu akik merah yang sudah ia temukan di bawah papan lantai.
Semua ini terhubung. Tapi bagaimana? Ia tidak tahu.
Yang ia tahu, anaknya, Sultan Hasan, yang baru berusia empat puluh hari, sudah memiliki takdir yang lebih besar dari seluruh desa ini.
Dua minggu kemudian, ketika Hasan sudah pulih sepenuhnya, Dewi Rengganis memutuskan untuk menunjukkan kotak kayu itu kepada suaminya.
Malam itu, setelah Sultan Hasan tertidur, Dewi Rengganis meraih tangan Hasan dan membawanya ke sudut gubuk. Ia menyingsingkan tikar. Mengangkat papan yang longgar. Mengeluarkan kotak kayu coklat tua dengan pengait kuningan itu.
Hasan terkejut. "Kau... kau membukanya?"
"Aku membukanya saat kau belum pulang. Saat susuku pahit dan Sultan Hasan tidak mau menyusu. Aku bermimpi. Ada Lelaki Tua. Ia menyuruhku mencari pusaka."
Hasan membuka kotak itu. Tangannya gemetar. Ia mengeluarkan cincin batu akik merah. Batu itu berdenyut di telapak tangannya. Denyut yang sama seperti saat Dewi Rengganis memegangnya dulu.
"Ini... ini milik ayahku," bisik Hasan. "Atau mungkin kakekku. Aku tidak pernah tahu pasti. Ia memberikannya padaku sebelum aku merantau. Ia bilang, 'Bawa ini. Jaga ini. Suatu hari kau akan tahu untuk apa ini.'"
"Dan kau tidak pernah membukanya?"
Hasan menggeleng. "Aku takut. Aku merasa belum waktunya. Aku hanya menyimpannya di bawah lantai, berpikir bahwa suatu hari nanti aku akan tahu kapan harus membukanya. Ternyata... kau yang membukanya untukku."
Ia memandang istrinya. Matanya penuh haru.
"Kau lebih berani dariku, Rengganis."
Dewi Rengganis tersenyum. "Aku tidak berani. Aku hanya terdesak. Susuku hampir kering. Bayiku hampir mati kelaparan. Aku tidak punya pilihan."
Hasan mengangguk. Ia mengeluarkan sesobek kain dari dalam kotak. Kain putih kekuningan dengan tulisan aksara Jawa kuno. Ia membacanya. Perlahan. Matanya bergerak dari satu aksara ke aksara berikutnya.
"Untuk anakku. Bila suatu hari kau punya anak lelaki, berikan cincin ini padanya. Biarkan ia menjaganya. Biarkan cincin ini menjaganya. Karena hati yang dijaga tidak akan pernah tersesat, meski jalannya gelap."
Hasan menutup matanya. Air mata mengalir di pipinya yang mulai berjanggut.
"Ayah..." bisiknya. "Ayah... aku punya anak lelaki sekarang. Namanya Sultan Hasan. Ia masih bayi. Tapi ia... ia luar biasa."
Dewi Rengganis memeluk suaminya. Mereka berdua menangis dalam diam. Di sudut lain gubuk, Sultan Hasan tidur nyenyak, tidak terganggu oleh tangis orangtuanya.
Burung hantu di luar berbunyi. Sekali. Pendek.
Seolah mengatakan: Sekarang pusaka itu sudah tidak tersembunyi lagi.
Esok paginya, Hasan memakaikan cincin batu akik merah itu ke jari manis Sultan Hasan.
Cincin itu terlalu besar untuk jari mungil bayi. Jauh terlalu besar. Tapi anehnya, saat Hasan melingkarkannya di jari manis anaknya, cincin itu mengecil. Perlahan. Seperti menyesuaikan diri. Seperti ada kehidupan di dalam batu itu yang sadar bahwa pemiliknya sekarang adalah seorang bayi.
Sultan Hasan yang sedang terbangun, membuka matanya. Matanya yang hitam pekat menatap cincin di jarinya. Ia tersenyum. Senyum yang sama saat ia tersenyum pada ibunya malam itu.
"Senyum itu..." kata Hasan terheran-heran. "Anak seusianya tidak bisa tersenyum seperti itu."
"Sudah kubilang," kata Dewi Rengganis. "Anak kita tidak biasa."
Hasan menggendong anaknya. Sultan Hasan menggenggam jari telunjuk ayahnya dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya, dengan cincin akik merah di jari manisnya, mengepal dan membuka bergantian, seperti sedang belajar merasakan benda asing yang kini menempel padanya.
"Cincin ini akan menjagamu, Nak," bisik Hasan. "Dan kau akan menjaganya. Kalian berdua akan saling menjaga. Selamanya."
Di luar, matahari terbit dengan cerahnya. Ayam-ayam berkotek. Burung-burung bernyanyi. Desa mulai bangun. Dan untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, Dewi Rengganis merasa ada sedikit harapan.
Anaknya mungkin dikutuk. Anaknya mungkin dijauhi. Anaknya mungkin tumbuh dalam kesendirian.
Tapi ia tidak akan sendirian. Ia punya cincin. Ia punya pusaka. Dan pusaka itu tidak akan pernah meninggalkannya.
Dunia boleh mengutuk. Pusaka tidak akan mengkhianati.
Demikian pikir Dewi Rengganis pagi itu, di bawah sinar matahari yang hangat, sambil memandangi suami dan anaknya yang tertawa bersama untuk pertama kalinya.
Dan di kejauhan, di atas pohon asam tua di halaman depan, seekor burung hantu menatap mereka bertiga. Tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah ia tahu bahwa pusaka itu sekarang sudah berada di tangan yang tepat.
Dan cerita sesungguhnya baru akan dimulai.
BAB V
Ayah yang Pergi
Tidak ada yang tahu persis apa yang terjadi di hulu sungai pada pagi itu.
Yang diketahui, Hasan bangun lebih awal dari biasanya. Matahari belum terbit. Ayam jantan pun masih pada tidur. Namun ia sudah duduk di pinggir tikar, merapikan buntalan kainnya, menyelipkan sebilah parang pendek di pinggang.
Dewi Rengganis terbangun karena merasa ada yang ganjil. Biasanya Hasan tidur seperti balok kayu, tidak bergerak sampai matahari meninggi. Tapi pagi itu, sisi tikar di sampingnya terasa dingin. Sudah lama ditinggalkan.
"Hasan?" panggilnya pelan, takut membangunkan Sultan Hasan yang sedang nyenyak di antara mereka berdua.
"Ya," jawab suaminya dari balik punggung. Suaranya aneh. Tidak seperti biasanya. Ada getar yang tidak bisa disembunyikan.
Dewi Rengganis duduk. Matanya masih sayu karena kantuk. Tapi begitu melihat Hasan sudah berpakaian rapi dengan buntalan di sampingnya, kantuk itu lenyap seketika. Digantikan oleh sesuatu yang dingin menjalari punggung.
"Kau mau ke mana?" tanyanya, padahal ia sudah tahu jawabannya.
Hasan tidak segera menjawab. Ia terus merapikan buntalannya, meski sebenarnya tidak ada yang perlu dirapikan lagi. Kain buntalan itu sudah ia lipat tiga kali, dibuka lagi, dilipat ulang. Seperti orang yang sedang menunda sesuatu.
"Ke hulu," katanya akhirnya.
"Ke hulu lagi? Kau baru saja pulang, Has. Tubuhmu masih belum pulih benar."
"Aku sudah sehat."
"Belum. Kau masih batuk-batuk di malam hari. Aku mendengarnya."
Hasan terdiam. Ia tahu istrinya benar. Setelah tiga minggu tersesat di hutan, setelah demam tinggi yang hampir merenggut nyawanya, tubuhnya memang belum pulih seratus persen. Kadang di malam hari ia menggigil tanpa sebab. Kadang di siang hari tiba-tiba pusing dan harus duduk sebentar.
Tapi ada sesuatu yang mendorongnya. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Sebuah panggilan. Sebuah bisikan. Sebuah keharusan.
"Aku harus kembali ke goa itu, Rengganis."
Dewi Rengganis menarik napas panjang. "Goa dengan pusaka yang tidak boleh kau sentuh? Goa dengan suara perempuan tua yang melarangmu mendekat?"
"Iya. Goa itu."
"Untuk apa? Sudah kau dengar sendiri suara itu. Pusaka itu bukan untukmu. Untuk anak kita. Sultan Hasan."
Hasan menggeleng. "Bukan untuk mengambil pusaka. Aku hanya ingin... memastikan. Aku ingin melihat lagi. Mungkin aku salah. Mungkin aku hanya mengigau karena demam. Mungkin tidak ada goa, tidak ada suara, tidak ada tulisan di dinding. Mungkin itu semua hanya halusinasi."
Dewi Rengganis memandang suaminya. Ia bisa membaca kegelisahan di mata Hasan. Bukan kegelisahan karena penasaran biasa. Ini kegelisahan yang lebih dalam. Seperti orang yang sedang dikejar oleh sesuatu yang tidak bisa ia lihat, tetapi ia rasakan di setiap helaan napasnya.
"Kalau kau tetap mau pergi," kata Dewi Rengganis perlahan, "setidaknya tunggu sampai cuaca cerah. Beberapa hari lagi. Biar aku buatkan bekal yang cukup."
Hasan menggeleng lagi. "Harus sekarang. Sebelum matahari terbit."
"Kenapa?"
"Karena..." Hasan berhenti. Ia menggigit bibirnya. Wajahnya berubah pucat. "Karena semalam aku bermimpi lagi. Tentang goa itu. Tentang perempuan tua itu. Ia berkata... ia berkata kalau aku tidak segera kembali, pusaka itu akan diambil oleh orang lain."
Dewi Rengganis terhenyak. Mimpi. Lagi-lagi mimpi. Seperti mimpi yang ia alami dulu, saat susunya pahit dan Sultan Hasan tidak mau menyusu. Mimpi yang terasa begitu nyata. Mimpi yang bukan sekadar bunga tidur.
"Siapa orang lain itu?" tanyanya.
"Aku tidak tahu. Perempuan tua itu tidak menyebut nama. Tapi nada bicaranya... ia takut. Suara yang bisa membuatku tersesat di hutan selama berminggu-minggu itu ternyata bisa juga ketakutan. Ada sesuatu yang lebih kuat darinya. Sesuatu yang mengancam pusaka itu."
Dewi Rengganis terdiam.
Di luar, langit mulai memutih. Ayam jantan akhirnya berkokok. Satu kali. Dua kali. Kemudian serempak dari seluruh penjuru desa, seolah menyepakati bahwa hari baru telah dimulai.
Hasan berdiri. Ia menggantung buntalannya di bahu. Ia meraba parang di pinggang, memastikan masih ada di tempatnya.
"Aku akan pergi sekarang," katanya. "Jangan cegah aku."
"Aku tidak akan mencegahmu," kata Dewi Rengganis. "Tapi janjikan aku satu hal."
"Apa?"
"Kembali. Apa pun yang terjadi di goa itu, kembali ke sini. Anakmu membutuhkan ayahnya."
Hasan menatap istrinya. Kemudian matanya beralih ke Sultan Hasan yang masih tidur nyenyak di tikar. Bayi itu berguling sedikit. Tangannya yang memakai cincin batu akik merah berada di atas dadanya, naik turun mengikuti napasnya yang teratur.
Hasan berjongkok. Ia mencium kening Sultan Hasan. Sekali. Lama.
"Jaga ibu mu, Nak," bisiknya. "Ayah harus pergi sebentar. Ayah akan pulang. Ayah janji."
Sultan Hasan tidak bereaksi. Ia tetap tidur. Damai. Tidak terganggu.
Hasan berdiri. Ia memandang Dewi Rengganis sekali lagi. Ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Semacam perpisahan yang terasa lebih berat dari sekadar pergi ke hulu untuk mencari kayu jati.
"Selamat tinggal, Rengganis."
"Bukan selamat tinggal. Sampai jumpa."
Hasan tersenyum. Senyum yang pahit. Senyum yang tahu.
Kemudian ia berbalik. Melangkah keluar gubuk. Menyusuri jalan setapak menuju timur, tempat di mana hutan lebat mulai dan cahaya matahari kesulitan menembus kanopi pohon-pohon tua.
Dewi Rengganis berdiri di ambang pintu. Ia melihat suaminya berjalan menjauh. Langkahnya tegap, tapi lambat. Seperti orang yang tidak benar-benar ingin pergi tetapi terpaksa.
Ia menahan diri untuk tidak berteriak, "Jangan pergi!"
Ia menahan diri untuk tidak berlari mengejar dan menarik lengan suaminya.
Ia membiarkan Hasan pergi.
Karena ia tahu, kadang-kadang, mencintai berarti melepaskan. Meski perasaan di dada terasa seperti diremas-remas oleh tangan tak terlihat.
Hasan berbalik sekali lagi saat jarak mereka sudah cukup jauh. Ia melambaikan tangan. Dewi Rengganis membalas lambaian itu.
Kemudian Hasan masuk ke dalam kegelapan hutan. Dan lenyap.
Seperti ditelan bumi.
Hari pertama tanpa Hasan terasa biasa saja.
Dewi Rengganis melakukan rutinitas yang sama seperti biasanya. Bangun pagi. Menyusui Sultan Hasan. Menjemur pakaian. Memasak nasi untuk dirinya sendiri. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang aneh.
Hanya saja, ia merasa ada keheningan yang berbeda di gubuk itu. Keheningan yang tidak datang dari ketiadaan suara, melainkan dari ketiadaan seseorang. Seperti kursi yang biasanya diduduki sekarang kosong. Seperti tikar yang biasanya ditempati dua orang sekarang hanya untuk satu setengah (karena Sultan Hasan masih terlalu kecil untuk dihitung sebagai satu orang utuh).
Hari kedua juga sama.
Hari ketiga, Dewi Rengganis mulai gelisah. Perjalanan ke hulu biasanya memakan waktu seminggu pulang-pergi. Tapi itu untuk orang normal. Hasan sedang dalam kondisi tidak normal. Tubuhnya belum pulih. Ia pergi dengan bekal seadanya. Dan ia pergi dengan beban pikiran yang berat tentang goa dan pusaka dan perempuan tua.
Malam ketiga, Dewi Rengganis bermimpi.
Ia berdiri di tepi sungai. Bukan sungai biasa. Sungai ini airnya hitam pekat seperti tinta. Tidak mengalir. Diam. Seperti air mati. Dan di seberang sungai, ia melihat seorang lelaki berdiri membelakanginya.
Lelaki itu memakai baju putih. Rambutnya panjang sebahu. Tubuhnya tegap.
Dewi Rengganis mengenalinya meski hanya dari belakang.
"Hasan!" teriaknya.
Lelaki itu tidak bergerak.
"Hasan! Baliklah! Aku di sini!"
Lelaki itu perlahan menoleh. Wajahnya pucat. Matanya kosong. Bibirnya biru. Dan dari mulutnya, keluar suara yang bukan suaranya. Suara perempuan. Tua. Serak.
"Ia tidak bisa kembali, Dewi Rengganis. Ia sudah menjadi milikku."
Dewi Rengganis terbangun dengan jeritan yang tertahan di tenggorokan.
Ia duduk di tikar. Tubuhnya basah oleh keringat dingin. Sultan Hasan yang tidur di sampingnya terbangun dan mulai menangis. Bukan tangisan biasa. Tangisan keras. Tangisan yang sama saat ia dilahirkan. Tangisan yang sudah tua.
Dewi Rengganis menggendong anaknya. Ia mengguncang-guncangnya dengan lembut. Ia menenangkannya dengan suara pelan. Tapi Sultan Hasan terus menangis. Seolah ia juga melihat mimpi yang sama. Seolah ia juga tahu bahwa ayahnya tidak akan pulang.
Di luar, burung hantu berbunyi.
Sekali. Pendek.
Tapi kali ini bunyinya berbeda. Tidak seperti tanda persetujuan. Lebih seperti ratapan.
Tujuh hari. Empat belas hari. Tiga puluh hari.
Hasan tidak kunjung pulang.
Dewi Rengganis sudah melaporkan ke kepala desa. Kepala desa sudah mengirimkan beberapa orang untuk mencari ke hulu. Mereka mencari selama seminggu. Mereka menyusuri sungai. Memasuki hutan. Memeriksa gua-gua yang mungkin menjadi tempat persembunyian.
Mereka tidak menemukan apa-apa.
Tidak ada jejak. Tidak ada pakaian sobek. Tidak ada bekas darah. Tidak ada tulang-belulang. Hasan lenyap seperti ditelan udara.
"Mungkin ia pergi ke desa lain," kata kepala desa. "Mungkin ia tidak betah di sini. Mungkin ia... meninggalkan kau dan anakmu."
Dewi Rengganis tidak percaya. Ia tahu suaminya. Hasan bukan tipe laki-laki yang lari dari tanggung jawab. Ia pergi ke hulu untuk sesuatu yang penting. Sesuatu yang berhubungan dengan goa dan pusaka. Dan ia tidak kembali karena sesuatu yang mencegahnya.
Tapi ia tidak bisa menjelaskan semua itu kepada kepala desa. Kepala desa hanya akan tertawa. Atau lebih parah, ia akan menganggap Dewi Rengganis sudah mulai kehilangan akal sehatnya karena ditinggal suami.
Jadi Dewi Rengganis hanya diam. Ia menggendong Sultan Hasan. Ia kembali ke gubuknya. Ia menangis di dalam hati.
Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar sendirian.
Usia Sultan Hasan menginjak enam bulan ketika Dewi Rengganis jatuh sakit.
Awalnya hanya batuk-batuk kecil. Seperti yang biasa diderita orang saat musim pancaroba. Tapi batuk itu tidak kunjung sembuh. Malah memburuk. Dari batuk kering menjadi batuk berdahak. Dari batuk berdahak menjadi batuk darah.
Dewi Rengganis tidak mau pergi ke dukun. Ia tidak punya uang untuk membeli jampi-jampi. Ia juga tidak mau merepotkan tetangga yang sudah sejak awal menjauhinya. Ia hanya berbaring di tikar, menggendong Sultan Hasan, dan berdoa kepada Tuhan yang mungkin tidak lagi mendengarnya.
Sultan Hasan tumbuh menjadi bayi yang aneh.
Pada usia enam bulan, ia sudah bisa duduk sendiri. Pada usia tujuh bulan, ia sudah bisa merangkak dengan cepat. Pada usia delapan bulan, ia sudah mengucapkan kata pertama.
"Ma... ma..."
Bukan "mama" seperti bayi lain menyebut ibu. Tapi "ma... ma..." dengan jeda di tengahnya. Seperti orang yang sedang memanggil dari kejauhan.
Dewi Rengganis tersenyum mendengarnya. Senyum yang lemah. Senyum yang terlihat lebih mirip rintihan.
"Nak... ibu sakit," bisiknya. "Ibu tidak tahu bisa bertahan berapa lama lagi."
Sultan Hasan yang sedang duduk di pangkuannya menatap ibunya. Matanya yang hitam pekat itu berair. Seolah ia mengerti. Seolah ia sudah tahu sejak lama.
"Ibu titipkan ini padamu," Dewi Rengganis melanjutkan. Tangannya yang kurus meraih tangan kanan Sultan Hasan. Ia menyentuh cincin batu akik merah yang masih melingkar di jari manis bayinya. Cincin itu sekarang sudah tidak terlalu besar. Seolah batu itu terus menyesuaikan diri dengan pertumbuhan pemiliknya.
"Cincin ini... jaga cincin ini. Ia akan menjagamu. Ia akan membawamu bertemu dengan... dengan seseorang. Seseorang yang akan kau cintai sepanjang hidupmu."
Dewi Rengganis batuk. Batuk yang keras. Darah berceceran di kain sarungnya.
Sultan Hasan tidak menangis. Ia hanya memandang ibunya. Tangannya yang mungil mengusap pipi Dewi Rengganis. Seperti menghapus air mata yang belum sempat jatuh.
"Kau kuat, Nak," bisik Dewi Rengganis untuk terakhir kalinya. "Jauh lebih kuat dari ibu."
Kemudian matanya terpejam.
Tangannya yang memegang tangan Sultan Hasan, lemas.
Dan di luar gubuk, meskipun ini siang bolong, seekor burung hantu berbunyi.
Sekali. Pendek.
Lalu terbang meninggalkan pohon asam tua itu, menuju ke timur, ke arah hutan lebat, ke arah tempat Hasan lenyap, seolah membawa kabar bahwa sekarang Sultan Hasan benar-benar yatim piatu.
Mak Umi yang menemukan mereka sore harinya.
Perempuan gemuk dengan rambut keriting itu datang membawa segenggam beras seperti biasa. Ia ingin memastikan Dewi Rengganis baik-baik saja. Sebab sudah tiga hari ia tidak melihat asap dari dapur gubuk itu. Tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Ia memanggil dari luar. Tidak ada jawaban. Ia mendorong pintu bambu yang tidak terkunci.
Dewi Rengganis terbaring di tikar. Wajahnya pucat. Matanya terpejam. Mulutnya sedikit terbuka. Tidak bergerak.
Di sampingnya, Sultan Hasan duduk tegak. Bayi berusia delapan bulan yang seharusnya belum bisa duduk sendiri dengan stabil itu duduk dengan punggung lurus. Matanya yang hitam pekat menatap Mak Umi. Tidak menangis. Tidak tersenyum. Hanya menatap.
Mak Umi menghampiri. Ia menyentuh leher Dewi Rengganis. Dingin. Sudah berjam-jam.
Perempuan itu berteriak. Ia berlari keluar gubuk, memanggil-manggil tetangga. Orang-orang mulai berdatangan. Mereka membawa kain kafan. Mereka membawa air untuk memandikan mayat. Mereka membawa perlengkapan pemakaman.
Tapi tidak ada yang menggendong Sultan Hasan.
Bayi itu ditinggalkan sendirian di atas tikar, di samping mayat ibunya, dengan cincin batu akik merah di jari manisnya, dan dengan tatapan mata yang terlalu tua untuk bayi seusianya.
Mak Umi yang akhirnya menggendongnya. Dengan tangan gemetar, ia memangku Sultan Hasan. Bayi itu tidak melawan. Ia membiarkan dirinya digendong, meski matanya tetap menatap ke arah tikar kosong tempat ibunya terbaring beberapa saat lalu.
"Kasihan kau, Nak," bisik Mak Umi. "Ayahmu pergi. Ibumu mati. Dan seluruh desa mengutuk namamu. Siapa yang akan merawatmu?"
Sultan Hasan tidak menjawab. Ia hanya menggenggam jari telunjuk Mak Umi dengan tangannya yang mungil. Genggaman yang kuat. Genggaman yang tidak mau dilepas.
Mak Umi menangis.
Di luar, langit mendung. Seperti ikut berduka. Seperti tahu bahwa cerita ini baru benar-benar dimulai.
Dan di kejauhan, di atas pohon beringin tua di balai pertemuan, seekor burung hantu menatap ke arah gubuk itu. Matanya bundar dan kuning.
Ia tidak berbunyi.
Hanya menatap.
Seolah ia tahu bahwa Sultan Hasan sekarang sendirian di dunia. Dan bahwa perjalanannya yang sesungguhnya akan segera dimulai.
BAB VI
Usia Lima Tahun
Ketika Sultan Hasan genap berusia lima tahun, ia sudah terbiasa dengan tiga hal: kesepian, ejekan, dan batu akik merah di jari manisnya.
Tiga hal itu seperti saudara kembar yang tidak pernah meninggalkannya ke mana pun ia pergi. Kesepian menemani tidurnya. Ejekan menemani langkahnya. Dan batu akik merah itu menemani detak jantungnya, berdenyut setiap kali ia merasa takut atau marah atau sedih, seperti ada sesuatu di dalam batu itu yang hidup dan peduli padanya.
Setelah kematian Dewi Rengganis, Sultan Hasan tidak tinggal di gubuk reot itu sendirian. Mak Umi, perempuan gemuk berhati malaikat itu, membawanya ke rumahnya yang terletak di ujung desa yang lain. Bukan karena Mak Umi kaya atau punya hati seluas samudra. Mak Umi juga miskin. Suaminya, seorang buruh tani, hanya bisa makan satu kali sehari saat musim paceklik. Rumahnya hanya sedikit lebih baik dari gubuk Dewi Rengganis: atapnya bolong di dua tempat, bukan tiga.
Tapi Mak Umi memiliki sesuatu yang tidak dimiliki kebanyakan orang di Dukuh Wangi: ia tidak takut pada kutukan. Ia tidak percaya bahwa nama "Sultan Hasan" membawa sial. Ia tidak percaya bahwa anak yang lahir di malam gerhana akan mendatangkan bencana.
"Omong kosong," kata Mak Umi setiap kali orang mengingatkannya. "Anak itu cuma anak-anak biasa. Tidak punya ekor. Tidak punya tanduk. Tidak menyemburkan api dari mulutnya. Kalian semua yang aneh, bukan dia."
Namun demikian, Mak Umi tidak bisa melindungi Sultan Hasan dari seluruh desa. Ia hanya seorang perempuan tua miskin. Tidak punya kekuasaan. Tidak punya pengaruh. Yang bisa ia lakukan hanyalah memberi Sultan Hasan makan, memberinya tempat tidur, dan kadang-kadang membelai rambutnya saat malam sebelum tidur.
Selebihnya, Sultan Hasan harus menghadapi dunianya sendiri.
Pada usia lima tahun, Sultan Hasan sudah hafal semua jalan setapak di Dukuh Wangi.
Ia tahu persis di mana letak sumur yang airnya paling jernih. Ia tahu persis di mana pohon jambu air yang buahnya paling manis (meskipun ia tidak pernah berani memetiknya karena pohon itu milik Kyai Mandrawijaya). Ia tahu persis di mana tepi sungai yang landai dan aman untuk bermain air, dan di mana tepi sungai yang curam dan berbahaya karena banyak ularnya.
Tapi pengetahuan itu tidak berguna jika tidak ada teman untuk berbagi.
Sultan Hasan tidak punya teman.
Anak-anak seusianya dilarang orang tua mereka bermain dengannya. "Jangan dekati anak itu," bisik para ibu kepada anak-anak mereka. "Ia anak setan. Ia lahir di malam gerhana. Neneknya membantu kelahirannya adalah perempuan sihir. Ayahnya lenyap karena kutukan. Ibunya mati muda karena dia. Jangan-jangan kau berikutnya."
Anak-anak itu mendengarkan. Mereka mengangguk. Mereka takut.
Tapi anak-anak juga punya rasa ingin tahu. Kadang-kadang, saat orang tua mereka tidak melihat, beberapa anak lelaki nekat mendekati Sultan Hasan. Bukan untuk bermain. Untuk mengganggu.
"Hei, anak setan!" teriak salah satu dari mereka, anak kepala dusun bernama Jebat yang usianya setahun lebih tua dari Sultan Hasan dan tubuhnya sudah sebesar anak tujuh tahun. "Tunjukkan tandukmu! Katanya anak setan punya tanduk di kepalanya!"
Sultan Hasan tidak menjawab. Ia hanya menunduk. Tangan kanannya yang memakai cincin batu akik merah ia sembunyikan di balik punggung. Entah mengapa ia merasa bahwa batu itu akan marah jika ia menggunakannya untuk melawan anak-anak ini.
"Dia diam!" teriak Jebat kepada teman-temannya. "Dia takut! Anak setan itu takut!"
Mereka melempari Sultan Hasan dengan kerikil. Kecil-kecil. Tidak sampai melukai. Tapi cukup untuk membuatnya berlari.
Sultan Hasan berlari. Ia berlari melewati ladang-ladang jagung. Ia berlari melewati kebun singkong. Ia berlari sampai kakinya lecet dan napasnya tersengal-sengal. Ia berhenti di tepi sungai, di tempat yang landai yang ia tahu aman.
Ia duduk di atas batu. Matanya berkaca-kaca. Tapi ia tidak menangis.
Sejak kecil, ia belajar bahwa menangis tidak akan mengubah apa pun. Ibunya sudah mati. Ayahnya tidak pernah kembali. Tidak ada yang akan datang menghiburnya jika ia menangis. Bahkan Mak Umi, yang baik hati, tidak bisa selalu ada untuknya.
Yang bisa menemuinya hanyalah batu akik merah itu.
Sultan Hasan memandang cincin di jari manisnya. Batu itu berdenyut. Merahnya lebih terang dari biasanya. Seperti marah. Seperti kesal karena pemiliknya diperlakukan seperti itu.
"Sudahlah," bisik Sultan Hasan pada batu itu. "Aku sudah biasa."
Batu itu berdenyut sekali lagi. Lalu meredup. Kembali ke warna merah tua seperti biasa.
Sultan Hasan tersenyum kecil. Meski dunia mengusirnya, setidaknya ada satu makhluk yang selalu bersamanya.
Suatu sore, saat hujan turun dengan derasnya dan Sultan Hasan sedang duduk di beranda rumah Mak Umi sambil mengamati genangan air di halaman, seorang perempuan tua datang bertamu.
Perempuan itu sangat tua. Lebih tua dari siapa pun yang pernah dilihat Sultan Hasan. Rambutnya putih semua. Kulitnya keriput seperti kulit kayu. Matanya buram seperti susu diencerkan air. Ia memakai kain hitam lusuh dan membawa tongkat kayu nangka yang sudah aus.
Mak Umi yang membukakan pintu terperanjat. "Nini... Nini Mas Intan?"
Perempuan tua itu mengangguk. "Aku datang untuk melihat anak itu," katanya dengan suara serak. "Kabar tentang dia sampai juga ke tempatku bersembunyi. Katanya ia sekarang tinggal di sini."
Mak Umi menepuk dadanya. "Masuklah, Nek. Anaknya ada di beranda."
Nini Mas Intan berjalan perlahan menuju beranda. Langkahnya terseok-seok, tapi matanya yang buram itu tetap terarah ke Sultan Hasan, seperti magnet yang tidak bisa meleset.
Sultan Hasan memandang perempuan tua itu. Ada sesuatu di wajahnya yang familiar. Sesuatu yang tidak bisa ia ingat karena ia belum bisa mengingat apa pun saat usianya baru beberapa jam. Tapi tubuhnya mengingat. Hatinya mengingat. Perempuan ini pernah menggendongnya. Perempuan ini pernah menolongnya keluar dari rahim ibunya. Perempuan ini adalah orang pertama yang menyentuhnya di dunia ini.
"Sultan Hasan," kata Nini Mas Intan. Bukan pertanyaan. Pernyataan.
Sultan Hasan mengangguk.
"Kau tahu siapa aku?"
Tidak. Sultan Hasan tidak tahu. Tapi ia menggelengkan kepalanya dengan sopan.
"Aku Nini Mas Intan. Aku yang menolong ibumu melahirkanmu. Malam gerhana itu. Kau menangis keras sekali. Aku tidak akan lupa."
Sultan Hasan terdiam. Ia tidak tahu harus merespons bagaimana.
Nini Mas Intan duduk di sampingnya, di lantai papan beranda yang sedikit basah karena percikan air hujan. Ia meletakkan tongkatnya di samping. Kemudian tangannya yang keriput meraih tangan kanan Sultan Hasan.
Ia membuka telapak tangan anak itu. Ia memandang cincin batu akik merah di jari manisnya.
"Masih kau jaga," gumamnya. "Bagus. Bagus sekali."
Perempuan tua itu menghela napas panjang. Napas yang keluar dari dadanya terdengar seperti angin yang melewati celah-celah gua. Panjang. Berat. Penuh dengan sesuatu yang tidak bisa diucapkan.
"Aku sudah tua, Sultan Hasan. Sangat tua. Lebih tua dari pohon beringin di balai pertemuan. Lebih tua dari desa ini. Aku sudah melihat banyak hal. Tapi aku belum pernah melihat anak sepertimu."
"Apa bedanya aku dengan anak lain, Nek?" tanya Sultan Hasan. Suaranya kecil. Tidak seperti suara anak lima tahun pada umumnya. Ada kedewasaan yang aneh di sana. Seperti ia sudah bertanya pada dirinya sendiri ribuan kali dan baru sekarang mendapatkan kesempatan untuk mengucapkannya keras-keras.
Nini Mas Intan tersenyum. Senyum yang memperlihatkan gusinya yang ompong.
"Kau bertanya soal perbedaan. Itu sudah perbedaan pertama. Anak seusiamu tidak bertanya seperti itu. Mereka sibuk bermain kejar-kejaran atau menangkap belalang. Tapi kau... kau sudah bertanya tentang dirimu sendiri. Tentang identitasmu. Tentang mengapa kau berbeda."
Sultan Hasan menunduk.
"Itu karena semua orang bilang aku anak setan," katanya pelan. "Mungkin aku memang anak setan. Aku tidak tahu. Aku hanya tahu aku lahir di malam gerhana, ayahku lenyap, ibuku mati, dan semua orang takut padaku. Mungkin memang ada yang salah dengan diriku."
Nini Mas Intan menggeleng. Lambat. Dalam.
"Tidak ada yang salah dengan dirimu, Sultan Hasan. Yang salah adalah desa ini. Yang salah adalah ketakutan mereka. Yang salah adalah mereka yang lebih memilih mengutuk daripada memahami. Bukan kau."
"Lalu kenapa aku berbeda?"
Nini Mas Intan memandang anak itu lama. Matanya yang buram tiba-tiba terlihat jernih untuk sesaat. Seperti danau yang biasanya tertutup kabut tiba-tiba bersih setelah hujan.
"Kau berbeda, Nak, karena kau dipilih. Bukan oleh manusia. Bukan oleh desa ini. Tapi oleh sesuatu yang lebih tua dari semuanya. Kau dipilih untuk menjadi penjaga."
"Penjaga apa?"
"Penjaga hati. Hatimu sendiri. Hati orang yang kau cintai. Hati dari generasi yang akan datang setelah kau mati. Itu tugas yang berat. Tidak semua orang sanggup. Tapi kau... kau sudah sanggup sejak kau masih dalam rahim ibumu. Itu sebabnya kau menangis saat lahir. Bukan karena takut. Tapi karena kau tahu."
Sultan Hasan tidak mengerti semuanya. Ia baru lima tahun. Kata-kata seperti "generasi" dan "penjaga hati" terlalu besar untuk otaknya yang masih polos. Tapi ada sesuatu di dalam dadanya yang terasa hangat saat mendengar kata-kata itu. Seperti ada kunci yang cocok dengan lubangnya. Seperti ada teka-teki yang akhirnya menemukan potongan yang hilang.
"Apa yang harus aku lakukan, Nek?" tanyanya.
Nini Mas Intan mengusap rambut Sultan Hasan. Tangannya dingin, tapi sentuhannya lembut.
"Untuk sekarang, bertahanlah. Belajarlah. Bukan belajar di sekolah yang diajar oleh orang-orang yang membencimu. Tapi belajar dari alam. Dari sungai. Dari pohon. Dari batu. Dari hewan-hewan di hutan. Mereka tidak akan mengutukmu. Mereka akan menerimamu apa adanya."
"Dan nanti?"
"Nanti... kau akan pergi dari desa ini. Kau akan merantau. Kau akan bertemu dengan banyak orang. Ada yang baik. Ada yang jahat. Ada yang akan menyakitimu. Ada yang akan kau cintai. Dan di ujung perjalananmu, kau akan kembali ke desa ini sebagai orang yang berbeda. Sebagai penjaga."
Sultan Hasan diam. Hujan masih turun di luar. Genangan air di halaman semakin besar.
"Nek," katanya setelah lama terdiam. "Kenapa kau baik padaku? Padahal semua orang takut padaku. Semua orang benci padaku."
Nini Mas Intan tertawa. Tawanya kecil, serak, tapi hangat.
"Karena aku tidak punya alasan untuk takut padamu. Dan karena... dulu, saat aku seusiamu, aku juga dianggap aneh. Aku juga dikucilkan. Aku juga dituduh membawa sial. Aku tahu rasanya. Dan aku tidak ingin kau merasakannya sendirian."
Perempuan tua itu berdiri. Ia mengambil tongkatnya. Ia menepuk-nepuk pundak Sultan Hasan.
"Aku akan sering datang ke sini," katanya. "Aku akan mengajarimu banyak hal. Syair-syair. Ilmu tentang hati. Tentang pusaka. Tentang telaga larangan. Tapi untuk hari ini... istirahatlah. Kau sudah cukup bertanya untuk anak seusiamu."
Nini Mas Intan berjalan perlahan meninggalkan beranda. Di tengah hujan, ia tidak berteduh. Ia berjalan seperti air tidak mempan padanya. Seperti ia bagian dari hujan itu sendiri.
Sultan Hasan memandang punggung perempuan tua itu sampai lenyap di tikungan jalan.
Di jari manisnya, batu akik merah berdenyut pelan. Tidak marah. Tidak panas. Hangat. Seperti setuju dengan semua yang dikatakan Nini Mas Intan.
Sultan Hasan tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa tidak sendirian.
Sejak hari itu, Nini Mas Intan datang setiap pekan.
Kadang ia datang pagi-pagi sekali, saat ayam jantan baru pertama kali berkokok dan kabut masih tebal di atas sawah. Kadang ia datang sore hari, saat matahari mulai condong ke barat dan bayang-bayang pohon memanjang seperti jari-jari raksasa. Kadang ia datang malam hari, saat desa sudah tidur dan hanya suara jangkrik yang memenuhi udara.
Ia tidak pernah memberi tahu Mak Umi kapan ia akan datang. Ia muncul begitu saja. Seperti angin. Seperti hantu. Seperti sesuatu yang tidak terikat oleh aturan dunia biasa.
Dan setiap kali datang, ia mengajarkan sesuatu pada Sultan Hasan.
Pertemuan pertama: tentang nama.
"Nama Sultan Hasan," kata Nini Mas Intan, "adalah nama yang terlalu besar untuk anak kampung sepertimu. Tapi ibumu tidak salah memberimu nama itu. Suatu hari nanti, kau akan tumbuh sebesar nama itu. Kau akan menjadi pemimpin. Bukan pemimpin desa atau pemimpin perang. Tapi pemimpin hati. Orang-orang akan mendengarkanmu bukan karena kau memaksa mereka, tapi karena kata-katamu masuk ke dalam dada mereka seperti air meresap ke tanah kering."
Pertemuan kedua: tentang pusaka.
"Cincin batu akik merah di jarimu itu bukan cincin biasa. Ia hidup. Ia bisa merasakan apa yang kau rasakan. Marah? Ia akan panas. Takut? Ia akan berdenyut cepat. Sedih? Ia akan meredup. Jaga ia. Dan ia akan menjagamu. Tapi ingat... pusaka hanyalah alat. Kekuatan sejati bukan dari batu, tapi dari hati yang menjaganya."
Pertemuan ketiga: tentang telaga larangan.
"Di hutan, tidak jauh dari sini, ada sebuah telaga. Airnya jernih. Dasarnya terlihat meski dari kejauhan. Tapi jangan pernah kau pergi ke sana sendirian. Telaga itu dijaga oleh sesuatu yang tidak bisa kau lihat. Sesuatu yang hanya muncul pada saat-saat tertentu. Suatu hari nanti, kau akan ke sana. Tapi tidak sekarang. Sekarang kau masih terlalu kecil. Kau belum siap."
Pertemuan keempat: tentang syair pertama.
Nini Mas Intan mengajarkan Sultan Hasan sebuah syair. Hanya dua baris. Tapi suaranya saat melantunkannya berbeda dari biasanya. Ada getar. Ada kekuatan. Ada sesuatu yang membuat bulu kuduk Sultan Hasan berdiri.
"Hati yang tidak dijaga akan diambil angin.
Hati yang dijaga terlalu keras akan retak oleh tangannya sendiri."
"Syair ini," kata Nini Mas Intan, "adalah syair tertua yang dikenal oleh para penjaga hati. Tidak ada yang tahu siapa penciptanya. Tapi semua penjaga hati menghafalnya. Karena di dalam dua baris ini, terkandung seluruh rahasia tentang menjaga. Tidak terlalu longgar. Tidak terlalu ketat. Seimbang. Seperti napas."
Sultan Hasan menghafalnya dalam sekali dengar. Ia mengucapkannya kembali. Tepat. Tanpa salah.
Nini Mas Intan tersenyum. "Kau cepat belajar. Seperti yang kuduga."
Pertemuan kelima, keenam, ketujuh... terus berlangsung seperti itu.
Setiap kali, Sultan Hasan belajar sesuatu yang baru. Tentang alam. Tentang manusia. Tentang hati. Tentang cinta. Tentang kehilangan. Tentang bagaimana menjadi kuat tanpa menjadi keras. Tentang bagaimana menjadi lembut tanpa menjadi lemah.
Semua pelajaran itu masuk ke dalam dirinya seperti air yang diserap oleh akar pohon. Tersimpan. Tumbuh. Kelak, saat ia dewasa, pelajaran-pelajaran itu akan muncul kembali pada saat yang tepat, seperti pisau yang baru diasah ketika hendak dipakai.
Pada suatu malam, saat Sultan Hasan sudah berusia lima tahun setengah, Nini Mas Intan tidak datang.
Sultan Hasan menunggu di beranda. Dari sore sampai malam. Dari malam sampai tengah malam. Tapi perempuan tua itu tidak muncul.
Besoknya juga tidak datang.
Lusanya juga tidak.
Seminggu kemudian, Sultan Hasan bertanya pada Mak Umi. "Mak, Nini Mas Intan ke mana? Apakah ia sakit?"
Mak Umi yang sedang menumbuk padi di lesung berhenti sejenak. Wajahnya berubah muram. Ia menghela napas panjang.
"Nini Mas Intan sudah mati, Nak," katanya pelan. "Seminggu yang lalu. Aku dengar dari tetangga. Ia meninggal di gubuknya di tepi hutan. Tidak ada yang tahu persis kapan. Jenazahnya baru ditemukan dua hari setelah ia meninggal. Sudah dikuburkan sekarang."
Sultan Hasan terdiam.
Ia tidak menangis.
Ia hanya menggenggam cincin di jari manisnya. Batu akik merah itu berdenyut. Lambat. Seperti turut berduka. Seperti ikut kehilangan.
"Apakah ia meninggalkan pesan untukku, Mak?" tanyanya akhirnya.
Mak Umi menggeleng. "Tidak ada, Nak. Ia pergi begitu saja. Seperti ia datang."
Sultan Hasan mengangguk. Ia berdiri. Ia berjalan ke halaman belakang rumah Mak Umi. Di sana ada pohon asam tua yang biasanya dihinggapi burung hantu. Ia duduk di bawah pohon itu. Ia memandang langit malam yang bertabur bintang.
"Selamat jalan, Nek," bisiknya. "Terima kasih untuk semuanya."
Batu akik merah di jarinya berdenyut sekali lagi. Sekali. Kuat. Hangat.
Seperti Nini Mas Intan masih ada di suatu tempat. Menjaganya. Seperti janji yang tidak pernah diucapkan tapi tetap ditepati.
Di dahan pohon asam di atas kepalanya, seekor burung hantu menatapnya. Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah berkata: Perjalananmu masih panjang, Sultan Hasan. Yang kau alami sekarang baru permulaan.
Sultan Hasan menatap balik burung itu.
"Kau setia menatapku sejak aku lahir," katanya. "Siapa kau sebenarnya?"
Burung hantu itu tidak menjawab. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang meninggalkan pohon asam, menuju ke timur, ke arah hutan lebat, ke arah telaga larangan, ke arah tempat Nini Mas Intan dulu tinggal.
Sultan Hasan memandangnya sampai lenyap dalam kegelapan.
Ia baru lima tahun setengah.
Tapi ia sudah kehilangan ibu, ayah, dan gurunya.
Yang tersisa hanyalah batu akik merah di jari manisnya, syair dua baris yang ia hafal di luar kepala, dan keyakinan bahwa suatu hari nanti ia akan pergi dari desa ini untuk menemukan sesuatu yang selama ini menantinya.
Apa itu? Ia belum tahu.
Tapi ia yakin, batu akik merah itu tahu.
Dan burung hantu itu tahu.
Dan Nini Mas Intan, yang sekarang sudah di alam lain, pasti juga tahu.
Sultan Hasan berdiri. Ia berjalan kembali ke rumah Mak Umi. Ia merebahkan diri di tikar. Ia memejamkan mata.
Besok, ia akan bangun lagi. Besok, ia akan menghadapi ejekan dan kerikil dan desas-desus tentang anak setan. Besok, ia akan sendirian lagi.
Tapi untuk malam ini, ia membiarkan dirinya berduka.
Untuk ibunya. Untuk ayahnya. Untuk Nini Mas Intan.
Untuk semua yang pergi sebelum waktunya.
Burung hantu di kejauhan berbunyi. Sekali. Pendek.
Seolah mengucapkan selamat malam kepada penjaga hati cilik yang tertidur di tikar usang, dengan cincin batu akik merah di jari manisnya yang masih terlalu besar untuk tangannya yang mungil, tetapi suatu hari nanti akan pas seperti kulit menutupi daging.
BAB VII
Belajar Syair Pertama
Setelah Nini Mas Intan meninggal, Sultan Hasan kehilangan satu-satunya orang yang mengajarinya tentang dunia.
Mak Umi baik. Mak Umi memberinya makan dan tempat tidur. Mak Umi kadang membelai rambutnya dan menyebutnya "anak soleh". Tapi Mak Umi tidak bisa mengajarkan syair. Mak Umi tidak tahu tentang telaga larangan. Mak Umi tidak pernah mendengar tentang "penjaga hati" dan tugas-tugasnya yang berat.
Untuk semua itu, Sultan Hasan sekarang sendirian.
Tapi tidak sepenuhnya sendirian.
Karena Nini Mas Intan, sebelum meninggal, sempat menanamkan beberapa benih dalam diri Sultan Hasan. Benih-benih itu sekarang mulai tumbuh. Tanpa guru, tanpa sekolah, tanpa siapa pun yang membimbing, Sultan Hasan belajar dari apa yang ia ingat.
Dan yang paling ia ingat adalah syair dua baris itu.
"Hati yang tidak dijaga akan diambil angin.
Hati yang dijaga terlalu keras akan retak oleh tangannya sendiri."
Ia mengulang-ulang syair itu setiap hari. Kadang di pagi hari saat membantu Mak Umi mengambil air dari sumur. Kadang di siang hari saat duduk sendirian di bawah pohon asam. Kadang di malam hari sebelum tidur, saat batu akik merah di jarinya berdenyut pelan.
Tapi mengulang syair saja tidak cukup. Sultan Hasan ingin memahaminya. Ia ingin tahu apa arti sebenarnya dari "hati yang tidak dijaga" dan "diambil angin" dan "retak oleh tangannya sendiri". Kata-kata itu terlalu besar untuk anak seusianya. Tapi ia tidak mau menunggu sampai dewasa untuk mengerti. Ia ingin mengerti sekarang.
Suatu sore, saat hujan gerimis dan Sultan Hasan sedang duduk di beranda rumah Mak Umi sambil mengamati tetesan air dari atap yang bolong, ia bertanya pada dirinya sendiri: Apa sih sebenarnya hati itu?
Bukan hati sebagai organ dalam dada yang memompa darah. Itu ia tahu dari melihat ayam dipotong Mak Umi. Ada jantung di sana. Warnanya merah. Bentuknya seperti kepalan tangan. Tapi itu bukan yang dimaksud Nini Mas Intan. Nini Mas Intan berbicara tentang sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Sesuatu yang bisa "diambil angin" dan "retak oleh tangannya sendiri".
Mungkin hati itu seperti perasaan, pikir Sultan Hasan. Perasaan sedih. Perasaan senang. Perasaan marah. Perasaan takut. Mungkin itu yang disebut hati.
Tapi apakah perasaan bisa dijaga? Dan jika bisa, bagaimana caranya? Apakah dengan tidak bersedih? Apakah dengan tidak marah? Apakah dengan menjadi orang yang selalu tenang dan tidak pernah merasakan apa-apa?
Sultan Hasan menggeleng. Itu tidak mungkin. Ia sudah merasakan sedih saat ibunya meninggal. Ia sudah merasakan marah saat dilempari kerikil oleh Jebat dan teman-temannya. Ia sudah merasakan takut saat malam-malam sepi dan ia terbangun sendirian dalam gelap. Perasaan-perasaan itu datang tanpa bisa ia cegah. Datang seperti hujan. Datang seperti angin. Datang seperti gerhana yang tidak bisa diundang atau ditolak.
Lalu bagaimana cara menjaganya?
Sultan Hasan menarik napas panjang. Ia memandang cincin batu akik merah di jari manisnya. Batu itu berdenyut pelan, seperti setuju bahwa pertanyaan ini sulit.
"Kau tahu jawabannya?" bisik Sultan Hasan pada batu itu.
Batu itu berdenyut sekali lagi. Lalu meredup.
Sultan Hasan tersenyum pahit. "Kau hanya batu. Kau tidak bisa bicara."
Tapi di dalam hatinya, ia tahu bahwa suatu hari nanti ia akan menemukan jawabannya. Mungkin saat ia sudah besar. Mungkin saat ia sudah pergi dari desa ini. Mungkin saat ia bertemu dengan seseorang yang namanya berbau pandan, seperti yang pernah diramalkan ibunya dulu.
Tapi untuk sekarang, ia hanya bisa terus mengulang syair itu. Seperti mantra. Seperti doa. Seperti cara untuk mengingat bahwa ada sesuatu di dunia ini yang lebih penting dari sekadar makan dan tidur.
Pada suatu malam, saat bulan purnama bersinar terang dan desa sedang tidur nyenyak, Sultan Hasan terbangun karena suara burung hantu.
Bukan suara biasa. Suara ini berbeda. Lebih panjang. Lebih melodius. Seperti nyanyian.
Sultan Hasan duduk di tikar. Mak Umi dan suaminya tidur pulas di ruangan sebelah. Tidak ada yang terganggu. Hanya Sultan Hasan yang mendengar.
Burung hantu itu berbunyi lagi. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Kemudian berhenti.
Sultan Hasan bangkit. Ia berjalan ke luar rumah. Halaman depan rumah Mak Umi disinari cahaya bulan yang terang sekali, hampir seperti siang. Dan di dahan pohon asam tua, seekor burung hantu bertengger. Matanya yang bundar dan kuning menatap Sultan Hasan.
"Kau yang sering menatapku sejak aku kecil," kata Sultan Hasan. "Siapa kau?"
Burung hantu itu tidak menjawab. Ia hanya mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang rendah, melintasi halaman, menuju ke arah timur. Ia terbang pelan. Seperti menunggu. Seperti mengajak.
Sultan Hasan ragu. Ia tidak boleh pergi jauh dari rumah Mak Umi tanpa izin. Tapi ada sesuatu di dalam hatinya yang mendorongnya untuk mengikuti burung itu. Dorongan yang aneh. Dorongan yang tidak bisa ia lawan.
Ia menoleh ke belakang. Rumah Mak Umi gelap. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Mak Umi tidak akan tahu jika ia pergi sebentar. Sebentar saja.
Sultan Hasan mulai berjalan. Ia mengikuti burung hantu itu. Burung itu terbang pelan, hanya beberapa meter di depannya, cukup jauh untuk tidak bisa ditangkap tapi cukup dekat untuk tidak kehilangan jejak.
Mereka melewati ladang-ladang jagung yang kering karena musim kemarau. Melewati kebun singkong yang daunnya mulai menguning. Melewati sungai kecil yang airnya hanya setinggi mata kaki. Melewati batas desa yang ditandai dengan tiang kayu usang.
Dan akhirnya, setelah berjalan sekitar setengah jam, Sultan Hasan sampai di sebuah tempat yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Sebuah telaga.
Telaga itu tidak besar. Mungkin hanya selebar halaman rumah Mak Umi. Tapi airnya jernih sekali. Jernih seperti kaca. Sultan Hasan bisa melihat dasar telaga dari tempat ia berdiri. Dasar itu ditumbuhi tanaman air berdaun panjang, seperti pedang-pedang mini yang bergoyang-goyang ditarik arus yang sangat lembut.
Cahaya bulan memantul di permukaan telaga, menciptakan ribuan titik berkilauan seperti berlian yang tersebar di atas kain hitam.
Sultan Hasan belum pernah melihat pemandangan seindah ini seumur hidupnya.
Di tepi telaga, ada sebuah batu besar yang datar, seperti tempat duduk alami. Batu itu hitam, licin, seolah sudah ribuan tahun diusap oleh air dan angin. Dan di atas batu itu, duduk sesosok.
Bukan Nini Mas Intan. Bukan juga Mak Umi. Sosok itu terlalu kecil untuk orang dewasa. Seukuran Sultan Hasan sendiri. Mungkin sedikit lebih tinggi.
Sosok itu adalah seorang anak perempuan.
Ia memakai kain batik sederhana, lusuh, dengan warna yang sudah pudar. Rambutnya hitam, panjang sebahu, tidak diikat. Wajahnya... Sultan Hasan tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena cahaya bulan jatuh dari belakang anak itu, membuat wajahnya gelap. Tapi ia bisa melihat bahwa anak itu tersenyum.
"Hei," kata anak perempuan itu. Suaranya lembut. Seperti air telaga itu sendiri. "Aku sudah menunggumu lama."
Sultan Hasan terdiam. Ia tidak kenal anak ini. Ia belum pernah melihatnya di desa. Anak perempuan seusianya di Dukuh Wangi semuanya ia kenal. Mereka adalah anak-anak yang ibu-ibunya melarang mereka bermain dengannya. Mereka adalah anak-anak yang ikut melemparinya kerikil ketika Jebat memulai.
Tapi anak ini berbeda. Ia tidak ada di antara mereka.
"Siapa kau?" tanya Sultan Hasan.
"Nama," kata anak itu, "tidak penting untuk sekarang. Yang penting, kau datang. Aku pikir kau tidak akan mengikuti burung hantu itu. Tapi kau melakukannya. Kau berani."
"Burung hantu itu... punyamu?"
Anak itu tertawa. Tawanya kecil. Tidak seperti anak perempuan seusianya yang biasanya cekikikan keras. Tawanya pelan, seperti rahasia yang dibisikkan di telinga.
"Dia bukan punyaku. Tapi dia mendengar suaraku. Dan dia setuju untuk menjemputmu."
"Suaramu? Kau bisa bicara dengan burung hantu?"
"Ia bukan burung hantu biasa. Tapi itu cerita untuk lain kali. Sekarang, duduklah. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu."
Anak itu menepuk batu di sampingnya. Sultan Hasan ragu sejenak, lalu duduk. Batu itu dingin, tapi anehnya nyaman. Seperti dipeluk oleh sesuatu yang sudah lama dikenalnya.
"Pandanglah telaga ini," kata anak itu. "Apa yang kau lihat?"
"Air," kata Sultan Hasan. "Air jernih. Dasar telaga. Tanaman air. Batu-batu kecil."
"Lihat lebih dalam."
Sultan Hasan menatap lebih lama. Lebih seksama. Dan perlahan, di dasar telaga itu, ia mulai melihat sesuatu yang lain. Bukan batu. Bukan tanaman air. Tapi bayangan. Bayangan dirinya sendiri. Terbalik. Tapi tidak seperti bayangan biasa. Bayangan itu bergerak. Bergoyang. Seperti ada kehidupan di dalamnya.
"Itu kau," kata anak itu. "Tapi bukan kau yang sekarang. Itu kau yang akan datang. Kau yang sudah tua. Kau yang sudah menjadi penjaga. Lihatlah matanya."
Sultan Hasan memandang mata bayangannya di dasar telaga. Matanya itu... tua. Sangat tua. Penuh dengan luka. Penuh dengan cerita. Penuh dengan sesuatu yang belum ia mengerti.
"Apa itu?" bisik Sultan Hasan.
"Itu hatimu," kata anak itu. "Itu yang akan kau jaga seumur hidupmu. Dan itu yang akan kau wariskan kepada cucumu nanti."
Sultan Hasan mengalihkan pandangan dari telaga ke anak di sampingnya. "Kau... siapa sebenarnya?"
Anak itu tersenyum. Senyum yang lembut. Senyum yang membuat Sultan Hasan merasa aman, meski ia sedang duduk di tepi telaga di tengah hutan di tengah malam tanpa izin dari Mak Umi.
"Aku Pandan Wangi," kata anak itu. "Tapi jangan panggil aku dengan nama itu dulu. Panggil aku... teman."
Malam itu, Sultan Hasan belajar syair pertama yang sesungguhnya. Bukan syair dua baris yang diajarkan Nini Mas Intan. Tapi syair yang lebih panjang. Syair tentang telaga. Tentang hati. Tentang apa artinya menjadi penjaga.
Anak yang mengaku bernama Pandan Wangi itu mengajarkannya dengan suara yang lembut, seperti angin malam yang membawa wangi bunga-bunga yang tidak diketahui namanya.
"Telaga ini bukan telaga biasa,
Ia adalah cermin hati yang jernih.
Siapa pun yang memandangnya akan melihat dirinya yang sejati,
Bukan dirinya yang dipikirkan, bukan dirinya yang diinginkan,
Tapi dirinya yang sesungguhnya."
Sultan Hasan mengulangi kata-kata itu. Tidak mudah. Ada kata-kata yang asing di telinganya. "Cermin hati." "Dirinya yang sejati." Tapi ia berusaha. Ia menghafalnya, kata demi kata, baris demi baris.
Anak itu melanjutkan:
"Penjaga hati bukanlah orang yang tak pernah terluka,
Tapi orang yang lukanya tidak membuatnya lupa mencintai.
Penjaga hati bukanlah orang yang tak pernah menangis,
Tapi orang yang air matanya menyiram benih-benih yang layu."
Sultan Hasan berhenti. Baris ini terasa menyentuh sesuatu di dalam dadanya. Sesuatu yang selama ini tertidur. Sesuatu yang sekarang terbangun.
"Aku tidak mengerti," katanya jujur. "Aku masih kecil. Aku belum pernah mencintai siapa pun selain ibuku. Dan ibuku sudah mati."
Pandan Wangi menatapnya. Di balik gelapnya cahaya bulan, Sultan Hasan bisa melihat mata anak itu. Matanya hitam, seperti matanya sendiri. Tapi ada sesuatu di sana. Kedamaian. Seperti danau yang tidak pernah bergelombang.
"Kau mengerti lebih dari yang kau kira, Sultan Hasan," katanya. "Kau sudah kehilangan. Dan karena kau sudah kehilangan, kau tahu apa artinya memiliki. Itu sudah lebih dari cukup untuk memulai."
Malam itu, Sultan Hasan tidak hanya belajar syair. Ia juga belajar tentang sesuatu yang lain.
Tentang kehadiran. Tentang ditemani tanpa harus bicara banyak. Tentang seseorang yang duduk di sampingnya, tidak takut padanya, tidak menganggapnya anak setan, tidak melempari kerikil atau mengucapkan kata-kata jahat.
Hanya duduk. Hanya ada. Hanya menjadi teman.
Dan untuk anak berusia lima setengah tahun yang selama ini hidup dalam kesepian, itu lebih berharga dari semua pusaka di dunia.
Ketika fajar mulai memutih di ujung timur, Pandan Wangi berdiri.
"Aku harus pergi sekarang," katanya. "Matahari tidak boleh menangkapku di sini."
Sultan Hasan juga berdiri. Kakinya sedikit kesemutan karena terlalu lama duduk di batu yang dingin. "Kapan kau akan kembali?"
Pandan Wangi tersenyum. "Aku tidak pergi jauh. Aku selalu di sini. Tapi kau tidak bisa melihatku setiap saat. Hanya pada malam-malam tertentu. Pada saat-saat yang tepat. Kau akan tahu kapan waktunya."
"Bagaimana caranya?"
"Batu akik merah di jarimu akan berdenyut lebih kencang. Itu tandanya aku dekat. Ikuti denyutnya. Ia akan membawamu ke tempat di mana kita bisa bertemu."
Pandan Wangi berjalan ke tepi telaga. Ia menunduk. Ia mencelupkan ujung jarinya ke air. Dan anehnya, saat jarinya menyentuh permukaan telaga, seluruh telaga bergetar. Airnya beriak. Cahaya bulan yang terpantul di permukaan pecah menjadi ribuan keping.
"Selamat belajar, Sultan Hasan," katanya tanpa menoleh. "Jagalah syair itu. Jagalah telaga ini dalam ingatanmu. Suatu hari, semuanya akan berguna."
Kemudian ia berjalan ke arah pepohonan. Sultan Hasan mengikuti dengan mata. Ia melihat bayangan anak itu perlahan menyatu dengan kegelapan di antara batang-batang pohon. Dan kemudian lenyap. Seperti tidak pernah ada.
Sultan Hasan berdiri sendiri di tepi telaga. Fajar semakin terang. Burung-burung mulai berkicau. Di kejauhan, ayam jantan mulai berkokok.
Ia menunduk. Ia memandang telaga itu sekali lagi. Airnya jernih seperti tadi. Dasarnya terlihat. Tapi bayangan dirinya yang tua dan bermata penuh luka itu sudah tidak ada. Yang ada hanya bayangan dirinya yang sekarang. Anak kecil kurus dengan rambut kusut, pipi cekung, dan cincin batu akik merah di jari manisnya.
Sultan Hasan tersenyum pada bayangannya sendiri.
"Suatu hari," bisiknya, "aku akan mengerti semua ini."
Ia berbalik. Ia mulai berjalan pulang. Jalannya masih setengah jam. Mak Umi mungkin sudah bangun dan akan marah karena ia tidak ada di rumah.
Tapi Sultan Hasan tidak takut dimarahi.
Karena malam ini, ia mendapatkan sesuatu yang tidak bisa diambil oleh siapa pun darinya.
Ia mendapatkan syair pertama yang benar-benar ia pahami.
Ia mendapatkan seorang teman yang tidak takut padanya.
Dan ia mendapatkan sebuah telaga, tempat di mana ia bisa melihat dirinya yang sesungguhnya.
Batu akik merah di jarinya berdenyut. Hangat. Pelan.
Seperti setuju bahwa malam ini adalah malam yang baik.
Dan bahwa perjalanan panjang Sultan Hasan sebagai penjaga hati, untuk pertama kalinya, terasa tidak terlalu berat.
BAB VIII
Teman yang Tak Biasa
Pertemuan dengan Pandan Wangi di tepi telaga meninggalkan bekas yang dalam pada diri Sultan Hasan. Bukan bekas luka. Bekas yang aneh. Seperti ada sesuatu yang tumbuh di dadanya, sesuatu yang hangat dan lembut, sesuatu yang tidak bisa ia beri nama.
Setelah malam itu, Sultan Hasan sering kembali ke telaga. Tidak setiap malam. Hanya saat batu akik merah di jarinya berdenyut lebih kencang dari biasanya. Itu tandanya, kata Pandan Wangi, bahwa ia dekat. Itu tandanya, waktunya tepat.
Dan setiap kali ia datang, Pandan Wangi sudah menunggu. Duduk di atas batu hitam yang datar itu. Tersenyum dengan senyum yang sama. Lembut. Seperti tahu bahwa Sultan Hasan akan datang.
Mereka tidak selalu berbicara tentang syair atau telaga atau penjaga hati. Kadang mereka berbicara tentang hal-hal biasa. Tentang makanan kesukaan. Tentang hewan-hewan di hutan. Tentang bintang-bintang di langit.
"Aku suka bintang," kata Pandan Wangi suatu malam, sambil menunjuk ke gugusan bintang di utara. "Mereka diam, tapi mereka selalu ada. Tidak seperti manusia yang suka pergi tanpa pamit."
Sultan Hasan mengangguk. Ia tahu rasanya ditinggal pergi tanpa pamit. Ayahnya. Ibunya. Nini Mas Intan. Semua pergi. Tidak ada yang pamit. Yang tersisa hanyalah kenangan yang semakin lama semakin pudar, seperti tinta yang luntur terkena air.
"Apakah kau juga akan pergi tanpa pamit?" tanya Sultan Hasan.
Pandan Wangi menatapnya. Matanya hitam, dalam, seperti telaga itu sendiri.
"Aku tidak akan pergi, Sultan Hasan. Aku hanya... tidak selalu bisa terlihat. Tapi aku ada. Di sini." Ia menunjuk dadanya. "Di sini." Ia menunjuk dahi Sultan Hasan. "Dan di sini." Ia menunjuk batu akik merah di jari Sultan Hasan.
Sultan Hasan tidak sepenuhnya mengerti. Tapi ia memilih untuk percaya. Karena dalam hidupnya yang singkat dan penuh dengan pengkhianatan, ia butuh sesuatu untuk dipegang. Seseorang untuk dipercaya.
Dan Pandan Wangi, anak perempuan misterius yang muncul di tepi telaga di tengah malam, adalah satu-satunya orang yang tidak pernah mengejeknya, tidak pernah melempari kerikil, tidak pernah memanggilnya "anak setan".
Untuk anak seusianya, itu sudah cukup.
Namun, meski Pandan Wangi hadir di malam-malam tertentu, di siang hari Sultan Hasan tetap sendirian.
Mak Umi sibuk dengan pekerjaannya. Menumbuk padi. Memasak. Mencuci. Berkebun. Ia tidak punya waktu untuk menemani Sultan Hasan bermain. Dan meski punya, ia sudah terlalu tua untuk berlarian ke sana kemari seperti anak kecil.
Jadi Sultan Hasan bermain sendiri. Ia membuat boneka dari rumput-rumput kering. Ia membuat perahu dari daun pisang, lalu menghanyutkannya di sungai kecil di belakang rumah Mak Umi. Ia memanjat pohon jambu yang tumbuh di tepi ladang, meski buahnya masih mentah dan sepat di lidah.
Itulah rutinitasnya. Sendiri. Sepi. Membosankan.
Sampai suatu sore, saat ia sedang duduk di bawah pohon asam tua di halaman belakang, ia melihat seorang anak laki-laki seusianya berdiri di pagar bambu yang memisahkan halaman Mak Umi dengan halaman tetangga.
Anak itu kurus. Sangat kurus. Rambutnya kusut dan panjang, tidak pernah dipotong. Pipinya cekung, tanda kekurangan gizi. Matanya besar, hitam, dengan lingkaran hitam di bawahnya. Pakaiannya compang-camping, lebih buruk dari pakaian Sultan Hasan sekalipun.
Ia memegang sebilah keris kecil di tangannya. Bukan keris sungguhan, mainan. Tapi ukirannya bagus. Mungkin buatan orang dewasa yang diberikannya pada anak ini.
"Hei," kata anak itu.
Sultan Hasan terkejut. Tidak ada anak seusianya yang mau bicara padanya. Apalagi datang ke halaman rumah Mak Umi. Semua anak desa tahu bahwa rumah Mak Umi adalah tempat persembunyian "anak setan". Mereka menjauh. Mereka tidak mau dianggap sama dengannya.
"Kau bicara padaku?" tanya Sultan Hasan.
"Ya. Kau siapa?"
"Sultan Hasan."
"Anak setan itu?"
Sultan Hasan menunduk. Ia sudah terbiasa dengan sebutan itu. Tapi tetap saja, setiap kali mendengarnya, ada sesuatu di dadanya yang terasa perih. Seperti ditusuk jarum kecil. Tidak mematikan. Tapi sakit.
"Maaf," kata anak itu cepat-cepat. "Aku tidak bermaksud jahat. Aku hanya dengar dari orang-orang. Mereka bilang kau anak setan. Tapi aku tidak percaya."
"Kenapa tidak percaya?"
Anak itu mengangkat bahu. "Karena kau tidak punya tanduk. Kau juga tidak menyemburkan api dari mulut. Kau hanya anak biasa. Sepertiku."
Sultan Hasan memandang anak itu lebih saksama. Masih kurus. Masih kusut. Masih compang-camping. Tapi matanya... matanya jujur. Tidak ada kebencian di sana. Tidak ada rasa takut. Hanya rasa ingin tahu.
"Kau siapa?" tanya Sultan Hasan.
"Jaya," kata anak itu. "Aku tinggal di rumah ujung sana." Ia menunjuk ke arah timur, ke sebuah gubuk yang hampir rubuh. "Aku anak penjual sayur. Tapi bapakku mati setahun lalu. Ibuku sakit-sakitan. Aku sendiri."
Sultan Hasan mengangguk. Ia tahu rasanya menjadi anak yang kehilangan orang tua. Ia tahu rasanya menjadi anak yang sendiri.
"Kau mau main?" tanya Jaya.
Sultan Hasan ragu. Selama ini, ia tidak pernah punya teman bermain. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Apa aturan bermain dengan anak seusia? Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan?
Tapi ragu itu hanya berlangsung sedetik. Karena Jaya sudah melompati pagar bambu dengan gesit, mendekatinya, dan duduk di sampingnya.
"Kau punya keris?" tanya Jaya sambil menunjukkan keris mainannya. "Aku punya ini. Hadiah dari bapakku sebelum mati. Aku suka bermain perang-perangan. Tapi tidak ada lawan. Semua anak desa tidak mau main denganku."
"Kenapa?"
Jaya mengangkat bahu lagi. "Karena aku miskin. Anak-anak orang kaya tidak mau bermain dengan anak miskin."
Sultan Hasan tersenyum. Tersenyum untuk pertama kalinya di siang hari, setelah sekian lama.
"Kita sama," katanya. "Aku anak setan. Kau anak miskin. Tidak ada yang mau main dengan kita."
"Kalau begitu, kita main sama-sama."
"Baik."
Sultan Hasan tidak punya keris mainan. Tapi ia memotong sebatang kayu kecil dari dahan pohon asam, membersihkannya dari ranting-ranting kecil, dan menjadikannya pedang. Tidak sebagus keris Jaya. Tapi cukup untuk bermain perang-perangan.
Sore itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Sultan Hasan berlarian di halaman belakang rumah Mak Umi sambil tertawa. Ia mengejar Jaya. Jaya mengejarnya. Mereka saling berpura-pura terkena tebasan pedang dan keris, lalu jatuh pura-pura mati, lalu bangkit lagi dan tertawa.
Mak Umi yang sedang memasak di dapur mendengar suara tawa itu. Ia berhenti mengaduk sayurnya. Ia menengok ke luar jendela.
Matanya berkaca-kaca.
"Sudah lama aku tidak mendengar anak itu tertawa," bisiknya pada suaminya yang sedang tidur siang di tikar. "Sudah lama sekali."
Di dahan pohon asam, burung hantu yang setia menatap Sultan Hasan sejak ia lahir, ikut mengepak-ngepakkan sayapnya. Seolah ikut senang. Seolah setuju bahwa Sultan Hasan pantas mendapatkan teman.
Sejak hari itu, Jaya dan Sultan Hasan menjadi saudara.
Mereka bermain bersama setiap sore. Kadang di halaman belakang rumah Mak Umi. Kadang di tepi sungai. Kadang di ladang jagung yang kering, membuat rumah-rumahan dari jerami.
Jaya tidak pernah takut pada Sultan Hasan. Ia tidak peduli dengan desas-desus tentang anak setan. Ia tidak peduli dengan kutukan dan gerhana dan segala macam mitos yang membuat seluruh desa bergidik setiap kali nama Sultan Hasan disebut.
"Omong kosong," kata Jaya setiap kali Sultan Hasan bercerita tentang perlakuan buruk yang ia terima. "Manusia suka takut pada hal-hal yang tidak mereka pahami. Lalu mereka menciptakan cerita-cerita aneh untuk membenarkan ketakutan mereka. Bapakku dulu bilang begitu."
"Bapakmu pintar," kata Sultan Hasan.
"Bapakku dulu tukang sayur. Tidak sekolah. Tapi ia banyak membaca. Ia punya buku-buku lama. Peninggalan dari kakeknya. Buku-buku itu yang mengajarinya banyak hal."
Jaya kadang membawa buku-buku itu ke tempat mereka bermain. Buku-buku tipis, dengan sampul kulit yang sudah terkelupas. Kertasnya kuning kecokelatan, berbau apek. Tulisan di dalamnya menggunakan aksara Arab dan Jawa campuran.
Sultan Hasan belum bisa membaca. Nini Mas Intan tidak sempat mengajarinya. Mak Umi buta huruf. Tapi Jaya bisa. Jaya diajari bapaknya sebelum meninggal.
"Kau mau aku bacakan?" tawar Jaya.
Sultan Hasan mengangguk.
Maka Jaya membacakan cerita-cerita dari buku-buku usang itu. Cerita tentang para nabi. Cerita tentang raja-raja zaman dulu. Cerita tentang cinta yang terhalang perbedaan kasta. Cerita tentang kesetiaan yang bertahan puluhan tahun. Cerita tentang kematian yang datang tidak pernah diundang.
Sultan Hasan mendengarkan dengan saksama. Matanya berbinar. Setiap cerita masuk ke dalam dirinya seperti air meresap ke tanah kering. Memberi kehidupan pada sesuatu yang selama ini mati.
"Cerita-cerita ini bagus," kata Sultan Hasan suatu hari. "Mengapa tidak ada yang mengajarkannya di desa kita?"
Kyai Mandrawijaya adalah satu-satunya yang mengajarkan mengaji dan kitab-kitab kuning di surau desa. Tapi Sultan Hasan tidak pernah diizinkan masuk ke surau itu. Pintunya tertutup untuknya sejak ia lahir.
Jaya menggeleng. "Aku tidak tahu. Mungkin karena Kyai Mandrawijaya hanya mengajarkan kitab-kitab tertentu. Buku-buku bapakku ini... mungkin dianggap tidak penting. Atau mungkin dianggap sesat."
"Apakah kau percaya bahwa buku-buku ini sesat?"
Jaya tertawa. "Tidak. Buku-buku ini mengajarkan kebaikan. Tidak mungkin kebaikan itu sesat."
Sultan Hasan mengangguk. Ia mulai belajar sesuatu yang tidak diajarkan Nini Mas Intan atau Pandan Wangi. Bahwa pengetahuan tidak hanya datang dari satu pintu. Bahwa ada banyak jalan menuju kebenaran. Bahwa buku-buku usang yang berbau apek dan sampulnya terkelupas, juga bisa menjadi guru yang baik.
Tapi persahabatan antara Sultan Hasan dan Jaya tidak berlangsung tanpa hambatan.
Orang-orang desa mulai melihat mereka bermain bersama. Mereka berbisik-bisik. Mereka menggeleng-gelengkan kepala. Mereka mengira Jaya akan "tertular" kesialan dari Sultan Hasan. Mereka menganggap Jaya bodoh karena mau berteman dengan anak setan.
Suatu hari, saat mereka sedang asyik bermain di tepi sungai, Jebat dan teman-temannya datang. Jebat sudah berusia tujuh tahun saat itu, badannya besar, suaranya keras. Ia adalah pemimpin alami dari anak-anak desa. Semua anak takut padanya.
"Jaya!" teriak Jebat. "Apa kau tidak tahu siapa temanmu itu?"
Jaya berhenti bermain. Ia menatap Jebat. "Aku tahu. Namanya Sultan Hasan."
"Sultan Hasan anak setan!" kata Jebat. "Ibunya mati karena dia. Ayahnya lenyap karena dia. Seluruh desa akan kena musibah kalau kau terus bermain dengannya!"
Jaya tidak bergeming. "Omong kosong."
Jebat terkejut. Tidak ada anak seusianya yang berani membantahnya. Apalagi anak miskin dan kurus seperti Jaya. "Apa katamu?"
"Aku bilang omong kosong," ulang Jaya. "Sultan Hasan bukan anak setan. Ia hanya anak biasa. Ia tidak punya tanduk. Ia tidak menyemburkan api. Ia lebih baik dari kalian semua yang suka mengejek tanpa alasan."
Jebat merah padam mukanya. Ia melangkah maju. Tangan kirinya mendorong dada Jaya hingga anak kurus itu tersungkur ke tanah.
Sultan Hasan yang melihat itu, merasakan sesuatu di dadanya. Marah. Panas. Seperti api yang ingin keluar.
Cincin batu akik merah di jarinya berdenyut kencang. Sangat kencang. Lebih kencang dari biasanya. Terasa panas. Sangat panas. Seperti batu itu sendiri ingin melompat dan menghajar Jebat.
Tapi Sultan Hasan menahan diri. Ia ingat syair Nini Mas Intan.
"Hati yang dijaga terlalu keras akan retak oleh tangannya sendiri."
Ia tidak mau retak. Ia tidak mau menjadi seperti Jebat yang keras kepala, keras hati, keras suara. Ia ingin menjadi penjaga. Dan penjaga tidak membalas kebencian dengan kebencian.
Ia meraih tangan Jaya yang masih terbaring di tanah. "Ayo," katanya. "Kita pergi. Tidak usah diladeni."
Jaya bangkit. Matanya berkaca-kaca. Bukan karena takut. Karena marah. Tapi ia menurut. Mereka berdua berjalan meninggalkan Jebat dan teman-temannya, yang di belakang masih terus berteriak, "Anak setan! Anak miskin! Berdua sama-sama sampah!"
Sultan Hasan tidak menoleh. Jaya juga tidak.
Mereka berjalan sampai ke rumah Mak Umi, masuk ke dalam, duduk di tikar, dan terdiam.
Setelah beberapa saat, Jaya berkata, "Maafkan aku. Aku tidak bisa melindungimu."
Sultan Hasan menggeleng. "Kau sudah melindungiku. Kau membelaku. Tidak ada yang pernah membelaku sebelumnya."
Jaya tersenyum. Senyum yang tipis, tapi tulus.
"Mulai sekarang, aku yang akan menjagamu," kata Sultan Hasan.
"Kau? Kau lebih kurus dariku."
Mereka berdua tertawa. Tertawa terbahak-bahak. Tertawa yang membuat Mak Umi di dapur menggeleng-gelengkan kepala tapi ikut tersenyum.
Anak-anak. Mereka selalu punya cara untuk sembuh dari luka lebih cepat daripada orang dewasa.
Malam harinya, saat Sultan Hasan sendirian di beranda (Jaya sudah pulang ke gubuknya yang rubuh), ia memandang batu akik merah di jarinya.
Batu itu sudah tidak panas lagi. Denyutnya pelan. Seperti biasa. Seolah marah tadi sudah reda.
"Kau marah padaku?" bisik Sultan Hasan. "Karena aku tidak membiarkanmu keluar tadi?"
Batu itu berdenyut sekali. Pelan.
"Kau tidak suka Jebat. Aku juga tidak suka. Tapi kita tidak bisa melawan kebencian dengan kebencian. Nini Mas Intan bilang, hati yang dijaga terlalu keras akan retak. Aku tidak mau retak."
Batu itu berdenyut lagi. Kali ini lebih lambat. Seperti setuju.
Sultan Hasan tersenyum. "Kau baik. Meski kau hanya batu, kau lebih pengertian dari kebanyakan manusia."
Di kejauhan, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Dan dari arah timur, dari arah rumah Jaya yang rubuh, terdengar suara batuk-batuk kecil. Jaya mungkin sedang sakit lagi. Atau ibunya sedang sakit lagi. Tidak jelas.
Tapi Sultan Hasan berjanji pada dirinya sendiri. Ia akan menjaga Jaya. Karena Jaya adalah satu-satunya teman yang pernah ia miliki. Satu-satunya yang tidak takut padanya. Satu-satunya yang membelanya ketika seluruh desa mengutuknya.
"Penjaga hati," bisik Sultan Hasan mengulang syair yang diajarkan Pandan Wangi, "bukanlah orang yang tak pernah terluka. Tapi orang yang lukanya tidak membuatnya lupa mencintai."
Ia belum sepenuhnya mengerti. Tapi ia sedang belajar.
Setiap hari. Setiap malam. Setiap kali ia bermain dengan Jaya. Setiap kali ia duduk di tepi telaga bersama Pandan Wangi. Setiap kali ia memandang batu akik merah di jari manisnya.
Ia sedang belajar menjadi penjaga.
Dan untuk anak seusianya, itu sudah luar biasa.
BAB IX
Banjir Bandang
Tidak ada yang menyangka bahwa hujan yang turun sejak tiga hari lalu akan berubah menjadi malapetaka.
Hujan di Dukuh Wangi bukanlah hal yang aneh. Desa itu terletak di lereng gunung, dikelilingi oleh hutan lebat dan dialiri oleh sungai yang airnya tidak pernah kering, bahkan di musim kemarau sekalipun. Penduduk desa sudah terbiasa dengan hujan yang turun berhari-hari. Mereka sudah terbiasa dengan angin kencang yang kadang merobohkan pohon-pohon tua. Mereka sudah terbiasa dengan sungai yang meluap sedikit, menggenangi sawah-sawah di tepiannya, lalu surut kembali setelah hujan reda.
Tapi hujan kali ini berbeda.
Hujan ini tidak pernah berhenti. Siang dan malam. Malam dan siang. Air turun dari langit seperti ada yang membuka keran raksasa dan lupa menutupnya kembali. Tidak ada jeda. Tidak ada kesempatan bagi matahari untuk menampakkan wajahnya. Hanya kelabu. Hanya air. Hanya dingin yang meresap hingga ke sumsum tulang.
Pada hari ketiga, sungai mulai berubah. Airnya yang biasanya jernih berubah menjadi coklat keruh, membawa lumpur dari hulu. Permukaannya naik. Perlahan. Pasti. Seperti ular raksasa yang sedang meregangkan tubuhnya.
Pada hari keempat, air sungai sudah mencapai tepian. Sawah-sawah yang letaknya rendah mulai terendam. Tanaman padi yang baru berumur dua bulan itu terapung-apung, akarnya tercabut dari tanah.
Pada hari kelima, air sudah masuk ke pemukiman.
Pagi kelima itu, Sultan Hasan terbangun karena suara teriakan.
"AIR! AIR BESAR!"
Ia duduk di tikar. Mak Umi sudah tidak ada di sampingnya. Biasanya perempuan gemuk itu masih tidur saat subuh begini. Tapi pagi ini, tikarnya kosong. Hanya ada bekas tubuh yang terlihat dari lekukan anyaman pandan.
Sultan Hasan bangkit. Ia berjalan ke luar rumah.
Halaman depan rumah Mak Umi sudah tergenang air setinggi mata kaki. Airnya coklat, dingin, dan bau lumpur. Mak Umi berdiri di tengah halaman bersama suaminya, Pak Tani (begitu orang-orang memanggilnya, karena ia memang hanya petani). Wajah mereka pucat.
"Hasan!" teriak Mak Umi melihat Sultan Hasan keluar. "Cepat ke belakang! Bantu suamiku memindahkan barang-barang ke tempat yang lebih tinggi!"
Sultan Hasan mengangguk. Ia berlari ke belakang rumah. Pak Tani sudah sibuk memindahkan beras dari dapur ke loteng. Sultan Hasan membantu mengangkat apa yang bisa ia angkat. Peralatan dapur. Tikar. Pakaian. Buku-buku Jaya yang kemarin tertinggal di rumah Mak Umi.
Di sela-sela kepanikan itu, Sultan Hasan bertanya, "Mak, di mana Jaya?"
Mak Umi yang sedang mengikat barang-barang di kain jarik, berhenti sejenak. Wajahnya berubah. "Aku tidak tahu, Nak. Sejak semalam aku belum melihatnya. Mungkin ia masih di rumahnya."
"Rumahnya di pinggir sungai," kata Sultan Hasan. Suaranya bergetar. "Jika air naik, rumahnya akan lebih dulu terendam."
Mak Umi memandang Sultan Hasan. Ada perang di matanya. Antara ingin menyelamatkan hartanya sendiri dan ingin menyelamatkan anak orang lain. Tapi ia perempuan baik. Dan kebaikan, pada saat-saat kritis, sering menang atas kepentingan diri sendiri.
"Pergilah," kata Mak Umi. "Cari Jaya. Bawa ia ke sini. Tapi hati-hati, Nak. Air bisa naik sewaktu-waktu."
Sultan Hasan tidak perlu didorong dua kali. Ia sudah berlari meninggalkan halaman, menuju ke timur, ke arah rumah Jaya yang rubuh di tepi sungai.
Jalan menuju rumah Jaya biasanya hanya memakan waktu sepuluh menit berjalan kaki. Tapi pagi itu, dengan air yang sudah setinggi betis orang dewasa (dan setinggi paha Sultan Hasan yang masih kecil), perjalanan terasa seperti satu jam.
Air dingin menusuk-nusuk kulitnya. Arusnya cukup kuat, membuat ia harus berhati-hati setiap melangkah agar tidak terseret. Beberapa kali ia hampir jatuh, tetapi ia selalu berhasil menyeimbangkan diri. Cincin batu akik merah di jarinya terasa hangat, seperti memberi kekuatan ekstra.
Di tengah jalan, ia melihat beberapa tetangga juga panik. Mereka membawa barang-barang di atas kepala. Anak-anak digendong. Orang tua dituntun. Kambing-kambing dilepas begitu saja, berlarian ketakutan ke arah yang lebih tinggi.
"Sultan Hasan!" teriak seseorang. "Kau ke mana, Nak? Cepat ke tempat yang lebih tinggi!"
"Aku mencari temanku!" teriak Sultan Hasan balik, tanpa berhenti.
Ia terus berlari, meski kakinya terasa berat karena air. Ia terus berlari, meski paru-parunya terasa terbakar. Ia terus berlari, karena di dalam hatinya, ada suara yang berkata: Jaya dalam bahaya. Kau harus menyelamatkannya.
Akhirnya, setelah berjuang melawan arus dan dingin dan rasa takut, Sultan Hasan sampai di rumah Jaya.
Rumah itu hampir tidak bisa disebut rumah lagi. Separuh bangunannya sudah terendam air. Dinding bambunya roboh di beberapa sisi. Atap daun rumbianya sudah hilang sebagian, terbawa arus. Dan di depan pintu, Jaya sedang berusaha keras mendorong ibunya ke luar.
Ibu Jaya, seorang perempuan kurus yang sudah lama terbaring sakit karena TBC, tidak bisa berjalan. Tubuhnya hanya tulang dibungkus kulit. Matanya cekung. Bibirnya biru karena kedinginan.
"Ibu! Ibu harus keluar!" teriak Jaya, suaranya parau karena menangis.
"Aku tidak bisa, Nak," bisik ibunya. "Kau pergi saja. Selamatkan dirimu."
"Tidak! Aku tidak akan meninggalkan Ibu!"
Sultan Hasan berlari mendekat. "Jaya! Aku di sini!"
Jaya menoleh. Matanya merah. Wajahnya basah, entah oleh air hujan atau air mata. "Hasan? Kau datang?"
"Aku datang untuk membantu. Kita harus segera keluar dari sini. Air semakin naik."
"Tapi ibuku tidak bisa berjalan."
"Kita gotong," kata Sultan Hasan. "Aku di kiri. Kau di kanan."
Mereka berdua mengangkat tubuh kurus ibu Jaya. Perempuan itu tidak berat. Bahkan oleh dua anak kecil sekalipun, ia terasa ringan seperti tumpukan kain. Tapi tubuhnya lemah. Tidak bisa memegang apa pun. Kepalanya terkulai lemas ke depan.
Mereka berjalan perlahan. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah.
Air sudah setinggi perut Sultan Hasan. Arusnya semakin kuat. Beberapa kali Jaya hampir terjatuh, tetapi Sultan Hasan selalu sigap menahannya.
"Maju terus!" teriak Sultan Hasan. "Jangan lihat ke belakang!"
Di tengah perjalanan, saat mereka sudah melewati setengah jalan menuju rumah Mak Umi, terdengar suara gemuruh dari arah hulu.
Bukan gemuruh biasa. Bukan gemuruh seperti suara air terjun yang biasa mereka dengar dari kejauhan. Gemuruh ini lebih besar. Lebih mengerikan. Seperti seribu kerbau berlari bersamaan. Seperti tanah longsor. Seperti kiamat kecil.
"Banjir bandang!" teriak seseorang dari kejauhan. "Cepat ke tempat yang lebih tinggi! BANJIR BANDANG!"
Sultan Hasan menoleh ke belakang.
Dari arah hulu, dinding air setinggi pohon kelapa sedang bergerak menuju ke arah mereka. Warnanya hitam pekat, bercampur lumpur, batu, dan ranting-ranting pohon. Ia menghancurkan apa pun yang ada di depannya. Rumah-rumah di tepi sungai ambruk seketika. Pohon-pohon besar tumbang seperti batang korek api.
Tidak ada waktu.
Sultan Hasan melihat ke sekeliling. Di sebelah kanannya, ada sebuah pohon beringin tua. Besar. Tinggi. Akarnya menjalar ke mana-mana. Itu satu-satunya tempat yang aman.
"Ke pohon beringin!" teriak Sultan Hasan.
Mereka berlari, atau lebih tepat menyeret, tubuh ibu Jaya ke arah pohon itu. Jaya panik. Langkahnya kacau. Ia hampir melepaskan ibunya. Tapi Sultan Hasan berteriak, "Jangan lepas! Genggam erat-erat!"
Mereka tiba di pohon beringin tepat saat dinding air menghantam mereka.
Sultan Hasan merasakan tubuhnya terangkat oleh kekuatan yang luar biasa. Ia mencengkeram akar pohon beringin dengan tangan kiri. Tangan kanannya masih memegang lengan ibu Jaya. Jaya di sebelahnya melakukan hal yang sama.
Air mengalir deras di bawah mereka. Dingin. Kuat. Ganas. Sultan Hasan bisa mendengar suara genteng pecah, kayu patah, dan teriakan-teriakan manusia yang tenggelam di kejauhan.
Ia memejamkan mata. Ia menggenggam erat akar pohon itu. Cincin batu akik merah di jarinya terasa panas sekali. Sangat panas. Seperti ada api di dalamnya yang melawan dinginnya air.
"Jangan lepas, Nak," bisik suara di kepalanya. Suara Nini Mas Intan. Atau mungkin suara ibunya. Atau mungkin suara Pandan Wangi. Tidak jelas. "Jangan lepas."
Sultan Hasan tidak melepaskan.
Ia bertahan. Meski lengannya terasa mau putus. Meski kakinya terseret-seret arus. Meski tubuhnya dingin dan lelah dan takut.
Ia bertahan.
Ketika air mulai surut, matahari sudah condong ke barat.
Banjir bandang itu berlalu setelah sekitar dua jam. Tidak lama, tapi dampaknya dahsyat. Puluhan rumah hancur. Sawah-sawah luluh lantak. Ternak-ternak hilang terbawa arus. Dan empat orang warga dinyatakan meninggal.
Sultan Hasan, Jaya, dan ibu Jaya selamat.
Mereka bertiga masih bergelantungan di akar pohon beringin ketika warga desa mulai keluar dari tempat persembunyian mereka. Tubuh mereka basah, kedinginan, lelah. Tapi mereka hidup.
Mak Umi yang histeris mencari Sultan Hasan, langsung berlari memeluk anak itu ketika melihatnya. "Kau selamat! Syukurlah kau selamat! Jangan pernah pergi tanpa izin lagi, kau dengar? Jangan pernah!"
Sultan Hasan hanya terdiam. Ia terlalu lelah untuk menjawab. Yang ia lakukan hanyalah memastikan bahwa Jaya dan ibunya juga selamat. Setelah itu, ia membiarkan dirinya dipangku Mak Umi, dan matanya terpejam.
Ia bermimpi.
Dalam mimpinya, ia berdiri di tepi telaga. Telaga yang sama. Airnya jernih. Dasarnya terlihat. Pandan Wangi sedang duduk di atas batu hitam, tersenyum padanya.
"Kau hebat hari ini," kata Pandan Wangi. "Kau menyelamatkan temanmu. KAU menyelamatkan ibunya. Kau tidak takut."
"Aku takut," kata Sultan Hasan jujur. "Aku sangat takut."
"Tapi kau tetap melakukannya. Itu yang membedakan pahlawan dari pengecut. Bukan ketiadaan rasa takut, tapi tindakan di tengah rasa takut."
"Apakah aku pahlawan?"
Pandan Wangi tertawa. Tawanya kecil. Lembut. "Kau adalah penjaga hati, Sultan Hasan. Dan penjaga hati sering melakukan hal-hal yang dilakukan pahlawan. Tapi mereka tidak melakukannya untuk ketenaran. Mereka melakukannya karena cinta."
"Cinta?"
"Kau mencintai Jaya, bukan? Sebagai teman. Sebagai saudara. Itu sebabnya kau berani melawan arus banjir untuk menyelamatkannya."
Sultan Hasan terdiam. Ia belum pernah memikirkan tentang cinta dalam konteks seperti itu. Cinta, selama ini, ia kira hanya untuk orang tua kepada anak, atau laki-laki kepada perempuan. Tapi Pandan Wangi berkata bahwa cinta juga untuk sahabat. Cinta juga untuk sesama manusia yang menderita.
"Penjaga hati," lanjut Pandan Wangi, "adalah orang yang hatinya penuh dengan cinta. Bukan cinta yang sempit, hanya untuk dirinya sendiri atau keluarganya. Tapi cinta yang luas. Cinta yang bisa melampaui batas-batas desa, batas-batas suku, bahkan batas-batas dunia."
"Aku masih kecil," kata Sultan Hasan. "Aku belum bisa mencintai seluas itu."
"Kau belajar, Sultan Hasan. Setiap hari. Setiap tindakan kecilmu. Setiap kali kau memilih untuk tidak membenci meski kau dibenci. Setiap kali kau memilih untuk menolong meski kau dalam bahaya. Itu semua adalah latihan. Dan suatu hari nanti, kau akan menjadi penjaga hati yang sesungguhnya."
Sultan Hasan terbangun.
Matahari sudah terbenam. Langit mulai gelap. Mak Umi masih memangkunya, tertidur kelelahan. Di samping mereka, Jaya juga tertidur, dengan ibunya terbaring di dekatnya.
Sultan Hasan memandang cincin di jari manisnya. Batu akik merah itu berdenyut pelan. Hangat.
"Terima kasih," bisiknya pada batu itu. "Kau membantuku bertahan tadi. Aku merasakannya."
Batu itu berdenyut sekali lagi. Seperti menjawab: Sama-sama.
Di kejauhan, di tengah suasana duka pasca-banjir, seekor burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Bukan bunyi ratapan. Tapi bunyi tanda. Bahwa Sultan Hasan telah melewati ujian pertamanya sebagai penjaga hati. Bahwa ia masih hidup. Bahwa ia masih kuat.
Dan bahwa perjalanannya masih panjang.
Keesokan harinya, ketika warga desa mulai menghitung kerugian dan membersihkan puing-puing, Kyai Mandrawijaya mengadakan pertemuan darurat di balai desa.
Topiknya: penyebab banjir bandang.
"Banjir ini," kata Kyai Mandrawijaya dengan suara berat, "adalah pertanda. Alam marah. Ada yang salah dengan desa kita. Kita harus mencari tahu apa penyebabnya."
Beberapa orang mulai saling tunjuk. Ada yang menyalahkan penebangan liar di hulu. Ada yang menyalahkan mereka yang tidak melakukan ritual tolak bala sebelum musim hujan. Ada yang menyalahkan pendatang yang tidak menghormati adat.
Tapi sebagian besar, entah karena kebetulan atau karena sudah lama dipendam, mulai menunjuk ke arah yang sama.
Sultan Hasan.
"Anak itu!" teriak seorang lelaki paruh baya yang rumahnya hancur diterjang banjir. "Sejak ia lahir, desa kita tidak pernah tenang! Gerhana! Ayahnya lenyap! Ibunya mati! Sekarang banjir bandang! Bukankah itu semua tanda bahwa anak itu membawa sial?"
Kerumunan mulai bergemuruh. Suara-suara setuju mulai terdengar. Beberapa orang mengangguk-angguk. Beberapa bahkan berteriak, "Usir anak itu! Usir dari desa!"
Mak Umi yang hadir dalam pertemuan itu, langsung berdiri. Wajahnya merah padam karena marah.
"Kalian gila!" teriaknya. "Anak itu baru berusia lima tahun! Ia tidak mungkin menyebabkan banjir! Banjir terjadi karena hujan deras dan pohon-pohon di hulu ditebang! Itu saja!"
"Lalu kenapa desa-desa lain tidak kena banjir?" bantah seorang perempuan tua. "Hanya desa kita! Karena kita membiarkan anak sial itu tinggal di sini!"
"Omong kosong!" Mak Umi tidak mau kalah. "Desa-desa lain juga kena banjir! Saya dengar dari saudara saya di desa sebelah, sawah mereka juga hancur! Ini bukan karena Sultan Hasan! Ini karena alam!"
Tetapi Mak Umi hanya seorang perempuan tua miskin. Suararnya tidak didengar. Yang didengar adalah suara ketakutan. Suara kebencian. Suara yang sudah lama dipendam dan sekarang meledak seperti banjir itu sendiri.
Kyai Mandrawijaya mengangkat tangan. Kerumunan mereda.
"Kita tidak akan mengusir siapa pun," katanya. "Tapi kita akan melakukan ritual tolak bala. Kita akan meminta maaf pada alam. Dan kita akan berdoa agar desa kita dilindungi dari bencana selanjutnya."
Ia tidak menyebut nama Sultan Hasan. Tapi tatapannya, saat matanya berkeliling ruangan, sempat berhenti sejenak pada Mak Umi. Tatapan yang tajam. Tatapan yang berkata: Aku tidak bisa mengusir anak itu sekarang. Tapi awas. Suatu hari nanti.
Mak Umi menggigil. Bukan karena dingin. Tapi karena takut.
Bukan takut pada Kyai Mandrawijaya. Tapi takut pada apa yang akan terjadi pada Sultan Hasan jika kebencian ini terus dipupuk.
Sore harinya, Sultan Hasan dan Jaya duduk di beranda rumah Mak Umi yang masih berlumpur bekas banjir.
Mereka tidak bicara. Hanya duduk. Memandangi langit yang mulai cerah.
"Aku dengar apa yang mereka bicarakan di balai desa," kata Jaya akhirnya.
Sultan Hasan tidak menjawab.
"Mereka bilang kau penyebab banjir. Padahal kau menyelamatkanku dan ibuku. Kau berani masuk ke air bah untuk menolong kami. Tapi mereka tetap membencimu."
"Sudahlah," kata Sultan Hasan. "Aku sudah biasa."
"Tapi ini tidak adil!"
"Sejak kapan dunia adil, Jaya?"
Jaya terdiam. Ia tidak punya jawaban. Di usianya yang baru enam tahun, ia sudah belajar bahwa keadilan adalah barang langka di desa ini. Bahwa orang miskin seperti dirinya tidak pernah diperlakukan sama. Bahwa orang berbeda seperti Sultan Hasan akan selalu menjadi sasaran.
"Tapi aku tetap akan menjadi temanmu," kata Jaya. "Aku tidak peduli apa kata mereka."
Sultan Hasan tersenyum. Ia menepuk pundak Jaya.
"Kita berdua akan pergi dari desa ini suatu hari nanti," katanya. "Kita akan pergi ke tempat yang lebih baik. Tempat di mana orang tidak saling menyalahkan. Tempat di mana kita bisa hidup damai tanpa harus terus-menerus dijuluki anak setan atau anak miskin."
"Kau janji?"
"Aku janji."
Mereka berdua tersenyum. Di atas pohon asam, burung hantu menatap mereka berdua. Matanya bundar dan kuning. Tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah setuju bahwa janji itu suatu hari nanti akan ditepati.
Dan bahwa perjalanan Sultan Hasan untuk menjadi penjaga hati, setelah melewati ujian banjir, kini memasuki babak baru.
Babak di mana ia tidak hanya harus menjaga hatinya sendiri, tapi juga hati sahabatnya, dan hati orang-orang yang membencinya sekalipun.
Itu berat. Sangat berat.
Tapi Sultan Hasan tidak pernah memilih jalan yang mudah.
BAB X
Kemarau Panjang
Banjir bandang yang melanda Dukuh Wangi berlalu, tetapi ia meninggalkan sesuatu yang tidak terlihat oleh mata telanjang. Ia meninggalkan ketakutan. Dan ketakutan, seperti bibit penyakit, akan tumbuh subur di tanah yang gembur.
Tidak sampai sebulan setelah banjir, musim kemarau datang.
Awalnya tidak ada yang aneh. Kemarau adalah siklus biasa di desa itu. Setiap tahun, setelah musim hujan berakhir, matahari akan bersinar terik selama beberapa bulan. Sawah-sawah akan mengering. Sungai akan menyusut. Daun-daun akan menguning dan berguguran. Itu biasa. Itu sudah terjadi sejak kakek-kakek mereka masih kecil.
Tapi kemarau kali ini berbeda.
Bulan pertama: matahari bersinar seperti biasa. Petani-petani mulai menanam padi di sawah tadah hujan, berharap hujan akan segera turun meski tidak ada tanda-tanda di langit.
Bulan kedua: hujan belum juga turun. Padi-padi yang baru ditanam mulai mengering. Daunnya menggulung, berubah warna dari hijau segar menjadi kuning pucat. Petani-petani mulai gelisah. Mereka berkumpul di balai desa, meminta Kyai Mandrawijaya untuk melakukan ritual pemanggil hujan.
Bulan ketiga: ritual sudah dilakukan tiga kali. Kambing hitam sudah dikurbankan. Sesaji sudah diletakkan di empat penjuru desa. Doa-doa sudah dipanjatkan siang dan malam. Tapi langit tetap biru tanpa sehelai awan pun. Matahari tetap terik. Tanah-tanah sawah retak-retak, mulutnya menganga seperti orang yang kelaparan.
Bulan keempat: padi-padi mati. Tidak ada yang bisa dipanen. Lumbung-lumbung desa mulai kosong. Warga mulai mengatur jatah makan. Hanya satu kali sehari. Nasi dicampur dengan singkong dan ubi, kadang hanya dengan garam jika sayur tidak ada. Anak-anak mulai kurus. Orang tua mulai jatuh sakit.
Dan di bulan keempat itulah, desas-desus itu mulai menyebar lagi.
"Kemarau ini karena kutukan," bisik seorang perempuan di sumur. "Sejak anak itu lahir, desa kita tidak pernah tenang."
"Banjir bandang, sekarang kemarau panjang," sahut yang lain. "Selanjutnya apa? Wabah penyakit?"
"Jangan-jangan anak itu memang pembawa sial."
"Nini Mas Intan yang menolong kelahirannya sudah mati. Mungkin karena menyesal?"
"Suaminya lenyap. Ibunya mati. Itu sudah tanda-tanda."
Bisikan-bisikan itu merambat seperti api di padang rumput kering. Dari mulut ke mulut. Dari rumah ke rumah. Dari hati ke hati yang sudah lama dipenuhi ketakutan.
Sultan Hasan tidak buta. Ia mendengar bisikan-bisikan itu. Ia melihat tatapan-tatapan tajam saat ia berjalan ke sumur untuk mengambil air. Ia merasakan dinginnya pengucilan yang semakin pekat, seperti kabut yang tidak mau pergi meski matahari sudah naik tinggi.
Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya anak kecil berusia enam tahun. Tidak punya kekuasaan. Tidak punya pengaruh. Yang ia miliki hanyalah batu akik merah di jarinya, syair-syair yang diajarkan Nini Mas Intan dan Pandan Wangi, dan seorang sahabat yang setia di sampingnya.
Jaya.
Jaya tidak pernah meninggalkannya. Meski ibunya semakin sakit karena kekurangan makanan. Meski tetangga-tetangganya menatap aneh setiap kali ia pergi ke rumah Mak Umi. Jaya tetap datang. Setiap sore. Setia. Tidak pernah absen.
"Mereka bodoh," kata Jaya suatu sore, sambil mengunyah ubi rebus yang diberikan Mak Umi. "Kemarau terjadi karena pola cuaca. Bapakku dulu punya buku tentang itu. Ada musim hujan, ada musim kemarau. Kadang musim kemarau lebih panjang dari biasanya. Itu biasa. Tidak ada hubungannya dengan kelahiranmu."
Sultan Hasan tersenyum pahit. "Kau tahu itu. Aku tahu itu. Tapi mereka tidak mau tahu. Mereka butuh kambing hitam. Dan aku yang paling mudah disalahkan."
"Kenapa kau tidak pergi saja dari desa ini?" tanya Jaya. "Cari tempat yang lebih baik?"
"Ke mana? Umurku baru enam tahun. Aku tidak punya bekal. Tidak punya uang. Tidak punya siapa-siapa di luar desa ini. Kalau aku pergi, aku bisa mati di jalan."
Jaya terdiam. Ia tahu Sultan Hasan benar. Dunia di luar desa itu luas dan kejam, terutama bagi anak kecil yang sendirian.
"Tapi suatu hari nanti," kata Sultan Hasan, "aku akan pergi. Saat aku sudah cukup besar. Saat aku sudah cukup kuat. Aku akan pergi dari desa ini, dan aku tidak akan kembali."
"Bawa aku," kata Jaya.
"Kau mau ikut?"
"Kau kira aku betah di sini? Aku juga dikucilkan. Aku anak miskin. Ayahku mati. Ibuku sakit. Tidak ada masa depan untukku di desa ini. Aku lebih baik ikut denganmu."
Sultan Hasan memandang sahabatnya. Jaya memang kurus. Jaya memang miskin. Tapi matanya menyala. Ada api di sana. Api yang tidak mau padam meski hidup terus memadamkannya.
"Baik," kata Sultan Hasan. "Kita pergi bersama. Saat waktunya tiba."
Mereka berdua berjabat tangan. Sore itu, di bawah pohon asam yang daunnya mulai mengering karena kemarau, dua anak kecil bersumpah untuk menjadi saudara seperjalanan. Tidak ada saksi. Tidak ada sumpah di atas kitab suci. Hanya dua pasang mata yang saling menatap, dan dua hati yang berjanji untuk tidak saling meninggalkan.
Di dahan pohon asam, burung hantu menatap mereka. Matanya yang bundar dan kuning berkedip sekali. Lalu ia terbang, menuju ke arah timur, ke arah telaga larangan, seolah membawa kabar bahwa sumpah telah diucapkan.
Kemarau memasuki bulan kelima.
Sungai di Dukuh Wangi nyaris kering. Airnya tinggal setinggi mata kaki, keruh, dipenuhi lumpur dan daun-daun kering. Ikan-ikan mati bergelimpangan di tepian, tubuhnya membusuk, baunya menyengat.
Warga desa mulai mengambil air dari sumur-sumur tua yang biasanya tidak pernah digunakan. Tapi sumur-sumur itu pun mulai mengering. Airnya keluar hanya setetes demi setetes, seperti air mata yang enggan jatuh.
Kyai Mandrawijaya memanggil seluruh warga ke balai desa.
"Kita harus melakukan sesuatu," katanya. "Kemarau ini bukan kemarau biasa. Ini ujian dari alam. Mungkin juga dari Yang Maha Kuasa. Kita harus mencari tahu apa yang salah dengan desa kita. Apa yang membuat alam marah."
Seorang lelaki dari ujung desa berdiri. Ia adalah Pak Karta, seorang dukun yang konon bisa berkomunikasi dengan roh-roh hutan. "Aku sudah melakukan tapa di hulu sungai selama tiga hari tiga malam," katanya. "Aku bertemu dengan penunggu telaga larangan. Ia marah. Sangat marah."
"Marah kenapa?" tanya Kyai Mandrawijaya.
"Karena ada anak yang lahir di malam gerhana, yang tidak pernah melakukan ritual bersih desa. Karena ada anak yang memakai pusaka yang tidak seharusnya ia pakai. Karena ada anak yang... membawa energi gelap ke desa ini."
Semua mata tertuju pada Sultan Hasan.
Anak itu duduk di pojok balai desa, di samping Mak Umi yang wajahnya pucat pasi. Ia tidak berbicara. Ia hanya menunduk. Tangan kanannya, dengan cincin batu akik merah, ia sembunyikan di balik punggung.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya seorang perempuan.
"Kita harus mengusir anak itu," kata Pak Karta. "Atau setidaknya, kita harus memintanya menanggalkan pusaka itu. Mungkin dengan begitu, roh-roh hutan akan tenang. Hujan akan turun."
Kerumunan bergemuruh. Ada yang setuju. Ada yang ragu. Ada yang diam.
Mak Umi berdiri. Wajahnya merah padam seperti saat pertemuan pasca-banjir dulu. "Kalian gila! Anak itu baru berusia enam tahun! Tidak mungkin ia menyebabkan kemarau! Kemarau terjadi karena alam, bukan karena pusaka atau gerhana!"
"Lalu kenapa desa-desa lain tidak sekering desa kita?" bantah Pak Karta. "Aku sudah bertanya pada saudaraku di desa sebelah. Sawah mereka masih basah. Sungai mereka masih mengalir. Hanya desa kita yang begini parah!"
"Karena desa kita lebih tinggi!" Mak Umi tidak mau kalah. "Desa-desa di bawah kita mendapat aliran air dari sungai yang sama! Tentu mereka masih punya air, karena air mengalir ke bawah! Itu fisika, bukan kutukan!"
Tapi Mak Umi hanya seorang perempuan tua miskin. Suaranya tenggelam dalam gemuruh ketakutan yang sudah memuncak.
Kyai Mandrawijaya mengangkat tangan. "Kita tidak akan mengusir siapa pun," katanya. "Tapi kita akan melakukan ritual bersih desa yang lebih besar. Dan kita akan meminta... kepada siapa pun yang memiliki pusaka yang tidak seharusnya ia miliki... untuk meletakkannya di tempat yang semestinya."
Ia memandang Sultan Hasan. Tatapan yang tajam. Tatapan yang berkata: Aku tahu kau memakai cincin itu. Aku tahu kau menyembunyikannya. Tapi aku tidak akan memaksamu sekarang. Tapi ingat, desa ini sedang menderita. Dan kau, mau tidak mau, adalah bagian dari masalah ini.
Sultan Hasan tidak berkata apa-apa. Ia hanya menggenggam erat cincin di jarinya. Batu akik merah itu terasa panas. Sangat panas. Seperti marah. Seperti tidak terima.
Tapi Sultan Hasan menenangkannya. Ia mengelus batu itu dengan ibu jarinya, pelan-pelan, sampai panasnya mereda.
Tenang, pikirnya. Kita tidak akan melawan mereka. Bukan sekarang.
Ritual bersih desa dilaksanakan tiga hari kemudian.
Seluruh warga berkumpul di telaga larangan. Ya, telaga yang sama yang menjadi tempat pertemuan Sultan Hasan dengan Pandan Wangi. Telaga yang airnya, anehnya, tidak pernah kering meski musim kemarau sudah berlangsung lima bulan. Airnya tetap jernih. Tetap penuh. Tidak berkurang sedikit pun.
Beberapa warga melihat keanehan itu. Tapi tidak ada yang berani mengomentari. Telaga larangan adalah tempat keramat. Tidak boleh dibicarakan sembarangan.
Kyai Mandrawijaya memimpin ritual. Ia membacakan mantra-mantra dalam bahasa yang tidak dimengerti siapa pun. Ia memercikkan air telaga ke empat penjuru mata angin. Ia membakar kemenyan yang baunya menyengat hidung. Ia mengurbankan seekor ayam hitam dan seekor kambing putih.
Seluruh warga duduk bersila di tanah. Mereka menunduk. Mereka berdoa. Mereka berharap hujan akan segera turun.
Sultan Hasan duduk di barisan paling belakang, di samping Mak Umi dan Jaya. Ia tidak menunduk seperti yang lain. Ia memandang telaga itu. Ia memandang airnya yang jernih, yang tidak pernah kering, yang menjadi tempat pertemuan rahasianya dengan Pandan Wangi.
Di dasar telaga, ia melihat bayangan. Bukan bayangannya sendiri. Bayangan seorang perempuan. Perempuan dewasa. Berambut panjang. Memakai kain batik bermotif pandan. Ia menari. Perlahan. Lembut. Seperti air.
Pandan Wangi.
Sultan Hasan tersenyum. Ia tahu Pandan Wangi tidak akan pernah meninggalkannya. Di tengah kemarau yang paling panjang sekalipun. Di tengah kebencian yang paling memuncak sekalipun.
Ritual selesai. Kyai Mandrawijaya mengangkat tangannya ke langit. "Semoga hujan segera turun," katanya. "Semoga desa kita bersih dari segala malapetaka. Semoga roh-roh hutan tenang dan tidak marah lagi."
Tidak ada yang berubah. Langit tetap biru. Matahari tetap terik. Tidak setitik pun awan yang terlihat.
Tapi beberapa warga, saat berjalan pulang dari telaga, merasa ada yang berbeda. Tidak bisa mereka jelaskan. Hanya perasaan samar bahwa sesuatu telah terjadi. Sesuatu yang tidak kasat mata. Sesuatu yang mungkin akan membawa perubahan.
Sultan Hasan, yang berjalan di belakang rombongan, merasakan hal yang sama.
Cincin di jarinya berdenyut. Pelan. Hangat. Seperti setuju.
Tujuh hari setelah ritual, hujan turun.
Bukan gerimis. Bukan hujan biasa. Hujan lebat. Hujan yang mengguyur desa seperti ada yang menuangkan air dari emporium raksasa di langit. Hujan yang membuat tanah yang retak-retak itu minum sampai puas, sampai perutnya kembung dan airnya meluap ke sawah-sawah.
Warga desa keluar rumah. Mereka berdiri di tengah hujan. Mereka tertawa. Mereka menangis. Mereka berpelukan. Mereka bersyukur.
"Ritualnya berhasil!" teriak seseorang. "Kyai Mandrawijaya hebat!"
"Telaga larangan memberkati kita!" teriak yang lain. "Roh-roh hutan sudah tidak marah lagi!"
Tidak ada yang mengucapkan terima kasih pada Sultan Hasan. Tidak ada yang menyadari bahwa keanehan telaga yang tidak pernah kering itu mungkin ada hubungannya dengan anak kecil yang setiap malam diam-diam pergi ke sana untuk bertemu dengan seorang teman misterius.
Tapi Sultan Hasan tidak mencari ucapan terima kasih. Ia hanya bersyukur bahwa desanya selamat. Bahwa Mak Umi dan Jaya dan ibu Jaya tidak akan kelaparan. Bahwa musim tanam bisa dimulai lagi.
Ia berdiri di halaman rumah Mak Umi, di tengah hujan, dengan tangan terbuka. Batu akik merah di jarinya basah, merahnya semakin terang di bawah air hujan.
"Terima kasih," bisiknya pada langit. Pada telaga. Pada Pandan Wangi yang mungkin sedang menari di suatu tempat. "Terima kasih untuk airnya."
Burung hantu di pohon asam, yang basah kuyup karena hujan, mengepakkan sayapnya sekali. Tidak berbunyi. Hanya mengepak.
Seolah ikut bersyukur.
Seolah tahu bahwa kemarau panjang telah berakhir.
Tapi ketahuilah, pembaca yang budiman, kemarau panjang mungkin telah berakhir. Tapi kebencian di hati manusia, seperti bara yang tertutup abu, tidak pernah benar-benar padam. Ia hanya menunggu. Menunggu angin bertiup lagi. Menunggu kesempatan untuk menyala kembali.
Dan Sultan Hasan, anak kecil dengan cincin batu akik merah di jarinya, akan terus menjadi sasaran.
Sampai suatu hari, ia memutuskan untuk pergi.
Tapi itu cerita untuk bab-bab selanjutnya.
BAB XI
Nini Mas Intan Wafat
Kabar itu datang pada suatu pagi yang tidak berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya.
Sultan Hasan sedang membantu Mak Umi mencuci pakaian di sungai. Air sungai mulai pulih setelah hujan turun beberapa hari terakhir. Tidak sejernih dulu, tapi setidaknya tidak keruh seperti saat kemarau. Ikan-ikan kecil mulai bermunculan lagi, mencari makanan di sela-sela batu.
Seorang perempuan tetangga berlari-lari kecil mendekati mereka. Wajahnya pucat. Napasnya tersengal-sengal, seperti baru saja berlari jauh.
"Mak Umi! Mak Umi!" teriaknya.
Mak Umi yang sedang membenturkan pakaian ke batu, berhenti. "Ada apa, Mi?"
"Nini... Nini Mas Intan..."
"Ada apa dengan Nini Mas Intan?"
Perempuan itu mengambil napas panjang. Matanya berkaca-kaca. "Ia... meninggal, Mak. Semalam. Atau mungkin lusa. Tidak ada yang tahu persis. Jenazahnya baru ditemukan pagi ini oleh anak buah Kyai Mandrawijaya yang sedang mencari kayu bakar di hutan."
Mak Umi terdiam. Tangannya yang memegang pakaian basah itu berhenti bergerak. Air menetes dari kain itu ke batu, bunyinya seperti tetesan air mata.
"Sudah dikuburkan?" tanya Mak Umi akhirnya.
"Belum. Kyai Mandrawijaya meminta semua orang berkumpul di balai desa. Katanya, Nini Mas Intan harus dimakamkan secara adat. Sebagai penghormatan. Karena ia adalah tetua tertua di desa kita."
Mak Umi mengangguk. Ia berdiri. Ia mengeringkan tangannya di kain sarungnya. "Hasan," katanya pada Sultan Hasan yang masih duduk di tepi sungai, "kau dengar sendiri. Nini Mas Intan sudah tiada. Kita harus pergi ke balai desa."
Sultan Hasan tidak bergerak.
Ia mendengar. Ia mendengar semuanya. Tapi tubuhnya terasa kaku, seperti membatu. Pikirannya berputar, mengingat-ingat pertemuan terakhirnya dengan Nini Mas Intan beberapa pekan lalu, sebelum kemarau panjang dimulai.
Perempuan tua itu datang ke rumah Mak Umi saat hujan belum berhenti. Ia duduk di beranda, bersandar pada tongkat kayu nangkanya yang sudah aus. Matanya buram seperti susu diencerkan air. Rambutnya putih semua, tidak sehelai pun yang hitam.
"Kau sudah besar, Sultan Hasan," kata Nini Mas Intan saat itu. "Tidak besar secara fisik. Tapi hatimu sudah besar. Aku bisa melihatnya."
Sultan Hasan yang masih berusia lima tahun setengah saat itu, duduk di sampingnya. "Apakah aku sudah bisa menjadi penjaga, Nek?"
Nini Mas Intan tertawa. Tawanya serak, seperti gesekan daun-daun kering. "Belum, Nak. Masih panjang. Tapi kau di jalan yang benar. Jangan pernah berhenti. Jangan pernah menyerah. Meski semua orang membencimu. Meski semua orang menyalahkanmu. Tetaplah di jalan itu."
"Apakah Nek akan selalu ada untuk membimbingku?"
Nini Mas Intan terdiam. Ia memandang ke luar, ke arah hutan di timur, ke arah telaga larangan. Matanya yang buram tiba-tiba terlihat jauh, seperti sedang melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang biasa.
"Aku tidak akan selalu ada, Sultan Hasan. Tubuhku sudah tua. Sangat tua. Lebih tua dari pohon beringin di balai desa. Aku sudah melebihi batas yang wajar untuk manusia. Suatu hari, aku akan pergi. Dan kau harus melanjutkan perjalananmu sendirian."
"Tapi aku takut, Nek."
"Tidak apa-apa takut. Penjaga hati juga takut. Tapi mereka tidak membiarkan ketakutan menghentikan mereka. Ingatlah itu."
Nini Mas Intan mengusap rambut Sultan Hasan. Tangannya dingin, tapi sentuhannya lembut.
"Jagalah cincin itu," pesannya terakhir sebelum berdiri dan berjalan perlahan meninggalkan halaman. "Jagalah syair-syair yang kuajarkan. Dan jagalah telaga itu. Suatu hari, kau akan mengerti mengapa semua ini terjadi."
Itu adalah pertemuan terakhir mereka.
Dan sekarang, Nini Mas Intan sudah tiada.
Balai desa penuh dengan orang.
Hampir seluruh warga Dukuh Wangi hadir. Mereka datang bukan hanya karena Kyai Mandrawijaya memerintahkan, tapi karena mereka ingin memberi penghormatan terakhir pada perempuan tua yang selama ini mereka anggap keramat. Nini Mas Intan memang tidak disukai semua orang. Ia aneh. Ia misterius. Ia jarang bergaul. Tapi tidak ada yang bisa memungkiri bahwa ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain.
Jenazah Nini Mas Intan terbaring di tengah balai desa, ditutupi kain putih bersih. Wajahnya sudah tidak bisa dilihat. Yang terlihat hanya gundukan kain yang naik turun mengikuti bentuk tubuh tua yang keriput itu.
Kyai Mandrawijaya berdiri di samping jenazah. Wajahnya serius, tidak biasa. Ada kesedihan di matanya, meski ia berusaha menyembunyikannya.
"Kita berkumpul di sini," katanya, "untuk memberi penghormatan terakhir pada Nini Mas Intan. Beliau adalah tetua tertua di desa kita. Konon, usianya sudah lebih dari seratus tahun. Beliau adalah penjaga pengetahuan lama yang mungkin tidak kita mengerti sepenuhnya. Tapi hari ini, kita antar beliau ke peristirahatan terakhirnya."
Kerumunan mengangguk. Beberapa orang menangis.
Kyai Mandrawijaya melanjutkan, "Sebelum dimakamkan, aku akan membacakan doa-doa. Tapi sebelumnya, adakah yang ingin menyampaikan kesan terakhir untuk beliau?"
Saat itu, Sultan Hasan yang duduk di barisan paling belakang, di samping Mak Umi, merasakan dorongan aneh di dadanya. Ia ingin bicara. Ia ingin mengatakan sesuatu tentang Nini Mas Intan. Tentang kebaikannya. Tentang syair-syair yang diajarkannya. Tentang bagaimana perempuan tua itu adalah satu-satunya orang, selain ibunya dan Mak Umi dan Jaya dan Pandan Wangi, yang tidak pernah takut padanya.
Tapi sebelum ia sempat mengangkat tangan, seseorang sudah berdiri lebih dulu.
Pak Karta, dukun yang kemarin memimpin ritual di telaga.
"Aku ingin bicara," kata Pak Karta. Suaranya berat. Wajahnya muram. "Aku ingin bertanya pada Kyai dan semua yang hadir di sini. Apakah kita tahu persis bagaimana Nini Mas Intan meninggal?"
Kyai Mandrawijaya mengerutkan kening. "Tentu karena usia. Beliau sudah sangat tua."
"Tapi aku mendengar," kata Pak Karta, "bahwa jenazah Nini Mas Intan ditemukan dalam kondisi yang aneh. Tidak seperti orang mati biasa. Wajahnya... kata orang-orang yang pertama kali menemukan, wajahnya menyeringai seperti ketakutan. Tangannya mengepal. Dan di sekeliling jenazahnya, ada lingkaran abu-abu seperti bekas terbakar."
Kerumunan mulai berbisik. Suasana berubah. Dari duka menjadi tegang.
"Itu hanya cerita-cerita," kata Kyai Mandrawijaya. "Jangan percaya pada gosip."
"Tapi aku juga mendengar," Pak Karta tidak berhenti, "bahwa beberapa hari sebelum meninggal, Nini Mas Intan sering terlihat mondar-mandir di tepi hutan, berbicara sendiri. Katanya, ia terus mengulang-ulang nama yang sama."
"Nama siapa?" tanya seseorang dari kerumunan.
Pak Karta menoleh. Matanya menatap lurus ke arah Sultan Hasan.
"Sultan Hasan."
Seluruh balai desa mendadak sunyi.
Sultan Hasan merasakan dingin menjalari punggungnya. Batu akik merah di jarinya berdenyut cepat, seperti jantung yang ketakutan.
"Apa hubungannya?" tanya Mak Umi cepat-cepat, membela. "Anak itu tidak mungkin membunuh Nini Mas Intan! Ia masih kecil! Ia bahkan tidak tahu persis di mana Nini Mas Intan tinggal!"
"Aku tidak mengatakan ia membunuh," kata Pak Karta. "Tapi mungkin... keberadaannya membawa energi yang tidak baik untuk orang tua seperti Nini Mas Intan. Mungkin kehadirannya mempercepat kematian beliau. Kita tahu sendiri, sejak anak itu lahir, desa kita dilanda berbagai musibah."
Kerumunan bergemuruh lagi. Kali ini lebih keras. Lebih marah.
"Usir anak itu!"
"Buang pusakanya!"
"Akar masalahnya adalah anak itu!"
Kyai Mandrawijaya mengangkat tangan. Butuh waktu cukup lama untuk meredakan kerumunan.
"Kita tidak akan membahas itu sekarang," katanya. "Sekarang kita fokus pada pemakaman Nini Mas Intan. Urusan lain bisa dibahas nanti."
Tapi benih kebencian sudah ditanam. Lagi. Lebih dalam dari sebelumnya.
Sultan Hasan duduk diam di barisan belakang. Mak Umi menggenggam tangannya erat-erat. Jaya, yang duduk di sampingnya, juga menggenggam tangan kirinya.
Tiga tangan saling menggenggam. Tiga hati yang berusaha tetap kuat di tengah badai.
Pemakaman Nini Mas Intan berlangsung sore itu juga.
Mereka menguburkannya di pemakaman umum desa, di bawah pohon beringin tua yang akarnya menjalar hingga ke mana-mana. Tidak ada nisan khusus. Hanya sebuah batu kali yang diletakkan di atas pusara, sebagai tanda bahwa di bawahnya terbaring seorang perempuan yang sangat tua, yang sangat aneh, dan yang sangat bijaksana.
Sultan Hasan berdiri di pinggir lubang kubur. Ia memandang kain putih yang membungkus jenazah Nini Mas Intan, perlahan-lahan diturunkan ke dalam tanah.
Ia tidak menangis.
Bukan karena tidak sedih. Ia sangat sedih. Lebih sedih dari saat ibunya meninggal. Karena saat ibunya meninggal, ia masih terlalu kecil untuk mengerti sepenuhnya. Tapi sekarang ia sudah berusia enam tahun. Ia mengerti bahwa kematian berarti kepergian yang tidak akan pernah kembali.
Ia tidak menangis karena ia ingat pesan Nini Mas Intan. "Penjaga hati bukanlah orang yang tak pernah terluka. Tapi orang yang lukanya tidak membuatnya lupa mencintai."
Ia terluka. Sangat terluka. Tapi ia tidak akan lupa untuk mencintai.
"Selamat jalan, Nek," bisiknya saat tanah pertama mulai ditaburkan di atas peti. "Aku akan terus belajar. Aku akan terus menjaga. Aku akan menjadi penjaga hati, seperti yang Nek ajarkan. Aku janji."
Di kejauhan, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Bukan bunyi duka. Tapi bunyi janji. Janji bahwa meski Nini Mas Intan sudah tiada, ajarannya akan tetap hidup. Dalam hati Sultan Hasan. Dalam syair-syair yang ia hafal. Dalam setiap tindakan kebaikan yang akan ia lakukan di masa depan.
Malam harinya, Sultan Hasan pergi ke telaga larangan sendirian.
Ia tidak tahu apakah Pandan Wangi akan ada di sana. Sejak kemarau panjang berakhir, Pandan Wangi jarang muncul. Batu akik merah di jarinya juga jarang berdenyut kencang. Seolah sang teman sedang pergi ke suatu tempat yang jauh.
Tapi malam ini, saat ia duduk di batu hitam yang datar itu, Pandan Wangi muncul.
Ia duduk di samping Sultan Hasan. Tidak bicara. Hanya duduk. Menemani.
"Aku kehilangan dia," kata Sultan Hasan akhirnya. Suaranya parau. "Aku kehilangan Nini Mas Intan."
"Aku tahu," kata Pandan Wangi. Suaranya lembut, seperti air telaga yang mengalir pelan.
"Aku sedih, Pandan."
"Iya."
"Tapi aku tidak bisa menangis. Aku mencoba. Tapi air matanya tidak mau keluar."
"Itu tidak apa-apa. Tidak semua kesedihan harus ditumpahkan dengan air mata. Kadang kesedihan disimpan di dalam dada, dan dijadikan bahan bakar untuk terus melangkah."
Sultan Hasan memandang Pandan Wangi. Wajah temannya itu, di bawah cahaya bulan, terlihat pucat. Matanya hitam, dalam, seperti telaga itu sendiri.
"Apakah kau juga akan mati suatu hari nanti?" tanya Sultan Hasan.
Pandan Wangi tersenyum. Senyum yang lembut. Tapi ada sesuatu di sana. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Sesuatu antara kesedihan dan ketabahan.
"Aku tidak akan mati, Sultan Hasan. Tapi aku juga tidak akan hidup selamanya. Aku ada selama kau mengingatku. Aku ada selama kau menjaga telaga ini. Aku ada selama batu akik merah di jarimu masih berdenyut."
"Jadi, jika aku lupa padamu, kau akan lenyap?"
"Jika kau lupa padaku, bukan aku yang lenyap. Tapi sebagian dari dirimu yang lenyap. Karena aku adalah bagian dari hatimu, Sultan Hasan. Aku adalah cermin dari apa yang kau jaga."
Sultan Hasan terdiam. Ia tidak sepenuhnya mengerti. Tapi ia memilih untuk percaya. Karena dalam hidupnya yang singkat dan penuh dengan kehilangan, ia butuh sesuatu untuk dipegang. Seseorang untuk dipercaya.
Dan Pandan Wangi, teman misterius yang muncul di tepi telaga di tengah malam, adalah satu-satunya yang tersisa setelah Nini Mas Intan pergi.
"Aku tidak akan melupakanmu," kata Sultan Hasan. "Aku janji."
Pandan Wangi tersenyum lagi. Kali ini lebih lebar.
"Jagalah janjimu, Sultan Hasan. Karena penjaga hati tidak pernah mengingkari janji. Jika ia mengingkari, ia bukan lagi penjaga."
Malam itu, Sultan Hasan belajar sesuatu yang baru. Bahwa kehilangan adalah bagian dari menjaga. Bahwa cinta tidak selalu berarti memiliki. Bahwa kadang, kita harus melepaskan agar apa yang kita cintai tetap hidup.
Nini Mas Intan sudah tiada. Tapi ajarannya masih ada. Syair-syairnya masih terngiang di telinga. Dan telaga larangan, tempat di mana ia duduk sekarang bersama Pandan Wangi, adalah saksi bisu bahwa perempuan tua itu pernah hidup, pernah mengajar, dan pernah mencintai desa ini meski desa ini tidak pernah benar-benar memahaminya.
Sultan Hasan menghela napas panjang. Ia memandang bintang-bintang di langit.
"Selamat malam, Nek," bisiknya. "Istirahatlah dengan tenang. Aku akan melanjutkan perjalanan ini. Aku akan menjadi penjaga yang baik. Aku janji."
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatapnya. Matanya bundar dan kuning. Tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah setuju bahwa Sultan Hasan, meski baru berusia enam tahun, sudah memiliki keteguhan hati yang lebih kuat dari kebanyakan orang dewasa di desanya.
Dan bahwa perjalanannya, meski baru dimulai, sudah diwarnai oleh duka yang cukup untuk membuatnya tumbuh menjadi seseorang yang luar biasa.
BAB XII
Siapa Pandan Wangi?
Pertanyaan itu tidak pernah benar-benar terucap dari mulut Sultan Hasan, tetapi ia hidup di dalam kepalanya setiap kali ia pulang dari telaga larangan.
Siapa sebenarnya Pandan Wangi?
Bukan anak desa. Itu pasti. Sultan Hasan sudah hafal semua anak seusianya di Dukuh Wangi, meski mereka tidak mau bermain dengannya. Tidak ada yang bernama Pandan Wangi. Tidak ada yang berwajah seperti dia. Tidak ada yang bersuara seperti dia. Lembut. Jauh. Seperti suara dari dasar sumur.
Bukan manusia biasa? Mungkin. Tapi kalau bukan manusia, lalu apa? Peri? Bidadari? Roh halus? Sultan Hasan tidak tahu. Ia hanya tahu bahwa setiap kali ia duduk di samping Pandan Wangi di tepi telaga, ia merasa aman. Ia merasa tidak sendirian. Ia merasa bahwa dunia ini tidak sekejam yang ia kira.
Tapi rasa penasaran itu tetap ada. Menggelitik. Mengganggu. Seperti duri kecil yang tertancap di kulit, tidak sakit tapi tidak nyaman.
Suatu malam, setelah Nini Mas Intan dimakamkan seminggu yang lalu, Sultan Hasan memberanikan diri bertanya.
"Pandan," katanya pelan. Mereka sedang duduk di batu hitam yang datar itu. Bulan purnama bersinar terang, memantul di permukaan telaga, menciptakan ribuan titik berkilauan seperti berlian.
"Ya?" Pandan Wangi menoleh. Wajahnya setengah terang, setengah gelap. Tersenyum seperti biasa.
"Aku ingin bertanya sesuatu. Sejak lama. Tapi aku takut."
"Takut apa?"
"Takut kau akan marah. Atau pergi. Atau tidak mau menemuiku lagi."
Pandan Wangi tertawa kecil. Tawanya lembut, seperti angin malam yang membawa wangi bunga-bunga liar.
"Aku tidak akan marah, Sultan Hasan. Aku juga tidak akan pergi hanya karena kau bertanya. Tanyakan saja apa yang ingin kau tanyakan."
Sultan Hasan mengambil napas panjang. Batu akik merah di jarinya berdenyut pelan, seolah memberi dorongan.
"Siapa kau sebenarnya, Pandan Wangi?"
Pandan Wangi terdiam.
Bukan diam biasa. Diam yang dalam. Diam yang terasa berat, seperti langit sebelum hujan turun. Sultan Hasan bisa merasakan ada sesuatu yang berubah di udara. Sesuatu yang tidak bisa ia lihat, tapi bisa ia rasakan.
"Pertanyaan yang bagus," kata Pandan Wangi akhirnya. "Pertanyaan yang seharusnya sudah kau tanyakan sejak pertama kita bertemu."
"Aku dulu terlalu kecil untuk bertanya. Dan sekarang?"
"Dan sekarang kau sudah cukup besar untuk mendengar jawabannya. Tapi aku tidak yakin kau siap."
"Aku siap," kata Sultan Hasan cepat-cepat. "Aku sudah melalui banyak hal. Aku sudah kehilangan ayah, ibu, Nini Mas Intan. Aku sudah dikucilkan, dilempari kerikil, dituduh sebagai penyebab banjir dan kemarau. Aku kira tidak ada lagi yang bisa membuatku terkejut."
Pandan Wangi memandang Sultan Hasan lama. Matanya yang hitam pekat itu seperti dua telaga kecil, dalam, misterius, menyimpan ribuan rahasia yang tidak pernah diceritakan.
"Baiklah," katanya akhirnya. "Tapi jangan katakan aku tidak memperingatkanmu."
Pandan Wangi berdiri. Ia berjalan ke tepi telaga. Ia menunduk, mencelupkan ujung jari kakinya ke air. Air telaga yang tadinya tenang tiba-tiba beriak, seperti ada sesuatu di bawah sana yang bergerak.
"Kau tahu telaga ini, Sultan Hasan. Kau tahu ia tidak pernah kering. Bahkan di musim kemarau paling panjang sekalipun, airnya tetap jernih, tetap penuh. Kau tahu itu aneh. Tapi kau tidak pernah bertanya mengapa."
Sultan Hasan mengangguk. Ia memang pernah berpikir tentang keanehan itu. Tapi ia selalu menganggapnya sebagai bagian dari misteri telaga. Sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan.
"Telaga ini," lanjut Pandan Wangi, "bukan telaga biasa. Ia adalah telaga pusaka. Ia dijaga oleh sesuatu yang sudah ada sejak sebelum desa ini berdiri. Sejak sebelum nenek moyang kita datang ke tanah ini. Sejak sebelum manusia mengenal tulisan."
"Dijaga oleh apa?" tanya Sultan Hasan.
"Dijaga oleh penunggu. Penunggu telaga. Dan penunggu itu... adalah aku."
Sultan Hasan terhenyak. Ia memandang Pandan Wangi. Gadis kecil di depannya itu, seusianya, berpakaian lusuh, rambutnya hitam panjang sebahu. Tidak ada yang istimewa. Tapi tiba-tiba semuanya terasa berbeda.
"Kau... penunggu telaga?"
"Bukan hanya penunggu. Aku juga telaganya sendiri. Aku adalah airnya. Aku adalah tanaman air yang tumbuh di dasarnya. Aku adalah ikan-ikan kecil yang berenang di dalamnya. Aku adalah cahaya bulan yang memantul di permukaannya. Aku adalah telaga, Sultan Hasan. Dan telaga adalah aku."
Sultan Hasan tidak bisa berkata-kata. Ini terlalu aneh. Terlalu di luar nalar. Seorang anak perempuan seusianya mengaku sebagai telaga? Sebagai air? Sebagai sesuatu yang bukan manusia?
Tapi kemudian ia ingat. Pandan Wangi tidak pernah terlihat di siang hari. Pandan Wangi hanya muncul di malam hari, di tepi telaga ini. Pandan Wangi tidak pernah makan atau minum di depannya. Pandan Wangi tidak pernah kedinginan meski malam sangat dingin.
Semua tanda itu sudah ada sejak awal. Ia hanya terlalu sibuk menikmati persahabatan mereka untuk bertanya.
"Kau... apakah kau pernah menjadi manusia?" tanya Sultan Hasan.
Pandan Wangi tersenyum. Senyum yang lembut. Tapi ada kesedihan di sana. Kesedihan yang tua. Kesedihan yang sudah berusia berabad-abad.
"Aku dulu manusia, Sultan Hasan. Puluhan tahun yang lalu. Mungkin ratusan. Aku tidak ingat persis. Waktu terasa berbeda ketika kau menjadi air."
"Ceritakan padaku."
Pandan Wangi duduk kembali di batu hitam itu. Ia memandang telaga. Airnya tenang lagi. Iriak-iriak tadi sudah hilang.
"Dahulu kala, di desa ini, hiduplah seorang gadis. Namanya Pandan Wangi. Ia cantik. Kata orang-orang, kecantikannya seperti embun pagi di daun pandan. Wanginya semerbak, seperti kemenyan dibakar di malam Jumat."
"Gadis itu kau?"
"Aku adalah dia. Dulu. Saat masih punya darah dan daging. Saat masih bisa merasakan dinginnya air dan panasnya matahari. Saat masih bisa jatuh cinta."
"Kau jatuh cinta?"
Pandan Wangi tersenyum pahit. "Jatuh cinta pada seorang pemuda. Pemuda dari desa seberang. Kami bertemu di tepi telaga ini, tepat di tempat kita duduk sekarang. Kami berjanji untuk menikah. Tapi orang tuanya tidak setuju. Katanya, aku tidak cukup baik untuk anaknya. Katanya, aku hanya gadis kampung tanpa harta."
"Apa yang terjadi?"
Pandan Wangi terdiam lama. Tangannya yang mungil memetik sehelai rumput liar di sela-sela batu, lalu melemparkannya ke telaga. Rumput itu mengapung sebentar, lalu perlahan tenggelam.
"Pemuda itu dinikahkan dengan orang lain. Aku patah hati. Aku datang ke telaga ini, malam itu, di bawah bulan purnama. Aku menangis. Aku berdoa. Aku memohon pada alam untuk membebaskanku dari rasa sakit ini. Dan alam mendengar."
"Alam mengabulkan doamu?"
"Alam menawarkanku pilihan. Menjadi manusia biasa dan terus menderita. Atau menjadi penunggu telaga ini, menjaga air dan kehidupan di dalamnya, dan melupakan rasa sakitku. Aku memilih yang kedua. Karena saat itu, rasanya lebih mudah menjadi air daripada menjadi manusia."
Sultan Hasan terdiam. Ia membayangkan gadis muda yang patah hati, duduk di batu yang sama, menangis di bawah bulan yang sama. Ia membayangkan rasa sakit yang begitu dalam hingga seseorang rela melepaskan kemanusiaannya.
"Apakah kau menyesal?" tanya Sultan Hasan.
Pandan Wangi menggeleng. "Tidak. Menjadi penunggu telaga memberiku kedamaian. Aku tidak lagi merasakan sakit hati. Aku tidak lagi merasakan rindu yang menyiksa. Aku hanya... ada. Mengalir. Menjernihkan diri. Memberi kehidupan pada tanaman dan ikan."
"Tapi kau juga kesepian?"
Pandan Wangi tidak menjawab. Tapi matanya berkata ya. Matanya yang hitam pekat itu berkata: Aku sangat kesepian. Selama puluhan tahun. Mungkin ratusan. Tidak ada yang datang ke telaga ini. Hanya burung hantu yang kadang bertengger di dahan dan menatapku dengan matanya yang bundar. Sampai kau lahir. Sampai kau datang.
"Kenapa kau memilih menemuiku?" tanya Sultan Hasan. "Dari sekian banyak orang yang pernah datang ke telaga ini?"
"Karena kau berbeda, Sultan Hasan. Kau tidak datang ke sini untuk meminta sesuatu. Kau tidak datang untuk berdoa minta hujan atau kesembuhan atau jodoh. Kau datang karena kau kesepian. Sama sepertiku. Dan orang yang kesepian, mereka bisa saling memahami tanpa harus bicara banyak."
Sultan Hasan mengangguk. Ia mengerti. Ia sangat mengerti.
"Tapi ada satu hal lagi yang harus kau ketahui," kata Pandan Wangi setelah lama terdiam.
"Apa?"
"Telaga ini tidak hanya menjagaku. Ia juga menjagamu. Atau lebih tepat, ia menjaga pusakamu."
"Pusakaku? Cincin ini?"
Pandan Wangi mengangguk. "Cincin batu akik merah di jarimu itu terbuat dari bahan yang sama dengan telaga ini. Batu itu berasal dari dasar telaga, diambil oleh seorang pertapa ratusan tahun lalu, lalu ditempa menjadi cincin. Ia memiliki energi yang sama dengan air di sini. Itu sebabnya ia berdenyut. Itu sebabnya ia hangat. Itu sebabnya ia bisa merasakan apa yang kau rasakan."
"Jadi... cincin ini dan telaga ini terhubung?"
"Seperti saudara. Seperti dua sisi mata uang yang sama. Jika cincinmu rusak, telaga ini akan keruh. Jika telaga ini kering, cincinmu akan mati."
Sultan Hasan memandang cincin di jarinya dengan perasaan baru. Bukan lagi sekadar pusaka. Tapi sesuatu yang hidup. Sesuatu yang bernapas. Sesuatu yang terhubung dengan tempat suci ini, dengan makhluk di sampingnya, dengan sejarah panjang yang tidak pernah ia bayangkan.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Sultan Hasan.
"Jagalah cincinmu. Jagalah telaga ini. Dan jagalah aku, meski hanya dengan mengingatku. Karena selama kau mengingat, aku ada. Selama kau datang ke sini, aku tidak sendirian."
"Aku tidak akan berhenti datang," kata Sultan Hasan. "Aku janji."
Pandan Wangi tersenyum. Senyum yang paling lebar yang pernah Sultan Hasan lihat. Senyum yang membuat seluruh telaga bergetar, airnya beriak, dan cahaya bulan pecah menjadi ribuan keping.
"Terima kasih, Sultan Hasan. Kau tidak tahu betapa berartinya kehadiranmu bagiku. Setelah sekian lama sendirian, akhirnya ada yang mau mendengar ceritaku. Akhirnya ada yang mau duduk di sampingku tanpa takut. Akhirnya ada yang mau menjadi teman."
Keduanya terdiam. Menikmati malam. Menikmati kehadiran satu sama lain.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu diam.
Seolah puas. Seolah senang bahwa rahasia itu akhirnya terungkap. Dan bahwa persahabatan antara seorang anak laki-laki yang dikutuk dan seorang penunggu telaga yang kesepian, ternyata bisa berjalan seiring, tanpa saling menghakimi.
Saat fajar mulai memutih, Pandan Wangi berdiri seperti biasa.
"Aku harus pergi sekarang," katanya. "Matahari hampir terbit."
"Kapan kau akan kembali?" tanya Sultan Hasan, seperti biasa.
"Aku selalu di sini. Tapi kau hanya bisa melihatku di malam-malam tertentu. Malam purnama. Malam ketika batu akik merahmu berdenyut kencang. Di malam-malam lain, kau mungkin tetap datang ke sini, dan kau akan merasakan kehadiranku. Tapi kau tidak akan melihatku."
"Itu cukup," kata Sultan Hasan. "Hanya tahu bahwa kau ada di sini, itu sudah cukup."
Pandan Wangi tersenyum. Ia berjalan ke tepi telaga. Ia mencelupkan ujung jarinya ke air. Seluruh telaga bergetar.
"Selamat pagi, Sultan Hasan."
"Selamat pagi, Pandan Wangi."
Dan seperti biasa, Pandan Wangi berjalan ke arah pepohonan, perlahan menyatu dengan kegelapan, lalu lenyap. Seperti tidak pernah ada.
Tapi Sultan Hasan tahu ia ada. Telaga itu ada. Airnya jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang ditarik arus yang lembut.
Dan di jari manisnya, batu akik merah berdenyut pelan. Hangat.
Seolah berbisik: Kita tidak sendirian. Selama kita saling menjaga, kita tidak akan pernah sendirian.
Sultan Hasan berdiri. Ia berjalan pulang. Langit di timur mulai memerah. Ayam-ayam jantan mulai berkokok. Desa mulai bangun.
Ia tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah Nini Mas Intan meninggal, ia merasa ada sesuatu yang indah di dunia ini. Sesuatu yang membuatnya ingin terus hidup. Sesuatu yang membuatnya ingin terus menjadi penjaga.
Bukan hanya untuk dirinya sendiri.
Tapi untuk Pandan Wangi. Untuk telaga ini. Untuk semua yang membutuhkan seseorang yang mau menjaga.
"Penjaga hati," bisiknya mengulang syair yang diajarkan Pandan Wangi, "bukanlah orang yang tak pernah terluka. Tapi orang yang lukanya tidak membuatnya lupa mencintai."
Ia belum sepenuhnya mengerti. Tapi ia sedang belajar.
Setiap hari. Setiap malam. Setiap kali ia duduk di tepi telaga bersama Pandan Wangi.
Dan untuk anak seusianya, itu sudah luar biasa.
BAB XIII
Dibully Teman Sebaya
Usia Sultan Hasan menginjak tujuh tahun ketika perundungan itu mencapai puncaknya.
Bukan berarti sebelumnya ia tidak pernah diganggu. Sejak ia bisa berjalan, sejak ia bisa keluar rumah sendirian, sejak ia terlihat berbeda dari anak-anak lain, perundungan sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Kerikil-kerikil kecil yang dilemparkan dari kejauhan. Bisikan-bisikan jahat yang dilontarkan saat ia lewat. Dorongan-dorongan kecil di punggung saat ia tidak melihat.
Tapi semua itu masih bisa ia tahan. Masih bisa ia abaikan. Masih bisa ia anggap sebagai angin lalu yang tidak perlu ditanggapi serius.
Namun ketika usianya tujuh tahun, sesuatu berubah.
Anak-anak seusianya mulai tumbuh lebih besar. Badan mereka mulai berisi, karena orang tua mereka masih bisa memberi makan dengan layak. Sementara Sultan Hasan, yang tinggal bersama Mak Umi yang miskin, tubuhnya tetap kurus, tetap kecil, tetap terlihat seperti anak lima tahun meski usianya sudah tujuh.
Dan anak-anak yang lebih besar itu, dengan tubuh yang lebih besar dan rasa percaya diri yang lebih besar pula, mulai berani melakukan lebih dari sekadar melempar kerikil dari kejauhan.
Mereka mulai mendekat.
Mereka mulai mengepung.
Mereka mulai memukul.
Kejadian itu berlangsung suatu sore, saat Sultan Hasan sedang berjalan sendirian dari sumur ke rumah Mak Umi. Seember kecil air ia bawa di tangan kanannya. Cincin batu akik merah melingkar di jari manisnya, basah sedikit karena percikan air.
Di tengah jalan, di sebuah tikungan yang sepi karena rumah-rumah di sekitarnya kosong (penghuninya pindah atau pergi ke ladang), ia dihadang.
Lima anak laki-laki berdiri di depannya. Di tengah, yang paling besar dan paling tegap, adalah Jebat. Anak kepala desa itu sekarang berusia delapan tahun, badannya sudah sebesar anak sepuluh tahun. Wajahnya bulat, pipinya tembam, matanya sipit dan penuh kebencian.
Di samping Jebat, ada Badrun, anak dukun Pak Karta, yang badannya juga tidak kalah besar. Badrun terkenal sebagai anak yang suka menyiksa kucing dan membunuh burung dengan ketapelnya. Matanya liar, seperti tidak pernah puas dengan kekerasan yang ia lakukan.
Tiga anak lainnya adalah pengikut setia Jebat. Mereka tidak punya nama yang perlu diingat. Mereka hanya bayang-bayang. Mereka ikut-ikutan karena takut pada Jebat, atau karena ingin dianggap keren, atau karena tidak punya otak untuk berpikir sendiri.
"Hei, anak setan!" sapa Jebat dengan suara besar. "Kau mau ke mana?"
Sultan Hasan berhenti. Ia menatap Jebat. Tidak takut. Tapi juga tidak berani. Ia hanya berdiri diam, memegang erat ember kecilnya.
"Aku mau pulang," jawabnya singkat.
"Pulang? Ke rumah Mak Umi? Rumah penampung anak setan?" Jebat tertawa. Anak-anak lain ikut tertawa. Tawa yang paksa. Tawa yang dipaksakan karena takut tidak ikut tertawa.
"Biar aku lewat," kata Sultan Hasan. "Aku tidak punya masalah dengan kalian."
"Kami punya masalah denganmu," kata Jebat. Ia melangkah maju. Badrun ikut melangkah maju. Mereka mengepung Sultan Hasan dari kiri dan kanan.
"Hidungmu baunya tidak enak," kata Badrun sambil mengendus-endus. "Seperti bau kuburan. Seperti bau orang mati."
"Itu karena kau belum mandi," kata Jebat tertawa. Tapi tidak ada yang tertawa. Lawakannya terlalu murahan.
Badrun mendorong dada Sultan Hasan. Tidak keras. Tapi cukup untuk membuat anak kurus itu mundur selangkah.
"Katakan, anak setan," kata Badrun. "Katakan bahwa kau setan. Kalau tidak, kami akan pukul kau."
Sultan Hasan tidak menjawab.
"Katakan!" dorongan kedua. Lebih keras. Sultan Hasan hampir jatuh.
"Aku bukan setan," kata Sultan Hasan. Suaranya pelan. Tapi tegas. "Aku manusia. Seperti kalian."
"Kami tidak sama denganmu!" teriak Jebat. "Ayahku kepala desa! Ayah Badrun dukun! Ayah-ayah kami orang terhormat! Ayahmu lenyap! Ibumu mati! Tidak ada yang mau mengaku kalian keluarga!"
Kata-kata itu lebih menyakitkan daripada dorongan. Jauh lebih menyakitkan.
Sultan Hasan menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca. Tapi ia tidak mau menangis di depan mereka. Ia tidak mau memberi mereka kepuasan melihatnya lemah.
Jebat melihat itu. Ia tersenyum. Senyum predator yang tahu mangsanya sudah takut.
"Pukul dia," kata Jebat.
Badrun memulai. Tinjunya mengenai bahu Sultan Hasan. Tidak keras. Seperti baru menguji kekuatan.
Kemudian anak-anak lain ikut. Mereka memukul. Mereka menendang. Mereka menarik rambut Sultan Hasan. Mereka merebut ember kecilnya dan membuang airnya ke tanah.
Sultan Hasan jatuh. Ia mencoba bangkit. Tapi tendangan Jebat mengenai perutnya, membuatnya jatuh lagi.
Ia berguling. Ia mencoba melindungi kepalanya dengan kedua tangan. Cincin batu akik merah di jarinya terasa panas. Sangat panas. Seperti marah. Seperti ingin meledak.
Jangan, pikir Sultan Hasan. Jangan keluar. Aku tidak mau menyakiti mereka. Aku tidak mau menjadi seperti mereka.
Batu itu berdenyut kencang. Tapi Sultan Hasan menahannya. Ia menekan cincin itu dengan jari-jarinya, memintanya untuk tenang.
Dan anehnya, batu itu menurut.
Ia tetap panas. Tapi ia tidak meledak.
Sultan Hasan terus berguling, mencoba menjauh. Tapi mereka terus memukul. Terus menendang. Terus menarik rambutnya.
Sampai akhirnya, dari kejauhan, terdengar suara teriakan.
"HEI! BERHENTI!"
Suara perempuan. Tua. Tapi lantang.
Mak Umi.
Perempuan gemuk itu berlari sekencang mungkin meski napasnya sudah tersengal-sengal. Di tangannya, ia membawa sapu lidi. Senjata tradisional para ibu di desa untuk menghajar anak-anak nakal.
"Kalian anak-anak kurang ajar!" teriak Mak Umi sambil mengacung-acungkan sapunya. "Berani-beraninya kalian memukul anak orang!"
Jebat dan kawan-kawannya mundur. Mereka tidak takut pada Mak Umi. Tapi mereka takut pada sapu lidi itu. Dan mereka takut pada gosip bahwa mereka dipukul balik oleh seorang perempuan tua.
"Kami tidak memukul!" bantah Jebat. "Ia jatuh sendiri!"
"Jatuh sendiri? Dengan rambut kusut dan bibir berdarah? Kau pikir aku buta?"
Jebat tidak menjawab. Ia meludah ke tanah, lalu berbalik. Badrun dan anak-anak lain mengikutinya. Sebelum pergi, Jebat menoleh sekali lagi.
"Ini belum selesai, anak setan," bisiknya. Cukup keras untuk didengar Sultan Hasan. Cukup pelan untuk tidak didengar Mak Umi.
Kemudian mereka pergi. Meninggalkan Sultan Hasan terbaring di tanah, dengan tubuh penuh memar dan bibir yang berdarah.
Mak Umi berlutut di sampingnya. Tangannya yang gemetar membelai rambut Sultan Hasan.
"Nak... Nak, kau tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa, Mak," kata Sultan Hasan. Ia berusaha tersenyum. Tapi senyumnya lebih mirip rintihan.
"Jangan bohong! Bibirmu berdarah! Matamu lebam! Aku akan lapor ke kepala desa! Aku akan lapor ke Kyai Mandrawijaya!"
"Tidak usah, Mak."
"Kenapa tidak?"
"Karena mereka tidak akan membela aku. Aku anak setan. Mereka anak-anak orang terhormat. Siapa yang akan didengar?"
Mak Umi terdiam. Ia tahu Sultan Hasan benar.
Di desa ini, keadilan tidak pernah berpihak pada anak setan.
Perempuan tua itu menangis. Ia memangku Sultan Hasan di pangkuannya, di tengah jalan yang sepi, di bawah langit sore yang mulai memerah.
"Maafkan Mak Umi, Nak," bisiknya. "Mak Umi tidak bisa melindungimu. Mak Umi hanya perempuan tua miskin. Tidak punya kekuasaan. Tidak punya pengaruh."
"Tidak apa-apa, Mak," kata Sultan Hasan. "Kau sudah melakukan yang terbaik. Tanpa kau, mungkin aku sudah mati kelaparan sejak lama."
Mak Umi menangis lebih keras.
Sultan Hasan tidak menangis. Ia sudah lupa cara menangis.
Yang ia lakukan hanyalah memandang cincin di jari manisnya. Batu akik merah itu masih hangat. Masih berdenyut pelan.
Terima kasih sudah menurut, pikirnya. Terima kasih sudah tidak meledak. Aku tidak ingin menyakiti mereka. Aku tidak ingin menjadi seperti mereka.
Batu itu berdenyut sekali. Lembut. Seperti setuju.
Malam harinya, Jaya datang ke rumah Mak Umi. Wajahnya merah padam karena marah.
"Aku dengar apa yang terjadi," katanya. "Jebat dan teman-temannya memukulmu."
"Siapa yang bilang?"
"Seluruh desa tahu. Tapi tidak ada yang peduli. Buat mereka, kau memang pantas dipukul."
Sultan Hasan tersenyum pahit. "Biasa."
"Tidak biasa!" Jaya membanting tinjunya ke dinding bambu. "Kita harus melawan! Kita tidak bisa terus-terusan jadi korban!"
"Lalu kau mau apa? Melawan mereka? Kau sendiri? Aku sendiri? Tubuh kita kurus kering. Kita tidak punya kekuatan. Kita hanya akan dihantam lebih keras."
Jaya terdiam. Ia tahu Sultan Hasan benar. Tapi amarahnya tidak bisa begitu saja reda.
"Suatu hari nanti," kata Jaya, "kita akan besar. Kita akan kuat. Dan kita akan membalas semua ini."
"Bukan membalas," kata Sultan Hasan. "Tapi membuktikan. Bahwa kita lebih baik dari mereka. Bahwa kita tidak jadi jahat meski diperlakukan jahat. Itu balasan yang paling pedas, kata Nini Mas Intan."
Jaya memandang Sultan Hasan. Matanya menyala. Bukan amarah lagi. Tapi kekaguman.
"Kau luar biasa, Hasan. Aku tidak tahu bagaimana kau bisa tetap baik setelah semua yang kau alami."
"Aku belajar," kata Sultan Hasan. "Dari Nini Mas Intan. Dari Pandan Wangi. Dari syair-syair. Bahwa menjadi baik di saat semua orang jahat padamu, itu adalah bentuk keberanian tertinggi."
Malam itu, mereka berdua duduk di beranda rumah Mak Umi. Tidak bicara banyak. Hanya duduk. Menemani satu sama lain.
Di dahan pohon asam, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah bangga. Seolah setuju bahwa Sultan Hasan, meski baru berusia tujuh tahun, sudah memiliki kematangan hati yang tidak dimiliki kebanyakan orang dewasa.
Keesokan harinya, saat Sultan Hasan terbangun, ia melihat Mak Umi sudah berdiri di depan pintu dengan wajah tegang.
"Hasan," kata Mak Umi. "Aku sudah berpikir semalaman. Mungkin sudah saatnya kau belajar membela diri."
"Bela diri, Mak?"
"Iya. Aku tidak selalu bisa melindungimu. Aku sudah tua. Suamiku juga tua. Jaya juga masih kecil. Kau harus bisa melindungi dirimu sendiri."
"Tapi siapa yang akan mengajariku? Tidak ada pendekar di desa kita."
Mak Umi tersenyum. Ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang nakal. Sesuatu yang misterius.
"Ada," katanya. "Di hutan. Di timur. Di tempat yang tidak jauh dari telaga larangan. Ada seorang pertapa tua yang tinggal di sana. Ia adalah pendekar. Konon, ia dulu adalah pengawal kerajaan. Tapi ia memilih mengasingkan diri setelah kerajaannya runtuh."
"Kenapa ia mau mengajariku?"
"Karena aku akan memintanya. Karena aku dulu pernah menolongnya. Karena ia berhutang budi padaku."
Sultan Hasan memandang Mak Umi dengan takjub. Perempuan gemuk sederhana ini, ternyata menyimpan banyak rahasia.
"Baik, Mak. Aku akan belajar."
"Tapi ingat," kata Mak Umi. "Perjalanan ke sana tidak mudah. Hutan itu lebat. Ada hewan buas. Ada juga... hal-hal lain yang tidak bisa kau lihat dengan mata biasa. Kau harus berani."
"Aku sudah berani, Mak. Aku sudah melalui banyak hal. Aku tidak takut pada hutan."
Mak Umi mengangguk. Ia mengelus rambut Sultan Hasan.
"Besok pagi, kau akan pergi. Aku akan menunjukkan jalannya. Tapi hanya sampai batas desa. Selebihnya, kau harus sendiri."
"Baik, Mak."
Sultan Hasan memandang ke luar jendela. Ke arah timur. Ke arah hutan lebat. Ke arah telaga larangan. Ke arah tempat Pandan Wangi menari di malam hari.
Di sana, di tempat itu, seorang pertapa tua menunggunya.
Seorang pendekar yang akan mengajarinya cara membela diri.
Bukan untuk balas dendam. Tapi untuk melindungi. Untuk menjaga. Untuk terus hidup di dunia yang tidak pernah ramah padanya.
Sultan Hasan tersenyum.
Perjalanannya sebagai penjaga hati, ternyata tidak hanya tentang syair dan telaga. Tapi juga tentang kekuatan fisik. Tentang kemampuan untuk melindungi diri sendiri dan orang-orang yang dicintai.
Ia belum tahu seperti apa pertapa itu. Ia belum tahu apakah ia akan bisa belajar dengan baik.
Tapi satu hal yang ia tahu: ia tidak akan menyerah.
Ia akan terus melangkah.
Meski kakinya lecet. Meski tubuhnya memar. Meski hatinya luka.
Karena ia adalah penjaga.
Dan penjaga tidak pernah menyerah.
BAB XIV
Pertemuan Pertama dengan Cacing Tanah
Perjalanan ke timur dimulai sebelum matahari terbit.
Mak Umi menuntun Sultan Hasan menyusuri jalan setapak yang semakin lama semakin sempit, semakin lama semakin gelap, semakin lama semakin ditelan oleh hutan. Daun-daun kering berderak di bawah telapak kaki mereka. Burung-burung mulai berkicau, menyambut fajar yang masih samar di ufuk timur.
"Hanya sampai di sini," kata Mak Umi ketika mereka tiba di sebuah pohon beringin besar yang akarnya menjalar ke mana-mana seperti ular-ular kayu raksasa. "Dari sini, kau harus berjalan sendiri. Ikuti sungai kecil ke arah hulu. Nanti kau akan menemukan gubuk dari kayu. Di sanalah pertapa itu tinggal."
"Berapa lama aku harus berjalan, Mak?"
"Setengah jam. Mungkin satu jam. Tergantung seberapa cepat kakimu membawamu."
Mak Umi membekali Sultan Hasan dengan secarik kain berisi nasi dan ikan asin. Juga sebotol air dari sumur desa. Bukan banyak. Tapi cukup untuk sehari.
"Hati-hati, Nak," pesan Mak Umi. "Hutan ini tidak ramah pada orang asing. Tapi kau bukan orang asing. Hutan ini kenal kau. Sejak kau lahir, hutan ini sudah menjagamu. Percayalah padanya."
Sultan Hasan mengangguk. Ia memeluk Mak Umi. Gemuk. Hangat. Wangi asap dapur.
"Terima kasih, Mak."
"Jangan berterima kasih dulu. Pulang dulu. Nanti kau berterima kasih."
Mak Umi berbalik. Ia berjalan perlahan meninggalkan Sultan Hasan. Sesekali ia menoleh, melambaikan tangan, lalu terus berjalan sampai sosoknya lenyap di balik pepohonan.
Sultan Hasan sendirian di tepi hutan.
Ia menarik napas panjang. Udara pagi masih dingin, tapi segar. Bau tanah basah campur dedaunan. Bau kehidupan yang tidak pernah ia temukan di desa yang kering dan penuh kebencian.
"Ayo," katanya pada dirinya sendiri. "Kau bisa."
Ia mulai berjalan menyusuri sungai kecil ke arah hulu.
Setengah jam berlalu. Sultan Hasan belum menemukan gubuk kayu yang dimaksud Mak Umi.
Yang ia temukan hanyalah pepohonan yang semakin rapat. Akar-akar yang menjalar seperti tangga alami. Batu-batu berlumut yang licin. Dan suara air sungai yang mengalir pelan, menemani setiap langkahnya.
Sultan Hasan tidak takut. Anehnya, ia merasa tenang. Sangat tenang. Seolah hutan ini memang rumahnya. Seolah ia sedang pulang setelah sekian lama merantau.
Ia ingat kata-kata Mak Umi: "Hutan ini kenal kau. Sejak kau lahir, hutan ini sudah menjagamu."
Mungkin benar. Mungkin sejak ia lahir di malam gerhana, sejak Nini Mas Intan menolong ibunya melahirkan, sejak Nini Mas Intan mengajaknya ke telaga larangan untuk pertama kali, hutan ini sudah menjadi bagian dari dirinya.
Ia terus berjalan.
Sampai akhirnya, di sela-sela pepohonan yang semakin rapat, ia melihat sebuah gubuk.
Gubuk itu kecil. Sangat kecil. Hanya cukup untuk satu orang tidur dengan posisi meringkuk. Dindingnya dari kayu-kayu bulat yang disusun tidak rapi. Atapnya dari daun rumbia yang sudah kering dan bolong di beberapa tempat. Tidak ada pintu. Hanya sebuah lubang di dinding, cukup besar untuk dilewati orang dewasa dengan merangkak.
Di depan gubuk, seorang lelaki tua sedang duduk bersila di atas batu datar.
Lelaki itu sangat tua. Mungkin seusia Nini Mas Intan. Mungkin lebih tua. Rambutnya putih semua, tidak sehelai pun yang hitam. Jenggotnya panjang hingga menyentuh dada. Kulitnya keriput, tertutup debu dan tanah. Matanya terpejam. Dadanya naik turun pelan.
Ia tidak memakai baju. Hanya cawat dari kain hitam yang sudah lusuh. Tubuhnya kurus, tulang-tulangnya menonjol di bawah kulit yang keriput. Tapi tangannya... tangannya besar. Otot-ototnya masih terlihat jelas meski usianya sudah sangat tua. Tangan seorang pendekar.
Sultan Hasan berdiri di depan lelaki tua itu. Ia tidak tahu harus berkata apa. Mak Umi tidak memberinya petunjuk tentang cara memulai percakapan.
Lelaki tua itu tidak bergerak. Matanya tetap terpejam. Dadanya tetap naik turun pelan. Seperti tidak menyadari kedatangan Sultan Hasan.
Sultan Hasan menunggu.
Satu menit. Dua menit. Lima menit.
Lelaki tua itu tidak bergerak.
Akhirnya, Sultan Hasan memberanikan diri. "Permisi," katanya pelan. "Aku Sultan Hasan. Aku dikirim Mak Umi. Untuk belajar... bela diri."
Lelaki tua itu tidak menjawab.
"Permisi," ulang Sultan Hasan sedikit lebih keras.
Masih tidak ada jawaban.
Sultan Hasan bingung. Apakah lelaki ini tuli? Atau tidur? Atau sengaja mengabaikannya?
Ia melangkah maju satu langkah. Dua langkah. Hampir menyentuh kaki lelaki tua itu.
Lelaki tua itu tiba-tiba membuka matanya.
Matanya... aneh. Satu warna hitam pekat. Satu warna putih pucat, seperti buta. Tapi mata yang putih pucat itu, anehnya, terlihat lebih tajam dari mata yang hitam.
"Kau Sultan Hasan?" suaranya berat. Dalam. Seperti gemuruh dari dasar bumi.
"Iya."
"Anak setan yang lahir di malam gerhana?"
Sultan Hasan terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Jawab!" bentak lelaki tua itu.
"Entahlah," kata Sultan Hasan akhirnya. "Orang-orang bilang aku anak setan. Tapi aku tidak merasa seperti setan. Aku hanya merasa menjadi manusia biasa yang diperlakukan tidak biasa."
Lelaki tua itu terdiam. Matanya yang satu hitam, satu putih, menatap Sultan Hasan lama. Sangat lama. Seolah sedang membaca sesuatu di dalam diri anak kecil itu.
"Kau jujur," katanya akhirnya. "Itu baik. Pendekar yang jujur pada dirinya sendiri, lebih berbahaya dari seribu pendekar yang pandai bersilat."
Ia berdiri. Tubuhnya tinggi. Jauh lebih tinggi dari yang terlihat saat duduk. Tulang-tulangnya berkerotak saat ia bergerak, seperti kayu-kayu tua yang digesekkan.
"Aku Ki Ageng Jagaraga," katanya. "Dulu aku prajurit kerajaan. Sekarang aku hanya orang tua yang tinggal di hutan, berbicara pada pohon dan sungai. Mak Umi bilang kau mau belajar bela diri dariku. Benarkah itu?"
"Benar, Ki."
"Kenapa?"
"Sebab... aku sering dipukuli. Aku tidak bisa melindungi diriku sendiri. Aku tidak ingin terus menjadi korban."
Ki Ageng Jagaraga tertawa. Tawanya keras, bergema di antara pepohonan. Burung-burung beterbangan ketakutan.
"Kau ingin belajar membela diri karena kau ingin balas dendam?"
"Bukan balas dendam. Aku hanya ingin melindungi diriku. Dan orang-orang yang aku cintai."
"Orang yang kau cintai? Siapa?"
"Mak Umi. Jaya. Dan... seorang teman. Di telaga."
Ki Ageng Jagaraga mengerutkan kening. "Teman di telaga? Maksudmu penunggu telaga?"
Sultan Hasan terkejut. "Ki tahu tentang penunggu telaga?"
"Aku tahu banyak hal, Nak. Lebih dari yang kau kira. Tapi itu tidak penting. Yang penting, kau datang ke sini dengan niat yang benar. Bukan untuk balas dendam. Tapi untuk melindungi. Itu sudah cukup."
Ia berjalan ke arah gubuknya, membelakangi Sultan Hasan. "Besok kau mulai belajar. Pulanglah sekarang. Besok datang lagi. Bawa bekal untuk dua orang."
"Untuk siapa lagi, Ki?"
"Untukmu dan untukku. Kau kira aku makan apa di sini? Daun?"
Sultan Hasan tersenyum. "Baik, Ki. Besok aku datang lagi."
Ia berbalik. Ia mulai berjalan pulang. Langkahnya ringan. Hatinya senang.
Pertapa tua itu ternyata tidak serem yang ia bayangkan. Ia aneh. Tapi tidak jahat. Ia keras. Tapi tidak kejam.
Mungkin, seperti hutan ini, ia juga akan menjadi bagian dari perjalanan Sultan Hasan menjadi penjaga hati.
Dalam perjalanan pulang, saat ia sudah hampir sampai di pohon beringin besar tempat Mak Umi menunggunya, Sultan Hasan melihat sesuatu di tanah.
Seekor cacing tanah. Besar. Merah keunguan. Ia sedang berusaha merayap di atas tanah kering yang retak-retak. Tubuhnya lentur, bergerak maju perlahan, meninggalkan jejak lendir tipis di belakangnya.
Biasanya Sultan Hasan tidak peduli pada cacing. Cacing adalah hewan biasa. Tidak cantik. Tidak lucu. Tidak berguna bagi manusia kecuali sebagai umpan pancing.
Tapi hari ini, ia berhenti.
Ia berjongkok. Ia memandang cacing itu.
Cacing itu terus merayap. Ia tidak peduli pada Sultan Hasan. Ia hanya fokus pada tujuannya: tanah yang lebih lembab, beberapa meter di depan.
Sultan Hasan teringat pada kata-kata Nini Mas Intan. "Belajarlah dari alam. Dari sungai. Dari pohon. Dari batu. Dari hewan-hewan di hutan. Mereka tidak akan mengutukmu. Mereka akan menerimamu apa adanya."
Mungkin cacing ini juga bisa mengajarinya sesuatu.
Ia mengamati lebih saksama. Cacing itu tidak punya kaki. Tidak punya sayap. Tidak punya cangkang keras untuk melindungi diri. Tubuhnya lunak, mudah hancur, mudah mati jika diinjak burung atau dijemur matahari.
Tapi ia tetap bergerak. Ia tetap maju. Ia tidak menyerah meski tanah di depannya retak dan kering. Ia terus merayap, perlahan, dengan kesabaran yang luar biasa.
"Penjaga hati," bisik Sultan Hasan pada dirinya sendiri, "bukanlah orang yang tak pernah terluka. Tapi orang yang lukanya tidak membuatnya lupa mencintai."
Mungkin cacing ini juga tidak pernah takut terluka. Mungkin ia tahu bahwa hidupnya rapuh, bahwa kapan saja ia bisa mati. Tapi ia tetap hidup. Tetap bergerak. Tetap mencari tanah yang lebih lembab, tempat ia bisa bernapas dan berkembang biak.
Sultan Hasan tersenyum.
Ia mengambil sehelai daun kering. Dengan hati-hati, ia mengangkat cacing itu. Tubuhnya lentur, sedikit lengket di tangannya. Ia membawa cacing itu ke tempat yang lebih lembab, di bawah pohon beringin, tempat tanahnya gembur dan gelap.
Cacing itu masuk ke dalam tanah. Ia menghilang. Meninggalkan lubang kecil di permukaan tanah.
"Selamat jalan," bisik Sultan Hasan. "Terima kasih sudah mengajariku."
Ia berdiri. Ia melanjutkan perjalanan pulang.
Di jari manisnya, batu akik merah berdenyut pelan. Hangat.
Seolah setuju bahwa pertemuan pertama dengan cacing tanah adalah pertemuan yang istimewa. Bahwa bahkan makhluk yang paling kecil dan paling lemah sekalipun, bisa menjadi guru bagi seorang penjaga hati.
Sore harinya, setelah Sultan Hasan tiba di rumah Mak Umi dan menceritakan pengalamannya di hutan, Jaya datang seperti biasa.
"Bagaimana?" tanya Jaya. "Apa kau bertemu pendekar tua itu?"
"Ya. Namanya Ki Ageng Jagaraga. Ia setuju mengajariku."
"Bagus! Aku ikut!"
"Kata Ki Ageng, besok aku harus bawa bekal untuk dua orang. Maksudnya untukku dan untuknya. Tidak disebutkan untukmu."
"Ah, aku akan tanya langsung padanya. Mungkin ia mengizinkan."
Sultan Hasan tersenyum. Ia tahu Jaya keras kepala. Jika Jaya sudah memutuskan sesuatu, tidak ada yang bisa menghentikannya.
Tapi ia senang. Sangat senang. Karena memiliki teman yang mau ikut berjuang bersamanya, itu adalah anugerah yang tidak semua orang miliki.
Malam itu, sebelum tidur, Sultan Hasan duduk di beranda sendirian. Bulan sabit tipis di langit. Bintang-bintang bertaburan seperti beras yang ditumpahkan.
Ia memandang cincin di jarinya. Batu akik merah itu berdenyut pelan.
"Terima kasih untuk hari ini," bisiknya. "Terima kasih sudah menemaniku. Terima kasih sudah tidak marah saat aku memegang cacing itu."
Batu itu berdenyut sekali. Seperti menjawab: Sama-sama.
Di kejauhan, di arah timur, di arah telaga larangan, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Bukan bunyi biasa. Tapi bunyi yang terdengar seperti: Selamat malam, penjaga kecil. Istirahatlah. Besok kau akan mulai belajar menjadi pendekar.
Sultan Hasan menguap. Ia masuk ke dalam rumah. Ia merebahkan diri di tikar.
Matanya terpejam.
Ia bermimpi. Dalam mimpinya, ia berdiri di tengah hutan. Pohon-pohon di sekitarnya sangat tinggi, menjulang hingga ke langit. Akar-akarnya besar, seperti rumah-rumah kecil.
Di tanah, ribuan cacing tanah merayap. Mereka bergerak bersama, membentuk pola-pola aneh. Pola yang mirip dengan aksara. Aksara kuno. Aksara yang tidak bisa ia baca.
Tapi ia tidak takut. Ia tersenyum.
Karena ia tahu, cacing-cacing itu tidak akan menyakitinya.
Mereka hanya ingin mengajar.
Tentang kesabaran. Tentang ketekunan. Tentang bagaimana tetap bergerak maju meski tubuhmu lemah.
Tentang menjadi penjaga hati.
BAB XV
Hujan Pertama Setelah Kemarau
Tiga bulan telah berlalu sejak Sultan Hasan mulai berguru pada Ki Ageng Jagaraga.
Tiga bulan yang penuh dengan keringat, lumpur, dan rasa sakit. Ki Ageng Jagaraga bukan guru yang lembut. Ia keras. Ia kejam. Ia tidak segan-segan memukul Sultan Hasan dengan tongkatnya jika anak itu melakukan kesalahan dalam jurus. "Lebih baik aku memukulmu sekarang," katanya, "dar nanti kau dipukul musuh yang tidak kenal ampun."
Tapi Sultan Hasan tidak menyerah. Setiap pagi, sebelum matahari terbit, ia sudah berjalan menuju hutan. Setiap sore, saat matahari mulai condong ke barat, ia pulang dengan tubuh penuh memar dan lecet. Mak Umi selalu menangis melihatnya. Tapi Sultan Hasan tersenyum. "Tidak apa-apa, Mak. Aku belajar."
Jaya juga ikut berguru. Awalnya Ki Ageng Jagaraga menolak. "Aku hanya bisa mengajar satu murid," katanya. Tapi Jaya tidak bergerak dari depan gubuknya selama tiga hari tiga malam. Ia hanya duduk, menunggu, tidak makan, tidak minum. Pada malam ketiga, Ki Ageng menghela napas panjang. "Baiklah. Kau boleh ikut. Tapi jangan menyesal."
Jaya tidak menyesal. Meski tubuhnya juga penuh memar. Meski kakinya lecet. Meski tangannya kapalan. Ia tetap semangat. Karena ia tahu, persahabatan sejati tidak hanya tentang berbagi suka, tapi juga berbagi derita.
Dan di sela-sela latihan yang melelahkan itu, Sultan Hasan tetap menyempatkan diri pergi ke telaga larangan. Setiap malam purnama. Setiap kali batu akik merah di jarinya berdenyut kencang. Pandan Wangi selalu menunggu. Mereka duduk di batu hitam itu, berbicara tentang banyak hal. Tentang latihan. Tentang Ki Ageng Jagaraga yang keras kepala. Tentang Jaya yang setia. Tentang Mak Umi yang baik hati.
Pandan Wangi mendengarkan. Ia tidak banyak bicara. Tapi kehadirannya sudah cukup. Kehadirannya adalah pengingat bahwa Sultan Hasan tidak sendirian. Bahwa ada seseorang di dunia ini – atau di luar dunia ini – yang peduli padanya.
Musim kemarau tahun itu berlangsung lebih lama dari biasanya.
Bukan kemarau sepanas tahun lalu yang menyebabkan gagal panen dan kelaparan. Tapi cukup panjang untuk membuat warga desa gelisah. Sawah-sawah mulai mengering. Sungai mulai menyusut. Daun-daun mulai menguning dan berguguran.
Kyai Mandrawijaya kembali mengadakan ritual di telaga larangan. Lagi. Sama seperti tahun lalu. Kambing hitam dikurbankan. Kemenyan dibakar. Doa-doa dipanjatkan.
Tapi tidak ada yang berubah. Langit tetap biru tanpa sehelai awan pun. Matahari tetap terik.
Dan seperti tahun lalu, warga desa mulai mencari kambing hitam. Bukan kambing hitam yang dikurbankan di telaga. Tapi kambing hitam manusia. Seseorang yang bisa disalahkan atas musibah ini.
Sultan Hasan.
"Anak itu!" bisik seorang perempuan di sumur. "Sejak ia lahir, desa kita tidak pernah tenang!"
"Tapi tahun lalu, setelah ritual di telaga, hujan turun," bantah yang lain. "Mungkin ritualnya berhasil. Mungkin tahun ini kita harus mengulanginya dengan lebih khusyuk."
"Ritual tidak akan pernah berhasil selama anak itu masih tinggal di desa ini!"
Bisikan-bisikan itu menyebar lagi. Seperti api di padang rumput kering. Tidak bisa dihentikan.
Suatu malam, saat Sultan Hasan sedang tidur nyenyak di rumah Mak Umi, ia terbangun oleh suara ribut di luar. Suara orang-orang berteriak. Suara langkah kaki yang mendekat.
Ia duduk. Mak Umi juga terbangun. Wajahnya pucat.
"Ada apa, Mak?" tanya Sultan Hasan.
"Aku tidak tahu, Nak. Tapi sepertinya... sepertinya mereka datang ke sini."
Pintu bambu rumah Mak Umi didobrak. Beberapa orang masuk. Di depan, Kyai Mandrawijaya. Di belakangnya, Pak Karta dan beberapa pengikut setianya. Juga Jebat dan Badrun, yang sekarang sudah remaja, tubuh mereka besar dan menakutkan.
"Mak Umi," kata Kyai Mandrawijaya dengan suara dingin. "Serahkan anak itu."
Mak Umi berdiri di depan Sultan Hasan, melindunginya dengan tubuh gemuknya. "Kalian mau apa?"
"Kami akan membawa anak itu ke telaga larangan. Sebagai sesaji. Agar hujan turun."
Mak Umi terkesiap. "Kalian gila! Anak itu bukan sesaji! Ia manusia!"
"Dia bukan manusia," kata Pak Karta. "Dia anak setan. Lahir di malam gerhana. Ayahnya lenyap. Ibunya mati. Nini Mas Intan yang menolong kelahirannya ikut mati. Dialah sumber masalah desa ini. Selama ia masih hidup, desa ini tidak akan pernah damai."
"Kalian tidak bisa! Ini pembunuhan!"
"Ini pengorbanan untuk keselamatan desa," kata Kyai Mandrawijaya. "Kadang, untuk kebaikan banyak orang, kita harus mengorbankan segelintir orang."
Mak Umi menangis. Ia berteriak meminta tolong. Tapi tidak ada yang datang. Tetangga-tetangganya yang mendengar, memilih diam. Mereka takut. Atau mungkin mereka setuju.
Sultan Hasan, dari balik punggung Mak Umi, memandang Kyai Mandrawijaya. Matanya tenang. Tidak takut. Batu akik merah di jarinya berdenyut kencang. Sangat kencang. Panas. Seperti siap meledak kapan saja.
Tapi Sultan Hasan menekannya. Tenang, pikirnya. Jangan sekarang.
Jaya, yang tidur di rumahnya yang rubuh, tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ia tidak bisa dimintai tolong. Sultan Hasan sendirian.
"Bawa anak itu," perintah Kyai Mandrawijaya.
Jebat dan Badrun melangkah maju. Mereka mendorong Mak Umi hingga perempuan gemuk itu tersungkur ke tanah. Mereka meraih Sultan Hasan. Tubuh anak kurus itu terangkat dengan mudah.
Sultan Hasan tidak melawan.
Ia hanya menatap Jebat. "Kau yakin ini yang kau mau?" tanyanya pelan.
Jebat terdiam sejenak. Ada keraguan di matanya. Tapi keraguan itu sirna dengan cepat. "Diam, anak setan," katanya.
Mereka membawa Sultan Hasan ke luar rumah. Di luar, puluhan warga sudah berkumpul. Mereka membawa obor. Wajah mereka marah. Tapi di balik kemarahan itu, ada ketakutan. Ketakutan yang buta. Ketakutan yang membuat manusia melakukan hal-hal kejam.
"Ke telaga larangan!" teriak Pak Karta.
Mereka berjalan. Sultan Hasan digendong oleh Jebat dan Badrun seperti karung beras. Ia tidak bergerak. Ia hanya menatap langit. Bulan purnama bersinar terang. Cantik. Indah. Seperti tidak peduli dengan kekejaman yang terjadi di bawahnya.
Sesampainya di telaga larangan, mereka mengikat Sultan Hasan pada sebuah pohon di tepi telaga. Tali dari sabut kelapa. Kuat. Tidak mudah lepas.
Kyai Mandrawijaya memimpin doa. Pak Karta memercikkan air telaga ke empat penjuru mata angin. Kemenyan dibakar. Asapnya membubung tinggi, bercampur dengan bau tanah basah dan dedaunan.
"Wahai penunggu telaga," seru Kyai Mandrawijaya, "terimalah sesaji ini. Semoga hujan segera turun. Semoga desa kami selamat. Semoga kemarau ini segera berakhir."
Sultan Hasan, yang terikat di pohon, memandang telaga. Airnya jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang ditarik arus yang lembut.
Ia memanggil Pandan Wangi dalam hatinya.
Pandan... aku di sini. Mereka mau mengorbankanku. Tapi aku tidak takut. Aku hanya... aku hanya ingin pamit. Kalau aku mati, jagalah Mak Umi. Jagalah Jaya. Dan jagalah telaga ini. Jadilah penjaga yang baik, seperti yang kau ajarkan padaku.
Telaga itu bergetar.
Airnya beriak. Kecil pada awalnya. Kemudian semakin besar. Semakin keras. Seperti ada sesuatu di bawah sana yang bangun dari tidur panjang.
Kyai Mandrawijaya dan warga desa mundur selangkah. Mereka tidak pernah melihat telaga bergerak seperti itu.
Air telaga naik. Perlahan. Seperti tangan raksasa yang muncul dari kedalaman.
Dan dari tengah telaga, seorang perempuan muncul.
Ia bukan Pandan Wangi yang kecil. Ia dewasa. Tinggi. Cantik. Rambutnya hitam panjang menjuntai hingga ke pinggang. Ia memakai kain batik bermotif pandan berwarna hijau segar. Wajahnya pucat, seperti bulan. Matanya hitam pekat, seperti telaga itu sendiri.
Ia berjalan di atas air. Menuju ke tepi. Menuju ke tempat Sultan Hasan terikat.
"Lepaskan anak itu," suaranya lembut, tapi menggetarkan. "Atau kalian akan merasakan murka telaga ini."
Kyai Mandrawijaya gemetar. Pak Karta pucat pasi. Warga desa berlarian ketakutan.
"Ia... ia penunggu telaga!" teriak seseorang. "Penunggu telaga marah!"
"Lepaskan!" suara Pandan Wangi – dalam wujud dewasanya – menggema di seluruh desa.
Jebat, dengan tangan gemetar, melepaskan ikatan Sultan Hasan. Anak itu terjatuh ke tanah, lalu bangkit perlahan.
Ia memandang Pandan Wangi. Di wajah dewasa itu, ia masih bisa melihat wajah kecil temannya. Masih bisa melihat senyum yang sama. Lembut. Penuh kasih.
"Terima kasih," bisik Sultan Hasan.
Pandan Wangi tersenyum. "Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu, Sultan Hasan. Kau bagian dari telaga ini. Kau bagian dari aku. Jika mereka menyentuhmu, berarti mereka menyentuhku."
Ia menoleh ke arah Kyai Mandrawijaya dan warga desa yang ketakutan. "Pergilah. Jangan pernah kembali ke telaga ini. Jangan pernah mencoba menyakiti anak ini lagi. Jika kalian melakukannya, air telaga ini akan naik dan menenggelamkan seluruh desamu."
Warga desa berlarian. Mereka meninggalkan obor-obor mereka. Mereka meninggalkan sesaji. Mereka meninggalkan ketakutan mereka di tepi telaga.
Hanya Sultan Hasan dan Pandan Wangi yang tersisa.
Wujud dewasa Pandan Wangi perlahan berubah. Ia mengecil. Rambutnya memendek. Wajahnya menjadi bulat lagi. Kembali menjadi anak perempuan seusia Sultan Hasan.
"Maaf," kata Pandan Wangi. "Aku tidak bisa mengendalikannya. Kemarahanku memunculkan wujud asliku."
"Tidak apa-apa," kata Sultan Hasan. "Kau menyelamatkanku."
"Aku tahu kau bisa menyelamatkan dirimu sendiri. Dengan cincin itu, dengan ilmu bela diri yang kau pelajari, kau bisa melawan mereka. Tapi kau memilih untuk tidak melawan. Kenapa?"
Sultan Hasan tersenyum. "Karena Nini Mas Intan bilang, penjaga hati tidak membalas kebencian dengan kebencian. Dan karena... aku percaya padamu. Aku tahu kau akan datang."
Pandan Wangi menatap Sultan Hasan lama. Matanya berkaca-kaca.
"Kau manusia aneh, Sultan Hasan. Kebanyakan manusia, jika dianiaya, akan membenci. Tapi kau... kau tetap memilih untuk percaya. Kau tetap memilih untuk baik."
"Aku belajar dari telaga ini. Air tidak pernah membenci. Ia hanya mengalir. Ia memberi kehidupan pada siapa pun, baik atau jahat. Itu yang ingin aku tiru."
Malam itu, untuk pertama kalinya, Pandan Wangi menangis.
Air matanya jatuh ke telaga. Dan di tempat air matanya jatuh, bunga-bunga kecil bermunculan. Bunga pandan. Wanginya semerbak, menyebar ke seluruh desa.
Warga desa yang sedang ketakutan di rumah masing-masing, mencium wangi itu. Mereka tidak tahu dari mana asalnya. Tapi wangi itu membuat mereka tenang. Membuat mereka tertidur. Membuat mereka lupa, untuk sementara waktu, tentang ketakutan dan kebencian mereka.
Keesokan paginya, hujan turun.
Bukan gerimis. Bukan hujan biasa. Hujan lebat yang mengguyur desa seperti ada yang menuangkan air dari langit. Hujan yang membuat tanah yang retak-retak itu minum sampai puas. Hujan yang membuat sawah-sawah terisi kembali. Hujan yang membuat warga desa keluar rumah dan menari-nari di tengah air.
"Mukjizat!" teriak mereka. "Telaga larangan memberkati kita!"
Tidak ada yang menyebut nama Sultan Hasan. Tidak ada yang tahu bahwa hujan itu turun karena air mata seorang penunggu telaga yang menangis melihat kebaikan hati seorang anak kecil.
Tapi Sultan Hasan tidak peduli.
Ia berdiri di halaman rumah Mak Umi, di tengah hujan, dengan tangan terbuka. Batu akik merah di jarinya basah, merahnya semakin terang di bawah air hujan.
"Terima kasih, Pandan," bisiknya. "Terima kasih untuk semuanya."
Di kejauhan, di arah timur, di arah telaga larangan, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Bukan bunyi biasa. Tapi bunyi yang terdengar seperti: Sama-sama, penjaga kecil. Aku akan selalu menjagamu.
Sultan Hasan tersenyum.
Ia masuk ke dalam rumah. Mak Umi sudah menyiapkan makanan. Jaya sudah datang, basah kuyup, tapi wajahnya berseri-seri.
"Kau dengar? Hujan turun!" kata Jaya.
"Iya," kata Sultan Hasan. "Hujan turun."
Ia tidak menceritakan tentang apa yang terjadi semalam. Tidak tentang upaya pengorbanan dirinya. Tidak tentang Pandan Wangi yang muncul dalam wujud dewasa. Tidak tentang air mata yang jatuh ke telaga dan berubah menjadi bunga pandan.
Itu adalah rahasia. Rahasia antara dia dan telaga. Rahasia antara dia dan penjaganya.
Dan rahasia, kadang, lebih baik tidak diceritakan.
Karena rahasia adalah sesuatu yang dijaga. Dan Sultan Hasan adalah penjaga hati.
Hati telaga. Hati Pandan Wangi. Hatinya sendiri.
BAB XVI
Pusaka Berbicara
Setelah malam pengorbanan yang gagal itu, desa Dukuh Wangi berubah.
Bukan berubah menjadi lebih baik. Justru sebaliknya. Warga desa menjadi semakin takut pada Sultan Hasan. Bukan takut karena ia anak setan. Tapi takut karena ia dilindungi oleh sesuatu yang lebih kuat dari mereka. Penunggu telaga. Makhluk yang bisa berjalan di atas air. Makhluk yang mengancam akan menenggelamkan seluruh desa jika mereka menyakiti anak itu.
Mereka tidak lagi melempari kerikil. Tidak lagi memukuli. Mereka menghindar. Mereka menunduk saat berpapasan di jalan. Mereka berbisik-bisik di belakang punggungnya. Tapi mereka tidak berani menyentuhnya lagi.
Sultan Hasan menikmati ketenangan yang aneh ini. Ia bisa berjalan ke sumur tanpa harus takut diserang. Ia bisa pergi ke ladang membantu Mak Umi tanpa harus waswas. Ia bisa belajar pada Ki Ageng Jagaraga di hutan tanpa harus khawatir dikejar-kejar.
Tapi ada satu hal yang mengganggunya.
Cincin batu akik merah di jarinya mulai berubah.
Perubahan itu terjadi secara perlahan. Tidak tiba-tiba.
Pada awalnya, Sultan Hasan hanya merasakan batu itu lebih hangat dari biasanya. Bukan hangat yang tidak nyaman. Hangat yang aneh. Hangat yang seperti ada denyut nadi di dalamnya. Denyut yang tidak pernah ada sebelumnya.
Kemudian, batu itu mulai mengeluarkan suara.
Bukan suara yang bisa didengar telinga biasa. Suara yang samar. Suara yang seperti bisikan dari kejauhan. Sultan Hasan mengira itu hanya imajinasinya. Atau mungkin suara angin. Atau suara dedaunan yang bergesekan.
Tapi makin lama, suara itu makin jelas.
Suatu malam, saat ia sedang duduk sendirian di beranda rumah Mak Umi, ia mendengar suara itu dengan sangat jelas.
"Sultan Hasan..."
Ia menoleh ke kiri. Tidak ada siapa-siapa.
"Sultan Hasan..."
Ke kanan. Juga kosong.
Ia menunduk. Ia memandang cincin di jarinya. Batu akik merah itu berdenyut. Pelan. Teratur. Seperti jantung.
"Sultan Hasan... aku di sini."
Sekarang ia yakin. Suara itu berasal dari cincinnya.
"Kau... kau bisa bicara?" bisik Sultan Hasan, takut didengar Mak Umi yang sedang tidur di dalam.
"Aku selalu bisa bicara. Sejak awal. Tapi kau belum bisa mendengarku. Sekarang kau sudah cukup dewasa. Sekarang kau sudah bisa mendengar."
Sultan Hasan tidak tahu harus merasa takut atau kagum. Pusaka yang selama ini menemaninya, yang ia anggap hanya batu mati, ternyata hidup. Ternyata bisa bicara. Ternyata memiliki kesadaran sendiri.
"Siapa kau sebenarnya?" tanyanya.
"Aku adalah bagian dari telaga. Aku adalah bagian dari Pandan Wangi. Aku juga bagian dari dirimu. Sebab pusaka tidak pernah terpisah dari pemiliknya."
"Aku tidak mengerti."
"Kau tidak perlu mengerti sekarang. Yang penting, kau bisa mendengarku. Itu artinya kau sudah siap untuk tahap berikutnya."
"Tahap apa?"
"Tahap di mana kau belajar mendengar bukan hanya dengan telinga. Tapi dengan hati. Karena suara yang paling penting dalam hidupmu, tidak akan kau dengar dengan telinga biasa. Hanya dengan hati."
Sultan Hasan terdiam. Ia memandang batu itu. Merahnya berdenyut pelan, seperti lampu kecil di malam gelap.
"Kau punya nama?" tanyanya.
"Aku tidak punya nama. Tapi dulu, pemilikku sebelum kau, memanggilku Pengingat. Karena aku mengingatkan. Tentang apa yang penting. Tentang apa yang benar. Tentang apa yang tidak boleh dilupakan."
"Pemilik sebelum aku? Siapa?"
"Ayahmu. Hasan. Ia menerima pusaka ini dari ayahnya. Dan ayahnya dari ayahnya. Dan seterusnya, sampai tujuh generasi ke belakang. Kami adalah pusaka turun-temurun. Tapi hanya pemilik tertentu yang bisa mendengar suaraku. Hanya pemilik yang hatinya terbuka."
"Dan ayahku? Apakah ia bisa mendengarmu?"
Batu itu terdiam sejenak. Denyutnya melambat.
"Tidak. Ayahmu tidak bisa mendengarku. Hatinya tertutup. Ia terlalu sibuk dengan urusan dunia. Dengan mencari nafkah. Dengan memenuhi kebutuhan perut. Ia lupa bahwa pusaka ini bukan sekadar benda. Ia adalah guru. Dan ia tidak pernah belajar dariku."
Sultan Hasan merasakan kesedihan yang aneh. Bukan kesedihannya sendiri. Tapi kesedihan batu itu. Kesedihan karena diabaikan. Kesedihan karena tidak didengarkan.
"Maaf," kata Sultan Hasan. "Aku juga lama tidak mendengarmu. Aku mengira kau hanya batu biasa."
"Tidak apa-apa. Sekarang kau sudah mendengar. Itu yang penting."
Malam itu, Sultan Hasan tidak bisa tidur.
Ia terus berbicara dengan batu akik merah itu. Tentang banyak hal. Tentang masa lalu. Tentang masa depan. Tentang hati. Tentang cinta. Tentang menjaga.
Batu itu menjawab semua pertanyaannya. Tidak dengan kata-kata panjang. Tapi dengan bisikan-bisikan pendek yang tepat sasaran.
"Kau bertanya mengapa orang-orang membencimu?" kata batu itu ketika Sultan Hasan menceritakan tentang perundungan yang ia alami. "Karena mereka takut. Dan ketakutan sering berwujud kebencian. Mereka tidak membenci dirimu. Mereka membenci apa yang tidak mereka mengerti. Dan mereka tidak mengerti dirimu."
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Maafkan mereka. Bukan karena mereka pantas dimaafkan. Tapi karena kau pantas untuk damai. Kebencian hanya akan melahirkan kebencian. Maaf adalah satu-satunya jalan untuk memutus rantai itu."
Sultan Hasan menghela napas. "Itu berat."
"Menjadi penjaga hati memang berat. Tidak ada yang bilang itu mudah."
"Apakah kau juga bisa merasakan apa yang aku rasakan?"
"Aku bisa. Karena aku adalah cermin hatimu. Ketika kau sedih, aku meredup. Ketika kau marah, aku panas. Ketika kau bahagia, aku terang. Itu sebabnya aku disebut Pengingat. Aku mengingatkanmu pada hatimu sendiri."
Sultan Hasan memandang batu itu. Merahnya berdenyut pelan. Hangat. Menenangkan.
"Terima kasih sudah mengingatkanku," bisiknya. "Selama ini aku merasa sendirian. Tapi ternyata aku tidak sendirian. Ada kau. Ada telaga. Ada Pandan Wangi."
"Dan akan selalu ada. Selamanya."
Keesokan harinya, Sultan Hasan pergi ke hutan untuk berlatih dengan Ki Ageng Jagaraga. Ia bercerita tentang suara yang ia dengar dari cincinnya.
Ki Ageng Jagaraga, yang biasanya keras dan tidak banyak bicara, terdiam mendengar cerita itu. Matanya yang satu hitam, satu putih, menatap Sultan Hasan dengan saksama.
"Kau bisa mendengar suara pusaka?" tanyanya.
"Iya, Ki."
Ki Ageng Jagaraga menghela napas panjang. "Itu langka. Sangat langka. Bahkan di zaman keemasan kerajaan dulu, hanya sedikit pendekar yang bisa mendengar suara pusakanya. Kebanyakan dari mereka hanya menggunakan pusaka sebagai senjata. Tidak sebagai guru."
"Apakah itu berarti aku istimewa, Ki?"
"Tidak. Itu berarti kau memiliki tanggung jawab lebih besar. Pusaka yang bisa bicara, bukan untuk dipakai main-main. Ia adalah penuntun. Ia akan membawamu ke tempat-tempat yang tidak pernah kau bayangkan. Dan ia akan memintamu melakukan hal-hal yang tidak pernah kau duga."
"Apa aku sanggup, Ki?"
Ki Ageng Jagaraga tertawa. Tawanya keras, bergema di antara pepohonan.
"Kau sudah melalui banyak hal, Sultan Hasan. Kau dianiaya. Kau dikucilkan. Kau hampir dijadikan sesaji. Kau masih hidup. Kau masih tersenyum. Kau masih mau belajar. Aku rasa kau lebih dari sanggup."
Ia menepuk pundak Sultan Hasan. Keras. Hampir membuat anak itu jatuh.
"Sekarang, lanjutkan latihanmu! Jangan hanya pusakamu yang bisa bicara. Tubuhmu juga harus bisa bicara. Dalam bahasa silat!"
Sultan Hasan tersenyum. Ia bangkit. Ia melanjutkan latihan.
Di sela-sela gerakannya, ia sesekali memandang cincin di jarinya. Batu itu berdenyut pelan. Hangat. Seperti menyemangati.
"Kau bisa, Sultan Hasan. Aku di sini. Selalu."
5.
Malam harinya, setelah latihan yang melelahkan, Sultan Hasan pergi ke telaga larangan.
Bulan purnama bersinar terang. Air telaga jernih, memantulkan cahaya bulan menciptakan ribuan titik berkilauan seperti berlian.
Pandan Wangi sudah menunggu di batu hitam itu.
"Hei," sapanya. "Aku dengar kau bisa bicara dengan pusakamu sekarang."
"Kau tahu?"
"Penunggu telaga tahu banyak hal, Sultan Hasan. Tapi aku tidak tahu persis seperti apa suaranya. Bisakah kau ceritakan?"
Sultan Hasan duduk di samping Pandan Wangi. Ia menceritakan tentang bisikan-bisikan dari batu merah itu. Tentar a nasihat-nasihatnya. Tentang perasaannya yang bisa merasakan apa yang ia rasakan.
Pandan Wangi mendengarkan dengan saksama. Matanya berbinar.
"Pusaka itu sudah memilihmu, Sultan Hasan. Sejak kau lahir. Sejak kau memakainya untuk pertama kali. Ia tahu bahwa kau adalah pemilik yang tepat. Yang bisa mendengarnya. Yang bisa menjaganya."
"Apa kau juga bisa mendengarnya?"
Pandan Wangi menggeleng. "Aku tidak perlu mendengarnya. Aku adalah bagian dari telaga. Dan pusaka itu adalah bagian dari telaga juga. Kami sudah terhubung sejak awal. Tanpa suara. Tanpa kata-kata. Hanya perasaan."
Sultan Hasan mengangguk. Ia mulai mengerti.
Semua terhubung. Telaga. Pusaka. Pandan Wangi. Dirinya. Mereka adalah bagian dari satu kesatuan yang lebih besar. Satu ekosistem. Satu keluarga. Satu hati.
"Pandan," kata Sultan Hasan setelah lama terdiam.
"Ya?"
"Terima kasih sudah menyelamatkanku malam itu. Saat mereka mau mengorbankanku."
Pandan Wangi tersenyum. "Kau tidak perlu berterima kasih. Aku akan selalu menyelamatkanmu. Karena kau adalah penjaga hatiku. Dan penjaga hati, tidak boleh mati sebelum tugasnya selesai."
"Apa tugas itu?"
"Menjaga. Menjaga hatimu. Menjaga hatiku. Menjaga hati orang-orang yang kau cintai. Dan pada akhirnya, menjaga hati dari generasi yang akan datang."
Sultan Hasan tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya duduk di samping Pandan Wangi, memandang telaga, memandang bulan, merasakan denyut batu akik merah di jarinya.
Pelan. Hangat. Menenangkan.
Seperti bisikan: Kau tidak sendirian. Aku di sini. Kami di sini. Selalu.
Malam itu, Sultan Hasan belajar satu hal lagi. Bahwa pusaka bukan hanya benda mati. Ia adalah teman. Ia adalah guru. Ia adalah pengingat.
Dan selama ia mau mendengar, ia tidak akan pernah kehilangan arah.
BAB XVII
Ibunya Sakit-Sakitan
Usia Sultan Hasan menginjak delapan tahun ketika Mak Umi jatuh sakit.
Bukan sakit biasa. Bukan demam yang reda setelah minum jamu. Bukan batuk yang hilang setelah istirahat semalam. Sakit ini datang perlahan, menggerogoti tubuh perempuan gemuk yang selalu ceria itu sedikit demi sedikit, seperti air yang merembes ke dalam kapal, tidak terlihat tapi pasti menenggelamkan.
Awalnya hanya pegal-pegal di tulang. "Usia tua," kata Mak Umi tertawa ketika Sultan Hasan bertanya. "Tidak apa-apa, Nak. Mak Umi hanya perlu istirahat sebentar."
Tapi pegal-pegal itu tidak kunjung hilang. Kemudian muncul batuk. Batuk kering yang mengganggu tidur malam. Sultan Hasan sering terbangun di tengah malam mendengar suara batuk dari ruang sebelah. Batuk yang terdengar sakit. Batuk yang terdengar seperti ada sesuatu yang robek di dalam dada.
Kemudian batuk itu berdahak. Mak Umi sering meludah di daun pisang, lalu membuangnya ke belakang rumah. Sultan Hasan tidak pernah melihat isi ludah itu. Tapi suatu hari, ia melihat daun pisang yang belum sempat dibuang. Di atas daun itu, lendir kental bercampur darah. Merah. Segar. Seperti darah yang baru keluar dari luka.
Sultan Hasan gemetar.
Ia teringat pada ibunya. Dewi Rengganis. Ibunya juga sakit-sakitan sebelum meninggal. Ibunya juga batuk darah. Ibunya juga perlahan-lahan mengering seperti daun yang jatuh dari pohon.
Tidak. Ia tidak bisa kehilangan Mak Umi. Mak Umi adalah satu-satunya ibu yang ia miliki sekarang. Satu-satunya yang merawatnya. Satu-satunya yang melindunginya. Satu-satunya yang tidak takut padanya.
"Mak," katanya suatu sore, saat Mak Umi sedang berbaring di tikar dengan wajah pucat. "Mak harus berobat. Harus pergi ke dukun. Atau ke tabib di kota."
Mak Umi tersenyum. Senyum yang lemah. Senyum yang membuat Sultan Hasan hampir menangis.
"Tidak usah, Nak. Tidak ada uang untuk berobat. Mak Umi hanya perempuan miskin. Lebih baik uangnya dipakai untuk beli beras. Kau sedang tumbuh. Kau perlu makan banyak."
"Aku tidak butuh makan banyak, Mak. Aku butuh Mak sehat."
Mak Umi mengelus rambut Sultan Hasan. Tangannya dingin. Sangat dingin. Seperti tangan orang yang darahnya sudah tidak mengalir dengan baik.
"Kau baik, Nak. Terlalu baik untuk dunia ini. Mak Umi bangga bisa merawatmu, meski hanya sebentar."
"Tidak sebentar, Mak. Mak akan panjang umur. Mak akan melihatku besar. Mak akan melihatku menjadi pendekar. Mak akan melihatku menikah dan punya anak."
Mak Umi tertawa. Tawa yang lemah. Tawa yang cepat berubah menjadi batuk. Sultan Hasan membopong punggung Mak Umi, membantunya duduk, mengusap-usap dadanya.
"Nak," kata Mak Umi setelah batuknya reda. "Mak Umi mau minta tolong."
"Apa pun, Mak."
"Pergilah ke hutan. Temui Ki Ageng Jagaraga. Tanyakan padanya... apakah ada obat untuk penyakitku. Ia dulu prajurit kerajaan. Ia tahu banyak tentang tanaman. Mungkin ia tahu ramuan yang bisa menyembuhkanku."
Sultan Hasan mengangguk. Ia segera berdiri. "Aku pergi sekarang, Mak."
"Jangan malam-malam. Bahaya. Besok pagi saja."
"Tidak bisa, Mak. Besok pagi mungkin sudah terlambat."
Sultan Hasan berlari keluar rumah, meninggalkan Mak Umi yang hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Anak itu," bisik Mak Umi pada suaminya yang tidur di sampingnya. "Ia seperti air. Ia tidak pernah berhenti mengalir."
Hutan malam lebih gelap dari biasanya.
Bulan sabit tipis, cahayanya tidak cukup untuk menerangi jalan setapak. Sultan Hasan hampir tidak bisa melihat apa-apa. Beberapa kali ia tersandung akar pohon, jatuh, lalu bangkit lagi. Beberapa kali ia mendengar suara binatang buas di kejauhan, membuat bulu kuduknya berdiri.
Tapi ia terus berjalan. Ia tidak bisa berhenti. Mak Umi membutuhkannya.
Batu akik merah di jarinya berdenyut. Tidak seperti biasanya. Denyutnya cepat. Seperti jantung yang ketakutan. Atau seperti sedang memberi peringatan.
"Hati-hati," bisik suara batu itu di kepalanya. "Ada sesuatu di depanmu."
Sultan Hasan berhenti. Ia menajamkan pandangan. Di depan, sekitar dua puluh langkah, ia melihat dua titik cahaya. Kecil. Kuning. Bersinar di antara pepohonan.
Mata. Mata binatang.
Serigala? Macan? Sultan Hasan tidak tahu. Yang ia tahu, binatang itu menatapnya. Menunggu. Seperti sedang memutuskan apakah anak kurus di depannya layak dijadikan mangsa.
Sultan Hasan tidak bergerak. Ia tidak berlari. Ia ingat ajaran Ki Ageng Jagaraga: "Jika kau bertemu binatang buas, jangan lari. Mereka akan mengejar. Berdirilah tegak. Tatap matanya. Tunjukkan bahwa kau tidak takut."
Ia berdiri tegak. Ia menatap mata kuning itu. Batu akik merah di jarinya berdenyut kencang. Panas. Sangat panas.
"Aku di sini," bisik batu itu. "Kau tidak sendirian."
Mata kuning itu berkedip. Sekali. Dua kali. Kemudian binatang itu berbalik. Ia pergi. Menghilang di antara pepohonan.
Sultan Hasan menghela napas lega. Kakinya lemas. Hampir jatuh.
"Terima kasih," bisiknya pada cincin.
Batu itu berdenyut sekali. Hangat. Seperti menjawab: Sama-sama.
Ia melanjutkan perjalanan. Kini lebih hati-hati. Lebih waspada. Tapi tidak kurang cepat.
Ki Ageng Jagaraga tidak tidur ketika Sultan Hasan tiba di gubuknya.
Pertapa tua itu sedang duduk di depan api unggun kecil, memanggang ubi untuk makan malamnya. Asap mengepul tipis, bercampur dengan udara malam yang dingin.
"Kau datang malam-malam," katanya tanpa menoleh. "Ada apa?"
"Mak Umi sakit, Ki. Batuk darah. Mak Umi minta Ki memberi obat. Ki dulu prajurit kerajaan. Ki pasti tahu ramuan untuk menyembuhkan penyakit seperti itu."
Ki Ageng Jagaraga terdiam. Api unggun berkedip-kedip, menerangi wajah tuanya yang keriput.
"Batuk darah," ulangnya. "Sudah berapa lama?"
"Beberapa minggu. Mungkin sebulan. Mak Umi tidak bilang. Tapi aku melihat daun pisang yang dipakai meludah. Ada darah."
Ki Ageng Jagaraga menghela napas panjang. Napas yang berat. Napas yang terdengar seperti angin yang melewati celah-celah gua.
"Penyakit itu tidak bisa disembuhkan dengan ramuan biasa, Nak. Itu penyakit yang sudah lama bersarang di paru-parunya. Mungkin sejak ia masih muda. Sekarang baru pecah."
"Tapi ada obatnya, kan, Ki? Ki pasti tahu!"
Ki Ageng Jagaraga menatap Sultan Hasan. Matanya yang satu hitam, satu putih, terlihat menyala di kegelapan malam.
"Ada. Tapi tidak mudah mendapatkannya."
"Apa pun, Ki. Aku akan mencarinya."
Ki Ageng Jagaraga berdiri. Ia masuk ke dalam gubuknya, lalu keluar lagi dengan membawa sebilah pisau kecil dan sebuah kantong anyaman daun.
"Di hutan ini, ada pohon langka. Namanya Kayo Puti. Kayu putih. Tapi bukan kayu putih biasa. Kayu putih ini hanya tumbuh di satu tempat, di dekat telaga larangan. Daunnya berwarna perak. Aromanya harum, seperti kapur barus tapi lebih lembut."
"Aku akan mencari daun itu, Ki."
"Belum selesai. Daun itu tidak boleh dipetik sembarangan. Ada pantangannya. Kau harus memetiknya saat fajar menyingsing, sebelum matahari menyentuh puncak pohon. Kau harus memetiknya dengan tangan kiri, sambil mengucap doa yang akan kuajarkan. Dan kau harus meninggalkan sesaji: setangkai bunga melati putih di akar pohon."
"Aku akan lakukan semuanya, Ki."
Ki Ageng Jagaraga mengajarkan doa pendek dalam bahasa yang tidak Sultan Hasan mengerti. Bahasa kuno. Bahasa kerajaan. Bahasa yang hanya digunakan untuk hal-hal sakral.
"Hafalkan," kata Ki Ageng. "Jangan salah satu kata pun. Jika kau salah, daun itu tidak akan memiliki kekuatan."
Sultan Hasan mengulang doa itu berkali-kali, sampai Ki Ageng Jagaraga puas.
"Sekarang pergilah. Besok fajar, kau harus sudah berada di dekat pohon itu. Jangan terlambat."
Sultan Hasan berbalik. Ia hendak berlari.
"Tunggu," kata Ki Ageng Jagaraga.
Sultan Hasan menoleh.
"Mak Umi perempuan baik. Ia menolongku dulu saat aku sekarat di hutan ini. Ia merawatku tanpa meminta imbalan. Jika bukan karena Mak Umi, aku sudah mati puluhan tahun lalu."
"Aku tahu, Ki."
"Maka kau harus menyelamatkannya. Jangan gagal."
"Aku tidak akan gagal, Ki. Aku janji."
Sultan Hasan tidak pulang ke rumah Mak Umi. Ia langsung menuju telaga larangan. Tempat di mana Kayo Puti itu tumbuh, kata Ki Ageng Jagaraga.
Ia tiba di telaga saat langit masih gelap. Bintang-bintang masih bertaburan. Bulan sabit sudah tenggelam. Tinggal sedikit waktu sebelum fajar.
Ia mencari pohon dengan daun berwarna perak. Tidak sulit menemukannya. Pohon itu tumbuh tepat di tepi telaga, di sisi yang berlawanan dari batu hitam tempat ia biasa duduk bersama Pandan Wangi.
Daunnya benar-benar perak. Berkilauan di bawah cahaya bintang. Aromanya harum, menyegarkan, seperti angin pagi di pegunungan.
Sultan Hasan duduk di bawah pohon itu. Ia menunggu fajar.
Batu akik merah di jarinya berdenyut pelan. Tidak panas. Tidak cepat. Denyut yang tenang, seperti detak jantung yang beristirahat.
"Kau lelah," bisik batu itu.
"Aku tidak bisa lelah. Mak Umi butuh aku."
"Kau manusia, Sultan Hasan. Manusia boleh lelah. Tapi jangan berhenti. Itu yang membedakan pahlawan dari pecundang."
Sultan Hasan tersenyum. Ia mengelus batu itu dengan ibu jarinya.
"Kau bijak. Untuk sebongkah batu."
"Aku sudah ada ribuan tahun. Aku sudah melihat banyak pemilik. Aku sudah mendengar banyak cerita. Aku belajar dari semuanya."
"Ceritakan tentang pemilik sebelumnya."
"Nanti. Setelah Mak Umi sembuh. Sekarang kau fokus pada tugasmu."
Sultan Hasan mengangguk. Ia memejamkan mata. Ia beristirahat sejenak, memulihkan tenaga.
Fajar menyingsing.
Cahaya pertama matahari muncul di ufuk timur, berwarna jingga keemasan, perlahan-lahan menyebar ke seluruh langit.
Sultan Hasan membuka matanya. Ia berdiri. Ia mendekati pohon Kayo Puti. Daun perak itu berkilauan terkena cahaya fajar, terlihat seperti bertabur embun meski tidak ada embun.
Ia mengulang doa yang diajarkan Ki Ageng Jagaraga. Perlahan. Kata demi kata. Tidak ada yang salah.
Ia memetik tujuh helai daun perak itu dengan tangan kirinya. Daun-daun itu terasa dingin di tangannya. Lembut. Seperti sutra.
Ia meletakkan setangkai bunga melati putih yang sudah ia siapkan (dipetik dari belakang rumah Mak Umi, satu-satunya tanaman yang tumbuh subur di halaman sempit itu) di akar pohon. Ia membungkuk. Menghormati pohon itu. Menghormati telaga. Menghormati Pandan Wangi yang mungkin sedang melihat dari tempatnya.
"Terima kasih," bisiknya.
Ia memasukkan daun-daun itu ke dalam kantong anyaman yang diberikan Ki Ageng Jagaraga. Lalu ia berlari pulang.
Ki Ageng Jagaraga sudah menunggu di depan gubuknya ketika Sultan Hasan tiba. Tanpa banyak bicara, pertapa tua itu mengambil daun-daun perak itu, menghaluskannya dengan batu, mencampurnya dengan air dari telaga larangan, dan membuat ramuan berwarna hijau pucat.
"Berikan ini pada Mak Umi," katanya. "Tiga kali sehari. Satu sendok makan setiap kali. Jangan lebih. Jangan kurang."
"Apa ini akan menyembuhkannya, Ki?"
Ki Ageng Jagaraga menghela napas. "Tidak ada yang bisa menyembuhkan kematian, Sultan Hasan. Tapi ramuan ini akan memperlambatnya. Mak Umi mungkin akan hidup beberapa tahun lagi. Mungkin lebih. Tergantung kemauan tubuhnya."
Sultan Hasan menunduk. Air matanya menetes. Ini pertama kalinya ia menangis setelah sekian lama.
"Jangan menangis," kata Ki Ageng Jagaraga. "Kau sudah berbuat yang terbaik. Sekarang, pulanglah. Berikan ramuan ini pada Mak Umi. Dan temani ia selama ia masih ada. Itu yang paling berarti bagi orang yang sedang sakit. Bukan obat. Tapi kehadiran."
Sultan Hasan mengangguk. Ia menyeka air matanya. Ia berlari pulang.
Di jari manisnya, batu akik merah berdenyut pelan. Hangat.
Seolah berbisik: "Kau hebat, Sultan Hasan. Mak Umi bangga padamu. Aku juga bangga."
Mak Umi meminum ramuan itu dengan patuh.
Anehnya, setelah tiga hari, batuknya berkurang. Setelah seminggu, warnanya mulai pulih. Setelah sebulan, ia sudah bisa berjalan ke sumur lagi, meski dengan napas yang masih sedikit tersengal-sengal.
"Kau menyelamatkanku, Nak," kata Mak Umi sambil mengelus rambut Sultan Hasan. "Kau pergi ke hutan malam-malam, menghadapi bahaya, hanya untuk mencarikan obat untuk Mak Umi. Mak Umi tidak akan pernah bisa membalas kebaikanmu."
"Kau tidak perlu membalas apa pun, Mak. Kau sudah merawatku sejak kecil. Kau sudah menjadi ibuku. Ini tugasku untuk membalas budi."
Mak Umi menangis. Sultan Hasan memeluknya.
Itulah pertama kalinya ia memeluk Mak Umi dengan kesadaran penuh. Rasanya hangat. Rasanya aman. Rasanya seperti rumah.
"Mak," bisik Sultan Hasan.
"Ya, Nak?"
"Aku janji, Mak tidak akan mati sebelum melihatku besar. Mak akan melihatku menjadi pendekar. Mak akan melihatku menikah. Mak akan melihatku punya anak. Mak akan melihat cucu-cucuku. Aku janji."
Mak Umi tertawa. Tertawa sambil menangis.
"Amin, Nak. Amin."
Di luar jendela, matahari bersinar terang. Burung-burung berkicau. Angin berembus pelan, membawa wangi daun kayu putih dari arah telaga larangan.
Dan di dahan pohon asam tua, burung hantu menatap mereka berdua. Matanya bundar dan kuning. Tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah setuju. Seolah ikut berdoa. Seolah percaya bahwa janji seorang penjaga hati tidak akan pernah sia-sia.
BAB XVIII
Bertemu Pengembara Misterius
Musim kemarau tahun itu berakhir lebih cepat dari biasanya. Hujan turun di bulan ketiga, membawa kesuburan kembali ke tanah yang sempat retak-retak. Warga desa Dukuh Wangi bersyukur. Mereka mengira ritual di telaga larangan berhasil. Mereka tidak tahu bahwa hujan datang bukan karena ritual, tapi karena air mata seorang penunggu telaga yang menangis melihat seorang anak kecil berjuang menyelamatkan ibu angkatnya.
Tapi itu tidak penting. Yang penting, desa kembali hidup. Sawah-sawah kembali ditanami padi. Sungai kembali mengalir deras. Anak-anak kembali bermain di halaman. Dan Sultan Hasan... Sultan Hasan kembali menjalani rutinitasnya: berlatih silat dengan Ki Ageng Jagaraga di pagi hari, membantu Mak Umi di siang hari, dan sesekali pergi ke telaga larangan di malam hari untuk bertemu Pandan Wangi.
Jaya setia menemani ke mana pun Sultan Hasan pergi. Tubuhnya kini tidak sekurus dulu. Makanan yang disediakan Mak Umi, meski sederhana, cukup untuk membuatnya berisi. Matanya tidak lagi cekung. Pipinya tidak lagi kusam. Ia berubah menjadi remaja yang cukup tampan, meski pakaiannya masih compang-camping.
"Suatu hari nanti," kata Jaya suatu sore, "kita akan punya rumah sendiri. Kita akan punya tanah sendiri. Kita akan kaya raya."
"Kau mau kaya raya?" tanya Sultan Hasan.
"Tentu. Dengan uang, kita bisa membeli apa pun. Makanan enak. Pakaian bagus. Rumah besar. Istri cantik."
Sultan Hasan tersenyum. "Aku tidak butuh semua itu."
"Kau butuh. Kau hanya belum sadar."
Mereka berdua tertawa. Di kejauhan, di arah timur, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Suara yang sudah menjadi latar belakang kehidupan Sultan Hasan sejak ia lahir.
Suatu sore, saat Sultan Hasan dan Jaya sedang duduk-duduk di beranda rumah Mak Umi, seorang pengembara datang.
Ia bukan orang dari desa itu. Jelas sekali. Bajunya dari bahan yang tidak biasa. Kainnya tebal, berwarna coklat tua, dengan jahitan yang rapi. Di pinggangnya, terselip sebilah pedang pendek. Bukan pedang biasa. Gagangnya dari tulang, diukir dengan gambar naga.
Pengembara itu seorang perempuan. Mungkin berusia empat puluh tahun. Atau lima puluh. Sulit ditebak. Wajahnya keriput, tapi matanya tajam. Matanya seperti elang. Matanya seperti sedang mencari sesuatu. Atau seseorang.
Ia berjalan mendekati rumah Mak Umi. Langkahnya tegap, tidak seperti orang yang kelelahan meski baru menempuh perjalanan jauh.
"Permisi," katanya. Suaranya berat. Tapi tidak kasar.
Mak Umi yang sedang duduk di beranda, menjahit pakaian, menengadah. "Ada apa, Mbak?"
"Aku sedang mencari seseorang. Mungkin ia tinggal di desa ini. Atau pernah tinggal."
"Siapa?"
"Nama aslinya tidak penting. Tapi ia dikenal dengan sebutan... Ki Ageng Jagaraga."
Mak Umi terkejut. Sultan Hasan juga terkejut. Jaya ikut terkejut, meski tidak tahu persis siapa Ki Ageng Jagaraga.
"Ki Ageng Jagaraga?" ulang Mak Umi pura-pura tidak tahu. "Tidak kenal. Tidak ada orang dengan nama itu di desa kami."
Perempuan itu tersenyum. Senyum yang aneh. Senyum yang tahu.
"Jangan bohong, Bu. Aku sudah mencari selama tiga bulan. Aku sudah bertanya di puluhan desa. Aku sudah hampir putus asa. Tapi jejaknya membawaku ke sini. Ke hutan di timur desa ini. Ke tempat di mana ia bersembunyi."
"Ki Ageng Jagaraga tidak bersembunyi," kata Sultan Hasan tiba-tiba. "Ia hanya... mengasingkan diri."
Semua mata tertuju pada Sultan Hasan. Mak Umi memandangnya dengan tatapan peringatan: Jangan bicara sembarangan, Nak.
Tapi Sultan Hasan tidak peduli. Ada sesuatu di mata pengembara itu. Sesuatu yang tidak jahat. Sesuatu yang... sedih.
"Kau kenal Ki Ageng Jagaraga?" tanya perempuan itu.
"Aku muridnya."
Perempuan itu terdiam. Ia memandang Sultan Hasan lama. Matanya yang tajam itu berubah. Menjadi lembut. Menjadi basah.
"Muridnya," ulangnya. "Jadi ia masih mengajar. Ia masih bisa mengajar. Itu berarti... ia masih hidup."
"Tentu saja ia masih hidup," kata Sultan Hasan. "Aku baru saja berlatih dengannya pagi ini."
Perempuan itu menghela napas panjang. Napas yang seperti sudah ditahan bertahun-tahun. Napas yang lega. Napas yang lelah.
"Bawa aku padanya," katanya.
Sultan Hasan memandang Mak Umi. Mak Umi menggeleng pelan. Jangan.
Tapi Sultan Hasan sudah mengambil keputusan.
"Ikuti aku," katanya.
Ia berdiri. Ia berjalan meninggalkan halaman. Perempuan itu mengikuti. Jaya juga ikut. Mak Umi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, lalu kembali menjahit sambil berdoa semoga tidak terjadi hal-hal buruk.
Perjalanan ke hutan tidak lama. Sultan Hasan sudah hafal jalan setapak itu. Setiap akar, setiap batu, setiap belokan, ia hafal di luar kepala.
Perempuan itu berjalan di belakangnya dengan langkah tegap. Sesekali ia melihat ke kiri dan ke kanan, seperti sedang mengingat-ingat. Seperti sedang bernostalgia.
"Kau sudah pernah ke hutan ini sebelumnya?" tanya Sultan Hasan.
"Pernah. Puluhan tahun yang lalu."
"Apa yang kau cari dulu?"
"Bukan apa. Siapa."
"Siapa?"
"Ki Ageng Jagaraga. Tapi dulu ia belum bergelar Ki Ageng. Dulu ia hanya seorang prajurit. Bernama... Jagaraga."
Sultan Hasan tidak bertanya lebih jauh. Ia merasakan ada cerita panjang di balik kata-kata itu. Cerita yang mungkin tidak pantas ditanyakan anak seusianya.
Ki Ageng Jagaraga sedang duduk di depan gubuknya ketika mereka tiba. Seperti biasa, ia sedang bersila, memejamkan mata, bermeditasi.
Tapi ketika perempuan itu melangkah ke tempat terbuka di depan gubuk, Ki Ageng Jagaraga membuka matanya. Matanya yang satu hitam, satu putih, terbelalak.
Ia berdiri. Tubuhnya yang tua gemetar.
"Kau..." bisiknya. "Kau..."
Perempuan itu tersenyum. Air matanya mengalir.
"Halo, Jag," katanya. "Sudah lama."
Ki Ageng Jagaraga tidak bisa berkata-kata. Ia hanya berdiri di depan perempuan itu, menatapnya, seperti tidak percaya bahwa ia benar-benar ada di sini.
"Kau... kau masih hidup," bisiknya.
"Kau juga masih hidup. Meski sudah tua renta dan tinggal di gubuk reot di tengah hutan."
"Apa yang kau cari di sini? Setelah semua yang terjadi? Setelah dua puluh tahun?"
"Aku mencari jawaban, Jag. Jawaban yang tidak pernah kau berikan saat kau pergi."
Ki Ageng Jagaraga terdiam. Ia menunduk. Untuk pertama kalinya, Sultan Hasan melihat pertapa tua yang keras dan kejam itu terlihat... rapuh.
"Masuklah," kata Ki Ageng akhirnya. "Kita bicara di dalam."
Perempuan itu mengangguk. Ia berjalan menuju gubuk. Sebelum masuk, ia menoleh pada Sultan Hasan.
"Terima kasih, Nak. Kau telah membawaku bertemu dengan orang yang selama ini kucari. Kau anak yang baik."
Sultan Hasan hanya mengangguk. Ia tidak tahu harus berkata apa.
Sultan Hasan dan Jaya duduk di luar gubuk, menunggu.
Mereka tidak mendengar apa yang dibicarakan di dalam. Hanya suara-suara samar. Kadang tangis. Kadang diam yang panjang. Kadang suara Ki Ageng Jagaraga yang terdengar parau, seperti sedang menjelaskan sesuatu yang sulit dijelaskan.
Mereka menunggu sampai matahari mulai condong ke barat.
Pintu gubuk terbuka. Perempuan itu keluar. Matanya merah. Wajahnya basah. Tapi ia tersenyum.
"Terima kasih sudah menunggu, Nak," katanya pada Sultan Hasan. "Aku harus pergi sekarang."
"Kau tidak akan tinggal?"
Perempuan itu menggeleng. "Tidak. Aku hanya perlu jawaban. Dan aku sudah mendapatkannya. Sekarang aku bisa pergi dengan tenang."
"Aku tidak mengerti."
Perempuan itu berjongkok. Ia memandang Sultan Hasan tepat di matanya. Matanya yang tajam, mirip elang, kini terlihat lembut. Terlihat seperti mata seorang ibu.
"Suatu hari nanti, kau akan mengerti, Nak. Bahwa cinta tidak selalu berarti memiliki. Kadang, cinta berarti melepaskan. Bahwa kebahagiaan tidak selalu berarti bersama. Kadang, kebahagiaan adalah tahu bahwa orang yang kau cintai hidup dengan tenang. Meski tidak bersamamu."
Ia berdiri. Ia mengelus rambut Sultan Hasan. Tangannya hangat. Lembut.
"Jagalah Ki Ageng Jagaraga. Ia sudah tua. Ia kesepian. Ia tidak punya siapa-siapa lagi selain kau dan Jaya."
"Aku akan menjaganya, Bu."
Perempuan itu tersenyum. Senyum yang lega. Senyum yang ikhlas.
Ia berbalik. Ia berjalan meninggalkan gubuk, meninggalkan hutan, meninggalkan Sultan Hasan dan Jaya yang hanya bisa terdiam.
Di kejauhan, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat tinggal.
Ketika Sultan Hasan masuk ke dalam gubuk, Ki Ageng Jagaraga sedang duduk di pojok. Wajahnya pucat. Matanya merah. Ada bekas air mata di pipinya yang keriput.
"Ki," kata Sultan Hasan pelan. "Perempuan itu siapa?"
Ki Ageng Jagaraga terdiam lama. Kemudian ia berkata, "Ia adalah cinta pertamaku."
"Apa yang ia cari?"
"Ia mencari penjelasan. Mengapa aku pergi meninggalkannya dulu. Mengapa aku memilih menjadi pertapa di hutan daripada menikahinya."
"Lalu kau jelaskan?"
Ki Ageng Jagaraga mengangguk. "Aku jelaskan bahwa aku tidak layak untuknya. Aku hanya prajurit rendahan. Ia putri bangsawan. Kami tidak akan pernah disatukan oleh orang tuanya. Lebih baik aku pergi daripada kami berdua menderita."
"Apakah ia menerima penjelasanmu?"
Ki Ageng Jagaraga tersenyum pahit. "Ia menerima. Tapi tidak berarti ia setuju. Ia bilang, aku terlalu cepat menyerah. Aku tidak pernah memberinya kesempatan untuk memilih. Aku memilih untuknya."
Sultan Hasan tidak tahu harus menjawab apa. Ia masih terlalu muda untuk memahami rumitnya cinta.
Tapi ia teringat pada Pandan Wangi. Pada telaga. Pada janji yang tidak pernah ia ucapkan tapi selalu ia tepati.
"Mungkin," kata Sultan Hasan perlahan, "cinta tidak perlu dimengerti. Cukup dijaga."
Ki Ageng Jagaraga memandang Sultan Hasan. Matanya yang satu hitam, satu putih, terlihat berbinar.
"Kau luar biasa, Sultan Hasan. Usiamu baru delapan tahun, tapi kau sudah mengerti hal-hal yang tidak dimengerti kebanyakan orang dewasa."
"Aku belajar dari Ki. Dan dari Mak Umi. Dan dari Pandan Wangi. Dan dari pusaka ini."
Sultan Hasan memandang cincin di jarinya. Batu akik merah itu berdenyut pelan. Hangat.
"Kau hebat," bisik batu itu. "Aku bangga menjadi pusakamu."
Sultan Hasan tersenyum.
Malam itu, ketika ia pulang ke rumah Mak Umi, ia tidak menceritakan apa yang terjadi. Ia hanya memeluk Mak Umi erat-erat, lalu pergi ke telaga larangan untuk bertemu Pandan Wangi.
Ia duduk di batu hitam itu, memandang air telaga yang jernih, merasakan denyut batu di jarinya.
"Pandan," katanya.
"Ya?"
"Apa kau punya cinta pertama? Seperti Ki Ageng Jagaraga?"
Pandan Wangi terdiam. Air telaga beriak pelan.
"Aku dulu punya," katanya akhirnya. "Tapi ia sudah mati. Jatuh dalam perang. Sebelum kami sempat menikah."
"Apa kau sedih?"
"Sekarang tidak lagi. Sekarang aku hanya ingat bahwa ia pernah ada. Dan bahwa ia membuatku bahagia, meski hanya sebentar."
Sultan Hasan mengangguk. Ia mulai mengerti.
Bahwa cinta tidak selalu bahagia. Bahwa cinta sering menyakitkan. Bahwa cinta kadang berakhir dengan perpisahan.
Tapi cinta tetaplah cinta.
Dan penjaga hati, tugasnya bukan memilih cinta mana yang layak dijaga. Tapi menjaga semua cinta, apa pun bentuknya, selama itu baik dan benar.
Malam itu, Sultan Hasan belajar lagi.
Tentang cinta. Tentang kehilangan. Tentang melepaskan.
Pelajaran yang berat untuk anak seusianya.
Tapi ia tidak pernah memilih jalan yang mudah.
BAB XIX
Tanda di Kening
Suatu pagi, saat Sultan Hasan bangun dan mencuci muka di pancuran belakang rumah Mak Umi, ia melihat sesuatu yang aneh di bayangan air.
Di keningnya, tepat di antara dua alis, ada sebuah tanda. Bulat. Kecil. Sebesar biji jagung. Warnanya merah, seperti darah yang mengering. Atau seperti batu akik di jarinya.
Ia menggosok tanda itu dengan jari. Tidak terasa sakit. Tidak menonjol. Seperti hanya warna kulit yang berubah. Tapi ia yakin, kemarin tanda itu tidak ada.
"Mak!" panggilnya. "Mak, lihat ini!"
Mak Umi yang sedang memasak di dapur, keluar dengan wajah penasaran. "Ada apa, Nak?"
Sultan Hasan menunjuk keningnya. Mak Umi mendekat. Ia memandang tanda itu lama. Wajahnya berubah.
"Kapan ini muncul?" tanyanya.
"Baru saja. Aku bangun tidur, langsung ada."
Mak Umi mengusap tanda itu dengan ibu jarinya. Seperti Sultan Hasan, ia tidak merasakan apa-apa. Tidak panas. Tidak dingin. Tidak sakit.
"Ini aneh," gumam Mak Umi. "Aku belum pernah melihat tanda seperti ini."
"Apakah ini penyakit, Mak?"
"Tidak tahu. Tapi sebaiknya kau pergi ke Ki Ageng Jagaraga. Ia mungkin tahu."
Sultan Hasan mengangguk. Ia segera bersiap. Ia tidak sarapan. Ia langsung berlari menuju hutan.
Ki Ageng Jagaraga sedang tidak sendiri ketika Sultan Hasan tiba.
Seorang lelaki tua lain duduk di sampingnya. Lelaki itu kurus, rambutnya putih semua, jenggotnya panjang hingga ke dada. Ia memakai pakaian putih bersih, seperti orang yang baru sembahyang. Di tangannya, ia memegang tasbih dari kayu, butir-butirnya besar-besar, terbuat dari kayu kenanga.
"Ki," sapa Sultan Hasan. "Aku datang karena ada sesuatu yang aneh pada diriku."
Ki Ageng Jagaraga menatap Sultan Hasan. Matanya yang satu hitam, satu putih, langsung tertuju pada tanda di kening anak itu.
Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap. Kemudian ia menoleh pada lelaki tua di sampingnya.
"Kau lihat?" tanyanya.
Lelaki tua itu mengangguk. "Aku lihat."
"Apa itu?"
Lelaki tua itu berdiri. Ia berjalan mendekati Sultan Hasan. Tangannya yang keriput mengangkat wajah Sultan Hasan, memandang tanda itu dari dekat. Matanya sipit, penuh konsentrasi.
"Ini..." katanya pelan. "Ini tanda penjaga."
Sultan Hasan bingung. "Tanda penjaga? Apa maksudnya?"
Lelaki tua itu duduk kembali. Ia mengambil napas panjang.
"Dahulu kala, di kerajaan-kerajaan Nusantara, ada para pendekar yang dipilih untuk menjaga pusaka-pusaka suci. Mereka disebut Penjaga Hati. Tugas mereka bukan hanya menjaga pusaka, tapi juga menjaga hati raja, hati kerajaan, hati rakyat. Mereka adalah orang-orang pilihan. Dan mereka memiliki tanda. Tanda di kening. Tanda yang muncul dengan sendirinya ketika mereka siap."
"Siap untuk apa?" tanya Sultan Hasan.
"Siap untuk menjalankan tugas. Siap untuk menerima beban. Siap untuk mengorbankan segalanya."
Sultan Hasan terdiam. Ia tidak pernah meminta ini. Ia tidak pernah ingin menjadi istimewa. Ia hanya ingin hidup tenang di desa ini, bersama Mak Umi dan Jaya, sesekali bertemu Pandan Wangi di telaga.
Tapi takdir tidak pernah bertanya.
"Bisakah tanda ini hilang?" tanyanya.
Lelaki tua itu menggeleng. "Tidak. Setelah muncul, ia akan tetap ada seumur hidupmu. Sebagai pengingat. Bahwa kau bukan milik dirimu sendiri. Bahwa kau adalah penjaga. Dan penjaga tidak boleh lengah."
Sultan Hasan memandang Ki Ageng Jagaraga. "Ki tahu tentang ini?"
Ki Ageng Jagaraga mengangguk. "Aku tahu. Karena dulu, aku juga punya tanda yang sama."
Ia membuka rambutnya yang putih. Di keningnya, tepat di tempat yang sama, ada sebuah tanda. Bulat. Kecil. Tapi warnanya sudah pudar. Hampir tidak terlihat.
"Ki... Ki juga penjaga hati?" tanya Sultan Hasan tak percaya.
"Dulu. Tapi aku gagal. Aku tidak bisa menjaga apa yang harus kujaga. Aku melarikan diri. Aku bersembunyi di hutan ini. Tanda di keningku mulai pudar. Sekarang ia hampir tidak terlihat. Itu tanda bahwa aku sudah tidak layak disebut penjaga."
"Tapi Ki masih mengajariku. Ki masih membantuku. Itu bukankah termasuk menjaga?"
Ki Ageng Jagaraga tersenyum pahit. "Itu hanya penebus dosa, Nak. Aku gagal dulu. Sekarang aku mencoba membantu orang lain agar tidak gagal seperti aku."
Sultan Hasan tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya berdiri di depan dua lelaki tua itu, dengan tanda merah di keningnya, dengan cincin batu akik di jarinya, dengan ribuan pertanyaan di kepalanya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanyanya akhirnya.
Lelaki tua yang belum dikenalnya itu menjawab, "Kau harus pergi ke telaga larangan. Pada malam purnama berikutnya. Di sana, kau akan bertemu dengan penunggu telaga. Ia akan memberimu petunjuk."
"Aku sudah sering bertemu penunggu telaga," kata Sultan Hasan. "Namanya Pandan Wangi. Ia temanku."
Lelaki tua itu terkejut. Ki Ageng Jagaraga juga terkejut.
"Kau sudah bertemu penunggu telaga?" tanya Ki Ageng. "Sejak kapan?"
"Sejak aku berusia lima tahun. Ia mengajariku syair-syair. Ia menemaniku di malam-malam sepi."
Ki Ageng Jagaraga dan lelaki tua itu saling berpandangan. Ada sesuatu di mata mereka. Antara kagum dan takjub.
"Anak ini..." bisik lelaki tua itu. "Anak ini istimewa."
"Aku sudah bilang," kata Ki Ageng. "Sejak pertama ia datang ke sini, aku sudah tahu. Ia berbeda."
Lelaki tua yang belum dikenalnya itu bernama Kiai Jabal Nur. Ia adalah seorang sufi pengembara. Ia tidak tinggal di desa mana pun. Ia berkelana dari satu tempat ke tempat lain, menyebarkan ajaran tentang cinta dan kesabaran. Ia bertemu dengan Ki Ageng Jagaraga secara tidak sengaja beberapa tahun lalu, dan mereka menjadi sahabat.
"Kau harus bersiap, Sultan Hasan," kata Kiai Jabal Nur. "Tanda di keningmu tidak muncul tanpa sebab. Ada sesuatu yang besar yang akan terjadi dalam hidupmu. Mungkin tahun ini. Mungkin tahun depan. Mungkin sepuluh tahun lagi. Tapi suatu hari, kau akan dihadapkan pada pilihan. Pilihan yang akan menentukan nasib banyak orang."
"Apa pilihan itu?" tanya Sultan Hasan.
"Aku tidak tahu. Tidak ada yang tahu selain Yang Maha Kuasa. Tapi kau harus mempersiapkan hatimu. Karena pilihan itu tidak akan mudah. Ia akan menyakitkan. Ia akan mengorbankan. Tapi kau harus tetap tegar. Karena kau adalah penjaga hati."
Sultan Hasan mengangguk. Ia tidak mengerti sepenuhnya. Tapi ia akan berusaha.
"Kau tahu," kata Kiai Jabal Nur sambil tersenyum, "dulu, ketika aku masih muda, aku juga bertemu dengan seorang penjaga hati. Ia sudah tua. Sangat tua. Rambutnya putih semua. Matanya buram. Tapi ia memiliki kharisma yang luar biasa. Setiap kali ia berbicara, orang-orang diam mendengarkan. Setiap kali ia berdoa, langit seolah menjawab."
"Siapa namanya?" tanya Sultan Hasan.
"Namanya... Nini Mas Intan."
Sultan Hasan terkesiap. "Nini Mas Intan? Nenek yang menolong kelahiranku?"
Kiai Jabal Nur mengangguk. "Ia adalah penjaga hati sebelum kau. Ia menjalankan tugasnya dengan baik. Ia menjaga telaga ini. Ia menjaga pusaka ini. Ia menjaga desa ini meski desa ini tidak pernah memahaminya. Dan sebelum ia meninggal, ia berpesan padaku: 'Akan ada anak laki-laki yang lahir di malam gerhana. Ia adalah penerusku. Jangan biarkan ia tersesat.'"
Sultan Hasan terdiam. Air matanya mengalir.
Nini Mas Intan. Nenek tua yang baik itu. Ia sudah mempersiapkan segalanya sejak awal. Ia sudah meramalkan kedatangannya. Ia sudah memintakan seorang sufi pengembara untuk membantunya jika ia tersesat.
"Kiai," kata Sultan Hasan. "Apakah Nini Mas Intan meninggal dengan tenang?"
Kiai Jabal Nur mengangguk. "Ia meninggal dengan tenang. Karena ia tahu penerusnya sudah lahir. Ia tahu tugasnya telah selesai. Ia pergi tanpa beban."
Sultan Hasan menangis. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia menangis untuk Nini Mas Intan.
Ki Ageng Jagaraga menepuk pundaknya. "Menangislah, Nak. Tidak apa-apa. Penjaga hati juga boleh menangis. Tapi ingat, setelah menangis, kau harus bangkit lagi. Ada banyak hal yang harus kau lakukan."
Malam purnama tiba juga.
Sultan Hasan pergi ke telaga larangan sendirian. Jaya ingin ikut, tapi Sultan Hasan melarang. "Ini urusanku dengan telaga," katanya. "Kau tunggu di rumah Mak Umi saja."
Bulan purnama bersinar terang. Air telaga jernih, memantulkan cahaya bulan, menciptakan ribuan titik berkilauan seperti berlian.
Pandan Wangi sudah menunggu di batu hitam. Tapi kali ini, ia tidak sendiri.
Di sampingnya, duduk seorang perempuan tua. Sangat tua. Lebih tua dari siapa pun yang pernah Sultan Hasan lihat. Rambutnya putih semua, tidak sehelai pun yang hitam. Kulitnya keriput seperti kulit kayu. Matanya buram seperti susu diencerkan air.
Tapi Sultan Hasan mengenalinya.
"Nini... Nini Mas Intan?" bisiknya.
Perempuan tua itu tersenyum. "Halo, Sultan Hasan. Sudah lama."
"Tapi... Nini sudah meninggal. Aku datang ke pemakaman Nini. Aku melihat Nini dikubur."
"Tubuhku memang sudah mati, Nak. Tapi rohku masih ada. Aku bisa muncul kapan saja aku mau. Terutama di tempat-tempat suci seperti telaga ini."
Sultan Hasan tidak tahu harus merasa takut atau bahagia. Tapi anehnya, ia merasa bahagia. Sangat bahagia. Seperti bertemu dengan orang tua yang sudah lama tidak ia jumpai.
"Nini," katanya. "Aku merindukan Nini."
"Aku juga merindukanmu, Nak. Tapi aku tidak bisa sering-sering muncul. Ada aturannya."
"Apa yang harus aku lakukan, Nini? Tanda di keningku sudah muncul. Ki Ageng Jagaraga bilang itu tanda penjaga. Tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana."
Nini Mas Intan memandang Sultan Hasan. Matanya yang buram tiba-tiba jernih untuk sesaat.
"Kau sudah memulai, Nak. Sejak kau lahir. Sejak kau memakai cincin ini. Sejak kau belajar syair-syair dari Pandan Wangi. Sejak kau berlatih silat dengan Ki Ageng. Sejak kau menyelamatkan Mak Umi dengan daun kayu putih. Kau sudah menjadi penjaga. Tanpa kau sadari."
"Tapi aku masih kecil, Nini. Aku belum dewasa."
"Penjaga hati tidak dilihat dari usia, Nak. Tapi dari hati. Hatimu sudah besar. Lebih besar dari kebanyakan orang dewasa. Itu sudah cukup."
Nini Mas Intan mengangkat tangannya. Ia menyentuh kening Sultan Hasan, tepat di tempat tanda merah itu berada.
Tanda itu terasa hangat. Sangat hangat. Seperti disentuh oleh matahari.
"Jagalah tanda ini, Nak. Ia adalah pengingat. Bahwa kau adalah penjaga. Bahwa kau tidak boleh menyerah. Bahwa kau harus terus melangkah meski jalannya gelap."
"Apa aku akan bertemu dengan orang yang namanya berbau pandan, Nini? Seperti yang ibu bilang dulu?"
Nini Mas Intan tersenyum. Ia menunjuk ke arah Pandan Wangi yang duduk diam di sampingnya.
"Kau sudah bertemu, Nak. Sejak kau berusia lima tahun. Pandan Wangi. Namanya sudah berbau pandan. Wangi. Bukankah begitu?"
Sultan Hasan memandang Pandan Wangi. Gadis kecil itu tersenyum. Senyum yang sama. Lembut. Penuh kasih.
"Tapi... Nini, Pandan Wangi bukan manusia. Ia penunggu telaga."
"Apakah itu masalah? Cinta tidak memandang wujud, Nak. Cinta hanya memandang hati. Dan hatimu sudah terpaut pada Pandan Wangi sejak pertama kau melihatnya di telaga ini. Kau tidak sadar? Atau kau pura-pura tidak sadar?"
Sultan Hasan terdiam. Ia memandang Pandan Wangi lagi.
Gadis kecil itu menunduk. Pipinya merona. Meski dalam cahaya bulan yang pucat, Sultan Hasan bisa melihatnya.
Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia baru berusia delapan tahun. Ia belum mengerti tentang cinta. Tapi hatinya berdebar. Debar yang aneh. Debar yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Nak," kata Nini Mas Intan. "Waktu kita hampir habis. Aku harus kembali ke alamku. Tapi ingatlah pesan terakhirku."
"Apa itu, Nini?"
"Jagalah telaga ini. Jagalah Pandan Wangi. Jagalah cincinmu. Jagalah hati siapa pun yang membutuhkan penjagaan. Karena kau adalah penjaga. Dan penjaga tidak boleh memilih-milih."
Nini Mas Intan mulai menghilang. Perlahan. Tubuhnya yang keriput berubah menjadi kabut. Kabut yang membubung ke atas, bercampur dengan cahaya bulan.
"Selamat jalan, Sultan Hasan," bisiknya. "Aku bangga padamu."
Kemudian ia lenyap.
Sultan Hasan hanya bisa terdiam, memandangi tempat di mana Nini Mas Intan duduk beberapa saat lalu.
Pandan Wangi meraih tangannya. Tangannya dingin. Tapi lembut.
"Kau tidak sendirian," katanya. "Aku di sini."
Sultan Hasan memandang Pandan Wangi. Gadis kecil itu tersenyum.
"Iya," kata Sultan Hasan akhirnya. "Aku tidak sendirian."
Malam itu, Sultan Hasan belajar satu hal lagi. Bahwa menjadi penjaga tidak berarti harus sendirian. Bahwa ada banyak makhluk, di dunia ini dan di luar dunia ini, yang mau membantunya. Nini Mas Intan. Ki Ageng Jagaraga. Mak Umi. Jaya. Pandan Wangi.
Dan pusaka di jarinya.
Dan telaga di depannya.
Dan tanda di keningnya.
Semuanya adalah pengingat. Bahwa ia tidak sendirian. Bahwa ia dipilih. Bahwa ia mampu.
Sultan Hasan menghela napas panjang. Ia memandang bintang-bintang di langit.
"Aku siap," bisiknya. "Apa pun yang akan terjadi, aku siap."
Batu akik merah di jarinya berdenyut kencang. Hangat. Seperti setuju.
Di kejauhan, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Seperti sambutan. Seperti selamat datang. Seperti seruan untuk memulai babak baru dalam perjalanan panjang menjadi penjaga hati.
BAB XX
Akhir Masa Kecil
Usia Sultan Hasan menginjak dua belas tahun ketika ia menyadari bahwa masa kecilnya telah berakhir.
Bukan karena ia tiba-tiba menjadi dewasa. Bukan karena tubuhnya yang mulai meninggi dan jakunnya yang mulai menonjol. Bukan karena suaranya yang mulai membesar. Tapi karena ia mulai melihat dunia dengan cara yang berbeda.
Dulu, ia melihat dunia sebagai tempat yang kejam. Orang-orang membencinya tanpa alasan. Ia dikucilkan, dilempari kerikil, dipukuli, hampir dijadikan sesaji. Dunia adalah musuh yang harus dilawan atau dihindari.
Tapi sekarang, setelah dua belas tahun hidup di Dukuh Wangi, setelah belajar dari Nini Mas Intan (bahkan setelah kematiannya), dari Ki Ageng Jagaraga, dari Pandan Wangi, dari Mak Umi, dari Jaya, dari pusaka di jarinya, dari telaga di depannya, dari tanda di keningnya... ia mulai melihat bahwa dunia tidak sepenuhnya jahat.
Ada kebaikan di sana-sini. Mungkin tersembunyi. Mungkin kecil. Tapi ada.
Mak Umi yang merawatnya meski miskin. Jaya yang setia berteman meski diejek. Ki Ageng Jagaraga yang mengajarinya silat meski keras kepala. Pandan Wangi yang menemaninya di malam-malam sepi. Bahkan Kyai Mandrawijaya, meski pernah hendak mengorbankannya, sebenarnya hanya manusia yang takut. Takut pada apa yang tidak ia mengerti.
Kebaikan, sekecil apa pun, tetaplah kebaikan.
Dan tugas penjaga hati, pikir Sultan Hasan, adalah menemukan kebaikan itu, merawatnya, membuatnya tumbuh.
Meski di tanah yang paling kering sekalipun.
Mak Umi semakin tua. Dan semakin sakit.
Ramuan dari daun Kayo Puti memang memperlambat penyakitnya, tapi tidak menyembuhkan. Mak Umi masih batuk-batuk. Masih sering terbaring di tikar. Kadang ia tidak punya tenaga untuk memasak, dan Sultan Hasan-lah yang menggantikannya. Ia belajar memasak dari Mak Umi. Ia belajar mencuci pakaian. Ia belajar membersihkan rumah. Ia belajar menjadi ibu bagi dirinya sendiri.
Suatu sore, saat mereka berdua duduk di beranda menikmati angin sepoi-sepoi, Mak Umi berkata, "Nak, Mak Umi ingin minta maaf."
"Maaf untuk apa, Mak?"
"Mak Umi tidak bisa memberimu kehidupan yang layak. Mak Umi miskin. Mak Umi sakit-sakitan. Mak Umi tidak bisa membelikanmu pakaian bagus, rumah bagus, makanan enak. Mak Umi hanya bisa memberi apa yang Mak Umi punya. Dan apa yang Mak Umi punya tidak seberapa."
Sultan Hasan meraih tangan Mak Umi. Tangannya kasar, kapalan, penuh keriput. Tapi hangat.
"Mak," katanya. "Mak sudah memberiku segalanya. Mak memberiku tempat tinggal. Mak memberiku makan. Mak memberiku kasih sayang. Tanpa Mak, mungkin aku sudah mati kelaparan sejak lama. Atau mati dibunuh oleh orang-orang desa yang membenciku."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi, Mak. Mak adalah ibuku. Ibu tidak perlu minta maaf karena tidak bisa memberi kehidupan yang mewah. Ibu sudah memberi kehidupan. Itu sudah cukup."
Mak Umi menangis. Sultan Hasan memeluknya.
Ini mungkin pelukan terakhir mereka. Sultan Hasan tidak tahu. Tapi ia memeluk Mak Umi erat-erat, seperti tidak ingin melepaskannya. Seperti ingin mengabadikan rasa hangat ini selamanya.
Seminggu kemudian, Mak Umi meninggal.
Ia meninggal dalam tidurnya. Tenang. Tanpa kesakitan. Wajahnya tersenyum, seperti sedang bermimpi indah.
Sultan Hasan yang menemukannya keesokan paginya. Ia sudah terbiasa dengan kematian. Ia sudah kehilangan ayah, ibu, Nini Mas Intan. Tapi kehilangan Mak Umi terasa berbeda.
Mak Umi adalah orang terakhir yang merawatnya sejak kecil. Mak Umi adalah pengganti ibu yang tidak pernah ia miliki. Mak Umi adalah rumahnya.
Dan sekarang, rumah itu lenyap.
Sultan Hasan tidak menangis. Ia hanya duduk di samping jenazah Mak Umi, memegang tangannya yang sudah dingin, dan terdiam. Berjam-jam.
Jaya yang datang kemudian, ikut duduk di sampingnya. Mereka berdua terdiam. Tidak bicara. Hanya menemani.
Pak Tani, suami Mak Umi, yang selama ini hampir tidak pernah bicara, ikut duduk di samping mereka. Wajahnya tua, keriput, basah oleh air mata. Ia kehilangan istrinya. Istri yang setia menemaninya puluhan tahun, di saat suka dan duka, di saat kaya dan miskin.
"Mak Umi orang baik," kata Pak Tani akhirnya. "Ia terlalu baik untuk dunia ini. Sekarang ia sudah di tempat yang lebih baik."
Sultan Hasan mengangguk. Ia masih tidak bisa bicara.
Pemakaman Mak Umi dilangsungkan sore itu. Hampir seluruh desa datang. Bukan karena mereka mencintai Mak Umi. Tapi karena Mak Umi adalah tetangga yang baik. Mak Umi sering meminjamkan gula atau garam saat tetangga kehabisan. Mak Umi sering menolong orang melahirkan. Mak Umi sering mengobati orang sakit dengan ramuan-ramuan sederhananya.
Mak Umi, dalam keterbatasannya, adalah pahlawan bagi desa itu.
Dan sekarang, pahlawan itu pergi.
Sultan Hasan berdiri di pinggir kubur. Ia melemparkan segenggam tanah ke atas peti Mak Umi.
"Selamat jalan, Mak," bisiknya. "Terima kasih untuk semuanya. Aku akan menjadi penjaga hati yang baik. Aku janji. Mak jaga diriku dari atas sana."
Di kejauhan, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek. Sedih.
Seolah ikut berduka.
Setelah Mak Umi meninggal, Sultan Hasan tidak punya alasan lagi untuk tinggal di Dukuh Wangi.
Pak Tani, suami Mak Umi, menawarinya untuk tetap tinggal. Tapi Sultan Hasan menolak dengan hormat. "Aku tidak ingin merepotkan, Pak. Aku sudah cukup merepotkan Mak Umi selama ini. Sekarang waktunya aku berdiri sendiri."
Pak Tani tidak memaksa. Ia hanya mengangguk, lalu masuk ke dalam rumah, meninggalkan Sultan Hasan di beranda.
Sultan Hasan mengemasi barang-barangnya. Tidak banyak. Hanya pakaian seadanya. Bekal nasi dan ikan asin. Sebotol air. Dan tentu saja, cincin batu akik merah di jarinya.
Ia berjalan ke hutan. Ia berpamitan pada Ki Ageng Jagaraga.
"Ki, aku akan pergi."
"Kemana?"
"Merantau. Mencari kehidupan. Seperti ayahku dulu."
Ki Ageng Jagaraga terdiam. Ia memandang Sultan Hasan lama. Matanya yang satu hitam, satu putih, berkaca-kaca.
"Kau masih muda, Nak. Usiamu baru dua belas tahun. Apakah kau yakin?"
"Aku yakin, Ki. Tidak ada lagi yang mengikatku di desa ini. Mak Umi sudah tiada. Jaya... Jaya mungkin akan ikut, atau mungkin tidak. Aku tidak tahu. Tapi aku harus pergi. Aku tidak bisa terus bersembunyi di hutan ini selamanya."
Ki Ageng Jagaraga menghela napas panjang. Ia berdiri. Ia memeluk Sultan Hasan. Tubuhnya tua, tulang-tulangnya berkerotak. Tapi pelukannya kuat.
"Kau murid terbaikku, Sultan Hasan. Aku bangga padamu. Jagalah dirimu baik-baik. Jangan lupa ajaran-ajaran yang telah kuberikan."
"Aku tidak akan lupa, Ki."
"Dan jagalah pusakamu. Ia adalah bagian dari dirimu."
Sultan Hasan melepaskan pelukan. Ia melangkah mundur. Ia membungkuk hormat pada Ki Ageng Jagaraga.
"Selamat tinggal, Ki."
"Selamat jalan, Nak."
Sultan Hasan berbalik. Ia berjalan meninggalkan gubuk itu. Meninggalkan Ki Ageng Jagaraga yang berdiri termangu di depan pintu.
Di kejauhan, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat tinggal.
Sebelum benar-benar pergi dari desa, Sultan Hasan mampir ke telaga larangan.
Ia ingin berpamitan pada Pandan Wangi.
Matahari sudah hampir terbenam ketika ia tiba. Langit berwarna jingga keemasan, memantul di permukaan telaga yang jernih. Airnya tenang. Damai.
Pandan Wangi sudah menunggu di batu hitam. Wajahnya sedih. Ia sudah tahu.
"Kau akan pergi," katanya. Bukan pertanyaan.
"Iya. Aku harus pergi. Tidak ada lagi yang mengikatku di sini."
"Aku tidak bisa mengikatmu. Tapi aku akan selalu di sini. Menunggumu."
"Kau tidak usah menunggu. Aku mungkin tidak akan kembali."
"Kau akan kembali, Sultan Hasan. Aku tahu. Karena telaga ini adalah rumahmu. Karena cincin ini adalah bagian dari telaga ini. Karena aku... aku adalah bagian dari dirimu."
Sultan Hasan duduk di samping Pandan Wangi. Mereka berdua memandang telaga. Sunyi.
"Aku akan merindukanmu," kata Sultan Hasan akhirnya.
"Aku juga akan merindukanmu. Tapi rindu tidak harus menyakitkan. Rindu juga bisa menjadi pengingat. Bahwa ada seseorang yang berarti dalam hidup kita."
Sultan Hasan mengangguk. Ia memandang Pandan Wangi. Wajah gadis kecil itu, di bawah cahaya senja, terlihat cantik. Cantik yang aneh. Cantik yang tidak seperti gadis-gadis desa lainnya.
"Pandan," katanya.
"Ya?"
"Aku... aku tidak tahu harus berkata apa. Aku belum mengerti tentang cinta. Tapi aku tahu, setiap kali aku bersamamu, aku merasa aman. Aku merasa tenang. Aku merasa... seperti di rumah."
Pandan Wangi tersenyum. Senyum yang lembut. Senyum yang membuat hati Sultan Hasan berdebar.
"Itu sudah cukup, Sultan Hasan. Kau tidak perlu mengerti tentang cinta sekarang. Cinta akan datang dengan sendirinya. Pada waktunya. Ketika kau sudah siap."
Mereka berdua terdiam lagi. Matahari semakin tenggelam. Langit berubah dari jingga menjadi ungu, dari ungu menjadi gelap.
Bintang-bintang mulai muncul satu per satu.
"Sudah malam," kata Pandan Wangi. "Kau harus pergi."
"Iya."
Mereka berdua berdiri. Pandan Wangi meraih tangan Sultan Hasan. Tangannya dingin. Tapi lembut.
"Jagalah dirimu, Sultan Hasan. Jangan lupa syair-syair yang kuajarkan. Jangan lupa pusaka di jarimu. Dan jangan lupa... bahwa ada yang menunggumu di telaga ini."
"Aku tidak akan lupa."
Pandan Wangi melepaskan tangannya. Ia mundur selangkah. Dua langkah.
"Selamat jalan, Sultan Hasan."
"Selamat tinggal, Pandan Wangi."
Sultan Hasan berbalik. Ia berjalan meninggalkan telaga. Ia tidak menoleh. Karena ia takut jika menoleh, ia tidak akan bisa pergi.
Di belakangnya, Pandan Wangi berdiri di tepi telaga, menatap punggung Sultan Hasan yang semakin menjauh.
Air matanya jatuh ke telaga.
Dan di tempat air matanya jatuh, bunga-bunga pandan kecil bermunculan. Harum. Wangi. Menyebar ke seluruh desa.
Warga desa yang sedang beristirahat di rumah masing-masing, mencium wangi itu. Mereka tidak tahu dari mana asalnya. Tapi wangi itu menenangkan. Membuat mereka tertidur dengan damai.
Sultan Hasan dan Jaya berangkat di tengah malam.
Jaya memutuskan ikut. "Aku tidak punya siapa-siapa lagi di desa ini," katanya. "Ibuku sudah meninggal tahun lalu. Aku tidak punya keluarga. Aku lebih baik ikut denganmu."
Mereka berdua berjalan menyusuri jalan setapak yang gelap. Hanya cahaya bulan dan bintang yang menemani.
"Kau takut?" tanya Jaya.
"Sedikit," kata Sultan Hasan jujur. "Tapi tidak apa-apa. Rasa takut adalah bagian dari perjalanan."
"Kau bijak, Hasan. Terlalu bijak untuk anak seusiamu."
"Aku belajar dari banyak orang. Dari yang hidup. Dari yang sudah mati. Dari pusaka. Dari telaga."
Jaya tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya terus berjalan di samping Sultan Hasan, sesekali melihat ke belakang, ke arah desa yang mulai ditinggalkan.
"Maukah kau kembali suatu hari nanti?" tanya Jaya.
"Mungkin. Atau mungkin tidak. Aku tidak tahu. Yang aku tahu, aku harus pergi sekarang. Dan kau harus ikut denganku."
"Ke mana?"
"Ke kota. Mencari kehidupan. Mencari jati diri. Mencari apa yang selama ini hilang."
"Apa yang hilang?"
Sultan Hasan berhenti. Ia memandang langit malam yang bertabur bintang.
"Ketenangan," katanya. "Aku ingin hidup di tempat di mana orang tidak membenciku hanya karena aku lahir di malam gerhana. Tempat di mana aku bisa menjadi diriku sendiri. Tanpa topeng. Tanpa takut."
Jaya mengangguk. "Aku ikut kau ke mana pun, Hasan. Sampai mati."
Mereka berdua tersenyum. Mereka melanjutkan perjalanan.
Di belakang mereka, Dukuh Wangi perlahan menghilang di balik pepohonan. Rumah-rumah kayu. Sawah-sawah. Sungai kecil. Telaga larangan. Dan seorang gadis kecil yang duduk di batu hitam, menatap ke arah timur, menunggu.
Menunggu kepulangan seorang penjaga hati.
Meski ia tidak tahu kapan kepulangan itu akan terjadi.
Atau apakah ia akan terjadi.
Tapi ia menunggu.
Karena penunggu telaga tidak pernah berhenti menunggu.
Seperti air yang tidak pernah berhenti mengalir.
Seperti pusaka yang tidak pernah berhenti berdenyut.
Seperti hati yang tidak pernah berhenti dijaga.
BAGIAN DUA: API YANG MEMBAKAR
"Api tidak pernah bertanya apakah kayu yang dibakarnya layak atau tidak. Ia hanya membakar. Demikian juga dengan masa muda. Ia tidak pernah bertanya apakah kita siap atau tidak. Ia hanya datang, membakar semua yang kita punya, dan meninggalkan abu. Dari abu itulah kita belajar menjadi dewasa."
— Penggalan syair dari Kitab Tujuh Penjaga, naskah lontar yang setengah terbakar.
Di mana Sultan Hasan dan Jaya memulai perantauan mereka ke kota. Di mana mereka akan belajar tentang kehidupan, tentang cinta, tentang kehilangan. Di mana Sultan Hasan akan bertemu dengan banyak orang, baik dan jahat, yang akan membentuk dirinya menjadi penjaga hati yang sesungguhnya.
Dan di mana ia akan bertemu kembali dengan Pandan Wangi. Tapi tidak seperti dulu. Tidak di telaga. Tidak dalam wujud anak kecil. Tapi dalam wujud yang berbeda. Dalam keadaan yang berbeda. Dalam takdir yang sudah ditulis sejak sebelum mereka lahir.
Karena cinta sejati tidak pernah benar-benar berpisah. Ia hanya berubah bentuk.
Seperti air yang menguap menjadi awan, lalu turun menjadi hujan, lalu mengalir kembali ke telaga.
Abadi.
Selamanya.
BAB XXI
Hidup di Rumah Paman
Perjalanan dari Dukuh Wangi ke kota terdekat memakan waktu tiga hari dua malam.
Sultan Hasan dan Jaya berjalan kaki. Mereka tidak punya kuda. Tidak punya andong. Hanya dua pasang kaki yang masih muda, masih kuat, meski sudah lecet dan melepuh. Mereka beristirahat di bawah pohon-pohon besar saat siang terlalu terik. Mereka tidur di pinggir sungai atau di balai-balai desa yang mereka temui di perjalanan saat malam terlalu gelap.
Bekal yang mereka bawa habis di hari kedua. Hari ketiga, mereka kelaparan. Sultan Hasan memetik buah-buahan liar di tepi hutan. Jaya menangkap ikan di sungai dengan tangan kosong. Mereka memasak dengan cara yang sangat primitif: ditusuk dengan ranting, lalu dibakar di atas api unggun.
Tapi mereka tidak mengeluh.
Mereka sudah terbiasa dengan penderitaan. Mereka sudah terbiasa dengan kekurangan. Dukuh Wangi telah mengajarkan mereka bahwa hidup tidak selalu memberi apa yang kita mau. Kadang, hidup memberi apa yang kita butuhkan. Dan kadang, hidup tidak memberi apa-apa. Terserah kita bagaimana menyikapinya.
Akhirnya, pada sore hari ketiga, mereka tiba di kota.
Namanya Kota Prapatan. Kota kecil yang ramai. Tidak sebesar kerajaan. Tapi lebih besar dari Dukuh Wangi yang hanya kumpulan gubuk dan sawah. Di sini ada pasar. Ada toko-toko. Ada rumah-rumah batu dengan genteng tanah liat. Ada masjid dengan kubah putih. Ada kantor polisi dan kantor pos.
Sultan Hasan belum pernah melihat kota sebesar ini. Matanya berbinar. Jaya juga sama.
"Kita sampai," bisik Jaya.
"Kita sampai," ulang Sultan Hasan.
Tapi kebahagiaan mereka tidak bertahan lama. Karena mereka sadar: mereka tidak punya uang. Tidak punya tempat tinggal. Tidak punya sanak saudara di kota ini. Mereka sendirian. Di tengah ribuan orang yang tidak mereka kenal.
Mereka berjalan menyusuri jalan-jalan kota. Melihat orang-orang lalu lalang. Pedagang sayur. Penjual daging. Anak-anak sekolah. Perempuan-perempuan dengan pakaian indah. Laki-laki dengan topi dan jas.
Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Tidak ada yang peduli pada dua anak laki-laki kurus kering dengan pakaian compang-camping yang sedang berjalan lemas karena kelelahan.
"Kita cari pamanku," kata Sultan Hasan.
"Kau punya paman di sini?" tanya Jaya heran.
"Ibu dulu pernah cerita. Ia punya saudara laki-laki di kota ini. Namanya... Marto. Atai Mardjo. Aku lupa. Tapi ibu bilang, jika suatu hari aku pergi merantau, aku bisa mencarinya. Mungkin ia mau menampungku."
"Kau yakin ia mau menampung anak setan?"
Sultan Hasan tersenyum pahit. "Kita lihat saja."
Mencari seorang lelaki bernama Marto di kota sebesar Prapatan tidak mudah. Apalagi Sultan Hasan tidak tahu nama lengkapnya, tidak tahu alamatnya, tidak tahu pekerjaannya. Yang ia tahu hanyalah nama depan: Marto.
Mereka bertanya ke sana kemari. Ke tetangga. Ke penjaga toko. Ke tukang becak. Ke polisi. Mayoritas menggeleng. Tidak kenal. Tidak tahu.
Hingga akhirnya, seorang perempuan tua penjual jamu di pinggir pasar berkata, "Marto? Maksudmu Mardjo? Tukang kayu yang tinggal di belakang pasar?"
"Mungkin," kata Sultan Hasan. "Di mana rumahnya?"
"Lurus saja. Nanti ketemu gang kecil. Belok kiri. Rumah nomor tujuh. Tapi hati-hati. Orangnya galak. Sering marah-marah. Tidak suka anak kecil."
Sultan Hasan berterima kasih. Ia dan Jaya bergegas menuju gang kecil di belakang pasar.
Rumah nomor tujuh. Sebuah rumah kayu kecil, setengah papan setengah bambu, dengan halaman sempit yang penuh dengan serbuk kayu dan potongan-potongan papan. Di depan rumah, seorang lelaki paruh baya sedang mengetam kayu. Tubuhnya kekar. Wajahnya keras. Kumisnya tebal, tidak dirapikan.
"Permisi," kata Sultan Hasan.
Lelaki itu tidak menoleh. Ia terus mengetam.
"Permisi, om," ulang Sultan Hasan lebih keras.
Lelaki itu berhenti. Ia menoleh. Matanya sipit, tajam. Mukanya merah padam, mungkin karena panas. Atau karena kesal.
"Apa?" bentaknya.
"Aku Sultan Hasan. Anak dari Dewi Rengganis. Ibu bilang, jika aku ke kota, aku bisa mencari om. Om saudara ibu."
Lelaki itu terdiam. Matanya memandang Sultan Hasan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kemudian memandang Jaya.
"Rengganis?" ulangnya. "Adik perempuanku yang dulu kawin lari dengan perantau tak jelas asal-usulnya?"
Sultan Hasan menunduk. "Ibu sudah meninggal, Om."
"Sudah kubilang! Istri-istri itu tidak pernah dengar nasihat orang tua! Cari sendiri celakanya! Sekarang mati! Meninggalkan anak! Lalu anaknya datang minta ditampung! Gila!"
Mardjo membuang alat ketamnya ke tanah. Ia masuk ke dalam rumah. Membanting pintu.
Sultan Hasan dan Jaya hanya bisa terdiam di depan rumah itu.
"Sepertinya pamannya tidak ramah," bisik Jaya.
"Sepertinya begitu."
"Apa yang harus kita lakukan?"
Sultan Hasan menarik napas panjang. "Kita tunggu. Mungkin nanti ia berubah pikiran."
Mereka berdua duduk di halaman rumah Mardjo. Menunggu. Sampai matahari terbenam. Sampai gelap. Sampai lampu-lampu mulai menyala di rumah-rumah tetangga.
Pintu rumah Mardjo terbuka. Lelaki itu keluar. Wajahnya masih keras. Tapi agak sedikit melunak.
"Masuk!" bentaknya. "Tapi jangan harap aku akan memperlakukanmu seperti anak sendiri! Kalian hanya numpang tidur! Besok pagi kalian cari kerja! Tidak ada makan siang gratis di rumahku!"
Sultan Hasan dan Jaya masuk. Mereka bersyukur dalam hati. Setidaknya mereka punya tempat berteduh malam ini.
Hidup di rumah Mardjo tidak mudah.
Paman Sultan Hasan itu memang galak. Ia pemarah. Sering membentak-bentak tanpa sebab. Kadang ia melempar sendok atau piring jika makanan tidak sesuai seleranya. Kadang ia memukul meja jika Sultan Hasan atau Jaya melakukan kesalahan kecil.
Istrinya, Bulik Lastri, perempuan kurus kering dengan wajah masam, tidak lebih baik. Ia selalu mengomel. Tentang beras yang habis terlalu cepat. Tentang air yang terlalu banyak dipakai. Tentang anak-anak yang tidak tahu diri.
"Makanya, jangan numpang kalau tidak punya uang!" omelnya setiap kali Sultan Hasan dan Jaya makan. "Orang tua kalian tidak punya malu! Meninggalkan anak untuk dititipkan pada saudara! Padahal saudara juga punya kehidupan sendiri!"
Sultan Hasan tidak menjawab. Ia hanya menunduk, menghabiskan makanannya yang sedikit, lalu pergi membantu pekerjaan rumah. Ia menyapu. Mengepel. Mencuci piring. Mengambil air di sumur. Apa pun yang bisa ia lakukan untuk mengurangi beban.
Jaya juga melakukan hal yang sama. Mereka berdua bekerja keras. Berusaha tidak merepotkan.
Tapi Mardjo dan Lastri tidak pernah puas. Mereka selalu saja menemukan kesalahan. Selalu saja ada yang tidak beres. Selalu saja ada yang bisa dikomeli.
"Kau ini bego!" bentak Mardjo suatu hari, saat Sultan Hasan salah memotong kayu. "Sudah kuperlihatkan caranya, masih saja salah! Kepalamu isinya apa? Kotoran?"
"Aku minta maaf, Om," kata Sultan Hasan.
"Maaf, maaf, maaf! Maaf tidak bisa bikin kau pintar!" Mardjo mengambil potongan kayu itu, membuangnya ke tumpukan sampah. "Lebih baik kau pergi mengamen di pasar! Dari pada di sini cuma buang-buang kayuku!"
Sultan Hasan tidak menjawab. Ia hanya mengambil kayu lain, mulai memotong lagi dengan lebih hati-hati.
Batu akik merah di jarinya berdenyut. Panas. Seperti marah.
"Diam," bisik Sultan Hasan pada batu itu. "Jangan marah. Ia tidak tahu apa yang ia lakukan."
Batu itu tetap panas. Tapi tidak meledak.
Jaya tidak tahan dengan perlakuan Mardjo dan Lastri.
"Kita pergi saja dari sini!" katanya suatu malam, saat mereka berdua tidur di lumbung padi kecil di belakang rumah. Itulah tempat tidur mereka. Di atas tumpukan jerami, dengan selimut tipis yang bolong di sana-sini. "Aku lebih baik tidur di emperan toko daripada di sini! Setidaknya di emperan toko tidak ada yang membentak-bentak!"
"Di emperan toko juga tidak ada makan," kata Sultan Hasan bijak. "Setidaknya di sini kita masih diberi makan."
"Tapi perlakuan mereka! Kau lihat sendiri! Kita dianggap sampah! Kita dihina setiap hari! Apakah kau tidak punya harga diri?"
Sultan Hasan terdiam. Ia memandang langit-langit lumbung yang gelap. Samar-samar ia melihat sarang laba-laba di sudut.
"Aku punya harga diri, Jaya. Tapi harga diri tidak bisa dimakan. Harga diri tidak bisa melindungiku dari dinginnya malam. Harga diri tidak bisa membantuku bertahan hidup. Untuk sementara, kita harus tahan."
"Berapa lama?"
"Aku tidak tahu. Sampai kita punya cukup uang untuk menyewa rumah sendiri."
"Berapa banyak uang yang kita punya sekarang?"
Sultan Hasan menggeleng. "Hampir tidak ada. Kerja membantu Mardjo, ia tidak membayar. Cuma memberi makan. Itu sudah lebih dari cukup."
Jaya menghela napas panjang. Ia menutup matanya.
"Aku capek, Hasan. Capek jadi miskin. Capek dihina. Capek dianggap tidak berguna."
"Besok kita cari kerja di luar," kata Sultan Hasan. "Selain membantu Mardjo. Mungkin di pasar. Mungkin di toko. Mungkin kita bisa jadi kuli angkut."
"Umur kita baru dua belas tahun. Siapa yang mau mempekerjakan anak kecil?"
"Kita coba. Tidak ada salahnya mencoba."
Jaya tidak menjawab. Ia sudah tertidur. Kelelahan.
Sultan Hasan masih terjaga. Ia memandang cincin di jarinya. Batu akik merah itu berdenyut pelan. Hangat.
"Kau kuat," bisik batu itu. "Kau baik. Aku bangga menjadi pusakamu."
"Apakah semua penjaga hati harus melalui penderitaan seperti ini?" bisik Sultan Hasan balik.
"Tidak semua. Tapi sebagian besar. Karena penderitaan mengajarkan sesuatu yang tidak bisa diajarkan oleh kebahagiaan. Penderitaan mengajarkan empati. Penderitaan mengajarkan kesabaran. Penderitaan mengajarkan bahwa hidup tidak selalu adil. Dan penjaga hati yang baik, adalah yang pernah merasakan penderitaan. Karena ia bisa merasakan penderitaan orang lain."
Sultan Hasan mengangguk. Ia memejamkan mata. Ia berdoa pada Tuhan, pada alam, pada Nini Mas Intan yang sudah tiada, pada Pandan Wangi di telaga, semoga ia diberi kekuatan untuk melewati semua ini.
Di kejauhan, meski jauh dari Dukuh Wangi, ia bisa mendengar suara burung hantu. Samar. Tapi jelas.
Sekali. Pendek.
Seperti pesan: "Aku di sini. Kau tidak sendirian."
Sultan Hasan tersenyum. Ia tertidur.
Hari-hari berlalu. Bulan-bulan berganti.
Sultan Hasan dan Jaya bertahan. Mereka membantu Mardjo di bengkel kayu. Mereka mencari kerja sambilan di pasar: mengangkat barang, membersihkan toko, mengantarkan pesanan, apa pun yang bisa menghasilkan uang.
Sedikit demi sedikit, mereka mengumpulkan uang. Disimpan di bawah bantal. Tidak banyak. Tapi cukup untuk suatu hari nanti menyewa rumah sendiri.
Mardjo dan Lastri mulai sedikit melunak. Mungkin karena mereka melihat Sultan Hasan dan Jaya tidak pernah melawan. Tidak pernah membantah. Hanya diam dan bekerja. Atau mungkin karena mereka mulai berpikir bahwa dua anak ini berguna.
"Kau tidak seburuk yang kukira," kata Mardjo suatu hari, saat Sultan Hasan berhasil menyelesaikan pesanan lemari dengan baik. "Kau punya bakat. Kalau kau terus belajar, mungkin kau bisa jadi tukang kayu yang handal."
"Terima kasih, Om," kata Sultan Hasan.
"Tapi jangan sombong! Masih banyak yang harus kau pelajari!"
"Iya, Om."
Mardjo berbalik. Sebelum masuk ke rumah, ia berkata tanpa menoleh, "Besok kau ikut aku ke pelabuhan. Ada pesanan besar. Butuh tenaga ekstra."
Sultan Hasan mengangguk. Ia tersenyum.
Ini mungkin awal dari kehidupan yang lebih baik. Atau mungkin hanya jeda sebelum badai berikutnya.
Tapi Sultan Hasan tidak peduli. Ia akan menjalani apa pun yang datang. Karena ia adalah penjaga hati.
Dan penjaga hati tidak pernah menyerah.
BAB XXII
Sekolah Agama Kaki Gunung
Pelabuhan Kota Prapatan bukanlah pelabuhan besar. Tidak seperti pelabuhan di ibu kota kerajaan yang disinggahi kapal-kapal asing dari berbagai negara. Pelabuhan ini hanya tempat bersandarnya perahu-perahu nelayan dan kapal-kapal kecil yang mengangkut hasil bumi dari satu pulau ke pulau lain.
Tapi bagi Sultan Hasan yang belum pernah melihat laut dalam hidupnya, pelabuhan ini adalah keajaiban.
Air laut berwarna biru kehijauan, beriak-riak ditiup angin pagi. Bau asin menyengat di hidung, bercampur dengan bau ikan dan garam. Burung-burung camar terbang di atas dermaga, sesekali menyambar sisa-sisa ikan yang terbuang.
"Ini laut pertama kalinya," bisik Sultan Hasan pada Jaya.
"Laut," bisik Jaya balik, dengan mata berbinar.
Mardjo yang berjalan di depan mereka berdua, menoleh. "Jangan melamun! Cepat bawa kayu-kayu ini ke kapal! Sebentar lagi hujan!"
Sultan Hasan dan Jaya segera mengangkat papan-papan kayu yang sudah dipotong dan dihaluskan. Pesanan dari pengusaha di seberang pulau. Puluhan papan kayu jati berkualitas tinggi. Berat. Tapi mereka berdua sudah terbiasa dengan kerja fisik.
Mereka berjalan mondar-mandir dari gudang ke dermaga, dari dermaga ke kapal. Keringat membasahi seluruh tubuh mereka. Tapi mereka tidak berhenti. Mereka terus bekerja. Sampai semua kayu terangkut.
"Bagus," kata Mardjo. "Sekarang kalian istirahat. Besok masih ada pekerjaan."
Sultan Hasan dan Jaya duduk di tepi dermaga, melepaskan lelah. Kaki mereka menjuntai di atas air laut. Sesekali ombak kecil menyentuh ujung jari kaki mereka.
"Airnya asin," kata Jaya sambil menjilat jarinya.
"Ya," kata Sultan Hasan. "Karena laut."
"Kenapa laut asin?"
"Aku tidak tahu. Mungkin karena air mata."
"Air mata siapa?"
Sultan Hasan mengangkat bahu. Ia tidak tahu. Ia hanya ingat pernah mendengar cerita dari Nini Mas Intan tentang laut yang asin karena air mata seorang putri yang ditinggal kekasihnya. Tapi itu hanya cerita. Mungkin tidak benar.
Tapi di tengah kelelahan mereka, seorang lelaki tua mendekat.
Lelaki itu tinggi, rambutnya sudah putih semua, wajahnya keriput tapi matanya masih tajam. Ia memakai jubah putih, seperti orang alim. Di tangannya, ia memegang kitab tebal. Di bahunya, ada tasbih dengan butiran-butiran besar dari kayu kenanga.
"Anak-anak," sapanya. "Kalian dari mana?"
Sultan Hasan menatap lelaki itu. Ada sesuatu di wajahnya yang familiar. Sesuatu yang mengingatkannya pada seseorang. Tapi ia tidak ingat siapa.
"Dari Dukuh Wangi, Pak," jawabnya sopan.
"Dukuh Wangi? Desa kecil di kaki gunung?"
"Iya, Pak."
Lelaki itu mengangguk. "Aku kenal desa itu. Aku pernah melewatinya puluhan tahun lalu. Ketika itu aku masih muda. Sekarang? Mungkin sudah banyak berubah."
"Berubah, Pak. Tapi tidak banyak."
Lelaki itu memandang Sultan Hasan saksama. Matanya menyipit. Seperti sedang membaca sesuatu.
"Kau punya tanda di keningmu," katanya. "Apa itu?"
Sultan Hasan terkejut. Selama ini ia menutupi tanda itu dengan rambutnya yang panjang. Tapi angin laut mungkin meniup rambutnya, memperlihatkan tanda merah di antara kedua alisnya.
"Itu... tahi lalat, Pak," kata Sultan Hasan cepat-cepat.
Lelaki itu tersenyum. "Jangan bohong, Nak. Itu bukan tahi lalat. Itu tanda penjaga. Aku sudah sering melihat tanda seperti itu. Di kening seorang perempuan tua di Dukuh Wangi. Namanya... Nini Mas Intan. Kau kenal?"
Sultan Hasan terkesiap. "Pak kenal Nini Mas Intan?"
"Aku dulu muridnya. Saat aku masih muda. Ia mengajariku banyak hal. Tentang syair. Tentang telaga. Tentang menjaga hati. Tapi aku tidak sanggup melanjutkan. Aku memilih menjadi guru agama. Aku membuka sekolah di kaki gunung, di desa sebelah. Aku mengajari anak-anak mengaji. Tapi kadang, aku masih merindukan ajaran-ajaran Nini Mas Intan. Tentang hati. Tentang cinta. Tentang keikhlasan."
Sultan Hasan terdiam. Dunia memang kecil. Di tengah kota yang ramai, di tepi dermaga yang penuh dengan orang asing, ia bertemu dengan seseorang yang dulu berguru pada Nini Mas Intan.
"Kau mau belajar agama?" tanya lelaki itu. "Di sekolahku. Di kaki gunung. Tidak jauh dari sini. Aku tidak memungut biaya. Aku hanya ingin berbagi ilmu."
Sultan Hasan memandang Jaya. Jaya mengangguk.
"Kami mau, Pak," kata Sultan Hasan.
"Bagus. Namaku Kiai Maksum. Setiap hari, setelah kalian selesai bekerja, kalian bisa datang ke sekolahku. Di lereng gunung, sebelah timur kota. Kalian tidak akan tersesat. Ikuti saja jalan setapak yang menanjak. Nanti kalian akan melihat genteng kubah warna hijau. Itu sekolahku."
Kiai Maksum berpamitan. Ia berjalan perlahan meninggalkan dermaga, jubah putihnya berkibar-kibar ditiup angin laut.
Sultan Hasan dan Jaya memandangnya sampai lenyap di antara kerumunan.
"Kiai Maksum," ulang Sultan Hasan. "Murid Nini Mas Intan."
"Kita beruntung bertemu dengannya," kata Jaya.
"Iya. Sangat beruntung."
Sejak hari itu, setiap sore setelah selesai membantu Mardjo dan bekerja di pasar, Sultan Hasan dan Jaya pergi ke sekolah agama Kiai Maksum.
Perjalanan tidak mudah. Sekolah itu terletak di lereng gunung, sekitar satu jam perjalanan kaki dari kota. Jalan setapaknya menanjak, berbatu-batu, licin jika hujan. Tapi mereka berdua tidak pernah absen. Hujan atau panas, mereka tetap pergi. Karena mereka haus akan ilmu. Karena mereka ingin menjadi orang yang lebih baik.
Kiai Maksum mengajar mereka membaca Al-Qur'an. Menulis huruf Arab. Menghafal doa-doa. Memahami makna di balik ayat-ayat suci.
Tapi yang paling penting, Kiai Maksum mengajar mereka tentang hati.
"Hati adalah raja," kata Kiai Maksum suatu hari. "Seluruh anggota tubuh adalah pasukannya. Jika raja baik, pasukannya akan baik. Jika raja jahat, pasukannya akan jahat. Maka jagalah hatimu. Jangan biarkan ia dikuasai oleh kesombongan, iri hati, dan kebencian."
"Bagaimana cara menjaganya, Kiai?" tanya Sultan Hasan.
"Bersihkan ia setiap hari. Seperti kau membersihkan badan. Mandi itu membersihkan badan. Tapi apa yang membersihkan hati? Zikir. Doa. Merenung. Mengingat bahwa kita hanyalah makhluk lemah yang suatu hari akan mati. Mengingat bahwa dunia ini hanya persinggahan, bukan tujuan akhir."
Sultan Hasan mengangguk. Ia teringat pada ajaran Nini Mas Intan. Tentang menjaga hati. Tentang syair-syair yang diajarkan Pandan Wangi. Tentang telaga yang jernih, yang ia jadikan cermin untuk melihat dirinya sendiri.
Semua ajaran itu, meski dari sumber yang berbeda, bermuara pada hal yang sama: jagalah hati. Karena hati adalah segalanya.
Kiai Maksum juga mengajar mereka tentang cinta.
"Cinta," katanya, "adalah energi yang paling kuat di alam semesta. Lebih kuat dari matahari. Lebih kuat dari ombak. Lebih kuat dari gunung meletus. Cinta bisa menyembuhkan luka yang paling dalam. Cinta bisa meruntuhkan tembok yang paling tinggi. Cinta bisa mengubah musuh menjadi sahabat."
"Tapi Kiai," kata Jaya, "cinta juga sering menyakitkan."
"Iya. Cinta memang sering menyakitkan. Itu karena cinta yang sejati tidak pernah egois. Cinta yang sejati adalah memberi, bukan menerima. Cinta yang sejati adalah mengorbankan, bukan diorbankan. Dan memberi serta mengorbankan, itu memang sakit."
"Kalau sakit, kenapa orang tetap jatuh cinta?" tanya Sultan Hasan.
"Karena cinta adalah fitrah. Karena manusia diciptakan untuk mencintai. Sama seperti ikan diciptakan untuk berenang. Burung diciptakan untuk terbang. Mencintai adalah kodrat kita. Kita tidak bisa lari darinya."
Sultan Hasan terdiam. Ia teringat pada Pandan Wangi. Pada telaga. Pada perasaan aneh di dadanya setiap kali ia duduk di samping gadis kecil itu, di batu hitam, di bawah cahaya bulan.
Apakah itu cinta? Ia tidak tahu. Ia baru berusia dua belas tahun. Tapi perasaan itu ada. Hangat. Lembut. Seperti cahaya lilin di malam gelap.
"Kiai," kata Sultan Hasan. "Apakah boleh mencintai seseorang yang... tidak seperti manusia?"
Kiai Maksum memandang Sultan Hasan. Matanya tajam. Seperti sedang membaca isi hati.
"Maksudmu? Makhluk halus? Jin? Atau sesuatu yang lain?"
Sultan Hasan menggeleng. Ia tidak tahu harus menjelaskan bagaimana. Pandan Wangi bukan jin. Bukan setan. Bukan manusia. Ia adalah penunggu telaga. Ia adalah air. Ia adalah cahaya bulan yang memantul di permukaan telaga.
"Lupakan, Kiai," kata Sultan Hasan akhirnya. "Aku hanya bertanya."
Kiai Maksum tidak memaksa. Ia hanya tersenyum. "Cinta tidak memandang wujud, Nak. Cinta memandang hati. Jika kau mencintai seseorang dengan tulus, dan ia mencintaimu balik, apa pun wujudnya, itu adalah anugerah. Jangan sia-siakan."
Sultan Hasan mengangguk. Ia tersenyum.
Tiga tahun berlalu.
Sultan Hasan dan Jaya sekarang berusia lima belas tahun. Tubuh mereka semakin tinggi. Bahu mereka semakin bidang. Wajah mereka semakin tampan, meski masih diselimuti oleh keringat dan debu pekerjaan.
Mardjo dan Lastri tidak lagi galak seperti dulu. Mungkin karena mereka sudah menganggap Sultan Hasan dan Jaya sebagai bagian dari keluarga. Atau mungkin karena mereka sudah tua, dan energi untuk marah sudah habis.
"Kau boleh tinggal di sini selama kau mau," kata Mardjo suatu hari, tanpa menatap Sultan Hasan. "Tapi kau harus tetap bekerja. Tidak ada orang yang hidup dari santai."
"Iya, Om," kata Sultan Hasan.
"Dan kau, Jaya!" Mardjo menunjuk Jaya yang sedang meraut kayu. "Jangan malas-malasan! Kerja!"
"Iya, Om!" jawab Jaya ceria.
Mereka berdua tersenyum.
Di sekolah agama, mereka sudah hafal Al-Qur'an tiga puluh juz. Mereka sudah bisa membaca kitab kuning dengan lancar. Mereka sudah memahami dasar-dasar fiqih, tauhid, dan tasawuf.
Kiai Maksum bangga pada mereka. "Kalian murid terbaikku," katanya. "Terutama kau, Sultan Hasan. Kau punya pemahaman yang dalam tentang hal-hal spiritual. Seperti kau sudah pernah belajar sebelumnya."
"Mungkin karena aku belajar dari banyak guru, Kiai," kata Sultan Hasan. "Dari Nini Mas Intan. Dari Ki Ageng Jagaraga. Dari Pandan Wangi. Dari pusaka di jariku."
"Pandan Wangi? Siapa itu?"
Sultan Hasan tersenyum. "Temanku, Kiai. Teman yang baik."
Kiai Maksum tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya tersenyum. "Jagalah temanmu itu," katanya. "Teman yang baik adalah harta yang tak ternilai."
Suatu malam, di bawah cahaya bulan purnama, Sultan Hasan memandang cincin di jarinya. Batu akik merah itu berdenyut pelan. Hangat.
"Kau sudah dewasa sekarang," bisik batu itu. "Usiamu lima belas tahun. Tubuhmu sudah kuat. Hatimu sudah matang. Sudah waktunya kau melanjutkan perjalanan."
"Ke mana?" tanya Sultan Hasan.
"Ke tempat di mana kau bisa menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaanmu. Ke tempat di mana kau bisa mengasah ilmu silat yang kau pelajari dari Ki Ageng Jagaraga. Ke tempat di mana kau bisa mengabdi pada sesuatu yang lebih besar dari dirimu sendiri."
"Apa itu?"
"Kerajaan. Atau masyarakat. Atau siapa pun yang membutuhkan pertolonganmu. Kau adalah penjaga hati, Sultan Hasan. Bukan untuk dirimu sendiri. Tapi untuk orang lain."
Sultan Hasan terdiam. Ia merenung.
Esok paginya, ia berbicara pada Jaya. "Aku akan pergi."
"Ke mana?"
"Ke ibu kota kerajaan. Mencari kehidupan yang lebih baik. Mencari ilmu yang lebih tinggi."
"Aku ikut."
"Kau yakin? Di sini kau sudah punya pekerjaan tetap. Mardjo sudah menganggapmu seperti anak sendiri."
"Kau adalah saudaraku, Hasan. Di mana kau pergi, aku ikut. Sampai mati."
Mereka berdua tersenyum. Mereka bersalaman.
Malam harinya, mereka berpamitan pada Mardjo dan Lastri. Mardjo terdiam. Lastri menangis.
"Jaga diri kalian baik-baik," kata Mardjo akhirnya. "Kalau kalian tidak betah di ibu kota, kalian bisa kembali ke sini. Rumah ini masih terbuka untuk kalian."
"Terima kasih, Om. Terima kasih, Bulik," kata Sultan Hasan. "Kami tidak akan melupakan kebaikan kalian."
Mereka berpelukan. Sultan Hasan merasakan hangatnya pelukan Mardjo yang kasar, dan hangatnya pelukan Lastri yang menangis.
Ini adalah keluarga keduanya. Setelah Mak Umi.
Dan sekarang, ia harus meninggalkan mereka lagi.
Sebelum benar-benar meninggalkan Kota Prapatan, Sultan Hasan pergi ke sekolah agama untuk berpamitan pada Kiai Maksum.
Kiai Maksum sedang duduk di serambi masjid, membaca kitab kuning dengan kaca mata tebal di ujung hidungnya.
"Kiai," kata Sultan Hasan. "Aku akan pergi ke ibu kota. Mencari ilmu. Mencari kehidupan."
Kiai Maksum menutup kitabnya. Ia melepas kaca matanya. Ia memandang Sultan Hasan lama.
"Kau punya tanda di keningmu," katanya. "Tanda penjaga. Aku sudah tahu sejak pertama kali melihatmu di dermaga. Tapi aku tidak bertanya. Karena aku tahu, suatu hari nanti, kau akan menjawabnya sendiri."
"Aku belum bisa menjawab, Kiai. Aku sendiri masih bingung dengan takdirku."
"Tidak apa-apa. Kebingungan adalah awal dari pemahaman. Orang yang tidak pernah bingung, tidak pernah belajar apa-apa."
Kiai Maksum berdiri. Ia memeluk Sultan Hasan. Tubuhnya tua, kurus, tapi pelukannya kuat.
"Jagalah hatimu, Nak. Jagalah pusakamu. Dan jagalah teman-temanmu. Mereka adalah anugerah."
"Aku akan, Kiai."
"Pergilah. Dan jangan lupa. Di mana pun kau berada, Allah selalu bersamamu. Telaga selalu bersamamu. Nini Mas Intan selalu bersamamu."
Sultan Hasan melepaskan pelukan. Ia membungkuk hormat. Lalu ia berjalan meninggalkan sekolah agama itu.
Di kejauhan, meski jauh dari Dukuh Wangi, ia bisa mendengar suara burung hantu. Samar. Tapi jelas.
Sekali. Pendek.
Seperti pesan: "Selamat jalan, penjaga hati. Dunia menunggumu."
Sultan Hasan tersenyum. Ia melangkah.
Bersama Jaya, ia menuju ibu kota kerajaan.
Memulai babak baru dalam hidupnya.
Sebagai perantau. Sebagai pendekar. Sebagai penjaga hati.
BAB XXIII
Usia 13 Tahun: Mimpi Berulang tentang Pandan Wangi
Perjalanan dari Kota Prapatan ke ibu kota kerajaan memakan waktu satu minggu penuh.
Sultan Hasan dan Jaya berjalan kaki melewati hutan, melewati sungai, melewati bukit-bukit yang terjal. Mereka membawa bekal seadanya: nasi bungkus yang diberikan Lastri, beberapa potong ikan asin, dan sebotol air. Bekal itu habis di hari keempat. Hari-hari berikutnya, mereka hidup dari buah-buahan liar dan ikan yang ditangkap di sungai.
Tapi mereka tidak mengeluh.
Mereka sudah terbiasa dengan perjalanan. Mereka sudah terbiasa dengan kelaparan. Mereka sudah terbiasa dengan dinginnya malam dan teriknya siang. Dukuh Wangi, Kota Prapatan, dan kehidupan bersama Mardjo telah mengajarkan mereka bahwa manusia bisa bertahan dalam kondisi apa pun, jika ia mau berusaha.
Akhirnya, pada sore hari ketujuh, mereka tiba di ibu kota.
Namanya Kota Rajapura. Ibukota Kerajaan Nusantara. Kota yang besar, ramai, dan megah. Tembok-tembok batu setinggi lima meter mengelilingi kota. Di balik tembok itu, menjulang gedung-gedung pemerintahan dengan arsitektur khas kerajaan: atap bersusun, ukiran naga di tiang-tiang, dan lentera-lentera merah yang bergantung di setiap sudut.
Sultan Hasan dan Jaya tercengang. Mereka belum pernah melihat kota sebesar ini. Manusia seperti semut. Rumah-rumah seperti sarang lebah. Suara hiruk-pikuk pasar terdengar dari kejauhan, bercampur dengan suara kuda, sapi, dan becak.
"Ini... ibu kota," bisik Jaya.
"Ini ibu kota," ulang Sultan Hasan.
Mereka masuk melalui gerbang barat. Tidak ada yang menanyai mereka. Tidak ada yang memeriksa. Penjaga gerbang hanya melambaikan tangan, membiarkan siapa pun masuk. Karena kerajaan ini terbuka untuk semua orang. Pedagang. Pengembara. Pencari kerja. Bahwa anak-anak seperti mereka.
Tapi kebahagiaan mereka tidak bertahan lama. Karena mereka sadar: mereka tidak punya uang. Tidak punya tempat tinggal. Tidak punya sanak saudara di kota ini. Mereka sendirian. Di tengah lautan manusia.
"Kita cari penginapan murah," kata Sultan Hasan.
"Pakai uang apa?" tanya Jaya.
"Kita cari kerja dulu. Besok pagi."
Malam itu, mereka tidur di emperan toko. Di atas kardus bekas. Dengan selimut tipis dari kain sarung. Langit malam di ibu kota berbeda dengan di desa. Di sini, langit tidak gelap karena terang oleh lampu-lampu kota. Bintang-bintang samar, hampir tidak terlihat. Bulan juga tampak pucat, seperti sakit.
Sultan Hasan tidak bisa tidur.
Ia memandang cincin di jarinya. Batu akik merah itu berdenyut pelan. Hangat.
"Kau ingat Pandan Wangi?" bisik batu itu.
"Iya," bisik Sultan Hasan balik.
"Kau rindu padanya?"
"Iya. Tapi aku tidak bisa kembali ke telaga sekarang. Aku harus mencari kehidupan dulu."
"Rindu tidak harus dengan bertemu. Rindu juga bisa dengan mengingat. Rindu juga bisa dengan mendoakan. Rindu juga bisa dengan menjalani hidup yang baik, karena ia pasti bangga melihatmu."
Sultan Hasan tersenyum. Ia memejamkan mata.
Ia berdoa. Untuk Pandan Wangi. Untuk Mak Umi. Untuk Nini Mas Intan. Untuk Ki Ageng Jagaraga. Untuk semua yang pernah berjasa dalam hidupnya.
Kemudian ia tertidur.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah meninggalkan Dukuh Wangi, Sultan Hasan bermimpi tentang Pandan Wangi.
Dalam mimpinya, ia berdiri di tepi telaga. Telaga yang sama. Airnya jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang ditarik arus yang lembut. Bulan purnama bersinar terang, memantul di permukaan air, menciptakan ribuan titik berkilauan seperti berlian.
Pandan Wangi sedang berdiri di tengah telaga. Ia berjalan di atas air. Perlahan. Anggun. Seperti penari.
Ia tidak lagi kecil. Ia sudah dewasa. Mungkin seusia Sultan Hasan. Lima belas tahun. Tubuhnya mulai berlekuk. Rambutnya hitam panjang terurai sebahu, bergerak-gerak ditiup angin malam. Wajahnya cantik. Sangat cantik. Seperti bidadari yang turun dari langit.
"Pandan..." bisik Sultan Hasan.
Pandan Wangi tersenyum. Senyum yang lembut. Senyum yang membuat hati Sultan Hasan berdebar.
"Kau rindu padaku?" tanyanya.
"Iya. Aku sangat rindu."
"Aku juga rindu padamu. Setiap malam. Setiap kali bulan purnama. Aku duduk di batu hitam ini, menatap ke timur, berharap kau muncul. Tapi kau tidak pernah muncul. Karena kau sedang merantau. Mencari kehidupan."
"Maafkan aku, Pandan."
"Tidak perlu minta maaf. Aku tidak marah. Aku hanya rindu."
Pandan Wangi berjalan mendekat. Kini ia berdiri tepat di depan Sultan Hasan. Jarak hanya satu lengan. Sultan Hasan bisa mencium wanginya. Wangi pandan. Wangi yang khas. Wangi yang selalu ia rindukan.
"Kau sudah dewasa," kata Pandan Wangi. "Aku bisa melihatnya dari matamu. Matamu tidak lagi polos. Ada beban di sana. Ada pengalaman. Ada luka."
"Kau juga dewasa, Pandan. Di mimpiku, kau tidak lagi kecil."
"Ini mimpi, Sultan Hasan. Dalam mimpi, aku bisa menjadi apa pun. Aku bisa menjadi kecil. Aku bisa menjadi dewasa. Aku bisa menjadi wanita tua. Tapi yang sebenarnya... aku tidak berubah. Aku tetap air. Aku tetap telaga. Aku tetap penunggu yang setia menunggu."
"Kapan aku bisa bertemu denganmu dalam wujud aslimu?"
"Kau sudah bertemu. Di telaga. Saat kau masih kecil. Saat kita duduk di batu hitam itu, berbicara tentang banyak hal."
"Tapi itu dulu. Aku ingin bertemu lagi."
Pandan Wangi menghela napas. "Kita akan bertemu lagi, Sultan Hasan. Pada waktunya. Pada saat yang tepat. Pada tempat yang tepat. Tapi tidak sekarang. Sekarang kau harus fokus pada perjalananmu. Ada banyak hal yang harus kau pelajari. Ada banyak orang yang harus kau tolong. Ada banyak cinta yang harus kau jaga."
"Aku tidak mengerti."
"Kau akan mengerti nanti."
Pandan Wangi mengulurkan tangannya. Ia menyentuh kening Sultan Hasan, tepat di tempat tanda merah itu berada.
Tanda itu terasa hangat. Sangat hangat. Seperti disentuh oleh matahari.
"Aku akan selalu bersamamu," bisik Pandan Wangi. "Di mana pun kau berada. Dalam suka maupun duka. Dalam terang maupun gelap. Dalam mimpi maupun kenyataan."
Sultan Hasan ingin meraih tangan itu. Tapi sebelum ia sempat bergerak, Pandan Wangi mulai menghilang. Perlahan. Seperti kabut yang ditiup angin.
"Pandan! Jangan pergi!"
"Selamat jalan, Sultan Hasan. Aku menunggumu."
Kemudian ia lenyap.
Sultan Hasan terbangun.
Ia duduk di emperan toko. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Langit masih gelap. Lampu-lampu kota masih menyala.
Jaya tidur di sampingnya, tidak terganggu.
Sultan Hasan memandang cincin di jarinya. Batu akik merah itu berdenyut kencang. Sangat kencang. Seperti ingin keluar dari tempatnya.
"Pandan..." bisiknya.
Batu itu berdenyut sekali lagi. Lalu meredup. Perlahan. Kembali ke denyut normal.
Sultan Hasan menghela napas. Ia berbaring kembali. Ia memejamkan mata.
Tapi ia tidak bisa tidur.
Mimpi itu terus berputar di kepalanya. Wajah Pandan Wangi yang dewasa. Wangi pandan yang semerbak. Senyum yang lembut. Dan tangan yang menyentuh keningnya.
"Aku akan selalu bersamamu."
Sultan Hasan tersenyum di dalam gelap.
"Terima kasih, Pandan," bisiknya. "Aku juga akan selalu bersamamu. Di mana pun aku berada."
Mimpi itu berulang.
Setiap malam. Selama satu bulan penuh. Sultan Hasan selalu bermimpi bertemu Pandan Wangi di tepi telaga. Kadang Pandan Wangi masih kecil, seperti dulu. Kadang ia sudah dewasa, seperti pertama kali Sultan Hasan melihatnya dalam mimpi. Kadang ia setengah dewasa, setengah anak-anak, seperti dalam masa transisi.
Tapi selalu sama: mereka berbicara. Mereka bercerita tentang banyak hal. Tentang rindu. Tentang kehidupan. Tentang cinta. Tentang menjaga hati.
Dan setiap kali, sebelum Pandan Wangi pergi, ia selalu berkata: "Aku akan selalu bersamamu."
Setelah satu bulan, mimpi itu berhenti.
Sultan Hasan tidak lagi bermimpi tentang Pandan Wangi. Ia hanya tidur nyenyak, tanpa mimpi, tanpa gangguan. Batu akik merah di jarinya berdenyut normal, tidak terlalu kencang, tidak terlalu lambat.
Tapi rasa rindu itu tetap ada.
Ia rindu pada telaga. Ia rindu pada batu hitam. Ia rindu pada suara air yang mengalir. Ia rindu pada wangi pandan yang semerbak. Ia rindu pada Pandan Wangi.
"Kau kenapa?" tanya Jaya suatu hari, saat melihat Sultan Hasan melamun.
"Aku rindu."
"Rindu siapa?"
"Seseorang."
"Pandan Wangi?"
Sultan Hasan terkejut. "Kau tahu?"
"Kau sering menyebut namanya dalam tidurmu. Pandan. Pandan. Aku dengar. Kau mimpikan ia setiap malam, kan?"
Sultan Hasan tidak menjawab. Ia hanya menunduk.
"Kau jatuh cinta, Hasan," kata Jaya. "Jatuh cinta pada penunggu telaga."
"Apa itu cinta?"
Jaya mengangkat bahu. "Aku tidak tahu. Aku belum pernah jatuh cinta. Tapi kalau perasaan itu membuatmu rindu terus-menerus, membuatmu tidak bisa tidur, membuatmu selalu ingin bertemu... mungkin itu cinta."
Sultan Hasan terdiam. Mungkin Jaya benar. Mungkin itu cinta. Mungkin ia jatuh cinta pada Pandan Wangi sejak pertama kali melihatnya, saat ia masih kecil, saat ia duduk di batu hitam itu, di bawah cahaya bulan.
Tapi apa boleh buat? Pandan Wangi bukan manusia. Ia penunggu telaga. Ia tidak bisa meninggalkan telaga. Ia tidak bisa hidup di dunia manusia.
Dan Sultan Hasan... Sultan Hasan belum bisa kembali ke telaga. Ia harus mencari kehidupan dulu. Ia harus menjadi seseorang yang berguna. Ia harus menyelesaikan misinya sebagai penjaga hati.
Mungkin, pikir Sultan Hasan, cinta tidak harus memiliki. Cinta cukup dengan merindukan. Cinta cukup dengan mendoakan. Cinta cukup dengan tetap menjaga hati, meski tidak bersatu.
Seperti Nini Mas Intan dulu. Seperti Ki Ageng Jagaraga dulu. Seperti semua penjaga hati yang gagal dan berhasil.
Mereka mencintai. Mereka merindukan. Mereka menjaga.
Tapi tidak semua memiliki.
Suatu malam, setelah berminggu-minggu tanpa mimpi, Sultan Hasan bermimpi lagi.
Tapi kali ini berbeda. Ia tidak berdiri di tepi telaga. Ia berdiri di tengah kota. Di tengah keramaian. Di tengah pasar yang hiruk-pikuk.
Dan di tengah keramaian itu, ia melihat seorang perempuan.
Perempuan itu berjalan di antara kerumunan. Ia memakai kain batik sederhana, warna hijau dengan motif pandan. Rambutnya hitam panjang, diikat dengan tusuk konde dari perak. Parasnya cantik. Seperti bidadari.
Sultan Hasan mengenalinya.
Pandan Wangi.
Bukan dalam wujud anak kecil. Bukan dalam wujud setengah dewasa. Tapi dalam wujud wanita dewasa. Seperti dalam mimpi-mimpinya dulu.
Pandan Wangi berjalan mendekat. Ia tersenyum.
"Halo, Sultan Hasan," katanya. "Sudah lama."
"Kau... bagaimana kau bisa di sini? Ini kota. Jauh dari telaga."
"Ini mimpi, Sultan Hasan. Dalam mimpi, aku bisa ke mana pun. Aku bisa ke kota. Aku bisa ke gunung. Aku bisa ke laut. Aku bisa ke ujung dunia. Tapi kenyataannya... aku tetap di telaga. Menunggumu."
"Kapan kita bisa bertemu di dunia nyata?"
Pandan Wangi menghela napas. "Kau masih bertanya itu?"
"Aku rindu padamu, Pandan."
"Aku juga rindu padamu. Tapi rindu tidak harus dengan bertemu. Rindu bisa diwujudkan dengan menjadi orang yang lebih baik. Dengan membantu sesama. Dengan menjaga hati. Itu yang kau lakukan sekarang, kan?"
Sultan Hasan mengangguk.
"Itu sudah cukup," kata Pandan Wangi. "Aku bangga padamu. Nini Mas Intan bangga padamu. Ki Ageng Jagaraga bangga padamu. Mak Umi di surga juga bangga padamu."
Air mata Sultan Hasan menetes. Pandan Wangi mengulurkan tangannya, menghapus air mata itu dengan ibu jarinya.
"Jangan menangis," katanya. "Kau lelaki. Lelak i tidak boleh mudah menangis."
"Lelaki juga punya hati."
"Iya. Lelaki juga punya hati. Dan lelaki yang baik adalah lelaki yang mau menangis untuk orang yang dicintainya. Tapi jangan terlalu lama. Bangun. Lanjutkan perjuanganmu. Ada banyak yang harus kau lakukan."
Pandan Wangi melangkah mundur.
"Kau akan pergi lagi," kata Sultan Hasan.
"Iya. Aku harus pergi. Tapi ingatlah, Sultan Hasan. Aku tidak pernah benar-benar pergi. Aku selalu di sini."
Ia menunjuk dada Sultan Hasan.
"Di dalam hatimu."
Kemudian ia lenyap.
Sultan Hasan terbangun.
Ia duduk di emperan toko. Langit mulai memutih. Fajar menyingsing. Jaya sudah bangun, merapikan barang-barang mereka.
"Kau mimpi lagi?" tanya Jaya.
"Iya."
"Mimpi tentang Pandan Wangi?"
"Iya."
"Apa yang ia katakan?"
Sultan Hasan tersenyum. "Ia bilang, ia selalu di dalam hatiku."
Jaya menghela napas. "Kau jatuh cinta, Hasan. Jatuh cinta pada sesosok yang mungkin tidak bisa kau miliki."
"Mungkin. Tapi tidak apa-apa. Cinta tidak harus memiliki."
Mereka berdua berdiri. Mereka membersihkan emperan toko, melipat kardus bekas, dan bersiap memulai hari baru.
Hari untuk mencari kerja. Hari untuk mencari kehidupan. Hari untuk menjadi penjaga hati yang lebih baik.
Sultan Hasan memandang ke timur. Ke arah Dukuh Wangi. Ke arah telaga. Ke arah Pandan Wangi.
"Selamat pagi, Pandan," bisiknya.
Di kejauhan, meski tidak mungkin, ia mendengar suara burung hantu. Samar. Tapi jelas.
Sekali. Pendek.
Seperti jawaban: "Selamat pagi, penjaga hati."
Sultan Hasan tersenyum. Ia melangkah.
Bersama Jaya, ia menuju pasar.
Mencari pekerjaan.
Melanjutkan hidup.
Dengan rindu di hati.
Dengan cinta yang tersimpan rapi.
Dengan tekad untuk menjadi lebih baik.
Setiap hari.
Setiap saat.
Selamanya.
BAB XXIV
Paman Mengusir
Dua tahun berlalu sejak Sultan Hasan dan Jaya tiba di Kota Rajapura.
Dua tahun yang penuh dengan kerja keras, keringat, dan air mata. Mereka bekerja serabutan: menjadi kuli angkut di pasar, menjadi tukang cuci di rumah-rumah orang kaya, menjadi pelayan di warung makan, menjadi pengantar barang di toko-toko. Upahnya kecil. Tidak cukup untuk menyewa rumah yang layak. Mereka masih tidur di emperan toko, kadang di kolong jembatan, kadang di emperan masjid jika hujan.
Tapi mereka tidak putus asa.
Sedikit demi sedikit, mereka mengumpulkan uang. Sultan Hasan pandai mengatur keuangan. Setiap rupiah yang mereka dapatkan, ia bagi: separuh untuk makan, seperempat untuk ditabung, seperempat untuk disedekahkan. Jaya kadang protes. "Kenapa kita harus sedekah? Kita sendiri masih miskin!" Tapi Sultan Hasan selalu menjawab, "Sedekah bukan tentang kaya atau miskin. Sedekah tentang melatih hati agar tidak pelit."
Jaya menggeleng, tapi ia menurut.
Suatu hari, Sultan Hasan mendapat tawaran kerja dari seorang saudagar kaya bernama Tuan Abdullah. Saudagar itu memiliki gudang beras di tepi sungai. Ia butuh anak-anak muda yang kuat dan jujur untuk menjaga gudang dan mengangkut karung-karung beras dari kapal ke gudang.
"Kau anak pemberani?" tanya Tuan Abdullah saat wawancara.
"Tergantung, Tuan," kata Sultan Hasan jujur. "Aku berani jika itu benar. Aku tidak berani jika itu salah."
Tuan Abdullah tertawa. "Kau jujur. Aku suka. Kau diterima."
Sultan Hasan dan Jaya mulai bekerja di gudang beras. Upahnya lebih besar dari pekerjaan sebelumnya. Mereka bisa menyewa sebuah kamar kecil di rumah kontrakan di pinggiran kota. Kamar berukuran dua kali tiga meter, hanya cukup untuk dua tikar dan satu lampu minyak. Tapi bagi mereka, itu istana.
"Ini rumah pertama kita," kata Jaya bahagia.
"Ini rumah pertama kita," ulang Sultan Hasan.
Mereka berdua bersalaman. Mereka tersenyum. Setelah dua tahun, akhirnya mereka tidak tidur di emperan toko lagi.
Tapi kebahagiaan mereka tidak bertahan lama.
Suatu sore, saat Sultan Hasan sedang bekerja di gudang, seorang lelaki paruh baya datang. Wajahnya mirip dengan seseorang. Sangat mirip. Sultan Hasan berusaha mengingat.
Lelaki itu berhenti di depan Sultan Hasan. Ia memandangnya lama.
"Kau Sultan Hasan?" tanyanya.
"Iya. Siapa Bapak?"
"Namaku Sastro. Aku saudara iparmu. Suami dari adik ibumu."
Sultan Hasan terkejut. Ia tidak tahu bahwa ibunya masih punya saudara perempuan. Dewi Rengganis tidak pernah bercerita tentang itu.
"Ada apa, Pak?" tanya Sultan Hasan.
Sastro menghela napas. Wajahnya muram. "Aku diutus oleh keluargamu di Dukuh Wangi. Mereka... mereka minta kau pulang."
"Pulang? Kenapa?"
"Ada masalah. Besar. Keluarga kalian terancam. Mardjo... pamanku... aku diminta mencarimu."
Sultan Hasan terdiam. Mardjo. Paman yang galak tapi baik hati itu. Ada apa dengannya?
"Apa yang terjadi dengan Om Mardjo?" tanyanya.
Sastro menggeleng. "Tidak bisa dijelaskan di sini. Terlalu panjang. Kau pulang saja. Nanti kau tahu sendiri."
Sultan Hasan memandang Jaya. Jaya mengangguk.
"Baik, Pak. Kami akan pulang."
Perjalanan pulang ke Kota Prapatan memakan waktu tiga hari. Sultan Hasan dan Jaya tidak bisa berjalan kaki seperti dulu. Mereka sudah punya sedikit uang. Mereka menyewa kuda sewaan. Bukan kuda bagus. Tapi cukup untuk mempercepat perjalanan.
Mereka tiba di rumah Mardjo pada sore hari. Rumah itu masih sama: kayu, setengah papan setengah bambu, dengan halaman penuh serbuk kayu. Tapi ada yang berbeda. Sepi. Tidak ada suara ketam kayu. Tidak ada suara Mardjo membentak-bentak. Hanya ada keheningan yang aneh.
Sultan Hasan masuk.
Mardjo terbaring di tikar. Wajahnya pucat. Tubuhnya kurus kering. Matanya cekung. Ia sakit. Parah.
Lastri duduk di sampingnya, menangis.
"Om..." bisik Sultan Hasan.
Mardjo membuka matanya. Samar-samar. Kemudian ia tersenyum. Senyum yang lemah.
"Kau pulang," bisiknya. "Aku kira kau tidak akan kembali."
"Aku kembali, Om. Ada apa ini? Kenapa Om bisa sakit begini?"
Mardjo batuk. Batuk yang keras. Lastri buru-buru mengusap dadanya.
"Mardjo terkena racun," kata Lastri sambil menangis. "Ada yang sengaja meracuni makanannya. Dua minggu yang lalu. Sejak itu ia tidak bisa bangun."
"Siapa yang meracuni?"
"Kami tidak tahu. Tapi kami curiga pada... keponakan Mardjo sendiri. Anak dari saudaranya. Ia ingin merebut rumah ini. Tanah ini. Semua harta warisan."
Sultan Hasan mengepal. Jari-jarinya gemetar. Batu akik merah di jarinya berdenyut kencang. Panas.
"Tenang," bisik batu itu. "Jangan terpancing emosi."
Sultan Hasan menarik napas panjang. Ia menenangkan diri.
"Om akan sembuh," katanya. "Aku akan mencari obatnya. Di hutan. Di tempat Ki Ageng Jagaraga. Ia tahu ramuan untuk segala penyakit."
"Ki Ageng?" Mardjo tersenyum pahit. "Ia masih hidup?"
"Masih, Om. Ia kuat."
Sultan Hasan berpamitan. Ia dan Jaya segera pergi ke hutan. Meninggalkan Mardjo dan Lastri yang hanya bisa berdoa.
Hutan tempat Ki Ageng Jagaraga tinggal tidak berubah. Masih lebat. Masih gelap. Masih dipenuhi suara burung dan serangga.
Sultan Hasan dan Jaya berjalan cepat. Mereka hafal jalan setapak itu. Setiap akar, setiap batu, setiap belokan, mereka hafal di luar kepala.
Ki Ageng Jagaraga sedang duduk di depan gubuknya ketika mereka tiba. Pertapa tua itu tidak berubah. Masih kurus. Masih keriput. Masih memandang dengan mata satu hitam satu putih.
"Kau kembali," katanya.
"Iya, Ki. Aku butuh bantuan."
"Ceritakan."
Sultan Hasan menceritakan tentang Mardjo. Tentang racun. Tentang keponakan yang ingin merebut warisan.
Ki Ageng Jagaraga menghela napas panjang. "Manusia. Mereka tidak pernah puas dengan apa yang mereka miliki. Mereka selalu ingin lebih. Meski harus mencelakai orang lain."
"Apa ada obatnya, Ki?"
"Ada. Tapi tidak mudah mendapatkannya."
"Apa pun, Ki. Aku akan mencarinya."
Ki Ageng Jagaraga berdiri. Ia masuk ke dalam gubuknya, lalu keluar dengan membawa sepotong kulit kayu. Kering. Keras. Berwarna coklat kehitaman.
"Ini kulit pohon Samarinda. Tumbuh di puncak gunung, di tempat yang udaranya sangat dingin. Rebus kulit ini dengan air sampai mendidih. Saring. Berikan airnya pada Mardjo. Tiga kali sehari. Satu sendok makan setiap kali."
"Apa ini akan menyembuhkannya, Ki?"
Ki Ageng Jagaraga menggeleng. "Tidak. Racunnya sudah menyebar ke seluruh tubuh. Obat ini hanya akan memperlambat. Tidak menyembuhkan. Mardjo mungkin akan hidup beberapa bulan. Mungkin setahun. Tergantung kemauan tubuhnya."
Sultan Hasan menunduk. Air matanya menetes.
"Jangan menangis," kata Ki Ageng Jagaraga. "Kau sudah berbuat yang terbaik. Sekarang, pulanglah. Berikan obat ini pada Mardjo. Dan temani ia selama ia masih ada."
Sultan Hasan mengangguk. Ia menyeka air matanya.
"Ki, aku mau bertanya sesuatu."
"Apa?"
"Apa yang harus aku lakukan terhadap keponakan Mardjo yang meracuninya?"
Ki Ageng Jagaraga memandang Sultan Hasan. Matanya tajam.
"Apa yang kau ingin lakukan?"
"Aku ingin membalas dendam. Ia meracuni paman yang baik hati. Ia pantas dihukum."
"Tapi?"
"Tapi aku ingat ajaran Nini Mas Intan. 'Hati yang dijaga terlalu keras akan retak oleh tangannya sendiri.' Aku tidak ingin menjadi seperti dia. Aku tidak ingin hatiku retak."
Ki Ageng Jagaraga tersenyum. "Kau sudah dewasa, Sultan Hasan. Aku tidak perlu mengajarimu lagi. Kau sudah tahu apa yang benar dan apa yang salah. Lakukan sesuai hatimu. Tapi jangan lupa: penjaga hati tidak membalas dendam. Ia hanya menegakkan keadilan."
Sultan Hasan mengangguk. Ia membungkuk hormat.
"Selamat tinggal, Ki."
"Selamat jalan, Nak."
Mardjo meninggal tiga bulan kemudian.
Ia meninggal dengan tenang. Di sampingnya, Sultan Hasan, Jaya, dan Lastri. Tubuhnya kurus kering. Matanya cekung. Bibirnya biru. Tapi wajahnya tersenyum.
"Kau... kau anak baik," bisik Mardjo pada Sultan Hasan. "Maafkan aku... dulu sering membentakmu... sering memukulmu..."
"Itu dulu, Om. Aku sudah lupa."
"Kau... kau lebih baik dari anak kandungku sendiri... mereka tidak pernah datang... tidak pernah menjenguk..."
"Om, jangan banyak bicara. Istirahatlah."
Mardjo menghela napas terakhir. Dadanya naik sekali, turun, lalu tidak naik lagi.
Lastri menjerit. Ia menangis tersedu-sedu.
Sultan Hasan memejamkan mata. Air matanya menetes. Tapi ia tidak menangis keras seperti Lastri. Ia hanya diam. Merasakan kehilangan. Lagi. Lagi. Lagi.
Setelah Mak Umi. Setelah Nini Mas Intan. Setelah ibu dan ayah. Sekarang Mardjo.
Kapan semua ini berakhir?
Di jari manisnya, batu akik merah berdenyut pelan. Hangat.
"Aku di sini," bisik batu itu. "Aku tidak akan pernah mati."
Sultan Hasan tersenyum. Ia menggenggam cincin itu erat-erat.
"Terima kasih," bisiknya.
Setelah Mardjo dimakamkan, Sultan Hasan dan Jaya mengusut siapa dalang di balik peracunan.
Ternyata itu benar. Keponakan Mardjo, bernama Tumenggung, adalah seorang pegawai rendahan di kantor bupati. Ia ingin merebut rumah dan tanah Mardjo untuk dijadikan modal bisnis. Ia menyewa dukun dari desa sebelah untuk meracuni makanan Mardjo dengan racun yang tidak terdeteksi.
Sultan Hasan dan Jaya mengumpulkan bukti. Mereka mencari saksi. Mereka melapor ke polisi.
Tumenggung ditangkap. Diadili. Dihukum penjara sepuluh tahun.
Istri dan anak-anaknya menangis. Mereka meminta maaf pada Sultan Hasan. Mereka mengaku tidak tahu apa yang dilakukan Tumenggung.
Sultan Hasan memaafkan mereka.
"Ia yang bersalah, bukan kalian," katanya. "Tapi ingat, kejahatan tidak akan pernah membawa kebahagiaan."
Mereka mengangguk sambil menangis.
Sultan Hasan dan Jaya meninggalkan rumah Mardjo. Mereka tidak ingin tinggal di rumah itu. Terlalu banyak kenangan. Terlalu banyak luka.
Lastri menawari mereka untuk tinggal. Tapi Sultan Hasan menolak dengan hormat. "Kami harus kembali ke ibu kota, Bulik. Ada banyak yang harus kami kerjakan."
Lastri menangis. "Jaga diri kalian baik-baik."
"Kami akan, Bulik."
Mereka berpelukan. Sultan Hasan merasakan hangatnya pelukan Lastri. Pelukan seorang ibu yang kehilangan suami. Pelukan seorang ibu yang takut kehilangan anak-anak angkatnya.
"Kami akan sering mengirim kabar, Bulik."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berpisah. Sultan Hasan dan Jaya berjalan menuju ke timur. Menuju ibu kota. Menuju kehidupan baru.
Di belakang mereka, Lastri berdiri di depan rumah, melambai-lambaikan tangan, menangis.
Sultan Hasan tidak menoleh. Karena ia takut jika menoleh, ia tidak akan bisa pergi.
Di tengah perjalanan, mereka melewati Dukuh Wangi.
Desa itu sudah berubah. Banyak rumah baru. Sawah-sawah yang subur. Anak-anak bermain di halaman.
Tidak ada yang mengenali Sultan Hasan. Ia sudah dewasa. Wajahnya sudah berubah. Tubuhnya sudah tinggi. Tidak ada yang menyangka bahwa anak kurus kering yang dulu dikucilkan dan dilempari kerikil, kini menjadi pemuda tegap dengan mata yang teduh.
Sultan Hasan tidak singgah. Ia hanya memandang dari kejauhan. Ia melihat telaga larangan di kejauhan. Airnya masih jernih. Masih tenang. Masih dijaga oleh Pandan Wangi.
Ia ingin pergi ke telaga. Ia ingin duduk di batu hitam itu. Ia ingin berbicara dengan Pandan Wangi tentang semua yang telah terjadi. Tentang Mardjo. Tentang Lastri. Tentang rasa lelah yang tak kunjung habis.
Tapi ia tidak punya waktu. Ia harus segera kembali ke ibu kota. Ada pekerjaan yang menunggu. Ada hidup yang harus dijalani.
"Pandan," bisiknya. "Aku tidak bisa menemuimu sekarang. Tapi aku akan kembali. Suatu hari. Aku janji."
Di kejauhan, angin berembus. Membawa wangi pandan. Samar. Tapi jelas.
Sultan Hasan tersenyum. Ia melanjutkan perjalanan.
Di jari manisnya, batu akik merah berdenyut pelan. Hangat.
Seperti setuju. Seperti mengingatkan. Seperti berbisik: "Aku menunggumu."
BAB XXV
Bertemu Kakek Tua di Pinggir Hutan
Perjalanan kembali ke ibu kota terasa lebih berat dari sebelumnya.
Mungkin karena beban di hati Sultan Hasan. Mungkin karena ia baru saja kehilangan Mardjo, pamannya yang keras tapi baik hati. Mungkin karena ia melewati Dukuh Wangi, desa yang tidak pernah benar-benar menerimanya, tanpa berani singgah. Mungkin karena ia rindu pada Pandan Wangi, tetapi tidak bisa menemuinya.
Atau mungkin karena ia dan Jaya kehabisan bekal di tengah jalan, dan perut mereka keroncongan sejak pagi.
Mereka berjalan di tepi hutan. Pohon-pohon besar menjulang di kiri kanan, menaungi jalan setapak dari terik matahari. Burung-burung berkicau riang, seolah tidak peduli dengan penderitaan dua pemuda yang lewat di bawah mereka.
"Kapan kita sampai?" tanya Jaya.
"Masih jauh. Mungkin dua hari lagi."
"Aku lapar, Hasan. Lapar sekali. Perutku seperti mau menelannya sendiri."
"Sabar. Nanti kita cari buah-buahan di hutan."
"Buah-buahan? Di hutan ini? Lihat sekeliling! Yang ada cuma pohon besar dan semak belukar! Tidak ada pohon buah!"
Sultan Hasan tidak menjawab. Ia terus berjalan. Matanya memindai kiri kanan, mencari sesuatu yang bisa dimakan.
Di jari manisnya, batu akik merah berdenyut pelan.
"Ke kiri," bisik batu itu. "Ada sesuatu di sana."
Sultan Hasan berbelok ke kiri, meninggalkan jalan setapak, masuk ke dalam hutan yang lebih lebat.
"Kau ke mana?" teriak Jaya. "Jalannya di sini!"
"Ikuti aku!"
Jaya menggerutu, tapi ia mengikuti. Ia tahu Sultan Hasan tidak pernah bertindak tanpa alasan.
Mereka berjalan sekitar dua puluh langkah ke dalam hutan. Kemudian Sultan Hasan berhenti.
Di depan mereka, tumbuh sebuah pohon kecil. Tingginya hanya sekitar dua meter. Daunnya lebar, hijau segar. Dan di antara daun-daun itu, bergelantungan beberapa buah. Besar. Kuning keemasan. Aromanya harum, seperti campuran mangga dan pepaya.
"Mangga hutan!" teriak Jaya kegirangan. "Kau hebat, Hasan! Bagaimana kau tahu ada pohon ini?"
"Aku hanya mengikuti kata hati," kata Sultan Hasan sambil tersenyum.
Mereka memetik buah-buahan itu. Makan dengan lahap. Juice-nya manis, menyegarkan. Perut mereka yang keroncongan perlahan tenang.
Setelah kenyang, mereka mengambil beberapa buah untuk bekal perjalanan. Sultan Hasan memasukkan buah-buahan itu ke dalam buntalan kainnya.
"Kita kembali ke jalan setapak," katanya.
Mereka berjalan balik.
Tapi di tengah jalan, mereka bertemu dengan seorang kakek tua.
Kakek itu duduk di bawah pohon beringin besar. Tubuhnya kurus, membungkuk. Rambutnya putih semua, tidak sehelai pun yang hitam. Jenggotnya panjang hingga ke dada, juga putih. Ia memakai pakaian compang-camping, penuh tambalan. Di sampingnya, ada sebilah tongkat kayu nangka yang sudah aus.
Matanya terpejam. Dadanya naik turun pelan. Ia sedang tidur. Atau mungkin bermeditasi.
Sultan Hasan berhenti. Ia memandang kakek itu. Ada sesuatu di wajahnya yang familiar. Sesuatu yang mengingatkannya pada seseorang. Tapi ia tidak ingat siapa.
"Kita lewat saja," bisik Jaya. "Jangan ganggu."
Tapi Sultan Hasan tidak bisa bergerak. Kaki nya terasa berat. Seperti ada yang menahannya.
Kakek itu membuka matanya.
Matanya satu hitam, satu putih. Seperti Ki Ageng Jagaraga. Tapi tidak sama. Mata kakek ini lebih tua. Lebih dalam. Lebih seperti melihat ke dalam jiwa.
"Kau Sultan Hasan," katanya. Bukan pertanyaan. Pernyataan.
Sultan Hasan terkejut. "Bapak kenal saya?"
"Aku kenal kau. Sejak kau masih dalam kandungan ibumu. Sejak kau lahir di malam gerhana. Sejak kau menangis keras, menangis yang sudah tahu betapa berat tugasmu kelak."
Sultan Hasan gemetar. Kata-kata itu persis seperti yang pernah dikatakan Nini Mas Intan, Mak Umi, dan Ki Ageng Jagaraga.
"Siapa Bapak?" tanyanya.
Kakek itu tersenyum. Senyum yang aneh. Senyum yang penuh rahasia.
"Aku tidak punya nama. Tapi kau bisa memanggilku Kakek Tua dari Pinggir Hutan."
Jaya mendengus. "Nama yang aneh."
Kakek itu tertawa. Tawanya serak, seperti gesekan daun-daun kering.
"Memang. Aku tidak pernah punya nama yang bagus. Tapi aku punya sesuatu yang lebih berharga dari nama."
"Apa itu?" tanya Sultan Hasan.
"Pengetahuan. Pengetahuan tentang perjalanan. Pengetahuan tentang kehidupan. Pengetahuan tentang hati."
Kakek itu menepuk tanah di sampingnya. "Duduklah. Aku tahu kau lelah. Aku tahu kau lapar. Tapi kau sudah makan buah mangga hutan, jadi perutmu tidak keroncongan lagi. Sekarang, duduklah. Aku akan bercerita."
Sultan Hasan dan Jaya duduk di samping kakek itu. Tanahnya dingin, sedikit lembab. Bau tanah bercampur bau dedaunan kering.
"Apa yang akan Bapak ceritakan?" tanya Sultan Hasan.
"Tentang masa depanmu," kata kakek itu. "Tentang jalan yang akan kau tempuh. Tentang rintangan yang akan kau hadapi. Tentang cinta yang akan kau temukan."
Sultan Hasan terdiam. Jaya juga terdiam.
Mereka mendengarkan.
Kakek itu memandang langit. Awan putih bergerak lambat, membentuk pola-pola aneh.
"Kau akan pergi ke ibu kota," katanya. "Di sana, kau akan bekerja keras. Kau akan menjadi kaya. Kau akan terkenal. Tapi kau tidak akan bahagia."
"Kenapa tidak bahagia?" tanya Sultan Hasan.
"Karena hatimu tidak di sana. Hatimu masih di telaga. Hatimu masih pada Pandan Wangi."
Sultan Hasan terkesiap. "Bapak tahu tentang Pandan Wangi?"
"Aku tahu segalanya, Nak. Aku tahu kau jatuh cinta padanya sejak kau masih kecil. Aku tahu kau merindukannya setiap malam. Aku tahu kau bermimpi tentang dia, bertemu dengannya, berbicara dengannya. Tapi kau tidak bisa memiliki dia. Karena dia adalah penunggu telaga. Dan kau adalah manusia."
"Jadi aku harus melupakannya?"
"Mencintai tidak harus memiliki. Mencintai tidak harus melupakan. Mencintai bisa dengan mendoakan. Mencintai bisa dengan menjalani hidup yang baik, karena ia pasti bangga melihatmu."
Sultan Hasan menunduk. Air matanya menetes lagi. Jaya menepuk pundaknya.
"Jangan menangis," kata kakek itu. "Kau lelaki. Lelaki tidak boleh mudah menangis."
"Lelaki juga punya hati," kata Sultan Hasan, seperti yang pernah ia katakan pada Pandan Wangi dalam mimpi.
Kakek itu tersenyum. "Kau benar. Lelaki juga punya hati. Dan lelaki yang baik adalah lelaki yang mau menangis untuk orang yang dicintainya. Tapi jangan terlalu lama. Bangun. Lanjutkan perjalananmu."
Kakek itu berdiri. Tubuhnya yang bungkuk tiba-tiba terlihat tegap. Matanya yang satu hitam satu putih menyala.
"Kau akan bertemu dengan banyak orang di ibu kota," katanya. "Ada yang baik. Ada yang jahat. Ada yang akan menolongmu. Ada yang akan mengkhianatimu. Tapi ingatlah selalu: jangan biarkan hatimu dikendalikan oleh kebencian. Tetaplah menjadi penjaga. Tetaplah menjaga hati."
"Apa pesan Bapak untukku?" tanya Sultan Hasan.
Kakek itu memandangnya lama. Kemudian ia berkata, "Kembalilah ke telaga. Suatu hari nanti. Ketika kau sudah lelah dengan dunia. Ketika kau sudah muak dengan kepalsuan manusia. Kembalilah ke telaga. Di sana, kau akan menemukan ketenangan. Di sana, kau akan menemukan Pandan Wangi."
Kakek itu berbalik. Ia berjalan meninggalkan Sultan Hasan dan Jaya. Langkahnya ringan, seperti tidak menyentuh tanah.
"Tunggu!" teriak Sultan Hasan. "Siapa sebenarnya Bapak?"
Kakek itu tidak menoleh. Ia terus berjalan, semakin jauh, semakin kecil, hingga akhirnya lenyap di antara pepohonan.
Yang tersisa hanyalah bisikan di angin. Samar. Tapi jelas.
"Aku adalah engkau di masa depan. Aku adalah engkau yang sudah tua. Aku adalah engkau yang sudah lelah dengan dunia. Aku adalah engkau yang memilih hidup di pinggir hutan, merenung, menunggu, mengingatkan dirimu sendiri. Jagalah hatimu, Sultan Hasan. Jangan biarkan ia mati sebelum waktunya."
Sultan Hasan terdiam.
Jaya juga terdiam.
Mereka berdua memandang ke arah kakek itu menghilang.
"Apakah itu tadi... kakek sungguhan?" bisik Jaya.
"Aku tidak tahu," kata Sultan Hasan. "Mungkin ia hantu. Mungkin ia jin. Mungkin ia halusinasi karena kita kelaparan. Atau mungkin..."
"Mungkin apa?"
"Mungkin ia benar. Mungkin ia adalah aku di masa depan. Yang kembali ke masa lalu untuk mengingatkanku."
Jaya menghela napas panjang. "Aku tidak mengerti apa-apa. Yang aku tahu, perutku kenyang setelah makan mangga. Dan itu sudah cukup."
Sultan Hasan tersenyum. Ia berdiri. "Ayo, kita lanjutkan perjalanan."
Mereka berdua berjalan meninggalkan pohon beringin itu. Meninggalkan tempat pertemuan dengan kakek misterius.
Di jari manis Sultan Hasan, batu akik merah berdenyut pelan. Hangat.
"Kau percaya itu aku di masa depan?" bisik batu itu.
"Aku tidak tahu. Mungkin. Mungkin tidak."
"Yang penting, pesannya benar. Kau harus kembali ke telaga. Suatu hari."
"Iya. Aku akan kembali. Tapi tidak sekarang. Sekarang aku harus ke ibu kota. Ada yang harus aku selesaikan."
Batu itu berdenyut sekali lagi. Lalu meredup.
Seolah setuju.
Mereka tiba di ibu kota keesokan harinya.
Gudang beras tempat mereka bekerja masih ada. Tuan Abdullah masih baik hati. Ia menerima mereka kembali dengan tangan terbuka.
"Kau sudah menyelesaikan urusan di kampung?" tanyanya.
"Sudah, Tuan."
"Bagus. Sekarang kembali bekerja. Banyak beras yang harus diangkut."
Sultan Hasan dan Jaya kembali ke rutinitas mereka. Pagi-pagi pergi ke gudang, mengangkut karung-karung beras, sore hari pulang ke kamar kontrakan, istirahat, tidur, lalu bangun lagi keesokan harinya.
Hidup berjalan seperti biasa.
Tapi tidak biasa bagi Sultan Hasan.
Ia terus memikirkan tentang kakek misterius di pinggir hutan. Tentang kata-katanya: "Kembalilah ke telaga." Tentang Pandan Wangi. Tentang cinta yang tidak harus memiliki.
Ia juga memikirkan tentang pusaka di jarinya. Tentang batu akik merah yang selalu berdenyut, selalu hangat, selalu setia menemaninya.
"Kau tidak perlu bingung," bisik batu itu suatu malam, saat Sultan Hasan terjaga sendirian di kamar kontrakannya. Jaya sudah tertidur pulas di sampingnya.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Sultan Hasan.
"Ikuti kata hatimu. Bukan kata otakmu. Otak bisa salah. Hati tidak pernah."
"Ikuti kata hati. Kata hati mengatakan aku harus kembali ke telaga. Tapi aku tidak bisa sekarang."
"Maka tunggu. Bersabar. Waktu akan membawamu ke sana. Pada saat yang tepat. Pada saat yang indah."
"Kapan?"
"Kau akan tahu."
Sultan Hasan menghela napas. Ia memejamkan mata.
Ia berdoa. Untuk Pandan Wangi. Untuk Mak Umi. Untuk Nini Mas Intan. Untuk Ki Ageng Jagaraga. Untuk Mardjo. Untuk semua yang pernah berjasa dalam hidupnya.
Kemudian ia tertidur.
Malam itu, ia tidak bermimpi tentang Pandan Wangi.
Ia bermimpi tentang telaga. Airnya jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang ditarik arus yang lembut.
Tapi Pandan Wangi tidak ada.
Hanya telaga kosong.
Sunyi.
Menunggu.
Seperti hati Sultan Hasan yang sedang menunggu.
Menunggu waktu yang tepat.
Menunggu saat yang indah.
Menunggu untuk kembali.
BAB XXVI
Sampai di Kota Pelabuhan
Tiga tahun lagi berlalu.
Sultan Hasan dan Jaya kini berusia delapan belas tahun. Usia di mana anak laki-laki mulai dianggap dewasa. Usia di mana mereka harus memikirkan masa depan. Usia di mana mereka harus menentukan pilihan.
Tiga tahun bekerja di gudang beras milik Tuan Abdullah telah membuat mereka sedikit mapan. Tabungan mereka cukup untuk menyewa rumah yang lebih layak: sebuah rumah kayu kecil di pinggiran kota, dengan dua kamar tidur, ruang tamu, dan dapur kecil. Bukan rumah mewah. Tapi cukup untuk mereka berdua.
Tapi Sultan Hasan merasa ada yang tidak beres. Ia tidak bahagia. Bekerja di gudang beras, mengangkut karung-karung beras dari kapal ke gudang dan dari gudang ke kapal, bukanlah panggilan jiwanya. Ia ingin lebih. Ia ingin melakukan sesuatu yang berarti. Ia ingin menjadi seseorang yang berguna bagi banyak orang.
"Kau ingin jadi apa?" tanya Jaya suatu malam, saat mereka duduk di beranda rumah mereka, menikmati angin malam yang sejuk.
"Aku tidak tahu," kata Sultan Hasan jujur. "Aku hanya tahu, aku tidak bisa terus begini. Mengangkut beras sampai tua. Tidak ada artinya."
"Arti itu relatif, Hasan. Bagi Tuan Abdullah, mengangkut beras itu artinya bisnis. Bagi keluarganya, mengangkut beras itu artinya rezeki. Bagi kita, mengangkut beras itu artinya hidup."
"Tapi hidup tidak hanya tentang makan dan tidur, Jaya. Ada yang lebih dari itu."
"Seperti apa?"
Sultan Hasan terdiam. Ia memandang langit malam yang gelap. Bintang-bintang bertaburan, seperti beras yang ditumpahkan.
"Seperti membantu orang. Seperti menolong yang lemah. Seperti membela yang tertindas. Seperti menjadi... penjaga."
"Penjaga apa?"
"Penjaga hati. Seperti yang diajarkan Nini Mas Intan. Seperti yang diajarkan Pandan Wangi. Seperti yang diajarkan Ki Ageng Jagaraga."
Jaya menghela napas panjang. "Kau masih saja dengan penjaga hati itu. Sudah bertahun-tahun kau meninggalkan telaga. Sudah bertahun-tahun kau tidak bertemu Pandan Wangi. Apakah kau tidak lupa?"
"Aku tidak bisa lupa, Jaya. Setiap malam, aku memimpikannya. Setiap saat, aku merindukannya. Setiap denyut batu di jariku, mengingatkanku padanya."
"Kau jatuh cinta, Hasan. Itu sudah jelas. Tapi cinta tidak harus memiliki. Kau bisa mencintai seseorang tanpa harus bersamanya. Kau bisa mendoakannya dari kejauhan."
"Apakah itu cukup?"
"Tidak ada yang cukup di dunia ini, Hasan. Manusia selalu menginginkan lebih. Tapi kadang, kita harus bersyukur dengan apa yang kita punya. Kau punya aku. Kau punya rumah ini. Kau punya pekerjaan. Kau punya tabungan. Itu sudah lebih dari cukup."
Sultan Hasan tersenyum. Ia menepuk pundak Jaya.
"Kau sahabat yang baik, Jaya. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan tanpa kau."
"Kau akan mati kelaparan di emperan toko," kata Jaya tertawa.
Mereka berdua tertawa. Tawa yang lepas. Tawa yang melupakan sejenak beban hidup.
Suatu pagi, Tuan Abdullah memanggil Sultan Hasan ke kantornya.
"Sultan," katanya, "aku punya tawaran untukmu."
"Apa itu, Tuan?"
"Aku punya sahabat di kota pelabuhan. Namanya Tuan Salim. Ia saudagar kaya, pemilik puluhan kapal. Ia butuh anak muda yang cerdas dan jujur untuk menjadi kepercayaannya. Aku sudah merekomendasikanmu."
Sultan Hasan terkejut. "Tuan... aku tidak pantas. Aku hanya kuli angkut."
"Kau bukan hanya kuli angkut, Sultan. Aku sudah mengamatimu selama tiga tahun. Kau pekerja keras. Kau jujur. Kau tidak pernah mencuri. Kau tidak pernah berbohong. Kau juga pintar. Aku dengar kau bisa membaca dan menulis. Kau juga hafal Al-Qur'an. Itu lebih dari cukup."
"Apa pekerjaannya nanti, Tuan?"
"Mengelola gudang. Menghitung barang. Berurusan dengan pedagang asing. Mungkin juga mengantar pesanan ke luar kota. Gajinya tiga kali lipat dari yang kau terima sekarang."
Sultan Hasan menarik napas. Tiga kali lipat. Itu banyak. Itu bisa mengubah hidupnya. Ia bisa membeli rumah yang lebih baik. Ia bisa membantu Lastri yang masih sendiri di Kota Prapatan. Ia bisa menyumbang untuk anak-anak yatim.
Tapi ia juga harus meninggalkan Kota Rajapura. Meninggalkan rumah yang sudah ia tempati tiga tahun. Meninggalkan rutinitas yang sudah ia jalani.
Dan yang paling penting, ia harus meninggalkan Jaya.
"Bagaimana dengan Jaya?" tanyanya.
"Jaya boleh ikut. Aku juga butuh anak muda sepertinya."
Sultan Hasan menghela napas lega. "Baik, Tuan. Aku terima."
"Bagus. Besok kau berangkat. Aku sudah menyiapkan surat untuk Tuan Salim."
Perjalanan ke kota pelabuhan memakan waktu lima hari.
Kota itu bernama Bandar Cendana. Kota pelabuhan terbesar di Kerajaan Nusantara. Kapal-kapal besar dari berbagai negara bersandar di dermaganya. Pedagang-pedagang dari Tiongkok, India, Arab, dan Eropa berjualan di pasar-pasarnya. Bahasanya campur aduk. Bajunya warna-warni. Wajahnya beragam.
Sultan Hasan belum pernah melihat keragaman seperti ini. Matanya berbinar. Jaya juga sama.
"Ini... luar biasa," bisik Jaya.
"Ini dunia," kata Sultan Hasan.
Mereka berdua masuk ke dalam kota. Mencari rumah Tuan Salim.
Tuan Salim adalah saudagar kaya. Rumahnya besar, bertingkat dua, dengan halaman yang luas dan taman yang indah. Di depan rumah, dua penjaga berdiri dengan gagah, memegang tombak.
Sultan Hasan menunjukkan surat dari Tuan Abdullah. Penjaga itu membacanya (ia bisa membaca), lalu mengangguk. "Masuk. Tuan Salim sudah menunggu."
Tuan Salim adalah lelaki paruh baya, gemuk, dengan janggut tebal dan kumis yang dirapikan. Ia memakai pakaian Arab: jubah putih dan sorban. Matanya cekung, tapi tajam.
"Kau Sultan Hasan?" tanyanya dengan suara berat.
"Iya, Tuan."
"Aku sudah dengar banyak tentang kau dari Tuan Abdullah. Katanya kau pekerja keras. Jujur. Pintar. Aku butuh orang sepertimu."
"Terima kasih, Tuan. Aku akan berusaha sebaik mungkin."
"Bagus. Sekarang, ikut aku. Aku akan tunjukkan gudang dan kapal-kapal."
Gudang Tuan Salim sangat besar. Lebih besar dari sepuluh gudang Tuan Abdullah digabungkan. Di dalamnya, bertumpuk karung-karung beras, gula, kopi, rempah-rempah, dan kain. Juga peti-peti kayu berisi barang-barang dari luar negeri.
"Ini gudang utama," kata Tuan Salim. "Kau akan bertanggung jawab di sini. Mencatat barang masuk dan keluar. Memastikan tidak ada yang hilang. Menjaga kualitas. Kau bisa?"
"Saya bisa, Tuan."
"Bagus. Jaya, kau akan membantu Sultan. Kau juga harus belajar. Jangan cuma jadi kuli angkut terus."
"Iya, Tuan," kata Jaya.
Mereka mulai bekerja keesokan harinya.
Hari-hari berlalu. Bulan-bulan berganti.
Sultan Hasan belajar dengan cepat. Ia hafal semua jenis barang. Ia hafal harga. Ia hafal nama-nama pedagang. Ia juga belajar bahasa asing: sedikit bahasa Arab, sedikit bahasa Tionghoa, sedikit bahasa Inggris. Cukup untuk berkomunikasi.
Tuan Salim semakin percaya padanya. Ia sering mengajak Sultan Hasan berunding tentang bisnis. Kadang ia menitipkan pesan penting. Kadang ia meminta Sultan Hasan mewakilinya dalam pertemuan dengan pedagang asing.
"Kau punya bakat," kata Tuan Salim suatu hari. "Kau tidak hanya pekerja keras. Kau juga cerdas. Aku akan promosikan kau menjadi manajer."
"Terima kasih, Tuan," kata Sultan Hasan.
"Tapi ingat," Tuan Salim menatap matanya tajam. "Jangan khianati kepercayaanku. Aku benci pengkhianat."
"Saya tidak akan pernah mengkhianati Tuan," kata Sultan Hasan.
Tuan Salim tersenyum. "Aku percaya padamu."
Sultan Hasan menjadi kaya.
Bukan kaya seperti Tuan Salim. Tapi cukup untuk hidup layak. Ia membeli rumah kecil di dekat pantai. Bukan rumah mewah. Tapi nyaman. Dari beranda rumahnya, ia bisa melihat laut. Ia bisa mendengar debur ombak. Ia bisa mencium bau garam.
Ia juga mengirim uang untuk Lastri setiap bulan. Lastri sekarang hidup lebih layak di Kota Prapatan. Ia tidak perlu bekerja keras. Ia bisa istirahat di hari tua.
Jaya tetap bersamanya. Mereka berdua masih tinggal satu rumah. Jaya belum menikah. Sultan Hasan juga belum.
"Dua pemuda tampan, kaya, tapi tidak punya istri," canda Jaya suatu hari. "Orang-orang akan mengira kita aneh."
"Biarkan mereka," kata Sultan Hasan. "Aku belum siap menikah. Masih banyak yang harus aku kerjakan."
"Seperti apa?"
"Seperti membantu orang miskin. Seperti menyumbang untuk panti asuhan. Seperti membangun masjid. Seperti menjadi penjaga hati."
Jaya menghela napas. "Kau masih saja dengan penjaga hati itu. Sudah bertahun-tahun kau tinggalkan telaga. Apa kau tidak bosan?"
"Aku tidak bosan, Jaya. Sebaliknya, aku semakin yakin. Bahwa inilah panggilanku. Menjaga hati. Membantu sesama. Menjadi berguna bagi orang lain."
Jaya tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.
Ia bangga pada Sultan Hasan. Sahabatnya itu tidak berubah. Meski kaya, meski sukses, ia tetap rendah hati. Tetap baik. Tetap peduli pada orang lain.
"Kau memang penjaga hati," kata Jaya akhirnya. "Penjaga hati yang baik."
Sultan Hasan tersenyum. Ia memandang cincin di jarinya. Batu akik merah itu berdenyut pelan. Hangat.
"Kau hebat," bisik batu itu. "Aku bangga menjadi pusakamu."
"Terima kasih," bisik Sultan Hasan balik.
Ia memandang ke timur. Ke arah Dukuh Wangi. Ke arah telaga. Ke arah Pandan Wangi.
"Suatu hari," bisiknya. "Aku akan kembali. Aku janji."
Di kejauhan, meski tidak mungkin, ia mendengar suara burung hantu. Samar. Tapi jelas.
Sekali. Pendek.
Seperti jawaban: "Aku menunggumu."
Sultan Hasan tersenyum. Ia masuk ke dalam rumah.
Bersama Jaya, ia makan malam. Ia tertawa. Ia bercerita tentang masa lalu, tentang Dukuh Wangi, tentang telaga, tentang Pandan Wangi.
Jaya mendengarkan. Kadang tertawa. Kadang menggeleng.
Mereka adalah saudara. Bukan saudara sedarah. Tapi saudara seperjuangan.
Dan itu sudah cukup.
BAB XXVII
Belajar Silat: Pendekar Tua Membelanya Saat Ia Dipukuli
Empat tahun Sultan Hasan tinggal di Bandar Cendana. Empat tahun yang penuh dengan kesuksesan, kekayaan, dan ketenaran. Namanya dikenal sebagai manajer kepercayaan Tuan Salim. Ia disegani oleh pedagang-pedagang lain. Ia dihormati oleh para pekerjanya. Ia juga disukai oleh para tetangganya karena kebaikan hatinya.
Tapi ketenaran juga menarik iri hati.
Ada seorang saudagar lain di Bandar Cendana, namanya Tuan Mahmud. Ia adalah pesaing bisnis Tuan Salim. Selama bertahun-tahun, ia berusaha menjatuhkan Tuan Salim, tapi selalu gagal. Kini, dengan adanya Sultan Hasan yang cerdas dan jujur, usaha Tuan Mahmud semakin terhambat.
"Anak itu harus disingkirkan," kata Tuan Mahmud pada anak buahnya. "Kalau tidak, kita tidak akan pernah bisa mengalahkan Tuan Salim."
Anak buahnya mengangguk. Mereka merencanakan sesuatu.
Suatu malam, saat Sultan Hasan sedang berjalan pulang sendirian dari gudang (Jaya sedang sakit, tidak bisa menemaninya), sekelompok lelaki menghadangnya di gang sempit.
"Kau Sultan Hasan?" tanya pemimpin mereka, seorang laki-laki botak dengan tubuh kekar dan wajah penuh bekas luka.
"Siapa yang bertanya?" jawab Sultan Hasan tenang.
"Kami utusan Tuan Mahmud. Ada pesan untukmu: Tinggalkan kota ini. Atau kau akan celaka."
"Aku tidak akan pergi. Aku punya pekerjaan di sini. Aku punya tanggung jawab."
"Kau sudah diperingatkan."
Pemimpin botak itu mengayunkan tinjunya ke wajah Sultan Hasan. Sultan Hasan mencoba menghindar, tapi ia tidak cukup cepat. Tinju itu mengenai pipi kirinya. Ia tersungkur ke tanah.
Laki-laki botak itu tertawa. "Rupanya kau tidak bisa berkelahi. Manajer hebat, tapi babak belur dalam hitungan detik."
Mereka terus memukuli Sultan Hasan. Tendangan. Tinju. Pukulan. Sultan Hasan berusaha melindungi kepalanya dengan kedua tangan, tapi ia tidak bisa berbuat banyak. Ia tidak pandai berkelahi. Silat yang diajarkan Ki Ageng Jagaraga dulu sudah lama tidak ia latih.
"Bangun!" bisik batu akik merah di jarinya. Panas. Sangat panas. "Lawan mereka!"
Tapi Sultan Hasan tidak bisa. Tubuhnya lemas. Rasa sakit di sekujur tubuhnya membuatnya sulit bergerak.
Di tengah pukulan dan tendangan itu, tiba-tiba terdengar suara lantang.
"BERHENTI!"
Semua orang menoleh.
Seorang lelaki tua berdiri di ujung gang. Tinggi. Kekar meski usianya sudah tidak muda. Rambutnya putih semua, disanggul rapi di atas kepala. Jenggotnya putih, panjang hingga ke dada. Ia memakai pakaian hitam, seperti pendekar. Di pinggangnya, terselip sebilah pedang lurus.
"Kalian berani memukuli seorang pemuda sendirian?" suaranya menggelegar. "Awas, aku akan habisi kalian semua!"
Laki-laki botak itu tertawa. "Kakek-kakek mau ikut campur? Kau pikir kau masih muda? Pergi sana, sebelum kau kena batunya!"
Pendekar tua itu tersenyum. Tanpa banyak bicara, ia melompat. Gerakannya cepat. Sangat cepat. Secepat kilat. Dalam hitungan detik, tiga orang anak buah Tuan Mahmud sudah tergeletak di tanah, mengaduh kesakitan. Laki-laki botak itu sendiri terpental ke belakang, mukanya babak belur.
"Kakek... kakek siapa?" tanya laki-laki botak itu dengan suara gemetar.
"Namaku tidak penting," kata pendekar tua itu. "Yang penting, kalian cabut dari sini. Jangan pernah kembali. Atau kalian akan merasakan pedangku."
Laki-laki botak itu tidak perlu didorong dua kali. Ia dan anak buahnya berhamburan lari, meninggalkan Sultan Hasan yang masih tergeletak di tanah.
Pendekar tua itu berjongkok di samping Sultan Hasan. "Kau tidak apa-apa?"
"Aku... aku tidak apa-apa," kata Sultan Hasan sambil terhuyung bangkit.
"Kau berbohong. Mukamu babak belur. Pipimu biru. Bibirmu berdarah. Tapi kau keras kepala. Aku suka."
"Siapa Bapak? Kenapa Bapak menolongku?"
Pendekar tua itu tersenyum. "Aku Kyai Buyut Cakar Mase. Aku dulu panglima perang kerajaan. Sekarang aku sudah pensiun. Aku tinggal di gunung, di sebelah timur kota. Aku suka berjalan-jalan malam. Dan malam ini, aku melihat sekelompok pengecut memukuli seorang pemuda sendirian. Aku tidak suka ketidakadilan."
"Terima kasih, Kyai."
"Jangan berterima kasih. Kau bisa berkelahi? Dari gerakanmu tadi, kelihatannya kau punya dasar silat. Tapi sudah lama tidak kau latih, sehingga gerakanmu kaku."
Sultan Hasan terkejut. "Kyai bisa melihat itu?"
"Aku panglima perang, Nak. Aku sudah melatih ribuan prajurit. Aku bisa menilai kemampuan seseorang hanya dengan melihat gerakannya selama tiga detik."
"Benar, Kyai. Aku belajar silat dulu, dari seorang pertapa di hutan. Namanya Ki Ageng Jagaraga. Tapi sudah bertahun-tahun aku tidak berlatih. Aku sibuk dengan pekerjaan."
"Ki Ageng Jagaraga?" Kyai Buyut Cakar Mase mengerutkan kening. "Aku kenal dia. Kami dulu pernah bertempur bersama melawan penjajah. Ia pendekar yang hebat. Ilmunya tidak main-main. Sayang ia memilih mengasingkan diri."
"Kyai kenal Ki Ageng?"
"Kenal. Tapi itu cerita lama. Sekarang, bagaimana denganmu? Kau mau terus jadi korban? Atau kau mau belajar membela diri?"
Sultan Hasan terdiam. Ia memandang Kyai Buyut Cakar Mase. Lelaki tua itu tinggi besar, meski usianya sudah tidak muda. Matanya tajam. Tangannya kekar. Ada aura kewibawaan yang memancar dari dirinya.
"Aku mau belajar, Kyai," kata Sultan Hasan akhirnya.
"Bagus. Tapi aku tidak bisa mengajar gratis. Ada syaratnya."
"Apa syaratnya, Kyai?"
"Kau harus menjadi murid yang setia. Tidak bolos. Tidak malas. Tidak mengeluh. Dan yang paling penting: ilmu yang kau dapat, harus kau gunakan untuk membela kebenaran, bukan untuk kesombongan."
"Aku siap, Kyai."
"Bagus. Besok pagi, sebelum matahari terbit, kau datang ke gunung. Ke tempat tinggalku. Aku akan tunjukkan jalannya. Jangan telat."
"Baik, Kyai."
Kyai Buyut Cakar Mase berbalik. Ia berjalan meninggalkan gang sempit itu, melangkah perlahan, dengan penuh wibawa.
Sultan Hasan memandangnya sampai lenyap di kegelapan malam.
Di jari manisnya, batu akik merah berdenyut kencang. Hangat.
"Kau beruntung," bisik batu itu. "Kyai itu pendekar hebat. Belajarlah dengan sungguh-sungguh."
"Aku akan," bisik Sultan Hasan balik.
Ia memijat pipinya yang biru. Sakit. Tapi tidak terlalu parah.
Ia berjalan pulang, perlahan-lahan.
Jaya yang sedang terbaring sakit di rumah, terkejut melihat wajah Sultan Hasan yang babak belur. "Ada apa? Siapa yang memukulimu?"
"Utusan Tuan Mahmud. Mereka memperingatkanku untuk meninggalkan kota."
"Tuan Mahmud? Saudagar pesaing Tuan Salim? Kenapa ia berani?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku tidak akan pergi. Aku akan melawan."
"Kau tidak bisa berkelahi, Hasan! Kau akan mati!"
"Mulai besok, aku akan belajar silat. Ada pendekar tua yang mau mengajariku."
Jaya terdiam. Ia memandang Sultan Hasan. Matanya berkaca-kaca.
"Kau serius?"
"Aku serius."
"Baiklah. Tapi hati-hati. Jangan sampai kau celaka."
"Aku akan hati-hati."
Esok paginya, sebelum matahari terbit, Sultan Hasan sudah berada di gunung.
Kyai Buyut Cakar Mase tinggal di sebuah padepokan kecil. Bangunannya sederhana: beberapa pondok kayu, sebuah balai latihan, dan sebuah sumur. Di halaman, tersusun rapi berbagai macam senjata: pedang, tombak, keris, bambu runcing.
"Kau datang," kata Kyai Buyut Cakar Mase yang sudah duduk di balai latihan. "Tepat waktu. Bagus."
"Aku sudah berjanji, Kyai."
"Sebelum mulai, aku mau tanya: kenapa kau ingin belajar silat? Untuk balas dendam pada Tuan Mahmud? Atau untuk melindungi diri?"
"Untuk melindungi diri. Dan untuk melindungi orang lain."
"Orang lain? Siapa?"
"Teman-temanku. Keluargaku. Siapa pun yang tidak bisa melindungi dirinya sendiri."
Kyai Buyut Cakar Mase tersenyum. "Jawaban yang baik. Aku terima kau sebagai murid."
Ia berdiri. "Sekarang, kita mulai. Aku akan mengajarimu jurus dasar dulu. Perhatikan gerakanku."
Kyai Buyut Cakar Mase bergerak. Lambat pada awalnya. Kemudian semakin cepat. Tangannya berputar. Kakinya melangkah. Tubuhnya berputar. Semua gerakannya indah, mengalir seperti air.
Sultan Hasan memperhatikan dengan saksama. Ia berusaha mengingat setiap gerakan.
"Sekarang, kau coba."
Sultan Hasan mencoba menirukan. Kaku. Tersendat-sendat. Tidak ada bandingannya dengan Kyai.
"Kau sudah lama tidak berlatih," kata Kyai. "Tapi dasarnya masih ada. Otot-ototmu masih ingat gerakan-gerakan itu. Hanya perlu diasah lagi."
"Berapa lama aku harus berlatih, Kyai?"
"Tergantung kemauanmu. Ada yang bisa menguasai jurus dasar dalam sebulan. Ada yang setahun. Ada yang sepuluh tahun. Tapi yang paling penting bukan kecepatan. Tapi ketekunan."
"Aku akan tekun, Kyai."
"Bagus. Sekarang, ulangi lagi. Sampai kau hafal."
Sultan Hasan mengulang. Lagi. Lagi. Lagi.
Sampai matahari naik tinggi. Sampai keringat membasahi seluruh tubuhnya. Sampai kakinya terasa lemas dan tangannya gemetar.
"Istirahat," kata Kyai. "Besok lanjut."
Sultan Hasan menghela napas lega. Ia duduk di tanah, melepaskan lelah.
"Kyai," katanya. "Boleh aku bertanya?"
"Tentu."
"Kenapa Kyai mau mengajariku? Kyai tidak kenal aku. Kyai tidak tahu latar belakangku."
Kyai Buyut Cakar Mase tersenyum. "Karena kau punya tanda di keningmu. Tanda penjaga."
Sultan Hasan terkejut. "Kyai tahu tentang tanda itu?"
"Aku tahu. Karena dulu, aku juga punya tanda yang sama."
Kyai Buyut Cakar Mase membuka rambutnya yang putih. Di keningnya, tepat di antara dua alis, ada sebuah tanda. Bulat. Kecil. Tapi warnanya sudah pudar. Hampir tidak terlihat.
Sama seperti Ki Ageng Jagaraga.
"Kyai juga penjaga hati?" tanya Sultan Hasan.
"Dulu. Tapi aku gagal. Aku terlalu sibuk dengan perang. Terlalu sibuk dengan kekuasaan. Aku lupa bahwa tugas utama penjaga hati adalah menjaga hati. Bukan menjaga wilayah. Bukan menjaga kehormatan. Bukan menjaga kekayaan. Tapi menjaga hati."
"Lalu sekarang?"
"Sekarang aku sudah tua. Tandaku sudah hampir hilang. Aku sudah tidak layak disebut penjaga. Tapi aku masih bisa mengajar. Aku masih bisa mewariskan ilmu. Dan ketika aku melihat kau... dengan tanda di keningmu yang masih merah... aku tahu, kau adalah penerus. Kau adalah penjaga hati yang sesungguhnya."
Sultan Hasan tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya memandang Kyai Buyut Cakar Mase dengan perasaan campur aduk.
"Jangan kecewakan aku, Nak," kata Kyai. "Jaga hatimu. Jaga pusakamu. Jaga telagamu. Dan jangan ulangi kesalahanku."
"Aku tidak akan mengecewakan Kyai," kata Sultan Hasan.
"Bagus. Sekarang, pulanglah. Besok datang lagi. Dan jangan lupa bawa bekal untuk dua orang."
"Untuk siapa lagi, Kyai?"
"Untukmu dan untukku. Kau kira aku makan apa di sini? Daun?"
Sultan Hasan tersenyum. Ia ingat pada Ki Ageng Jagaraga yang dulu juga memintanya membawa bekal.
Ia berdiri. Ia membungkuk hormat.
"Selamat tinggal, Kyai."
"Selamat jalan, Nak."
Sultan Hasan berjalan pulang. Langkahnya ringan. Hatinya senang.
Ia akan belajar silat lagi. Ia akan menjadi pendekar. Ia akan membela kebenaran. Ia akan melindungi yang lemah.
Ia akan menjadi penjaga hati yang sesungguhnya.
Di jari manisnya, batu akik merah berdenyut pelan. Hangat.
"Kau hebat," bisik batu itu. "Aku bangga menjadi pusakamu."
Sultan Hasan tersenyum. Ia memandang ke timur. Ke arah Dukuh Wangi. Ke arah telaga. Ke arah Pandan Wangi.
"Suatu hari," bisiknya. "Aku akan kembali."
Di kejauhan, meski tidak mungkin, ia mendengar suara burung hantu. Samar. Tapi jelas.
Sekali. Pendek.
Seperti jawaban: "Aku menunggumu."
BAB XXVIII
Malam di Gudang Tua: Menemukan Kitab Tujuh Penjaga
Tiga bulan Sultan Hasan berlatih silat di bawah bimbingan Kyai Buyut Cakar Mase. Tiga bulan yang penuh dengan keringat, rasa sakit, dan kepuasan. Tubuhnya yang sempat kaku karena bertahun-tahun tidak berlatih, kini mulai lentur kembali. Gerakannya yang dulu tersendat-sendat, kini mulai mengalir seperti air. Otot-ototnya yang sempat kendur, kini mulai kekar kembali.
"Kau cepat belajar," kata Kyai Buyut Cakar Mase suatu hari. "Lebih cepat dari yang kuduga. Mungkin dalam setahun, kau sudah bisa mengalahkan kebanyakan pendekar di kota ini."
"Terima kasih, Kyai," kata Sultan Hasan. "Itu karena Kyai guru yang baik."
"Bukan karena aku. Tapi karena kau punya bakat. Dan karena pusaka di jarimu membantumu."
Sultan Hasan memandang cincin batu akik merah di jarinya. Batu itu berdenyut pelan. Hangat.
"Aku hanya membantu sedikit," bisik batu itu. "Yang utama adalah kemauanmu sendiri."
"Pusakamu bisa bicara?" tanya Kyai Buyut Cakar Mase.
Sultan Hasan terkejut. "Kyai bisa mendengarnya?"
"Tidak. Tapi aku bisa melihat dari reaksi wajahmu. Pusakamu sedang bicara padamu, kan?"
"Iya, Kyai."
"Kau beruntung. Tidak semua pemilik pusaka bisa mendengar suara pusakanya. Itu tanda bahwa kau dipilih. Itu tanda bahwa kau memang penjaga hati sejati."
Kyai Buyut Cakar Mase berdiri. Ia berjalan ke dalam pondoknya, lalu keluar lagi dengan membawa sebuah benda yang dibungkus kain hitam.
"Ini untukmu," katanya sambil menyerahkan bungkusan itu.
"Apa ini, Kyai?"
"Buka saja."
Sultan Hasan membuka bungkusan itu. Di dalamnya, ada sebuah kitab. Tebal. Sampulnya dari kulit, sudah usang, penuh dengan goresan dan bekas air. Halamannya dari kertas kuning kecokelatan, berbau apek. Di sampulnya, tertera tulisan dalam aksara Jawa kuno.
"Kitab Tujuh Penjaga," baca Sultan Hasan. "Apa ini, Kyai?"
"Kitab itu adalah kitab suci bagi para penjaga hati. Berisi ajaran-ajaran tentang bagaimana menjaga hati, bagaimana mengendalikan emosi, bagaimana menaklukkan nafsu, bagaimana mencintai dengan tulus. Kitab itu ditulis oleh tujuh orang penjaga hati yang hidup ribuan tahun lalu. Mereka mengumpulkan semua pengalaman mereka, semua kegagalan mereka, semua keberhasilan mereka, lalu menuliskannya dalam kitab ini."
"Kenapa Kyai memberikannya padaku?"
"Karena kau adalah penjaga hati sekarang. Kitab itu harus kau jaga. Kau pelajari. Kau amalkan. Dan suatu hari nanti, kau wariskan pada generasi berikutnya."
Sultan Hasan memegang kitab itu dengan hormat. Telapak tangannya bergetar.
"Tapi Kyai," katanya. "Aku tidak bisa membaca aksara Jawa kuno. Aku hanya bisa membaca aksara biasa."
"Kau bisa belajar. Aku akan mengajarimu. Setiap malam, sepuluh halaman. Aku akan membacakan, kau akan mendengarkan. Aku akan menjelaskan, kau akan memahami."
"Terima kasih, Kyai."
"Jangan berterima kasih dulu. Mulai malam ini, kau akan belajar. Siapkan hatimu. Karena ajaran dalam kitab ini tidak mudah. Kadang menyakitkan. Kadang membingungkan. Tapi jika kau bisa memahaminya, kau akan menjadi penjaga hati yang sesungguhnya."
Malam itu, di pondok kecil Kyai Buyut Cakar Mase, Sultan Hasan memulai pelajaran pertamanya tentang Kitab Tujuh Penjaga.
Kyai Buyut Cakar Mase membuka halaman pertama. Halaman itu hanya berisi satu kalimat. Ditulis dengan aksara yang indah, penuh dengan hiasan.
"Bacakan, Kyai," kata Sultan Hasan.
Kyai itu mulai membaca. Suaranya berat, dalam, bergema di dalam pondok yang sunyi.
"Penjaga hati bukanlah orang yang tak pernah terluka. Tapi orang yang lukanya tidak membuatnya lupa mencintai."
Sultan Hasan terkesiap. Kalimat itu persis seperti yang pernah diajarkan Pandan Wangi dulu, di tepi telaga, di malam purnama.
"Aku pernah mendengar kalimat ini, Kyai," katanya. "Dari seorang teman. Di telaga."
Kyai Buyut Cakar Mase mengangguk. "Kalimat itu adalah kalimat pembuka kitab ini. Setiap penjaga hati harus menghafalnya. Karena di dalam kalimat itu, terkandung seluruh ajaran tentang menjaga. Tidak terlalu keras. Tidak terlalu lemah. Seimbang. Seperti napas."
Kyai itu melanjutkan membaca. Halaman demi halaman. Bab demi bab.
Sultan Hasan mendengarkan dengan saksama. Matanya tidak berkedip. Hatinya terbuka lebar. Setiap kata masuk ke dalam jiwanya seperti air yang meresap ke tanah kering.
Kitab itu mengajarkan tentang tujuh tingkatan menjaga:
Tingkat pertama: Menjaga hati sendiri. Yaitu dengan mengendalikan emosi, tidak membiarkan amarah menguasai diri, tidak membiarkan kesedihan melumpuhkan jiwa.
Tingkat kedua: Menjaga hati orang yang dicintai. Yaitu dengan setia, dengan jujur, dengan tidak menyakiti, dengan tidak mengkhianati.
Tingkat ketiga: Menjaga hati keluarga. Yaitu dengan berbakti pada orang tua, menyayangi saudara, mendidik anak dengan kasih sayang.
Tingkat keempat: Menjaga hati tetangga dan sahabat. Yaitu dengan tolong-menolong, dengan tidak iri hati, dengan tidak menggunjing.
Tingkat kelima: Menjaga hati masyarakat. Yaitu dengan berlaku adil, dengan membela yang lemah, dengan menegakkan kebenaran.
Tingkat keenam: Menjaga hati musuh. Yaitu dengan memaafkan, dengan tidak membalas dendam, dengan mengubah kebencian menjadi kasih.
Tingkat ketujuh: Menjaga hati alam semesta. Yaitu dengan merawat lingkungan, dengan tidak merusak, dengan hidup selaras dengan alam.
"Tujuh tingkatan itu," kata Kyai Buyut Cakar Mase, "harus kau lalui satu per satu. Tidak bisa melompat. Karena setiap tingkat mempersiapkanmu untuk tingkat berikutnya."
"Aku sudah berada di tingkat berapa, Kyai?" tanya Sultan Hasan.
"Kau sudah melewati tingkat pertama, kedua, dan mungkin ketiga. Tapi tingkat keempat, kelima, keenam, dan ketujuh, masih panjang. Masih banyak yang harus kau pelajari."
"Aku akan belajar, Kyai. Aku tidak akan berhenti."
"Aku tahu. Karena kau adalah penjaga hati."
Malam-malam berikutnya, Sultan Hasan terus belajar. Setiap habis berlatih silat, ia duduk di pondok Kyai Buyut Cakar Mase, membuka Kitab Tujuh Penjaga, mempelajari ajaran demi ajaran.
Jaya kadang ikut. Kadang tidak. Jaya tidak seantusias Sultan Hasan dalam hal-hal spiritual. Tapi ia tetap mendukung sahabatnya.
"Kau berubah," kata Jaya suatu hari. "Sejak belajar kitab itu, matamu berbeda. Ada cahaya di sana. Cahaya yang tidak pernah aku lihat sebelumnya."
"Mungkin karena aku menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku," kata Sultan Hasan. "Tentang hidup. Tentang cinta. Tentang menjaga."
"Kau sudah menemukan jawaban tentang Pandan Wangi?"
Sultan Hasan tersenyum. "Aku menemukan bahwa cinta tidak harus memiliki. Cinta bisa dengan mendoakan. Cinta bisa dengan menjaga hati. Cinta bisa dengan menjadi orang yang lebih baik, karena ia pasti bangga melihatku."
Jaya mengangguk. "Itu jawaban yang dewasa. Aku bangga padamu, Hasan."
Mereka berdua tersenyum.
Suatu malam, Sultan Hasan bermimpi.
Dalam mimpinya, ia berdiri di perpustakaan tua. Rak-rak buku menjulang tinggi hingga ke langit-langit, penuh dengan kitab-kitab kuno. Debu beterbangan di mana-mana. Cahaya lilin yang temaram menerangi ruangan itu.
Di tengah ruangan, duduk tujuh orang lelaki dan perempuan. Usia mereka berbeda-beda. Ada yang masih muda, ada yang sudah tua. Ada yang berjanggut panjang, ada yang berambut gondrong. Mereka memakai pakaian dari berbagai zaman.
"Sultan Hasan," kata salah seorang dari mereka, seorang lelaki tua dengan jubah putih. "Kami adalah Tujuh Penjaga. Penulis kitab yang kau pelajari."
Sultan Hasan tercengang. "Kalian... masih hidup?"
"Roh kami masih hidup. Tubuh kami sudah mati ratusan tahun lalu. Tapi roh kami tetap ada, untuk menjaga kitab ini, dan untuk menjaga para penjaga yang membaca kitab ini."
"Kenapa aku bisa bermimpi bertemu kalian?"
"Karena kau sudah membaca kitab kami dengan sungguh-sungguh. Karena kau sudah menghafal ajaran-ajaran kami. Karena kau adalah penjaga hati yang sesungguhnya. Kami ingin memberimu pesan."
"Apa pesannya?"
Lelaki tua itu berdiri. Ia berjalan mendekati Sultan Hasan. Tangannya yang keriput menyentuh kening Sultan Hasan, tepat di tempat tanda merah itu berada.
"Jagalah telaga itu," bisiknya. "Jagalah Pandan Wangi. Ia adalah kunci dari segalanya. Tanpa dia, kau tidak akan pernah menjadi penjaga hati yang sempurna."
"Tapi aku sudah meninggalkan telaga itu. Aku sudah bertahun-tahun tidak kembali."
"Kau akan kembali. Pada waktunya. Pada saat yang tepat. Pada tempat yang tepat. Jangan khawatir."
Lelaki tua itu mundur. Ia kembali ke tempat duduknya.
"Selamat jalan, Sultan Hasan. Kami akan selalu menjagamu dari alam ini."
Kemudian mereka semua menghilang.
Sultan Hasan terbangun.
Ia duduk di tempat tidurnya. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Jaya tidur di sampingnya, tidak terganggu.
Ia memandang cincin di jarinya. Batu akik merah itu berdenyut kencang. Sangat kencang. Seperti jantung yang akan meledak.
"Kau melihat mereka?" bisik batu itu.
"Aku melihat mereka. Tujuh Penjaga."
"Mereka jarang muncul. Hanya pada penjaga hati pilihan."
"Kenapa mereka muncul padaku?"
"Karena kau sudah siap. Siap untuk tingkat berikutnya."
"Apa tingkat berikutnya?"
"Kembali ke telaga. Menyelesaikan apa yang belum selesai."
Sultan Hasan terdiam.
Ia memandang ke timur. Ke arah Dukuh Wangi. Ke arah telaga. Ke arah Pandan Wangi.
Mungkin sudah waktunya.
Mungkin sudah saatnya.
Mungkin sekarang.
Esok paginya, Sultan Hasan berbicara pada Jaya.
"Aku akan kembali ke Dukuh Wangi."
Jaya terkejut. "Kapan?"
"Segera. Mungkin besok. Atau lusa. Ada yang harus aku selesaikan di sana."
"Aku ikut."
"Kau yakin? Pekerjaanmu di sini?"
"Pekerjaan bisa dicari lagi. Tapi sahabat sepertimu, tidak."
Sultan Hasan tersenyum. Ia memeluk Jaya.
"Terima kasih, Jaya. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan tanpa kau."
"Kau akan mati kelaparan di emperan toko," kata Jaya tertawa.
Mereka berdua tertawa.
Mereka segera mengurus semua keperluan. Pamit pada Tuan Salim. Tuan Salim sedih kehilangan Sultan Hasan, tapi ia mengerti. "Kau harus menyelesaikan urusanmu," katanya. "Setelah selesai, kau bisa kembali. Pekerjaanmu masih menunggumu."
"Terima kasih, Tuan," kata Sultan Hasan.
Mereka juga pamit pada Kyai Buyut Cakar Mase. Kyai tua itu tersenyum. "Aku tahu kau akan pergi. Tanda di keningmu semakin merah akhir-akhir ini. Itu pertanda bahwa kau harus menyelesaikan misimu."
"Apa misiku, Kyai?"
"Kau akan tahu nanti."
Kyai Buyut Cakar Mase memberkati mereka. Ia memeluk Sultan Hasan. "Jagalah kitab itu. Jagalah pusakamu. Jagalah telagamu. Dan jagalah Pandan Wangi."
"Aku akan, Kyai."
Mereka berjalan meninggalkan padepokan. Menuju ke barat. Menuju Dukuh Wangi. Menuju telaga. Menuju Pandan Wangi.
Di belakang mereka, Kyai Buyut Cakar Mase berdiri di depan pondoknya, melambaikan tangan.
"Selamat jalan, penjaga hati," bisiknya. "Dunia menunggumu."
Di kejauhan, meski tidak mungkin, Sultan Hasan mendengar suara burung hantu. Samar. Tapi jelas.
Sekali. Pendek.
Seperti sambutan. Seperti panggilan. Seperti seruan untuk kembali ke rumah.
Sultan Hasan tersenyum. Ia melangkah.
Bersama Jaya, ia berjalan pulang.
BAB XXIX
Usia 17 Tahun: Badan Tegap, Paras Tampan, dan Jatuh Cinta
Perjalanan dari Bandar Cendana ke Dukuh Wangi memakan waktu tujuh hari.
Tujuh hari melewati hutan, melewati sungai, melewati bukit-bukit yang terjal. Tapi kali ini berbeda dengan perjalanan-perjalanan sebelumnya. Sultan Hasan dan Jaya tidak berjalan kaki seperti dulu. Mereka menyewa dua ekor kuda. Bukan kuda bagus. Tapi cukup untuk mempercepat perjalanan.
Mereka juga membawa bekal yang cukup. Roti, daging asin, keju, dan air dalam botol tanah. Tidak ada lagi cerita kelaparan di tengah hutan. Tidak ada lagi tidur di emperan toko. Mereka sudah bukan anak-anak miskin yang dulu. Mereka adalah pemuda kaya, sukses, dan terhormat.
Tapi di mata Sultan Hasan, semua kekayaan dan kesuksesan itu tidak ada artinya jika ia tidak bisa kembali ke telaga. Jika ia tidak bisa bertemu dengan Pandan Wangi. Jika ia tidak bisa menyelesaikan apa yang belum selesai.
"Kau gugup?" tanya Jaya, melihat Sultan Hasan termenung di atas kudanya.
"Sedikit," kata Sultan Hasan jujur.
"Kenapa gugup? Bukankah kau sudah sering bertemu Pandan Wangi dulu? Di telaga? Di mimpi?"
"Itu dulu. Sekarang aku sudah dewasa. Sekarang aku sudah berubah. Sekarang... aku tidak tahu bagaimana ia akan menerimaku."
"Kau tidak berubah, Hasan. Kau tetap Sultan Hasan yang dulu. Mungkin lebih kaya. Mungkin lebih sukses. Mungkin lebih tampan. Tapi hatimu tetap sama. Aku kenal kau."
"Apakah cukup?"
"Apa maksudmu?"
"Apakah cukup hanya hatiku yang tidak berubah? Sedangkan tubuhku sudah berubah. Wajahku sudah berubah. Usiaku sudah berubah. Apakah Pandan Wangi masih mau berteman denganku? Ataukah ia akan menganggapku orang asing?"
Jaya tidak menjawab. Ia tidak tahu jawabannya.
Mereka berdua terdiam. Hanya suara langkah kaki kuda dan kicauan burung yang menemani perjalanan.
Mereka tiba di Dukuh Wangi pada sore hari.
Desa itu berubah. Banyak rumah baru yang terbuat dari bata, bukan lagi dari bambu. Jalan setapak yang dulu becek sekarang sudah diaspal dengan batu. Masjid desa sudah diperbesar, dengan kubah hijau yang megah.
Tapi ada yang tidak berubah: pohon beringin tua di balai desa. Pohon asam di depan rumah Mak Umi (yang sekarang sudah roboh, tidak ada yang tinggal). Dan telaga larangan di timur desa.
Sultan Hasan dan Jaya tidak singgah di desa. Mereka langsung menuju telaga.
Perjalanan ke telaga memakan waktu setengah jam. Jalan setapaknya masih sama. Akar-akar pohon yang menjalar. Batu-batu berlumut. Suara air sungai yang mengalir.
Sultan Hasan berhenti di tepi hutan. Ia tidak berani melangkah lebih jauh. Jantungnya berdebar kencang. Tangannya gemetar.
"Kau tidak jadi?" tanya Jaya.
"Aku... aku takut."
"Takut apa? Pandan Wangi baik. Ia tidak akan menyakitimu."
"Aku bukan takut disakiti. Aku takut... ia tidak ada di sana."
Jaya tidak menjawab. Ia hanya menepuk pundak Sultan Hasan.
"Pergilah," katanya. "Aku tunggu di sini."
Sultan Hasan menarik napas panjang. Ia melangkah.
Menembus pepohonan. Menyusuri jalan setapak yang sudah tidak ia lewati selama bertahun-tahun.
Dan akhirnya, ia sampai.
Telaga itu masih sama. Airnya jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang ditarik arus yang lembut. Bulan purnama bersinar terang, memantul di permukaan air, menciptakan ribuan titik berkilauan seperti berlian.
Batu hitam tempat ia biasa duduk bersama Pandan Wangi masih ada. Masih licin. Masih kokoh.
Tapi Pandan Wangi tidak ada.
Telaga itu kosong. Sunyi. Sepi.
Sultan Hasan duduk di batu hitam itu. Air matanya menetes.
"Pandan..." bisiknya. "Aku kembali. Aku sudah menepati janjiku. Tapi kau... kau di mana?"
Tidak ada jawaban.
Hanya angin malam yang berembus pelan, membawa wangi pandan. Samar. Tapi jelas.
Sultan Hasan menangis. Ia menangis seperti anak kecil. Ia menangis untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.
"Pandan, jangan tinggalkan aku," bisiknya. "Aku tidak bisa hidup tanpamu."
Di tengah tangisnya, Sultan Hasan mendengar suara dari telaga.
Bukan suara manusia. Suara air. Suara riak-riak kecil yang semakin lama semakin keras.
Ia mengangkat kepalanya.
Air telaga beriak. Kecil pada awalnya. Kemudian semakin besar. Seperti ada sesuatu di bawah sana yang bangun dari tidur panjang.
Dan dari tengah telaga, seorang perempuan muncul.
Ia berjalan di atas air. Perlahan. Anggun. Seperti penari.
Ia tidak lagi kecil. Ia dewasa. Mungkin seusia Sultan Hasan. Tujuh belas tahun. Tubuhnya jenjang, berlekuk indah. Rambutnya hitam panjang terurai sebahu, bergerak-gerak ditiup angin malam. Wajahnya cantik. Sangat cantik. Seperti bidadari yang turun dari langit.
Ia memakai kain batik sederhana, warna hijau dengan motif pandan. Di rambutnya, terselip tusuk konde dari perak. Di lehernya, ada kalung dari batu akik merah, sama persis dengan batu di cincin Sultan Hasan.
Sultan Hasan terpaku. Ia tidak bisa bergerak. Ia tidak bisa berkata-kata.
Perempuan itu berjalan mendekat. Kini ia berdiri tepat di depan Sultan Hasan. Jarak hanya satu lengan.
"Kau kembali," katanya. Suaranya lembut, seperti air telaga yang mengalir.
"Pandan... Pandan Wangi?" bisik Sultan Hasan.
Perempuan itu tersenyum. Senyum yang sama. Lembut. Penuh kasih. Senyum yang membuat hati Sultan Hasan berdebar.
"Aku berubah, ya?" katanya. "Tubuhku sudah dewasa. Wajahku sudah dewasa. Tapi hatiku masih sama. Hatiku masih merindukanmu, setiap malam, setiap kali bulan purnama."
Sultan Hasan tidak bisa menahan diri. Ia meraih tangan Pandan Wangi. Tangannya dingin. Tapi lembut.
"Aku juga merindukanmu, Pandan," katanya. "Setiap hari. Setiap malam. Setiap kali denyut batu di jariku mengingatkanku padamu."
"Aku tahu," kata Pandan Wangi. "Aku bisa merasakannya. Batu akik merah di jarimu dan batu akik merah di leherku terhubung. Mereka berdenyut bersama, setiap kali kita merindukan satu sama lain."
Sultan Hasan baru menyadari kalung di leher Pandan Wangi. Batu akik merah itu berdenyut. Sama persis dengan batu di jarinya.
"Kau tahu sejak kapan?" tanyanya.
"Sejak pertama kali kau datang ke telaga ini. Saat kau masih kecil. Saat kau duduk di batu hitam itu, menangis karena diejek teman-temanmu. Aku sudah tahu. Tapi aku tidak bisa mengatakannya. Karena kau masih kecil. Karena kau belum siap."
"Dan sekarang? Apakah aku sudah siap?"
Pandan Wangi tersenyum. "Kau sudah dewasa, Sultan Hasan. Badanmu tegap. Parasmu tampan. Hatimu matang. Aku rasa kau sudah siap."
"Siap untuk apa?"
"Siap untuk mendengar bahwa aku juga merindukanmu. Siap untuk mendengar bahwa aku juga jatuh cinta padamu. Siap untuk mendengar bahwa aku ingin bersamamu, selama telaga ini masih ada, selama batu-batu ini masih berdenyut."
Sultan Hasan terdiam. Air matanya mengalir lagi. Tapi kali ini bukan air mata sedih. Air mata bahagia.
"Pandan," katanya. "Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku belum pernah jatuh cinta sebelumnya. Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini. Tapi aku tahu, setiap kali aku bersamamu, aku merasa aman. Aku merasa tenang. Aku merasa seperti di rumah."
"Itu sudah cukup," kata Pandan Wangi. "Kau tidak perlu mengerti tentang cinta. Cinta akan datang dengan sendirinya. Pada waktunya. Dan sekarang, waktu itu telah tiba."
Pandan Wangi mendekat. Ia mencium kening Sultan Hasan, tepat di tempat tanda merah itu berada.
Tanda itu terasa hangat. Sangat hangat. Seperti disentuh oleh matahari.
"Aku mencintaimu, Sultan Hasan," bisiknya. "Sejak pertama kali kau datang ke telaga ini. Sejak pertama kali kau duduk di batu hitam itu. Sejak pertama kali kau tersenyum padaku."
"Aku juga mencintaimu, Pandan Wangi," bisik Sultan Hasan balik. "Sejak pertama kali aku melihatmu. Sejak pertama kali aku mendengar suaramu. Sejak pertama kali aku merasakan kehangatan di dadaku saat kau di sampingku."
Mereka berdua terdiam. Menikmati malam. Menikmati kehadiran satu sama lain. Menikmati cinta yang sudah lama terpendam, kini akhirnya terucap.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu diam.
Seolah setuju. Seolah merestui. Seolah bahagia bahwa penjaga hati akhirnya menemukan cintanya.
Jaya yang menunggu di tepi hutan, akhirnya bosan. Ia nekat masuk ke telaga.
Ia melihat Sultan Hasan duduk di batu hitam, di samping seorang perempuan cantik. Mereka berdua sedang tersenyum, berbicara dengan suara pelan.
"Jadi, itu Pandan Wangi?" bisik Jaya pada dirinya sendiri. "Cantik juga."
Ia tidak mau mengganggu. Ia berbalik. Ia kembali ke tepi hutan, duduk di bawah pohon, menunggu.
"Lama sekali," gumamnya. "Tapi tidak apa-apa. Sahabat sedang bahagia. Itu yang penting."
Fajar mulai menyingsing ketika Sultan Hasan dan Pandan Wangi berpisah.
"Aku harus pergi sekarang," kata Pandan Wangi. "Matahari tidak boleh menangkapku di sini."
"Kapan aku bisa bertemu lagi?" tanya Sultan Hasan.
"Kapan pun kau mau. Telaga ini selalu terbuka untukmu. Aku selalu di sini. Menunggumu."
"Tapi aku harus kembali ke Bandar Cendana. Ada pekerjaan yang menungguku. Ada tanggung jawab yang harus aku selesaikan."
Pandan Wangi tersenyum. "Kau boleh pergi. Aku tidak akan mengikatmu. Cinta tidak harus memiliki. Cinta bisa dengan mendoakan. Cinta bisa dengan menjaga hati. Dan aku akan selalu menjaga hatimu, di mana pun kau berada."
"Aku akan kembali, Pandan. Aku janji."
"Aku tahu. Aku akan menunggumu."
Pandan Wangi berjalan ke tepi telaga. Ia menunduk. Ia mencelupkan ujung jarinya ke air. Seluruh telaga bergetar.
"Selamat pagi, Sultan Hasan."
"Selamat pagi, Pandan Wangi."
Pandan Wangi berjalan ke arah pepohonan, perlahan menyatu dengan kabut pagi, lalu lenyap. Seperti tidak pernah ada.
Tapi Sultan Hasan tahu ia ada. Telaga itu ada. Airnya jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang ditarik arus yang lembut.
Dan di jari manisnya, batu akik merah berdenyut pelan. Hangat.
Seperti berbisik: "Kita tidak sendirian. Selama kita saling mencintai, kita tidak akan pernah sendirian."
Sultan Hasan tersenyum. Ia berdiri. Ia berjalan pulang.
Di tepi hutan, Jaya masih menunggu. "Lama sekali," katanya. "Tapi aku lihat kau bahagia."
"Aku bahagia, Jaya. Sangat bahagia."
"Jadi, apa rencanamu sekarang?"
"Aku akan kembali ke Bandar Cendana. Menyelesaikan pekerjaanku. Menyelesaikan tanggung jawabku. Lalu... aku akan kembali ke sini. Untuk selamanya."
Jaya mengangguk. "Aku ikut. Di mana kau pergi, aku ikut. Sampai mati."
Mereka berdua tersenyum. Mereka menaiki kuda mereka. Mereka berjalan meninggalkan Dukuh Wangi. Meninggalkan telaga. Meninggalkan Pandan Wangi.
Tapi hati Sultan Hasan tidak meninggalkan telaga. Hatinya tetap di sana. Bersama Pandan Wangi. Selamanya.
BAB XXX
Putri Pandan Wangi Muncul untuk Pertama Kali di Sungai
Tiga bulan setelah pertemuan kembali dengan Pandan Wangi di telaga, Sultan Hasan belum juga bisa melupakan malam itu.
Setiap malam, ia memejamkan mata, dan ia melihat lagi wajah Pandan Wangi. Cantik. Lembut. Tersenyum. Setiap malam, ia mendengar lagi suaranya. Lembut seperti air mengalir, menenangkan seperti doa seorang ibu. Setiap malam, ia merasakan lagi hangatnya ciuman di keningnya, tepat di tempat tanda merah itu berada.
"Kau jatuh cinta," kata Jaya suatu malam, saat mereka duduk di beranda rumah mereka di Bandar Cendana. "Jatuh cinta total. Tidak ada obatnya."
"Aku tidak butuh obat," kata Sultan Hasan sambil tersenyum. "Aku butuh dia."
"Kau bisa kembali ke Dukuh Wangi kapan saja. Tapi kau memilih tinggal di sini. Kenapa?"
"Karena ada yang belum selesai. Aku harus menyelesaikan tanggung jawabku dulu. Kepada Tuan Salim. Kepada para pekerja. Kepada Kyai Buyut Cakar Mase. Aku tidak bisa pergi begitu saja."
"Tanggung jawab," ulang Jaya sambil menghela napas. "Kau selalu bicara tentang tanggung jawab. Sejak kita masih kecil. Sejak di Dukuh Wangi. Sejak di Kota Prapatan. Sejak di Rajapura. Kapan kau akan berhenti memikirkan tanggung jawab dan mulai memikirkan kebahagiaanmu sendiri?"
"Kebahagiaanku adalah ketika aku bisa menunaikan tanggung jawabku," kata Sultan Hasan. "Itu sudah membuatku bahagia."
Jaya menggeleng. "Kau aneh, Hasan. Tapi itulah sebabnya aku berteman denganmu."
Mereka berdua tertawa.
Suatu sore, Tuan Salim meminta Sultan Hasan mengantarkan pesanan ke sungai.
"Ada kapal dari negeri seberang yang akan mengambil rempah-rempah kita," katanya. "Mereka bersandar di dermaga sungai, bukan di pelabuhan laut. Aku butuh kau yang mengawasi. Jangan sampai ada barang yang hilang."
"Baik, Tuan," kata Sultan Hasan.
Ia mempersiapkan semuanya. Dua kuda. Dua orang pembantu. Dua kuli angkut. Dan puluhan karung rempah-rempah: lada, cengkeh, pala, kayu manis.
Perjalanan ke sungai memakan waktu setengah hari. Mereka tiba di dermaga sungai saat matahari mulai condong ke barat. Langit berwarna jingga keemasan. Air sungai berwarna keperakan, memantulkan cahaya matahari yang redup.
Kapal dari negeri seberang itu sudah menunggu. Sebuah kapal besar, dengan layar segitiga dan lambung dari kayu jati. Di lambungnya, terukir naga dari emas.
Sultan Hasan turun dari kudanya. Ia menghampiri kapal itu.
"Permisi," katanya. "Saya utusan Tuan Salim. Saya membawa rempah-rempah pesanan Tuan."
Seorang lelaki paruh baya muncul dari balik papan kapal. Wajahnya coklat, keriput, dengan kumis tebal dan janggut pendek. Ia memakai pakaian Arab: jubah putih dan sorban.
"Ah, Sultan Hasan!" katanya. "Tuan Salim sudah bercerita tentang kau. Katanya kau pemuda yang jujur dan cerdas."
"Terima kasih, Tuan. Siapa nama Tuan?"
"Nama tidak penting. Panggil saja Kapten. Aku kapten kapal ini. Aku sudah berlayar selama tiga puluh tahun. Dari negeri seberang ke negeri seberang. Bawa barang. Antar orang. Aku sudah melihat banyak hal."
"Apa yang Tuan lihat?"
"Banyak. Perang. Damai. Cinta. Benci. Kekayaan. Kemiskinan. Tapi yang paling sering kulihat adalah... kerinduan. Orang-orang yang merindukan kampung halaman. Orang-orang yang merindukan keluarga. Orang-orang yang merindukan kekasih."
Kapten itu memandang Sultan Hasan. Matanya tajam.
"Kau sedang merindukan seseorang, Nak. Aku bisa melihatnya dari matamu."
Sultan Hasan tersenyum. "Apakah sejelas itu?"
"Sejelas air sungai di musim kemarau. Siapa dia?"
"Namanya Pandan Wangi. Ia tinggal di desaku. Di tepi telaga."
"Pandan Wangi," ulang Kapten itu. "Nama yang indah. Apakah ia cantik?"
"Cantik. Seperti bidadari."
"Dan kau mencintainya?"
"Sangat."
"Apakah ia mencintaimu balik?"
"Aku... aku harap begitu."
Kapten itu tertawa. "Kau tidak yakin? Kau belum pernah bertanya?"
"Belum. Aku takut."
"Takut apa? Takut ditolak? Takut dianggap aneh? Takut cintamu tidak berbalas?"
"Semuanya."
Kapten itu menghela napas. "Anak muda, cinta adalah tentang keberanian. Berani mengungkapkan. Berani mengambil risiko. Berani ditolak. Karena jika kau tidak pernah bertanya, kau tidak akan pernah tahu jawabannya."
"Aku akan bertanya. Suatu hari."
"Jangan tunda. Waktu tidak menunggu siapa pun. Kau bisa mati besok. Ia bisa mati besok. Kapal ini bisa tenggelam besok. Maka hari ini juga, kau harus mengungkapkan isi hatimu."
Setelah urusan rempah-rempah selesai, Sultan Hasan berjalan ke tepi sungai.
Ia duduk di bawah pohon rindang. Daun-daunnya lebar, menaunginya dari terik matahari yang mulai redup. Air sungai mengalir pelan di depannya. Ikan-ikan kecil berenang-renang, mencari makanan.
Ia memandang cincin di jarinya. Batu akik merah itu berdenyut pelan. Hangat.
"Kapten itu benar," bisik batu itu. "Kau harus mengungkapkan isi hatimu. Jangan ditunda. Waktu tidak menunggu siapa pun."
"Aku tahu. Tapi aku belum siap."
"Kau tidak akan pernah siap. Keberanian bukan tentang kesiapan. Keberanian adalah melangkah meski tidak siap."
Sultan Hasan menghela napas.
Di tengah lamunannya, ia melihat seorang perempuan di seberang sungai.
Perempuan itu sedang mencuci pakaian di tepi sungai. Ia membungkuk, membenturkan kain ke batu, lalu membilasnya ke air. Gerakannya anggun, seperti tarian.
Rambutnya hitam panjang terurai sebahu, basah kena percikan air. Parasnya... Sultan Hasan tidak bisa melihat jelas dari kejauhan. Tapi ada sesuatu yang familiar. Sesuatu yang mengingatkannya pada seseorang.
Ia berdiri. Ia berjalan ke tepi sungai. Ia memandang perempuan itu.
Perempuan itu menoleh.
Sultan Hasan terkesiap.
Pandan Wangi.
Bukan dalam wujud penunggu telaga. Bukan dalam wujud mimpi. Tapi dalam wujud manusia. Nyata. Di sungai. Di siang bolong.
"Pandan?" bisiknya.
Perempuan itu tersenyum. Senyum yang sama. Lembut. Penuh kasih.
"Halo, Sultan Hasan," katanya. "Kau tidak menyangka bertemu aku di sini, ya?"
"Kau... bagaimana kau bisa di sini? Ini sungai. Jauh dari telaga. Dan ini siang hari. Matahari masih terang."
Pandan Wangi berdiri. Ia mengeringkan tangannya di kain sarungnya. Ia berjalan mendekati Sultan Hasan.
"Aku bisa ke mana pun aku mau, Sultan Hasan. Aku tidak terikat oleh telaga. Telaga adalah rumahku. Tapi aku bisa bepergian. Aku bisa muncul di sungai. Di laut. Di danau. Di mana pun ada air."
"Tapi dulu, kau bilang kau tidak bisa meninggalkan telaga!"
"Karena dulu kau masih kecil. Aku tidak ingin kau terkejut. Aku tidak ingin kau takut. Sekarang kau sudah dewasa. Sekarang kau sudah siap."
Pandan Wangi berdiri tepat di depan Sultan Hasan. Jarak hanya sejengkal. Sultan Hasan bisa mencium wanginya. Wangi pandan. Wangi yang khas. Wangi yang selalu ia rindukan.
"Kau cantik," bisik Sultan Hasan. "Cantik sekali. Seperti bidadari."
Pandan Wangi tersenyum. "Kau juga tampan, Sultan Hasan. Aku tidak menyangka kau akan setampan ini. Dulu, kau hanya anak kurus kering dengan rambut kusut dan pipi cekung. Sekarang... kau berubah."
"Kau juga berubah. Dulu kau kecil. Sekarang kau dewasa. Tubuhmu... maaf... tubuhmu..."
Pandan Wangi tertawa. "Kau gugup, Sultan Hasan. Aku belum pernah melihatmu segugup ini. Bahkan saat kau hampir dijadikan sesaji di telaga dulu, kau tidak segugup ini."
"Aku tidak takut pada kematian, Pandan. Tapi aku takut padamu."
"Takut kenapa?"
"Takut... ditolak."
Pandan Wangi mengerutkan kening. "Ditolak? Untuk apa?"
Sultan Hasan menarik napas panjang. Ini saatnya. Ini kesempatan. Jangan ditunda. Waktu tidak menunggu siapa pun.
"Pandan," katanya. "Aku mencintaimu. Sejak pertama kali aku melihatmu di telaga. Sejak pertama kali aku mendengar suaramu. Sejak pertama kali aku merasakan kehangatan di dadaku saat kau di sampingku. Aku mencintaimu. Dan aku ingin tahu... apakah kau juga mencintai aku?"
Pandan Wangi terdiam.
Sultan Hasan menahan napas. Jantungnya berdebar kencang. Keringat dingin membasahi telapak tangannya.
Pandan Wangi tersenyum.
"Kau tahu," katanya. "Aku sudah menunggu kata-kata itu sejak lama. Sejak kau masih kecil. Sejak kau duduk di batu hitam itu, menangis karena diejek teman-temanmu. Sejak kau pertama kali memanggil namaku."
"Jadi... jawabanmu?"
Pandan Wangi mendekat. Ia mencium pipi Sultan Hasan. Lembut. Hangat.
"Aku juga mencintaimu, Sultan Hasan. Sejak pertama kali aku melihatmu. Sejak pertama kali kau tersenyum padaku. Sejak pertama kali kau memanggil namaku."
Sultan Hasan tidak bisa menahan diri. Ia meraih tangan Pandan Wangi. Tangannya dingin. Tapi lembut.
"Pandan," bisiknya. "Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya tahu, aku ingin bersamamu. Selamanya."
"Selamanya itu lama, Sultan Hasan."
"Aku tidak peduli. Aku akan bersamamu sampai mati."
Pandan Wangi tersenyum. "Kau tahu, sebagai penunggu telaga, aku tidak bisa mati. Aku akan hidup selama air masih mengalir. Selama bulan masih bersinar. Selama batu akik ini masih berdenyut. Apakah kau sanggup mencintai seseorang yang tidak bisa mati? Sementara kau... kau manusia. Kau akan tua. Kau akan sakit. Kau akan mati."
"Aku tidak peduli, Pandan. Cinta tidak memandang waktu. Cinta tidak memandang kematian. Cinta adalah cinta. Selamanya."
Pandan Wangi menangis. Air matanya jatuh ke sungai. Dan di tempat air matanya jatuh, bunga-bunga pandan kecil bermunculan. Harum. Wangi. Menyebar ke seluruh tepian.
"Jangan menangis," kata Sultan Hasan. "Aku tidak suka melihatmu menangis."
"Aku menangis karena bahagia," kata Pandan Wangi. "Karena akhirnya... setelah sekian lama... aku menemukan seseorang yang benar-benar mencintaiku. Bukan karena aku cantik. Bukan karena aku kaya. Bukan karena aku penunggu telaga. Tapi karena aku adalah aku."
Mereka berdua berpelukan. Di tepi sungai. Di bawah pohon rindang. Di hadapan Kapten kapal yang tersenyum dari kejauhan. Di hadapan Jaya yang melongo tidak percaya. Di hadapan para pembantu dan kuli angkut yang bertepuk tangan.
Sultan Hasan tidak peduli dengan semua itu. Ia hanya peduli pada Pandan Wangi. Pada pelukannya. Pada hangatnya. Pada wanginya.
"Ini baru awal," bisik Pandan Wangi di telinganya. "Kita masih panjang."
"Aku tahu. Dan aku tidak sabar menjalaninya bersamamu."
Mereka berdua tersenyum.
Di kejauhan, di dahan pohon di seberang sungai, seekor burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang. Meninggalkan suara yang nyaring.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti seruan untuk memulai babak baru dalam kehidupan Sultan Hasan dan Pandan Wangi.
Babak di mana cinta tidak lagi terpendam. Babak di mana cinta diungkapkan. Babak di mana cinta dijalani bersama.
Selamanya.
BAB XXXI
Jatuh Hati dalam Diam: Sultan Hasan Tidak Berani Mendekat, Hanya Mengamati dari Kejauhan Setiap Hari
Setelah pertemuan di tepi sungai itu, sesuatu berubah dalam diri Sultan Hasan.
Bukan berubah menjadi lebih buruk. Justru sebaliknya. Ia menjadi lebih bersemangat dalam bekerja. Lebih ceria dalam bergaul. Lebih rajin beribadah. Lebih dermawan kepada fakir miskin. Semua orang di gudang merasakan perubahan itu. Tuan Salim memuji-mujinya. Jaya hanya tersenyum, karena ia tahu penyebabnya: cinta.
Tapi ada satu hal yang aneh.
Setelah pertemuan di sungai, setelah Pandan Wangi mengaku mencintainya, setelah mereka berpelukan dan berjanji untuk bersama... Sultan Hasan tidak pernah kembali ke telaga.
Ia tidak pergi ke Dukuh Wangi. Ia tidak mencari Pandan Wangi. Ia hanya tinggal di Bandar Cendana, bekerja seperti biasa, tertawa seperti biasa, hidup seperti biasa. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Jaya heran. "Kau tidak akan menemui Pandan Wangi lagi?" tanyanya suatu malam.
"Belum," kata Sultan Hasan singkat.
"Kenapa belum? Bukankah kau sudah saling mencintai? Bukankah kau sudah berjanji untuk bersama?"
"Kami sudah berjanji. Tapi aku belum siap."
"Belum siap untuk apa?"
Sultan Hasan terdiam. Ia memandang cincin di jarinya. Batu akik merah itu berdenyut pelan. Hangat.
"Jujurlah," bisik batu itu. "Jujurlah pada sahabatmu."
"Aku takut, Jaya," kata Sultan Hasan akhirnya. "Aku takut jika aku terlalu dekat dengannya, aku akan lupa pada tanggung jawabku. Aku akan lupa pada pekerjaanku. Aku akan lupa pada dunia. Aku hanya ingin memandanginya setiap saat, dan itu tidak baik."
"Kenapa tidak baik? Bukankah wajar jika seseorang yang sedang jatuh cinta ingin selalu dekat dengan kekasihnya?"
"Wajar. Tapi tidak bijak. Aku punya tanggung jawab kepada Tuan Salim. Aku punya tanggung jawab kepada para pekerja. Aku punya tanggung jawab kepada Kyai Buyut Cakar Mase. Aku tidak bisa meninggalkan semua itu hanya karena cinta."
"Kau tidak harus meninggalkan semua itu. Kau hanya perlu menyisihkan waktu untuknya. Seminggu sekali. Sebulan sekali. Itu sudah cukup."
"Belum. Aku belum bisa. Aku masih perlu waktu."
Jaya menghela napas. "Kau ini aneh, Hasan. Tapi sudahlah. Itu urusanmu. Aku tidak akan ikut campur."
Tapi meski Sultan Hasan tidak pergi ke telaga, ia tidak bisa melupakan Pandan Wangi.
Setiap hari, ia mengamati dari kejauhan.
Bukan Pandan Wangi sungguhan. Tapi bayangannya. Dalam setiap perempuan yang lewat di pasar, ia mencari wajah Pandan Wangi. Dalam setiap aliran sungai, ia membayangkan Pandan Wangi sedang mencuci pakaian. Dalam setiap hembusan angin yang membawa wangi bunga, ia merindukan wangi pandan.
Jaya melihat itu. Hati sahabatnya itu prihatin.
"Kau tidak sehat, Hasan," katanya. "Kau seperti orang yang kehausan di tengah gurun, tapi tidak mau meminum air yang ada di depannya."
"Aku tidak haus," kata Sultan Hasan. "Aku hanya... merindukan."
"Kalau kau rindu, pergilah! Temui ia! Peluk ia! Cium ia! Jangan hanya diam di sini, mengamati dari kejauhan seperti orang bodoh!"
"Aku tidak bodoh, Jaya. Aku hanya... takut."
"Takut apa lagi?"
Sultan Hasan tidak menjawab. Ia hanya memandang cincin di jarinya.
Batu akik merah itu berdenyut. Pelan. Lembut. Seperti mengerti.
"Kau takut jika kau terlalu dekat, kau akan kehilangan," bisik batu itu. "Kau takut jika kau sudah bersama, kau akan dipertemukan dengan perpisahan. Kau takut bahagia karena kau tahu bahagia tidak akan bertahan lama."
Sultan Hasan menunduk. Air matanya menetes.
"Itu benar," bisiknya. "Aku takut bahagia. Karena setiap kali aku bahagia, selalu ada yang pergi. Ayahku pergi. Ibuku pergi. Nini Mas Intan pergi. Mak Umi pergi. Mardjo pergi. Semua pergi. Meninggalkanku sendirian."
"Kali ini berbeda, Hasan," kata Jaya yang mendengar bisikannya. "Pandan Wangi tidak akan pergi. Ia penunggu telaga. Ia tidak bisa mati. Ia akan bersamamu selamanya."
"Tidak ada yang selamanya, Jaya. Suatu hari, telaga ini akan kering. Suatu hari, batu ini akan hancur. Suatu hari, Pandan Wangi juga akan pergi. Entah ke mana. Aku tidak tahu."
"Lalu kau akan habiskan sisa hidupmu dengan ketakutan? Dengan tidak berani mendekat? Dengan hanya mengamati dari kejauhan?"
Sultan Hasan tidak menjawab.
Ia hanya diam. Menangis. Meratapi nasibnya.
Hari-hari berlalu. Minggu-minggu berganti. Sultan Hasan tetap tidak pergi ke telaga.
Ia hanya mengamati dari kejauhan. Dalam mimpinya. Dalam khayalannya. Dalam setiap detak jantungnya.
Suatu malam, Kyai Buyut Cakar Mase memanggilnya.
"Kau tidak datang ke padepokan akhir-akhir ini," kata Kyai. "Ada apa?"
"Aku sibuk, Kyai. Banyak pekerjaan."
"Jangan bohong. Aku tahu kau sedang jatuh cinta. Aku tahu kau bertemu dengan Pandan Wangi di sungai. Aku tahu kau berjanji untuk bersama. Tapi kau tidak pernah kembali ke telaga. Kenapa?"
Sultan Hasan terdiam. Ia tidak bisa berbohong pada Kyai.
"Aku takut, Kyai."
"Takut apa?"
Sultan Hasan menceritakan semuanya. Tentang ayahnya yang pergi. Tentang ibunya yang mati. Tentang Nini Mas Intan. Tentang Mak Umi. Tentang Mardjo. Tentang semua orang yang pernah ia cintai, dan semua orang yang pergi meninggalkannya.
"Aku takut jika aku terlalu dekat dengan Pandan Wangi, ia juga akan pergi. Aku tidak bisa kehilangan lagi, Kyai. Hatiku sudah terlalu banyak luka."
Kyai Buyut Cakar Mase menghela napas. Ia memandang Sultan Hasan dengan mata yang dalam.
"Nak," katanya. "Cinta tidak pernah tentang memiliki. Cinta tentang memberi. Jika kau mencintai Pandan Wangi, kau harus memberi dirimu padanya. Tanpa syarat. Tanpa takut kehilangan. Karena jika kau hanya mengamati dari kejauhan, kau tidak pernah benar-benar mencintai. Kau hanya mencintai bayangannya."
"Apa bedanya?"
"Jika kau mencintai bayangannya, kau aman. Kau tidak akan pernah terluka. Tapi kau juga tidak akan pernah bahagia. Jika kau mencintai dirinya yang sesungguhnya, kau mungkin terluka. Tapi kau juga mungkin bahagia. Pilihan ada di tanganmu."
Sultan Hasan menunduk. Ia merenungkan kata-kata Kyai.
"Kyai," katanya akhirnya. "Apa kau pernah jatuh cinta?"
Pertanyaan itu membuat Kyai Buyut Cakar Mase terdiam. Wajahnya yang tua dan keriput tiba-tiba terlihat sendu.
"Pernah," katanya. "Dulu, ketika aku masih muda. Aku jatuh cinta pada seorang perempuan. Namanya Dewi Sekar. Ia cantik. Baik. Pintar. Kami bertunangan. Tapi perang datang. Aku harus pergi bertempur. Aku meninggalkannya. Aku berjanji akan kembali. Tapi ketika aku kembali, ia sudah menikah dengan orang lain. Ia tidak bisa menunggu. Ia takut aku mati di medan perang."
"Apakah Kyai kecewa?"
"Sangat. Aku marah. Aku benci. Aku hampir membunuh suaminya. Tapi kemudian aku sadar: cinta bukan tentang memiliki. Cinta tentang memberi. Aku memberinya kebahagiaan meski tidak bersamaku. Aku merelakannya. Aku pergi ke gunung. Aku menjadi pertapa. Aku belajar silat. Aku menjadi panglima perang. Tapi hatiku... hatiku tetap di sana. Bersamanya."
"Apakah Kyai pernah bertemu dengannya lagi?"
"Pernah. Saat kami sudah tua. Ia sudah menjadi nenek-nenek. Suaminya sudah meninggal. Aku datang ke pemakaman suaminya. Ia menangis di pusara. Aku duduk di sampingnya. Kami tidak bicara. Hanya diam. Menemani. Sejak itu, setiap minggu aku datang ke kuburan itu. Duduk di sampingnya. Tidak bicara. Hanya diam. Sampai ia mati. Sekarang ia sudah tiada. Aku sendiri lagi."
Kyai Buyut Cakar Mase tersenyum pahit.
"Kau lihat, Nak? Cinta tidak selalu bahagia. Tapi cinta selalu indah. Karena cinta mengajarkan kita untuk menjadi manusia."
Sultan Hasan menangis. Ia memeluk Kyai.
"Terima kasih, Kyai. Aku akan pergi ke telaga. Aku akan menemui Pandan Wangi. Aku akan berhenti mengamati dari kejauhan. Aku akan mulai mendekat."
"Bagus," kata Kyai. "Pergilah. Jangan tunda lagi. Waktu tidak menunggu siapa pun."
Esok paginya, sebelum matahari terbit, Sultan Hasan sudah berada di atas kudanya.
Ia pamit pada Jaya. "Aku akan pergi ke telaga. Aku akan menemui Pandan Wangi. Aku akan berhenti menjadi pengecut."
Jaya tersenyum. "Akhirnya. Aku sudah menunggu kata-kata itu sejak lama."
"Kau ikut?"
"Tidak. Ini urusan pribadimu. Aku tidak ingin mengganggu. Aku tunggu di sini. Kabari aku jika ada kabar baik."
Mereka berdua bersalaman. Sultan Hasan menaiki kudanya. Ia melesat pergi. Meninggalkan Bandar Cendana. Menuju Dukuh Wangi. Menuju telaga. Menuju Pandan Wangi.
Di jari manisnya, batu akik merah berdenyut kencang. Hangat.
"Akhirnya," bisik batu itu. "Kau mengambil keputusan yang benar."
"Aku harap begitu," bisik Sultan Hasan balik.
Ia terus berlari. Kuda itu berlari kencang. Angin malam menyapu wajahnya. Dingin. Tapi menyegarkan.
Ia tidak sabar untuk tiba di telaga. Untuk melihat Pandan Wangi. Untuk memeluknya. Untuk mengatakan bahwa ia tidak akan pernah meninggalkannya lagi.
Di kejauhan, meski tidak mungkin, ia mendengar suara burung hantu. Samar. Tapi jelas.
Sekali. Pendek.
Seperti sambutan. Seperti panggilan. Seperti seruan untuk segera sampai.
Sultan Hasan tersenyum. Ia memacu kudanya lebih kencang.
Meninggalkan ketakutan. Meninggalkan keraguan. Meninggalkan kebiasaan mengamati dari kejauhan.
Sekarang, ia akan mendekat.
Sekarang, ia akan bersama.
Sekarang, ia akan mencintai.
Sepenuh hati.
Tanpa syarat.
Tanpa takut kehilangan.
Karena cinta tidak pernah tentang memiliki.
Cinta tentang memberi.
Memberi diri.
Memberi hati.
Memberi segalanya.
BAB XXXII
Kebakaran Pasar: Sultan Hasan Menyelamatkan Seorang Anak , Tidak Sengaja Menabrak Pandan Wangi
Perjalanan dari Bandar Cendana menuju Dukuh Wangi memakan waktu sehari semalam dengan menunggang kuda. Sultan Hasan tiba di desa itu saat matahari tepat berada di atas kepala, siang yang terik dan lengang.
Ia tidak langsung menuju telaga.
Ada sesuatu yang menahannya. Bukan rasa takut seperti dulu. Tapi ada firasat aneh di dadanya. Sesuatu yang mengatakan bahwa hari ini bukan hari yang tepat untuk bertemu Pandan Wangi. Bahwa ada yang lebih mendesak yang harus ia lakukan terlebih dahulu.
Sultan Hasan memarkir kudanya di bawah pohon beringin tua di pinggir desa. Ia berjalan kaki menuju pasar. Pasar Dukuh Wangi tidak sebesar pasar di Bandar Cendana. Hanya puluhan lapak yang berjajar di sepanjang jalan setapak. Tapi hari itu pasar sedang ramai. Banyak pedagang dari desa-desa sekitar yang datang menjual hasil bumi.
Sultan Hasan berjalan di antara kerumunan. Sesekali ia membeli sesuatu: buah-buahan, kue tradisional, sebotol air kelapa. Ia tidak benar-benar lapar atau haus. Ia hanya ingin mengisi waktu sebelum memutuskan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
Di jari manisnya, batu akik merah berdenyut pelan.
"Hati-hati," bisik batu itu. "Ada sesuatu yang tidak beres."
Sultan Hasan mengerutkan kening. Ia melihat sekeliling. Semua tampak normal. Orang-orang lalu lalang. Pedagang menawarkan dagangan. Anak-anak berlarian.
Tapi kemudian ia mencium bau asap.
Bukan asap rokok atau asap dapur. Asap yang tebal, hitam, menyengat. Asap kebakaran.
"KEBAKARAN!" teriak seseorang dari ujung pasar. "API! API!"
Sultan Hasan menoleh ke arah suara itu. Dari arah timur, kepulan asap hitam membubung tinggi ke langit. Api sudah membesar, menjalar dengan cepat di antara lapak-lapak yang terbuat dari kayu dan anyaman bambu.
Orang-orang berhamburan. Ada yang berlari menyelamatkan diri. Ada yang berusaha memadamkan api dengan ember dan timba. Ada yang hanya berteriak histeris.
Di tengah kekacauan itu, Sultan Hasan mendengar suara tangis anak kecil.
"Tolong! Tolong! Anakku masih di dalam!"
Seorang perempuan paruh baya berdiri di depan sebuah lapak yang sudah dilalap api. Wajahnya pucat pasi. Tangannya gemetar. Ia menunjuk ke arah kobaran api, di mana seorang anak laki-laki kecil tampak terduduk di sudut, ketakutan, tidak bisa bergerak.
Sultan Hasan tidak berpikir dua kali.
Ia berlari. Menerobos kobaran api. Panasnya menyengat kulit. Asapnya membuat mata perih dan tenggorokan tercekik. Tapi ia terus maju. Ia tidak bisa berhenti. Ada anak kecil di sana yang membutuhkan pertolongannya.
"Jangan bergerak!" teriaknya pada anak itu. "Aku akan menjemputmu!"
Ia meraih anak itu. Menggendongnya. Berbalik. Berlari keluar dari kobaran api.
Tepat saat mereka keluar, atap lapak itu rubuh. Kayu-kayu terbakar berhamburan. Jika Sultan Hasan terlambat sedetik, mereka berdua akan tertimpa.
Perempuan paruh baya itu berlari mendekat, merebut anaknya dari gendongan Sultan Hasan. "Terima kasih, Nak. Terima kasih. Kau penyelamat anakku."
Sultan Hasan hanya tersenyum. "Tidak apa-apa, Bu. Yang penting anaknya selamat."
Ia melangkah mundur. Tubuhnya terasa panas. Bajunya gosong di beberapa tempat. Alisnya sedikit hangus. Tapi ia tidak terluka parah.
Di tengah kepulan asap dan hiruk-pikuk orang yang berlarian, ia mundur. Ia tidak melihat ke belakang.
Ia menabrak seseorang.
"Maaf," katanya cepat-cepat. "Maaf, saya tidak sengaja."
Ia menengadah.
Wajah yang ia lihat membuatnya terdiam. Membeku. Seperti terkena sihir.
Pandan Wangi.
Bukan dalam wujud penunggu telaga. Bukan dalam wujud mimpi. Bukan di tepi sungai dengan jarak aman.
Pandan Wangi berdiri di depannya. Hanya sejengkal. Wajahnya cantik, lembut, dengan mata hitam pekat yang menatapnya penuh arti.
"Kau tidak sengaja?" kata Pandan Wangi sambil tersenyum. "Atau kau sengaja?"
"Aku... aku..." Sultan Hasan gagap. Lidahnya terasa kelu. Seluruh kata-kata yang sudah ia siapkan selama berhari-hari, berbulan-bulan, tiba-tiba lenyap dari ingatannya.
"Kau menyelamatkan anak itu," kata Pandan Wangi. "Aku melihatnya. Kau berani. Kau rela mengorbankan dirimu untuk orang lain. Itu tindakan seorang penjaga hati sejati."
"Kau... kau ada di sari?" tanya Sultan Hasan bodoh.
"Aku ada di mana pun kau butuh aku," kata Pandan Wangi. "Tadi, saat kau ragu mau ke telaga atau tidak, aku yang mengirim firasat itu. Aku yang mengatakan bahwa ada yang lebih mendesak yang harus kau lakukan. Dan kau mendengarkannya. Kau pergi ke pasar. Kau menyelamatkan anak itu. Aku bangga padamu."
"Kau... kau yang mengirim firasat itu?"
Pandan Wangi mengangguk. "Aku bisa berkomunikasi denganmu lewat hati. Selama ini. Tanpa kau sadari. Setiap kali kau merasa ada yang tidak beres, itu aku. Setiap kali kau merasa ada yang membisikkan sesuatu, itu aku. Setiap kali batu akik merah di jarimu berdenyut kencang, itu karena aku sedang memikirmu."
Sultan Hasan terdiam. Selama ini ia mengira bisikan-bisikan itu berasal dari batu akik merahnya. Tapi rupanya, batu itu hanya perantara. Sumbernya adalah Pandan Wangi.
"Kenapa kau tidak pernah bilang?" tanyanya.
"Karena kau belum siap. Karena kau masih takut. Karena kau masih suka mengamati dari kejauhan. Sekarang kau sudah berani. Sekarang kau sudah siap. Sekarang kau tidak perlu mengamati lagi. Sekarang kau bisa mendekat."
Pandan Wangi mengulurkan tangannya.
Sultan Hasan meraih tangan itu. Dingin. Lembut. Tapi terasa hangat di hatinya.
"Pandan," katanya. "Aku sudah lama ingin mengatakan ini. Tapi setiap kali mau diucapkan, kata-kataku selalu lenyap."
"Katakan saja. Aku mendengarkan."
"Aku... aku mencintaimu. Sejak pertama kali aku melihatmu di telaga. Sejak pertama kali aku mendengar suaramu. Sejak pertama kali aku merasakan kehangatan di dadaku saat kau di sampingku. Aku mencintaimu. Dan aku tidak ingin hanya mengamati dari kejauhan lagi. Aku ingin bersamamu. Setiap hari. Setiap malam. Selamanya."
Pandan Wangi tersenyum. Senyum yang paling indah yang pernah Sultan Hasan lihat. Senyum yang membuat seluruh pasar yang terbakar itu terasa seperti taman bunga.
"Aku juga mencintaimu, Sultan Hasan," katanya. "Sejak pertama kali kau datang ke telaga. Sejak pertama kali kau duduk di batu hitam itu. Sejak pertama kali kau tersenyum padaku meski hatimu sedang terluka. Aku juga tidak ingin hanya mengamati dari kejauhan. Aku ingin bersamamu. Setiap hari. Setiap malam. Selamanya."
Mereka berdua terdiam. Saling menatap. Tidak ada yang perlu diucapkan lagi. Cinta mereka sudah tersampaikan. Jelas. Tanpa keraguan.
Di kejauhan, di tengah kepulan asap dan teriakan orang-orang yang masih berusaha memadamkan api, seekor burung hantu bertengger di atap masjid. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu berbunyi.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti seruan untuk memulai babak baru dalam kehidupan mereka.
Babak di mana cinta tidak lagi terpendam.
Babak di mana cinta diungkapkan.
Babak di mana cinta dijalani bersama.
Selamanya.
BAB XXXIII
Maaf dari Pandan Wangi: Mereka Berdua Saling Memandang, Ada Desir Listrik yang Tak Diucapkan
Api di pasar Dukuh Wangi akhirnya berhasil dipadamkan setelah hampir dua jam.
Kerugian tidak kecil. Puluhan lapak hangus terbakar. Tumpukan barang dagangan lenyap menjadi abu. Beberapa orang mengalami luka bakar, tapi untungnya tidak ada korban jiwa. Semua berkat keberanian Sultan Hasan yang menyelamatkan anak laki-laki kecil dari dalam kobaran api.
Warga desa berkerumun di sekitar Sultan Hasan. Mereka memujinya. Mereka berterima kasih. Mereka menawarinya hadiah dan imbalan. Tapi Sultan Hasan menolak semuanya dengan hormat.
"Aku tidak melakukan apa-apa," katanya. "Aku hanya menolong sesama manusia. Itu kewajiban kita semua."
Kata-katanya membuat warga desa terharu. Mereka tidak mengenali pemuda tampan di depan mereka sebagai "anak setan" yang dulu mereka usir dan hampir mereka korbankan. Sultan Hasan telah berubah. Tubuhnya tegap. Parasnya tampan. Caranya bicara dewasa. Tidak ada yang menyangka bahwa ia adalah bocah kurus kering dengan pipi cekung dan rambut kusut yang dulu menjadi sasaran ejekan dan kerikil.
Sultan Hasan tidak berniat memperkenalkan diri. Ia tidak ingin membuka luka lama. Cukup sudah. Masa lalu biarlah berlalu.
Tapi Pandan Wangi, yang sejak tadi berdiri di sisinya, merasakan kegelisahan di hati Sultan Hasan.
"Mereka tidak mengenalimu," bisiknya. "Kau ingin memperkenalkan diri?"
"Tidak," kata Sultan Hasan. "Biarkan mereka mengira aku orang asing. Aku tidak ingin mengingat masa lalu."
"Tapi masa lalu adalah bagian dari dirimu. Kau tidak bisa melupakannya."
"Aku tidak melupakannya. Aku hanya memaafkan."
Pandan Wangi tersenyum. Ia bangga pada Sultan Hasan. Laki-laki yang ia cintai ini bukan hanya berani dan baik hati. Tapi juga pemaaf. Sifat yang sangat langka di dunia ini.
Setelah situasi tenang, setelah warga desa mulai membubarkan diri, Sultan Hasan dan Pandan Wangi berjalan ke tepi desa.
Mereka duduk di bawah pohon asam tua — pohon yang sama yang dulu menjadi tempat Sultan Hasan bermain dengan Jaya, tempat burung hantu selalu bertengger di dahannya. Pohon itu masih kokoh, meski sudah tua. Akarnya menjalar ke mana-mana. Daunnya rindang, menaungi mereka dari terik matahari sore.
Mereka berdua duduk berdampingan. Tidak bicara. Hanya diam. Menikmati kehadiran satu sama lain.
Angin berembus pelan, membawa wangi pandan dari rambut Pandan Wangi. Sultan Hasan mencium wangi itu. Hatinya berdebar.
"Pandan," katanya akhirnya.
"Ya?"
"Maafkan aku."
Pandan Wangi menoleh. "Maaf untuk apa?"
"Maaf karena selama ini aku hanya mengamati dari kejauhan. Maaf karena aku tidak berani mendekat. Maaf karena aku membiarkanmu menunggu bertahun-tahun, sendirian di telaga, tanpa aku datang menjenguk."
Pandan Wangi tersenyum. "Kau tidak perlu minta maaf. Aku mengerti. Kau punya alasan."
"Tidak ada alasan yang cukup untuk meninggalkanmu selama itu. Aku pengecut. Aku takut. Aku takut kehilangan. Aku takut terluka. Aku takut bahagia."
"Dan sekarang?"
"Sekarang aku tidak takut lagi. Sekarang aku siap. Sekarang aku ingin bersamamu, apa pun risikonya."
Pandan Wangi meraih tangan Sultan Hasan. Tangannya dingin, tapi lembut. Ia menggenggam erat jari-jari Sultan Hasan.
"Aku juga minta maaf," katanya.
"Maaf untuk apa?"
"Maaf karena aku tidak bisa menjadi manusia seutuhnya. Maaf karena aku hanya penunggu telaga. Maaf karena aku tidak bisa memberimu anak. Maaf karena aku tidak bisa menjadi istri yang normal. Maaf karena aku akan tetap muda selamanya, sementara kau akan tua dan mati. Maaf karena cinta kita tidak akan pernah sempurna."
Sultan Hasan menggenggam balik tangan Pandan Wangi. "Cinta tidak perlu sempurna, Pandan. Cinta cukup tulus. Dan cintaku padamu tulus. Sejak pertama kali aku melihatmu."
Mereka berdua saling memandang.
Ada desir listrik yang tak diucapkan. Sesuatu yang menjalar dari mata ke mata, dari hati ke hati, dari jiwa ke jiwa. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Sesuatu yang hanya bisa dirasakan.
Pandan Wangi mendekat. Sultan Hasan juga mendekat.
Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Sultan Hasan bisa melihat bulu mata Pandan Wangi yang lentik. Bisa melihat pori-pori kulitnya yang halus. Bisa melihat bayangan dirinya di mata hitam pekat itu.
"Aku mencintaimu, Sultan Hasan," bisik Pandan Wangi.
"Aku juga mencintaimu, Pandan Wangi," bisik Sultan Hasan balik.
Mereka berdua terdiam. Tidak ada yang perlu diucapkan lagi. Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Cinta mereka sudah tersampaikan. Jelas. Tanpa keraguan.
Matahari semakin condong ke barat. Langit berwarna jingga keemasan. Burung-burung terbang pulang ke sarangnya. Angin malam mulai berembus, membawa kesejukan.
Di dahan pohon asam tua di atas kepala mereka, burung hantu menatap mereka berdua. Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah setuju. Seolah merestui. Seolah bahagia bahwa penjaga hati akhirnya menemukan cintanya. Dan bahwa cinta itu, meski tidak sempurna, tetap indah.
Selamanya.
Malam mulai gelap ketika Sultan Hasan dan Pandan Wangi memutuskan untuk berpisah.
"Aku harus kembali ke telaga," kata Pandan Wangi. "Matahari sudah terbenam. Tapi aku tidak bisa meninggalkan telaga terlalu lama. Ada energi di sana yang harus aku jaga."
"Aku akan mengantarmu," kata Sultan Hasan.
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri."
"Aku ingin. Biarkan aku."
Pandan Wangi tersenyum. "Baiklah."
Mereka berdua berjalan beriringan menuju telaga. Jalan setapak yang dulu sering mereka lewati ketika Sultan Hasan masih kecil. Kini mereka lewati lagi. Dalam suasana yang berbeda. Dalam hubungan yang berbeda.
Setelah setengah jam berjalan, mereka tiba di telaga.
Airnya jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang ditarik arus yang lembut. Bulan sabit tipis terpantul di permukaan air, menciptakan kilauan keperakan.
"Aku sampai," kata Pandan Wangi.
"Terima kasih sudah menemaniku hari ini," kata Sultan Hasan.
"Aku juga. Terima kasih sudah menyelamatkan anak itu. Terima kasih sudah berani mengungkapkan isi hatimu. Terima kasih sudah tidak takut lagi."
"Pandan."
"Ya?"
"Boleh aku... menciummu?"
Pandan Wangi tersenyum. Ia mendekat. Ia mencium pipi Sultan Hasan. Lembut. Hangat.
"Itu untuk hari ini," katanya. "Besok, kau boleh minta lagi."
"Besok aku akan datang lagi."
"Aku akan menunggu."
Pandan Wangi berjalan ke tepi telaga. Ia menunduk. Ia mencelupkan ujung jarinya ke air. Seluruh telaga bergetar.
"Selamat malam, Sultan Hasan."
"Selamat malam, Pandan Wangi."
Pandan Wangi berjalan ke arah pepohonan, perlahan menyatu dengan kegelapan malam, lalu lenyap. Seperti tidak pernah ada.
Tapi Sultan Hasan tahu ia ada. Telaga itu ada. Airnya jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang.
Dan di jari manisnya, batu akik merah berdenyut pelan. Hangat.
Seperti berbisik: "Selamat malam, penjaga hati. Aku mencintaimu."
Sultan Hasan tersenyum. Ia berdiri. Ia berjalan pulang.
Di kejauhan, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat malam. Seperti doa restu. Seperti janji bahwa mereka akan bertemu lagi. Besok. Lusa. Dan seterusnya. Selamanya.
BAB XXXIV
Perkenalan: Sultan Hasan Tahu bahwa Pandan Wangi Adalah Putri Bangsawan – Jurang Sosial yang Lebar
Keesokan paginya, Sultan Hasan kembali ke telaga.
Matahari baru saja terbit. Embun masih membasahi rumput-rumput di tepian. Burung-burung mulai berkicau, menyambut hari yang baru. Udara masih segar, dingin, menenangkan.
Pandan Wangi sudah menunggu di batu hitam. Ia tersenyum melihat Sultan Hasan datang.
"Kau datang," katanya.
"Aku bilang aku akan datang," kata Sultan Hasan. "Aku tidak pernah mengingkari janji."
Mereka berdua duduk berdampingan di batu hitam itu. Diam. Menikmati pemandangan. Menikmati kehadiran satu sama lain.
Tapi hari ini, Sultan Hasan tidak bisa diam. Ada pertanyaan yang mengganggu pikirannya sejak semalam. Pertanyaan yang tidak bisa ia tahan lagi.
"Pandan," katanya.
"Ya?"
"Kemarin, di pasar, kau bilang kau tidak bisa memberiku anak. Kau bilang kau tidak bisa menjadi istri yang normal. Apa maksudmu?"
Pandan Wangi terdiam. Wajahnya yang ceria tiba-tiba berubah muram. Ia memandang telaga, menghindari tatapan Sultan Hasan.
"Aku... aku tidak ingin membicarakannya," katanya.
"Tapi aku perlu tahu. Kita sudah saling mencintai. Kita sudah berjanji untuk bersama. Tidak boleh ada rahasia di antara kita."
Pandan Wangi menghela napas panjang. Napas yang berat. Napas yang seperti sudah ditahan bertahun-tahun.
"Baiklah," katanya akhirnya. "Kau boleh tahu. Tapi jangan menyesal."
"Aku tidak akan menyesal."
Pandan Wangi berdiri. Ia berjalan ke tepi telaga. Ia membelakangi Sultan Hasan.
"Aku tidak hanya penunggu telaga, Sultan Hasan. Aku juga... putri bangsawan."
Sultan Hasan terkejut. "Putri bangsawan? Maksudmu?"
"Ayahku adalah adipati di kerajaan tetangga. Ibuku adalah putri raja dari kerajaan seberang. Aku dilahirkan di istana. Aku dibesarkan di istana. Aku hidup mewah, dengan puluhan pelayan, ratusan pengawal, dan ribuan harta."
"Tapi kenapa kau bisa menjadi penunggu telaga?"
Pandan Wangi berbalik. Air matanya mengalir.
"Karena aku lari dari istana. Karena aku tidak ingin dijodohkan dengan pangeran yang tidak kukenal. Karena aku ingin bebas. Karena aku ingin... memilih sendiri siapa yang akan kucintai."
"Jadi... kau memilih menjadi penunggu telaga?"
"Aku memilih untuk bersembunyi. Aku meminta bantuan seorang pertapa sakti untuk mengubahku menjadi penunggu telaga. Ia mengabulkan permintaanku. Dengan syarat: aku tidak boleh meninggalkan telaga ini. Aku tidak boleh menikah dengan manusia biasa. Aku tidak boleh memiliki anak. Aku akan tetap muda selamanya. Dan aku hanya bisa muncul di malam hari, atau di tempat-tempat tertentu yang dikecualikan."
"Tapi kemarin kau muncul di pasar. Siang bolong."
"Itu karena kau. Pertapa itu memberiku pengecualian. Ia tahu aku jatuh cinta padamu. Ia mengizinkanku muncul di siang hari, asalkan tidak sering-sering. Asalkan tidak meninggalkan desa ini."
Sultan Hasan terdiam. Ia baru mengerti mengapa Pandan Wangi sering berkata bahwa cinta mereka tidak akan pernah sempurna. Mengapa ia tidak bisa memberinya anak. Mengapa ia tidak bisa menjadi istri yang normal.
Semua karena kutukan. Atau lebih tepat, konsekuensi dari pilihannya sendiri.
"Pandan," katanya. "Kau tidak menyesal?"
"Menyesal? Meninggalkan istana? Tidak. Menjadi penunggu telaga? Tidak. Jatuh cinta padamu? Tidak. Tidak pernah. Satu-satunya yang aku sesali adalah... aku tidak bisa menjadi istri yang sempurna untukmu."
"Kau sudah sempurna, Pandan. Setidaknya di mataku."
Pandan Wangi tersenyum. Ia menghapus air matanya.
"Kau baik, Sultan Hasan. Terlalu baik untuk dunia ini. Pantas kau menjadi penjaga hati."
Tapi kabar bahwa Sultan Hasan jatuh cinta pada putri bangsawan menyebar dengan cepat.
Entah bagaimana. Mungkin dari warga desa yang melihat mereka berdua di pasar. Mungkin dari pedagang yang mengenali Pandan Wangi dari lukisan di istana. Mungkin dari utusan kerajaan yang kebetulan lewat.
Yang jelas, dalam waktu seminggu, kabar itu sudah sampai ke telinga adipati — ayah Pandan Wangi.
Adipati itu marah. Sangat marah.
"Anakku hilang bertahun-tahun! Aku kira ia mati! Ternyata ia bersembunyi di desa kecil, menjadi penunggu telaga, dan jatuh cinta pada seorang pemuda kampung!"
Ia mengirim utusan ke Dukuh Wangi. Utusan itu datang dengan membawa surat. Surat itu ditujukan pada Pandan Wangi.
Isinya: "Pulanglah. Ayahmu sudah tua. Ibumu sakit-sakitan. Mereka merindukanmu. Jika kau tidak pulang, mereka akan mati hati. Jika kau tetap bersikeras tinggal di desa itu dan menikahi pemuda kampung, ayahmu akan mencabut hak warismu. Kau tidak akan mendapatkan apa-apa. Bahkan mayatmu pun tidak akan kami terima di pemakaman keluarga."
Pandan Wangi membaca surat itu berulang-ulang. Air matanya mengalir.
"Mereka tidak berubah," bisiknya. "Mereka masih sombong. Mereka masih menganggap status sosial lebih penting dari kebahagiaan."
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Sultan Hasan.
"Aku tidak akan pulang. Aku tidak butuh warisan. Aku tidak butuh harta. Aku butuh kebebasan. Aku butuh cinta. Aku butuh kau."
"Tapi ayah dan ibumu..."
"Aku akan mengirim kabar pada mereka. Aku akan bilang bahwa aku baik-baik saja. Bahwa aku bahagia. Bahwa mereka tidak perlu khawatir. Tapi aku tidak akan pulang. Bukan sekarang."
"Dan status sosial? Jurang antara aku sebagai anak kampung dan kau sebagai putri bangsawan?"
Pandan Wangi tersenyum. "Kau lupa, Sultan Hasan? Aku bukan lagi putri bangsawan. Aku penunggu telaga. Status sosial tidak berarti apa-apa di sini. Yang berarti adalah cinta. Dan kita punya itu."
Sultan Hasan memeluk Pandan Wangi erat-erat.
"Terima kasih, Pandan. Karena memilihku. Karena tidak memperdulikan status sosial. Karena tetap mencintaiku meskipun aku hanya anak kampung."
"Kau bukan anak kampung lagi, Sultan Hasan. Kau adalah penjaga hati. Itu status yang lebih tinggi dari bangsawan mana pun."
Mereka berdua tersenyum.
Utusan itu kembali ke istana dengan tangan hampa. Ia membawa pesan dari Pandan Wangi: "Aku tidak akan pulang. Aku bahagia di sini. Aku mencintai Sultan Hasan. Dan tidak ada yang bisa memisahkan kami, kecuali kematian."
Adipati itu mengamuk. Ia memecahkan semua piring dan vas di istananya. Ia membentak-bentak para pelayan.
"Anak durhaka!" teriaknya. "Ia lebih memilih pemuda kampung daripada keluarganya! Ia lebih memilih telaga daripada istana! Ia lebih memilih cinta daripada harta!"
Ia memerintahkan pasukannya untuk menangkap Sultan Hasan dan memenjarakannya. Tapi ibunya — istri adipati yang sakit-sakitan — melarang.
"Biarkan dia," kata ibunya. "Ia sudah dewasa. Ia berhak memilih jalannya sendiri. Kau dulu juga tidak direstui orang tuamu saat menikah denganku. Apa kau lupa?"
Adipati itu terdiam. Ia teringat masa lalunya. Dulu, ia juga dilarang menikahi perempuan pilihannya. Tapi ia tetap ngotot. Ia kawin lari. Ia membawa istrinya ke tempat yang jauh. Baru setelah orang tuanya meninggal, ia kembali ke istana.
"Kau benar," katanya pada istrinya. "Aku tidak punya hak melarang anakku. Aku juga dulu seperti dia."
Ia membatalkan perintah penangkapan. Ia mengirim utusan lagi ke Dukuh Wangi. Kali ini bukan dengan surat ancaman. Tapi dengan surat restu.
"Anakku, jika kau bahagia di sana, tetaplah di sana. Ayah dan ibu merestuimu. Jagalah dirimu baik-baik. Dan jangan lupa mengirim kabar setiap bulan."
Pandan Wangi menangis membaca surat itu. Sultan Hasan memeluknya.
"Kau lihat?" katanya. "Orang tua tidak pernah benar-benar tega pada anaknya. Pada akhirnya, mereka akan mengalah."
"Aku tahu," kata Pandan Wangi sambil terisak. "Aku tahu."
Sejak hari itu, Sultan Hasan dan Pandan Wangi tidak lagi menyembunyikan hubungan mereka.
Mereka sering terlihat bersama. Di pasar. Di sungai. Di telaga. Kadang mereka berjalan berdua di pinggir hutan, bergandengan tangan, tertawa, bercerita.
Warga desa yang dulu membenci Sultan Hasan, kini mulai menerimanya. Mereka melihat bahwa Sultan Hasan adalah pemuda yang baik. Ia suka menolong. Ia tidak sombong. Ia dermawan. Ia juga pintar dan terampil.
"Anak itu dulu kita salah pahami," kata seorang tetua desa. "Kita terlalu cepat menuduhnya sebagai pembawa sial. Padahal, semua musibah yang terjadi bukan salahnya."
"Mungkin memang Nini Mas Intan yang melindunginya dari balik kubur," kata yang lain.
"Mungkin juga telaga yang menjaganya."
"Mungkin juga cintanya pada Pandan Wangi yang membuatnya baik."
Warga desa tidak tahu persis. Tapi mereka setuju bahwa Sultan Hasan tidak pantas diperlakukan seperti dulu. Ia pantas dihormati. Ia pantas dikagumi.
Bahkan Kyai Mandrawijaya — tetua adat yang dulu pernah hendak mengorbankannya — datang meminta maaf.
"Sultan Hasan," katanya suatu hari, "aku datang untuk minta maaf. Dulu, aku buta. Aku terlalu percaya pada mitos dan takhayul. Aku nyaris membunuhmu. Aku tidak pantas disebut tetua adat. Maafkan aku."
Sultan Hasan tersenyum. "Kyai tidak perlu minta maaf. Kyai hanya melakukan apa yang Kyai yakini benar saat itu. Masa lalu biarlah berlalu. Sekarang kita fokus pada masa depan."
Kyai Mandrawijaya menangis. Ia memeluk Sultan Hasan.
"Kau anak baik. Kau penjaga hati sejati. Dukuh Wangi bangga padamu."
Malam harinya, Sultan Hasan datang ke telaga. Pandan Wangi sudah menunggu.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Pandan Wangi. "Kau sudah menyelesaikan semua urusanmu di Bandar Cendana? Kau sudah memaafkan semua orang yang pernah bersalah padamu? Kau sudah siap memulai hidup baru?"
"Siap," kata Sultan Hasan. "Aku akan tinggal di Dukuh Wangi. Aku akan membangun rumah di tepi telaga. Aku akan bertani. Aku akan berdagang. Aku akan menjadi penjaga hati. Dan aku akan bersamamu. Setiap hari. Setiap malam. Selamanya."
"Kau tahu, sebagai penunggu telaga, aku tidak bisa tinggal bersamamu di rumah. Aku harus tinggal di telaga. Tapi kau bisa datang ke sini kapan saja. Aku akan selalu menunggu."
"Itu sudah cukup, Pandan. Aku tidak perlu kau tinggal di rumahku. Yang penting kau ada. Di sini. Di hatiku."
Mereka berdua tersenyum. Mereka berpelukan di bawah cahaya bulan.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia mengepakkan sayapnya sekali, lalu terbang. Meninggalkan suara yang nyaring.
Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti seruan untuk memulai babak baru dalam kehidupan mereka.
Babak di mana cinta tidak lagi terhalang status sosial.
Babak di mana cinta tidak lagi terhalang kutukan.
Babak di mana cinta tidak lagi terhalang apa pun.
Karena cinta sejati selalu menemukan jalannya.
Selamanya.
BAB XXXV
Pusaka Merah Bergetar Hebat saat Sultan Hasan Berjumpa Pandan Wangi
Setelah pengakuan cinta dan restu dari keluarga Pandan Wangi, hubungan mereka semakin erat. Sultan Hasan kini tinggal di sebuah rumah kecil yang ia bangun sendiri di tepi desa, tidak jauh dari telaga. Rumah itu sederhana: dinding dari anyaman bambu, atap dari daun rumbia, lantai dari tanah yang dipadatkan. Tapi ia merasa itu istana, karena dari halaman rumahnya ia bisa melihat telaga, dan di telaga itu ada Pandan Wangi.
Setiap pagi, sebelum matahari terbit, Sultan Hasan pergi ke telaga. Ia duduk di batu hitam, menunggu Pandan Wangi muncul dari balik kabut. Setiap sore, setelah selesai bekerja di ladang atau di pasar, ia kembali ke telaga. Ia membawa buah-buahan atau kue tradisional untuk Pandan Wangi, meskipun Pandan Wangi tidak perlu makan.
Tapi ada satu keanehan yang mulai ia sadari.
Setiap kali ia bertemu dengan Pandan Wangi, setiap kali ia memandang wajahnya, setiap kali ia mendengar suaranya, setiap kali ia merasakan sentuhan tangannya... batu akik merah di jarinya bergetar hebat. Bukan berdenyut pelan seperti biasanya. Bukan berdenyut kencang seperti saat ia marah atau takut. Tapi bergetar. Keras. Seperti ingin lepas dari tempatnya. Seperti ada sesuatu di dalam batu itu yang sangat gembira.
"Apa yang terjadi denganmu?" bisik Sultan Hasan pada batu itu, saat ia sendirian di rumahnya.
Batu itu terus bergetar. Tidak menjawab. Tidak berbisik seperti biasanya. Hanya bergetar.
Keesokan harinya, saat ia bertemu Pandan Wangi lagi, batu itu bergetar lebih keras. Sultan Hasan hampir tidak bisa menggenggam cincinnya. Rasanya seperti memegang benda hidup yang sedang berontak.
"Kau baik-baik saja?" tanya Pandan Wangi, melihat wajah Sultan Hasan yang pucat.
"Aku baik-baik saja. Hanya... pusakaku. Ia bergetar setiap kali aku bertemu denganmu."
Pandan Wangi mengerutkan kening. Ia meraih tangan Sultan Hasan. Ia memandang cincin batu akik merah itu.
"Bergetar?" ulangnya. "Sejak kapan?"
"Sejak beberapa hari yang lalu. Mungkin sejak kita... sejak kita saling mengakui cinta."
Pandan Wangi terdiam. Ia merenung. Kemudian matanya membesar. Seperti baru ingat sesuatu.
"Aku tahu kenapa," katanya.
"Kenapa?"
"Karena batu akik merah di jarimu dan batu akik merah di leherku adalah sepasang. Mereka diciptakan dari bahan yang sama, oleh pertapa yang sama, pada waktu yang sama. Batu itu adalah pusaka yang diturunkan dari generasi ke generasi. Tujuannya: untuk mempertemukan dua insan yang ditakdirkan bersama."
"Jadi... batu ini sengaja bergetar untuk mempertemukan kita?"
"Bukan hanya mempertemukan. Tapi juga... menyatukan. Batu ini akan bergetar semakin keras, semakin dekat kita. Dan jika kita... jika kita benar-benar bersatu... batu ini akan menyatu. Cincinmu dan kalungku akan menjadi satu. Tidak bisa dipisahkan lagi."
Sultan Hasan memandang cincinnya. Lalu memandang kalung Pandan Wangi. Batu akik merah di leher Pandan Wangi juga bergetar. Sama kerasnya dengan batu di jarinya.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanyanya.
"Kita tidak perlu melakukan apa pun. Batu ini akan menuntun kita. Ikuti saja getarannya. Ia akan membawa kita ke tempat yang tepat, pada waktu yang tepat."
Hari-hari berlalu. Getaran batu akik merah itu semakin keras setiap kali Sultan Hasan dan Pandan Wangi bertemu. Kadang-kadang, di malam hari, Sultan Hasan terbangun karena getarannya sangat kuat hingga menggetarkan seluruh rumahnya.
Jaya yang kadang menginap di rumah Sultan Hasan, juga merasakan getaran itu. "Apa itu?" tanyanya ketakutan. "Gempa?"
"Bukan. Itu pusakaku," kata Sultan Hasan.
"Pusakamu bisa menyebabkan gempa?"
"Sepertinya begitu."
Jaya menggeleng-gelengkan kepala. "Pusaka macam apa itu? Biasanya pusaka digunakan untuk perang, untuk tolak bala, untuk kesaktian. Tapi pusakamu... untuk bergetar?"
"Batu ini hidup," kata Sultan Hasan. "Ia punya perasaan. Ia bisa marah. Ia bisa takut. Ia bisa bahagia. Dan sekarang, ia sedang sangat bahagia."
"Kenapa bahagia?"
"Karena ia bertemu dengan pasangannya. Batu akik merah di leher Pandan Wangi."
Jaya manggut-manggut. Ia tidak sepenuhnya mengerti. Tapi ia tidak mau bertanya lebih jauh. Urusan pusaka dan cinta adalah urusan Sultan Hasan. Ia hanya sahabat. Tugasnya mendukung, bukan ikut campur.
Suatu malam, saat bulan purnama bersinar terang, Sultan Hasan dan Pandan Wangi duduk di batu hitam di tepi telaga.
Getaran batu akik merah di jari Sultan Hasan dan di leher Pandan Wangi sudah sangat keras. Mereka bisa mendengar suaranya: "Brummm... brummm... brummm..." seperti suara gendang yang dipukul dari kejauhan.
"Pandan," kata Sultan Hasan. "Aku takut."
"Takut apa?"
"Aku takut batu ini akan meledak. Aku takut ia akan menghancurkan kita."
Pandan Wangi tersenyum. "Ia tidak akan meledak. Ia hanya akan... meleleh."
"Meleleh?"
"Iya. Meleleh. Menyatu. Menjadi satu. Seperti cinta kita."
Pandan Wangi melepas kalung dari lehernya. Ia memegang batu akik merah itu di telapak tangannya. Batu itu bergetar sangat keras, hampir seperti mau lepas dari genggamannya.
"Berikan cincinmu," katanya.
Sultan Hasan melepas cincin dari jarinya. Batu akik merah itu juga bergetar sangat keras.
Pandan Wangi mendekatkan kedua batu itu. Satu di telapak tangan kirinya, satu di telapak tangan kanannya.
Perlahan, kedua batu itu saling mendekat. Seperti ada magnet yang menarik mereka. Seperti ada kekuatan gaib yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.
Dan ketika kedua batu itu bersentuhan... mereka meleleh.
Bukan meleleh seperti es terkena panas. Tapi meleleh seperti lilin yang membara. Batu merah itu berubah menjadi cairan kental, berwarna merah menyala, berpijar seperti lava.
Cairan itu mengalir di antara jari-jari Pandan Wangi. Mengalir di antara jari-jari Sultan Hasan. Membentuk pola-pola aneh di telapak tangan mereka. Kemudian mendingin. Mengeras. Menjadi satu.
Sebuah batu akik merah baru. Besarnya dua kali lipat dari batu asli. Warnanya lebih terang, lebih menyala, lebih hidup. Dan di permukaannya, terukir sebuah gambar: dua hati yang saling bertaut, dikelilingi oleh sulur-sulur pandan.
"Batu ini," kata Pandan Wangi dengan suara bergetar, "adalah bukti cinta kita. Tidak akan pernah bisa dipisahkan lagi."
"Apa yang harus kita lakukan dengan batu ini?" tanya Sultan Hasan.
"Kita harus menjaganya. Bersama-sama. Kau memegangnya di siang hari. Aku memegangnya di malam hari. Dan batu ini akan menjaga kita. Selamanya."
Sultan Hasan mengambil batu baru itu. Hangat. Berdenyut. Seperti jantung. Seperti kehidupan.
"Aku akan menjaganya," katanya. "Dengan nyawaku."
"Aku juga," kata Pandan Wangi.
Mereka berdua tersenyum. Di bawah cahaya bulan purnama. Di tepi telaga yang jernih. Dengan batu akik merah yang menyatu sebagai saksi cinta mereka.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah setuju. Seolah merestui. Seolah bahagia bahwa pusaka akhirnya menemukan pasangannya. Dan bahwa cinta akhirnya menemukan bentuknya.
Selamanya.
Sejak malam itu, getaran batu akik merah berhenti.
Batu itu sekarang diam. Tidak berdenyut. Tidak bergetar. Hanya hangat. Seperti pelukan. Seperti ciuman. Seperti bisikan: "Aku di sini. Aku akan selalu di sini."
Sultan Hasan menggantung batu itu di lehernya, bersama dengan sebuah tali dari anyaman pandan yang dibuat oleh Pandan Wangi. Batu itu menggantung di dadanya, tepat di atas jantungnya. Setiap kali jantungnya berdetak, batu itu ikut berdenyut. Setiap kali batu itu berdenyut, jantungnya ikut berdetak.
Mereka sekarang menjadi satu. Tidak terpisahkan.
"Pandan," kata Sultan Hasan suatu hari. "Apa yang akan terjadi pada kita nanti? Apakah kita bisa menikah? Apakah kita bisa hidup bersama? Apakah kita bisa bahagia?"
Pandan Wangi tersenyum. "Kita sudah menikah. Di mata telaga. Di mata batu ini. Di mata hati kita. Kita sudah hidup bersama. Setiap hari. Setiap malam. Dan kita sudah bahagia. Tidak perlu status. Tidak perlu pesta. Tidak perlu saksi. Cinta kita sudah cukup."
"Tapi manusia membutuhkan status. Manusia membutuhkan pengakuan. Manusia membutuhkan saksi."
"Kau bukan manusia biasa, Sultan Hasan. Kau adalah penjaga hati. Kau tidak perlu semua itu. Cukup kau dan aku. Dan telaga ini. Dan batu ini. Itu sudah lebih dari cukup."
Sultan Hasan tidak membantah. Ia tahu Pandan Wangi benar.
Cinta mereka memang tidak biasa. Tidak perlu legalisasi. Tidak perlu pesta. Tidak perlu saksi. Cukup ketulusan. Cukup kesetiaan. Cukup keberanian untuk bersama, apa pun risikonya.
"Itulah cinta sejati," bisiknya pada dirinya sendiri.
"Ada apa?" tanya Pandan Wangi.
"Tidak ada. Aku hanya bersyukur. Karena aku menemukanmu."
"Aku juga bersyukur. Karena kau menemukanku."
Mereka berdua tersenyum. Berpelukan. Di bawah pohon asam tua. Di tepi telaga yang jernih. Di hadapan burung hantu yang setia menjadi saksi bisu perjalanan cinta mereka.
Selamanya.
BAB XXXVI
Pandan Wangi Sakit: Mendadak Sakit Tanpa Sebab Medis – Dukun Berkata Ia Rindu pada Sesuatu yang Belum Dikenalinya
Tidak ada yang tahu persis kapan penyakit itu mulai bersarang dalam diri Pandan Wangi.
Yang diketahui Sultan Hasan, pada suatu pagi ketika ia datang ke telaga seperti biasa, Pandan Wangi tidak muncul dari balik kabut. Batu akik merah di dadanya terasa dingin. Tidak hangat seperti biasanya. Tidak berdenyut. Hanya dingin. Mati.
Sultan Hasan cemas. Ia berjalan menyusuri tepi telaga. Ia memanggil-manggil nama Pandan Wangi. Tidak ada jawaban. Ia hampir masuk ke dalam air, ingin menyelam ke dasar telaga, mencari kekasihnya yang mungkin tenggelam.
Tapi kemudian ia melihat sesosok di balik pohon beringin tua di seberang telaga. Sosok itu terbaring di tanah, bersandar pada akar pohon yang besar. Pakaiannya basah. Rambutnya kusut. Wajahnya pucat.
"PANDAN!" teriak Sultan Hasan.
Ia berlari. Menerobos semak belukar. Menyeberangi akar-akar pohon yang menjalar. Ia jatuh bangun, tidak peduli dengan luka di kaki dan tangannya. Yang penting ia bisa sampai ke sisi Pandan Wangi.
Ketika ia tiba, ia melihat Pandan Wangi terbaring lemah. Matanya terpejam. Dadanya naik turun dengan susah payah. Bibirnya biru. Tangannya dingin seperti es.
"Pandan... Pandan... apa yang terjadi padamu?" bisik Sultan Hasan sambil memangku kepala kekasihnya.
Pandan Wangi membuka mata. Samar-samar. Ia tersenyum. Senyum yang lemah. Senyum yang membuat hati Sultan Hasan hancur.
"Aku... aku tidak tahu," bisiknya. "Tiba-tiba... badanku lemas. Tidak bisa digerakkan. Aku jatuh... dan tidak bisa bangun."
"Aku akan membawamu ke dukun! Aku akan mencari obat! Aku akan melakukan apa pun untuk menyembuhkanmu!"
"Tidak usah... tidak ada gunanya. Ini bukan penyakit biasa. Ini... ini karena aku."
"Karena kau? Maksudmu?"
"Aku rindu, Sultan Hasan. Aku rindu pada sesuatu yang tidak aku kenali. Sesuatu yang ada di dalam telaga ini. Sesuatu yang dulu selalu bersamaku. Tapi sekarang... sekarang ia pergi. Meninggalkanku sendirian."
Sultan Hasan bingung. "Apa yang kau rindukan? Telaga ini masih ada. Airnya masih jernih. Dasarnya masih terlihat. Aku di sini. Aku tidak akan pergi."
"Bukan kau. Bukan telaga. Bukan air. Tapi... sesuatu yang lain. Sesuatu yang sudah bersama sejak aku menjadi penunggu telaga. Sesuatu yang kini telah tiada."
"Apa?"
Pandan Wangi menutup mata. Ia terlalu lelah untuk bicara.
Sultan Hasan menggendongnya. Ia membawa Pandan Wangi ke rumahnya di tepi desa. Ia merebahkannya di atas tikar. Ia menyelimutinya dengan kain tebal. Ia menghangatkan tubuhnya dengan api unggun.
Tapi Pandan Wangi tidak kunjung membaik.
Jaya datang ketika matahari sudah tinggi. Ia melihat Sultan Hasan duduk di samping Pandan Wangi, wajahnya pucat, matanya sembab.
"Ada apa?" tanya Jaya.
"Pandan sakit. Aku tidak tahu kenapa. Ia tidak bisa bangun."
Jaya mendekat. Ia memeriksa Pandan Wangi. Sebagai anak desa yang sudah sering melihat orang sakit, Jaya tahu mana penyakit biasa dan mana yang tidak. Ini tidak biasa. Tubuh Pandan Wangi dingin, tapi tidak demam. Nafasnya sesak, tapi tidak batuk. Wajahnya pucat, tapi tidak pusing.
"Ini aneh," kata Jaya. "Seperti bukan penyakit fisik. Tapi lebih ke... penyakit hati."
"Hati? Maksudmu?"
"Kata orang-orang tua dulu, ada penyakit yang disebabkan oleh kerinduan yang terlalu dalam. Kerinduan pada sesuatu yang tidak bisa dicapai. Kerinduan pada masa lalu. Kerinduan pada seseorang yang sudah tiada. Penyakit itu tidak bisa disembuhkan dengan obat. Hanya bisa disembuhkan dengan... menemukan apa yang dirindukan."
Sultan Hasan teringat kata-kata Pandan Wangi: "Aku rindu pada sesuatu yang tidak aku kenali."
"Apa yang ia rindukan?" bisiknya. "Ia sendiri tidak tahu."
Kata Jaya, "Kita harus membawanya ke dukun. Mungkin dukun bisa melihat apa yang tidak bisa kita lihat."
Dukun itu bernama Mbah Jayasakti. Ia sudah sangat tua. Rambutnya putih semua. Kulitnya keriput seperti kulit kayu. Matanya buta. Tapi konon, dengan mata batinnya, ia bisa melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa.
Sultan Hasan membawa Pandan Wangi ke rumah Mbah Jayasakti. Perjalanan memakan waktu satu jam. Pandan Wangi digendong di punggung Sultan Hasan. Tubuhnya ringan, seperti tidak berbobot. Tapi dinginnya menusuk hingga ke tulang.
Mbah Jayasakti sedang duduk di beranda rumahnya. Ia tidak perlu melihat untuk tahu siapa yang datang.
"Kau Sultan Hasan," katanya. "Putra Dewi Rengganis. Cucu dari Nini Mas Intan. Murid dari Ki Ageng Jagaraga. Murid dari Kyai Buyut Cakar Mase. Kau membawa Pandan Wangi, penunggu telaga. Ia sakit. Kau ingin aku menyembuhkannya."
Sultan Hasan terperangah. Mbah Jayasakti mengetahui semuanya. Bahkan tanpa ditanya.
"Bisa, Mbah?" tanyanya.
Mbah Jayasakti tidak menjawab. Ia berdiri. Ia berjalan mendekati Pandan Wangi yang terbaring di atas tandu darurat. Tangannya yang keriput menyentuh dahi Pandan Wangi. Menyentuh dadanya. Menyentuh perutnya. Menyentuh telapak tangannya.
Ia menghela napas. Panjang. Berat.
"Ini bukan penyakit, Nak. Ini... kepunahan."
"Kepunahan? Maksud Mbah?"
"Pandan Wangi adalah penunggu telaga. Ia hidup dari energi telaga itu. Selama telaga itu hidup, ia hidup. Selama telaga itu sehat, ia sehat. Tapi sekarang... telaga itu sedang sakit."
"Telaga? Telaga larangan? Tapi airnya masih jernih. Dasarnya masih terlihat. Tidak ada yang berubah."
"Yang berubah bukan yang terlihat. Tapi yang tidak terlihat. Energi telaga itu mulai habis. Mungkin karena polusi. Mungkin karena ulah manusia. Mungkin karena usia. Aku tidak tahu. Yang aku tahu, telaga itu sedang sekarat. Dan jika telaga itu mati, Pandan Wangi juga akan mati."
Sultan Hasan gemetar. "Tidak! Aku tidak bisa kehilangan dia! Aku baru saja menemukannya! Aku baru saja merasakan kebahagiaan! Aku belum siap kehilangan lagi!"
Mbah Jayasakti menghela napas lagi. "Kau tidak perlu kehilangan dia, Nak. Kau bisa menyelamatkannya."
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Kau harus mencari sumber energi telaga itu. Sumbernya tidak di telaga. Tapi di hulu sungai. Di sebuah gua. Di dalam gua itu, ada sebuah pusaka. Pusaka yang sama dengan pusaka yang kau pakai sekarang. Batu akik merah. Tapi lebih besar. Jauh lebih besar. Batu itu adalah jantung telaga. Jika batu itu rusak, telaga itu mati. Jika batu itu diambil, telaga itu kering. Jika batu itu dijaga, telaga itu hidup."
"Aku harus menjaga batu itu?"
"Bukan kau. Tapi Pandan Wangi. Tugasnya sebagai penunggu telaga adalah menjaga batu itu. Tapi ia lupa. Ia terlalu sibuk dengan cintanya padamu. Ia meninggalkan gua itu. Ia meninggalkan batu itu. Dan sekarang, batu itu mulai rusak."
Sultan Hasan menunduk. Ini salahnya. Jika ia tidak jatuh cinta pada Pandan Wangi, Pandan Wangi tidak akan meninggalkan tugasnya. Jika Pandan Wangi tidak meninggalkan tugasnya, batu itu tidak akan rusak. Jika batu itu tidak rusak, telaga itu tidak akan sekarat. Jika telaga itu tidak sekarat, Pandan Wangi tidak akan sakit.
"Ini semua salahku," bisiknya.
"Bukan salah siapa-siapa, Nak. Ini sudah takdir. Tapi kau bisa memperbaikinya. Kau bisa pergi ke gua itu. Kau bisa memperbaiki batu itu. Kau bisa menyelamatkan telaga itu. Kau bisa menyelamatkan Pandan Wangi."
"Di mana gua itu? Aku akan pergi sekarang."
Mbah Jayasakti menunjuk ke timur. "Ikuti sungai ke hulu. Sampai ke ujung. Di sana ada air terjun. Di belakang air terjun, ada gua. Di dalam gua, ada batu itu. Tapi hati-hati. Gua itu dijaga oleh makhluk halus. Mereka tidak suka gangguan. Mereka akan mencoba menghalangimu."
"Aku tidak takut pada makhluk halus. Aku akan masuk ke gua itu. Aku akan memperbaiki batu itu. Aku akan menyelamatkan Pandan Wangi."
"Bagus. Tapi ingat, Nak. Kau harus kembali sebelum matahari terbit. Jika kau tidak kembali, kau akan terperangkap di dalam gua selamanya."
Sultan Hasan mengangguk. Ia mengecup kening Pandan Wangi.
"Tunggulah aku, Pandan. Aku akan kembali. Aku janji."
Pandan Wangi membuka mata. Samar-samar. Ia tersenyum.
"Aku... menunggumu," bisiknya.
Sultan Hasan berdiri. Ia berlari. Meninggalkan rumah Mbah Jayasakti. Menuju ke timur. Menuju sungai. Menuju hulu. Menuju gua. Menuju jantung telaga yang mulai rusak.
Di jari manisnya, batu akik merah baru itu berdenyut. Hangat. Seperti memberikan semangat.
"Kau bisa," bisik batu itu. "Aku di sini. Aku akan membantumu."
"Terima kasih," bisik Sultan Hasan balik.
Ia terus berlari. Meninggalkan keraguan. Meninggalkan ketakutan. Meninggalkan segala sesuatu yang menghalanginya.
Ia akan menyelamatkan Pandan Wangi. Apapun risikonya.
BAB XXXVII
Sultan Hasan Menyelinap ke Istana – Tertangkap dan Hampir Dihukum Mati
Perjalanan ke hulu sungai memakan waktu sehari semalam.
Sultan Hasan tidak berhenti. Ia berlari, berjalan, memanjat, menyeberangi sungai, melewati hutan yang lebat, melewati jurang yang dalam, melewati segala rintangan yang menghadang. Batu akik merah di dadanya berdenyut terus, memberi semangat, memberi petunjuk arah, memberinya kekuatan untuk terus melangkah.
Akhirnya, setelah matahari terbenam untuk kedua kalinya, ia sampai di air terjun.
Air terjun itu tinggi, sekitar dua puluh meter. Airnya jatuh dari tebing batu, memercik ke mana-mana, menciptakan kabut tipis yang menutupi seluruh area. Suaranya gemuruh, memekakkan telinga. Di belakang air terjun itu, samar-samar, Sultan Hasan melihat sebuah lubang. Gua.
Ia tidak ragu. Ia berenang menembus air terjun. Tubuhnya diguyur air deras yang jatuh dari ketinggian. Ia hampir terseret arus, hampir kehilangan keseimbangan. Tapi ia bertahan. Ia terus berenang. Ia terus maju.
Dan akhirnya, ia sampai.
Di dalam gua.
Gua itu gelap. Sangat gelap. Tidak ada cahaya matahari yang tembus. Tidak ada cahaya bulan atau bintang. Hanya kegelapan pekat yang terasa menyentuh kulit, masuk ke pori-pori, meresap ke dalam tulang.
Tapi Sultan Hasan tidak takut. Ia mengambil batu akik merah dari dadanya. Batu itu berpendar. Cahaya merahnya menerangi gua, walau hanya sedikit.
Ia berjalan. Menyusuri lorong gua yang sempit. Kadang harus merangkak. Kadang harus memanjat. Kadang harus menyusuri tepi jurang yang dalam.
Di kejauhan, ia melihat cahaya. Bukan cahaya batu akiknya. Tapi cahaya dari dalam gua. Cahaya kemerahan, berpendar-pendar, seperti jantung raksasa yang berdenyut.
Ia mendekat.
Di ujung lorong, ada sebuah ruangan besar. Di tengah ruangan itu, terbaring sebuah batu akik merah raksasa. Besarnya seperti kepala kerbau. Warnanya merah tua, gelap, hampir kehitaman. Dan di permukaannya, terlihat retakan. Retakan yang dalam, panjang, menjalar ke seluruh permukaan batu. Dari retakan itu, keluar cahaya merah yang redup. Seperti darah yang mengalir dari luka.
"Ini dia," bisik Sultan Hasan. "Jantung telaga. Batu pusaka yang dijaga Pandan Wangi."
Ia mendekat. Ia mengulurkan tangan. Ia menyentuh batu itu.
Dingin. Mati. Tidak berdenyut.
"Ini rusak parah," bisiknya. "Bagaimana cara memperbaikinya?"
Ia memandang batu akik merah di tangannya. Batu kecil yang merupakan hasil peleburan cincin dan kalungnya dulu. Batu itu berdenyut. Hangat. Seperti memberi ide.
"Satukan aku dengan dia," bisik batu itu. "Biarkan aku masuk ke dalam retakan-retakan itu. Aku akan menyembuhkannya dari dalam."
"Tapi kau akan lenyap."
"Aku tidak akan lenyap. Aku akan menjadi satu dengan dia. Aku akan menjadi lebih besar, lebih kuat, lebih hidup. Dan aku akan tetap bersamamu. Karena kau adalah pemilikku. Selamanya."
Sultan Hasan ragu. Batu akik merah itu adalah satu-satunya pusaka yang ia miliki. Satu-satunya peninggalan dari ayahnya, dari kakeknya, dari leluhurnya. Satu-satunya teman yang selalu setia menemaninya sejak ia masih bayi.
Tapi ia juga tahu, jika batu itu tidak menyatu dengan batu besar ini, telaga itu akan mati. Dan jika telaga itu mati, Pandan Wangi akan mati.
Ia tidak bisa kehilangan Pandan Wangi.
"Ia rela," kata Sultan Hasan pada dirinya sendiri. "Aku juga harus rela."
Ia mendekatkan batu kecil itu ke batu besar. Batu kecil itu bergetar. Sangat keras. Cahaya merahnya menyala terang, hampir membutakan mata.
Dan ketika kedua batu itu bersentuhan... terjadi ledakan.
Ledakan yang dahsyat. Seluruh gua bergetar. Tanah di bawah kakinya bergoyang. Dinding-dinding gua retak. Batu-batu kecil berjatuhan dari langit-langit.
Sultan Hasan terpental. Ia jatuh ke belakang, terbanting ke dinding gua. Kepalanya terantuk batu. Dunianya menjadi gelap.
Ketika ia sadar, cahaya di dalam gua sudah berubah.
Batu besar itu sekarang tidak lagi redup. Ia bersinar terang. Sangat terang. Merah menyala, seperti api. Dan retakan-retakan di permukaannya sudah hilang. Batu itu utuh. Sempurna. Hidup.
Batu akik merah kecil Sultan Hasan sudah tidak ada. Ia sudah menyatu dengan batu besar itu. Tapi Sultan Hasan tidak kehilangan. Ia merasakan ada hubungan baru antara dirinya dan batu besar itu. Seperti tali tak terlihat yang menghubungkan hati mereka.
Batu besar itu berdenyut. Sama seperti dulu batu kecilnya berdenyut. Tapi lebih kuat. Lebih dalam. Lebi h terasa.
"Terima kasih," bisik suara dari batu itu. "Kau sudah menyembuhkanku. Sekarang, aku akan menjagamu. Dan kau akan menjagaku. Selamanya."
Sultan Hasan tersenyum. Ia bangkit. Tubuhnya sakit semua. Ada benjolan di kepalanya. Luka di lengan dan kakinya. Tapi ia tidak peduli.
Ia berjalan keluar dari gua. Menembus air terjun. Berenang ke seberang. Dan terus berjalan pulang.
Di rumah Mbah Jayasakti, Pandan Wangi sudah bangun.
Ia duduk di beranda, memandang ke arah timur, menunggu. Wajahnya masih pucat. Tapi matanya sudah bersinar lagi. Bibirnya sudah merah lagi. Tangannya sudah hangat lagi.
"Sultan Hasan!" teriaknya ketika melihat kekasihnya muncul dari balik pepohonan.
Ia berlari. Sultan Hasan juga berlari. Mereka bertemu di tengah jalan. Berpelukan. Menangis. Tertawa. Bersyukur.
"Kau sembuh," kata Sultan Hasan.
"Kau menyembuhkanku," kata Pandan Wangi.
"Batu itu sudah utuh. Telaga itu sudah hidup. Kita selamat."
"Kita selamat."
Mereka berpelukan lebih erat. Tidak ingin melepaskan.
Mbah Jayasakti yang melihat dari kejauhan, tersenyum. "Cinta," bisiknya. "Cinta yang tulus bisa menyembuhkan apa pun. Bahkan telaga yang sekarat."
Ia masuk ke dalam rumah. Meninggalkan dua sejoli itu di bawah pohon beringin, berpelukan, bercerita, bercanda, tertawa.
Di kejauhan, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat. Seperti doa restu. Seperti seruan untuk terus menjaga cinta itu. Selamanya.
BAB XXXVIII
Pandan Wangi Memohon: Dengan Suara Lemah Meminta Ayahnya Mengampuni Sultan Hasan
Setelah peristiwa di gua, kesehatan Pandan Wangi pulih total.
Wajahnya yang semula pucat kini kembali berseri. Matanya yang semula sayu kini kembali bercahaya. Senyumnya yang semula lemah kini kembali lebar dan hangat. Telaga larangan juga pulih. Airnya yang semula keruh beberapa hari kini kembali jernih. Tanaman air yang semula layu kini kembali segar. Ikan-ikan yang semula mati kini kembali berenang.
Semua berkat Sultan Hasan. Ia telah menyelamatkan telaga. Ia telah menyelamatkan Pandan Wangi.
Tapi kebahagiaan mereka tidak bertahan lama.
Karena kabar tentang penyembuhan telaga menyebar dengan cepat. Bukan hanya sampai ke telinga warga desa, tapi juga sampai ke telinga adipati — ayah Pandan Wangi — di kerajaan tetangga.
"Apa?" adipati itu terkejut ketika mendengar laporan dari utusannya. "Pandan Wangi sakit? Hampir mati? Tapi kemudian disembuhkan oleh seorang pemuda kampung bernama Sultan Hasan? Pemuda yang dulu pernah aku larang mendekati anakku?"
"Benar, Paduka," kata utusan itu. "Pemuda itu masuk ke dalam gua di balik air terjun. Ia menyatukan pusakanya dengan jantung telaga. Ia menyembuhkan telaga yang sekarat. Dan berkat itu, putri Paduka selamat."
Adipati itu terdiam. Ia berjalan mondar-mandir di ruang singgasananya. Wajahnya merah padam, entah karena marah atau karena malu.
"Pemuda kampung itu... ia berani," gumamnya. "Ia berani masuk ke gua yang dijaga makhluk halus. Ia berani mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan anakku. Ia... ia pantas menjadi menantu."
Tapi perkataan itu tidak didengar siapa pun. Adipati itu hanya bergumam dalam hati.
Dua hari kemudian, adipati itu datang sendiri ke Dukuh Wangi.
Ia tidak datang dengan pasukan. Tidak dengan pengawal. Tidak dengan kemewahan. Ia datang dengan pakaian biasa, hanya ditemani dua orang ajudan. Ia ingin melihat calon menantunya dengan mata kepalanya sendiri.
Sultan Hasan sedang duduk di beranda rumahnya ketika adipati itu tiba. Pandan Wangi sedang duduk di sampingnya, menyulam kain. Mereka terkejut melihat tamu yang tidak diundang.
"Ayah..." bisik Pandan Wangi. Wajahnya pucat.
Adipati itu tidak menyapa anaknya. Ia langsung memandang Sultan Hasan. Matanya menyipit. Ia memeriksa pemuda itu dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Kau Sultan Hasan?" tanyanya.
"Saya, Paduka," kata Sultan Hasan sambil berdiri dan membungkuk hormat.
"Kau yang menyelamatkan anakku?"
"Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan, Paduka. Pandan Wangi orang yang saya cintai. Saya tidak tega melihatnya sakit."
Adipati itu menggerutu. "Cinta. Semua orang bilang cinta. Tapi cinta tidak bisa dimakan. Cinta tidak bisa membuat perut kenyang. Cinta tidak bisa membeli istana."
"Saya tidak butuh istana, Paduka. Saya cukup dengan rumah sederhana ini. Saya cukup dengan ladang dan kebun. Saya cukup dengan telaga ini. Saya cukup dengan Pandan Wangi."
Adipati itu terdiam. Ia tidak menyangka pemuda kampung akan seberani itu berbicara di depannya. Kebanyakan orang akan gemetar dan terbata-bata. Tapi Sultan Hasan bicara dengan tenang, dengan mata jujur, dengan hati tulus.
"Kau tidak takut padaku?" tanya adipati.
"Saya tidak takut, Paduka. Saya hanya hormat. Hormat sebagai anak pada orang tua. Hormat sebagai rakyat pada penguasa. Tapi tidak takut. Karena rasa takut akan membuat saya berbohong. Dan saya tidak mau berbohong pada calon mertua."
Adipati itu terkejut. "Calon mertua? Kau sudah berani menganggapku calon mertua? Padahal aku belum merestui hubungan kalian!"
"Saya mohon restu Paduka," kata Sultan Hasan sambil berlutut. "Saya mohon Paduka merestui cinta kami. Saya mohon Paduka mengizinkan saya meminang Pandan Wangi. Saya akan bekerja keras. Saya akan membuatnya bahagia. Saya akan melindunginya. Saya akan menjaganya. Saya mohon."
Adipati itu terdiam. Ia tidak menyangka pemuda itu akan berlutut di depannya. Ia tidak menyangka pemuda itu akan memohon restu dengan setulus itu.
Sebelum ia sempat menjawab, Pandan Wangi bangkit. Ia berlutut di samping Sultan Hasan.
"Ayah," katanya dengan suara lemah. Suaranya bergetar. Matanya basah. "Ayah, aku mohon. Jangan pisahkan aku dengan Sultan Hasan. Aku sudah dewasa. Aku bisa memilih jalanku sendiri. Tapi aku tidak bisa memilih untuk tidak mencintainya. Karena cinta ini sudah melekat di hatiku. Seperti akar pohon yang menjalar ke dalam tanah. Tidak bisa dicabut. Tidak bisa diputuskan."
Adipati itu terharu. Ia belum pernah melihat anaknya memohon seperti itu. Pandan Wangi dulu selalu keras kepala. Ia tidak pernah mau mengalah. Ia tidak pernah mau memohon. Ia selalu melawan, membangkang, kabur.
Tapi sekarang, demi cinta, ia berlutut. Ia memohon. Ia bersedia merendahkan diri.
"Anakku..." bisik adipati itu.
"Ayah, aku tahu aku sudah mengecewakan Ayah. Aku lari dari istana. Aku bersembunyi di telaga. Aku menjadi penunggu, bukan putri. Aku memalukan keluarga. Tapi aku tidak bisa hidup tanpa dia, Ayah. Aku sudah mencoba. Aku sudah bertahan bertahun-tahun tanpa dia. Tapi setiap hari, setiap malam, setiap detak jantungku, namanya yang terucap. Sultan Hasan. Sultan Hasan. Sultan Hasan."
Air mata adipati itu jatuh. Ia tidak bisa menahan haru.
"Berhenti, Nak," katanya. "Berhenti memohon. Ayah sudah memaafkan kalian sejak lama. Ayah hanya butuh waktu untuk menerima kenyataan bahwa anak Ayah tumbuh dewasa, bahwa anak Ayah punya pilihan sendiri, bahwa anak Ayah tidak butuh harta dan tahta, hanya butuh cinta."
Adipati itu memeluk Pandan Wangi. Ia menangis. Pandan Wangi juga menangis.
Sultan Hasan masih berlutut di samping mereka. Air matanya juga menetes.
"Ayah merestui kalian," kata adipati itu. "Ayah merestui pernikahan kalian. Ayah akan mengadakan pesta di istana. Ayah akan mengundang seluruh kerabat. Ayah akan memberikan mas kawin yang terbaik."
"Tidak usah, Ayah," kata Sultan Hasan. "Kami tidak butuh pesta. Kami tidak butuh kemewahan. Kami hanya butuh restu Ayah. Itu sudah cukup."
Adipati itu memandang Sultan Hasan. Matanya basah, tapi tersenyum.
"Kau pemuda yang baik," katanya. "Pandan Wangi beruntung memilihmu."
"Saya yang beruntung, Paduka. Pandan Wangi adalah anugerah terindah dalam hidup saya."
Mereka berdua bersalaman. Adipati itu memeluk Sultan Hasan. Seperti ayah memeluk anaknya sendiri.
Malam harinya, adipati itu pulang ke istana.
Ia pergi dengan hati gembira. Ia mendapatkan menantu yang baik, meskipun hanya pemuda kampung. Ia mendapatkan kembali anaknya yang hilang, meskipun tidak mau kembali ke istana. Ia mendapatkan ketenangan, meskipun harus merelakan Pandan Wangi tinggal di desa.
Sebelum pergi, ia berpesan pada Sultan Hasan.
"Jagalah anakku," katanya. "Ia keras kepala. Ia suka melawan. Ia susah diatur. Tapi hatinya baik. Ia hanya butuh seseorang yang mengerti."
"Aku akan menjaganya, Paduka. Dengan nyawaku."
"Bagus. Aku percaya padamu."
Adipati itu menaiki kudanya. Ia melambai pada Pandan Wangi. Pandan Wangi membalas lambaian itu.
"Jaga diri, Ayah!" teriaknya.
"Kamu juga, Nak!" teriak adipati itu balik.
Kuda itu berlari. Meninggalkan Dukuh Wangi. Meninggalkan telaga. Meninggalkan Pandan Wangi dan Sultan Hasan.
Tapi tidak benar-benar meninggalkan.
Ia akan selalu ada. Di hati. Di doa. Di restu.
Setelah kepergian adipati, Sultan Hasan dan Pandan Wangi duduk di tepi telaga.
Bulan purnama bersinar terang. Air telaga jernih, memantulkan cahaya bulan, menciptakan ribuan titik berkilauan seperti berlian.
"Ayahku merestui kita," kata Pandan Wangi.
"Iya," kata Sultan Hasan. "Kita bisa menikah."
"Tapi aku tidak bisa menjadi istri yang normal, Sultan Hasan. Aku tidak bisa tinggal di rumahmu. Aku harus tinggal di telaga. Aku tidak bisa memberimu anak. Aku tidak bisa..."
"Sudahlah, Pandan. Aku tidak butuh semua itu. Aku hanya butuh kau. Di sini. Di hatiku. Itu sudah cukup."
Pandan Wangi tersenyum. Ia mencium pipi Sultan Hasan.
"Kau lelaki terbaik yang pernah aku kenal," bisiknya.
"Kau juga perempuan terbaik yang pernah aku kenal," bisik Sultan Hasan balik.
Mereka berdua terdiam. Menikmati malam. Menikmati kehadiran satu sama lain. Menikmati cinta yang telah direstui.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah setuju. Seolah merestui. Seolah bahagia bahwa cinta akhirnya menemukan jalannya.
Selamanya.
BAB XXXIX
Janji Diam-diam: Sebelum Sultan Hasan Diusir dari Kota, Pandan Wangi Berbisik, "Tunggulah Aku di Telaga Tua Saat Purnama Pertama"
Restu dari adipati tidak serta-merta mengubah keadaan.
Meskipun ayah Pandan Wangi telah merestui hubungan mereka, ada pihak lain yang tidak setuju. Para pejabat istana, para bangsawan, para kerabat dekat — mereka semua menganggap pernikahan antara seorang putri bangsawan dengan pemuda kampung adalah aib. Sebuah noda hitam yang tidak bisa dihapuskan dari lembaran sejarah keluarga.
"Kita tidak bisa membiarkan ini terjadi," kata Perdana Menteri dalam sebuah rapat tertutup di istana. "Jika putri Paduka menikah dengan rakyat biasa, martabat kerajaan akan jatuh. Keluarga bangsawan lain akan menertawakan kita. Sekutu-sekutu kita akan menarik dukungan mereka."
Adipati itu diam. Ia tidak bisa membantah. Sebagai penguasa, ia harus memikirkan stabilitas kerajaan. Tidak bisa hanya mengikuti keinginan hati.
"Apa yang harus saya lakukan?" tanyanya.
"Putri Paduka harus segera dinikahkan dengan pangeran dari kerajaan tetangga. Sudah ada lamaran dari Kerajaan Kencana Wungu. Pangeran Kertawijaya adalah pemuda tampan, kaya raya, dan keturunan bangsawan tulen. Itu pasangan yang pantas untuk putri Paduka."
"Tapi Pandan Wangi tidak mau. Ia sudah punya pilihan sendiri. Ia sudah jatuh cinta pada Sultan Hasan."
"Cinta adalah urusan belakangan, Paduka. Yang utama adalah martabat kerajaan. Putri Paduka akan mengerti suatu hari nanti. Dan jika tidak, biarlah. Yang penting kerajaan selamat."
Adipati itu menghela napas. Ia terjepit. Di satu sisi, ia ingin membahagiakan anaknya. Di sisi lain, ia tidak mau mengecewakan kerajaan.
"Apa yang harus saya lakukan terhadap Sultan Hasan?" tanyanya.
"Pemuda itu harus diusir dari kerajaan. Jangan biarkan ia mendekati putri Paduka lagi. Jika perlu, kita suruh pasukan untuk menangkapnya dan membuangnya ke pulau terpencil."
"Tidak. Jangan sakiti dia. Ia sudah menyelamatkan anakku. Ia orang baik."
"Baiklah, Paduka. Kita tidak akan menyakitinya. Tapi ia harus pergi. Jauh. Dan tidak boleh kembali."
Adipati itu mengangguk lesu.
Keesokan harinya, utusan dari istana datang ke Dukuh Wangi.
Mereka membawa surat perintah pengusiran untuk Sultan Hasan. Isinya: "Kamu harus meninggalkan kerajaan ini dalam waktu tiga hari. Kamu tidak boleh kembali. Kamu tidak boleh menghubungi Pandan Wangi. Kamu tidak boleh mendekati telaga larangan. Jika kamu melanggar, kamu akan dihukum mati."
Sultan Hasan membaca surat itu berulang-ulang. Tangannya gemetar. Matanya berkaca-kaca. Tapi ia tidak menangis. Ia tidak mau menunjukkan kelemahannya di depan utusan kerajaan.
"Saya akan pergi," katanya singkat.
"Bagus. Jangan coba-coba melawan. Pasukan kerajaan akan mengawasimu."
Utusan itu pergi. Meninggalkan Sultan Hasan yang terdiam di depan rumahnya.
Jaya yang mendengar kabar itu, langsung marah.
"Mereka tidak berhak mengusirmu! Kau tidak melakukan kesalahan apa pun! Kau malah menyelamatkan telaga! Kau menyelamatkan putri mereka! Mereka seharusnya berterima kasih, bukan mengusir!"
"Kadang, Jaya, kebaikan tidak selalu dibalas dengan kebaikan," kata Sultan Hasan. "Kadang kebaikan dibalas dengan kejahatan. Itu sudah biasa."
"Tapi ini tidak adil!"
"Dunia memang tidak adil, Jaya. Kita sudah tahu itu sejak kecil."
Jaya terdiam. Ia tidak bisa membantah.
Malam harinya, Sultan Hasan pergi ke telaga untuk berpamitan pada Pandan Wangi.
Pandan Wangi sudah tahu. Kabar pengusiran itu sudah sampai ke telinganya melalui bisikan angin. Air matanya sudah habis. Yang tersisa hanyalah kesedihan yang dalam.
"Mereka mengusirmu," katanya.
"Iya. Aku harus pergi dalam tiga hari."
"Kemana?"
"Aku tidak tahu. Mungkin ke selatan. Mungkin ke barat. Mungkin ke utara. Yang penting aku tidak boleh tinggal di sini."
"Aku tidak bisa ikut. Aku terikat dengan telaga ini."
"Aku tahu. Aku tidak akan memintamu ikut."
Pandan Wangi menangis. Sultan Hasan memeluknya.
"Jangan menangis," katanya. "Kita masih punya tiga hari. Kita bisa menghabiskannya bersama. Kita bisa membuat kenangan. Kita bisa berjanji untuk bertemu lagi."
"Kapan? Bagaimana? Kau dilarang kembali ke kerajaan ini. Kau dilarang menghubungiku. Kau dilarang mendekati telaga."
"Sampah aturan itu. Aku tidak akan peduli. Aku akan kembali. Suatu hari. Aku janji."
"Tapi jika kau kembali, mereka akan membunuhmu."
"Biarkan mereka. Aku tidak takut mati. Yang aku takut adalah hidup tanpa dirimu."
Pandan Wangi terisak. Sultan Hasan membelai rambutnya.
"Pandan," katanya. "Dengarkan aku. Pada malam purnama pertama setelah aku pergi, kau datang ke telaga ini. Aku juga akan datang. Kita akan bertemu di sini. Diam-diam. Tanpa sepengetahuan siapa pun. Dan kita akan berjanji untuk selalu menjaga hati satu sama lain."
"Kau yakin bisa datang? Jaraknya mungkin ribuan kilometer."
"Aku akan datang. Apapun yang terjadi. Aku akan datang. Karena cinta. Karena rindu. Karena janji."
Pandan Wangi mengangguk. Ia menghapus air matanya.
"Baiklah. Aku akan menunggumu. Di telaga ini. Pada purnama pertama."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berdua bersalaman. Sebuah janji diam-diam yang tidak boleh diketahui siapa pun. Janji yang mengikat hati mereka meskipun jarak dan waktu membentang.
Di dahan pohon di seberang telaga, burung hantu menatap mereka. Matanya bundar dan kuning. Ia tidak berbunyi. Hanya menatap.
Seolah tahu. Seolah mengerti. Seolah setuju bahwa cinta sejati tidak akan pernah terhalang oleh apapun.
Jarak. Waktu. Status sosial. Kutukan. Kematian.
Tidak ada yang bisa memisahkan mereka.
Selamanya.
Tiga hari kemudian, Sultan Hasan pergi.
Ia tidak membawa banyak barang. Hanya pakaian seadanya, bekal makanan, sebotol air, dan batu akik merah di dadanya — batu yang dulu menyatu dengan jantung telaga, batu yang sekarang menjadi satu-satunya penghubung antara dirinya dan Pandan Wangi.
Jaya ikut. "Aku tidak akan meninggalkanmu," katanya. "Ke mana pun kau pergi, aku ikut. Sampai mati."
Mereka berdua berjalan ke arah barat. Meninggalkan Dukuh Wangi. Meninggalkan telaga. Meninggalkan Pandan Wangi.
Di tepi desa, Pandan Wangi berdiri di balik pohon beringin. Ia tidak berani mendekat. Ia hanya memandang dari kejauhan. Air matanya mengalir.
"Tunggulah aku, Sultan Hasan," bisiknya. "Aku akan menunggumu. Di telaga ini. Pada purnama pertama."
Sultan Hasan tidak menoleh. Karena ia takut jika menoleh, ia tidak akan bisa pergi.
Ia terus melangkah. Menembus kabut pagi. Menuju ke barat. Menuju ke kehidupan baru. Menuju ke masa depan yang tidak pasti.
Tapi di dadanya, batu akik merah berdenyut. Hangat. Seperti bisikan: "Aku di sini. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
Sultan Hasan tersenyum. Ia menggenggam batu itu erat-erat.
"Terima kasih," bisiknya. "Kau adalah satu-satunya yang tersisa dari Pandan Wangi. Dan kau akan selalu bersamaku. Sampai mati."
Di kejauhan, burung hantu berbunyi. Sekali. Pendek.
Seperti ucapan selamat jalan. Seperti doa restu. Seperti janji bahwa mereka akan bertemu lagi. Pada purnama pertama. Di telaga tua. Selamanya.
BAB XL
Purnama Pertama: Sultan Hasan Menunggu, Pandan Wangi Tidak Datang – Ia Tertipu atau Ditahan?
Perjalanan ke barat membawa Sultan Hasan dan Jaya jauh dari Dukuh Wangi. Mereka menyeberangi sungai, melewati hutan, mendaki bukit, dan turun ke lembah. Setelah tujuh hari berjalan, mereka sampai di sebuah kota kecil bernama Kota Sambang. Bukan tempat yang istimewa. Hanya persinggahan para pedagang dan pengembara. Tapi cukup untuk mereka berdua memulai hidup baru.
Sultan Hasan bekerja serabutan. Kadang menjadi kuli angkut di pasar. Kadang menjadi buruh tani di ladang. Kadang menjadi tukang bangunan. Apapun yang halal, ia kerjakan. Jaya melakukan hal yang sama. Mereka berdua bersaudara, bahu-membahu, susah-masenang.
Tapi di setiap malam, sebelum tidur, Sultan Hasan selalu memandang ke timur. Ke arah Dukuh Wangi. Ke arah telaga. Ke arah Pandan Wangi.
"Purnama pertama," bisiknya. "Aku akan kembali. Aku janji."
Batu akik merah di dadanya berdenyut. Hangat. Seperti setuju.
Hari-hari berlalu. Bulan-bulan berganti. Sultan Hasan menghitung setiap hari dengan cermat. Ia tahu kapan purnama pertama akan tiba. Ia sudah menyiapkan segalanya. Ia sudah mengatur cuti dari pekerjaan. Ia sudah menyiapkan bekal perjalanan.
"Kau sungguh akan kembali?" tanya Jaya.
"Ya. Aku sudah berjanji."
"Tapi kau dilarang masuk ke kerajaan. Jika kau ketahuan, kau akan dihukum mati."
"Aku akan menyelinap. Diam-diam. Tidak ada yang tahu."
"Berbahaya."
"Aku tak peduli."
Jaya menghela napas. Ia tahu Sultan Hasan keras kepala. Jika sudah berjanji, ia akan menepatinya. Apapun risikonya.
"Baiklah. Aku ikut."
"Kau tidak usah ikut. Ini urusanku."
"Kau saudaraku. Ke mana kau pergi, aku ikut. Sampai mati."
Sultan Hasan tersenyum. Ia menepuk pundak Jaya.
"Baiklah. Kita pergi bersama."
Perjalanan pulang ke Dukuh Wangi memakan waktu lima hari.
Sultan Hasan dan Jaya memilih jalan memutar, melewati hutan lebat, menghindari pos-pos penjagaan, menyusuri sungai-sungai kecil. Mereka tidak menaiki kuda. Hanya berjalan kaki. Untuk menghindari kecurigaan.
Mereka tiba di Dukuh Wangi pada sore hari, tepat sebelum purnama pertama muncul. Sultan Hasan memarkir Jaya di tepi hutan, dekat pohon beringin tua.
"Kau tunggu di sini. Aku akan ke telaga sendiri."
"Hati-hati, Hasan."
"Aku akan hati-hati."
Sultan Hasan berjalan sendirian. Menembus kegelapan. Menuju telaga. Menuju Pandan Wangi.
Bulan purnama bersinar terang.
Sultan Hasan tiba di tepi telaga. Airnya jernih. Dasarnya terlihat. Tanaman air bergoyang-goyang ditarik arus yang lembut. Batu hitam tempat ia biasa duduk bersama Pandan Wangi masih ada. Masih licin. Masih kokoh.
Tapi Pandan Wangi tidak ada.
Sultan Hasan menunggu.
Satu jam. Dua jam. Tiga jam.
Pandan Wangi tidak muncul.
Ia memanggil-manggil nama Pandan Wangi. Suaranya bergema di antara pepohonan, memantul dari tebing-tebing batu, lalu lenyap ditelan kegelapan.
Tidak ada jawaban.
Ia berjalan menyusuri tepi telaga. Memeriksa setiap sudut. Setiap semak. Setiap pohon.
Pandan Wangi tidak ada.
Ia berenang ke tengah telaga. Menyelam ke dasar. Mencari-cari di antara tanaman air.
Pandan Wangi tidak ada.
Ia keluar dari air. Tubuhnya menggigil. Bukan karena dingin. Tapi karena takut.
"Apakah ia tertipu? Apakah ia lupa dengan janjinya? Atau... apakah ia ditahan?"
Ia teringat pada kata-kata Pandan Wangi: "Jika kau kembali, mereka akan membunuhmu."
Mungkin para pengawal kerajaan menculik Pandan Wangi. Memenjarakannya di istana. Melarangnya keluar. Memutuskan komunikasi dengannya.
Atau mungkin... mungkin Pandan Wangi sudah mati.
Sultan Hasan tidak bisa menerima pikiran itu. Ia berteriak. Memanggil nama Pandan Wangi berulang-ulang. Sampai suaranya serak. Sampai air matanya habis.
"PANDAN! DI MANA KAU? JANJI KITA! PURNAMA PERTAMA! AKU DATANG! AKU MENEPATI JANJI! DI MANA KAU?"
Tidak ada jawaban.
Hanya angin malam yang berembus pelan. Membawa wangi pandan. Samar. Tapi jelas.
Sultan Hasan menangis. Ia bersimpuh di tepi telaga. Ia memukul-mukul tanah. Ia membenci dirinya sendiri.
"Aku seharusnya tidak pergi. Aku seharusnya melawan. Aku seharusnya tetap di sini, bersamanya, apapun risikonya. Sekarang ia menghilang. Aku tidak tahu di mana. Aku tidak tahu bagaimana mencarinya. Aku... aku kehilangan dia lagi."
Batu akik merah di dadanya berdenyut. Kencang. Sangat kencang. Hampir seperti mau meledak.
"Dia masih hidup," bisik batu itu. "Aku bisa merasakannya. Tapi ia terperangkap. Di suatu tempat. Jauh dari sini. Kita harus menyelamatkannya."
"Siapa yang memerangkapnya?"
"Aku tidak tahu. Tapi kita bisa mencari. Batu ini akan menuntunmu. Ikuti denyutnya. Ia akan membawamu ke tempat Pandan Wangi berada."
Sultan Hasan berdiri. Ia menghapus air matanya.
"Baiklah. Aku akan mencari. Sampai ke ujung dunia. Sampai aku menemukannya. Sampai aku menyelamatkannya."
Ia berjalan meninggalkan telaga. Meninggalkan tempat di mana ia berjanji bertemu dengan Pandan Wangi. Meninggalkan kenangan-kenangan indah yang kini berubah menjadi luka.
Di tepi hutan, Jaya masih menunggu.
"Kau tidak bertemu dengannya?" tanyanya.
"Tidak. Ia tidak datang."
"Mungkin ia ditahan."
"Mungkin. Aku harus mencari."
"Ke mana?"
"Ikuti denyut batu ini. Ia akan menuntun."
Mereka berdua berjalan ke arah timur. Bukan kembali ke Kota Sambang. Tapi ke arah yang berlawanan. Ke arah yang tidak mereka kenal. Ke arah yang mungkin membawa mereka pada bahaya.
Tapi Sultan Hasan tidak peduli.
Ia akan mencari Pandan Wangi. Sampai mati.
Di istana, Pandan Wangi terkurung di dalam kamarnya.
Pintu dikunci dari luar. Jendela ditutup dengan jeruji besi. Dua orang pengawal bersenjata lengkap berjaga di depan pintu.
Pandan Wangi duduk di sudut kamar, memeluk lututnya, menangis.
Ia tahu malam ini adalah purnama pertama. Ia tahu Sultan Hasan akan datang ke telaga. Ia tahu kekasihnya akan menunggunya di sana, sendirian, kecewa, terluka.
Tapi ia tidak bisa pergi. Ayahnya sendiri yang mengurungnya.
"Maafkan aku, Sultan Hasan," bisiknya. "Aku tidak bisa menepati janji. Mereka menahanku. Mereka tidak mengizinkanku keluar. Aku... aku berusaha melawan. Tapi tidak bisa."
Ia memandang kalung di lehernya. Batu akik merah itu berdenyut. Pelan. Lembut.
"Dia datang," bisik batu itu. "Dia menunggumu di telaga. Tapi kau tidak bisa datang. Sekarang ia pergi. Ia mencari. Ia akan menemukanmu. Suatu hari."
"Kapan?"
"Aku tidak tahu. Tapi ia tidak akan menyerah. Karena ia mencintaimu. Dan cinta sejati tidak pernah menyerah."
Pandan Wangi tersenyum di tengah tangisnya.
"Terima kasih," bisiknya. "Setidaknya aku tahu ia datang. Setidaknya aku tahu ia menepati janji. Setidaknya aku tahu ia mencintaiku. Itu sudah cukup."
Ia memejamkan mata. Ia berdoa. Semoga Sultan Hasan selamat. Semoga Sultan Hasan kuat. Semoga Sultan Hasan tidak menyerah.
Semoga mereka bertemu lagi.
Suatu hari nanti.
Di tempat yang indah.
Di waktu yang tepat.
Selamanya.
Bersambung ke Jilid 2: Air Mata dan Telaga



Slamet Riyadi
29 Juli 2025 03:27:50
Semoga kita bisa kerjasama bu. ...