Desa Dabulon
Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan
CINTAKU BERTEPUK SEBELAH TANGAN

CINTAKU BERTEPUK SEBELAH TANGAN
"Ketika hati memilih untuk terus bertepuk, meski hanya satu tangan yang berbunyi — karena cinta sejati tak pernah menghitung balasan."
Oleh: Slamet Riyadi
Disclaimer
Karya fiksi ini merupakan hasil imajinasi dan kreativitas penulis. Semua nama tokoh, karakter, tempat, dan peristiwa yang digambarkan dalam novel ini adalah fiktif belaka. Tidak ada maksud untuk merujuk atau mewakili individu, kelompok, organisasi, atau peristiwa nyata tertentu.
Kisah cinta, persahabatan, pengkhianatan, dan perjuangan hidup yang tertuang di dalamnya hanyalah cerminan dari dinamika kehidupan remaja pada umumnya. Desa Tegorejo, Dusun Kersan, Dusun Cegunan, Dusun Tegolayang, Dusun Pangempon, serta institusi SMPN I Pegandon dan SMAN I Pegandon adalah latar fiktif yang digunakan semata untuk mendukung alur cerita.
Penulis tidak bermaksud menyinggung atau merendahkan pihak mana pun. Novel ini ditujukan untuk pembaca remaja dan dewasa muda yang percaya bahwa cinta pertama, meski terkadang bertepuk sebelah tangan, selalu meninggalkan pelajaran berharga.
Selamat membaca.
Prolog
Desa Tegorejo, 2018
Angin sore berembus pelan dari arah persawahan, membawa bau tanah basah dan rumput kering. Di pesisir pantura, desa kecil itu terbagi menjadi empat dusun yang saling berjajar seperti manik-manik dalam sebuah kalung , Kersan, Cegunan, Tegolayang, dan Pangempon. Setiap dusun punya cerita, setiap rumah menyimpan mimpi, dan setiap hati menyembunyikan rahasia.
Di sanalah, di antara hamparan sawah yang menghijau dan jalan setapak yang berkelok, seorang gadis bernama Anita tumbuh menjadi remaja. Ia bukan siapa-siapa. Hanya anak buruh cuci dari Dusun Kersan yang terbiasa hidup pas-pasan. Namun, ia memiliki mimpi yang setinggi langit: keluar dari jerat kemiskinan melalui satu-satunya jalan yang ia percaya , pendidikan.
Anita tidak pernah membayangkan bahwa cinta akan datang kepadanya. Terlebih cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Tetapi cinta tidak pernah meminta izin. Ia datang seperti hujan di musim kemarau, seperti angin malam yang tiba-tiba berembus, seperti surat kaleng yang jatuh dari loker sekolah , tanpa diduga, tanpa permisi.
Lalu datanglah Hermanto , laki-laki dari kota dengan rambut sebahu dan senyum yang membuat dunia terasa lebih cerah. Juga Anton , anak hartawan dengan segala pesona dan ambisinya. Dan Lukman , pemuda desa yang tulus dengan kesederhanaan yang menggetarkan.
Mereka datang silih berganti. Mereka jatuh cinta, berusaha, dan pada akhirnya... gagal.
Karena cinta Anita bukanlah cinta yang mudah dimenangkan. Ia telah terbakar oleh masa lalu ibunya, dihantui oleh status sosial, dan dilumpuhkan oleh rasa takut akan patah hati yang kedua kalinya.
"Ini bukan tentang mereka yang tidak cukup baik untukku," kata Anita suatu malam kepada Yulia, sahabatnya yang setia. "Ini tentang aku yang tidak cukup berani untuk jatuh cinta lagi."
Cintaku bertepuk sebelah tangan , mungkin judul ini terdengar seperti pengakuan seorang pecundang. Tetapi percayalah, ini bukan cerita tentang kekalahan.
Ini adalah cerita tentang seorang gadis desa yang memilih untuk tidak memperjuangkan cinta karena ia sedang memperjuangkan hidupnya. Ini tentang bagaimana terkadang, melepaskan adalah bentuk cinta paling dewasa yang bisa kita berikan , baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.
Dan ini tentang bagaimana cinta yang bertepuk sebelah tangan pun, jika dipeluk erat, bisa menjadi tameng yang melindungi hati dari kehancuran yang lebih besar.
Mari kita mulai perjalanan ini.
Tegorejo, suatu senja yang tidak akan pernah dilupakan.
Bab 1: Desa Tiga Lembah
Tegorejo, 2018
Langit masih biru pucat ketika Anita membuka mata. Dari celah dinding anyaman bambu kamarnya, cahaya pagi menyusup seperti benang-benang emas yang jatuh ke lantai tanah. Rumahnya mengepul bau anyir tembakau kering dari Dusun Kersan yang terbawa angin timur.
Dua bulan menuju Ujian Nasional. Anita sudah hafal hitung mundur itu di luar kepala.
Ia meraih buku catatan Matematika dari bawah bantal , kebiasaan yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun. Semalaman ia tidur dengan buku itu, seperti orang memeluk jimat. Bukan takut lupa rumus. Tapi takut tertinggal.
Kamar Anita sempit. Hanya cukup untuk satu dipan tipis, satu kardus berisi pakaian, dan setumpuk buku yang disusun rapi di sudut. Dindingnya dihiasi tempelan kertas bertuliskan target nilai: 9,5 — IPA — 9,5 — MAT — 9,5 — ING. Tulisan itu sudah kusam, kena embun setiap malam yang merembes dari bilik bambu.
"Ibu sudah bangun?" tanyanya pada diri sendiri.
Dari dapur, terdengar suara besi yang digosokkan ke wajan. Bau minyak goreng dan bawang putih merayap masuk.
"Anita! Bantu Ibu di dapur!"
Suara Bu Karsinem serak, seperti biasa. Sejak ayah tiri Anita meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan di pabrik penggergajian kayu, suara ibunya tidak pernah kembali seperti dulu. Ada getar halus di setiap ujung kalimatnya. Bukan sedih lagi. Tapi lelah yang sudah mengendap menjadi kebiasaan.
"Iya, Bu," jawab Anita.
Ia melipat selimut tipisnya, lalu berjalan ke dapur tanpa alas kaki. Lantai tanah terasa dingin. Di luar, ayam jago tetangga masih bersahutan.
Dapur mereka adalah ruang paling hangat di rumah panggung itu. Panci aluminium hitam legam di atas tungku batu. Nasi sisa semalam digoreng dengan telur dan sedikit kecap. Ibu Karsinem membaliknya dengan sendok kayu yang gagangnya sudah diikat karet karena patah.
"Kamu sudah sarapan?" tanya ibunya tanpa menoleh.
"Belum."
"Ya sudah, makan dulu. Jangan lupa bawa bekal."
Anita mengambil piring dari rak bambu. Sambil menyendok nasi goreng ke piringnya, ia melirik sudut dapur. Ada lima bungkus plastik berisi gorengan , singkong dan tempe , yang sudah dibungkus rapi sejak subuh. Ibu akan menjualnya di depan rumah sebelum berangkat mencuci pakaian orang di Dusun Pangempon.
"Ibu tidak jualan hari ini?"
"Tadi sudah laku tiga. Tinggal dua. Lagian hari Senin. Sepi." Ibu Karsinem menghela napas. "Kamu makan yang banyak. Jangan mikirin jualan."
Anita tidak menjawab. Ia makan pelan-pelan. Di kepalanya, rumus phytagoras dan sistem persamaan linear bergantian dengan hitungan: berapa sisa uang belanja minggu ini, cukup atau tidak untuk membeli kertas HVS untuk latihan soal?
Setelah mandi dengan air dari sumur, Anita mengenakan seragam putih-merah yang sudah sedikit kusam. Roknya pendek di lutut , bukan karena gaya, tapi karena sudah dua tahun tidak beli baru. Ibu Karsinem selalu bilang, "Yang penting bersih."
Sepeda tuanya berkarat di bagian stang. Namun rantainya masih kuat. Anita mendorongnya keluar pagar bambu, melewati pematang sawah yang tanahnya masih basah karena embun.
Dari kejauhan, Dusun Cegunan membentang dengan rumah-rumah anyaman bambu yang hampir mirip dengan dusunnya. Bedanya, di sana ada tiga rumah berdinding tembok , punya para perantau yang sukses. Yulia tinggal di salah satu rumah bambu biasa, bukan yang tembok.
"Nita !"
Suara itu sudah terdengar dari tikungan jalan. Yulia berdiri di bawah pohon randu, mengenakan topi kain menutupi rambut ikalnya yang baru dipotong sebahu.
"Lin, lo potong rambut?" tanya Anita setelah mengayuh mendekat.
"Iya. Nggak betah panjang-panjang. Panas."
"Malah bagusan pendek. Jadi kelihatan matanya."
"Mata gue apa? Mata belekan?" Yulia tertawa.
Mereka berdua mengayuh sepeda berdampingan di jalan setapak. Sawah di kiri kanan mulai menghijau. Padi umur dua bulan. Beberapa burung gereja terbang rendah, lalu hinggap di pematang.
"Lo denger berita?" Yulia memulai.
"Apaan?"
"Kata Bu Rahma, ada anak pindahan dari Semarang. Masuk kelas kita. Kelas unggulan."
"Anak kota?"
"Katanya. Anak orang kaya."
Anita mengangkat bahu. "Ya sudah. Biasa aja. Yang penting kita fokus UN."
Yulia melirik Anita sekilas. "Lo nggak penasaran?"
"Penasaran sama apaan? Wajahnya?"
"Iya, dong. Siapa tahu ganteng."
"Ya kalau ganteng lo yang ambil. Jangan seret-seret gue."
Mereka tertawa bersama. Suara sepeda ontel mereka bersahutan dengan suara jangkrik yang masih malu-malu keluar dari semak.
SMPN I Pegandon berdiri di tepi Jalan Raya Pegandon, hanya seratus meter dari Kantor Kecamatan. Bangunannya cat putih kusam, dengan atap genteng yang sudah ditumbuhi lumut di beberapa sudut. Di halaman depan, pohon beringin tua merunduk seperti penjaga yang mengantuk.
Saat Anita dan Yulia tiba, sepeda-sepeda sudah berjejer rapi di rak besi. Motor butut milik guru terparkir di samping ruang guru. Di teras kelas IX-A, sekelompok anak laki-laki sedang mengobrol sambil sesekali melirik ke arah pintu gerbang.
"Hari ini ada yang baru, ya?" bisik salah satu dari mereka.
"Anak Semarang, Man. Kabarnya anak pejabat."
"Pejabat apaan? Emangnya di Semarang masih ada pejabat kampung?"
Mereka tertawa.
Anita berjalan melewati mereka tanpa menoleh. Tapi Yulia melambat.
"Novi, lo tau-tau amat," celetuk Yulia pada seorang perempuan yang berdiri agak jauh, menyandari tiang bendera.
Novi—anak ketua RT dari Dusun Tegolayang—tersenyum tipis. "Gue tau karena gue punya sumber, Lin. Bukan kayak lo yang cuma tau dari gosip pasar."
Yulia hendak membalas, tapi Anita menarik lengannya.
"Udah, Lin. Jangan buang energi."
Mereka masuk ke kelas. Di dalam, bangku-bangku kayu sudah tersusun rapi. Tiga baris. Masing-masing lima bangku. Nama-nama ditempel di meja.
Nomer 01: Anita. Meja paling depan dekat jendela.
Nomer 02: Yulia. Di belakang Anita.
Nomer 03: Kosong. Masih belum ada nama.
"Itu untuk anak baru," kata Anita sambil meletakkan tasnya.
Belum sempat ia duduk, pintu kelas terbuka.
Seorang laki-laki masuk. Tinggi. Kulit putih bersih seperti orang yang jarang terkena panas matahari pedesaan. Rambutnya agak panjang sebahu, sedikit tergerai ke kiri. Seragam putihnya mengkilap, masih baru. Sepatu pantofelnya hitam mengilap, kontras dengan sandal jepit kebanyakan siswa.
Semua mata tertuju padanya.
Ia tersenyum. Senyum yang membuat ruang kelas yang sumpek itu terasa tiba-tiba lebih cerah.
"Halo. Aku Hermanto. Pindahan dari Semarang. Maaf kalau aku agak ketinggalan pelajaran. Tolong bimbing, ya."
Suaranya dalam, tapi tidak sombong.
Anita, yang sedari tadi sibuk merapikan buku, mengangkat wajah. Matanya bertemu dengan mata Hermanto.
Deg.
Jantungnya berdegup sekali, terlalu keras. Ia tidak tahu mengapa.
Hermanto tersenyum ke arahnya. Lalu berjalan menuju bangku nomer 03 — tepat dua baris di depan Anita.
Yulia, dari belakang, menyikut pelan. "Nita, muka lo merah."
"Panas," jawab Anita cepat. Terlalu cepat.
Ia menunduk. Membuka buku. Tapi tidak benar-benar membaca.
Yang ia dengar hanyalah detak jantungnya sendiri. Dan aroma sabun mandi merek mahal yang terbawa saat Hermanto lewat.
Di luar, angin membawa bau tembakau kering dari Dusun Kersan. Sama seperti setiap pagi. Tapi bagi Anita, pagi ini terasa berbeda.
Drama cinta yang akan mengubah segalanya sudah mulai merambat seperti akar pohon beringin.
Namun saat itu, Anita belum tahu.
Ia mengira ini hanya detak jantung biasa.
Bab 2: Kedatangan Hermanto
Pukul setengah tujuh pagi. Jalan setapak Randu Gembyang.
Udara masih dingin. Embun belum menguap dari ujung-ujung rumput ilalang yang tumbuh liar di pinggir jalan. Dari kejauhan, Bukit Gua Kukulan tampak seperti raksasa hijau yang sedang bersandar, kepalanya diselimuti kabut tipis.
Jalan setapak dari Dusun Kersan menuju Jalan Raya Pegandon hanya selebar tiga meter. Di kiri berjajar rumah warga begitu juga di sebelak kanannya. Dusun Kersan termasuk sebuah dusun yang pata penduduknaya.
Anita mengayuh sepeda tuanya perlahan. Rantai sepeda itu berderit setiap kali engkolannya berputar setengah lingkaran. Bunyi itu sudah akrab di telinganya — seperti teman yang setia meski kadang menyebalkan.
"Besok harus gosok rantai," gumamnya.
Di sampingnya, Yulia bersiul kecil lagu "Separuh Aku" — lagu Noah yang sedang ngetrend saat itu. Topi kainnya agak miring menutupi dahi. Satu tangan Yulia memegang stang, tangan satunya memegang kantong plastik berisi pisang goreng buatan ibunya.
"Lo sarapan belum?" tanya Yulia.
"Sudah. Nasi goreng."
"Pake telor?"
"Dikit."
Yulia mengeluarkan sepotong pisang goreng dari plastik, lalu menyodorkannya ke Anita. "Makan. Lo tambah kurusan."
Anita tersenyum. Ia mengambil pisang goreng itu, menggigitnya kecil-kecil. Hangat. Renyah di luar, lembut di dalam. Rasanya seperti pelarian, pikirnya. Pelarian kecil dari rutinitas yang membosankan.
Di tikungan jalan, sekelompok anak SD lewat dengan berlari kecil. Tas punggung mereka terpental ke kiri dan kanan. Salah satu dari mereka — anak laki-laki berkepala plontos — tersandung batu dan hampir jatuh ke sawah. Anita menahan laju sepedanya.
"Hati-hati, Nak!" teriaknya.
Anak itu hanya tertawa, lalu berlari lagi.
"Masa kecil yang indah," kata Yulia sambil menghela napas.
"Masa kecil gue nggak indah-indah amat," sahut Anita. "Tiap hari nyari rumput buat kambing."
"Ya iyalah. Lo kan beda. Lo sudah dewasa sejak umur sembilan."
Anita tidak menjawab. Yang benar, dia tidak pernah merasa punya masa kecil. Sejak ayah tirinya masih hidup sekalipun, keluarganya tetap hidup pas-pasan. Apalagi setelah ayah tirinya meninggal. Ibu Karsinem harus bekerja untuk dua orang — dirinya sendiri dan Anita.
Tapi Anita tidak pernah mengeluh. Mengeluh tidak membayar SPP, begitu katanya dalam hati.
Pertigaan menuju Dusun Cegunan.
Yulia berhenti di bawah pohon asam yang sudah tua. Batangnya besar, akarnya muncul ke permukaan tanah seperti ular raksasa yang setengah membeku. Di sinilah mereka biasa bertemu setiap pagi.
"Hei, Nita ! Awas ada motor!" teriak Yulia tiba-tiba.
Brakk!
Sebuah motor Honda Supra berwarna hitam melaju dari arah belakang dengan kecepatan yang terlalu tinggi untuk jalan desa. Ban depannya menyentuh genangan air, menyemburkan lumpur ke seragam Anita.
Anita refleks membanting setir ke kiri. Sepeda tuanya oleng. Untuk sesaat, ia merasakan gravitasi menarik tubuhnya ke kanan — ke arah selokan yang airnya kehitaman. Tapi entah bagaimana, ia berhasil menahan keseimbangan.
Jantungnya berdegup kencang. Telinganya berdenging.
"Cuk*!" Yulia setengah berteriak. "Itu nyetir kayak setan!"
Motor itu berhenti beberapa meter di depan mereka. Mesinnya masih menyala, bergemuruh pelan.
Pengendaranya turun.
Dia laki-laki. Mungkin seusia mereka, atau setahun lebih tua. Tinggi badannya melebihi kebanyakan pemuda desa yang biasa Anita lihat. Kulitnya putih bersih — putih seperti orang yang jarang terkena sinar matahari. Putih yang tidak biasa di Tegorejo, pikir Anita.
Rambutnya agak panjang, sebahu. Sedikit tergerai ke kiri, menutupi separuh dahi. Matanya hitam pekat, tajam seperti burung elang, tetapi saat ia tersenyum — senyum itu berubah menjadi teduh. Seperti langit setelah hujan.
Deg.
Anita merasakannya lagi. Detak jantung yang aneh. Satu kali. Keras. Lalu kembali normal.
"Maaf, Kak. Saya nggak lihat," kata laki-laki itu.
Suaranya dalam. Jelas. Bukan suara yang biasa ia dengar dari mulut pemuda desa yang sering serak karena kebanyakan merokok atau berteriak di sawah.
Anita tidak bisa berkata-kata. Ia hanya diam, memegang erat stang sepedanya yang masih sedikit goyang.
Laki-laki itu mendekat. Ia melihat noda lumpur di seragam Anita. Wajahnya berubah sedikit — dari sopan menjadi bersalah.
"Wah, maaf, seragam kakak kena cipratan. Saya nggak sengaja. Jalanan becek, terus tadi saya agak... agak kencengan."
Yulia yang sedari tadi hanya diam, melirik ke arah Anita. Ada senyum kecil di bibir sahabatnya itu — senyum yang Anita kenal betul. Itu senyum "lo suka sama dia". Anita membuang muka.
"Kamu anak SMP?" tanya laki-laki itu.
Anita mengangguk pelan.
"Aku Hermanto. Pindahan dari Semarang. Mulai hari ini aku juga sekolah di SMPN I Pegandon." Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum canggung. "Eh, tapi aku kelas IX juga, kok. Maaf tadi hampir nyungsep ya. Maaf juga baju kena lumpur."
"Ya sudah, kita sekalian bareng saja," kata Yulia tiba-tiba.
Anita menoleh ke arah Yulia, setengah melotot. Lo gila? matanya berkata. Tapi Yulia pura-pura tidak melihat.
"Boleh. Makasih," jawab Hermanto cepat, seolah takut tawaran itu dicabut.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah.
Hermanto memacu motornya pelan di samping mereka. Sepeda Anita di kiri, sepeda Yulia di kanan, motor Hermanto di tengah — posisi yang aneh, tetapi berhasil. Sesekali Hermanto menepi ke bahu jalan yang lebih lebar untuk memberi mereka ruang.
Ia bercerita banyak hal.
Bahwa ia lahir di Semarang, besar di Semarang, tetapi sering menghabiskan liburan di Tegorejo karena neneknya tinggal di sini.
"Ibuku orang asli sini, dari Dusun Pangempon. Ayahku dari Semarang. Jadi aku campuran," katanya sambil tertawa.
"Kulit putihmu itu karena ayahmu, berarti?" tanya Yulia iseng.
"Bukan. Karena aku jarang keluar rumah. Hobi main game."
Anita tersenyum kecil mendengar itu. Anak rumahan, pikirnya. Lawan jenis dari dirinya yang sejak kecil sudah terbiasa berjalan berkilo-kilometer untuk membantu ibu.
"Nenekku sakit-sakitan," lanjut Hermanto. "Jadi ibuku minta aku pindah ke sini untuk menemani nenek. Ayahku masih di Semarang, kerja. Ibu bolak-balik Semarang-Tegorejo."
"Berarti kamu sekarang warga Dusun Pangempon, dong," kata Anita, akhirnya memberanikan diri bicara.
"Iya. Eh, kamu namanya siapa tadi?"
"Anita."
"Ini Yulia," sambung Yulia cepat.
"Nama yang bagus-bagus," kata Hermanto sambil tersenyum ke arah mereka bergantian.
Tatapannya berhenti sedikit lebih lama di wajah Anita.
Anita pura-pura sibuk melihat ke arah sawah. Daun-daun padi yang hijau bergoyang pelan ditiup angin. Di kejauhan, seseorang sedang membajak sawah dengan kerbau. Pemandangan biasa, pikir Anita. Mengapa hari ini terasa indah?
"Anita," Hermanto mengulang nama itu seperti sedang mencicipi rasa buah baru. "Nama yang tidak biasa."
"Biasa saja," jawab Anita singkat. Telinganya terasa panas.
"Kamu tinggal di mana?"
"Dusun Kersan."
"Wah, lumayan jauh juga. Tiap hari naik sepeda?"
"Iya."
"Kalau hujan?"
"Ya kehujanan."
Hermanto terdiam sejenak. Lalu ia berkata, "Kalau hujan, kabarin aku. Aku jemput pakai motor."
"Tidak usah repot-repot," kata Anita cepat. Terlalu cepat.
Yulia terkikik kecil di belakang.
Di depan gerbang SMPN I Pegandon.
Sepeda dan motor berhenti di rak yang sama. Hermanto memarkir motornya di samping sepeda Anita — seolah itu adalah tempat yang paling wajar.
"Makasih ya, anterin," kata Hermanto.
"Kami sih tidak mengantar. Kami hanya searah," balas Yulia dengan senyum nakal.
"Ya, searah. Makasih."
Mereka bertiga berjalan menuju kelas. Di depan pintu, Hermanto berbelok ke ruang guru untuk melapor. Anita dan Yulia masuk lebih dulu.
"Lo liat tadi?" bisik Yulia begitu mereka duduk.
"Liat apa?"
"Wajah lo pas dia tanya nama."
"Wajah gue biasa aja."
"Biasa aja? Muka lo merah kayak tomat."
Anita membuka buku dengan gerakan agak kasar. "Panas."
"Ya, panas karena ada motor yang ngebut," Yulia tertawa kecil. "Tapi gue ngerti kok."
"Ngerti apaan?"
"Lo suka sama dia."
Anita tidak menjawab. Ia menulis tanggal di sudut kertas — 15 Januari 2018. Tanggal yang tidak akan pernah ia lupakan.
Di luar kelas, angin membawa bau tanah basah dari arah persawahan. Suara bel masuk sekolah berbunyi tiga kali, seperti biasa.
Namun bagi Anita, ada yang tidak biasa.
Dadanya terasa penuh. Seperti ada burung yang tiba-tiba hinggap di sana, mengepak-ngepakkan sayap, tidak mau pergi.
Ia tidak tahu nama perasaan itu.
Tapi ia tahu — mulai detik ini — tidak ada yang akan kembali seperti semula.
Bab 3: Saling Pandang di Kelas
Ruang Kelas IX-A — SMPN I Pegandon
Tiga puluh dua bangku kayu tersusun dalam empat baris. Setiap baris berisi delapan bangku. Di dinding belakang, poster "Masa Depan Dimulai dari Hari Ini" mulai menguning di tepinya. Di atas papan tulis, foto Presiden dan Wakil Presiden menggantung agak miring ke kanan — seolah bosan juga melihat wajah-wajah murid yang datang setiap hari.
Bu Rumiyati — guru Matematika yang terkenal dengan suaranya yang melengking seperti bus mengerem mendadak — sedang menerangkan rumus kuadrat. Kapur putih di tangannya bergerak cepat di papan tulis, meninggalkan deretan angka dan simbol yang bagi sebagian siswa terlihat seperti aksara asing.
"Jadi, akar-akar dari persamaan x² — 5x + 6 = 0 adalah?" Bu Rumiyati menoleh ke kelas.
Hening.
"X² itu apa, Bu?" tiba-tiba suara Herman dari baris belakang.
Seluruh kelas tertawa. Bu Rumiyati menghela napas panjang — yang kesekian kalinya hari itu.
Yulia menyikut lengan Anita. "Nita , lo denger gue ngomong?"
Anita tidak menjawab. Matanya terpaku ke arah depan — tapi bukan ke papan tulis.
Ia sedang memperhatikan punggung Hermanto.
Dua bangku di depan Anita, Hermanto duduk dengan tubuh agak condong ke kanan. Tangannya memegang pulpen biru — merek Pilot, tebak Anita — dan mencatat dengan rapi. Setiap kali Bu Rumiyati menulis rumus baru, kepala Hermanto mengangguk kecil, lalu tangannya bergerak cepat.
Dia paham, pikir Anita. Dia benar-benar paham Matematika.
Sesekali Hermanto mengangkat tangan kanannya untuk menaikkan rambut yang tergerai ke belakang telinga. Gerakannya lambat, seperti tidak sengaja. Padahal bagi Anita, gerakan itu seperti tarian kecil yang hanya ia tonton dari kejauhan.
Rambut Hermanto sebahu, hitam pekat, sedikit bergelombang di ujung. Setiap kali ia menunduk untuk menulis, rambut itu jatuh ke depan, menutupi separuh wajahnya. Lalu ia akan menyapunya dengan gerakan yang sama — tangan kanan, jari tengah dan telunjuk menyisir dari dahi ke belakang.
Anita menggigit ujung pulpennya. Karet pelindung pulpen itu sudah robek, terasa aneh di giginya.
"Iya, dong. Anak Semarang mah pinter-pinter," bisik Yulia lagi, sedikit lebih keras.
Kali ini Anita mendengar. Tapi ia tidak menoleh. Matanya tidak bisa lepas dari punggung Hermanto.
Yulia menggeleng pelan. Ia mencatat di tepi kertas bukunya: "Lo kena batre, Nit ."
Anita membaca tulisan itu sekilas. Ia membalas: "Diem, Lin."
Yulia tersenyum kecil. Mulai, pikirnya. Sahabatnya mulai jatuh.
Seolah merasakan tatapan itu.
Hermanto berhenti menulis.
Untuk sesaat, ia tidak bergerak. Punggungnya sedikit menegang — seperti orang yang sadar sedang diawasi.
Lalu ia menoleh ke kiri.
Tidak.
Ke kanan?
Tidak.
Ia menoleh ke belakang.
Matanya bertemu dengan mata Anita.
Satu detik.
Dua detik.
Senyum.
Bukan senyum lebar yang penuh kemenangan. Bukan juga senyum malu-malu. Tapi senyum kecil — hanya lengkungan tipis di bibir — yang membuat mata Hermanto menyipit sedikit.
Seperti ia tahu sesuatu yang Anita sendiri belum tahu.
Lalu ia kembali menunduk. Kembali menulis.
Deg.
Jantung Anita berdegup sekali. Keras.
Ia menunduk. Melihat buku catatannya. Tanpa sadar, tangannya telah mencorat-coret pinggiran kertas dengan garis-garis tidak jelas — spiral, lingkaran, dan satu kata: Hermanto.
Anita cepat-cepat menghapus kata itu dengan ujung penghapus. Kertasnya hampir robek.
"Nita , lo nggak denger Bu Rum, ya?" tegur Yulia pelan.
"Eh? Iya, denger," jawab Anita tidak meyakinkan.
"Rumus kuadrat tadi bagaimana?"
Anita terdiam. Ia sama sekali tidak mendengar apa pun sejak dua puluh menit lalu.
"Gue catetin," kata Yulia sambil menggeser bukunya ke meja Anita.
Anita menyalin catatan itu dengan wajah panas. Di belakangnya, Yulia tersenyum puas. Ini baru awal, pikirnya. Yang berat belum datang.
Jam istirahat.
Bel berbunyi. Seluruh kelas bergerak seperti semut yang diaduk sarangnya.
Anita biasanya langsung ke kantin bersama Yulia. Menukarkan uang seribuan dengan segelas es teh dan dua gorengan. Tapi hari ini, ia duduk di bangkunya lebih lama dari biasanya.
"Lo nggak makan?" tanya Yulia sambil mengambil dompet dari tas.
"Ntar dulu. Masih kenyang."
"Kenyang? Lo tadi sarapan nasi goreng setengah piring."
"Ya kenyang."
Yulia mengamati sahabatnya. Mata Anita melirik ke luar jendela — ke arah pohon asam di halaman belakang sekolah.
Di bawah pohon itu, Hermanto sedang duduk di atas batu besar. Sebatang rokok menyelip di jari telunjuknya — tapi tidak dinyalakan. Hanya diputar-putar. Ia sedang membaca buku tebal berwarna biru.
"Lo mau ke perpustakaan?" tanya Anita tiba-tiba.
"Sekarang? Jam istirahat?"
"Iya. Gue mau pinjam buku."
"Lo baru pinjam buku minggu lalu."
"Gue kembalikan. Terus pinjam lagi."
Yulia menghela napas. "Perpustakaan di sebelah pohon asam itu, ya?"
Anita tersenyum tipis. "Kebetulan."
"Kebetulan banget."
Perpustakaan sekolah.
Ruang perpustakaan SMPN I Pegandon hanya seukuran dua kelas. Rak-rak kayu jati tua berdiri di sepanjang dinding, berisi buku-buku yang sampulnya sudah lusuh. Bau kertas tua dan lem campur aduk dengan aroma pengharum ruangan murah dari semprotan plastik.
Anita berpura-pura sibuk memeriksa rak Novel. Padahal dari sini, ia bisa melihat jendela yang menghadap ke pohon asam. Hermanto masih di sana. Batu besar yang ia duduki sebenarnya adalah fondasi lama — sisa bangunan sekolah yang roboh sepuluh tahun lalu.
"Buku Laskar Pelangi sudah lo baca?" tanya Yulia tiba-tiba di sampingnya.
Anita kaget. "Belum."
"Itu bagus. Ceritanya tentang anak desa yang berjuang sekolah."
"Oh."
"Kayak kita."
Anita tidak menjawab. Matanya masih ke jendela.
Yulia menepuk bahu Anita pelan. "Nit , gue tahu lo suka sama dia. Tapi jangan sampai nilai lo turun, ya. UN tinggal dua bulan."
"Gue nggak suka sama dia, Lin."
"Yakin?"
"Iya."
"Buktikan. Lo minggir dari jendela itu."
Anita tidak bergerak.
Yulia tersenyum. "Ya sudah. Gue ke kantin dulu. Lo kalau mau nyusul, silakan."
Yulia pergi. Sepatu sekolahnya berbunyi kretek-kretek di lantai keramik yang retak.
Anita tetap berdiri di depan rak Novel. Matanya tidak berpindah dari jendela.
Tidak apa-apa hanya melihat, pikirnya. Tidak apa-apa hanya dari sini.
Pulang sekolah.
Sore itu, Anita dan Yulia mengayuh sepeda perlahan di jalan setapak yang sama. Matahari di barat mulai berwarna oranye. Awan menggumpal di atas Pesisir Pantura , seperti kapas yang siap hujan.
"Nit , lo kenapa diem aja?" tanya Yulia.
"Lagi mikir."
"Mikir apa?"
Anita tidak menjawab. Yang ia pikirkan: Mengapa Hermanto selalu ada di setiap tempat yang ia datangi?
Pagang tadi, saat ia ke perpustakaan — Hermanto di pohon asam.
Saat jam istirahat kedua, ia ke kantin — Hermanto sedang antre di belakangnya.
Saat ia ke toilet — lewat di lorong, Hermanto sedang berdiri di dekat ruang guru, berbicara dengan Bu Rahma.
Apakah ini kebetulan? pikir Anita. Atau dia sengaja?
Atau jangan-jangan...
Anita yang sengaja?
Ia menggeleng.
"Nit , lo jatuh cinta, ya, sama Hermanto?" tanya Yulia akhirnya, setelah diam cukup lama.
"Apaan, sih, Lin. Nggak," jawab Anita. Cepat. Terlalu cepat.
Yulia tertawa. Suaranya menggema di antara pepohonan randu yang rindang. "Coba lo lihat muka lo merah."
Anita membuang muka. Menatap ke arah barat — ke tempat matahari perlahan tenggelam. Wajahnya memang panas. Tapi itu karena sinar matahari. Atau angin. Atau... apa pun selain karena Hermanto.
"Dia cuma teman baru," Anita melanjutkan, mencoba meyakinkan diri sendiri. "Lagian kita kan fokus UN."
"Iya, iya." Yulia mengayuh sepeda lebih cepat, menyamai posisi Anita. "Tapi muka lo lain kali jangan terlalu dikasih lihat, deh. Nanti ketahuan sama yang lain."
"Ketahuan apa?"
"Ketahuan kalau lo suka."
"Siapa yang suka?"
"Anita suka Hermanto."
"Tidak!"
"Ya sudah." Yulia tersenyum. "Tapi kalau nanti lo mau ngaku, gue siap dengerin kok."
Anita tidak menjawab.
Ia menunduk. Melihat rantai sepedanya yang berderit. Melihat lumpur di ban belakang. Melihat bayangannya sendiri yang memanjang di tanah merah.
Yulia benar, pikirnya. Ia mulai suka pada Hermanto.
Tapi apakah Hermanto merasakan hal yang sama?
Atau ini hanya...
Cinta bertepuk sebelah tangan.
Malam itu, di kamar Anita.
Ia tidak bisa tidur.
Di luar, jangkrik dan kodok sawah bersahutan seperti orkestra tanpa konduktor. Lampu petromaks tetangga masih menyala — mungkin sedang menjemur tembakau.
Anita membuka buku catatannya. Bukan untuk belajar. Tapi untuk melihat sesuatu.
Di halaman belakang — halaman yang ia gunakan untuk mencatat rumus fisika — ada satu kalimat yang ia tulis tanpa sadar sore tadi:
"Dia tersenyum padaku."
Anita memandangi tulisan itu lama.
Lalu ia menutup buku. Menaruhnya di bawah bantal — seperti biasa.
Tapi kali ini, ia memeluk buku itu erat-erat. Seolah buku itu bisa melindunginya dari perasaan yang tidak ia mengerti.
Apakah ini yang namanya cinta pertama?
Ia tidak tahu.
Yang ia tahu, dadanya terasa penuh. Penuh dengan sesuatu yang ingin keluar — tapi ia tidak punya nama untuk itu.
Pagi berikutnya.
Anita bangun lebih awal dari biasanya.
Ia mengganti seragamnya dengan cepat. Menyisir rambut panjangnya dua kali — padahal biasanya hanya sekali. Bahkan ia meminjam minyak rambut ibu — sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
"Kamu ada acara apa, Nak?" tanya Bu Karsinem curiga.
"Nggak ada, Bu. Biasa."
"Kok pake minyak rambut?"
"Kusut."
Ibu Karsinem mengamati anaknya. Matanya menyipit — seperti bisa membaca pikiran.
Ibu tahu, pikir Anita panik.
Tapi Bu Karsinem hanya berkata, "Ya sudah. Hati-hati di jalan."
Anita menghela napas lega. Ia mengambil sepeda, mendorong keluar pagar.
Di pertigaan Dusun Cegunan, Yulia sudah menunggu.
Yulia melongo melihat Anita.
"Lo pake minyak rambut?"
"Iya. Kusut."
"Kusut? Rambut lo lurus-lurus aja."
"Ya kusut."
Yulia terkekeh. "Siapa yang mau lo pikat, Nit ?"
"Tidak ada."
"Lo pikir gue buta?"
Anita mengayuh lebih cepat — meninggalkan Yulia yang masih tertawa di belakang.
Yuli benar, pikir Anita sambil tersenyum kecil. Ia jatuh cinta.
Tapi apakah Hermanto merasakan hal yang sama?
Atau ini hanya...
Cinta bertepuk sebelah tangan yang akan menyakitinya nanti?
Ia tidak ingin memikirkan itu.
Untuk sekarang, cukup rasanya melihat punggung Hermanto di kelas.
Untuk sekarang, cukup.
Bab 4: Surat Kaleng Pertama
Tiga minggu kemudian.
Tiga minggu sejak Hermanto masuk ke kelas IX-A. Tiga minggu sejak pandangan pertama di jalan Randu Gembyang. Tiga minggu sejak Anita mulai kehilangan kendali atas jantungnya sendiri.
Sekarang, mereka sudah akrab.
Bukan pacar. Jelas bukan. Tapi ada sesuatu di antara mereka — seperti benang tipis yang tidak terlihat, tetapi cukup kuat untuk membuat mereka selalu berada di dekat satu sama lain.
Setiap pagi, Hermanto sudah menunggu di depan gerbang sekolah dengan dua bungkus nasi kuning — satu untuknya, satu untuk Anita. "Nenek masak kebanyakan," katanya selalu. Tapi Anita tahu nenek Hermanto hanya masak untuk dua orang. Berarti yang satu sengaja dibuat untuknya.
Setiap jam istirahat, mereka duduk di kantin bersama. Anita membawa gorengan buatan ibunya; Hermanto membawa roti isi cokelat dari toko di Dusun Pangempon. Mereka bertukar bekal seperti dua anak kecil yang sedang belajar berbagi.
Setiap pulang sekolah, Hermanto memacu motornya pelan di samping Anita. Sepeda ontel Anita yang berderit itu kini punya "pengawal" setia. Kadang mereka bicara. Kadang diam. Tapi diam bersama Hermanto tidak pernah terasa canggung.
Yulia, yang biasanya duduk di bangku belakang Anita, kini sering berjalan sendiri di belakang mereka — dengan senyum kecil yang tidak bisa disembunyikan. Sahabatku jatuh cinta, pikirnya. Biarlah. Dia pantas bahagia.
Tapi tidak semua orang berpikir seperti Yulia.
Di kantin, saat jam istirahat kedua.
Novi dan Rika duduk di sudut ruangan, tepat di bawah kipas angin yang hanya berputar lambat karena listrik yang tidak stabil. Novi sedang mengupas telur rebus dengan gerakan lambat — seperti tidak benar-benar fokus pada telurnya.
Matanya tertuju ke arah lain.
Ke arah Anita dan Hermanto yang sedang tertawa bersama di meja seberang.
"Lihat tuh, si Anita sok dekat sama Hermanto, padahal anak desa biasa," bisik Novi.
Rika mengikuti arah pandang Novi. "Ya iyalah. Mana mungkin laki kayak Hermanto mau sama cewek kayak dia."
"Anak miskin. Rumahnya di Kersan lagi. Buruh cuci, ibunya."
"Huft... bikin malu sekolah saja."
Mereka tertawa kecil — tawa yang sengaja tidak terlalu keras, tetapi cukup untuk didengar oleh beberapa orang di sekitar.
Yulia, yang kebetulan sedang mengantre es teh di meja sebelah, mendengar semuanya.
Tangannya mengepal. Es batu di gelas plastiknya beradu, berbunyi krek-krek.
Ia ingin balik badan. Ingin menghampiri Novi dan Rika. Ingin berkata, "Lo pikir siapa lo? Lo lebih baik dari Anita? Anak RT aja sombong!"
Tapi ia teringat sesuatu.
"Lin, lo jangan cari masalah sama orang," kata Anita suatu hari. "Kita cukup fokus belajar. Biarin mereka bicara. Lidah orang nggak bertulang."
Yulia menarik napas panjang. Lalu pergi meninggalkan antrean. Ia tidak jadi membeli es teh.
Pagi itu. Dua hari kemudian.
Udara di lorong sekolah terasa lebih dingin dari biasanya. Anita membuka lokernya — loker besi tua berwarna abu-abu yang hanya bisa ditutup dengan gembok kecil. Gembok itu pemberian ayah tirinya sebelum meninggal. Sudah berkarat di lubang kuncinya.
Ia memasukkan buku Fisika ke dalam loker. Lalu mengambil buku Bahasa Indonesia untuk jam pertama.
Tapi begitu loker terbuka penuh, sesuatu jatuh.
Selembar kertas.
Jatuh melayang pelan, seperti daun kering yang lepas dari tangkainya, lalu mendarat di lantai keramik yang dingin.
Anita memungutnya.
Kertas HVS putih, ukuran A4. Tidak dilipat. Tidak ada nama pengirim. Hanya tulisan yang rapi — terlalu rapi untuk tulisan tangan. Seperti hasil cetakan komputer.
"Anita, jangan terlalu dekat dengan Hermanto. Kamu tidak pantas untuknya. Lihatlah dirimu. Anak desa miskin. Malu-maluin saja.
— Seseorang yang lebih mengerti keadaanmu."
Anita membaca sekali. Dua kali. Tiga kali.
Kata "miskin" seperti ditulis dengan huruf yang lebih tebal dari yang lain — atau mungkin hanya persepsinya.
Tangannya gemetar.
Bukan gemetar biasa. Tapi gemetar yang merambat dari ujung jari ke pergelangan tangan, ke lengan, ke bahu, hingga ke dadanya — tempat sesuatu yang berat mulai mengendap.
Matanya panas. Air mata menggenang di pelupuk — tapi belum jatuh. Jangan menangis di sekolah, pinta hatinya. Jangan kasih mereka kepuasan.
Yulia, yang sejak tadi berdiri di samping Anita sambil menunggu lokernya selesai dibuka, membaca surat itu dalam satu kerlipan mata.
Wajahnya berubah.
Merah. Lalu putih. Lalu merah lagi.
"Siapa yang berani kirim seperti ini?!" Yulia setengah berteriak.
Suaranya menggema di lorong yang mulai ramai. Beberapa siswa menoleh. Novi, yang kebetulan lewat, ikut menoleh — lalu cepat-cepat berjalan lebih cepat.
"Jangan keras-keras, Lin," kata Anita lirih. Suaranya hampir tidak terdengar, seperti orang yang sedang kehabisan udara.
"Ini fitnah, Nita ! Lo harus lapor ke guru BK!"
"Buat apa?"
"Buat apa?!" Yulia hampir melompat. "Biar mereka tahu! Biar yang ngirim surat ini dihukum!"
Anita meremas surat itu. Kertasnya mengerut di telapak tangannya yang berkeringat dingin.
"Biarkan saja. Mungkin ini peringatan untuk aku."
Yulia terdiam.
Ia menatap Anita — sahabatnya sejak SD, teman curhatnya, orang yang selalu tersenyum meskipun hidupnya keras. Tapi sekarang, di depan matanya, Anita terlihat kecil. Tidak kecil secara fisik. Tapi kecil seperti seseorang yang baru saja ditampar oleh kenyataan.
"Lo nggak pantas diperlakukan seperti ini, Nit ," kata Yulia, suaranya melemah. "Lo anak pintar. Lo baik. Lo cantik."
Anita menggeleng pelan.
"Tapi aku miskin, Lin. Dan itu fakta."
Kata miskin keluar dari mulut Anita seperti benda asing — seperti sesuatu yang pahit yang harus ia ludahkan, tapi tidak bisa karena sudah tertelan terlalu dalam.
Yulia tidak bisa membantah.
Rumah Anita memang sederhana — dinding anyaman bambu, lantai tanah, atap seng yang bocor kalau hujan deras. Ibu Karsinem membanting tulang dari subuh hingga malam: mencuci pakaian orang kaya di Dusun Pangempon, menggoreng singkong dan tempe untuk dijual, kadang jadi buruh tani kalau musim panen tiba.
Ayah Anita — bukan ayah kandung, tapi satu-satunya ayah yang Anita kenal — sudah meninggal dua tahun lalu. Kecelakaan di pabrik penggergajian kayu. Ganti rugi? Hanya ada di mimpi.
Anita hidup dari bantuan tetangga dan beasiswa dari sekolah. Uang sakunya per hari: dua ribu rupiah. Cukup untuk beli es teh satu gelas dan tahu goreng dua potong — atau ditabung untuk membeli kertas HVS.
Yulia tahu semua itu.
Tapi apakah kemiskinan membuat seseorang tidak pantas dicintai?
Yulia ingin berteriak, TIDAK!
Tapi mulutnya terkunci. Bukan karena tidak punya jawaban. Tapi karena melihat wajah Anita — wajah yang sudah pasrah sebelum perang dimulai — Yulia tahu, apapun yang ia katakan sekarang, tidak akan masuk ke dalam hati sahabatnya.
Di dalam kelas, sebelum bel masuk.
Anita duduk di bangkunya tanpa bicara. Buku Bahasa Indonesia terbuka di halaman pertama, tapi matanya kosong. Tidak membaca. Hanya menatap dinding putih yang mulai mengelupas catnya.
Yulia duduk di belakangnya, diam. Ia tidak tahu harus berkata apa.
Hermanto datang beberapa menit kemudian. Wajahnya cerah seperti biasa. Rambutnya yang sebahu masih basah karena habis keramas — atau habis kena hujan? Tidak penting.
"Nit , lo udah sarapan? Nenek gue bikin lupis lagi — eh, lo kenapa?"
Ia berhenti di depan meja Anita. Senyumnya menghilang, digantikan oleh kerutan di dahi.
"Wajah lo pucat."
Anita menggeleng cepat. "Nggak apa-apa. Cuma kurang tidur."
"Lo bohong."
"Beneran, Man."
Hermanto tidak puas. Ia menatap Yulia. Yulia menatap balik, lalu menggeleng pelan — jangan tanya sekarang.
Hermanto menghela napas. Ia meletakkan bungkusan plastik berisi lupis di atas meja Anita.
"Lo makan ini. Nanti lo cerita kalau lo mau cerita."
Ia berjalan ke bangkunya tanpa menoleh.
Anita melihat bungkusan lupis itu. Masih hangat. Bau kelapa parut dan gula merah menyeruak keluar dari plastik.
Matanya panas lagi.
Dia baik, pikir Anita. Terlalu baik untuk seseorang sepertiku.
Jam pelajaran Bahasa Indonesia.
Bu Suci — guru yang suaranya lembut seperti bacaan doa — sedang menerangkan tentang unsur intrinsik cerpen. Anita berusaha mendengarkan. Tapi telinganya seperti tersumbat kapas.
Yang ia dengar hanyalah suara sendiri di kepalanya.
Miskin. Tidak pantas. Malu-maluin.
Kalimat dari surat itu berputar seperti rekaman rusak. Lagi. Lagi. Lagi.
Di bangku depannya, Hermanto sesekali menoleh ke belakang. Hanya sekilas. Memastikan Anita tidak menangis. Atau mungkin memastikan Anita masih hidup.
Setiap kali Hermanto menoleh, Anita menunduk.
Jangan lihat aku, pinta hatinya. Kamu hanya akan membuatku semakin sulit melepaskan.
Istirahat terakhir.
Anita tidak pergi ke kantin. Ia memilih duduk di perpustakaan — tempat paling sepi di sekolah. Di rak paling belakang, bagian novel lama yang jarang disentuh orang.
Yulia menemukannya di sana, duduk bersandar di dinding, kaki diluruskan ke depan. Buku Laskar Pelangi terbuka di pangkuannya — tapi sudah sepuluh menit tidak ada halaman yang berbalik.
"Nit , gue bawain gorengan," kata Yulia sambil duduk di sampingnya.
"Makasih."
"Lo mau cerita?"
"Apa yang mau diceritain?"
"Perasaan lo."
Anita tidak menjawab. Jari-jarinya memainkan sudut halaman buku.
"Lin," Anita mulai pelan, "menurut lo, apa bener orang miskin nggak pantas dekat dengan orang kaya?"
Yulia menghela napas. Pertanyaan ini bukan pertanyaan kecil. Ini pertanyaan yang sudah ada sejak manusia mengenal kelas sosial.
"Menurut gue," Yulia mencari kata-kata, "orang miskin pantas dekat dengan siapa pun. Yang nggak pantas itu sikap orang yang merendahkan orang lain karena hartanya."
"Tapi dunia nggak berjalan seperti itu, Lin."
"Makanya dunia harus diperbaiki."
Anita tersenyum kecil — senyum pahit yang tidak sampai ke mata. "Lo idealis banget, Lin."
"Lo sendiri yang bilang idealisme itu gratis. Nggak usah bayar."
Mereka berdua terdiam.
Di luar, bel berbunyi. Istirahat terakhir selesai.
Pulang sekolah.
Anita dan Yulia berjalan ke rak sepeda. Di samping sepeda Anita, motor Hermanto sudah terparkir.
"Lo ikut gue pulang?" tanya Hermanto. "Kayaknya lo lagi nggak enak badan."
"Gue bisa sendiri, Man."
"Tapi..."
"Bisa."
Anita mengayuh sepedanya tanpa menunggu jawaban. Sepeda tuanya berderit lebih keras dari biasanya — atau hanya telinga Anita yang lebih sensitif hari ini.
Hermanto dan Yulia saling pandang.
"Ada apa dengan dia sebenarnya?" tanya Hermanto.
Yulia memikirkan sejenak apakah harus jujur.
"Tanya langsung sama dia, Man. Bukan gue yang berhak jawab."
Yulia mengayuh menyusul Anita. Meninggalkan Hermanto yang masih berdiri dengan helm di tangan, kebingungan.
Di kamar Anita, malam itu.
Ia mengeluarkan surat itu dari saku seragamnya.
Kertas yang sudah kusut karena diremas pagi tadi. Ia membuka lipatannya perlahan, seperti membuka perban dari luka yang belum kering.
"Anak desa miskin. Malu-maluin saja."
Anita meremas surat itu lagi. Lalu membakarnya di atas loyang bekas.
Api kecil menjilati kertas. Halaman demi halaman berubah menjadi abu kehitaman yang hancur saat ia tiup.
Bau kertas terbakar memenuhi kamar.
Tapi kata-kata di dalam surat itu...
Tidak terbakar.
Kata-kata itu tetap utuh di kepalanya. Di hatinya. Di tempat paling dalam yang tidak bisa dijangkau api atau air mata.
"Miskin."
Ia berbaring di dipan tipisnya. Memeluk bantal. Menahan isak agar tidak terdengar ke dapur tempat ibunya sedang mencuci piring.
Bukankah kemiskinan tidak pernah menjadi penghalang untuk dicintai?
Tapi malam itu, Anita merasa — ya, kemiskinan adalah penghalang.
Penghalang tertinggi.
Penghalang yang tidak bisa ia panjat, tidak bisa ia hancurkan, tidak bisa ia lompati.
Yang bisa ia lakukan hanya diam.
Dan diam menerima bahwa mungkin — mungkin — ia tidak pantas.
Pagi berikutnya.
Anita bangun dengan mata sembab. Ia mencuci muka lebih lama dari biasanya, berharap bengkak di matanya hilang sebelum berangkat sekolah.
Ibu Karsinem memperhatikan dari pintu dapur.
"Kamu nangis?"
"Enggak, Bu. Kurang tidur."
Ibu Karsinem tidak bertanya lebih lanjut. Di keluarga mereka, pertanyaan seperti itu sering dibiarkan menggantung di udara tanpa jawaban.
Anita mengambil sepedanya. Di pertigaan, Yulia sudah menunggu.
"Muka lo bengkak," kata Yulia begitu melihat.
"Udah, jangan dibahas."
"Lo cerita sama gue, nggak perlu malu."
"Nggak ada yang diceritain."
"Anita."
"Yulia."
Mereka berdua terdiam. Lalu Yulia menghela napas dan mulai mengayuh.
"Gue beliin lo es teh manis, ya, nanti."
"Makasih, Lin."
Sepanjang perjalanan ke sekolah, Anita tidak bicara.
Yang ia pikirkan: Bagaimana cara terus dekat dengan Hermanto tanpa membuat orang lain sakit hati?
Atau mungkin pertanyaan yang lebih jujur:
Apakah ia harus berhenti sebelum semuanya semakin dalam?
Ia tidak tahu jawabannya.
Yang ia tahu, racun dari surat itu sudah masuk ke dalam darahnya.
Dan tidak mudah mengeluarkan racun yang sudah meresap.
Bab 5: Jarak yang Tercipta
Tiga hari setelah surat kaleng.
Perubahan Anita tidak terjadi tiba-tiba. Ia seperti air yang mendidih perlahan — tidak terlihat dari luar, tetapi di dalam, semuanya sedang bergolak.
Hari pertama setelah surat itu, Anita masih tersenyum pada Hermanto. Masih mau bertukar bekal. Masih mau pulang bersama. Tapi senyumnya berbeda — ada jarak di dalamnya. Seperti orang yang tersenyum dari balik jendela kaca.
Hari kedua, Anita mulai menghindari makan siang bersama. "Gue mau ke perpustakaan," katanya. Padahal perpustakaan tutup jam istirahat.
Hari ketiga, ia sudah tidak menunggu Hermanto di depan gerbang. Ia datang lebih awal — sengaja — lalu duduk di pojok kelas, membuka buku, dan berpura-pura membaca meskipun matanya tidak bergerak.
Hermanto tidak bodoh.
Ia melihat. Ia merasakan. Tapi ia tidak mengerti mengapa.
Lorong sekolah, jam istirahat pertama.
Hari keempat.
Anita sedang berjalan cepat menuju perpustakaan — tempat perlindungan barunya. Tepat saat melewati lorong dekat ruang OSIS, sebuah tangan meraih lengannya.
Bukan kasar. Tapi tegas.
Anita berhenti. Ia tahu tangan itu. Tangan yang biasa memegang pulpen dengan rapi. Tangan yang biasa membawa nasi kuning untuknya setiap pagi.
"Nita , kenapa, sih, akhir-akhir ini lo diemin gue?"
Suara Hermanto rendah, sedikit serak — seperti orang yang baru saja menahan sesuatu.
Anita tidak menatap matanya. Ia menatap ujung sepatu Hermanto — sepatu pantofel hitam mengilap yang masih baru, kontras dengan sepatu sekolahnya yang sudah mulai mengelupas di bagian jari kaki.
"Enggak, kok. Gue sibuk saja."
"Lo sibuk?"
"Iya. UN tinggal dua bulan."
"Sejak kapan lo sibuk sendirian? Biasanya lo sibuk sama gue."
"Ya sekarang nggak."
Kata-kata Anita tajam. Lebih tajam dari yang ia maksudkan.
Hermanto terdiam.
Angin lorong berembus, membawa bau khas kamar mandi sekolah — sabun dan air tergenang. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak.
"Gue tahu lo bohong," kata Hermanto akhirnya, suaranya lebih pelan. "Gue lihat lo dari kejauhan ngeliatin gue. Tapi pas gue datang, lo kabur. Ada apa?"
Anita menggigit bibir bawahnya. Dia lihat, pikirnya. Dia selalu lihat.
"Sudah, nggak usah dibahas."
"Anita."
Panggilan nama lengkap. Bukan "Nita ". Bukan "Nit ". Tapi Anita. Lengkap. Serius.
Dia serius, pikir Anita. Hatinya berdesir. Tapi ia sudah memutuskan.
Ia menarik tangannya perlahan dari genggaman Hermanto.
"Gue harus ke perpustakaan. Buku yang gue pinjam mau jatuh tempo."
Lalu ia berjalan cepat. Begitu cepat hingga hampir berlari.
Hermanto tidak mengejar.
Ia hanya berdiri di lorong, dengan seragam putih yang mulai kusam karena sinar matahari sore yang masuk dari jendela. Rambutnya yang sebahu bergerak sedikit ditiup angin.
Ada yang salah, pikirnya. Tapi dia tidak mau cerita.
Di perpustakaan.
Anita duduk di pojok ruangan, di balik rak buku. Tempat yang tidak terlihat dari pintu masuk. Ia memeluk tasnya erat-erat.
Napasnya masih tersengal. Bukan karena berlari. Tapi karena jantungnya berdegup terlalu kencang — dan tidak sepenuhnya karena lari.
Kenapa kamu lari? tanya suara di kepalanya.
Karena aku takut, jawab suara lain.
Takut apa?
Takut jatuh cinta. Takut sakit. Takut nanti dia pergi dan aku ditinggal sendiri seperti ibuku dulu.
Anita menekan pelipisnya dengan jari. Kepalanya pusing.
Ia membuka buku yang ia bawa — Laskar Pelangi — tapi matanya tidak membaca. Halaman 124. Sudah dua hari tidak beranjak dari halaman itu.
Yulia melihat semuanya.
Dari kejauhan, saat Hermanto meraih lengan Anita di lorong. Dari kejauhan, saat Anita menarik tangannya dan berlari. Dari kejauhan, saat Hermanto berdiri sendiri dengan wajah bingung.
Yulia mengepalkan tangan.
Ia tahu siapa dalang di balik semua ini. Ia sudah mendengar gunjingan Novi dan Rika di kantin. Ia sudah melihat senyum kecil Novi setiap kali Anita melewati lorong dengan wajah muram.
Tapi ia belum punya cukup bukti.
Hanya firasat. Dan firasat tidak cukup untuk melaporkan seseorang ke guru BK.
"Gue harus melakukan sesuatu," bisik Yulia pada dirinya sendiri.
Malam itu. Dusun Tegolayang.
Jalan setapak menuju rumah Novi gelap dan terjal. Tidak ada lampu penerangan di sini — hanya cahaya bulan yang tertutup awan tipis. Sesekali anjing menggonggong dari kejauhan, suaranya menggema di antara rumah-rumah penduduk.
Yulia berjalan sendirian. Hp-nya ia nyalakan lampu senter, tapi cahayanya hanya cukup untuk melihat dua meter ke depan. Ia tidak takut gelap. Yang ia takutkan adalah apa yang akan ia katakan nanti.
Gue bukan orang yang suka konfrontasi, pikirnya. Tapi untuk Anita, gue rela.
Rumah Novi tidak sulit ditemukan. Rumahnya satu-satunya di Dusun Tegolayang yang berwarna biru muda — hasil dari bisnis ayah Novi sebagai ketua RT yang katanya "punya sampingan" jualan pupuk.
Yulia mengambil napas panjang.
Lalu mengetuk pintu.
Tok. Tok. Tok.
"Masuk!" suara Novi dari dalam.
Yulia membuka pintu. Teras rumah Novi cukup luas, dengan dua kursi plastik merah dan satu meja kayu kecil. Di atas meja, segelas kopi panas masih mengepul.
Novi sedang duduk di salah satu kursi. Di sampingnya, Rika — yang Yulia tidak duga ada di sana.
"Oh, Yulia," Novi menyeringai. "Malam-malam datang ke rumah gue? Ada apa, ada yang mau lapor?"
Yulia tidak tersenyum.
"Novi, gue tahu lo yang mengirim surat ke Anita."
Keheningan.
Rika menegang. Tangannya yang sedang memegang gelas kopi berhenti di udara.
Novi, sebaliknya, tertawa. Tertawa sinis — seperti tawa orang yang sudah menyiapkan alasan.
"Lo kena apa, Lin? Ngaco."
"Gue tidak ngaco."
"Buktinya?"
Yulia maju selangkah. "Tulisan di surat itu rapi banget, seperti hasil cetak printer. Cuma lo yang punya printer di kelas kita. Gue sudah mengecek sama Bu Rahma, guru TIK."
Novi berhenti tertawa.
Rika mulai gelisah. Ia menatap Novi, lalu menatap Yulia, lalu menatap lantai.
Novi berdiri. Tingginya hampir sama dengan Yulia, tapi tubuhnya lebih berisi. Ia melipat tangan di dada.
"Ya sudah, iya gue yang mengirim. Terus? Mau lo laporkan?"
"Lo sadar itu perbuatan lo salah?"
"Biar gue bilang ke guru kalau si Anita itu genit sama Hermanto. Siapa yang kena? Coba lo pikir, Lin."
Yulia mengepalkan tangan. Kuku jarinya menusuk telapak tangannya sendiri.
"Lo kejam, Novi."
"Bukan gue yang kejam, Lin." Novi mendekat. Suaranya menurun, seperti bisikan ular. "Ini realita. Anak miskin kayak Anita nggak pantas dekat dengan orang kayak Hermanto. Lebih baik dia fokus belajar atau cari laki selevel."
"Level lo apa, Novi?" Yulia melompat. Suaranya naik. "Ayah lo cuma RT, sama saja kayak orang lain di sini. Jangan sombong."
Wajah Novi berubah.
Selama ini, tidak ada yang berani bicara seperti itu padanya. Ayahnya mungkin hanya RT, tapi jabatan sekecil itu di desa sudah cukup untuk membuat orang lain sungkan. Ditambah lagi rumahnya yang biru muda, TV 21 inci di ruang tamu, dan printer di kamarnya — semua itu membuat Novi merasa lebih dari sekadar "anak desa biasa".
"Lo mau ribut, Lin?" Novi menggeram.
Yulia mundur selangkah. Bukan karena takut. Tapi karena ia sadar — jika ini berubah menjadi perkelahian fisik, ia akan kalah. Novi lebih besar. Dan Rika akan membantu Novi.
Tapi Yulia tidak akan menunjukkan ketakutannya.
"Gue nggak mau ribut," kata Yulia, suaranya dingin. "Gue cuma minta lo berhenti mengganggu Anita."
"Atau?"
"Atau gue yang akan membuat hidup lo sengsara."
Diam.
Rika menelan ludah.
Novi menatap Yulia lama — seperti mencoba membaca apakah Yulia serius atau hanya menggertak.
Yulia menatap balik. Matanya tidak berkedip.
"Lo pikir gue takut sama lo, Lin?" Novi akhirnya berkata, suaranya merendah.
"Gue tidak peduli lo takut atau tidak. Yang gue tahu, gue tidak akan diam kalau lo menyakiti Anita lagi."
Yulia berbalik.
Ia berjalan keluar dari teras rumah Novi, melewati pagar besi, dan masuk kembali ke kegelapan jalan setapak.
Baru setelah ia berjarak cukup jauh — setelah lampu rumah Novi tidak terlihat dan suara anjing mulai menggantikan keheningan — Yulia menyadari sesuatu.
Tangannya gemetar.
Bukan gemetar karena dingin. Tapi gemetar karena tegang.
Ia bukan tipe orang yang suka konfrontasi. Ia lebih suka diam di belakang, membantu dari jauh, menjadi pendukung setia tanpa harus berteriak-teriak.
Tapi untuk Anita...
Untuk Anita, ia rela.
Di rumah Yulia, malam itu.
Yulia tidak bisa tidur.
Ia berbaring di dipan tipisnya, memandangi langit-langit rumah anyaman bambu. Ibu Yulia sudah mendengkur di kamar sebelah. Ayahnya — yang bekerja sebagai kuli bangunan di Kudus — hanya pulang sebulan sekali.
Apakah gue berlebihan? pikir Yulia.
Tidak, jawabnya sendiri. Novi sudah terlalu jauh. Surat kaleng itu bukan sekadar "godaan". Itu sudah ke ranah pembullyan.
Tapi yang membuat Yulia khawatir bukan hanya Novi.
Yang membuatnya khawatir adalah Anita.
Anita yang diam. Anita yang memilih menderita sendirian. Anita yang lebih memilih membakar surat itu daripada melawan.
"Tapi aku miskin, Lin. Dan itu fakta."
Kalimat Anita terngiang di telinga Yulia.
Miskin, pikir Yulia. Sejak kapan miskin menjadi dosa? Sejak kapan miskin membuat seseorang tidak berhak bahagia?
Ia tidak punya jawaban.
Yang ia tahu, ia harus melindungi Anita. Bukan hanya dari Novi. Tapi juga dari ketakutan Anita sendiri.
Keesokan paginya.
Anita sampai di pertigaan lebih lambat dari biasanya. Matanya sembab lagi. Yulia tidak bertanya. Ia hanya mengangguk dan mulai mengayuh.
"Nita ," Yulia memulai setelah mereka berjalan beberapa menit.
"Hm?"
"Lo percaya sama gue?"
Anita menoleh. "Percaya, Lin. Lo sahabat gue."
"Kalau gue bilang, lo nggak sendirian. Lo percaya?"
Anita tersenyum pahit. "Gue berusaha."
Itu bukan jawaban "ya". Tapi juga bukan "tidak".
Yulia menghela napas. Cukup untuk sekarang, pikirnya.
Di sekolah.
Anita masuk kelas lebih awal. Ia langsung duduk di bangkunya dan membuka buku — tidak ingin memberi kesempatan pada Hermanto untuk mendekat.
Tapi Hermanto sudah menunggu.
Di atas meja Anita, ada sebungkus nasi kuning — masih hangat — dan secarik kertas kecil.
"Lo belum sarapan, kan? Makan. Nanti kita bicara."
Anita membaca kertas itu dua kali.
Lalu ia melipatnya kecil-kecil dan memasukkannya ke saku seragam — di tempat yang sama ia menyimpan abu surat kaleng kemarin.
Ia tidak makan nasi kuning itu.
Tapi ia juga tidak membuangnya.
Nasi itu tetap di atas meja sepanjang pelajaran pertama. Sesekali, Anita mencium baunya — harum, seperti pagi-pagi di dapur nenek Hermanto.
Dia baik, pikir Anita. Dia selalu baik.
Tapi aku tidak pantas.
Jam istirahat kedua.
Anita pergi ke toilet. Saat kembali ke kelas, ia melihat sesuatu di atas mejanya.
Nasi kuning itu sudah tidak ada.
Di tempatnya, ada secarik kertas lagi:
"Kamu tidak makan, ya? Gue simpan buat nanti. Jangan lupa makan siang. — Hermanto"
Anita memegang kertas itu.
Tangannya gemetar.
Bukan marah. Bukan takut.
Tapi haru.
Dia tetap peduli meskipun aku menjauh, pikir Anita. Mengapa dia harus begini? Mengapa dia tidak bisa membenciku saja? Aku sudah berusaha menjadi orang yang tidak pantas dicintai. Tapi dia tetap...
Air mata menggenang di pelupuknya.
Ia cepat-cepat mengusapnya dengan lengan baju.
Jangan menangis, Anita, pinta hatinya. Kamu sudah memutuskan. Kamu akan menjauh. Kamu akan fokus UN. Kamu tidak butuh cinta.
Kamu tidak butuh Hermanto.
Tapi hatinya berbisik lain:
Kamu butuh. Tapi kamu terlalu takut untuk mengaku.
Di rumah, malam itu.
Anita membuka lipatan kertas dari Hermanto — kertas yang ia simpan di saku seragam.
Tulisan Hermanto rapi, hampir seperti cetakan printer. Tapi kali ini, Anita tahu, ini bukan hasil cetak. Ini benar-benar tulisan tangan Hermanto.
Ia membaca kata-kata itu berulang-ulang:
"Lo belum sarapan, kan? Makan. Nanti kita bicara."
"Kamu tidak makan, ya? Gue simpan buat nanti. Jangan lupa makan siang."
Anita memeluk kertas itu.
Ia ingin sekali membalas. Ingin berkata, "Maaf, Man. Gue cuma takut."
Tapi ia tidak punya keberanian.
Yang ia lakukan hanyalah menyimpan kertas itu di bawah bantal — bersama buku catatan yang berisi kata Hermanto yang sudah ia hapus.
Mungkin cukup hanya begini, pikir Anita. Melihat dari kejauhan. Menyimpan perasaan sendiri. Tidak perlu ada yang tahu.
Tidak perlu ada yang terluka.
Pertigaan Dusun Cegunan, pagi berikutnya.
Yulia melihat Anita datang dengan sepedanya. Wajah Anita masih muram — tapi tidak sembab. Mungkin dia tidak menangis semalam.
"Nita , gue mau bilang sesuatu."
"Apa, Lin?"
Yulia mengambil napas panjang. "Gue sudah datengin rumah Novi kemarin malam."
Anita mengerem sepedanya. Ia menatap Yulia dengan mata membelalak.
"Lo apaan, Lin? Gila lo?"
"Gue serius."
"Gue nggak minta lo lakuin itu!"
"Gue tahu. Tapi gue harus."
Anita menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia menghela napas panjang — panjang sekali, seperti orang yang baru saja diberi beban baru di pundaknya.
"Lin, lo jangan ikut campur. Nanti lo yang kena masalah."
"Gue nggak peduli."
"Yulia."
"Anita." Yulia menatap sahabatnya. "Lo sahabat gue. Sejak SD. Lo selalu ada buat gue. Sekarang giliran gue ada buat lo. Biarin gue yang ribut sama Novi. Lo cukup fokus UN."
Anita menunduk. Air matanya jatuh ke tanah merah.
"Makasih, Lin."
"Jangan makasih dulu. Nanti kalo gue kena skorsing, lo yang bayarin les gue."
Anita tertawa kecil — tertawa pertama dalam lima hari terakhir. Tertawa yang tipis, seperti kertas yang hampir robek. Tapi tetap tertawa.
Yulia tersenyum.
Perlahan, pikirnya. Perlahan Anita akan pulih.
Tapi di sudut hatinya yang paling dalam, Yulia tahu: luka dari surat kaleng itu tidak akan sembuh hanya dalam semalam. Dan musuh mereka — Novi, Rika, dan semua orang yang iri pada Anita — tidak akan berhenti hanya karena ia datang ke rumah mereka.
Ini baru awal, pikir Yulia. Dan yang berat belum datang.
BAB 6: PENGAKUAN HERMANTO
Seminggu setelah surat kaleng.
Hari hari berlalu seperti air keruh, mengalir tapi tidak pernah jernih. Anita dan Hermanto tetap berjauhan. Jarak yang awalnya hanya satu meter, dari bangku nomor 03 ke bangku nomor 01, kini terasa seperti ratusan kilometer. Mereka masih di kelas yang sama, masih melihat wajah yang sama setiap pagi, tapi sesuatu di antara mereka mati. Atau setidaknya, sedang tidur nyenyak.
Hermanto berusaha. Berulang kali.
Ia meninggalkan catatan di meja Anita. Anita membacanya, lalu menyimpannya di saku, tapi tidak pernah membalas.
Ia menawarkan pulpen saat pulpen Anita macet. Anita meminjamnya, lalu mengembalikan tanpa berkata apa apa.
Ia bahkan pernah berdiri di depan pintu kelas, menunggu Anita keluar. Anita keluar melalui pintu belakang.
Dia menghindar, pikir Hermanto. Dengan sengaja. Dan itu menyakitkan lebih dari kata kata kasar mana pun.
Di kantin, jam istirahat kedua.
Novi dan Rika duduk di meja paling tengah, tempat paling strategis untuk didengar banyak orang. Novi sedang mengaduk es tehnya pelan pelan, sendok plastiknya beradu dengan es batu, berbunyi krek krek.
Rika menyikut Novi pelan. Matanya mengarah ke Anita yang sedang duduk sendirian di pojok ruangan. Yulia sedang mengantre makanan.
"Lihat tuh, si Anita sekarang sendirian terus," bisik Rika.
Novi tersenyum. "Ya iyalah. Hermanto kan sudah sadar diri. Mana mau sama anak desa miskin."
"Katanya si Anita naksir Hermanto, tetapi Hermanto nggak naksir balik. Kasihan, deh." Novi mengeraskan suaranya, cukup keras agar Anita bisa mendengar.
"Sudah seperti cinta bertepuk sebelah tangan saja," timpal Rika sambil tertawa.
Tawa mereka terdengar jelas di ruang kantin yang tidak terlalu ramai saat itu.
Anita mendengar.
Tangannya yang memegang sendok plastik gemetar. Sendok itu bergetar di tangannya, beradu dengan pinggiran piring, berbunyi teng pelan.
Jangan digubris, pinta hatinya. Mereka hanya ingin reaksi.
Yulia, yang baru saja kembali dari konter makanan, mendengar semuanya. Wajahnya memerah. Piring berisi nasi dan sayur lodeh di tangannya hampir ia lempar ke arah Novi.
"Lin, jangan!" Anita menarik tangan Yulia.
"Lo denger mereka, Nit?"
"Gue dengar. Biarkan."
"Mereka nggak boleh..."
"Biarkan, Lin." Anita menatap Yulia. Matanya lelah. Matanya pasrah. "Nggak usah dilayani. Mereka cari perhatian."
Yulia menghela napas kasar. Ia duduk di samping Anita dengan gerakan yang sengaja keras, membuat kursi plastiknya berbunyi krek.
"Suatu hari," bisik Yulia, "gue akan bikin mereka minta maaf di depan seluruh sekolah."
Anita tersenyum tipis. "Kita lihat saja nanti."
Tapi di balik senyum itu, Anita tahu, luka dari kata kata Novi lebih dalam dari yang ia tunjukkan.
Sore itu. Perjalanan pulang.
Anita mengayuh sepedanya sendirian. Yulia minta izin pulang lebih cepat karena ibunya sakit. Jadi sore ini, Anita melewati jalan setapak tanpa teman bicara.
Suara rantai sepedanya yang berderit terdengar lebih nyaring di kesunyian sore. Sawah di kanan kirinya mulai menguning, padi tua yang siap panen. Di kejauhan, beberapa burung bangau terbang rendah, mencari ikan di selokan.
Anita menikmati kesunyian ini.
Tidak ada yang melihatku, pikirnya. Tidak ada yang menggositkanku. Tidak ada yang menyuruhku menjauh dari Hermanto.
Tapi saat ia melewati tikungan dekat pohon randu, tempat pertama ia melihat Hermanto, jantungnya berdetak lebih cepat.
Kenapa setiap tempat di desa ini mengingatkanku padanya? keluhnya dalam hati.
Ia mengayuh lebih cepat. Seperti bisa melarikan diri dari ingatan.
Malam itu. Rumah Anita. Pukul delapan malam.
Anita sedang duduk di teras rumahnya, di bangku bambu panjang yang sudah menghitam karena usia. Sebuah lampu petromaks menggantung di atasnya, menyala redup, cukup untuk menerangi halaman seluas tiga meter.
Buku catatan Biologi terbuka di pangkuannya. Tapi matanya tidak membaca. Matanya menatap ke arah persawahan yang gelap, hanya sesekali diterangi kunang kunang yang terbang kesiur.
Udara malam di Dusun Kersan dingin menusuk tulang. Suhu mungkin turun hingga 20 derajat. Angin dari arah Pesisir Pantura membawa bau tanah basah dan daun kering.
Kapan terakhir kali rasanya begini damai? pikir Anita.
Tapi kedamaian itu tidak bertahan lama.
Dari kejauhan, ia mendengar suara langkah kaki. Bukan langkah biasa. Langkah cepat. Langkah orang yang sedang terburu buru.
Anita mendongak.
Seorang laki laki muncul dari balik pohon pisang di tepi jalan. Posturnya tinggi. Rambutnya sebahu.
Hermanto.
Ia tidak sendirian. Dari balik kegelapan, sesosok bayangan lain mengikuti, lebih kecil, lebih pendek.
Yulia.
"Yulia?" Anita terkejut. "Lo ngapain?"
Yulia tersenyum canggung. "Gue cuma mau pastiin lo baik baik aja."
"Dan lo bawa Hermanto?"
"Gue yang minta Yulia datang," potong Hermanto cepat, sebelum Yulia sempat menjawab. Napasnya masih tersengal sengal, keringat membasahi keningnya meskipun malam dingin. Dadanya naik turun seperti orang yang baru saja berlari jauh, mungkin dari Dusun Pangempon ke Dusun Kersan, jarak yang biasanya ditempuh dua puluh menit dengan motor. "Biar ada saksi."
Anita menatap Hermanto lama. Lalu menatap Yulia. Yulia hanya mengangkat bahu, matanya berkata, "Jangan tanya gue. Gue juga ikut ikutan aja."
"Ya sudah," kata Anita akhirnya. "Duduk."
Yulia duduk di ujung bangku bambu, agak menjauh, memberi ruang, tapi tetap dalam jarak mendengar.
Anita dan Hermanto duduk bersebelahan. Jarak di antara mereka hanya satu jengkal. Anita bisa mencium bau sabun Hermanto, bau yang sama saat pertama kali ia lewat di lorong kelas.
Bau yang sudah ia rindukan tanpa mau mengaku.
Sesaat mereka hanya terdiam. Suara jangkrik dan kodok sawah bersahutan membentuk orkestra malam yang tidak pernah lelah.
Yulia, dari kejauhan, memainkan ujung rambutnya, gelisah. Ia ingin ikut bicara, tapi tahu ini bukan tempatnya.
"Aku tahu kamu mendapat surat suratan dari seseorang," Hermanto memulai. Suaranya pelan, tapi jelas. Di bawah cahaya lampu petromaks yang redup, wajahnya tampak setengah terang, setengah gelap, seperti pikirannya yang sedang berperang.
Anita terkejut. "Kamu tahu?"
"Yulia cerita." Hermanto menoleh ke arah Anita. Lampu petromaks membuat wajahnya terlihat setengah terang, setengah gelap. "Dan aku juga mendengar gosip gosip dari teman teman."
Anita menunduk. Yulia, pikirnya. Kenapa Yulia harus cerita?
Di ujung bangku, Yulia bergumam pelan. "Maaf, Nit. Gue nggak tega liat lo berdua kayak musuhan."
"Nita, aku minta maaf. Ini semua karena aku."
"Bukan salah kamu," potong Anita cepat. Suaranya datar, terlalu datar.
"Tapi ini efeknya ke kamu." Suara Hermanto naik sedikit, bukan marah, tapi frustasi. Tangannya yang biasa tenang kini mengepal di atas paha. "Kamu dijauhi teman teman. Kamu digosipkan. Kamu jadi minder. Dan itu semua karena aku dekat dengan kamu."
"Sudah, Man..."
"Belum selesai." Hermanto memotong. Dadanya naik turun. Matanya gelap, gelap seperti orang yang sudah terlalu lama memendam sesuatu. "Aku belum selesai."
Anita membungkam.
Hermanto menarik napas panjang, napas yang dalam, seperti orang yang sedang mengumpulkan keberanian. Tangannya gemetar. Ia menggigit bibir bawahnya, sebuah kebiasaan yang tidak pernah Anita lihat sebelumnya.
Dia gugup, pikir Anita. Dia benar benar gugup.
Yulia, dari kejauhan, menegakkan badannya. Matanya tidak berkedip.
"Nita," Hermanto menoleh ke arah Anita. Matanya berbinar di bawah sinar lampu petromaks yang redup, berbinar seperti langit berbintang di luar sana. Tapi binar itu tidak murni. Ada getar di dalamnya. Ada ketakutan. Ada harapan yang hampir putus asa. "Aku suka sama kamu."
Dunia Anita berhenti.
Dia bilang apa?
Dari ujung bangku, Yulia menahan napas.
"Aku suka sejak pertama kali melihat kamu di jalan Randu Gembyang waktu itu," lanjut Hermanto. Suaranya bergetar, bukan getar biasa, tapi getar seperti dawai gitar yang dipetik terlalu keras. "Waktu kamu hampir jatuh ke selokan karena aku. Waktu kamu cemberut karena seragam putihmu kena cipratan lumpur."
Ia tertawa kecil, tertawa pahit yang terdengar seperti tangisan yang tertahan.
"Aku ingat betul muka kamu waktu itu. Kamu melotot ke arah aku. Tapi bukan melotot marah. Lebih ke melotot kesal. Kayak anak kecil yang baru jatuh dari sepeda. Lucu. Dan aku, aku nggak tahu kenapa, tapi semenjak saat itu, aku nggak bisa berhenti memikirkan kamu."
Anita tidak bisa bergerak. Tidak bisa bicara. Dadanya sesak. Tangannya dingin.
"Dan perasaan itu makin kuat setiap hari," Hermanto melanjutkan, suaranya semakin dalam, semakin serak. Setiap kata terasa seperti ia memaksanya keluar dari tempat terdalam di hatinya. "Setiap kali kamu tersenyum. Setiap kali kamu serius menjelaskan rumus Fisika ke Yulia. Setiap kali kamu mengucek mata karena ngantuk di jam terakhir. Setiap kali..."
Ia berhenti. Menunduk.
Tangannya gemetar hebat.
"Setiap kali," lanjutnya, suaranya hampir berbisik, "aku melihatmu, rasanya dunia ini nggak seburuk yang aku kira."
Diam.
Yulia, dari kejauhan, mengusap matanya. Awas nangis, pinta hatinya. Jangan nangis.
"Tapi karena aku pengecut, aku nggak pernah bilang." Hermanto mengangkat wajah. Matanya merah. "Aku pikir kita punya waktu. Aku pikir nanti, setelah UN, setelah lulus, setelah... setelah aku lebih berani. Tapi ternyata kata kata orang bisa menghancurkan segalanya sebelum kita sempat memulainya."
Air mata mulai menggenang di mata Anita. Ia menahan. Jangan menangis, pinta hatinya. Jangan menangis di depannya.
Tapi air mata tidak pernah mendengar perintah.
"Man..." suaranya pecah. Hanya satu suku kata, tapi terdengar seperti jeritan.
"Kamu nggak perlu menjawab sekarang." Hermanto bicara cepat, terlalu cepat, seperti takut Anita akan memotong dan menolaknya sebelum selesai. "Aku cuma ingin kamu tahu. Aku cuma ingin kamu berhenti menjauhi aku. Karena tanpa kamu di samping, rasanya sekolah itu hampa."
Hampa.
Kata itu bergema di kepala Anita.
Ya, pikirnya. Sekolah tanpa dia di dekatku rasanya juga hampa. Aku tidak pernah mengakuinya. Bahkan pada diriku sendiri.
Air mata Anita jatuh.
Bukan jatuh satu satu, tapi meleleh seperti bendungan yang jebol. Ia tidak bisa menahannya lagi.
Ia menangis. Bukan isak keras, tapi tangis diam, tangis yang hanya terlihat dari bahu yang bergetar, dari dada yang naik turun tak beraturan, dari air mata yang membasahi pipi dan jatuh ke pangkuannya.
Hermanto tidak menyentuhnya. Ia hanya duduk di samping Anita, memberi ruang, memberi waktu, memberi kehangatan tanpa harus bersentuhan.
Yulia, dari kejauhan, menangis juga. Pelan. Diam diam. Ia menyeka air matanya dengan punggung tangan, berharap tidak ada yang melihat.
"Maaf," Anita akhirnya berkata, suaranya sengau, basah, pecah. "Maaf aku jauhin kamu."
"Kamu nggak usah minta maaf."
"Tapi aku takut, Man."
"Takut apa?"
Anita mengusap air matanya dengan punggung tangan. Tangannya basah. Pipinya basah. Semuanya basah.
Ia menatap ke arah kegelapan sawah, ke tempat kunang kunang masih terbang, ke tempat suara jangkrik yang tidak pernah lelah.
"Aku takut sama kata kata orang. Aku takut sama ibuku. Aku takut sama status sosial. Aku takut kamu suatu hari nanti sadar kalau aku tidak cukup baik untuk kamu."
Suatu hari nanti, pikir Hermanto, aku takut dia yang sadar bahwa aku tidak cukup berani untuknya.
Tapi ia tidak mengucapkannya.
Ia hanya berkata, "Kamu tahu apa yang lebih aku takutkan?"
"Apa?"
"Aku takut kehilangan kamu sebelum sempat membuktikan bahwa aku serius."
Sebelum sempat membuktikan bahwa aku tidak seperti laki laki yang meninggalkan ibumu. Sebelum sempat membuktikan bahwa janji "aku tidak akan lari" bukan hanya kata kata kosong.
Anita membeku.
Dia serius, pikirnya. Dia benar benar serius.
Dari kejauhan, Yulia tersenyum, meskipun matanya masih basah.
Mereka terdiam lama.
Suara jangkrik kembali menguasai malam. Angin berembus, membuat daun daun pisang di belakang rumah bergesekan satu sama lain, berbunyi seperti bisikan bisikan kecil yang tidak bisa ditangkap.
"Man," Anita memecah kesunyian.
"Hm?" Suara Hermanto serak. Matanya merah.
"Aku juga suka sama kamu."
Hermanto menoleh cepat. Matanya membesar, membesar seperti bulan purnama di langit yang tak berawan. Bibirnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar.
Seketika itu juga, lampu petromaks di atas mereka berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Lalu padam.
Kegelapan menyelimuti teras. Hanya cahaya bulan yang tersisa, redup, keperakan, membuat bayangan bayangan panjang di tanah.
"Anjir!" Yulia memekik dari ujung bangku. "Matilah! Padahal baru mau klimaks!"
Anita dan Hermanto tidak bergerak.
Di dalam gelap, hanya detak jantung mereka yang terdengar.
"Tapi..." Anita mengangkat tangan. Ia tidak bisa melihat tangan Hermanto, tapi ia bisa merasakan kehangatannya, hanya beberapa sentimeter dari jarinya. "Tapi rasanya cinta kita seperti bertepuk sebelah tangan. Bukan antara aku dan kamu, melainkan antara kita dan dunia di luar sana."
Diam.
Lalu suara korek api.
Sssstt.
Api kecil menyala. Wajah Yulia muncul dari balik api, matanya merah, hidungnya membengkak, tapi ia tersenyum.
"Lo berdua," kata Yulia, suaranya masih sengau, "nggak lihat apa ada yang aneh di sini?"
Anita dan Hermanto menatap Yulia.
"Lo bertiga, gue di sini. Bukan cuma berdua. Dunia di luar sana? Mereka juga manusia. Bukan monster."
Yulia menyalakan lampu petromaks dengan gerakan yang agak kasar.
Pop.
Api menyala lagi. Cahaya kembali.
Wajah Hermanto, masih merah. Wajah Anita, juga merah. Wajah Yulia, antara tertawa dan menangis.
"Ya sudah," kata Yulia sambil berdiri. "Gue pamit. Lo berdua lanjutin. Jangan sampe subuh."
"Lin..." Anita mencoba memanggil, tapi Yulia sudah berjalan ke arah pagar.
"Dadah, Nit! Dadah, Man! Jangan lupa besok cerita ke gue!"
Yulia pergi. Meninggalkan mereka berdua di bawah lampu petromaks yang baru saja dinyalakan kembali.
Hermanto menatap Anita. Anita menatap Hermanto.
"Maksud kamu, 'cinta kita seperti bertepuk sebelah tangan'?" tanya Hermanto. "Aku tidak mengerti."
Anita menghela napas. Panjang. Berat.
"Keluargaku miskin, Man. Ibuku buruh cuci. Aku anak tidak punya. Sementara kamu, orang tuamu punya mobil. Rumahmu di Semarang. Kamu bisa kuliah di mana pun kamu mau. Tapi aku?"
Ia menunjuk ke arah sawah yang gelap, ke tempat para petani mungkin masih bekerja di bawah cahaya bulan.
"Aku harus berjuang mati matian untuk bisa tetap sekolah. Dan kalau kita dekat, orang akan bicara. Seperti Novi dan Rika. Dan itu akan mengganggu konsentrasi kita. Kamu bisa terganggu. Aku bisa jatuh. Dan aku tidak bisa jatuh, Man. Aku tidak punya orang tua kaya untuk mengejangkan aku kalau aku gagal."
Dan ibuku tidak bisa jatuh lagi, pikir Anita. Dia sudah jatuh terlalu dalam saat ayah kandungku pergi.
Kalimat kalimat itu keluar dengan deras, seperti air yang sudah lama tertahan, akhirnya menemukan celah.
Hermanto mendengarkan. Matanya tidak berkedip.
Tapi tangannya, tangannya yang sejak tadi menggenggam erat, mulai menggenggam lebih erat.
"Jadi?" tanyanya pelan.
"Jadi aku tidak tahu, Man." Anita menunduk. "Aku tidak tahu harus bagaimana."
Hermanto tidak menjawab dengan kata kata.
Ia berdiri.
Anita mendongak.
Hermanto berlutut di depannya.
Bukan berlutut seperti melamar. Tapi berlutut seperti berdoa, seperti memohon, seperti menyerahkan segalanya.
"Nita," katanya, suaranya tidak lagi bergetar. Kini suaranya tenang. Tenang seperti air di telaga yang tidak pernah terganggu. "Aku tidak punya jawaban untuk semua ketakutan kamu. Tapi aku janji satu hal: aku tidak akan lari."
Anita menatap Hermanto yang berlutut di depannya.
Hatinya berdesir.
Bukan desir bahagia. Tapi desir takut.
Janji, pikirnya. Janji remaja. Janji yang mudah diucapkan, mudah dilupakan, mudah dikhianati.
Seperti janji ayah kandungku pada ibu. Seperti janji laki laki dari kota pada gadis desa yang hamil. Seperti janji yang sudah kudengar berkali kali dalam dongeng, tapi tidak pernah dalam kenyataan.
"Ini bukan janji yang bisa kamu pegang, Man. Dunia di luar sana lebih kejam dari yang kamu bayangkan."
"Mungkin. Tapi aku tidak peduli."
"Kamu peduli. Suatu hari nanti."
"Kalau itu terjadi saatnya nanti, biar kita hadapi bersama."
Anita tersenyum pahit.
Naif, pikirnya. Kita masih remaja. Janji kita tidak punya kekuatan apa apa di hadapan orang tua dan status sosial.
Tapi di dalam hatinya yang paling dalam, ada sesuatu yang hangat.
Sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan sejak ayah tirinya meninggal.
Harapan.
Harapan yang rapuh, seperti lilin di tengah badai.
Tapi tetap menyala.
Malam itu, di bawah langit Pegandon yang bertabur bintang.
Mereka tidak berpelukan. Tidak berciuman. Tidak melakukan hal hal yang biasanya dilakukan remaja dalam novel novel murahan.
Mereka hanya duduk bersebelahan, bergandengan tangan, dengan jari jari yang saling bertaut, menatap ke arah bukit tempat Pesisir Pantura bersembunyi di balik kabut.
Kunang kunang terbang di sekitar mereka.
Suara jangkrik semakin keras.
Angin malam berembus pelan.
"Man," kata Anita.
"Hm?"
"Aku tetap akan fokus UN. Aku tidak bisa janji kita akan terus dekat. Tapi aku tidak akan menjauh lagi."
Hermanto tersenyum.
Senyum pertama yang benar benar tulus dalam seminggu terakhir.
"Itu sudah cukup."
Mereka terdiam lagi.
Tapi diam kali ini berbeda. Bukan diam canggung. Bukan diam sakit.
Diam yang damai.
Diam yang mengatakan, "kita tidak perlu kata kata untuk saling mengerti."
Di kejauhan, suara azan Isya mulai berkumandang dari masjid desa. Suaranya pelan, seperti bisikan yang mengingatkan bahwa malam sudah larut, bahwa besok masih ada ujian, bahwa dunia masih berputar meskipun hati sedang berbunga bunga.
"Aku harus pulang," kata Hermanto. "Nenek sudah marah pasti."
Ia berdiri. Tangannya masih menggenggam tangan Anita.
Perlahan, sangat perlahan, ia melepaskan.
Satu jari.
Dua jari.
Tiga jari.
Hingga hanya ujung jari mereka yang masih bersentuhan.
Lalu tidak sama sekali.
"Nita," bisik Hermanto.
"Hm?"
"Aku janji. Aku tidak akan lari."
Anita tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.
Tapi di dalam hatinya, ia berkata, "Semoga. Semoga kau berbeda. Semoga kau tidak seperti laki laki dari kota yang meninggalkan ibuku. Semoga janjimu bukan sekadar kata kata."
Hermanto berjalan pergi ke arah gelap, kembali ke Dusun Pangempon, kembali ke dunia tempat ia berasal, ke dunia tempat orang tuanya memiliki kuasa atas masa depannya.
Anita tetap duduk di bangku bambu.
Ia melihat telapak tangannya, tangan yang baru saja digenggam Hermanto.
Masih terasa hangat.
Masih terasa bekas jari jarinya.
Ia mengepalkan tangannya, mencoba menyimpan hangat itu lebih lama.
Janji tanpa strategi hanyalah mimpi di siang bolong, pikirnya. Tapi malam ini, aku ingin mimpi.
Ia masuk ke dalam rumah. Mematikan lampu petromaks. Meninggalkan kegelapan di halaman.
Tapi di dadanya, ada sesuatu yang menyala.
Harapan.
Kamar Anita, tengah malam.
Ia tidak bisa tidur.
Bukan karena cemas. Bukan karena takut.
Tapi karena hatinya penuh, penuh dengan kata kata Hermanto, penuh dengan hangat genggaman tangannya, penuh dengan mungkin, penuh dengan semoga, penuh dengan "apa jadinya jika".
Anita mengambil buku catatan dari bawah bantal.
Ia membuka halaman terakhir, halaman yang biasa ia gunakan untuk menulis catatan kecil.
Dengan pulpen yang tintanya hampir habis, ia menulis:
"Hermanto menyukaiku. Dan aku menyukainya. Tapi apakah itu cukup?"
Ia memandangi tulisan itu lama.
Lalu di bawahnya, ia menulis lagi:
"Dia berlutut di depanku malam ini. Bukan untuk melamar. Tapi untuk berjanji, bahwa dia tidak akan lari.
Aku ingin percaya. Tapi ibuku dulu juga percaya. Dan lihat apa yang terjadi.
Tapi matanya. Matanya jujur. Matanya tidak berbohong. Setidaknya, malam ini.
Untuk sekarang, aku memilih percaya. Karena tanpa kepercayaan, cinta hanyalah kata lain dari ketakutan. Dan aku sudah terlalu lama hidup dalam ketakutan.
Malam ini, aku memilih harapan. Meskipun harapan bisa menghancurkan. Meskipun harapan bisa mengecewakan. Tapi tanpa harapan, aku sudah mati sejak lama.
Selamat malam, Man. Aku akan mencoba, mencoba untuk tidak takut. Setidaknya, untuk malam ini."
Ia memandangi tulisan itu lama.
Lalu menutup buku.
Menaruhnya di bawah bantal.
Memeluknya.
Untuk sekarang, cukup, pikirnya. Untuk sekarang, bermimpilah. Tentang dia. Tentang kita. Tentang mungkin. Tentang harapan. Tentang janji yang semoga tidak patah.
Bab 7: Badai dari Orang Tua
Keesokan paginya. Rumah Anita, Dusun Kersan.
Kabar di desa Tegorejo menyebar lebih cepat dari api di musim kemarau.
Pagi itu juga, sebelum matahari naik setinggi pohon kelapa, setidaknya tiga tetangga sudah "kebetulan lewat" di depan rumah Anita. Mereka tidak mampir. Tapi mata mereka — mata yang penuh rasa ingin tahu — cukup untuk membuat Bu Karsinem curiga.
"Apa yang sebenarnya terjadi semalam?" tanya ibunya sambil membalik gorengan di wajan.
Anita, yang sedang menyisir rambut di teras, terdiam. "Tidak ada apa-apa, Bu."
"Tidak ada apa-apa, kok ada laki-laki datang ke rumah kita malam-malam?"
Anita menggigit bibir. Seseorang sudah bicara, pikirnya.
"Itu teman sekolah, Bu. Namanya Hermanto. Dia cuma... minta tolong soal PR."
"PR? Malam-malam?"
"Iya, Bu. Soal ujian."
Bu Karsinem tidak menjawab. Ia hanya membalik gorengan dengan gerakan yang lebih kasar dari biasanya. Minyak panas memercik ke kompor, menimbulkan percikan kecil.
Anita tahu — ibunya sedang marah.
Bukan marah yang meledak-ledak. Tapi marah yang dingin. Marah yang merayap seperti ular, lalu menyergap saat korban sedang lengah.
Dan saat sarapan, ular itu menyergap.
Meja makan sederhana di dapur.
Nasi hangat, sayur asem, dan gorengan. Menu yang sama setiap pagi. Tapi pagi ini, rasanya hambar.
"Anita."
"Iya, Bu."
"Kamu jangan dekat-dekat dengan anak itu."
Anita meletakkan sendoknya. "Bu, Hermanto orang baik."
"Baik atau tidak belum tentu." Bu Karsinem menatap anaknya. Matanya tajam — tajam seperti pisau yang sudah lama tidak diasah, tapi masih bisa melukai. "Ayahnya siapa, ibunya siapa? Anak orang kota. Nanti kamu dimanfaatkan!"
"Ibu, dia tidak—"
"Kamu dengar ibumu!" Bentakan itu keluar seperti pecahan kaca. Bu Karsinem mengepalkan tangannya di atas meja.
Anita membungkam. Sepanjang hidupnya, ibunya jarang membentak. Ibunya lebih sering diam — diam yang berat, diam yang penuh beban. Tapi hari ini, diam itu berubah menjadi amarah.
"Kamu lihat ibumu ini." Suara Bu Karsinem tiba-tiba melemah — seperti balon yang kempis. "Dulu, sebelum kamu lahir... aku juga dekat dengan laki-laki dari keluarga berada."
Anita menegang.
Selama ini, ibu tidak pernah bercerita tentang masa lalunya. Yang Anita tahu, ayah yang ia kenal sekarang adalah ayah tiri. Tapi detail tentang ayah kandungnya... selalu menjadi kabut tebal yang tidak pernah disinggung.
"Dari Semarang," lanjut Bu Karsinem, matanya menerawang ke suatu tempat yang tidak terlihat. "Tampan. Pintar. Keluarganya berada. Dia bilang dia sayang aku. Dia bilang dia akan menikahi aku."
Bu Karsinem tersenyum pahit — senyum yang tidak pernah Anita lihat sebelumnya.
"Tapi setelah tahu aku hamil, dia kabur. Tidak ada kabar. Tidak ada pesan. Tidak ada. Aku ditinggal sendiri — hamil, tanpa uang, tanpa suami, tanpa siapa pun."
Air mata mengalir di pipi Bu Karsinem. Ini pertama kalinya Anita melihat ibunya menangis — bukan karena lelah, tapi karena luka lama yang kembali menganga.
"Akhirnya, aku menikah dengan ayahmu sekarang. Bukan karena cinta. Tapi karena... karena dia mau menerima kamu dan aku apa adanya. Meskipun hidup pas-pasan. Meskipun dia hanya buruh pabrik."
Bu Karsinem mengusap air matanya dengan punggung tangan yang kasar karena kerja keras.
"Jadi, Anita, jangan ulangi kesalahan ibumu. Fokus sekolah. Jangan percaya cinta laki-laki sebelum kamu punya pendirian yang kuat. Dan jangan... jangan pernah percaya janji laki-laki dari kota."
Anita tidak bisa berkata-kata.
Ia menatap ibunya — wanita kecil dengan kulit kecokelatan, tangan kasar, dan punggung yang sedikit bungkuk karena terlalu banyak membungkuk mencuci pakaian orang lain.
Jadi ini rahasia ibuku selama ini, pikir Anita. Dia juga korban cinta bertepuk sebelah tangan. Tapi lukanya berbeda. Lukanya lebih dalam.
Ia ingin memeluk ibunya. Tapi tubuhnya terasa kaku — seperti membatu di kursi.
Yang bisa ia lakukan hanyalah menunduk, menatap nasi di piringnya yang mulai dingin, dan berbisik, "Iya, Bu."
Perjalanan ke sekolah.
Sepeda Anita dan Yulia berjalan berdampingan seperti biasa. Tapi hari ini, Anita tidak bicara. Yulia merasakan ada yang berbeda.
"Nit , lo kenapa? Muka lo pucat."
Anita menceritakan semuanya — tentang kedatangan Hermanto semalam, tentang ibunya yang tahu, tentang masa lalu ayah kandungnya, tentang larangan ibunya.
Yulia mendengarkan tanpa memotong. Sesekali ia menghela napas, sesekali ia menggigit bibir.
"Lin, menurut lo, ibuku salah?"
Yulia berpikir lama sebelum menjawab. "Ibumu tidak salah. Dia hanya... terluka."
"Tapi aku bukan dia."
"Lo tahu itu. Tapi ibumu belum tentu tahu."
"Jadi gue harus nurut? Jauhin Hermanto lagi?"
Yulia menggeleng. "Gue nggak bisa jawab itu, Nit . Lo sendiri yang tahu mana yang terbaik untuk lo."
Anita menghela napas panjang.
Yang terbaik untukku, pikirnya. Sejak kapan aku tahu apa yang terbaik untuk diriku sendiri?
Di sekolah. Jam pertama — Kimia.
Bu Rumiyati sedang menerangkan tentang tabel periodik. Tangan Anita memegang pulpen, tapi tidak menulis. Matanya menatap papan tulis, tapi tidak melihat.
Yang ia lihat adalah bayangan ibunya yang menangis.
Bayangan ibu yang berkata, "Jangan percaya cinta laki-laki."
Bayangan ibu yang berkata, "Jangan ulangi kesalahanku."
Di bangku depannya, Hermanto sesekali menoleh. Ia melihat Anita yang murung. Ia ingin bertanya. Tapi Anita tidak pernah menatap balik.
Jangan lihat aku, Man, pinta Anita dalam hati. Kamu hanya membuat segalanya lebih sulit.
Jam istirahat.
Anita tidak pergi ke kantin. Ia duduk di bangkunya, membolak-balik buku Kimia tanpa benar-benar membaca.
Yulia datang dengan dua gelas es teh dan sepiring tahu goreng.
"Makan, Nit ."
"Makasih, Lin."
"Lo belum cerita soal Hermanto dateng semalam. Dia ngapain?"
Anita menceritakan semuanya — tentang Hermanto yang lari dari Pangempon ke Kersan, tentang gosip Novi dan Rika, tentang tangan yang bergandengan di bangku bambu, tentang janji "tidak akan lari".
Yulia mendengarkan dengan mata membesar.
"Jadi... lo suka balik?"
Anita mengangguk pelan.
"Dan dia tahu?"
"Iya."
"Terus? Sekarang kalian pacaran?"
"Bukan." Anita menggeleng. "Kita belum pacaran. Kita cuma... berjanji untuk tidak saling menjauh."
Yulia menghela napas. "Ribet amat."
"Memang."
Mere berdua terdiam. Di kantin, suara Novi dan Rika tertawa keras — mungkin sedang menggosipkan seseorang.
"Lin," Anita memecah keheningan.
"Hm?"
"Apa yang akan lo lakukan kalau orang tua lo melarang lo dekat dengan orang yang lo suka?"
Yulia berpikir. "Gue nggak tahu. Belum pernah terjadi."
"Tebak saja."
"Gue... mungkin akan membangkang."
"Berani amat."
"Gue nggak bilang itu keputusan bijak. Tapi gue nggak suka diatur-atur."
Anita tersenyum kecil. "Lo lebih berani dari gue, Lin."
"Bukan berani. Gue cuma belum punya beban sebanyak lo."
Kalimat Yulia menusuk. Tapi Anita tahu itu benar.
Yulia punya ibu dan ayah yang masih utuh. Rumahnya sederhana, tapi tidak sekekurangan Anita. Yulia tidak perlu mikir biaya sekolah, biaya hidup, biaya ini-itu.
Anita punya semuanya.
Dan beban itu membuatku takut, pikir Anita. Takut jatuh. Takut kehilangan. Takut menjadi seperti ibuku.
Sementara itu, di Dusun Pangempon.
Rumah nenek Hermanto terletak persis di belakang kantor kecamatan. Bangunannya setengah tembok, setengah kayu — campuran gaya Jawa dan kolonial yang sudah tua.
Nenek Hermanto, Nyai Sarah, sedang duduk di teras sambil mengupas bawang. Rambutnya sudah putih semua, tapi matanya masih tajam. Di pangkuannya, seekor kucing belang tidur nyenyak.
Hermanto baru saja pulang dari sekolah. Ia meletakkan tasnya di kursi, lalu berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air.
"Duduk, Le," panggil neneknya. "Nenek mau bicara."
Hermanto menurut. Ia duduk di kursi bambu di samping neneknya.
"Malam tadi kamu ke mana?"
Hermanto membeku. "Ke... rumah teman, Nek."
"Teman cewek?"
Diam.
"Jangan bohong sama nenek. Nenek tahu kamu ke rumah anak Kersan itu."
Hermanto menunduk. "Iya, Nek."
Nyai Sarah berhenti mengupas bawang. Ia menatap cucunya — satu-satunya cucu laki-laki yang ia miliki.
"Kamu jangan main-main sama gadis desa, Man. Nanti kamu susah sendiri. Cari yang sederajat."
"Tetapi Nek, Anita anak pintar. Dia juara kelas."
"Pintar atau tidak belum tentu jaminan." Suara neneknya tegas — bukan marah, tapi tegas seperti orang yang sudah makan asam garam kehidupan. "Keluarganya bagaimana? Ibunya buruh cuci. Kamu malu nanti sama teman-teman ayahmu di Semarang."
"Teman-teman ayah tidak perlu tahu, Nek."
"Mereka pasti tahu. Dunia itu kecil, Le. Apalagi untuk orang-orang kaya."
Hermanto terdiam. Dadanya sesak.
Kenapa semua orang memandang rendah Anita hanya karena ibunya buruh cuci?
Kenapa status sosial lebih penting dari kebaikan hati?
Kenapa cinta harus dihalangi oleh harta?
"Kamu dengar nenek," Nyai Sarah melanjutkan. "Fokus sekolah dulu. Lulus. Kuliah. Nanti setelah kamu sukses, kamu bisa cari perempuan yang... seimbang."
"Seimbang dalam hal apa, Nek? Harta?"
"Ya. Itu penting."
"Tapi Anita miskin, Nek. Tapi dia anak baik. Dia pintar. Dia—"
"Cukup." Nyai Sarah mengangkat tangan. "Nenek tidak akan melarang kamu berteman. Tapi jangan terlalu dekat. Jangan sampai... keterusan."
Hermanto mengepalkan tangan.
Keterusan, pikirnya. Kata yang halus untuk "jangan sampai hamil di luar nikah seperti ibunya dulu".
Ia berdiri. "Nek, Anita bukan seperti itu."
"Nenek tidak bilang dia seperti itu. Tapi nenek tahu... buah jatuh tidak jauh dari pohonnya."
Kalimat itu seperti tamparan.
Hermanto ingin berteriak. Ingin membantah. Tapi ia sadar — melawan neneknya sama saja melawan seluruh keluarga. Dan ia masih bergantung pada keluarga untuk biaya sekolah, uang saku, tempat tinggal.
Apa daya anak sepertiku? pikirnya getir.
Ia berjalan ke kamarnya.
Banting.
Pintu kamarnya ditutup dengan keras.
Nyai Sarah hanya menggeleng pelan. Kucing di pangkuannya terbangun, lalu tidur lagi.
Di kamar Hermanto.
Ia duduk di tepi dipan, kepala tertunduk, kedua tangan mengepal di atas paha.
Ini tidak adil, pikirnya. Anita tidak bersalah. Aku tidak bersalah. Tapi kenapa semua orang seperti bersekongkol untuk memisahkan kita?
Ia mengingat wajah Anita semalam — wajah yang basah oleh air mata, tetapi masih tersenyum padanya.
"Aku takut sama kata-kata orang."
"Aku takut sama ibuku."
"Aku takut sama status sosial."
Dan sekarang, Hermanto merasakan ketakutan yang sama.
Ia takut pada neneknya. Takut pada orang tuanya di Semarang. Takut pada dunia yang tidak akan pernah merestui hubungan mereka.
Apakah cinta cukup?
Ia tidak tahu.
Yang ia tahu, ia sudah berjanji. Dan ia tidak ingin menjadi seperti laki-laki yang disebut-sebut Bu Karsinem — laki-laki dari Semarang yang kabur setelah menghamili.
"Aku tidak akan lari."
Itu janjinya. Dan ia akan berusaha menepati.
Tapi usaha dan realita seringkali tidak sejalan.
Sore itu. Perjalanan pulang.
Anita dan Yulia mengayuh sepeda pelan-pelan. Anita bercerita tentang larangan ibunya. Yulia mendengarkan.
"Jadi, lo akan jauhin Hermanto lagi?" tanya Yulia.
"Gue tidak tahu, Lin."
"Lo harus putuskan."
"Gue tahu."
Mereka terus mengayuh. Di tikungan dekat pohon randu — tempat pertama Anita bertemu Hermanto — seseorang berdiri.
Hermanto.
Ia menunggu dengan motor di sampingnya. Helm belum dipakai. Wajahnya letih.
"Nita , kita bicara," katanya.
Yulia melihat Anita, lalu Hermanto, lalu Anita lagi.
"Gue duluan, ya, Nit ," kata Yulia. "Lo nyusul aja."
Yulia mengayuh pergi, meninggalkan mereka berdua di tepi jalan.
Anita dan Hermanto berdiri berhadapan.
"Man, gue—"
"Gue tahu," potong Hermanto. "Nenek gue sudah tahu. Dia melarang gue dekat-dekat sama lo."
Anita menunduk. Jadi sudah sampai ke telinga neneknya juga, pikirnya.
"Gue juga," kata Anita pelan. "Ibu gue melarang."
Mereka terdiam. Suara angin di pepohonan randu terdengar seperti bisikan — bisikan yang mengatakan apa yang tidak berani mereka ucapkan.
"Jadi, gimana?" tanya Hermanto akhirnya.
"Aku tidak tahu, Man."
"Aku juga tidak tahu."
Mereka berdiri di sana — dua remaja yang baru semalam bergandengan tangan di bawah bintang, kini berdiri terpisah oleh tembok yang tidak terlihat.
"Gue tidak akan lari," kata Hermanto. "Tapi gue tidak bisa berbuat banyak sekarang. Gue masih di bawah orang tua."
"Gue juga."
"Jadi?"
Anita mengangkat wajah. Matanya berkaca-kaca.
"Jadi kita selesai saja, Man. Sebelum semakin dalam."
"Tidak." Hermanto menggeleng tegas. "Gue tidak mau."
"Man—"
"Dengar." Hermanto maju selangkah. "Gue tidak tahu bagaimana masa depan kita. Tapi gue tahu satu hal: gue tidak ingin menyerah tanpa berjuang. Kalau kita menyerah sekarang, kita akan menyesal seumur hidup."
"Tapi orang tua kita—"
"Kita akan bicara dengan mereka. Perlahan. Kita buktikan bahwa kita serius. Kita buktikan bahwa kita bisa fokus sekolah meskipun dekat."
"Man, kamu naif."
"Mungkin. Tapi setidaknya aku mencoba. Kamu mau mencoba?"
Anita memandang Hermanto lama — pria dengan rambut sebahu, mata sayu, dan hati yang mungkin terlalu besar untuk tubuhnya.
Dia naif, pikir Anita. Tapi ketulusannya... membuatku ingin percaya.
"Gue akan coba," kata Anita akhirnya, suaranya hampir berbisik. "Tapi kalau suatu hari nanti gue mundur lagi... jangan salahin gue."
"Aku tidak akan menyalahkanmu."
"Sumpah?"
"Sumpah."
Mereka tidak berpelukan. Tidak bergandengan.
Tapi di mata mereka, ada sesuatu yang sama: harapan yang rapuh, tapi tidak mau mati.
Malam itu. Dua rumah yang berbeda.
Di Dusun Kersan, Anita berbaring di dipan tipisnya, memandangi langit-langit bambu, dan berdoa kepada Tuhan yang mungkin sedang sibuk mendengarkan doa orang lain.
"Jaga aku, Ya Allah. Jaga dia. Dan jika Engkau berkehendak... satukanlah kami di waktu yang tepat."
Di Dusun Pangempon, Hermanto menatap ponselnya. Ia ingin mengirim pesan ke Anita. Tapi jarinya tidak bergerak.
Akhirnya, ia hanya menulis satu kalimat:
"Besok kita bicara lagi. Jangan tidur larut."
Ia tekan send. Lalu mematikan lampu.
Pesan itu sampai. Anita membacanya. Tersenyum kecil.
Lalu ia memeluk bantalnya — berkhayal bahwa itu adalah Hermanto.
Besok, pikirnya. Besok kita berjuang lagi.
Bab 8: Ujian Nasional Mendekat
Tiga puluh hari menuju Ujian Nasional.
Waktu di Tegorejo terasa berjalan berbeda sejak pertemuan malam itu.
Seperti air yang mengalir lebih deras di musim hujan. Seperti daun yang lebih cepat menguning di musim kemarau. Seperti detak jantung yang tiba-tiba terasa lebih cepat — padahal tidak sedang melakukan apa-apa.
Tiga puluh hari. Sebulan. Empat minggu. Waktu yang terasa singkat untuk mengulang tiga tahun pelajaran.
Seluruh siswa kelas IX SMPN I Pegandon merasakan tekanan itu. Di kelas, suasana berubah. Tawa dan canda berkurang. Yang tersisa hanyalah suara guru yang menerangkan, suara pulpen yang mencatat, dan suara napas yang tertahan saat mengerjakan soal.
Sekolah mengadakan les tambahan. Setiap hari. Dari jam satu sampai jam lima sore. Matahari masih tinggi saat mereka masuk ruang kelas, dan sudah mulai tenggelam saat mereka keluar.
Anita dan Hermanto — dua orang yang semalam bergandengan tangan di bawah bintang — kini duduk di bangku yang sama, menatap papan tulis yang sama, dengan perasaan yang sama.
Fokus, pinta mereka berdua dalam hati. UN dulu. Cinta nanti.
Kelas IX-A, jam les tambahan.
Pak Sukirman — guru Matematika yang terkenal dengan kumis tebal dan suara lantang — sedang menjelaskan soal-soal prediksi UN. Kapur di tangannya bergerak cepat, meninggalkan deretan rumus yang bagi sebagian siswa terlihat seperti aksara alien.
"Akar-akar dari persamaan kuadrat x² — 7x + 12 = 0 adalah... siapa yang bisa?"
Hening.
Pak Sukirman menghela napas. "Anita?"
"x = 3 dan x = 4, Pak," jawab Anita tanpa melihat catatan.
"Bagus. Hermanto?"
"Setuju, Pak," jawab Hermanto sambil tersenyum kecil ke arah Anita.
Anita tidak membalas senyum itu — setidaknya tidak secara terbuka. Tapi di sudut bibirnya, ada lengkungan tipis. Lengkungan yang hanya Yulia yang duduk di belakangnya bisa lihat.
Mereka masih saling perhatian, pikir Yulia. Meskipun berpura-pura tidak.
Jam istirahat les.
Yulia dan Anita duduk di kantin yang hampir sepi — sebagian siswa memilih tidur di kelas atau lanjut mengerjakan soal. Dua gelas es teh dan sepiring pisang goreng di atas meja.
"Nit , lo belakangan ini lebih tenang," kata Yulia sambil mencelupkan pisang goreng ke dalam saus cabai.
"Iya. Gue fokus UN."
"Bukan cuma itu. Lo juga... tidak terlalu murung soal Hermanto."
Anita tersenyum kecil. "Kami sudah bicara. Kami sepakat untuk mengesampingkan perasaan dulu. UN lebih penting."
"Wow." Yulia mengangkat alis. "Dewasa banget."
"Harus."
"Tapi lo nggak bisa bohong sama perasaan lo, Nit . Setiap kali Hermanto ngomong di kelas, mata lo langsung melirik."
Anita tersenyum malu. "Ya, tapi setidaknya gue tidak menjauh lagi. Atau terlalu dekat. Kita... di tengah-tengah."
"Grey area," kata Yulia.
"Apa?"
"Abu-abu. Nggak hitam, nggak putih."
Anita mengangguk. "Iya. Abu-abu. Untuk sekarang, cukup."
Yulia menatap sahabatnya. Dia lebih dewasa dari yang kukira, pikir Yulia. Atau mungkin dia hanya pandai menyembunyikan sakitnya.
Di sudut lain kantin.
Novi dan Rika duduk di meja pojok — tempat paling tersembunyi, paling tidak terlihat oleh guru. Rika sedang memainkan sedotan plastik di gelas es tehnya, membolak-balik sedotan itu di antara jari-jarinya.
Novi tidak minum. Ia hanya menatap ke arah Anita — yang sedang tertawa kecil bersama Yulia.
Rencana sudah terbentuk di kepalanya sejak seminggu lalu. Tapi ia butuh waktu untuk mematangkannya. Dan hari ini, ia memutuskan untuk bertindak.
"Kita harus membuat Anita gagal di UN," bisik Novi, suaranya serendah bisikan ular.
Rika berhenti memainkan sedotan. "Gila, lo, Novi. Itu namanya dosa besar."
"Biarkan. Aku nggak terima orang miskin kayak dia dapat peringkat satu terus."
"Tapi dia pintar, Novi. Itu faktanya."
"Pintar atau curang?" Novi menyeringai. "Siapa yang tahu?"
Rika menggeleng. "Lo keterlaluan."
"Ayahku sudah berjanji akan memberi aku hadiah kalau aku jadi juara umum." Mata Novi berbinar — bukan binar bahagia, tapi binar ambisi yang buta. "Motor. Motor baru. Dan aku tidak akan biarkan Anita merusak semuanya."
Rika terdiam. Ia tahu Novi keras kepala. Ia tahu Novi tidak akan mendengarkan siapa pun kalau sudah terpaku pada sesuatu.
"Lo mau bantu gue?" tanya Novi.
"Apa yang harus gue lakuin?"
"Bantu gue mengawasi. Kapan Anita meninggalkan tasnya. Di mana dia menyimpan lokernya. Siapa yang sering bersamanya."
Rika menggigit bibir. Pikirannya berperang. Satu sisi, ia tahu ini salah. Sisi lain, ia takut pada Novi — dan mungkin juga tergiur dengan janji imbalan.
"Gue pikir-pikir dulu," kata Rika akhirnya.
"Jangan lama-lama. UN tinggal tiga puluh hari lagi."
Malam itu. Rumah Novi, Dusun Tegolayang.
Novi tidak bisa tidur.
Rencananya sudah matang: mencuri berkas soal prediksi UN dari ruang guru, menyelipkannya ke tas Anita saat jam istirahat, lalu "menemukannya" dan melaporkan Anita ke guru.
Sempurna, pikir Novi. Anita akan didiskualifikasi. Aku akan jadi juara. Motor akan menjadi milikku.
Tapi ada satu masalah: ruang guru.
Ruang guru SMPN I Pegandon tidak terlalu aman. Pintunya hanya dikunci dengan gembok biasa. Dan Pak Mujiono — penjaga sekolah yang biasa pulang paling akhir — selalu meninggalkan ruang guru sebelum pukul delapan malam.
Novi sudah mengamati. Selama seminggu. Setiap pulang les, ia sengaja berlama-lama di sekolah, berpura-pura mengerjakan PR di perpustakaan. Padahal matanya mengawasi ruang guru.
Dan malam ini, ia memutuskan untuk aksi.
Pukul setengah sembilan malam. Sekolah sudah gelap. Hanya lampu jalan di depan gerbang yang masih menyala — redup, seperti mata yang mengantuk.
Novi memanjat pagar belakang — tempat yang tidak terlihat dari jalan raya. Ia sudah hafal setiap sudut sekolah dari hasil pengamatannya.
Ruang guru ada di lantai dua. Tangganya berkarat, berdecit setiap kali ia melangkah.
Krek.
Krek.
Krek.
Setiap decitan terasa seperti teriakan di telinga Novi. Ia berhenti beberapa kali, memastikan tidak ada yang mendengar.
Sesampainya di depan ruang guru, ia mengeluarkan obeng kecil dari saku jaketnya.
Gemboknya tidak terlalu sulit. Hanya gembok murah yang bisa dibuka dengan sedikit dorongan.
Klik.
Gembok terbuka.
Novi masuk ke dalam. Ruang guru gelap. Bau kapur tulis dan kertas tua memenuhi udara. Di sudut ruangan, ada lemari besi tempat menyimpan berkas-berkas penting.
Novi sudah tahu kodenya. Ia pernah melihat Bu Rahma membukanya — tanpa sengaja, saat disuruh mengambil spidol.
Dengan tangan gemetar — bukan karena takut, tapi karena deg-degan — ia memasukkan kode.
Klik.
Lemari terbuka.
Di rak paling atas, ada tumpukan map berwarna biru. Map itu bertuliskan: SOAL PREDIKSI UN 2018 — JANGAN DIBUKA TANPA SEIZIN KEPALA SEKOLAH.
Novi mengambil satu map. Lalu satu lagi. Lalu satu lagi.
Ia tidak butuh semuanya. Cukup satu map untuk ditaruh di tas Anita. Sisanya akan ia kembalikan besok — setelah Anita "ketahuan".
Novi keluar dari ruang guru. Mengunci kembali lemari. Mengunci kembali pintu. Meletakkan gembok seperti semula.
Tangan kanannya memegang map biru itu erat-erat. Tangan kirinya mengepal, berusaha menghentikan getaran.
Ini untuk motor, pikirnya. Ini untuk masa depanku.
Ia tidak memikirkan Anita. Tidak memikirkan masa depan Anita yang bisa hancur karena satu map biru itu.
Yang ia pikirkan hanyalah dirinya sendiri.
Keesokan harinya. Sekolah.
Novi datang lebih awal. Lebih awal dari Anita. Lebih awal dari Yulia. Lebih awal dari siapa pun.
Ia menyelinap ke kelas IX-A. Tas Anita — seperti biasa — diletakkan di bawah meja, di samping kaki kirinya. Tidak pernah dikunci. Tidak pernah diawasi.
Novi melongok ke kiri dan kanan. Tidak ada siapa pun.
Dengan gerakan cepat, ia membuka ritsleting tas Anita, memasukkan map biru itu ke dalam tumpukan buku, lalu menutup kembali.
Selesai.
Ia berjalan keluar kelas, pergi ke kantin, memesan es teh, dan tersenyum.
Sekarang tinggal menunggu waktu yang tepat untuk "menemukan" map itu.
Jam istirahat pertama.
Anita dan Yulia pergi ke kantin — seperti biasa. Tas Anita ditinggal di kelas, di bawah meja — seperti biasa.
Novi tidak ikut ke kantin. Ia memilih tinggal di kelas — sesuatu yang jarang ia lakukan.
"Kok lo nggak makan?" tanya Rika, yang juga ikut tinggal.
"Perutku sakit," jawab Novi pura-pura.
Rika tahu Novi bohong. Tapi ia tidak bertanya lebih lanjut.
Novi berjalan ke meja Anita. Ia pura-pura mengambil penghapus yang "jatuh" di dekat meja Anita. Lalu "tanpa sengaja" melihat tas Anita yang terbuka sedikit.
"Hei, Rika! Lihat ini!" pura-pura kaget.
Rika mendekat. Novi mengeluarkan map biru dari tas Anita.
"Ini map dari ruang guru!" kata Novi keras-keras — cukup keras agar beberapa siswa yang masih di kelas mendengar.
"Masa sih?" Rika pura-pura kaget.
"Ini tulisan 'Soal Prediksi UN'!"
Beberapa siswa mulai mengerumuni. Herman dari baris belakang mendekat. "Mana? Coba liat."
Novi menunjukkan map itu. "Ini di tas Anita. Dia mencuri soal prediksi!"
"Belum tentu dia yang mencuri, Novi," kata Herman.
"Terus siapa? Hantu?"
Mereka berdebat. Tapi sebelum suasana memanas, bel masuk berbunyi.
Anita dan Yulia kembali dari kantin.
Melihat kerumunan di dekat mejanya, Anita bertanya, "Ada apa?"
"Nita , ini map dari tas lo," kata Herman sambil menunjukkan map biru itu. "Novi nemu."
Wajah Anita pucat. "Aku tidak pernah ambil map itu."
"Bohong!" Novi menuding. "Ini di tas lo! Bukti jelas!"
Anita menatap map biru itu. Tangannya dingin.
Jebakan, pikirnya. Seseorang menjebakku.
Yulia maju selangkah. "Lo jangan sembarangan nuduh, Novi!"
"Ini buktinya, Lin. Coba lo lihat sendiri."
Yulia meraih map itu. Ia membukanya. Lembar demi lembar soal prediksi UN — Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, IPS.
"Anita tidak mungkin melakukan ini," kata Yulia tegas. "Dia juara kelas. Dia tidak perlu nyontek."
"Itu urusan nanti," kata Novi. "Yang jelas, barang bukti ada di tasnya. Kita lapor ke guru saja."
Anita berdiri diam. Ia tidak bicara. Ia hanya menatap Novi.
Novi berusaha menatap balik. Tapi ada sesuatu di mata Anita — bukan marah, bukan takut — tapi kesedihan yang dalam yang membuat Novi tiba-tiba merasa... kecil.
Tidak, pikir Novi. Aku tidak akan merasa bersalah. Ini untuk motorku.
Ruang guru, sepuluh menit kemudian.
Anita, Novi, Rika, dan Yulia dipanggil ke ruang guru. Pak Sumardi — kepala sekolah — sudah duduk di kursinya dengan wajah tegang.
Bu Rahma, guru TIK yang juga wali kelas IX-A, berdiri di sampingnya.
"Anita, kamu bisa menjelaskan?" tanya Pak Sumardi.
Anita menarik napas panjang. "Saya tidak tahu map itu dari mana, Pak. Saya tidak pernah mengambilnya."
"Tapi ditemukan di tas kamu."
"Iya, Pak. Saya juga bingung."
Novi angkat bicara. "Pak, saya lihat sendiri map itu di tas Anita. Saya curiga dia sudah lama mencuri soal prediksi."
Yulia memotong. "Pak, Novi ini sejak dulu iri sama Anita. Dia sering menggosipkan Anita. Bisa jadi dia yang menjebak."
"Kamu jaga mulut, Lin!" Novi membentak.
"Cukup!" Pak Sumardi memukul meja. "Kita tidak akan selesaikan masalah ini dengan saling tuduh."
Ia menatap Anita. "Kamu, tetap ikut UN. Tapi map ini akan kami simpan sebagai barang bukti. Kami akan memanggil orang tuamu."
Anita menunduk. "Baik, Pak."
"Kalian boleh kembali ke kelas."
Di luar ruang guru, setelah jam sekolah usai.
Anita berjalan pelan menuju rak sepeda. Langkahnya berat, seperti kakinya terikat rantai.
Yulia berjalan di sampingnya, diam. Ia tidak tahu harus berkata apa.
"Nita !"
Suara Hermanto dari kejauhan. Ia berlari menghampiri, wajahnya penuh kekhawatiran.
"Gue dengar kabar. Lo baik-baik saja?"
Anita menggeleng. "Gue tidak tahu, Man."
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Jebakan. Novi menjebak gue."
"Sialan!" Hermanto mengepalkan tangan. "Gue akan bicara sama dia."
"Tidak usah, Man. Percuma. Dia sudah punya rencana. Biar gue yang hadapi."
"Nita —"
"Man." Anita menatap Hermanto. Matanya lelah — lelah yang tidak hanya karena hari ini, tapi karena akumulasi dari segala hal yang terjadi dalam sebulan terakhir. "Gue bilang, biar gue yang hadapi."
Hermanto terdiam. Ia ingin membantu. Tapi ia tidak tahu caranya.
"Gue akan cari bukti," kata Yulia tiba-tiba.
Anita dan Hermanto menoleh.
"Bukti apa?" tanya Hermanto.
"Bukti kalau Novi yang menjebak Anita. Gue tidak akan diam."
"Lin, lo jangan—"
"Sudah, Nit . Lo sudah cukup banyak diam. Sekarang giliran gue yang bicara."
Yulia mengayuh sepedanya pergi — meninggalkan Anita dan Hermanto yang hanya bisa saling pandang.
Malam itu. Rumah Anita.
Ibu Karsinem duduk di kursi bambu, menghadap Anita yang berlutut di lantai.
"Nak, Ibu tahu kamu tidak mencuri soal itu."
Anita terkejut. "Ibu percaya?"
"Ibu tahu anak Ibu. Kamu bukan pencuri." Bu Karsinem menghela napas. "Tapi Ibu juga tahu... ada orang yang tidak suka dengan kamu. Dan itu yang lebih Ibu takutkan."
Anita menunduk. Air matanya jatuh.
"Orang iri itu tidak pakai mata, Nak. Mereka iri hanya karena kamu lebih baik dari mereka. Dan orang seperti itu... lebih kejam dari ular."
"Ibu, aku takut."
"Jangan takut. Ibu di sini."
Bu Karsinem meraih tangan Anita. Tangannya kasar — kasar karena kerja keras. Tapi genggamannya hangat. Hangat seperti pelukan yang sudah lama tidak Anita rasakan.
"Besok, Ibu akan ke sekolah. Ibu akan bicara dengan kepala sekolah."
"Tapi Ibu—"
"Apa? Ibu hanya buruh cuci?" Bu Karsinem tersenyum pahit. "Ya, Ibu buruh cuci. Tapi Ibu juga ibu dari anak pintar. Dan tidak ada yang bisa merendahkan itu."
Anita menangis. Bukan sedih. Tapi haru.
Ternyata, pikirnya, ibuku lebih kuat dari yang kukira.
Rumah Novi, tengah malam.
Novi tidak bisa tidur.
Rencananya berjalan mulus. Anita sudah dicurigai. Map itu sudah jadi barang bukti. Tinggal satu langkah lagi: memastikan Anita didiskualifikasi.
Tapi kenapa hatinya tidak tenang?
Ia mengingat mata Anita sore tadi — mata yang tidak marah, tidak takut, tapi sedih.
Mengapa dia tidak marah padaku? pikir Novi. Mengapa dia hanya diam? Itu akan lebih mudah jika dia marah. Aku bisa membencinya. Tapi dia...
Novi membanting bantal ke dinding.
Tidak. Aku sudah terlalu jauh. Tidak bisa mundur lagi.
Ia menutup mata. Berusaha tidur.
Tapi di dalam gelap, wajah Anita terus muncul.
Wajah yang sedih.
Wajah yang kecewa.
Wajah yang mengatakan: "Aku tahu kamu yang melakukan ini, Novi. Tapi aku tidak akan membalas."
Novi menggigit bibir.
Kenapa, pikirnya. Kenapa kamu tidak membalas?
Itu akan membuatku merasa benar.
Tapi kamu diam.
Dan diammu... lebih menyakitkan dari seribu makian.
BAB 9: JEBAKAN DI HARI UJIAN
Hari pertama Ujian Nasional.
Minggu, 7 April 2018.
Anita bangun pukul empat pagi. Bukan karena alarm. Tapi karena semenjak seminggu terakhir, ia tidak pernah bisa tidur nyenyak. Pikirannya terlalu penuh, rumus rumus, tanggal tanggal sejarah, dan satu nama yang terus berputar di kepalanya seperti rekaman rusak, Novi. Novi. Novi.
Ia membalikkan badan. Memeluk bantal.
Kenapa dia tidak bisa meninggalkanku? Kenapa dia harus terus mengganggu pikiranku bahkan di saat seperti ini?
Tapi pagi ini, ia memutuskan untuk tidak memikirkan Novi.
Hari ini aku akan berjuang untuk masa depanku, pikirnya sambil membuka mata. Tidak ada yang bisa menghentikanku. Bukan Novi. Bukan gosip. Bukan siapa pun.
Ia duduk di tepi dipan. Lantai tanah terasa dingin di telapak kakinya.
Anita mengambil wudu lebih lama dari biasanya. Air sumur dingin menusuk kulit, dingin sekali sampai terasa seperti pisau yang menyayat. Tapi ia tidak merasa. Ia berkali kali membasuh muka, seolah olah dengan air itu, ia bisa membasuh semua ketakutan yang mengendap di dadanya, semua keraguan yang meracuni pikirannya, semua bayangan tentang surat kaleng dan bisikan bisikan jahat di lorong sekolah.
Setelah salat Subuh, ia duduk di teras.
Langit timur mulai memerah, warna merah yang lembut, seperti sisa sisa malam yang enggan pergi. Burung pipit mulai berkicau dari ranting pohon randu di seberang jalan. Udara pagi di Dusun Kersan dingin menusuk tulang. Suhu mungkin hanya 20 derajat.
Anita membiarkan udara dingin itu membelai wajahnya.
Biarkan dingin ini membekukan semua rasa takutku, pikirnya.
Ibu Karsinem keluar dari dapur membawa segelas teh manis hangat dan dua lembar roti tawar yang dioles tipis selai. Selai itu hanya setebal kertas, terlalu tipis untuk disebut selai. Tapi Anita tidak protes. Ia tahu persediaan selai tinggal sedikit. Ia tahu ibunya sudah berminggu minggu tidak membeli yang baru karena harga naik, karena uang lebih penting untuk kebutuhan lain, karena selai adalah kemewahan yang tidak bisa mereka nikmati setiap hari.
"Kamu sudah sarapan?" tanya ibunya. Suaranya serak, lebih serak dari biasanya. Mungkin ibunya juga tidak tidur semalaman.
"Belum, Bu."
"Makan dulu. Jangan perut kosong." Ibu Karsinem duduk di samping Anita. Bangku bambu itu berderit pelan menahan beban mereka berdua.
Anita mengambil roti itu. Roti tawar murah, bukan yang bermerk, tapi yang dijual tetangga dengan harga setengah. Teksturnya sedikit keras, seperti sudah dua hari disimpan. Tapi Anita mengunyahnya pelan pelan. Menikmati setiap gigitan.
Ini yang bisa ibu berikan untukku, pikirnya. Dan itu sudah lebih dari cukup.
"Ibu tidak tidur semalaman, ya?" tanya Anita sambil mengunyah.
Bu Karsinem tersenyum. Tapi senyumnya tidak sampai ke mata. Matanya sembab, merah di sudutnya. "Ibu juga tidak bisa tidur. Deg degan."
Bukan hanya deg degan, pikir Anita. Ibu juga khawatir. Khawatir aku gagal. Khawatir semua pengorbanannya sia sia. Khawatir anak satu satunya tidak bisa membawa nama keluarga keluar dari kubangan kemiskinan.
"Bu, nanti kalau aku lulus..."
"Kapan kapan saja bicaranya. Sekarang fokus ujian dulu." Ibu Karsinem memotong dengan lembut, tapi tegas.
Anita mengangguk. Ia menghabiskan tehnya dalam satu tegukan. Hangatnya menyebar dari tenggorokan ke perut, memberi sedikit keberanian, seperti api kecil yang menyala di tengah dinginnya pagi.
"Kamu pasti bisa, Nak," bisik ibunya sambil merapikan kerah seragam Anita.
Anita menatap ibunya.
Wanita kecil dengan rambut yang mulai beruban di pelipis meskipun usianya baru empat puluhan. Wajahnya dipenuhi keriput halus, keriput yang tidak seharusnya ada di usia segitu, tapi terukir oleh kerja keras dan kurang tidur, oleh derita yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun.
Tangannya kasar. Kasar seperti amplas. Kasar karena terlalu banyak mencuci pakaian orang lain, karena terlalu banyak menggenggam sabun colek, karena terlalu banyak membanting tulang.
Matanya sembab. Sembab karena kurang tidur. Atau mungkin karena menangis diam diam di dapur saat Anita sudah tidur.
Aku akan membuatmu bangga, Bu, janji Anita dalam hati. Janji.
Pukul setengah tujuh pagi. Pertigaan Dusun Cegunan.
Yulia sudah menunggu. Wajahnya juga tegang, tegang seperti orang yang akan menghadapi ujian hidup, seperti orang yang tahu bahwa hari ini adalah salah satu hari terpenting dalam hidupnya.
Topi kainnya yang biasa ia pakai setiap pagi, hari ini diganti dengan ikat kepala polos berwarna merah. Merah menyala. Merah seperti bendera.
"Lo pakai ikat kepala?" tanya Anita.
"Supaya semangat. Warna merah biar nilainya merah semua."
"Merah nilainya jelek, Lin." Anita tertawa kecil, tapi tawanya tipis, seperti kertas yang hampir robek.
"Ah, iya, ya." Yulia tertawa canggung. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kebiasaan lamanya. "Ya sudah, anggap saja bendera semangat. Biar nilai gue merah karena bagus."
Mereka mengayuh sepeda berdampingan. Suasana pagi itu berbeda. Jalan setapak menuju sekolah yang biasanya ramai oleh anak anak sekolah yang berlarian, yang biasanya dipenuhi suara tawa dan teriakan, pagi ini terasa lebih hening.
Seperti semua orang sedang menahan napas.
Seperti seluruh desa sedang berdoa dalam diam.
"Gimana perasaannya, juara?" tanya Yulia sambil menoleh.
"Deg degan, Lin. Tapi siap."
"Lo udah dengar kabar? Novi juga ikut ujian hari ini. Meskipun dia hampir diskors, orang tuanya minta keringanan." Yulia menggigit bibirnya. Tangannya yang memegang stang sepeda mengepal. "Katanya ayahnya 'bicara' dengan kepala sekolah. Katanya ada iming iming entah apa."
Anita menghela napas.
Orang kaya memang punya jalannya sendiri, pikirnya. Mereka bisa membeli apa pun. Bahkan kesempatan kedua.
"Iya. Aku tahu." Suara Anita datar. Tidak marah. Tidak kecewa. Hanya lelah.
"Lo waspada, ya. Aku nggak percaya sama dia." Yulia mengayuh lebih dekat, seperti ingin melindungi Anita dari bahaya yang tidak terlihat.
Aku juga, pikir Anita. Tapi ia tidak mengucapkannya. Ia hanya mengayuh lebih cepat, meninggalkan Yulia yang masih berusaha menyusul.
Halaman SMPN I Pegandon.
Pukul setengah delapan pagi.
Para siswa kelas IX berkumpul di halaman. Suasana tegang, tegang seperti tali yang siap putus. Tidak ada yang tertawa. Tidak ada yang bercanda. Yang ada hanya bisik bisik gugup, dan tangan tangan yang gemetar memegang buku catatan untuk terakhir kalinya.
Ada yang masih membuka buku catatan, menghafal rumus terakhir, membaca ulang tanggal tanggal sejarah, menghapal definisi definisi yang mungkin tidak keluar dalam ujian tapi tetap dihafal karena takut ketinggalan.
Ada yang berdoa dengan mata tertutup, bibir bergerak tanpa suara, tangan menangkup di dada, kening berkerut konsentrasi.
Ada yang hanya diam. Menatap kosong ke depan. Seperti sudah pasrah. Seperti sudah menyerah sebelum perang dimulai.
Pak Sumardi berdiri di atas panggung kecil. Kipas angin di belakangnya berputar lambat, terlalu lambat untuk mengusir panas. Ia memberikan sambutan singkat. Kata kata motivasi yang sudah ia ulang setiap tahun.
"Kalian adalah generasi penerus bangsa."
"Lakukan yang terbaik."
"Jangan mencontek."
Jangan mencontek, pikir Anita. Kata kata yang mudah diucapkan. Tapi bagaimana kalau kau difitnah membawa contekan? Bagaimana kalau kau dijebak oleh orang yang iri padamu? Apakah "jangan mencontek" masih relevan?
Anita tidak mendengar satu pun sambutan itu.
Matanya mencari cari sesuatu, atau seseorang.
Dan di antara kerumunan, ia menemukannya.
Hermanto berdiri di dekat pohon beringin, sendirian. Pohon beringin tua itu merunduk seperti sedang melindunginya dari sengatan matahari pagi.
Rambutnya yang sebahu diikat sedikit ke belakang, mungkin agar tidak mengganggu saat ujian. Mungkin juga agar terlihat lebih rapi. Matanya juga sedang mencari, mencari sesuatu, atau seseorang.
Mata mereka bertemu.
Hanya sekejap.
Tapi cukup.
Hermanto tersenyum kecil. Tidak lebar. Tidak berlebihan. Hanya lengkungan tipis di bibir, seperti garis tipis di ufuk timur saat matahari baru akan terbit.
Lalu ia mengangkat ibu jarinya.
Satu isyarat. Sederhana. Tapi bermakna, "Kamu pasti bisa. Aku percaya padamu."
Anita tersenyum balik, meskipun matanya tiba tiba terasa panas.
Lalu ia menunduk.
Dia ada untukku, pikir Anita. Meskipun dari kejauhan. Meskipun tidak bisa di sampingku. Meskipun kita sedang dalam masa masa canggung setelah surat kaleng dan jarak yang kita ciptakan sendiri.
Tapi dia ada.
Itu sudah cukup.
Untuk hari ini, itu sudah cukup.
Ruang ujian, Kelas IX A.
Meja meja diatur berjajar dengan jarak satu meter, seperti barisan tentara yang siap berperang. Setiap meja hanya berisi satu orang. Tidak ada tempat untuk bersembunyi. Tidak ada tempat untuk berlindung.
Lembar jawaban komputer berwarna putih bersih diletakkan di samping lembar soal yang masih tersegel. Putih bersih seperti kanvas yang belum terjamah kuas. Putih bersih seperti hati Anita sebelum semua drama ini dimulai.
Anita duduk di meja paling depan. Nomor peserta 01 001.
Juara umum tiga tahun berturut turut.
Tekanan di pundaknya berat. Bukan hanya dari guru dan sekolah. Tapi dari seluruh desa yang sudah menganggapnya "anak pintar". Dari tetangga yang sering berbisik, "Lihat tuh anak Bu Karsinem, pintar sekali, padahal ibunya cuma buruh cuci." Dari teman teman yang iri. Dari Novi yang ingin menjatuhkannya.
Jika aku gagal, pikir Anita, semua orang akan bilang, "Anak miskin memang tidak akan pernah bisa."
"Sudah kuduga."
"Bu Karsinem terlalu ambisius menyekolahkan anaknya."
"Lebih baik jadi buruh cuci seperti ibunya."
"Itu sudah takdirnya."
Ia tidak ingin membuktikan itu.
Dua meja di belakangnya, Yulia duduk dengan tenang. Matanya tertutup, mungkin sedang berdoa. Mungkin sedang memohon kepada Tuhan agar diberikan kemudahan. Mungkin sedang mengirimkan doa untuk Anita juga, tanpa sepengetahuan Anita.
Tiga meja di belakang Yulia, Hermanto sudah membuka alat tulisnya. Dua pulpen hitam, satu pulpen biru, satu pensil 2B, satu penghapus putih, satu rautan kecil. Semua tersusun rapi seperti tentara yang siap perang, seperti barisan yang tidak akan mundur sebelum musuh dikalahkan.
Di sebelah kanan Anita, meja nomor 01 002.
Novi.
Novi tersenyum ke arah Anita.
Senyum manis, terlalu manis.
Senyum seperti gula yang dicampur racun.
Tapi mata Novi berbeda. Matanya dingin. Matanya kosong. Matanya seperti mata ular yang sedang membidik mangsa, tidak berkedip, tidak berkedip, tidak berkedip.
Anita membuang muka.
Jangan pikirkan dia, pinta hatinya. Fokus. Fokus. Fokus.
Dia tidak penting.
Dia hanya iri.
Dia hanya sampah di pinggir jalan yang berusaha menghalangi langkahku.
Tapi aku tidak akan berhenti hanya karena ada sampah.
Bel berbunyi.
Tiga kali. Panjang. Keras.
Seperti pukulan gong di kuil.
Seperti pukulan di pintu takdir.
"Selamat mengerjakan," kata Bu Rahma dari depan kelas. Wajahnya tegas, tapi di matanya ada kelembutan. "Doa semoga kalian semua sukses."
Dan semoga yang jahat mendapat balasannya, pikir Anita, meskipun ia tahu itu bukan doa yang baik. Tapi biarlah. Tuhan pasti mengerti.
Lembar soal dibagikan dari depan ke belakang. Satu per satu. Amplop cokelat tersegel rapi, seperti rahasia negara yang tidak boleh dibuka sebelum waktunya. Bu Rahma membukanya dengan pisau kecil, pisau khusus yang hanya digunakan untuk membuka amplop soal UN.
Sssst.
Suara amplop disobek.
Bau kertas baru menyebar, bau yang tidak pernah ia rasakan di perpustakaan desa, karena buku buku di sana sudah terlalu tua dan berdebu.
Anita menerima lembar soalnya.
Tangannya sedikit gemetar saat membuka amplop.
Ini dia, pikirnya.
Dua belas tahun sekolah.
Ratusan malam bergadang, belajar di bawah lampu petromaks yang redup, membaca buku sambil mengantuk, memaksakan mata yang perih untuk tetap terbuka.
Puluhan liter air mata, air mata karena lelah, karena sakit hati, karena merasa tidak cukup, karena takut gagal.
Semua bermuara di sini.
Di lembaran kertas ini.
Di hitungan menit ini.
Di detik ini.
Ia membalik lembar pertama.
Matematika.
Ia tersenyum kecil.
Matematika adalah kekuatanku.
Ia membaca soal nomor satu:
"Akar akar persamaan kuadrat x², 5x, 6 = 0 adalah..."
Mudah, pikir Anita. Ia sudah tahu jawabannya, x = 2 dan x = 3.
Tapi saat ia membalik ke lembar kedua untuk melihat soal selanjutnya, saat jarinya menyentuh sudut kertas yang sedikit lebih tebal dari yang seharusnya, ada sesuatu yang mengganjal.
Sesuatu yang tidak seharusnya ada.
Sesuatu yang membuat jantungnya berhenti berdetak.
Di balik lembar soal Matematika, terselip beberapa lembar kertas.
Dilipat kecil. Rapi. Hampir tidak terlihat jika tidak sengaja membalik halaman.
Seperti ular yang bersembunyi di balik semak.
Seperti racun yang diselipkan di antara makanan.
Anita membukanya.
Perlahan.
Satu lipatan.
Dua lipatan.
Tiga lipatan.
Jantungnya berhenti berdetak.
Itu adalah kunci jawaban.
Dan soal prediksi.
Lengkap.
Untuk semua mata pelajaran.
Matematika. Bahasa Indonesia. Bahasa Inggris. IPA. IPS.
Semua ada.
Semua tersusun rapi, seperti seseorang telah menghabiskan waktu berjam jam untuk menyiapkannya, mencetaknya, melipatnya, menyelipkannya di tempat yang tepat.
Bukan milikku, pikir Anita panik.
Darahnya terasa berhenti mengalir.
Jari jarinya menjadi dingin, dingin seperti mayat.
Tangannya gemetar hebat, gemetar seperti daun kering yang diterpa angin topan.
Aku tidak pernah membawa ini.
Aku tidak pernah melihat ini sebelumnya.
Aku tidak pernah.
Ia menatap kertas kertas itu.
Matanya tidak bisa berkedip.
Seseorang menaruhnya di sini.
Pikirannya langsung melompat ke Novi.
Novi.
Pasti Novi.
Siapa lagi yang bisa?
Siapa lagi yang dendam padanya?
Siapa lagi yang iri padanya sampai rela menghancurkan masa depannya?
Tapi sebelum Anita bisa berbuat apa apa, sebelum ia bisa menyembunyikan kertas itu di saku, atau memberikannya ke Bu Rahma, atau berpura pura tidak tahu, atau merobeknya, atau menelannya, atau melakukan apa pun yang bisa menyelamatkannya, suara Novi memecah kesunyian ruang ujian.
"Bu Guru!"
Suara Novi nyaring. Sengaja dikeraskan. Sengaja agar semua orang mendengar.
Sengaja agar tidak ada yang bisa mengabaikannya.
"Bu Guru, Anita membawa contekan!"
Seluruh ruangan mendadak hening.
Hening seperti kuburan.
Hening seperti dunia berhenti berputar.
Hening seperti 33 pasang mata dan telinga sedang fokus pada satu titik, Anita.
Anita merasa dirinya mengecil. Mengecil sampai hanya seukuran debu. Mengecil sampai ia ingin menghilang, tenggelam ke dalam lantai, terbang keluar jendela, menjadi tidak ada.
Semua mata tertuju padanya.
Beberapa mata terkejut. Beberapa mata iba. Beberapa mata, milik teman teman Novi, tersenyum puas.
Mereka sudah tahu, pikir Anita. Mereka sudah merencanakan ini. Mereka sudah menunggu saat ini.
Dan aku sedang jatuh ke dalam perangkap mereka.
Bu Rahma berjalan cepat dari depan kelas. Wajahnya tegang, campuran kaget, kecewa, dan tidak percaya.
Ini adalah Anita. Juara kelas. Anak yatim, ayah tiri. Anak buruh cuci. Anak desa yang selama ini menjadi kebanggaan sekolah.
Apakah mungkin Anita melakukan ini?
"Kamu lihat Anita membawa contekan, Novi?" Bu Rahma bertanya, masih berusaha tenang, masih berusaha tidak menghakimi sebelum mendengar kedua belah pihak.
"Saya lihat Anita memegang kertas contekan, Bu. Di balik lembar soalnya." Novi menunjuk, menunjuk dengan jari telunjuk yang terulur lurus ke arah Anita. Seperti hakim yang menjatuhkan vonis. Seperti algojo yang menunjuk korbannya.
Bu Rahma menatap Anita.
"Anita, tunjukkan lembar soalnya."
Anita tidak bisa bergerak.
Tangannya masih memegang kertas kertas itu.
Tangannya gemetar.
Kertas kertas di tangannya bergetar, bergetar seperti jantungnya yang hampir meledak.
Tuhan, pinta Anita dalam hati. Tuhan, jika Engkau ada. Jika Engkau mendengar doaku. Jika Engkau tidak tidur saat ini.
Tolong aku.
Tolong.
Tolong.
Tapi Tuhan diam.
Atau mungkin sibuk mendengarkan doa orang lain.
Di meja belakang.
Yulia mendengar semuanya.
Jantungnya berdegup kencang, kencang seperti genderang perang.
Tidak, pikirnya. Ini tidak mungkin. Anita tidak akan pernah.
Ia ingin berdiri. Ingin berteriak bahwa Anita difitnah. Ingin membantah bahwa Anita tidak pernah membawa contekan dalam hidupnya.
Tapi tubuhnya membeku, membeku seperti patung.
Kenapa aku tidak bisa bergerak? pikir Yulia panik. Kenapa kakiku terasa seperti dicor beton? Kenapa mulutku terkunci?
Anita butuh aku.
Tapi aku.
Aku pengecut.
Air mata menggenang di mata Yulia, tapi ia tahan.
Jangan menangis, Yulia, pinta hatinya. Jangan menangis. Sekarang bukan waktunya menangis. Sekarang waktunya bertindak.
Tapi tubuhnya tetap tidak bergerak.
Di meja paling belakang.
Hermanto menggigit bibirnya, sampai hampir berdarah.
Jebakan, pikirnya. Novi menjebaknya. Tepat di hari ujian.
Sialan.
SIALAN.
Ia ingin berlari ke depan.
Ingin merenggut kertas kertas itu dari tangan Anita.
Ingin merobek robeknya sampai tidak tersisa.
Ingin berteriak sekeras kerasnya bahwa ini semua ulah Novi, bahwa Anita tidak bersalah, bahwa ini konspirasi jahat untuk menjatuhkan gadis desa miskin yang terlalu pintar untuk kelas sosialnya.
Tapi ia tidak bisa.
Ruang ujian ini memiliki aturan.
Aturan besi.
Aturan yang tidak bisa dilanggar.
Jika ia bergerak tanpa izin, jika ia berdiri, jika ia berlari, jika ia membuka mulut tanpa diminta, ia bisa didiskualifikasi.
Dan diskualifikasi berarti mimpi kuliahnya hancur. Mimpi orang tuanya hancur. Mimpi semua orang yang telah berinvestasi padanya, hancur. Semua sia sia.
Ia tidak bisa.
Ia tidak bisa.
Anita, pinta Hermanto dalam hati, dengan seluruh keberanian yang tersisa, dengan seluruh keyakinan bahwa cinta dapat mengatasi segalanya meskipun bukti berkata lain. Kamu harus kuat. Kamu pasti bisa melewati ini.
Aku percaya padamu.
Meskipun aku tidak bisa berada di sampingmu saat ini.
Meskipun aku hanya bisa berdiri di sini, diam, dan menontonmu dihancurkan.
Maafkan aku.
Di depan kelas.
Bu Rahma sudah berdiri di samping meja Anita.
"Tunjukkan, Anita."
Suaranya tidak marah. Tidak tegas. Hanya lelah. Lelah seperti orang yang sudah terlalu sering melihat drama di sekolahnya, tapi tidak pernah sedramatis ini.
Anita mengangkat wajah.
Matanya berkaca kaca. Tapi ia berusaha tidak menangis.
Jangan menangis, pinta hatinya. Jangan kasih mereka kepuasan. Jangan biarkan mereka melihatmu lemah.
Jika kau menangis, mereka menang.
Jika kau jatuh, mereka bahagia.
Jadi, jangan.
Berapa pun harganya.
Ia menyerahkan kertas kertas itu ke Bu Rahma.
Tangannya gemetar hebat saat melakukannya, gemetar seperti daun kering yang siap copot dari tangkainya.
Bu Rahma membaca sekilas.
Wajahnya berubah, dari tegang menjadi kecewa.
Bukan kecewa biasa. Tapi kecewa yang mendalam. Kecewa seperti seorang ibu yang menemukan anak kesayangannya mencuri uang di dompetnya.
"Ini kunci jawaban dan soal prediksi," kata Bu Rahma. Suaranya terdengar oleh seluruh ruangan, jelas, tegas, tidak bisa dibantah. "Di mana kamu mendapatkannya, Anita?"
"Saya tidak tahu, Bu." Suara Anita bergetar, bergetar seperti dawai biola yang dipetik terlalu keras. Tapi ia berusaha tegas. Berusaha tidak terlihat lemah. "Saya tidak pernah membawa kertas itu. Pasti ada yang menaruhnya di lembar soal saya."
"Alasan klasik," Novi menyahut dari samping. Suaranya penuh kemenangan, seperti seorang pemenang yang sudah mengangkat trofi. "Setiap cheater pasti bilang begitu."
"Novi, kamu diam dulu," potong Bu Rahma tanpa menoleh.
Novi membungkam.
Tapi senyumnya tidak hilang.
Senyum orang yang merasa sudah menang.
Senyum orang yang tahu bahwa apa pun yang terjadi selanjutnya, nama Anita sudah tercoreng.
Bu Rahma menatap Anita lama.
Lama sekali.
Seperti ia sedang mencari, mencari kebenaran di balik mata Anita yang berkaca kaca, mencari kejujuran di balik suara Anita yang bergetar, mencari sesuatu yang bisa membuatnya percaya bahwa Anita tidak bersalah.
"Kita akan selesaikan ini setelah ujian," kata Bu Rahma akhirnya. Suaranya melembut, sedikit. "Untuk sekarang..."
Bu Rahma menghela napas.
Napas yang panjang. Napas yang berat. Napas seorang guru yang tidak punya pilihan.
"Kamu tetap boleh mengerjakan ujian. Tapi dengan pengawasan khusus."
"Tapi, Bu..." Novi protes.
"Cukup, Novi." Bu Rahma menatap Novi tajam. "Saya yang memutuskan."
Bu Rahma memanggil Pak Daryono, guru Matematika yang kebetulan tidak mengajar hari itu, untuk mengawasi Anita secara khusus.
Seorang pengawas pribadi.
Duduk tepat di samping Anita.
Mengawasi setiap gerak geriknya.
Mencatat setiap kedipan matanya.
Anita tidak menangis.
Ia mengambil pulpennya.
Membuka lembar soal.
Dan mulai mengerjakan.
Satu. Dua. Tiga. Empat.
Soal demi soal.
Rumus demi rumus.
Jawaban demi jawaban.
Tapi tangannya masih gemetar.
Dan hatinya.
Hatinya hancur berkeping keping.
Sesi ujian pertama selesai. Istirahat 30 menit.
Anita keluar dari ruang ujian dengan langkah gontai, langkah seperti orang yang baru saja kehilangan 10 kilogram dari tubuhnya, langkah seperti orang yang sedang berjalan di atas tanah yang bergetar.
Di luar, Yulia sudah menunggu.
"Mit, lo..."
"Lin, jangan dulu." Anita mengangkat tangan. Tangannya masih gemetar. "Gue nggak mau bicara."
"Tapi..."
"Tolong, Lin."
Yulia terdiam.
Ia melihat sahabatnya.
Sahabat yang selalu tersenyum meskipun lapar, senyum yang tipis, tapi tetap ada.
Sahabat yang selalu membantu meskipun lelah, membantu tanpa diminta, memberi tanpa diharap.
Sahabat yang selalu kuat, kuat seperti tembok, seperti pohon beringin, seperti gunung.
Kini sahabatnya terlihat seperti orang yang baru saja kehilangan segalanya.
Seperti orang yang baru saja dijatuhi hukuman mati.
Novi, pikir Yulia dengan amarah yang membara, amarah seperti api yang tidak bisa dipadamkan. Lo akan gue buat menyesal. Suatu hari. Gue sumpah.
Tapi saat ini, Yulia hanya bisa memeluk Anita.
Diam diam.
Di depan seluruh siswa yang sedang beristirahat, yang sedang makan, yang sedang bercanda, yang sedang membuka buku, yang sedang tidak peduli dengan drama di depan mata mereka.
Anita tidak menolak.
Ia hanya diam.
Membiarkan tubuhnya dipeluk.
Membiarkan Yulia menahan bebannya, meskipun hanya sebentar.
Setelah beberapa saat, satu menit, atau mungkin lima, atau mungkin satu abad, Anita tidak tahu, Anita berbisik, "Lin, tolong panggilkan Hermanto."
Suaranya lirih, lirih seperti bisikan orang yang sedang sekarat.
Yulia mengangguk.
Ia berlari, benar benar berlari, ke arah kerumunan mencari Hermanto.
Di belakang sekolah, dekat pohon asam.
Pohon asam itu sudah tua, mungkin seusia sekolah. Batangnya besar, akarnya muncul ke permukaan tanah seperti ular raksasa yang setengah membeku. Daun daunya rindang, memberikan keteduhan, memberikan perlindungan, memberikan tempat bersembunyi bagi mereka yang tidak ingin dilihat.
Hermanto datang berlari, benar benar berlari, seperti ada setan yang mengejarnya. Wajahnya pucat, pucat seperti kapur tulis.
"Mit, gue dengar..."
"Man, dengar dulu." Anita menatap Hermanto. Matanya merah, merah seperti mata kelinci, merah seperti mata orang yang sudah menangis berjam jam. Tapi ia tidak menangis. Tidak lagi. "Gue difitnah. Novi yang melakukan ini."
"Gue tahu. Gue akan..."
"Kamu tidak akan melakukan apa apa." Suara Anita tegas, tegas seperti orang yang sudah mengambil keputusan, tegas seperti hakim yang menjatuhkan vonis, tegas seperti orang yang tidak akan menerima banding.
"Kamu fokus ujian. Kamu tidak boleh terlibat."
"Tapi Mit..."
"Man." Anita meraih tangan Hermanto.
Tangannya dingin, dingin seperti es, dingin seperti kematian, dingin seperti hati yang sedang membeku.
"Gue sudah kehilangan harga diri di depan semua orang. Gue nggak mau kehilangan kamu juga."
Hermanto terdiam.
Kata kata Anita menusuk jantungnya, menusuk seperti pisau, seperti duri, seperti seribu jarum yang ditusukkan bersamaan.
"Kamu janji?" tanya Anita.
"Janji apa?"
"Janji kamu nggak akan melakukan hal bodoh. Janji kamu akan tetap fokus ujian. Janji kamu akan tetap di samping gue meskipun semuanya kacau."
Hermanto mengepalkan tangan, mengepal seperti orang yang ingin memukul, tapi tidak tahu siapa yang harus dipukul.
Lalu ia menghela napas panjang, napas yang terasa seperti melepas sepotong jiwanya.
"Gue janji."
Mereka tidak berpelukan.
Tidak bergandengan lama.
Tapi di mata mereka, ada sesuatu yang menguat.
Sebuah tekad.
Sebuah kesepakatan diam diam.
Kita akan melewati ini, pikir Anita. Bersama. Atau sendiri sendiri. Tapi kita akan melewati ini.
Kita tidak akan membiarkan mereka menghancurkan kita.
Kita tidak akan menyerah.
Sesi ujian kedua. Bahasa Indonesia.
Anita kembali ke ruang ujian.
Pak Daryono masih duduk di sampingnya. Mengawasi. Mencatat setiap gerakannya, setiap kedipan mata, setiap tarikan napas, setiap kali pulpen menyentuh kertas.
Anita tidak peduli.
Ia membuka lembar soal. Membaca petunjuk. Mengisi identitas.
Jika mereka ingin menjatuhkanku, pikir Anita, aku akan buktikan bahwa mereka tidak bisa.
Bahwa aku tidak butuh contekan.
Bahwa aku lebih pintar dari mereka semua.
Bahwa kemiskinan tidak membuatku bodoh.
Ia mulai mengerjakan.
Cepat.
Tepat.
Tanpa ragu.
Setiap soal ia jawab dengan keyakinan yang lahir dari ratusan malam belajar tanpa tidur, dari ratusan malam di mana ia memaksakan diri untuk tetap terjaga meskipun matanya sudah perih, meskipun kepalanya sudah pusing, meskipun tubuhnya sudah lemas.
Pak Daryono, yang awalnya mengawasi dengan curiga, dengan mata yang penuh kecurigaan, dengan tangan yang siap mencatat jika ada kejanggalan, perlahan lahan mengernyitkan dahi.
Hmm.
Ia melihat jawaban Anita.
Rapi. Sistematis. Tepat.
Tanpa melihat kunci jawaban, yang sudah disita Bu Rahma, yang sudah disimpan di dalam amplop cokelat, yang tidak akan pernah ia lihat lagi.
Anak ini benar benar pintar, pikir Pak Daryono. Atau dia aktor yang sangat baik.
Tapi matanya tidak bisa menipu. Anita tidak pernah menoleh ke kiri atau kanan. Tidak pernah mengeluarkan kertas tambahan. Tidak pernah berhenti terlalu lama di satu soal. Tidak pernah menunjukkan tanda tanda orang yang sedang menyontek.
Dia hanya mengerjakan soal.
Dengan tenang.
Dengan fokus.
Seperti seorang pejuang yang sedang bertempur di medan perang, tanpa peduli siapa yang menonton, tanpa peduli berapa banyak musuh yang mengepung.
Luar biasa, pikir Pak Daryono. Anak ini luar biasa.
Sesi ujian berakhir. Pukul dua siang.
Bel berbunyi.
Panjang. Keras.
Lembar jawaban dikumpulkan. Ruangan bergemuruh dengan suara kertas dan kursi yang digeser, suara kelegaan, suara lega, suara "akhirnya selesai".
Anita berdiri.
Kakinya terasa lemas, seperti sedang berjalan di atas busa.
Tangannya dingin, dingin seperti es.
Kepalanya pusing, pusing seperti habis menaiki komedi putar.
Tapi ia tersenyum.
Dua sesi sudah selesai, pikirnya. Dua lagi besok. Aku bisa.
Novi tidak bisa menghentikanku.
Tidak ada yang bisa menghentikanku.
Kecuali aku sendiri.
Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi.
Novi lewat di sampingnya. Tersenyum.
"Selamat, Anita. Lo berhasil bertahan." Suaranya manis, manis seperti gula beracun. "Tapi besok kita lihat saja."
Anita tidak menjawab.
Ia hanya menatap Novi dengan mata kosong, kosong seperti orang yang sudah tidak peduli lagi, kosong seperti orang yang sudah tidak punya apa apa untuk diambil, kosong seperti orang yang sudah mati di dalam tapi tetap hidup di luar.
Tatapan itu membuat Novi merinding.
Kenapa dia tidak marah? pikir Novi. Kenapa dia tidak menangis? Kenapa dia tidak berteriak? Kenapa dia tidak melawan?
Dia seharusnya hancur.
Aku sudah merencanakan semuanya dengan sempurna.
Kertas contekan. Waktu yang tepat. Saksi.
Semuanya.
Tapi kenapa dia terlihat lebih kuat dari sebelumnya?
Kenapa dia terlihat seperti tidak bisa dihancurkan?
Novi pergi.
Meninggalkan Anita yang masih berdiri di depan meja, dengan pulpen yang tintanya hampir habis, dengan hati yang hancur tapi tekad yang masih utuh.
Di luar ruang ujian.
Yulia dan Hermanto menunggu.
"Mit!" Yulia memeluk Anita lagi, memeluk seperti tidak ingin melepaskan, seperti takut Anita akan lenyap jika pelukan itu terputus.
"Aku baik baik saja, Lin."
"Lo bohong."
"Iya. Aku bohong." Anita tersenyum pahit, senyum yang tidak sampai ke mata, senyum yang hanya gerakan bibir tanpa makna. "Tapi aku akan baik baik saja. Nanti."
Hermanto berdiri di samping Yulia. Ia ingin memeluk Anita. Ingin mendekapnya erat erat. Ingin berkata, "Aku di sini. Aku tidak akan pergi. Aku akan melindungimu."
Tapi tidak berani.
Terlalu banyak mata yang melihat.
"Gue antar lo pulang, Mit," kata Hermanto.
"Tidak usah. Gue bisa sendiri."
"Mit..."
"Man." Anita menatap Hermanto. Matanya lelah, lelah seperti orang yang sudah tidak punya energi untuk marah, untuk sedih, untuk apa pun. "Gue butuh sendiri. Gue perlu mengatur ulang semuanya."
Mengatur ulang semuanya, pikir Hermanto. Seolah olah hati bisa diatur seperti lemari. Seolah olah luka bisa ditata rapi seperti buku di rak. Seolah olah patah hati bisa diperbaiki hanya dengan "mengatur ulang".
Hermanto dan Yulia saling pandang.
Mereka mengerti.
"Besok kita kumpul lagi," kata Yulia. "Lo istirahat yang cukup. Lo makan yang banyak. Lo jangan mikirin Novi."
Anita mengangguk.
Ia berjalan menuju rak sepeda, sendirian.
Sepeda tuanya masih ada. Rantainya masih berderit. Tapi sekarang, derit itu terdengar seperti tangisan, tangisan yang tidak pernah berhenti, tangisan yang terus berulang, tangisan yang sudah menjadi latar belakang hidupnya.
Perjalanan pulang. Sendirian.
Anita mengayuh pelan pelan.
Sawah di kanan kirinya mulai menguning, padi tua yang siap panen. Beberapa petani sudah mulai memotong padi dengan sabit, membawanya ke tempat penggilingan, tertawa bersama di sela sela kerja.
Mereka bahagia, pikir Anita. Mereka tidak tahu apa yang terjadi padaku hari ini.
Mereka tidak tahu bahwa aku difitnah.
Mereka tidak tahu bahwa harga diriku diinjak injak di depan semua orang.
Dan mereka juga tidak perlu tahu.
Burung bangau terbang rendah di atas selokan, mencari ikan, mencari makanan, mencari sesuatu untuk bertahan hidup.
Seperti aku, pikir Anita. Seperti aku.
Matahari mulai condong ke barat. Warna langit berubah dari biru menjadi oranye, dari oranye menjadi merah, dari merah menjadi ungu, seperti kanvas yang sedang dilukis oleh tangan yang tidak terlihat.
Dari kejauhan, suara azan Ashar mulai berkumandang.
Allahu Akbar.
Allahu Akbar.
Suara itu menggema di antara pepohonan, di antara sawah, di antara rumah rumah penduduk.
Anita berhenti di tepi jalan.
Ia mematikan sepedanya.
Menunduk.
Air matanya akhirnya jatuh.
Jatuh satu satu, seperti tetesan air hujan pertama sebelum badai.
Lalu deras, seperti air bah yang menghanyutkan segala sesuatu di jalannya.
Lalu ia menangis, menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya, seperti anak kecil yang tersesat di pasar malam, seperti anak kecil yang tidak tahu harus pulang ke mana.
Bukan karena tuduhan contekan.
Bukan karena Novi.
Bukan karena pengawas pribadi yang duduk di sampingnya.
Tapi karena lelah.
Lelah berjuang. Lelah menghadapi orang orang yang tidak suka padanya, tanpa alasan, tanpa sebab, hanya karena ia lebih pintar, hanya karena ia lebih baik, hanya karena ia ada.
Lelah menjadi orang miskin yang harus membuktikan segalanya, membuktikan bahwa ia pantas, bahwa ia mampu, bahwa ia tidak kalah, bahwa ia tidak akan menyerah.
Lelah menjadi bulan bulanan, menjadi bahan gosip, menjadi sasaran fitnah, menjadi korban iri hati.
Lelah menjadi Anita, yang selalu kuat, yang selalu tersenyum, yang selalu bilang "aku baik baik saja" padahal hancur berkeping keping.
Ia menangis di pinggir jalan.
Di bawah pohon randu, tempat pertama ia bertemu Hermanto.
Sendirian.
Tanpa Yulia. Tanpa Hermanto. Tanpa siapa pun.
Hanya ia dan Tuhan yang mungkin sedang mendengarkan, atau mungkin tidak, atau mungkin sedang sibuk dengan doa orang lain, atau mungkin sedang tidur.
"Ya Allah," bisik Anita di antara isaknya. Suaranya pecah, pecah seperti gelas yang jatuh dari meja. "Aku capek."
Angin berembus.
Daun randu berguguran, jatuh satu satu ke tanah, ke rumput, ke pundak Anita.
Tuhan tidak menjawab.
Tapi angin terus berembus.
Anita mengusap air matanya dengan punggung tangan.
Mengayuh sepeda lagi.
Besok, pikirnya. Besok aku bertarung lagi.
Seperti hari ini.
Seperti kemarin.
Seperti setiap hari.
Sampai kapan?
Entahlah.
Tapi selama aku masih bernapas, selama jantungku masih berdetak, selama paru paruku masih bisa menghirup udara, selama mataku masih bisa melihat, aku tidak akan menyerah.
Janji.
Bab 10: Perjuangan Membuktikan Kebenaran
Ruang kepala sekolah. Pukul sembilan pagi. Hari kedua setelah insiden.
Dinding ruangan itu dicat putih kusam, dengan satu jendela besar menghadap ke halaman depan sekolah. Di balik jendela, bendera merah putih berkibar pelan ditiup angin pagi. Meja kayu jati besar mendominasi ruangan, di atasnya berserakan berkas-berkas dan sebuah papan nama: Drs. H. Sumardi, M.Pd.
Pak Sumardi duduk di balik meja, menyandarkan tubuhnya ke kursi empuk yang sudah sedikit robek di sandaran tangannya. Wajahnya tegas — tegas seperti orang yang sudah terbiasa mengambil keputusan sulit. Tapi di matanya, ada sesuatu yang lain: keheranan.
Keheranan bahwa Anita — siswa terbaik yang pernah ia ajar selama dua puluh tahun menjadi kepala sekolah — berdiri di depannya dengan tuduhan menyontek.
"Anita, kamu anak pintar," Pak Sumardi memulai, suaranya rendah tapi berat. "Mengapa melakukan hal seperti ini?"
Anita berdiri tegak di depan meja. Seragam putihnya sedikit kusut — ia tidak sempat menyetrika karena semalam tidak bisa tidur. Rambutnya diikat sederhana. Matanya merah, tapi tidak menangis.
"Saya tidak melakukan apa-apa, Pak. Saya tidak tahu dari mana kertas itu berasal."
"Tetapi kertas itu ditemukan di dalam map soalanmu." Pak Sumardi membuka map biru yang disita Bu Rahma. "Dan Novi serta beberapa siswa lain bersaksi bahwa mereka melihat kamu mengeluarkan kertas itu dari saku seragammu."
"Tidak, Pak. Saya tidak pernah." Suara Anita bergetar, tapi ia berusaha menguatkannya. Tangannya di belakang punggung, saling menggenggam erat — satu-satunya cara agar tidak terlihat gemetar.
Pak Sumardi menghela napas. Ia menatap Anita lama — menatap seperti seorang kakek menatap cucunya yang ketahuan mengambil uang di dompet.
"Anita, saya tahu kamu pintar. Kamu tidak perlu contekan untuk lulus UN. Tapi bukti... bukti tidak berbohong."
"Bukti bisa direkayasa, Pak."
"Iya. Bisa." Pak Sumardi mengangguk. "Tapi siapa yang mau merekayasa bukti? Dan untuk apa?"
Anita tidak menjawab. Ia menggigit bibir bawahnya.
Novi, pikirnya. Novi yang mau. Untuk motor.
Tapi ia tidak punya bukti. Hanya firasat. Dan firasat tidak cukup untuk membebaskannya.
"Saya akan panggil orang tuamu," kata Pak Sumardi akhirnya. "Dan kita akan—"
Tok. Tok. Tok.
Pintu ruang kepala sekolah terbuka tanpa menunggu jawaban.
Yulia masuk. Di belakangnya, Hermanto. Wajah Yulia tegang — tegang seperti orang yang akan meledak. Hermanto juga tegang, tapi matanya tajam — tajam seperti elang yang menemukan mangsa.
"Maaf, Pak. Saya ingin melaporkan sesuatu," kata Yulia, suaranya bergetar tapi tegas. Satu tangannya memegang ponsel erat-erat — erat seperti memegang senjata.
Pak Sumardi mengernyit. "Yulia? Ini bukan waktunya—"
"Saya bisa membuktikan bahwa Anita difitnah, Pak."
Ruangan mendadak hening.
Pak Sumardi menatap Yulia lama. Lalu menatap Hermanto. Lalu kembali ke Yulia.
"Bukti apa?"
Yulia mengangkat ponselnya. "Rekaman, Pak."
Beberapa hari sebelumnya — di belakang sekolah.
Yulia tidak pernah menyangka hobinya memotret pemandangan dengan ponsel bututnya akan menyelamatkan sahabatnya.
Dua hari sebelum UN, ia sedang berjalan ke belakang sekolah — tempat favoritnya untuk mengambil foto matahari sore. Di sana ada pohon mangga tua yang rantingnya rendah, dan dari balik pohon itu, pemandangan sawah terbentang luas.
Tapi saat ia mendekat, ia mendengar suara.
Suara Novi dan Rika.
Yulia berhenti. Hatinya berdebar. Ia tahu menguping itu tidak baik. Tapi ada sesuatu di suara Novi — sesuatu yang membuatnya ingin mendengar lebih dekat.
Ia merunduk di balik semak ilalang. Ponselnya sudah ia siapkan — bukan sengaja untuk merekam, tapi karena jempolnya selalu berada di dekat tombol kamera.
Lalu ia mendengar kalimat itu.
"Kita harus membuat Anita gagal di UN."
Yulia menekan tombol record.
Suara Novi jelas — seperti orang yang sedang bicara di depan mikrofon. "Aku akan menyuruh Rika menyelipkan kertas contekan ke map soalan Anita."
"Aku nggak mau, Novi. Itu dosa." Suara Rika.
"Lo mau atau nggak, gue nggak peduli. Lo lapor ke gue kalau sudah selesai."
Yulia merekam semuanya. Tiga menit. Suara Novi dan Rika, angin yang berembus, dan suara jangkrik di kejauhan.
Ia tidak bilang ke siapa pun. Tidak langsung.
Ia menyimpan rekaman itu di ponselnya — di folder rahasia yang diberi nama "Tugas Sekolah".
Sampai sekarang. Sampai saat yang tepat.
Ruang kepala sekolah — kini.
Yulia memutar rekaman itu.
Ponselnya kecil, layarnya retak di sudut kanan. Tapi suaranya terdengar jelas — jelas seperti bel sekolah di pagi hari.
"Kita harus membuat Anita gagal di UN."
"Aku akan menyuruh Rika menyelipkan kertas contekan ke map soalan Anita."
"Lo mau atau nggak, gue nggak peduli."
Ruangan menjadi hening.
Hening seperti ruang ujian saat semua orang sedang menahan napas.
Hening seperti kuburan di tengah malam.
Pak Sumardi menatap ponsel Yulia. Wajahnya berubah — dari tegas menjadi terkejut. Bukan terkejut biasa. Tapi terkejut seperti orang yang baru sadar bahwa selama ini ia hidup di atas gunung es yang akan mencair.
"Apakah ini asli?" tanya Pak Sumardi, suaranya serak.
"Asli, Pak," jawab Yulia. "Saya tidak pernah mengeditnya. Saya siap disumpah."
"Apakah kamu siap menjadi saksi, Yulia?"
"Ya, Pak. Saya siap. Saya bersaksi bahwa Anita difitnah."
Hermanto maju selangkah. Dadanya naik turun — seperti orang yang sedang menahan amarah.
"Saya juga bersaksi, Pak," kata Hermanto, suaranya tegas. "Rika mengaku kepada saya malam sebelum ujian bahwa Novi menyuruhnya melakukan itu. Dia menangis. Dia bilang dia tidak tega. Tapi Novi mengancam akan membeberkan rahasianya kalau tidak patuh."
Pak Sumardi menatap Hermanto. "Kamu punya bukti?"
"Tidak ada rekaman, Pak. Hanya perkataan Rika. Tapi perkataannya konsisten dengan rekaman Yulia."
Pak Sumardi menghela napas panjang — napas yang paling panjang dalam hidupnya. Ia menekan pelipisnya dengan jari telunjuk, seperti sedang mencoba menekan sakit kepala yang tiba-tiba datang.
"Panggilkan Novi dan Rika," katanya akhirnya, suaranya lelah.
Lima menit kemudian.
Novi dan Rika masuk ke ruang kepala sekolah. Wajah Novi masih percaya diri — masih penuh kemenangan. Rika, sebaliknya, terlihat gelisah. Matanya merah, seperti orang yang baru saja menangis.
"Duduk," perintah Pak Sumardi.
Mereka duduk di kursi yang disediakan — kursi kayu kecil yang biasa digunakan untuk tamu yang sedang "bermasalah".
Pak Sumardi tidak bicara. Ia hanya menatap Novi dan Rika bergantian. Tatapan yang berat. Tatapan yang membuat Novi mulai gelisah.
"Novi, apa yang kamu lakukan sebelum UN?"
"Belajar, Pak. Seperti biasa."
"Kamu tidak melakukan hal lain?"
"Tidak, Pak."
Pak Sumardi menghela napas. Ia mengambil ponsel Yulia dari meja. Lalu memutar rekaman itu.
"Kita harus membuat Anita gagal di UN."
Wajah Novi berubah.
"Aku akan menyuruh Rika menyelipkan kertas contekan ke map soalan Anita."
Wajah Novi pucat. Sepucat kertas HVS.
"Lo mau atau nggak, gue nggak peduli."
Rekaman berakhir. Ruangan kembali hening.
"Novi, ini suara kamu, kan?" tanya Pak Sumardi.
Novi tidak menjawab. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar.
"Rika?" Pak Sumardi beralih. "Kamu ada dalam rekaman itu. Kamu yang disuruh menyelipkan kertas contekan. Benar?"
Rika menunduk. Bahunya mulai bergetar. Lalu ia menangis — menangis keras seperti anak kecil yang ketahuan mencuri permen.
"Maaf, Pak... maaf... saya hanya disuruh Novi... saya tidak mau, sebenarnya... tapi Novi bilang kalau saya tidak patuh, dia akan bilang ke semua orang tentang... tentang..."
"Tentang apa?" tanya Pak Sumardi.
Rika hanya menangis. Tidak menjawab.
Pak Sumardi menatap Novi. "Novi, kamu mau menjelaskan?"
Novi masih diam. Wajahnya pucat. Tangannya — yang biasanya lincah menunjuk-nunjuk — kini diam terpaku di pangkuan.
"Novi, saya tanya kamu."
"...Iya," suara Novi akhirnya keluar. Lirih. Hampir tidak terdengar. "Iya, itu suara saya."
"Jadi kamu yang merencanakan semua ini?"
Diam.
"Novi!"
"IYA!" Novi tiba-tiba meledak. Air matanya jatuh — jatuh deras seperti air bah. "IYA, SAYA YANG MERENCANAKAN! SAYA YANG MENYURUH RIKA! SAYA YANG MENARUH KERTAS ITU DI SOAL ANITA!"
Ia menangis. Menangis histeris.
"Saya hanya ingin menjadi juara, Pak! Ayah saya berjanji akan membelikan saya motor kalau saya juara umum! Tapi Anita selalu mengalahkan saya! Setiap kali! Saya lelah menjadi nomor dua! Saya lelah dilihat sebagai 'anak RT yang biasa saja'! Saya ingin... saya ingin diakui..."
Ruangan hening lagi.
Tapi kini keheningannya berbeda. Bukan keheningan tegang. Tapi keheningan haru. Keheningan yang lahir dari pengakuan seseorang yang sudah terlalu lama memendam rasa iri.
Anita, yang sejak tadi hanya diam di sudut ruangan, menatap Novi.
Ia tidak marah.
Ia tidak benci.
Ia hanya... sedih.
"Novi," kata Anita pelan, "kalau kamu ingin menjadi juara, berusahalah dengan jujur. Bukan dengan menjatuhkan orang lain."
Novi tidak menjawab. Ia terus menangis.
Pak Sumardi menghela napas. "Novi, kamu dan Rika akan dikenai sanksi berat. Kamu tidak boleh mengikuti ujian nasional untuk semester ini. Kamu harus mengulang tahun depan."
Novi mengangguk lemas.
"Rika, kamu diskors tiga bulan. Dan kamu juga tidak boleh mengikuti UN tahun ini."
Rika menangis semakin keras.
"Kalian bisa kembali ke kelas. Ambil barang-barang kalian. Orang tua kalian akan kami panggil."
Novi dan Rika berdiri. Novi berjalan ke pintu dengan langkah gontai — seperti orang yang baru kehilangan segalanya.
Sebelum keluar, Novi berhenti. Ia menoleh ke arah Anita.
"Nita ... maafkan aku."
Anita tidak menjawab. Ia hanya menatap Novi lama — cukup lama untuk membuat Novi merasa bahwa maaf tidak selalu cukup.
Lalu Novi pergi.
Setelah Novi dan Rika keluar.
Pak Sumardi menatap Anita, Yulia, dan Hermanto.
"Kalian bertiga luar biasa. Anita, kamu tetap boleh mengikuti sisa UN. Jadwalnya akan kami atur ulang."
"Terima kasih, Pak," kata Anita.
"Yulia, kamu pemberani. Rekaman itu menyelamatkan Anita dari tuduhan yang tidak adil."
Yulia tersenyum tipis. "Saya hanya melakukan yang benar, Pak."
"Hermanto, kamu juga. Terima kasih sudah berani bicara."
Hermanto mengangguk. "Sama-sama, Pak."
"Kalian bisa kembali ke rumah. Istirahat. Besok UN lanjut."
Mereka bertiga berjalan keluar dari ruang kepala sekolah. Di lorong, Yulia langsung memeluk Anita.
"Lo bebas, Nit !"
Anita tersenyum. Tapi senyumnya tipis — tipis seperti kertas.
"Makasih, Lin. Makasih, Man."
"Jangan makasih-makasih," kata Hermanto. "Itu sudah kewajiban kita sebagai... teman."
Kata teman terasa kurang. Tapi untuk sekarang, itu sudah cukup.
Di halaman sekolah.
Matahari sudah meninggi. Burung pipit terbang dari pohon ke pohon. Di kejauhan, suara bel istirahat berbunyi.
"Nit , lo kenapa diem aja?" tanya Yulia. "Lo seharusnya senang. Novi sudah mengaku."
Anita menghela napas. "Gue senang, Lin. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi gue juga sedih."
"Sedih kenapa?"
"Karena Novi... dia sebenarnya anak baik. Dulu, waktu kelas VII, dia pernah meminjami gue uang SPP ketika gue ketinggalan bayar. Dia tidak minta balik. Dia bilang, 'Nanti kalau lo sudah sukses, lo bayar.'"
Yulia dan Hermanto terdiam.
"Tapi entah kenapa, dia berubah. Mungkin karena tekanan. Mungkin karena ambisi. Mungkin karena... dia tidak pernah merasa cukup."
Yulia menghela napas. "Lo baik banget, Nit . Lo baru saja difitnah, tapi lo masih bisa mikirin perasaan Novi."
"Bukan baik, Lin. Tapi... gue tahu rasanya menjadi orang yang tidak pernah cukup."
Mereka bertiga terdiam.
Di kejauhan, Novi berjalan keluar dari gerbang sekolah — ditemani ibunya yang datang menjemput. Wajah Novi masih basah oleh air mata.
Novi menoleh ke belakang. Menatap Anita.
Lalu ia menunduk. Dan pergi.
Sore itu. Di rumah Anita.
Bu Karsinem sudah menunggu di teras. Wajahnya tegang — tegang seperti orang yang sedang menunggu vonis.
"Bagaimana, Nak?"
Anita tersenyum. "Aku bebas, Bu. Novi yang menjebak."
Bu Karsinem menghela napas panjang — napas yang ia tahan sejak pagi. Ia memeluk anaknya erat-erat.
"Syukurlah... syukurlah..."
"Bu, jangan menangis."
"Ibu tidak menangis. Ibu hanya... lega."
Mereka berpelukan di teras rumah bambu itu. Lampu petromaks belum dinyalakan, sehingga wajah mereka hanya diterangi cahaya senja yang kemerahan.
"Ibu, besok aku akan lanjut UN."
"Kamu yakin? Kamu tidak perlu istirahat dulu?"
"Aku yakin, Bu. Aku tidak mau kehilangan waktu."
Bu Karsinem tersenyum bangga. "Anak Ibu... anak Ibu kuat."
Tidak, Bu, pikir Anita. Aku tidak kuat. Tapi aku tidak punya pilihan lain selain kuat.
Malam itu. Kamar Anita.
Anita membuka buku catatannya — buku yang selalu ia simpan di bawah bantal.
Ia membuka halaman terakhir. Di sana, tertulis:
"Hermanto menyukaiku. Dan aku menyukainya. Tapi apakah itu cukup?"
Kali ini, ia menulis tambahan di bawahnya:
"Novi menyukaiku? Tidak. Novi iri padaku. Dan rasa iri lebih berbahaya dari kebencian."
Ia menutup buku. Menaruhnya di bawah bantal. Memeluknya.
Besok, pikirnya. Besok aku bertarung lagi. Tanpa Novi. Tanpa jebakan. Hanya aku, pulpenku, dan mimpiku.
Di luar, jangkrik mulai bersahutan. Suaranya seperti orkestra yang memainkan lagu kemenangan.
Bab 11: Keadilan dan Air Mata
Ruang kepala sekolah — satu jam kemudian.
Novi dan Rika duduk di kursi yang sama — kursi kayu kecil yang terasa dingin meskipun jam menunjukkan pukul sepuluh pagi. Pak Sumardi sudah memanggil mereka kembali setelah rekaman Yulia diputar ulang tiga kali.
Tiga kali.
Cukup untuk membuat Novi tidak bisa berkata-kata.
Rika sudah menangis sejak pertama kali mendengar suaranya sendiri di rekaman itu. Tangisnya histeris — bahunya naik turun, tangannya gemetar, air matanya membasahi seragam putih yang mulai kusut.
"Maaf, Pak... maaf... saya hanya disuruh Novi... saya tidak mau, sebenarnya..." ratap Rika di sela isaknya. "Saya bilang ke Novi itu dosa... tapi dia memaksa... saya takut, Pak... saya takut..."
Bu Rahma yang berdiri di samping Pak Sumardi menghela napas. Ia menatap Rika dengan campuran iba dan kecewa. "Rika, seharusnya kamu lapor ke guru. Bukan malah ikut-ikutan."
"Saya takut, Bu... Novi bilang kalau saya lapor, dia akan... dia akan..."
"akan apa?" tanya Pak Sumardi.
Rika hanya menangis lebih keras.
Novi, di samping Rika, diam. Wajahnya dingin — dingin seperti patung batu. Tapi di matanya, ada sesuatu yang tidak bisa disembunyikan: ketakutan.
Bukan takut pada guru. Bukan takut pada hukuman.
Tapi takut pada dirinya sendiri.
Kapan aku menjadi orang seperti ini? pikir Novi. Kapan aku rela menjatuhkan orang lain demi ambisiku?
Ia tidak punya jawaban.
"Novi," Pak Sumardi memanggil. Suaranya tegas, tapi tidak keras. "Apa alasanmu melakukan ini?"
Novi tidak menjawab. Mulutnya terasa terkunci. Kata-kata terasa terlalu berat untuk diucapkan.
"Novi, saya tanya kamu."
Diam.
"Saya akan panggil orang tuamu. Dan kamu akan dikenai sanksi berat. Tidak boleh mengikuti ujian nasional untuk semester ini. Kamu harus mengulang tahun depan."
Mendengar kata mengulang, Novi akhirnya pecah.
Air matanya jatuh. Bukan jatuh satu-satu, tapi meleleh seperti bendungan yang jebol. Ia menangis — menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya.
"Saya hanya ingin menjadi juara, Pak!" suaranya pecah, terdengar menyayat. "Ayah saya berjanji akan membelikan saya motor kalau saya juara umum. Motor baru, Pak. Saya sudah membayangkannya sejak kelas VII."
Ia menunduk, tangannya mengepal di atas paha.
"Tetapi Anita selalu mengalahkan saya. Setiap kali. Nilai ulangan, nilai rapor, nilai ujian tengah semester. Saya selalu di bawahnya. Selalu nomor dua. Saya lelah, Pak. Saya lelah menjadi nomor dua. Saya lelah dilihat sebagai 'anak RT yang biasa saja' padahal ayah saya punya pengaruh di desa."
Ia mengangkat wajah. Matanya merah, basah.
"Saya ingin diakui, Pak. Saya ingin dilihat. Saya ingin... menjadi seseorang."
Ruangan hening.
Anita, yang berdiri di sudut ruangan bersama Yulia dan Hermanto, mendengar semuanya. Ia menatap Novi — sahabatnya dulu yang pernah meminjaminya uang SPP, yang pernah mengajaknya belajar bersama di perpustakaan, yang pernah tertawa lepas saat melihat Yulia jatuh dari sepeda.
Novi berubah, pikir Anita. Tapi apakah dia berubah, atau memang seperti ini dari dulu, hanya saja aku tidak pernah melihatnya?
Anita maju selangkah. "Novi."
Novi mengangkat wajah. Matanya bertemu dengan mata Anita.
"Novi, kalau kamu ingin menjadi juara, berusahalah dengan jujur. Bukan dengan menjatuhkan orang lain." Suara Anita pelan — tidak menghakimi, tapi seperti seorang kakak yang sedang menasihati adiknya. "Karena juara yang didapat dari kecurangan... tidak akan pernah membuatmu bahagia."
Novi tidak menjawab. Ia hanya menunduk lagi.
Dia benar, pikir Novi. Aku tahu dia benar. Tapi sudah terlambat.
Pak Sumardi mengambil napas panjang.
"Novi, saya mengerti kamu punya ambisi. Tapi ambisi tidak membenarkan segala cara. Kamu akan kami skors untuk sisa semester ini. Kamu tidak boleh mengikuti UN tahun ini. Kamu harus mengulang di tahun ajaran depan."
Novi mengangguk lemas.
"Rika, kamu diskors tiga bulan. Dan kamu juga tidak bisa mengikuti UN tahun ini."
Rika menangis semakin keras. Tapi ia tidak protes. Ia tahu ia salah.
"Anita." Pak Sumardi menatap Anita. "Kamu dinyatakan tidak bersalah. Bukti rekaman Yulia sudah cukup membersihkan namamu. Kamu boleh mengikuti sisa ujian nasional dengan jadwal yang diatur ulang."
"Terima kasih, Pak," kata Anita, suaranya bergetar.
"Yulia, kamu pemberani. Rekamanmu sangat membantu."
Yulia tersenyum tipis. "Saya hanya melakukan yang benar, Pak."
"Hermanto, kamu juga. Kesaksianmu memperkuat bukti."
Hermanto mengangguk. "Sama-sama, Pak."
Pak Sumardi berdiri. "Kalian boleh pulang. Istirahat. Besok kita lanjutkan UN untuk Anita."
Di lorong sekolah.
Yulia memeluk Anita lagi. "Lo bebas, Nit !"
"Iya, Lin. Berkat lo."
"Bukan cuma gue. Hermanto juga. Dan..." Yulia menunduk, "...dan Novi, meskipun dengan cara yang salah, sebenarnya sudah mengaku."
Anita mengangguk. "Iya. Dia mengaku."
"Lo masih marah sama dia?"
Anita berpikir sejenak. "Aku tidak tahu, Lin. Aku masih... bingung."
Hermanto yang berdiri di samping mereka hanya diam. Ia ingin memeluk Anita. Tapi tidak di sini. Tidak di depan banyak orang.
"Gue antar lo pulang, Nit ," kata Hermanto.
"Tidak usah, Man. Gue sama Yulia aja."
"Tapi..."
"Man." Anita menatap Hermanto. Matanya lelah, tapi tenang. "Gue butuh sendiri. Butuh... mikir."
Hermanto menghela napas. "Baiklah. Tapi besok gue jemput."
Anita tersenyum kecil. "Besok."
Perjalanan pulang — Anita dan Yulia.
Mereka mengayuh sepeda pelan-pelan. Udara sore mulai terasa sejuk. Sawah di kanan-kiri mulai menguning — beberapa petani sudah mulai memanen.
"Lin."
"Hm?"
"Lo percaya nggak, kalau Novi itu sebenarnya baik?"
Yulia berpikir. "Dulu, iya. Sekarang? Gue nggak tahu."
"Dia pernah pinjemin gue uang SPP, Lin. Waktu kelas VII. Gue lupa bayar, dan Novi tanpa diminta langsung kasih. Dia bilang, 'Nanti kalau lo sudah sukses, lo bayar.'"
Yulia terkejut. "Serius? Novi?"
"Iya. Dan sampai sekarang, gue belum bayar."
Mereka terdiam. Sepeda mereka terus berjalan di jalan setapak yang berkelok.
"Orang bisa berubah, Nit ," kata Yulia akhirnya. "Entah menjadi lebih baik, atau lebih buruk. Novi memilih menjadi lebih buruk."
"Tapi kenapa?"
"Karena dia tidak pernah puas. Karena dia selalu ingin lebih. Dan karena dia... iri sama lo."
Anita menghela napas. Iri, pikirnya. Perasaan yang paling berbahaya. Lebih berbahaya dari marah, lebih berbahaya dari benci. Karena iri membuatmu rela menghancurkan orang lain hanya agar kamu merasa lebih tinggi.
Malam itu. Rumah Anita.
Pukul delapan malam.
Anita sedang duduk di teras, ditemani lampu petromaks yang menyala redup. Buku catatan terbuka di pangkuannya, tapi ia tidak membaca. Matanya menatap ke arah persawahan yang gelap.
Dari kejauhan, ia melihat dua senter bergerak-gerak. Senter besar, seperti yang biasa dibawa orang desa saat berjalan malam.
Siapa yang datang malam-malam? pikir Anita.
Senter itu mendekat. Lalu ia melihat dua bayangan: seorang wanita dan seorang pria. Wanita itu gemuk, dengan rambut disanggul rapi. Pria itu kurus, dengan kumis tipis.
Orang tua Novi.
Ibu Karsinem keluar dari dapur. Wajahnya tegang — tegang seperti orang yang sedang bersiap untuk perang.
"Selamat malam, Bu," sapa ibu Novi. Suaranya sedikit gemetar.
"Selamat malam," jawab Bu Karsinem dingin.
"Ibu, kami... kami mau minta maaf."
Ibu Novi dan bapak Novi masuk ke halaman. Di tangan mereka, ada dua kantong plastik besar berisi sembako — beras, minyak goreng, gula, mie instan. Dan satu amplop cokelat — tebal, berisi uang.
"Ini sedikit sebagai tanda permintaan maaf," kata bapak Novi, suaranya berat.
Bu Karsinem menatap amplop itu. Lalu menatap sembako itu. Lalu menatap ibu Novi.
"Ibu, saya tidak butuh ini."
"Ibu, tolong terima. Sebagai... sebagai ganti rugi."
"Anak saya hampir tidak jadi ikut UN gara-gara anak ibu," suara Bu Karsinem naik sedikit. "Dan Ibu pikir sembako bisa mengganti itu?"
Ibu Novi menunduk. Air matanya jatuh.
"Saya minta maaf, Bu. Saya sebagai ibu gagal mendidik anak saya. Saya terlalu sibuk kerja, bapaknya juga sibuk. Novi tumbuh besar tanpa perhatian. Dan ketika dia mulai menunjukkan ambisi, kami pikir itu hal yang baik. Ternyata..."
Ia terisak.
"Ternyata ambisi tanpa didikan moral hanya akan melahirkan monster."
Bu Karsinem terdiam.
Udara malam terasa dingin. Angin berembus, membawa bau tanah basah dari sawah.
"Anak harus dididik dengan benar, Bu," kata Bu Karsinem akhirnya, suaranya melemah. "Pintar itu penting, tetapi jujur dan rendah hati itu lebih penting. Saya tidak punya uang untuk menyekolahkan Anita di tempat mahal. Tapi saya punya waktu untuk mengajarinya mana yang benar dan mana yang salah."
Ibu Novi hanya bisa menunduk malu.
"Ini, Bu," Bu Karsinem mengambil amplop cokelat itu. Tapi ia tidak membukanya. Ia mengembalikannya ke ibu Novi. "Kembalikan uang ini. Belikan Novi buku. Atau ajak dia liburan. Tapi ajari dia... bahwa kalah tidak apa-apa. Yang penting jujur."
Ibu Novi menangis semakin keras.
Bu Karsinem meraih tangan ibu Novi. "Saya maafkan Novi. Tapi Ibu harus janji: Ibu akan lebih memperhatikan anak Ibu."
"Iya, Bu. Saya janji."
Mereka berpelukan — dua ibu yang anaknya terlibat dalam konflik yang tidak seharusnya terjadi.
Anita, yang sejak tadi hanya diam di teras, meneteskan air mata.
Ibuku, pikirnya. Ibuku kuat. Ibuku tegar. Ibuku... mengajarkanku arti memaafkan.
Setelah keluarga Novi pergi.
Bu Karsinem duduk di samping Anita di bangku bambu. Lampu petromaks di atas mereka mulai redup — minyak tanahnya hampir habis.
"Bu, Ibu hebat," kata Anita.
"Hebat apa? Ibu hanya bilang yang benar."
"Ibu tidak terima uangnya."
"Kita miskin, Nak. Tapi bukan berarti harga diri kita murah."
Anita memeluk ibunya. Erat.
"Makasih, Bu."
"Jangan makasih. Ibu yang minta maaf."
"Maaf kenapa?"
"Dulu Ibu pernah bilang, jangan dekat dengan laki-laki dari kota. Ibu pikir semua laki-laki kota sama seperti ayah kandungmu. Tapi setelah melihat Hermanto... Ibu sadar, tidak semua laki-laki kota jahat."
Anita terkejut. "Bu tahu tentang Hermanto?"
"Ibu tidak buta, Nak." Bu Karsinem tersenyum. "Ibu lihat caranya kamu memandang dia. Ibu lihat caranya dia memperlakukan kamu. Dan Ibu lihat dia datang ke rumah kita malam-malam, meskipun tahu nanti digosipkan."
Anita tersenyum malu.
"Ibu tidak merestui kalian pacaran. Belum. Kamu masih sekolah. Tapi Ibu... Ibu tidak akan melarang kamu berteman dengan dia. Asal jangan lupa belajar."
Anita memeluk ibunya semakin erat.
"Makasih, Bu."
"Iya. Sekarang tidur. Besok UN lagi."
Kamar Anita, tengah malam.
Anita tidak bisa tidur. Bukan karena cemas — tapi karena hatinya penuh.
Ia membuka buku catatannya. Buku yang selalu ia simpan di bawah bantal.
Halaman terakhir.
Ia membaca tulisannya yang lama:
"Hermanto menyukaiku. Dan aku menyukainya. Tapi apakah itu cukup?"
"Novi iri padaku. Dan rasa iri lebih berbahaya dari kebencian."
Kali ini, ia menulis lagi:
"Ibuku memaafkan Novi. Ibuku mengajarkanku arti kemurahan hati. Dan Ibuku... akhirnya mengizinkanku berteman dengan Hermanto."
Ia tersenyum. Air matanya jatuh lagi — tapi kali ini, air mata bahagia.
Mungkin, pikir Anita, mungkin setelah badai, pasti ada pelangi.
Mungkin setelah air mata, pasti ada senyuman.
Mungkin setelah semua ini... aku bisa percaya bahwa Tuhan tidak tidur.
Ia menutup buku. Menaruhnya di bawah bantal. Memeluknya.
Besok, pikirnya. Besok aku lanjut UN. Tanpa Novi. Tanpa jebakan. Hanya aku, pulpenku, dan mimpiku.
Dan Hermanto.
Yulia.
Ibuku.
Mereka semua ada untukku.
Di luar, jangkrik mulai bersahutan lagi. Suaranya seperti orkestra yang memainkan lagu kemenangan.
Pagi berikutnya.
Anita bangun lebih awal. Matanya segar — untuk pertama kalinya dalam seminggu.
Ia mengenakan seragam putih-merah yang sudah ia setrika semalam. Merapikan rambutnya. Memakai minyak rambut — seperti dulu, saat ia baru jatuh cinta pada Hermanto.
"Nita , lo cantik pagi ini," kata Yulia saat menjemput.
"Setrikaan lo rapi," kata Hermanto, yang tiba-tiba muncul di belakang Yulia.
"Lo ngapain, Man?" tanya Anita terkejut.
"Ngejemput. Kan gue janji."
"Tapi gue naik sepeda."
"Sepeda lo gue bawa. Lo naik motor sama gue."
Anita menatap Yulia. Yulia mengangkat bahu. "Gue nggak tahu rencana dia."
"Lin, traktir gue, dong."
"Udah, naik aja, Nit . Nanti telat."
Anita tersenyum. Ia duduk di belakang Hermanto. Jok motornya hangat — hangat seperti harapan.
"Pegang erat-erat," kata Hermanto.
Anita memegang pundak Hermanto. Tidak erat-erat amat. Tapi cukup.
Motor melaju pelan di jalan setapak. Angin pagi membawa bau padi dan tanah basah. Matahari mulai naik di timur, warnanya oranye keemasan.
Hari ini, pikir Anita, aku akan bertarung lagi.
Tapi kali ini, aku tidak sendirian.
BAB 12: KELULUSAN DAN PILIHAN
Dua bulan setelah UN. Pengumuman kelulusan.
Langit Tegorejo pagi itu cerah. Biru bersih tanpa setitik awan, seperti kanvas yang baru saja dicat, seperti hati yang baru saja dibersihkan dari semua drama dan fitnah. Matahari mulai meninggi, tapi udaranya masih sejuk. Angin dari arah Pesisir Pantura membawa bau tembakau kering dan tanah basah, bau yang sudah menjadi latar hidup Anita sejak kecil, bau yang akan selalu ia rindu jika suatu hari nanti ia meninggalkan desa ini.
Halaman SMPN I Pegandon dipenuhi oleh siswa kelas IX yang datang bersama orang tua masing masing. Wajah wajah tegang, tegang seperti orang yang sedang menunggu vonis mati atau bebas. Ada yang duduk di kursi plastik yang disediakan panitia, ada yang berdiri sambil memegang erat tangan orang tua mereka, seperti anak kecil yang takut tersesat di pasar malam.
Anita datang bersama Ibu Karsinem. Ibunya hari ini berbeda. Memakai kebaya terbaiknya, kebaya putih lengan panjang bermotif bunga kecil, kebaya yang hanya dipakai setahun sekali, saat Lebaran, atau saat ada tetangga yang menikah, atau saat ada acara yang benar benar istimewa. Kain batiknya juga yang terbaik, bukan yang lusuh seperti biasanya. Rambutnya disanggul rapi dengan tusuk konde kayu yang sudah berusia puluhan tahun.
Wajahnya yang biasa kusam karena kerja keras, yang biasa dipenuhi debu dan keringat, yang biasa terlihat lelah sebelum matahari terbit, pagi ini berseri seri.
"Bu, kok Ibu dandan?" tanya Anita sambil tersenyum, meskipun matanya mulai terasa panas.
"Ibu harus dandan." Ibu Karsinem merapikan kerah seragam Anita, gerakan yang sudah ia lakukan ribuan kali sejak Anita kecil. "Anak Ibu lulus. Ini hari bersejarah."
Anita tertawa kecil, tawa yang tipis, seperti kertas yang hampir robek, tapi tetap tawa.
Tapi di matanya, ada genangan air mata yang ia tahan.
Ibu, pikirnya sambil menatap ibunya yang tersenyum bangga. Ibu yang setiap subuh bangun jam tiga untuk menggoreng singkong dan tempe, menggoreng dengan sabar, membalik satu per satu, memastikan semuanya matang sempurna agar bisa dijual dengan harga sedikit lebih tinggi.
Ibu yang tangannya kasar, kasar seperti kulit kayu, kasar seperti amplas, kasar karena terlalu banyak mencuci baju orang lain dengan sabun colek yang keras, karena terlalu banyak memeras pakaian dengan tangan, karena terlalu banyak membanting tulang.
Ibu yang tidak pernah mengeluh meskipun perut keroncongan, karena lebih baik anaknya yang kenyang, karena lebih baik anaknya yang makan dulu, karena lebih baik anaknya yang bahagia.
Ibu yang tidak pernah menangis di depanku, meskipun aku tahu ada malam malam di mana ia menangis di dapur, setelah lampu petromaks dimatikan, saat ia pikir aku sudah tidur.
Ibu, hari ini aku akan membuatmu bangga. Janji.
Di sebelah mereka, Yulia datang bersama kedua orang tuanya.
Ayah Yulia, yang biasanya hanya pulang sebulan sekali dari Kudus, yang biasanya hanya terlihat saat Lebaran atau saat ada keperluan mendesak, hari ini datang khusus. Wajahnya kecokelatan karena panasnya proyek bangunan, terbakar sinar matahari setiap hari, keringat membasahi punggung, otot otot menegang karena mengangkat batu dan semen. Tapi matanya berbinar penuh kebanggaan, binar yang tidak bisa dibeli dengan uang, binar yang hanya dimiliki oleh orang tua yang melihat anaknya berhasil.
"Mit!" Yulia berlari, benar benar berlari, rok seragamnya berkibar, lalu memeluk Anita erat erat. "Lo deg degan?"
"Deg banget, Lin." Anita membalas pelukan Yulia, erat, seperti berterima kasih tanpa kata kata. "Deg banget."
"Gue juga." Yulia melepaskan pelukan. Matanya berkaca kaca, tapi ia tersenyum. "Tapi kita pasti lulus."
"Lo yakin?"
"Gue yakin. Lo kan juara."
Anita tersenyum pahit. "Juara atau bukan, belum tahu."
"Percaya deh sama gue."
Hermanto datang sendiri.
Ia berjalan dari arah parkiran motor, motornya yang sudah mulai berdebu karena jarang dicuci. Jaket kulit hitam kesayangannya ia kenakan meskipun udara tidak terlalu dingin, mungkin untuk terlihat lebih percaya diri, mungkin untuk menyembunyikan kegelisahan.
Neneknya tidak bisa hadir karena sakit sakitan. Semakin tua, pikir Hermanto, semakin sering sakit. Semakin sering lupa. Kadang tidak mengenali siapa aku. Kadang memanggilku dengan nama ayahku.
Orang tuanya di Semarang juga tidak datang. Telepon saja, kata Hermanto. Telepon singkat. Tidak ada "aku bangga padamu". Hanya "kabari kalau sudah diumumkan".
Anita melihat bayangan kesepian di mata Hermanto. Bayangan yang ia kenal dengan baik, karena ia juga sering merasakannya. Tapi ia tidak bertanya. Tidak perlu. Beberapa kesepian lebih baik tidak dibicarakan.
Dia terbiasa sendiri, pikir Anita. Dia sudah terbiasa sejak kecil, orang tua yang sibuk bekerja, nenek yang sakit sakitan, tidak ada saudara dekat.
Tapi terbiasa bukan berarti tidak sakit. Terbiasa hanya berarti luka itu sudah menjadi teman akrab yang tidak bisa diusir.
Pembacaan pengumuman.
Pak Sumardi naik ke panggung. Mikrofonnya dites sebentar, tes, tes, satu, dua, tiga, suaranya menggema di seluruh halaman. Kipas angin di belakangnya berputar lambat, terlalu lambat untuk mengusir panas matahari yang mulai meninggi.
Ia mulai berbicara.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaikumsalam," jawab seluruh hadirin, serempak, seperti suara ombak di pantai.
"Pagi ini, setelah dua bulan menunggu dengan deg degan, kita akan mengumumkan kelulusan siswa siswi SMPN I Pegandon tahun ajaran 2017/2018."
Ruangan mendadak hening.
Hening seperti ruang ujian saat semua orang menahan napas. Hening seperti malam sebelum perang.
"Tapi sebelum itu, saya ingin menyampaikan sesuatu."
Pak Sumardi berhenti sejenak. Matanya menyapu seluruh hadirin, seperti sedang mencari seseorang. Mencari wajah wajah yang sudah ia kenal selama tiga tahun, mencari mata mata yang pernah menangis di ruangannya, mencari hati hati yang pernah ia temani dalam suka dan duka.
"Kita semua tahu, tahun ini ada sedikit drama di sekolah kita." Suaranya melembut, tapi tetap tegas. "Ada siswa yang difitnah. Ada siswa yang menjebak. Ada siswa yang berani membela kebenaran."
Mata Pak Sumardi berhenti pada Anita, yang menunduk, matanya panas.
Lalu pada Yulia, yang menegakkan badan, bangga.
Lalu pada Hermanto, yang tersenyum kecil, lega.
"Tapi drama itu sudah selesai. Keadilan sudah ditegakkan." Suara Pak Sumardi meninggi sedikit, seperti orator yang sedang membakar semangat. "Dan hari ini, kita merayakan kelulusan. Bukan hanya kelulusan akademik, tapi juga kelulusan moral."
Ia berhenti. Menarik napas. Menatap seluruh hadirin, satu per satu, seperti seorang ayah yang sedang berbicara kepada anak anaknya.
"Kalian semua, yang lulus hari ini, sudah lulus ujian yang lebih berat. Ujian yang tidak bisa diukur dengan angka. Ujian yang tidak bisa dijawab dengan pensil 2B."
"Kalian sudah lulus ujian menjadi manusia yang jujur."
"Ujian menjadi manusia yang berani."
"Ujian menjadi manusia yang tidak mudah menyerah."
Gemuruh tepuk tangan.
Bukan tepuk tangan biasa. Tapi tepuk tangan yang terdengar seperti membangunkan semangat yang sempat tertidur.
Anita menunduk.
Matanya panas.
Air mata menggenang, tapi belum jatuh.
Pak Sumardi bicara tentang aku, pikirnya. Tentang kami. Tentang Yulia. Tentang Hermanto.
Tentang Novi juga, meskipun tidak disebutkan namanya.
Tentang bagaimana kebenaran pada akhirnya menang.
Tentang bagaimana keadilan tidak pernah buta, meskipun kadang terlambat.
Pengumuman kelulusan dimulai.
"Anita binti Karsinem," panggil Pak Sumardi dari panggung. Suaranya menggema, seperti panggilan takdir, seperti panggilan yang sudah ia nanti nantikan sejak pertama kali ia masuk SD.
Anita berdiri.
Kakinya terasa lemas, lemas seperti habis berlari marathon. Tapi ia berjalan. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Melewati bangku bangku, melewati teman teman yang menepuk pundaknya, melewati wajah wajah yang tersenyum.
Ia berjalan menuju panggung dengan langkah yang terasa seperti berjalan di atas awan, ringan, tidak nyata, seperti mimpi yang akan pecah kapan saja.
"Nilai rata rata UN, 9,5." Suara Pak Sumardi terdengar jelas, bangga, sangat bangga. "Peringkat pertama se Kabupaten Kendal."
Se Kabupaten Kendal.
Anita tidak bisa bernapas.
"Dan yang terbaik di SMPN I Pegandon tahun ini."
Yang terbaik. Dari seluruh siswa. Dari seluruh kelas. Dari semua orang yang meragukannya. Dari semua orang yang bilang "anak miskin tidak akan pernah bisa".
Seluruh hadirin bertepuk tangan.
Bukan tepuk tangan biasa, tapi tepuk tangan yang terdengar seperti gemuruh ombak, seperti hujan lebat di atap seng, seperti seribu suara yang bersatu dalam satu kebahagiaan.
Ibu Karsinem menangis, menangis haru di kursinya.
Air matanya jatuh. Jatuh satu satu, membasahi kebaya putihnya yang baru dipakai setahun sekali. Ia tidak berusaha menyembunyikannya. Tidak usah. Tidak perlu malu. Anaknya baru saja menjadi yang terbaik se Kabupaten. Anak buruh cuci dari Dusun Kersan. Anak yang tidak punya apa apa. Anak yang hanya punya mimpi dan kerja keras.
Anak yang sekarang berdiri di atas panggung, menerima piagam kelulusan dari tangan Pak Sumardi.
Tangan Pak Sumardi menggenggam tangannya erat, erat seperti seorang kakek yang bangga pada cucunya, erat seperti tidak ingin melepaskan, erat seperti berpesan tanpa kata kata.
"Kamu hebat, Anita." Suara Pak Sumardi pelan, hanya untuk Anita. "Jangan pernah berhenti berjuang."
"Terima kasih, Pak." Suara Anita bergetar, tetapi tetap ia usahakan tegas.
Turun dari panggung, Anita langsung dipeluk ibunya.
Pelukan yang erat. Pelukan yang hangat. Pelukan yang mengatakan semua yang tidak bisa diucapkan oleh kata kata.
"Anak Ibu, anak Ibu hebat..." Ibu Karsinem terisak di bahu Anita. Bahunya bergetar, getar yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.
"Iya, Bu. Ini semua karena Ibu." Anita memeluk ibunya balik, erat, seperti tidak ingin kehilangan lagi.
Bukan karena Ibu, pikir Anita. Tapi karena doa Ibu. Karena keringat Ibu. Karena air mata Ibu yang tidak pernah Ibu tunjukkan. Karena Ibu yang tidak pernah menyerah pada anaknya meskipun seluruh dunia berkata "kamu tidak akan bisa".
Panggilan berikutnya.
"Hermanto," panggil Pak Sumardi.
Hermanto berdiri.
Posturnya tinggi, lebih tinggi dari kebanyakan siswa di barisan. Rambut sebawunya yang terkenal itu diikat ke belakang, rapi, tidak ada satu helai pun yang terurai.
Ia berjalan menuju panggung dengan percaya diri, percaya diri yang tidak sombong, tapi tenang. Percaya diri yang lahir dari kesadaran bahwa ia sudah melakukan yang terbaik.
"Nilai rata rata UN, 9,2. Peringkat kelima se Kabupaten Kendal."
Tepuk tangan bergemuruh, tidak seramai untuk Anita, tapi tetap membanggakan.
Hermanto tersenyum, senyum kecil, tidak berlebihan. Ia menerima piagam, lalu menunduk sopan ke arah Pak Sumardi. Matanya sekilas mencari, mencari seseorang di antara kerumunan.
Mencari Anita.
Mata mereka bertemu.
Dia bangga, pikir Anita. Matanya berkata begitu.
Dan aku juga bangga padanya.
Ia tersenyum, sedikit, hanya dengan mata. Tapi Hermanto melihatnya.
"Yulia," panggil Pak Sumardi.
Yulia berlari kecil menuju panggung. Rok putihnya, rok seragam yang sudah sedikit kusut karena dipakai bertahun tahun, berkibar sedikit karena angin dan karena larinya yang tidak mau kalah cepat.
"Nilai rata rata UN, 9,0. Peringkat kesembilan se Kabupaten Kendal."
Yulia tersenyum lebar, sampai terlihat gusinya. Sampai matanya menyipit. Sampai wajahnya bersinar seperti matahari di siang hari.
Ia menerima piagam, lalu melompat kecil di atas panggung, seperti anak kecil yang baru diberi permen.
"Terima kasih, Pak!"
Seluruh hadirin tertawa, tawa yang hangat, tawa yang ikhlas, tawa yang tidak mengejek.
Pak Sumardi juga tersenyum, tersenyum seperti seorang kakek yang melihat cucunya bermain.
Kembali ke kursinya, Yulia langsung memeluk Anita, erat, seperti tidak ingin melepaskan.
"Mit, kita berhasil!" Suaranya sengau, mungkin karena menahan tangis, mungkin karena terlalu banyak tersenyum, mungkin karena campuran keduanya.
"Iya, Lin. Berkat lo juga yang udah membela aku waktu ujian dulu." Anita membalas pelukan Yulia, erat, seperti berterima kasih tanpa kata kata.
"Itu udah kewajiban sahabat." Yulia melepaskan pelukan. Matanya merah, tapi ia tersenyum. "Kewajiban seumur hidup."
Mereka berdua tertawa.
Di belakang mereka, Hermanto mendekat, langkahnya pelan, tidak terburu buru.
"Selamat, ya," kata Hermanto sambil tersenyum. Senyum yang hangat, hangat seperti matahari pagi, hangat seperti harapan yang baru tumbuh. "Kamu hebat, Mit. Bener bener hebat."
"Terima kasih, Man. Kamu juga hebat."
"Yulia, kamu juga hebat. Meskipun nilai lo cuma 9,0."
"Hei, 9,0 itu bagus!" Yulia tertawa, tertawa keras, tidak peduli siapa yang mendengar.
"Iya, bagus. Cuma kalah 0,5 dari Mit."
"Nggak apa apa. Yang penting lulus." Yulia mengangkat bahu, santai, tidak terbebani. "Yang penting kita semua lulus. Yang penting kita semua bisa melanjutkan."
Mereka bertiga tertawa bersama.
Tawa yang terasa langka akhir akhir ini.
Tawa yang terasa seperti obat bagi luka luka yang masih menganga.
Yulia mengeluarkan ponselnya, ponsel butut dengan layar retak di sudut kanan, bekas jatuh saat ia sedang memotret matahari terbenam. "Foto, yuk! Di bawah pohon beringin."
Mereka berjalan ke pohon beringin di halaman sekolah.
Pohon beringin tua itu sudah berdiri di sana sejak sebelum sekolah ini didirikan. Puluhan tahun. Mungkin ratusan. Akarnya besar, seperti ular ular raksasa yang keluar dari tanah. Daunnya rindang, memberikan keteduhan, memberikan perlindungan, memberikan tempat berteduh bagi mereka yang lelah.
Pohon ini sudah melihat ribuan siswa lulus. Ribuan siswa datang dan pergi. Ribuan tangis suka dan duka. Ribuan janji yang ditepati dan diingkari. Ribuan cinta yang lahir dan mati.
Dan sekarang, pohon ini melihat kami, pikir Anita. Melihat tiga remaja yang sudah melalui badai bersama. Melihat tiga remaja yang masih berdiri meskipun hampir jatuh berkali kali.
Yulia mengangkat ponselnya, tangannya sedikit gemetar karena senyum terlalu lebar.
"Satu, dua, tiga, CHEESE!"
Klik.
Senyum mereka terekam dengan sempurna.
Senyum Yulia lebar, penuh kemenangan, seperti seorang jenderal yang baru saja memenangkan perang.
Senyum Hermanto tenang, seperti orang yang sedang merencanakan sesuatu, seperti orang yang sedang memikirkan langkah selanjutnya, seperti orang yang sedang menyusun strategi untuk masa depan.
Senyum Anita, senyum Anita hangat. Hangat seperti selimut di malam dingin. Hangat seperti pelukan ibu.
Tapi di matanya, di matanya yang cokelat gelap, ada sesuatu yang tidak terlihat oleh kamera.
Kegalauan.
Kegalauan tentang masa depan. Tentang SMA yang menanti dengan gedung gedung tinggi dan teman teman baru. Tentang Hermanto, yang entah akan masih ada di sampingnya atau akan pergi seperti orang orang lain dalam hidupnya.
Tentang apakah mereka akan tetap bersama, atau berpisah seperti air dan minyak, seperti minyak yang tidak pernah bisa menyatu dengan air meskipun sudah diaduk berulang kali.
Atau seperti cinta pertama, pikir Anita. Yang biasanya hanya tinggal kenangan.
Sore itu. Jalan setapak menuju rumah Anita.
Upacara kelulusan selesai sekitar pukul satu siang. Matahari tepat di atas kepala, panas, menyengat, membuat kulit terasa terbakar. Para siswa dan orang tua mulai berhamburan pulang, seperti semut yang membubung setelah sarangnya diaduk.
Yulia pamit lebih dulu.
"Gue pulang sama ayah gue, ya, Mit." Yulia melambai dari atas sepeda motor ayahnya, mesinnya sudah menyala, siap melaju. "Dia udah kangen adik gue. Maklum, jarang pulang."
"Oke, Lin. Hati hati."
"Lo juga." Yulia menatap Hermanto, menatap tajam, seperti seorang kakak yang sedang memperingatkan adik iparnya. "Man, jaga Mit."
"Pasti," jawab Hermanto. Satu kata. Tapi terdengar seperti sumpah.
Yulia pergi dengan sepeda motornya, dibonceng ayahnya. Seragam putihnya berkibar, semakin kecil, semakin kecil, sampai akhirnya hilang di tikungan jalan.
Meninggalkan Anita dan Hermanto berdua di jalan setapak.
Mereka berjalan berdampingan.
Sepeda Anita dituntun di sampingnya, rantainya masih berderit, setia menemani seperti dulu. Motor Hermanto diparkir di pinggir jalan, ia memilih berjalan kaki menemani Anita, memilih untuk tidak terburu buru, memilih untuk menikmati sore yang mungkin menjadi salah satu sore terakhir mereka bersama.
Suasana sore itu tenang.
Sawah di kanan kiri mulai mengering, musim panen sudah selesai. Tanah mulai retak retak, menunggu hujan, menunggu musim tanam berikutnya. Beberapa burung gereja terbang rendah, mencari sisa sisa padi yang tertinggal, lalu hinggap di pematang.
"Mit," Hermanto memecah keheningan. Suaranya pelan, seperti takut mengganggu ketenangan.
"Hm?"
"Kita lulus."
Anita tersenyum kecil. "Iya, Man. Kita lulus."
"Sekarang kita bisa lebih bebas."
Hermanto berhenti berjalan.
Anita juga berhenti.
Hermanto menatap Anita. Matanya serius, serius seperti orang yang sedang mempersiapkan kata kata terpenting dalam hidupnya. Matanya tidak berkedip. Bibirnya sedikit bergetar.
"Gue serius sama kamu."
Anita menatapnya lama.
Lama sekali.
Lama seperti waktu yang berhenti.
Lama seperti dunia sedang menahan napas.
Matanya berkaca kaca, bukan karena sedih. Tapi karena hatinya penuh. Penuh dengan rasa yang tidak bisa ia jelaskan. Penuh dengan harapan dan ketakutan yang bercampur menjadi satu. Penuh dengan "mungkin" dan "seandainya" yang tidak pernah ia ucapkan.
Dia serius, pikir Anita. Aku tahu dia serius. Sejak pertama kali dia hampir membuatku jatuh ke selokan. Sejak pertama kali dia tersenyum padaku di lorong kelas. Sejak pertama kali dia menggenggam tanganku di bangku bambu.
Tapi.
"Man, gue juga serius sama kamu."
Hermanto tersenyum, senyum lega, senyum orang yang baru saja diampuni dosanya setelah bertahun tahun bersembunyi.
Tapi senyum itu hanya bertahan sebentar.
"Tapi..." Anita melanjutkan.
Senyum Hermanto sedikit pudar, seperti matahari yang tertutup awan.
"Tapi gue butuh waktu."
"Waktu untuk apa?" Suara Hermanto sedikit bergetar, seperti dawai gitar yang dipetik terlalu keras.
"Untuk membuktikan sesuatu."
"Membuktikan apa?"
Anita tidak menjawab langsung.
Ia berjalan ke pinggir sawah, meninggalkan Hermanto yang masih berdiri di jalan setapak. Rumput ilalang menyentuh betisnya, kasar, sedikit menggelitik. Angin sore membawa bau tanah kering dan sisa sisa panen.
Ia menatap ke arah barat, ke tempat matahari perlahan tenggelam di balik bukit. Ke tempat Pesisir Pantura bersembunyi di balik kabut tipis, seperti masa depan yang tidak bisa ia lihat dengan jelas.
"Bahwa gue layak untuk kamu."
Hermanto mendekat, langkahnya cepat, hampir berlari. "Mit, kamu..."
"Belum selesai." Anita mengangkat tangan, menghentikan Hermanto yang sudah siap dengan seribu argumen. "Bahwa orang miskin juga bisa sukses. Bahwa gue tidak akan menjadi seperti ibuku dulu, yang hamil di luar nikah dan ditinggal laki laki dari kota."
Udara mendadak terasa lebih dingin.
Angin berembus lebih kencang, membawa debu, membawa daun daun kering, membawa sesuatu yang tidak terlihat.
Hermanto terdiam.
"Kamu tahu, Man," Anita melanjutkan. Suaranya bergetar, tetapi ia berusaha tegas. Berusaha tidak menangis. Berusaha menyelesaikan apa yang harus ia sampaikan. "Ibuku dulu juga muda. Juga cantik. Juga pintar, kata orang, dia salah satu yang terpintar di desanya."
Ia menoleh ke arah Hermanto.
Matanya berkaca kaca, tapi ia tahan.
Jangan menangis, pinta hatinya. Jangan menangis di depannya. Jangan biarkan dia melihatmu lemah.
Kali ini, kamu harus kuat.
"Tapi satu kesalahan, satu kepercayaan yang salah pada laki laki dari kota, membuat hidupnya hancur."
Hancur berkeping keping. Seperti gelas yang jatuh dari meja. Seperti cermin yang dipukul palu. Seperti hati yang dikhianati.
"Laki laki itu bilang dia sayang. Laki laki itu bilang dia akan menikahinya. Laki laki itu bilang dia tidak akan pergi." Suara Anita semakin pelan, hampir berbisik. Tapi setiap kata terdengar jelas, seperti paku yang dipalu ke papan. "Tapi setelah tahu ibuku hamil, dia kabur. Tidak ada kabar. Tidak ada pesan. Tidak ada."
Tidak ada. Seperti tidak pernah ada. Seperti mimpi yang buyar saat bangun tidur.
"Aku tidak ingin menjadi seperti ibuku, Man."
Anita menatap Hermanto, menatap lurus ke matanya. Tidak menghindar. Tidak malu. Tidak takut.
"Aku tidak ingin hamil di usia muda. Aku tidak ingin putus sekolah. Aku tidak ingin bergantung pada laki laki. Aku ingin menjadi seseorang."
Bukan hanya istri seseorang. Bukan hanya pelengkap. Bukan hanya pemanis bibir. Tapi seseorang. Dengan identitasnya sendiri. Dengan mimpinya sendiri. Dengan kehidupannya sendiri.
Hermanto menarik napas panjang, panjang seperti orang yang baru saja kehabisan udara, seperti orang yang baru saja sadar bahwa ia tidak bisa memberikan apa yang diminta.
"Kamu tidak percaya sama gue?" Suaranya lirih, lirih seperti orang yang sudah tahu jawabannya tapi tetap bertanya.
Kata kata terakhir seorang pecundang, pikir Hermanto pahit.
"Bukan begitu." Anita menggeleng, lembut, tidak menyakitkan. "Tapi gue percaya sama takdir. Dan gue tidak mau mengambil risiko."
Risiko untuk menjadi seperti ibuku. Risiko untuk jatuh. Risiko untuk hancur. Risiko untuk kehilangan segalanya.
"Jadi?"
"Jadi kita lihat saja nanti."
Anita menatap Hermanto, menatap lurus ke matanya yang mulai berkaca kaca.
"Kita masuk SMA dulu. Kita belajar. Kita buktikan bahwa kita bisa menjadi sesuatu. Dan kalau setelah itu kita masih saling suka, mungkin Tuhan merestui."
Mungkin. Mungkin. Kata yang paling tidak pasti dalam kamus manusia. Kata yang bisa berarti "ya" atau "tidak" atau "tidak tahu".
Hermanto ingin membantah.
Bibirnya terbuka, seperti akan mengeluarkan seribu argumen, seribu janji, seribu sumpah.
Tapi ia sadar.
Ia sadar bahwa Anita bukan gadis yang bisa dibujuk dengan kata kata manis.
Anita bukan gadis yang akan meleleh hanya karena seseorang berkata "aku sayang kamu".
Anita bukan gadis yang akan lupa diri hanya karena pelukan dan ciuman.
Anita adalah gadis yang melihat dunia dengan mata terbuka.
Yang tahu bahwa cinta tidak cukup untuk membayar uang sekolah.
Yang tahu bahwa janji remaja seringkali patah di tengah jalan, seperti ranting kering yang patah karena terlalu banyak beban.
Yang tahu bahwa kata "selamanya" hanya ada dalam dongeng.
Dia terlalu dewasa, pikir Hermanto.
Dewasa untuk usianya. Dewasa sampai melupakan bahwa ia juga masih remaja, bahwa ia juga berhak bermimpi, bahwa ia juga berhak bahagia tanpa harus memikirkan konsekuensi setiap saat.
Dan kedewasaannya membuatku takut.
Takut bahwa aku tidak akan pernah cukup untuknya.
Takut bahwa aku akan selalu menjadi "orang yang tidak bisa melindunginya".
Takut bahwa pada akhirnya, aku akan menjadi seperti laki laki dari kota yang meninggalkan ibunya.
"Baiklah, Mit." Suara Hermanto lirih, lirih seperti angin malam yang berembus pelan. "Gue akan menunggu."
"Jangan berjanji dulu, Man." Anita tersenyum pahit, senyum yang tidak sampai ke mata. "Tiga tahun itu lama. Banyak yang bisa berubah."
Wajah bisa berubah. Perasaan bisa berubah. Hati bisa berubah. Manusia bisa berubah.
"Mungkin. Tapi aku tidak akan berubah."
"Kamu tidak tahu itu."
"Aku tahu."
Tiga suku kata. Tiga kata. Pendek. Tegas. Tidak bisa dibantah.
Atau setidaknya, ia ingin percaya bahwa ia tahu.
Mereka berdiri di tepi sawah itu.
Dua remaja yang baru saja lulus SMP.
Dua remaja yang hatinya penuh mimpi, mimpi tentang masa depan, mimpi tentang cinta, mimpi tentang menjadi seseorang yang berarti.
Tapi juga penuh ketakutan, takut gagal, takut kecewa, takut tidak cukup baik, takut ditinggal, takut menjadi seperti orang tua mereka.
Angin berembus.
Rambut Hermanto yang sebahu bergerak sedikit, seperti rumput ilalang di pinggir sawah.
"Man," Anita memecah keheningan.
"Hm?"
"Aku minta satu hal."
"Apa?"
"Janjiin gue satu hal."
Anita berhenti. Menarik napas. Mengumpulkan keberanian.
"Apapun yang terjadi nanti, apapun, kamu akan tetap jadi teman gue."
Meskipun kita tidak jadi. Meskipun kita gagal. Meskipun kita terluka. Meskipun kita pergi ke arah yang berbeda. Janji.
Hermanto menatap Anita lama.
Lama sekali.
Lama seperti senja yang enggan berganti malam.
Lama seperti waktu yang berhenti di tempat.
Lalu ia tersenyum, tersenyum kecil, seperti bunga yang mekar di musim kemarau.
"Janji."
Mereka tidak berpelukan.
Tidak bergandengan.
Tidak melakukan hal hal yang biasanya dilakukan remaja dalam novel novel murahan.
Tapi di antara mereka, di udara yang membawa bau tanah kering dan debu, ada sesuatu yang mengikat.
Sebuah kesepakatan.
Sebuah janji.
Tidak ada saksi. Tidak ada materai. Tidak ada tulisan.
Tapi itu lebih kuat dari semua kontrak di dunia.
Kita akan berjuang. Masing masing. Untuk mimpi kita. Dan jika Tuhan mempertemukan kita lagi di jalan yang sama, di waktu yang tepat, dengan hati yang masih sama, itu akan menjadi keajaiban.
Keajaiban yang mungkin terjadi. Atau mungkin tidak. Tapi tidak apa apa.
Di bawah langit Pegandon yang mulai gelap.
Matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat. Warna langit berubah dari oranye menjadi merah, dari merah menjadi ungu, seperti kanvas yang sedang dilukis oleh tangan yang tidak terlihat.
Hermanto berjalan pergi ke arah Dusun Pangempon, ke arah rumah neneknya yang sakit sakitan, ke arah dunia yang menantinya dengan segala ketidakpastian.
Anita tetap berdiri di tepi sawah, menatap punggung Hermanto yang semakin kecil, sampai akhirnya lenyap di balik pohon pohon randu.
Ia melihat telapak tangannya, tangan yang baru saja menggenggam mimpi.
Masih terasa hangat.
Masih terasa bekas janji yang tidak terucap.
Janji tanpa strategi hanyalah mimpi di siang bolong, pikir Anita. Tapi malam ini, aku ingin mimpi.
Tentang dia. Tentang kita. Tentang mungkin. Tentang semoga. Tentang keajaiban.
Ia masuk ke dalam rumah. Mematikan lampu petromaks, pop, meninggalkan kegelapan di halaman.
Tapi di dadanya, ada sesuatu yang menyala.
Harapan.
Kamar Anita. Malam itu.
Anita tidak bisa tidur.
Ia berguling ke kiri. Ke kanan. Membalikkan bantal. Memeluk guling. Melepas guling. Semua tidak membantu.
Pikirannya terlalu penuh, penuh dengan kata kata Hermanto, penuh dengan hangat genggaman tangannya, penuh dengan "mungkin" dan "semoga" dan "apa jadinya jika".
Anita mengambil buku catatan dari bawah bantal.
Buku itu sudah lusuh. Sudah basah oleh air mata berkali kali. Sudah hampir penuh, tinggal beberapa halaman lagi.
Ia membuka halaman terakhir, halaman yang biasa ia gunakan untuk menulis catatan kecil. Catatan tentang perasaan yang tidak bisa ia ucapkan. Catatan tentang mimpi yang terlalu tinggi. Catatan tentang ketakutan yang terlalu dalam.
Dengan pulpen yang tintanya hampir habis, pulpen murah yang sudah ia pakai sejak kelas VII, pulpen yang sudah menjadi saksi lebih banyak dari semua manusianya, ia menulis:
"Hermanto menyukaiku. Dan aku menyukainya. Tapi apakah itu cukup?"
Ia memandangi tulisan itu lama.
Lalu di bawahnya, ia menulis:
"Kami lulus hari ini. Nilai kami bagus. Aku peringkat pertama. Dia peringkat kelima.
Tapi aku dan Hermanto memutuskan untuk tidak memutuskan. Kami akan lihat nanti. Tiga tahun lagi. Atau mungkin lebih. Atau mungkin tidak sama sekali.
Apakah ini keputusan yang benar? Atau aku hanya takut?
Aku tidak tahu.
Tapi satu hal yang aku tahu, aku tidak ingin mengulang kesalahan ibuku.
Dan untuk tidak mengulang kesalahan, aku harus kuat. Aku harus fokus. Aku harus sendiri dulu.
Tidak apa apa. Aku sudah terbiasa. Dari kecil.
Tapi Ya Allah, jaga dia. Jaga Hermanto. Jaga perasaannya. Dan jika Engkau berkehendak, jika Engkau memang menuliskan namanya di takdirku, pertemukan kami lagi di waktu yang tepat.
Di waktu aku sudah cukup kuat. Di waktu dia sudah cukup berani. Di waktu dunia tidak lagi memisahkan kita hanya karena status dan harta.
Amin."
Ia berhenti menulis.
Matanya menerawang ke langit langit bambu, ke tempat laba laba kecil sedang sibuk membuat jaring, tidak peduli dengan drama manusia di bawahnya.
Besok, pikir Anita. Besok pendaftaran SMA. Aku harus siap.
Ia menutup buku. Menaruhnya di bawah bantal. Memeluknya.
Untuk sekarang, cukup, pikirnya. Untuk sekarang, bermimpilah. Tentang dia. Tentang kita. Tentang mungkin.
Rumah Hermanto. Malam yang sama.
Hermanto juga tidak bisa tidur.
Ia duduk di teras rumah neneknya, di kursi bambu yang sama tempat ia duduk saat menunggu Anita dulu, saat ia masih berani mengirim pesan tengah malam, saat ia masih berani bermimpi.
Langit malam di Pegandon gelap, tidak ada lampu kota yang mengganggu, tidak ada polusi cahaya. Bintang bintang terlihat jelas, jutaan titik kecil yang berkelap kelip, seperti mata yang sedang menangis.
Ponselnya di tangan. Layar ponsel menyala redup, menerangi wajahnya yang murung.
Pesan ke Anita sudah ia ketik. Lalu ia hapus.
"Hai, Mit. Kamu sudah tidur?" Hapus.
"Mit, aku masih memikirkan ucapanmu sore tadi." Hapus.
"Aku janji akan menunggu. Sungguh." Hapus.
Tidak ada kata kata yang cukup. Tidak ada kalimat yang bisa menggambarkan apa yang ia rasakan.
Akhirnya, ia hanya menulis satu kalimat, pendek, sederhana, tidak berlebihan.
"Besok kita daftar SMA bareng, ya? Aku jemput."
Ia tekan send.
Jantungnya berdegup kencang, seperti dulu, saat pertama kali ia menyadari bahwa ia jatuh cinta pada Anita.
Beberapa detik kemudian, yang terasa seperti berjam jam, pesan Anita masuk.
"Bareng, kok. Tapi jangan jemput. Aku naik sepeda."
Hermanto tersenyum.
Ia mengetik balasan, "Sepeda lo bisa gue boncengin."
"Sepeda gue tidak muat di motor."
"Ya sudah, gue jalan kaki temani lo."
"Terserah."
"Terserah", kata yang sama yang selalu ia terima setiap kali Anita tidak mau terlihat terlalu bersemangat, setiap kali Anita ingin menjaga jarak, setiap kali Anita takut terlalu dekat.
Tapi "terserah" adalah ya. "Terserah" adalah iya. "Terserah" adalah "aku mau, tapi aku tidak bisa mengakuinya".
Hermanto tertawa kecil, tawa yang hanya ia dengar sendiri.
Dia keras kepala, pikirnya. Tapi itu salah satu hal yang aku suka darinya.
Dia tidak mudah menyerah. Dia tidak mudah dibujuk. Dia tidak akan pernah menjadi gadis yang terjatuh hanya karena kata kata manis.
Dan itu membuatku menghormatinya. Dan mencintainya. Lebih dari sebelumnya.
Ia mematikan ponsel. Memejamkan mata.
Tiga tahun, pikirnya. Tiga tahun adalah waktu yang lama. Tiga tahun cukup untuk seseorang berubah. Tiga tahun cukup untuk perasaan memudar. Tiga tahun cukup untuk luka sembuh, atau justru semakin dalam.
Tapi untuk Anita, untuk Anita, aku akan menunggu. Janji. Atau setidaknya, aku akan berusaha menepati janji itu. Meskipun janji remaja seringkali patah di tengah jalan. Meskipun aku tidak tahu apakah aku cukup kuat. Meskipun masa depan tidak pernah pasti.
Tapi untuk Anita, aku akan mencoba.
Di luar, jangkrik mulai bersahutan, seperti orkestra yang memainkan lagu pengantar tidur.
Tapi Hermanto tidak bisa tidur.
Pikirannya terlalu penuh dengan Anita.
Dan mungkin, itu tidak apa apa.
Bab 13: Memasuki SMA Negeri I Pegandon
Juli 2018. Liburan kenaikan kelas berlalu begitu cepat.
Tiga bulan sejak kelulusan SMP. Tiga bulan sejak Anita dan Hermanto berpisah di tepi sawah, berjanji untuk "melihat nanti". Tiga bulan yang terasa seperti tiga hari — karena waktu tidak pernah menunggu siapa pun.
Anita menghabiskan liburannya membantu ibunya berjualan gorengan. Setiap pagi, ia bangun lebih awal untuk menggoreng singkong dan tempe, lalu membungkusnya dengan plastik tipis. Setiap siang, ia berkeliling desa menawarkan dagangan. Setiap malam, ia belajar — membaca buku-buku SMA yang dipinjam dari perpustakaan desa.
Yulia menghabiskan liburannya di rumah saja — membantu ibunya membersihkan anyaman bambu yang akan dijual ke pasar. Kadang ia datang ke rumah Anita, membawa pisang goreng buatan ibunya, lalu mereka berdua belajar bersama di teras.
Hermanto menghabiskan liburannya di Semarang — menemui orang tuanya yang tidak pernah pulang ke Tegorejo selama tiga bulan. Ia tidak bercerita banyak tentang liburannya. Yang ia bilang ke Anita hanya: "Orang tuaku baik-baik saja. Mereka kirim salam."
Anita tahu Hermanto berbohong. Orang tuanya tidak kirim salam. Tapi ia tidak bertanya lebih lanjut.
Beberapa kebohongan, pikir Anita, lebih baik tidak dibongkar.
Hari pertama masuk SMA. Senin, 16 Juli 2018.
Langit masih gelap saat Anita bangun. Pukul setengah lima pagi. Ia tidak bisa tidur semalaman — bukan karena gugup, tapi karena bersemangat. SMA Negeri I Pegandon adalah sekolah favorit se-Kabupaten Kendal. Hanya siswa dengan nilai UN tertinggi yang bisa masuk.
Dan Anita — dengan nilai rata-rata 9,5 — adalah salah satu dari mereka.
Ia mengenakan seragam barunya. Putih di atas, abu-abu di bawah. Seragam ini dibelikan ibunya dari pasar mingguan — bukan seragam mahal, tapi cukup rapi. Ia menyetrikanya semalam hingga tidak ada kerutan sedikit pun.
"Cantik, Nak," kata Ibu Karsinem dari pintu dapur, sambil membawa segelas teh manis hangat.
"Makasih, Bu."
"Ibu hanya bisa memberikan seragam ini. Selebihnya... kamu yang berjuang."
Anita memeluk ibunya. "Iya, Bu. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini."
Pertigaan Dusun Cegunan. Pukul setengah tujuh pagi.
Yulia sudah menunggu. Seragam barunya juga rapi — rambut ikalnya diikat ke belakang dengan pita merah.
"Nit , lo cantik pagi ini!" seru Yulia.
"Lo juga, Lin."
"Seragam baru?"
"Iya. Ibu beliin."
"Gue juga. Meskipun belinya di pasar, yang penting rapi."
Mereka tertawa. Sepeda ontel mereka berderit bersahutan di jalan setapak yang mulai ramai. Sawah di kanan-kiri sudah mulai ditanami padi baru — petani sedang sibuk membajak dengan kerbau.
"Hei, kalian!"
Suara dari belakang. Hermanto dengan motornya — rambut sebahu yang terkenal itu diikat ke belakang. Hari ini ia tidak memakai jaket, sehingga seragam putih-abu-abunya terlihat jelas.
"Man, lo datang!" sapa Yulia.
"Udah dari tadi. Gue tungguin kalian di pertigaan."
"Lama banget nunggunya?"
"Yaelah, baru lima menit."
Mereka bertiga melanjutkan perjalanan. Hermanto memacu motornya pelan di samping mereka — seperti dulu, saat pertama kali mereka bertemu di jalan Randu Gembyang.
Dulu, pikir Anita, aku hampir jatuh ke selokan karena dia.
Sekarang, aku hampir jatuh cinta karena dia.
Ia tersenyum kecil.
Gedung SMA Negeri I Pegandon.
Sekolah itu terletak di Jalan Raya Pegandon, tidak jauh dari kantor kecamatan. Bangunannya cukup besar — dua lantai, cat putih kusam, dengan halaman yang luas. Pohon-pohon rindang — trembesi, tanjung, dan beringin — tumbuh di setiap sudut.
Di halaman depan, bendera merah putih berkibar pelan. Di sebelah kanan, ada papan nama besar: SMA NEGERI I PEGANDON — TERAKREDITASI A.
"Wah, besar juga," bisik Yulia.
"Iya. Lebih besar dari SMP," sahut Anita.
"Ya iyalah, Lin. Ini SMA," Hermanto tertawa.
Mereka memarkir sepeda dan motor di rak yang sudah disediakan. Di rak sepeda, sudah ada puluhan sepeda lain — ada yang baru, ada yang butut seperti sepeda Anita.
"Yuk, kita masuk," kata Anita.
Halaman depan sekolah. Upacara bendera.
Seluruh siswa baru berkumpul di halaman. Wajah-wajah baru — ada yang tegang, ada yang percaya diri, ada yang terlihat tersesat.
Anita berdiri di barisan depan — karena tinggi badannya termasuk yang paling pendek. Yulia di sampingnya. Hermanto di barisan belakang — karena tinggi.
Upacara berlangsung khidmat. Pembina upacara — Bapak Kepala SMA, Drs. Martono, M.Pd. — menyampaikan sambutan singkat tentang pentingnya disiplin, integritas, dan semangat belajar.
"Selamat datang di SMA Negeri I Pegandon," kata Pak Martono. "Kalian adalah generasi penerus bangsa. Kalian adalah harapan orang tua kalian. Jangan sia-siakan kesempatan ini."
Anita mendengarkan dengan saksama.
Tidak akan, pikirnya. Aku tidak akan menyia-nyiakan ini.
Setelah upacara. Pengenalan lingkungan sekolah.
Para siswa baru dikumpulkan di aula. Di panggung, berdiri seorang laki-laki — tinggi, atletis, kulit sawo matang, rambut disisir rapi. Senyumnya lebar — lebar seperti orang yang terbiasa menjadi pusat perhatian.
"Selamat datang, adik-adik baru," katanya. Suaranya dalam, percaya diri. "Perkenalkan, saya Anton. Ketua OSIS SMA Negeri I Pegandon. Kelas XI IPS. Saya akan memandu kalian selama masa orientasi."
Seluruh siswa baru bertepuk tangan.
"Anton ganteng, ya," bisik seorang siswa di belakang Anita.
"Dan kaya," bisik yang lain. "Anak pemilik toko bangunan terbesar di Pegandon."
Anita tidak memperhatikan. Ia sibuk mengatur buku catatan kecil yang selalu ia bawa — buku catatan yang sama yang ia simpan di bawah bantal selama SMP.
Tapi Anton memperhatikan Anita.
"Adek-adek yang baru masuk, siapa yang punya prestasi di SMP? Tolong maju ke depan."
Beberapa siswa maju. Anita tidak bergerak.
"Tidak usah malu-malu," kata Anton. "Kita keluarga di sini."
Yulia menyikut Anita. "Majulah, Nit . Lo kan juara umum se-Kabupaten."
"Tidak usah, Lin."
"Tapi—"
"Tidak usah."
Anton turun dari panggung. Ia berjalan di antara barisan siswa baru, matanya menyapu wajah satu per satu.
Dan matanya berhenti pada Anita.
"Kamu," kata Anton, tersenyum. "Namanya Anita, kan? Juara umum se-Kabupaten Kendal. Fotomu muncul di koran."
Anita tersenyum tipis. "Iya, saya."
Anton mengulurkan tangannya. "Perkenalkan, Anton. Senang bertemu denganmu."
Anita menjabat tangannya. Jabat tangan singkat — tidak terlalu lama. Tapi cukup lama untuk membuat Hermanto — yang berdiri lima meter di belakang — mengepalkan tangan.
Siapa laki-laki itu? pikir Hermanto. Dan kenapa dia terlalu dekat dengan Anita?
Yulia, yang berdiri di samping Anita, menyikut pelan. "Awas, ada yang menaksir," bisiknya.
Anita hanya tersenyum. "Biasa saja, Lin."
Tapi di sudut matanya, ia melihat Hermanto. Hermanto yang berdiri dengan tangan terkepal. Hermanto yang matanya tidak berkedip menatap Anton.
Dia cemburu, pikir Anita. Padahal belum ada apa-apa.
Selesai orientasi. Di kantin.
Anita, Yulia, dan Hermanto duduk di meja pojok kantin — tempat yang sama seperti di SMP dulu. Tapi suasanya berbeda. Kantin SMA lebih besar, lebih ramai, dan lebih... berisik.
"Man, lo kenapa diem aja?" tanya Yulia.
"Nggak apa-apa."
"Lo cemburu, ya, sama Anton?"
"Nggak."
"Bohong."
Hermanto tidak menjawab. Ia memainkan sedotan di gelas es tehnya.
"Man," Anita memanggil pelan.
"Hm?"
"Anton itu kakak kelas. Dia hanya menyapa. Tidak ada yang perlu dicemaskan."
"Gue tahu."
"Terus kenapa lo diem?"
"Gue nggak diem. Gue sedang menikmati es teh."
Yulia tertawa. "Lo kalau cemburu, ngomong aja, Man."
Hermanto menghela napas. "Gue tidak cemburu. Gue hanya... waspada."
"Waspada sama apa?"
"Waspada sama laki-laki yang tersenyum terlalu lebar."
Anita tersenyum kecil. Dia cemburu, pikirnya. Tapi dia tidak mau mengaku.
Itu membuatnya merasa... dihargai.
Di sudut kantin yang lain.
Anton sedang duduk bersama teman-temannya — anak-anak OSIS yang terkenal populer. Matanya sesekali melirik ke arah Anita.
"Lo liat cewek baru itu?" tanya salah satu temannya.
"Anita?"
"Iya. Cantik juga."
"Dan pintar. Juara umum se-Kabupaten."
"Lo suka, Ton?"
Anton tersenyum. "Kita lihat saja."
Ia menyesap minumannya. Matanya tidak beranjak dari Anita.
Dia berbeda, pikir Anton. Dia tidak berusaha menarik perhatianku. Dia tidak tersipu-sipu seperti cewek lain. Dia... biasa saja.
Dan itu membuatku penasaran.
Pulang sekolah. Perjalanan pulang.
Mereka bertiga berjalan ke rak sepeda. Hermanto membonceng motornya di samping Anita.
"Nit , gue antar lo pulang," kata Hermanto.
"Biasanya Yulia yang antar."
"Yulia bisa pulang sendiri."
"Hei!" protes Yulia. "Gue juga butuh teman."
"Lo bisa nyusul."
"Kok gue yang disuruh nyusul?"
Anita tertawa. "Udahlah, Man. Kita pulang bareng. Seperti biasa."
"Tapi—"
"Man." Anita menatap Hermanto. "Jangan cemburu. Anton hanya kakak kelas."
Hermanto menghela napas. "Gue tidak cemburu."
"Buktikan dengan tidak mengatur-atur."
Mereka bertiga tertawa. Lalu mengayuh sepeda — dan motor — meninggalkan halaman SMA Negeri I Pegandon.
Di pintu gerbang, Anton berdiri bersama teman-temannya. Ia melambai ke arah Anita.
"Dadah, Anita! Besok kita ketemu lagi!"
Anita melambai balik — hanya sopan santun.
Tapi Hermanto mengepalkan tangan di setang motor.
Anton, pikirnya. Siapa namanya, aku akan membuktikan bahwa Anita bukan untukmu.
Malam itu. Rumah Anita.
Anita membuka buku catatannya — buku yang selalu ia simpan di bawah bantal.
Ia membaca tulisannya yang lama:
"Kami lulus. Nilai kami bagus. Tapi aku dan Hermanto memutuskan untuk... tidak memutuskan. Kami akan lihat nanti."
Kali ini, ia menulis tambahan:
"Hari pertama SMA. Semuanya berbeda. Gedungnya lebih besar. Orangnya lebih banyak. Tapi yang paling berbeda... ada laki-laki bernama Anton. Ketua OSIS. Tampan. Populer. Kaya. Dia tersenyum padaku hari ini. Dan Hermanto melihatnya.
Aku tidak suka Anton. Tapi melihat Hermanto cemburu... membuatku merasa....
...diinginkan."
Ia berhenti menulis. Memandangi kalimat terakhir itu.
Apakah ini egois? pikir Anita. Membiarkan Hermanto cemburu hanya agar aku merasa diinginkan?
Ia tidak tahu.
Tapi satu hal yang ia tahu: SMA akan berbeda dari SMP. Dan dia harus siap.
Di luar, jangkrik mulai bersahutan. Suaranya seperti peringatan: "Bersiaplah. Badai akan datang."
Bab 14: Persaingan Terselubung
Dua minggu pertama di SMA Negeri I Pegandon.
Masa orientasi selesai. Kini para siswa baru mulai menemukan ritme mereka — bangun pagi, berangkat sekolah, mengikuti pelajaran, pulang, belajar, tidur, lalu mengulanginya lagi. Sebuah siklus yang membosankan, tetapi juga menenangkan.
Anita masuk ke kelas X IPA 1 — kelas unggulan untuk siswa dengan nilai UN tertinggi. Yulia dan Hermanto juga berada di kelas yang sama. Tiga sekawan dari SMP kini masih bersama, duduk tidak berjauhan.
Anita di baris depan, dekat jendela. Yulia tepat di belakangnya. Hermanto dua bangku di samping kanan — cukup dekat untuk saling melirik, cukup jauh untuk tidak terlihat sengaja.
Kelas X IPA 1 terletak di lantai dua, ujung koridor. Dari jendela kelas, Anita bisa melihat hamparan sawah yang membentang hingga ke kaki Pesisir Pantura . Pemandangan yang sama persis dengan yang ia lihat dari rumahnya di Dusun Kersan — hanya dari sudut yang berbeda.
Sekolah baru, pikir Anita. Tapi langitnya sama. Sawahnya sama. Dan orang-orang yang kucintai... masih di sini.
Anton mulai sering muncul.
Hari pertama, Anton datang ke kelas X IPA 1 dengan alasan "mengumumkan jadwal ekstrakurikuler".
Hari kedua, dengan alasan "mendata bakat minat siswa baru".
Hari ketiga, dengan alasan "koordinasi dengan wali kelas".
Hari keempat, tanpa alasan.
Ia hanya datang. Duduk di kursi kosong di barisan belakang. Mengobrol dengan teman-teman OSIS-nya. Tapi matanya — matanya selalu tertuju pada Anita.
"Lo perhatikan, nggak, sih, Anton itu selalu ada di kelas kita?" bisik Yulia suatu hari, saat pelajaran Matematika belum dimulai. "Kayak ada yang dicari."
Anita tidak menoleh. Ia sedang merapikan buku-bukunya. "Biarkan, Lin. Itu urusan dia."
"Tapi dia terus melirik ke sini."
"Biarkan."
"Lo nggak penasaran?"
"Penasaran sama apa?"
"Penasaran kenapa dia suka banget sama lo."
Anita menghela napas. "Lin, lo terlalu banyak nonton sinetron."
"Lo yang terlalu banyak baca buku."
Mereka tertawa kecil. Tapi di sudut ruangan, Hermanto melihat. Ia melihat Anton yang duduk di barisan belakang, tersenyum ke arah Anita. Ia melihat Yulia yang berbisik-bisik. Ia melihat Anita yang tersenyum — tersenyum tipis, tapi tetap senyum.
Dia tersenyum karena Yulia, pikir Hermanto. Bukan karena Anton. Bukan karena Anton.
Tapi kepalan tangannya tetap mengepal.
Hermanto mulai waspada.
Setiap Anton muncul, Hermanto selalu berusaha berada di dekat Anita. Bukan dengan cara yang kasar atau terlalu mencolok. Tapi dengan cara yang halus — seperti air yang meresap ke dalam tanah.
Saat jam istirahat, jika Anton mendekati meja Anita, Hermanto akan datang dengan alasan meminjam pulpen.
"Nit , pulpen gue macet. Pinjem dong."
"Ini, Man."
"Makasih."
Lalu ia akan berdiri di samping meja Anita beberapa saat, cukup lama untuk membuat Anton mengerti bahwa ia tidak sendirian.
Saat pulang sekolah, jika Anton menawari Anita boncengan motor, Hermanto akan datang dengan sepeda ontelnya.
"Nit , pulang bareng, yuk. Yulia juga."
"Ya udah, Man."
Lalu mereka bertiga akan meninggalkan Anton yang hanya bisa tersenyum kecut.
Suatu hari, saat pelajaran Fisika, Hermanto menoleh ke belakang — ke arah Anton yang sedang duduk di kursi tamu (lagi). Anton tersenyum. Hermanto tidak membalas.
Dia tidak akan menyerah, pikir Hermanto. Dan aku juga tidak.
Anton menyadari perlawanan Hermanto.
Suatu jam istirahat, saat Anita dan Yulia pergi ke kantin, Anton mendekati Hermanto yang sedang duduk di bangku taman dekat pohon tanjung.
"Man."
Hermanto mendongak. "Ada apa?"
"Gue lihat lo dekat banget sama Anita. Lo pacarnya?"
Hermanto menatap Anton tajam — tajam seperti elang yang sedang mengintai mangsa. "Belum."
"Berarti masih bisa dong?"
"Tapi gue serius sama dia."
Anton tersenyum tipis — senyum yang tidak sampai ke mata. "Wah, sayangnya gue juga serius."
"Jadi?" Hermanto berdiri. Tingginya hampir sama dengan Anton, meskipun postur Anton lebih berisi.
"Jadi, biar Anita yang memilih. Tidak pakai curang."
"Setuju."
Mereka berjabat tangan. Jabat tangan yang kuat — terlalu kuat. Seperti dua pedagang yang baru saja membuat kesepakatan, tetapi sebenarnya sedang mengukur kekuatan lawan.
"Semoga yang terbaik yang menang," kata Anton.
"Bukan yang terbaik yang menang. Tapi yang Anita pilih," jawab Hermanto.
Anton tertawa kecil. "Kamu lucu, Man."
"Bukan lucu. Realistis."
Mereka berpisah. Hermanto berjalan ke kantin mencari Anita. Anton tetap berdiri di bawah pohon tanjung, memandang kepergian Hermanto.
Dia serius, pikir Anton. Tapi aku juga.
Persaingan tidak resmi dimulai.
Sejak hari itu, Anton dan Hermanto sama-sama berusaha memenangkan hati Anita. Cara mereka sangat berbeda — seperti langit dan bumi, seperti minyak dan air.
Anton — dengan cara romantis.
Seminggu sekali, Anton membawa bunga untuk Anita. Bukan bunga mahal — hanya krisan putih yang dijual di depan sekolah. Tapi tetap bunga. Dan tidak ada cowok lain yang membawa bunga untuk cewek di SMA Negeri I Pegandon.
"Ini buat kamu, Anita," kata Anton sambil menyerahkan setangkai krisan.
"Terima kasih, Anton. Tapi jangan repot-repot."
"Nggak repot. Aku suka melihat kamu tersenyum."
Anita tersenyum tipis — sopan, tapi tidak hangat.
Kadang Anton mengantar Anita pulang. Motornya — Honda Revo yang masih kinclong — diparkir di samping sepeda Anita.
"Nanti sepeda kamu gue bawa di motor. Lo duduk di belakang."
"Nggak usah, Anton. Aku naik sepeda sama Yulia."
"Tapi—"
"Sudah."
Anton tidak pernah memaksa. Tapi ia tidak menyerah. Kadang ia membawakan jajanan dari Semarang — martabak, kue bolu, roti isi cokelat. "Oleh-oleh dari ayahku," katanya. Padahal ayahnya tidak pernah pergi ke Semarang.
Hermanto — dengan cara sederhana.
Hermanto tidak pernah membawa bunga. Ia tidak pernah membawakan jajanan mahal. Yang ia lakukan lebih sederhana, tetapi lebih ada.
Saat Anita sedang pusing mengerjakan soal Fisika, Hermanto duduk di sampingnya. "Yang mana yang nggak lo paham?" tanyanya. Lalu ia akan menjelaskan dengan sabar — sesabar guru les privat yang digaji mahal, tapi gratis.
Saat Anita sedang murung — mungkin karena ingat ibunya yang bekerja keras, atau karena rindu ayah tirinya yang sudah meninggal — Hermanto tidak bertanya. Ia hanya duduk di samping Anita. Diam. Menemani.
Kehadirannya sudah cukup, pikir Anita. Dia tidak perlu berkata apa-apa.
Saat Anita butuh teman curhat — tentang Yulia yang kadang terlalu protektif, tentang gosip-gosip miring yang mulai berembus, tentang masa depan yang menakutkan — Hermanto mendengarkan. Tidak memotong. Tidak memberi siap kecuali diminta.
"Lo pendengar yang baik, Man," kata Anita suatu hari.
"Hanya untuk lo."
Anita tersenyum. Senyum yang hangat — hangat seperti teh jahe di malam dingin.
Yulia melihat semuanya dari jauh.
Sebagai sahabat, Yulia punya sudut pandang yang unik. Ia bisa melihat apa yang tidak dilihat Anita — dan apa yang tidak dilihat Hermanto.
Ia melihat Anton yang mulai frustasi karena Anita tidak pernah memberinya respon lebih dari senyum sopan.
Ia melihat Hermanto yang mulai lelah karena harus bersaing dengan laki-laki yang punya segalanya — harta, tampang, popularitas.
Ia melihat Anita — sahabatnya yang pintar, baik hati, dan keras kepala — yang sebenarnya belum siap untuk hubungan apa pun.
"Nit ," kata Yulia suatu sore saat mereka pulang bersama. "Lo harus ambil keputusan."
"Keputusan apa, Lin?"
"Anton atau Hermanto. Lo nggak bisa terus-terusan di antara mereka."
Anita menghela napas. "Gue tidak memilih siapa pun, Lin. Gue fokus sekolah."
"Tapi mereka berdua terus berusaha. Lo nggak kasihan?"
"Kasihan sama mereka? Atau kasihan sama diri gue sendiri?"
Yulia terdiam.
"Lin, gue belum siap." Suara Anita melemah. "Gue masih takut. Takut sakit hati. Takut jadi seperti ibuku. Takut... membuka hati lalu ditinggal."
Yulia meraih tangan Anita. "Lo nggak sendirian, Nit ."
"Aku tahu. Tapi rasa takut tidak peduli dengan kehadiran orang lain."
Mereka terus mengayuh sepeda dalam diam. Sawah di kanan-kiri mulai menguning — padi tua yang siap panen. Di kejauhan, Pesisir Pantura tampak biru keabu-abuan.
Hidup Anita, pikir Yulia, seperti padi ini. Tumbuh di tanah yang keras, disiram keringat dan air mata, dan harus siap dipanen kapan saja.
Tapi apakah ia siap?
Yulia tidak tahu.
Di rumah, malam itu.
Anita membuka buku catatannya — buku yang selalu ia simpan di bawah bantal.
Ia membaca tulisannya yang lama:
"Hari pertama SMA. Ada laki-laki bernama Anton. Dia tersenyum padaku. Dan Hermanto melihatnya."
"Melihat Hermanto cemburu membuatku merasa diinginkan. Apakah ini egois?"
Kali ini, ia menulis tambahan:
"Anton membawakan bunga. Hermanto menemani belajar. Anton mengantar pulang. Hermanto mendengarkan ceritaku.
Mereka berbeda. Sangat berbeda.
Tapi aku... aku tidak bisa memilih.
Bukan karena aku tidak tahu siapa yang lebih baik. Tapi karena aku tahu... hatiku sudah lama memilih. Aku hanya terlalu takut untuk mengakuinya."
Ia berhenti menulis. Air matanya menetes — satu, dua, tiga — membasahi halaman bukunya.
Hermanto, pikir Anita. Aku sudah memilihmu sejak pertama kali kau hampir membuatku jatuh ke selokan.
Tapi mengapa aku tidak bisa mengatakannya?
Mengapa ketakutan selalu lebih besar dari keberanian?
Ia memeluk bukunya. Memejamkan mata.
Besok, pikirnya. Besok Anton akan datang lagi. Hermanto juga akan datang lagi. Dan aku... aku akan berada di tengah-tengah mereka.
Lagi.
Sementara itu, di rumah Anton.
Anton berbaring di tempat tidurnya yang empuk — kasur busa tebal dengan sprei bermotif mobil balap. Kamarnya luas, ber-AC, dengan TV 32 inci di dinding.
Tapi ia tidak merasa nyaman.
Mengapa Anita tidak seperti cewek-cewek lain? pikir Anton. Cewek-cewek lain akan berbunga-bunga kalau dapat bunga. Akan melompat kegirangan kalau diantar pulang. Akan rela melakukan apa pun demi mendapat perhatianku.
Tapi Anita... Anita biasa saja.
Dan itu membuatku semakin penasaran.
Ia memegang ponselnya. Membuka foto Anita — foto yang ia ambil diam-diam saat upacara bendera. Anita berdiri di barisan depan, wajahnya serius, matanya menatap ke depan.
Kamu teka-teki yang sulit dipecahkan, Anita, pikir Anton. Tapi aku suka teka-teki.
Dan aku tidak akan menyerah sampai kamu menjadi milikku.
Di rumah Hermanto.
Hermanto duduk di teras, ditemani neneknya yang sedang mengupas bawang. Kucing belang tidur di pangkuan nenek.
"Le, kamu kenapa?" tanya nenek. "Diam saja sejak pulang sekolah."
"Nggak apa-apa, Nek."
"Pikiran cewek, ya?"
Hermanto tersenyum kecut. "Nek, bagaimana caranya mengetahui kalau seseorang itu serius sama kita?"
Nenek berhenti mengupas bawang. Ia menatap cucunya lama.
"Serius itu tidak perlu dibuktikan dengan bunga atau uang, Le. Serius itu sederhana. Dia ada ketika kamu butuh. Dia diam ketika kamu sedang marah. Dia tersenyum meskipun kamu sedang tidak lucu."
"Jadi?"
"Jadi, kamu tanya saja langsung sama Anita. Jangan pakai perantara. Jangan pakai strategi. Cuma kamu, dia, dan kejujuran."
Hermanto terdiam.
Jujur, pikirnya. Mungkin itu yang kurang selama ini. Aku terlalu sibuk bersaing dengan Anton, lupa bahwa yang Anita butuh bukan kemenangan, tapi ketulusan.
Besok, pikir Hermanto. Besok aku akan bilang terus terang.
Pagi berikutnya.
Anita datang ke sekolah dengan perasaan campur aduk. Yulia di sampingnya, seperti biasa.
"Hei, Nit , lo lihat itu," bisik Yulia.
Di depan gerbang sekolah, Anton berdiri dengan setangkai bunga mawar merah — bukan krisan putih seperti biasa. Mawar merah. Lambang cinta.
"Ini untuk kamu, Anita," kata Anton, tersenyum lebar.
"Terima kasih, Anton. Tapi—"
"Tapi apa?"
"Tapi aku sudah bilang, jangan repot-repot."
"Nggak repot. Aku senang melakukannya."
Anita menghela napas. Ia mengambil bunga itu — bukan karena ia mau, tapi karena tidak enak menolak di depan banyak orang.
Di belakangnya, Hermanto melihat. Wajahnya pucat.
Mawar merah, pikir Hermanto. Aku tidak pernah memberinya bunga. Apa aku kalah sebelum bertarung?
Tapi ia ingat kata neneknya: "Serius itu tidak perlu dibuktikan dengan bunga."
Ia menarik napas panjang. Lalu berjalan mendekati Anita.
"Nit ."
"Man?"
"Kita bicara nanti, ya. Jam istirahat. Di perpustakaan."
Anita terkejut. Hermanto jarang mengajak bicara serius — apalagi di perpustakaan.
"Bicara tentang apa?"
"Nanti."
Hermanto berjalan pergi. Meninggalkan Anita, Yulia, Anton, dan bunga mawar merah yang mulai layu sebelum sempat ditempatkan di vas.
Badai akan datang, pikir Yulia. Dan aku tidak tahu apakah Anita siap.
BAB 15: CINTA PERTAMA YANG PILU
Penghujung semester pertama. Desember 2018.
Hujan telah reda. Langit malam di Pegandon bersih dari awan, memperlihatkan taburan bintang yang jarang terlihat di kota besar. Udara dingin menusuk tulang, suhu mungkin turun hingga 19 derajat. Angin malam berembus pelan, membawa bau tanah basah dan sisa sisa hujan yang masih menggenang di sawah.
Gedung SMA Negeri I Pegandon terlihat berbeda malam itu. Lampu lampu hias digantung di pohon pohon trembesi dan tanjung, berwarna warni, berkelap kelip seperti bintang bintang yang jatuh ke bumi. Panggung kayu berdiri kokoh di halaman tengah, dengan dekorasi bambu dan kain putih yang berkibar pelan ditiup angin, seperti tirai panggung teater yang menunggu pertunjukan dimulai.
Pentas seni akhir semester. Acara tahunan yang paling ditunggu tunggu. Ada tari tradisional dengan penari yang mengenakan kebaya dan kain batik, gerakannya lembut tapi penuh makna. Ada paduan suara yang membawakan lagu lagu daerah dengan harmoni yang menggetarkan dada. Ada drama musikal yang ceritanya diadaptasi dari legenda lokal, membuat penonton tertawa dan menangis bergantian. Dan yang paling dinanti, band band dari berbagai kelas yang akan bermain hingga larut malam, memainkan lagu lagu pop yang sedang ngetop, membuat seluruh penonton bernyanyi bersama.
Anita belum pernah pergi ke acara seperti ini. Di SMP dulu, ia selalu sibuk belajar atau membantu ibunya berjualan. Pentas seni adalah kemewahan yang tidak pernah ia izinkan untuk dirinya sendiri. Ada rasa bersalah setiap kali ia membayangkan dirinya bersenang senang sementara ibunya mungkin masih mencuci pakaian orang lain di rumah, atau menggoreng singkong untuk dijual esok pagi.
Tapi malam ini berbeda.
Anton mengundangnya.
Tiga hari sebelumnya, di lorong sekolah.
"Mit, lo ikut pentas seni nggak?" tiba tiba Anton menghadang Anita di lorong, tepat saat ia hendak berbalik ke kelas setelah jam istirahat.
Anita terkejut. Langkahnya mundur setengah meter. "Pentas seni?"
"Iya. Besok Jumat malam. Seru, lo. Ada band dari Semarang juga." Anton tersenyum lebar, terlalu lebar. Tangannya meremas buku catatan yang ia bawa, menandakan kegugupan yang tidak biasa dari seorang ketua OSIS yang percaya diri.
Anita ragu. "Gue belum pernah ke acara malam malam."
"Itu kan acara sekolah. Aman. Ada guru juga." Anton berusyak meyakinkan. Matanya berbinar, penuh harap.
"Tapi..."
"Kita ajak Yulia juga, tidak apa apa."
Anita masih ragu. Jari jarinya memainkan ujung buku catatan, tanda kegelisahan yang tidak bisa ia sembunyikan.
Tapi Yulia, yang kebetulan lewat dari arah kantin dengan sebungkus pisang goreng di tangan, langsung menyambar.
"Setuju! Gue ikut!" Yulia berseru, terlalu cepat, terlalu antusias.
Anita menatap Yulia dengan tatapan "lo gila". Matanya membelalak, bibirnya mengerucut. Tapi Yulia hanya tersenyum, tanpa rasa bersalah.
"Ya sudah," kata Anita akhirnya, menghela napas pasrah. "Gue ikut."
Anton tersenyum lebar, senyum yang membuat gigi putihnya terlihat jelas. "Oke. Besok gue jemput."
Yulia mengedipkan mata ke arah Anton, lalu ke arah Anita, dengan senyum yang tidak bisa diartikan.
Malam pentas seni. Jumat, 14 Desember 2018.
Anton datang menjemput Anita dengan mobil. Bukan motor seperti biasanya. Mobil, mobil dinas ayahnya, Daihatsu Xenia hitam yang mengilap, terlalu mewah untuk diparkir di depan rumah bambu Anita.
Ini pertama kalinya Anita naik mobil bersama laki laki seusianya. Pertama kalinya ia duduk di kursi kulit yang empuk, dengan AC yang dingin menusuk kulit, dengan bau pengharum ruangan yang mahal, wangi melati yang sedikit menyengat di hidung.
"Hati hati, Nak," pesan Ibu Karsinem dari pintu rumah. Tangannya memegang erat daun pintu bambu. Wajahnya campuran antara bangga dan khawatir.
"Iya, Bu. Nanti Anita pulang cepat."
"Jangan larut malam."
"Iya, Bu."
Ibu Karsinem masih berdiri di depan pintu, menatap mobil yang mulai bergerak, sampai mobil itu hilang di tikungan.
Mobil melaju pelan di jalan setapak yang gelap. Lampu mobil menyorot sawah sawah yang tergenang air hujan, airnya berkilau seperti ribuan kaca kecil yang pecah. Di kejauhan, Pesisir Pantura tampak seperti raksasa hitam yang sedang tidur, tenang, tidak terganggu oleh hiruk pikuk manusia.
Yulia sudah menunggu di pertigaan Dusun Cegunan. Ia berdiri di bawah pohon asam, sendirian, dengan jaket tebal yang terlalu besar untuk tubuhnya. Ia melompat masuk ke kursi belakang, langsung mengambil posisi nyaman.
"Wah, naik mobil! Mewah!" seru Yulia. Tangannya meraba raba jok kulit, kagum.
"Pinjam punya ayah," kata Anton, tersenyum di spion.
"Pinjam atau ambil diam diam?" Yulia menggodanya, sengaja mengeraskan suara agar Anita di kursi depan mendengar.
Anton tertawa. "Pinjam, tentu saja."
Halaman SMA Negeri I Pegandon, pukul delapan malam.
Pentas seni sudah dimulai. Lampu panggung berwarna warni, merah, biru, kuning, hijau, bergantian menyala seperti pelangi yang bergerak. Suara gitar menggelegar dari pengeras suara, suara drum membahana, bass bergemuruh di dada. Penonton, ratusan siswa, berdesakan di depan panggung, berteriak, melompat, bernyanyi bersama.
Anton membawa Anita dan Yulia ke tempat duduk VIP. Area khusus untuk anggota OSIS dan tamu undangan, tepat di depan panggung, dengan pemandangan terbaik. Kursinya bukan karpet, tapi kursi plastik, setidaknya lebih nyaman daripada duduk di tanah yang basah.
"Kalian duduk di sini, ya. Aku mau ke belakang dulu, ada urusan OSIS," kata Anton, melambai, lalu pergi meninggalkan mereka.
"Oke," jawab Anita, suaranya tenggelam oleh gemuruh musik.
Setelah Anton pergi, Yulia langsung menyikut Anita. Sikutannya keras, sampai membuat Anita bergeser di kursinya.
"Lo lihat tadi? Anton sengaja ajak lo ke sini." Yulia berbisik, tapi suaranya tetap terdengar karena jarak mereka yang terlalu dekat.
"Biasa saja, Lin."
"Biasa? Naik mobil, tempat VIP, terus lo bilang biasa?" Yulia menggeleng gelengkan kepala, tidak percaya.
Anita tersenyum tipis. "Dia hanya baik."
"Tidak, Mit. Dia sengaja baik." Yulia menekan kata "sengaja", menatap Anita dengan mata yang mengatakan "aku tahu lebih banyak darimu".
Sebelum Anita bisa menjawab, lampu panggung redup. Lampu lampu warna warni padam, menyisakan kegelapan sesaat. Lalu sorot lampu utama menyala, terang, menyilaukan.
Band dari Semarang mulai bermain. Lagu lagu pop yang sedang ngetop, Noah, Sheila on 7, Peterpan. Lagu lama, lagu yang sudah didengar ribuan kali, tapi tetap membuat hati bergetar setiap kali didengar.
Penonton bernyanyi bersama, tangan terangkat ke udara, ponsel menyala merekam momen, ribuan titik cahaya kecil berkelap kelip di antara kerumunan.
Anita tidak bernyanyi. Ia hanya duduk, menikmati suasana. Membiarkan musik mengalir di telinganya, biar suara gitar dan drum dan bass dan vokal yang merdu mengisi kekosongan di hatinya.
Ini pertama kalinya, pikirnya, aku merasa seperti remaja normal.
Tapi apakah aku normal? Atau hanya berpura pura?
Satu jam kemudian. Yulia tiba tiba sakit perut.
Wajah Yulia yang sedari tadi ceria mendadak berubah. Memucat. Berkeringat dingin. Tangannya memegang perut, meringis kesakitan.
"Mit, gue sakit perut," kata Yulia, suaranya lirih, tidak seperti biasanya.
"Serius, Lin?" Anita langsung memegang pundak Yulia. Wajahnya khawatir.
"Iya. Mungkin kebanyakan minum es." Yulia tersenyum tipis, dipaksakan.
"Gue antar ke UKS?"
"Nggak usah. Gue pulang aja. Nanti gue telepon ayah gue jemput."
"Yakin tidak apa apa?"
"Yakin." Yulia berdiri, lalu berbisik di telinga Anita, "Kamu sama Anton saja. Nikmati malamnya."
Yulia mengedipkan mata, satu kedipan yang terlalu cepat untuk Anita protes.
"Lin..."
"Dadah, Mit. Besok cerita semuanya, ya."
Yulia pergi. Berjalan perlahan, masih memegang perut, menghilang di antara kerumunan penonton.
Meninggalkan Anita yang masih duduk di kursi VIP, sendirian, dengan lagu Noah yang sedang mencapai reff.
Yulia sengaja, pikir Anita. Dia sengaja pulang agar aku dan Anton berdua.
Kenapa dia melakukan itu? Kenapa semua orang ingin menjodohkanku dengan Anton?
Ia tidak punya jawaban.
Anton kembali. Tanpa Yulia.
Ia berjalan cepat, sedikit terburu buru, mungkin karena takut Anita pergi duluan.
"Lho, Yulia mana?" tanya Anton, melihat kursi di samping Anita yang kosong.
"Pulang. Sakit perut."
"Wah, kasihan. Kamu sendiri?"
Anita mengangguk. "Iya."
Anton duduk di kursi sebelah Anita. Jarak mereka hanya satu jengkal, terlalu dekat untuk ukuran Anita. Ia bisa mencium bau parfum Anton, parfum mahal, wangi kayu cendana yang tidak mungkin ia temukan di warung desa.
"Kita jalan jalan, yuk," ajak Anton. Suaranya pelan, lembut, seperti sedang membujuk anak kecil. "Suasana di sini terlalu ramai."
"Ke mana?"
"Ke belakang sekolah. Ada bangku taman di bawah pohon tanjung."
Anita ragu. "Tapi acaranya masih lama."
"Nggak apa apa. Kita hanya sebentar." Anton sudah berdiri, mengulurkan tangannya, telapak tangan terbuka, seperti penyelamat yang menawarkan keselamatan.
Anita tidak mengambil tangan Anton. Ia berdiri sendiri, tanpa bantuan.
"Aku bisa jalan sendiri." Suaranya datar, tidak marah, tapi juga tidak ramah.
Anton tersenyum tipis. "Baiklah."
Di taman belakang sekolah. Di bawah pohon tanjung.
Lampu taman redup, hanya satu lampu jalan yang menyala, itupun setengah terang, seperti mata yang mengantuk. Bunga tanjung berguguran di tanah, putih kekuningan, mengeluarkan aroma wangi yang khas, wangi seperti cinta yang belum terucap.
Mereka duduk di bangku kayu panjang, bangku yang sama yang biasa digunakan siswa untuk bersantai di siang hari. Tapi malam ini, bangku itu terasa berbeda. Lebih sepi. Lebih intim. Lebih berbahaya.
"Udara dingin banget," kata Anita sambil menggigil. Tangannya meremas ujung jaketnya yang tipis, tidak cukup untuk melawan dinginnya malam.
"Pakai jaketku." Anton melepas jaket kulitnya, jaket hitam mahal yang masih baru, dan menyampirkannya ke pundak Anita.
"Tidak usah..."
"Pakailah. Aku tidak mau kamu sakit."
Anita terdiam. Jaket Anton hangat, hangat dan sedikit berat. Wangi cendana semakin terasa, menusuk hidungnya, membuat kepalanya sedikit pusing.
Dia perhatian, pikir Anita. Tapi kenapa aku tidak merasa nyaman? Mengapa perhatiannya terasa seperti beban, seperti utang yang harus dibayar, seperti jerat yang semakin mengencang?
"Mit," Anton memecah keheningan.
"Hm?"
"Gue suka sama lo."
Anita terkejut. Jantungnya berdegup kencang, tapi bukan degup bahagia. Degup takut. Degup cemas. Degup yang mengatakan "lari, lari sekarang".
"Apa?"
"Gue suka sejak pertama kali melihat lo. Waktu hari pertama masuk sekolah. Lo berdiri di barisan depan, seragam rapi, rambut diikat ke belakang, mata lo serius menatap ke depan."
Anton menoleh ke arah Anita. Matanya berbinar, bukan binar penuh harapan, tapi binar penasaran. Seperti ilmuwan yang sedang mengamati spesimen langka.
"Lo cantik, Mit. Pintar. Baik. Lo sempurna."
Anita menunduk. Jari jarinya gemetar. "Anton, jangan begitu."
"Kenapa?"
"Kita berbeda. Keluarga lo berada. Keluarga gue..."
"Gue tidak peduli itu."
"Tetapi gue peduli." Anita mengangkat wajah. Matanya menatap Anton, berusaha tegas. "Gue peduli dengan kata kata orang. Gue peduli dengan omongan miring. Gue peduli dengan status sosial. Lo mungkin tidak peduli, tapi gue hidup di dunia yang berbeda dari lo. Dunia di mana orang miskin harus berjuang seribu kali lebih keras untuk dianggap pantas."
Anton terdiam. Ini pertama kalinya ada cewek yang menolaknya dengan alasan keluarga. Biasanya cewek cewek menolak karena "belum siap" atau "fokus sekolah". Tapi Anita menolak karena perbedaan kelas.
Dia berbeda, pikir Anton. Dia tidak malu dengan kemiskinannya. Dia hanya sadar, sadar bahwa dunia tidak akan sebaik dirinya. Dan kesadarannya itu membuatku semakin tertarik.
"Mit, gue nggak akan memaksa. Tapi gue hanya ingin lo tahu, gue serius."
Anita berdiri. Gerakannya cepat, seperti ingin melarikan diri. "Gue harus pulang."
"Mit, dengarkan dulu..."
"Tidak, Anton. Maaf."
Anita bergegas pergi. Langkahnya cepat, hampir berlari. Jaket Anton masih tersampir di pundaknya. Ia tidak sempat mengembalikannya. Tidak sempat menoleh. Tidak sempat mengucapkan selamat tinggal.
Anton tidak mengejar. Ia hanya duduk di bangku taman, sendirian, memandang kepergian Anita.
Bunga tanjung berguguran di pangkuannya.
Dia lari, pikir Anton. Tapi lari dari aku, atau lari dari perasaannya sendiri?
Ia tidak tahu.
Tapi matanya mulai terasa panas.
Di pintu gerbang sekolah.
Anita berjalan cepat, hampir berlari. Dadanya sesak, seperti ada yang menekan di sana. Matanya panas, tapi ia tidak menangis.
Jangan menangis, pinta hatinya. Jangan menangis karena laki laki yang tidak kau cintai. Jangan pernah.
Di pintu gerbang, di bawah lampu jalan yang redup, ia melihat seseorang.
Seorang laki laki berdiri di bawah lampu jalan. Tangan di saku celana. Rambut sebahu sedikit basah karena embun malam.
Hermanto.
"Man? Lo dari mana?" tanya Anita, masih terengah engah, suaranya hampir pecah.
"Tadi Yulia SMS gue." Hermanto mendekat. Wajahnya tenang, tidak banyak bertanya. "Dia bilang lo perlu ditemani."
Anita tersenyum kecil.
Yulia, pikirnya. Sahabat sejati. Dia tahu aku akan lari. Dia sudah menyiapkan tempat jatuh. Dia sudah mengirimkan malaikat penjagaku.
"Ya sudah, antarkan gue pulang."
Perjalanan pulang. Sepeda dan motor berjalan pelan.
Hermanto tidak bertanya apa apa. Tidak bertanya kenapa Anita sendirian. Tidak bertanya kenapa jaket kulit di pundaknya. Tidak bertanya kenapa matanya merah.
Ia hanya memacu motornya di samping Anita, kecepatan lambat, seperti dulu, saat pertama kali mereka bertemu di jalan Randu Gembyang, saat ia hampir membuat Anita jatuh ke selokan, saat cinta pertama itu mulai tumbuh tanpa ada yang menyadari.
Suasana malam itu dingin. Angin berembus, membawa bau tanah basah dan bunga tanjung yang tertinggal di jaket Anton. Jaket yang masih tersampir di pundak Anita, mengingatkannya pada kejadian yang baru saja berlalu.
"Mit, itu jaket siapa?" tanya Hermanto akhirnya, setelah tiga kilometer perjalanan tanpa suara.
"Anton."
"Kok lo pakai?"
"Dia pinjamkan. Dingin."
Hermanto terdiam. Tangannya di setang motor mengepal. Matanya menatap jalan di depan, tidak berkedip.
Ia ingin bertanya lebih banyak. Ingin bertanya kenapa Anita pergi ke belakang sekolah dengan Anton. Ingin bertanya apa yang terjadi di sana. Ingin bertanya apakah Anita suka pada Anton.
Tapi ia memilih diam.
Laki laki yang tidak bisa mengendalikan rasa cemburunya, pikir Hermanto, adalah laki laki yang belum dewasa. Dan untuk Anita, ia ingin menjadi dewasa.
Di depan rumah Anita. Pukul sepuluh malam.
Lampu petromaks di teras sudah dimatikan. Ibu Karsinem mungkin sudah tidur, mungkin menunggu di balik pintu, mungkin mencemaskan anaknya yang belum pulang.
Hanya suara jangkrik dan kodok sawah yang menemani mereka, seperti orkestra yang tidak pernah lelah.
"Mit, gue nggak akan memaksa," kata Hermanto sambil mematikan mesin motornya. Suaranya pelan, hampir berbisik.
Anita menatap Hermanto. Wajahnya remang remang diterangi lampu desa yang jarang, hanya satu lampu di ujung gang yang menyala dengan cahaya kekuningan.
"Tapi gue hanya ingin lo tahu," Hermanto melanjutkan. Suaranya semakin pelan, semakin dalam, seperti air yang meresap ke tanah. "Gue masih suka sama lo. Seperti dulu. Dan gue akan menunggu."
Anita menunduk.
Air matanya jatuh.
Bukan karena sedih. Bukan karena bahagia.
Tapi karena lelah.
Lelah memilih. Lelah berpura pura tidak tahu. Lelah berpura pura tidak peduli. Lelah menjadi kuat di depan semua orang. Lelah menjadi "Anita yang tidak pernah menangis".
"Man," suara Anita bergetar, pecah seperti gelas yang jatuh ke lantai.
"Hm?"
"Aku... aku juga masih suka sama kamu."
Hermanto terkejut. Matanya membesar. Dadanya berhenti bergerak sejenak. "Mit..."
"Tapi aku belum siap." Anita mengangkat wajah. Matanya merah, pipinya basah. Air mata mengalir tanpa bisa ia bendung lagi. "Aku belum siap untuk hubungan. Aku masih takut. Takut sakit. Takut jadi seperti ibuku."
Hermanto meraih tangan Anita.
Tangannya dingin, dingin seperti es, dingin seperti kematian, dingin seperti hati yang sedang membeku.
Tapi ia menggenggamnya erat.
"Gue tidak akan menyakiti lo, Mit."
"Kata orang, laki laki selalu bilang begitu. Tapi lihat ibuku." Anita tersenyum pahit, senyum yang tidak sampai ke mata, senyum yang hanya gerakan bibir tanpa makna. "Laki laki dari kota itu juga bilang tidak akan pergi. Tapi lihat apa yang terjadi."
Hermanto terdiam.
Tidak ada kata kata yang cukup untuk membantah. Tidak ada janji yang cukup untuk meyakinkan. Karena luka masa lalu tidak bisa disembuhkan dengan kata kata.
"Jadi, Man, tunggu aku, ya? Sampai aku benar benar siap." Suara Anita lirih, seperti orang yang sedang memohon, bukan meminta.
"Gue akan menunggu."
"Jangan janji dulu. Besok mungkin lo lupa."
"Aku tidak akan lupa." Suara Hermanto tegas. Tegas seperti orang yang sudah memutuskan. Tegas seperti orang yang tidak akan mundur.
Anita tersenyum pahit. "Kita lihat saja."
Ia melepas jaket Anton dari pundaknya. Melipatnya rapi, seperti sedang melipat masa lalu yang tidak akan kembali. "Besok tolong kembalikan ini ke Anton."
"Baik."
"Malam, Man."
"Malam, Mit."
Anita masuk ke rumah. Pintu bambu tertutup.
Hermanto tetap berdiri di halaman. Memandang pintu yang tertutup. Memandang bayangan Anita yang bergerak di balik dinding anyaman bambu.
Lampu petromaks di dalam rumah menyala. Lalu padam.
Cinta pertama, pikir Hermanto, tidak selalu berakhir bahagia. Banyak yang berakhir dengan air mata, dengan janji yang tidak ditepati, dengan kenangan yang hanya tinggal kenangan.
Tapi setidaknya, aku sudah berusaha.
Dan aku akan terus berusaha.
Sampai Anita siap.
Sampai waktu menjawab.
Sampai takdir berkata.
Kamar Anita, tengah malam.
Anita tidak bisa tidur.
Ia berguling ke kiri. Ke kanan. Memeluk bantal. Melepas bantal. Memeluk guling. Melepas guling.
Tidak ada yang bisa menenangkan hatinya.
Ia duduk di tepi dipan. Membuka buku catatannya. Buku yang selalu ia simpan di bawah bantal, buku yang sudah lusuh karena sering dibuka dan ditutup, sering basah karena air mata, sering menjadi saksi bisu atas segala perasaan yang tidak bisa ia ucapkan.
Ia membaca tulisannya yang lama.
"Anton membawakan bunga. Hermanto menemani belajar."
"Mereka berbeda. Tapi hatiku sudah lama memilih Hermanto. Hanya saja, aku terlalu takut untuk mengaku."
Hanya saja, aku terlalu takut.
Kata kata yang sudah menjadi mantra dalam hidupnya. Kata kata yang melumpuhkan, yang membuatnya tidak bisa maju, yang membuatnya terus berputar di tempat.
Kali ini, ia menulis dengan tangan yang masih sedikit gemetar:
"Anton menyatakan cinta malam ini. Aku lari. Lari bukan karena aku takut padanya. Tapi karena aku tahu, jawabanku bukan padanya.
Jawabanku sudah lama pada orang lain. Pada laki laki yang tidak pernah berhenti berusaha. Pada laki laki yang tidak pernah memaksa. Pada laki laki yang hanya diam di sampingku, menunggu, tanpa pernah mengeluh.
Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban itu. Tidak sekarang.
Bukan karena aku tidak mencintainya.
Tapi karena aku takut. Takut cinta akan membuatku lupa siapa aku. Takut cinta akan membuatku lupa mimpi mimpi yang sudah aku bangun sejak kecil. Takut cinta akan membuatku menjadi seperti ibuku, yang terjatuh karena satu kesalahan, dan tidak pernah bisa bangkit lagi.
Laki laki datang dan pergi. Mereka bilang 'aku sayang', lalu pergi. Mereka bilang 'aku tidak akan pergi', lalu pergi juga. Mereka bilang 'aku akan menunggu', lalu bosan, lalu pergi.
Tapi aku harus tetap berdiri.
Untuk ibuku. Untuk mimpiku. Untuk diriku sendiri.
Aku harus tetap berdiri meskipun sendirian.
Karena tidak ada yang akan mengejangkan aku jika aku jatuh.
Karena tidak ada yang akan membayar SPP ku jika aku gagal.
Karena tidak ada yang akan menghidupi ibuku jika aku mati.
Maaf, Man. Aku mencintaimu. Tapi aku belum bisa.
Doakan aku. Doakan aku agar suatu hari nanti aku cukup berani.
Untuk jatuh cinta.
Atau untuk tidak sama sekali."
Ia menutup buku. Memeluknya.
Air matanya jatuh lagi, membasahi sampul buku yang sudah lusuh.
Esok, pikir Anita. Esok akan ada lagi yang bertanya, "Mau jadi pacarku?" Laki laki lain dengan wajah lain, dengan janji yang sama, dengan akhir yang mungkin sama.
Tapi jawabanku akan tetap sama.
"Aku belum siap."
Dan mungkin, jawaban itu adalah jawaban paling jujur yang bisa kuberikan.
Untuk sekarang.
Dan untuk selamanya.
Bab 16: Patah Hati dan Pelarian
Seminggu setelah pentas seni.
Kabar di SMA Negeri I Pegandon menyebar lebih cepat dari api di musim kemarau.
Dalam dua hari, seluruh sekolah sudah tahu bahwa Anita menolak Anton. Bukan hanya menolak, tapi lari dari Anton. Meninggalkannya sendirian di bangku taman di bawah pohon tanjung, dengan jaket kulit yang tidak kembali.
Dalam tiga hari, ceritanya berkembang. "Anita lari karena ada cowok lain," kata seseorang. "Cowok dari Semarang," kata yang lain. "Yang rambut sebahu itu."
Dalam lima hari, Hermanto sudah menjadi "perebut pacar". Padahal ia tidak pernah merebut apa pun.
Anton tidak menyebarkan gosip secara langsung. Tapi ia tidak meluruskan ketika teman-temannya mulai berbisik. Diamnya adalah persetujuan. Dan persetujuan diam-diam lebih berbahaya daripada seribu kata-kata kasar.
Rumah Anton, malam setelah pentas seni.
Anton berbaring di tempat tidurnya, memandangi langit-langit kamar yang putih bersih. AC menyala dingin, tapi tubuhnya terasa panas — panas karena malu.
Dia lari, pikir Anton. Dia lebih memilih lari daripada mendengar aku bicara.
Padahal aku sudah memberikan segalanya. Bunga. Jaket. Perhatian. Waktu.
Tapi dia tetap memilih Hermanto.
Ia membalikkan badan. Membenturkan bantal ke dinding.
"Aku yang kalah sama anak pindahan dari Semarang?"
Ia tidak bisa tidur. Matanya terbuka lebar di tengah kegelapan.
Kalah, pikirnya. Aku tidak terbiasa kalah.
Dan di dalam hati yang paling gelap, Anton berbisik pada dirinya sendiri: "Kalau aku tidak bisa memilikinya, setidaknya aku bisa membuatnya menderita."
Dua hari kemudian. Di kantin sekolah.
Anton duduk bersama teman-teman OSIS-nya. Mereka sedang makan siang — nasi kotak dari katering langganan keluarga Anton.
"Ton, beneran Anita nolak lo?" tanya seorang teman.
Anton tersenyum tipis. "Bukan ditolak. Dia hanya... bingung."
"Bingung karena ada Hermanto?"
"Ya, mungkin."
"Wah, kasihan lo, Ton. Udah baik-baik, malah ditinggal."
Anton mengangkat bahu. "Sudahlah. Biarkan. Yang penting aku sudah berusaha."
Tapi setelah teman-temannya pergi, Anton memanggil Rendra — teman yang paling dekat dan paling bisa dipercaya.
"Ren, lo bisa sebarin sesuatu?"
"Apa?"
"Bilang aja, Anita itu sebenarnya suka sama Hermanto. Tapi karena Hermanto tidak serius, Anita jadi... gila hormat."
Rendra mengernyit. "Ton, itu kejam."
"Gue nggak nyuruh lo bohong. Kan emang faktanya Anita suka Hermanto."
"Tapi soal 'gila hormat'?"
"Terserah lo mau bilang apa. Yang penting orang tahu."
Rendra terdiam. Ia ingin menolak. Tapi Anton adalah ketua OSIS. Anton adalah anak orang kaya. Anton adalah teman yang baik — selama kamu tidak melawannya.
"Baiklah," kata Rendra akhirnya.
Dua hari kemudian. Gosip sudah menyebar.
"Lo dengar? Anita itu ternyata suka sama Hermanto."
"Tapi Hermanto nggak serius. Katanya cuma iseng-iseng."
"Wah, kasihan Anita. Gila hormat, ya?"
"Iya. Udah dideketin Anton, malah milih Hermanto yang cuma iseng."
Yulia mendengar gosip itu saat sedang mengantre di kantin. Tangannya mengepal. Piring plastik di tangannya hampir ia lempar.
Anton, pikir Yulia. Pasti Anton yang menyebarkan ini.
Tapi ia tidak punya bukti. Lagipula, melawan Anton berarti melawan ketua OSIS, melawan keluarga kaya, melawan setengah dari populasi sekolah yang mengaguminya.
Gue harus bicara sama Anita.
Di kelas, jam istirahat.
Anita duduk di bangkunya, membaca buku Biologi. Atau setidaknya, berpura-pura membaca. Matanya tidak bergerak. Halaman yang sama sudah ia lihat selama sepuluh menit.
"Nit ," Yulia duduk di sampingnya.
"Hm?"
"Lo dengar gosip?"
"Tentang apa?"
"Tentang lo. Tentang Hermanto. Tentang... gila hormat."
Anita tidak bereaksi. Wajahnya datar — datar seperti papan tulis yang baru dihapus.
"Aku dengar."
"Lo nggak marah?"
"Marah tidak akan mengubah apa pun, Lin."
"Tapi—"
"Lin, tolong. Aku tidak mau bicara tentang ini."
Yulia terdiam. Ia melihat sahabatnya — sahabat yang selalu tersenyum, yang selalu kuat, yang selalu menjadi tempat sandaran.
Kini sahabatnya terlihat seperti orang yang sedang menahan napas di dalam air. Tidak bernapas. Tidak bergerak. Hanya diam, berharap badai berlalu.
"Lo tidak sendirian, Nit ," bisik Yulia. "Gue ada."
"Makasih, Lin."
Anita kembali menatap buku Biologinya. Tapi matanya kosong. Kosong seperti rumah yang ditinggal penghuni.
Di sudut lain sekolah. Novi kembali.
Novi — ya, Novi yang gagal UN karena skorsing, yang harus mengulang di tahun ajaran berikutnya — kini masuk SMA Negeri I Pegandon. Setahun setelah Anita.
Dia duduk di kelas X, tetapi berbeda rombongan. Tapi sekolah tetap kecil. Gosip tetap cepat. Dan dendam tetap panas.
"Lihat tuh, si Anita sekarang jadi bahan gosip," bisik Novi pada teman-teman barunya di kantin.
"Yang juara umum itu?"
"Iya. Katanya gila hormat."
"Wah, padahal dia pintar, sayang sekali," timpal salah satu teman Novi, ikut-ikutan.
Novi tersenyum puas. Akhirnya, pikirnya. Setelah aku difitnah (atau tepatnya, setelah aku ketahuan menjebak), sekarang giliran Anita yang menderita.
Balas dendam itu manis, ya?
Tapi di dalam hatinya yang paling dalam, ada suara kecil bertanya: "Apakah ini yang kamu inginkan?"
Novi membungkam suara itu. Ia tidak mau mendengarkan.
Anita mendengar semuanya.
Ia mendengar bisikan-bisikan saat berjalan di lorong. Ia mendengar tawa-tawa kecil saat melewati kantin. Ia mendengar kata "gila hormat" diucapkan berulang kali, dengan nada yang berbeda-beda — ada yang penasaran, ada yang mengejek, ada yang seolah-olah iba.
Tapi Anita memilih diam.
Ia tidak membalas. Tidak menangis di depan umum. Tidak mengadu pada guru.
Ia hanya diam.
Dan diammu adalah senjata — tetapi juga racun.
Karena ketika ia diam, kata-kata itu masuk ke dalam telinganya, lalu ke otaknya, lalu ke hatinya, lalu ke tempat paling gelap di dalam dirinya, tempat ia menyimpan semua ketakutan dan rasa tidak percaya diri.
"Mungkin mereka benar", pikir Anita di malam hari, saat sendirian di kamar. "Mungkin aku memang gila hormat."
"Mungkin aku memang tidak pantas dicintai."
"Mungkin Hermanto hanya iseng."
"Mungkin..."
Air matanya jatuh. Jatuh satu-satu, lalu deras, lalu ia menangis — menangis seperti anak kecil yang tersesat di pasar malam.
Di luar kamar, Ibu Karsinem mendengar. Tapi ia tidak masuk. Ia hanya berdiri di balik pintu anyaman bambu, menangis dalam diam.
Anakku, pikir Bu Karsinem. Anakku sedang terluka. Dan aku tidak bisa melakukan apa-apa.
Yulia datang setiap malam.
Setelah Anita pulang sekolah, Yulia selalu datang. Membawa gorengan atau sekadar es teh. Tidak selalu bicara. Kadang hanya duduk di samping Anita, di teras rumah, menatap bintang.
"Nit , lo kuat, ya," kata Yulia suatu malam.
"Gue tidak kuat, Lin."
"Tapi lo masih bertahan."
"Bertahan berbeda dengan kuat."
Yulia meraih tangan Anita. Tangannya dingin — dingin seperti air sumur di malam hari.
"Lo tidak sendirian, Nit . Gue ada."
"Tetapi mengapa hidup terasa berat sekali, Lin?"
Yulia menarik napas panjang. "Karena lo orang baik, Nita . Orang baik selalu diuji."
"Darah yang baik sering diuji," kata Yulia lagi, mengutip sesuatu yang ia baca di internet. "Yang tidak baik... sudah langsung masuk neraka."
Anita tersenyum kecil — senyum pertama dalam seminggu. "Lo dan kata-kata bijak dari internet."
"Percaya deh. Gue sudah membaca 300 kutipan motivasi."
"300?"
"Iya. Siapa tahu ada yang cocok untuk lo."
Mereka tertawa kecil. Tawa yang tipis, seperti kertas yang hampir robek. Tapi tawa tetaplah tawa.
Hermanto semakin dekat — tapi Anita semakin menjauh.
Sementara orang-orang bergosip, Hermanto justru tidak peduli. Baginya, Anita adalah Anita — gadis desa yang pemberani, cerdas, dan tulus. Gosip tidak akan mengubah itu.
Setiap pagi, ia meninggalkan catatan kecil di meja Anita. "Jangan lupa sarapan." "Kamu hebat." "Aku di sini."
Setiap jam istirahat, ia berusaha mendekati Anita. Tapi Anita selalu menghindar — pergi ke perpustakaan, ke toilet, ke mana pun yang tidak ada Hermanto.
Setiap pulang sekolah, ia menawarkan diri mengantar. Anita selalu menolak. "Gue sama Yulia aja, Man."
Hermanto bingung.
Kenapa dia menjauh? pikir Hermanto. Bukankah semestinya kita semakin dekat? Bukankah dia bilang dia masih suka padaku?
Tapi kenapa...
Ia memutuskan untuk bertanya langsung.
Di lorong sekolah, setelah jam pulang. Suatu sore.
Anita sedang berjalan sendirian menuju rak sepeda. Yulia sudah pulang lebih awal karena ibunya sakit. Hermanto menyusul dari belakang.
"Nita ."
Anita tidak berhenti.
"Nita !"
Anita berhenti. Tapi tidak menoleh.
"Mengapa lo menjauhi gue lagi?" tanya Hermanto, suaranya sedikit putus asa.
"Gue nggak menjauhi lo, Man."
"Bohong. Lo tidak pernah menatap gue. Tidak pernah mau diajak bicara. Tidak pernah mau gue antar pulang. Itu namanya menjauhi."
Anita diam.
"Nita , gue hanya ingin tahu. Apakah gue yang salah? Apakah ada yang gue perbuat?"
Anita menoleh. Matanya merah — merah seperti orang yang kurang tidur. Atau terlalu banyak menangis.
"Bukan lo yang salah, Man."
"Lalu siapa?"
"Gue."
"Kenapa lo?"
Anita menghela napas panjang. Napas yang terasa seperti melepas beban yang sudah ia pikul berminggu-minggu.
"Karena gue lelah, Man." Suara Anita bergetar. "Gue lelah menjadi bulan-bulanan orang. Gosip. Bisikan. Tatapan sinis. Semuanya."
Ia maju selangkah mendekati Hermanto.
"Gue lelah dengan omongan miring. Katanya gue nggak pantas buat lo. Katanya lo cuma iseng. Katanya gue gila hormat."
Air mata mulai menggenang di matanya.
"Dan gue lelah... lelah dengan cinta yang malah membuat hidup gue sengsara."
Hermanto terdiam. Ia ingin berkata, "Itu bukan cinta. Itu gosip." Tapi kata-kata itu terasa hambar. Ia tahu Anita tidak sebodoh itu.
"Jadi lo menyalahkan gue?" tanya Hermanto pelan.
"Bukan." Anita menggeleng. "Gue menyalahkan diri gue sendiri. Karena tidak bisa lepas dari perasaan ini."
"Perasaan apa?"
"Perasaan... bahwa aku tidak pantas. Bahwa aku tidak cukup baik untukmu. Bahwa suatu hari nanti lo akan sadar, dan pergi, dan aku akan ditinggal sendiri — seperti ibuku."
Hermanto meraih tangan Anita. Tangannya dingin — dingin seperti es.
"Nita , aku tidak akan—"
"Jangan janji, Man." Anita melepaskan tangannya dari genggaman Hermanto. "Janji itu mudah diucapkan. Tapi sulit ditepati. Aku sudah melihatnya. Dari ibuku. Dari Novi. Dari orang-orang yang bilang akan membantu, tapi pergi saat kita butuh."
"Nita —"
"Maaf, Man. Aku harus pulang."
Anita berbalik. Berjalan cepat menuju rak sepeda. Meninggalkan Hermanto yang masih berdiri di lorong, dengan tangan terulur ke udara kosong.
Perjalanan pulang. Sendirian.
Anita mengayuh sepeda pelan-pelan. Sawah di kanan-kiri mulai menguning — padi tua yang siap panen. Burung bangau terbang rendah di atas selokan. Matahari mulai condong ke barat, warnanya oranye keemasan.
Pemandangan yang sama, pikir Anita, setiap hari.
Tapi kenapa hari ini terasa lebih kelam?
Ia berhenti di tepi jalan. Di bawah pohon randu — tempat pertama ia bertemu Hermanto.
Ia menunduk. Air matanya jatuh.
Hermanto, pikirnya, aku mencintaimu. Tapi cintaku tidak cukup untuk melawan dunia.
Dunia terlalu besar. Dan aku terlalu kecil.
Ia menangis di pinggir jalan. Sendirian. Tanpa Hermanto. Tanpa Yulia. Tanpa siapa pun.
Hanya ia dan Tuhan yang mungkin sedang mendengarkan — atau mungkin sedang sibuk dengan doa orang lain.
Kamar Anita, malam itu.
Anita membuka buku catatannya — buku yang selalu ia simpan di bawah bantal.
Ia membaca tulisannya yang lama:
"Anton menyatakan cinta. Aku lari. Hermanto datang menjemput."
"Aku mencintai Hermanto. Tapi aku terlalu takut untuk mengaku."
"Laki-laki datang dan pergi. Tapi aku harus tetap berdiri."
Kali ini, ia menulis:
"Gosip telah menyebar. Kata orang, aku gila hormat. Mungkin mereka benar. Mungkin aku memang gila — gila karena mencintai seseorang yang tidak seharusnya kucintai."
"Atau mungkin... cinta tidak pernah salah. Yang salah adalah dunia yang tidak mengizinkan orang miskin untuk bahagia."
Ia berhenti menulis. Memandangi kalimat terakhir itu.
Apakah itu benar?
Apakah dunia memang tidak mengizinkan orang miskin untuk bahagia?
Atau aku hanya terlalu pengecut untuk mengambil risiko?
Ia tidak tahu.
Yang ia tahu, malam ini ia akan tidur dengan air mata.
Dan besok, ia akan bangun dengan air mata yang sama.
Seperti biasa.
Rumah Hermanto, malam yang sama.
Hermanto tidak bisa tidur.
Ia duduk di teras, ditemani neneknya yang sedang mengupas bawang — seperti biasa. Kucing belang tidur di pangkuan nenek.
"Le, kamu kenapa?" tanya nenek.
"Anita, Nek. Dia menjauh lagi."
"Karena gosip?"
"Iya."
Nenek berhenti mengupas bawang. Ia menatap cucunya lama.
"Kamu tahu, Le, cinta itu tidak selalu tentang memiliki. Kadang cinta adalah tentang memberi ruang. Tentang menunggu. Tentang percaya bahwa waktu akan menjawab."
"Tapi Nek, aku takut kehilangan dia."
"Kamu tidak akan kehilangan sesuatu yang memang untukmu. Jika Anita untukmu, dia akan kembali. Jika tidak... maka itu sudah takdir."
Hermanto terdiam.
Takdir, pikirnya. Kata yang indah untuk melepaskan.
Tapi ia belum siap melepaskan.
"Gue akan menunggu, Nek. Sampai Anita siap."
Nenek tersenyum. "Kamu cucu nenek yang baik. Tapi jangan lupa jaga hatimu juga."
Hermanto mengangguk. Ia menatap langit malam yang bertabur bintang.
Nita , pikirnya, aku di sini. Akan selalu di sini.
Sampai kapan pun.
Bab 17: Ujian Tengah Semester
Februari 2019. Dua bulan setelah gosip "gila hormat" meledak.
Waktu tidak pernah berhenti untuk orang yang sedang terluka.
Bagi Anita, dua bulan terasa seperti dua tahun. Setiap pagi ia bangun dengan perasaan berat — berat seperti ada batu yang diletakkan di dadanya semalam. Setiap langkah menuju sekolah terasa seperti berjalan di atas bara api. Setiap bisikan di lorong terasa seperti tusukan jarum.
Tapi ia bertahan.
Bukan karena kuat. Tapi karena ia tidak punya pilihan lain.
"Kalau aku berhenti," pikir Anita suatu pagi saat menatap langit-langit kamarnya yang anyaman bambu, "mereka menang. Dan aku tidak akan pernah memberi mereka kepuasan itu."
Perubahan Anita.
Ia tidak lagi banyak bicara. Di kelas, ia duduk di bangkunya, membuka buku, dan belajar. Tidak bergosip. Tidak bercanda. Tidak tertawa.
Yulia duduk di belakangnya, diam. Ia merindukan tawa Anita. Merindukan candaan Anita. Merindukan sahabatnya yang dulu bisa membuatnya tertawa sampai perut sakit hanya dengan cerita tetangga yang jatuh dari pohon jambu.
Tapi Anita yang sekarang berbeda. Anita yang sekarang adalah Anita yang bertahan hidup. Bukan Anita yang hidup.
"Nit , lo belajar terus," kata Yulia suatu hari.
"Ya. Ujian tengah semester dua minggu lagi."
"Tapi lo juga butuh istirahat."
"Istirahat membuatku memikirkan hal-hal yang tidak perlu kupikirkan."
Yulia terdiam. Dia menggunakan belajar sebagai pelarian, pikir Yulia. Sama seperti orang lain menggunakan alkohol atau musik atau tidur berlebihan.
Tapi setidaknya pelariannya produktif.
Hermanto menghormati jarak.
Ia tidak lagi mendekati Anita secara langsung. Tidak lagi meninggalkan catatan "Jangan lupa sarapan" atau "Aku di sini". Tidak lagi menawarkan diri mengantar pulang.
Tapi ia tetap ada.
Dengan caranya sendiri.
Setiap pagi, sebelum Anita datang, Hermanto sudah meninggalkan catatan pelajaran di meja Anita. Bukan catatan cinta. Tapi catatan belajar — rangkuman rumus Fisika, poin-poin penting Biologi, soal-soal latihan Matematika yang ia kerjakan semalam.
Tanpa nama. Tanpa salam. Tanpa pesan tersembunyi.
Hanya kertas berisi ilmu pengetahuan.
Anita membaca catatan itu. Ia tahu itu dari Hermanto — ia mengenali tulisan tangan rapi yang pernah menulis "Lo belum sarapan, kan?" di secarik kertas dulu.
Tapi ia tidak pernah berterima kasih. Tidak pernah bertanya. Tidak pernah memberi respons apa pun.
Diam.
Tapi catatan itu selalu ia simpan. Di dalam buku catatannya — buku yang selalu ia simpan di bawah bantal.
Kadang Hermanto membelikan makanan.
Saat Anita terlalu sibuk belajar hingga lupa makan siang — sesuatu yang sering terjadi belakangan ini — sepiring nasi goreng atau semangkuk mie instan akan muncul di mejanya.
Tanpa siapa pun yang melihat. Tanpa siapa pun yang tahu dari mana asalnya.
Tapi Anita tahu.
Aroma nasi goreng itu — dengan campuran kecap dan sedikit cabai — sama persis dengan nasi goreng buatan nenek Hermanto yang pernah ia cicipi dulu, saat mereka masih berbagi bekal di SMP.
Dia masih peduli, pikir Anita, sambil menyuap nasi goreng itu perlahan. Dia tidak pernah berhenti peduli.
Tapi mengapa aku tidak bisa menerimanya dengan lapang dada?
Mengapa ketakutanku selalu lebih besar dari rasa cintaku?
Ia tidak punya jawaban.
Yang ia tahu, nasi goreng itu hangat. Hangat seperti pelukan yang tidak pernah ia terima.
Yulia melihat semua ini dengan perasaan pelik.
Sebagai sahabat, Yulia ingin membantu. Tapi sebagai manusia biasa, ia juga tidak tahu harus mulai dari mana.
"Nit ," kata Yulia suatu sore saat mereka belajar bersama di perpustakaan — kebiasaan lama yang mulai mereka lakukan lagi, meskipun tidak seasik dulu.
"Hm?"
"Gue mau tanya sesuatu."
"Tanya aja."
"Lo sebenarnya masih suka sama Hermanto, kan?"
Anita tidak menjawab. Tangannya berhenti menulis.
"Nit ?"
"Lin, jangan."
"Kenapa? Gue cuma—"
"Jangan, Lin." Suara Anita naik sedikit. "Gue tidak mau membahas ini."
Yulia menghela napas. "Bagaimana kalau lo jujur saja sama perasaan lo?"
"Jujur bagaimana, Lin?" Anita meletakkan pulpennya. Matanya menatap Yulia — matanya lelah, lelah seperti orang yang sudah terlalu lama berperang. "Jujur bahwa gue suka Hermanto? Lalu? Apa yang akan berubah?"
"Setidaknya lo nggak—"
"Ayahnya mungkin akan memandang rendah keluarga gue. Ibunya mungkin akan bilang gue cuma cari uang. Teman-temannya di Semarang akan mentertawakan gue. Dan gosip? Gosip akan semakin menjadi-jadi."
Anita menarik napas panjang.
"Gue tidak kuat, Lin. Gue sudah lelah. Gue sudah tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah. Yang gue tahu, gue hanya ingin... lulus. Kuliah. Sukses. Membuat ibu bangga."
Yulia terdiam.
"Dan cinta?" tanya Yulia pelan.
Anita tersenyum pahit. "Cinta bisa nanti. Atau tidak sama sekali."
Yulia tidak bisa membantah.
Dia terlalu dewasa, pikir Yulia. Dewasa untuk usianya. Dewasa sampai melupakan bahwa ia juga berhak bahagia.
Belajar menjadi tameng.
Anita belajar mati-matian. Bukan hanya karena ia ingin nilai bagus. Tapi karena belajar adalah satu-satunya waktu di mana ia tidak memikirkan Hermanto, tidak memikirkan gosip, tidak memikirkan Anton, tidak memikirkan masa depan yang menakutkan.
Rumus Fisika, pikir Anita, tidak pernah mengkhianatiku. Hukum Newton selalu benar. Gravitasi selalu menarik ke bawah. Energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan.
Tapi manusia... manusia bisa berubah. Bisa berbohong. Bisa menghilang tanpa alasan.
Lebih baik aku percaya pada Fisika daripada pada manusia.
Ia tertawa kecil — tertawa getir yang tidak sampai ke mata.
Ibu Karsinem melihat anaknya berubah.
Di malam hari, lampu petromaks di teras rumah masih menyala pukul sepuluh, padahal biasanya mati pukul delapan. Anita duduk di bangku bambu, buku terbuka di pangkuannya, mata merah karena kurang tidur.
"Nak, sudah larut. Istirahatlah," kata Ibu Karsinem dari pintu.
"Sebentar lagi, Bu. Ini tinggal lima soal."
"Setiap malam kamu bilang 'sebentar lagi'. Tapi setiap malam kamu tidur setelah tengah malam."
Anita tidak menjawab.
Ibu Karsinem mendekat. Duduk di samping Anita.
"Nak, Ibu tahu kamu sedang berjuang. Tapi jangan lupa istirahat. Tubuh juga butuh perhatian."
"Aku tidak bisa berhenti, Bu. Kalau aku berhenti, aku akan mulai memikirkan hal-hal yang tidak ingin aku pikirkan."
"Hal apa?"
Anita diam.
Ibu Karsinem tidak memaksa. Ia hanya menghela napas, lalu kembali ke dapur. Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan segelas susu hangat — susu bubuk murah yang hanya dibeli saat Anita sedang sakit atau sedang ada uang lebih.
"Ini, minum. Biar bisa tidur."
Anita menerima gelas itu. Susu hangat. Wangi. Manis sedikit.
Ibu, pikir Anita, ibu selalu tahu apa yang aku butuhkan, meskipun aku tidak pernah bilang.
"Makasih, Bu."
"Iya. Sekarang tidur."
Anita menghabiskan susunya. Lalu mematikan lampu petromaks. Meninggalkan kegelapan di halaman.
Tapi di kamarnya, ia masih menyalakan senter ponsel untuk membaca buku.
Sampai matanya perih.
Sampai kepalanya pusing.
Sampai ia tidak bisa lagi membedakan huruf a dan z.
Baru ia tidur.
Ujian tengah semester tiba.
Dua minggu berlalu. Waktu terasa seperti angin — cepat, tidak terasa, dan meninggalkan kedinginan.
Hari pertama UTS. Anita masuk ke ruang ujian dengan kepala tegak. Tidak gugup. Tidak takut. Ia sudah belajar. Ia sudah siap.
Matematika.
Bahasa Indonesia.
Bahasa Inggris.
Fisika.
Kimia.
Biologi.
Satu per satu ia taklukkan.
Setiap selesai ujian, ia keluar ruangan dengan perasaan lega. Bukan lega karena ujian selesai, tapi lega karena setidaknya ada sesuatu yang berjalan sesuai rencana.
Yulia menghampirinya setelah ujian terakhir.
"Gimana, Nit ?"
"Aman."
"Yakin?"
"Iya. Gue sudah periksa tiga kali."
Yulia tersenyum. "Lo memang juara."
"Bukan juara. Gue cuma... tidak ingin kalah."
Pengumuman nilai. Seminggu kemudian.
Pak Martono, kepala sekolah, naik ke panggung saat upacara bendera. Selembar kertas di tangannya — hasil UTS seluruh siswa kelas X.
"Peringkat pertama kelas X IPA 1... Anita. Nilai rata-rata 9,8. Sempurna."
Tepuk tangan. Tidak terlalu meriah, karena sebagian besar siswa masih asing dengan nama Anita. Tapi cukup untuk membuat ibu Karsinem — yang diundang khusus — menangis di barisan belakang.
"Peringkat kedua... Hermanto. Nilai rata-rata 9,4."
Tepuk tangan lagi.
"Peringkat ketiga... Yulia. Nilai rata-rata 9,1."
Yulia tersenyum lebar. Ia memeluk Anita dari belakang.
"Kita berhasil, Nit !"
"Iya, Lin. Kita berhasil."
Di belakang mereka, Hermanto tersenyum. Ia ingin mendekati Anita. Tapi ia memilih diam. Dia butuh ruang, pikir Hermanto. Aku akan memberinya ruang.
Jarak mereka hanya tiga meter. Tapi terasa seperti tiga kilometer.
Setelah upacara. Di kantin.
Anita, Yulia, dan Hermanto duduk di meja yang sama — seperti dulu, saat SMP. Tapi suasana berbeda. Ada jarak yang tidak terlihat antara Anita dan Hermanto. Ada kata-kata yang tidak terucap.
"Selamat, ya, Nita ," kata Hermanto sambil tersenyum. Senyum yang hangat, tapi tidak pernah sampai ke mata.
"Terima kasih, Man. Kamu juga."
"Yulia, kamu hebat," Hermanto menoleh ke Yulia. "Nilai 9,1 itu luar biasa."
"Terima kasih. Meskipun kalah 0,7 dari Nita ."
"0,7 itu sedikit," kata Anita.
"Tapi 0,7 itu adalah jarak antara juara dan bukan juara."
Mereka tertawa. Tawa yang tipis, tapi tawa tetaplah tawa.
Di kejauhan. Anton melihat.
Anton duduk di meja pojok, bersama teman-teman OSIS-nya. Matanya tidak beranjak dari Anita — Anita yang tertawa bersama Hermanto. Anita yang terlihat bebas.
Dia bahagia, pikir Anton. Dia bahagia tanpa aku.
Padahal aku sudah memberikan segalanya. Bunga. Jaket. Perhatian. Waktu.
Tapi dia tetap memilih laki-laki dari Semarang yang rambutnya sebahu itu.
Tangannya mengepal di atas meja. Piring nasi kotak di depannya tidak tersentuh.
"Ton, lo nggak makan?" tanya seorang teman.
"Nggak. Nggak lapar."
Anton berdiri. Berjalan keluar kantin tanpa menoleh.
Di pintu, ia berpapasan dengan Novi — yang sedang tersenyum melihat kekesalan Anton.
"Wah, Anton, kok mukanya masam?" bisik Novi.
Anton tidak menjawab. Ia terus berjalan.
Novi tersenyum puas. Ini akan menarik, pikirnya.
Di belakang sekolah, setelah jam pelajaran usai.
Anton berdiri di bawah pohon mangga, sendirian. Ia menendang batu kecil di tanah — sekali, dua kali, tiga kali.
Mengapa aku tidak bisa melupakannya? pikir Anton. Mengapa dia terus muncul di kepalaku?
Padahal dia hanyalah gadis desa miskin.
Gadis desa miskin yang tidak pantas untukku.
Tapi kenapa... kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkannya?
Ia membenturkan kepalanya ke batang pohon — pelan. Cukup untuk merasakan sakit. Cukup untuk sadar bahwa ia masih hidup.
"Kalau aku tidak bisa memilikinya," bisik Anton pada dirinya sendiri, "setidaknya aku bisa membuatnya menderita."
Tapi bagaimana caranya?
Ia sudah mencoba gosip. Itu tidak cukup. Anita masih berdiri tegak. Masih meraih peringkat pertama. Masih tersenyum dengan Hermanto.
Aku butuh sesuatu yang lebih, pikir Anton.
Sesuatu yang akan menghancurkannya.
Selamanya.
Rumah Anita, malam itu.
Anita membuka buku catatannya — buku yang selalu ia simpan di bawah bantal.
Ia membaca tulisannya yang lama:
"Gosip telah menyebar. Kata orang, aku gila hormat."
"Cinta tidak pernah salah. Yang salah adalah dunia yang tidak mengizinkan orang miskin untuk bahagia."
Kali ini, ia menulis:
"Ujian tengah semester selesai. Aku peringkat pertama. Nilai 9,8. Ibuku menangis di barisan belakang.
Hermanto nomor dua. Yulia nomor tiga.
Kami duduk di kantin bersama. Tertawa bersama. Seperti dulu.
Tapi tidak seperti dulu.
Ada jarak di antara kami. Jarak yang aku ciptakan sendiri.
Anton melihat kami dari kejauhan. Matanya... matanya penuh amarah.
Aku takut, Lin. Aku takut dengan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
Tapi aku lebih takut dengan perasaanku sendiri."
Ia menutup buku. Memeluknya.
Esok, pikir Anita. Esok aku akan bertahan lagi.
Seperti hari ini.
Seperti kemarin.
Seperti setiap hari.
Sampai kapan?
Ia tidak tahu.
BAB 18: PENGKHIANATAN DARI SAHABAT
Siapa yang mengenal Karmila?
Di kelas X IPA 1, ada 32 siswa. 15 laki laki, 17 perempuan. Dari 17 perempuan itu, Karmila adalah yang paling tidak mencolok. Ia seperti bayangan di siang hari, ada tapi tidak pernah dilihat, hadir tapi tidak pernah dianggap.
Ia duduk di barisan paling belakang, dekat jendela, tempat di mana sinar matahari sore masuk dan menerangi meja kayunya yang sudah usang. Di meja itu, selalu ada pensil warna dan kertas gambar. Bukan kertas gambar mahal dari toko buku, hanya kertas bekas catatan yang sisi kosongnya ia manfaatkan, kadang bekas bungkus makanan, kadang sobekan koran.
Ia menggambar apa saja. Bunga mawar yang kelopaknya ia warnai merah pucat, tidak berani terlalu terang. Pohon beringin di halaman sekolah dengan akar akar yang menjuntai ke tanah. Langit senja dengan warna oranye dan ungu yang tercampur aduk. Kadang wajah, wajah yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun, wajah yang ia simpan di antara lembaran buku catatannya, wajah yang hanya ia lihat sendiri di malam hari saat orang orang sudah tidur.
Tidak banyak yang tahu tentang Karmila. Ia tidak pernah bicara di kelas kecuali ditunjuk guru, dan itupun suaranya lirih seperti orang yang takut didengar. Ia tidak pernah makan siang di kantin, lebih memilih makan di kelas sendirian dengan nasi bungkus yang dibawa dari rumah. Ia tidak pernah ikut acara sekolah kecuali diwajibkan, dan saat diwajibkan pun ia berdiri di pojok, dekat pintu, siap pergi kapan saja.
Dia pendiam. Dia sendiri. Dia tidak penting. Atau begitulah semua orang mengira.
Tapi Karmila melihat.
Tapi Karmila melihat.
Dari balik buku catatannya, dari balik jendela kelas, dari balik kerumunan di kantin, dari balik semua tempat di mana ia bersembunyi, Karmila melihat semuanya.
Ia melihat Hermanto, laki laki berambut sebahu dengan senyum yang teduh, saat pertama kali masuk ke kelas X IPA 1. Hermanto tersenyum ke arah semua orang, senyum yang sopan, senyum yang tidak membedakan satu sama lain.
Tapi matanya, matanya langsung mencari seseorang.
Anita, pikir Karmila saat itu. Matanya langsung mencari Anita. Seperti magnet, seperti anak panah yang sudah tahu targetnya, seperti burung yang sudah tahu arah pulang.
Sejak hari itu, Karmila tidak bisa berhenti memperhatikan Hermanto.
Ia memperhatikan bagaimana Hermanto mencatat pelajaran, rapi, sistematis, dengan pulpen biru kesayangannya yang tintanya selalu penuh. Tidak seperti catatan Karmila yang berantakan, penuh coretan, penuh gambar di pinggirnya.
Ia memperhatikan bagaimana Hermanto menaikkan rambutnya yang tergerai ke belakang telinga, gerakan yang sama, berulang ulang, setiap kali rambutnya jatuh ke depan. Gerakan yang sederhana, tapi bagi Karmila, itu adalah tarian. Gerakan yang membuat Karmila ingin menjadi jari jari Hermanto, ingin menjadi rambut yang ia sentuh, ingin menjadi udara yang ia hirup.
Ia memperhatikan bagaimana Hermanto memperlakukan Anita. Dengan penuh perhatian. Dengan kelembutan yang tidak pernah Karmila terima dari siapa pun. Menjelaskan soal Fisika dengan sabar, tidak marah meskipun Anita bertanya berulang kali. Mendengarkan curhat Anita tanpa memotong, tanpa terburu buru, tanpa menunjukkan rasa bosan. Tersenyum hanya untuk Anita, senyum yang tidak pernah ia tunjukkan pada orang lain.
Mengapa bukan aku? pikir Karmila setiap malam, saat menggambar di kamarnya yang sempit, di bawah lampu meja yang redup, dengan pensil warna yang sudah pendek pendek. Mengapa selalu Anita? Apa yang Anita punya yang tidak aku punya? Kecantikan? Kepintaran? Kemiskinan yang menyedihkan itu?
Karmila menggambar wajah Hermanto. Hidungnya yang mancung. Matanya yang teduh. Bibirnya yang tipis. Rambutnya yang sebahu.
Lalu ia menghapusnya. Lalu ia menggambar lagi. Lalu ia meremas kertas itu dan membuangnya ke lantai, di antara kertas kertas lain yang sudah ia remas sebelumnya, di antara sampah sampah perasaan yang tidak pernah ia akui pada siapa pun.
Lusa, pikir Karmila, aku akan menggambar lagi. Dan lagi. Dan lagi. Sampai aku bisa melupakannya. Sampai aku tidak lagi merasakan sakit ini. Sampai aku bisa melihatnya tanpa dadaku terasa ditusuk duri.
Tapi ia tidak pernah bisa melupakan. Dan kertas kertas itu terus bertumpuk di lantai kamarnya, saksi bisu atas cinta yang tidak pernah terucap, atas perasaan yang tidak pernah dianggap.
Suatu hari, Anton mendekati Karmila.
Di perpustakaan sekolah, saat jam istirahat. Perpustakaan sedang sepi, hanya ada beberapa siswa yang tertidur di meja. Karmila sedang menggambar, seperti biasa. Sebuah sketsa pohon beringin di halaman sekolah, dengan seorang laki laki duduk di bawahnya.
Laki laki itu tidak memiliki wajah. Karmila belum berani menggambar wajahnya. Menggambar tubuh tanpa wajah adalah caranya berdoa, cara untuk mengakui bahwa ia mencintai seseorang tanpa harus mengaku pada dirinya sendiri.
Anton duduk di sampingnya tanpa izin. Tidak mengetuk meja. Tidak bertanya. Tidak memberi kesempatan pada Karmila untuk menolak.
"Kamu suka sama Hermanto, kan?"
Karmila terkejut. Pensil di tangannya hampir jatuh. Tangannya gemetar. "A apa?"
"Aku tahu," kata Anton sambil tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata, senyum yang dingin, senyum yang sudah sering ia berikan pada lawan bicaranya. "Matamu tidak bohong. Setiap Hermanto lewat, kamu selalu melihat dia. Bahkan saat dia sedang berjalan di lorong, kamu sudah menoleh sebelum dia sampai di depan kelas. Seperti radar, seperti alarm, seperti mata yang tidak pernah tidur."
Karmila terdiam.
Dia memperhatikan aku, pikirnya. Padahal aku tidak pernah dianggap ada oleh siapa pun. Padahal aku hanya bayangan. Padahal aku tidak penting.
"Kenapa? Mau apa?" tanya Karmila, berusaha terdengar tenang meskipun jantungnya berdebar kencang, berusaha menyembunyikan rasa takutnya di balik suara datar.
Anton mendekat. Wajahnya hanya beberapa sentimeter dari telinga Karmila. Suaranya berbisik, seperti ular yang membujuk mangsa, seperti pedagang yang menjual barang curian, seperti setan yang merayu dengan imbalan surga.
"Aku ingin membantu kamu mendapatkan Hermanto. Sementara aku akan mendapatkan Anita. Setuju?"
Karmila ragu.
Matanya menatap Anton. Laki laki tampan dengan wajah yang sering menghiasi majalah dinding sekolah. Laki laki populer yang semua orang kenali suaranya di lorong. Laki laki kaya dengan jam tangan bermerk dan sepatu yang selalu mengilap. Laki laki yang terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya, yang tidak pernah mendengar kata "tidak", yang tidak pernah merasakan apa itu ditolak.
Laki laki yang baru saja ditolak Anita.
Laki laki yang matanya penuh amarah yang tidak terucap. Bukan amarah biasa, tapi amarah yang dingin, amarah yang sudah membeku, amarah yang menunggu waktu untuk meledak.
Dia berbahaya, pikir Karmila. Aku tahu dia berbahaya.
Tapi dia menawarkan apa yang paling aku inginkan. Hermanto. Laki laki yang selama ini hanya kupandang dari kejauhan. Laki laki yang tidak pernah tahu aku ada. Laki laki yang akan melewati koridor tanpa pernah menoleh ke arahku, seolah aku tidak pernah ada, seolah aku adalah udara yang tidak perlu dilihat.
Karmila menggigit bibirnya. Bibir bawahnya hampir berdarah.
"Setuju," katanya akhirnya. Suaranya pelan, hampir tidak terdengar. Tapi cukup jelas untuk mengubah segalanya. Untuk memulai sesuatu yang tidak bisa ia hentikan.
Persekongkolan gelap dimulai.
Mereka membuat rencana di ruang OSIS, setelah jam pelajaran usai. Pintu tertutup rapat. Jendela ditutup dengan tirai tebal, tidak ada cahaya yang masuk. Hanya suara mereka berdua yang terdengar, bergema di dinding kosong.
Anton berdiri di dekat papan tulis. Kapur putih di tangannya. Ia menggambar diagram hubungan. Di tengah papan, ia menulis nama Anita dan Hermanto, dikelilingi lingkaran. Panah panah yang saling terhubung, seperti jaring laba laba. Lalu coretan merah di antaranya, seperti darah, seperti peringatan.
"Kita harus memisahkan mereka," kata Anton. Suaranya dingin, seperti dokter yang sedang menjelaskan diagnosis kanker. "Bukan dengan kekerasan. Tapi dengan membuat mereka ragu satu sama lain. Ragu adalah racun yang paling ampuh. Lebih ampuh dari kebencian. Karena kebencian terlihat, sementara keraguan tumbuh diam diam, tidak terdeteksi, sampai tiba tiba semuanya hancur."
"Caranya?" tanya Karmila. Tangannya dingin. Dadanya sesak.
"Kamu akan mendekati Hermanto. Dekat. Sangat dekat. Buat Anita cemburu. Buat Hermanto bingung. Buat mereka berpikir bahwa hubungan mereka tidak sekuat yang mereka kira." Anton menggambar panah dari nama Karmila ke nama Hermanto. Garis tebal. Penuh percaya diri.
"Tapi Hermanto tidak pernah memperhatikan aku," kata Karmila. Suaranya getir, seperti air kopi yang sudah dingin. "Dia hanya melihat Anita. Selalu Anita. Tidak pernah aku. Tidak pernah."
"Karena itu kamu harus membuat dia melihatmu." Anton menatap Karmila, menatap lurus ke matanya. Tidak ada simpati di sana. Hanya perhitungan. Hanya logika. "Pakai seragam yang lebih rapi. Sisir rambutmu. Tersenyumlah. Jangan jadi bayangan. Bayangan tidak pernah dilihat. Bayangan hanya ikut ke mana pun tubuh pergi. Jadi nyata. Atau setidaknya, terlihat nyata."
Karmila terdiam.
Jangan jadi bayangan, pikirnya. Selama ini aku memang bayangan. Bayangan yang tidak pernah dilihat, tidak pernah didengar, tidak pernah dianggap. Tapi sekarang, sekarang aku ingin menjadi nyata. Aku ingin dilihat. Aku ingin didengar. Aku ingin dianggap. Meskipun itu berarti menjadi alat. Meskipun itu berarti melukai orang lain. Meskipun itu berarti menghancurkan Anita.
"Bagaimana dengan kamu?" tanya Karmila. "Kamu bilang ingin mendapatkan Anita."
Anton tersenyum. Senyum yang berbeda dari sebelumnya. Senyum yang penuh kemenangan, padahal perang belum dimulai. "Aku akan membuat Anita cemburu. Dengan mendekati sahabatnya."
"Yulia?"
"Iya." Anton menulis nama Yulia di papan tulis, lalu menggambar panah dari namanya ke nama Yulia. "Yulia."
"Tapi Yulia pintar." Karmila menggeleng. Matanya tidak percaya. "Dia tidak akan mudah tertipu. Dia bukan gadis bodoh yang bisa dibeli dengan roti dan es teh. Dia cerdas, dia waspada, dia tidak akan jatuh ke dalam perangkap sederhana."
"Tidak perlu dia tertipu." Anton mengangkat bahu, santai, seperti tidak ada yang perlu dikhawatirkan. "Cukup Anita yang melihat. Cukup Anita yang berpikir bahwa Yulia dan aku sesuatu. Cukup Anita yang ragu. Anita yang meragukan sahabatnya sendiri. Ragu adalah racun, Karmila. Ingat itu."
Karmila mengangguk pelan. Pelan seperti orang yang sedang berjalan menuju jurang. Pelan seperti orang yang tahu ini salah tapi tidak bisa berhenti.
Rencana keji, pikirnya. Aku tahu ini rencana keji. Tapi untuk Hermanto, untuk laki laki yang tidak pernah tahu aku ada, untuk laki laki yang akan tetap tidak tahu aku ada sampai aku melakukan sesuatu, aku rela.
Anton mulai mendekati Yulia.
Keanehan pertama dimulai seminggu setelah persekongkolan itu. Seperti racun yang mulai merambat di pembuluh darah, seperti api yang mulai menjilati kayu kering.
Yulia, yang biasanya tidak pernah mendapat perhatian dari kakak kelas, tiba tiba sering "kebetulan" bertemu Anton di lorong. Di kantin. Di perpustakaan. Di halaman sekolah. Kebetulan yang terlalu sering untuk disebut kebetulan.
"Halo, Yulia," sapa Anton suatu pagi di lorong, dengan senyum manis yang membuat Yulia merinding. Senyum yang sudah ia latih di depan cermin, senyum yang sudah ia berikan pada banyak cewek sebelumnya. "Kamu sarapan belum?"
"Sudah," jawab Yulia singkat. Matanya tidak berhenti bergerak, terus mengawasi, terus mencari jebakan.
"Ini ada roti. Ambil saja." Anton mengulurkan sebuah bungkusan plastik berisi roti cokelat. Masih hangat.
"Tidak usah."
"Ambil. Aku beli kebanyakan."
Yulia menatap Anton curiga. Matanya menyipit, seperti detektif yang sedang menginterogasi tersangka. "Lo mau apa sama gue?"
Anton tersenyum, senyum yang paling manis yang bisa ia berikan, senyum yang ia yakini tidak ada cewek yang bisa menolak. "Hanya ingin berteman."
"Gue tidak percaya." Suara Yulia tegas. Tidak ada ruang untuk tawar menawar.
"Terserah." Anton pergi, meninggalkan roti di tangan Yulia.
Yulia ingin membuangnya. Ingin melemparkannya ke tempat sampah. Ingin menunjukkan bahwa ia tidak bisa dibeli hanya dengan roti hangat.
Tapi roti itu masih hangat. Dan perutnya keroncongan. Kerincingan karena belum sarapan, karena ibunya sedang sakit sehingga tidak ada yang menyiapkan makanan pagi ini.
Sial, pikir Yulia. Gue lapar.
Ia memakan roti itu sambil bergumam, "Ini tidak berarti apa apa. Ini hanya roti. Tidak ada hubungannya dengan Anton. Tidak ada hubungannya dengan apa pun."
Tapi di dalam hatinya, alarm sudah berbunyi.
Tapi Anton tidak menyerah. Ia seperti lintah yang sudah menemukan inangnya, tidak akan lepas sebelum kenyang.
Hari berikutnya, ia membawakan Yulia segelas es teh manis, favorit Yulia, yang tidak mungkin Anton tahu kecuali ia sudah mengamati dengan saksama, seperti pemburu yang mengamati jejak hewan buruannya.
"Kamu suka es teh manis, kan?" tanya Anton, meletakkan gelas plastik di meja Yulia, tepat di samping buku catatannya.
"Siapa yang bilang?" Yulia tidak menyentuh gelas itu. Tangannya tetap di atas meja, menjauh.
"Aku lihat kamu selalu pesan itu di kantin. Setiap hari. Tidak pernah berganti. Bahkan saat hujan." Anton tersenyum. Senyum orang yang sudah melakukan pekerjaan rumahnya.
Yulia terdiam.
Dia mengamatiku, pikirnya. Ini tidak normal. Ini sudah melewati batas kewajaran. Ini sudah masuk ke wilayah yang mengerikan.
"Anton, gue bilang jangan..."
"Minum dulu. Nanti dingin."
Anton pergi lagi. Meninggalkan Yulia yang semakin curiga. Meninggalkan es teh yang semakin mencair. Meninggalkan pertanyaan pertanyaan yang tidak bisa ia jawab sendirian.
"Mit," kata Yulia kepada Anita saat jam istirahat, setelah memastikan tidak ada yang mendengar.
"Hm?"
"Anton mulai mendekati gue."
Anita terkejut. Wajahnya berubah. "Apa?"
"Iya. Dia bawain roti, es teh, kadang cokelat. Alisannya 'kebanyakan beli' atau 'gratis dari tetangga' padahal jelas jelas beli. Aku lihat struknya sekali, dia beli di toko, bukan dari tetangga."
"Lo pikir dia suka sama lo?"
"Gue nggak tahu." Yulia menghela napas. Matanya lelah. "Tapi gue nggak percaya sama dia. Orang seperti Anton tidak akan tertarik sama orang seperti gue. Aku bukan tipe cewek yang dia suka. Aku tidak cantik, tidak kaya, tidak populer. Tidak ada alasan baginya untuk mendekatiku kecuali ada maksud tertentu."
"Kita lihat saja," kata Anita. Tapi matanya menerawang, memikirkan sesuatu yang tidak ia katakan pada Yulia. Matanya berkata lain. Matanya berkata, "Aku mulai ragu."
Karmila mulai mendekati Hermanto.
Dengan cara yang berbeda. Lebih lembut. Lebih tidak mencolok. Seperti air yang meresap ke dalam tanah, tidak terlihat tapi pasti.
Pertama, ia mulai duduk di bangku yang lebih dekat dengan Hermanto. Bukan di sampingnya, tidak berani, tapi dua bangku di belakang, cukup dekat untuk melihat rambut sebahu Hermanto yang bergerak setiap kali ia menulis, cukup jauh untuk tidak terlihat sengaja, untuk pura pura tidak sengaja.
Kedua, ia mulai "kebetulan" meminjam catatan Hermanto. "Man, catatan Fisika lo bisa gue pinjam? Saya kemarin nggak masuk. Saya sakit, demam, tidak bisa bangun dari tempat tidur."
Hermanto, yang baik hati, yang tidak pernah mencurigai niat buruk, tentu meminjamkannya. "Ini. Balikin besok."
"Makasih."
Karmila memegang catatan itu erat erat. Tangannya gemetar. Ini kali pertama ia memegang sesuatu yang pernah disentuh Hermanto. Buku yang pernah dipegang tangannya. Kertas yang pernah dilihat matanya. Tinta yang pernah keluar dari pulpennya. Ia ingin mencium buku itu, ingin menempelkannya di pipi, ingin menyimpannya di bawah bantal.
Tapi ia menahan diri.
Ketiga, ia mulai mengajak Hermanto diskusi. Tentang pelajaran. Tentang tugas. Tentang hal hal akademik yang tidak mencurigakan, yang tidak akan membuat Hermanto bertanya tanya.
"Man, lo paham soal rumus ini nggak? Saya bingung. Sudah baca berkali kali, tapi tidak masuk." Karmila menunjukkan buku catatannya, halaman yang sebenarnya sudah ia pahami sejak semalam, tapi ia berpura pura tidak paham.
"Mana? Sini gue jelasin."
Hermanto menjelaskan dengan sabar, sesabar ia menjelaskan pada Anita. Dengan suara yang lembut, dengan kata kata yang mudah dipahami, dengan kesabaran yang tidak pernah ia tunjukkan pada orang lain.
Tapi Karmila tidak peduli dengan penjelasannya. Ia tidak mendengar satu kata pun yang keluar dari mulut Hermanto. Yang penting Hermanto melihatnya. Yang penting Hermanto berbicara padanya. Yang penting Hermanto tidak mengabaikannya. Yang penting untuk sesaat, matanya hanya untuk Karmila.
Ini awal, pikir Karmila. Perlahan. Pasti. Tidak perlu terburu buru. Tidak perlu memaksa. Biarkan semuanya mengalir.
Dia akan melihatku. Dia akan menyadari bahwa aku juga ada. Aku juga manusia. Aku juga perempuan. Aku juga bisa dicintai.
Dan mungkin, mungkin dia akan melupakan Anita.
Yulia semakin curiga.
Dia bukan gadis bodoh. Bukan tipe cewek yang mudah dibohongi, yang akan tersipu malu hanya karena diberi roti hangat. Ia tahu Anton tidak akan mendekatinya tanpa alasan. Terlalu banyak kebetulan yang tidak masuk akal, terlalu banyak "kebetulan" yang sebenarnya sudah diatur.
"Anton, gue tahu lo punya maksud," kata Yulia suatu hari di lorong, saat Anton kembali membawakan makanan, kali ini sebungkus nasi goreng dari kantin.
"Maksud apa?" Anton berpura pura tidak tahu. Wajahnya polos, seperti anak kecil yang baru bangun tidur.
"Gue nggak tahu. Tapi gue yakin bukan karena lo suka sama gue."
Anton tertawa kecil. Tertawa orang yang tertangkap basah tapi masih berusaha menyelamatkan diri. "Kenapa? Lo pikir lo nggak pantas disukai?"
"Bukan. Tapi gue tahu diri. Orang kayak lo tidak akan tertarik sama orang kayak gue." Yulia menatap Anton tajam. "Kita berbeda kelas. Bukan kelas di sekolah, tapi kelas sosial. Lo di atas. Gue di bawah. Dan orang seperti lo tidak akan pernah turun ke bawah hanya untuk mengambil sesuatu."
"Kamu merendahkan diri sendiri, Yulia." Anton masih tersenyum, tapi senyumnya mulai kaku.
"Gue realistis." Yulia tidak bergeming.
Anton menghela napas. Ia mendekat. Tangannya meraih bahu Yulia. Gerakan yang terlalu akrab untuk sekadar "berteman". Terlalu cepat. Terlalu berani.
"Yulia, aku serius..."
"Pergi, Anton." Yulia mundur. Menepis tangan Anton. "Gue nggak percaya sama lo. Dan gue tidak akan pernah percaya."
Anton tersenyum tipis. "Baiklah. Tapi aku tidak akan menyerah."
Anton pergi. Langkahnya tegap, tidak terburu buru. Seperti orang yang tidak takut kalah, seperti orang yang yakin pada akhirnya akan menang.
Kepala batu, pikir Yulia setelah Anton pergi, sambil menyeka bahunya yang baru saja disentuh Anton. Dia pasti punya rencana. Orang seperti dia tidak melakukan sesuatu tanpa rencana. Dan rencananya pasti licik.
Tapi rencana apa? Ia tidak tahu. Tapi ia bertekad untuk mencari tahu. Untuk melindungi Anita. Untuk melindungi sahabatnya.
Puncaknya suatu siang di kantin.
Kantin sedang ramai. Antrean panjang di konter makanan. Suara sendok dan piring bercampur dengan suara tawa dan obrolan. Udara panas berbaur dengan bau minyak goreng dan kecap.
Anton dan Yulia "kebetulan" bertemu di antrean makanan. Yulia sedang memegang nampan berisi nasi dan sayur lodeh. Anton di belakangnya, tanpa nampan, tanpa makanan.
"Yulia, lo mau pesan apa?" tanya Anton.
"Nasi. Sama sayur." Yulia tidak menoleh.
"Aku traktir."
"Tidak usah."
"Biar."
Anton menyuruh penjual kantin untuk memasukkan pesanan Yulia ke dalam tagihannya. Yulia protes, tapi penjual sudah melayani, karena penjual tahu siapa Anton, karena Anton adalah anak orang kaya yang sering memberi tip, karena penjual tidak mau kehilangan pelanggan.
"Anton..."
Sebelum Yulia selesai bicara, Anton meraih pinggang Yulia dan memeluknya. Dari depan. Erat. Lama. Pelukan yang tidak bisa diartikan sebagai "kebetulan". Pelukan yang sengaja. Pelukan yang dirancang agar terlihat oleh banyak orang.
"Apa apaan, Anton?!" Yulia mendorong, tapi Anton tidak melepaskan. Tangannya seperti jerat, seperti belenggu, seperti rantai yang tidak bisa diputus.
"Tersenyumlah," bisik Anton di telinga Yulia. "Kamu sedang difoto."
Yulia menoleh ke sekeliling. Beberapa siswa sudah mengangkat ponsel. Ada yang tertawa. Ada yang berbisik. Ada yang sudah mulai menyebarkan berita melalui pesan berantai di grup kelas.
Sial, pikir Yulia. Dia menjebakku. Ini sudah direncanakan. Dari awal. Sejak pertama kali dia memberiku roti, sejak pertama kali dia menawarkan es teh, sejak pertama kali dia mengaku "hanya ingin berteman".
Ia melepaskan diri dengan kasar. Wajahnya merah, merah karena marah, merah karena malu, merah karena darahnya mendidih.
"Lo gila, Anton?!"
Anton tersenyum. Senyum orang yang puas. Senyum orang yang rencananya berhasil. Senyum orang yang tidak akan dihukum. "Maaf. Aku terlalu senang."
Dia pergi. Meninggalkan Yulia yang gemetar karena amarah dan malu. Meninggalkan Yulia yang dikerumuni siswa yang ingin tahu. Meninggalkan Yulia dengan nampan nasi dan sayur lodeh yang mulai dingin.
Anita melihat semuanya.
Dari meja makan di sudut kantin, Anita melihat Anton memeluk Yulia. Melihat Yulia mendorong. Melihat siswa siswa mengangkat ponsel. Melihat Anton tersenyum.
Ada apa? pikir Anita. Kenapa Anton memeluk Yulia? Apakah mereka pacaran? Tapi Yulia tidak pernah cerita. Apakah Yulia menyembunyikan sesuatu? Kenapa Yulia tidak pernah bilang? Kenapa?
Pikirannya berkecamuk. Ia ingin segera bertanya pada Yulia. Ingin berlari ke arahnya. Ingin memeluknya. Ingin bertanya apakah semuanya baik baik saja.
Tapi saat Yulia kembali ke meja, wajahnya merah padam dan matanya berkaca kaca, dan Anita tidak jadi bertanya.
"Lin, lo..."
"Jangan tanya, Mit. Nanti." Yulia duduk. Menunduk. Tangannya gemetar.
Anita tidak bertanya. Ia hanya meletakkan tangannya di atas tangan Yulia, memberitahu bahwa ia ada di sini, bahwa apapun yang terjadi, ia tidak akan pergi.
Tapi di dalam hati Anita, keraguan mulai tumbuh.
Rumput liar. Yang tidak bisa dicabut begitu saja.
Di sudut kantin yang lain.
Karmila melihat semuanya.
Ia melihat Anton memeluk Yulia. Ia melihat Anita yang bingung. Ia melihat Hermanto, yang kebetulan sedang mengantre di konter sebaliknya, juga melihat semuanya.
Rencana berjalan, pikir Karmila. Sekarang giliranku. Rencana Anton berhasil. Yulia sudah terperangkap. Anita sudah mulai ragu.
Ia berdiri. Berjalan ke arah Hermanto. Langkahnya mantap. Tidak seperti biasanya, tidak seperti Karmila yang selalu membungkuk, selalu menunduk, selalu menghindar.
"Man, lo lagi ngantre? Saya ikut, ya."
"Eh, Karmila. Iya, silakan." Hermanto tersenyum, senyum biasa, senyum yang tidak berarti.
Karmila berdiri di samping Hermanto. Jarak mereka hanya setengah meter, cukup dekat untuk membuat siapa pun, termasuk Anita, mengira ada sesuatu, cukup jauh untuk pura pura tidak sengaja.
Dari kejauhan, Anita melihat.
Anita melihat Karmila berdiri di samping Hermanto. Tersenyum. Terlalu dekat. Terlalu ramah untuk seseorang yang biasanya pendiam.
Hati Anita berdesir. Bukan cemburu, ia tidak mau mengaku cemburu. Tapi tidak nyaman. Tidak nyaman seperti ada serangga yang merayap di dadanya.
"Lin, siapa itu?" tanya Anita pelan.
Yulia menoleh. Melihat Karmila. Melihat Hermanto. Melihat senyum kecil di wajah Hermanto. Melihat semuanya.
"Karmila," jawab Yulia, suaranya masih bergetar karena marah. "Teman sekelas kita."
"Dia dekat sama Hermanto?"
Yulia mengamati. "Sepertinya." Suaranya tidak yakin.
Anita terdiam.
Racun kecil mulai meracuni pikirannya. Lagi.
Rumah Anita, malam itu.
Anita duduk di meja belajarnya. Lampu petromaks menyala redup, membuat bayangan bayangan di dinding. Di luar, suara jangkrik dan kodok sawah bersahutan.
Ia membuka buku catatannya. Buku yang selalu ia simpan di bawah bantal. Buku yang sudah basah oleh air mata berkali kali. Buku yang sudah menjadi saksi atas segala keraguan dan ketakutannya.
Ia membaca tulisannya yang lama.
"Anton mulai mendekati Yulia. Aku tidak percaya dia. Tapi kenapa Yulia tidak cerita?"
"Anton memeluk Yulia di depan banyak orang. Wajah Yulia merah. Aku tidak tahu harus percaya siapa."
Kali ini, ia menulis dengan tangan yang sedikit gemetar:
"Hari ini, aku melihat Karmila, teman sekelas yang pendiam, yang tidak pernah bicara, yang tidak pernah ada, tiba tiba berdiri di samping Hermanto.
Dia tersenyum padanya. Terlalu dekat. Terlalu ramah untuk seseorang yang biasanya tidak pernah menatap siapa pun.
Hermanto tersenyum balik. Tidak ada yang istimewa, mungkin. Tapi kenapa rasanya seperti ada sesuatu? Kenapa dadaku terasa sesak? Kenapa tanganku dingin?
Apakah aku cemburu? Atau hanya paranoid? Atau mungkin semua ini sudah diatur, seperti skenario yang ditulis oleh orang yang tidak ingin kita bahagia?
Aku tidak tahu lagi. Pikiranku kacau. Aku tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang khayalan. Mana yang benar dan mana yang rekayasa.
Yang aku tahu, racun mulai masuk lagi ke dalam pikiranku. Racun yang merusak, yang membuatku meragukan orang orang yang seharusnya aku percaya.
Dan kali ini, racun itu datang dari orang orang terdekatku.
Dari Yulia.
Dari Karmila.
Dari Hermanto.
Dari semuanya.
Aku tidak tahu harus percaya pada siapa.
Aku tidak tahu harus lari ke mana.
Aku hanya diam di sini, di kamar sempit ini, menuliskan kegilaanku di atas kertas.
Selamat malam.
Atau selamat pagi.
Aku tidak tahu lagi."
Ia menutup buku. Memeluknya.
Esok, pikir Anita. Esok mungkin semuanya akan lebih jelas. Atau lebih gelap.
Bab 19: Drama di Bangku SMA
Dua hari setelah Anton memeluk Yulia.
Gosip di SMA Negeri I Pegandon menyebar lebih cepat dari virus flu di musim hujan.
Dalam dua hari, seluruh sekolah sudah tahu. Dalam tiga hari, ceritanya sudah berkembang menjadi tiga versi berbeda.
Versi pertama: Yulia dan Anton pacaran. Yulia merebut Anton dari Anita — padahal Anita tidak pernah mau. Padahal Anton tidak pernah menjadi milik Anita. Tapi siapa yang peduli fakta?
Versi kedua: Anton memeluk Yulia karena Yulia sedang menangis. Yulia menangis karena Anita merebut Hermanto dari Yulia — padahal tidak ada hubungan antara Anita, Hermanto, dan Yulia selain persahabatan. Tapi siapa yang peduli logika?
Versi ketiga: Anton dan Yulia sudah lama diam-diam pacaran. Yulia sengaja dekat dengan Anita untuk memuluskan rencananya. Anita adalah korban. Hermanto adalah korban. Semua orang adalah korban — kecuali Anton dan Yulia yang jahat.
Tidak ada yang benar. Tapi tidak ada yang peduli kebenaran. Yang mereka pedulikan hanyalah drama.
Di kelas, jam istirahat.
Anita duduk di bangkunya, membolak-balik buku Kimia tanpa benar-benar membaca. Yulia di sampingnya, diam. Hermanto dua bangku di sebelah kanan, juga diam.
Suasana terasa berat — berat seperti langit sebelum hujan.
"Lin," Anita memecah keheningan.
"Hm?"
"Lo serius sama Anton?"
Yulia tertawa getir — tawa yang tidak sampai ke mata. "Tidak, Nita . Dia sengaja melakukan itu agar lo cemburu. Tapi gue tidak akan terkena pengaruhnya."
"Tetapi mengapa dia memeluk lo?"
Yulia menghela napas panjang. "Karena dia sakit hati lo menolak dia. Dan dia berpikir dengan membuat lo cemburu — dengan mendekati sahabat lo — lo akan kembali lagi sama dia."
"Tetapi kan tidak."
"Iya. Makanya dia bodoh."
Anita terdiam. Yulia memang sahabat yang baik. Tapi apakah Yulia cerita semuanya? Apakah tidak ada yang disembunyikan?
Jangan curiga pada Yulia, pinta Anita pada dirinya sendiri. Dia sahabatmu. Dia membelamu saat Novi menjebakmu. Dia merekam percakapan Novi. Dia datang setiap malam saat kau menangis.
Tapi...
Mengapa hati kecilku terus berkata lain?
Apakah racun sudah terlalu dalam meracuni pikiranku?
"Lin," Anita kembali bicara.
"Hm?"
"Gue percaya sama lo."
Yulia tersenyum — senyum pertama seharian. "Makasih, Nit ."
Tapi di dalam hati, Yulia tahu: Anita tidak sepenuhnya percaya. Matanya masih ragu. Suaranya masih sedikit bergetar.
Racun sudah masuk, pikir Yulia. Dan aku tidak tahu bagaimana mengeluarkannya.
Di lorong sekolah, Anton berpapasan dengan Yulia.
"Yulia, lo—"
"Anton, gue muak sama lo." Yulia memotong. Wajahnya merah — merah karena marah. "Lo pikir gue bodoh? Lo pikir gue akan diam saja setelah lo permalukan gue di depan umum?"
Anton tersenyum tipis. "Aku hanya—"
"Lo hanya apa? Cari perhatian? Bikin Anita cemburu? Pakai gue sebagai alat? Lo pikir gue boneka?"
"Yulia, dengarkan—"
"Gue nggak mau dengar." Yulia maju selangkah. Matanya menatap Anton tajam — tajam seperti pisau. "Gue peringatkan lo, Anton. Kalau lo mendekati gue lagi — apalagi menyentuh gue tanpa izin — gue akan lapor ke polisi. Bukan ke guru. Polisi. Lo paham?"
Anton terdiam. Ini pertama kalinya ada cewek yang berani bicara seperti itu padanya.
"Lo pikir gue takut sama lo? Karena lo anak orang kaya? Karena lo ketua OSIS?" Yulia melanjutkan. "Gue tidak takut, Anton. Gue hanya muak."
Yulia berbalik dan pergi. Meninggalkan Anton yang masih berdiri di lorong dengan wajah sedikit pucat.
Dia berani, pikir Anton. Tidak seperti Anita yang diam dan pasrah. Yulia berani.
Dan keberaniannya... membuatku sedikit takut.
Sementara itu, di kantin.
Karmila duduk di meja sebelah Hermanto. Bukan kebetulan — ia sudah merencanakannya. Datang lebih awal, memilih meja yang strategis, menunggu sampai Hermanto datang.
"Man, lo makan siang?" tanya Karmila dengan nada santai.
"Iya. Lo?"
"Belum. Saya lagi cari teman."
"Ya sudah, makan bareng saja."
Karmila tersenyum. Langkah pertama berhasil, pikirnya. Dia mengajakku makan bareng.
Mereka memesan nasi goreng dan es teh. Karmila membayar untuk Hermanto — gestur kecil yang ia harap akan diingat.
"Makasih, Karmila. Besok gue balik."
"Nggak usah. Ini rezeki."
"Lo baik."
Kata "baik" dari Hermanto, pikir Karmila, terasa seperti lagu terindah yang pernah kudengar.
Karmila mulai sering meminjam catatan Hermanto.
Alasannya selalu akademik: "Man, catatan Biologi lo bisa gue pinjam?" atau "Man, gue ketinggalan pelajaran kemarin, pinjem catatan lo dong."
Hermanto, yang memang baik hati, selalu meminjamkannya. "Ini. Balikin besok."
"Iya, makasih."
Tapi Karmila tidak pernah mengembalikan tepat waktu. Bukan karena ia lupa. Tapi karena ia ingin alasan untuk meminjam lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Setiap kali ia memegang buku catatan Hermanto, ia membayangkan bahwa buku itu adalah tangan Hermanto. Bahwa kertas-kertas itu adalah kulit Hermanto. Bahwa tinta biru itu adalah darah Hermanto.
Obsesi, pikir Karmila suatu malam di kamarnya, sambil memeluk buku catatan Hermanto yang belum ia kembalikan. Ini namanya obsesi.
Tapi aku tidak peduli.
Yang penting Hermanto melihatku.
Yang penting Hermanto tidak mengabaikanku.
Karmila juga sering mengajak Hermanto diskusi.
Bukan diskusi biasa. Diskusi yang sengaja dibuat panjang. Yang sengaja dibuat agar mereka berdua berlama-lama di perpustakaan. Yang sengaja dibuat agar orang lain — terutama Anita — melihat.
"Man, lo paham soal sel Volta? Saya bingung banget," tanya Karmila, dengan nada polos yang sudah dilatih berkali-kali di depan cermin.
"Sel Volta?" Hermanto mengernyit. "Itu materi kelas XII."
"Iya? Tapi kata Bu Rahma, kita harus belajar lebih dulu."
"Bu Rahma mana bilang?"
Karmila tersenyum malu. "Mungkin saya salah dengar."
Hermanto tertawa kecil. "Ya sudah. Sini gue jelasin."
Dia menjelaskan dengan sabar — sesabar ia menjelaskan pada Anita. Karmila berpura-pura mendengarkan. Tapi yang sebenarnya ia lakukan hanyalah menatap wajah Hermanto. Menatap bibirnya yang bergerak. Menatap matanya yang teduh.
Laki-laki ini, pikir Karmila, akan menjadi milikku.
Atau tidak menjadi milik siapa pun.
Suatu hari, Karmila memberanikan diri bertanya.
"Man, lo serius nggak sama Anita?"
Mereka sedang duduk di bangku taman, di bawah pohon tanjung — tempat yang sama di mana dulu Anton menyatakan cinta pada Anita. Karmila tahu itu. Ia sengaja memilih tempat itu.
Hermanto menatap Karmila. "Kenapa lo tanya?"
"Penasaran aja."
"Serius."
"Tapi Anita tidak pernah membalas perasaan lo."
"Biarkan. Yang penting gue sudah berusaha."
Karmila diam. Ada rasa sakit di dadanya. Rasa sakit yang familiar — rasa sakit yang ia rasakan setiap kali Hermanto berbicara tentang Anita dengan mata berbinar seperti itu.
Dia mencintainya, pikir Karmila. Dia benar-benar mencintainya.
Dan aku...
Aku hanya bayangan.
Yang tidak akan pernah bisa menjadi nyata.
"Karmila," Hermanto memanggil.
"Hm?"
"Lo kenapa? Mukamu tiba-tiba pucat."
"Nggak apa-apa. Mungkin kurang makan."
"Ya sudah, nanti kita makan siang bareng lagi."
Makan siang bareng, pikir Karmila. Itu sudah lebih dari yang pernah aku dapatkan.
"Man," Karmila bicara lagi.
"Hm?"
"Kalau suatu hari nanti Anita... menolak lo... atau pergi... apa lo akan... melihat perempuan lain?"
Hermanto terdiam. Ia menatap Karmila lama — cukup lama untuk membuat jantung Karmila berdegup kencang.
"Gue nggak tahu, Karmila. Gue masih berusaha untuk Anita."
Dia tidak menjawab, pikir Karmila. Tapi dia juga tidak menolak.
Masih ada harapan.
Dari kejauhan, Anita melihat.
Anita sedang berjalan menuju perpustakaan saat ia melihat Karmila dan Hermanto duduk di bangku taman di bawah pohon tanjung. Mereka terlalu jauh untuk didengar, tapi cukup dekat untuk dilihat.
Karmila tersenyum. Hermanto juga tersenyum.
Mereka bicara, pikir Anita. Bercanda. Tertawa.
Seperti dulu aku dan Hermanto.
Ia berhenti di pintu perpustakaan. Tangannya gemetar.
Apakah ini yang disebut cemburu?
Atau hanya rasa takut kehilangan?
Atau... mungkin...
Mungkin Hermanto sudah mulai melupakanku.
Mungkin Karmila lebih baik dariku.
Mungkin...
"Nit ? Lo ngapain di depan pintu?" suara Yulia dari belakang.
Anita terkejut. "Eh, nggak. Mau masuk."
"Tapi pintunya nggak lo buka."
"Oh iya."
Anita membuka pintu. Masuk ke perpustakaan tanpa menoleh ke arah bangku taman lagi. Tapi di hatinya, gambar Hermanto dan Karmila terus berputar.
Seperti film rusak.
Yang tidak bisa berhenti.
Yulia melihat apa yang terjadi.
Ia melihat Anita yang terpaku di pintu perpustakaan. Ia melihat arah pandang Anita — ke bangku taman, ke arah Hermanto dan Karmila.
Dia cemburu, pikir Yulia. Dia cemburu melihat Hermanto dengan Karmila.
Padahal Hermanto tidak melakukan apa-apa. Padahal Karmila hanya teman.
Tapi cemburu tidak butuh alasan. Cemburu hanya butuh pemicu.
"Nit ," Yulia memanggil pelan, setelah mereka duduk di sudut perpustakaan.
"Hm?"
"Lo cemburu, ya, sama Karmila?"
Anita tidak menjawab.
"Nit , Hermanto tidak akan—"
"Gue tahu, Lin." Anita memotong. "Gue tahu Hermanto tidak akan. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi gue takut, Lin. Takut kehilangan. Takut bahwa suatu hari nanti Hermanto lelah menunggu. Lalu dia memilih perempuan lain. Perempuan yang lebih pantas. Perempuan yang tidak miskin. Perempuan yang tidak punya ibu buruh cuci."
Yulia meraih tangan Anita. Tangannya dingin — dingin seperti es.
"Nit , lo pantas. Lo pantas dicintai. Siapa pun yang tidak melihat itu, dialah yang bermasalah."
Anita tersenyum pahit. "Kamu baik, Lin. Tapi dunia tidak sebaik kamu."
Di rumah, malam itu.
Anita membuka buku catatannya — buku yang selalu ia simpan di bawah bantal.
Ia membaca tulisannya yang lama:
"Anton memeluk Yulia di depan umum. Aku bingung. Aku cemburu. Aku tidak tahu harus percaya siapa."
"Aku melihat Karmila dan Hermanto di bangku taman. Mereka tersenyum. Tertawa. Seperti dulu aku dan Hermanto."
Kali ini, ia menulis:
"Karmila bertanya pada Hermanto, 'Kalau Anita pergi, apa lo akan melihat perempuan lain?'
Hermanto menjawab, 'Gue masih berusaha untuk Anita.'
Dia tidak bilang 'tidak akan pernah'.
Dia hanya bilang 'masih berusaha'.
Apakah itu berarti suatu hari nanti dia akan berhenti berusaha?
Apakah itu berarti aku harus bersiap kehilangan?
Aku takut, Lin.
Aku takut kehilangan Hermanto.
Tapi aku juga takut memilikinya.
Karena memiliki berarti berisiko.
Dan risiko adalah sesuatu yang tidak bisa aku tanggung."
Ia menutup buku. Memeluknya.
Esok, pikir Anita. Esok Karmila akan mendekati Hermanto lagi. Anton mungkin akan melakukan hal bodoh lagi. Dan aku... aku akan diam.
Seperti biasa.
Karena diam adalah satu-satunya senjata yang aku miliki.
Meskipun diam juga racun yang membunuhku perlahan.
Bab 20: Persaingan Mendapatkan Anita
Semester kedua. Januari 2019.
Tahun baru telah datang. Angka 2018 berganti menjadi 2019, seolah-olah pergantian angka bisa mengganti nasib seseorang. Tapi bagi Anita, tahun baru terasa sama seperti tahun lama — berat, melelahkan, dan penuh dengan orang-orang yang ingin mengambil sesuatu darinya.
Persaingan antara Anton dan Hermanto untuk mendapatkan hatinya semakin memanas.
Anton, setelah insiden pelukan dengan Yulia, tidak kapok. Ia tetap berusaha mendekati Anita — meskipun sekarang dengan cara yang lebih halus, lebih tidak langsung. Kadang ia meninggalkan kotak makan siang di meja Anita. Kadang ia "kebetulan" ada di tempat Anita belajar di perpustakaan. Kadang ia menyuruh temannya untuk memuji Anita di depan umum.
Dia tidak menyerah, pikir Yulia suatu hari, saat melihat Anton menyuruh Rendra memberikan cokelat pada Anita. Padahal sudah jelas-jelas ditolak. Apa dia tidak punya harga diri?
Tapi Anton punya harga diri. Harga dirinya justru yang terluka. Dan orang yang terluka harga dirinya sering melakukan hal-hal yang tidak masuk akal — hanya untuk membuktikan bahwa mereka tidak kalah.
Hermanto, di sisi lain, tetap dengan caranya yang tenang. Ia tidak memberikan hadiah mahal. Tidak menyuruh teman-temannya. Tidak membuat skenario dramatis.
Ia hanya ada.
Setiap pagi, catatan pelajaran di meja Anita. Setiap jam istirahat, ia memastikan Anita makan. Setiap pulang sekolah, ia memastikan Anita sampai rumah dengan selamat — meskipun dari kejauhan, meskipun tanpa bicara.
Dia setia, pikir Yulia. Tapi apakah kesetiaan cukup untuk memenangkan hati Anita?
Anita tidak butuh kesetiaan. Anita butuh keberanian.
Dan keberanian adalah hal yang paling sulit ditemukan pada remaja seusia mereka.
Tapi ada yang baru. Seorang cowok dari kelas X IPS.
Lukman.
Yulia pertama kali melihatnya saat upacara bendera. Lukman berdiri di barisan kelas X IPS — dua baris di sebelah kanan barisan IPA. Posturnya sedang, tidak setinggi Anton, tidak seramping Hermanto. Tapi ada sesuatu di matanya — mata yang terlihat jujur. Mata yang tidak menyembunyikan niat buruk.
"Nit , lo lihat cowok itu?" bisik Yulia suatu hari.
"Cowok yang mana?"
"Yang di barisan IPS. Rambut cepak. Kulit sawo matang. Tersenyum sendiri."
Anita menoleh sekilas. "Tidak kenal."
"Namanya Lukman. Katanya anak kepala desa Tegorejo."
"Oh."
"Lo tidak penasaran?"
"Penasaran sama apa?"
"Penasaran kenapa dia sering melirik ke sini."
Anita tidak menjawab. Tapi diam-diam, ia juga melihat. Lukman memang sering melirik ke arah barisan IPA. Dan setiap kali mata mereka bertemu, Lukman tersenyum — tersenyum seperti orang yang tidak punya beban.
Dia berbeda, pikir Anita. Dia tidak terlihat seperti sedang merencanakan sesuatu.
Suatu hari di perpustakaan.
Anita sedang duduk sendirian di sudut ruangan, membaca buku Biologi — atau setidaknya berpura-pura membaca. Yulia sedang tidak masuk karena sakit. Hermanto sedang ada urusan OSIS. Karmila tidak terlihat — mungkin sedang di kantin.
Perpustakaan sepi. Hanya suara kipas angin yang berputar pelan dan sesekali suara buku dirapikan oleh pustakawan.
"Nita , gue suka sama lo."
Anita terkejut. Bukunya hampir jatuh.
Ia menoleh. Lukman berdiri di samping mejanya, tersenyum — tersenyum seperti orang yang baru saja mengatakan "hari ini cerah" bukan "gue suka sama lo".
"Lukman?!" Anita masih terkejut. "Kita baru kenal."
Lukman duduk di kursi di seberang Anita, tanpa izin. "Memang harus lama dulu?"
"Ya, setidaknya berkenalan dulu, kali."
"Oke." Lukman mengulurkan tangannya. "Perkenalkan, gue Lukman. Kelas X IPS. Hobi main bola dan baca komik. Tinggal di Dusun Pangempon — sebelah utara kantor kecamatan. Ayah gue kepala desa, ibu gue ibu rumah tangga. Gue punya dua adik, satu laki-laki satu perempuan. Gue suka makan mie ayam, tidak suka petai, dan..."
"Lukman, cukup." Anita tertawa — tertawa kecil, tapi tetaplah tawa. "Gue belum tanya segitu banyaknya."
"Lo bilang kenalan dulu. Ini gue kenalin diri."
"Tapi gue belum kenalin diri gue."
"Gue sudah tahu siapa lo. Anita. Juara umum se-Kabupaten. Anak dari Dusun Kersan. Suka bawa buku tebal kemana-mana."
Anita mengernyit. "Kok lo tahu?"
"Suka sama lo sejak pertama kali melihat lo membawa tumpukan buku sampai hampir jatuh di lorong. Waktu itu gue mau nolong, tapi lo sudah berdiri sendiri."
Anita mengingat kejadian itu. Dua minggu lalu, ia membawa tumpukan buku dari perpustakaan ke kelas. Kaki kirinya terantuk karpet, buku-bukunya hampir berserakan. Tapi ia berhasil menyeimbangkan diri.
Dia melihat itu, pikir Anita. Dan dia ingat.
"Jadi, lo suka sama gue hanya karena gue hampir jatuh?" tanya Anita, setengah bergurau.
"Bukan. Gue suka sama lo karena lo tidak malu saat hampir jatuh. Lo tidak teriak. Tidak marah. Lo hanya diam, menata ulang buku-buku lo, lalu berjalan lagi."
"Seperti tidak peduli?"
"Seperti kuat."
Anita terdiam.
Kuat, pikirnya. Dia bilang aku kuat.
Padahal aku tidak merasa kuat.
Tapi dia melihat sesuatu yang bahkan aku tidak lihat dari diriku sendiri.
"Lukman, gue lagi tidak memikirkan pacaran," kata Anita akhirnya.
Lukman mengangguk. "Ya sudah, nanti saja kalau lo sudah siap."
Dia berdiri. Tersenyum. Lalu pergi — tanpa menunggu jawaban, tanpa memaksa, tanpa membuat Anita merasa bersalah.
Dia berbeda, pikir Anita, setelah Lukman pergi. Dia tidak seperti Anton yang memaksa. Tidak seperti Hermanto yang...
Ia berhenti.
Tidak seperti Hermanto yang bagaimana?
Yang terlalu sabar? Yang terlalu setia? Yang terlalu...
Ada?
Sejak saat itu, Lukman dengan santai bergabung.
Ia tidak pernah memaksa. Tidak pernah cemburu. Tidak pernah membuat skenario dramatis. Ia hanya ada — dengan caranya sendiri yang santai dan tanpa beban.
Kadang ia duduk di samping Anita di kantin, membawa dua gelas es teh — satu untuknya, satu untuk Anita. "Gue beliin es teh. Manis ya? Lo pesennya manis kan?"
Kadang ia membantu Anita membawakan buku-buku berat ke perpustakaan. "Sini gue bawain. Lo ambil yang ringan aja."
Kadang ia hanya duduk di dekat Anita, diam, menemani — tanpa bicara, tanpa tuntutan.
"Lo nggak capek, Man?" tanya Yulia suatu hari, setelah melihat Lukman setia menemani Anita berjam-jam di perpustakaan.
"Capek kenapa?"
"Ngedeketin Nita . Dia kan keras kepala."
Lukman tertawa. "Justru itu yang bikin menarik."
"Lo nggak cemburu sama Hermanto? Atau Anton?"
Lukman mengangkat bahu. "Cemburu itu buang-buang energi. Gue lebih suka fokus sama orang yang gue suka, daripada mikirin orang yang suka sama orang yang gue suka."
"Lo filosofis banget, Man."
"Bukan filosofis. Males ribet aja."
Yulia tertawa. Dia cocok untuk Anita, pikir Yulia. Tapi sayangnya, Anita sudah jatuh cinta pada orang lain.
Yulia melihat semua ini dengan perasaan campur aduk.
"Nit , lo kayak magnet," kata Yulia suatu sore saat mereka pulang bersama. "Semua cowok pada mau."
"Bukan magnet, Lin. Mereka hanya kasihan sama gue."
"Kasihan? Lo juara kelas, cantik, baik. Mana ada yang kasihan."
Anita tersenyum tipis. "Kamu baik, Lin."
"Gue nggak baik. Gue jujur."
Mereka tertawa kecil. Tapi di mata Anita, ada kesedihan yang mendalam — kesedihan yang tidak bisa diusir oleh tawa.
Di antara semua laki-laki yang mengaku suka padaku, pikir Anita, hanya satu yang benar-benar membuat hatiku bergetar.
Hanya satu yang kuinginkan.
Dan dia tidak bisa kumiliki.
Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena aku terlalu takut untuk mengambil risiko.
Dan ketakutan itu...
...telah menjadi temanku yang paling setia.
Hermanto melihat Lukman.
Ia tidak buta. Ia melihat bagaimana Lukman mendekati Anita dengan cara yang berbeda — lebih ringan, lebih santai, tanpa beban. Dan ia melihat bagaimana Anita mulai tersenyum lebih sering. Bukan senyum pahit seperti biasanya, tapi senyum yang ringan.
Dia membuat Anita bahagia, pikir Hermanto. Dengan mudah. Tanpa usaha.
Sedangkan aku... aku berusaha mati-matian, tapi Anita tetap terlihat tertekan setiap kali bersamaku.
Apakah itu berarti aku bukan orang yang tepat untuknya?
Apakah Lukman lebih pantas?
Ia tidak tahu. Yang ia tahu, hatinya sakit. Sakit melihat orang lain membuat Anita tersenyum — padahal ia sudah berusaha selama berbulan-bulan untuk hal yang sama.
"Man, lo kenapa diem aja?" tanya Karmila, yang tiba-tiba muncul di sampingnya.
"Nggak apa-apa."
"Lo lihat Lukman sama Anita?"
"Iya."
"Lo cemburu?"
Hermanto tidak menjawab.
Karmila mendekat. "Man, gue bisa menghibur lo kalau lo mau."
Hermanto menatap Karmila. Matanya sayu — sayu seperti orang yang sudah lelah.
"Karmila, lo baik. Tapi gue tidak butuh dihibur. Gue butuh... waktu sendiri."
Hermanto pergi. Meninggalkan Karmila yang berdiri di lorong dengan tangan terkepal.
Dia memilih sendiri, pikir Karmila. Dia memilih kesendirian daripada aku.
Mengapa?
Apakah aku seburuk itu?
Anton juga melihat Lukman.
Ia melihat Lukman yang dengan mudahnya duduk di samping Anita, tanpa diundang, tanpa ditolak. Ia melihat Anita yang tersenyum — senyum yang tidak pernah ia dapatkan.
Dia dapat apa yang tidak bisa aku dapatkan, pikir Anton. Dengan mudah. Tanpa usaha.
Apa yang dia punya yang tidak aku punya?
Harta? Aku lebih kaya.
Tampang? Aku lebih ganteng.
Popularitas? Aku lebih dikenal.
Lalu kenapa Anita lebih memilih dia daripada aku?
Anton tidak tahu. Tapi rasa iri mulai tumbuh di hatinya — iri pada Lukman, iri pada Hermanto, iri pada semua laki-laki yang bisa membuat Anita tersenyum.
Suatu hari, pikir Anton. Suatu hari Anita akan menyesal.
Tapi bukan sekarang.
Rumah Anita, malam itu.
Anita membuka buku catatannya — buku yang selalu ia simpan di bawah bantal.
Ia membaca tulisannya yang lama:
"Karmila bertanya pada Hermanto, 'Kalau Anita pergi, apa lo akan melihat perempuan lain?'
Hermanto menjawab, 'Gue masih berusaha untuk Anita.'
Aku takut kehilangan Hermanto. Tapi aku juga takut memilikinya."
Kali ini, ia menulis:
"Ada laki-laki baru. Namanya Lukman. Anak kepala desa. Tapi tidak sombong. Dia suka sama aku. Dia bilang aku 'kuat' — padahal aku tidak merasa kuat.
Dia membuatku tertawa. Dia membuatku merasa... ringan. Tidak ada beban. Tidak ada tuntutan.
Tapi hatiku... hatiku tetap pada Hermanto.
Meskipun Hermanto membuatku berat. Meskipun Hermanto membuatku takut. Meskipun Hermanto tidak pernah bisa kumiliki dengan tenang.
Kenapa cinta tidak pernah memilih yang paling mudah?
Kenapa cinta selalu memilih yang paling menyakitkan?
Aku tidak tahu.
Yang aku tahu, di antara semua laki-laki yang mengaku suka padaku, hanya satu yang benar-benar membuat jantungku berdegup kencang.
Dan dia adalah satu-satunya yang tidak bisa kumiliki.
Setidaknya, untuk sekarang."
Ia menutup buku. Memeluknya.
Esok, pikir Anita. Esok Lukman akan datang lagi. Hermanto akan datang lagi. Anton mungkin akan melakukan hal bodoh lagi.
Dan aku...
Aku akan bertahan.
Seperti biasa.
Bab 21: Konflik Sosial
Di balik semua drama percintaan, ada perang lain yang lebih kejam.
Perang kelas.
Di SMA Negeri I Pegandon, seperti di sebagian besar sekolah di Indonesia, ada hierarki tidak tertulis. Di puncak: anak-anak pegawai negeri, anak-anak pengusaha, anak-anak pejabat desa. Di tengah: anak-anak petani kaya, anak-anak pedagang sukses. Di dasar: anak-anak buruh, anak-anak petani miskin, anak-anak yang orang tuanya bekerja sebagai pembantu atau buruh cuci.
Anita berada di dasar.
Bukan karena ia bodoh. Bukan karena ia malas. Tapi karena ibunya adalah buruh cuci — pekerjaan yang dianggap rendah oleh mereka yang hidupnya lebih berkecukupan.
Dan di dasar, setiap kata adalah senjata.
Kantorin, jam istirahat. Suatu siang yang panas.
Matahari di bulan Februari terik menyengat. Kipas angin di kantin berputar lambat — mungkin karena listrik, mungkin karena sudah tua. Siswa-siswa berdesakan membeli es teh dan es jeruk.
Anita sedang duduk sendirian di meja pojok — Yulia sedang mengantre makanan, Hermanto sedang ada urusan di perpustakaan bersama Karmila (lagi). Sepiring nasi goreng dingin di depannya, tidak tersentuh.
Di meja sebelah, sekelompok siswa dari kelas X IPS — teman-teman Anton — sedang makan siang sambil bercanda. Suara mereka keras — sengaja keras.
"Lihat tuh, si Anita, anak miskin, tetapi banyak yang mengejar. Pakai pelet, mungkin," bisik seorang cewek berambut panjang dengan seragam yang tampak baru — seragam mahal, bukan seragam pasar seperti milik Anita.
"Dasar perempuan murahan," timpal cewek di sampingnya, sambil tertawa.
Mereka tidak berbisik pelan. Mereka sengaja mengeraskan suara — cukup keras untuk didengar Anita, cukup pelan untuk bisa pura-pura tidak bersalah jika ditegur.
Anita mendengar.
Setiap kata. Setiap nada. Setiap tawa.
Tangannya yang memegang sendok plastik berhenti bergerak. Dadanya sesak. Ada yang panas di belakang matanya — tapi ia tahan. Jangan menangis, pinta hatinya. Jangan kasih mereka kepuasan.
Ia menggigit bibir bawahnya. Kembali menyuap nasi goreng yang sudah dingin. Rasa nasi itu hambar — atau mungkin lidahnya yang sudah mati rasa karena mendengar hinaan setiap hari.
Sudah biasa, pikir Anita. Sudah biasa mendengar kata "miskin", "anak cucian", "perempuan murahan".
Tapi mengapa setiap kali mendengarnya, rasanya seperti ditusuk jarum?
Mengapa luka lama tidak pernah benar-benar sembuh?
Yulia mendengar.
Yulia baru saja kembali dari konter makanan dengan dua gelas es teh dan sepiring pisang goreng. Ia tersenyum kecil — senang karena bisa mentraktir Anita hari ini. Uang sakunya memang pas-pasan, tapi sesekali ia suka memanjakan sahabatnya.
Tapi senyumnya langsung memudar saat mendengar bisikan dari meja sebelah.
"Lihat tuh, si Anita, anak miskin, tetapi banyak yang mengejar. Pakai pelet, mungkin."
Yulia berhenti berjalan. Tangannya yang memegang nampan mulai gemetar.
"Dasar perempuan murahan."
Nampan di tangan Yulia hampir jatuh.
Ia menoleh ke arah suara itu. Matanya menatap tajam ke arah cewek berambut panjang — yang sedang tersenyum puas, tidak menyadari bahwa Yulia mendengar semuanya.
Yulia meletakkan nampan di meja Anita. Lalu berjalan ke meja sebelah.
"Lo bilang apa?!" bentak Yulia. Suaranya keras — cukup keras untuk membuat seluruh kantin mendadak hening. Beberapa siswa menoleh. Penjual kantin berhenti mengaduk es.
Cewek berambut panjang itu terkejut. "K-kenapa?"
"Lo bilang Anita anak miskin. Lo bilang Anita pake pelet. Lo bilang Anita perempuan murahan."
"Gue cuma—"
"Lo cuma apa? Lo pikir lo lebih baik dari dia? Lo pikir keluarga lo lebih kaya? Lo pikir lo lebih suci?"
Cewek itu terdiam. Wajahnya merah — merah karena malu atau marah, tidak jelas.
"Lin, sudah," Anita menarik tangan Yulia dari belakang. Suaranya pelan — hampir berbisik. "Nggak usah dilayani."
"Tidak, Nit !" Yulia melepaskan tangan Anita. "Mereka tidak boleh bicara seperti itu tentang lo."
"Biarkan saja, Lin. Orang seperti itu tidak punya otak."
Yulia menghela napas kasar — masih marah, tapi berusaha menahan diri.
Tapi cewek berambut panjang itu tersinggung.
"Lo berani bilang gue tidak punya otak? Lo pikir siapa lo, Anita? Anak cucian?"
Kata anak cucian keluar dari mulut cewek itu seperti pisau yang dilemparkan ke dada Anita.
Anita terdiam. Wajahnya pucat.
Anak cucian, pikir Anita. Itu sebutan halus untuk "anak pembantu".
Itu sebutan untuk orang seperti aku.
Yang tidak pantas sekolah di sini.
Yang tidak pantas hidup.
Yulia tidak bisa menahan diri lagi. Ia mengangkat tangan kanannya — siap meninju wajah cewek berambut panjang itu.
"Yulia! Jangan!"
Tangan Yulia ditahan oleh seseorang. Lukman.
Lukman berdiri di antara Yulia dan cewek berambut panjang itu. Wajahnya tenang — tenang seperti air danau di pagi hari.
"Sudah, sudah. Tidak usah ribut," kata Lukman dengan suara rendah tapi tegas.
Cewek berambut panjang itu mendengus. "Lukman, lo juga tidak usah sok pahlawan. Untuk apa lo membela anak miskin seperti dia? Nanti lo yang terkena imbasnya."
Lukman tersenyum.
Bukan senyum sinis. Bukan senyum merendahkan. Tapi senyum tulus — senyum yang membuat orang yang melihatnya merasa... kecil.
"Keluarga gue juga tidak kaya-raya, lo tahu," kata Lukman pelan. "Nenek gue dulu buruh tani. Kakek gue kuli panggul di pasar. Ayah gue baru bisa sekolah karena beasiswa."
Ia menatap cewek itu satu per satu.
"Jadi, jangan sombong. Kita semua berasal dari debu. Dan suatu hari kita semua akan kembali ke debu."
Ruangan hening.
Hening seperti ruang ujian saat semua orang sedang berkonsentrasi.
Cewek berambut panjang itu mundur selangkah. Teman-temannya juga mundur. Mereka tidak menyangka Lukman — anak kepala desa, orang berada — akan membela Anita sekuat itu.
"Maaf," kata cewek itu akhirnya, suaranya hampir tidak terdengar.
Bukan maaf yang tulus. Tapi maaf karena takut.
Lukman mengangguk. "Ya sudah. Lain kali jangan bicara sembarangan."
Cewek itu dan teman-temannya pergi. Meninggalkan kantin yang masih hening.
Setelah mereka pergi.
Yulia masih gemetar — gemetar karena marah yang belum reda.
"Lin, lo duduk dulu," kata Anita, menarik tangan Yulia.
Yulia duduk di kursi. Tangannya masih mengepal.
"Gue benci mereka, Nit . Gue benci cara mereka bicara tentang lo."
"Gue tahu, Lin."
"Mereka tidak berhak."
"Gue tahu."
Tapi Anita tahu: di dunia ini, hak tidak selalu berpihak pada yang benar. Hak seringkali berpihak pada yang kaya, yang kuat, yang punya pengaruh.
Lukman duduk di samping mereka. "Kalian berdua baik-baik saja?"
"Gue baik-baik saja," kata Anita. "Makasih, Lukman."
"Lo nggak usah makasih. Gue cuma melakukan yang benar."
Yulia menatap Lukman. "Lo berani banget. Mereka kan teman-teman lo."
"Teman?" Lukman mengangkat bahu. "Mereka hanya kenalan. Lagipula, teman sejati tidak akan merendahkan orang lain."
Yulia tersenyum kecil. Dia laki-laki baik, pikir Yulia. Sayang Anita sudah jatuh cinta pada orang lain.
"Lukman," Anita memanggil.
"Hm?"
"Lo nggak takut imbasnya? Mereka bilang nanti lo yang kena."
Lukman tertawa kecil. "Takut? Buat apa takut? Yang benar ya benar. Lagipula, ayah gue kepala desa. Bukan karena gue sombong, tapi setidaknya mereka mikir dua kali sebelum macam-macam sama gue."
"Lo menggunakan pengaruh keluarga lo," kata Yulia.
"Iya. Kenapa tidak?" Lukman tersenyum. "Kalau pengaruh itu bisa dipakai untuk melindungi orang yang tidak bersalah, kenapa tidak?"
Anita terdiam.
Dia berbeda, pikirnya. Dia tidak seperti Anton yang menggunakan kekuasaan untuk menekan. Lukman menggunakan kekuasaan untuk melindungi.
Laki-laki seperti ini langka.
Tapi...
Tapi hatiku tetap pada Hermanto.
Meskipun Hermanto tidak pernah bisa melindungiku seperti ini.
Meskipun Hermanto hanya bisa memberi catatan pelajaran dan nasi goreng dari neneknya.
Mengapa cinta tidak logis?
Mengapa cinta tidak bisa memilih yang terbaik secara objektif?
Ia tidak tahu.
Sejak hari itu, perlahan-lahan para siswa mulai menerima Anita.
Bukan karena mereka tiba-tiba baik. Bukan karena mereka sadar bahwa hinaan itu salah. Tapi karena mereka takut pada Lukman — dan pengaruh keluarganya sebagai kepala desa.
Mereka berhenti berbisik. Berhenti menatap sinis. Berhenti menyebut "anak cucian" di belakang Anita.
Tapi Anita tahu. Hinaan tidak berhenti. Hanya berganti bentuk.
Dari kata-kata, menjadi tatapan.
Dari bisikan, menjadi senyum sinis.
Dari ejekan terbuka, menjadi pengucilan halus.
Tidak ada yang berubah, pikir Anita. Hanya wajahnya saja yang berganti.
Hermanto mendengar apa yang terjadi di kantin.
Ia sedang di perpustakaan bersama Karmila saat kabar itu sampai ke telinganya. Seorang siswa dari kelas X IPA 1 masuk ke perpustakaan, menghampiri Hermanto, dan berbisik.
"Man, di kantin tadi ada ribut. Yulia hampir mukul cewek. Lukman yang melerai."
Hermanto terkejut. "Ribut apa?"
"Gosip tentang Anita. Ada yang bilang dia anak miskin, pake pelet, perempuan murahan."
Wajah Hermanto berubah. Pucat. Lalu merah.
Anita, pikirnya. Anita dihina. Dan aku tidak ada di sana.
Karmila ada di sini bersamaku. Aku sibuk membantu Karmila mengerjakan tugas Biologi. Sementara Anita...
Ia berdiri. "Karmila, gue harus pergi."
"Tapi tugas kita belum—"
"Nanti."
Hermanto berlari meninggalkan perpustakaan. Meninggalkan Karmila yang hanya bisa terdiam dengan pulpen di tangan.
Dia pergi untuk Anita, pikir Karmila. Dia selalu pergi untuk Anita.
Padahal aku di sini. Aku selalu di sini.
Tapi dia tidak pernah melihatku.
Hermanto sampai di kantin.
Anita dan Yulia masih di sana, ditemani Lukman. Hermanto mendekat.
"Nit , lo baik-baik saja?"
Anita menatap Hermanto. Matanya lelah — lelah seperti orang yang sudah terlalu lama berperang.
"Gue baik-baik saja, Man."
"Gue dengar ada ribut—"
"Sudah selesai, Man. Lukman yang nolongin."
Hermanto menoleh ke Lukman. Lukman tersenyum tipis.
"Makasih, Man," kata Hermanto.
"Ya, sama-sama. Gue cuma kebetulan ada."
Hermanto mengepalkan tangan.
Kebetulan ada, pikirnya. Sedangkan aku... aku tidak ada.
Aku sibuk dengan Karmila. Sementara Anita dihina.
Apa aku gagal melindunginya?
Apakah aku memang tidak pantas untuk Anita?
Ia duduk di samping Anita. "Gue minta maaf, Nit . Gue nggak ada di sini."
"Bukan salah lo, Man. Lo nggak mungkin 24 jam jagain gue."
"Tapi—"
"Man, stop." Anita menatap Hermanto. "Gue nggak butuh pelindung. Gue butuh teman. Dan lo sudah jadi teman yang baik."
Tapi aku ingin lebih dari teman, pikir Hermanto. Aku ingin menjadi orang yang selalu ada untukmu.
Tapi mengapa selalu ada halangan?
Mengapa selalu ada Karmila?
Mengapa selalu ada Lukman?
Mengapa dunia terasa begitu sempit?
Karmila, di perpustakaan, sendirian.
Ia memandangi buku Biologi yang terbuka di depannya. Tugas yang belum selesai. Catatan yang setengah jadi.
Hermanto pergi. Meninggalkannya.
Lagi, pikir Karmila. Dia pergi lagi. Meninggalkanku.
Untuk Anita.
Selalu untuk Anita.
Ia meremas kertas tugasnya. Kertas itu mengerut di tangannya — seperti hatinya yang mengerut setiap kali Hermanto memilih Anita dibanding dirinya.
Mengapa aku tidak bisa menjadi Anita?
Mengapa aku tidak dilahirkan miskin dan menyedihkan?
Mengapa aku tidak memiliki ibu buruh cuci?
Mengapa...
Air matanya jatuh.
Ia tidak menangis histeris. Hanya air mata yang jatuh satu-satu — membasahi kertas tugas yang sudah kusut.
Suatu hari, pikir Karmila. Suatu hari Hermanto akan melihatku.
Atau tidak.
Dan jika tidak...
Maka tidak ada yang perlu dilihat.
Rumah Anita, malam itu.
Anita membuka buku catatannya — buku yang selalu ia simpan di bawah bantal.
Ia membaca tulisannya yang lama:
"Lukman bilang aku kuat. Padahal aku tidak merasa kuat."
"Hermanto bertanya apakah aku baik-baik saja. Aku bilang iya. Padahal tidak."
"Yulia hampir memukul seseorang untukku. Aku tidak pantas memiliki sahabat sebaik dia."
Kali ini, ia menulis:
"Hari ini, ada yang bilang aku 'anak cucian'.
Kata itu menusuk. Lebih dalam dari yang aku kira.
Bukan karena aku malu dengan pekerjaan ibuku. Tapi karena kata itu mengingatkanku bahwa di mata dunia, aku tidak pernah cukup.
Pintar tidak cukup.
Baik tidak cukup.
Rajin tidak cukup.
Karena aku miskin.
Dan kemiskinan adalah dosa turunan yang tidak bisa dihapus dengan nilai 100 atau hatiku yang baik.
Lukman membelaku. Dengan tenang. Dengan tegas.
Dia menggunakan pengaruh keluarganya untuk melindungiku.
Tapi apakah perlindungan seperti itu nyata?
Atau hanya ilusi yang akan lenyap saat Lukman tidak ada?
Hermanto tidak ada saat aku dihina. Dia sibuk dengan Karmila.
Aku tahu dia tidak bersalah. Tapi tetap sakit.
Mengapa dia tidak ada?
Mengapa dia selalu tidak ada saat aku paling membutuhkannya?
Apakah ini pertanda bahwa dia bukan orang yang tepat untukku?
Atau hanya aku yang terlalu banyak menuntut?
Aku tidak tahu.
Yang aku tahu, malam ini aku akan tidur dengan luka yang tidak terlihat.
Luka yang tidak akan sembuh hanya dengan kata 'maaf' atau 'aku sayang kamu'.
Luka yang hanya akan sembuh jika dunia berhenti merendahkan orang miskin.
Tapi dunia tidak akan berhenti.
Jadi aku akan terus terluka.
Sampai kapan?
Sampai aku mati, mungkin."
Ia menutup buku. Memeluknya.
Air matanya jatuh — jatuh membasahi sampul buku yang sudah lusuh.
Esok, pikir Anita, esok akan ada hinaan baru. Tatapan baru. Luka baru.
Dan aku akan diam.
Seperti biasa.
Karena diam adalah satu-satunya senjata yang kumiliki.
Meskipun diam membunuhku perlahan.
BAB 22: DRAMA KEDUA ORANG TUA
Suatu siang di bulan Maret 2019. Langit mendung.
Hujan akan turun. Tapi tidak ada yang tahu kapan. Tidak ada yang tahu seberapa deras. Tidak ada yang tahu berapa lama. Seperti nasib, seperti cinta, seperti keadilan. Semua tidak pasti.
Di luar jendela ruang kepala sekolah, awan gelap menggulung di atas Pesisir Pantura, hitam pekat, tebal, seperti tinta yang tumpah di atas kanvas biru. Angin bertiup kencang, menumbangkan beberapa ranting pohon trembesi di halaman, membuat mereka berguguran ke tanah basah, patah, tidak berguna lagi. Daun daun kering beterbangan, menari di udara sebelum akhirnya jatuh dan mengering.
Udara terasa berat, berat seperti beban yang akan jatuh kapan saja, seperti tangan yang akan menampar kapan saja, seperti hati yang akan hancur kapan saja.
Anita sedang belajar di perpustakaan ketika pesan datang. Buku Biologi terbuka di depannya, halaman tentang sistem reproduksi manusia, tentang bagaimana kehidupan dimulai dari dua sel yang bertemu, tentang bagaimana cinta seharusnya sederhana.
Tapi tidak ada yang sederhana dalam hidupnya.
Seorang guru piket menghampirinya, langkahnya tergesa gesa, wajahnya tegang.
"Anita, kamu dipanggil ke ruang kepala sekolah."
Anita mendongak. Tangannya berhenti memegang pulpen. "Sekarang, Pak?"
"Sekarang. Ada tamu."
Anita tidak bertanya siapa tamunya. Tidak perlu. Ia sudah bisa menebak. Dari cara guru itu bicara. Dari cara matanya menghindari tatapan Anita. Dari cara bibirnya bergetar saat mengucapkan kata "tamu".
Tamu tidak pernah baik bagi orang miskin. Tamu selalu membawa berita buruk. Tamu selalu datang untuk mengambil sesuatu.
Ia hanya mengangguk, membereskan bukunya dengan gerakan lambat, seperti orang yang sedang menunda waktu, seperti orang yang tidak ingin pergi, seperti orang yang sudah tahu apa yang akan terjadi tapi masih berusaha berpura pura tidak tahu.
Lalu ia berjalan menuju ruang kepala sekolah.
Setiap langkah terasa berat. Setiap langkah terasa seperti berjalan di lumpur. Setiap langkah terasa seperti mendekati pintu neraka.
Di perjalanan, ia berpapasan dengan Yulia. Yulia yang sedang memegang buku catatan, yang sedang tersenyum pada sesuatu yang tidak penting, yang masih belum tahu apa yang akan terjadi.
"Mit, lo ke mana?" tanya Yulia, senyumnya langsung hilang saat melihat wajah Anita yang pucat.
"Ruang kepala sekolah. Ada tamu."
Yulia mengernyit. "Tamu apa? Siapa? Kenapa lo dipanggil?"
"Tidak tahu."
Mereka berdua berjalan bersama. Sepanjang koridor, tidak ada suara. Hanya hening. Hening seperti sebelum badai. Hening seperti sebelum eksekusi.
Di depan pintu ruang kepala sekolah, Yulia berhenti. Tangannya meraih siku Anita.
"Lo mau gue temani?"
Anita menatap Yulia. Matanya berkaca kaca. Tapi ia menggeleng.
"Nggak usah, Lin. Lo tunggu di luar saja."
"Tapi..."
"Tolong, Lin."
Yulia mengangguk pelan. Ia melepaskan tangannya dari siku Anita. Lalu ia berdiri di samping pintu, seperti penjaga, seperti pelindung, seperti sahabat yang tidak akan pergi meskipun tidak diizinkan masuk.
Anita menarik napas panjang. Lalu ia membuka pintu.
Di dalam ruang kepala sekolah.
Pak Martono duduk di balik meja. Wajahnya tegas, tegas seperti orang yang sedang menghadapi situasi sulit, seperti orang yang tahu bahwa apapun yang ia putuskan, akan ada yang terluka.
Di hadapannya, dua kursi kayu kecil ditempati oleh dua orang asing. Seorang pria dan seorang wanita. Pakaian mereka rapi, terlalu rapi untuk ukuran Pegandon. Kemeja pria itu putih, lengan panjang, tidak ada kerutan, seperti baru saja disetrika. Celana bahannya hitam, mengilap, mungkin sutra. Sepatu pantofelnya hitam, mengilap, seperti cermin.
Wanita itu memakai blus sutra krem, rok selutut, tas tangan kecil yang terlihat mahal, mungkin asli, mungkin puluhan juta. Rambutnya disanggul rapi, tidak ada satu helai pun yang terurai. Wajahnya penuh dengan bedak dan lipstik, seperti topeng yang tidak bisa retak.
Di sudut ruangan, Hermanto berdiri. Wajahnya pucat, pucat seperti kertas, seperti mayat, seperti orang yang baru melihat hantu. Tangannya di belakang punggung, terkepal erat, kuku jarinya mungkin sudah menusuk telapak tangan.
Anita langsung tahu siapa orang asing itu.
Wajah Hermanto ada di wajah pria itu. Bentuk hidung, garis rahang, cara bibir mengerucut saat bicara. Mata Hermanto ada di mata wanita itu, teduh, tapi di balik teduh itu ada dingin yang membekukan.
Orang tuanya, pikir Anita. Jantungnya berdegup kencang, kencang seperti genderang perang, seperti palu yang memukul kepala, seperti alarm yang berbunyi tidak berhenti. Tangannya mulai dingin, dingin seperti es, seperti kematian, seperti hati yang sedang membeku.
"Selamat siang, Anita," sapa Pak Martono. Suaranya pelan, berusaha ramah, tapi gagal. "Silakan duduk."
Anita duduk di kursi yang disediakan. Kursi kayu kecil yang dingin, sama seperti kursi yang dulu diduduki Novi dan Rika saat diinterogasi, saat mereka mengaku, saat mereka menangis, saat mereka dihukum.
Dulu aku duduk di sini karena difitnah, pikir Anita. Sekarang aku duduk di sini karena karena apa? Karena jatuh cinta pada anak orang kaya? Karena berani bermimpi? Karena tidak tahu diri?
Ia tidak tahu.
"Jadi, kamu Anita?"
Wanita itu, ibu Hermanto, berbicara pertama. Suaranya dingin, dingin seperti es yang disimpan di freezer terlalu lama, dingin seperti kulkas yang mengeluarkan udara beku, dingin seperti hati yang tidak bisa mencair.
Matanya menatap Anita dari ujung rambut hingga ujung sepatu. Menilai. Menghakimi. Merendahkan. Seperti sedang melihat sampah di pinggir jalan. Seperti sedang melihat kotoran yang menempel di sepatu.
"Ya, Bu. Saya Anita." Suara Anita pelan, berusaha sopan, berusaha tidak gemetar.
Ibu Hermanto mendengus pelan. Hampir tidak terdengar. Tapi cukup jelas untuk membuat Anita merasa kecil. Sekecil semut. Sekecil debu. Sekecil tidak ada.
"Dengar, Anita." Ibu Hermanto menatap Anita. Matanya tidak berkedip. "Kami tidak setuju jika kamu dekat dengan Hermanto."
Anita terdiam. Dadanya sesak. Seperti ada yang menekan di sana. Seperti ada tangan yang meremas jantungnya.
"Kami tidak setuju," ulang ibu Hermanto, seperti Anita tidak mendengar pertama kali, seperti Anita bodoh, seperti Anita tuli. "Anak kami punya masa depan. Dia akan kuliah di Semarang. Mungkin ke luar negeri. Jangan sampai kamu menghalangi itu."
Anita menelan ludah. Ludahnya terasa pahit. Berusaha tenang. Berusaha tidak menangis. Berusaha tidak terlihat lemah.
"Bu, saya tidak pernah menghalangi Hermanto," kata Anita. Suaranya bergetar, tapi ia berusaha tegas. "Saya hanya..."
"Hanya apa?" potong ibu Hermanto, suaranya tajam seperti pisau. "Menggoda anak kami? Membuatnya lupa belajar? Membuatnya terlibat dalam drama yang tidak perlu? Membuat namanya tercemar karena bergaul dengan anak desa?"
"Bu, saya..."
"Kami tahu tentang gosip di sekolah ini." Ibu Hermanto menghela napas. Bukan napas lelah. Tapi napas jijik. Napas seorang yang merasa sedang berbicara dengan makhluk rendahan. "Tentang persaingan dengan anak bernama Anton. Tentang cewek yang menyebar fitnah. Tentang skandal di kantin. Tentang semua drama kampungan yang seharusnya tidak melibatkan anak kami."
Ibu Hermanto berhenti. Matanya menatap Anita dengan penuh kebencian. Kebencian yang tidak beralasan. Kebencian yang lahir dari prasangka. Kebencian yang sudah ada sebelum ia mengenal Anita.
"Semua itu terjadi karena kamu."
Anita terdiam.
Karena aku, pikirnya. Apakah benar karena aku? Atau karena mereka yang tidak bisa menerima bahwa anak mereka bisa bahagia dengan orang miskin? Atau karena dunia memang kejam pada orang yang tidak punya?
"Bu, Anita tidak pernah melakukan itu," potong Hermanto dari sudut ruangan. Suaranya tegang, tegang seperti tali yang siap putus, seperti karet yang akan meledak, seperti orang yang sudah tidak bisa diam.
"Kamu diam!" bentak ayah Hermanto. Suaranya keras, keras seperti palu yang jatuh ke lantai kayu, keras seperti petir di tengah malam, keras seperti tamparan di pipi.
Hermanto membungkam. Wajahnya semakin pucat. Dadanya naik turun, seperti orang yang kehabisan udara.
Pak Martono, yang sejak tadi hanya diam, yang sejak tadi hanya menjadi penonton dalam dramanya sendiri, akhirnya bicara.
"Ibu, Bapak, mungkin kita bisa membahas ini dengan lebih santai." Suaranya diplomatis, seperti politisi yang sedang berusaha menenangkan massa.
"Tidak perlu, Pak Kepala Sekolah." Ibu Hermanto memotong. Tangannya yang mungil mengepal di atas meja. "Kami hanya ingin menyampaikan pesan kepada anak ini."
Ia menatap Anita. Matanya tidak berkedip.
"Jauhi anak kami. Jangan dekat dekat lagi. Atau kami akan pindahkan Hermanto ke Semarang."
Ibu Hermanto berhenti. Tersenyum. Senyum yang dingin. Senyum yang sadis. Senyum yang mengatakan "aku bisa menghancurkanmu kapan saja".
"Dan kami akan pastikan kamu tidak bisa masuk ke universitas mana pun di Jawa Tengah."
Ruangan mendadak hening.
Hening seperti kuburan.
Hening seperti dunia berhenti berputar.
Hening seperti tidak ada yang bernapas.
Anita terkejut. Jantungnya berhenti berdetak sejenak.
Ancaman, pikirnya. Dia mengancamku. Bukan hanya dengan pindah sekolah. Tapi dengan masa depanku. Kuliah. Universitas. Semua yang aku perjuangkan selama ini. Semua yang sudah aku korbankan. Semua yang sudah ibuku korbankan.
Bisa lenyap. Cuma cuma. Sia sia.
Hanya karena aku jatuh cinta pada anak mereka. Hanya karena aku berani menyukai seseorang yang berada di atas. Hanya karena aku tidak tahu diri.
Anita menunduk. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Tapi ia tahan.
Jangan menangis, pinta hatinya. Jangan kasih mereka kepuasan. Jangan biarkan mereka melihatmu lemah. Jangan biarkan mereka tahu bahwa mereka berhasil.
Kamu kuat. Kamu sudah melewati banyak hal. Kamu bisa melewati ini.
"Maaf, Pak, Bu." Suara Anita pelan, hampir berbisik, hampir tidak terdengar. "Saya tidak pernah berniat menggoda Hermanto. Saya hanya berteman dengannya. Jika kalian merasa terganggu, saya akan menjaga jarak."
"Itu lebih baik," kata ibu Hermanto, lega, seperti baru saja menyelesaikan tugas yang mengganggu. "Dan jangan coba coba menghubungi Hermanto lagi. Baik lewat telepon, SMS, atau media sosial. Kami akan memantau. Kami punya cara."
Anita mengangguk pelan. Tidak bicara. Tidak membantah.
Karena tidak ada gunanya, pikirnya. Mereka sudah punya gambaran tentang aku. Gambaran tentang gadis desa miskin yang hanya mau menumpang kaya. Gambaran tentang perempuan murahan yang menggoda anak orang. Dan gambaran itu tidak akan berubah, sebaik apa pun aku.
Setelah pertemuan selesai.
Ibu dan ayah Hermanto berdiri. Mereka berpamitan pada Pak Martono dengan sopan, sopan seperti orang orang terpelajar yang tahu tata krama, sopan seperti baru saja menyelesaikan transaksi bisnis yang menguntungkan.
Lalu mereka keluar. Melewati Anita. Tanpa menatap. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Seolah Anita bukan manusia. Seolah Anita tidak ada. Seolah Anita adalah debu yang tidak perlu dilihat.
Hermanto ingin mengikuti. Kakinya sudah bergerak ke arah pintu. Tapi ia menoleh ke Anita.
"Mit..."
"Pergilah, Man." Kata Anita, tanpa menatap. Suaranya datar. Tidak marah. Tidak sedih. Hanya kosong. "Ikut orang tuamu."
"Tapi..."
"Pergi." Suara Anita naik sedikit. Bukan marah. Tapi peringatan. Peringatan bahwa jika ia tidak pergi sekarang, Anita akan hancur.
Hermanto terdiam. Ia menatap Anita lama. Cukup lama untuk melihat setetes air mata jatuh dari mata Anita. Jatuh pelan. Jatuh ke pipi. Jatuh ke lantai keramik. Jatuh dan pecah.
Lalu ia pergi.
Di luar ruangan.
Yulia berdiri di lorong, tidak sabar. Ia sudah bolak balik dari ujung koridor ke ujung koridor lainnya. Sudah menghitung ubin lantai. Sudah membaca pengumuman di papan. Sudah mencemaskan Anita.
Begitu pintu terbuka, ia langsung menghampiri Anita.
"Mit, ada apa? Lo kenapa?"
Anita tidak menjawab. Ia hanya berjalan. Berjalan cepat. Menuju toilet terdekat. Langkahnya terburu buru. Seperti orang yang ingin muntah. Seperti orang yang ingin menghilang.
Yulia mengikuti. Tidak bertanya lagi. Hanya mengikuti.
Sesampainya di toilet, Anita masuk ke bilik paling ujung. Bilik yang paling gelap. Bilik yang paling jauh dari pintu. Bilik tempat orang orang pergi saat mereka tidak ingin ditemukan.
Ia menutup pintu. Menguncinya.
Lalu ia menangis.
Bukan menangis biasa. Bukan tangis yang pelan, yang bisa disembunyikan. Tapi tangis yang tertahan, tangis yang berusaha disembunyikan tapi tidak bisa, tangis yang keluar dari dadanya seperti raungan, seperti jeritan, seperti suara orang yang sedang sekarat.
Isak tangisnya terdengar dari balik pintu bilik. Bergema di dinding keramik. Bergema di langit langit toilet yang lembab.
Yulia berdiri di luar. Menunggu. Hatinya hancur mendengar suara sahabatnya. Hancur seperti kaca yang jatuh. Hancur seperti hati Anita.
"Mit, lo buka pintunya," pinta Yulia. Tangannya mengetuk pintu bilik pelan.
Tidak ada jawaban. Hanya isak. Hanya suara Anita yang berusaha menelan tangisnya.
"Mit, gue di sini. Lo tidak sendirian."
Diam.
Yulia mendekatkan telinganya ke pintu bilik. Ia bisa mendengar napas Anita yang tersengal sengal. Bisa mendengar tangis yang berusaha disembunyikan. Bisa mendengar suara tangan yang menekan mulut agar suara tidak keluar.
Pintu bilik terbuka perlahan.
Anita keluar.
Wajahnya basah. Basah oleh air mata. Matanya merah. Merah seperti kelinci. Merah seperti orang yang sudah menangis berjam jam. Hidungnya membengkak. Membengkak seperti habis ditinju.
Yulia langsung memeluknya. Erat. Seerat eratnya. Seperti tidak ingin melepaskan. Seperti takut Anita akan lenyap jika pelukan itu terputus.
"Lo tidak sendirian, Mit. Gue ada. Gue tidak akan pergi."
Anita memeluk balik. Tangannya gemetar. Badannya gemetar. Semuanya gemetar.
"Mengapa harus begini, Lin?" Suara Anita pecah. Pecah seperti gelas yang jatuh ke lantai. Pecah seperti cermin yang dipukul palu. Pecah seperti hati yang dikhianati. "Mengapa cinta terasa begitu menyakitkan? Mengapa orang tua dia harus sekejam itu? Mengapa aku harus miskin?"
Yulia tidak bisa menjawab. Tidak ada jawaban. Tidak ada kata kata yang cukup. Yang bisa ia lakukan hanya memeluk sahabatnya lebih erat. Lebih erat. Seolah olah dengan pelukan itu, ia bisa menyerap semua rasa sakit Anita ke dalam tubuhnya. Seolah olah dengan pelukan itu, ia bisa melindungi Anita dari dunia.
"Kita pulang, Mit," kata Yulia akhirnya. Suaranya bergetar juga.
"Gue tidak mau pulang, Lin." Anita melepaskan pelukan. Matanya kosong. "Ibuku akan bertanya. Dan aku tidak bisa berbohong padanya. Aku tidak bisa bilang bahwa aku baik baik saja. Karena aku tidak baik baik saja."
"Ya sudah, kita ke perpustakaan. Tidak ada orang di sana."
Anita mengangguk.
Di perpustakaan.
Mereka duduk di pojok paling belakang. Tempat yang tidak terlihat dari pintu masuk. Tempat di mana rak rak buku tua menjadi tembok pelindung. Tempat di mana debu debu menjadi saksi.
Anita masih menangis. Yulia masih memeluknya. Tidak ada kata kata. Tidak perlu kata kata. Pelukan sudah cukup.
"Mereka bilang gue menghalangi masa depan Hermanto," kata Anita di sela isaknya. Suaranya terputus putus, seperti orang yang sedang belajar bicara lagi setelah lama terdiam. "Mereka bilang gue menggoda dia. Mereka bilang gue perempuan murahan. Mereka bilang semua drama di sekolah ini karena gue."
"Itu tidak benar, Mit." Yulia menggeleng. Matanya berkaca kaca. "Itu tidak benar. Lo tidak seperti itu."
"Gue tahu. Tapi mereka tidak peduli kebenaran." Anita mengusap air matanya dengan punggung tangan. "Mereka hanya peduli status. Mereka hanya peduli bahwa gue miskin. Mereka hanya peduli bahwa gue tidak pantas."
Yulia menggigit bibir. Bibir bawahnya hampir berdarah. Ia ingin marah. Ingin membentak. Tapi tidak pada Anita. Pada dunia. Pada Tuhan. Pada semua yang tidak adil.
"Mit, lo hebat. Lo lebih hebat dari mereka semua."
"Tidak, Lin." Anita tersenyum pahit. Senyum yang tidak sampai ke mata. Senyum yang hanya gerakan bibir tanpa makna. "Gue tidak hebat. Gue hanya anak miskin yang terlalu berani bermimpi."
"Tidak ada yang terlalu berani untuk bermimpi."
Anita diam.
"Kata siapa?" bisiknya.
Hermanto keluar dari ruang kepala sekolah beberapa menit setelah Anita pergi.
Wajahnya pucat. Matanya merah, merah seperti orang yang baru saja menangis, tapi tidak mau mengaku. Dadanya terasa sesak. Seperti ada yang mengganjal di sana. Seperti ada yang menusuk setiap kali ia bernapas.
Ia mencari Anita. Ke kelas. Kosong. Ke kantin. Sepi. Ke perpustakaan. Tidak terlihat.
Ia berjalan bolak balik. Dari ujung koridor ke ujung koridor lainnya. Dari lantai satu ke lantai dua. Dari depan ke belakang.
Ia akhirnya menemukannya di pojok perpustakaan. Di balik rak rak buku. Di tempat yang gelap. Di tempat yang tersembunyi. Bersama Yulia.
Anita sedang menangis di bahu Yulia.
Tangis yang tidak bisa ia tahan lagi. Tangis yang sudah ia tahan sejak di ruang kepala sekolah. Tangis yang keluar sekarang, di tempat yang aman.
Hermanto ingin mendekat. Ingin memeluk Anita. Ingin memeluknya erat erat. Ingin berkata, "Aku minta maaf. Aku minta maaf atas semua ini. Aku minta maaf karena aku pengecut. Aku minta maaf karena aku tidak bisa melindungimu."
Tapi kakinya tidak bisa bergerak. Beku. Seperti membeku di tempat. Seperti patung. Seperti orang yang sedang melihat kecelakaan.
Dia menangis karena aku, pikir Hermanto. Karena orang tuaku. Karena keluarganya. Karena status. Karena dunia yang tidak adil.
Dan aku tidak bisa melakukan apa apa. Tidak bisa melawan. Tidak bisa membantah. Tidak bisa melindungi.
Aku tidak pantas untuknya.
Ia berbalik. Berjalan keluar dari perpustakaan. Meninggalkan Anita yang masih menangis. Meninggalkan Yulia yang masih memeluk. Meninggalkan cinta yang mungkin tidak akan pernah bisa ia perjuangkan.
Hermanto menyusul orang tuanya di parkiran.
Mobil sedan hitam dengan kaca film gelap sudah terparkir di sana. Terlalu mewah untuk diparkir di halaman SMA Negeri I Pegandon. Terlalu mencolok. Terlalu menyolok. Seperti orang tuanya.
Mereka sudah duduk di dalam. Ibu di kursi depan. Ayah di belakang kemudi. Wajah mereka tidak terlihat dari luar karena kaca film gelap itu. Seperti sedang bersembunyi. Seperti sedang melakukan sesuatu yang ilegal.
"Naik," kata ayah Hermanto, membuka kaca jendela sedikit, cukup untuk mengeluarkan suara.
Hermanto menurut. Ia duduk di kursi belakang, di samping ibunya. Jok kulitnya dingin. Dingin seperti hubungan mereka.
"Kami akan menjemput nenekmu," kata ibu Hermanto, tanpa menoleh. "Lalu kita pulang ke Semarang. Malam ini juga."
"Tapi Nek..."
"Nenekmu ikut. Sudah kami siapkan. Semua sudah diatur."
"Pekerjaanku."
"Kami sudah urus pindah sekolah. Kamu akan masuk SMA Negeri 3 Semarang. Lebih bagus dari sini." Ibu Hermanto tersenyum. Senyum puas. "Lebih bergengsi. Lebih baik untuk masa depanmu."
Hermanto terdiam.
Mereka sudah merencanakan semuanya, pikirnya. Tanpa bertanya padaku. Tanpa peduli perasaanku. Tanpa peduli bahwa aku punya teman di sini. Tanpa peduli bahwa aku punya cinta di sini.
Tanpa peduli bahwa ada Anita.
Mesin mobil menyala. Mobil bergerak perlahan meninggalkan parkiran.
Hermanto menoleh ke belakang. Melalui kaca belakang yang gelap, ia melihat sekolah yang semakin kecil. Pohon trembesi yang mulai diguyur hujan. Ranting ranting yang berguguran.
Dan di kejauhan, ia melihat seseorang berdiri di pintu gerbang.
Baju putih. Rambut terurai.
Anita.
Atau mungkin hanya bayangan.
Ia tidak tahu.
Selamat tinggal, Mit, pikir Hermanto. Air matanya jatuh. Jatuh diam diam. Jatuh pelan pelan. Ia usap dengan punggung tangan, agar ibunya tidak melihat. Agar tidak ada yang melihat.
Selamat tinggal.
Di perpustakaan, hujan mulai turun.
Deras. Kencang. Menghantam atap seng perpustakaan dengan suara gemuruh. Seperti drum. Seperti genderang perang. Seperti suara takdir.
Anita masih menangis.
"Lin, gue mau pulang."
"Gue antar."
"Nggak usah. Gue mau sendiri." Anita berdiri. Matanya kosong. "Gue butuh sendiri."
"Tapi hujan deras, Mit."
"Biarkan."
Anita berjalan keluar dari perpustakaan. Tanpa payung. Tanpa jas hujan. Tanpa apa pun.
Yulia ingin mengikuti. Tangannya sudah terulang ke arah Anita. Tapi ia tahu. Kadang seseorang butuh sendiri. Kadang seseorang butuh menangis tanpa ada yang melihat. Kadang seseorang butuh hujan untuk menyembunyikan air matanya.
Ia membiarkan Anita pergi.
Anita berjalan di tengah hujan.
Air hujan membasahi seragamnya. Putih seragamnya menjadi transparan. Rambutnya yang diikat rapi mulai terurai. Helaian demi helaian jatuh ke wajahnya, ke pundaknya, ke punggungnya.
Wajahnya basah. Basah oleh air hujan dan air mata. Ia tidak tahu mana yang mana. Tidak peduli mana yang mana.
Ia berjalan. Melewati kantin yang kosong. Melewati lapangan upacara yang tergenang, air setinggi mata kaki. Melewati gerbang sekolah yang dijaga satpam.
"Nak, hujan!" teriak satpam, berlari ke arahnya dengan payung.
Anita tidak mendengar. Atau pura pura tidak mendengar. Ia terus berjalan. Keluar dari gerbang. Ke jalan raya.
Ia berjalan. Sampai di tepi jalan raya. Sampai di pertigaan yang biasa ia lewati bersama Yulia setiap pagi. Sampai di bawah pohon randu, tempat pertama ia bertemu Hermanto, tempat pertama ia merasakan jantungnya berdegup kencang karena seseorang, tempat pertama ia menyadari bahwa cinta itu ada.
Ia berhenti.
Menunduk.
Menangis.
Di tengah hujan.
Di bawah pohon randu.
Sendirian.
"Ya Allah," bisik Anita, di sela hujan yang deras, di sela tangis yang tidak bisa ia bendung. "Apa salahku? Apa dosaku? Mengapa Engkau menghukumku seberat ini? Mengapa orang yang aku cintai harus diambil? Mengapa aku harus miskin? Mengapa aku harus menderita?"
Tuhan tidak menjawab.
Hujan terus turun.
Tuhan tidak menjawab.
Tapi angin terus berembus.
Membawa daun daun randu yang basah.
Membawa bau tanah.
Membawa kesunyian.
Rumah Anita, malam itu.
Hujan sudah reda. Tapi gelap. Gelap seperti masa depan. Gelap seperti hati.
Ibu Karsinem berdiri di teras. Cemas. Gelisah. Khawatir. Tangan nya memegang erat daun pintu bambu. Matanya menatap ke arah jalan yang gelap, ke arah sawah yang tergenang, ke arah tempat Anita biasanya pulang.
Pukul setengah delapan malam. Anita belum pulang. Biasanya ia sudah pulang sejak jam empat.
Dari kejauhan, ia melihat bayangan. Bayangan kecil, basah, berjalan pelan. Bayangan yang merunduk, seperti kehabisan tenaga. Bayangan yang nyaris roboh setiap kali melangkah.
"Anakku!" Bu Karsinem berlari. Lari sekencang kencangnya. Lari seperti belum pernah lari sebelumnya. Lari seperti ada yang akan mati jika tidak cepat.
Anita basah kuyup. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Seragamnya menempel di tubuhnya. Bibirnya membiru kedinginan. Kedinginan karena hujan. Atau karena hati. Matanya sembab. Sembab karena menangis berjam jam. Sembab karena tidak bisa berhenti.
"Bu..." Anita jatuh. Jatuh ke dalam pelukan ibunya. Jatuh seperti tidak bisa berdiri lagi. Jatuh seperti menyerah.
"Mengapa hidup terasa berat sekali, Bu?"
Bu Karsinem tidak bertanya. Tidak bertanya kenapa. Tidak bertanya siapa. Tidak bertanya mengapa basah. Ia hanya memeluk anaknya. Memeluk erat erat. Memeluk seperti ia memeluk Anita saat masih bayi, saat masih kecil, saat masih bisa ia lindungi dari semua bahaya.
"Apapun yang terjadi, Ibu di sini. Ibu tidak akan pernah meninggalkanmu." Bisik Bu Karsinem, suaranya bergetar, suaranya basah, suaranya pecah. "Ibu tidak akan pernah."
Anita menangis di bahu ibunya.
Setidaknya, pikir Anita. Setidaknya ada satu orang di dunia ini yang tidak akan pernah meninggalkanku. Satu orang yang tidak akan pernah pergi. Satu orang yang tidak akan pernah menyerah.
Ibuku.
Meskipun dunia merendahkanku. Meskipun orang tua Hermanto mengancamku. Meskipun semua orang pergi.
Ibuku akan tetap di sini.
Di kamar, setelah mandi air hangat dan berganti pakaian.
Air hangat tidak bisa menghangatkan hati yang membeku. Pakaian kering tidak bisa mengeringkan air mata yang terus mengalir.
Anita duduk di tepi dipan. Rambutnya masih basah. Matanya masih merah. Tangannya masih dingin.
Ia membuka buku catatannya. Buku yang selalu ia simpan di bawah bantal. Buku yang sudah lusuh, sampulnya lecek, halamannya menguning. Buku yang sering dibuka dan ditutup, sering basah oleh air mata, sering menjadi satu satunya tempat ia bisa jujur.
Ia membaca tulisannya yang lama.
"Lukman membelaku. Tapi hatiku tetap pada Hermanto."
"Kata 'anak cucian' menusuk. Lebih dalam dari yang aku kira."
"Mengapa cinta tidak logis? Mengapa cinta selalu memilih yang paling menyakitkan?"
Kali ini, ia menulis dengan tangan yang masih gemetar, dengan pulpen yang tintanya hampir habis.
"Hari ini, orang tua Hermanto datang. Mereka datang seperti badai, seperti topan, seperti penghancur.
Mereka bilang aku menghalangi masa depan anak mereka. Mereka bilang aku gadis desa miskin yang tidak pantas. Mereka bilang aku perempuan murahan yang menggoda anak orang. Mereka bilang jika aku masih dekat dengan Hermanto, mereka akan menghancurkan masa depanku. Kuliah. Universitas. Semua yang aku perjuangkan.
Dan Hermanto?
Dia diam.
Dia tidak bisa berkata apa apa. Dia hanya berdiri di sudut ruangan, pucat, diam, seperti patung. Seperti orang yang tidak punya suara.
Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tidak bisa. Aku tahu itu. Aku tahu dia bukan pengecut. Aku tahu dia hanya anak yang tidak punya kuasa atas orang tuanya. Aku tahu dia juga korban.
Tapi tetap saja.
Sakit.
Sakit melihat orang yang kucintai tidak bisa melindungiku. Sakit melihat orang yang kucintai hanya bisa diam. Sakit melihat bahwa cinta tidak cukup. Tidak pernah cukup. Tidak akan pernah cukup.
Untuk melawan dunia. Untuk melawan status. Untuk melawan orang tua. Untuk melawan takdir.
Malam ini, di kamar sempit ini, di bawah lampu petromaks yang redup, aku memutuskan.
Aku akan menjaga jarak. Bukan karena aku takut pada ancaman mereka. Bukan karena aku lemah. Tapi karena aku tidak ingin menjadi alasan Hermanto kehilangan masa depannya.
Jika mencintainya berarti menghalanginya, maka aku akan berhenti mencintai.
Meskipun berhenti mencintai lebih sulit daripada terus mencintai. Meskipun berhenti mencintai seperti berhenti bernapas. Meskipun berhenti mencintai seperti mati perlahan.
Tapi untuk Hermanto.
Untuk anak laki laki yang pernah membuatku percaya bahwa cinta itu indah.
Untuk anak laki laki yang pernah menggenggam tanganku di bangku bambu.
Untuk anak laki laki yang pernah berjanji tidak akan lari.
Aku rela.
Selamat tinggal, Man.
Aku mencintaimu.
Dan karena aku mencintaimu, aku akan melepaskanmu."
Ia menutup buku. Memeluknya.
Air matanya jatuh lagi. Membasahi bantal. Membasahi seprai. Membasahi semua yang tersisa dari cinta pertamanya.
Selamat tinggal, Hermanto.
Selamat tinggal.
Bab 23: Patah Hati yang Kedua
Seminggu setelah pertemuan dengan orang tua Hermanto.
Waktu berjalan lambat bagi mereka yang sedang terluka.
Bagi Anita, setiap detik terasa seperti jam. Setiap jam terasa seperti hari. Setiap hari terasa seperti tahun. Ia bangun setiap pagi dengan rasa berat di dadanya — berat seperti ada batu besar yang diletakkan semalam saat ia tidur. Ia berpura-pura baik-baik saja di depan ibunya. Tersenyum kecil. Makan secukupnya. Lalu berangkat ke sekolah.
Yulia menjemput seperti biasa. Tapi perjalanan ke sekolah tidak lagi diwarnai tawa. Yang ada hanya derit sepeda tua dan suara angin yang berembus. Sepi. Sepi seperti kuburan.
Hermanto sudah tidak ada.
Bukan benar-benar tidak ada. Ia masih masuk sekolah. Masih duduk di kelas yang sama. Masih terlihat di kantin dan perpustakaan. Tapi jarak di antara mereka kini terasa seperti jurang yang tak terlewati.
Ia tidak lagi meninggalkan catatan di meja Anita. Tidak lagi membawakan nasi goreng buatan neneknya. Tidak lagi menawarkan diri mengantar pulang.
Ia hanya diam. Menunduk. Menjauh.
Karena orang tuanya sudah memberi ultimatum: Jika masih dekat dengan Anita, kamu akan kami pindahkan ke Semarang.
Hermanto tidak punya pilihan. Ia masih di bawah orang tua. Masih bergantung pada uang saku yang dikirim setiap bulan. Masih tinggal di rumah nenek yang dibiayai orang tuanya.
Dan Anita?
Anita menerima semuanya dengan pasrah.
Pasrah, pikir Anita, adalah senjata terakhir orang yang sudah kehabisan akal.
Pasrah adalah ketika kamu tidak bisa melawan, tidak bisa lari, tidak bisa berbuat apa-apa.
Pasrah adalah kata yang indah untuk "menyerah".
Di kelas, suasana berbeda.
Anita tidak lagi duduk tegap seperti dulu. Ia lebih sering menunduk. Membaca buku. Menulis catatan. Apa pun agar tidak perlu menatap ke depan — ke arah bangku Hermanto yang kini terasa seperti hantu.
Hermanto juga berubah. Ia tidak lagi sering menoleh ke belakang. Tidak lagi tersenyum kecil saat mata mereka bertemu. Ia hanya diam. Mencatat. Lalu keluar kelas saat bel istirahat — tanpa menoleh, tanpa melihat siapa pun.
Yulia melihat semua ini. Hatinya perih melihat sahabatnya hancur perlahan.
"Nit ," bisik Yulia suatu hari.
"Hm?"
"Lo nggak mau bicara sama dia?"
"Siapa?"
"Hermanto."
Anita tidak menjawab. Tangannya yang memegang pulpen berhenti bergerak. Matanya menatap buku catatan — tapi tidak membaca.
"Untuk apa, Lin? Semuanya sudah berakhir."
"Belum berakhir. Lo hanya mengakhiri sebelum mencoba."
"Kadang, Lin, mencoba lebih menyakitkan daripada menyerah."
Yulia terdiam.
Dia terlalu dewasa, pikir Yulia. Dewasa sampai lupa bahwa dia juga berhak berjuang.
Lukman datang setiap hari.
Setelah kejadian itu, Lukman menjadi sering terlihat di sekitar Anita.
Setiap pagi, ia sudah menunggu di pertigaan — bukan untuk menjemput, tapi untuk memastikan Anita berangkat sekolah. Setiap jam istirahat, ia duduk di meja Anita — membawa makanan, memastikan Anita makan. Setiap pulang sekolah, ia mengantar Anita sampai rumah — meskipun harus memutar jalan, meskipun rumahnya di arah yang berlawanan.
"Lo nggak capek, Man?" tanya Anita suatu sore, saat mereka berjalan berdua di jalan setapak menuju Dusun Kersan.
"Capek kenapa?"
"Ngedeketin gue. Gue lagi... hancur."
Lukman tersenyum. "Justru karena lo hancur, gue harus ada."
"Lo kasihan sama gue?"
"Bukan." Lukman berhenti berjalan. Ia menatap Anita — menatap lurus ke matanya. "Gue sayang sama lo. Dan orang yang sayang tidak akan pergi saat orang yang dicintainya sedang hancur."
Anita menunduk. Air matanya jatuh — lagi.
"Lukman, gue nggak bisa membalas perasaan lo."
"Gue tidak minta lo membalas."
"Tapi—"
"Nit ." Lukman meraih tangan Anita — lembut, tidak memaksa. "Gue tidak akan memaksa lo untuk mencintai gue. Gue hanya ingin lo tahu, lo tidak sendirian. Ada orang yang peduli sama lo. Dan lo pantas untuk bahagia, meskipun bahagia itu tidak bersama gue."
Anita menangis. Bukan sedih. Tapi haru.
Mengapa laki-laki baik seperti Lukman harus datang di saat yang salah? pikirnya. Mengapa cinta tidak bisa diatur seperti jadwal pelajaran?
Karena cinta tidak pernah logis.
Dan tidak pernah adil.
Di rumah Anita, malam-malam yang gelap.
Lukman sering datang. Membawa gorengan, atau sekadar es teh. Kadang ia membantu Anita mengerjakan PR. Kadang ia hanya duduk diam di sampingnya — menemani Anita belajar, meskipun ia sendiri tidak mengerti pelajaran IPA.
Bu Karsinem awalnya curiga. Tapi setelah melihat bagaimana Lukman memperlakukan Anita — dengan hormat, tanpa pernah melangkahi batas — ia mulai menerima.
"Kamu Lukman, ya?" tanya Bu Karsinem suatu malam.
"Iya, Bu. Lukman."
"Anak kepala desa?"
"Iya, Bu."
"Orang berada, ya?"
Lukman tersenyum. "Keluarga saya sederhana, Bu. Nenek saya dulu buruh tani."
Bu Karsinem terkejut. "Serius?"
"Serius. Ayah baru sukses setelah jadi kepala desa. Tapi saya tidak lupa dari mana saya berasal."
Bu Karsinem menatap Lukman lama. Lalu menepuk pundaknya. "Kamu anak baik. Tolong jaga Anita, ya. Dia sedang... tidak baik-baik saja."
"Iya, Bu. Saya janji."
Anita berusaha bangkit.
Ia kembali fokus belajar. Bukan karena ia sudah sembuh. Tapi karena ia tidak punya pilihan lain. Jika cinta tidak bisa kuperjuangkan, pikir Anita, setidaknya masa depan masih bisa.
Ia belajar setiap malam hingga larut. Menghafal rumus-rumus Fisika yang dulu dijelaskan Hermanto dengan sabar. Mengerjakan soal-soal Matematika yang dulu biasa mereka kerjakan bersama. Membaca buku Biologi yang dulu sering ia pinjamkan pada Hermanto.
Semua mengingatkanku padanya, pikir Anita sambil menangis di depan buku. Setiap rumus. Setiap soal. Setiap halaman.
Tapi aku tidak bisa berhenti belajar.
Karena belajar adalah satu-satunya hal yang tidak akan meninggalkanku.
Di sekolah, sesekali Anita dan Hermanto bertemu pandang.
Bukan sengaja. Tapi tidak bisa dihindari. Mereka masih di kelas yang sama. Masih di sekolah yang sama. Masih di dunia yang sama — meskipun kini terasa seperti dimensi yang berbeda.
Setiap kali mata mereka bertemu, Anita merasakan sesuatu di dadanya. Bukan degup kencang seperti dulu. Tapi sakit. Sakit seperti ada yang menusuk jantungnya perlahan.
Hermanto juga merasakan hal yang sama. Matanya sayu — sayu seperti orang yang kehilangan arah. Ia berusaha tersenyum, tapi senyumnya tidak sampai ke mata.
Dia masih mencintaiku, pikir Anita. Tapi cinta tidak cukup.
Cinta tidak bisa melawan orang tua.
Cinta tidak bisa melawan status sosial.
Cinta tidak bisa melawan dunia.
Jadi untuk apa?
Ia menunduk. Kembali menatap buku.
Untuk apa memikirkan sesuatu yang tidak bisa kumiliki?
Anton merasa puas.
Ia melihat dari kejauhan. Melihat Anita yang murung. Melihat Hermanto yang menjauh. Melihat jarak yang semakin lebar di antara mereka.
Target tercapai, pikir Anton. Anita dan Hermanto berpisah. Sekarang saatnya bagiku untuk mengambil Anita yang sedang rapuh.
Dia akan mudah dibujuk. Dia akan mudah jatuh. Karena dia butuh pelukan. Butuh perhatian. Butuh seseorang yang mengaku mencintainya.
Dan aku akan menjadi orang itu.
Anton mulai mendekati Anita — dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Tidak lagi dengan bunga dan hadiah mahal. Tapi dengan empati palsu.
"Nit , gue turut berduka," kata Anton suatu hari di lorong, memasang wajah sedih. "Gue tahu lo dan Hermanto... ya sudahlah."
Anita menatap Anton dingin. "Lo tahu apa?"
"Gue tahu semuanya. Orang tua Hermanto datang, kan? Mereka nggak setuju?"
"Anton, lo mau apa?"
"Gue cuma ingin menghibur lo. Lo butuh teman, kan?"
"Gue punya Yulia. Dan Lukman."
"Tapi gue bisa lebih dari mereka."
Anita berhenti berjalan. Ia menatap Anton — menatap lurus ke matanya. Matanya tidak lagi sayu. Matanya tajam. Tajam seperti pisau.
"Anton, gue tahu lo di balik gosip 'gila hormat' dulu. Gue tahu lo yang menyuruh Rendra menyebarkan cerita. Gue tahu lo yang mendekati Yulia hanya untuk membuat gue cemburu."
Anton terkejut. "Aku—"
"Dan gue tahu sekarang lo mendekati gue karena lo pikir gue lemah. Lo pikir gue butuh pelukan. Lo pikir gue akan jatuh ke pelukan lo hanya karena lo mengaku peduli."
Anton terdiam.
"Maaf, Anton. Hatiku masih terluka. Tapi tidak sekotor hatimu."
Anton tersinggung. Wajahnya merah — merah karena marah dan malu. "Lo pikir lo siapa, Anita? Lo cuma anak miskin. Anak cucian. Ibu lo buruh—"
"Setidaknya ibuku jujur." Anita memotong. "Dia tidak mengajarkanku cara memanipulasi orang untuk mendapatkan apa yang diinginkannya."
Anton terdiam. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar.
"Sekarang, permisi. Aku harus ke kelas."
Anita berjalan pergi. Meninggalkan Anton yang masih berdiri di lorong dengan wajah pucat.
Dia bukan cewek biasa, pikir Anton. Dia...
...menakutkan.
Di kelas, Yulia melihat Anita masuk dengan wajah tegang.
"Nit , lo kenapa?"
"Nggak apa-apa. Anton tadi."
"Anton? Dia ngapain?"
"Katanya mau menghibur gue."
Yulia mengernyit. "Mau menghibur? Atau mau mengambil kesempatan?"
Anita tersenyum pahit. "Lo pintar, Lin."
"Gue tahu Anton sejak lama. Orang kayak dia tidak akan berubah."
"Iya. Gue sudah bilang. Dia hanya ingin menang. Bukan ingin mencintai."
Yulia menghela napas. "Lo kuat, Nit ."
"Gue tidak kuat, Lin. Gue hanya tidak punya pilihan lain selain kuat."
Rumah Anita, malam itu.
Anita membuka buku catatannya. Buku yang selalu ia simpan di bawah bantal. Buku yang sudah hampir penuh dengan tulisannya — tulisan tentang Hermanto, tentang cinta, tentang sakit, tentang harapan yang perlahan mati.
Ia membaca tulisannya yang lama:
"Selamat tinggal, Man. Aku mencintaimu. Dan karena aku mencintaimu, aku akan melepaskanmu."
"Lukman datang setiap hari. Dia baik. Dia membuatku merasa tidak sendirian. Tapi hatiku tidak bisa berpaling dari Hermanto. Meskipun Hermanto telah pergi."
"Anton mendekatiku lagi. Tapi aku tahu niatnya. Aku tidak akan jatuh."
Kali ini, ia menulis:
"Hari ini aku menolak Anton dengan tegas. Aku bilang, 'Hatiku masih terluka. Tapi tidak sekotor hatimu.'
Dia marah. Dia bilang aku anak miskin. Anak cucian.
Tapi aku tidak marah. Aku hanya... lelah.
Lelah orang memandangku dari dompet mereka, bukan dari hatiku.
Lelah orang mengira aku bisa dibeli dengan bunga dan perhatian palsu.
Lelah menjadi 'gadis desa miskin' yang selalu harus membuktikan bahwa aku pantas.
Hermanto pergi. Lukman di sini. Tapi tidak ada yang bisa mengisi kekosongan di hatiku.
Kekosongan yang ditinggalkan oleh cinta pertama.
Cinta yang tidak pernah kumiliki sepenuhnya.
Tapi cinta yang tidak akan pernah bisa kulupakan.
Malam ini, aku berdoa untuk Hermanto.
Aku berdoa semoga dia bahagia di Semarang.
Aku berdoa semoga dia lulus dengan nilai bagus, kuliah di universitas favorit, sukses, dan menikah dengan perempuan yang pantas untuknya.
Perempuan yang tidak miskin.
Perempuan yang tidak perlu dipermalukan oleh orang tuanya.
Perempuan yang bukan aku.
Aku mengikhlaskanmu, Man.
Sungguh-sungguh ikhlas.
Meskipun mengikhlaskan adalah hal tersulit yang pernah kulakukan.
Selamat malam.
Selamat tinggal.
Dan terima kasih.
Telah membuatku merasakan apa itu jatuh cinta.
Meskipun akhirnya jatuh dan hancur."
Ia menutup buku. Memeluknya.
Air matanya jatuh — membasahi bantal, membasahi seprai, membasahi semua yang tersisa dari cinta pertamanya.
Di luar, jangkrik mulai bersahutan. Suaranya seperti lagu pengantar tidur yang lembut.
Esok, pikir Anita, esok aku akan bangun lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Sampai suatu hari aku tidak lagi menangis saat mengingat namanya.
Sampai suatu hari aku bisa tersenyum saat mendengar kata 'Hermanto'.
Sampai suatu hari luka ini benar-benar sembuh.
Tapi tidak hari ini.
Malam ini, aku akan menangis.
Dan itu tidak apa-apa.
BAB 24: BANGKIT DARI PUING-PUING
Lima bulan setelah orang tua Hermanto datang. Agustus 2019.
Musim kemarau telah tiba.
Sawah sawah di Tegorejo mengering. Tanah yang dulu basah dan subur kini retak retak, seperti kulit tua yang kehausan, seperti hati yang terlalu lama tidak disiram cinta. Petani petani sibuk mengairi ladang mereka dengan air dari sungai, bergantian siang dan malam, berkelahi dengan waktu, berkelahi dengan musim, berkelahi dengan alam yang tidak pernah memihak.
Musim berganti. Seperti musim, hati Anita juga berganti.
Perlahan. Tidak tiba tiba.
Seperti air yang meresap ke tanah, tidak terlihat tapi pasti. Seperti rumput yang tumbuh di sela sela batu, tidak diundang tapi tetap ada. Seperti fajar yang datang setelah malam yang panjang, tidak pernah terlambat meskipun kadang terasa lama.
Ia tidak lagi menangis setiap malam.
Awalnya, ia masih menangis dua kali seminggu. Biasanya malam Jumat, saat semua orang sedang asyik dengan kegiatannya masing masing, saat rumah terasa sepi, saat kenangan datang tanpa diundang. Lalu sekali seminggu. Lalu dua kali sebulan. Lalu hanya sesekali, saat hujan turun di malam hari dan suaranya seperti orang yang sedang menangis, atau saat ia tidak sengaja menemukan catatan lama Hermanto di saku seragamnya, catatan yang sudah lusuh karena terlalu sering dibasahi air mata, tulisannya mulai pudar, hampir tidak terbaca.
Air mata tidak lagi menjadi tamu tetap. Mereka datang, lalu pergi. Tidak menetap. Tidak menginap. Tidak membawa koper.
Anita mulai tersenyum lagi. Bukan senyum lebar seperti dulu, sebelum Hermanto, sebelum Anton, sebelum semua drama, sebelum hatinya diinjak injak, sebelum dunia mengajarinya bahwa cinta itu menyakitkan. Tapi senyum kecil, senyum yang lahir dari kesadaran bahwa hidup harus terus berjalan, bahwa waktu tidak akan menunggu orang yang patah hati, bahwa dunia tetap berputar meskipun ia berhenti.
"Lo tersenyum, Mit," kata Yulia suatu pagi saat mereka berjalan ke sekolah, di bawah langit yang mulai terang, di antara sawah yang mulai mengering.
"Emangnya gue tidak boleh?" Anita menoleh. Wajahnya masih pucat, masih ada lingkaran hitam di bawah mata, tapi senyumnya tidak dipaksakan.
"Boleh. Gue cuma kangen." Yulia tersenyum juga, tapi matanya berkaca kaca. "Gue kangen lihat lo tersenyum tanpa beban. Kangen lihat lo tertawa sampai perut sakit. Kangen lihat lo cerita tentang hal hal yang tidak penting tapi seru."
Anita tersenyum lebih lebar. "Gue juga kangen sama diri gue yang dulu."
"Lo akan kembali. Perlahan. Seperti air laut yang naik, tidak terasa, tapi pasti."
"Iya. Perlahan."
Di kelas XII. Tahun terakhir SMA.
Tahun ajaran baru dimulai. Waktu bergerak cepat, terlalu cepat, seperti kereta yang tidak mau berhenti di stasiun.
Anita, Yulia, Lukman, Karmila, dan Hermanto kini duduk di kelas XII, kelas terakhir sebelum mereka dilempar ke dunia nyata yang lebih kejam daripada sekadar gosip sekolah, kelas terakhir sebelum mereka harus memilih jalan hidup masing masing, kelas terakhir sebelum persahabatan ini mungkin berakhir atau berubah bentuk.
Suasana kelas berbeda. Tidak ada lagi tawa lepas di jam istirahat. Tidak ada lagi candaan yang mengganggu konsentrasi. Yang ada hanya suara pulpen yang mencatat, suara buku yang dibuka dan ditutup, suara napas yang tertahan saat mengerjakan soal.
Ada tekanan baru yang namanya Ujian Nasional. Ada target baru yang namanya PTN. Ada mimpi mimpi baru yang harus diperjuangkan, dan tidak ada waktu untuk patah hati berkepanjangan. Patah hati tidak akan membantu lulus ujian. Patah hati tidak akan membuka pintu universitas. Patah hati tidak akan membayar SPP.
"Tahun depan kita kelas XII, Lin. UN lagi. Kita harus serius," kata Anita pada Yulia suatu sore di perpustakaan, di pojok yang sama tempat dulu ia menangis, di tempat yang sama tempat ia bersembunyi dari dunia.
"Iya, Mit. Kita masuk PTN bersama, ya." Yulia mengulurkan kelingkingnya. Jari kelingking yang mungil, dengan kuku yang pendek, dengan bekas luka kecil di ruas kedua, bekas tergores seng waktu membantu ibunya membuat anyaman.
"Iya. Kita buktikan bahwa anak desa juga bisa."
Kelingking mereka bertaut. Janji kecil yang akan menjadi pendorong di hari hari sulit. Janji yang mungkin akan dilupakan nanti, tapi untuk sekarang, terasa sangat kuat.
Lukman, yang duduk di samping mereka, tersenyum. Wajahnya yang biasa tenang itu kini terlihat lebih serius, lebih dewasa. "Gue juga mau ikut."
"Lo kan IPS," kata Yulia, setengah menggoda, setengah serius.
"PTN juga punya jurusan IPS." Lukman mengangkat bahu. "Ekonomi, akuntansi, manajemen. Banyak."
"Ya sudah. Kita bertiga."
"Kita berempat," suara dari belakang.
Mereka menoleh.
Karmila berdiri di pintu perpustakaan. Buku di tangan, wajah datar, tidak ada ekspresi. Rambutnya yang dulu selalu terurai kini diikat ke belakang, rapi. Seragamnya yang dulu selalu kusut kini terlihat disetrika, tidak ada kerutan. Matanya yang dulu selalu menghindar kini menatap lurus.
Yulia mengernyit. "Lo?"
"Gue juga mau masuk PTN. Meskipun mungkin tidak di Semarang." Karmila masuk, berjalan ke arah mereka, lalu duduk di kursi kosong di samping Lukman. "Gue mau ambil seni rupa. Di UNNES, mungkin. Atau ISI."
Tidak ada yang protes. Tidak ada yang menolak. Meskipun Yulia masih ingat bagaimana Karmila mendekati Hermanto dulu, mungkin dengan tujuan tertentu, mungkin dengan niat yang tidak baik. Tapi untuk urusan PTN, semua orang boleh bermimpi. Bahkan orang yang pernah berkhianat. Bahkan orang yang pernah menjadi bayangan.
"Ya sudah, kita berempat," kata Anita. "Anak desa membuktikan diri."
Mereka tertawa. Kecil. Tapi tawa tetaplah tawa. Tawa yang hangat. Tawa yang mengingatkan bahwa di balik semua luka dan pengkhianatan, masih ada ruang untuk memaafkan.
Lukman tetap setia di sisi Anita.
Tanpa memaksa. Tanpa menuntut. Tanpa cemburu.
Ia hanya ada. Seperti pohon besar yang memberikan keteduhan tanpa meminta imbalan, tidak pernah mengeluh meskipun daunnya gugur, tidak pernah marah meskipun buahnya dipetik orang. Seperti air yang selalu siap diminum saat tenggorokan kering, tidak pernah berkata "aku lelah", tidak pernah berkata "aku pergi".
Setiap pagi, ia menunggu di pertigaan. Duduk di bawah pohon asam yang sudah tua, di atas batu besar yang sudah ia bersihkan sendiri. Tidak dengan motor mewah seperti Anton, tapi dengan sepeda butut yang kadang rantainya putus di tengah jalan, yang kadang bannya kempes, yang kadang harus dituntun karena tidak mau hidup.
Setiap jam istirahat, ia memastikan Anita makan. Bukan dengan memaksa, bukan dengan mengawasi, tapi dengan cara yang lembut. Ia meletakkan makanan di meja Anita, sepiring nasi goreng atau semangkuk mie instan atau sebungkus pisang goreng, lalu pergi, memberikan ruang, tidak mengganggu, tidak menuntut ucapan terima kasih.
Setiap pulang sekolah, ia mengantar Anita sampai rumah. Kadang mereka bicara, tentang pelajaran, tentang masa depan, tentang hal hal yang tidak penting. Kadang diam, hanya berjalan berdampingan di jalan setapak yang berdebu, di antara sawah yang mengering, di bawah langit yang mulai gelap.
Tapi kehadirannya selalu terasa. Hangat, seperti selimut tipis di malam yang dingin, tidak cukup untuk menghilangkan dingin sepenuhnya, tapi cukup untuk membuatmu tidak mati kedinginan.
"Lo nggak capek, Man?" tanya Anita suatu sore, saat mereka duduk di teras rumahnya. Ibu Karsinem sedang di dapur, membuat teh manis untuk mereka berdua, suara cangkir dan poci beradu, suara yang sudah menjadi latar belakang hidup Anita sejak kecil.
"Capek kenapa?" Lukman menatap Anita. Matanya tidak beralih.
"Ngedeketin gue terus." Anita menunduk, memainkan ujung roknya. "Gue kan dingin. Beku. Mati rasa. Gue tidak bisa memberikan apa pun. Tidak bisa balas perasaan lo. Tidak bisa menjadi pacar lo. Tidak bisa."
Lukman menatap Anita. Tatapannya lembut, tidak menghakimi, tidak memaksa.
"Lo tidak dingin, Mit. Lo hanya sedang menyembuhkan diri." Suaranya pelan, seperti angin sore yang berembus. "Dan orang yang menyembuhkan diri butuh waktu. Butuh ruang. Butuh ditemani tanpa dituntut. Gue di sini bukan untuk meminta. Gue di sini untuk memberi."
"Lo terlalu baik untuk gue." Anita mengangkat wajah. Matanya berkaca kaca. "Gue tidak pantas diperlakukan sebaik ini."
"Tidak ada istilah 'terlalu baik untuk seseorang'." Lukman menggeleng. "Yang ada adalah 'cukup baik' atau 'tidak cukup baik'. Dan gue memilih untuk menjadi cukup baik untuk lo. Mungkin tidak sempurna. Mungkin tidak sebaik yang lo harapkan. Tapi gue akan berusaha."
Anita menunduk. Matanya panas, tapi ia tidak menangis. Sudah terlalu banyak menangis. Tidak ada air mata tersisa.
Mengapa Lukman datang di saat yang salah? pikirnya. Atau mungkin tidak ada yang namanya 'saat yang salah'. Yang ada adalah 'saat yang tidak tepat'. Dan mungkin Lukman adalah orang yang tepat, tapi datang di waktu yang tidak tepat. Di waktu hati Anita masih penuh dengan luka. Di waktu Anita belum bisa menerima siapa pun.
"Man," Anita memanggil pelan.
"Hm?"
"Gue kagum sama lo."
"Kagum kenapa?" Lukman tersenyum, sedikit bingung.
"Lo jatuh berkali kali, tetapi lo selalu bangkit lagi." Anita menatap Lukman. Matanya jujur. "Padahal gue sudah jelas jelas bilang belum siap. Padahal gue sudah jelas jelas bilang jangan berharap. Tapi lo tetap di sini. Tidak marah. Tidak kecewa. Tidak pergi."
Lukman tersenyum. Senyum yang hangat, seperti matahari pagi. "Lo juga. Lo juga jatuh berkali kali, tapi lo selalu bangkit lagi. Padahal hidup lo lebih berat dari gue. Padahal cobaan lo lebih banyak dari gue. Tapi lo masih berdiri. Masih tersenyum. Masih berjuang."
"Gue tidak sekuat itu." Anita menggeleng. "Gue sering ingin menyerah. Setiap hari. Setiap pagi saat bangun, gue berpikir, 'untuk apa?' Setiap malam sebelum tidur, gue berpikir, 'capek.' Tapi gue tidak punya pilihan. Kalau gue menyerah, ibuku yang rugi. Ibuku yang sudah membanting tulang untuk gue. Gue tidak tega."
"Justru karena lo merasa tidak kuat, lo sebenarnya kuat." Lukman meraih tangan Anita. Perlahan, lembut, seperti mengambil sesuatu yang rapuh. "Orang yang benar benar lemah tidak pernah menyadari kelemahannya. Mereka hanya mengeluh, hanya menyerah, hanya berhenti. Tapi lo tidak. Lo tetap berjalan meskipun berat. Itu namanya kuat."
Anita terdiam.
Filosofis sekali, pikirnya. Tapi mungkin dia benar. Mungkin kekuatan tidak selalu tentang otot. Mungkin kekuatan adalah tentang bertahan ketika semua orang berpikir kamu akan runtuh. Mungkin kekuatan adalah tentang tersenyum ketika hati sedang hancur.
"Man, gue belum bisa membalas perasaan lo." Anita melepaskan tangannya dari genggaman Lukman. Tidak kasar. Tidak marah. Hanya jujur. "Bahkan mungkin tidak akan pernah."
"Gue tidak minta lo membalas." Lukman tidak terlihat kecewa. Wajahnya tetap tenang.
"Tapi..."
"Mit." Lukman menatap Anita, menatap lurus ke matanya. Matanya jujur, jujur seperti langit biru tanpa awan, seperti air sungai yang mengalir tanpa henti. "Gue tidak akan memaksa. Gue hanya ingin lo tahu, ketika lo siap, untuk mencintai lagi, untuk membuka hati lagi, gue akan ada. Tapi kalau lo memilih orang lain, kalau lo memilih Hermanto, gue akan ikhlas."
"Lo terlalu ikhlas." Anita tersenyum pahit. "Sampai membuatku merasa bersalah."
"Tidak ada yang terlalu ikhlas, Mit." Lukman menggeleng. "Yang ada adalah mencintai dengan tulus atau tidak sama sekali. Dan gue memilih untuk tulus. Meskipun tulus tidak selalu dibalas. Meskipun tulus bisa menyakitkan."
Anita tidak bisa berkata kata.
Laki laki ini, pikirnya, laki laki ini akan membuat seseorang sangat bahagia suatu hari nanti. Mungkin bukan aku. Mungkin seseorang yang lebih pantas. Mungkin seseorang yang tidak memiliki luka sedalam diriku. Tapi seseorang pasti akan sangat beruntung memiliki Lukman.
"Lo hebat, Mit," kata Lukman kemudian, memecah keheningan.
"Kenapa lo bilang begitu?" Anita menatapnya, bingung.
"Karena lo jatuh berkali kali, tetapi lo selalu bangkit lagi." Lukman tersenyum. "Tidak semua orang bisa seperti itu. Banyak orang yang jatuh sekali lalu memilih tidak bangkit. Banyak orang yang patah hati sekali lalu memilih tidak mencintai lagi. Tapi lo tidak. Lo masih di sini. Masih berjuang. Masih tersenyum."
Anita tersenyum pahit. Senyum yang tidak sampai ke mata. "Karena jatuh itu tidak masalah, Man. Yang masalah adalah tidak mau bangkit. Yang masalah adalah memilih untuk terus berbaring di tanah sambil menunggu mati."
"Lo hebat." Lukman tidak berhenti memuji.
"Gue hanya anak desa biasa yang tidak mau kalah sama keadaan." Anita mengangkat bahu. "Tidak lebih. Tidak kurang."
Mereka terdiam. Angin sore berembus, membawa bau tembakau kering dari Dusun Kersan, bau yang sudah menjadi latar hidup Anita sejak kecil, bau yang akan selalu ia ingat meskipun suatu hari nanti ia pergi jauh. Di kejauhan, Pesisir Pantura tampak biru keabu abuan, seperti mimpi yang tidak pernah bisa digenggam.
"Man," Anita memecah keheningan.
"Hm?"
"Makasih ya. Udah sabar sama gue." Anita menatap Lukman. Matanya jujur. "Gue tahu gue menyebalkan. Gue tahu gue dingin. Gue tahu gue tidak pernah memberi lo harapan. Tapi lo tetap di sini. Tidak pergi. Tidak marah."
"Jangan makasih." Lukman tersenyum. "Gue senang bisa ada untuk lo. Meskipun hanya sebagai teman. Meskipun hanya sebagai tempat lo bersandar saat lelah."
Anita tersenyum. Senyum tulus, untuk pertama kalinya dalam bulan bulan terakhir. Senyum yang tidak dipaksakan. Senyum yang lahir dari hati. Senyum yang mengatakan "aku baik baik saja" tanpa perlu mengucapkannya.
Sementara itu, Hermanto.
Ia sering mencuri pandang ke arah Anita.
Dari kejauhan. Dari balik jendela kelas, saat Anita tidak melihat. Dari sudut kantin yang sepi, saat Anita sedang makan siang bersama Yulia dan Lukman. Dari perpustakaan, tempat mereka dulu sering belajar bersama, tempat mereka dulu berbagi catatan, tempat mereka dulu tertawa tanpa beban.
Rasa bersalah masih menghantuinya. Setiap malam. Setiap pagi. Setiap kali ia melihat Anita.
Dia menangis karena aku, pikir Hermanto. Karena orang tuaku. Karena keluargaku. Karena status sosial. Karena aku tidak bisa melawan. Karena aku pengecut.
Dan aku diam. Tidak bisa berbuat apa apa. Tidak bisa melindungi. Tidak bisa membela. Tidak bisa.
Ia ingin mendekati Anita. Ingin meminta maaf, meskipun ia tahu maaf tidak akan cukup. Ingin menjelaskan bahwa ia tidak punya pilihan, meskipun alasan itu terdengar seperti pembenaran. Ingin memeluknya, meskipun ia tidak yakin Anita akan menerima.
Tapi ia takut.
Takut orang tuanya akan melukai Anita lebih dalam lagi. Takut mereka akan mengancam Anita dengan masa depan, dengan kuliah, dengan universitas, dengan semua mimpi yang sudah Anita perjuangkan sejak kecil. Takut mereka akan menghancurkan Anita sepenuhnya.
Lebih baik aku diam, pikir Hermanto. Diam dan menjauh. Diam dan membiarkan Anita hidup tanpa aku. Diam dan menerima bahwa cinta tidak selalu harus memiliki. Terkadang, cinta adalah tentang melepaskan. Melepaskan agar dia tidak terluka lebih dalam. Melepaskan agar dia bisa bahagia dengan orang lain. Melepaskan karena itu yang terbaik untuknya.
Ia menarik napas panjang. Panjang seperti napas terakhir. Lalu kembali menatap buku, buku yang tidak ia baca, karena pikirannya terlalu penuh dengan Anita, karena hatinya terlalu sesak dengan penyesalan, karena jiwanya terlalu lelah dengan semua ini.
Suatu hari, Hermanto dan Anita berpapasan di lorong.
Hanya mereka berdua. Yulia sedang ke kantin. Lukman sedang ada urusan. Karmila tidak terlihat, mungkin sedang menggambar di perpustakaan. Lorong itu sepi, hanya suara langkah kaki mereka yang bergema di dinding.
Mereka berhenti. Saling menatap.
Hanya dua meter memisahkan mereka. Tapi terasa seperti dua kilometer. Seperti jarak antara bumi dan bulan. Seperti jarak antara mimpi dan kenyataan.
"Mit..." Hermanto memulai, suaranya serak, seperti orang yang baru bangun tidur, seperti orang yang baru saja menangis.
"Man..." Anita juga bicara bersamaan. Suaranya juga serak. Juga bergetar. Juga penuh dengan rasa yang tidak bisa dijelaskan.
Mereka terdiam.
Banyak yang ingin kukatakan, pikir Hermanto. Aku ingin minta maaf. Aku ingin menjelaskan. Aku ingin mengatakan bahwa aku masih mencintainya. Tapi tidak ada kata yang cukup untuk menggambarkan penyesalan ini. Tidak ada kata yang cukup untuk meminta maaf atas semua sakit yang telah ia sebabkan.
Banyak yang ingin kutanyakan, pikir Anita. Apakah dia baik baik saja? Apakah dia bahagia di Semarang? Apakah dia masih ingat janjinya? Tapi aku takut dengan jawabannya. Takut dia bilang dia sudah lupa. Takut dia bilang dia tidak pernah serius.
"Hai," kata Hermanto akhirnya, memilih kata yang paling aman, kata yang paling tidak bermakna, kata yang tidak akan melukai siapa pun.
"Hai," jawab Anita, juga memilih kata yang paling aman, kata yang paling netral, kata yang tidak akan mengungkapkan apa pun.
"Lo baik baik saja?" Hermanto bertanya, meskipun ia tahu jawabannya, meskipun ia tahu Anita tidak baik baik saja, meskipun ia tahu ini pertanyaan bodoh.
"Gue baik baik saja. Lo?" Anita tersenyum. Senyum yang dipaksakan. Senyum yang tidak sampai ke mata.
"Gue juga."
Kebohongan. Keduanya berbohong. Tapi kebohongan adalah bentuk kebaikan di saat kebenaran terlalu menyakitkan. Kebohongan adalah perban untuk luka yang tidak bisa disembuhkan. Kebohongan adalah tameng untuk hati yang sudah terlalu sering tertusuk.
"Gue harus ke kelas," kata Anita. Matanya menghindar.
"Iya. Gue juga."
Mereka berjalan saling menjauh. Tidak ada yang menoleh ke belakang. Tidak ada yang berani. Tidak ada yang cukup berani.
Tapi di hati masing masing, ada yang berbisik.
"Aku masih mencintaimu."
Tapi tidak ada yang mengucapkannya.
Karena beberapa kata lebih baik tidak diucapkan. Karena beberapa perasaan lebih baik disimpan sendiri. Karena beberapa cinta tidak perlu diumumkan.
Rumah Anita, malam itu.
Lampu petromaks menyala redup. Cahayanya berkedip kedip, seperti sedang berusaha mati tapi tidak berani.
Anita duduk di meja belajarnya. Meja kayu tua yang sudah tergores gores, bekas tumpahan tinta, bekas air mata, bekas goresan pulpen saat ia marah atau sedih atau bingung.
Ia membuka buku catatannya. Buku yang selalu ia simpan di bawah bantal, buku yang sudah lusuh karena sering dibuka dan ditutup, karena sering basah oleh air mata, karena sering menjadi satu satunya tempat ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa topeng.
Buku itu sudah hampir penuh. Tinggal beberapa halaman lagi. Beberapa halaman terakhir yang akan menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya selama tiga tahun terakhir.
Ia membaca tulisannya yang lama.
"Selamat tinggal, Man. Aku mengikhlaskanmu. Meskipun mengikhlaskan adalah hal tersulit yang pernah kulakukan."
"Lukman datang setiap hari. Dia membuatku merasa tidak sendirian."
"Hari ini aku menolak Anton. Aku bilang, 'Hatiku masih terluka. Tapi tidak sekotor hatimu.'"
Kali ini, ia menulis dengan tangan yang tidak lagi gemetar seperti dulu.
"Lima bulan telah berlalu. Lima bulan sejak orang tuanya datang. Lima bulan sejak aku memutuskan untuk melepaskannya. Lima bulan sejak aku belajar bahwa cinta tidak cukup.
Aku tidak lagi menangis setiap malam. Aku mulai tersenyum lagi. Bukan karena aku sudah melupakan Hermanto, karena tidak semudah itu. Tapi karena aku sadar, hidup harus terus berjalan. Waktu tidak akan berhenti untuk orang yang patah hati. Dunia tetap berputar meskipun aku berhenti.
Lukman masih ada. Setia. Sabar. Tidak memaksa. Dia seperti pohon besar yang memberikan keteduhan tanpa meminta imbalan. Tidak pernah mengeluh meskipun daunnya gugur. Tidak pernah marah meskipun buahnya dipetik orang.
Aku belum bisa mencintainya. Mungkin tidak akan pernah. Tapi aku berterima kasih padanya. Karena dia mengajarkanku bahwa cinta tidak selalu tentang memiliki. Cinta juga tentang memberi ruang. Tentang menunggu tanpa memaksa. Tentang ikhlas meskipun tidak dibalas.
Hermanto masih di sekolah yang sama. Jarak di antara kami hanya beberapa meter. Tapi terasa seperti lautan yang tidak bisa diseberangi. Seperti samudra yang tidak mungkin dipanjat. Seperti dinding yang tidak bisa ditembus.
Kami berpapasan di lorong hari ini. Hanya berdua. Kami bilang 'hai' dan 'kabarmu baik baik saja?' Kebohongan yang disepakati bersama. Kebohongan yang menjadi tameng. Kebohongan yang melindungi kami dari rasa sakit yang lebih dalam.
Aku masih mencintainya. Mungkin akan selalu mencintainya. Cinta pertama tidak pernah benar benar hilang. Ia hanya berubah bentuk. Dari api menjadi abu. Dari air menjadi es. Dari teriakan menjadi bisikan.
Tapi aku belajar bahwa cinta tidak harus memiliki. Cinta bisa berupa doa. Cinta bisa berupa melepaskan. Cinta bisa berupa kebahagiaan untuknya meskipun tanpa diriku. Cinta bisa berupa harapan bahwa suatu hari nanti dia akan bahagia, dengan atau tanpa aku.
Tahun depan, UN. Lalu PTN. Lalu hidup yang sesungguhnya. Pilihan pilihan yang harus dibuat. Jalan jalan yang harus dipilih.
Aku tidak tahu apakah aku akan bertemu Hermanto lagi setelah lulus. Apakah jalan kami akan berpisah selamanya. Apakah kami akan menjadi dua orang asing yang saling mengenal wajah tapi tidak berhak saling menyapa.
Tapi aku berharap. Jika kita bertemu di lain waktu, di tempat yang berbeda, dengan status yang lebih seimbang, dengan hati yang lebih utuh, mungkin kita bisa memulai lagi.
Atau mungkin tidak.
Tapi tidak apa apa.
Aku sudah kuat. Setidaknya, lebih kuat dari dulu. Setidaknya, tidak akan hancur hanya karena dia pergi. Setidaknya, bisa tersenyum meskipun masih sakit.
Selamat malam, Man.
Mimpi indah. Meskipun mungkin tidak bersama. Meskipun mungkin tidak akan pernah bersama. Meskipun mimpi itu adalah satu satunya tempat kita bisa bertemu tanpa rasa takut."
Ia menutup buku. Memeluknya.
Esok, pikir Anita. Esok aku akan belajar lagi. Berjuang lagi. Tersenyum lagi. Karena hidup tidak berhenti untuk orang yang patah hati. Dan aku tidak akan membiarkan patah hati menghentikanku. Tidak akan. Tidak bisa. Tidak mau.
Di luar kamar, suara jangkrik mulai bersahutan.
Orkestra malam yang tidak pernah lelah. Suara yang sudah menemani Anita tidur sejak ia kecil. Suara yang akan selalu ia rindu jika suatu hari nanti ia pergi dari desa ini.
Anita memejamkan mata.
Besok, pikirnya, besok adalah hari baru. Dan aku akan menjalaninya. Dengan atau tanpa cinta. Dengan atau tanpa Hermanto. Dengan atau tanpa luka yang masih menganga.
Karena aku bukan lagi gadis yang takut jatuh. Aku adalah gadis yang sudah jatuh dan bangkit berkali kali. Dan aku akan terus bangkit. Sampai kapan pun.
Bab 25: Ujian Sekolah Kelulusan SMA
Maret 2020. Dua tahun setelah orang tua Hermanto datang.
Waktu berjalan tanpa izin.
Dua tahun telah berlalu sejak orang tua Hermanto menghancurkan hati Anita di ruang kepala sekolah. Dua tahun sejak Hermanto memilih diam untuk melindungi. Dua tahun sejak Anita memulai proses menyembuhkan dirinya — perlahan, seperti merangkai kaca yang pecah, satu per satu.
Sekarang, mereka duduk di kelas XII. Kelas terakhir. Setelah ini, dunia yang sesungguhnya menanti — dengan pilihan-pilihan yang tidak bisa dihindari, dengan perpisahan yang mungkin permanen.
Di kelas XII IPA 1, suasana berbeda. Tidak ada lagi gosip tentang Anita dan Hermanto. Tidak ada lagi persaingan Anton (yang sudah lulus setahun sebelumnya dan kini kuliah di Semarang, melupakan Anita setelah berkali-kali ditolak). Tidak ada lagi drama Karmila (yang kini lebih fokus menggambar dan mulai diterima di beberapa lomba seni).
Yang ada hanyalah ujian. UN. PTN. Masa depan.
Dan Anita, Yulia, Lukman, Hermanto, dan Karmila — mereka semua tenggelam dalam buku, soal, dan mimpi-mimpi yang harus diperjuangkan.
Detik-detik terakhir di SMA.
Ujian sekolah kelulusan tiba.
Tiga hari. Enam mata pelajaran. Ratusan soal. Ribuan menit belajar yang terakumulasi dalam beberapa lembar kertas dan pensil 2B.
Anita belajar mati-matian. Bukan karena ia ingin mempertahankan peringkat pertama. Tapi karena belajar adalah satu-satunya hal yang tidak pernah mengkhianatinya.
Rumus Fisika selalu benar. Gravitasi selalu menarik ke bawah. Energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan. Tapi hati manusia? Hati manusia bisa hancur dalam sekejap, tanpa alasan yang logis.
Lebih baik aku percaya pada sains, pikir Anita, daripada pada manusia.
Yulia di sampingnya, belajar dengan metode yang berbeda — menghafal, mengerjakan soal, lalu istirahat sebentar untuk makan camilan.
"Nit , lo nggak capek?" tanya Yulia suatu malam saat mereka belajar bersama di rumah Anita. Lampu petromaks menyala redup, penerangan seadanya karena listrik sedang padam.
"Capek. Tapi tidak boleh berhenti."
"Lo keras kepala."
"Lo baru sadar?"
Mereka tertawa. Tawa yang terasa langka akhir-akhir ini.
Lukman, yang juga ikut belajar, duduk di teras — menemani, kadang bertanya soal yang tidak ia pahami. Meskipun ia jurusan IPS, ia tetap ingin membantu Anita dengan cara apa pun.
"Man, lo nggak usah ikut belajar IPA," kata Anita. "Lo kan IPS."
"Gue hanya ingin menemani."
"Lo dan menemani."
"Suka-suka gue."
Yulia menggeleng. "Cinta buat lo gila, Man."
Lukman tersenyum. "Bukan cinta. Kesetiaan."
Hermanto di rumah neneknya.
Ia belajar sendirian. Neneknya sudah semakin tua — sering lupa, kadang tidak mengenali Hermanto. Tapi di saat-saat yang jernih, neneknya masih bisa tersenyum dan berkata, "Kamu harus jadi orang sukses, Le."
Hermanto mengangguk. Lalu kembali menatap buku.
Tapi untuk apa sukses, pikirnya, kalau orang yang kusayangi tidak ada di sampingku?
Ia menoleh ke luar jendela. Langit malam di Pegandong gelap, tanpa bintang. Awan mendung menutupi semuanya — seperti masa depannya yang tidak jelas.
Anita, pikirnya. Aku masih memikirkanmu.
Setelah dua tahun.
Setelah diam.
Setelah menjauh.
Setelah semua orang berkata "lupakan saja".
Tapi aku tidak bisa.
Dan mungkin tidak akan pernah bisa.
Hari pertama ujian.
Langit cerah. Matahari bersinar terik — terlalu terik untuk bulan Maret. Anita datang lebih awal, ditemani Yulia dan Lukman.
Di depan gerbang, ia berpapasan dengan Hermanto.
Mereka saling menatap. Hanya sedetik. Lalu Hermanto menunduk — berjalan cepat meninggalkan Anita.
Anita hanya diam.
Dua tahun, pikirnya. Dua tahun kita seperti ini. Berpapasan. Menunduk. Berjalan saling menjauh.
Dan aku masih belum bisa terbiasa.
"Nit , lo nggak apa-apa?" tanya Yulia.
"Gue baik-baik saja."
"Lo pucat."
"Karena kurang tidur."
Yulia tidak percaya. Tapi ia tidak bertanya lebih lanjut.
Ujian berlangsung tiga hari.
Anita keluar dari setiap ruang ujian dengan perasaan lega. Bukan lega karena ujian selesai, tapi lega karena setidaknya ada sesuatu yang berjalan sesuai rencana.
Matematika: ia yakin 100.
Bahasa Indonesia: ia yakin 95.
Bahasa Inggris: ia yakin 98.
Fisika: ia yakin 100.
Kimia: 100.
Biologi: 100.
Sempurna, pikir Anita. Setidaknya dalam ujian, aku sempurna.
Tidak seperti hidupku.
Yulia keluar dengan wajah sedikit tegang. "Nit , gue ragu sama Fisika."
"Tenang, Lin. Lo pasti bisa."
"Lo yakin?"
"Iya. Gue yakin."
Yulia tersenyum. "Makasih, Nit ."
Lukman keluar dengan wajah lega. "Gue yakin IPS gue 90 ke atas."
"Bagus, Man," kata Anita.
"Lo sendiri?"
"Aman."
"Lo selalu aman."
"Iya. Karena gue tidak memberi ruang untuk kesalahan."
Tidak seperti cinta, pikir Anita. Cinta selalu memberi ruang untuk kesalahan. Dan kesalahan selalu menghancurkan.
Pengumuman nilai ujian sekolah. Seminggu kemudian.
Pak Martono naik ke panggung saat upacara bendera — upacara terakhir untuk angkatan 2020. Selembar kertas di tangannya: hasil ujian sekolah seluruh siswa kelas XII.
"Dengan ini, kami umumkan peringkat nilai ujian sekolah."
Tepuk tangan.
"Peringkat pertama... Anita. Nilai rata-rata 9,9."
Tepuk tangan membahana. Anita berdiri di barisan depan, tersenyum kecil. Di barisan belakang, Ibu Karsinem menangis — menangis haru, seperti dulu saat kelulusan SMP.
"Peringkat kedua... Yulia. Nilai rata-rata 9,4."
Yulia melompat kecil. "NIT ! GUE DAPAT 9,4!"
"Selamat, Lin!"
"Peringkat ketiga... Hermanto. Nilai rata-rata 9,2."
Tepuk tangan lagi. Hermanto berdiri di barisan belakang, tidak tersenyum. Matanya kosong — mencari sesuatu. Seseorang.
"Peringkat keempat... Lukman. Nilai rata-rata 8,9. Untuk jurusan IPS."
Lukman tersenyum lebar. Ia menoleh ke Anita. "Gue bisa ikut PTN!"
"Selamat, Man!"
Karmila, yang duduk di barisan paling belakang, tidak masuk peringkat. Tapi ia tidak kecewa. Ia sudah diterima di program seni di Universitas Negeri Semarang melalui jalur prestasi — sesuatu yang membuatnya lebih bahagia daripada peringkat berapa pun.
"Kita berhasil, Lin," kata Anita setelah upacara usai, saat mereka berkumpul di bawah pohon trembesi.
"Iya, Nita . Akhirnya."
"Perjuangan kita belum selesai. UN masih menunggu. PTN juga."
"Iya. Tapi setidaknya, kita sudah melewati satu rintangan."
Mereka berpelukan. Lukman bergabung — memeluk mereka berdua, membuat Yulia terkejut.
"Lukman! Lo jangan ikut-ikutan!"
"Kenapa? Kita kan teman."
"Tapi gue cewek!"
"Gue tidak melihat gender. Gue melihat kesuksesan."
Yulia tertawa. Anita juga tersenyum.
Ini saat-saat yang akan kurindukan, pikir Anita. Bersama Yulia. Bersama Lukman. Tertawa. Berpelukan. Merayakan keberhasilan kecil.
Meskipun Hermanto tidak ada di sini.
Meskipun mungkin selamanya tidak akan ada.
Di halaman sekolah, Anita dan Hermanto bertemu.
Bukan sengaja. Tapi tidak bisa dihindari. Seperti takdir yang suka bercanda — mempertemukan dua orang yang saling mencintai, tapi tidak bisa bersatu.
Yulia dan Lukman berdiri agak jauh — memberi ruang, memberi kesempatan terakhir.
"Selamat, ya, Nita ," kata Hermanto. Suaranya lirih — lirih seperti angin malam.
"Terima kasih, Man. Kamu juga."
"Kamu hebat. Seperti biasa."
Anita tersenyum pahit. "Gue hanya melakukan yang terbaik."
"Lebih dari yang terbaik. Lo sempurna."
"Tidak ada yang sempurna, Man."
Mereka terdiam. Angin berembus, membawa bau bunga tanjung dari pohon di sebelah.
"Maaf untuk semuanya," kata Hermanto akhirnya, suaranya bergetar. "Maaf aku tidak bisa melindungimu. Maaf aku tidak bisa melawan orang tuaku. Maaf aku... pengecut."
Anita menatap Hermanto. Matanya berkaca-kaca — tapi ia tahan.
"Sudah, tidak usah minta maaf, Man." Suara Anita pelan — pelan seperti bisikan. "Mungkin memang sudah jalannya."
"Lo percaya takdir?"
"Gue tidak tahu. Tapi gue percaya bahwa beberapa pertemuan tidak dimaksudkan untuk menjadi kebersamaan. Beberapa pertemuan hanya untuk mengajarkan sesuatu. Lalu pergi."
Hermanto menunduk. Air matanya jatuh — jatuh ke tanah, ke rumput, ke tempat yang sama di mana dulu mereka berdua duduk di bangku bambu, bergandengan tangan, berjanji tidak akan lari.
"Gue masih mencintaimu, Nita ," bisik Hermanto. "Setelah dua tahun. Setelah diam. Setelah menjauh."
Anita diam.
Dia masih mencintaiku, pikir Anita. Setelah semua yang terjadi. Setelah orang tuanya melarang. Setelah kita berpisah.
Tapi cinta tidak cukup.
Cinta tidak bisa melawan dunia.
Cinta tidak bisa membayar uang sekolah.
Cinta tidak bisa menghapus status sosial.
"Gue juga, Man," kata Anita akhirnya. "Tapi tidak cukup."
"Kenapa?"
"Karena kita hidup di dunia nyata. Di dunia di mana 'aku mencintaimu' tidak cukup untuk mengatasi perbedaan kelas. Di dunia di mana orang tua punya kuasa atas masa depan anak-anaknya. Di dunia di mana cinta sering kalah oleh status sosial."
Hermanto tidak bisa membantah.
"Dulu, waktu SMP," Anita melanjutkan, "gue bilang cinta kita seperti bertepuk sebelah tangan — bukan antara aku dan kamu, tapi antara kita dan dunia di luar sana."
"Iya. Gue ingat."
"Sekarang, gue sadar. Cinta kita memang bertepuk sebelah tangan. Tapi bukan karena dunia tidak merestui. Tapi karena kita sendiri — aku dan kamu — tidak cukup berani untuk memperjuangkannya."
Hermanto menggigit bibir.
"Gue takut, Nita . Takut orang tuaku melukaimu. Takut mereka menghancurkan masa depanmu."
"Gue tahu. Dan gue tidak menyalahkanmu. Tapi ketakutanmu — ketakutan kita — telah memisahkan kita."
"Jadi?"
"Jadi, kita terima. Bahwa ini adalah akhir."
Hermanto menangis — menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya. Anita tidak memeluknya. Ia hanya berdiri di sampingnya — menemani, seperti dulu Hermanto menemani saat ia menangis di bangku bambu.
"Selamat jalan, Man," kata Anita. "Semoga kamu bahagia di Semarang. Semoga kamu sukses. Semoga kamu mendapatkan perempuan yang pantas untukmu."
"Tidak ada yang pantas, Nita . Hanya kamu."
Anita tersenyum pahit. "Dunia bilang tidak."
"Dunia salah."
"Mungkin. Tapi kita tidak bisa melawan dunia sendirian."
Mereka berdiri di sana — di bawah pohon trembesi, di halaman SMA Negeri I Pegandon, di tempat yang sama di mana dulu mereka pertama kali bertemu di lorong, saling pandang, saling jatuh cinta.
Tapi sekarang, mereka hanya berdiri. Berpisah. Melepaskan.
"Bye, Nita ."
"Bye, Man."
Hermanto berbalik. Berjalan perlahan meninggalkan Anita.
Anita tidak menangis. Tidak di depan Hermanto.
Ia menunggu sampai Hermanto benar-benar pergi — sampai bayangannya hilang di balik gerbang sekolah.
Baru kemudian air matanya jatuh.
Yulia dan Lukman mendekat. Mereka tidak bicara. Hanya berdiri di samping Anita — memberi ruang, memberi waktu, memberi kehangatan.
"Ayo pulang, Nit ," kata Yulia akhirnya.
"Iya, Lin. Ayo pulang."
Rumah Anita, malam itu.
Anita membuka buku catatannya. Buku yang selalu ia simpan di bawah bantal. Buku yang hampir penuh — tinggal satu halaman lagi.
Ia membaca tulisannya yang lama:
"Cinta tidak harus memiliki. Cinta bisa berupa doa. Cinta bisa berupa melepaskan."
"Selamat tinggal, Man. Aku mengikhlaskanmu."
"Lukman masih di sini. Setia. Sabar. Tidak memaksa."
Kali ini, ia menulis di halaman terakhir:
"Hari ini, kami lulus ujian sekolah. Aku peringkat pertama. Hermanto ketiga. Yulia kedua. Lukman keempat.
Kami bertemu di halaman sekolah — untuk terakhir kalinya, mungkin.
Dia bilang dia masih mencintaiku. Setelah dua tahun. Setelah diam. Setelah menjauh.
Aku juga masih mencintainya. Tapi aku bilang, 'Cinta tidak cukup.'
Dia menangis. Aku tidak.
Aku menangis setelah dia pergi.
Ini adalah akhir dari cinta pertama kami.
Bertepuk sebelah tangan — bukan karena kami tidak saling mencintai. Tapi karena kami tidak cukup berani untuk memperjuangkannya.
Dan itu bukan kesalahan siapa pun.
Itu hanya... takdir.
Atau mungkin pilihan.
Atau mungkin keduanya.
SMA telah usai. UN akan segera datang. PTN menanti. Dan setelah itu, dunia yang sesungguhnya.
Aku tidak tahu apakah aku akan bertemu Hermanto lagi. Tapi jika kita bertemu — di lain waktu, di tempat yang berbeda, dengan status yang lebih seimbang — mungkin kita bisa memulai lagi.
Tapi jika tidak...
...tidak apa-apa.
Aku sudah kuat.
Aku sudah melepaskan.
Aku sudah ikhlas.
Setidaknya, seikhlas yang aku bisa.
Selamat tinggal, SMA.
Selamat tinggal, Hermanto.
Selamat tinggal, cinta pertama.
Terima kasih telah mengajarkanku bahwa patah hati itu nyata. Tapi juga mengajarkanku bahwa aku bisa bertahan.
Dan itu lebih berharga daripada cinta yang tidak pernah kumiliki sepenuhnya."
Ia menutup buku. Memeluknya.
Buku itu sudah penuh. Tidak ada halaman kosong lagi. Seperti hidupnya — penuh dengan cerita, penuh dengan luka, penuh dengan kenangan.
Tapi juga penuh dengan harapan.
Esok, pikir Anita. Esok adalah hari baru.
Dan aku akan menjalaninya — dengan atau tanpa Hermanto.
Bab 26: Keputusan Anita
April 2020. Dua bulan setelah kelulusan SMA.
Pengumuman seleksi masuk perguruan tinggi negeri telah tiba.
Anita duduk di teras rumahnya, ditemani secangkir teh manis hangat buatan ibunya. Di pangkuannya, sebuah amplop putih tebal — amplop undangan dari Universitas Diponegoro Semarang. Di sampingnya, sebuah surat dari UNTAG Semarang — juga tebal, juga resmi.
Ia sudah membuka keduanya. Sudah membacanya berkali-kali. Tapi masih belum bisa memutuskan.
Amplop pertama — dari UNDIP.
"Dengan ini menerima Anita binti Karsinem sebagai mahasiswa baru jalur undangan..."
UNDIP. Universitas Diponegoro. PTN favorit se-Jawa Tengah. Mimpi semua anak SMA di Kendal. Gengsi. Prestise. Masa depan cerah.
Tapi juga: biaya. UKT. Hidup di Semarang yang mahal. Beban ibunya yang semakin berat.
Amplop kedua — dari UNTAG.
"Dengan ini menerima Anita binti Karsinem sebagai mahasiswa baru dengan beasiswa penuh..."
UNTAG. Universitas 17 Agustus 1945 Semarang. PTS. Tidak sepopuler UNDIP. Tapi beasiswa penuh. Gratis. Tidak perlu bayar SPP. Bahkan ada uang saku bulanan — meskipun kecil.
Anita juga bisa sambil bekerja paruh waktu. Biaya hidup bisa dicari sendiri. Ibunya tidak perlu mengirim uang. Ibunya bisa istirahat. Ibunya tidak perlu lagi mencuci baju orang lain sampai tangannya pecah-pecah.
Kuliah gratis, pikir Anita. Itu yang selama ini aku impikan.
Tapi kenapa rasanya seperti mengkhianati mimpiku sendiri?
Yulia datang sore itu.
Ia langsung duduk di samping Anita, mengambil amplop UNDIP, membacanya, lalu berteriak.
"NIT ! LO DITERIMA DI UNDIP!"
Anita tersenyum tipis. "Iya, Lin."
"INI HE BAT! LO HARUS KULIAH DI SINI!"
"Tapi gue juga diterima di UNTAG dengan beasiswa penuh, Lin."
Yulia berhenti berteriak. Ia membaca amplop UNTAG, lalu menatap Anita. "Beasiswa penuh?"
"Iya. Gratis. SPP ditanggung. Ada uang saku."
"Wah..."
"Itu berarti ibu gue tidak perlu bayar apa-apa. Gue bisa cari uang sendiri buat biaya hidup. Ibu bisa istirahat."
Yulia terdiam. Ia tahu bagaimana kondisi ekonomi Anita. Ia tahu Ibu Karsinem sudah terlalu lama bekerja keras, terlalu lama mengorbankan kesehatannya, terlalu lama menahan sakit hanya agar Anita bisa sekolah.
Tapi ia juga tahu Anita pantas mendapatkan yang terbaik. Anita pantas kuliah di PTN favorit. Anita pantas merasakan bangku universitas negeri yang selama ini hanya bisa ia lihat dari luar gerbang.
"Nit , lo harus pilih yang terbaik buat lo," kata Yulia akhirnya. Bukan sebagai sahabat yang mendorong, tapi sebagai sahabat yang mendampingi. "Bukan yang terbaik buat orang lain. Bukan yang terbaik buat ibu lo. Tapi yang terbaik buat lo."
"Tapi ibu—"
"Ibu lo pasti bangga apa pun pilihan lo."
Anita menunduk. "Gue nggak mau membebani ibu, Lin. Di UNTAG gue bisa sambil bekerja paruh waktu. Biaya hidup bisa gue cari sendiri."
"Lo dewasa sekali, Nita ."
"Harus."
Tapi di dalam hati, Anita bertanya: Apakah ini dewasa? Atau hanya takut menjadi beban? Apakah ini mandiri? Atau hanya tidak percaya bahwa orang lain rela membantu?
Ia tidak tahu.
Yang ia tahu, ia tidak ingin ibunya menangis lagi karena tidak bisa membayar uang kuliahnya.
Ibu Karsinem di dapur, mendengar semuanya.
Ia tidak ikut campur. Tidak memberi saran. Tidak memaksa. Ia hanya mendengar — mendengar anaknya yang sudah dewasa, yang sudah bisa memikirkan ibunya sebelum memikirkan dirinya sendiri.
Anakku, pikir Bu Karsinem sambil membalik gorengan di wajan, ibu bangga padamu. Apa pun pilihanmu, ibu bangga.
Tapi air matanya tetap jatuh.
Bukan sedih. Tapi haru.
Malam itu, Anita tidak bisa tidur.
Ia berbaring di dipan tipisnya, memandangi langit-langit anyaman bambu yang sudah ia lihat sejak kecil. Lampu petromaks di luar sudah dimatikan. Hanya cahaya bulan yang masuk melalui celah dinding.
Ia membuka buku catatannya — buku yang sudah penuh, tidak ada halaman kosong lagi. Tapi ia tetap membukanya, membaca tulisannya yang lama, mengingat kembali perjalanan yang sudah ia lewati.
Hermanto. Lukman. Anton. Karmila. Novi.
Suka. Duka. Fitnah. Pengkhianatan. Cinta. Patah hati.
Semua tertulis di sini. Semua sudah berlalu.
Sekarang, hanya masa depan yang harus aku pikirkan.
Ia memejamkan mata. Membayangkan dirinya di UNDIP. Seragam almamater biru. Gedung-gedung megah. Dosen-dosen terkenal. Teman-teman baru dari seluruh Indonesia.
Lalu membayangkan dirinya di UNTAG. Kampus yang lebih kecil. Suasana yang lebih santai. Bekerja paruh waktu di kafe atau toko buku. Pulang ke kos-kosan sederhana. Mengirim uang untuk ibu.
Mana yang lebih membuatku bahagia?
Ia tidak tahu.
Mana yang lebih membuat ibu bangga?
Ia juga tidak tahu.
Tapi mana yang lebih ringan untuk ibu?
Itu jawabannya.
Keesokan paginya, Anita mengambil keputusan.
Ia menulis surat konfirmasi untuk UNTAG. Mengirimkannya lewat pos. Lalu menelepon Yulia.
"Lin, gue memilih UNTAG."
"Serius, Nit ?"
"Serius. Beasiswa penuh. Gue bisa kerja paruh waktu. Ibu gue nggak perlu kirim uang."
"Tapi..."
"Lin, ini keputusan gue. Dan gue yakin."
Yulia terdiam sejenak. Lalu ia berkata, "Baiklah. Gue dukung. Tapi janji, kalau lo butuh bantuan, lo bilang."
"Janji."
"Gue di UNDIP. Lo di UNTAG. Tapi kita masih di Semarang. Masih bisa ketemu."
"Iya, Lin. Masih bisa ketemu."
Mereka berdua tersenyum meskipun tidak saling melihat.
Yulia memilih UNDIP.
Ia diterima di Fakultas Hukum — impiannya sejak kecil. Ayahnya — kuli bangunan yang jarang pulang — menangis saat mendengar kabar itu.
"Anakku jadi pengacara," katanya. "Ayah bangga."
Yulia tidak punya hati untuk mengoreksi bahwa menjadi mahasiswa hukum tidak otomatis menjadi pengacara. Tapi biarlah. Ayahnya bahagia. Itu yang penting.
Lukman, yang sudah lulus setahun sebelumnya karena ia lebih tua (pernah tidak naik kelas di SMP), sudah lebih dulu kuliah di UNDIP, Fakultas Ekonomi. Ia diterima lewat jalur mandiri — dengan biaya yang cukup mahal, tapi orang tuanya mampu.
"Gue di UNDIP, Man," kata Yulia lewat telepon.
"Bagus! Kita satu kampus!"
"Iya. Nita di UNTAG."
"UNTAG? Bukannya dia diterima di UNDIP?"
"Iya. Tapi dia milih UNTAG karena beasiswa."
Lukman terdiam. Lalu ia berkata, "Dia anak yang baik. Memikirkan ibunya dulu."
"Iya. Terlalu baik."
"Kita jaga dia, Lin. Meskipun beda kampus."
"Janji."
Hermanto juga sudah lebih dulu kuliah.
Setelah pindah ke Semarang dua tahun lalu, ia masuk SMA Negeri 3 Semarang — sekolah favorit di ibu kota Jawa Tengah. Ia lulus setahun sebelum Anita, karena sistem percepatan yang diatur orang tuanya.
Sekarang, ia kuliah di UNTAG Semarang, Fakultas Hukum — jurusan yang sama dengan Yulia, tapi beda kampus. Orang tuanya ingin dia jadi pengacara. Hermanto tidak punya keberatan. Menjadi apa pun, baginya, tidak penting. Yang penting...
Yang penting apa?
Ia tidak tahu.
Yang ia tahu, ia masih memikirkan Anita.
Setelah dua tahun. Setelah diam. Setelah menjauh. Setelah semua orang berkata "lupakan saja".
Tapi ia tidak bisa.
Dan mungkin tidak akan pernah bisa.
Takdir mempertemukan mereka lagi.
Agustus 2020. Masa orientasi mahasiswa baru di UNTAG Semarang.
Anita berdiri di halaman kampus, sendirian. Kampus UNTAG tidak sebesar UNDIP, tidak semegah PTN favorit. Tapi ada kenyamanan di sini. Ada kedamaian. Ada beasiswa yang membuatnya tidak perlu khawatir tentang biaya.
Ia mendaftar di Fakultas Ekonomi, Jurusan Manajemen. Pilihannya karena Manajemen dianggap lebih mudah mencari kerja — dan karena ia tidak ingin bersaing dengan Hermanto di Fakultas Hukum.
Atau karena aku takut bertemu dengannya?
Mungkin.
Tapi takdir tidak perduli dengan ketakutan.
"Halo, Anita."
Suara itu. Suara yang tidak pernah bisa ia lupakan. Suara yang dulu membuatnya jatuh cinta di jalan Randu Gembyang.
Anita menoleh.
Hermanto berdiri di sampingnya. Tinggi. Rambut sebahu — tapi sekarang diikat rapi ke belakang. Wajahnya lebih dewasa. Matanya masih sama — teduh, tapi sekarang ada kelelahannya.
"Man?" Anita terkejut. "Lo kuliah di sini?"
"Iya. Gue di Fakultas Hukum. Lo?"
"Manajemen."
"Bagus. Kita kampusnya sama, fakultasnya beda."
Anita tidak tahu harus berkata apa. Hatinya berdegup kencang — seperti dulu, saat pertama kali melihat Hermanto di lorong SMP.
Dua tahun, pikir Anita. Dua tahun aku berusaha melupakanmu. Tapi detak jantungku tidak pernah lupa.
"Kita masih bisa berteman, kan?" tanya Hermanto.
Anita menatap Hermanto lama. Lalu tersenyum — senyum yang tidak lagi pahit, tapi juga tidak sepenuhnya manis.
"Bisa, Man. Tapi hanya teman."
Hermanto mengangguk. "Hanya teman. Itu sudah cukup."
Mereka berdiri di halaman kampus UNTAG — di tempat yang sama, di waktu yang berbeda, dengan status yang sedikit lebih seimbang.
Tapi apakah cukup seimbang? pikir Anita. Aku masih anak buruh cuci. Dia masih anak orang kaya.
Tapi setidaknya, sekarang kita sama-sama mahasiswa.
Sama-sama berjuang.
Sama-sama mencari mimpi.
Mungkin itu sudah cukup. Untuk sekarang.
Malam itu, di kos-kosan baru Anita.
Sebuah kamar kecil di daerah Pedurungan, Semarang. Hanya cukup untuk dipan, meja belajar, dan lemari kecil. Dindingnya dicat putih kusam. Lantainya keramik retak. Ada satu jendela kecil yang menghadap ke lorong.
Anita duduk di meja belajarnya. Buku catatan lamanya — buku yang sudah penuh — ia letakkan di rak. Ia membuka buku baru. Buku kosong. Halaman putih bersih.
Ia mengambil pulpen. Menulis:
"Hari pertama di UNTAG Semarang.
Aku memilih beasiswa daripada prestise. Aku memilih meringankan beban ibu daripada mengejar mimpi yang mahal. Aku tidak tahu apakah ini keputusan yang tepat. Tapi aku yakin ini keputusan yang baik.
Lukman di UNDIP. Yulia di UNDIP. Hermanto di UNTAG — Fakultas Hukum.
Takdir mempertemukan kami lagi. Di kampus yang sama, di waktu yang berbeda.
Hermanto bilang, 'Kita masih bisa berteman.'
Aku bilang, 'Bisa. Tapi hanya teman.'
Dia mengangguk. Tapi matanya... matanya berkata lain.
Aku masih mencintainya. Mungkin akan selalu mencintainya. Tapi aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama.
Dulu, aku takut. Takut sakit. Takut dicampakkan. Takut jadi seperti ibuku.
Sekarang, aku masih takut. Tapi ketakutanku berbeda. Aku takut kehilangan diriku sendiri dalam cinta. Aku takut melupakan mimpiku demi seseorang.
Jadi, untuk sekarang, aku memilih sendiri.
Bukan berarti aku tidak ingin dicintai. Tapi aku ingin dicintai ketika aku sudah utuh. Ketika aku sudah menjadi seseorang. Ketika aku tidak lagi bergantung pada siapa pun.
Hermanto harus menunggu.
Atau tidak.
Tapi tidak apa-apa.
Karena aku sudah belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu tentang memiliki. Terkadang, kebahagiaan adalah tentang melepaskan.
Atau tentang memberi ruang.
Atau tentang menunggu waktu yang tepat.
Dan mungkin, waktu yang tepat itu tidak akan pernah datang.
Tapi tidak apa-apa.
Aku sudah kuat.
Setidaknya, lebih kuat dari dulu.
Semarang, Agustus 2020.
— Anita"
Ia menutup buku. Menaruhnya di samping bantal — seperti dulu, saat ia masih tinggal di Tegorejo, saat ia masih menyembunyikan perasaan di balik buku catatan.
Esok, pikir Anita. Esok adalah hari pertama kuliah. Akan ada teman baru. Dosen baru. Ilmu baru.
Dan Hermanto.
Di kampus yang sama.
Tapi jarak yang aman.
Ini bukan awal dari segalanya. Tapi juga bukan akhir.
Ini adalah...
...kelanjutan.
Dari cerita yang belum selesai.
Bab 27: Pertemuan di Semarang
September 2020. Semarang.
Stasiun Tawang — dengan arsitektur kolonialnya yang megah — menjadi saksi bisu ribuan perpisahan setiap hari. Orangtua melepas anak, kekasih berpisah, sahabat berjauhan. Tangis haru dan lambaian tangan menghiasi peron kereta.
Hari itu, Anita berdiri di peron bersama ibunya. Koper tua berwarna cokelat — satu-satunya koper yang mereka miliki — diletakkan di sampingnya. Isinya: pakaian seadanya, buku-buku catatan lama, dan satu amplop berisi uang pemberian tetangga untuk bekal di perantauan.
Ibu Karsinem memeluk Anita. Erat. Lama. Seperti tidak ingin melepaskan.
"Kamu jaga diri baik-baik, ya, Nak," bisik ibunya, suaranya bergetar.
"Iya, Bu. Anita akan sukses. Ibu tunggu, ya." Anita membalas pelukan ibunya — juga erat. Ia bisa merasakan tulang rusuk ibunya yang menonjol, tubuh kecil yang sudah terlalu lama bekerja keras tanpa istirahat.
"Kalau ada masalah, telepon Ibu."
"Anita akan baik-baik saja, Bu."
"Ibu tahu. Ibu hanya..."
Ibu Karsinem tidak melanjutkan. Air matanya jatuh — jatuh membasahi bahu seragam kemeja putih yang Anita kenakan.
"Bu, jangan nangis. Nanti Anita ikut nangis."
"Ibu tidak nangis. Ibu hanya... bangga."
Mereka berpelukan di peron stasiun yang ramai, di antara para penumpang yang sibuk dengan urusan masing-masing. Tidak ada yang memperhatikan. Tapi bagi Anita, momen ini akan terus ia ingat seumur hidup.
Ibu, pikir Anita. Ibu yang setiap subuh bangun menggoreng singkong. Ibu yang tangannya kasar karena terlalu banyak mencuci. Ibu yang tidak pernah mengeluh.
Aku akan membahagiakanmu, Bu.
Janji.
Kereta mulai bersiul. Anita melepaskan pelukan, mengambil koper tuanya, dan naik ke gerbong.
Dari balik jendela, ia melambaikan tangan. Ibu Karsinem melambaikan balik — sambil terus menangis.
Kereta bergerak perlahan. Stasiun mulai meninggal. Wajah ibunya semakin kecil, lalu hilang ditelan keramaian.
Anita duduk di kursinya. Air matanya jatuh — jatuh diam-diam, agar tidak dilihat penumpang lain.
Selamat tinggal, Tegorejo, pikirnya. Selamat tinggal, masa kecil.
Halo, Semarang.
Halo, masa depan.
Kos-kosan Anita di Pedurungan, Semarang.
Sebuah kamar kecil di lantai dua, di gang sempit yang hanya bisa dilewati motor. Dindingnya dicat putih kusam, ada retak di sudut dekat jendela. Lantainya keramik — tapi retak di beberapa bagian. Satu jendela kecil yang menghadap ke lorong, cukup untuk sinar matahari masuk di pagi hari.
Fasilitas: satu dipan tipis, satu meja belajar kayu tua, satu lemari plastik, dan satu kipas angin kecil yang berputar lambat — seperti kipas di kantin SMA dulu.
Kamar mandi di luar, berbagi dengan lima penghuni lain. Dapur juga di luar — kompor minyak tanah seadanya.
Tapi Anita tidak protes.
Ini istana bagiku, pikirnya. Karena ini adalah hasil keringat ibuku. Karena ini adalah awal dari perjuanganku.
Ia menata barang-barangnya. Buku-buku catatan lama — yang sudah penuh — ia letakkan di rak kecil di atas meja belajar. Buku catatan baru — yang masih kosong — ia letakkan di samping bantal, seperti dulu.
Buku ini akan menjadi saksi, pikir Anita. Saksi perjuanganku di Semarang.
Semoga isinya bukan tentang air mata, tapi tentang keberhasilan.
Hari pertama kuliah. Fakultas Ekonomi UNTAG Semarang.
Kampus UNTAG tidak sebesar UNDIP, tapi cukup nyaman. Pohon-pohon rindang tumbuh di setiap sudut. Bangunan-bangunan tidak terlalu tinggi, tapi terawat. Mahasiswa lalu-lalang dengan senyum di wajah — semangat hari pertama.
Anita berdiri di halaman kampus, sendirian. Koper kecil berisi buku catatan dan pulpen. Ia mengenakan kemeja putih polos dan rok hitam — sederhana, tapi rapi.
Hari pertama, pikirnya. Aku harus memberikan kesan baik.
Ia berjalan menuju gedung perkuliahan. Matanya membaca papan pengumuman, mencari ruang kuliah untuk Fakultas Ekonomi.
"Nita !"
Suara itu.
Suara yang tidak mungkin ia lupakan.
Suara yang dulu membuatnya jatuh cinta di jalan Randu Gembyang, yang dulu membisikkan janji di bangku bambu, yang dulu mengucapkan selamat tinggal di halaman SMA.
Anita menoleh.
Hermanto berdiri di samping pohon trembesi, sendirian. Tinggi. Rambut sebahu — tapi sekarang diikat rapi ke belakang, tampak lebih dewasa. Wajahnya tidak lagi pucat seperti dulu, ada sedikit warna — mungkin karena sering berada di luar. Matanya masih sama: teduh, tapi sekarang ada kelelahannya.
"Man? Lo kuliah di sini?" Anita masih terkejut.
"Iya. Gue di Fakultas Hukum. Lo di Manajemen, kan?" Hermanto mendekat, tersenyum — senyum yang dulu membuat Anita meleleh, tapi sekarang hanya membuatnya waspada.
"Iya."
"Bagus. Kita kampusnya berbeda, tetapi satu atap."
Anita tersenyum tipis — senyum yang tidak terlalu hangat, tapi juga tidak dingin. "Ya. Semoga kita bisa berteman dengan baik."
Hermanto melangkah mendekat. Jarak mereka hanya satu meter. Anita bisa mencium aroma sabun yang sama — sabun yang dulu ia kenali saat pertama kali Hermanto masuk ke kelas IX-A.
Bau yang sama, pikir Anita. Tapi perasaan tidak sama.
"Nita , gue ingin lebih dari teman," kata Hermanto. Suaranya pelan — pelan seperti angin, tapi tegas seperti keputusan yang sudah lama dipendam.
Anita menghela napas.
Dia memulai lagi, pikirnya. Setelah dua tahun. Setelah diam. Setelah menjauh. Setelah semua yang terjadi.
Dia masih tidak berubah.
"Man, jangan mulai lagi," kata Anita. Suaranya datar — tidak marah, tidak sedih, hanya lelah.
"Kenapa?" Hermanto bertanya, matanya menatap Anita — menatap seperti dulu, saat ia meminjamkan jaket di bangku taman, saat ia berkata "aku akan menunggu".
"Karena gue lelah."
Hermanto terdiam.
"Gue lelah dengan drama," Anita melanjutkan, suaranya mulai bergetar tapi ia tahan. "Gue lelah dengan sakit hati. Dan gue lelah dengan perasaan yang tidak jelas."
"Tetapi perasaan gue jelas."
"Tidak, Man." Anita menatap Hermanto — menatap lurus ke matanya. "Perasaan lo tidak pernah cukup kuat untuk melawan orang tua lo. Perasaan lo tidak pernah cukup kuat untuk melindungi gue dari dunia."
Hermanto tergugu.
"Lo ingat dulu? Waktu orang tua lo datang ke sekolah, lo diam. Lo tidak bisa berkata apa-apa. Lo tidak bisa melawan. Lo hanya diam — dan membiarkan gue dihina, dibentak, diancam."
"Nita , gue—"
"Gue tahu lo tidak punya pilihan. Gue tahu lo masih di bawah orang tua. Gue tahu lo tidak sekuat itu. Tapi gue juga tahu, Man... cinta tanpa keberanian hanya akan menyakiti."
Air mata menggenang di mata Hermanto — tapi ia tahan.
"Jadi, maaf," kata Anita, suaranya melembut. "Gue pilih fokus kuliah."
Mereka berdiri di halaman kampus UNTAG — di tempat yang sama, di waktu yang berbeda. Dua tahun lalu, mereka berpisah di halaman SMA dengan janji "aku akan menunggu". Sekarang, mereka bertemu lagi — tapi bukan untuk bersatu.
Hermanto menunduk. Tangannya terkepal di samping tubuh.
"Gue minta maaf, Nita ," bisiknya. "Untuk semuanya. Untuk ketidakmampuan gue. Untuk ketakutan gue. Untuk semua sakit yang gue sebabkan."
"Sudah, Man. Gue sudah memaafkan lo. Dari dulu."
"Tapi lo tidak bisa melupakan?"
"Bukan tidak bisa melupakan. Tapi gue tidak bisa kembali."
Hermanto mengangguk pelan — anggukan pasrah, anggukan orang yang sudah kalah sebelum bertarung.
"Baiklah. Gue akan hormati keputusan lo."
"Makasih, Man."
"Tapi..." Hermanto mengangkat wajah. Matanya masih basah, tapi ada senyum kecil di bibirnya. "Tapi gue masih akan ada untuk lo. Sebagai teman. Jika lo butuh bantuan. Jika lo butuh teman bicara. Jika lo... butuh siapa pun."
Anita tersenyum — senyum tulus pertama sejak lama. "Makasih, Man. Gue juga akan ada untuk lo. Sebagai teman."
"Teman."
"Teman."
Mereka berjabat tangan — jabat tangan singkat, formal, seperti dua orang asing yang baru saja diperkenalkan.
Tapi di hati masing-masing, ada yang berbisik:
"Aku masih mencintaimu."
Tapi tidak ada yang mengucapkannya.
Karena beberapa cinta lebih baik tidak diucapkan, pikir Anita. Karena beberapa cinta cukup disimpan dalam hati, dirawat diam-diam, dan dilepaskan ketika waktunya tiba.
Dan mungkin, waktu untuk mereka sudah lewat.
Atau belum tiba.
Atau tidak akan pernah tiba.
Tapi tidak apa-apa.
Malam itu, di kos-kosan.
Anita duduk di meja belajarnya. Buku catatan baru — yang masih kosong — terbuka di depannya.
Ia mengambil pulpen.
Menulis:
"Hari pertama kuliah di UNTAG Semarang.
Hermanto menyambutku di halaman kampus. Dia bilang dia ingin lebih dari teman.
Aku bilang tidak.
Bukan karena aku tidak mencintainya. Tapi karena aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.
Dulu, cinta kami gagal karena ketidakberanian. Karena ketakutan. Karena orang tua yang tidak merestui.
Sekarang, kami sudah lebih dewasa. Tapi luka lama belum sembuh. Dan aku tidak ingin memulai sesuatu yang baru dengan luka yang masih menganga.
Hermanto menerima keputusanku. Dia bilang dia akan ada untukku sebagai teman.
Aku bilang, 'Makasih.'
Tapi di hati, aku berkata, 'Aku masih mencintaimu, Man. Tapi aku tidak bisa bersama seseorang yang tidak bisa melindungiku.'
Mungkin suatu hari, ketika kami sudah sama-sama utuh — ketika aku sudah menjadi seseorang, ketika dia sudah bisa berdiri sendiri tanpa bergantung pada orang tuanya — mungkin kita bisa memulai lagi.
Tapi untuk sekarang...
...aku memilih sendiri.
Bukan karena egois. Tapi karena aku perlu menyembuhkan lukaku dulu.
Dan dia juga.
Semarang, September 2020.
— Anita"
Ia menutup buku. Menaruhnya di samping bantal — seperti dulu.
Esok, pikir Anita. Esok ada kelas Manajemen Operasional. Ada dosen baru. Ada teman baru.
Dan Hermanto — di fakultas sebelah, dengan jarak yang aman.
Ini bukan awal dari segalanya. Tapi juga bukan akhir.
Ini adalah...
...proses.
Menjadi dewasa.
Menjadi utuh.
Menjadi siap — untuk cinta yang sesungguhnya.
Atau untuk tidak sama sekali.
Bab 28: Persaingan yang Berakhir
Desember 2020. Empat bulan setelah Anita memulai kuliah di UNTAG.
Musim penghujan telah tiba di Semarang. Hujan turun hampir setiap sore, mengguyur jalan-jalan kota dengan deras, membuat genangan di mana-mana, dan menunda perjalanan siapa pun yang tidak siap payung.
Anita sudah mulai terbiasa dengan kehidupan di kota. Bangun pagi, mandi dengan air dingin (karena pemanas air adalah kemewahan), sarapan nasi goreng sisa semalam, lalu berangkat kuliah dengan jalan kaki dua puluh menit dari kos-kosannya.
Ia sudah mulai memiliki teman-teman baru. Teman sekelas yang tidak tahu masa lalunya, tidak tahu bahwa ia pernah difitnah, tidak tahu bahwa ia pernah jatuh cinta pada anak orang kaya yang tidak bisa melindunginya.
Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa pendiam tapi pintar. Selalu duduk di barisan depan. Selalu mengerjakan tugas tepat waktu. Selalu tersenyum — meskipun senyumnya kadang terasa kosong bagi mereka yang jeli.
Tapi tidak ada yang jeli.
Kecuali Hermanto — yang sesekali masih "kebetulan" bertemu di kantin atau perpustakaan.
Kecuali Yulia — yang masih rutin menelepon setiap minggu, bercerita tentang kehidupan di UNDIP yang sibuk dan melelahkan.
Kecuali Lukman — yang kini sedang dalam perjalanan ke Semarang.
Lukman datang.
Dia tidak memberi tahu Anita sebelumnya. Ingin memberi kejutan.
Setelah lulus SMA setahun lalu (karena ia lebih tua satu tahun dari Anita, akibat pernah tidak naik kelas di masa lalu), Lukman kuliah di UNDIP Semarang, Fakultas Ekonomi — jurusan yang sama dengan impian Anita. Tapi kuliahnya tidak mulus. Orang tuanya mampu membiayai, tapi Lukman merasa tidak adil jika terus bergantung pada mereka.
Maka ia mencari beasiswa. Dan mendapatkannya.
Beasiswa dari pemerintah provinsi untuk mahasiswa berprestasi dari desa. Nilai ujian masuknya tinggi. Rekomendasi dari kepala desa — ayahnya sendiri — juga membantu. Tapi yang terpenting: ia berhasil.
Sekarang, ia pindah dari kampus UNDIP yang lama? Tidak. Ia tetap di UNDIP, tapi kini dengan biaya yang lebih ringan. Dan ia memutuskan untuk tinggal di Semarang — tidak lagi di kos ayahnya, tapi di kos sederhana dekat kampus.
Dan hal pertama yang ia lakukan setelah semua urusan selesai: mencari Anita.
Di depan gerbang UNTAG, suatu siang.
Hujan baru saja reda. Jalanan masih basah. Genangan air di mana-mana, memantulkan cahaya matahari yang mulai muncul dari balik awan.
Anita baru saja selesai kuliah. Ia berjalan keluar gerbang dengan buku di tangan, matanya menatap ponsel — membaca pesan dari Yulia yang bertanya kabar.
"Nita !"
Suara itu.
Suara yang sudah tidak asing. Suara yang selalu hangat, selalu ceria, selalu membuatnya merasa aman.
Anita menoleh.
Lukman berdiri di depan gerbang, tersenyum — tersenyum lebar seperti matahari setelah hujan. Rambutnya sedikit lebih panjang dari terakhir kali mereka bertemu. Wajahnya lebih segar — mungkin karena udara Semarang yang lebih sejuk daripada Pegandon. Ia memakai kemeja putih lengan pendek dan celana jeans, tampak rapi tapi santai.
"Lukman?!" Anita terkejut, nyaris menjatuhkan buku-bukunya. "Lo kuliah di sini? Gue kira lo di UNDIP."
"Iya, gue di UNDIP. Tadi gue dapat beasiswa, Nit !" Lukman mendekat, matanya berbinar — binar kebahagiaan yang tulus, tidak dibuat-buat.
"Beasiswa? Wah, selamat, Man!" Anita tersenyum — senyum tulus yang jarang muncul akhir-akhir ini.
"Makasih. Eh, gue boleh mentraktir lo makan, tidak? Merayakan gue dapat beasiswa?" Lukman menggaruk kepalanya yang tidak gatal — kebiasaan lamanya yang dulu sering membuat Yulia tertawa.
Anita tertawa kecil. "Boleh. Tapi jangan yang mahal-mahal. Gue juga baru kenal tempat makan di sini."
"Ya sudah, kita cari yang sederhana. Yang penting seru."
Mereka berjalan berdampingan meninggalkan kampus. Lukman tanpa sungkan mengambil beberapa buku dari tangan Anita — membantu, tanpa diminta.
Dia tidak berubah, pikir Anita. Masih sama seperti dulu. Baik. Perhatian. Tapi tidak pernah memaksa.
Restoran sederhana di dekat kampus.
Sebuah warung makan Padang dengan meja-meja kayu panjang dan kipas angin berdiri yang berputar lambat. Harumnya rendang dan gulai memenuhi ruangan. Beberapa mahasiswa lain juga terlihat makan di sana, tertawa, bercanda, menikmati hidup.
Lukman memesan nasi Padang untuk mereka berdua — lengkap dengan rendang, ayam pop, dan sayur nangka. Anita protes karena terlalu banyak, tapi Lukman bergeming.
"Ini untuk merayakan beasiswa gue. Lo jangan protes."
"Tapi lo bisa bangkrut."
"Bangkrut? Gue dapat beasiswa, Nit . Uang saku gue sekarang lebih banyak dari sebelumnya."
Anita tertawa. "Ya sudah. Makasih, Man."
Mereka sedang asyik menyantap makanan ketika pintu warung terbuka.
Hermanto masuk.
Sendirian. Wajahnya sedikit lelah — mungkin baru selesai dari kelas hukum yang melelahkan. Ia memesan makanan di konter, lalu berbalik mencari tempat duduk.
Matanya bertemu dengan Anita.
Lalu dengan Lukman.
"Nita ? Lukman?!" Hermanto terkejut.
"Man, ikut, yuk," ajak Lukman dengan santai. "Kita lagi rayain gue dapat beasiswa."
Hermanto terdiam sejenak. Ia melirik Anita — mencari izin diam-diam.
Anita mengangguk kecil. "Silakan, Man. Kebetulan kita belum selesai."
Hermanto bergabung. Suasana agak canggung — wajar, mengingat terakhir kali mereka bertiga bersama di satu meja adalah di SMP, saat mereka masih polos, saat cinta masih sederhana, saat Hermanto dan Lukman belum menjadi pesaing.
Tapi Lukman berhasil mencairkan suasana dengan candaan-candaannya yang khas.
"Man, lo kurusan, ya? Kuliah hukum bikin lo stres?"
"Bukan stres. Tugas banyak."
"Lo yang milih hukum, ya. Kan udah tahu resikonya."
Hermanto tersenyum tipis. "Lo sendiri gimana? Ekonomi katanya berat."
"Berat? Mana ada yang berat buat gue." Lukman tertawa. "Gue mah santai aja. Yang penting lulus."
Anita tersenyum mendengar mereka bercanda. Seperti dulu, pikirnya. Seperti saat kita masih di SMP, belum ada Anton, belum ada orang tua Hermanto, belum ada drama.
Tapi waktu tidak bisa kembali.
Dan kita tidak bisa kembali.
Setelah makan, Lukman mengantar Anita pulang.
Hermanto paNit lebih dulu — ada tugas yang harus diselesaikan. Tapi sebelum pergi, ia menatap Anita sekilas — tatapan yang penuh makna, yang mengatakan "jaga diri".
Lukman dan Anita berjalan berdampingan di trotoar basah. Genangan air di jalanan memantulkan cahaya lampu jalan yang mulai menyala. Udara malam di Semarang dingin — dingin seperti angin dari Pesisir Pantura dulu, tapi tanpa bau tembakau.
"Nit ," Lukman memecah keheningan.
"Hm?"
"Gue suka sama lo."
Anita berhenti berjalan. Matanya menatap Lukman — lelaki yang sudah setia di sampingnya sejak masa-masa tergelap, yang tidak pernah memaksa, yang selalu ada tanpa diminta.
"Sejak dulu," Lukman melanjutkan, suaranya pelan tapi tegas. "Sejak SMP. Sejak pertama kali gue lihat lo hampir jatuh di lorong. Sejak lo tersenyum meskipun lo lagi lelah. Sejak lo membela diri meskipun semuanya melawan lo."
Anita terdiam.
"Tapi gue tidak pernah memaksa," kata Lukman. "Karena gue tahu lo masih sakit hati. Karena gue tahu lo belum siap. Karena gue tidak ingin menjadi laki-laki lain yang membuat lo semakin terluka."
Angin berembus. Rambut Lukman bergerak sedikit.
"Sekarang, gue lihat lo sudah mulai pulih. Lo tersenyum lebih sering. Lo tidak lagi menangis setiap malam. Lo mulai menatap masa depan dengan optimis. Dan gue... gue ingin menjadi bagian dari masa depan lo, Nit ."
Anita menunduk. Matanya panas — tapi tidak menangis.
"Lukman, lo orang baik," kata Anita, suaranya bergetar. "Tapi gue belum siap."
"Gue bisa menunggu."
"Jangan, Man." Anita mengangkat wajah. Matanya berkaca-kaca. "Kasihan lo. Lo pantas mendapatkan cewek yang lebih baik dari gue. Yang tidak punya luka masa lalu. Yang tidak takut untuk mencintai."
"Tetapi gue hanya ingin lo."
Anita menggeleng pelan. "Maaf, Lukman."
Lukman tersenyum pahit. Senyum yang terasa seperti orang yang sudah memprediksi kekalahan, tapi tetap berusaha — karena mencintai bukan tentang menang atau kalah.
"Baiklah," kata Lukman. "Tetapi ingat, kalau lo berubah pikiran, gue masih di sini."
"Man..."
"Gue tidak akan memaksa, Nit . Gue juga tidak akan menunggu dengan sia-sia. Tapi pintu gue selalu terbuka untuk lo. Kapan pun. Sampai lo benar-benar siap. Atau sampai gue menemukan orang lain."
Anita tidak bisa berkata-kata.
Lukman meraih tangan Anita — lembut, tidak memaksa. Tangannya hangat — hangat seperti secangkir teh jahe di malam dingin.
"Lo hebat, Nita . Lo sudah melewati banyak hal yang tidak akan mampu dilalui orang lain. Lo pantas bahagia. Dan gue hanya ingin... kalau lo bahagia, gue ikut bahagia. Meskipun bahagia lo tidak bersama gue."
Air mata Anita jatuh — jatuh satu-satu, membasahi pipinya.
"Makasih, Man. Makasih untuk semuanya."
"Jangan makasih. Gue senang bisa ada untuk lo."
Mereka berdiri di depan kos-kosan Anita — di bawah lampu jalan yang redup, di antara suara jangkrik kota dan klakson motor yang sesekali lewat.
Lukman melepaskan tangan Anita.
"Selamat malam, Nit ."
"Selamat malam, Man."
Lukman berbalik. Berjalan perlahan meninggalkan Anita. Ia tidak menoleh ke belakang — mungkin karena takut menangis.
Anita menatap punggung Lukman yang semakin kecil.
Dia baik, pikir Anita. Dia terlalu baik untukku.
Tapi hatiku... hatiku belum bisa menerima siapa pun.
Bukan karena aku masih mencintai Hermanto.
Tapi karena aku belum mencintai diriku sendiri.
Dan tidak adil bagi siapa pun untuk mencintaiku, jika aku sendiri tidak bisa mencintai diriku.
Maaf, Lukman.
Maaf.
Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik.
Kamar kos Anita, malam itu.
Ia duduk di meja belajarnya. Buku catatan — buku baru yang masih kosong — terbuka di depannya. Di sampingnya, buku lama yang sudah penuh — buku catatan dari masa SMP-SMA yang menjadi saksi bisu perjalanannya.
Ia membuka buku lama itu. Membaca tulisannya di halaman terakhir:
"Selamat tinggal, SMA. Selamat tinggal, Hermanto. Selamat tinggal, cinta pertama."
"Semarang, September 2020."
Sekarang, ia membuka buku baru. Halaman kosong. Bersih. Menunggu untuk diisi.
Ia mengambil pulpen.
Menulis:
"Hari ini, Lukman menyatakan cinta.
Dia bilang dia suka sejak SMP. Sejak pertama kali melihatku hampir jatuh di lorong.
Dia bilang dia tidak pernah memaksa karena tahu aku masih sakit hati.
Dia bilang dia melihatku mulai pulih.
Dia bilang dia ingin menjadi bagian dari masa depanku.
Aku bilang belum siap.
Dia bilang dia bisa menunggu.
Aku bilang jangan — karena dia pantas mendapatkan yang lebih baik.
Dia tersenyum pahit.
Dia bilang, 'Pintu gue selalu terbuka untuk lo.'
Lukman adalah laki-laki yang baik. Mungkin terlalu baik untukku.
Tapi hatiku belum bisa menerima siapa pun.
Bukan karena aku masih mencintai Hermanto — meskipun mungkin sebagian kecil hatiku masih menyimpan rasa itu.
Tapi karena aku belum utuh.
Aku masih dalam proses menyembuhkan diri.
Aku masih belajar mencintai diriku sendiri.
Dan tidak adil bagi siapa pun untuk mencintai seseorang yang bahkan tidak bisa mencintai dirinya sendiri.
Jadi, untuk sekarang, aku memilih sendiri.
Bukan karena egois.
Tapi karena aku butuh waktu.
Waktu untuk menjadi utuh.
Waktu untuk berdamai dengan masa lalu.
Waktu untuk percaya bahwa aku pantas dicintai — tanpa syarat, tanpa rasa takut.
Lukman berkata dia akan menunggu.
Tapi aku tidak ingin dia menunggu.
Karena menunggu seseorang yang tidak tahu kapan siap adalah bentuk penyiksaan.
Lebih baik dia bahagia dengan orang lain.
Dan aku...
Aku akan bahagia dengan diriku sendiri.
Setidaknya, untuk sekarang.
Semarang, Desember 2020.
— Anita"
Ia menutup buku. Menaruhnya di samping bantal — seperti dulu, seperti kebiasaan yang tidak pernah berubah.
Esok, pikir Anita. Esok ada kelas lagi. Ada tugas yang harus dikerjakan. Ada masa depan yang harus diperjuangkan.
Dan Lukman — di kampus sebelah, mungkin juga Hermanto — di fakultas sebelah.
Tapi jarak di antara kami tidak lagi menyakitkan.
Karena aku sudah belajar bahwa cinta tidak harus memiliki.
Kadang, cinta adalah tentang melepaskan — untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.
Dan itu tidak apa-apa.
BAB 29: SEMUA GAGAL MENDAPATKAN CINTA PERTAMA ANITA
Dua tahun kemudian. 2022.
Waktu berlalu tanpa permisi. Tanpa pamit. Tanpa memberi kesempatan untuk bersiap. Waktu bergerak seperti air sungai di musim hujan, deras, tidak bisa dihentikan, membawa serta segala sesuatu di jalannya, baik yang siap maupun yang tidak.
Anita kini duduk di semester empat. Dua tahun sudah ia bergulat dengan buku, dengan tugas, dengan dosen, dengan sistem kredit semester, dengan segala hal yang membuat kepala pusing dan hati kadang sesak. IPK nya sempurna, 3,95. Hampir sempurna. Hampir. Hanya selisih 0,05 dari kesempurnaan mutlak. Tapi ia tidak pernah mengejar kesempurnaan. Ia hanya mengejar sesuatu yang lebih penting, bertahan.
Ia menjadi langganan beasiswa setiap semester. Tidak pernah lepas. Tidak pernah gagal. Setiap semester, namanya tercantum di pengumuman beasiswa, di papan pengumuman fakultas, di grup WhatsApp kelas. Setiap semester, ia menerima uang yang cukup untuk biaya hidup, cukup untuk sedikit ditabung, cukup untuk membuat ibunya di Tegorejo tidak perlu mengirim uang lagi.
Namanya terpampang di papan pengumuman fakultas sebagai mahasiswa berprestasi, di samping foto foto mahasiswa lain yang juga berprestasi. Foto Anita selalu sama, senyum tipis, tidak terlalu lebar, tidak terlalu sempit, tidak menunjukkan apa pun. Mata yang tenang. Wajah yang datar. Seperti topeng.
Dosen dosen mengenalnya sebagai anak desa yang cerdas dan pekerja keras. Mereka memujinya di depan kelas. Mereka menjadikannya contoh untuk mahasiswa lain. Mereka bilang, "Lihat Anita, dia dari desa, orang tuanya tidak kaya, tapi dia bisa berprestasi. Kalian yang dari kota, yang orang tuanya mampu, seharusnya malu."
Anita tidak suka dipuji seperti itu. Ia tidak suka dijadikan contoh. Ia tidak suka dibanding bandingkan dengan orang lain. Karena pujian tidak akan membantunya membayar kos. Pujian tidak akan membantunya membeli buku. Pujian tidak akan menghangatkan hatinya yang dingin.
Tapi tidak banyak yang tahu bahwa di sela sela kuliah, Anita bekerja paruh waktu. Di sebuah kafe kecil dekat kampus, kafe yang tidak terlalu ramai, kafe yang pemiliknya baik hati dan tidak terlalu ketat. Ia mencuci piring piring kotor yang menumpuk di dapur, menyajikan kopi untuk pelanggan yang sering tidak pernah mengucapkan terima kasih, kadang menjadi kasir ketika kasir utama sedang sakit atau sedang libur atau sedang malas bekerja.
Gajinya tidak besar, hanya cukup untuk biaya hidup dan sedikit ditabung untuk ibu di Tegorejo. Tidak ada yang tersisa untuk kesenangan. Tidak ada uang untuk membeli baju baru. Tidak ada uang untuk makan di restoran. Tidak ada uang untuk jalan jalan. Tapi ia tidak pernah mengeluh. Mengeluh tidak akan menambah uang. Mengeluh tidak akan mengubah keadaan.
Ia menjadi gadis mandiri. Disiplin. Tegas pada dirinya sendiri. Tidak pernah terlambat. Tidak pernah bolos. Tidak pernah menunda tugas. Semua dikerjakan dengan tepat waktu, dengan hasil terbaik, dengan effort maksimal.
Tapi juga dingin.
Teman temannya mengagumi ketekunannya. Mereka sering berkata, "Anita keren banget, IPK 3,95 sambil kerja." Tapi tidak ada yang benar benar dekat dengannya. Tidak ada yang diajaknya curhat. Tidak ada yang diajaknya makan malam. Tidak ada yang diajaknya jalan jalan di akhir pekan.
Anita menjaga jarak dengan semua orang. Dengan teman sekelas. Dengan teman organisasi. Dengan dosen. Dengan siapa pun.
Ia tersenyum. Tapi senyumnya tidak pernah sampai ke mata. Senyum yang hanya gerakan bibir tanpa makna. Senyum yang sudah ia latih sejak SMP, saat pertama kali ia belajar bahwa tersenyum lebih aman daripada jujur.
Ia berbicara. Tapi tidak pernah menceritakan masa lalunya. Tidak pernah menceritakan bahwa ia pernah jatuh cinta pada seorang laki laki dari kota. Tidak pernah menceritakan bahwa ia pernah difitnah di ujian nasional. Tidak pernah menceritakan bahwa ia pernah dihina dan diancam oleh orang tua kekasihnya sendiri.
Mereka tidak perlu tahu, pikir Anita. Mereka tidak perlu tahu bahwa hatiku pernah hancur berkeping keping. Mereka tidak perlu tahu bahwa aku masih terbangun di tengah malam dengan dada sesak. Mereka tidak perlu tahu bahwa kadang aku masih menangis di kamar mandi kafe, setelah seharian mencuci piring.
Cukup aku yang tahu. Cukup aku yang mengingat. Cukup aku yang terluka.
Lukman dan Hermanto masih berusaha.
Dengan cara mereka masing masing. Dengan kecepatan mereka masing masing. Dengan kesabaran yang mulai menipis.
Hermanto yang masih di Fakultas Hukum UNTAG, masih di kampus yang sama dengan Anita, masih di gedung yang berbeda tapi tidak terlalu jauh, sesekali masih mengirim pesan. Bukan pesan cinta seperti dulu, bukan puisi, bukan kata kata manis yang membuat Anita tersipu. Hanya kabar singkat, "Lo udah makan?", "Tugas lo udah selesai?", "Semangat ya, Mit."
Pesan pesan yang tidak memaksa. Pesan pesan yang tidak menuntut balasan. Pesan pesan yang bisa diabaikan tanpa rasa bersalah.
Anita membalas. Singkat. Sopan. Tidak lebih. "Udah." "Udah." "Makasih." Tidak ada kata kata tambahan. Tidak ada emoji. Tidak ada tanda tanya untuk memulai percakapan lebih lanjut.
Lukman yang sudah pindah ke UNDIP dengan beasiswanya, yang tidak lagi sekampus dengan Anita, yang jaraknya lebih jauh, lebih sering datang. Setiap dua minggu sekali, kadang setiap minggu. Membawa jajanan dari pasar, gorengan, pisang goreng, tahu isi, kue lumpur. Mengajak makan di warung Padang dekat kos Anita, yang murah tapi enak. Kadang hanya duduk di kos Anita, menemani belajar, tanpa bicara, hanya menemani.
Lalu pulang. Tanpa banyak bicara. Tanpa meminta apa apa. Tanpa pamit yang berlebihan.
Tapi Anita sudah memasang tembok tebal di hatinya. Tembok batu bata yang tidak bisa ditembus oleh bunga, oleh perhatian, oleh janji. Tembok yang tidak akan roboh meskipun dihantam badai. Tembok yang tidak akan retak meskipun diguncang gempa.
Cinta pertama, pikir Anita, telah meninggalkan luka yang terlalu dalam. Luka yang tidak akan sembuh hanya dengan waktu. Luka yang akan tetap ada meskipun sudah tidak terasa sakit. Luka yang akan menjadi kenangan yang tidak bisa dihapus.
Bukan karena Hermanto jahat. Hermanto tidak jahat. Hermanto hanya tidak cukup berani. Tapi cinta itu mengajarkanku bahwa perasaan tidak cukup. Perasaan tidak bisa melawan status sosial. Perasaan tidak bisa membayar uang sekolah. Perasaan tidak bisa melindungi dari orang tua yang tidak merestui.
Jadi untuk apa? Untuk apa jatuh cinta lagi? Untuk apa membuka hati lagi? Untuk apa membiarkan seseorang masuk ke dalam hidup, hanya untuk pergi lagi, hanya untuk meninggalkan luka lagi, hanya untuk mengulang siklus yang sama?
Hanya untuk hancur lagi? Tidak. Terima kasih.
Di akhir tahun kedua kuliah. Hermanto memutuskan pindah ke Jakarta.
Orang tuanya yang sudah lama bekerja di Semarang, yang jarang pulang, yang jarang menelepon, yang jarang menanyakan kabar, kini dipindahkan ke kantor pusat di Jakarta. Promosi. Kenaikan jabatan. Gaji lebih besar. Hidup lebih mewah.
Mereka menginginkan Hermanto ikut. Pindah kampus. Melanjutkan kuliah di Universitas Tarumanegara atau Atma Jaya, universitas swasta ternama di Jakarta. Mengikuti jejak ayahnya yang sukses. Menjadi pengacara seperti yang mereka impikan. Menjadi anak kebanggaan yang bisa mereka pamerkan di acara arisan.
Hermanto tidak ingin. Setelah dua tahun, setelah berusaha, setelah menunggu, setelah berharap, setelah berdoa, ia masih tidak ingin pergi. Masih ada yang menahannya di Semarang. Bukan kampusnya. Bukan teman temannya. Bukan dosen dosennya.
Tapi Anita.
Anita masih di sini. Masih di kampus yang sama. Masih di fakultas yang berbeda. Masih di Semarang. Masih di tempat yang sama di mana dulu mereka bertemu di halaman kampus, di mana ia bertanya "kita masih bisa berteman, kan?", di mana Anita menjawab "bisa, tapi hanya teman".
Tapi ia tidak punya pilihan. Seperti dulu. Seperti selalu. Seperti ketika orang tuanya datang ke sekolah dan memaksanya diam. Seperti ketika orang tuanya memindahkannya ke Semarang tanpa bertanya. Seperti ketika orang tuanya mengatur hidupnya tanpa pernah mempertimbangkan perasaannya.
Ia tidak bisa melawan. Ia tidak pernah bisa melawan.
Sebelum pergi, ia meminta waktu untuk bertemu Anita. Untuk terakhir kalinya. Untuk mengucapkan selamat tinggal. Untuk meminta maaf. Untuk melepaskan.
Di kafe tempat Anita bekerja. Malam hari.
Kafe itu sederhana. Dindingnya dicat putih kusam, sudah mulai mengelupas di beberapa sudut. Lampu lampu hias bergantungan di langit langit, kuning, redup, menciptakan suasana yang hangat tapi juga muram. Meja meja kayu tua ditata tidak beraturan. Di sudut, ada rak buku berisi novel novel lama yang tidak pernah dibeli siapa pun.
Kafe itu tutup pukul sembilan. Tapi Anita mendapat izin dari pemiliknya, seorang wanita paruh baya baik hati yang sering memberinya makanan gratis, untuk menggunakan meja belakang setelah jam tutup. Untuk pertemuan terakhir dengan masa lalunya.
Hermanto datang sendirian.
Jaket kulit hitam, jaket yang sama sejak SMA, jaket yang dulu ia pinjamkan ke Anton, yang kemudian dikembalikan Anita, yang kemudian disimpan Hermanto sampai sekarang, sebagai kenangan, sebagai penanda, sebagai bukti bahwa ia pernah mencintai seseorang di desa kecil bernama Tegorejo.
Rambutnya masih sebahu, tapi kini lebih sering diikat ke belakang, rapi, tidak terurai seperti dulu. Wajahnya lebih dewasa, ada garis tipis di kening, garis yang tidak seharusnya ada di usia segitu, garis yang ia dapatkan dari terlalu banyak berpikir, terlalu banyak khawatir, terlalu banyak menyesal.
"Mit, gue ingin minta maaf," kata Hermanto setelah duduk. Suaranya lirih, lirih seperti orang yang sudah lelah memikul beban terlalu lama, seperti orang yang sudah tidak punya energi untuk bicara keras.
"Untuk semuanya." Ia menatap meja, tidak berani menatap mata Anita. "Untuk sikap orang tua gue. Untuk ketidakmampuan gue melindungi lo. Untuk semua sakit yang sudah gue sebabkan. Untuk semua air mata yang sudah lo keluarkan karena gue."
Anita menatap Hermanto.
Matanya tidak berkaca kaca. Tidak seperti dulu, saat ia masih mudah menangis, saat ia masih mudah tersentuh, saat hatinya masih lunak. Matanya tenang. Tenang seperti air danau di pagi hari, tidak bergerak, tidak beriak, tidak menunjukkan apa pun.
"Sudah, Man." Suara Anita datar. "Gue tidak pernah menyalahkan lo. Bukan salah lo bahwa orang tua lo sombong. Bukan salah lo bahwa mereka tidak bisa menerima orang miskin."
"Seharusnya lo marah." Hermanto mengangkat wajah. Matanya merah. "Seharusnya lo benci gue. Seharusnya lo bilang kalau gue pengecut. Seharusnya lo..."
"Untuk apa?" Anita memotong. "Marah tidak mengubah apa pun. Benci juga tidak. Lo akan tetap pergi ke Jakarta. Orang tua lo akan tetap kaya. Gue akan tetap miskin. Tidak ada yang berubah hanya karena gue marah."
Hermanto terdiam.
Kata kata Anita menusuk. Tapi ia tidak bisa membantah. Semua yang dikatakan Anita benar. Semua.
"Mit, apa lo masih punya perasaan sama gue?" Hermanto bertanya. Suaranya bergetar. Matanya tidak berkedip.
Anita diam.
Lama.
Lama sekali.
Lama seperti waktu yang berlalu tanpa izin. Lama seperti jarak antara Tegorejo dan Semarang yang tidak pernah terasa jauh tapi tetap tidak bisa ditempuh dengan mudah. Lama seperti luka yang tidak pernah benar benar sembuh, yang tetap ada, yang tetap terasa, hanya saja sudah tidak terlalu sakit.
"Apa gunanya, Man?" kata Anita akhirnya. Suaranya pelan, tidak marah, tidak sedih, hanya lelah. "Lo pergi ke Jakarta. Gue di sini. Dua tahun lagi, mungkin gue lulus, mungkin gue kembali ke Tegorejo, mungkin gue kerja di Semarang. Kita punya jalan masing masing. Jalan yang tidak akan pernah bertemu lagi."
"Jadi, jawabannya tidak?"
Anita menarik napas panjang. Panjang seperti napas terakhir sebelum menyelam ke dalam air yang dalam, tidak tahu apakah akan muncul lagi atau tenggelam selamanya.
"Jawabannya adalah gue memilih untuk mencintai diri gue sendiri dulu." Anita menatap Hermanto. Matanya jujur. "Sebelum gue bisa mencintai orang lain, gue harus bisa mencintai diri gue sendiri. Sebelum gue bisa membahagiakan orang lain, gue harus bisa membahagiakan diri gue sendiri. Sebelum gue bisa menerima cinta dari orang lain, gue harus bisa menerima diri gue sendiri apa adanya."
"Dan sekarang?"
"Sekarang, gue masih dalam proses. Masih belajar. Masih berusaha. Masih jatuh bangun. Belum selesai. Belum utuh."
Hermanto menunduk.
Ia tidak menangis histeris seperti di film film. Tidak membentak. Tidak memprotes. Tidak memukul meja. Tidak merusak kursi.
Ia hanya menunduk. Dengan bahu yang sedikit bergetar, dengan dada yang naik turun tidak beraturan, dengan air mata yang jatuh diam diam ke lantai kafe yang dingin.
"Gue sayang sama lo, Mit." Suaranya pecah. Pecah seperti gelas yang jatuh dari meja, pecah seperti cermin yang dipukul palu, pecah seperti hati yang dikhianati. "Dari dulu. Dari pertama kali gue lihat lo di jalan Randu Gembyang, waktu lo hampir jatuh ke selokan. Dan gue akan selalu sayang. Meskipun lo tidak percaya. Meskipun lo meragukan gue. Meskipun lo memilih sendiri."
"Selamat jalan, Man." Anita berdiri. Kursinya berderit pelan. "Semoga lo bahagia di Jakarta. Semoga lo sukses. Semoga lo lulus tepat waktu. Semoga lo mendapatkan pekerjaan yang bagus. Semoga lo menikah dengan perempuan yang pantas untuk lo. Perempuan yang tidak miskin. Perempuan yang tidak membuat orang tua lo malu. Perempuan yang bukan aku."
Ia mengulurkan tangannya. Untuk berjabat tangan. Untuk perpisahan yang sopan. Untuk mengakhiri semuanya dengan cara yang baik.
Tapi Hermanto tidak mengambil tangan itu.
Ia berdiri. Membuka lengannya.
Anita ragu sejenak. Hatinya berdegup kencang. Masih. Setelah dua tahun. Setelah mencoba melupakan. Setelah mencoba mati rasa.
Lalu ia memeluk Hermanto.
Pelukan terakhir.
Tidak lama. Tidak erat. Tidak seperti pelukan kekasih di film film. Cukup untuk merasakan hangatnya. Cukup untuk mengingat bagaimana rasanya berada di dekatnya. Cukup untuk mengucapkan selamat tinggal.
"Bye, Mit."
"Bye, Man."
Hermanto berbalik. Berjalan keluar dari kafe. Sepatunya berbunyi di lantai keramik. Tap. Tap. Tap. Semakin jauh. Semakin pelan. Sampai akhirnya hilang di balik pintu.
Anita tidak menangis.
Ia hanya berdiri di sana. Di kafe yang sepi. Dengan tangan terkepal di samping tubuh. Dengan hati yang hancur tapi tidak menangis.
Selamat jalan, cinta pertamaku, pikirnya. Kau akan selalu menjadi bagian dari ceritaku. Kau akan selalu menjadi bab pertama dalam buku kehidupanku. Tapi kau tidak akan menjadi akhir dari ceritaku. Kau tidak akan menjadi bab terakhir. Tidak akan.
Lukman mendengar kabar itu dari Yulia.
"Mit, gue dengar Hermanto pindah ke Jakarta," kata Yulia lewat telepon, malam itu juga. Suaranya cemas, khawatir.
"Iya, Lin."
"Lo baik baik saja?"
"Gue baik baik saja. Kenapa?" Suara Anita datar. Tidak menunjukkan emosi.
"Gue tahu lo masih sayang sama dia. Gue tahu lo masih sakit hati. Gue tahu lo masih..."
"Sayang tidak cukup, Lin." Anita memotong. "Tidak pernah cukup. Mungkin tidak akan pernah cukup. Dunia tidak berjalan hanya dengan perasaan. Cinta tidak bisa mengubah status sosial. Cinta tidak bisa membayar uang sekolah. Cinta tidak bisa melindungi dari orang tua yang tidak merestui."
Yulia terdiam di ujung telepon.
"Lukman mungkin akan datang," kata Yulia akhirnya.
"Biarkan."
Lukman datang malam itu juga.
Pukul sepuluh malam. Hujan gerimis, gerimis yang tidak terlalu deras tapi cukup untuk membuat basah. Gerimis yang seperti tidak yakin mau turun atau berhenti. Gerimis yang seperti menangis pelan pelan.
Lukman berdiri di depan kos Anita. Basah. Tanpa payung. Rambutnya menempel di dahi. Wajahnya sedikit memerah, mungkin karena dingin, mungkin karena air hujan, mungkin karena sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak mau ia akui.
"Mit, gue..." Lukman memulai, suaranya serak, seperti orang yang baru saja berlari jauh, seperti orang yang baru saja menangis.
"Lukman, tolong. Jangan sekarang." Anita memotong. Suaranya tidak marah. Hanya lelah. Lelah seperti orang yang sudah terlalu lama berperang. Lelah seperti orang yang sudah tidak punya energi untuk melawan lagi.
Lukman menghela napas panjang. Napas yang keluar dari dadanya seperti angin yang membawa keputusasaan.
"Baik. Tapi gue tidak akan menyerah."
"Lukman, dengarkan." Anita menatap Lukman. Menatap lurus ke matanya yang basah, basah karena hujan, atau mungkin karena air mata, ia tidak tahu. "Gue tidak akan pernah bisa membalas perasaan lo."
Lukman tergugu. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar.
"Bukan karena lo tidak baik." Anita melanjutkan. Suaranya pelan, tapi jelas. "Lo baik. Lo lebih baik dari yang lo sadari. Lo lebih baik dari semua laki laki yang pernah gue kenal. Lo sabar. Lo setia. Lo tidak pernah memaksa. Lo tidak pernah marah meskipun gue dingin. Lo selalu ada meskipun gue tidak pernah memberi harapan."
"Tapi..."
"Tapi apa?" Suara Lukman lirih.
"Tapi hati gue sudah mati rasa, Man." Anita menatap Lukman. Matanya kosong. "Cinta pertama gue sudah membunuh semuanya. Membunuh kemampuan gue untuk percaya. Membunuh kemampuan gue untuk jatuh cinta. Membunuh kemampuan gue untuk membuka hati. Semuanya."
Lukman terdiam.
Air matanya, atau air hujan, ia tidak tahu mana yang mana, jatuh dari pipinya. Jatuh ke tanah. Jatuh ke rumput. Jatuh ke tempat yang sama di mana ia berdiri.
"Jadi?" suaranya lirih, seperti bisikan orang yang sedang sekarat.
"Jadi, carilah cewek lain." Anita tersenyum. Senyum pahit. Senyum yang tidak sampai ke mata. "Lo pantas mendapatkan yang lebih baik. Yang tidak punya luka masa lalu. Yang tidak takut untuk mencintai. Yang bisa mencintai lo dengan utuh. Yang bisa membahagiakan lo tanpa harus berusaha mati matian."
"Tetapi gue hanya ingin lo, Mit." Lukman mengangkat wajah. Matanya merah. "Sejak SMP. Sejak pertama kali gue lihat lo hampir jatuh di lorong. Sejak lo tersenyum meskipun lo lagi lelah. Sejak lo membela diri meskipun semua orang melawan lo. Sejak lo tetap berdiri meskipun semuanya hancur."
"Lukman, stop."
Anita meraih tangan Lukman.
Tangannya dingin. Dingin seperti hujan malam itu. Dingin seperti es. Dingin seperti kematian.
"Gue tahu lo sayang. Tapi gue tidak bisa." Suara Anita mulai bergetar. Untuk pertama kalinya malam itu, suaranya bergetar. "Bukan karena gue tidak mau. Bukan karena gue tidak melihat kebaikan lo. Tapi karena gue tidak bisa. Hati gue sudah mati. Mati seperti daun kering yang jatuh dari pohon. Mati seperti api yang padam karena kehabisan kayu. Mati seperti air yang mengering di musim kemarau."
Ia menarik napas.
"Dan orang yang mati tidak bisa dihidupkan hanya dengan cinta. Tidak dengan kesabaran. Tidak dengan kesetiaan. Tidak dengan menunggu. Tidak dengan apa pun."
Lukman menunduk. Bahunya bergetar. Tangannya yang digenggam Anita juga bergetar.
"Maaf, Man." Anita melepaskan genggamannya. "Maaf karena gue tidak bisa menjadi apa yang lo harapkan. Maaf karena gue sudah membuang waktu lo. Maaf karena gue sudah memberi lo harapan palsu meskipun tidak sengaja."
Lukman mengangkat wajah.
Ia tersenyum. Senyum getir. Senyum yang sudah sering Anita lihat. Senyum orang yang kalah sebelum bertarung. Senyum orang yang sudah tahu hasilnya tapi tetap berusaha. Senyum orang yang ikhlas meskipun sakit. Senyum orang yang mencintai tanpa pernah dicintai balik.
"Baiklah, Mit." Suaranya pelan. "Tetapi ingat, kalau lo berubah pikiran..."
"Gue tidak akan berubah pikiran." Anita memotong. Tegas. Tidak ada ruang untuk tawar menawar.
Lukman mengangguk pelan. Anggukan yang berat. Anggukan yang terasa seperti melepas sepotong jiwanya.
"Selamat malam, Mit."
"Selamat malam, Man."
Lukman berbalik. Berjalan perlahan. Setiap langkah terasa berat, seperti kakinya terikat rantai, seperti sedang berjalan di lumpur, seperti sedang meninggalkan masa depannya yang mungkin, meninggalkan harapannya yang sudah rapuh, meninggalkan mimpinya yang tidak akan pernah menjadi kenyataan.
Anita menatap punggung Lukman yang semakin kecil. Basah oleh hujan. Basah oleh kesedihan.
Sampai hilang ditelan gelap.
Baru kemudian ia masuk ke kamarnya.
Menutup pintu.
Duduk di lantai.
Dan menangis.
Bukan karena kehilangan Hermanto. Bukan karena menolak Lukman. Tapi karena ia tahu. Ia tahu bahwa ia telah kehilangan kemampuan untuk mencintai. Ia tahu bahwa ia telah menjadi dingin. Ia tahu bahwa ia telah menjadi tembok. Ia tahu bahwa tidak akan ada lagi yang bisa masuk.
Kamar kos Anita, tengah malam.
Hujan masih deras di luar. Suaranya menghantam atap seng, seperti palu yang memukul kepala, seperti pukulan yang tidak pernah berhenti. Tidak ada jeda. Tidak ada istirahat.
Anita duduk di meja belajarnya. Meja kayu kecil yang sudah tergores gores, bekas tumpahan kopi, bekas air mata, bekas goresan pulpen saat ia marah atau sedih atau bingung.
Buku catatan, buku baru yang masih kosong, halamannya putih bersih, belum ada satu kata pun yang tertulis, terbuka di depannya. Tapi ia tidak menulis. Tidak bisa. Tidak ada yang ingin ia tulis.
Ia hanya duduk.
Menatap dinding.
Dinding putih kusam dengan satu poster lama, poster motivasi yang diberikan teman kos, "Jangan Pernah Menyerah", kata kata yang sudah tidak berarti lagi.
Mengingat.
Dulu, pikirnya, dulu aku bisa jatuh cinta dengan mudah. Cukup lihat senyum Hermanto di lorong, senyum yang teduh, senyum yang membuat dunia terasa lebih cerah. Cukup dengar suaranya memanggil namaku, suara yang dalam, suara yang membuat jantung berdebar kencang. Cukup rasakan genggaman tangannya di bangku bambu, genggaman yang hangat, genggaman yang membuatku merasa aman.
Sekarang, senyum tidak berarti apa apa. Suara tidak menggetarkan. Genggaman tidak menghangatkan.
Ada yang mati di dalam diriku.
Dan aku tidak tahu apakah itu bisa hidup lagi.
Ia teringat kata kata ibunya dulu, "Jangan percaya cinta laki laki sebelum kamu punya pendirian yang kuat."
Sekarang aku punya pendirian yang kuat. Aku mandiri. Aku tidak tergantung pada siapa pun. Aku bisa hidup tanpa laki laki. Aku bisa membayar uang kuliah sendiri. Aku bisa membeli buku sendiri. Aku bisa makan sendiri. Aku bisa tidur sendiri. Aku bisa bahagia sendiri.
Tapi apakah ini yang dimaksud ibu? Apakah ini kebahagiaan? Atau hanya ketakutan yang terbungkus kemandirian? Atau hanya luka yang terbungkus tembok? Atau hanya kepahitan yang terbungkus senyum?
Ia tidak tahu.
Yang ia tahu, malam ini ia menangis.
Bukan karena Hermanto. Bukan karena Lukman. Bukan karena siapa pun.
Tapi karena dirinya sendiri.
Karena ia tidak lagi tahu bagaimana rasanya jatuh cinta. Karena ia tidak lagi ingat bagaimana rasanya hangat. Karena ia tidak lagi percaya bahwa cinta itu nyata.
Buku catatan. Halaman baru.
Setelah menangis. Setelah lega. Setelah lelah. Setelah tidak ada air mata tersisa.
Anita mengambil pulpen. Pulpen murah yang sudah ia pakai sejak semester satu, tintanya mulai habis, tapi masih bisa dipakai. Masih bisa menulis. Masih bisa menjadi saksi.
Ia menulis dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
"Hari ini, Hermanto pamit. Dia pindah ke Jakarta. Selamanya, mungkin. Tidak akan kembali lagi, mungkin. Atau akan kembali, tapi tidak untukku.
Dia bertanya, 'Apa lo masih punya perasaan sama gue?'
Aku bilang, 'Apa gunanya?'
Bukan karena aku tidak merasakan apa apa. Jantungku masih berdegup kencang saat dia mendekat. Dadaku masih sesak saat dia bicara. Tanganku masih dingin saat dia menggenggam.
Tapi merasakan tanpa kepastian hanya akan menyakiti. Merasakan tanpa masa depan hanya akan membuang waktu. Merasakan tanpa keberanian hanya akan sia sia.
Dia bilang dia akan selalu sayang. Aku bilang, 'Selamat jalan.'
Kami berpelukan untuk terakhir kalinya. Pelukan yang tidak lama. Tidak erat. Tapi cukup untuk mengingatkan aku bahwa dia pernah ada. Bahwa cinta itu pernah ada. Bahwa kita pernah menjadi kita.
Lalu dia pergi.
Malam harinya, Lukman datang. Basah karena hujan. Basah karena air mata. Aku tidak tahu mana yang mana.
Dia bilang dia tidak akan menyerah. Aku bilang, 'Hati gue sudah mati rasa.'
Dia bilang dia hanya ingin aku. Aku bilang, 'Carilah cewek lain. Carilah yang bisa mencintaimu. Carilah yang tidak punya luka masa lalu. Carilah yang tidak takut untuk membuka hati.'
Dia pergi dengan hujan.
Aku menangis.
Bukan karena Hermanto pergi. Bukan karena Lukman kecewa. Tapi karena aku sadar, aku telah kehilangan kemampuan untuk mencintai.
Cinta pertama mengajarkanku bahwa cinta itu indah. Indah seperti bunga yang mekar di musim semi. Tapi juga menyakitkan. Menyakitkan seperti duri yang menusuk.
Cinta pertama mengajarkanku bahwa perasaan tidak cukup untuk melawan dunia. Bahwa status sosial lebih kuat dari cinta. Bahwa orang tua lebih berkuasa dari perasaan.
Cinta pertama mengajarkanku bahwa aku harus kuat. Aku harus mandiri. Aku harus tidak tergantung pada siapa pun. Aku harus bisa hidup sendiri.
Tapi cinta pertama tidak mengajarkanku bagaimana caranya mencintai lagi setelah semuanya hancur. Tidak mengajarkanku bagaimana caranya membuka hati lagi setelah ditutup rapat rapat. Tidak mengajarkanku bagaimana caranya percaya lagi setelah dikhianati oleh dunia.
Mungkin aku akan sendiri selamanya.
Mungkin itu tidak apa apa.
Karena sendiri lebih baik daripada jatuh cinta pada orang yang tidak bisa melindungimu. Sendiri lebih baik daripada menunggu seseorang yang mungkin tidak pernah kembali. Sendiri lebih baik daripada membuka hati lalu hancur lagi. Sendiri lebih baik daripada berharap lalu kecewa lagi. Sendiri lebih baik daripada mencintai lalu ditinggalkan lagi.
Maaf, Hermanto. Maaf, Lukman. Aku tidak bisa menjadi apa yang kalian inginkan. Aku tidak bisa menjadi pacar kalian. Aku tidak bisa menjadi istri kalian. Aku tidak bisa menjadi pelengkap hidup kalian.
Dan mungkin, aku juga tidak bisa menjadi apa yang aku inginkan dari diriku sendiri. Aku tidak bisa menjadi utuh. Aku tidak bisa menjadi bahagia. Aku tidak bisa menjadi seseorang tanpa luka.
Tapi untuk sekarang, ini aku.
Yang sedang berusaha. Berusaha menjadi utuh. Berusaha menjadi kuat. Berusaha menjadi bahagia. Meskipun utuh berarti sendiri. Meskipun kuat berarti tidak menangis. Meskipun bahagia berarti tidak perlu cinta.
Semarang, 2022.
Anita."
Ia menutup buku. Menaruhnya di samping bantal.
Esok, pikir Anita. Esok ada kelas. Ada tugas. Ada kafe tempat aku bekerja. Ada piring piring yang harus dicuci. Ada kopi yang harus disajikan. Ada pelanggan yang harus dilayani.
Dan tidak ada Hermanto. Tidak ada Lukman.
Hanya aku.
Sendiri.
Tapi utuh.
Setidaknya, mencoba untuk utuh.
BAB 30: EPILOG - BUNGA DI TEPI JALAN
Tiga tahun kemudian.
Wisuda sarjana di UNTAG Semarang. Hari yang cerah, langit biru tanpa awan, seperti merayakan perjalanan panjang yang akhirnya sampai di persimpangan.
Anita berdiri di atas panggung dengan toga dan selempang predikat cum laude. Toga hitam yang terasa berat di pundak, tapi tidak seberat perjalanan yang telah ia tempuh. Selempang merah menyala di dada, bertuliskan huruf huruf emas yang membuat ibunya di barisan depan terus menangis.
IPK 3,95. Hampir sempurna. Tidak, sempurna. Karena kesempurnaan tidak selalu tentang angka. Kesempurnaan adalah tentang bertahan ketika semua orang berpikir kamu akan runtuh. Kesempurnaan adalah tentang tersenyum ketika hati sedang hancur. Kesempurnaan adalah tentang sampai di sini, hari ini, di atas panggung ini, dengan toga dan selempang, dengan ijazah di tangan, dengan masa depan di depan mata.
Ibu Karsinem duduk di barisan depan. Kebaya putih yang sama, kebaya yang hanya dipakai setahun sekali, kebaya yang sudah mulai kusam karena usia. Rambutnya yang dulu hitam pekat kini mulai memutih di pelipis. Wajahnya yang dulu kusam karena kerja keras kini berseri seri, basah oleh air mata, basah oleh kebanggaan.
Ia tidak berusaha menyembunyikan tangisnya. Tidak perlu. Biar semua orang melihat. Biar semua orang tahu bahwa anak buruh cuci dari Dusun Kersan, anak yang tidak punya apa apa, anak yang hanya punya mimpi dan kerja keras, kini berdiri di atas panggung. Lulus cum laude. IPK 3,95. Siap mengubah dunia.
Di samping ibunya, Yulia duduk dengan senyum lebar. Yulia yang sudah lulus setahun sebelumnya dari UNDIP, yang kini bekerja di sebuah firma hukum di Semarang, yang masih setia menjadi sahabat, yang masih selalu ada untuk Anita meskipun jarak dan waktu mencoba memisahkan mereka.
"Lo hebat, Mit," bisik Yulia, cukup keras untuk didengar Anita di atas panggung.
Anita menoleh. Tersenyum. Senyum yang tulus. Senyum yang tidak dipaksakan. Senyum yang lahir dari hati. Senyum yang mengatakan "terima kasih sudah bertahan bersamaku".
Di barisan belakang, dua orang duduk berdampingan.
Lukman dan Hermanto.
Mereka sudah lulus setahun sebelumnya. Lukman dari UNDIP, Fakultas Ekonomi, dengan IPK yang tidak setinggi Anita tapi cukup untuk membuat orang tuanya bangga. Hermanto dari UNTAG, Fakultas Hukum, dengan ijazah yang sudah ia terima setahun lalu, dengan pekerjaan yang sudah ia mulai, dengan kehidupan yang sudah ia jalani.
Namun, mereka datang. Kembali ke Semarang. Kembali ke kampus ini. Kembali ke tempat di mana semuanya dimulai. Kembali untuk melihat Anita wisuda.
Bukan karena mereka masih berharap. Bukan karena mereka masih berusaha. Tapi karena mereka ingin melihat perempuan yang pernah mereka cintai bahagia. Karena mereka ingin mengucapkan selamat. Karena mereka ingin menutup bab terakhir dengan cara yang baik.
Hermanto sekarang bekerja di sebuah firma hukum di Jakarta. Firma besar. Gaji besar. Tugas berat. Lembur setiap malam. Jarang pulang. Jarang tidur. Jarang bahagia.
Tapi ia bertahan. Karena tidak ada pilihan. Karena ia harus membuktikan bahwa ia bisa. Karena ia harus menunjukkan pada orang tuanya bahwa ia tidak butuh jalur mereka.
Lukman bekerja di perusahaan konsultan di Semarang. Perusahaan kecil. Gaji cukup. Kerja santai. Waktu luang banyak. Tapi tidak ada yang mengisi waktu luang itu. Tidak ada yang diajak bicara. Tidak ada yang diajak jalan. Tidak ada yang diajak berbagi.
Keduanya masih lajang. Keduanya masih sendiri. Keduanya masih menyimpan rasa pada Anita. Bukan rasa yang menggebu gebu seperti dulu. Bukan rasa yang membuat mereka tidak bisa tidur. Tapi rasa yang sudah mengendap, yang sudah menjadi bagian dari mereka, yang tidak bisa dicabut meskipun sudah berusaha.
Rasa yang mungkin akan tetap ada sampai kapan pun.
Setelah wisuda, Anita keluar dari gedung.
Toga sudah dilepas. Selempang sudah dilipat rapi di dalam tas. Ijazah sudah digenggam erat di tangan kanan. Sertifikat cum laude di tangan kiri.
Ia berdiri di tangga gedung, menghirup udara bebas. Tidak ada lagi tugas. Tidak ada lagi ujian. Tidak ada lagi tekanan. Hanya ijazah, hanya masa depan, hanya ketidakpastian yang menanti.
Hari ini, ia bukan lagi mahasiswa. Hari ini, ia adalah sarjana. Hari ini, ia adalah seseorang yang sudah menyelesaikan satu babak panjang dalam hidupnya.
Hermanto dan Lukman mendekat. Berdiri di sampingnya. Tidak ada yang bicara selama beberapa detik. Hanya angin yang berembus, membawa bau kampus yang sudah tidak asing lagi, bau buku, bau rumput, bau kenangan.
"Selamat, Mit," kata mereka bersamaan. Suara mereka berbeda, tapi kata katanya sama. Seperti sudah diatur. Seperti sudah ditakdirkan.
Anita tersenyum. "Terima kasih."
"Mit, gue masih..." mulai Hermanto. Tangannya terulang sedikit, seperti ingin meraih sesuatu, seperti ingin mencoba sekali lagi, seperti belum bisa melepaskan sepenuhnya.
"Man, tolong. Jangan." Anita memotong. Tidak marah. Tidak kesal. Hanya tegas. Tegas seperti orang yang sudah mengambil keputusan. Tegas seperti orang yang tidak akan berubah pikiran.
Hermanto membungkam. Tangannya turun.
"Mit, gue..." Lukman mencoba. Matanya memohon, memohon untuk didengar, memohon untuk diberi kesempatan, memohon untuk diizinkan berharap.
"Lukman, juga jangan." Anita menatap Lukman. Matanya lembut, tapi tidak memberi ruang.
Lukman terdiam.
Anita menghela napas. Napas yang panjang. Napas yang terasa seperti melepas beban yang sudah ia pikul sejak SMP.
"Kalian berdua baik." Suaranya pelan, tidak tinggi, tidak rendah. "Kalian berdua sudah berusaha. Kalian berdua sudah sabar. Kalian berdua sudah menunggu. Tapi aku sudah memutuskan."
Ia menatap Hermanto. Lalu Lukman. Lalu ke depan, ke arah langit yang biru, ke arah masa depan yang tidak pasti.
"Aku akan kembali ke Tegorejo. Membantu ibuku. Membuka bimbingan belajar untuk anak anak desa. Agar mereka tidak perlu susah susah ke kota untuk belajar. Agar mereka punya kesempatan yang sama seperti aku."
Ia berhenti. Menarik napas.
"Mungkin suatu hari nanti, ketika luka ini benar benar sembuh, ketika aku benar benar utuh, ketika aku tidak lagi takut, aku akan menikah. Dengan orang yang mencintaiku tanpa syarat. Dengan orang yang tidak peduli bahwa aku miskin. Dengan orang yang tidak akan pergi meskipun orang tuanya melarang."
Ia menatap mereka berdua.
"Tetapi untuk sekarang, aku ingin sendiri."
Udara mendadak terasa lebih berat. Tidak ada yang bicara. Tidak ada yang bergerak. Yang ada hanya angin yang berembus, membawa debu, membawa daun daun kering, membawa kenangan yang tidak bisa diulang.
Hermanto dan Lukman saling pandang.
Mereka mengerti.
Tidak perlu kata kata. Tidak perlu penjelasan. Tidak perlu alasan.
Mereka kalah.
Bukan karena tidak cukup baik. Hermanto baik. Lukman baik. Mereka sudah berusaha. Mereka sudah sabar. Mereka sudah menunggu. Mereka sudah memberikan segalanya.
Bukan karena tidak cukup pantas. Hermanto pantas. Lukman pantas. Mereka pintar. Mereka sukses. Mereka bisa memberikan kehidupan yang layak.
Tapi karena cinta pertama Anita telah meninggalkan luka. Luka yang terlalu dalam. Luka yang tidak bisa disembuhkan oleh siapa pun. Luka yang hanya bisa disembuhkan oleh waktu, dan waktu belum selesai bekerja.
Mereka kalah oleh masa lalu. Mereka kalah oleh ketakutan. Mereka kalah oleh tembok yang tidak bisa mereka panjat.
Epilog. Dua tahun kemudian. Desa Tegorejo.
Sebuah bangunan sederhana berdiri di tepi Jalan Randu Gembyang. Dindingnya setengah tembok, setengah anyaman bambu. Atapnya seng, kadang bocor saat hujan deras, tapi sudah diperbaiki berkali kali. Halamannya tidak terlalu luas, tapi cukup untuk anak anak desa berlari kecil sebelum pulang.
Spanduk bertuliskan "BIMBEL CERDAS CERIA, Anita, S.M." menggantung di depan. Spanduk yang sudah sedikit lusuh karena panas dan hujan, karena sudah dua tahun terpasang.
Anita kini menjadi guru bimbingan belajar untuk anak anak desa. Setiap sore, setelah pulang dari membantu ibunya berjualan gorengan, ia mengajar. Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, IPS. Semua ia ajarkan dengan sabar, dengan cinta, dengan kesabaran yang tidak pernah ia miliki sebelum hidup mengajarkannya.
Anak anak desa yang datang tidak banyak. Kadang lima, kadang sepuluh, kadang hanya tiga. Tapi Anita tidak pernah membatalkan. Jika hanya satu yang datang, ia tetap mengajar. Karena satu anak yang mengerti lebih baik daripada seratus yang tidak.
Ia bahagia. Tidak bahagia seperti di film film, bahagia yang sempurna, bahagia yang tanpa masalah, bahagia yang membuat orang iri. Tapi bahagia yang sederhana. Bahagia yang cukup. Bahagia yang tidak perlu pamer.
Ibu Karsinem sudah tidak bekerja sebagai buruh cuci. Tangannya yang dulu kasar kini mulai halus, mulai pulih, mulai tidak lagi pecah pecah karena sabun colek. Ia hanya berjualan gorengan di depan rumah, dari pagi sampai siang, lalu istirahat, lalu membantu Anita mengajar jika ada anak yang butuh perhatian lebih.
Mereka hidup sederhana. Tidak kaya. Tidak punya mobil. Tidak punya rumah mewah. Tapi cukup. Cukup untuk makan. Cukup untuk bayar listrik. Cukup untuk hidup.
Yulia sesekali datang dari Semarang.
Bukan sering. Mungkin dua bulan sekali, atau tiga bulan, jika ada waktu luang dari pekerjaannya yang semakin menumpuk. Tapi setiap kali datang, ia selalu membawa oleh oleh, gorengan dari kota yang lebih enak, atau baju baru untuk Anita, atau mainan untuk anak anak bimbel.
Mereka duduk di teras. Minum teh buatan Ibu Karsinem. Bercerita tentang kehidupan masing masing. Tertawa. Kadang menangis, mengingat masa lalu, mengingat masa masa sulit yang sudah mereka lewati bersama.
"Lo tidak punya pacar sampai sekarang?" tanya Yulia suatu sore, sambil menyesap teh hangat. Matahari mulai condong ke barat. Warna langit berubah dari biru menjadi oranye.
"Pacar? Buat apa?" jawab Anita sambil tersenyum. Senyum yang tidak lagi pahit. Senyum yang ikhlas.
"Ya, untuk teman hiduplah." Yulia mengangkat bahu. "Untuk berbagi suka dan duka. Untuk menemani hari tua. Untuk sesuatu yang lain."
"Temanku hidup sudah cukup banyak." Anita menatap ke arah anak anak yang sedang bermain di halaman. "Kamu, Lukman, Hermanto. Dan anak anak bimbel ini. Mereka semua adalah temanku."
"Tetapi suatu hari nanti lo butuh pendamping." Yulia tidak menyerah. "Saat lo tua. Saat tidak bisa kemana mana sendirian. Saat butuh seseorang untuk memegang tangan lo."
"Kalau Tuhan menghendaki, pasti ada." Anita tersenyum lagi. "Tetapi aku tidak akan mencari lagi. Cukuplah sekali aku patah hati. Cukuplah sekali aku merasakan sakit yang tidak bisa digambarkan dengan kata kata. Cukuplah."
Yulia menghela napas. "Lo masih menyalahkan cinta pertama lo."
"Bukan menyalahkan." Anita menggeleng. "Tapi belajar. Cinta pertama mengajarkanku bahwa cinta itu indah. Juga mengajarkanku bahwa cinta itu bisa menghancurkan. Aku tidak mau dihancurkan lagi. Tidak oleh siapa pun."
Yulia tidak bisa membantah. Ia hanya bisa diam. Menatap sahabatnya. Mengagumi keteguhannya. Mengagumi ketegasannya. Mengagumi keputusannya.
Di kejauhan, di jalan menuju Dusun Pangempon, seorang laki laki tampak berdiri.
Hermanto.
Ia datang dari Jakarta. Khusus. Untuk melihat Anita. Untuk melihat bagaimana kehidupannya sekarang. Untuk memastikan bahwa ia baik baik saja. Untuk memastikan bahwa ia bahagia.
Jaket kulit hitam, jaket yang sama, jaket yang sudah lusuh, yang tidak pernah ia ganti. Rambut sebahu, sama seperti dulu, tidak berubah. Wajah lebih tua, ada kerutan halus di sekitar mata, tanda terlalu banyak bekerja.
Ia berdiri di kejauhan. Cukup jauh untuk tidak terlihat jelas. Cukup dekat untuk melihat Anita yang sedang duduk di teras bersama Yulia, tertawa, berbincang, menikmati sore.
Ia melihat Anita. Matanya tidak berkedip.
Anita terlihat bahagia. Bahagia tanpa dia. Bahagia dengan kehidupannya yang sederhana. Bahagia dengan anak anak yang berlarian di halaman. Bahagia dengan ibunya yang duduk di sampingnya.
Itu sudah cukup, pikir Hermanto. Itu sudah lebih dari cukup.
Ia tidak perlu mendekat. Tidak perlu menyapa. Tidak perlu mengucapkan apa pun.
Karena ia tidak ingin merusak kebahagiaan itu. Tidak ingin membuka luka lama. Tidak ingin membuat Anita teringat masa lalu yang menyakitkan.
Ia hanya tersenyum.
Lalu berbalik pergi.
Langkahnya pelan. Tidak terburu buru. Tidak ada yang perlu dikejar. Tidak ada yang perlu diperjuangkan.
"Selamat, Mit." Bisiknya, hanya untuk dirinya sendiri. "Kamu akhirnya bahagia. Kamu akhirnya menemukan kedamaian. Kamu akhirnya menjadi apa yang kamu impikan."
Air matanya jatuh. Jatuh diam diam. Jatuh tanpa suara.
Ia tidak menyekanya. Biarkan. Tidak ada yang melihat.
Sementara itu, Lukman.
Ia baru saja turun dari bus di terminal Pegandon. Bus dari Semarang, perjalanan tiga jam, melelahkan. Tapi ia tidak merasa lelah. Ada sesuatu yang membuatnya tetap bersemangat.
Ia berjalan menuju Desa Tegorejo. Langkahnya ringan. Tidak seperti beban. Tangannya memegang karangan bunga. Bunga matahari, bunga favorit Anita, bunga yang ia tahu dari Yulia, yang ia tahu karena pernah bertanya.
Bunga kuning. Cerah. Seperti matahari. Seperti harapan.
Ia ingin mencoba sekali lagi. Bukan untuk memaksa. Bukan untuk menekan. Tapi untuk mengingatkan Anita bahwa ia masih di sini. Bahwa ia masih setia. Bahwa ia masih menunggu.
Tapi sesampainya di depan bimbingan belajar, ia melihat Anita.
Anita sedang tertawa. Tertawa bersama anak anak desa yang berlarian di halaman, yang sedang bermain petak umpet, yang sedang menikmati masa kecil mereka.
Wajah Anita damai. Tidak ada luka. Tidak ada kesedihan. Tidak ada kekhawatiran. Hanya kebahagiaan. Kebahagiaan yang sederhana. Kebahagiaan yang tulus. Kebahagiaan yang tidak perlu dibeli dengan uang.
Lukman berhenti di pintu gerbang.
Ia menatap Anita. Lama.
Ia tersenyum.
Lalu ia mengurungkan niatnya.
Ia tidak ingin merusak kebahagiaan itu. Tidak ingin mengganggu ketenangan itu. Tidak ingin membuat Anita harus memikirkan hal hal yang sudah selesai.
Ia meletakkan karangan bunga di depan pintu.
Diam diam. Perlahan. Tidak ingin berisik.
Lalu ia pergi.
Anita menemukan bunga itu sore harinya.
Saat anak anak pulang. Saat Yulia pamit. Saat halaman mulai sepi.
Ia membuka pintu gerbang untuk mengunci nya. Lalu ia melihat sesuatu di tanah. Karangan bunga. Bunga matahari. Masih segar. Masih wangi.
Ia memungutnya.
Ada kartu kecil tertempel. Tulisan tangan yang rapi, yang sudah tidak asing lagi, yang sudah pernah ia baca di secarik kertas dulu, di SMP, di masa lalu, di tempat yang berbeda.
"Untuk wanita terhebat yang pernah kukenal. Kamu mengajarkanku arti ketulusan. Kamu mengajarkanku bahwa mencintai tidak harus memiliki. Kamu mengajarkanku bahwa melepaskan adalah bentuk cinta yang paling dewasa. Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih telah menjadi bagian dari hidupku. Terima kasih telah mengajarkanku untuk menjadi lebih baik. Lukman."
Anita tersenyum.
Air matanya menetes. Jatuh ke kelopak bunga matahari. Jatuh ke tanah. Jatuh ke tempat yang sama di mana dulu ia sering menangis.
Bukan karena sedih. Bukan karena menyesal. Bukan karena kehilangan.
Tapi karena ia tahu.
Cinta memang tidak selalu harus memiliki. Tidak semua kisah memiliki akhir bahagia seperti di film film. Tidak semua cinta berakhir dengan pernikahan dan hidup bahagia selamanya.
Terkadang, cinta adalah tentang melepaskan. Melepaskan agar dia bisa bahagia. Melepaskan agar dia bisa berkembang. Melepaskan agar dia bisa menjadi dirinya sendiri.
Terkadang, cinta adalah tentang bertepuk sebelah tangan. Tentang memberi tanpa menerima. Tentang menyayangi tanpa dicintai balik. Tentang menunggu tanpa kepastian.
Terkadang, cinta adalah tentang menjadi bunga di tepi jalan. Tidak terawat. Tidak diperhatikan. Tidak pernah dipetik. Tapi tetap tumbuh. Tetap berbunga. Tetap memberi keindahan bagi siapa saja yang lewat.
Dan itulah yang terjadi pada Anita.
Cintanya bertepuk sebelah tangan. Cinta yang tidak pernah ia perjuangkan sepenuhnya karena ia sedang memperjuangkan hidupnya. Cinta yang tidak pernah ia miliki sepenuhnya karena ia terlalu takut untuk mengambil risiko. Cinta yang tidak pernah ia lepaskan sepenuhnya karena ia tidak tahu bagaimana caranya.
Namun, dari tepukan itu, ia belajar. Belajar menjadi lebih kuat. Belajar menjadi lebih mandiri. Belajar bahwa cinta bukanlah segalanya. Belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu tentang memiliki seseorang di sampingnya.
Dan mungkin, itu sudah cukup.
Mungkin, tidak semua orang ditakdirkan untuk memiliki cinta yang sempurna. Mungkin, tidak semua orang ditakdirkan untuk menikah dan memiliki anak. Mungkin, tidak semua orang ditakdirkan untuk bahagia dengan cara yang sama.
Tapi setiap orang berhak bahagia. Dengan caranya masing masing.
Dan Anita memilih bahagia dengan caranya sendiri.
Dengan bimbingan belajar. Dengan anak anak desa. Dengan ibunya. Dengan kesederhanaan. Dengan kedamaian.
Tanpa cinta. Tanpa laki laki. Tanpa drama.
Hanya dia. Dan hidup yang terus berjalan.
Sampai kapan pun.
TAMAT



Slamet Riyadi
29 Juli 2025 03:27:50
Semoga kita bisa kerjasama bu. ...