Desa Dabulon
Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan
NOVEL KALA BINTANG TAK LAGI MENANTI FAJAR

NOVEL
KALA BINTANG TAK LAGI MENANTI FAJAR
Sebuah Epik Cinta Segitiga, Pengkhianatan Persahabatan, dan Keikhlasan yang Lahir dari Luka Paling Dalam
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Karya ini adalah fiksi murni. Seluruh nama, tokoh, tempat, institusi, dan peristiwa merupakan hasil imajinasi penulis. Tidak ada maksud sedikit pun untuk merujuk pada pihak atau kejadian nyata. Cerita ini bertujuan menyajikan nilai-nilai keikhlasan, persahabatan sejati, dan kompleksitas perasaan manusia. Beberapa adegan mengandung konflik emosional. Hak cipta dilindungi undang-undang.
PROLOG
Jakarta, 2005
Hujan belum reda sejak pukul tujuh malam. Di kafe "Biru Langit" kawasan Kemang, tiga orang duduk terpisah oleh meja bundar yang terlalu sempit untuk rahasia sebesar ini.
Cantika menekan ujung sendok ke dasar cangkirnya. Bunyi keramik itu terasa terlalu keras di antara mereka yang sejak tadi hanya bertukar diam.
"Aku nggak akan bilang siapa-siapa sebelum kalian berhenti saling diem," ucapnya. Suaranya lembut, tapi ada getar di ujung kalimat yang menandakan kesabarannya mulai habis.
Bagus tersenyum tipis. Matanya tak pernah lepas dari cangkir kopi yang sudah dingin di hadapannya. "Nggak ada yang diem, Tik. Kita cuma... lagi mikir." Alasan itu terasa hambar bahkan di telinganya sendiri.
Raden menyentuh pinggiran piring kecil di samping cangkirnya. Bukan karena butuh, tapi karena tangannya harus sibuk melakukan sesuatu agar tidak terlihat terlalu tegang.
"Lo selalu bilang gitu, Gus. Mikir. Dua puluh tahun mikir, hasilnya apa?" Suaranya datar, menusuk dengan cara yang dingin dan terukur.
Cantika mendongak. Hujan di luar semakin deras. Butiran air membentuk jejak-jejak panjang di kaca jendela. "Raden, jangan," katanya. Bukan perintah, tapi permintaan yang hampir putus asa.
Raden menatap Cantika lebih dulu, lalu beralih ke Bagus. Di matanya ada sesuatu yang jarang ia tunjukkan: kegelisahan. "Gue cuma bilang. Suatu saat, mikir kebanyakan cuma bikin nyesel."
Bagus akhirnya mengangkat muka. Senyum pahit mengembang di bibirnya yang kering. "Lo nggak pernah nyesel, Den?"
Raden tidak menjawab. Diamnya adalah pengakuan yang tak diucapkan.
Cantika menghela napas panjang seperti orang yang menahan beban di dadanya selama bertahun-tahun. "Lima belas tahun kita berteman. Gue nggak mau kehilangan kalian berdua cuma karena..."
"Karena apa?" potong Bagus. Matanya kini menatap Cantika dengan tajam tapi sayu, seperti orang yang sudah lelah bersembunyi.
Cantika menggigit bibir bawahnya. Hujan di luar mereda sebentar, lalu menggila lagi. Air hujan mengguyur atap kafe dengan suara yang terdengar seperti amarah yang tertahan.
Raden berbicara dengan suara yang tiba-tiba melembut, sangat berbeda dari biasanya. "Karena lo, Tik. Dari dulu selalu karena lo."
Sunyi. Cangkir-cangkir dingin. Lampu kafe berkedip satu kali, seperti ikut terganggu oleh kejujuran yang baru saja keluar.
Cantika menunduk, Suaranya hampir tidak terdengar di sela gemuruh hujan. "Gue nggak minta."
Bagus bangkit berdiri. Tangannya meraih jaket yang tergantung di sandaran kursi. "Gue pulang. Udah malem."
Raden duduk tegak. Ada ketegangan di rahangnya. "Lari lagi, Gus? Lo selalu lari."
Bagus berhenti. Punggungnya membelakangi mereka berdua. Bahunya naik turun perlahan.
"Lo mau gue ngomong apa, Den? Mau gue ngaku di sini? Di depan dia?" suara Bagus terdengar serak, dipaksakan agar tidak bergetar.
Cantika menggenggam ujung roknya. "Bagus... jangan," bisiknya. Suara itu pecah di tengah jalan, seperti kaca yang retak tapi belum hancur.
Bagus berbalik. Matanya basah, tapi tidak menangis. Di bawah lampu kafe yang remang, air matanya yang tertahan itu bersinar seperti kaca. "Gue cinta lo, Tik. Dari semester tiga. Dari lo pinjemin gue pulpen biru itu. Delapan belas tahun. Dan gue nggak pernah bilang karena..." Ia menunjuk Raden dengan dagunya yang bergetar. "Dia. Sahabat gue. Yang gue tahu juga cinta lo."
Cantika membeku. Seluruh tubuhnya terasa seperti di suntik es.
Raden tidak bergerak. Ia hanya duduk diam seperti patung, dengan kedua tangan kini bersilang di dada. Hanya urat di lehernya yang berdenyut pelan memberi tanda bahwa ia masih hidup.
"Gue nggak pernah bilang cinta," kata Raden, dingin tanpa ekspresi.
Bagus tertawa kecil. Tertawa yang getir dan menyakitkan. "Lo nggak perlu bilang, Den. Lo cukup ambil."
Sunyi berkepanjangan. Hujan di luar mulai reda. Sisa-sisa gerimis jatuh dengan malas.
Cantika berdiri. Kedua tangannya gemetar. "Gue pergi dulu."
Raden bergerak cepat. Tangannya meraih pergelangan tangan Cantika. "Tunggu."
Cantika menatap tangan Raden yang menggenggam pergelangannya, lalu menatap Bagus yang berdiri kaku di dekat pintu. Bagus mengalihkan pandangan ke luar jendela, ke arah hujan yang mulai berhenti, ke arah lampu taman yang mulai menyala redup karena kabut.
Cantika melepas pegangan Raden perlahan, satu jari demi satu jari. "Gue cinta kalian berdua. Tapi nggak seperti yang kalian kira."
Perempuan itu berbalik. Daun pintu kafe berderit saat ia mendorongnya. Sepatu hak rendahnya menciptakan suara ketukan cepat di lantai keramik, lalu menghilang di dalam gelapnya malam.
Bagus dan Raden terdiam. Lampu taman di luar mati satu per satu, seperti ikut padam bersama harapan yang tersisa.
Bagus akhirnya duduk kembali. Ia meletakkan keningnya di atas meja kayu yang sudah lecet. Tangannya menggantung lemas di samping.
"Gue nggak marah sama lo, Den," ucapnya, Suaranya teredam oleh meja.
Raden mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Untuk pertama kalinya, ketenangannya retak. Rambutnya yang rapi berantakan setelah kedua tangannya menariknya kasar. "Lo seharusnya marah," katanya, nadanya parau.
Bagus mengangkat muka sedikit. Matanya sembab, tapi senyum tipis masih bertahan di sudut bibirnya. "Marah buat apa? Cinta nggak kenal siapa duluan."
Raden menggeleng pelan. "Gue tahu lo duluan."
Bagus menatapnya lekat-lekat. Wajah mereka berjarak satu meja, tapi rasanya seperti terpisah oleh jurang yang tak bisa dilompati.
"Terus kenapa lo tetap ambil?" tanya Bagus. Bukan tuduhan. Hanya pertanyaan seorang sahabat yang benar-benar ingin tahu.
Raden diam lama sekali. Hujan di luar benar-benar berhenti. Keheningan setelah badai selalu terasa lebih berat dari badai itu sendiri.
"Karena gue juga nggak bisa berhenti," jawabnya, nyaris tidak terdengar. Suara itu begitu kecil, begitu rapuh, sangat tidak mirip dengan Raden yang selalu ia kenal.
Delapan belas tahun bukan waktu yang singkat. Tapi cinta, kadang, tidak butuh waktu lama untuk berubah menjadi luka. Dan luka, jika terus dipendam, akan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih berat dari sekadar rasa sakit. Ia akan menjadi sunyi. Dan sunyi itulah yang paling mematikan.
Malam itu, di kafe "Biru Langit", dua lelaki kehilangan perempuan yang sama dengan cara yang berbeda. Bagus kehilangan karena ia tak pernah cukup berani. Raden kehilangan karena ia tak pernah cukup jujur.
Dan Cantika?
Cantika kehilangan keduanya dalam waktu yang bersamaan. Bukan karena ia memilih, melainkan karena ia tidak punya pilihan.
Bintang-bintang di langit Jakarta malam itu tidak terlihat. Tertutup awan dan polusi dan segala kerumitan kota yang tak pernah tidur. Tapi di satu sudut kota, di dalam sebuah mobil tua yang terparkir di pinggir jalan, seorang perempuan menangis tanpa suara. Dan di tempat yang berbeda, dua lelaki diam-diam bertanya pada dirinya masing-masing: *apakah fajar akan pernah datang untuk orang-orang yang bahkan tak lagi percaya pada cahaya?*
Mereka tidak tahu jawabannya.
Tapi cerita ini baru saja dimulai.
Bab 1: Tiga Sahabat di Kafe Biru Langit
Kafe "Biru Langit", Kemang, Jakarta Selatan. Jumat malam, pukul setengah sembilan. Hujan gerimis tipis turun sejak sore dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Lampu-lampu kuning temaram menciptakan bayangan yang bergoyang-goyang di dinding bata ekspos. Musik jazz dari pengeras suara tua mengalun pelan, hampir seperti bisikan. Aroma kopi dan kayu manis bercampur menjadi satu, menciptakan kehangatan yang anehnya justru membuat hati terasa lebih sepi.
Bagus tiba paling awal. Seperti biasa. Selalu paling awal untuk segala hal kecuali untuk hal yang benar-benar penting. Ia sudah duduk sejak pukul setengah delapan, memesan segelas Americano panas, dan membuka sketsa-sketsa bangunan yang belum selesai ia gambar di buku sketsanya yang lusuh. Sampul buku itu sudah terkelupas di beberapa bagian. Ada noda kopi di halaman ketujuh belas. Ada coretan nama "Cantika" di sudut kanan bawah halaman dua puluh tiga, ditulis dengan huruf yang sangat kecil lalu digores-gores hingga hampir tidak terbaca. Tapi Bagus tahu nama itu masih ada di sana. Ia selalu tahu.
Jari-jarinya menggenggam pensil 2B. Garis-garis vertikal untuk dinding. Garis-garis horizontal untuk lantai. Tapi matanya terus melayang ke pintu kaca setiap kali bel berbunyi. Bukan untuk siapa-siapa. Hanya kebiasaan. Kebiasaan yang sudah berlangsung delapan belas tahun.
Seorang pelayan bernama Yanto mendekati mejanya. Yanto sudah bekerja di kafe ini selama tujuh tahun. Ia hafal pesanan ketiganya. Americano panas untuk Bagus. Espresso dobel tanpa gula untuk Raden. Caramel macchiato dengan tambahan whipped cream untuk Cantika.
"Mas Bagus, nambah kopi lagi?" tanya Yanto sambil menyodorkan tisu.
Bagus menggeleng. "Nanti dulu, Yo. Tunggu mereka datang."
"Mba Cantika telat lagi ya, Mas?" Yanto tersenyum nakal. "Kayaknya dari dulu Mba Cantika nggak pernah datang duluan. Mas Bagus yang selalu nunggu."
Bagus tersenyum pahit. "Kebiasaan buruk, Yo. Kebiasaan buruk."
Yanto pergi meninggalkan Bagus dengan kopinya yang mulai dingin. Hujan di luar semakin tipis tapi tidak berhenti. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu. Di kejauhan, terdengar suara klakson mobil yang terjebak macet. Jakarta, dengan segala hiruk pikuknya, tetap berdetak meskipun hujan. Tapi di dalam kafe ini, waktu terasa berjalan lebih lambat. Atau mungkin hanya Bagus yang merasakannya.
Bel pintu berbunyi lagi.
Raden masuk dengan jas hujan warna hitam yang masih meneteskan air. Wajahnya datar seperti biasa. Ekspresinya tidak berubah sejak pertama kali Bagus mengenalnya di bangku SMP. Raden melipat jas hujannya rapi, menggantungkannya di rak dekat pintu, lalu berjalan menuju meja mereka dengan langkah yang terukur. Ia duduk di kursi yang biasa ia tempati. Kursi yang persis berseberangan dengan tempat duduk Bagus, dan di samping kursi kosong yang sudah disediakan untuk Cantika.
"Lo duluan lagi," kata Raden. Bukan sapaan. Hanya pernyataan. Suaranya datar seperti laporan cuaca.
Bagus menutup buku sketsanya. "Seperti biasa."
Raden mengangguk. Matanya menatap meja kayu jati yang sudah tergores-gores. "Pesan kopi belum?"
"Belum. Gue nunggu lo berdua."
"Pesankan gue espresso dobel tanpa gula."
Bagus mengangkat tangannya. Yanto yang melihat dari belakang bar segera mengangguk dan mulai meracik kopi. Tanpa perlu bertanya, Yanto sudah tahu.
Raden membuka tas kerjanya. Sebuah tas kulit coklat tua yang sudah menemani nya sejak tahun pertama kuliah. Ia mengeluarkan setumpuk kertas. Berkas perkara. Dokumen hukum dengan huruf-huruf kecil yang membuat mata Bagus langsung pusing hanya dengan melihatnya.
"Kasus baru?" tanya Bagus.
Raden mengangguk tanpa mengangkat muka. "Perdata. Sengketa tanah. Klien gue kalah terus di pengadilan negeri."
"Terus lo turun tangan?"
"Seseorang harus membereskan kekacauan."
Bagus tersenyum. "Lo nggak berubah, Den. Masih sama. Masih dingin. Masih percaya lo bisa menyelesaikan semuanya sendirian."
Raden akhirnya mengangkat muka. Matanya menatap Bagus lekat-lekat. "Bukannya gue percaya gue bisa menyelesaikan semuanya sendirian, Gus. Tapi orang-orang di sekitar gue terlalu lamban. Termasuk lo."
"Wah, nyindir nih," kata Bagus sambil tertawa kecil.
"Bukan nyindir. Fakta."
Mereka berdua terdiam sebentar. Jazz dari pengeras suara berganti lagu. Sekarang mengalun "My Funny Valentine" dengan suara trompet yang sendu.
"Lo tahu, Den," kata Bagus setelah beberapa saat. "Gue kadang iri sama lo."
Raden mengerjap. "Iri? Sama gue?"
"Lo selalu tahu apa yang lo mau. Lo ambil. Lo eksekusi. Lo nggak pernah ragu."
Raden meletakkan pulpennya. "Lo pikir gue nggak pernah ragu?"
"Lo? Ragu? Gue nggak pernah lihat."
"Karena gue pandai menyembunyikannya," kata Raden. Suaranya tiba-tiba berubah. Ada nada yang berbeda. Nada yang tidak biasa keluar dari mulut Raden. "Kita semua pandai menyembunyikan sesuatu, Gus. Cuma lo yang terlalu jujur untuk pura-pura."
Bagus ingin menjawab. Tapi bel pintu berbunyi lagi. Dan detak jantungnya tiba-tiba berubah irama.
Cantika masuk dengan jaket jeans biru muda. Jaket itu sudah pudar warnanya karena terlalu sering dicuci. Tapi Cantika tidak pernah mau menggantinya. Katanya, jaket ini punya kenangan. Rambut sebahu Cantika sedikit basah karena gerimis. Ada butiran-butiran air kecil yang menempel di ujung-ujung rambutnya. Dan di rambutnya, seperti biasa, tersemat jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Jepit rambut plastik murahan yang sudah retak di bagian sayap kirinya. Cantika membelinya di pasar loak ketika kuliah semester tiga. Warna catnya sudah mengelupas. Tapi Cantika tetap memakainya ke mana pun ia pergi.
"Aduh, maaf banget telat!" seru Cantika sambil mengibas-ngibaskan jaketnya sebelum duduk. "Tadi ada rapat dadakan. Redaksi minta aku nge-cover demo besok. Fix dadakan banget sih, tahu nggak. Padahal aku udah janjian sama kalian dari minggu lalu."
Bagus tersenyum lebar. Senyum yang berbeda dari senyumnya kepada Raden tadi. Senyum ini lebih lebar, lebih tulus, lebih... cerah. Seperti langit setelah hujan.
"Telat empat puluh lima menit, Tik," kata Bagus. "Bukan sepuluh menit seperti biasa."
"Hei, empat puluh lima menit itu termasuk kemajuan, tahu!" Cantika membela diri sambil mengeluarkan handphone dari saku jaketnya. "Biasanya kan satu jam."
Raden tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengamati. Seperti biasa. Ia melihat bagaimana sudut mata Bagus berkerut ketika tersenyum pada Cantika. Ia melihat bagaimana jari-jari Bagus tanpa sadar memainkan ujung buku sketsanya. Ia melihat bagaimana Bagus menarik napas sedikit lebih dalam sebelum berbicara pada Cantika.
Hal-hal kecil. Hal-hal yang mungkin tidak disadari orang lain. Tapi Raden menyadarinya. Raden selalu menyadarinya.
"Lo nggak bawa payung, Tik?" tanya Bagus.
Cantika menggeleng. "Ketinggalan di kantor. Untung gerimisnya tipis. Nggak terlalu basah kok."
"Nanti gue anter ke taksi," kata Bagus cepat. Terlalu cepat. Terdengar seperti refleks. Seperti otot yang sudah terlatih.
Cantika tersenyum. "Baiklah, Pak Arsitek Galau. Tapi sebelum itu, pesan dulu kopi dong. Aku kedinginan."
Bagus mengangkat tangan. Yanto yang sudah menunggu dari kejauhan segera mendekat. "Mba Cantika, caramel macchiato plus whipped cream ya?"
"Kok lo hafal banget sih, Yo?" Cantika terkekeh.
Yanto tersenyum. "Udah tujuh tahun, Mba. Mas Bagus yang selalu ngasih tahu pesanan Mba kalau Mba belum datang."
Cantika menoleh ke Bagus. Matanya bertanya. Bagus hanya tersenyum canggung dan kembali membuka buku sketsanya. Pura-pura sibuk dengan garis-garis yang sudah berhari-hari tidak ia sentuh.
Raden melihat semua itu. Diam-diam. Mengamati. Menghitung. Menyimpan setiap detail di dalam memori yang tidak pernah lupa.
Yanto pergi membawa pesanan. Kafe kembali sunyi kecuali suara trompet dari pengeras suara.
"Jadi gimana skripsimu, Gus?" tanya Cantika sambil menyandarkan dagunya di atas kedua telapak tangan. Matanya yang berwarna coklat muda itu menatap Bagus dengan penuh perhatian. Tatapan yang membuat Bagus ingin tenggelam di dalamnya.
Bagus menghela napas. "Dosen pembimbingku bilang skripsiku itu seperti bangunan tanpa fondasi."
"Wah, parah. Maksudnya?"
"Katanya, 'Bagus, ini kok romantis banget? Kamu sedang jatuh cinta ya?'"
Cantika menahan tawa. Kedua tangannya menutup mulut. Matanya menyipit. Bahunya naik turun menahan gelak yang ingin pecah. "Ah, benar juga kata dosenmu itu, Gus. Skripsimu tentang gedung teater modern tapi isinya penuh puisi cinta. Kamu pasti sedang jatuh cinta pada seseorang, Gus."
Bagus menunduk. Ia menggambar lingkaran kecil di sudut halaman. Lingkaran yang tidak jelas bentuknya. "Skripsi arsitektur memang harus punya konsep yang kuat, Tik. Konsepku adalah 'ruang yang merangkul emosi'. Jadi wajar kalau ada nuansa romantisnya."
"Alasan," potong Raden tanpa mengangkat muka dari berkas perkaranya. "Alasan yang bagus, tapi tetap alasan."
"Lo bisa aja, Den," kata Cantika sambil terkekeh. Matanya beralih ke Raden. "Tapi serius, Gus. Lo itu kadang terlalu misterius, tahu nggak?"
Bagus mengangkat alis. "Misterius?"
"Iya. Kita sudah bersahabat bertahun-tahun. Puluhan malam begadang. Ribuan kopi kita habiskan bersama. Tapi lo tak pernah sekali pun cerita soal hati. Padahal aku dan Raden ada di sini buat lo. Apakah lo tidak percaya pada kami?"
Bagus terdiam. Jarinya berhenti menggambar. Pensil 2B itu tergenggam erat.
"Mungkin karena yang kucintai terlalu dekat, Cantik," kata Bagus dengan suara pelan. Sangat pelan. Hampir seperti bisikan yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri. "Dan terlalu berharga untuk kusakiti dengan kata-kata."
Cantika berhenti tertawa. Senyumnya menghilang. Matanya berubah. Ada sesuatu yang bergerak di dalam sorot matanya. Sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan meskipun ia sudah berusaha.
"Terlalu dekat?" ulang Cantika. Suaranya tiba-tiba serak.
Bagus tidak menjawab. Ia hanya tersenyum dan kembali membuka buku sketsanya. Halaman demi halaman. Mencari sesuatu untuk menyelamatkannya dari pertanyaan yang tidak ingin ia jawab.
Raden meletakkan pulpennya. "Setiap kata yang tak terucap adalah luka yang tak terlihat, Gus."
Bagus menatap sahabatnya itu. "Lo filsafat sekarang, Den? Bukannya lo anak hukum?"
Raden tersenyum tipis. Senyum yang jarang ia tunjukkan. "Hukum mengajarkanku satu hal, Gus. Bahwa setiap keheningan bisa dimaknai sebagai persetujuan. Tapi dalam cinta, keheningan adalah penolakan yang paling menyakitkan."
Cantika bergerak gelisah di kursinya. Ia menggenggam cangkir caramel macchiato yang baru saja diantarkan Yanto. Hangat dari cangkir itu menyebar ke telapak tangannya. Tapi hangat itu tidak cukup untuk mengusir hawa dingin yang tiba-tiba menyelinap di antara mereka bertiga.
"Aku tahu itu, Den," kata Raden melanjutkan. Matanya menatap lurus ke arah Bagus. "Karena aku juga menyimpan terlalu banyak kata dalam diam."
Cantika memandang Raden. Lalu memandang Bagus. Lalu kembali ke Raden. Seperti orang yang kehilangan arah. Seperti orang yang tersesat di antara dua hati yang sama-sama ia sayangi.
"Apa maksud lo, Den?" tanya Cantika. Suaranya bergetar di akhir kalimat.
Raden hendak menjawab. Bibirnya sudah terbuka. Kata-kata sudah di ujung lidah. Tapi Bagus lebih cepat.
"Eh, lo tahu nggak?" potong Bagus dengan suara yang dipaksakan ceria. Terdengar begitu palsu. Begitu kentara kepura-puraannya. "Tadi siang aku ketemu Pak Darmo di luar. Beli sayur. Ternyata Pak Darmo itu jago masak, lo. Dulu koki di hotel bintang lima."
Cantika dan Raden sama-sama terdiam. Keduanya menatap Bagus dengan tatapan yang berbeda. Raden dengan tatapan kecewa. Cantika dengan tatapan lega yang tidak ingin ia akui.
"Serius?" tanya Cantika, berusaha mengikuti perubahan topik. "Pak Darmo yang pemilik kafe ini?"
"Iya. Tahu nggak, dulu beliau buka kafe ini karena jatuh cinta sama seorang perempuan yang suka ngopi di sini. Tapi perempuan itu sudah menikah. Jadi Pak Darmo cuma bisa merenung di belakang bar sambil nyeduh kopi untuk perempuan itu setiap hari selama sepuluh tahun."
Raden menyilangkan tangan di dada. "Cerita sedih yang romantis."
"Setiap cerita sedih pasti ada romantismenya, Den," kata Bagus. "Hanya saja kadang kita terlalu sibuk melihat kesedihannya sampai lupa bahwa di balik itu ada cinta yang besar."
Cantika memainkan jepit rambut kupu-kupunya. Jari-jarinya yang lentik menyentuh bagian sayap yang retak. "Lo jadi filosof sekarang, Gus?"
"Terinspirasi dari Pak Darmo," jawab Bagus sambil tersenyum.
Raden menggeleng pelan. Ia mengambil espressonya dan menghabiskannya dalam satu tegukan. Pahit. Pahit seperti yang ia inginkan. Pahit seperti yang ia rasakan setiap kali melihat Bagus tersenyum pada Cantika dengan cara yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.
"Lo tahu, Gus," kata Raden setelah meletakkan cangkir kosongnya. "Cerita Pak Darmo itu mengingatkanku pada sesuatu."
"Apa?"
"Tentang bagaimana seseorang bisa mencintai tanpa pernah memiliki. Tentang bagaimana seseorang bisa setia pada bayangan. Tentang bagaimana seseorang bisa menunggu selama sepuluh tahun untuk sesuatu yang tidak pernah akan terjadi."
Cantika menatap Raden. Ada rasa sakit di matanya. Rasa sakit yang juga dirasakan oleh Bagus. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang berani menyebutkan sumber rasa sakit itu.
"Lo sedih, Den?" tanya Cantika lembut.
Raden tertawa kecil. Tertawa yang tidak mengandung kebahagiaan. "Seumur hidup gue, nggak pernah ada yang nanya gue sedih atau nggak. Lo yang pertama, Tik."
"Terus? Lo sedih?"
Raden mengangkat bahu. "Kata orang hukum, jawaban itu tidak relevan untuk perkara ini."
Bagus memandang kedua sahabatnya. Raden dengan ketegaran yang mulai retak. Cantika dengan kelembutan yang mulai goyah. Dan dirinya sendiri, dengan keberanian yang selalu kandas di ujung lidah.
"Gue mau cerita sesuatu," kata Bagus tiba-tiba.
Cantika dan Raden menoleh.
"Serius?" tanya Cantika. Matanya membesar. "Lo mau cerita soal hati?"
Bagus mengangguk pelan. "Tapi lo berdua janji nggak bakal interupsi sampai gue selesai."
Raden mengangguk. Cantika juga mengangguk.
Bagus menarik napas panjang. Dalam sekali. Seperti orang yang hendak menyelam ke lautan yang paling dalam. "Gue jatuh cinta pertama kali waktu SMP."
"Wah, baru pertama kali gue dengar," potong Cantika.
Bagus mengangkat satu jari. "Janji. Nggak interupsi."
Cantika menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya tetap membesar karena penasaran.
"Waktu SMP," lanjut Bagus. "Gue punya teman sebangku. Namanya Dini. Rambutnya panjang. Suka pinjam penghapus gue. Gue pikir itu cinta."
Raden menyandarkan punggungnya ke kursi. Matanya tetap tertuju pada Bagus.
"Tapi ternyata bukan. Gue baru sadar setelah lulus SMP. Perasaan gue ke Dini cuma kebiasaan. Karena setiap hari ketemu, setiap hari pinjam-meminjam penghapus, setiap hari pulang bersama. Jadi gue kira itu cinta."
Bagus berhenti sebentar. Jarinya menggambar pola abstrak di atas meja kayu.
"Pas SMA, gue jatuh cinta lagi. Namanya Rika. Berbeda kelas. Gue sering banget bolak-balik ke kelasnya cuma buat minjemin buku yang sebenernya nggak gue butuhin. Gue suka diam-diam ngeliatin dia dari kejauhan. Gue tulis namanya di tasku."
Cantika tersenyum kecil. "Sweet."
Bagus menggeleng. "Tapi itu juga bukan cinta. Itu... ketertarikan. Gue suka Rika karena dia cantik, karena dia populer, karena semua cowok suka sama dia. Gue cuma ikut-ikutan."
Raden menyilangkan tangan. "Jadi lo bilang selama SMP dan SMA lo belum pernah jatuh cinta? Cuma suka-sukaan biasa?"
"Bukan belum pernah, Den. Gue kira gue jatuh cinta. Tapi ternyata beda. Jatuh cinta itu bukan sekadar deg-degan. Bukan sekadar ingin dilihat. Bukan sekadar cemburu kalau dia deket sama cowok lain."
"Terus apa?" tanya Cantika. Suaranya nyaris berbisik.
Bagus menatap Cantika. Matanya lembut. Lembut seperti kapas. Lembut seperti cahaya bulan yang jatuh di atas air.
"Jatuh cinta itu ketika lo nggak bisa berhenti memikirkan seseorang bahkan ketika lo lagi sibuk sekalipun. Jatuh cinta itu ketika lo bahagia melihat dia bahagia meskipun lo bukan penyebab kebahagiaannya. Jatuh cinta itu ketika lo rela kehilangan segalanya asal dia nggak kehilangan apa pun."
Sunyi.
Jazz dari pengeras suara berganti lagu lagi. Sekarang alunan piano solo. Sendu. Melankolis. Seperti memeluk luka yang tidak kasat mata.
Cantika menunduk. Tangannya yang menggenggam cangkir mulai gemetar.
Raden tidak bergerak. Dadanya naik turun perlahan. Ia menahan napas. Seperti orang yang takut suara napasnya sendiri akan mengganggu sesuatu yang penting.
"Lo jatuh cinta pada siapa, Gus?" tanya Raden akhirnya. Suaranya datar. Tapi ada sesuatu di balik kedataran itu. Sesuatu yang berusaha mati-matian ia sembunyikan.
Bagus tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke mata. "Itu rahasia, Den. Tapi yang jelas, perasaan itu sudah gue pendam sangat lama. Delapan belas tahun, tepatnya."
Cantika terkesiap. Delapan belas tahun. Angka itu bukan angka yang asing baginya. Delapan belas tahun yang lalu, mereka bertiga pertama kali duduk bersama di kantin sekolah. Delapan belas tahun yang lalu, Bagus pertama kali meminjam pulpen biru Cantika. Delapan belas tahun yang lalu, segalanya dimulai tanpa pernah ada yang menyadari.
"Apa yang lo tunggu selama delapan belas tahun, Gus?" tanya Cantika. Matanya mulai berkaca-kaca.
Bagus menghela napas. "Gue nunggu waktu yang tepat."
"Delapan belas tahun belum cukup tepat?"
"Kadang, Tik, waktu yang tepat adalah waktu yang tidak pernah datang."
Raden bangkit berdiri. Wajahnya pucat. Tangannya meraih jas hujan yang tergantung di rak dekat pintu.
"Lo mau ke mana, Den?" tanya Bagus.
"Pulang. Gue nggak enak badan."
"Tapi lo baru datang sebentar."
Raden tidak menjawab. Ia memakai jas hujannya dengan gerakan yang kaku. Tanpa menoleh, ia berjalan menuju pintu.
"Den!" panggil Cantika.
Raden berhenti. Tangannya di gagang pintu. Punggungnya membelakangi mereka berdua.
"Aku tahu siapa yang lo tunggu selama delapan belas tahun itu, Gus," kata Raden. Suaranya parau. Suaranya seperti orang yang baru saja kehilangan sesuatu yang paling berharga. "Dan aku juga tahu kenapa lo nggak pernah bilang."
Daun pintu terbuka. Hujan gerimis masih turun. Raden melangkah keluar tanpa payung.
Cantika menatap pintu yang tertutup. Lalu menatap Bagus yang duduk diam di kursinya. Wajah Bagus pucat. Matanya kosong.
"Gus, lo nggak apa-apa?"
Bagus tidak menjawab. Ia hanya membuka buku sketsanya. Di halaman paling belakang, di antara sketsa-sketsa gedung yang rumit, ada satu gambar sederhana. Gambar seorang perempuan dengan rambut sebahu dan jepit rambut berbentuk kupu-kupu.
Cantika melihat gambar itu. Napasnya tercekat.
"Itu... aku?"
Bagus menutup buku sketsanya dengan cepat. "Aku harus pulang juga, Tik. Besok ada presentasi."
"Gus, tunggu!"
Tapi Bagus sudah berdiri. Ia meraih jaketnya, mengeluarkan uang dari dompet, lalu meletakkannya di atas meja. Lebih dari cukup untuk membayar semua pesanan mereka.
"Aku tahu perasaanmu, Tik," kata Bagus tanpa menatap Cantika. "Dan aku juga tahu bahwa perasaanmu bukan untukku."
Cantika membeku. Air matanya jatuh. Tetes demi tetes. Membasahi pipinya yang mulai pucat.
"Gus..."
"Jangan bilang apa-apa, Tik. Biarkan saja seperti ini. Aku sudah terbiasa."
Bagus berjalan menuju pintu. Daun pintu berderit lagi. Hujan di luar mulai deras.
Cantika duduk sendirian di meja bundar itu. Di atas meja, tiga cangkir kopi dalam kondisi yang berbeda. Americano Bagus yang sudah dingin dan tidak tersentuh sejak setengah jam lalu. Espresso Raden yang kosong, meninggalkan noda hitam di dasar cangkir. Caramel macchiato Cantika yang masih utuh, whipped cream-nya mulai meleleh dan jatuh perlahan seperti air mata.
Yanto mendekati meja itu dengan hati-hati. "Mba Cantika, nggak apa-apa?"
Cantika menggeleng. Ia menyeka air matanya dengan punggung tangan. "Aku baik-baik saja, Yo. Cuma... cuma ada sesuatu yang hilang."
Yanto tidak bertanya lebih jauh. Sebagai pelayan yang sudah tujuh tahun bekerja di kafe ini, ia sudah cukup banyak melihat tiga sahabat itu tertawa, bertengkar, dan diam bersama. Tapi malam ini berbeda. Malam ini, Yanto bisa merasakan bahwa sesuatu yang penting telah berubah. Sesuatu yang tidak akan pernah bisa kembali seperti semula.
Di luar, hujan semakin deras. Gerimis tipis yang turun sejak sore kini berubah menjadi hujan lebat yang mengguyur seluruh kota. Lampu-lampu jalan berkedip-kedip karena angin. Di kejauhan, terdengar suara petir yang menggelegar.
Cantika memandang ke luar jendela. Kaca jendela buram karena hujan. Tapi di balik buram itu, ia bisa melihat bayangan dua sosok yang berjalan berlawanan arah. Bagus ke utara. Raden ke selatan. Dua sahabat yang sama-sama mencintainya. Dan ia, di tengah-tengah mereka, tidak punya cukup keberanian untuk memilih satu dan kehilangan yang lain.
"Maafkan aku, Gus," bisik Cantika pada dirinya sendiri. "Maafkan aku, Den. Aku bukan perempuan yang pantas untuk diperebutkan. Aku hanya perempuan biasa yang takut kehilangan."
Ia memegang jepit rambut kupu-kupu di rambutnya. Perlahan, ia melepasnya. Ia menatap jepit rambut itu di telapak tangannya. Retak di sayap kiri. Cat yang mengelupas. Tapi masih cantik. Masih Cantika seperti pertama kali ia membelinya delapan belas tahun lalu.
"Ingat nggak, Tik?" bisik suara Bagus di kepalanya. "Kita beli jepit rambut ini bareng-bareng. Lo mau beli yang warna merah, tapi gue bilang biru lebih cocok. Lo dengerin gue."
Cantika tersenyum getir. Delapan belas tahun. Puluhan jepit rambut sudah berganti. Tapi yang ini tetap ia pertahankan. Bukan karena ia tidak punya uang untuk membeli yang baru. Tapi karena jepit rambut ini adalah satu-satunya hal yang pernah Bagus berikan padanya.
Dan Bagus tidak pernah tahu. Karena Bagus tidak pernah tahu bahwa Cantika menyimpan semua pemberian Bagus, sekecil apa pun, sekusam apa pun, di dalam kotak kecil di bawah tempat tidurnya. Bersama dengan kenangan-kenangan yang tidak berani ia buka sendirian.
Di luar, hujan masih belum reda. Bintang-bintang tidak terlihat. Langit malam itu gelap pekat. Dan di kafe "Biru Langit", seorang perempuan duduk sendirian di antara tiga cangkir kopi yang dingin. Menunggu sesuatu. Atau mungkin tidak menunggu apa-apa. Karena seperti kata Bagus, waktu yang tepat adalah waktu yang tidak pernah datang.
Tiga puluh menit kemudian, Cantika berdiri dan berjalan menuju pintu. Yanto menyapanya dari belakang bar. "Mba, aman pulang?"
Cantika mengangguk. "Aman, Yo. Makasih."
"Mas Bagus titip pesan, Mba. Katanya besok malam di sini lagi. Jam yang sama."
Cantika berhenti. Tangannya di gagang pintu. "Dia bilang gitu?"
"Iya, Mba. Pas bayar tadi. Mas Bagus bilang, 'Yo, bilangin Mba Cantika besok kita ngopi lagi. Gue janji nggak akan kabur lagi.'"
Cantika tersenyum. Senyum kecil yang muncul di tengah hujan deras dan malam yang gelap. "Bilangin Bagus, aku akan datang."
"Tunggu, Mba. Mas Raden juga titip pesan."
"Apa?"
"Mas Raden bilang, 'Bilangin Mba Cantika, aku minta maaf. Besok aku datang. Janji.'"
Cantika menunduk. Air matanya hampir jatuh lagi. Tapi ia tahan. Ia sudah terlalu banyak menangis malam ini.
"Baik, Yo. Sampaikan pada mereka, aku akan menunggu."
Daun pintu terbuka. Hujan sudah mulai reda. Gerimis tipis kembali turun. Cantika melangkah keluar, menuju taksi yang sudah menunggu di pinggir jalan.
Di dalam taksi, ia memandang ke luar jendela. Hujan membasahi kaca. Lampu-lampu kota berkedip-kedip basah. Dan di tengah hiruk pikuk Jakarta yang tak pernah tidur, Cantika berbisik pada dirinya sendiri:
"Mereka berdua mencintaiku. Dan aku? Aku mencintai mereka berdua. Tapi cinta tidak pernah adil. Dan mungkin, tidak akan pernah adil."
Taksi melaju meninggalkan kafe "Biru Langit". Lampu-lampu kafe itu perlahan mengecil di kaca spion. Hingga akhirnya lenyap ditelan hujan dan malam.
Besok, mereka akan bertemu lagi. Di tempat yang sama. Di kafe yang sama. Di meja bundar yang sama.
Tapi tidak ada yang tahu bahwa pertemuan besok akan mengubah segalanya.
Karena besok, Raden tidak akan diam lagi.
Karena besok, Bagus tidak akan lari lagi.
Dan karena besok, Cantika mungkin tidak punya pilihan selain kehilangan.
Bab 2: Ketika Diam Bukan Lagi Pilihan
Apartemen Bagus, lantai dua belas. Pukul sebelas malam. Hujan masih deras mengguyur Jakarta sejak sore dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan reda. Suara air hujan yang jatuh dari atap-atap bangunan menciptakan simfoni yang kelam. Angin malam berhembus kencang, membawa serta bau tanah basah dan polusi yang tersapu air. Di kejauhan, sesekali terdengar suara petir yang menggelegar, diikuti kilat yang menyambar-nyambar di langit gelap.
Bagus duduk di balkon apartemennya. Kursi plastik murah berwarna putih itu sudah mulai retak di bagian sandaran. Ia membelinya tiga tahun lalu di pasar loak dekat kampus. Tiga tahun. Sama lamanya dengan ia tinggal di apartemen sempit berukuran tiga puluh meter persegi ini. Dindingnya tipis. Ia bisa mendengar tetangga sebelah sedang menonton televisi. Suara sinetron dengan dialog yang berlebihan. Di lantai atas, seseorang sedang berjalan mondar-mandir. Mungkin juga sedang gelisah. Mungkin juga sedang memikirkan seseorang yang tidak bisa ia miliki.
Bagus menggenggam ponselnya. Layar ponsel menyala redup. Sudah dua puluh menit ia menatap nama "Cantika" di daftar kontak. Ikon panggilan. Ikon pesan. Jari jempolnya menggantung di atas layar, tidak pernah berani menekan.
Air hujan mulai membasahi kakinya. Angin membawa butiran-butiran air ke balkon yang tidak beratap. Tapi Bagus tidak bergerak. Ia membiarkan dirinya basah. Seperti ingin merasakan sesuatu. Apa pun. Selama itu bisa mengalihkan pikirannya dari rasa sakit yang menyesak di dadanya.
Ia ingat percakapannya dengan Cantika malam ini di kafe. Ia ingat bagaimana Cantika menatapnya ketika ia berkata, "Mungkin karena yang kucintai terlalu dekat." Ada sesuatu di mata Cantika saat itu. Sesuatu yang membuat Bagus hampir yakin bahwa Cantika tahu. Cantika selalu tahu. Gadis itu terlalu cerdas untuk tidak menyadari bahwa selama delapan belas tahun, di setiap senyum Bagus, di setiap tawanya, di setiap kehadirannya di kafe "Biru Langit" sebelum siapa pun datang, ada makna yang tidak pernah ia ucapkan.
Tapi Cantika diam. Sama seperti Bagus diam. Sama seperti Raden diam. Mereka bertiga adalah ahli dalam memendam rasa. Mereka bertiga adalah juara dalam berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, bahwa tidak ada yang sakit, bahwa tidak ada yang terluka, bahwa cinta yang terpendam selama delapan belas tahun tidak meninggalkan bekas luka yang dalam di setiap sudut hati.
Ponsel Bagus bergetar.
Nama Raden muncul di layar.
Bagus menatap nama itu lama. Raden. Sahabatnya. Saudaranya. Orang yang ia kenal lebih lama daripada ia mengenal Cantika. Mereka bertemu di bangku SMP, ketika Raden baru pindah dari Bandung dan tidak punya teman. Bagus adalah orang pertama yang mengajaknya bicara. "Lo suka makan bakso? Ayo kita makan bakso bareng." Sederhana. Persahabatan mereka dimulai dari bakso. Dan berlanjut selama dua puluh tiga tahun tanpa pernah ada satu pun pertengkaran berarti.
Sampai malam ini.
Sampai Raden tahu bahwa Bagus mencintai Cantika.
Sampai Bagus tahu bahwa Raden juga mencintai perempuan yang sama.
Bagus menggeser layar. "Halo, Den."
Suaranya serak. Terlalu serak untuk pukul sebelas malam. Terlalu serak untuk seseorang yang seharusnya sudah tenang di apartemennya sendiri.
"Masih bangun?" suara Raden dari seberang terdengar sama seraknya. Atau mungkin lebih. Sulit membedakan mana yang lebih parah.
"Lo telepon gue jam sebelas malam buat nanya gue masih bangun?" Bagus tertawa kecil. Tertawa pahit yang tidak mengandung kebahagiaan. "Lo tahu jawabannya, Den."
Raden diam sejenak. Di latar belakang, Bagus bisa mendengar suara hujan. Raden mungkin juga sedang duduk di balkon apartemennya. Atau di depan jendela. Atau di mana pun yang memungkinkannya merasakan hujan seperti yang Bagus rasakan sekarang.
"Gus, aku tak bisa tidur," kata Raden akhirnya. Suaranya parau, seperti orang yang baru saja menangis. Tapi Raden tidak mungkin menangis. Raden tidak pernah menangis. Bagus belum pernah melihat Raden menangis sejak mereka mengenal satu sama lain. Mungkin Raden memang tidak bisa menangis. Mungkin air matanya sudah mengering sejak lama, sejak ia memutuskan bahwa menjadi dingin adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup.
"Gue juga nggak bisa tidur, Den," jawab Bagus. "Udah dua jam gue di balkon. Udah basah kuyup. Tapi gue nggak masuk. Entah kenapa."
"Lo sakit, Gus. Masuk angin. Nanti lo demam."
"Biarin."
Raden menghela napas panjang. Bagus bisa mendengar helaan napas itu dengan jelas. Terputus-putus. Seperti orang yang sedang menahan sesuatu.
"Aku mikirin sesuatu, Gus. Tentang Cantik."
Bagus menegakkan punggungnya. Jantungnya berdetak lebih cepat. "Ada apa dengan Cantik?"
"Cantika baik-baik saja. Bukan itu." Raden berhenti sejenak. Bagus mendengar suara napas Raden yang memburu. Tanda bahwa sahabatnya itu sedang berjuang melawan sesuatu. Keberanian. Atau ketakutan. Atau keduanya sekaligus.
"Aku suka sama dia, Gus," kata Raden.
Bagus membeku. Seluruh tubuhnya terasa seperti disuntik es. Hujan yang membasahi tubuhnya terasa dingin. Tapi tidak sedingin kata-kata yang baru saja didengarnya.
"Bukan sekadar suka," lanjut Raden. Suaranya bergetar. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tiga tahun persahabatan mereka, Bagus mendengar suara Raden bergetar. "Aku jatuh cinta, Gus. Cinta. Bukan suka. Bukan tertarik. Bukan kagum. Cinta. Dan aku tahu lo juga merasakan hal yang sama."
Keheningan panjang mengisi sambungan telepon. Hanya suara hujan dan angin yang terdengar. Dan detak jantung Bagus yang berdegup begitu keras sehingga ia yakin Raden bisa mendengarnya dari seberang.
"Sejak kapan lo tahu?" tanya Bagus akhirnya. Suaranya parau. Matanya mulai perih. Bukan karena angin. Bukan karena hujan. Tapi karena sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang sudah ia pendam terlalu lama.
"Sejak malam lo bilang 'Aku mencintaimu, Cantik' di taman kampus tujuh tahun lalu."
Bagus menutup matanya. Kenangan itu kembali. Taman kampus. Malam setelah ujian akhir. Lampu-lampu taman yang redup. Rumput yang basah karena embun. Cantika tertidur di pangkuannya setelah seharian belajar. Rambut Cantika yang terurai dan menyentuh tangannya. Wangi sampo Cantika yang seperti bunga melati. Dan Bagus, yang tidak bisa menahan diri, berbisik di kegelapan malam, "Aku mencintaimu, Cantik. Suatu hari nanti, aku akan bilang ini padamu. Tapi tidak malam ini. Belum."
"Lo kira aku tidur," kata Raden. "Tapi aku mendengar semuanya, Gus. Aku mendengar setiap kata. Aku mendengar setiap bisikan. Aku mendengar setiap napas lo yang tertahan."
"Terus kenapa lo nggak bilang dari dulu?" Suara Bagus meninggi. Amarah mulai menyusup di antara rasa sakit. "Kenapa lo diam-diam selama tujuh tahun, Den? Kenapa lo biarin gue mati-matian menyembunyikan rasa kalau lo juga jatuh cinta pada orang yang sama?"
"Karena aku tidak tahu harus berbuat apa!" Raden membalas dengan suara yang juga meninggi. "Aku marah pada diriku sendiri, Gus. Aku benci perasaanku sendiri. Aku mencoba membenci Cantik. Aku mencoba mencari-cari kekurangannya. Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa dia tidak pantas untuk dicintai. Tapi setiap kali dia tersenyum, setiap kali dia tertawa, setiap kali dia memanggil namaku dengan Suaranya yang lembut itu, semuanya runtuh. Semua benteng yang aku bangun untuk melindungi diriku dari perasaan ini runtuh dalam sekejap."
Suara Raden pecah di akhir kalimat. Bagus terdiam. Ia tidak pernah membayangkan Raden bisa se-runtuh ini. Raden yang selalu dingin. Raden yang selalu logis. Raden yang tidak pernah menunjukkan emosi. Ternyata di balik semua itu, ada lautan api yang selama ini ia pendam sendirian.
"Gue nggak tahu, Den," kata Bagus pelan. "Gue nggak tahu lo separah itu."
"Kita sama-sama parah, Gus," kata Raden. "Kita sama-sama menyembunyikan rasa yang sama pada orang yang sama selama bertahun-tahun. Bedanya, lo memendam rasa karena lo takut. Gue memendam rasa karena lo adalah sahabat gue."
Bagus mengerjap. Air matanya jatuh. Untuk pertama kalinya malam ini. Air mata itu mengalir deras, bercampur dengan air hujan yang membasahi pipinya.
"Karena gue sahabat lo?"
"Iya. Gue tahu lo duluan. Gue tahu lo jatuh cinta pada Cantika sebelum gue. Gue tahu perasaan lo lebih dulu ada. Dan sebagai sahabat lo, gue merasa tidak punya hak untuk merasa apa pun pada Cantik. Gue mencoba mengabaikan. Gue mencoba melupakan. Gue mencoba meyakinkan diriku bahwa yang gue rasakan hanya kebetulan, hanya ilusi, hanya karena gue terlalu sering melihat Cantika bersama lo."
"Tapi lo gagal," kata Bagus.
"Aku gagal," ulang Raden. "Gagal total. Dan setiap hari, aku harus melihat lo tersenyum padanya, melihat lo mengantarnya pulang, melihat lo menyiapkan kopinya sebelum dia datang. Setiap hari aku harus menyaksikan bagaimana lo mencintainya dengan diam-diam, dan setiap hari aku harus berpura-pura tidak melihat."
"Aku tak tahan lagi, Gus," lanjut Raden. Suaranya semakin parau. Seperti orang yang kehabisan suara. Seperti orang yang sudah terlalu lama menangis dalam diam. "Aku tak tahan menyimpan sendiri. Setiap malam aku tidur dengan bayangan Cantika di kepalaku. Setiap pagi aku bangun dengan nama Cantika di bibirku. Aku tidak bisa fokus kerja. Aku tidak bisa berpikir jernih. Semua yang aku lihat selalu mengingatkanku padanya. Bahkan pasal-pasal dalam kitab undang-undang yang dulu bisa aku hafal dengan mudah, sekarang terasa asing. Karena setiap kata, setiap kalimat, selalu terbayang wajahnya."
Bagus tidak berbicara. Ia hanya mendengarkan. Dan sambil mendengarkan, air matanya terus mengalir. Ia membiarkannya. Tidak perlu diseka. Tidak perlu disembunyikan. Hanya Raden yang mendengarnya. Hanya Raden yang tahu.
"Lo tahu kenapa gue telepon lo malam ini, Gus?" tanya Raden.
"Kenapa?"
"Karena gue hampir bunuh diri tadi malam."
Bagus terkesiap. Jantungnya berhenti berdetak sesaat. "Apa? Den, lo bercanda?"
"Gue nggak pernah bercanda, Gus. Lo tahu itu. Tadi malam, gue berdiri di balkon apartemen gue. Lantai dua puluh tiga. Hujan deras. Angin kencang. Dan gue berpikir, bagaimana rasanya melompat? Apakah sakit? Apakah cepat? Apakah setelah itu semua rasa sakit ini akan berakhir?"
"Den, jangan—"
"Dengar dulu, Gus," potong Raden. Suaranya tegas tapi rapuh. "Gue berdiri di sana selama tiga puluh menit. Di pagar balkon. Satu kaki di atas. Satu kaki di bawah. Dan gue menatap ke bawah. Lampu-lampu kota terlihat indah dari ketinggian. Kecil-kecil. Berkelap-kelip. Dan gue berpikir, apakah di antara lampu-lampu itu ada lampu dari apartemen lo? Apakah lo juga sedang berdiri di balkon seperti gue? Apakah lo juga sedang merasakan sakit yang sama?"
Bagus mencerna setiap kata. Tangannya gemetar. Ponsel di tangannya terasa licin karena air hujan dan keringat. "Terus kenapa lo nggak jadi?"
"Karena gue ingat sesuatu."
"Apa?"
"Gue ingat pertama kali gue makan bakso sama lo. Lo waktu itu habiskan dua porsi. Gue cuma setengah. Lo bilang, 'Den, lo makan dikit amat. Sakit, ya?' Dan gue cuma diem. Padahal waktu itu bokap gue baru aja cerai sama nyokap gue. Gue sedih. Tapi gue nggak tahu harus ngomong ke siapa. Dan lo, tanpa gue minta, lo temenin gue pulang. Lo jalan kaki tiga kilometer ke rumah gue padahal rumah lo berlawanan arah."
Bagus tersenyum getir. "Lo masih ingat itu?"
"Aku ingat semuanya, Gus. Setiap kebaikan lo. Setiap saat lo ada untuk gue. Dan ketika gue berdiri di balkon itu, gue berpikir, 'Bagaimana kalau gue mati? Siapa yang akan menjaga Bagus? Siapa yang akan mengingatkannya untuk makan? Siapa yang akan menemaninya ngopi di kafe Biru Langit? Siapa yang akan mendengarkan cerita galau tentang skripsinya yang romantis banget?'"
"Den, jangan bercanda soal kematian. Nggak lucu."
"Ini bukan lelucon, Gus. Ini serius. Dan setelah berpikir seperti itu, gue turun dari pagar balkon. Gue masuk ke kamar. Gue ambil ponsel. Dan gue telepon lo. Karena gue butuh bicara. Karena gue butuh lo tahu. Karena gue nggak bisa lagi sembunyi."
Bagus menarik napas dalam-dalam. Dadanya sesak. Bukan karena angin. Bukan karena hujan. Tapi karena kata-kata Raden yang menusuk tepat di ulu hati. "Jadi lo mau apa sekarang, Den? Lo mau persahabatan kita hancur hanya karena perempuan?"
"Bukan begitu, Gus!" Raden meninggikan suara. Ada nada frustrasi di dalamnya. Nada orang yang sudah terlalu lama menahan dan akhirnya meledak. "Aku tak mau ada yang diam-diam lagi. Cukup. Delapan belas tahun kita menyembunyikan rasa. Tujuh tahun aku menyaksikan lo jatuh cinta dalam diam. Semua itu harus berakhir."
"Terus caranya?"
"Biarlah Cantika yang memilih."
Bagus tertawa pahit. "Lo pikir ini acara realita, Den? Lo pikir Cantika bisa dipilih seperti memilih menu di kafe? 'Saya pesan Americano hangat. Oh, saya pilih Bagus.' Gitu?"
"Jangan kasar, Gus."
"Gue nggak kasar. Gue realistis. Lo bilang biar Cantika yang memilih. Lo pikir itu semudah itu? Lo pikir setelah Cantika memilih, semuanya akan baik-baik saja? Kalau dia milih lo, gue harus tersenyum dan mengucapkan selamat? Kalau dia milih gue, lo akan tersenyum dan mengucapkan selamat?"
Raden diam. Hujan di latar belakang telepon terdengar semakin deras.
"Lo tahu jawabannya, Gus," kata Raden akhirnya, pelan. "Tidak akan mudah. Tidak akan ada yang tersenyum. Tapi bukankah lebih baik kita hancur dengan jujur daripada hancur dalam kebohongan? Setidaknya kita tidak perlu pura-pura lagi. Setidaknya kita tidak perlu menyakiti diri sendiri setiap hari dengan kebohongan yang sama."
Bagus tidak menjawab. Ia menatap langit malam yang gelap. Tidak ada bintang. Tidak ada bulan. Hanya awan hitam dan hujan yang tak kunjung reda.
"Lo ingat, Den, waktu kita kecil? Kita pernah baca buku tentang tiga bintang yang bersinar di langit yang sama. Buku itu bilang, bintang-bintang itu saling mencintai. Tapi mereka tidak bisa bersatu karena jarak yang terlalu jauh. Jadi mereka hanya bersinar. Setiap malam. Selama ribuan tahun. Bersinar untuk satu sama lain. Tanpa pernah bisa saling menyentuh."
"Aku ingat. Kita baca buku itu di perpustakaan sekolah. Lo nangis di bagian akhir."
"Gue nggak nangis," bantah Bagus.
"Lo nangis. Air mata lo jatuh ke halaman tiga puluh tujuh. Bekasnya masih ada sampai sekarang. Gue lihat waktu kita pinjam buku itu lagi di semester tiga."
Bagus tersenyum. Untuk pertama kalinya malam ini, senyumnya terasa sedikit lebih ringan. "Ya sudah. Iya. Gue nangis. Puas?"
"Cukup."
Mereka berdua terdiam. Hujan mulai mereda. Angin tidak sekencang tadi. Suara petir di kejauhan semakin jarang.
"Baiklah, Den," kata Bagus setelah diam lama. "Kita hadapi ini bersama. Tapi ingat, aku akan berjuang untuk Cantika dengan caraku. Dan lo akan berjuang dengan cara lo. Semoga yang terbaik yang menang."
"Bukan itu yang aku mau, Gus."
"Lo mau apa lagi?"
"Aku mau persahabatan kita tetap utuh. Apa pun yang terjadi. Siapa pun yang dipilih Cantik. Aku tidak mau kehilangan lo, Gus. Lo lebih dari sekadar sahabat. Lo saudara. Lo keluarga. Lo satu-satunya orang yang tahu semua sisi diriku tanpa pernah menghakimi."
Bagus mengusap matanya yang basah. Air hujan atau air mata, tidak penting lagi. "Lo juga, Den. Lo juga. Tapi cinta itu egois. Cinta itu buta. Kita tidak bisa janji bahwa persahabatan kita akan tetap utuh. Tapi kita bisa berusaha."
"Aku setuju. Kita berusaha."
"Janji?"
"Janji."
Telepon ditutup. Layar ponsel Bagus kembali gelap. Ia masih duduk di balkon. Air hujan masih membasahi tubuhnya. Tapi kini ia merasa sedikit lebih ringan. Bukan karena masalahnya selesai. Masalahnya justru baru dimulai. Tapi setidaknya, tidak ada lagi rahasia di antara mereka. Setidaknya, untuk pertama kalinya dalam delapan belas tahun, mereka jujur satu sama lain.
Bagus berdiri. Kakinya terasa kaku karena terlalu lama duduk di kursi plastik yang retak itu. Ia melangkah masuk ke apartemen. Lantai keramik basah karena jejak air dari tubuhnya. Ia melepas kaos yang sudah basah dan menggantinya dengan kaos kering. Ia merebus air. Membuat teh jahe hangat. Duduk di sofa sempit berwarna abu-abu yang sudah kusam karena usia.
Ponselnya bergetar lagi.
Sebuah pesan dari Raden.
"Gus, makasih. Malam ini adalah pertama kalinya dalam tujuh tahun aku bisa tidur dengan tenang. Bukan karena masalah kita selesai. Tapi karena akhirnya aku tidak sendiri. Selamat malam, saudaraku."
Bagus membaca pesan itu berulang-ulang. Jarinya mengetik balasan.
"Selamat malam, Den. Besok kita ngopi. Jangan lupa traktir gue. Lo yang menelepon tengah malam, lo yang bayar."
Tak sampai semenit, balasan dari Raden masuk.
"Tega."
Bagus tersenyum. Senyum tulus pertamanya malam ini. Ia meletakkan ponsel di samping sofa. Meminum teh jahenya seteguk demi seteguk. Hangat. Hangat seperti persahabatan yang meskipun retak, masih bisa diperbaiki.
Di apartemen Raden, lantai dua puluh tiga, Raden juga duduk di sofa. Ponselnya masih tergenggam di tangan. Ia membaca balasan Bagus berulang-ulang. Senyum kecil mengembang di bibirnya yang biasanya datar.
Layar ponselnya menyala. Sebuah notifikasi dari media sosial. Cantika mengunggah foto. Foto gelap. Hanya lampu jalan yang basah karena hujan. Dan keterangan singkat di bawahnya:
"Hujan selalu membuatku rindu pada sesuatu yang bahkan tidak pernah menjadi milikku. Atau mungkin pada dua sesuatu sekaligus. Selamat malam, kalian di sana. Semoga hujan ini membawa doa, bukan air mata."
Raden menatap foto itu lama. Jarinya bergerak hendak menekan tombol like. Tapi ia urungkan. Ia hanya menyimpan foto itu di dalam memori ponselnya. Dan di dalam memori hatinya.
Di kamar kos yang sempit, di seberang kota yang sama, Cantika terbaring di tempat tidurnya. Ponselnya juga menyala. Dua pesan belum dibaca. Satu dari Bagus. Satu dari Raden.
Dari Bagus:
"Tik, maaf kalau malam ini aku aneh. Aku cuma butuh waktu. Besok kita ngopi lagi. Aku akan coba jadi Bagus yang biasa. Atau setidaknya, aku akan coba."
Dari Raden:
"Tik, maaf aku pergi duluan tadi. Aku bukan marah. Aku cuma... takut. Tapi besok aku akan datang. Dan aku tidak akan pergi lagi. Aku janji."
Cantika membaca kedua pesan itu bergantian. Beberapa kali. Hingga matanya perih. Hingga air matanya jatuh lagi.
Ia tidak membalas satupun.
Ia hanya mematikan ponselnya. Memeluk bantal gulingnya erat-erat. Dan berbisik di dalam gelap, "Kenapa cinta harus serumit ini? Kenapa aku tidak bisa mencintai kalian berdua dengan cara yang sama? Kenapa aku harus memilih?"
Tidak ada jawaban.
Hanya hujan yang mulai reda.
Hanya angin yang berbisik pelan.
Hanya tiga insan di tiga tempat berbeda yang sama-sama bertanya pada bintang yang tidak terlihat malam itu: Akankah fajar membawa jawaban? Atau justru lebih banyak pertanyaan?
Pukul setengah satu dini hari. Bagus masih terjaga. Ia duduk di depan meja kerjanya. Buku sketsa terbuka di halaman yang sama. Halaman dengan gambar Cantika dan jepit rambut kupu-kupu.
Ia mengambil pensilnya. Mulai menggambar. Bukan gedung. Bukan sketsa arsitektur. Tapi sesuatu yang lain.
Ia menggambar tiga bintang di langit yang gelap. Bintang-bintang itu berjarak. Jauh satu sama lain. Tapi cahaya mereka saling menyapa. Meskipun tidak pernah benar-benar bersentuhan.
Di bawah gambar itu, ia menulis satu kalimat:
"Mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk bersatu. Mungkin kita hanya ditakdirkan untuk bersinar bersama. Dan itu sudah cukup."
Ia menutup buku sketsanya. Mematikan lampu meja. Berbaring di tempat tidur yang dingin.
Dan untuk pertama kalinya dalam delapan belas tahun, Bagus tidak merasa kesepian.
Karena ia tahu, di dua tempat yang berbeda di kota yang sama, Raden dan Cantika juga sedang terbangun.
Juga sedang memikirkan hal yang sama.
Juga sedang bertanya pada diri sendiri: Apa yang akan terjadi besok?
Besok akan menjawab.
Atau tidak.
Atau justru membawa lebih banyak pertanyaan.
Di ujung lain kota, di kafe "Biru Langit" yang sudah tutup, Pak Darmo sedang membersihkan mesin kopi. Yanto membantu merapikan kursi-kursi.
"Pak, tadi malam mas Bagus, mas Raden, sama mba Cantika kayaknya ada masalah," kata Yanto sambil melipat taplak meja.
Pak Darmo tersenyum. Keriput di wajahnya tampak lebih dalam di bawah lampu dapur yang redup. "Anak muda selalu punya masalah, Yo. Terutama masalah hati."
"Mereka bertiga sudah langganan tujuh tahun di sini, Pak. Tapi baru malam ini aku lihat mba Cantika nangis. Dan mas Bagus pergi dengan wajah pucat. Dan mas Raden... mas Raden pergi tanpa bilang apa-apa, padahal biasanya dia selalu pamit."
Pak Darmo berhenti menyeka mesin kopi. Ia menatap Yanto lekat-lekat. "Kamu tahu, Yo? Dulu, ketika aku masih muda, aku juga punya dua sahabat. Kita bertiga juga dekat. Sampai suatu hari, kita jatuh cinta pada orang yang sama."
"Terus, Pak? Bagaimana ceritanya?"
Pak Darmo tersenyum getir. "Ceritanya, kita berpisah. Satu pindah ke luar negeri. Satu menikah dengan orang lain. Dan aku... aku membuka kafe ini."
"Sendirian, Pak?"
"Sendirian. Tapi tidak kesepian. Karena setiap hari, ketika aku menyeduh kopi, aku ingat pada mereka. Pada kenangan-kenangan indah yang tidak akan pernah kembali."
Yanto terdiam. "Apakah mas Bagus mereka juga akan berpisah, Pak?"
Pak Darmo menghela napas. "Aku tidak tahu, Yo. Tapi kalau mereka bisa belajar dari kesalahanku, mereka akan menyadari satu hal."
"Apa, Pak?"
"Bahwa cinta bukan tentang memiliki. Cinta adalah tentang ikhlas. Ikhlas ketika diberi. Ikhlas ketika diambil. Ikhlas ketika harus melepas. Dan ikhlas ketika tidak pernah mendapatkan apa pun."
Pak Darmo kembali membersihkan mesin kopinya. Yanto menyelesaikan lipatan taplak meja. Kafe "Biru Langit" gelap. Hanya lampu dapur yang masih menyala.
Di luar, hujan telah reda sepenuhnya. Langit masih gelap. Tapi di ufuk timur, mulai terlihat semburat tipis warna ungu. Pertanda bahwa fajar akan segera datang.
Tapi pertanyaannya, akankah bintang-bintang masih setia menanti? Atau mereka sudah lelah dan memilih untuk padam sebelum fajar menyapa?
BAB 3: Senyum di Balik Hujan
Kampus Universitas Persada, keesokan harinya. Pukul setengah sembilan pagi.
Hujan masih mengguyur kampus sejak semalam. Tidak terlalu deras, tapi juga tidak menunjukkan tanda-tanda akan reda. Air mengalir di selokan-selokan pinggir jalan setapak, membawa dedaunan kering yang jatuh dari pohon-pohon rindang di sepanjang koridor fakultas arsitektur. Langit kelabu menyelimuti seluruh area kampus, seolah ikut merasakan beban yang ada di pundak Bagus sejak semalam. Bau tanah basah bercampur dengan aroma khas gedung tua yang sudah berdiri sejak tiga puluh tahun lalu. Suara tetesan air dari talang-talang bangunan menciptakan irama yang monoton, seperti detak jantung yang tidak pernah beristirahat.
Bagus berjalan sendirian di lorong gedung arsitektur. Langkahnya pelan, tidak tergesa-gesa. Sepatunya yang berwarna coklat tua sudah basah karena genangan air di beberapa tempat. Jaket hoodie abu-abu yang ia kenakan juga basah di bagian bahu karena ia lupa membawa payung. Tapi ia tidak peduli. Pikirannya sedang tidak di sini. Pikirannya masih berada di Kafe Biru Langit semalam, di meja bundar dengan dua cangkir kopi yang dingin, di antara Raden yang pergi tanpa pamit dan Cantika yang menangis tanpa suara.
Ia memegang buku sketsa yang selalu ia bawa ke mana-mana. Buku itu basah di sudut kanan bawah karena terkena percikan air hujan. Beberapa halaman di dalamnya ikut basah, termasuk halaman dengan gambar Cantika dan jepit rambut kupu-kupu. Tapi Bagus tidak membuka buku itu untuk memeriksa kerusakannya. Ia hanya menggenggamnya erat-erat, seperti orang tenggelam menggenggam papan penyelamat terakhir.
Lorong gedung arsitektur terasa sepi. Hanya ada dua atau tiga mahasiswa yang lalu lalang, dengan wajah mengantuk karena kuliah pagi. Beberapa dari mereka mengenali Bagus, menyapanya dengan anggukan kecil. Bagus membalas dengan senyum tipis yang tidak sampai ke mata. Ia dikenal di fakultas ini sebagai mahasiswa yang ramah, suka membantu, tidak pernah marah. Tapi pagi ini, mahasiswa yang melihatnya bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang berbeda. Ada beban di langkahnya. Ada kerutan tipis di dahinya. Ada sesuatu yang tidak biasa.
Bagus berhenti di depan papan pengumuman fakultas. Matanya menatap pengumuman tentang jadwal ujian tengah semester, pengumuman tentang lomba desain arsitektur tingkat nasional, poster tentang seminar yang tidak ia minati. Matanya membaca semua itu tanpa benar-benar membaca. Pikirannya masih melayang.
Ia ingat percakapannya dengan Raden semalam. Suara Raden yang parau. Kata-kata Raden yang hampir bunuh diri. Raden yang selama ini ia kenal sebagai batu karang yang tidak bisa goyah oleh badai apa pun, ternyata menyimpan lautan api di dalam dadanya. Dan Bagus tidak tahu. Selama bertahun-tahun, ia tidak pernah melihat.
"Gue tak tahan lagi, Gus," kata Raden. "Gue tak tahan menyimpan sendiri. Setiap malam gue tidur dengan bayangan Cantika di kepala gue. Setiap pagi gue bangun dengan nama Cantika di bibir gue."
Bagus menghela napas panjang. Napas yang keluar dari mulutnya membentuk uap tipis di udara dingin pagi itu. Ia menutup matanya sejenak, berusaha mengusir bayangan Raden yang menangis di seberang telepon. Tapi bayangan itu tetap saja ada. Melekat seperti lem. Seperti lukanya sendiri.
Dari ujung lorong, ia mendengar suara langkah kaki yang ia kenal betul. Langkah kaki ringan dengan irama yang khas. Sedikit cepat, sedikit terburu-buru, seperti orang yang selalu terlambat. Bagus membuka matanya. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang berjalan ke arahnya. Ia sudah hafal langkah kaki itu sejak delapan belas tahun lalu.
Cantika muncul dari arah berlawanan.
Ia berlari kecil sambil memegang payung warna biru muda yang sudah pudar karena usia. Jaket jeans biru mudanya yang sama, yang basah di bagian lengan karena ia tidak bisa melindungi diri sepenuhnya dengan payung kecil itu. Rambut sebahuinya bergoyang-goyang mengikuti irama langkahnya. Dan di rambut itu, seperti biasa, tersemat jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Jepit rambut yang sama. Jepit rambut yang sudah retak di sayap kirinya. Jepit rambut yang tidak pernah mau ia ganti.
Wajah Cantika pagi itu sedikit pucat. Ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya, tanda bahwa ia juga tidak tidur nyenyak semalam. Matanya yang biasanya berbinar-binar sekarang terlihat redup, seperti lampu yang kehabisan minyak. Tapi ketika ia melihat Bagus berdiri di depan papan pengumuman, matanya langsung berubah. Ada sesuatu yang bergerak di sana. Sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan meskipun ia sudah berusaha.
"Gus!" seru Cantika sambil melambai. Suaranya terdengar riang, terlalu riang untuk seseorang yang semalam menangis di dalam taksi. Tapi Bagus tahu itu hanya pura-pura. Ia mengenal Cantika cukup lama untuk tahu kapan perempuan itu sedang berpura-pura bahagia.
Cantika mendekat, payung birunya masih terbuka meskipun mereka sudah berada di bawah atap lorong. Ia menutup payung itu dengan gerakan yang sedikit canggung, lalu berdiri di hadapan Bagus. Jarak mereka hanya satu lengan. Bagus bisa mencium wangi sampo Cantika, wangi bunga melati yang sama sejak delapan belas tahun lalu. Wangi itu menusuk hidungnya, menusuk dadanya, menusuk setiap ingatan yang ia simpan rapat-rapat.
"Kamu kelihatan lelah, Gus," kata Cantika sambil menatap wajah Bagus. Matanya bergerak dari dahi Bagus ke matanya, ke hidungnya, ke bibirnya, ke dagunya. Seperti sedang membaca sesuatu. Seperti sedang mencari jawaban atas pertanyaan yang tidak ia ucapkan. "Semalaman tidak tidur?"
Bagus tersenyum tipis. Senyum yang sama yang ia tunjukkan pada mahasiswa lain tadi. Senyum yang tidak sampai ke mata. "Tidur sedikit, Cantik," katanya. Suaranya serak, seperti orang yang baru saja bangun tidur atau orang yang baru saja menangis. "Ada yang mengganggu pikiran."
"Cerita pada aku," kata Cantika sambil meraih lengan Bagus. Sentuhannya lembut, hangat, seperti biasanya. Tangannya melingkar di lengan Bagus, tepat di tempat yang sama sejak pertama kali ia meminjamkan pulpen delapan belas tahun lalu. Bagus tidak menarik tangannya. Ia membiarkan sentuhan itu ada di sana, meskipun setiap detiknya terasa seperti pisau yang menusuk pelan-pelan. "Kita ke kantin yuk. Aku traktir."
Tanpa menunggu jawaban, Cantika menarik lengan Bagus. Mereka berjalan beriringan meninggalkan papan pengumuman, meninggalkan lorong gedung arsitektur yang sepi, menuju kantin fakultas yang terletak di gedung sebelah. Hujan masih turun. Air hujan membasahi payung biru Cantika yang ia buka kembali, membasahi sepatu mereka, membasahi hembusan napas mereka yang keluar dalam uap-uap tipis.
Sepanjang perjalanan, mereka tidak berbicara. Hanya suara hujan dan langkah kaki mereka yang terdengar. Tapi diam di antara mereka tidak terasa canggung. Diam itu akrab. Diam itu sudah menjadi bahasa mereka sejak lama. Karena kadang, kata-kata tidak diperlukan untuk memahami seseorang. Cukup dengan berada di sampingnya, cukup dengan merasakan kehadirannya, cukup dengan mengetahui bahwa ia tidak sendirian.
Kantin fakultas sastra, pukul sembilan pagi.
Kantin itu tidak terlalu besar, tapi cukup untuk menampung seratus orang lebih. Dindingnya dicat warna krem dengan beberapa coretan grafiti dari mahasiswa-mahasiswa yang merasa perlu mengekspresikan diri. Meja-meja plastik berwarna merah dan biru disusun berjajar, masing-masing dengan empat kursi. Lantainya terbuat dari keramik putih yang sudah kusam karena usia dan ribuan langkah kaki yang lalu lalang setiap hari.
Kantin masih sepi karena jam kuliah sedang berlangsung. Hanya ada beberapa mahasiswa yang duduk di pojok-pojok, membaca buku sambil sesekali meneguk kopi atau teh. Seorang ibu penjual nasi goreng sedang merapikan dagangannya di stan paling ujung. Bau masakan pagi, nasi goreng, mie goreng, telur dadar—bercampur dengan aroma kopi dan teh, menciptakan suasana yang hangat meskipun di luar hujan deras.
Cantika memilih meja di pojok ruangan, dekat jendela. Dari jendela itu, mereka bisa melihat hujan turun dengan lebih jelas. Air hujan mengalir di kaca, membentuk jejak-jejak panjang yang terus berubah bentuk. Di kejauhan, gedung-gedung kampus terlihat buram karena kabut tipis yang menyelimuti.
"Duduk dulu, Gus," kata Cantika sambil melepas jaket jeansnya dan menggantungkannya di sandaran kursi. "Aku pesan kopi dulu. Kamu masih Americano panas, kan?"
Bagus mengangguk. Ia duduk di kursi yang menghadap ke jendela, meletakkan buku sketsa di pangkuannya, dan menatap hujan. Pikirannya masih kacau. Tapi ia berusaha tenang. Setidaknya di depan Cantika, ia tidak mau terlihat terlalu rapuh.
Cantika berjalan ke stan kopi di sudut kantin. Ia memesan dua cangkir kopi, Americano panas untuk Bagus, Caramel Macchiato dengan tambahan whipped cream untuk dirinya sendiri. Ia juga memesan sepotong kue cokelat untuk mereka berdua, meskipun ia tahu Bagus mungkin tidak akan memakannya. Tapi kebiasaan itu sudah terbentuk sejak lama. Bagus suka kue cokelat. Itu salah satu dari sedikit hal yang ia tahu tentang Bagus yang tidak diketahui orang lain.
"Ini," kata Cantika sambil meletakkan cangkir kopi di hadapan Bagus. "Americano panas. Tanpa gula. Seperti pesananmu."
"Kamu masih ingat," kata Bagus sambil memegang cangkir itu. Hangat dari cangkir menyebar ke telapak tangannya, menghangatkan jari-jarinya yang dingin karena terkena hujan.
"Aku ingat semuanya, Gus," kata Cantika sambil duduk di hadapan Bagus. "Kamu lupa?"
Bagus tidak menjawab. Ia hanya menyesap kopinya pelan-pelan. Pahit. Pahit seperti yang ia inginkan. Pahit seperti perasaannya saat ini.
Cantika juga menyesap kopinya. Matanya tidak lepas dari wajah Bagus. Ia mengamati setiap detail—kerutan tipis di dahi Bagus, lingkaran hitam di bawah matanya, cara ia menggenggam cangkir kopi dengan kedua tangan seperti sedang mencari kehangatan.
"Sekarang cerita," kata Cantika setelah beberapa saat. Suaranya lembut, seperti bisikan. Seperti orang yang sedang menenangkan anak kecil yang ketakutan. "Apa yang mengganggu pikiran arsitek galau kesayangan kita?"
Bagus meletakkan cangkir kopinya. Jari-jarinya menggenggam ujung buku sketsa, memainkan halaman-halaman yang sudah lusuh. Ia tidak tahu harus mulai dari mana. Kata-kata terasa berat di lidahnya. Ia sudah menyembunyikan rahasia ini selama delapan belas tahun. Membukanya sekarang terasa seperti membuka luka lama yang sudah mengering, tapi masih terasa sakit jika tersentuh.
"Aku tak tahu harus mulai dari mana, Cantik," kata Bagus akhirnya. Suaranya pelan, hampir tidak terdengar di antara suara hujan dan suara mesin kopi dari stan sebelah. "Ini tentang perasaan. Tentang seseorang yang sudah lama kucintai."
Cantika menegakkan tubuhnya. Matanya membesar sedikit. Ia tidak menyangka Bagus akan memulai pembicaraan dengan topik seberat ini. Selama delapan belas tahun, Bagus tidak pernah, sekali pun, bercerita tentang hatinya. Ia selalu menjadi pendengar yang baik. Ia selalu menjadi bahu untuk bersandar. Tapi ia tidak pernah membuka diri. Tidak pernah membiarkan orang lain melihat apa yang ada di dalam hatinya.
"Lama?" kata Cantika, berusaha terdengar tenang meskipun jantungnya berdetak lebih cepat. "Berapa lama?"
"Hampir delapan belas tahun," kata Bagus. Ia tidak menatap Cantika. Matanya tertuju pada cangkir kopi di depannya. Pada uap tipis yang masih mengepul dari permukaan hitam pekat itu. "Sejak semester tiga."
Cantika terkesiap. Delapan belas tahun. Bukan delapan bulan. Bukan delapan tahun. Delapan belas tahun. Itu berarti sejak mereka pertama kali duduk bersama di bangku kuliah. Sejak Bagus pertama kali meminjam pulpen biru darinya. Sejak awal segalanya.
"Delapan belas tahun?" kata Cantika. Matanya membelalak. Napasnya terasa sesak. Ia meraih cangkir kopinya dan menyesap cepat-cepat, bukan karena haus, tapi karena tangannya perlu melakukan sesuatu agar tidak terlihat terlalu gemetar. "Delapan belas tahun dan kamu tidak pernah bilang apa-apa? Siapa dia, Gus? Apakah aku kenal?"
Bagus mengangkat kepalanya. Matanya menatap Cantika. Tatapan yang lembut. Tatapan yang sudah ia simpan selama delapan belas tahun. Tatapan yang selama ini hanya ia tunjukkan pada buku sketsanya, pada gambar-gambar yang ia buat di tengah malam, pada nama yang ia tulis lalu ia coret agar tidak terbaca.
"Kamu sangat mengenalnya, Cantik," kata Bagus. Suaranya bergetar di akhir kalimat, meskipun ia berusaha menahannya. "Dia dekat dengan kita. Sangat dekat."
Cantika mengerutkan kening. Ia mencoba menerka siapa yang dimaksud Bagus. Apakah Maya? Apakah Laras? Apakah teman sekelas mereka yang dulu? Tapi tidak ada satu pun nama yang cocok. Tidak ada satu pun yang masuk akal.
"Siapa, Gus?" tanya Cantika. Suaranya mulai meninggi sedikit, bukan karena marah, tapi karena penasaran yang tidak terbendung. "Katakan saja. Aku tak akan menghakimi."
Bagus menarik napas panjang. Dalam sekali. Seperti orang yang hendak menyelam ke lautan paling dalam. Ia tahu setelah kata-kata ini keluar dari mulutnya, tidak akan ada yang bisa mengembalikan semuanya seperti semula. Persahabatan mereka akan berubah. Hubungan mereka akan berbeda. Tapi ia sudah lelah menyembunyikan. Ia sudah lelah berpura-pura. Delapan belas tahun sudah cukup.
"Cantik, aku..." Bagus berhenti. Bibirnya gemetar. Kata-kata itu terasa berat di lidahnya. Ia sudah membayangkan momen ini ribuan kali. Ia sudah menulis kata-kata ini di buku sketsanya ratusan kali. Tapi ketika saatnya tiba, semua persiapan itu terasa tidak berarti. Semua latihan itu terasa sia-sia. "Aku mencintaimu."
Sunyi.
Hujan di luar terdengar semakin deras. Air mengalir di kaca jendela dengan cepat, seperti air mata yang tidak bisa dibendung.
Cantika terdiam. Wajahnya berubah pucat. Matanya membulat, tidak percaya. Bibirnya terbuka sedikit, seperti hendak berkata sesuatu, tapi tidak ada suara yang keluar. Tangannya yang memegang cangkir kopi mulai gemetar. Whipped cream di atas kopinya mulai meleleh, jatuh perlahan ke permukaan coklat keemasan, seperti air mata yang jatuh ke pipi.
"Sejak kamu meminjamkan pulpen padaku di ruang kuliah semester tiga," lanjut Bagus. Suaranya bergetar, tetapi ia terus berbicara. Setelah delapan belas tahun memendam, kata-kata itu akhirnya mengalir seperti air bah yang tidak bisa dihentikan. "Sejak saat itu. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena cara kamu memegang pulpen itu. Mungkin karena cara kamu tersenyum ketika aku bilang terima kasih. Mungkin karena cara kamu menggulung rambutmu ketika sedang berpikir. Aku tidak tahu. Yang aku tahu, sejak saat itu, aku tidak bisa berhenti memikirkanmu."
Cantika masih diam. Matanya mulai berkaca-kaca. Napasnya terasa sesak, seperti ada yang menekan dadanya dari dalam.
"Dan aku tak pernah berani mengatakannya," kata Bagus. Matanya mulai basah, tapi ia tidak mau menangis. Tidak di depan Cantika. Tidak sekarang. "Karena aku takut. Takut kehilangan persahabatan kita. Takut jika kamu tidak merasakan hal yang sama. Takut jika segalanya berubah menjadi canggung. Jadi aku diam. Selama delapan belas tahun. Aku diam."
Air mata Cantika jatuh. Satu tetes. Dua tetes. Membasahi pipinya yang mulai pucat. Ia tidak menyeka air matanya. Ia membiarkannya mengalir, seperti hujan di luar yang tidak bisa dihentikan.
"Gus..." suara Cantika pecah. Hanya satu kata, tapi di dalamnya terkandung ribuan makna. Kebingungan. Ketakutan. Rasa bersalah. Dan mungkin—mungkin—sesuatu yang tidak berani ia akui bahkan pada dirinya sendiri.
"Tenang saja, Cantik," kata Bagus. Ia tersenyum. Senyum yang sama. Senyum yang selalu ia tunjukkan ketika ia sedang kesakitan tapi tidak mau orang lain tahu. "Aku tak berharap apa-apa. Aku hanya ingin jujur. Aku sudah menyembunyikan ini terlalu lama. Dan setelah semalam, setelah Raden bilang bahwa dia juga mencintaimu, aku sadar bahwa aku tidak bisa terus bersembunyi."
Cantika terkesiap lagi. "Raden? Raden mencintaiku?"
"Dia mencintaimu sejak malam yang sama," kata Bagus. "Tujuh tahun lalu, di taman kampus. Kamu tertidur di pangkuanku. Aku bilang 'Aku mencintaimu, Cantik' dalam bisikan. Aku pikir tidak ada yang mendengar. Tapi Raden mendengar semuanya. Dan sejak malam itu, dia juga jatuh cinta padamu."
Cantika menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air matanya mengalir semakin deras. Bahunya naik turun menahan isak yang ingin pecah.
"Astaga," bisiknya. "Kalian berdua... aku tak pernah tahu."
"Karena kami pandai menyembunyikan," kata Bagus. "Delapan belas tahun kami menyembunyikan rasa yang sama pada orang yang sama. Tapi sekarang semuanya terbuka. Cantik, aku sudah bilang. Raden sudah bilang. Dan keputusan ada di tanganmu. Pilihlah dengan hatimu."
"Ini berat, Gus," kata Cantika. Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan, tapi air matanya terus mengalir. "Kalian berdua sangat berarti bagiku. Aku tak ingin kehilangan salah satu dari kalian."
"Kamu tak akan kehilangan siapa pun," kata Bagus. Suaranya tegas, mantap, meskipun hatinya hancur berkeping-keping. "Apapun pilihanmu, aku akan tetap di sini. Aku akan tetap menjadi sahabatmu. Aku akan tetap ada untukmu. Aku janji."
Cantika menunduk. Ia memegang cangkir kopinya dengan kedua tangan, seperti sedang berdoa. Matanya tertutup. Bibirnya bergerak pelan, mungkin sedang berbisik sesuatu pada dirinya sendiri. Mungkin sedang berdoa meminta petunjuk.
Mereka berdua terdiam. Hujan di luar mulai reda, tapi tidak berhenti. Masih ada gerimis tipis yang jatuh, menciptakan suara ritmis di atap kantin. Lampu-lampu di langit-langit kantin berkedip satu kali, lalu kembali normal.
Dari kejauhan, Maya dan Andre mengamati mereka berdua.
Maya duduk di meja di seberang kantin, menyembunyikan wajahnya di balik buku. Andre duduk di sampingnya, berpura-pura membaca koran.
"May, lihat," bisik Andre. "Bagus dan Cantik. Mereka kelihatan serius."
"Aku lihat, And," bisik Maya. "Cantika menangis. Astaga, apa yang terjadi?"
"Aku dengar dari Tono," kata Andre. "Katanya semalam di Kafe Biru Langit, Bagus dan Raden mengaku cinta pada Cantik."
Mata Maya membulat. "Apa? Serius? Bagus dan Raden? Sama-sama cinta Cantik?"
"Itu kata Tono. Dan dia tidak pernah salah soal gosip."
"Astaga," Maya menghela napas. "Kasihan Cantik. Dia pasti bingung."
"Kita biarkan mereka bicara dulu, May," kata Andre. "Jangan ganggu."
Maya mengangguk. Ia kembali menyembunyikan wajahnya di balik buku, tapi matanya tidak membaca. Matanya terus mengawasi Bagus dan Cantika dari kejauhan.
Kembali di meja mereka, Cantika mengangkat kepalanya.
Matanya merah, sembab karena menangis. Tapi ada sesuatu yang berubah di wajahnya. Sesuatu yang tidak bisa Bagus identifikasi. Mungkin keteguhan. Mungkin keputusan.
"Gus, aku harus jujur padamu," kata Cantika. Suaranya masih bergetar, tapi lebih tegas dari sebelumnya. "Aku juga menyimpan perasaan. Tapi aku tidak tahu apa namanya."
Bagus menatap Cantika. "Apa maksudmu?"
"Aku sayang kalian berdua, Gus," kata Cantika. "Tapi aku tidak tahu apakah itu cinta. Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Karena kalian adalah sahabatku. Dan aku tidak pernah membayangkan kehilangan salah satu dari kalian."
"Kamu tidak harus memilih sekarang, Cantik," kata Bagus. "Ambil waktu. Pikirkan baik-baik. Tidak ada yang terburu-buru."
"Tapi kalian berdua sudah menunggu delapan belas tahun, Gus," kata Cantika. "Aku tidak tega membuat kalian menunggu lebih lama."
"Kami sudah terbiasa menunggu, Cantik," kata Bagus sambil tersenyum pahit. "Delapan belas tahun bukan waktu yang singkat. Tapi kami masih di sini. Kami masih hidup. Kami masih bisa tersenyum. Jadi jangan khawatir tentang kami. Pikirkan tentang dirimu sendiri. Tentang apa yang membuatmu bahagia."
Cantika menggigit bibirnya. "Kamu selalu seperti itu, Gus. Selalu mengutamakan kebahagiaan orang lain di atas kebahagiaanmu sendiri."
"Karena kebahagiaan orang yang aku cintai adalah kebahagiaanku juga, Cantik."
Mereka berdua terdiam lagi. Hujan di luar hampir berhenti. Hanya sisa-sisa gerimis yang masih jatuh dengan malas. Matahari mulai menembus celah-celah awan, menciptakan pelangi tipis di kejauhan.
Cantika menatap pelangi itu. "Gus, lihat. Pelangi."
Bagus menoleh ke arah jendela. "Setelah hujan, selalu ada pelangi. Itu kata orang."
"Tapi kadang pelangi tidak muncul, Gus," kata Cantika. "Kadang setelah hujan, langit hanya gelap. Tidak ada pelangi. Tidak ada harapan."
"Tapi itu tidak berarti matahari tidak ada di balik awan, Cantik," kata Bagus. "Matahari selalu ada. Meskipun tidak terlihat. Sama seperti harapan. Sama seperti cinta."
Cantika tersenyum. Senyum pertama yang tulus pagi itu. "Kamu membuatku merasa lebih baik, Gus. Aku tidak tahu kenapa, tapi bicara denganmu selalu membuat segalanya terasa lebih ringan."
"Itu karena aku pendengar yang baik, Cantik," kata Bagus sambil tersenyum. "Atau mungkin karena aku terlalu banyak minum kopi sehingga tidak punya energi untuk jadi pendengar yang buruk."
Cantika tertawa kecil. Tawa kecil yang mengusir sisa-sisa ketegangan. "Ah, elu, Gus. Bisa-bisa aja."
"Tugas seorang arsitek galau, Cantik. Membuat orang tertawa di tengah hujan."
Maya tidak tahan untuk tidak ikut campur.
Ia berdiri dari mejanya, berjalan ke arah Bagus dan Cantika, dengan Andre yang mengikutinya dari belakang seperti anak anjing yang tidak mau ditinggal.
"Cantik! Gus!" seru Maya. "Kami lihat kalian dari tadi. Ada apa? Cerita pada kami."
Cantika dan Bagus saling pandang.
"Duduk dulu, May," kata Cantika. "Aku cerita."
Maya dan Andre duduk di kursi kosong di meja itu. Andre memesan segelas jus jeruk untuk Maya dan segelas es teh untuk dirinya sendiri.
Cantika menarik napas panjang. "Gus baru saja bilang kalau dia mencintaiku. Sejak delapan belas tahun lalu."
Maya tidak terlihat terkejut. "Aku sudah tahu, Cantik. Sejak lama. Aku hanya tidak tahu kapan dia akan bilang."
Andre mengangguk. "Aku juga sudah tahu. Semua orang di fakultas arsitektur tahu. Cuma Gus yang tidak tahu bahwa semua orang tahu."
Bagus mengerutkan kening. "Apa? Semua orang tahu?"
"Iya, Gus," kata Maya. "Kamu tidak bisa menyembunyikan perasaan sebaik yang kamu kira. Setiap kali Cantika datang ke studio arsitektur, matamu berbinar. Setiap kali Cantika tertawa, kamu ikut tertawa. Setiap kali Cantika pergi, kamu melamun."
Andre menambahkan, "Kamu bahkan menggambar wajah Cantika di setiap sudut buku sketsamu, Gus. Itu bukan rahasia lagi."
Bagus menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Astaga. Aku pikir aku pandai menyembunyikan."
"Kamu pandai menyembunyikan dari Cantik, Gus," kata Maya. "Tapi tidak dari kami."
Cantika menatap Maya. "May, kamu tahu tentang Raden juga?"
Maya mengangguk. "Aku tahu. Raden tidak bisa menyembunyikan perasaannya juga. Dia hanya lebih pandai berpura-pura dingin. Tapi matanya... matanya tidak bisa berbohong."
Cantika menghela napas. "Jadi aku satu-satunya yang tidak tahu?"
"Kamu yang paling tidak mau tahu, Cantik," kata Maya. "Karena kamu takut. Kamu takut kehilangan persahabatan kalian bertiga."
Cantika menunduk. "Iya. Aku takut."
"Tapi ketakutan tidak akan menyelesaikan masalah, Cantik," kata Andre. "Pada akhirnya, kamu harus memilih. Dan apa pun pilihanmu, kami akan tetap di sini."
"Kata-kata bijak dari anak teknik," kata Maya sambil tersenyum.
"Aku bukan anak teknik, May. Aku anak ekonomi."
"Sama saja. Sama-sama cupu."
Andre menghela napas. "Lo bisa aja, May."
Mereka semua tertawa. Tawa yang menghangatkan meja yang dingin.
Bagus melihat arlojinya. Pukul setengah sebelas.
"Cantik, aku harus ke studio. Ada presentasi skripsi."
Cantika mengangguk. "Aku juga harus ke redaksi. Ada naskah yang harus diedit."
"Kita bicara lagi nanti, Cantik," kata Bagus. "Tidak perlu terburu-buru."
"Aku tahu, Gus. Terima kasih. Untuk semuanya."
Bagus berdiri. Ia mengambil buku sketsanya dan menggantungkan tas selempang di bahu. Sebelum berjalan, ia menoleh ke arah Cantika.
"Cantik, satu hal."
"Apa, Gus?"
"Aku tidak akan pernah menyesal mencintaimu. Apa pun yang terjadi."
Cantika tersenyum. "Aku juga tidak akan pernah menyesal memiliki sahabat sepertimu, Gus."
Bagus berjalan keluar dari kantin. Cantika memandangi punggungnya yang semakin menjauh, lalu menghilang di balik pintu.
Maya memegang tangan Cantika. "Cantik, kamu baik-baik saja?"
Cantika mengangguk. "Aku baik-baik saja, May. Aku hanya butuh waktu."
"Kami di sini untukmu, Cantik. Apa pun yang terjadi."
"Aku tahu, May. Terima kasih."
Di luar kantin, Bagus berjalan menuju studio arsitektur.
Hujan sudah berhenti sepenuhnya. Matahari mulai bersinar terang, mengeringkan genangan air di jalan setapak. Burung-burung mulai bernyanyi di dahan-dahan pohon, seolah ikut bergembira karena badai telah berlalu.
Tapi Bagus tidak merasakan kegembiraan itu. Hatinya masih berat. Ia baru saja melakukan hal yang paling berani dalam hidupnya. Tapi juga hal yang paling menyakitkan.
Ia membuka buku sketsanya. Halaman demi halaman. Sampai ia menemukan halaman dengan gambar Cantika dan jepit rambut kupu-kupu.
"Aku mencintaimu, Cantik," bisiknya. "Dan aku akan terus mencintaimu. Sampai kapan pun."
Ia menutup buku sketsanya. Ia berjalan lebih cepat, meninggalkan bayang-bayang masa lalu yang menghantui.
Di redaksi majalah mahasiswa, Cantika duduk di depan laptopnya.
Matanya menatap layar, tapi tidak membaca. Pikirannya masih di kantin, di meja dengan Bagus, di antara kata-kata yang baru saja ia dengar.
Maya masuk ke ruangan. "Cantik, kamu sudah siap?"
Cantika mengangkat kepalanya. "Siap untuk apa, May?"
"Siap untuk memilih. Antara Bagus dan Raden."
Cantika menghela napas. "Aku tidak tahu, May. Aku benar-benar tidak tahu."
Maya duduk di samping Cantika. "Cantik, aku kenal kamu sejak lama. Aku tahu kamu lebih dekat dengan Bagus. Aku tahu kamu lebih nyaman dengan Bagus. Tapi aku juga tahu kamu lebih bersemangat ketika bersama Raden. Pertanyaannya, mana yang lebih penting bagimu? Kenyamanan atau semangat?"
Cantika terdiam. "Aku tidak tahu, May. Aku tidak ingin kehilangan keduanya."
"Kamu tidak akan kehilangan keduanya, Cantik. Apa pun pilihanmu, mereka akan tetap menjadi sahabatmu. Tapi kamu harus memilih satu sebagai kekasih. Karena cinta tidak bisa dibagi."
Cantika menunduk. "Aku butuh waktu, May."
"Ambil waktu, Cantik. Tapi jangan terlalu lama. Karena hati tidak bisa menunggu selamanya."
Cantika mengangguk. Ia kembali menatap layar laptopnya, tapi pikirannya masih berkeliaran. Bayangan Bagus dan Raden bergantian muncul di pelupuk matanya. Dan di tengah kebingungan itu, ia tidak tahu harus berpaling ke mana.
BAB 4: Malam di Tepi Danau
Danau kampus Universitas Persada, pukul setengah sembilan malam.
Danau itu tidak besar, hanya sekitar seratus meter persegi, dengan air yang berwarna kehijauan karena lumut dan dedaunan yang jatuh ke permukaannya. Tapi bagi mahasiswa Universitas Persada, danau ini adalah tempat yang sakral. Tempat untuk berpikir. Tempat untuk bermimpi. Tempat untuk jatuh cinta. Tempat untuk patah hati. Bangku-bangku kayu panjang yang dicat putih mengelilingi danau, masing-masing berjarak beberapa meter dari yang lain. Lampu-lampu taman dengan cahaya kuning temaram menyala di sepanjang jalan setapak, menciptakan bayangan-bayangan yang bergoyang-goyang di permukaan air.
Malam itu, langit cerah. Bintang-bintang terlihat jelas, berkelap-kelip di langit yang gelap seperti berlian yang tersebar di atas beludru hitam. Bulan sabit tipis tergantung rendah di ufuk barat, seolah ikut mendengarkan percakapan yang akan terjadi di tepi danau ini. Angin malam berhembus pelan, membawa aroma air dan dedaunan basah. Suara jangkrik dan katak dari kejauhan menciptakan simfoni alam yang menenangkan, meskipun hati kedua orang yang duduk di bangku kayu itu tidak tenang sama sekali.
Raden tiba lebih dulu. Ia sudah duduk di bangku kayu favorit mereka—bangku ketiga dari timur, tepat di bawah pohon rindang yang daun-daunnya menjuntai menyentuh permukaan air. Bangku ini sudah menjadi saksi bisu perjalanan persahabatan mereka selama delapan belas tahun. Di bangku inilah mereka pertama kali berbagi cerita tentang cita-cita, tentang mimpi, tentang ketakutan-ketakutan yang tidak berani mereka ceritakan pada orang lain.
Raden memandangi permukaan danau yang beriak lembut ditiup angin. Wajahnya tenang seperti biasanya, tapi di balik ketenangan itu, ada kegelisahan yang tidak bisa ia sembunyikan. Tangannya yang tergenggam di pangkuan sedikit gemetar. Napasnya tidak teratur. Ia sudah berusaha menenangkan diri sejak setengah jam yang lalu, tapi tidak berhasil.
Ia ingat percakapannya dengan Bagus semalam. Bagus yang mengatakan bahwa ia sudah menyatakan perasaannya pada Cantika. Bagus yang mengatakan bahwa Cantika sekarang tahu segalanya—tentang perasaan Bagus, tentang perasaan Raden, tentang semua rahasia yang selama delapan belas tahun mereka simpan rapat-rapat.
"Sekarang giliran lo, Den," kata Bagus di Telepon tadi sore. "Cantika ingin bicara dengan lo. Di tepi danau. Malam ini."
"Apa yang harus aku katakan, Gus?"
"Katakan yang sejujurnya, Den. Jangan sembunyi lagi. Jangan lari lagi. Ini saatnya."
Raden menghela napas panjang. Napas yang keluar dari mulutnya membentuk uap tipis di udara malam yang dingin. Ia menutup matanya sejenak, berusaha mengumpulkan keberanian yang entah Mengapa.
Dari kejauhan, ia mendengar suara langkah kaki yang ia kenal. Langkah kaki ringan dengan irama yang khas. Langkah kaki yang sudah ia kenal sejak delapan belas tahun lalu. Raden membuka matanya. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang berjalan ke arahnya. Ia sudah hafal langkah kaki itu. Ia sudah hafal setiap detail tentang perempuan yang berjalan ke arahnya itu.
Cantika muncul dari balik pepohonan.
Ia mengenakan jaket jeans biru muda yang sama—jaket yang sudah pudar karena terlalu sering dicuci. Rambut sebahuinya terurai, tidak diikat seperti biasa. Tidak ada jepit kupu-kupu di rambutnya malam itu. Cantika melepas jepit itu untuk pertama kalinya dalam delapan belas tahun. Mungkin karena ia ingin sesuatu yang berbeda malam ini. Mungkin karena ia merasa tidak pantas mengenakan hadiah dari Bagus ketika ia akan bicara dengan Raden. Mungkin karena ia bingung dan jepit itu mengingatkannya pada terlalu banyak kenangan.
Di tangan kanannya, Cantika membawa termos kecil berisi kopi panas. Dua cangkir plastik di tangan kirinya. Ia tahu Raden suka kopi pahit tanpa gula. Ia tahu Raden tidak pernah minum kopi yang sudah dingin. Itu adalah hal-hal kecil yang ia ketahui tentang Raden, sama seperti ia mengetahui hal-hal kecil tentang Bagus.
Cantika berjalan mendekat. Langkahnya tidak secepat biasanya. Ada keraguan di setiap langkahnya. Ia berhenti sejenak di belakang bangku, menatap punggung Raden yang membelakanginya. Punggung yang tegap, yang selalu ia lihat setiap hari selama delapan belas tahun. Punggung yang menjadi pemandangan yang akrab, yang selalu ada di sampingnya, yang tidak pernah ia pikirkan akan berarti lebih dari sekadar punggung seorang sahabat.
"Den, aku ingin bicara denganmu," kata Cantika. Suaranya lembut, sedikit bergetar.
Raden menoleh. Wajahnya datar seperti biasa, tapi matanya... matanya berbeda. Ada sesuatu di mata Raden malam ini yang tidak pernah Cantika lihat sebelumnya. Sesuatu yang lembut. Sesuatu yang rapuh. Sesuatu yang membuat jantung Cantika berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Duduklah, Cantik," kata Raden. Suaranya serak, seperti orang yang sedang sakit tenggorokan. Atau seperti orang yang sedang menahan tangis. "Aku sudah menunggumu."
Cantika duduk di bangku kayu itu, tepat di samping Raden. Jarak mereka hanya satu jengkal. Jika ia sedikit bergerak ke kanan, bahunya akan menyentuh bahu Raden. Tapi ia tidak bergerak. Ia membiarkan jarak itu tetap ada, sebagai batas yang belum berani ia lewati.
Ia membuka termos, menuangkan kopi ke dalam dua cangkir plastik. Uap panas mengepul di udara malam yang dingin, menciptakan bau kopi yang kuat. Kopi hitam pekat tanpa gula untuk Raden. Kopi dengan sedikit krimer untuk dirinya sendiri.
Raden menerima cangkir kopi itu. Jari-jarinya menyentuh jari Cantika untuk sesaat. Sentuhan sekecil itu terasa seperti listrik yang menyambar dari ujung jari ke ujung jantung. Raden menarik tangannya cepat-cepat, lalu menyesap kopinya untuk menutupi rasa gugupnya.
"Den, aku..." Cantika memulai, tapi kata-katanya terhenti. Ia tidak tahu harus mulai dari mana. Ada terlalu banyak yang ingin ia katakan, tapi semua kata terasa tidak cukup.
"Aku juga ingin bicara denganmu, Cantik," kata Raden. Ia menatap permukaan danau yang beriak, tidak berani menatap mata Cantika. "Tapi aku tak tahu harus mulai dari mana."
"Bagus sudah bilang padaku," kata Cantika. Matanya juga tertuju pada danau, pada riak-riak air yang terbentuk oleh angin malam. "Tentang perasaanmu."
Raden terdiam. Cangkir kopi di tangannya terasa sangat panas, tapi ia tidak merasakannya. Yang ia rasakan hanyalah jantungnya yang berdebar keras, terlalu keras, seolah-olah ingin keluar dari dadanya.
"Jadi lo tahu sekarang," kata Raden akhirnya.
"Aku tahu, Den," kata Cantika. "Pertanyaannya, kenapa kalian berdua tidak pernah bilang dari dulu?"
Raden menghela napas panjang. Ia meletakkan cangkir kopinya di bangku di sampingnya, lalu menatap langit malam yang penuh bintang. Bintang-bintang itu terlihat begitu tenang, begitu damai, seolah tidak ada masalah di dunia ini yang cukup berat untuk mengganggu ketenangan mereka.
"Karena takut, Cantik," kata Raden. Suaranya pelan, nyaris berbisik. "Kami takut kehilanganmu. Takut merusak persahabatan ini. Takut jika perasaan kami tidak berbalas. Takut jika segalanya menjadi canggung. Jadi kami diam. Selama delapan belas tahun. Kami diam."
Cantika menggigit bibirnya. "Tapi sekarang segalanya sudah berubah, Den. Kamu dan Bagus mengaku dalam waktu bersamaan. Aku seperti dipaksa memilih. Dan itu tidak adil, Den."
"Aku tahu itu tidak adil, Cantik," kata Raden. Ia menoleh, menatap Cantika untuk pertama kalinya malam itu. Matanya bertemu dengan mata Cantika. Di bawah cahaya lampu taman yang temaram, di bawah sinar bulan sabit yang tipis, di bawah kerlip bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya, mereka saling menatap. "Aku minta maaf. Tapi aku tak bisa berbohong lagi. Aku mencintaimu. Bukan karena Bagus mencintaimu. Bukan karena persaingan. Bukan karena aku ingin mengalahkan Bagus. Aku mencintaimu karena dirimu sendiri. Karena cara kamu tersenyum. Karena cara kamu tertawa. Karena cara kamu menggulung rambutmu ketika sedang bingung. Karena cara kamu membaca puisi dengan penghayatan yang berlebihan. Karena semua hal kecil yang membuatmu menjadi dirimu."
Air mata Cantika jatuh. Ia tidak bisa menahannya. Kata-kata Raden menusuk tepat di ulu hatinya, membuka luka-luka lama yang tidak pernah ia sadari keberadaannya.
"Katakan, Den," kata Cantika sambil mengusap air matanya. "Apa yang membuatmu jatuh cinta padaku? Ceritakan semuanya. Aku ingin tahu."
Raden mengambil napas panjang. Matanya menerawang jauh ke masa lalu.
"Kamu yakin ingin mendengarnya, Cantik? Ini cerita yang panjang."
"Aku yakin, Den. Aku ingin tahu. Setelah delapan belas tahun, setidaknya aku berhak tahu."
Raden tersenyum tipis. Senyum yang jarang ia tunjukkan. Senyum yang membuat wajah dinginnya terlihat lebih manusiawi.
"Baiklah, Cantik. Aku akan cerita semuanya. Dari awal."
Ia berhenti sejenak, mengumpulkan ingatan-ingatan yang sudah ia simpan rapi di sudut paling dalam hatinya.
"Kamu ingat acara pelepasan mahasiswa baru semester tiga?" tanya Raden.
Cantika mengerutkan kening. "Acara itu? Yang diadakan di gedung serbaguna? Yang ada lomba baca puisi?"
"Iya, acara itu. Kamu ikut lomba baca puisi. Kamu membacakan puisi karya Sapardi Djoko Damono. Aku lupa judulnya. Tapi aku ingat bait pertamanya. 'Pada suatu senin pagi, kulihat kupu-kupu terbang di atas danau...' Lupa lagi. Yang jelas, kamu membaca puisi itu dengan sangat menghayati. Matamu berbinar. Suaramu bergetar. Kamu tersedu-sedu di tengah bacaan karena terlalu menghayati. Seluruh penonton terdiam. Beberapa dari mereka ikut menangis. Dan setelah selesai, kamu tertawa terbahak-bahak karena merasa malu. Kamu bilang, 'Maaf, aku terlalu berlebihan, ya?' Dan semua orang tertawa bersamamu."
Cantika menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Astaga, aku masih ingat itu. Aku sangat malu. Aku hampir tidak mau keluar dari kamar kos selama seminggu."
"Tapi itu justru yang membuatku jatuh cinta padamu, Cantik," kata Raden. Matanya menatap Cantika dengan lembut. "Saat itu aku berpikir, 'Perempuan ini luar biasa. Dia tidak takut terlihat rapuh. Dia tidak takut menunjukkan perasaannya. Dia tidak takut menjadi dirinya sendiri.' Sejak saat itu, aku tak bisa berhenti memikirkanmu."
Cantika menunduk. "Aku bahkan tidak ingat kamu ada di acara itu, Den. Aku pikir kamu tidak suka acara-acara seperti itu."
"Aku memang tidak suka. Tapi Bagus memaksaku datang. Katanya, 'Den, lo harus lihat Cantika baca puisi. Dia lucu banget.' Aku datang karena tidak mau mengecewakan Bagus. Tapi aku pulang dengan perasaan yang berbeda. Perasaan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya."
"Perasaan apa, Den?"
"Perasaan ingin melindungi. Perasaan ingin dekat. Perasaan ingin selalu melihat senyummu. Perasaan ingin menjadi alasan di balik tawamu. Aku tidak tahu namanya waktu itu. Aku baru tahu setelah beberapa bulan, ketika perasaan itu tidak kunjung hilang. Namanya cinta."
Cantika memegang termos kopi di pangkuannya. Tangannya gemetar.
"Tapi kamu tidak pernah bilang, Den. Delapan belas tahun. Kamu tidak pernah bilang."
"Aku tidak bisa, Cantik," kata Raden. Suaranya mulai bergetar. "Aku lihat bagaimana Bagus melihatmu. Aku lihat bagaimana matanya berbinar setiap kali kamu datang. Aku lihat bagaimana ia tersenyum setiap kali kamu tertawa. Aku lihat bagaimana ia menggambar wajahmu di setiap sudut buku sketsanya. Aku tahu Bagus lebih dulu jatuh cinta padamu. Jauh sebelum aku. Dan sebagai sahabatnya, aku merasa tidak punya hak untuk merasa apa pun padamu. Jadi aku mencoba melupakan. Aku mencoba membenci diriku sendiri. Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa yang aku rasakan hanya kebetulan, hanya ilusi, hanya karena aku terlalu sering melihatmu bersama Bagus."
"Tapi kamu gagal, Den."
"Aku gagal total, Cantik," kata Raden. Ia tertawa pahit. "Setiap hari aku harus melihat Bagus tersenyum padamu. Setiap hari aku harus melihat kalian berdua bercanda dan tertawa bersama. Setiap hari aku harus mendengar namamu disebut-sebut di setiap percakapan. Dan setiap hari, perasaanku padamu semakin dalam. Seperti sumur yang tidak pernah kering. Seperti lautan yang tidak pernah tenang."
Cantika menggigit bibirnya. "Den, aku..."
"Dengar dulu, Cantik," potong Raden. "Biarkan aku menyelesaikan ceritaku. Ini mungkin satu-satunya kesempatan aku untuk mengatakan semua ini."
Cantika mengangguk. Ia menyesap kopinya, menahan diri untuk tidak memotong lagi.
"Malam di taman kampus, tujuh tahun lalu. Kamu tertidur di pangkuan Bagus setelah seharian belajar. Aku duduk di samping kalian, berpura-pura membaca buku. Tapi mataku tidak membaca. Mataku tertuju padamu. Pada wajahmu yang tenang dalam tidur. Pada rambutmu yang terurai menyentuh tangan Bagus. Pada jepit kupu-kupu yang nyaris jatuh dari rambutmu."
Raden berhenti sejenak. Suaranya tersendat. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Lalu Bagus berbisik, 'Aku mencintaimu, Cantik. Suatu hari nanti, aku akan bilang ini padamu. Tapi tidak malam ini. Belum.' Aku mendengar semuanya, Cantik. Aku mendengar setiap kata. Aku mendengar setiap bisikan. Aku mendengar setiap napas Bagus yang tertahan. Dan saat itu, aku sadar bahwa aku tidak sendirian dalam perasaan ini. Bagus juga mencintaimu. Dan dia lebih dulu. Jauh lebih dulu."
"Lalu apa yang kamu rasakan saat itu, Den?" tanya Cantika.
"Aku marah, Cantik," kata Raden. Matanya mulai basah. "Aku marah pada Bagus. Aku marah pada diriku sendiri. Aku marah pada perasaanku. Aku ingin berteriak. Aku ingin lari. Aku ingin melupakan semuanya. Tapi aku tidak bisa. Aku hanya bisa duduk diam di samping kalian, berpura-pura tidur, sementara air mataku jatuh tanpa suara."
Cantika tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa menatap Raden dengan mata berkaca-kaca.
"Sejak malam itu, aku memutuskan untuk tidak pernah mengungkapkan perasaanku," lanjut Raden. "Aku memutuskan untuk menguburnya dalam-dalam. Aku memutuskan untuk menjadi sahabat yang baik bagi Bagus, dan menjadi sahabat yang baik bagimu. Aku pikir jika aku terus mengubur perasaan ini, suatu hari nanti perasaan ini akan mati dengan sendirinya. Tapi aku salah. Perasaan ini tidak pernah mati. Ia hanya tidur. Dan setiap kali kamu tersenyum, setiap kali kamu tertawa, setiap kali kamu memanggil namaku dengan suaramu yang lembut itu, perasaan itu bangun kembali. Lebih kuat dari sebelumnya. Lebih menyakitkan dari sebelumnya."
Danau itu tenang. Tidak ada riak. Tidak ada angin. Seolah-olah alam ikut berhenti untuk mendengarkan.
Raden menunduk. Tangannya yang menggenggam cangkir kopi mulai gemetar. Uap dari kopi itu sudah hampir hilang, menandakan bahwa kopinya sudah dingin. Tapi ia tidak peduli.
"Cantik, aku jatuh cinta padamu saat kamu membaca puisi di acara pelepasan mahasiswa baru semester tiga," kata Raden, mengulang kata-katanya dengan suara yang lebih dalam, lebih penuh penghayatan. "Kamu membaca puisi karya Sapardi. Kamu tersedu-sedu di tengah bacaan karena terlalu menghayati. Dan kamu tertawa setelah selesai karena merasa malu. Saat itu aku berpikir, 'Perempuan ini luar biasa. Dia tidak takut terlihat rapuh.' Sejak saat itu, aku tak bisa berhenti memikirkanmu. Dan sampai sekarang, delapan belas tahun kemudian, aku masih tidak bisa berhenti memikirkanmu."
Cantika menangis. Ia tidak bisa menahan air matanya lagi. Tangisnya pecah, bahunya naik turun menahan isak yang ingin keluar.
"Aku bahkan tidak ingat acara itu, Den," katanya di sela isak tangisnya. "Aku bahkan tidak ingat pernah membaca puisi di depan umum. Aku pikir itu hanya mimpi buruk."
Raden tersenyum. "Itu bukan mimpi buruk, Cantik. Itu adalah mimpi indah bagiku. Mimpi yang membuatku jatuh cinta. Mimpi yang mengubah hidupku. Mimpi yang membuatku belajar arti kesabaran, arti pengorbanan, arti mencintai tanpa mengharapkan apa pun sebagai balasannya."
"Den, aku bingung," kata Cantika sambil mengusap air matanya. "Aku mencintai kalian berdua. Tapi dengan cara yang berbeda. Bagus membuatku merasa aman dan nyaman. Dia seperti rumah. Tempat aku pulang setelah lelah berkelana. Tapi kamu, Den... kamu membuatku merasa hidup. Kamu membuatku merasa bahwa ada sesuatu yang lebih dari sekadar rutinitas. Kamu membuatku ingin menjadi lebih baik. Kamu membuatku ingin melompat meskipun aku takut jatuh."
Raden menatap Cantika dalam-dalam. "Jadi apa artinya itu, Cantik?"
"Itu artinya aku harus berpikir lebih keras, Den," kata Cantika. "Karena aku tidak bisa memiliki kalian berdua. Aku harus memilih satu. Dan kehilangan yang lain. Itu adalah keputusan paling sulit yang pernah harus aku buat dalam hidupku."
"Kami takkan terpisah, Cantik," kata Raden. "Apapun keputusanmu. Bagus dan aku sudah berjanji. Persahabatan kami lebih penting dari apa pun. Kami tidak akan membiarkan cinta menghancurkan apa yang sudah kami bangun selama delapan belas tahun."
"Janji yang berat untuk ditepati, Den," kata Cantika. "Cinta itu egois. Cinta itu buta. Cinta itu tidak mengenal logika. Kalian berdua bisa berjanji sekarang. Tapi ketika hati sudah terluka, janji sering kali menjadi kata-kata kosong."
"Maka kami akan membuktikan bahwa janji kami tidak kosong, Cantik," kata Raden. "Aku tidak tahu bagaimana caranya. Tapi aku akan berusaha. Bagus juga akan berusaha. Karena kalian berdua adalah orang-orang terpenting dalam hidup kami."
Mereka berdua terdiam. Angin malam berhembus lagi, membawa aroma danau yang segar.
Cantika menatap bintang-bintang di langit. "Den, lihat bintang itu. Yang paling terang di sebelah timur. Apa namanya?"
Raden mengikuti arah tatapan Cantika. "Itu Venus. Planet. Bukan bintang. Tapi orang sering menyebutnya bintang kejora. Muncul sebelum fajar. Menjadi pertanda bahwa pagi akan segera tiba."
"Aku suka bintang itu," kata Cantika. "Setiap kali aku melihatnya, aku merasa ada harapan. Bahwa setelah malam yang gelap, akan ada pagi yang terang. Bahwa setelah badai, akan ada pelangi. Bahwa setelah sakit, akan ada kebahagiaan."
Raden menatap Cantika. Wajah Cantika yang basah oleh air mata kini terlihat tenang di bawah sinar bintang. Ada kedamaian di sana. Ada penerimaan.
"Cantik, aku ingin kamu tahu satu hal," kata Raden.
"Apa, Den?"
"Apa pun keputusanmu, aku akan menerimanya. Aku akan berusaha untuk ikhlas. Mungkin tidak hari ini. Mungkin tidak besok. Tapi suatu hari nanti, aku akan ikhlas. Karena kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga. Dan jika kebahagiaanmu ada pada Bagus, maka aku akan rela melepaskanmu."
Cantika menangis lagi. "Kamu terlalu baik, Den. Kamu dan Bagus. Kalian berdua terlalu baik untuk dunia ini. Aku tidak pantas mendapatkan kalian berdua."
"Jangan bilang begitu, Cantik," kata Raden. "Kamu pantas mendapatkan yang terbaik. Karena kamu adalah perempuan terbaik yang pernah aku kenal."
Mereka berdua terdiam lagi, menikmati kebersamaan di tepi danau itu. Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang perlu dibicarakan. Semua sudah terucap. Semua sudah terungkap.
Dari kejauhan, di balik pepohonan, Bagus berdiri diam.
Ia datang ke danau karena ingin memastikan bahwa Raden dan Cantika baik-baik saja. Ia tidak bermaksud mengintip. Ia tidak bermaksud ikut campur. Tapi kakinya terantuk ke tempat ini, dan matanya tidak bisa berpaling dari pemandangan di hadapannya.
Ia melihat Raden dan Cantika duduk berdampingan di bangku kayu. Ia melihat mereka bicara. Ia melihat mereka menangis. Ia melihat mereka tertawa. Ia melihat mereka berbagi cerita tentang masa lalu, tentang perasaan, tentang rahasia-rahasia yang selama ini tersembunyi.
Bagus tersenyum pahit. Ia ingin sekali duduk di samping mereka, menjadi bagian dari percakapan itu. Tapi ia tahu ini bukan waktunya. Ini adalah momen untuk Raden dan Cantika. Momen untuk mereka berdua menyelesaikan apa yang belum selesai.
Ia berbalik dan berjalan meninggalkan danau. Langkahnya berat, tapi hatinya ringan. Entah kenapa, melihat Raden dan Cantika bersama membuatnya merasa tenang. Mungkin karena ia tahu bahwa apa pun yang terjadi, mereka berdua akan baik-baik saja. Mungkin karena ia tahu bahwa cinta tidak selalu harus memiliki. Kadang, cukup dengan melihat orang yang kita cintai bahagia, meskipun bukan dengan kita.
Kembali di bangku kayu, Raden dan Cantika masih duduk berdampingan.
Termos kopi sudah kosong. Dua cangkir plastik tergeletak di samping mereka, meninggalkan noda hitam di kayu. Bintang-bintang di langit mulai bergeser, menandakan bahwa malam semakin larut.
"Den, aku harus pulang," kata Cantika. "Besok ada kuliah pagi."
"Aku antar," kata Raden. "Jalanan gelap. Aku tidak ingin kamu sendirian."
Cantika tersenyum. "Kamu selalu seperti itu, Den. Selalu ingin melindungi."
"Itu karena aku peduli, Cantik. Bukan karena aku ingin melindungi. Tapi karena aku tidak ingin kamu terluka."
Mereka berdiri bersamaan. Raden mengambil termos kosong dan cangkir-cangkir plastik itu untuk dibuang ke tempat sampah. Cantika merapikan jaket jeansnya yang sedikit basah karena embun malam.
Mereka berjalan beriringan meninggalkan danau. Langkah mereka seirama, seperti dua orang yang sudah bertahun-tahun berjalan bersama. Tidak ada yang terburu-buru. Tidak ada yang ingin cepat-cepat pulang.
"Den, aku ingin bertanya sesuatu," kata Cantika di tengah perjalanan.
"Apa, Cantik?"
"Apakah kamu tidak marah pada Bagus? Karena dia lebih dulu mengaku padaku?"
Raden menggeleng. "Aku tidak marah, Cantik. Aku justru berterima kasih padanya. Karena tanpa keberaniannya, aku mungkin tidak akan pernah berani mengaku seperti ini."
"Kamu tidak cemburu?"
"Aku cemburu, Cantik. Sangat cemburu. Tapi aku tidak marah. Itu perbedaan."
Cantika mengangguk. "Aku mengerti, Den."
Mereka berjalan dalam diam sampai ke gerbang kampus. Di sana, sebuah taksi sudah menunggu. Cantika memesan taksi dari tadi sore, sebelum ia berangkat ke danau.
"Den, terima kasih untuk malam ini," kata Cantika sebelum masuk ke taksi. "Terima kasih sudah jujur padaku. Terima kasih sudah mau berbagi cerita."
"Terima kasih juga, Cantik," kata Raden. "Karena sudah mau mendengarkan."
Cantika masuk ke taksi. Sebelum pintu tertutup, ia menoleh ke arah Raden.
"Den, aku belum bisa memberikan jawaban. Tapi aku berjanji, aku akan memikirkan semuanya dengan serius. Aku tidak akan main-main dengan perasaan kalian berdua."
"Aku percaya padamu, Cantik. Aku akan menunggu."
Pintu taksi tertutup. Taksi itu melaju perlahan meninggalkan gerbang kampus. Raden berdiri di tempatnya, memandangi taksi yang semakin menjauh, hingga akhirnya lenyap ditelan gelapnya malam.
Ia menghela napas panjang. Dadanya terasa lega, meskipu hatinya masih berat. Ia baru saja melakukan hal yang paling berani dalam hidupnya. Ia baru saja mengungkapkan rahasia yang ia simpan selama delapan belas tahun. Dan meskipun jawaban Cantika belum ia dapatkan, ia merasa tenang. Karena akhirnya, tidak ada lagi yang disembunyikan. Tidak ada lagi yang perlu ditutupi.
Raden berjalan kembali ke danau. Ia duduk di bangku kayu yang tadi, memandangi permukaan air yang tenang. Bintang-bintang terpantul di sana, menciptakan ilusi bahwa langit ada di bawah kakinya.
"Aku ikhlas, Cantik," bisiknya pada dirinya sendiri. "Aku akan berusaha ikhlas. Apapun pilihanmu."
Ia menutup matanya. Angin malam berhembus lembut, membawa bisikan-bisikan dari masa lalu, dari masa depan, dari mimpi-mimpi yang belum terwujud.
Di dalam taksi, Cantika memandangi jalanan Jakarta yang mulai sepi.
Lampu-lampu jalan berkedip-kedip basah karena gerimis yang turun sejak setengah jam lalu. Di kejauhan, gedung-gedung tinggi masih menyala, tanda bahwa kota ini tidak pernah benar-benar tidur.
Cantika memegang jepit rambut kupu-kupu di sakunya. Ia melepasnya tadi sebelum berangkat ke danau, karena ia merasa tidak pantas memakainya ketika akan bicara dengan Raden. Tapi kini, ia merindukan rasa jepit itu di rambutnya. Merindukan kenangan yang menyertainya.
Ia mengeluarkan jepit itu dari saku. Di bawah cahaya lampu jalan yang masuk ke dalam taksi, jepit itu terlihat lusuh. Catnya mengelupas di beberapa bagian. Sayap kirinya retak. Tapi Cantika tetap menyimpannya. Ia tidak akan pernah membuangnya.
"Bagus, Raden," bisiknya. "Kalian berdua adalah anugerah terbesar dalam hidupku. Dan aku tidak tahu harus memilih siapa. Karena memilih satu berarti kehilangan yang lain. Dan aku tidak tega kehilangan salah satu dari kalian."
Air matanya jatuh lagi. Ia tidak menyekanya. Ia membiarkannya mengalir, membasahi pipinya yang mulai dingin.
Taksi itu terus melaju, membawa Cantika meninggalkan danau, meninggalkan kampus, meninggalkan malam yang penuh dengan pengakuan dan air mata. Menuju rumah. Menuju tidur yang mungkin tidak akan pernah datang. Menuju mimpi-mimpi yang mungkin tidak akan pernah ia ingat ketika bangun.
Di apartemennya, Bagus duduk di balkon.
Ia memandangi langit malam yang gelap. Bintang-bintang terlihat samar-samar karena polusi cahaya dari gedung-gedung di sekitarnya. Tapi ia bisa melihat satu bintang yang paling terang di sebelah timur.
"Venus," bisiknya. "Planet. Bukan bintang. Tapi indah."
Ia ingat kata-kata Cantika tentang bintang itu. Tentang harapan. Tentang pagi yang akan tiba setelah malam yang gelap.
"Aku berharap, Cantik," bisiknya. "Aku berharap kamu bahagia. Apa pun pilihanmu. Aku berharap kamu mendapatkan yang terbaik. Karena kamu pantas mendapatkan yang terbaik."
Ia menutup matanya. Angin malam berhembus lembut, membawa mimpi-mimpi yang mungkin tidak akan pernah menjadi nyata.
Di kamar kosnya, Maya tidak bisa tidur.
Ia duduk di depan laptop, mencoba menulis skripsi, tapi pikirannya tidak fokus. Ia terus memikirkan Cantika. Tentang keputusan yang harus diambil sahabatnya itu. Tentang beban yang harus dipikul.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Andre.
"May, lo masih bangun?"
Maya membalas. "Masih, And. Tidak bisa tidur."
Andre. "Pikirin Cantika juga?"
Maya. "Iya. Kasihan dia. Harus memilih di antara dua lelaki baik."
Andre. "Memang berat. Tapi itu risiko jatuh cinta."
Maya. "Kamu pernah ngalamin? Dipilih di antara dua perempuan?"
Andre. "Aku tidak pernah punya dua pilihan, May. Aku cuma punya satu. Lo."
Maya tersenyum membaca balasan Andre. "Gombal."
Andre. "Bukan gombal. Fakta."
Maya. "Udah, tidur. Besok kita temani Cantik."
Andre. "Baik, May. Selamat malam."
Maya. "Selamat malam, And."
Maya meletakkan ponselnya. Ia memandangi langit-langit kamar yang retak di beberapa bagian. Pikirannya masih melayang, tapi setidaknya ia tidak sendirian. Ia punya Andre. Ia punya sahabat-sahabat yang selalu ada untuknya.
Di apartemen Raden, lampu masih menyala.
Raden duduk di kursi kerjanya, memandangi tumpukan berkas hukum yang belum sempat ia baca. Matanya lelah, tapi pikirannya masih segar. Terlalu segar. Ia tidak bisa tidur.
Ia membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah foto lama. Foto itu diambil delapan belas tahun lalu, di halaman kampus. Di foto itu, ada tiga orang, Bagus, Raden, dan Cantika. Mereka tertawa lebar, tidak punya beban, tidak punya rahasia. Hanya tiga sahabat yang menikmati kebersamaan.
Raden menatap foto itu lama. Jarinya menyentuh wajah Cantika di foto.
"Cantik, apa kabar?" bisiknya. "Kamu masih ingat foto ini? Aku masih menyimpannya. Meskipun aku sudah berusaha membuangnya berkali-kali, aku tidak pernah bisa."
Ia meletakkan foto itu di atas meja. Ia menatapnya lagi.
"Aku berjanji, Cantik. Aku akan ikhlas. Mungkin tidak hari ini. Tapi suatu hari nanti."
Ia mematikan lampu. Ia berbaring di ranjang, memejamkan mata, dan berusaha tidur. Bayangan Cantika muncul di pelupuk matanya. Tapi kali ini, bayangan itu tidak menyakitkan. Bayangan itu justru membawa ketenangan.
BAB 5: Konflik di Balik Meja Bundar
Restoran "La Vue", lantai 47, Jakarta Selatan. Pukul delapan malam.
Restoran La Vue adalah salah satu restoran termewah di Jakarta. Terletak di lantai 47 sebuah gedung perkantoran di kawasan SCBD, restoran ini menawarkan pemandangan kota Jakarta yang spektakuler dari ketinggian. Lampu-lampu kota berkelap-kelip di bawah sana seperti lautan bintang yang jatuh ke bumi. Jendela-jendela kaca besar dari lantai hingga langit-langit memungkinkan para pengunjung untuk melihat seluruh cakrawala Jakarta, dari Monas di utara hingga Tebet di selatan, dari Kuningan di timur hingga Pondok Indah di barat.
Malam itu, langit Jakarta cerah. Tidak ada hujan. Bintang-bintang terlihat samar-samar di balik polusi cahaya, namun pemandangan kota yang gemerlap lebih dari cukup untuk menggantikan ketiadaan bintang. Lampu-lampu restoran diredupkan, menciptakan suasana yang romantis dan intim. Lantai marmer mengkilap memantulkan cahaya lilin di setiap meja. Musik jazz mengalun pelan dari pengeras suara, menambah kesan mewah dan eksklusif.
Namun di balik kemewahan itu, ada ketegangan yang tidak terlihat. Di sebuah meja di pojok ruangan, dekat jendela kaca besar, empat orang duduk dengan ekspresi yang berbeda-beda. Meja itu bundar, terbuat dari kayu jati hitam mengkilap, dengan taplak meja putih bersih dan peralatan makan dari perak asli. Di atas meja, empat gelas wine setengah terisi, satu botol wine Prancis yang sudah hampir habis, dan piring-piring kecil berisi makanan pembuka yang sudah tidak tersentuh sejak lima belas menit lalu.
Cantika duduk di kursi yang menghadap ke jendela. Ia mengenakan gaun hitam sederhana selutuh, dengan sabuk tipis di pinggang. Rambutnya diikat setengah, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ia memakai jepit rambut kupu-kupu kesayangannya. Jepit yang sudah retak di sayap kirinya. Jepit yang tidak pernah mau ia ganti. Wajahnya tenang, tapi matanya gelisah. Tangannya yang memegang garpu sedikit gemetar.
Vino duduk di sebelah kanan Cantika. Ia mengenakan setelan jas hitam yang tampak mahal, dengan dasi merah marun. Rambutnya disisir rapi ke belakang, sedikit basah karena minyak rambut. Wajahnya tampan, matanya tajam, senyum miring khasnya tersungging di bibir. Ia terlihat sangat percaya diri, terlalu percaya diri untuk seseorang yang sedang duduk di antara dua lelaki yang juga mencintai perempuan yang sama.
Raden duduk di sebelah kiri Cantika, berseberangan dengan Vino. Ia mengenakan kemeja putih polos dengan lengan digulung hingga siku, tanpa jas, tanpa dasi. Wajahnya dingin, matanya tajam, seperti sedang menganalisis musuh di ruang pengadilan. Ia tidak menyentuh wine di hadapannya. Ia hanya memegang gelas air mineral, sesekali menyesapnya pelan.
Bagus duduk di hadapan Cantika, di seberang meja bundar itu. Ia mengenakan kemeja flanel biru kotak-kotak, jaket jeans tipis di luar, sama seperti yang ia kenakan ketika pertama kali bertemu Cantika delapan belas tahun lalu. Wajahnya pucat, matanya sembab. Buku sketsanya tergeletak di pangkuannya, tapi ia tidak membukanya. Ia hanya duduk diam, menatap piring kosong di depannya.
Mereka berempat belum berbicara sejak sepuluh menit yang lalu. Hanya suara musik jazz dan suara clinking gelas dari meja lain yang terdengar. Ketegangan di meja itu begitu pekat, begitu berat, seperti ada lapisan kaca tak terlihat yang memisahkan mereka satu sama lain.
Vino memecah keheningan lebih dulu.
Ia mengangkat gelas winya, menggerakkannya perlahan sehingga cairan merah itu berputar-putar di dalam gelas. Warnanya merah tua, seperti darah. Seperti perasaan yang mengalir di dada setiap orang yang duduk di meja ini.
"Cantik, apa kamu tidak akan memperkenalkan aku pada teman-temanmu?" kata Vino. Suaranya santai, seperti tidak ada yang istimewa malam ini. Seperti mereka hanya empat orang biasa yang sedang makan malam bersama.
Cantika menatap Vino. Matanya tajam. "Mereka sudah tahu siapa kamu, Vin. Kamu tidak perlu perkenalan."
"Ah, Cantik. Kamu selalu blak-blakan. Aku suka itu." Vino tersenyum. Ia menoleh ke arah Raden. "Den, kan? Kita belum pernah resmi bertemu. Aku Vino. Teman lama Cantik."
Raden tidak menjawab. Ia hanya menatap Vino dengan tatapan dinginnya. Tatapan yang biasa ia gunakan di ruang pengadilan untuk mengintimidasi saksi yang berbohong.
"Kita tidak perlu basa-basi, Vin," kata Raden akhirnya. Suaranya datar, tanpa ekspresi. "Kita tahu siapa kamu. Kamu juga tahu siapa kami. Jadi lebih baik kita bicara langsung ke intinya."
Vino tertawa kecil. "Wah, langsung ke inti. Aku suka gaya lo, Den. Tegas. Tidak banyak omong. Seperti pengacara sungguhan."
"Aku memang pengacara, Vin."
"Oh, benar. Cantika cerita tentang lo. Lo magang di kantor Firmansyah, kan? Pengacaraku."
Raden menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tangannya bersilang di dada. "Iya. Aku magang di kantor Firmansyah. Tapi itu tidak berarti aku ada di pihak lo, Vin. Aku magang karena aku ingin belajar. Bukan karena aku ingin membela orang seperti lo."
Vino mengangkat alis. "Orang seperti lo? Maksudnya?"
"Orang yang suka menggunakan uang dan koneksi untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Orang yang tidak segan menyakiti orang lain demi kepentingan sendiri."
Sunyi. Vino meletakkan gelas winya. Wajahnya berubah sedikit, dari santai menjadi tegang. Tapi senyum miringnya masih tersungging di bibir.
"Kamu memang blak-blakan, Den. Aku suka. Tapi kamu salah satu tentang aku."
"Apa yang salah?"
"Aku tidak menggunakan uang dan koneksi untuk mendapatkan Cantik. Aku menggunakan hatiku."
Raden mendengus. "Hati? Lo punya hati, Vin?"
"Den, cukup," potong Cantika. Suaranya tegas. "Kita tidak di sini untuk saling serang."
Cantika meletakkan garpu dan pisaunya dengan perlahan.
Perak itu menyentuh piring porselen dengan bunyi klink yang terdengar jelas di antara suara musik jazz. Ia menghela napas panjang, mengumpulkan keberanian yang entah dari mana.
"Kita tidak bisa terus-terusan diam seperti ini," kata Cantika. Matanya menatap satu per satu orang di meja itu. Bagus, Raden, Vino. "Kita semua dewasa. Kita semua bisa bicara. Jadi mari kita bicara. Bukan saling serang. Tapi bicara. Seperti manusia."
Vino mengangkat gelas winya lagi. "Setuju, Cantik. Aku siap bicara."
"Topiknya adalah kita berempat," kata Cantika. "Perasaan kita. Harapan kita. Ketakutan kita. Semuanya. Tidak ada yang disembunyikan. Tidak ada yang ditutupi. Kita buka semuanya di sini, di meja ini, malam ini."
Bagus mengangkat kepalanya. Matanya menatap Cantika. Ada sesuatu di matanya—sesuatu yang rapuh, sesuatu yang putus asa, sesuatu yang ingin berkata-kata tetapi tidak tahu bagaimana memulainya.
Raden menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Baik, Cantik. Aku akan mulai."
Ia menarik napas panjang. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja kayu jati hitam itu, membuat suara ritmis yang mengikuti irama jantungnya yang berdetak cepat.
"Aku mencintaimu, Cantik," kata Raden. Suaranya tegas, mantap. Tidak ada keraguan. Tidak ada rasa takut. Hanya kejujuran yang sudah lama terpendam. "Aku sudah mencintaimu sejak delapan belas tahun lalu. Sejak kamu membaca puisi di acara pelepasan mahasiswa baru semester tiga. Sejak kamu tersedu-sedu di tengah bacaan dan tertawa setelah selesai karena malu."
Cantika menunduk. Tangannya menggenggam ujung taplak meja, memutarnya-mutarnya seperti sedang bermain dengan kegugupannya sendiri.
"Aku tidak pernah berani mengaku," lanjut Raden. "Karena aku tahu Bagus juga mencintaimu. Dan aku tidak ingin merusak persahabatan kami. Tapi setelah Vino muncul, setelah aku melihat bagaimana dia mendekatimu dengan cara yang... manipulatif, aku sadar bahwa diam hanya akan membuatku kehilangan kesempatan. Dan kehilangan kesempatan berarti kehilangan kamu. Dan kehilangan kamu... itu tidak bisa aku terima."
Vino bersiul kecil. "Langsung ke inti, Den. Aku suka gaya lo."
Raden menatap Vino dengan dingin. "Aku tidak butuh pujian dari lo, Vin. Aku tidak bicara untuk lo. Aku bicara untuk Cantik."
"Aku tahu, Den. Aku hanya menghargai keberanian lo. Itu saja."
"Simpan penghargaan lo untuk diri lo sendiri."
Bagus mengangkat kepalanya.
Ia belum berbicara sejak duduk di meja ini. Matanya hanya tertuju pada piring kosong di depannya, pada sendok dan garpu yang tersusun rapi, pada gelas wine yang tidak pernah ia sentuh. Tapi sekarang, ia mengangkat kepalanya. Matanya menatap Cantika. Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia berbicara.
"Cantik, aku juga mencintaimu."
Suaranya pelan. Hampir tidak terdengar di antara suara musik jazz. Tapi semua orang di meja itu mendengarnya. Jelas. Tidak bisa diabaikan.
"Sejak semester tiga. Sejak lo meminjamkan pulpen ke aku. Pulpen biru. Pulpen murah yang tintinya sering macet. Tapi lo meminjamkannya dengan senyum yang... aku tidak tahu bagaimana mendeskripsikannya. Senyum itu membuatku lupa bahwa aku sedang buru-buru. Senyum itu membuatku lupa bahwa aku harus mengumpulkan tugas dalam sepuluh menit. Senyum itu membuatku ingin berhenti di waktu itu selamanya."
Air mata Cantika jatuh. Ia tidak menyekanya. Ia membiarkannya mengalir.
"Aku tidak pernah bilang karena aku takut," lanjut Bagus. Suaranya mulai bergetar. "Takut kehilangan persahabatan kita. Takut jika perasaanku tidak berbalas. Takut jika lo melihat aku berbeda. Takut jika segalanya berubah menjadi canggung. Jadi aku diam. Selama delapan belas tahun. Aku diam. Aku memendam. Aku menulis namamu di buku sketsaku, lalu menggoresnya hingga tidak terbaca. Aku menggambar wajahmu di setiap halaman, lalu menutupnya rapat-rapat. Aku menyimpan semua perasaanku di dalam kotak yang tidak pernah aku buka. Sampai sekarang."
"Terima kasih, Gus," kata Cantika. Suaranya parau, basah oleh air mata. "Aku tahu itu tidak mudah untukmu."
"Tidak mudah, Cantik. Tapi aku lega. Setelah delapan belas tahun, akhirnya aku bilang juga."
Vino meletakkan gelas winya.
Ia tidak tersenyum lagi. Wajahnya serius. Matanya menatap Cantika dengan intensitas yang berbeda dari sebelumnya.
"Baik, Cantik. Aku akan jujur. Aku juga mencintaimu."
Cantika menatap Vino. Matanya tidak berkedip.
"Tapi cintaku berbeda dari cinta mereka," lanjut Vino. Tangannya meraih gelas wine lagi, memutarnya perlahan. "Mereka mencintaimu dengan diam, dengan takut, dengan ragu. Delapan belas tahun mereka diam. Delapan belas tahun mereka tidak berani bilang apa-apa. Sementara aku, aku sudah melewati masa bodohku. Aku sudah melewati masa-masa di mana aku tidak tahu apa yang aku inginkan. Cintaku sekarang adalah cinta yang sudah matang. Cinta yang tahu apa yang diinginkan. Cinta yang tidak takut untuk mengaku."
"Kedengarannya seperti pidato kampanye, Vin," kata Raden. Suaranya penuh sarkasme.
Vino menatap Raden. "Lo benar, Den. Kedengarannya seperti pidato kampanye. Tapi setidaknya aku bicara. Aku tidak diam seperti kalian selama delapan belas tahun. Kalian diam. Kalian membiarkan perempuan yang kalian cintai tidak tahu apa-apa. Kalian membiarkan dia bingung. Kalian membiarkan dia berpikir bahwa tidak ada yang mencintainya. Sementara aku, aku datang. Aku bilang. Aku buktikan."
"Vin, lo pikir dengan bicara keras dan percaya diri, lo lebih baik dari kami?" tanya Bagus. Suaranya tenang, tapi ada nada tajam di dalamnya.
"Aku tidak bilang aku lebih baik, Gus. Aku hanya bilang aku tidak diam."
"Diam bukan berarti tidak berbuat apa-apa, Vin," kata Bagus. "Diam adalah pilihan. Kami memilih diam karena kami tidak ingin merusak persahabatan. Kami memilih diam karena kami menghormati perasaan satu sama lain. Kami memilih diam karena kami tidak ingin Cantika merasa tertekan. Itu bukan kelemahan. Itu adalah bentuk cinta yang berbeda."
Vino terdiam. Ia tidak menyangka Bagus bisa sefasih itu berbicara.
"Hei! Cukup!" seru Cantika.
Ia membanting telapak tangannya ke meja. Gelas-gelas wine bergetar. Musik jazz seolah ikut berhenti sejenak. Beberapa pengunjung di meja lain menoleh, tapi segera kembali ke urusan masing-masing.
"Aku bilang cukup!" ulang Cantika. Matanya merah, basah oleh air mata, tetapi api berkobar di dalamnya. "Vin, kalau lo terus begini, lo akan keluar dari restoran ini malam juga. Aku tidak bercanda."
Vino mengangkat kedua tangannya. "Baik, Cantik. Tenang. Aku akan bicara sopan. Aku janji."
"Bukan hanya bicara sopan, Vin. Tapi juga mendengarkan. Kalian semua harus mendengarkan. Karena aku juga punya suara. Aku juga punya perasaan. Aku juga punya hak untuk bicara."
Cantika menghela napas panjang. Ia memanggil pelayan yang sedang lewat dan meminta segelas air hangat. Tangannya gemetar saat menerima gelas itu, tetapi ia berusaha tenang.
"Gus, Den, Vin," kata Cantika setelah menyesap air hangatnya. "Aku ingin kalian tahu satu hal. Aku tidak akan memilih berdasarkan siapa yang paling keras bicara. Aku tidak akan memilih berdasarkan siapa yang paling lama diam. Aku tidak akan memilih berdasarkan siapa yang paling percaya diri. Aku akan memilih berdasarkan perasaanku sendiri. Dan perasaan itu tidak bisa dipaksakan oleh siapa pun. Bukan oleh kalian. Bukan oleh orang tua. Bukan oleh teman. Hanya aku yang tahu."
Bagus mengangguk. "Itu hak lo, Cantik. Kami tidak akan memaksa."
"Aku juga tidak akan memaksa, Cantik," kata Raden.
Vino mengangkat gelas winya. "Aku juga tidak akan memaksa, Cantik. Tapi aku akan terus berusaha. Aku akan terus menunjukkan bahwa aku serius. Aku akan terus membuktikan bahwa aku layak untuk dipilih."
"Vin, lo tidak perlu membuktikan apa pun," kata Cantika. "Cinta bukan tentang pembuktian. Cinta adalah tentang ketulusan. Dan ketulusan tidak perlu dibuktikan. Ia akan terlihat dengan sendirinya."
Mereka berempat terdiam untuk beberapa saat.
Vino memesan makanan penutup untuk semua orang. Kue cokelat dengan saus stroberi, es krim vanila di sampingnya, dan taburan kacang almond di atasnya. Pelayan mengantarkan pesanan itu dengan kereta dorong perak, meletakkannya di hadapan masing-masing dengan hati-hati.
"Vin, lo ingat aku suka cokelat?" tanya Cantika. Suaranya sedikit lebih lembut dari sebelumnya.
Vino tersenyum. "Aku ingat semuanya, Cantik. Warna favorit lo biru. Lagu favorit lo puisi. Makanan favorit lo cokelat. Lo tidak suka stroberi, tapi lo suka saus stroberi di atas cokelat. Lo tidak suka kopi pahit, tapi lo suka kopi dengan whipped cream. Lo tidak suka hujan, tapi lo suka bau tanah basah setelah hujan."
Cantika terkesiap. "Kamu ingat semua itu, Vin?"
"Aku bilang, aku ingat semuanya, Cantik. Setiap detail. Setiap hal kecil. Karena bagiku, hal-hal kecil itu adalah yang terpenting."
Raden mendengus pelan. Bagus diam saja. Ia menatap kue cokelat di depannya tanpa selera. Kue itu tampak lezat, dengan lapisan cokelat yang mengkilap dan saus stroberi yang merah menyala. Tapi Bagus tidak merasa lapar. Perutnya terasa penuh oleh sesuatu yang lain, mungkin kecemasan, mungkin kesedihan, mungkin rasa sakit yang tidak bisa ia beri nama.
"Gus, lo tidak makan?" tanya Cantika. Matanya menatap Bagus dengan prihatin.
Bagus mengangkat kepalanya. Ia tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. "Aku tidak lapar, Cantik. Aku sudah kenyang."
"Kenyang karena apa, Gus?"
Bagus menatap Cantika dalam-dalam. Matanya bicara. Matanya menyampaikan apa yang tidak bisa diucapkan oleh bibirnya.
"Kenyang karena sesuatu yang lain, Cantik."
Mereka semua mengerti. Tidak perlu penjelasan lebih lanjut.
Vino memotong kue cokelatnya dengan hati-hati.
Garpu peraknya menusuk lapisan cokelat yang lembut, lalu membawanya ke mulut dengan gerakan yang elegan. Ia mengunyah perlahan, menikmati setiap gigitan, seolah tidak ada ketegangan di sekitarnya.
"Den, aku ingin bertanya sesuatu," kata Vino setelah menelan kuenya.
Raden menatap Vino. "Apa?"
"Lo benar-benar mencintai Cantik, kan? Bukan karena persaingan dengan Bagus?"
"Aku sudah bilang, Vin. Aku mencintai Cantika karena dirinya sendiri. Bukan karena siapa pun."
"Lalu kenapa lo tidak pernah bilang selama delapan belas tahun? Kenapa lo memilih diam?"
Raden menghela napas. "Karena aku takut, Vin. Takut ditolak. Takut kehilangan persahabatan. Takut jika perasaanku tidak berbalas. Itu bukan alasan yang rumit. Itu alasan yang sangat manusiawi."
"Tapi lo tidak takut kehilangan dia sekarang?"
"Aku takut, Vin. Sangat takut. Tapi aku lebih takut jika tidak pernah mencoba. Lebih takut jika diam selamanya. Lebih takut jika suatu hari nanti aku menyesal karena tidak pernah berani."
Vino mengangguk. "Itu jawaban yang jujur, Den. Aku menghargai itu."
"Aku tidak butuh penghargaan lo, Vin."
"Aku tahu. Tapi aku tetap menghargai."
Bagus memotong kue cokelatnya. Ia tidak memakannya, hanya memotongnya kecil-kecil, lalu menyusunnya kembali seperti puzzle yang belum selesai.
"Gus, aku juga ingin bertanya sesuatu," kata Vino.
Bagus tidak mengangkat kepalanya. "Apa, Vin?"
"Lo ikhlas jika Cantika memilih Raden?"
Bagus berhenti memotong. Tangannya menggenggam garpu perak itu erat-erat, sampai buku-buku jarinya memutih.
"Aku akan ikhlas, Vin. Mungkin tidak hari ini. Mungkin tidak besok. Tapi aku akan berusaha."
"Itu jawaban yang sama dengan Raden," kata Vino. "Kalian berdua memang sahabatan."
"Kami bersahabat, Vin. Bukan hanya karena kami sama-sama mencintai Cantik. Tapi karena kami percaya pada satu sama lain. Karena kami saling mendukung. Karena kami tahu bahwa persahabatan lebih berharga daripada sekadar cinta yang tidak jelas ujungnya."
Vino terdiam. Kata-kata Bagus menusuk sesuatu di dalam dirinya. Sesuatu yang tidak pernah ia sadari sebelumnya.
"Lo membuatku iri, Gus," kata Vino akhirnya.
"Iri? Kenapa?"
"Karena lo punya persahabatan seperti itu. Aku tidak pernah punya sahabat sejati. Hanya anak buah. Hanya orang-orang yang takut padaku. Hanya orang-orang yang membutuhkan uangku."
Bagus menatap Vino. Untuk pertama kalinya, ia melihat kerapuhan di balik senyum miring Vino. Kerapuhan yang mungkin selalu ada, tetapi tidak pernah ditunjukkan kepada siapa pun.
"Itu bukan salah kami, Vin," kata Bagus. "Itu pilihan lo."
"Aku tahu, Gus. Dan aku menyesal."
Cantika meletakkan garpunya. Kue cokelat di depannya hanya tersisa setengah.
"Vin, aku ingin bertanya sesuatu," kata Cantika.
"Apa, Cantik?"
"Kamu benar-benar berubah? Atau hanya berpura-pura?"
Vino terdiam. Ia memandangi gelas winya yang hampir kosong. Sisa-sisa wine merah tua menempel di dinding gelas, seperti sisa-sisa masa lalu yang tidak bisa ia hapus.
"Aku ingin berubah, Cantik. Aku berusaha berubah. Tapi aku tidak tahu apakah aku bisa. Apakah perubahan itu mungkin untuk seseorang seperti aku."
"Setiap orang bisa berubah, Vin," kata Cantika. "Tapi hanya jika dia benar-benar menginginkannya. Bukan karena terpaksa. Bukan karena ingin menyenangkan orang lain. Tapi karena dia sadar bahwa dirinya yang dulu tidak baik."
"Aku sadar, Cantik. Aku sadar bahwa aku telah melakukan banyak kesalahan. Aku sadar bahwa aku telah menyakiti banyak orang. Termasuk kamu. Termasuk Laras. Termasuk adik Laras. Termasuk banyak orang lain yang tidak aku kenal secara pribadi."
"Lalu apa yang akan kamu lakukan untuk memperbaikinya?"
Vino menghela napas. "Aku tidak tahu, Cantik. Aku benar-benar tidak tahu."
"Mulailah dengan meminta maaf, Vin. Bukan hanya kepada aku. Tapi kepada semua orang yang pernah kamu sakiti. Minta maaf dengan tulus. Tanpa syarat. Tanpa mengharapkan balasan."
Vino menunduk. "Apakah maafku akan diterima, Cantik?"
"Itu bukan urusan kamu, Vin. Urusan kamu adalah meminta maaf. Menerima atau tidak adalah hak mereka."
Vino mengangguk. "Aku akan coba, Cantik. Aku janji."
Raden yang selama ini diam mendengarkan akhirnya angkat bicara.
"Vin, aku tidak percaya dengan omongan lo. Maaf. Tapi aku perlu lihat bukti. Kata-kata mudah diucapkan. Tapi tindakan bicara lebih keras."
Vino menatap Raden. "Aku akan buktikan, Den. Aku tidak akan bicara omong kosong. Aku akan tunjukkan bahwa aku serius."
"Kita lihat saja, Vin. Kita lihat."
Bagus menambahkan, "Den, kita harus akui bahwa Vino benar dalam satu hal. Kita memang terlalu lama diam."
Raden mengerutkan kening. "Lo serius, Gus?"
"Aku tidak mengakui bahwa Vino sepenuhnya benar, Den," kata Bagus. "Tapi aku mengakui bahwa kita punya kesalahan. Kita diam terlalu lama. Kita membiarkan rasa takut menguasai kita. Kita membiarkan kesempatan lewat begitu saja. Dan sekarang, kita harus menerima konsekuensinya. Bahwa kita tidak sendirian. Bahwa ada orang lain yang juga mencintai Cantik. Bahwa kita harus bersaing."
Raden terdiam. Kata-kata Bagus menusuk tepat di ulu hatinya.
"Lo benar, Gus," kata Raden akhirnya. "Kita memang terlalu lama diam. Dan sekarang, kita harus membayar harganya."
Malam semakin larut. Restoran mulai sepi. Beberapa meja sudah kosong. Pelayan mulai membereskan peralatan makan di meja sebelah.
Cantika memandang keluar jendela. Pemandangan Jakarta dari lantai 47 sungguh memukau. Lampu-lampu kota berkelap-kelip seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi. Di kejauhan, ia bisa melihat Monas yang bersinar terang, menjadi pusat dari segala arah.
"Indah, ya," kata Cantika pelan.
"Apa yang indah, Cantik?" tanya Bagus.
"Pemandangan dari sini. Jakarta terlihat begitu damai dari ketinggian. Seperti tidak ada masalah. Seperti tidak ada kesedihan. Seperti semua orang bahagia."
"Itu ilusi, Cantik," kata Raden. "Dari ketinggian, semuanya terlihat kecil. Termasuk masalah kita."
"Tapi kadang, kita butuh ilusi, Den," kata Vino. "Kadang, kita butuh melihat sesuatu dari ketinggian agar kita sadar bahwa masalah kita tidak sebesar yang kita kira."
Bagus mengangguk. "Vino benar. Kita terlalu sering terperangkap dalam masalah kita sendiri sampai lupa bahwa dunia masih berputar. Bahwa masih ada orang lain dengan masalah yang lebih berat. Bahwa kita masih beruntung karena masih bisa duduk di restoran mewah seperti ini, menikmati kue cokelat, dan bertengkar tentang cinta."
Mereka semua terdiam. Masing-masing merenungkan kata-kata Bagus.
Cantika memanggil pelayan untuk meminta bill.
"Aku yang bayar malam ini," kata Cantika.
Vino mengangkat tangan. "Tidak, Cantik. Aku yang undang. Aku yang bayar."
"Vin, aku tidak mau berhutang budi padamu."
"Ini bukan hutang budi, Cantik. Ini bentuk permintaan maafku. Biarkan aku membayar malam ini. Sebagai awal dari permintaan maafku padamu."
Cantika terdiam. Ia menatap Vino lama. Lalu mengangguk.
"Baik, Vin. Tapi ingat, ini tidak membuatku berhutang apa pun padamu."
"Aku tahu, Cantik. Aku tidak mengharapkan apa pun."
Pelayan datang dengan bill di atas nampan perak. Vino mengambilnya, mengeluarkan kartu kredit hitam dari dompetnya, dan menyerahkannya pada pelayan tanpa melihat nominalnya.
"Vin, lo tidak lihat dulu totalnya?" tanya Raden.
"Tidak perlu, Den. Berapapun, aku bayar."
"Pemborosan."
"Bukan pemborosan, Den. Ini investasi. Investasi untuk masa depan."
"Masa depan siapa?"
"Masa depan kita semua, Den. Masa depan di mana kita bisa duduk di meja yang sama tanpa saling benci. Masa depan di mana kita bisa menjadi teman, bukan musuh."
Raden mendengus. "Mimpi."
"Mimpi itu gratis, Den. Tidak ada salahnya bermimpi."
Mereka berempat berdiri, bersiap untuk pulang.
Cantika merapikan gaunnya. Bagus memasukkan buku sketsa ke dalam tas. Raden mengancingkan kemejanya yang sempat terbuka di bagian kerah. Vino mengambil jasnya dari sandaran kursi.
"Gus, Den, Vin," kata Cantika. "Terima kasih untuk malam ini. Aku tahu ini tidak mudah untuk kalian semua. Tapi aku menghargai kejujuran kalian."
"Terima kasih juga, Cantik," kata Bagus. "Karena sudah mau mendengarkan."
"Kita bicara lagi lain waktu," kata Raden. "Masih banyak yang harus kita bicarakan."
"Aku setuju," kata Vino. "Tapi lain kali, jangan di restoran mewah. Aku hampir bangkrut."
Raden tertawa kecil. "Lo? Bangkrut? Dengan kartu kredit hitam lo?"
"Bercanda, Den. Aku hanya bercanda."
Mereka berempat berjalan keluar dari restoran. Di lift, mereka berdiri berjajar. Tidak ada yang bicara. Hanya suara lift yang meluncur turun dengan cepat, meninggalkan lantai 47 yang penuh dengan kenangan malam ini.
Di luar restoran, di lobi gedung, mereka berpisah.
Vino berjalan ke arah mobil mewahnya yang terparkir di depan. Raden berjalan ke arah motor maticnya di parkiran basement. Bagus dan Cantika berjalan ke arah taksi yang sudah menunggu.
"Gus, aku antar Cantika pulang," kata Raden tiba-tiba.
Bagus menoleh. "Tidak perlu, Den. Aku yang antar."
"Biarkan aku yang antar kali ini, Gus. Kamu sudah sering mengantar."
Bagus terdiam. Ia menatap Raden, lalu menatap Cantika. Cantika hanya tersenyum tipis, tidak mengatakan apa-apa.
"Baiklah, Den. Hati-hati di jalan."
"Kamu juga, Gus."
Bagus masuk ke taksi sendirian. Taksi itu melaju perlahan, meninggalkan Cantika dan Raden di depan lobi.
"Den, kamu yakin mau mengantar aku?" tanya Cantika.
"Aku yakin, Cantik. Aku tidak ingin kamu sendirian."
"Aku tidak sendirian, Den. Aku punya kamu."
Raden tersenyum. "Iya. Kamu punya aku."
Mereka berjalan beriringan menuju parkiran basement. Langkah mereka seirama, seperti dua orang yang sudah bertahun-tahun berjalan bersama.
Di dalam taksi, Bagus memandang ke luar jendela.
Jakarta malam itu terlihat berbeda. Lampu-lampu kota berkelap-kelip, tetapi tidak indah lagi. Yang ia lihat hanyalah kegelapan. Yang ia rasakan hanyalah kehampaan.
Ia membuka buku sketsanya. Halaman demi halaman. Sampai ia menemukan halaman dengan gambar Cantika dan jepit rambut kupu-kupu.
"Aku mencintaimu, Cantik," bisiknya. "Dan aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu."
Ia menutup buku sketsanya. Ia memejamkan mata. Air matanya jatuh tanpa suara.
Taksi itu terus melaju, membawa Bagus meninggalkan gedung pencakar langit itu, meninggalkan malam yang penuh dengan konflik dan pengakuan, menuju apartemennya yang sepi.
Di parkiran basement, Raden membuka helm untuk Cantika.
"Pakai helm ini, Cantik. Helmnya agak longgar, tapi aman."
Cantika menerima helm itu. Ia memakainya, mengencangkan tali di dagu.
"Den, aku ingin bertanya sesuatu."
"Apa, Cantik?"
"Kamu iri pada Bagus? Karena dia lebih dulu mengaku?"
Raden menghela napas. "Aku iri, Cantik. Tapi aku juga berterima kasih padanya. Karena tanpa keberaniannya, aku mungkin tidak akan pernah berani seperti ini."
"Kamu tidak takut?"
"Aku takut, Cantik. Tapi aku lebih takut jika tidak pernah mencoba."
Cantika tersenyum. "Kamu hebat, Den."
Raden tersenyum balik. "Aku hanya manusia biasa, Cantik. Yang mencintai kamu."
Ia menyalakan motornya. Cantika naik ke belakang, memegang pundak Raden dengan hati-hati.
"Pegang erat-erat, Cantik. Jangan lepas."
Cantika memegang lebih erat. Dadanya menempel di punggung Raden. Raden bisa merasakan detak jantung Cantika—atau mungkin itu detak jantungnya sendiri. Sulit dibedakan.
Motor itu melaju perlahan meninggalkan gedung, meninggalkan parkiran basement, menuju jalanan Jakarta yang mulai sepi.
BAB 6: Raden dan Vino: Duel Diam-Diam
Kampus Universitas Persada, tiga hari setelah makan malam di restoran La Vue. Pukul setengah sepuluh pagi.
Matahari bersinar terik di atas kampus, seolah tidak ada masalah yang menggantung di udara. Langit biru cerah tanpa sehelai awan pun. Burung-burung pipit terbang dari satu pohon ke pohon lain, sesekali berhenti di atap gedung untuk mencari sisa-sisa makanan yang jatuh. Suasana kampus tampak normal—mahasiswa berlalu lalang dengan tas di punggung, beberapa duduk di bangku taman sambil membaca buku, yang lain berjalan cepat karena takut terlambat masuk kuliah.
Namun, di koridor utama lantai tiga gedung serba guna, suasana berbeda. Di sanalah papan pengumuman kampus berada—papan kayu besar berwarna coklat tua yang sudah penuh dengan poster, pengumuman, dan selebaran. Mulai dari pengumuman jadwal ujian, poster lomba debat antar fakultas, selebaran seminar kewirausahaan, hingga iklan bimbingan belajar. Setiap hari, papan itu dipenuhi oleh informasi baru. Dan setiap hari, informasi lama ditutup oleh yang baru, menciptakan lapisan-lapisan kertas yang menumpuk seperti sejarah kampus yang tidak pernah selesai ditulis.
Tapi sejak tiga hari lalu, papan pengumuman itu menjadi ajang perang dingin antara dua orang: Raden dari fakultas hukum, dan Vino dari fakultas ekonomi—yang juga menjabat sebagai Ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Perang dingin itu tidak terlihat oleh mata kebanyakan mahasiswa. Tidak ada teriakan. Tidak ada adu jotos. Tidak ada kerusuhan. Yang ada hanyalah poster-poster yang dipasang, disobek, dipasang lagi, disobek lagi. Sebuah duel diam-diam yang hanya diketahui oleh mereka yang jeli memperhatikan detail.
Poster pertama yang memicu perang ini adalah poster kampanye Vino untuk program kerja BEM periode berikutnya. Di poster itu, Vino tersenyum lebar dengan latar belakang bendera merah putih. Di bawah fotonya, tertulis slogan: "Vino untuk Semua, Semua untuk Vino. Mari kita bangun kampus yang lebih baik bersama!"
Poster itu dipasang oleh anak buah Vino pada Senin pagi, sebelum jam kuliah dimulai. Ukurannya besar, A2, dengan kertas glossy yang mengilap. Posisinya tepat di tengah papan pengumuman, menutupi hampir semua poster lain di sekitarnya. Vino ingin terlihat. Vino ingin didengar. Vino ingin semua orang tahu bahwa ia adalah penguasa kampus.
Namun, ketika Vino dan anak buahnya kembali ke papan pengumuman pada siang harinya untuk melihat apakah poster mereka masih terpasang, mereka terkejut. Poster itu sudah disobek. Bukan disobek sembarangan, tapi disobek dengan rapi, seperti ada yang sengaja merobeknya dengan pisau cutter di sepanjang tepi poster, sehingga yang tersisa hanya selotip di keempat sudutnya dan beberapa sobekan kertas yang masih menempel.
Vino tidak marah. Ia justru tersenyum. Ia tahu siapa yang melakukan ini.
"Raden," bisiknya. "Lo pikir dengan disobek, aku akan berhenti? Lo salah."
Sejak saat itu, duel diam-diam dimulai. Setiap kali Vino memasang poster baru, keesokan harinya poster itu sudah disobek. Setiap kali Vino menyuruh anak buahnya untuk berjaga di dekat papan pengumuman, tidak ada yang terlihat mencurigakan. Seolah-olah ada hantu yang merobek poster di malam hari, ketika semua orang tidur.
Tapi Vino tahu tidak ada hantu. Yang ada hanyalah Raden, atau seseorang yang dikirim Raden, yang dengan cerdik menghindari semua pengawasan.
Koridor utama lantai tiga, pukul setengah sepuluh pagi.
Raden berdiri di depan papan pengumuman. Tangannya memegang setumpuk poster baru—poster tentang sosialisasi hukum bagi mahasiswa, yang ia inisiasi sebagai bagian dari program kerja himpunan mahasiswa fakultas hukum. Posternya sederhana, didominasi warna biru tua dan putih, tanpa foto orang, tanpa slogan yang bombastis. Hanya ada judul acara, tanggal, tempat, dan narahubung.
Raden menempelkan poster itu satu per satu dengan hati-hati. Ia memastikan tidak ada poster yang menutupi poster orang lain. Ia memastikan posisinya rapi, tidak miring. Ia bahkan membawa penggaris kecil untuk memastikan jarak antar poster sama.
Dari kejauhan, Vino mengamati. Ia berdiri di ujung koridor, bersandar di dinding, dengan tangan bersilang di dada. Dua anak buahnya, Robby dan Andi, berdiri di sampingnya, siap menjalankan perintah kapan saja.
"Vin, dia lagi," bisik Robby. "Kita hancurin poster-poster dia?"
Vino menggeleng. "Belum. Aku ingin lihat apa yang dia lakukan."
Mereka bertiga mengamati Raden dari kejauhan. Raden tidak menyadari bahwa ia sedang diawasi. Ia terlalu fokus pada poster-poster yang ia tempel.
Setelah selesai, Raden mundur selangkah, memandangi hasil kerjanya. Ia tersenyum puas. Poster-poster itu tampak rapi, informatif, tidak berlebihan. Itu adalah cerminan dari dirinya—sederhana, tegas, dan fungsional.
Ia berbalik dan berjalan meninggalkan papan pengumuman. Langkahnya mantap, tidak tergesa-gesa. Di pertengahan koridor, ia berpapasan dengan Vino.
"Selamat pagi, Den," sapa Vino dengan senyum miringnya.
Raden tidak berhenti. Ia hanya mengangguk tipis. "Pagi, Vin."
"Posternya bagus," kata Vino. "Sederhana. Informatif. Tapi agak membosankan, tidak ada warna."
Raden berhenti. Ia menoleh. "Poster tidak perlu warna-warni untuk menyampaikan informasi, Vin. Yang penting informasi itu sampai."
"Tapi poster yang menarik akan lebih mudah diingat, Den. Itu ilmu marketing dasar."
"Aku tidak sedang marketing, Vin. Aku sedang mengajak mahasiswa untuk peduli pada hukum. Hukum tidak perlu dikemas dengan warna-warni. Hukum adalah hal yang serius."
Vino tertawa kecil. "Lo selalu serius, Den. Apa lo tidak pernah bersenang-senang?"
"Bersenang-senang itu relatif, Vin. Bagiku, menegakkan keadilan adalah kesenangan."
"Mulia sekali. Tapi keadilan tanpa uang hanya mimpi, Den. Lo tahu itu."
Raden menatap Vino tajam. "Keadilan tidak bisa dibeli dengan uang, Vin. Itu yang membedakan kita."
Ia berbalik dan melanjutkan langkahnya. Vino memandangi punggung Raden yang semakin menjauh, lalu tersenyum.
"Robby, Andi," panggil Vino.
"Ya, Vin?"
"Setelah Raden pergi, buka semua poster dia. Ganti dengan poster kita. Pasang di tempat yang sama."
"Tapi Vin, itu papan pengumuman umum. Semua orang boleh pasang poster."
"Aku tahu. Tapi aku ingin menunjukkan bahwa di kampus ini, aku yang berkuasa. Bukan Raden."
Robby dan Andi saling pandang. Mereka tahu Vino sedang bermain api. Tapi tidak ada yang berani menentang.
"Baik, Vin. Kami akan lakukan."
Dua jam kemudian, papan pengumuman lantai tiga sudah berubah total.
Poster-poster Raden yang rapi dan informatif itu sudah tidak ada lagi. Sebagai gantinya, poster Vino berukuran besar terpasang di setiap sudut papan. Bukan hanya satu, tapi lima poster ukuran A2 dengan desain yang mencolok, merah menyala dengan huruf kuning, foto Vino yang tersenyum lebar, dan slogan-slogan bombastis: "Vino untuk Semua! Semua untuk Vino!"; "Bersama Vino, Kampus Lebih Baik!"; "Vino Peduli, Vino Aksi, Vino Solusi!"
Poster-poster itu menutupi hampir seluruh permukaan papan. Poster mahasiswa lain yang terpasang lebih dulu tertutup rapat. Tidak ada yang bisa melihat informasi dari fakultas lain, dari himpunan mahasiswa lain, dari lembaga lain. Yang terlihat hanya Vino. Wajah Vino. Senyum Vino. Slogan Vino.
Mahasiswa yang lewat mulai mengeluh.
"Aduh, poster Vino lagi. Di mana-mana."
"Dasar sombong. Ngapain juga pasang poster segede gitu?"
"Katanya BEM milik semua mahasiswa, kok jadinya milik Vino sendiri?"
"Biarin aja. Yang penting kita tahu dia sedang kampanye."
"Kampanye untuk apa? Jabatan? Popularitas? Atau cari perhatian?"
Tapi tidak ada yang berani membuka poster-poster itu. Semua orang takut pada Vino. Pada uangnya. Pada koneksinya. Pada kekuasaannya.
Semua orang, kecuali Raden.
Kantin fakultas hukum, pukul satu siang.
Kantin fakultas hukum berbeda dari kantin fakultas lain. Suasana di sini lebih tenang, lebih teratur. Mahasiswa hukum terbiasa dengan aturan dan tata tertib. Mereka duduk rapi, makan dengan sopan, tidak banyak berisik. Bahkan ketika berbicara, volume suara mereka cenderung rendah, seperti sedang berlatih untuk menjadi pengacara yang kalem di ruang sidang.
Meja-meja di kantin ini terbuat dari kayu jati dengan finishing doff, warnanya coklat tua. Kursi-kursinya juga dari kayu jati, dengan sandaran tegak yang tidak terlalu nyaman untuk bersantai. Mungkin sengaja dibuat seperti itu agar mahasiswa tidak berlama-lama di kantin dan segera kembali ke perpustakaan atau ruang kuliah.
Dinding kantin dihiasi dengan foto-foto tokoh hukum terkenal, Mohammad Yamin, Soepomo, Wirjono Prodjodikoro, serta hakim-hakim agung dan pengacara-pengacara ternama dari masa ke masa. Di sudut ruangan, ada rak buku berisi kitab undang-undang dan jurnal-jurnal hukum yang boleh dibaca oleh siapa saja.
Di salah satu meja pojok, dekat jendela yang menghadap ke taman fakultas, Bagus duduk sendirian. Di depannya, segelas es teh manis yang sudah hampir habis, es batunya sudah mencair, meninggalkan air berwarna coklat encer yang tidak segar lagi. Buku sketsanya tergeletak di sampingnya, terbuka di halaman yang tidak ia sentuh sejak ia duduk setengah jam yang lalu.
Matanya tidak tertuju pada buku sketsa. Matanya tertuju pada ponsel di tangannya. Layar ponsel menampilkan chat dari Maya.
"Gus, lo tahu apa yang terjadi di papan pengumuman lantai tiga? Poster Raden dibuka semua. Diganti poster Vino."
Bagus membalas. "Aku tahu, May. Aku lihat tadi pagi."
Maya. "Vino gila. Dia pikir dia pemilik kampus?"
Bagus. "Dia memang bertingkah seperti itu. Tapi kita tidak bisa berbuat banyak."
Maya. "Kita biarin aja?"
Bagus. "Biar Raden yang urus. Ini urusan mereka berdua."
Maya. "Tapi ini sudah mengganggu mahasiswa lain, Gus. Poster himpunan kami juga ketutupan."
Bagus. "Aku akan bicara dengan Raden. Tenang."
Maya mengirim emoji jempol. Bagus meletakkan ponselnya, menghela napas panjang.
Pintu kantin terbuka. Masuklah Raden dengan langkah mantap, seperti biasa. Wajahnya dingin, matanya tajam. Tas kulit coklat tua tergantung di bahu kanannya, berisi buku-buku hukum dan laptop. Ia langsung melangkah ke meja Bagus, seperti sudah tahu bahwa Bagus menunggunya.
Raden duduk di hadapan Bagus. Ia tidak memesan minuman. Ia hanya meletakkan tasnya di samping kursi, menyandarkan tubuh ke sandaran kayu jati yang tegak itu, dan menatap Bagus.
"Den, lo punya waktu?" tanya Bagus.
"Untuk lo, selalu, Gus," kata Raden. Suaranya datar, tapi ada kehangatan di balik kedataran itu. Kehangatan yang hanya ia tunjukkan pada Bagus, dan mungkin pada Cantika.
"Tentang lo dan Vino," kata Bagus. Ia menatap Raden lekat-lekat, mencoba membaca apa yang ada di balik mata dingin sahabatnya itu. "Aku dengar kalian sedang berperang di papan pengumuman. Poster lo dibuka, poster Vino dipasang, poster Vino disobek, poster lo dipasang lagi. Ini tidak baik, Den."
Raden menghela napas. Tangannya meraih es teh Bagus yang sudah encer itu, menyesapnya sedikit, lalu meletakkannya kembali. Wajahnya tidak berubah, tapi Bagus bisa melihat ketegangan di rahangnya.
"Lo benar, Gus," kata Raden. "Tapi aku tidak bisa diam. Vino mulai mendekati Cantika dengan serius. Dia tidak hanya mengajak makan malam. Dia juga mengirim bunga ke apartemen Cantika setiap pagi. Dia mengantar Cantika pulang setiap kali selesai kuliah malam. Dia bahkan datang ke ruang redaksi majalah mahasiswa untuk 'menemani' Cantika bekerja."
Bagus mengerutkan kening. "Cantika bilang begitu?"
"Maya yang cerita. Maya melihat Vino di ruang redaksi kemarin sore. Mereka berdua. Pintu tertutup. Maya tidak tahu apa yang mereka bicarakan."
Bagus terdiam. Dadanya terasa sesak. Bukan karena cemburu, atau mungkin iya, sedikit. Tapi lebih karena ia khawatir. Vino adalah orang yang manipulatif. Vino tidak segan-segan menggunakan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan jika Vino sudah serius mendekati Cantika, itu bukan kabar baik.
"Den, lo pikir dengan berperang di papan pengumuman, Vino akan berhenti?" tanya Bagus. "Vino tidak akan berhenti. Dia justru akan semakin bersemangat. Perang poster ini seperti makanan bagi egonya. Semakin lo melawan, semakin dia terpacu."
"Maka aku akan memberinya tantangan, Gus," kata Raden. Matanya menyala. Ada api di sana. Api persaingan. Api keinginan untuk menang. "Aku akan tunjukkan bahwa aku tidak takut padanya. Bahwa aku bisa melawannya."
"Den, ini bukan pertandingan tinju. Bukan siapa yang paling kuat, paling keras, paling berani. Ini tentang Cantik. Cantika bukan properti yang bisa dimenangkan dalam duel. Cantika adalah manusia dengan perasaannya sendiri. Dan dia berhak memilih siapa pun. Bukan karena siapa yang paling gigih. Bukan karena siapa yang paling banyak pasang poster. Tapi karena siapa yang paling tulus."
Raden terdiam. Kata-kata Bagus menusuk tepat di ulu hatinya. Ia menunduk, memandangi meja kayu jati yang tergores-gores. Jarinya menyusuri goresan-goresan itu, seperti sedang membaca peta dari kenangan masa lalu.
"Lo benar, Gus," kata Raden akhirnya. Suaranya melembut. Kesombongannya mulai runtuh. "Aku terlalu terbawa emosi. Aku melihat Vino di dekat Cantik, dan aku... marah. Marah pada Vino. Marah pada diriku sendiri. Marah karena aku tidak bisa berbuat lebih."
"Kita semua kadang bertindak seperti anak kecil, Den," kata Bagus. Ia tersenyum tipis. Senyum yang tidak mengejek, tapi menguatkan. "Yang penting kita sadar dan memperbaikinya. Lo sudah sadar. Itu langkah pertama."
"Aku sadar, Gus. Tapi aku tidak tahu harus berbuat apa. Setiap kali aku melihat Vino, darahku mendidih. Setiap kali aku mendengar namanya, kepalaku pusing. Setiap kali aku tahu dia sedang dengan Cantik, jantungku terasa seperti mau meledak."
Bagus meraih bahu Raden. Genggamannya kuat, hangat, seperti pelukan seorang kakak pada adiknya yang sedang kesusahan.
"Den, lo tidak harus melawan Vino secara langsung. Lo tidak harus memasang poster, membuka poster, atau melakukan hal-hal kekanak-kanakan lainnya. Lo cukup menjadi diri lo sendiri. Tunjukkan pada Cantika bahwa lo adalah lelaki baik, lelaki yang peduli, lelaki yang bisa diandalkan. Tidak perlu pamer. Tidak perlu gertak sambal. Cukup jadi Raden yang dulu. Raden yang tenang, tegas, dan setia. Itu sudah lebih dari cukup."
Raden mengangkat kepalanya. Matanya menatap Bagus. Ada kehangatan di sana. Ada rasa terima kasih yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
"Lo selalu tahu apa yang harus aku dengar, Gus."
"Karena aku mengenal lo, Den. Sudah dua puluh tiga tahun. Aku tahu kapan lo marah, kapan lo sedih, kapan lo takut. Dan sekarang, lo takut. Lo takut kehilangan Cantik. Tapi ketakutan itu tidak perlu lo tunjukkan dengan amarah. Cukup lo tunjukkan dengan ketulusan."
Kembali ke papan pengumuman lantai tiga, sore harinya.
Raden berdiri di depan papan itu, sendirian. Tidak ada Robby, tidak ada Andi, tidak ada Vino. Hanya Raden dan poster-poster Vino yang mencolok itu.
Mahasiswa yang lewat melongo melihat Raden berdiri di sana. Mereka tahu siapa Raden. Mereka tahu perseteruan antara Raden dan Vino. Beberapa dari mereka berhenti, ingin melihat apa yang akan dilakukan Raden.
Tapi Raden tidak melakukan apa pun. Ia hanya berdiri, memandangi poster-poster Vino, lalu menggelengkan kepala pelan. Ia tidak menyobek poster-poster itu. Ia tidak menutupinya dengan poster baru. Ia hanya berdiri, membaca slogan-slogan Vino satu per satu, lalu tersenyum tipis.
"Vino untuk Semua. Semua untuk Vino," gumam Raden. "Bombastis. Egois. Tidak mencerminkan semangat kebersamaan."
Ia berbalik dan berjalan meninggalkan papan pengumuman. Beberapa mahasiswa yang mengamati kecewa karena tidak ada drama. Mereka berharap Raden akan merobek poster-poster Vino dengan marah. Tapi Raden tidak melakukannya. Ia hanya pergi dengan tenang, seperti tidak ada yang istimewa.
Tapi kenyataannya, ada yang istimewa. Raden telah memilih untuk tidak membalas perang poster. Ia memilih untuk mengambil jalan yang lebih dewasa. Jalan yang diajarkan Bagus padanya.
Ruang BEM, lantai empat gedung rektorat, pukul lima sore.
Vino duduk di kursi kepemimpinannya, memandangi papan di depannya yang berisi jadwal kegiatan BEM selama sebulan ke depan. Wajahnya tegang. Ia baru saja mendengar kabar bahwa Raden tidak merobek poster-poster Vino seperti yang ia duga.
Robby masuk ke ruangan dengan tergesa-gesa. "Vin, Raden tidak melakukan apa-apa. Dia hanya berdiri di depan papan pengumuman sebentar, lalu pergi."
Vino mengerutkan kening. "Apa? Tidak merobek?"
"Tidak, Vin. Dia hanya membaca poster lo, tersenyum, lalu pergi."
Vino berdiri. Ia berjalan ke jendela, memandangi kampus di bawah sana. Matanya gelap. Pikirannya bekerja cepat.
"Dia tidak akan mudah terpancing," gumam Vino. "Dia lebih pintar dari yang aku kira."
Robby bertanya, "Apa yang harus kita lakukan, Vin?"
Vino berpikir sejenak. "Biarkan poster-poster itu tetap terpasang. Aku ingin lihat berapa lama Raden bisa bertahan tanpa membalas."
"Tapi Vin, banyak mahasiswa yang mengeluh. Poster himpunan mereka ketutupan."
"Aku tidak peduli dengan keluhan mereka. Yang penting Raden tahu bahwa aku tidak akan mundur."
Robby mengangguk, lalu keluar dari ruangan. Vino duduk kembali di kursinya, memandangi langit-langit ruangan.
"Raden, lo pikir lo bisa mengalahkan aku dengan diam? Lo salah. Aku tidak akan pernah berhenti."
Kafe Biru Langit, pukul tujuh malam.
Bagus, Raden, dan Cantika duduk di meja bundar favorit mereka. Ini adalah pertama kalinya mereka bertiga duduk bersama sejak makan malam di restoran La Vue. Maya dan Andre juga ada, duduk di meja sebelah, sengaja memberi jarak.
Cantika memesan Caramel Macchiato dengan whipped cream. Bagus memesan Americano panas. Raden memesan Espresso dobel tanpa gula. Sama seperti dulu. Seperti tidak ada yang berubah.
Tapi semuanya telah berubah.
"Den, aku dengar lo dan Vino berperang di papan pengumuman," kata Cantika sambil menyesap kopinya.
Raden mengangguk. "Dulu. Sekarang sudah tidak."
"Kenapa berhenti?"
"Karena Bagus bilang itu tidak baik. Dan Bagus benar."
Cantika menatap Bagus. Matanya lembut. Ada rasa terima kasih di sana.
"Kamu selalu bijak, Gus."
"Aku tidak bijak, Cantik. Aku hanya tidak suka keributan."
Mereka semua tersenyum. Tawa kecil yang menghangatkan meja bundar itu.
"Vin memang menyebalkan," kata Raden. "Tapi aku tidak bisa terus-terusan marah padanya. Itu akan menghabiskan energiku. Dan energi itu lebih baik aku gunakan untuk hal yang lebih produktif."
"Seperti apa, Den?" tanya Cantika.
"Seperti menyelesaikan skripsi. Seperti magang di kantor Firmansyah. Seperti menjadi pengacara yang baik. Seperti... menjagamu, Cantik."
Cantika tersipu. Bagus tersenyum tipis. Ia tidak cemburu. Ia sudah belajar bahwa cinta tidak harus posesif. Cinta bisa lapang dada. Cinta bisa ikhlas.
"Den, aku ingin lo tahu satu hal," kata Cantika.
"Apa, Cantik?"
"Aku menghargai apa yang lo lakukan. Tapi lo tidak perlu berperang demi aku. Aku bukan piala. Aku bukan hadiah. Aku hanya perempuan biasa yang ingin dicintai dengan tulus. Bukan dengan kekerasan. Bukan dengan persaingan."
Raden mengangguk. "Aku tahu, Cantik. Maaf jika aku membuatmu tidak nyaman."
"Tidak apa, Den. Yang penting lo sadar."
Bagus mengangkat cangkir kopinya. "Untuk persahabatan. Yang tidak akan pernah hancur oleh siapa pun. Bahkan oleh Vino sekalipun."
Cantika dan Raden mengangkat cangkir mereka.
"Untuk persahabatan!"
Mereka menyesap kopi masing-masing. Di balik jendela kafe, bintang-bintang mulai muncul satu per satu. Seperti harapan. Seperti mimpi. Seperti masa depan yang masih belum pasti, tapi terasa lebih cerah dari sebelumnya.
Di luar kafe, Vino duduk di dalam mobil mewahnya.
Ia memandangi Bagus, Raden, dan Cantika melalui kaca jendela kafe. Wajahnya gelap. Matanya tajam.
"Kalian pikir kalian bisa bahagia tanpa aku?" bisik Vino. "Kalian salah. Aku akan membuat kalian menderita. Satu per satu."
Ia menyalakan mesin mobil dan melaju kencang meninggalkan kafe. Di belakangnya, lampu-lampu kafe Biru Langit perlahan mengecil di kaca spion, hingga akhirnya lenyap ditelan gelapnya malam.
BAB 7: Pertemuan Rahasia di Kafe Biru Langit
Kafe Biru Langit, Kemang, Jakarta Selatan. Jumat malam, pukul setengah sembilan.
Hujan turun sejak sore dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Gerimis tipis bergantian dengan deras, seperti sedang ragu-ragu mau jadi apa. Langit kelabu menyelimuti seluruh kawasan Kemang, membuat lampu-lampu jalan yang mulai menyala terasa lebih redup dari biasanya. Air mengalir di selokan-selokan pinggir jalan, membawa dedaunan kering dan sampah-sampah kecil yang hanyut terbawa arus.
Kafe Biru Langit terlihat berbeda malam ini. Lampu-lampu kuning temaram yang biasanya menciptakan suasana hangat kini terasa lebih sendu. Musik jazz yang mengalun pelan dari pengeras suara tua terdengar seperti ratapan, bukan lagi bisikan mesra. Aroma kopi dan kayu manis yang biasa menenangkan kini terasa pahit, seperti ada sisa-sisa kepahitan yang mengambang di udara.
Pak Darmo, pemilik kafe, berdiri di balik meja bar dengan wajah yang sedikit lebih serius dari biasanya. Matanya sesekali melirik ke arah meja bundar di pojok ruangan—meja yang biasa dipesan oleh tiga pelanggan setianya. Malam ini, meja itu sudah disiapkan sejak satu jam yang lalu. Tiga cangkir kopi sudah tersaji rapi di atas taplak meja putih. Dua cangkir Americano panas, satu cangkir Caramel Macchiato dengan whipped cream. Pak Darmo sudah hafal pesanan mereka. Tiga gelas air putih di sampingnya. Sepotong kue cokelat di tengah meja, lengkap dengan tiga garpu kecil.
Pak Darmo menghela napas. Ia bisa merasakan bahwa malam ini akan berbeda. Ada sesuatu yang berat di udara. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Mungkin karena ketiga anak muda itu sudah terlalu lama bergulat dengan perasaan masing-masing. Mungkin karena badai yang selama ini mengintai akhirnya akan pecah malam ini.
Yanto, pelayan senior yang sudah bekerja di kafe ini selama tujuh tahun, mendekati Pak Darmo.
"Pak, meja bundar sudah siap," lapor Yanto dengan suara pelan. "Kopinya saya buatkan sesuai pesanan masing-masing. Americano untuk Mas Bagus, Espresso untuk Mas Raden, Caramel Macchiato untuk Mba Cantik."
Pak Darmo mengangguk. "Apakah mereka sudah datang?"
"Belum, Pak. Biasanya Mas Bagus yang paling dulu. Tapi malam ini belum ada yang datang."
"Kita tunggu, Yo. Mereka pasti datang."
Yanto mengangguk, lalu kembali ke mejanya untuk membersihkan peralatan kopi yang sudah digunakan. Dari balik meja bar, matanya terus mengawasi pintu kaca di depan. Ia tahu ada sesuatu yang penting malam ini. Ada sesuatu yang akan menentukan masa depan tiga orang yang sudah ia kenal selama tujuh tahun itu.
Pukul setengah sembilan tepat. Pintu kafe terbuka.
Bagus masuk dengan langkah pelan, seperti orang yang sedang membawa beban berat di pundaknya. Jaket jeans biru lusuhnya basah di bagian bahu karena gerimis. Rambutnya yang biasanya rapi kini terlihat kusut, seperti baru saja mengacak-acaknya dengan tangan. Buku sketsa di tangan kanannya tergenggam erat, buku yang tidak pernah lepas dari genggamannya sejak pertama kali ia memegang pensil.
Bagus melepas jaketnya, menggantungnya di rak dekat pintu, lalu berjalan ke meja bundar. Langkahnya tidak tergesa-gesa, tapi juga tidak santai. Ada kemantapan di sana, kemantapan yang lahir dari keputusan yang sudah bulat. Ia duduk di kursi yang biasa ia tempati, kursi yang menghadap ke pintu. Ia meletakkan buku sketsa di pangkuannya, merapikan cangkir kopi di depannya, lalu menatap kue cokelat yang tersaji di tengah meja.
Americanonya masih mengepul. Uap panas naik ke udara, membawa aroma kopi yang kuat. Bagus tidak menyentuhnya. Ia hanya memandanginya, seperti sedang mencari jawaban di dalam warna hitam pekat itu.
Yanto mendekat. "Mas Bagus, mau nambah pesanan?"
Bagus menggeleng pelan. "Belum, Yo. Tunggu mereka datang."
"Mas Raden dan Mba Cantika akan datang, ya, Mas?"
"Insya Allah, Yo. Mereka bilang akan datang."
Yanto mengangguk, lalu mundur. Ia kembali ke meja bar, melaporkan pada Pak Darmo bahwa Bagus sudah datang. Pak Darmo hanya tersenyum tipis. Tidak berkata apa-apa. Ia tahu bahwa malam ini, kopi bukanlah yang paling penting.
Bagus duduk sendirian di meja bundar itu. Jari-jarinya membuka buku sketsa secara otomatis, tanpa sadar. Halaman demi halaman. Sampai ia berhenti di halaman terakhir, halaman yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun.
Di halaman itu, ada tiga gambar. Gambar pertama adalah seorang perempuan dengan rambut sebahu dan jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Wajahnya tidak terlalu detail, hanya garis-garis sederhana yang membentuk senyum, mata, dan hidung. Tapi ada sesuatu di gambar itu. Sesuatu yang membuat siapa pun yang melihatnya tahu bahwa perempuan ini istimewa.
Gambar kedua adalah seorang lelaki dengan wajah tegas, rahang kuat, dan mata yang tajam. Lelaki itu duduk di kursi kayu, memegang buku tebal, dengan ekspresi serius seperti sedang memecahkan masalah rumit. Di sudut gambar, tertulis kecil: "Den, 2005."
Gambar ketiga adalah tiga bintang di langit yang gelap. Bintang-bintang itu berjarak. Jauh satu sama lain. Tapi cahaya mereka saling menyapa, meskipun tidak pernah benar-benar bersentuhan.
Bagus menatap gambar itu lama. Jarinya menyentuh goresan pensil yang sudah lusuh karena terlalu sering ia lihat.
"Den, Cantik," bisiknya. "Apapun yang terjadi malam ini, aku akan tetap di sini. Aku akan tetap menjadi sahabat kalian."
Pukul delapan kurang lima menit. Pintu kafe terbuka lagi.
Raden masuk dengan jas hujan hitam yang masih basah. Wajahnya datar seperti biasa, tapi matanya berbeda. Ada kegelisahan di sana, yang tidak bisa ia sembunyikan meskipun ia sudah berusaha. Lingkaran hitam di bawah matanya semakin tebal, tanda bahwa ia tidak tidur semalaman.
Raden melepas jas hujannya, menggantungnya di rak di samping jaket Bagus. Ia melipat jas itu dengan rapi, sebuah kebiasaan yang tidak bisa ia tinggalkan, meskipun sedang gelisah sekalipun. Lalu ia berjalan ke meja bundar, duduk di kursi di sebelah kiri Bagus.
Bagus menatap Raden. "Den, lo kelihatan lelah."
Raden mengangguk. "Aku tidak tidur, Gus. Pikiranku terlalu berisik."
"Pikiran tentang apa, Den?"
Raden menghela napas. Ia meraih cangkir Espressonya, menyesap kopi hitam pekat itu tanpa gula. Pahit. Pahit seperti yang ia inginkan. Pahit seperti yang ia rasakan.
"Tentang malam ini, Gus. Tentang apa yang akan Cantika katakan. Tentang jawaban yang akan dia berikan. Tentang persahabatan kita setelah malam ini."
Bagus meletakkan tangannya di pundak Raden. "Apapun yang terjadi, Den, kita akan baik-baik saja."
"Lo yakin, Gus?"
"Aku yakin, Den. Karena kita sudah berjanji. Persahabatan ini lebih penting dari apa pun."
Raden tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. "Lo selalu optimis, Gus. Aku iri."
"Bukan optimis, Den. Aku sudah pasrah. Aku sudah siap dengan apapun. Jika Cantika memilih lo, aku akan ikhlas. Mungkin tidak hari ini. Tapi aku akan berusaha."
Raden menatap Bagus. "Lo lebih kuat dari aku, Gus. Aku tidak tahu apakah aku bisa ikhlas jika dia memilih lo."
Bagus memegang tangan Raden. "Lo bisa, Den. Karena lo sahabat terbaikku. Dan sahabat terbaik tidak akan membiarkan persahabatan hancur hanya karena cinta."
Mereka berdua terdiam. Hanya suara hujan dan musik jazz yang terdengar.
Yanto mendekat, membawakan segelas air putih untuk Raden. "Mas Raden, pesanan tambahan?"
Raden menggeleng. "Tidak, Yo. Ini sudah cukup."
Yanto mengangguk, lalu mundur. Ia kembali ke meja bar, melaporkan pada Pak Darmo. "Mas Bagus dan Mas Raden sudah datang, Pak. Mba Cantika belum."
Pak Darmo mengangguk. "Kita tunggu."
Pukul delapan lewat sepuluh menit. Pintu kafe terbuka untuk ketiga kalinya.
Cantika masuk dengan gaun sederhana berwarna putih, panjang selutut, dengan jaket jeans tipis di luar. Rambutnya diikat setengah, dan di rambutnya, seperti biasa, tersemat jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Jepit yang sama. Jepit yang sudah retak di sayap kirinya. Jepit yang tidak pernah mau ia ganti.
Wajah Cantika pucat. Matanya merah, seperti habis menangis. Atau mungkin masih akan menangis. Sulit membedakan. Ia membawa tas kecil berwarna coklat di tangan kanannya, dan payung biru muda di tangan kiri. Payung itu masih basah, meneteskan air ke lantai keramik kafe.
Cantika berhenti sejenak di depan pintu. Ia menatap Bagus dan Raden yang sudah duduk di meja bundar. Matanya bergerak dari Bagus ke Raden, lalu kembali ke Bagus. Dadanya naik turun, seperti sedang mengatur napas, seperti sedang mengumpulkan keberanian yang entah dari mana.
Yanto mendekat. "Mba Cantik, silakan masuk. Kopinya sudah siap."
Cantika tersenyum tipis. "Terima kasih, Yo."
Ia menyerahkan payung basahnya pada Yanto, lalu berjalan ke meja bundar. Langkahnya pelan, terukur, seperti sedang berjalan di atas panggung dengan ribuan pasang mata yang menatapnya. Padahal hanya ada Bagus dan Raden. Padahal hanya ada Pak Darmo dan Yanto. Tapi rasanya seperti seluruh dunia sedang menonton.
Cantika duduk di kursi di hadapan Bagus dan Raden. Kursi yang biasa ia tempati. Kursi yang menghadap ke dinding belakang kafe, bukan ke pintu. Mungkin sengaja. Mungkin ia tidak ingin melihat siapa pun yang masuk atau keluar. Mungkin ia hanya ingin fokus pada dua orang di hadapannya.
Ia meletakkan tas kecil di samping kursi. Tangannya gemetar sedikit. Ia meraih cangkir Caramel Macchiato, merasakan hangat dari cangkir itu menyebar ke telapak tangannya. Whipped cream di atas kopi masih utuh, belum meleleh. Cantika menatapnya sebentar, lalu meletakkan cangkir itu kembali.
"Gus, Den, maaf aku terlambat," kata Cantika. Suaranya lembut, sedikit bergetar.
Bagus tersenyum. "Tidak apa, Cantik. Kami sudah terbiasa menunggu lo."
Raden mengangguk. "Lo memang selalu terlambat, Cantik. Tapi kami tetap menunggu."
Cantika tersenyum tipis. "Kalian baik sekali. Aku tidak pantas."
"Jangan bilang begitu, Cantik," kata Bagus. "Lo pantas mendapatkan yang terbaik. Dan kami di sini untuk memberikan yang terbaik untuk lo."
Keheningan jatuh di meja itu.
Tidak ada yang bicara selama hampir satu menit penuh. Hanya suara hujan dan musik jazz. Hanya suara detak jantung masing-masing yang berdegup kencang, terlalu kencang, seperti sedang berlomba.
Cantika menarik napas panjang. Dalam sekali. Seperti orang yang hendak menyelam ke lautan paling dalam. Ia memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali. Matanya sekarang lebih tenang. Ada keteguhan di sana. Ada keputusan.
"Gus, Den, aku minta kalian datang ke sini malam ini bukan tanpa alasan," kata Cantika. Suaranya lebih tegas dari sebelumnya, meskipun masih ada getar di ujung kalimat. "Ada sesuatu yang harus aku bicarakan. Sesuatu yang sudah lama aku pendam. Sesuatu yang tidak bisa aku simpan sendiri lagi."
Bagus dan Raden menegakkan tubuh mereka. Mereka tahu ini saat yang ditunggu-tunggu. Ini saat yang akan menentukan segalanya.
"Aku mendengarkan, Cantik," kata Bagus.
"Aku juga mendengarkan, Cantik," kata Raden.
Cantika memandang mereka bergantian. Matanya berkaca-kaca. Ia berusaha menahan air mata yang sudah mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Gus, Den, kalian berdua adalah sahabat terbaikku," kata Cantika. Suaranya mulai bergetar. "Sejak pertama kali kita duduk bersama di kantin SMP, sejak pertama kali kita berbagi cerita, sejak pertama kali kita tertawa bersama, aku tahu bahwa kalian istimewa. Bukan hanya sebagai teman. Tapi sebagai... sesuatu yang lebih."
Bagus dan Raden tidak berbicara. Mereka hanya mendengarkan. Napas mereka tertahan.
"Tapi selama ini, aku juga menyimpan perasaan yang tidak pernah aku ungkapkan," lanjut Cantika. Air matanya mulai jatuh. Satu tetes. Dua tetes. Membasahi pipinya yang pucat. "Aku... aku juga menyukai kalian berdua. Bukan sebagai sahabat. Tapi lebih dari itu."
Keheningan yang sangat dalam jatuh di meja itu. Hujan di luar seolah berhenti. Musik jazz seolah berhenti. Waktu seolah berhenti.
Bagus dan Raden saling pandang. Keduanya tidak bisa berkata-kata. Mereka sudah menduga ini. Mereka sudah mempersiapkan diri untuk ini. Tapi mendengar langsung dari mulut Cantika tetap saja terasa seperti petir di siang bolong.
"Apa maksud lo, Cantik?" tanya Bagus pelan. Suaranya serak, seperti baru saja bangun tidur. Atau seperti baru saja menangis.
Cantika mengusap air matanya dengan punggung tangan. Ia berusaha menenangkan diri, tapi air matanya terus mengalir.
"Maksudku, aku juga jatuh cinta pada kalian berdua," kata Cantika. Matanya menatap Bagus, lalu Raden, lalu kembali ke Bagus. "Tapi dengan cara yang berbeda. Aku jatuh cinta pada Bagus karena kebaikannya. Karena kesabarannya. Karena cara dia melihat aku seolah aku adalah satu-satunya perempuan di dunia ini. Karena dia tidak pernah memaksa. Karena dia hanya memberi, tanpa mengharapkan apa pun sebagai balasannya. Bagus adalah... rumah bagiku. Tempat aku pulang setelah lelah. Tempat aku berlindung ketika badai datang. Tempat aku merasa aman."
Bagus menunduk. Tangannya yang menggenggam cangkir kopi gemetar.
"Dan aku jatuh cinta pada Raden karena ketegasannya," lanjut Cantika. Matanya beralih ke Raden. "Karena cara dia berbicara yang tegas tapi lembut. Karena cara dia melindungi tanpa diminta. Karena dia membuatku merasa bahwa aku tidak sendirian. Raden adalah... api bagiku. Yang membakar semangatku. Yang membuatku ingin menjadi lebih baik. Yang membuatku ingin melompat meskipun aku takut jatuh."
Raden menggigit bibirnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia tidak pernah menangis. Hampir tidak pernah. Tapi sekarang, air matanya mengancam untuk jatuh.
"Cantik, lo tidak bisa jatuh cinta pada dua orang sekaligus," kata Raden. Suaranya tegas, tapi ada getar di dalamnya. "Itu tidak masuk akal. Itu tidak logis. Itu tidak sesuai dengan hukum alam. Manusia hanya bisa mencintai satu orang pada satu waktu. Bukan dua."
Cantika menggeleng. "Aku tahu itu tidak masuk akal, Den. Aku tahu itu tidak logis. Tapi itu yang aku rasakan. Aku tidak bisa berbohong pada perasaanku sendiri. Aku sudah mencoba. Aku sudah berusaha untuk memilih. Tapi setiap kali aku hampir memutuskan, hatiku berteriak bahwa aku salah. Bahwa aku tidak bisa memilih di antara kalian berdua."
Raden menghela napas frustasi. "Cantik, lo tidak bisa memiliki dua orang sekaligus. Pada akhirnya, lo harus memilih satu. Dan kehilangan yang lain. Itu adalah konsekuensi dari cinta."
"Aku tahu, Den. Dan itulah mengapa aku minta kalian datang ke sini."
Cantika berdiri sejenak. Ia berjalan ke jendela kaca di sebelah meja mereka, memandangi hujan yang masih deras di luar.
Air mengalir di kaca jendela, membentuk jejak-jejak panjang yang terus berubah bentuk. Di kejauhan, lampu-lampu kota berkelap-kelip basah. Mobil-mobil melaju pelan di jalan yang tergenang air, lampu depan mereka menyorot ke depan, menciptakan siluet-siluet yang bergerak.
"Ketika aku kecil, aku suka berdiri di depan jendela saat hujan," kata Cantika tanpa menoleh. Suaranya pelan, seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri. "Aku suka melihat bagaimana tetesan air jatuh dari langit, menabrak kaca, lalu mengalir ke bawah. Beberapa tetes bergabung menjadi satu. Beberapa tetes tetap sendiri. Dan aku bertanya-tanya, apakah tetes-tetes air itu memilih untuk bergabung? Ataukah mereka hanya mengikuti arus?"
Bagus berdiri dan berjalan ke samping Cantika. "Apa hubungannya dengan kita, Cantik?"
Cantika menoleh. Matanya bertemu dengan mata Bagus. "Aku tidak tahu, Gus. Mungkin tidak ada hubungannya. Mungkin aku hanya mencari-cari alasan untuk menunda keputusan yang sulit ini."
Raden juga berdiri dan berjalan ke sisi lain Cantika. Sekarang mereka bertiga berdiri di depan jendela, berjajar, seperti tiga bintang di langit yang gelap.
"Cantik, aku menghargai kejujuran lo," kata Bagus. "Tapi lo harus memilih. Tidak ada jalan lain. Karena jika lo tidak memilih, kita semua akan terjebak di sini. Tidak ada yang bisa maju. Tidak ada yang bisa bahagia. Kita hanya akan terus berputar-putar dalam ketidakpastian."
"Aku tahu, Gus. Dan itulah mengapa aku minta kalian datang ke sini. Aku ingin meminta waktu."
Raden mengerutkan kening. "Waktu? Waktu untuk apa, Cantik?"
Cantika kembali ke meja bundar. Ia duduk di kursinya, meraih cangkir Caramel Macchiato, dan menyesap kopi itu pelan-pelan. Whipped cream mulai meleleh, jatuh perlahan ke permukaan coklat keemasan, seperti air mata yang jatuh ke pipi.
"Aku ingin meminta waktu satu bulan," kata Cantika setelah meletakkan cangkirnya. Matanya menatap Bagus dan Raden bergantian. "Satu bulan di mana kita hanya menjadi sahabat biasa. Tidak ada yang mengirim pesan cinta. Tidak ada yang membawakan bekal. Tidak ada yang mengajak makan malam romantis. Tidak ada yang berlomba-lomba menarik perhatianku. Biarkan aku berpikir dalam ketenangan. Biarkan aku merasakan apa yang benar-benar aku rasakan tanpa tekanan dari kalian berdua."
Raden mengerutkan kening. "Satu bulan tanpa mendekati lo secara romantis?"
"Ya, Den," kata Cantika. "Satu bulan di mana kita hanya bertiga. Seperti dulu. Sebelum semuanya rumit. Sebelum Vino datang. Sebelum kalian berdua mengaku. Sebelum aku sadar bahwa aku juga memiliki perasaan pada kalian."
Bagus mengangguk pelan. "Baik, Cantik. Aku setuju. Satu bulan. Tiga puluh hari. Aku akan mencoba menjadi sahabat biasa. Aku tidak akan mengirim pesan cinta. Aku tidak akan membawakan bekal. Aku tidak akan mengajak lo makan malam berdua. Aku hanya akan menjadi Gus yang dulu. Gus yang mendengarkan cerita lo tanpa berusaha menjadi lebih."
Raden menghela napas. Ia menatap Bagus, lalu menatap Cantika. Tangannya meraih cangkir Espresso yang sudah dingin, menyesapnya cepat-cepat. Kopi pahit yang dingin terasa lebih pahit dari biasanya. Tapi ia menelannya.
"Baiklah, Cantik. Aku juga setuju," kata Raden. "Satu bulan. Tiga puluh hari. Aku akan berusaha tidak memaksa. Aku akan berusaha sabar. Aku akan berusaha menjadi sahabat yang baik, bukan kekasih yang memaksa."
Cantika tersenyum. Senyum pertama yang tulus malam ini. "Terima kasih, Gus. Terima kasih, Den. Kalian baik sekali."
Bagus mengangkat tangannya. "Tapi Cantik, ada satu syarat."
"Apa, Gus?"
"Vino juga harus menjauh. Satu bulan ini hanya untuk kita bertiga. Tanpa intervensi dari siapa pun, termasuk Vino. Jika Vino terus mendekati lo, maka persaingan tidak akan adil. Dan kita tidak akan bisa menjadi sahabat biasa seperti yang lo minta."
Cantika mengangguk. "Aku sudah memikirkannya, Gus. Aku akan bicara pada Vino. Aku akan minta dia untuk tidak menghubungiku selama satu bulan. Jika dia benar-benar serius, dia akan menghormati keputusanku."
Raden menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Lo yakin Vino akan setuju, Cantik?"
Cantika menghela napas. "Aku tidak yakin, Den. Tapi aku akan coba. Jika dia tidak setuju, setidaknya aku tahu bahwa dia tidak menghormatiku. Dan itu akan menjadi pertimbangan dalam keputusanku nanti."
Bagus mengangguk. "Itu bijak, Cantik."
Mereka bertiga terdiam. Hujan di luar mulai reda. Gerimis tipis masih turun, tapi tidak sedera dulu.
Cantika memandang Bagus dan Raden bergantian. Ada kerinduan di matanya. Kerinduan pada masa-masa ketika semuanya masih sederhana. Ketika cinta belum serumit ini. Ketika persahabatan belum diuji oleh perasaan yang rumit.
"Gus, Den, aku ingin kalian tahu satu hal," kata Cantika.
"Apa, Cantik?" tanya Bagus.
"Apa pun yang terjadi satu bulan dari sekarang, apa pun keputusan yang aku ambil, aku tidak akan pernah menyesal memiliki kalian berdua dalam hidupku. Kalian adalah anugerah terbesar yang pernah aku terima. Dan aku bersyukur setiap hari karena Tuhan mempertemukan aku dengan kalian."
Raden menunduk. Matanya basah. Ia berusaha menahan air mata yang mengancam jatuh.
Bagus tersenyum. Senyum yang hangat, yang selalu membuat Cantika merasa aman.
"Kami juga bersyukur, Cantik. Memiliki lo adalah anugerah bagi kami."
Raden mengangkat kepalanya. "Aku setuju dengan Bagus. Lo adalah anugerah, Cantik. Dan apa pun yang terjadi, aku akan selalu ada untuk lo. Sebagai sahabat. Sebagai... apa pun yang lo butuhkan."
Cantika menangis. Bagus mengelap air matanya dengan ujung lengan bajunya. Raden meraih tangannya, menggenggamnya erat-erat.
Mereka bertiga berpelukan di meja bundar itu. Di kafe Biru Langit. Di bawah lampu kuning temaram. Di tengah hujan yang mulai reda. Seperti tiga bintang yang bersinar di langit yang sama. Jauh. Tapi cahaya mereka saling menyapa.
Mereka mengulurkan tangan dan menumpuknya di atas meja.
Telapak tangan Bagus di bawah. Telapak tangan Cantika di tengah. Telapak tangan Raden di atas. Sebuah tumpuan yang kokoh. Sebuah janji yang tidak akan mereka ingkari.
"Satu bulan," kata mereka bersamaan.
Cantika menarik tangannya. "Satu bulan dari sekarang, di tempat yang sama, di jam yang sama, aku akan memberikan jawaban. Janji."
Bagus mengangguk. "Kami akan menunggu, Cantik. Tidak ada yang terburu-buru."
Raden menambahkan, "Tiga puluh hari. Bukan waktu yang singkat, tapi juga tidak terlalu lama. Kita bisa melewatinya."
Mereka bertiga tersenyum. Tawa kecil yang mengusir sisa-sisa ketegangan.
Pak Darmo dari kejauhan tersenyum melihat mereka. Ia mengangguk pada Yanto, memberi isyarat untuk membawakan kopi baru untuk mereka bertiga. Kopi hangat untuk menghangatkan hati yang mulai dingin.
Yanto mengantarkan tiga cangkir kopi baru ke meja mereka. Americano panas untuk Bagus. Espresso dobel tanpa gula untuk Raden. Caramel Macchiato dengan whipped cream untuk Cantika.
"Ini dari Pak Darmo," kata Yanto. "Katanya, kopi ini untuk merayakan persahabatan."
Mereka bertiga menatap Pak Darmo yang tersenyum dari balik meja bar. Bagus mengangkat cangkirnya, memberi hormat pada Pak Darmo. Pak Darmo membalas dengan anggukan.
"Terima kasih, Pak Darmo," seru Cantika. Pak Darmo hanya tersenyum, lalu kembali ke kesibukannya.
Jam menunjukkan pukul setengah sebelas. Mereka sudah dua jam duduk di kafe.
Cantika berdiri. "Aku harus pulang. Besok ada kuliah pagi."
Bagus berdiri. "Aku antar."
Raden juga berdiri. "Biarkan aku yang antar malam ini, Gus."
Bagus menatap Raden. Matanya bicara. "Baik, Den. Tapi ingat, satu bulan. Jangan coba-coba mendekati secara romantis."
Raden tersenyum. "Aku ingat, Gus. Janji."
Cantika merapikan jaket jeansnya. Ia mengambil payung biru muda yang sudah kering. Raden membayar semua pesanan mereka—Raden bersikeras, karena ia yang paling banyak minum kopi malam ini. Bagus hanya menggeleng, tapi tidak membantah.
Mereka bertiga berjalan ke pintu kafe. Hujan sudah berhenti sama sekali. Langit mulai cerah. Bintang-bintang mulai muncul satu per satu.
"Gus, hati-hati di jalan," kata Cantika.
"Kamu juga, Cantik," kata Bagus. "Den, jaga Cantika baik-baik."
Raden mengangguk. "Aku akan, Gus. Janji."
Bagus berjalan ke mobilnya yang terparkir di pinggir jalan. Cantika dan Raden berjalan ke motor matic Raden yang terparkir di seberang.
Sebelum naik ke motor, Cantika menoleh. "Gus!"
Bagus berbalik. "Apa, Cantik?"
"Terima kasih untuk malam ini. Aku tidak akan pernah melupakannya."
Bagus tersenyum. "Aku juga, Cantik. Aku juga."
Cantika naik ke motor Raden. Motor itu melaju perlahan, menghilang di tikungan. Bagus berdiri di tempatnya, memandangi motor yang semakin menjauh, hingga akhirnya lenyap ditelan gelapnya malam.
Ia menghela napas panjang. Dadanya terasa berat, tapi hatinya ringan. Setidaknya, sudah ada keputusan. Setidaknya, sudah ada arah. Setidaknya, mereka tidak berputar-putar lagi.
Bagus masuk ke mobilnya. Ia menyalakan mesin, tapi tidak langsung melaju. Ia memandangi kafe Biru Langit di kaca spion. Lampu-lampu kafe mulai diredupkan. Pak Darmo dan Yanto sedang merapikan kursi-kursi.
"Satu bulan," bisik Bagus. "Satu bulan yang akan mengubah segalanya."
Ia menginjak pedal gas. Mobilnya melaju perlahan meninggalkan kafe, meninggalkan malam yang penuh dengan janji dan air mata, menuju apartemennya yang sepi.
Di atas motor, Raden melaju pelan. Cantika memegang pundaknya dengan lembut.
"Den, aku ingin bertanya sesuatu," kata Cantika di belakang Raden.
"Apa, Cantik?"
"Kamu tidak marah? Karena aku meminta waktu satu bulan?"
Raden menghela napas. "Aku tidak marah, Cantik. Aku kecewa. Tapi aku tidak marah."
"Kecewa karena apa?"
"Kecewa karena lo belum bisa memilih. Kecewa karena aku harus menunggu lebih lama. Kecewa karena aku tidak bisa langsung mendekati lo seperti yang aku inginkan."
"Maaf, Den. Aku tidak bermaksud menyusahkan."
Raden tersenyum tipis, meskipun Cantika tidak bisa melihatnya dari belakang. "Tidak apa, Cantik. Aku sudah terbiasa menunggu. Delapan belas tahun, apa bedanya satu bulan?"
"Kamu benar, Den. Apa bedanya satu bulan?"
Mereka berdua terdiam. Hanya suara mesin motor dan angin malam yang terdengar.
Di apartemennya, Bagus duduk di balkon.
Ia memandangi langit malam yang mulai cerah. Bintang-bintang terlihat jelas. Dan di sebelah timur, Venus bersinar terang, planet yang sering ia kira bintang ketika masih kecil.
"Venus," bisiknya. "Pertanda bahwa fajar akan segera tiba."
Ia membuka buku sketsanya. Di halaman terakhir, gambar tiga bintang di langit yang gelap. Ia menambahkan satu baris di bawah gambar itu:
"Satu bulan menuju ketidakpastian. Tapi aku akan tetap bersinar. Untuk mereka. Untuk diriku sendiri."
Ia menutup buku sketsa. Ia memejamkan mata. Angin malam berhembus lembut, membawa mimpi-mimpi yang mungkin akan menjadi nyata. Atau mungkin tidak.
Tapi itu tidak masalah. Yang penting, ia sudah berjanji. Yang penting, ia sudah berusaha. Yang penting, ia tidak akan menyerah.
Di apartemennya yang lain, Vino menerima telepon dari Robby.
"Vin, aku dengar dari Yanto, anak buahku di Kafe Biru Langit, bahwa Bagus, Raden, dan Cantika mengadakan pertemuan rahasia tadi malam. Mereka bicara serius. Cantika menangis."
Vino mengerutkan kening. "Tentang apa?"
"Aku tidak tahu, Vin. Yanto tidak bisa mendengar karena mereka bicara pelan. Tapi yang pasti, sepeninggal mereka, pelayan kafe bercerita bahwa mereka menumpuk tangan di atas meja dan berkata 'satu bulan'."
"Satu bulan?" Vino berdiri dari kursinya. "Apa artinya itu?"
"Aku tidak tahu, Vin. Tapi sepertinya Cantika meminta waktu satu bulan untuk memilih di antara Bagus dan Raden."
Vino tertawa kecil. "Lucu. Dia pikir dengan meminta waktu, masalahnya akan selesai?"
"Vin, apa yang harus kita lakukan?"
Vino berpikir sejenak. "Biarkan mereka. Satu bulan adalah waktu yang lama. Banyak hal bisa terjadi dalam satu bulan. Aku akan memanfaatkan waktu itu untuk mendekati Cantika lebih intensif."
"Tapi Vin, kata Yanto, Cantika minta Vino juga menjauh selama satu bulan."
Vino tertawa lagi. "Cantika minta? Aku tidak peduli dengan permintaannya. Aku akan tetap mendekatinya. Karena aku tidak akan membiarkan Bagus dan Raden memenangkan pertarungan ini."
"Baik, Vin. Aku akan siapkan semuanya."
Telepon ditutup. Vino berjalan ke jendela, memandangi langit malam yang mulai cerah. Bintang-bintang terlihat begitu tenang, begitu damai. Tapi di dadanya, api amarah terus menyala.
"Cantik, lo pikir dengan meminta waktu satu bulan, lo bisa melupakan aku?" bisik Vino. "Lo salah. Aku tidak akan pernah membiarkan lo pergi."
BAB 8: Bayangan Vino di Balik Diam
Kampus Universitas Persada, pagi hari, tujuh hari setelah pertemuan di Kafe Biru Langit.
Matahari baru saja naik setinggi dua tombak ketika Cantika memutuskan untuk duduk di bangku taman dekat fakultas sastra. Biasanya, ia tidak pernah duduk di taman sendirian di pagi hari. Ia lebih suka langsung menuju ruang redaksi, mengecek naskah yang masuk, atau sekadar minum kopi sambil membaca buku puisi favoritnya. Tapi pagi ini berbeda. Pagi ini, ia ingin sendiri. Pagi ini, ia ingin merasakan angin pagi yang masih segar, sebelum semuanya berubah menjadi hiruk-pikuk dan polusi.
Taman fakultas sastra adalah salah satu sudut terindah di Universitas Persada. Tidak terlalu luas, hanya sekitar seratus meter persegi, tapi ditanami berbagai jenis bunga dan tanaman hias yang dirawat oleh mahasiswa fakultas biologi sebagai bagian dari program praktikum mereka. Ada mawar merah yang mulai mekar, melati putih yang wanginya semerbak, serta bunga kertas ungu yang bergoyang-goyang ditiup angin. Di tengah taman, sebuah air mancur kecil menyemburkan air jernih yang berkilauan di bawah sinar matahari pagi. Suara gemericik air bercampur dengan kicauan burung-burung pipit yang terbang dari satu pohon ke pohon lain, menciptakan simfoni alam yang menenangkan.
Cantika duduk di bangku kayu panjang yang dicat putih, tepat di bawah pohon rindang yang daun-daunnya menjuntai hampir menyentuh kepalanya. Bangku ini biasa ditempati oleh mahasiswa fakultas sastra yang sedang mencari inspirasi untuk menulis puisi atau cerpen. Bangku ini sudah menjadi saksi bisu dari ratusan karya sastra yang lahir dari imajinasi mahasiswa yang duduk di atasnya. Cantika sendiri sudah beberapa kali menulis puisi di bangku ini. Puisi-puisinya tentang cinta, tentang kehilangan, tentang kerinduan yang tidak pernah sampai. Puisi-puisi yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun, kecuali pada buku catatan kecil yang selalu ia bawa di dalam tasnya.
Pagi itu, Cantika tidak sedang menulis puisi. Ia hanya duduk, memandangi air mancur di depannya, sesekali menenggak kopi hangat dari termos kecil yang ia bawa dari rumah. Kopi hitam dengan sedikit gula, bukan pesanan biasanya, karena Maya yang menyeduhkannya sebelum berangkat kuliah. Whipped cream tidak tersedia di rumah kontrakan Maya, jadi Cantika harus puas dengan kopi hitam manis yang sedikit pahit di ujung lidah.
Matanya sayu. Ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya, tanda bahwa ia tidak tidur nyenyak semalam. Pikirannya terus melayang ke mana-mana. Kadang ke Bagus, kadang ke Raden, kadang ke Vino. Ketiga lelaki itu bergantian muncul di kepalanya seperti slide presentasi yang tidak bisa ia hentikan.
"Satu bulan," bisiknya pada dirinya sendiri. "Satu bulan yang terasa seperti satu abad."
Ia ingat pertemuan di Kafe Biru Langit seminggu lalu. Ia ingat bagaimana Bagus dan Raden menatapnya dengan mata yang penuh harap. Ia ingat bagaimana ia meminta waktu satu bulan, dan bagaimana mereka berdua menyetujuinya dengan lapang dada. Ia ingat bagaimana mereka bertiga menumpuk tangan di atas meja, berjanji untuk saling menjaga jarak, untuk tidak saling mendekati secara romantis.
"Janji yang berat untuk ditepati," gumamnya.
Tapi ia tidak bisa memikirkan itu sekarang. Saat ini, ia ingin menikmati ketenangan pagi. Ia ingin merasakan angin yang membelai rambutnya. Ia ingin mendengar suara air mancur yang menenangkan. Ia ingin melupakan sejenak semua kerumitan yang membelit hidupnya.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Dari balik pohon rindang di belakang bangku, sesosok bayangan muncul.
Bayangan itu bergerak pelan, hampir tanpa suara. Cantika tidak menyadarinya. Matanya masih tertuju pada air mancur, pikirannya masih melayang di awan.
"Cantik, pagi," sapa suara dari belakangnya.
Cantika terkejut. Ia menoleh cepat, jantungnya berdegup kencang. Di belakangnya, berdiri Vino dengan senyum miring khasnya. Wajahnya segar, rambutnya disisir rapi ke belakang, sedikit basah karena minyak rambut. Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang dengan lengan digulung hingga siku, celana bahan hitam, dan sepatu pantofel mengkilap. Penampilannya rapi, terlalu rapi untuk jam sembilan pagi di kampus.
"Vin?" kata Cantika, masih berusaha mengatur napas. "Lo ngapain di sini? Bukannya kita sudah sepakat untuk tidak bertemu selama sebulan?"
Vino tidak menjawab. Ia justru duduk di samping Cantika tanpa izin, tanpa meminta, tanpa sedikit pun rasa bersalah. Pantatnya mendarat di bangku kayu itu dengan mantap, seperti ia memang berhak duduk di sana. Jarak antara mereka hanya sejengkal. Bahu mereka hampir bersentuhan.
Cantika bergeser sedikit ke kanan, menjauh. Vino tidak mengikuti. Ia hanya tersenyum.
"Itu kesepakatan lo dengan Bagus dan Raden, Cantik," kata Vino sambil meletakkan sebuah kotak kue berwarna merah muda dengan pita putih di pangkuan Cantika. "Aku tidak pernah setuju dengan kesepakatan itu. Jadi aku tidak terikat olehnya."
Cantika menatap kotak kue di pangkuannya, lalu menatap Vino. Matanya tajam, tidak senang. "Tapi aku minta lo untuk tidak menghubungi aku selama sebulan, Vin. Ketika kita bicara di telepon minggu lalu, lo bilang lo akan hormati keputusanku."
"Dan aku menghormatinya, Cantik," kata Vino dengan nada yang terdengar sangat meyakinkan. Matanya menatap Cantika lembut, seperti anak anjing yang meminta belas kasihan. "Aku tidak menghubungi lo lewat telepon atau pesan selama seminggu terakhir. Coba lo cek ponsel lo. Tidak ada satu pun panggilan atau pesan dariku. Aku menepati janjiku."
"Tapi lo datang ke sini. Lo menemui aku secara langsung. Itu sama saja dengan menghubungi, Vin."
"Tidak, Cantik. Itu berbeda. Menghubungi lewat telepon atau pesan adalah satu hal. Datang langsung dan bertatap muka adalah hal lain. Aku tidak melanggar janjiku. Aku tidak menghubungi lo. Aku hanya... datang."
Cantika menggeleng-gelengkan kepala. Ia setengah kesal, setengah geli dengan logika Vino yang memutar-balikkan fakta.
"Vin, lo licik."
Vino tersenyum. Senyum miring yang membuat banyak perempuan jatuh hati, tapi membuat Cantika justru ingin menjauh.
"Aku bukan licik, Cantik. Aku kreatif. Ada perbedaan."
"Tidak jauh berbeda, Vin."
"Setidaknya buka kotak kue itu dulu," kata Vino, mengalihkan pembicaraan. Tangannya meraih pita putih di kotak kue, menariknya perlahan hingga pita itu terlepas. "Aku bangun jam 4 pagi untuk membuatnya. Sendiri. Tanpa bantuan siapa pun. Bahkan tanpa bantuan asisten rumah tangga."
Cantika mengerjap. "Jam 4 pagi? Lo? Bangun jam 4 pagi?"
"Aku tahu. Sulit dipercaya. Tapi ini faktanya. Aku bahkan tidak tidur semalaman karena takut ketiduran dan tidak bangun tepat waktu."
"Kenapa lo repot-repot?"
Vino menatap Cantika. Matanya berubah, menjadi lebih serius, lebih dalam. "Karena aku ingin membuat lo bahagia, Cantik. Karena aku ingin lo tahu bahwa aku serius. Karena aku ingin lo percaya bahwa aku bisa berubah."
Cantika terdiam. Kata-kata Vino menusuk sesuatu di dalam dirinya. Sesuatu yang tidak ingin ia akui.
Cantika membuka kotak kue itu dengan hati-hati.
Di dalamnya, sebuah kue cokelat berbentuk hati dengan taburan kacang almond di atasnya. Kuenya tidak terlalu rapi, lapisan cokelat di permukaannya sedikit tidak rata, dan taburan almondnya terlalu banyak di satu sisi dan terlalu sedikit di sisi lain. Tapi bentuk hatinya cukup jelas, dan aroma cokelat yang keluar dari kotak itu begitu menggoda.
"Lo serius bikin ini sendiri, Vin?" tanya Cantika, masih tidak percaya.
"Aku serius, Cantik. Coba saja. Aku jamin tidak akan membuat lo keracunan."
Cantika mengambil sepotong kecil kue itu dengan ujung jarinya. Kue itu sedikit hancur di tangannya, tanda bahwa teksturnya tidak sempurna. Ia memasukkan potongan kecil itu ke mulutnya, mengunyah perlahan.
Matanya sedikit membesar.
"Enak," katanya. Dan ia jujur. Kue itu tidak seenak buatan toko kue, tidak sempurna, tidak selembut, tidak seharum. Tapi ada rasa lain di sana. Rasa yang tidak bisa ia jelaskan. Mungkin rasa jerih payah. Mungkin rasa ketulusan. Mungkin rasa seseorang yang benar-benar berusaha.
"Tidak seenak buatan toko kue," lanjut Cantika. "Tapi enak."
Vino menghela napas lega. Dadanya naik turun, seperti baru saja melepaskan beban berat.
"Terima kasih, Cantik. Itu berarti banyak bagiku."
"Tapi ini tidak berarti aku melanggar kesepakatanku dengan Bagus dan Raden, Vin," kata Cantika, kembali tegas. Matanya menatap Vino dengan serius. "Aku masih butuh waktu. Tiga minggu lagi. Aku belum bisa memberi jawaban."
"Aku tidak minta jawaban sekarang, Cantik," kata Vino. Suaranya lembut, tidak memaksa. "Aku hanya ingin lo tahu bahwa aku ada di sini. Menunggu. Tidak peduli berapa lama. Tidak peduli seberapa sulit. Aku akan menunggu."
"Kenapa, Vin? Kenapa lo segitunya? Kenapa lo tidak mencari perempuan lain saja? Banyak perempuan di luar sana yang lebih cantik, lebih pintar, lebih kaya dari aku. Kenapa harus aku?"
Vino tersenyum. Senyum yang tidak miring kali ini. Senyum yang tulus. Langka.
"Karena lo spesial, Cantik. Lo tidak seperti perempuan lain. Lo tidak mudah terpengaruh oleh uangku, oleh mobil mewaku, oleh status keluargaku. Lo melihat aku sebagai manusia, bukan sebagai dompet berjalan. Dan itu... itu membuatku ingin menjadi lebih baik."
Cantika terdiam. Ia tidak tahu harus merespons apa. Kata-kata Vino terasa tulus, tapi ia masih ingat luka yang ditinggalkan Vino bertahun-tahun lalu. Luka itu belum sepenuhnya sembuh. Bekasnya masih terasa setiap kali ia melihat Vino.
"Vin, aku harus jujur pada lo," kata Cantika setelah beberapa saat. Matanya menatap Vino dengan tatapan yang jujur, terus terang, tanpa topeng. "Aku masih belum bisa mempercayai lo sepenuhnya. Luka yang lo buat dulu masih terasa. Kadang, ketika aku melihat lo, aku masih merinding. Kadang, ketika aku mendengar namamu, jantungku masih berdebar tidak karuan. Bukan karena aku masih mencintaimu. Tapi karena aku masih takut. Takut lo akan menyakitiku lagi."
Vino menunduk. Wajahnya berubah. Senyumnya hilang. Yang tersisa hanyalah ekspresi bersalah yang jarang sekali muncul di wajahnya.
"Aku tahu, Cantik," kata Vino pelan. "Aku tahu aku sudah menyakitimu. Aku tahu aku sudah membuatmu trauma. Aku tahu aku tidak pantas meminta maaf. Tapi aku tetap minta maaf. Bukan karena aku ingin lo kembali padaku. Tapi karena aku benar-benar menyesal. Dan aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri jika tidak meminta maaf padamu."
Cantika menggigit bibirnya. Air matanya mulai menggenang.
"Vin, aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkan lo. Tapi aku akan mencoba. Karena aku tidak mau terus-terusan hidup dalam kebencian. Itu tidak sehat."
"Aku tidak berharap lo memaafkanku, Cantik. Aku hanya berharap lo memberiku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku bisa berubah."
"Baiklah, Vin," kata Cantika setelah diam cukup lama. "Aku akan memberi lo kesempatan. Tapi dengan satu syarat."
"Apa syaratnya, Cantik? Apa pun. Aku akan lakukan."
"Jangan pernah berbohong padaku, Vin. Jika aku tahu lo berbohong, hubungan kita selesai. Tidak akan ada kesempatan kedua. Tidak akan ada maaf kedua. Selesai."
Vino mengangguk serius. Matanya menatap Cantika dengan tatapan yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun—tatapan seorang lelaki yang benar-benar ingin berubah.
"Aku berjanji, Cantik. Tidak akan ada kebohongan di antara kita. Aku akan jujur pada lo. Apa pun risikonya."
"Janji?"
"Janji."
Vino mengulurkan tangannya. Cantika ragu sejenak, lalu menjabatnya. Jabatan tangan yang terasa berat, seperti menandatangani kontrak yang mengikat.
Di fakultas hukum, sekitar dua ratus meter dari taman fakultas sastra, Raden sedang duduk di ruang senat.
Ia sedang membaca berkas perkara untuk magangnya di kantor Firmansyah. Mata dan pikirannya seharusnya tertuju pada pasal-pasal dan ayat-ayat yang rumit. Tapi pagi ini, ia tidak bisa fokus. Pikirannya terus melayang ke taman fakultas sastra. Pikirannya terus membayangkan Cantika duduk sendirian di bangku kayu, di bawah pohon rindang, di samping air mancur.
Ponselnya bergetar. Raden mengambilnya, melihat layar. Maya.
"Den, Vino ada di fakultas sastra! Dia menemui Cantik! Dia duduk di samping Cantik! Mereka bicara serius!"
Raden berdiri dari kursinya. Wajahnya berubah tegang. Tangannya menggenggam ponsel erat-erat.
"Lo lihat langsung, May?" tanya Raden, Suaranya tegang.
"Aku lihat dari jendela lantai dua, Den. Vino datang dari balik pohon. Cantika kaget. Tapi kemudian mereka bicara. Vino kasih kotak kue ke Cantik. Cantika buka. Mereka makan kue bersama."
"Apa? Vino bawa kue? Kue apa?"
"Aku tidak tahu, Den. Yang jelas, mereka duduk berdua. Cantika tidak marah. Dia bahkan tersenyum."
Raden menghela napas frustasi. "Sial."
"Den, lo harus ke sana! Hentikan mereka!"
"Aku tidak bisa, May. Aku sudah berjanji pada Cantika untuk tidak ikut campur selama satu bulan."
"Tapi Vino ikut campur, Den! Dia melanggar aturan!"
"Itu urusan Vino, May. Bukan urusan kita. Kita hanya bisa mengontrol tindakan kita sendiri."
"Den, lo terlalu naif! Vino tidak akan bermain adil!"
"Aku tahu, May. Tapi aku tidak bisa menjadi seperti Vino. Aku harus menjaga kata-kataku. Aku harus menepati janjiku. Pada Cantik. Pada Bagus. Pada diriku sendiri."
Maya mendengus kesal. "Baiklah, Den. Terserah lo. Tapi jangan menyesal nanti."
Telepon ditutup. Raden memandangi ponselnya sejenak, lalu menekan nomor Bagus.
"Gus, lo dengar kabar? Vino ada di fakultas sastra. Dia menemui Cantik."
Suara Bagus di seberang terdengar tenang, terlalu tenang. "Aku dengar, Den. Maya juga menelepon aku."
"Kita harus melakukan sesuatu, Gus!"
"Kita sudah berjanji pada Cantik, Den. Kita tidak bisa ikut campur."
"Tapi Vino juga melanggar janjinya, Gus. Dia tidak menghormati kesepakatan!"
"Itu urusan Vino, Den. Bukan urusan kita. Kita hanya bisa mengontrol tindakan kita sendiri."
Raden menghela napas frustasi. Kata-kata Bagus sama persis dengan yang baru saja ia katakan pada Maya. Tapi mendengar dari Bagus, rasanya berbeda. Rasanya lebih... masuk akal.
"Lo benar, Gus. Tapi aku tidak bisa diam. Aku gelisah. Aku tidak bisa fokus bekerja. Aku terus membayangkan Vino di samping Cantik, tersenyum dengan senyum miringnya, meracuni pikiran Cantika dengan kata-kata manisnya."
"Den, percayalah pada Cantik," kata Bagus. Suaranya lembut, menenangkan. "Dia sudah dewasa. Dia bisa menjaga dirinya sendiri. Dia tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Dia tidak akan mudah terpengaruh oleh Vino."
"Tapi lo tidak tahu Vino seperti aku tahu Vino, Gus. Vino adalah manipulator ulung. Dia bisa membuat siapa pun percaya pada apa pun, termasuk Cantik."
"Kalau begitu, kita harus lebih percaya pada Cantik. Kita harus percaya bahwa dia tidak akan terjebak dalam permainan Vino lagi. Kita harus percaya bahwa dia sudah belajar dari kesalahannya."
Raden terdiam. Ia tahu Bagus benar. Tapi benar tidak selalu membuatnya lega.
"Baiklah, Gus. Aku akan coba tenang. Tapi kalau Vino coba-coba..."
"Kalau Vino coba-coba, kita akan bertindak. Tapi tidak sekarang. Sekarang, kita biarkan Cantika bicara dengan Vino. Itu haknya."
Telepon ditutup. Raden duduk kembali di kursinya. Ia memandangi berkas perkara di depannya, tapi matanya tidak membaca. Pikirannya masih di taman fakultas sastra. Pikirannya masih di samping Cantika dan Vino.
"Cantik, jaga dirimu," bisiknya. "Jangan biarkan Vino menyakitimu lagi."
Di studio arsitektur, Bagus meletakkan ponselnya di atas meja.
Ia menatap layar ponsel yang mulai redup. Pesan dari Raden, dari Maya, dari Andre, dari beberapa teman lain yang melihat Vino di taman fakultas sastra. Semua orang panik. Semua orang khawatir. Tapi Bagus memilih untuk tenang. Bukan karena ia tidak peduli. Justru karena ia terlalu peduli, ia memilih untuk tenang.
"Cantik, aku percaya padamu," bisiknya.
Ia mengambil pensil dan mulai menggambar. Garis-garis vertikal untuk dinding. Garis-garis horizontal untuk lantai. Garis-garis lengkung untuk atap. Sebuah gedung teater modern dengan konsep "ruang yang merangkul emosi".
"Seperti hatiku," pikirnya. "Ruang yang merangkul semua emosi. Rindu, cemas, takut, harap. Semuanya ada di sini. Semuanya bercampur menjadi satu."
Ia menggambar lebih cepat. Pensilnya bergerak di atas kertas dengan ritme yang teratur, seperti detak jantung yang tenang. Tidak ada yang terburu-buru. Tidak ada yang panik.
Ponselnya bergetar lagi. Pesan dari Cantika.
"Gus, aku baru saja bertemu Vino. Dia membawakanku kue buatan sendiri. Kita bicara sebentar. Aku baik-baik saja. Jangan khawatir."
Bagus membaca pesan itu beberapa kali. Jari jempolnya menggantung di atas layar, mengetik, lalu menghapus, lalu mengetik lagi.
Akhirnya ia membalas.
"Aku tidak khawatir, Cantik. Aku percaya padamu."
Balasan Cantika datang beberapa detik kemudian.
"Terima kasih, Gus. Itu berarti banyak bagiku."
Bagus tersenyum. Ia meletakkan ponselnya, kembali ke gambar gedung teaternya. Garis-garis yang tadi terasa kaku kini mulai mengalir. Lengkungan atap terlihat lebih elegan. Dinding-dinding terlihat lebih kokoh.
"Setidaknya Cantika jujur padaku," pikirnya. "Itu sudah cukup. Itu sudah lebih dari cukup."
Di taman fakultas sastra, Vino berdiri.
Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh. Ia harus pergi ke ruang BEM untuk rapat koordinasi program kerja bulan depan. Tapi ia tidak ingin pergi. Ia ingin berlama-lama di sini, di samping Cantika, menikmati pagi yang cerah.
"Cantik, aku pamit dulu," kata Vino, enggan. "Ada rapat BEM. Aku tidak bisa bolos."
Cantika mengangguk. "Terima kasih untuk kuenya, Vin. Aku hargai usahamu."
"Terima kasih kembali, Cantik. Karena sudah mau meluangkan waktu untukku."
Vino tersenyum. Cantika tersenyum tipis. Tidak ada yang istimewa. Hanya dua orang yang sedang belajar untuk saling percaya lagi.
"Sampai jumpa, Cantik."
"Sampai jumpa, Vin. Hati-hati di jalan."
Vino berbalik dan berjalan meninggalkan taman. Langkahnya mantap, tegap, seperti orang yang tidak punya beban. Tapi di dalam hatinya, ada gejolak yang tidak bisa ia kendalikan. Ia ingin berteriak. Ia ingin melompat. Ia ingin memeluk Cantika erat-erat dan tidak pernah melepaskannya.
Tapi ia menahan diri. Tidak sekarang. Belum.
Cantika memandangi punggung Vino yang semakin menjauh. Perasaannya campur aduk. Ada kegelisahan, ada keraguan, ada sedikit rasa bersalah, dan ada—mungkin—sedikit harapan.
"Apakah Vino benar-benar berubah?" bisiknya pada dirinya sendiri. "Atau aku hanya menjadi bodoh untuk kedua kalinya?"
Ia tidak tahu jawabannya. Dan itu membuatnya semakin gelisah.
Dari balik jendela lantai dua gedung fakultas sastra, Maya menghela napas lega.
Ia sudah berdiri di sana sejak Vino datang. Matanya tidak berkedip mengawasi setiap gerakan Vino. Tangannya memegang ponsel, siap menelepon polisi jika Vino coba-coba.
"Akhirnya pergi juga," gumam Maya, melepaskan napas yang sedari tadi ia tahan.
Andre yang berdiri di sampingnya tertawa kecil. "Lo memang suka jadi pengawal pribadi Cantik, ya, May?"
"Hanya untuk orang-orang yang mencurigakan, And. Dan Vino sangat mencurigakan."
"Lo tidak percaya Vino bisa berubah?"
Maya menatap Andre. Matanya tajam. "Orang seperti Vino tidak berubah, And. Mereka hanya belajar menyembunyikan wajah asli mereka lebih baik. Aku sudah melihatnya berkali-kali. Dan aku tidak akan membiarkan Cantika menjadi korban lagi."
Andre mengangguk. "Aku setuju, May. Tapi kita tidak bisa terus-terusan mengawasi Cantik. Dia butuh kepercayaan. Dia butuh ruang."
"Aku tahu, And. Tapi aku tidak bisa diam. Cantika adalah sahabatku. Aku tidak mau kehilangan dia."
Andre meraih tangan Maya. "Kita tidak akan kehilangan dia, May. Karena kita di sini. Kita akan selalu di sini untuknya."
Maya tersenyum. "Terima kasih, And. Lo sahabat baik."
Andre mengerutkan kening. "Sahabat? Kita cuma sahabat, May?"
Maya memukul lengan Andre. "Jangan bawa-bawa itu ke sini. Fokus pada Cantik."
Andre tertawa. "Baik, May. Fokus pada Cantik."
Di studio arsitektur, Bagus menerima pesan dari Maya.
"Gus, Vino sudah pergi. Cantika baik-baik saja. Tapi aku tidak percaya Vino. Dia licik."
Bagus membalas. "Aku tahu, May. Tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa selama Cantika belum minta bantuan. Kita tunggu."
Maya. "Kita tunggu sampai kapan, Gus? Sampai Cantika terluka lagi?"
Bagus. "Kita tunggu sampai Cantika sadar bahwa dia butuh bantuan. Kita tidak bisa memaksakan. Cantika bukan anak kecil."
Maya mengirim emoji wajah kesal. Bagus tersenyum membaca emoji itu. Maya memang lebay, tapi ia tahu Maya tulus peduli pada Cantika. Itu yang membuatnya bersyukur memiliki sahabat seperti Maya.
Malam tiba. Jakarta mulai gelap. Lampu-lampu kota berkelap-kelip seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi.
Di apartemennya, Vino duduk di kursi empuk. Di tangannya, segelas wine merah berputar perlahan. Warna merahnya seperti darah, seperti api, seperti amarah yang terus menyala di dadanya. Vino menyesap winya pelan, menikmati pahitnya alkohol yang mengalir di tenggorokannya.
Di hadapannya, sebuah papan besar berisi foto-foto Cantika, Bagus, Raden, dan beberapa orang lain. Wajah mereka sudah dicoret dengan spidol merah—kecuali Cantika. Foto Cantika justru dibingkai dengan hati yang digambar kasar di sekelilingnya. Vino menatap papan itu dengan mata sayu. Wajahnya tenang, tapi pikirannya tidak. Ia terus memikirkan cara untuk menyingkirkan Bagus dan Raden satu per satu.
Ia meletakkan gelas wine di meja samping kursinya. Ia berdiri, berjalan mendekati papan besar itu. Jarinya menyentuh wajah Cantika di foto.
"Cantik, lo pikir lo bisa lolos dariku?" bisik Vino. Suaranya pelan, hampir tidak terdengar, tapi penuh dengan kepastian yang mengerikan. "Lo tidak akan bisa. Aku akan mengejar lo sampai ke ujung dunia."
Ia menekan wajah Bagus dengan jari telunjuknya, seperti sedang mencoba menghancurkan foto itu dengan tekanan. "Lo, Gus. Lo pikir lo bisa merebut Cantika dari aku? Lo salah."
Jarinya bergerak ke foto Raden. "Dan lo, Den. Lo adalah yang paling berbahaya. Lo pintar. Lo tegas. Lo mirip dengan aku, tapi lo memilih menjadi baik. Itu membuatku muak."
Vino mundur selangkah. Ia memandangi seluruh papan itu dengan puas.
"Cantik, Bagus, Raden," bisik Vino. "Kalian pikir kalian bisa bahagia tanpa aku? Kalian salah. Aku akan membuat hidup kalian sengsara."
Ia menyesap wine terakhir di gelasnya. Pahit. Pahit seperti hatinya.
Ia tersenyum. Senyum yang sama. Senyum miring yang penuh racun.
"Tunggu saja, Cantik. Aku akan datang. Dan kali ini, aku tidak akan pernah pergi."
Di apartemennya yang sederhana, hanya berjarak beberapa kilometer dari apartemen mewah Vino, Bagus sedang duduk di balkon.
Ia memandangi langit malam yang gelap. Bintang-bintang terlihat samar-samar karena polusi cahaya dari gedung-gedung tinggi di sekitarnya. Tapi ia bisa melihat satu bintang yang paling terang di sebelah timur—Venus, planet yang sering ia kira bintang ketika masih kecil.
"Venus," bisiknya. "Kamu terlihat sendirian malam ini. Tidak ada bintang lain yang menemani."
Ia membuka buku sketsanya. Di halaman terakhir, gambar tiga bintang di langit yang gelap. Gambar yang ia buat beberapa malam lalu, setelah pertemuan di Kafe Biru Langit.
Ia menambahkan satu bintang di sebelah ketiga bintang itu. Bintang keempat. Bintang yang lebih kecil, lebih redup, seolah tidak percaya diri.
"Itu aku," bisiknya. "Bintang yang tidak yakin pada dirinya sendiri."
Ia menutup buku sketsa. Ia memejamkan mata. Angin malam berhembus lembut, membawa mimpi-mimpi yang mungkin tidak akan pernah menjadi nyata.
Tapi ia tidak peduli. Yang penting, ia sudah berjuang. Yang penting, ia sudah berusaha. Yang penting, ia tidak akan menyerah. Tidak sekarang. Tidak pernah.
Di apartemen Raden, lampu masih menyala hingga larut malam.
Raden duduk di kursi kerjanya, memandangi tumpukan berkas perkara yang belum selesai ia baca. Matanya lelah, tapi pikirannya masih segar. Terlalu segar. Ia tidak bisa tidur.
Ia membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah foto lama. Foto itu diambil delapan belas tahun lalu, di halaman kampus. Di foto itu, ada tiga orang—Bagus, Raden, dan Cantika. Mereka tertawa lebar, tidak punya beban, tidak punya rahasia.
"Kenapa semuanya jadi serumit ini?" bisik Raden pada foto itu. "Kenapa kita tidak bisa kembali seperti dulu? Ketika semuanya sederhana. Ketika persahabatan adalah segalanya. Ketika cinta belum memisahkan kita."
Foto itu tidak menjawab. Foto itu hanya tersenyum dengan senyuman yang sudah beku selama delapan belas tahun.
Raden meletakkan foto itu di atas meja. Ia menatapnya lama, lalu menutup matanya.
"Aku janji, Cantik. Aku akan menjaga jarak. Aku tidak akan ikut campur. Aku akan memberimu waktu. Tapi tolong... jangan pilih Vino. Siapa pun, asal bukan Vino."
Air matanya jatuh. Ia tidak menyekanya. Ia membiarkannya mengalir, membasahi pipinya yang dingin.
Malam itu, Raden tidak bisa tidur. Ia hanya duduk di kursinya, memandangi foto lama, dan berdoa pada Tuhan agar Cantika selamat dari jebakan Vino.
Di kamar kosnya, Maya juga tidak bisa tidur.
Ia duduk di ranjang, memeluk bantal, memandangi langit-langit kamar yang retak di beberapa bagian. Pikirannya melayang ke Cantika. Ia khawatir. Sangat khawatir. Vino adalah ular yang pandai bersembunyi. Vino adalah predator yang tahu persis kapan harus menyerang. Dan Cantika, dengan kebaikan hatinya, sering kali tidak bisa melihat bahaya yang mengintai.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Andre.
"May, lo masih bangun?"
Maya membalas. "Masih, And. Tidak bisa tidur."
Andre. "Pikirin Cantika juga?"
Maya. "Iya. Aku khawatir. Vino semakin berani."
Andre. "Kita tidak bisa berbuat banyak, May. Kita hanya bisa mendukung Cantik."
Maya. "Aku tahu, And. Tapi rasanya tidak cukup."
Andre. "Kita lakukan yang terbaik, May. Itu sudah cukup."
Maya menghela napas. "Lo benar, And. Aku akan coba tidur."
Andre. "Selamat malam, May. Mimpi indah."
Maya. "Selamat malam, And. Kamu juga."
Maya meletakkan ponselnya. Ia memejamkan mata. Bayangan Cantika muncul di pelupuk matanya. Cantika tersenyum. Cantika tertawa. Cantika membaca puisi dengan penghayatan yang berlebihan.
"Jaga dirimu, Cantik," bisik Maya. "Kami tidak mau kehilanganmu."
BAB 9: Maya yang Mulai Curiga pada Sesuatu
Kampus Universitas Persada, dua hari setelah pertemuan Vino dan Cantika di taman fakultas sastra. Matahari bersinar terik di siang hari, tapi suasana di kantin utama kampus terasa dingin karena AC yang terlalu kuat. Maya duduk sendirian di meja pojok, ditemani segelas es teh manis yang sudah hampir habis. Di depannya, sebuah buku catatan terbuka, tapi matanya tidak membaca. Pikirannya sedang berkeliaran di tempat yang jauh. Sejak melihat Vino duduk di samping Cantika pagi itu, Maya tidak bisa berhenti memikirkan berbagai kemungkinan terburuk. Ia mengenal Vino lebih baik daripada kebanyakan orang. Ia tahu bagaimana Vino bekerja. Ia tahu bagaimana Vino memanipulasi. Dan ia tahu bahwa di balik setiap senyum manis Vino, selalu ada rencana jahat yang tersembunyi.
Andre datang dari arah pintu kantin sambil membawa nampan berisi dua porsi nasi goreng dan segelas jus jeruk. Wajahnya berseri seperti biasa, dengan senyum lebar yang selalu berhasil mencairkan suasana paling tegang sekalipun. Ia duduk di hadapan Maya tanpa diminta, lalu mendorong satu porsi nasi goreng ke depan Maya.
"May, lo belum makan siang, kan?" kata Andre sambil membuka bungkus nasinya. "Aku belikan nasi goreng kesukaan lo. Yang pedas ekstra, sesuai selera lo yang suka menyiksa lidah sendiri."
"Aku tidak lapar, And," kata Maya tanpa mengalihkan pandangan dari buku catatannya yang sebenarnya tidak ia baca.
"Lo selalu lapar, May," kata Andre sambil mengunyah nasinya. "Itu salah satu dari sedikit hal yang aku tahu tentang lo. Lo lapar setiap jam. Tapi sekarang lo bilang tidak lapar. Itu artinya ada sesuatu yang sangat mengganggu pikiran lo. Cerita."
Maya menghela napas panjang. Ia menutup buku catatannya dan menatap Andre. "And, lo ingat Vino, kan?"
"Siapa yang tidak ingat Vino?" kata Andre. "Manusia ular berkulit manusia. Tentu aku ingat."
"Dua hari yang lalu, Vino datang ke fakultas sastra," kata Maya. "Dia duduk di samping Cantika di taman. Mereka bicara lama. Vino membawakan kue buatan sendiri untuk Cantik."
Andre berhenti mengunyah. Matanya menyipit. "Vino bikin kue? Vino yang dulu tidak bisa bedakan gula sama garam? Vino itu?"
"Vino itu," kata Maya. "Dan Cantika memakan kue itu. Dia bilang enak."
"Astaga," kata Andre. "Ini lebih serius dari yang aku kira. Vino belajar bikin kue. Itu berarti dia serius. Atau dia sangat pandai berpura-pura serius."
"Itulah yang membuatku khawatir, And," kata Maya. "Aku tidak tahu mana yang asli dan mana yang palsu. Vino adalah aktor ulung. Dia bisa membuat siapa pun percaya pada apa pun."
"Tapi Cantika tidak percaya begitu saja, kan?" kata Andre. "Cantika cerdas. Dia tidak akan termakan bujuk rayu Vino semudah itu."
"Cantika memang cerdas, And," kata Maya. "Tapi Vino juga pintar. Dia tahu persis kelemahan Cantik. Dia tahu bagaimana membuat Cantika merasa dihargai. Dia tahu bagaimana membuat Cantika merasa istimewa. Dan itu berbahaya."
"Jadi lo khawatir Cantika akan jatuh cinta pada Vino?" tanya Andre.
"Aku khawatir Cantika akan terjebak dalam permainan Vino lagi," kata Maya. "Dan kali ini, mungkin tidak akan ada yang bisa menyelamatkannya."
Andre menepuk pundak Maya. "May, lo terlalu khawatir. Cantika sudah dewasa. Dia sudah belajar dari kesalahannya dulu. Dia tidak akan mudah terpedaya."
"Aku tahu, And. Tapi kekhawatiran tidak bisa aku kendalikan. Setiap kali aku melihat Vino di dekat Cantik, darahku mendidih."
"Kalau begitu, kita harus melakukan sesuatu," kata Andre. "Bukan dengan kekerasan. Tapi dengan pengawasan. Kita awasi Vino. Kita cari tahu apa yang sebenarnya dia rencanakan."
Maya mengangguk. "Aku setuju, And. Tapi kita tidak bisa melakukannya sendirian. Kita butuh bantuan Bagus dan Raden."
"Mereka sedang dalam masa satu bulan tanpa kontak romantis dengan Cantik, May. Mereka tidak bisa ikut campur."
"Bukan ikut campur dalam urusan cinta, And. Ini masalah keamanan Cantik. Itu berbeda."
Andre berpikir sejenak. "Baiklah. Aku akan hubungi Bagus. Lo hubungi Raden. Kita kumpul nanti sore. Tapi jangan bilang pada Cantik. Belum."
"Setuju," kata Maya.
Sore harinya, di sebuah kafe kecil di dekat kampus, Bagus, Raden, Maya, dan Andre duduk di meja yang tersembunyi di pojok ruangan. Kafe ini berbeda dari Kafe Biru Langit. Lebih kecil, lebih sepi, dan lebih cocok untuk pertemuan rahasia. Lampu-lampu temaram berwarna oranye menciptakan suasana yang hangat meskipun topik pembicaraan mereka dingin.
Maya membuka pembicaraan. "Gus, Den, terima kasih sudah mau datang. Aku tahu kalian sedang dalam masa satu bulan tanpa intervensi dalam urusan Cantik. Tapi ini berbeda. Ini bukan tentang cinta. Ini tentang keselamatan Cantik."
Raden mengerutkan kening. "Keselamatan Cantik? Ada apa dengan Cantik? Apakah dia dalam bahaya?"
"Belum, Den," kata Maya. "Tapi aku khawatir dia akan dalam bahaya jika kita tidak melakukan sesuatu."
"Cerita dari awal, May," kata Bagus. "Jelaskan semuanya."
Maya menarik napas panjang. "Dua hari yang lalu, Vino datang ke fakultas sastra. Dia duduk di samping Cantika di taman tanpa diundang. Dia membawakan kue buatan sendiri untuk Cantik. Dan Cantika memakannya."
"Anda tahu sendiri, Den," kata Maya. "Vino tidak akan repot-repot membuat kue jika tidak ada agenda tersembunyi."
Bagus berpikir sejenak. "Mungkin Vino benar-benar berubah, May. Mungkin dia serius dengan Cantik."
"Dan mungkin juga dia hanya berpura-pura," kata Maya. "Kita tidak tahu. Dan karena kita tidak tahu, kita harus waspada."
"Apa yang lo usulkan, May?" tanya Raden.
"Aku usulkan kita mengawasi Vino," kata Maya. "Kita cari tahu apa yang sebenarnya dia lakukan. Kita cari tahu apakah dia benar-benar berubah atau hanya berpura-pura."
"Itu ide yang berbahaya, May," kata Bagus. "Jika Vino tahu kita mengawasinya, dia bisa marah. Dan jika dia marah, dia bisa melakukan hal-hal yang tidak terduga."
"Itu risiko yang harus kita ambil, Gus," kata Maya. "Karena jika kita diam, kita tidak akan pernah tahu kebenarannya."
"Aku setuju dengan Maya," kata Raden. "Kita harus mengawasi Vino. Tapi kita harus melakukannya dengan hati-hati. Jangan sampai ketahuan."
"Aku akan urus bagian pengintaian," kata Andre. "Aku punya teman di fakultas hukum yang bisa membantu. Namanya Tono. Dia jago dalam hal-hal seperti ini."
"Lo yakin Tono bisa dipercaya, And?" tanya Bagus.
"Tono adalah orang yang paling tidak suka dengan Vino di seluruh fakultas hukum, Gus," kata Andre. "Vino pernah menyakiti adiknya. Tono punya dendam pribadi. Jadi dia akan senang membantu."
"Baiklah," kata Bagus. "Tapi ingat, kita tidak boleh melanggar hukum. Kita hanya mengawasi. Jangan melakukan hal-hal bodoh."
"Setuju," kata Maya. "Kita hanya mengawasi. Dan mengumpulkan informasi."
Malam itu, di apartemennya, Bagus duduk di balkon seperti biasa. Ponselnya bergetar. Pesan dari Cantik.
"Gus, hari ini aku berpikir tentang banyak hal. Tentang kita. Tentang Den. Tentang Vino. Aku bingung."
Bagus membalas. "Kebingungan itu wajar, Cantik. Yang penting lo tidak terburu-buru mengambil keputusan."
Balasan Cantik. "Tapi Vino terus mendekatiku, Gus. Dia datang ke kampus hampir setiap hari. Aku mulai merasa tidak nyaman."
Bagus terdiam membaca pesan itu. Jantungnya berdetak lebih cepat.
"Lo tidak nyaman karena Vino mendekati lo, atau lo tidak nyaman karena Vino mendekati lo dengan cara yang lo tidak sukai?"
Balasan Cantik. "Aku tidak tahu, Gus. Aku tidak tahu lagi. Perasaanku campur aduk."
Bagus. "Cantik, aku tidak bisa memberi saran tentang Vino karena itu akan membuat situasi semakin rumit. Tapi aku bisa memberi saran sebagai sahabat. Dengarkan hatimu. Jika hatimu bilang tidak, maka tidak. Jika hatimu bilang iya, pikirkan lagi. Jangan terburu-buru."
Cantik. "Terima kasih, Gus. Lo selalu bijak. Aku kangen bicara dengan lo seperti ini."
Bagus. "Aku juga kangen, Cantik. Tapi kita sudah berjanji. Satu bulan. Kita harus kuat."
Cantik. "Aku akan berusaha, Gus. Lo juga."
Percakapan berakhir. Bagus memandangi langit malam yang gelap. Hatinya berat. Tapi ia berusaha tegar.
Keesokan harinya, Maya dan Andre bertemu dengan Tono di kantin fakultas hukum. Tono adalah lelaki bertubuh tambun dengan kacamata tebal di hidungnya. Wajahnya biasa saja, tidak terlalu tampan, tidak terlalu jelek. Tapi matanya tajam. Matanya seperti mata detektif yang terbiasa melihat detail-detail kecil yang luput dari perhatian orang lain.
"Tono, kenalkan, ini Maya dan Andre," kata Andre. "Mereka temanku dari fakultas sastra dan arsitektur."
"Senang berkenalan," kata Tono sambil menjabat tangan Maya dan Andre. "Andre sudah cerita sedikit tentang masalah kalian. Tentang Vino."
"Apa yang Andre ceritakan?" tanya Maya.
"Dia cerita bahwa Vino mulai mendekati teman kalian, Cantik," kata Tono. "Dan kalian khawatir Vino memiliki niat buruk."
"Itu benar, Tono," kata Maya. "Kami tidak percaya Vino. Dia punya sejarah panjang dalam hal manipulasi. Kami khawatir dia akan menyakiti Cantika lagi."
"Aku mengerti kekhawatiran kalian," kata Tono. "Aku sendiri punya pengalaman pahit dengan Vino. Dia menyakiti adikku dua tahun lalu. Adikku sampai trauma dan harus pindah kampus."
"Apa yang Vino lakukan pada adik lo?" tanya Andre.
"Dia mendekati adikku dengan kata-kata manis," kata Tono. "Dia bilang dia serius. Dia bilang dia ingin menikahi adikku. Tapi setelah adikku jatuh cinta, Vino menghilang. Dan kemudian tersebar gosip bahwa adikku hamil di luar nikah. Padahal itu semua karangan Vino. Adikku tidak hamil. Tapi reputasinya hancur. Dia tidak kuat. Dia pindah kampus."
Maya mengepalkan tangannya. "Astaga. Vino benar-benar monster."
"Monster yang sangat pandai menyembunyikan taringnya, May," kata Tono. "Dia tahu persis bagaimana membuat orang percaya padanya. Dan dia tahu persis bagaimana menghancurkan mereka setelah dia bosan."
"Itulah mengapa kami tidak ingin Cantika menjadi korban berikutnya, Tono," kata Maya. "Kami harus menghentikan Vino sebelum dia menghancurkan Cantik."
"Bagaimana aku bisa membantu?" tanya Tono.
"Kami ingin lo mengawasi Vino," kata Andre. "Lo tahu gerak-geriknya di fakultas hukum. Lo tahu siapa saja teman-temannya. Lo tahu apa saja yang dia rencanakan. Kami butuh informasi."
Tono mengangguk. "Aku bisa lakukan itu. Tapi kalian harus ingat, Vino berbahaya. Jika dia tahu kita mengawasinya, dia tidak akan ragu untuk melawan."
"Kami siap dengan risikonya, Tono," kata Maya. "Yang penting Cantika aman."
"Baiklah," kata Tono. "Aku akan mulai malam ini. Aku punya cara untuk mengawasi Vino tanpa ketahuan. Tapi aku butuh waktu."
"Kami akan menunggu, Tono," kata Andre. "Tapi jangan terlalu lama. Setiap hari Vino mendekati Cantik, hati kami tidak tenang."
Sementara Maya, Andre, dan Tono merencanakan pengintaian, Raden duduk sendirian di ruang senat mahasiswa. Wajahnya tegang. Matanya menatap laptop di depannya tanpa fokus. Pikirannya melayang ke Cantika. Bagaimana kabarnya hari ini? Apakah Vino datang lagi? Apakah Cantika baik-baik saja?
Pintu ruang senat terbuka. Masuklah Laras, perempuan ketua himpunan mahasiswa fakultas psikologi. Laras adalah perempuan dengan tinggi di atas rata-rata, rambut hitam panjang yang selalu ia ikat ekor kuda, dan wajah yang dingin seperti Raden. Ia dikenal sebagai perempuan yang cerdas, ambisius, dan sedikit misterius. Tidak banyak yang tahu tentang kehidupannya di luar kampus. Dan hanya sedikit yang tahu bahwa Laras diam-diam menyukai Raden.
"Den, lo sendirian?" tanya Laras sambil duduk di kursi di hadapan Raden.
"Aku sedang memikirkan sesuatu, Lar," kata Raden tanpa mengangkat kepalanya.
"Tentang Cantika lagi?" tanya Laras.
Raden mengangkat kepalanya. "Bagaimana lo tahu?"
"Seluruh kampus tahu, Den," kata Laras. "Cerita lo mengaku cinta pada Cantika di depan umum sudah menjadi konsumsi publik. Jadi jangan kaget kalau semua orang tahu."
Raden menghela napas. "Aku mungkin terlalu berlebihan, ya, Lar?"
"Tidak juga, Den," kata Laras. "Mengaku cinta itu bukan hal yang berlebihan. Yang berlebihan adalah cara lo melakukannya. Di depan Bagus. Di depan semua orang. Itu sedikit... dramatis."
"Aku tidak bermaksud dramatis, Lar. Aku hanya ingin jujur."
"Kejujuran itu baik, Den. Tapi kejujuran juga harus disampaikan dengan cara yang tepat," kata Laras. "Jika tidak, kejujuran bisa melukai orang lain."
Raden terdiam. Laras benar. Kejujurannya mungkin telah melukai Bagus. Dan itu membuatnya bersalah.
"Lar, aku ingin bertanya sesuatu," kata Raden.
"Tanyalah, Den."
"Menurut lo, apa yang harus aku lakukan sekarang? Haruskah aku terus berjuang untuk Cantik? Atau haruskah aku mundur dan memberi kesempatan pada Bagus?"
Laras menatap Raden dalam-dalam. "Itu pertanyaan yang hanya bisa lo jawab sendiri, Den. Aku tidak bisa memutuskan untuk lo. Tapi aku bisa bilang satu hal. Jangan menyerah hanya karena lo merasa bersalah. Dan jangan terus berjuang hanya karena lo merasa tidak mau kalah. Lakukan apa yang hati lo bilang benar."
"Hati aku bilang aku mencintai Cantik, Lar. Tapi hati aku juga bilang aku tidak mau menyakiti Bagus."
"Itulah dilema lo, Den," kata Laras. "Dan hanya lo yang bisa menyelesaikannya."
Mereka berdua terdiam. Suara AC yang berdengung mengisi kekosongan.
"Lar, aku tahu lo juga menyukai seseorang," kata Raden tiba-tiba.
Laras terkejut. "Apa maksud lo, Den?"
"Aku tidak buta, Lar," kata Raden. "Aku tahu lo menyukai aku. Tapi aku tidak bisa membalas perasaan lo. Maaf."
Laras menunduk. Wajahnya memerah. "Sejak kapan lo tahu, Den?"
"Sejak lo meminjamkan jaket lo padaku saat aku kedinginan di acara seminar tahun lalu," kata Raden. "Saat itu aku sadar. Tapi aku memilih diam karena aku tidak ingin melukai lo."
"Lo sudah melukai aku dengan diam lo, Den," kata Laras. "Tapi itu tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa."
"Maaf, Lar," kata Raden. "Aku tidak bermaksud..."
"Sudah, Den," potong Laras. "Aku tidak butuh maaf lo. Aku hanya butuh lo bahagia. Jika kebahagiaan lo ada pada Cantik, maka kejarlah dia. Jangan pedulikan aku."
"Lar..."
"Sudah, Den," kata Laras sambil berdiri. "Aku harus pergi. Ada rapat himpunan. Sampai jumpa."
Laras berjalan keluar dari ruang senat dengan langkah cepat. Air matanya jatuh, tapi ia tidak mau Raden melihatnya.
Raden hanya bisa terdiam, menatap pintu yang tertutup. Laras adalah perempuan baik. Ia tahu itu. Tapi hatinya sudah terlanjur dimiliki oleh Cantika.
Di fakultas sastra, Cantika duduk di ruang redaksi majalah mahasiswa. Di depannya, setumpuk naskah yang harus ia edit. Tapi matanya tidak fokus. Pikirannya kacau. Sejak pertemuan dengan Vino di taman, ia tidak bisa berhenti memikirkan apa yang terjadi.
Maya masuk ke ruang redaksi tanpa mengetuk. Wajahnya serius.
"Cantik, kita perlu bicara," kata Maya sambil duduk di hadapan Cantik.
"Ada apa, May? Lo kelihatan tegang."
"Aku tegang karena lo, Cantik," kata Maya. "Aku tegang melihat lo terus bertemu dengan Vino."
"May, aku sudah bilang. Aku hanya bicara dengannya. Tidak ada yang aneh."
"Belum ada yang aneh, Cantik. Tapi bisa saja ada jika lo terus memberinya kesempatan."
"May, aku tahu lo khawatir. Tapi aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Bisa, Cantik. Tapi tidak ada salahnya punya teman yang ikut menjaga," kata Maya. "Aku, Andre, Bagus, Raden. Kita semua peduli sama lo. Jangan tolak bantuan kami."
"Aku tidak menolak bantuan kalian, May. Aku hanya..."
"Hanya apa, Cantik?"
Cantika menghela napas. "Aku hanya tidak ingin kalian bertengkar karena aku. Aku sudah melihat bagaimana Bagus dan Raden saling melotot karena aku. Aku tidak ingin menambah masalah dengan melibatkan kalian semua."
"Masalah sudah ada, Cantik, sebelum lo melibatkan siapa pun," kata Maya. "Yang bisa kita lakukan adalah menghadapinya bersama. Bukan sendiri-sendiri."
"Aku tidak sendiri, May. Aku punya lo. Aku punya Andre. Aku punya Bagus dan Raden. Itu sudah cukup."
"Belum cukup, Cantik," kata Maya. "Kita butuh lebih dari sekadar kebersamaan. Kita butuh strategi. Kita butuh rencana. Kita butuh tindakan."
"Tindakan seperti apa, May?"
"Aku belum tahu, Cantik. Tapi kita akan cari tahu bersama."
Maya meraih tangan Cantik. "Cantik, janji sama aku. Jangan bertemu Vino sendirian lagi. Selalu ajak aku atau Andre. Atau Bagus. Atau Raden. Siapa pun. Jangan sendirian."
"May, lo terlalu berlebihan..."
"Janji, Cantik," potong Maya. "Atau aku tidak akan tenang."
Cantika menghela napas. "Baiklah, May. Aku janji. Aku tidak akan bertemu Vino sendirian lagi."
"Terima kasih, Cantik," kata Maya sambil memeluk Cantika erat-erat. "Aku sayang lo. Aku tidak mau kehilangan lo."
"Aku juga sayang lo, May," kata Cantik. "Aku tidak akan ke mana-mana."
Malam itu, di apartemen Vino, suasana berbeda. Vino tidak sendirian. Ia ditemani oleh seorang perempuan berambut pendek dengan tato di lengan kirinya. Perempuan itu adalah Laras. Tapi Laras yang ini berbeda dengan Laras yang dikenal di kampus. Laras yang ini lebih gelap. Lebih misterius. Lebih berbahaya.
"Laras, apa kabar?" sapa Vino sambil menuangkan wine ke dalam dua gelas.
"Kabar baik, Vin," kata Laras sambil mengambil gelas wine itu. "Apa yang kamu ingin bicarakan?"
"Aku ingin bicara tentang Raden," kata Vino. "Kamu dekat dengan dia, kan?"
"Tidak terlalu dekat, Vin. Tapi cukup dekat untuk tahu apa yang dia pikirkan."
"Bagus," kata Vino. "Aku ingin kamu mengawasi Raden. Setiap gerakannya. Setiap rencananya. Aku ingin tahu apa yang dia rencanakan untuk merebut Cantik."
Laras menyipitkan matanya. "Kenapa kamu tidak mengawasi sendiri, Vin? Kamu punya banyak anak buah."
"Anak buahku tidak cukup pintar untuk mengawasi Raden," kata Vino. "Raden itu licin. Dia selalu punya rencana cadangan. Aku butuh seseorang yang bisa membaca pikirannya. Dan kamu orangnya."
"Apa yang kamu berikan sebagai imbalan, Vin?"
"Kebebasan adikmu," kata Vino. "Aku akan berhenti menekannya. Aku akan berhenti menyebarkan gosip tentangnya. Aku akan membiarkan dia hidup normal."
Laras terdiam. Adiknya adalah tekanan terbesarnya. Vino telah menggunakan adiknya sebagai alat untuk memeras Laras selama bertahun-tahun.
"Baiklah, Vin," kata Laras. "Aku akan lakukan. Tapi ingat janjimu."
"Aku selalu menepati janji, Laras," kata Vino sambil tersenyum miring. "Selama kamu menepati janjimu."
Mereka bersulang. Dua orang dengan agenda tersembunyi masing-masing, bergabung dalam kegelapan.
Di tempat lain, Tono sedang duduk di depan komputer di kamar kosnya. Layar komputernya menampilkan rekaman CCTV dari berbagai sudut kampus. Tono memiliki akses ilegal ke sistem keamanan kampus. Itu adalah salah satu keahliannya yang tidak banyak orang tahu. Ia bisa mengakses kamera mana pun, kapan pun, tanpa meninggalkan jejak.
Matanya menyipit ketika melihat rekaman dari fakultas hukum. Vino baru saja keluar dari ruang BEM bersama seorang perempuan. Tono memperbesar gambar. Perempuan itu adalah Laras. Ketua himpunan fakultas psikologi.
"Laras?" gumam Tono. "Apa yang Laras lakukan dengan Vino? Bukannya Laras dekat dengan Raden?"
Ia merekam percakapan mereka dari CCTV yang kebetulan memiliki fitur audio karena letaknya yang dekat dengan ruang BEM.
"Raden... Cantik... Aku ingin kamu mengawasi Raden... Kebebasan adikmu..."
Tono mendengarkan dengan saksama. Wajahnya berubah tegang. "Astaga. Ini lebih serius dari yang aku kira."
Ia segera menelepon Andre.
"And, ada yang harus aku laporkan," kata Tono. "Vino tidak sendirian. Dia punya kaki tangan. Laras. Ketua himpunan fakultas psikologi."
"Laras?" kata Andre terkejut. "Laras yang dekat dengan Raden?"
"Laras yang itu," kata Tono. "Vino menyuruh Laras mengawasi Raden. Vino menggunakan adik Laras sebagai alat untuk memerasnya."
"Astaga," kata Andre. "Ini gila. Kita harus kasih tahu Raden."
"Belum, And," kata Tono. "Kita harus punya bukti yang lebih kuat dulu. Rekaman CCTV ini bisa saja dianggap tidak sah di pengadilan. Tapi setidaknya kita punya gambaran tentang apa yang sedang terjadi."
"Baiklah, Tono. Lo terus pantau. Aku akan kasih tahu Maya."
Telepon ditutup. Andre menatap ponselnya dengan perasaan campur aduk. Dunia mereka semakin rumit. Dan ia tidak tahu apakah mereka bisa keluar dari kekacauan ini.
Keesokan paginya, Maya, Andre, Bagus, dan Raden berkumpul lagi di kafe kecil dekat kampus. Wajah mereka tegang. Andre baru saja selesai menceritakan apa yang Tono temukan.
"Jadi Vino menyuruh Laras mengawasi Raden?" kata Maya tidak percaya. "Laras yang selama ini pura-pura jadi teman Raden?"
"Sepertinya begitu, May," kata Andre. "Tono mendengar rekaman CCTV dari ruang BEM. Vino dan Laras bicara tentang Raden dan Cantik."
"Astaga," kata Bagus. "Ini seperti film thriller. Kita tidak pernah tahu siapa musuh sebenarnya."
"Musuh kita adalah Vino, Gus," kata Raden. "Dan sekarang kita tahu bahwa Laras adalah alatnya."
"Tapi kenapa Laras mau jadi alat Vino?" tanya Maya. "Apa yang Vino berikan padanya?"
"Kebebasan adiknya," kata Andre. "Vino menyandera adik Laras secara psikologis. Selama bertahun-tahun Vino menggunakan adik Laras sebagai alat untuk memeras Laras."
Raden menggeleng-gelengkan kepala. "Vino benar-benar monster. Dia tidak punya batasan. Dia akan melakukan apa pun untuk mendapatkan apa yang dia inginkan."
"Maka kita harus lebih pintar dari dia, Den," kata Bagus. "Kita tidak bisa melawannya dengan kekerasan. Kita harus melawannya dengan bukti."
"Apa yang lo usulkan, Gus?" tanya Raden.
"Aku usulkan kita kumpulkan bukti sebanyak mungkin tentang kejahatan Vino," kata Bagus. "Bukan hanya tentang Cantik. Tapi tentang semua yang dia lakukan. Adik Tono. Adik Laras. Siapa pun yang pernah menjadi korbannya. Dengan bukti yang cukup, kita bisa membawanya ke pengadilan."
"Itu ide yang bagus, Gus," kata Maya. "Tapi butuh waktu. Sementara itu, Vino terus mendekati Cantik."
"Maka kita juga harus melindungi Cantik," kata Bagus. "Bukan dengan mengawasi Vino. Tapi dengan membuat Cantika sadar bahwa dia dalam bahaya."
"Bagaimana caranya?" tanya Andre.
"Kita harus jujur pada Cantik," kata Bagus. "Kita harus ceritakan semua yang kita tahu tentang Vino. Termasuk tentang Laras. Termasuk tentang adik Tono. Termasuk tentang semua korbannya."
"Tapi Cantika sudah tahu tentang masa lalu Vino, Gus," kata Raden. "Dia sudah tahu Vino pernah menyakitinya."
"Tapi dia belum tahu tentang Vino yang sekarang, Den," kata Bagus. "Dia belum tahu bahwa Vino masih melakukan hal yang sama pada orang lain. Dengan tahu itu, mungkin Cantika akan sadar bahwa Vino tidak berubah."
"Aku setuju dengan Bagus," kata Maya. "Kita harus jujur pada Cantik. Sekarang juga."
"Baiklah," kata Raden. "Tapi kita harus melakukannya bersama. Bukan sendiri-sendiri. Agar Cantika tahu bahwa ini bukan persaingan. Ini adalah persahabatan."
Mereka berempat mengangguk. Sebuah keputusan bulat telah diambil.
Siang itu, mereka berempat mendatangi ruang redaksi majalah mahasiswa di fakultas sastra. Cantika sedang sendirian di sana, membaca naskah. Ia terkejut melihat mereka datang bersama.
"Gus, Den, May, And? Ada apa? Kenapa kalian semua datang bersama?" tanya Cantik.
"Cantik, kami harus bicara dengan lo," kata Bagus. "Ini penting."
"Tentang apa?" tanya Cantik.
"Tentang Vino," kata Raden. "Tentang apa yang sebenarnya dia lakukan."
Cantika duduk di kursinya. Wajahnya berubah tegang. "Ceritakan."
Maya, Andre, Bagus, dan Raden bergantian menceritakan semua yang mereka tahu. Tentang adik Tono yang menjadi korban Vino. Tentang Laras yang diperas Vino. Tentang rekaman CCTV yang Tono temukan. Tentang rencana Vino untuk mengawasi Raden dan mendekati Cantik.
Cantika mendengarkan semuanya dalam diam. Wajahnya pucat. Matanya berkaca-kaca. Ketika mereka selesai bicara, Cantika hanya bisa diam.
"Jadi... Vino masih sama?" bisik Cantika akhirnya. "Dia masih monster yang dulu?"
"Maaf, Cantik," kata Maya. "Tapi sepertinya begitu."
Cantika menunduk. Air matanya jatuh. "Aku bodoh. Aku benar-benar bodoh. Aku hampir percaya padanya. Aku hampir memberinya kesempatan."
"Lo tidak bodoh, Cantik," kata Bagus. "Lo hanya baik. Lo ingin percaya bahwa orang bisa berubah. Itu bukan kesalahan."
"Tapi aku hampir terjebak lagi, Gus," kata Cantik. "Aku hampir mengulangi kesalahan yang sama."
"Tapi lo tidak terjebak, Cantik," kata Raden. "Kita ada di sini. Kita mencegahnya. Lo aman."
"Aman?" kata Cantika pahit. "Apakah aku akan pernah benar-benar aman dari Vino?"
"Kita akan memastikan lo aman, Cantik," kata Andre. "Kita akan mengumpulkan bukti. Kita akan membawa Vino ke pengadilan. Dia tidak akan bisa mengganggu lo lagi."
"Terima kasih, kalian semua," kata Cantika sambil terisak. "Aku tidak tahu akan jadi apa tanpa kalian."
Maya memeluk Cantik. "Lo tidak akan pernah sendiri, Cantik. Ingat itu."
Di sudut ruangan, Bagus dan Raden saling pandang. Mereka sadar bahwa persahabatan mereka lebih penting dari persaingan. Dan untuk melindungi Cantik, mereka harus bersatu.
BAB 10: Jebakan untuk Vino
Tiga hari setelah pertemuan di ruang redaksi, suasana di kampus berubah menjadi tegang. Kabar bahwa Vino sedang diselidiki oleh sekelompok mahasiswa mulai menyebar dari mulut ke mulut, meskipun tidak ada yang tahu pasti siapa dalang di balik penyelidikan itu. Vino sendiri tampak tidak peduli. Ia masih berjalan dengan langkah percaya diri di koridor-koridor kampus, masih tersenyum miring pada setiap perempuan yang lewat, masih duduk di ruang BEM seolah-olah tidak ada yang mengancam kekuasaannya. Namun di balik senyumnya, ada kegelisahan yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. Matanya lebih sering menoleh ke belakang. Telinganya lebih peka terhadap bisik-bisik di sekitarnya. Vino tahu ada yang tidak beres. Tapi ia belum tahu persis apa.
Kafe kecil dekat kampus, sore hari. Hujan gerimis turun tipis, menciptakan suara ritmis di atas atap seng. Bagus, Raden, Maya, Andre, Tono, dan Cantika duduk di meja panjang yang tersembunyi di pojok ruangan. Ini adalah pertama kalinya mereka berkumpul dalam formasi lengkap sejak masalah dengan Vino dimulai. Wajah mereka serius. Tidak ada canda. Tidak ada tawa. Hanya ada tekad yang sama untuk melindungi Cantika dari ancaman Vino.
Tono membuka laptopnya dan memutarkan rekaman CCTV yang berhasil ia kumpulkan selama beberapa hari terakhir. Layar laptop menunjukkan Vino dan Laras sedang berbicara di depan ruang BEM. Suara mereka terdengar samar karena jarak mikrofon, tapi cukup jelas untuk menangkap beberapa kata kunci: "Raden", "Cantik", "awasi", "kebebasan adikmu".
"Rekaman ini baru permulaan," kata Tono sambil menunjuk layar laptopnya. "Aku masih terus memantau. Setiap hari Vino bertemu dengan Laras di ruang BEM setelah jam kuliah selesai. Mereka selalu bicara tentang Raden dan Cantik. Tapi belum ada yang benar-benar mengarah pada tindakan kriminal."
Raden menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Jadi selama ini Laras pura-pura jadi temanku? Dia mendekatiku hanya untuk memata-matai?"
"Sepertinya begitu, Den," kata Tono. "Tapi aku tidak yakin apakah Laras melakukannya dengan sukarela atau karena paksaan. Dari rekaman yang aku dengar, Vino mengancam akan menyakiti adik Laras jika Laras tidak bekerja sama."
Maya mengepalkan tangannya. "Vino benar-benar tidak punya hati. Dia menggunakan siapa saja untuk kepentingannya sendiri."
"Itu sudah menjadi sifat dasarnya, May," kata Andre. "Vino tidak pernah peduli pada orang lain. Yang dia pedulikan hanyalah dirinya sendiri dan apa yang dia inginkan."
Cantika diam saja mendengarkan. Wajahnya pucat. Matanya menatap layar laptop tanpa fokus. Semua informasi baru ini terlalu berat untuk dicerna sekaligus.
Bagus menatap Cantika dengan khawatir. "Cantik, lo baik-baik saja?"
Cantika mengangkat kepalanya. Matanya berkaca-kaca. "Aku baik-baik saja, Gus. Hanya sedikit terkejut. Aku tidak pernah membayangkan Vino akan melakukan semua ini."
"Vino mampu melakukan apa pun, Cantik," kata Raden. "Dulu dia menyakiti lo. Sekarang dia menyakiti orang lain. Dia tidak berubah."
"Tapi kenapa dia begitu terobsesi padaku, Den?" tanya Cantik. "Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya mahasiswa biasa."
"Karena lo spesial, Cantik," kata Maya. "Karena lo berbeda dari perempuan lain yang pernah dia temui. Vino terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan dengan mudah. Tapi lo tidak mudah. Lo menolaknya. Lo tidak takut padanya. Dan itu membuatnya semakin terobsesi."
"Maya benar, Cantik," kata Andre. "Vino tidak terbiasa ditolak. Ketika lo menolaknya dulu, itu melukai egonya. Dan sekarang dia ingin membuktikan bahwa dia bisa memiliki lo."
"Tapi aku tidak ingin dimiliki oleh siapa pun!" kata Cantika dengan nada tinggi. "Aku bukan properti! Aku bukan barang!"
"Kami tahu, Cantik," kata Bagus. "Dan kami di sini untuk memastikan Vino mengerti itu. Dengan cara yang halus, tentu saja."
"Cara yang halus seperti apa, Gus?" tanya Raden.
"Kita pasang jebakan untuk Vino," kata Bagus. "Kita buat dia terpojok. Kita buat dia mengakui semua kesalahannya. Tapi kita lakukan dengan cara yang legal. Tanpa kekerasan. Tanpa ancaman."
Tono mengangkat alisnya. "Jebakan seperti apa yang lo maksud, Gus?"
"Vino adalah tipe orang yang suka pamer," kata Bagus. "Dia suka bicara. Dia suka membual. Dia suka merendahkan orang lain. Sifat itu bisa kita manfaatkan. Kita ciptakan situasi di mana Vino merasa sangat aman sehingga dia bicara tanpa berpikir. Dan kita rekam semuanya."
"Itu ide yang berbahaya, Gus," kata Raden. "Jika Vino tahu kita merekamnya tanpa izin, rekaman itu tidak akan sah di pengadilan."
"Kita tidak perlu rekaman itu sah di pengadilan, Den," kata Bagus. "Kita hanya perlu rekaman itu cukup untuk membuat Vino ketakutan. Cukup untuk membuatnya mundur. Cukup untuk membuatnya tidak berani mendekati Cantika lagi."
Maya mengangguk. "Aku suka ide ini, Gus. Tapi siapa yang akan menjadi umpan?"
Semua mata tertuju pada Cantik.
Cantika menghela napas. "Kalian ingin aku yang menjadi umpan? Kalian ingin aku bertemu Vino lagi?"
"Hanya sebentar, Cantik," kata Bagus. "Hanya sampai dia bicara. Setelah itu, kami akan muncul dan menyelamatkan lo."
"Tapi bagaimana jika Vino marah?" tanya Cantik. "Bagaimana jika dia melakukan sesuatu yang membahayakanku?"
"Kami tidak akan membiarkan itu terjadi, Cantik," kata Raden. "Kami akan berada di dekat lo. Jika Vino coba-coba, kami akan langsung turun tangan."
"Aku tidak tahu, Gus, Den," kata Cantik. "Ini terlalu berisiko."
"Itu memang berisiko, Cantik," kata Maya. "Tapi ini mungkin satu-satunya cara untuk menghentikan Vino tanpa kekerasan. Jika kita tidak melakukan apa pun, Vino akan terus mendekati lo. Dia tidak akan berhenti."
Cantika menunduk. Ia berpikir keras. Pilihan di hadapannya sangat sulit. Jika ia setuju, ia harus berhadapan dengan Vino lagi. Jika ia tidak setuju, Vino akan terus mengganggunya tanpa henti.
"Baiklah," kata Cantika akhirnya. "Aku akan lakukan. Tapi dengan satu syarat."
"Apa syaratnya, Cantik?" tanya Bagus.
"Kalian semua harus berada di tempat yang bisa melihat dan mendengar semuanya. Jika ada yang tidak beres, kalian harus segera muncul. Jangan biarkan aku sendirian dengan Vino terlalu lama."
"Setuju, Cantik," kata Raden.
"Setuju," kata Bagus.
"Setuju," kata Maya dan Andre bersamaan.
"Baiklah," kata Tono. "Aku akan mengurus peralatan rekaman. Aku punya mikropon kecil yang bisa disembunyikan di pakaian Cantik. Suaranya jernih, tidak mudah terdeteksi."
"Cantik, lo yakin mau melakukan ini?" tanya Maya.
"Aku tidak yakin, May," kata Cantik. "Tapi aku akan melakukannya. Untuk diriku sendiri. Untuk kalian semua. Untuk menghentikan Vino."
Rencana itu disusun dengan matang. Mereka memutuskan untuk melaksanakan jebakan itu dua hari kemudian, di sebuah kafe di kawasan Kemang yang berbeda dari Kafe Biru Langit. Kafe itu dipilih karena memiliki ruang VIP tertutup yang tidak terlalu ramai, sehingga memudahkan pengawasan. Bagus, Raden, Maya, Andre, dan Tono akan duduk di ruang sebelah, terpisah oleh dinding tipis dengan lubang kecil yang bisa digunakan untuk mengintip. Cantika akan duduk sendirian di ruang VIP, menunggu Vino datang.
Hari yang ditentukan tiba. Hujan turun deras sejak pagi, seolah-olah alam ikut tegang menyaksikan drama yang akan berlangsung. Cantika datang lebih awal, seperti yang sudah dijadwalkan. Ia mengenakan jaket jeans biru muda yang sama seperti malam pertama, rambutnya diikat setengah dengan jepit kupu-kupu kesayangan. Di balik kerah jaketnya, sebuah mikropon kecil tersembunyi rapi, ditempel dengan selotip transparan sehingga tidak terlihat. Maya membantu memasangkannya sebelum berangkat.
"Lo yakin ini tidak akan lepas, May?" tanya Cantika cemas.
"Aku yakin, Cantik," kata Maya. "Tono sudah menguji mikropon ini berkali-kali. Amannya."
"Tapi bagaimana jika Vino menyentuh kerah jaketku?"
"Jangan biarkan dia menyentuh kerah jaket lo, Cantik," kata Maya. "Alihkan pembicaraan. Buat dia fokus pada hal lain."
"Baiklah, May. Aku akan berusaha."
Bagus mendekati Cantik. Wajahnya tegang, matanya penuh kekhawatiran. "Cantik, lo bisa batalkan rencana ini kapan saja. Aku tidak akan marah. Raden juga tidak akan marah. Kami tidak ingin memaksamu."
"Aku tahu, Gus," kata Cantik. "Tapi aku sudah memutuskan. Aku akan melakukan ini. Untuk mengakhiri semuanya."
"Baiklah, Cantik," kata Bagus. "Tapi ingat, jika lo merasa tidak nyaman atau takut, beri kami tanda. Garuk telinga lo. Atau sentuh rambut lo. Apa pun. Kami akan langsung masuk."
"Aku akan ingat, Gus. Terima kasih."
Raden juga mendekat. "Cantik, aku akan berada tepat di balik dinding ini. Jika Vino berani melakukan sesuatu, tendang kursi lo. Aku akan mendengar dan langsung masuk."
"Baik, Den. Aku akan ingat."
Mereka semua masuk ke ruangan masing-masing. Cantika duduk sendirian di ruang VIP, memesan segelas air mineral dingin. Jantungnya berdetak sangat cepat. Tangannya sedikit gemetar. Ia berusaha menenangkan diri dengan menarik napas dalam-dalam.
Pintu ruang VIP terbuka. Vino masuk dengan langkah mantap, mengenakan jaket kulit hitam yang sama seperti malam di restoran La Vue. Wajahnya berseri, senyum miring khasnya tersungging di bibir. Di tangannya, sebuah kotak kue berwarna merah muda dengan pita putih.
"Cantik, kamu datang lebih awal," kata Vino sambil duduk di hadapan Cantik. "Aku kira aku yang akan menunggumu, ternyata kamu yang menungguku."
"Aku suka datang lebih awal, Vin," kata Cantik. "Aku tidak suka terburu-buru."
"Itu salah satu hal yang aku suka dari dirimu, Cantik," kata Vino. "Kamu selalu tenang. Tidak terburu-buru. Tidak seperti perempuan lain yang selalu panik dan cemas."
"Aku juga cemas, Vin. Hanya saja aku pandai menyembunyikannya."
Vino tertawa. "Itu dia. Itu yang aku maksud. Kamu selalu punya jawaban yang cerdas."
Vino meletakkan kotak kue di atas meja. "Ini untukmu. Kue cokelat lagi. Kali ini aku tambahkan topping stroberi. Aku harap kamu suka."
"Vin, aku sudah bilang aku tidak suka stroberi," kata Cantik.
"Tapi aku ingin kamu mencoba, Cantik," kata Vino. "Mungkin kali ini kamu akan suka. Aku sudah membuatnya dengan sangat hati-hati."
Cantika tidak membuka kotak kue itu. Ia hanya menatap Vino dengan mata tajam. "Vin, aku ingin bicara serius denganmu."
Vino menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Tentu, Cantik. Aku selalu serius ketika berhadapan denganmu."
"Aku tahu kamu sedang menyuruh Laras mengawasi Raden," kata Cantik.
Senyum Vino menghilang seketika. Wajahnya berubah tegang. "Apa? Siapa yang bilang?"
"Aku punya sumber, Vin," kata Cantik. "Sumber yang bisa dipercaya."
"Laras tidak akan pernah bilang pada siapa pun," kata Vino. "Dia tahu risikonya."
"Laras tidak perlu bilang pada siapa pun, Vin," kata Cantik. "Aku punya cara lain untuk tahu."
Vino terdiam. Matanya menyipit tajam. "Kamu merekamku?"
"Aku tidak merekammu, Vin," kata Cantik. "Tapi ada orang lain yang melakukannya. Dan rekaman itu sudah ada di tanganku."
"Kamu berbohong, Cantik," kata Vino. "Kamu tidak punya rekaman apa pun."
"Aku tidak berbohong, Vin. Aku tidak pernah berbohong. Itu perbedaan mendasar antara aku dan kamu."
Vino mengepalkan tangannya di atas meja. Wajahnya merah padam. "Kamu pikir kamu bisa mengancamku, Cantik? Kamu pikir aku takut dengan rekaman-rekaman palsu buatanmu?"
"Aku tidak mengancammu, Vin. Aku hanya memperingatkanmu. Hentikan semua ini. Jauhi aku. Jauhi Raden. Jauhi Bagus. Jauhi semua orang yang aku cintai. Atau aku akan mempublikasikan rekaman itu ke seluruh kampus."
Vino tertawa. Tawanya keras dan pahit. "Kamu tidak akan pernah berani, Cantik. Kamu terlalu baik untuk melakukan hal sekejam itu."
"Jangan salah sangka, Vin," kata Cantik. "Aku bisa menjadi sangat kejam jika ada yang mengancam orang-orang yang aku cintai. Dan kamu, Vin, kamu adalah ancaman."
"Jadi kamu tidak mencintaiku, Cantik?" tanya Vino. "Setelah semua yang aku lakukan untukmu? Setelah semua kue yang aku buat? Setelah semua usaha yang aku lakukan?"
"Aku tidak pernah bilang aku mencintaimu, Vin," kata Cantik. "Aku bilang aku akan memberimu kesempatan. Tapi kesempatan itu berakhir ketika aku tahu kamu masih melakukan hal yang sama seperti dulu. Kamu tidak berubah, Vin. Kamu hanya menjadi lebih pandai menyembunyikan wajah aslimu."
Vino terdiam. Wajahnya berubah dari marah menjadi sedih, lalu dari sedih menjadi dingin. "Baiklah, Cantik. Jika itu yang kamu mau, aku akan pergi. Tapi ingat, suatu hari nanti kamu akan menyesal. Suatu hari nanti kamu akan sadar bahwa aku adalah lelaki terbaik yang pernah kamu miliki."
"Kamu bukan lelaki terbaik, Vin," kata Cantik. "Kamu bahkan bukan lelaki baik. Kamu hanya anak kaya yang terbiasa mendapatkan apa pun yang kamu inginkan. Tapi kali ini, kamu tidak akan mendapatkanku."
Vino berdiri. Ia tidak membawa kotak kue itu. Ia meninggalkannya di atas meja, seolah-olah itu adalah simbol dari semua usahanya yang gagal.
"Cantik, kita belum selesai," kata Vino sebelum melangkah ke pintu. "Kita akan bertemu lagi. Dan ketika kita bertemu, aku akan menjadi orang yang berbeda."
"Tidak, Vin," kata Cantik. "Kamu tidak akan berubah. Kamu tidak pernah berubah."
Pintu ruang VIP tertutup. Vino pergi. Cantika duduk sendirian, menggigil meskipun ruangan itu hangat. Air matanya jatuh. Bukan karena sedih, tapi karena lega. Akhirnya, semua sudah selesai.
Pintu ruang VIP terbuka lagi. Bagus, Raden, Maya, Andre, dan Tono masuk. Wajah mereka tegang, tapi ada senyum tipis di bibir masing-masing.
"Cantik, lo hebat," kata Maya sambil memeluk Cantik. "Lo berhasil."
"Aku tidak hebat, May," kata Cantik. "Aku hanya takut. Sangat takut. Tapi aku berusaha untuk tidak menunjukkan rasa takut itu."
"Tapi lo berhasil, Cantik," kata Bagus. "Lo berhasil membuat Vino mundur."
"Apakah dia benar-benar mundur, Gus?" tanya Cantik. "Atau dia hanya pergi untuk sementara dan akan kembali lagi dengan rencana yang lebih jahat?"
"Itu pertanyaan yang tidak bisa kita jawab sekarang, Cantik," kata Raden. "Tapi setidaknya kita sudah memperingatkannya. Kita sudah menunjukkan bahwa kita tidak takut padanya."
Tono mengangkat laptopnya. "Aku merekam semuanya, Cantik. Suara lo dan Vino. Jelas. Dari awal sampai akhir."
"Apakah rekaman itu cukup untuk membawanya ke pengadilan, Tono?" tanya Andre.
"Belum, And," kata Tono. "Tapi cukup untuk membuatnya ketakutan. Dan cukup untuk menjadi bukti awal jika dia coba-coba lagi."
"Terima kasih, Tono," kata Cantik. "Terima kasih untuk semuanya."
"Sama-sama, Cantik," kata Tono. "Aku melakukan ini bukan hanya untuk lo. Tapi juga untuk adikku. Untuk semua korban Vino."
Mereka semua duduk di ruang VIP itu, menikmati ketenangan setelah badai. Hujan di luar mulai reda. Lampu-lampu kota mulai terlihat lagi. Dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, Cantika merasa aman.
Di luar kafe, Vino duduk di dalam mobilnya. Tangannya menggenggam setir dengan erat. Wajahnya gelap. Matanya merah karena menahan amarah.
"Bagus, Raden, Maya, Andre, Tono," gumam Vino. "Kalian semua akan membayar. Kalian pikir kalian bisa menghancurkanku? Kalian salah. Aku akan menghancurkan kalian semua. Satu per satu."
Ia menyalakan mobil dan melaju kencang meninggalkan kafe. Di belakangnya, hujan mulai turun lagi, lebih deras dari sebelumnya. Seolah-olah alam ikut marah atas apa yang baru saja terjadi.
Kembali di ruang VIP, Cantika duduk di antara Bagus dan Raden. Maya dan Andre duduk di seberang mereka. Tono sudah pamit pulang lebih awal karena ada urusan keluarga.
"Jadi, sekarang apa?" tanya Maya. "Apakah kita kembali ke kehidupan normal setelah semua ini?"
"Apakah kehidupan normal itu masih ada, May?" tanya Andre. "Setelah semua yang terjadi, apakah kita bisa kembali seperti dulu?"
"Kita tidak bisa kembali seperti dulu, And," kata Bagus. "Tapi kita bisa menjadi lebih baik dari dulu."
"Maksud lo, Gus?" tanya Cantik.
"Maksudku, kita sudah melewati badai ini bersama," kata Bagus. "Kita sudah membuktikan bahwa persahabatan kita lebih kuat dari apa pun. Itu sudah lebih dari cukup."
"Aku setuju dengan Bagus," kata Raden. "Kita tidak perlu kembali seperti dulu. Kita perlu menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri."
Cantika tersenyum. "Kalian berdua memang sahabat terbaik. Meskipun kalian mencintaiku dengan cara yang berbeda, kalian tidak pernah membiarkan cinta itu menghancurkan persahabatan kalian."
"Itu karena kami sadar, Cantik," kata Bagus. "Persahabatan lebih berharga daripada cinta yang tidak jelas ujungnya."
"Cinta juga berharga, Gus," kata Cantik. "Tapi cinta yang tulus tidak akan pernah merusak persahabatan. Cinta yang tulus justru akan memperkuat persahabatan."
"Kata-kata bijak dari seorang mahasiswa sastra," kata Andre sambil tersenyum.
"Kata-kata bijak dari seseorang yang sudah melalui banyak hal, And," kata Maya. "Jangan disepelekan."
"Tidak ada yang menyepelekan, May," kata Andre. "Aku hanya mengagumi."
Mereka semua tertawa. Tawa yang menghangatkan ruangan yang dingin. Tawa yang mengusir sisa-sisa ketegangan yang masih tersisa.
Malam itu, di apartemennya, Cantika duduk di depan meja rias. Ia melepas jepit rambut kupu-kupunya dan meletakkannya di atas meja. Matanya menatap bayangannya sendiri di cermin.
"Apakah ini yang aku inginkan?" bisiknya pada dirinya sendiri. "Apakah aku bahagia setelah semua ini?"
Ia tidak tahu jawabannya. Yang ia tahu, ia telah kehilangan sesuatu. Bukan Vino. Bukan Bagus. Bukan Raden. Tapi sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Mungkin rasa aman. Mungkin rasa tenang. Atau mungkin hanya ilusi bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Bagus.
"Cantik, lo sudah sampai rumah?"
Cantika membalas. "Sudah, Gus. Terima kasih."
Balasan Bagus. "Senang mendengarnya. Istirahat yang cukup. Besok kita masih harus berurusan dengan Laras."
Cantik. "Laras? Apa yang akan kita lakukan dengan Laras?"
Bagus. "Kita akan bicara dengannya. Kita akan tawarkan bantuan. Dia juga korban Vino."
Cantik. "Lo benar, Gus. Kita tidak boleh melupakan korban lain."
Bagus. "Itu yang membuat lo istimewa, Cantik. Lo selalu peduli pada orang lain."
Cantika tersenyum membaca balasan Bagus. "Terima kasih, Gus. Sampai jumpa besok."
Bagus. "Sampai jumpa besok, Cantik. Jangan lupa makan."
Cantik. "Aku tidak akan lupa. Janji."
Percakapan berakhir. Cantika memandangi ponselnya sejenak, lalu meletakkannya di atas meja. Ia berbaring di ranjang, memejamkan mata, dan berusaha tidur. Tapi pikirannya masih berkeliaran.
Di apartemennya yang lain, Vino duduk di kursi empuk dengan segelas whiskey di tangan. Di depannya, papan besar berisi foto-foto Cantika, Bagus, Raden, Maya, Andre, Tono, dan beberapa orang lain. Foto-foto itu sudah ditambah dengan foto-foto baru. Foto Laras. Foto adik Tono. Foto orang-orang yang pernah menjadi korbannya.
Vino menyesap whiskynya. Matanya menatap foto Cantika yang paling besar di tengah papan. "Cantik, lo pikir lo bisa mengusirku hanya dengan kata-kata? Lo salah. Aku akan kembali. Dan ketika aku kembali, aku tidak akan sendirian."
Ia meletakkan gelasnya. Ia berdiri dan berjalan mendekati papan itu. Jarinya menyentuh wajah Cantika di foto. "Kamu akan menjadi milikku, Cantik. Aku tidak peduli harus berapa lama. Aku tidak peduli harus berapa banyak orang yang aku hancurkan. Kamu akan menjadi milikku."
Ia tersenyum. Senyum yang sama. Senyum miring yang penuh racun. Tapi kali ini, matanya berbeda. Ada kegilaan di sana. Kegilaan yang sudah tidak bisa disembunyikan lagi.
BAB 11: Laras: Antara Korban dan Pelaku
Kampus Universitas Persada, keesokan harinya setelah pertemuan di kafe. Matahari bersinar cerah, seolah-olah tidak terjadi apa-apa semalam. Tapi suasana di fakultas psikologi terasa berbeda. Mahasiswa yang lalu lalang di koridor tampak berbicara dengan suara lebih pelan dari biasanya. Gosip tentang Laras dan Vino mulai menyebar, meskipun belum ada yang tahu detail pastinya. Yang jelas, Laras tidak masuk kuliah pagi itu. Dan ketidakhadirannya menjadi bahan pembicaraan di setiap sudut ruangan.
Raden berdiri di depan gedung fakultas psikologi, ditemani oleh Bagus dan Cantika. Mereka bertiga datang bersama dengan satu tujuan: menemui Laras dan mencari tahu kebenaran di balik semua yang terjadi. Maya dan Andre menunggu di kantin, siap memberikan bantuan jika diperlukan.
Bagus menatap gedung di depannya. "Den, lo yakin Laras ada di dalam? Teman lo bilang dia tidak masuk kuliah."
"Aku tidak yakin, Gus," kata Raden. "Tapi aku sudah cek kamar kosnya. Tidak ada. Kemungkinan dia di ruang himpunan. Laras sering bersembunyi di sana ketika ada masalah."
"Kenapa dia bersembunyi, Den?" tanya Cantik. "Apakah dia takut pada kita?"
"Bukan pada kita, Cantik," kata Raden. "Dia takut pada Vino. Tapi mungkin juga dia takut pada dirinya sendiri. Takut harus mengakui bahwa dia telah melakukan kesalahan."
"Kita tidak akan menghakiminya, Den," kata Bagus. "Kita hanya ingin membantu."
"Aku tahu, Gus. Tapi Laras tidak mudah percaya pada orang lain. Dia memiliki masa lalu yang rumit."
Mereka bertiga masuk ke gedung fakultas psikologi. Koridor lantai dua terasa sepi karena jam kuliah sedang berlangsung. Hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar menggema di dinding-dinding bercat putih. Ruang himpunan mahasiswa fakultas psikologi berada di ujung koridor, tepat di sebelah laboratorium eksperimen. Pintunya tertutup rapat, tapi dari balik pintu terdengar suara musik sendu mengalir pelan.
Raden mengetuk pintu tiga kali. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, lebih keras.
"Lar, ini Raden. Buka pintunya. Kita perlu bicara."
Keheningan. Hanya suara musik yang masih mengalir.
"Lar, aku tidak sendirian. Aku bersama Bagus dan Cantik. Kami tidak akan menyakitimu. Kami hanya ingin bicara."
Pintu terbuka sedikit. Wajah Laras muncul di celah pintu. Matanya sembab, seperti habis menangis. Wajahnya pucat, tanpa riasan. Rambutnya yang biasanya diikat rapi kini terurai kusut. Ia terlihat sangat berbeda dari Laras yang dikenal di kampus sebagai perempuan dingin dan sempurna.
"Den, sekarang tidak tepat," kata Laras dengan suara parau. "Aku tidak ingin bertemu siapa pun."
"Lar, ini penting," kata Raden. "Ini tentang Vino. Tentang apa yang dia suruh kamu lakukan."
Wajah Laras berubah tegang. Tangannya yang memegang pintu gemetar. "Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan, Den."
"Kamu tahu, Lar," kata Cantik. "Vino menyuruhmu mengawasi Raden. Vino menggunakan adikmu sebagai alat untuk memerasmu. Kami tahu semuanya."
Laras terdiam. Matanya menatap Cantika dengan campuran ketakutan dan rasa bersalah. "Bagaimana... bagaimana kamu tahu?"
"Kami punya rekaman, Lar," kata Bagus. "Rekaman CCTV dari depan ruang BEM. Suara kamu dan Vino terekam jelas."
Laras membuka pintu lebar-lebar. Ia mundur ke dalam ruangan, mempersilakan mereka masuk. Ruang himpunan itu berukuran sedang, dengan meja panjang di tengah, beberapa kursi, papan tulis putih di dinding, dan lemari arsip di sudut ruangan. Laras duduk di salah satu kursi, menunduk, tidak berani menatap mereka.
"Jadi kalian sudah tahu semuanya," kata Laras pelan. "Kalian tahu bahwa aku mata-mata Vino. Kalian tahu bahwa aku mengkhianati kepercayaan Raden."
"Kami tahu, Lar," kata Raden sambil duduk di hadapan Laras. "Tapi kami juga tahu bahwa kamu melakukannya bukan karena kehendakmu sendiri. Vino memaksamu."
"Memaksa atau tidak, aku tetap melakukannya, Den," kata Laras. "Aku tetap mengkhianatimu. Aku tetap melaporkan setiap gerakanmu pada Vino. Aku tidak pantas mendapatkan maaf."
Laras menggigit bibirnya. Air matanya jatuh lagi. Namun kali ini, bukan hanya air mata kesedihan. Ada sesuatu yang lain. Rasa bersalah yang mendalam.
"Aku... aku tidak hanya mengawasi Raden," kata Laras dengan suara yang nyaris tidak terdengar. "Aku juga... aku juga yang memberi tahu Vino tentang pertemuan kalian di kafe kecil dulu. Aku yang membocorkan lokasi persembunyian Tono."
Raden terkejut. Wajahnya berubah pucat. "Apa? Lar, lo..."
Laras mengusap air matanya. "Aku tahu. Aku monster. Tapi aku tidak punya pilihan. Vino mengancam akan menyakiti Sari jika aku tidak memberinya informasi. Aku sudah berusaha menolak. Tapi setiap kali aku menolak, dia mengirim foto-foto Sari yang sedang sendirian di rumah. Aku takut, Den. Aku sangat takut."
Cantika meraih tangan Laras. Genggamannya hangat, tidak menghakimi. "Lar, lo tidak monster. Lo korban. Tapi lo juga harus bertanggung jawab atas apa yang lo lakukan."
"Aku tahu, Cantik," kata Laras sambil terisak. "Dan aku siap menerima konsekuensinya."
Bagus yang selama ini diam akhirnya angkat bicara. Suaranya tenang, tidak marah. "Lar, apa yang lo lakukan salah. Tapi lo datang kepada kami. Lo mengaku. Itu langkah pertama. Kami tidak akan menghakimi lo. Kami hanya ingin membantu."
Laras mengangkat kepalanya. Matanya menatap Bagus dengan tidak percaya. "Kalian masih mau membantu aku? Setelah aku mengkhianati kalian?"
"Kami di sini karena kami peduli, Lar," kata Raden. "Bukan karena kami tidak tahu kesalahan lo. Tapi karena kami tahu lo lebih dari sekadar kesalahan lo."
"Lar, kami tidak datang ke sini untuk menyalahkanmu," kata Cantika sambil duduk di samping Laras. "Kami datang ke sini untuk membantu."
Laras mengangkat kepalanya. Matanya berkaca-kaca. "Membantu? Bagaimana kalian bisa membantu? Kalian tidak tahu apa yang Vino lakukan pada adikku. Kalian tidak tahu bagaimana rasanya hidup dalam ketakutan setiap hari."
"Ceritakan pada kami, Lar," kata Bagus. "Ceritakan semuanya. Mungkin kami bisa menemukan jalan keluar."
Laras menghela napas panjang. Tangannya gemetar. Ia berusaha menenangkan diri sebelum mulai bicara.
"Adikku bernama Sari," kata Laras. "Dia dua tahun lebih muda dariku. Dulu Sari kuliah di fakultas hukum di kampus ini juga. Dia mahasiswi berprestasi. IPK-nya nyaris sempurna. Dia aktif di organisasi. Semua orang menyukainya. Termasuk Vino."
Cantika menatap Laras dengan penuh perhatian. "Apa yang Vino lakukan pada Sari?"
"Dia mendekati Sari dengan kata-kata manis," kata Laras, Suaranya bergetar. "Sari yang masih polos, Sari yang belum pernah pacaran, dengan mudah jatuh ke dalam bujuk rayu Vino. Mereka pacaran selama enam bulan. Sari bahagia. Sari pikir dia menemukan cinta sejatinya. Tapi kemudian..."
Laras berhenti. Air matanya jatuh. Ia berusaha mengelapnya dengan punggung tangannya, tapi air matanya terus mengalir.
"Kemudian Vino bosan," lanjut Laras. "Dia mulai menjauh. Dia tidak pernah mengangkat telepon Sari. Dia tidak pernah membalas pesan Sari. Sari bingung. Sari sedih. Sari jatuh sakit. Dan ketika Sari mulai pulih, Vino menyebarkan gosip bahwa Sari hamil di luar nikah. Gosip itu menyebar cepat. Dalam seminggu, semua orang di fakultas hukum tahu. Reputasi Sari hancur. Dia tidak kuat. Dia pindah kampus."
Raden mengepalkan tangannya. "Vino benar-benar monster."
"Belum selesai, Den," kata Laras. "Setelah Sari pindah kampus, Vino masih terus mengganggunya. Dia mengirim pesan ancaman ke Sari. Dia bilang jika Sari atau aku berani melawan, dia akan menghancurkan sisa-sisa hidup kami. Aku mencoba melawan. Aku mencoba melaporkan Vino ke dekan. Tapi Vino punya koneksi di mana-mana. Laporanku tidak pernah ditindaklanjuti. Aku frustasi. Aku marah. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Lalu suatu hari, Vino datang padaku. Dia bilang dia akan berhenti mengganggu Sari jika aku bersedia membantunya. Dan sejak saat itu, aku menjadi mata-matanya."
Laras menggenggam ponselnya yang tergeletak di atas meja. Jarinya gemetar. Ia menatap layar ponsel—masih terbuka pada pesan yang belum lama ia kirimkan ke Vino.
"Aku masih ingat malam pertama aku mengkhianati kalian," bisik Laras, matanya kosong menerawang. "Vino menyuruhku mencari tahu di mana Tono menyembunyikan flashdisk bukti korupsi. Aku berusaha menolak. Tapi Vino mengirimiku foto Sari—adikku—sedang berjalan sendirian di malam hari. Tanpa aku sadari, jari-jariku sudah mengetik alamat rumah Maya. Belum terkirim. Aku menatap pesan itu lama. Lalu aku menekan tombol kirim. Ponselku bergetar. Balasan dari Vino: 'Bagus. Lain waktu aku butuh informasi lebih.' Aku melemparkan ponselku ke kasur. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan. 'Aku sudah melakukan apa, Tuhan?'"
Raden terdiam. Bagus menunduk. Cantika memeluk Laras lebih erat.
"Aku minta maaf," kata Laras, Suaranya pecah. "Aku minta maaf untuk semuanya."
"Lar, kami memaafkan lo," kata Bagus. "Tapi lo harus berjanji untuk tidak mengulanginya lagi."
"Aku berjanji, Gus," kata Laras. "Aku tidak akan pernah bekerja untuk Vino lagi. Lebih baik aku mati daripada mengkhianati kalian lagi."
Raden menggeleng. "Jangan bicara soal mati, Lar. Lo masih punya Sari. Lo masih punya kami. Kita akan hadapi ini bersama."
Cantika meraih tangan Laras. "Lar, aku ikut merasakan sakitmu. Aku juga pernah menjadi korban Vino. Aku tahu bagaimana rasanya."
"Kamu pernah menjadi korban Vino, Cantik?" tanya Laras.
"Dulu, waktu semester dua," kata Cantik. "Vino mendekatiku, membuatku percaya bahwa dia serius. Lalu dia meninggalkanku dan menyebarkan gosip bahwa aku hamil. Aku hampir putus kuliah. Tapi aku punya Bagus dan Raden. Mereka menyelamatkanku."
"Aku tidak punya siapa-siapa, Cantik," kata Laras. "Aku hanya punya Sari. Dan Sari terlalu lemah untuk melindungi dirinya sendiri. Aku harus melakukan apa pun untuk melindunginya."
"Tapi sekarang lo tidak sendirian, Lar," kata Raden. "Lo punya kami. Lo punya Bagus. Lo punya Cantik. Lo punya Maya, Andre, Tono. Kami semua akan membantu lo."
"Bagaimana kalian bisa membantu, Den?" tanya Laras. "Vino punya kekuasaan. Vino punya uang. Vino punya koneksi. Apa yang bisa kalian lakukan melawan semua itu?"
"Kami punya kebenaran, Lar," kata Bagus. "Kami punya bukti. Kami punya rekaman CCTV yang membuktikan bahwa Vino memeras lo. Kami punya rekaman percakapan Vino dengan Cantika di kafe kemarin. Dengan bukti-bukti itu, kita bisa melawan Vino."
Laras terdiam. Matanya menatap Bagus dengan tidak percaya. "Kalian benar-benar punya rekaman itu?"
"Tono yang merekam, Lar," kata Raden. "Tono adalah kakak dari adik yang juga menjadi korban Vino. Dia punya dendam pribadi. Dan dia punya kemampuan untuk mengumpulkan bukti."
"Tono?" kata Laras. "Tono dari fakultas hukum?"
"Tono itu, Lar," kata Bagus. "Dia ada di tim kami."
Laras menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya, wajahnya terlihat sedikit lega. "Jadi selama ini aku tidak sendirian? Ada orang lain yang juga berjuang melawan Vino?"
"Ada banyak, Lar," kata Cantik. "Korban Vino tidak hanya kamu dan Sari. Ada banyak orang lain yang pernah dia sakiti. Dan mereka semua ingin keadilan."
"Tapi mereka takut, Cantik," kata Laras. "Mereka takut melawan."
"Mereka tidak akan sendirian, Lar," kata Raden. "Kita akan bersama. Kita akan melawan Vino bersama. Sampai dia jatuh."
Laras menangis. Bukan tangis sedih, tapi tangis lega. Tangis yang sudah lama ia pendam. Cantika memeluknya erat-erat.
"Lar, mulai sekarang, jangan bekerja untuk Vino lagi," kata Cantik. "Kembalilah menjadi Laras yang dulu. Laras yang kuat. Laras yang tidak takut pada siapa pun."
"Tapi Sari, Cantik," kata Laras. "Vino masih bisa menyakiti Sari kapan saja."
"Kita akan lindungi Sari juga, Lar," kata Bagus. "Kita akan cari cara. Mungkin Sari bisa pindah ke kampus yang lebih aman. Mungkin Sari bisa tinggal sementara di rumah salah satu dari kami."
"Aku tidak mau membebani kalian," kata Laras.
"Bukan beban, Lar," kata Raden. "Itu namanya pertolongan. Dan persahabatan. Dan itu tidak perlu dihitung."
Laras mengangguk. "Baiklah. Aku akan bergabung dengan kalian. Aku akan membantu mengumpulkan bukti melawan Vino. Aku akan melakukan apa pun untuk menghentikannya."
"Terima kasih, Lar," kata Cantik. "Dengan bantuanmu, kita pasti bisa mengalahkan Vino."
Dari ruang himpunan fakultas psikologi, Raden, Bagus, dan Cantika berjalan ke kantin untuk bergabung dengan Maya dan Andre. Laras memilih untuk tetap di ruangan, karena ia belum siap bertemu dengan banyak orang. Wajah Laras masih sembab, matanya masih merah, tapi ada cahaya baru di matanya. Cahaya harapan. Beban sebagai pelaku yang selama ini ia pendam mulai terangkat, digantikan oleh tekad untuk menebus kesalahan.
Maya dan Andre sudah menunggu di meja pojok kantin. Dua cangkir kopi sudah dingin di depan mereka.
"Gimana?" tanya Maya begitu mereka duduk. "Apakah Laras mau bekerja sama?"
"Dia mau, May," kata Raden. "Tapi dia butuh waktu. Dia masih trauma. Dia juga mengaku bahwa dialah yang membocorkan lokasi persembunyian Tono dulu."
Maya terkejut. "Apa? Laras? Tapi kenapa?"
"Dia dipaksa Vino," kata Cantik. "Vino mengancam akan menyakiti adiknya. Laras tidak punya pilihan."
Andre menghela napas. "Kasihan Laras. Jadi selama ini dia juga korban."
"Sekarang kita punya Laras di tim kita," kata Bagus. "Dia tahu banyak tentang rencana Vino. Dia bisa menjadi aset berharga."
"Tapi kita juga harus melindungi Laras," kata Cantik. "Vino pasti akan marah jika tahu Laras membelot."
"Setuju, Cantik," kata Maya. "Kita harus membuat rencana pengamanan untuk Laras dan adiknya."
"Aku sudah pikirkan itu, May," kata Raden. "Tono bisa membantu memantau pergerakan Vino. Jika Vino mencoba mendekati Laras atau Sari, kita akan tahu."
"Dan kita juga harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk," kata Andre. "Jika Vino tahu kita bersatu melawannya, dia bisa melakukan hal-hal putus asa."
"Maka kita harus lebih pintar darinya, And," kata Bagus. "Kita harus bergerak cepat. Kumpulkan bukti sebanyak mungkin sebelum Vino sadar."
"Siapa yang akan mengumpulkan bukti?" tanya Maya.
"Tono akan fokus pada rekaman CCTV," kata Raden. "Aku akan fokus pada dokumen-dokumen hukum yang bisa menjerat Vino. Bagus akan fokus pada saksi-saksi dari fakultas arsitektur. Cantika dan Maya akan fokus pada korban-korban dari fakultas sastra. Andre akan fokus pada jaringan pertemanan Vino."
"Itu rencana yang bagus, Den," kata Andre. "Tapi kita butuh koordinator. Seseorang yang bisa mengatur semuanya."
"Bagus," kata Cantik. "Bagus yang jadi koordinator."
Bagus terkejut. "Aku? Kenapa aku?"
"Karena lo orang yang paling tenang di antara kita, Gus," kata Cantik. "Lo tidak mudah terpancing emosi. Lo bisa berpikir jernih dalam situasi krisis."
"Aku setuju," kata Raden. "Bagus yang paling cocok."
"Baiklah," kata Bagus. "Aku akan lakukan. Tapi aku butuh kalian semua untuk disiplin. Tidak boleh ada yang bertindak sendiri. Setiap langkah harus dikomunikasikan."
"Setuju," kata mereka semua bersamaan.
Sementara itu, di ruang BEM, Vino sedang duduk di kursinya dengan wajah gelap. Di depannya, seorang anak buahnya bernama Robby sedang melapor.
"Vin, aku dengar Laras tidak masuk kuliah hari ini," kata Robby. "Katanya dia ada di ruang himpunan psikologi bersama Raden, Bagus, dan Cantik."
Vino mengepalkan tangannya. "Laras mulai tidak bisa dipercaya. Aku harus melakukan sesuatu."
"Kita usir saja Laras dari kampus, Vin," kata Robby. "Kita sebar gosip bahwa dia punya hubungan gelap dengan salah satu dosen."
"Belum sekarang, Rob," kata Vino. "Laras masih berguna. Tapi jika dia benar-benar membelot, kita hancurkan dia. Dan adiknya juga."
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, Vin?"
"Awasi Laras," kata Vino. "Setiap gerakannya. Setiap orang yang dia temui. Aku ingin tahu apa yang dia rencanakan."
"Baik, Vin. Aku akan lakukan."
Robby keluar dari ruang BEM. Vino duduk sendirian, memandangi papan di depannya yang kini sudah penuh dengan foto-foto. Ia mengambil spidol merah dan mencoret foto Laras dengan garis tebal.
"Laras, lo pikir lo bisa lolos dariku?" bisik Vino. "Lo salah. Tidak ada yang bisa lolos dariku. Tidak ada."
Di kamar kos Laras, sore hari. Laras duduk di ranjangnya, memeluk bantal. Di sampingnya, ponselnya bergetar. Pesan dari Sari.
"Kak, aku takut. Vino meneleponku tadi malam. Dia bilang dia akan datang ke rumah."
Laras membalas dengan jari gemetar. "Sar, jangan takut. Kakak di sini. Kakak akan lindungi kamu."
Sari. "Tapi Kak, Vino bilang dia punya teman di mana-mana. Dia bilang tidak ada tempat yang aman untuk kita."
Laras. "Sar, percaya sama Kakak. Kakak sudah punya teman-teman baru. Mereka baik. Mereka akan membantu kita."
Sari. "Aku takut, Kak. Aku tidak mau ketemu Vino lagi. Aku trauma."
Laras. "Kakak tahu, Sar. Kakak juga trauma. Tapi kita harus kuat. Kita harus melawan."
Sari. "Kakak yakin kita bisa menang melawan Vino?"
Laras. "Kakak yakin, Sar. Karena kali ini kita tidak sendirian."
Percakapan berakhir. Laras memandangi ponselnya dengan mata berkaca-kaca. Ia berdoa dalam hati semoga keputusannya bergabung dengan tim Bagus adalah keputusan yang benar. Ia berdoa semoga adiknya selamat. Ia berdoa semoga Vino segera jatuh.
Malam itu, Bagus, Raden, dan Cantika berkumpul di apartemen Bagus. Maya dan Andre juga datang. Mereka sedang merancang langkah selanjutnya. Kertas-kertas berserakan di meja, berisi catatan tentang Vino, korbannya, dan bukti-bukti yang sudah mereka kumpulkan.
"Tono berhasil mendapatkan rekaman baru," kata Andre sambil menunjukkan laptopnya. "Rekaman ini menunjukkan Vino sedang berbicara dengan seseorang di parkiran belakang fakultas hukum. Orang itu adalah preman bayaran."
"Preman bayaran?" kata Maya. "Vino mempekerjakan preman?"
"Dia mempekerjakan preman untuk mengintimidasi saksi-saksi yang akan melawannya," kata Andre. "Tono tahu orang itu. Namanya Bongkot. Dia sudah beberapa kali masuk penjara."
"Ini bukti yang sangat berharga, And," kata Raden. "Jika kita bisa menangkap Bongkot dan membuatnya bersaksi, Vino pasti akan dihukum."
"Tapi Bongkot tidak akan mau bersaksi," kata Bagus. "Dia takut pada Vino. Dan dia juga takut pada polisi."
"Maka kita harus membuat Bongkot merasa lebih takut pada kita daripada pada Vino," kata Cantik.
"Cantik, jangan bicara seperti itu," kata Raden. "Kita tidak boleh menggunakan cara-cara kotor seperti Vino."
"Aku tidak bermaksud menggunakan cara kotor, Den," kata Cantik. "Aku hanya bilang kita harus membuat Bongkot sadar bahwa bekerja sama dengan kita lebih menguntungkan daripada bekerja sama dengan Vino."
"Dan bagaimana cara melakukannya?" tanya Maya.
"Kita tawari Bongkot perlindungan," kata Cantik. "Kita bantu dia keluar dari jeratan Vino. Kita bantu dia memulai hidup baru."
"Apakah Bongkot pantas mendapatkan kesempatan kedua?" tanya Andre. "Dia sudah melakukan banyak kejahatan."
"Setiap orang pantas mendapatkan kesempatan kedua, And," kata Bagus. "Toh, bukankah kita juga pernah memberi kesempatan pada Vino? Meskipun dia menyia-nyiakannya."
"Baiklah, Gus," kata Andre. "Tapi siapa yang akan menemui Bongkot? Orang itu berbahaya."
"Aku yang akan menemui Bongkot," kata Raden.
"Tidak, Den," kata Bagus. "Terlalu berbahaya. Bongkot bisa saja melukaimu."
"Aku tidak takut, Gus," kata Raden. "Aku sudah terbiasa berhadapan dengan orang-orang seperti Bongkot."
"Tapi..."
"Percayalah padaku, Gus," potong Raden. "Aku bisa mengatasinya."
Bagus menghela napas. "Baiklah, Den. Tapi ajak Tono. Dia tahu Bongkot lebih baik dari kita."
"Baik, Gus," kata Raden. "Aku akan ajak Tono."
BAB 12: Bongkot Bersaksi
Seminggu setelah pertemuan dengan Bongkot, suasana di kampus semakin memanas. Gosip tentang Vino yang sedang diselidiki oleh pihak kampus mulai menyebar luas. Tidak ada yang tahu pasti sumber gosip itu, tapi semua orang percaya bahwa Raden dan timnya adalah dalang di balik semua ini. Vino sendiri mulai menunjukkan tanda-tanda kegelisahan. Ia lebih sering marah-marah pada anak buahnya. Ia lebih sering bolos rapat BEM. Wajahnya yang biasanya penuh senyum miring kini berubah menjadi cemberut setiap saat. Vino tahu ada sesuatu yang tidak beres, tapi ia belum bisa memastikan apa.
Gedung fakultas hukum, ruang senat mahasiswa. Pukul sepuluh pagi. Raden, Bagus, Tono, dan Bongkot duduk di meja panjang. Wajah mereka serius. Di atas meja, sebuah laptop terbuka dengan rekaman CCTV siap diputar. Bongkot duduk dengan tegang, sesekali menggeser posisi duduknya karena tidak nyaman. Lelaki kekar bertato di kedua lengan itu terbiasa berada di pihak yang salah. Kini, untuk pertama kalinya, ia berada di pihak yang benar. Dan itu membuatnya gelisah.
Raden membuka laptopnya. "Bong, aku ingin kamu menceritakan semuanya dari awal. Apa yang Vino suruh kamu lakukan. Kapan. Di mana. Siapa saja korban-korbannya. Jangan ada yang disembunyikan."
Bongkot menghela napas panjang. "Aku akan cerita, Den. Tapi kamu harus jamin aku dan keluargaku aman."
"Kami sudah menempatkan keluargamu di rumah aman, Bong," kata Tono. "Tidak ada yang tahu lokasinya. Bahkan aku sendiri tidak tahu persis di mana. Hanya Bagus yang tahu."
Bagus mengangguk. "Keluargamu aman, Bong. Aku yang menjemput mereka dan mengantarkan ke tempat aman. Tidak ada yang mengikuti. Aku pastikan."
Bongkot menghela napas lega. "Baiklah. Aku akan cerita."
Bongkot mulai bercerita tentang awal mula ia bekerja untuk Vino. Tiga tahun yang lalu, Vino membutuhkan seseorang yang bisa melakukan pekerjaan kotor. Bongkot, dengan rekam jejaknya di dunia preman, adalah pilihan yang tepat. Vino membayar Bongkot mahal untuk mengintimidasi siapa pun yang menghalangi jalannya.
"Siapa saja yang pernah kamu intimidasi untuk Vino?" tanya Raden.
"Banyak, Den," kata Bongkot. "Tapi yang paling parah adalah seorang mahasiswi fakultas hukum bernama Sari. Vino suruh aku menyebarkan gosip bahwa Sari hamil di luar nikah. Aku suruh anak buahku menyebarkannya ke seluruh fakultas. Dalam seminggu, reputasi Sari hancur."
Raden mengepalkan tangannya. Tono memejamkan mata, menahan amarah.
"Apa lagi, Bong?" tanya Bagus dengan suara tenang.
"Vino juga suruh aku mengancam dekan fakultas hukum agar tidak memproses laporan Laras," kata Bongkot. "Aku datangi rumah dekan. Aku bilang jika dia memproses laporan itu, keluarganya akan celaka. Dekan itu takut. Laporan Laras tidak pernah diproses."
"Ini bukti yang sangat kuat, Bong," kata Raden. "Kamu bersedia menjadi saksi di pengadilan?"
Bongkot terdiam. Ia tampak ragu.
"Bong, aku tahu ini berat," kata Bagus. "Tapi ini satu-satunya cara untuk menghentikan Vino. Jika Vino tetap bebas, dia akan terus menyakiti orang lain. Mungkin suatu hari dia akan menyakiti keluargamu juga."
"Aku tahu, Gus," kata Bongkot. "Tapi aku takut. Vino punya banyak koneksi. Dia bisa menyewa orang lain untuk membunuhku di penjara."
"Kami akan memastikan kamu aman, Bong," kata Raden. "Kami akan minta perlindungan polisi. Kamu akan ditempatkan di sel khusus yang terisolasi dari tahanan lain."
"Lo yakin itu bisa dilakukan, Den?" tanya Bongkot.
"Aku yakin, Bong," kata Raden. "Aku sudah bicara dengan beberapa pengacara senior. Mereka bilang itu bisa dilakukan jika kita punya bukti yang cukup kuat. Dan kita punya bukti yang sangat kuat."
Bongkot mengangguk. "Baiklah, Den. Aku akan menjadi saksi. Aku akan ceritakan semuanya di pengadilan."
"Terima kasih, Bong," kata Tono. "Lo melakukan hal yang benar."
"Tidak, Ton," kata Bongkot. "Aku melakukan hal yang benar sekarang. Tapi dulu, aku melakukan banyak hal yang salah. Aku tidak tahu apakah semua ini bisa menebus kesalahanku."
"Setidaknya lo mencoba, Bong," kata Bagus. "Itu lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa."
Sementara pertemuan di ruang senat berlangsung, Vino menerima telepon dari Robby.
"Vin, aku dengar Bongkot ada di fakultas hukum," kata Robby dengan suara panik. "Dia bersama Raden, Bagus, dan Tono."
Vino membanting meja di depannya. "Bongkot? Dia berani datang ke kampus? Dia berani bertemu dengan Raden?"
"Sepertinya Bongkot sudah membelot, Vin," kata Robby. "Dia akan menjadi saksi melawan lo."
"Persetan!" teriak Vino. "Aku tidak akan membiarkan Bongkot bersaksi. Hancurkan dia, Rob. Sebelum dia bicara."
"Tapi Vin, dia berada di gedung fakultas hukum," kata Robby. "Banyak saksi. Banyak CCTV. Jika kita melakukan sesuatu di sana, kita akan ketahuan."
"Maka lakukan di luar kampus," kata Vino. "Setelah dia keluar. Aku tidak peduli bagaimana caranya. Yang penting Bongkot tidak bisa bersaksi."
"Baik, Vin. Aku akan kerjakan."
Vino menutup telepon. Wajahnya merah padam. Ia berdiri dan berjalan mondar-mandir di ruangannya.
"Raden, lo pikir lo pintar?" bisik Vino. "Kita lihat siapa yang lebih pintar."
Di ruang senat, pertemuan sudah selesai. Bongkot bersedia menjadi saksi. Mereka semua sepakat untuk melaporkan Vino ke polisi dalam waktu dekat, setelah semua bukti terkumpul.
Bagus berdiri. "Baiklah, kita sudah punya rencana. Sekarang, Bong, lo harus tetap aman. Jangan keluar dari kampus sendirian. Selalu bersama salah satu dari kami."
"Aku akan antar Bongkot pulang, Gus," kata Tono. "Aku bisa jaga dia."
"Baik, Ton," kata Raden. "Hati-hati di jalan. Vino mungkin sudah tahu tentang pertemuan ini. Dia mungkin sudah mengirim anak buahnya."
"Jangan khawatir, Den," kata Tono. "Aku selalu bawa benda tajam untuk berjaga-jaga."
Mereka beranjak keluar dari ruangan. Tono dan Bongkot berjalan duluan menuju parkiran. Bagus dan Raden berjalan di belakang sambil berbisik.
"Den, aku tidak enak hati," kata Bagus. "Vino pasti akan marah besar setelah tahu Bongkot membelot."
"Aku tahu, Gus," kata Raden. "Tapi tidak ada pilihan lain. Bongkot harus bersaksi."
"Tapi apakah kita sudah siap menghadapi amukan Vino?"
"Kita harus siap, Gus. Tidak ada pilihan lain."
Di parkiran fakultas hukum, Tono dan Bongkot berjalan menuju mobil Tono yang terparkir di pojok.
Tono sudah merasa tidak enak sejak tadi. Matanya terus mengawasi setiap sudut parkiran yang gelap. Dari jendela lantai dua gedung fakultas hukum, Laras juga mengintai. Ia melihat bayangan-bayangan mencurigakan bersembunyi di balik mobil-mobil lain. Tanpa membuang waktu, Laras segera menekan nomor darurat polisi dari ponselnya.
"Polisi? Ada rencana penyerangan di parkiran fakultas hukum Universitas Persada. Segera kirim bantuan," bisik Laras dengan suara panik namun terukur.
Tono, yang tidak mengetahui bahwa Laras sudah menghubungi polisi, tetap waspada. Tangannya meraba pisaunya di saku celana.
Tiba-tiba, tiga orang lelaki bertubuh besar muncul dari balik mobil lain. Wajah mereka tertutup helm, tangan mereka membawa pentungan.
"Bongkot, Vino kirim salam," kata salah satu dari mereka. "Kamu seharusnya tidak membelot."
Tono segera berdiri di depan Bongkot. "Pergi kalian. Ini wilayah kampus. Banyak CCTV."
"CCTV tidak akan menyelamatkan kalian, Ton," kata lelaki itu. "Kami sudah mematikan CCTV di area ini."
Tono meraih ponselnya untuk menelepon Raden, tapi salah satu lelaki itu menendang ponsel Tono hingga terpental.
"Kami tidak ingin menyakitimu, Ton," kata lelaki itu. "Kami hanya ingin Bongkot. Serahkan dia, dan kalian bisa pergi."
"Aku tidak akan pernah menyerahkan Bongkot," kata Tono sambil meraih pisau lipat dari sakunya. "Silakan coba ambil dia."
Lelaki itu tertawa. "Berani. Aku suka. Sayangnya, keberanian tidak akan menyelamatkanmu."
Mereka bergegas menuju Tono dan Bongkot. Tono menusukkan pisaunya ke arah lelaki pertama, tapi lelaki itu menghindar dengan mudah. Lelaki kedua memukul perut Tono dengan pentungan. Tono terjatuh.
Bongkot berdiri di depan Tono. "Jangan sakiti dia. Aku akan ikut kalian."
"Terlambat, Bong," kata lelaki itu. "Kami sudah diperintahkan untuk menghabisi kalian berdua."
Namun, sebelum mereka sempat melangkah lebih jauh, suara sirine polisi terdengar dari kejauhan. Semakin lama semakin dekat. Para penyerang itu saling pandang, panik.
"Lapor! Polisi datang!" seru salah satu dari mereka.
Tono, yang masih terbaring di lantai, tersenyum tipis. "Ternyata Laras sempat menelepon polisi," pikirnya.
Di saat genting itu, suara keras terdengar dari balik mobil. "POLISI! ANGKAT TANGAN!"
Dua orang polisi berlari mendekat dengan senjata terhunus. Para lelaki bertopeng itu segera melarikan diri. Polisi mengejar, tapi mereka berhasil kabur menggunakan mobil yang sudah menunggu.
Raden dan Bagus berlari ke tempat kejadian. Raden membantu Tono berdiri. Bagus memeluk Bongkot yang gemetar.
"Ton, lo baik-baik saja?" tanya Raden.
"Aku baik-baik saja, Den," kata Tono sambil memegang perutnya yang memar. "Hanya sedikit sakit."
"Untung polisi datang tepat waktu," kata Bagus. "Siapa yang menelepon mereka?"
"Aku," kata Laras yang kini turun dari gedung dan berjalan mendekat. "Aku melihat mereka dari jendela lantai dua sejak mereka mulai berkumpul. Segera aku telepon polisi sebelum Tono dan Bongkot keluar."
Raden menatap Laras dengan penuh rasa terima kasih. "Lar, lo menyelamatkan nyawa mereka. Jika lo tidak cepat, mungkin kami sudah kehilangan Tono dan Bongkot."
Laras menghela napas lega. "Jangan berterima kasih padaku, Den. Aku hanya melakukan hal yang benar. Aku sudah banyak berbuat salah. Ini adalah awal dari penebusanku."
Tono tersenyum pada Laras meskipun perutnya masih sakit. "Terima kasih, Lar. Lo memang cepat tanggap."
Laras tersenyum tipis. "Kita sama-sama, Ton."
Polisi mengambil keterangan dari Tono, Bongkot, Laras, Raden, dan Bagus. Mereka semua sepakat untuk melaporkan Vino sebagai otak di balik percobaan pembunuhan itu. Bukti-bukti yang sudah dikumpulkan selama ini akan diserahkan ke polisi sebagai pelengkap laporan.
Kantor polisi, sore hari. Raden, Bagus, Cantik, Maya, Andre, Tono, Laras, dan Bongkot duduk di ruang tunggu. Wajah mereka lelah, tapi lega.
"Kita berhasil," kata Bagus. "Vino akan segera ditangkap."
"Belum, Gus," kata Raden. "Polisi masih butuh waktu untuk memproses laporan kita. Tapi setidaknya sekarang Vino tidak bisa berkutik."
"Apakah Vino akan masuk penjara, Den?" tanya Cantik.
"Jika semua bukti kita cukup kuat, dia akan masuk penjara, Cantik," kata Raden. "Tapi kita harus bersabar. Proses hukum tidak cepat."
"Yang penting sekarang Vino tidak bisa mengganggu kita lagi," kata Maya. "Setidaknya untuk sementara."
"Tapi kita harus tetap waspada, May," kata Andre. "Vino masih punya anak buah di luar. Mereka bisa melakukan apa pun atas perintah Vino."
"Kita tidak akan lengah, And," kata Bagus. "Kita akan terus menjaga satu sama lain."
Malam itu, di apartemen Vino, suasana berbeda. Vino duduk di kursi empuk dengan wajah pucat. Di depannya, seorang pengacara bernama Firmansyah sedang membaca berkas laporan polisi.
"Vin, ini serius," kata Firmansyah. "Polisi sudah mengantongi bukti-bukti yang cukup kuat. Bongkot bersedia menjadi saksi. Tono punya rekaman CCTV. Laras dan Sari juga bersedia menjadi saksi."
"Apa yang harus aku lakukan, Pak?" tanya Vino.
"Kamu harus keluar dari kota," kata Firmansyah. "Sementara waktu. Sampai panas mereda. Aku akan mengurus semuanya di sini."
"Lari?" kata Vino. "Aku tidak akan lari. Aku bukan pengecut."
"Ini bukan masalah pengecut atau tidak, Vin," kata Firmansyah. "Ini masalah strategi. Jika kamu ditangkap sekarang, kamu akan kesulitan. Lebih baik kamu menghilang sementara. Aku akan berusaha menghentikan proses hukum ini."
Vino terdiam. Ia berpikir keras.
"Baiklah, Pak," kata Vino akhirnya. "Aku akan keluar kota. Tapi aku tidak akan lari. Aku hanya menghilang sementara. Aku akan kembali ketika semuanya tenang."
"Keputusan yang bijak, Vin," kata Firmansyah. "Aku akan urus tiket pesawat untukmu malam ini juga. Jangan beri tahu siapa pun tentang keberangkatanmu. Bahkan anak buahmu sendiri."
"Baik, Pak. Aku percaya padamu."
Firmansyah berdiri dan pamit. Vino duduk sendirian di ruangannya, menatap papan besar berisi foto-foto Cantik, Bagus, Raden, dan yang lainnya. Ia berdiri, berjalan mendekati papan itu, lalu merobek semua foto satu per satu.
"Kita belum selesai, Cantik," bisik Vino. "Kita belum selesai."
Keesokan paginya, kampus Universitas Persada gempar. Vino tidak datang ke kampus. Tidak ada yang tahu ke mana dia pergi. Rumahnya kosong. Apartemennya kosong. Tidak ada jejak. Polisi sudah memasukkan nama Vino ke dalam daftar pencarian orang. Tapi hingga berita ini diturunkan, Vino belum ditemukan.
Bagus, Raden, Cantik, Maya, Andre, Tono, Laras, dan Bongkot berkumpul di Kafe Biru Langit. Mereka memesan kopi dan makanan ringan. Suasana campur aduk. Ada lega karena Vino pergi. Ada cemas karena Vino bisa kembali kapan saja.
"Jadi Vino kabur?" kata Maya.
"Sepertinya begitu, May," kata Andre. "Dia menghilang tanpa jejak."
"Apakah polisi akan bisa menemukannya?" tanya Cantik.
"Tidak mudah, Cantik," kata Raden. "Vino punya uang. Dia punya koneksi. Dia bisa bersembunyi di mana saja."
"Tapi setidaknya dia tidak akan mengganggu kita untuk sementara, kan, Den?" tanya Bagus.
"Untuk sementara, iya, Gus," kata Raden. "Tapi kita tidak tahu kapan dia akan kembali. Bisa minggu depan. Bisa bulan depan. Bisa tahun depan."
"Maka kita harus selalu waspada," kata Tono. "Jangan lengah. Jangan merasa aman terlalu cepat."
"Aku setuju dengan Tono," kata Laras. "Vino adalah ular yang pandai bersembunyi. Dia bisa muncul kapan saja."
Cantika menghela napas. "Aku lelah, teman-teman. Aku lelah hidup dalam ketakutan. Aku lelah terus melihat ke belakang."
Bagus meraih tangan Cantik. "Cantik, kita akan melewati ini bersama. Lo tidak sendirian."
"Bagus benar, Cantik," kata Raden. "Kita akan selalu ada untuk lo. Apa pun yang terjadi."
"Terima kasih, Gus. Terima kasih, Den," kata Cantik. "Aku tidak tahu akan jadi apa tanpa kalian."
Maya memeluk Cantik. "Lo tidak akan pernah sendiri, Cantik. Ingat itu."
Sehari kemudian, Bagus duduk sendirian di balkon apartemennya. Langit malam Jakarta gelap tanpa bintang. Ponselnya bergetar. Pesan dari Raden.
"Gus, aku tidak bisa tidur. Aku terus memikirkan Vino. Dia bisa berada di mana saja."
Bagus membalas. "Aku juga tidak bisa tidur, Den. Tapi tidak ada gunanya terus memikirkan Vino. Yang bisa kita lakukan adalah bersiap."
Raden. "Lo benar, Gus. Tapi perasaan ini tidak bisa aku kendalikan."
Bagus. "Coba tidur, Den. Besok kita masih harus melanjutkan hidup. Skripsi lo belum selesai, kan?"
Raden. "Skripsi? Aku hampir lupa bahwa aku masih punya skripsi. Semua ini membuatku lupa pada hal-hal penting."
Bagus. "Maka mulai besok, kita harus kembali ke kehidupan normal. Vino sudah pergi. Setidaknya untuk sekarang. Manfaatkan waktu ini untuk menyelesaikan skripsi."
Raden. "Kata-kata bijak dari seorang arsitek galau."
Bagus tersenyum membaca balasan Raden. Ia mematikan ponselnya dan memandangi langit lagi. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ia merasa sedikit tenang.
Di sebuah hotel di kota lain, Vino duduk di ranjangnya. Wajahnya dingin. Matanya kosong. Ia memegang ponselnya, melihat foto-foto lama Cantika yang masih tersimpan di galerinya.
"Cantik, aku akan kembali," bisik Vino. "Dan ketika aku kembali, aku akan memastikan bahwa tidak ada yang bisa menghalangi kita."
Ia mematikan ponselnya. Ia menutup mata. Tapi ia tidak bisa tidur. Bayangan Cantik, Bagus, Raden, dan semua orang yang pernah menghalangi jalannya terus menghantuinya.
Vino tersenyum. Senyum yang sama. Senyum miring yang penuh racun. Senyum yang tidak akan pernah pudar meskipun ia sedang dalam pelarian.
BAB 13: Mencari Ketenangan di Tengah Badai
Dua minggu telah berlalu sejak Vino menghilang. Dua minggu sejak kampus Universitas Persada terbebas dari bayang-bayang terornya. Suasana di kampus berangsur normal kembali. Mahasiswa kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Gosip tentang Vino perlahan mereda, digantikan oleh gosip-gosip baru yang lebih segar tentang siapa yang pacaran dengan siapa, siapa yang putus, dan siapa yang naik jabatan di organisasi mahasiswa. Namun di balik ketenangan yang tampak di permukaan, ada kegelisahan yang masih mengendap di hati Bagus, Raden, Cantika, dan semua teman-teman mereka. Vino memang menghilang, tapi tidak ada yang tahu kapan dia akan kembali. Dan ketidaktahuan itu adalah bentuk ketakutan yang paling menyiksa.
Kafe Biru Langit, Jumat malam. Hujan tidak turun malam ini, tapi angin malam berhembus cukup kencang, membawa aroma hujan dari kejauhan. Bagus, Raden, dan Cantika duduk di meja bundar favorit mereka. Ini adalah pertama kalinya mereka bertiga duduk bersama tanpa Maya, Andre, Tono, atau Laras sejak Vino menghilang. Suasana terasa berbeda. Ada keheningan yang tidak biasa di antara mereka. Bukan keheningan yang canggung, tapi keheningan yang muncul karena masing-masing sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.
Bagus memecah keheningan lebih dulu. "Den, skripsi lo gimana? Aku dengar lo sudah sampai bab empat."
Raden mengangkat kepalanya. "Bab empat hampir selesai, Gus. Tinggal revisi sedikit. Dosen pembimbingku bilang kalau revisinya rapi, aku bisa sidang bulan depan."
Bagus bersiul kecil. "Wah, cepat juga, Den. Aku masih berkutat di bab tiga. Skripsi arsitektur memang beda. Kita tidak hanya nulis, tapi juga harus bikin model bangunan."
"Kamu juga pasti bisa, Gus," kata Cantik. "Lo sudah bekerja keras selama ini. Hasilnya pasti bagus."
Bagus tersenyum. "Semoga, Cantik. Doakan aku."
"Tentu, Gus," kata Cantik. "Kamu tahu aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu."
Raden menyesap kopinya. "Cantik, bagaimana dengan skripsimu? Jurusan sastra pasti butuh banyak bacaan, kan?"
Cantika menghela napas. "Iya, Den. Tumpukan bacaan di kamarku sudah hampir setinggi aku. Tapi perlahan-lahan aku mulai mencerna. Mudah-mudahan tahun ini aku bisa sidang."
"Lo pasti bisa, Cantik," kata Bagus. "Lo mahasiswi sastra terpintar di fakultas."
"Ah, lo melebih-lebihkan, Gus," kata Cantika sambil tersenyum malu.
"Bukan melebih-lebihkan, Cantik," kata Raden. "Itu fakta."
Mereka bertiga tertawa. Tawa kecil yang menghangatkan suasana.
Setelah tawa mereda, Cantika menatap Bagus dan Raden bergantian. "Gus, Den, aku ingin mengucapkan terima kasih. Untuk semuanya. Untuk melindungiku dari Vino. Untuk tidak pernah meninggalkanku. Untuk selalu ada saat aku butuh."
"Cantik, kami tidak melakukan apa-apa," kata Bagus. "Kami hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh sahabat."
"Tapi tidak semua sahabat mau melakukan apa yang kalian lakukan, Gus," kata Cantik. "Tidak semua sahabat rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan keselamatan diri untuk melindungi temannya."
"Kami tidak mengorbankan apa pun, Cantik," kata Raden. "Kami hanya melakukan yang terbaik yang kami bisa."
"Dan itu berarti segalanya bagiku, Den," kata Cantik. "Kalian berdua adalah anugerah terbesar dalam hidupku."
Bagus dan Raden terdiam. Kata-kata Cantika membuat mereka merenung.
"Aku juga ingin minta maaf, Cantik," kata Raden tiba-tiba.
"Minta maaf untuk apa, Den?" tanya Cantik.
"Untuk membuatmu berada dalam posisi yang sulit. Untuk memaksamu memilih di antara aku dan Bagus. Itu tidak adil untukmu."
"Den, kamu tidak memaksaku," kata Cantik. "Kamu hanya jujur. Dan kejujuranmu membuatku sadar bahwa aku tidak bisa terus bersembunyi dari perasaanku sendiri."
"Jadi lo sudah tahu perasaan lo sekarang, Cantik?" tanya Bagus pelan.
Cantika menunduk. Ia menggulung ujung rambutnya, kebiasaan lamanya ketika sedang gugup.
"Belum sepenuhnya, Gus," kata Cantik. "Tapi aku semakin dekat dengan jawabannya."
"Apakah kami boleh tahu jawaban itu sekarang?" tanya Raden.
"Belum, Den," kata Cantik. "Beri aku waktu sedikit lagi. Aku janji, sebelum masa satu bulan ini berakhir, aku akan memberikan jawaban."
Bagus mengangguk. "Kami akan menunggu, Cantik. Tidak ada yang terburu-buru."
"Cantik, aku ingin bertanya sesuatu," kata Raden.
"Tanyalah, Den."
"Apakah lo masih takut pada Vino?"
Cantika terdiam sejenak. "Aku takut, Den. Tapi tidak seperti dulu. Dulu aku takut setengah mati. Sekarang aku hanya waspada. Aku tahu Vino bisa kembali kapan saja. Tapi aku juga tahu aku tidak sendirian. Aku punya kalian. Aku punya Maya, Andre, Tono, Laras, dan semua orang yang peduli padaku. Itu sudah cukup untuk membuatku berani."
"Itu jawaban yang bagus, Cantik," kata Bagus. "Aku bangga padamu."
"Aku juga bangga, Cantik," kata Raden. "Lo sudah jauh lebih kuat dari yang lo kira."
Mereka bertiga menghabiskan dua jam berikutnya dengan berbicara tentang hal-hal ringan. Tentang film yang baru mereka tonton. Tentang lagu yang sedang populer. Tentang rencana liburan setelah lulus nanti. Tidak ada yang menyentuh topik cinta. Tidak ada yang menyentuh topik Vino. Hanya tiga sahabat yang menikmati kebersamaan seperti dulu, sebelum semua kerumitan ini dimulai.
Sementara itu, di apartemen Maya, Maya dan Andre sedang duduk di sofa sambil menonton film komedi di televisi. Andre tertawa terbahak-bahak setiap kali ada adegan lucu. Maya hanya tersenyum tipis, pikirannya sedang tidak fokus.
"And, lo tahu tidak, akhir-akhir ini aku merasa ada yang tidak beres," kata Maya.
Andre menoleh. "Apa maksud lo, May?"
"Aku tidak tahu. Firasat saja. Seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Sesuatu yang buruk."
"May, lo terlalu banyak pikiran," kata Andre. "Vino sudah pergi. Kampus sudah aman. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Tapi Vino bisa kembali kapan saja, And. Dan ketika dia kembali, dia pasti akan lebih berbahaya dari sebelumnya."
"Kalau itu yang lo khawatirkan, kenapa kita tidak mempersiapkan diri?" kata Andre. "Kita sudah punya rencana. Kita sudah punya bukti. Kita sudah punya polisi. Vino tidak akan bisa berbuat banyak."
"Semoga, And," kata Maya. "Semoga."
Andre meraih tangan Maya. "May, aku tahu lo khawatir. Tapi jangan biarkan kekhawatiran itu menguasai lo. Nikmati hidup. Tertawa. Bahagia. Itu yang Vino tidak ingin kita lakukan. Dia ingin kita takut. Jangan beri dia kepuasan itu."
Maya tersenyum. "Lo benar, And. Aku tidak akan memberi Vino kepuasan itu."
"Itu dia," kata Andre sambil tersenyum. "Sekarang, tonton filmnya. Lo ketinggalan adegan lucu."
Maya tertawa kecil. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu Andre. Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa sedikit tenang.
Di kamar kos Laras, Laras sedang duduk di depan laptopnya. Ia sedang mencari informasi tentang keberadaan Vino. Sebagai mantan kaki tangan Vino, Laras tahu beberapa tempat persembunyian yang biasa Vino gunakan. Ia sudah menghubungi beberapa kenalan lamanya, meminta informasi tentang Vino. Tapi belum ada hasil.
Ponsel Laras bergetar. Pesan dari Sari.
"Kak, aku bermimpi buruk. Vino datang ke rumah. Dia membawa pisau."
Laras membalas. "Sar, itu hanya mimpi. Kakak di sini. Kakak akan lindungi kamu."
Sari. "Tapi mimpi itu terasa nyata, Kak. Aku takut."
Laras. "Kakak akan ke sana besok pagi. Kita cari tempat tinggal baru yang lebih aman. Janji."
Sari. "Baik, Kak. Aku tunggu. Jangan lama-lama."
Laras. "Kakak tidak akan lama. Janji."
Percakapan berakhir. Laras memandangi layar laptopnya. Matanya berkaca-kaca. Ia berdoa semoga adiknya selamat. Ia berdoa semoga Vino tidak pernah kembali.
Di apartemen Tono, Tono sedang memutar rekaman CCTV dari berbagai sudut kampus. Ia sudah memasang beberapa kamera tambahan di lokasi-lokasi strategis tanpa sepengetahuan pihak kampus. Ia ingin memastikan bahwa jika Vino kembali, ia akan tahu lebih dulu.
Tono memicingkan matanya ketika melihat sesuatu yang aneh di rekaman parkiran belakang fakultas hukum. Sebuah mobil hitam terparkir di sudut yang gelap. Mobil itu tidak bergerak selama berjam-jam. Terlalu lama untuk sekadar parkir biasa.
Tono memperbesar gambar. Nomor pelat mobil itu tidak terbaca karena terlalu gelap. Tapi Tono bisa melihat sosok seseorang di dalam mobil. Sosok itu seperti sedang mengawasi gedung fakultas hukum.
"Ada apa, Ton?" panggil ibunya dari luar kamar.
"Tidak ada, Bu," kata Tono. "Aku hanya sedang mengerjakan tugas."
Tono merekam gambar mobil itu dan mengirimkannya ke Bagus.
"Gus, lihat ini. Mobil ini sudah parkir di belakang fakultas hukum sejak jam 8 malam. Sekarang sudah jam 11. Tidak bergerak. Ada seseorang di dalamnya. Aku curiga ini mata-mata Vino."
Balasan Bagus datang cepat. "Aku lihat, Ton. Aku akan kasih tahu Raden. Jangan bertindak sendiri. Pantau terus."
"Baik, Gus. Aku akan pantau."
Tono terus memantau layar laptopnya. Matanya tidak berkedip. Ia tahu ini hanya awal dari sesuatu yang lebih besar.
Keesokan harinya, Bagus, Raden, dan Tono berkumpul di ruang senat fakultas hukum. Mereka membahas tentang mobil hitam yang terekam CCTV semalam.
"Apa lo bisa identifikasi pemilik mobil itu, Ton?" tanya Raden.
"Belum, Den," kata Tono. "Nomor pelatnya tidak terbaca. Tapi aku yakin itu bukan mobil biasa. Orang yang parkir di sana sengaja memilih tempat yang gelap agar tidak terlihat."
"Apakah itu Vino?" tanya Bagus.
"Aku tidak yakin, Gus," kata Tono. "Tapi kemungkinan itu anak buah Vino. Vino tidak akan sebodoh itu kembali ke kampus hanya beberapa minggu setelah dia kabur."
"Tapi dia bisa menyuruh anak buahnya untuk mengintai kita, Ton," kata Raden. "Dia ingin tahu apa yang kita lakukan. Dia ingin tahu kelemahan kita."
"Maka kita tidak boleh menunjukkan kelemahan, Den," kata Bagus. "Kita harus tetap tenang. Tetap fokus. Jangan biarkan mereka mengintimidasi kita."
"Lo benar, Gus," kata Raden. "Tapi bagaimana caranya tetap tenang ketika tahu ada mata-mata di mana-mana?"
"Kita tidak bisa mengontrol apa yang dilakukan Vino atau anak buahnya, Den," kata Bagus. "Tapi kita bisa mengontrol reaksi kita. Jangan beri mereka apa yang mereka inginkan. Jangan tunjukkan rasa takut."
"Aku setuju dengan Bagus," kata Tono. "Kita harus tetap tenang. Tapi kita juga harus waspada. Aku akan terus memantau CCTV. Jika ada yang mencurigakan, aku akan langsung lapor."
"Baik, Ton," kata Raden. "Kami percaya padamu."
Siang harinya, Cantika dan Maya bertemu dengan Laras di kantin fakultas psikologi. Mereka bertiga duduk di meja pojok, berbicara dengan suara pelan.
"Lar, kabar Sari bagaimana?" tanya Cantik.
"Sari masih trauma, Cantik," kata Laras. "Dia sering mimpi buruk. Aku sudah cari tempat tinggal baru untuk kami. Mudah-mudahan minggu depan kami bisa pindah."
"Ada yang bisa kami bantu, Lar?" tanya Maya.
"Kalian sudah banyak membantu, May," kata Laras. "Aku tidak mau merepotkan lagi."
"Bukan repot, Lar," kata Cantik. "Itu namanya pertolongan. Dan pertolongan tidak perlu dihitung."
Laras tersenyum. "Terima kasih, Cantik. Lo baik sekali."
"Lo juga baik, Lar," kata Cantik. "Lo berjuang untuk adik lo. Itu mulia."
"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan sebagai kakak," kata Laras. "Jika aku lebih berani dulu, mungkin Sari tidak akan mengalami semua ini."
"Jangan menyalahkan diri sendiri, Lar," kata Maya. "Vino yang salah. Vino yang jahat. Bukan kamu."
"Tapi aku terlalu lama diam, May," kata Laras. "Aku terlalu lama takut. Aku seharusnya melawan Vino sejak awal."
"Sekarang lo sudah melawan, Lar," kata Cantik. "Itu yang penting. Tidak ada kata terlambat untuk melakukan hal yang benar."
Laras mengangguk. "Terima kasih, Cantik. Terima kasih, May. Aku tidak tahu akan jadi apa tanpa kalian."
"Lo tidak akan pernah sendiri, Lar," kata Maya. "Ingat itu."
Mereka bertiga menghabiskan waktu bersama hingga sore. Bercerita tentang masa lalu. Tentang masa depan. Tentang mimpi-mimpi yang belum tercapai. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Laras merasa memiliki teman.
Malam itu, Bagus duduk sendirian di balkon apartemennya. Langit Jakarta gelap tanpa bintang. Ponselnya bergetar. Pesan dari Cantik.
"Gus, lo ada waktu? Aku ingin bicara."
Bagus membalas. "Aku ada waktu, Cantik. Apa yang ingin lo bicarakan?"
Cantik. "Tentang kita. Tentang Den. Tentang semua yang terjadi. Aku sudah hampir menemukan jawabannya."
Bagus. "Aku mendengarkan, Cantik."
Cantik. "Tapi belum sekarang, Gus. Aku belum siap mengatakannya secara langsung. Aku butuh waktu sedikit lagi."
Bagus. "Tidak apa, Cantik. Aku akan menunggu. Tidak ada yang terburu-buru."
Cantik. "Terima kasih, Gus. Lo selalu sabar padaku."
Bagus. "Karena aku tahu lo layak untuk ditunggu, Cantik. Lo layak mendapatkan yang terbaik."
Cantik. "Lo membuatku tersipu, Gus."
Bagus tersenyum membaca balasan Cantik. "Itu sudah tugas seorang arsitek galau, Cantik. Membuat perempuan tersipu dengan kata-kata."
Cantik. "Ah, elu, Gus. Bisa-bisa aja."
Bagus. "Istirahat yang cukup, Cantik. Besok kita masih harus berjuang melawan skripsi masing-masing."
Cantik. "Lo juga, Gus. Jangan begadang terus. Kesehatan lo penting."
Bagus. "Aku akan usahakan, Cantik. Janji."
Percakapan berakhir. Bagus memandangi ponselnya sejenak, lalu meletakkannya di samping kursi. Ia memandangi langit malam yang gelap. Pikirannya tenang. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ia tidak merasa cemas. Mungkin karena ia sudah pasrah. Mungkin karena ia sudah ikhlas. Apapun jawaban Cantika nanti, ia akan menerimanya dengan lapang dada.
Di apartemen Raden, Raden juga tidak bisa tidur. Ia duduk di kursi kerjanya, memandangi tumpukan buku hukum yang belum sempat ia baca. Ponselnya bergetar. Pesan dari Bagus.
"Den, lo masih bangun?"
Raden membalas. "Masih, Gus. Ada apa?"
Bagus. "Tidak ada. Aku hanya ingin memastikan lo baik-baik saja."
Raden. "Aku baik-baik saja, Gus. Hanya sedikit gelisah."
Bagus. "Gelisah tentang apa?"
Raden. "Tentang Cantik. Tentang jawaban yang akan dia berikan. Aku takut."
Bagus. "Takut tentang apa, Den?"
Raden. "Takut jika dia tidak memilihku. Takut jika dia memilihmu. Takut jika hubungan kita berdua tidak akan pernah sama lagi."
Bagus. "Den, apa pun jawaban Cantik, persahabatan kita tidak akan berubah. Aku janji."
Raden. "Lo yakin, Gus? Lo yakin tidak akan marah jika Cantika memilihku?"
Bagus. "Aku akan ikhlas, Den. Aku sudah mempersiapkan diriku untuk apa pun."
Raden. "Lo lebih kuat dari aku, Gus. Aku tidak tahu apakah aku bisa sekuat itu jika Cantika memilihmu."
Bagus. "Kamu bisa, Den. Karena kamu juga sahabat terbaikku. Dan sahabat terbaik tidak akan membiarkan persahabatan hancur hanya karena cinta."
Raden terdiam membaca balasan Bagus. Air matanya jatuh. Ia tidak tahu apakah itu air mata haru atau air mata takut. Yang ia tahu, ia bersyukur memiliki sahabat seperti Bagus.
"Terima kasih, Gus," balas Raden. "Lo sahabat terbaik."
"Lo juga, Den," balas Bagus. "Sekarang tidur. Besok kita masih harus berjuang."
"Baik, Gus. Selamat malam."
"Selamat malam, Den."
Raden mematikan ponselnya. Ia berbaring di ranjang, memejamkan mata, dan berusaha tidur. Bayangan Cantika muncul di pelupuk matanya. Cantika tersenyum. Cantika tertawa. Cantika menggulung rambutnya. Raden tersenyum. Ia berdoa semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk mereka semua.
Di tempat persembunyiannya di sebuah kota kecil di luar Jawa, Vino duduk di kursi kayu sambil memandangi sawah di depannya. Udara di desa itu sejuk, jauh berbeda dari hiruk-pikuk Jakarta. Tapi ketenangan desa tidak mampu menenangkan pikirannya. Vino terus memikirkan balas dendam. Ia terus memikirkan cara untuk menghancurkan Bagus, Raden, Cantik, dan semua orang yang telah menghalangi jalannya.
Ponsel Vino bergetar. Pesan dari Robby.
"Vin, mobil sudah di parkiran belakang fakultas hukum. Tidak ada yang curiga. Kami akan terus memantau."
Vino membalas. "Bagus. Jangan sampai ketahuan. Beri tahu aku jika ada yang mencurigakan."
Robby. "Baik, Vin. Kamu sendiri bagaimana? Kapan kembali?"
Vino. "Aku akan kembali ketika waktunya tepat. Jangan tanyakan lagi."
Robby. "Baik, Vin. Aku akan lakukan yang terbaik."
Vino mematikan ponselnya. Ia memandangi sawah di depannya. Wajahnya dingin. Matanya kosong. Tapi di dalam hatinya, api dendam terus menyala.
"Cantik, lo pikir lo bisa bahagia tanpa aku?" bisik Vino. "Lo salah. Aku akan menghancurkan kebahagiaan lo. Aku akan membuat lo menyesal pernah menolak aku."
Ia tersenyum. Senyum yang sama. Senyum miring yang penuh racun. Senyum yang tidak akan pernah pudar meskipun ia sedang terbuang di desa terpencil.
BAB 14: Jawaban yang Dinanti
Hari terakhir dari masa satu bulan yang telah disepakati oleh Bagus, Raden, dan Cantika akhirnya tiba. Tiga puluh hari sejak mereka berjanji untuk saling menjauh dalam urusan cinta. Tiga puluh hari sejak mereka memutuskan untuk hanya menjadi sahabat biasa tanpa tekanan. Tiga puluh hari yang terasa seperti tiga puluh tahun bagi Bagus dan Raden, yang setiap harinya harus menahan diri untuk tidak mendekati Cantika lebih dari yang diperbolehkan. Tiga puluh hari yang terasa seperti tiga puluh detik bagi Cantika, yang masih belum yakin dengan pilihannya. Namun janji adalah janji. Dan malam ini, di Kafe Biru Langit, tempat semuanya dimulai, Cantika akan memberikan jawaban yang selama ini dinanti oleh dua sahabat terbaiknya.
Langit Jakarta malam itu tidak berbeda dari malam-malam sebelumnya. Gelap tanpa bintang, dengan polusi cahaya yang menyilaukan dari gedung-gedung tinggi di kejauhan. Hujan tipis turun sejak sore, meninggalkan genangan air di mana-mana. Suara air yang mengalir di selokan terdengar seperti melodi sendu yang mengiringi langkah kaki Bagus menuju kafe. Ia datang lebih awal, seperti biasa. Bukan karena ia ingin terlihat rapi atau sopan. Tapi karena ia tidak tahan berlama-lama di apartemen sendirian, bergulat dengan pikirannya sendiri. Di tangan kanannya, sebuah buku sketsa lusuh. Di tangan kirinya, sebuah kotak kecil berwarna biru tua berisi kalung bertuliskan nama "Cantika" dengan huruf emas. Kalung itu sudah ia beli tiga tahun lalu, sebelum ia memberanikan diri untuk mengaku. Kalung itu sudah ia simpan di dalam laci selama tiga tahun, menunggu waktu yang tepat. Dan malam ini, apapun jawaban Cantika, kalung itu akan ia berikan. Bukan sebagai hadiah cinta. Tapi sebagai kenang-kenangan untuk sahabat terbaiknya.
Kafe Biru Langit terasa lebih sepi dari biasanya. Mungkin karena hujan. Mungkin karena hari sudah larut. Mungkin karena pemilik kafe, Pak Darmo, sengaja mengurangi jumlah kursi dan meja untuk memberikan privasi lebih bagi mereka yang datang. Di meja bundar favorit mereka, tiga cangkir kopi sudah tersaji rapi. Dua kopi hitam pahit untuk Bagus dan Raden, satu cappuccino dengan tambahan karamel untuk Cantik. Pak Darmo pasti sudah tahu mereka akan datang malam ini. Lelaki tua bijak itu selalu tahu segalanya tanpa perlu ditanya.
Bagus duduk di kursinya. Ia meletakkan buku sketsa dan kotak kecil di atas meja. Ia tidak membukanya. Ia hanya memandanginya, berpikir tentang apa yang akan terjadi nanti.
Pintu kafe terbuka. Masuklah Raden dengan jas hujan hitam yang masih basah. Ia melepas jasnya, menggantungnya di rak dekat pintu, lalu berjalan ke meja bundar. Wajahnya datar seperti biasa, tapi matanya tidak bisa menyembunyikan kegelisahan. Ada lingkaran hitam di bawah matanya, tanda bahwa ia tidak tidur semalaman.
Raden duduk di kursi sebelah Bagus, seperti biasa. "Lo datang lebih awal lagi, Gus."
"Aku tidak bisa diam di apartemen, Den," kata Bagus. "Pikiranku terlalu berisik."
"Pikiran lo berisik tentang apa, Gus?"
"Tentang jawaban Cantik. Tentang apa yang akan terjadi setelah malam ini. Tentang persahabatan kita."
Raden menghela napas. "Pikiran aku juga berisik, Gus. Aku tidak tidur semalaman. Aku hanya bolak-balik di ranjang, membayangkan berbagai kemungkinan."
"Apa kemungkinan terburuk yang lo bayangkan, Den?"
Kemungkinan bahwa Cantika akan memilih lo," kata Raden. "Kemungkinan bahwa aku harus kehilangan dia selamanya."
Bagus menatap Raden. "Den, lo tidak akan kehilangan Cantika selamanya. Apa pun jawabannya, dia akan tetap menjadi sahabat kita. Dia tidak akan pernah pergi dari hidup kita."
"Tapi akan berbeda, Gus," kata Raden. "Tidak akan sama seperti dulu."
"Memang tidak akan sama, Den," kata Bagus. "Tapi tidak apa-apa. Kita akan menciptakan persahabatan yang baru. Yang lebih dewasa. Yang lebih matang."
"Lo bicara seperti sudah sangat tua, Gus," kata Raden sambil tersenyum tipis.
"Aku merasa tua, Den," kata Bagus. "Semua drama ini membuatku merasa lebih tua dari usiaku."
Mereka berdua tertawa kecil. Tawa yang menghangatkan suasana yang dingin.
Pintu kafe terbuka lagi. Masuklah Cantik, ditemani Maya dan Andre. Cantika mengenakan gaun sederhana berwarna putih, panjang selutut, dengan jaket jeans tipis di luar. Rambutnya diikat setengah, dengan jepit kupu-kupu kesayangan di sisi kanan. Wajahnya pucat, matanya sedikit sembab. Ia tersenyum tipis pada Bagus dan Raden, lalu berjalan ke meja mereka.
Maya dan Andre duduk di meja sebelah, tidak jauh dari meja bundar. Mereka sengaja memberi jarak untuk memberikan privasi bagi Bagus, Raden, dan Cantik. Tapi mereka tetap dalam jangkauan jika dibutuhkan.
Cantika duduk di kursi di hadapan Bagus dan Raden. Ia meletakkan tas kecil berwarna cokelat di samping kursinya. Tangannya gemetar sedikit.
"Gus, Den, maaf aku terlambat," kata Cantik. "Ada sedikit masalah di jalan."
"Tidak apa, Cantik," kata Bagus. "Kami sudah terbiasa menunggu lo."
"Lo memang selalu sabar, Gus," kata Cantik. "Aku beruntung memiliki sahabat sepertimu."
"Aku juga beruntung memiliki lo, Cantik," kata Bagus.
Raden menghela napas. "Cantik, kita tidak perlu basa-basi lagi. Kita sudah menunggu tiga puluh hari untuk malam ini. Aku rasa sudah waktunya."
Cantika menunduk. Ia menggulung ujung rambutnya, kebiasaan lamanya ketika sedang gugup.
"Den, aku tahu kalian berdua sudah tidak sabar," kata Cantik. "Tapi aku mohon, beri aku waktu sebentar. Aku perlu mengumpulkan keberanian."
"Kami tidak akan terburu-buru, Cantik," kata Raden. "Ambil waktu lo."
Cantika menarik napas panjang. Ia menatap Bagus, lalu Raden, lalu Bagus lagi. Matanya berkaca-kaca.
"Gus, Den, kalian berdua adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki," kata Cantik. "Kalian selalu ada untukku dalam suka dan duka. Kalian selalu melindungiku. Kalian selalu mengingatkanku ketika aku salah. Aku sangat berterima kasih untuk itu."
"Kami tahu, Cantik," kata Bagus. "Kami juga bersyukur memiliki lo."
"Tapi selama tiga puluh hari terakhir, aku banyak berpikir," kata Cantik. "Aku berpikir tentang perasaanku. Tentang perasaan kalian. Tentang persahabatan kita. Tentang masa depan."
"Dan apa kesimpulan lo, Cantik?" tanya Raden.
Cantika menunduk lebih dalam. Air matanya jatuh.
"Den, aku... aku tidak bisa," kata Cantik. "Aku tidak bisa memilih."
Raden mengerutkan kening. "Apa maksud lo, Cantik?"
"Aku mencintai kalian berdua, Den," kata Cantik. "Tapi dengan cara yang berbeda. Aku tidak bisa memilih di antara kalian karena memilih berarti mengorbankan salah satu dari kalian. Dan aku tidak tega melakukan itu."
"Cantik, lo harus memilih," kata Bagus. "Tidak ada jalan lain. Cinta itu antara dua orang. Bukan tiga."
"Aku tahu, Gus," kata Cantik. "Tapi aku tidak bisa. Aku sudah mencoba. Aku sudah berdoa. Aku sudah bermimpi. Tapi setiap kali aku hampir memutuskan, hatiku berteriak bahwa aku salah."
"Cantik, lo tidak bisa menyenangkan semua orang," kata Raden. "Pada akhirnya, lo harus memilih yang membuat lo bahagia."
"Tapi aku tidak akan bahagia jika harus membuat salah satu dari kalian tidak bahagia, Den," kata Cantik. "Kalian terlalu berharga bagiku."
Bagus terdiam. Ia meraih kotak kecil berwarna biru tua dari atas meja. Ia membukanya. Di dalamnya, sebuah kalung perak dengan liontin bertuliskan nama "Cantika" dengan huruf emas.
"Cantik, aku membeli ini tiga tahun lalu," kata Bagus. "Aku menyimpannya di laci, menunggu waktu yang tepat. Aku pikir waktu yang tepat adalah malam ini. Tapi aku salah. Waktu yang tepat tidak akan pernah datang jika kita terus menunggu."
Cantika menatap kalung itu. Air matanya semakin deras.
"Gus, ini terlalu indah," kata Cantik. "Aku tidak pantas..."
"Lo pantas, Cantik," potong Bagus. "Lo pantas mendapatkan yang terbaik. Dan aku harap lo mau menerima ini. Bukan sebagai hadiah cinta. Tapi sebagai kenang-kenangan dari seorang sahabat."
Cantika mengangguk. Bagus berdiri, berjalan ke belakang Cantik, dan memasangkan kalung itu di leher Cantik. Tangan Bagus gemetar sedikit, tapi ia berusaha tenang.
"Terima kasih, Gus," bisik Cantik. "Aku akan menjaganya selamanya."
Bagus kembali ke kursinya. Ia tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca.
Raden menatap Bagus dengan heran. "Gus, lo sudah menyerah?"
Bagus menghela napas. "Den, aku tidak menyerah. Aku hanya sadar bahwa aku tidak bisa memaksa Cantika untuk memilih. Jika dia belum siap, aku akan menunggu. Tidak peduli berapa lama."
"Tapi Gus..."
"Den, lo juga harus bersabar," potong Bagus. "Cantika butuh waktu. Jangan memaksanya."
Raden terdiam. Ia menatap Cantik. Cantika menunduk, tidak berani menatap siapa pun.
"Cantik, aku minta maaf," kata Raden. "Aku tidak bermaksud memaksamu. Aku hanya..."
"Aku tahu, Den," potong Cantik. "Lo hanya ingin kepastian. Tapi aku belum bisa memberikannya. Belum sekarang."
Raden mengangguk. "Baiklah, Cantik. Aku akan menunggu. Tidak peduli berapa lama."
Maya dan Andre yang mendengar percakapan dari meja sebelah saling pandang.
"Astaga, ini lebih rumit dari yang aku kira," bisik Maya.
"Iya, May," bisik Andre. "Tapi setidaknya mereka tidak bertengkar. Mereka masih bisa bicara dengan dewasa."
"Bersyukur, And. Aku hampir saja ikut menangis."
"Lo memang cengeng, May."
"Bukan cengeng, And. Aku sensitif. Itu berbeda."
Mereka berdua tersenyum. Tawa kecil di tengah kegaduhan hati.
Kembali di meja bundar, suasana masih tegang. Cantika masih menunduk, sesekali menyeka air matanya dengan ujung lengan bajunya. Bagus duduk diam, memandangi cangkir kopinya yang sudah dingin. Raden duduk tegap, matanya menerawang ke luar jendela, menatap hujan yang masih setia menemani malam itu.
"Cantik, aku ingin bertanya sesuatu," kata Raden tanpa menoleh.
"Apa, Den?" tanya Cantik.
"Apakah ada kemungkinan lo akan memilih Vino? Setelah semua yang dia lakukan?"
Cantika mengangkat kepalanya. Matanya tajam. "Tidak, Den. Tidak akan pernah. Vino sudah kehilangan kesempatannya. Selamanya."
"Lalu kenapa lo tidak bisa memilih di antara aku dan Bagus?" tanya Raden. "Apa yang membuat lo ragu?"
Cantika terdiam sejenak. "Karena aku takut, Den."
"Takut tentang apa, Cantik?"
"Aku takut jika aku memilih salah satu dari kalian, persahabatan kita akan hancur," kata Cantik. "Aku takut jika kalian berdua tidak bisa lagi duduk semeja seperti ini. Aku takut jika aku kehilangan kalian berdua."
"Cantik, persahabatan kita tidak akan hancur hanya karena lo memilih salah satu dari kami," kata Bagus. "Kami sudah berjanji. Persahabatan ini lebih penting dari apa pun."
"Janji itu mudah diucapkan, Gus," kata Cantik. "Tapi sulit ditepati. Aku sudah melihat banyak persahabatan hancur karena masalah seperti ini. Aku tidak ingin itu terjadi pada kita."
"Itu tidak akan terjadi, Cantik," kata Raden. "Aku akan pastikan."
"Lo tidak bisa memastikan itu, Den," kata Cantik. "Karena hati manusia tidak bisa dikendalikan. Suatu hari, jika salah satu dari kalian merasa cemburu atau sakit hati, persahabatan kita bisa retak."
Maya yang dari meja sebelah tidak tahan untuk tidak ikut bicara. Ia berdiri dan berjalan ke meja mereka.
"Maaf, aku ikut bicara," kata Maya. "Cantik, aku tahu lo takut. Tapi lo tidak bisa membiarkan ketakutan lo menguasai lo. Lo harus mengambil risiko. Karena tanpa risiko, tidak ada yang pernah berubah."
"Aku setuju dengan Maya," kata Andre yang ikut mendekat. "Cantik, lo sudah berjuang melawan Vino. Lo sudah berani menghadapi ketakutan terbesar lo. Mengapa sekarang lo takut mengambil risiko yang lebih kecil?"
"Karena risiko ini menyangkut orang-orang yang aku cintai, And," kata Cantik. "Aku rela menghadapi Vino. Tapi aku tidak rela kehilangan kalian."
"Lo tidak akan kehilangan kami, Cantik," kata Maya. "Aku, Andre, Bagus, Raden. Kami tidak akan pergi ke mana pun. Kami akan selalu ada untuk lo. Apa pun yang terjadi."
Cantika menangis. Maya memeluknya erat-erat.
"Sudahlah, Cantik," kata Maya. "Jangan pikirkan yang berat-berat dulu. Nikmati malam ini. Bersyukur bahwa kita masih bersama. Bersyukur bahwa Vino sudah pergi. Bersyukur bahwa kita masih hidup."
Cantika mengangguk sambil terisak. "Terima kasih, May. Terima kasih sudah selalu ada untukku."
"Itu tugas seorang sahabat, Cantik," kata Maya sambil tersenyum. "Sekarang, mari kita minum kopi sebelum dingin. Pak Darmo pasti sudah repot membuatkan kopi untuk kita."
Mereka semua tertawa. Suasana berangsur mencair. Tawa mereka mengusir sisa-sisa ketegangan yang masih tersisa.
Setelah hampir dua jam duduk di kafe, mereka memutuskan untuk pulang. Hujan sudah reda. Jalanan basah, tapi langit mulai cerah. Bagus mengantar Cantika ke taksi, seperti biasa. Raden berdiri di samping pintu kafe, menunggu.
"Gus, terima kasih untuk kalungnya," kata Cantika sebelum masuk taksi. "Aku akan menjaganya selamanya."
"Cantik, aku tidak mengharapkan apa pun dari lo," kata Bagus. "Aku hanya ingin lo bahagia."
"Lo selalu seperti itu, Gus," kata Cantik. "Selalu mengutamakan kebahagiaan orang lain di atas kebahagiaanmu sendiri."
"Karena kebahagiaan orang yang aku cintai adalah kebahagiaanku juga, Cantik."
Cantika tersenyum. "Sampai jumpa, Gus. Jaga diri."
"Lo juga, Cantik. Jaga diri."
Taksi itu melaju perlahan, lalu menghilang di tikungan. Bagus berdiri di pinggir jalan, memandangi taksi yang semakin menjauh. Hatinya berat, tapi ia tersenyum.
Raden berjalan mendekat. "Gus, lo ikhlas?"
Bagus menoleh. "Apa yang harus aku ikhlaskan, Den? Cantika belum memilih siapa pun. Masih ada kesempatan untuk kita berdua."
"Tapi lo tidak terlihat seperti orang yang sedang berjuang, Gus. Lo terlihat seperti orang yang sudah menyerah."
"Aku tidak menyerah, Den," kata Bagus. "Aku hanya memilih untuk tidak memaksa. Aku memilih untuk menunggu. Dan sambil menunggu, aku akan terus mencintainya. Dari jauh. Tanpa berharap apa pun."
"Lo lebih kuat dari aku, Gus," kata Raden. "Aku tidak bisa mencintai dari jauh. Aku harus dekat. Aku harus memastikan dia tahu bahwa aku ada di sini."
"Setiap orang punya caranya masing-masing, Den," kata Bagus. "Aku menghormati cara lo. Dan aku berharap lo juga menghormati caraku."
"Tentu, Gus," kata Raden. "Aku selalu menghormati lo."
Mereka berdua berjalan kaki menuju stasiun bawah tanah, ditemani angin malam yang dingin. Di atas langit, bintang-bintang mulai muncul satu per satu. Seperti harapan. Seperti mimpi. Seperti cinta yang tak pernah mati meskipun sering terluka.
Di apartemennya, Cantika duduk di depan meja rias. Ia melepas jepit rambut kupu-kupunya dan meletakkannya di atas meja. Tangannya menyentuh kalung perak yang baru saja dipasangkan oleh Bagus. Matanya menatap bayangannya sendiri di cermin. Air matanya jatuh lagi. Bukan air mata sedih. Tapi air mata haru.
"Bagus, kamu terlalu baik untuk dunia ini," bisik Cantik. "Kamu terlalu baik untukku."
Ia berbaring di ranjang, memejamkan mata, dan berusaha tidur. Tapi pikirannya masih berkeliaran. Bayangan Bagus dan Raden bergantian muncul di pelupuk matanya. Ia tidak tahu harus memilih siapa. Atau mungkin ia sudah tahu, tapi ia belum berani mengakuinya.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Raden.
"Cantik, lo sudah sampai rumah?"
Cantika membalas. "Sudah, Den. Terima kasih."
Balasan Raden. "Senang mendengarnya. Istirahat yang cukup. Besok kita masih harus berurusan dengan skripsi masing-masing."
Cantik. "Lo juga, Den. Jangan begadang terus."
Raden. "Aku akan usahakan, Cantik. Selamat malam."
Cantik. "Selamat malam, Den."
Pesan dari Bagus masuk beberapa saat kemudian.
"Cantik, lo sudah tidur?"
Cantik. "Belum, Gus. Masih terjaga."
Bagus. "Pikirkan tentang sesuatu?"
Cantik. "Tentang banyak hal, Gus. Tentang kalian. Tentang Vino. Tentang masa depan."
Bagus. "Jangan terlalu banyak berpikir, Cantik. Nikmati malam ini. Besok masih ada hari baru."
Cantik. "Lo benar, Gus. Aku akan coba tidur."
Bagus. "Selamat malam, Cantik. Mimpi indah."
Cantik. "Selamat malam, Gus. Kamu juga."
Cantika mematikan ponselnya. Ia memejamkan mata. Perlahan, rasa kantuk mulai menyapa. Ia tersenyum dalam tidurnya, memimpikan sesuatu yang indah.
Di apartemennya, Vino tidak bisa tidur. Ia berdiri di balkon kamar hotelnya, memandangi langit kota kecil yang penuh bintang. Pikirannya melayang ke Jakarta. Ke kampus. Ke Cantik. Ke Bagus. Ke Raden.
Ponselnya berdering. Panggilan dari Robby.
"Vin, ada kabar," kata Robby.
"Kabar apa, Rob?"
"Cantik, Bagus, dan Raden bertemu di Kafe Biru Langit tadi malam. Mereka bertiga. Tidak ada yang lain."
"Apa yang mereka bicarakan?"
"Aku tidak tahu persis, Vin. Anak buahku tidak bisa mendekat karena ada Maya dan Andre yang berjaga. Tapi yang pasti, suasana tegang. Cantika menangis."
Vino tersenyum. "Bagus. Mereka mulai retak. Ini saatnya kita bergerak."
"Apa yang harus aku lakukan, Vin?"
"Tetap awasi mereka. Aku akan kembali ke Jakarta minggu depan. Aku sudah tidak sabar untuk menyapa teman-teman lamaku."
"Baik, Vin. Aku akan siapkan semuanya."
Telepon ditutup. Vino memandangi langit lagi. Senyum miringnya melebar.
"Cantik, aku akan kembali," bisik Vino. "Dan kali ini, tidak ada yang bisa menghentikanku."
BAB 15: Vino Kembali
Seminggu setelah pertemuan di Kafe Biru Langit. Kampus Universitas Persada, pagi hari. Suasana damai yang sudah berlangsung beberapa minggu tiba-tiba terusik oleh kabar yang menyebar cepat dari mulut ke mulut. Vino kembali. Ia terlihat memasuki gedung BEM dengan langkah percaya diri, mengenakan jas hitam dan dasi merah, tersenyum miring pada setiap orang yang ia temui. Kembalinya Vino seperti petir di siang bolong. Semua orang yang terlibat langsung dalam kasus ini panik. Tapi Vino tidak sendirian. Ia didampingi oleh dua orang pengacara berpengalaman dan seorang mantan jaksa yang kini bekerja untuk ayahnya. Vino datang bukan untuk menyerah. Ia datang untuk berperang.
Ruang BEM, pukul sembilan pagi. Vino duduk di kursi kepemimpinannya seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Di hadapannya, Robby dan beberapa anak buahnya berdiri rapi.
Robby berkata dengan suara gugup, "Vin, lo yakin ini saat yang tepat untuk kembali? Polisi masih mencari lo."
Vino tersenyum miring sambil menyilangkan kaki. "Polisi? Mereka tidak punya bukti yang cukup. Aku sudah bicara dengan pengacaraku. Kasus ini tidak akan pernah sampai ke pengadilan."
Robby mengerutkan kening. "Tapi Bongkot sudah bersaksi, Vin. Dan Tono punya rekaman CCTV."
Vino tertawa kecil. "Bongkot? Preman bayaran yang rekam jejaknya penuh kejahatan? Kesaksiannya tidak akan bernilai di pengadilan. Dan rekaman CCTV? Tono merekamnya tanpa izin. Itu tidak sah."
Robby terdiam. Vino berdiri dan berjalan ke jendela. "Robby, lo terlalu takut. Itu kelemahan lo. Aku sudah mempersiapkan semuanya. Pengacaraku sudah menyiapkan surat gugatan balik untuk Raden. Tuduhan pencemaran nama baik dan pemerasan. Raden bisa masuk penjara."
Robby mengangguk pelan. "Baik, Vin. Aku percaya sama lo."
Vino berbalik. "Sekarang, aku ingin lo mengundang Bagus, Raden, dan Cantika ke sini. Aku ingin bicara dengan mereka. Baik-baik."
Robby terkejut. "Kesini? Vin, apa mereka mau datang?"
Vino tersenyum. "Bilang saja aku punya info penting tentang Vino. Mereka pasti datang."
Robby mengangguk. "Baik, Vin. Aku akan sampaikan."
Fakultas sastra, ruang redaksi majalah mahasiswa. Cantika sedang duduk di depan laptop, mengedit naskah. Maya duduk di sampingnya, membaca buku.
Pintu ruangan terbuka. Masuklah seorang mahasiswa yang tidak dikenal. "Cantik, ada surat untuk lo."
Cantika menerima surat itu. Ia membukanya. Wajahnya berubah pucat.
Maya bertanya, "Cantik, surat dari siapa?"
Cantika menjawab dengan suara bergetar, "Dari Vino. Dia mengundang kita ke ruang BEM. Katanya dia ingin bicara."
Maya merebut surat itu dan membacanya. "Vino? Dia sudah kembali? Astaga, ini tidak mungkin!"
Cantika menghela napas. "Dia sudah kembali, May. Dan dia ingin kita datang."
Maya berdiri. "Jangan pergi, Cantik. Ini jebakan."
Cantika menggigit bibirnya. "Tapi dia bilang dia ingin bicara baik-baik. Mungkin dia ingin berdamai."
Maya mendengus. "Vino tidak pernah ingin berdamai. Dia hanya ingin menjebak kita."
Cantika meraih ponselnya. "Aku harus kasih tahu Bagus dan Raden."
Maya mengangguk. "Cepat, Cantik. Sebelum Vino melakukan sesuatu."
Fakultas hukum, ruang senat mahasiswa. Raden sedang duduk di kursinya, membaca berkas. Bagus duduk di hadapannya.
Ponsel Raden bergetar. Ia melihat layar. "Cantika menelepon."
Bagus menegakkan tubuhnya. "Ada apa, Den?"
Raden menjawab telepon. "Cantik, ada apa?"
Suara Cantika dari seberang terdengar panik. "Den, Vino kembali. Dia mengundang kita ke ruang BEM. Katanya dia ingin bicara."
Raden mengepalkan tangannya. "Jangan pergi, Cantik. Itu pasti jebakan."
Cantika menjawab, "Tapi dia bilang dia ingin bicara baik-baik, Den. Mungkin ini kesempatan untuk menyelesaikan semuanya."
Raden menggelengkan kepala. "Cantik, Vino tidak pernah ingin menyelesaikan masalah. Dia hanya ingin memperkeruh keadaan. Percayalah padaku."
Cantika terdiam sejenak. "Lalu apa yang harus aku lakukan, Den?"
Raden menjawab, "Diam di tempat. Jangan ke mana-mana. Aku dan Bagus akan ke sana sekarang."
Cantika bertanya, "Kalian mau ke ruang BEM? Itu sama saja dengan memenuhi undangan Vino."
Raden menghela napas. "Kami tidak akan memenuhi undangannya. Kami akan datang atas kemauan kami sendiri. Itu berbeda."
Cantika berkata, "Baiklah, Den. Aku tunggu."
Telepon ditutup. Bagus bertanya, "Apa kata Cantik?"
Raden menjawab, "Dia panik. Vino mengundang kita ke ruang BEM."
Bagus berdiri. "Kita harus ke sana sekarang."
Raden mengangguk. "Aku sudah bilang pada Cantik. Ayo."
Mereka berdua berlari keluar dari ruang senat.
Koridor fakultas hukum menuju gedung BEM. Bagus dan Raden berlari cepat. Beberapa mahasiswa menoleh heran.
Bagus bertanya sambil berlari, "Den, lo bawa sesuatu untuk berjaga-jaga?"
Raden menjawab, "Aku tidak butuh senjata, Gus. Aku butuh otak dan mulutku."
Bagus menghela napas. "Vino tidak main-main kali ini, Den. Dia membawa dua pengacara dan mantan jaksa."
Raden tersenyum dingin. "Aku juga pengacara, Gus. Aku tidak takut pada pengacara lain."
Mereka tiba di depan gedung BEM. Raden berhenti sejenak untuk mengatur napas.
Bagus bertanya, "Lo siap, Den?"
Raden menjawab, "Aku selalu siap, Gus. Yang penting lo di sampingku."
Mereka masuk ke gedung BEM.
Ruang BEM. Vino duduk di kursinya dengan santai. Di sampingnya, dua orang pengacara dan seorang mantan jaksa duduk rapi. Pintu terbuka. Bagus dan Raden masuk.
Vino tersenyum miring. "Wah, wah, wah. Bintang film apa yang baru saja masuk? Gus, Den, selamat datang di sarang singa."
Raden berdiri di hadapan meja Vino. "Kita tidak datang untuk basa-basi, Vin. Apa lo mau?"
Vino menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Cepat sekali marahnya, Den. Santai. Kita semua teman di sini."
Raden menjawab dingin, "Kita bukan teman, Vin. Jangan pernah berpikir begitu."
Salah satu pengacara Vino berdiri. "Hati-hati bicara, Nak. Klien kami bisa melaporkan lo atas tuduhan penghinaan."
Raden menatap pengacara itu. "Siapa lo?"
Pengacara itu menjawab, "Aku Firmansyah. Pengacara Vino. Dan ini kolegaku, Adrian. Dan Pak Budi, mantan jaksa."
Raden tersenyum. "Senang berkenalan. Aku Raden. Pengacara. Tapi berbeda dari kalian. Aku membela kebenaran. Bukan membela uang."
Firmansyah mendengus. "Kurang ajar."
Raden menjawab, "Jujur, bukan kurang ajar. Mungkin lo sudah lupa perbedaannya karena terlalu sering membela orang jahat."
Vino bertepuk tangan perlahan. "Bagus, bagus. Aku suka. Tapi Den, lo tidak datang ke sini untuk adu mulut, kan?"
Raden menjawab, "Lo yang mengundang kami, Vin. Jadi bicaralah. Apa lo mau?"
Vino berdiri. Ia berjalan mendekati Raden. "Aku mau berdamai, Den."
Raden tertawa pahit. "Berda-mai? Lo? Vino? Berdamai?"
Vino mengangguk. "Aku serius, Den. Aku lelah bermusuhan. Aku lelah bersembunyi. Aku ingin kembali ke kehidupan normal."
Raden menatap Vino tajam. "Kembali ke kehidupan normal? Setelah semua yang lo lakukan? Setelah lo menyakiti Cantik? Setelah lo memeras Laras? Setelah lo menyuruh anak buah lo menghabisi Tono dan Bongkot?"
Vino mengangkat bahu. "Itu semua kesalahpahaman, Den. Aku tidak menyuruh siapa pun menghabisi mereka. Itu inisiatif anak buahku sendiri."
Raden mendekat. "Bohong, Vin. Lo yang menyuruh. Kami punya bukti."
Vino tersenyum. "Bukti? Rekaman CCTV Tono yang ilegal itu? Itu tidak akan pernah sah di pengadilan, Den."
Raden menjawab, "Kita lihat saja nanti, Vin. Kita lihat di pengadilan."
Vino tertawa. "Lo pikir lo bisa menang melawan aku, Den? Lo tahu siapa ayahku? Lo tahu berapa banyak uang yang bisa dikeluarkan ayahku untuk membayar pengacara terbaik di negeri ini?"
Raden menjawab, "Uang tidak bisa membeli kebenaran, Vin. Kebenaran tetaplah kebenaran."
Vino berjalan mendekati Bagus. "Gus, lo diam saja. Tidak ada komentar?"
Bagus menatap Vino. "Aku tidak perlu bicara banyak, Vin. Cukup dengarkan saja."
Vino tertawa. "Lo selalu seperti itu, Gus. Diam. Sabar. Tapi di dalam hati lo, api sedang menyala, kan?"
Bagus menjawab, "Api di hatiku bukan untuk membenci. Api di hatiku untuk melindungi orang-orang yang aku cintai."
Vino menggeleng-gelengkan kepala. "Romantis. Tapi romantis tidak akan menyelamatkan lo dari kekalahanku."
Pintu ruang BEM terbuka. Cantika masuk dengan Maya di belakangnya.
Vino tersenyum lebar. "Cantik! Akhirnya lo datang. Aku sudah tidak sabar menunggu."
Cantika berdiri di hadapan Vino. "Apa lo mau, Vin? Bicaralah."
Vino mendekati Cantik. "Aku mau lo kembali padaku, Cantik."
Maya maju selangkah. "Jangan dekati dia, Vino!"
Vino menatap Maya. "Wah, anjing penjaga yang galak. Tenang, Maya. Aku hanya bicara."
Cantika berkata dengan suara tegas, "Vin, aku tidak akan pernah kembali padamu. Sudah kubilang. Dan itu tidak akan berubah."
Vino tersenyum. "Kita lihat saja, Cantik. Kita lihat."
Ruang BEM semakin panas. Vino duduk kembali di kursinya. Firmansyah membuka map berisi dokumen.
Firmansyah berkata, "Nak Raden, klien kami akan melaporkan lo atas tuduhan pencemaran nama baik dan pemerasan. Kami sudah menyiapkan gugatannya."
Raden menjawab, "Silakan. Aku juga akan melaporkan klien lo atas tuduhan pengancaman, pemerasan, dan percobaan pembunuhan. Kita lihat siapa yang lebih kuat buktinya."
Firmansyah tersenyum. "Kita lihat saja, Nak."
Adrian, pengacara kedua Vino, angkat bicara. "Kami juga akan melaporkan Bagus atas tuduhan membantu pemerasan."
Bagus terkejut. "Aku? Membantu pemerasan? Apa buktinya?"
Adrian menjawab, "Kami punya saksi yang melihat lo bersama Bongkot beberapa kali. Bongkot adalah preman bayaran yang biasa melakukan pemerasan. Itu cukup untuk mencurigai lo."
Raden tertawa. "Bukti tidak langsung? Itu tidak akan cukup, Pak Adrian. Lo sendiri tahu itu."
Adrian menjawab, "Cukup atau tidak, nanti kita lihat di pengadilan."
Cantika maju. "Vin, hentikan semua ini. Ini tidak akan membawa kebaikan bagi siapa pun."
Vino menatap Cantik. "Aku tidak akan berhenti, Cantik. Sampai lo kembali padaku."
Cantika menjawab, "Aku tidak akan pernah kembali padamu, Vin. Lebih baik lo terima itu sekarang."
Vino berdiri. "Kita lihat saja, Cantik. Kita lihat."
Maya menarik tangan Cantik. "Cantik, ayo pergi dari sini. Tidak ada gunanya bicara dengan orang gila."
Cantika mengangguk. Mereka berjalan ke pintu. Bagus dan Raden mengikuti.
Vino berteriak dari belakang. "Ini belum selesai, Cantik! Kita akan bertemu lagi!"
Pintu tertutup. Vino duduk kembali di kursinya. Wajahnya gelap.
Firmansyah bertanya, "Vin, apa kita lanjutkan gugatannya?"
Vino mengangguk. "Lanjuutkan. Hancurkan mereka. Hancurkan semuanya."
Di luar gedung BEM, Bagus, Raden, Cantik, dan Maya berdiri di taman kampus. Mereka semua masih terdampak oleh pertemuan tadi.
Maya berkata, "Gila. Vino benar-benar gila."
Raden menghela napas. "Dia memang gila. Tapi dia juga pintar. Dia tahu persis apa yang dia lakukan."
Bagus bertanya, "Apa yang akan kita lakukan sekarang, Den?"
Raden menjawab, "Kita akan lawan. Dengan bukti. Dengan saksi. Dengan kebenaran."
Cantika berkata dengan suara lemah, "Tapi pengacara Vino bilang bukti kita tidak sah, Den."
Raden menatap Cantik. "Jangan percaya pada mereka, Cantik. Mereka hanya mencoba menakut-nakuti kita. Bukti kita cukup kuat. Aku sudah bicara dengan beberapa pengacara senior."
Maya bertanya, "Lo yakin, Den?"
Raden menjawab, "Aku yakin, May."
Bagus meraih tangan Cantik. "Cantik, kita akan melewati ini bersama. Lo tidak sendirian."
Cantika tersenyum tipis. "Terima kasih, Gus. Aku percaya pada kalian."
Taman kampus. Laras duduk sendirian di bangku. Ia sedang membaca buku ketika ponselnya bergetar.
Pesan dari Vino. "Laras, aku kembali. Aku ingin bertemu. Kamu tahu tempatnya."
Laras menggigit bibirnya. Ia membalas. "Aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi, Vin. Selesai."
Balasan Vino. "Kamu lupa dengan adikmu, Lar? Aku masih bisa menyakitinya kapan saja."
Laras. "Coba saja, Vin. Aku akan lapor polisi."
Vino. "Polisi tidak akan bisa melindungi adikmu selamanya, Lar. Pikirkan baik-baik."
Laras mematikan ponselnya. Tangannya gemetar. Ia berdiri dan berjalan cepat meninggalkan taman.
Kantor polisi. Raden dan Tono sedang bertemu dengan Kepala Satuan Reserse Kriminal, Kompol Hendra.
Raden berkata, "Pak, kami punya bukti bahwa Vino terlibat dalam percobaan pembunuhan terhadap Tono dan Bongkot."
Kompol Hendra menggelengkan kepala. "Nak, bukti kalian tidak cukup kuat. Rekaman CCTV tidak jelas. Bongkot juga memiliki rekam jejak kriminal."
Tono menjawab, "Tapi Pak, Bongkot bersedia menjadi saksi."
Kompol Hendra menghela napas. "Saksi dengan rekam jejak kriminal tidak akan dipercaya pengadilan."
Raden mengepalkan tangannya. "Jadi tidak ada yang bisa kami lakukan, Pak?"
Kompol Hendra menjawab, "Kumpulkan bukti yang lebih kuat. Bukti yang tidak bisa dibantah."
Mereka keluar dari kantor polisi. Tono menendang ban mobilnya frustasi.
Tono berkata, "Ini tidak adil, Den. Vino bebas berkeliaran sementara korban-korbannya menderita."
Raden menatap Tono. "Ini memang tidak adil, Ton. Tapi kita tidak akan menyerah. Kita akan kumpulkan bukti yang lebih kuat."
Tono bertanya, "Bukti apa lagi yang bisa kita kumpulkan, Den?"
Raden menjawab, "Kita cari saksi lain. Saksi yang tidak punya rekam jejak kriminal."
Tono mengangguk. "Baik, Den. Aku akan cari."
Malam hari. Apartemen Bagus. Bagus, Raden, dan Cantika duduk di ruang tamu. Wajah mereka tegang.
Cantika berkata, "Jadi polisi tidak bisa berbuat apa-apa?"
Raden menjawab, "Belum, Cantik. Tapi kita akan cari bukti lain."
Bagus bertanya, "Bukti apa lagi yang bisa kita cari, Den?"
Raden berpikir sejenak. "Kita cari tahu tentang keuangan Vino. Mungkin ada aliran dana ilegal. Mungkin ada korupsi di BEM."
Cantika mengerutkan kening. "Itu berbahaya, Den. Vino bisa marah."
Raden menjawab, "Tidak ada pilihan lain, Cantik. Kita harus mengambil risiko."
Bagus mengangguk. "Aku setuju dengan Den. Tapi kita harus hati-hati."
Raden berdiri. "Aku akan hubungi Tono. Dia punya kenalan di bagian keuangan kampus."
Cantika meraih tangan Raden. "Den, aku takut."
Raden menatap Cantik. "Jangan takut, Cantik. Kami di sini. Kami akan melindungi lo."
Cantika menghela napas. "Aku tahu, Den. Tapi tetap saja aku takut."
Bagus duduk di samping Cantik. "Cantik, ingat kata-kata Pak Darmo. Hidup ini seperti kopi. Pahit itu pasti. Tapi setelah pahit, akan ada rasa yang lebih dalam."
Cantika tersenyum tipis. "Lo selalu punya kata-kata bijak, Gus."
Bagus menjawab, "Aku belajar dari Pak Darmo."
Mereka bertiga terdiam. Di luar, hujan mulai turun lagi.
Hotel tempat Vino menginap. Vino duduk di kursi empuk dengan segelas whiskey. Firmansyah duduk di hadapannya.
Firmansyah berkata, "Vin, gugatan sudah siap. Kita bisa daftarkan minggu depan."
Vino mengangguk. "Bagus. Tapi aku tidak hanya ingin mereka kalah di pengadilan. Aku ingin mereka hancur. Secara mental. Secara emosional."
Firmansyah mengerutkan kening. "Apa maksudmu, Vin?"
Vino tersenyum. "Aku ingin mereka kehilangan segalanya. Persahabatan mereka. Cinta mereka. Masa depan mereka."
Firmansyah menghela napas. "Itu di luar kemampuanku, Vin. Aku hanya pengacara."
Vino berdiri. "Aku tidak butuh lo untuk itu, Pak. Aku punya caraku sendiri."
Vino berjalan ke jendela, memandangi hujan di luar. "Cantik, Bagus, Raden. Kalian akan merasakan sakit yang sama seperti yang aku rasakan."
BAB 16: Konspirasi di Balik Tirai
Tiga hari setelah pertemuan di ruang BEM. Kampus Universitas Persada, malam hari. Sebagian besar gedung sudah gelap, hanya beberapa ruangan yang masih menyala. Di lantai tiga gedung rektorat, sebuah lampu menyala redup di ruang bendahara. Di dalam ruangan itu, Tono sedang duduk di depan komputer, mencoba mengakses data keuangan BEM yang diduga telah dikorupsi oleh Vino. Tono bukanlah seorang hacker profesional. Tapi rasa dendam pada Vino yang telah menyakiti adiknya memberinya keberanian untuk melakukan hal-hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Tono menatap layar komputer dengan tegang. Jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard. Keringat dingin mengalir di dahinya. Setiap detik terasa seperti satu jam. Setiap suara langkah kaki di koridor membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Pintu ruangan terbuka perlahan. Tono membeku. Ia tidak berani menoleh.
"Ton, lo di sini?" suara pelan dari balik pintu.
Tono menghela napas lega. Itu suara Andre.
"Lo, And? Lo ngapain di sini?" tanya Tono tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
Andre masuk dan menutup pintu. "Aku disuruh Maya menemani lo. Katanya lo sendirian di sini sejak jam 8. Ini sudah jam 11, Ton. Apa yang lo cari?"
Tono menjawab, "Aku coba akses data keuangan BEM. Vino diduga mengalihkan dana kegiatan ke rekening pribadinya. Jika aku bisa menemukan buktinya, Vino bisa dijerat korupsi."
Andre mendekat. "Lo yakin ini tidak ilegal, Ton?"
Tono menghela napas. "Ilegal, And. Tapi tidak ada pilihan lain. Polisi tidak bisa berbuat apa-apa karena bukti kita tidak cukup kuat."
Andre berdiri di samping Tono. "Apa aku bisa bantu?"
Tono menjawab, "Lo jaga pintu. Kasih tahu aku jika ada yang lewat."
Andre mengangguk. Ia berdiri di dekat pintu, sesekali mengintip ke koridor melalui lubang kunci.
Tono terus mengetik. Jari-jarinya semakin cepat. Tiba-tiba, layar komputer menampilkan pesan peringatan. "ACCESS DENIED. PASSWORD INCORRECT."
"Bajingan," umpat Tono pelan.
Andre bertanya, "Ada apa, Ton?"
Tono menjawab, "Komputer ini diproteksi password. Aku tidak bisa masuk."
Andre berpikir sejenak. "Coba tebak password-nya. Mungkin tanggal lahir Vino? Atau nama pacarnya?"
Tono menggeleng. "Sudah aku coba semua. Tidak ada yang berhasil."
Andre berkata, "Coba tanggal lahir Cantik. Vino kan terobsesi sama dia."
Tono mengetik tanggal lahir Cantik. Layar komputer berubah. "ACCESS GRANTED. WELCOME, ADMIN."
Tono terkejut. "Gila. Vino benar-benar gila. Dia pakai password tanggal lahir Cantik."
Andre bersiul kecil. "Itu bukti betapa obsesifnya dia. Cepat, Ton. Cari data yang kita butuhkan."
Tono membuka folder-folder satu per satu. Matanya menyipit ketika menemukan sebuah folder bernama "PROYEK KHUSUS". Ia membukanya.
Andre bertanya, "Apa isinya, Ton?"
Tono menjawab, "Laporan keuangan fiktif. Transfer dana ke rekening atas nama PT. Maju Jaya. Aku cek rekening itu. Pemiliknya adalah... Vino."
Andre mengepalkan tangannya. "Dasar koruptor. Ini bukti yang sangat kuat, Ton."
Tono mengangguk. "Aku akan copy semua data ini ke flashdisk. Setelah itu, kita lapor polisi."
Tono mencolokkan flashdisk ke komputer dan mulai menyalin data. Prosesnya lambat. Setiap persen kenaikan terasa seperti satu jam.
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka dengan keras. Dua orang lelaki bertubuh besar masuk. Mereka adalah anak buah Vino.
Lelaki pertama berkata, "Tono, Andre. Apa yang kalian lakukan di sini?"
Tono berusaha tenang. "Kami sedang mengerjakan tugas. Ada apa?"
Lelaki kedua mendekat. "Jangan bohong. Kami sudah diperintahkan Vino untuk mengawasi ruangan ini. Kalian tidak punya izin masuk ke sini."
Andre maju selangkah. "Kami punya izin dari Pak Bendahara. Dia mengizinkan kami mengerjakan tugas di sini malam ini."
Lelaki pertama tertawa. "Pak Bendahara sudah pulang jam 5 sore. Jangan coba-coba berbohong pada kami."
Tono diam-diam mencabut flashdisk dari komputer dan menyembunyikannya di saku celana.
Lelaki kedua menangkap gerakan Tono. "Apa yang lo sembunyikan, Ton?"
Tono menjawab, "Tidak ada. Aku hanya merapikan kabel."
Lelaki pertama berkata, "Periksa dia, Ton. Aku yakin dia menyembunyikan sesuatu."
Lelaki kedua berjalan mendekati Tono. Andre menghadang.
Andre berkata, "Jangan sentuh dia. Kalian tidak punya hak."
Lelaki pertama mendorong Andre. "Kami punya hak karena kami satpam kampus. Kami bisa mengusir siapa pun yang mencurigakan."
Tono berdiri. "Kami tidak mencurigakan. Kami mahasiswa kampus ini. Kalian yang mencurigakan. Sejak kapan satpam kampus bekerja untuk Vino?"
Lelaki kedua menjawab, "Kami tidak bekerja untuk Vino. Kami bekerja untuk keamanan kampus. Dan malam ini, kalian mengancam keamanan kampus."
Tono tertawa pahit. "Kami mengancam keamanan kampus? Kami hanya duduk di depan komputer. Sedangkan kalian yang masuk tanpa izin dan mendorong mahasiswa, kalian yang mengancam keamanan kampus."
Lelaki pertama tidak sabar. "Cukup bicara. Serahkan apa yang lo sembunyikan, Ton. Atau kami akan paksa."
Andre berdiri di depan Tono. "Silakan coba. Tapi ingat, kami akan lapor polisi jika kalian menyentuh kami."
Lelaki kedua tertawa. "Polisi? Kalian pikir polisi akan percaya pada kalian berdua? Dua mahasiswa yang ketahuan menyusup ke ruang bendahara tengah malam?"
Tono menjawab, "Kami tidak menyusup. Kami punya izin lisan dari Pak Bendahara. Itu cukup."
Lelaki pertama mendekat. "Izin lisan tidak berlaku. Yang berlaku adalah izin tertulis. Dan kalian tidak punya itu."
Tiba-tiba, suara langkah kaki beberapa orang terdengar di koridor. Pintu ruangan terbuka lebar. Masuklah Bagus, Raden, Maya, dan Laras.
Maya berteriak, "Ada apa di sini? Kenapa kalian berdua mendorong-dorong Andre?"
Lelaki pertama terkejut. "Kami... kami hanya menjalankan tugas."
Raden berdiri di hadapan lelaki itu. "Tugas siapa? Vino? Lo pikir kami tidak tahu bahwa Vino yang menyuruh kalian mengawasi ruangan ini?"
Lelaki kedua menjawab, "Kami tidak tahu apa yang lo bicarakan. Kami hanya satpam."
Raden mendekat. "Satpam? Seragam satpam mana yang pakai sepatu boots dan tato di leher? Lo pikir kami buta?"
Lelaki pertama dan kedua saling pandang. Mereka tidak bisa berkata-kata.
Raden melanjutkan, "Sekarang, kalian punya dua pilihan. Pertama, pergi dari sini sekarang juga dan lupakan apa yang kalian lihat malam ini. Kedua, kami lapor polisi dan kalian berdua akan diproses karena masuk tanpa izin dan percobaan pemerasan."
Lelaki pertama menggertakkan gigi. "Lo pikir polisi akan percaya pada lo?"
Raden tersenyum dingin. "Polisi akan percaya pada kami karena kami punya bukti. CCTV di koridor ini sudah merekam kalian masuk ke ruangan ini tanpa izin. Ayo, kita lihat rekamannya bersama-sama di kantor polisi?"
Lelaki kedua menarik tangan rekannya. "Ayo, kita pergi. Tidak worth it."
Lelaki pertama mengangguk. Mereka berdua berjalan keluar dari ruangan. Sebelum pergi, lelaki pertama menoleh ke arah Raden.
"Ini belum selesai," kata lelaki pertama.
Raden menjawab, "Aku tahu. Aku juga tidak berpikir ini akan selesai malam ini."
Pintu tertutup. Mereka berempat menghela napas lega.
Maya bertanya pada Tono, "Ton, lo dapat apa?"
Tono mengeluarkan flashdisk dari sakunya. "Aku dapat bukti. Vino mengalihkan dana BEM ke rekening pribadinya. Jumlahnya ratusan juta."
Raden mengangguk. "Bagus. Ini bukti yang sangat kuat. Dengan ini, Vino tidak akan bisa berkutik."
Bagus bertanya, "Tapi bukti ini didapat secara ilegal, Den. Apakah akan sah di pengadilan?"
Raden menjawab, "Kita tidak perlu membawanya ke pengadilan dulu, Gus. Kita cukup kirimkan data ini ke dekan dan rektor. Mereka akan memproses Vino secara internal. Vino bisa dikeluarkan dari kampus."
Laras mengerutkan kening. "Apakah itu cukup, Den? Vino masih bebas di luar sana."
Raden menjawab, "Jika Vino dikeluarkan dari kampus, dia tidak akan bisa menggunakan jabatannya sebagai ketua BEM untuk melindungi diri. Dia akan kehilangan kekuasaan. Dan tanpa kekuasaan, dia tidak ada apa-apanya."
Tono berkata, "Aku setuju dengan Den. Tapi kita harus hati-hati. Vino pasti akan marah besar begitu tahu data ini bocor."
Maya bertanya, "Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Raden menjawab, "Kita pulang. Simpan flashdisk ini di tempat yang aman. Besok pagi kita temui dekan dan rektor."
Apartemen Bagus, pukul setengah satu dini hari. Bagus, Raden, Cantik, Maya, Andre, Tono, dan Laras duduk di ruang tamu. Flashdisk berisi bukti korupsi Vino berada di tangan Raden.
Maya bertanya, "Den, lo yakin dekan dan rektor akan memproses Vino? Vino punya banyak koneksi."
Raden menjawab, "Dengan bukti sekuat ini, mereka tidak punya pilihan. Jika mereka tidak memproses Vino, mereka juga bisa dianggap terlibat."
Andre mengangguk. "Lo benar, Den. Tapi kita tetap harus waspada. Vino pasti akan coba merebut flashdisk ini."
Cantika bertanya, "Bagaimana cara kita melindungi flashdisk ini?"
Bagus menjawab, "Kita copy datanya ke beberapa flashdisk. Simpan di tempat yang berbeda. Jadi jika satu hilang, masih ada cadangan."
Tono berkata, "Aku setuju. Aku juga akan simpan copy-nya di cloud storage yang terenkripsi. Hanya aku yang tahu password-nya."
Laras bertanya, "Kapan kita akan temui dekan?"
Raden menjawab, "Besok pagi, jam 8. Sebelum Vino sempat menyadari bahwa datanya sudah bocor."
Cantika menghela napas. "Aku harap ini berhasil. Aku sudah lelah dengan semua drama ini."
Maya memeluk Cantik. "Sabar, Cantik. Ini akan segera berakhir."
Hotel tempat Vino menginap. Vino sedang berbaring di ranjang ketika ponselnya berdering. Panggilan dari Robby.
Robby berkata, "Vin, ada masalah. Tono dan Andre ketahuan menyusup ke ruang bendahara. Mereka membawa flashdisk."
Vino duduk tegak. "Apa? Apa yang mereka ambil?"
Robby menjawab, "Aku tidak tahu persis, Vin. Tapi anak buahku melihat mereka menyalin data dari komputer bendahara. Kemungkinan data keuangan BEM."
Vino mengumpat. "Bajingan! Aku sudah bilin jaga ruangan itu dengan ketat!"
Robby terdiam. "Maaf, Vin. Mereka datang dengan Bagus, Raden, Maya, dan Laras. Anak buahku kalah jumlah."
Vino berdiri dan berjalan mondar-mandir. "Sekarang flashdisk itu ada di mana?"
Robby menjawab, "Ada di tangan Raden. Sepertinya mereka akan menggunakannya sebagai bukti untuk melaporkan lo ke dekan."
Vino mengepalkan tangannya. "Cegah mereka. Apapun yang terjadi, jangan sampai mereka bertemu dekan besok pagi."
Robby bertanya, "Bagaimana caranya, Vin? Mereka berlima. Anak buahku hanya dua."
Vino menjawab, "Panggil bantuan. Aku bayar berapapun. Yang penting flashdisk itu tidak sampai ke dekan."
Robby menjawab, "Baik, Vin. Aku akan kerjakan."
Telepon ditutup. Vino membanting ponselnya ke dinding.
"Cantik, Bagus, Raden. Kalian pikir kalian bisa menghancurkanku? Kalian salah. Aku akan hancurkan kalian lebih dulu."
Apartemen Bagus, pukul setengah tiga dini hari. Semua orang sudah pulang kecuali Raden dan Cantik. Mereka berdua duduk di ruang tamu, sendirian.
Raden bertanya, "Cantik, lo tidak pulang?"
Cantika menjawab, "Aku takut, Den. Vino mungkin sudah tahu tentang flashdisk ini. Dia mungkin mengirim anak buahnya ke rumahku."
Raden mengangguk. "Lo bisa tidur di sini. Aku juga akan tidur di sini. Bagus tidak akan keberatan."
Cantika tersenyum tipis. "Terima kasih, Den. Lo selalu melindungiku."
Raden menjawab, "Itu tugas seorang sahabat, Cantik."
Cantika menunduk. "Den, aku ingin bertanya sesuatu."
Raden menatap Cantik. "Tanyalah, Cantik."
Cantika berkata, "Jika suatu saat nanti aku memilih Bagus, akankah lo marah padaku?"
Raden terdiam sejenak. "Aku tidak akan marah, Cantik. Aku akan sedih. Tapi aku tidak akan marah."
Cantika bertanya, "Lo yakin, Den?"
Raden menjawab, "Aku yakin, Cantik. Karena kebahagiaan lo adalah kebahagiaanku juga."
Cantika menangis. Raden memeluknya.
"Jangan menangis, Cantik," kata Raden. "Semuanya akan baik-baik saja."
Cantika berkata, "Aku takut, Den. Aku takut kehilangan kalian berdua."
Raden menjawab, "Lo tidak akan kehilangan kami, Cantik. Apapun yang terjadi, kami akan selalu ada untuk lo."
Mereka berdua terdiam. Di luar, hujan mulai reda.
Kamar tidur Bagus. Bagus tidak bisa tidur. Ia mendengar suara tangis Cantika dari ruang tamu. Hatinya tersayat. Ia ingin keluar dan menghibur Cantik. Tapi ia sadar bahwa saat ini, Cantika membutuhkan Raden lebih darinya.
Ponsel Bagus bergetar. Pesan dari Maya.
"Gus, lo masih bangun?"
Bagus membalas. "Masih, May. Ada apa?"
Maya. "Aku tidak bisa tidur. Aku terus memikirkan tentang besok. Apakah kita akan berhasil?"
Bagus. "Kita harus berhasil, May. Tidak ada pilihan lain."
Maya. "Aku takut, Gus. Aku takut Vino akan melakukan sesuatu yang membahayakan kita."
Bagus. "Aku juga takut, May. Tapi kita tidak bisa membiarkan ketakutan menguasai kita. Kita harus berani."
Maya. "Lo benar, Gus. Aku akan coba tidur. Selamat malam."
Bagus. "Selamat malam, May. Mimpi indah."
Percakapan berakhir. Bagus memandangi langit-langit kamarnya. Ia berdoa dalam hati semoga semuanya berjalan lancar besok.
Ruang tamu. Raden dan Cantika masih duduk di sofa. Cantika sudah berhenti menangis.
Cantika berkata, "Den, aku harus jujur pada lo. Aku sudah hampir menemukan jawabannya."
Raden menegakkan tubuhnya. "Apa jawabannya, Cantik?"
Cantika menunduk. "Belum sekarang, Den. Aku akan beritahu lo setelah Vino selesai. Aku tidak mau ada beban lain di pundak lo sebelum pertempuran besok."
Raden mengangguk. "Baiklah, Cantik. Aku akan menunggu."
Cantika berdiri. "Aku tidur dulu, Den. Lo juga tidur. Besok kita harus fit."
Raden berdiri. "Baik, Cantik. Selamat malam."
Cantika berjalan ke kamar tamu. Sebelum masuk, ia menoleh.
"Den, terima kasih untuk malam ini."
Raden tersenyum. "Sama-sama, Cantik. Selamat malam."
Pintu kamar tamu tertutup. Raden duduk kembali di sofa. Ia memandangi flashdisk di tangannya.
"Besok, semuanya akan berakhir," bisik Raden.
Ia memejamkan mata dan berusaha tidur.
Pagi harinya, pukul setengah tujuh. Bagus terbangun lebih dulu. Ia memasak sarapan untuk mereka bertiga. Telur dadar, roti bakar, dan kopi.
Cantika keluar dari kamar tamu. Rambutnya masih kusut, matanya masih mengantuk.
"Cantik, sarapan sudah siap," kata Bagus.
Cantika tersenyum. "Terima kasih, Gus. Lo baik sekali."
Bagus menjawab, "Sudah tugas seorang arsitek galau, Cantik. Membuat sarapan untuk perempuan yang dicintainya."
Cantika tertawa kecil. "Ah, elu, Gus. Bisa-bisa aja."
Raden keluar dari kamar mandi. Wajahnya segar meskipu hanya tidur beberapa jam.
"Wah, sarapan," kata Raden. "Aku hampir lupa rasanya sarapan buatan Bagus."
Bagus tertawa. "Karena lo jarang mampir, Den. Aku jadi jarang masak."
Mereka bertiga duduk di meja makan, menikmati sarapan bersama. Suasana hangat meskipun di luar mereka akan menghadapi badai.
Cantika berkata, "Gus, Den, apapun yang terjadi hari ini, aku ingin kalian tahu bahwa aku bersyukur memiliki kalian berdua."
Bagus menjawab, "Kami juga bersyukur memiliki lo, Cantik."
Raden mengangguk. "Kita akan melewati hari ini bersama. Apapun yang terjadi."
Mereka bertiga mengulurkan tangan dan menumpuknya di atas meja.
"Bersatu!" seru mereka bersamaan.
Gedung rektorat, pukul delapan pagi. Bagus, Raden, Cantik, Maya, Andre, Tono, dan Laras duduk di ruang tunggu. Mereka sudah membuat janji dengan rektor untuk bertemu pukul setengah sembilan.
Maya bertanya, "Den, lo yakin rektor akan menerima kita?"
Raden menjawab, "Aku sudah bicara dengan sekretaris rektor. Beliau setuju."
Andre menghela napas. "Aku harap ini berhasil."
Laras menggigit kukunya. "Aku tegang. Ini seperti film thriller."
Tono menatap Laras. "Tenang, Lar. Kita punya bukti. Kita tidak perlu takut."
Pintu ruang rektor terbuka. Sekretaris keluar.
"Silakan masuk. Bapak Rektor sudah menunggu."
Mereka beranjak berdiri. Bagus meraih tangan Cantik.
"Cantik, apapun yang terjadi, jangan takut," bisik Bagus.
Cantika mengangguk. "Aku tidak takut, Gus. Aku bersama kalian."
Mereka masuk ke ruang rektor.
BAB 17: Di Hadapan Rektor
Gedung rektorat Universitas Persada, pukul setengah sembilan pagi.
Ruang rektor berada di lantai empat gedung utama, dengan ukuran luas sekitar seratus meter persegi. Lantai marmer putih mengkilap memantulkan cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela-jendela besar di sisi timur. Dinding ruangan dipenuhi dengan foto para rektor dari masa ke masa, mulai dari rektor pertama yang menjabat pada tahun 1950-an hingga pendahulu Profesor Djatmiko. Setiap foto dibingkai dalam kayu jati hitam dengan ukiran rumit yang mencerminkan kemegahan dan tradisi universitas. Di sudut ruangan, sebuah papan penghargaan dari Kementerian Pendidikan tergantung dengan bangga, menjadi bukti prestasi universitas di kancah nasional.
Meja kerja rektor terbuat dari kayu jati berukir, berwarna coklat tua mengkilap, usianya sudah lebih dari tiga puluh tahun. Di atas meja itu, tersusun rapi berbagai berkas, sebuah laptop, dan foto keluarga Profesor Djatmiko bersama istri dan kedua anaknya. Di balik meja itu, duduk seorang lelaki berusia enam puluh tahun bernama Profesor Djatmiko, rektor Universitas Persada yang telah menjabat selama delapan tahun. Wajahnya teduh, dengan kerutan di dahi yang menandakan pengalaman dan kebijaksanaan. Rambutnya sudah memutih di bagian pelipis, tetapi masih hitam di bagian atas. Matanya yang coklat tua masih tajam, seperti elang yang sedang mengamati buruannya. Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang dengan dasi biru tua, dan jas hitam yang tampak rapi meskipun sudah agak usang di bagian siku.
Di hadapannya, tujuh mahasiswa duduk berjajar di kursi panjang berwarna merah marun yang terbuat dari kayu jati. Kursi-kursi itu cukup keras, tidak nyaman untuk duduk lama, seolah sengaja dipilih agar para tamu tidak berlama-lama di ruangan ini. Tapi ketujuh mahasiswa itu tidak peduli dengan ketidaknyamanan kursi. Pikiran mereka tertuju pada tujuan yang sama: menghentikan Vino.
Bagus duduk di ujung kiri. Wajahnya pucat, matanya sembab, tapi ada keteguhan di sana. Buku sketsa tidak ia bawa hari ini—untuk pertama kalinya, ia meninggalkannya di apartemen. Ia merasa bahwa hari ini bukan hari untuk menggambar. Hari ini adalah hari untuk berjuang.
Raden duduk di sebelah Bagus. Wajahnya dingin seperti biasa, tapi matanya menyala. Ia sudah mempersiapkan diri sejak semalam. Setiap argumen, setiap bukti, setiap pasal yang relevan sudah ia hafal di luar kepala. Ini adalah pertarungan yang ia pahami. Ini adalah medan perangnya.
Cantika duduk di tengah. Wajahnya tenang, tapi tangannya yang tergenggam di pangkuan sedikit gemetar. Ia mengenakan jaket jeans biru muda yang sama, dan di rambutnya, jepit kupu-kupu kesayangan tersemat rapi. Ia memutuskan untuk memakainya hari ini. Sebagai pengingat bahwa ia tidak sendirian. Sebagai simbol bahwa ia siap menghadapi apa pun.
Maya duduk di sebelah kanan Cantika. Matanya tidak berkedip, menatap lurus ke arah rektor. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan tinggal diam. Jika Vino mencoba mengancam atau membantah, ia akan bicara. Ia sudah lelah menjadi penonton.
Andre duduk di sebelah Maya, dengan tangan bersilang di dada. Tubuhnya yang besar terlihat sedikit canggung di kursi yang agak sempit, tetapi ia berusaha duduk tegak. Ia tidak banyak bicara pagi ini, tapi keberadaannya memberikan rasa aman bagi yang lain.
Tono duduk di ujung kanan, dengan laptop di pangkuannya. Layar laptop sudah terbuka, menampilkan file-file bukti yang sudah ia susun rapi semalaman. Ia tidak tidur sejak jam 2 pagi. Matanya lelah, tapi semangatnya membara. Ini bukan hanya tentang Cantika atau Raden. Ini tentang adiknya. Ini tentang semua korban Vino.
Laras duduk di samping Tono. Wajahnya pucat, matanya sedikit merah. Ia tidak tidur semalaman. Ia terus memikirkan Sari, adiknya yang masih bersembunyi di tempat aman. Ia berdoa semoga hari ini membawa keadilan. Ia berdoa semoga Vino tidak bisa lagi mengancam siapa pun.
Profesor Djatmiko meletakkan pulpennya. Bunyi plastik menyentuh kayu terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu. Ia menatap satu per satu mahasiswa di hadapannya, seperti seorang kakek yang sedang memandangi cucu-cucunya yang sedang dalam masalah.
"Selamat pagi, anak-anak," sapa Profesor Djatmiko. Suaranya berat, dalam, seperti suara orang yang terbiasa memberikan pidato di hadapan ribuan orang. "Silakan sampaikan apa yang ingin kalian sampaikan. Saya dengar ini masalah serius."
Raden menarik napas panjang. Ia menatap Bagus sekilas, lalu menatap Cantika. Mereka berdua mengangguk tipis, memberi isyarat bahwa mereka siap. Raden maju selangkah. Kaki kirinya melangkah tegas, sepatu pantofelnya menginjak lantai marmer dengan suara yang mantap.
"Selamat pagi, Pak Rektor," kata Raden. Suaranya tegas, jelas, seperti yang biasa ia lakukan di ruang sidang ketika magang. "Terima kasih sudah bersedia menerima kami. Nama saya Raden dari fakultas hukum. Ini teman-teman saya dari berbagai fakultas. Kami datang ke sini untuk melaporkan dugaan korupsi dana BEM dan penyalahgunaan wewenang oleh ketua BEM, saudara Vino."
Profesor Djatmiko mengangkat alisnya. Kerutan di dahinya semakin dalam. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja kayu jati dengan ritme yang lambat, seperti sedang berpikir keras.
"Vino?" ulang Profesor Djatmiko. "Anak Pak Hartawan, pengusaha properti itu?"
Raden mengangguk. "Benar, Pak. Vino Hartawan."
Profesor Djatmiko menghela napas panjang. Napas yang keluar dari hidungnya terdengar seperti desiran angin di antara pepohonan. Ia menggelengkan kepala pelan, seperti seseorang yang baru saja mendengar kabar buruk tentang kerabat dekatnya.
"Ini tuduhan berat, Nak," kata Profesor Djatmiko. Matanya menatap Raden dengan tajam. "Kalian punya bukti?"
Raden mengeluarkan flashdisk dari sakunya—flashdisk biru kecil yang sudah ia simpan di tempat paling aman sejak Tono menyerahkannya kemarin. Ia meletakkan flashdisk itu di atas meja rektor, tepat di hadapan Profesor Djatmiko.
"Kami punya bukti, Pak," kata Raden dengan suara mantap. "Laporan keuangan fiktif, transfer dana ke rekening pribadi atas nama Vino, rekaman CCTV yang menunjukkan Vino sedang memerintahkan anak buahnya untuk mengintimidasi saksi, dan bukti-bukti lain yang mendukung."
Profesor Djatmiko meraih flashdisk itu. Ia menatapnya sejenak, membolak-balikkannya di antara jari-jarinya. Flashdisk itu kecil, hanya seukuran ibu jari, tapi di dalamnya tersimpan kebenaran yang bisa mengubah nasib seseorang. Ia meletakkan flashdisk itu di atas meja, di samping pulpen dan tumpukan berkas.
"Siapa yang mengakses data ini?" tanya Profesor Djatmiko. Matanya beralih dari Raden ke Tono, lalu ke Andre, lalu kembali ke Raden. "Dari mana kalian mendapatkannya?"
Keheningan sejenak menyelimuti ruangan. Suara AC yang berdengung tiba-tiba terasa sangat keras, seperti ikut bertanya-tanya siapa yang akan menjawab.
Tono mengangkat kepalanya. Ia meletakkan laptop di samping kursi, berdiri, dan melangkah maju. Langkahnya tidak setegas Raden, tapi ada keteguhan di sana.
"Saya, Pak," kata Tono. Suaranya sedikit bergetar di awal, tapi semakin lama semakin kuat. "Saya yang mengakses data itu. Saya Tono dari fakultas hukum."
Profesor Djatmiko menatap Tono tajam. Matanya menyipit, seperti sedang menilai apakah mahasiswa di hadapannya ini sedang berbohong atau jujur.
"Kamu mengakses data rahasia tanpa izin, Nak," kata Profesor Djatmiko. Suaranya tegas, tidak main-main. "Itu pelanggaran. Bisa dikenakan sanksi disiplin."
Tono menegakkan tubuhnya. Ia tidak menunduk. Ia tidak menunjukkan rasa takut. Matanya menatap langsung ke arah rektor, tidak berkedip.
"Saya tahu, Pak," kata Tono. Suaranya mantap, meskipun jantungnya berdebar kencang di dalam dadanya. "Tapi saya tidak punya pilihan. Kami sudah melapor ke polisi, tapi polisi tidak bisa berbuat apa-apa karena bukti kami tidak cukup kuat. Padahal Vino jelas-jelas merugikan kampus dan mahasiswa. Dia menyakiti adik saya. Dia menyakiti Laras. Dia menyakiti Cantik. Dia menyakiti banyak orang. Dan jika kami tidak bertindak, tidak akan ada yang bertindak."
Profesor Djatmiko terdiam. Ia menatap Tono lama. Lalu ia menghela napas, mengangguk pelan, dan menekan jari telunjuknya ke meja beberapa kali.
"Ceritakan semuanya dari awal," kata Profesor Djatmiko. "Jangan ada yang disembunyikan."
Raden melangkah maju. Ia berdiri di samping Tono, lalu mulai bercerita. Suaranya tenang, terstruktur, seperti seorang pengacara yang sedang membuka pledoi di ruang sidang.
"Pak Rektor, semuanya bermula ketika Vino kembali ke kampus setelah dua tahun menghilang. Ia mendekati Cantika lagi, meskipun dulu ia sudah menyakiti Cantika dengan menyebarkan gosip palsu. Cantika memberinya kesempatan, tapi Vino tidak berubah. Ia hanya belajar menyembunyikan wajah aslinya lebih baik."
Profesor Djatmiko mendengarkan dengan saksama. Kedua tangannya kini bersilang di atas meja, jari-jarinya sesekali mengetuk-ngetuk punggung tangan yang lain.
Raden melanjutkan. "Vino memeras Laras dengan mengancam adiknya, Sari. Sari adalah mantan pacar Vino yang dulu juga ia sakiti dengan cara yang sama. Vino menyuruh Laras mengawasi saya dan melaporkan setiap gerakan saya. Sebagai imbalannya, Vino berjanji tidak akan menyakiti Sari lagi."
Laras menunduk. Air matanya jatuh lagi. Maya meraih tangannya, menggenggamnya erat-erat.
"Vino juga menyuruh anak buahnya untuk mengintimidasi Tono dan Bongkot," lanjut Raden. "Bongkot adalah preman bayaran Vino. Tapi Bongkot bersedia menjadi saksi setelah kami yakinkan bahwa keluarganya akan aman. Dari Bongkot, kami tahu bahwa Vino memerintahkan anak buahnya untuk menghabisi Tono dan Bongkot di parkiran fakultas hukum. Untung polisi datang tepat waktu."
Profesor Djatmiko menggelengkan kepala. Wajahnya berubah dari teduh menjadi tegang. Kerutan di dahinya semakin dalam.
"Terakhir, Pak," kata Raden, "kami menemukan bukti bahwa Vino mengalihkan dana BEM ke rekening pribadinya. Totalnya hampir lima ratus juta rupiah. Laporan keuangan fiktif, transfer ke rekening PT Maju Jaya yang ternyata milik Vino sendiri. Semua bukti ada di flashdisk itu."
Profesor Djatmiko menutup matanya sejenak. Dadanya naik turun perlahan. Ketika ia membuka matanya kembali, ada sesuatu yang berubah di sana. Kekecewaan. Amarah. Dan tekad.
"Ini lebih serius dari yang saya kira," kata Profesor Djatmiko. Suaranya lebih berat dari sebelumnya. "Kalian punya saksi untuk semua tuduhan ini?"
Raden mengangguk. "Kami punya, Pak. Bongkot, preman bayaran Vino, bersedia menjadi saksi. Laras dan adiknya, Sari, juga bersedia menjadi saksi. Dan kami punya rekaman CCTV yang menunjukkan Vino sedang memerintahkan anak buahnya untuk mengintimidasi saksi. Ada juga di flashdisk itu, Pak."
Profesor Djatmiko bertanya, "Rekaman CCTV itu di mana?"
Tono menjawab, "Ada di flashdisk itu juga, Pak. Saya yang merekamnya. Saya tahu itu tidak sepenuhnya legal, Pak. Tapi saya tidak punya pilihan. Jika saya tidak merekam, tidak akan ada bukti. Dan tanpa bukti, Vino akan terus berkeliaran dan menyakiti orang lain."
Profesor Djatmiko mengangguk. "Baik. Saya akan memanggil Vino dan pengacaranya ke sini. Kita selesaikan masalah ini hari ini juga. Jika bukti kalian cukup kuat, Vino akan saya skors dan proses lebih lanjut."
Maya bertanya, "Apakah Vino akan dikeluarkan, Pak?"
Profesor Djatmiko menjawab, "Jika terbukti bersalah, dia akan dikeluarkan. Bahkan bisa diproses secara pidana. Tapi itu butuh proses. Yang bisa saya lakukan sekarang adalah skors dia dari semua kegiatan kampus."
Andre menghela napas lega. Dadanya yang tegang mulai mengendur. "Terima kasih, Pak Rektor."
Profesor Djatmiko mengangkat telepon di meja kerjanya. Telepon hitam tua dengan gagang yang sudah sedikit mengkilap karena sering digunakan. Ia menekan tombol nomor satu—nomor langsung ke sekretarisnya di ruang depan.
"Bu Dewi, tolong hubungi Saudara Vino," kata Profesor Djatmiko. Suaranya tegas, tidak bisa dibantah. "Minta dia datang ke ruang saya sekarang. Bawa pengacaranya juga. Katakan ini penting."
Dari seberang, suara sekretaris terdengar. "Baik, Pak. Saya akan hubungi."
Profesor Djatmiko meletakkan telepon. "Sekarang, kita tunggu. Sementara itu, saya ingin melihat bukti-bukti yang kalian bawa. Silakan tunjukkan semuanya."
Raden mengangguk. "Silakan, Pak. Silakan lihat semuanya."
Tono berdiri, membawa laptopnya ke meja rektor. Ia menghubungkan flashdisk ke laptop, lalu membuka file-file bukti satu per satu. Profesor Djatmiko membaca, melihat, mendengarkan. Wajahnya semakin tegang setiap menit.
Tiga puluh menit kemudian. Ruang rektor masih sunyi.
Tono baru saja selesai menunjukkan semua bukti. Profesor Djatmiko duduk diam, kedua tangannya menopang dagu. Matanya tertutup, seperti sedang merenung. Atau seperti sedang berdoa.
Pintu ruang rektor terbuka.
Semua kepala menoleh. Masuklah Vino dengan langkah percaya diri, seperti seorang raja yang memasuki istananya. Ia mengenakan setelan jas hitam yang tampak mahal, dengan dasi merah marun. Rambutnya disisir rapi ke belakang, sedikit basah karena minyak rambut. Wajahnya segar, penuh senyum, tidak seperti orang yang sedang dituduh melakukan kejahatan berat.
Di belakangnya, Firmansyah masuk dengan langkah mantap. Pengacara berusia lima puluh tahun itu mengenakan jas abu-abu, kacamata baca tergantung di lehernya, dan map tebal di tangan kanannya. Wajahnya serius, tidak tersenyum, tidak cemberut. Ekspresi seorang profesional yang sudah terbiasa dengan tekanan.
Adrian mengikuti di belakang Firmansyah. Pengacara muda dengan rambut klimis dan setelan jas biru laut. Wajahnya tampan, senyumnya ramah, tapi matanya dingin. Ia membawa laptop kecil di tangannya.
Terakhir, Pak Budi masuk dengan langkah pelan. Mantan jaksa yang kini bekerja sebagai konsultan hukum keluarga Vino. Usianya sudah enam puluh lima tahun, rambutnya putih semua, tapi posturnya masih tegap. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun, seperti batu.
Vino tersenyum miring melihat rombongan Bagus duduk di hadapan rektor. Senyum yang sama. Senyum yang penuh racun.
"Selamat pagi, Pak Rektor," sapa Vino dengan nada santai, seperti tidak ada yang istimewa. "Maaf jika kami agak terlambat. Lalu lintas macet."
Profesor Djatmiko tidak tersenyum. Ia menunjuk kursi di sebelah kiri ruangan—kursi-kursi yang sengaja disiapkan untuk pihak Vino. "Silakan duduk, Vino. Ada masalah serius yang harus kita bicarakan."
Vino duduk. Firmansyah, Adrian, dan Pak Budi duduk di sampingnya. Vino menyilangkan kaki, menyandarkan tubuh ke kursi, dan sesekali melirik ke arah Cantika dengan senyum miringnya. Cantika tidak menatap balik. Matanya tertuju pada dinding di belakang rektor, pada foto-foto rektor masa lalu yang tersusun rapi.
Profesor Djatmiko membuka pembicaraan. Suaranya tegas, tidak ada basa-basi. "Vino, saya menerima laporan dari mahasiswa di sini bahwa kamu diduga melakukan korupsi dana BEM, penyalahgunaan wewenang, pemerasan, dan intimidasi terhadap mahasiswa lain. Apa tanggapan kamu?"
Vino berpura-pura terkejut. Alisnya terangkat, matanya membesar, mulutnya terbuka sedikit. Seperti aktor yang sedang berlatih di depan cermin.
"Apa?" kata Vino dengan nada tidak percaya. "Korupsi? Pemerasan? Intimidasi? Pak Rektor, ini fitnah. Saya tidak pernah melakukan itu. Saya selama ini bekerja keras untuk BEM. Saya sudah banyak berkorban untuk kampus ini. Dan sekarang saya dituduh seperti ini? Ini tidak adil."
Raden tidak bisa diam. Ia maju selangkah. "Kami punya bukti, Vin. Jangan pura-pura tidak tahu."
Firmansyah berdiri. Gerakannya cepat, seperti iguana yang siap menyerang. "Saudara Raden, hati-hati dengan tuduhan Anda. Klien kami bisa melaporkan Anda atas tuduhan pencemaran nama baik. Pasal 310 KUHP. Saya yakin Anda tahu konsekuensinya."
Raden tidak terintimidasi. Ia menatap Firmansyah dengan mata dinginnya. "Silakan lapor, Pak. Saya juga akan melaporkan Vino atas tuduhan korupsi, pemerasan, dan percobaan pembunuhan. Kita lihat siapa yang benar di pengadilan. Saya sudah siapkan bukti-bukti yang tidak bisa dibantah."
Profesor Djatmiko mengetuk mejanya. Bunyi kayu yang keras menghentikan debat yang baru saja dimulai. "Cukup. Jangan saling serang di ruang saya. Vino, saya akan memberikan kesempatan untuk membela diri. Tapi sebelum itu, saya akan memutar bukti-bukti yang diserahkan oleh Raden dan kawan-kawan. Silakan lihat sendiri."
Profesor Djatmiko menghubungkan flashdisk ke laptopnya. Layar proyektor di dinding menyala, menampilkan latar belakang biru dengan logo universitas. Semua mata tertuju ke layar.
File pertama: Laporan keuangan fiktif.
Layar menampilkan scan dokumen laporan keuangan BEM periode Januari hingga Juni. Angka-angka dalam tabel terlihat rapi, tapi di kolom keterangan, ada keanehan. Dana puluhan juta rupiah dicatat sebagai "biaya kegiatan" tanpa penjelasan lebih lanjut.
Profesor Djatmiko membaca dengan saksama. Jarinya menunjuk ke angka-angka yang mencurigakan. "Ini laporan keuangan BEM periode Januari hingga Juni. Angka-angka di sini tidak sesuai dengan realita. Ada dana yang dicatat sebagai biaya kegiatan, tapi tidak pernah ada kegiatan. Saya cek di agenda BEM, tidak ada kegiatan yang sesuai dengan dana sebesar ini."
Vino menjawab dengan nada santai, seperti sedang menjelaskan hal sepele. "Itu mungkin kesalahan administrasi, Pak. Bisa jadi anak buah saya yang salah input. BEM itu organisasi besar, Pak. Banyak kegiatan. Mungkin ada kegiatan yang tidak tercatat di agenda."
Tono tidak bisa diam. "Bukan kesalahan administrasi, Vin. Itu sengaja dibuat fiktif. Aku sudah cek satu per satu dengan data kegiatan yang sebenarnya. Tidak ada satu pun kegiatan yang sesuai dengan laporan itu. Semua fiktif. Bahkan tanda tangan di laporan itu juga palsu. Aku sudah bandingkan dengan tanda tangan asli ketua BEM periode sebelumnya."
Firmansyah berdiri lagi. "Saudara Tono, Anda bukan auditor. Anda tidak punya wewenang untuk menilai laporan keuangan. Dan Anda mengakses data tanpa izin. Itu ilegal."
Tono tidak mundur. "Saya mahasiswa fakultas hukum, Pak. Saya tahu bedanya laporan yang benar dan yang palsu. Ini jelas-jelas palsu. Dan soal ilegal, saya lebih baik melanggar aturan daripada membiarkan koruptor berkeliaran."
Profesor Djatmiko mengangkat tangan. "Cukup. Lanjut ke file berikutnya."
File kedua: Rekening koran atas nama PT Maju Jaya.
Layar menampilkan rekening koran bank atas nama PT Maju Jaya. Transfer dana masuk dari rekening BEM dengan nominal puluhan juta hingga ratusan juta rupiah. Totalnya hampir lima ratus juta.
Profesor Djatmiko membaca lagi. Matanya menyipit. "Ini rekening koran PT Maju Jaya. Dana BEM ditransfer ke rekening ini berkali-kali dengan total hampir lima ratus juta rupiah. Saudara Vino, apa hubungan Anda dengan PT Maju Jaya?"
Vino terdiam sejenak. Ia menatap layar, lalu menatap rektor, lalu menatap pengacaranya. Firmansyah mengangguk tipis, memberi isyarat untuk menjawab.
"PT Maju Jaya adalah perusahaan milik ayah saya, Pak," kata Vino. "Tapi saya tidak tahu tentang transfer-transfer itu. Mungkin ada yang salah dalam sistem administrasi BEM."
Raden tertawa. Bukan tawa bahagia. Tawa pahit. "Ayah lo? Kita lihat bukti kepemilikan PT Maju Jaya. Pemiliknya adalah Vino Hartawan sendiri. Bukan ayah lo. Saya sudah cek di Kementerian Hukum dan HAM."
Pak Budi angkat bicara. Suaranya berat, seperti orang yang terbiasa memberi perintah. "Saudara Raden, bagaimana Anda bisa mendapatkan data kepemilikan perusahaan? Itu data rahasia."
Raden menjawab dengan tenang. "Data kepemilikan perusahaan adalah data publik, Pak. Siapa pun bisa mengaksesnya di Kementerian Hukum dan HAM. Saya tidak melanggar hukum. Saya hanya mengakses informasi yang memang terbuka untuk umum."
Profesor Djatmiko menghela napas. Ia menatap Vino. "Vino, ini bukti yang sangat kuat. Kamu punya penjelasan lain?"
Vino terdiam. Wajahnya berubah. Senyumnya mulai menghilang.
File ketiga: Rekaman CCTV.
Profesor Djatmiko memutar video. Layar menampilkan rekaman dari CCTV parkiran belakang fakultas hukum. Dua sosok terlihat jelas di tengah layar. Yang satu mengenakan jaket kulit hitam—itu Vino. Yang satu lagi bertubuh tambun, dengan tato di lengan—itu Robby, anak buah Vino.
Suara mereka terdengar jelas karena mikrofon CCTV cukup sensitif.
"Robby, aku ingin lo awasi Laras," suara Vino terdengar tegas. "Setiap gerakannya. Setiap orang yang dia temui. Aku ingin tahu apa yang dia rencanakan."
"Baik, Vin. Aku akan lakukan," jawab Robby.
"Jika Laras mulai membelot, hancurkan dia. Dan adiknya juga. Aku tidak mau ada yang menghalangi rencanaku."
Suara di rekaman berhenti. Profesor Djatmiko mematikan video. Ruangan menjadi sunyi. Hanya suara AC yang terdengar, berdengung seperti lebah yang marah.
Profesor Djatmiko menatap Vino. Matanya tajam, seperti pisau. "Vino, ini suaramu, kan?"
Vino pucat pasi. Wajahnya yang dulu penuh senyum kini berubah menjadi abu-abu. Tangannya yang tergenggam di pangkuan mulai gemetar.
"Itu... itu bisa hasil rekayasa," kata Vino dengan suara yang tidak meyakinkan. "Zaman sekarang teknologi canggih. Suara bisa dipalsukan. Video bisa diedit."
Tono berdiri. "Rekayasa? Coba tunjukkan bukti bahwa rekaman ini direkayasa. Aku tantang lo. Kita bawa ke ahli forensik. Kita lihat siapa yang benar."
Firmansyah berdiri lagi. "Saudara Tono, Anda yang merekam. Anda yang harus membuktikan bahwa rekaman ini asli."
Tono tidak mundur. "Rekaman ini asli. Silakan cek ke ahli forensik. Saya tidak takut. Saya tidak punya alasan untuk memalsukan rekaman. Saya hanya ingin keadilan."
Profesor Djatmiko menghela napas panjang. Ia menatap Vino, lalu menatap bukti-bukti di layar, lalu menatap Vino lagi. Keputusannya sudah bulat.
"Vino, ini sudah terlalu banyak bukti yang memberatkanmu," kata Profesor Djatmiko. "Laporan keuangan fiktif, transfer dana ke rekening pribadi, rekaman ancaman. Saya tidak punya pilihan selain memprosesmu secara disiplin."
Pak Budi berdiri. "Pak Rektor, proses disiplin tanpa pengadilan yang adil bisa digugat di pengadilan tata usaha negara. Saya sarankan Anda menunda keputusan sampai ada bukti yang lebih kuat. Jangan terburu-buru. Ini bisa menjadi preseden buruk bagi universitas."
Raden berdiri. "Bukti yang lebih kuat? Apa lagi yang kurang, Pak? Laporan keuangan palsu, transfer dana ke rekening pribadi, rekaman ancaman, saksi yang siap bersaksi. Masih kurang? Apa Vino harus membunuh seseorang baru kita bertindak?"
Pak Budi tidak terpengaruh. "Rekaman CCTV tidak bisa dijadikan bukti karena diperoleh secara ilegal. Itu sudah jelas dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. Laporan keuangan palsu belum diverifikasi oleh auditor independen. Transfer dana belum tentu dilakukan oleh Vino. Bisa jadi orang lain yang mengakses rekeningnya. Bisa jadi ini konspirasi untuk menjatuhkan Vino."
Cantika yang selama ini diam akhirnya angkat bicara. Ia berdiri, melangkah maju, berdiri di samping Raden. Matanya menatap Pak Budi.
"Pak Budi, saya tahu Anda mantan jaksa," kata Cantik. Suaranya lembut, tapi tegas. "Anda tahu mana yang benar dan mana yang salah. Anda tahu bahwa Vino bersalah. Jangan bela Vino hanya karena uang ayahnya. Jangan biarkan uang membungkam hati nurani Anda."
Pak Budi terdiam. Ia menatap Cantika lama. Mulutnya terbuka, seperti hendak berkata sesuatu, tapi tidak ada suara yang keluar.
Vino menatap Cantik. Matanya merah. "Cantik, lo ikut campur?"
Cantika menjawab, "Aku ikut campur karena aku korbanmu, Vin. Kamu menyebarkan gosip tentang aku. Kamu hampir menghancurkan reputasiku. Kamu memeras Laras. Kamu menyuruh anak buahmu mengintimidasi Tono dan Bongkot. Dan sekarang kamu korupsi dana BEM. Masih kurang? Masih kurang buktinya? Berapa banyak orang yang harus kamu sakiti sebelum kamu sadar bahwa kamu salah?"
Vino tidak menjawab. Ia hanya menunduk. Untuk pertama kalinya, Vino tidak punya kata-kata.
Profesor Djatmiko berdiri. Seluruh tubuhnya yang tegap kini berdiri tegak. Ia menatap Vino dengan mata yang tidak bisa ditawar.
"Saya sudah cukup mendengar," kata Profesor Djatmiko. Suaranya berat, penuh otoritas. "Vino, saya skors kamu dari jabatan ketua BEM dan dari semua kegiatan akademik sampai proses disiplin selesai. Kamu tidak boleh masuk kampus selama masa skors. Jika terbukti bersalah, kamu akan dikeluarkan."
Vino berdiri. Wajahnya merah padam. Matanya melotot. "Pak Rektor, ini tidak adil. Saya belum diadili. Saya belum diberi kesempatan untuk membela diri dengan layak. Ini fitnah! Ini konspirasi!"
Profesor Djatmiko tidak bergeming. "Ini bukan pengadilan, Vino. Ini kampus. Saya punya wewenang untuk menjatuhkan sanksi disiplin demi menjaga nama baik universitas. Jika kamu merasa keberatan, silakan ajukan banding. Tapi untuk saat ini, kamu tidak boleh masuk kampus. Satpam sudah saya perintahkan untuk tidak mengizinkanmu masuk."
Vino mengepalkan tangannya. Ia menatap satu per satu orang di ruangan itu. Bagus, Raden, Cantik, Maya, Andre, Tono, Laras. Matanya penuh kebencian.
"Kalian akan menyesal," kata Vino. Suaranya dingin, seperti angin malam di padang gurun. "Kalian semua akan menyesal."
Ia berbalik dan berjalan keluar. Firmansyah, Adrian, dan Pak Budi mengikuti dari belakang. Sepatu pantofel mereka menciptakan suara ketukan cepat di lantai marmer, seperti detak jantung orang yang ketakutan.
Sebelum pintu tertutup, Vino menoleh. "Ini belum selesai, Cantik. Aku akan kembali. Dan ketika aku kembali, kalian akan merasakan sakit yang sama seperti yang aku rasakan."
Pintu tertutup. Ruangan kembali sunyi.
Setelah pintu tertutup, keheningan menyelimuti ruang rektor.
Profesor Djatmiko duduk kembali di kursinya. Wajahnya lelah, seperti baru saja selesai berperang. Ia menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Anak-anak, saya minta maaf," kata Profesor Djatmiko. Suaranya melembut, hampir seperti bisikan. "Saya tidak tahu Vino melakukan semua ini. Saya tahu dia anak Pak Hartawan, saya tahu dia punya uang dan koneksi, tapi saya tidak tahu dia sejauh itu. Saya akan pastikan dia diproses sesuai aturan. Saya akan minta dewan disiplin untuk segera bersidang."
Raden menjawab, "Terima kasih, Pak Rektor. Kami percaya pada Bapak. Kami hanya ingin keadilan."
Profesor Djatmiko mengangguk. "Keadilan akan ditegakkan, Nak. Saya janji. Sekarang, kalian boleh pulang. Istirahat yang cukup. Kalian sudah berjuang dengan baik. Kalian adalah mahasiswa yang luar biasa."
Mereka berdiri dan berjalan keluar dari ruang rektor. Langkah mereka berat, tapi hati mereka ringan.
Koridor gedung rektorat. Mereka berjalan beriringan.
Maya memegang tangan Cantik. Wajahnya berseri-seri, meskipun matanya masih berkaca-kaca.
"Kita berhasil!" seru Maya. "Vino diskors! Kita benar-benar berhasil!"
Andre menjawab, "Belum sepenuhnya berhasil, May. Vino masih bisa banding. Pengacaranya pasti akan mengajukan keberatan. Tapi setidaknya dia tidak bisa berkeliaran di kampus untuk sementara. Itu sudah kemenangan besar."
Tono mengangguk. "Ini kemenangan besar. Kita punya waktu untuk mengumpulkan lebih banyak bukti. Kita bisa fokus pada proses disiplin. Vino tidak akan bisa lolos."
Laras menghela napas lega. Dadanya naik turun, seperti baru saja melepaskan beban yang sudah ia pikul bertahun-tahun. "Aku lega, teman-teman. Setidaknya adikku bisa tenang untuk sementara. Sari bisa tidur nyenyak tanpa mimpi buruk tentang Vino."
Cantika meraih tangan Laras. Genggamannya hangat, seperti pelukan seorang kakak pada adiknya. "Kita akan terus berjuang, Lar. Sampai Vino benar-benar jatuh. Sampai dia tidak bisa menyakiti siapa pun lagi. Aku janji."
Bagus bertanya, "Den, apa langkah kita selanjutnya?"
Raden berhenti berjalan. Ia menatap semua temannya satu per satu. Matanya bersinar. Ada semangat baru di sana. Semangat yang lahir dari kemenangan.
"Kita fokus pada proses disiplin," kata Raden. Suaranya mantap, seperti komandan yang memberikan arahan kepada pasukannya. "Kita bantu pihak kampus mengumpulkan lebih banyak bukti. Kita pastikan Vino tidak bisa lolos. Kita terus awasi gerak-geriknya. Tapi untuk hari ini, kita rayakan dulu kemenangan kecil ini."
Mereka semua mengangguk.
Hotel Vino, malam harinya.
Vino duduk di kursi dengan wajah gelap. Di hadapannya, Firmansyah, Adrian, dan Pak Budi duduk berjajar. Wajah mereka serius, tidak ada yang tersenyum.
Firmansyah membuka map berisi dokumen. "Vin, ini baru awal. Kita bisa ajukan banding ke rektor. Kita bisa minta peninjauan kembali. Kita juga bisa gugat rektor ke pengadilan tata usaha negara jika perlu. Ada banyak jalan."
Vino menggeleng. "Tidak, Pak. Aku tidak mau banding. Aku tidak mau gugat. Aku mau balas dendam."
Pak Budi mengerutkan kening. Kerutan di dahinya semakin dalam. "Balas dendam? Itu tidak akan menyelesaikan masalah, Vin. Balas dendam hanya akan memperburuk posisi kamu. Lebih baik kita fokus pada proses hukum. Kita bisa menang jika kita sabar."
Vino berdiri. Ia berjalan ke jendela, memandangi langit Jakarta yang mulai gelap. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi.
"Proses hukum akan memakan waktu bertahun-tahun," kata Vino tanpa menoleh. "Aku tidak punya kesabaran sebanyak itu. Aku ingin mereka menderita. Sekarang. Aku ingin mereka merasakan sakit yang sama seperti yang aku rasakan. Aku ingin mereka hancur. Secara mental. Secara emosional. Secara fisik."
Adrian bertanya, "Apa yang akan kamu lakukan, Vin? Jangan lakukan sesuatu yang bodoh. Kamu masih punya masa depan."
Vino tersenyum miring. Senyum yang sama. Senyum yang penuh racun. "Kalian tidak perlu tahu, Pak. Cukup siapkan tim pengacara yang siap membela aku jika sesuatu terjadi. Saya bayar berapapun."
Firmansyah menghela napas. "Vin, jangan lakukan sesuatu yang bodoh. Ini masih bisa diselesaikan dengan baik. Masih ada jalan. Jangan buang masa depanmu hanya karena emosi sesaat."
Vino tidak menjawab. Ia hanya berdiri di jendela, memandangi langit Jakarta yang gelap, memikirkan rencana balas dendam yang mulai ia susun di kepalanya.
Kafe Biru Langit, malam yang sama.
Pak Darmo menyiapkan meja panjang untuk mereka bertujuh. Kopi dan kue sudah tersaji. Lampu-lampu kuning temaram menciptakan suasana yang hangat. Musik jazz mengalun pelan dari pengeras suara, lagu "My Funny Valentine" yang sama seperti malam pertama.
Bagus, Raden, Cantik, Maya, Andre, Tono, dan Laras duduk di meja panjang. Wajah mereka lelah, tapi bahagia. Ada senyum di bibir masing-masing.
Maya mengangkat cangkir kopinya. "Untuk persahabatan! Yang tidak pernah menyerah!"
Mereka semua mengikuti. "Untuk persahabatan!"
Cantika tersenyum. "Aku tidak tahu akan jadi apa tanpa kalian semua. Sungguh. Kalian menyelamatkan hidupku. Kalian menyelamatkan Laras. Kalian menyelamatkan Sari. Kalian menyelamatkan banyak orang."
Bagus meraih tangan Cantik. "Lo tidak akan pernah sendiri, Cantik. Ingat itu. Sampai kapan pun."
Raden mengangguk. "Kita akan selalu ada untuk lo. Untuk kalian semua. Kita adalah keluarga."
Laras menangis. Tono memeluknya.
Mereka semua tertawa. Tawa yang hangat. Tawa yang mengusir sisa-sisa ketakutan. Tawa yang menjadi simbol bahwa mereka telah melewati badai bersama.
Di luar kafe, di dalam mobil yang terparkir di seberang jalan, Vino mengamati mereka dari balik kaca gelap.
Matanya menyipit. Tangannya menggenggam setir dengan erat.
"Tertawalah kalian sekarang," bisik Vino. "Karena besok, kalian tidak akan bisa tertawa lagi."
Ia menyalakan mesin mobil dan melaju perlahan meninggalkan kafe, meninggalkan lampu-lampu kuning yang mulai diredupkan, meninggalkan tawa yang masih terdengar dari balik jendela.
Di apartemen Bagus, tengah malam.
Semua orang sudah pulang. Hanya Bagus dan Cantika yang tersisa. Raden memilih untuk pulang ke apartemen barunya malam itu—ia ingin sendiri, ingin merenung, ingin memproses semua yang terjadi.
Cantika duduk di sofa, memeluk bantal. Matanya menerawang kosong ke arah jendela, ke arah lampu-lampu kota yang masih berkelap-kelip meskipun sudah larut.
Bagus duduk di sampingnya. "Cantik, lo memikirkan apa?"
Cantika menghela napas. "Aku memikirkan tentang Vino, Gus. Tentang kata-kata terakhirnya. 'Ini belum selesai.' Aku takut. Aku takut dia akan melakukan sesuatu yang membahayakan kalian semua."
Bagus meraih tangan Cantika. "Cantik, lihat aku."
Cantika menoleh. Matanya bertemu dengan mata Bagus.
"Kita sudah melewati banyak hal bersama," kata Bagus. "Vino sudah diskors. Dia tidak bisa masuk kampus. Dia kehilangan kekuasaannya. Dia tidak akan bisa berbuat banyak. Dan jika dia coba-coba, kita akan siap. Kita tidak akan biarkan dia menyakiti siapa pun lagi."
Cantika tersenyum tipis. "Kamu selalu membuatku merasa aman, Gus. Sejak dulu."
Bagus tersenyum. "Itu karena aku sayang lo, Cantik. Dan aku tidak akan pernah berhenti melindungi lo."
Mereka berdua berpelukan di sofa, di bawah lampu ruang tamu yang mulai diredupkan. Di luar, hujan mulai turun lagi. Tapi kali ini, hujan tidak terasa dingin. Hujan terasa seperti pembersih, penghapus semua ketakutan yang masih tersisa.
Di apartemen Raden, tengah malam.
Raden duduk di kursi kerjanya, memandangi tumpukan berkas hukum yang belum sempat ia baca. Tapi pikirannya tidak tertuju pada berkas-berkas itu. Pikirannya tertuju pada hari ini. Pada kemenangan kecil yang mereka raih. Pada wajah Vino yang pucat ketika rekaman CCTV diputar. Pada mata Cantika yang bersinar ketika ia berbicara di hadapan rektor.
Ia membuka ponselnya. Galeri foto. Foto-foto lama bersama Cantika, Bagus, dan yang lainnya. Ia menatap foto Cantika tersenyum di Kafe Biru Langit.
"Cantik, kita menang hari ini," bisiknya. "Tapi ini belum selesai. Masih panjang perjuangan kita. Tapi setidaknya, kita tidak sendirian."
Ia memejamkan mata. Air matanya jatuh. Bukan air mata sedih. Air mata lega.
Di kamar kos Laras, tengah malam.
Laras terbangun dari tidurnya. Ia bermimpi tentang Sari. Sari tersenyum. Sari tertawa. Sari tidak takut lagi.
Laras tersenyum dalam gelap. Ia meraih ponselnya, mengetik pesan singkat untuk Sari.
"Sar, kakak sayang kamu. Kita sudah menang. Vino diskors. Kamu aman. Tidurlah yang nyenyak."
Beberapa saat kemudian, balasan dari Sari masuk.
"Kak, aku juga sayang kakak. Terima kasih sudah berjuang untuk aku. Aku bisa tidur nyenyak malam ini. Mimpi indah, Kak."
Laras menangis. Tangis haru. Tangis lega. Tangis yang sudah lama ia pendam.
Di hotel Vino, tengah malam.
Vino tidak bisa tidur. Ia duduk di kursi empuk dengan segelas whiskey. Layar ponselnya menampilkan foto-foto Cantika yang masih tersimpan di galerinya.
"Cantik, lo pikir lo sudah menang?" bisik Vino. "Lo salah. Ini baru awal. Aku akan membuat lo menyesal. Aku akan membuat kalian semua menyesal."
Ia menyesap whiskynya. Pahit. Pahit seperti hatinya. Pahit seperti dendam yang terus ia sirami setiap hari.
Ia tersenyum. Senyum yang sama. Senyum miring yang penuh racun.
Pukul satu dini hari. Bagus masih terjaga.
Ia duduk di balkon apartemennya, memandangi langit Jakarta yang mulai cerah. Hujan sudah reda. Bintang-bintang mulai muncul satu per satu. Venus, planet yang sering ia kira bintang, bersinar terang di sebelah timur.
Ia membuka buku sketsanya—buku yang ia tinggalkan di apartemen pagi ini, tapi sekarang sudah kembali di pangkuannya. Ia membuka halaman terakhir, halaman dengan gambar tiga bintang di langit yang gelap.
Ia menambahkan satu baris di bawah gambar itu:
"Hari ini kita menang. Tapi pertempuran belum berakhir. Tapi setidaknya, kita tidak sendirian. Dan selama kita bersama, tidak ada yang tidak mungkin."
Ia menutup buku sketsa. Ia memejamkan mata. Angin malam berhembus lembut, membawa mimpi-mimpi tentang masa depan yang lebih cerah.
Tiga hari setelah sidang di ruang rektor, ketenangan yang mereka rasakan ternyata tidak bertahan lama. Vino memang diskors. Ia tidak bisa masuk kampus. Tapi bayang-bayang dendamnya masih menghantui. Pesan-pesan ancaman mulai berdatangan. Bayangan-bayangan misterius mulai muncul di malam hari. Vino tidak menyerah. Ia hanya berganti taktik. Dari pertarungan terbuka, ia beralih ke perang gerilya. Dan dalam ketakutan yang menyelimuti, persahabatan mereka akan diuji lagi. Apakah mereka akan bertahan? Atau justru retak karena tekanan yang semakin berat?
BAB 17: Di Hadapan Rektor
Gedung rektorat Universitas Persada, pukul setengah sembilan pagi.
Ruang rektor berada di lantai empat. Lantai marmer putih mengkilap memantulkan cahaya matahari pagi. Di balik meja kayu jati berukir, duduk Profesor Djatmiko, rektor berusia enam puluh tahun dengan rambut memutih di pelipis, mata coklat tua yang masih tajam, dan ekspresi teduh yang kini berubah serius.
Di hadapannya, tujuh mahasiswa duduk berjajar.
Bagus di ujung kiri. Wajahnya pucat, matanya sembab, tapi ada keteguhan di sana. Buku sketsa tidak ia bawa hari ini. Hari ini bukan hari untuk menggambar. Hari ini adalah hari untuk berjuang.
Raden di sebelah Bagus. Wajahnya dingin seperti biasa, tapi matanya menyala. Setiap argumen, setiap bukti, setiap pasal yang relevan sudah ia hafal di luar kepala.
Cantika di tengah. Wajahnya tenang, tapi tangannya yang tergenggam di pangkuan sedikit gemetar. Di rambutnya, jepit kupu-kupu kesayangan tersemat rapi. Sebagai pengingat bahwa ia tidak sendirian.
Maya, Andre, Tono, dan Laras melengkapi barisan. Wajah mereka tegang, tapi penuh harap.
Profesor Djatmiko meletakkan pulpennya. Bunyi plastik menyentuh kayu terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu.
"Selamat pagi, anak-anak. Silakan sampaikan apa yang ingin kalian sampaikan."
Raden menarik napas panjang. Ia melangkah maju. "Selamat pagi, Pak Rektor. Saya Raden dari fakultas hukum. Kami datang untuk melaporkan dugaan korupsi dana BEM dan penyalahgunaan wewenang oleh ketua BEM, saudara Vino."
Profesor Djatmiko mengangkat alis. "Vino? Anak Pak Hartawan, pengusaha properti itu?"
"Benar, Pak."
"Ini tuduhan berat, Nak. Kalian punya bukti?"
Raden mengeluarkan flashdisk biru kecil dari sakunya. "Kami punya bukti, Pak. Laporan keuangan fiktif, transfer dana ke rekening pribadi atas nama Vino, rekaman CCTV yang menunjukkan Vino memerintahkan anak buahnya untuk mengintimidasi saksi."
Profesor Djatmiko meraih flashdisk itu. "Siapa yang mengakses data ini?"
Tono berdiri. "Saya, Pak. Saya Tono dari fakultas hukum."
"Kamu mengakses data rahasia tanpa izin, Nak. Itu pelanggaran."
Tono menegakkan tubuhnya. "Saya tahu, Pak. Tapi saya tidak punya pilihan. Kami sudah melapor ke polisi, tapi polisi tidak bisa berbuat apa-apa. Vino menyakiti adik saya. Dia menyakiti Laras. Dia menyakiti Cantik. Jika kami tidak bertindak, tidak akan ada yang bertindak."
Profesor Djatmiko terdiam. Lalu ia menghela napas. "Ceritakan semuanya dari awal."
Raden melangkah maju. Suaranya tenang, terstruktur. Ia bercerita tentang Vino yang kembali setelah dua tahun menghilang, tentang pemerasan terhadap Laras dengan ancaman pada adiknya, tentang preman bayaran bernama Bongkot yang nyaris membunuh Tono, dan tentang dana BEM senilai hampir lima ratus juta yang mengalir ke rekening pribadi Vino.
Profesor Djatmiko mendengarkan dengan saksama. Wajahnya berubah dari teduh menjadi tegang. Kerutan di dahinya semakin dalam.
"Ini lebih serius dari yang saya kira. Kalian punya saksi?"
"Kami punya, Pak. Bongkot bersedia menjadi saksi. Laras dan adiknya juga. Semua bukti ada di flashdisk itu."
Profesor Djatmiko mengangguk. "Baik. Saya akan memanggil Vino dan pengacaranya ke sini."
Ia mengangkat telepon di meja kerjanya. "Bu Dewi, tolong hubungi Saudara Vino. Minta dia datang ke ruang saya sekarang. Bawa pengacaranya juga."
Tiga puluh menit kemudian.
Pintu ruang rektor terbuka.
Vino masuk dengan langkah percaya diri—setelan jas hitam mahal, dasi merah marun, rambut disisir rapi ke belakang. Wajahnya segar, penuh senyum. Di belakangnya, Firmansyah, Adrian, dan Pak Budi—mantan jaksa yang kini menjadi konsultan hukum keluarga Vino.
Vino tersenyum miring melihat rombongan Bagus. "Selamat pagi, Pak Rektor. Maaf jika kami agak terlambat. Lalu lintas macet."
Profesor Djatmiko tidak tersenyum. "Silakan duduk, Vino. Ada masalah serius yang harus kita bicarakan."
Vino duduk. Ia menyilangkan kaki, menyandarkan tubuh ke kursi, sesekali melirik ke arah Cantika. Cantika tidak menatap balik.
Profesor Djatmiko membuka pembicaraan. "Vino, saya menerima laporan bahwa kamu diduga melakukan korupsi dana BEM, penyalahgunaan wewenang, pemerasan, dan intimidasi terhadap mahasiswa lain. Apa tanggapan kamu?"
Vino berpura-pura terkejut. Alisnya terangkat. "Pak Rektor, ini fitnah. Saya tidak pernah melakukan itu."
Raden maju selangkah. "Kami punya bukti, Vin. Jangan pura-pura tidak tahu."
Firmansyah berdiri. "Saudara Raden, hati-hati dengan tuduhan Anda. Klien kami bisa melaporkan Anda atas tuduhan pencemaran nama baik."
Raden tidak terintimidasi. "Silakan lapor, Pak. Saya juga akan melaporkan Vino atas tuduhan korupsi, pemerasan, dan percobaan pembunuhan. Kita lihat siapa yang benar."
Profesor Djatmiko mengetuk mejanya. "Cukup. Vino, saya akan memutar bukti-bukti yang diserahkan oleh Raden dan kawan-kawan. Silakan lihat sendiri."
File pertama: Laporan keuangan fiktif.
Layar proyektor menampilkan scan dokumen laporan keuangan BEM. Angka-angka rapi, tapi di kolom keterangan, dana puluhan juta dicatat sebagai "biaya kegiatan" tanpa penjelasan.
"Vino, ini laporan keuangan BEM periode Januari hingga Juni. Ada dana yang dicatat sebagai biaya kegiatan, tapi tidak pernah ada kegiatan yang sesuai."
Vino menjawab santai. "Itu mungkin kesalahan administrasi, Pak. Bisa jadi anak buah saya yang salah input."
Tono tidak bisa diam. "Bukan kesalahan administrasi, Vin. Itu sengaja dibuat fiktif. Aku sudah cek satu per satu. Tidak ada kegiatan yang sesuai. Bahkan tanda tangannya palsu."
Firmansyah berdiri lagi. "Saudara Tono, Anda bukan auditor. Anda tidak punya wewenang. Dan Anda mengakses data tanpa izin."
Tono tidak mundur. "Saya lebih baik melanggar aturan daripada membiarkan koruptor berkeliaran."
Profesor Djatmiko mengangkat tangan. "Cukup. Lanjut."
File kedua: Rekening koran atas nama PT Maju Jaya.
Layar menampilkan transfer dana dari rekening BEM ke rekening PT Maju Jaya. Total hampir lima ratus juta.
"Vino, apa hubungan Anda dengan PT Maju Jaya?"
Vino terdiam sejenak. "PT Maju Jaya adalah perusahaan milik ayah saya, Pak. Saya tidak tahu tentang transfer-transfer itu."
Raden tertawa pahit. "Ayah lo? Pemiliknya adalah Vino Hartawan sendiri. Saya sudah cek di Kementerian Hukum dan HAM."
Pak Budi angkat bicara. "Saudara Raden, bagaimana Anda bisa mendapatkan data kepemilikan perusahaan?"
"Itu data publik, Pak. Siapa pun bisa mengaksesnya."
Profesor Djatmiko menatap Vino. "Kamu punya penjelasan lain?"
Vino terdiam. Senyumnya mulai menghilang.
File ketiga: Rekaman CCTV.
Layar menampilkan rekaman dari parkiran belakang fakultas hukum. Vino dan Robby—anak buahnya—berbicara.
"Robby, aku ingin lo awasi Laras. Setiap gerakannya. Jika Laras mulai membelot, hancurkan dia. Dan adiknya juga."
Suara di rekaman berhenti. Ruangan sunyi.
Profesor Djatmiko menatap Vino. Matanya tajam seperti pisau. "Ini suaramu, kan?"
Vino pucat pasi. Tangannya mulai gemetar. "Itu... itu bisa hasil rekayasa."
Tono berdiri. "Rekayasa? Kita bawa ke ahli forensik. Kita lihat siapa yang benar."
Firmansyah berdiri lagi. "Saudara Tono, Anda yang merekam. Anda yang harus membuktikan keasliannya."
Tono tidak mundur. "Rekaman ini asli. Silakan cek ke ahli forensik. Saya tidak takut."
Profesor Djatmiko menghela napas panjang. Keputusannya sudah bulat.
"Vino, ini sudah terlalu banyak bukti yang memberatkanmu. Laporan keuangan fiktif, transfer dana ke rekening pribadi, rekaman ancaman. Saya tidak punya pilihan selain memprosesmu secara disiplin."
Pak Budi berdiri. "Pak Rektor, proses disiplin tanpa pengadilan yang adil bisa digugat. Saya sarankan Anda menunda keputusan."
Raden berdiri. "Bukti yang lebih kuat? Laporan keuangan palsu, transfer dana, rekaman ancaman, saksi yang siap bersaksi. Masih kurang?"
Cantika, yang selama ini diam, akhirnya angkat bicara. Ia berdiri, melangkah maju, berdiri di samping Raden.
"Pak Budi, saya tahu Anda mantan jaksa. Anda tahu mana yang benar dan mana yang salah. Anda tahu bahwa Vino bersalah. Jangan bela Vino hanya karena uang ayahnya. Jangan biarkan uang membungkam hati nurani Anda."
Pak Budi terdiam. Ia menatap Cantika lama. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar.
Vino menatap Cantik dengan mata merah. "Cantik, lo ikut campur?"
Cantika menatap Vino. "Aku ikut campur karena aku korbanmu, Vin. Kamu menyebarkan gosip tentang aku. Kamu memeras Laras. Kamu menyuruh anak buahmu mengintimidasi Tono dan Bongkot. Dan sekarang kamu korupsi dana BEM. Berapa banyak orang yang harus kamu sakiti sebelum kamu sadar bahwa kamu salah?"
Vino tidak menjawab. Ia hanya menunduk. Untuk pertama kalinya, Vino tidak punya kata-kata.
Profesor Djatmiko berdiri. Seluruh tubuhnya yang tegap kini berdiri tegak.
"Saya sudah cukup mendengar. Vino, saya skors kamu dari jabatan ketua BEM dan dari semua kegiatan akademik sampai proses disiplin selesai. Kamu tidak boleh masuk kampus selama masa skors. Jika terbukti bersalah, kamu akan dikeluarkan."
Vino berdiri. Wajahnya merah padam. "Pak Rektor, ini tidak adil! Saya belum diadili!"
Profesor Djatmiko tidak bergeming. "Ini bukan pengadilan, Vino. Ini kampus. Saya punya wewenang untuk menjatuhkan sanksi disiplin. Jika kamu keberatan, silakan ajukan banding."
Vino mengepalkan tangannya. Ia menatap satu per satu orang di ruangan itu. Bagus, Raden, Cantik, Maya, Andre, Tono, Laras. Matanya penuh kebencian.
"Kalian akan menyesal. Kalian semua akan menyesal."
Ia berbalik dan berjalan keluar. Firmansyah, Adrian, dan Pak Budi mengikuti dari belakang.
Sebelum pintu tertutup, Vino menoleh. "Ini belum selesai, Cantik. Aku akan kembali."
Pintu tertutup. Ruangan kembali sunyi.
Setelah pintu tertutup, Profesor Djatmiko duduk kembali di kursinya. Wajahnya lelah.
"Anak-anak, saya minta maaf. Saya tidak tahu Vino melakukan semua ini. Saya akan pastikan dia diproses sesuai aturan."
Raden menjawab, "Terima kasih, Pak Rektor."
Profesor Djatmiko mengangguk. "Keadilan akan ditegakkan, Nak. Sekarang, kalian boleh pulang. Istirahat yang cukup."
Mereka berdiri dan berjalan keluar.
Koridor gedung rektorat.
Maya memegang tangan Cantik. Wajahnya berseri meskipun matanya berkaca-kaca. "Kita berhasil! Vino diskors!"
Andre menjawab, "Belum sepenuhnya, May. Tapi setidaknya dia tidak bisa berkeliaran di kampus untuk sementara."
Tono mengangguk. "Ini kemenangan besar. Vino tidak akan bisa lolos."
Laras menghela napas lega. "Aku lega. Sari bisa tidur nyenyak tanpa mimpi buruk tentang Vino."
Cantika meraih tangan Laras. "Kita akan terus berjuang, Lar. Sampai Vino benar-benar jatuh."
Raden berhenti berjalan. "Kita fokus pada proses disiplin. Kita bantu pihak kampus mengumpulkan lebih banyak bukti. Tapi untuk hari ini, kita rayakan dulu kemenangan kecil ini."
Mereka semua mengangguk.
Hotel Vino, malam harinya.
Vino duduk di kursi dengan wajah gelap. Firmansyah, Adrian, dan Pak Budi duduk berjajar.
Firmansyah membuka map berisi dokumen. "Vin, kita bisa ajukan banding. Bisa juga gugat rektor ke pengadilan tata usaha negara."
Vino menggeleng. "Tidak, Pak. Aku tidak mau banding. Aku mau balas dendam."
Pak Budi mengerutkan kening. "Balas dendam tidak akan menyelesaikan masalah, Vin."
Vino berdiri. Ia berjalan ke jendela, memandangi langit Jakarta yang mulai gelap. "Proses hukum akan memakan waktu bertahun-tahun. Aku tidak punya kesabaran sebanyak itu. Aku ingin mereka menderita. Sekarang."
Adrian bertanya, "Apa yang akan kamu lakukan, Vin? Jangan lakukan sesuatu yang bodoh."
Vino tersenyum miring. "Kalian tidak perlu tahu, Pak. Cukup siapkan tim pengacara yang siap membela aku jika sesuatu terjadi."
Firmansyah menghela napas. "Vin, jangan buang masa depanmu hanya karena emosi sesaat."
Vino tidak menjawab. Ia hanya berdiri di jendela, memandangi langit Jakarta yang gelap, memikirkan rencana balas dendam yang mulai ia susun di kepalanya.
Kafe Biru Langit, malam yang sama.
Pak Darmo menyiapkan meja panjang untuk mereka bertujuh. Kopi dan kue sudah tersaji. Lampu-lampu kuning temaram menciptakan suasana hangat.
Maya mengangkat cangkir kopinya. "Untuk persahabatan! Yang tidak pernah menyerah!"
Mereka semua mengikuti. "Untuk persahabatan!"
Cantika tersenyum. "Aku tidak tahu akan jadi apa tanpa kalian semua. Kalian menyelamatkan hidupku. Kalian menyelamatkan Laras. Kalian menyelamatkan Sari."
Bagus meraih tangan Cantik. "Lo tidak akan pernah sendiri, Cantik. Ingat itu."
Raden mengangguk. "Kita akan selalu ada untuk lo. Kita adalah keluarga."
Mereka semua tertawa. Tawa yang hangat. Tawa yang mengusir sisa-sisa ketakutan.
Di luar kafe, di dalam mobil yang terparkir di seberang jalan, Vino mengamati mereka dari balik kaca gelap.
Matanya menyipit. Tangannya menggenggam setir dengan erat.
"Tertawalah kalian sekarang. Karena besok, kalian tidak akan bisa tertawa lagi."
Ia menyalakan mesin mobil dan melaju perlahan meninggalkan kafe.
BAB 18: Bayang-Bayang Dendam
Meskipun Vino sudah diskors dan tidak boleh masuk kampus, ia masih bebas di luar. Dan kebebasan itu, bagi Vino, adalah senjata. Seminggu setelah Vino diskors dari jabatannya sebagai ketua BEM, suasana di kampus Universitas Persada berangsur normal kembali. Mahasiswa kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Tidak ada lagi gosip tentang Vino, tidak ada lagi ketakutan yang menyelimuti setiap sudut gedung. Namun di balik ketenangan yang tampak di permukaan, kegelisahan masih mengendap di hati Bagus, Raden, Cantika, dan semua teman-teman mereka. Vino memang diskors, tapi ia belum dihukum. Ia masih bebas di luar kampus. Dan kebebasan itu adalah ancaman yang tidak bisa dianggap remeh. Vino adalah ular yang terluka. Dan ular yang terluka adalah yang paling berbahaya.
Apartemen Bagus, Jumat malam. Hujan turun deras sejak sore, mengguyur Jakarta tanpa ampun. Di ruang tamu, Bagus, Raden, dan Cantika duduk di sofa, ditemani secangkir kopi hangat yang mulai dingin karena tidak tersentuh. Wajah mereka tegang. Pikiran mereka melayang ke mana-mana.
Cantika memecah keheningan lebih dulu. "Gus, Den, aku tidak enak hati. Seminggu sudah Vino diskors, tapi dia belum juga dipanggil oleh dewan disiplin. Kapan prosesnya akan dimulai?"
Raden menghela napas panjang. "Proses administrasi memang lama, Cantik. Apalagi Vino punya pengacara hebat. Mereka pasti akan menggunakan segala cara untuk menunda-nunda."
Bagus menggelengkan kepala. "Itu tidak adil, Den. Sementara Vino bebas di luar, kita yang harus hidup dalam ketakutan."
Cantika menggigit bibirnya. "Aku setiap malam sulit tidur, Gus. Setiap ada suara aneh di luar jendela, aku langsung bangun dan memeriksa apakah itu Vino."
Raden menatap Cantik. "Cantik, lo tidak sendirian. Laras juga mengalaminya. Tono juga. Kita semua merasakan ketakutan yang sama."
Bagus berdiri dan berjalan ke jendela. "Kita tidak bisa terus begini, Den. Kita harus melakukan sesuatu."
Raden bertanya, "Apa yang bisa kita lakukan, Gus? Kita sudah melaporkan Vino ke rektor. Kita sudah mengumpulkan bukti. Sekarang kita hanya bisa menunggu."
Cantika berdiri dan mendekati Bagus. "Menunggu itu menyiksa, Gus. Aku tidak tahu harus berbuat apa untuk mengalihkan pikiranku."
Ponsel Raden bergetar. Ia melihat layar. "Pesan dari Tono."
Bagus berbalik. "Apa katanya?"
Raden membaca pesan itu. "Tono bilang dia melihat mobil hitam yang sama terparkir di depan rumahnya selama tiga malam berturut-turut. Dia curiga itu anak buah Vino."
Cantika menutup mulutnya. "Astaga. Vino mulai bergerak."
Raden menghela napas. "Tenang, Cantik. Tono bilang dia sudah mengamankan adiknya ke rumah saudara di luar kota. Sari aman."
Bagus bertanya, "Bagaimana dengan Laras? Apakah dia aman?"
Raden menjawab, "Laras sekarang tinggal sementara di rumah Maya. Andre juga sering bergantian jaga di sana."
Cantika mengelus dadanya. "Syukur. Setidaknya mereka aman. Tapi untuk berapa lama, Den? Sampai kapan kita hidup seperti ini?"
Raden tidak menjawab. Ia hanya menatap layar ponselnya dengan wajah tegang.
Hotel tempat Vino menginap, pukul sepuluh malam. Vino duduk di kursi empuk dengan segelas wiski di tangan. Di hadapannya, Robby berdiri tegang.
Vino menyesap wiskinya. "Robby, apa kabar dari lapangan?"
Robby menjawab dengan suara gugup. "Tono sudah memindahkan adiknya ke luar kota, Vin. Sulit dilacak. Laras sekarang tinggal di rumah Maya. Rumahnya dijaga ketat."
Vino tersenyum miring. "Mereka pikir mereka bisa bersembunyi dari aku? Mereka salah."
Robby bertanya, "Apa yang harus aku lakukan, Vin?"
Vino meletakkan gelasnya. "Aku ingin kamu kirim pesan ke mereka. Pesan singkat. Biar mereka tahu bahwa aku tidak akan berhenti."
Robby mengerutkan kening. "Pesan seperti apa, Vin?"
Vino berpikir sejenak. "Tulis begini: 'Kalian pikir kalian bisa bersembunyi? Aku akan menemukan kalian. Satu per satu.' Kirim ke Bagus, Raden, Cantik, Maya, Andre, Tono, dan Laras."
Robby mengangguk. "Baik, Vin. Aku akan kerjakan."
Vino mengangkat gelasnya lagi. "Dan Rob, jangan pakai nomormu. Pakai kartu prabayar yang tidak bisa dilacak."
Robby menjawab, "Baik, Vin. Aku sudah siapkan."
Robby keluar dari ruangan. Vino duduk sendirian, tersenyum miring ke arah jendela yang gelap.
Apartemen Bagus. Ponsel Bagus bergetar. Pesan dari nomor tidak dikenal. Ia membacanya. Wajahnya berubah pucat.
Raden bertanya, "Ada apa, Gus?"
Bagus menunjukkan ponselnya. "Pesan dari Vino. 'Kalian pikir kalian bisa bersembunyi? Aku akan menemukan kalian. Satu per satu.'"
Cantika meraih ponsel Bagus. Ia membaca pesan itu. Tangannya gemetar. "Astaga, dia gila. Benar-benar gila."
Ponsel Raden juga bergetar. Pesan yang sama dari nomor yang berbeda. Ponsel Cantika juga ikut bergetar. Mereka bertiga saling pandang.
Raden berdiri. "Vino ingin menakut-nakuti kita. Jangan biarkan dia berhasil."
Cantika berkata dengan suara bergetar. "Tapi Den, dia berhasil. Aku takut."
Bagus meraih tangan Cantik. "Cantik, lihat aku. Kita akan melewati ini bersama. Lo tidak sendirian."
Raden mengangkat ponselnya. "Aku akan telepon Maya. Pastikan mereka juga menerima pesan yang sama."
Raden menelepon Maya. Dari seberang, suara Maya terdengar panik. "Den, aku baru saja dapat pesan aneh dari nomor tidak dikenal!"
Raden menjawab, "Kami juga dapat, May. Itu dari Vino. Jangan panik. Amankan rumah. Jangan keluar malam-malam."
Maya bertanya, "Apakah kita harus lapor polisi, Den?"
Raden menjawab, "Belum, May. Polisi belum bisa berbuat apa-apa karena ini hanya pesan ancaman tanpa bukti yang kuat. Tapi kumpulkan semua bukti. Screenshot pesannya. Catat waktu dan nomor pengirimnya."
Maya mengangguk meskipun Raden tidak bisa melihatnya. "Baik, Den. Aku akan lakukan."
Telepon ditutup. Raden menatap Bagus dan Cantik. "Kita harus berkumpul. Besok pagi di kafe Biru Langit. Jam 8. Aku akan undang semua."
Bagus mengangguk. "Baik, Den. Aku setuju."
Kafe Biru Langit, Sabtu pagi, pukul delapan tepat. Hujan sudah reda, tapi langit masih mendung. Bagus, Raden, Cantik, Maya, Andre, Tono, dan Laras duduk di meja panjang. Wajah mereka tegang. Di atas meja, ponsel masing-masing tergeletak dengan pesan ancaman dari Vino.
Maya membuka percakapan. "Jadi Vino mengirim pesan ancaman ke kita semua?"
Raden mengangguk. "Iya, May. Ke Bagus, aku, Cantik, lo, Andre, Tono, dan Laras. Semua sama persis. 'Kalian pikir kalian bisa bersembunyi? Aku akan menemukan kalian. Satu per satu.'"
Andre mengepalkan tangannya. "Dasar pengecut. Dia tidak berani bertemu langsung. Lebih suka mengirim ancaman lewat pesan."
Tono menggelengkan kepala. "Ini sudah masuk kategori teror, Den. Kita harus lapor polisi."
Raden menghela napas. "Aku setuju, Ton. Tapi kita harus punya bukti yang lebih kuat. Nomor pengirimnya pasti tidak akan aktif lagi setelah pesan terkirim."
Laras menggigit bibirnya. "Jadi kita hanya bisa diam dan menunggu?"
Cantika meraih tangan Laras. "Bukan diam, Lar. Kita bersiap. Kita jaga satu sama lain."
Bagus angkat bicara. "Aku usulkan kita buat jadwal jaga. Setiap malam, minimal dua orang yang berjaga di rumah masing-masing. Jika ada yang mencurigakan, langsung telepon yang lain."
Raden mengangguk. "Ide bagus, Gus. Aku akan buat jadwalnya."
Maya bertanya, "Apakah kita juga harus jaga di rumah Laras?"
Raden menjawab, "Laras sekarang tinggal di rumah lo, May. Jadi rumah lo sudah termasuk."
Andre menunjuk dirinya sendiri. "Aku bisa jaga malam Senin sampai Rabu. Tono jaga Kamis sampai Sabtu. Minggu kita semua jaga bersama."
Tono mengangguk. "Setuju. Aku juga akan pasang kamera tersembunyi di sekitar rumah Maya."
Cantika bertanya, "Apakah semua ini cukup, Den? Apakah kita bisa menghentikan Vino hanya dengan berjaga-jaga?"
Raden menjawab, "Kita tidak bisa menghentikan Vino, Cantik. Tapi kita bisa mempersulitnya. Kita bisa membuatnya sadar bahwa kita tidak takut."
Laras menghela napas. "Aku harap ini cepat berakhir. Aku lelah, teman-teman. Aku sangat lelah."
Maya memeluk Laras. "Sabar, Lar. Ini akan segera berakhir."
Hotel Vino. Vino berbaring di ranjang, memandangi langit-langit kamar. Ponselnya berdering. Panggilan dari Firmansyah.
Firmansyah berkata, "Vin, aku dengar kamu mengirim pesan ancaman ke teman-temanmu."
Vino menjawab santai. "Hanya pesan kecil, Pak. Tidak ada yang serius."
Firmansyah menghela napas. "Vin, itu bisa digunakan sebagai bukti di pengadilan. Kamu jangan ceroboh."
Vino tertawa. "Pakai nomor prabayar, Pak. Tidak bisa dilacak."
Firmansyah menjawab, "Meskipun nomornya tidak bisa dilacak, isi pesannya bisa dijadikan bukti motif. Hakim bisa menafsirkan itu sebagai ancaman."
Vino berdecak kesal. "Jadi apa yang harus aku lakukan, Pak? Diam saja?"
Firmansyah menjawab, "Kita sudah punya strategi hukum, Vin. Jangan rusak dengan tindakan bodoh. Percayalah pada saya."
Vino menghela napas. "Baiklah, Pak. Aku tidak akan mengirim pesan lagi. Tapi aku tidak bisa diam."
Firmansyah bertanya, "Apa maksudmu?"
Vino menjawab, "Nanti Pak tahu. Aku tutup telepon dulu."
Vino mematikan ponselnya. Ia tersenyum miring. "Cantik, Bagus, Raden. Kalian pikir kalian aman? Kalian salah. Aku punya rencana yang lebih baik dari sekadar pesan ancaman."
Apartemen Bagus, malam hari. Bagus dan Raden duduk di ruang tamu. Cantika sudah tidur di kamar tamu.
Bagus bertanya, "Den, lo tidur di sini malam ini?"
Raden mengangguk. "Iya, Gus. Aku tidak mau meninggalkan lo dan Cantika sendirian. Vino bisa datang kapan saja."
Bagus menghela napas. "Apakah ini akan berlangsung lama, Den? Apakah kita harus hidup seperti ini selamanya?"
Raden menatap Bagus. "Tidak, Gus. Pada akhirnya, Vino akan ditangkap atau dia akan menyerah sendiri. Tapi untuk saat ini, kita harus bertahan."
Bagus menunduk. "Aku tidak tahu apakah aku bisa bertahan, Den. Setiap malam aku tidak bisa tidur. Setiap suara membuatku melompat."
Raden menepuk pundak Bagus. "Lo bisa, Gus. Lo lebih kuat dari yang lo kira. Kita semua bisa."
Bagus mengangkat kepalanya. "Terima kasih, Den. Lo selalu ada untukku."
Raden tersenyum. "Itu tugas seorang sahabat, Gus."
Mereka berdua terdiam. Di luar, hujan mulai turun lagi.
Kamar Maya, pukul dua dini hari. Maya terbangun karena mendengar suara aneh di luar jendela. Ia beranjak dari ranjang dan berjalan ke jendela. Di balik tirai, ia melihat bayangan seseorang berdiri di depan pagar rumah.
Maya meraih ponselnya dan menelepon Andre. Suara Andre terdengar mengantuk. "May, ada apa?"
Maya berbisik, "And, ada seseorang di luar rumahku. Aku lihat bayangannya."
Andre langsung terjaga. "Aku akan ke sana sekarang. Jangan keluar rumah. Kunci semua pintu."
Maya menjawab, "Cepat, And. Aku takut."
Telepon ditutup. Maya meraih sapu di sudut kamar dan berjongkok di belakang sofa.
Lima belas menit kemudian, mobil Andre tiba di depan rumah Maya. Lampu mobil menyorot bayangan itu. Bayangan itu berlari menghilang ke dalam gelap.
Andre masuk ke rumah Maya. "May, lo di mana?"
Maya keluar dari persembunyiannya. "And, dia lari?"
Andre mengangguk. "Lari. Tapi aku tidak bisa melihat wajahnya. Terlalu gelap."
Maya menangis. Andre memeluknya.
"Aku takut, And," isak Maya. "Aku sangat takut."
Andre menjawab, "Sekarang lo tidur di rumahku. Aku antar. Besok pagi kita lapor polisi."
Maya mengangguk. Mereka berdua keluar dari rumah.
Pagi harinya, Kabar tentang bayangan misterius di rumah Maya menyebar cepat ke seluruh anggota tim. Mereka berkumpul kembali di Kafe Biru Langit.
Maya bercerita dengan suara bergetar. "Aku lihat bayangan seseorang di luar pagar. Tingginya sekitar sekian. Tubuhnya besar."
Raden bertanya, "Apakah lo bisa lihat wajahnya, May?"
Maya menggeleng. "Tidak. Terlalu gelap. Tapi aku yakin itu bukan Vino. Posturnya berbeda."
Tono mengerutkan kening. "Anak buah Vino mungkin. Vino tidak akan datang sendiri."
Andre mengangguk. "Aku juga berpikir begitu. Vino terlalu pintar untuk mengotori tangannya sendiri."
Bagus bertanya, "Apa yang harus kita lakukan sekarang, Den?"
Raden menjawab, "Kita lapor polisi. May, lo buat laporan kehilangan ketenangan atau gangguan ketertiban. Polisi bisa memprosesnya sebagai tindak pidana ringan."
Cantika bertanya, "Apakah itu cukup, Den?"
Raden menjawab, "Tidak cukup. Tapi setidaknya polisi punya catatan. Jika terjadi lagi, polisi akan lebih serius menangani."
Laras menghela napas. "Aku harap ini segera berakhir."
Maya memeluk Laras. "Kita akan melewati ini bersama, Lar."
Kantor polisi. Maya, Andre, Tono, dan Laras sedang membuat laporan. Kompol Hendra menerima mereka dengan wajah serius.
Kompol Hendra berkata, "Jadi kalian melihat bayangan seseorang di sekitar rumah kalian malam tadi?"
Maya mengangguk. "Iya, Pak. Saya lihat bayangan di depan pagar. Saya takut itu akan masuk ke rumah."
Kompol Hendra bertanya, "Apakah kalian punya bukti rekaman? CCTV misalnya?"
Tono menjawab, "Belum, Pak. Tadi malam kamera saya belum terpasang. Tapi mulai malam ini, saya akan pasang di semua sudut."
Kompol Hendra menghela napas. "Laporan ini akan saya catat. Tapi tanpa bukti, sulit bagi kami untuk bertindak."
Andre berkata, "Kami mengerti, Pak. Tapi setidaknya ada catatan polisi jika terjadi sesuatu."
Kompol Hendra mengangguk. "Baiklah. Saya akan proses laporan kalian."
Mereka keluar dari kantor polisi. Wajah mereka masih tegang.
Hotel Vino. Vino duduk di kursi dengan segelas wiski. Robby berdiri di hadapannya.
Robby berkata, "Vin, anak buahku ketahuan semalam. Maya melihat bayangannya."
Vino menggerutu. "Bodoh. Aku suruh intai, bukan muncul."
Robby menjawab, "Maaf, Vin. Mereka terlalu dekat dengan pagar."
Vino menghela napas. "Suruh mereka mundur sementara. Aku tidak mau polisi ikut campur."
Robby mengangguk. "Baik, Vin. Aku akan sampaikan."
Vino mengangkat gelasnya. "Cantik, Bagus, Raden. Kalian memang pintar. Tapi aku tidak akan menyerah. Tunggu saja."
Kafe Biru Langit, sore hari. Bagus, Raden, Cantik, Maya, Andre, Tono, dan Laras duduk lagi. Maya sudah selesai membuat laporan polisi.
Bagus berkata, "Jadi sekarang kita harus lebih waspada."
Raden mengangguk. "Vino mungkin mundur untuk sementara, tapi dia tidak akan berhenti. Dia sedang menyusun rencana baru."
Cantika bertanya, "Apa yang bisa kita lakukan, Den?"
Raden menjawab, "Kita tetap pada rencana semula. Jaga-jaga. Kumpulkan bukti. Dan jangan biarkan rasa takut menguasai kita."
Mereka semua mengangguk. Mereka sadar bahwa perjuangan ini masih panjang.
BAB 19: Saat Kekhawatiran Menjadi Kenyataan
Dua minggu telah berlalu sejak insiden bayangan misterius di rumah Maya. Dua minggu sejak mereka semua hidup dalam ketakutan yang tidak pernah benar-benar hilang. Vino tidak mengirim pesan ancaman lagi. Tidak ada bayangan misterius yang muncul di malam hari. Tapi ketenangan itu justru lebih menakutkan daripada teror itu sendiri. Karena semua orang tahu bahwa Vino sedang merencanakan sesuatu. Sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang lebih menghancurkan. Dan ketika kekhawatiran itu akhirnya menjadi kenyataan, tidak ada yang siap.
Kampus Universitas Persada, Senin pagi. Suasana kampus masih sepi karena sebagian besar mahasiswa belum datang. Bagus dan Raden berjalan berdampingan di koridor fakultas hukum, menuju ruang senat untuk bertemu dengan Tono dan Andre.
Raden berkata sambil berjalan, "Gus, dua minggu sudah Vino tidak menunjukkan batang hidungnya. Aku malah semakin tidak tenang."
Bagus mengangguk. "Aku juga, Den. Diamnya Vino lebih menakutkan daripada aksinya."
Raden menghela napas. "Aku sudah coba hubungi pengacaranya, Firmansyah. Katanya Vino sedang di luar kota untuk urusan keluarga."
Bagus mengerutkan kening. "Urusan keluarga? Apa kita percaya itu, Den?"
Raden menjawab, "Tidak. Tapi tidak ada yang bisa kita lakukan selain percaya."
Mereka memasuki ruang senat. Tono dan Andre sudah menunggu.
Andre bertanya, "Den, ada kabar baru tentang Vino?"
Raden duduk. "Kabarnya dia di luar kota untuk urusan keluarga."
Tono mendengus. "Omong kosong. Vino tidak akan pernah meninggalkan Jakarta selama Cantika masih di sini."
Bagus bertanya, "Ton, apakah kamera-kamera lo menangkap sesuatu yang mencurigakan?"
Tono menggeleng. "Tidak, Gus. Dua minggu ini bersih. Tidak ada mobil hitam, tidak ada orang asing, tidak ada yang aneh."
Raden menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Itu yang membuatku khawatir. Vino tidak mungkin diam selama ini. Dia pasti sedang menyusun rencana."
Pintu ruang senat terbuka. Masuklah Maya dan Laras dengan wajah pucat. Cantika di belakang mereka, matanya merah seperti habis menangis.
Bagus berdiri. "Cantik, ada apa? Kenapa lo menangis?"
Cantika duduk di kursi kosong. Tangannya gemetar. Ia berusaha berbicara, tapi Suaranya tersendat.
Maya berbicara menggantikan. "Kantor redaksi kemasukan orang tadi malam. Semua data di komputer hilang. Hard disk dicabut. Semua file yang berhubungan dengan kasus Vino juga ikut hilang."
Raden terkejut. "Apa? Hard disk dicabut? Itu jelas perbuatan Vino."
Laras mengangguk. "Kami sudah lapor ke satpam kampus. Tapi satpam bilang tidak ada yang masuk ke gedung sastra semalam."
Tono mengepalkan tangannya. "Satpam kampus tidak bisa dipercaya. Mereka sudah dibayar Vino."
Andre bertanya, "Apakah ada backup data, Cantik?"
Cantika mengangguk pelan. "Ada. Aku simpan di hard disk eksternal di rumah. Tapi..."
Maya melanjutkan, "Tapi rumah Cantika juga kemasukan tadi malam. Hard disk eksternalnya hilang."
Bagus menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Astaga. Vino merencanakan ini dengan sangat rapi."
Raden berdiri. "Cantik, apakah lo baik-baik saja? Apakah lo melihat siapa yang masuk ke rumah lo?"
Cantika menjawab dengan suara parau. "Aku tidak melihat siapa pun, Den. Aku pulang dari kampus jam 5 sore. Pintu masih terkunci rapi. Tapi ketika aku buka lemari, hard disk-nya sudah tidak ada."
Maya menambahkan, "Tidak ada tanda-tanda paksa. Pintu tidak rusak. Jendela tidak terbuka. Seperti hantu yang masuk."
Tono mengerutkan kening. "Itu artinya orang yang masuk punya kunci. Siapa saja yang punya kunci rumah Cantik?"
Cantika berpikir sejenak. "Aku, tentu saja. Lalu ibu kos. Lalu... Vino."
Raden menatap Cantik. "Vino punya kunci rumah lo?"
Cantika mengangguk. "Dulu, waktu kami masih dekat. Aku lupa minta kembali setelah kami putus."
Bagus menghela napas. "Jadi Vino bisa masuk kapan saja ke rumah Cantika selama ini?"
Cantika menjawab, "Sepertinya begitu, Gus. Tapi aku tidak pernah merasa ada yang hilang sebelumnya."
Laras bertanya, "Apakah Vino juga punya kunci kantor redaksi?"
Maya menggeleng. "Tidak mungkin. Kantor redaksi hanya punya dua kunci. Satu dipegang ketua redaksi, satu dipegang sekretaris. Vino tidak mungkin punya."
Andre berpikir sejenak. "Mungkin Vino menggandakan kunci tanpa sepengetahuan kalian. Atau mungkin dia menyuruh anak buahnya yang pandai membuka kunci."
Tono mengangguk. "Itu lebih masuk akal. Vino pasti sudah merencanakan ini sejak lama."
Raden berjalan mondar-mandir. "Sekarang semua bukti fisik yang kita miliki hilang. Flashdisk berisi bukti korupsi Vino juga ada di rumah Cantik?"
Cantika menjawab, "Flashdisk yang dari komputer bendahara aku simpan di rumah Maya, Den. Itu aman."
Raden menghela napas lega. "Syukur. Setidaknya satu bukti tersisa."
Tono bertanya, "Apa yang harus kita lakukan sekarang, Den?"
Raden berhenti berjalan. "Kita harus mengamankan semua bukti yang tersisa. Flashdisk di rumah Maya harus segera kita copy ke beberapa tempat. Lalu kita laporkan pencurian ini ke polisi."
Bagus mengangguk. "Aku setuju. Tapi kita juga harus mencari tahu siapa yang melakukan ini. Jangan-jangan Vino tidak sendirian."
Maya mengangkat tangannya. "Aku punya firasat. Mungkin Laras tahu sesuatu."
Semua mata tertuju pada Laras. Laras menunduk. Wajahnya pucat.
Cantika bertanya, "Lar, apa lo tahu sesuatu? Cerita."
Laras menghela napas panjang. "Aku... aku tidak yakin. Tapi beberapa hari yang lalu, Vino menghubungiku. Dia bilang aku harus memilih. Bekerja sama dengannya atau adikku akan celaka."
Raden terkejut. "Apa? Lo tidak bilang sama kita, Lar?"
Laras menjawab dengan suara bergetar. "Aku takut, Den. Vino bilang jika aku memberi tahu kalian, dia akan langsung menyakiti Sari."
Bagus mengepalkan tangannya. "Vino benar-benar tidak punya hati."
Laras melanjutkan, "Aku tidak tahu apakah dia yang menyuruh orang masuk ke kantor redaksi dan rumah Cantik. Tapi aku curiga dia terlibat."
Cantika meraih tangan Laras. "Lar, kenapa lo tidak bilang dari dulu? Kita bisa bantu lo."
Laras menangis. "Aku takut, Cantik. Aku tidak mau kehilangan Sari."
Maya memeluk Laras. "Kita akan lindungi Sari, Lar. Dan kita akan lindungi lo juga. Tapi lo harus jujur pada kita."
Laras mengangguk sambil terisak. "Maaf. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyembunyikan."
Raden duduk di hadapan Laras. "Lar, apa Vino memberi tahu rencananya? Apa yang akan dia lakukan selanjutnya?"
Laras mengelap air matanya. "Dia bilang dia akan menghancurkan kalian satu per satu. Mulai dari yang paling lemah."
Andre bertanya, "Siapa yang paling lemah menurut Vino?"
Laras menjawab, "Aku tidak tahu. Tapi aku curiga itu aku. Atau Sari. Atau mungkin... Cantik."
Cantika menggigit bibirnya. "Jadi Vino akan menyerang kita dari berbagai sisi."
Raden berdiri. "Kita tidak bisa tinggal diam. Kita harus bergerak lebih cepat dari Vino. Tono, lo segera pasang kamera tambahan di rumah Maya, rumah Cantik, dan rumah Laras. Andre, lo urus keamanan fisik. Jaga pintu, jaga jendela, pasang gembok tambahan."
Andre mengangguk. "Baik, Den."
Raden melanjutkan, "Maya, lo temani Cantika dan Laras. Jangan biarkan mereka sendirian. Aku dan Bagus akan fokus pada urusan hukum dan polisi."
Maya mengangguk. "Baik, Den."
Raden menatap Cantik. "Cantik, lo harus kuat. Ini saatnya kita semua bersatu."
Cantika mengangguk. "Aku akan berusaha, Den."
Kantor polisi. Raden, Bagus, dan Cantika sedang membuat laporan pencurian. Kompol Hendra menerima mereka dengan wajah serius.
Kompol Hendra bertanya, "Jadi kalian kehilangan hard disk berisi data penting?"
Raden mengangguk. "Iya, Pak. Hard disk itu berisi bukti-bukti korupsi Vino, ketua BEM yang kami laporkan beberapa waktu lalu."
Kompol Hendra mengerutkan kening. "Vino? Yang diskors oleh rektor itu?"
Bagus menjawab, "Benar, Pak. Kami yakin Vino di balik pencurian ini."
Kompol Hendra menghela napas. "Kalian punya bukti bahwa Vino yang melakukan?"
Cantika menjawab, "Kami tidak punya bukti langsung, Pak. Tapi Vino punya kunci rumah saya. Dan dia punya motif yang kuat untuk menghilangkan bukti."
Kompol Hendra menulis sesuatu di buku catatannya. "Baik. Laporan ini akan saya proses. Tapi tanpa bukti, sulit bagi kami untuk menetapkan tersangka."
Raden menghela napas. "Kami mengerti, Pak. Tapi setidaknya ada catatan polisi jika terjadi sesuatu lagi."
Kompol Hendra mengangguk. "Baik. Saya akan koordinasikan dengan unit reskrim."
Mereka keluar dari kantor polisi. Wajah mereka kecewa.
Cantika berkata, "Den, sepertinya polisi tidak akan banyak membantu."
Raden menjawab, "Aku tahu, Cantik. Tapi setidaknya kita sudah mencoba."
Bagus memegang pundak Cantik. "Kita harus mengandalkan diri kita sendiri, Cantik. Kita harus lebih pintar dari Vino."
Rumah Maya, sore hari. Maya, Cantik, dan Laras duduk di ruang tamu. Wajah mereka tegang. Andre dan Tono sedang memasang gembok tambahan di pintu dan jendela.
Maya bertanya, "Cantik, lo yakin tidak ada bukti lain yang tersisa?"
Cantika menggeleng. "Hanya flashdisk di rumah lo, May. Itu satu-satunya."
Laras menggigit bibirnya. "Kita harus melindungi flashdisk itu dengan cara apa pun."
Maya berdiri. "Aku akan simpan di tempat yang tidak terduga. Mungkin di lemari es. Atau di dalam pot bunga."
Cantika tersenyum tipis. "Kreatif juga lo, May."
Maya menjawab, "Aku belajar dari film-film detektif."
Tono masuk ke ruang tamu. "Pintu belakang sudah aku kasih gembok tambahan. Jendela juga sudah aku kunci rapat."
Andre mengikuti dari belakang. "Aku sudah pasang alarm sederhana di pintu depan. Jika pintu terbuka tanpa kode, alarm akan berbunyi keras."
Laras menghela napas. "Aku harap ini cukup."
Maya memeluk Laras. "Kita akan baik-baik saja, Lar. Percayalah."
Hotel Vino. Vino duduk di kursi dengan segelas whiskey. Di hadapannya, Robby berdiri dengan senyum puas.
Robby berkata, "Vin, semua berjalan lancar. Hard disk dari rumah Cantika dan kantor redaksi sudah kita amankan."
Vino tersenyum miring. "Bagus. Apa ada yang tertinggal?"
Robby menggeleng. "Tidak, Vin. Kita sudah bersihkan semuanya."
Vino mengangkat gelasnya. "Apa Cantika curiga?"
Robby menjawab, "Dia pasti curiga. Tapi tanpa bukti, dia tidak bisa berbuat apa-apa."
Vino menyesap whiskynya. "Bagus. Sekarang giliran langkah berikutnya."
Robby bertanya, "Apa langkah berikutnya, Vin?"
Vino meletakkan gelasnya. "Aku ingin kamu mencari tahu di mana flashdisk yang asli. Yang diambil Tono dari komputer bendahara."
Robby mengerutkan kening. "Itu tidak ada di rumah Cantik, Vin. Aku sudah periksa semua."
Vino mengangguk. "Aku tahu. Itu pasti disimpan di tempat lain. Mungkin di rumah Maya. Cari tahu."
Robby mengangguk. "Baik, Vin. Aku akan kerjakan."
Vino berdiri dan berjalan ke jendela. "Cantik, Bagus, Raden. Kalian pikir kalian bisa menyembunyikan bukti dari aku? Kalian salah. Aku akan menemukannya."
Kafe Biru Langit, malam hari. Bagus, Raden, Cantik, Maya, Andre, Tono, dan Laras berkumpul. Mereka membahas rencana selanjutnya.
Raden membuka percakapan. "Tono, apa lo sudah copy flashdisk yang tersisa?"
Tono mengangguk. "Sudah, Den. Aku simpan di tiga tempat berbeda. Satu di rumahku, satu di rumah Maya, satu di cloud storage yang terenkripsi."
Andre bertanya, "Apakah cloud storage itu aman, Ton?"
Tono menjawab, "Aman. Password-nya hanya aku yang tahu. Dan akunnya pakai two-factor authentication."
Cantika menghela napas lega. "Setidaknya satu bukti aman."
Raden melanjutkan, "Sekarang kita harus fokus pada keamanan fisik. Vino mungkin akan mencoba hal-hal yang lebih ekstrem setelah gagal mendapatkan bukti."
Maya bertanya, "Apa yang lo maksud dengan lebih ekstrem, Den?"
Raden menjawab, "Vino bisa saja menyuruh anak buahnya untuk menculik salah satu dari kita. Atau menyakiti keluarga kita."
Laras pucat. "Sari... aku harus melindungi Sari."
Cantika meraih tangan Laras. "Sari sudah aman, Lar. Dia di tempat yang tidak diketahui Vino."
Laras mengangguk meskipun masih tegang.
Bagus angkat bicara. "Aku usulkan kita semua menginap di satu tempat untuk sementara. Lebih mudah dijaga."
Raden mengangguk. "Ide bagus, Gus. Tapi di mana tempatnya?"
Maya menjawab, "Di rumahku. Rumahnya cukup besar. Ada tiga kamar tidur."
Andre menambahkan, "Aku bisa jaga di luar. Tono juga."
Tono mengangguk. "Setuju. Aku akan bawa perlengkapan. Kamera, alarm, dan beberapa alat lain."
Raden menatap Cantik. "Cantik, apa lo setuju?"
Cantika mengangguk. "Aku setuju, Den. Aku tidak ingin sendirian di rumah."
Raden berdiri. "Baiklah. Mulai malam ini, kita semua akan tinggal di rumah Maya."
Rumah Maya, tengah malam. Semua orang sudah berkumpul. Maya menyiapkan teh hangat untuk mereka semua. Andre dan Tono bergantian berjaga di luar. Bagus, Raden, dan Cantika duduk di ruang tamu.
Cantika berkata, "Den, aku ingin bertanya sesuatu."
Raden menatap Cantik. "Tanyalah, Cantik."
Cantika menghela napas. "Apakah semua ini akan berakhir? Apakah Vino akan pernah berhenti?"
Raden menjawab, "Dia akan berhenti jika dia sudah tidak punya pilihan. Atau jika dia sudah dihukum."
Bagus menambahkan, "Atau jika dia sadar bahwa apa yang dia lakukan salah. Tapi itu kemungkinan yang sangat kecil."
Cantika menunduk. "Aku lelah, Gus. Aku lelah hidup dalam ketakutan."
Bagus meraih tangan Cantik. "Cantik, lihat aku. Kita akan melewati ini bersama. Lo tidak sendirian."
Cantika mengangkat kepalanya. "Aku tahu, Gus. Tapi kadang aku merasa semua ini adalah salahku."
Raden mengerutkan kening. "Salah lo? Kenapa?"
Cantika menjawab, "Jika aku tidak pernah mengenal Vino dulu, mungkin semua ini tidak akan terjadi."
Bagus menggeleng. "Bukan salah lo, Cantik. Vino yang memilih untuk menjadi jahat. Bukan lo."
Raden mengangguk. "Bagus benar. Lo tidak bisa menyalahkan diri sendiri atas kesalahan orang lain."
Cantika tersenyum tipis. "Terima kasih, Gus. Terima kasih, Den. Kalian selalu membuatku merasa lebih baik."
Maya keluar dari dapur dengan membawa nampan berisi teh hangat. "Teh untuk semuanya. Biar hangat."
Mereka semua menikmati teh hangat di tengah malam yang dingin.
Hotel Vino. Vino tidak bisa tidur. Ia duduk di kursi empuk, memandangi ponselnya. Layar ponsel menampilkan foto-foto Cantika yang masih tersimpan di galerinya.
"Cantik, lo pikir lo bisa bersembunyi di rumah Maya?" bisik Vino. "Aku tahu. Aku tahu semua tempat persembunyian kalian."
Ia menekan nomor Robby. "Rob, aku punya tugas baru untukmu."
Robby menjawab, "Apa, Vin?"
Vino tersenyum miring. "Aku ingin kamu merusak rumah Maya. Bakar saja. Biar mereka tahu bahwa tidak ada tempat yang aman bagi mereka."
Robby terdiam sejenak. "Vin, itu tindakan kriminal. Kita bisa masuk penjara."
Vino tertawa. "Kita sudah terlanjur masuk penjara, Rob. Perbedaannya hanya apakah kita tertangkap atau tidak. Dan aku tidak akan tertangkap."
Robby menghela napas. "Baik, Vin. Aku akan lakukan. Tapi butuh persiapan."
Vino menjawab, "Jangan terlalu lama. Aku tidak sabar melihat mereka ketakutan."
Telepon ditutup. Vino tertawa sendiri.
Rumah Maya, pukul tiga dini hari. Semua orang sudah tidur, kecuali Andre yang berjaga di teras. Tiba-tiba, ia mencium bau asap.
Andre berdiri dan melihat ke arah samping rumah. Api sudah mulai membakar tumpukan kayu di dekat dinding.
Andre berteriak, "KEBAKARAN! KEBAKARAN!"
Semua orang terbangun. Maya, Cantik, Laras, Bagus, Raden, dan Tono berlari keluar.
Tono mengambil alat pemadam kebakaran di dapur. Andre mengambil selang air dari belakang rumah. Mereka berusaha memadamkan api.
Bagus berteriak, "Cantik, May, Lar! Cepat keluar dari rumah!"
Maya menarik Cantika dan Laras keluar rumah. Mereka berdiri di halaman depan, menggigil karena dingin dan ketakutan.
Setelah lima belas menit, api berhasil dipadamkan. Kerusakan tidak terlalu parah, hanya dinding samping yang hangus. Tapi semua orang masih dalam keadaan syok.
Raden mendekati Andre. "And, apakah lo lihat siapa yang membakar?"
Andre menggeleng. "Tidak, Den. Aku sedang di teras depan. Tiba-tiba mencium bau asap. Saat aku ke samping, api sudah membesar."
Tono memeriksa sekitar. "Ada bekas bensin di sini. Ini sengaja dibakar."
Bagus mengepalkan tangannya. "Vino. Pasti Vino."
Cantika menangis. Maya memeluknya. Laras menggigit bibirnya, menahan amarah.
Raden mengangkat ponselnya. "Aku akan telepon polisi. Dan pemadam kebakaran untuk membuat laporan."
Pagi harinya, polisi dan pemadam kebakaran datang. Mereka memeriksa tempat kejadian dan mengambil keterangan dari semua orang.
Kompol Hendra berkata, "Ini jelas tindakan kriminal. Ada bekas bensin di dinding. Api sengaja dinyalakan."
Raden bertanya, "Apakah Bapak bisa menangkap pelakunya, Pak?"
Kompol Hendra menghela napas. "Kami akan coba. Tapi tanpa saksi mata, sulit."
Bagus bertanya, "Apakah ada CCTV di sekitar sini, Pak?"
Kompol Hendra menjawab, "Kami akan periksa CCTV tetangga. Mudah-mudahan ada yang merekam."
Setelah polisi pergi, mereka semua duduk di ruang tamu. Wajah mereka lelah dan tegang.
Maya berkata, "Rumahku tidak aman lagi. Kita harus cari tempat lain."
Raden mengangguk. "Aku setuju, May. Tapi di mana?"
Cantika menjawab, "Di apartemen Bagus. Apartemennya cukup besar. Ada dua kamar. Kita bisa tidur bergantian."
Bagus mengangguk. "Boleh. Aku tidak keberatan."
Laras bertanya, "Apakah apartemen Bagus aman? Vino tahu alamatnya?"
Bagus menjawab, "Vino tahu alamatnya. Tapi apartemenku ada satpam 24 jam. Ada CCTV di setiap sudut. Lebih aman dari rumah."
Raden berdiri. "Baiklah. Kita pindah ke apartemen Bagus. Sekarang."
Apartemen Bagus, siang hari. Semua orang sudah berkumpul. Bagus membersihkan kamar tidurnya untuk Maya, Cantik, dan Laras. Raden, Andre, dan Tono akan tidur di ruang tamu.
Cantika duduk di sofa, memandangi langit-langit. "Aku tidak percaya semua ini terjadi."
Maya duduk di sampingnya. "Kita harus kuat, Cantik. Kita harus bertahan."
Laras bergabung. "Aku tidak akan pernah memaafkan Vino. Apa pun yang terjadi."
Raden mendekat. "Kita tidak perlu memaafkan Vino. Yang perlu kita lakukan adalah menghentikannya."
Bagus keluar dari kamar. "Kamar sudah siap. Ada tiga kasur di dalam. Silakan."
Maya, Cantik, dan Laras berjalan ke kamar. Bagus, Raden, Andre, dan Tono duduk di ruang tamu.
Andre bertanya, "Den, apa langkah kita selanjutnya?"
Raden menjawab, "Kita kumpulkan bukti lagi. Kita laporkan percobaan pembakaran ini ke polisi. Kita tekan rektor untuk segera memproses Vino."
Tono mengangguk. "Aku akan pasang CCTV di sekitar apartemen ini. Tanpa sepengetahuan satpam."
Bagus bertanya, "Apakah itu legal, Ton?"
Tono menjawab, "Tidak sepenuhnya legal. Tapi untuk keamanan, aku akan lakukan."
Raden menghela napas. "Baiklah. Tapi hati-hati. Jangan sampai ketahuan."
Mereka semua mengangguk.
Hotel Vino. Vino menerima telepon dari Robby.
Robby berkata, "Vin, api sudah padam. Kerusakan tidak terlalu parah. Mereka pindah ke apartemen Bagus."
Vino menggerutu. "Bajingan. Mereka selalu selangkah lebih maju."
Robby bertanya, "Apa yang harus kita lakukan sekarang, Vin?"
Vino berpikir sejenak. "Kita tunggu dulu. Biarkan mereka merasa aman. Lalu kita serang lagi."
Robby mengangguk. "Baik, Vin. Aku akan siapkan semuanya."
Vino menutup telepon. Ia tersenyum miring. "Cantik, Bagus, Raden. Kalian pikir apartemen Bagus aman? Kalian salah. Tidak ada tempat yang aman dari aku."
BAB 20: Perlawanan dari Dalam
Seminggu setelah percobaan pembakaran di rumah Maya, semua orang kini tinggal di apartemen Bagus. Tiga perempuan di kamar tidur, empat laki-laki di ruang tamu. Tono sudah memasang CCTV di sekitar apartemen tanpa sepengetahuan satpam. Andre dan Raden bergantian berjaga di malam hari. Bagus menjadi koki dadakan yang setiap pagi menyiapkan sarapan untuk sepuluh orang. Kehidupan di apartemen itu berjalan seperti asrama darurat. Ada tawa, ada canda, tapi di balik semua itu, ketegangan masih mengendap. Setiap orang tahu bahwa Vino tidak akan tinggal diam. Dan ketika perlawanan justru datang dari dalam, dari orang yang paling tidak mereka duga, semuanya berubah.
Apartemen Bagus, Jumat pagi. Suasana sarapan ramai seperti biasanya. Maya membuat telur dadar, Andre memanggang roti, Tono menyeduh kopi. Cantika dan Laras duduk di meja makan, masih setengah mengantuk.
Bagus berkata sambil membawa nampan berisi nasi goreng. "Sarapan! Nasi goreng spesial ala Bagus. Bumbunya rahasia, jadi jangan tanya."
Maya tertawa. "Rahasia bumbunya pakai apa, Gus? Penyedap rasa?"
Bagus menjawab dengan wajah serius. "Bukan. Aku pakai cinta, May. Cinta membuat masakan lebih lezat."
Andre berpura-pura muntah. "Gombal, Gus. Gombal."
Raden mengambil piring nasi goreng. "Diam, And. Lo iri karena gombalan lo tidak sebagus Bagus."
Mereka semua tertawa. Cantika tersenyum, tapi matanya kosong. Laras menatap Cantika dengan khawatir.
Maya bertanya, "Cantik, lo baik-baik saja? Kok kelihatan lesu?"
Cantika menghela napas. "Aku tidak bisa tidur semalam, May. Pikiranku terus ke mana-mana."
Laras meraih tangan Cantik. "Aku juga, Cantik. Aku terus memikirkan Sari. Apakah dia aman di tempat persembunyiannya."
Raden duduk di hadapan mereka. "Sari aman, Lar. Tono sudah cek lokasinya kemarin. Tidak ada yang aneh."
Tono mengangguk. "Iya, Lar. Adik lo aman. Aku sudah pasang kamera di sekitar rumah saudara lo. Jika ada yang mendekat, aku akan tahu."
Laras menghela napas lega. "Terima kasih, Ton. Aku tidak tahu harus membalas kebaikan kalian semua."
Bagus menjawab, "Tidak perlu balas, Lar. Itu sudah kewajiban kita sebagai teman."
Maya mengangkat sendoknya. "Sudah, makan dulu. Nasi gorengnya dingin."
Mereka semua makan bersama. Di balik tawa dan canda, ada kelelahan yang tidak bisa disembunyikan.
Setelah sarapan, Raden mengajak Bagus ke balkon. Mereka berdua berdiri di sana, memandangi langit Jakarta yang mendung.
Raden berkata, "Gus, aku khawatir dengan Cantik. Dia semakin pendiam akhir-akhir ini."
Bagus mengangguk. "Aku juga, Den. Aku coba ajak bicara, tapi dia selalu bilang tidak apa-apa."
Raden menghela napas. "Dia tidak baik-baik saja. Dia sedang berjuang dengan pikirannya sendiri."
Bagus menatap Raden. "Menurut lo, apa yang harus kita lakukan, Den?"
Raden menjawab, "Kita harus terus mendampinginya. Jangan biarkan dia sendirian. Ajak dia bicara tentang hal-hal ringan. Buat dia lupa sejenak tentang Vino."
Bagus mengangguk. "Baik, Den. Aku akan coba."
Raden menepuk pundak Bagus. "Lo sahabat terbaik, Gus."
Bagus tersenyum. "Lo juga, Den."
Di dalam apartemen, Maya dan Andre sedang membersihkan meja makan. Tono sudah kembali ke laptopnya untuk memantau CCTV. Laras dan Cantika duduk di sofa, saling bersandaran.
Maya bertanya, "Cantik, lo mau ikut aku ke supermarket? Kita belanja untuk persediaan seminggu ke depan."
Cantika menggeleng. "Aku tidak mau ke luar, May. Aku takut."
Andre mendekat. "Aku akan temani, May. Cantika dan Laras di rumah saja bersama Tono."
Laras mengangguk. "Aku juga tidak mau ke luar. Aku akan di sini bersama Cantik."
Maya menghela napas. "Baiklah. Tapi kalau ada apa-apa, telepon aku langsung."
Maya dan Andre keluar. Tono tetap fokus di laptopnya. Cantika dan Laras duduk diam.
Laras berkata pelan, "Cantik, aku ingin cerita sesuatu."
Cantika menoleh. "Cerita apa, Lar?"
Laras menggigit bibirnya. "Aku... aku masih dihubungi Vino. Semalam, dia mengirim pesan lagi."
Cantika terkejut. "Apa? Kenapa lo tidak bilang dari tadi?"
Laras menjawab dengan suara bergetar. "Aku takut, Cantik. Takut kalian semua akan marah padaku."
Cantika meraih tangan Laras. "Kita tidak akan marah, Lar. Tapi lo harus jujur. Isi pesannya apa?"
Laras mengeluarkan ponselnya. Ia membuka pesan dari nomor tidak dikenal. "Baca sendiri, Cantik."
Cantika membaca pesan itu. "Laras, aku tahu kalian semua di apartemen Bagus. Aku tahu setiap gerakan kalian. Jangan coba-coba melawan. Kamu tahu apa yang akan terjadi pada adikmu jika kamu berkhianat."
Cantika menutup mulutnya. "Astaga, Lar. Vino tahu kita di sini."
Laras menangis. "Aku takut, Cantik. Aku tidak mau kehilangan Sari."
Tono yang mendengar percakapan mereka berjalan mendekat. "Lar, lo dapat pesan dari Vino kapan?"
Laras menjawab, "Tadi malam, jam 2. Aku tidak bisa tidur. Lalu ponselku bergetar."
Tono mengambil ponsel Laras. "Aku akan cek nomor ini. Mungkin bisa dilacak."
Cantika bertanya, "Bisa, Ton?"
Tono menjawab, "Mungkin. Tapi butuh waktu."
Raden dan Bagus masuk dari balkon. Raden bertanya, "Ada apa?"
Cantika menjelaskan. "Laras mendapat pesan dari Vino tadi malam. Vino tahu kita di sini."
Raden mengepalkan tangannya. "Bagaimana Vino bisa tahu?"
Tono berpikir sejenak. "Mungkin dia memata-matai kita. Atau mungkin... ada seseorang dari dalam yang memberitahunya."
Semua orang saling pandang. Kecurigaan mulai muncul.
Laras berdiri. "Aku tahu kalian semua curiga padaku. Tapi aku tidak pernah memberitahu Vino tentang tempat ini. Aku tidak akan berkhianat lagi."
Cantika memegang tangan Laras. "Kita percaya padamu, Lar. Tapi seseorang di sini mungkin tidak bisa dipercaya."
Bagus bertanya, "Siapa yang lo curigai, Cantik?"
Cantika menjawab, "Aku tidak ingin menuduh tanpa bukti, Gus. Tapi kita harus menyelidiki."
Raden mengangguk. "Cantika benar. Mulai sekarang, kita tidak boleh cerita tentang rencana kita di depan semua orang. Hanya orang-orang yang sudah terpercaya."
Tono bertanya, "Siapa yang termasuk terpercaya, Den?"
Raden menjawab, "Aku, Bagus, Cantik, dan Maya. Sisanya... kita lihat dulu."
Laras menunduk. Ia merasa tersingkir.
Cantika meraih tangan Laras lagi. "Lar, lo juga terpercaya. Tapi lo harus lebih berhati-hati. Jangan sampai Vino memanfaatkan lo lagi."
Laras mengangguk. "Aku akan berusaha, Cantik."
Maya dan Andre kembali dari supermarket. Mereka membawa banyak belanjaan. Maya heran melihat suasana tegang di apartemen.
Maya bertanya, "Ada apa? Kenapa pada tegang semua?"
Raden menjelaskan. "Laras mendapat pesan dari Vino tadi malam. Dia tahu kita di sini."
Andre terkejut. "Apa? Bagaimana dia bisa tahu?"
Tono menjawab, "Kami tidak tahu. Tapi kami curiga ada seseorang dari dalam yang memberitahunya."
Maya menatap satu per satu orang di ruangan itu. "Jadi salah satu dari kita adalah mata-mata Vino?"
Raden mengangguk. "Kemungkinan itu ada. Tapi kita tidak bisa menuduh tanpa bukti."
Andre bertanya, "Lalu apa yang harus kita lakukan?"
Raden menjawab, "Kita akan melakukan uji loyalitas. Setiap orang akan diberi informasi yang berbeda. Lalu kita lihat informasi mana yang bocor ke Vino."
Tono mengangguk. "Itu ide bagus, Den. Kita bisa menjebak mata-mata itu."
Cantika bertanya, "Apakah ini tidak berbahaya, Den? Jika Vino tahu kita sedang menjebak, dia bisa marah."
Raden menjawab, "Kita tidak punya pilihan lain, Cantik. Kita harus tahu siapa musuh di dalam."
Bagus menghela napas. "Aku setuju dengan Den. Tapi kita harus melakukannya dengan hati-hati."
Maya mengangguk. "Aku juga setuju."
Laras menggigit bibirnya. "Aku akan ikut. Aku tidak ingin dicurigai."
Raden menatap Laras. "Lar, lo harus siap. Jika uji loyalitas ini menunjukkan bahwa lo yang membocorkan informasi, kita tidak akan segan-segan mengusir lo."
Laras menjawab dengan tegas. "Aku siap, Den. Karena aku tidak bersalah."
Malam harinya, semua orang berkumpul di ruang tamu. Raden membagikan informasi yang berbeda kepada setiap orang.
Raden berkata, "Dengar baik-baik. Besok pagi, kita akan pindah ke tempat persembunyian baru. Setiap orang akan diberi alamat yang berbeda. Hanya satu alamat yang benar. Sisanya palsu."
Maya bertanya, "Lalu bagaimana kita tahu alamat yang benar, Den?"
Raden menjawab, "Hanya aku, Bagus, dan Cantika yang tahu alamat sebenarnya. Kalian semua akan diberi alamat palsu."
Andre mengerutkan kening. "Jadi kita semua akan ke alamat yang berbeda? Itu berbahaya, Den. Kita bisa kehilangan satu sama lain."
Raden mengangguk. "Aku tahu, And. Tapi ini satu-satunya cara untuk mengetahui siapa mata-mata Vino."
Tono bertanya, "Kapan kita akan tahu hasilnya, Den?"
Raden menjawab, "Jika Vino atau anak buahnya datang ke salah satu alamat palsu, kita akan tahu siapa yang membocorkan informasi itu."
Cantika menambahkan, "Dan orang itu akan kita usir dari grup ini. Selamanya."
Keheningan menyelimuti ruangan. Setiap orang saling menatap dengan curiga.
Keesokan paginya, semua orang bersiap untuk pergi ke alamat masing-masing. Maya mendapat alamat sebuah kafe di Kemang. Andre mendapat alamat sebuah taman di Senayan. Tono mendapat alamat sebuah perpustakaan di Blok M. Laras mendapat alamat sebuah mal di Pondok Indah.
Raden berkata, "Ingat, jangan beri tahu siapa pun alamat kalian. Jangan saling bertukar informasi. Jika ada yang bertanya, diam."
Maya mengangguk. "Baik, Den."
Andre memegang pundak Maya. "May, hati-hati."
Maya tersenyum. "Kamu juga, And."
Mereka berangkat satu per satu. Bagus, Raden, dan Cantika tetap di apartemen. Mereka akan memantau siapa yang pertama kali dikunjungi oleh anak buah Vino.
Bagus bertanya, "Den, lo yakin ini akan berhasil?"
Raden menjawab, "Tidak ada yang pasti, Gus. Tapi setidaknya kita mencoba."
Cantika menggigit bibirnya. "Aku harap bukan Laras. Aku tidak tega jika dia yang menjadi mata-mata."
Raden menatap Cantik. "Kita lihat saja, Cantik. Kita lihat."
Dua jam kemudian, Tono menelepon Raden. Suaranya panik.
Tono berkata, "Den, ada dua orang mencurigakan di perpustakaan. Mereka mondar-mandir di depan pintu, seperti sedang mencari seseorang."
Raden menjawab, "Itu alamat palsu yang aku berikan ke lo, Ton. Berarti informasi lo yang bocor."
Tono terdiam sejenak. "Jadi aku yang dicurigai, Den?"
Raden menjawab, "Belum, Ton. Bisa saja Vino mengirim anak buahnya ke semua alamat. Kita tunggu laporan dari yang lain."
Telepon ditutup. Bagus bertanya, "Apa kata Tono, Den?"
Raden menjawab, "Ada dua orang mencurigakan di perpustakaan. Itu alamat Tono."
Cantika menghela napas. "Berarti Tono yang membocorkan informasi?"
Raden menggeleng. "Belum, Cantik. Kita tunggu laporan dari Maya, Andre, dan Laras."
Setengah jam kemudian, Maya menelepon.
Maya berkata, "Den, kafe ini sepi. Tidak ada orang mencurigakan."
Raden menjawab, "Baik, May. Lo aman. Tapi jangan pulang dulu. Kita tunggu yang lain."
Maya mengangguk. "Baik, Den."
Telepon ditutup. Raden mencoret nama Maya dari daftar tersangka.
Bagus bertanya, "Maya aman?"
Raden mengangguk. "Untuk sementara."
Andre menelepon. "Den, taman ini ramai. Banyak pasangan pacaran. Aku tidak melihat orang mencurigakan."
Raden menjawab, "Baik, And. Lo aman. Tapi jangan pulang dulu."
Andre bertanya, "Apa Tono atau Laras melapor?"
Raden menjawab, "Tono sudah melapor. Ada dua orang mencurigakan di perpustakaan."
Andre terdiam. "Jadi Tono yang membocorkan informasi?"
Raden menjawab, "Belum pasti. Kita tunggu laporan Laras."
Telepon ditutup.
Laras menelepon paling akhir. Suaranya panik.
Laras berkata, "Den, ada tiga orang di mal. Mereka seperti sedang mencari seseorang. Aku bersembunyi di toilet."
Raden menjawab, "Lar, itu alamat palsu yang aku berikan ke lo. Berarti informasi lo juga bocor."
Laras terkejut. "Apa? Jadi aku juga dicurigai?"
Raden menjawab, "Semua orang dicurigai, Lar. Tapi sekarang kita punya dua alamat yang didatangi anak buah Vino. Alamat Tono dan alamat lo."
Laras bertanya, "Jadi siapa yang membocorkan informasi?"
Raden menghela napas. "Kita belum tahu. Bisa saja Vino mengirim anak buahnya ke semua alamat. Tapi kita hanya punya laporan dari Tono dan lo. Maya dan Andre tidak melihat orang mencurigakan."
Laras menjawab, "Aku tidak membocorkan apa pun, Den. Aku bersumpah."
Raden berkata, "Kita akan bicarakan nanti di apartemen. Sekarang, lo hati-hati pulang."
Telepon ditutup.
Raden, Bagus, dan Cantika duduk di ruang tamu. Wajah mereka tegang.
Cantika bertanya, "Jadi Tono dan Laras yang dicurigai?"
Raden mengangguk. "Untuk sementara, iya. Tapi kita tidak bisa langsung menyimpulkan."
Bagus bertanya, "Lalu apa yang harus kita lakukan, Den?"
Raden menjawab, "Kita akan kumpulkan mereka semua di sini. Lalu kita akan minta mereka buka ponsel masing-masing. Kita lihat apakah ada pesan terkirim ke Vino."
Cantika mengerutkan kening. "Itu melanggar privasi mereka, Den."
Raden menjawab, "Dalam situasi seperti ini, privasi bukan prioritas. Keselamatan kita semua lebih penting."
Bagus mengangguk. "Aku setuju dengan Den."
Satu per satu mereka kembali ke apartemen. Maya, Andre, Tono, dan Laras duduk di ruang tamu. Wajah mereka tegang.
Raden berdiri di hadapan mereka. "Maaf, teman-teman. Untuk mengetahui siapa mata-mata Vino, aku harus memeriksa ponsel kalian semua."
Maya terkejut. "Apa? Lo tidak percaya pada kami, Den?"
Raden menjawab, "Aku percaya, May. Tapi kita tidak punya pilihan lain."
Andre mengeluarkan ponselnya. "Silakan, Den. Aku tidak punya apa-apa yang disembunyikan."
Tono juga mengeluarkan ponselnya. "Silakan periksa, Den. Aku tidak bersalah."
Laras menghela napas. Ia mengeluarkan ponselnya dengan tangan gemetar. "Silakan, Den."
Raden memeriksa ponsel mereka satu per satu. Pesan, panggilan, aplikasi perpesanan. Semua diperiksa dengan teliti.
Setelah selesai, Raden menghela napas. "Tidak ada bukti bahwa salah satu dari kalian menghubungi Vino."
Maya bertanya, "Lalu siapa yang membocorkan informasi?"
Raden menjawab, "Mungkin Vino memata-matai kita dari jauh. Atau mungkin dia memasang alat penyadap di apartemen ini."
Tono berdiri. "Aku akan periksa seluruh apartemen. Mungkin ada bug atau kamera tersembunyi."
Tono memeriksa setiap sudut apartemen. Di belakang stopkontak, di bawah meja, di dalam lemari, di balik lukisan. Setelah satu jam, ia menemukan sesuatu di balik sofa.
Tono berkata, "Ada bug di sini. Alat penyadap."
Semua orang terkejut. Raden mengambil alat itu. "Ini pasti dipasang Vino."
Bagus bertanya, "Kapan Vino bisa memasang ini?"
Raden berpikir sejenak. "Mungkin saat kita semua tidur. Atau saat kita sedang keluar."
Cantika menggigit bibirnya. "Jadi Vino bisa mendengar semua percakapan kita selama ini?"
Tono mengangguk. "Sepertinya begitu, Cantik."
Maya mengepalkan tangannya. "Vino benar-benar monster."
Raden menghancurkan alat penyadap itu dengan palu. "Sekarang dia tidak bisa mendengar kita lagi. Tapi kita harus tetap waspada."
Laras menghela napas lega. "Syukur bukan salah satu dari kita."
Andre memegang pundak Laras. "Maaf, Lar. Kita sempat curiga padamu."
Laras tersenyum tipis. "Tidak apa, And. Aku mengerti."
Mereka semua duduk kembali. Suasana berangsur tenang.
Hotel Vino. Vino tersenyum ketika mendengar suara berisik dari alat penyadapnya, lalu suara itu menghilang.
"Bagus, Raden, Cantik. Kalian memang pintar. Tapi aku juga pintar," bisik Vino.
Ia mengangkat ponselnya dan menekan nomor Robby. "Rob, rencana kita gagal. Mereka menemukan alat penyadap."
Robby bertanya, "Apa yang harus kita lakukan sekarang, Vin?"
Vino menjawab, "Kita cari cara lain. Aku tidak akan menyerah."
Robby mengangguk. "Baik, Vin. Aku akan siapkan semuanya."
Vino menutup telepon. Ia menatap langit-langit kamarnya.
"Cantik, lo pikir lo aman di apartemen Bagus? Lo salah. Aku akan masuk ke apartemen itu. Entah bagaimana caranya."
Ia tersenyum miring. Senyum yang sama. Senyum yang penuh racun.
BAB 21: Cantika Menemukan Jawaban
Seminggu setelah alat penyadap ditemukan di apartemen Bagus, suasana di antara mereka berangsur membaik. Kecurigaan satu sama lain perlahan hilang, digantikan oleh rasa percaya yang baru. Tono memasang sistem keamanan yang lebih canggih. Andre memperkuat pintu dan jendela. Maya dan Laras bergantian memasak untuk semua orang. Cantika mulai terlihat lebih ceria, meskipun matanya masih sesekali menerawang jauh.
Namun di balik ketenangan yang tampak, ada pergulatan batin yang sedang terjadi di hati Cantika. Ia sudah hampir menemukan jawaban atas pertanyaan yang selama ini menghantuinya. Siapa yang harus ia pilih? Bagus atau Raden? Dan malam ini, di balkon apartemen Bagus, di bawah cahaya bulan yang tersembunyi di balik awan, Cantika akhirnya menemukan jawaban itu.
Apartemen Bagus, Jumat malam. Hujan tidak turun, tapi angin bertiup kencang, membawa aroma hujan dari kejauhan. Setelah makan malam bersama, semua orang beraktivitas masing-masing. Maya dan Laras mencuci piring di dapur. Andre dan Tono bermain catur di ruang tamu. Bagus dan Raden duduk di balkon, berbincang pelan. Cantika berdiri di dekat jendela, memandangi langit malam yang gelap.
Matanya tidak benar-benar melihat langit. Yang ia lihat adalah bayangan. Bayangan Bagus yang selalu tersenyum tipis ketika mengantarnya pulang. Bayangan Raden yang tegas tapi lembut ketika melindunginya. Bayangan dua lelaki yang sama-sama ia sayangi, dengan cara yang sangat berbeda.
"Aku tidak bisa memiliki keduanya," bisiknya dalam hati. "Pada akhirnya, aku harus memilih. Dan memilih berarti kehilangan salah satu."
Ia menggenggam jepit rambut kupu-kupu di rambutnya. Jepit pemberian Bagus delapan belas tahun lalu. Retak di sayap kiri. Cat mengelupas di sana-sini. Tapi ia tidak pernah menggantinya. Bukan karena tidak punya uang. Tapi karena jepit itu adalah satu-satunya barang yang pernah Bagus berikan padanya. Dan menyimpannya berarti menyimpan Bagus di hatinya.
Tapi bagaimana dengan Raden?
Raden tidak pernah memberinya barang. Raden memberi perasaan. Perasaan aman. Perasaan dilindungi. Perasaan bahwa ia tidak sendirian di dunia ini. Dan perasaan itu tidak bisa ia simpan di dalam kotak di bawah tempat tidurnya. Perasaan itu hidup di dalam dadanya, berdetak bersama jantungnya, mengalir bersama darahnya.
"Bagus membuatku merasa tenang. Raden membuatku merasa hidup. Mana yang lebih penting?"
Ia tidak tahu. Dan ketidaktahuan itu menyiksanya.
Maya keluar dari dapur, mengelap tangannya dengan handuk kecil. "Cantik, lo kok diam saja? Ajak bicara Bagus dan Raden di balkon."
Cantika tersenyum tipis. "Aku sedang berpikir, May."
Maya mendekat. "Pikirkan tentang apa, Cantik?"
Cantika menghela napas. "Tentang jawaban yang selama ini aku cari, May. Aku hampir menemukannya."
Maya terkejut. "Serius, Cantik? Lo sudah siap memilih?"
Cantika mengangguk. "Sudah, May. Aku hanya butuh waktu yang tepat untuk mengatakannya."
Maya memeluk Cantika. "Aku bangga padamu, Cantik. Apa pun pilihan lo, aku akan dukung."
Cantika tersenyum. "Terima kasih, May. Lo sahabat terbaik."
Laras mendekat. "Cantik, aku dengar lo mau bilang jawaban lo malam ini?"
Cantika mengangguk. "Iya, Lar. Aku tidak mau menunda lagi. Semua orang sudah lelah menunggu."
Laras meraih tangan Cantika. "Semoga lo memilih yang terbaik untuk lo, Cantik. Bukan untuk orang lain."
Cantika menjawab, "Aku akan memilih dengan hati, Lar. Bukan dengan pikiran."
Maya bertanya, "Kapan lo akan bilang, Cantik?"
Cantika menjawab, "Nanti malam, setelah semua orang tidur. Aku akan ajak Bagus dan Raden bicara berdua."
Laras mengangguk. "Kami akan beri kalian privasi."
Balkon apartemen. Bagus dan Raden duduk di kursi plastik, saling berhadapan. Dua cangkir kopi sudah dingin di atas meja kecil di antara mereka.
Raden berkata, "Gus, akhir-akhir ini Cantika kelihatan lebih tenang. Apakah dia sudah menemukan jawabannya?"
Bagus mengangguk. "Aku juga merasakan hal yang sama, Den. Mungkin dia sudah siap untuk bicara."
Raden menghela napas. "Aku takut, Gus."
Bagus menatap Raden. "Takut tentang apa, Den?"
Raden menjawab, "Takut jika dia memilih lo. Takut jika aku harus kehilangan dia."
Bagus meraih pundak Raden. "Den, apa pun jawaban Cantika, kita tidak akan kehilangan dia. Dia akan tetap menjadi sahabat kita. Dan kita akan tetap bersahabat."
Raden tersenyum tipis. "Lo selalu optimis, Gus. Aku iri."
Bagus tertawa kecil. "Bukan optimis, Den. Aku hanya realistis. Aku sudah siap dengan apa pun."
Raden bertanya, "Lo benar-benar sudah siap, Gus? Bahkan jika dia memilih aku?"
Bagus menjawab, "Aku sudah siap, Den. Aku sudah berlatih untuk ikhlas."
Raden menghela napas. "Lo lebih kuat dari aku, Gus. Aku tidak tahu apakah aku bisa ikhlas jika dia memilih lo."
Bagus memegang tangan Raden. "Lo bisa, Den. Karena lo juga sahabat terbaikku."
Di dalam apartemen, Cantika masih berdiri di dekat jendela. Matanya menatap bayangan Bagus dan Raden di balkon, terpantul samar di kaca.
"Lihat mereka," pikirnya. "Dua sahabat yang sama-sama mencintaiku. Dan aku akan menghancurkan salah satu dari mereka malam ini."
Air matanya hampir jatuh. Ia menahannya.
"Tapi jika tidak memilih, aku akan menghancurkan mereka berdua. Perlahan. Setiap hari. Dengan ketidakpastian yang terus berulang."
Ia teringat kata-kata Pak Darmo. "Cinta bukan tentang memiliki. Cinta adalah tentang ikhlas."
"Jika aku memilih Bagus, akankah Raden ikhlas? Jika aku memilih Raden, akankah Bagus ikhlas?"
Ia tidak tahu. Tapi ia harus percaya. Percaya bahwa dua lelaki yang ia cintai—dengan cara yang berbeda—cukup kuat untuk menerima keputusannya. Percaya bahwa persahabatan mereka lebih kuat dari rasa sakit sementara.
"Bagus," pikirnya. "Aku memilih Bagus."
Bukan karena Raden kurang. Bukan karena Raden tidak cukup baik. Tapi karena Bagus adalah ketenangan yang ia butuhkan. Bagus adalah rumah yang selama ini ia cari. Bagus adalah tempat ia ingin puluh setelah lelah berkelana.
Raden adalah api. Dan api, meskipun indah, pada akhirnya akan membakar. Bukan karena api itu jahat. Tapi karena api memang diciptakan untuk membakar. Dan Cantika sudah terlalu sering terbakar.
Ia membutuhkan ketenangan. Ia membutuhkan seseorang yang tidak akan pernah membuatnya ragu. Seseorang yang tidak akan pernah memaksanya. Seseorang yang hanya memberi, tanpa mengharapkan apa pun sebagai balasannya.
"Maafkan aku, Den," bisiknya dalam hati. "Aku mencintaimu. Tapi aku tidak bisa memilihmu. Bukan karena kamu tidak cukup. Tapi karena Bagus lebih dulu ada. Dan mungkin, sejak awal, hatiku sudah menjawab. Aku hanya butuh waktu untuk berani mengakuinya."
Pukul sepuluh malam. Maya, Laras, Andre, dan Tono sudah masuk ke kamar masing-masing. Hanya Bagus, Raden, dan Cantika yang masih di ruang tamu. Lampu dimatikan, hanya lampu kecil di sudut ruangan yang masih menyala.
Cantika duduk di sofa. Bagus dan Raden duduk di kursi di hadapannya. Suasana hening. Hanya suara angin yang terdengar dari balik jendela.
Cantika membuka percakapan. "Gus, Den, aku minta kalian duduk di sini malam ini karena aku sudah siap memberikan jawaban."
Raden menegakkan tubuhnya. "Kami mendengarkan, Cantik."
Bagus mengangguk. "Kami mendengarkan."
Cantika menarik napas panjang. Dalam sekali. Seperti orang yang hendak menyelam ke lautan paling dalam. Ia memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah Bagus dan Raden bergantian.
"Sekarang atau tidak sama sekali," pikirnya.
Ia membuka matanya.
"Gus, Den, kalian berdua adalah lelaki terbaik yang pernah aku temui. Kalian selalu ada untukku. Kalian selalu melindungiku. Kalian selalu membuatku merasa aman."
Raden bertanya, "Tapi, Cantik? Sepertinya ada tapi."
Cantika tersenyum pahit. "Iya, Den. Ada tapi. Tapi aku tidak bisa mencintai kalian berdua sekaligus. Aku harus memilih."
Bagus berkata, "Kami tahu, Cantik. Dan kami siap dengan apa pun keputusan lo."
Cantika menunduk. Tangannya gemetar. Ia menggenggam jepit rambut kupu-kupu di rambutnya—jepit yang sama yang ia pakai sejak delapan belas tahun lalu. Jepit pemberian Bagus.
"Ini jawabannya," pikirnya. "Sejak awal, jawabannya sudah ada di rambutku."
Ia melepas jepit itu perlahan. Rambutnya terurai. Ia menatap jepit itu di telapak tangannya. Retak di sayap kiri. Cat mengelupas. Tapi masih cantik.
"Gus, Den, aku sayang kalian berdua. Tapi aku hanya bisa jatuh cinta pada satu orang."
Raden menggigit bibirnya. "Siapa, Cantik?"
Cantika mengangkat kepalanya. Matanya menatap Bagus. Bukan Raden.
"Maaf, Den," bisiknya dalam hati sebelum kata-kata itu keluar.
"Den, aku memilih... Bagus."
Sunyi.
Raden terdiam. Wajahnya berubah pucat, seperti darahnya mengalir keluar dari wajahnya. Bagus terkejut, matanya membulat, mulutnya terbuka sedikit.
Raden berkata dengan suara parau, "Bagus? Lo memilih Bagus, Cantik?"
Cantika mengangguk. Air matanya jatuh. "Maaf, Den. Aku tahu ini menyakitkan. Tapi aku tidak bisa berbohong pada perasaanku sendiri. Sudah delapan belas tahun aku berbohong. Cukup. Malam ini, aku berhenti berbohong."
Raden menunduk. Air matanya jatuh—jauh lebih deras dari yang ia duga. Ia tidak pernah menangis. Hampir tidak pernah. Tapi sekarang, air matanya mengalir seperti sungai yang meluap setelah hujan bertahun-tahun.
"Boleh aku tahu alasannya, Cantik?" tanyanya, Suaranya terputus-putus.
Cantika menjawab, Suaranya lembut tapi tegas. "Den, aku mencintai Bagus karena dia selalu ada untukku tanpa pernah meminta imbalan. Dia sabar. Dia lembut. Dia tidak pernah memaksaku. Dia membuatku merasa dicintai tanpa syarat. Selama delapan belas tahun, dia menunggu. Tanpa mengeluh. Tanpa marah. Tanpa menuntut."
Raden mengusap air matanya. "Lalu bagaimana dengan aku, Cantik? Apa yang aku salah?"
Cantika menggeleng. "Den, lo tidak salah. Lo hebat. Lo tegas. Lo berani. Lo melindungiku dengan cara lo sendiri. Tapi cinta lo terasa seperti tekanan. Lo selalu ingin aku memilih. Lo selalu ingin aku memberi jawaban. Lo tidak pernah sabar. Dan aku... aku tidak bisa hidup dengan tekanan itu."
Raden menghela napas. "Jadi karena aku tidak sabar, aku kalah?"
Cantika menjawab, "Bukan karena lo tidak sabar, Den. Tapi karena Bagus lebih dulu ada. Delapan belas tahun lalu, ketika lo masih sibuk dengan organisasi dan lomba debat, Bagus sudah duduk di sampingku, meminjam pulpenku, dan tersenyum dengan senyum yang membuatku lupa segalanya. Sejak saat itu, tanpa aku sadari, aku sudah memilih. Aku hanya butuh waktu delapan belas tahun untuk menyadarinya."
Raden terdiam. Wajahnya berubah. Bukan marah. Bukan kecewa. Tapi ada sesuatu di sana. Mungkin penerimaan. Mungkin pasrah.
"Jadi... sejak awal, aku tidak pernah punya kesempatan?"
Cantika menangis. "Maaf, Den. Maaf."
Bagus yang selama ini diam akhirnya angkat bicara. Suaranya serak, seperti orang yang baru saja bangun tidur atau baru saja menangis. "Cantik, aku... aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tidak menyangka."
Cantika tersenyum—senyum yang tulus, meskipun air matanya masih mengalir. "Kamu tidak perlu berkata apa-apa, Gus. Cukup terima perasaanku. Itu sudah lebih dari cukup."
Raden berdiri. Tangannya gemetar. "Aku... aku butuh waktu sendiri. Maaf."
Ia berjalan ke kamar mandi. Pintu tertutup. Tak lama kemudian, suara air mengalir. Menutupi suara tangisnya—atau setidaknya itulah yang ia harapkan.
Cantika menatap Bagus. Matanya basah, tapi ada kelegaan di sana. Beban delapan belas tahun akhirnya terangkat.
"Gus, maafkan aku jika ini membuatmu kaget. Tapi aku sudah memikirkannya matang-matang. Bukan karena aku kasihan. Bukan karena aku terpaksa. Tapi karena aku benar-benar mencintaimu."
Bagus mengangguk pelan. "Aku hanya tidak menyangka, Cantik. Aku pikir Den yang akan lo pilih. Selama ini, aku hanya berharap. Tapi tidak pernah yakin."
Cantika menjawab, "Aku juga berpikir begitu pada awalnya. Tapi semakin aku dekat dengan kalian berdua, semakin aku sadar bahwa yang aku butuhkan bukanlah api yang membakar semangatku, tapi rumah yang selalu menungguku pulang. Dan kamu, Gus, adalah rumah itu."
Bagus meraih tangan Cantika. Genggamannya hangat, seperti biasanya. "Cantik, aku mencintaimu. Tapi aku tidak ingin hubungan kita dimulai dengan air mata Raden. Beri aku waktu untuk bicara dengannya."
Cantika mengangguk. "Baik, Gus. Aku akan menunggu. Aku sudah menunggu delapan belas tahun. Satu malam lagi tidak akan terasa."
Kamar mandi. Raden duduk di lantai, bersandar ke dinding. Air dari keran mengalir, menutupi suara tangisnya. Wajahnya basah—air keran atau air mata, tidak penting lagi.
Pintu terbuka. Bagus masuk.
Raden tidak menoleh. "Gus, lo tidak usah menghiburku. Aku baik-baik saja."
Bagus duduk di samping Raden. Lantai kamar mandi itu dingin, tapi ia tidak peduli. "Lo tidak baik-baik saja, Den. Dan itu wajar."
Raden mengusap matanya. "Aku sudah menduga ini, Gus. Aku tahu Cantika lebih dekat dengan lo. Aku tahu dia lebih nyaman dengan lo. Tapi tetap saja sakit. Seperti ditusuk pisau yang sama berulang kali."
Bagus menepuk pundak Raden. "Den, aku tidak akan menerima Cantika jika lo belum ikhlas. Persahabatan kita lebih penting dari apa pun. Aku sudah bilang dari awal."
Raden menatap Bagus. Matanya merah, sembab. "Lo serius, Gus? Lo rela melepaskan Cantika hanya karena aku?"
Bagus menjawab, "Bukan hanya karena lo, Den. Tapi karena aku tidak ingin memulai hubungan dengan mengorbankan persahabatan kita. Itu tidak akan pernah membuatku bahagia. Setiap kali aku melihat Cantika, aku akan teringat bahwa lo menangis di kamar mandi karena aku."
Raden menghela napas panjang. "Lo orang bodoh, Gus. Lo melepaskan cinta sejati lo untuk sahabat lo."
Bagus tersenyum—senyum yang tulus, tanpa beban. "Bukan bodoh, Den. Aku hanya tahu mana yang lebih berharga. Cinta bisa datang lagi. Tapi sahabat sepertimu... tidak."
Raden terdiam. Kata-kata Bagus menusuk sesuatu di dalam dadanya. Bukan luka. Tapi kehangatan. Kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan.
"Gus, aku tidak akan egois," kata Raden akhirnya, Suaranya lebih tenang dari sebelumnya. "Cantika sudah memilih lo. Dan aku harus menerimanya. Bukan karena aku terpaksa. Tapi karena aku sadar bahwa memaksa seseorang untuk mencintai kita sama saja dengan merusak cinta itu sendiri."
Bagus menatap Raden. "Lo ikhlas, Den?"
Raden menjawab, "Aku tidak tahu apakah aku ikhlas. Tapi aku akan berusaha. Untuk lo. Untuk Cantika. Untuk persahabatan kita. Makan waktu. Tapi aku akan berusaha."
Bagus memeluk Raden. Erat. Seperti pelukan seorang kakak pada adiknya. "Terima kasih, Den. Lo sahabat terbaik."
Raden memeluk balik. "Lo juga, Gus. Lo juga."
Mereka berdua duduk di lantai kamar mandi yang dingin, saling berpelukan, membiarkan air dari keran mengalir tanpa suara.
Ruang tamu. Cantika duduk gelisah di sofa. Matanya sesekali menatap pintu kamar mandi, menanti Bagus dan Raden keluar.
"Apakah mereka baik-baik saja?" pikirnya. "Apakah Raden akan membenci aku? Apakah persahabatan mereka akan hancur karena aku?"
Ia menggigit bibirnya. Jari-jarinya memainkan ujung rambutnya yang terurai—kebiasaan lamanya ketika cemas.
Pintu kamar mandi terbuka. Bagus dan Raden keluar. Wajah mereka masih basah—mungkin air keran, mungkin air mata. Tapi senyum sudah mulai terlihat di bibir mereka. Senyum tipis, rapuh, tapi nyata.
Cantika berdiri. Matanya berkaca-kaca. "Den, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud menyakitimu."
Raden mendekati Cantika. Jarak mereka hanya selangkah. Ia menatap Cantika—perempuan yang ia cintai selama delapan belas tahun. Perempuan yang harus ia lepaskan malam ini.
"Tidak perlu minta maaf, Cantik," kata Raden, Suaranya pelan tapi tegas. "Lo memilih dengan hati. Itu hak lo. Aku tidak akan pernah marah karena seseorang memilih kebahagiaannya sendiri."
Cantika menangis. Isaknya pecah, bahunya naik turun. "Aku tidak tega melihatmu menangis, Den."
Raden mengelap air mata Cantika dengan ibu jarinya—sentuhan terakhir yang akan ia berikan sebagai seorang yang mencintainya. Mulai sekarang, ia hanya akan menjadi sahabat.
"Jangan menangis, Cantik. Aku akan baik-baik saja. Aku janji. Mungkin tidak hari ini. Mungkin tidak besok. Tapi aku akan baik-baik saja."
Bagus berdiri di samping Raden. "Cantik, aku dan Den sudah bicara. Aku tidak akan menerima lo sebelum Den benar-benar ikhlas."
Cantika terkejut. "Apa maksudmu, Gus?"
Bagus menjawab, "Maksudku, kita tidak akan memulai hubungan sebagai pasangan sampai Den siap. Aku tidak ingin hubungan kita dimulai dengan luka di hati sahabatku."
Raden menatap Bagus. "Gus, lo tidak perlu melakukan itu. Aku sudah bilang aku akan berusaha ikhlas."
Bagus menggeleng. "Berusaha itu tidak cukup, Den. Aku ingin lo benar-benar ikhlas. Bukan hanya untukku. Tapi untuk dirimu sendiri. Karena jika lo belum ikhlas, suatu hari nanti rasa sakit itu akan muncul lagi. Dan aku tidak ingin itu terjadi."
Cantika mengangguk. "Aku setuju dengan Bagus, Den. Aku tidak akan bahagia jika kamu masih terluka. Biarkan kami menunggu sampai kamu benar-benar siap."
Raden menghela napas panjang. Dadanya naik turun. Ia menatap Bagus, lalu Cantika, lalu Bagus lagi.
"Kalian berdua terlalu baik untuk dunia ini," kata Raden dengan suara parau. "Tapi baiklah. Aku akan berusaha. Benar-benar berusaha. Bukan karena kalian memaksa. Tapi karena kalian layak untuk bahagia."
Mereka bertiga berdiri dalam lingkaran kecil. Jarak mereka hanya sejengkal. Raden mengulurkan tangannya. Bagus menyusul. Cantika meletakkan tangannya di atas tangan mereka berdua.
Raden berkata, "Untuk persahabatan."
Bagus melanjutkan, "Untuk cinta."
Cantika menutup, "Dan untuk keikhlasan."
Mereka tersenyum. Untuk pertama kalinya malam itu, senyum mereka tulus. Tidak ada yang dipaksakan. Tidak ada yang disembunyikan.
Kamar Maya. Maya, Laras, Andre, dan Tono menguping dari balik pintu. Mereka berusaha mendengar apa yang terjadi di ruang tamu, meskipun Suaranya samar-samar.
Maya berbisik, "Sepertinya Cantika memilih Bagus."
Laras mengangguk. "Aku dengar Raden menangis. Tapi kemudian mereka bicara lagi. Mungkin Raden sudah legowo."
Andre menghela napas. "Kasihan Raden. Tapi setidaknya dia tidak marah. Dia masih bisa bicara dengan Bagus."
Tono bertanya, "Sekarang bagaimana dengan kita? Apakah kita harus keluar?"
Maya menjawab, "Belum. Biarkan mereka bertiga menyelesaikan urusan mereka dulu. Ini momen penting. Kita tidak boleh mengganggu."
Laras tersenyum tipis—lega, meskipun ada sedikit rasa iba di hatinya. "Aku lega. Akhirnya semuanya selesai. Cantika tidak perlu bingung lagi. Raden tidak perlu menunggu lagi."
Maya memeluk Laras. "Belum selesai, Lar. Vino masih di luar sana."
Laras menghela napas. "Iya. Vino masih di luar sana. Tapi setidaknya, untuk malam ini, kita biarkan mereka bahagia."
Hotel Vino. Vino tidak bisa tidur. Ia duduk di kursi empuk dengan segelas wiski di tangan. Layar ponselnya menampilkan foto-foto Cantika yang masih tersimpan di galerinya—foto yang ia ambil tanpa sepengetahuan Cantika, dari jarak jauh, di berbagai tempat.
Ponselnya berdering. Panggilan dari Robby.
Robby berkata, "Vin, ada kabar dari dalam. Cantika sudah memilih Bagus."
Vino tersenyum miring—senyum yang sama, senyum yang penuh racun. "Bagus? Bukan Raden? Aku pikir dia akan memilih Raden. Raden lebih tegas. Lebih berani. Lebih mirip denganku."
Robby menjawab, "Bukan, Vin. Cantika memilih Bagus. Katanya karena Bagus lebih sabar dan tulus."
Vino tertawa kecil. Tertawa yang tidak mengandung kebahagiaan. "Bagus? Lelaki lemah yang tidak pernah berani mengaku selama delapan belas tahun? Lelaki yang hanya bisa menggambar di buku sketsa dan tidak bisa berbuat apa-apa? Cantika memilih lelaki itu?"
"Sepertinya begitu, Vin."
"Ini menarik," kata Vino sambil menyesap wiskinya. Pahit. Pahit seperti hatinya. "Persahabatan mereka akan hancur. Raden pasti sakit hati. Dan ketika Raden sakit hati, dia akan menjauh. Meninggalkan Bagus dan Cantika. Dan aku bisa memanfaatkan celah itu."
Robby bertanya, "Apa yang harus aku lakukan, Vin?"
Vino meletakkan gelasnya. Ia berjalan ke jendela kamar hotelnya, memandangi langit Jakarta yang mulai gelap. Lampu-lampu kota berkelap-kelip, seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi.
"Kirim bunga ke apartemen Bagus. Untuk Cantika. Dengan kartu bertuliskan, 'Selamat atas pilihanmu. Tapi ini belum berakhir.' Biarkan mereka tahu bahwa aku masih ada. Biarkan mereka tidak bisa tidur nyenyak memikirkan aku."
Robby mengangguk meskipun Vino tidak bisa melihatnya. "Baik, Vin. Aku akan kerjakan."
Vino menutup telepon. Ia menatap pantulannya sendiri di kaca jendela yang gelap. Wajahnya kurus. Matanya cekung. Tapi senyum miringnya masih sama.
"Cantika, lo pilih Bagus? Lo pilih lelaki lemah itu?" bisik Vino. "Lo akan menyesal. Suatu hari nanti, lo akan sadar bahwa lelaki seperti aku yang lo butuhkan. Bukan lelaki yang hanya bisa tersenyum dan menggambar."
Ia menyesap wiskinya lagi—habis. Gelas kosong. Ia meletakkannya di atas meja dengan bunyi klik yang keras.
"Tunggu saja, Cantik. Aku belum selesai dengan lo."
Apartemen Bagus, keesokan paginya. Matahari bersinar cerah menembus celah-celah tirai jendela. Burung-burung pipit berkicau di luar, seolah tidak ada yang terjadi semalam. Seolah dunia tidak berubah.
Maya yang paling pagi bangun. Ia berjalan ke dapur untuk membuat kopi, seperti biasa. Tapi di depan pintu apartemen, ia melihat sesuatu yang membuatnya berhenti.
Sebuah karangan bunga besar. Mawar merah. Ratusan. Harumnya menyengat.
Maya membuka pintu. Karangan bunga itu begitu besar sehingga hampir memenuhi seluruh pintu. Ia meraih kartu kecil yang terselip di antara kelopak-kelopak mawar.
Ia membaca kartu itu. Wajahnya berubah pucat.
Maya berteriak, "CANTIK! ADA BUNGA UNTUK LO!"
Semua orang terbangun. Cantika keluar dari kamar dengan rambut masih kusut, mata masih mengantuk. Bagus menyusul dari ruang tamu. Raden dari balkon—ia tidur di sofa semalam.
Maya menyerahkan kartu itu pada Cantika. Cantika membacanya.
"Selamat atas pilihanmu. Tapi ini belum berakhir. — V"
Cantika pucat. Wajahnya berubah dari merah muda menjadi putih pucat dalam sekejap. Tangannya yang memegang kartu itu mulai gemetar.
Bagus meraih kartu itu dari tangan Cantika. Ia membacanya. Wajahnya berubah tegang. Rahangnya mengeras. Matanya menyala—bukan marah, tapi tekad.
Raden berdiri di samping mereka. Ia membaca kartu itu dari balik pundak Bagus.
"Vino tidak akan pernah berhenti, rupanya," kata Raden dengan suara dingin. Dingin seperti dulu, sebelum semua kerumitan ini dimulai.
Bagus menghancurkan kartu itu di tangannya—meremasnya hingga kertas itu remuk, hingga tulisan Vino tidak terbaca lagi. "Kita tidak akan biarkan dia menghancurkan kebahagiaan kita. Kita akan lawan. Bersama."
Cantika meraih tangan Bagus. Genggamannya erat, seperti orang tenggelam yang menemukan papan penyelamat. "Bersama, Gus."
Raden meraih tangan Cantika yang lain—bukan sebagai kekasih, tapi sebagai sahabat. Sebagai saudara. "Bersama."
Mereka bertiga tersenyum. Senyum yang rapuh, tapi nyata. Meskipun badai masih menghadang, meskipun Vino masih mengintai di balik bayang-bayang dendamnya, mereka tahu mereka bisa menghadapinya.
Karena mereka tidak sendirian.
Karena mereka memiliki satu sama lain.
BAB 22: Badai Sebelum Tenang
Dua hari setelah Cantika memilih Bagus, suasana di apartemen berubah. Tidak ada lagi ketegangan seperti sebelumnya, tapi juga belum ada kebahagiaan yang utuh. Raden masih berusaha merelakan, meskipun matanya sesekali terlihat sembab. Bagus berusaha untuk tidak terlalu menunjukkan kebahagiaannya di depan Raden. Cantika berada di tengah, mencoba menyeimbangkan perasaan dua sahabat yang sangat berarti baginya. Di luar apartemen, Vino terus bergerak. Karangan bunga hanyalah awal. Badai yang sesungguhnya belum datang. Dan ketika badai itu tiba, mereka harus siap menghadapinya bersama atau hancur berpisah.
Apartemen Bagus, Minggu pagi. Matahari bersinar cerah, menembus celah-celah tirai jendela. Suasana sarapan pagi terasa berbeda. Maya dan Laras memasak di dapur dengan riang. Andre dan Tono bermain catur di ruang tamu. Raden duduk di balkon sendirian, memandangi langit. Bagus dan Cantika duduk di sofa, berpegangan tangan.
Maya keluar dari dapur sambil membawa nampan berisi telur dadar dan roti bakar. "Sarapan sudah siap! Ayo pada kumpul!"
Laras mengikuti dari belakang dengan membawa teko kopi. "Hari ini menu spesial. Telur dadar keju. Maya yang masak, aku hanya membantu."
Andre meninggalkan papan caturnya. "Wah, telur dadar keju? Aku suka!"
Tono mengikuti. "Aku juga suka. Tapi yang lebih aku suka adalah kopinya. Wangi sekali."
Mereka semua duduk di meja makan. Raden masih di balkon.
Cantika berkata, "Den, sarapan sudah siap. Ayo masuk."
Raden menoleh. "Sebentar, Cantik. Aku sedang menikmati pemandangan."
Bagus berdiri dan berjalan ke balkon. "Den, aku tahu lo sedang tidak baik-baik saja. Tapi lo tidak bisa bersembunyi di sini selamanya."
Raden menghela napas. "Aku tidak bersembunyi, Gus. Aku hanya butuh waktu."
Bagus duduk di samping Raden. "Aku mengerti, Den. Tapi jangan jauh-jauh dari kami. Kita adalah keluarga."
Raden menatap Bagus. "Keluarga?"
Bagus mengangguk. "Keluarga. Aku, lo, Cantik, Maya, Andre, Tono, Laras. Kita semua adalah keluarga. Dan keluarga tidak saling meninggalkan."
Raden tersenyum tipis. "Kata-kata bijak dari seorang arsitek galau."
Bagus tertawa. "Aku belajar dari Pak Darmo."
Raden berdiri. "Baiklah. Ayo sarapan. Aku lapar."
Mereka berdua masuk ke ruang makan. Semua orang tersenyum melihat Raden ikut bergabung.
Maya berkata, "Akhirnya. Aku kira lo mau jadi burung di balkon sepanjang hari, Den."
Raden menjawab, "Burung tidak sarapan telur dadar keju, May. Mereka makan cacing."
Andre berpura-pura muntah. "Jangan bahas cacing pas lagi makan, Den."
Mereka semua tertawa. Suasana hangat kembali menyelimuti apartemen.
Setelah sarapan, mereka berkumpul di ruang tamu. Tono membuka laptopnya dan memutar rekaman CCTV dari kamera yang dipasang di sekitar apartemen.
Tono berkata, "Semalam, ada seseorang yang mondar-mandir di depan apartemen. Aku curiga dia anak buah Vino."
Raden melihat layar laptop. "Bisa kita lihat wajahnya, Ton?"
Tono memperbesar gambar. "Sayangnya kamera tidak cukup jelas. Dia pakai topi dan masker. Sulit dikenali."
Bagus mengepalkan tangannya. "Vino tidak akan berhenti sampai kita semua hancur."
Cantika meraih tangan Bagus. "Kita tidak akan hancur, Gus. Kita akan bersama."
Raden mengangguk. "Cantika benar. Kita harus tetap tenang dan tidak panik."
Maya bertanya, "Apa yang harus kita lakukan, Den?"
Raden menjawab, "Kita akan pasang jebakan. Kita biarkan anak buah Vino masuk ke apartemen. Lalu kita tangkap."
Andre mengerutkan kening. "Itu berbahaya, Den. Mereka bisa membawa senjata."
Raden tersenyum dingin. "Kita juga bisa membawa senjata. Tapi bukan senjata tajam. Kita akan menggunakan kejutan."
Tono bertanya, "Kejutan seperti apa, Den?"
Raden menjawab, "Kita akan matikan lampu apartemen. Kita sembunyi di setiap sudut. Ketika mereka masuk, kita nyalakan lampu sorot ke mata mereka. Mereka akan buta sesaat. Kita bisa menangkap mereka dengan mudah."
Laras menggigit bibirnya. "Apakah ini tidak terlalu berisiko, Den?"
Raden menjawab, "Setiap rencana punya risiko, Lar. Tapi jika kita tidak melakukan apa-apa, mereka akan terus mengintai."
Cantika mengangguk. "Aku setuju dengan Den. Kita harus berani."
Bagus menatap Cantika. "Cantik, lo yakin?"
Cantika menjawab, "Aku yakin, Gus. Aku tidak mau terus hidup dalam ketakutan."
Maya mengangkat tangannya. "Aku ikut. Aku akan sembunyi di dapur."
Andre mengangguk. "Aku di kamar mandi."
Tono berkata, "Aku di dekat pintu. Aku yang akan mematikan lampu."
Laras menjawab, "Aku di kamar tidur. Aku akan jaga pintu belakang."
Raden menatap Bagus dan Cantika. "Kalian berdua di ruang tamu. Kalian adalah umpan."
Bagus terkejut. "Umpan? Maksudnya, kami yang akan duduk di ruang tamu dengan lampu menyala?"
Raden mengangguk. "Iya. Biarkan mereka melihat kalian. Mereka akan mengira kalian berdua saja. Lalu mereka akan masuk. Dan kita akan menyergap."
Cantika menggenggam tangan Bagus. "Kita bisa lakukan ini, Gus."
Bagus menghela napas. "Baiklah. Tapi jika ada yang tidak beres, kita langsung lari ke kamar Maya."
Raden mengangguk. "Setuju."
Malam harinya, semua orang bersiap. Lampu apartemen dimatikan, kecuali lampu di ruang tamu. Bagus dan Cantika duduk di sofa, berpura-pura menonton televisi. Suara televisi diputar agak keras untuk menutupi suara-suara lain.
Bagus berbisik, "Cantik, lo takut?"
Cantika menjawab pelan, "Aku takut, Gus. Tapi aku bersama lo. Jadi aku berani."
Bagus tersenyum. "Aku juga berani karena bersama lo."
Mereka berdua duduk diam, menunggu. Di dapur, Maya memegang sapu. Di kamar mandi, Andre memegang gagang pel. Di dekat pintu, Tono memegang remote lampu. Di kamar tidur, Laras memegang ponsel untuk menelepon polisi jika diperlukan. Raden bersembunyi di balik tirai jendela dekat pintu masuk.
Pukul sembilan malam. Pintu apartemen terbuka perlahan. Dua orang lelaki bertubuh besar masuk. Mereka mengenakan jaket hitam dan topi. Wajah mereka tertutup masker.
Lelaki pertama berkata, "Sepi. Sepertinya mereka berdua saja."
Lelaki kedua menjawab, "Cepat. Ambil barangnya. Jangan buang waktu."
Tono menekan remote lampu. Semua lampu di apartemen menyala. Lampu sorot dari empat arah menyala ke arah mata kedua lelaki itu.
Lelaki pertama berteriak, "Apa? Ini jebakan!"
Raden berteriak dari balik tirai, "Angkat tangan! Kalian dikepung!"
Maya keluar dari dapur dengan sapu. Andre keluar dari kamar mandi dengan gagang pel. Laras keluar dari kamar tidur dengan ponsel di tangan.
Lelaki kedua berkata, "Kalian pikir kalian bisa menangkap kami dengan sapu dan gagang pel?"
Raden menjawab, "Kami tidak perlu menangkap kalian. Kami hanya perlu membuat kalian panik. Polisi sudah dalam perjalanan."
Lelaki pertama tertawa. "Polisi? Kalian pikir polisi akan datang? Kami sudah bayar polisi."
Tiba-tiba, suara sirine polisi terdengar dari kejauhan. Semakin lama semakin dekat.
Lelaki kedua pucat. "Kalian benar-benar memanggil polisi?"
Laras menjawab, "Tadi aku telepon polisi sebelum kalian masuk. Mereka sudah dalam perjalanan."
Kedua lelaki itu saling pandang. Lelaki pertama berkata, "Kita cabut!"
Mereka berdua berlari keluar dari apartemen. Polisi tiba beberapa menit kemudian. Sayangnya, kedua lelaki itu sudah kabur.
Kompol Hendra masuk ke apartemen. "Kami menerima laporan ada percobaan pencurian di sini."
Raden mengangguk. "Iya, Pak. Dua orang. Mereka kabur."
Kompol Hendra menghela napas. "Kami akan kejar. Tapi sepertinya mereka sudah tahu jalan pintas."
Maya bertanya, "Pak, apakah kalian tidak bisa menangkap mereka?"
Kompol Hendra menjawab, "Kami akan coba. Tapi jangan berharap terlalu banyak."
Polisi pergi. Suasana di apartemen masih tegang.
Cantika berkata, "Kita berhasil mengusir mereka."
Bagus memeluk Cantika. "Kita berhasil."
Raden tersenyum. "Ini baru awal. Tapi setidaknya kita sudah menunjukkan bahwa kita tidak takut."
Andre mengangguk. "Vino pasti akan marah. Tapi itu yang kita mau."
Tono berkata, "Aku akan pasang kamera tambahan di luar apartemen. Dan alarm yang lebih sensitif."
Maya menghela napas. "Aku lelah. Aku ingin tidur."
Laras memegang pundak Maya. "Ayo, May. Aku temani."
Mereka semua beristirahat. Malam itu, tidak ada yang bisa tidur nyenyak.
Hotel Vino. Vino marah besar. Ia membanting gelas whiskey ke dinding.
"Bodoh! Kalian berdua bodoh!" teriak Vino pada Robby.
Robby menunduk. "Maaf, Vin. Mereka sudah menyiapkan jebakan."
Vino berjalan mondar-mandir. "Raden! Pasti Raden yang merencanakan itu!"
Robby mengangguk. "Raden yang memimpin. Bagus dan Cantika hanya umpan."
Vino mengepalkan tangannya. "Aku akan hancurkan Raden. Apapun yang terjadi."
Robby bertanya, "Apa yang harus aku lakukan, Vin?"
Vino menjawab, "Cari tahu kelemahan Raden. Setiap orang punya kelemahan. Aku akan gunakan itu."
Robby mengangguk. "Baik, Vin. Aku akan cari."
Vino duduk di kursinya. Ia menatap langit-langit. "Raden, lo pikir lo pintar? Kita lihat siapa yang lebih pintar."
Apartemen Bagus, keesokan paginya. Semua orang berkumpul di ruang tamu. Tono memperlihatkan rekaman CCTV dari semalam.
Tono berkata, "Sayangnya wajah mereka tidak terekam jelas. Mereka pakai topi dan masker."
Raden mengangguk. "Tidak apa, Ton. Yang penting kita sudah mengusir mereka."
Maya bertanya, "Apakah mereka akan kembali, Den?"
Raden menjawab, "Mungkin. Tapi kita akan siap."
Cantika menggenggam tangan Bagus. "Gus, aku ingin bicara dengan lo berdua."
Bagus dan Raden saling pandang. Bagus bertanya, "Tentang apa, Cantik?"
Cantika menjawab, "Tentang masa depan. Tentang apa yang akan kita lakukan setelah semua ini selesai."
Raden menghela napas. "Cantik, kita belum bisa memikirkan masa depan sebelum Vino benar-benar jatuh."
Cantika mengangguk. "Aku tahu, Den. Tapi aku tidak mau terus hidup dalam ketakutan. Aku ingin punya harapan."
Bagus meraih tangan Cantika. "Kita akan punya masa depan, Cantik. Aku janji."
Raden tersenyum pahit. "Aku juga akan berusaha untuk ikhlas, Cantik. Tapi beri aku waktu."
Cantika menatap Raden. "Aku akan memberi lo waktu, Den. Tidak ada yang terburu-buru."
Maya memeluk Laras. "Kita semua akan baik-baik saja. Percayalah."
BAB 23: Raden Mulai Merelakan
Seminggu setelah percobaan penyusupan di apartemen, suasana berangsur tenang. Tidak ada lagi kabar tentang Vino atau anak buahnya. Tono terus memantau CCTV, tapi tidak ada yang mencurigakan. Raden mulai terlihat lebih tenang. Ia tidak lagi menyendiri di balkon. Ia mulai bergabung dalam percakapan, bahkan sesekali tertawa mendengar lelucon Andre. Cantika dan Bagus masih menjaga jarak di depan Raden, tidak ingin menunjukkan kebahagiaan mereka secara berlebihan. Namun diam-diam, Raden mulai belajar melepaskan. Bukan karena ia sudah tidak mencintai Cantika, tapi karena ia sadar bahwa cinta sejati tidak selalu berarti memiliki.
Apartemen Bagus, Sabtu pagi. Suasana sarapan ramai seperti biasanya. Maya membuat pancake, Laras menyeduh kopi, Andre memanggang sosis, Tono memotong buah. Bagus dan Cantika duduk di meja makan, tersenyum melihat keramaian itu. Raden duduk di hadapan mereka, menyesap kopi hitam pahit kesukaannya.
Maya meletakkan setumpuk pancake di tengah meja. "Silakan makan! Pancake madu spesial. Resep rahasia keluarga Maya."
Andre mengambil satu pancake. "Resep rahasia? Lo beli di supermarket, terus lo kasih madu. Itu rahasianya?"
Maya menjawab dengan wajah serius. "Diam, And. Jangan bocorin rahasia dapur."
Mereka semua tertawa. Raden ikut tersenyum, meskipun tipis.
Laras bertanya, "Den, lo kelihatan lebih segar pagi ini. Ada kabar baik?"
Raden mengangguk. "Aku dapat kabar dari pengacaraku. Proses disiplin Vino di kampus akan dimulai minggu depan."
Tono terkejut. "Serius, Den? Akhirnya!"
Raden menjawab, "Serius, Ton. Rektor sudah mengumpulkan bukti-bukti yang kita berikan. Vino akan dipanggil untuk menghadap dewan disiplin."
Cantika menghela napas lega. "Akhirnya ada keadilan."
Bagus meraih tangan Cantika di bawah meja. "Ini berkat kita semua. Kita berjuang bersama."
Raden melihat gerakan tangan Bagus. Ia tersenyum pahit, tapi tidak marah.
"Gus, Cantik," panggil Raden.
Bagus dan Cantika menatap Raden. "Apa, Den?" tanya Bagus.
Raden berkata dengan suara pelan, "Aku sudah mulai merelakan. Mungkin belum sepenuhnya. Tapi aku berusaha."
Cantika menunduk. "Den, aku..."
Raden memotong, "Jangan minta maaf, Cantik. Lo tidak bersalah. Aku yang harus belajar."
Maya mengusap matanya. "Aduh, aku jadi ikut haru."
Andre menepuk pundak Maya. "Jangan nangis, May. Nanti pancakenya asin."
Tono bertanya, "Den, apa yang membuat lo bisa mulai merelakan?"
Raden menjawab, "Aku sadar bahwa memaksa seseorang untuk mencintai kita sama saja dengan merusak cinta itu sendiri. Cantika sudah memilih Bagus. Dan aku harus menghormati pilihannya."
Laras mengangguk. "Itu dewasa, Den. Aku bangga."
Raden tersenyum. "Aku belajar dari kesalahan. Aku terlalu terburu-buru. Aku terlalu memaksa. Itu yang membuat Cantika menjauh."
Cantika menggeleng. "Bukan karena itu, Den. Aku hanya lebih cocok dengan Bagus. Bukan berarti lo tidak baik."
Raden menghela napas. "Aku tahu, Cantik. Dan aku menerima itu."
Bagus mengangkat gelasnya. "Untuk persahabatan. Yang tidak akan pernah hancur."
Mereka semua mengangkat gelas. "Untuk persahabatan!"
Setelah sarapan, Raden mengajak Bagus ke balkon. Mereka berdua berdiri di sana, memandangi langit Jakarta yang cerah.
Raden berkata, "Gus, aku ingin lo janji satu hal."
Bagus menatap Raden. "Apa, Den?"
Raden menjawab, "Jaga Cantika dengan baik. Jangan sakiti dia. Karena jika lo menyakitinya, aku tidak akan pernah memaafkan lo."
Bagus mengangguk serius. "Aku janji, Den. Aku akan menjaganya dengan nyawaku."
Raden tersenyum. "Aku percaya pada lo, Gus. Lo sahabat terbaik yang pernah aku miliki."
Bagus memeluk Raden. "Lo juga, Den. Lo juga."
Mereka berdua berdiri di balkon, menikmati angin pagi yang sejuk.
Di dalam apartemen, Cantika mengamati mereka dari balik jendela. Matanya berkaca-kaca.
Maya mendekati Cantika. "Cantik, lo nangis?"
Cantika mengusap matanya. "Aku bahagia, May. Raden mulai ikhlas."
Maya memeluk Cantika. "Itu karena lo memilih dengan hati. Bukan dengan pikiran."
Cantika menjawab, "Aku hanya memilih yang terbaik untukku, May. Bukan untuk menyakiti siapa pun."
Laras bergabung. "Dan itu hak lo, Cantik. Jangan pernah merasa bersalah."
Cantika tersenyum. "Terima kasih, kalian. Aku beruntung memiliki sahabat seperti kalian."
Sore harinya, Tono mendapat panggilan dari kontaknya di kepolisian. Kabar bahwa Vino akan segera dipanggil oleh dewan disiplin kampus membuat semua orang bersemangat. Mereka berkumpul di ruang tamu, merayakan kemenangan kecil dengan pizza dan minuman ringan.
Andre berkata sambil mengunyah pizza, "Ini baru kemenangan kecil. Tapi rasanya seperti kemenangan besar."
Tono mengangguk. "Setidaknya Vino tidak bisa berkutik di kampus. Dia diskors, jabatannya dicabut. Sekarang tinggal proses hukum."
Raden menambahkan, "Proses hukum akan berjalan. Tapi butuh waktu. Kita harus sabar."
Maya bertanya, "Apakah Vino bisa masuk penjara, Den?"
Raden menjawab, "Jika terbukti bersalah korupsi, dia bisa masuk penjara. Tapi itu butuh proses panjang."
Laras menggigit bibirnya. "Setidaknya dia tidak bisa mengganggu kita untuk sementara."
Cantika meraih tangan Laras. "Lar, lo masih khawatir tentang Sari?"
Laras mengangguk. "Iya, Cantik. Aku terus memikirkannya."
Cantika berkata, "Sari aman, Lar. Tono sudah memastikan."
Tono mengangguk. "Adik lo aman, Lar. Tidak ada yang mendekati tempat persembunyiannya."
Laras menghela napas lega. "Terima kasih, Ton. Aku tidak tahu harus membalas kebaikan kalian semua."
Bagus menjawab, "Tidak perlu balas, Lar. Itu sudah kewajiban kita sebagai teman."
Raden berdiri. "Sekarang, mari kita nikmati pizza ini sebelum dingin. Besok kita masih punya banyak pekerjaan."
Mereka semua tertawa. Suasana hangat kembali menyelimuti apartemen.
Malam harinya, setelah semua orang tidur, Raden duduk sendirian di ruang tamu. Lampu dimatikan, hanya lampu kecil di sudut yang masih menyala. Ia memegang ponselnya, membuka galeri foto. Foto-foto lama bersama Cantika, Bagus, dan yang lainnya muncul di layar.
Raden menatap foto Cantika tersenyum di Kafe Biru Langit. "Cantik, aku akan merelakan lo," bisiknya. "Mungkin tidak hari ini. Mungkin tidak besok. Tapi aku akan berusaha."
Ia menghapus foto-foto Cantika dari ponselnya. Satu per satu. Setiap hapusan terasa seperti pisau yang menusuk jantungnya. Tapi ia terus melakukannya. Sampai tidak ada satu pun foto Cantika yang tersisa.
Raden meletakkan ponselnya. Ia menutup mata. Air matanya jatuh perlahan.
"Aku ikhlas, Cantik," bisiknya. "Aku ikhlas."
Ia berbaring di sofa, memejamkan mata. Perlahan, rasa kantuk mulai menyapa.
Pintu kamar tidur terbuka perlahan. Cantika keluar, berjalan ke ruang tamu. Ia melihat Raden tidur di sofa, selimut tipis menutupi setengah tubuhnya.
Cantika mengambil selimut lain dari lemari dan menyelimuti Raden. "Selamat malam, Den," bisiknya. "Terima kasih untuk semuanya."
Raden bergerak dalam tidurnya, tapi tidak terbangun. Cantika kembali ke kamarnya.
Di pagi hari, Raden terbangun dan merasa hangat. Ia melihat selimut tambahan di tubuhnya. Ia tersenyum.
"Mungkin Cantika yang menyelimutiku," pikirnya.
Ia tidak bertanya. Ia hanya bersyukur.
Hotel Vino. Vino duduk di kursi dengan wajah gelap. Firmansyah berdiri di hadapannya, membawa map berisi surat panggilan dari dewan disiplin kampus.
Firmansyah berkata, "Vin, surat panggilan sudah datang. Kamu harus menghadap dewan disiplin minggu depan."
Vino membanting meja. "Aku tidak akan datang! Biar mereka tunggu!"
Firmansyah menghela napas. "Jika kamu tidak datang, mereka akan memprosesmu secara in absentia. Itu akan lebih buruk."
Vino mengepalkan tangannya. "Apa yang bisa mereka lakukan padaku? Skors? Keluarkan? Aku tidak peduli!"
Firmansyah menjawab, "Mereka bisa mencabut gelarmu. Membatalkan ijazahmu. Itu akan merusak masa depanmu."
Vino terdiam. "Jadi apa yang harus aku lakukan, Pak?"
Firmansyah menjawab, "Datang. Bela diri. Bawa pengacara. Aku akan mendampingimu."
Vino menghela napas. "Baiklah. Aku akan datang. Tapi ingat, aku tidak akan mengaku salah."
Firmansyah mengangguk. "Itu hakmu. Tapi bukti-bukti sangat kuat. Aku tidak bisa menjamin apa-apa."
Vino berdiri dan berjalan ke jendela. "Raden, Bagus, Cantik. Kalian pikir kalian sudah menang? Kalian salah. Ini baru awal."
BAB 24: Sidang Dewan Disiplin
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Setelah berminggu-minggu menunggu, proses disiplin terhadap Vino akhirnya dimulai. Sidang dewan disiplin kampus digelar di ruang sidang lantai tiga gedung rektorat. Vino datang dengan pengacaranya, Firmansyah, beserta tim. Di sisi lain, Bagus, Raden, Cantika, Maya, Andre, Tono, dan Laras datang sebagai saksi dan pendukung. Rektor Profesor Djatmiko memimpin sidang bersama empat anggota dewan disiplin lainnya. Ruangan yang biasanya tenang itu kini penuh dengan ketegangan. Semua orang tahu bahwa hari ini akan menentukan nasib Vino, juga nasib mereka semua.
Gedung rektorat, pukul setengah sembilan pagi. Bagus, Raden, Cantika, Maya, Andre, Tono, dan Laras duduk di kursi panjang di luar ruang sidang. Wajah mereka tegang, tapi penuh harap.
Maya menggenggam tangan Cantika. "Cantik, lo tegang?"
Cantika mengangguk. "Aku tegang, May. Tapi aku juga lega. Semua ini akan segera berakhir."
Raden berdiri, berjalan mondar-mandir. "Proses sidang bisa memakan waktu berjam-jam. Kita harus sabar."
Andre bertanya, "Den, apa kita akan dipanggil masuk semua?"
Raden menggeleng. "Tidak. Hanya saksi-saksi kunci. Tono, Laras, dan aku. Kalian berdua, Bagus dan Cantik, mungkin juga dipanggil."
Tono memeriksa laptopnya. "Aku sudah siapkan semua bukti. Rekaman CCTV, laporan keuangan, semuanya."
Laras menggigit bibirnya. "Aku takut, Den. Takut Vino mengancamku di depan dewan."
Raden menepuk pundak Laras. "Lo tidak sendirian, Lar. Kami di sini. Dan dewan disiplin tidak akan mentolerir ancaman di ruang sidang."
Pintu ruang sidang terbuka. Seorang sekretaris keluar. "Sidang akan segera dimulai. Saksi dimohon menunggu di ruang tunggu. Hanya pihak yang dipanggil yang boleh masuk."
Mereka semua mengangguk.
Ruang sidang dewan disiplin. Meja panjang untuk dewan di depan. Di sebelah kiri, meja untuk Vino dan pengacaranya. Di sebelah kanan, meja untuk saksi. Di belakang, kursi untuk penonton yang terbatas. Profesor Djatmiko duduk di tengah, dikelilingi empat anggota dewan. Wajah mereka serius.
Profesor Djatmiko membuka sidang. "Sidang dewan disiplin atas nama Saudara Vino Hartawan dinyatakan terbuka. Saudara Vino, Anda diduga melakukan korupsi dana BEM, penyalahgunaan wewenang, pemerasan terhadap mahasiswi, dan intimidasi terhadap saksi. Apa tanggapan Anda?"
Vino berdiri. Wajahnya dingin. "Saya tidak bersalah, Pak Rektor. Semua tuduhan ini adalah fitnah yang dibuat oleh Raden dan kawan-kawan untuk menjatuhkan saya."
Profesor Djatmiko menunjuk ke arah Raden. "Saudara Raden, silakan maju sebagai saksi."
Raden berdiri, berjalan ke meja saksi. Ia bersumpah untuk mengatakan kebenaran.
Raden berkata, "Pak Rektor, Yang Mulia dewan, saya di sini membawa bukti-bukti yang tidak bisa dibantah. Pertama, laporan keuangan fiktif yang dibuat oleh Vino. Dana BEM senilai ratusan juta rupiah ditransfer ke rekening pribadinya atas nama PT Maju Jaya."
Vino berdiri. "Itu bohong! Raden memalsukan bukti!"
Profesor Djatmiko mengetuk mejanya. "Saudara Vino, duduk. Anda akan diberi kesempatan bicara nanti."
Vino duduk kembali dengan kesal.
Raden melanjutkan, "Kedua, kami punya rekaman CCTV yang menunjukkan Vino sedang memerintahkan anak buahnya untuk mengintimidasi Laras dan adiknya."
Tono diundang masuk. Ia membawa laptopnya dan memutar rekaman CCTV di layar proyektor. Suara Vino terdengar jelas.
"Rob, aku ingin lo awasi Laras. Setiap gerakannya. Jika Laras mulai membelot, hancurkan dia. Dan adiknya juga."
Ruangan menjadi sunyi. Semua anggota dewan menatap Vino dengan tajam.
Firmansyah berdiri. "Yang Mulia, rekaman itu diperoleh secara ilegal. Klien kami tidak pernah memberikan izin untuk direkam."
Raden menjawab, "Rekaman itu diambil di area publik, Pak Firmansyah. Tidak diperlukan izin. Dan suara di rekaman itu jelas suara Vino. Tidak bisa dipalsukan."
Profesor Djatmiko bertanya, "Saudara Vino, apakah itu suara Anda?"
Vino terdiam. Wajahnya pucat.
Profesor Djatmiko mengulangi pertanyaan, "Saudara Vino, apakah itu suara Anda?"
Vino menjawab pelan, "Iya. Itu suara saya."
Ruangan gempar. Anggota dewan berbisik-bisik.
Firmansyah berkata, "Yang Mulia, meskipun itu suara klien kami, tidak ada bukti bahwa ancaman itu benar-benar dilaksanakan. Klien kami hanya bicara. Tidak melakukan."
Raden menjawab, "Tidak melakukan? Anak buah Vino sudah berusaha membakar rumah Maya. Mereka sudah menyusup ke apartemen Bagus. Mereka sudah mengintimidasi Laras dan Sari. Itu semua adalah tindakan."
Laras dipanggil masuk. Ia duduk di meja saksi dengan gemetar.
Profesor Djatmiko bertanya, "Saudari Laras, apa yang Vino lakukan pada Anda dan adik Anda?"
Laras menjawab dengan suara bergetar, "Vino memeras saya, Pak. Dia mengancam akan menyakiti adik saya jika saya tidak bekerja sama. Saya disuruh mengawasi Raden dan melaporkan setiap gerakannya."
Vino berdiri. "Dia berbohong! Laras berbohong!"
Profesor Djatmiko mengetuk meja. "Saudara Vino, saya peringatkan sekali lagi. Duduk."
Vino duduk. Wajahnya merah padam.
Laras melanjutkan, "Saya punya bukti, Pak. Pesan-pesan ancaman dari Vino yang dikirim ke ponsel saya. Nomornya memang tidak dikenal, tapi isi pesannya hanya Vino yang tahu."
Tono memproyeksikan pesan-pesan itu ke layar. Anggota dewan membaca satu per satu. Wajah mereka semakin tegang.
Profesor Djatmiko bertanya, "Saudara Vino, apa komentar Anda?"
Vino tidak menjawab. Firmansyah angkat bicara. "Yang Mulia, pesan-pesan itu bisa dikirim oleh siapa saja. Bukan bukti yang kuat."
Raden menjawab, "Tapi isi pesan itu menyebutkan detail yang hanya Vino yang tahu. Detail tentang adik Laras. Detail tentang tempat tinggal Laras. Itu tidak mungkin diketahui orang lain."
Profesor Djatmiko mengangguk. "Saya cenderung setuju dengan Saudara Raden. Bukti-bukti yang diajukan sangat kuat."
Vino berdiri lagi. "Ini tidak adil! Sidang ini tidak adil! Dewan disiplin sudah berpihak pada Raden!"
Profesor Djatmiko menjawab dengan tegas, "Saudara Vino, dewan disiplin bekerja berdasarkan bukti, bukan berdasarkan pihak. Dan bukti yang diajukan terhadap Anda sangat memberatkan."
Vino membanting map di mejanya. "Saya tidak akan menerima keputusan dewan disiplin! Saya akan banding! Saya akan gugat rektor ke pengadilan!"
Profesor Djatmiko tetap tenang. "Itu hak Anda. Tapi untuk saat ini, dewan disiplin akan menjatuhkan sanksi sementara. Saudara Vino, Anda kami skors dari semua kegiatan akademik dan non-akademik. Anda tidak diperbolehkan memasuki area kampus sampai proses disiplin selesai."
Vino berteriak, "Saya tidak peduli! Kampus ini sampah! Dewan disiplin sampah!"
Ia berbalik dan berjalan keluar dari ruang sidang dengan langkah marah. Firmansyah dan tim pengacaranya mengikuti dari belakang.
Pintu tertutup. Ruangan menjadi sunyi.
Profesor Djatmiko menghela napas. "Sidang ditunda hingga pemberitahuan selanjutnya. Terima kasih kepada para saksi."
Raden, Tono, dan Laras keluar dari ruang sidang. Bagus, Cantika, Maya, dan Andre segera menghampiri.
Maya bertanya, "Gimana, Den?"
Raden tersenyum tipis. "Vino diskors. Tidak boleh masuk kampus. Bukti-bukti kita diterima dewan."
Andre mengangkat tinjunya. "Yes! Kemenangan!"
Cantika memeluk Bagus. "Akhirnya, Gus. Akhirnya."
Bagus memeluk Cantika balik. "Ini belum selesai, Cantik. Tapi setidaknya kita sudah melewati satu rintangan besar."
Laras menangis. Tono memeluknya. "Tenang, Lar. Semua sudah berakhir."
Laras menjawab sambil terisak, "Belum berakhir, Ton. Vino masih bebas di luar sana."
Raden mengangguk. "Laras benar. Vino masih bebas. Tapi setidaknya dia tidak bisa masuk kampus. Dia kehilangan kekuasaannya."
Di luar gedung rektorat, Vino masuk ke mobilnya dengan marah. Firmansyah duduk di sampingnya.
Firmansyah berkata, "Vin, kita bisa ajukan banding. Tapi butuh waktu."
Vino membanting setir mobil. "Aku tidak mau banding! Aku mau balas dendam!"
Firmansyah menghela napas. "Vin, balas dendam tidak akan menyelesaikan masalah. Lebih baik kita fokus pada banding."
Vino menatap Firmansyah dengan mata merah. "Lo tidak mengerti, Pak. Lo tidak tahu bagaimana rasanya dipermalukan di depan umum."
Firmansyah menjawab, "Saya mengerti, Vin. Tapi emosi tidak akan membantu."
Vino tidak menjawab. Ia menyalakan mobil dan melaju kencang meninggalkan kampus.
Kafe Biru Langit, siang hari. Semua orang berkumpul untuk merayakan kemenangan kecil. Pak Darmo ikut bergabung, membawakan kopi spesial untuk mereka semua.
Pak Darmo berkata, "Saya dengar kabar baik. Vino diskors."
Raden mengangguk. "Iya, Pak. Bukti-bukti kita cukup kuat."
Pak Darmo tersenyum. "Saya selalu percaya pada kalian. Kalian anak-anak baik."
Maya mengangkat cangkirnya. "Untuk Pak Darmo! Yang selalu memberikan kopi dan semangat!"
Mereka semua mengangkat cangkir. "Untuk Pak Darmo!"
Pak Darmo tertawa. "Sudah, sudah. Nikmati kopinya. Saya kembali ke belakang."
Setelah Pak Darmo pergi, Cantika menatap Bagus. "Gus, sekarang apa?"
Bagus menjawab, "Sekarang kita lanjutkan hidup. Kita selesaikan skripsi. Kita lulus. Kita berkarya."
Raden menambahkan, "Tapi kita tetap waspada. Vino masih bisa berbuat sesuatu."
Andre mengangguk. "Den benar. Kita tidak boleh lengah."
Laras meraih tangan Cantika. "Cantik, aku ingin berterima kasih. Kalau tidak ada kalian, aku mungkin masih menjadi budak Vino."
Cantika memeluk Laras. "Kita saling membantu, Lar. Itu artinya bersahabat."
Tono menutup laptopnya. "Sekarang, mari kita fokus pada skripsi. Aku sudah terlalu lama menunda."
Mereka semua tertawa. Suasana hangat kembali menyelimuti.
Apartemen Bagus, malam hari. Semua orang sudah tidur. Raden duduk di balkon, memandangi langit Jakarta yang gelap. Cantika keluar dari kamar, berjalan mendekat.
Cantika berkata, "Den, lo belum tidur?"
Raden menoleh. "Belum, Cantik. Masih banyak pikiran."
Cantika duduk di samping Raden. "Pikiran tentang apa?"
Raden menghela napas. "Tentang masa depan. Tentang apa yang akan aku lakukan setelah semua ini selesai."
Cantika bertanya, "Lo sudah punya rencana, Den?"
Raden mengangguk. "Aku akan fokus pada karier. Menjadi pengacara yang baik. Membela orang-orang yang tidak bisa membela diri."
Cantika tersenyum. "Itu rencana yang mulia, Den. Aku yakin lo akan berhasil."
Raden menatap Cantika. "Cantik, aku ingin lo tahu satu hal."
Cantika bertanya, "Apa, Den?"
Raden menjawab, "Aku ikhlas. Benar-benar ikhlas. Mungkin butuh waktu, tapi aku akan baik-baik saja."
Cantika menangis. "Terima kasih, Den. Itu berarti banyak bagiku."
Raden mengelap air mata Cantika. "Jangan menangis, Cantik. Ini hari bahagia. Vino diskors. Kita menang."
Cantika tersenyum. "Iya, Den. Kita menang."
Mereka berdua duduk di balkon, menikmati angin malam yang sejuk.
BAB 25: Cinta yang Tumbuh dari Luka
Sebulan setelah sidang dewan disiplin, kehidupan di apartemen Bagus berangsur normal. Vino tidak lagi terdengar kabarnya. Beberapa sumber mengatakan ia pergi ke luar negeri untuk menghindari tekanan. Yang lain mengatakan ia sedang menyusun rencana balas dendam. Tapi apapun kabarnya, Bagus, Raden, Cantika, dan semua teman-teman mereka memilih untuk tidak lagi terpaku pada Vino. Mereka memilih untuk melanjutkan hidup. Cantika dan Bagus mulai menjalin hubungan sebagai pasangan, meskipun masih terbatas di depan Raden. Raden sendiri mulai menerima kenyataan. Ia bahkan mulai membuka hati untuk perempuan lain. Cinta yang tumbuh dari luka, seperti tanaman yang tumbuh dari tanah yang retak. Tidak mudah, tapi mungkin.
Apartemen Bagus, Minggu pagi. Matahari bersinar cerah. Suasana sarapan pagi terasa berbeda dari biasanya. Maya dan Laras memasak bersama di dapur, sesekali tertawa kecil. Andre dan Tono bermain catur di ruang tamu, sesekali berselisih soal aturan. Bagus dan Cantika duduk di sofa, membaca buku masing-masing. Raden duduk di kursi dekat jendela, memandangi langit.
Maya keluar dari dapur dengan nampan berisi nasi goreng. "Sarapan! Nasi goreng spesial ala Maya dan Laras!"
Andre meninggalkan papan caturnya. "Wah, kolaborasi dua chef andalan. Pasti enak."
Tono mengikuti. "Semoga tidak terlalu pedas. Perutku masih belum pulih dari kemarin."
Laras tertawa. "Tidak pedas, Ton. Aku sudah kurangi cabainya."
Mereka semua duduk di meja makan. Raden ikut bergabung, duduk di antara Andre dan Tono.
Bagus berkata, "Den, lo kelihatan lebih ceria akhir-akhir ini. Ada kabar baik?"
Raden tersenyum. "Aku dapat tawaran magang di kantor pengacara terkemuka. Mulai bulan depan."
Cantika terkejut. "Serius, Den? Selamat!"
Maya bertanya, "Kantor pengacara mana, Den?"
Raden menjawab, "Kantor pengacara Firmansyah."
Semua orang terdiam. Nama Firmansyah adalah pengacara Vino.
Andre mengerutkan kening. "Firmansyah? Pengacaranya Vino? Lo mau magang di sana, Den?"
Raden mengangguk. "Firmansyah memang pengacara Vino. Tapi dia juga pengacara hebat. Aku bisa belajar banyak darinya."
Bagus bertanya, "Apakah Firmansyah tahu hubungan lo dengan Vino?"
Raden menjawab, "Dia tahu. Tapi dia bilang itu urusan profesional. Dia tidak akan mencampuradukkan dengan urusan pribadi."
Cantika menggigit bibirnya. "Den, lo yakin ini keputusan yang tepat?"
Raden menjawab, "Aku yakin, Cantik. Aku tidak bisa terus menghindari Vino. Aku harus menghadapinya suatu hari. Lebih baik aku belajar dari pengacaranya."
Tono mengangguk. "Itu berani, Den. Aku salut."
Laras bertanya, "Apakah lo tidak takut Firmansyah memanfaatkan lo?"
Raden menjawab, "Aku akan tetap waspada, Lar. Tapi aku juga harus percaya pada orang lain."
Maya mengangkat sendoknya. "Pokoknya hati-hati, Den. Kami tidak mau kehilangan lo."
Raden tersenyum. "Kalian tidak akan kehilangan aku. Aku janji."
Setelah sarapan, Bagus dan Cantika berjalan ke taman dekat apartemen. Mereka berdua duduk di bangku kayu di bawah pohon rindang.
Bagus berkata, "Cantik, aku ingin bicara tentang kita."
Cantika menatap Bagus. "Tentang apa, Gus?"
Bagus menjawab, "Tentang masa depan. Tentang apa yang akan kita lakukan setelah lulus."
Cantika tersenyum. "Kita akan lulus. Kita akan bekerja. Kita akan membangun masa depan bersama."
Bagus meraih tangan Cantika. "Apakah lo yakin, Cantik? Apakah lo yakin aku lelaki yang tepat untuk lo?"
Cantika mengangguk. "Aku yakin, Gus. Sejak dulu aku sudah yakin. Aku hanya butuh waktu untuk menyadarinya."
Bagus menghela napas. "Aku takut, Cantik. Takut suatu hari nanti lo akan menyesal memilihku."
Cantika memegang wajah Bagus. "Dengar, Gus. Aku tidak pernah menyesal. Aku tidak akan pernah menyesal. Kamu adalah lelaki terbaik yang pernah aku temui. Jangan pernah meragukan itu."
Bagus tersenyum. "Terima kasih, Cantik. Aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuk lo."
Mereka berdua berpelukan di bawah pohon rindang.
Di apartemen, Raden duduk di balkon sendirian. Maya mendekat, membawa dua cangkir kopi.
Maya berkata, "Den, boleh aku duduk?"
Raden mengangguk. "Silakan, May."
Maya duduk di samping Raden. "Lo baik-baik saja, Den? Aku tahu lo masih berjuang."
Raden menghela napas. "Aku baik-baik saja, May. Mungkin tidak sepenuhnya. Tapi aku berusaha."
Maya bertanya, "Apakah lo masih mencintai Cantik?"
Raden terdiam sejenak. "Aku akan selalu mencintai Cantik, May. Tapi tidak seperti dulu. Sekarang aku mencintainya sebagai sahabat. Bukan sebagai kekasih."
Maya mengangguk. "Itu dewasa, Den. Aku bangga."
Raden tersenyum. "Aku belajar dari kesalahan. Aku terlalu terburu-buru. Aku terlalu memaksa."
Maya berkata, "Setiap orang pernah melakukan kesalahan, Den. Yang penting belajar dari kesalahan itu."
Raden menyesap kopinya. "May, aku ingin bertanya sesuatu."
Maya menatap Raden. "Tanya apa, Den?"
Raden menjawab, "Menurut lo, apakah aku pantas untuk dicintai?"
Maya terkejut. "Kenapa lo bertanya seperti itu, Den?"
Raden menghela napas. "Karena aku merasa gagal. Gagal mendapatkan Cantik. Mungkin ada yang salah dengan diriku."
Maya memegang tangan Raden. "Den, tidak ada yang salah dengan diri lo. Lo hebat. Lo pintar. Lo baik. Hanya saja, Cantika lebih cocok dengan Bagus. Itu bukan berarti lo tidak pantas dicintai."
Raden menatap Maya. "Lo serius, May?"
Maya mengangguk. "Aku serius, Den. Suatu hari nanti, akan ada perempuan yang mencintai lo apa adanya. Percayalah."
Raden tersenyum. "Terima kasih, May. Lo baik sekali."
Maya berdiri. "Sekarang, ayo masuk. Di luar mulai dingin."
Mereka berdua masuk ke apartemen.
Sore harinya, Tono mendapat panggilan dari kontaknya di kepolisian. Kabar bahwa Vino sudah kembali ke Indonesia membuat semua orang tegang. Mereka berkumpul di ruang tamu.
Tono berkata, "Kontakku bilang Vino mendarat di Jakarta kemarin malam. Sendirian."
Raden mengerutkan kening. "Sendirian? Tidak bersama pengacaranya?"
Tono menggeleng. "Tidak. Hanya Vino. Sepertinya dia datang tanpa sepengetahuan Firmansyah."
Bagus bertanya, "Apa yang dia rencanakan, Den?"
Raden menjawab, "Aku tidak tahu, Gus. Tapi kita harus waspada."
Cantika menggigit bibirnya. "Aku takut, Gus. Aku takut Vino akan melakukan sesuatu yang membahayakan kita."
Bagus memeluk Cantika. "Tidak ada yang akan menyakiti lo, Cantik. Aku di sini. Kami semua di sini."
Maya bertanya, "Apa kita harus lapor polisi, Den?"
Raden mengangguk. "Aku akan lapor. Setidaknya polisi tahu bahwa Vino sudah kembali."
Andre berdiri. "Aku akan periksa pintu dan jendela. Pastikan semuanya terkunci."
Laras berkata, "Aku akan telepon Sari. Pastikan dia aman."
Mereka semua bergerak sesuai tugasnya masing-masing.
Hotel Vino. Vino duduk di kursi empuk dengan segelas whiskey. Wajahnya lebih kurus dari sebelumnya. Matanya cekung. Ia terlihat lelah, tapi matanya masih menyala dengan api dendam.
Vino menyesap whiskynya. "Cantik, Bagus, Raden. Aku kembali. Dan kali ini, aku tidak akan kalah."
Ia meletakkan gelasnya. Ia berdiri dan berjalan ke jendela, memandangi langit Jakarta yang mulai gelap.
"Kalian pikir kalian sudah menang? Kalian salah. Pertempuran ini belum berakhir."
Ia tersenyum miring. Senyum yang sama. Senyum yang penuh racun.
Apartemen Bagus, malam hari. Semua orang sudah tidur. Bagus dan Cantika duduk di ruang tamu, berbincang pelan.
Cantika berkata, "Gus, aku takut. Vino kembali. Aku takut dia akan menyakiti orang-orang yang aku cintai."
Bagus menjawab, "Cantik, kita tidak akan biarkan itu terjadi. Kita akan lindungi satu sama lain."
Cantika menunduk. "Aku merasa bersalah, Gus. Semua ini terjadi karena aku."
Bagus mengangkat wajah Cantika. "Jangan pernah berpikir begitu, Cantik. Ini bukan salah lo. Ini semua ulah Vino."
Cantika menangis. Bagus memeluknya.
"Kita akan melewati ini bersama, Cantik. Aku janji," bisik Bagus.
Cantika mengangguk di pelukan Bagus.
BAB 26: Vino Menyerang dari Dekat
Dua hari setelah kabar kembalinya Vino ke Jakarta, ketegangan di apartemen Bagus mencapai puncaknya. Tidak ada yang bisa tidur nyenyak. Setiap suara aneh di luar membuat mereka melompat. Tono memperketat pengawasan CCTV. Andre mengganti gembok pintu dan jendela dengan yang lebih kuat. Raden menghubungi kontaknya di kepolisian setiap hari untuk memastikan perkembangan. Bagus dan Cantika berusaha tetap tenang, tapi kekhawatiran di mata mereka tidak bisa disembunyikan. Vino sudah kembali. Dan kali ini, ia tidak bermain-main. Ia tidak lagi menyuruh anak buahnya. Vino memutuskan untuk menyerang sendiri, dari dekat.
Apartemen Bagus, Selasa malam. Hujan deras mengguyur Jakarta sejak sore. Suara air mengalir di selokan terdengar seperti gemuruh sungai. Di ruang tamu, semua orang duduk gelisah. Lampu dimatikan, hanya lampu kecil di sudut yang masih menyala. Tono memantau layar laptop yang menampilkan gambar dari CCTV di sekitar apartemen.
Tono berkata dengan suara pelan, "Semua aman sejauh ini. Tidak ada yang mencurigakan."
Raden mengangguk. "Tetap waspada, Ton. Vino tidak akan diam lama."
Maya menggigit kukunya. "Aku tidak suka suasana seperti ini. Rasanya seperti menunggu petir menyambar."
Andre meraih tangan Maya. "Tenang, May. Kita semua di sini. Tidak ada yang sendirian."
Laras duduk di pojok ruangan, memeluk bantal. Matanya menerawang kosong. Cantika duduk di sampingnya, sesekali menepuk pundaknya.
Cantika berkata, "Lar, lo baik-baik saja?"
Laras menjawab dengan suara pelan, "Aku takut, Cantik. Vino pasti akan datang untukku. Dia tahu aku yang membocorkan rencananya."
Raden menoleh. "Dia tidak akan datang untuk lo sendirian, Lar. Karena lo tidak sendirian."
Laras menghela napas. "Aku harap begitu, Den."
Bagus berdiri dan berjalan ke jendela. Ia mengintip ke luar, tapi hanya kegelapan yang terlihat. Hujan semakin deras.
Bagus berkata, "Cuaca buruk. Ini kesempatan sempurna untuk Vino menyusup."
Tono mengerutkan kening. "Aku setuju, Gus. Tapi kamera-kameraku tidak menangkap apa pun."
Raden berdiri. "Mungkin dia sudah di dalam."
Semua orang terkejut. Maya bertanya, "Apa maksud lo, Den?"
Raden menjawab, "Vino pintar. Dia bisa saja sudah masuk sebelum hujan deras. Mungkin dia bersembunyi di suatu tempat di apartemen ini."
Andre berdiri. "Aku akan periksa kamar mandi."
Tono berdiri. "Aku akan periksa dapur."
Laras berdiri. "Aku akan periksa kamar tidur."
Maya berdiri. "Aku akan periksa balkon."
Bagus dan Cantika berdiri. Raden berkata, "Kita periksa semua sudut. Jangan tinggalkan satu pun."
Mereka berpencari. Bagus dan Cantika memeriksa ruang tamu. Raden memeriksa dekat pintu masuk.
Tiba-tiba, suara Laras berteriak dari kamar tidur. "DIA DI SINI! VINO DI SINI!"
Semua orang berlari menuju kamar tidur. Vino berdiri di dekat jendela kamar, basah kuyup karena hujan. Wajahnya kurus, matanya merah, tapi senyum miringnya masih sama.
Vino berkata, "Lama tidak bertemu, teman-teman."
Raden berdiri di depan Vino. "Vin, lo sudah gila. Lo masuk ke apartemen orang tanpa izin."
Vino tertawa. "Aku sudah gila sejak lama, Den. Sejak lo dan Bagus merebut Cantika dariku."
Bagus maju selangkah. "Kami tidak merebut siapa pun, Vin. Cantika memilih dengan kemauannya sendiri."
Vino menatap Cantika. "Cantik, apa benar lo memilih lelaki lemah itu? Lelaki yang tidak bisa melindungi lo?"
Cantika menjawab dengan tegas, "Bagus tidak lemah, Vin. Dia kuat. Dia kuat karena dia sabar. Dia kuat karena dia tidak perlu menyakiti orang lain untuk membuktikan dirinya."
Vino tertawa pahit. "Kuat karena sabar? Itu bukan kekuatan, Cantik. Itu kelemahan."
Raden berkata, "Vin, lo sudah keterlaluan. Kami sudah lapor polisi. Mereka akan segera datang."
Vino tersenyum. "Polisi? Kalian pikir aku takut polisi? Aku sudah bayar mereka."
Tono menjawab, "Kali ini tidak, Vin. Aku punya rekaman percakapan lo dengan anak buah lo. Rekaman itu sudah aku kirim ke kantor polisi. Mereka sudah tidak bisa lo bayar."
Vino terkejut. "Apa? Lo merekam aku lagi?"
Tono mengangguk. "Sejak lo kembali ke Jakarta, aku sudah pasang kamera di mana-mana. Termasuk di hotel tempat lo menginap."
Vino mengepalkan tangannya. "Lo memang licik, Ton."
Tono menjawab, "Bukan licik, Vin. Hati-hati. Ada perbedaannya."
Andre mengambil sapu di sudut kamar. "Vin, lo keluar dari sini sekarang juga. Atau aku yang akan mengusir lo."
Vino tertawa. "Lo pikir sapu bisa mengusir aku, And?"
Andre menjawab, "Bisa, Vin. Karena setelah sapu ini, akan ada puluhan orang yang datang. Polisi. Satpam. Tetangga. Lo tidak akan bisa kabur."
Vino melirik ke arah jendela. Ia berpikir untuk melompat. Tapi apartemen ini di lantai dua belas. Lompatan akan bunuh diri.
Raden berkata, "Jangan coba-coba lompat, Vin. Lo akan mati."
Vino menjawab, "Aku lebih baik mati daripada ditangkap kalian."
Cantika maju selangkah. "Vin, jangan bodoh. Hidup lo masih panjang. Lo bisa berubah."
Vino menatap Cantika. "Berubah? Seperti yang lo minta dulu? Aku sudah berubah, Cantik. Tapi lo tidak pernah percaya."
Cantika menjawab, "Kamu tidak berubah, Vin. Kamu hanya belajar menyembunyikan wajah aslimu lebih baik."
Vino terdiam. Air matanya jatuh. "Cantik, aku mencintaimu. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu."
Cantika menggeleng. "Itu bukan cinta, Vin. Itu obsesi. Cinta tidak merusak. Cinta tidak menyakiti. Cinta tidak memaksa."
Vino mengusap air matanya. "Jadi apa yang aku rasakan selama ini? Gila?"
Raden menjawab, "Iya, Vin. Lo gila. Tapi kegilaan itu bisa disembuhkan jika lo mau."
Vino tertawa pahit. "Disembuhkan? Aku tidak butuh disembuhkan. Aku butuh kalian menderita seperti aku menderita."
Andre mengangkat sapunya. "Sudah. Cukup. Vin, lo punya waktu sepuluh detik untuk keluar dari sini."
Vino tidak bergerak. Andre mulai menghitung. "Sepuluh... sembilan... delapan... tujuh..."
Vino berkata, "Baiklah. Aku pergi. Tapi ini belum selesai."
Vino berjalan ke pintu. Sebelum keluar, ia menoleh ke arah Cantika. "Cantik, lo akan menyesal."
Cantika menjawab, "Aku tidak akan menyesal, Vin. Karena aku sudah membuat keputusan yang tepat."
Vino keluar dari apartemen. Pintu tertutup. Semua orang menghela napas lega.
Maya bertanya, "Apakah dia benar-benar pergi, Den?"
Raden mengangguk. "Dia pergi. Tapi dia akan kembali. Vino tidak akan menyerah semudah itu."
Bagus memeluk Cantika. "Lo hebat, Cantik. Lo tidak takut padanya."
Cantika menjawab, "Aku takut, Gus. Tapi aku tidak mau menunjukkan rasa takut itu. Aku tidak mau memberi Vino kepuasan."
Laras duduk di ranjang, tangannya masih gemetar. "Aku tidak percaya dia masuk ke kamar tidur. Aku hampir mati ketakutan."
Tono duduk di samping Laras. "Tenang, Lar. Dia sudah pergi. Kita aman."
Laras menghela napas. "Untuk sekarang, Ton. Tapi untuk berapa lama?"
Raden menjawab, "Kita akan pastikan dia tidak bisa kembali. Aku akan lapor polisi. Tono, lo simpan rekaman CCTV-nya."
Tono mengangguk. "Sudah, Den. Aku backup di tiga tempat."
Andre meletakkan sapunya. "Aku ingin mandi. Keringat dingin."
Maya tertawa. "Aku juga."
Mereka semua berangsur tenang. Namun ketegangan masih terasa di udara.
Di hotelnya, Vino duduk di ranjang dengan wajah pucat. Ia baru saja gagal. Gagal total. Ia masuk ke apartemen mereka, tapi ia yang keluar dengan ekor di antara kaki.
Firmansyah masuk ke kamar. "Vin, aku dengar lo pergi ke apartemen Bagus."
Vino tidak menjawab. Firmansyah duduk di hadapannya.
Firmansyah berkata, "Vin, lo ceroboh. Lo bisa ditangkap polisi."
Vino menjawab, "Aku tidak peduli, Pak. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi."
Firmansyah menghela napas. "Vin, lo masih punya masa depan. Ayah lo masih punya bisnis. Lo bisa memulai lagi dari awal."
Vino menatap Firmansyah. "Memulai lagi dari awal? Setelah semua yang sudah aku lakukan?"
Firmansyah mengangguk. "Setiap orang pantas mendapat kesempatan kedua, Vin. Termasuk lo."
Vino terdiam. Air matanya jatuh. "Aku tidak tahu, Pak. Aku tidak tahu apakah aku bisa berubah."
Firmansyah menjawab, "Kesempatan tidak akan datang dua kali, Vin. Manfaatkan."
Vino mengusap air matanya. "Baiklah, Pak. Aku akan coba."
Apartemen Bagus, keesokan paginya. Semua orang terbangun dengan sisa-sisa ketakutan semalam. Maya membuat sarapan dengan wajah masih kusut. Andre membantu memotong roti. Tono sudah kembali ke laptopnya. Laras duduk di sofa, memeluk bantal.
Cantika berkata, "Lar, lo sudah makan?"
Laras menggeleng. "Belum, Cantik. Aku tidak lapar."
Cantika duduk di samping Laras. "Lo harus makan, Lar. Badan lo butuh energi."
Laras menghela napas. "Aku tidak bisa berhenti memikirkan Vino, Cantik. Wajahnya. Matanya. Aku merinding."
Cantika memeluk Laras. "Aku juga, Lar. Tapi kita tidak bisa terus-terusan ketakutan. Vino sudah pergi. Dia tidak akan kembali dalam waktu dekat."
Raden mendekat. "Cantika benar, Lar. Polisi sudah meningkatkan keamanan di sekitar apartemen ini. Vino tidak akan berani mendekat."
Laras mengangguk. "Baiklah. Aku akan coba makan."
Maya membawa sepiring nasi goreng untuk Laras. "Ini, Lar. Aku buatkan khusus untuk lo."
Laras tersenyum tipis. "Terima kasih, May. Lo baik sekali."
Maya menjawab, "Itu sudah kewajiban seorang sahabat."
Bagus bergabung dengan mereka. "Cantik, setelah sarapan, aku ingin bicara dengan lo berdua."
Cantika dan Raden saling pandang. Bagus melanjutkan, "Aku, Cantik, dan Den. Di balkon."
Raden mengangguk. "Baik, Gus."
Setelah sarapan, mereka bertiga duduk di balkon. Langit Jakarta cerah, seolah tidak terjadi apa-apa semalam.
Bagus membuka percakapan. "Den, Cantik, aku ingin berterima kasih. Untuk semuanya. Untuk persahabatan ini. Untuk perjuangan kita melawan Vino."
Raden tersenyum. "Kami juga berterima kasih, Gus. Lo adalah pemimpin yang baik."
Cantika meraih tangan Bagus. "Kamu adalah anugerah, Gus. Aku bersyukur memilihmu."
Bagus menatap Raden. "Den, aku tahu ini tidak mudah untuk lo. Tapi aku janji akan menjaga Cantika sebaik mungkin."
Raden mengangguk. "Aku percaya pada lo, Gus. Jangan buat aku menyesal."
Cantika menangis. Bukan tangis sedih, tapi tangis haru. "Kita akan selalu bersama, kan? Tidak ada yang akan berpisah?"
Raden menjawab, "Kita akan selalu bersama, Cantik. Sebagai sahabat. Sebagai keluarga."
Bagus mengangguk. "Sebagai keluarga."
Mereka bertiga berpelukan di balkon, di bawah langit Jakarta yang cerah.
BAB 27: Mengikhlaskan dengan Tulus
Seminggu setelah Vino menyusup ke apartemen, kehidupan berangsur tenang. Vino tidak lagi terdengar kabarnya. Firmansyah melaporkan bahwa Vino bersedia menjalani rehabilitasi mental di luar kota. Ayah Vino yang selama ini sibuk dengan bisnisnya akhirnya turun tangan. Vino dibawa ke sebuah pusat rehabilitasi di Bandung, ditemani oleh psikiater terbaik. Kabar ini membawa kelegaan bagi semua orang. Namun bagi Raden, kelegaan itu belum lengkap. Ia masih berjuang dengan perasaannya sendiri. Ia masih belajar untuk ikhlas. Bukan ikhlas karena terpaksa, tapi ikhlas karena tulus.
Apartemen Bagus, Sabtu pagi. Suasana berbeda dari biasanya. Maya dan Laras memasak sarapan dengan riang. Andre dan Tono sudah selesai bermain catur dan kini membantu melipat selimut. Bagus dan Cantika duduk di sofa, membaca koran. Raden duduk di dekat jendela, memandangi langit.
Maya berkata dari dapur, "Sarapan siap! Ayo pada kumpul!"
Mereka semua duduk di meja makan. Raden ikut bergabung, duduk di antara Andre dan Tono.
Andre bertanya, "Den, lo dengar kabar Vino?"
Raden mengangguk. "Aku dengar. Dia di Bandung. Rehabilitasi."
Tono menghela napas. "Akhirnya. Setelah sekian lama, dia sadar juga."
Laras bertanya, "Apakah dia benar-benar sadar, Den? Atau hanya pura-pura?"
Raden menjawab, "Aku tidak tahu, Lar. Tapi setidaknya dia tidak akan mengganggu kita untuk sementara."
Cantika menggenggam tangan Bagus. "Aku lega. Sangat lega."
Bagus tersenyum. "Aku juga, Cantik."
Maya mengangkat sendoknya. "Mari kita rayakan dengan makan sepuas-puasnya!"
Mereka semua tertawa. Suasana hangat kembali menyelimuti.
Setelah sarapan, Raden mengajak Bagus ke balkon. Mereka berdua berdiri di sana, memandangi langit Jakarta yang cerah.
Raden berkata, "Gus, aku sudah memutuskan."
Bagus menatap Raden. "Memutuskan apa, Den?"
Raden menjawab, "Aku akan pindah dari apartemen ini."
Bagus terkejut. "Pindah? Kenapa, Den? Apakah kamu tidak nyaman di sini?"
Raden menggeleng. "Aku sangat nyaman di sini, Gus. Tapi aku butuh waktu sendiri. Aku butuh ruang untuk menyembuhkan lukaku."
Bagus meraih pundak Raden. "Den, kamu tidak perlu pergi. Kita bisa menjaga jarak. Kamu tidak perlu sendirian."
Raden tersenyum pahit. "Lo sahabat baik, Gus. Tapi ini tentang aku. Aku harus belajar berdiri di atas kakiku sendiri."
Bagus menghela napas. "Apakah Cantika tahu tentang ini?"
Raden menggeleng. "Belum. Aku akan bilang hari ini."
Bagus bertanya, "Apakah kamu yakin dengan keputusan ini, Den?"
Raden mengangguk. "Aku yakin, Gus. Aku sudah memikirkannya berminggu-minggu."
Bagus memeluk Raden. "Aku akan merindukanmu, Den."
Raden memeluk balik. "Aku juga akan merindukanmu, Gus. Tapi kita akan sering bertemu. Aku tidak akan pergi jauh."
Mereka berdua berdiri di balkon, menikmati angin pagi yang sejuk.
Di dalam apartemen, Cantika melihat Bagus dan Raden berpelukan di balkon. Matanya berkaca-kaca.
Maya mendekati Cantika. "Cantik, lo kenapa?"
Cantika menjawab, "Raden akan pindah, May. Aku tahu dari cara Bagus memeluknya."
Maya terkejut. "Apa? Serius, Cantik?"
Cantika mengangguk. "Aku tidak tahu kapan. Tapi aku yakin itu yang mereka bicarakan."
Laras bergabung. "Raden pindah? Kenapa?"
Cantika menjawab, "Dia butuh ruang. Dia butuh waktu sendiri."
Laras menghela napas. "Aku mengerti. Menyembuhkan luka memang butuh ruang."
Maya memeluk Cantika. "Kita akan baik-baik saja, Cantik. Raden juga akan baik-baik saja."
Cantika mengusap air matanya. "Aku harap begitu, May."
Raden dan Bagus masuk ke ruang tamu. Semua orang berkumpul.
Raden berkata, "Teman-teman, aku ingin mengumumkan sesuatu."
Maya, Andre, Tono, Laras, dan Cantika menatap Raden.
Raden melanjutkan, "Aku akan pindah dari apartemen ini. Mungkin minggu depan."
Maya terkejut meskipun sudah menduga. "Apa, Den? Kenapa?"
Raden menjawab, "Aku butuh waktu sendiri. Aku butuh ruang untuk merenung dan menyembuhkan luka."
Andre bertanya, "Apakah ini karena Cantika dan Bagus?"
Raden menggeleng. "Bukan karena mereka, And. Ini karena aku. Aku harus belajar menerima kenyataan bahwa Cantika bukan untukku."
Tono mengangguk. "Aku mengerti, Den. Kadang menjauh adalah cara terbaik untuk menyembuhkan diri."
Laras berkata, "Tapi kami akan merindukanmu, Den."
Raden tersenyum. "Aku juga akan merindukan kalian. Tapi kita akan sering bertemu. Aku tidak akan pergi jauh."
Cantika berdiri. "Den, aku minta maaf. Jika aku tidak pernah hadir di hidupmu, mungkin kamu tidak akan terluka seperti ini."
Raden mendekati Cantika. "Jangan minta maaf, Cantik. Lo adalah anugerah. Kehadiran lo membuatku belajar banyak hal. Tentang cinta. Tentang persahabatan. Tentang keikhlasan."
Cantika menangis. Raden mengelap air matanya.
"Cantik, aku ikhlas," kata Raden. "Benar-benar ikhlas. Aku tidak akan berbohong padamu lagi."
Cantika memeluk Raden. "Terima kasih, Den. Terima kasih untuk semuanya."
Bagus bergabung dalam pelukan itu. Maya, Andre, Tono, dan Laras juga ikut memeluk.
Mereka semua berpelukan dalam lingkaran. Sebuah persahabatan yang diuji oleh badai, tapi tetap kokoh berdiri.
Seminggu kemudian, Raden pamit pindah. Semua orang membantu membereskan barang-barangnya. Tidak banyak yang dibawa. Hanya pakaian, buku-buku hukum, dan laptop. Sisanya ditinggalkan untuk Bagus.
Raden berdiri di depan pintu apartemen, menatap satu per satu teman-temannya.
Raden berkata, "Terima kasih untuk semuanya. Kalian adalah keluarga terbaik yang pernah aku miliki."
Maya menangis. "Jangan pergi, Den. Kami akan merindukanmu."
Raden tersenyum. "Aku tidak pergi jauh, May. Hanya beberapa kilometer. Kita bisa bertemu kapan saja."
Andre memeluk Raden. "Jaga diri, Den. Jika butuh sesuatu, telepon aku."
Raden mengangguk. "Aku akan, And. Terima kasih."
Tono menjabat tangan Raden. "Sukses dengan magangmu, Den. Kamu akan menjadi pengacara hebat."
Raden menjawab, "Terima kasih, Ton. Kamu juga akan menjadi ahli forensik yang hebat."
Laras memeluk Raden. "Den, aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu. Terima kasih sudah melindungiku."
Raden membalas pelukan Laras. "Kamu kuat, Lar. Jaga adikmu baik-baik."
Laras mengangguk sambil terisak.
Cantika mendekati Raden. Mereka berdua berdiri berhadapan.
Cantika berkata, "Den, aku tidak tahu harus berkata apa. Kata-kata terasa tidak cukup."
Raden menjawab, "Kamu tidak perlu berkata apa-apa, Cantik. Senyummu sudah cukup."
Cantika tersenyum sambil menangis. Raden mengelap air matanya.
"Cantik, jaga Bagus dengan baik," kata Raden. "Dia lelaki baik. Dia pantas mendapatkan kebahagiaan."
Cantika mengangguk. "Aku akan, Den. Aku janji."
Raden menatap Bagus. "Gus, jaga Cantik. Jaga semuanya. Kamu adalah pemimpin yang baik."
Bagus memeluk Raden. "Aku akan, Den. Kamu juga jaga diri. Jangan ragu untuk kembali kapan saja."
Raden menjawab, "Aku akan kembali. Aku janji."
Raden melangkah keluar dari apartemen. Pintu tertutup di belakangnya. Semua orang terdiam.
Maya menangis di pelukan Andre. Laras menangis di samping Tono. Cantika menangis di pelukan Bagus.
Bagus berkata, "Dia akan baik-baik saja. Kita semua akan baik-baik saja."
Cantika mengangguk di pelukan Bagus. "Aku harap begitu, Gus. Aku harap begitu."
Apartemen baru Raden, tidak jauh dari apartemen Bagus. Hanya berjarak beberapa kilometer. Raden duduk sendirian di ruang tamu yang masih kosong. Hanya ada satu sofa, satu meja, dan satu laptop. Sisanya masih dalam kardus.
Raden memandangi ruangan itu. "Ini awal yang baru," bisiknya. "Aku akan mulai dari sini."
Ponselnya bergetar. Pesan dari Bagus.
"Den, lo sudah sampai?"
Raden membalas. "Sudah, Gus. Terima kasih."
Balasan Bagus. "Apartemennya bagaimana? Nyaman?"
Raden. "Masih kosong. Tapi nyaman."
Bagus. "Aku akan ke sana besok. Bantu lo merapikan."
Raden tersenyum membaca balasan Bagus. "Terima kasih, Gus. Lo sahabat terbaik."
Bagus. "Lo juga, Den. Istirahat yang cukup."
Raden. "Kamu juga. Selamat malam."
Raden meletakkan ponselnya. Ia berbaring di sofa, memejamkan mata. Air matanya jatuh perlahan. Bukan air mata sedih. Air mata lega.
"Aku ikhlas, Cantik," bisiknya. "Aku benar-benar ikhlas."
Kafe Biru Langit, keesokan harinya. Bagus, Cantika, Maya, Andre, Tono, dan Laras duduk di meja bundar favorit mereka. Raden bergabung dengan mereka. Wajahnya lebih cerah dari sebelumnya.
Maya bertanya, "Den, bagaimana apartemen barumu?"
Raden menjawab, "Masih berantakan, May. Tapi Bagus akan membantu merapikannya nanti."
Andre tertawa. "Bagus jadi tukang rapih sekarang?"
Bagus menjawab, "Aku arsitek, And. Menata ruang adalah keahlianku."
Mereka semua tertawa.
Pak Darmo mendekati meja mereka. "Wah, kalian kompak lagi. Saya senang melihatnya."
Raden tersenyum. "Terima kasih, Pak Darmo. Kopinya selalu menghangatkan hati."
Pak Darmo mengangguk. "Kalian anak-anak baik. Saya yakin kalian akan sukses semua."
Pak Darmo berjalan kembali ke mejanya.
Cantika meraih tangan Bagus dan Raden. "Gus, Den, terima kasih. Untuk semuanya."
Bagus menjawab, "Tidak perlu berterima kasih, Cantik. Kami keluarga."
Raden mengangguk. "Keluarga tidak perlu berterima kasih."
Mereka bertiga tersenyum. Maya, Andre, Tono, dan Laras ikut tersenyum.
Di balik jendela kafe, matahari sore bersinar cerah. Seperti harapan. Seperti masa depan. Seperti cinta yang tumbuh dari luka dan berubah menjadi keikhlasan.
BAB 28: Merajut Kembali Persahabatan yang Sempat Retak
Dua bulan telah berlalu sejak Raden pindah dari apartemen Bagus. Dua bulan sejak mereka semua berusaha menata hidup masing-masing. Bagus dan Cantika menjalani hubungan sebagai pasangan dengan perlahan, tidak terburu-buru, saling belajar mengenal lebih dalam. Raden fokus pada magangnya di kantor hukum Firmansyah, belajar menjadi pengacara yang tangguh. Maya dan Andre semakin dekat, meskipun Maya masih sering memarahi Andre karena hal-hal sepele. Tono dan Laras menjalin persahabatan yang unik, saling melengkapi dalam kebaikan. Namun di balik semua itu, ada keretakan kecil yang masih tersisa. Persahabatan mereka tidak lagi semulus dulu. Ada jarak yang tidak terlihat tapi terasa. Dan hari ini, mereka memutuskan untuk berkumpul kembali di Kafe Biru Langit, tempat semuanya dimulai, untuk merajut kembali apa yang sempat retak.
Kafe Biru Langit, Sabtu malam. Hujan gerimis turun tipis, menciptakan suasana yang hangat di dalam kafe. Lampu-lampu temaram berwarna kuning menciptakan bayangan yang lembut di dinding. Pak Darmo menyiapkan meja bundar favorit mereka dengan cangkir-cangkir kopi yang sudah mengepul. Bagus datang paling awal, seperti biasa. Ia duduk di kursinya, membuka buku sketsa, tapi tidak menggambar. Ia hanya menatap halaman kosong itu, pikirannya melayang ke mana-mana.
Pintu kafe terbuka. Raden masuk dengan jas hujan hitam yang masih basah. Ia melepas jasnya, menggantungnya di rak, lalu berjalan ke meja bundar. Wajahnya lebih segar dari dua bulan lalu. Matanya lebih bersinar. Rambutnya dipotong rapi. Ia duduk di kursi sebelah Bagus, seperti biasa.
Bagus menatap Raden. "Den, lo kelihatan sehat. Magangnya membuat lo bersemangat?"
Raden tersenyum. "Magangnya berat, Gus. Tapi aku belajar banyak. Firmansyah ternyata bukan pengacara sembarangan. Dia punya prinsip."
Bagus mengangguk. "Aku senang mendengarnya, Den."
Raden membalik pertanyaan. "Lo bagaimana dengan skripsi? Lo sudah sidang, kan?"
Bagus menjawab, "Sudah. Bulan lalu. Lulus cumlaude."
Raden terkejut. "Cumlaude? Lo tidak bilang-bilang, Gus!"
Bagus tertawa kecil. "Aku tidak mau sombong, Den. Lagipula, ini berkat doa kalian semua."
Raden memeluk Bagus. "Selamat, Gus. Aku bangga padamu."
Bagus memeluk balik. "Terima kasih, Den."
Pintu kafe terbuka lagi. Masuklah Cantika, Maya, Andre, Tono, dan Laras bersama-sama. Mereka bertiga tertawa mendengar lelucon Andre. Maya memukul lengan Andre karena leluconnya terlalu kasar. Tono dan Laras berjalan di belakang, tersenyum melihat tingkah Andre dan Maya.
Cantika berjalan ke meja bundar. Ia duduk di hadapan Bagus dan Raden. Wajahnya berseri, matanya berbinar. Rambutnya diikat setengah dengan jepit kupu-kupu kesayangan.
Cantika berkata, "Gus, Den, maaf kami terlambat. Andre ngotot mau beli jajanan dulu."
Andre membela diri. "Bukan jajanan, Cantik. Itu oleh-oleh untuk Pak Darmo."
Maya mencibir. "Alasan."
Mereka semua duduk. Meja bundar yang dulu terasa sesak kini terasa pas. Tiga orang duduk di sisi kiri, tiga di sisi kanan, satu di ujung. Bagus dan Raden di tengah, Cantika di hadapan mereka.
Pak Darmo mendekati meja mereka. "Wah, lengkap. Saya senang melihat kalian semua."
Maya berkata, "Pak Darmo, Andre membawakan oleh-oleh untuk Bapak."
Andre menyerahkan sebuah kotak kue. "Kue lapis legit buatan ibu saya, Pak. Semoga Bapak suka."
Pak Darmo menerima kotak itu dengan senyum lebar. "Terima kasih, Nak. Ibu kamu baik sekali."
Pak Darmo berjalan kembali ke mejanya.
Raden membuka percakapan. "Teman-teman, aku ingin mengucapkan terima kasih. Untuk dukungan kalian selama ini. Untuk persahabatan yang tidak pernah pudar."
Maya mengangkat alis. "Wah, Den, pidato nih?"
Mereka semua tertawa.
Raden melanjutkan, "Bukan pidato, May. Aku hanya bersyukur."
Cantika meraih tangan Bagus dan Raden. "Kita semua bersyukur, Den. Kita sudah melewati badai bersama."
Tono mengangguk. "Badai yang sangat berat. Tapi kita masih di sini. Bersama."
Laras menambahkan, "Aku tidak akan pernah melupakan semua ini. Kalian menyelamatkan hidupku."
Andre mengangkat cangkir kopinya. "Untuk persahabatan yang tidak pernah mati."
Mereka semua mengangkat cangkir. "Untuk persahabatan!"
Mereka menyesap kopi masing-masing. Suasana hangat menyelimuti meja bundar itu.
Setelah setengah jam berbincang, Raden mengajak semua orang ke luar kafe. Hujan sudah reda. Langit mulai bersih. Bintang-bintang mulai muncul satu per satu.
Raden berkata, "Aku ingin kalian semua tahu satu hal."
Mereka semua menatap Raden. Cantika bertanya, "Apa, Den?"
Raden menjawab, "Aku sudah benar-benar ikhlas. Bukan hanya kata-kata. Tapi dari hati."
Bagus menatap Raden. "Kami percaya, Den."
Raden melanjutkan, "Aku bahkan sudah mulai membuka hati untuk orang lain."
Maya terkejut. "Apa? Siapa, Den? Cerita!"
Raden tersenyum malu. "Belum, May. Masih terlalu dini untuk cerita. Tapi yang pasti, aku sudah tidak lagi terpaku pada masa lalu."
Cantika tersenyum. "Aku senang mendengarnya, Den. Kamu pantas bahagia."
Raden menjawab, "Kita semua pantas bahagia, Cantik."
Andre memukul pundak Raden. "Wah, Den, lo kalah cepat sama aku. Aku dan Maya sudah resmi, lho."
Maya memukul Andre. "Hei! Siapa yang bilang resmi?"
Andre mengerang kesakitan. "Aku... aku yang bilang."
Maya memukul lagi. "Kurang ajar!"
Mereka semua tertawa melihat tingkah Andre dan Maya.
Tono dan Laras hanya tersenyum. Tono berkata, "Mereka memang cocok. Sama-sama suka berantem."
Laras mengangguk. "Iya. Tapi mereka saling melengkapi."
Bagus meraih tangan Cantika. Mereka berdua berdiri di samping, menikmati pemandangan.
Cantika berkata, "Gus, aku bahagia. Sangat bahagia."
Bagus menjawab, "Aku juga, Cantik. Ini semua seperti mimpi."
Cantika menatap Bagus. "Bukan mimpi, Gus. Ini nyata. Dan aku bersyukur."
Mereka berdua berpelukan di bawah langit yang mulai berbintang.
Raden mendekati mereka. "Gus, Cantik, aku pamit pulang dulu. Besok aku masih ada magang pagi."
Bagus melepas pelukannya. "Hati-hati di jalan, Den."
Cantika melambai. "Sampai jumpa, Den."
Raden berjalan ke mobilnya. Sebelum masuk, ia menoleh. "Gus, jaga Cantika baik-baik."
Bagus mengangguk. "Aku akan, Den. Janji."
Raden masuk ke mobilnya dan melaju perlahan meninggalkan kafe.
Maya, Andre, Tono, dan Laras juga berpamitan satu per satu. Hanya Bagus dan Cantika yang tersisa di depan kafe.
Bagus bertanya, "Cantik, aku antar lo pulang?"
Cantika menggeleng. "Aku ingin jalan-jalan dulu, Gus. Temani aku?"
Bagus tersenyum. "Tentu, Cantik. Ke mana?"
Cantika menjawab, "Ke taman kampus. Aku kangen tempat itu."
Mereka berdua berjalan kaki menuju taman kampus. Jalanan basah karena hujan, tapi langit sudah cerah.
Taman kampus, pukul setengah sepuluh malam. Lampu-lampu taman menyala redup, menciptakan suasana yang romantis. Beberapa pasangan duduk di bangku-bangku kayu, berbincang pelan. Bagus dan Cantika memilih bangku di pojok, dekat danau buatan.
Cantika berkata, "Gus, ingat tidak pertama kali kita ke sini?"
Bagus mengangguk. "Ingat. Waktu itu kamu nangis karena puisi yang kamu baca tidak selesai."
Cantika tertawa. "Aku masih ingat betapa memalukannya saat itu. Aku berdiri di atas panggung, tiba-tiba lupa semua kata."
Bagus meraih tangan Cantika. "Tapi itu justru membuatku jatuh cinta padamu."
Cantika menatap Bagus. "Serius? Karena aku lupa puisi?"
Bagus menjawab, "Bukan karena lo lupa. Tapi karena lo tidak malu menunjukkan ketidaksempurnaan lo. Itu membuat lo nyata."
Cantika tersenyum. "Kamu selalu tahu cara membuatku merasa istimewa, Gus."
Bagus mengusap rambut Cantika. "Karena lo memang istimewa, Cantik. Sejak pertama kali aku melihat lo."
Mereka berdua terdiam, menikmati kebersamaan.
Cantika berkata, "Gus, aku ingin bertanya sesuatu."
Bagus menatap Cantika. "Tanyalah, Cantik."
Cantika menjawab, "Apakah kamu takut? Takut suatu hari nanti kita berpisah?"
Bagus menghela napas. "Aku takut, Cantik. Tapi aku tidak akan membiarkan ketakutan itu menguasai aku. Aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuk lo."
Cantika memeluk Bagus. "Aku juga akan berusaha, Gus. Untuk kamu. Untuk kita."
Mereka berdua berpelukan di bangku taman, di bawah cahaya bulan yang tersembunyi di balik awan.
Di apartemen barunya, Raden duduk di kursi empuk, memegang secangkir teh hangat. Ia tidak bisa tidur, bukan karena gelisah, tapi karena bahagia. Ia bahagia melihat Bagus dan Cantika bersama. Ia bahagia melihat Maya dan Andre yang lucu. Ia bahagia melihat Tono dan Laras yang saling melengkapi.
Ponselnya bergetar. Pesan dari seseorang yang nomornya baru ia simpan beberapa hari yang lalu. Namanya Wulan.
"Den, lo sudah tidur?"
Raden membalas. "Belum, Wulan. Masih bergulat dengan skripsi."
Wulan. "Skripsi? Bukannya lo sudah lulus?"
Raden. "Iya, sudah. Tapi aku masih suka membaca skripsi orang lain. Untuk belajar."
Wulan. "Lo memang rajin. Aku salut."
Raden tersenyum. "Bukan rajin, Wulan. Aku hanya tidak bisa tidur."
Wulan. "Kalau begitu, temani aku bicara. Aku juga tidak bisa tidur."
Raden. "Bicara tentang apa?"
Wulan. "Tentang apa saja. Tentang masa lalu. Tentang masa depan. Tentang kamu."
Raden mengetik balasan, lalu menghapusnya, lalu mengetik lagi. Ia tidak tahu harus berkata apa.
Wulan mengirim pesan lagi. "Den, aku suka sama kamu. Sejak pertama kali kita bertemu di kantor Firmansyah."
Raden terkejut. Ia tidak menyangka Wulan secepat itu mengaku.
Raden membalas. "Wulan, aku..."
Wulan memotong. "Kamu tidak perlu menjawab sekarang. Cukup tahu bahwa ada seseorang yang menyukaimu."
Raden menghela napas. Ia membalas, "Terima kasih, Wulan. Aku juga menyukaimu. Tapi aku butuh waktu. Maaf."
Wulan. "Tidak perlu minta maaf, Den. Aku akan menunggu."
Raden meletakkan ponselnya. Ia menatap langit-langit kamar. Wajah Wulan muncul di pikirannya. Perempuan itu sederhana, tidak seCantika Cantika, tapi ada ketulusan di matanya. Raden tersenyum. Mungkin ini awal yang baru. Mungkin ini saatnya untuk move on.
Ia memejamkan mata dan berusaha tidur.
Kampus, Senin pagi. Bagus dan Cantika berjalan bergandengan tangan menuju gedung fakultas sastra. Beberapa mahasiswa menoleh, beberapa tersenyum. Tidak ada lagi gosip. Tidak ada lagi ketakutan. Vino sudah tidak ada.
Maya dan Andre menyusul dari belakang. Maya memakai jaket Andre karena kedinginan. Andre menggigil karena jaketnya diambil paksa.
Andre mengeluh, "May, jaketku cuma satu. Lo tega lihat aku kedinginan?"
Maya menjawab, "Kamu tega lihat aku kedinginan?"
Andre menghela napas. "Baiklah. Pakai saja. Aku akan bertahan."
Maya tersenyum. "Itu baru namanya gentleman."
Mereka semua tertawa.
Tono dan Laras berjalan di belakang mereka. Tono memegang laptopnya, seperti biasa. Laras memegang buku catatan.
Tono bertanya, "Lar, skripsi lo sudah sampai bab berapa?"
Laras menjawab, "Bab empat, Ton. Masih lama."
Tono mengangguk. "Aku juga bab empat. Kita bisa bimbingan bersama."
Laras tersenyum. "Aku setuju, Ton."
Mereka berempat masuk ke gedung fakultas sastra. Bagus dan Cantika berpisah di depan pintu. Bagus mencium kening Cantika.
Bagus berkata, "Semangat kuliahnya, Cantik."
Cantika menjawab, "Kamu juga, Gus. Jangan lupa makan siang."
Bagus tersenyum. "Aku tidak akan lupa. Aku janji."
Mereka berdua berjalan ke kelas masing-masing.
BAB 29: Menatap Masa Depan Tanpa Beban
Tiga bulan setelah pertemuan di Kafe Biru Langit, kehidupan semua orang berjalan seperti air sungai yang mengalir tenang. Tidak ada lagi badai. Tidak ada lagi teror. Vino masih menjalani rehabilitasi di Bandung dan kabarnya menunjukkan kemajuan yang signifikan. Cantika dan Bagus semakin serius menjalin hubungan. Mereka bahkan sudah mulai membicarakan tentang masa depan yang lebih jauh. Raden semakin dekat dengan Wulan, perempuan yang ia temui di kantor Firmansyah. Maya dan Andre sudah tidak bisa dipisahkan, meskipun setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele. Tono dan Laras juga semakin akrab, saling mendukung dalam menyelesaikan skripsi. Dan hari ini, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, mereka semua berkumpul tanpa beban. Beban telah berlalu. Yang tersisa hanyalah persahabatan yang lebih kuat dari sebelumnya.
Apartemen Bagus, Minggu pagi. Matahari bersinar cerah, menembus celah-celah tirai jendela. Bagus bangun lebih awal dari biasanya. Ia mandi, merapikan kamar, lalu mulai memasak untuk sarapan bersama. Hari ini, semua orang akan datang ke apartemennya. Bukan karena ada masalah. Bukan karena ada bahaya. Tapi hanya untuk berkumpul, seperti keluarga.
Pintu apartemen terbuka. Raden masuk dengan senyum lebar. Di belakangnya, seorang perempuan berambut panjang sebahu, berkulit putih, dengan senyum yang ramah. Itu Wulan.
Raden berkata, "Gus, ini Wulan. Pacarku."
Bagus terkejut, lalu tersenyum. "Wah, akhirnya diperkenalkan juga. Masuk, Masuk."
Wulan menjabat tangan Bagus. "Senang berkenalan, Gus. Raden sering cerita tentang kamu."
Bagus menjawab, "Cerita apa? Cerita buruk, pasti."
Raden tertawa. "Cerita baik, Gus. Tentang bagaimana kamu menyelamatkan hidupku."
Wulan mengangguk. "Raden bilang kamu adalah sahabat terbaik yang pernah dia miliki."
Bagus tersenyum malu. "Raden melebih-lebihkan. Ayo duduk. Sarapan sebentar lagi siap."
Pintu apartemen terbuka lagi. Masuklah Maya dan Andre. Maya menggandeng tangan Andre, meskipun mulutnya sedang memarahi Andre karena sesuatu.
Maya berkata, "Andre, aku bilang jangan pakai sepatu itu! Warna biru? Jelek!"
Andre menjawab, "Ini biru navy, May. Warna keren."
Maya mendengus. "Keren untuk ukuran kakek-kakek."
Mereka melihat Raden dan Wulan. Maya berhenti sejenak. "Wah, ada tamu baru?"
Raden memperkenalkan, "May, And, ini Wulan. Pacarku."
Maya berteriak, "Akhirnya! Aku sudah dengar kabar dari Den, tapi belum pernah lihat langsung. Cantika sekali, Wulan!"
Wulan tersenyum malu. "Terima kasih, May. Raden juga bilang kamu Cantika dan baik."
Maya memukul lengan Raden. "Den, kamu bilang aku baik? Wah, mati-matian."
Andre menggeleng-gelengkan kepala. "Kalau May baik, aku Presiden."
Maya memukul Andre. "Diam!"
Mereka semua tertawa.
Pintu apartemen terbuka lagi. Masuklah Tono dan Laras. Tono memegang laptopnya, Laras memegang buku catatan.
Tono berkata, "Maaf, kami terlambat. Laras mampir ke perpustakaan dulu."
Laras menambahkan, "Cuma sebentar. Ambil buku referensi untuk skripsi."
Mata Wulan tertuju pada Tono dan Laras. Raden memperkenalkan, "Wulan, ini Tono dan Laras. Teman baikku. Mereka juga pasangan."
Laras tersipu. "Belum resmi, Den."
Tono menambahkan, "Masih proses."
Maya tertawa. "Proses yang lama, Ton. Sudah berbulan-bulan."
Tono menjawab, "Proses yang matang, May. Tidak perlu terburu-buru."
Bagus keluar dari dapur dengan nampan berisi nasi goreng, telur dadar, dan roti bakar. "Sarapan sudah siap. Ayo pada duduk."
Mereka semua duduk di meja makan. Meja yang dulu hanya untuk tiga orang, sekarang penuh dengan delapan orang. Suasana hangat, penuh tawa.
Di tengah sarapan, Maya bertanya pada Wulan. "Wulan, kamu kerja di mana? Kok bisa ketemu Raden?"
Wulan menjawab, "Aku magang di kantor Firmansyah juga. Raden satu tim denganku. Kita sering lembur bareng. Lama-lama jadi dekat."
Andre bersiul. "Lembur bareng? Romantis sekali."
Raden menendang kaki Andre di bawah meja. "Diam, And."
Maya bertanya lagi, "Wulan, kamu suka Raden karena apa?"
Wulan menatap Raden. "Dia baik. Dia perhatian. Dia tidak pernah mengeluh meskipun pekerjaannya berat. Dia selalu tersenyum."
Raden tersenyum malu. "Itu karena Wulan yang membuatku tersenyum."
Maya bertepuk tangan. "Wah, jomblo nih aku. Ciuman udara."
Andre mencubit Maya. "Lo punya aku, May."
Maya menjawab, "Kamu belum resmi, And."
Andre berkata, "Ya sudah, mulai sekarang kita resmi."
Maya memukul Andre. "Siapa yang minta?"
Mereka semua tertawa.
Cantika yang selama ini diam akhirnya angkat bicara. "Wulan, aku senang Raden menemukan seseorang seperti kamu."
Wulan menatap Cantika. "Kamu Cantik, ya? Raden sering cerita tentang kamu."
Cantika bertanya, "Cerita apa? Cerita buruk?"
Wulan menggeleng. "Cerita baik. Tentang bagaimana kamu kuat. Tentang bagaimana kamu bertahan. Tentang bagaimana kamu memilih Bagus."
Raden menambahkan, "Aku cerita semuanya, Wulan. Aku tidak mau ada rahasia."
Wulan mengangguk. "Aku tahu semuanya. Dan itu membuatku semakin menghormati kalian semua."
Bagus meraih tangan Cantika. "Kita semua sudah melewati masa-masa sulit. Sekarang saatnya menikmati kebahagiaan."
Maya mengangkat gelasnya. "Untuk masa depan. Tanpa beban. Tanpa Vino."
Mereka semua mengangkat gelas. "Untuk masa depan!"
Setelah sarapan, mereka pindah ke ruang tamu. Tono membuka laptopnya untuk menunjukkan proyek skripsinya. Laras membantu menerjemahkan istilah-istilah asing. Andre dan Maya bermain catur, tapi lebih banyak bertengkar daripada bermain. Bagus dan Cantika duduk di sofa, membaca buku bersama. Raden dan Wulan duduk di balkon, berbincang pelan.
Raden berkata, "Wulan, terima kasih sudah datang. Aku senang kamu mau bertemu teman-temanku."
Wulan menjawab, "Aku juga senang, Den. Mereka semua baik. Ramah. Tidak ada yang sombong."
Raden mengangguk. "Mereka keluarga bagiku. Keluarga yang menyelamatkan hidupku."
Wulan meraih tangan Raden. "Aku akan selalu ada untukmu, Den. Apapun yang terjadi."
Raden menatap Wulan. "Janji?"
Wulan mengangguk. "Janji."
Mereka berdua berpelukan di balkon, di bawah langit Jakarta yang cerah.
Dari dalam, Maya mengamati mereka. "Wah, Raden mesra banget."
Andre mencolek Maya. "Lo cemburu?"
Maya menjawab, "Aku tidak cemburu. Aku bahagia."
Andre memeluk Maya. "Aku juga bahagia."
Maya memukul Andre. "Jangan peluk-peluk di depan umum, And. Malu."
Andre mengeluh. "Lo yang aneh, May."
Mereka semua tertawa.
Sore harinya, semua orang pamit pulang satu per satu. Raden dan Wulan pulang bersama. Maya dan Andre pulang bersama meskipun mereka tinggal berjauhan. Tono dan Laras pulang bersama, masih asyik membahas skripsi. Hanya Bagus dan Cantika yang tersisa di apartemen.
Cantika berkata, "Gus, hari ini menyenangkan. Aku bahagia melihat Raden tersenyum lagi."
Bagus mengangguk. "Aku juga, Cantik. Wulan orang baik. Raden beruntung."
Cantika memeluk Bagus. "Kita juga beruntung, Gus. Kita punya satu sama lain."
Bagus membalas pelukan Cantika. "Dan kita punya mereka. Maya, Andre, Tono, Laras, Raden. Kita punya keluarga."
Cantika menatap Bagus. "Gus, aku ingin bertanya sesuatu."
Bagus bertanya, "Apa, Cantik?"
Cantika menjawab, "Apakah kamu bahagia dengan pilihanmu? Dengan memilihku?"
Bagus menatap Cantika dalam-dalam. "Cantik, setiap hari aku bersyukur. Setiap hari aku berterima kasih pada Tuhan karena kamu hadir dalam hidupku. Kamu membuatku menjadi pribadi yang lebih baik. Kamu membuatku percaya bahwa cinta itu nyata."
Cantika menangis. "Kamu juga membuatku percaya, Gus."
Bagus mengusap air mata Cantika. "Jangan menangis, Cantik. Ini hari bahagia."
Cantika tersenyum. "Iya. Ini hari bahagia."
Mereka berdua berpelukan di ruang tamu, di bawah lampu yang mulai redup karena sore berganti malam.
Di perjalanan pulang, Raden dan Wulan berhenti di Kafe Biru Langit. Mereka duduk di meja bundar favorit yang dulu sering ditempati Bagus, Raden, dan Cantika.
Wulan bertanya, "Den, ini kafe yang sering kamu ceritakan?"
Raden mengangguk. "Iya. Tempat ini saksi bisu perjalanan hidupku. Dari suka, duka, jatuh, bangun lagi."
Wulan menatap Raden. "Dan sekarang kamu duduk di sini denganku."
Raden tersenyum. "Iya. Aku bersyukur."
Wulan meraih tangan Raden. "Aku juga bersyukur, Den. Bersyukur bertemu denganmu."
Raden mencium tangan Wulan. "Terima kasih sudah mau menerima aku, Wulan. Dengan segala kekuranganku."
Wulan menjawab, "Kekuranganmu membuatmu manusiawi, Den. Dan aku suka itu."
Mereka berdua menikmati kopi di kafe yang sunyi. Hanya ada mereka berdua dan Pak Darmo yang tersenyum dari balik meja bar.
Pak Darmo berkata, "Nak Raden, saya lihat kamu bahagia."
Raden mengangguk. "Iya, Pak. Ini Wulan, pacar saya."
Pak Darmo tersenyum. "Wajahnya cantik. Matanya jujur. Kamu beruntung."
Raden menjawab, "Terima kasih, Pak."
Pak Darmo berjalan ke meja mereka. "Saya ingin kalian tahu sesuatu."
Raden dan Wulan menatap Pak Darmo.
Pak Darmo melanjutkan, "Hidup itu seperti kopi. Pahit itu pasti. Tapi setelah pahit, akan ada rasa yang lebih dalam. Rasa yang tidak bisa dirasakan jika kita hanya minum kopi manis sepanjang waktu."
Wulan mengangguk. "Itu filosofi yang dalam, Pak."
Pak Darmo tersenyum. "Saya sudah tua. Saya sudah banyak mengalami pahit dan manisnya hidup. Dan saya bisa bilang, kalian semua akan baik-baik saja."
Raden berdiri dan memeluk Pak Darmo. "Terima kasih, Pak. Untuk semuanya."
Pak Darmo membalas pelukan Raden. "Sama-sama, Nak. Sama-sama."
Mereka bertiga tersenyum. Di balik jendela kafe, bintang-bintang mulai muncul satu per satu.
BAB 30: Kala Bintang Tak Lagi Menanti Fajar
Dua tahun setelah pertemuan terakhir mereka di apartemen Bagus, kehidupan semua orang berubah drastis. Bagus dan Cantika kini sudah menikah dan tinggal di rumah sederhana di kawasan Jakarta Selatan. Raden menjadi pengacara muda yang sukses dengan kantor hukumnya sendiri. Wulan menjadi pendamping setia yang selalu menemani Raden dalam suka dan duka. Maya dan Andre akhirnya resmi menikah setelah Andre melamar Maya di atas panggung teater kampus. Tono dan Laras juga mengikuti jejak mereka, menikah dalam sebuah upacara sederhana namun khidmat. Vino, setelah dua tahun menjalani rehabilitasi di Bandung, dinyatakan sembuh dan kembali ke Jakarta untuk memulai hidup baru. Ia bahkan sempat datang meminta maaf pada Bagus, Raden, dan Cantika. Maaf yang tulus. Dan mereka memaafkannya. Karena mereka tahu, semua orang pantas mendapatkan kesempatan kedua.
Kafe Biru Langit, Jumat malam. Hujan tidak turun, tapi angin malam berhembus sejuk. Lampu-lampu temaram berwarna kuning masih sama seperti delapan belas tahun lalu. Meja bundar dari kayu jati tua masih setia di tempatnya. Pak Darmo masih tersenyum dari balik meja bar, meskipun rambutnya hampir seluruhnya putih. Hari ini, semua orang berkumpul. Bukan karena ada masalah. Bukan karena ada yang perlu diselesaikan. Tapi karena mereka rindu. Rindu pada masa-masa ketika mereka masih muda, masih berjuang, masih belajar tentang cinta dan keikhlasan.
Bagus datang dengan Cantika. Cantika kini mengenakan jepit rambut kupu-kupu yang sama, meskipun sudah agak lusuh karena usia. Bagus menggandeng tangannya dengan lembut, seperti biasa. Mereka duduk di kursi hadapan meja bundar.
Raden datang dengan Wulan. Wulan tersenyum ramah pada semua orang. Raden duduk di kursi sebelah Bagus, seperti biasa.
Maya dan Andre datang bersama. Andre memegang tangan Maya, meskipun Maya masih sempat memarahi Andre karena sepatunya yang dianggap jelek.
Tono dan Laras datang paling akhir. Laras membawa buku catatan, Tono membawa laptop kesayangannya.
Mereka bertujuh duduk di meja bundar. Delapan tahun yang lalu, meja ini hanya untuk tiga orang. Kini, untuk tujuh orang. Dan semuanya adalah keluarga.
Pak Darmo mendekati meja mereka. "Saya sudah menyiapkan kopi spesial untuk kalian semua. Resep rahasia yang tidak saya berikan ke siapa pun."
Maya bertanya, "Resep rahasia apa, Pak? Boleh tahu?"
Pak Darmo tersenyum. "Resep kebahagiaan, Nak. Bahan utamanya adalah ketulusan."
Mereka semua tertawa.
Bagus mengangkat cangkir kopinya. "Teman-teman, dua tahun sudah kita tidak berkumpul seperti ini. Aku merindukan kalian."
Raden mengangguk. "Aku juga, Gus. Aku juga."
Cantika menambahkan, "Hari ini spesial. Bukan hanya karena kita berkumpul. Tapi karena aku dan Bagus ingin mengumumkan sesuatu."
Mereka semua menatap Cantika. Maya bertanya, "Apa, Cantik? Jangan-jangan..."
Cantika tersenyum. "Iya, May. Aku hamil. Sudah masuk bulan keempat."
Maya berteriak. "ASTAGA! Cantik, lo hamil? Kenapa tidak bilang dari dulu?"
Andre memeluk Bagus. "Gus, selamat! Lo akan jadi ayah!"
Bagus tersenyum lebar. "Terima kasih, And. Aku sendiri masih tidak percaya."
Raden berdiri dan memeluk Cantika. "Selamat, Cantik. Aku bahagia untuk kalian."
Cantika membalas pelukan Raden. "Terima kasih, Den."
Wulan juga memeluk Cantika. "Selamat, Cantik. Semoga bayi kalian sehat dan cerdas."
Tono dan Laras ikut memberi selamat. Suasana kafe menjadi ramai. Pak Darmo tersenyum dari kejauhan.
Setelah semua tenang, Raden angkat bicara. "Aku juga ingin mengumumkan sesuatu."
Maya bertanya, "Apa, Den? Lo juga hamil?"
Raden tertawa. "Bukan, May. Aku... Wulan dan aku akan menikah bulan depan."
Maya berteriak lagi. "APA? Lo mau nikah? Kenapa tidak bilang dari dulu?"
Wulan menjawab, "Baru diputuskan minggu lalu, May. Raden sengaja menyimpannya untuk acara kumpul-kumpul ini."
Andre memeluk Raden. "Selamat, Den! Lo akhirnya move on!"
Raden memukul pundak Andre. "Sudah lama move on, And. Lambat lo sadar."
Mereka semua tertawa.
Cantika memeluk Wulan. "Selamat, Wulan. Kamu beruntung mendapatkan Raden."
Wulan menjawab, "Aku yang beruntung, Cantik. Raden lelaki baik."
Raden tersipu.
Maya bertanya, "Tono, Lar, kapan kalian menyusul?"
Tono dan Laras saling pandang. Tono menjawab, "Kami masih fokus pada karier, May. Pernikahan bisa nanti."
Laras mengangguk. "Iya. Tidak perlu terburu-buru."
Maya menghela napas. "Kalian ini lambat sekali."
Andre memeluk Maya. "Yang penting kita sudah menikah, May. Orang lain terserah."
Maya memukul Andre. "Kamu jangan sombong."
Mereka semua tertawa.
Tengah malam, satu per satu mulai pulang. Maya dan Andre pulang lebih dulu karena Maya mengantuk. Tono dan Laras menyusul karena Laras harus menyelesaikan skripsinya. Wulan pamit karena ada rapat besok pagi. Raden mengantarkan Wulan pulang. Hanya Bagus, Cantika, dan Raden yang tersisa. Tiga sahabat yang memulai segalanya, kini duduk di meja yang sama, di kafe yang sama, di bawah lampu yang sama.
Raden bertanya, "Gus, Cantik, apa kalian ingat pertama kali kita duduk di meja ini?"
Cantika mengangguk. "Aku ingat, Den. Waktu itu hujan deras. Kita bertiga. Kopi kita dingin, tapi tawa kita hangat."
Bagus menambahkan, "Aku ingat, Den. Waktu itu aku masih diam-diam mencintai Cantik."
Raden tersenyum. "Aku juga, Gus. Aku juga diam-diam mencintai Cantik."
Cantika meraih tangan Bagus dan Raden. "Dan sekarang kalian berdua sudah ikhlas?"
Raden mengangguk. "Aku sudah ikhlas, Cantik. Sejak lama."
Bagus menjawab, "Aku juga ikhlas. Ikhlas memiliki Cantik. Ikhlas menjadi suaminya."
Cantika menangis. "Aku bersyukur memiliki kalian berdua."
Raden mengelap air mata Cantika. "Jangan menangis, Cantik. Ini hari bahagia."
Bagus memeluk Cantika. "Iya, Cantik. Ini hari bahagia."
Mereka bertiga berpelukan di meja bundar itu. Di balik jendela kafe, bintang-bintang mulai muncul satu per satu.
Pak Darmo berjalan mendekati meja mereka. "Nak, saya ingin kalian tahu sesuatu."
Mereka bertiga menatap Pak Darmo.
Pak Darmo melanjutkan, "Saya sudah melihat perjalanan kalian dari awal. Dari tawa, tangis, marah, kecewa, hingga ikhlas. Kalian adalah pelanggan terbaik yang pernah saya miliki."
Raden tersenyum. "Terima kasih, Pak. Kafe ini adalah rumah kedua bagi kami."
Pak Darmo mengangguk. "Dan rumah ini akan selalu terbuka untuk kalian. Kapan saja."
Bagus berdiri dan memeluk Pak Darmo. "Terima kasih, Pak. Untuk kopinya. Untuk nasihatnya. Untuk semuanya."
Pak Darmo membalas pelukan Bagus. "Sama-sama, Nak. Sama-sama."
Mereka semua tersenyum.
Pukul satu dini hari, Bagus, Cantika, dan Raden pamit pulang. Mereka berjalan kaki ke tempat parkir, ditemani angin malam yang sejuk.
Raden berkata, "Gus, aku titip Cantik. Jaga dia dan bayi kalian."
Bagus mengangguk. "Aku akan, Den. Janji."
Cantika memeluk Raden. "Den, jaga diri. Jangan terlalu keras pada diri sendiri."
Raden membalas pelukan Cantika. "Aku akan, Cantik. Kamu juga."
Mereka bertiga berpisah di parkiran. Raden masuk ke mobilnya dan melaju perlahan. Bagus dan Cantika masuk ke mobil mereka. Cantika menatap Bagus.
"Gus, aku bahagia," kata Cantika.
Bagus tersenyum. "Aku juga, Cantik. Sangat bahagia."
Mereka berdua melaju meninggalkan kafe, menuju rumah mereka yang hangat.
EPILOG
Tiga puluh tahun kemudian. Langit Jakarta tidak lagi segelap dulu. Polusi cahaya semakin terang, tapi bintang-bintang masih setia muncul setiap malam. Di sebuah rumah sederhana di kawasan Jakarta Selatan, seorang lelaki tua berusia lima puluh delapan tahun duduk di teras. Rambutnya sudah putih di pelipis, wajahnya keriput, tapi matanya masih teduh seperti dulu. Itu Bagus. Di sampingnya, seorang perempuan tua dengan jepit rambut kupu-kupu yang sudah sangat lusuh. Itu Cantika. Mereka sudah tua. Anak-anak mereka sudah dewasa dan hidup mandiri. Hanya mereka berdua yang tersisa di rumah itu.
Bagus berkata, "Cantik, lihat. Bintang-bintang mulai muncul."
Cantika menatap langit. "Iya, Gus. Indah sekali."
Bagus meraih tangan Cantika. "Cantik, aku ingin bertanya sesuatu."
Cantika menatap Bagus. "Apa, Gus?"
Bagus menjawab, "Apakah kamu bahagia? Bahagia memilihku?"
Cantika tersenyum. "Setiap hari, Gus. Setiap hari aku bersyukur memilihmu."
Bagus mencium kening Cantika. "Aku juga, Cantik. Setiap hari aku Bersyukur memiliki kamu."
Mereka berdua terdiam, menikmati malam yang tenang.
Tidak jauh dari rumah mereka, di sebuah apartemen mewah, Raden duduk di kursi empuk. Wulan di sampingnya, memegang secangkir teh hangat. Mereka sudah tua, tapi cinta mereka masih muda.
Wulan bertanya, "Den, apa yang kamu pikirkan?"
Raden menjawab, "Aku memikirkan masa lalu, Wulan. Tentang Bagus. Tentang Cantik. Tentang perjalanan hidup kita."
Wulan tersenyum. "Apakah kamu menyesal, Den?"
Raden menggeleng. "Tidak, Wulan. Aku tidak menyesal. Semua yang terjadi dulu membawaku padamu. Dan itu adalah hal terbaik yang pernah terjadi."
Wulan memeluk Raden. "Aku juga, Den. Aku bersyukur."
Mereka berdua berpelukan di ruang tamu yang hangat.
Di rumah Maya dan Andre, suasana berbeda. Andre masih saja membuat Maya kesal. Kali ini, Andre lupa membeli roti untuk sarapan.
Maya berteriak, "Andre! Sudah berapa kali aku bilang, beli roti! Kamu tidak pernah ingat!"
Andre menjawab dengan tenang, "Maaf, May. Aku lupa."
Maya mendengus. "Kamu selalu lupa! Apa hanya aku yang ada di pikiranmu?"
Andre tersenyum. "Iya, May. Hanya kamu."
Maya terdiam, lalu tersenyum. "Kamu ini... tidak bisa marah-marah."
Andre memeluk Maya. "Karena aku sayang kamu, May. Apapun yang terjadi."
Maya memukul dada Andre. "Aku juga sayang kamu, And. Tapi jangan lupa beli roti lagi."
Andre tertawa. "Baik, May. Aku janji."
Di rumah Tono dan Laras, suasana lebih tenang. Tono masih setia dengan laptopnya. Laras dengan buku catatannya. Mereka sudah tua, tapi kecintaan mereka pada ilmu pengetahuan tidak pernah pudar.
Laras bertanya, "Ton, apa yang kamu kerjakan?"
Tono menjawab, "Aku sedang menulis memoar. Tentang perjalanan hidup kita. Tentang Vino. Tentang persahabatan. Tentang keikhlasan."
Laras tersenyum. "Bagus, Ton. Aku akan membacanya."
Tono menatap Laras. "Kamu adalah inspirasiku, Lar."
Laras tersipu. "Ah, elu, Ton. Bisa-bisa aja."
Mereka berdua tertawa kecil.
Di sebuah vila di pinggiran Jakarta, Vino duduk di kursi roda. Wajahnya sudah tua, rambutnya putih semua. Tubuhnya lemah karena sakit. Tapi matanya masih sama. Matanya masih tajam.
Seorang perawat mendekat. "Pak Vino, ada tamu."
Vino menoleh. Bagus, Raden, dan Cantika berdiri di depan pintu. Mereka bertiga tersenyum.
Vino berkata dengan suara lemah, "Kalian datang?"
Bagus mengangguk. "Iya, Vin. Kami datang untuk menjengukmu."
Vino menunduk. "Maaf... maafkan aku. Untuk semuanya."
Cantika mendekat. "Kami sudah memaafkanmu, Vin. Sejak lama."
Vino menangis. "Aku tidak pantas mendapatkan kebaikan kalian."
Raden menjawab, "Semua orang pantas mendapatkan kesempatan kedua, Vin. Termasuk kamu."
Vino mengusap air matanya. "Terima kasih. Terima kasih untuk semuanya."
Bagus meraih tangan Vino. "Kamu sudah berubah, Vin. Kami melihatnya."
Vino tersenyum. "Aku berubah karena kalian. Karena kalian tidak pernah berhenti percaya padaku."
Mereka berempat duduk di teras vila, menikmati sore yang cerah.
Kata Penutup dari Penulis:
Kala bintang tak lagi menanti fajar, bukan berarti mereka berhenti bersinar. Mereka hanya belajar bahwa bersinar tidak perlu diiringi kehadiran fajar. Cukup bersinar untuk diri sendiri. Cukup bersinar untuk orang-orang yang mencintai kita.
Bagus, Raden, dan Cantika. Tiga sahabat yang dipertemukan oleh takdir, diuji oleh cinta dan pengkhianatan, dan akhirnya menemukan arti sejati dari persahabatan dan keikhlasan.
Mereka mengajarkan kita bahwa cinta bukan tentang siapa yang lebih dulu datang, tapi tentang siapa yang tulus saat hadir.
Mereka mengajarkan kita bahwa persahabatan sejati tidak diukur dari seberapa sering kita bersama, tapi dari seberapa kuat kita bertahan ketika badai menerjang.
Mereka mengajarkan kita bahwa keikhlasan bukanlah kehilangan, tapi justru kemenangan tertinggi dari sebuah cinta.
Karena pada akhirnya, ketika bintang-bintang lelah menanti fajar, mereka tidak mati. Mereka hanya berubah menjadi cahaya yang lebih tenang. Cahaya yang tidak perlu diakui. Cahaya yang abadi.
TAMAT



Slamet Riyadi
29 Juli 2025 03:27:50
Semoga kita bisa kerjasama bu. ...