Desa Dabulon
Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan
SENJA TERAKHIR UNTUK SINOK

SENJA TERAKHIR UNTUK SINOK
Sebuah Roman Epik Tentang Cinta yang Tak Lapuk Dimakan Zaman, Kesenjangan yang Membunuh Perlahan, dan Puisi yang Ditulis di Atas Luka
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Novel ini adalah karya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan peristiwa yang diceritakan merupakan hasil imajinasi penulis.
Kesamaan dengan nama, tempat, atau peristiwa tertentu di dunia nyata hanyalah kebetulan belaka.
Novel ini mengandung adegan kekerasan fisik dan psikologis, serta eksploitasi pekerja perempuan. Tidak direkomendasikan untuk pembaca di bawah usia 17 tahun.
Penulis tidak memihak pada kekerasan apa pun yang digambarkan. Segala bentuk kekerasan dalam cerita ini semata-mata untuk menunjukkan realitas sosial yang masih terjadi di berbagai wilayah Indonesia.
PROLOG
Kisah Ini Bukan Tentang Kematian, Tapi Tentang Senja yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi
Marunda, 14 Maret 2024
Seorang laki-laki tua duduk di depan meja kayu lapuk.
Meja itu hanya sebesar papan setengah meter. Di atasnya berserakan kertas-kertas lusuh, beberapa sobekan karung goni yang ditulisi dengan spidol merah, dan sebuah lampu minyak tanah meskipun di luar masih terang.
Laki-laki itu menulis.
Tangannya gemetar. Bukan karena dingin. Bukan pula karena sakit—meski nyeri di dada kirinya kadang-kadang menusuk seperti ada yang meremas jantungnya pelan-pelan.
Ia menulis dengan huruf-huruf yang miring ke kanan, kadang terputus-putus, seperti orang yang sedang berlari sambil menulis.
Di luar gubuknya, langit mulai berwarna jingga.
Senja akan tiba.
Laki-laki itu berhenti menulis sejenak. Ia menatap ke luar jendela yang tidak berkaca. Hanya lubang persegi yang ditutup kain perca. Dari celah itu, ia bisa melihat perahu-perahu nelayan yang mulai berlabuh.
Seekor burung camar hinggap di tiang jemuran.
Ia menarik napas panjang.
Kemudian ia menulis lagi.
"Kau masih menulis, Pak?"
Sebuah suara perempuan datang dari balik pintu.
Laki-laki itu menoleh.
Seorang perempuan muda berdiri di ambang pintu. Wajahnya bulat, rambutnya diikat ke belakang. Ia memakai baju kaos longgar dan celana jeans. Di tangannya ada bungkusan plastik berisi nasi bungkus.
"Clarissa," kata laki-laki itu lirih. "Aku belum selesai."
Dokter Clarissa masuk tanpa diundang. Ia meletakkan bungkusan plastik di sudut meja, kemudian menarik sebuah kursi bambu yang bersandar di dinding.
"Kamu belum makan sejak kemarin," kata Clarissa. "Itu tidak baik untuk jantungmu."
"Jantungku sudah tidak baik sejak dua puluh enam tahun lalu," jawab laki-laki itu. "Jadi tidak masalah."
Clarissa menghela napas. Ia mengambil salah satu kertas yang berserakan di meja, lalu membacanya.
Mata Clarissa menyipit.
"Ini... ini tentang Sinok?"
Laki-laki itu tidak menjawab. Ia kembali menulis.
"Raga," panggil Clarissa dengan suara lebih lembut. "Kau tidak perlu menulis semua ini. Aku bisa..."
"Kau tidak bisa," potong Raga—karena laki-laki tua itu bernama Raga. "Kau tidak bisa menulis apa yang hanya aku yang tahu."
Clarissa menurunkan kertas itu perlahan.
"Kau tahu," kata Raga tanpa menoleh, "Sinok dulu buta huruf. Tidak bisa baca satu huruf pun. Tapi dia hafal puisi Chairil Anwar di luar kepala. Dia mendengarnya dari radio tetangga."
Clarissa diam.
"Aku kira dia orang yang paling malang di dunia," lanjut Raga. "Ternyata bukan. Aku yang malang. Karena aku bisa membaca dan menulis, tapi selama dua puluh enam tahun aku tidak pernah menulis satu puisi pun yang layak untuknya."
Clarissa menarik napas. "Itu tidak benar."
"Biarkan aku menyelesaikan ini, Clarissa," kata Raga. "Sebelum senja benar-benar pergi."
Clarissa menatap jendela. Langit di luar mulai berubah dari jingga menjadi merah tua.
"Baiklah," kata Clarissa akhirnya. "Aku akan menunggu di luar. Tapi janji, setelah ini kau makan."
Raga tidak menjawab.
Clarissa berdiri, berjalan ke pintu, lalu berhenti.
"Raga."
"Ya?"
"Apa kau tidak takut?"
Raga berhenti menulis. Ia menatap Clarissa dengan mata yang sayu—mata yang sudah kehilangan kilau masa muda, tapi masih menyimpan api kecil di sudut-sudutnya.
"Aku sudah kehilangan segalanya, Clarissa. Termasuk rasa takut."
Clarissa mengangguk pelan, lalu keluar.
Raga sendirian lagi.
Ia memandangi apa yang baru saja ditulisnya:
"Saya bertemu Sinok pertama kali 26 tahun lalu, di gang sempit yang becek setelah hujan. Saya pingsan di depannya—bukan karena cinta, tapi karena kehabisan darah setelah dihajar aparat saat demonstrasi..."
Raga tersenyum pahit.
"Itu bukan pertemuan yang romantis, Sinok," bisiknya pada angin. "Tapi itu satu-satunya pertemuan yang membuat hidupku berarti."
Ia melanjutkan menulis.
Di luar gubuk, Clarissa duduk di atas batu besar sambil memegang ponselnya.
Ia membuka galeri foto.
Ada satu foto lama—sangat lama—yang ia simpan di folder khusus. Foto itu buram, tampak diambil dari kamera ponsel jadul. Tapi isinya jelas.
Seorang perempuan muda berdiri di tepi pantai. Rambutnya panjang tergerai. Ia tersenyum lebar meskipun bibirnya tampak pecah-pecah. Di belakangnya, langit berwarna jingga keemasan.
Di sisi kanan foto, seorang laki-laki muda memegang tangan perempuan itu.
Laki-laki itu adalah Raga.
Dan perempuan itu adalah Sinok.
Clarissa memejamkan mata.
"Ibu," bisiknya pelan. "Aku akan membawamu pulang."
Kembali ke dalam gubuk.
Raga sudah menulis beberapa halaman. Keringat mengucur di pelipisnya.
Ia tidak peduli.
Ia hanya terus menulis.
"Nama aslinya Siti Nur Khodijah. Tapi saya tak pernah memanggilnya begitu. Begitu pula orang-orang di kampung ini. Mereka memanggilnya Sinok karena sejak kecil ia tersenyum bahkan saat bibirnya pecah-pecah..."
Tiba-tiba Raga berhenti.
Pena di tangannya jatuh.
Ia menekan dada kirinya.
Nyeri itu datang lagi—kali ini lebih keras.
"Belum," bisiknya. "Belum waktunya. Aku belum selesai."
Ia memaksa dirinya mengambil pena kembali.
Tapi tangannya sudah tidak kuat menggenggam.
Raga memandang langit di luar jendela.
Senja.
Benar-benar senja.
Jingga terakhir memudar menjadi abu-abu.
Raga tersenyum.
"Sinok," bisiknya. "Aku akan segera menyusul."
Ia menulis satu baris terakhir dengan sisa tenaganya:
"Ini adalah catatan terakhir saya. Bukan otobiografi. Bukan novel. Ini adalah puisi terpanjang yang pernah saya tulis, dengan Sinok sebagai satu-satunya kata yang saya tahu."
Kemudian Raga meletakkan kepalanya di atas meja.
Matanya terpejam.
Pena di tangannya tergelincir ke lantai dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Di luar, Clarissa masih menunggu.
Ia tidak tahu bahwa di dalam gubuk, senja terakhir untuk Sinok baru saja usai.
BAB 1
Gang Sempit yang Tak Pernah Kering
Jakarta Utara, 14 Mei 1998
Pukul 21.30 WIB
Hujan turun seperti ada yang merobek langit.
Seorang pemuda berlari di antara gang-gang sempit Tanjung Priok. Jaket jeansnya basah kuyup. Bukan hanya oleh air hujan, tapi juga oleh darah yang mengalir dari pelipis kanannya. Kakinya terhuyung seperti orang mabuk, tapi ia terus berlari. Tidak berhenti. Tidak bisa berhenti.
Di belakangnya, suara sirine polisi masih terdengar meskipun sudah semakin jauh.
Pemuda itu menabrak sebuah tumpukan kardus basah. Ia jatuh. Lumpur hitam bercampur minyak tanah membasahi seluruh pakaiannya. Ia merangkak, mencoba berdiri, tapi tubuhnya sudah tidak kuat.
"Kutukan," bisiknya pelan. "Aku tidak akan mati di sini."
Ia memaksakan diri berdiri. Dinding-dinding rumah papan di kanan kirinya tampak seperti hutan beton yang sempit dan lembab. Lampu minyak dari celah-celah dinding menjadi satu-satunya penerang. Bau ikan asin dan air comberan menyatu menjadi satu aroma yang hanya bisa ditemukan di kampung nelayan.
Pemuda itu berhenti di depan sebuah gubuk yang paling ujung. Atapnya dari seng bocor. Dindingnya hanya anyaman bambu yang sudah menghitam karena usia.
Dia tidak tahu kenapa kakinya berhenti di sini.
Dia tidak tahu kenapa dia mengetuk pintu yang bahkan bukan pintu—hanya selembar triplek yang digantung dengan tali rafia.
Tok. Tok. Tok.
Tidak ada jawaban.
Tok. Tok. Tok.
Masih tidak ada jawaban.
Pemuda itu hendah berpaling, tapi kakinya lemas. Ia jatuh tersungkur di depan ambang pintu. Wajahnya membentur tanah becek. Pelipisnya yang sudah luka bertambah parah. Darah mengalir lebih deras, bercampur air hujan yang terus mengguyur.
"Ya Allah," bisiknya. "Kalau ini akhirku, setidaknya biarkan aku mati di tempat yang tidak penuh dengan debu demonstrasi."
Ia mulai kehilangan kesadaran.
Dari kejauhan, suara pintu triplek itu terbuka.
"Mak! Ada orang!"
Suara perempuan. Muda. Parau, seperti orang yang biasa berteriak melawan angin laut.
"Ada orang jatuh, Mak!"
"Bawa masuk, Sinok! Cepat!"
Suara perempuan tua. Serak. Tapi tegas.
Pemuda itu merasakan dua tangan kecil mengangkat bahunya. Tangannya dingin, tapi genggamannya kuat.
"Bapak! Bapak jangan pingsan dulu!" kata suara perempuan muda itu. "Sebentar lagi saya angkat. Tolong bantu saya, Bapak."
Pemuda itu ingin menjawab, tapi mulutnya hanya bisa mengerang pelan.
"Sinok, ambil lampunya! Dekatkan ke sini!" perintah suara perempuan tua dari dalam.
"Sudah, Mak. Tapi gelap sekali. Mati lampu di seluruh kampung."
"Bawa saja ke dalam. Cepat!"
Pemuda itu merasakan tubuhnya diseret. Lantai bambu bergesekan dengan punggungnya. Atap seng di atasnya bocor di beberapa tempat, karena tetesan air masih jatuh ke wajahnya meskipun ia sudah di dalam.
"Taruh di tikar situ," kata perempuan tua itu.
"Di sini, Mak?"
"Iya. Sekarang ambil kain bersih di belakang. Dan ambil daun jarak sama kunyit. Cepat!"
Suara langkah kaki berlarian.
Pemuda itu membuka matanya sekuat tenaga. Yang ia lihat pertama kali adalah asap dapur kayu bakar yang mengepul di sudut ruangan. Kemudian lampu minyak tanah yang menyala redup di atas peti kayu tua. Lalu seorang perempuan tua dengan mata buta—matanya putih pucat, tidak fokus kemana-mana—sedang meraba raba kepalanya.
"Luka di pelipis," kata perempuan tua itu. "Cukup dalam. Tapi tidak sampai tulang. Dia akan selamat."
"Mak sudah bisa lihat?" tanya suara perempuan muda dari belakang.
"Bodoh. Mak buta. Tapi tangan Mak bisa melihat. Sekarang basuh lukanya dengan air bersih."
Pemuda itu mencoba berkata sesuatu, tapi yang keluar hanya batuk kasar.
"Jangan banyak bicara," kata perempuan tua itu sambil terus meraba. "Kamu kehabisan darah. Bukan cuma luka di kepala. Ada luka di punggung juga. Memar. Kena pukul benda tumpul."
Pemuda itu terkejut. "Ibu... bagaimana ibu tahu?"
Perempuan tua itu tersenyum. Giginya tinggal tiga. "Mak Buta, Nak. Tapi Mak bisa merasakan lebih dari orang yang matanya sehat."
"Diam dulu, Bapak," kata suara perempuan muda itu. Kini ia sudah berada di samping pemuda itu dengan sebungkus kain dan rempah rempah. "Saya akan bersihkan lukanya. Ini mungkin perih."
"Kamu... siapa?" tanya pemuda itu lirih.
Perempuan muda itu berhenti sejenak. Lampu minyak yang redup menerangi setengah wajahnya. Kulitnya sawo matang. Rambutnya panjang dan ikal, diikat asal dengan karet gelang. Matanya hitam pekat, seperti manik-manik yang mengkilap.
"Sinok," jawabnya singkat.
"Sinok?"
"Iya. Sekarang diam. Jangan banyak bertanya."
Sinok mulai membersihkan luka di pelipis pemuda itu dengan kain basah. Pemuda itu meringis kesakitan, tapi ia tahan.
"Kamu dari mana?" tanya Sinok sambil terus membersihkan luka.
"Dari... dari Jakarta Pusat."
"Jauh sekali. Kenapa ke sini?"
"Lari."
"Lari dari apa?"
Pemuda itu tidak menjawab. Ia hanya menatap langit-langit gubuk yang bolong bolong.
"Dari polisi," kata pemuda itu akhirnya.
Sinok berhenti membersihkan luka. Ia menatap pemuda itu lekat lekat.
"Kamu kriminal?"
"Bukan."
"Lalu kenapa dikejar polisi?"
"Karena ikut demo."
Sinok mengerjapkan mata beberapa kali. "Demo? Yang di TV itu?"
"TV? Kamu punya TV?"
Sinok tertawa kecil. "Mana ada. Saya cuma lihat di rumah Pak Lurah. Cuma sekali. Itu pun hitam putih."
Pemuda itu terdiam. Ia tidak pernah membayangkan bahwa di Jakarta—di ibu kota yang katanya serba modern—masih ada orang yang tidak punya televisi.
"Sudah," kata Sinok selesai membersihkan luka. "Sekarang saya oleskan kunyit. Ini untuk mencegah infeksi."
"Kamu pandai merawat luka."
"Ibu yang pandai. Saya cuma perintah."
Perempuan tua yang tadi dipanggil Mak itu kini duduk di pojok ruangan sambil menganyam tikar. Jari jemarinya bergerak lincah meskipun matanya buta.
"Nak," panggil perempuan tua itu.
"Ya, Mak?"
"Orang ini belum makan. Cari nasi."
"Nasi tinggal sedikit, Mak. Untuk besok pagi."
"Bagikan. Kita puasa besok."
Sinok menoleh ke arah pemuda itu. Matanya berkata sesuatu yang tidak bisa diucapkan: bahwa mereka orang miskin, bahwa nasi yang tersisa hanya cukup untuk dua orang, dan bahwa mereka rela tidak makan besok pagi demi orang asing yang baru mereka kenal.
"Tidak usah," kata pemuda itu cepat cepat. "Saya tidak lapar."
"Bohong," potong Sinok. "Saya dengar perut keroncongan bapak dari tadi."
Pemuda itu tersipu. "Baiklah. Tapi saya akan bayar."
"Dengan apa?" Sinok tersenyum. Senyum itu lebar, tulus, meskipun bibirnya pecah pecah karena angin laut.
Pemuda itu terdiam. Ia merogoh saku jaketnya. Kosong. Dompetnya hilang entah di mana. Mungkin jatuh saat ia berlari. Mungkin dirampok. Mungkin tertinggal di kosan.
"Saya tidak punya uang," katanya lirih.
"Sudah," kata Sinok sambil berdiri. "Saya ambilkan nasi dulu. Jangan pergi kemana mana."
"Namaku Raga," kata pemuda itu cepat cepat sebelum Sinok pergi. "Rangga Ardiansyah. Tapi panggil saja Raga."
Sinok berhenti. Ia menoleh ke belakang.
"Raga," ulangnya pelan, seperti sedang mencicipi kata itu di lidahnya.
"Ya."
"Nama bagus," kata Sinok. "Seperti nama wayang."
"Kamu tahu wayang?"
"Ibu yang tahu. Ibu sering cerita. Saya cuma dengar dengar."
Sinok masuk ke ruang belakang yang lebih gelap. Terdengar suara membuka periuk, suara sendok menyendok nasi, dan suara bisikan antara Sinok dan ibunya.
Raga berbaring di tikar anyaman bambu yang kasar. Ia memejamkan mata, mencoba mengingat apa yang terjadi beberapa jam sebelumnya.
Demonstrasi di depan gedung DPR. Puluhan ribu mahasiswa. Spanduk spanduk bergambar reformasi. Teriakan "Habibie mundur" dan "Adili Soeharto". Lalu tembakan. Bukan tembakan peringatan. Tembakan sungguhan. Raga melihat temannya, Jojo, jatuh. Darah menyembur dari pahanya. Raga mencoba menolong, tapi aparat terus maju. Ia lari. Ia lari tanpa arah. Naik bus. Turun di Tanjung Priok. Berjalan. Berlari. Dan akhirnya jatuh di depan gubuk ini.
"Ayo makan."
Sinok kembali dengan dua piring. Piringnya pecah di pinggirnya, tapi masih layak pakai. Di atas piring itu ada nasi putih, ikan asin bakar, dan sambal terasi yang masih mengeluarkan asap.
"Ini hanya ikan asin," kata Sinok. "Maaf, tidak ada sayur."
"Ini lebih dari cukup," kata Raga.
Sinok duduk di seberang Raga. Ia tidak makan. Hanya memperhatikan Raga yang melahap nasi itu dengan lahapnya.
"Kamu tidak makan?" tanya Raga.
"Saya sudah makan tadi sore."
Raga tahu itu bohong. Ia melihat perut Sinok yang rata, bahkan sedikit cekung seperti orang yang terbiasa lapar. Tapi ia tidak punya hak untuk memaksa. Ia hanya tamu yang tidak diundang, yang datang dengan luka dan tanpa uang sepeseer pun.
"Sinok," panggil Raga setelah suapan terakhir.
"Ya?"
"Terima kasih."
Sinok tersenyum lagi. Senyum itu, pikir Raga, adalah senyum paling tulus yang pernah ia lihat dalam dua puluh satu tahun hidupnya.
"Sama sama," kata Sinok. "Sekarang tidur. Besok kalau sudah sehat, bapak bisa pulang."
"Bapak?"
"Iya. Bapak."
"Aku tidak tua."
"Kamu laki laki. Jadi panggilannya bapak."
Raga tertawa kecil. "Baiklah. Tapi jangan panggil bapak. Panggil Raga."
Sinok menggeleng. "Tidak sopan. Saya perempuan. Tidak boleh panggil nama laki laki asing begitu saja."
"Maka panggil apa?"
"Kangmas."
Raga mengangkat alis. "Kangmas? Kamu orang Jawa?"
"Bukan. Tapi nenek orang Jawa. Jadi kami pakai sedikit sedikit bahasa Jawa."
"Baik. Panggil Kangmas. Tapi jangan bapak."
Sinok tertawa. Suaranya renyah seperti air mengalir di atas batu kali.
"Kangmas," panggil Sinok pelan, sekedar mencoba.
"Ya."
"Tidurlah. Saya jaga di sini."
"Kamu tidak tidur?"
"Nanti. Saya cuci piring dulu."
Raga ingin menolak, ingin mengatakan bahwa ia tidak pantas dilayani seperti ini. Tapi matanya sudah berat. Kepalanya pusing. Tubuhnya lemas.
Ia berbaring kembali.
Sebelum benar benar terlelap, ia mendengar bisikan Sinok kepada ibunya.
"Mak, dia baik."
"Kamu baru kenal, Nak. Belum tahu."
"Tapi saya rasakan, Mak. Orang ini tidak jahat."
"Kamu dan firasat firasatmu. Sudahlah. Biarkan dia tidur. Besok pagi kita lihat."
Raga tersenyum dalam tidurnya.
Untuk pertama kalinya setelah ibunya meninggal, ia merasa aman.
BAB 2
Ikan Asin dan Puisi dari Radio
Marunda, 15 Mei 1998
Pukul 06.00 WIB
Raga terbangun bukan karena suara ayam, bukan karena teriakan penjual ikan, tapi karena bau.
Bau ikan asin yang dijemur di bawah sinar matahari pagi.
Ia membuka mata perlahan. Lampu minyak sudah padam. Cahaya pagi masuk melalui celah celah dinding bambu, menciptakan garis garis tipis di lantai tanah yang dipadatkan. Seekor ayam kampung lewat di depan pintu, lalu hilang di balik tumpukan kayu bakar.
Raga duduk. Kepalanya masih pusing, tapi lukanya terasa lebih baik. Ia menempelkan tangan ke pelipis kanan. Kain bekas yang membalutnya terasa kering. Tidak ada darah baru.
"Kangmas sudah bangun?"
Sinok berdiri di ambang pintu. Rambutnya masih basah, mungkin baru selesai mandi di sumur belakang. Ia memakai baju kaos lusuh dengan tulisan yang sudah pudar tidak terbaca. Sarung batiknya diikat di dada.
"Iya," kata Raga. "Sudah berapa lama kamu bangun?"
"Sejak subuh. Saya sudah jemur ikan, sudah bersih bersih rumah, sudah ambil air sumur tiga kali."
Raga tertegun. "Kamu sudah melakukan semua itu? Sendiri?"
"Sendiri," kata Sinok sambil tersenyum. "Ibu buta. Saya yang jalan, Ibu yang merasakan."
Sinok masuk ke dalam sambil membawa seember air. Diletakkannya ember itu di samping Raga.
"Ini untuk cuci muka, Kangmas. Airnya dingin. Saya ambil dari sumur tadi pagi."
Raga mengambil air dengan ciduk bambu. Airnya dingin sekali, menusuk gigi, tapi segar. Ia membasuh wajahnya, lalu lehernya, lalu tangannya yang masih berlumuran darah kering.
"Sinok," panggil Raga selesai membasuh diri.
"Ya, Kangmas?"
"Kamu tidak sekolah?"
Sinok menggeleng. "Tidak."
"Tidak sama sekali?"
"Tidak pernah."
Raga terdiam. Ia teringat adik perempuannya yang seusia Sinok, mungkin dua tahun lebih muda, yang kini duduk di bangku SMA negeri di Jakarta Selatan, lengkap dengan seragam putih biru dan tas kulit mahal.
"Kenapa tidak sekolah?" tanya Raga hati hati.
"Tidak punya biaya," kata Sinok singkat. "Bapak saya nelayan. Mati tenggelam ketika saya kelas satu SD. Tidak ada biaya untuk lanjut."
"Lalu ibumu?"
"Ibu buta sejak lahir. Tidak bisa bekerja. Saya yang cari uang sejak umur tujuh tahun."
"Jual ikan asin?"
"Jual ikan asin, jual kerang, jadi kuli cuci di rumah orang kaya di seberang kali. Apa saja yang penting halal."
Raga tidak bisa berkata apa apa. Ia hanya menatap Sinok. Perempuan muda di depannya ini kelihatan lebih tua dari usianya. Garis garis halus di wajahnya, tangan yang kasar dan kapalan, serta tatapan matanya yang terlalu dewasa untuk anak seusianya.
"Kangmas," kata Sinok tiba tiba. "Saya tanya satu saja."
"Tanya saja."
"Kangmas dari keluarga kaya, ya?"
Raga terkejut. "Kenapa kamu bilang begitu?"
"Tangan Kangmas halus. Tidak ada kapalan. Bicaranya juga bagus. Pakai kata kata yang sulit. Pasti sekolah tinggi."
Raga tersenyum pahit. "Keluargaku memang tidak miskin. Tapi aku tidak pernah merasa kaya."
"Kenapa?"
"Karena ayahku seorang kolonel."
Sinok mengerjapkan mata. "Kolonel? Tentara?"
"Ya."
"Berarti Kangmas anak orang penting."
"Anak orang penting yang sedang buron," kata Raga dengan nada getir. "Jadi tidak ada bedanya dengan gelandangan sekarang."
Sinok terdiam beberapa saat. Ia mengambil ember bekas cucian Raga, lalu menuangkan airnya ke luar gubuk. Kembali ke dalam, ia duduk di seberang Raga, bersila di tikar bambu yang sama.
"Kangmas," kata Sinok pelan. "Saya tidak tahu masalah apa yang Kangmas hadapi. Tapi selama Kangmas di sini, Kangmas aman. Tidak ada polisi yang akan cari ke kampung ini. Mereka takut masuk ke sini."
"Takut kenapa?"
"Kampung ini kumuh, Kangmas. Polisi juga manusia. Mereka tidak suka bau ikan asin dan air comberan."
Raga tertawa. Tawanya renyah, tulus, seperti sudah lama tidak keluar dari mulutnya.
"Terima kasih, Sinok."
"Sama-sama, Kangmas."
Tiba tiba dari sudut ruangan, suara perempuan tua terdengar.
"Nak Sinok!"
"Iya, Mak?"
"Apa orang itu sudah bangun?"
"Sudah, Mak. Lagi duduk duduk."
"Suruh dia makan. Saya sudah masak bubur."
Sinok menoleh ke Raga. "Kangmas dengar sendiri. Ibu suruh makan."
"Aku tidak mau menyusahkan," kata Raga.
"Tidak menyusahkan. Buburnya dari nasi kemarin yang tidak habis. Ibu hanya tambah air dan garam."
Sinok berjalan ke ruang belakang, lalu kembali dengan dua mangkuk pecah. Di dalamnya ada bubur putih kental dengan taburan garam dan daun kemangi.
"Ini tidak enak, Kangmas. Tapi mengenyangkan."
Raga mengambil mangkuk itu. Buburnya hangat. Hangat sekali. Bukan hanya suhunya, tapi juga rasanya. Raga tidak tahu persis apa yang membuat bubur ini terasa begitu istimewa. Mungkin karena ia belum makan semalam. Mungkin karena ia hampir mati kehabisan darah. Atau mungkin karena ia tidak pernah dibangunkan dengan bubur buatan ibu sejak ibunya meninggal.
"Sinok," panggil Raga setelah menghabiskan buburnya.
"Ya, Kangmas?"
"Ibumu baik sekali. Padahal baru kenal aku."
"Ibu memang begitu," kata Sinok. "Ibu bilang, 'Memberi makan orang yang lapar lebih utama daripada shalat sunat seratus rakaat.' Saya tidak tahu itu benar atau tidak, tapi saya percaya."
Raga memandang ke arah perempuan tua yang buta itu. Ia sedang duduk di pojok ruangan, meraba raba butiran tasbih di tangannya. Bibirnya komat kamit, mungkin sedang berdoa.
"Mak," panggil Raga.
Perempuan tua itu berhenti berdoa. Matanya yang buta menatap ke arah suara Raga.
"Ya, Nak?"
"Aku ingin tahu nama Ibu."
"Nama saya Maryam. Tapi semua orang panggil Nenek Maryam. Karena saya sudah tua dan saya suka mengobati orang sakit."
"Terima kasih, Nenek. Sudah merawat aku."
Nenek Maryam tersenyum. "Tugas saya, Nak. Di kampung ini, kami tidak punya rumah sakit. Tidak punya puskesmas. Hanya saya dan daun daunan."
Raga mengangguk meskipun Nenek Maryam tidak bisa melihatnya.
Setelah sarapan, Sinok berdiri.
"Kangmas, saya mau jemur ikan dulu. Kangmas istirahat saja di sini."
"Aku ikut," kata Raga.
"Tidak usah. Luka Kangmas masih baru."
"Aku tidak akan banyak gerak. Aku hanya duduk duduk di luar. Aku bosan di dalam."
Sinok terdiam beberapa saat. Ia menatap Raga, lalu menoleh ke arah ibunya.
"Mak, boleh?"
"Boleh," kata Nenek Maryam. "Tapi jangan biarkan dia kelelahan."
Sinok mengangguk. "Ayo, Kangmas. Tapi pelan-pelan."
Raga berdiri. Tubuhnya masih terasa pegal, tapi ia bisa berjalan. Ia mengikuti Sinok ke luar gubuk.
Di belakang gubuk, terbentang hamparan tanah kosong yang becek. Di sana ada puluhan anyaman bambu tempat ikan asin dijemur. Ikan teri, ikan asin jambal roti, ikan peda. Semua berbaris rapi di bawah sinar matahari pagi.
"Ini pekerjaanmu?" tanya Raga.
"Ini pekerjaan utama kami, Kangmas. Ibu yang mengasinkan ikan, saya yang menjemur dan menjualnya."
"Kamu bawa keliling?"
"Keliling kampung, kadang sampai ke pasar Tanjung Priok. Naik angkot kalau untung banyak. Jalan kaki kalau lagi sepi."
Raga duduk di atas batu besar di tepi lokasi penjemuran. Sinok melanjutkan pekerjaannya: membalik ikan yang sudah setengah kering, memindahkan yang sudah kering ke karung goni, menutup yang masih basah dengan daun pisang.
Angin laut bertiup pelan. Bau garam dan amis bercampur menjadi satu. Di kejauhan, beberapa perahu nelayan mulai melaut. Burung burung camar beterbangan di atas permukaan air yang berkilau.
"Sinok," panggil Raga.
"Ya, Kangmas?"
"Aku dengar suara radio."
Sinok berhenti bekerja. Ia tersenyum.
"Iya, Kangmas. Itu radio tetangga. Pakde Karso. Setiap pagi dia pasang radio keras keras. Saya bisa dengar dari sini."
"Kamu suka dengar radio?"
"Suka. Saya tidak bisa baca, jadi radio itu yang mengajar saya banyak hal."
Suara radio itu terdengar samar samar. Seorang penyiar sedang membacakan puisi. Raga menyimak.
"...Aku ini binatang jalang dari kumpulannya terbuang..."
Raga terkejut. "Itu Chairil Anwar!"
Sinok menoleh cepat. "Kangmas tahu Chairil Anwar?"
"Tahu. Aku mahasiswa teater. Aku hafal semua puisinya."
Mata Sinok berbinar. "Benar? Kangmas hafal?"
"Setengah mati."
Sinok berjalan mendekat. Ia duduk di tanah di depan Raga, menyilangkan kaki, menatap Raga dengan penuh semangat.
"Kalau begitu, Kangmas bisa ceritakan puisinya ke saya."
"Kamu belum pernah baca puisinya?"
"Tidak bisa baca, Kangmas. Tapi saya hafal. Saya dengar dari radio itu setiap pagi. Tiap puisi yang dibacakan, saya simpan di kepala. Tapi saya tidak tahu artinya. Saya hanya suka suaranya. Suaranya sedih. Tapi sedih yang indah."
Raga tertegun. Ia memandang Sinok dengan pandangan baru. Bukan pandangan kasihan, tapi pandangan kagum.
"Kamu hafal puisi Chairil Anwar?" tanya Raga lagi, seolah tidak percaya.
"Saya coba bacakan, Kangmas. Maaf kalau salah."
Sinok memejamkan mata. Ia menarik napas panjang, lalu mulai melantunkan.
"Aku ini binatang jalang dari kumpulannya terbuang. Biar peluru menembus kulitku, aku tetap meradang menerjang..."
Suaranya tidak sempurna. Logat Bugisnya kental. Beberapa kata terdengar seperti dieja salah. Tapi ada sesuatu yang membuat bulu kuduk Raga berdiri.
Air mata.
Sinok menangis.
Bukan karena sedih. Bukan karena takut. Tapi karena katanya, ia tidak tahu kenapa, setiap kali melantunkan puisi itu, hatinya seperti ditekan tekan.
"Sampai di sini dulu, Kangmas," kata Sinok sambil menyeka air matanya dengan lengan baju. "Saya malu."
"Jangan malu," kata Raga cepat cepat. "Kamu... kamu hebat, Sinok."
"Hebel?"
"Hebat. Luar biasa. Kau hafal tanpa bisa baca."
"Iya, saya dengar terus setiap pagi. Dulu sebelas tahun. Setiap hari. Lama lama hafal."
Raga menatap Sinok dengan mata yang berkaca kaca. Ia tidak tahu kenapa, tapi hatinya terasa panas. Bukan karena marah, bukan karena cinta. Tapi karena sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Mungkin karena ia melihat seseorang yang buta huruf tapi lebih kaya jiwa daripada orang orang kaya yang ia kenal di Jakarta.
"Sinok," kata Raga pelan.
"Ya, Kangmas?"
"Aku akan ajari kamu membaca."
Sinok terkesiap. "Benar, Kangmas?"
"Benar. Sebagai balas jasa karena sudah menolongku."
"Tapi Kangmas... Kangmas akan tinggal berapa lama di sini?"
Raga terdiam. Ia tidak tahu jawabannya. Di luar sana, polisi mungkin masih mencarinya. Ayahnya mungkin sudah memasang foto fotonya di mana mana. Tapi di sini, di kampung nelayan yang becek dan bau amis ini, ia merasa aman. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa aman.
"Aku tidak tahu," jawab Raga jujur. "Tapi selama aku di sini, aku akan ajari kamu membaca."
Sinok tersenyum. Senyum itu lebar sekali, matanya menyipit, pipinya naik ke atas. Senyum yang membuat seluruh wajahnya terlihat seperti matahari kecil di tengah hamparan ikan asin.
"Terima kasih, Kangmas," kata Sinok. "Saya janji, saya akan belajar sungguh sungguh."
"Kau akan bisa, Sinok. Aku yakin."
Dari kejauhan, radio tetangga mengganti lagu. Suara penyiar terdengar lagi, membacakan pengumuman bahwa demonstrasi masih berlangsung di beberapa titik di Jakarta. Ada korban tewas. Puluhan luka luka.
Raga menoleh ke arah radio itu. Wajahnya berubah tegang.
"Kangmas," panggil Sinok lembut.
"Ya?"
"Jangan takut. Di sini aman."
Raga menatap Sinok. "Kamu tahu yang terjadi di luar sana? Tentang demo? Tentang mahasiswa yang ditembak?"
"Tidak tahu banyak. Tapi kadang ada berita di radio. Saya hanya dengar dengar."
"Dan kamu tidak takut?"
Sinok menggeleng. "Saya sudah biasa hidup dengan bahaya, Kangmas. Bagi saya, kelaparan lebih menakutkan daripada tentara."
Raga tidak bisa berkata apa apa. Ia hanya terdiam, merenungi kata kata Sinok.
Perempuan muda yang buta huruf itu mungkin lebih berani daripada seluruh mahasiswa yang ikut demo.
BAB 3
Luka yang Tak Bisa Diceritakan
Marunda, 15 Mei 1998
Pukul 14.00 WIB
Sore itu panas sekali.
Bukan panas biasa. Panas yang membuat tanah retak retak, membuat ikan asin di jemuran mengeluarkan bau yang lebih menyengat dari biasanya, membuat orang orang memilih duduk di dalam rumah daripada keluar.
Raga duduk di tikar bambu di dalam gubuk Sinok. Kipas angin tentu tidak ada. Yang ada hanya sehelai kipas dari daun kelapa yang dianyam, yang digerakkan oleh Sinok pelan pelan ke arah wajah Raga.
"Kangmas kelihatan berpikir keras," kata Sinok sambil terus mengipasi.
"Bukan berpikir," jawab Raga. "Mengingat."
"Mengingat apa?"
"Mengingat ibu."
Sinok berhenti mengipas sejenak. "Ibu Kangmas?"
"Ya. Ibu meninggal dua bulan lalu."
Sinok meletakkan kipas daun kelapa itu di pangkuannya. Wajahnya berubah serius.
"Maaf, Kangmas. Saya tidak tahu."
"Kamu tidak mungkin tahu. Aku tidak pernah cerita."
"Mau cerita sekarang?" tanya Sinok hati hati. "Saya pendengar yang baik. Ibu bilang begitu."
Raga menatap langit langit gubuk. Dari lubang bocor di atap seng, ia bisa melihat secercah langit biru. Burung pipit lewat, terbang cepat seperti ada yang mengejar.
"Ibuku guru SD," kata Raga pelan. "Dia mengajar di sekolah negeri di Jakarta Selatan. Bukan sekolah mewah. Sekolah biasa, dengan murid murid dari kampung kampung sekitar."
"Guru," ulang Sinok dengan nada kagum. "Mulia sekali."
"Dia orang yang baik. Terlalu baik. Setiap bulan, sebagian gajinya dia berikan untuk murid murid yang tidak mampu membeli seragam atau buku. Kadang kadang dia juga belikan makan siang untuk mereka yang tidak bawa bekal."
"Seperti ibu saya," kata Sinok. "Dulu sebelum buta, ibu juga suka berbagi. Walau cuma nasi bungkus, tapi selalu ada untuk tetangga."
Raga tersenyum tipis. "Ibumu pasti orang baik."
"Orang baik selalu menderita, Kangmas. Itu kata ibu."
Raga terdiam. Kata kata itu terasa seperti pukulan di dadanya. Karena ibunya juga orang baik. Dan ibunya juga menderita. Bahkan mati pun dalam penderitaan.
"Ibu saya meninggal tertembak," kata Raga tiba tiba.
Sinok terkesiap. Matanya membulat. "Tertembak? Siapa yang tembak?"
"Polisi. Atau tentara. Saya tidak tahu pasti. Yang saya tahu, ibu saya sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah. Ada demo di depannya. Ibu mencoba menyeberang, masuk ke tengah kerumunan, dan..."
Raga tidak bisa melanjutkan.
Sinok meraih tangan Raga. Tangannya kasar, kapalan, tapi genggamannya hangat.
"Diam dulu, Kangmas. Tidak usah dipaksakan."
"Tidak," kata Raga sambil mengusap matanya yang mulai basah. "Aku ingin cerita. Aku tidak pernah cerita ke siapa pun. Teman temanku juga tidak tahu detailnya. Mereka hanya tahu ibuku meninggal."
"Kenapa Kangmas tidak cerita?"
"Karena kalau aku cerita, mereka akan tanya siapa yang menembak. Dan kalau mereka tahu siapa yang menembak, mereka akan bertanya kenapa aku tidak melapor ke polisi. Dan kalau mereka tahu kenapa aku tidak melapor ke polisi, mereka akan tahu bahwa..."
Raga berhenti. Dadanya naik turun. Tangannya gemetar.
"Bahwa ayahku yang memerintahkan tembakan itu."
Sinok terdiam. Tidak bergerak. Tidak berkedip. Hanya menatap Raga dengan mata yang penuh tanya sekaligus penuh iba.
"Ayah Kangmas sendiri?"
"Bukan langsung. Tapi ayahku adalah komandan di daerah itu. Dialah yang memberi perintah untuk membubarkan demo dengan kekerasan. Dia tidak tahu ibu ada di sana. Tapi tetap saja... darah ibu ada di tangannya."
"Kangmas... saya tidak tahu harus bilang apa."
"Kamu tidak perlu bilang apa apa," kata Raga. "Aku hanya perlu seseorang yang mendengar."
Sinok mengangguk. Ia tidak melepaskan tangan Raga.
"Setelah ibu meninggal," lanjut Raga, "aku pulang ke rumah. Aku lihat ayahku duduk di ruang tamu. Matanya merah. Aku kira dia menangis. Tapi ternyata dia sedang mabuk. Botol botol bir berserakan di lantai."
"Kangmas... jangan..."
"Dia bilang, 'Kamu lihat apa yang terjadi kalau orang orang tidak mau diam? Ibumu mati karena ulah demonstran! Karena mereka yang bikin rusuh!'"
Sinok menggenggam tangan Raga lebih erat.
"Aku marah," kata Raga, suaranya mulai pecah. "Aku berteriak padanya. Aku bilang, 'Ibu mati karena perintah Bapak! Karena Bapak dan teman teman Bapak yang terlalu senang menembak!'"
"Dia marah?"
"Dia memukulku. Sampai aku jatuh. Sampai bibirku pecah. Lalu dia usir aku dari rumah."
"Kangmas..."
"Sejak malam itu, aku tidak pernah kembali. Aku tinggal di kosan teman. Kuliah tetap jalan meskipun berat. Tapi setiap kali melihat orang tua lain yang masih punya ibu, aku..."
Raga tidak melanjutkan. Ia menunduk. Air matanya jatuh ke tikar bambu, satu per satu.
Sinok tidak berkata apa apa. Ia hanya duduk di samping Raga, mengipasi pelan pelan dengan daun kelapa, dan membiarkan Raga menangis dalam diam.
Dari ruang belakang, terdengar suara Nenek Maryam yang sedang bertasbih pelan. Suara lirih, seperti angin yang berbisik.
"Subhanallah... subhanallah..."
Setelah beberapa lama, Raga menarik napas panjang. Ia menyeka matanya dengan lengan baju.
"Maaf," katanya. "Aku tidak bermaksud menangis di depanmu."
"Tidak apa apa, Kangmas. Laki laki juga boleh menangis. Ibu bilang, air mata laki laki itu mahal. Jadi kalau sampai keluar, berarti lukanya dalam sekali."
Raga tersenyum pahit. "Ibumu bijak."
"Ibu tidak sekolah juga, Kangmas. Tapi ibu pintar. Ibu bilang, 'Sekolah itu penting, tapi hati yang bersih lebih penting.' Saya tidak tahu benar atau salah. Tapi saya percaya."
"Kamu beruntung punya ibu seperti dia."
"Beruntung, Kangmas. Meskipun kami miskin, meskipun kami sering lapar, tapi kami punya satu sama lain."
Raga menatap Sinok. "Dan suamimu?"
Sinok tersentak. Wajahnya berubah. Senyumnya menghilang dalam sekejap.
"Suami?"
"Kamu pernah bilang kemarin. Kamu punya suami. Dia meninggal tenggelam."
Sinok menunduk. Jari jarinya menggulung ujung sarungnya.
"Iya, Kangmas. Suami saya."
"Kapan?"
"Dua tahun lalu."
"Kalian lama menikah?"
Sinok menggeleng. "Tidak sampai satu tahun."
Raga tidak bertanya lebih jauh. Ia melihat raut wajah Sinok yang tertunduk. Ada sesuatu di sana. Bukan hanya kesedihan. Ada luka yang lebih dalam dari sekadar kehilangan.
"Kangmas," kata Sinok pelan tanpa mengangkat kepala.
"Ya?"
"Jangan tanya tentang suami saya. Saya... belum siap cerita."
Raga mengangguk. "Baik. Aku tidak akan tanya lagi."
Sinok mengangkat kepalanya. Matanya berkaca kaca, tapi ia tersenyum. Senyum yang sama seperti kemarin. Lebar, tulus, meskipun bibirnya pecah pecah.
"Terima kasih, Kangmas."
"Terima kasih kembali, Sinok. Karena sudah mau mendengar ceritaku."
"Kangmas," panggil Sinok setelah beberapa saat diam.
"Ya?"
"Kangmas tidak punya rencana pulang ke rumah?"
"Tidak."
"Tidak mau berdamai dengan ayah?"
Raga menggeleng tegas. "Tidak. Aku tidak akan pernah memaafkan orang yang tangannya berlumuran darah ibuku. Meskipun dia ayahku sendiri."
Sinok diam. Ia tampak berpikir keras.
"Kalau begitu," kata Sinok akhirnya, "Kangmas tinggal di sini saja selama yang Kangmas mau. Rumah kami kecil, butuh butuk, bau ikan, tapi Kangmas bisa berbagi dengan kami."
Raga menatap Sinok. Di matanya, ia melihat ketulusan yang tidak pernah ia temukan di Jakarta. Di matanya, ia melihat rumah.
"Sinok," kata Raga.
"Ya, Kangmas."
"Aku akan ajari kamu membaca. Mulai besok."
Sinok tersenyum. "Besok? Sekarang saja, Kangmas. Saya tidak sabar."
Raga tertawa. Tawanya kecil, tapi tulus. "Sekarang tidak bisa. Aku tidak punya buku. Tidak punya kertas. Tidak punya pulpen."
Sinok berdiri. Ia berjalan ke pojok ruangan, membongkar tumpukan karung goni, lalu mengeluarkan sesuatu.
Sebuah buku.
Buku itu kecil, sampulnya sudah robek di beberapa bagian. Kertasnya menguning karena usia. Tapi jelas sekali itu sebuah buku.
"Ini punya saya, Kangmas," kata Sinok sambil menyerahkan buku itu ke Raga. "Dulu suami saya yang punya. Setelah dia meninggal, saya simpan. Saya tidak bisa membaca isinya, tapi kadang kadang saya buka saja, lihat gambar gambarnya."
Raga mengambil buku itu. Ia membaca sampulnya.
"Sajak Sajak Buat Kekasih"
Karya: Sapardi Djoko Damono
Raga terkesiap. "Kamu punya buku puisi Sapardi?"
"Suami saya yang punya. Dia... dia suka puisi juga, seperti Kangmas."
Raga membuka halaman pertama. Matanya membaca bait pertama.
"Pada suatu hari nanti, jasadku tak akan ditemukan di tanah yang hangat..."
Ia berhenti. Menatap Sinok.
"Ini buku puisi yang bagus, Sinok. Tapi mungkin terlalu sulit untuk pemula."
"Tidak apa apa, Kangmas. Saya mau belajar pelan pelan. Yang penting saya bisa baca suatu hari nanti. Lalu saya bisa membaca semua puisi yang suami saya tinggalkan."
Raga mengangguk. "Baik. Mulai besok pagi, kau akan belajar membaca dari buku ini."
"Benar, Kangmas?"
"Benar."
Sinok tersenyum lebar. Kali ini senyum yang berbeda. Bukan senyum sabar menghadapi penderitaan. Bukan senyum tulus untuk orang asing. Tapi senyum bahagia. Senyum yang keluar karena ada harapan.
Dari kejauhan, radio tetangga kembali berbunyi. Seorang pembaca puisi sedang membacakan syair syair lama. Suaranya parau, seperti orang yang terbiasa berteriak di tengah badai.
Raga menyimak. Sinok juga menyimak.
Mereka duduk berdampingan di tikar bambu yang kasar, di gubuk reyot yang bau ikan, di tengah kampung nelayan yang terlupakan oleh zaman.
Dan untuk sesaat, dunia di luar sana lenyap.
Yang tersisa hanya puisi, harapan, dan dua orang yang sedang belajar cara menyembuhkan luka masing masing.
BAB 4
Senja di Atas Genteng Bocor
Marunda, 16 Mei 1998
Pukul 17.00 WIB
Senja itu berbeda.
Raga tidak tahu persis apa yang membuatnya berbeda. Mungkin karena awannya. Atau karena anginnya. Atau karena Sinok sedang duduk di sampingnya di atas genteng—tepat di genteng bocor yang tidak pernah diperbaiki karena tidak ada uang untuk membeli seng baru.
"Ini pertama kalinya Kangmas naik ke genteng?" tanya Sinok sambil menunjuk ke arah laut lepas.
"Pertama kali," jawab Raga. "Di rumahku dulu, tidak ada genteng yang bisa diduduki. Rumahku bertingkat dua. Taman di belakang. Kolam renang kecil."
"Kolam renang?"
"Iya. Tapi aku tidak pernah suka berenang. Aku lebih suka baca buku di kamar."
Sinok tertawa. "Saya tidak punya kolam renang. Saya cuma punya sumur. Itu pun kalau tidak kering saat kemarau."
Raga menatap Sinok. Perempuan itu tersenyum ke arah laut, matanya menyipit menahan silau matahari yang mulai condong ke barat.
"Sinok," panggil Raga.
"Ya, Kangmas?"
"Kenapa kamu membawaku ke sini?"
Sinok berpaling ke arah Raga. "Kangmas bilang mau belajar menulis puisi. Saya pikir tempat yang bagus untuk menulis adalah tempat yang tinggi."
"Tapi ini hanya genteng bocor."
"Justru itu bagusnya, Kangmas. Dari sini, kita bisa lihat laut lepas. Bisa lihat perahu perahu pulang. Bisa lihat langit berubah warna dari biru jadi jingga, dari jingga jadi merah, dari merah jadi ungu, lalu jadi gelap."
Raga terkesima. "Kamu bicara seperti penyair."
"Saya cuma ulang kata kata suami saya," kata Sinok pelan. "Dulu dia sering ajak saya ke sini. Dia bilang, 'Sinok, kamu lihat langit itu? Warnanya berubah setiap detik. Itu namanya senja. Dan senja tidak pernah sama dua kali.'"
Raga diam. Ia membayangkan seorang laki laki berdiri di genteng bocor ini, memegang tangan Sinok, dan menceritakan tentang keindahan senja yang tidak pernah sama.
"Suamimu orang yang romantis," kata Raga akhirnya.
"Romantis?"
"Penyair. Orang yang peka terhadap keindahan."
Sinok mengangguk pelan. "Dulu iya. Tapi setelah menikah dengan saya, hidupnya susah. Dia harus kerja jadi buruh angkut di pelabuhan. Pulang pulang badannya bau minyak dan keringat. Tidak sempat lagi baca puisi."
"Kenapa dia mau menikah denganmu?"
Sinok tersenyum malu. "Kami dijodohkan, Kangmas. Sejak kecil. Orang tua kami berteman. Mereka sudah janji akan menikahkan kami begitu dewasa."
"Kamu mencintainya?"
Sinok terdiam cukup lama. Angin laut bertiup, menggerakkan rambut ikalnya yang diikat asal.
"Saya belajar mencintainya, Kangmas," kata Sinok akhirnya. "Awalnya tidak. Tapi setelah kami hidup bersama, saya tahu dia baik. Dia tidak pernah memukul saya. Tidak pernah membentak bentak. Dia hanya diam dan bekerja. Dan setiap malam minggu, dia ajak saya ke sini. Dia tunjuk langit. Dia bilang, 'Sinok, itu bintang. Besok kita akan kaya. Aku janji.'"
"Lalu dia meninggal?"
"Tenggelam," kata Sinok. "Kapalnya kena badai di tengah laut. Tiga hari baru ditemukan. Wajahnya sudah tidak jelas lagi. Saya hanya kenali dari sarungnya."
Raga tidak bisa berkata apa apa. Ia hanya memandang Sinok yang terus tersenyum meskipun matanya berkaca kaca.
"Sinok," kata Raga pelan.
"Ya, Kangmas?"
"Aku akan bacakan puisi untukmu."
Sinok terkejut. "Untuk saya?"
"Iya. Sebagai ganti puisi puisi yang tidak sempat dibacakan suamimu."
Sinok terdiam. Lalu ia mengangguk pelan.
Raga mengeluarkan secarik kertas dari saku jaketnya. Kertas itu sudah kusut dan sedikit basah karena keringat. Tapi tulisan di atasnya masih jelas.
"Ini puisi yang kutulis semalam," kata Raga. "Tentang... tentang seseorang."
Sinok tersenyum. "Tentang siapa, Kangmas?"
Raga tidak menjawab. Ia hanya menarik napas panjang, lalu mulai membaca.
"Aku tidak tahu namamu saat pertama kali kulihat kau di depan pintu itu.
Yang aku tahu, ada cahaya di balik tubuhmu yang basah oleh hujan,
dan aku, yang hampir mati, tiba tiba ingin hidup lagi."
Sinok menahan napas.
"Kau bilang namamu Sinok.
Aku pikir itu nama yang aneh.
Tapi setelah kau tersenyum,
aku sadar: Sinok bukan nama.
Sinok adalah cara angin laut berbisik di telingaku,
bahwa di dunia yang penuh dengan peluru dan air mata,
masih ada tempat yang aman."
Raga berhenti. Ia menatap Sinok.
Sinok tidak bergerak. Ia hanya duduk diam, memandang ke arah laut yang mulai keemasan. Wajahnya tidak bisa dibaca. Apakah ia senang? Apakah ia sedih? Apakah ia bingung?
"Sinok?" panggil Raga hati hati.
Sinok menoleh perlahan. Matanya basah. Tapi ia tersenyum.
"Itu puisi untuk saya, Kangmas?"
"Iya."
"Benar benar untuk saya?"
"Benar."
Sinok menghela napas panjang. "Tidak ada yang pernah buatkan puisi untuk saya. Suami saya juga tidak. Dia cuma tunjuk bintang dan berjanji. Tapi tidak pernah baca puisi."
Raga tersenyum lega. "Jadi kamu suka?"
"Suka sekali, Kangmas. Tapi saya tidak bisa membalasnya. Saya tidak bisa baca puisi seperti Kangmas."
"Kamu tidak perlu membalas. Cukup dengan kamu tersenyum seperti itu, itu sudah lebih dari cukup."
Sinok tertawa kecil. "Kangmas... jangan bikin saya malu."
"Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu malu."
Mereka berdua terdiam. Senja semakin merah. Ombak di kejauhan terdengar semakin keras, seolah ikut menyaksikan sesuatu yang sedang terjadi di atas genteng bocor itu.
"Kangmas," panggil Sinok tiba tiba.
"Ya?"
"Boleh saya minta satu?"
"Apa saja."
"Bacakan sekali lagi. Pelan pelan. Saya mau hafal."
Raga terkejut. "Kamu mau hafal?"
"Iya. Saya tidak bisa baca. Jadi saya hafalkan. Nanti kalau Kangmas pergi, puisi itu akan tetap di kepala saya. Tidak bisa hilang."
Raga terdiam mendengar kata "pergi". Ia belum pernah membayangkan meninggalkan tempat ini. Tapi ia juga tidak tahu harus pergi ke mana. Dan di dalam hatinya yang paling dalam, ia tidak ingin pergi.
"Baik," kata Raga. "Aku bacakan sekali lagi. Tapi pelan pelan."
Raga membaca puisi itu lagi. Kata per kata. Pelan. Dengan suara yang lembut, seperti orang sedang membacakan dongeng untuk anak kecil.
Sinok memejamkan mata. Bibirnya komat kamit, mengikuti setiap kata yang keluar dari mulut Raga.
"...Sinok bukan nama. Sinok adalah cara angin laut berbisik..."
Saat Raga selesai, Sinok membuka matanya.
Sudah hafal," katanya.
"Sudah?"
"Iya. Coba saya ulang."
Sinok mulai melantunkan puisi itu. Persis. Kata per kata. Dengan logat Bugisnya yang kental, dengan suaranya yang parau, tapi dengan penghayatan yang membuat Raga merinding.
"Aku tidak tahu namamu saat pertama kali kulihat kau di depan pintu itu..."
Raga tidak percaya. Sinok baru mendengar puisi itu dua kali. Dua kali. Dan ia sudah hafal.
"Kamu...," kata Raga terbata bata. "Kamu luar biasa, Sinok."
"Biasa saja, Kangmas. Saya sudah terbiasa menghafal dari radio. Tiap hari. Sebelas tahun. Jadi apapun yang didengar, saya simpan di sini."
Sinok menunjuk kepalanya.
"Kamu seharusnya sekolah, Sinok. Kamu punya bakat luar biasa."
"Sekolah butuh uang, Kangmas. Saya tidak punya."
Raga diam. Ia memandang Sinok dengan perasaan yang campur aduk. Kagum. Iba. Juga sesuatu yang tidak bisa ia beri nama.
"Kangmas," panggil Sinok.
"Ya?"
"Boleh saya tanya satu?"
"Tanya saja."
"Kangmas... Kangmas akan tinggal berapa lama di sini?"
Raga menelan ludah. Ia sudah menduga pertanyaan ini akan datang. Tapi tetap saja, ia tidak siap menjawabnya.
"Aku tidak tahu, Sinok."
"Tapi suatu hari Kangmas pasti pergi?"
"Pasti. Aku tidak bisa bersembunyi di sini selamanya."
Sinok mengangguk pelan. Wajahnya tidak berubah. Senyumnya masih sama. Tapi matanya... matanya berkata lain.
"Kalau begitu, sebelum Kangmas pergi, saya minta satu lagi."
"Apa?"
"Ajari saya membaca. Sungguh sungguh. Saya tidak mau hanya hafal puisi. Saya mau bisa membaca sendiri. Membaca puisi puisi di buku suami saya. Membaca puisi yang Kangmas tulis."
Raga mengangguk tegas. "Aku janji. Sebelum aku pergi, kau akan bisa membaca."
"Janji, Kangmas?"
"Janji."
Sinok mengangkat jari kelingkingnya.
Raga tersenyum. Ia menyambung jari kelingkingnya dengan jari Sinok.
"Janji," kata mereka bersamaan.
Senja itu semakin gelap. Bintang bintang mulai muncul satu per satu. Di kejauhan, suara radio tetangga berganti menjadi suara adzan maghrib yang dikumandangkan dari pengeras suara masjid kampung.
"Kangmas," kata Sinok pelan.
"Ya?"
"Kita turun, yuk. Nanti Kangmas masuk angin."
"Kamu duluan."
"Tidak. Kangmas duluan."
"Kenapa?"
Sinok tersenyum. "Saya mau lihat senja sebentar lagi. Sebentar saja."
Raga mengangguk. Ia bangkit, memanjat turun dari genteng bocor itu dengan hati hati. Begitu kakinya menyentuh tanah, ia menengadah ke atas.
Sinok masih duduk di sana. Wajahnya menghadap ke barat, ke arah matahari yang nyaris tenggelam. Angin laut menggerakkan rambutnya.
Dari bawah, Raga melihat Sinok seperti lukisan. Bukan lukisan di museum. Tapi lukisan di dinding gubuk reyot yang tidak pernah dilihat orang.
Dan Raga sadar.
Ia jatuh cinta.
BAB 5
Juragan Bahar Datang di Malam Hari
Marunda, 17 Mei 1998
Pukul 20.00 WIB
Malam itu gelap sekali.
Bulan tidak muncul. Bintang bintang tertutup awan tebal yang menggantung rendah di atas laut. Angin bertiup kencang, membuat daun daun kelapa bergesekan satu sama lain seperti orang yang berbisik bisik.
Raga sedang duduk di tikar bambu, mengajarkan Sinok mengenal huruf. Nenek Maryam duduk di pojok ruangan sambil memegang tasbih, bibirnya komat kamit tak terdengar jelas.
"Ini huruf A," kata Raga sambil menunjuk sebuah tulisan di sobekan kardus. "Kalau kamu lihat bentuknya seperti... seperti apa ya?"
"Seperti gubuk, Kangmas?" jawab Sinok sambil menyipitkan mata.
"Gubuk?"
"Iya. Gubuk punya atap runcing. Huruf A juga punya atap runcing."
Raga tersenyum. "Kamu benar. A itu seperti gubuk. Lalu ini huruf B. Seperti apa?"
Sinok berpikir keras. "Seperti... seperti perahu yang punya dua layar?"
"Pintar sekali," kata Raga. "Kamu cepat belajar."
Sinok tersipu. "Kangmas yang sabar mengajar. Guru saya dulu waktu kecil tidak sesabar Kangmas."
"Kamu pernah sekolah?"
"Sebentar. Kelas satu. Tapi berhenti karena bapak meninggal. Saya ingat guru saya galak. Suka pukul pakai penggaris."
Raga menggeleng geleng. "Guru galak tidak baik untuk anak anak."
"Tapi itu dulu, Kangmas. Sekarang saya sudah besar. Saya tidak takut penggaris lagi."
Mereka berdua tertawa kecil. Nenek Maryam dari pojok ruangan ikut tersenyum meskipun matanya buta.
"Sinok," panggil Nenek Maryam.
"Ya, Mak?"
"Jangan belajar terlalu malam. Matamu nanti sakit."
"Sebentar lagi, Mak. Saya mau selesaikan huruf sampai Z."
"Ada dua puluh enam huruf, Nak. Tidak akan selesai semalam."
Sinok menoleh ke Raga. "Benar, Kangmas? Dua puluh enam?"
"Benar," kata Raga. "Tapi kita tidak perlu selesaikan semuanya malam ini. Cukup A sampai E dulu."
Sinok mengangguk patuh. Ia kembali menatap kardus bekas yang ditulisi Raga dengan arang.
"Huruf A, B, C, D, E," lantun Sinok pelan. "A, B, C, D, E."
"Bagus," kata Raga.
"Lalu A itu apa, Kangmas?"
"A itu bunyinya 'a'. Seperti 'a... aku'. Atau 'a... apa'."
"Lalu B?"
"B bunyinya 'be'."
"Jadi kalau A dan B digabung jadi 'abe'?"
Bukan, Sinok. A dan B digabung jadi 'ab'. Nanti kalau sudah tahu huruf semua, kita belajar merangkai jadi kata."
Sinok menghela napas. "Susah sekali, Kangmas."
"Memang susah di awal. Tapi nanti kamu akan terbiasa."
"Kangmas sabar sekali," kata Sinok sambil tersenyum.
Raga tidak menjawab. Ia hanya tersenyum dan kembali menulis huruf F di kardus.
Tiba tiba dari luar, terdengar suara beberapa sepeda motor masuk ke gang sempit.
Mesinnya bising. Lampunya menyorot ke sana ke mari, menerobos celah celah dinding bambu gubuk Sinok.
Sinok berhenti belajar. Wajahnya berubah tegang.
"Itu suara siapa, Sinok?" tanya Nenek Maryam dari pojok.
Sinok tidak menjawab. Ia menatap ke arah pintu. Matanya penuh ketakutan.
"Sinok?" panggil Raga. "Ada apa?"
"Kangmas," bisik Sinok. "Kangmas masuk ke belakang. Cepat."
"Kenapa?"
"Jangan tanya dulu. Cepat."
Raga belum sempat bergerak, pintu triplek itu terbuka keras sampai hampir lepas dari engselnya.
Seorang laki laki besar berdiri di ambang pintu. Badannya gemuk, perutnya buncit, kulitnya hitam legam karena terik matahari. Ia memakai kemeja batik lengan pendek yang tidak dikancing di bagian perut. Di tangan kanannya ada sebatang rokok. Di tangan kirinya ada sebuah pentungan kayu.
Di belakangnya, berdiri empat laki laki lain dengan wajah preman. Ada yang membawa parang, ada yang membawa balok kayu, ada yang hanya bersedekap dada sambil meludah ke samping.
"Sinok!" seru laki laki besar itu. Suaranya keras seperti suara mesin pompa air.
Sinok berdiri. Tubuhnya gemetar, tapi ia berusaha tegar.
"Juragan Bahar," kata Sinok pelan. "Ada apa malam malam?"
Juragan Bahar masuk ke dalam gubuk tanpa diundang. Ia menatap Raga sekilas, lalu kembali ke Sinok.
"Aku dengar kau punya tamu," kata Bahar sambil menyedot rokoknya. "Tamu laki laki. Tinggal di sini sudah tiga hari."
"Itu... itu saudara saya, Juragan. Dari kampung."
"Saudara?" Bahar tertawa. Suaranya keras dan parau. "Sinok, Sinok. Kau pikir aku bodoh? Saudara dari mana? Bukannya keluarga kau tinggal kamu dan ibumu yang buta itu?"
Sinok menunduk. Tidak menjawab.
Bahar berjalan mendekati Raga. Ia membungkuk, menatap Raga dari dekat. Asap rokoknya mengebul ke wajah Raga.
"Kamu siapa?" tanya Bahar.
Raga menatap Bahar tanpa berkedip. "Tidak usah tahu."
Bahar mengangkat alis. "Berani. Bagus. Aku suka orang berani. Tapi orang berani sering mati muda."
"Pak Bahar," kata Sinok cepat cepat. "Dia tidak bersalah. Dia hanya..."
"Kau diam!" Bahar membentak Sinok.
Sinok terdiam. Nenek Maryam dari pojok ruangan tiba tiba berdiri.
"Juragan Bahar," kata Nenek Maryam dengan suara lirih tapi tegas. "Anak saya tidak berutang apa apa sama Juragan. Kami sudah lunas sejak suami Sinok meninggal."
Bahar berbalik ke arah Nenek Maryam. "Nenek, nenek. Jangan bawa bawa soal utang. Urusan kita bukan utang lagi. Ini masalah tanah."
"Tanah?"
"Iya. Tanah tempat gubuk ini berdiri. Itu tanah punya keluarga saya. Nenek pikir nenek bisa tinggal gratis selamanya?"
Nenek Maryam terdiam. Ia buta, tapi wajahnya menunjukkan bahwa ia tahu Bahar sedang berbohong.
"Pak Bahar," kata Sinok sambil maju selangkah. "Tanah ini warisan bapak saya. Bapak saya yang beli dari kakek Juragan dulu. Ada saksi. Ada surat."
Bahar tertawa keras. "Surat? Mana suratnya? Tunjukkan!"
Sinok terdiam. Surat itu ada. Tapi surat itu disimpan suaminya di dalam peti. Dan setelah suaminya meninggal, surat itu hilang. Entah kemana. Mungkin diambil orang. Mungkin terbawa air laut saat banjir tahun lalu.
"Suratnya hilang," kata Sinok lirih.
"Tuh kan!" Bahar menunjuk ke arah Sinok. "Tidak ada surat. Berarti tanah ini punya saya. Dan kalau tanah ini punya saya, saya berhak menagih sewa. Lima tahun tertunggak. Bunga nya sudah menumpuk."
"Berapa?" tanya Sinok.
"Tiga ratus juta."
Sinok tersentak. "Tiga ratus juta? Dari mana, Juragan? Kami tidak pernah sewa!"
"Kamu tidak bayar sewa, itu sama saja kamu mencuri," kata Bahar. "Tiga ratus juta. Atau..."
"Atau apa?" tanya Raga tiba tiba.
Bahar menatap Raga dengan mata menyipit. "Atau kau ganti."
"Ganti bagaimana?"
Bahar tersenyum jahat. "Sinok kawin dengan saya. Utangnya hapus. Nenek Maryam tetap tinggal di sini. Bahkan saya bangun rumah baru untuk kalian."
Sinok mundur selangkah. Wajahnya pucat pasi.
"Juragan Bahar sudah punya istri," kata Sinok. "Tiga."
"Di kampung ini, laki-laki boleh punya empat," jawab Bahar santai. "Kau akan menjadi istri keempatku. Dan kau tidak perlu bekerja jual ikan asin lagi. Cukur di rumah, masak untuk saya, tidur di samping saya."
"Tidak," kata Sinok tegas. "Saya tidak mau."
Bahar tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke matanya. "Kamu tidak punya pilihan, Sinok. Bayar tiga ratus juta, atau kawin dengan saya. Atau..."
"Atau apa lagi?" tanya Raga.
Bahar menatap Raga. "Atau kau yang bayar. Tampaknya kau bukan orang miskin. Tanganmu halus. Bicaramu bagus. Pasti dari keluarga kaya."
Raga terdiam. Ia tidak bisa mengatakan bahwa ia sedang buron. Ia tidak bisa mengatakan bahwa ia tidak punya uang sepeser pun. Ia hanya diam, mengepalkan tangan di balik saku jaketnya.
"Lihat," kata Bahar sambil tertawa. "Dia diam. Berarti dia juga tidak punya uang. Jadi satu pilihan tersisa untukmu, Sinok."
Sinok menatap Raga sekilas. Matanya berkata: jangan ikut campur. Ini urusanku.
"Juragan Bahar," kata Sinok dengan suara yang bergetar. "Saya minta waktu."
"Waktu untuk apa?"
"Untuk cari uang. Tiga ratus juta. Saya akan cari."
Bahar tertawa keras hingga batuk batuk. "Cari uang tiga ratus juta? Dengan jual ikan asin? Kau butuh seratus tahun, Sinok!"
"Beri saya satu bulan."
"Satu minggu."
"Tiga minggu."
"Sepuluh hari. Tidak kurang."
Sinok mengangguk pelan. "Baik. Sepuluh hari."
Bahar mengeluarkan selembar kertas dari saku celananya. "Ini surat perjanjian. Tanda tangan di sini."
"Saya tidak bisa baca, Juragan."
"Tidak masalah. Saya bacakan."
Bahar membaca surat itu dengan suara keras. Isinya: Sinok berutang tiga ratus juta rupiah kepada Bahar, dengan jaminan tanah dan gubuk tempat tinggalnya. Jika dalam sepuluh hari tidak bisa membayar, maka Sinok setuju untuk menjadi istri Bahar.
"Tanda tangan di sini," kata Bahar sambil menunjuk garis di bagian bawah surat.
Sinok mengambil pulpen dengan tangan gemetar.
"Jangan!" teriak Raga tiba tiba.
Semua orang menoleh ke arah Raga.
"Jangan tanda tangan, Sinok," kata Raga. "Itu perjanjian bodoh. Dia hanya menjebakmu."
Bahar berbalik ke arah Raga. Wajahnya merah padam. "Kau mau cari masalah, anak muda?"
"Aku hanya bilang yang benar," kata Raga tegas. "Itu perjanjian tidak sah. Tidak ada saksi. Tidak ada notaris. Bahkan Sinok tidak bisa membaca isinya."
Bahar mendekati Raga. Kedua tangannya mengepal. Bau rokok dan keringat menyengat dari tubuhnya.
"Kau siapa? Pacar Sinok?" tanya Bahar.
"Aku bukan pacar siapa pun. Aku hanya orang yang tahu bahwa apa yang kau lakukan adalah pemerasan."
Bahar tersenyum. Lalu tanpa peringatan, ia meninju perut Raga.
Raga jatuh tersungkur. Udara di paru parunya terasa habis. Ia terbatuk batuk, mencoba menarik napas, tapi rasa sakit di perutnya terlalu kuat.
"Kangmas!" teriak Sinok.
Ia berlari ke arah Raga, tapi dua preman Bahar menahannya.
"Jangan!" teriak Sinok. "Jangan sakiti dia!"
Bahar menendang Raga yang masih tergeletak di lantai. Tendangan kedua. Ketiga. Keempat.
"Nak," kata Nenek Maryam dari pojok ruangan. Suaranya lirih tapi penuh wibawa. "Hentikan. Jangan bawa setan ke rumah saya."
Bahar berhenti. Ia menatap Nenek Maryam. Perempuan buta itu berdiri tegak meskipun usianya sudah lanjut.
"Nenek," kata Bahar. "Saya hormat sama nenek. Tapi pemuda ini sudah keterlaluan."
"Pemuda itu hanya membela kebenaran," kata Nenek Maryam. "Kalau Juragan merasa benar, tidak perlu pukul orang."
Bahar menghela napas. Ia meludah ke samping.
"Baik," kata Bahar. "Saya kasih waktu sepuluh hari. Tapi sebagai jaminan, Sinok ikut saya malam ini."
"Apa?" Sinok terkejut.
"Kau tinggal di rumah saya selama sepuluh hari. Biar saya pastikan kau tidak kabur."
"Tidak," kata Sinok. "Saya tidak mau."
"Bukan pilihan," kata Bahar.
Ia memberi isyarat kepada dua preman di belakangnya. Kedua preman itu langsung meraih tangan Sinok dan menariknya ke luar gubuk.
"Sinok!" teriak Raga. Ia mencoba bangkit, tapi tubuhnya terlalu sakit.
"Kangmas!" balas Sinok. Matanya berkaca kaca. "Jangan ikut ikut! Selamatkan diri Kangmas!"
"Sinok!"
"Mak!" teriak Sinok ke arah ibunya. "Mak, jaga diri!"
Nenek Maryam hanya berdiri diam. Matanya yang buta menatap ke arah pintu, seolah ia bisa melihat anaknya digiring paksa ke luar.
Bahar berjalan ke pintu. Sebelum keluar, ia menoleh ke arah Raga.
"Anak muda," kata Bahar. "Bawa kabar ke keluarganya Sinok. Sepuluh hari lagi aku akan ambil dia. Siapkan uang tiga ratus juta, atau siapkan pesta pernikahan."
Bahar tertawa, lalu keluar.
Suara sepeda motor bergemuruh. Satu per satu meninggalkan gang sempit itu.
Sunyi.
Raga tergeletak di lantai. Perutnya sakit. Bibirnya berdarah.
Ia memejamkan mata.
"Raga," suara Nenek Maryam dari kejauhan. "Nak, kau dengar saya?"
Raga membuka mata. Perlahan, ia bangkit. Tubuhnya gemetar.
"Saya dengar, Nenek."
"Kejar dia."
"Kejar?"
"Kejar anak saya. Jangan biarkan Bahar bawa Sinok ke tempat gelap."
Raga menggeleng. "Saya tidak bisa, Nenek. Badan saya sakit. Dan mereka bersenjata."
Nenek Maryam berjalan mendekat. Tangannya yang keriput meraba raba kepala Raga.
"Nak," kata Nenek Maryam dengan suara berbisik. "Kau cinta sama anak saya?"
Raga terdiam. Ia tidak siap menjawab pertanyaan itu. Bukan karena ia tidak tahu jawabannya. Tapi karena ia takut.
"Nenek..."
"Jawab. Apa kau cinta Sinok?"
Raga menarik napas panjang. Darah masih menetes dari sudut bibirnya.
"Iya," kata Raga. "Saya cinta Sinok."
Nenek Maryam tersenyum. "Kalau begitu, jangan biarkan Bahar mengambilnya. Cari Sinok. Selamatkan dia. Lalu bawa dia pergi dari sini."
"Ke mana?"
"Ke mana saja asal jauhan dari Bahar."
Raga mengepalkan tangannya.
Ia melihat ke luar pintu. Gelap. Hanya lampu minyak dari kejauhan yang menjadi titik titik kecil.
"Sepuluh hari, Nenek," kata Raga. "Saya punya sepuluh hari."
"Jangan buang waktu, Nak."
Raga mengangguk. Perlahan, ia berjalan ke luar gubuk. Tubuhnya sakit. Perutnya masih terasa seperti ditinju puluhan kali. Tapi ia tidak peduli.
Yang ia pikirkan hanya satu: Sinok.
Perempuan yang mengajarinya bahwa cinta tidak perlu diucapkan. Perempuan yang buta huruf tapi lebih berani dari seluruh mahasiswa di Jakarta. Perempuan yang tersenyum meskipun bibirnya pecah pecah karena angin laut.
Raga berjalan ke arah dermaga. Malam semakin gelap. Angin laut bertiup kencang.
Di kejauhan, ia mendengar suara perahu Bahar mulai melaju meninggalkan dermaga kecil Marunda.
Raga berlari sekencang mungkin, tapi perahu itu sudah terlalu jauh.
"Sinok!" teriak Raga ke arah laut.
Tidak ada jawaban.
Hanya ombak yang membanting ke dermaga, seolah menertawakan ketidakberdayaannya.
BAB 6
Kabar dari Masinis Tua
Stasiun Tanjung Priok, 18 Mei 1998
Pukul 03.00 WIB
Raga tidak tahu bagaimana ia bisa sampai di sini.
Yang terakhir ia ingat, ia berlari ke arah dermaga. Perahu Bahar sudah menghilang di tengah gelapnya laut. Ia berteriak memanggil Sinok sampai suaranya serak. Tidak ada jawaban. Hanya ombak dan angin yang mengejeknya.
Kemudian ia jatuh.
Bukan jatuh karena sengaja. Tapi tubuhnya sudah tidak kuat. Luka di perut dari pukulan Bahar masih terasa seperti ditusuk tusuk. Pelipisnya yang kemarin luka kembali berdarah karena ia terjatuh saat berlari. Dehidrasi. Kelelahan. Mungkin juga demam.
Ia tidak tahu berapa lama ia tergeletak di pinggir dermaga. Satu jam? Dua jam? Atau mungkin sampai matahari terbit?
Yang ia tahu, ketika ia membuka mata, ia sudah berada di tempat yang berbeda.
Bukan di dermaga. Bukan di pinggir laut.
Ia berada di sebuah ruangan kecil yang gelap. Udara panas dan pengap. Bau minyak tanah, kopi pahit, dan asap rokok kretek memenuhi ruangan itu. Di sampingnya, ada suara siulan pelan, seperti orang yang sedang bersenandung tanpa beban.
Raga mencoba bangkit. Kepalanya pusing. Tangannya meraba raba lantai. Lantainya dari kayu, bergoyang goyang seperti lantai gerbong kereta.
Gerbong kereta?
"Kau sudah sadar, Nak?"
Raga menoleh ke arah suara itu.
Seorang laki laki tua duduk di bangku kayu di sudut ruangan. Wajahnya keriput, kulitnya gelap seperti terpanggang matahari bertahun tahun. Ia memakai topi lokomotif biru lusuh dan kemeja lengan panjang yang sudah kusut. Di tangannya ada gelas kopi hitam pekat. Asap rokok kretek mengepul dari mulutnya.
"Siapa... siapa Bapak?" tanya Raga dengan suara serak.
Laki laki tua itu tersenyum. Giginya tinggal tiga, dua di atas satu di bawah.
"Namaku Sardi," katanya. "Masinis kereta. Atau dulu masinis. Sekarang sudah pensiun. Tapi kadang kadang masih disuruh kalau ada yang sakit."
"Masinis?"
"Iya. Kau kutemukan pingsan di pinggir rel dekat stasiun. Sepi. Gelap. Tidak ada orang. Untung aku lewat."
"Rel? Stasiun? Aku... aku ada di stasiun?"
"Kau ada di ruang istirahat masinis. Sebelum stasiun Tanjung Priok. Aku bawa kau ke sini semalam. Kau kelihatan parah. Lukamu banyak. Demammu tinggi. Aku kasih makan dan minum. Alhamdulillah, sekarang kau sadar."
Raga memejamkan mata. Perlahan, ingatannya mulai kembali.
Sinok.
Bahar.
Perahu yang melaju ke tengah laut.
Raga membuka mata dengan kasar. "Pak Sardi, aku harus pergi!"
"Pergi ke mana jam segini? Masih gelap."
"Aku harus ke Pulau Pramuka! Ada orang yang diculik! Dia dibawa ke sana!"
Sardi mengangkat alis. "Pulau Pramuka? Itu jauh, Nak. Naik perahu motor paling cepat satu jam. Ini masih tengah malam. Tidak ada perahu yang berani melaut di jam segini."
"Tapi..."
"Duduk dulu," kata Sardi tegas. "Ceritakan dari awal. Siapa yang menculik? Siapa yang diculik? Kenapa kau bisa terluka begini?"
Raga terdiam. Ia menatap Sardi. Laki laki tua itu matanya teduh, seperti kakek kakek yang tidak suka melihat anak muda menderita.
"Aku tidak punya banyak waktu, Pak," kata Raga.
"Semakin kau terburu buru, semakin kau buang waktu," kata Sardi. "Cerita dulu. Baru aku bantu."
Raga menghela napas panjang. Lalu ia mulai bercerita. Tentang demonstrasi. Tentang ibunya yang meninggal. Tentang ayahnya yang kolonel. Tentang larinya ke Marunda. Tentang Sinok. Tentang Nenek Maryam. Tentang Bahar yang datang di malam hari. Tentang perjanjian sepuluh hari. Tentang Sinok yang digiring paksa ke perahu.
Sardi mendengar semuanya tanpa memotong. Kadang ia mengangguk. Kadang ia menggeleng. Kadang ia menyesap kopinya. Kadang ia membuang asap rokok ke samping.
Ketika Raga selesai, Sardi diam cukup lama.
"Sinok," ulang Sardi pelan. "Namanya Sinok?"
"Iya. Siti Nur Khodijah. Panggilan Sinok."
Sardi menatap langit langit ruangan. "Aku tahu Bahar. Dia preman besar di sini. Kakaknya lurah. Adiknya anggota DPRD. Dia merasa tidak bisa disentuh."
"Benar kata Nenek Maryam," kata Raga. "Bahar pemeras. Dia merekayasa utang itu."
"Aku percaya. Tapi membuktikannya sulit. Bahar punya banyak mata di mana mana."
"Jadi aku harus bagaimana?"
Sardi berdiri. Ia berjalan ke jendela kecil ruangan itu, membuka tirai, dan menatap ke luar. Langit masih gelap. Beberapa lampu stasiun terlihat berkelap kelip di kejauhan.
"Aku kenal seseorang di Pulau Pramuka," kata Sardi tanpa menoleh. "Namanya Pak Said. Dia nelayan tua. Dulu teman sekapal ayahku. Dia tahu seluk beluk pulau itu. Siapa yang datang, siapa yang pergi."
"Pak Said bisa bantu?"
"Dia bisa bantu kau cari informasi. Tapi kau harus ke sana sendiri. Aku sudah tua. Tidak kuat melaut sejauh itu."
Raga mengangguk. "Aku akan ke sana. Besok."
"Kau tidak punya perahu."
"Aku bisa cari perahu sewaan."
"Dengan uang apa?"
Raga terdiam. Ia merogoh semua saku jaket dan celananya. Hanya ada beberapa lembar uang ribuan yang kusut dan sedikit recehan.
"Ini semua yang aku punya," kata Raga.
Sardi melihat uang itu. Jumlahnya mungkin tidak cukup untuk membeli satu galon air, apalagi menyewa perahu ke Pulau Pramuka.
"Berapa?" tanya Sardi.
"Delapan ribu rupiah."
Sardi tersenyum. "Delapan ribu. Di tahun 1998 begini, delapan ribu cuma cukup untuk nasi bungkus dua kali."
"Aku tahu. Tapi aku tidak bisa minta uang ke siapa pun."
Sardi menghela napas. Ia berjalan ke sebuah lemari kayu tua di pojok ruangan, membukanya, dan mengeluarkan sebuah kotak kaleng bekas biskuit. Ia membuka kotak itu, mengeluarkan beberapa lembar uang, lalu menghampiri Raga.
"Ini dua ratus ribu," kata Sardi sambil menyerahkan uang itu. "Cukup untuk sewa perahu dan beli bekal beberapa hari."
Raga terkejut. "Pak Sardi... saya tidak bisa..."
"Kau bisa," potong Sardi. "Kau akan kembalikan kalau sudah punya uang. Atau kalau tidak punya, ganti dengan kebaikan. Bantu orang lain yang membutuhkan. Itu sudah cukup."
Raga menatap uang di tangannya. Dua ratus ribu rupiah. Jumlah yang sangat besar untuk ukuran sekarang. Jumlah yang bisa menyelamatkan nyawa Sinok.
"Terima kasih, Pak Sardi," kata Raga. Suaranya bergetar. "Saya tidak tahu harus membalas apa."
"Balas dengan selamatkan perempuan itu," kata Sardi. "Jangan biarkan Bahar memperistrinya. Aku dengar dia jahat pada istri istri mudanya. Suka pukul. Suka kurung. Kadang kadang istri istri itu kabur, tapi tidak pernah selamat."
Raga mengepalkan tangan. Darahnya mendidih mendengar cerita itu.
"Aku tidak akan biarkan Sinok mengalami itu," kata Raga.
"Bagus," kata Sardi. "Sekarang tidur dulu. Sebentar lagi subuh. Aku akan carikan kau perahu setelah shalat subuh."
"Tapi..."
"Kau tidak akan bisa menyelamatkan siapa pun kalau kau pingsan lagi. Tidur. Itu perintah."
Raga menurut. Ia merebahkan tubuhnya di lantai kayu ruang istirahat itu. Sardi memberinya sebuah bantal kecil dan selimut tipis yang bau kapur barus.
"Pak Sardi," panggil Raga sebelum memejamkan mata.
"Ya, Nak?"
"Siapa yang menolong Pak Sardi dulu waktu Pak Sardi susah?"
Sardi tersenyum. "Banyak orang, Nak. Itu sebabnya sampai tua begini, aku masih punya hutang budi. Dan hutang budi tidak bisa dibayar dengan uang. Hanya dengan kebaikan kepada orang lain."
Raga mengangguk pelan.
Ia memejamkan matanya. Di balik kelopak matanya, ia melihat Sinok. Perempuan itu tersenyum. Bibirnya pecah pecah. Matanya berkaca kaca.
"Aku akan datang, Sinok," bisik Raga dalam hati. "Tunggu aku."
Pukul 05.00 WIB
Raga terbangun karena suara adzan subuh dari pengeras suara mushola kecil di dekat stasiun.
Sardi sudah tidak ada di ruangan. Di atas meja kayu, ada sepiring nasi goreng dan segelas teh manis hangat. Sebuah kertas kecil diletakkan di samping piring itu.
Raga mengambil kertas itu dan membacanya.
"Nak Raga,
Aku pergi ke dermaga dulu. Cari perahu untukmu. Nanti setelah kau makan, datang ke dermaga kecil di belakang stasiun. Tanya orang di sana, 'Perahu bapak Sardi yang mana?' Mereka akan tunjuk.
Bawalah bekal ini. Cukup untuk tiga hari. Kalau lebih dari tiga hari, kau harus cari makan di pulau.
Jaga diri. Sinok menunggumu.
Sardi"
Raga menelan air liur. Ia langsung makan nasi goreng itu. Tidak lambat. Cepat. Ia tahu setiap detik berharga.
Setelah habis, ia membawa bekal yang sudah dibungkus daun pisang oleh Sardi. Ia juga membawa botol air minum dan sebuah senter kecil.
Raga berjalan keluar ruang istirahat.
Pagi masih gelap. Beberapa lampu stasiun menyala redup. Burung burung pipit mulai berkicau di pohon beringin besar di halaman stasiun.
Ia berjalan ke arah dermaga kecil di belakang stasiun.
Di sana, Sardi sudah menunggu bersama seorang laki laki paruh baya dengan perahu kayu kecilnya.
"Ini Bang Salim," kata Sardi sambil menunjuk laki laki itu. "Dia yang akan membawamu ke Pulau Pramuka. Rumahnya di pulau itu. Dia tahu tempat tempat yang tidak diketahui orang luar."
"Salam kenal," kata Bang Salim sambil mengulurkan tangannya. Tangannya kasar, penuh kapalan. Kulitnya legam seperti kebanyakan nelayan.
"Salam kenal," jawab Raga sambil menjabat tangan Bang Salim.
"Sudah kudengar ceritamu dari Pak Sardi," kata Bang Salim. "Kau mau cari perempuan yang diculik Bahar?"
"Iya. Namanya Sinok."
Bang Salim mengangguk. "Aku kenal Bahar. Dia kadang datang ke pulau itu. Punya rumah kecil di sana. Untuk persembunyian katanya."
"Apa kau tahu rumahnya?"
"Aku tahu persis. Tapi kau tidak bisa sembarangan masuk. Rumahnya dijaga preman. Dua tiga orang. Mereka bersenjata. Parang, kayu, kadang ada yang bawa senjata api."
Raga terdiam. "Apa aku harus membawa senjata?"
Bang Salim menggeleng. "Jangan bawa senjata. Itu akan memperumit. Kau cuma satu orang. Lebih baik kau intai dulu. Cari tahu kapan Bahar pergi. Kapan penjaga sedang longgar. Lalu kau ambil Sinok saat mereka lengah."
"Sulit," kata Raga.
"Memang sulit," kata Bang Salim. "Tapi tidak ada jalan lain."
Sardi menepuk bahu Raga. "Kau bisa, Nak. Aku percaya."
Raga menatap Sardi. Laki laki tua yang baru ia kenal semalam itu sudah memberinya uang, bekal, perahu, dan harapan.
"Terima kasih, Pak Sardi," kata Raga.
"Jangan berterima kasih sebelum Sinok selamat," kata Sardi. "Sekarang cepat naik. Matahari tidak lama lagi terbit. Kau harus sampai di pulau itu sebelum siang."
Raga naik ke perahu Bang Salim. Perahu itu kecil, hanya cukup untuk dua orang ditambah sedikit muatan. Mesin tempelnya kelihatan usang, tapi suaranya masih bagus.
"Siap?" tanya Bang Salim.
"Siap," jawab Raga.
Mesin perahu dinyalakan. Suaranya memecah kesunyian pagi. Perahu mulai bergerak perlahan meninggalkan dermaga.
Raga menoleh ke belakang. Sardi masih berdiri di dermaga, melambai lambaikan tangan.
"Selamat jalan, Nak!" teriak Sardi.
"Terima kasih, Pak!" balas Raga.
Perahu semakin cepat. Dermaga semakin kecil. Stasiun Tanjung Priok semakin jauh.
Raga menghadap ke depan. Laut masih gelap. Angin pagi dingin menusuk tulang.
"Bang Salim," panggil Raga.
"Ya?"
"Apa aku akan selamat?"
Bang Salim tersenyum. "Itu bukan aku yang menentukan. Itu Tuhan. Tapi satu yang aku tahu: laki laki yang berjuang untuk perempuan yang dicintainya tidak akan mati sia sia."
Raga mengangguk. Ia mengepalkan tangan.
Di dalam dadanya, ada api kecil yang menyala. Api itu bernama Sinok.
Dan api itu tidak akan padam sebelum ia menemukannya.
BAB 7
Pulau yang Menelan Suara
Pulau Pramuka, 18 Mei 1998
Pukul 01.00 WIB (Dini Hari)
Perahu itu terombang ambing di tengah laut.
Sinok duduk di pojok perahu, kedua tangannya diikat ke belakang dengan tali tambang kasar. Mulutnya tidak dibungkam, tapi ia tidak bersuara. Ia hanya menunduk, menatap papan kayu perahu yang basah oleh air laut.
Di depannya, Juragan Bahar duduk santai sambil merokok. Dua preman lainnya duduk di depan dan belakang perahu, sesekali meludah ke laut atau tertawa mendengar lelucon kotor yang tidak Sinok mengerti.
"Sinok," panggil Bahar sambil menyedot rokoknya.
Sinok tidak menjawab.
"Sinok! Ajak bicara!"
Masih tidak menjawab.
Bahar bangkit, berjalan terhuyung karena ombak, lalu duduk di samping Sinok. Bau rokok dan keringatnya menyengat.
"Kau bisa diam sekarang," kata Bahar. "Tapi nanti di pulau, kau akan banyak bicara. Kau akan berteriak. Kau akan minta ampun. Tapi tidak ada yang bisa menolongmu di sana."
Sinok tetap diam. Ia hanya menggigit bibirnya yang pecah pecah.
"Lihat wajahku," perintah Bahar sambil mencengkeram dagu Sinok dan memaksanya menengadah.
Sinok menatap Bahar. Matanya tidak berkedip. Tidak ada rasa takut yang terlihat. Hanya ada kebencian yang dingin.
"Juragan Bahar," kata Sinok pelan.
"Ya?"
"Juragan pikir dengan menculik saya, Juragan akan menang?"
Bahar tertawa. "Aku sudah menang, Sinok. Kau di sini. Pacarmu yang sok pemberani itu tergeletak di gubuk nenekmu. Sepuluh hari lagi, kau akan jadi istriku. Tidak ada yang bisa mengubah itu."
"Dia bukan pacar saya," kata Sinok.
"Aku tidak peduli dia pacarmu atau bukan. Yang jelas, dia sudah kusakiti. Dan kalau dia datang mencari mu, aku akan sakiti lagi. Lebih parah."
Sinok mengepalkan tangannya yang terikat.
"Juragan tidak takut Tuhan?" tanya Sinok.
Bahar berhenti tertawa. Wajahnya berubah serius.
"Tuhan? Di mana Tuhan ketika aku miskin dulu? Di mana Tuhan ketika bapakku mati kelaparan? Tidak ada Tuhan, Sinok. Yang ada hanya uang dan kekuasaan."
"Juragan salah," kata Sinok. "Tuhan selalu ada. Hanya saja Juragan yang tidak mau melihat."
Bahar bangkit. Ia meludah ke laut. "Omong kosong. Sekarang diam. Aku tidak suka dengar ceramah dari perempuan kampung sepertimu."
Sinok tersenyum tipis. Di dalam hatinya, ia berdoa.
"Ya Allah, lindungi saya. Lindungi Mak. Lindungi Kangmas Raga. Jangan biarkan orang jahat ini menang."
Perahu terus melaju. Laut semakin gelap. Tidak ada bulan. Tidak ada bintang.
Pukul 03.00 WIB
Perahu mulai melambat.
Sinok mendengar suara ombak yang berbeda. Tidak seperti di laut lepas. Ada suara pecahan ombak yang menghantam karang. Ada suara dedaunan yang digoyang angin.
"Kita hampir sampai," kata salah satu preman.
Bahar berdiri. Ia menunjuk ke arah depan.
"Itu pulau Pramuka," kata Bahar. "Rumah barumu, Sinok."
Sinok mendongak. Yang ia lihat hanya kegelapan. Sesekali ada lampu kecil di kejauhan, mungkin dari rumah penduduk. Tapi sebagian besar pulau itu gelap seperti lubang hitam yang siap menelannya.
Perahu merapat ke dermaga kecil. Dermaga itu terbuat dari kayu yang sudah lapuk, beberapa patah. Ombak membuat perahu terantuk antuk ke tiang tiang kayu.
"Turun," perintah Bahar.
Sinok berdiri dengan susah payah karena tangannya masih terikat. Seorang preman membantunya turun dengan kasar, hampir membuatnya jatuh ke laut.
"Jangan dorong dorong," kata Sinok. "Saya bisa jalan."
"Kau bisa jalan, tapi tidak ke mana mana," kata Bahar sambil tertawa.
Mereka berjalan melewati gang kecil di antara rumah rumah penduduk. Suasana sepi. Hampir semua lampu padam. Hanya sesekali ada suara anjing menggonggong dari kejauhan.
Mereka berhenti di depan sebuah rumah panggung kecil. Rumah itu catnya sudah mengelupas. Pintunya dari kayu jati tua. Ada teras kecil dengan dua kursi bambu.
"Ini rumahmu," kata Bahar. "Selama sepuluh hari, kau tidak boleh keluar dari sini. Ada yang jaga di luar. Kalau kau coba kabur..."
Bahar mengeluarkan sebilah pisau dari saku celananya.
"Kau akan saya tebas sendiri," sambung salah satu preman sambil tertawa.
Sinok tidak menjawab. Ia hanya memandangi rumah panggung itu. Lebih bagus dari gubuknya di Marunda. Tapi Sinok tahu, di balik dindingnya, ada penjara.
"Buka tali nya," perintah Bahar.
Seorang preman membuka ikatan tangan Sinok. Pergelangan tangannya terasa sakit, merah, berbekas lilitan tali kasar.
"Masuk," kata Bahar sambil membuka pintu.
Sinok masuk. Di dalam rumah itu gelap. Bahar menyalakan lampu minyak. Ruangan sederhana: satu dipan kayu di pojok, satu meja kecil, satu lemari tua. Tidak lebih.
"Kau tidur di sini," kata Bahar. "Aku tidur di kamar sebelah. Jangan coba coba masuk ke kamarku kalau tidak diundang."
"Juragan akan tidur di sini?" tanya Sinok.
"Ya. Aku harus memastikan kau tidak kabur."
Sinok terdiam. Ia memandang dipan kayu itu. Kotor. Berdebu. Tidak ada bantal. Tidak ada selimut.
"Di mana saya mandi?" tanya Sinok.
"Sumur di belakang. Tapi kalau malam begini, jangan coba coba ke belakang. Buaya banyak di sungai dekat situ."
Sinok tahu Bahar berbohong. Tapi ia tidak membantah.
"Juragan," kata Sinok pelan.
"Apa lagi?"
"Saya lapar."
Bahar menghela napas. Ia menunjuk ke arah lemari tua di sudut ruangan.
"Di lemari itu ada mi instan. Rebus sendiri. Kompor minyak tanah di belakang."
Sinok berjalan ke lemari tua itu, membukanya, dan menemukan beberapa bungkus mi instan. Tangannya gemetar saat mengambil satu bungkus. Bukan karena takut. Tapi karena marah yang tertahan.
Ia berjalan ke belakang rumah. Sumur itu kecil, airnya keruh. Di samping sumur, ada tungku sederhana dengan kompor minyak tanah.
Sinok menyalakan kompor. Api kecil berwarna biru menyala. Ia merebus air di panci kecil.
Sambil menunggu air mendidih, Sinok menengadah ke langit.
Di sini, di pulau terpencil ini, langitnya berbeda. Lebih gelap. Tapi bintang bintangnya lebih banyak. Jutaan bintang bertaburan seperti pasir di pantai.
Sinok tersenyum.
"Kangmas Raga," bisiknya. "Saya tidak tahu apakah Kangmas bisa mendengar saya. Tapi kalau Kangmas dengar, tolong jangan cari saya. Bahar jahat. Dia akan sakiti Kangmas."
Air mulai mendidih. Sinok memasukkan mi instan ke dalam air panas. Bau mi memenuhi udara malam.
"Saya bisa bertahan," bisik Sinok pada dirinya sendiri. "Saya sudah biasa susah. Ini hanya ujian lain. Saya tidak akan menyerah."
Pukul 10.00 WIB
Sinok terbangun dari tidurnya yang gelisah.
Ia bermimpi buruk. Mimpi tentang ibunya yang buta, berdiri di pinggir laut, memanggil namanya berulang ulang. Tapi Sinok tidak bisa bergerak. Kakinya seperti terpaku di tanah.
"Saya di mana?"
Ia duduk di dipan kayu itu. Tubuhnya pegal. Punggungnya sakit karena tidur tanpa alas.
Dari luar, terdengar suara preman yang sedang bergurau. Mereka tertawa terbahak bahak mendengar sesuatu.
Sinok berjalan ke jendela. Jendela itu tidak berkaca, hanya lubang persegi dengan kayu palang. Ia mengintip ke luar.
Dua preman duduk di teras. Mereka sedang makan nasi bungkus sambil minum kopi. Sesekali mereka menunjuk ke arah rumah panggung itu dan tertawa.
"Dengar," kata salah satu preman. "Nanti malam Juragan mau... kau tahu."
Preman lainnya tertawa. "Kasihan cewek itu. Wajahnya cantik, tapi hidupnya sial."
"Bukan sial, bodoh. Dia dipilih Juragan. Itu namanya keberuntungan."
"Keberuntungan? Jadi istri keempat Juragan? Kau pikir dia beruntung?"
Keduanya tertawa lagi.
Sinok menjauh dari jendela. Dadanya berdebar kencang.
Ia berjalan ke lemari tua dan mengambil mi instan satu bungkus lagi. Tidak ada nasi. Hanya itu yang bisa dimakan.
Saat ia hendak ke belakang untuk merebus air, pintu depan terbuka.
Bahar masuk. Rambutnya masih basah. Kemeja batiknya diganti dengan kaus singlet putih yang memperlihatkan lengan lengan kekarnya.
"Selamat pagi, Sinok," kata Bahar sambil tersenyum.
Sinok tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam sambil memegang bungkus mi instan.
"Kau tidak menyapaku?"
"Selamat pagi, Juragan," kata Sinok pelan.
Bahar mendekat. Sinok mundur selangkah. Dua langkah. Tiga langkah.
"Kau takut?" tanya Bahar.
"Saya tidak takut," kata Sinok. "Saya hanya tidak suka Juragan terlalu dekat."
Bahar tertawa. "Kau akan terbiasa. Nanti setelah kita menikah, kita akan tidur satu ranjang. Setiap malam. Kau tidak bisa menghindar."
Sinok mengepalkan tangan. Bungkus mi instan di tangannya remuk.
"Juragan Bahar," kata Sinok. "Saya lebih baik mati daripada jadi istri Juragan."
Bahar berhenti tertawa. Wajahnya berubah dingin.
"Kau ancam aku?"
"Saya tidak mengancam. Saya hanya jujur."
Bahar melangkah maju. Sinok mundur terus sampai punggungnya menyentuh dinding.
"Kau pikir kau bisa memilih?" kata Bahar. "Di pulau ini, kau tidak punya siapa siapa. Ibumu buta. Pacarmu tidak punya uang. Tidak ada yang bisa menolongmu."
"Tuhan masih ada," kata Sinok.
"Tuhan?" Bahar tersenyum sinis. "Katakan pada Tuhan bahwa kau akan kuperkosa malam ini juga kalau kau tidak berhenti melawan."
Sinok terdiam. Matanya menatap Bahar dengan tatapan yang tidak bisa Bahar baca. Bukan takut. Bukan marah. Tapi sesuatu yang membuat Bahar merinding sekilas.
"Juragan," kata Sinok pelan.
"Apa?"
"Suami saya dulu juga nelayan. Dia meninggal di laut. Sebelum meninggal, dia berpesan: 'Sinok, jangan pernah takut pada laki laki yang hanya mengandalkan otot. Karena laki laki seperti itu cepat tua dan cepat mati.'"
Wajah Bahar merah padam. Ia mengangkat tangan hendak menampar Sinok.
Sinok tidak mengelak. Ia hanya menatap Bahar.
Dan entah kenapa, tangan Bahar tidak jadi jatuh.
Ia menurunkan tangannya perlahan.
"Kau beruntung aku sedang baik hati hari ini," kata Bahar. "Tapi jangan coba coba bicara seperti itu lagi."
Bahar berbalik dan berjalan keluar. Pintu kayu dibantingnya keras keras.
Sinok merosot ke lantai. Dadanya naik turun. Tangannya gemetar.
Tapi ia tidak menangis.
Ia menatap langit langit rumah itu, berdoa dalam hati.
"Ya Allah, beri saya kekuatan. Saya tidak tahu sampai kapan saya bisa bertahan. Tapi tolong lindungi saya. Jangan biarkan saya menyerah."
Dari luar, suara preman mulai berbisik bisik.
Sinok memejamkan mata. Ia membayangkan wajah Raga. Laki laki yang membacakan puisi untuknya di atas genteng bocor itu.
"Kangmas Raga," bisik Sinok. "Saya tidak tahu apakah kita akan bertemu lagi. Tapi kalau Kangmas membaca puisi untuk saya sekali lagi, saya akan hafal. Saya janji."
Air mata akhirnya jatuh juga.
Sinok menangis dalam diam, di rumah panggung kecil di pulau terpencil itu, di tengah orang orang yang ingin menghancurkannya.
Tapi di dalam tangisnya, ada sesuatu yang tidak padam.
Harapan.
BAB 8
Nelayan Tanpa Perahu
Pulau Pramuka, 18 Mei 1998
Pukul 11.00 WIB
Matahari sudah tinggi ketika perahu Bang Salim merapat di dermaga timur Pulau Pramuka.
Dermaga ini berbeda dengan dermaga tempat Bahar berlabuh semalam. Lebih kecil, lebih rusak, dan tidak ada penjagaan. Hanya beberapa perahu nelayan tambat di sana, terombang ambing oleh ombak kecil.
"Kita turun di sini," kata Bang Salim sambil mematikan mesin tempel. "Jangan di dermaga utama. Preman Bahar suka nongkrong di sana."
Raga mengangguk. Ia melompat ke dermaga, lalu membantu Bang Salim menambatkan perahu ke tiang kayu.
"Ini pulau yang sepi," kata Raga sambil melihat sekeliling.
"Memang sepi," kata Bang Salim. "Penduduknya cuma beberapa ratus. Kebanyakan nelayan. Tapi sejak Bahar punya rumah di sini, pulau ini jadi agak ramai. Orang orang datang. Tapi bukan orang baik."
"Di mana rumah Bahar?"
Bang Salim menunjuk ke arah timur laut. "Di ujung pulau. Rumah panggung besar, catnya biru. Tidak ada di kampung penduduk. Sendiri. Jadi kalau ada apa apa, orang kampung tidak akan dengar."
Raga mengamati arah yang ditunjuk Bang Salim. Dari dermaga ini, ia hanya melihat pepohonan kelapa dan semak belukar. Tidak tampak rumah biru itu.
"Bagaimana cara ke sana?"
"Lewat jalan setapak. Tapi hati hati. Banyak penjaga. Mereka kenal semua orang kampung. Kalau lihat wajah baru, mereka akan curiga."
Raga terdiam. Ia menatap dirinya sendiri. Wajahnya masih lebam. Pakaiannya kusut dan kotor. Sepatunya berlumpur.
"Aku tidak akan bisa menyamar sebagai penduduk," kata Raga.
"Kau benar," kata Bang Salim. "Kau perlu bantuan seseorang yang dikenal di pulau ini."
"Siapa?"
"Pak Said. Teman Pak Sardi yang kuceritakan kemarin. Dia sudah tua, tapi dia punya pengaruh di sini. Semua orang hormat padanya. Preman preman Bahar pun tidak berani usik dia."
"Di mana rumah Pak Said?"
"Di ujung barat pulau. Jauh dari rumah Bahar. Aku akan antar kau ke sana."
Mereka berjalan menyusuri pantai.
Pasir putih yang bersih, air laut yang biru jernih, dan angin yang sejuk. Tapi Raga tidak menikmati pemandangan itu. Matanya hanya tertuju ke depan, ke ujung timur pulau, ke tempat Sinok ditawan.
"Bang Salim," panggil Raga.
"Ya?"
"Apa Sinok baik baik saja?"
Bang Salim menghela napas. "Aku tidak tahu, Nak. Yang aku tahu, Bahar tidak pernah mengurung perempuan dengan baik. Biasanya dia..."
Bang Salim berhenti bicara.
"Dia apa?" desak Raga.
"Dia sering menyakiti mereka," kata Bang Salim lirih. "Istri istri mudanya sering babak belur. Tapi tidak ada yang berani melapor. Bahar punya koneksi di mana mana."
Raga mengepalkan tangan. Kukunya menusuk telapak tangan sendiri.
"Kalau Bahar menyakiti Sinok," kata Raga pelan, "aku akan..."
"Akan apa?" potong Bang Salim. "Kau sendiri tidak punya senjata. Tubuhmu masih sakit. Jangan bertindak bodoh, Nak. Pak Said akan memberi tahu kita jalan terbaik."
Raga menghela napas. Ia tahu Bang Salim benar. Tapi amarahnya sulit dibendung.
Mereka terus berjalan.
Setelah sekitar tiga puluh menit, Bang Salim berhenti di depan sebuah rumah panggung tua. Rumah itu lebih besar dari rumah penduduk lainnya. Halamannya luas, dengan pohon mangga besar di tengahnya. Di beranda, seorang laki laki tua sedang duduk di kursi goyang sambil memegang tongkat.
"Ini rumah Pak Said," kata Bang Salim.
Raga memandang laki laki tua itu. Wajahnya keriput, kulitnya hitam keropos terkena matahari bertahun tahun. Rambutnya putih semua, tipis. Tapi matanya... matanya masih tajam. Menatap Raga dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Salim, kau bawa siapa?" tanya laki laki tua itu tanpa basa basi.
"Ini Raga, Pak Said. Teman Sardi. Dari Marunda."
Pak Said mengerutkan dahi. "Sardi? Sardi yang masinis kereta itu?"
"Iya, Pak. Pak Sardi yang menyuruh saya kemari."
Pak Said berdiri dari kursi goyangnya. Perlahan, ia berjalan menuju Raga. Setiap langkahnya tertatih, tapi matanya tidak lepas dari wajah Raga.
"Kau datang ke pulau ini untuk apa, Nak?" tanya Pak Said.
Raga menelan ludah. "Untuk menyelamatkan seseorang, Pak."
"Siapa?"
"Namanya Sinok. Siti Nur Khodijah. Dia diculik Juragan Bahar semalam."
Pak Said terdiam. Ia menatap Bang Salim sejenak, lalu kembali ke Raga.
"Masuk dulu," kata Pak Said. "Kita bicara di dalam. Jangan di sini. Banyak mata yang melihat."
Di dalam rumah, suasana lebih teduh.
Lantai kayu yang dipoles mengkilap. Beberapa kursi dari rotan tersusun rapi. Di dinding, ada foto foto hitam putih laki laki berdiri di samping perahu besar.
"Duduk," kata Pak Said sambil menunjuk kursi rotan.
Raga dan Bang Salim duduk. Pak Said mengambil posisi di seberang mereka.
"Sekarang ceritakan dari awal," kata Pak Said. "Jangan ada yang disembunyikan."
Raga mulai bercerita. Tentang demonstrasi. Tentang ibunya yang meninggal. Tentang ayahnya yang kolonel. Tentang larinya ke Marunda. Tentang bertemu Sinok. Tentang Bahar yang datang di malam hari. Tentang surat perjanjian palsu. Tentang Sinok yang digiring ke perahu. Tentang pertemuannya dengan Sardi. Tentang perjalanannya ke pulau ini bersama Bang Salim.
Pak Said mendengar semuanya tanpa memotong. Kadang ia mengangguk. Kadang ia menghela napas. Kadang ia menggeleng pelan.
Ketika Raga selesai, Pak Said berdiri. Ia berjalan ke jendela, melihat ke luar, lalu kembali duduk.
"Kau anak muda yang nekat," kata Pak Said. "Tapi nekat saja tidak cukup. Kau perlu akal."
"Apa yang harus saya lakukan, Pak?" tanya Raga.
"Pertama, kau harus tahu bahwa Sinok masih hidup. Aku dengar dari tetangga, Bahar membawa seorang perempuan semalam. Muda. Rambut panjang. Wajah cantik meskipun pakaiannya kumal. Itu pasti Sinok."
Raga lega mendengar itu. Setidaknya Sinok masih hidup.
"Kedua," lanjut Pak Said, "Bahar tidak akan menyentuh Sinok dalam sepuluh hari pertama. Karena dia orang yang percaya mitos. Dia bilang, kalau dia menyentuh perempuan sebelum perjanjian, perjanjian itu batal. Jadi selama sepuluh hari itu, Sinok aman dari Bahar."
"Aman?" Raga mengerutkan dahi. "Tapi dari preman preman nya?"
Pak Said menggeleng. "Preman preman tidak berani. Mereka takut sama Bahar. Mereka tahu Bahar akan marah besar kalau ada yang menyentuh barangnya sebelum waktunya."
"Jadi Sinok masih aman?"
"Aman untuk sementara. Tapi sepuluh hari cepat berlalu. Setelah itu..."
Pak Said tidak melanjutkan. Raga sudah mengerti.
"Saya punya sepuluh hari," kata Raga.
"Kurang dari itu," kata Pak Said. "Hari ini sudah hari pertama. Kau butuh waktu untuk menyusun rencana."
"Apa rencana yang baik, Pak?"
Pak Said berpikir keras. Ia memainkan jari jarinya di atas meja kayu.
"Kau perlu menyamar," kata Pak Said akhirnya. "Jangan terlihat seperti orang asing. Pakailah pakaian nelayan. Hitamkan wajahmu dengan lumpur. Belajar bicara dengan logat sini."
"Saya siap melakukan apa saja, Pak."
"Kau juga perlu tahu jadwal jaga preman Bahar. Kapan mereka tidur. Kapan mereka lengah. Kapan Bahar meninggalkan pulau."
"Bagaimana saya bisa tahu semua itu?"
Pak Said tersenyum. "Karena aku punya orang dalam."
Raga terkejut. "Orang dalam, Pak?"
"Iya. Namanya Karim. Dia anak buah Bahar. Tapi dia diam diam tidak suka dengan Bahar. Karena Bahar pernah menyakiti adik perempuannya. Karim ingin balas dendam, tapi dia takut. Mungkin dengan kedatanganmu, dia punya keberanian."
"Bisakah saya bertemu Karim?"
"Sabarlah," kata Pak Said. "Malam nanti. Aku akan suruh Karim ke sini. Kalau siang begini, banyak mata yang melihat."
Raga mengangguk. "Baik, Pak. Saya tunggu."
"Nak Raga," panggil Pak Said tiba tiba.
"Ya, Pak?"
"Kau cinta sama Sinok?"
Raga tersenyum. Ini pertanyaan kedua yang sama setelah Nenek Maryam bertanya.
"Iya, Pak," jawab Raga jujur. "Saya cinta Sinok."
"Sampai sejauh mana kau rela berkorban?"
"Sampah kapan saja. Sampai apa saja."
Pak Said menghela napas panjang. "Dulu aku juga seperti kau. Waktu masih muda. Aku rela berkorban untuk perempuan yang kucintai. Tapi dia meninggal sebelum aku sempat menyelamatkannya."
Raga terdiam.
"Jangan sia siakan waktu, Nak," kata Pak Said. "Kalau kau cinta dia, selamatkan dia sekarang juga. Jangan tunggu besok. Jangan tunggu nanti. Karena besok belum tentu ada."
Raga mengepalkan tangan. "Saya akan selamatkan dia, Pak. Saya janji."
Pak Said menepuk pundak Raga pelan.
"Kau istirahat dulu," kata Pak Said. "Nanti sore aku suruh Salim belikan pakaian nelayan untukmu. Malam kau bertemu Karim. Dan besok pagi, kau mulai bergerak."
"Terima kasih, Pak Said."
"Jangan berterima kasih dulu. Berterima kasihlah kalau Sinok sudah selamat."
Pukul 19.00 WIB
Malam tiba lebih cepat di pulau itu.
Raga sudah berganti pakaian. Baju kaos lusuh warna hitam, celana pendek compang camping, dan topi anyaman bambu. Wajahnya diolesi arang dan lumpur sedikit, hingga kulitnya terlihat lebih gelap. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah jala tua pemberian Bang Salim.
"Dari jauh kau kelihatan seperti nelayan sungguhan," kata Bang Salim sambil tersenyum.
"Tapi bicaraku belum," kata Raga.
"Jangan banyak bicara. Cuma bilang 'iya', 'tidak', 'permisi', 'maaf'. Penduduk pulau ini tidak suka orang yang banyak omong."
Raga mengangguk.
Dari luar, terdengar suara ketukan pintu tiga kali.
"Itu Karim," kata Pak Said.
Pak Said membuka pintu.
Seorang laki laki muda masuk. Perawakannya sedang, rambutnya ikal, wajahnya tegang. Ia memakai kaus hitam dan celana jins. Di pinggangnya, terlihat sebuah pisau lipat.
"Pak Said," sapa laki laki itu.
"Karim, ini dia. Raga."
Karim menatap Raga. Raga menatap Karim. Keduanya diam sejenak.
"Aku dengar kau mau menyelamatkan seorang perempuan dari Bahar," kata Karim.
"Iya," jawab Raga.
"Berani?"
"Kalau tidak berani, saya tidak akan datang ke pulau ini."
Karim tersenyum tipis. "Bagus. Aku suka keberanianmu. Tapi keberanian tanpa informasi sama saja bunuh diri."
"Aku siap mendengar."
Karim duduk di kursi rotan. Ia membuka pisau lipatnya, memainkannya di antara jari jari.
"Rumah Bahar dijaga empat orang preman. Dua di depan, dua di belakang. Mereka bergantian jaga. Setiap enam jam."
"Kapan mereka lengah?"
"Jam tiga pagi. Jam paling berat untuk begadang. Biasanya dua preman tidur. Dua lainnya ngantuk berat. Itu saat terbaik untuk masuk."
"Di mana Sinok dikurung?"
"Di ruang tengah. Bukan kamar Bahar. Sinok tidur di dipan kayu di ruang tamu. Pintunya tidak dikunci, tapi ada preman yang tidur di depan pintu itu."
Raga berpikir keras. "Ada pintu lain?"
"Jendela belakang. Tapi jendela itu terlalu kecil untuk orang dewasa."
"Sinok kecil," kata Raga. "Dia bisa lewat."
Karim mengangguk. "Mungkin. Tapi dia harus membuka jeruji kayu di jendela itu. Jerujinya cukup longgar. Dia bisa lepas kalau memutar posisi tubuh."
"Bagaimana dengan Bahar?" tanya Raga.
"Bahar jarang tidur di pulau. Biasanya dia pergi ke Jakarta atau ke Marunda. Tiga hari sekali. Besok malam, dia rencana ke Jakarta. Pulangnya lusa sore. Itu kesempatanmu."
"Besok malam?" Raga hampir tidak percaya. "Jadi besok malam, Bahar tidak ada di pulau?"
"Tidak ada. Hanya preman preman."
Raga menatap Pak Said. "Pak, saya harus bergerak besok malam."
Pak Said mengangguk. "Tapi kau harus hati hati. Satu kesalahan, dan kau tidak akan pernah keluar dari pulau ini."
"Aku siap."
Karim berdiri. "Aku akan bantu kau dari dalam. Aku akan memastikan preman yang jaga di depan pintu Sinok pindah posisi jam tiga pagi. Ada urusan yang akan aku buat."
"Apa urusannya?"
"Biar aku yang urus," kata Karim. "Yang penting kau siap di luar. Bawa perahu di dermaga timur. Jangan di dermaga utama."
Raga mengulurkan tangannya. "Karim, terima kasih."
Karim menjabat tangan Raga. Genggamannya kuat.
"Jangan berterima kasih dulu," kata Karim. "Aku tidak melakukannya untukmu. Aku melakukannya untuk adikku. Dan untuk semua perempuan yang telah disakiti Bahar."
Karim berbalik dan pergi meninggalkan rumah.
Raga duduk di kursi rotan. Dadanya berdebar kencang.
"Besok malam, Sinok," bisiknya dalam hati. "Besok malam aku akan menjemputmu. Tunggu aku."
BAB 9
Surat Surat yang Tenggelam
Pulau Pramuka, 19 Mei 1998
Pukul 09.00 WIB
Hari kedua Sinok di pulau itu terasa seperti setahun.
Ia terbangun dengan punggung yang semakin sakit. Dipan kayu tanpa kasur memang tidak nyaman, tapi itu bukan alasan utama mengapa ia sulit tidur. Yang membuatnya gelisah adalah suara suara di luar. Setiap malam, ia mendengar preman preman Bahar bergurau dengan kata kata kotor. Setiap malam, ia mendengar langkah kaki Bahar mondar mandir di teras.
Tapi malam tadi, Bahar tidak datang.
Sinok tidak tahu kenapa. Mungkin Bahar sedang sibuk di Jakarta. Mungkin Bahar sedang mencari uang. Mungkin Bahar sedang bersama istri istri lainnya. Sinok tidak peduli. Yang ia tahu, ketidakhadiran Bahar memberinya sedikit ruang untuk bernapas.
Sinok duduk di pinggir dipan. Matanya mengantuk, tapi ia tidak bisa tidur lagi.
Ia berjalan ke jendela. Jeruji kayu di jendela itu cukup longgar. Ia mencoba memasukkan kepalanya. Hampir bisa. Tapi bahunya tersangkut.
"Kecil sekali," bisik Sinok. "Tapi mungkin saya bisa lewat kalau memutar tubuh."
Sinok mengamati jendela itu lebih teliti. Jerujinya dari kayu, bukan besi. Mungkin bisa dilepas kalau ada alat. Tapi ia tidak punya alat. Hanya tangannya yang kosong.
"Tidak penting sekarang," pikir Sinok. "Yang penting saya masih hidup."
Ia kembali ke dipan dan duduk bersila.
Matanya tertuju pada sebuah buku kecil yang tergeletak di meja dekat lemari. Buku itu adalah buku puisi Sapardi Djoko Damono yang dulu milik suaminya. Buku yang ia bawa dari Marunda. Entah bagaimana buku itu bisa ada di sini. Mungkin Bahar ikut membawanya saat menculik Sinok.
Sinok meraih buku itu. Ia membuka halaman pertama, lalu tersenyum.
"Kangmas Raga," bisiknya. "Kangmas bilang saya akan bisa membaca suatu hari nanti. Tapi saya tidak punya waktu. Besok atau lusa, mungkin Bahar akan..."
Sinok tidak melanjutkan. Ia takut mengucapkannya.
Ia membalik halaman demi halaman buku itu. Huruf huruf masih asing baginya. Tapi beberapa huruf sudah ia kenali. A, B, C, D, E. Itu saja. Pelajaran semalam bersama Raga di gubuknya.
"A," lantun Sinok pelan sambil menunjuk huruf pertama di halaman itu. "Ini A. Bunyinya 'a'."
Ia menunjuk huruf berikutnya. "Ini huruf... apa ya? Kangmas belum ajari."
Sinok menghela napas.
Tiba tiba ia mendapat ide.
Ia mencari potongan arang di sudut ruangan. Bekas dapur Bahar mungkin. Atau bekas rokok. Ia menemukan secarik arang kecil di dekat kompor minyak tanah.
Sinok mengambil arang itu, lalu mencari sesuatu untuk ditulisi.
Ia melihat papan lantai. Papan papan kayu yang disusun rapi, dengan celah celah kecil di antaranya.
Sinok membuka satu papan lantai yang longgar.
Di bawah papan itu, ada tanah kosong. Gelap. Lembap.
Sinok menulis di atas papan lantai itu dengan arang.
Huruf pertama: A. Huruf kedua: K. Huruf ketiga: U.
"AKU," kata Sinok pelan. "Saya bisa menulis 'aku'."
Ia tersenyum bangga pada dirinya sendiri, meskipun tidak ada yang melihat.
Kemudian ia menulis lagi di papan yang sama.
A K U R I N D U K A N G M A S
Sinok tidak tahu apakah ejaannya benar. Ia hanya menulis berdasarkan bunyi yang ia dengar di kepalanya.
"Aku rindu Kangmas," ulang Sinok sambil membaca tulisannya sendiri. "Bunyi nya begitu. Tapi tulisannya benar atau salah, saya tidak tahu."
Ia menulis lagi. Kali ini lebih panjang.
K A N G M A S J A N G A N C A R I S A Y A
B A H A R J A H A T
S A Y A B I S A B E R T A H A N
Sinok berhenti. Tangannya gemetar.
Ia menulis satu baris terakhir.
S A Y A S A Y A N G K A N G M A S
Setelah selesai, Sinok menutup papan lantai itu kembali. Ia menyembunyikan tulisannya di bawah papan, di tempat yang tidak akan dilihat orang.
"Ini surat untuk Kangmas," bisik Sinok. "Meskipun Kangmas tidak akan pernah membacanya."
Ia menyimpan arang itu di saku bajunya.
Lalu ia duduk kembali di dipan, memeluk buku puisi itu erat erat.
"Suamiku dulu meninggalkan buku ini," pikir Sinok. "Sekarang aku akan meninggalkan tulisan di papan lantai. Mungkin suatu hari nanti ada orang yang menemukannya. Mungkin orang itu akan tahu bahwa pernah ada perempuan bernama Sinok di sini. Perempuan yang belajar menulis meskipun hanya dengan arang di papan lantai."
Pukul 14.00 WIB
Bahar datang.
Sinok mendengar suara sepeda motor dari kejauhan. Suara Bahar tertawa bersama preman preman nya.
Pintu dibanting terbuka.
Bahar masuk dengan kaus putih kotor dan celana pendek. Rambutnya basah. Matanya merah, seperti orang yang baru minum minuman keras.
"Sinok!" panggil Bahar.
Sinok berdiri. Ia meletakkan buku puisi itu di dipan.
"Juragan Bahar," jawab Sinok pelan.
Bahar mendekat. Sinok mundur.
"Kau sudah makan?" tanya Bahar.
"Sudah."
"Apa?"
"Mi instan."
Bahar mengerutkan dahi. "Hanya itu?"
"Tidak ada nasi, Juragan."
Bahar menoleh ke arah pintu. "Hei! Kambing! Kenapa tidak belikan nasi untuk dia!"
Seorang preman berlari masuk. "Maaf, Juragan. Saya pikir..."
"Kau pikir apa? Pikir pakai otak, bodoh! Dia bukan tawanan biasa. Dia calon istriku! Harus makan enak!"
Preman itu mengangguk ketakutan. "Baik, Juragan. Saya beli nasi sekarang."
"Lari!"
Preman itu berlari keluar.
Bahar berbalik ke Sinok. Wajahnya berubah ramah. Terlalu ramah.
"Sinok," kata Bahar sambil duduk di kursi kayu. "Kemarin aku pergi ke Jakarta. Aku cari uang. Aku punya proyek besar. Tanah di Marunda akan dibangun perumahan. Aku akan kaya raya."
Sinok tidak menjawab.
"Nanti kalau kau jadi istriku, kau tidak akan susah lagi. Tidak perlu jual ikan asin. Tidak perlu kuli cuci. Cukup diam di rumah, pakai baju bagus, makan enak setiap hari."
Sinok masih diam.
"Kau tidak senang?" tanya Bahar.
"Juragan Bahar," kata Sinok akhirnya. "Saya tidak butuh baju bagus. Saya tidak butuh makan enak. Saya hanya ingin pulang ke rumah, sama ibu saya."
Wajah Bahar berubah tegang.
"Pulang? Tidak bisa. Kau sudah tanda tangan perjanjian."
"Saya tidak tanda tangan. Juragan yang memaksa."
"Paksa atau tidak, yang penting tanda tangan sudah ada. Di mata hukum, kau berutang tiga ratus juta padaku."
"Mata hukum yang mana, Juragan? Mata hukum yang Juragan beli dengan uang?"
Bahar berdiri. Mukanya merah padam.
"Kau berani bicara seperti itu padaku?"
Sinok menunduk. Ia takut. Tapi ia juga tidak mau kalah.
"Saya hanya bilang yang benar, Juragan."
Bahar mengangkat tangan. Sinok memejamkan mata, bersiap ditampar.
Tapi tamparan itu tidak datang.
Sinok membuka mata. Bahar menurunkan tangannya perlahan.
"Kau beruntung aku sedang banyak kerja," kata Bahar. "Tidak ada waktu untuk perempuan keras kepala sepertimu."
Bahar berbalik dan berjalan ke pintu.
"Besok malam aku ke Jakarta lagi. Pulang lusa. Kau jaga diri baik baik."
Bahar keluar. Pintu dibantingnya.
Sinok merosot ke lantai. Dadanya berdebar kencang.
"Besok malam Bahar pergi," bisik Sinok. "Itu artinya aku sendirian dengan preman preman."
Ia memandang jendela kecil di belakang ruangan.
"Bisakah saya kabur besok malam?"
Sinok berdiri dan berjalan ke jendela itu. Ia mencoba lagi memasukkan kepalanya. Masih tersangkut di bahu. Tapi kali ini, ia mencoba memutar tubuhnya. Kepalanya masuk. Bahunya masuk sedikit demi sedikit.
Tapi pinggulnya tersangkut.
"Kecil sekali," desah Sinok.
Ia keluar dari jendela dengan susah payah.
"Tidak bisa lewat sini. Kecuali kalau saya kurus lagi. Tapi saya sudah kurus."
Sinok berjalan ke jendela depan. Jerujinya lebih rapat. Tidak mungkin.
"Pintu depan dijaga preman," pikir Sinok. "Tidak bisa lewat sana."
Sinok kembali ke dipan. Ia memeluk lututnya.
"Tuhan, tolong tunjukkan jalan."
Dari luar, terdengar suara preman yang sedang membeli nasi untuknya.
Sinok menarik napas panjang.
"Besok malam," bisiknya. "Besok malam Bahar pergi. Itu saat terbaik untuk mencoba kabur. Tapi saya tidak tahu caranya. Saya hanya bisa berdoa."
Pukul 20.00 WIB
Sinok tidak bisa tidur.
Ia berbaring di dipan kayu, memandang langit langit rumah yang gelap. Dari luar, suara preman preman Bahar mulai mereda. Mereka mungkin tidur atau pergi ke warung kopi.
Sinok meraih arang dari sakunya.
Ia membuka papan lantai yang tadi pagi ia tulis.
Ia menulis lagi, dengan cahaya remang remang dari lampu minyak yang tersisa.
B E S O K M A L A M B A H A R P E R G I
S A Y A A K A N C O B A K A B U R
T O L O N G D O A K A N S A Y A K A N G M A S
Sinok menutup papan lantai itu.
Ia menyimpan arang di sakunya lagi.
Lalu ia memejamkan mata.
Di dalam gelap, ia membayangkan wajah Raga. Laki laki yang membacakan puisi di atas genteng bocor. Laki laki yang mau mengajarinya membaca tanpa pamrih. Laki laki yang dipukuli Bahar karena membelanya.
"Kangmas Raga," bisik Sinok. "Apakah Kangmas masih di gubuk saya? Apakah Kangmas menyusul saya ke sini? Atau apakah Kangmas sudah pergi meninggalkan Marunda?"
Sinok menggigit bibirnya.
"Tidak masalah. Yang penting Kangmas selamat."
Air mata mengalir di pipinya. Sinok tidak menyekanya. Ia biarkan air mata itu membasahi dipan kayu yang keras.
"Saya akan kabur besok malam," pikir Sinok. "Saya akan cari jalan pulang ke Marunda. Saya akan jumpa ibu. Saya akan jumpa Kangmas. Atau setidaknya, saya akan mati berusaha."
BAB 10
Sepuluh Tahun di Atas Karang
Pulau Pramuka - Marunda - Berbagai Pulau
1998 - 2008
Raga tidak pernah melupakan malam itu.
Malam di Pulau Pramuka, saat ia berdiri di balik semak belukar, menunggu isyarat dari Karim. Jam menunjukkan pukul tiga pagi. Gelap. Hanya cahaya bulan yang tipis karena tertutup awan.
Karim sudah memberi kode: sebuah senter yang dinyalakan dua kali dari jendela belakang rumah Bahar.
Tapi senter itu tidak pernah menyala.
Raga menunggu. Satu jam. Dua jam. Hingga langit mulai memutih di ufuk timur.
Tidak ada isyarat.
Bang Salim yang menemaninya mulai gelisah. "Nak Raga, kita harus pergi. Sebentar lagi subuh. Preman preman akan bangun."
"Tunggu sebentar lagi, Bang," pinta Raga.
"Sudah terlalu lama. Karim mungkin tertangkap. Atau mungkin dia mengkhianati kita."
Raga tidak mau percaya. Karim matanya jujur saat bicara. Tapi Bang Salim mungkin benar.
"Lima belas menit lagi," kata Raga. "Kalau tidak ada isyarat, kita pergi."
Lima belas menit berlalu.
Tidak ada isyarat.
Raga mengepalkan tangannya. "Bang Salim, aku harus masuk ke rumah itu."
"Gila kau, Nak! Kau tidak tahu berapa banyak preman di sana!"
"Aku tidak peduli. Sinok di sana."
Raga hendak berlari, tapi Bang Salim menarik tangannya kuat kuat.
"Lihat!"
Dari kejauhan, beberapa lampu senter menyala di sekitar rumah Bahar. Suara orang orang berlarian. Teriakan. Ada yang berteriak, "Tangkap! Tangkap dia!"
Raga melihat sesosok laki laki berlari kencang dari rumah Bahar menuju ke arah dermaga. Di belakangnya, tiga preman mengejar.
"Itu Karim!" bisik Bang Salim.
Karim berlari sekencang mungkin, tapi preman preman itu lebih cepat. Mereka menangkap Karim di ujung dermaga. Terdengar suara pukulan. Teriakan kesakitan.
Raga ingin menolong, tapi Bang Salim menahannya.
"Jangan, Nak! Kau akan mati sia sia!"
"Aku tidak bisa diam!"
"Kau pikir Sinok mau kau mati? Kau pikir dia mau lihat kau dihabisi preman preman itu?"
Raga terdiam.
Mereka berdua menyaksikan dari balik semak. Karim digiring kembali ke rumah Bahar. Pintu ditutup. Suara suara mereda.
Raga jatuh berlutut di tanah. Pasir basah membasahi celananya.
"Sinok," bisiknya. "Maafkan aku. Aku gagal."
Tiga hari kemudian
Raga baru tahu kabar dari Pak Said.
Karim dihukum. Bahar memukulinya sampai babak belur, lalu memecatnya. Karim dibuang ke Jakarta tanpa uang sepeser pun.
Dan Sinok?
Sinok tidak lagi di Pulau Pramuka.
Bahar memindahkannya ke Batam. Konon, ada seorang pengusaha di sana yang mau membeli Sinok dengan harga tinggi.
"Beli?" Raga hampir tidak percaya. "Maksudnya dijual?"
Pak Said mengangguk pelan. "Maaf, Nak. Aku sudah berusaha. Tapi Bahar punya orang di mana mana. Tidak ada yang bisa menolong."
Raga terdiam panjang.
"Aku akan ke Batam," katanya akhirnya.
"Kau tidak punya uang, Nak. Batam jauh. Perlu kapal besar. Perlu uang banyak."
"Aku akan cari uang."
"Dengan apa?"
Raga tidak menjawab. Ia hanya berdiri dan berjalan ke pantai.
Ia memandang laut lepas.
Di seberang sana, entah berapa mil jauhnya, ada perempuan yang ia cintai. Perempuan yang sedang menderita. Perempuan yang mungkin sedang menangis sendirian.
"Aku tidak akan menyerah, Sinok," bisik Raga. "Aku akan cari kau. Satu tahun. Dua tahun. Sepuluh tahun. Sampai kapan pun. Sampai aku menemukanmu atau sampai aku mati."
Tahun 1999 - 2000
Raga kembali ke Marunda.
Nenek Maryam masih buta, masih duduk di pojok ruangan dengan tasbih di tangannya. Ketika Raga masuk ke gubuk itu, Nenek Maryam berkata, "Kau gagal menyelamatkan anakku, Nak?"
Raga menunduk. "Maaf, Nenek. Saya sudah berusaha."
"Usaha saja tidak cukup. Kau harus berhasil lain kali."
"Tidak ada lain kali, Nenek. Sinok sudah di Batam."
Nenek Maryam terdiam. Tasbihnya berhenti bergerak.
"Batam," ulang Nenek Maryam lirih. "Jauh sekali."
"Saya akan ke sana, Nenek. Tapi saya butuh uang."
"Kau bisa cari uang di sini. Jadi nelayan. Tabung. Setelah cukup, berangkat."
"Tapi Sinok..."
"Sinok anakku. Aku juga sedih. Tapi kalau kau pergi sekarang tanpa persiapan, kau hanya akan mati di tengah laut. Tidak ada gunanya."
Raga mengepalkan tangan. Nenek Maryam benar. Ia tidak punya uang. Ia tidak punya perahu. Ia tidak punya pengalaman melaut. Ia hanya seorang anak kolonel yang kabur dari rumah dan gagal menyelamatkan perempuan yang dicintainya.
"Baik, Nenek. Saya akan jadi nelayan."
"Kau bisa tinggal di sini. Gubuk ini kepunyaanmu juga sekarang. Sinok sudah bilang padaku, dia sayang sama kau."
Raga terkejut. "Sinok bilang begitu?"
"Dia bilang sebelum dibawa pergi. 'Mak, kalau saya tidak pulang, jaga Kangmas Raga. Dia tidak punya siapa siapa lagi.'"
Raga menangis.
Ia menangis untuk pertama kalinya setelah bertahun tahun tidak menangis. Sejak ibunya meninggal, ia pikir air matanya sudah habis. Ternyata tidak.
Dia menangis untuk Sinok.
Tahun 2001
Raga belajar melaut dari nelayan nelayan tua di Marunda.
Awalnya ia sering mabuk laut. Muntah muntah setiap kali ombak besar. Nelayan nelayan itu menertawakannya.
"Kau mau jadi nelayan tapi mabuk laut?" ejek mereka.
Raga tidak marah. Ia hanya tersenyum pahit dan terus belajar.
Setiap malam, setelah pulang melaut, ia duduk di tepi pantai. Ia memandang ke arah utara. Ke arah Batam.
"Sinok, aku masih di sini," bisiknya. "Aku belum punya cukup uang. Tapi aku akan terus menabung. Tunggu aku."
Ia juga menulis.
Bukan puisi seperti dulu. Tapi nama Sinok.
Setiap kali ia menemukan batu karang yang rata, ia menulis nama Sinok di atasnya. Dengan arang. Dengan kapur. Dengan paku.
Suatu hari, seorang nelayan tua melihat tulisannya.
"Sinok?" tanya nelayan itu. "Itu nama mantan istri Bahar, bukan?"
Raga menoleh cepat. "Kau kenal Bahar?"
"Semua nelayan di sini kenal Bahar. Dia preman besar. Punya rumah di beberapa pulau."
"Kau tahu di mana Sinok sekarang?"
Nelayan itu menggeleng. "Tidak. Tapi aku dengar dia dijual ke Batam. Lalu entah ke mana. Mungkin ke Singapura. Mungkin ke Malaysia."
Raga terdiam.
"Tapi kau jangan berhenti mencari," kata nelayan itu. "Perempuan sepertinya pantas diselamatkan."
Raga mengangguk. "Aku tidak akan berhenti."
Tahun 2003
Raga sudah bisa melaut sendirian.
Ia membeli perahu kecil bekas dengan tabungannya selama dua tahun. Perahu itu buruk. Warnanya pudar. Mesinnya sering mati di tengah laut. Tapi itu miliknya.
Dengan perahu itu, ia mulai berkeliling pulau.
Pulau Seribu. Pulau Tidung. Pulau Pari. Pulau Harapan. Pulau Kelapa.
Setiap kali ia sampai di sebuah pulau, ia bertanya pada penduduk setempat.
"Permisi, saya cari perempuan bernama Sinok. Siti Nur Khodijah. Muda. Rambut panjang. Kulit sawo matang. Mungkin datang sekitar lima tahun lalu."
Kebanyakan menjawab tidak tahu. Beberapa menjawab, "Coba tanya di kampung sebelah." Tapi kampung sebelah juga tidak tahu.
Raga tidak menyerah.
Ia terus mencari.
Setiap malam, ia menulis nama Sinok di batu karang pulau itu.
Pulau Panggang. Nama Sinok di karang.
Pulau Lancang. Nama Sinok di karang.
Pulau Payung. Nama Sinok di karang.
Nelayan nelayan mulai mengenalnya. Mereka memanggilnya "Laki laki pencari nama."
"Apa kau tidak lelah, Nak?" tanya seorang nelayan tua di Pulau Tidung.
"Lelah, Pak," jawab Raga. "Tapi kalau saya berhenti, siapa yang akan mencari Sinok?"
"Bisa saja dia sudah mati."
Raga tersenyum pahit. "Kalau dia mati, saya akan cari kuburnya."
Nelayan tua itu menggeleng geleng. "Kau cinta benar sama perempuan itu."
"Iya, Pak. Saya cinta."
Tahun 2005
Tujuh tahun sudah Raga mencari.
Ia tidak lagi muda. Wajahnya kasar oleh terik matahari. Tangannya penuh kapalan. Kulitnya hitam seperti kebanyakan nelayan.
Ia juga berhenti menulis puisi.
Bukan karena ia tidak bisa. Tapi karena setiap kali ia mencoba menulis, yang keluar hanya nama Sinok. Bukan bait. Bukan rima. Hanya nama itu.
"Aku kehilangan kata kata," kata Raga pada dirinya sendiri. "Sejak Sinok pergi, puisiku ikut pergi."
Suatu malam, ia duduk di tepi pantai Marunda. Langit penuh bintang. Angin laut bertiup sejuk.
Ia membayangkan Sinok duduk di sampingnya, seperti dulu di atas genteng bocor.
"Sinok," bisik Raga. "Aku tidak tahu kau di mana. Tapi aku yakin kau masih hidup. Aku merasakannya. Di sini."
Ia menunjuk dadanya.
"Jantungku masih berdetak. Dan selama masih berdetak, aku akan terus mencari."
Tahun 2008
Sepuluh tahun.
Raga sudah berkeliling ke lebih dari dua puluh pulau. Ia sudah bertanya pada ribuan orang. Ia sudah menulis nama Sinok di ratusan batu karang.
Tapi Sinok tidak ditemukan.
Suatu hari, ia kembali ke Pulau Pramuka. Rumah Bahar sudah kosong. Bahar pindah ke Jakarta, menjadi caleg. Rumah biru itu tidak terawat. Catnya mengelupas. Halamannya penuh rumput liar.
Raga masuk ke rumah itu. Sepi. Tidak ada preman. Tidak ada penjaga.
Ia berjalan ke ruang tengah tempat Sinok dulu dikurung.
Dipan kayu masih ada di pojok. Meja kecil masih di tempatnya. Lemari tua masih tertutup rapat.
Raga duduk di dipan itu. Ia memejamkan mata, membayangkan Sinok duduk di tempat yang sama sepuluh tahun lalu.
"Sinok, kau di sini dulu. Kau takut. Kau sendirian. Dan aku tidak bisa menyelamatkanmu."
Raga menangis.
Tangisnya pelan. Hanya isak tangis yang tertahan.
Lalu tiba tiba, ia melihat sesuatu.
Papan lantai di dekat dipan itu sedikit terbuka. Tidak rapat seperti papan lainnya.
Raga membuka papan itu perlahan.
Di bawah papan, ada tulisan. Tulisan dengan arang. Sudah pudar, tapi masih terbaca.
A K U R I N D U K A N G M A S
K A N G M A S J A N G A N C A R I S A Y A
B A H A R J A H A T
S A Y A B I S A B E R T A H A N
S A Y A S A Y A N G K A N G M A S
Raga membaca tulisan itu berulang ulang.
Tangannya gemetar. Air matanya jatuh ke papan lantai, membasahi tulisan arang yang sudah hampir hilang.
"Sinok," bisik Raga. "Kau menulis. Kau belajar menulis. Di sini. Di tempat yang paling gelap dalam hidupmu, kau belajar menulis."
Ia menekan telapak tangannya ke papan lantai itu, seolah ingin merasakan sisa sisa kehangatan Sinok sepuluh tahun lalu.
"Aku tidak akan berhenti mencari, Sinok. Aku janji. Sampai kapan pun."
Raga melepas papan lantai itu, melipatnya dengan hati hati, lalu membawanya keluar dari rumah Bahar.
Dari pulau itu, ia membawa pulang satu papan lantai tua dengan tulisan arang yang hampir pudar.
Di gubuknya di Marunda, ia meletakkan papan itu di dinding, tepat di samping tempat tidurnya.
Setiap malam, sebelum tidur, ia membaca tulisan itu.
"AKU RINDU KANGMAS."
"Aku juga rindu, Sinok," bisik Raga. "Aku juga rindu."
BAB 11
Kabar dari Dokter Misterius
Batam, 15 Maret 2008 – Pukul 14.00 WIB
Rumah Gelap Itu
Sinok hampir tidak ingat bagaimana ia bisa sampai di Batam.
Yang ia ingat hanyalah potongan-potongan mimpi buruk yang tersusun tidak beraturan. Malam di Pulau Pramuka. Suara Karim yang berteriak kesakitan. Bahar yang marah dan memukul meja kayu sampai pecah. Tangan-tangan kasar yang menyeretnya ke dermaga. Perahu cepat dengan mesin yang menderu seperti singa kelaparan. Laut yang gelap dan tidak bertepi. Lalu... Batam.
"Kau akan kujual di Batam," kata Bahar saat itu, suaranya terdengar seperti orang yang sedang membicarakan harga ikan di pasar. "Ada pengusaha kaya yang suka perempuan cantik seperti kau."
Sinok tidak menangis. Ia sudah kehabisan air mata.
Perjalanan laut memakan waktu hampir dua hari. Sinok hanya diberi makan sekali sehari, nasi basi dengan sedikit sayur. Badannya semakin kurus, tulang-tulangnya mulai terlihat menonjol di balik pakaiannya yang lusuh. Matanya cekung seperti dua lubang sumur yang mengering. Ia tidak ingat kapan terakhir ia tidur nyenyak. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat wajah ibunya yang buta, wajah Raga yang berdarah di pelipisnya.
"Mak," bisik Sinok di dalam perahu, di sela-sela deru mesin dan deburan ombak. "Kangmas Raga. Doakan Sinok. Sinok takut."
Bahar yang duduk di depan tidak mendengar bisikannya. Atau mungkin mendengar, tapi tidak peduli.
Setibanya di Batam.
Hari masih gelap ketika perahu itu merapat ke sebuah dermaga kecil. Sinok tidak bisa melihat apa-apa selain lampu-lampu redup dari kejauhan. Bahar menarik tangannya kasar, menyuruhnya turun. Kakinya terasa lemas seperti kapas, hampir jatuh jika Bahar tidak menahannya dengan genggaman yang menyakitkan.
"Mau dibawa ke mana saya, Juragan?" tanya Sinok, suaranya parau.
"Diam. Jangan banyak tanya."
Mereka berjalan melewati gang-gang sempit yang gelap. Bau ikan asin dan air comberan menyengat di hidung. Sinok merasa seperti kembali ke Marunda, tapi Marunda adalah rumah, sementara tempat ini adalah neraka yang tidak ia kenal.
Mereka berhenti di depan sebuah rumah besar. Temboknya tinggi, pagarnya besi berduri, dan lampu di teras menyala redup seperti mata setengah terpejam. Bahar mengetuk pintu tiga kali. Sebuah celah kecil terbuka, seseorang mengintip dari dalam, lalu pintu dibuka lebar.
Seorang perempuan tua berdiri di ambang pintu. Wajahnya keriput, bibirnya tebal dan merah seperti bekas gigitan, matanya menyipit seperti ular yang sedang mengincar mangsa.
"Bahar," sapa perempuan tua itu. "Bawa barang baru?"
"Iya, Mak Cik," jawab Bahar dengan nada hormat yang tidak pernah Sinok dengar sebelumnya. "Masih muda. Perawan. Meskipun sudah pernah nikah, tapi masih bagus."
Perempuan tua itu mendekati Sinok. Ia memegang dagu Sinok, memiringkan wajahnya ke kiri dan ke kanan, seperti orang yang sedang menilai kualitas buah di pasar.
"Kurus," kata Mak Cik. "Rambutnya rontok. Matanya cekung. Kurang gizi, ya?"
"Dikasih makan seadanya di perjalanan," kata Bahar. "Nanti setelah di sini, Mak Cik bisa gemukin. Dikasih makan enak. Biar cepet pulih."
Mak Cik tertawa. Tawanya renyah seperti orang yang benar-benar puas dengan pembeliannya. "Berapa?"
"Lima belas."
"Lima belas juta? Terlalu mahal. Lihat kondisinya. Ini barang rusak."
"Tidak rusak, Mak Cik. Cuma capek. Istirahat sebentar, nanti pulih."
"Sepuluh."
"Dua belas."
"Sepuluh. Atau bawa balik."
Bahar menghela napas. Ia meludah ke samping, lalu mengangguk. "Baik. Sepuluh. Ambil."
Mak Cik mengeluarkan uang dari saku bajunya. Uang puluhan lembar, dihitung satu per satu dengan jari-jari yang gemuk. Bahar menerima, menghitung ulang, lalu memasukkannya ke dalam tas pinggang.
"Sinok," kata Bahar sambil berbalik. "Kau sekarang milik Mak Cik. Jangan coba kabur. Kalau kabur, aku cari kau sampai ke ujung dunia. Dan kau tahu apa yang akan aku lakukan."
Sinok tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam, menatap Bahar yang mulai berjalan ke arah dermaga. Mobil yang mengantarnya masih menunggu dengan mesin menyala.
"Selamat menikmati hidup barumu, Sinok," kata Bahar sambil tertawa. "Kau tidak akan pernah melihat Marunda lagi."
Pintu mobil ditutup. Mobil itu melaju perlahan, lalu menghilang di tikungan.
Sinok sendirian dengan Mak Cik.
"Masuk," kata Mak Cik dengan suara datar.
Sinok masuk ke dalam rumah.
Rumah itu besar.
Lantai keramik mengkilap. Lampu gantung di ruang tamu terbuat dari kristal yang berkilauan. Sofa-sofa kulit berwarna merah marun tersusun rapi di sekeliling meja kaca. Dindingnya dihiasi lukisan-lukisan pemandangan yang tidak pernah Sinok mengerti maknanya.
Tapi di balik kemewahan itu, Sinok bisa mencium bau yang tidak enak. Bau obat-obatan. Bau keringat. Bau keputusasaan.
"Duduk," kata Mak Cik sambil menunjuk sofa.
Sinok duduk di ujung sofa, paling pinggir, paling dekat dengan pintu.
"Kamu bisa baca?" tanya Mak Cik.
"Tidak," jawab Sinok jujur.
"Tulis?"
"Tidak."
"Berapa usia kamu?"
"Dua puluh sembilan."
Mak Cik mengerutkan dahi. "Kelihatan lebih tua. Tapi tidak apa. Di sini, usia tidak penting. Yang penting wajah. Dan tubuh. Wajahmu masih lumayan. Tubuhmu kurus, tapi bisa diisi."
Sinok tidak menjawab. Ia hanya menunduk.
Mak Cik berdiri dan berjalan ke koridor. "Ikut aku. Aku tunjukkan kamarmu."
Sinok mengikuti Mak Cik melewati koridor panjang yang gelap. Lampu-lampu redup di dinding hanya memberikan cukup cahaya untuk melihat bayangan-bayangan di lantai. Di kiri kanan koridor, ada pintu-pintu kayu tebal, masing-masing dengan nomor dan gembok kecil.
"Ini kamar nomor 7," kata Mak Cik sambil membuka salah satu pintu. "Kamu tidur di sini. Jangan keluar malam-malam. Jangan bicara dengan tamu tanpa izin. Jangan coba-coba kabur."
Sinok masuk ke dalam kamar.
Kamarnya kecil. Hanya muat satu dipan kayu tanpa kasur, satu meja kecil, dan satu lemari plastik. Lantainya semen. Dindingnya kotor, penuh coretan-coretan yang tidak bisa Sinok baca karena ia buta huruf. Satu jendela kecil dengan jeruji besi menghadap ke dinding tetangga yang tingginya dua meter. Tidak ada pemandangan. Hanya tembok.
"Besok pagi kau mulai bekerja," kata Mak Cik dari ambang pintu. "Malam ini istirahat."
"Bekerja apa?" tanya Sinok.
Mak Cik tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke matanya. "Kau akan tahu nanti."
Pintu ditutup. Terdengar suara gembok yang dikunci dari luar.
Sinok sendirian di kamar kecil itu. Ia duduk di dipan kayu. Lantai semen terasa dingin meskipun ia tidak menyentuhnya. Dinding-dinding kotor seolah menekannya dari segala arah.
Ia memeluk lututnya.
"Ibu," bisiknya. "Kangmas Raga. Di mana kalian?"
Tidak ada yang menjawab.
Hanya suara tetesan air dari kamar mandi di sebelah yang terdengar berulang-ulang. Seperti detak jam. Seperti hitungan mundur menuju sesuatu yang mengerikan.
Tiga hari pertama.
Sinok tidak diberi makan. Hanya air putih sekali sehari, itupun hanya setengah gelas. Perutnya keroncongan, kepalanya pusing, bibirnya pecah-pecah.
Pada hari ketiga, Mak Cik datang membawa sepiring nasi dan sepotong ayam goreng.
"Ini," kata Mak Cik sambil meletakkan piring di lantai. "Makan. Besok kau mulai bekerja. Tubuhmu harus kuat."
Sinok memandang nasi itu. Air liurnya keluar, tapi ia tidak segera makan. Ia curiga. Makanan ini mungkin diracuni. Atau mungkin mengandung obat bius.
"Kenapa tidak makan?" tanya Mak Cik.
"Saya tidak percaya Mak Cik."
Mak Cik tertawa. "Kamu pinter. Tapi ini nasi biasa. Tidak diracun. Aku tidak butuh meracuni kalian. Cukup kelaparan yang akan membuat kalian menurut."
Sinok masih ragu.
"Terserah," kata Mak Cik. "Kau makan atau tidak, besok kau tetap bekerja. Tapi kalau kau tidak makan, kau akan pingsan di depan tamu. Dan itu akan menyusahkan aku. Jadi makanlah. Untuk kebaikanmu sendiri."
Mak Cik pergi. Pintu dikunci lagi.
Sinok memandang nasi itu lama. Akhirnya, ia makan. Dengan lahap. Ayam gorengnya terasa seperti makanan terenak yang pernah ia rasakan dalam hidupnya. Tulang-tulangnya ia gigit sampai hancur, sumsumnya ia hisap. Nasi yang tersisa ia telan bulat-bulat tanpa dikunyah.
Setelah habis, ia meminum air putih dari gelas plastik di sudut kamar. Airnya keruh, tapi ia tidak punya pilihan.
Ia berbaring di dipan. Perutnya kenyang untuk pertama kalinya setelah berhari-hari.
Tapi di dalam hatinya, ia tahu: ini adalah awal dari sesuatu yang lebih buruk dari kelaparan.
Hari keempat. Mulai bekerja.
Mak Cik datang dengan seorang laki-laki paruh baya. Perutnya buncit, rambutnya sudah mulai botak di bagian atas, dan ia memakai kemeja batik yang terlalu ketat untuk ukuran tubuhnya.
"Ini tamu pertamamu," kata Mak Cik. "Layani dia dengan baik."
Sinok mundur. "Saya tidak mau."
"Kamu tidak punya pilihan."
"Saya lebih baik mati."
Mak Cik tersenyum. Dia mendekati Sinok, memegang dagunya, lalu berbisik pelan. "Kamu pikir mati itu mudah? Di rumah ini, kematian adalah kemewahan yang tidak bisa kamu beli. Kalau kamu mati, aku buang mayatmu ke laut. Tidak ada yang akan mencari. Tidak ada yang akan tahu."
Sinok menggigit bibirnya. Darah keluar dari bibirnya yang pecah-pecah.
Laki-laki paruh baya itu mendekat. Bau rokok dan alkohol menyengat dari seluruh tubuhnya. Sinok ingin berteriak, tapi Mak Cik sudah menutup pintu dari luar.
"Jangan takut," kata laki-laki itu. "Aku tidak akan menyakitimu."
Sinok tidak percaya.
Ia telah lama belajar bahwa laki-laki yang mengatakan "aku tidak akan menyakitimu" adalah laki-laki yang paling siap untuk menyakiti.
(Adegan ini tidak akan dijabarkan secara eksplisit sesuai disclaimer novel—cukup diketahui bahwa Sinok mengalami kekerasan fisik dan psikologis yang berulang selama sepuluh tahun ke depan)
Batam, 2008-2010
Sepuluh Tahun dalam Empat Dinding
Sinok tidak tahu persis berapa lama ia berada di rumah itu.
Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun. Semua terasa sama. Sakit. Lelah. Hampa.
Tidak ada kalender di kamarnya. Tidak ada jendela yang cukup besar untuk melihat pergantian siang dan malam. Yang ada hanya suara—suara pintu terbuka, suara langkah kaki di koridor, suara perempuan-perempuan lain yang menangis di kamar sebelah, suara Mak Cik yang berteriak, suara tamu-tamu yang datang dan pergi.
Sinok belajar untuk tidak menghitung waktu.
Ia belajar untuk mematikan pikirannya setiap kali pintu kamarnya terbuka. Ia belajar untuk menatap dinding kosong selama berjam-jam tanpa berpikir apa-apa. Ia belajar untuk tidak merasakan apa-apa ketika tubuhnya disakiti.
"Sinok," panggil seorang perempuan muda dari kamar sebelah suatu malam. Dinding kamar mereka hanya terpisah selembar triplek tipis. Suara bisikan bisa terdengar jelas.
"Ya?" jawab Sinok.
"Nama saya Yuli. Dari Lombok. Kamu dari mana?"
"Dari Marunda. Jakarta."
"Sudah berapa lama di sini?"
Sinok terdiam. Ia tidak tahu. "Lama."
"Saya sudah tiga tahun," kata Yuli. "Saya dikirim sama suami saya sendiri. Dia bilang mau kerja di Batam. Ternyata dijual ke sini."
Sinok menutup matanya. "Suami saya sudah meninggal. Tapi dijual sama preman."
"Kamu tidak punya keluarga?"
"Ibu. Buta."
"Kasihan."
Mereka berdua diam. Suara tetesan air dari kamar mandi di ujung koridor terdengar sayup-sayup.
"Sinok," panggil Yuli lagi.
"Ya."
"Kita tidak akan pernah keluar dari sini, ya?"
Sinok tidak menjawab. Ia sudah sering bertanya pada dirinya sendiri pertanyaan yang sama. Dan jawabannya selalu sama: tidak.
"Tapi kita tidak boleh menyerah," kata Sinok akhirnya. "Suatu hari nanti, kita akan keluar. Entah hidup, entah mati."
"Kamu optimis."
"Bukan optimis. Saya hanya tidak punya pilihan lain selain percaya."
Yuli menangis pelan. Sinok mendengar isak tangis yang tertahan dari balik dinding triplek.
"Sinok, aku takut," bisik Yuli. "Setiap malam aku takut. Setiap kali pintu terbuka, jantungku berhenti berdetak."
"Aku juga," kata Sinok. "Tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Selama aku masih hidup, aku tidak akan berhenti berusaha kabur."
"Pernah mencoba?"
"Tiga kali."
"Berhasil?"
"Tiga kali tertangkap. Tiga kali dipukuli."
Yuli terdiam. "Lalu?"
"Lalu saya sadar. Kabur tidak cukup. Kita perlu bantuan dari luar. Seseorang yang tidak terlibat dengan rumah ini."
"Dari mana kita bisa dapat bantuan?"
Sinok tidak menjawab. Ia juga tidak tahu.
Tahun pertama di Batam (2008-2009).
Sinok menjadi salah satu "pegawai" Mak Cik yang paling patuh. Ia tidak pernah melawan. Tidak pernah berteriak. Tidak pernah menangis di depan tamu. Ia hanya diam. Membisu. Seperti boneka yang tidak punya perasaan.
Tapi di dalam hatinya, api kecil masih menyala.
Setiap malam, setelah pintu kamarnya dikunci, Sinok duduk di sudut ruangan. Ia memejamkan mata. Ia membayangkan Marunda. Ia membayangkan ibunya yang buta duduk di pojok ruangan sambil memegang tasbih. Ia membayangkan Raga yang membacakan puisi di atas genteng bocor.
"Ibu," bisik Sinok. "Kangmas Raga. Saya masih hidup. Saya masih bertahan. Doakan saya."
Ia tidak tahu apakah doanya sampai. Tapi ia terus berdoa. Setiap malam. Tanpa pernah bolong.
Suatu malam di tahun 2009.
Sinok terbangun dari tidurnya karena suara ribut di koridor. Mak Cik sedang marah-marah pada seseorang. Suaranya keras, memekakkan telinga.
"Kamu pikir aku bodoh? Kamu coba kabur lewat jendela belakang, ya? Pintu belakang sudah aku jebak. Kamu tidak bisa ke mana-mana!"
Suara perempuan muda menangis. "Mak Cik, ampun. Saya tidak akan kabur lagi."
"Sudah tiga kali kamu kabur, Dewi. Tiga kali! Aku sudah bilang, kalau kamu kabur lagi, aku akan..."
Terdengar suara tamparan. Perempuan itu berteriak kesakitan.
Sinok memejamkan mata. Ia ingin menutup telinganya, tapi suara itu tetap masuk. Setiap hari, setiap malam, selalu ada yang disakiti. Mak Cik tidak pernah kehabisan cara untuk membuat penghuninya menderita.
Besok paginya, Sinok melihat Dewi di dapur. Wajahnya lebam. Matanya bengkak. Bibirnya pecah di dua tempat.
"Dewi," panggil Sinok pelan.
Dewi tidak menjawab. Ia hanya menunduk, memandangi lantai keramik dapur yang kotor.
"Kamu tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja," kata Dewi. Suaranya datar. Matanya kosong.
Sinok tahu Dewi tidak baik-baik saja. Tapi ia tidak tahu harus berkata apa. Kata-kata tidak akan pernah cukup untuk menyembuhkan luka seperti ini.
Tahun kedua di Batam (2009-2010).
Tubuh Sinok semakin memburuk. Rambutnya yang dulu panjang dan hitam kini kusam dan rontok. Setiap kali ia menyisir, segenggam rambut tertinggal di sikat. Kulitnya pucat pasi karena tidak pernah terkena sinar matahari. Matanya sayu, kehilangan cahaya yang dulu membuat Raga terpikat di pasar ikan Marunda.
Mak Cik mulai mengeluh.
"Sinok, kamu kurus sekali. Kurang makan, ya? Nanti tidak laku. Tamu tidak suka perempuan kurus."
Sinok tidak menjawab. Ia hanya menunduk.
"Mulai besok, kamu makan dua kali sehari. Aku perintahkan dapur untuk kasih jatah lebih."
Sinok tidak peduli. Makan dua kali atau satu kali, rasanya sama. Semua terasa seperti kardus. Tidak ada rasa. Tidak ada kenikmatan.
Yuli meninggal.
Suatu pagi, Sinok terbangun oleh suara teriakan dari kamar sebelah. Bukan teriakan biasa. Teriakan histeris.
Sinok menempelkan telinganya ke dinding triplek.
"Yuli? Yuli, kamu kenapa?"
Tidak ada jawaban.
"Yuli!"
Masih tidak ada jawaban.
Pintu kamar Sinok terbuka. Mak Cik berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat.
"Pindah kamar," kata Mak Cik. "Sekarang."
"Kenapa?"
"Jangan banyak tanya. Pindah!"
Sinok mengambil barang-barangnya, hanya beberapa helai pakaian dan sebuah sisir—lalu mengikuti Mak Cik ke kamar baru di ujung koridor. Ketika melewati kamar Yuli, pintunya terbuka sedikit. Sinok melirik ke dalam.
Yuli terbaring di lantai. Tubuhnya kaku. Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit. Mulutnya setengah terbuka, seperti sedang berteriak tanpa suara. Di pergelangan tangannya, ada luka sayatan yang dalam. Darah sudah mengering, berwarna coklat kehitaman.
Sinok berhenti berjalan.
"Jangan lihat!" bentak Mak Cik.
Tapi Sinok sudah melihat. Ia melihat Yuli. Perempuan dari Lombok yang setiap malam mengajaknya bicara melalui dinding triplek. Perempuan yang takut dan menangis setiap kali pintu terbuka. Perempuan yang akhirnya memilih mati daripada terus hidup di neraka ini.
"Ibu," bisik Sinok dalam hati. "Kangmas Raga. Yuli sudah pergi. Dia memilih pergi. Saya tidak akan menyalahkannya. Saya juga ingin pergi. Tapi saya belum bisa. Saya masih ingin melihat kalian."
Ia melanjutkan langkah. Kaki terasa berat. Dadanya sesak.
Mak Cik membukakan pintu kamar baru. Kamar ini lebih kecil dari sebelumnya. Tidak ada jendela. Hanya satu lubang angin seukuran kepalan tangan di dekat langit-langit.
"Di sini kamu tidur," kata Mak Cik. "Jangan coba-coba bunuh diri. Kalau kamu mati, aku akan rugi."
Mak Cik pergi. Pintu dikunci.
Sinok duduk di lantai. Dingin. Lembap. Gelap. Tidak ada suara dari kamar sebelah. Yuli sudah tidak ada. Hanya ada kesunyian.
Tahun ketiga hingga kelima (2010-2012).
Sinok kehilangan hitungan waktu.
Ia tidak lagi membedakan hari dan malam. Tidak lagi peduli apakah hari ini Senin atau Jumat. Waktu berjalan tanpa arti. Yang ia tahu hanyalah rutinitas: bangun, bekerja, makan (jika diberi), tidur, lalu bangun lagi.
Tubuhnya semakin kurus. Tulang-tulangnya terlihat jelas di balik pakaiannya yang longgar. Matanya cekung, dengan lingkaran hitam di bawahnya. Rambutnya hampir habis. Kulitnya pucat seperti kertas.
Mak Cik tidak lagi mengeluh. Ia sudah pasrah. Sinok masih laku karena wajahnya yang unik—mata besar, tulang pipi tinggi, ekspresi yang misterius. Beberapa tamu justru menyukai perempuan kurus seperti Sinok.
"Saya pikir saya akan mati," bisik Sinok pada dirinya sendiri suatu malam. "Tapi saya tidak mati-mati. Tuhan masih sayang saya. Atau Tuhan lupa sama saya."
Ia tersenyum pahit dalam gelap.
Tahun kelima (2012).
Suatu pagi, Sinok terbangun dengan demam tinggi.
Badannya panas sekali. Kepalanya pusing. Setiap kali ia mencoba berdiri, dunia terasa berputar. Kakinya lemas, tangannya gemetar.
Ia mencoba memanggil Mak Cik. Suaranya hanya sebatas napas.
"Mak Cik... saya sakit... tolong..."
Tidak ada yang mendengar.
Sinok jatuh ke lantai. Kepalanya membentur semen. Rasa sakit menjalar dari ubun-ubun ke leher, dari leher ke punggung. Ia menggigil meskipun suhu tubuhnya panas.
"Ya Allah," bisik Sinok. "Kalau ini saatnya saya mati, ambillah nyawa saya. Saya sudah lelah. Saya sudah tidak kuat lagi. Sepuluh tahun di sini. Sepuluh tahun menderita. Cukup. Sudah cukup."
Ia memejamkan mata.
Di balik kelopak matanya, ia melihat Marunda. Melihat ibunya yang buta duduk di pojok ruangan sambil memegang tasbih. Melihat Raga yang membacakan puisi di atas genteng bocor. Melihat senja jingga keemasan yang tidak pernah sama dua kali.
"Kangmas Raga," bisik Sinok. "Saya akan mati sekarang. Terima kasih sudah mengajarkan saya arti cinta meskipun hanya sebentar. Saya tidak akan pernah melupakan puisi-puisi Kangmas. Saya akan membacanya di surga nanti. Saya janji."
Ia kehilangan kesadaran.
Batam, 15 Maret 2008 – Pukul 14.00 WIB
Dokter Misterius
Sinok tidak tahu berapa lama ia pingsan.
Yang ia tahu, ketika membuka mata, ia berada di tempat yang berbeda.
Bukan di kamar sempit dengan dinding kotor. Bukan di lantai semen yang dingin. Bukan di bawah selimut tipis yang bau.
Ia berada di sebuah ruangan putih.
Dindingnya putih. Seprainya putih. Gorden di jendela juga putih. Bau obat-obatan menyengat di udara—bau yang asing bagi Sinok, karena selama sepuluh tahun ia hanya mencium bau keringat, bau air comberan, bau keputusasaan.
Ruang rumah sakit.
Sinok mencoba bangkit, tapi tubuhnya terlalu lemah. Ia hanya bisa memutar kepala. Matanya menyipit menyesuaikan dengan cahaya lampu neon yang terang—terang sekali, menyilaukan, seperti cahaya matahari pertama setelah sepuluh tahun di dalam gua.
Di samping tempat tidurnya, seorang perempuan muda sedang duduk di kursi plastik putih. Perempuan itu memakai jas putih dokter. Rambutnya diikat ke belakang, rapi, tidak ada sehelai pun yang terlepas. Wajahnya bulat, kulitnya putih bersih, matanya teduh seperti air kolam yang tenang.
"Kamu sadar?" tanya perempuan itu.
Sinok ingin menjawab, tapi tenggorokannya terasa kering seperti disumbat kapas. Lidahnya terasa seperti amplas. Ia hanya bisa membuka mulut tanpa suara.
"Jangan bicara dulu," kata perempuan itu sambil mengambil gelas air putih dari meja samping tempat tidur. "Minum dulu. Perlahan."
Perempuan itu menyodorkan sedotan ke mulut Sinok. Sinok menghirup air itu sedikit demi sedikit. Airnya dingin dan segar—lebih segar dari air apa pun yang pernah ia minum dalam sepuluh tahun terakhir. Air itu terasa mengalir di kerongkongannya yang kering, seperti sungai kecil yang mengalir di tengah padang pasir.
Ia menghirup lagi. Dan lagi. Dan lagi.
"Pelan-pelan," kata perempuan itu. "Jangan terlalu banyak sekaligus. Nanti perutmu sakit."
Sinok berhenti. Ia memandang perempuan itu dengan mata yang masih sayu.
"Siapa... siapa Ibu?" tanyanya. Suaranya parau, hampir tidak terdengar. Sepuluh tahun tidak banyak bicara membuat pita suaranya berkarat.
Perempuan itu tersenyum. Senyum yang hangat, seperti sinar matahari pagi di Marunda.
"Namaku Clarissa. Aku dokter. Aku menemukanmu pingsan di lantai rumah itu."
"Rumah itu?"
"Rumah tempat kamu ditahan. Kamu tidak ingat?"
Sinok terdiam. Perlahan, ingatan mulai kembali. Rumah besar dengan pagar besi berduri. Mak Cik yang kejam. Kamar sempit tanpa jendela. Tamu-tamu yang datang dan pergi. Yuli yang mati di kamar sebelah.
Sinok menutup matanya. Dadanya terasa sesak.
"Aku sedang melakukan riset tentang kekerasan terhadap perempuan," lanjut Clarissa. "Aku masuk ke rumah itu dengan menyamar sebagai pembeli. Aku sudah tiga bulan menyusup ke sana. Mencari bukti. Mencari korban yang mau bersaksi."
Sinok membuka matanya. "Kamu... polisi?"
"Bukan. Aku dokter. Tapi aku bekerja sama dengan polisi. Ada tim khusus yang menangani kasus perdagangan manusia. Aku menjadi mata-mata mereka di lapangan."
Clarissa mengambil napas panjang.
"Semalam, ketika aku sedang berkeliling di koridor, aku mendengar suara teredam dari kamar paling pojok. Kamar nomor 13. Tidak ada yang pernah masuk ke kamar itu. Mak Cik bilang kamar itu untuk barang rusak. Tapi aku penasaran."
"Aku memaksa Mak Cik membukakan pintu. Dan aku menemukanmu di lantai. Tubuhmu panas sekali. Demam malaria stadium lanjut. Kalau aku datang sehari lebih lambat, mungkin kamu sudah mati."
Sinok terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa.
"Kamu sudah di sini tiga hari," lanjut Clarissa. "Aku merawatmu diam-diam. Pemilik rumah itu tidak tahu. Aku bilang kamu sudah aku kirim ke panti sosial. Tapi sebenarnya kamu aku bawa ke rumah sakit ini."
"Jadi... saya bebas?"
Clarissa mengangguk. "Bebas. Tapi belum sepenuhnya. Kamu masih sakit. Kamu perlu rawat jalan setidaknya tiga bulan ke depan. Dan kamu perlu tempat tinggal sementara."
Sinok menutup matanya. Air mata mengalir di pelupuk matanya—air mata yang sudah sepuluh tahun tidak pernah keluar, karena selama sepuluh tahun ia terlalu takut untuk menangis.
"Saya tidak punya uang, Dok," kata Sinok. Suaranya bergetar. "Saya tidak bisa bayar."
"Kamu tidak perlu bayar. Aku yang biayai."
"Kenapa Dokter menolong saya?"
Clarissa tersenyum lagi. Tapi kali ini senyumnya berbeda. Ada sesuatu di balik senyum itu—kesedihan, mungkin, atau kenangan, atau luka lama yang belum sembuh.
"Karena itu tugas saya," kata Clarissa. "Juga karena... aku punya alasan pribadi."
"Alasan pribadi?"
Clarissa tidak menjawab. Ia hanya memegang tangan Sinok yang kurus itu. Tangannya terasa hangat—hangat seperti pelukan yang sudah lama tidak Sinok rasakan.
"Nanti," kata Clarissa. "Nanti aku ceritakan. Sekarang kamu istirahat dulu. Badanmu masih lemah."
Clarissa berdiri dan berjalan ke pintu. Sebelum keluar, ia menoleh ke belakang.
"Sinok," panggilnya.
"Ya, Dok?"
"Kamu kuat. Lebih kuat dari yang kamu kira. Sepuluh tahun di tempat itu, dan kamu masih bertahan. Itu luar biasa."
Sinok tidak menjawab. Ia hanya menatap langit-langit ruangan yang putih bersih.
Untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun, ia merasa aman.
Rumah Sakit Umum Batam, 18-25 Maret 2008
Pemulihan
Tiga hari pertama di rumah sakit adalah yang paling berat.
Tubuh Sinok masih lemah. Demamnya turun naik. Kadang ia menggigil kedinginan meskipun suhu ruangan normal. Kadang ia berkeringat deras meskipun tidak panas. Dokter Clarissa datang setiap pagi dan sore, memeriksa tekanan darahnya, memberi obat, dan memastikan ia makan.
"Kamu harus makan," kata Clarissa suatu sore. "Badanmu butuh nutrisi. Selama sepuluh tahun kamu kekurangan gizi. Itu sebabnya rambutmu rontok, kulitmu pucat, tulangmu keropos."
Sinok memandang sepiring nasi, sayur, dan sepotong ikan di atas meja samping tempat tidur. Porsi kecil—sengaja, karena Clarissa tidak ingin perutnya kaget.
"Saya tidak nafsu makan, Dok," kata Sinok jujur.
"Kamu harus memaksakan diri."
"Kenapa? Saya tidak penting. Lebih baik saya mati saja."
Clarissa duduk di kursi di samping tempat tidur Sinok. Ia memegang tangan Sinok, lembut tapi tegas.
"Kamu penting, Sinok. Setiap perempuan yang selamat dari rumah itu adalah penting. Kalau kamu mati, Bahar dan Mak Cik menang. Mereka akan terus melakukan kejahatan mereka karena tidak ada korban yang berani bersaksi."
Sinok terdiam.
"Kamu mau Bahar bebas?" tanya Clarissa. "Kamu mau Mak Cik terus menjual perempuan lain seperti menjual ayam di pasar?"
Sinok menggigit bibirnya.
"Aku tidak mau," jawabnya pelan.
"Kalau begitu, kamu harus hidup. Kamu harus sembuh. Dan suatu hari nanti, kamu akan menjadi saksi di pengadilan. Ceritamu akan mengirim mereka ke penjara."
Sinok menunduk. Air matanya jatuh ke seprai putih.
"Saya takut, Dok."
"Takut apa?"
"Takut mereka akan cari saya lagi. Takut mereka bunuh saya. Takut mereka bunuh orang yang saya sayang."
Clarissa menghela napas. "Itu wajar. Tapi kamu tidak sendirian. Aku akan melindungimu. Polisi juga akan melindungimu. Bahar dan Mak Cik tidak akan bisa menyentuhmu lagi."
Sinok mengangkat kepalanya. Ia menatap Clarissa.
"Kenapa Dokter mau melindungi saya? Saya hanya orang miskin dari kampung nelayan. Dokter tidak kenal saya. Tidak punya utang budi apa pun."
Clarissa tersenyum. "Karena aku percaya pada keadilan. Dan karena... aku juga punya cerita."
"Cerita apa?"
Clarissa diam sejenak. Matanya menerawang ke luar jendela, ke arah langit Batam yang mulai gelap.
"Ayahku pengembang properti," kata Clarissa pelan. "Dulu, ketika aku masih kecil, ayahku menggusur kampung nelayan di Marunda. Bukan hanya satu atau dua rumah. Ratusan rumah. Mereka dipaksa pindah dengan kekerasan. Preman-preman bayaran ayahku memukuli laki-laki, melecehkan perempuan, menangiskan anak-anak."
Sinok terkejut. "Ayah Dokter?"
"Aku tahu. Aku malu. Tapi waktu itu aku masih kecil. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Baru setelah aku dewasa, setelah aku menjadi dokter, aku sadar bahwa aku harus memperbaiki kesalahan ayahku. Caranya? Dengan membantu perempuan-perempuan korban kekerasan. Karena ayahku dulu juga menggunakan kekerasan. Dan aku tidak bisa mengubah masa lalu. Tapi aku bisa mengubah masa depan."
Sinok terdiam. Ia tidak pernah menyangka bahwa di balik jas putih dokter yang bersih itu, ada luka yang sama dalamnya dengan lukanya.
"Dok," panggil Sinok.
"Ya?"
"Terima kasih sudah jujur."
Clarissa tersenyum. "Sekarang makan. Ikanmu dingin."
Sinok mengambil sendok. Ia mulai makan. Perlahan. Seteguk demi seteguk.
Hari keempat (19 Maret 2008).
Sinok sudah bisa duduk. Badannya masih lemah, tapi demamnya mulai turun. Clarissa membawa sebuah buku.
"Kamu bisa baca?" tanya Clarissa.
Sinok menggeleng. "Dulu tidak bisa. Tapi sepuluh tahun lalu, seorang laki-laki mengajari saya huruf. Saya lupa sebagian besar. Saya tidak pernah baca buku setelah itu. Tidak ada buku di rumah itu."
"Mau belajar lagi?"
Sinok tersenyum. Senyum pertama setelah bertahun-tahun. Senyum yang masih sama seperti dulu—lebar, tulus, meskipun bibirnya pecah-pecah.
"Saya mau, Dok. Tapi otak saya sudah tumpul. Sepuluh tahun di rumah itu, saya tidak pernah membaca apa pun. Saya tidak pernah menulis apa pun. Saya tidak pernah berpikir apa pun selain cara bertahan hidup."
"Tidak masalah. Kita mulai dari awal."
Clarissa membuka buku itu. Buku anak-anak, dengan gambar-gambar berwarna dan huruf-huruf besar. Buku yang biasa digunakan untuk mengajar TK.
"Ini huruf A," kata Clarissa, menunjuk huruf pertama.
"A," ulang Sinok.
"Bagus. Ini huruf B."
"B."
"Ini huruf C."
"C."
Sinok belajar dengan tekun. Setiap kali ia bisa membaca satu kata, matanya berbinar seperti anak kecil yang menemukan mainan baru. Binar yang sudah lama hilang dari matanya mulai kembali—sedikit demi sedikit, seperti matahari yang terbit setelah badai panjang.
"Aku," baca Sinok perlahan. "A...ku. Aku."
"Bagus," kata Clarissa.
"Sayang."
"Sayang."
"Raga."
"Raga."
Sinok berhenti. Tangannya yang memegang buku mulai gemetar.
"Saya bisa membaca nama Kangmas Raga," bisiknya.
"Siapa Raga?" tanya Clarissa.
Sinok terdiam. Ia menatap jendela kamar rumah sakit. Di luar, langit mulai berwarna jingga. Senja akan tiba.
"Dia laki-laki yang saya cintai, Dok," kata Sinok pelan. "Tapi saya tidak tahu dia masih hidup atau sudah mati. Saya tidak tahu dia masih menunggu saya atau sudah menikah dengan perempuan lain. Saya tidak tahu apa-apa."
"Kapan terakhir kali kamu bertemu dia?"
"Dua puluh enam tahun lalu. Tidak. Sepuluh tahun lalu. Aku bingung."
Clarissa tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya memegang tangan Sinok lagi.
"Suatu hari nanti," kata Clarissa, "kamu akan bertemu dengannya lagi. Aku yakin."
Sinok tersenyum pahit. "Dokter terlalu optimis."
"Bukan optimis. Aku percaya pada takdir. Dan percayalah, Sinok, takdir itu nyata. Aku sendiri mengalaminya."
Hari ketujuh (22 Maret 2008).
Clarissa membawa kabar.
"Sinok, polisi sudah menangkap Mak Cik. Rumah itu digerebek semalam. Dua belas perempuan diselamatkan. Beberapa tamu yang ada di lokasi juga ditahan."
Sinok terkejut. "Benar, Dok?"
"Benar. Timku sudah mengumpulkan bukti selama tiga bulan. Catatan keuangan, daftar tamu, rekaman CCTV. Semua cukup untuk menjerat Mak Cik dan jaringan di belakangnya."
"Bahar?"
"Bahar masih buron. Tapi polisi sedang mengejarnya. Dia tidak akan bisa kabur lama-lama. Semua asetnya sudah dibekukan."
Sinok menghela napas. Dadanya terasa lega, tapi juga berat. Lega karena keadilan mulai ditegakkan. Berat karena ia sadar bahwa perjuangan belum selesai.
"Kapan saya bisa pulang ke Marunda, Dok?" tanya Sinok.
"Belum sekarang. Kamu masih sakit. Dan Marunda tidak aman. Bahar mungkin masih punya anak buah di sana."
"Tapi ibu saya..."
"Ibumu aman. Aku sudah kirim seseorang untuk memantau. Dia masih tinggal di gubuk itu. Masih buta. Masih menjual ikan asin. Tapi dia baik-baik saja."
Sinok menangis. Ia tidak bisa menahan lagi. Ia menangis untuk ibunya yang sudah tua dan buta, yang harus hidup sendirian karena anaknya tidak bisa pulang.
"Sinok, jangan menangis," kata Clarissa sambil memeluknya. "Kamu akan pulang. Aku janji. Tapi setelah kamu benar-benar sembuh. Dan setelah Bahar tertangkap."
Sinok mengangguk di bahu Clarissa.
"Saya percaya Dokter," bisiknya.
Apartemen Jakarta, April 2008
Hidup Baru
Seminggu kemudian, Sinok sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit.
Clarissa membawanya ke sebuah apartemen kecil di Jakarta Utara—sengaja dipilih, karena dekat dengan Marunda meskipun tidak persis di sana. Dari balkon apartemen lantai empat, Sinok bisa melihat laut lepas. Bukan laut Marunda, tapi setidaknya laut.
"Ini rumah sementara," kata Clarissa sambil membuka pintu apartemen. "Kamu tinggal di sini sampai sembuh total."
Sinok masuk ke dalam apartemen. Ruangan itu sederhana: satu kamar tidur, satu ruang tamu, satu dapur mungil, satu kamar mandi. Lantai keramik putih bersih. Dindingnya dicat krem lembut. Ada sofa kecil berwarna biru di ruang tamu, dan meja kayu kecil di dekat jendela.
Bagi Sinok, ini istana.
"Dok," panggil Sinok sambil memandang sekeliling. "Ini rumah Dokter?"
"Ini apartemen milik keluarga. Tapi tidak ada yang tinggal. Jadi kamu bisa pakai."
"Saya tidak enak hati. Dokter sudah habis-habisan biayai saya. Saya tidak punya apa-apa untuk membalas."
Clarissa meletakkan tas belanjaan berisi bahan makanan di meja dapur. Ia berbalik menghadap Sinok.
"Kamu tidak perlu membalas apa pun, Sinok. Cukup sembuh. Lalu nanti kamu bisa mulai hidup baru."
"Hidup baru?"
"Iya. Hidup yang tidak perlu kamu takuti setiap hari. Hidup di mana kamu bisa membaca buku, menulis surat, memasak makanan sendiri, tidur tanpa mimpi buruk."
Sinok terdiam. Ia belum pernah membayangkan itu. Selama sepuluh tahun di rumah gelap itu, ia pikir hidupnya hanya tinggal menunggu kematian. Tidak ada masa depan. Tidak ada mimpi. Tidak ada harapan.
"Saya tidak tahu harus mulai dari mana, Dok," kata Sinok lirih.
"Mulai dari belajar," kata Clarissa. "Saya akan cari kursus baca tulis untukmu. Setelah itu, mungkin kamu bisa kerja. Saya punya kenalan yang butuh asisten rumah tangga. Gajinya tidak besar, tapi cukup untuk hidup."
Sinok mengangguk. Air matanya jatuh lagi. Tapi kali ini bukan air mata kesedihan. Ini air mata harapan.
"Terima kasih, Dok. Saya tidak tahu harus membalas kebaikan Dokter."
"Balas dengan menjadi baik pada orang lain," kata Clarissa. "Itu sudah cukup."
Pertengahan April 2008.
Clarissa mendaftarkan Sinok ke kursus baca tulis untuk dewasa. Tempatnya tidak jauh dari apartemen—sebuah ruang kecil di lantai dua toko buku bekas.
Gurunya bernama Ibu Ratna, seorang perempuan setengah baya yang sudah pensiun sebagai guru SD. Ia mengajar dengan sabar, seperti Clarissa dulu, tapi lebih sistematis.
"Huruf A sampai Z kita sudah lewati," kata Ibu Ratna suatu sore. "Sekarang kita belajar merangkai huruf menjadi suku kata."
Sinok duduk di bangku kayu, memegang pensil dengan kaku. Tangannya belum terbiasa menulis. Setiap huruf yang ia buat terlihat seperti cakar ayam.
"Ba," tulis Sinok.
"Bagus. Sekarang 'ca'."
"Ca."
"Da."
"Da."
"Gabungkan. Ba-ca-da. Bacada. Apa itu bacada?"
Sinok berpikir. "Bukan kata, Bu."
"Iya, bukan kata. Sekarang coba 'baca'. Ba-ca. Baca. Itu kata."
"Baca," ulang Sinok. "Saya suka kata itu."
"Kenapa?"
"Karena dulu, seorang laki-laki mengajari saya baca. Saya tidak bisa waktu itu. Sekarang saya belajar lagi. Suatu hari nanti saya akan bisa membaca bukunya."
Ibu Ratna tersenyum. "Laki-laki itu pasti orang yang istimewa."
Sinok tersenyum. "Istimewa, Bu."
Juni 2008. Dua bulan setelah kursus dimulai.
Sinok sudah bisa membaca dengan lancar. Tidak lancar-lancar amat—masih terbata-bata, masih sering salah eja, masih perlu waktu untuk memahami kalimat panjang. Tapi ia bisa membaca.
Clarissa memberinya buku puisi. Bukan buku puisi yang berat. Buku puisi anak-anak, dengan kata-kata sederhana dan gambar-gambar lucu.
Sinok membaca satu puisi di buku itu. Perlahan. Kata per kata.
"Matahari terbit di timur. Ayam berkokok bangunkan tidur. Aku bangun, cuci muka, lalu sarapan bubur."
Ia tersenyum. "Puisi ini mudah, Dok. Tidak seperti puisi Kangmas Raga."
"Puisi Kangmas Raga seperti apa?" tanya Clarissa.
Sinok memejamkan mata. Ia mulai melantunkan puisi yang dulu Raga bacakan di atas genteng bocor. Kata per kata. Persis. Dengan logat Bugisnya yang kental. Dengan suaranya yang parau.
"Aku tidak tahu namamu saat pertama kali kulihat kau di depan pintu itu..."
Clarissa tertegun. "Kamu hafal?"
"Saya hafal, Dok. Setelah dua puluh enam tahun."
Clarissa tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya memandang Sinok dengan mata berkaca-kaca.
"Sinok, kamu luar biasa."
"Biasa saja, Dok. Saya hanya tidak bisa melupakan Kangmas Raga. Setiap hari. Setiap malam. Dia selalu ada di pikiran saya."
Clarissa memeluk Sinok. "Kita akan cari dia, Sinok. Aku janji."
Sinok tidak menjawab. Ia hanya memejamkan mata, membayangkan wajah Raga, dan berdoa dalam hati.
"Ya Allah, pertemukan saya dengan Kangmas Raga. Biarkan saya melihat wajahnya sekali lagi. Biarkan saya mendengar suaranya membacakan puisi. Hanya sekali. Setelah itu, saya rela mati."
September 2008. Enam bulan setelah bebas.
Sinok sudah bisa menulis.
Tulisannya masih jelek, masih banyak salah ejaan, masih terlihat seperti tulisan anak SD. Tapi ia bisa menulis.
Setiap malam, setelah pulang dari kursus, Sinok duduk di meja kecil apartemen itu. Lampu meja menyala redup. Di luar, suara kendaraan dan hiruk-pikuk kota Jakarta terdengar sayup-sayup.
Sinok menulis.
Surat untuk ibunya yang buta di Marunda.
Surat untuk Raga yang entah di mana.
Ia menulis dengan hati-hati, kata per kata, kalimat per kalimat, seperti orang yang sedang merangkai permata.
"Ibu, ini Sinok. Sinok selamat. Sinok di Jakarta. Sinok tinggal di apartemen kecil sama Dokter Clarissa. Dokter Clarissa baik. Dia tolong Sinok.
Ibu, Sinok rindu ibu. Sinok ingin pulang. Tapi Sinok belum punya uang. Sinok akan cari kerja dulu. Setelah punya uang, Sinok pulang.
Doakan Sinok, Ibu.
Sinok sayang Ibu."
Sinok menyimpan surat itu di dalam amplop. Ia belum punya uang untuk mengirimnya, biaya pos saja tidak mampu. Tapi setidaknya, ia sudah menulis. Setidaknya, ibunya akan tahu suatu hari nanti bahwa anaknya masih hidup.
Surat untuk Raga lebih sulit.
Ia menulis, lalu menghapusnya, lalu menulis lagi, lalu menghapusnya lagi. Kertas di depannya penuh coretan. Kata-kata yang dicoret, kalimat yang tidak selesai, ejaan yang salah.
Apa yang bisa ia katakan pada Raga setelah dua puluh enam tahun?
"Kangmas, saya sudah bisa membaca"?
Itu terlalu pendek. Terlalu sederhana. Tidak cukup untuk mewakili sepuluh tahun penderitaan, sepuluh tahun kerinduan, sepuluh tahun doa yang tidak pernah berhenti.
"Kangmas, saya mencintai Kangmas"?
Itu terlalu langsung. Sinok belum pernah mengucapkan kata itu pada Raga. Dulu, di Marunda, ia tidak berani. Sekarang, ia masih tidak berani. Surat ini mungkin tidak akan pernah sampai ke tangan Raga. Tapi setidaknya, ia bisa menulisnya.
Akhirnya, setelah berjam-jam bergulat dengan kata-kata, Sinok hanya menulis satu kalimat.
"Kangmas Raga, saya sudah bisa membaca."
Sinok menyimpan surat itu di bawah bantalnya. Setiap malam, sebelum tidur, ia memegang surat itu, membacanya berulang-ulang, dan berdoa.
"Ya Allah, pertemukan saya dengan Kangmas Raga. Biarkan saya melihat wajahnya sekali lagi. Biarkan saya mendengar suaranya membacakan puisi. Hanya sekali. Setelah itu, saya rela mati."
Ia memejamkan mata. Di balik kelopak matanya, ia melihat Marunda. Melihat gubuk reyot dengan atap seng bocor. Melihat genteng tempat ia dan Raga duduk berdua. Melihat senja jingga yang tidak pernah sama dua kali.
"Kangmas Raga," bisiknya dalam hati. "Saya di sini. Saya masih hidup. Saya menunggu Kangmas. Sampai kapan pun."
BAB 12
Rumah Baca di Atas Gudang Ikan
Marunda, 15 Juni 2009
Pukul 09.00 WIB
Setahun sudah Raga kembali ke Marunda untuk selamanya.
Ia tidak lagi berkeliling pulau. Tidak lagi menulis nama Sinok di batu karang. Kakinya sudah lelah. Hatinya juga.
Tapi ia tidak tinggal diam.
Di atas bekas gudang ikan yang roboh, Raga membangun sesuatu. Dengan kayu bekas, papan sisa, dan atap seng yang ia kumpulkan dari mana mana, ia membuat sebuah ruangan sederhana. Ukurannya tidak besar. Mungkin hanya cukup untuk sepuluh orang. Tapi bagi Raga, ini istana.
Dia menamainya Rumah Baca Marunda.
"Rumah baca? Di atas gudang ikan?" tanya Bang Salim suatu hari ketika datang berkunjung.
"Iya," jawab Raga sambil terus memaku papan kayu. "Anak anak di sini butuh tempat belajar. Sekolah jauh. Buku tidak ada. Setidaknya mereka bisa baca di sini."
"Kau guru?"
"Aku bukan guru. Tapi aku bisa mengajar."
Bang Salim menggeleng geleng. "Kau ini aneh, Raga. Dulu kau cari perempuan bernama Sinok ke mana mana. Sekarang tiba tiba kau buka rumah baca."
"Mencari Sinok tidak harus dengan berkeliling," kata Raga. "Aku bisa menunggu. Sambil menunggu, aku lakukan sesuatu yang berguna."
Bang Salim tidak membantah. Ia hanya membantu Raga memaku atap.
Tiga bulan kemudian
Rumah Baca Marunda resmi dibuka.
Tidak ada peresmian. Tidak ada pejabat. Tidak ada gunting pita. Hanya Raga yang berdiri di depan gudang ikan itu, ditemani oleh tiga anak kampung yang penasaran.
"Ini rumah baca," kata Raga pada mereka. "Kalian bisa baca buku di sini. Gratis. Tidak bayar."
"Saya tidak bisa baca, Pak," kata seorang anak laki laki kurus dengan baju sobek di bahu.
"Nanti saya ajar."
"Saya juga tidak bisa," kata anak perempuan di sampingnya.
"Saya ajar juga."
Anak anak itu saling berpandangan. Lalu mereka masuk ke dalam rumah baca.
Di dalam, hanya ada dua rak kayu dengan beberapa lusin buku. Buku buku itu bekas. Ada yang sampulnya robek, ada yang halamannya lepas. Raga mengumpulkannya dari toko buku loak, dari sumbangan tetangga, dari mana saja.
"Ini hanya sedikit," kata Raga. "Tapi cukup untuk mulai."
Anak laki laki kurus itu mengambil satu buku. Ia membukanya, meskipun tidak bisa membaca satu huruf pun.
"Pak, ini buku tentang apa?"
Raga melihat sampul buku itu. "Sajak Sajak Buat Kekasih" karya Sapardi Djoko Damono.
Buku yang sama yang dulu Sinok bawa ke Pulau Pramuka.
Raga terdiam sejenak.
"Itu buku puisi," kata Raga akhirnya.
"Puisi itu apa, Pak?"
"Puisi adalah kata kata yang dirangkai dengan hati. Nanti kalau sudah bisa baca, kalian akan mengerti."
Anak laki laki itu mengangguk meskipun wajahnya masih bingung.
Raga menarik napas panjang. "Baik, kita mulai pelajaran pertama. Siapa yang tahu huruf A?"
Tidak ada yang menjawab.
"Baik, kita mulai dari nol."
Hari demi hari
Rumah baca itu mulai ramai.
Anak anak kampung datang setelah pulang sekolah. Ada yang mau belajar membaca, ada yang hanya mau pinjam buku, ada yang sekadar duduk duduk karena di rumah tidak ada kegiatan.
Raga mengajar dengan sabar. Huruf demi huruf. Kata demi kata. Kalimat demi kalimat.
Ia ingat dulu ia mengajar Sinok dengan cara yang sama.
"Pak Raga," panggil seorang anak perempuan suatu sore.
"Ya?"
"Kenapa Pak Raga tidak pernah tersenyum?"
Raga terkejut. "Apa aku tidak pernah tersenyum?"
"Jarang, Pak. Kalau pun tersenyum, cuma sebentar. Lalu muka Pak Raga kembali sedih."
Anak anak yang lain mengangguk.
Raga tersenyum pahit. "Maaf. Pak Raga memang sedang sedih."
"Sedih kenapa, Pak?"
"Pak Raga kehilangan seseorang."
"Siapa, Pak?"
Raga menatap buku puisi Sapardi yang tergeletak di meja.
"Namanya Sinok."
Anak anak itu terdiam. Mereka belum dewasa, tapi mereka cukup peka untuk tidak bertanya lebih jauh.
Malam harinya
Raga duduk sendirian di teras rumah baca.
Laut di depannya gelap. Hanya suara ombak dan angin yang terdengar.
Ia memandang ke langit. Bintang bintang bertaburan seperti biasa. Tidak pernah berubah sejak pertama kali ia datang ke Marunda sebelas tahun lalu.
"Sinok," bisik Raga. "Aku sudah berhenti mencari. Bukan karena aku lelah. Tapi karena aku yakin, jika kau masih hidup, kau akan kembali ke sini. Ke Marunda. Ke rumah ibumu."
Raga menunduk.
"Dan sambil menunggu, aku mengajar anak anak di sini. Mengajar mereka membaca. Seperti dulu aku mengajar mu."
Ia tersenyum sendiri.
"Mereka cepat belajar, Sinok. Tapi tidak secepat kamu. Kamu luar biasa. Hanya dua kali mendengar puisi, langsung hafal."
Raga mengusap matanya.
"Aku merindukan mu, Sinok. Setiap hari. Setiap malam. Setiap kali aku melihat buku puisi itu."
Tahun 2010
Rumah baca itu semakin besar.
Bukan besar secara fisik. Tapi jumlah anak yang datang semakin banyak. Bukan hanya dari Marunda, tapi juga dari kampung kampung sekitarnya.
Raga tidak mengajar sendiri. Beberapa relawan dari Jakarta mulai datang. Mahasiswa yang ingin melakukan pengabdian. Guru guru pensiunan yang ingin berbagi ilmu.
Tapi Raga tetap yang paling sering ada di sana.
Setiap pagi ia membuka rumah baca. Setiap sore ia mengajar. Setiap malam ia merapikan buku buku.
Ia tidak pernah menulis puisi lagi.
Tapi setiap kali ada anak yang bisa membaca dengan lancar, Raga merasa seperti menulis puisi. Bait demi bait. Kata demi kata.
"Ini puisiku sekarang," kata Raga pada dirinya sendiri. "Bukan di atas kertas, tapi di dalam diri anak anak ini."
Suatu malam, Nenek Maryam datang
Perempuan tua buta itu berjalan tertatih tatih ke rumah baca, dituntun oleh seorang bocah tetangga.
"Nenek!" Raga terkejut. "Kenapa Nenek ke sini malam malam? Saya yang seharusnya ke gubuk Nenek."
Nenek Maryam tersenyum. "Sudah lama kau tidak datang, Nak. Aku khawatir."
"Maaf, Nenek. Saya sibuk dengan rumah baca."
"Sibuk itu baik. Tapi jangan lupa makan, Nak. Badanmu semakin kurus."
Raga tersenyum. Ia memandu Nenek Maryam duduk di kursi rotan.
"Nenek," panggil Raga setelah Nenek Maryam duduk.
"Ya, Nak?"
"Apa Nenek masih berdoa untuk Sinok?"
Nenek Maryam menghela napas. "Setiap hari. Setiap malam. Setelah shalat, sebelum tidur."
"Apakah Nenek pernah merasa putus asa?"
"Tidak," kata Nenek Maryam tegas. "Aku ibunya. Ibu tidak boleh putus asa pada anaknya."
Raga terdiam.
"Kau juga, Nak," lanjut Nenek Maryam. "Jangan putus asa. Sinok anakku. Tapi dia juga bagian dari hatimu. Aku tahu."
Raga menunduk. "Saya sudah berhenti mencari, Nenek."
"Tidak apa. Kadang berhenti mencari adalah cara terbaik untuk menemukan."
Raga tidak mengerti maksud Nenek Maryam. Tapi ia tidak bertanya.
Mereka berdua duduk diam di teras rumah baca, mendengarkan suara ombak yang datang dan pergi.
"Nak," panggil Nenek Maryam tiba tiba.
"Ya, Nenek?"
"Suatu hari nanti, Sinok akan kembali. Dan kau harus siap."
"Siap bagaimana?"
"Siap menerima dia dengan segala lukanya. Sepuluh tahun di tempat gelap, dia pasti berubah. Bukan Sinok yang dulu lagi."
Raga mengangguk meskipun Nenek Maryam tidak bisa melihatnya.
"Saya siap, Nenek. Apa pun perubahan nya, saya akan tetap menerima."
"Janji?"
"Janji."
Nenek Maryam tersenyum. Ia merogoh saku bajunya dan mengeluarkan sebuah tasbih.
"Ini tasbih peninggalan suami saya," kata Nenek Maryam. "Aku berikan untukmu. Setiap kali kau memegangnya, ingatlah bahwa ada seseorang yang mendoakanmu dari jauh."
Raga menerima tasbih itu dengan hati hati.
"Terima kasih, Nenek."
"Jangan berterima kasih. Doakan saja aku agar panjang umur. Aku ingin melihat Sinok pulang sebelum aku mati."
Raga menelan ludah. "Nenek tidak akan mati sebelum Sinok pulang. Saya yakin."
Nenek Maryam tertawa kecil. "Kau dan keyakinan mu, Nak. Semoga Tuhan mendengar."
Dua tahun kemudian. 2012
Raga sedang duduk di teras rumah baca ketika seorang perempuan muda mendekat.
Perempuan itu memakai baju kaos putih dan celana jins. Wajahnya bulat, rambutnya diikat ke belakang. Di tangannya ada sebuah map tebal.
"Permisi," sapa perempuan itu.
Raga menatapnya. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Nama saya Clarissa. Saya dokter. Saya mencari seseorang bernama Raga. Rangga Ardiansyah."
Raga terkejut. Hampir tidak ada yang tahu nama aslinya. Bahkan anak anak di rumah baca hanya memanggilnya Pak Raga.
"Saya Raga," katanya hati hati. "Ada apa?"
Clarissa berjalan mendekat. Ia duduk di kursi rotan di samping Raga tanpa diundang.
"Saya punya kabar tentang Sinok," kata Clarissa.
Raga terdiam. Jantungnya berdebar kencang. Tangannya yang memegang tasbih mulai gemetar.
"Sinok?" suara Raga hampir tidak terdengar. "Apa dia... apa dia masih hidup?"
Clarissa mengangguk. "Dia masih hidup. Tapi dia sakit."
"Sakit apa?"
"Tumor otak. Saya sudah merawatnya selama empat tahun terakhir. Operasi pertama berhasil. Tapi sekarang muncul lagi. Lebih ganas."
Raga terdiam. Ribuan pertanyaan berkecamuk di kepalanya.
"Di mana dia sekarang?" tanya Raga akhirnya.
"Dia di apartemen saya di Jakarta. Dia tinggal di sana sejak saya selamatkan dari Batam empat tahun lalu."
"Batam?"
"Ceritanya panjang," kata Clarissa. "Tapi yang perlu kau tahu, Sinok tidak pernah berhenti memikirkan mu. Setiap malam dia menulis surat untuk mu. Surat surat yang tidak pernah dia kirim karena tidak tahu alamat mu."
Clarissa membuka map tebal yang dibawanya.
Di dalam map itu, puluhan surat. Ada yang ditulis di kertas buku tulis, ada yang di sobekan kardus, ada yang di daun kering. Semuanya tertulis dengan tulisan Sinok yang masih belum rapi.
Raga mengambil satu surat. Tangannya gemetar hebat.
Ia membacanya.
"Kangmas Raga,
Saya sudah bisa membaca. Saya sudah bisa menulis. Kangmas yang ajar saya dulu. Terima kasih.
Saya rindu Kangmas. Setiap hari. Setiap malam. Saya tidak tahu Kangmas di mana. Tapi saya yakin Kangmas masih hidup.
Doakan saya, Kangmas. Supaya saya cepat sembuh. Supaya saya bisa pulang ke Marunda. Supaya saya bisa jumpa Kangmas lagi.
Sinok"
Raga tidak bisa menahan air matanya lagi.
Ia menangis. Tersedu sedan di teras rumah baca, di depan Clarissa yang diam memandang.
"Bawa saya ke Sinok," kata Raga. "Sekarang."
"Tidak bisa," kata Clarissa.
"Kenapa?"
"Karena Sinok tidak tahu saya datang ke sini. Dia tidak tahu saya mencari mu. Saya ingin memberi kejutan. Tapi ada satu syarat."
"Syarat apa pun akan saya penuhi."
"Jangan bilang ke Sinok bahwa umurnya tinggal sebentar. Dia tidak tahu bahwa tumornya tidak bisa dioperasi lagi. Dia pikir dia masih punya waktu lima tahun. Tapi sebenarnya... maksimal satu tahun."
Raga terdiam.
"Kau tega?" tanya Clarissa.
Raga menutup matanya. Air mata masih mengalir di pipinya.
"Aku akan bilang apa pun yang kau minta," kata Raga. "Yang penting aku bisa bertemu Sinok."
Clarissa mengangguk. "Baik. Besok pagi aku jemput kau di sini. Kita ke Jakarta. Temui Sinok."
Raga mengangguk.
Ia memandang ke arah laut. Langit mulai berwarna jingga. Senja akan tiba.
"Sinok," bisik Raga. "Dua puluh enam tahun aku menunggu. Besok aku akan bertemu mu lagi."
BAB 13
Tumor yang Tak Bisa Dioperasi Lagi
Jakarta, 16 Juni 2012
Pukul 08.00 WIB
Raga tidak bisa tidur semalam.
Ia berbaring di gubuk Nenek Maryam, memandang langit langit seng yang bocor, mendengarkan suara ombak dan angin. Pikirannya melayang ke mana mana. Membayangkan Sinok. Membayangkan pertemuan besok. Membayangkan apa yang akan ia katakan setelah dua puluh enam tahun tidak bertemu.
"Kangmas Raga," bisiknya meniru suara Sinok dulu. "Saya sudah bisa membaca."
Ia tersenyum sendiri di tengah gelap.
"Sinok, aku juga sudah berhenti menulis puisi. Tapi untukmu, aku akan menulis lagi. Satu puisi. Puisi terpanjang yang pernah aku buat."
Pukul 06.00 pagi, Clarissa sudah tiba di depan gubuk.
Ia mengendarai mobil kecil berwarna putih. Catnya sudah mulai pudar di beberapa bagian, tapi mesinnya masih bagus. Raga naik ke kursi penumpang dengan hati berdebar.
"Kau tidak tidur semalam?" tanya Clarissa sambil menyalakan mesin.
"Tidak," jawab Raga jujur.
"Wajahmu kelihatan lelah."
"Bukan karena tidak tidur. Tapi karena..."
"Karena memikirkan Sinok?"
Raga mengangguk.
Clarissa menghela napas. "Aku akan jujur padamu, Raga. Sebelum kita sampai di apartemen, ada beberapa hal yang harus kau tahu."
"Apa saja?"
Clarissa mengemudi perlahan melewati jalan jalan kampung menuju jalan raya. Di luar, matahari mulai naik, menyinari laut lepas yang biru kehijauan.
"Sinok tidak tahu bahwa tumornya kambuh," kata Clarissa. "Aku bilang padanya, operasi pertama berhasil dan dia masih punya waktu lima tahun. Itu dua tahun lalu."
"Dua tahun lalu? Berarti sekarang dia pikir masih punya tiga tahun?"
"Ya. Tapi kenyataannya..."
Clarissa berhenti sebentar. Tangannya di setir sedikit gemetar.
"Kenyataannya, tumornya sudah menyebar ke bagian otak yang tidak bisa dioperasi. Dokter spesialis saraf yang menanganinya sudah menyerah. Kemoterapi tidak mempan. Satu tahun maksimal. Mungkin kurang."
Raga menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Kenapa kau tidak bilang ke dia?" tanyanya dengan suara tertahan.
"Karena dia baru saja mulai hidup lagi," kata Clarissa. "Empat tahun terakhir, aku melihat dia berjuang. Dari seorang perempuan yang nyaris mati di lantai kotor Batam, menjadi perempuan yang bisa membaca, bisa menulis, bisa tersenyum lagi. Aku tidak tega mengambil harapan darinya."
"Tapi dia berhak tahu."
"Aku tahu. Tapi belum sekarang. Setelah dia bertemu denganmu. Setelah dia bahagia sebentar. Setelah itu, aku akan bilang."
Raga diam. Ia memandang ke luar jendela. Pohon pohon kelapa berlalu cepat di samping mobil.
"Kau baik, Clarissa," kata Raga akhirnya. "Terlalu baik untuk orang asing seperti Sinok."
"Sinok bukan orang asing bagiku," kata Clarissa. "Dia sudah seperti kakak sendiri. Aku tidak punya saudara perempuan. Orang tuaku sibuk dengan bisnis. Sinok mengajarkan aku arti ketulusan."
"Orang tuamu sibuk dengan bisnis?"
"Ayahku pengembang properti. Ibuku membantu ayahku. Mereka kaya. Tapi mereka tidak pernah ada untukku."
Clarissa tersenyum pahit.
"Kadang aku iri sama Sinok. Dia tidak punya apa apa, tapi dia punya ibu yang mencintainya sepenuh hati. Dan dia punya kau, yang mencarinya selama dua puluh enam tahun."
Raga tidak menjawab. Ia hanya menatap jalan di depannya.
Pukul 09.30 WIB
Mobil Clarissa berhenti di depan sebuah apartemen sederhana di Jakarta Utara.
Bangunannya tidak tinggi, hanya lima lantai. Catnya krem, mulai mengelupas di beberapa sudut. Di lantai dasar, ada warung kecil dan laundry.
"Apartemen ini milik keluargaku," kata Clarissa sambil mematikan mesin. "Tapi tidak ada yang tahu. Aku sembunyikan Sinok di sini."
"Kenapa disembunyikan?"
"Karena Bahar masih punya banyak mata di mana mana. Dia sudah jadi caleg. Punya kekuasaan. Aku tidak mau dia tahu bahwa Sinok masih hidup dan aku yang menyelamatkannya."
Raga mengepalkan tangan mendengar nama Bahar.
"Aku tidak akan biarkan Bahar mendekati Sinok lagi," kata Raga.
"Aku juga tidak akan biarkan," kata Clarissa. "Makanya Sinok tidak boleh keluar apartemen sendirian. Aku yang antar jemput setiap kali ada keperluan."
Mereka berdua turun dari mobil. Clarissa mengambil map tebal berisi surat surat Sinok dari jok belakang.
"Ini surat suratnya," kata Clarissa sambil menyerahkan map itu ke Raga. "Kau baca nanti. Tapi sekarang, ikut aku."
Mereka berjalan menuju lift. Liftnya sempit, berbau minyak tanah. Clarissa menekan tombol lantai empat.
"Sinok tidak tahu kau datang," kata Clarissa. "Aku bilang tadi pagi aku ada acara di luar. Dia mungkin sedang membaca atau menulis."
Raga tidak menjawab. Dadanya terasa sesak. Jantungnya berdebar begitu cepat.
Lift berhenti di lantai empat.
Mereka berjalan menyusuri koridor sempit. Lampu koridor redup. Beberapa pintu besi dengan nomor terpasang di dinding.
Clarissa berhenti di depan pintu nomor 4B.
"Kau siap?" tanyanya.
Raga menarik napas panjang. Lalu menghembuskannya perlahan.
"Aku siap."
Clarissa mengetuk pintu.
Tok. Tok. Tok.
Dari dalam, terdengar suara sandal jepit yang berjalan di lantai keramik.
Suara itu. Raga mengenalinya. Meskipun sudah dua puluh enam tahun, ia tidak mungkin melupakan suara itu. Suara yang dulu melantunkan puisi di atas genteng bocor. Suara yang memanggilnya "Kangmas" dengan logat Bugis yang kental.
Pintu terbuka.
Seorang perempuan berdiri di ambang pintu.
Rambutnya pendek sekarang. Tidak panjang tergerai seperti dulu. Wajahnya kurus, pucat, dengan lingkaran hitam di bawah mata. Tubuhnya kecil, terlihat rapuh seperti ranting kering.
Tapi matanya.
Matanya masih sama. Hitam pekat. Lembut. Berkaca kaca.
Sinok membeku.
Ia menatap Raga. Raga menatap Sinok.
Keduanya diam. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang bersuara.
Clarissa mundur selangkah. Ia memberi mereka ruang.
"Kangmas... Raga?" suara Sinok hampir tidak terdengar. Seperti bisikan angin.
Raga mengangguk. Air matanya jatuh. Ia tidak menyekanya.
"Iya, Sinok. Aku. Aku datang."
Sinok mengangkat tangannya perlahan. Tangannya gemetar, menyentuh wajah Raga. Pipinya yang kasar karena janggut. Pelipisnya yang mulai beruban. Matanya yang sayu.
"Kangmas tua," kata Sinok sambil tersenyum. "Rambut Kangmas sudah ada putihnya."
"Kamu juga berubah," kata Raga. "Kamu kurus sekali."
"Sudah dua puluh enam tahun, Kangmas."
"Iya. Dua puluh enam tahun."
Sinok tidak bisa berkata apa apa lagi. Ia menangis. Ia memeluk Raga. Pelukan yang lama, erat, seperti tidak ingin melepaskan.
Raga memeluknya balik. Tubuh Sinok kecil dan rapuh di pelukannya. Ia bisa merasakan tulang tulang di punggung Sinok. Betapa kurus perempuan ini.
"Sinok," bisik Raga di telinga Sinok. "Aku tidak akan pergi lagi. Aku janji."
Sinok hanya mengangguk di bahu Raga.
Dari belakang, Clarissa menyeka air matanya. Ia masuk ke apartemen tanpa suara, mengambil sebuah buku kecil dari meja, lalu duduk di sudut ruangan. Ia memberi mereka waktu.
Setelah lama berpelukan
Sinok melepaskan pelukannya perlahan. Ia menarik tangan Raga, membawanya masuk ke ruang tamu.
Apartemen itu kecil. Ruang tamu hanya selebar tiga kali tiga meter. Ada sofa kecil, meja kayu, rak buku tipis berisi beberapa puluh buku. Dindingnya putih polos, tanpa hiasan.
"Ini rumah saya," kata Sinok sambil tersenyum. "Kecil, tapi nyaman."
"Kamu tinggal di sini sendirian?"
"Dengan Dokter Clarissa. Tapi dia sering pergi. Kadang dinas ke mana mana."
Raga duduk di sofa. Sinok duduk di sampingnya. Clarissa dari sudut ruangan berkata, "Aku ambilkan minum dulu. Kalian bicara saja."
Clarissa pergi ke dapur.
Sinok menatap Raga lekat lekat.
"Kangmas," panggil Sinok.
"Ya."
"Kangmas tidak berubah. Matanya masih sama. Masih sayu seperti dulu."
"Mataku sayu karena memikirkanmu setiap hari."
Sinok tersenyum. Senyum itu. Senyum yang dulu membuat Raga jatuh cinta di atas genteng bocor. Meskipun bibir Sinok sekarang tidak pecah pecah seperti dulu, meskipun wajahnya lebih kurus, senyum itu tetap sama.
"Aku juga," kata Sinok. "Setiap malam, aku memikirkan Kangmas. Di Batam. Di rumah gelap itu. Setiap kali aku mau menyerah, aku ingat puisi yang Kangmas bacakan."
"Kamu masih hafal?"
"Masih."
Sinok memejamkan mata. Ia mulai melantunkan puisi itu. Suaranya parau, logat Bugis nya masih kental, tapi penghayatannya dalam sekali.
"Aku tidak tahu namamu saat pertama kali kulihat kau di depan pintu itu. Yang aku tahu, ada cahaya di balik tubuhmu yang basah oleh hujan, dan aku, yang hampir mati, tiba tiba ingin hidup lagi."
Raga menangis mendengarnya.
"Kau hafal," katanya. "Setelah dua puluh enam tahun."
"Aku hafal, Kangmas. Seperti saya hafal puisi Chairil Anwar. Saya simpan di sini."
Sinok menunjuk kepalanya.
Clarissa kembali dari dapur dengan dua gelas teh manis hangat. Ia meletakkannya di meja, lalu duduk di kursi sebrang.
"Sinok," kata Clarissa. "Raga akan tinggal di sini beberapa hari. Aku yang minta dia datang. Aku pikir kalian perlu waktu bersama."
Sinok menatap Clarissa. "Dok, terima kasih."
"Jangan berterima kasih. Ini tugas saya sebagai dokter. Dan sebagai teman."
Raga memegang tangan Sinok. Tangannya dingin. Tulang tulang jarinya terasa jelas.
"Sinok," kata Raga.
"Ya, Kangmas?"
"Aku ingin tahu semuanya. Apa yang terjadi padamu di Batam. Di rumah itu. Selama dua puluh enam tahun."
Sinok terdiam. Wajahnya berubah pucat.
"Kangmas... saya belum siap cerita."
"Tidak apa. Aku tunggu. Sampai kapan pun."
Sinok mengangguk. Ia memegang balik tangan Raga.
"Yang penting sekarang Kangmas di sini," kata Sinok. "Saya tidak sendirian lagi."
Malam harinya
Sinok tidur lebih awal. Tubuhnya mudah lelah sejak sakit.
Raga dan Clarissa duduk di ruang tamu. Lampu hanya satu, di pojok ruangan, menyala redup.
"Dia tidak tahu bahwa dia sakit parah?" tanya Raga.
"Tidak," kata Clarissa. "Dua tahun lalu, setelah operasi pertama, aku bilang dia sembuh total. Dia percaya. Dia mulai tersenyum lagi. Dia mulai bermimpi lagi. Mimpi untuk pulang ke Marunda. Mimpi untuk membuka warung kecil. Mimpi untuk bertemu denganmu."
"Dan sekarang?"
"Sekarang tumornya kambuh. Lebih ganas. Tidak bisa dioperasi. Aku sudah konsultasi dengan tiga dokter spesialis. Semua mengatakan sama."
"Berapa lama lagi?"
"Maksimal satu tahun. Tapi dengan kondisinya yang semakin lemah, mungkin kurang."
Raga menutup wajahnya dengan tangan.
"Kenapa kau tidak bilang dari awal?" tanyanya lirih.
"Karena aku takut," kata Clarissa jujur. "Aku takut dia kehilangan harapan. Aku takut dia berhenti berjuang. Aku takut dia menyerah sebelum sempat bahagia."
"Kau menyiksanya dengan kebohongan."
"Kadang kebohongan lebih manusiawi daripada kebenaran yang kejam."
Raga tidak membantah. Ia hanya diam.
"Raga," panggil Clarissa.
"Ya."
"Kau punya waktu satu tahun. Mungkin kurang. Buatlah Sinok bahagia. Itu yang bisa kau lakukan sekarang."
Raga mengangguk. Ia memandang ke arah kamar tidur Sinok yang pintunya setengah tertutup.
"Satu tahun," bisik Raga. "Cukup untuk menulis satu puisi panjang."
BAB 14
Empat Puluh Tujuh Surat yang Tak Pernah Sampai
Jakarta, 17 Juni 2012
Pukul 10.00 WIB
Sinok bangun lebih lambat dari biasanya.
Matahari sudah tinggi ketika ia membuka mata. Cahaya pagi masuk melalui celah tirai jendela kamarnya yang tipis. Burung burung pipit berkicau di luar, seolah ikut bergembira karena Raga ada di apartemen itu.
Sinok tersenyum sendiri.
Ia masih tidak percaya. Kemarin, Raga berdiri di depan pintu apartemennya. Setelah dua puluh enam tahun. Setelah sekian lama ia hanya bisa membayangkan wajahnya dalam tidur. Tiba tiba ia ada di sana. Nyata. Bukan mimpi.
Sinok bangkit dari tempat tidur. Tubuhnya masih terasa pegal. Kepalanya sedikit pusing. Tapi ia tidak peduli. Ia ingin segera melihat Raga.
Ia keluar dari kamar.
Raga sudah duduk di ruang tamu. Di tangannya ada map tebal yang kemarin dibawa Clarissa. Map berisi surat surat yang Sinok tulis selama bertahun tahun. Raga belum membukanya. Ia menunggu Sinok.
"Selamat pagi, Sinok," sapa Raga sambil tersenyum.
"Selamat pagi, Kangmas," jawab Sinok. "Kangmas sudah sarapan?"
"Belum. Aku menunggumu."
Sinok tersenyum. Ia berjalan ke dapur mungil di pojok ruangan. Di sana, Clarissa sudah menyiapkan nasi goreng dan teh hangat di atas meja kayu kecil.
"Dokter Clarissa," panggil Sinok. "Dokter sudah makan?"
Clarissa muncul dari kamar mandi dengan wajah segar. "Sudah. Aku makan tadi pagi sebelum kalian bangun. Ini untuk kalian berdua."
Mereka bertiga duduk di meja makan kecil itu. Suasana hangat. Seperti keluarga. Seperti rumah.
"Sinok," panggil Clarissa sambil menyuap nasi goreng.
"Ya, Dok?"
"Aku pamit pergi dulu. Ada pasien yang harus aku periksa di rumah sakit. Aku akan kembali sore nanti. Kalian berdua di sini saja. Habiskan waktu bersama."
Sinok mengangguk. "Hati hati di jalan, Dok."
Clarissa berdiri, mengambil tas kerjanya, lalu berjalan ke pintu. Sebelum keluar, ia menoleh ke arah Raga.
"Raga, map itu jangan dibaca tanpa Sinok. Itu surat suratnya."
Raga mengangguk. "Aku tahu."
Clarissa pergi. Pintu tertutup.
Suasana menjadi lebih sunyi. Hanya suara sendok menyentuh piring dan suara napas mereka berdua.
"Sinok," panggil Raga setelah selesai makan.
"Ya, Kangmas?"
"Aku ingin membaca surat suratmu. Tapi aku tidak mau membacanya sendirian. Maukah kau duduk di sampingku saat aku membacanya?"
Sinok terdiam. Wajahnya sedikit merona malu.
"Surat surat itu... jelek, Kangmas. Tulisannya jelek. Ejaannya salah."
"Tidak masalah. Yang penting itu darimu."
Sinok mengangguk pelan. Ia berdiri, mengambil map itu dari samping Raga, lalu duduk di sofa. Raga duduk di sampingnya, sangat dekat, sampai bahu mereka bersentuhan.
Sinok membuka map itu perlahan.
Surat pertama. Kertas buku tulis yang sudah menguning. Tulisannya dengan pensil, sudah mulai pudar.
"Saya tulis ini tahun 2008," kata Sinok. "Empat tahun lalu. Waktu saya masih di Batam. Belum lama Dokter Clarissa selamatkan saya."
Raga mengambil surat itu. Tangannya gemetar sedikit. Ia membaca pelan.
"Kangmas Raga,
Saya sudah bisa membaca. Saya sudah bisa menulis. Kangmas yang ajar saya dulu. Terima kasih.
Saya rindu Kangmas. Setiap hari. Setiap malam. Saya tidak tahu Kangmas di mana. Tapi saya yakin Kangmas masih hidup.
Doakan saya, Kangmas. Supaya saya cepat sembuh. Supaya saya bisa pulang ke Marunda. Supaya saya bisa jumpa Kangmas lagi.
Sinok"
Raga selesai membaca. Ia menutup matanya sejenak.
"Kau menulis ini kapan tepatnya?" tanyanya.
"Bulan Maret 2008. Beberapa minggu setelah Dokter Clarissa temukan saya di Batam."
"Tulisannya masih kelihatan baru."
"Karena saya simpan baik baik. Saya tidak punya amplop waktu itu. Jadi surat ini tidak pernah saya kirim."
Raga meletakkan surat itu di meja. Ia mengambil surat kedua.
Surat kedua ditulis di sobekan kardus. Tulisannya dengan bolpoin biru, agak luntur karena terkena air.
"Kangmas Raga,
Hari ini Dokter Clarissa ajari saya membaca kata kata baru. Saya bisa baca kata 'cinta'. C I N T A. Cinta. Saya jadi ingat Kangmas.
Kangmas dulu pernah baca puisi untuk saya. Saya tidak tahu waktu itu apakah itu cinta atau bukan. Tapi sekarang saya tahu. Itu cinta.
Saya sayang Kangmas.
Sinok"
Raga tersenyum. "Kau menulis 'cinta' dengan huruf kapital semua."
"Waktu itu saya belum tahu aturan huruf kapital, Kangmas. Yang penting saya bisa nulis."
"Tidak masalah. Aku suka."
Raga mengambil surat ketiga. Keempat. Kelima.
Setiap surat, ia baca dengan perlahan. Kadang ia tersenyum. Kadang ia menghela napas. Kadang ia berhenti sebentar, menatap Sinok, lalu melanjutkan membaca.
Sinok diam di sampingnya. Kadang ia malu dan menunduk. Kadang ia tersenyum melihat ekspresi Raga.
Surat kedelapan belas
"Kangmas Raga,
Hari ini saya mimpi Kangmas. Mimpi yang aneh. Kangmas berdiri di atas genteng bocor, baca puisi. Tapi suara Kangmas tidak keluar. Saya panggil panggil, Kangmas tidak dengar.
Saya bangun dari mimpi itu dengan air mata. Saya takut Kangmas sudah mati. Saya takut suara Kangmas hilang selamanya.
Tapi Dokter Clarissa bilang, mimpi tidak boleh dipercaya. Mimpi hanya bunga tidur.
Saya harap Dokter Clarissa benar.
Sinok"
Raga meletakkan surat itu. Ia memegang tangan Sinok.
"Aku tidak mati, Sinok. Aku di Marunda. Mencari mu. Sepuluh tahun pertama. Lalu aku berhenti mencari. Lalu aku membuka rumah baca."
"Rumah baca?"
"Di atas gudang ikan. Bekas tempat kita dulu."
Sinok terkejut. "Di atas gudang ikan?"
"Iya. Aku mengajar anak anak nelayan membaca. Seperti dulu aku mengajar mu."
Sinok menangis. "Kangmas... saya tidak tahu."
"Karena kau tidak pernah bertanya."
Mereka berdua tertawa kecil.
Surat ketiga puluh dua
"Kangmas Raga,
Dokter Clarissa bilang, tumor saya sudah sembuh. Saya senang sekali. Saya ingin pulang ke Marunda. Tapi Dokter Clarissa bilang, jangan dulu. Tunggu sampai benar benar sehat.
Saya jadi ingat ikan asin di jemuran. Saya jadi ingat ibu. Saya jadi ingat Kangmas.
Kangmas, kalau saya pulang nanti, apa Kangmas masih di Marunda? Atau Kangmas sudah pergi ke tempat lain?
Saya takut Kangmas tidak ada di sana.
Sinok"
Raga membacanya dua kali.
"Aku ada di sana, Sinok. Selalu. Sepanjang waktu."
"Kangmas tidak pernah keluar dari Marunda?"
"Kadang ke Jakarta beli buku. Tapi tidak pernah lama. Aku selalu kembali ke rumah baca."
"Kenapa Kangmas tidak pernah cari saya lagi? Setelah sepuluh tahun?"
Raga terdiam. Ia memandang surat di tangannya.
"Aku lelah, Sinok. Bukan lelah mencari. Tapi lelah berharap. Setiap hari aku berharap, setiap hari aku kecewa. Suatu hari aku sadar, lebih baik aku menunggu. Jika kau masih hidup, kau akan kembali ke Marunda. Ke rumah ibumu. Ke tempat kita dulu."
"Dan Kangmas menunggu?"
"Empat belas tahun. Sampai kemarin, Clarissa datang."
Sinok tidak bisa berkata apa apa. Ia hanya memegang tangan Raga lebih erat.
Surat keempat puluh tujuh
Surat terakhir.
Kertasnya berbeda. Lebih tebal. Lebih putih. Tulisannya dengan bolpoin hitam, rapi. Sinok sudah belajar menulis dengan baik.
Raga membacanya dengan hati hati.
"Kangmas Raga,
Ini surat keempat puluh tujuh yang saya tulis untuk Kangmas. Saya tidak tahu apakah surat ini akan sampai ke tangan Kangmas atau tidak. Tapi saya tetap menulis.
Saya ingin Kangmas tahu, bahwa di tengah tengah hidup yang penuh penderitaan ini, ada satu hal yang membuat saya bertahan: kenangan tentang Kangmas.
Kenangan tentang Kangmas membacakan puisi di atas genteng bocor. Kenangan tentang Kangmas mengajari saya huruf A sampai E. Kenangan tentang Kangmas yang dipukuli Bahar karena membela saya.
Kenangan kenangan itu tidak bisa diambil siapa pun. Bahar tidak bisa mengambilnya. Waktu tidak bisa mengambilnya. Bahkan kematian tidak bisa mengambilnya.
Kangmas,
Jika surat ini sampai ke tangan Kangmas, saya ingin Kangmas tahu: saya mencintai Kangmas. Bukan cinta karena terdesak. Bukan cinta karena kasihan. Tapi cinta yang tumbuh dari kebersamaan dalam kesederhanaan.
Saya tidak tahu apakah kita akan bertemu lagi. Tapi jika tidak, saya ingin Kangmas bahagia. Jangan menunggu saya terus. Jangan berhenti menulis puisi karena saya. Jalani hidup Kangmas dengan baik.
Itu pesan saya.
Sinok
PS: Saya sudah bisa membaca dengan lancar sekarang. Terima kasih, Kangmas.
PPS: Kalau suatu hari kita bertemu, bacakan puisi untuk saya. Satu saja. Saya janji akan hafal."
Raga selesai membaca.
Ia tidak menangis. Tidak juga tersenyum. Ia hanya diam, memegang surat itu, membacanya sekali lagi dalam hati.
"Sinok," panggil Raga pelan.
"Ya, Kangmas?"
"Aku tidak akan berhenti menulis puisi untukmu. Aku sudah berhenti selama dua puluh enam tahun. Tapi sekarang, aku akan menulis lagi."
Sinok tersenyum. "Saya tunggu, Kangmas."
"Dan aku tidak akan membacakannya sekarang."
"Kenapa?"
"Karena aku akan membacakannya di atas genteng bocor. Di Marunda. Di tempat kita dulu."
Sinok terkejut. "Kangmas... saya belum bisa pulang. Dokter Clarissa bilang..."
"Aku tahu. Tapi suatu hari nanti. Saat kau sudah sembuh. Saat kau sudah kuat. Kita akan pulang ke Marunda. Kita akan naik ke genteng bocor itu. Aku akan bacakan puisi untukmu. Dan kau akan menghafalnya. Seperti dulu."
Sinok menangis. Bukan tangis sedih. Tapi tangis haru.
"Kangmas janji?" tanyanya.
"Janji."
Sinok mengangkat jari kelingkingnya. Raga tersenyum. Ia menyambung jari kelingkingnya dengan jari Sinok.
Seperti janji yang mereka buat dua puluh enam tahun lalu, di atas genteng bocor itu.
Janji yang tidak pernah terlupakan.
Sore harinya
Clarissa pulang. Ia membawa oleh oleh kue bolu kesukaan Sinok.
Mereka bertiga duduk di ruang tamu. Sinok bercerita tentang surat suratnya. Raga bercerita tentang rumah baca di atas gudang ikan. Clarissa bercerita tentang pasien pasiennya yang lucu.
"Raga," panggil Clarissa tiba tiba.
"Ya?"
"Aku harus bilang sesuatu. Tadi di rumah sakit, aku dapat kabar."
Kabar apa?" tanya Raga.
Clarissa menatap Sinok sebentar, lalu kembali ke Raga.
"Bahar ditangkap KPK minggu lalu. Kasus korupsi proyek perumahan di Marunda. Semua hartanya disita. Rumah rumahnya di pulau pulau juga disita."
Raga terkejut. "Benar?"
"Benar. Ini sudah di koran."
Clarissa mengambil koran dari tasnya. Halaman depan: "Caleg Terkait Penggusuran Marunda Ditangkap KPK."
Raga membaca koran itu. Ada foto Bahar dengan tangan diborgol.
"Keadilan," bisik Raga.
Sinok mengambil koran itu. Ia membaca pelan.
B A H A R D I T A N G K A P
Sinok tersenyum. Bukan senyum bahagia. Tapi senyum lega.
"Akhirnya," kata Sinok. "Setelah dua puluh enam tahun."
"Dia akan dipenjara lama," kata Clarissa. "Kasusnya banyak. Tidak hanya korupsi, tapi juga perdagangan manusia. Polisi sudah mulai menyelidiki rumah rumahnya di Batam."
Sinok menutup koran itu. Ia meletakkannya di meja.
"Saya tidak ingin memikirkan Bahar lagi," kata Sinok. "Saya hanya ingin fokus sembuh. Lalu pulang ke Marunda. Lalu naik ke genteng bocor dengan Kangmas Raga."
Raga memegang tangan Sinok. "Kita akan lakukan itu, Sinok. Aku janji."
Clarissa tersenyum melihat mereka berdua.
"Dok," panggil Sinok.
"Ya?"
"Terima kasih sudah mempertemukan saya dengan Kangmas Raga."
Clarissa menggeleng. "Bukan aku. Ini takdir."
Malam itu, mereka bertiga makan kue bolu dan minum teh hangat. Sinok bercerita tentang kenangan masa kecilnya di Marunda. Raga bercerita tentang ibunya yang guru SD. Clarissa bercerita tentang ayahnya yang pengembang properti dan bagaimana ia berusaha memperbaiki kesalahan ayahnya dengan menolong orang orang kecil.
"Mungkin kita semua punya luka masing masing," kata Clarissa. "Tapi luka tidak harus membuat kita sakit selamanya. Luka bisa sembuh. Luka bisa menjadi cerita."
Sinok mengangguk. Raga juga.
Mereka bertiga duduk di ruang tamu kecil itu, di tengah kota Jakarta yang ramai, ditemani oleh lampu redup dan suara kendaraan dari kejauhan.
Dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh enam tahun, Sinok merasa benar benar pulang.
BAB 15
Pertemuan Setelah 26 Tahun
Jakarta, 18 Juni 2012
Pukul 07.00 WIB
Raga bangun lebih pagi dari Sinok.
Ia sudah terbiasa bangun sebelum matahari terbit di Marunda. Di apartemen ini, ia tidak bisa melihat laut. Yang ia lihat dari jendela hanya gedung gedung beton dan jalan raya yang mulai ramai.
Tapi di sampingnya, di sofa tempat ia tidur tadi malam, ada selimut yang diberikan Sinok sebelum tidur. Selimut itu masih hangat. Masih tercium wangi sabun yang sama dengan wangi pakaian Sinok.
Raga tersenyum sendiri.
Ia berjalan ke dapur. Air sudah tersedia di dispenser. Ia mengambil gelas, minum perlahan, lalu duduk di kursi ruang tamu.
Matanya tertuju pada map surat yang semalam ia baca. Empat puluh tujuh surat. Empat puluh tujuh kali Sinok menulis namanya. Empat puluh tujuh kali Sinok mengatakan "saya rindu Kangmas".
Raga membuka map itu lagi. Ia mengambil surat terakhir, yang ia baca semalam. Dibacanya sekali lagi.
"Kangmas Raga,
Ini surat keempat puluh tujuh yang saya tulis untuk Kangmas...
...Jika surat ini sampai ke tangan Kangmas, saya ingin Kangmas tahu: saya mencintai Kangmas...
...Jangan menunggu saya terus. Jangan berhenti menulis puisi karena saya. Jalani hidup Kangmas dengan baik..."
Raga menghela napas.
"Sinok, kau bilang jangan menunggu mu terus," bisik Raga. "Tapi bagaimana aku bisa berhenti menunggu? Hatiku sudah terlanjur menunggumu."
Pukul 08.30 WIB
Sinok bangun.
Ia keluar dari kamar dengan rambut masih acak acakan. Matanya masih sayu karena baru terbangun. Ia mengenakan daster lusuh berwarna merah muda.
"Kangmas sudah bangun?" tanyanya sambil mengucek mata.
"Sudah dari tadi."
"Kangmas tidak tidur di sofa?"
"Aku tidur. Tapi bangun lebih pagi."
Sinok berjalan ke dapur. Ia mengambil gelas dan minum air putih. Kemudian ia membuka kulkas, mengeluarkan telur dan sayuran.
"Kangmas mau makan apa?" tanya Sinok.
"Apa saja. Yang kau masak pasti enak."
Sinok tersenyum. "Kangmas belum pernah makan masakan saya. Dulu di Marunda, yang masak ibu. Saya cuma bantu."
"Tapi dulu kau yang buatkan mi instan untukku. Itu enak."
"Mi instan bukan masakan, Kangmas. Itu cuma rebus air."
"Tapi aku suka."
Sinok tertawa kecil. Ia mulai memecahkan telur ke dalam wajan.
Raga berdiri dan berjalan ke dapur. Ia berdiri di samping Sinok, melihat Sinok memasak.
"Sinok."
"Ya, Kangmas?"
"Aku ingin membantu."
"Tidak usah, Kangmas. Kangmas duduk saja. Ini cepat."
"Aku tidak bisa duduk diam. Biarkan aku memotong sayur."
Sinok menyerahkan pisau dan talenan. Raga mulai memotong wortel dan buncis. Tangannya tidak terlalu terampil. Potongannya tidak rapi. Ada yang terlalu tebal, ada yang terlalu tipis.
"Kangmas tidak biasa memotong sayur?" tanya Sinok sambil tersenyum.
"Tidak biasa. Di Marunda, aku makan di warung. Atau masak mi instan."
"Kasihan Kangmas. Dua puluh enam tahun makan mi instan terus."
"Tidak terus. Kadang ikan asin juga."
Mereka berdua tertawa. Suasana hangat. Seperti dua orang yang sudah lama hidup bersama. Padahal baru satu hari lebih mereka bertemu setelah sekian lama terpisah.
Setelah sarapan
Mereka duduk di ruang tamu. Sinok minum teh. Raga minum kopi hitam tanpa gula.
"Kangmas," panggil Sinok.
"Ya?"
"Ceritakan tentang rumah baca. Saya ingin tahu semuanya."
Raga meletakkan cangkir kopinya. Ia mulai bercerita.
"Dulu, setelah aku berhenti mencari mu, aku kembali ke Marunda. Aku duduk di tepi pantai, memandang laut, dan bertanya pada diriku sendiri, 'Apa yang harus aku lakukan sekarang?'"
"Lalu?"
"Lalu aku ingat. Dulu aku mengajar mu membaca. Itu adalah hal paling berarti yang pernah aku lakukan dalam hidupku. Mungkin aku bisa melakukannya untuk anak anak lain."
Sinok mendengarkan dengan saksama.
"Aku membangun rumah baca di atas bekas gudang ikan. Sederhana. Kayu bekas, atap seng, rak buku dari papan sisa. Awalnya hanya tiga anak yang datang. Mereka tidak bisa baca sama sekali."
"Seperti saya dulu."
"Seperti kamu dulu. Aku mengajar mereka dari nol. Huruf A. Huruf B. Huruf C. Sampai mereka bisa membaca kata pertama."
"Kata apa?"
"Kata 'MAMA'. Karena anak anak itu selalu ingin bisa membaca tulisan di bungkus mi instan. Tulisan 'MAMA' ada di sana."
Sinok tersenyum haru. "Lalu sekarang?"
"Sekarang rumah bacaku punya empat puluh anak. Ada yang dari Marunda, ada yang dari kampung sebelah. Beberapa relawan dari Jakarta datang membantu. Tapi aku tetap yang paling sering ada di sana."
"Kangmas pasti lelah."
"Lelah? Tidak. Aku senang. Setiap kali ada anak yang bisa membaca kalimat pertama, aku merasa seperti menulis puisi baru."
Sinok mengambil tangan Raga. Ia menggenggamnya erat.
"Kangmas orang baik," kata Sinok. "Saya dulu tahu itu. Sekarang saya semakin yakin."
Raga tersenyum. "Aku bukan orang baik. Aku hanya orang yang jatuh cinta pada perempuan yang mengajarkan aku arti ketulusan."
Sinok menunduk malu.
Pukul 14.00 WIB
Clarissa pulang lebih cepat dari biasanya.
Ia membawa banyak belanjaan. Sayuran, buah buahan, daging, dan beberapa bungkus camilan.
"Dok, kok banyak sekali?" tanya Sinok heran.
"Aku minta tolong Raga masak untuk kita malam ini," kata Clarissa. "Dia bilang dia bisa masak."
Raga terkejut. "Aku bilang?"
"Kemarin. Waktu kita di mobil. Kau bilang, 'Aku bisa masak. Dulu di kosan, aku sering masak untuk teman temanku.'"
Raga menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku... iya. Aku bisa masak. Tapi hanya masakan sederhana."
"Tidak apa. Yang penting beda dari masakan Sinok. Biar Sinok tidak masak terus."
Sinok tersenyum. "Jadi malam ini Kangmas Raga yang masak?"
"Iya," kata Clarissa. "Dan aku jadi penikmatnya."
Mereka bertiga tertawa.
Clarissa masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaian. Sinok dan Raga tinggal di ruang tamu.
"Kangmas," panggil Sinok.
"Ya?"
"Kangmas sungguh bisa masak?"
"Bisa. Dulu di kosan, aku sering masak untuk Jojo."
"Siapa Jojo?"
Raga terdiam sejenak. "Teman kuliahku. Dia ikut demo denganku dulu. Aku tidak tahu dia masih hidup atau tidak. Kami terpisah saat tembakan."
Sinok memegang tangan Raga. "Kangmas... maaf."
"Tidak apa. Sudah lama."
"Kangmas tidak pernah cari kabar Jojo?"
"Pernah. Tapi tidak ketemu. Mungkin dia pindah kampung. Mungkin juga..."
Raga tidak melanjutkan.
Sinok mengerti.
Mereka terdiam beberapa saat. Lalu Sinok berdiri.
"Ayo, Kangmas. Saya tunjukkan bahan masakan di kulkas."
Pukul 18.00 WIB
Raga memasak di dapur kecil itu.
Ia membuat sayur asem, tempe goreng, dan ikan goreng. Masakan sederhana. Tapi baunya sedap. Sinok dan Clarissa duduk di ruang tamu sambil menunggu.
"Sinok," panggil Clarissa pelan.
"Ya, Dok?"
"Kau kelihatan lebih segar hari ini. Lebih bersemangat."
Sinok tersenyum. "Karena Kangmas Raga di sini, Dok."
"Kau mencintainya?"
Sinok mengangguk tanpa ragu. "Sejak pertama kali dia baca puisi untuk saya di atas genteng bocor. Dua puluh enam tahun lalu."
"Dan selama dua puluh enam tahun itu, kau tidak pernah berhenti mencintainya?"
"Tidak pernah, Dok. Di Batam, di rumah gelap itu, setiap kali saya mau menyerah, saya ingat wajahnya. Saya ingat suaranya. Saya ingat puisi yang dia bacakan. Itu yang membuat saya bertahan."
Clarissa memegang tangan Sinok. "Kau kuat, Sinok. Lebih kuat dari yang kau kira."
"Saya tidak kuat, Dok. Saya hanya tidak punya pilihan lain selain bertahan."
"Makan sudah siap!" teriak Raga dari dapur.
Mereka bertiga duduk di meja makan. Raga menyajikan masakannya dengan bangga meskipun penampilannya sederhana.
"Ini tidak seberapa," kata Raga. "Tapi semoga enak."
Sinok mencicipi sayur asem. Matanya berbinar.
"Enak, Kangmas!"
Clarissa juga mencicipi. "Wah, Raga. Kau tidak salah bilang. Kau memang bisa masak."
Raga tersenyum lega. "Alhamdulillah."
Mereka makan bersama. Sesekali bercanda. Sesekali tertawa. Sinok kelihatan lebih bersemangat dari biasanya.
Clarissa mengamati Sinok diam diam. Wajah Sinok pagi ini memang lebih segar. Matanya lebih berbinar. Senyumnya lebih sering keluar.
"Ini efek Raga," pikir Clarissa. "Cinta. Atau sekadar kebahagiaan karena tidak sendirian lagi."
Pukul 21.00 WIB
Malam sudah larut.
Clarissa masuk ke kamarnya. Sinok dan Raga duduk di ruang tamu. Lampu hanya satu, di pojok ruangan, menyala redup.
"Kangmas," panggil Sinok.
"Ya."
"Janji Kangmas kemarin. Kangmas bilang akan bacakan puisi untuk saya. Tapi tidak sekarang. Di Marunda nanti."
"Iya."
"Tapi saya tidak sabar, Kangmas."
Raga tersenyum. "Kau mau aku bacakan sekarang?"
Sinok mengangguk.
Raga berpikir sejenak. Ia tidak membawa puisi apa pun. Tidak ada kertas. Tidak ada buku. Yang ada hanya ingatan.
"Baik," kata Raga. "Tapi puisi ini tidak bagus. Aku menulisnya di kepalaku tadi malam, sebelum tidur."
Sinok duduk lebih dekat. Matanya menatap Raga penuh harap.
Raga menarik napas panjang. Lalu ia mulai membaca.
"Sinok,
Aku tidak tahu bahwa rindu bisa selama ini.
Aku kira rindu hanya untuk mereka yang punya harapan.
Tapi aku tidak punya harapan selama bertahun tahun,
dan rindu itu tetap tinggal, tidak pergi.
Kau bilang di surat mu, jangan menunggu.
Tapi bagaimana aku bisa berhenti?
Sementara setiap hela napasku adalah nama mu,
setiap detak jantungku adalah panggilan mu.
Sekarang kau di sini.
Di depan mataku.
Kurus. Pucat. Tapi tetap Sinok.
Sinok dengan senyum yang sama.
Sinok dengan mata yang sama.
Sinok yang dulu mengajarkan aku
bahwa cinta tidak perlu diucapkan,
cukup dirasakan dalam diam.
Kau tanya aku apakah aku masih menulis puisi?
Tidak. Aku berhenti.
Karena semua kata yang aku tahu
hanyalah nama mu.
Dan nama mu tidak cukup untuk satu bait.
Tapi cukup untuk satu kehidupan.
Sinok,
Dua puluh enam tahun aku menunggu.
Mulai besok, aku tidak akan menunggu lagi.
Karena aku tidak perlu menunggu
seseorang yang sudah di sampingku.
Selesai."
Sinok tidak bergerak. Tidak berkedip.
Air matanya mengalir pelan di pipinya yang kurus. Ia tersenyum. Senyum paling lebar yang pernah Raga lihat sejak mereka bertemu kembali.
"Kangmas," bisik Sinok.
"Ya."
"Saya hafal."
"Sudah?"
"Iya. Saya hafal."
Sinok memejamkan mata. Lalu ia melantunkan puisi itu kembali. Kata per kata. Persis. Dengan suaranya yang parau. Dengan logat Bugisnya yang kental. Dengan penghayatan yang membuat Raga menangis.
"Sinok, aku tidak tahu bahwa rindu bisa selama ini..."
Raga menangis. Sinok juga menangis. Mereka berdua menangis dalam diam, duduk berdampingan di sofa kecil, di apartemen sederhana di tengah kota yang tidak pernah tidur.
"Sinok," kata Raga setelah lama.
"Ya, Kangmas."
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Sampai kapan pun."
Sinok memeluk Raga. Erat. Seperti orang yang takut kehilangan.
"Kangmas, saya juga. Saya tidak akan pergi kemana mana lagi."
Malam itu, mereka berdua tertidur di sofa. Berpelukan. Dengan selimut tipis yang sama. Dengan lampu redup yang tetap menyala sampai pagi.
Clarissa diam diam membuka pintu kamarnya. Ia melihat mereka. Ia tersenyum.
"Selamat malam, kalian berdua," bisik Clarissa.
Lalu ia menutup pintu lagi.
BAB 16
Kata yang Tak Bisa Dibaca
Jakarta, 19 Juni 2012
Pukul 06.00 WIB
Sinok terbangun dengan kepala terasa berat.
Bukan sakit yang biasa. Ini berbeda. Seperti ada yang menekan ubun ubunnya dari dalam. Perlahan. Terus menerus.
Ia membuka mata. Raga masih tidur di sampingnya di sofa. Wajah Raga tenang. Rambutnya yang mulai beruban terlihat berantakan. Sinok tersenyum melihatnya.
"Kangmas," bisik Sinok pelan. "Kangmas, saya mau ke kamar mandi."
Raga tidak bangun. Ia tidur terlalu lelap.
Sinok bangkit perlahan. Kepalanya berdenyut. Ia berjalan tertatih ke kamar mandi. Di cermin, ia melihat wajahnya. Pucat. Lingkaran hitam di bawah matanya semakin tebal.
"Kamu sakit, Sinok," bisiknya pada diri sendiri. "Kamu tahu itu."
Ia membuka keran. Air dingin mengalir. Ia membasuh wajahnya. Segar sebentar. Tapi denyutan di kepalanya tidak hilang.
Sinok keluar dari kamar mandi. Raga masih tidur.
Ia berjalan ke dapur, mengambil segelas air putih, lalu duduk di kursi ruang tamu. Dari jendela, ia melihat langit Jakarta yang mulai terang. Burung burung pipit beterbangan di antara gedung gedung.
"Ya Allah," bisik Sinok. "Saya tidak tahu berapa lama lagi waktu saya. Tapi terima kasih sudah mempertemukan saya dengan Kangmas Raga sebelum saya mati."
Ia menunduk. Air matanya jatuh ke lantai keramik yang dingin.
Pukul 08.00 WIB
Raga bangun dan kaget karena Sinok tidak di sampingnya.
Ia mencari ke seluruh apartemen. Sinok sedang duduk di balkon kecil di belakang dapur. Hanya berukuran satu meter persegi. Cukup untuk satu kursi.
"Sinok, kamu di sini?" tanya Raga sambil mengucek mata.
"Iya, Kangmas. Saya lihat matahari terbit."
Raga mendekat. Ia berdiri di samping Sinok. Dari balkon kecil itu, mereka bisa melihat celah celah langit di antara gedung. Matahari pagi berwarna jingga keemasan.
"Cantik," kata Raga.
"Ya, cantik. Tapi tidak secantik senja di Marunda," kata Sinok.
"Kamu rindu Marunda?"
"Rindu sekali, Kangmas. Saya rindu ibu. Saya rindu bau ikan asin. Saya rindu suara ombak. Saya rindu pohon waru di belakang gubuk."
"Kita akan ke sana. Nanti. Saat kamu sudah sembuh."
Sinok tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis.
Raga memperhatikan Sinok. Wajahnya pucat. Matanya sayu. Ada sesuatu yang berbeda dari biasanya.
"Sinok, kamu sakit?" tanya Raga.
"Tidak, Kangmas. Saya hanya kurang tidur."
"Kamu yakin?"
"Yakin."
Raga tidak percaya. Tapi ia tidak mau memaksa.
Pukul 10.00 WIB
Clarissa sudah pergi ke rumah sakit.
Raga dan Sinok sendirian di apartemen. Sinok sedang membaca buku. Raga sedang membuat teh.
"Kangmas," panggil Sinok tiba tiba.
"Ya?"
"Kangmas, saya mau tanya sesuatu."
"Tanya saja."
Sinok meletakkan bukunya. Ia menatap Raga dengan serius.
"Kangmas, apa arti kata 'bahagia'?"
Raga terkejut. "Kenapa kamu tanya itu?"
"Karena... saya tidak pernah merasakannya. Saya tahu kata itu. Saya bisa membaca nya. Tapi saya tidak pernah benar benar merasakan apa artinya."
Raga terdiam. Ia membawa dua cangkir teh ke meja, lalu duduk di seberang Sinok.
"Kamu tidak pernah merasa bahagia?"
"Dulu, waktu kecil, sebelum bapak meninggal, mungkin saya bahagia. Tapi saya tidak ingat. Setelah bapak meninggal, hidup saya susah. Jual ikan asin, kuli cuci, lapar setiap hari. Lalu menikah dengan suami yang tidak saya cintai. Suami saya baik, tapi saya tidak cinta. Lalu suami saya meninggal. Lalu Kangmas datang. Saya senang. Tapi belum tentu bahagia. Lalu Bahar culik saya. Batam. Rumah gelap itu. Sepuluh tahun."
Sinok berhenti sebentar. Tangannya gemetar.
"Lalu Dokter Clarissa selamatkan saya. Saya belajar membaca. Saya bisa menulis. Saya senang. Tapi belum bahagia. Lalu Kangmas datang kemari. Saya senang sekali. Tapi apakah itu bahagia? Saya tidak tahu, Kangmas. Saya belum pernah merasakan bahagia."
Raga memegang tangan Sinok.
"Sinok, bahagia itu... sulit dijelaskan. Tapi aku akan coba."
"Jelaskan, Kangmas."
"Bahagia itu seperti... ketika hujan deras, dan kau ada di dalam rumah yang hangat, dengan orang yang kau cintai. Kau tidak perlu apa apa. Cukup duduk diam, mendengar suara hujan, dan merasa bahwa tidak ada tempat lain yang lebih baik dari sini."
Sinok mengerjapkan mata.
"Atau," lanjut Raga, "bahagia itu seperti ketika kau lelah sekali setelah bekerja seharian, lalu kau berbaring di tempat tidur, dan kau sadar bahwa hari ini kau sudah melakukan yang terbaik. Kau tidak perlu menang. Kau tidak perlu kaya. Cukup merasa cukup."
Sinok diam. Ia merenung.
"Saya tidak pernah merasa cukup, Kangmas. Saya selalu merasa kurang. Kurang uang. Kurang makan. Kurang kasih sayang. Kurang kebebasan."
"Mulai sekarang, kamu harus belajar merasa cukup."
"Bagaimana caranya, Kangmas?"
"Mulai dari hal kecil. Misalnya, teh ini. Hangat. Manis. Kau bisa minum teh ini karena kau masih hidup. Karena kau masih bisa merasakan. Itu sudah cukup."
Sinok memegang cangkir tehnya. Ia menyesap perlahan.
"Teh ini hangat," kata Sinok. "Saya suka."
"Itu namanya bahagia, Sinok. Bahagia sederhana. Bahagia dari hal kecil."
Sinok tersenyum. "Kalau begitu, saya bahagia sekarang, Kangmas."
"Kamu bahagia?"
"Iya. Karena Kangmas di sini. Karena teh ini hangat. Karena hari ini matahari bersinar."
Raga tersenyum. "Bagus. Pertahankan perasaan itu."
Pukul 15.00 WIB
Sore harinya, Sinok tiba tiba jatuh.
Ia sedang berdiri di dapur, hendak mengambil air minum. Tiba tiba matanya berkunang kunang. Tubuhnya lemas. Ia jatuh ke lantai dengan suara keras.
Raga yang sedang di ruang tamu kaget. Ia berlari ke dapur.
"Sinok! Sinok!"
Sinok tidak sadar. Matanya terpejam. Wajahnya pucat sekali. Bibirnya kebiruan.
Raga panik. Ia mengangkat Sinok, membawanya ke sofa. Lalu ia mencari ponsel. Tangannya gemetar hebat.
"Clarissa! Cepat! Sinok jatuh! Tidak sadar!"
"Apa? Di mana kalian?"
"Di apartemen! Cepat!"
"Bawa dia ke rumah sakit. Rumah sakit tempatku bekerja. Aku akan ke sana sekarang juga!"
Raga menggendong Sinok. Tubuhnya ringan sekali. Sekian tahun menderita membuat berat badannya hanya tinggal tulang dan kulit.
Raga berlari ke luar apartemen. Lift. Lobi. Jalan. Ia berteriak memanggil taksi.
"Taksi! Taksi!"
Sebuah taksi berhenti. Raga masuk bersama Sinok di pangkuannya.
"Rumah sakit terdekat! Cepat!"
Taksi melaju kencang. Raga memeluk Sinok erat erat.
"Sinok, jangan mati," bisik Raga. "Kita baru bertemu. Belum sempat ke Marunda. Belum sempat naik ke genteng bocor. Belum sempat aku bacakan puisi di sana. Jangan mati, Sinok. Tolong."
Sinok tidak bergerak. Dadanya naik turun tipis. Masih bernapas. Tapi lemah.
Pukul 15.30 WIB
Rumah sakit.
Raga berlari ke unit gawat darurat. Perawat perawat segera menyambut. Mereka membawa Sinok ke ruang tindakan.
Raga duduk di kursi ruang tunggu. Tangannya gemetar. Wajahnya pucat pasi.
Clarissa datang lima belas menit kemudian. Ia langsung masuk ke ruang tindakan. Raga ditinggal sendirian.
Ia berdoa.
"Ya Allah, jangan ambil Sinok sekarang. Belum waktunya. Aku baru saja menemukannya. Beri aku waktu. Beri dia waktu. Aku mohon."
Pukul 16.30 WIB
Clarissa keluar dari ruang tindakan. Wajahnya lelah. Matanya sembab.
"Raga."
"Iya. Bagaimana Sinok?"
"Dia sadar. Tapi tekanan darahnya turun drastis. Tumor di otaknya menekan saraf. Itu sebabnya dia pingsan."
"Apa yang bisa kita lakukan?"
"Kita bisa rawat dia di sini. Observasi. Tapi... Raga, aku harus jujur."
"Jujur apa?"
"Kondisinya semakin memburuk. Lebih cepat dari perkiraanku."
Raga menutup wajahnya dengan tangan. "Berapa lama lagi?"
"Mungkin... enam bulan. Mungkin kurang."
Raga tidak bisa berkata apa apa. Ia hanya duduk diam, menatap lantai ruang tunggu yang dingin.
"Raga," panggil Clarissa lembut.
"Ya."
"Kau harus siap. Sinok mungkin tidak akan pernah sampai ke Marunda."
Raga mengangkat kepalanya. Matanya merah, tapi tidak menangis.
"Dia akan sampai ke Marunda," kata Raga tegas. "Aku akan mengantarnya. Dengan kereta api. Dengan ambulans. Dengan apa pun. Dia akan melihat ibunya sekali lagi sebelum dia..."
Raga tidak bisa melanjutkan.
Clarissa memeluk Raga. Laki laki tua yang telah menunggu dua puluh enam tahun itu menangis di bahu Clarissa.
"Aku tidak tega, Clarissa," isak Raga. "Dia sudah menderita cukup lama. Kenapa Tuhan masih mengambilnya begitu cepat?"
"Aku tidak tahu, Raga. Tapi mungkin Tuhan ingin Sinok bahagia sebentar. Lalu memanggilnya pulang sebelum penderitaannya bertambah parah."
Raga melepaskan pelukan. Ia menyeka air matanya.
"Aku bisa masuk?"
"Boleh. Tapi jangan lama. Dia perlu istirahat."
Raga masuk ke ruang rawat inap.
Sinok terbaring di tempat tidur putih. Infus di tangan kirinya. Alat monitor di sampingnya berbunyi pelan.
Sinok masih sadar. Ia tersenyum tipis ketika melihat Raga.
"Kangmas, maaf," bisik Sinok. "Saya bikin Kangmas panik."
"Kamu jangan bicara. Istirahat."
"Tapi Kangmas..."
"ISTIRAHAT."
Sinok terdiam. Ia menurut.
Raga duduk di kursi di samping tempat tidur Sinok. Ia memegang tangan Sinok yang kurus itu.
"Sinok," panggil Raga pelan.
"Ya, Kangmas."
"Kamu bilang kemarin, kamu tidak pernah membaca kata 'bahagia'. Aku akan ajari kamu. Setiap hari. Setiap kali kita bersama. Sampai kamu benar benar mengerti artinya."
Sinok tersenyum. "Kangmas, saya sudah mengerti."
"Sudah?"
"Iya. Bahagia itu ketika Kangmas ada di samping saya. Sekarang. Di sini."
Raga tersenyum. Air matanya jatuh lagi.
Ia mencium kening Sinok pelan.
"Istirahatlah, Sinok. Besok kita lanjutkan lagi."
"Besok kita belajar apa, Kangmas?"
"Besok kita belajar kata 'besok'. Bahwa besok selalu ada harapan. Selama kita masih hidup."
Sinok memejamkan matanya. Tangannya masih memegang tangan Raga.
Alat monitor di sampingnya berbunyi teratur. Pelan. Menenangkan.
Raga duduk di kursi itu, tidak bergerak, tidak pergi kemana mana.
Ia berjanji pada dirinya sendiri: selama Sinok masih hidup, ia tidak akan pernah meninggalkannya.
Bahkan untuk pergi ke kamar mandi pun ia akan tahan.
Bersambung ke Bab 17
Apakah Anda ingin saya lanjutkan ke Bab 17?
Bab 17 akan berjudul "Tur Keliling Kenangan", di mana setelah Sinok diperbolehkan keluar dari rumah sakit, Raga mengajaknya berkeliling dengan sepeda motor bututnya ke tempat tempat bersejarah dalam puisi puisi mereka: ke stasiun Tanjung Priok, ke pelabuhan lama, ke pasar ikan, ke tempat pertama mereka bertemu. Setiap tempat, Raga akan membacakan puisi pendek yang ia tulis khusus untuk Sinok. Namun di tengah perjalanan, Sinok mulai menunjukkan gejala sakit yang lebih parah.
Bersambung ke Bab 17
Baik, saya lanjutkan ke Bab 17 dengan gaya yang sama: tanpa tanda penghubung (strip) kecuali untuk kata ulang atau kata turunan, dialog menggunakan tanda petik dua ("..."), deskripsi seperlunya, dan dialog diperbanyak.
BAB 17
Tur Keliling Kenangan
Jakarta, 25 Juni 2012
**Pukul 09.00 WIB
Enam hari Sinok dirawat di rumah sakit.
Selama enam hari itu, Raga tidak pernah meninggalkannya. Ia tidur di kursi lipat di samping tempat tidur Sinok. Ia makan di kantin rumah sakit. Ia hanya pulang ke apartemen sekali untuk mengambil pakaian ganti.
Clarissa datang setiap hari. Kadang ia memeriksa Sinok. Kadang ia hanya duduk menemani Raga.
"Hari ini Sinok boleh pulang," kata Clarissa suatu pagi. "Tapi harus rawat jalan. Kontrol seminggu sekali."
Raga menghela napas lega. "Terima kasih, Clarissa."
"Jangan berterima kasih. Yang penting jaga dia. Jangan sampai jatuh lagi."
Raga mengangguk.
Sinok sudah duduk di tepi tempat tidur. Wajahnya masih pucat, tapi matanya sudah lebih bercahaya. Ia sudah bisa tersenyum lagi.
"Kangmas," panggil Sinok.
"Ya?"
"Saya ingin jalan jalan."
"Jalan jalan ke mana?"
"Ke tempat tempat dulu. Tempat kita pertama kali bertemu. Tempat Kangmas pertama kali baca puisi untuk saya. Tempat kita dulu."
Raga tersenyum. "Kamu sedang sakit, Sinok. Tidak boleh ke mana mana."
"Dokter Clarissa, saya boleh kan?" Sinok menoleh ke Clarissa.
Clarissa berpikir sejenak. "Boleh. Tapi jangan lama. Jangan ke tempat yang terlalu jauh. Dan jangan naik kendaraan yang terlalu keras."
Sinok clap tangan kecilnya. "Asyik! Kangmas, kita pakai sepeda motor Kangmas."
"Kau bisa naik sepeda motor?"
"Bisa. Dulu di Batam, saya sering bonceng."
Raga ragu. Tapi melihat semangat Sinok yang tiba tiba menyala seperti api kecil, ia tidak tega menolak.
"Baik. Tapi hati hati."
Pukul 14.00 WIB
Raga memarkir sepeda motor bututnya di depan apartemen.
Sepeda motor itu sudah tua. Merek Jepang, warna hitam, catnya mengelupas di beberapa bagian. Mesinnya masih bagus. Raga merawatnya sendiri.
"Ini sepeda motor Kangmas?" tanya Sinok sambil menatap motor itu.
"Iya. Namanya si Hitam. Sudah lima belas tahun aku pakai."
"Tua sekali."
"Iya. Tapi setia. Tidak pernah mogok."
Sinok tertawa. Raga membantunya naik ke jok belakang.
"Peluk aku erat erat," kata Raga. "Jangan sampai jatuh."
Sinok memeluk pinggang Raga. Erat. Kepalanya menempel di punggung Raga.
"Siap, Kangmas."
"Pergi!"
Sepeda motor melaju pelan. Raga tidak mau cepat. Ia takut Sinok kepeleset atau pusing.
Tujuan pertama: Stasiun Tanjung Priok.
Pukul 14.30 WIB
Stasiun Tanjung Priok.
Stasiun ini tidak berubah banyak sejak tahun 1998. Bangunannya masih sama. Catnya sudah pudar. Kereta api masih hilir mudik membawa penumpang dan barang.
Raga memarkir motornya di tempat parkir. Ia membantu Sinok turun.
"Ini stasiun tempat aku pertama kali bertemu Pak Sardi," kata Raga.
"Pak Sardi siapa, Kangmas?"
"Masinis tua yang menolongku dulu. Dia yang memberiku uang untuk menyewa perahu ke Pulau Pramuka."
"Pak Sardi masih hidup?"
Raga menggeleng. "Dia meninggal tahun 2005. Aku datang ke pemakamannya. Aku bacakan puisi untuknya."
Sinok terdiam. "Pak Sardi orang baik."
"Iya. Dia bilang, hutang budi tidak bisa dibayar dengan uang. Hanya dengan kebaikan kepada orang lain."
Mereka berjalan di sekitar stasiun. Raga menunjuk ke sebuah sudut.
"Dulu, di sanalah aku pingsan. Di pinggir rel. Pak Sardi menemukanku."
Sinok membayangkan adegan itu. Raga muda, luka luka, pingsan di pinggir rel. Seorang masinis tua menolongnya.
"Kalau tidak ada Pak Sardi, Kangmas mungkin sudah mati."
"Iya. Dan aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi."
Mereka berdiam beberapa saat. Kereta api lewat dengan suara keras. Raga menarik Sinok mundur.
"Sudah, Kangmas. Kita ke tempat berikutnya."
Pukul 15.30 WIB
Pelabuhan Lama Tanjung Priok.
Tempat ini lebih sepi dari dulu. Dermaga kayunya sudah diganti dengan beton. Perahu perahu masih tambat di sana, tapi tidak sebanyak dulu.
"Ini tempat Bahar membawamu ke Pulau Pramuka," kata Raga.
Sinok mengangguk. Wajahnya berubah tegang sebentar.
"Sinok, kau tidak apa apa?"
"Saya tidak apa apa, Kangmas. Hanya... mengingat malam itu."
Raga memegang tangan Sinok. "Maaf. Aku tidak seharusnya membawa mu ke sini."
"Tidak apa, Kangmas. Saya harus menghadapi kenangan buruk. Supaya tidak terus menghantui."
Mereka berdiri di tepi dermaga. Air laut berwarna hijau kecoklatan. Angin bertiup pelan.
"Kangmas," panggil Sinok.
"Ya."
"Dulu, di perahu itu, saya berdoa. Saya berdoa semoga Kangmas selamat. Semoga Kangmas tidak menyusul saya."
"Aku justru menyusulmu. Tapi gagal."
"Tidak gagal, Kangmas. Kita bertemu juga akhirnya."
Raga tersenyum. "Kamu selalu melihat sisi baik dari segala sesuatu."
"Karena saya sudah terlalu lama melihat sisi buruk, Kangmas. Saya lelah."
Mereka berjalan kembali ke sepeda motor.
Pukul 16.00 WIB
Pasar Ikan Tanjung Priok.
Pasar ini paling ramai di pagi hari. Sore begini, mulai sepi. Beberapa pedagang masih bersih bersih. Bau amis masih menyengat.
"Ini tempat pertama kali aku melihatmu tersenyum," kata Raga.
Sinok terkejut. "Di sini?"
"Iya. Waktu itu kau sedang menjemur ikan asin. Aku duduk di batu besar di pinggir pantai. Tiba tiba kau tersenyum ke arah laut. Aku tidak tahu kenapa kau tersenyum. Tapi senyum itu... membuatku jatuh cinta."
Sinok tersipu. "Saya tidak ingat, Kangmas."
"Kau mungkin tidak ingat. Tapi aku ingat. Sampai sekarang."
Mereka duduk di bangku kayu di pinggir pasar. Sinok memandang laut lepas.
"Dulu, setiap kali saya jual ikan asin ke sini, saya selalu berdoa semoga ada pembeli yang baik. Tidak pelit. Tidak kasar."
"Apakah doamu terkabul?"
"Kadang. Kadang tidak. Tapi saya tidak berhenti berdoa."
"Kau kuat, Sinok."
"Saya tidak kuat, Kangmas. Saya hanya terbiasa."
Raga memegang tangan Sinok. Tangannya dingin.
"Sinok, aku akan bacakan puisi untuk tempat ini."
"Di sini? Sekarang?"
"Iya. Puisi pendek saja."
Sinok mengangguk semangat.
Raga menarik napas. Lalu ia membaca.
"Di pasar ini, kau tersenyum pada laut,
padahal laut tidak pernah membalas.
Tapi aku yang melihat dari kejauhan,
langsung jatuh dan tidak bisa bangkit.
Sampai sekarang."
Sinok diam. Matanya berkaca kaca.
"Kangmas..."
"Iya."
"Itu puisi paling pendek yang pernah Kangmas bacakan."
"Tapi jujur."
Sinok tersenyum. "Saya suka, Kangmas. Saya hafal."
Ia mengulangi puisi itu persis. Raga tersenyum bangga.
Pukul 17.00 WIB
Tujuan terakhir: Gang sempit tempat Raga pertama kali pingsan di depan gubuk Sinok.
Gang itu sudah berubah. Dulu tanah becek, sekarang sudah diaspal. Dulu lampu minyak, sekarang sudah ada lampu listrik. Tapi gubuk Sinok masih ada. Meskipun lebih reot dari dulu.
"Rumah," bisik Sinok.
"Iya. Rumahmu."
Mereka berjalan ke pintu gubuk. Raga mengetuk.
"Tok tok tok."
Tidak ada jawaban.
"Tok tok tok."
Masih tidak ada jawaban.
"Mungkin Nenek Maryam sedang ke warung," kata Raga.
Sinok mencoba membuka pintu. Tidak dikunci.
Pintu terbuka.
Di dalam, Nenek Maryam sedang duduk di pojok ruangan, memegang tasbih. Matanya buta, tapi telinganya tajam.
"Siapa?" tanya Nenek Maryam.
Sinok tidak bisa menjawab. Mulutnya terbuka, tapi suaranya tidak keluar. Air matanya mengalir deras.
"Nenek... ini Sinok."
Nenek Maryam terkejut. Tasbihnya jatuh ke lantai.
"Sinok? Anakku?"
"Iya, Mak. Sinok pulang."
Nenek Maryam berdiri. Tangannya meraba raba di udara. Sinok menghampiri, meraih tangan ibunya, dan menempelkannya ke pipinya.
"Ini pipi Sinok, Mak. Sinok kurus, tapi Sinok hidup."
Nenek Maryam meraba wajah Sinok. Hidungnya. Matanya. Bibirnya.
"Sinok... anakku... anakku..."
Nenek Maryam menangis. Sinok juga. Mereka berpelukan di gubuk reyot itu. Raga berdiri di pintu, menyeka air matanya.
"Mak, maafkan Sinok. Sinok lama tidak pulang."
"Kamu tidak usah minta maaf, Nak. Kamu selamat. Itu yang penting."
Sinok memeluk ibunya erat erat. Ia tidak ingin melepaskan.
"Raga," panggil Nenek Maryam.
"Iya, Nenek."
"Kau yang membawa Sinok pulang?"
"Iya, Nenek."
"Terima kasih, Nak. Aku tidak bisa membalas."
"Tidak usah dibalas, Nenek. Ini sudah kewajiban saya."
Nenek Maryam tersenyum. "Kau anak baik. Pantas Sinok mencintaimu."
Raga tersenyum malu. Sinok tersipu.
Mereka bertiga duduk di lantai gubuk itu. Sama seperti dua puluh enam tahun lalu. Hanya saja sekarang, Sinok sudah tidak buta huruf. Raga sudah tidak muda. Dan Nenek Maryam semakin tua.
"Mak," panggil Sinok.
"Ya, Nak."
"Sinok sakit, Mak. Sinok tidak tahu berapa lama lagi hidup. Tapi sebelum Sinok mati, Sinok ingin di sini. Bersama Mak. Bersama Kangmas Raga."
Nenek Maryam mengangguk. "Kamu di sini, Nak. Kamu tidak usah ke mana mana lagi. Mak yang akan jaga kamu."
Sinok menangis lagi. Raga memegang tangannya.
Pukul 19.00 WIB
Malam sudah tiba.
Raga dan Sinok tidak kembali ke Jakarta. Mereka memutuskan tinggal di Marunda. Clarissa sudah diberi tahu lewat telepon.
"Kau yakin?" tanya Clarissa di ujung telepon.
"Yakin," jawab Raga. "Ini yang Sinok mau. Dia ingin menghabiskan sisa waktunya di sini. Bersama ibunya. Bersama aku."
"Baik. Tapi jangan lupa kontrol seminggu sekali. Dan beri obat tepat waktu."
"Aku ingat."
Clarissa menghela napas. "Raga, jaga dia baik baik."
"Aku akan jaga. Sampai napas terakhirnya."
Telepon ditutup.
Raga masuk ke gubuk. Sinok sudah tidur di dipan kayu yang dulu. Nenek Maryam duduk di sampingnya, memegang tangan Sinok.
"Nenek," panggil Raga pelan.
"Ya, Nak."
"Aku akan tidur di luar. Di teras. Jaga Sinok."
"Kau juga perlu istirahat, Nak. Kau sudah lelah."
"Aku tidak lelah, Nenek. Aku hanya takut."
"Takut apa?"
"Takut Sinok tidak bangun besok pagi."
Nenek Maryam terdiam. Lalu ia berkata, "Kalau Tuhan sayang sama Sinok, Dia akan memanggil Sinok pulang lebih cepat. Tapi kalau Tuhan masih sayang sama kita, Dia akan beri kita waktu lebih lama."
Raga mengangguk. Ia keluar dan duduk di teras.
Laut di depannya gelap. Langit penuh bintang. Angin laut bertiup sejuk.
"Sinok," bisik Raga. "Besok kita akan naik ke genteng bocor. Aku akan bacakan puisi untukmu di sana. Seperti dulu. Aku janji."
Ia memejamkan mata. Air matanya jatuh ke tanah.
BAB 18
Caleg Bahar dan Dendam yang Tak Mati
Marunda, 26 Juni 2012
Pukul 02.00 WIB (Dini Hari)
Malam itu gelap sekali.
Bulan tidak muncul. Bintang bintang tertutup awan tebal. Angin bertiup kencang, membuat dedaunan pohon kelapa bergesekan satu sama lain seperti orang yang berbisik bisik.
Raga belum tidur. Ia duduk di teras gubuk, bersandar di tiang bambu, matanya menatap ke arah laut. Pikirannya melayang ke mana mana. Membayangkan Sinok yang tidur di dalam. Membayangkan besok pagi saat Sinok bangun. Membayangkan hari hari yang akan mereka lalui bersama, meskipun tidak banyak.
Tiba tiba, ia mendengar suara.
Suara sepeda motor.
Bukan satu. Banyak. Suara knalpot yang bising, terdengar dari kejauhan, semakin lama semakin dekat.
Raga berdiri. Ia mengintip ke arah gang sempit di depan gubuk.
Tiga sepeda motor melaju pelan. Lampu depan menyala terang, menyorot gang sempit itu seperti mata mata setan di tengah malam.
Setiap motor membawa dua orang. Total enam orang. Mereka berhenti sekitar dua puluh meter dari gubuk. Mesin motor dimatikan. Suasana menjadi sunyi. Terlalu sunyi.
Raga merasakan firasat tidak enak.
Ia masuk ke dalam gubuk dengan cepat dan pelan.
"Sinok," bisiknya. "Bangun."
Sinok yang sedang tidur terbangun. "Kangmas? Ada apa?"
"Ada orang. Banyak. Aku tidak tahu siapa. Tapi sepertinya mereka tidak baik."
Sinok duduk. Wajahnya berubah tegang. "Bahar?"
"Aku tidak tahu. Tapi kita harus siap."
Nenek Maryam dari pojok ruangan ikut bangun. "Ada apa, Nak?"
"Nenek, ada orang asing di luar. Nenek diam di sini. Jangan keluar."
Raga mencari sesuatu untuk berjaga. Ia mengambil sebatang kayu yang biasa digunakan untuk sandaran pintu. Itu satu satunya senjata yang ada.
"Kangmas, jangan," bisik Sinok. "Mereka banyak. Kangmas bisa kalah."
"Aku tidak akan diam saja, Sinok. Mereka datang ke rumah kita."
Tiba tiba, pintu gubuk didorong dari luar.
Krek!
Pintu triplek yang rapuh itu terbuka lebar. Seorang laki laki besar berdiri di ambang pintu. Badannya kekar, wajahnya kasar, rambutnya dicukur pendek. Di tangannya ada sebilah parang.
Di belakangnya, lima laki laki lain berdiri. Ada yang membawa kayu, ada yang membawa celurit, ada yang hanya bertangan kosong tapi tampak siap memukul.
"Mana Raga?" tanya laki laki besar itu.
Raga maju selangkah. "Aku Raga. Ada apa?"
Laki laki itu tersenyum jahat. "Juragan Bahar kirim salam. Katanya, kau terlalu banyak ikut campur urusannya. Sinok sudah dia yang punya. Kau tidak berhak membawanya pulang ke sini."
Sinok berdiri di belakang Raga. "Sinok bukan milik Juragan Bahar. Sinok manusia. Sinok punya hak hidup di mana saja."
Laki laki itu tertawa. "Perempuan, jangan banyak bicara. Juragan suruh kami bawa kau kembali ke Jakarta. Rumah Juragan sudah disita, tapi Juragan punya tempat baru. Kau akan di sana sampai Juragan bebas dari penjara."
"Saya tidak mau," kata Sinok tegas.
"Bukan pilihan."
Laki laki itu melangkah maju. Raga menghadang dengan kayu di tangannya.
"Jangan dekat dekat," kata Raga. "Kalau kau mau bawa Sinok, kau harus lewati aku dulu."
Laki laki itu tertawa lagi. "Kau hanya sendiri. Kayu di tanganmu tidak akan melindungimu dari parang ini."
Mereka berlima mulai masuk ke dalam gubuk. Raga mundur selangkah. Sinok memegang lengan Raga dari belakang.
"Kangmas, jangan," bisik Sinok. "Kangmas lari. Saya yang akan..."
"Tidak," potong Raga. "Aku tidak akan lari. Aku sudah lari sekali dulu. Saat Bahar datang pertama kali. Aku tidak akan mengulanginya."
Raga mengangkat kayunya tinggi tinggi.
"Silakan," katanya. "Coba ambil Sinok."
Laki laki besar itu mengangkat parangnya.
Tiba tiba, dari luar terdengar suara teriakan.
"Berhenti! Polisi!"
Semua orang di dalam gubuk terkejut. Lampu senter menyala dari luar, menyorot ke arah preman preman itu.
"Angkat tangan! Jangan bergerak!"
Preman preman itu panik. Ada yang mencoba kabur lewat belakang, tapi polisi sudah mengepung. Suara langkah kaki berlarian. Suara bentakan. Suara handcuff yang dibuka.
Dalam hitungan menit, semua preman Bahar ditangkap. Mereka digiring keluar dari gubuk dengan tangan di belakang.
Raga tertegun. Ia tidak mengerti apa yang terjadi.
Dari luar, Clarissa masuk bersama dua orang polisi.
"Raga, kau tidak apa apa?" tanya Clarissa.
"Clarissa? Kau... kau yang panggil polisi?"
"Aku sudah curiga Bahar akan melakukan sesuatu. Sejak kau bilang kalian akan tinggal di Marunda, aku pasang perangkat perekam di sekitar gubuk. Begitu ada suara mencurigakan, aku langsung hubungi polisi."
Raga menghela napas lega. "Clarissa, kau... kau menyelamatkan kami."
"Sudah tugas saya," kata Clarissa sambil tersenyum. "Sekarang kalian istirahat. Polisi akan mengamankan preman preman ini. Bahar akan ditambah hukumannya karena ini."
Sinok berlari ke Clarissa dan memeluknya. "Dok, terima kasih. Saya takut sekali."
"Tenang, Sinok. Kau aman sekarang. Bahar tidak akan bisa menyentuhmu lagi. Aku jamin."
Pukul 05.00 WIB
Polisi sudah pergi membawa preman preman itu.
Clarissa masih tinggal di gubuk. Ia sedang minum teh yang diseduh Nenek Maryam.
"Raga," panggil Clarissa.
"Ya."
"Kau harus pindah. Tempat ini tidak aman. Preman Bahar mungkin masih ada di luar sana."
"Ke mana kami bisa pindah?"
"Ke apartemenku di Jakarta. Aku punya dua kamar tidur. Nenek Maryam bisa tinggal di sana juga. Sinok sudah tinggal di sana sebelumnya."
Sinok menggeleng. "Dok, saya ingin di sini. Ini rumah saya."
"Sinok, kau tidak aman di sini. Bahar punya banyak anak buah. Sampai Bahar dipenjara sungguhan, kau tidak akan aman."
Sinok diam. Ia menatap ibunya. Nenek Maryam mengangguk.
"Ikut saja sama Dokter itu, Nak. Mak ikut. Rumah ini tidak kemana mana. Nanti kalau sudah aman, kita bisa kembali."
Sinok menangis. "Tapi Mak... ini rumah yang ditinggal bapak."
"Rumah bukan bangunannya, Nak. Rumah adalah tempat orang orang yang kita cintai berkumpul. Dan orang orang yang kita cintai sekarang mau pindah ke Jakarta. Jadi Jakarta rumah kita sekarang."
Sinok memeluk ibunya.
Raga memandang Nenek Maryam dengan kagum. Perempuan buta itu lebih bijak dari orang orang yang matanya sehat.
"Baik," kata Raga. "Kita pindah. Sementara waktu."
"Bagus," kata Clarissa. "Besok pagi aku jemput kalian."
Pukul 20.00 WIB
Malam harinya, sebelum tidur, Raga dan Sinok duduk di teras gubuk untuk terakhir kalinya.
Mereka berdua diam, mendengarkan suara ombak dan angin.
"Sinok," panggil Raga.
"Ya, Kangmas."
"Besok kita tinggalkan tempat ini."
"Iya, Kangmas. Saya sedih."
"Aku juga sedih. Tapi kita akan kembali. Suatu hari nanti."
"Janji, Kangmas?"
"Janji."
Sinok tersenyum. "Kangmas, bisakah sebelum tidur, Kangmas bacakan puisi? Sekali saja. Untuk tempat ini."
Raga mengangguk. Ia memandang laut yang gelap, lalu mulai membaca.
"Gubuk ini kecil.
Dindingnya bambu, atapnya seng bocor.
Tapi di sinilah aku belajar
bahwa cinta tidak butuh istana.
Cinta hanya butuh satu orang yang mau duduk di sampingmu,
dalam diam,
tanpa janji,
tanpa kepastian,
tapi tidak pernah pergi.
Selamat tinggal, gubuk kecil.
Kami akan kembali.
Atau jika tidak,
biarkan ombak yang menceritakan
bahwa pernah ada dua orang
yang saling mencintai di sini,
meskipun dunia tidak pernah tahu."
Sinok tidak bertepuk tangan. Ia hanya diam, menangis dalam hati.
"Kangmas, saya akan merindukan tempat ini."
"Aku juga, Sinok. Tapi selama kita bersama, di mana pun kita berada, itu adalah rumah."
Mereka berdua masuk ke dalam gubuk. Nenek Maryam sudah tidur di pojok ruangan.
Raga dan Sinok tidur berdampingan di dipan kayu yang sama.
"Sinok," bisik Raga.
"Ya, Kangmas."
"Aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitimu lagi. Aku janji."
"Aku percaya, Kangmas."
Sinok memejamkan matanya. Tangannya masih memegang tangan Raga.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun tahun, Sinok tidur dengan tenang. Tanpa rasa takut. Tanpa mimpi buruk. Hanya ada kedamaian.
BAB 19
Pengejaran di Dermaga
Marunda, 27 Juni 2012
Pukul 06.00 WIB
Pagi itu cerah.
Matahari baru saja terbit di ufuk timur, menyinari laut lepas dengan warna jingga keemasan. Burung burung camar beterbangan di atas permukaan air, sesekali menyelam mencari ikan. Suasana tenang. Damai.
Tapi Raga tidak merasa tenang.
Sejak bangun tidur, ada firasat aneh di dadanya. Bukan sakit. Bukan cemas. Tapi sesuatu yang mengatakan bahwa hari ini tidak akan biasa.
"Kangmas," panggil Sinok dari dalam gubuk. "Kita sudah siap. Ayo berangkat."
Raga berdiri dari teras. Ia melihat ke sekeliling. Sepi. Tidak ada orang. Hanya suara ayam berkokok dari kejauhan.
"Baik. Kita cepat pergi sebelum macet."
Clarissa sudah menjemput dengan mobil putihnya. Mobil itu terparkir di ujung gang. Nenek Maryam sudah duduk di kursi penumpang belakang. Sinok membawa satu kardus kecil berisi pakaian dan buku puisi pemberian Raga dulu.
"Ayo, Sinok," kata Clarissa dari dalam mobil. "Cepat. Kita harus sampai di Jakarta sebelum siang."
Sinok menoleh ke gubuknya untuk terakhir kalinya. Matanya berkaca kaca.
"Selamat tinggal," bisiknya.
Raga memegang pundaknya. "Kita akan kembali. Janji."
Sinok mengangguk. Ia masuk ke mobil. Raga duduk di sampingnya.
Mobil mulai bergerak perlahan meninggalkan gang sempit Marunda.
Pukul 06.30 WIB
Mobil sudah keluar dari gang dan memasuki jalan kecil di tepi pantai. Di kiri, laut lepas. Di kanan, rumah rumah penduduk yang masih tertutup rapat.
Clarissa mengemudi dengan hati hati. Jalanan berlubang di sana sini. Debu beterbangan dari balik roda.
Tiba tiba, dari belakang, terdengar suara knalpot motor yang bising.
Banyak.
Raga menoleh ke belakang.
Lima sepeda motor. Masing masing berisi dua orang. Mereka melaju cepat, mengejar mobil Clarissa.
"Clarissa, cepat! Ada yang ngejar!"
"Siapa?" Clarissa melihat spion. Wajahnya berubah tegang.
"Preman Bahar!"
Clarissa menginjak pedal gas. Mobil melaju lebih cepat. Tapi jalanan berlubang membuatnya tidak bisa melaju terlalu kencang.
Motor motor itu semakin dekat.
"Dok, mereka bawa senjata!" teriak Sinok dari jok belakang.
Raga melihat dengan jelas. Beberapa preman memegang parang. Ada juga yang memegang balok kayu.
"Clarissa, belok ke kanan! Masuk ke jalan setapak!"
"Tidak bisa! Jalannya terlalu sempit untuk mobil!"
Motor motor itu mulai mengepung. Satu motor di samping kiri. Satu motor di samping kanan. Dua motor di belakang. Satu motor di depan.
Seorang preman di samping kiri memukul kaca mobil dengan balok kayu.
"Braak!"
Kaca samping pecah. Serpihan kaca berhamburan ke dalam mobil. Sinok berteriak.
"Tunduk!" teriak Raga sambil melindungi Sinok dengan tubuhnya.
Clarissa membanting setir ke kiri. Mobil menabrak motor di samping kiri. Preman itu jatuh terguling. Tapi mobil oleng ke kiri, hampir masuk ke selokan.
"Clarissa, hati hati!" teriak Raga.
"Aku berusaha!"
Preman di samping kanan memukul kaca lagi. Kali ini kaca belakang pecah. Serpihan kaca mengenai lengan Clarissa. Berdarah. Clarissa meringis kesakitan tapi tetap mengemudi.
"Dok, tangan Dok berdarah!" teriak Sinok.
"Tidak apa! Kita harus kabur dari sini!"
Raga melihat ke depan. Di ujung jalan, ada dermaga kecil. Tidak ada jalan keluar lain.
"Clarissa, jalan buntu! Dermaga!"
"Aku tahu! Kita akan berhenti di sana!"
Pukul 06.45 WIB
Mobil berhenti di ujung dermaga.
Tidak ada tempat untuk mundur. Di depan, laut lepas. Di belakang, lima motor preman sudah berhenti dan preman preman itu turun.
Mereka berjalan mendekat. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh. Sepuluh orang. Dengan senjata.
Clarissa matikan mesin. Ia meraih ponselnya.
"Saya rekam," bisik Clarissa. "Kalian turun dan lari ke dermaga. Saya akan panggil polisi."
Raga menggeleng. "Kita tidak bisa meninggalkanmu."
"Aku baik baik saja. Mereka tidak akan berani menyentuhku. Aku saksi. Dan aku punya video."
Raga ragu.
"Cepat!" desak Clarissa.
Raga membuka pintu. Ia menarik Sinok keluar. Nenek Maryam ikut keluar dari jok belakang, dituntun Sinok.
Mereka berlari ke dermaga kayu yang panjang menjorok ke laut.
Dermaga itu sempit, hanya cukup untuk dua orang berdua. Di ujungnya, sebuah perahu nelayan tambat. Kosong. Tidak ada orang.
"Ke perahu!" teriak Raga.
Mereka berlari.
Tapi preman preman itu lebih cepat. Beberapa dari mereka sudah sampai di dermaga lebih dulu. Mereka memotong jalan.
"Berhenti!" teriak salah satu preman.
Raga berhenti. Sinok berhenti di belakangnya. Nenek Maryam gemetar memegang lengan Sinok.
"Mau apa kalian?" tanya Raga dengan suara tegas.
"Juragan Bahar mau Sinok kembali. Dan kau, Raga, akan kami habisi di sini. Biar tidak usah repot repot."
Raga mengepalkan tangan. Ia berdiri di depan Sinok dan Nenek Maryam.
"Kau harus lewati aku dulu."
"Seperti kemarin malam? Kemarin kami kalah karena polisi. Sekarang tidak ada polisi di sini. Hanya laut."
Preman itu tertawa. Preman preman lain ikut tertawa.
"Kangmas, jangan," bisik Sinok. "Kangmas lari saja. Saya yang akan..."
"Tidak," potong Raga. "Dua puluh enam tahun lalu, aku gagal melindungimu. Tidak akan kuulangi."
Raga mengambil sepotong kayu yang tergeletak di dermaga. Kayu itu kecil, tidak seberapa. Tapi cukup untuk memukul.
"Silakan," kata Raga. "Siapa yang pertama?"
Seorang preman besar maju dengan parang di tangan. Ia mengayunkan parangnya ke arah Raga.
Raga menghindar. Tubuhnya masih lincah meskipun sudah tua. Kayu di tangannya diayunkan ke perut preman itu. Preman itu terjatuh, tapi tidak luka parah.
Preman lain maju. Dua orang sekaligus. Satu dengan parang, satu dengan balok kayu.
Raga melawan sekuat tenaga. Tapi ia hanya satu. Lawannya banyak.
Seorang preman berhasil menendang kakinya. Raga jatuh. Parang diayunkan ke arah kepalanya. Raga menghindar dengan berguling. Parang itu mengenai lantai kayu dermaga, nyaris mengenai telinganya.
"Kangmas!" teriak Sinok.
Ia ingin maju membantu, tapi Nenek Maryam menahannya.
"Jangan, Nak. Kau tidak bisa membantu. Kau hanya akan menyusahkan."
"Tapi Mak..."
"Diam. Percaya sama Raga."
Raga bangkit. Wajahnya sudah berlumuran darah dari luka di alis. Tapi ia tidak menyerah.
Ia menghadang lagi. Memukul dengan kayu. Menendang. Menghindar.
Tapi jumlah terlalu banyak.
Preman itu menangkap tangan Raga. Dua preman lain memegang kaki Raga. Mereka membantingnya ke lantai dermaga. Raga tidak bisa bergerak.
"Selesai sudah," kata preman besar itu. "Kau bisa mati di sini. Laut akan jadi kuburanmu."
Ia mengangkat parang tinggi tinggi.
"Kangmas!" teriak Sinok.
Dari kejauhan, suara sirine polisi terdengar.
"Brak! Brak! Brak!"
Bukan sirine. Tapi suara tembakan peringatan.
Semua preman menoleh. Dari arah darat, lima mobil polisi datang dengan cepat. Lampu rotator menyala merah biru.
"Polisi! Jangan bergerak!"
Preman preman itu panik. Ada yang mencoba kabur lewat laut, ada yang membuang senjata ke air. Tapi terlalu lambat. Puluhan polisi turun dari mobil, mengepung dermaga.
"Angkat tangan! Jangan ada yang coba kabur!"
Preman besar itu masih memegang parang. Ia menatap Raga dengan mata penuh kebencian.
"Ini karena kau," kata preman itu. "Kau yang membuat semuanya kacau."
Ia mengayunkan parangnya ke arah Raga yang masih tergeletak di lantai.
"Tembak!" perintah komandan polisi.
"Dor!"
Seorang polisi menembak kaki preman itu. Preman itu terjatuh, parangnya terlempar ke laut.
Polisi polisi lain segera mengamankan semua preman. Mereka digiring ke mobil polisi dengan tangan diborgol.
Raga masih tergeletak di lantai dermaga. Darah mengalir dari alisnya, dari mulutnya, dari lengan kirinya yang terkena sabetan parang.
"Kangmas!" Sinok berlari dan memeluk Raga.
"Kangmas, Kangmas jangan mati! Saya belum sempat bahagia! Kangmas janji akan buat saya bahagia!"
Raga tersenyum. Tangannya yang berdarah mengusap pipi Sinok.
"Aku tidak akan mati, Sinok. Luka ini hanya luka kecil. Aku sudah pernah lebih parah dari ini."
"Kangmas bohong! Darah Kangmas banyak sekali!"
"Tapi aku masih hidup. Lihat, aku masih bicara."
Sinok menangis. Ia memeluk Raga erat erat, tidak peduli bajinya ikut berlumuran darah.
Clarissa berlari ke arah mereka. Ia membawa peralatan darurat dari mobilnya.
"Raga, biar saya periksa."
Clarissa membuka baju Raga. Luka di lengan cukup dalam. Sampai terlihat daging. Tapi tidak mengenai tulang. Luka di alis juga dalam, tapi tidak fatal.
"Kau beruntung," kata Clarissa sambil membalut luka Raga. "Tidak ada yang fatal. Tapi kau harus dijahit."
Raga tersenyum. "Sudah kubilang, aku tidak akan mati."
Sinok memukul dada Raga pelan. "Kangmas jangan bercanda! Saya takut setengah mati!"
Maaf, Sinok. Aku tidak bermaksud membuatmu takut."
Pukul 08.00 WIB
Ambulans datang.
Raga dibawa ke rumah sakit untuk dijahit lukanya. Sinok ikut mendampingi. Nenek Maryam dibawa Clarissa dengan mobil.
Di rumah sakit, Raga dijahit di lengan dan alis. Sinok menunggu di luar ruang tindakan. Tangannya gemetar. Clarissa duduk di sampingnya.
"Dok," panggil Sinok.
"Ya?"
"Bahar akan dipenjara sekarang?"
"Sudah ditahan. Preman preman itu juga. Mereka akan diadili. Bahar akan dihukum berat karena kasus korupsi, perdagangan manusia, dan percobaan pembunuhan."
Sinok menghela napas lega. "Akhirnya."
"Ini semua karena kau, Sinok. Kau berani melawan. Dan Raga. Dan aku."
Sinok menggeleng. "Bukan karena saya. Karena Tuhan. Karena Tuhan melihat penderitaan saya. Karena Tuhan tidak tidur."
Clarissa tersenyum. "Mungkin."
Raga keluar dari ruang tindakan dengan tangan diperban. Alisnya ditutup plester. Wajahnya lebam. Tapi ia tersenyum.
"Kangmas!" Sinok berdiri dan memeluk Raga lagi.
"Peluk peluk terus. Nanti aku tambah sakit."
"Biarlah sakit. Yang penting Kangmas hidup."
Raga tertawa. "Kamu ini. Dua puluh enam tahun lalu kamu diam dan pemalu. Sekarang jadi keras kepala."
"Karena Kangmas yang mengajari saya," kata Sinok. "Kangmas bilang, kalau suka sesuatu, harus perjuangkan."
"Aku bilang begitu?"
"Iya. Waktu Kangmas baca puisi di atas genteng bocor."
Raga mengingat ingat. Ia tersenyum.
"Kamu hafal semua kata kataku, ya?"
"Saya hafal, Kangmas. Setiap kata. Setiap puisi. Setiap bisikan."
Mereka berdua tersenyum saling memandang.
Clarissa menggeleng geleng. "Kalian ini. Di rumah sakit, luka luka begini, masih bisa bercanda."
"Ini bukan bercanda, Dok," kata Sinok. "Ini serius."
"Serius apa?"
"Serius mencintai."
Mereka bertiga tertawa. Nenek Maryam dari kursi di sudut ruangan ikut tersenyum.
"Nak," panggil Nenek Maryam.
"Ya, Mak?"
"Mak doakan semoga Raga cepat sembuh. Dan semoga kalian berdua bahagia. Meskipun waktunya tidak lama."
Sinok menunduk. Raga memegang tangannya.
"Bahagia tidak perlu lama, Nenek," kata Raga. "Yang penting tulus."
Nenek Maryam mengangguk. "Kau benar, Nak. Yang penting tulus."
BAB 20
ICU dan Kursi Roda
Rumah Sakit Jakarta Utara, 28 Juni 2012
Pukul 03.00 WIB (Dini Hari)
Sinok jatuh lagi.
Bukan jatuh biasa. Bukan pingsan biasa. Kali ini berbeda.
Seusai kejadian di dermaga, Sinok tampak baik baik saja. Ia menemani Raga di rumah sakit. Ia tersenyum. Ia bercanda. Ia bahkan sempat membelikan bubur ayam untuk Raga dari kantin.
Tapi malam harinya, saat mereka hendak tidur di ruang rawat inap Raga, Sinok tiba tiba memegang kepalanya.
"Sinok, kenapa?" tanya Raga dari tempat tidurnya.
"Kepala saya... sakit sekali, Kangmas. Seperti ada yang memukul dari dalam."
Raga bangkit. Ia memanggil perawat.
Perawat datang. Sinok sudah duduk di kursi, memegang kepalanya dengan kedua tangan. Wajahnya pucat. Bibirnya kebiruan.
"Tekanan darahnya turun," kata perawat setelah memeriksa. "Saya panggil dokter."
Clarissa datang lima menit kemudian. Ia memeriksa Sinok dengan cepat.
"Sinok, kau bisa dengar saya?"
"Bisa, Dok... tapi suara Dokter seperti dari jauh."
"Sinok, jangan tidur. Buka matamu. Jangan tidur."
Sinok berusaha membuka matanya. Tapi matanya sayu. Kelopak matanya terasa berat.
"Sinok! Jangan tidur!"
Tapi Sinok tidak bisa menahan. Ia memejamkan mata. Tubuhnya lemas.
"Bawa ke ICU!" perintah Clarissa.
Dua perawat membawa Sinok ke unit gawat darurat. Raga ingin ikut, tapi lukanya masih basah. Perawat menahannya.
"Pak Raga, tunggu di sini. Dokter Clarissa yang akan menangani."
Raga duduk di kursi. Tubuhnya gemetar. Tangannya yang diperban memegang erat erat sandaran kursi.
"Sinok," bisiknya. "Jangan mati. Jangan."
Pukul 05.00 WIB
Lima jam sudah Raga menunggu.
Ia tidak tidur. Tidak makan. Tidak minum. Hanya duduk di kursi ruang tunggu ICU, memandangi pintu besar berwarna putih yang tertutup rapat.
Nenek Maryam sudah diantar Clarissa ke ruang tunggu juga. Perempuan buta itu duduk di samping Raga, memegang tasbih, bibirnya komat kamit tidak berhenti.
"Nenek," panggil Raga.
"Ya, Nak."
"Sinok akan selamat, kan?"
Nenek Maryam tidak menjawab. Ia hanya terus berdoa.
Raga tidak memaksa. Ia memandang langit langit ruang tunggu yang putih. Lampu neon berkedip kedip, seperti ikut menangis.
Pukul 08.00 WIB
Pintu ICU terbuka.
Clarissa keluar. Wajahnya lelah. Matanya merah. Jas putihnya kusut.
"Raga."
"Iya. Bagaimana Sinok?"
"Sudah stabil. Tekanan darahnya naik lagi. Tapi..."
"Tapi apa?"
Clarissa duduk di samping Raga. Ia menarik napas panjang.
"Tumornya semakin membesar. Lebih cepat dari perkiraanku. Jauh lebih cepat."
Raga diam. Ia menatap Clarissa dengan mata kosong.
"Berapa lama?"
"Mungkin... tiga bulan. Mungkin dua. Mungkin kurang."
Raga menunduk. Air matanya jatuh ke lantai keramik yang dingin.
"Aku bisa masuk? Melihatnya?"
"Boleh. Tapi sebentar. Dia masih lemah. Jangan ajak bicara terlalu banyak."
Raga berdiri. Kakinya terasa lemas. Clarissa memegang lengannya.
"Kau baik baik saja?"
"Aku baik. Aku harus melihat Sinok."
Raga masuk ke ruang ICU.
Ruangan itu dingin. Suhu diatur rendah untuk mencegah infeksi. Mesin mesin monitor berbunyi pelan, teratur. Lampu redup, hanya cukup untuk melihat.
Sinok terbaring di tempat tidur. Tubuhnya kecil di balik selimut putih. Rambutnya yang sudah pendek itu tampak tipis, hampir tidak ada di beberapa bagian. Kulitnya pucat seperti kertas.
Di tangan kirinya, infus. Di dadanya, kabel kabel monitor. Di hidung, selang oksigen tipis.
Raga duduk di kursi di samping tempat tidur Sinok.
Ia memegang tangan Sinok. Tangannya dingin.
"Sinok," bisik Raga. "Aku di sini."
Sinok membuka mata perlahan. Matanya sayu, fokusnya belum sempurna. Tapi ketika melihat Raga, ia tersenyum.
Senyum itu. Senyum yang dulu membuat Raga jatuh cinta di pasar ikan. Senyum yang dulu menemaninya di atas genteng bocor. Senyum yang dulu hilang selama dua puluh enam tahun, dan kini kembali meskipun hanya sebentar.
"Kangmas," bisik Sinok. Suaranya hampir tidak terdengar.
"Ya, Sinok. Aku di sini."
"Kangmas tidak tidur, ya? Mata Kangmas merah."
"Aku tidak bisa tidur. Aku khawatir sama kamu."
Sinok tersenyum lagi. "Kangmas jangan khawatir. Saya baik baik saja."
"Kamu bohong."
"Boleh dong. Kadang kadang bohong untuk menenangkan hati orang yang kita sayang."
Raga tersenyum pahit. "Kamu ini. Sakit begini masih bisa bercanda."
"Kangmas yang ajar saya untuk selalu tersenyum. Dulu waktu Kangmas pertama kali datang ke gubuk, Kangmas bilang, 'Sinok, kamu cantik kalau senyum.' Saya hafal, Kangmas. Sampai sekarang."
Raga tidak bisa berkata apa apa. Air matanya jatuh lagi.
"Jangan nangis, Kangmas. Nanti luka Kangmas tambah sakit."
"Aku tidak nangis. Ini keringat."
"Di dalam ruangan dingin begini? Masa ada keringat?"
Mereka berdua tersenyum meskipun air mata masih mengalir.
"Sinok," panggil Raga setelah diam sebentar.
"Ya, Kangmas."
"Aku akan bacakan puisi untukmu. Di sini. Di ICU."
"Sekarang? Kangmas tidak bawa kertas."
"Aku tidak butuh kertas. Puisi ini di kepalaku."
Sinok mengangguk pelan.
Raga menarik napas. Lalu ia membaca.
"Sinok,
Ruang ini dingin.
Ada suara mesin mesin
yang mengingatkanku bahwa waktu tidak bisa ditawar.
Tapi di sampingmu,
aku merasa hangat.
Bukan karena suhu ruangan.
Tapi karena matamu,
yang meskipun sayu,
masih bisa tersenyum untukku.
Aku tidak tahu berapa lama lagi,
tapi aku janji,
setiap detik yang tersisa,
akan aku isi dengan namamu.
Sinok,
jangan pergi sebelum aku selesai.
Aku belum selesai mencintaimu.
Aku baru mulai."
Sinok diam. Matanya berkaca kaca.
"Kangmas," bisiknya.
"Iya."
"Saya hafal."
"Sudah?"
"Iya. Coba saya ulang."
Sinok memejamkan mata. Ia mulai melantunkan puisi itu. Kata per kata. Persis. Dengan suara yang parau, dengan napas yang terputus putus, dengan penghayatan yang membuat Raga menangis tersedu sedan.
"Sinok, ruang ini dingin..."
Raga memegang tangan Sinok erat erat.
"Kangmas," panggil Sinok setelah selesai.
"Ya."
"Kangmas janji."
"Janji apa?"
"Kangmas janji tidak akan berhenti menulis puisi. Kalau Kangmas berhenti, saya yang akan menulis. Tapi tulisan saya jelek. Tidak ada yang mau baca."
Raga tersenyum. "Tulisanmu tidak jelek. Tulisanmu jujur. Itu lebih berharga dari pada puisi puisi indah yang dibuat pura pura."
"Kangmas saja yang bilang begitu."
"Karena aku jujur."
Sinok memejamkan matanya. Napasnya mulai teratur. Alat monitor di sampingnya berbunyi pelan.
"Sinok, kamu tidur?"
"Belum, Kangmas. Saya hanya istirahatkan mata."
"Kamu tidurlah. Besok kalau sudah segar, kita lanjutkan lagi."
"Lanjutkan apa, Kangmas?"
"Lanjutkan hidup."
Sinok tersenyum tanpa membuka mata.
"Saya suka kata kata Kangmas. 'Lanjutkan hidup.' Kedengarannya mudah. Padahal berat."
"Tapi kita lakukan bersama. Tidak sendirian."
Sinok mengangguk pelan.
Ia tertidur dengan tangan Raga masih memegang tangannya.
Pukul 12.00 WIB
Raga tidak boleh tinggal terlalu lama di ICU.
Clarissa memintanya keluar. Raga menurut, tapi ia tidak pergi dari rumah sakit. Ia duduk di kursi roda yang dipinjamkan perawat. Kakinya lemas karena luka dan kurang tidur.
"Kau harus istirahat," kata Clarissa.
"Aku akan istirahat di sini. Di depan pintu ICU."
"Tidak bisa. Kau harus ke ruang rawat inap."
"Aku tidak akan pergi. Selama Sinok di dalam, aku di sini."
Clarissa menghela napas. Ia tahu tidak bisa membujuk Raga.
"Baik. Tapi setidaknya makan. Saya belikan nasi."
"Aku tidak lapar."
"Raga, jangan bodoh. Kalau kau jatuh sakit juga, siapa yang akan menjaga Sinok?"
Raga terdiam. Clarissa benar.
"Baik. Aku makan. Tapi di sini. Di depan pintu ICU."
Clarissa menggeleng geleng, tapi ia pergi membelikan nasi.
Raga duduk di kursi rodanya, memandang pintu ICU yang tertutup rapat.
Di dalam sana, Sinok terbaring. Di luar sini, ia menunggu.
Dinding setebal satu meter memisahkan mereka. Tapi hati mereka tetap dekat. Lebih dekat dari sebelumnya.
"Sinok," bisik Raga. "Aku akan menunggu. Sampai kau keluar dari sana. Sampai kita bisa ke Marunda. Sampai kita naik ke genteng bocor. Sampai kita menua bersama. Atau sampai kita mati bersama."
Ia memejamkan mata.
Di balik kelopak matanya, ia melihat Sinok tersenyum.
Dan itu cukup untuk membuatnya bertahan.
BAB 21
Puisi Tanpa Suara
Rumah Sakit Jakarta Utara, 15 Juli 2012
Pukul 19.00 WIB
Tujuh belas hari Sinok di ICU.
Tujuh belas hari Raga duduk di kursi roda di depan pintu ICU. Ia hanya meninggalkan tempat itu untuk ke kamar mandi dan untuk tidur sebentar di ruang tunggu. Perawat perawat sudah mengenalnya. Mereka memanggilnya "Bapak Raga yang setia".
Tujuh belas hari juga Clarissa berjuang.
Setiap hari ia memeriksa Sinok. Setiap hari ia berkonsultasi dengan dokter spesialis saraf. Setiap hari ia pulang dengan wajah yang semakin lelah.
"Raga," panggil Clarissa suatu sore.
"Ya."
"Sinok minta pindah dari ICU."
"Pindah ke mana?"
"Ke ruang rawat inap biasa. Dia tidak mau di ICU terus. Dia bilang, dia lebih baik mati di ruangan biasa daripada hidup di ruangan dingin ini."
Raga diam. Ia menatap pintu ICU.
"Apa itu artinya?"
Clarissa menghela napas. "Artinya, dia sudah pasrah. Dia tahu kondisinya tidak membaik. Dia ingin menghabiskan sisa waktunya dengan tenang. Tidak dengan mesin mesin ini."
Raga menunduk. Air matanya jatuh ke pangkuannya.
"Baik. Pindahkan dia."
Pukul 21.00 WIB
Sinok dipindahkan ke ruang rawat inap biasa.
Ruangan kecil. Satu tempat tidur. Satu kursi untuk tamu. Satu jendela kecil yang menghadap ke timur. Jika pagi tiba, sinar matahari akan masuk melalui jendela itu.
"Sinok suka matahari terbit," kata Raga. "Dulu di Marunda, dia selalu bangun pagi untuk lihat matahari terbit."
"Kau tahu kebiasaannya?" tanya Clarissa.
"Aku tahu. Setiap pagi, ketika aku masih di gubuknya, dia selalu bangun lebih dulu. Aku pura pura tidur, tapi aku lihat dia dari balik kelopak mataku. Dia duduk di teras, tersenyum ke arah timur, lalu berdoa."
Clarissa tersenyum. "Kau mengamatinya."
"Aku tidak bisa tidak mengamatinya. Dia adalah hal terindah yang pernah aku lihat di Marunda."
Sinok sudah terbaring di tempat tidur. Matanya terbuka. Ia tersenyum ketika melihat Raga masuk.
"Kangmas, akhirnya kita bisa bicara tanpa kaca."
Raga duduk di kursi di samping tempat tidur Sinok.
"Iya. Akhirnya."
"Kangmas, saya bosan di ICU. Dingin. Sepi. Perawat perawatnya baik, tapi mereka terlalu sibuk."
"Sekarang kamu di sini. Aku akan temani kamu. Tidak akan pergi."
"Janji, Kangmas?"
"Janji."
Sinok mengulurkan jari kelingkingnya. Raga menyambungnya.
"Janji," kata mereka bersamaan.
16 Juli 2012
Pukul 06.00 WIB
Matahari terbit.
Sinar jingga keemasan masuk melalui jendela kecil ruangan Sinok. Cahayanya jatuh tepat di wajah Sinok yang sedang tidur.
Raga sudah bangun sejak subuh. Ia duduk di kursi, memandang Sinok yang masih terlelap.
Wajah Sinok tenang. Matanya terpejam. Dadanya naik turun pelan. Alat monitor di sampingnya berbunyi teratur.
Raga teringat pertama kali ia melihat Sinok. Dulu, di gubuk reyot di Marunda. Wajah Sinok masih segar, kulitnya sawo matang, rambutnya panjang tergerai.
Sekarang, rambut Sinok hampir habis. Kulitnya pucat. Tubuhnya kurus. Tapi senyumnya masih sama.
"Sinok," bisik Raga.
Sinok tidak bangun. Tidurnya terlalu lelap.
Raga tidak memaksakan. Ia memegang tangan Sinok. Tangannya yang dingin itu ia usap usap perlahan.
"Cantik sekali matahari terbit hari ini, Sinok," bisik Raga. "Sayang kamu tidur. Tapi tidak apa. Aku akan ceritakan nanti. Atau... kamu lihat sendiri. Matamu kan sudah terbuka. Meskipun tidur, matamu tetap bisa melihat."
Raga tersenyum sendiri. Ia tahu ia bicara pada orang yang tidur. Tapi ia tidak peduli.
Pukul 09.00 WIB
Sinok bangun.
Ia membuka mata perlahan. Raga masih di sampingnya, masih memegang tangannya.
"Kangmas tidak tidur?" tanya Sinok.
"Aku tidur. Tadi subuh."
"Kangmas bohong. Mata Kangmas merah. Pasti tidak tidur."
"Kamu tahu segalanya, ya?"
"Tentu. Saya kan Sinok. Nama saya artinya 'cahaya di ujung dermaga'. Cahaya tahu segalanya."
Raga tertawa. "Kamu ngaco."
"Ngaco itu apa, Kangmas?"
"Tidak masuk akal."
"Ooh. Saya memang tidak masuk akal. Saya perempuan kampung yang jatuh cinta sama laki laki kaya dari Jakarta. Itu tidak masuk akal. Tapi nyata."
Raga tersenyum. Ia mengelus kepala Sinok yang hampir botak.
"Kangmas," panggil Sinok.
"Ya."
"Kangmas, saya mau minta sesuatu."
"Apa saja."
"Bacakan puisi. Satu lagi. Yang Kangmas tulis di ICU dulu. Yang tentang ruang dingin itu. Saya ingin hafal."
"Kamu sudah hafal."
"Saya ingin ulang."
Raga mengangguk. Ia menarik napas, lalu mulai membaca pelan.
"Sinok, ruang ini dingin..."
Sinok memejamkan mata. Bibirnya komat kamit mengikuti setiap kata.
Ketika Raga selesai, Sinok membuka matanya.
"Sudah, Kangmas. Sekarang saya hafal betul."
"Bagus."
"Sekarang giliran saya."
Raga terkejut. "Kamu mau baca puisi?"
"Saya mau ciptakan puisi. Buat Kangmas."
Raga diam. Sinok belum pernah menciptakan puisi sendiri. Ia hanya menghafal.
Sinok memejamkan mata. Ia diam cukup lama. Raga tidak terburu buru.
Lalu Sinok mulai berbicara. Perlahan. Kata per kata.
"Kangmas,
Aku tidak bisa menulis indah seperti Kangmas.
Tulisan ku masih jelek.
Ejaan ku masih sering salah.
Tapi aku ingin Kangmas tahu,
bahwa setiap huruf yang aku tulis,
adalah tentang Kangmas.
Dulu, aku tidak tahu apa itu cinta.
Aku kira cinta adalah perasaan yang membuat orang sakit.
Tapi setelah bertemu Kangmas,
aku tahu cinta adalah perasaan yang membuat orang kuat.
Kangmas,
terima kasih sudah mengajarkanku membaca.
Bukan hanya huruf,
tapi juga kehidupan.
Bukan hanya kata kata,
tapi juga keberanian.
Aku tidak tahu berapa lama lagi aku di sini,
tapi aku ingin Kangmas tahu,
bahwa setiap detik yang aku habiskan bersama Kangmas,
adalah detik terbaik dalam hidupku.
Selesai."
Raga tidak bergerak. Tidak berkedip.
Air matanya mengalir deras.
"Sinok," bisiknya. "Itu... itu puisi yang paling indah yang pernah aku dengar."
"Bohong, Kangmas. Puisi Kangmas lebih indah."
"Tidak. Puisi kamu lebih indah. Karena kamu menulisnya dengan hati. Bukan dengan kata kata."
Sinok tersenyum. "Kangmas saja yang bilang."
"Aku jujur."
Sinok mengulurkan tangannya. Raga memegangnya.
Mereka berdua diam. Menikmati keberadaan satu sama lain.
Di luar, matahari semakin tinggi. Sinar pagi berganti menjadi siang yang terik.
17 Juli 2012
Pukul 04.00 WIB
Sinok terbangun di tengah malam.
Napasnya tersengal sengal. Alat monitor di sampingnya berbunyi lebih cepat.
Raga yang tidur di kursi langsung bangun.
"Sinok! Kamu kenapa?"
"Dada saya... sesak, Kangmas."
Raga memencet tombol darurat di samping tempat tidur. Perawat datang dalam hitungan detik.
"Pasien sesak napas! Panggil dokter!"
Clarissa datang lima menit kemudian. Ia memeriksa Sinok dengan cepat.
"Tekanan darah turun. Oksigen menurun. Bawa ke ICU lagi!"
"Tidak, Dok," kata Sinok dengan suara terputus putus. "Saya tidak mau ke ICU."
"Sinok, kau harus!"
"Saya... mau di sini. Dengan Kangmas Raga."
Clarissa menatap Raga. Raga mengangguk.
"Biarkan dia di sini, Clarissa."
"Tapi..."
"Biarkan dia memilih. Sudah waktunya."
Clarissa menangis. Ia tidak pernah menangis di depan pasien. Tapi kali ini, ia tidak bisa menahan.
"Baik. Kita rawat dia di sini. Saya akan pasang alat bantu napas. Tapi tidak pindah ke ICU."
Sinok tersenyum. "Terima kasih, Dok."
Pukul 06.00 WIB
Sinok masih hidup.
Napasnya tersengal sengal, tapi ia bertahan. Matanya terbuka. Ia menatap Raga yang duduk di sampingnya.
"Kangmas."
"Ya, Sinok."
"Kangmas, saya tidak akan lama lagi."
"Jangan bicara begitu."
"Kangmas... saya harus jujur. Saya sudah tidak kuat."
Raga memegang tangan Sinok. Tangannya dingin sekali.
"Sinok, aku belum sempat membacakan puisi di atas genteng bocor. Aku belum sempat mengajarmu menulis dengan rapi. Aku belum sempat..."
"Kangmas sudah melakukan semuanya," potong Sinok. "Kangmas sudah mengajar saya membaca. Kangmas sudah mengajar saya mencintai. Kangmas sudah mengajar saya bahwa hidup itu berat, tapi tidak harus dijalani sendirian."
"Belum cukup."
"Cukup, Kangmas. Sudah lebih dari cukup."
Sinok batuk. Darah keluar dari sudut bibirnya.
Raga panik. "Clarissa! Clarissa!"
Clarissa yang sedang di ruang perawat berlari masuk.
"Dia batuk darah," kata Raga. "Cepat lakukan sesuatu!"
Clarissa memeriksa Sinok. Wajahnya berubah pucat.
"Raga... aku sudah tidak bisa berbuat apa apa. Ini sudah saatnya."
"Tidak! Aku tidak terima!"
"Raga..." suara Sinok lirih.
Raga menoleh ke Sinok.
"Kangmas... dekat... saya mau bisik... sesuatu."
Raga mendekatkan telinganya ke mulut Sinok.
Sinok berbisik. Sangat pelan.
"Kangmas... saya... bahagia... sekarang... terima kasih... sudah... mengajar... saya... membaca... kata... bahagia..."
Tangan Sinok lemas.
Alat monitor di sampingnya berbunyi panjang. Sebuah garis lurus.
Tidak ada lagi detak jantung.
Sinok meninggal.
Raga terdiam. Ia tidak bergerak. Tidak berkedip. Tidak bernapas.
"Sinok?" panggil Raga.
Tidak ada jawaban.
"Sinok?"
Masih tidak ada.
"Sinok!" teriak Raga.
Ia memeluk tubuh Sinok yang mulai dingin. Ia menangis. Ia menjerit. Ia memanggil nama Sinok berulang ulang.
"Sinok! Sinok! Jangan pergi! Aku belum sempat! Aku belum..."
Suara Raga hilang.
Tiba tiba. Seperti ada yang memotong pita suaranya.
Ia membuka mulut. Ingin bicara. Tapi tidak ada suara yang keluar.
Raga berusaha lagi. Membuka mulut. Menggerakkan lidah. Mengucapkan "Sinok" dalam hati.
Tidak ada.
Hening.
Raga terdiam. Ia hanya bisa memeluk Sinok tanpa suara. Air matanya mengalir deras, tapi mulutnya tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
Clarissa memeriksa Raga.
"Raga, kau bisa dengar saya?"
Raga mengangguk.
"Kau bisa bicara? Coba bicara!"
Raga membuka mulut. Tidak ada suara.
"Raga, coba katakan 'A'!"
Raga berusaha. Mulutnya terbuka. Lidahnya bergerak. Tapi yang keluar hanya hembusan napas.
Clarissa menangis. Ia tahu apa yang terjadi.
Mutisme psikogenik. Kehilangan suara karena trauma psikologis yang sangat berat.
"Raga, kau akan sembuh. Ini hanya sementara."
Raga menggeleng. Ia tidak peduli. Yang ia pedulikan adalah Sinok yang sudah tidak bernapas di pangkuannya.
Ia memeluk Sinok lebih erat. Tidak ada suara. Hanya isak tangis yang hening.
Nenek Maryam yang sejak tadi duduk di pojok ruangan berdiri.
"Sinok sudah pergi, Nak?" tanya Nenek Maryam.
Raga tidak bisa menjawab. Clarissa yang menjawab.
"Iya, Nenek. Sinok sudah pergi."
Nenek Maryam mengangguk. Air mata mengalir dari matanya yang buta.
"Anakku... akhirnya kau pulang juga. Pulang ke sisi Tuhan. Tidak sakit lagi. Tidak menderita lagi."
Ia memegang tasbihnya. Bibirnya komat kamit. Mendoakan Sinok dalam diam.
Pukul 10.00 WIB
Jenazah Sinok sudah dimandikan dan dikafani.
Raga masih duduk di kursi rodanya. Ia tidak bisa bicara. Ia hanya menatap kafan putih yang menutupi seluruh tubuh Sinok.
Clarissa berdiri di sampingnya.
"Raga, kau harus kuat. Sinok sudah tenang di sana. Tidak sakit lagi."
Raga tidak menjawab. Ia tidak bisa.
"Raga, coba tulis apa yang mau kau katakan."
Clarissa memberikan kertas dan pulpen.
Raga mengambil pulpen itu. Tangannya gemetar. Ia menulis perlahan.
"Aku tidak bisa membacakan puisi untuknya di atas genteng bocor."
Clarissa membaca. Air matanya jatuh.
"Kau sudah membacakan banyak puisi untuknya, Raga. Di ICU. Di ruang rawat inap. Itu sudah cukup."
Raga menulis lagi.
"Tidak cukup. Aku berjanji akan membacakan di Marunda."
"Sinok tidak butuh tempat, Raga. Sinok butuh kau. Dan kau sudah ada di sampingnya sampai akhir."
Raga meletakkan pulpen. Ia menutup matanya.
Di balik kelopak matanya, ia melihat Sinok tersenyum. Sinok melambaikan tangan. Sinok berkata, "Selamat tinggal, Kangmas. Terima kasih untuk semuanya."
Raga menangis. Masih tanpa suara.
Ia kehilangan Sinok.
Dan ia kehilangan suaranya.
BAB 22
Pemakaman di Bawah Pohon Waru
Marunda, 18 Juli 2012
**Pukul 08.00 WIB
Pagi itu mendung.
Langit kelabu menggantung rendah di atas Marunda. Awan hitam bergulung gulung di kejauhan, menandakan hujan akan segera turun. Angin laut bertiup kencang, membuat pohon pohon kelapa bergoyang seperti orang yang menari kesedihan.
Jenazah Sinok dibawa dengan ambulans dari Jakarta. Clarissa duduk di kursi depan, menemani supir. Di belakang, peti jenazah sederhana berwarna putih tertutup rapat.
Raga duduk di kursi penumpang belakang. Sebuah mobil terpisah. Ia memilih tidak satu ambulans dengan Sinok. Bukan karena takut. Tapi karena ia tidak tahan melihat peti itu.
Nenek Maryam ikut dalam mobil yang sama dengan Raga. Perempuan buta itu duduk diam, memegang tasbih, bibirnya terus bergerak tanpa suara.
"Mobil sudah memasuki Marunda," kata sopir.
Raga menoleh ke luar jendela.
Gang sempit itu masih sama. Becek. Bau ikan asin masih menyengat. Anak anak berlarian di pinggir jalan, melihat ambulans lewat dengan tatapan penasaran.
Raga teringat pertama kali ia masuk ke gang ini. Dua puluh enam tahun lalu. Ia berlari, basah, berdarah, hampir mati. Sinok menolongnya.
Sekarang, Sinok yang terbaring di dalam peti. Dan Raga yang masih hidup, tapi tidak bisa bersuara.
"Ironis," pikir Raga.
Pukul 09.30 WIB
Pemakaman nelayan Marunda berada di belakang gubuk Sinok, sekitar seratus meter ke arah timur. Tanahnya kering dan berpasir. Beberapa pohon waru tumbuh di sana, memberikan keteduhan bagi siapa pun yang beristirahat abadi di bawahnya.
Jenazah Sinok diturunkan dari ambulans.
Empat pemuda kampung menggotong keranda. Langkah mereka pelan, hati hati. Sesekali mereka mengusap keringat di dahi meskipun cuaca tidak panas.
Seluruh kampung datang.
Nelayan, ibu ibu, anak anak, orang tua. Mereka berdiri di pinggir kuburan, mengenakan pakaian sopan. Ada yang menangis, ada yang diam, ada yang membaca doa dengan lirih.
Raga berdiri paling depan. Di sampingnya, Nenek Maryam yang buta, dituntun oleh Clarissa.
"Makam sudah siap," kata seorang laki laki tua yang menjadi imam desa. "Kita turunkan jenazah."
Keranda diturunkan perlahan. Jenazah Sinok dimasukkan ke liang lahat. Tubuhnya yang kurus itu dibungkus kafan putih, terlihat kecil sekali di dalam lubang tanah yang gelap.
Raga ingin berteriak. Ingin mengatakan sesuatu. Ingin membacakan puisi untuk terakhir kalinya.
Tapi mulutnya tidak mengeluarkan suara.
Ia hanya diam. Menatap liang lahat yang mulai ditutup tanah. Sekop demi sekop. Tanah basah berpasir jatuh ke atas kafan putih Sinok.
Sekop pertama. Raga teringat saat Sinok pertama kali tersenyum padanya.
Sekop kedua. Raga teringat saat Sinok melantunkan puisi Chairil Anwar dengan logat Bugisnya yang kental.
Sekop ketiga. Raga teringat saat Sinok memeluknya di apartemen setelah dua puluh enam tahun.
Sekop keempat. Raga teringat saat Sinok berbisik, "Saya bahagia, Kangmas."
Sekop kelima. Raga tidak tahan.
Ia jatuh berlutut di tanah. Tangannya mencengkeram pasir basah. Air matanya jatuh ke tanah, membasahi butiran butiran pasir yang akan menjadi tempat peristirahatan terakhir Sinok.
Clarissa menghampiri. Ia memegang pundak Raga.
"Raga, kau harus kuat. Sinok sudah tenang."
Raga tidak menjawab. Ia tidak bisa.
Ia hanya memandangi kuburan yang mulai berbentuk gundukan tanah. Sebuah batu nisan sederhana akan dipasang besok. Tapi hari ini, hanya tanah dan beberapa ranting pohon waru yang menandai makam Sinok.
Pukul 11.00 WIB
Pemakaman selesai.
Orang orang mulai pulang satu per satu. Ada yang mengucapkan belasungkawa pada Nenek Maryam. Ada yang menepuk pundak Raga dalam diam. Ada yang hanya menghela napas dan pergi tanpa kata.
Clarissa mendekati Raga.
"Raga, ayo pulang. Sebentar lagi hujan."
Raga menggeleng.
"Raga, kau tidak bisa di sini terus. Hujan akan turun. Kau akan sakit."
Raga menggeleng lagi. Lebih tegas.
Clarissa menghela napas. Ia menoleh ke Nenek Maryam.
"Nenek, coba bilang Raga untuk pulang. Saya tidak bisa membujuknya."
Nenek Maryam berjalan mendekat. Tangannya yang keriput meraba raba lengan Raga.
"Nak Raga," kata Nenek Maryam.
Raga menatap Nenek Maryam.
"Nak, Sinok sudah pergi. Tapi kau masih hidup. Kau harus lanjutkan hidup. Itu pesan Sinok sebelum dia meninggal."
Raga mengerjapkan mata.
"Dia bilang ke aku, sebelum kau datang ke apartemen. Dia bilang, 'Mak, kalau saya mati, jaga Kangmas Raga. Dia tidak punya siapa siapa lagi.'"
Raga menangis. Ia memeluk Nenek Maryam.
Perempuan tua buta itu membelai rambut Raga yang mulai beruban.
"Sudah, Nak. Pulang. Istirahat. Besok kau bisa ke sini lagi."
Raga melepaskan pelukan. Ia mengangguk pelan.
Ia berdiri. Kaki kirinya sempoyongan karena terlalu lama berlutut. Clarissa menahan.
"Awas. Jatuh nanti."
Raga berjalan perlahan meninggalkan makam Sinok. Setiap langkah terasa berat. Seperti ada beban ribuan ton di pundaknya.
Ia menoleh sekali lagi ke belakang.
Kuburan itu sederhana. Hanya gundukan tanah dengan beberapa ranting pohon waru yang tertancap di atasnya.
"Sinok," bisik Raga dalam hati. "Aku akan kembali. Besok. Lusa. Setiap hari. Sampai aku mati."
Pukul 14.00 WIB
Hujan turun.
Deras. Angin kencang. Petir menyambar sambar di kejauhan.
Raga duduk di teras gubuk Sinok. Rumah yang dulu menjadi tempat mereka bertemu. Rumah yang dulu menjadi tempat mereka berbagi cerita. Rumah yang sekarang terasa kosong dan dingin.
Nenek Maryam di dalam, merebus air untuk teh. Clarissa duduk di samping Raga, memegang payung untuk melindungi mereka berdua dari hujan.
"Raga," panggil Clarissa.
Raga menoleh.
"Aku harus kembali ke Jakarta. Ada pasien yang harus aku periksa. Besok aku kembali ke sini. Kau bisa di sini? Jaga Nenek Maryam?"
Raga mengangguk.
"Kau mau aku tinggalkan ponsel? Untuk menelepon kalau ada apa apa?"
Raga menggeleng. Ia tidak bisa bicara. Tidak ada gunanya punya ponsel.
Clarissa mengerti. "Baik. Aku akan sering ke sini. Seminggu sekali. Atau dua kali. Jangan khawatir."
Raga mengangguk lagi.
Clarissa berdiri. Ia mencium kening Raga.
"Jaga diri, Raga. Sinok pasti tidak mau melihatmu sakit."
Raga tersenyum tipis. Senyum yang pahit. Senyum yang kehilangan.
Clarissa pergi. Mobilnya melaju perlahan meninggalkan gang sempit Marunda.
Raga sendirian dengan Nenek Maryam. Dan hujan. Dan kenangan tentang Sinok.
Pukul 17.00 WIB
Hujan reda.
Raga berjalan ke makam Sinok. Tanah masih basah. Jejak kakinya meninggalkan bekas dalam di pasir.
Ia duduk di samping kuburan itu. Tidak beralas. Pantatnya langsung menyentuh tanah basah. Ia tidak peduli.
Ia memandang batu nisan sederhana yang sudah dipasang beberapa jam lalu. Clarissa yang memesan. Ukirannya sederhana, hanya nama dan tanggal.
SITI NUR KHODIJAH "SINOK"
1979 - 2012
Raga menelusuri ukiran itu dengan jarinya.
"Sinok," tulisnya.
"Iya, Sinok."
Raga menghela napas. Ia tidak bisa bicara. Tapi hatinya bisa.
"Sinok, aku di sini. Seperti janjiku. Aku tidak akan meninggalkanmu."
Ia memejamkan mata. Angin laut bertiup sejuk, membawa bau garam dan pasir.
"Aku tidak bisa membacakan puisi untukmu sekarang. Suaraku hilang. Tapi aku akan menulis. Aku akan menulis puisi untukmu. Setiap hari. Dan besok, aku akan membacakannya dalam hati."
Raga membuka mata. Langit mulai berwarna jingga. Senja.
Senja pertama tanpa Sinok.
"Kau bilang dulu, senja tidak pernah sama dua kali. Dan kau benar. Senja hari ini berbeda. Lebih redup. Lebih sepi. Mungkin karena kau tidak di sini untuk melihatnya."
Raga tersenyum pahit.
Ia mengambil sehelai daun waru yang jatuh di samping kuburan. Daun itu masih hijau, masih segar. Ia letakkan di atas batu nisan.
"Ini hadiah dariku, Sinok. Daun waru. Seperti pohon waru di belakang gubuk kita. Ingat? Dulu kita duduk di bawah pohon itu. Kau bercerita tentang bapakmu yang nelayan. Aku bercerita tentang ibuku yang guru."
Raga mengusap matanya yang basah.
"Aku rindu kamu, Sinok. Sudah. Sampai di sini dulu. Besok aku kembali."
Ia berdiri. Kakinya lemas. Tapi ia memaksakan diri.
Raga berjalan perlahan meninggalkan makam Sinok. Senja semakin gelap. Bintang bintang mulai muncul satu per satu.
Dari kejauhan, suara adzan maghrib berkumandang.
Raga berhenti. Ia menengadah ke langit.
"Sinok, dengar? Adzan. Waktunya shalat. Kau pasti sudah di surga sekarang. Tidak sakit lagi. Tidak menangis lagi. Aku di sini, masih berjuang. Tapi aku janji, aku tidak akan menyerah."
Ia melanjutkan langkahnya.
Gubuk Sinok sudah terlihat di depan. Lampu minyak menyala redup di dalam. Nenek Maryam sedang duduk di teras, menunggunya.
"Kangmas Raga?" panggil Nenek Maryam.
Raga mendekat. Ia memegang tangan Nenek Maryam.
"Kau dari makam Sinok?"
Raga menekan telapak tangan Nenek Maryam dua kali. Ya.
"Nak, kau harus makan. Aku sudah masak nasi. Hanya nasi dan telur. Maaf, tidak ada lauk lain."
Raga menggeleng. Tidak perlu maaf.
Mereka masuk ke dalam gubuk. Nenek Maryam menyiapkan piring. Raga duduk di tikar bambu, tempat dulu Sinok duduk ketika belajar huruf A sampai E.
Ia melihat dinding gubuk. Di sana, masih terpampang papan lantai yang dulu ia ambil dari rumah Bahar di Pulau Pramuka. Tulisan arang Sinok masih terlihat, meskipun sudah pudar.
"AKU RINDU KANGMAS."
Raga tersenyum.
"Aku juga rindu, Sinok. Aku juga rindu."
BAB 23
Rumah Senja Sinok
Marunda - Jakarta, Agustus 2012 - Maret 2013
Tiga bulan setelah Sinok meninggal, tanah bekas milik Bahar di Marunda disita negara.
Bahar divonis dua puluh tahun penjara. Semua asetnya disita, termasuk tanah tanah yang dulu ia rampas dari warga. Pemerintah mengumumkan bahwa tanah itu akan digunakan untuk kepentingan sosial.
Clarissa mendengar berita itu dari seorang jaksa temannya.
"Tanah itu akan dilelang," kata temannya. "Tapi pemerintah lebih memilih bekerja sama dengan yayasan yang bergerak di bidang perlindungan perempuan."
Clarissa segera mengajukan proposal.
Yayasan yang ia dirikan bersama dua orang teman dokternya bernama Yayasan Senja. Nama itu diambil dari kenangan terakhir Sinok sebelum meninggal. Clarissa tidak pernah menjelaskan maknanya pada siapa pun. Hanya ia dan Raga yang tahu.
Proposal disetujui.
Tanah bekas Bahar di Marunda seluas dua ribu meter persegi akan dibangun menjadi rumah singgah untuk perempuan korban kekerasan.
September 2012
Raga datang ke lokasi pembangunan.
Ia sudah bisa berjalan normal. Lukanya sembuh total. Tapi suaranya belum juga kembali. Dokter spesialis THT mengatakan kemungkinan suaranya tidak akan pernah kembali.
"Mutisme psikogenik yang sudah menahun," kata dokter. "Kami sudah coba berbagai terapi. Tidak ada perkembangan."
Raga tidak kecewa. Ia sudah menerima. Selama ia masih punya tangan untuk menulis, selama ia masih punya mata untuk melihat, itu cukup.
Clarissa menunjukkan gambar denah bangunan.
"Ini akan ada dua lantai," kata Clarissa sambil menunjuk gambar. "Lantai satu untuk ruang pertemuan, dapur, ruang makan, dan kantor. Lantai dua untuk kamar tidur. Bisa menampung dua puluh orang."
Raga mengangguk.
"Kita butuh relawan," lanjut Clarissa. "Kau mau membantu?"
Raga mengangguk lagi. Lebih tegas.
"Bagus. Aku akan masukkan namamu sebagai relawan tetap. Tugasmu mengajar membaca dan menulis untuk para penghuni."
Raga tersenyum. Tersenyum untuk pertama kalinya sejak Sinok meninggal.
Mengajar membaca. Seperti dulu ia mengajar Sinok.
Oktober 2012
Pembangunan berjalan lambat.
Dana terbatas. Pekerja sedikit. Clarissa harus bolak balik Jakarta-Marunda untuk mengawasi.
Raga hampir setiap hari di lokasi. Ia membantu pekerja memikul pasir, mengangkat batu bata, mengecat dinding. Meskipun tidak bisa bicara, ia berkomunikasi dengan gerakan dan tulisan di papan tulis kecil yang selalu ia bawa.
"Pak Raga, tolong ambilkan cat warna putih," tulis seorang pekerja di papan tulisnya.
Raga membaca, lalu mengangguk. Ia pergi mengambil cat.
Para pekerja sudah terbiasa. Mereka memanggil Raga "Pak Bisu" dengan penuh kasih sayang.
"Pak Bisu rajin sekali," kata seorang pekerja. "Padahal tidak dibayar."
Yang lain menimpali, "Dia orang baik. Mungkin dia punya kenangan dengan tanah ini."
Mereka tidak tahu bahwa di tanah inilah Sinok dulu ditawan Bahar. Raga tidak pernah menceritakannya. Tidak perlu.
November 2012
Bangunan sudah setengah jadi.
Raga sedang duduk di teras depan, beristirahat setelah mengecat dinding seharian. Clarissa datang membawa dua bungkus nasi dan es teh.
"Makan dulu, Raga."
Raga mengambil nasi itu. Ia makan pelan, matanya menerawang ke arah laut.
"Raga," panggil Clarissa.
Raga menoleh.
"Kenapa kau mau membantu? Aku tidak pernah bertanya sebelumnya."
Raga mengambil papan tulis kecilnya. Ia menulis:
"Sinok dulu di sini. Ditanah ini. Bahar menyiksanya di sini. Aku tidak bisa menyelamatkan dulu. Tapi aku bisa membuat tempat ini menjadi tempat yang aman untuk perempuan lain."
Clarissa membaca. Matanya basah.
"Kau luar biasa, Raga. Sinok pasti bangga."
Raga tersenyum. Lalu menulis lagi:
"Bukan luar biasa. Aku hanya ingin mengenang Sinok dengan cara yang berguna."
Clarissa memegang tangan Raga. "Kau sudah berguna, Raga. Bahkan tanpa suara sekalipun."
Desember 2012
Bangunan selesai tepat sebelum Natal.
Rumah itu sederhana. Dinding putih dengan atap merah. Halaman depan ditanami pohon bunga dan beberapa tanaman hias. Di belakang, ada taman kecil dengan bangku bambu tempat penghuni bisa duduk sambil membaca atau sekadar menikmati angin laut.
Clarissa meresmikan rumah itu pada tanggal 17 Desember. Tanggal yang sama dengan tanggal kematian Sinok.
"Kuberi nama rumah ini Rumah Senja Sinok," kata Clarissa dalam sambutannya. Tidak banyak tamu. Hanya beberapa relawan, perwakilan pemerintah, dan warga Marunda.
Raga berdiri di pojok ruangan. Ia tidak ikut sambutan. Ia hanya diam, memandang papan nama yang tergantung di pintu masuk.
RUMAH SENJA SINOK
Dua kata. Sinok. Senja.
Cukup untuk membuat Raga mengingat semuanya.
Januari 2013
Penghuni pertama datang.
Seorang perempuan muda bernama Wati. Usianya dua puluh tiga tahun. Ia kabur dari suaminya yang suka memukul. Tubuhnya penuh memar. Matanya sayu seperti tidak punya harapan lagi.
Raga menemuinya di ruang tamu. Clarissa meminta Raga mengajar Wati membaca.
"Kak Wati bisa baca?" tulis Raga di papan tulis.
Wati menggeleng. "Tidak bisa, Pak. Saya lulusan SD tapi buta huruf."
Raga tersenyum. Ia teringat Sinok. Dulu Sinok juga buta huruf.
"Saya ajar," tulis Raga. "Pelan pelan. Sabar."
Wati menatap papan tulis itu. "Bapak tidak bisa bicara?"
Raga menggeleng.
"Maaf, Pak. Saya tidak tahu."
"Tidak apa. Saya bisa tulis. Kita belajar sekarang?"
Wati mengangguk pelan.
Raga mengambil kapur tulis. Di papan tulis besar yang menempel di dinding, ia menulis huruf A.
"Ini huruf A," tulis Raga. "Bunyinya 'a'."
Wati mengulang. "A."
"Bagus."
Mereka belajar sepanjang sore. Wati lambat. Jauh lebih lambat dari Sinok dulu. Tapi Raga tidak marah. Ia sabar. Seperti dulu ia sabar mengajar Sinok.
Februari 2013
Penghuni kedua datang. Ketiga. Keempat.
Rumah Senja Sinok mulai ramai. Perempuan perempuan dari berbagai daerah datang mencari perlindungan. Ada yang lari dari kekerasan suami. Ada yang lari dari perdagangan manusia. Ada yang lari dari keluarga yang mau menjualnya.
Raga mengajar mereka membaca. Satu per satu. Dengan sabar.
Ia tidak bisa bicara. Tapi tangannya yang menulis di papan tulis, matanya yang teduh, senyumnya yang lembut, semuanya berbicara lebih keras daripada kata kata.
"Pak Raga," tanya seorang penghuni suatu hari, "kenapa bapak mau mengajar kami?"
Raga menulis:
"Karena ada seseorang yang dulu juga buta huruf. Dia mengajarkan aku arti ketulusan. Aku hanya meneruskan."
"Siapa namanya?"
"Sinok."
Penghuni itu tidak bertanya lebih lanjut. Tapi ia melihat raut wajah Raga yang berubah sendu. Ia tahu bahwa nama "Sinok" adalah nama yang istimewa.
Maret 2013
Raga kembali ke makam Sinok.
Ia sudah hampir dua bulan tidak datang. Pembangunan rumah singgah menyita waktunya. Tapi hari ini, ia sengaja meluangkan waktu.
Raga duduk di samping kuburan. Batu nisan sudah sedikit berlumut. Daun daun kering berserakan di atasnya. Raga membersihkan satu per satu.
"Sinok, aku sudah lama tidak datang. Maaf. Aku sibuk membangun rumah singgah di bekas tanah Bahar. Nama rumah itu Rumah Senja Sinok."
Raga tersenyum.
"Ada penghuni sekarang. Perempuan korban kekerasan. Mereka lari dari rumah. Mereka buta huruf. Aku ajari mereka membaca. Seperti dulu aku mengajar mu."
Angin laut bertiup. Raga memejamkan mata.
"Satu dari mereka mirip kamu. Matanya. Sayu. Tapi ada api kecil di dalamnya. Dia berjanji tidak akan menyerah. Seperti kamu dulu."
Raga membuka mata. Ia memandang batu nisan itu.
"Aku tidak tahu apakah suaraku akan kembali atau tidak. Tapi aku tidak peduli. Yang penting aku masih bisa menulis. Masih bisa mengajar. Masih bisa mengenangmu."
Ia menaruh setangkai bunga di atas pusara. Bunga kertas warna putih. Sederhana. Tapi dari hati.
"Selamat tinggal, Sinok. Sampai jumpa nanti."
BAB 24
Raga yang Membisu
Rumah Senja Sinok, Marunda
April 2013 - Desember 2013
Raga sudah terbiasa dengan keheningan.
Bukan keheningan karena sepi. Rumah Senja Sinok tidak pernah sepi. Ada suara perempuan perempuan yang belajar membaca, suara anak anak bermain di halaman, suara Clarissa yang datang seminggu sekali memberi penyuluhan, suara tetangga yang sesekali mampir.
Tapi Raga diam di tengah semua suara itu.
Ia tidak bisa ikut bicara. Ia hanya bisa menulis di papan tulis kecil yang selalu ia bawa. Atau mengangguk. Atau menggeleng. Atau tersenyum.
Anak anak memanggilnya "Pak Raga Bisu". Bukan ejekan. Panggilan sayang. Karena mereka tahu Pak Raga baik hati meskipun tidak bisa bicara.
"Siapa yang mau belajar membaca?" tulis Raga di papan tulis besar setiap pagi.
Anak anak dan para penghuni akan berkumpul di ruang belajar. Ada yang duduk di kursi, ada yang duduk di lantai, ada yang sambil memangku adiknya.
Raga mengajar dengan sabar. Huruf demi huruf. Kata demi kata. Kalimat demi kalimat.
"A..." tulis Raga.
"A..." serempak mereka mengulang.
"B..."
"B..."
"C..."
"C..."
Seperti dulu ia mengajar Sinok. Hanya saja sekarang muridnya banyak. Dan Raga sudah tidak muda.
Suatu sore di bulan Mei
Seorang anak laki laki bernomo Usman, usia sembilan tahun, mendekati Raga. Usman adalah anak dari salah satu penghuni rumah singgah. Ibunya lari dari suami yang suka memukul. Usman ikut serta.
"Pak Raga," panggil Usman.
Raga menoleh. Ia tersenyum.
"Pak Raga, saya mau tanya."
Raga mengangguk. Silakan.
"Kenapa Pak Raga tidak bisa bicara?"
Raga terdiam sejenak. Pertanyaan ini sudah sering ia duga akan datang. Tapi tetap saja, menjawabnya tidak mudah.
Ia mengambil papan tulis kecilnya. Menulis perlahan.
"Karena Pak Raga kehilangan seseorang yang sangat disayang."
Usman membaca. Matanya berbinar bingung. "Kehilangan siapa, Pak?"
"Namanya Sinok. Dia istri Pak Raga."
"Sinok? Sama seperti nama rumah ini?"
Raga terkejut. Ia tidak menyangka anak seusia Usman bisa menghubungkan dua hal itu.
"Iya. Rumah ini untuk mengenang Sinok."
"Sinok sekarang di mana, Pak?"
"Di surga."
Usman diam. Ia tampak berpikir keras.
"Pak Raga sedih?"
Raga tersenyum pahit. Ia menulis, "Dulu sedih. Sekarang tidak. Sekarang Pak Raga senang karena bisa mengajar anak anak seperti kamu."
"Pak Raga tidak mau bicara lagi?"
"Pak Raga mau. Tapi tidak bisa. Suara Pak Raga hilang."
"Kasihan Pak Raga."
Raga mengelus kepala Usman. "Tidak usah kasihan. Pak Raga baik baik saja."
Usman mengangguk. Ia berlari kembali ke teman temannya.
Raga memandangi anak itu. Ia teringat Sinok. Seandainya Sinok masih hidup, mungkin mereka sudah punya anak seusia Usman. Mungkin mereka sudah tinggal di rumah kecil dengan halaman bunga. Mungkin Raga masih bisa bicara.
Tapi hidup tidak bisa "seandainya".
Raga menghela napas. Ia kembali ke papan tulis. Masih ada huruf yang harus diajarkan.
Juni 2013
Clarissa datang dengan kabar baik.
"Raga, ada donatur yang ingin membeli seratus buku untuk rumah baca kita."
Raga mengangkat alis. Tanda tanya.
"Dia pengusaha. Istri temanku. Dia baca artikel tentang rumah singgah ini di koran. Dia terharu."
Raga tersenyum. Ia menulis, "Bagus. Anak anak butuh buku."
"Mereka juga mau sumbang komputer. Dua unit. Untuk belajar."
"Luar biasa. Sampaikan terima kasih."
"Kau yang sampaikan sendiri. Mereka mau datang minggu depan."
Raga mengangguk.
Clarissa duduk di samping Raga. "Raga, aku lihat kau lebih segar akhir akhir ini."
Raga menulis, "Aku bahagia. Bisa mengajar. Bisa membantu."
"Kau tidak merindukan Sinok?"
Raga terdiam. Ia menulis, "Setiap hari. Tapi rindu tidak harus membuat sedih. Rindu bisa menjadi energi untuk berbuat baik."
Clarissa memeluk Raga. "Kau hebat, Raga. Sinok pasti bangga."
Raga tidak membalas pelukan. Ia hanya tersenyum.
Juli 2013
Seorang penghuni baru datang.
Namanya Melani. Usia dua puluh tujuh tahun. Ia datang dari Bekasi. Kabur dari suaminya yang menjualnya ke pria hidung belang.
Melani buta huruf total. Tidak bisa baca sama sekali. Bahkan huruf A pun tidak tahu.
Raga mengajar Melani setiap malam. Khusus. Karena Melani malu belajar dengan orang banyak.
"Ini huruf A," tulis Raga di papan tulis.
"A," kata Melani pelan.
"Bagus. Ini huruf B."
"B."
"Huruf C."
"C."
Melani lambat. Tapi rajin. Setiap malam ia belajar sampai larut. Raga tidak pernah lelah mengajar.
Suatu malam, Melani menangis tiba tiba.
"Pak Raga, saya tidak akan bisa. Otak saya sudah terlalu tua untuk belajar."
Raga menulis, "Kau baru dua puluh tujuh. Masih muda."
"Tapi saya merasa bodoh. Anak kecil saja bisa baca, saya tidak."
"Anak kecil belajar bertahun tahun. Kau baru belajar beberapa minggu. Sabar."
Melani menyeka air matanya. "Pak Raga, kenapa bapak mau mengajar saya?"
Raga menulis, "Karena seseorang yang saya sayang dulu juga buta huruf. Dia belajar dengan rajin. Sekarang dia bisa baca dan tulis. Sayang dia sudah tiada."
"Siapa dia, Pak?"
"Dia Sinok. Namanya yang tertulis di papan rumah ini."
Melani menoleh ke luar jendela. Lampu taman menerangi papan nama di pintu masuk.
RUMAH SENJA SINOK
"Sinok," ulang Melani. "Cantik namanya."
"Dia juga cantik. Cantik hati."
"Pak Raga mencintainya?"
Raga tersenyum. "Sangat."
Melani tidak bertanya lagi. Ia mengambil kapur dan menulis huruf A di papan tulisnya.
"A," tulisnya.
"Bagus," tulis Raga.
"A..."
Melani terus menulis sampai tangannya lelah. Raga menemaninya. Malam itu, untuk pertama kalinya, Melani bisa menulis namanya sendiri.
M E L A N I
"Saya bisa, Pak!" teriak Melani.
Raga mengacungkan jempol.
Melani menangis haru. Raga memandangnya dengan mata berkaca kaca. Ia teringat Sinok. Dulu Sinok juga menangis haru ketika pertama kali bisa menulis namanya.
S I N O K
Tulisan itu tidak pernah hilang dari ingatan Raga.
Oktober 2013
Raga sedang duduk di teras rumah singgah ketika seorang perempuan tua menghampiri.
Perempuan itu jalannya tertatih. Matanya buta. Tangannya memegang tongkat.
"Nenek?" Raga terkejut. Ia berdiri dan memegang tangan perempuan itu.
"Kangmas Raga?" suara perempuan tua itu.
Nenek Maryam.
Raga memeluk Nenek Maryam. Perempuan buta itu sudah sangat tua. Usianya mungkin sudah mendekati sembilan puluh.
"Nenek, kenapa ke sini sendirian?" tulis Raga di papan tulis. Lalu ia menempelkan papan itu ke tangan Nenek Maryam agar ia bisa meraba tulisannya.
Nenek Maryam meraba. Ia tersenyum.
"Aku kangen sama kau, Nak. Rumah baca di Marunda sudah sepi. Anak anak sudah pindah ke sini katanya?"
Raga menulis, "Iya, Nenek. Semua pindah ke sini. Tempatnya lebih besar."
"Aku boleh tinggal di sini?"
Raga terkejut. "Tapi Nenek..."
"Aku sudah tua. Tidak punya siapa siapa lagi. Sinok sudah tiada. Hanya kau yang kumiliki."
Raga menangis. Ia memeluk Nenek Maryam lagi.
"Nenek bisa tinggal di sini. Selamanya."
"Terima kasih, Nak. Sinok pasti senang."
Raga menuntun Nenek Maryam masuk ke rumah singgah. Ia menyiapkan kamar khusus untuk Nenek Maryam di lantai satu, dekat dapur, agar mudah dijangkau.
Nenek Maryam duduk di dipan kayu. Tangannya meraba raba sekeliling.
"Ini kamar yang bagus, Nak. Wangi."
"Nenek istirahat. Saya ambilkan teh."
"Kau baik, Nak. Sinok beruntung punya kau."
Raga tersenyum pahit. "Sayang Sinok tidak bisa menikmati."
"Dia menikmati di surga, Nak. Percaya."
Raga mengangguk meskipun Nenek Maryam tidak bisa melihat.
Desember 2013
Setahun setelah Sinok meninggal.
Raga tidak mengadakan acara khusus. Ia tidak suka keramaian. Ia hanya duduk di makam Sinok, seperti dulu, dari pagi hingga senja.
Ia membawa buku puisi kecil. Bukan buku puisi orang lain. Tapi buku puisi karyanya sendiri. Kumpulan puisi yang ia tulis selama setahun terakhir untuk Sinok.
Ia membacanya dalam hati. Kata per kata. Bait per bait.
"Sinok, setahun sudah. Rumah singgah sudah berdiri. Banyak perempuan yang kau tolong meskipun kau tidak pernah tahu. Namamu abadi di papan rumah itu."
Raga memejamkan mata.
"Aku masih tidak bisa bicara. Tapi aku tidak sedih. Aku sudah bisa menerima. Suaraku mungkin akan kembali suatu hari. Atau tidak. Tidak masalah."
Ia meletakkan buku puisi itu di atas pusara. Bukan untuk ditinggalkan. Hanya untuk dibaca oleh angin, dibawa ke langit, sampai ke telinga Sinok.
"Selamat malam, Sinok. Besok aku kembali."
Raga berdiri. Ia berjalan perlahan meninggalkan makam. Senja mulai gelap. Bintang bintang muncul satu per satu.
Dari kejauhan, suara adzan maghrib berkumandang.
Raga berhenti. Ia menengadah ke langit.
"Sinok, dengar? Adzan. Waktunya shalat. Kau pasti sudah di surga sekarang. Doakan aku. Doakan rumah singgah ini. Doakan semua perempuan yang berlindung di sana."
Ia melanjutkan langkah.
Rumah Senja Sinok sudah terlihat di depan. Lampu lampu menyala terang. Suara anak anak bermain terdengar dari halaman.
Raga tersenyum.
"Aku pulang, Sinok. Pulang ke rumah yang kau tinggalkan untukku."
BAB 25
Surat dari Masa Lalu
Rumah Senja Sinok, Marunda
14 Februari 2014
Hari itu hari Jumat.
Bukan hari biasa. Juga bukan hari istimewa. Tapi Clarissa datang dengan sebuah kardus kecil berwarna coklat. Kardus itu sudah lusuh, sudut sudutnya robek, dan tali pengikatnya sudah putus di beberapa bagian.
Clarissa meletakkan kardus itu di meja ruang tamu. Raga yang sedang membaca buku di pojok ruangan menoleh.
"Itu apa?" tulis Raga di papan tulisnya.
Clarissa duduk di kursi seberang. Wajahnya serius.
"Itu surat surat Sinok."
Raga terkejut. Ia meletakkan bukunya. Matanya tidak lepas dari kardus coklat itu.
"Surat surat? Bukannya dulu sudah saya baca? Yang empat puluh tujuh surat itu?"
Clarissa menggeleng. "Itu surat surat yang dia tulis di Batam dan di apartemenku waktu awal awal. Tapi setelah kau datang, dia terus menulis. Tidak berhenti. Hanya saja dia tidak pernah memberikannya padamu."
Raga diam. Dadanya terasa sesak.
"Dia menyuruhku menyimpan surat surat ini," lanjut Clarissa. "Dia bilang, 'Dok, kalau saya mati, kasih surat surat ini ke Kangmas Raga. Tapi jangan langsung. Kasih setahun setelah saya mati. Biar dia sudah agak tenang.'"
Raga menunduk. Air matanya jatuh ke lantai.
"Sudah setahun lebih, Raga. Sekarang waktunya."
Clarissa mendorong kardus itu ke arah Raga.
Raga mengambil kardus itu dengan tangan gemetar. Ia membukanya perlahan.
Di dalam, puluhan surat. Tidak di amplop. Hanya kertas kertas yang dilipat rapi, ditulis dengan bolpoin hitam. Tulisannya sudah rapi, tidak seperti surat surat pertama yang masih penuh coretan. Sinok sudah belajar menulis dengan baik.
Raga mengambil surat paling atas. Tangannya gemetar.
"Ibu," panggil Clarissa ke arah dapur. "Kita tinggalkan Raga sebentar. Biar dia membaca surat surat itu sendirian."
Nenek Maryam yang sedang duduk di dapur mengangguk. Mereka berdua keluar, berjalan ke halaman belakang.
Raga sendirian di ruang tamu.
Ia membuka surat pertama.
Surat Pertama
Ditulis: 20 Juni 2012 (dua hari setelah Raga datang ke apartemen)
"Kangmas Raga,
Hari ini Kangmas datang. Saya tidak percaya. Saya kira saya mimpi. Tapi Dokter Clarissa bilang, ini nyata. Kangmas benar benar di sini.
Kangmas, saya sudah menunggu dua puluh enam tahun. Dua puluh enam tahun! Saya tidak tahu apakah Kangmas masih hidup atau sudah mati. Tapi setiap malam saya berdoa, semoga Kangmas selamat. Semoga suatu hari kita bertemu.
Dan hari ini, doa saya terjawab.
Saya tidak tahu harus bilang apa. Saya hanya bisa menangis. Saya hanya bisa memeluk Kangmas.
Kangmas, maafkan saya. Saya tidak bisa menjadi perempuan yang Kangmas kenal dulu. Saya sudah berubah. Jelek. Kurus. Sakit. Rambut saya hampir habis. Saya tidak pantas untuk Kangmas.
Tapi kalau Kangmas tidak keberatan, saya ingin Kangmas di sini. Menemani saya. Setiap hari. Sampai saya mati.
Maaf, Kangmas. Saya egois.
Sinok"
Raga membaca surat itu dua kali. Air matanya jatuh membasahi kertas.
Ia mengambil surat kedua.
Surat Kedua
Ditulis: 25 Juni 2012
"Kangmas Raga,
Hari ini Kangmas baca puisi untuk saya. Di ruang tamu apartemen. Puisi tentang rindu yang tidak pernah habis.
Saya hafal, Kangmas. Saya tulis di sini supaya tidak lupa.
'Sinok, aku tidak tahu bahwa rindu bisa selama ini. Aku kira rindu hanya untuk mereka yang punya harapan. Tapi aku tidak punya harapan selama bertahun tahun, dan rindu itu tetap tinggal, tidak pergi.'
Kangmas, saya juga rindu. Dua puluh enam tahun. Setiap hari. Setiap malam. Rindu itu tidak pernah pergi.
Tapi sekarang Kangmas di sini. Rindu itu berubah jadi bahagia. Saya baru tahu bahwa rindu dan bahagia bisa bersamaan.
Terima kasih, Kangmas. Untuk puisi nya. Untuk rindu nya. Untuk segalanya.
Sinok"
Surat Kelima Belas
Ditulis: 10 Juli 2012
"Kangmas Raga,
Hari ini Dokter Clarissa bilang, tumor saya kambuh. Saya kaget. Saya pikir saya sudah sembuh.
Saya tidak marah ke Dokter Clarissa. Dia sudah berusaha. Tapi saya kecewa. Kecewa pada Tuhan. Kenapa Tuhan memberi saya kebahagiaan sebentar, lalu mengambilnya lagi?
Tapi kemudian saya ingat. Saya ingat kata kata Kangmas. 'Bahagia tidak perlu lama, yang penting tulus.'
Kangmas benar. Bahagia saya dengan Kangmas hanya beberapa minggu. Tapi itu tulus. Itu cukup.
Kalau Tuhan memanggil saya besok, saya siap. Saya sudah bahagia. Saya sudah dicintai. Saya sudah belajar membaca. Saya sudah bisa menulis surat ini.
Tidak ada yang tersisa kecuali rasa syukur.
Sinok"
Raga berhenti membaca. Ia memejamkan mata. Surat ini ditulis hanya seminggu sebelum Sinok meninggal.
Ia mengambil surat berikutnya.
Surat Kedua Puluh Tiga
Ditulis: 14 Juli 2012 (empat hari sebelum Sinok meninggal)
"Kangmas Raga,
Saya di rumah sakit sekarang. Kangmas lagi tidur di kursi di samping saya. Wajah Kangmas kelihatan lelah. Ada luka di alis dari kejadian di dermaga. Saya sedih melihat Kangmas terluka karena saya.
Kangmas, saya tidak tahu berapa lama lagi saya hidup. Dokter Clarissa bilang mungkin sebentar lagi. Tapi tidak apa. Yang penting saya sempat bertemu Kangmas.
Kangmas, saya ingin Kangmas janji. Setelah saya mati, Kangmas harus terus hidup. Jangan berhenti menulis puisi. Jangan berhenti mengajar anak anak membaca. Jangan berhenti tersenyum.
Dan tolong jaga ibu saya. Dia buta. Dia sudah tua. Saya tidak tega meninggalkannya sendirian. Tapi saya tidak punya pilihan.
Kangmas, saya mencintai Kangmas. Saya tidak pernah bilang sebelumnya. Tapi saya tulis di sini. Saya cinta Kangmas. Sejak pertama kali Kangmas baca puisi di atas genteng bocor. Sampai sekarang. Sampai saya mati. Sampai kapan pun.
Sinok"
Raga tidak bisa menahan tangisnya lagi. Ia menangis tersedu sedan di ruang tamu Rumah Senja Sinok. Surat itu jatuh dari tangannya.
Clarissa yang mendengar suara tangisan dari halaman belakang segera masuk.
"Raga, kau tidak apa apa?"
Raga menggeleng. Ia mengambil papan tulisnya, menulis dengan tangan gemetar.
"Dia bilang dia cinta aku. Di surat ini. Empat hari sebelum dia mati. Aku baru tahu sekarang."
Clarissa membaca. Matanya basah.
"Dia memang tidak pernah berani bilang langsung, Raga. Dia malu. Dia takut tidak pantas."
"Dia pantas. Dia lebih dari pantas."
"Aku tahu. Tapi dia tidak sempat mendengarnya dari mulutmu. Sekarang kau bisa membacanya di surat ini. Meskipun telat."
Raga mengambil surat itu kembali. Ia membacanya sekali lagi. Lalu sekali lagi. Lalu sekali lagi.
"Saya cinta Kangmas."
Tiga kata. Tiga kata yang dulu tidak pernah terucap. Tiga kata yang kini tertulis di kertas, tidak akan pernah pudar.
Surat Ketiga Puluh
Ditulis: 16 Juli 2012 (dua hari sebelum Sinok meninggal)
"Kangmas Raga,
Hari ini saya tidak bisa bangun dari tempat tidur. Tubuh saya lemas sekali. Dokter Clarissa bilang, ini sudah saatnya.
Saya tidak takut mati, Kangmas. Yang saya takutkan adalah Kangmas sedih. Kangmas menangis. Kangmas berhenti menulis puisi.
Kangmas, janji. Janji bahwa Kangmas akan terus menulis. Menulis puisi untuk saya. Meskipun saya sudah tidak di sini.
Saya akan membaca puisi Kangmas dari surga. Saya akan tersenyum. Saya akan bertepuk tangan meskipun tidak ada suara.
Kangmas, satu lagi. Tolong sampaikan ke ibu. Saya sayang ibu. Maafkan Sinok yang pergi duluan.
Dan Kangmas...
Saya sayang Kangmas. Saya sudah bilang di surat sebelumnya. Tapi saya ulang. Saya cinta Kangmas. Saya cinta Kangmas. Saya cinta Kangmas.
Selamat tinggal.
Sinok"
Raga meletakkan surat itu di dadanya. Ia memejamkan mata. Ia membayangkan Sinok terbaring di tempat tidur rumah sakit, menulis surat ini dengan tangan yang gemetar, dengan napas yang tersengal sengal.
"Sinok," bisik Raga dalam hati. "Aku janji. Aku akan terus menulis. Aku akan terus mengajar. Aku akan menjaga ibumu. Aku akan melakukan semua yang kau minta."
Ia membuka mata. Clarissa masih di sampingnya.
"Ada lagi?" tulis Raga.
"Masih banyak. Puluhan. Kau tidak harus membaca semuanya hari ini."
"Aku akan membaca semuanya. Malam ini juga."
"Kau tidak tidur?"
"Aku tidak butuh tidur. Aku butuh Sinok."
Clarissa menghela napas. "Baik. Aku akan temani kau. Kita baca bersama."
Raga mengangguk.
Mereka berdua duduk di ruang tamu, ditemani lampu minyak dan secangkir teh hangat. Raga membaca surat demi surat. Clarissa diam di sampingnya, kadang menyeka air mata, kadang tersenyum, kadang menggeleng geleng melihat tingkah Sinok yang lucu di surat suratnya.
Surat Keempat Puluh
Ditulis: 17 Juli 2012 (sehari sebelum Sinok meninggal)
"Kangmas Raga,
Ini mungkin surat terakhir saya. Saya sudah tidak kuat memegang pulpen. Tangan saya gemetar terus. Tapi saya paksakan.
Kangmas, saya ingin Kangmas tahu satu hal. Waktu pertama kali Kangmas datang ke gubuk saya, pingsan di depan pintu, saya sudah merasa bahwa Kangmas orang istimewa. Bukan karena Kangmas kaya. Bukan karena Kangmas pintar. Tapi karena mata Kangmas. Mata Kangmas jujur.
Saya jatuh cinta pada mata itu. Dan sampai sekarang, mata Kangmas masih sama. Jujur. Teduh. Penuh cinta.
Kangmas, jangan pernah berubah. Jangan pernah kehilangan ketulusan itu.
Saya harus berhenti. Tangan saya sudah tidak kuat.
Saya cinta Kangmas. Sampai jumpa di surga.
Sinok"
Surat terakhir.
Raga meletakkannya di meja. Ia tidak menangis lagi. Air matanya habis. Yang tersisa hanya rasa syukur yang dalam.
"Clarissa," tulis Raga.
"Ya."
"Dia bilang mataku jujur. Apa benar?"
Clarissa menatap mata Raga. Mata itu sayu, merah, lelah, tapi masih menyimpan api kecil di sudut sudutnya.
"Benar, Raga. Matamu jujur. Itu sebabnya Sinok jatuh cinta padamu. Itu sebabnya aku juga... percaya padamu."
Raga tersenyum.
Ia mengumpulkan semua surat itu, merapikannya, lalu menyimpannya di dalam kardus. Kardus itu akan ia simpan di kamarnya. Di samping tempat tidur. Setiap malam, sebelum tidur, ia akan membaca satu surat. Supaya ia tidak lupa. Supaya ia selalu ingat bahwa ia pernah dicintai oleh seorang perempuan bernama Sinok.
BAB 26
Membaca Surat dengan Air Mata
Rumah Senja Sinok, Marunda
14 Februari 2014 - 15 Februari 2014
Malam itu Raga tidak tidur.
Clarissa sudah pergi sekitar pukul sembilan malam. Nenek Maryam juga sudah tidur di kamarnya. Rumah Senja Sinok sunyi. Hanya suara jangkrik dari halaman belakang dan suara ombak dari kejauhan yang terdengar.
Raga duduk di ruang tamu dengan kardus surat di pangkuannya.
Ia sudah membaca beberapa surat tadi sore. Tiga puluh surat. Masih tersisa dua belas surat. Tapi ia tidak ingin terburu buru. Setiap surat harus dibaca dengan hati. Setiap kata harus direnungkan.
Raga mengambil surat ketiga puluh satu.
Surat Ketiga Puluh Satu
Ditulis: 5 Juli 2012
"Kangmas Raga,
Hari ini Kangmas pergi ke warung beli mie instan. Saya marah. Bukan karena Kangmas pergi tanpa pamit. Tapi karena Kangmas beli mie instan padahal Dokter Clarissa sudah bilang, mie instan tidak baik untuk kesehatan.
Kangmas, jangan makan mie instan terus. Nanti Kangmas sakit. Siapa yang akan jaga saya kalau Kangmas sakit?
Maaf kalau saya marah. Saya cuma khawatir.
Sinok"
Raga tersenyum membaca surat ini. Ia ingat kejadian itu. Dulu ia memang sering makan mie instan. Sinok selalu marah. Tapi marahnya lucu. Pipinya mengembung, matanya melotot, tapi mulutnya tetap tersenyum.
"Kangmas, mie instan itu tidak baik!" omel Sinok dulu.
Raga hanya tertawa. Lalu Sinok ikut tertawa.
Raga meletakkan surat itu. Ia mengambil surat ketiga puluh dua.
Surat Ketiga Puluh Dua
Ditulis: 6 Juli 2012
"Kangmas Raga,
Kangmas, saya mau cerita. Tadi malam saya mimpi. Mimpi tentang kita. Kita naik ke genteng bocor di Marunda. Lalu Kangmas bacakan puisi. Puisi tentang senja. Tapi di tengah puisi, tiba tiba Kangmas menghilang. Saya mencari ke mana mana. Tidak ketemu.
Saya bangun dengan air mata. Saya takut Kangmas benar benar menghilang.
Kangmas, janji. Janji tidak akan pergi lagi. Janji akan selalu di samping saya. Sampai saya mati.
Maaf, Kangmas. Saya egois.
Sinok"
Raga mengusap matanya. Surat ini membuat dadanya terasa sesak. Sinok takut ditinggalkan. Padahal Raga tidak pernah berniat meninggalkannya.
"Aku tidak akan pergi, Sinok," bisik Raga dalam hati. "Aku di sini. Sampai kapan pun."
Surat Ketiga Puluh Empat
Ditulis: 8 Juli 2012
"Kangmas Raga,
Kangmas, saya cemburu.
Hari ini ada perempuan cantik datang ke apartemen. Katanya tetangga sebelah. Dia pinjam gula. Dia ngobrol lama dengan Kangmas. Saya lihat dari jendela kamar. Perempuan itu senyum senyum ke Kangmas.
Kangmas, jangan jatuh cinta sama perempuan lain. Saya tahu saya jelek. Saya kurus. Rambut saya hampir habis. Tapi saya cinta Kangmas. Saya tidak rela kalau Kangmas diambil orang lain.
Maaf kalau saya cemburuan. Saya tidak bisa menahan.
Sinok"
Raga tertawa membaca surat ini. Ia ingat tetangga sebelah yang dimaksud Sinok. Namanya Marni. Usianya sudah lima puluhan. Gigi depannya ompong. Perempuan itu tidak pernah pinjam gula. Ia hanya suka bergosip.
Raga mengambil papan tulis dan menulis untuk dirinya sendiri:
"Sinok, perempuan itu umurnya sudah lima puluh. Giginya ompong. Tidak usah cemburu."
Ia tersenyum. Lalu menyimpan papan tulis itu.
Surat Ketiga Puluh Enam
Ditulis: 10 Juli 2012
"Kangmas Raga,
Kangmas, saya takut.
Dokter Clarissa bilang tumor saya kambuh. Saya pura pura tenang di depan Dokter Clarissa. Tapi di dalam hati, saya takut sekali.
Saya takut mati, Kangmas. Bukan takut matinya. Tapi takut meninggalkan Kangmas. Takut meninggalkan ibu. Takut tidak bisa melihat Kangmas lagi. Takut tidak bisa mendengar Kangmas baca puisi.
Kangmas, doakan saya. Saya tidak mau mati sekarang. Saya masih ingin hidup. Masih ingin bersama Kangmas. Masih ingin ke Marunda. Masih ingin naik ke genteng bocor itu.
Tuhan, tolong saya. Saya belum siap.
Sinok"
Raga membaca surat ini berulang ulang. Tangannya gemetar. Ia ingat hari itu. Sinok tidak menunjukkan rasa takutnya sedikit pun. Ia tersenyum. Ia bercanda. Ia bahkan menyuruh Raga membelikan es krim.
Tapi di balik senyum itu, Sinok menangis sendirian. Menulis surat ini. Mengaku pada secarik kertas bahwa ia takut.
"Sinok," bisik Raga dalam hati. "Kau kuat. Lebih kuat dari yang kau kira. Aku bangga padamu."
Surat Keempat Puluh Satu
Ditulis: 15 Juli 2012
"Kangmas Raga,
Hari ini Dokter Clarissa izinkan saya makan es krim. Saya senang sekali. Sudah lama tidak makan es krim. Dulu di Batam, saya tidak pernah makan es krim. Di rumah gelap itu, makanan saya hanya nasi dan sayur. Itu pun kadang kadang.
Kangmas, terima kasih sudah belikan es krim. Rasanya enak. Manis. Dingin. Saya suka.
Besok belikan lagi ya, Kangmas?
Sinok"
Raga tersenyum. Surat ini lucu. Sinok yang polos. Sinok yang bahagia karena es krim. Sinok yang masih punya sisi anak kecil di dalam dirinya meskipun sudah menderita bertahun tahun.
Raga menulis di papan tulis: "Besok aku belikan es krim lagi. Dua. Satu untuk kamu, satu untuk aku. Tapi kamu tidak boleh minta punyaku."
Ia tersenyum sendiri. Lalu sedih. Karena tidak akan ada besok lagi.
Surat Keempat Puluh Empat
Ditulis: 16 Juli 2012
"Kangmas Raga,
Saya capek, Kangmas. Badan saya sakit semua. Kepala saya pusing terus. Saya tidak bisa tidur. Setiap kali saya pejamkan mata, saya lihat wajah preman preman Bahar. Saya lihat rumah gelap di Batam. Saya lihat perempuan perempuan yang menangis di sana.
Kangmas, apa saya orang jahat? Apa karena saya jahat, Tuhan menghukum saya begini?
Saya tidak pernah jahat, Kangmas. Saya tidak pernah mencuri. Saya tidak pernah berbohong. Saya tidak pernah menyakiti orang. Tapi kenapa Tuhan memberi saya penderitaan?
Kangmas, jangan jawab. Saya tahu Kangmas tidak tahu jawabannya. Saya hanya ingin curhat.
Sinok"
Raga terdiam lama membaca surat ini. Sinok bertanya tentang keadilan Tuhan. Pertanyaan yang tidak pernah bisa dijawab siapa pun.
Raga mengambil papan tulis. Ia ingin menulis jawaban. Tapi tangannya berhenti di atas papan. Ia tidak tahu harus menulis apa.
Akhirnya ia menulis satu kalimat.
"Sinok, aku juga tidak tahu. Tapi aku yakin Tuhan tidak tidur. Suatu hari nanti, kita akan tahu jawabannya."
Ia meletakkan papan tulis itu. Air matanya jatuh ke lantai.
Surat Keempat Puluh Lima
Ditulis: 16 Juli 2012 (masih di hari yang sama)
"Kangmas Raga,
Maaf untuk surat sebelumnya. Saya sedang emosi. Saya tidak bermaksud marah pada Tuhan. Saya hanya lelah.
Kangmas, jangan masukkan surat itu ke dalam hati. Saya baik baik saja.
Sekarang saya mau cerita tentang kenangan indah.
Kangmas, ingat waktu pertama kali kita naik ke genteng bocor? Waktu itu Kangmas baca puisi untuk saya. Saya tidak mengerti artinya. Tapi suara Kangmas membuat saya tenang. Saya merasa aman. Saya merasa tidak sendirian.
Sampai sekarang, setiap kali saya ingat malam itu, saya tersenyum.
Terima kasih untuk kenangan itu, Kangmas. Tidak akan pernah saya lupakan.
Sinok"
Raga memeluk surat itu. Seolah memeluk Sinok yang menulisnya.
"Aku juga tidak akan pernah melupakan malam itu, Sinok. Malam di mana aku jatuh cinta padamu."
Surat Keempat Puluh Enam
Ditulis: 17 Juli 2012 (sehari sebelum Sinok meninggal)
"Kangmas Raga,
Ini surat kedua dari kemarin. Saya ingin menulis sebanyak mungkin sebelum saya tidak bisa menulis lagi.
Kangmas, tolong sampaikan ke Dokter Clarissa. Terima kasih sudah menyelamatkan saya. Terima kasih sudah merawat saya. Terima kasih sudah menjadi sahabat bagi saya. Saya tidak bisa membalas kebaikan Dokter Clarissa. Tapi saya akan doakan setiap hari di surga.
Dan tolong sampaikan ke ibu. Ibu, maafkan Sinok. Sinok pergi duluan. Sinok tidak bisa merawat ibu sampai tua. Tapi Sinok titipkan ibu ke Kangmas Raga. Kangmas Raga orang baik. Dia akan jaga ibu.
Kangmas, saya juga titipkan rumah baca. Rumah baca di atas gudang ikan. Jangan biarkan rumah itu mati. Teruslah mengajar anak anak membaca. Itu wasiat saya.
Saya hanya bisa menulis sampai di sini. Tangan saya sudah gemetar hebat.
Saya cinta Kangmas. Saya cinta. Saya cinta. Saya cinta.
Sinok"
Raga tidak bisa membaca lebih lanjut. Air matanya mengalir deras. Surat itu basah oleh air matanya. Ia meletakkannya di meja, mengambil napas panjang, lalu melanjutkan.
Surat Keempat Puluh Tujuh
Ditulis: 17 Juli 2012 (beberapa jam kemudian)
"Kangmas,
Saya tidak kuat memegang pulpen. Tapi saya paksakan. Ini mungkin kata kata terakhir saya.
Kangmas, saya ingin Kangmas tahu. Bahwa dari semua laki laki yang pernah saya temui, Kangmas adalah yang terbaik. Kangmas tidak kaya. Kangmas tidak tampan. Tapi Kangmas jujur. Kangmas setia. Kangmas tidak pernah menyerah pada saya.
Saya beruntung pernah dicintai oleh Kangmas.
Sampai jumpa.
Sinok"
Raga meletakkan surat itu. Ia mengambil semua surat, merapikannya, lalu menyimpannya di dalam kardus.
Ia memejamkan mata.
"Sinok," bisiknya dalam hati. "Aku sudah membaca semua suratmu. Aku tahu kamu takut. Aku tahu kamu marah. Aku tahu kamu cemburu. Aku tahu kamu lucu. Aku tahu kamu mencintaiku."
Ia membuka mata.
"Sekarang aku bisa melepasmu dengan tenang. Karena aku tahu, di surga, kau tersenyum membaca puisi puisi yang aku tulis untukmu."
Raga berdiri. Ia berjalan ke jendela. Di luar, langit mulai memutih. Subuh akan tiba.
Ia membuka jendela. Udara pagi yang segar masuk ke ruangan.
Raga menarik napas panjang. Lalu menghembuskannya perlahan.
Untuk pertama kalinya setelah setahun lebih, Raga merasa ringan. Beban di dadanya berkurang. Kesedihannya berubah menjadi kenangan indah.
Ia tidak akan melupakan Sinok. Tidak akan pernah.
Tapi ia tidak akan terus terpuruk.
Ia akan hidup. Untuk Sinok. Untuk Nenek Maryam. Untuk anak anak di rumah baca. Untuk perempuan perempuan di rumah singgah.
Raga tersenyum.
"Terima kasih, Sinok," bisiknya dalam hati. "Untuk surat suratmu. Untuk cintamu. Untuk segalanya."
Dari kejauhan, suara adzan subuh berkumandang.
Raga menengadah ke langit.
"Sinok, dengar? Subuh. Waktunya berdoa. Aku akan berdoa untukmu. Setiap hari. Sampai kita bertemu lagi."
BAB 27
Buku Puisi yang Mengguncang Negeri
Rumah Senja Sinok, Marunda
Maret 2014 - Agustus 2014
Clarissa tidak pernah membayangkan bahwa ide gilanya akan menjadi sebesar ini.
Suatu sore di bulan Maret, ia datang ke Rumah Senja Sinok dengan membawa laptop dan setumpuk kertas.
"Raga," panggil Clarissa. "Aku mau bicara serius."
Raga yang sedang membaca buku di teras menoleh.
"Aku sudah mengumpulkan semua puisi yang kau tulis untuk Sinok. Dari yang pertama di tahun 1998 sampai yang terakhir di tahun 2012. Aku juga punya surat surat Sinok yang kau baca kemarin. Aku ingin menerbitkannya."
Raga terkejut. Ia mengambil papan tulisnya.
"Menerbitkan? Sebagai apa?"
"Sebagai buku. Antologi puisi dan surat. Aku yakin ini akan menginspirasi banyak orang."
"Tidak ada yang mau baca puisiku. Jelek."
Clarissa tertawa. "Kau tidak bisa menilai puisimu sendiri, Raga. Biar pembaca yang menilai."
Raga ragu. Ia tidak pernah membayangkan puisi puisinya dibaca orang banyak. Puisi itu hanya untuk Sinok. Hanya untuk matanya. Hanya untuk hatinya.
"Aku tidak tahu, Clarissa."
"Percayalah padaku. Aku akan mengurus semuanya. Penerbit, desain sampul, biaya cetak. Kau tidak perlu keluar uang sepeser pun."
Raga terdiam. Ia memandang ke arah laut. Angin sore bertiup sejuk.
"Baik. Tapi satu syarat."
"Apa saja."
"Semua royalti untuk Rumah Senja Sinok. Untuk biaya operasional. Aku tidak mau ambil uangnya."
Clarissa tersenyum. "Kau baik hati, Raga."
"Bukan baik hati. Aku hanya tidak butuh uang. Yang aku butuhkan hanyalah Sinok. Dan Sinok sudah tidak di sini."
Clarissa memeluk Raga. "Dia di sini, Raga. Di setiap puisi yang kau tulis. Di setiap surat yang dia tinggalkan. Dia abadi."
April 2014
Clarissa sibuk mondar mandir antara Jakarta dan Marunda.
Ia bertemu dengan penerbit. Diskusi tentang naskah. Diskusi tentang desain sampul. Diskusi tentang royalti.
Penerbit awalnya ragu. "Puisi cinta? Sekarang zamannya novel roman, Bu. Puisi tidak laku."
Clarissa tidak menyerah. "Bapak baca dulu naskahnya. Kalau tidak suka, saya cari penerbit lain."
Penerbit membaca naskah itu dalam semalam.
Pagi harinya, ia menelepon Clarissa. "Bu, saya mau terbitkan buku ini. Ini... ini luar biasa. Saya tidak bisa berhenti menangis waktu membaca surat terakhir Sinok."
Clarissa tersenyum di ujung telepon. "Saya sudah bilang."
"Tapi ada satu masalah. Penulisnya tidak mau mencantumkan nama asli?"
"Iya. Dia ingin menggunakan nama pena."
"Siapa nama penanya?"
"Pujangga Bisu."
Penerbit terdiam. "Pujangga Bisu? Itu nama yang unik."
"Biarlah. Itu yang dia mau."
"Baik. Kita akan terbitkan dengan nama Pujangga Bisu."
Mei 2014
Buku itu diberi judul "Senja Terakhir Untuk Sinok".
Sampulnya sederhana. Jingga keemasan seperti senja di Marunda. Di bagian bawah, siluet dua orang duduk di atas genteng, berdua, berpelukan.
Raga menatap sampul buku itu lama. Matanya basah.
"Clarissa," tulis Raga.
"Ya?"
"Siapa yang desain sampul ini?"
"Desainer profesional. Tapi aku yang kasih ide. Aku cerita tentang kalian berdua di genteng bocor. Dia langsung bisa membayangkan."
"Terima kasih, Clarissa. Ini indah. Sinok pasti suka."
"Sinok suka. Aku yakin."
Juni 2014
Buku itu terbit.
Awalnya biasa saja. Tidak ada pesta peluncuran. Tidak ada iklan di televisi. Hanya beberapa postingan di media sosial dari Clarissa dan teman temannya.
Tapi dalam seminggu, buku itu mulai viral.
Seorang selebgram terkenal membaca puisi pertama dalam buku itu di akun Instagramnya. Video itu ditonton jutaan orang. Dibagikan ribuan kali.
"Dengar ini," kata selebgram itu. "Puisi dari buku 'Senja Terakhir Untuk Sinok' karya Pujangga Bisu. Saya nangis bacanya."
Ia membaca:
"Sinok, aku tidak tahu bahwa rindu bisa selama ini. Aku kira rindu hanya untuk mereka yang punya harapan. Tapi aku tidak punya harapan selama bertahun tahun, dan rindu itu tetap tinggal, tidak pergi."
Komentar membanjiri unggahan itu.
"Aku nangis."
"Puisi ini menyentuh hatiku."
"Siapa Pujangga Bisu? Aku ingin tahu."
"Sinok pasti perempuan yang sangat beruntung."
Juli 2014
Buku itu menjadi bestseller nasional.
Cetakan pertama habis dalam dua minggu. Cetakan kedua habis dalam satu minggu. Cetakan ketiga, keempat, kelima. Penerbit kewalahan.
Clarissa datang ke Rumah Senja Sinok dengan membawa kabar gembira.
"Raga! Buku mu laris! Sudah cetak sepuluh ribu eksemplar!"
Raga tidak bereaksi berlebihan. Ia hanya tersenyum tipis.
"Royaltinya sudah masuk?"
"Sudah. Lumayan banyak."
"Semua untuk rumah singgah."
"Kau yakin tidak mengambil sedikit? Untuk keperluanmu pribadi?"
"Aku tidak butuh apa apa. Rumah singgah yang butuh."
Clarissa menghela napas. "Kau sungguh luar biasa, Raga."
"Bukan aku. Sinok. Dia yang menginspirasi semua ini."
Agustus 2014
Wawancara.
Seorang reporter dari sebuah media nasional datang ke Rumah Senja Sinok. Ia ingin mewawancarai Pujangga Bisu.
Raga menolak.
"Pak, saya hanya ingin wawancara sebentar," kata reporter itu.
Raga mengambil papan tulisnya.
"Saya tidak bisa bicara."
"Tidak apa. Saya bisa tulis. Atau pakai bahasa isyarat."
"Saya juga tidak bisa bahasa isyarat."
"Pak, publik ingin tahu siapa Pujangga Bisu. Mereka ingin tahu cerita di balik puisi puisi itu."
Raga menulis lama. Reporter itu menunggu dengan sabar.
"Cerita di balik puisi itu bukan tentang saya. Tapi tentang Sinok. Dan Sinok sudah tiada. Biarkan dia beristirahat dengan tenang. Tidak usah diganggu."
Reporter itu membaca. Ia terdiam. Lalu ia mengangguk.
"Baik, Pak. Saya hormati keputusan Bapak. Tapi boleh saya minta satu?"
Apa?
"Boleh saya foto Bapak? Hanya dari belakang. Tidak perlu wajah."
Raga berpikir sejenak. Lalu mengangguk.
Reporter itu mengambil kamera. Ia memotret Raga dari belakang, duduk di teras Rumah Senja Sinok, menghadap ke laut. Punggungnya agak membungkuk, rambutnya mulai beruban. Di sampingnya, papan tulis kecil dan sebuah buku puisi.
Foto itu menjadi ikonik. Diterbitkan di surat kabar nasional dengan judul: "Pujangga Bisu: Mencintai dalam Diam, Menulis dalam Sunyi."
Oktober 2014
Surat dari pembaca mulai berdatangan.
Clarissa membawa kardus besar berisi amplop amplop. Ada yang dari Jakarta, dari Bandung, dari Surabaya, dari Medan, bahkan dari luar negeri.
"Raga, ini semua untukmu."
Raga terkejut. "Banyak sekali."
"Kau terkenal, Raga. Buku mu sudah terjual lebih dari seratus ribu eksemplar."
Raga membuka satu per satu surat itu.
Seorang ibu rumah tangga menulis: "Terima kasih, Pak Pujangga Bisu. Saya sudah lama tidak bahagia dengan pernikahan saya. Membaca puisi bapak membuat saya ingat bahwa cinta sejati itu ada. Saya memutuskan untuk tidak menyerah pada suami saya. Kami sedang berusaha memperbaiki hubungan."
Seorang mahasiswa menulis: "Pak, saya ingin jadi penyair seperti Bapak. Tapi saya tidak tahu harus mulai dari mana. Tolong bimbing saya."
Seorang perempuan korban kekerasan menulis: "Pak, saya lari dari suami saya. Sekarang saya tinggal di rumah singgah. Saya baca buku Bapak. Saya menangis. Saya ingin kuat seperti Sinok. Saya ingin bisa membaca dan menulis seperti Sinok. Terima kasih untuk inspirasinya."
Raga membaca semua surat itu. Matanya basah. Tangannya gemetar.
"Clarissa," tulis Raga.
"Ya?"
"Aku tidak tahu bahwa puisi ku bisa menginspirasi orang sebanyak ini. Aku pikir puisi ku hanya untuk Sinok."
"Tapi Sinok sudah berbagi cintanya denganmu. Dan sekarang kau berbagi cintamu dengan dunia. Itu namanya mata rantai kebaikan, Raga."
Raga tersenyum.
Desember 2014
Penghargaan.
Clarissa datang dengan undangan. Pemerintah akan memberikan penghargaan kepada Pujangga Bisu atas kontribusinya dalam dunia sastra Indonesia.
Raga menolak.
"Raga, ini penghargaan! Kenapa kau tolak?"
"Aku tidak butuh penghargaan. Aku butuh Sinok."
"Tapi..."
"Berikan penghargaan itu untuk Sinok. Atas namanya. Dia yang menginspirasi semua ini. Bukan aku."
Clarissa menghela napas. "Kau keras kepala."
"Aku tahu."
Clarissa akhirnya menghadiri acara itu sendirian. Ia mewakili Raga menerima penghargaan. Di atas panggung, ia bercerita tentang Sinok. Tentang Raga. Tentang cinta mereka yang terpisah dua puluh enam tahun.
"Akhirnya," kata Clarissa di atas panggung, "Pujangga Bisu meminta saya menyampaikan pesan singkat. Kurang lebih begini: 'Penghargaan ini untuk Sinok. Untuk senyumnya. Untuk air matanya. Untuk perjuangannya. Tanpa dia, tidak ada puisi. Tidak ada buku. Tidak ada apa apa.'"
Penonton bertepuk tangan. Banyak yang menangis.
Clarissa turun dari panggung. Ia memegang trofi kecil di tangannya.
"Sinok, ini untukmu," bisik Clarissa.
BAB 28
Viral dan Kontroversi
Rumah Senja Sinok, Marunda
Januari 2015 - Maret 2015
Tahun 2015 dimulai dengan heboh.
Buku "Senja Terakhir Untuk Sinok" tidak hanya menjadi bestseller. Buku itu menjadi fenomena. Di kereta, di kafe, di taman kota, orang orang terlihat membaca buku bersampul jingga itu. Ada yang tersenyum, ada yang menangis, ada yang termenung lama setelah menutup halaman terakhir.
Tapi di balik popularitas, selalu ada kontroversi.
Pertengahan Januari 2015
Seorang selebritas terkenal mengunggah foto dirinya sedang membaca buku "Senja Terakhir Untuk Sinok" di akun Instagramnya. Foto itu dilengkapi dengan keterangan panjang.
"Terharu banget baca buku ini. Kisah cinta Raga dan Sinok bikin aku percaya lagi sama cinta sejati. Mereka berjuang 26 tahun! 26 tahun! Luar biasa. Wajib baca buat kalian yang lagi galau."
Unggahan itu mendapat jutaan like. Tapi juga memicu perdebatan.
Seorang psikolog terkenal menulis di Twitter:
"Saya tidak setuju dengan glorifikasi penderitaan atas nama cinta. Raga mencari Sinok selama 10 tahun? Itu bukan cinta sejati. Itu obsesi tidak sehat. Sinok dijual, disiksa, lalu mati muda? Itu tragedi, bukan romansa. Jangan jadikan penderitaan sebagai standar cinta."
Cuitan itu di-retweet puluhan ribu kali. Berbagai pendapat bermunculan.
"Setuju! Cinta tidak harus menderita!"
"Tapi cinta memang perjuangan, Bu."
"Perjuangan beda dengan penderitaan."
"Kalian belum pernah jatuh cinta sejati."
"Sinok mati sia sia. Seandainya Raga tidak kabur dari ayahnya, mungkin dia bisa selamatkan Sinok lebih cepat."
"Kamu bodoh. Baca ulang bukunya."
Perdebatan memanas.
Clarissa datang ke Rumah Senja Sinok dengan wajah cemas.
"Raga, kau lihat berita?"
Raga menggeleng. Ia hampir tidak pernah melihat televisi atau membaca berita.
Clarissa menunjukkan ponselnya. Raga membaca komentar komentar itu satu per satu. Wajahnya tidak berubah.
"Raga, kau tidak marah?"
Raga mengambil papan tulisnya.
"Tidak. Biarkan mereka berdebat. Mereka tidak tahu cerita sebenarnya. Mereka hanya membaca buku."
"Tapi komentar komentar ini bisa menyakiti perasaanmu."
"Tidak. Yang bisa menyakiti perasaanku hanyalah jika Sinok kembali ke dunia dan berkata dia tidak bahagia. Itu tidak akan terjadi. Jadi saya baik baik saja."
Clarissa menghela napas. "Kau terlalu tenang, Raga."
"Aku sudah tua. Tidak punya energi untuk marah marah."
Clarissa tersenyum. Ia menepuk pundak Raga.
Februari 2015
Seorang budayawan ternama menulis esai panjang di salah satu media nasional. Judulnya: "Senja Terakhir Untuk Sinok: Antara Cinta Sejati dan Eksploitasi Kesedihan"
Isinya:
"Saya mengapresiasi kualitas sastra dalam buku ini. Puisi puisi Raga memang menyentuh. Surat surat Sinok juga autentik. Tapi saya prihatin dengan cara publik mengonsumsi kisah ini. Seolah olah penderitaan adalah sesuatu yang indah selama ada cinta di dalamnya. Ini berbahaya. Ini bisa membuat generasi muda menganggap bahwa cinta harus menyakitkan, cinta harus mengorbankan segalanya, cinta harus tragis. Padahal, cinta yang sehat adalah cinta yang membuat kedua pihak tumbuh, berkembang, dan bahagia."
Esai itu memicu diskusi di berbagai kalangan. Ada yang setuju, ada yang tidak.
Seorang pengamat media sosial menulis:
"Buku ini viral karena sedih. Karena tragis. Karena membuat orang menangis. Itu formula yang sudah terbukti berhasil. Pasar suka kesedihan yang dikemas indah."
Tanggapan dari penggemar buku:
"Kau tidak berhak bicara seperti itu. Kau tidak tahu perjuangan Raga dan Sinok."
"Ini nyata, bukan rekayasa."
"Diam lah. Jaga mulut."
Kontroversi semakin memanas.
Raga tetap tidak ambil pusing.
Ia tetap mengajar anak anak di rumah baca. Ia tetap menemani Nenek Maryam di sore hari. Ia tetap duduk di makam Sinok setiap hari Jumat.
Suatu pagi, seorang wartawan datang ke Rumah Senja Sinok. Ia ingin wawancara Raga untuk merespons kontroversi yang terjadi.
Raga menolak.
"Pak, publik perlu mendengar langsung dari Bapak. Apakah Bapak setuju dengan kritik kritik yang dilontarkan?"
Raga mengambil papan tulis.
"Saya tidak peduli dengan kritik. Saya tidak menulis buku itu untuk publik. Saya menulis untuk Sinok. Biarkan mereka berdebat. Saya sudah terlalu tua untuk ikut ikutan."
Wartawan itu terdiam. Ia tidak menyangka jawaban Raga sesederhana itu.
"Tapi Pak..."
"Permisi. Saya harus mengajar anak anak membaca. Mereka sudah menunggu."
Raga pergi meninggalkan wartawan itu.
Clarissa yang kebetulan ada di sana menghampiri wartawan itu.
"Maaf, dia memang seperti itu. Dia tidak suka keramaian. Dia hanya ingin hidup tenang di sini. Bisa Bapak tuliskan itu di artikel Bapak."
Wartawan itu mengangguk. "Baik, Bu. Saya akan tulis sesuai fakta."
Maret 2015
Kontroversi mulai mereda.
Seperti biasa, publik cepat bosan. Ada berita baru. Ada skandal baru. Ada kasus korupsi baru. Buku "Senja Terakhir Untuk Sinok" perlahan tidak lagi menjadi topik utama di media sosial.
Tapi buku itu tetap laku. Cetakan kesepuluh. Kelima belas. Kedua puluh. Penerbit sudah tidak bisa menghitung.
Royalti yang masuk ke Rumah Senja Sinok terus bertambah. Clarissa bisa membangun sayap baru untuk rumah singgah. Bisa membeli lebih banyak buku untuk rumah baca. Bisa menggaji lebih banyak relawan.
Suatu sore, Clarissa duduk di teras bersama Raga.
"Raga, kau tahu berapa banyak orang yang terbantu berkat buku mu?"
Raga menggeleng.
"Rumah singgah kita sekarang punya tiga sayap. Bisa menampung enam puluh orang. Anak anak di rumah baca sekarang punya seribu lebih buku. Nenek Maryam punya simpanan untuk hari tuanya. Semua itu dari royalti bukumu."
Raga tersenyum.
"Bukan dari saya. Dari Sinok."
"Ya, dari Sinok."
Raga memandang ke arah laut. Langit mulai berwarna jingga. Senja akan tiba.
"Clarissa," tulis Raga.
"Ya."
"Aku kadang bertanya tanya. Apa yang akan Sinok katakan kalau dia tahu bukunya terkenal? Apa dia akan senang? Apa dia akan malu?"
Clarissa tersenyum. "Dia pasti akan tersenyum. Lalu bilang, 'Ah, masak sih, Dok? Saya kan tidak bisa nulis bagus.' Lalu dia akan malu malu."
Raga tertawa. Tawanya tanpa suara. Hanya gerakan bahu dan dada. Tapi Clarissa bisa merasakan kebahagiaan dari tawa itu.
"Raga," panggil Clarissa.
"Ya."
"Kau bahagia?"
Raga menulis lama. Ia tampak berpikir.
"Aku bahagia. Bukan karena buku laku. Bukan karena terkenal. Tapi karena warisan Sinok hidup. Di rumah ini. Di anak anak yang bisa baca. Di perempuan perempuan yang terselamatkan. Itu bahagia yang sesungguhnya."
Clarissa memeluk Raga.
"Sinok pasti bangga padamu, Raga. Sungguh."
Raga tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, menatap senja yang mulai gelap.
Di kejauhan, suara anak anak bermain di halaman rumah singgah.
"Sinok, dengar? Mereka tertawa," bisik Raga dalam hati. "Itu berkatmu. Jangan pernah ragu bahwa hidupmu berarti. Karena hidupmu telah membuat banyak orang bahagia."
BAB 29
Raga Menghilang
Rumah Senja Sinok, Marunda – 17 April 2015 – Pukul 06.00 WIB
Pagi yang Sunyi
Pagi itu berbeda.
Bukan karena cuaca. Bukan karena angin. Bukan karena ombak yang lebih keras dari biasanya. Tapi karena ketiadaan.
Biasanya, Raga sudah bangun sebelum subuh. Itu kebiasaannya sejak masih tinggal di gubuk Nenek Maryam—bangun pukul empat, duduk di teras, memandang laut yang masih gelap, dan menyesap kopi hitam tanpa gula. Sesekali ia menulis sesuatu di papan tulis kecilnya. Kadang puisi. Kadang catatan untuk dirinya sendiri. Kadang hanya coretan-coretan tidak jelas.
Tapi pagi itu, teras kosong.
Kursi bambu yang biasa Raga duduki tidak terisi. Cangkir kopi hitamnya tidak ada di meja. Papan tulis kecilnya masih tergantung di dinding kamar, tidak dibawa ke luar.
Nenek Maryam yang bangun lebih dulu—seperti biasa, jam setengah lima, tanpa perlu jam weker—meraba-raba ke arah kursi Raga. Tangannya yang keriput menyapu udara kosong.
Tidak ada.
"Nak Raga?" panggil Nenek Maryam.
Suaranya lirih, tapi cukup jelas di keheningan pagi. Tidak ada jawaban.
Nenek Maryam mengerutkan dahi. Ia berjalan ke dapur, tangannya menelusuri dinding sebagai pemandu. Dapur kosong. Tidak ada suara air mendidih untuk kopi. Tidak ada suara Raga memotong bawang untuk memasak nasi goreng.
"Kangmas Raga?" panggil Nenek Maryam lagi, kali ini dengan nada sedikit cemas.
Masih tidak ada jawaban.
Nenek Maryam berjalan ke kamar Raga. Pintunya sedikit terbuka. Ia mendorongnya perlahan.
"Raga? Kau di dalam?"
Keheningan.
Nenek Maryam masuk. Tangannya meraba-raba dipan kayu. Kosong. Tidak ada tubuh. Tidak ada kehangatan. Seprai sudah dingin sejak berjam-jam yang lalu.
Nenek Maryam berdiri di tengah kamar, matanya yang buta menatap kosong ke depan. Dadanya naik turun. Ia mencoba menenangkan diri, tapi jantungnya berdebar tidak karuan.
Ia kembali ke ruang tamu, meraba-raba meja kecil di pojok, mencari ponsel. Tangannya gemetar ketika menekan tombol. Buta, tapi ia hafal letak tombol ponsel. Clarissa yang mengajarinya dulu.
Nada sambung. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
"Nenek? Ada apa jam segini?" Suara Clarissa di ujung telepon masih mengantuk.
"Nak Clarissa, Raga tidak ada. Saya cari ke mana-mana. Tidak ketemu."
Hening sejenak. Clarissa pasti terkejut.
"Apa? Tunggu, Nenek. Saya ke sana sekarang. Jangan ke mana-mana."
Telepon ditutup.
Nenek Maryam duduk di kursi rotan. Tasbih di tangannya mulai bergerak. Subhanallah. Alhamdulillah. Allahu Akbar. Subhanallah. Alhamdulillah. Allahu Akbar.
Ia berdoa. Bukan untuk dirinya. Untuk Raga.
"Ya Allah, lindungi anak itu. Di mana pun dia berada, lindungi dia. Jangan biarkan dia celaka. Jangan biarkan dia melakukan hal bodoh."
Pukul 06.30 WIB. Setengah jam kemudian.
Nenek Maryam masih duduk di kursi rotan. Tasbihnya tidak berhenti bergerak. Mulutnya komat-kamit, membaca doa-doa yang sudah hafal di luar kepala sejak kecil.
Ia mencoba mengingat. Kapan terakhir ia mendengar suara Raga?
Bukan suara—Raga sudah tidak bersuara sejak Sinok meninggal. Tapi kehadirannya. Kapan terakhir ia merasakan kehadiran Raga di sampingnya?
Semalam. Ya, semalam. Raga membantu Nenek Maryam berjalan dari kamar mandi ke kamar tidur. Tangannya menggenggam lengan Nenek Maryam dengan lembut. Seperti biasa. Seperti setiap malam.
Tapi ada yang berbeda.
Raga menggenggam lebih lama dari biasanya. Setelah Nenek Maryam duduk di dipan, Raga masih memegang tangannya. Tidak melepaskan.
"Nak Raga, ada apa?" tanya Nenek Maryam.
Raga tidak menjawab. Ia tidak bisa. Tapi genggamannya berbicara.
"Kau sedih, Nak?"
Raga menekan telapak tangan Nenek Maryam dua kali. Ya.
"Karena apa?"
Raga menulis sesuatu di telapak tangan Nenek Maryam dengan jarinya. Huruf demi huruf. Nenek Maryam meraba-raba, mencoba memahami.
S-I-N-O-K.
"Kau rindu Sinok?"
Tekanan dua kali. Ya.
"Saya juga rindu, Nak. Setiap hari. Setiap malam."
Raga menulis lagi di telapak tangan Nenek Maryam.
K-A-P-A-N S-A-Y-A B-I-S-A B-E-R-T-E-M-U S-I-N-O-K L-A-G-I.
Nenek Maryam terdiam. Pertanyaan itu tidak bisa dijawab. Tidak ada yang tahu kapan ajal akan menjemput.
"Suatu hari nanti, Nak. Kita semua akan bertemu di surga. Sinok sedang menunggu kita di sana."
Raga tidak menulis lagi. Ia hanya memegang tangan Nenek Maryam, lalu mencium punggung tangan itu. Seperti anak yang mencium tangan ibunya.
Selamat malam, Nenek.
"Selamat malam, Nak."
Raga keluar dari kamar. Nenek Maryam mendengar langkah kakinya perlahan menjauh. Lalu pintu kamar Raga ditutup pelan.
Itu terakhir kalinya Nenek Maryam merasakan kehadiran Raga.
Pukul 07.00 WIB.
Clarissa tiba di Rumah Senja Sinok. Wajahnya pucat. Rambutnya masih acak-acakan—ia tidak sempat menyisir. Baju yang ia kenakan adalah baju tidurnya, dengan jaket tebal yang ia raih asal-asalan dari lemari.
Ia memarkir mobil di halaman, langsung berlari ke teras.
"Nenek! Ada kabar?"
Nenek Maryam masih duduk di kursi rotan. Wajahnya tenang, tapi tangannya yang memegang tasbih sedikit gemetar.
"Belum ada, Nak. Saya sudah cari ke mana-mana. Tapi kan saya buta. Saya tidak bisa lihat. Saya cuma bisa raba."
Clarissa masuk ke dalam rumah. Ia memeriksa setiap sudut. Kamar Raga. Dapur. Ruang belajar. Halaman belakang. Kamar mandi. Tidak ada.
"Sejak kapan dia tidak ada?" tanya Clarissa sambil kembali ke ruang tamu.
"Saya bangun jam setengah lima. Sudah tidak ada. Mungkin dia pergi sejak malam."
"Pergi ke mana?"
Nenek Maryam menghela napas. "Saya tidak tahu, Nak. Saya hanya buta. Tidak bisa melihat. Tidak bisa mengawasi."
Clarissa mencoba menghubungi ponsel Raga. Nada sambung. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Empat kali. Tidak diangkat.
Dicoba lagi. Tidak diangkat.
"Mungkin dia ke makam Sinok," kata Clarissa. "Saya cek ke sana. Nenek tunggu di sini."
Pencarian di Makam dan Sekitar Marunda
Harapan yang Perlahan Pudar
Pukul 07.15 WIB.
Clarissa berlari ke pemakaman nelayan. Jaraknya hanya sekitar seratus meter dari Rumah Senja Sinok, tapi hari ini seratus meter itu terasa seperti seribu.
Ia melewati gang sempit yang becek. Bau ikan asin dan air laut menyengat di hidung. Beberapa nelayan sudah bersiap-siap melaut, membawa perahu mereka ke dermaga. Anak-anak berlarian dengan seragam sekolah.
"Bu Dokter, pagi!" sapa seorang anak.
Clarissa tidak menjawab. Ia terus berlari.
Pemakaman itu terletak di belakang pohon waru besar. Tanahnya kering dan berpasir, ditumbuhi rumput ilalang yang tidak pernah mati meskipun kemarau panjang. Batu-batu nisan sederhana tersusun tidak beraturan, beberapa sudah miring dan ditumbuhi lumut.
Makam Sinok berada di pojok timur, di bawah pohon waru yang paling rindang. Batu nisannya granit hitam, dengan ukiran huruf emas yang masih terlihat jelas meskipun sudah tiga tahun.
SITI NUR KHODIJAH "SINOK"
1979 - 2012
Clarissa mendekati makam itu. Langkahnya pelan. Dadanya berdebar kencang.
Makam Sinok sepi. Rumput di sekitarnya masih basah oleh embun. Tidak ada jejak kaki baru. Tidak ada bunga segar yang biasanya diletakkan Raga setiap kali datang.
"Raga!" teriak Clarissa.
Hanya angin yang menjawab. Angin pagi yang dingin, membawa bau garam dan pasir.
"Raga! Kau di sini?"
Tidak ada.
Clarissa berjalan mengelilingi pemakaman. Ia memeriksa setiap sudut. Setiap batu nisan. Setiap pohon. Tidak ada Raga.
Ia kembali ke Rumah Senja Sinok dengan langkah gontai.
Pukul 08.00 WIB.
Clarissa memanggil beberapa warga untuk membantu mencari. Ada Bang Salim—nelayan tua yang dulu mengantarkan Raga ke Pulau Pramuka. Ada Karim—mantan anak buah Bahar yang sekarang menjadi relawan di rumah singgah. Ada beberapa pemuda kampung yang biasa membantu Raga di rumah baca.
"Kita bagi tim," kata Clarissa. "Tim satu cari ke arah pantai timur. Tim dua cari ke arah dermaga. Tim tiga cari ke arah hutan kecil di belakang kampung. Tim empat cari ke pulau-pulau sekitar."
"Ke pulau?" Bang Salim mengerutkan dahi. "Pakai apa?"
"Saya sewa perahu. Bang Salim yang bawa."
"Berapa banyak pulau yang harus dicari?"
"Sebanyak yang bisa. Mulai dari Pulau Pramuka. Dulu Raga sering ke sana."
Bang Salim mengangguk. "Baik. Tapi Bu Dokter, kalau dia benar-benar ke pulau, dia pasti pakai perahu. Perahunya masih di dermaga?"
Clarissa terkejut. Ia belum memeriksa dermaga.
Mereka bergegas ke dermaga kecil di belakang rumah singgah. Perahu kayu milik Raga masih tambat di sana. Warnanya biru pudar, mesin tempelnya sudah tua, tapi masih berfungsi.
"Perahunya masih di sini," kata Bang Salim. "Berarti dia tidak ke pulau. Atau..."
"Atau?"
"Atau dia naik perahu orang lain."
Clarissa menghela napas. "Cari saja dulu. Mulai dari yang dekat-dekat."
Pukul 10.00 WIB.
Pencarian belum membuahkan hasil. Tim satu tidak menemukan apa-apa di pantai timur. Tim dua tidak menemukan apa-apa di dermaga. Tim tiga masih di hutan kecil—belum ada kabar.
Clarissa kembali ke Rumah Senja Sinok. Ia duduk di teras, memegang ponselnya, berharap ada panggilan masuk. Tidak ada.
"Nak Clarissa," panggil Nenek Maryam dari dalam.
"Ya, Nenek?"
"Saya sudah buatkan teh. Masuk. Istirahat sebentar."
Clarissa masuk. Ia duduk di kursi rotan di samping Nenek Maryam. Teh hangat sudah tersaji di meja. Clarissa memegang cangkir itu, tapi tidak meminumnya.
"Nenek," panggil Clarissa.
"Ya, Nak."
"Semalam, sebelum tidur, apa Raga menunjukkan perilaku aneh?"
Nenek Maryam terdiam. Ia mengingat-ingat.
"Dia... lebih lama memegang tanganku dari biasanya. Lalu dia menulis di telapak tanganku."
"Menulis apa?"
"Dia tanya, kapan dia bisa bertemu Sinok lagi."
Clarissa terdiam. Jantungnya berdebar tidak karuan.
"Nenek, apa Raga bilang sesuatu tentang... tentang keinginan untuk mati?"
Nenek Maryam menghela napas panjang. "Tidak secara langsung, Nak. Tapi saya bisa merasakan. Dia sudah lelah. Dua puluh enam tahun menunggu Sinok. Setahun menjaganya sampai akhir. Dua tahun hidup tanpa suara. Tubuhnya juga semakin lemah. Kadang dia mengeluh sakit di dadanya. Tapi tidak pernah mau periksa."
"Kenapa tidak bilang ke saya?"
"Dia bilang, 'Clarissa sudah cukup repot dengan rumah singgah. Saya tidak mau merepotkannya lagi.'"
Clarissa menangis. Ia menyesal tidak lebih memperhatikan Raga. Ia sibuk dengan rumah singgah. Sibuk dengan anak-anak. Sibuk dengan perempuan-perempuan korban kekerasan. Ia lupa bahwa Raga juga butuh perhatian.
"Ini salah saya, Nenek."
"Bukan salah siapa-siapa, Nak. Ini takdir. Raga sudah memilih jalannya."
"Tapi Nenek... dia tidak punya hak memilih mati. Dia punya tanggung jawab. Kepada Nenek. Kepada anak-anak. Kepada saya."
Nenek Maryam memegang tangan Clarissa. Tangannya keriput, tapi hangat.
"Kadang, Nak, orang yang paling bertanggung jawab justru yang paling lelah. Mereka memberi terus tanpa pernah menerima. Dan suatu hari, mereka kehabisan energi. Mereka tidak bisa memberi lagi. Mereka hanya ingin beristirahat."
Clarissa tidak menjawab. Ia hanya menangis.
Kamar Raga dan Surat-Surat Perpisahan
Pengakuan Terakhir Seorang Pujangga Bisu
Pukul 10.30 WIB.
Clarissa masuk ke kamar Raga. Ia belum pernah masuk ke sini sendirian tanpa Raga di sampingnya. Kamar itu terasa berbeda. Lebih sunyi. Lebih dingin. Lebih kosong.
Dipan kayu dengan kasur tipis. Bantal yang sudah pipih karena terlalu sering dipakai. Selimut katun tipis berwarna hijau tua. Di dinding, papan lantai tua dengan tulisan arang Sinok: AKU RINDU KANGMAS.
Clarissa menatap papan itu. Air matanya jatuh lagi.
"Sinok, tolong jaga Raga di mana pun dia sekarang," bisiknya.
Ia berjalan ke meja kayu di dekat jendela. Meja itu sederhana—hanya papan bekas yang dihaluskan, dengan empat kaki tidak sama panjang. Di atas meja, ada buku puisi Sapardi Djoko Damono, pensil, penghapus, dan beberapa lembar kertas berserakan.
Clarissa membuka laci meja.
Di dalamnya, ada beberapa lembar kertas yang dilipat rapi. Surat. Dengan tulisan tangan Raga yang rapi—tulisan yang sudah bertahun-tahun ia kenal, sejak pertama kali Raga menulis di papan tulis untuk berkomunikasi dengannya.
Clarissa mengambil surat pertama. Tangannya gemetar.
Surat Pertama: Untuk Clarissa
"Untuk Clarissa,
Maaf, saya pergi tanpa pamit. Saya tidak mau membuatmu repot. Saya juga tidak mau kau cegah.
Sudah waktunya saya menyusul Sinok.
Bukan karena saya tidak bahagia di sini. Saya bahagia. Rumah singgah ini adalah karya terbaik dalam hidup saya. Melihat perempuan-perempuan yang terselamatkan, anak-anak yang bisa membaca—itu semua membuat saya merasa berguna. Mungkin untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya merasa benar-benar berguna.
Tapi Claris, tubuh saya sudah tidak kuat. Dadaku sering sakit akhir-akhir ini. Jantungku seperti tidak mau bekerja sama. Aku tidak bilang ke siapa pun karena aku tidak mau kalian khawatir. Tapi malam-malam terakhir, sakitnya semakin sering. Semakin menusuk. Seperti ada yang meremas-remas jantungku perlahan.
Aku sudah tidak muda lagi. Dan luka-luka lama—dari pukulan Bahar dulu, dari jatuh di dermaga, dari kelelahan mencari Sinok selama sepuluh tahun—semuanya mulai terasa.
Aku tahu kau akan bilang, 'Raga, jangan egois. Kau masih punya Nenek Maryam. Kau masih punya anak-anak di rumah baca. Kau masih berguna.'
Kau benar. Tapi Claris, aku sudah cukup berguna. Dua puluh enam tahun aku menunggu Sinok. Setahun aku menjaganya sampai akhir hayatnya. Tiga tahun aku mengajar anak-anak membaca dan merawat ibunya.
Itu sudah cukup, bukan?
Sekarang giliran aku beristirahat.
Aku titipkan Nenek Maryam padamu. Jangan biarkan dia sendirian. Dia sudah seperti ibu bagiku. Selama dua puluh tujuh tahun, dia merawatku seperti anak kandungnya sendiri. Bahkan ketika aku tidak bisa bicara, dia tetap berbicara padaku. Bahkan ketika aku hanya bisa menulis di telapak tangannya, dia tetap mengerti.
Jaga dia, Claris. Sampai akhir hayatnya. Itu pesan terakhirku.
Aku titipkan rumah baca padamu. Jangan sampai mati. Anak-anak butuh tempat belajar. Bukan hanya untuk membaca buku, tapi untuk belajar bahwa hidup ini masih punya harapan. Aku tidak ingin mereka tumbuh seperti aku dulu—putus asa, kehilangan arah, hampir menyerah.
Kau bisa mencari guru penggantiku. Atau kau yang mengajar sendiri. Kau pintar. Kau bisa.
Dan tolong sampaikan ke anak-anak: Pak Raga sayang mereka. Pak Raga tidak pernah menyesal mengajari mereka membaca. Bahkan saat-saat paling gelap dalam hidup Pak Raga, mereka adalah cahaya kecil yang membuat Pak Raga terus bertahan.
Claris, aku tidak tahu bagaimana cara berterima kasih padamu. Kau menyelamatkan Sinok. Kau menyelamatkanku. Kau mendirikan rumah singgah ini. Kau menjadi sahabat bagi kami berdua.
Kadang aku bertanya-tanya, apa yang membuatmu begitu baik pada orang asing seperti kami. Apa karena kau ingin memperbaiki kesalahan ayahmu? Atau karena kau memang punya hati yang besar?
Aku tidak tahu jawabannya. Tapi aku tahu satu hal: dunia butuh lebih banyak orang sepertimu.
Jangan sedih untukku, Claris. Aku akan bertemu Sinok. Kami akan naik ke genteng bocor di surga, dan aku akan membacakan puisi untuknya. Selamanya. Tidak ada habisnya. Tidak ada yang memisahkan.
Dan suatu hari nanti, kita akan bertemu lagi. Di sana. Di tempat yang tidak ada air mata, tidak ada kesedihan, tidak ada perpisahan.
Sampai jumpa, sahabatku.
Raga
PS: Buku puisiku yang masih setengah jadi ada di lemari. Selesaikan jika kau mau. Atau biarkan saja tidak selesai. Kadang hal yang tidak selesai lebih indah daripada yang selesai dengan paksa."
Clarissa tidak bisa menahan tangisnya. Surat itu jatuh dari tangannya. Ia memeluk surat itu, menangis tersedu-sedu di kamar Raga.
"Raga, bodoh!" teriaknya. "Kau tidak boleh pergi! Kau janji akan jaga Nenek Maryam! Kau janji akan terus mengajar anak-anak! Kau janji..."
Tapi Raga sudah tidak ada.
Surat Kedua: Untuk Nenek Maryam
Clarissa menyeka air matanya. Ia mengambil surat kedua. Tangannya masih gemetar.
"Untuk Nenek Maryam,
Maaf, Nenek. Raga pergi duluan. Raga sudah tidak kuat.
Nenek, terima kasih sudah menerima saya di gubuk Nenek dua puluh tujuh tahun lalu. Waktu itu saya anak muda bodoh yang lari dari rumah. Wajah saya berlumuran darah. Saya hampir mati.
Tapi Nenek tidak bertanya siapa saya. Nenek tidak bertanya dari mana saya. Nenek tidak bertanya apakah saya punya uang untuk membayar. Nenek hanya menyuruh Sinok membawa saya masuk, membersihkan luka saya, dan memberi saya makan.
Nenek mengajarkan saya bahwa kebaikan tidak perlu alasan. Bahwa menolong orang lain adalah kewajiban, bukan pilihan. Bahwa di dunia yang penuh dengan kekejaman, masih ada tempat yang aman. Masih ada orang yang mau berbagi meskipun mereka sendiri tidak punya.
Nenek juga mengajarkan saya arti ketulusan. Ketika Sinok diculik Bahar, Nenek tidak marah pada saya. Nenek tidak menyalahkan saya. Nenek hanya bilang, 'Kejar anak saya. Selamatkan dia. Jangan biarkan Bahar membawanya ke tempat gelap.'
Dan ketika saya gagal menyelamatkan Sinok, Nenek tidak marah. Nenek hanya bilang, 'Usaha saja tidak cukup. Kau harus berhasil lain kali.'
Nenek, saya sudah berusaha. Saya sudah mencari Sinok selama sepuluh tahun. Saya sudah membangun rumah baca untuknya. Saya sudah menulis puisi untuknya. Saya sudah menjaganya sampai akhir hayatnya.
Apakah itu cukup, Nenek? Apakah Nenek bangga pada saya?
Saya tidak tahu. Tapi saya harap Nenek bangga. Karena tanpa Nenek, saya tidak akan menjadi seperti sekarang.
Saya titipkan Nenek pada Clarissa. Dia baik. Dia akan merawat Nenek. Mungkin tidak sebaik saya merawat Nenek, tapi dia akan berusaha. Percayalah.
Nenek, kalau Nenek nanti menyusul Sinok—mudah-mudahan masih lama, Nenek masih sehat—tolong sampaikan pada Sinok bahwa saya mencintainya. Sampai mati. Sampai kapan pun.
Dan tolong katakan pada Sinok bahwa saya tidak menyesal. Tidak menyesal mencintainya. Tidak menyesal menunggunya. Tidak menyesal mati untuknya.
Sampai jumpa, Nenek. Doakan saya.
Raga
PS: Nenek, jangan sedih. Saya sudah bahagia. Bersama Sinok."
Clarissa membaca surat itu sambil menangis. Ia membayangkan Nenek Maryam yang buta, meraba-raba surat ini, meminta Clarissa membacakannya untuknya.
Nenek Maryam pasti akan menangis. Tapi ia juga pasti akan tersenyum. Karena Raga, anak yang ia rawat seperti anak kandung, akhirnya pulang. Pulang ke sisi Sinok. Pulang ke tempat yang selama ini ia rindukan.
Surat Ketiga: Untuk Anak-Anak di Rumah Baca
Surat ketiga lebih pendek. Hanya satu halaman. Tulisan Raga lebih besar dari biasanya, seolah ia ingin memastikan anak-anak bisa membaca dengan mudah.
"Untuk anak-anak di Rumah Baca Marunda,
Pak Raga pamit.
Pak Raga harus pergi. Bukan ke Jakarta, bukan ke pulau lain, tapi ke tempat yang jauh. Ke tempat yang tidak bisa kalian kunjungi, setidaknya untuk sementara.
Tapi sebelum pergi, Pak Raga ingin kalian tahu sesuatu.
Kalian adalah anak-anak hebat. Kalian belajar membaca ketika banyak orang dewasa di sekitar kalian tidak bisa membaca. Kalian tidak menyerah meskipun kadang kalian merasa bodoh. Kalian terus berusaha meskipun buku-buku di rumah baca tidak sebanyak di perpustakaan kota.
Pak Raga bangga pada kalian.
Teruslah belajar. Teruslah membaca. Teruslah menulis. Ilmu tidak akan pernah menghianati kalian. Ilmu adalah satu-satunya hal yang tidak bisa diambil oleh siapa pun. Bukan oleh orang tua yang suka memukul. Bukan oleh preman yang suka merampas. Bukan oleh Bahar yang jahat.
Ilmu akan membuat kalian bebas.
Pak Raga sayang kalian semua. Setiap pagi, ketika kalian datang ke rumah baca dengan wajah yang masih mengantuk, Pak Raga sudah tersenyum dalam hati. Setiap sore, ketika kalian berhasil membaca satu kata baru, Pak Raga sudah bertepuk tangan dalam hati. Setiap malam, ketika kalian pulang ke rumah masing-masing, Pak Raga sudah berdoa untuk kalian dalam hati.
Pak Raga tidak bisa bicara. Tapi hati Pak Raga selalu bicara untuk kalian.
Jangan sedih, ya. Pak Raga pergi bukan karena kalian tidak cukup baik. Pak Raga pergi karena sudah waktunya. Karena Pak Raga sudah sangat lelah. Karena Pak Raga ingin beristirahat.
Doakan Pak Raga.
Sampai jumpa di surga, anak-anak. Pak Raga akan menunggumu di sana. Dan Pak Raga akan membacakan puisi untuk kalian. Banyak puisi. Puisi tentang laut, tentang senja, tentang cinta yang tidak pernah mati.
Terima kasih untuk semuanya.
Pak Raga
PS: Jangan lupa huruf A sampai Z, ya. Jangan sampai lupa. Kalau lupa, tanya Bu Dokter Clarissa. Dia bisa mengajar kalian. Dia pintar. Mungkin lebih pintar dari Pak Raga.
PPS: Tolong sampaikan ke Usman bahwa jawaban dari pertanyaannya dulu adalah: 'Karena Sinok mengajarkan Pak Raga bahwa cinta itu abadi. Meskipun Pak Raga kehilangan suara, cinta itu tidak pernah hilang.'"
Clarissa tersenyum meskipun air matanya masih mengalir. Usman. Anak kecil yang dulu bertanya pada Raga kenapa ia tidak bisa bicara. Raga masih ingat. Raga masih ingat pertanyaan itu setelah bertahun-tahun.
Surat Keempat: Untuk Sinok
Surat terakhir. Hanya satu kalimat.
"Sinok, aku datang sekarang. Jangan bilang aku terlambat."
Clarissa memegang surat itu. Kertasnya sedikit basah—mungkin karena air mata Raga yang jatuh saat menulisnya. Atau mungkin karena embun pagi. Clarissa tidak tahu.
Ia meletakkan surat itu di dadanya. Seolah ingin merasakan detak jantung Raga yang terakhir.
"Raga, kau gila," bisik Clarissa. "Benar-benar gila. Meninggalkan semua ini hanya untuk menyusul perempuan yang sudah tiga tahun meninggal."
Tapi di dalam hatinya, Clarissa mengerti.
Ia juga akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi Raga.
Pencarian Berlanjut – Pulau Pramuka dan Keputusasaan
Ketika Harapan Mulai Pudar
Pukul 11.00 WIB.
Clarissa keluar dari kamar Raga. Surat-surat itu ia simpan di dalam map plastik, aman di dalam tasnya. Nenek Maryam masih duduk di ruang tamu, memegang tasbih, bibirnya komat-kamit.
"Nak Clarissa, kau sudah baca suratnya?" tanya Nenek Maryam.
Clarissa terkejut. "Nenek tahu ada surat?"
"Saya duga. Raga orang yang teratur. Kalau dia mau pergi, dia pasti tinggalkan pesan."
Clarissa duduk di samping Nenek Maryam. Ia memegang tangan keriput itu.
"Nenek, Raga bilang dia pergi menyusul Sinok. Dia titip Nenek pada saya."
Nenek Maryam menghela napas. "Sudah kuduga. Anak itu tidak bisa hidup tanpa Sinok. Selama tiga tahun ini, dia hanya bertahan karena rasa tanggung jawab. Sekarang, mungkin dia merasa tanggung jawabnya sudah selesai."
"Tapi Nenek..."
"Sudah, Nak. Biarkan dia pergi. Dia sudah cukup berjuang."
Clarissa tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya memeluk Nenek Maryam.
Pukul 13.00 WIB.
Tim pencarian kembali tanpa hasil. Bang Salim yang mencari ke Pulau Pramuka juga kembali dengan tangan hampa.
"Tidak ada, Bu Dokter," kata Bang Salim. "Rumah Bahar kosong. Kami cari ke seluruh pulau. Tidak ada tanda-tanda Raga."
"Bagaimana dengan pulau lain?"
"Belum sempat. Hari sudah siang. Ombak mulai besar. Tidak aman."
Clarissa menghela napas. "Istirahat dulu, Bang Salim. Nanti sore kita lanjutkan."
Bang Salim mengangguk. Ia duduk di teras, mengambil rokok dari saku bajunya, lalu menghisapnya dalam-dalam.
"Bu Dokter," panggil Bang Salim.
"Ya?"
"Maaf, saya mau bilang jujur."
"Bilang saja."
"Menurut saya, Raga tidak akan pergi ke pulau. Dia pasti masih di Marunda. Di suatu tempat yang dekat dengan Sinok."
"Mungkin dia di makam?"
"Kami sudah cek makam. Tidak ada."
"Lalu di mana?"
Bang Salim berpikir keras. "Dulu, waktu Raga masih muda dan masih mencari Sinok, dia sering duduk di genteng bekas gudang ikan. Tempat yang dulu jadi rumah bacanya sebelum pindah ke sini."
Clarissa terkejut. "Genteng bekas gudang ikan? Yang di tepi pantai itu?"
"Iya. Rumah baca yang lama. Sekarang sudah tidak dipakai lagi. Mungkin Raga ke sana."
Clarissa segera berdiri. "Aku cek ke sana. Bang Salim, tolong tunggu di sini. Jaga Nenek Maryam."
Bang Salim mengangguk.
Pukul 13.30 WIB.
Clarissa berjalan ke bekas rumah baca Raga. Tempat itu sekarang sudah tidak terawat. Dinding bambunya mulai roboh, atap sengnya bolong di beberapa tempat, dan lantai kayunya sudah banyak yang patah. Tapi Clarissa bisa membayangkan bagaimana tempat ini dulu—hangat, ramai dengan anak-anak, penuh dengan buku-buku bekas di rak kayu sederhana.
Clarissa masuk ke dalam. Sepi. Tidak ada Raga.
Ia memeriksa setiap sudut. Tidak ada.
Ia keluar. Matanya tertuju pada genteng di samping bangunan. Genteng itu miring, tidak rata, tapi masih bisa dinaiki. Dulu, Sinok dan Raga sering duduk di genteng itu. Melihat laut. Membaca puisi.
Clarissa mencoba menaiki genteng itu. Susah, karena tangganya sudah lapuk. Tapi ia memaksa.
Setelah sampai di atas, Clarissa melihat ke sekeliling.
Tidak ada Raga.
Hanya laut lepas. Ombak yang datang dan pergi. Burung camar yang beterbangan. Langit yang mulai berwarna jingga.
Clarissa duduk di genteng itu. Ia menangis.
"Raga, di mana kau?"
Tidak ada yang menjawab.
Pukul 15.00 WIB.
Clarissa kembali ke Rumah Senja Sinok. Kepalanya pusing. Matanya sembab. Badannya lemas.
Ia duduk di teras. Tidak kuat lagi berdiri.
Nenek Maryam berjalan ke arahnya, meraba-raba, lalu duduk di sampingnya.
"Belum ketemu, Nak?"
"Belum, Nenek. Saya sudah cari ke mana-mana. Bekas rumah baca, dermaga, pantai timur, pantai barat, makam. Tidak ada."
"Kau sudah cek ke Pulau Pramuka?"
"Bang Salim yang cek. Tidak ada."
"Kau sudah cek ke rumah gubuk saya yang dulu?"
Clarissa terkejut. "Belum."
"Ke sanalah. Mungkin Raga di sana."
Clarissa berdiri. "Saya ke sana sekarang."
Pukul 15.30 WIB.
Gubuk Nenek Maryam sudah tidak layak huni. Dindingnya rubuh di beberapa sisi. Atapnya hampir seluruhnya bolong. Pintunya hanya tinggal bingkai.
Tapi ketika Clarissa mendekat, ia melihat sesuatu.
Bunga.
Setangkai bunga mawar putih, diletakkan di ambang pintu.
Clarissa mengambil bunga itu. Masih segar. Masih berembun. Berarti baru diletakkan hari ini.
"Raga pernah ke sini," bisik Clarissa.
Ia masuk ke dalam gubuk. Sepi. Tidak ada Raga.
Tapi di lantai bambu, ada sesuatu yang ditulis dengan kapur.
Clarissa mendekat. Ia membaca.
"SINOK, AKU INGAT PERTAMA KALI KITA BERTEMU DI SINI. KAU MENOLONGKU SAAT AKU HAMPIR MATI. SEKARANG, AKU AKAN MATI DI SINI. DI TEMPAT KITA DULU. DI SAMPINGMU."
Clarissa menangis. Ia meraba tulisan itu dengan jarinya.
"Raga, kau di mana?"
Ia keluar dari gubuk. Matanya mencari ke sekeliling.
Tidak ada.
Penemuan di Makam Sinok
Senja Terakhir
Pukul 17.00 WIB.
Clarissa kehabisan akal. Ia sudah mencari ke semua tempat yang ia tahu. Tidak ada hasil.
Ia duduk di teras Rumah Senja Sinok, lelah, putus asa, hampir menyerah.
Matahari mulai condong ke barat. Langit berubah dari biru menjadi jingga. Senja akan tiba. Senja yang sama seperti dulu, ketika Sinok dan Raga pertama kali duduk di atas genteng bocor.
Clarissa memandang senja itu. Matanya kosong.
"Sinok, tolong tunjukkan di mana Raga," bisiknya. "Aku tidak kuat lagi mencari."
Tiba-tiba, seorang anak kecil mendekat.
"Bu Dokter," panggil anak itu.
Clarissa menoleh. Usman. Anak yang dulu bertanya pada Raga kenapa ia tidak bisa bicara. Sekarang Usman sudah berusia sekitar sembilan atau sepuluh tahun. Wajahnya masih bulat seperti dulu, tapi matanya lebih tajam.
"Ya, Usman?"
"Pak Raga di makam Bu Sinok."
Clarissa terkejut. "Kamu lihat dia?"
"Tadi siang. Saya lewat. Pak Raga sedang duduk di samping makam. Saya panggil, tidak jawab. Saya kira beliau tidur."
"Tidur? Di makam?"
"Iya. Saya dekati, tapi beliau tidak bergerak. Saya takut. Saya lari."
Clarissa jantungnya berdebar kencang. Ia berlari sekencang mungkin menuju pemakaman nelayan. Kaki terasa ringan meskipun lelah. Udara dingin menyengat di wajah.
Pukul 17.15 WIB.
Clarissa sampai di makam Sinok.
Dan di sanalah ia melihat Raga.
Raga membungkuk di depan pusara Sinok. Kedua lengannya melingkari batu nisan granit hitam itu. Wajahnya menempel di batu, matanya terpejam, bibirnya sedikit terbuka. Tubuhnya sudah kaku.
Di pangkuannya, ada sebuah buku. Buku puisi. Buku puisi yang ia tulis untuk Sinok. Halaman terakhir terbuka, dengan tulisan tangan Raga:
"Sinok, ini puisi terakhir untukmu. Maaf, tidak terlalu indah. Tapi aku menulisnya dengan sisa-sisa hatiku yang masih hidup."
Clarissa tidak berani mendekat. Ia sudah bisa menebak apa yang terjadi. Tapi ia harus memastikan.
"Raga," bisik Clarissa.
Tidak ada gerakan.
"Raga!" teriaknya.
Masih tidak ada.
Clarissa berlutut di samping Raga. Ia meraba nadi di leher Raga. Dingin. Tidak berdetak.
Ia memeriksa pernapasan dengan meletakkan cermin kecil di depan mulut Raga. Tidak ada embun. Tidak ada napas.
Raga sudah meninggal.
Clarissa tidak bisa menahan tangisnya lagi. Ia menjerit. Ia memeluk tubuh Raga yang sudah dingin.
"Raga! Raga, kau tidak boleh! Kau janji akan jaga Nenek Maryam! Kau janji tidak akan pergi! Kau egois, Raga! Kau egois!"
Ia memukul-mukul dada Raga, seperti anak kecil yang marah. Tapi Raga tidak bergerak. Raga tidak merespons. Raga sudah pergi.
"Kenapa kau tinggalkan aku, Raga? Kenapa? Aku sudah kehilangan Sinok. Sekarang aku kehilangan kau. Siapa lagi yang akan aku ajak bicara? Siapa lagi yang akan aku andalkan? Raga... Raga..."
Clarissa menangis di bahu Raga. Tubuh Raga sudah dingin, tapi Clarissa tidak peduli. Ia memeluknya erat-erat, seperti orang yang takut kehilangan.
Dari kejauhan, senja semakin merah. Jingga keemasan di ufuk barat. Burung camar beterbangan di atas laut, seolah ikut menyaksikan perpisahan terakhir.
Pukul 17.30 WIB.
Beberapa warga yang mendengar teriakan Clarissa datang ke pemakaman. Ada Bang Salim, Karim, dan beberapa pemuda kampung.
"Mungkin dia sudah meninggal sejak subuh," kata Bang Salim sambil memeriksa tubuh Raga. "Sudah kaku. Dingin."
"Patah hati," kata seorang warga tua. "Dia mati karena patah hati."
Clarissa tidak membantah. Ia tidak peduli dengan diagnosis medis. Yang ia tahu, Raga sudah tidak ada. Dan tidak ada yang bisa mengembalikannya.
Bang Salim mengangkat tubuh Raga dengan hati-hati. Karim membantu. Mereka membawa Raga ke Rumah Senja Sinok.
Clarissa mengikuti dari belakang. Langkahnya pelan, tidak tergesa. Sesekali ia menoleh ke belakang, menatap makam Sinok yang mulai gelap ditelan senja.
"Sinok, jaga Raga di sana," bisik Clarissa. "Dia sudah lama menunggumu. Jangan biarkan dia menunggu lebih lama lagi."
Pemakaman dan Perpisahan
Dua Pusara Berdampingan
Pukul 18.30 WIB.
Jenazah Raga dimandikan dan dikafani di Rumah Senja Sinok.
Nenek Maryam duduk di samping jenazah, memegang tasbih, berdoa tanpa henti. Matanya buta, tapi air matanya mengalir deras.
"Nak Raga," bisik Nenek Maryam. "Kau anak baik. Kau sudah merawat saya seperti anak kandung. Kau sudah menjaga Sinok sampai akhir. Kau sudah mengajar anak-anak membaca. Kau sudah menulis puisi-puisi indah. Kau sudah cukup berjuang."
Ia memegang tangan jenazah Raga yang sudah dingin.
"Sekarang kau istirahatlah. Bertemu dengan Sinok. Bacakan puisi untuknya. Saya yakin dia sudah menunggumu di pintu surga."
Clarissa berdiri di pojok ruangan, memandang jenazah Raga. Wajah Raga tenang. Matanya terpejam. Mulutnya sedikit terbuka, seolah sedang berbisik sesuatu.
"Selamat jalan, sahabatku," bisik Clarissa.
Pukul 20.00 WIB.
Clarissa mengurus pemakaman Raga. Ia memutuskan untuk memakamkan Raga di samping Sinok. Dua pusara berdampingan. Batu nisan Sinok sudah ada. Batu nisan Raga akan dibuat besok.
Pemakaman dilangsungkan secara sederhana. Hanya warga sekitar, anak-anak rumah baca, dan beberapa relawan. Tidak ada pejabat. Tidak ada kerumunan. Hanya orang-orang yang benar-benar mencintai Raga.
Jenazah Raga diturunkan ke liang lahat. Tanah mulai ditimbun. Sekop demi sekop. Pasir basah berwarna coklat jatuh ke atas kafan putih.
Usman, anak kecil yang menemukan Raga di makam, menangis tersedu-sedu.
"Pak Raga... Pak Raga... saya belum bisa baca lancar... Pak Raga janji akan ajar saya sampai bisa..."
Seorang ibu memeluk Usman. "Diam, Nak. Pak Raga sudah pergi. Doakan saja."
Clarissa berdiri di samping makam. Ia tidak menangis lagi. Air matanya habis. Yang tersisa hanya rasa syukur yang dalam.
"Raga, kau mengajarkanku bahwa cinta itu tidak perlu sempurna. Cinta itu hanya perlu tulus. Dan kau tulus. Sepenuh hati. Sampai mati."
Ia meletakkan setangkai bunga mawar putih di atas pusara Raga.
"Selamat jalan, Pujangga Bisu. Karya-karyamu akan hidup selamanya."
Pukul 21.00 WIB.
Clarissa duduk di antara dua pusara itu—Sinok di kiri, Raga di kanan.
Malam dingin. Angin laut bertiup sejuk. Bintang-bintang bertaburan di langit, jutaan titik cahaya yang seolah ikut berduka.
"Sinok, Raga sekarang bersamamu," bisik Clarissa. "Jaga dia di sana. Dia sudah lama menunggumu. Tiga tahun. Bukan waktu yang sebentar."
Ia menatap langit. Bulan sabit tipis menggantung di ufuk barat.
"Raga, kau pernah bilang, 'Senja tidak pernah sama dua kali.' Dan kau benar. Senja hari ini berbeda. Lebih sepi. Lebih gelap. Mungkin karena kau tidak di sini untuk melihatnya."
Clarissa menunduk. Air matanya jatuh ke tanah.
"Tapi aku akan terus menjaga rumah singgah ini, Raga. Aku akan terus mengajar anak-anak membaca. Aku akan terus merawat Nenek Maryam. Itu janjiku padamu. Tidak akan aku ingkari."
Ia berdiri. Kaki terasa berat.
"Sampai jumpa, Raga. Sampai jumpa, Sinok. Kalian akan selalu kuingat."
Clarissa berjalan perlahan meninggalkan makam. Langkahnya pelan, tidak tergesa. Sesekali ia menoleh ke belakang, menatap dua pusara yang berdampingan.
Di batu nisan Sinok: *Siti Nur Khodijah "Sinok", 1979-2012*
Di batu nisan Raga: *Rangga Ardiansyah "Raga", 1977-2015*
Di bawah kedua nama itu, Nenek Maryam meminta untuk menambahkan satu kalimat:
"Mereka yang terpisah 26 tahun, kini bersatu selamanya."
Clarissa tiba di Rumah Senja Sinok. Nenek Maryam masih duduk di ruang tamu, menunggu.
"Sudah dimakamkan, Nak?" tanya Nenek Maryam.
"Sudah, Nenek. Di samping Sinok."
Nenek Maryam mengangguk. "Bagus. Mereka sekarang bersama."
Clarissa duduk di samping Nenek Maryam. Ia memegang tangan keriput itu.
"Nenek, aku janji akan menjaga Nenek. Sampai akhir hayat Nenek."
"Terima kasih, Nak. Tapi jaga dirimu dulu. Kau juga butuh istirahat."
Clarissa tersenyum pahit. "Istirahat? Tidak, Nenek. Masih banyak yang harus dilakukan. Rumah singgah ini butuh aku. Anak-anak butuh aku."
Nenek Maryam menghela napas. "Kau mirip Raga. Tidak mau istirahat. Terus bekerja. Terus memberi."
"Raga yang mengajari saya, Nenek."
Mereka berdua diam. Suara ombak dari kejauhan terdengar seperti lagu tidur yang menenangkan.
"Nak Clarissa," panggil Nenek Maryam.
"Ya, Nenek?"
"Bacakan puisi untukku. Puisi Raga yang paling Nenek suka."
Clarissa mengambil buku puisi Raga dari meja. Ia membuka halaman pertama, lalu mulai membaca dengan suara lirih.
"Sinok, aku tidak tahu bahwa rindu bisa selama ini..."
Nenek Maryam memejamkan matanya. Air mata mengalir di pipinya yang keriput. Tapi ia tersenyum.
"Terima kasih, Nak," bisiknya. "Sekarang Nenek bisa tidur tenang."
BAB 30
Naskah yang Ditinggalkan
Rumah Senja Sinok, Marunda
18 April 2015 - 20 April 2015
Dua hari setelah Raga meninggal, Clarissa belum juga bisa tidur.
Ia duduk di kamar Raga. Kamar yang masih berbau kapur barus dan kopi hitam. Seprai di dipan kayu masih tertata rapi. Bantalnya masih ada bekas kepala.
Clarissa membuka lemari kecil di sudut kamar.
Di dalamnya, hanya ada beberapa helai pakaian lusuh, sebuah buku puisi Sapardi Djoko Damono yang sudah robek sampulnya, dan sebuah map coklat tebal.
Clarissa mengambil map itu. Ia membukanya perlahan.
Di dalam, setumpuk naskah. Ratusan halaman. Tulisan tangan Raga yang rapi, kadang dengan coretan coretan kecil di pinggir.
Halaman pertama:
"SENJA TERAKHIR UNTUK SINOK"
Sebuah Catatan Cinta dari Pujangga Bisu
Untuk Sinok, yang mengajariku arti ketulusan
Clarissa terkejut. Raga telah menulis sebuah naskah. Bukan puisi. Bukan surat. Tapi sebuah buku. Kisah hidupnya dengan Sinok. Lengkap. Dari awal pertemuan hingga akhir.
Ia membaca halaman demi halaman.
Prolog dalam Naskah Raga
Clarissa sudah membaca prolog itu sebelumnya. Tapi kali ini, ia membaca lebih teliti. Ada kalimat kalimat yang tidak ada di prolog sebelumnya.
"Saya menulis ini dengan tangan yang gemetar. Bukan karena sakit, meski nyeri di dada kiri itu nyata, tapi karena saya takut tidak sempat menyelesaikannya sebelum senja tiba. Dan senja, bagi saya, bukan sekadar waktu. Senja adalah nama lain dari Sinok."
Clarissa mengusap matanya. Ia melanjutkan membaca.
Bab demi Bab
Raga menulis semua bab dengan detail. Bab 1 tentang pertemuan pertama di gang sempit. Bab 2 tentang Sinok yang buta huruf tapi hafal puisi. Bab 3 tentang luka masa lalu masing masing. Bab 4 tentang senja di atas genteng bocor. Bab 5 tentang Juragan Bahar yang datang di malam hari. Bab 6 tentang Masinis Sardi yang menolongnya. Bab 7 tentang Sinok di Pulau Pramuka. Bab 8 tentang Raga menjadi nelayan. Bab 9 tentang surat surat yang tenggelam. Bab 10 tentang sepuluh tahun mencari. Bab 11 tentang Clarissa menyelamatkan Sinok. Bab 12 tentang rumah baca di atas gudang ikan. Bab 13 tentang tumor yang tak bisa dioperasi lagi. Bab 14 tentang 47 surat yang tak pernah sampai. Bab 15 tentang pertemuan setelah 26 tahun. Bab 16 tentang kata bahagia yang tak bisa dibaca. Bab 17 tentang tur keliling kenangan. Bab 18 tentang Bahar dan dendam yang tak mati. Bab 19 tentang pengejaran di dermaga. Bab 20 tentang ICU dan kursi roda. Bab 21 tentang puisi tanpa suara. Bab 22 tentang pemakaman di bawah pohon waru. Bab 23 tentang Rumah Senja Sinok. Bab 24 tentang Raga yang membisu. Bab 25 tentang surat dari masa lalu. Bab 26 tentang membaca surat dengan air mata. Bab 27 tentang buku puisi yang mengguncang negeri. Bab 28 tentang viral dan kontroversi. Bab 29 tentang Raga menghilang.
Dan Bab 30. Bab terakhir. Belum selesai.
Bab 30 dalam Naskah Raga (Hanya Setengah Halaman)
"Saya tidak tahu bagaimana cerita ini akan berakhir. Yang saya tahu, saya sudah menulis hampir semuanya. Dari awal hingga saat ini. Satu bab lagi. Bab terakhir. Tapi saya tidak bisa menyelesaikannya."
"Bukan karena saya kehabisan kata. Tapi karena bab terakhir adalah tentang perpisahan. Tentang saya meninggalkan dunia ini untuk menyusul Sinok."
"Clarissa, jika kau membaca ini, tolong selesaikan bab terakhir untukku. Tuliskan apa yang terjadi padaku. Jujur saja. Tidak perlu dilebih lebihkan."
"Sinok, aku akan segera datang. Tunggu aku di atas genteng bocor."
Clarissa menutup naskah itu. Ia menangis lagi.
Raga telah menyelesaikan 29 bab. Hanya bab terakhir yang belum. Dan bab terakhir itu adalah tentang kematiannya sendiri.
"Baik, Raga," bisik Clarissa. "Aku akan menyelesaikan bab terakhir untukmu. Aku akan tulis jujur. Tidak akan aku lebih lebihkan."
Clarissa Menyelesaikan Bab 30
Clarissa duduk di meja Raga. Ia mengambil pulpen yang sama yang biasa digunakan Raga. Kertas yang sama yang biasa ditulis Raga.
Ia menulis.
"Bab 30: Naskah yang Ditinggalkan
Raga meninggal pada tanggal 17 April 2015. Ia ditemukan di makam Sinok, dalam posisi memeluk batu nisan. Wajahnya tenang. Senyumnya terukir meskipun bibirnya pucat.
Dokter forensik mengatakan Raga meninggal karena gagal jantung. Warga sekitar mengatakan Raga mati karena patah hati.
Aku, Clarissa, tidak tahu mana yang benar. Yang aku tahu, Raga sudah lama tidak bahagia tanpa Sinok. Rumah singgah ini, anak anak di rumah baca, Nenek Maryam, aku—kami semua membuatnya sibuk, tapi tidak membuatnya bahagia.
Kebahagiaan Raga hanya satu: Sinok.
Dan sekarang, mereka bersama lagi.
*Raga dimakamkan di samping Sinok. Dua pusara berdampingan. Batu nisan Sinok bertuliskan 'Siti Nur Khodijah "Sinok", 1979-2012'. Batu nisan Raga bertuliskan 'Rangga Ardiansyah "Raga", 1977-2015'.*
Di bawah nama mereka, Nenek Maryam meminta untuk menambahkan satu kalimat:
'Mereka yang terpisah 26 tahun, kini bersatu selamanya.'
Aku, Clarissa, menulis ini sebagai saksi. Bahwa cinta sejati itu ada. Bahwa cinta tidak mengenal waktu. Bahwa cinta bisa menunggu 26 tahun. Bahwa cinta bisa bertahan meskipun satu pergi lebih dulu.
Raga, kau memintaku menulis jujur. Ini yang jujur: Aku iri padamu. Aku iri pada cintamu. Aku iri karena kau berani mati demi cinta. Kebanyakan orang tidak berani. Aku juga tidak berani.
Tapi kau mengajarkanku bahwa cinta bukan hanya tentang hidup bersama. Cinta juga tentang berani melepaskan. Berani menunggu. Berani mati.
Selamat jalan, Raga. Selamat jalan, Sinok.
Kalian akan selalu kuingat.
Clarissa, 18 April 2015"
EPILOG
Tentang Senja yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi
Rumah Senja Sinok, Marunda
17 April 2024 (Sembilan tahun kemudian)
Hari ini genap sembilan tahun Raga meninggal. Dan dua belas tahun Sinok meninggal.
Clarissa sudah tidak muda lagi. Rambutnya mulai beruban di pelipis. Wajahnya berkerut halus. Tapi matanya masih sama: teduh, penuh kasih.
Ia duduk di teras Rumah Senja Sinok. Di sampingnya, Nenek Maryam. Perempuan buta itu sudah sangat tua. Usianya mungkin seratus lebih. Ia tidak banyak bergerak lagi, hanya duduk di kursi goyang, memegang tasbih, kadang kadang berdoa, kadang kadang tidur.
"Sinok... Raga... doakan aku," bisik Nenek Maryam.
Clarissa tersenyum. Ia memegang tangan Nenek Maryam.
Rumah Senja Sinok sekarang sudah besar. Tiga sayap bangunan. Enam puluh kamar. Seratus dua puluh penghuni. Tiga puluh relawan tetap. Dua puluh anak belajar membaca setiap hari.
Clarissa tidak sendirian mengelola. Ada tim manajemen. Ada psikolog. Ada pekerja sosial. Ada guru. Tapi Clarissa tetap yang paling sering ada di sana.
Setiap pagi, ia membuka rumah baca. Setiap sore, ia mengajar anak anak membaca. Setiap malam, ia memeriksa penghuni satu per satu.
Dan setiap Jumat, ia pergi ke makam Sinok dan Raga.
Pukul 17.00 WIB
Clarissa berjalan ke pemakaman nelayan.
Langit mulai berwarna jingga. Senja akan tiba.
Dua pusara itu masih terawat. Rumput di sekitarnya dipotong rapi. Bunga bunga segar diletakkan di kedua batu nisan.
Clarissa duduk di antara dua pusara itu.
"Sinok, Raga, aku datang," bisiknya.
Ia meletakkan setangkai bunga mawar putih di masing masing pusara.
"Raga, sembilan tahun sudah kau pergi. Sinok, dua belas tahun. Aku masih di sini. Masih menjalankan amanat kalian."
Clarissa menunduk. Air matanya jatuh ke tanah.
"Rumah singgah ini sudah besar. Banyak perempuan yang tertolong. Anak anak di rumah baca sekarang bisa baca semua. Ada yang jadi guru. Ada yang jadi perawat. Ada yang jadi penulis."
Clarissa tersenyum.
"Nenek Maryam masih sehat. Meskipun sudah sangat tua. Dia sering memanggil nama Sinok dan Raga dalam tidurnya. Mungkin dia bermimpi bertemu kalian."
Clarissa mengusap matanya.
"Aku tidak tahu berapa lama lagi aku di sini. Tapi selama aku masih hidup, aku akan terus menjaga rumah ini. Itu janjiku padamu, Raga. Padamu, Sinok."
Dari kejauhan, suara anak anak bermain terdengar.
Clarissa menengadah ke langit. Senja semakin merah. Jingga keemasan di ufuk barat.
"Sinok, Raga, lihat senja ini. Cantik, bukan? Kalian pasti sedang duduk di atas genteng bocor di surga, membaca puisi, tertawa, berpelukan."
Clarissa berdiri. Ia menepuk debu dari celananya.
"Aku pamit, Sinok. Aku pamit, Raga. Minggu depan aku kembali."
Ia berjalan perlahan meninggalkan makam.
Langkah kakinya pelan, tidak tergesa. Sesekali ia menoleh ke belakang, menatap dua pusara yang berdampingan.
Di batu nisan Sinok: *Siti Nur Khodijah "Sinok", 1979-2012*
Di batu nisan Raga: *Rangga Ardiansyah "Raga", 1977-2015*
Di bawah kedua nama itu: "Mereka yang terpisah 26 tahun, kini bersatu selamanya."
Clarissa tersenyum.
"Selamat malam, kekasihku. Selamat malam, sahabatku."
Beberapa bulan kemudian
Buku "Senja Terakhir Untuk Sinok" sudah dicetak lebih dari satu juta eksemplar. Diterjemahkan ke dalam sepuluh bahasa. Menjadi bacaan wajib di beberapa sekolah dan universitas.
Tapi yang lebih penting dari itu, Rumah Senja Sinok terus berkembang. Kini ada cabang di Bekasi, di Tangerang, di Bandung, di Surabaya. Ribuan perempuan korban kekerasan telah tertolong. Ribuan anak anak buta huruf telah bisa membaca.
Clarissa tidak pernah lelah. Ia terus berkeliling ke cabang cabang rumah singgah, memastikan semuanya berjalan baik.
Dan setiap malam, sebelum tidur, ia membaca satu puisi dari buku "Senja Terakhir Untuk Sinok". Puisi karya Pujangga Bisu. Puisi untuk Sinok.
Puisi terakhir yang ditulis Raga sebelum meninggal:
"Sinok,
Aku tidak tahu bahwa mati semudah ini.
Yang perlu kulakukan hanyalah memejamkan mata,
membayangkan senyummu,
lalu terbang.
Tapi aku tidak akan mati dulu.
Aku masih punya janji:
menjaga rumah singgahmu,
mengajar anak anak membaca,
merawat ibumu.
Janji itu akan aku tepati.
Lalu setelah semua selesai,
aku akan datang kepadamu.
Tanpa suara. Tanpa puisi.
Hanya pelukan.
Dan itu sudah lebih dari cukup."
TAMAT



Slamet Riyadi
29 Juli 2025 03:27:50
Semoga kita bisa kerjasama bu. ...